HUBUNGAN POSISI DAN TEKNIK MENGEDAN PADA
KALA II PERSALINAN DENGAN ROBEKAN PERINEUM
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Persalinan diartikan sebagai proses pengeluaran hasil konsepsi atau yang
biasa disebut sebagai janin atau kandungan, Persalinan merupakan hal yang
normal, akan tetapi pada proses persalinan juga bisa timbul penyulit. Salah satu
penyulit pada proses persalinan adalah robekan perineum pada jalan lahir atau
rupture perineum (Anggraini, 2019).
Perlukaan jalan lahir (ruptur perineum) yang terjadi pada saat kelahiran
bayi baik menggunakan alat maupun tidak menggunakan alat. Ruptur perineum
disebabkan paritas, jarak kelahiran, berat badan bayi, pimpinan persalinan tidak
sebagaimana mestinya, ekstraksi cunam, ekstraksi fakum, trauma alat dan
episiotomy (Mutmainah dkk 2019).
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya rupture perineum antara lain
faktor ibu yang terdiri dari paritas, jarak kelahiran, cara meneran yang tidak tepat,
dan umur ibu. Faktor janin yang terdiri dari berat badan janin yang besar dan
presentasi. Faktor lain yang mendukung adalah faktor persalinan pervaginam yang
terdiri dari ekstraksi forceps, ekstraksi vakum, trauma alat dan episiotomy
kemudian faktor penolong persalinan yaitu pimpinan yang tidak tepat.
(Mutmainah dkk 2019).
Ruptur perineum dapat terjadi karena adanya robekan spontan maupun
episiotomi. Ruptur perineum yang dilakukan dengan episiotomi itu sendiri harus
dilakukan atas indikasi antara lain: bayi besar, perineum kaku, persalinan yang
kelainan letak, persalinan dengan menggunakan alat baik forceps maupun vacum.
Karena apabila episiotomi itu tidak dilakukan atas indikasi dalam keadaan yang
tidak perlu dilakukan dengan indikasi di atas, maka menyebabkan peningkatan
kejadian dan beratnya kerusakan pada daerah perineum yang lebih berat. (Trianti
dkk, 2017).
Salah satu upaya yang bisa di lakukan untuk mencegah robekan pada
perineum saat bersalin adalah dengan atau pijat [Link] perineum adalah
salah satu cara yang paling kuno dan paling pasti untuk meningkatkan kesehatan,
aliran darah, elastisitas, dan relaksasi otot-otot dasar panggul. Jika sampai terjadi
ruptur perineum, pemijatan perineum dapat mempercepat proses penyembuhan
perineum. Teknik ini, jika dilatih pada tahap akhir kehamilan (mulai minggu ke
34) sebelum persalinan, juga akan membantu mengenali dan membiasakan diri
dengan jaringan yang akan dibuat rileks dan bagian yang akan dilalui oleh bayi
(Mutmainah, 2019).
Tindakan pijat perineum bisa diberikan atau dilakukan pada saat ibu hamil
mengikuti kelas ibu. Tujuan dari antenatal kelas yaitu meningkatkan pengetahuan,
sikap dan praktik (perilaku) ibu hamil tentang pemeriksaan kehamilan, perawatan
payudara, senam hamil, pijat perineum, perawatan persalinan yang meliputi tanda
persalinan dan proses persalinan. Jadi dengan mengikuti kelas diharapkan ibu
hamil dapat mempraktekkan kembali apa yang sudah diajarkan dan mulai
mempersiapkan persalinan sedini mungkin (Mutmainah, 2019).
Salah satu metode untuk mengurangi ruptur perineum antara lain metode
akupuntur, lamaze, dick read dan water birth dan senam hamil, Sehingga salah
satu cara yang dilakukan untuk mengatasi kejadian rupture perineum dengan
melakukan senam hamil secara rutin, Sehingga salah satu cara yang dilakukan
untuk mengatasi kejadian rupture perineum dengan melakukan secara rutin (Esti
dkk, 2017).
Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya ruptur perineum adalah
melindungi perineum pada kala II persalinan saat kepala bayi membuka vulva
(diameter 5-6 cm), yaitu saat diameter terbesar kepala melewati vulva dengan
menggunakan telapak tangan penolong. Tujuan melindungi perineum adalah
untuk mengurangi peregangan berlebihan Melindungi perineum harus dilakukan
dengan benar, tidak benar jika meletakkan tangan penolong pada perineum dan
menekannya, karena dengan menekan akan memberikan stress pada perineum dan
menghalangi pandangan penolong (Priyanti dkk, 2017).
Dalam proses persalinan pengaturan posisi ikut berperan penting di dalam
persalinan, posisi yang dimaksudkan disini yaitu menganjurkan ibu mencoba
posisi-posisi yang nyaman selama persalinan dan melahirkan bayi. Posisi meneran
yang nyaman dapat mempersingkat kala II, dengan membiarkan ibu memilih
posisi yang diinginkan selama meneran dan melahirkan akan memberikan banyak
manfaat termasuk memberikan sedikit rasa sakit dan ketidaknyamanan, lama kala
II lebih pendek, laserasi perineum yang lebih sedikit (Norhapifah dkk, 2017).
Menurut WHO AKI di dunia yaitu 289.000 jiwa dan Asia Tenggara
menjadi Ne gara ke 4 yang memiliki jumlah AKI terbesar yaitu 16.000 jiwa. Salah
satu penyebab AKI yaitu perdarahan post partum. Ruptur perineum menjadi
penyebab utamanya.
Di ASIA rupture perineum juga merupakan masalah yang cukup banyak
dalam masyarakat. 50% dari kejadian rupture perineum di dunia terjadi di ASIA.
Sedangkan di Indonesia Prevalensi ibu bersalin yang mengalami rupture perineum
pada golongan umur 25-30 tahun yaitu 24%.Sedang ibu beralin usia 32-39 tahun
sebesar 62%. Ibu bersalin yang mengalami perlukaan jalan lahir terdapat 85% dari
20 juta ibu bersalin di Indonesia. Dari presentase 85% julah ibu bersalin
mengalami perlukaan, 35% ibu bersalin yang mengalami rupture perineum, 25%
mengalami robekanservik, 22% mengalami perlukaan vagina dan 3% mengalami
ruptur uretra. (Malinda 2018).
Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2014 di Sulawesi Selatan dapat diketahui bahwa sebanyak 81,96 ibu hamil
melakukan persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan dan dilakukan di
fasilitas pelayanan kesehatan (Profil Kesehatan Indonesia, 2015). Persentase
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Sulawesi Selatan menunjukkan
peningkatan dapat diketahui bahwa pada tahun 2015 sebesar 86,91% (Profil
Kesehatan Indonesia, 2016). Persentase pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan di Sulawesi Selatan dapat diketahui bahwa pada tahun 2016 sebesar
81,06 (Profil Kesehatan Indonesia, 2017). Sedangkan pada tahun 2017
menunjukkan bahwa terdapat 83,91% ibu hamil yang menjalani persalinan
dengan ditolong oleh tenaga kesehatan dan dilakukan difasilitas pelayanan
kesehatan di Indonesia (Profil Kesehatan Indonesia, 2018).
Di Klinik Rosita pada tahun 2018 64 persen ang bersalin normal tanpa
komplikasi dan 5persen dengan komplikasi ang mengalami robekan perineum
pada tahun 2019 ang bersalin normal tanpa komplikasi 60persen pada tahun 2022
Hasil pengamatan peneliti posisi bersalin rata rata ibu menggunakan posisi
berapa orang
Menurut Dinas Kesehatan Sumatera Utara Alwi Mujahid Hasibuan
menjelaskan sepanjang tahun 2019 capaian indikator kesehatan di Sumatera Utara
mulai membaik. Hal ini dapat dilihat dari Angka Kematian Ibu (AKI) yang terus
menurun. Tahun 2019, AKI sebanyak 179 dari 302.555 kelahiran hidup atau
59,16 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menurun dibanding AKI tahun 2018
sebanyak 186 dari 305.935 kelahiran hidup atau 60,79 per 100.000 kelahiran
hidup.
Berdasarkan Latar Belakang diatas bahwa kejadian Ruptur Perineum basih
banyak terjadi di Indonesia, maka penulis tertarik untuk melakukan Penelitian
Tentang Ruptur Perineum.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang dapat dirumuskan permasalahan yaitu
“Bagaimanakah hubungan Posisi dan teknik mengedan pada kala II persalinan
dengan robekan perineum ?
3.1 Tujuan Penelitian
3.1.1 Tujuan Umum
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui posisi dan teknik
mengedan pada kala II persalinan dengan robekan perineum.
1.1.1 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus penelitian ini:
a. Di ketahuinnya posisi dan teknik mengedan pada kala II persalinan robekan
perineum di Klinik Rosita
b. Di ketahuinnya Robekan perineum pada kala II ibu bersalin pada ibu nifas di
Klinik Rosita
1.4 Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.4.1 Bagi Responden
Bagi Responden diharapkan dapat lebih memahami pentingnya melakukan senam
kagel selama kehamilan dengan rutin untuk menjaga kesehatan ibu dan juga
untuk memperlentur otot otot di area panggul selama proses persalinan.
1.4.2 Bagi Masyarakat
Memberikan informasi dan pengetahuan bagi masyarakat agar kasus
Ruptur Perineum dapat dicegah dan tidak menimbulkan komplikasi pada
ibu.
1.4.4 Bagi Peneliti Lain
Memberikan informasi dan dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam
penyusunan penelitian selanjutnya.
Bagi bidan klinik
1. Dapat memberikan informasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teori
2.1.1 Definisi Persalinan
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta, dan selaput ketuban keluar
dari uterus ibu. Persalinan disebut normal apabila prosesnya terjadi pada cukup
bulan (setelah 37 mingu) tanpa disertai adanya penyulit atau tanpa bantuan
(kekuatan sendiri) (Johari 2017).Definisi persalinan normal menurut WHO
adalah persalinan yang dimulai secara spontan, beresiko rendah pada awal
persalinan dan tetap demikian selama proses persalinan. Bayi dilahirkan secara
spontan dalam presentase belakang kepala pada usia kehamilan Antara 37 hingga
42 minggu lengkap. Setelah persalinan ibu maupun bayi berada dalam kondisi
sehat.
2.1.2 Macam-macam Persalinan
1) Persalinan spontan (normal/biasa)
Yaitu persalinan yang berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan
melalui jalan lahir.
2) Persalinan buatan
Yaitu persalinan yang dibantu dari luar misalnya vaccumekstraksi, forceps,
SC.
3) Persalinan anjuran
Yaitu terjadi bila bayi sudah cukup besar untuk hidup di luar, tetapi tidak
sedemikian besaranya sehingga menimbulkankesulitan dalam persalinan,
misal dengan induksi persalinan.
2.1.3 Tahap persalinan ( Kala I, II, III, IV)
1. Kala I
a) Yang dimaksud dengan kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung
dari pembukaan nol sampai pembukaan lengkap.
b) Kala I dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus teratur dan meningkat
( frekuensi dan kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap.
c) Kala I dibagi menjadi dua fase yaitu :
1) Fase Laten
a) Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan
dan pembukaan serviks secara bertahap
b) Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
c) Pada umumnya fase laten berlangsung hampir atau hingga 8
jam
d) Kontraksi mulai teratur tetapimasih Antara 20-30 detik.
2) Fase Aktif dibagi menjadi 3 fase, yaitu :
a) Fase akselerasi dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi
4 cm.
b) Fase dilatasi maksimal dalam waktu 2 jam pembukaan
berlangsung sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.
c) Fase deselerasi pemnbukaan menjadi lambat. Dalam waktu 2
jam pembukaan 9 cm menjadi lengkap.
2. Kala II ( Kala Pengeluaran)
Pada kala II his terkordinir, kuat, cepat, dan lebih lama, kira-kira 2-3 menit
sekali. Pada waktu his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka, dan
perineum menegang. Lama ksala II pada Primigravida adalah dari 1,5 jam
samapai dengan 2jam, sedangkan pada multigravida adalah 0,5 jam sampai
dengan 1 jam. Kala II dimulai dari pembukaan lengkap sampai dengan bayi
lahir, gejala dan tanda kala II persalinan yaitu : his semakin kuat dengan
interval 2 sampai 3 menit dengan durasi 50 sampai 100detik, menjelang kala I
berakhir ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran cairan secara
mendadak, ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan adanya kontraksi,
ibu merasakan peningkatan tekanan rectum atau vagina , perineum menonjol,
peningkatan pengeluaran lendir bercampur darah, tanda pasti kala II
pembukaan serviks telah lengkap atau terlihatnya bagian terendah janin di
introitus vagina.
3. Kala III (Kala Uri)
Kala III dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan
lahirnyaplasenta dan selaput ketuban. Pada kala III Persalinan myometrium
berkontraksi mengikuti penyusunan volume rongga uterus setelah kelahiran
bayi penyusutan ukuran ini menyebabkan berkekurangnya ukuran tempat
perlekatan plasenta, karena perlekatan plasenta berubah maka, plasenta akan
terlipat, menebal dan akhirnya lepas dari dinding uterus. Setelah lepas plasenta
akan turun kebawah uterus atau kedalam vagina. Tanda tanda lepasnya
plasenta uterus menjadi membundar, uterus terdorong keatas, karena plasenta
dilepas kesegmen bawah Rahim, tali pusat bertambah panjang, terjadi
perdarahan.
4. Kala IV ( Kala Observasi)
Kala IV adalah kala pengawasan selama 2 jam setelah bayi lahir untuk
mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan post partum.
Kala IV dimulai sejak ibu dinyatakan aman dan aman selama 2 jam. Kala IV
dimaksud untuk melakukan observasi karena perdarahan pasca persalinan
sering terjadi selama 2 jam observasi yang dilakukan adalah tingkat
kesadaran penderita, pemeriksaan tanda-tanda vital TD nadi suhu dan
pernapasan, kontras uterus dan tinggi fundus, terjadinya perdarahan
perdarahan normal apabila tidak lebih dari 400 sampai 500 cc.
2.1 Robekan Perineum
2.1.1 Definisi Robekan Perineum
Robekan perineum, istilah lainnya adalah ruptur perineum. Ruptur
merupakan robekan yang terjadi pada perineum yang biasanya disebabkan karena
trauma saat [Link] perineum adalah robekan yang terjadi pada
perineum yang biasanya disebabkan oleh trauma saat persalinan (Anik 2016).
Robekan perineum adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir baik
secara spontan maupun dengan menggunakan alat atau tindakan ( Triana dkk,
2015). Robekan perineum pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang
juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi digaris
tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahirterlalu cepat, sudut arkus
pubis lebih kecil dari pada biasa, kepala janin melewati pintu bawah dengan
ukuran yang lebih besar dari pada sirkum ferensia suboksipitobregmatika.
2.1.2 Derajat Laserasi Perineum
1. Derajat I
laserasi mengenai mukosa vagina, komisura posterior, kulit [Link]
perlu dijahit jika tidak ada perdarhan dan posisi luka baik
2. Derajat II
laserasi mengenai mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum, otot
[Link] menggunakan teknik yang sesuai kondisi pasien
3. Derajat III
laserasi mengenai mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum, otot
perineum,otot spingter ani ekterna
Derajat IV
laserasi mengenai mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum, otot
perineum,otot spingter ani,rectum.
2.2.1 Tanda dan Gejala
Menurut (Manuaba, 2014) tanda dan gejala rupture perineum adalah
sebagai berikut :
1) Tanda-tanda ruptur perineum
a) Darah segar yang mengalir setelah bayi lahir.
b) Uterus berkontraksi baik.
c) Plasenta normal
2) Gejela yang terjadi rupture perineum
a) Pucat
b) Lemah
c) Pasien menggigil
2.2.2 Etiologi Penyebab terjadinya robekan
Ruptur perineum disebabkan oleh faktor yang mencakup paritas, jarak
kelahiran, berat badan lahir, dan riwayat persalinan yang mencakup ekstraksi
cuman, ekstraksi vakum dan episiotomi.
1. Paritas
Persalinan adalah anak yang dilahirkan seorang ibu. Jumlah anak yang
dilahirkan berpengaruh terhadap kesehatan ibu. Menurut Notoadmojo, dikatakan
bahwa terdapat kecendrungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari
yang berparitas tinggi. Paritas dapat dibedakan menjadi primipara, multipara dan
grandemultipara (Prawirohardjo, 2015).
a. Primipara adalah seorang wanitayang melahirkan bayi hidup untuk pertama
kalinya.
b. Multipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi viable beberapa kali
(sampai 5 kali).
c. Grandemultipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi 6 kali ataulebih,
hidup ataupun mati (Mochtar, 2016).
Robekan perineum terjadi hampir semua persalinan pertama dan tidak
jarangjuga pada persalinan berikutnya. Pada ibu dengan paritas satu atau ibu
primipara memiliki resiko lebih besar untuk mengalamirobekan perineum
daripada ibu dengan paritas lebih dari satu. Hal ini dikarenakan karena jalan lahir
yang pernah dilalui oleh kepala bayi sehingga otot – otat perineum belum
meregang.
2. Jarak Kelahiran
Jarak kelahiran adalah rentang waktu antara kelahiran anak sekarang dengan
kelahiran anak sebelumnya. Jarak kelahiran kurang dari dua tahun tergolong
resiko tinggi karena dapat menimbulkan komplikasi pada persalinan. Jarak
kelahiran 2-3 tahun merupakan jarak kelahiran yang lebih aman bagi ibu dan
janin. Begitu juga dengan keadaan jalan lahir yang mungkin pada persalinan
terdahulu mengalami robekan perineumderajat tiga dan empat, sehingga proses
pemulihanbelum sempurna dan robekan perineum dapat terjadi (Depkes, 2016).
Menurut pendapat ambarwati jarak kehamilan sebaiknya lebih dari 2tahun.
Jarak kahamilan yang terlalu dekat menyebabkan ibu punya kembali kondisi
sebelumnya (Ambarawati, 2015).
3. Partus Presipitatus
Partus presipitatus adalah persalinan yang terlalu cepat yakni kurang dari 3 jam.
Sehingga sering petugas belum siap untuk menolong persalinan dan ibu mengejan
kuat dan tidak terkotrol, kepala janin terjadi defleksi terlalu cepat. Keadaan ini
memperbesar kemungkinan terjadinya ruptur perineum (Mochtar, 2012).
Laserasi spontan pada vagina atau perineum dapat terjadi saat kepala dan
bahu [Link] laserasi akan meningkat jika bayi dilahirkan terlalu
cepat dan tidak terkendali. Partus presipitatus dapat menyebabkan terjadinya
ruptur perineum bahkan robekan serviks yang dapat mengakibatkan perdarahan
pascapersalinan (Saifuddin, 2015).
4. Partus Lama
Partus lama adalah bila persalinan berlangsung lebih dari 24 jam pada
primigravida dan 18 jam bagi multigravida . Parus lama dapat menimbulkan
bahaya baik bagi ibu maupun janin, beratnya cidera makin meningkat dengan
semakin lamanya proses persalinan seperti meningkatnya insiden atonia uteri,
laserasi, dan perdarahan lainnya yang merupakan penyebab utama kematian ibu.
5. Berat Badan Bayi
Menurut Winkjosastro berat badan lahir pada janin yang berat badannya
melebihi 4000 gram akan menimbulkan kesukaran persalinan, apabila
dijumpapada kepala yang besar atau kepala yang lebih keras dapat menyebabkan
ruptur perineum (Kutipan Gea, 2015).
Menurut Sylviati (2015), barat badan lahir dapat diklasifikasikan menjadi:
a. Bayi besar adalah bayi dengan berat lebih dari 4000 gram
b. Bayi berat lahir cukup yaitu bayi dengan lahir lebih dari 2500 – 4000 gram.
c. Bayi berat lahir dengan adalah bayi dengan berat lahir dibawah2500
[Link] badan janin dapat mengakibatkan terjadinya ruptur perineum yang
pada berat badan janin diatas 3500 gram, karena resiko trauma partus melalui
vagina seperti distosia bahu dan kerusakan jaringan lunak pada ibu. Perkiraan
berat janin tergantung pada pemeriksaan klinik atau ultrasonografi dokter atau
bidan. Pada masa kehamilan, hendaknya terlebih dahulu mengukur tafsiran
berat badan janin (Chalik, 2015).
2.2.3 Patofisiologi
Robekan perineum terjadi pada semua persalinan pertama dan tidak jarang juga
pada persalinan berikutnya. Robekan ini dapat dihindarkan maupun dikurangi
dengan menjaga agar jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin
dengan cepat, sebaliknya apabila kepala janin akan lahir jangan ditahan terlalu
kuat dan lama karena akan menyebabkan asfiksia dan perdarahan dalam
tengkorak janin, dan melemahkan otot-otot dan fasia pada dasar panggul karena
diregangkan terlalu lama.
Robekan perineum umumnya terjadi digaris tengah dan bisa menjadi luas apabila
kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil dari biasa sehingga
kepala janin terpaksa lahir lebih belakang daripada biasanya, kepala janin
melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada
sirkumferensia suboksipito bregmatika, atau anak dilahirkan dengan
pembedahan vaginal.
2.2.6 Pencegahan Terjadinya ruptur Perineum
Laserasi spontan pada vagina atauperineum dapat terjadi saatbayi
dilahirkan, terutama saat kelahiran kepala dan bahu. Kejadian laserasi akan
meningkat jika bayi dilahirkan terlalu cepat dan tidak terkendali. Janin
bekerjasama dengan ibu selama persalinan dan gunakan manufer tangan yang
tepat untuk mengendalikan kelahiran bayi serta membantu mencegah terjadinya
laserasi. Kerjasama ini dibutuhkan terutama saat kepala bayi dengan diameter 5-6
cm telah membuka vulva (crowning). Kelahiran kepala yang terkendali dan
perlahan memberikan waktu pada jaringan vagina dan perineum untuk melakukan
penyesuaian dan akan mengurangi kemungkinan terjadinya robekan. Saat kepala
mendorong vulva dengan diameter 5-6 cm bimbing ibu untuk meneran dan
berhenti untuk beristirahat atau bernapas dengan cepat.
1. Senam
Salah satu metode untuk mengurangi ruptur perineum yang dilakukan saat
persalinan antara lain metode akupuntur, lamaze, dick read dan water birth. Selain
itu, saat ini juga telah dilakukan metode alternative saat hamil antara lain senam
hamil (senam kegel), yoga prenatal dan perineum massage, Perineum yang kaku
menghambat persalinan kala II yang meningkatkan risiko kematian bagi janin, dan
menyebabkan kerusakan-kerusakan jalan lahir yang [Link] demikian dapat
dijumpai pada primigravida yang umumnya lebih dari 35 tahun, yang lazim
disebut primi tua .Senam kegel yang dilakukan pada saat hamil memiliki manfaat
yaitu dapat membuat elastisitas perineum .
Senam kegel adalah senam yang bertujuan untuk memper kuat otot-otot
dasar panggul terutama otot pubococcygeal sehingga seorang wanita dapat
memperkuat otot-otot saluran kemih dan otot-otot vagina. Senam kegel dapat
memberikan manfaat bila dilakukan secara benar dan rutin antara
lain :Memudahkan kelahiran bayi tanpa banya merobek jalan lahir, Sehingga salah
satu cara yang dilakukan untuk mengatasi kejadian rupture perineum dengan
melakukan senam hamil secara rutin. ( Ika Esi Anggraeni dkk, 2017).
2. Pijat Perineum
Pijat perineum adalah teknik memijat perineum di kala hamil atau
beberapa minggu sebelum melahirkan guna meningkatkan aliran darah ke daerah
ini dan meningkatkan elastisitas perineum. Peningkatan elastisitas perineum akan
mencegah kejadian robekan perineum maupun episiotomi. Massage perineum
merupakan pengobatan, pemijatan, pengurutan dan penepukan yang dilakukan
secara sistematik pada perineum. Tujuannya adalah mempersiapkan jaringan
perineum dengan baik untuk proses peregangan selama proses persalinan akan
mengurangi robekan perineum dan mempercepat proses penyembuhannya.
Dalam waktu beberapa minggu setelah melakukan pijat perineum, ibu
akan merasakan daerah perineum menjadi lebih elastis. Untuk mengurangi
terjadinya kejadian laserasi (perlukaan/robekan) pada perineum seorang ibu harus
melahirkan dengan perlahan dan terkendali serta mengikuti instruksi Dokter atau
Bidan ketika mendorong adalah kuncinya. Bayi harus tetap berada di dalam
kondisi baik dan ibu harus mengikuti segala hal yang diperintahkan oleh
dokter/bidan. ( Hera Mutmainah dkk, 2019).
[Link] Tangan Penolong
Salah satu penyebab terjadinya ruptur perineum adalah karena perineum
tidak kuat menahan regangan pada saat janin lewat, Tujuan melindungi perineum
adalah untuk mengurangi peregangan berlebihan, Melindungi perineum harus
dilakukan dengan benar, tidak benar jika meletakkan tangan penolong pada
perineum dan menekannya, karena dengan menekan akan memberikan stress pada
perineum dan menghalangi pandangan penolong.
Beberapa teknik telah diperkenalkan dalam melindungi perineum, yaitu
pertama menurut APN (Asuhan Persalinan Normal) dari JNPK-KR yaitu saat
kepala bayi membuka vulva(5-6 cm), letakkan kain yang bersih dan kering yang
dilipat di bawah bokong ibu, lindung perineum dengan satu tangan (di bawah kain
bersih dan kering), ibu jari pada sisi perineum dan empat jari pada sisi yang lain
dan tangan yang lain pada belakang kepala bayi, tahan belakang kepala bayi agar
posisi kepala tetap fleksi pada saat keluar secara bertahap melewati introitus dan
perineum.
Teknik melindungi perineum yang kedua adalah posisi tangan menurut
Varney yaitu tangan untuk menahan verteks bayi sama dengan perasat APN,
sementara tangan yang berada pada posisi menopang perineum, diatur dengan
meletakkan ibu jari pada tingkat garis tengah kunci paha pada sisi perineum,
letakkan jari tengah anda pada ketinggian kunci paha pada sisi yang lain, berikan
tekanan kearah jempol dan jari anda dan kemudian ke arah dalam terhadap setiap
tengah perineum.
[Link] Meneran
Secara fisiologis ibu akan merasakan dorongan meneran bila pembukaan
sudah lengkap. Pada proses meneran yang tidak maksimal bias mengakibatkan
terjadinya robekan perineum.
Meneran baru boleh dilakukan setelah pembukaan lengkap; yaitu mulut
rahim sudah membuka kira – kira 10 cm .Jika para calon ibu meneran sebelum
pembukaan lengkap, bisa – bisa mulut rahim mengalami pembengkakan dan bisa
menghambat proses pembukaan dan berujung pada lamanya proses persalinan.
Juga agar para ibu tidak kehabisan tenaga karena kelelahan pada waktu tiba
sebenarnya waktu untuk meneran.
Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam memimpin ibu bersalin
melakukan meneran untuk mencegah terjadinya ruptur perineum, diantaranya :
1) Menganjurkan ibu untuk meneran sesuai dengan dorongan alamiahnya
selama kontraksi.
2) Tidak menganjurkan ibu untuk menahan nafas pada saat meneran.
3) Mungkin ibu akan merasa lebih mudah untuk meneran jika ibu berbaring
miring atau setengah duduk, menarik lutut ke arah ibu, dan menempelkan
dagu ke dada.
4) Menganjurkan ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran.
meletakkan ibu jari pada tingkat garis tengah kunci paha pada sisi
perineum, letakkan jari tengah anda pada ketinggian kunci paha pada sisi yang
lain, berikan tekanan kearah jempol dan jari anda dan kemudian ke arah dalam
terhadap setiap tengah perineum.
5. Posisi Bersalin Pencegahan Ruptur Perineum
1) Posisi setengah duduk
a) Membantu dalam penurunan kepala dengan kerja gravitasi,
menurunkan janin ke panggul, dan terus ke dasar panggul.
b) Lebih mudah bagi bidan untuk membimbing kelahiran kepala
bayi dan mengamati/mensupport perineum.
2) Posisi Merangkak
a) Membantu kesehatan janin dalam penurunan lebih dalam ke
panggul.
b) Baik untuk persalinan dengan punggung yang sakit
c) Membantu janin dalam melakukan rotasi
d) Peregangan minimal pada perineum
3) Posisi miring ke kiri
a) Oksigenisasi janin maksimal karena dengan mifing kirinsirkulasi
darah ke janin lebih lancar
b) Memberi rasa santai bagi ibu yang letih
c) Mencegah terjadinya laserasi.
6. Manuver Tangan dalam Pertolongan Persalinan
NO Manuver Tangan Alasan Gambar
1 Letakkan telapak Jari di dalam vagina
tangan pada bagian bisa membawa masuk
verteks yang terlihat organisme risiko
hati-hati jangan robekan
membiarkan jari [Link]
tangan masuk
ke yang dilakukan
dalam vagina. terhadap kepala pada
Lakukan penekanan saat ini akan
terkendali dan tidak
membantu kepala
menghambat kepala Keterangan gambar:
agar fleksi, sehingga
janin untuk keluar. Pasien dalam posisi miring
daerah suboksipital
ke kiri.
menyentuh pinggir
bawah simfisis pubis
dan proses ekstensi
dimulai.
2
Gerakan ke bawah
Dengan tangan dan ke dalam ini
lainnya,topang
melibatkan jaringan
perineum untuk
yang cukup dalam
mencegah kepala
aksi tersebut, dan
terdorong keluar
mendistribusikan
terlalu cepat karena
jaringan tambahan
bisa merusak
kearah bagian tengah
perineum. Tutupilah
dari perineum yaitu
tangan yang
menopang perineum daerah yang paling
dengan duk. Letakan besar
ibu jari anda kemungkinannya
dipertengahan dari mengalami laserasi.
salah satu sisi Duk akan mencegah
perineum dengan jari tangan bersarung
telunjuk anda terkena kontaminasi
dipertengahan sisi secara tidak sengaja.
perineum yang
berlawanan. Secara
perlahan tekanlah
ibu jari dan jari
telunjuk kearah
bawah dan dalam
untuk
mengendalikan
peregangan
perineum.
3 Dengan cermat dan Garis-garis yang putih
hati-hati, perhatikan tipis akan segera
perineum saat kepala tampak sebelum
janin terus muncul terjadinya perobekan
dan lahir. Hapus pada perineum.
mulut bayi dengan
Gunakan kain kassa
jari yang dibungkus
untuk menghapus
dengan kain kassa.
lendir yang mungkin
terhisap pada saat
bayi mulai bernafas
untuk pertama kali.
Kerangka Konsep :
1. Posisi ibu bersalin Robekan
2. Teknik mengedan ibu bersalin Perineum
1.1 Hipotesa Penelitian
1. Ada hubungan posisi bersalin dengan resiko Ruptur Perineum
2. Ada hubungan teknik mengedan dengan resiko Ruptur Perineum
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survey
observasional . Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Cross Sectional.
3.2 Tempat dan waktu Penelitian
3.2.1 Tempat Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Klinik Rosita [Link], Sidorejo kota
medan umatera utara. Alasan pemilihan Klinik Rosita sebagai tempat
penelitian karena jumlah ibu hamil di klinik tersebut cukup untuk
dijadikan sample, sehingga memungkinkan peneliti untuk mendapatkan
sampel yang sesuai dengan kriteria.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Desembar 2021 sampai bulan April
2022 yaitu mulai melakukan penelusuran ke perpustakaan, penyusunan
proposal, seminar proposal, penelitian, analisis data dan penyusunan
laporan akhir.
3.3 Populasi, Sampel dan Teknik Sampil
3.3.1 Populasi
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi penelitian adalah
seluruh ibu hamil yang ada di Klinik Bidan Rosita sebanyak 31
orang
3.3.2 Sampel
Sampel adalah seluruh ibu nifas yang menjadi populasi yaitu 31
orang
Alat yang digunakan penelitian ini adalah kuesioner,kuesioner suatu teknik
pengumpulan data dengan memberikan dan menyebarkan daftar pertanyaan
kepada responden untuk di jawab
3.3.3 Teknik Sampling
Teknik pengambilan sample atau teknik sampling dalam penelirian ini
menggunakan teknik Accidental Sampling atau jenis pengambilan sampel
non-probabilitas yang melibatkan sampel yang diambil dari bagian populasi
yang dekat dengan kriteria dari populasi Karakteristik sampel yang dapat
dimasukkan dalam penelitian ini meliputi :
a. Kriteria inklusi
Pada penelitian ini kriteria inklusinya adalah sebagai berikut :
1) Ibu bersalin yang hari pertama di ruangan post partum.
2) Ibu bersalin yang bersedia menjadi responden.
3) Ibu bersalin yang mengalami ruptur perineum
b. Kriteria eksklusi
Adapun kriteria eksklusinya sebagai berikut :
1) Ibu bersalin yang mempunyai komplikasi dan harus di rujuk.
2) Ibu bersalin dengan episiotomi
D. Metode Pengumpulan Data
1. Data Primer
a. Hasil Wawancara yang dilakukan pada Klinik Rosita
b. Data rekam medik kepada ibu bersalin di Klinik Rosita meliputi
data pasien dan data persalinan
c. Observasi Pasien Ibu nifas yang akan diteliti
d. Kuesioner Pengetahuan
Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah kuesioner
mengenai hubungan posisi dan teknik mengedan pada kala II
persalinan dengan Robekan perineum. Kuesioner terdiri dari 10
pertanyaan dengan pilihan jawaban multiple choice. Responden
diminta untuk member tanda check list (√) pada jawaban yang paling
sesuai dengan pendapat Ibu Nifas. Dari sejumlah kuesioner yang
telah memenuhi syarat dan bisa digunakan untuk penelitian,
kemudian dihitung dan hasilnya dalam bentuk penilaian derajat,
yaitu: a. Skor >5 (pegetahuan ibu baik), b. <5 ( pengetahuan ibu tidak
baik).
Prosedur Penelitian
a. Peneliti melakukan survey awal di Klinik Rosita.
b. Peneliti menemui calon responden dan menjelaskan tentang tujuan dan
manfaat penelitian, selanjutnya calon responden yang menyutujui untuk
dijadikan responden dan diminta untuk menandatangani lembar informed
consent.
c. Peneliti memberikan kuesioner kepada setiap ibu hamil yang telah
berkumpul, kemudian setelah itu menghitung skor dari setiap kuesioner
yang telah di ceklis oleh ibu.
d. Setelah data terkumpul maka dilakukan pengolahan dan analisis
data. Kemudian dimasukkan kedalam komputer dan dianalisis dengan SPSS for
Windows 22.
Defenisi Operasional
NO Variabel Definisi Operasional Alat ukur Skala Skor
ukur
1 Independen: Posisi persalinan Alat ukur Ordin Bila ibu
menjawab
Posisi adalah posisi yang yang di al ≤ 5=
nyaman bagi ibu gunakan Pengetahu
persalinan an kurang
bersalin. Ibu bersalin adalah baik bila
ibu
dapat berganti posisi kuesuioner menjawab
secara teratur selama > 5=
pengetahu
persalinan kala II, an baik
karena hal ini sering
kali mempercepat
kemajuan persalinan
dan ibu mungkin
dapat meneran secara
efektif pada posisi
tertentu yang di
anggap nyaman bagi
ibu.
2 Independen: Mengedan atau Alat ukur Ordin Bila ibu
menjawab
Teknik mengejan adalah yang di al ≤5=
proses dimana ibu gunakan Pengetahu
mengedan an kurang
menggunakan tekanan adalah baik bila
ibu
dari dalam tubuh kuesuioner menjawab
untuk mendorong bayi > 5=
pengetahu
keluar menuju jalan an baik
lahir.
3
Dependen: Ordin
Ringan=
Ruptur Ruptur perineum Alat ukur al jika
derajat I-
perineum adalah terjadinya yang di
II
robekan jalan lahir gunakan Berat
=jika
pada ibu bersalin saat adalah derajat
melahirkan. kuesuioner III-IV
C. Aspek Pengukuran
Pengambilan data dilakukan melalui wawancara dengan
menggunakan Lembar Kuesioner dukungan keluarga dalam
pemenuhan gizi ibu selama hamil
1. Kuesioner Pengetahuan ibu bersalin dalam posisi dan teknik mengeda
pada kala II persalinan dengan robekan perineum diukur dengan
kuesioner yang berisi 10 butir pernyataan dengan bentuk pernyataan-
pernyataan yang menggambarkan Posisi dan teknik mengedan ibu bersalin
dengan robekan perineum menentukan nilai skor dari kuesioner.
Responden diminta untuk memberi tanda check list (√) pada jawaban
yang paling sesuai dengan pendapat. Dari sejumlah kuesioner yang telah
memenuhi syarat dan bisa digunakan untuk penelitian, kemudian dihitung
dan hasilnya dalam bentuk penilaian derajat, yaitu: Skor <5 = pengetahuan
ibu , >5 = pengetahuan ibu tidak baik.
D. Etika Penelitian
Penelitian ini melibatkan makhluk hidup maka dilakukan ethical clearance
di komisi Etik Universitas Sari Mutiara Indonesia. Prinsip etik yang perlu
diperhatikan dalam penelitian ini meliputi : respect for privacy and
confidentianlit (menghormati privasi dan kerahasiaan subyek penelitian),
beneficience dan non-malefience (tidak merugikan) dan respect for justice
(prinsip keadilan).
E. Metode Pengolahan Data
1. Editing
Editing dilakukan setelah data terkumpul mulai dari data karakteristik
responden berupa usia, paritas, pekerjaan, pendidikan penilaian kuesioner
yang di kumpulkan.
2. Coding
Peneliti melakukan Coding data yaitu peneliti membuat kode untuk hasil
penelitian yang didapat. Pada variabel karakteristik usia diberi kode
1=<20th, 2=20-35th, 3=>35th, grandetmulti =3, Primi, 1=Multi,=2,
variabel pekerjaan, IRT, 2= tdk bekerja, 1= Bekerja( PNS, Pedagang,
wiraswasta)=3 SD-SMP = 1, SMA=2 SI=3, kunjungan ANC sesuai= 2,
kunjungan ANC tidak sesuai =1, didukung = 2 tidak didukung = 1.
3. Entry
Peneliti melakukan entry data, data yang sudah diubah menjadi kode
kedalam mesin pengolah data. Pemrosesan data dilakukan dengan
memasukkan data ke paket program komputer yang sesuai dengan
variabel masing-masing. Pada saat ini, peneliti juga melakukan cleaning
data, yaitu peneliti memastikan bahwa seluruh data yang telah
dimasukkan kedalam mesin pengolah data sesuai dengan sebenarnya.
4. Tabulating
Selanjutnya, peneliti melakukan tabulating data dengan memasukkan hasil
penelitian kedalam tabel kemudian diolah dengan bantuan komputer
dengan memasukkan ke dalam aplikasi SPSS.
F. Analisa Data
a) Analisa Univariat
Pada analisa ini dilakukan analisis tabel distribusi frekuensi dari tiap
variabel yang dianggap terkait dengan tujuan penelitian.
b) Analisa Bivariate
Analisa data ditunjukkan untuk menjawab tujuan penelitian dan menguji
hipotesa penelitian untuk mengetahui adanya hubungan variabel
independen terhadap variabel dependen dengan menggunakan uji statistik
chi square
A. Aspek Pengukuran
Pengambilan data dilakukan melalui wawancara dengan
menggunakan Lembar Kuesioner Hubungan posisi dan teknik
mengedan dengan resiko robekan perineum pada ibu bersalin
1. Kuesioner dukungan keluarga dalam pemenuhan gizi selama hamil
diukur dengan kuesioner yang berisi 15 butir pernyataan dengan bentuk
pernyataan-pernyataan yang menggambarkan dukungan keluarga dalam
pemenuhan gizi ibu selama hamil dengan menentukan nilai skor dari
kuesioner. Responden diminta untuk memberi tanda check list (√) pada
jawaban yang paling sesuai dengan pendapat. Dari sejumlah kuesioner
yang telah memenuhi syarat dan bisa digunakan untuk penelitian,
kemudian dihitung dan hasilnya dalam bentuk penilaian derajat, yaitu:
Skor <8 = tidak didukung, 9-15 = didukung.
B. Etika Penelitian
Penelitian ini melibatkan makhluk hidup maka dilakukan ethical
clearance di komisi Etik Universitas Sari Mutiara Indonesia. Prinsip etik
yang perlu diperhatikan dalam penelitian ini meliputi : respect for privacy
and confidentianlit (menghormati privasi dan kerahasiaan subyek
penelitian), beneficience dan non-malefience (tidak merugikan) dan respect
for justice (prinsip keadilan).
C. Metode Pengolahan Data
1. Editing
Editing dilakukan setelah data terkumpul mulai dari data karakteristik
responden berupa usia, paritas, pekerjaan, dukungan keluarga, penilaian
kuesioner yang di kumpulkan.
2. Coding
Peneliti melakukan Coding data yaitu peneliti membuat kode untuk hasil
penelitian yang didapat. Pada variabel karakteristik usia diberi kode
1=<20th, 2=20-35th, 3=>35th, grandetmulti =3, Primi, 1=Multi,=2,
variabel pekerjaan, IRT, 2= tdk bekerja, 1= Bekerja( PNS, Pedagang,
wiraswasta)=3 SD-SMP = 1, SMA=2 SI=3, kunjungan ANC sesuai= 2,
kunjungan ANC tidak sesuai =1, didukung = 2 tidak didukung = 1.
3. Entry
Peneliti melakukan entry data, data yang sudah diubah menjadi kode
kedalam mesin pengolah data. Pemrosesan data dilakukan dengan
memasukkan data ke paket program komputer yang sesuai dengan
variabel masing-masing. Pada saat ini, peneliti juga melakukan cleaning
data, yaitu peneliti memastikan bahwa seluruh data yang telah
dimasukkan kedalam mesin pengolah data sesuai dengan sebenarnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi dan Karakteristik
Klinik Bidan Wanti merupakan klinik bersalin dengan pelayanan 24 jam
dan sudah bekerja sama dengan pihak MOI dan BPJS kesehatan yang terletak di
jalan Jend. Sudirman No. 56, RW. LK. 2, Perdamaian, Kec. Stabat, Kabupaten
Langkat, Sumatera Utara.
Penelitian ini dilakukan di Bidan wanti pada bulan maret s/d April 2022.
Adapun pelayanan yang dilakukan diklinik bidan Wanti berupa : Pemeriksaan
Kehamilan/ANC terpadu, Senam hamil 1x seminggu setiap hari minggu, USG 1x
sebulan, menolong persalinan 24 jam, Imunisasi balita, pelayanan KB, pijat bayi,
pijat nifas, baby Spa, rata- rata kunjungan hamil ada 30 /bulan, tara-rata
persalinan ada 15 orang / bulan, pelayanan nifas sampai tali pusat putus,
informasi atau penyuluhan yang dilakukan pada ibu hamil tidak ada kecuali jika
ada pertanyaan dari ibu hamil itu sendiri. Dokumentasi 7T dilakukan setiap ada
ibu hamil yang berkunjung yang diisi dalam buku KIA pasien, pelayanan posyandu
dilakukan sekali/ bulan oleh puskesmas, keadaan ruangan baik yang terdiri dari
ruangan pemeriksaan pasien umum dan ibu hamil, ruangan persalinan yang
disertai dengan AC dan perlengkapan ruangan yang nyaman, ruangan nifas yang
terdiri dari 3 bed, dan ruangan VIP.
B. Hasil Penelitian
Setelah dilakukan penelitian terhadap 31 responden, hasil penelitian dan
pembahasan mengenai “Hubungan posisi dan teknik mengedan dan teknik
mengedan pada ala II persalinan Di Klinik Rosita 2022”, adalah sebagai berikut:
A.1 Analisis Univariat
Tabel 4.1
Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia, Pendidikan, Paritas,
Jarak Kelahiran dan Berat Badan Lahir Bayi Di Klinik Rosita 2022
Usia F %
<20 tahun 6 19,4
20-35 tahun 23 74,2
>35 tahun 2 6,5
Pendidikan
SD 15 48,4
SMP 5 16,1
SMA 8 25,8
Perguruan Tinggi 3 9,7
Pekerjaan
IRT 27 87,1
Karyawan Swasta 4 12,9
Paritas
Primipara 17 54,8
Multipara 14 45,2
Jarak Kelahiran
<2 tahun 4 12,9
>2 tahun 10 32,3
Tidak Ada 17 54,8
Berat Badan Lahir
Bayi
Normal 31 100
Diatas Normal 0 0
Total 31 100
Kelompok usia di Klinik Rosita, menunjukkan bahwa dari 31 jumlah responden
yang dilihat dari klasifikasi data keterangan menurut WHO (2015), maka usia
responden yang paling banyak yaitu kategori 20-35 tahun sebanyak 23 orang
(74,2%), dan yang paling sedikit yaitu kategori >35 tahun sebanyak 2 orang
(6,5%). untuk pendidikan responden yang paling banyak yaitu sekolah dasar (SD)
sebanyak 15 orang (48,4%), dan yang paling sedikit yaitu Perguruan Tinggi
sebanyak 3 orang (9,7%), untuk kelompok pekerjaan bahwa pekerjaan
responden yang paling banyak yaitu ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 27 orang
(87,1%), dan karyawan swasta sebanyak 4 orang (12,9%). Berdasarkan paritas
responden yang paling banyak yaitu Primipara sebanyak 17 orang (54,8%), dan
Multipara sebanyak 14 orang (45,2%), untuk kelompok jarak kelahiran responden
yang paling paling banyak yaitu <2 tahun sebanyak 4 responden 12,9%),dan >2
tahun sebanyak 10 responden (32,3) sedangkan yang tidak ada sebanyak 17
responden (54,8%). dan karakteristik responden berdasarkan kelompok berat
badan lahir bayi, bahwa berat badan lahir bayi responden yaitu normal sebanyak
31 orang (100%) dan diatas normal sebanyak 0 orang (0%).
Tabel 4.2
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Teknik
Mengedan Ibu Bersalin Di Klink Rosita 2022
Pengetahuan Tehnik Mengedan F %
Baik 10 32,3
Kurang Baik 21 67,7
Total 31 100
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukan bahwa dari
31 responden, terdapat ibu yang pengetahuannya
kurang baik sebanyak 21 orang (67,7%), dan ibu yang
pengetahuannya baik yaitu sebanyak 10 orang
(32,3%).
Tabel 4.3
Distribusi Responden Berdasarkan Posisi
danteknik mengedan dengan robekan
Perineum Di Klinik Rosita 2022
Posisi dan teknik mengedan F %
Posisi dan teknik mengedan 10 32,2
miring kiri
Posisi dan teknik mengedan 21 67,8
litotomi
Total 31 100
Berdasarkan tabel 4.3 menunjukan bahwa dari
31 orang ibu yang mengalami kejadian ruptur
perineum dengan posisi miring kiri sebanyak 10 orang
32,2% dan ibu yang menggunakan Posisi dan teknik
mengedan litotomi sebanyak 21 orang (67,8%).
A.2 Analisis Bivariat
2.1 Hubungan Posisi dan teknik mengedan pada kala II persalinan dengan
robekan perineum
Tabel 4.4
Hubungan Posisi dan teknik mengedan pada kala II dengan robekan
perineum di Klinik Rosita 2022
Posisi dan Tehnik Mengedan
n % n % n %
Baik 6 60 3 9 10 100 *0.002
Kurang Baik 4 12,9 7 22,5 21 100
Jumlah 15 48,4 10 51,6 31 100
* Fisher’s Exact Test
Kejadian Ruptur
Perineum Total p
Ringan
Berdasarkan tabel 5.4 diatas menunjukkan bahwa
dari 31 responden yang diteliti yang memiliki
pengetahuan baik dengan kejadian ruptur perineum
ringan sebanyak 9 responden (90%) dibandingkan
responden yang memiliki pengetahuan baik dengan
kejadian ruptur perineum berat sebanyak 1 responden
(10%), dan yang pengetahuan kurang baik dengan
kejadian ruptur perineum ringan sebanyak 6 responden
(28,6%), dan yang memiliki pengetahuan kurang baik
dengan kejadian ruptur perineum berat sebanyak 15
responden (71,4%).
Dengan demikian maka analisis yang digunakan adalah
Chi-Square dengan uji alternatif Fisher’s Exact Test.
Nilai p = 0.002 yang berarti p lebih kecil dari nilai α =
0.05 dengan demikian, secara statistik terdapat
hubungan antara posisi pada ibu bersalin dengan
robekan perneum di Klinik Rosita.
Pembahasan
B.1 Karakteristik Hdukungan keluarga tentang pemenuhan gizi selama
hamil
B.1 Pembahasan
Pengetahuan Teknik Mengedan
menujukkan bahwa dari 31 responden, terdapat (67,7%), yang pengetahuannya
kurang baik di Klinik Rosita sedangkan (32,3%) yang pengetahuannya baik di
Klinik Rosita. Menurut peneliti hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan
responden tentang teknik mengedan tergolong kurang baik hanya beberapa
responden yang paham tentang teknik mengedan. Hal ini berkaitan dengan
pendidikan ibu bersalin di Klinik Rosita
yang di lihat dari pendidikan terakhir, maka pendidikan terakhir responden yang
paling banyak adalah sekolah dasar (SD) responden (48,4%), dan yang paling
sedikit adalah perguruan tinggi responden (9,7% ) ibu bersalin di Klinik Rosita.
Menurut Notoatmodjo (2016), salah satu faktor yang mempengaruhi
pengetahuan yaitu pendidikan, semakin tinggi pendidikan seseorang maka
pengetahuan yang dimiliki akan semakin banyak atau tinggi berhubungan karena
kemampuan memahami informasi yang diterima. Persiapan yang baik selama
kehamilan dan selama menjelang proses persalinan, dan menjaga kesehatan
selama kehamilan, sangat berhubungan dengan pendidikan.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Aswad (2017), yang berjudul gambaran
angka kejadian ruptur perineum tingkat I, II dan III di RSUD Syeh Yusuf Gowa
periode januari sampai Desember tahun 2016 dengan kesimpulan penelitian
yaitu kejadian ruptur perineum berdasarkan tingkat pendidikan dari 328
responden yang mengalami ruptur perineum terbanyak dengan pendidikan
rendah (SD dan SMP) sebanyak 226 responden (68,8%). Pendidikan yang rendah
sangat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola
hidup terutama dalam pengetahuan juga memotivasi untuk sikap berperan serta
dalam pembangunan.
Kejadian Ruptur Perineum
menunjukkan bahwa dari 31 responden, kejadian ruptur perineum di Klinik
Rosita dengan kejadian ruptur
B.1 Karekteristik ibu nifas di..
b.2 Posisi persalinan pada kala 2 ibu nifas di.....
b.3 Teknik mengedan pada kala 2 persalinan pada ibu nifas
b.4 ruptur perineum padakala 2 ibi nifas
b.5 hubungan posisi dan teknik mengedan pada kala 2 persalinan
ibu nifas.
MASTER DATA
kode Usia Pendi Pekerj Parit Jara Robekan Perineum
dikan aan asas k
kela
hira
n
1 2 2 2 2 2 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 13
2 2 2 1 1 2 0 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 6
3 2 2 2 2 2 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 0 6
4 2 2 2 1 2 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 0 6
5 1 2 1 1 2 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 0 6
6 2 2 2 2 2 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 7
7 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 11
8 2 2 1 2 2 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 8
9 2 2 2 1 2 0 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 8
10 2 2 2 1 2 0 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 8
11 2 2 2 2 2 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 1 7
12 2 2 1 1 2 0 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 8
13 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 14
14 2 2 2 2 2 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 1 8
15 2 2 2 1 2 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 1 7
16 2 2 1 1 2 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 9
17 2 2 2 1 2 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 8
18 2 2 2 2 2 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 1 7
19 1 2 1 1 2 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 1 6
20 2 2 2 1 2 1 0 0 0 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 6
21 2 3 1 3 2 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 14
22 2 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 14
23 2 2 2 2 2 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 1 8
24 2 2 2 1 2 0 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1 1 1 10
25 2 2 2 1 2 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 0 1 1 10
26 2 2 2 2 2 1 0 1 0 1 0 0 1 0 1 1 1 1 0 1 9
27 2 3 2 1 2 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 7
28 2 2 1 1 2 1 1 1 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 1 10
29 2 3 2 3 2 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 14
30 2 2 2 3 2 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 13
31 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 11