0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan14 halaman

Transmisi Tidak Koheren pada OFDMA

Artikel ini membahas konsep transmisi tidak koheren menggunakan differential unitary modulation pada OFDMA. Beberapa teknik differential modulation yang dikembangkan dari space-time block code diujicobakan pada dua skema OFDMA, yaitu skema MIMO dan skema SISO. Hasil pengujian menunjukkan bahwa teknik-teknik ini mampu memberikan kinerja lebih baik daripada teknik differential modulation konvensional. Penelitian ini menunjukkan bahwa konsep transmisi

Diunggah oleh

Adit Haqy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan14 halaman

Transmisi Tidak Koheren pada OFDMA

Artikel ini membahas konsep transmisi tidak koheren menggunakan differential unitary modulation pada OFDMA. Beberapa teknik differential modulation yang dikembangkan dari space-time block code diujicobakan pada dua skema OFDMA, yaitu skema MIMO dan skema SISO. Hasil pengujian menunjukkan bahwa teknik-teknik ini mampu memberikan kinerja lebih baik daripada teknik differential modulation konvensional. Penelitian ini menunjukkan bahwa konsep transmisi

Diunggah oleh

Adit Haqy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ELKOMIKA: Jurnal Teknik Energi Elektrik, Teknik Telekomunikasi, & Teknik Elektronika

ISSN(p): 2338-8323 | ISSN(e): 2459-9638 | Vol. 9 | No. 3 | Halaman 634 - 647


DOI : [Link] Juli 2021

Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan


Differential Unitary Modulation pada OFDMA
DHONI PUTRA SETIAWAN, HARFAN HIAN RYANU, VINSENSIUS SIGIT
WIDHI PRABOWO

Teknik Telekomunikasi, Universitas Telkom, Indonesia


Email: setiawandhoni@[Link]

Received 2 Maret 2021 | Revised 2 April 2021 | Accepted 7 April 2021

ABSTRAK

Differential modulation adalah sebuah teknik modulasi yang memungkinkan


pengiriman informasi tanpa diperlukannya estimasi kondisi kanal di sisi penerima.
Teknik ini biasa diimplementasikan pada kondisi dimana kanal transmisi berubah
dengan sangat cepat, seperti ketika pengguna layanan dalam kondisi mobilitas
yang sangat cepat. Pada artikel ini, beberapa teknik differential modulation yang
dikembangkan dari Space Time Block Code (STBC) diujicobakan pada Orthogonal
Frequency Division Multiple Access (OFDMA) dengan dua skema yang berbeda.
Skema pertama menggunakan konsep sistem antena multiple-input multiple-
output (MIMO), dan skema kedua adalah skema single-input single-output (SISO).
Hasil pengujian yang diperoleh, teknik differential modulation dengan skema yang
ditawarkan pada artikel ini mampu memberikan kinerja yang lebih baik daripada
teknik differential modulation yang konvensional. Hasil riset menunjukkan konsep
transmisi tidak koheren dapat menjadi solusi potensial untuk sistem komunikasi
nirkabel berkecepatan tinggi.

Kata kunci: transmisi tidak koheren, differential modulation, mobilitas tinggi,


OFDMA, STBC

ABSTRACT

Differential modulation is a modulation technique that can be used without the


presence of channel estimation in the receiver. This technique is usually
implemented when the channel condition changes rapidly, for example, when the
user is in a high mobility condition. In this paper, several differential modulation
techniques, which are modified from space-time block code (STBC) are tested for
Orthogonal Frequency Division Multiple Access (OFDMA) using two different
schemes. The first scheme uses multiple-input multiple-output (MIMO) antenna
system, while the second scheme use single-input single-output (SISO). Based on
our results, the differential modulation techniques proposed in this paper can
overcome the conventional differential modulation technique. This research shows
the proposed non-coherent transmission could be a potential scheme for high
mobility wireless communications.

Keywords: non-coherent transmission, differential modulation, high mobility,


OFDMA, STBC.

ELKOMIKA – 634
Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan Differential Unitary Modulation pada OFDMA

1. PENDAHULUAN

Telekomunikasi seluler (telekomunikasi bergerak) berkembang dengan sangat cepat sehingga


saat ini telah mencapai generasi 5G yang merupakan generasi kelima dari komunikasi seluler.
5G pertama kali diluncurkan pada bulan Maret 2019 di Korea dan Amerika Serikat, dan
menurut laporan Global mobile Suplier Association pada Februari 2021 sudah ada 61 negara
telah mengimplementasikan 5G (Hill, 2021). Standar yang harus dipenuhi suatu teknologi
telekomunikasi untuk dapat mengimplementasikan 5G disebut dengan International Mobile
Telecommunications-2020 (IMT-2020). Dalam IMT-2020 disebutkan bahwa salah satu
persyaratan untuk teknologi yang memenuhi standar 5G adalah teknologi tersebut harus dapat
digunakan pada kecepatan mobilitas mencapai 500 km/jam, yang merupakan peningkatan
dari 350 km/jam yang dipersyaratkan untuk standar 4G (ITU-R, 2017) (Tabbane, 2019).

Tabel 1. Perbandingan 4G dan 5G (ITU-R, 2017) (Tabbane, 2019).

Parameter IMT-Advanced (4G) IMT-2020 (5G)


Kecepatan Data Maksimal 1 Gbps 10 Gbps
Latency 10 ms 1 ms
Kepadatan Koneksi 100.000 perangkat/km2 1.000.000 perangkat/km2
Area Traffic Capacity 0.1 Mbps/m2 10 Mbps/m2
Network Energy Efficiency 1 10 kali lipat 4G
Efisiensi Spektrum 1 3 kali lipat 4G
Mobilitas Maksimum 350 km/jam 500 km/jam

Penggunaan komunikasi seluler pada kecepatan tinggi menjadi salah satu komponen
persyaratan utama seiring dengan berkembangnya transportasi berkecepatan tinggi seperti
kereta cepat. Di sisi lain persyaratan penggunaan pada kecepatan tinggi memang harus
dibahas secara khusus pada komunikasi seluler karena menimbulkan masalah baru pada
sistem komunikasi seluler, yaitu perubahan kanal komunikasi yang sangat cepat. Perubahan
kanal yang sangat cepat ini menjadi masalah karena pada komunikasi koheren yang
mengandalkan estimasi kondisi kanal, perubahan respon kanal yang sangat cepat akan
mempengaruhi akurasi dari estimasi kondisi kanal. Penambahan pilot untuk menambah akurasi
dari kanal akan mengurangi efisiensi pengguna spektrum frekuensi yang digunakan. (Tran,
dkk, 2013) (Althunibat, dkk, 2018) (Wen, dkk, 2019).

Untuk mengatasi masalah ini, peneliti menawarkan teknik transmisi tidak koheren yang tidak
memerlukan estimasi kondisi kanal, salah satunya adalah teknik differential modulation. Teknik
differential modulation sendiri saat ini telah diteliti dan dikembangkan seiring dengan
penggunaan multicarrier, coding, dan sistem antena multiple-input multiple-output (MIMO)
untuk meningkatkan kinerja sistem seperti teknik Differential Space Time Block Code
(Ganesan & Stoica, 2002) (Kumar, dkk, 2014), Differential Unitary Modulation , dan
juga Differential Unitary Space Time Frequency (DUSTF) (Tran, dkk, 2013) (Setiawan &
Zhao, 2019). Selain diterapkan pada komunikasi nirkabel, differential modulation juga diteliti
penggunaannya untuk komunikasi menggunakan fiber optic (Sotiropoulos, dkk, 2013).

Pada artikel ini, kami membahas penggunaan teknik differential modulation untuk digunakan
pada sistem Orthogonal Frequency Division Multiple Access (OFDMA). Kami membahas ini
karena didasari fakta bahwa pada penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya, sebagian
besar sistem transmisi diasumsikan sebagai sistem pengguna tunggal, sedangkan pada
kenyataannya di 4G ataupun 5G sistem yang digunakan adalah sistem pengguna jamak
menggunakan OFDMA (Tabbane, 2019). Sebuah artikel oleh (Hofer, dkk, 2013) memang

ELKOMIKA – 635
Setiawan, dkk

membahas differential modulation dengan konsep OFDMA tetapi masih menggunakan konsep
differential modulation yang masih konvensional. Pada artikel tersebut differential modulation
konvensional membutuhkan Signal to Noise Ratio (SNR) 2 dB lebih besar untuk mencapai
throughput yang sama dengan transmisi koheren. Pada artikel oleh (Alsifiany, dkk, 2017)
meskipun membahas differential modulation untuk pengguna jamak tetapi tidak menggunakan
OFDMA. Pada artikel tersebut kinerja dari differential modulation juga membutuhkan SNR 2
dB lebih besar untuk mencapai Bit Error Rate (BER) yang sama dengan transmisi koheren.
Pada artikel ini kami menyajikan beberapa teknik penerapan differential modulation yang
dipadukan dengan Space Time Block Code (STBC) pada OFDMA untuk meningkatkan kinerja
dari teknik differential modulation meskipun sistem transmisi tidak menggunakan teknik MIMO.

Pada artikel ini kami menggunakan teknik Differential Unitary Modulation yang menggunakan
unitary matrix generator yang telah dikembangkan dalam beberapa peneltian sebelumnya,
seperti penggunaan STBC Alamouti pada (Tran, dkk, 2013) dan QO-STBC pada (Setiawan
& Zhao, 2019). Kami juga memodifikasi Orthogonal STBC untuk empat antena pemancar
pada artikel (Ganesan & Stoica, 2002) untuk dapat digunakan pada sistem multicarrier.
Teknik-teknik ini kemudian kami bandingkan dengan differential modulation yang
konvensional. Pada artikel ini kami mengasumsikan bahwa transmitter mampu mengolah
setiap simbol yang akan ditempatkan pada tiap-tiap resource block secara independent antara
satu resource block dengan resource block lain sehingga memungkinkan transmitter untuk
memberikan perlakuan berbeda tergantung kondisi dari penerima. Hal ini memungkinkan
dapat diaplikasikan pada sistem komunikasi kini dan mendatang karena konsep virtual
baseband unit (vBBU) yang mulai banyak diterapkan saat ini memungkinkan untuk
memberikan baseband unit (BBU) lebih banyak fleksibilitas dalam mengolah informasi yang
akan dikirimkan (Gavrilovska, dkk, 2017) (Checko, dkk, 2015).

2. MODEL SISTEM

2.1 Differential modulation

Differential modulation adalah sebuah teknik transmisi yang memanfaatkan simbol yang telah
dikirimkan sebelumnya sebagai simbol referensi. Differential modulation biasanya
menggunakan Phase Shift Keying (PSK) sebagai Modulator atau Mapper (pada multicarrier),
meskipun saat ini beberapa konsep differential modulation yang menggunakan jenis modulasi
lain seperti Amplitude and Phase Shift Keying (APSK), Quadrature Amplitude Modulation
(QAM), telah diteliti, meskipun dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan
menggunakan PSK (Martin, 2015) (Wei & Wang, 2018) (Kumar, dkk, 2014). Gambaran
proses pada sisi transmitter dari differential modulation dapat dilihat pada Gambar 1 berikut:

Pt Xt
Encoding PSK Modulator X

Xt-1

Z-1

Gambar 1. Blok diagram differential modulation konvensional.

Dari sistem pada Gambar 1 berlaku: 𝑋 = 𝑃 𝑋 , dimana 𝑃 adalah simbol keluaran dari PSK
Modulator, dan 𝑋 adalah hasil perkalian antara 𝑃 dan 𝑋 yang dikirimkan pada periode
transmisi sebelumnya atau disebut dengan 𝑋 .

ELKOMIKA – 636
Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan Differential Unitary Modulation pada OFDMA

2.2 Differential Unitary Modulation

Untuk sistem multicarrier dan MIMO, differential modulation seperti pada sub-bab 2.1
dikembangkan dengan penggunaan unitary generator, sehingga simbol tidak lagi diproses satu
persatu tetapi diproses dalam satu set seperti yang telah ditawarkan konsepnya oleh Tran
(Tran, dkk, 2013) (Setiawan & Zhao, 2019). Unitary generator pada beberapa artikel
tersebut dibentuk dengan penggunaan Space Time Coding sehingga unitary generator tidak
hanya berfungsi untuk mengefisienkan proses tetapi juga untuk mendapatkan space diversity
dan time diversity. Bagan proses yang terjadi pada transmitter digambarkan pada gambar
berikut ini:

PSK Unitary Matrix


Encoding X
Modulator Generator

Z-1

Gambar 2. Blok diagram Differential Unitary Modulation.

Pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa keluaran dari PSK modulator tidak langsung dilakukan
proses perkalian, tetapi dikelompokkan terlebih dahulu oleh Unitary Matrix Generator. Setelah
terbentuk satu kelompok simbol dalam sebuah Unitary Matrix, kelompok simbol ini lantas akan
dikalikan dengan kelompok simbol yang sebelumnya ditransmisikan.

2.3 Differential Unitary Modulation untuk OFDMA

OFDMA adalah sebuah teknik pengguna jamak yang membagi-bagi alokasi subcarrier kepada
pengguna. Pada LTE, subcarrier atau juga disebut juga resource element, dikelompokkan
menjadi sebuah resource block, dengan komposisi sebuah resource block berisi 12 buah
subcarrier. Artikel-artikel yang sebelumnya membahas mengenai differential modulation
biasanya hanya membahas mengenai penggunaan pada OFDM atau teknik modulasi subcarrier
lain, sangat sedikit ke arah multiple access tertentu. Hal ini wajar mengingat di masa lampau
blok yang bertugas mengolah sinyal yang akan ditransmisikan ke antena, yang pada 4G
dinamakan dengan baseband unit (BBU) biasanya hanya mampu melakukan satu macam
signal processing saja untuk sinyal yang dikirimkan ke seluruh pengguna. Akan tetapi, dengan
teknologi yang ada saat ini, yang ditunjang dengan virtualisasi pada BBU perbedaan signal
processing antara satu pengguna dan pengguna yang lain sangat mungkin untuk
diimplementasikan.

2.3.1 Skema 1

Pada penelitian ini dibahas dua buah skema differential modulation, dimana skema yang
pertama dapat dilihat pada Gambar 3.

ELKOMIKA – 637
Setiawan, dkk

IFFT Tx1
Space Time .
PSK Unitary Frequency .
X
Modulator Generator Mapper .

IFFT Txm

Z-1

Gambar 3. Blok diagram Differential Unitary Modulation dengan Skema 1.

Skema yang pertama ini, menyerupai skema DUSTF pada pengguna tunggal biasa, tetapi kami
mengasumsikan bahwa pengguna hanya mendapatkan satu buah resource block saja untuk
setiap antena pemancar yang dimiliki oleh transmitter. Apabila antena yang dimiliki transmitter
adalah dua buah antena maka total setiap pengguna akan mendapatkan slot dua resource
block, dan apabila antena yang dimiliki transmitter adalah empat buah antena maka total
setiap pengguna akan mendapatkan slot empat buah resource block.

Unitary matrix generator yang digunakan untuk transmitter yang memiliki dua antena
pemancar adalah sebagai berikut:

𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 , ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 , )
𝑆 = . (1)
√ 𝑑𝑖𝑎𝑔(−𝑠 ∗, ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 ∗, )

Formula ini dimodifikasi dari STBC Alamouti, dimana 𝑆 adalah unitary matrix yang merupakan
keluaran dari unitary matrix generator, dan 𝑠 , adalah sebuah column matrix berukuran (12
x 1), dimana komponen dari 𝑠 , keluaran dari PSK modulator yang disusun ke dalam 𝑠 ,
seperti berikut 𝐬 , = [𝑠 , , 𝑠 , , … 𝑠 , , ]. Angka 12 pada ukuran column matrix
didapatkan dari jumlah subcarrier yang ada di dalam satu resource block. Proses diagonalisasi
matrix 𝑠 , dilakukan agar matrix 𝑆 menjadi square matrix. Formula ini telah digunakan pada
artikel (Tran, dkk, 2013), tetapi dengan asumsi bahwa ukuran matrixnya sama dengan total
jumlah subcarrier. Teknik Differential modulation ini pada artikel ini kami sebut dengan
Differential Unitary Modulation dengan STBC Alamouti.

Untuk unitary matrix generator yang digunakan pada transmitter yang memiliki empat buah
antena pemancar kami meneliti dua macam matrix generator, yang pertama adalah sebagai
berikut:

𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 . ) 0 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 . ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(−𝑠 . )


⎡ ⎤
0 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 . ) 𝑑𝑖𝑎𝑔( 𝑠 . ∗ ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 . ∗ )
𝑆 = 1/√3 ⎢ ∗
⎥. (2)
⎢ 𝑑𝑖𝑎𝑔( −𝑠 . ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(−𝑠 . ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 . ∗ ) 0 ⎥
⎣ 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 . ∗ ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(−𝑠 . ) 0 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 . ∗ ) ⎦

Matrix Generator ini dimodifikasi dari orthogonal STBC (OSTBC) untuk empat antena pemancar
yang ditawarkan oleh (Ganesan & Stoica, 2002) pada konsep Differential Unitary
Modulation dengan empat antena pemancar yang mereka tawarkan, sehingga konsep ini
dapat cocok digunakan pada transmisi multicarrier. Pada artikel ini, teknik differential
modulation ini kami sebut dengan Differential Unitary Modulation dengan OSTBC. Konsep ini
akan tetapi memiliki kelemahan yaitu bukan merupakan full rate STBC, tidak seperti STBC
Alamouti. Kondisi ini akan mengurangi efisiensi spektrum frekuensi dari sistem transmisi ini.

ELKOMIKA – 638
Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan Differential Unitary Modulation pada OFDMA

Oleh karena itu disini kami turut meneliti penggunaan modifikasi Quasi-Orthogonal STBC (QO-
OSTBC) sebagai unitary matrix generator seperti yang pernah ditawarkan pada artikel
(Setiawan & Zhao, 2019).

𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 , + 𝑠 , ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 , +𝑠 , ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 , − 𝑠 , ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 , −𝑠 , )


⎡ ⎤
𝑑𝑖𝑎𝑔(−𝑠 ∗, − 𝑠 ∗, )𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 ∗, + 𝑠 ∗, ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 ∗, − 𝑠 ∗, ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 ∗, − 𝑠 ∗, )⎥
𝐒 = 1/√8 ⎢⎢ . (3)
𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 , − 𝑠 , ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 , −𝑠 , ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 , + 𝑠 , ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 , +𝑠 , )⎥
⎢ ∗

⎣ 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 , − 𝑠 ∗, ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 ∗, − 𝑠 ∗, )𝑑𝑖𝑎𝑔(−𝑠 ∗, − 𝑠 ∗, )𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 ∗, + 𝑠 ∗, )⎦
Menurut (Setiawan & Zhao, 2019) penggunaan unitary matrix dari QO-STBC tersebut
mampu memberikan efisiensi spektrum frekuensi yang lebih baik dan juga total kompleksitas
sistem yang lebih rendah karena bisa memproses lebih banyak simbol dalam satu kali
transmisi, meskipun kinerjanya sedikit lebih buruk daripada OSTBC untuk empat antena
pemancar. Pada artikel ini, teknik differential modulation ini kami sebut dengan Differential
Unitary Modulation dengan QO-STBC.
Keluaran dari unitary matrix yang sudah disusun kemudian dikalikan dengan kelompok unitary
matrix yang telah dikirimkan sebelumnya sehingga membentuk hubungan:

𝑈 = 𝑆 𝑈 , (4)

dimana 𝑈 adalah keluaran dari perkalian antara 𝑆 dengan 𝑈 pada periode sebelumnya
(𝑈 ). Proses perkalian inilah yang disebut dengan proses diferensiasi pada konsep
differential modulation. Berikutnya komponen dari 𝑈 akan dipetakan ke dalam resource block
yang berada pada masing-masing sistem transmisi antena. Contohnya pada sistem Differential
Unitary Modulation dengan STBC Alamouti, Matriks 𝑈 dapat dijabarkan sebagai berikut:
𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑢 , ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑢 , )
𝑈 = . (5)
𝑑𝑖𝑎𝑔(−𝑢 ∗, ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑢∗, )

Komponen dari 𝑈 yaitu 𝑢 , akan dipetakan untuk ditransmisikan pada dua antena berbeda
dan dua timeslot berbeda. Pada differential modulation dengan empat antena transmisi
komponen matriks akan dikirimkan pada empat antena berbeda dan pada empat timeslot
berbeda.

2.3.2 Skema 2

Blok diagram dari skema kedua dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini:

RB ke-1
.
PSK Unitary Mapper .
X IFFT Tx
Modulator Generator .

RB ke-m

Z-1

Gambar 4. Blok diagram Differential Unitary Modulation dengan Skema 2.

ELKOMIKA – 639
Setiawan, dkk

Skema 2 pada dasarnya menggunakan teknik differential modulation yang sama dengan yang
digunakan pada skema 1 yaitu Differential Unitary Modulation dengan STBC Alamouti,
Differential Unitary Modulation dengan OSTBC, dan Differential Unitary Modulation dengan
QO-STBC. Pada skema 2 ini diasumsikan semua sistem hanya memiliki satu buah transmitter
saja, tetapi meskipun hanya memiliki 1 transmitter, unitary matrix generator yang digunakan
pada skema 1 (formula (1), (2), dan (3)) dapat diimplementasikan pada skema 2. Caranya
yang dilakukan adalah dengan mengubah pemetaan simbol yang pada skema 1 ditransmisikan
ke beberapa antena berbeda, menjadi ditransmisikan ke beberapa resource block berbeda
yang masih dalam satu unit antena pemancar. Skema ini memungkinkan perbaikan kinerja
karena efek diversity, meskipun kemiripan kanal transmisi antar resource block yang ada pada
skema dua akan memberikan hasil kinerja yang lebih buruk dibandingkan dengan skema 1
yang antara antena satu dan lainnya memiliki jalur transmisi tersendiri sehingga nilai diversity
yang bisa didapat lebih maksimal. Meskipun demikian, skema 2 memiliki kelebihan, yaitu
skema ini dapat diimplementasikan meskipun transmitter hanya memiliki satu buah antena
pemancar saja.

2.3.3 Proses Decoding

Simbol yang diterima oleh receiver setelah proses FFT (demodulasi OFDM) dapat dituliskan
sebagai berikut:

(6)
𝑌 = 𝑈 ∘ 𝐻 + 𝑁,

dimana 𝑌 adalah set matrix yang diterima, 𝐻 adalah respon kanal transmisi, dan 𝑁 adalah
Noise. Untuk mendapatkan nilai 𝑈 kembali, yang merupakan 𝑈 hasil decoding pada sisi
receiver maka digunakan formula berikut:

(7)
𝑈 =𝑌 𝑌 ,

dimana 𝑌 adalah nilai transpose conjugate dari 𝑌 .

3. PENGUJIAN

3.1 Skenario Pengujian

Pengujian sistem menggunakan perangkat lunak Matlab R2018a dengan parameter pengujian
yang tertera pada tabel berikut ini:

Tabel 2. Parameter Pengujian

Parameter Nilai
Jumlah Bit yang dikirim 5.000.000 bit
Frekuensi 2,3 GHz
Cyclic Prefix 25%
Mapper BPSK
Modulator OFDM
Kecepatan 350 km/jam
Model Kanal Rayleigh

ELKOMIKA – 640
Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan Differential Unitary Modulation pada OFDMA

Frekuensi pembawa yang kami pilih disini adalah 2,3 GHz yang merupakan frekuensi yang
digunakan baik pada LTE dan juga telah distandarisasi oleh 3GPP untuk 5G New Radio (5G-
NR). Kinerja yang diukur pada penelitian ini adalah nilai BER yang dibandingkan dengan nilai
Signal to Noise Ratio (SNR).

3.2 Hasil Pengujian

3.2.1 Hasil Pengujian Skema 1

Pada pengujian yang pertama, kami membandingkan kinerja dari Differential Unitary
Modulation dengan STBC Alamouti, Differential Unitary Modulation dengan OSTBC, dan
Differential Unitary Modulation dengan QO-STBC Matrix dengan menggunakan skema 1. Ketiga
teknik ini kami bandingkan kinerjanya dengan differential modulation yang konvensional yang
pada artikel ini disebut dengan Conventional Differential Modulation untuk mengetahui berapa
banyak gain yang bisa didapatkan skema yang kami teliti dibandingkan dengan skema
Conventional Differential Modulation. Hasil dari pengujian dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Hasil Pengujian dengan Skema 1.

Secara umum dari Gambar 5 bisa dilihat bahwa Differential Unitary Modulation dengan OSTBC
memiliki kinerja paling baik diantara seluruh skema yang diuji. Hal ini bisa terlihat dari
kebutuhan nilai SNR yang paling rendah untuk mencapai nilai BER yang sama dengan teknik
differential modulation yang lain. Kinerja dari Differential Unitary Modulation dengan OSTBC
Matrix dapat didekati oleh Differential Unitary Modulation dengan QO-STBC Matrix, dengan
perbedaan nilai SNR kurang lebih hanya 1,3 dB pada saat nilai BER adalah 10-3. Pada grafik
ini dapat dilihat juga bahwa seluruh teknik differential modulation yang diteliti di artikel ini

ELKOMIKA – 641
Setiawan, dkk

memiliki kinerja lebih baik daripada Conventional Differential Modulation. Conventional


Differential Modulation membutuhkan nilai SNR lebih dari 25 dB untuk mendapatkan BER 10-3
dibandingkan dengan 15,5 dB yang dibutuhkan oleh Differential Unitary Modulation dengan
STBC Alamouti, 14,3 dB yang dibutuhkan oleh Differential Unitary Modulation dengan QO-
STBC, dan 13 dB yang dibutuhkan oleh Differential Unitary Modulation dengan OSTBC Matrix.
Secara umum dari hasil simulasi pengujian ini dapat kita lihat bahwa pengaruh sistem antena
MIMO memang berdampak besar pada kinerja dari sistem, kedua teknik yang menggunakan
sistem MIMO 4x4 memiliki kinerja paling baik, dibandingkan MIMO 2x2 dan SISO, sedangkan
sistem yang menggunakan MIMO 2x2 memiliki kinerja yang lebih baik daripada SISO.
Meskipun Differential Unitary Modulation dengan QO-STBC disini memiliki kinerja yang lebih
buruk dibandingkan dengan OSTBC, tetapi ada dua hal yang menjadi kelebihan teknik ini yaitu:
QO-STBC memiliki efisiensi spektrum yang lebih tinggi 0,25 bits/Hz berbanding 0,1875 bits/Hz
dan juga memiliki waktu running program yang lebih singkat 890 detik berbanding 1.165 detik,
yang menandakan nilai kompleksitas yang lebih rendah.

3.2.2 Hasil Pengujian Skema Dua

Pada skema dua, Differential Unitary Modulation dengan STBC Alamouti, Differential Unitary
Modulation dengan OSTBC, dan Differential Unitary Modulation dengan QO-STBC diuji
kinerjanya dengan dibandingkan dengan Conventional Differential Modulation.

Gambar 6. Hasil pengujian dengan Skema 2.

Sesuai hasil pengujian pada Gambar 6, secara umum urutan hasil kinerja dari teknik-teknik
differential modulation yang diuji pada pengujian kedua ini memiliki persamaan dengan skema

ELKOMIKA – 642
Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan Differential Unitary Modulation pada OFDMA

1. Differential Unitary Modulation dengan OSTBC masih merupakan teknik differential


modulation dengan kinerja paling baik, disusul secara berturut-turut oleh Differential Unitary
Modulation dengan QO-STBC, Differential Unitary Modulation dengan STBC Alamouti, dan yang
paling buruk kinerjanya adalah Conventional Differential Modulation. Meskipun memiliki urutan
kinerja yang sama, secara umum perbedaan kinerja antara satu teknik dengan yang lainnya
tidaklah memilki perbedaan yang besar, seperti perbedaan antara Differential Unitary
Modulation dengan OSTBC dan dengan QO-STBC hanya memiliki selisih kurang dari 1 dB pada
nilai BER berapapun. Perbedaan kinerja yang semakin kecil ini pada dasarnya didasari oleh
penurunan kinerja dari seluruh teknik differential modulation pada skema dua ini, yang
detailnya bisa dilihat pada sub-bab 3.2.3.

3.2.3 Perbandingan Skema 1 dan Skema 2

Pada Sub-bab ini hasil yang diperoleh pada skema 1 dan skema 2 dibandingkan untuk
mengetahui perbandingan nilai kinerja antara kedua skema yang kami tawarkan pada artikel
ini.

Gambar 7. Perbandingan hasil Skema 1 dan Skema 2.

Dari Gambar 7, dapat disimpulkan bahwa kinerja teknik-teknik differential modulation yang
diaplikasikan pada skema 1 lebih unggul daripada differential modulation yang diaplikasikan
pada skema 2. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan sistem MIMO pada antena 1 dimana
setiap kanal diatur independen terhadap kanal lain, menjadikan nilai diversity gain dari skema
1 menjadi lebih optimal daripada pada skema 2 yang hanya menggunakan skema SISO.
Meskipun pada skema 2 simbol dipetakan pada beberapa resource block berbeda, tetapi
kemiripan kanal antara resource block yang akan ditransmisikan pada antena yang sama

ELKOMIKA – 643
Setiawan, dkk

membuat diversity gain yang didapat tidak maksimal. Meskipun demikian skema 2 yang hanya
menggunakan satu buah transmitter saja tentu memiliki keunggulan dalam sisi kompleksitas
sistem yang akan berakibat pada biaya fabrikasi yang lebih murah dan juga penggunaan daya
yang lebih efisien.

3.2.4 Perbandingan dengan Convolutional Differential Modulation

Pada skenario pengujian yang terakhir ini kinerja dari Differential Unitary Modulation dengan
STBC Alamouti yang tanpa menggunakan channel coding, dibandingkan dengan Conventional
Differential Modulation yang menggunakan channel coding yaitu convolutional coding dengan
rate ½ ditambah dengan interleaver. Kami membandingkan ini hanya dengan Differential
Unitary Modulation dengan STBC Alamouti, karena keduanya memiliki efisiensi spektrum yang
sama yaitu 0,5 bit/Hz. Dengan membandingkan keduanya kami ingin mengetahui mana yang
memberikan kinerja sistem lebih baik antara Differential Unitary Modulation dengan Alamouti
Matrix yang tidak menggunakan channel coding, atau Conventional Differential Modulation
yang menggunakan channel coding dan interleaver.

Gambar 8. Perbandingan Differential Unitary Modulation dengan STBC Alamouti dan


Conventional Differential Modulation dengan coding.

Dari Gambar 8, dapat disimpulkan bahwa Differential Unitary Modulation dengan STBC
Alamouti baik menggunakan skema 1 atau skema 2 memiliki kinerja yang lebih superior
dibandingkan dengan Conventional Differential Modulation baik yang menggunakan channel
coding maupun tidak. Differential Unitary Modulation dengan STBC Alamouti pada skema 2
yang juga menggunakan skema antena SISO juga berhasil mengungguli kinerja dari
Conventional Differential Modulation dengan convolutional coding meskipun dengan selisih

ELKOMIKA – 644
Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan Differential Unitary Modulation pada OFDMA

hanya sekitar 1 dB pada BER 10-3. Perbandingan lebih mendetail dapat dilihat pada Tabel 3
dibawah ini.

Tabel 3. Tabel Perbandingan Differential Unitary Modulation dengan STBC Alamouti dan
Conventional Differential Modulation dengan coding.

Parameter Diffmod Unitary Diffmod Unitary Conventional


Alamouti Skema 1 Alamouti Skema 2 Diffmod +
Coding
Skema Antena MIMO 2x2 SISO SISO
Efisiensi Spektrum 0,5 bit/Hz 0,5 bit/Hz 0,5 bit/Hz
Rata-rata waktu running 728 detik 653 detik 1178 detik
pada Matlab
SNR pada BER 10-2 9,8 dB 13,7 dB 14,9 dB
SNR pada BER 10-3 15,5 dB 20,3 dB 21,1 dB

Pada Tabel 3 waktu running program dari ketiga skema kami bandingkan untuk mengetahui
nilai kompleksitas dari setiap sistem. Waktu running yang lama menunjukkan bahwa sistem
memiliki nilai kompleksitas yang lebih besar daripada sistem yang memiliki waktu running lebih
pendek. Skema differential unitary modulation yang kami bandingkan ini telah dioptimasi
menggunakan skema low complexity differential modulation yang ditawarkan pada
(Setiawan & Zhao, 2018). Dari data waktu running didapatkan bahwa Differential Unitary
Modulation dengan STBC Alamouti pada skema 2 memiliki waktu running yang paling singkat,
disusul Differential Unitary Modulation dengan STBC Alamouti pada skema 1 yang meskipun
menggunakan sistem differential yang sama, tetapi karena sinyal harus dikirimkan pada 2
antena pemancar yang berbeda, sehingga nilai kompleksitas sistemnya menjadi lebih tinggi.
Conventional Differential Modulation dengan channel coding memiliki waktu running yang
paling lama yang menandakan kompleksitas sistemnya paling tinggi, meskipun secara kinerja
adalah yang paling buruk dibandingkan dengan 2 skema yang lain.

4. KESIMPULAN

Pada artikel ini, beberapa tipe differential modulation untuk OFDMA dibandingkan kinerjanya
dengan dua skema yang berbeda. Pada skema 1 simbol yang akan dikirim dipetakan pada
resource block yang terletak pada beberapa antena pemancar berbeda sedangkan skema 2
seluruhnya menggunakan antena tunggal. Hasil penelitian menunjukkan kinerja teknik-teknik
differential modulation pada skema 1 lebih baik kinerjanya daripada pada skema 2 dengan
selisih nilai kebutuhan SNR mencapai 5 dB pada BER 10-3 untuk setiap skema differential
modulation yang sama. Hal ini dikarenakan sistem MIMO yang digunakan skema 1 mampu
memberikan diversity gain yang lebih baik karena kanal transmisi yang independen satu
dengan yang lain daripada skema 2 yang setiap kanalnya memiliki kemiripan tinggi. Pada
penelitian ini kami juga membuktikan bahwa seluruh teknik differential modulation yang kami
tawarkan mampu memberikan kinerja lebih baiik daripada Conventional Differential
Modulation baik yang menggunakan channel coding ataupun tidak. Conventional Differential
Modulation dengan convolutional coding dengan rate ½ dan interleaver yang memiliki
kompleksitas sistem tinggi mampu dikalahkan kinerjanya oleh Differential Unitary Modulation
dengan Alamouti Matrix yang memiliki efisiensi spektrum frekuensi yang sama baik pada ketika
menggunakan skema 1 maupun skema 2. Diantara teknik-teknik differential modulation yang
kami teliti, Differential Unitary Modulation dengan OSTBC memiliki kinerja yang paling baik
meskipun memiliki efisiensi spektrum yang paling rendah diantara yang lain, disusul
Differential Unitary Modulation dengan QO-STBC yang bisa memberikan selisih kinerja kurang

ELKOMIKA – 645
Setiawan, dkk

lebih 1 dB pada seluruh skema yang digunakan dan memiliki keunggulan dalam efisiensi
spekrum dan kompleksitas dibandingkan dengan OSTBC. Secara umum konsep differential
modulation yang kami tawarkan mampu menunjukkan kinerja yang baik untuk meningkatkan
kualitas transmisi data pada kondisi ketika respon kanal berubah dengan cepat dikarenakan
penggunaan pada kecepatan yang tinggi.

DAFTAR RUJUKAN

Alsifiany, F., Ikhlef, A., & Chambers, J. (2017). On differential modulation in downlink multiuser
MIMO systems. 25th European Signal Processing Conference, EUSIPCO 2017, 2017-
January, (pp. 558–562). [Link]
Althunibat, S., Mesleh, R., & Basar, E. (2018). Differential Subcarrier Index Modulation. IEEE
Transactions on Vehicular Technology, 67(8), 7429–7436.
[Link]
Checko, A., Christiansen, H. L., Yan, Y., Scolari, L., Kardaras, G., Berger, M. S., & Dittmann,
L. (2015). Cloud RAN for Mobile Networks - A Technology Overview. IEEE
Communications Surveys and Tutorials, 17(1), 405–426.
[Link]
Ganesan, G., & Stoica, P. (2002). Differential modulation using space-time block codes. IEEE
Signal Processing Letters, 9(2), 57–60. [Link]
Gavrilovska, L., Rakovic, V., Ichkov, A., Todorovski, D., & Marinova, S. (2017). Flexible C-RAN:
Radio technology for 5G. 2017 13th International Conference on Advanced
Technologies, Systems and Services in Telecommunications, TELSIKS 2017 -
Proceeding, 2017-October, (pp. 255–264).
[Link]
Hill, K. (2021, February 26). GSA: 61 countries have live 5G networks - RCR Wireless News.
Retrieved from [Link].
Hofer, M., Šimko, M., Schwarz, S., & Rupp, M. (2013). Performance evaluation of differential
modulation in LTE - Downlink. International Conference on Systems, Signals, and
Image Processing, 179–182. [Link]
ITU-R. (2017). Minimum requirements related to technical performance for IMT-2020 radio
interface(s) M Series Mobile, radiodetermination, amateur and related satellite services.
[Link]
Kumar, P. S., Sumithra, M. G., Abilash, R., & Kumar, E. P. (2014). Performance analysis for
differential STBC and SFBC MIMO- OFDM systems under different modulation schemes
in a Rayleigh channel. 2014 International Conference on Electronics and

ELKOMIKA – 646
Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan Differential Unitary Modulation pada OFDMA

Communication Systems, ICECS 2014. [Link]


Martin, P. A. (2015). Differential Spatial Modulation for APSK in Time-Varying Fading Channels.
IEEE Communications Letters, 19(7), 1261–1264.
[Link]
Setiawan, D. P., & Zhao, H.-A. (2018). Low-Complexity Differential Modulation for High Mobility
MIMO-OFDM. IEICE Communications Express.
[Link]
Setiawan, D. P., & Zhao, H. A. (2019). A novel differential modulation scheme using full-rate
STBC for 4×4 MIMO OFDM. International Journal of Electrical and Electronic
Engineering and Telecommunications, 8(6), 307–313.
[Link]
Sotiropoulos, N., Koonen, T., & De Waardt, H. (2013). Advanced differential modulation
formats for optical access networks. Journal of Lightwave Technology, 31(17), 2829–
2843. [Link]
Tabbane, S. (2019). 4G to 5G networks and standard releases 1: CoE Training on Traffic
engineering and advanced wireless network planning [PowerPoint Slides]. Retrieved
from [Link].
Tran, L. C., Mertins, A., & Wysocki, T. A. (2013). Unitary differential space-time-frequency
codes for MB-OFDM UWB wireless communications. IEEE Transactions on Wireless
Communications, 12(2), 862–876. [Link]
Wei, R. Y., & Wang, X. J. (2018). Differential 16-QAM and 16-APSK for Uplink Massive MIMO
Systems. IEEE Wireless Communications Letters, 7(2), 170–173.
[Link]
Wen, M., Zheng, B., Kim, K. J., Di Renzo, M., Tsiftsis, T. A., Chen, K. C., & Al-Dhahir, N. (2019).
A Survey on Spatial Modulation in Emerging Wireless Systems: Research Progresses
and Applications. IEEE Journal on Selected Areas in Communications, 37(9), 1949–
1972. [Link]

ELKOMIKA – 647

Anda mungkin juga menyukai