SKRIPSI
ANALISIS PENERAPAN AKUNTANSI PADA USAHA
LAUNDRY DI KECAMATAN PANGKALAN KERINCI
Sebagai salah satu syarat untuk mengajukan penelitian skripsi pada
Falkutas Ekonomi
Universitas Islam Riau
Oleh:
SAIDURRAHMAN
NPM: 155310411
PRODI: AKUNTANSI S1
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSIAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2019
ABSTRAK
ANALISIS PENERAPAN AKUNTANSI PADA USAHA LAUNDRY
DIKECAMATAN PANGKALAN KERINCI
oleh
SAIDURRAHMAN
NPM : 155310411
Penelitian ini penulis lakukan di Kecamatan Pangkalan kerinci. Berkenaan
dengan penelitian ini yang menjadi objek adalah pengusaha laundry. Adapun
permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah apakah penerapan akuntansi
yang dilakukan pengusaha laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci telah memenuhi
konsep-konsep dasar akuntansi.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan
akuntansi yang dilakukan oleh pengusaha laundry sudah mengikuti konsep-konsep
dasar akuntansi sehingga dapat menghasilkan informasi keuangan yang bermanfaat
dalam menjalankan usahanya.
Dalam penelitian usaha kecil laundry yang ada di Kecamatan Pangkalan
Kerinci berjumlah 21 usaha. Penelitian ini menggunakan metode sensus kesemua
usaha kecil laundry di Kecamatan Pangkalan [Link] semua data terkumpul,
data tersebut di kelompokan menurut jenisnya masing-masing dan kemudian
dituangkan dalam bentuk table dan penulis dapat menarik kesimpulan sebagai hasil
dari penelitian yang dilakukan.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, penerepan akuntansi yang
dilakukan oleh pengusaha kecil laundry belum sesuai dengan konsep-konsep dasar
akuntansi.
Kata Kunci : Penerapan akuntansi
i
ABSTRACT
ANALYSIS OF ACCOUNTING APPLICATIONS IN LAUNDRY
BUSINESSES
UNDER THE PANGKALAN KERINCI
By
SAIDURRAHMAN
NPM: 155310411
This research is conducted by the author in Pangkalan Kerinci District.
Regarding this research, the object is laundry entrepreneurs. The problem discussed in
this study is whether the application of accounting by the laundry businessman in
Pangkalan Kerinci Subdistrict has fulfilled the basic concepts of accounting.
The purpose of this study is to determine the application of accounting carried out by
laundry entrepreneurs who have followed the basic concepts of accounting so as to
produce useful financial information in running their business.
In the study of laundry small businesses in Pangkalan Kerinci District, there
were 21 businesses. This study uses the census method of all laundry small businesses
in the Pangkalan Kerinci District. After all the data is collected, the data is grouped
according to their respective types and then poured in the form of a table and the
author can draw conclusions as a result of the research conducted.
Based on the results of research and discussion, accounting forerunners
conducted by laundry small entrepreneurs are not in accordance with the basic
concepts of accounting.
Keywords: Application of accounting
ii
KATA PENGANTAR
Asssalamu,alaikum Waarahmutullahi Wabarokatuh. . ..
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT diiringi Shalawat dan salam
kepada Nabi Muhammad SAW. Penulis menyadari bahwa atas rahmat dan hidayah-
Nya yang dilimpahkan kepada penulis himgga akhirnya skripsi yang berjudul
“Analisis Penerapan Akuntansi Pada Usaha laundry di Kecamatan Pangkalan
Kerinci” dapat disusun dan diselesaikan dengan baik.
Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat untuk
menyelesaikan pendidikan Program Sarjana S1 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Riau. Segala ilmu yang penul:is dapatkan di bangku kuliah semoga
dapat diimplementasikan dan dipergunakan sebaik mungkin.
Penulis hendak menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada berbagai pihak yang telah mendukung selesainya skripsi ini, yakni:
1. Bapak Prof. Dr. Syafrinaldi, SH., MCI., selaku Rektor Universitas Islam Riau.
2. Bapak Drs. Abrar, [Link]., Ak., CA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas
Islam Riau.
3. Ibu Dra. Eny Wahyuningsih, [Link]., Ak., CA, selaku Ketua Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau.
4. Ibu Hj siska, SE,, [Link]., Ak.,CA, selaku Dosen Pembimbing 1, penulis
mengucapkan terimakasih atas waktu yang telah ibu luangkan dalam membantu
iii
mengarahkan dan memberikan petunjuk kepada penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini.
5. Bapak Dr. Azwirman, SE., [Link]., CPA, selaku Dosen Pembimbing 2, penulis
mengucapkan terimakasih atas waktu yang telah ibu luangkan dalam membantu
mengarahkan dan memberikan petunjuk kepada penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini.
6. Bapak dan Ibu Dosen selaku staf pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Islam
Riau yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan.
7. Seluruh staf dan karyawan/i Tata Usaha Fakultas Ekonomi Universitas Islam
Riau yang telah memberikan bantuan selama penulis mengikuti masa
perkuliahan.
8. Teristimewah dan terimakasih kepada kedua orangtua tercinta. Ayahanda Drs
Abu Tohir, Ibunda Nursannah tercinta yang selalu memberikan, bimbingan,
semangat, baik moral maupun material yang begitu besar kepada penulis.
Terimakasih atas doa, kesabaran, kasih sayang, cinta dan perhatian yang telah
diberikan selama ini.
9. Untuk sayangku, abang, adik, sepupu, keponakan terimakasih atas doa, kasih
sayang, dukungan dan semangat yang telah diberikan selama ini.
10. Buat sahabat-sahabat, Riri alfitro , Yunus laowo, Ilham suprianto, Muhammad
khoir, Nurul hasannah, Verdi gunawan, Lamhot terimakasih banyak atas doa,
dukungan dan semangat untuk penulis.
iv
11. Untuk sahabat-sahabat seperjuangan angkatan 2015 terkhususnya lokal D.
Semangat terus untuk ke depannya insyaAllah kita berjumpa lagi atas kehendak-
Nya.
12. Untuk semua pihak yang terkait yang sudah membantu, penulis meminta maaf
tidak bisa menyebutkan satu persatu.
Semoga kebaikan dan keikhlasan yang telah mereka berikan kepada penulis
akan mendapatkan balasan dari Allah SWT dalam bentuk yang lebih baik dari yang
mereka berikan kepada penulis, Aammiin.... semoga skripsi ini bermanfaat bagi
penulis dan pembaca sekalian.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb...
Penulis
SAIDURRAHMAN
155310411
v
DAFTAR ISI
ABSTRAK ...............................................................................................................i
KATA PENGANTAR .............................................................................................iii
DAFTAR ISI ............................................................................................................vi
DAFTAR TABEL ....................................................................................................ix
BAB I : PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah ............................................................................1
B. Perumusan Masalah ...................................................................................6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ..................................................................6
D. SistematikaPenulisan.................................................................................7
BAB II : TELAAH PUSTAKA DAN HIPOTESIS ...............................................9
A. Pengertian Usaha kecil .............................................................................9
B. Pengertian dan Fungsi Akuntansi.............................................................10
C. Konsep Dasar dan Prinsip akuntansi .........................................................12
D. Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik (SAK ETAP) ......................................................................................16
E. SiklusAkuntansi .........................................................................................17
F. Sistem Akuntansi Perusahaan Kecil ..........................................................26
G. Hipotesis ....................................................................................................29
BAB III : METODE PENELITIAN ......................................................................30
vi
A. ObjekPenelitian .........................................................................................30
B. Operasionalisasi Variable Penelitian .........................................................30
C. Populasi dan Sampel..................................................................................31
D. Jenis Data danSumber Data.......................................................................33
E. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................33
F. TeknikAnalisis Data...................................................................................34
BAB IV : GAMBARAN UMUM ............................................................................35
A. Gambaran Umum Masing masing usaha ..............................................................35
BAB V : HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................41
A. Statistik Deskriptif .................................................................................41
a. Gambaran Umum Identitas responden ...................................................................41
b. Modal Usaha ...................................................................................................43
c. Respon responden terhadap pelatihan dalam
Bidang pembukuan.....................................................................................................44
[Link] Karyawan ....................................................................................................45
B. analisis konsep-konsep dasar akuntansi ................................................46
a. Konsep Dasar Pencatatan ...........................................................................46
b. Konsep Kesatuan Usaha .............................................................................52
c. Konsep Periode Waktu ...............................................................................55
d. Konsep Kontinuitas Usaha .........................................................................58
e. Konsep Penanding ......................................................................................61
vii
BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................................63
A. Kesimpulan............................................................................................................63
B. Saran ......................................................................................................................64
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................66
LAMPIRAN
viii
DAFTAR TABEL
Tabel II.1 Perbedaan Sistem Akuntansi Berpasangan Dengan
Sistem Akuntansi Tunggal ............................................................................27
Tabel III.1 Populasi Usaha Laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci....................32
Tabel V.1 Distribusi Responden Dirinci Dari Tingkat Umur ...................................41
Tabel V.2 Distribusi Responden Dirinci Menurut Tingkat Pendidikan .....................42
Tabel V.3 DistribusiResponden Dirinci Menurut Lama Usaha ................................43
Tabel V.4 DistribusiRespondenBerdasarkan Modal Usaha ......................................44
Tabel V.5 Respon Responden Terhadap pelatihan Bidang Pembukuan ...................44
Tabel V.6 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Karyawan ............................45
Tabel V.7 Pencatatan Penerimaan Kas ......................................................................47
Tabel V.8 Pencatatan pengeluaran Kas ......................................................................48
Tabel V.9 Responden yang melakukan Penjualan kredit...........................................48
Tabel V.10 Buku Pencatatan Piutang.........................................................................49
Tabel V.11 Responden yang melakukan Pembelian kredit .......................................50
Tabel V.12 Buku Pencatatan Utang ...........................................................................51
Tabel V.13PemisahanPencatatanKeuangan Perusahaan Dengan Keuangan
RumahTangga Responden .............................................................................52
Tabel V.14 Biaya – Biaya Dalam Perhitungan Laba Rugi ........................................53
Tabel V.15 Distribusi Responden Menurut Perhitungan Laba Rugi .........................56
Tabel V.16 PeriodePelaporan Perhitungan Laba Rugi ..............................................57
Tabel V.17 Respon responden Terhadap Kegunaan Sistem
Perhitungan laba rugi .................................................................................................58
Tabel V.18 Pencatatan Terhadap Aset Tetap .............................................................58
Tabel V.19 Pencatatan Terhadap Penyusutan Aset Tetap .........................................59
Tabel V.20 Kebutuhan Terhadap Pembukuan ...........................................................60
ix
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Suatu perusahaan didirikan untuk menghasilkan keuntungan atau
mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih besar dari biaya modalnya. Dengan
kata lain mencari untung sebesar-sebesarnya dari hasil kegiatan perdagangan atau
penjualan barang atau jasa, yaitu penyerahan suatu produk baik barang maupun
jasa kepada konsumen. Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh pendapatan agar
dapat menjalankan aktivitas perusahaan. Aktivitas perusahaan ini akan tergambar
dalam suatu laporan yang dibuat dan disajikan oleh pihak [Link]
membuat laporan ini biasanya perusahaan membuat data-data keuangan sehingga
ini disebut laporan keuangan.
Menurut Undang-Undang RI tentang Usaha Mikro Kecil Menengah
(UMKM) No.20 Tahun 2008 dalam bab 1 di pasal 1 dijelaskan bahwa: “Usaha
kecil adalah usaha perorangan atau badan usaha yang bukan bagian dari usaha
menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil. Usaha menengah
adalah usaha perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan bagian dari
usaha kecil atau usaha besar. Sedangkan Usaha besar adalah usaha yang dilakukan
badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau penjualan tahunan lebih besar
dari usaha menengah.”
Sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan salah satu kegiatan
ekonomi yang memegang peranan penting, terutama bila dikaitkan dengan jumlah
tenaga kerja yang mampu [Link] kecil ini, selain memiliki arti strategis
1
bagi pembangunan juga sebagai upaya untuk memeratakan hasil-hasil
pembangunan yang telah [Link] usaha kecil dari tahun ke tahun
bertambah, bertahan, dan mengalami [Link] beberapa area ekonomi yang
biasanya menjadi konsentrasi usaha kecil, yang beranekaragam, salah satu
diantaranya yang saat ini mengalami kemajuan cukup pesat pada bidang dagang
usaha kecil menengah yaitu usaha laundry.
Pada akhirnya, aktivitas dan kegiatan perusahaan tersebut digambarkan
dalam suatu laporan yang disusun oleh pihak manajemen itu sendiri. Laporan-
laporan tersebut disusun berdasarkan suatu proses olah data yang bersifat
keuangan yang terdiri dari berbagai macam laporan keuangan.
Laporan keuangan sebagai alat penyediaan informasi keuangan haruslah
berdasarkan suatu standar tertentu atau harus memiliki suatu pedoman tertentu,
agar informasi-informasi yang tersaji dalam laporan keuangan tersebut terjamin
keabsahannya dan dapat dipertanggungjawabkan serta dapat digunakan oleh pihak
yang berkepentingan sebagai bahan pertimbangan didalam pengambilan
keputusan ekonomi dan keuangan baik bagi pemilik perusahaan maupun pihak
diluar [Link] berkembangnya usaha, menuntut UKM untuk
menyediakan laporan keuangan dengan baik sesuai standar yang berlaku.
Ikatan Akuntan Indonesia telah mengesahkan Standar Akuntansi
Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada tahun
2009. Tujuan diterbitkannya SAK ETAP yakni untuk diimplementasikan pada
entitas tanpa akuntabilitas publik karena UKM pada umumnya belum memiliki
2
akuntabilitas publik signifikan dan tidak menerbitkan laporan keuangannya untuk
tujuan umum.
Laporan keuangan tersebut dihasilkan melalui siklus akuntansi, Siklus
akuntansi merupakan suatu proses penyediaan laporan keuangan perusahaan
untuk suatu periode waktu tertentu. Siklus ini dimulai dari adanya identifikasi
transaksi, analisis transaksi, mencatat transaksi dalam jurnal, pemindahan
bukuan/posting ke buku besar, menyusun nerca saldo, menyusun ayat jurnal
penyesuaian, menyusunneraca saldo setelah penyesuaian, menyusun laporan
keuangan, menyusun jurnal penutup, menyusun neraca saldo setelah penutupan,
dan menyusun jurnal pembalik.
Sedangkan dalam proses pencatatan akuntansi dikenal dua dasar
pencatatan, yaitu dasar akrual (accrual basis) dan dasar kas (cash basis). Dasar
Kas (Cash Basic) transaksi dicatat atau diakui apabila kas sudah diterima atau
dikeluarkan.. Sedangkan Dasar Akrual (Accrual Basic) transaksi dicatat atau
diakui pada saat terjadinya transaksi tanpa melihat apakah kas telah diterima atau
dikeluarkan.
Dalam penyusunan laporan keuangan tidak terlepas dari penerapan
akuntansi, penerapan atau penggunaan akuntansi ini menjadi kebutuhan bagi
pengusaha kecil maupun besar, yang bentuk dan penerapannya tergantung dari
besar kecilnya usaha tersebut.
Sebelumnya, penelitian tentang penerapan akuntansi pengusaha kecil
pernah dilakukan oleh Destri Mulyani (2009) yaitu pada usaha kecil
bengkeldengan skripsi yang berjudul “Analisis Penerapan Akuntansi Pada Usaha
3
Bengkel di Kecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu”, hasil penelitian
menjelaskan bahwa pencatatan yang dilakukan oleh pengusaha kecil bengkel di
Kecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu belum menghasilkan
informasi keuangan yang layak dalam menjalankan usaha. Ini dikarenakan para
pengusaha bengkel menggabungkan atau mencampur adukkan antara keuangan
perusahaan dengan perusahaan rumah tangga.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Reni Ayu Puspita (2017)
terhadap usaha kecil digital studio dengan judul skripsi “Analisis Penerapan
Akuntansi Pada Usaha Digital Studio Di Pekanbaru”, hasil penelitiannya
menjelaskan bahwa usaha kecil digital studio di Pekanbaru sudah melakukan
pencatatan tetapi pencatatan yang dilakukan belum menerapkan akuntansi sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Sehubungan dengan hal yang telah diuraikan sebelumnya maka penulis
bermaksud melakukan penelitian mengenai Usaha Laundry di Kecamatan
Pangkalan kerinci Kabupaten [Link] gaya hidup manusia saat ini
yang serba praktis karena aktivitasnya yang sangat padat sehingga mereka tidak
memiliki waktu luang untuk mencuci dan menyetrika pakaian maka pelayanan
jasa laundry ini sangatlah berguna bagi orang yang sibuk namun menginginkan
pakaiannya bersih, wangi , dan [Link] dengan adanya Penelitian mengenai
usaha laundry di kecamatan kerinci sangat membantu pengusaha laundry untuk
meningkatkan usaha dengan laporan keuangan yang sesuai dengan standar, akan
lebih mudah mendapatkan modal. Kemudian penulis melakukan penelitian data
4
awal pada 3 usaha laundry, yaitu Usaha Laundry Etin Laundry, usaha laundry
Vira laundry , dan Trio Laundry.
Survey awal yang dilakukan pada toko Etin laundry yang berada di jalan
Arbes. Diperoleh data bahwa toko ini masih melakukan pencatatan penjualan dan
pengeluaran kas kedalam satu buku catatan harian, dan menggabungkannya
dengan pengeluaran rumah tangga. Selanjutnya untuk pencatatan hutang,
pencatatan atas piutang dan persediaan pemilik tidak ada melakukan pencatatan.
Untuk perhitungan laba rugi, toko ini melakukan perhitungan dengan
menjumlahkan seluruh penjualan lalu dikurang dengan seluruh pengeluaran yang
dilakukan setiap bulannya.
Survey kedua dilakukan pada toko Vira laundry yang beralamat di jalan
pemda, dari data yang didapat diketahui pemilik hanya melakukan pencatatan
sederhana, catatan tersebut berupa catatan penjualan, Dari hasil wawancara toko
Vira Laundry belum memisahkan pengeluaran non usaha dengan pengeluaran
usaha toko laundrynya seperti biaya listrik, biaya telepon bahkan terkadang modal
masih tergabung dengan biaya non usaha
Survey ketiga dilakukan pada toko Trio laundry yang bealamat jalan BLP
Blok 1. Untuk pencatatan pemasukan kas, toko ini melakukan pencatatan pada
satu buku catatan harian, sedangkan untuk pengeluaran toko ini tidak ada
melakukan pencatatan. Untuk hutang toko hanya memiliki faktur sebagai bukti
transaksi, sedangkan untuk pembelian barang dagang dibeli secara tunai,
selanjutnya untuk piutang dan persediaan toko ini tidak melakukan pencatatan.
5
Dan untuk pembelian barang dagang pemilik hanya berpatokan pada jumlah
barang yang masih tersisa.
Berdasarkan dengan latar belakang yang ada, maka penulis
bermaksuduntuk melakukan penelitian mengenai masalah penerapan akuntansi
khususnyapada usaha laundry di Kecamatan pangkalan kerinci dengan judul
Analisis Penerapan Akuntansi Pada Usaha Laundry Di Kecamatan
Pangkalan kerinci.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalah pokok
dalampenelitian ini adalah sebagai berikut :
Bagaimana kesesuaian penerapan akuntansiyang dilakukan oleh
pengusaha Laundry di Kecamatan Pangkalan kerinci dengan konsep-konsep dasar
akuntansi.
C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITAN
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
penerapan akuntansi yang dilakukan oleh usaha laundry di Kecamatan Pangkalan
Kerinci sudah mengikuti konsep dasar akuntansi.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Bagi penulis, dapat menambah wawasan dan mengaplikasikan ilmu yang
diperoleh selama proses perkuliahan antara teori dan praktek yang didapat
selama ini.
6
b. Bagi usaha kecil, sebagai bahan masukkan dalam melakukan kegiatan
usahanya serta sebagai bahan acuan dalam mengevaluasi perkembangan
dan kemajuan usaha yang dikelola.
c. Bagi peneliti lainnya, sebagai sumber informasi atau bahan acuan dalam
penelitian yang sejenis terhadap permasalahan yang sama dimasa yang
akan datang.
D. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan dalam skripsi ini akan dibagi kedalam enam bab.
Masing-masing bab akan membahas masalah-masalah sebagai berikut:
BAB I : Bab ini merupakan bab pendahuluan yang meliputi latar belakang
masalah, pokok permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian,
sertasistematika penulisan.
BAB II : Bab ini mengemukakan tinjauan pustaka yang berhubungan
dengan penulisan serta hipotesa.
BAB III : Bab ini menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan metode dan
lokasi penelitian, jenis dan sumber data, metode pengumpulan
data, dananalisis data.
BAB IV : Bab ini menjelaskan gambaran umum identitas responden yang
berisikan tingkat umur responden, tingkat pendidikan responden,
modal usaha responden, jumlah tenaga kerja, dan pemegang
keuangan.
BAB V : Dalam bab ini akan dibahas mengenai hasil penelitian dan
pembahasan.
7
BAB VI : Penutup, dalam bab ini akan diberikan kesimpulan dan saran- saran
yang dianggap penting dan mungkin berguna untuk perusahaan
kecil.
8
BAB II
TELAAH PUSTAKA DAN HIPOTESIS
[Link] PUSTAKA
[Link] Usaha Kecil
Defenisi usaha kecil sampai saat ini berbeda-beda sesuai dengan sudut
pandang yang mengartikannya, tetapi pada prinsipnya adalah sama. Menurut H.
M. Daini Tara (2010:50) memberikan batasan usaha kecil sebagai berikut :
Usaha kecil adalah kelompok usaha industri yang memiliki investasi
peralatan dibawah tujuh juta rupiah, investasi pertenaga kerja maksimal
enam ratus dua puluh ribu rupiah, jumlah tenaga kerja 20 orang, serta
memiliki asset perusahaan tidak lebih dari seratus juta rupiah.
Menurut M. Kwartono Adi (2007:12) mendefenisikan usaha kecil sebagai
berikut:
Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki kekayaan
bersih paling banyak Rp. 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan
tempat usaha atau yang memiliki hasil penjualan tahunan yang paling
banyak Rp. [Link] dan milik warga Negara Indonesia.
Menurut undang-undang usaha mikro kecil dan menengah UU RI No. 20 tahun
2008 (2008:3) mendefenisikan usaha kecil sebagai berikut :
Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun
9
tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang tidak memenuhi
kriteria usaha kecil sebagaimana dalam undang undang ini.
[Link] dan Fungsi Akuntansi
Dalam dunia usaha seringkali dinyatakan sebagai bahasa perusahaan yang
berguna untuk memberikan informasi yang berupa data-data keuangan perusahaan
yang dapat digunakan untuk pengambilan [Link] perusahaan
memerlukan dua macam informasi tentang perusahaannya yaitu informasi
mengenai nilai perusahaan dan informasi tentang laba/rugi usaha.
Menurut Weygandt, Kieso, dan Kimmel (2009:4) pengertian akuntansi
adalah sebagai berikut :
Accounting is an information system that indentifies, rcord, and
communicates the economic events of an organization to interested user.
Yang artinya akuntansi adalah :
sebuah sistem yang mengidentifikasi, merekam, dan mengkomunikasikan
kejadian ekonomi suatu organisasi kepada pemakai informasi yang
berkepentingan.
Menurut Reevee, Warren, dan Duchac (2008:7) menyatakan :
Accounting is an information system that profides report to stakeholder
about the economic activites and condition of business.
Yang artinya akuntansi adalah :
sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan.
10
Sedangkan menurut Catur Sasongko (2016:2) menyatakan : Akuntansi
adalah proses/aktivitas yang menganalisis, mencatat, mengklasifikasikan,
mengikhtisarkan, melaporkan, dan menginterprestasikan informasi keuangan
untuk kepentingan para penggunanya. Dan proses akuntansi merupakan sebuah
sistem yang mengukur kegiatan bisnis perusahaan.
Ilmu akuntansi memegang peranan yang sangat penting dalam
menjalankan operasi perusahaan. Dekan demikian apabila perusahaan
menggunakan ilmu akuntansi yang baik, maka dapat menyediakan informasi yang
baik, yang dapat dipergunakan oleh pihak intern dan pihak ekstern dalam
pengambilan keputusan ekonomi.
Pengertian akuntansi menurut American Institute Certified of Public
Accounting (AICPA) mendefenisikan dalam Sofyan Syafri Harahap (2009:4)
“Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan pengiktisaran
dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian
yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasil hasilnya.”
Menurut Carl S. Warren, James M. Reeve dan Philip E. Fees (2014:3)
mendefenisikan akuntansi sebagai berikut :
Akuntansi adalah sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada
pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi
perusahaan.
Sedangkan menurut Sugiharto dan Suwardjono (2009:4) akuntansi dapat
didefenisikan dari dua segi yaitu :
11
pertama dari segi ilmu akuntansi yang berarti keseluruhan pengetahuan
yang bersangkutan dengan fungsi menghasilkan informasi keuangan suatu
uniy organisasi kepada pihak yang berkepentingan untuk dijadikan dasar
pengambilan keputusan.
Kedua dari segi proses atau kegiatannya akuntansi dapat diartikan sebagai
kegiatan pencatata, penyortiran, penggolongan, pengiktisaran,
peringkasan, dan penyajian transaksi keuangan suatu unit organisasi
dengan cara tertentu.
[Link] dan Prinsip Dasar Akuntansi
Dalam hal menerapkan akuntansi ada hal-hal yang perlu diperhatikan
mengenai konsep dasar akuntansi. Adapun konsep-konsep yang melandasi bentuk,
isi, dan susunan laporan keuangan antara lain sebagai berikut :
a) Dasar-dasar pencatatan
Menurut Rudianto (2009:20) ada dua macam pencatatan dalam akuntansi
yang di pakai dalam mencatat transaksi yaitu:
1. Akuntansi berbasis kas (Cash Basis Accounting) adalah suatu metode
perbandingan antara pendapatan dengan beban, dimana pendapatan
dilaporkan saat uang telah diterima dan beban dilaporkan pada saat
uang telah dibayar.
2. Akuntansi berbasis akrual (Accrual Basis Accounting) adalah suatu
pendapatan dilaporkan pada saat terjadinya transaksi dan beban
dilaporkan pada saat terjadinya transaksi dan beban dilaporkan pada
saat beban tersebut diperlukan untuk menghasilkan pendapatan usaha.
12
b) Konsep kesatuan usaha (Business Entity Concept),
Konsep kesatuan usaha menurut Suwardjono (2012:70) adalah perusahaan
Dianggap sebagai badan atau orang yang berdiri sendiri, bertindak atau namanya
sendiri, dan terpisah dari pemilik.
Sedangkan menurut Suradi (2009:22) konsep kesatuan usaha dicatat
terpisah dari aktivitas pihak-pihak yang berkepentingan sekalipun
[Link] kesatuan usaha dengan kesatuan usaha lainnya bahkan dengan
pemiliknya terdapat usaha yang tegas baik yang menyangkut aktiva, maupun
modal.
Konsep ini menginginkan agar transaksi yang terjadi didalam suatu
perusahaan dicatat secara terpisah dari transaksi perusahaan lain maupun
kehidupan keseharian dari pada pemiliknya. Konsep ini menggambarkan
akuntansi menggunakan sistem berpasangan dalam pelaporannya (Double Entry
bookkeeping) yaitu dalam setiap melaporkan sumber ekonomi (kekayaan)
perusahaan dan perubahannya harus pada asal atau sember dananya.
c) Konsep periode waktu (Time Period Concept)
Menurut Hery (2014:88), adalah suatu konsep yang menyatakan bahwa
Akuntansi menggunakan periode waktu sebagai dasar dalam mengukur dan
menilai kemajuan suatu perusahaan.
Menurut Rudianto (2009:20), konsep yang menyajikan informasi
keuangan sesuai dengan periode waktu yang ditetapkan.
13
Konsep periode waktu adalah konsep yang mengatur seluruh kegiatan
akuntansi harus menggunakan periode [Link] agar laporan keuangan
yang disajikan dapat menjadi laporan yang relevan dan tepat waktu.
d) Konsep kontinuitas usaha (Going Concern Concept)
konsep yang mengangap bahwa suatu kesatuan usaha yang diharapkan
akan terus beroperasi dengan menguntungkan dalam jangka waktu yang tidak
terbatas.
Menurut Rudianto (2012:23) konsep kesinambungan (going cocern)
adalah suatu konsep dimana suatu perusahaan dianggap akan hidup terus dalam
jangka panjang dan tidak dilikuidasi dimasa depan.
Menurut Herry (2014:88) adalah konsep yang menganggap bahwa suatu
kesatuan usaha diharapkan akan terus beroperasi dalam jangka waktu yang tidak
terbatas.
Konsep ini merupakan konsep yang menganggap perusahaan akan terus
beroperasi untuk jangka waktu yang lama, dan jika suatu entitas tidak mampu
melanjutkan usaha maka entitas tersebut harus mengungkapkan kondisi dari
ketidak langsungan usaha tersebut.
e) Konsep penanding (Matching Concept)
Menurut Wiwin yudianti (2010:782), artinya dalam menentukan besar laba
rugi, beban harus ditandingkan dengan pendapatan pada periode yang sama.
Menurut Warren (2017:17), konsep yang di sebut dengan konsep
pengaitan atau pemadanan, antara pendapatan dan beban yang terkait.
14
Konsep penanding ialah membandingkan antara jumlah pendapatan
dengan beban yang dikeluarkan dalam periode yang sama.
Menurut Donald E Kiesso, dkk (2008:45) empat prinsip dasar yang
digunakan untuk mencatat transaksi adalah sebagai berikut:
1. Prinsip Biaya Historis (historical cost)
Secara umum penggunaan laporan keuangan lebih memilih menggunakan
biaya historis karena memberikan tolak ukur yang dapat dipercaya untuk
mengukur tren historis. Pada mulanya biaya historis sama dengan nilai
wajar. Dalam periode selanjutnya ketika kondisi pasar dan ekonomi
berubah maka biaya historis dan nilai wajarnya sering berbeda.
2. Prinsip pengakuan pendapatan (revenue recognition principle)
Pendapatan umumnya diakui jika :
a. Telah direalisasi atau dapat direalisasi (relized), jika nproduk barang
dan jasa atau aktiva lainnya telah ditukarkan dengan kas.
b. Pendapatan telah dihasilkan (matching principle), apabila sebuah
entitas telah melakukan apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan
hak atas menfaat yang dipresentasikan oleh pendapatan.
3. Prinsip Penandingan (matching principle), yaitu prinsip yang
menandingkan beban dan pendapatan sepanjang rasional dan dapat
diterapkan.
4. Prinsip Pengungkapan Penuh (full disclosure principle), mengakui bahwa
sifat dan jumlah informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan yang
mencerminkan serangkaian trade-off penilaian. Trade off ini terjadi antara
15
kebutuhan untuk mengungkapkan secara cukup terinci hal-hal yang akan
mempengaruhi keputusan pemakai dan kebutuhan untuk memadatkan
penyajian informasi dapat dipahami.
[Link] Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik
(SAK-ETAP)
Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK
ETAP) dimaksudkan untuk digunakan tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa
akuntabilitas publik adalah entitas yang memiliki dua kriteria yang menentukan
apakah suatu entitas tergolong entitas tanpa akuntabilitas public (ETAP) yaitu :
1. Tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan.
Suatu entitas dikatakan memiliki akuntabilitas yang signifikan jika entitas
telah mengajukan pernyataan pendaftaran atau entitas dalam proses pengajuan
pernyataan pendaftaran pada otoritas pasar modal (BAPEPAM-LK) atau regulator
lain untuk tujuan efek di pasar modal.
2. Tidak menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum ( general purpose
financial statement ) bagi pengguna eksternal. Contoh pengusaha eksternal
adalah:
a. Pemilik yang terlibat langsung dalam pengelolaan usaha.
b. Kreditur
c. Lembaga pemeringkat kredit
Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat menggunakan
SAK-ETAP jika otoritas berwenang membuat regulasi yang mengizinkan
penggunaan [Link] laporan keuangan mematuhi SAK-ETAP harus
16
membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved
statement) atas kepatuhan tersebut dalam catatan laporan [Link]
keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi SAK-ETAP kecuali jika mematuhi
semua persyaratan dalam SAK-ETAP. Apabila perusahaan memakai SAK-ETAP,
maka auditor yang melakukan audit di perusahaan tersebut juga akan mengacu
kepada SAK-ETAP.
Entitas yang memenuhi persyaratan untuk menerapkan SAK-ETAP dapat
menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK-ETAP, tetapi berdasarkan
PSAK-non ETAP sepanjan diterapkan secara konsisten. Entitas tersebut tidak
diperkenankan untuk menerapkan SAK-ETAP ini untuk penyusunan laporan
keuangan berikutnya.
Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK-ETAP
kemudian tidak memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK-
ETAP, maka entitas tersebut tidak diperkenankan untuk menyusun laporan
keuangan berdasarkan SAK-ETAP.
[Link] Akuntansi
Menurut Rudianto (2009:14) siklus akuntansi adalah urutan kerja yang
dibuat oleh akuntan sejak awal hingga menghasilkan laporan keuangan suatu
perusahaan.
Adapun siklus-siklus akuntansi meliputi :
17
1) Transaksi /Bukti
Bukti merupakan surat tanda yang dipergunakan sebagai perlengkapan
untuk mempertanggungjawabkan laporan tersebut. Setiap proses transaksi harus
mempunyai bukti (evidence) dan pembukuan.
Menurut Rudianto (2012:16) dokumen dasar adalah berbagai formulir
yang menjadi bukti telah terjadinya transaksi tertentu, seperti : faktur, kuitansi,
nota penjualan, invoice, dll.
Dalam akuntansi dikenal sifat-sifat bukti yang harus ada didalamnya.
Tanpa mengandung sifat bukti ini tidak sah. Bukti yang mendukung laporan
keuangan dapat digolongkan dalam beberapa jenis. Bukti dapat dibagi dalam dua
kelompok
yaitu :
a. Corrobative Evidence
Corrobative evidence adalah seluruh dokumen yang sah termasuk dokumen
seperti cek, faktur, kontrak, hasil rapat, konfirmasi, pernyataan, hasil, Tanya
jawab laporan pengamatan dan hasil inspeksi.
b. Underlying Accounting Data
Underlying Accounting Data yaitu seluruh catatan dalam bentuk buku-buku,
jurnal, neraca lajur, laporan keuangan dan lain-lain yang dijadikan sebagai tempat
mencatat transaksi sampai penyajian laporan keuangan.
2) Mencatat transaksi dalam jurnal
Dengan adanya bukti-bukti transaksi, langkah berikutnya dalam siklus
akuntansi adalah membuat jurnal.
18
Defenisi jurnal menurut Mulyadi (2016:3)adalah sebagai berikut : “Jurnal
merupakan catatan akuntansi pertama yang digunakan untuk mencatat,
mengklasifikasikan, dan meringkas data keuangan dan data lainnya.”
Menggunakan jurnal sebagai buku masukkan/catatan orisinil (books of
original entry) mempunyai beberapa keuntungan (Budi Rahardjo, 2007:31) yaitu :
a. Jurnal memberikan suatu catatan sejarah transaksi perusahaan sesuai
dengan urutan kejadiannya.
b. Jurnal memberikan suatu catatan transaksi keseluruhan, termasuk
dampaknya terhadap rekening atau pos tertentu.
c. Jurnal dapat membantu meyakinkan kesamaan nilai debit dan kredit.
Ada dua macam bentuk jurnal, yaitu :
a. Jurnal umum, digunakan untuk mencatat segala macam transaksi dan
mejadian.
b. Jurnal khusus, merupakan jurnal yang digunakan untuk mencatat
transaksi yang bersifat khusus, misalnya jurnal untuk mencatat
penerimaan uang, mencatat pengeluaran uang, mencatat pembelian
secara kredit dan lain-lain.
3) Buku Besar
Setelah jurnal-jurnal dibuat, maka jurnal tersebut dimasukkan kedalam buku
[Link] Mulyadi (2016:3) yang dimaksud dengan buku besar adalah :
Buku besar terdiri dari rekening-rekening yang digunakan untuk meringkas
data keuangan yang telah dicatat sebelumnya dalm jurnal. Rekening-rekening
19
dalam buku besar ini disediakans sesuai dengan unsurunsur informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan.
Bentuk buku besar yang dapat digunakan oleh perusahaan, yaitu sebagai berikut :
a) Bentuk skronto, biasa disebut juga bentuk kolom dan bentuk T, yamg
artinya sebelah menyebelah.
b) Bentuk bersaldo, disebut juga dengan bentuk empat kolom.
Adapun fungsi dari buku besar adalah sebagai berikut :
1. Mencatat secara terperinci setiap jenis harta, utang dan modal
beserta perubahannya (transaksi/kejadian).
2. Menggolongkan aspek transaksi atau kejadian sesuai dengan jenis
akun masing-masing.
3. Menghitung jumlah atau nilai dari tiap-tiap jenis akun.
4. Mengikhtisarkan transaksi kedalam akun yang terkait, sehingga
dapat menyusun laporan keuangan.
4) Menyusun Neraca Saldo
Setelah diposting kedalam buku besar langkah selanjutnya adalah
mengiktisarkan transaksi dalam neraca saldo. Menurut Sofyan Syafri Harahap
(2010:23) adalah neraca yang memuat perkiraan, tetap yang dimasukkan hanya
saldo akhirnya.
Fungsi neraca saldo adalah :
a. Neraca saldo berfungsi memeriksa keseimbangan antara jumlah saldo
debet dan saldo kredit akun buku besar. Neraca saldo bukan untuk
20
memeriksa kebenaran proses pencatatan. Jadi keseimbangan jumlah neraca
saldo belum menjamin kebenaran pencatatan akuntansi.
b. Neraca saldo sebagai langkah awal penyusunan kertas kerja.
5) Jurnal penyesuaian
Setelah neraca saldo tersusun, maka proses selanjutnya dalam siklus
akuntansi adalah membuat jurnal penyesuaian. Ayat jurnal penyesuaian biasanya
dibuat pada akhir periode [Link] tujuan dibuatnya jurnal penyesuaian
adalah untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip pengakuan pendapatan pada
akuntansi tidak dilanggar.
Menurut Albertus Indratno (2013:125) jurnal penyesuaian adalah:
Jurnal yang diselesaikan setiap akhir periode akuntansi serta memiliki fungsi
untuk menyesuaikan nilai dari harta, utang, modal, pendapatan, dan beban,
semakin menunjukkan nilai yang sebenarnya.
6) Laporan Keuangan
Setelah pencatatan transaksi dan diikhtisarkan, maka disiapkan laporan bagi
[Link] akuntansi yang menghasilkan informasi demikian itu dinamakan
laporan [Link] keuangan ini dibuat oleh manajemen dengan tujuan
untuk memenuhi tujuan-tujuan lain yaitu sebagai laporan kepada pihak-pihak
diluar perusahaan. Menurut Kardiman dkk (2006:118) laporan keuangan adalah :
laporan yang berisi informasi tentang kondisi keuangan dari hasil operasi
perusahaan pada periode tertentu.
Tujuan laporan keuangan menurut Kardiman dkk, (2006:118) adalah :
21
a. Menyajikan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi
sejumlah besar pemakaian dalam pengambilan keputusan ekonomi.
b. Untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai walaupun
tidak menyediakan semua informasi yang memuaskan karena secara
umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu, dan
tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan.
c. Untuk menyatakan apa yang telah dilakukan manajemen atau
pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan
kepadanya.
Urutan-urutan penyusunan dan sifat data yang terdapat dalam laporan-laporan
tersebut adalah sebagai berikut :
1) Laporan laba rugi
Sukrisno Agoes (2013:4) juga memberikan pengertian laba rugi sebagai
berikut: Laporan laba rugi merupakan suatu laporan yang menyajikan
penghasilan dan beban entitas untuk suatu periode yang merupakan kinerja
keuangannya
Laporan laba rugi merupakan laporan yang menggambarkan keberhasilan
maupun kegagalan dalam operasi atau aktivitas perusahaan selama satu periode
waktu tertentu.
Laporan laba rugi memasukkan semua pos penghasilan dan beban yang
diakui dalam suatu periode kecuali SAK-ETAP mensyaratkan lain. SAK-ETAP
mengatur perlakuan berbeda terhadap dampak koreksi atas kesalahan dan
22
perubahan kebijakan akuntansi yang disajikan sebagai bagian dari laba atau rugi
dalam periode terjadinya perubahan.
2) Laporan Ekuitas Pemilik
Menurut Albertus Indratno (2013:146) laporan perubahan ekuitas pemilik
adalah laporan keuangan yang menggambarkan perubahan ekuitas selama satu
periode.
Adapun komponen laporan perubahan ekuitas menurut Albertus Indratno
(2013:146) adalah sebagai berikut :
a) Modal awal
Modal awal diperoleh dari investasi awal ataupun penambahan investasi saat
usaha berjalan.
b) Laba atau rugi
Laba perusahaan sifatnya menambah modal perusahaan, sedangkan rugi akan
mengurangi modal perusahaan.
c) Penarikan (prive)
Penarikan atau prive merupakan kejadian dimana sebagian laba diambil oleh
pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadi diluar bisnis utama perusahaan.
d) Modal akhir
Modal akhir merupakan saldo modal awal ditambah laba rugi dikurangim
penarikan.
3) Neraca
Neraca merupakan suatu daftar aktiva, kewajiban, dan ekuitas pemilik pada
tanggal tertentu, biasanya pada akhir bulan atau pada akhir tahun.
23
Menurut Rahman Pura (2013:89) neraca merupakan laporan keuangan yang
menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu.
Neraca dapat disajikan dalam tiga bentuk yaitu:
1. Bentuk skronto, yaitu bentuk neraca yang disusun sebalah menyebalah,
yaitu sisi kiri disebut aktiva dan sisi kana disebut pasiva. Sisi aktiva dan
sisi pasiva harus seimbang.
2. Bentuk stafel, yaitu bentuk neraca yang disusun dalam bentuk laporan,
yaitu bagian atasnya untuk mencatat aktiva dan bagian bawahnya untuk
mencatat pasiva. Jumlah aktiva dan pasivanya juga harus seimbang seperti
halnya bentuk skronto.
3. Bentuk yang menyajikan posisi keuangan, dalam bentuk ini posisi
keuangan tidak dilaporkan seperti dalam bentuk skronto maupun bentuk
stafel yang berpedoman pada persamaan akuntansi. Dalam bentuk ini cara
pengajarannya adalah pertama-tama dicantumkan aktiva lancar dikurang
hutang lancar dan dikurangi modal kerja. Modal kerja tersebut
ditambahkan dengan aktiva tetap dan aktiva lainnya, kemudian dikurangi
dengan hutang jangka panjang, maka akan diperoleh modal pemilik
Menurut Donal E. Kieso, Jerry J. Weygand dan Terry D. Werfield
(2002:17) neraca dapat digunakan untuk :
Menganalisa likuiditas, solvensi dan fleksibilitas keuangan perusahaan.
24
4) Laporan Arus Kas
Menurut Albertus Indarto (2013:148) Laporan arus kas menggambarkan
tentang sumber dan pemanfaatan kas selama satu periode sehingga saldo kas
tampak seperti yang ada dalam neraca.
Laporan jenis ini memerlukan data atau informasi dari neraca baik yang
berasal dari periode sebelumnya maupun pada periode tahun yang bersangkutan.
Meningkatkan penjualan dan menekan biaya merupakan tugas yang
penting dalam [Link] itu pengelolaan kas juga penting supaya selalu
tersedia kas yang cukup bila dibutuhkan.
5) Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas laporan keuangan adalah catatan-catatan yang dianggap penting
dalam penyusan laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan perusahaan sehingga
laporan keuangan yang disajikan dapat berguna bagi pihak-pihak yang
berkepentingan.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009:1.13) catatan atas laporan keuangan
mengungkapkan :
1) Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan
akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi
yang penting.
2) Informasi yang diwajibkan dalam PSAK tetapi tidak disajikan
dineraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan
ekuitas.
25
3) Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan
tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.
Catatan atas laporan keuangan disajikan secara sistematis sepanjang hal tersebut
[Link] pos dalam laporan keuangan merujuk-silang ke informasi terkait
dalam catatan atas laporan keuangan. Secara normal urutan penyajian catatan atas
laporan keuangan adalah sebagai berikut :
1) Suatu pernyataan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai dengan
SAK UKM.
2) Ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan.
3) Informasi yang mendukung pos-pos laporan keuangan, sesuai dengan
urutan penyajian pos-pos tersebut.
4) Pengungkapan lain.
6. Sistem Akuntansi Perusahaan Kecil
Sistem akuntansi yang dilakukan oleh perusahaan kecil masih bersifat
sederhana dan sistem akuntansi yang digunakan yaitu dengan menggunakan
sistem akuntansi tunggal (Single Entry System). Menurut Amin Widjaja Tunggal
(2002:25) dalam bukunya Akuntansi Untuk Perusahaan Kecil dan Menengah
menjelaskan sistem akuntansi tunggal (Single Entry System) adalah sebagai
berikut :
Dalam sistem akuntansi tunggal pencatatan asetnya hanya menggunakan
satu sisi pendapatan dan sisi pengeluaran. Pencatatan ini relatif mudah dan
sederhana. Dalam tata buku tunggal laporan neraca dan perhitungan laba rugi
26
tidak disusun dari buku besar, akan tetapi dari catatan-catatan dalam buku harian
dan buku-buku lainnya.
Eearl K. Stice, James D. Stice, dan Fred K. Skousen (2010:76) dalam
bukunya Intermediate Accounting menjelaskan sistem akuntansi berpasangan
(Double Entry System) adalah sebagai berikut :
Dengan sistem akuntansi berpasangan, setiap transaksi dicatat dalam suatu
cara untuk memastikan keseimbangan atau kesamaan persamaan dasar
akuntansi yaitu : aktiva = kewajiban + ekuitas pemilik.
Secara ringkas perbedaan-perbedaan sistem akuntansi berpasangan
(Double Entry System) dengan sistem akuntansi tunggal (Single Entry System)
dijelaskan oleh Amin Widjaja Tunggal (2002:25) dalam bentuk tabel 4 sebagai
berikut :
Tabel II. 1
Perbedaan Sistem Akuntansi Berpasangan Dengan
Sistem Akuntansi Tunggal
Sistem
Proses Penyusunan Sistem Pembukuan
No. Pembukuan
Laporan Keuangan Tunggal
Berpasangan
1. Pencatatan transaksi Jurnal umum atau Buku harian, buku
keuangan jurnal khusus kas bank, buku
pembelian, buku
penjualan dan buku
memorial
2. Pemindahan (posting) dari Ada Tidak ada
27
jurnal ke buku besar
3. Penyusunan neraca saldo Ada Tidak ada
dari perkiraan buku besar
4. Ayat penyesuaian Ada Tidak ada
5. Penyusunan neraca lajur Ada Tidak ada
6. Penyusunan laporan Dapat dilakukan Dilakukan dengan
keuangan dari neraca memperhatikan
laporan atau buku neraca awal buku
besar harian dan data akhir
periode akuntansi
7. Jurnal penutup Ada dan dilakukan Tidak ada
pada akhir periode
akuntansi
8. Neraca saldo setelah Ada yang Tidak ada
penutupan diperoleh dari
saldo perkiraan
akhir periode
akuntansi
9. Laporan keuangan Laporan rugi laba Laporan rugi laba
perubahan perubahan modal
modal/laba dan neraca
ditahan dan neraca
Sumber : Amin Widjaja Tunggal (2002:25) dalam bukunya Akuntansi Untuk
Perusahan Kecil dan Menengah
28
[Link]
Berdasarkan latar belakang masalah dan telaah pustaka yang telah
diuraikan diatas maka penulis dapat mengemukakan hipotesis penelitian sebagai
berikut :
Diduga penerapan akuntansi yang dilakukan oleh pengusaha Laundry di
Kecamatan pangkalan kerinci belum sesuai dengan konsep-konsep dasar
akuntansi.
29
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten
Pelalawan. Objek penelitian ini adalah pengusaha Laundry di Kecamatan
Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan.
B. Operasional Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini adalah :
a. Konsep-konsep dasar akuntansi
1) Dasar pencatatan, ada dua macam dasar pencatatan dalam akuntansi
yang digunakan dalam mencatatan akuntansi diantaranya:
a) Dasar kas, dimana penerimaan dan pengeluaran akan dicatat
atau diakui apabila kas sudah diterima atau dikeluarkan.
b) Dasar akrual, dimana penerimaan dan pengeluaran dicatat atau
diakui pada saat terjadinya transaksi tanpa melihat apakah kas
telah diterima atau dikeluarkan.
2) Konsep kesatuan usaha (Business Entity Concept), yaitu pemisahan
transaksi usaha dengan transaksi non usaha (rumah tangga).
3) Konsep periode waktu (Time Period Concept) adalah suatu konsep
yang menyatakan bahwa akuntansi menggunakan periode waktu
sebagai dasar dalam mengukur dan menilai kemajuan suatu
perusahaan. Konsep periode waktu juga menyatakan bahwa umur
30
ekonomis dari sebuah bisnis dapat dibagi kedalam periode waktu
buatan. Maka diasumsikan bahwa aktifitas perusahaan dapat dibagi
menjadi bulan, kuartal (triwulan) atau tahun untuk tujuan pelaporan
keuangan yang berarti.
4) Konsep kontinuitas usaha (Going Concern Concept) yaitu
menganggap bahwa suatu perusahaan akan hidup terus, dalam arti
perusahaan diharapkan tidak akan mengalami likuidasi dimasa yang
akan datang dan menganggap bahwa perusahaan memiliki cukup
waktu untuk menyelesaikan usaha, kontrak-kontrak dan perjanjian.
5) Konsep penanding (Matching Concept) adalah suatu konsep
akuntansi dimana semua pendapatan yang dihasilkan harus di
bandingkan dengan biaya-biaya yang ditimbulkan untuk perolehan
laba dari pendapatan untuk jangka waktu tertentu.
C. Populasi dan Sampel
Adapunyang menjadi populasi dari penelitian ini adalah seluruh Laundry
yang ada di Kecamatan Pangkalan kerinci. Dari hasil survey lapangan jumlah
usaha Laundry yang ada di Kecamatan Pangkalan kerinci adalah sebanyak 21
usaha Laundry.
Penelitian ini dilakukan dengan metode sensus langsung di lapangan yaitu 21
usaha Laundry yang akan dijadikan sebagai responden dalam penelitian.
31
Tabel III.1
Populasi Usaha Laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci
NO NAMA USAHA ALAMAT
1 ETIN LAUNDRY [Link] RT 05 RW 06
[Link] NO.33 RT 04 RW 06
2 D TWO LOUNDRY
TAMAN SAKURA RESIDENCE BLOK D 21
3 SYWA LAUNDRY RT 10 RW 08 [Link] TIMUR
4 VIRA LAUNDRY [Link] [Link] KOTA
[Link] BTN LAMA RT 03 RW 10
5 LAUNDRY Q MORA
[Link] KOTA
[Link] No.92 RT 01 RT 02
6 BONA LOUNDRY
[Link] TIMUR
[Link] BILANG BUNGSU RT 03 RW 05
RG LOUNDRY
7 [Link] KOTA
LIMA SAUDARA [Link] RT 04 RW 04 [Link]
8
LAUNDRY KOTA
[Link] RT 02 RW 07 [Link]
GTM LOUNDRY
9 KOTA
EBY LOUNDRY [Link] RT.003/RW.002
10
[Link] RT 02 RW 06 [Link]
MUTIARA LOUNDRY
11 KOTA
LOUNDRY LILY [Link] GG PINANG RT 03 RW 02
12
MJ LOUNDRY [Link] RT 01 RW 01
13
[Link] LAMA RT 04 RW 10 [Link]
SHE LOUNDRY
14 KOTA
PERUM GRAHA PELALAWAN RT 02 RW
PINK LOUNDRY
15 08
PRINCE LOUNDRY [Link] RT 01 RW 04 [Link]
16
KOTA
' OZZIL LOUDRY '' [Link] IRMA SURYANI RT 02 RW 10
17
[Link] KOTA
32
[Link] RT 01 RW 03 [Link]
SAKURA LOUNDRY
18 KOTA
BLP BLOK I NO.04 RT 03 RW 12
TRIO LOUNDRY
19 [Link] KOTA
[Link] RAJA LELA PUTRA RT 05 RW
UBAY EXCLUSIVE
20 03 [Link] TIMUR
LAUNDRY
21 CHELLY LOUNDRY [Link] GUNA I A No.6 RT 02 RW 10
Sumber: kantor camat pangkalan kerinci
[Link] dan Sumber Data
a. Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari responden melalui
wawancara dan kuisioner.
b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari instansi yang terkait yaitu
pengelola usaha Laundry dan buku catatan harian (buku kas) dari pemilik
Laundry di Kecamatan pangkalan kerinci.
E. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis adalah sebagai berikut :
a. Wawancara terstruktur, yaitu teknik pengumpulan data dengan wawancara
yang telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan
tertulis yang alternative jawabannya telah disediakan.
b. Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara pengambilan
dokumen-dokumen yang tlah ada tanpa ada pengolahan kembali, seperti
pencatatan harian.
33
F. Teknik Analisi Data
Data-data yang telah dikumpulkan kemudian dikelompokkan menurut
jenisnya masing-masing. Setelah itu dituangkan kedalam bentuk table dan akan
diuraikan secara deskriptif sehingga dapat diketahui apakah pengusaha Laundry
yang berada di Pangkalan kerinci telah menerapkan akuntansi. Kemudian ditarik
kesimpulan untuk disajikan dalam bentuk hasil penelitian.
34
BAB IV
GAMBARAN UMUM
A. Gambaran Umum Masing-Masing Usaha
Adapun responden dalam penelitian ini yaitu seluruh pengusaha laundry
yang terdapat di Kecamatan Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan antara lain.
1. ETIN LAUNDRY
Etin laundry ini beralamat di [Link] RT 05 RW 06 Pangkalan Kerinci. ini
didirikan pada tahun 2007. Usaha laundry ini memberikan jasa mencuci dan
menyetrika pakaian. Usaha ini tidak memiliki karyawan untuk membantu dalam
menjalankan usaha ini.
2. D TWO LOUNDRY
D two loundry ini beralamat di [Link] NO.33 RT 04 RW 06 Pangkalan
Kerinci. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2012. Usaha laundry ini
memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan
untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.
3. SYWA LAUNDRY
Sywa laundry ini beralamat di Jl. Taman sakura Residence BLOK D 21 RT 10
RW 08 Pangkalan Kerinci Timur. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2013.
Usaha laundry ini memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini
memiliki karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.
35
4. VIRA LAUNDRY
Vira laundry ini beralamat di [Link] Pangkalan Kerinci kota. Usaha
laundry ini didirikan pada tahun 2010. Usaha laundry ini memberikan jasa
mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan untuk membantu
dalam menjalankan usaha ini.
5. LAUNDRY Q MORA
Laundry q mora ini beralamat di [Link] BTN Lama RT 03 RW 10
Pangkalan Kerinci kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2014. Usaha
laundry ini memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini tidak
memiliki karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.
6. BONA LOUNDRY
Bona loundry ini beralamat di [Link] No.92 RT 01 RT 02 Pangkalan
Kerinci timur. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2013. Usaha laundry ini
memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan
untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.
7. RG LOUNDRY
Rg loundry ini beralamat di [Link] bilang bungsu RT 03 RW 05 Pangkalan
Kerinci kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2011. Usaha laundry ini
memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini tidak memiliki
karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.
8. LIMA SAUDARA LAUNDRY
Lima saudara laundry ini beralamat di [Link] RT 04 RW 04 Pangkalan
Kerinci kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2015. Usaha laundry ini
36
memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan
untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.
9. GTM LOUNDRY
Gtm loundry ini beralamat di [Link] RT 02 RW 07 Pangkalan Kerinci
kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2013. Usaha laundry ini memberikan
jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Dalam menjalankan usahanya pemilik
mempunyai karyawan untuk untuk membantu dalam kegiatan usahanya.
10. EBY LOUNDRY
Eby loundry ini beralamat di [Link] RT.003/RW.002 Pangkalan Kerinci.
Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2015. Usaha laundry ini memberikan jasa
mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan untuk membantu
dalam menjalankan usaha ini.
11. MUTIARA LOUNDRY
Mutiara loundry ini beralamat di [Link] RT 02 RW 06 Pangkalan Kerinci
kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2016. Usaha laundry ini memberikan
jasa mencuci dan menyetrika [Link] ini memiliki karyawan untuk
membantu dalam menjalankan usaha ini.
12. LOUNDRY LILY
Laundry lily ini beralamat di [Link] GG Pinang RT 03 RW 02 Pangkalan
Kerinci. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2009. Usaha laundry ini
memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini tidak memiliki
karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.
37
13. MJ LOUNDRY
Mj loundry ini beralamat di [Link] RT 01 RW 01 Pangkalan Kerinci.
Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2008. Usaha laundry ini memberikan jasa
mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan untuk membantu
dalam menjalankan usaha ini.
14. SHE LOUNDRY
She loundry ini beralamat di [Link] Lama RT 04 RW 10 Pangkalan
Kerinci kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2012. Usaha laundry ini
memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan
untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.
15. PINK LOUNDRY
Pink loundry ini beralamat di Perum Graha Pelalawan RT 02 RW 08
Pangkalan Kerinci. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2013. Usaha laundry
ini memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki
karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.
16. PRINCE LOUNDRY
Prince laundry ini beralamat di [Link] RT 01 RW 04 Pangkalan Kerinci
kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2007. Usaha laundry ini memberikan
jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan untuk
membantu dalam menjalankan usaha ini.
38
17. OZZIL LOUDRY
Ozzil loundry ini beralamat di [Link] Irma Suryani RT 02 RW 10 Pangkalan
Kerinci kota. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2016. Usaha laundry ini
memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan
untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.
18. SAKURA LOUNDRY
Sakura laundry ini beralamat di [Link] RT 01 RW 03 Pangkalan
Kerinci [Link] laundry ini didirikan pada tahun 2013. Usaha laundry ini
memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki karyawan
untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.
19. TRIO LOUNDRY
Trio loundry ini beralamat di BLP BLOK I NO.04 RT 03 RW 12 Pangkalan
Kerinci. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2008. Usaha laundry ini
memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini tidak memiliki
karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.
20. UBAY EXCLUSIVE LAUNDRY
Ubay exclusive laundry ini beralamat di [Link] Raja Lela Putra RT 05 RW
03 Pangkalan Kerinci timur. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2011. Usaha
laundry ini memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini memiliki
karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.
39
21. CHELLY LOUNDRY
Chelly loundry ini beralamat di [Link] Guna I A No.6 RT 02 RW 10
Pangkalan Kerinci. Usaha laundry ini didirikan pada tahun 2006. Usaha laundry
ini memberikan jasa mencuci dan menyetrika pakaian. Usaha ini tidak memiliki
karyawan untuk membantu dalam menjalankan usaha ini.
40
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai peranan akuntansi yang dilakukan
dalam kegiatan usaha laundry yang diperoleh dari hasil survey, wawancara,
observasi maupun kuesioner pada masing-masing usaha laundry di kecamatan
pangkalan kerinci.
A. Statistik Deskriptif
a. Gambaran Umum Identitas Responden
Adapun identitas responden yang penulis dapat dari hasil penelitian yang
dilakukan di Kecamatan Pangkalan Kerinci sebagai berikut :
1. Tingkat Umur Responden
Untuk lebih jelas tingkatan umur pengusaha laundry yang ada di
Kecamatan Pangkalan Kerincidisajikan dalam tabel V.1 :
Tabel V.1
Distribusi Responden Dirinci Dari Tingkat Umur
No Tingkat Umur (Tahun) Jumlah Persentase
1 20-30 4 19%
2 31-40 7 33%
3 41-50 8 38%
4 51-Keatas 2 10%
Jumlah 21 100%
Sumber : Data hasil penelitian lapangan
Dari tabel V.1 dapat diketahui bahwa yang paling banyak respondennya
adalah pada umur yang berkisar antara 41 - 50 tahun berjumlah 8 responden atau
41
38%, kemudian diikuti oleh responden yang berumur 31 - 40 tahun berjumlah 7
responden atau 33%, lalu diikuti oleh responden yang berumur 20 – 30 tahun
berjumlah 4 responden atau 19% dan responden yang berumur 51 tahun keatas
berjumlah 2 responden atau 10%. Dilihat dari umur responden, dapat dikatakan
bahwa persentase paling tinggi adalah responden yang berada pada usia produktif.
2. Tingkat Pendidikan Responden
Untuk mengetahui lebih jelas tentang jumlah responden dari tingkat
pendidikan dapat dilihat dalam tabel V.2 :
Tabel V.2
Distribusi Responden Dirinci Menurut Tingkat Pendidikan
No Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase
1 SMP 4 19%
2 SMA 12 57%
3 DIPLOMA 2 10%
4 STRATA 1 3 14%
Jumlah 21 100%
Sumber : Data hasil penelitian lapangan
Dari tabel V.2 diatas dapat dilihat bahwa pada umumnya responden
banyak yang menamatkan pendidikannya hanya pada tingkat SMP yang
berjumlah 4 responden atau 19%, lalu tamatan SMA (sederajat)berjumlah 12
responden atau 57%, DIPLOMA berjumlah 2 responden atau 10%, kemudian
STRATA 1 sebanyak 3 responden atau 14%.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis, karena dorongan oleh
keluarga dan teman serta sulitnya mendapatkan pekerjaan maka mereka
42
mendirikan usaha kecil yang dikelola dan diatur sendiri serta dapat juga
menciptakan lapangan pekerjaan.
3. Lama Usaha Responden
Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis mengenai lamanya
berusaha, maka akan dijelaskan lebih rinci didalam tabel berikut ini:
Tabel V.3
Distribusi Responden Dirinci Menurut Lama Usaha
No Lama Berusaha (Tahun) Jumlah Persentase
1 1-5 5 24%
2 6-10 11 52%
3 11-15 5 24%
Jumlah 21 100 %
Sumber : Data hasil penelitian lapangan
Berdasarkan tabel IV.3 tersebut, dapat dilihat bahwa sebagian besar lama
responden dalam menjalani usahanya antara 1-5 tahun sebanyak 5 responden atau
24%, untuk responden yang lama berusaha antara 6-10 tahun sebanyak 11
responden atau52%, kemudian responden yang lama berusaha antara 11-15 tahun
sebanyak 5 responden atau 24%.
b. Modal Usaha
Dari hasil penelitian yang telah penulis lakukan, diketahui bahwa modal
usaha dari masing-masing responden terdapat perbedaan. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel V.4 :
43
Tabel V.4
Distribusi Responden Berdasarkan Modal Usaha
No Modal Usaha (Rp) Jumlah Persentase
1 5.000.000-20.000.000 7 33%
2 21.000.000-40.000.000 12 57%
3 41.000.000-80.000.000 2 10%
Jumlah 21 100%
Sumber : Data hasil penelitian lapangan
Dari tabel V.4 diatas dapat diketahui bahwa modal usaha sebagian besar
pengusaha laundry adalah Rp. 5.000.000 – 20.000.000 berjumlah 7 pengusaha
laundry atau 33%.12 pengusaha laundry atau 57% mempunyai modal Rp.
21.000.000 – 40.000.000. dan 2 pengusaha laundryatau 10% mempunyai modal
Rp. 41.000.000 – 80.000.000.
c. Respon Responden Terhadap Pelatihan Dalam Bidang Pembukuan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan, diketahui bahwa
sebagian dari pengusaha laundry di Kecamataan Pangkalan Kerinci ada beberapa
pemilik usaha yang pernah mendapat pelatihan dalam bidang pembukuan. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat tabel berikut ini:
Tabel V.5
Respon Responden Terhadap pelatihan Bidang Pembukuan
No Respon Responden Jumlah persentase
1 Pernah mendapat pelatihan 3 14%
2 Tidak pernah mendapat pelatihan 18 86%
Jumlah 21 100%
44
Sumber : Data hasil penelitian lapangan
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar pemilik usaha laundry
tidak pernah mendapat pelatihan dalam bidang pembukuan dengan jumlah
18responden atau 86%, kemudian yang pernah mendapat pelatihan dalam bidang
bidang pembukuan berjumlah 3 responden atau 14%.
Hal ini terjadi karena mereka beranggapan bahwa usaha yang mereka
jalankan masih tergolong kecil, sehingga pembukuan yang mereka buat tidak
dapat dilakukan dengan baik dan benar. Dengan adanya pelatihan dibidang
pembukuan akan sangat berpengaruh terhadap kelancaran usaha baik dari segi
perencanaan maupun dalam pengambilan keputusan.
d. Jumlah Karyawan
Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan, bahwa jumlah
karyawan dari setiap pengusaha laundry berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel V.6
Tabel V.6
Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Karyawan
NO NAMA USAHA Jumlah karyaawan
1 ETIN LAUNDRY -
2 D TWO LOUNDRY 1
3 SYWA LAUNDRY 2
4 VIRA LAUNDRY 1
5 LAUNDRY Q MORA -
6 BONA LOUNDRY 1
7 RG LOUNDRY -
8 LIMA SAUDARA LAUNDRY 1
45
9 GTM LOUNDRY 1
10 EBY LOUNDRY 1
11 MUTIARA LOUNDRY 2
12 LOUNDRY LILY -
1
13 MJ LOUNDRY
14 SHE LOUNDRY 1
15 PINK LOUNDRY 3
16 PRINCE LOUNDRY 1
17 ' OZZIL LOUDRY '' 1
18 SAKURA LOUNDRY 3
-
19 TRIO LOUNDRY
20 UBAY EXCLUSIVE LAUNDRY 1
21 CHELLY LOUNDRY -
Sumber : Data hasil penelitian lapangan
Berdasarkan tabel V.6 tersebut diketahui banyak jumlah pekerja masing-
masing usaha laundry tidak sama, jumlah terbanyak adalah usaha laundry yang
memperkerjakan 3 orang karyawan yaitu 2 pengusaha laundry, untuk pengusaha
yang memperkerjakan 2 orang karyawan yaitu 2 pengusaha laundry, untuk
pengusaha yang memperkerjakan 1 orang karyawan yaitu 11 pengusaha laundry,
dan pengusaha yang tidak mempunyai karyawan yaitu sebanyak 6 pengusaha
laundry.
B. Analisis Konsep-Konsep Dasar Akuntansi
A. Konsep Dasar Pencatatan
1. Penerimaan Kas dan Pengeluaran Kas
Buku Penerimaan Kas
46
Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan pada pengusaha
laundry, yang melakukan pencatatan terhadap transaksi yang terjadi dalam
aktivitas usahanya dapat dilihat pada tabel V.7 :
Tabel V.7
Buku Pencatatan Penerimaan Kas
No Respon Responden Jumlah Persentase
1 Mempunyai buku catatan penerimaan kas 21 100
2 Tidak mempunyai buku catatan penerimaan kas - 0
Jumlah 21 100%
Sumber : Data hasil penelitian lapangan
Berdasarkan tabel V.7 diatas terlihat bahwa, semua responden melakukan
pencatatan terhadap penerimaan kas atau sebesar 100%. Akan tetapi cara
mencatatnya masih sangat sederhana. Hal ini terlihat dari data yang di dapat
penulis, pencatatan penerimaan kas yang dilakukan oleh pengusaha laundry masih
belum teratur, ada yang terkesan asal-asalan sehingga sulit dipahami oleh orang
lain.
Buku Pengeluaran Kas
Diketahui responden yang melakukan pencatatan pengeluaran kas adalah
sebagai berikut :
47
Tabel V.8
Buku Pencatatan Pengeluaran Kas
No Respon Responden Jumlah Persantase
1 Mempunyai buku catatan pengeluaran kas 17 81%
2 Tidak mempunyai buku catatan pengeluaran kas 4 19%
Jumlah 21 100%
Sumber : Data hasil penelitian lapangan
Berdasarkan tabel V.8 diatas dari penelitian yang dilakukan bahwa
terdapat 17 responden yang melakukan pencatatan terhadap pengeluaran kas atau
sebesar 81% sedangkan yang tidak melakukan pencatatan terhadap pengeluaran
kas sebanyak 4 responden atau sebesar 19%.
Adapun komponen-komponen yang dimasukkan kedalam pencatatan
pengeluaran kas antara lain : biaya gaji karyawan, biaya listrik, biaya kebersihan,
biaya arisan, biaya servis peralatan, biaya makan pemilik usaha dan sebagainya.
2. Penjualan Kredit (Piutang Usaha)
a. Respoden yang melakukan penjualan kredit
Tabel V.9
Responden yang melakukan Penjualan kredit
No Respon Responden Jumlah Persentase
1 Melakukan Penjualan secara kredit - -
2 Tidak melakukan Penjualan secara kredit 21 100%
Jumlah 21 100%
Sumber : Data hasil penelitian lapangan
Berdasarkan tabel V.9 diatas menunjukkan bahwa dari semua responden
atau 100% tidak melakukan penjualan secara kredit.
48
b. Respoden yang melakukan pencatatan piutang usaha
Diketahui responden yang melakukan pencatatan terhadap piutang adalah
sebagai berikut :
Tabel V.10
Buku Pencatatan Piutang
No Respon Responden Jumlah Persentase
1 Melakukan Pencatatan Terhadap Piutang - -
2 Tidak melakukan Pencatatan Terhadap Piutang 21 100%
Jumlah 21 100%
Sumber : Data hasil penelitian lapangan
Berdasarkan tabel V.10 diatas dari penelitian yang dilakukan bahwa semua
respoden atau 100% tidak melakukan pencatatan terhadap [Link]
disimpulkan bahwa pengusaha laundry di pangkalan kerinci tidak melakukan
pencatatan terhadap piutang karena transaksi bersifat tunai.
Adapun kegunaan Buku piutang tersebut yaitu untuk mengetahui besarnya
piutang yang masih harus ditagih dalam bentuk uang yang terjadi akibat transaksi
tidak secara tunai. Apabila dalam suatu usaha tidak melakukan pencatatan
terhadap piutang, maka akibatnya pengusaha tersebut tidak dapat mengetahui
berapa besarnya tagihan-tagihan dalam bentuk uang terhadap pihak tertagih yang
timbul akibat transaksi tidak secara tunai dan jasa yang timbul akibat pinjaman-
pinjaman yang telah dilakukan oleh karyawannya.
3. Pembelian kredit (utang usaha)
a. Respoden yang melakukan pembelian kredit
49
Tabel V.11
Responden yang melakukan Pembelian kredit
No Respon Responden Jumlah Persentase
1 Melakukan Pembelian secara kredit - -
2 Tidak melakukan Pembelian secara kredit 21 100%
Jumlah 21 100%
Sumber : Data hasil penelitian lapangan
Berdasarkan tabel V.11 diatas dari penelitian yang dilakukan bahwa semua
respoden atau 100% tidak melakukan pembelian secara [Link] disimpulkan
bahwa pengusaha laundry di pangkalan kerinci tidak melakukan pencatatan
terhadap utang karena karena kebanyakan dari responden melakukan transaksi
pembelian bersifat tunai.
b. Respoden yang melakukan pencatatan utang usaha
Pada umumnya responden mengetahui akan utang. Akan tetapi dalam
pencatatanya masih banyak responden yang tidak melakukan pencatatan akan
hutang tersebut. Pencatatan akan hutang tersebut hanya berdasarkan faktur-faktur
pada saat terjadinya utang. Untuk melihat lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel
V.12 berikut ini:
50
Tabel V.12
Buku Pencatatan Utang
No Respon Responden Jumlah Persentase
1 Mempunyai buku pencatatan utang - -
2 Tidak mempunyai buku pencatatan utang 21 100%
Jumlah 21 100%
Sumber : Data hasil penelitian lapangan
Berdasarkan tabel V.12 diatas menunjukkan bahwa dari semua responden
atau 100% tidak mempunyai buku pencatatan utang.
Dalam akuntansi ada 2 dasar pencatatan yaitu kas (Cash basis) dan dasar
akrual (Accrual basis) dimana basis kas merupakan dasar pengakuan atas suatu
transaksi ketika kas sudah di terima atau [Link] basis akrual
adalah dasar pengakuan atas suatu transaksi yang terjadi tanpa memperhatikan
diterima atau dikeluarkannya [Link] demikian dapat diketahui apakah para
pelaku usaha laundry menerapkan konsep dasar pencatatan basis akrual melalui
catatan penjualan atau pembelian secara kredit dengan mencatat utang usaha atau
piutang [Link] para pelaku usaha laundry menerapkan konsep dasar
pencatatan basis kas dengan tidak melakukan penjualan kredit ataupun pembelian
secara kredit.
Dari penjelasan tabel-tabel diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dasar
pencatatan yang dilakukan oleh para pengusaha laundry dalam melakukan
pencatatan usahanya adalah dengan menerapakan konsep akuntansi yaitu dasar
pencatatan cash basis yaitu dimana penerimaan dan pengeluaran kas akan dicatat
dan diakui apabila kas sudah diterima atau dikeluarkan. Jadi masih banyak pelaku
51
usaha laundry yang menggunakan konsep dasar pencatatan cash basis, hal itu
dikarenakan bahwa usaha laundry rata-rata melakukan transaksi yang bersifat
tunai dan tidak melakukan penjualan dan pembelian [Link] itu sistem
pencatatan yang digunakan pengusaha masih menggunakan sistem akuntansi
tunggal (single entry) dimana pencatatan dilakukan pada buku harian saja, dengan
demikian pengusaha laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci belum menerapkan
konsep Accrual Basis untuk pencatatan dalam usaha yang mereka jalani.
B. Konsep Kesatuan Usaha
1. Pemisahan Pencatatan Keuangan Usaha Dan Rumah Tangga
Dari hasil penelitian yang dilakukan pada usaha laundry di Kecamatan
Pangkalan kerinci diketahui bahwa kekurangan dari sistem pencatatan yang
dilakukan oleh usaha laundry adalah tidak adanya pemisahan antara keuangan
pribadi dengan keuangan usaha. Untuk lebih jelasnya maka dapatdilihat dari tabel
V.13 :
Tabel V.13
Pemisahan Pencatatan Keuangan Perusahaan Dengan Keuangan Rumah
Tangga Responden
No Respon responden Jumlah Persentase
1 Memisahkan pencatatan keuangan - -
perusahaan dengan keuangan rumah tangga
2 Tidak memisahkan pencatatan keuangan 21 100%
perusahaan dengan keuangan rumah tangga
Jumlah 21 100%
Sumber : Data hasil penelitian lapangan
52
Berdasarkan tabel V.13 diatas dapat dilihat bahwa dari semua responden
atau 100 % yang tidak memisahkan antara keuangan perusahaan dengan keuangan
rumah tangga.
Akibat yang ditimbulkan apabila tidak melakukan pemisahan pencatatan
keuangan perusahaan dan keuangan rumah tangga yaitu akan mempengaruhi
dalam perhitugan laba rugi usaha dimana biaya yang diperhitungkan dalam
menghitung laba atau rugi usaha akan semakin besar dimana sehingga tidak
mencerminkan posisi keuangan perusahaan yang sebenarnya.
Sebaliknya pencatatan terhadap penerimaan dan pengeluaran harus
dilakukan dengan cara memisahkan antara penerimaan dan pengeluaran kas milik
perusahaan dengan penerimaan dan pengeluaran kas milik pribadi agar tidak
terjadi kesimpang siuran terhadap kas tersebut.
2. Biaya - Biaya Dalam Perhitungan Laba Rugi
Dalam melakukan perhitungan laba rugi usaha yang dilakukan responden
ada banyak biaya-biaya yang diperhitungkan, hal ini dapat dilihat pada tabel V.14:
Tabel V.14
Biaya – Biaya Dalam Perhitungan Laba Rugi
No Biaya-biaya Ya % Tidak %
1 Biaya sewa tempat 6 35 11 65
2 Biaya Gaji Karyawan 13 76 4 24
3 Biaya listrik 17 100 0 0
4 Biaya Publikasi 4 24 13 76
5 Biaya servis pelaratan 0 0 17 100
6 Biaya perlengkapan 17 100 0 0
7 Biaya rumah tangga 17 100 0 0
53
Dari tabel V.14 dapat dilihat diketahui bahwa pengusaha laundry dalam
membuat laporan laba rugi belum tepat atau belum memenuhi konsep dasar
akuntansi, karena masih ada yang memasukkan pengeluaran rumah tangga dalam
perhitungan laba rugi yang telah di buat tersebut belum atau tidak menunjukkan
hasil sebenarnya
Dari 17 respoden yang mencatat biaya sewa tempat sebanyak 6 respoden
atau 35 % yang memperhitungkannya, sedangkan 11 respoden lainnya atau 65 %
tidak memperhitungkan beban tersebut, karena mereka membuka usaha di tempat
sendiri.
Dari 17 respoden yang mencatat biaya gaji karyawan sebanyak 13
respoden atau 76 % yang memperhitungkannya, sedangkan 4 respoden lainnya
atau 24 % tidak memperhitungkan biaya tersebut, karena mereka tidak memiliki
karyawan dalam menjalankan usaha nya.
Dari 17 respoden yang mencatat biaya listrik yaitu seluruh respoden atau
100 % yang memperhitungkannya, karena pengusaha membutuhkan listrik dalam
menjalankan usaha nya.
Dari 17 respoden yang mencatat biaya publikasi adalah sebanyak 4
respoden atau 24% yang memperhitungkannya, sedangkan 13 respoden lainnya
atau 76 % tidak memperhitungkan beban tersebut, karena pengusaha merasa tidak
perlu mencatat beban tersebut
Dari 17 respoden yang mencatat biaya servis peralatan yaitu seluruh
respoden atau 100% tidak memperhitungkan beban tersebut, karena pengusaha
merasa peralatan mereka miliki masih dalam kondisi baik atau bagus.
54
Dari 17 respoden yang mencatat biaya perlengkapan yaitu seluruh
respoden atau 100 % yang memperhitungkannya, karena pengusaha
membutuhkan perlengkapan dalam menjalankan usahanya.
Dari 17 respoden yang mencatat biaya rumah tangga yaitu seluruh
respoden atau 100 % yang memperhitungkannya , karena pengusaha mencatat
semua pengeluaran rumah tangganya di data penulis dapatkan.
Dengan demikian penulis dapat menyimpulkan bahwa pada usaha laundry
telah menerapkan konsep [Link] hal ini belum sepenuhnya semua
biaya dan beban belum di hitung dalam laporan laba.
Konsep kesatuan usaha yaitu pemisah transaksi usaha dengan transaksi
pribadi (rumah tangga). Konsep ini menginginkan agar suatu transaksi lain seperti
transaksi untuk pribadi pemilik usaha. Bagi usaha laundry yang tidak memisahkan
pencatatan keuangan usaha dengan keuangan pribadi dikarenakan usaha sendiri
dan dikelola oleh anggota keluarga jadi tidak perlu ada pemisahaan keuangan
pribadi dengan keuangan usaha. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
pengusaha laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci belum menerapkan konsep
kesatuan usaha dalam menjalankan usaha mereka
C. Konsep Periode Waktu
1. Perhitungan laba rugi
Perhitungan laba rugi sangat penting dilakukan untuk mengetahui
perkembangan usaha dan mengetahui keuntungan ataupun kerugian. Dari hasil
penelitian yang dilakukan, terdapat data yang menunjukkan bahwa sebagian besar
55
responden telah melakukan pencatatan laba rugi. Berikut adalah tabel perhitungan
laba rugi :
Tabel V.15
Distribusi Responden Menurut Perhitungan Laba Rugi
No Respon Responden Jumlah Persentase
1 Melakukan Perhitungan Laba Rugi 17 81 %
2 Tidak Melakukan Perhitungan Laba Rugi 4 19 %
Jumlah 21 100 %
Sumber : Data hasil penelitian lapangan
Berdasarkan tabel V.15 diketahui bahwa 17 responden atau 81 %
melakukan perhitungan laba rugi, sedangkan 4 responden atau 19 % tidak
melakukan perhitungan laba rugi.
Kegunaan dari perhitungan laba rugi ialah agar pengusaha dapat
mengetahui keuntungan atau kerugian yang terjadi dalam satu periode dan terus
beroperasi dalam jangka waktu yang lama.
Jika tidak mencatat perhitungan laba rugi akan berdampak pada tidak
dapat mengetahui berapa jumlah pendapatan dan keuntungan yang ia dapat selama
menjalankan usahanya, tidak dapat memprediksi kerugian atau beban-beban usaha
yang harus ia keluarkan demi menjalankan usahanya tersebut, dan tidak dapat
memprediksi kelangsungan usaha yang ia jalani.
2. Periode Pelaporan Perhitungan Laba Rugi
Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis, selain perbedaan biaya yang
diperhitungkan dalam menghitung laba rugi, perbedaan juga terjadi pada masa
56
perhitungan laba rugi yang dilakukan oleh pengusaha laundry diKecamatan
Pangkalan Kerinci. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel V.16
Periode Pelaporan Perhitungan Laba Rugi
No Periode Perhitungan Laba Rugi Jumlah Persentase
1 Masa satu minggu 4 24 %
2 Masa satu bulan sekali 13 76 %
3 Masa satu tahun sekali - -
Jumlah 17 100
Sumber : data hasil penelitian lapangan
Berdasarkan tabel V.10 diketahui bahwa pengusaha laundry melakukan
perhitungan laba rugi satu minggu sekali berjumlah 4 responden atau 24 %,
sedangkan pengusaha laundry yang melakukan perhitungan laba rugi satu bulan
sekali berjumlah 13 responden atau 76 %, sedangkan pengusaha yang melakukan
perhitungan laba rugi satu tahun sekali 0 responden atau 0 %.
Periode waktu adalah konsep yang menyatakan bahwa akuntansi itu adalah
periode waktu dimana akuntansi sebagai dasar dalam menentukan kemajuan suatu
usaha yang dinilai secara berkala. Untuk mengetahui apakah para pengusaha
laundry sudah menerapkan konsep periode waktu dengan benar salah satunya
adalah berdasarkan dengan mengetahui kapan perhitungan laba rugi dari usaha
tersebut dilakukan, apakah dilakukan sekali dalam seminggu, sekali dalam
sebulan, maupun sekali dalam setahun.
Berdasarkan dengan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa
pengusaha laundry telah menerapkan konsep periode waktu. Hal itu dapat dilihat
dari periode perhitunan laba rugi yang masing-masing usaha jalankan
57
D. Konsep Kontinuitas Usaha
1. Kegunaan Perhitungan Laba Rugi
Dari hasil penelitian yang telah di lakukan bahwa, dapat dilihat seluruh
responden memiliki anggapan bahwa dari perhitungan Laba/Rugi tersebut dapat
digunakan untuk dijadikan pedoman mengukur keberhasilan usaha ini. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat dari table dibawah ini
Tabel V.17
Respon responden Terhadap Kegunaan Perhitungan Laba Rugi
No Respon Responden Jumlah Persentase
1 Dapat sebagai pedoman dalam mengukur 17 81 %
keberhasilan usaha
2 Tidak dapat sebagai pedoman dalam 4 19 %
mengukur keberhasilan usaha
Jumlah 21 100%
Sumber : data hasil penelitian lapangan
Berdasarkan tabel V.17 diatas, diketahui bahwa pada umumnya
perhitungan Laba/Rugi yang respoden lakukan dapat dijadikan pedoman
mengukur keberhasilan [Link] ini dapat dilihat dari 17 Responden atau
sebanyak 81 %,sedangkan 4 responden atau 19 % merasa perhitungan Laba/Rugi
tidak dapat dijadikan pedoman mengukur keberhasilan usaha.
2. Pencatatan Aset Tetap
Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapat hasil bahwa tidak ada
responden yang melakukan pencatatan terhadap aset tetap, Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada table V.18 berikut ini:
Tabel V.18
Pencatatan Terhadap Aset Tetap
58
No Respon Responden Jumlah Persentase
1 Melakukan pencatatan aset tetap - 0
2 Tidak melakukan pencatatan aset tetap 21 100
Jumlah 21 100%
Sumber : data hasil penelitian lapangan
Dari tabel V.18 diatas dapat dilihat dari 21 Responden atau sebanyak
100% semuanya tidak melakukan pencatatan aset [Link] tetap yang dimiliki
pengusaha berupa mesin cuci, gas uap, setrika.
Dampak yang akan timbul jika tidak mencatat aset tetap akan
mempengaruhi nilai penyusutannya seperti tidak mengetahui harga perolehan
suatu aset, tidak dapat memperkirakan nilai residu, tidak mengetahui umur
ekonomis / umur manfaat adalah perkiraan usia aset atau batas waktu penggunaan
aset.
3. Pencatatan Penyusutan Aset Tetap
Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapat hasil bahwa tidak ada
responden yang melakukan pencatatan terhadap penyusutan aset tetap, Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel V.19
Pencatatan Terhadap Penyusutan Aset Tetap
No Respon Responden Jumlah Persentase
1 Melakukan penyusutanatas aset tetap - -
2 Tidak melakukan penyusutan atas aset tetap 21 100
Jumlah 21 100%
Sumber : data hasil penelitian lapangan
59
Dari tabel V.19 diatas dapat dilihat dari 21 Responden atau sebanyak
100% semuanya tidak melakukan pencatatan penyusutan aset [Link]
perusahan laundry tidak melakukan pencatatan penyusutan terhadap aset tetap
karena dianggap tidak berpengaruh pada laporan laba rugi usahanya.
4. Kebutuhan Responden Terhadap Sistem Pembukuan
Dari hasil penelitian yang telah di lakukan bahwa, dimana pada umumnya
pengusaha laundry membutuhkan sistem pembukuan yang dapat membantu dalam
menjalankan usahanya, dapat di lihat pada tabel V.20 :
Tabel V.20
Kebutuhan Terhadap Pembukuan
No Respon Responden Jumlah Persentase
1 Membutuhkan sistem pembukuan 21 100
2 Tidak Membutuhkan sistem pembukuan - 0
Jumlah 21 100%
Sumber : data hasil penelitian lapangan
Dari tabel V.20 diatas dapat dilihat dari 21 Responden atau sebanyak
100% semuanya membutuhkan sistem pembukuan dalam menjalankan usaha
mereka. Hal ini berguna untuk mengetahui pendapatan yang mereka dapat dalam
satu periode atau satu bulan.
Berdasarkan informasi diatas diketahui bahwa pada seluruh pengusaha
laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci membutuhkan sistem pembukuan,
karena mereka mengetahui seberapa pentingnya manfaat pembukuan untuk usaha
yang mereka [Link] tidak langsung mereka membutuhkan sistem
pembukuan yang tidak hanya dibutuhkan perusahaan besar saja tetapi juga
dibutuhkan oleh pengusaha kecil dalam menjalankan usaha mereka.
60
Konsep kontinuitas usaha adalah konsep yang menganggap bahwa suatu
kesatuan usaha diharapkan akan terus beroperasi dengan menguntungkan dalam
jangka waktu yang tidak terbatas dan aktivitas perusahaan akan berlangsung terus
dan akan dilanjutkan dimasa depan dan tidak ada maksud atau keinginan untuk
melikuidasi usahanya.
Dari penelitian yang dilakukan penulis dapat menyimpulkan bahwa semua
pengusaha laundry belum menerapakan konsep kontuinitas [Link] ini dapat
dilihat dari tidak adanya responden yang melakukan pencatatan dan perhitungan
terhadap aset tetapnya.
5. Konsep Penandingan
Konsep penandingan yaitu konsep yang mendukung pelaporan antara
pendapatan dan beban terkait pada periode yang sama. Dengan kata lain konsep
ini menandingkan pendapatan dan beban dalam laporan laba rugi pada periode
yang sama.
Dari hasil penelitian padaTabel V.14 penulis dapat menyimpulkan bahwa
pada usaha laundry di Kecamatan Pangkaan Kerinci telah menerapkan konsep
[Link] hal ini belum sepenuhnya semua biaya dan beban belum di
hitung dalam laporan laba rugi..Efek dari tidak melakukan konsep penandingan
yang tepat yaitu laba yang dihasilkan tidak menunjukkan jumlah laba yang
sebenarnya.
61
BAB VI
PENUTUP
Dari pembahasan yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya
mengenai penerapan akuntansi, maka pada bab ini penulis mencoba menarik
kesimpulan dan mengemukakan beberapa saran yang kiranya dapat menjadi
masukan untuk perkembangan usaha bagi pengusaha laundry di Kecamatan
Pangkalan Kerinci.
A. Kesimpulan
1. Dasar Pencatatan
Secara umum dasar pencatatan yang digunakan oleh pengusaha laundry
adalah cash basic, dimana penerimaan dan pengeluaran kas akan dicatat
dan diakui apabila kas sudah diterima atau dikeluarkan. Buku-buku yang
digunakan adalah Buku catatan kas untuk mencatat penerimaan dan
pengeluaran kas, serta tidak mempunyai buku catatan piutang dan buku
catatan hutang, usaha ini hanya mengandalkan faktur dan nota.
2. Konsep kesatuan usaha
Pengusaha laundry di Kecamatan Pangkalan Kerinci belum menerapkan
konsep kesatuan usaha dimana pengusaha belum melakukan pemisahan
transaksi usaha dengan rumah tangganya.
3. Konsep periode waktu
Dalam melakukan perhitungan laba rugi pada umumnya usaha laundry
mempunyai periode waktu yang berbeda-beda tentang perhitungan laba
rugi terdiri dari periode satu minggu sekali, periode satu bulan sekali,
62
periode satu tahun [Link] laba rugi pada usaha laundry yaitu
dari pendapatan dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan. Hal ini
sudah sesuai dengan konsep time period.
4. Konsep kontinuitas usaha (going concern)
Pada penerapan konsep kelangsungan usaha (going concern) pengusaha
belum menerapkannya, karena pengusaha tidak melakukan penyusutan
terhadap aktiva tetap perusahaan seperti mesin cuci, gas uap, dan setrika.
Hal ini berdampak pada kelangsungan usahanya, karena pengusaha tidak
mengetahui kapan masa umur permakaian mesinnya.
5. Konsep penandingan (matching concept)
Dari hasil penelitian yang dilakukan dalam membuat laba rugi pengusaha
laundry melakukan perhitungan yaitu dengan melihat pendapatan yang
diperoleh dari penjualan kemudian dikurangi dengan pengeluaran yang
telah dicatat. Konsep akuntansi yang mendukung pelaporan pendapatan
dan beban pada periode yang sama ini disebut konsep penandingan
(matching concept) namun dalam hal ini tidak terpenuhi karena pada usaha
ini tidak adanya penyesuaian.
6. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa penerapan akuntansi yang
dilakukan pengusaha laundrydi Kecamatan Pangkalan Kerinci belum
sesuai dengan konsep dasar akuntansi.
63
B. Saran – Saran
1. Sebaiknya pengusaha laundry menerapkan pencatatan akuntansi yang
baik dan benar karena dengan menerapkan pencatatan akuntansi yang
baik dan benar dapat membantu dalam mengidentifikasi, mengukur dan
melaporkan informasi ekonomis serta dapat mengambil keputusan dengan
lebih tegas dan mantap setelah memahami proses tersebut.
2. Untuk pengusaha laundry yang selama ini tidak pernah mendapat
pelatihan cara melakukan pembukuan serta penerapan akuntansi yang
baik dan benar maka seharusnya meminta atau membuat permohonan
kepada pemerintah supaya perusahaan-perusahaan kecil juga diperhatikan
mengenai pelatihan-pelatihan dibidang tersebut atau membuat buku
pencatatan terpisah antara buku pemasukan kas, buku pengeluaran kas,
buku hutang dan piutang.
3. Sebaiknya pengusaha melakukan pencatatan terhadap aktiva tetapnya
seperti mesin cuci, gas uap, dan setrika, serta melakukan penyusutan
terhadapnya agar mengetahui masa umur manfaat.
4. Untuk pengusaha laundry sebaiknya menerapkan perhitungan laba rugi
sesuai dengan konsep dan dasar akuntansi, karena dengan perhitungan
laba rugi maka usaha laundry akan mudah mengetahui keuntungan atau
kerugian dari usaha yang dikelolanya dan sebaiknya biaya-biaya
kebutuhan sehari atau biaya pengeluaran rumah tangga jangan
digabungkan dengan biaya pengeluaran perusahaan sehingga
pencatatannya yang ada nantinya tidak efektif dan efisien.
64
Contoh bentuk buku harian sederhana:
Laundry
Buku harian
Tanggal Keterangan debit Kredit
Sumber : data olahan
Contoh bentuk laporan laba rugi sederhana:
Laundry
Laporan laba rugi
Untuk bulan yang berakhir 31desember 20xx
Penjualan [Link]
Beban operasional
Biaya sewa tempat
Biaya gaji karyawan
Biaya listrik
Biaya publikasi
Biaya servis peralatan
Biaya perlengkapan
Biaya lain-lain
Jumlah biaya operasi Rp.xxxx_
Laba bersih [Link]
Sumber : data olahan
65
DAFTAR PUSTAKA
Albertus Indratno, 2013, Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi, Dunia cerdas,
Yogyakarta.
Herry, 2014, Akuntansi Pemula, Gava Media,Yogyakarta.
Jr,Walter, T. Harison dkk, 2012, Akuntansi Keuangan, Erlangga, Jakarta.
Kieso, Donald E. dan Jerry J. Weygandt, 2009, Intermediate Accounting, jilid 1,
Edisi Revisi, Alih Bahasa Herman Wibowo, Penerbit Binarupa Aksara,
Jakarta.
Mulyadi, 2013, Sistem Akuntansi, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Mulyani, Destri, 2009, Analisis Penerapan Akuntansi Pada Usaha Bengkel
DiKecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu, Universitas Islam
Riau, Pekanbaru.
Pura, Rahman, 2013, Pengantar Akuntansi, PT. Raja Gelora Aksara Pratama,
Erlangga, Jakarta.
Puspita, Ayu Reni, 2017, Analisis Penerapan Akuntansi Pada Usaha
RumahMakan Vegetarian Di Kota Pekanbaru, Universitas Islam Riau,
Pekanbaru.
Rudianto, 2012, PengantarAkuntansi,Penerbit Erlangga, jakarta.
Sadeli, Lili M, 2011, Dasar-Dasar Akuntansi,Edisi 1, Cetakan ketujuh,Penerbit
PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Samryn, L.M, 2015, Akuntansi Pengantar, Edisi IFRS, Rajawali Pers, Jakarta.
Santi, 2015, Analisis Penerapan Akuntansi Pada Usaha Toko Pakaian
DiKecamatan Tenayan Raya, Universitas Islam Riau, Pekanbaru.
Sasongko Catur, 2016, Pengantar Akuntansi,Erlangga, Jakarta.
Smith,M Jay and Fred Skousen, 2012, Akuntansi Intermediet
VolumeKomprehensif, Edisi ke-9, Jilid 1, Terjemahan Widjajanto,
Penerbit Erlangga, Jakarta.
Stice, Earl K, Stice, James D Dan Skausen, Fred K, 2009,
IntermediateAccounting, Edisi kelima Belas, Penerbit Salemba Empat,
Jakarta.
66
Tara, Azwir Daini, 2010, Strategi Pembangunan Ekonomi Rakyat, Penerbit
Nuansa Madani, Jakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia, 2009, Standar Akuntansi Keuangan Entitas
Mikro,Kecil, Dan Menengah, Ikatan Akuntansi Indonesia, Jakarta.
Republik Indonesia, 2008, Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 Tentang
UsahaMikro, Kecil, Menengah, Sekretariat Negara, Jakarta.
67