Transmisi Tidak Koheren pada OFDMA
Transmisi Tidak Koheren pada OFDMA
ABSTRAK
ABSTRACT
ELKOMIKA – 634
Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan Differential Unitary Modulation pada OFDMA
1. PENDAHULUAN
Penggunaan komunikasi seluler pada kecepatan tinggi menjadi salah satu komponen
persyaratan utama seiring dengan berkembangnya transportasi berkecepatan tinggi seperti
kereta cepat. Di sisi lain persyaratan penggunaan pada kecepatan tinggi memang harus
dibahas secara khusus pada komunikasi seluler karena menimbulkan masalah baru pada
sistem komunikasi seluler, yaitu perubahan kanal komunikasi yang sangat cepat. Perubahan
kanal yang sangat cepat ini menjadi masalah karena pada komunikasi koheren yang
mengandalkan estimasi kondisi kanal, perubahan respon kanal yang sangat cepat akan
mempengaruhi akurasi dari estimasi kondisi kanal. Penambahan pilot untuk menambah akurasi
dari kanal akan mengurangi efisiensi pengguna spektrum frekuensi yang digunakan. (Tran,
dkk, 2013) (Althunibat, dkk, 2018) (Wen, dkk, 2019).
Untuk mengatasi masalah ini, peneliti menawarkan teknik transmisi tidak koheren yang tidak
memerlukan estimasi kondisi kanal, salah satunya adalah teknik differential modulation. Teknik
differential modulation sendiri saat ini telah diteliti dan dikembangkan seiring dengan
penggunaan multicarrier, coding, dan sistem antena multiple-input multiple-output (MIMO)
untuk meningkatkan kinerja sistem seperti teknik Differential Space Time Block Code
(Ganesan & Stoica, 2002) (Kumar, dkk, 2014), Differential Unitary Modulation , dan
juga Differential Unitary Space Time Frequency (DUSTF) (Tran, dkk, 2013) (Setiawan &
Zhao, 2019). Selain diterapkan pada komunikasi nirkabel, differential modulation juga diteliti
penggunaannya untuk komunikasi menggunakan fiber optic (Sotiropoulos, dkk, 2013).
Pada artikel ini, kami membahas penggunaan teknik differential modulation untuk digunakan
pada sistem Orthogonal Frequency Division Multiple Access (OFDMA). Kami membahas ini
karena didasari fakta bahwa pada penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya, sebagian
besar sistem transmisi diasumsikan sebagai sistem pengguna tunggal, sedangkan pada
kenyataannya di 4G ataupun 5G sistem yang digunakan adalah sistem pengguna jamak
menggunakan OFDMA (Tabbane, 2019). Sebuah artikel oleh (Hofer, dkk, 2013) memang
ELKOMIKA – 635
Setiawan, dkk
membahas differential modulation dengan konsep OFDMA tetapi masih menggunakan konsep
differential modulation yang masih konvensional. Pada artikel tersebut differential modulation
konvensional membutuhkan Signal to Noise Ratio (SNR) 2 dB lebih besar untuk mencapai
throughput yang sama dengan transmisi koheren. Pada artikel oleh (Alsifiany, dkk, 2017)
meskipun membahas differential modulation untuk pengguna jamak tetapi tidak menggunakan
OFDMA. Pada artikel tersebut kinerja dari differential modulation juga membutuhkan SNR 2
dB lebih besar untuk mencapai Bit Error Rate (BER) yang sama dengan transmisi koheren.
Pada artikel ini kami menyajikan beberapa teknik penerapan differential modulation yang
dipadukan dengan Space Time Block Code (STBC) pada OFDMA untuk meningkatkan kinerja
dari teknik differential modulation meskipun sistem transmisi tidak menggunakan teknik MIMO.
Pada artikel ini kami menggunakan teknik Differential Unitary Modulation yang menggunakan
unitary matrix generator yang telah dikembangkan dalam beberapa peneltian sebelumnya,
seperti penggunaan STBC Alamouti pada (Tran, dkk, 2013) dan QO-STBC pada (Setiawan
& Zhao, 2019). Kami juga memodifikasi Orthogonal STBC untuk empat antena pemancar
pada artikel (Ganesan & Stoica, 2002) untuk dapat digunakan pada sistem multicarrier.
Teknik-teknik ini kemudian kami bandingkan dengan differential modulation yang
konvensional. Pada artikel ini kami mengasumsikan bahwa transmitter mampu mengolah
setiap simbol yang akan ditempatkan pada tiap-tiap resource block secara independent antara
satu resource block dengan resource block lain sehingga memungkinkan transmitter untuk
memberikan perlakuan berbeda tergantung kondisi dari penerima. Hal ini memungkinkan
dapat diaplikasikan pada sistem komunikasi kini dan mendatang karena konsep virtual
baseband unit (vBBU) yang mulai banyak diterapkan saat ini memungkinkan untuk
memberikan baseband unit (BBU) lebih banyak fleksibilitas dalam mengolah informasi yang
akan dikirimkan (Gavrilovska, dkk, 2017) (Checko, dkk, 2015).
2. MODEL SISTEM
Differential modulation adalah sebuah teknik transmisi yang memanfaatkan simbol yang telah
dikirimkan sebelumnya sebagai simbol referensi. Differential modulation biasanya
menggunakan Phase Shift Keying (PSK) sebagai Modulator atau Mapper (pada multicarrier),
meskipun saat ini beberapa konsep differential modulation yang menggunakan jenis modulasi
lain seperti Amplitude and Phase Shift Keying (APSK), Quadrature Amplitude Modulation
(QAM), telah diteliti, meskipun dengan tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan
menggunakan PSK (Martin, 2015) (Wei & Wang, 2018) (Kumar, dkk, 2014). Gambaran
proses pada sisi transmitter dari differential modulation dapat dilihat pada Gambar 1 berikut:
Pt Xt
Encoding PSK Modulator X
Xt-1
Z-1
Dari sistem pada Gambar 1 berlaku: 𝑋 = 𝑃 𝑋 , dimana 𝑃 adalah simbol keluaran dari PSK
Modulator, dan 𝑋 adalah hasil perkalian antara 𝑃 dan 𝑋 yang dikirimkan pada periode
transmisi sebelumnya atau disebut dengan 𝑋 .
ELKOMIKA – 636
Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan Differential Unitary Modulation pada OFDMA
Untuk sistem multicarrier dan MIMO, differential modulation seperti pada sub-bab 2.1
dikembangkan dengan penggunaan unitary generator, sehingga simbol tidak lagi diproses satu
persatu tetapi diproses dalam satu set seperti yang telah ditawarkan konsepnya oleh Tran
(Tran, dkk, 2013) (Setiawan & Zhao, 2019). Unitary generator pada beberapa artikel
tersebut dibentuk dengan penggunaan Space Time Coding sehingga unitary generator tidak
hanya berfungsi untuk mengefisienkan proses tetapi juga untuk mendapatkan space diversity
dan time diversity. Bagan proses yang terjadi pada transmitter digambarkan pada gambar
berikut ini:
Z-1
Pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa keluaran dari PSK modulator tidak langsung dilakukan
proses perkalian, tetapi dikelompokkan terlebih dahulu oleh Unitary Matrix Generator. Setelah
terbentuk satu kelompok simbol dalam sebuah Unitary Matrix, kelompok simbol ini lantas akan
dikalikan dengan kelompok simbol yang sebelumnya ditransmisikan.
OFDMA adalah sebuah teknik pengguna jamak yang membagi-bagi alokasi subcarrier kepada
pengguna. Pada LTE, subcarrier atau juga disebut juga resource element, dikelompokkan
menjadi sebuah resource block, dengan komposisi sebuah resource block berisi 12 buah
subcarrier. Artikel-artikel yang sebelumnya membahas mengenai differential modulation
biasanya hanya membahas mengenai penggunaan pada OFDM atau teknik modulasi subcarrier
lain, sangat sedikit ke arah multiple access tertentu. Hal ini wajar mengingat di masa lampau
blok yang bertugas mengolah sinyal yang akan ditransmisikan ke antena, yang pada 4G
dinamakan dengan baseband unit (BBU) biasanya hanya mampu melakukan satu macam
signal processing saja untuk sinyal yang dikirimkan ke seluruh pengguna. Akan tetapi, dengan
teknologi yang ada saat ini, yang ditunjang dengan virtualisasi pada BBU perbedaan signal
processing antara satu pengguna dan pengguna yang lain sangat mungkin untuk
diimplementasikan.
2.3.1 Skema 1
Pada penelitian ini dibahas dua buah skema differential modulation, dimana skema yang
pertama dapat dilihat pada Gambar 3.
ELKOMIKA – 637
Setiawan, dkk
IFFT Tx1
Space Time .
PSK Unitary Frequency .
X
Modulator Generator Mapper .
IFFT Txm
Z-1
Skema yang pertama ini, menyerupai skema DUSTF pada pengguna tunggal biasa, tetapi kami
mengasumsikan bahwa pengguna hanya mendapatkan satu buah resource block saja untuk
setiap antena pemancar yang dimiliki oleh transmitter. Apabila antena yang dimiliki transmitter
adalah dua buah antena maka total setiap pengguna akan mendapatkan slot dua resource
block, dan apabila antena yang dimiliki transmitter adalah empat buah antena maka total
setiap pengguna akan mendapatkan slot empat buah resource block.
Unitary matrix generator yang digunakan untuk transmitter yang memiliki dua antena
pemancar adalah sebagai berikut:
𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 , ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 , )
𝑆 = . (1)
√ 𝑑𝑖𝑎𝑔(−𝑠 ∗, ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑠 ∗, )
Formula ini dimodifikasi dari STBC Alamouti, dimana 𝑆 adalah unitary matrix yang merupakan
keluaran dari unitary matrix generator, dan 𝑠 , adalah sebuah column matrix berukuran (12
x 1), dimana komponen dari 𝑠 , keluaran dari PSK modulator yang disusun ke dalam 𝑠 ,
seperti berikut 𝐬 , = [𝑠 , , 𝑠 , , … 𝑠 , , ]. Angka 12 pada ukuran column matrix
didapatkan dari jumlah subcarrier yang ada di dalam satu resource block. Proses diagonalisasi
matrix 𝑠 , dilakukan agar matrix 𝑆 menjadi square matrix. Formula ini telah digunakan pada
artikel (Tran, dkk, 2013), tetapi dengan asumsi bahwa ukuran matrixnya sama dengan total
jumlah subcarrier. Teknik Differential modulation ini pada artikel ini kami sebut dengan
Differential Unitary Modulation dengan STBC Alamouti.
Untuk unitary matrix generator yang digunakan pada transmitter yang memiliki empat buah
antena pemancar kami meneliti dua macam matrix generator, yang pertama adalah sebagai
berikut:
Matrix Generator ini dimodifikasi dari orthogonal STBC (OSTBC) untuk empat antena pemancar
yang ditawarkan oleh (Ganesan & Stoica, 2002) pada konsep Differential Unitary
Modulation dengan empat antena pemancar yang mereka tawarkan, sehingga konsep ini
dapat cocok digunakan pada transmisi multicarrier. Pada artikel ini, teknik differential
modulation ini kami sebut dengan Differential Unitary Modulation dengan OSTBC. Konsep ini
akan tetapi memiliki kelemahan yaitu bukan merupakan full rate STBC, tidak seperti STBC
Alamouti. Kondisi ini akan mengurangi efisiensi spektrum frekuensi dari sistem transmisi ini.
ELKOMIKA – 638
Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan Differential Unitary Modulation pada OFDMA
Oleh karena itu disini kami turut meneliti penggunaan modifikasi Quasi-Orthogonal STBC (QO-
OSTBC) sebagai unitary matrix generator seperti yang pernah ditawarkan pada artikel
(Setiawan & Zhao, 2019).
𝑈 = 𝑆 𝑈 , (4)
dimana 𝑈 adalah keluaran dari perkalian antara 𝑆 dengan 𝑈 pada periode sebelumnya
(𝑈 ). Proses perkalian inilah yang disebut dengan proses diferensiasi pada konsep
differential modulation. Berikutnya komponen dari 𝑈 akan dipetakan ke dalam resource block
yang berada pada masing-masing sistem transmisi antena. Contohnya pada sistem Differential
Unitary Modulation dengan STBC Alamouti, Matriks 𝑈 dapat dijabarkan sebagai berikut:
𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑢 , ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑢 , )
𝑈 = . (5)
𝑑𝑖𝑎𝑔(−𝑢 ∗, ) 𝑑𝑖𝑎𝑔(𝑢∗, )
Komponen dari 𝑈 yaitu 𝑢 , akan dipetakan untuk ditransmisikan pada dua antena berbeda
dan dua timeslot berbeda. Pada differential modulation dengan empat antena transmisi
komponen matriks akan dikirimkan pada empat antena berbeda dan pada empat timeslot
berbeda.
2.3.2 Skema 2
Blok diagram dari skema kedua dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini:
RB ke-1
.
PSK Unitary Mapper .
X IFFT Tx
Modulator Generator .
RB ke-m
Z-1
ELKOMIKA – 639
Setiawan, dkk
Skema 2 pada dasarnya menggunakan teknik differential modulation yang sama dengan yang
digunakan pada skema 1 yaitu Differential Unitary Modulation dengan STBC Alamouti,
Differential Unitary Modulation dengan OSTBC, dan Differential Unitary Modulation dengan
QO-STBC. Pada skema 2 ini diasumsikan semua sistem hanya memiliki satu buah transmitter
saja, tetapi meskipun hanya memiliki 1 transmitter, unitary matrix generator yang digunakan
pada skema 1 (formula (1), (2), dan (3)) dapat diimplementasikan pada skema 2. Caranya
yang dilakukan adalah dengan mengubah pemetaan simbol yang pada skema 1 ditransmisikan
ke beberapa antena berbeda, menjadi ditransmisikan ke beberapa resource block berbeda
yang masih dalam satu unit antena pemancar. Skema ini memungkinkan perbaikan kinerja
karena efek diversity, meskipun kemiripan kanal transmisi antar resource block yang ada pada
skema dua akan memberikan hasil kinerja yang lebih buruk dibandingkan dengan skema 1
yang antara antena satu dan lainnya memiliki jalur transmisi tersendiri sehingga nilai diversity
yang bisa didapat lebih maksimal. Meskipun demikian, skema 2 memiliki kelebihan, yaitu
skema ini dapat diimplementasikan meskipun transmitter hanya memiliki satu buah antena
pemancar saja.
Simbol yang diterima oleh receiver setelah proses FFT (demodulasi OFDM) dapat dituliskan
sebagai berikut:
(6)
𝑌 = 𝑈 ∘ 𝐻 + 𝑁,
dimana 𝑌 adalah set matrix yang diterima, 𝐻 adalah respon kanal transmisi, dan 𝑁 adalah
Noise. Untuk mendapatkan nilai 𝑈 kembali, yang merupakan 𝑈 hasil decoding pada sisi
receiver maka digunakan formula berikut:
(7)
𝑈 =𝑌 𝑌 ,
3. PENGUJIAN
Pengujian sistem menggunakan perangkat lunak Matlab R2018a dengan parameter pengujian
yang tertera pada tabel berikut ini:
Parameter Nilai
Jumlah Bit yang dikirim 5.000.000 bit
Frekuensi 2,3 GHz
Cyclic Prefix 25%
Mapper BPSK
Modulator OFDM
Kecepatan 350 km/jam
Model Kanal Rayleigh
ELKOMIKA – 640
Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan Differential Unitary Modulation pada OFDMA
Frekuensi pembawa yang kami pilih disini adalah 2,3 GHz yang merupakan frekuensi yang
digunakan baik pada LTE dan juga telah distandarisasi oleh 3GPP untuk 5G New Radio (5G-
NR). Kinerja yang diukur pada penelitian ini adalah nilai BER yang dibandingkan dengan nilai
Signal to Noise Ratio (SNR).
Pada pengujian yang pertama, kami membandingkan kinerja dari Differential Unitary
Modulation dengan STBC Alamouti, Differential Unitary Modulation dengan OSTBC, dan
Differential Unitary Modulation dengan QO-STBC Matrix dengan menggunakan skema 1. Ketiga
teknik ini kami bandingkan kinerjanya dengan differential modulation yang konvensional yang
pada artikel ini disebut dengan Conventional Differential Modulation untuk mengetahui berapa
banyak gain yang bisa didapatkan skema yang kami teliti dibandingkan dengan skema
Conventional Differential Modulation. Hasil dari pengujian dapat dilihat pada Gambar 5.
Secara umum dari Gambar 5 bisa dilihat bahwa Differential Unitary Modulation dengan OSTBC
memiliki kinerja paling baik diantara seluruh skema yang diuji. Hal ini bisa terlihat dari
kebutuhan nilai SNR yang paling rendah untuk mencapai nilai BER yang sama dengan teknik
differential modulation yang lain. Kinerja dari Differential Unitary Modulation dengan OSTBC
Matrix dapat didekati oleh Differential Unitary Modulation dengan QO-STBC Matrix, dengan
perbedaan nilai SNR kurang lebih hanya 1,3 dB pada saat nilai BER adalah 10-3. Pada grafik
ini dapat dilihat juga bahwa seluruh teknik differential modulation yang diteliti di artikel ini
ELKOMIKA – 641
Setiawan, dkk
Pada skema dua, Differential Unitary Modulation dengan STBC Alamouti, Differential Unitary
Modulation dengan OSTBC, dan Differential Unitary Modulation dengan QO-STBC diuji
kinerjanya dengan dibandingkan dengan Conventional Differential Modulation.
Sesuai hasil pengujian pada Gambar 6, secara umum urutan hasil kinerja dari teknik-teknik
differential modulation yang diuji pada pengujian kedua ini memiliki persamaan dengan skema
ELKOMIKA – 642
Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan Differential Unitary Modulation pada OFDMA
Pada Sub-bab ini hasil yang diperoleh pada skema 1 dan skema 2 dibandingkan untuk
mengetahui perbandingan nilai kinerja antara kedua skema yang kami tawarkan pada artikel
ini.
Dari Gambar 7, dapat disimpulkan bahwa kinerja teknik-teknik differential modulation yang
diaplikasikan pada skema 1 lebih unggul daripada differential modulation yang diaplikasikan
pada skema 2. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan sistem MIMO pada antena 1 dimana
setiap kanal diatur independen terhadap kanal lain, menjadikan nilai diversity gain dari skema
1 menjadi lebih optimal daripada pada skema 2 yang hanya menggunakan skema SISO.
Meskipun pada skema 2 simbol dipetakan pada beberapa resource block berbeda, tetapi
kemiripan kanal antara resource block yang akan ditransmisikan pada antena yang sama
ELKOMIKA – 643
Setiawan, dkk
membuat diversity gain yang didapat tidak maksimal. Meskipun demikian skema 2 yang hanya
menggunakan satu buah transmitter saja tentu memiliki keunggulan dalam sisi kompleksitas
sistem yang akan berakibat pada biaya fabrikasi yang lebih murah dan juga penggunaan daya
yang lebih efisien.
Pada skenario pengujian yang terakhir ini kinerja dari Differential Unitary Modulation dengan
STBC Alamouti yang tanpa menggunakan channel coding, dibandingkan dengan Conventional
Differential Modulation yang menggunakan channel coding yaitu convolutional coding dengan
rate ½ ditambah dengan interleaver. Kami membandingkan ini hanya dengan Differential
Unitary Modulation dengan STBC Alamouti, karena keduanya memiliki efisiensi spektrum yang
sama yaitu 0,5 bit/Hz. Dengan membandingkan keduanya kami ingin mengetahui mana yang
memberikan kinerja sistem lebih baik antara Differential Unitary Modulation dengan Alamouti
Matrix yang tidak menggunakan channel coding, atau Conventional Differential Modulation
yang menggunakan channel coding dan interleaver.
Dari Gambar 8, dapat disimpulkan bahwa Differential Unitary Modulation dengan STBC
Alamouti baik menggunakan skema 1 atau skema 2 memiliki kinerja yang lebih superior
dibandingkan dengan Conventional Differential Modulation baik yang menggunakan channel
coding maupun tidak. Differential Unitary Modulation dengan STBC Alamouti pada skema 2
yang juga menggunakan skema antena SISO juga berhasil mengungguli kinerja dari
Conventional Differential Modulation dengan convolutional coding meskipun dengan selisih
ELKOMIKA – 644
Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan Differential Unitary Modulation pada OFDMA
hanya sekitar 1 dB pada BER 10-3. Perbandingan lebih mendetail dapat dilihat pada Tabel 3
dibawah ini.
Tabel 3. Tabel Perbandingan Differential Unitary Modulation dengan STBC Alamouti dan
Conventional Differential Modulation dengan coding.
Pada Tabel 3 waktu running program dari ketiga skema kami bandingkan untuk mengetahui
nilai kompleksitas dari setiap sistem. Waktu running yang lama menunjukkan bahwa sistem
memiliki nilai kompleksitas yang lebih besar daripada sistem yang memiliki waktu running lebih
pendek. Skema differential unitary modulation yang kami bandingkan ini telah dioptimasi
menggunakan skema low complexity differential modulation yang ditawarkan pada
(Setiawan & Zhao, 2018). Dari data waktu running didapatkan bahwa Differential Unitary
Modulation dengan STBC Alamouti pada skema 2 memiliki waktu running yang paling singkat,
disusul Differential Unitary Modulation dengan STBC Alamouti pada skema 1 yang meskipun
menggunakan sistem differential yang sama, tetapi karena sinyal harus dikirimkan pada 2
antena pemancar yang berbeda, sehingga nilai kompleksitas sistemnya menjadi lebih tinggi.
Conventional Differential Modulation dengan channel coding memiliki waktu running yang
paling lama yang menandakan kompleksitas sistemnya paling tinggi, meskipun secara kinerja
adalah yang paling buruk dibandingkan dengan 2 skema yang lain.
4. KESIMPULAN
Pada artikel ini, beberapa tipe differential modulation untuk OFDMA dibandingkan kinerjanya
dengan dua skema yang berbeda. Pada skema 1 simbol yang akan dikirim dipetakan pada
resource block yang terletak pada beberapa antena pemancar berbeda sedangkan skema 2
seluruhnya menggunakan antena tunggal. Hasil penelitian menunjukkan kinerja teknik-teknik
differential modulation pada skema 1 lebih baik kinerjanya daripada pada skema 2 dengan
selisih nilai kebutuhan SNR mencapai 5 dB pada BER 10-3 untuk setiap skema differential
modulation yang sama. Hal ini dikarenakan sistem MIMO yang digunakan skema 1 mampu
memberikan diversity gain yang lebih baik karena kanal transmisi yang independen satu
dengan yang lain daripada skema 2 yang setiap kanalnya memiliki kemiripan tinggi. Pada
penelitian ini kami juga membuktikan bahwa seluruh teknik differential modulation yang kami
tawarkan mampu memberikan kinerja lebih baiik daripada Conventional Differential
Modulation baik yang menggunakan channel coding ataupun tidak. Conventional Differential
Modulation dengan convolutional coding dengan rate ½ dan interleaver yang memiliki
kompleksitas sistem tinggi mampu dikalahkan kinerjanya oleh Differential Unitary Modulation
dengan Alamouti Matrix yang memiliki efisiensi spektrum frekuensi yang sama baik pada ketika
menggunakan skema 1 maupun skema 2. Diantara teknik-teknik differential modulation yang
kami teliti, Differential Unitary Modulation dengan OSTBC memiliki kinerja yang paling baik
meskipun memiliki efisiensi spektrum yang paling rendah diantara yang lain, disusul
Differential Unitary Modulation dengan QO-STBC yang bisa memberikan selisih kinerja kurang
ELKOMIKA – 645
Setiawan, dkk
lebih 1 dB pada seluruh skema yang digunakan dan memiliki keunggulan dalam efisiensi
spekrum dan kompleksitas dibandingkan dengan OSTBC. Secara umum konsep differential
modulation yang kami tawarkan mampu menunjukkan kinerja yang baik untuk meningkatkan
kualitas transmisi data pada kondisi ketika respon kanal berubah dengan cepat dikarenakan
penggunaan pada kecepatan yang tinggi.
DAFTAR RUJUKAN
Alsifiany, F., Ikhlef, A., & Chambers, J. (2017). On differential modulation in downlink multiuser
MIMO systems. 25th European Signal Processing Conference, EUSIPCO 2017, 2017-
January, (pp. 558–562). [Link]
Althunibat, S., Mesleh, R., & Basar, E. (2018). Differential Subcarrier Index Modulation. IEEE
Transactions on Vehicular Technology, 67(8), 7429–7436.
[Link]
Checko, A., Christiansen, H. L., Yan, Y., Scolari, L., Kardaras, G., Berger, M. S., & Dittmann,
L. (2015). Cloud RAN for Mobile Networks - A Technology Overview. IEEE
Communications Surveys and Tutorials, 17(1), 405–426.
[Link]
Ganesan, G., & Stoica, P. (2002). Differential modulation using space-time block codes. IEEE
Signal Processing Letters, 9(2), 57–60. [Link]
Gavrilovska, L., Rakovic, V., Ichkov, A., Todorovski, D., & Marinova, S. (2017). Flexible C-RAN:
Radio technology for 5G. 2017 13th International Conference on Advanced
Technologies, Systems and Services in Telecommunications, TELSIKS 2017 -
Proceeding, 2017-October, (pp. 255–264).
[Link]
Hill, K. (2021, February 26). GSA: 61 countries have live 5G networks - RCR Wireless News.
Retrieved from [Link].
Hofer, M., Šimko, M., Schwarz, S., & Rupp, M. (2013). Performance evaluation of differential
modulation in LTE - Downlink. International Conference on Systems, Signals, and
Image Processing, 179–182. [Link]
ITU-R. (2017). Minimum requirements related to technical performance for IMT-2020 radio
interface(s) M Series Mobile, radiodetermination, amateur and related satellite services.
[Link]
Kumar, P. S., Sumithra, M. G., Abilash, R., & Kumar, E. P. (2014). Performance analysis for
differential STBC and SFBC MIMO- OFDM systems under different modulation schemes
in a Rayleigh channel. 2014 International Conference on Electronics and
ELKOMIKA – 646
Konsep Transmisi Tidak Koheren menggunakan Differential Unitary Modulation pada OFDMA
ELKOMIKA – 647