ANGGARAN DASAR DAN
ANGGARAN RUMAH TANGGA
GERAKAN
PEMUDA MARHAENIS
PENGANTAR
Dalam rangka menyongsong deklarasi kebangkitan
Gerakan Pemuda Marhaenis di Semarang 10-11 November
2018 berikut ini disajikan draft AD/ART Gerakan Pemuda
Marhaenis .
Draft tersebut diatas mengacu pada AD/ART Pemuda
Demokrat Indonesia hasil Kongres ke XI di Magelang
tanggal 15-19 Desember 1990 disertai beberapa
penyempurnaan, pada saat mana penyusun sebagai ketua
komisi organisasi.
Disusunnya draft ini atas permintaan dari beberapa panitia
deklarasi kebangkitan Gerakan Pemuda Marhaenis sambil
menunggu AD/ART Gerakan Pemuda Marhaenis yang asli.
Semoga ada manfaatnya.
Purwokerto, Oktober 2018
Penyusun
i
ANGGARAN DASAR
GERAKAN PEMUDA MARHAENIS
PEMBUKAAN
Bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus
1945 mempunyai dasardan tujuan sesuai dengan tuntutan
budi dan nurani kemanusiaan yang universal untuk
mewujudkan keadilan sosial, kemerdekaan bangsa, seta
perdamaian dunia yang sempurna dan abadi yang
menjamin hubungan antar bangsa atas dasar persamaan
hak dan derajat dalam satu dunia baru yang bebas dari
Kapitalisme, Kolonialisme, Feodalisme, dan Komunisme
dalam segala bentuk dan manifestasinya.
Bahwa Marhaenisme adalah azas dan cara perjuangan
yang menghendaki susunan masyarakat dan negara yang
dalam segala hal menyelamatkan serta meningkatkan
kesejahteraan kaum Marhaen.
Bahwa cita-cita perjuangan Bangsa Indonesia dalam
mewujudkan masyarakat adil dan makmur bahagia dan
sejahtera tanpa penghisapan antar manusia dan antar
bangsa perlu secara terus menerus diperjuangkan oleh
generasi penerus bangsa Indonesia.
Bahwa oleh karena itu, dengan penuh kesadaran dan
tanggung jawab terhadap cita-cita perjuangan bangsa
Indonesia dan dalam upaya melaksanakan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekwen,
maka Gerakan Pemuda Marhaenis bertekad untuk terus
berjuang dengan menghimpun kekuatan pemuda, pelajar,
mahasiswa, buruh, tani, dan nelayan dalam wadah Gerakan
Pemuda Marhaenis serta menetapkan Anggaran Dasar
sebagai berikut :
1
BAB I
NAMA, WAKTU DAN TEMPAT KEDUDUKAN
Pasal - 1
Nama Organisasi Gerakan Pemuda Marhaenis disingkat
Pemuda Marhaenis
Pasal - 2
Gerakan Pemuda Marhaenis didirikan pada tanggal 31 Mei
1947 di Sala untuk jangka waktu yang tidak terbatas pada
Kongres IX tanggal 28 Oktober s/d 1 November 1963 di Sala
berganti nama menjadi Gerakan Pemuda Marhaenis
disingkat Pemuda Marhaenis, oleh Deklarasi Dewan
Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Marhaenis pada tanggal
27 Agustus 1982 dikembalikan kepada nama semula :
Pemuda Demokrat Indonesia disingkat Pemuda Demokrat
yang dikukuhkan oleh Mukernas IV Pemuda Demokrat
Indonesia tanggal 16 - 19 Desember 1982 di Cibubur
Jakarta, dan oleh Kongres X Pemuda Demokrat Indonesia
tanggal 8 - 11 Maret 1986 di Bandung. Diperbaiki dalam
Kongres XI Pemuda Demokrat Indonesia tanggal 15 s/d 19
Desember 1990 di Magelang dan mulai berlaku pada
tanggal 18 Januari 1991.
Pasal - 3
Gerakan Pemuda Marhaenis berkedudukan di wilayah
hukum kekuasaan Negera Kesatuan Republik Indonesia
dan dipimpin oleh Pengurus Pusat yang berkedudukan di
Ibukota Negara.
2
BAB II
AZAS, SIFAT DAN TUJUAN
Pasal - 4
Gerakan Pemuda Marhaenis berazas Marhaenisme.
Pasal - 5
Gerakan Pemuda Marhaenis adalah Organisasi
kemasyarakatan sekaligus Organisasi Pergerakan yang
bersifat Independen dan terbuka, anti Kapitalisme,
Imperialisme, Kolonialisme, Feodalisme dalam segala
bentuk dan manifestasinya.
Pasal - 6
Gerakan Pemuda Marhaenis bertujuan :
a. Mempertahankan dan mengamankan Kemerdekaan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
b. Mengisi Kemerdekaan dengan mewujudkan masyarakat
adil, makmur, bahagia dan sejahtera berdaarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
c. Mewujudkan tercapainya perdamaian dunia yang
sempurna dan abadi yang mnenjamin hubungan antara
bangsa atas dasar persamaan hak dan derajat dalam
satu dunia baru yang bebas dari Kapitalisme,
Imperialisme, Kolonialisme, Feodalisme dalam segala
bentuk dan manifestasinya.
BAB III
FUNGSI DAN USAHA
Pasal - 7
Gerakan Pemuda Marhaenis berfungsi sebagai :
3
a. Wadah Persatuan dan Kesatuan sekaligus alat
perjuangan bagi segenap Pemuda Nasionalis
Pancasilais.
b. Tempat untuk mendidik dan menggembleng para
pemuda menjadi Kader Bangsa dan Kader Pemimpin di
segenap Lembaga dan tingkatan.
c. Kekuatan moral dan kekauatan sosial, keikut sertaan
sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Pasal - 8
Dalam rangka mengemban Amanat Penderitaan Rakyat,
mengejawantahkan Pancasila dalam kehidupan sehari-
hari, dan mewujudkan fungsi serta tujuan Organisasi
Gerakan Pemuda Marhaenis berusaha :
a. Melaksanakan dan mengamalkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945.
b. Menanamkan dan menumbuh kembangkan kesadaran
serta kecintaan ber-Bangsa, ber-Tanah Air dan ber-
Bahasa satu Indonesia, sebagaimana tersebut dalam
Sumpah Pemuda 1928.
c. Berpartisipasi aktif, korektif, konstruktif dalam proses
pembangunan Bangsa dan Negara.
d. Meningkatkan hubungan dan kerja sama dengan
Organisasi Pemuda, baik di dalam maupun di luar negeri
atas dasar persamaan hak dan persamaan derajat.
BAB IV
KEANGGOTAAN
Pasal - 9
Yang dapat diterima menjadi anggota Gerakan Pemuda
Marhaenis ialah Warga Negara Indonesia yang berumur 15
s/d 40 tahun yang secara sadar menerima Anggaran Dasar
dan Anggaran Rumah Tangga serta mentaati peraturan
Organisasi Gerakan Pemuda Marhaenis.
4
BAB V
WILAYAH, KESATUAN DAN PIMPINAN ORGANISASI
Pasal - 10
1. Wilayah Organisasi Gerakan Pemuda Marhaenis
meliputi seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan
Republik Indonesia dan merupakan satu kesatuan
Organisasi tingkat Nasional.
2. Wilayah Organisasi tingkat Nasional dibagi atas daerah-
daerah Organisasi yang masing-masing merupakan
kesatuan Organisasi tingkat Provinsi.
3. Daerah Organisasi dibagi atas cabang-cabang
Organisasi yang masing-masing kesatuan organisasi
tingkat Kabupaten/ Kota.
4. Cabang-cabang Organisasi dibagi atas anak cabang-
anak cabang Organisasi yang masing-masing
merupakan kesatuan Organisasi Tingkat Kecamatan.
5. Anak cabang Organisasi dibagi atas ranting-ranting
Organisasi yang masing-masing merupakan kesatuan
Organisasi di tingkat Desa dan Kelurahan.
6. Ranting Organisasi dibagi atas kelompok-kelompok
Organisasi yang masing-masing merupakan kesatuan
Organisasi Tingkat RW atau yang sederajat.
Pasal - 11
Bilamana ada kekhususan susunan Wilayah Daerah dan
atau karena susunan masyarakatnya. Dewan Pimpinan
Pusat, dapat menetapkan penyimpangan pembagian
wilayah kerja organisasi.
Pasal -12
1. Wilayah Organisasi Tingkat Nasional dipimpin oleh
Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
2. Daerah Organisasi dipimpin oleh Dewan Pimpinan
Daerah (DPD)
5
3. Cabang Organisasi dipimpin oleh Dewan Pimpinan
Cabang (DPC)
4. Anak Cabang Organisai dipimpin oleh Pimpinan Anak
Cabang (PAC)
5. Ranting Organisasi dipimpin oleh Pengurus Ranting
(PRT)
6. Kelompok Organisasi dipimpin oleh Ketua Kelompok.
BAB VI
PERMUSYAWARATAN DAN KEKUASAAN
ORGANISASI
Pasal - 13
1. Kedaulatan berada di tangan Anggota dan dilakukan
dalam permusyawaratan Organisasi.
2. Permusyawaratan Organisasi terdiri dari :
a. Kongres
b. Sidang Badan Kerja Kongres
c. Konperensi Daerah/Cabang
d. Musyawarah Kerja Daerah/Cabang
e. Musyawarah Anak Cabang/Ranting
f. Rapat.
Pasal - 14
1. Kongres adalah pemegang kekuasaan tertinggi
organisasi.
2. Sidang Badan Pekerja Kongres (BPK) adalah pemegang
kekuasaan tertinggi antar dua kongres.
3. Konperensi Daerah (Konperda), Konperensi Cabang
(Konpercab), Musyawarah Anak Cabang (Musancab),
Musyawarah Ranting (Musran) pemegang Kekuasaan
Legislatif tertinggi di tingkat masing-masing.
4. Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda), Musyawarah
Kerja Cabang (Mukercab), Musyawarah Kerja Anak
Cabang, da Musytawarah Kerja Ranting adala forum
6
untuk menentukan kebijaksanaan Organisai dalam
rangka pelaksanaan tugas-tugas Organisasi di tingkat
masing-masing.
5. Rapat adalah forum permusyawaratan di masing-masing
tingkatan organisasi yang dapat diselenggarakan setiap
saat menurut kebutuhan.
Pasal - 15
Setiap pengambilan keputusan diusahakan atas dasar
musyawarah mufakat yang dipimpin oleh hikmah
kebijaksanaan sesuai dengan prinsip Demokrasi Pancasila.
Pasal - 16
1. Dewan Pembina melaksanakan Pembinaan terhadap
Dewan Pimpinan di tingkat masing-masing.
2. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) adalah pemegang
kekuasaan eksekutuf tertinggi untuk seluruh wilayah
organisasi.
3. Dewan Pimpinan Daerah (DPD), Dewan Pimpinan
Cabang (DPC), Pimpinan Anak Cabang (PAC),
Pengurus Ranting (PRT), dan ketua Kelompok adalah
pelaksana eksekutif di tingkat masing-masing.
BAB VII
NASKAH DAN PERATURAN ORGANISASI
Pasal - 17
1. Naskah Organisasi adalah, Naskah asasi dan pedoman
perjuangan Gerakan Pemuda Marhaenis yang
ditetapkan oleh Kongres.
2. Untuk kepentingan Organisasi setiap tingkatan
Organisasi dapat membuat peraturan organisasi yang
masing-masing bersumber dari dan tidak bertentangan
dengan peraturan yang lebih tinggi tingkatnya.
7
BAB VIII
LAMBANG, BENDERA, LAGU DAN SALAM
Pasal - 18
1. Lambang Gerakan Pemuda Marhaenis adalah : Kepala
banteng berwarna hitam di tengah bintang segi lima
berwarna putih dalam lingkaran putih atas dasar merah.
2. Bendera Gerakan Pemuda Marhaenis adalah : Bendera
merah dengan lambang organisasi di tengah-tengahnya.
3. Lagu perjuangan Gerakan Pemuda Marhaenis adalah
Mars Gerakan Pemuda Marhaenis.
4. Salam perjuangan Gerakan Pemuda Marhaenis adalah
Salam Nasional : Merdeka !
BAB IX
KEKAYAAN ORGANISASI
Pasal - 19
Kekayaan Organisasi diperoleh dari :
a. Uang pangkal, uang iuran, uang sumbangan wajib,
sumbangan sukarela, dan lain-lain pendapatan yang sah
yang diperoleh dari para anggota.
b. Bantuan/sumbangan dari pihak lain yang tidak mengikat.
BAB X
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR
Pasal - 20
1. Anggaran Dasar hanya dapat diubah oleh Kongres
dengan ketentuan asas dan tujuan organisasi mutlak
tidak dapat diubah.
2. Dalam keadaan luar biasa dan atas permintaan 2/3 dari
Peserta sidang Badan Pekerja Kongres Anggaran Dasar
dapat disempurnakan oleh sidang Badan Pekerja
8
Kongres, yang kemudian harus dipertanggung jawabkan
dalam Kongres berikutnya.
BAB XI
PENUTUP
Pasal - 21
Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini,
sepanjang mengenai peraturan pelaksanaannya ditetapkan
dalam Anggaran Rumah Tangga yang tidak boleh
bertentangan dengan Anggaran Dasar ini :
- Ditetapkan dalam Kongres ke IX Pemuda Demokrat
Indonesia tanggal 28 Oktober s/d 1 November 1963, dan
mulai berlaku pada tanggal 4 November 1963.
- Diperbaiki oleh team perubahan AD/ART berdasarkan
keputusan Mukernas 1 Gerakan Pemuda Marhaenis
tanggal 29 Oktober sampai dengan 2 November 1967.
- Diadakan perubahan/disesuaikan dengan keputusan
mukernas ke IV Pemuda Demokrat Indonesia tanggal 16
- 19 Desember 1982 di Cibubur Jakarta.
- Diperbaiki dalam Kongres ke X Pemuda Demokrat
Indonesia tanggal 8 - 11 Maret 1986 di Bandung dan
mulai berlaku tanggal 11 Maret 1986.
- Diperbaiki dalam Kongres XI Pemuda Demokrat
Indonesia tanggal 15 - 19 Desember 1990 di Magelang
dan mulai berlaku pada tanggal 18 Januari 1991.
9
ANGGARAN RUMAH TANGGA
GERAKAN PEMUDA MARHAENIS
BAB I
KEANGGOTAAN
Pasal - 1
Keanggotaan Gerakan Pemuda Marhaenis meliputi :
a. Anggota (Anggota Biasa)
b. Anggota Kader
Pasal - 2
1. Yang dapat diterima menjadi Anggota Gerakan Pemuda
Marhaenis adalah Warga Negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud pasal 9 Anggaran Dasar yang
mengajukan permintaan untuk menjadi Anggota kepada
Pengurus Ranting setempat.
2. Permintaan dimaksud ayat (1) pasal ini dinyatakan
dalam bentuk tertulis dengan cara mengisi daftar isian
yang disediakan oleh organisasi, diperkuat oleh Ranting
setempat atau sekurang-kurangnya diperkuat oleh dua
orang yang telah menjadi anggota Gerakan Pemuda
Marhaenis.
3. Apabila ditempat ia berdomisili tidak ada Ranting
Organisasi, permintaan itu disampaikan kepada
Pimpinan Anak Cabang setempat.
4. Apabila ditempat ia berdomisili tidak ada Ranting dan
tidak ada Anak Cabang Organisasi, permintaan untuk
menjadi anggota itu disampaikan langsung kepada
Dewan Pimpinan Cabang setempat.
10
5. Oleh kesatuan Organisasi yang menerima permintaan
untuk menjadi anggota tersebut, dicatat sebagai Calon
Anggota dalam Buku Daftar Calon Anggota.
6. Calon Anggota yang sudah terdaftar melalui masa
percobaan sekurang-kurangnya tiga bulan kemudian
dinyatakan diterima atau ditolak menjadi Anggota.
Pasal - 3
1. Penerimaan/Penolakan menjadi Anggota dilakukan oleh
Dewan Pimpinan Cabang atas usul Pengurus Ranting
yang diperkuat oleh Pimpinan Anak Cabang setempat.
2. Dalam hal tidak ada Ranting dan/atau Anak Cabang
Organisasi Dewan Pimpinan Cabang dapat mengambil
kebijaksanaan.
3. Anggota Gerakan Pemuda Marhaenis adalah sah
apabila telah didaftar dalam Buku Induk Dewan
Pimpinan Cabang dan dinyatakan dengan Kartu Tanda
Anggota yang bentuknya ditentukan oleh Dewan
Pimpinan Pusat dan dikeluarkan oleh Dewan Pimpinan
Cabang.
Pasal - 4
1. Untuk kepentingan organisasi, menyimpang dari
ketentuan pasal 3 ART ini, baik Dewan Pimpinan Daerah
maupun Dewan Pimpinan Pusat dapat menerima
Anggota yang kemudian didaftar dalam Buku daftar
Anggota Khusus.
2. Dewan Pimpinan Pusat dapat membatalkan
keanggotaan yang didaftar oleh Dewan Pimpinan
Daerah sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini.
11
3. Keanggotaan seseorang yang berada diluar negeri
ditangani oleh Dewan Pimpinan Pusat.
Pasal - 5
1. Anggota Kader adalah tenaga penggerak Organisasi.
2. Anggota Kader ditetapkan dan diangkat dari Anggota
Biasa yang memenuhi syarat-syarat :
[Link] terbukti kesetiaan, ketaatan dan jasa-jasanya
terhadap Organisasi dalam jangka waktu tidak kurang
dari tiga tahun berturut-turut.
[Link] kemampuan dan dalam memahami ideologi
bermoral yang baik, loyal dan tidak tercela.
c. Lulus dari pendidikan kader di tingkatan Organisasi
masing-masing.
Pasal - 6
1. Penetapan Anggota Kader dilakukan oleh :
a. Dewan Pimpinan Cabang bagi Kader tingkat Cabang.
b. Dewan Pimpinan Daerah bagi Kader tigkat Daerah.
c. Dewan Pimpinan Pusat bagi Kader tingkat Pusat.
2. Anggota Kader dicatat dalam Buku Daftar Anggota Kader
di masing-masing kesatuan Organisasi.
BAB II
HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA
Pasal - 7
1. Setiap anggota mempunyai hak untuk :
a. Memperoleh perilaku yang sama dari Organisasi
b. Memperoleh perlindungan dan pembelaan dari
Organisasi
c. Menyampaikan pikiran tertulis maupun lisan kepada
Organisasi
12
d. Berbicara dalam forum
e. Memilih dan dipilih untuk jabatan didalam maupun
diluar Organisasi
f. Membela diri.
2. Hak seorang anggota Kader tidak lebih dari pada hak
seorang anggota biasa seperti tersebut dalam ayat (1)
pasal ini.
Pasal - 8
1. Setiap Anggota mempunyai kewajiban untuk :
a. Mentaati dan melaksanakan AD/ART dan peraturan-
peraturan lainnya.
b. Melaksanakan program dan tugas-tugas lain yang
diberikan oleh Organisasi
c. Menjaga nama baik Organisasi.
d. Menjunjung tinggi disiplin Organisasi
e. Menjaga persatuan/kesatuan dan keutuhan
Organisasi.
2. Disamping mempunyai kewajiban seperti dimaksud ayat
1 pasal ini setap Angggota Kader mempunyai kewajiban
pula untuk :
a. M e m p e l o p o r i p e n g a m a n a n , p e n g h a y a t a n
Marhaenisme Ajaran Bung Karno
b. Menempatkan kepentingan Organisasi diatas
kepentingan pribadi.
BAB III
JANJI DAN PELANTIKAN
Pasal - 9
Setiap Anggota, Anggota Kader maupun Pengurus
Organisasi wajib mengucapkan janji dalam pelantikan dan
dalam upacara lainnya.
13
Pasal - 10
Janji dimaksud pasal 9 ART ini berbunyi sebagai berikut :
Tri Prasetya
Kami Gerakan Pemuda Marhaenis Indonesia berjanji :
Satu : Senantiasa setia dan berbakti kepada Negara
Kesatuan Republik Indonesia tujuh belas Agustus
seribu sembilan ratus empat puluh lima, yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Dua : Senantiasa setia dan berbakti serta siap
mengamankan dan mengamalkan Marhaenisme
Ajaran Bung Karno baik sebagai pribadi maupun
Pimpinan Organisasi.
Tiga : Senantiasa setia dan berbakti kepada Organisasi
serta berjuang untuk mewujudkan tercapainya
perdamaian dunia yang sempurna dan abadi yang
menjamin hubungan antar bangsa atas dasar
persamaan hak dan derajat dalam satu Dunia Baru
yang bersih dari Kapitalisme,
Imperialisme,Kolonialisme, Feodalisme dalam
segala bentuk dan manifestasinya.
BAB IV
DISIPLIN ORGANISASI
Pasal - 11
1. Untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan menjaga
keutuhan dan kebesaran Organisasi, disamping
peraturan-peraturan Organisasi yang umum, ada
ketentuan-ketentuan khusus, yaitu disiplin Organisasi.
2. S e t i a p A n g g o t a , A n g g o t a K a d e r, m a u p u n
Pengurus/Pmpinan Organisasi harus tunduk dan
menjunjung tinggi Disiplin Organisasi.
14
3. Kepada setiap pelanggar Disiplin Organisasi dikenakan
sanksi organisasi.
Pasal - 12
1. Disiplin Organisasi yang bersifat larangan.
Setiap anggota, anggota kader, maupun anggota
pengurus dilarang :
a. Memasuki Organisasi lain yang dinyatakan terlarang
oleh Undang-Undang/Pemerintah.
b. Memasuki Organisasi lain yang berlainan azas, tujuan
dan haluan Organisasi.
c. Melakukan kegiatan politik serta bersikap dan
bertingkah laku yang bertentangan dengan Pancasila
dan Undnag-Undang Dasar 1945.
d. Melakukan kegiatan yang merugikan nama baik dan
kepentingan Organisasi
2. Disiplin Organisasi yang bersifat keharusan.
Setiap Anggota, Anggota Kader, maupun Anggota
Pengurus :
a. Dalam hal ini melakukan kegiatan atas nama
Organisasi yang tidak menjadi tugasnya, harus
mendapatkan persetujuan dari Organisasi terlebih
dahulu.
b. Bagi yang akan menduduki Jabatan dalam Lembaga
kenegaraan dan Lembaga-lembaga lain tidak atas
nama organisasi harus memberitahukan kepada
Organisasi terlebih dahulu.
c. Bagi yang duduk dalam Lembaga Kenegaraan,
Lembaga dan atau Organisasi lain atas nama
Organisasi harus memberikan laporan secara berkala
kepada Organisasi.
15
d. Bagi yang memperoleh penghasilan dari kedudukan
karena dan atau atas nama Organisasi, harus
memberikan sebagian dari penghasilannya itu
kepada organisasi.
e. Harus tunduk kepada ketentuan dan kebijaksanaan
Organisasi.
BAB V
SANKSI ORGANISASI
Pasal - 13
1. Sanksi Organisasi dapat dikenakan kepada :
a. Anggota, Anggota Kader maupun Anggota Pengurus
yang melakukan pelanggaran terhadap disiplin,
pedoman dan peraturan Organisasi, ataupun
tindakan-tindakan lain yang dapat merugikan
Organisasi, dapat dikenakan sanksi.
b. Pengurus Daerah ke bawah yang berada dalam
kondisi membahayakan dan sangat mengancam
kelangsungan hidup organisasi yaitu :
1. Secara keseluruhan/sebagian besar melakukan
pelanggaran disiplin, pedoman, dan peraturan
organisasi lainnya.
2. Secara keseluruhan atau sebagian besar
menentang dan atau melakukan sabotase
terhadap kebijaksanaan organisasi yang lebih
tinggi tingkatannya.
3. Terpecah belah dalam kelompok-kelompok yang
saling bertentangan dan tak mungkin dipersatukan.
2. Sanksi yang dimaksud ayat 1 pasal ini secara berurutan
adalah :
a. Peringatan
b. Pemberhentian sementara
c. Pemberhentian
16
3. a. Peringatan dapat dalam bentuk :
1. Lisan dan tertulis
2. Peringatan I dan Peringatan II
b. Peringatan I dapat dikenakan apabila terjadi
pelanggaran disiplin atau tidak mentaati keputusan-
keputusan/ peraturan/ pedoman organisasi
c. Peringatan II dapat dikenakan apabila yang
bersangkutan tidak mengindahkan Peringatan I.
4. Pemberhentian sementara dapat dikenakan kepada :
a. Anggota yang telah terkena peringatan I dan II dan
tetap tidak mengindahkannya.
b. Anggota kader, anggota pengurus daerah ke bawah
yang telah terkena Peringatan I tanpa harus melalui
Peringatan II
5. Pemberhentian dapat dikenakan kepada yang telah
terkena Pemberhentian sementara sebagaimana
dimaksud dalam ayat 4 pasal ini.
Pasal - 14
1. Pemberhentian sementara/pemberhentian anggota
kader adalah Pemberhentian sementara/pemberhentian
:
a. Dari kedudukannya sebagai Anggota Kader, atau;
b. Dari kedudukannya sebagai Anggota Kader dan
Anggota sekaligus.
2. Pemberhentian sementara/pemberhentian Anggota
Pengurus adalah pemberhentian sementara/
pemberhentian :
a. Dari kedudukannya sebagai Pengurus, atau;
b. Dari kedudukannya sebagai Anggota Pengurus dan
Anggota Kader (apabila ia Anggota Kader), atau ;
17
c. Dari kedudukannya sebagai Anggota Pengurus,
Anggota Kader, dan dari kedudukannya sebagai
Anggota sekaligus.
Pasal - 15
1. Peringatan terhadap anggota dilakukan oleh Pengurus
Ranting yang bersangkutan.
2. Peringatan terhadap anggota Kader dilakukan oleh
Dewan Pimpinan setingkat dengan tingkat keanggotaan
Kader yang bersangkutan.
3. Peringatan terhadap pengurus dilakukan oleh keputusan
Rapat Pengurus satu tingkat lebih atas.
Pasal - 16
1. Pemberhentian sementara/Pemberhentian Anggota
dilakukan oleh Rapat Pimpinan Cabang atau usul
Pengurus Ranting yang diperkuat oleh Anak Cabang,
dan dinyatakan dalam bentuk Surat Keputusan Dewan
Pimpinan Cabang yangbersangkutan.
2. Surat Keputusan dimakasud ayat 1 pasal ini berikut
berita acara serta data yang diperlukan disampaikan
kepada Dewan Pimpinan Daerah untuk mendapatkan
keputusan.
3. Baik atas banding maupun tidak, Rapat Dewan Pimpinan
Daerah dapat mengambil keputusan yang dinyatakan
dalam bentuk Surat Keputusan Dewan Pimpinan
Cabang dimaksud.
18
4. Apabila tidak ada pihak yang mengajukan banding
kepada Dewan Pimpinan Pusat, maka Surat Keputusan
Dewan Pimpinan Daerh tersebut dengan sendirinya
dianggap sah.
5. Apabila salah satu pihak atau kedua-duanya
mengajukan banding kepada Dewan Pimpinan Pusat,
maka rapat Dewan Pimpinan Pusat dapat mengambil
keputusan yang dinyatakan dalam bentuk Surat
Keputusan Dewan Pimpinan Pusat tentang
pengesahan, pembatalan, ataupun keputusan lain
terhadap Surat Keputusan Dewan Pimpinan Daerah
tersebut.
Pasal - 17
1. Pemberhentian sementara/pemberhentian Anggota
Kader dilakukan oleh rapat Pimpinan dan dinyatakan
dalam bentuk Surat Keputusan Dewan Pimpinan yang
bersangkutan.
2. Pemberhentian sementara/pemberhentian Anggota
pimpinan Anak Cabang ke bawah dilakukan oleh Rapat
Dewan Pimpinan Cabang dan dinyatakan dalam bentuk
SK Dewan Pimpinan Cabang yang bersangkutan.
3. Pemberhentian sementara/pemberhentian Pengurus
Cabang dilakukan oleh Rapat Dewan Pimpinan Daerah
dan dinyatakan dalam bentuk SK Dewan Pimpinan
Daerah yang bersangkutan.
4. Pemberhentian sementara/pemberhentian Pengurus
Daerah dilakukan oleh Rapat Dewan Pimpinan Pusat
dan dinyatakan dalam bentuk SK Dewan Pimpinan
Pusat yang nantinya harus dipertanggungjawabkan
dalam Kongres/Sidang Badan Pekerja Kongres.
19
5. Prosedur dan proses pengenaan sanksi sebagaimana
dimaksud ayat 1, ayat 2, dan ayat 3 pasal ini dapat
mengambil analogi pada pasal 16 ART ini.
Pasal - 18
1. Sementara pihak yang terkena sanksi organisasi
sebagaimana dimaksud pasal 13 ART ini mempunyai
hak untuk membela diri dalam bentuk baik banding dan
atau bentuk lain yang dilaksanakan dalam forum
permusyawaratan organisasi.
2. Berdasarkan keputusan konperensi cabang, rapat
pengurus pusat dapat merehabilitir pihak yang terkena
sanksi sebagaimana dimaksud pasal 16 dan pasal 17
ayat (1) dan (2) dan dinyatakan dalam bentuk SK Dewan
Pimpinan Pusat.
3. Berdasarkan Keputusan Konperensi Daerah, Rapat
Pimpinan Pusat dapat merehabilitir pihak yang terkena
sanksi sebagaimana dimaksud pada pasal 17 ayat 3
ART ini dan dinyatakan dalam bentuk Surat Keputusan
Dewan Pimpinan Pusat.
Pasal - 19
Baik karena banding ataupun tidak, Kongres dapat
meninjau kembali semua keputusan tentang pengenaan
Sanksi Organisasi.
20
BAB VI
BERAKHIRNYA KEANGGOTAAN
Pasal - 20
1. Keanggotaan Gerakan Pemuda Marhaenis dapat
berakhir karena :
a. Atas permintaan sendiri.
b. Kehilangan kewarganegaraan Indonesia.
c. Diberhentikan.
d. Meninggal Dunia.
2. Berakhirnya keanggotaan sebagaimana dimaksud ayat
1 (a, b, c) pasal ini, berlaku sah setelah dinyatakan dalam
bentuk Surat Keputusan Dewan Pimpinan yang
bersangkutan.
BAB VII
PENYELESAIAN PERSELISIHAN
Pasal - 21
1. Penyelesaian Perselisihan adalah upaya yang dilakukan
oleh Organisasi untuk mengatasi pertentangan dari dua
pihak atau lebih yang dapat membahayakan
persatuan/kesatuan dan atau keutuhan Organisasi.
2. Landasan Penyelesaian :
a. Ideologis : Pengamalan Pancasila
b. Politis : Kebijaksanaan yang mengacu
kepada keutuhan dan kebesaran
Organisasi.
c. Yuridis-Konstitusi-
onal-Organisasi : AD/ART, Pedoman, Peraturan
serta ketentuan-ketentuan yang
berlaku dalam Organisasi.
21
Pasal - 22
1. Penyelesaian Perselisihan antar pihak dalam satu
kesatuan Organisasi dilakukan oleh kesatuan organisasi
yang bersangkutan.
2. Penyelesaian Perselisihan antar pihak antar Kesatuan
Organisasi dilakukan oleh Kesatuan Organisasi satu
tingkat lebih atas.
Pasal - 23
Pihak yang kurang puas terhadap hasil penyelesaian
perselisihan dimaksud pasal 22 ART ini dapat naik banding
kepada kesatuan Organisasi satu tingkat lebih atas dan
seterusnya sampai pada pemegang kekuasaan tertinggi
Organisasi.
Pasal - 24
Prosedur, tata cara dan proses penyelesaian perselisihan
dimaksud pada pasal 22 dan pasal 23 ART ini dapat
mengambil analogi pada Bab V ART ini.
BAB VIII
SYARAT PEMBENTUKAN DAN
KEBERADAAN KESATUAN ORGANISASI
Pasal - 25
1. Daerah Organisasi dapat dibentuk dan sah
keberadaannya apabila memiliki Cabang Organisasi
sekurang-kurangnya 2/3 (duaper tiga) jumlah Daerh
Kabupaten/Kota.
22
2. Cabang Organisasi dapat dibentuk dan sah
keberadaannya apabila memiliki Anak Cabang
Organisasi sekurang-kurangnya dua per tiga jumlah
Kecamatan.
3. Anak cabang Organisasi dapat dibentuk dan sah
keberadaannya apabila memiliki Ranting Organisasi
sekurang-kurangnya dua per tiga jumlah
Desa/Kelurahan.
4. Ranting Organisasi dapat dibentuk dan sah
keberadaannya apabila memiliki sekelompok sekurang-
kurangnya dua per tiga jumlah RW Organisasi di tiap-tiap
RW.
5. KelompokOrganisasi dapat dibentuk dan sah
keberadaannya apabila memiliki sekurang-kurangnya
sepuluh orang anggota Organisasi.
Pasal - 26
Sesuai dengan kondisi daerah setempat dan untuk
kepentingan Organisasi Dewan Pimpinan Pusat dapat
mengambil kebijaksanaan menyimpang dari ketentuan
pasal 25 ART ini yang nantinya harus dipertanggung
jawabkan dalam Kongres.
BAB IX
PIMPINAN ORGANISASI
Pasal - 27
1. Dewan Pimpinan Pusat terdiri dari 17 orang :
1. Seorang Ketua Umum
2. Delapan Orang Ketua
3. Seorang Sekretaris Jenderal
4. Empat Orang Wakil Sekretaris Jenderal
23
5. Seorang Bendahara
6. Dua orang Wakil Bendahara
2. Dewan Pimpinan Pusat tersebut dalam butir 1 pasal ini
adalah merupakan Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
3. Untuk kelengkapan Organisasi,DPP dapat membentuk
Departemen-Departemen sesuai dengan kebutuhan
Organisasi.
4. Dewan Pimpinan Pusat dan Ketua-ketua Departemen
adalah merupakan DewanPimpinan Pusat (DPP) Pleno.
5. Penetapan DPP oleh dan dalam Kongres melalui
pemilihan :
a. Langsung, atau
b. Dengan sistem formatur, atau
c. Gabungan dari a dan b.
6. Syarat-syarat untuk dapat dipilih menjadi Personalia
Dewan Pimpinan Pusat :
a. Menjadi Anggota sekurang-kurangnya lima tahun
berturut-turut
b. Menduduki jabatan di Dewan Pimpinan sekurang-
kurangnya ditingkat cabang.
c. Potensial secara Ideologis, Politis, Organisatoris.
d. Jujur, bersih, dan berwibawa
e. Tidak menduduki jabatan kepemimpinan di
Organisasi lain sejenis.
f. Berpendidikan formal serendah-rendahnya SLTA.
g. Dicalonkan secara tertulis oleh cabang dimana ia
bersomisili
h. Mendapat dukungan tertulis dari sekurang-kurangnya
sembilan Cabang yang terdiri dari sekurang-
kurangnya tiga Daerah yang masing-masing Daerah
terdiri dari sekurang-kurangnya tiga Cabang.
24
i. Membuat pernyataan tertulis tentang kesanggupan :
1. Menduduki jabatan apapun di DPP dengan segala
konsekuensinya.
2. Menegakkan prinsip-prinsip independensi
3. Berdomisili di Jabodetabek.
7. a. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dilantik oleh dan dalam
Kongres.
b. Pelantikan dimaksud butir a ayat ini dilakukan oleh
salah seorang Senior Pemuda Demokrat.
Pasal - 28
1. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) terdiri dari 15 orang :
1. Seorang Ketua
2. Delapan orang Wakil Ketua
3. Seorang Sekretaris
4. Dua orang Wakil Sekretaris
5. Seorang Bendahara
6. Dua orang Wakil Bendahara
2. Dewan Pimpinan Daerah tersebut dalam butir (1) pasal
ini adalah merupakan Dewan Pimpinan Daerah (DPD)
3. Untuk kelengkapan organisasi, DPD dapat membentuk
Biro-biro analog dengan Departemen-Departemen yang
ada di DPP dengan mengingat kondisi dan kebutuhan
Daerah setempat.
4. Dewan Pimpinan Daerah dan Ketua-ketua Biro adalah
merupakan DPD Pleno.
5. DPD ditetapkan oleh dan dalam Konperensi Daerah
melalui proses dan dengan syarat-syarat yang
disesuaikan dengan proses, prosedur dan syarat-syarat
dalam menetapkan Pengurus Pusat sebagaimana
dimaksud pasal 27 ayat (5) dan (6).
6. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dilantik oleh Dewan
Pimpinan Pusat dalam Konperensi Daerah dan
disyahkan oleh Dewan Pimpinan Pusat yang dinyatakan
25
dalam bentuk Surat Keputusan Dewan Pimpinan Pusat.
Pasal - 29
1. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) terdiri dari 11 (sebelas)
orang:
1. Seorang Ketua
2. Empat orang Wakil Ketua
3. Seorang Sekretaris
4. Dua orang Wakil Sekretaris
5. Seorang Bendahara
6. Dua orang Wakil Bendahara
2. Dewan Pimpinan Cabang tersebut dalam butir (1) pasal
ini adalah merupakan Dewan Pimpinan Cabang (DPC).
3. Untuk kelengkapan Organisasi, DPC membentuk
bidang-bidang disesuaikan dengan Biro-biro yang ada di
DPD dengan mengingat kondisi dan kebutuhan Cabang
setempat.
4. Dewan Pimpinan Cabang dan Ketua-ketua Bidang
adalah merupakan Dewan Pimpinan Cabang (DPC)
Pleno.
5. Dewan Pimpinan Cabang ditetapkan oleh dan dalam
Konperensi Cabang melalui proses, prosedur, dan
dengan syarat-syarat yang disesuaikan dengan proses,
prosedur, dan syarat-syarat dalam penetapan Pengurus
Daerah sebagaimana dimaksud pasal 28 ayat (5) ART
ini.
6. a. Dewan Pimpinan Cabang disetujui oleh Dewan
Pimpinan Daerah dan disahkan oleh Dewan
Pimpinan Pusat yang dinyatakan dalam bentuk Surat
26
Keputusan Dewan Pimpinan Pusat.
b. Dewan Pimpinan Cabang dilantik oleh Dewan
Pimpinan Daerah dalam Konperensi Cabang yang
bersangkutan.
Pasal - 30
1. Pimpinan Anak Cabang terdiri dari 7 (tujuh) orang :
a. Seorang Ketua
b. Dua orang Wakil Ketua
c. Seorang Sekretaris
d. Seorang Wakil Sekretaris
e. Seorang Bendahara
f. Seorang Wakil Bendahara
2. Pimpinan Anak Cabang yang terdiri dari Ketua sampai
Wakil Bendahara adalah merupakan Pimpinan Anak
Cabang (PAC)
3. Untuk kelengkapan Organisasi, PAC dapat membentuk
Seksi-seksi di sesuaikan dengan bidang-bidang yang
ada di DPC dengan mengingat kebutuhan dan kondisi
Anak Cabang setempat.
4. Pimpinan Anak Cabang dan Ketua-ketua Seksi adalah
merupakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pleno.
5. Pimpinan Anak Cabang ditetapkan oleh dan dalam
musyawarah Anak Cabang melalui proses, Prosedur,
dan syarat-syarat dalam penetapan Pengurus Cabang
sebagaimana dimaksud pasal 29 ayat 5 ART ini.
6. a. Pimpinan Anak Cabang disetujui oleh DPC dan
disahkan oleh DPD yang dinyatakan dalam bentuk SK
Dewan Pimpinan Daerah.
27
b. Pimpinan Anak Cabang dilantik oleh DPC dalam
musyawarah Anak Cabang yang bersangkutan.
Pasal - 31
1. Pengurus Ranting terdiri dari 5 (lima) orang :
a. Seorang Ketua
b. Seorang Wakil ketua
c. Seorang Sekretaris
d. Seorang Wakil Sekretaris
e. Seorang Bendahara
f. Seorang Wakil Bendahara
2. Pengurus Ranting yang terdiri dari Ketua sampai
Bendahara adalah merupakan Pengurus Ranting (PRT).
3. Untuk kelengkapan Organisasi, Pengurus Ranting dapat
membentuk Bagian-bagian disesuaikan dengan Seksi-
seksi yang ada di Pimpinan Anak Cabang dengan
mengingat kebutuhan dan kondisi Ranting setempat.
4. Pengurus Ranting dan Ketua-ketua bagian adalah
merupakan Pengurus Ranting (PRT) Pleno.
5. Pengurus Ranting ditetapkan oleh dan dalam
musyawarah Ranting melalui proses, prosedur, dan
dengan syarat-syarat penetapan Pimpinan Anak
Cabang.
6. a. Pengurus Ranting disetujui oleh Pimpinan Anak
Cabang dan disahkan oleh Dewan Pimpinan Cabang
yang dinyatakan dalam bentuk Surat Keputusan
Dewan Pimpinan Cabang yang bersangkutan.
b. Pengurus Ranting dilantik oleh Pengurus Anak
Cabang dalam musyawarah Ranting yang
bersangkutan.
28
Pasal - 32
1. Pengurus Kelompok terdiri dari seorang Ketua
Kelompok.
2. Ketua Kelompok ditetapkan oleh dan dalam Rapat
Kelompok melaluyi proses, prosedur, dan dengan
syarat-syarat sesuai dengan kondisi dan situasi
setempat.
3. Ketua Kelompok dilantik dalam Rapat Kelompok dan
disahkan oleh Pimpinan Anak Cabang yang dinyatakan
dalam bentuk Surat Keputusan Anak Cabang.
BAB X
HAK DAN KEWAJIBAN PIMPINAN
Pasal - 33
1. Dewan Pimpinan Pusat berhak :
a. Membentuk aparat Organisasi yang diperlukan untuk
melaksanakan tugas Organisasi.
b. M e n i n j a u , m e n g i s i l o w o n g a n k e d u d u k a n
keanggotaan DPP di luar Dewan Pimpinan Pusat.
c. Meminta pertanggung jawaban/laporan tentang
tugas, kewajiban yang dilaksanakan Dewan
Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang
secara berkala, serta laporan pertanggung jawaban
dari petugas-petugas Dewan Pimpinan Pusat yang
mendapat tugas-tugas tertentu.
d. Mengambil tindakan-tindakan kebijaksanaan
terhadap DPD dan DPC dalam rangka konsolidasi
Organisasi.
e. menghadiri Rapat/Konperensi Daerah/Cabang
2. Dewan Pimpinan Pusat berkewajiban :
a. Melaksanakan keputusan-keputusan Kongres/Badan
Pekerja Kongres.
29
b. Memegang/menjalankan Pimpinan Organisasi
c. Menetapkan/membuat peraturan/pedoman serta
instruksi Pusat.
d. Menjalankan lain-lain tugas yang bersifat Eksekutif
e. Mempertanggung jawabkan pelaksanaan tugas-
tugasnya kepada Kongres.
Pasal - 34
1. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) berhak :
a. Membentuk aparatur Organisasi yang diperlukan dan
disesuaikan dengan aparatur Organisasi yang
terdapat di DPP.
b. M e n i n j a u / m e n g i s i l o w o n g a n / k e d u d u k a n
keanggotaan DPP di luar DPD.
c. Meminta pertanggung jawaban/laporan tentang tugas
dan kewajiban yang dilaksanakan DPC dan Pimpinan
Anak Cabang secara berkala serta laporan,
pertanggung jawaban dari petugas-petugas DPD
yang mendapat tugas-tugas tertentu.
d. Mengambil tindakan kepada DPC dan PAC dalam
rangka konsolidasi Organisasi.
e. Menghadiri musyawarah Cabang/Anak Cabang.
f. Menghadiri rapat-rapat DPP hanya dapat dilakukan
oleh DPD
2. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) berkewajiban :
a. Melaksanakan musyawarah Daerah (Mukerda)
b. Mengkoordinir DPC-DPC dalam wilayahnya
c. Membuat/menetapkan pedoman/Peraturan Daerah.
d. Menjadi penghubung antara DPP dan DPC
e. Melaksanakan instruksi DPP
f. Melaksanakan tugas-tugas yang bersifat otonom
dalam wilayahnya dan mempertanggung jawabkan
30
pelaksanaan tugas tersebut kepada Konferensi
Daerah.
Pasal - 35
1. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) berhak :
a. Membuat aparatur Organisasi yang diperlukan dan
disesuaikan dengan aparat Organisasi yang terdapat
di DPD.
b. Meninjau/mengisi lowongan kedudukan keanggotaan
DPH di luar keanggotaan DPH Cabang.
c. Meminta laporan pertanggung jawaban tentang tugas
dan kewajiban yang dilaksanakan oleh PAC dan
PIRAN secara berkala dan laporan pertanggung
jawaban petugas-petugas DPC yang mendapat
tugas-tugas tertentu.
d. Mengambil tindakan kebijaksanaan terhadap PAC
dan PIRAN dalam rangka konsolidasi Organisasi.
e. Menghadiri rapat musyawarah Anak Cabang/Ranting.
f. Menghadiri rapat-rapat DPD hanya dilakukan oleh
DPH Cabang.
2. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) berkewajiban :
a. Melaksanakan keputusan Konperensi Cabang
b. Melaporkan perkembangan Cabang setempat secara
berkala kepada DPD dan DPP.
c. Melaksanakan tugas dan Instruksi DPD dan DPP.
d. membuat/menetapkan Pedoman/Peraturan Cabang.
e. Melaksanakan tugas kewajiban yang bersifat Otonom
di wilayahnya dan mempertanggung jawabkan tugas-
tugas tersebut kepada Konperensi Cabang.
f. Menjadi penghubung antara DPD dengan Anak
Cabang dan Ranting dalam wilayahnya.
31
Pasal - 36
1. Pimpinan Anak Cabang berhak :
a. Membentuk aparat Organisasi disesuaikan dengan
kebutuhan setempat.
b. Meminta laporan pertanggungjawaban Pimpinan
Ranting.
c. Mengambil tindakan terhadap Ranting/Kelompok
dalam rangka Konsolidasi Organisasi.
d. Menghadiri Konperensi Cabang.
e. Menghadiri Rapat-rapat PAC.
2. Pimpinan Anak Cabang berkewajiban :
a. Mengkoordinir Ranting-ranting dalam wilayahnya
b. Menjadi penghubung Dewan Pimpinan Cabang
dengan Pimpinan Ranting.
c. Bertindak mewakili Dewan Pimpinan Cabang dalam
wilayahnya.
d. Melaksanakan tugas Cabang dan Keputusan Rapat
Anak Cabang serta mempertanggung jawabkan
dalam Konperensi Anak Cabang.
Pasal - 37
1. Pimpinan Ranting (PIRAN) berhak :
a. Membentuk Kelompok-kelompok kerja yang
diperlukan dan disesuaikan dengan kebutuhan
setempat.
b. Meminta laporan berkala dari tiap kelompok dalam
rangka Konsolidasi Organisasi.
c. Mengadakan perbaikan/penyempurnaan Kelompok
dalam rangka Konsolidadi Organisasi.
d. Menghadiri Rapat/Konperensi Anak Cabang.
32
2. Pimpinan Ranting (PIRAN) berkewajiban :
a. Melaksanakan Keputusan musyawarah Ranting.
b. Melaksanakan Tugas/Instruksi Kesatuan Organisasi
Atasannya.
c. Melaporkan perkembangan -perkembangan
Keanggotaan kepada PAC dan bertanggung jawb
kepada Konperensi Anak Cabang.
d. Membimbing Anggota dalam Penghayatan dan
Pengamalan Marhaenisme baik dalam diskusi-
diskusi maupun Kelompok-kelompok kerja yang ada.
BAB XI
PEMBAGIAN TUGAS DAN TANGGUG JAWAB
PIMPINAN
Pasal - 38
1. Ketua Umum/Ketua DPD/Ketua DPC/Ketua PAC/Ketua
Ranting bertugas dan bertanggung jawab :
a. M e m e g a n g P i m p i n a n s e r t a m e n e t a p k a n
kebijaksanaan umum
b. Mengkoordinir pertanggung jawaban segala
kebijaksanaan pimpinan didalam menjalankan tugas
sehari-hari.
c. Mengawasi pelaksanaan AD/ART, keputusan-
keputusan Kongres/Konperensi/Peraturan-peraturan
dan Keputusan-keputusan Musyawarah lainnya.
d. Memimpin persidangan dalam Kongres/ Konperensi/
Musyawarah/ Rapat-rapat.
e. Bersama-sama dengan Sekretaris Jenderal/Wakil
Sekretaris Jenderal menandatangani Kartu
A n g g o t a / K a r t u A n g g o t a K a d e r, N o t u l e n -
notulen/Keputusan-keputusan Kongres/Konperensi/
Rapat, Surat Kuasa, Surat Mandat, serta Surat-surat
keluar bidang umum.
33
f. Bersama-sama dengan Bendahara menandatangani
penerimaan uang pangkal, uang iuran, uang
sumbangan dan pengeluaran-pengeluaran uang
lainnya.
g. Mengadakan bimbingan, peninjauan, ceramah-
ceramah kepada Anggota.
h. Memberikan laporan pertanggungjawaban mengenai
tugas dan kewajiban serta pelaksanaan tugasnya
atas nama Dewan Pimpinan kepada Kongres/
Konperensi/Sidang selama masa kerja
2. Para Ketua/Wakil Ketua mendampingi Ketua
Umum/Ketua dan dimana perlu mewakili Ketua
umum/Ketua dalam melaksanakan tugas sehari-hari.
Para Ketua/Wakil Ketua mengadakan pembagian tugas
kerja dengan mengkoordinir Departemen/Bidang/
Biro/Bagian/Seksi.
3. Dengan perstujuan Dewan Pimpinan secara kolektif,
Ketua Umum/Ketua dapat bertindak atas nama
Organisasi terhadap pihak ketiga.
Pasal - 39
1. Sekretaris Jenderal/Sekretaris bertugas dan
bertanggung jawab :
a. Mengkoordiir dalam bidang Sekretaris/Administrasi
Organisasi.
b. Menyelenggarakan dan memelihara Daftar Anggota,
Daftar Pengurus, Notulen Rapat, Buku Keputusan
Rapat, Buku Tamu, Buku Harian serta Daftar/Buku
lainnya.
c. Menyelenggarakan dan menyusun surat dan
menyimpan surat khusus untuk Pengurus.
d. Menampung persoalan-persoalan/masalah-masalah
34
dalam lingkungan Kesatuan Organisasi dan
menampung usul-usul Anggota Dewan Pimpinan
Organisasi/pada Anggota yang kemudian
disampaikan dalam rapat.
e. Menyusun laporan berkala untuk disampaikan
kepada Rapat Dewan Pimpinan atau
Kongres/Konperensi/Sidang mengenai pelaksanaan
tugas dan tanggung jawab serta kewajiban dan
kebijaksanaan Dewan Pimpinan.
2. Wakil Sekretaris Jenderal/Wakil Sekretaris mewakili
Sekretaris Jenderal/Sekretaris, serta membagi tugas
diantara mereka dan mengkoordinir salah satu
Departemen/Biro/ Bidang/Bagian/Seksi.
Pasal - 40
1. Bendahara bertugas dan bertanggung jawb :
a. Mengusahakan pemasukan uang
b. Merencanakan Anggaran Biaya Organisasi
c. Mempertanggung jawabkan pemasukan dan
pengeluaran uang kepada Dewan Pimpinan.
d. Mengawasi penggunaan alat-alat Sekretariat dn
memelihara inventaris Organisasi.
2. Wakil-wakil Bendahara bertugas membantu dan
mewakili Bendahara.
Pasal - 41
1. Pembagian tugas di antara Anggota Dewan Pimpinan
ditetapkan dalam rapat, dengan tidak mengabaikan
kegotongroyongan dan urutan/hirarchi pertanggung
jawaban masing-masing.
35
2. Tata Tertib kerja tiap-tiap Kesatuan Organisasi diatur
dalam Pedoman Tata Tertib yang dibuat oleh Kesatuan
Organisasi masing-masing.
BAB XII
PEMBAGIAN DEPARTEMEN
Pasal - 42
1. Departemen-departemen dalam Dewan Pimpinan Pusat
sekurang-kurangnya terdiri dari :
a. Departemen Organisasi
b. Departemen Pendidikan dan Kaderisasi
c. Departemen Kebudayaan dan Olahraga
d. Departemen Penerangan dan Propaganda
e. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi
f. Departemen Koperasi dan Wiraswasta
g. Departemen Peranan Wanita
h. Departemen Kependudukan dan Lingkungan Hidup
i. Departemen Hubungan Luar Negeri
2. Bidang/Biro/Bagian/Seksi di masing-masing tingkatan
Organisasi disesuaikan dengan DPP kecuali
Deparemen Hubungan Luar Negeri hanya ada di Tingkat
Pusat.
BAB XIII
PERMUSYAWARATAN
Pasal - 43
1. Yang dimaksud dengan Kongres ialah :
a. Kongres Biasa
b. Kongres Luar Biasa
2. a. Kongres organisasi diadakan 4 (empat) tahun sekali
36
dan diikuti oleh utusan Cabang yang dipilih oleh
Cabang tersebut. DPD dapat memperpanjang masa
kerjanya paling lama 6 (enam) bulan setelah ada
persetujuan lebih dahulu dari sekurang-kurangnya
1/3 jumlah daerah.
b. Konperensi Daerah diadakan 4 (empat) tahun sekali
dan dihadiri oleh Utusan cabang yang dipilih dalam
Konperensi/Rapat cabang yang bersangkutan DPD
dapat memperpanjang masa kerjanya paling lama 3
(tiga) bulan setelah mendapat persetujuan 1/3
cabang di wilayahnya.
c. Konperensi Cabang diadakan 4 tahun sekali dan
dihadiri oleh Utusan dari Anak Cabang. DPC dapat
memperpanjang masa kerjanya paling lama 3 bulan
setelah mendapat persetujuan 1/3 Anak Cabang di
wilayahnya.
d. Konperensi Anak Cabang diadakan 2 tahun sekali dan
dihadiri oleh utusan Ranting yang dipilih dalam Rapat
Ranting. Pimpinan Anak Cabang dapat
memperpanjang masa kerjanya paling lama 3 bulan
setelah mendapat persetujuan 1/3 Ranting di
wilayahnya.
e. Konperensi Ranting diadakan 2 tahun sekali dan
dihadiri oleh Anggota yang terdaftar dalam Ranting
tersebut. Pimpinan Ranting dapat memperpanjang
masa kerjanya paling lama 3 bulan setelah mendapat
persetujuan 1/3 jumlah Anggota yang terdapat di
wilayahnya.
3. Kongres/Konperensi Luar Biasa dapat diadakan dengan
ketentuan :
a. Atas penetapan DPP sendiri atau atas usul 2/3 jumlah
Daerah.
b. Konperensi Daerah Luar Biasa dapat diadakan
berdasarkan penetapan DPD sendiri atau atas usul
37
2/3 Cabang dalam wilayahnya dan/atau atas Instruksi
DPP.
c. Konperensi Cabang Luar Biasa dapat diadakan
berdasarkan penetapan DPC sendiri atau atas usul
2/3 Anak Cabang di wilayahnya dan atau atas
instruksi DPP.
d. Konperensi Anak Cabang Luar Biasa dapat diadakan
berdasarkan penetapan Anak cabang sendiri atas
usul 2/3 Anak Cabang di wilayahnya dan atau atas
Instruksi DPP.
e. Konperensi Ranting Luar Biasa dapat diadakan atas
penetapan Ranting sendiri atau atas permintaan 2/3
Anggota yang terdaftar di wilayahnya atau atas
Instruksi DPC
4. Kongres/Konperensi Luar Biasa sebagaimana
tercantum dalam ayat 3 pasal ini, diadakan apabila
terjadi antara lain :
a. Masa bhakti Dewan Pimpinan telah melampaui masa
kerjanya setelah diperpanjang sebagaimana diatur
dalam Anggaran Dasar dan ketentuan Organisasi.
b. Tidak dapat berjalannya mekanisme Organisasi yang
diakibatkan adanya perselisihan diantara Anggota
Pengurus yang tidak dapat diselesaikan.
c. Kongres/Konperensi sebelumnya tidak memenuhi
kuorum, maka Kongres/Konperensi Luar Biasa
menjadi sah bilamana dihadiri oleh sekurang-
kurangnya 1/2 jumlah Cabang yang diundang.
Pasal - 44
Musyawarah Kerja Daerah/Cabang/Anak Cabang/ranting
dapat diselenggarakan setiap waktu dalam rangka
penyempurnaan pelaksanaan tugas-tugas Organisasi.
38
Pasal - 45
Rapat-rapat DPP/DPD/DPC dan Ranting masing-masing
diadakan sekurang-kurangnya sebulan sekali atau dapat
diadakan sewaktu-waktu atas permintaan Ketua
Umum/Ketua dan atau permintaan 1/3 jumlah Anggota
Pimpinan.
Pasal - 46
Rapat-rapat Pmpinan Harian masing-masing kesatuan
Organisasi diadakan sekurang-kurangnya seminggu sekali
atau sewaktu-waktu atas permintaan Ketua Umum/Ketua.
Pasal - 47
1. Badan Pekerja Kongres hanya berada di Tingkat Pusat,
dan bersidang sekurang-kurangnya sekali dalam waktu
antar Kongres.
2. DPP Harian merupakan Anggota Badan Pekerja
Kongres.
3. Ketua-ketua DPD merupakan Anggota Badan Pekerja
Kongres (ex-officio)
Pasal - 48
1. Dewan Pembina dibentuk disemua tingkatan Organisasi
dari tingkat Pusat sampai ke Ranting
2. Dewan Pembina Pusat ditetapkan dalam Kongres
3. Dewan Pembina Daerah, Dewan Pembina Cabang,
Dewan Pembina Anak Cabang, Dewan Pembina
Ranting ditetapkan di dalam Konperensi/Musyawarah.
39
4. Jumlah Dewan Pembina ditiap tingkatan Organisasi
diatur sebagai berikut :
a. Untuk tingkat Pusat sebanyak-banyaknya 17 orang
b. Untuk tingkat Daerah sebanyak-banyaknya 9 orang
c. Untuk tingkat Cabang sebanyak-banyaknya 7 orang
d. Untuk tingkat Anak Cabang sebanyak-
banyaknya 5 orang
e. Untuk tingkat Ranting sebanyak-banyaknya 3 orang
5. Untuk ditetapkan menjadi Dewan Pembina harus
memenuhi ketentuan-ketentuan :
a. Pernah menduduki jabatan Kepemimpinan
Organisasi Pemuda Demokrat Indonesia
b. Memenuhi Kriteria Senioris dalam Gerakan Pemuda
Marhaenis.
c. Potensial secara ideologis, politis dan organisatoris
d. Jujur, berwibawa dan memiliki kemampuan
pembinaan.
e. Telah menunjukkan kesetiaan, pengabdian dan
pengor-banannya kepada Organisasi.
6. Dewan Pembina bersidang sekurang-kurangnya sekali
dalam setahun serta memberikan pertimbangan-
pertimbangan/ petunjuk dan saran-saran kepada Dewan
Pimpinan di tingkat Organisasi masing-masing.
BAB XV
FUNGSI PERMUSYAWARATAN
Pasal - 49
Kongres adalah tempat untuk :
a. Menyampaikan pertangung jawaban tugas dan
kewajiban Dewan Pimpinan Pusat
40
b. Menetapkan/Meninjau/Merubah penyempurnaan
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
c. Menyusun Garis-garis Pokok Pedoman Perjuangan dan
Program Perjuangan Organisasi.
d. Memilih/menetapkan Dewan Pimpinan Pusat.
Pasal - 50
Konperensi Daerah/Cabang/Anak Cabang/Ranting adalah
tempat untuk :
a. Menyampaikan pertanggung jawaban tugas dan
kewajiban Dewan Pimpinan pada tingkatan Organisasi
masing-masing.
b. Menyusun/merinci Pedoman Perjuangan dan Program
Perjuangan dalam bentuk Program Kerja pada tingkatan
Organisasi masing-masing.
c. Memilih/menetapkan Kepengurusan Dewan Pimpinan
pada tingkat an Organisasi masing-masing.
Pasal - 51
Badan Pekerja Kongres adalah tempat untuk :
a. Menyampaikan laporan kebijaksanaan Dewan Pimpinan
Pusat selama waktu antar Kongres.
b. Menyiapkan acara dan bahan-bahan dalam menghadapi
Kongres.
c. Menetapkan garis-garis pokok usaha untuk
melaksanakan keputusan Kongres selama waktu antar
Kongres.
d. M e n e t a p k a n / m e n g e s a h k a n / m e n i n j a u k e m b a l i
penetapan/ peraturan-peraturan Organisasi.
e. Menyempurnakan kepengurusan Dewan Pimpinan
Pusat apabila terjadi jabatan lowong dalam
kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat selama waktu
antar Kongres.
41
f. Menjalankan lain-lain tugas yang bersifat Legislatif di
tingkat Pusat.
Pasal - 52
Musyawarah Kerja Daerah/Cabang/Anak Cabang/Ranting
adalah tempat untuk :
a. Menyampaikan laporan kebijaksanaan DPD/DPC/Anak
Cabang/Ranting selama waktu antar periode masa
jabatan.
b. Menyiapkan acara dan bahan-bahan untuk menghadapi
Konperensi berikutnya.
c. Menetapkan Garis-garis Pokok untuk melaksanakan
Konperensi dalam waktu antar Konperensi.
d. M e n e t a p k a n / m e n g e s a h k a n / m e n i n j a u k e m b a l i
penetapan/ peraturan/pedoman/keputusan-keputusan
pada tingkat organisasi masing-masing.
e. M e n g a d a k a n p e n y e m p u r n a a n k e p e n g u r u s a n
DPD/DPC/PAC/ Ranting apabila terjadi jabatan lowong
dalam kepengurusan pada tingkat organisasi masing-
masing.
f. Menjalankan lain-lain tugas yang bersifat Legislatif
dalam kesatuan Organisasi masing-masing.
Pasal - 53
Rapat-rapat kerja adalah tempat untuk :
Menetapkan Keputusan-keputusan/Peraturan-peraturan
ataupun Pedoman lain dan Petunjuk pelaksanaan dari
kegiatan Organisasi.
42
BAB XVI
SYAHNYA PERMUSYAWARATAN
Pasal - 54
1. Kongres adalah sah jika dihadiri oleh sekurang-
kurangnya 2/3 jumlah Cabang yang diundang.
2. Konperensi Daerah adalah sah jika dihadiri oleh
sekurang-kurangnya 2/3 jumlah Cabang di wilayahnya
yang diundang.
3. Konperensi Cabang adalah sah bila dihadiri oleh
sekurang-kurangnya 2/3 jumlah Anak Cabang di
wilayahnya yang diundang.
4. Konperensi Anak Cabang sah jika dihadiri oleh
sekurang-kurangnya 2/3 jumlah Ranting yang diundang.
5. Musyawarah Ranting adalah sah jika dihadiri oleh
sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah Anggota yang
diundang.
Pasal - 55
Cabang-cabang yang berhak untuk menghadiri Kongres
adalah Cabang-cabang yang telah memenuhi persyaratan
dan Ketentuan Organisasi yang ditetapkan dengan
Peraturan Organisasi.
Pasal - 56
Cabang, Anak Cabang/Ranting yang berhak diundang
untuk menghadiri Konperensi pada tingkatan Organisasi
masing-masing adalah Cabang/Anak Cabang/Ranting yang
43
telah memenuhi persyaratan dan ketentuan Organisasi
yang ditetapkan.
Pasal - 57
1. Sidang Badan Pekerja Kongres adalah sah jika dihadiri
oleh sekurang-kurangnya 2/3 jumlah Anggota Badan
Pekerja Kongres.
2. Musyawarah Kerja Daerah/Cabang/Anak Cabang/
Ranting adalah sah jika dihadiri oleh sekurang-
kurangnya 2/3 jumlah Cabang/Anak Cabang/Ranting/
Anggota yang diundang.
Pasal - 58
1. Rapat-rapat Pleno DPP/DPD/DPC/PAC/Ranting adalah
sah jika dihadiri oleh 1/2 (setengah) + 1 (satu) jumlah
Pimpinan Harian dan 1/2 (setenagh) + 1 (satu) jumlah
Ketua-ketua Departemen/Biro/Bagian/Bidang/Seksi
pada tingkatan Organisasi masing-masing.
2. Rapat-rapat harian DPP/DPD/DPC/PAC/Ranting adalah
sah jika dihadiri oleh 1/2 (setengah) + 1 (satu) jumlah
Dewan Pimpinan Harian pada Tingkat Organisasi
masing-masing.
BAB XVII
HAK - SUARA
Pasal - 59
Dengan tidak mengurangi ketentuan pasal 16 Anggaran
Dasar, apabila pemungutan suara terpaksa harus
dilaksanakan, maka hak suara ditetapkan sebagai berikut :
44
1. Hak suara did alam Kongres/Konperda dilakukan oleh
para utusan dengan ketentuan tiap Cabang satu suara.
2. Hak suara dalam Konperensi Cabang/Anak Cabang
dilakukan oleh para utusan dengan ketentuan tiap Anak
Cabang/Ranting 1 (satu) suara.
3. Hak suara dalam Musyawarah Ranting tiap Anggota
mempunyai hak 1 (satu) suara.
Pasal - 60
1. Cabang-cabang yang tidak hadir dalam Kongres/
Konperensi Daerah tidak dapat mewakilkan hak
suaranya kepada Cabang lain yang hadir dalam
Kongres.
2. Dewan Pimpinan Pusat dan Dewan Pimpinan Daerah
didalam Kongres/Konperensi tidak mempunyai hak
suara.
3. Dewan Pimpinan Cabang/Pimpinan Anak Cabang/
Pimpinan Ranting tidak mempunyai hak suara dalam
Konperensi pada tingkatan Organisasinya masing-
masing.
4. Anak Cabang/Ranting/Anggota yang tidak hadir dalam
Konperensi pada tingkatan Organisasinya masing-
masing tidak dapat mewakilkan hak suaranya kepada
Anak Cabang/Ranting/Anggota yang hadir dalam
Konperensi.
45
Pasal - 61
Anggota Dewan Pimpinan Pusat yang hadir dalam
Konperensi Daerah, Anggota Dewan Pimpinan Daerah
yang hadir dalam Konperensi Cabang, Anggota Dewan
Pimpinan Cabang yang hadir dalam Konperensi Anak
Cabang. Anggota Dewan Pimpinan Anak Cabang yang
hadir dalam Musyawarah Ranting masing-masing
berkewajiban memberikan pengarahan serta aktif
membantu, baik dalam penyusunan program maupun
penyelenggaraan pemilihan Pimpinan.
BAB XVIII
HARTA BENDA ORGANISASI
Pasal - 62
1. Pada dasarnya semua pembiayaan Organisasi dipakai
oleh seluruh Anggota dengan membayar uang pangkal,
uang iuran, uang sumbangan sukarela, dan sumbangan
wajib.
2. Besarnya uang pangkal dan uang iuran, sumbangan
sukarela dan sumbangan wajib ditentukan oleh Dewan
Pimpinan Cabang masing-masing disesuaikan dengan
kondisi dan kemampuan daerahnya.
Pasal - 63
Organisasi menerima sumbangan dari para
Anggota/mantan anggota dan para simpatisan atau dari
siapapun juga dengan tidak mengikat.
46
Pasal - 64
Organisasi mengadakan usaha-usaha yang sesuai dengan
Azas dan Tujuan Organisasi.
Pasal - 65
Segala Pendapatan/Kekayaan Organisasi dibukiukan dan
cara pengurusannya ditetapkan oleh masing-masing
kesatuan Organisasi
BAB XIX
ATURAN PERALIHAN
Pasal - 66
Hal-hal yang belum diselesaikan dalam Kongres akan
ditetapkan dalam Permusyawaratan Organisai antar dua
Kongres.
BAB XX
PENUTUP
Pasal - 67
Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Rumah Tangga
ini diatur dalam Peraturan/Pedoman Pusat.
- Ditetapkan dalam Kongres ke IX Pemuda Demokrat
Indonesia tanggal 28 Oktober s/d 1 November 1963, dan
mulai berlaku pada tanggal 4 November 1963.
- Diperbaiki oleh team perubahan AD/ART berdasarkan
keputusan Mukernas I Gerakan Pemuda Marhaenis
tanggal 29 Oktober sampai dengan 2 November 1967.
47
- Diadakan perubahan/disesuaikan dengan keputusan
Mukernas ke IV Pemuda Demokrat Indonesia tanggal 16
s/d 19 Desember 1982 di Cibubur Jakarta.
- Diperbaiki dalam Kongres ke X Pemuda Demokrat
Indonesia tanggal 8 s/d 11 Maret 1986 di Bandung dan
mulai berlaku tanggal 11 Maret 1986
- Diperbaiki dalam Kongres XI Pemuda Demokrat
Indonesia tanggal 15 s/d 19 Desember 1990 di Magelang
dan mulai berlaku pada tanggal 18 Januari 1991.
48