0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan78 halaman

Akuntansi Usaha Laundry Pangkalan Kerinci

Skripsi ini membahas analisis penerapan akuntansi pada usaha laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci. Tujuannya adalah mengetahui apakah penerapan akuntansi oleh pengusaha laundry sesuai dengan konsep dasar akuntansi agar menghasilkan informasi keuangan yang bermanfaat. Penelitian ini menggunakan metode sensus terhadap 21 usaha laundry kecil di kecamatan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa penerapan akuntansi oleh peng

Diunggah oleh

Tina Puteriani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan78 halaman

Akuntansi Usaha Laundry Pangkalan Kerinci

Skripsi ini membahas analisis penerapan akuntansi pada usaha laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci. Tujuannya adalah mengetahui apakah penerapan akuntansi oleh pengusaha laundry sesuai dengan konsep dasar akuntansi agar menghasilkan informasi keuangan yang bermanfaat. Penelitian ini menggunakan metode sensus terhadap 21 usaha laundry kecil di kecamatan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa penerapan akuntansi oleh peng

Diunggah oleh

Tina Puteriani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

ANALISIS PENERAPAN AKUNTANSI PADA USAHA


LAUNDRY DI KECAMATAN PANGKALAN KERINCI

Sebagai salah satu syarat untuk mengajukan penelitian skripsi pada


Falkutas Ekonomi
Universitas Islam Riau

Oleh:

SAIDURRAHMAN
NPM: 155310411

PRODI: AKUNTANSI S1

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSIAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2019
ABSTRAK

ANALISIS PENERAPAN AKUNTANSI PADA USAHA LAUNDRY


DIKECAMATAN PANGKALAN KERINCI

oleh
SAIDURRAHMAN
NPM : 155310411

Penelitian ini penulis lakukan di Kecamatan Pangkalan kerinci. Berkenaan


dengan penelitian ini yang menjadi objek adalah pengusaha laundry. Adapun
permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah apakah penerapan akuntansi
yang dilakukan pengusaha laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci telah memenuhi
konsep-konsep dasar akuntansi.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan
akuntansi yang dilakukan oleh pengusaha laundry sudah mengikuti konsep-konsep
dasar akuntansi sehingga dapat menghasilkan informasi keuangan yang bermanfaat
dalam menjalankan usahanya.
Dalam penelitian usaha kecil laundry yang ada di Kecamatan Pangkalan
Kerinci berjumlah 21 usaha. Penelitian ini menggunakan metode sensus kesemua
usaha kecil laundry di Kecamatan Pangkalan [Link] semua data terkumpul,
data tersebut di kelompokan menurut jenisnya masing-masing dan kemudian
dituangkan dalam bentuk table dan penulis dapat menarik kesimpulan sebagai hasil
dari penelitian yang dilakukan.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, penerepan akuntansi yang
dilakukan oleh pengusaha kecil laundry belum sesuai dengan konsep-konsep dasar
akuntansi.

Kata Kunci : Penerapan akuntansi

i
ABSTRACT

ANALYSIS OF ACCOUNTING APPLICATIONS IN LAUNDRY


BUSINESSES
UNDER THE PANGKALAN KERINCI

By
SAIDURRAHMAN
NPM: 155310411

This research is conducted by the author in Pangkalan Kerinci District.


Regarding this research, the object is laundry entrepreneurs. The problem discussed in
this study is whether the application of accounting by the laundry businessman in
Pangkalan Kerinci Subdistrict has fulfilled the basic concepts of accounting.
The purpose of this study is to determine the application of accounting carried out by
laundry entrepreneurs who have followed the basic concepts of accounting so as to
produce useful financial information in running their business.
In the study of laundry small businesses in Pangkalan Kerinci District, there
were 21 businesses. This study uses the census method of all laundry small businesses
in the Pangkalan Kerinci District. After all the data is collected, the data is grouped
according to their respective types and then poured in the form of a table and the
author can draw conclusions as a result of the research conducted.
Based on the results of research and discussion, accounting forerunners
conducted by laundry small entrepreneurs are not in accordance with the basic
concepts of accounting.

Keywords: Application of accounting

ii
KATA PENGANTAR

Asssalamu,alaikum Waarahmutullahi Wabarokatuh. . ..

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT diiringi Shalawat dan salam

kepada Nabi Muhammad SAW. Penulis menyadari bahwa atas rahmat dan hidayah-

Nya yang dilimpahkan kepada penulis himgga akhirnya skripsi yang berjudul

“Analisis Penerapan Akuntansi Pada Usaha laundry di Kecamatan Pangkalan

Kerinci” dapat disusun dan diselesaikan dengan baik.

Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat untuk

menyelesaikan pendidikan Program Sarjana S1 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi

Universitas Islam Riau. Segala ilmu yang penul:is dapatkan di bangku kuliah semoga

dapat diimplementasikan dan dipergunakan sebaik mungkin.

Penulis hendak menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya

kepada berbagai pihak yang telah mendukung selesainya skripsi ini, yakni:

1. Bapak Prof. Dr. Syafrinaldi, SH., MCI., selaku Rektor Universitas Islam Riau.

2. Bapak Drs. Abrar, [Link]., Ak., CA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas

Islam Riau.

3. Ibu Dra. Eny Wahyuningsih, [Link]., Ak., CA, selaku Ketua Jurusan Akuntansi

Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau.

4. Ibu Hj siska, SE,, [Link]., Ak.,CA, selaku Dosen Pembimbing 1, penulis

mengucapkan terimakasih atas waktu yang telah ibu luangkan dalam membantu

iii
mengarahkan dan memberikan petunjuk kepada penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini.

5. Bapak Dr. Azwirman, SE., [Link]., CPA, selaku Dosen Pembimbing 2, penulis

mengucapkan terimakasih atas waktu yang telah ibu luangkan dalam membantu

mengarahkan dan memberikan petunjuk kepada penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini.

6. Bapak dan Ibu Dosen selaku staf pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Islam

Riau yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan.

7. Seluruh staf dan karyawan/i Tata Usaha Fakultas Ekonomi Universitas Islam

Riau yang telah memberikan bantuan selama penulis mengikuti masa

perkuliahan.

8. Teristimewah dan terimakasih kepada kedua orangtua tercinta. Ayahanda Drs

Abu Tohir, Ibunda Nursannah tercinta yang selalu memberikan, bimbingan,

semangat, baik moral maupun material yang begitu besar kepada penulis.

Terimakasih atas doa, kesabaran, kasih sayang, cinta dan perhatian yang telah

diberikan selama ini.

9. Untuk sayangku, abang, adik, sepupu, keponakan terimakasih atas doa, kasih

sayang, dukungan dan semangat yang telah diberikan selama ini.

10. Buat sahabat-sahabat, Riri alfitro , Yunus laowo, Ilham suprianto, Muhammad

khoir, Nurul hasannah, Verdi gunawan, Lamhot terimakasih banyak atas doa,

dukungan dan semangat untuk penulis.

iv
11. Untuk sahabat-sahabat seperjuangan angkatan 2015 terkhususnya lokal D.

Semangat terus untuk ke depannya insyaAllah kita berjumpa lagi atas kehendak-

Nya.

12. Untuk semua pihak yang terkait yang sudah membantu, penulis meminta maaf

tidak bisa menyebutkan satu persatu.

Semoga kebaikan dan keikhlasan yang telah mereka berikan kepada penulis

akan mendapatkan balasan dari Allah SWT dalam bentuk yang lebih baik dari yang

mereka berikan kepada penulis, Aammiin.... semoga skripsi ini bermanfaat bagi

penulis dan pembaca sekalian.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb...

Penulis

SAIDURRAHMAN
155310411

v
DAFTAR ISI

ABSTRAK ...............................................................................................................i

KATA PENGANTAR .............................................................................................iii

DAFTAR ISI ............................................................................................................vi

DAFTAR TABEL ....................................................................................................ix

BAB I : PENDAHULUAN.......................................................................................1

A. Latar Belakang Masalah ............................................................................1

B. Perumusan Masalah ...................................................................................6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ..................................................................6

D. SistematikaPenulisan.................................................................................7

BAB II : TELAAH PUSTAKA DAN HIPOTESIS ...............................................9

A. Pengertian Usaha kecil .............................................................................9

B. Pengertian dan Fungsi Akuntansi.............................................................10

C. Konsep Dasar dan Prinsip akuntansi .........................................................12

D. Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas

Publik (SAK ETAP) ......................................................................................16

E. SiklusAkuntansi .........................................................................................17

F. Sistem Akuntansi Perusahaan Kecil ..........................................................26

G. Hipotesis ....................................................................................................29

BAB III : METODE PENELITIAN ......................................................................30

vi
A. ObjekPenelitian .........................................................................................30

B. Operasionalisasi Variable Penelitian .........................................................30

C. Populasi dan Sampel..................................................................................31

D. Jenis Data danSumber Data.......................................................................33

E. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................33

F. TeknikAnalisis Data...................................................................................34

BAB IV : GAMBARAN UMUM ............................................................................35

A. Gambaran Umum Masing masing usaha ..............................................................35

BAB V : HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................41

A. Statistik Deskriptif .................................................................................41

a. Gambaran Umum Identitas responden ...................................................................41

b. Modal Usaha ...................................................................................................43

c. Respon responden terhadap pelatihan dalam

Bidang pembukuan.....................................................................................................44

[Link] Karyawan ....................................................................................................45

B. analisis konsep-konsep dasar akuntansi ................................................46

a. Konsep Dasar Pencatatan ...........................................................................46

b. Konsep Kesatuan Usaha .............................................................................52

c. Konsep Periode Waktu ...............................................................................55

d. Konsep Kontinuitas Usaha .........................................................................58

e. Konsep Penanding ......................................................................................61

vii
BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................................63

A. Kesimpulan............................................................................................................63

B. Saran ......................................................................................................................64

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................66

LAMPIRAN

viii
DAFTAR TABEL

Tabel II.1 Perbedaan Sistem Akuntansi Berpasangan Dengan


Sistem Akuntansi Tunggal ............................................................................27
Tabel III.1 Populasi Usaha Laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci....................32
Tabel V.1 Distribusi Responden Dirinci Dari Tingkat Umur ...................................41
Tabel V.2 Distribusi Responden Dirinci Menurut Tingkat Pendidikan .....................42
Tabel V.3 DistribusiResponden Dirinci Menurut Lama Usaha ................................43
Tabel V.4 DistribusiRespondenBerdasarkan Modal Usaha ......................................44
Tabel V.5 Respon Responden Terhadap pelatihan Bidang Pembukuan ...................44
Tabel V.6 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Karyawan ............................45
Tabel V.7 Pencatatan Penerimaan Kas ......................................................................47
Tabel V.8 Pencatatan pengeluaran Kas ......................................................................48
Tabel V.9 Responden yang melakukan Penjualan kredit...........................................48
Tabel V.10 Buku Pencatatan Piutang.........................................................................49
Tabel V.11 Responden yang melakukan Pembelian kredit .......................................50
Tabel V.12 Buku Pencatatan Utang ...........................................................................51
Tabel V.13PemisahanPencatatanKeuangan Perusahaan Dengan Keuangan
RumahTangga Responden .............................................................................52
Tabel V.14 Biaya – Biaya Dalam Perhitungan Laba Rugi ........................................53
Tabel V.15 Distribusi Responden Menurut Perhitungan Laba Rugi .........................56
Tabel V.16 PeriodePelaporan Perhitungan Laba Rugi ..............................................57
Tabel V.17 Respon responden Terhadap Kegunaan Sistem
Perhitungan laba rugi .................................................................................................58
Tabel V.18 Pencatatan Terhadap Aset Tetap .............................................................58
Tabel V.19 Pencatatan Terhadap Penyusutan Aset Tetap .........................................59
Tabel V.20 Kebutuhan Terhadap Pembukuan ...........................................................60

ix
BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Suatu perusahaan didirikan untuk menghasilkan keuntungan atau

mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih besar dari biaya modalnya. Dengan

kata lain mencari untung sebesar-sebesarnya dari hasil kegiatan perdagangan atau

penjualan barang atau jasa, yaitu penyerahan suatu produk baik barang maupun

jasa kepada konsumen. Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh pendapatan agar

dapat menjalankan aktivitas perusahaan. Aktivitas perusahaan ini akan tergambar

dalam suatu laporan yang dibuat dan disajikan oleh pihak [Link]

membuat laporan ini biasanya perusahaan membuat data-data keuangan sehingga

ini disebut laporan keuangan.

Menurut Undang-Undang RI tentang Usaha Mikro Kecil Menengah

(UMKM) No.20 Tahun 2008 dalam bab 1 di pasal 1 dijelaskan bahwa: “Usaha

kecil adalah usaha perorangan atau badan usaha yang bukan bagian dari usaha

menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil. Usaha menengah

adalah usaha perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan bagian dari

usaha kecil atau usaha besar. Sedangkan Usaha besar adalah usaha yang dilakukan

badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau penjualan tahunan lebih besar

dari usaha menengah.”

Sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan salah satu kegiatan

ekonomi yang memegang peranan penting, terutama bila dikaitkan dengan jumlah

tenaga kerja yang mampu [Link] kecil ini, selain memiliki arti strategis

1
bagi pembangunan juga sebagai upaya untuk memeratakan hasil-hasil

pembangunan yang telah [Link] usaha kecil dari tahun ke tahun

bertambah, bertahan, dan mengalami [Link] beberapa area ekonomi yang

biasanya menjadi konsentrasi usaha kecil, yang beranekaragam, salah satu

diantaranya yang saat ini mengalami kemajuan cukup pesat pada bidang dagang

usaha kecil menengah yaitu usaha laundry.

Pada akhirnya, aktivitas dan kegiatan perusahaan tersebut digambarkan

dalam suatu laporan yang disusun oleh pihak manajemen itu sendiri. Laporan-

laporan tersebut disusun berdasarkan suatu proses olah data yang bersifat

keuangan yang terdiri dari berbagai macam laporan keuangan.

Laporan keuangan sebagai alat penyediaan informasi keuangan haruslah

berdasarkan suatu standar tertentu atau harus memiliki suatu pedoman tertentu,

agar informasi-informasi yang tersaji dalam laporan keuangan tersebut terjamin

keabsahannya dan dapat dipertanggungjawabkan serta dapat digunakan oleh pihak

yang berkepentingan sebagai bahan pertimbangan didalam pengambilan

keputusan ekonomi dan keuangan baik bagi pemilik perusahaan maupun pihak

diluar [Link] berkembangnya usaha, menuntut UKM untuk

menyediakan laporan keuangan dengan baik sesuai standar yang berlaku.

Ikatan Akuntan Indonesia telah mengesahkan Standar Akuntansi

Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada tahun

2009. Tujuan diterbitkannya SAK ETAP yakni untuk diimplementasikan pada

entitas tanpa akuntabilitas publik karena UKM pada umumnya belum memiliki

2
akuntabilitas publik signifikan dan tidak menerbitkan laporan keuangannya untuk

tujuan umum.

Laporan keuangan tersebut dihasilkan melalui siklus akuntansi, Siklus

akuntansi merupakan suatu proses penyediaan laporan keuangan perusahaan

untuk suatu periode waktu tertentu. Siklus ini dimulai dari adanya identifikasi

transaksi, analisis transaksi, mencatat transaksi dalam jurnal, pemindahan

bukuan/posting ke buku besar, menyusun nerca saldo, menyusun ayat jurnal

penyesuaian, menyusunneraca saldo setelah penyesuaian, menyusun laporan

keuangan, menyusun jurnal penutup, menyusun neraca saldo setelah penutupan,

dan menyusun jurnal pembalik.

Sedangkan dalam proses pencatatan akuntansi dikenal dua dasar

pencatatan, yaitu dasar akrual (accrual basis) dan dasar kas (cash basis). Dasar

Kas (Cash Basic) transaksi dicatat atau diakui apabila kas sudah diterima atau

dikeluarkan.. Sedangkan Dasar Akrual (Accrual Basic) transaksi dicatat atau

diakui pada saat terjadinya transaksi tanpa melihat apakah kas telah diterima atau

dikeluarkan.

Dalam penyusunan laporan keuangan tidak terlepas dari penerapan

akuntansi, penerapan atau penggunaan akuntansi ini menjadi kebutuhan bagi

pengusaha kecil maupun besar, yang bentuk dan penerapannya tergantung dari

besar kecilnya usaha tersebut.

Sebelumnya, penelitian tentang penerapan akuntansi pengusaha kecil

pernah dilakukan oleh Destri Mulyani (2009) yaitu pada usaha kecil

bengkeldengan skripsi yang berjudul “Analisis Penerapan Akuntansi Pada Usaha

3
Bengkel di Kecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu”, hasil penelitian

menjelaskan bahwa pencatatan yang dilakukan oleh pengusaha kecil bengkel di

Kecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu belum menghasilkan

informasi keuangan yang layak dalam menjalankan usaha. Ini dikarenakan para

pengusaha bengkel menggabungkan atau mencampur adukkan antara keuangan

perusahaan dengan perusahaan rumah tangga.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Reni Ayu Puspita (2017)

terhadap usaha kecil digital studio dengan judul skripsi “Analisis Penerapan

Akuntansi Pada Usaha Digital Studio Di Pekanbaru”, hasil penelitiannya

menjelaskan bahwa usaha kecil digital studio di Pekanbaru sudah melakukan

pencatatan tetapi pencatatan yang dilakukan belum menerapkan akuntansi sesuai

dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Sehubungan dengan hal yang telah diuraikan sebelumnya maka penulis

bermaksud melakukan penelitian mengenai Usaha Laundry di Kecamatan

Pangkalan kerinci Kabupaten [Link] gaya hidup manusia saat ini

yang serba praktis karena aktivitasnya yang sangat padat sehingga mereka tidak

memiliki waktu luang untuk mencuci dan menyetrika pakaian maka pelayanan

jasa laundry ini sangatlah berguna bagi orang yang sibuk namun menginginkan

pakaiannya bersih, wangi , dan [Link] dengan adanya Penelitian mengenai

usaha laundry di kecamatan kerinci sangat membantu pengusaha laundry untuk

meningkatkan usaha dengan laporan keuangan yang sesuai dengan standar, akan

lebih mudah mendapatkan modal. Kemudian penulis melakukan penelitian data

4
awal pada 3 usaha laundry, yaitu Usaha Laundry Etin Laundry, usaha laundry

Vira laundry , dan Trio Laundry.

Survey awal yang dilakukan pada toko Etin laundry yang berada di jalan

Arbes. Diperoleh data bahwa toko ini masih melakukan pencatatan penjualan dan

pengeluaran kas kedalam satu buku catatan harian, dan menggabungkannya

dengan pengeluaran rumah tangga. Selanjutnya untuk pencatatan hutang,

pencatatan atas piutang dan persediaan pemilik tidak ada melakukan pencatatan.

Untuk perhitungan laba rugi, toko ini melakukan perhitungan dengan

menjumlahkan seluruh penjualan lalu dikurang dengan seluruh pengeluaran yang

dilakukan setiap bulannya.

Survey kedua dilakukan pada toko Vira laundry yang beralamat di jalan

pemda, dari data yang didapat diketahui pemilik hanya melakukan pencatatan

sederhana, catatan tersebut berupa catatan penjualan, Dari hasil wawancara toko

Vira Laundry belum memisahkan pengeluaran non usaha dengan pengeluaran

usaha toko laundrynya seperti biaya listrik, biaya telepon bahkan terkadang modal

masih tergabung dengan biaya non usaha

Survey ketiga dilakukan pada toko Trio laundry yang bealamat jalan BLP

Blok 1. Untuk pencatatan pemasukan kas, toko ini melakukan pencatatan pada

satu buku catatan harian, sedangkan untuk pengeluaran toko ini tidak ada

melakukan pencatatan. Untuk hutang toko hanya memiliki faktur sebagai bukti

transaksi, sedangkan untuk pembelian barang dagang dibeli secara tunai,

selanjutnya untuk piutang dan persediaan toko ini tidak melakukan pencatatan.

5
Dan untuk pembelian barang dagang pemilik hanya berpatokan pada jumlah

barang yang masih tersisa.

Berdasarkan dengan latar belakang yang ada, maka penulis

bermaksuduntuk melakukan penelitian mengenai masalah penerapan akuntansi

khususnyapada usaha laundry di Kecamatan pangkalan kerinci dengan judul

Analisis Penerapan Akuntansi Pada Usaha Laundry Di Kecamatan

Pangkalan kerinci.

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalah pokok

dalampenelitian ini adalah sebagai berikut :

Bagaimana kesesuaian penerapan akuntansiyang dilakukan oleh

pengusaha Laundry di Kecamatan Pangkalan kerinci dengan konsep-konsep dasar

akuntansi.

C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITAN

1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana

penerapan akuntansi yang dilakukan oleh usaha laundry di Kecamatan Pangkalan

Kerinci sudah mengikuti konsep dasar akuntansi.

2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Bagi penulis, dapat menambah wawasan dan mengaplikasikan ilmu yang

diperoleh selama proses perkuliahan antara teori dan praktek yang didapat

selama ini.

6
b. Bagi usaha kecil, sebagai bahan masukkan dalam melakukan kegiatan

usahanya serta sebagai bahan acuan dalam mengevaluasi perkembangan

dan kemajuan usaha yang dikelola.

c. Bagi peneliti lainnya, sebagai sumber informasi atau bahan acuan dalam

penelitian yang sejenis terhadap permasalahan yang sama dimasa yang

akan datang.

D. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan dalam skripsi ini akan dibagi kedalam enam bab.

Masing-masing bab akan membahas masalah-masalah sebagai berikut:

BAB I : Bab ini merupakan bab pendahuluan yang meliputi latar belakang

masalah, pokok permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian,

sertasistematika penulisan.

BAB II : Bab ini mengemukakan tinjauan pustaka yang berhubungan

dengan penulisan serta hipotesa.

BAB III : Bab ini menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan metode dan

lokasi penelitian, jenis dan sumber data, metode pengumpulan

data, dananalisis data.

BAB IV : Bab ini menjelaskan gambaran umum identitas responden yang

berisikan tingkat umur responden, tingkat pendidikan responden,

modal usaha responden, jumlah tenaga kerja, dan pemegang

keuangan.

BAB V : Dalam bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian dan

pembahasan.

7
BAB VI : Penutup, dalam bab ini akan diberikan kesimpulan dan saran- saran

yang dianggap penting dan mungkin berguna untuk perusahaan

kecil.

8
BAB II

TELAAH PUSTAKA DAN HIPOTESIS

[Link] PUSTAKA

[Link] Usaha Kecil

Defenisi usaha kecil sampai saat ini berbeda-beda sesuai dengan sudut

pandang yang mengartikannya, tetapi pada prinsipnya adalah sama. Menurut H.

M. Daini Tara (2010:50) memberikan batasan usaha kecil sebagai berikut :

Usaha kecil adalah kelompok usaha industri yang memiliki investasi

peralatan dibawah tujuh juta rupiah, investasi pertenaga kerja maksimal

enam ratus dua puluh ribu rupiah, jumlah tenaga kerja 20 orang, serta

memiliki asset perusahaan tidak lebih dari seratus juta rupiah.

Menurut M. Kwartono Adi (2007:12) mendefenisikan usaha kecil sebagai

berikut:

Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki kekayaan

bersih paling banyak Rp. 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan

tempat usaha atau yang memiliki hasil penjualan tahunan yang paling

banyak Rp. [Link] dan milik warga Negara Indonesia.

Menurut undang-undang usaha mikro kecil dan menengah UU RI No. 20 tahun

2008 (2008:3) mendefenisikan usaha kecil sebagai berikut :

Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang

dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak

perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun

9
tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang tidak memenuhi

kriteria usaha kecil sebagaimana dalam undang undang ini.

[Link] dan Fungsi Akuntansi

Dalam dunia usaha seringkali dinyatakan sebagai bahasa perusahaan yang

berguna untuk memberikan informasi yang berupa data-data keuangan perusahaan

yang dapat digunakan untuk pengambilan [Link] perusahaan

memerlukan dua macam informasi tentang perusahaannya yaitu informasi

mengenai nilai perusahaan dan informasi tentang laba/rugi usaha.

Menurut Weygandt, Kieso, dan Kimmel (2009:4) pengertian akuntansi

adalah sebagai berikut :

Accounting is an information system that indentifies, rcord, and

communicates the economic events of an organization to interested user.

Yang artinya akuntansi adalah :

sebuah sistem yang mengidentifikasi, merekam, dan mengkomunikasikan

kejadian ekonomi suatu organisasi kepada pemakai informasi yang

berkepentingan.

Menurut Reevee, Warren, dan Duchac (2008:7) menyatakan :

Accounting is an information system that profides report to stakeholder

about the economic activites and condition of business.

Yang artinya akuntansi adalah :

sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang

berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan.

10
Sedangkan menurut Catur Sasongko (2016:2) menyatakan : Akuntansi

adalah proses/aktivitas yang menganalisis, mencatat, mengklasifikasikan,

mengikhtisarkan, melaporkan, dan menginterprestasikan informasi keuangan

untuk kepentingan para penggunanya. Dan proses akuntansi merupakan sebuah

sistem yang mengukur kegiatan bisnis perusahaan.

Ilmu akuntansi memegang peranan yang sangat penting dalam

menjalankan operasi perusahaan. Dekan demikian apabila perusahaan

menggunakan ilmu akuntansi yang baik, maka dapat menyediakan informasi yang

baik, yang dapat dipergunakan oleh pihak intern dan pihak ekstern dalam

pengambilan keputusan ekonomi.

Pengertian akuntansi menurut American Institute Certified of Public

Accounting (AICPA) mendefenisikan dalam Sofyan Syafri Harahap (2009:4)

“Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan pengiktisaran

dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian

yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasil hasilnya.”

Menurut Carl S. Warren, James M. Reeve dan Philip E. Fees (2014:3)

mendefenisikan akuntansi sebagai berikut :

Akuntansi adalah sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada

pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi

perusahaan.

Sedangkan menurut Sugiharto dan Suwardjono (2009:4) akuntansi dapat

didefenisikan dari dua segi yaitu :

11
pertama dari segi ilmu akuntansi yang berarti keseluruhan pengetahuan

yang bersangkutan dengan fungsi menghasilkan informasi keuangan suatu

uniy organisasi kepada pihak yang berkepentingan untuk dijadikan dasar

pengambilan keputusan.

Kedua dari segi proses atau kegiatannya akuntansi dapat diartikan sebagai

kegiatan pencatata, penyortiran, penggolongan, pengiktisaran,

peringkasan, dan penyajian transaksi keuangan suatu unit organisasi

dengan cara tertentu.

[Link] dan Prinsip Dasar Akuntansi

Dalam hal menerapkan akuntansi ada hal-hal yang perlu diperhatikan

mengenai konsep dasar akuntansi. Adapun konsep-konsep yang melandasi bentuk,

isi, dan susunan laporan keuangan antara lain sebagai berikut :

a) Dasar-dasar pencatatan

Menurut Rudianto (2009:20) ada dua macam pencatatan dalam akuntansi

yang di pakai dalam mencatat transaksi yaitu:

1. Akuntansi berbasis kas (Cash Basis Accounting) adalah suatu metode

perbandingan antara pendapatan dengan beban, dimana pendapatan

dilaporkan saat uang telah diterima dan beban dilaporkan pada saat

uang telah dibayar.

2. Akuntansi berbasis akrual (Accrual Basis Accounting) adalah suatu

pendapatan dilaporkan pada saat terjadinya transaksi dan beban

dilaporkan pada saat terjadinya transaksi dan beban dilaporkan pada

saat beban tersebut diperlukan untuk menghasilkan pendapatan usaha.

12
b) Konsep kesatuan usaha (Business Entity Concept),

Konsep kesatuan usaha menurut Suwardjono (2012:70) adalah perusahaan

Dianggap sebagai badan atau orang yang berdiri sendiri, bertindak atau namanya

sendiri, dan terpisah dari pemilik.

Sedangkan menurut Suradi (2009:22) konsep kesatuan usaha dicatat

terpisah dari aktivitas pihak-pihak yang berkepentingan sekalipun

[Link] kesatuan usaha dengan kesatuan usaha lainnya bahkan dengan

pemiliknya terdapat usaha yang tegas baik yang menyangkut aktiva, maupun

modal.

Konsep ini menginginkan agar transaksi yang terjadi didalam suatu

perusahaan dicatat secara terpisah dari transaksi perusahaan lain maupun

kehidupan keseharian dari pada pemiliknya. Konsep ini menggambarkan

akuntansi menggunakan sistem berpasangan dalam pelaporannya (Double Entry

bookkeeping) yaitu dalam setiap melaporkan sumber ekonomi (kekayaan)

perusahaan dan perubahannya harus pada asal atau sember dananya.

c) Konsep periode waktu (Time Period Concept)

Menurut Hery (2014:88), adalah suatu konsep yang menyatakan bahwa

Akuntansi menggunakan periode waktu sebagai dasar dalam mengukur dan

menilai kemajuan suatu perusahaan.

Menurut Rudianto (2009:20), konsep yang menyajikan informasi

keuangan sesuai dengan periode waktu yang ditetapkan.

13
Konsep periode waktu adalah konsep yang mengatur seluruh kegiatan

akuntansi harus menggunakan periode [Link] agar laporan keuangan

yang disajikan dapat menjadi laporan yang relevan dan tepat waktu.

d) Konsep kontinuitas usaha (Going Concern Concept)

konsep yang mengangap bahwa suatu kesatuan usaha yang diharapkan

akan terus beroperasi dengan menguntungkan dalam jangka waktu yang tidak

terbatas.

Menurut Rudianto (2012:23) konsep kesinambungan (going cocern)

adalah suatu konsep dimana suatu perusahaan dianggap akan hidup terus dalam

jangka panjang dan tidak dilikuidasi dimasa depan.

Menurut Herry (2014:88) adalah konsep yang menganggap bahwa suatu

kesatuan usaha diharapkan akan terus beroperasi dalam jangka waktu yang tidak

terbatas.

Konsep ini merupakan konsep yang menganggap perusahaan akan terus

beroperasi untuk jangka waktu yang lama, dan jika suatu entitas tidak mampu

melanjutkan usaha maka entitas tersebut harus mengungkapkan kondisi dari

ketidak langsungan usaha tersebut.

e) Konsep penanding (Matching Concept)

Menurut Wiwin yudianti (2010:782), artinya dalam menentukan besar laba

rugi, beban harus ditandingkan dengan pendapatan pada periode yang sama.

Menurut Warren (2017:17), konsep yang di sebut dengan konsep

pengaitan atau pemadanan, antara pendapatan dan beban yang terkait.

14
Konsep penanding ialah membandingkan antara jumlah pendapatan

dengan beban yang dikeluarkan dalam periode yang sama.

Menurut Donald E Kiesso, dkk (2008:45) empat prinsip dasar yang

digunakan untuk mencatat transaksi adalah sebagai berikut:

1. Prinsip Biaya Historis (historical cost)

Secara umum penggunaan laporan keuangan lebih memilih menggunakan

biaya historis karena memberikan tolak ukur yang dapat dipercaya untuk

mengukur tren historis. Pada mulanya biaya historis sama dengan nilai

wajar. Dalam periode selanjutnya ketika kondisi pasar dan ekonomi

berubah maka biaya historis dan nilai wajarnya sering berbeda.

2. Prinsip pengakuan pendapatan (revenue recognition principle)

Pendapatan umumnya diakui jika :

a. Telah direalisasi atau dapat direalisasi (relized), jika nproduk barang

dan jasa atau aktiva lainnya telah ditukarkan dengan kas.

b. Pendapatan telah dihasilkan (matching principle), apabila sebuah

entitas telah melakukan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan

hak atas menfaat yang dipresentasikan oleh pendapatan.

3. Prinsip Penandingan (matching principle), yaitu prinsip yang

menandingkan beban dan pendapatan sepanjang rasional dan dapat

diterapkan.

4. Prinsip Pengungkapan Penuh (full disclosure principle), mengakui bahwa

sifat dan jumlah informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan yang

mencerminkan serangkaian trade-off penilaian. Trade off ini terjadi antara

15
kebutuhan untuk mengungkapkan secara cukup terinci hal-hal yang akan

mempengaruhi keputusan pemakai dan kebutuhan untuk memadatkan

penyajian informasi dapat dipahami.

[Link] Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik

(SAK-ETAP)

Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK

ETAP) dimaksudkan untuk digunakan tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa

akuntabilitas publik adalah entitas yang memiliki dua kriteria yang menentukan

apakah suatu entitas tergolong entitas tanpa akuntabilitas public (ETAP) yaitu :

1. Tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan.

Suatu entitas dikatakan memiliki akuntabilitas yang signifikan jika entitas

telah mengajukan pernyataan pendaftaran atau entitas dalam proses pengajuan

pernyataan pendaftaran pada otoritas pasar modal (BAPEPAM-LK) atau regulator

lain untuk tujuan efek di pasar modal.

2. Tidak menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum ( general purpose

financial statement ) bagi pengguna eksternal. Contoh pengusaha eksternal

adalah:

a. Pemilik yang terlibat langsung dalam pengelolaan usaha.

b. Kreditur

c. Lembaga pemeringkat kredit

Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat menggunakan

SAK-ETAP jika otoritas berwenang membuat regulasi yang mengizinkan

penggunaan [Link] laporan keuangan mematuhi SAK-ETAP harus

16
membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved

statement) atas kepatuhan tersebut dalam catatan laporan [Link]

keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi SAK-ETAP kecuali jika mematuhi

semua persyaratan dalam SAK-ETAP. Apabila perusahaan memakai SAK-ETAP,

maka auditor yang melakukan audit di perusahaan tersebut juga akan mengacu

kepada SAK-ETAP.

Entitas yang memenuhi persyaratan untuk menerapkan SAK-ETAP dapat

menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK-ETAP, tetapi berdasarkan

PSAK-non ETAP sepanjan diterapkan secara konsisten. Entitas tersebut tidak

diperkenankan untuk menerapkan SAK-ETAP ini untuk penyusunan laporan

keuangan berikutnya.

Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK-ETAP

kemudian tidak memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK-

ETAP, maka entitas tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan

keuangan berdasarkan SAK-ETAP.

[Link] Akuntansi

Menurut Rudianto (2009:14) siklus akuntansi adalah urutan kerja yang

dibuat oleh akuntan sejak awal hingga menghasilkan laporan keuangan suatu

perusahaan.

Adapun siklus-siklus akuntansi meliputi :

17
1) Transaksi /Bukti

Bukti merupakan surat tanda yang dipergunakan sebagai perlengkapan

untuk mempertanggungjawabkan laporan tersebut. Setiap proses transaksi harus

mempunyai bukti (evidence) dan pembukuan.

Menurut Rudianto (2012:16) dokumen dasar adalah berbagai formulir

yang menjadi bukti telah terjadinya transaksi tertentu, seperti : faktur, kuitansi,

nota penjualan, invoice, dll.

Dalam akuntansi dikenal sifat-sifat bukti yang harus ada didalamnya.

Tanpa mengandung sifat bukti ini tidak sah. Bukti yang mendukung laporan

keuangan dapat digolongkan dalam beberapa jenis. Bukti dapat dibagi dalam dua

kelompok

yaitu :

a. Corrobative Evidence

Corrobative evidence adalah seluruh dokumen yang sah termasuk dokumen

seperti cek, faktur, kontrak, hasil rapat, konfirmasi, pernyataan, hasil, Tanya

jawab laporan pengamatan dan hasil inspeksi.

b. Underlying Accounting Data

Underlying Accounting Data yaitu seluruh catatan dalam bentuk buku-buku,

jurnal, neraca lajur, laporan keuangan dan lain-lain yang dijadikan sebagai tempat

mencatat transaksi sampai penyajian laporan keuangan.

2) Mencatat transaksi dalam jurnal

Dengan adanya bukti-bukti transaksi, langkah berikutnya dalam siklus

akuntansi adalah membuat jurnal.

18
Defenisi jurnal menurut Mulyadi (2016:3)adalah sebagai berikut : “Jurnal

merupakan catatan akuntansi pertama yang digunakan untuk mencatat,

mengklasifikasikan, dan meringkas data keuangan dan data lainnya.”

Menggunakan jurnal sebagai buku masukkan/catatan orisinil (books of

original entry) mempunyai beberapa keuntungan (Budi Rahardjo, 2007:31) yaitu :

a. Jurnal memberikan suatu catatan sejarah transaksi perusahaan sesuai

dengan urutan kejadiannya.

b. Jurnal memberikan suatu catatan transaksi keseluruhan, termasuk

dampaknya terhadap rekening atau pos tertentu.

c. Jurnal dapat membantu meyakinkan kesamaan nilai debit dan kredit.

Ada dua macam bentuk jurnal, yaitu :

a. Jurnal umum, digunakan untuk mencatat segala macam transaksi dan

mejadian.

b. Jurnal khusus, merupakan jurnal yang digunakan untuk mencatat

transaksi yang bersifat khusus, misalnya jurnal untuk mencatat

penerimaan uang, mencatat pengeluaran uang, mencatat pembelian

secara kredit dan lain-lain.

3) Buku Besar

Setelah jurnal-jurnal dibuat, maka jurnal tersebut dimasukkan kedalam buku

[Link] Mulyadi (2016:3) yang dimaksud dengan buku besar adalah :

Buku besar terdiri dari rekening-rekening yang digunakan untuk meringkas

data keuangan yang telah dicatat sebelumnya dalm jurnal. Rekening-rekening

19
dalam buku besar ini disediakans sesuai dengan unsurunsur informasi yang

disajikan dalam laporan keuangan.

Bentuk buku besar yang dapat digunakan oleh perusahaan, yaitu sebagai berikut :

a) Bentuk skronto, biasa disebut juga bentuk kolom dan bentuk T, yamg

artinya sebelah menyebelah.

b) Bentuk bersaldo, disebut juga dengan bentuk empat kolom.

Adapun fungsi dari buku besar adalah sebagai berikut :

1. Mencatat secara terperinci setiap jenis harta, utang dan modal

beserta perubahannya (transaksi/kejadian).

2. Menggolongkan aspek transaksi atau kejadian sesuai dengan jenis

akun masing-masing.

3. Menghitung jumlah atau nilai dari tiap-tiap jenis akun.

4. Mengikhtisarkan transaksi kedalam akun yang terkait, sehingga

dapat menyusun laporan keuangan.

4) Menyusun Neraca Saldo

Setelah diposting kedalam buku besar langkah selanjutnya adalah

mengiktisarkan transaksi dalam neraca saldo. Menurut Sofyan Syafri Harahap

(2010:23) adalah neraca yang memuat perkiraan, tetap yang dimasukkan hanya

saldo akhirnya.

Fungsi neraca saldo adalah :

a. Neraca saldo berfungsi memeriksa keseimbangan antara jumlah saldo

debet dan saldo kredit akun buku besar. Neraca saldo bukan untuk

20
memeriksa kebenaran proses pencatatan. Jadi keseimbangan jumlah neraca

saldo belum menjamin kebenaran pencatatan akuntansi.

b. Neraca saldo sebagai langkah awal penyusunan kertas kerja.

5) Jurnal penyesuaian

Setelah neraca saldo tersusun, maka proses selanjutnya dalam siklus

akuntansi adalah membuat jurnal penyesuaian. Ayat jurnal penyesuaian biasanya

dibuat pada akhir periode [Link] tujuan dibuatnya jurnal penyesuaian

adalah untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip pengakuan pendapatan pada

akuntansi tidak dilanggar.

Menurut Albertus Indratno (2013:125) jurnal penyesuaian adalah:

Jurnal yang diselesaikan setiap akhir periode akuntansi serta memiliki fungsi

untuk menyesuaikan nilai dari harta, utang, modal, pendapatan, dan beban,

semakin menunjukkan nilai yang sebenarnya.

6) Laporan Keuangan

Setelah pencatatan transaksi dan diikhtisarkan, maka disiapkan laporan bagi

[Link] akuntansi yang menghasilkan informasi demikian itu dinamakan

laporan [Link] keuangan ini dibuat oleh manajemen dengan tujuan

untuk memenuhi tujuan-tujuan lain yaitu sebagai laporan kepada pihak-pihak

diluar perusahaan. Menurut Kardiman dkk (2006:118) laporan keuangan adalah :

laporan yang berisi informasi tentang kondisi keuangan dari hasil operasi

perusahaan pada periode tertentu.

Tujuan laporan keuangan menurut Kardiman dkk, (2006:118) adalah :

21
a. Menyajikan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta

perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi

sejumlah besar pemakaian dalam pengambilan keputusan ekonomi.

b. Untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai walaupun

tidak menyediakan semua informasi yang memuaskan karena secara

umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu, dan

tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan.

c. Untuk menyatakan apa yang telah dilakukan manajemen atau

pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan

kepadanya.

Urutan-urutan penyusunan dan sifat data yang terdapat dalam laporan-laporan

tersebut adalah sebagai berikut :

1) Laporan laba rugi

Sukrisno Agoes (2013:4) juga memberikan pengertian laba rugi sebagai

berikut: Laporan laba rugi merupakan suatu laporan yang menyajikan

penghasilan dan beban entitas untuk suatu periode yang merupakan kinerja

keuangannya

Laporan laba rugi merupakan laporan yang menggambarkan keberhasilan

maupun kegagalan dalam operasi atau aktivitas perusahaan selama satu periode

waktu tertentu.

Laporan laba rugi memasukkan semua pos penghasilan dan beban yang

diakui dalam suatu periode kecuali SAK-ETAP mensyaratkan lain. SAK-ETAP

mengatur perlakuan berbeda terhadap dampak koreksi atas kesalahan dan

22
perubahan kebijakan akuntansi yang disajikan sebagai bagian dari laba atau rugi

dalam periode terjadinya perubahan.

2) Laporan Ekuitas Pemilik

Menurut Albertus Indratno (2013:146) laporan perubahan ekuitas pemilik

adalah laporan keuangan yang menggambarkan perubahan ekuitas selama satu

periode.

Adapun komponen laporan perubahan ekuitas menurut Albertus Indratno

(2013:146) adalah sebagai berikut :

a) Modal awal

Modal awal diperoleh dari investasi awal ataupun penambahan investasi saat

usaha berjalan.

b) Laba atau rugi

Laba perusahaan sifatnya menambah modal perusahaan, sedangkan rugi akan

mengurangi modal perusahaan.

c) Penarikan (prive)

Penarikan atau prive merupakan kejadian dimana sebagian laba diambil oleh

pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadi diluar bisnis utama perusahaan.

d) Modal akhir

Modal akhir merupakan saldo modal awal ditambah laba rugi dikurangim

penarikan.

3) Neraca

Neraca merupakan suatu daftar aktiva, kewajiban, dan ekuitas pemilik pada

tanggal tertentu, biasanya pada akhir bulan atau pada akhir tahun.

23
Menurut Rahman Pura (2013:89) neraca merupakan laporan keuangan yang

menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu.

Neraca dapat disajikan dalam tiga bentuk yaitu:

1. Bentuk skronto, yaitu bentuk neraca yang disusun sebalah menyebalah,

yaitu sisi kiri disebut aktiva dan sisi kana disebut pasiva. Sisi aktiva dan

sisi pasiva harus seimbang.

2. Bentuk stafel, yaitu bentuk neraca yang disusun dalam bentuk laporan,

yaitu bagian atasnya untuk mencatat aktiva dan bagian bawahnya untuk

mencatat pasiva. Jumlah aktiva dan pasivanya juga harus seimbang seperti

halnya bentuk skronto.

3. Bentuk yang menyajikan posisi keuangan, dalam bentuk ini posisi

keuangan tidak dilaporkan seperti dalam bentuk skronto maupun bentuk

stafel yang berpedoman pada persamaan akuntansi. Dalam bentuk ini cara

pengajarannya adalah pertama-tama dicantumkan aktiva lancar dikurang

hutang lancar dan dikurangi modal kerja. Modal kerja tersebut

ditambahkan dengan aktiva tetap dan aktiva lainnya, kemudian dikurangi

dengan hutang jangka panjang, maka akan diperoleh modal pemilik

Menurut Donal E. Kieso, Jerry J. Weygand dan Terry D. Werfield

(2002:17) neraca dapat digunakan untuk :

Menganalisa likuiditas, solvensi dan fleksibilitas keuangan perusahaan.

24
4) Laporan Arus Kas

Menurut Albertus Indarto (2013:148) Laporan arus kas menggambarkan

tentang sumber dan pemanfaatan kas selama satu periode sehingga saldo kas

tampak seperti yang ada dalam neraca.

Laporan jenis ini memerlukan data atau informasi dari neraca baik yang

berasal dari periode sebelumnya maupun pada periode tahun yang bersangkutan.

Meningkatkan penjualan dan menekan biaya merupakan tugas yang

penting dalam [Link] itu pengelolaan kas juga penting supaya selalu

tersedia kas yang cukup bila dibutuhkan.

5) Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan adalah catatan-catatan yang dianggap penting

dalam penyusan laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan perusahaan sehingga

laporan keuangan yang disajikan dapat berguna bagi pihak-pihak yang

berkepentingan.

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009:1.13) catatan atas laporan keuangan

mengungkapkan :

1) Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan

akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi

yang penting.

2) Informasi yang diwajibkan dalam PSAK tetapi tidak disajikan

dineraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan

ekuitas.

25
3) Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan

tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.

Catatan atas laporan keuangan disajikan secara sistematis sepanjang hal tersebut

[Link] pos dalam laporan keuangan merujuk-silang ke informasi terkait

dalam catatan atas laporan keuangan. Secara normal urutan penyajian catatan atas

laporan keuangan adalah sebagai berikut :

1) Suatu pernyataan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai dengan

SAK UKM.

2) Ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan.

3) Informasi yang mendukung pos-pos laporan keuangan, sesuai dengan

urutan penyajian pos-pos tersebut.

4) Pengungkapan lain.

6. Sistem Akuntansi Perusahaan Kecil

Sistem akuntansi yang dilakukan oleh perusahaan kecil masih bersifat

sederhana dan sistem akuntansi yang digunakan yaitu dengan menggunakan

sistem akuntansi tunggal (Single Entry System). Menurut Amin Widjaja Tunggal

(2002:25) dalam bukunya Akuntansi Untuk Perusahaan Kecil dan Menengah

menjelaskan sistem akuntansi tunggal (Single Entry System) adalah sebagai

berikut :

Dalam sistem akuntansi tunggal pencatatan asetnya hanya menggunakan

satu sisi pendapatan dan sisi pengeluaran. Pencatatan ini relatif mudah dan

sederhana. Dalam tata buku tunggal laporan neraca dan perhitungan laba rugi

26
tidak disusun dari buku besar, akan tetapi dari catatan-catatan dalam buku harian

dan buku-buku lainnya.

Eearl K. Stice, James D. Stice, dan Fred K. Skousen (2010:76) dalam

bukunya Intermediate Accounting menjelaskan sistem akuntansi berpasangan

(Double Entry System) adalah sebagai berikut :

Dengan sistem akuntansi berpasangan, setiap transaksi dicatat dalam suatu

cara untuk memastikan keseimbangan atau kesamaan persamaan dasar

akuntansi yaitu : aktiva = kewajiban + ekuitas pemilik.

Secara ringkas perbedaan-perbedaan sistem akuntansi berpasangan

(Double Entry System) dengan sistem akuntansi tunggal (Single Entry System)

dijelaskan oleh Amin Widjaja Tunggal (2002:25) dalam bentuk tabel 4 sebagai

berikut :

Tabel II. 1
Perbedaan Sistem Akuntansi Berpasangan Dengan
Sistem Akuntansi Tunggal

Sistem
Proses Penyusunan Sistem Pembukuan
No. Pembukuan
Laporan Keuangan Tunggal
Berpasangan

1. Pencatatan transaksi Jurnal umum atau Buku harian, buku

keuangan jurnal khusus kas bank, buku

pembelian, buku

penjualan dan buku

memorial

2. Pemindahan (posting) dari Ada Tidak ada

27
jurnal ke buku besar

3. Penyusunan neraca saldo Ada Tidak ada

dari perkiraan buku besar

4. Ayat penyesuaian Ada Tidak ada

5. Penyusunan neraca lajur Ada Tidak ada

6. Penyusunan laporan Dapat dilakukan Dilakukan dengan

keuangan dari neraca memperhatikan

laporan atau buku neraca awal buku

besar harian dan data akhir

periode akuntansi

7. Jurnal penutup Ada dan dilakukan Tidak ada

pada akhir periode

akuntansi

8. Neraca saldo setelah Ada yang Tidak ada

penutupan diperoleh dari

saldo perkiraan

akhir periode

akuntansi

9. Laporan keuangan Laporan rugi laba Laporan rugi laba

perubahan perubahan modal

modal/laba dan neraca

ditahan dan neraca

Sumber : Amin Widjaja Tunggal (2002:25) dalam bukunya Akuntansi Untuk


Perusahan Kecil dan Menengah

28
[Link]

Berdasarkan latar belakang masalah dan telaah pustaka yang telah

diuraikan diatas maka penulis dapat mengemukakan hipotesis penelitian sebagai

berikut :

Diduga penerapan akuntansi yang dilakukan oleh pengusaha Laundry di

Kecamatan pangkalan kerinci belum sesuai dengan konsep-konsep dasar

akuntansi.

29
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Objek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten

Pelalawan. Objek penelitian ini adalah pengusaha Laundry di Kecamatan

Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan.

B. Operasional Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini adalah :

a. Konsep-konsep dasar akuntansi

1) Dasar pencatatan, ada dua macam dasar pencatatan dalam akuntansi

yang digunakan dalam mencatatan akuntansi diantaranya:

a) Dasar kas, dimana penerimaan dan pengeluaran akan dicatat

atau diakui apabila kas sudah diterima atau dikeluarkan.

b) Dasar akrual, dimana penerimaan dan pengeluaran dicatat atau

diakui pada saat terjadinya transaksi tanpa melihat apakah kas

telah diterima atau dikeluarkan.

2) Konsep kesatuan usaha (Business Entity Concept), yaitu pemisahan

transaksi usaha dengan transaksi non usaha (rumah tangga).

3) Konsep periode waktu (Time Period Concept) adalah suatu konsep

yang menyatakan bahwa akuntansi menggunakan periode waktu

sebagai dasar dalam mengukur dan menilai kemajuan suatu

perusahaan. Konsep periode waktu juga menyatakan bahwa umur

30
ekonomis dari sebuah bisnis dapat dibagi kedalam periode waktu

buatan. Maka diasumsikan bahwa aktifitas perusahaan dapat dibagi

menjadi bulan, kuartal (triwulan) atau tahun untuk tujuan pelaporan

keuangan yang berarti.

4) Konsep kontinuitas usaha (Going Concern Concept) yaitu

menganggap bahwa suatu perusahaan akan hidup terus, dalam arti

perusahaan diharapkan tidak akan mengalami likuidasi dimasa yang

akan datang dan menganggap bahwa perusahaan memiliki cukup

waktu untuk menyelesaikan usaha, kontrak-kontrak dan perjanjian.

5) Konsep penanding (Matching Concept) adalah suatu konsep

akuntansi dimana semua pendapatan yang dihasilkan harus di

bandingkan dengan biaya-biaya yang ditimbulkan untuk perolehan

laba dari pendapatan untuk jangka waktu tertentu.

C. Populasi dan Sampel

Adapunyang menjadi populasi dari penelitian ini adalah seluruh Laundry

yang ada di Kecamatan Pangkalan kerinci. Dari hasil survey lapangan jumlah

usaha Laundry yang ada di Kecamatan Pangkalan kerinci adalah sebanyak 21

usaha Laundry.

Penelitian ini dilakukan dengan metode sensus langsung di lapangan yaitu 21

usaha Laundry yang akan dijadikan sebagai responden dalam penelitian.

31
Tabel III.1
Populasi Usaha Laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci

NO NAMA USAHA ALAMAT


1 ETIN LAUNDRY [Link] RT 05 RW 06
[Link] NO.33 RT 04 RW 06
2 D TWO LOUNDRY

TAMAN SAKURA RESIDENCE BLOK D 21


3 SYWA LAUNDRY RT 10 RW 08 [Link] TIMUR

4 VIRA LAUNDRY [Link] [Link] KOTA


[Link] BTN LAMA RT 03 RW 10
5 LAUNDRY Q MORA
[Link] KOTA
[Link] No.92 RT 01 RT 02
6 BONA LOUNDRY
[Link] TIMUR
[Link] BILANG BUNGSU RT 03 RW 05
RG LOUNDRY
7 [Link] KOTA

LIMA SAUDARA [Link] RT 04 RW 04 [Link]


8
LAUNDRY KOTA
[Link] RT 02 RW 07 [Link]
GTM LOUNDRY
9 KOTA

EBY LOUNDRY [Link] RT.003/RW.002


10

[Link] RT 02 RW 06 [Link]
MUTIARA LOUNDRY
11 KOTA

LOUNDRY LILY [Link] GG PINANG RT 03 RW 02


12

MJ LOUNDRY [Link] RT 01 RW 01
13

[Link] LAMA RT 04 RW 10 [Link]


SHE LOUNDRY
14 KOTA

PERUM GRAHA PELALAWAN RT 02 RW


PINK LOUNDRY
15 08

PRINCE LOUNDRY [Link] RT 01 RW 04 [Link]


16
KOTA
' OZZIL LOUDRY '' [Link] IRMA SURYANI RT 02 RW 10
17
[Link] KOTA

32
[Link] RT 01 RW 03 [Link]
SAKURA LOUNDRY
18 KOTA

BLP BLOK I NO.04 RT 03 RW 12


TRIO LOUNDRY
19 [Link] KOTA

[Link] RAJA LELA PUTRA RT 05 RW


UBAY EXCLUSIVE
20 03 [Link] TIMUR
LAUNDRY

21 CHELLY LOUNDRY [Link] GUNA I A No.6 RT 02 RW 10


Sumber: kantor camat pangkalan kerinci

[Link] dan Sumber Data

a. Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari responden melalui

wawancara dan kuisioner.

b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari instansi yang terkait yaitu

pengelola usaha Laundry dan buku catatan harian (buku kas) dari pemilik

Laundry di Kecamatan pangkalan kerinci.

E. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis adalah sebagai berikut :

a. Wawancara terstruktur, yaitu teknik pengumpulan data dengan wawancara

yang telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan

tertulis yang alternative jawabannya telah disediakan.

b. Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara pengambilan

dokumen-dokumen yang tlah ada tanpa ada pengolahan kembali, seperti

pencatatan harian.

33
F. Teknik Analisi Data

Data-data yang telah dikumpulkan kemudian dikelompokkan menurut

jenisnya masing-masing. Setelah itu dituangkan kedalam bentuk table dan akan

diuraikan secara deskriptif sehingga dapat diketahui apakah pengusaha Laundry

yang berada di Pangkalan kerinci telah menerapkan akuntansi. Kemudian ditarik

kesimpulan untuk disajikan dalam bentuk hasil penelitian.

34
BAB IV

GAMBARAN UMUM

A. Gambaran Umum Masing-Masing Usaha

Adapun responden dalam penelitian ini yaitu seluruh pengusaha laundry

yang terdapat di Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan antara lain.

1. ETIN LAUNDRY

Etin laundry ini beralamat di [Link] RT 05 RW 06 Pangkalan Kerinci. ini

didirikan pada tahun 2007. Usaha laundry ini memberikan jasa mencuci dan

menyetrika pakaian. Usaha ini tidak memiliki karyawan untuk membantu dalam

menjalankan usaha ini.

2. D TWO LOUNDRY

D two loundry ini beralamat di [Link] NO.33 RT 04 RW 06 Pangkalan

Kerinci. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2012. Usaha laundry ini

memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan

untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.

3. SYWA LAUNDRY

Sywa laundry ini beralamat di Jl. Taman sakura Residence BLOK D 21 RT 10

RW 08 Pangkalan Kerinci Timur. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2013.

Usaha laundry ini memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini

memiliki karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.

35
4. VIRA LAUNDRY

Vira laundry ini beralamat di [Link] Pangkalan Kerinci kota. Usaha

laundry ini didirikan pada tahun 2010. Usaha laundry ini memberikan jasa

mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan untuk membantu

dalam menjalankan usaha ini.

5. LAUNDRY Q MORA

Laundry q mora ini beralamat di [Link] BTN Lama RT 03 RW 10

Pangkalan Kerinci kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2014. Usaha

laundry ini memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini tidak

memiliki karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.

6. BONA LOUNDRY

Bona loundry ini beralamat di [Link] No.92 RT 01 RT 02 Pangkalan

Kerinci timur. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2013. Usaha laundry ini

memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan

untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.

7. RG LOUNDRY

Rg loundry ini beralamat di [Link] bilang bungsu RT 03 RW 05 Pangkalan

Kerinci kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2011. Usaha laundry ini

memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini tidak memiliki

karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.

8. LIMA SAUDARA LAUNDRY

Lima saudara laundry ini beralamat di [Link] RT 04 RW 04 Pangkalan

Kerinci kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2015. Usaha laundry ini

36
memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan

untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.

9. GTM LOUNDRY

Gtm loundry ini beralamat di [Link] RT 02 RW 07 Pangkalan Kerinci

kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2013. Usaha laundry ini memberikan

jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Dalam menjalankan usahanya pemilik

mempunyai karyawan untuk untuk membantu dalam kegiatan usahanya.

10. EBY LOUNDRY

Eby loundry ini beralamat di [Link] RT.003/RW.002 Pangkalan Kerinci.

Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2015. Usaha laundry ini memberikan jasa

mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan untuk membantu

dalam menjalankan usaha ini.

11. MUTIARA LOUNDRY

Mutiara loundry ini beralamat di [Link] RT 02 RW 06 Pangkalan Kerinci

kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2016. Usaha laundry ini memberikan

jasa mencuci dan menyetrika [Link] ini memiliki karyawan untuk

membantu dalam menjalankan usaha ini.

12. LOUNDRY LILY

Laundry lily ini beralamat di [Link] GG Pinang RT 03 RW 02 Pangkalan

Kerinci. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2009. Usaha laundry ini

memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini tidak memiliki

karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.

37
13. MJ LOUNDRY

Mj loundry ini beralamat di [Link] RT 01 RW 01 Pangkalan Kerinci.

Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2008. Usaha laundry ini memberikan jasa

mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan untuk membantu

dalam menjalankan usaha ini.

14. SHE LOUNDRY

She loundry ini beralamat di [Link] Lama RT 04 RW 10 Pangkalan

Kerinci kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2012. Usaha laundry ini

memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan

untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.

15. PINK LOUNDRY

Pink loundry ini beralamat di Perum Graha Pelalawan RT 02 RW 08

Pangkalan Kerinci. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2013. Usaha laundry

ini memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki

karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.

16. PRINCE LOUNDRY

Prince laundry ini beralamat di [Link] RT 01 RW 04 Pangkalan Kerinci

kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2007. Usaha laundry ini memberikan

jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan untuk

membantu dalam menjalankan usaha ini.

38
17. OZZIL LOUDRY

Ozzil loundry ini beralamat di [Link] Irma Suryani RT 02 RW 10 Pangkalan

Kerinci kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2016. Usaha laundry ini

memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan

untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.

18. SAKURA LOUNDRY

Sakura laundry ini beralamat di [Link] RT 01 RW 03 Pangkalan

Kerinci [Link] laundry ini didirikan pada tahun 2013. Usaha laundry ini

memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan

untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.

19. TRIO LOUNDRY

Trio loundry ini beralamat di BLP BLOK I NO.04 RT 03 RW 12 Pangkalan

Kerinci. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2008. Usaha laundry ini

memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini tidak memiliki

karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.

20. UBAY EXCLUSIVE LAUNDRY

Ubay exclusive laundry ini beralamat di [Link] Raja Lela Putra RT 05 RW

03 Pangkalan Kerinci timur. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2011. Usaha

laundry ini memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki

karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.

39
21. CHELLY LOUNDRY

Chelly loundry ini beralamat di [Link] Guna I A No.6 RT 02 RW 10

Pangkalan Kerinci. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2006. Usaha laundry

ini memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini tidak memiliki

karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.

40
BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai peranan akuntansi yang dilakukan

dalam kegiatan usaha laundry yang diperoleh dari hasil survey, wawancara,

observasi maupun kuesioner pada masing-masing usaha laundry di kecamatan

pangkalan kerinci.

A. Statistik Deskriptif

a. Gambaran Umum Identitas Responden

Adapun identitas responden yang penulis dapat dari hasil penelitian yang

dilakukan di Kecamatan Pangkalan Kerinci sebagai berikut :

1. Tingkat Umur Responden

Untuk lebih jelas tingkatan umur pengusaha laundry yang ada di

Kecamatan Pangkalan Kerincidisajikan dalam tabel V.1 :

Tabel V.1
Distribusi Responden Dirinci Dari Tingkat Umur

No Tingkat Umur (Tahun) Jumlah Persentase

1 20-30 4 19%

2 31-40 7 33%

3 41-50 8 38%

4 51-Keatas 2 10%

Jumlah 21 100%

Sumber : Data hasil penelitian lapangan

Dari tabel V.1 dapat diketahui bahwa yang paling banyak respondennya

adalah pada umur yang berkisar antara 41 - 50 tahun berjumlah 8 responden atau

41
38%, kemudian diikuti oleh responden yang berumur 31 - 40 tahun berjumlah 7

responden atau 33%, lalu diikuti oleh responden yang berumur 20 – 30 tahun

berjumlah 4 responden atau 19% dan responden yang berumur 51 tahun keatas

berjumlah 2 responden atau 10%. Dilihat dari umur responden, dapat dikatakan

bahwa persentase paling tinggi adalah responden yang berada pada usia produktif.

2. Tingkat Pendidikan Responden

Untuk mengetahui lebih jelas tentang jumlah responden dari tingkat

pendidikan dapat dilihat dalam tabel V.2 :

Tabel V.2
Distribusi Responden Dirinci Menurut Tingkat Pendidikan

No Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase

1 SMP 4 19%

2 SMA 12 57%

3 DIPLOMA 2 10%

4 STRATA 1 3 14%

Jumlah 21 100%

Sumber : Data hasil penelitian lapangan

Dari tabel V.2 diatas dapat dilihat bahwa pada umumnya responden

banyak yang menamatkan pendidikannya hanya pada tingkat SMP yang

berjumlah 4 responden atau 19%, lalu tamatan SMA (sederajat)berjumlah 12

responden atau 57%, DIPLOMA berjumlah 2 responden atau 10%, kemudian

STRATA 1 sebanyak 3 responden atau 14%.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis, karena dorongan oleh

keluarga dan teman serta sulitnya mendapatkan pekerjaan maka mereka

42
mendirikan usaha kecil yang dikelola dan diatur sendiri serta dapat juga

menciptakan lapangan pekerjaan.

3. Lama Usaha Responden

Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis mengenai lamanya

berusaha, maka akan dijelaskan lebih rinci didalam tabel berikut ini:

Tabel V.3
Distribusi Responden Dirinci Menurut Lama Usaha

No Lama Berusaha (Tahun) Jumlah Persentase

1 1-5 5 24%

2 6-10 11 52%

3 11-15 5 24%

Jumlah 21 100 %

Sumber : Data hasil penelitian lapangan

Berdasarkan tabel IV.3 tersebut, dapat dilihat bahwa sebagian besar lama

responden dalam menjalani usahanya antara 1-5 tahun sebanyak 5 responden atau

24%, untuk responden yang lama berusaha antara 6-10 tahun sebanyak 11

responden atau52%, kemudian responden yang lama berusaha antara 11-15 tahun

sebanyak 5 responden atau 24%.

b. Modal Usaha

Dari hasil penelitian yang telah penulis lakukan, diketahui bahwa modal

usaha dari masing-masing responden terdapat perbedaan. Untuk lebih jelasnya

dapat dilihat pada tabel V.4 :

43
Tabel V.4
Distribusi Responden Berdasarkan Modal Usaha

No Modal Usaha (Rp) Jumlah Persentase

1 5.000.000-20.000.000 7 33%

2 21.000.000-40.000.000 12 57%

3 41.000.000-80.000.000 2 10%

Jumlah 21 100%

Sumber : Data hasil penelitian lapangan

Dari tabel V.4 diatas dapat diketahui bahwa modal usaha sebagian besar

pengusaha laundry adalah Rp. 5.000.000 – 20.000.000 berjumlah 7 pengusaha

laundry atau 33%.12 pengusaha laundry atau 57% mempunyai modal Rp.

21.000.000 – 40.000.000. dan 2 pengusaha laundryatau 10% mempunyai modal

Rp. 41.000.000 – 80.000.000.

c. Respon Responden Terhadap Pelatihan Dalam Bidang Pembukuan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan, diketahui bahwa

sebagian dari pengusaha laundry di Kecamataan Pangkalan Kerinci ada beberapa

pemilik usaha yang pernah mendapat pelatihan dalam bidang pembukuan. Untuk

lebih jelasnya dapat dilihat tabel berikut ini:

Tabel V.5
Respon Responden Terhadap pelatihan Bidang Pembukuan

No Respon Responden Jumlah persentase

1 Pernah mendapat pelatihan 3 14%

2 Tidak pernah mendapat pelatihan 18 86%

Jumlah 21 100%

44
Sumber : Data hasil penelitian lapangan

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar pemilik usaha laundry

tidak pernah mendapat pelatihan dalam bidang pembukuan dengan jumlah

18responden atau 86%, kemudian yang pernah mendapat pelatihan dalam bidang

bidang pembukuan berjumlah 3 responden atau 14%.

Hal ini terjadi karena mereka beranggapan bahwa usaha yang mereka

jalankan masih tergolong kecil, sehingga pembukuan yang mereka buat tidak

dapat dilakukan dengan baik dan benar. Dengan adanya pelatihan dibidang

pembukuan akan sangat berpengaruh terhadap kelancaran usaha baik dari segi

perencanaan maupun dalam pengambilan keputusan.

d. Jumlah Karyawan

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan, bahwa jumlah

karyawan dari setiap pengusaha laundry berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya dapat

dilihat pada tabel V.6

Tabel V.6
Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Karyawan

NO NAMA USAHA Jumlah karyaawan

1 ETIN LAUNDRY -
2 D TWO LOUNDRY 1
3 SYWA LAUNDRY 2
4 VIRA LAUNDRY 1
5 LAUNDRY Q MORA -

6 BONA LOUNDRY 1

7 RG LOUNDRY -

8 LIMA SAUDARA LAUNDRY 1

45
9 GTM LOUNDRY 1

10 EBY LOUNDRY 1

11 MUTIARA LOUNDRY 2

12 LOUNDRY LILY -
1
13 MJ LOUNDRY

14 SHE LOUNDRY 1

15 PINK LOUNDRY 3

16 PRINCE LOUNDRY 1

17 ' OZZIL LOUDRY '' 1

18 SAKURA LOUNDRY 3
-
19 TRIO LOUNDRY

20 UBAY EXCLUSIVE LAUNDRY 1

21 CHELLY LOUNDRY -
Sumber : Data hasil penelitian lapangan

Berdasarkan tabel V.6 tersebut diketahui banyak jumlah pekerja masing-

masing usaha laundry tidak sama, jumlah terbanyak adalah usaha laundry yang

memperkerjakan 3 orang karyawan yaitu 2 pengusaha laundry, untuk pengusaha

yang memperkerjakan 2 orang karyawan yaitu 2 pengusaha laundry, untuk

pengusaha yang memperkerjakan 1 orang karyawan yaitu 11 pengusaha laundry,

dan pengusaha yang tidak mempunyai karyawan yaitu sebanyak 6 pengusaha

laundry.

B. Analisis Konsep-Konsep Dasar Akuntansi

A. Konsep Dasar Pencatatan

1. Penerimaan Kas dan Pengeluaran Kas

Buku Penerimaan Kas

46
Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan pada pengusaha

laundry, yang melakukan pencatatan terhadap transaksi yang terjadi dalam

aktivitas usahanya dapat dilihat pada tabel V.7 :

Tabel V.7
Buku Pencatatan Penerimaan Kas

No Respon Responden Jumlah Persentase

1 Mempunyai buku catatan penerimaan kas 21 100

2 Tidak mempunyai buku catatan penerimaan kas - 0

Jumlah 21 100%

Sumber : Data hasil penelitian lapangan

Berdasarkan tabel V.7 diatas terlihat bahwa, semua responden melakukan

pencatatan terhadap penerimaan kas atau sebesar 100%. Akan tetapi cara

mencatatnya masih sangat sederhana. Hal ini terlihat dari data yang di dapat

penulis, pencatatan penerimaan kas yang dilakukan oleh pengusaha laundry masih

belum teratur, ada yang terkesan asal-asalan sehingga sulit dipahami oleh orang

lain.

Buku Pengeluaran Kas

Diketahui responden yang melakukan pencatatan pengeluaran kas adalah

sebagai berikut :

47
Tabel V.8
Buku Pencatatan Pengeluaran Kas

No Respon Responden Jumlah Persantase

1 Mempunyai buku catatan pengeluaran kas 17 81%

2 Tidak mempunyai buku catatan pengeluaran kas 4 19%

Jumlah 21 100%

Sumber : Data hasil penelitian lapangan

Berdasarkan tabel V.8 diatas dari penelitian yang dilakukan bahwa

terdapat 17 responden yang melakukan pencatatan terhadap pengeluaran kas atau

sebesar 81% sedangkan yang tidak melakukan pencatatan terhadap pengeluaran

kas sebanyak 4 responden atau sebesar 19%.

Adapun komponen-komponen yang dimasukkan kedalam pencatatan

pengeluaran kas antara lain : biaya gaji karyawan, biaya listrik, biaya kebersihan,

biaya arisan, biaya servis peralatan, biaya makan pemilik usaha dan sebagainya.

2. Penjualan Kredit (Piutang Usaha)

a. Respoden yang melakukan penjualan kredit

Tabel V.9
Responden yang melakukan Penjualan kredit

No Respon Responden Jumlah Persentase


1 Melakukan Penjualan secara kredit - -
2 Tidak melakukan Penjualan secara kredit 21 100%
Jumlah 21 100%
Sumber : Data hasil penelitian lapangan

Berdasarkan tabel V.9 diatas menunjukkan bahwa dari semua responden

atau 100% tidak melakukan penjualan secara kredit.

48
b. Respoden yang melakukan pencatatan piutang usaha

Diketahui responden yang melakukan pencatatan terhadap piutang adalah

sebagai berikut :

Tabel V.10
Buku Pencatatan Piutang

No Respon Responden Jumlah Persentase


1 Melakukan Pencatatan Terhadap Piutang - -
2 Tidak melakukan Pencatatan Terhadap Piutang 21 100%
Jumlah 21 100%
Sumber : Data hasil penelitian lapangan

Berdasarkan tabel V.10 diatas dari penelitian yang dilakukan bahwa semua

respoden atau 100% tidak melakukan pencatatan terhadap [Link]

disimpulkan bahwa pengusaha laundry di pangkalan kerinci tidak melakukan

pencatatan terhadap piutang karena transaksi bersifat tunai.

Adapun kegunaan Buku piutang tersebut yaitu untuk mengetahui besarnya

piutang yang masih harus ditagih dalam bentuk uang yang terjadi akibat transaksi

tidak secara tunai. Apabila dalam suatu usaha tidak melakukan pencatatan

terhadap piutang, maka akibatnya pengusaha tersebut tidak dapat mengetahui

berapa besarnya tagihan-tagihan dalam bentuk uang terhadap pihak tertagih yang

timbul akibat transaksi tidak secara tunai dan jasa yang timbul akibat pinjaman-

pinjaman yang telah dilakukan oleh karyawannya.

3. Pembelian kredit (utang usaha)

a. Respoden yang melakukan pembelian kredit

49
Tabel V.11
Responden yang melakukan Pembelian kredit

No Respon Responden Jumlah Persentase

1 Melakukan Pembelian secara kredit - -

2 Tidak melakukan Pembelian secara kredit 21 100%

Jumlah 21 100%

Sumber : Data hasil penelitian lapangan

Berdasarkan tabel V.11 diatas dari penelitian yang dilakukan bahwa semua

respoden atau 100% tidak melakukan pembelian secara [Link] disimpulkan

bahwa pengusaha laundry di pangkalan kerinci tidak melakukan pencatatan

terhadap utang karena karena kebanyakan dari responden melakukan transaksi

pembelian bersifat tunai.

b. Respoden yang melakukan pencatatan utang usaha

Pada umumnya responden mengetahui akan utang. Akan tetapi dalam

pencatatanya masih banyak responden yang tidak melakukan pencatatan akan

hutang tersebut. Pencatatan akan hutang tersebut hanya berdasarkan faktur-faktur

pada saat terjadinya utang. Untuk melihat lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel

V.12 berikut ini:

50
Tabel V.12
Buku Pencatatan Utang

No Respon Responden Jumlah Persentase

1 Mempunyai buku pencatatan utang - -

2 Tidak mempunyai buku pencatatan utang 21 100%

Jumlah 21 100%

Sumber : Data hasil penelitian lapangan

Berdasarkan tabel V.12 diatas menunjukkan bahwa dari semua responden

atau 100% tidak mempunyai buku pencatatan utang.

Dalam akuntansi ada 2 dasar pencatatan yaitu kas (Cash basis) dan dasar

akrual (Accrual basis) dimana basis kas merupakan dasar pengakuan atas suatu

transaksi ketika kas sudah di terima atau [Link] basis akrual

adalah dasar pengakuan atas suatu transaksi yang terjadi tanpa memperhatikan

diterima atau dikeluarkannya [Link] demikian dapat diketahui apakah para

pelaku usaha laundry menerapkan konsep dasar pencatatan basis akrual melalui

catatan penjualan atau pembelian secara kredit dengan mencatat utang usaha atau

piutang [Link] para pelaku usaha laundry menerapkan konsep dasar

pencatatan basis kas dengan tidak melakukan penjualan kredit ataupun pembelian

secara kredit.

Dari penjelasan tabel-tabel diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dasar

pencatatan yang dilakukan oleh para pengusaha laundry dalam melakukan

pencatatan usahanya adalah dengan menerapakan konsep akuntansi yaitu dasar

pencatatan cash basis yaitu dimana penerimaan dan pengeluaran kas akan dicatat

dan diakui apabila kas sudah diterima atau dikeluarkan. Jadi masih banyak pelaku

51
usaha laundry yang menggunakan konsep dasar pencatatan cash basis, hal itu

dikarenakan bahwa usaha laundry rata-rata melakukan transaksi yang bersifat

tunai dan tidak melakukan penjualan dan pembelian [Link] itu sistem

pencatatan yang digunakan pengusaha masih menggunakan sistem akuntansi

tunggal (single entry) dimana pencatatan dilakukan pada buku harian saja, dengan

demikian pengusaha laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci belum menerapkan

konsep Accrual Basis untuk pencatatan dalam usaha yang mereka jalani.

B. Konsep Kesatuan Usaha

1. Pemisahan Pencatatan Keuangan Usaha Dan Rumah Tangga

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada usaha laundry di Kecamatan

Pangkalan kerinci diketahui bahwa kekurangan dari sistem pencatatan yang

dilakukan oleh usaha laundry adalah tidak adanya pemisahan antara keuangan

pribadi dengan keuangan usaha. Untuk lebih jelasnya maka dapatdilihat dari tabel

V.13 :

Tabel V.13
Pemisahan Pencatatan Keuangan Perusahaan Dengan Keuangan Rumah
Tangga Responden

No Respon responden Jumlah Persentase


1 Memisahkan pencatatan keuangan - -
perusahaan dengan keuangan rumah tangga
2 Tidak memisahkan pencatatan keuangan 21 100%
perusahaan dengan keuangan rumah tangga
Jumlah 21 100%
Sumber : Data hasil penelitian lapangan

52
Berdasarkan tabel V.13 diatas dapat dilihat bahwa dari semua responden

atau 100 % yang tidak memisahkan antara keuangan perusahaan dengan keuangan

rumah tangga.

Akibat yang ditimbulkan apabila tidak melakukan pemisahan pencatatan

keuangan perusahaan dan keuangan rumah tangga yaitu akan mempengaruhi

dalam perhitugan laba rugi usaha dimana biaya yang diperhitungkan dalam

menghitung laba atau rugi usaha akan semakin besar dimana sehingga tidak

mencerminkan posisi keuangan perusahaan yang sebenarnya.

Sebaliknya pencatatan terhadap penerimaan dan pengeluaran harus

dilakukan dengan cara memisahkan antara penerimaan dan pengeluaran kas milik

perusahaan dengan penerimaan dan pengeluaran kas milik pribadi agar tidak

terjadi kesimpang siuran terhadap kas tersebut.

2. Biaya - Biaya Dalam Perhitungan Laba Rugi

Dalam melakukan perhitungan laba rugi usaha yang dilakukan responden

ada banyak biaya-biaya yang diperhitungkan, hal ini dapat dilihat pada tabel V.14:

Tabel V.14
Biaya – Biaya Dalam Perhitungan Laba Rugi

No Biaya-biaya Ya % Tidak %
1 Biaya sewa tempat 6 35 11 65
2 Biaya Gaji Karyawan 13 76 4 24
3 Biaya listrik 17 100 0 0
4 Biaya Publikasi 4 24 13 76
5 Biaya servis pelaratan 0 0 17 100
6 Biaya perlengkapan 17 100 0 0
7 Biaya rumah tangga 17 100 0 0

53
Dari tabel V.14 dapat dilihat diketahui bahwa pengusaha laundry dalam

membuat laporan laba rugi belum tepat atau belum memenuhi konsep dasar

akuntansi, karena masih ada yang memasukkan pengeluaran rumah tangga dalam

perhitungan laba rugi yang telah di buat tersebut belum atau tidak menunjukkan

hasil sebenarnya

Dari 17 respoden yang mencatat biaya sewa tempat sebanyak 6 respoden

atau 35 % yang memperhitungkannya, sedangkan 11 respoden lainnya atau 65 %

tidak memperhitungkan beban tersebut, karena mereka membuka usaha di tempat

sendiri.

Dari 17 respoden yang mencatat biaya gaji karyawan sebanyak 13

respoden atau 76 % yang memperhitungkannya, sedangkan 4 respoden lainnya

atau 24 % tidak memperhitungkan biaya tersebut, karena mereka tidak memiliki

karyawan dalam menjalankan usaha nya.

Dari 17 respoden yang mencatat biaya listrik yaitu seluruh respoden atau

100 % yang memperhitungkannya, karena pengusaha membutuhkan listrik dalam

menjalankan usaha nya.

Dari 17 respoden yang mencatat biaya publikasi adalah sebanyak 4

respoden atau 24% yang memperhitungkannya, sedangkan 13 respoden lainnya

atau 76 % tidak memperhitungkan beban tersebut, karena pengusaha merasa tidak

perlu mencatat beban tersebut

Dari 17 respoden yang mencatat biaya servis peralatan yaitu seluruh

respoden atau 100% tidak memperhitungkan beban tersebut, karena pengusaha

merasa peralatan mereka miliki masih dalam kondisi baik atau bagus.

54
Dari 17 respoden yang mencatat biaya perlengkapan yaitu seluruh

respoden atau 100 % yang memperhitungkannya, karena pengusaha

membutuhkan perlengkapan dalam menjalankan usahanya.

Dari 17 respoden yang mencatat biaya rumah tangga yaitu seluruh

respoden atau 100 % yang memperhitungkannya , karena pengusaha mencatat

semua pengeluaran rumah tangganya di data penulis dapatkan.

Dengan demikian penulis dapat menyimpulkan bahwa pada usaha laundry

telah menerapkan konsep [Link] hal ini belum sepenuhnya semua

biaya dan beban belum di hitung dalam laporan laba.

Konsep kesatuan usaha yaitu pemisah transaksi usaha dengan transaksi

pribadi (rumah tangga). Konsep ini menginginkan agar suatu transaksi lain seperti

transaksi untuk pribadi pemilik usaha. Bagi usaha laundry yang tidak memisahkan

pencatatan keuangan usaha dengan keuangan pribadi dikarenakan usaha sendiri

dan dikelola oleh anggota keluarga jadi tidak perlu ada pemisahaan keuangan

pribadi dengan keuangan usaha. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

pengusaha laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci belum menerapkan konsep

kesatuan usaha dalam menjalankan usaha mereka

C. Konsep Periode Waktu

1. Perhitungan laba rugi

Perhitungan laba rugi sangat penting dilakukan untuk mengetahui

perkembangan usaha dan mengetahui keuntungan ataupun kerugian. Dari hasil

penelitian yang dilakukan, terdapat data yang menunjukkan bahwa sebagian besar

55
responden telah melakukan pencatatan laba rugi. Berikut adalah tabel perhitungan

laba rugi :

Tabel V.15
Distribusi Responden Menurut Perhitungan Laba Rugi

No Respon Responden Jumlah Persentase

1 Melakukan Perhitungan Laba Rugi 17 81 %


2 Tidak Melakukan Perhitungan Laba Rugi 4 19 %
Jumlah 21 100 %
Sumber : Data hasil penelitian lapangan

Berdasarkan tabel V.15 diketahui bahwa 17 responden atau 81 %

melakukan perhitungan laba rugi, sedangkan 4 responden atau 19 % tidak

melakukan perhitungan laba rugi.

Kegunaan dari perhitungan laba rugi ialah agar pengusaha dapat

mengetahui keuntungan atau kerugian yang terjadi dalam satu periode dan terus

beroperasi dalam jangka waktu yang lama.

Jika tidak mencatat perhitungan laba rugi akan berdampak pada tidak

dapat mengetahui berapa jumlah pendapatan dan keuntungan yang ia dapat selama

menjalankan usahanya, tidak dapat memprediksi kerugian atau beban-beban usaha

yang harus ia keluarkan demi menjalankan usahanya tersebut, dan tidak dapat

memprediksi kelangsungan usaha yang ia jalani.

2. Periode Pelaporan Perhitungan Laba Rugi

Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis, selain perbedaan biaya yang

diperhitungkan dalam menghitung laba rugi, perbedaan juga terjadi pada masa

56
perhitungan laba rugi yang dilakukan oleh pengusaha laundry diKecamatan

Pangkalan Kerinci. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel V.16
Periode Pelaporan Perhitungan Laba Rugi

No Periode Perhitungan Laba Rugi Jumlah Persentase


1 Masa satu minggu 4 24 %
2 Masa satu bulan sekali 13 76 %
3 Masa satu tahun sekali - -
Jumlah 17 100
Sumber : data hasil penelitian lapangan

Berdasarkan tabel V.10 diketahui bahwa pengusaha laundry melakukan

perhitungan laba rugi satu minggu sekali berjumlah 4 responden atau 24 %,

sedangkan pengusaha laundry yang melakukan perhitungan laba rugi satu bulan

sekali berjumlah 13 responden atau 76 %, sedangkan pengusaha yang melakukan

perhitungan laba rugi satu tahun sekali 0 responden atau 0 %.

Periode waktu adalah konsep yang menyatakan bahwa akuntansi itu adalah

periode waktu dimana akuntansi sebagai dasar dalam menentukan kemajuan suatu

usaha yang dinilai secara berkala. Untuk mengetahui apakah para pengusaha

laundry sudah menerapkan konsep periode waktu dengan benar salah satunya

adalah berdasarkan dengan mengetahui kapan perhitungan laba rugi dari usaha

tersebut dilakukan, apakah dilakukan sekali dalam seminggu, sekali dalam

sebulan, maupun sekali dalam setahun.

Berdasarkan dengan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa

pengusaha laundry telah menerapkan konsep periode waktu. Hal itu dapat dilihat

dari periode perhitunan laba rugi yang masing-masing usaha jalankan

57
D. Konsep Kontinuitas Usaha

1. Kegunaan Perhitungan Laba Rugi

Dari hasil penelitian yang telah di lakukan bahwa, dapat dilihat seluruh

responden memiliki anggapan bahwa dari perhitungan Laba/Rugi tersebut dapat

digunakan untuk dijadikan pedoman mengukur keberhasilan usaha ini. Untuk

lebih jelasnya dapat dilihat dari table dibawah ini

Tabel V.17
Respon responden Terhadap Kegunaan Perhitungan Laba Rugi

No Respon Responden Jumlah Persentase


1 Dapat sebagai pedoman dalam mengukur 17 81 %
keberhasilan usaha
2 Tidak dapat sebagai pedoman dalam 4 19 %
mengukur keberhasilan usaha
Jumlah 21 100%
Sumber : data hasil penelitian lapangan

Berdasarkan tabel V.17 diatas, diketahui bahwa pada umumnya

perhitungan Laba/Rugi yang respoden lakukan dapat dijadikan pedoman

mengukur keberhasilan [Link] ini dapat dilihat dari 17 Responden atau

sebanyak 81 %,sedangkan 4 responden atau 19 % merasa perhitungan Laba/Rugi

tidak dapat dijadikan pedoman mengukur keberhasilan usaha.

2. Pencatatan Aset Tetap

Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapat hasil bahwa tidak ada

responden yang melakukan pencatatan terhadap aset tetap, Untuk lebih jelasnya

dapat dilihat pada table V.18 berikut ini:

Tabel V.18
Pencatatan Terhadap Aset Tetap

58
No Respon Responden Jumlah Persentase
1 Melakukan pencatatan aset tetap - 0
2 Tidak melakukan pencatatan aset tetap 21 100
Jumlah 21 100%
Sumber : data hasil penelitian lapangan

Dari tabel V.18 diatas dapat dilihat dari 21 Responden atau sebanyak

100% semuanya tidak melakukan pencatatan aset [Link] tetap yang dimiliki

pengusaha berupa mesin cuci, gas uap, setrika.

Dampak yang akan timbul jika tidak mencatat aset tetap akan

mempengaruhi nilai penyusutannya seperti tidak mengetahui harga perolehan

suatu aset, tidak dapat memperkirakan nilai residu, tidak mengetahui umur

ekonomis / umur manfaat adalah perkiraan usia aset atau batas waktu penggunaan

aset.

3. Pencatatan Penyusutan Aset Tetap

Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapat hasil bahwa tidak ada

responden yang melakukan pencatatan terhadap penyusutan aset tetap, Untuk

lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel V.19
Pencatatan Terhadap Penyusutan Aset Tetap

No Respon Responden Jumlah Persentase


1 Melakukan penyusutanatas aset tetap - -
2 Tidak melakukan penyusutan atas aset tetap 21 100
Jumlah 21 100%
Sumber : data hasil penelitian lapangan

59
Dari tabel V.19 diatas dapat dilihat dari 21 Responden atau sebanyak

100% semuanya tidak melakukan pencatatan penyusutan aset [Link]

perusahan laundry tidak melakukan pencatatan penyusutan terhadap aset tetap

karena dianggap tidak berpengaruh pada laporan laba rugi usahanya.

4. Kebutuhan Responden Terhadap Sistem Pembukuan

Dari hasil penelitian yang telah di lakukan bahwa, dimana pada umumnya

pengusaha laundry membutuhkan sistem pembukuan yang dapat membantu dalam

menjalankan usahanya, dapat di lihat pada tabel V.20 :

Tabel V.20
Kebutuhan Terhadap Pembukuan

No Respon Responden Jumlah Persentase


1 Membutuhkan sistem pembukuan 21 100
2 Tidak Membutuhkan sistem pembukuan - 0
Jumlah 21 100%
Sumber : data hasil penelitian lapangan

Dari tabel V.20 diatas dapat dilihat dari 21 Responden atau sebanyak

100% semuanya membutuhkan sistem pembukuan dalam menjalankan usaha

mereka. Hal ini berguna untuk mengetahui pendapatan yang mereka dapat dalam

satu periode atau satu bulan.

Berdasarkan informasi diatas diketahui bahwa pada seluruh pengusaha

laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci membutuhkan sistem pembukuan,

karena mereka mengetahui seberapa pentingnya manfaat pembukuan untuk usaha

yang mereka [Link] tidak langsung mereka membutuhkan sistem

pembukuan yang tidak hanya dibutuhkan perusahaan besar saja tetapi juga

dibutuhkan oleh pengusaha kecil dalam menjalankan usaha mereka.

60
Konsep kontinuitas usaha adalah konsep yang menganggap bahwa suatu

kesatuan usaha diharapkan akan terus beroperasi dengan menguntungkan dalam

jangka waktu yang tidak terbatas dan aktivitas perusahaan akan berlangsung terus

dan akan dilanjutkan dimasa depan dan tidak ada maksud atau keinginan untuk

melikuidasi usahanya.

Dari penelitian yang dilakukan penulis dapat menyimpulkan bahwa semua

pengusaha laundry belum menerapakan konsep kontuinitas [Link] ini dapat

dilihat dari tidak adanya responden yang melakukan pencatatan dan perhitungan

terhadap aset tetapnya.

5. Konsep Penandingan

Konsep penandingan yaitu konsep yang mendukung pelaporan antara

pendapatan dan beban terkait pada periode yang sama. Dengan kata lain konsep

ini menandingkan pendapatan dan beban dalam laporan laba rugi pada periode

yang sama.

Dari hasil penelitian padaTabel V.14 penulis dapat menyimpulkan bahwa

pada usaha laundry di Kecamatan Pangkaan Kerinci telah menerapkan konsep

[Link] hal ini belum sepenuhnya semua biaya dan beban belum di

hitung dalam laporan laba rugi..Efek dari tidak melakukan konsep penandingan

yang tepat yaitu laba yang dihasilkan tidak menunjukkan jumlah laba yang

sebenarnya.

61
BAB VI

PENUTUP

Dari pembahasan yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya

mengenai penerapan akuntansi, maka pada bab ini penulis mencoba menarik

kesimpulan dan mengemukakan beberapa saran yang kiranya dapat menjadi

masukan untuk perkembangan usaha bagi pengusaha laundry di Kecamatan

Pangkalan Kerinci.

A. Kesimpulan

1. Dasar Pencatatan

Secara umum dasar pencatatan yang digunakan oleh pengusaha laundry

adalah cash basic, dimana penerimaan dan pengeluaran kas akan dicatat

dan diakui apabila kas sudah diterima atau dikeluarkan. Buku-buku yang

digunakan adalah Buku catatan kas untuk mencatat penerimaan dan

pengeluaran kas, serta tidak mempunyai buku catatan piutang dan buku

catatan hutang, usaha ini hanya mengandalkan faktur dan nota.

2. Konsep kesatuan usaha

Pengusaha laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci belum menerapkan

konsep kesatuan usaha dimana pengusaha belum melakukan pemisahan

transaksi usaha dengan rumah tangganya.

3. Konsep periode waktu

Dalam melakukan perhitungan laba rugi pada umumnya usaha laundry

mempunyai periode waktu yang berbeda-beda tentang perhitungan laba

rugi terdiri dari periode satu minggu sekali, periode satu bulan sekali,

62
periode satu tahun [Link] laba rugi pada usaha laundry yaitu

dari pendapatan dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan. Hal ini

sudah sesuai dengan konsep time period.

4. Konsep kontinuitas usaha (going concern)

Pada penerapan konsep kelangsungan usaha (going concern) pengusaha

belum menerapkannya, karena pengusaha tidak melakukan penyusutan

terhadap aktiva tetap perusahaan seperti mesin cuci, gas uap, dan setrika.

Hal ini berdampak pada kelangsungan usahanya, karena pengusaha tidak

mengetahui kapan masa umur permakaian mesinnya.

5. Konsep penandingan (matching concept)

Dari hasil penelitian yang dilakukan dalam membuat laba rugi pengusaha

laundry melakukan perhitungan yaitu dengan melihat pendapatan yang

diperoleh dari penjualan kemudian dikurangi dengan pengeluaran yang

telah dicatat. Konsep akuntansi yang mendukung pelaporan pendapatan

dan beban pada periode yang sama ini disebut konsep penandingan

(matching concept) namun dalam hal ini tidak terpenuhi karena pada usaha

ini tidak adanya penyesuaian.

6. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa penerapan akuntansi yang

dilakukan pengusaha laundrydi Kecamatan Pangkalan Kerinci belum

sesuai dengan konsep dasar akuntansi.

63
B. Saran – Saran

1. Sebaiknya pengusaha laundry menerapkan pencatatan akuntansi yang

baik dan benar karena dengan menerapkan pencatatan akuntansi yang

baik dan benar dapat membantu dalam mengidentifikasi, mengukur dan

melaporkan informasi ekonomis serta dapat mengambil keputusan dengan

lebih tegas dan mantap setelah memahami proses tersebut.

2. Untuk pengusaha laundry yang selama ini tidak pernah mendapat

pelatihan cara melakukan pembukuan serta penerapan akuntansi yang

baik dan benar maka seharusnya meminta atau membuat permohonan

kepada pemerintah supaya perusahaan-perusahaan kecil juga diperhatikan

mengenai pelatihan-pelatihan dibidang tersebut atau membuat buku

pencatatan terpisah antara buku pemasukan kas, buku pengeluaran kas,

buku hutang dan piutang.

3. Sebaiknya pengusaha melakukan pencatatan terhadap aktiva tetapnya

seperti mesin cuci, gas uap, dan setrika, serta melakukan penyusutan

terhadapnya agar mengetahui masa umur manfaat.

4. Untuk pengusaha laundry sebaiknya menerapkan perhitungan laba rugi

sesuai dengan konsep dan dasar akuntansi, karena dengan perhitungan

laba rugi maka usaha laundry akan mudah mengetahui keuntungan atau

kerugian dari usaha yang dikelolanya dan sebaiknya biaya-biaya

kebutuhan sehari atau biaya pengeluaran rumah tangga jangan

digabungkan dengan biaya pengeluaran perusahaan sehingga

pencatatannya yang ada nantinya tidak efektif dan efisien.

64
Contoh bentuk buku harian sederhana:

Laundry
Buku harian

Tanggal Keterangan debit Kredit

Sumber : data olahan

Contoh bentuk laporan laba rugi sederhana:

Laundry
Laporan laba rugi
Untuk bulan yang berakhir 31desember 20xx

Penjualan [Link]

Beban operasional
Biaya sewa tempat
Biaya gaji karyawan
Biaya listrik
Biaya publikasi
Biaya servis peralatan
Biaya perlengkapan
Biaya lain-lain

Jumlah biaya operasi Rp.xxxx_

Laba bersih [Link]

Sumber : data olahan

65
DAFTAR PUSTAKA

Albertus Indratno, 2013, Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi, Dunia cerdas,


Yogyakarta.
Herry, 2014, Akuntansi Pemula, Gava Media,Yogyakarta.

Jr,Walter, T. Harison dkk, 2012, Akuntansi Keuangan, Erlangga, Jakarta.

Kieso, Donald E. dan Jerry J. Weygandt, 2009, Intermediate Accounting, jilid 1,


Edisi Revisi, Alih Bahasa Herman Wibowo, Penerbit Binarupa Aksara,
Jakarta.

Mulyadi, 2013, Sistem Akuntansi, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Mulyani, Destri, 2009, Analisis Penerapan Akuntansi Pada Usaha Bengkel


DiKecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu, Universitas Islam
Riau, Pekanbaru.

Pura, Rahman, 2013, Pengantar Akuntansi, PT. Raja Gelora Aksara Pratama,
Erlangga, Jakarta.

Puspita, Ayu Reni, 2017, Analisis Penerapan Akuntansi Pada Usaha


RumahMakan Vegetarian Di Kota Pekanbaru, Universitas Islam Riau,
Pekanbaru.

Rudianto, 2012, PengantarAkuntansi,Penerbit Erlangga, jakarta.

Sadeli, Lili M, 2011, Dasar-Dasar Akuntansi,Edisi 1, Cetakan ketujuh,Penerbit


PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Samryn, L.M, 2015, Akuntansi Pengantar, Edisi IFRS, Rajawali Pers, Jakarta.

Santi, 2015, Analisis Penerapan Akuntansi Pada Usaha Toko Pakaian


DiKecamatan Tenayan Raya, Universitas Islam Riau, Pekanbaru.

Sasongko Catur, 2016, Pengantar Akuntansi,Erlangga, Jakarta.

Smith,M Jay and Fred Skousen, 2012, Akuntansi Intermediet


VolumeKomprehensif, Edisi ke-9, Jilid 1, Terjemahan Widjajanto,
Penerbit Erlangga, Jakarta.
Stice, Earl K, Stice, James D Dan Skausen, Fred K, 2009,
IntermediateAccounting, Edisi kelima Belas, Penerbit Salemba Empat,
Jakarta.

66
Tara, Azwir Daini, 2010, Strategi Pembangunan Ekonomi Rakyat, Penerbit
Nuansa Madani, Jakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia, 2009, Standar Akuntansi Keuangan Entitas
Mikro,Kecil, Dan Menengah, Ikatan Akuntansi Indonesia, Jakarta.

Republik Indonesia, 2008, Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 Tentang


UsahaMikro, Kecil, Menengah, Sekretariat Negara, Jakarta.

67

Anda mungkin juga menyukai