0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan19 halaman

Metode One-Shot Case Study ADI

Bab III dokumen tersebut menjelaskan metode penelitian yang terdiri dari jenis penelitian pre-eksperimental dengan desain one shot case study, definisi operasional variabel bebas dan terikat, lokasi dan waktu penelitian, populasi dan sampel, serta prosedur penelitian meliputi persiapan, pelaksanaan, dan pengumpulan data.

Diunggah oleh

Marcel Tri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan19 halaman

Metode One-Shot Case Study ADI

Bab III dokumen tersebut menjelaskan metode penelitian yang terdiri dari jenis penelitian pre-eksperimental dengan desain one shot case study, definisi operasional variabel bebas dan terikat, lokasi dan waktu penelitian, populasi dan sampel, serta prosedur penelitian meliputi persiapan, pelaksanaan, dan pengumpulan data.

Diunggah oleh

Marcel Tri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian pre-

experimental dengan menggunakan desain penelitian One-Shot Case Study.

Penelitian One-Shot Case Study merupakan jenis penelitian yang dirancang

dengan suatu kelompok yang diberikan treatment atau perlakuan, setelah

diberikan perlakuan barulah diobservasi hasil dari perlakuan tersebut (Sugiyono,

2014: 110). Pada penelitian ini, bentuk perlakuan yang diberikan kepada

kelompok sampel adalah pembelajaran dengan menggunakan langkah-langkah

pembelajaran model ADI. Observasi yang dilakukan setelah diberikannya

perlakuan bertujuan untuk menjawab rumusan masalah yang diajukan peneliti

yaitu bagaimana hasil belajar kognitif dan keterampilan proses sains peserta didik

setelah diterapkannya model ADI pada materi tekanan di SMP Negeri 6 Palangka

Raya. Skema penelitian One-Shot Case Study disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Skema Penelitian Menggunakan One Shot Case Study


Treatment Posttest
X T

Keterangan:

X = Perlakuan atau treatment

T = Tes akhir atau posttest

38
B. Definisi Operasional Variabel

Variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut,

kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2017). Penelitian ini memiliki beberapa

variabel dengan definisi operasionalnya pada Tabel 6 berikut.

Tabel 6. Definisi Operasional Variabel


No. Variabel Definisi Operasional
1. Variabel Bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
(Independen) perlakuan berupa pembelajaran yang menerapkan
Model pembelajaran model pembelajaran ADI, dimana model
ADI. pembelajaran menggunakan sintaks yang telah
dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan penelitian
yang bertujuan meneliti peserta didik tingkat SMP
dan terdiri dari 8 langkah yaitu identifikas topik
utama, dilanjutkan dengan identifikasi pertanyaan
permasalahan, membuat hipotesis, merancang
penelitian, mengumpulkan data, memberikan
argumen, dan evaluasi argumen.
Model pembelajaran ADI diterapkan pada materi
tekanan zat di kelas VIII SMP Negeri 6 Palangka
Raya dan direncanakan sebanyak 3 kali
pertemuan yang termuat dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 1, 2, dan 3
masing masing pada lampiran 1 (halaman 57), 3
(halaman 83), dan 5 (halaman 102).

2. Variabel Terikat Aspek KPS yang dimiliki peserta didik setelah


Keterampilan Proses melalui pembelajaran dengan model ADI yang
Sains (KPS) peserta diteliti pada penelitian ini adalah berupa aspek-
didik kelas VIII aspek dasar seperti halnya merumuskan hipotesis,
SMPN 6 Palangka mengumpulkan data, menganalisis data, hingga
Raya tahun ajaran membuat kesimpulan. Aspek KPS diukur melalui
2022/23 tes unjuk kerja KPS yang dilaksanakan setelah
kegiatan pembelajaran dengan model
pembelajaran ADI telah selesai dilakukan, dan
pengukuran dilakukan untuk masing-masing
individu peserta didik. Variabel ini diukur
menggunakan instrumen tes unjuk kerja
keterampilan proses sains pada lampiran 7
(halaman 126).

39
3. Hasil Belajar Variabel terikat kedua dalam penelitian ini adalah
Kognitif peserta didik hasil belajar ranah kognitif, hasil belajar ranah
kelas VIII SMPN 6 kognitif pada peneilitian ini diukur di akhir
Palangka Raya tahun seluruh kegiatan pembelajaran dengan model ADI
ajaran 2022/23 dan menggunakan instrumen Tes Hasil Belajar
(THB) pada lampiran 8 (halaman 134)

C. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada kelas VIII SMP Negeri 6 Palangka Raya

semester 2 (semester genap) Tahun Ajaran 2022/2023. Estimasi waktu penelitian

dimulai bulan januari 2023 sampai dengan selesai di kelas VIII SMP Negeri 6

Palangka Raya.

D. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi penelitian adalah suatu wilayah umum, yang terdiri atas objek

atau subjek dengan karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari

dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011). Populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh Kelas VIII semester II SMP Negeri 6 Palangka Raya Tahun Ajaran

2022/2023 yang berjumlah 9 kelas. Sebaran dari populasi ini dapat dilihat pada

Tabel 7.

Tabel 7. Sebaran Popuasi Penelitian


Kelas Jumlah Peserta Didik
VIII-1 32
VIII-2 32
VIII-3 31
VIII-4 32
VIII-5 32
VIII-6 31
VIII-7 31
VIII-8 32

40
VIII-9 32
Total 285 Peserta Didik
Sumber: Tata Usaha SMP Negeri 6 Palangka Raya

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian populasi yang dapat dijangkau serta memiliki sifat

atau karakteristik yang sama dengan populasinya sehingga dapat menggambarkan

populasi (Sudjana, 2005). Sampel pada penilitian ini ditentukan dengan random-

sampling, yang merupakan teknik pengambilan sampel dari anggota populasi

yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi

tersebut. Penentuan sampel ditentukan dengan menentukan 1 kelas yang dipilih

secara acak dengan melakukan pengundian terhadap semua kelas populasi yang

akan dijadikan sampel dengan anggapan bahwa seluruh kelas adalah kelas

homogen.

E. Prosedur Penelitian

Penelitian adalah proses yang dilaksanakan secara sistematis atau harus

melalui prosedur atau langkah-langkah tertentu yang berurutan. Prosedur

penelitian ini dimulai dengan tahap persiapan penelitian, dilanjutkan dengan

pelaksanaan sekaligus pengumpulan data penelitian, analisis data penilitian hingga

tahap menarik kesimpulan penelitian. Adapun uraian prosedur penelitian

diuraikan sebagai berikut

1. Tahap Persiapan Penelitian

Prosedur pelaksanaan penelitian memerlukan tahap persiapan sebelum

dilakukannya pengumpulan dan pengolahan data. Pada tahap persiapan dibuat

suatu pedoman penelitian, mulai dari permasalahan penelitian, waktu penelitian

41
hingga lokasi penelitian. Pelaksanaan tahapan persiapan yang baik menghasilkan

penelitian yang terencana dengan baik dan tercapainya penelitian sesuai dengan

yang menjadi permasalahan. Pada penelitian ini, tahap persiapan penelitian

melalui beberapa aktivitas sebagai berikut.

a. Mengidentifikasi masalah penelitian;

b. Menentukan judul penelitian;

c. Menyusun proposal penelitian;

d. Membuat instrumen penelitian;

e. Melakukan seminar proposal penelitian;

f. Melakukan revisi proposal penelitian;

g. Memohon izin untuk melakukan penelitian dengan instansti yang

bersangkutan;

h. Melaksanakan uji coba instrumen;

i. Menentukan sampel penelitian; dan

j. Melakukan validasi instrumen oleh pakar.

2. Tahap Pelaksanaan dan Pengumpulan Data Penelitian

Kegiatan yang dilakukan pada tahap pelaksanaan penelitian adalah

memilih kelas sebagai sampel penelitian, dan dilaksanakan pembelajaran topik

materi tekanan dengan menggunakan model pembelajaran ADI yang bertujuan

mendeskripsikan ketuntasan hasil belajar ranah kognitif dan KPS peserta didik,

dengan jumlah pertemuan pembelajaran adalah sebanyak 3 kali pertemuan, dan

kemudian pada pertemuan keempat diberikan tes akhir untuk THB dan juga Tes

KPS. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:

42
a. Kelas VIII yang terpilih sebagai sampel penelitian diberikan treatment yaitu

berupa penerapan model pembelajaran ADI pada materi Tekanan.

Pembelajaran dilaksanakan sebanyak 3 pertemuan dan pada setiap pertemuan

dilakukan pelatihan KPS dengan menggunakan Lembar Kerja Peserta Didik

(LKPD). Pelatihan KPS adalah aktivitas guru dalam membimbing peserta

didik melakukan percobaan dan membangun argumen berdasarkan model

ADI.

b. Pelaksanaan Tes KPS diadakan setelah dilaksanakannya pelatihan KPS.

Pelatihan KPS sendiri diakukan setiap pertemuan dimana mengajak peserta

didik untuk dapat terbiasa dan terlatih mengenai aspek-aspek dasar KPS-nya

dengan menggunakan model ADI dalam pembelajaran. Tes KPS berupa tes

yang mengukur keterampilan proses sains yang dimiliki setiap peserta didik

dan berupa kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik dengan diawasi dan

dinilai oleh peneliti saat mereka melakukan percobaan. Pelaksanaan Tes

dilakukan di hari yang berbeda dengan kegiatan pembelajaran pembelajaran

harian. Pelaksanaan tes dilakukan setelah dilaksanakannya 3 pertemuan yang

telah dilaksankan.

c. Tes Hasil Belajar peserta didik diadakan setelah seluruh kegiatan

pembelajaran topik Tekanan telah selesai dilakasanakan. Peserta didik

menjawab tes hasil belajar ranah kognitif yang berjumlah 40 soal pilihan

ganda. THB dilaksanakan dengan tujuan untuk memperoleh data hasil

ketuntasan belajar ranah koginitif peserta didik sebagai salah satu bentuk data

yang dianalisis dalam penelitian.

43
3. Tahap Analisis Data Penelitian

Tahap analisis data dilakukan setelah data terkumpul melalui tahap

pegumpulan data penelitian. Setelah data-data terkumpul, data-data yang

diperoleh akan dianalisis. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan cara

sebagai berikut.

a. Data keterampilan proses sains yang dikumpulkan melalui bentuk tes kinerja,

dianalisis setelah seluruh kegiatan pembelajaran dengan model ADI pada

materi tekanan dilakukan.

b. Data hasil belajar ranah kognitif peserta didik yang dikumpulkan melalui

THB dianalisis dengan menghitung seberapa besar ketuntasan hasil belajar

peserta didik setelah pembelajaran model pembelajaran ADI pada materi

Tekanan.

4. Tahap Menarik Kesimpulan Penelitian

Tahap menarik kesimpulan penelitian dilakukan setelah melakukan

tahapan analisis data penelitian dan bertujuan untuk menjawab apa saja yang

menjadi rumusan maslah dalam penelitian, data-data berupa data KPS dan Hasil

belajar ranah kognitif peserta didik yang elah diperoleh dan dianalisis, ditarik

kesimpulan yang dapat menggambarkan dengan jelas hasil penelitian.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah suatu media yang dapat digunakan untuk

mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Instrumen penelitian dapat

pula diartikan sebagai alat bantu yang digunakan dalam mengumpulkan data

(Mahmud, 2011). Pada penelitian ini digunakan beberapa instrumen penelitian

44
yaitu sebagai berikut.

1. Instrumen 1: Tes Keterampilan Proses Sains (Tes KPS)

Tes KPS dalam penelitian ini adalah berupa tes unjuk kerja. Tes KPS dalam

penilitian ini digunakan untuk menilai aspek-aspek KPS seperti keterampilan

peserta didik dalam merumuskan hipotesis, melakukan percobaan,

menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Sebelum melakuakan Tes KPS

terlebih dahulu peserta didik dilatih menggunakan kegiatan praktikum

menggunakan LKPD 1 sampai LKPD 3 pada pertemuan 1 sampai 3 yang

dilakukan berkelompok, setelah itu pada pertemuan di luar pembelajaran

dilaksanakan tes KPS dilakukan setelah seluruh kegiatan pembelajaran materi

tekanan dengan model ADI dilakukan. Tes ini dikerjakan peserta didik secara

individu dan menggunakan instrumen yang terlampir pada lampiran 7

(halaman 126).

2. Instrumen 2: Tes Hasil Belajar Peserta didik (THB)

THB adalah berupa soal-soal yang berkaitan dengan topik tekanan. THB

dalam penelitian ini berupa tes tertulis dengan bentuk pilihan ganda objektif

dengan 4 pilihan jawaban, yaitu a, b, c, dan d sebanyak 40 soal. Tes ini

dikerjakan peserta didik secara individu dan menggunakan instrumen yang

terlampir pada lampiran 8 (halaman 134). Kisi-kisi dari THB yang digunakan

dapat terdapat pada Tabel 8 berikut:

Tabel 8. Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar


No. Kunci
Tujuan Pembelajaran Aspek
Soal Jawaban
1. Mendefinisikan pengertian tekanan C1 1 B
2. Menyebutkan satuan internasional dari C1 2 D
tekanan

45
No. Kunci
Tujuan Pembelajaran Aspek
Soal Jawaban
3. Menyebutkan faktor-faktor yang C1 3 B
mempengaruhi besarnya tekanan
4. Menjelaskan kaitan antara besarnya C2 4 D
tekanan dengan luas bidang
5. Menjelaskan penerapan konsep tekanan C2 5 B
pada kehidupan sehari-hari C2 6 A
6. Menghitung besar tekanan C3 7 C

C3 8 D
7. Menganalisis besarnya tekanan yang C4 9 C
ditimbulkan suatu benda
8. Mendefinisikan pengertian tekanan C1 10 A
hidrostatis
9. Menentukan kaitan antara kedalaman zat C3 11 B
cair dengan tekanan hidrostatis C3 12 A
10. Menghitung besar tekanan hidrostatis C3 13 C
C3 14 C
11. Menjelaskan konsep bejana yang C2 15 B
berhubungan C2 16 A
12. Menyebutkan bunyi Hukum Pascal C1 17 A
13. Menuliskan persamaan Hukum Pascal C1 18 B
14. Menjelaskan penerapan Hukum Pascal C2 19 C
pada bejana berhubungan
15. Menjelaskan penerapan Hukum Pascal C2 20 B
pada kehidupan sehari-hari
C2 21 D

16. Menganalisis pengaruh besarnya gaya C4 22 B


pada Hukum Pascal
17. Menjelaskan manfaat dari aplikasi Hukum C2 23 B
Pascal C2 24 D
18. Menentukan kaitan luas penampang C3 25 B
terhadap gaya yang dihasilkan pada bejana
berhubungan
C3 26 A

19. Menghitung besar gaya angkat pada C3 27 B


penghisap hidrolik C3 28 D
20. Menyebutkan bunyi Hukum Archimedes C1 29 C
21. Menganalisis sistem menggunakan Hukum C4 30 D
Archimedes

46
No. Kunci
Tujuan Pembelajaran Aspek
Soal Jawaban
C4 31 A

22. Menyebutkan faktor-faktor yang C1 32 D


mempengaruhi gaya angkat ke atas pada C1 33 B
Hukum Archimedes
23. Menyebutkan tiga jenis keadaan benda C1 34 B
berdasarkan Hukum Archimedes
24. Menghitung besar gaya angkat C3 35 B
berdasarkan Hukum Archimedes C3 36 D
25. Menjelaskan syarat benda tenggelam, C2 37 D
melayang, dan terapung di air berdasarkan
Hukum Archimedes C2 38 B
26. Menjelaskan penerapan Hukum C2 39 A
Archimedes pada kehidupan sehari-hari
C2 40 A
Keterangan
C1 = Aspek Pengetahuan (10 soal = 25%)
C2 = Aspek Pemahaman (14 soal = 35%)
C3 = Aspek Penerapan (12 soal = 30%)
C4 = Aspek Analisis (4 soal = 10%)’

G. Teknik dan Analisis Uji Coba Instrumen

1. Uji Validitas Isi

Validitas berasal dari kata validity, yang berarti tepat atau sahih, yakni

sejauh mana ketetapan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi

ukurnya. Artinya, bahwa valid tidaknya suatu alat ukur tergantung kepada mampu

tidaknya alat tersebut mencapat tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat

(Suharsimi Arikunto, 2013). Sedangkan Validitas isi adalah penejasan secara

substantif tentang alat ukur mengeanai sejauh mana konsep-konsep atau elemen-

elemen yang ada pada alat ukur benar benar relevan dengan tujuan pengukuran

dan dilakukan bukan oleh penulis atau pembuat tes namun oleh ahli (Azwar:

2015).

47
Penilaian tes validitas isi bersifat kualitatif dan judgemental dan berupa

kesepakatan para ahli yang menghasilkan validitas logis. Salah satu statistik

validitas isi tes yang dapat digunakan adalah formula Aiken V untuk menghitung

validitas isi dari ahli sebagai n orang. Penilaian dilaksanakn dengan menggunakan

skala angka 1 sampai dengan 4 dengan krieteria penilaian dari tidak relevan,

kurang relevan, relevan, dan sangat relevan. Azwar (2015) menyatakan formula

persamaan statistik Aiken V dirumuskan sebagai berikut:

Σs
V= ......................................................................................... (11)
[n(c−1)]

Keterangan :

V = Validitas isi

s = r – 1o

n = banyak ahli

1o = angka penilaian validitas terendah (digunakan 1)

c = angka penilaian validitas tertinggi (digunakan 4)

r = angka yang diberikan ahli

Azwar (2015) menyatakan jika V positif dan V > 0,5 maka butir soal dapat

dikatakan valid atau relevan secara konten.

2. Uji Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan

indikator dari variabel atau konstruk. Instrumen dikatakan reliabel atau handal jika

jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke

waktu (Ghozali, 2018). Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur konsistensi

hasil pengukuran dari kuesioner dalam penggunaan yang berulang. Jawaban

48
responden terhadap pertanyaan dikatakan reliabel jika masing-masing pertanyaan

dijawab secara konsisten. Menurut Suharsimi Arikunto (2013) reliabilitas

instrumen dapat dicari menggunakan formula Kuder dan Richardson (K-R 21)

sebagai berikut:

𝑛 𝑀(𝑛−𝑀)
𝑟11 = (𝑛−1) (1 − ) ............................................................................................... (12)
𝑛𝑆𝑖2

Keterangan :

𝑟11 = Koefisien reliabilitas

n = Banyaknya butir soal

M = Skor rata-rata

𝑆𝑖2 = Varian total

Suharsimi Arikunto (2013) menyatakan jika koefisien reliabilitas minimal

0,810 maka pertanyaan dinyatakan memiliki reliabilitas yang sangat tinggi.

Sebaliknya, jika koefisien relibilitas kurang dari 0,200 maka pertanyaan

dinyatakan memiliki relibilitas yang sangat rendah atau tidak andal, seperti

disajikan pada Tabel 9 berikut.

Tabel 9. Kriteria Reliabilitas Instrumen


Koefisien Reliabilitas Kriteria
0,810 sampai dengan 1,00 Sangat Tinggi
0,610 sampai dengan 0,800 Tinggi
0,410 sampai dengan 0,600 Cukup
0,210 sampai dengan 0,400 Rendah
0,000 sampai dengan 0,200 Sangat Rendah
Sumber: Suharsimi Arikunto (2013)

3. Uji Tingkat kesukaran

Butir-butir item tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai butir-butir item

yang baik, apabila butir-butir tersebut tidak terlalu sukar atau tidak terlalu mudah

49
dengan kata lain tingkat kesukarannya adalah sedang atau cukup (Arikunto,

2013). Tingkat mutu butir-butir item tes hasil belajar dapat diketahui dari tingkat

kesukaran yang dimiliki masing-masing butir soal. Angka indeks kesukaran item

dapat diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

𝐵
𝑃= ...................................................................................................................... (13)
𝐽𝑆

Keterangan :

P = Indeks Kesukaran

B = Jumlah peserta didik yang menjawab soal dengan benar

JS = Jumlah seluruh peserta tes

Besar Indeks kesukaran adalah pada rentang 0,00 sampai dengan 1,00.

Soal dengan indeks 0,00 adalah soal yang terlalu sukar, dan indeks 1,00

menunjukan bahwa soalnya terlalu mudah. Suhrasimi Arikunto (2013)

menyatakan klasifikasi lengkap pada Tabel 10 berikut.

Tabel 10. Kriteria Indeks Kesukaran


Indeks Kesukaran Klasifikasi
0,00 – 0,30 Soal sukar
0,30 – 0,70 Soal sedang
0,70 – 1,00 Soal mudah
Sumber: Suharsimi Arikunto (2013)

4. Uji Daya Pembeda

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan

antara peserta didik pandai (berkemampuan tinggi) dengan peserta didik yang

kurang pandai (berkemampuan rendah). Bagi suatu soal yang dapat dijawab

dengan benar oleh peserta didik pandai maupun peserta didik kurang pandai,

maka soal itu tidak baik karena tidak mempunyai daya pembeda, demikian pula

50
jika semua peserta didik baik pandai maupun kurang pandai tidak dapat menjawab

dengan benar. Soal yang baik adalah soal yang dapat diajawab benar oleh peserta

didik yang pandai saja. Indeks daya pembeda menurut Suharsimi Arikunto (2013)

dapat diukur dengan menggunakan rumusan sebagai berikut.


𝐵 𝐵𝐵
𝐷 = 𝑃𝐴 − 𝑃𝐵 = 𝐽 𝐴 − ....................................................................................... (14)
𝐴 𝐽𝐵

Keterangan :

D = Daya Pembeda

JA = Banyak peserta kelas atas

JB = Banyak peserta kelas bawah

BA = Banyak peserta kelas atas yang menjawab soal dengan benar

BB = Banyak peserta kelas bawah yang menjawab soal dengan benar

PA = Proporsi peserta kelompok atas menjawab benar

PB = Proporsi peserta kelompok bawah menjawab benar

Suharsimi Arikunto (2013) menyatakan klasifikasi daya pembeda yang

lengkap pada Tabel 11 berikut.

Tabel 11. Kriteria Daya Pembeda


Daya Pembeda Kriteria
Negatif Semua Jelek
0,00 – 0,20 Jelek
0,21 – 0,40 Cukup
0,41 – 0,70 Baik
0,71 – 1,00 Baik Sekali
Sumber: Suharsimi Arikunto (2013)

H. Teknik Analisis Data Hasil Penelitian

1. Analisis Keterampilan Proses Sains Peserta Didik

Keterampilan proses sains memiliki beberapa aspek vang dapat dinilai

51
sebagai patokan dimana kelebihan dan kekurangan siswa dalam mengerjakan

instrument yang diberikan peneliti. Aspek Keterampilan proses sains yang diamati

adalah merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data dan

menarik kesimpulan. Kriteria yang digunakan untuk mendeskripsikan penilaian

aspek keterampilan proses sains tersebut tertera pada Tabel 12 berikut.

Tabel 12. Kriteria Penilaian Keterampilan Proses Sains Peserta Didik


Nilai Kriteria
81 - 100 Sangat Baik
71 - 80 Baik
51 - 70 Cukup Baik
0 - 50 Tidak Baik
Sumber: Model Penilaian kelas K13 SMP/MTs (2014)

Penelitian ini melakukan penilaian terhadap 4 aspek dengan tiap aspek

mendapatkan skor maksimal 4, oleh karenanya keseluruhan skor adalah 12. Untuk

menghasilkan nilai dan kriteria seperti pada tabel 12 di atas maka digunakan

perhitungan berikut.

𝐒𝐤𝐨𝐫 𝐩𝐞𝐫𝐨𝐥𝐞𝐡𝐚𝐧
𝐍𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 = [ ] × 𝟏𝟎𝟎.......................................................... (15)
𝟏𝟐

2. Analisis Tes Hasil Belajar Kognitif

a. Ketuntasan Individu

Trianto (2010: 241) menyatakan bahwa ketuntasan individu ranah kognitif

tercapai jika nilai yang dicapai lebih dari 75, yaitu tingkat ketuntasan yang

ditetapkan di SMP Negeri 6 Palangka Raya, dengan rumus untuk menentukan

ketuntasan individu adalah:

𝐓
𝐊𝐁 = [𝐓 ] × 𝟏𝟎𝟎 ................................................................................. (16)
𝟏

Keterangan :

52
KB = Ketuntasan Belajar

T = Jumlah skor yang diperoleh peserta didik

T1 = Skor maksimum

Kritera ketuntasan hasil belajar ranah kognitif individu peserta didik

diberika predikat dengan ketentuan seperti terdapat pada Tabel 13 berikut.

Tabel 13. Kriteria Ketuntasan Hasil Belajar Individu Pesrta Didik


Rentang Nilai Predikat
86-100 Sangat Baik (A)
71-85 Baik (B)
56-70 Cukup (C)
≤ 55 Kurang (D)
Sumber: Didjen Pendidikan Dasar dan Menengah (2015: 43)

b. Ketuntasan Klasikal

Trianto (2010: 241), menyatakan bahwa ketuntasan klasikal adalah pada

saaat dalam kelas terdapat lebih dari 75% peserta didik yang tuntas di kelas

tersebut dan dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut ini.

𝐉𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐏𝐞𝐬𝐞𝐫𝐭𝐚 𝐃𝐢𝐝𝐢𝐤 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐮𝐧𝐭𝐚𝐬


𝐏= [ ] × 𝟏𝟎𝟎% ............................. (17)
𝐉𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐏𝐞𝐬𝐞𝐫𝐭𝐚 𝐃𝐢𝐝𝐢𝐤 𝐊𝐞𝐬𝐞𝐥𝐮𝐫𝐮𝐡𝐚𝐧

Keterangan :

P = Persentase ketuntasan klasikal

c. Ketuntasan TPK

Trianto (2010: 241) menyatakan bahwa ketuntasan TPK bila adalah jika

peserta didik yang mencapai TPK lebih dari 75% untuk jumlah seluruh peserta

didik dan dirumuskan sebagai berikut ini.

𝐉𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐏𝐞𝐬𝐞𝐫𝐭𝐚 𝐃𝐢𝐝𝐢𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐩𝐚𝐢 𝐓𝐏𝐊


𝐏 = [ 𝐉𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐏𝐞𝐬𝐞𝐫𝐭𝐚 𝐃𝐢𝐝𝐢𝐤 𝐊𝐞𝐬𝐞𝐥𝐮𝐫𝐮𝐡𝐚𝐧 ] × 𝟏𝟎𝟎% ......................................... (18)

Keterangan : P = Persentase ketuntasan klasikal

53
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Mikrajudin. 2016. Fisika Dasar 1. Bandung: ITB

Anshori, Muslich & Iswati, Sri. (2017). Metodologi Penelitian Kuantitatif.


Surabaya.

Antonio, R. P. 2020. Developing students’ reflective thinking skills in a


metacognitive and argument-driven learning environment. International
Journal of Research in Education and Science (IJRES), 6(3), 467- 483.

Arikunto Suharsimi. 2019. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.


Jakarta: PT Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 2013. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi


Aksara

Astuti Muh. Amin dan A. D Corebima. Analisis Persepsi Dosen Terhadap


Strategi Pembelajaran Reading Questioning And Answering (RQA) Dan
Argument Driven Inquiry (ADI) Pada Program Studi Pendidikan Biologi Di
Kota Makassar. Seminar Nasional II Tahun 2016 Kerjasama Prodi
Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PLSK). Universitas Muhammadiyah Malang. 2016.
Tersedia di [Link] Diakses pada 1 Mei 2016

Azwar, S. (2015). Metode Penelitian . Yogyakarta : Pustaka Belajar

Chen, H.-T., Wang, H.-H., Lu, Y.-Y., & Hong, Z.-R. (2018). Bridging the Gender
Gap of Children’s Engagement in Learning Science and Argumentation
Through a Modified Argument-Driven Inquiry. International Journal of
Science and Mathematics Education. doi:10.1007/s10763-018-9896-9

Chen, H.-T., Wang, H.-H., Lu, Y.-Y., Lin, H., & Hong, Z.-R. 2016. Using a
modified argument-driven inquiry to promote elementary school students’
engagement in learning science and argumentation. International Journal of
Science Education, 38(2), 170–191. doi:10.1080/09500693.2015.1134849

Demircioglu, T., & Ucar, S. (2015). Investigating the Effect of Argument-Driven


Inquiry in Laboratory Instruction. Educational Sciences: Theory & Practice,
267–283. doi:10.12738/estp.2015.1.2324

Demircioglu, T., & Ucar, S. (2015). Investigating the Effect of Argument-Driven


Inquiry in Laboratory Instruction. Educational Sciences: Theory & Practice,
267–283. doi:10.12738/estp.2015.1.2324

54
Dimyati & Mudjiono. 2013. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2011

Fakhriyah, F., Rusilowati, A., Wiyanto, W., & Susilaningsih, E. (2021).


Argument-Driven Inquiry Learning Model: A Systematic Review.
International Journal of Research in Education and Science, 767–784.
[Link]

Ghozali, I. 2015. Aplikasi Analisis Multivariate dengan ProgramSPSS. Semarang:


Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Jufri, Wahab. 2013. Belajar dan Pembelajaran Saiins. Bandung: Pustaka Leka
Cipta

Kanginan, Marthen. 2007. IPA FISIKA untuk Kelas VIII. Jakarta: Erlangga

Kemendikbu. 2016. Permendikbud tentang Standar Penilaian Pendidikan.


Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan

Krisno, agus dkk. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP/MTs. Jakarta: Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Lepiyanto, Agil. 2014. Analisis Keterampilan Proses Sains Pada Pembelajaran.


Berbasis Praktikum. Jurnal Bioedukasi. Vol. 5. No. 2. Hal :156-161.

Mardapi, Djemari, 2012. Pengukuran Penilaian & Evaluasi Pendidikan.


Yogyakarta : Nuha.

Oemar Hamalik. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Ping, I. L. L., Halim, L., & Osman, K. (2020). Explicit Teaching of Scientific
Argumentation As An Approach In Developing Argumentation Skills, Science
Process Skills And Biology Understanding. Journal of Baltic Science
Education, 19(2), 276-288. DOI; [Link]

Roestiyah. 2012. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

55
Sani, Ridwan Abdullah. 2015. Inovasi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Safitri, M. A. D., Budiasih, E., & Marfu’ah, S. (2020). Mind mapping in


argument-driven inquiry (ADI) model to improve students’ critical thinking
skills with a different prior knowledge in the topic of reaction rate. 28th
Russian Conference on Mathematical Modelling in Natural Sciences.
doi:10.1063/5.0000755

Sampson, Victor. et al., Argument Driven Inquiry in Biology. United States of


America: NSTA Press. 2014

Sudjana, Nana. 2011. Penilaian Hasil dan Proses Belajar Mengajar. Bandung:
Rosda Karya.

Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,.


Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

Sumaji.1998. Pendidikan Sains yang Humanistik. Yogyakarta: Kanisius.

Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Prenada Media Group

Wahyuni, Bahruddin. 2017. Teori. Belajar Dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-


Ruzz Media Group.

Widayanto. 2009. Mengembangkan Keterampilan Proses dan Pemahaman Siswa.


Kelas X melalui KIT Optik. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia. 5(1):
halaman 2.

56

Anda mungkin juga menyukai