0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan13 halaman

Penerapan TPS untuk Hasil Belajar IPS

Artikel ini membahas upaya meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SD Inpres di Kabupaten Bone dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Hasilnya menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran tersebut dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa.

Diunggah oleh

zamzam syaibani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan13 halaman

Penerapan TPS untuk Hasil Belajar IPS

Artikel ini membahas upaya meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SD Inpres di Kabupaten Bone dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Hasilnya menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran tersebut dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa.

Diunggah oleh

zamzam syaibani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama kelompok 04 :

1. Abdul Hafidz Khoiruddin (20410104001)


2. Amelia Yunita (204101040008)
3. Dini Holifatus Sa’diah (205101040002)
4. Siti Fatimah (204101040029)
5. Sofwan Roif Ubaidillah (202101040052)
6. Uci Bella Aprillia (202102040051)

- Soal satu :
Mencari Jurnal OJS berikut merupakan artikel jurnal OJS Universitas Negeri Makasar
berada dibagian bawah lembar penugasan :
- Soal kedua Review Jurnal

Judul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair


Share (TPS) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa
Kelas V
Jurnal Jurnal Pendidikan Universitas Negeri Makassar
Jumlah Halaman 10 Halaman
Tahun 2020
Penulis Nur Faizah AP
Muh. Anis
Sumber [Link]
Reviewer 1. Abdul Hafidz Khoiruddin (20410104001)
2. Amelia Yunita (204101040008)
3. Dini Holifatus Sa’diah (205101040002)
4. Siti Fatimah (204101040029)
5. Sofwan Roif Ubaidillah (202101040052)
6. Uci Bella Aprillia (202102040051)
Tanggal 17 September 2021
Sampel Siswa kelas V SD Inpres Macope Kabupaten Bone
Metode Penelitian Penelitian ini meggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat
deskriptif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) yang dilakukan dengan 2 siklus yakni tindakan-
tindakan (aksi) yang berulang-ulang yang dimulai dari
perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi,
yang bertujuan untuk memperbaiki proses belajar mengajar
dikelas.
Teknik Pengumpulan Data Dari tes,dokumentasi dan observasi.
Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan ntuk mendiskripsikan peningkatkan
hasil belajar IPS siswa kelas V SD Inpres 12/79 Mascope
setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
Think Pair Share.
Hasil Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, hasil temuan, pembahasan, dan
hasil tes belajar yang mengalami peningkatan dari siklus I
dengan kualifikasi Cukup (C) menjadi kualifikasi Baik (B)
pada siklus II, dan dari segi proses dilihat adanya peningkatan
aktifitas siswa dan guru melalui hasil pengamatan, maka hasil
penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dapat
meningkatkan hasil belajar IPS kelas V di SD Inpres Mascope
kabupaten Bone.
Kelebihan Jurnal 1. Dalam artikel jurnal ini menjelaskan secara rinci
bagaimana model pembelajaran kooperatif tipe Think
Pair Share dalam implementasinyadalam pembelajaran
2. Menyajikan kelebihan dari tipe pembelajaran Think
Pair Share.
3. Dalam Jurnal tersebut banyak menjelaskan hal-hal
baru sehingga pembaca(periview) dapat mempelajari
hal-hal terkait pembelajaran Kooperatif Think Pair
Share.
4. Penjelasan tersebut juga dilengkapi dengan data-data
sebagai penjelas dari penelitian yang dilaksanakan.
Kelemahan Jurnal 1. Terdapat beberapa kata yang rancu didalam
penjelasannya sehingga kalimat satu dengan yang lain
tidak sinkron.
2. Terdapat beberapa tanda baca yang salah seperti kata
yang seharusnya bertanda baca titik(.) tetapi ditulis
tanda tanya (?)
3. Penjelasan terlalu bertele-tele.
4. Terdapat beberapa kata salah dalam penulisan(Typo)

Saran Setelah adanya review dari kami . kami harap penulis dapat
memperbaiki kembali kesalahan-kesalahan yang ada didalam
jurnal tersebut baik dalam penulisan maupun penyampaiannya
agar apa yang ditulis oleh penulis dapat dijadikan bahan
belajar dan karyanya lebih baik lagi dari sebelumnya.

Soal Ketiga :
Gagasan besar dalam artikel ini yaitu meningkatkan pengatahuan pelajaran ips di
kelas V SD inpres dengan menggunakan metode kualitatif yang bersifat diskriptif yang
menggunakan model pembelajaran kooperatif model Think Pair Share. Yang mana lebih
banyak melibatkan siswa dan siswi dalam berintraksi dalam kelas bersama teman
temannya dan penerpan metode ini menggunakan penelitian Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) yang dilakukan dengan 2 siklus yakni tindakan-tindakan (aksi) yang berulang-
ulang yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi, yang
bertujuan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dikelas dan ini sangat bertkontribusi
terhadap pembelajara ips di sd dan bisa di terapkan untuk sekolah lainya di karnakan ide
ini sangat cocok untuk meningkatkan semangat belajar siswa siswi di MI atau SD di
karnakan siswa di SD dan MI perlu berkelompok untuk menyelesaikan masalah yang di
berikan dampaknya siswa selain bisa menyelesaikam masalah juga bisa lebih berkamestri
dengan teman temannya.
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair
Share (TPS) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS
Siswa Kelas V

Nurfaizah. AP1 , Muh.Anis2


1,2
Program Studi PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar
Email: [Link]@[Link]
2
[Link]@[Link]

Abstrak: Tujuan penelitian yaitu untuk mendiskripsikan peningkatkan hasil belajar


IPS siswa kelas V SD Inpres 12/79 Macope setelah menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share. Pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif , jenis penelitian adalah penelitian
tindakan kelas yang dilakukan dalanm dua siklus. Fokus penelitian adalah hasil
belajar IPS siswa kelas V dan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share.
Setting penelitian ini adalah kelas V SD Inpres 12/79 Macope. Teknik analisis data
adalah analisis deskriptif yang dilakukan dengan cara mereduksi data, penyajian
data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair
Share dapat meningkatkan hasil IPS siswa kelas V SD Inpres 12/79 Macope.

Kata Kunci: Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share; Hasil Belajar
IPS

Abstract: The research objective was to describe the improvement in social studies
learning outcomes of grade V SD Inpres 12/79 Macope students after using the Think
Pair Share type cooperative learning model. The approach used is a qualitative
approach that is descriptive, this type of research is a classroom action research
conducted in two cycles. The focus of research is the social studies learning
outcomes of grade V students and the Think Pair Share type of cooperative learning
model. The research setting was class V SD Inpres 12/79 Macope. The data analysis
technique is descriptive analysis which is carried out by reducing data, presenting
data, drawing conclusions, and verification. The results of data analysis indicate that
learning using the Think Pair Share type of cooperative learning model can improve
social studies results for fifth grade students of SD Inpres 12/79 Macope.

Keywords: Cooperative Learning Model Think Pair Share Type; Social Studies
Learning Outcomes
JIKAP PGSD: Jurnal Ilmiah Ilmu Kependidikan

PENDAHULUAN yang sering terjadi di masyarakat. Ilmu


Pengetahuan Sosial merupakan materi
Proses pembelajaran IPS di SD suatu pelajaran meliputi wawasan yang luas, karena
konsep pembelajaran bertujuan membina dan pengaplikasian yang baik akan
memberi keterampilan dasar bagi siswa untuk menghindarkan manusia dari individu-
memahami fenomena sosial yang terjadi di individu yang egois dan kurang bertanggung
masyarakat, serta fenomena fenomena alam jawab. Harapan bangsa terhadap pendidikan
yang terjadi dilingkungan siswa. IPS yaitu untuk mewujudkan pendidikan yang
merupakan ilmu yang membahas tentang mampu menghasilkan penerus bangsa sebagai
gejala-gejala sosial kemasyarakatan yang
pemimpin yang cerdas, dan sekolah dasar
disusun secara sistematis yang didasari oleh
merupakan jalur pendidikan formal yang
fakta yang empirik berdasarkan hasil sangat berperan dalam membangun pondasi
pengamatan manusia. Ilmu sosial diperoleh karekter siswa yang mengacu pada
dengan cara yang terkontrol berupa kumpulan kepribadiannya kelak.
fakta serta data yang nyata dan empirik.
Dalam memahami mateti pelajaran
Mata pelajaran IPS di sekolah dasar
IPS peranan guru sangat di butuhkan dalam
adalah suatu deskripsi ilmu yang mempelajari
mengelola proses pembelajaran secara efektif,
tentang gejala-gejala sosial kemasyarakatan
dengan lebih banyak memberikan kesempatan
yang diperoleh lewat hasil pengamatan yang
kepada siswa terlibat secara langsung dalam
dilakukan oleh manusia yang tersusun secara
proses kerja kelompok dan pengamatan agar
sistematis yang membutuhkan kognitif yang
siswa dapat memahami materi dan diharapkan
tinggi dari siswa. Dalam memahami
siswa mampu berpikir kritis dan aktif dalam
fenomena-fenomena yang terjadi di alam atau
setiap aktivitas pembelajaran. Olehnya itu,
peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan
seorang guru harus merencanakan suatu
siswa, sehingga siswa dapat memecahkan
pembelajaran menarik bagi siswa sehingga
masalah yang menjadi tantangan hidup dalam
dapat menanamkan konsep IPS sejak dini
mengambil keputusan dan menyelesaikan
pada siswa atau peserta didik pada tingkat
masalah tersebut.
sekolah dasar. penerapan berbagai metode dan
IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) adalah pendekatan mengajar yang sesuai dalam
salah satu disiplin ilmu terkadang ada siswa mengembangkan dan meningkatkan hasil
yang sulit menguasai materi yang di sajikan.
belajar siswa akan memberikan suatu hasil
Padahal IPS merupakan pengetahuan dasar belajar yang signifikan.
yang dapat membantu siswa dalam Secara faktual, masih ada banyak
melakukan komunikasi sosial dalam yang kita temukan, pelaksanaan pembelajaran
masyarakat. Penguasaan IPS sangat penting IPS terkadang kurang menarik bagi siswa,
dalam pendidikan di sekolah. Proses proses pembelajaran lebih banyak
Pembelajaran IPS memerlukan strategi menggunakan metode ceramah, sehingga
pembelajaran dengan karakteristik tertentu sering kita dapatkan siswa kesulitan dalam
untuk menyelesaikan masalah-masalah demi memahami materi dan dan menyelesaikan
tercapainya tujuan pembelajaran yang sesuai soal-soal yang diberikan pada saat ujian. Hal
dengan yang telah direncanakan oleh guru tersebut juga terjadi pada SD INPRES 12/79
guna untuk perkembangan kognitif. Demikian Macope Kecamatan Awangpone Kabupaten
pula diharapkan mampu melaksanakan Bone. Berdasarkan informasi dari hasil
latihan-latihan mental yang terbaik untuk wawncara dan data yang didapatkan dari
menyelesaikan masalah kehidupan sehari- kepala sekolah dan guru kelas V bahwa 1)
hari.
guru kurang melibatkan siswa secara lansung
Berdasarkan kurikulum Tingkat dalam proses pembelajaran, sehingga siswa
Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 pasif dalam mengikuti pembelajaran, 2) guru
mencantumkan salah satu tujuan jarang menerapkan konsep bertukaran
diajarkannya IPS di SD adalah siswa memiliki pendapat, sehingga siswa sulit memecahkan
komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai masalah yang diberikan, 3) guru lebih sering
sosial dan kemanusiaan serta mampu membentuk kelompok besar, sehingga siswa
memahami lebih-lebih awal fenomena sosial yang aktif hanya sebagian kecil, dan 4) guru
Vol,4. No,3. Tahun 2020

kurang membimbing siswa untuk menerapkan pendekatan kooperatif tipe Think


memplenokan hasil pengamatannya, sehingga Pair Share dalam pembelajaran IPS.
siswa kurang berani mengungkapkan
pendapatnya di depan kelas. Apabila masalah 1. Model Pembelajaran Kooperatif
ini tidak segera diatasi maka akan berdampak Tipe Think Pair Share
negatif bagi siswa khususnya pada Pembelajaran kooperatif (cooperative
peningkatan pemahaman siswa dalam mata learning) merupakan bentuk pembelajaran
pelajaran IPS dan akan berdampak buruk bagi dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam
kemajuan hasil belajar. Untuk mengatasi kelompok. Kelompok kecil secara
pemasalahan tersebut ,salah satu model yang kolaboratif yang aanggotanya terdiri
dianggap cocok adalah model pembelajaran kelompok kecil secara kolaboratif
Kooperatif tipe Think Pair Share. beranggotakan duan ssampai 6 orang dalam
Model pembelajaran Kooperatif tipe satu kelompok yang bersifat keterogen.
Think Pair Share dinilai sangat tepat ntuk Abdulhak (Rusman, 2012: 203) menyatakan
megurangi permasalahan yang ditemukan bahwa “pembelajaran cooperative
didalam kelas dibandingkan dengan model dilaksanakan melalui sharing proses antara
pembelajaran berkelompok yang lain, karena peserta belajar, sehingga dapat mewujudkan
model pembelajaran kooperatif tipe Think pemahaman bersama diantara peserta belajar
Pair Share adalah pembelajaran menekankan itu sendiri”. Sementara Nurulhayati (Rusman,
pada siswa diminta berpasangan dengan 2012: 203) menyatakan bahwa “pembelajaran
teman satu meja masing-masing dan diberi kooperatif adalah strategi pembelajaran yang
kesempatan kepada pasangan itu untuk melibatkan partisipasi siswa dalam satu
berdiskusi, dengan adanya diskusi siswa dapat bentuk kecil untuk saling berinteraksi”.
memperdalam makna dari jawaban yang telah Model pembelajaran Think Pire
dipikirkannya melalui inter subjektif dengan Share merupakan hasil dari penelitian
pasangannya. Model ini menuntut siswa pembelajaran, model model Think Pire Share
untuk lebih aktif karena tidak banyak teman disebut juga sebagai model pembelajaran
kelompok yang diharapkan untuk memikirkan berpasangan. Model ini pertama kali
masalah yang diberikan. Dalam pembelajaran dikembangkan oleh frank lyman dari
kooperatif tipe Think Pair Share siswa belajar Universtas Maryland sebagai strukutr
bersama dalam pasangan-pasangan yang kegiatan pembelajaran gotong royong. Model
bekerja untuk menyelesaikan suatu masalah, ini memberikan kesempatan kepada siswa
menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan untuk bekerja sendiri serta bekerjasama
sesuatu untuk mencapai tujuan bersama. dengan orang lain. Think Pire Share memiliki
Selain itu pembelajaran kooperatif tipe Think prosedur yang diterapkan secara eksplisit
Pair Share dapat membantu siswa memahami untuk dan memberi siswa lebih banyak waktu
konsep-konsep yang sulit serta menumbuhkan untuk berfikir, menjawab, dan saling
kemampuan kerja sama, berpikir kritis dan membantu satu sama lain. Hamdayana
mengembangkan sikap sosial siswa. (2014:202) menyatakan bahwa TPS
Berdasarkan latar belakang masalah merupakan suatu teknik sederhana dengan
di atas, maka rumusan masalah dalam keuntungan besar. TPS ini dapat
penelitian ini yaitu bagaimanakah penerapan meningkatkan kemampuan siswa dalam
model pembelajaran kooperatif tipe Think mengingat suatu informasi dan seorang siswa
Pair Share untuk meningkatkan hasil belajar juga dapat belajar dari siswa lain serta saling
siswa di kelas V SD INPRES 12/79 Macope menyampiakan idenya dalam proses kerja
Kabupaten Bone? Tujuan penelitian ini adalah kelompok. Selain itu, TPS dapat memberikan
untuk mendeskripsikan penerapan model rasa percaya diri dan semua siswa diberikan
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Selain itu, TPS juga dapat memperbaiki rasa
Share dalam meningkatkan hasil belajar siswa percaya diri dan semua siswa diberi
di kelas V siswa di kelas V SD INPRES 12/79 kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas.
Macope Kabupaten Boneserta diharapkan TPS sebagai slah satu model pembelajaran
mendapat pengalaman nyata dan dapat kooperatif yang terdiri atas tiga tahapan inti,
yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru
JIKAP PGSD: Jurnal Ilmiah Ilmu Kependidikan

tidak lagi sebagai satu-satunya sumber terlebih lagi apabila siswa yang melakukan
pembelajaran (teacher oriented), tetapi siswa presentasi mendapatkan penghargaan dari
siswa dituntut untuk dapat menemukan teman dan gurunya berupa tepukan tangan dan
konsep-konsep baru (student oriented). nilai tambahan. 5) tahap menganalisis dan
Peningkatan penguasaan isi akademis siswa mengevaluasi hasil pemecahan masalah. Jadi,
terhadap materi pelajaran dilalui dengan melalui model Think Pair Share ini,
proses tahapan, yaitu melalui proses thinking penguasaan isi akademis siswa terhadap
(berpikir) siswa diajak untuk merespons, materi pelajaran dapat meningkat dan pada
berpikir dan mencari jawaban atas pertanyaan akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar
guru, melalui proses pairing (berpasangan). siswa.
Terakhir melalui tahap sharing (berbagi), Kelebihan model Think Pair Share,
siswa diajak untuk mampu membagi hasil menurut Arif Fadholi (Dahlia, 2012: 15)
`diskusi kepada teman dalam satu kelas. adalah:a) Memungkinkan siswa untuk
Menurut Hamdayana (2014) langkah- merumuskan dan mengajukan pertanyaan-
langkah model pembelajaran Thin Pair Share pertanyaan mengenai materi yang diajarkan
yaitu 1) tahap pendahuluan dimulai dengan karena secara tidak lansung memmperoleh
penggalian apersepsi sekaligus memotivasi contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru,
siswa agar terlibat pada aktivitas serta memperoleh kesempatan untuk
pembelajaran. Pada tahap ini guru juga memikirkan materi yang diajarkan, b) Siswa
menjelaskan aturan main serta akan terlatih menerapkan konsep bertukar
menginformasikan batasan waktu untuk pendapat dan pemikiran dengan temannya
setiap tahapan kegiatan sehingga siswa lebih untuk mendapatkan kesepakatan dalam
mudah mengerti alur pembelajaran yang akan memecahkan masalah, c) Siswa lebih aktif
dilaksanakan. 2) tahap Thinking (berpikir) dalam pembelajaran karena menyelesaikan
siswa diajak merespons, berpikir dan mencari tugasnya dalam kelompok, dimana tiap
jawaban atas pertanyaan guru. Pada tahap ini kelompok hanya terdiri dari 2 orang, d) siswa
, siswa diberi batsan waktu atau Tink time, memperoleh kesempatan untuk
oleh guru untuk memikirkan jawabannya mempresentasikan hasil diskusinya dengan
sevara indvidual terhadap pertanyaan yang seluruh siswa sehingga ide yang ada
diberikan dan bertujuan untuk menggali menyebar, e) Memungkinkan guru untuk
konsep awal siswa. Dalam penentuannya guru lebih banyak memantau siswa dalam proses
mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa pembelajaran. Kelemahan model
dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. pembelajaran Think Pair Share, yang
3) tahap Pairing (berpasangan) pada tahap ini, ditemukan selama proses pembelajaran antara
guru mengelompokkan siswa secara lain berasal dari siswa, yakni: tidak selamanya
berpasangan, guru menentukan bahwa mudah bagi siswa untuk mengatur cara
pasangan setiap siswa adalah teman berpikir sistematik, lebih sedikit ide yang
sebangkunya. Hal ini dimaksudkan agar siswa masuk, jika ada perselisihan tidak ada
tidak pindah mendekati siswa lain yang pintar penengah dari siswa dalam kelompok yang
dan meninggalkan teman sebangkunya. bersangkutan sehingga banyak kelompok
Kemudian siswa mulai bekerja dengan yang melapor dan dimonitor, jumlah murid
pasangannya untuk mendiskusikan mengenai yang ganjil berdampak pada saat
jawaban atas permasalahan yang diberikan pembentukan kelompok karena ada satu
oleh guru. Setiap siswa memiliki kesempatan murid yang tidak mempunyai pasangan,
untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan jumlah kelompok yang terbentuk banyak,
jawaban secara bersama. 4) tahap Sharing menggantungkan pada pasangan. Kelemahan
(berbagi), pada tahap ini siswa dapat lain sering terjadi pada saat proses think,
mempresentasikan jawaban secara biasanya ada ketidaksesuaian antara waktu
perseorangan atau mewakili setiap kelompok yang direncanakan dengan pelaksanaannya.
kepada kelas sebagai keseluruhan kelompok. Hal ini dikarenakan siswa yang suka
Dengan presentasi siswa akan merasa bangga mengulur-ulur waktu dengan alasan pekerjaan
bisa menyampaikan hasil diskusinya didepan belum diselesaikan. Hal ini berdampak pada
semua teman kelasnya dan dihadapan guru, hasil belajar ranah kognitif, yaitu siswa
Vol,4. No,3. Tahun 2020

kurang menunjukkan kemampuan yang karena itu, hasil belajar siswa disekolah
sesungguhnya. Model ini membutuhkan dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan
banyak waktu karena terdiri dari 3 langkah kualitas pembelaaran. Hal ini senada dengan
yang harus dilaksanakan oleh seluruh siswa Wasliman (Susanto, 2013: 12) mengatakan
yang meliputi tahap think, pair, share. bahwa ada dua faktor yang berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa, yaitu: 1) Faktor
2. Hasil Belajar IPS internal; faktor internal merupakan faktor
A.J. Romizowski (Jihad, 2012: 14) yang bersumber dari dalam diri peserta didik,
menyatakan bahwa hasil belajar merupakan yang mempengaruhi kemampuan belajarnya.
akumulasi adanya keluaran (outputs) dari Faktor internal ini meliputi: kecerdasan,
suatu sistem pemrosesan masukan (input). minat, perhatian, motivasi belajar, ketekunan,
Sejalan dengan itu, Abdurrahman (Jihad, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik,
2012: 14) memaparkan bahwa masukan dari dan kesehatan, 2) faktor eksternal; faktor yang
sistem tersebut berbagai macam informasi berasal dari luar diri peserta didik yang
sedangkan keluarannya adalah perbuatan atau mempengaruhi hasil belajar yaitu: keluarga,
kinerja (performance). Berdasarkan pendapat sekolah, dan masyarakat.
para Ahli tersebut, maka dapat dikatakan Susanto (2013: 137) mengemukakan
bahwa hasil belajar merupakan adanya bahwa IPS adalah ilmu pengetahuan yang
perubahan perilaku secara kolektif, pada mengkaji berbagai disiplin ilmu sosial dan
semua aspek potensi kemanusiaan seorang humaniora serta kegiatan dasar manusia yang
pembelajar. Perubahan tersebut disebabkan dikemas secara ilmiah dalam rangka memberi
karena siswa mencapai penguasaan atas wawasan dan pemahaman yang mendalam
sejumlah bahan yang diberikan dalam proses kepada peserta didik, khusus di tingkat dasar
belajar mengajar. Hasil belajar seringkali dan menengah. Dengan demikian,
digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui pembelajaran IPS yang dilaksanakan baik
seberapa jauh seseorang menguasai bahan pada pendidikan dasar tidak menekankan
yang sudah diajarkan untuk pada aspek teoritis keilmuannya, tetapi aspek
mengaktualisasikan hasil belajar tersebut praktis dalam mempelajari, menelaah,
diperlukan serangkaian pengukuran mengkaji gejala, dan masalah sosial
menggunakan alat evaluasi yang baik dan masyarakat, yang bobot dan keluasannya
memenuhi syarat. Banyak guru yang merasa disesuaikan dengan jenjang pendidikan
sukar untuk menjawab pertanyaan yang masing-masing. Kegiatan belajar mengajar
diajukan kepadanya mengenai apakah mengajar IPS membahas manusia dengan
pengajaran yang telah dilakukannya berhasil lingkungannya dari berbagai sudut ilmu sosial
atau tidak. Untuk menjawab pertanyaan itu, pada masa lampau, sekarang, dan masa
Sudjana (Jihad, 2012:20) mengemukakan dua mendatang, baik pada lingkungan yang dekat
kriteria keberhasilan pengajaran yang bersifat maupun lingkungan yang jauh dari siswa.
umum yaitu 1) Kriteria ditinjau dari sudut mata pelajaran IPS dalam Kurikulum Tingkat
prosesnya, 2) Kriteria ditinjau dari hasilnya. Satuan Dasar (KTSP) meliputi aspek-aspek
Hasil belajar siswa dapat dipengaruhi sebagai berikut: 1) Manusia, tempat dan
oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut lingkungan, 2) Waktu, keberlanjutan, dan
dapat berasal dari diri siswa maupun dari luar perubahan 3) Sistem sosial dan budaya, 4)
diri siswa yang nantinya akan saling Perilaku ekonomi dan kesejahteraan. Salah
mempengaruhi dalam proses belajar. Adanya satu materi pelajaran IPS yang ada di Sekolah
pengaruh dari dalam diri siswa, merupakan Dasar khususnya pada kelas V yakni
hal yang logis dan wajar, sebab hakikat menghargai peranan tokoh pejuang dan
perbuatan belajar adalah perubahan tingkah masyarakat dalam mempersiapkan dan
laku individu yang diniati dan disadari. Salah mempertahankan kemerdekaan indonesia.
satu lingkungan belajar yang paling dominan Hal itu menjadi sangat penting untuk
mempengaruhi hasil belajar di sekolah adalah diketahui bagi siswa agar mereka mampu
kualitas pengajaran yaitu tinggi atau memahami bagaimana perjuangan para
rendahnya aktifitas pembelajaran yang pahlawan dalam meraih kemerdekaan dari
mempengaruhi tujuan pembelajaran. Oleh
JIKAP PGSD: Jurnal Ilmiah Ilmu Kependidikan

penjajah dan bagaiamana cara menghargai sebelumnya meliputi kegiata awal,


jasa para pahlawan. kegiatan inti dan kegiatan akhir.
c. Observasi, tahap observasi yaitu obsever
METODE PENELITIAN mengamati pelaksanaan tindakan dalam
proses pembelajaran dengan menggunakan
Penelitian ini meggunakan
model pemeblajaran Think Pair Share.
pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. d. Refleksi, hasil yang diperoleh pada tahap
Jenis penelitian ini adalah Penelitian
observasi dan tes. Dilakukan dengan
Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan
mengkaji dan merenungkan kembali
dengan 2 siklus yakni tindakan-tindakan informasi-informasi awal berkenaan
(aksi) yang berulang-ulang yang dimulai dari dengan adanya ketidak sesuaian dengan
perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi praktek pembelajaran.
dan refleksi, yang bertujuan untuk Teknik Pengumpulan Data diperoleh
memperbaiki proses belajar mengajar dikelas.
dari tes dan observasi dan dokumentasi.
Fokus penelitian ini adalah terkait Teknik Analisa Data adalah analisis
dengan faktor-faktor yang diteliti, yaitu:
data kualitatif terdiri dari tiga tahapan yakni
1. Model pembelajaran Think Pair Share Data Reduction (Reduksi data), Data Display
merupakan salah satu bentuk model (Penyajian data) Conclusion Drawing
pembelajaran kooperatif dengan cara (menarik kesimpulan dan verifikasi).
berpasangan yang memberi siswa waktu Indikator Keberhasilan meliputi indikator
lebih banyak berpikir, berpasangan, dan proses dan hasil dalam penelitian model
saling berbagi satu sama lain. kooperatif tipe Think Pair Share. Dari segi
2. Hasil belajar IPS adalah kemampuan yang proses meliputi keaktifan guru dan siswa
dimiliki oleh siswa setelah belajar, yang dalam proses pembelajaran dengan
wujudnya berupa kemampuan kognitif, menggunakan model pembelajaran kooperatif
afektif, dan psikomotorik yang muaranya type Think Pair Sharekooperatif setelah
adalah peningkatan hasil belajar pada mencapai 100% (kategori baik). Adapun
pembelajaran IPS. katergori yang digunakan dalam menentukan
Penelitian ini dilaksanakan dikelas V pencapaian proses pembelajaran sebagaimana
SD Inpres 12/79 Macope Kabupaten Bone. yang telah diungkapkan Daryanto (Umar
Subjek penelitian adalah siswa kelas V SD
Mila: 2014) yaitu:
INPRES 12/79 Macope yang berjumlah siswa
16 orang yaitu terdiri atas 6 laki-laki dan 10
Tabel 1. Kategori Standar Proses
perempuan. Pembelajaran
Secara garis besar langkah Presentase Kategori
penelitian/rencana implementasi secara rinci
dapat dilaksanakan dengan prosedur sebagai
Penguasaan 80%-100% Baik (B)
berikut: Penguasaan 65%-79% Cukup (C)
a. Perencanaan, yaitu Menyusun rencana Penguasaan ≤60% Kurang (K)
pelaksanaan pembelajaran, Membuat
lembar observasi untuk melihat bagaimana Dari segi indikator hasil ditandai
suasana belajar mengajar dikelas saat dengan skor perolehan siswa dari tes hasil
penerapan model pembelajaran Think Pair belajar yang diberikan dengan nilai
Share dilaksanakan, membuat alat bantu ketuntasan minimal 70 setiap siswa.
mengajar yang diperlulkan dalam Pembelajaran dikatakan berhasil jika minimal
membantu siswa memamhami konseo 70% (kategori baik) dari jumlah siswa
materi dengan baik, membuat alat evaluasi mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal
berupa tes formatif untuk melihat apakah (KKM) dalam mata pelajaran IPS. Adapun
materi menghargai pejuang kemerdekaan kualifikasi yang digunakan untuk menilai
sudahdikuasai oleh siswa. tingkat keberhasilan yang diungkapkan oleh
b. Tindakan, yaitu melaksanakan Arikunto dan safaruddin, (2007) sebagai
pembelajaran berdasarkan rencana berikut:
tindakan yang telah disusun oleh guru
Vol,4. No,3. Tahun 2020

Tabel 2. Kriteria Ketuntasan Belajar Berdasarkan hasil evaluasi tindakan


Tingkat Kaulifikasi siklus I menunjukkan data hasil tes formatif
Penguasaan tindakan siklus I yakni siswa yang
81%-100% Sangat Baik (SB) memperoleh nilai ≥ 70 sebanyak 7 orang
61%-80% Baik (B) siswa (43,75%) dan siswa yang memperoleh
nilai < 70 adalah sebanyak 9 (56,26%). Dari
41%-60% Cukup (C) hasil tes ditemukan bahwa penyebab
21%-40% Kurang (K) kegagalan siswa diperoleh berdasarkan hasil
<21% Sangat observasi guru, dan hasil observasi siswa.
Kurang(SK) Pada tahap observasi guru ditemukan
beberapa tahap pembelajaran yang kurang
HASIL PENELITIAN maksimal Sedangkan hasil observasi siswa,
ditemukan masih banyak siswa yang kurang
Paparan Data Siklus I berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
Hasil data yang peroleh dari tindakan,
d. Hasil Refleksi Siklus I
temuan dan refleksi diperoleh melalui hasil
Dari aspek guru:
observasi selama PBM, dan hasil belajar 1) Guru sebaiknya melakukan apersepsi agar
siswa. Setiap siklus akan dipaparkan secara
memudahkan siswa untuk mengaitkan
terpisah. Paparan yang dimaksud adalah
materi dengan pengetahuan awal yang
tindakan aktifitas guru dan siswa Hal ini
mereka miliki.
bertujuan untuk melihat perkembangan
2) Guru sebaiknya memperbanyak
pembelajaran dan hasil belajar siswa setiap
pertanyaan pada saat awal pembelajaran
siklus.
agar dapat membuka pemikiran siswa
a. Perencanaan Tindakan Siklus I tentang pelajaran sebelumnya maupun
Perencanaan tindakan terdiri dari
yang akan dipelajari.
menentukan materi pembelajaran,
3) Guru sebaiknya memberi penjelasan yang
menentukan tujuan pembelajaran, lebih banyak meneganai materi yang akan
menentukan langkah-langkah pemebelajaran, dibahas agar supaya siswa lebih
memilih bahan/materi pelajaran, dan memahami pelajaran dan akan lebih
menyusun alat tes hasil belajar. mudah mejawab pertanyaan yang
b. Pelaksanaan Siklus I diberikan.
Tindakan untuk siklus I yang dihadiri
4) Guru sebaiknya memberi kesempatan
16 orang siswa, dimana peneliti yang
kepada semua pasangan untuk
bertindak sebagai guru. Pelaksanaan siklus I
memplenokan hasil diskusinya agar dapat
terdapat rangkaian pembelajaran yang terdiri
berbagi jawaban dengan pasangan atau
dari kegiatan awal (pembukaan) kegiatan inti
kelompok lain.
(pelaksanaan), dan kegiatan akhir (penutup).
Dari aspek siswa:
c. Hasil Observasi Siklus I 1) Sebaiknya siswa memperhatikan apersepsi
Berdasarkan hasil obsevasi oleh guru
dan pertanyaan yang diberikan oleh guru,
kelas V SD Inpres 12/79 Macope pelaksanaan
agar semua siswa dapat terlibat secara aktif
tindakan pembelajaran pada Siklus I belum
dalam proses pembelajaran.
maksimal dikarenakan beberapa kekurangan
2) Pada tahap Thinking, sebaiknya siswa
yang ditemukan dari aspek guru, yakni mempergunakan waktu satu menit yang
sebagai berikut: 1) guru tidak menyampaikan
diberikan guru untuk berpikir, sehingga
apersepsi, 2) guru melakukan tanya jawab
siswa tersebut dapat menjawab
bersama siswa, masih pada kategori cukup, 3)
pertanyaaan dengan benar.
guru kurang memberikan penjelasan
3) Pada tahap Sharing, setiap pasangan siswa
mengenai materi jasa dan peran tokoh di
sebaiknya tidak malu-malu untuk berbagi
sekitar proklamasi kemerdekaan, 4) guru
atau bekerjsama dengan kelas secara
kurang memberi kesempatan kepada setiap
keseluruhan mengenai apa-apa yang telah
pasangan atau kelompok untuk memplenokan
mereka kerjakan dari LKS yang dibagikan,
hasil diskusinya.
agar semua siswa dapat saling memahami
kelebihan dan kekurangan masing-masing.
JIKAP PGSD: Jurnal Ilmiah Ilmu Kependidikan

Melihat kekurangan-kekurangan 2) Guru sudah memperbanyak melakukan


yang masih ada serta pencapaian hasil belajar tanya jawab bersama siswa sehingga
siswa dalam pembelajaran IPS pada siklus I konsepsi pemikiran siswa lebih tergali.
belum memenuhi standar indikator 3) Guru sudah memberikan penjelasan yang
keberhasilan penelitian yang ditetapkan lebih tentang materi yang dibahas sehingga
peneliti yaitu siswa mendapat nilai 70 ke atas siswa memahami dengan baik dan
belum mencapai 70% dari seluruh jumlah mempermudah menjawab pertanayaan
siswa sesuai indikator keberhasilan yang telah atau soal yang diberikan.
ditentukan dengan merujuk kategori standar 4) Guru sudah memberi kesempatan kepada
penilaian, oleh karena itu dilanjutkan tindakan setiap pasangan untuk memplenokan hasil
pada siklus II. diskusinya.
Sedangkan hasil observasi dari siswa,
Paparan Data Siklus II ditemukan hal-hal sebagai berikut:
a. Perencanaan Tindakan Siklus II terdiri dari 1) Sudah banyak siswa yang memperhatikan
menentukan materi pembelajaran, apersepsi dan pertanyaan yang diajukan
menentukan tujuan pembelajaran, oleh guru sehingga keterlibatan siswa
menentukan langkah-langkah untuk aktif dalam proses pembelajaran
pemebelajaran, memilih bahan/materi sudah berjalan dengan baik.
pelajaran, dan menyusun alat tes hasil 2) Pada tahap Thinking, siswa diberi waktu
belajar. satu menit untuk berpikir mengenai
b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II terdiri dari jawaban dari pertanyaan guru tentang jasa
Kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatann dan peran tokoh di sekitar proklamasi, dan
akhir. sudah sebagian besar siswa yang nampak
c. Hasil Observasi Tindakan Siklus II. serius berpiikir, sehingga tidak
Berdasarkan hasil observasi terhadap menyulitkan siswa untuk menjawab
aktivitas guru pada siklus II kemampuan guru pertanyaan yang diajukan oleh guru.
mengajarkan materi jasa dan peran tokoh di 3) Pada tahap Sharing, semua pasangan siswa
sekitar proklamasi kemerdekaan dapat sudah berani mengutarakan hasil
dikatakan berada pada kategori baik pada pemikiran mereka setelah mengerjakan
siklus II ini, semua indikator sudah terlaksana LKS.
dengan baik. Sementara lembar observasi Berdasarkan analisis dan refleksi
yang ditujukan pada siswa menunjukkan diatas dan mengacu kepada kriteria suskses
bahwa sebagian besar siswa telah mengikuti yang ditetapkan, maka kesimpulan bahwa
atau melaksanakan indikator dengan baik pembelajaran sudah berhasil. Dengan
walaupun pada beberapa indikator masih ada demikian maka tujuan pembelajaran yang
sebagian siswa yang tidak antusias dalam ditetapkan sudah tercapai.
mengikutinya. Pencapaian hasil belajar siswa dalam
Data dari hasil tes formatif siklus II, pembelajaran IPS pada siklus I sudah masuk
yakni siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 dalam kategori cukup akan tetapi belum
sebanyak 12 (75%), dan siswa yang memenuhi stnadar kriteria yang telah
memperoleh nilai < 70 sebanyak 4 (25%). ditentukan yakni nilai 70 keatas belum
d. Analisis dan Refleksi Siklus II mencapai 70% dari seluruh jumlah siswa.
Seluruh data dirangkum melalui Sedangkan pada pembalajaran siklus II ,
observasi dan evaluasi hasil belajar telah semua kekurangan dan kelemahan pada siklus
disusun dan didiskusikan secara bersama- I telah berusaha diperbaiki dan telah
sama antara guru dan peneliti. Hasil analisis menunjukkan peningkatan yang cukup
dan refleksi dari siklus II adalah sebagai signifikan pada siklus II yakni masuk pada
berikut: kategori baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil
1) Guru sudah melakukan apersepsi sehingga belajar siswa pada pelajaran IPS
siswa mudah mengaitkan materi tentang menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh
jasa dan peran tokoh di sekitar proklamasi nilai ≥ 70 yaitu 12 orang siswa atau 75% dari
dengan pengetahuan awal yang mereka keseluruhan siswa. Hal ini menandakan
miliki. bahwa hasil belajar IPS siswa sudah
Vol,4. No,3. Tahun 2020

mengalami peningkatan. kesimpulannya siswa kelas V SD Inpres 12/79 Macope


bahwa penerapan model pembelajaran TPS Kabupaten Bone.
(Think Pair Share) pada proses pembelajaran Adapun saran dikemukakan sebagai
IPS mengalami banyak peningkatan. Salah berikut bahwa Model pembelajaran
satu indikatornya adalah adanya interaksi kooperatif tipe Think Pair Share layak
yang baik siswa satu dengan siswa lainnya, dipertimbangkan untuk menjadi model
karena dengan interaksi dengan siswa lain pembelajaran alternatif baik pada mata
dapat membantu siswa untuk memahami pelajaran IPS maupun pada mata pelajaran
materi pelajaran dan juga menambah lainnya.
keterampilan sosial siswa. Hasil belajar dapat
dikatakan sebagai pencapaian tujuan yang DAFTAR RUJUKAN
telah dilakukan melalui proses pembelajaran.
Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian.
Purwanto (2011: 46) yang mengatakan Jakarta: Rineka Cipta
“hasil belajar merupakan pencapaian tujuan Arikunto, S., et. al. (2014). Penelitian
pendidikan pada siswa yang mengikuti proses Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi
belajar mengajar. Aksara
Siswa dalam mengikuti pembelajaran Asy’ari, et. al. (2007). Ilmu Pengetahuan
dengan menggunakan model pembelajaran Sosial. Jakarta: Eelangga.
kooperatif Tipe Think Pair Share B, Uno, Hamzah & Nurdin, M. (2014).
menunjukkn respon positif, termotivasi untuk Belajar dengan Pendekatan
belajar, karena mareka harus secara maksimal Pembelajaran Aktif Inovatif
berfikir, bekerjasama dengan pasangannya Lingkungan Kreatif Menarik. Jakarta:
dengan santai dan mau bertukar tentang ide Bumi Aksara
ide yang berhubungan dengan materi Dahlia. (2012). Peningkatan Hasil Belajar IPS
pembelajaran yang diberikan pada saat dalam Melalui Model Pembelajaran Think
kelas. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka Pair Share Pada Siswa Kelas IV SDN
dapat disimpulkan bahwa penerapan model 216 Talungeng Kecamatan Barebo
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share Kabupaten Bone. Skripsi.
pada mata pelajaran IPS pada siswa kelas V Watampone: FIP UNM
SD Inpres 12/79 Macope Kabupaten Bone Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat
memberikan hasil cukup signifikan terhaap Satuan Pendidikan (KTSP) untuk
peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I SD/MI. Jakarta: Depdiknas.
hasil belajar siswa rata-rata kelas 60,10 Gunawan, R. (2011). Pendidikan IPS Filosofi,
dengan persen ketuntasan 43,75% dengan Konsep, dan Aplikasi. Bandung:
kategori cukup, meningkat menjadi 78,08 Alfabeta
dengan persen ketuntasan 75% pada siklus II Hamdayama, J. (2014). Model Dan Metode
dengan kategori baik. Pembelajaran Kreatif dan
Berkarakter. Bogor: Ghalia
Indonesia
SIMPULAN DAN SARAN Moleong, L. (2010). Metodologi Penelitian
Kualitatif. Bandung: Rosda
Berdasarkan rumusan masalah, hasil
Rusman.(2012).Model-Model Pembelajaran.
temuan, pembahasan, dan hasil tes belajar Jakarta: Raja Grafindo Persada
yang mengalami peningkatan dari siklus I Sugiyono. (2013). Metode Penelitian
dengan kualifikasi Cukup (C) menjadi
Pendidikan. Bandung: Alfabeta
kualifikasi Baik (B) pada siklus II, dan dari
Susanto, A. (2013). Teori Belajar &
segi proses dilihat adanya peningkatan
Pembelajaran di Sekolah Dasar.
aktifitas siswa dan guru melalui hasil
Jakarta: Kencana
pengamatan, maka hasil penelitian ini dapat
Susanto, A. (2014). Pengembangan
disimpulkan bahwa penerapan model
Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar.
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair
Jakarta: Prenadamedia Group
Share dapat meningkatkan hasil belajar IPS
JIKAP PGSD: Jurnal Ilmiah Ilmu Kependidikan

Umar, M. (2014). Penerapan Model


Pembelajaran Kooperatif Tipe Group
Investigation untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa Pada Mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
Kelas IV SD Negeri Mangasa
Kecamatan Rappocini Kota
Makassar. Skripsi. Makassar:
Program Studi Pendidikan Guru
Sekolah Dasar Universitas Negeri
Makassar
Undang-undang Republik Indonesia Nomor
20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Jakarta: Sinar
Grafika

Anda mungkin juga menyukai