0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan159 halaman

Evaluasi Pendidikan Kalimantan Timur 2011

Potret Pendidikan Kalimantan Timur berbasis evaluasi diri sekolah/madrasah tahun 2011 memberikan gambaran tentang pendidikan dengan melihat EDS/M sebagai tolak ukur keberhasilan EDS/M berdasarkan 8 standar SNP, mulai dari standar isi, proses, lulusan, guru dan tenaga kependidikan, struktur dan sarana prasarana, pengelolaan, keuangan dan penilaian. Hasil penelitian EDS/M per kabupaten/kota menunjukkan secar

Diunggah oleh

Dirra Irra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan159 halaman

Evaluasi Pendidikan Kalimantan Timur 2011

Potret Pendidikan Kalimantan Timur berbasis evaluasi diri sekolah/madrasah tahun 2011 memberikan gambaran tentang pendidikan dengan melihat EDS/M sebagai tolak ukur keberhasilan EDS/M berdasarkan 8 standar SNP, mulai dari standar isi, proses, lulusan, guru dan tenaga kependidikan, struktur dan sarana prasarana, pengelolaan, keuangan dan penilaian. Hasil penelitian EDS/M per kabupaten/kota menunjukkan secar

Diunggah oleh

Dirra Irra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Volume VI

Volume VI, Nomor 1, Juni 2012

BORNEOJurnal Ilmu Pendidikan


, Juni

LPMP Kalimantan Timur

Potret Pendidikan Kalimantan Timur Berbasis Evaluasi Diri Sekolah/Madrasah Tahun 2011
(Pramudjono)

Meningkatkan Kinerja Guru Bimbingan dan Konseling Melalui Standar Pelayanan Pengembangan
dengan Metode Motivasi dan Kreatifitas pada Siswa SMA Negri 11 Samarinda
BORNEO

(Insiyah)

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMP Negeri 2 Anggana Melalui Pembinaan Kegiatan
Pengembangan Diri /Ekstrakurikuler
(Saryono)

Peningkatan Hasil Belajar Siswa Memahami Teks Deskripsi Melalui Pendekatan Pembelajaran
Kooperatif Team Game Tournament (TGT) di Kelas VIIIB SMP Negeri 1 Sangata Selatan
(Jamalludin)
Jurnal Ilmu

Penggunaan Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) untuk Meningkatkan


Pemahaman Pecahan pada Siswa Kelas V (Lima) SD negeri 016 Balikpapan Tengah Tahun
Pelajaran 2009/2010
(Sukarti)

Peningkatan Hasil belajar PKn Pokok Bahasan Sistem Pemerintahan Tingkat Pusat dengan
Metode Kerja Kelompok Siswa Kelas IV SD Negeri 003 Sanga-Sanga
(Hj. Painem)

Meningkatkan Hasil Belajar Sains di Kelas V dengan Metode Berbasis Masalah dan Koperatif
Learning SDN 022 Sebulu
(Supardi)

Diterbitkan Oleh
Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP)
Kalimanta Timur
Borneo, Jurnal Ilmu Pendidikan adalah jurnal ilmiah,
Diterbitkan oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Propinsi Kalimantan
Timur
Terbit dua kali setahun, yakni setiap bulan Juni dan Desember

Penanggung Jawab
Bambang Utoyo

Ketua Penyunting
Heru Buana Herman

Wakil Ketua Penyunting


Jarwoko

Penyunting Ahli
Masdukizen, Pertiwi Tjitrawahjuni

Penyunting Pelaksana
Tendas Teddy Soesilo, Samodro, Emy Juarni

Sirkulasi
Dyah Widyastuti

Sekretaris
Abdul Sokib Z.

Tata Usaha
Sunawan

 Borneo, Jurnal Ilmu Pendidikan diterbitkan pertama kali pada Juni 2007
oleh LPMP Kalimantan Timur
 Penyunting menerima sumbangan tulisan yang belum pernah diterbitkan
dalam media lain. Naskah dalam bentuk soft file dan print out di atas kertas
HVS Kuarto spasi ganda lebih kurang 20 halaman, dengan font bentuk Book
Antiqua Ukuran 12.
 Untuk berlangganan minimal 2 (dua) nomor x @ Rp. 50.000,00 = Rp. 100.000,-
(belum termasuk ongkos kirim). Uang dapat dikirim dengan wesel ke alamat
Penerbit/Redaksi atau melalui Bank Mandiri KCP Samarinda Kesuma
Bangsa, Rekening No. 148-00-0463932-7 atas nama Bambang Utoyo.
 Alamat Penerbit/Redaksi : Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Propinsii
Kalimantan Timur, Jl. Cipto Mangunkusumo Km 2 Samarinda Seberang,
PO Box 218
Volume VI, Nomor 1, Juni 2012 ISSN 1858-3105

Diterbitkan oleh
Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Kalimantan Timur
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
rakhmatNya serta hidayah-Nya, Borneo Jurnal Ilmu Pendidikan LPMP
Kalimantan Timur dapat diterbitkan.

Borneo Volume VI, Nomor 1, Juni 2012 ini merupakan edisi yang
diharapkan dapat kembali terbit pada edisi-edisi berikutnya. Jurnal
Borneo terbit dua kali setiap tahun, yakni pada bulan Juni dan Desember.
Tujuan utama diterbitkannya jurnal Borneo ini adalah memberi wadah
kepada tenaga perididik, khususnya guru di Propinsi Kalimantan Timur
untuk mempublikasikan hasil pemikirannya dibidang pendidikan, baik
berupa telaah teoritik, maupun hasil kajian empirik lewat penelitian.
Publikasi atas karya mereka diharapkan memberi efek berantai kepada
para pembaca untuk melahirkan gagasan-gagasan inovatif untuk
memperbaiki mutu pendidikan dan pembelajaran. Perbaikan mutu
pendidikan dan pembelajaran ini merupakan titik perhatian utama LPMP
Kalimantan Timur sebagai lembaga penjaminan mutu pendidikan.

Pada edisi ini, semua tulisan yang dimuat dalam Jurnal Borneo berasal
dari luar LPMP yaitu Dosen, pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru. Untuk
itu, terima kasih kami sampaikan kepada para penulis artikel sebagai
kontributor sehingga jurnal Borneo edisi ini dapat terbit sesuai waktu
yang ditentukan.

Ucapan terima kasih dan selamat kami sampaikan kepada pengelola


jurnal Borneo yang telah berupaya keras untuk menerbitkan Borneo edisi
ini. Apa yang telah mereka sumbangkan untuk menerbitkan jurnal Borneo
mudah-mudahan dicatat sebagai amal baik oleh Allah SWT.
Kami berharap, semoga kehadiran jurnal Borneo ini memberikan nilai
tambah, khususnya bagi LPMP Kalimantan Timur sendiri, maupun bagi
upaya perbaikan mutu pendidikan pada umumnya.

Redaksi

Bambang Utoyo
DAFTAR ISI

BORNEO, Volume VI, Nomor 1, Juni 2012 ISSN : 1858-3105

Kata Pengantar iii


Daftar Isi iv

1 Potret Pendidikan Kalimantan Timur Berbasis Evaluasi Diri 1


Sekolah/Madrasah Tahun 2011
Pramudjono

2 Meningkatkan Kinerja Guru Bimbingan dan Konseling Melalui 15


Standar Pelayanan Pengembangan dengan Metode Motivasi dan
Kreatifitas pada Siswa SMA Negri 11 Samarinda
Insiyah

3 Peningkatan Hasil Belajar Siswa Memahami Teks Deskripsi 25


Melalui Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Team Game
Tournament (TGT) di Kelas VIIIB SMP Negeri 1 Sangata Selatan
Jamalludin

4 Penggunaan Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) 35


untuk Meningkatkan Pemahaman Pecahan pada Siswa Kelas V
(Lima) SD negeri 016 Balikpapan Tengah Tahun Pelajaran
2009/2010
Sukarti

5 Peningkatan Hasil belajar PKn Pokok Bahasan Sistem 50


Pemerintahan Tingkat Pusat dengan Metode Kerja Kelompok
Siswa Kelas IV SD Negeri 003 Sanga-Sanga
Hj. Painem

6 Meningkatkan Hasil Belajar Sains di Kelas V dengan Metode 61


Berbasis Masalah dan Koperatif Learning SDN 022 Sebulu
Supardi

7 Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar PKn Materi Pemilu 71


Menggunakan Model Talking Stick Siswa Kelas VI SDN 004 Loa
Janan
Ratna Dewi
8 Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) dalam 80
Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah Bela Negara
dalam Mata Pelajaran PKn Kelas Ixc SMP Muhammadiyah 1
Samarinda
Muhammad Jafron

9 Hubungan Antara KOnsep Diri dan Kecerdasan Emosional dengan 87


Kenakalan Remaja
Hj. Purwati

10 Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Melalui 99


Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament)
pada Materi Pengukuran dan Geometri di Kelas V SD Negeri 007
Samarinda Ulu Tahun Ajaran 2007/2008
Umi Sayekti

11 Isi Dongeng dengan Menggunakan Bahasa Indonesia dengan Baik 117


Melalui Bimbingan dan Latihan di SDN 008 Sempaja Samarinda
Utara
Kulsum

12 Upaya Meningkatakan Pembelajaran Operasi Hitung Bilangan 125


Cacah Siswa Kelas IV SD Negeri 021 Pasir Belengkong dengan
Metode Berdasarkan Masalah (Problem Posing)
Bahruddin

13 Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Materi Sistem 135


Persamaan Linear Dua Variabel Melalui Metode Pembelajaran
Kooperatif Model Jigsaw Pada Siswa Kelas VIIIA SMP Negeri 2
Samarinda Tahun Pelajaran 2008/2009
Hartoyo
POTRET PENDIDIKAN KALIMANTAN TIMUR BERBASIS EVALUASI DIRI
SEKOLAH/MADRASAH TAHUN 2011

Pramudjono
Dosen FKIP Universitas Mulawarman

Abstrak

Educational Portrait of East Kalimantan based on Self-Evaluation of


School/Madrasah, is a picture of education by looking at EDS/M as a
benchmark for the success of EDS/M based on 8 SNPs, range from content
standards, process standards, the competence of graduating standards, teacher
and educational workforce standards, structure and infrastructure standards,
management standards, financial standards and assessment standards. Based
on the EDS/M, schools can make a „work plan‟ or commonly abbreviated by
the term of RKS. Data were collected using selection technique, which were
chosen based on the target schools of the superintendent. Samples of 497
schools were selected from 14 regency/municipality–the details are as follows;
191 primary schools/MI, 168 junior high schools/[Link], 138 senior high
schools/vocational high schools/MA. Data analysis with description was
meant to see which standards were applicable based on Ministerial
Regulations number 19 year 2005, and the average value and mode were
meant to see the data that often arise. The research results of EDS/M by
regency/municipality are that in general primary schools/MI are at
developmental stage 2, but some of them are already in developmental stage 3;
Whilst most of the junior high schools/[Link]. had reached stage 3, even though
there are some of them that are still on the second stage; Most of the senior
high schools/vocational high schools/MA were already at developmental stage
3 – fulfilled the SNP, but there are two districts that did not meet the SNP.
From the findings, it can be concluded that only junior high schools/[Link].
and senior high schools/vocational high schools/MA that fulfilled SNP, while
primary schools/MI was still at developmental stage 2 and haven‟t achieved
the SNP yet. It was also found that the funding standards of all schools in
East Kalimantan haven‟t met the SNP.

Kata kunci : School Self-Evaluation, National Standard of Education, The minimum


standard of service

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Sistem Penjamiman Mutu Pendidikan (SPMP) seperti diatur dalam Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 tahun 2009 tentang SPMP, satu diantara
untuk mengukur mutu sekolah adalah Evaluasi Diri Sekolah (EDS/M). EDS/M

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 1


adalah evaluasi internal yang dilakukan sekolah dalam ranngka mengetahui kinerja
sekolah berdasakan 8 standar.

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Kementerian Agama


(Kemenag) telah menunjukkan komitmen dalam meningkatkan mutu pendidikan di
Indonesia melalui pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) sesuai
dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 63 tahun 2009. SPMP
mendefinisikan penjaminan mutu sebagai kegiatan sistemik dan terpadu oleh
satuan/program pendidikan, penyelenggara satuan/program pendidikan,
pemerintah daerah, Pemerintah, dan masyarakat untuk menaikkan tingkat
kecerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan.

Sekolah/Madrasah adalah pelaku utama dalam proses penjaminan dan peningkatan


mutu pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Salah satu alat untuk mengkaji
kemajuan peningkatan mutu sekolah secara komprehensif yang berbasis Standar
Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah Evaluasi
Diri Sekolah dan Madrasah (EDS/M). EDS/M sebagai salah satu komponen SPMP
diharapkan dapat membangun semangat dan kultur penjaminan dan peningkatan
mutu secara berkelanjutan.

Penjaminan mutu belum dilakukan melalui EDS baru dilakukan melalui akreditasi
sekolah seperti yang terjadi di lapangan sekolah terdaftar, diakui, disamakan yang
selanjutnya diperbarui melalui system akreditasi sekolah. Akreditasi yang dilakukan
belum menggunakan standar nasional pendidikan. Sekarang dengan berlakunya
EDS/M satuan pendidikan menyelenggarakan penilaian mengenai diri sendiri
berbasis SNP, sehingga posisi sekolah dapat diketahui pada tahapan di atas SNP,
memenuhi SNP, belum memenuhi SNP ddan tidak memenuhi SNP.

Tujuan
Tujuan utama dari hasil Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah (EDS/M) adalah:
1. Pemerintah daerah mengetahui kinerja Sekolah berdasarkan SPM dan SNP.
2. Pemerintah daerah mengetahui tahapan pengembangan dalam pencapaian SPM
dan SNP sebagai dasar peningkatan mutu pendidikan yang bermuara pada
peningkatan mutu sekolah.
3. Pemerintah daerah dapat menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) atau
Rencana Kegiatan Sekolah (RKS) sesuai kebutuhan nyata menuju ketercapaian
implementasi SPM dan SNP.
4. Diketahui potret pendidikan Provinsi Kalimantan Timur, dan Kabupaten/kota
berdasarkan 8 SNP.

Manfaat
Hasil EDS/M diharapkan dapat memberikan sumbangan penting bagi sekolah
sendiri dan bagi pemerintahan Kab/Kota serta pemerintah provinsi yang memiliki
kewenangan mengelola pendidikan.
1. Bagi sekolah
a. Sekolah dapat mengidentifikasikan kelebihan serta kekurangannya sendiri
dan merencanakan pengembangan ke depan.

2 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


b. Sekolah dapat memiliki data dasar yang akurat sebagai dasar untuk
pengembangan dan peningkatan di masa mendatang.
c. Sekolah dapat mengidentifikasikan peluang untuk meningkatkan mutu
pendidikan yang disediakan, mengkaji apakah inisiatif peningkatan tersebut
berjalan dengan baik dan menyesuaikan program sesuai dengan hasilnya.
d. Sekolah dapat memberikan laporan formal kepada pemangku kepentingan
demi meningkatkan akuntabilitas sekolah.
2. Bagi tingkatan lain dalam sistem (Pemerintah, pemerintahan kabupaten/kota dan
provinsi)
a. Menyediakan data dan informasi yang penting untuk perencanaan,
pembuatan keputusan, dan perencanaan anggaran pendidikan pada tingkat
kabupaten/kota, provinsi.
b. Mengidentifikasikan bidang prioritas untuk memenuhi kebutuhan
pencapaian standar nasional pendidikan.
c. Mengidentifikasikan jenis dukungan yang dibutuhkan terhadap sekolah.
d. Mengidentifikasikan pelatihan serta kebutuhan program pengembangan
lainnya.
e. Mengidentifikasikan keberhasilan kinerja sekolah berdasarkan berbagai
indikator pencapaian sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dan Standar
Nasional Pendidikan.

EVALUASI DIRI SEKOLAH/MADRASAH (EDS/M)

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan


Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Kementerian Agama
(Kemenag) telah menunjukkan komitmen dalam meningkatkan mutu pendidikan di
sekolah-sekolah di Indonesia melalui Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP)
sesuai dengan Permendiknas No. 63 tahun 2009, untuk terciptanya satu sistem
penjaminan mutu pendidikan yang sekaligus juga akan menjadi dasar pelaksanaan
peningkatan mutu pendidikan sehingga akan tercipta “budaya” peningkatan mutu
pendidikan yang berkelanjutan. Permen Nomor 63 menjadi acuan dalam upaya
penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan.

Salah satu komponen utama program SPMP adalah program “Evaluasi Diri Sekolah”
atau EDS yang dalam bahasa Inggrisnya disebut “Supported School Self Evaluation”
(SSSE). Dengan program ini sekolah diminta untuk secara internal melakukan
evaluasi sendiri kinerjanya berdasarkan SPM dan SNP. Seperti tersirat dalam istilah
Inggrisnya dengan adanya kata “Supported”, program ini memandang penting
adanya “dukungan” penuh pada kegiatan Evaluasi diri ini dari semua unsur dan
pemangku kepentingan yang terlibat di sekolah sehingga bukan hanya Kepala
sekolah saja yang terlibat tapi juga para guru, Komite Sekolah, wakil orang tua
peserta didik serta mendapat bimbingan dari Pengawas Sekolah. Hal ini seperti yang
dijelaskan pada Permendiknasnomor 63 tahun 2009 pasal 1 ayat 2 dijelaskan bahwa
penjaminan mutu pendidikan adalah kegiatan sistemik dan terpadu oleh satuan atau
program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 3


daerah, Pemerintah, dan masyarakat untuk menaikkan tingkat kecerdasan
kehidupan bangsa melalui pendidikan

Model di bawah ini mengetengahkan sumber data sistem penjaminan mutu


pendidikan :

Peningkatan
mutu
Pendidikan

Analisis data
SPM
dan Pengumpula
DAN
Pelaporan n data
SNP
(Rekomendas
i)

Penjamin Mutu Pendidikan

Gambar 1 : Hakikat Penjaminan Mutu Pendidikan

Konsep Dasar Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah (EDS/M)


Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah adalah EDS/M adalah proses Evaluasi Diri
Sekolah dan Madrasah yang bersifat internal yang melibatkan pemangku
kepentingan untuk melihat kinerja sekolah berdasarkan SPM dan SNP yang hasilnya
dipakai sebagai dasar Penyusunan RKS dan sebagai masukan bagi perencanaan
investasi pendidikan tingkat kab/kota.

Proses Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah merupakan siklus, yang dimulai dengan
pembentukan Tim Pengembang Sekolah (TPS), pelatihan penggunaan instrumen,
pelaksanaan EDS di sekolah dan penggunaan hasilnya sebagai dasar penyusunan
RPS/RKS dan RAPBS/RKAS. Sekolah melakukan proses EDS setiap tahun sekali.
EDS/M dilaksanakan oleh Tim Pengembang Sekolah (TPS) yang terdiri atas: Kepala
Sekolah, wakil unsur guru, wakil Komite Sekolah, wakil orang tua siswa, dan
pengawas. Sebagai kerangka kerja untuk perubahan dan perbaikan, proses ini
secara mendasar menjawab 3 (tiga) pertanyaan kunci di bawah ini:
1. Seberapa baikkah kinerja sekolah kita? Hal ini terkait dengan posisi pencapaian
kinerja untuk masing-masing indikator SPM dan SNP.
2. Bagaimana kita dapat mengetahui kinerja sekolah? Hal ini terkait dengan bukti
apa yang dimiliki sekolah untuk menunjukkan pencapaiannya.
3. Bagaimana kita dapat meningkatkan kinerja? Dalam hal ini sekolah melaporkan
dan menindaklanjuti apa yang telah ditemukan sesuai pertanyaan di nomor 2
dan nomor 3 sebelumnya.

4 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Sekolah menjawab ketiga masalah ini setiap tahunnya dengan menggunakan
seperangkat indikator kinerja untuk melakukan pengkajian yang obyektif terhadap
kinerja mereka berdasarkan SPM dan SNP yang ditetapkan, dan mengumpulkan
bukti mengenai kinerja peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan.
EDS adalah evaluasi internal yang yang dilaksanakan oleh semua pemangku
kepentingan pendidikan (stakeholders) di sekolah untuk mengetahui secara
menyeluruh kinerja sekolah dilihat dari pencapaian SPM dan 8 SNP dan mengetahui
kekuatan dan kelemahannya secara pasti sehingga akan diperoleh masukan dan
dasar nyata untuk membuat RPS/RKS dalam upaya untuk menumbuhkan budaya
peningkatan mutu yang berkelanjutan.

Keterkaitan EDS/M dengan Penjaminan dan Peningkatan Mutu


EDS adalah proses yang mengikutsertakan semua pemangku kepentingan untuk
membantu sekolah dalam menilai mutu penyelenggaraan pendidikan berdasarkan
indikator-indikator kunci yang mengacu pada SPM dan SNP. EDS dilaksanakan oleh
setiap sekolah sebagai satu kebutuhan untuk meningkatkan kinerja dan mutu
sekolah secara berkelanjutan. EDS merupakan mekanisme evaluasi internal yang
dilakukan oleh kepala sekolah bersama guru, komite sekolah, orangtua, dengan
bantuan pengawas. Hasil EDS dimanfaatkan sebagai bahan untuk menyusun
program pengembangan sekolah dan laporan kepada dinas pendidikan tentang
pencapaian sekolah untuk pengembangan lebih lanjut.

Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah (EDS/M), sebagai komponen penting dalam
SPMP, merupakan dasar peningkatan mutu dan penyusunan Rencana
Pengembangan Sekolah (RPS). EDS/M juga menjadi sumber informasi kebijakan
untuk penyusunan program pengembangan pendidikan kabupaten/kota. Karena
itulah EDS/M menjadi bagian yang integral dalam penjaminan dan peningkatan
mutu pendidikan. EDS/M adalah suatu proses yang memberikan tanggung jawab
kepada sekolah untuk mengevaluasi kemajuan mereka sendiri dan mendorong
sekolah untuk menetapkan prioritas peningkatan mutu sekolah. Kegiatan EDS/M
berbasis sekolah, tetapi proses ini juga mensyaratkan adanya keterlibatan dan
dukungan dari orang-orang yang bekerja dalam berbagai tingkatan yang berbeda
dalam sistem ini, dan hal ini tentu saja membantu terjaminnya transparansi dan
validitasi proses.

EDS/M merupakan komponen penentu yang sangat penting dalam membangun


sistem informasi pendidikan nasional terutama dalam memotret kinerja sekolah
dalam penerapan SPM dan SNP. Informasi yang terbangun menjadi dasar untuk
perencanaan peningkatan mutu berkelanjutan dan pengembangan kebijakan
pendidikan pada tingkat kab/kota, provinsi, dan nasional. Pada diagram EDS/M
dalam Kaitannya dengan Penjaminan dan Peningkatan Mutu, terlihat alur informasi
dan urutan kegiatannya. Informasi strategis hasil EDS/M ditindaklanjuti oleh
Pengawas

Strategi Implementasi
Sekolah mengukur dampak dari berbagai kegiatan pentingnya terkait dengan
peserta didik dan kegiatan pembelajaran (belajar mengajar); setiap tahun sekolah

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 5


juga memeriksa hasil dan dampak dari kegiatan belajar mengajar serta bagaimana
sekolah dapat memenuhi kebutuhan peserta didiknya. Hal yang sangat penting
dalam proses ini adalah sekolah harus mempergunakan evaluasi ini untuk
memprioritaskan bidang yang memerlukan peningkatan dan mempersiapkan
rencana pengembangan/peningkatan sekolah. Proses ini kemudian menjadi bagian
dari siklus pengembangan dan peningkatan yang berkelanjutan.

Gambar 2: Proses Siklus pengembangan dan peningkatan.

Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan di sekolah (kepala sekolah, guru,


peserta didik, orang tua, komite sekolah, anggota masyarakat, dan pengawas
sekolah) diharapkan bahwa tujuan dan nilai yang diinginkan dalam proses EDS/M
menjadi bagian dari etos kerja sekolah. Penting diingat adalah bahwa informasi yang
didapatkan harus dianggap penting dan tidak lagi dianggap sebagai beban atau
hanya sekedar sebagai daftar data yang perlu dikumpulkan karena diminta oleh
pihak luar. Proses EDS/M harus menjadi suatu refleksi untuk mengubah dan
memperbaiki tata kerja, serta akan dianggap berhasil jika dapat membawa sekolah
pada peningkatan pelayanan pendidikan dan hasilnya bagi para peserta didik.
Kemudian sekolah akan menjadi pelaku utama dalam peningkatan mutu dan
memberikan penjaminan terhadap pelayanan pendidikan yang bermutu. Evaluasi
Diri Sekolah (EDS) dan Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah (MSPD) yang
merupakan inti dari implementasi Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) di
sekolah.

Metode Penelitian
Tahapan-tahapan berikut adalah upaya yang dilaksanakan untuk menunjang
keberhasilan pelaksanaan kegiatan potret pendidikan Kalimantan Timur berbasis
EDS/M.
A. Waktu dan tempat
Kegiatan dimulai dari persiapan dan pelaksanaan yang dimuulai sejak tanggal 29
Maret 2011 sampai dengan tanggal 18 Oktober 2011 bertempat di LPMP Provinsi
Kalimantan Timur beralamat di Jalan Cipto Mangunkusumo Samarinda
Seberang.

6 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


B. Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan persiapan dan melaksanakan proses
evaluasi diri sekolah dan madrasah.
1. Persiapan
Pelatihan ini dilaksanakan dengan mempergunakan sistem berikut ini:
a. Capacity Building Internal terdiri dari Pengawas, Guru, Kepala Sekolah,
Widyaiswara LPMP, dan Dosen Perguruan Tinggi sebanyak 40 Orang
dilaksanakan pada tanggal 29 Maret–2 April 2011 dilatih sebagai
pendamping pengawas pelatih (Trainers of Trainers/ToT) bagi pengawas.
b. Capacity Building Eksternal terdiri dari Pengawas sebanyak 50 Orang
dilaksanakan pada tanggal 25 Mei–29 Mei 2011 dilatih sebagai pelatih bagi
pelatih (Trainers of Trainers/ToT) bagi Kepala Sekolah binaan.
c. Sosialisasi EDS/M pada pemangku jabatan yang terdiri dari Kepala Seksi
Kurikulum, kepala bidang Provinsi dan Kabupaten/kota pada tanggal 6
Juni 2011 dengan jumlah peserta 27 orang dari 14 kabupaten/kota.
d. Workshop hasil EDS/M dan MSPD oleh Pengawas Kabupaten/Kota
tanggal 24–28 September 2011 sebanyak 102 orang peserta.
e. ToT kepala sekolah tentang RKS berbasis EDS/M pada tanggal 14–18
Oktober 2011 sebanyak 133 orang peserta.

2. Melaksanakan Proses Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah


Setelah pelaksanaan pelatihan, kepala sekolah dengan dukungan pengawas
sekolah pembina melaksanakan EDS/M bersama Tim TPS yang terdiri dari
perwakilan guru, komite sekolah, orang tua, Pengawas dan perwakilan lain
dari kelompok masyarakat yang memang dipandang layak untuk
diikutsertakan.

Tim ini akan mempergunakan instrumen yang disediakan untuk menetapkan


profil kinerja sekolah berdasarkan indikator pencapaian. Informasi yang
didapatkan kemudian dianalisa dan dipergunakan oleh TPS untuk
mengidentifikasi kelebihan dan bidang perbaikan yang dibutuhkan, serta
merencanakan program tahunan sekolah. Pengawas sekolah pembina harus
dilibatkan secara penuh untuk mendukung sekolah dalam proses tersebut,
serta dalam mengimplementasikan rencana perbaikan yang dikembangkan
berdasarkan hasil dari proses ini.

C. Sasaran
Sasaran dalam kegiatan adalah sekolah-sekolah yang menjadi binaan pengawas
yang telah dilatih pada capacity building yang terdiri dari 14 kabupaten/kota,
pada satuan pendidikan SD, SMP/[Link], SMA/SMK/MA yang direncanakan
berjumlah 500 sekolah, terpenuhi sejumlah 497 sekolah sedangkan 3 sekolah
sampai pada batas waktu yang telah ditentukan tidak dapat menyelesaikan
laporan EDS/M ketiga 3 sekolah itu 1 SD dari Kabupaten Paser, 1 SMP dari
Kukar dan 1 SMP dari Malinau secara rinci adalah sebagai berikut,

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 7


Tabel 1 Jumlah Sekolah Sasaran EDS/M menurut Kabupaten/Kota
No. Kabupaten/Kota Satuan Pendidikan Jumlah
SD/MI SMP/MTs SMA/K/MA
1. Balikpapan 30 19 11 60
2. Berau 20 10 10 40
3. Bontang 20 10 10 40
4. Bulungan 23 10 7 40
5. Tanah Tidung 18 2 0 20
6. Kutai Barat 0 10 10 20
7. Kutai Kartanegara 5 34 20 59
8. Kutai Timur 15 10 10 35
9. Malinau 10 9 0 19
10. Nunukan 10 4 6 20
11. Paser 4 10 10 24
12. PPU 6 9 5 20
13. Samarinda 20 20 20 60
14. Tarakan 10 11 19 40
Total 191 168 138 497

Teknik Pengumpulan dan Isian Data


Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket/instrumen EDS/M
yang telah disiapkan secara Nasional oleh, Instrumen EDS/M terdiri dari 8 (delapan)
standar nasional pendidikan yang dijabarkan ke dalam 26 komponen dan 62
indikator. Setiap standar terdiri atas sejumlah komponen yang mengacu pada
masing-masing standar nasional pendidikan sebagai dasar bagi sekolah dalam
memperoleh informasi kinerjanya yang bersifat kualitatif. Setiap komponen terdiri
dari beberapa indikator yang memberikan gambaran lebih menyeluruh dari
komponen yang dimaksudkan. Tahapan pengembangan ini memiliki makna sebagai
berikut:
1. Tahap ke-1, belum memenuhi SPM (tidak memenuhi SNP).
2. Tahap ke-2, memenuhi SPM (belum memenuhi SNP).
3. Tahap ke-3, memenuhi SNP.
4. Tahap ke-4, melampaui SNP.

Teknik Analisis Data


Analisis data yang digunakan dalam instrumen EDS/M dengan statistika deskriptif
untuk menggambarkan kondisi dari setiap standar, komponen dan indikator yang
ada melalui distribuusi frekuensi, grafik dan sajian tabel dengan menekankan pada
modus melalui persentase. Persentase yang ditunjukkan setiap standar
didiskripsikan secara kualitatif untuk mendapatkan simpulan dari data terkumpul.

HASIL
Instrumen EDS/M yang terkumpul sebanyak 497 responden sekolah yang terdiri
dari 191 sekolah dasar (SD, MI), 168 sekolah menengah pertama (SMP, [Link].) dan
138 sekolah menengah atas (SMA, SMK dan MA).
1. Gambaran Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur menurut SNP dan Jenjang

8 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Satuan Pendidikan

Gambar 3: Standar Isi Jenjang SD/MI/SMP/MTs/SMA/SMK/MA

Gambaran sekolah SD/MI, SMP/[Link], SMA/SMK/MA pada standar isi telah


mencapai tahap pengembangan 3 memenuhi SNP seperti dilihat pada gambar 3
di atas.

Gambar sekolah
Gambaran 4: StandarSD/MI,
Proses SMP/[Link],
Jenjang SD/MI/SMP/MTs/SMA/SMK/MA
SMA/SMK/MA pada standarproses
telah mencapai tahap pengembangan 3 memenuhi SNP seperti dilihat pada
gambar 4 di atas.

Gambar 5:
Standar Kompetensi Lulusan Jenjang D/MI/SMP/MTs/SMA/SMK/MA

Gambaran sekolah SD/MI, SMP/[Link], SMA/SMK/MA pada standar


kompetensi lulusan telah mencapai tahap pengembangan 3 memenuhi SNP
seperti dilihat pada gambar 5 di atas.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 9


Gambaran sekolah SD/MI, SMP/[Link], SMA/SMK/MA pada standar pendidik
dan tenaga kependidikan telah mencapai tahap pengembangan 3 memenuhi SNP
untuk SMA/SMK/MA, sedangkan untuk SD/MI dan SMP/[Link]. masih pada
tahap pengembangan 2 belum menenuhi standar nasional pendidikan seperti
dilihat pada gambar 6 di bawah ini.

Gambar 6. Standar Pendidik dan Tenaga KependidikanJenjang


SD/MI/SMP/MTs/SMA/SMK/MA

Gambar 7.
Standar Sarana dan Prasarana Jenjang SD/MI/SMP/MTs/ SMA/SMK/MA

Gambaran sekolah SD/MI, SMP/[Link], SMA/SMK/MA pada standar sarana dan


prasaran telah mencapai tahap pengembangan 3 memenuhi SNP untuk
SMA/SMK/MA, sedangkan untuk SD/MI dan SMP/[Link]. masih pada tahap
pengembangan 2 belum menenuhi standar nasional pendidikan seperti dilihat
pada gambar 7 di atas.

Gambaran sekolah SD/MI, SMP/[Link], SMA/SMK/MA pada standar


pengelolaan mencapai tahap pengembangan 3 memenuhi SNP untuk
SMA/SMK/MA, sedangkan untuk SD/MI dan SMP/[Link]. masih pada tahap
pengembangan 2 belum menenuhi standar nasional pendidikan seperti dilihat
pada gambar 8 di bawah ini.

10 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Gambar 8.
Standar Pengelolaan Jenjang SD/MI/SMP/MTs/SMA/SMK/MA

Gambar 9:
Standar Pembiayaan Jenjang SD/MI/SMP/MTs/SMA/SMK/MA

Gambaran sekolah SD/MI, SMP/[Link], SMA/SMK/MA pada standar


pembiayaan tahap pengembangan 2 belum memenuhi SNP seperti dilihat pada
gambar 9 di atas.

Gambar 10:
Standar Penilaian Jenjang SD/MI/SMP/MTs/SMA/SMK/MA

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 11


Gambaran sekolah SD/MI, SMP/[Link], SMA/SMK/MA pada standar penilaian
telah mencapai tahap pengembangan 3 memenuhi SNP seperti dilihat pada
gambar 10 di atas.

Gambar 11.
Peringkat Capaian Berdasarkan SNP Jenjang SD/MI/SMP/MTs/SMA/SMK/MA

Gambaran umum dari sekolah SD/MI, SMP/[Link], SMA/SMK/MA dapat


dilihat pada gambar 9 di atas bahwa peringkat dari 8 standar SNP pendidikan di
Kalimantan Timur dapat dijelaskan bahwa untuk SD/MI belum memenuhi SNP
yang digariskan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun
2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan. Pada jenjang SMP/[Link]. dan
SMA/SMK/MA memenuhi SNP seperti gambar 9.

PEMBAHASAN

Provinsi Kalimantan Timur


Berdasarkan lampiran 1, 2 dan 3 capaian beradasarkan jenjang SD/MI, SMP/[Link].,
SMA/SMK/MA hasil EDS/M dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan bahwa,standar
isi tahap pengembangan tahap pengembangan 3 memenuhi SNP (SD/MI,
SMP/[Link]. dan SMA/SMK/MA), standar proses tahap pengembangan 3 memenuhi
SNP (SD/MI, SMP/[Link]. dan SMA/SMK/MA), standar kompetensi lulusan tahap
pengembangan 3 memenuhi SNP (SD/MI, SMP/[Link]. dan SMA/SMK/MA),
standar pendidik dan tenaga kependidikan tahap pengembangan 2 belum
memenuhi SNP (SD/MI, dan SMP/[Link].), memenuhi SNP (SMA/SMK/MA),
standar sarana prasarana tahap pengembangan 2 belum memenuhi SNP (SD/MI dan
SMP/[Link]), memenuhi SNP (SMA/SMK/MA), standar pengelolaan tahap
pengembangan 2 belum memenuhi SNP (SD/MI dan SMP/[Link]), memenuhi SNP
(SMA/SMK/MA), standar pembiayaan tahap pengembangan 2 belum memenuhi
SNP (SD/MI, SMP/[Link], SMA/SMK/MA), standar peniilaian tahap pengembangan
3 memenuhi SNP (SD/MI, SMP/[Link]. dan SMA/SMK/MA).

Meskipun sudah pada tahap pengembangan 2 (SD/MI), 3 (SMP/[Link] dan


SMA/SMK/MA) perlu ditingkatkan berkelanjutan pada indikator-indikator yang

12 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


masih mencapai tahap 1 dan 2. Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) atau Rencana
Kegiatan Sekolah (RKS) dapat disusun berdasarkan capaian masinng-masing standar
dan menekankan pada indikator-indikator yang masih pada tahap pengembangan 1
dan 2. Berdasarkan gambaran EDS/M, grafik capaian menurut standar Provinsi
Kalimantan Timur telah mencapai peringkat 2 (cukup) untuk SD/MI dan 3 (baik)
untuk jenjamg lainnya, tetapi masih diperlukan perbaikan dan peningkatan tahap
pengembangan 1 dan 2. yang belum memenuhi SNP.

Meningkatkan mutu kinerja sekolah, sekolah memerlukan perencanaan yang baik


yang berdasarkan data dan informasi yang benar dan handal. Hasil EDS/M ini dikaji
dan ditentukan prioritas dalam RPS/RKS berdasarkan keadaan dan kebutuhan
nyata sekolah, baik untuk masa 4 tahun dalam RPS/RKS maupun untuk masa
tahunan dalam RAPBS/RKAS.

Rekomendasi hasil EDS/M antara lain sekolah kegiatan workshop tentang


pengembangan kurikulum berkarakter dengan mengembangkan 7 prinsip,
penyusunan silabus dan RPP, meningkatkan kemampuan dan proses pembelajaran,
meningkatkan kemampuan peserta didik dalam ujian, pemerataan jumlah pendidik
dan tenaga kependidikan termasuk kualitas sesuai kualifikasi.

Kesimpulan
Bersadarkan hasil dan pembahasan maka dapat dijawab tujuan Potret Pendidikan
Provinsi Kalimanttan Timur,
1. Kinerja Sekolah di Kalimantan Timur yang telah memenuhi standar SNP terdapat
pada jenjang SMP/[Link] dan SMA/SMK/MA, sedangkan pada jenjang SD/MI
belum memenuhi SNP atau baru pada tahap pemenuhan Standar Pelayanan
Miinimal.
2. Tahapan pengembangan dalam pencapaian SPM dan SNP pendidikan di
Kalimantan Timur telah mencapai tahapan 3 kecuali SD/MI masih pada tahap
pengembangan 2. Menurut Kabupaten/kota potret pendidkan yang berada pada
tahap pengembangan 2 belum memenuhi SNP adalah Kabupaten Berau, Tana
Tidung dan Malinau jenjang SD/MI, Kabupaten Tana Tidung, Kutai Barat, Kutai
Timur dan Malinau untuk SMP/[Link]. dan Kabupaten Kutai Barat dan Kutai
Kartanegara untuk SMA/SMK/MA.
3. Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) atau Rencana Kegiatan Sekolah (RKS)
disusun sesuai kebutuhan nyata, untuk SD/MI RKSnya menitik beratkan pada
standar pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, pengelolaan, dan
pembiayaan. Jenjang SMP/[Link]. standar pendidik dan tenaga kependidikan,
pengelolaan dan [Link] pada jenjang SMA/SMK/MA RKSnya
dititik beratkan pada standar pembiayaan.
4. Potret pendidikan Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan 8 SNP sudah pada
tahap 3 atau memenuhi SNP, tahap ini terdapat pada jenjang SMP/[Link]. dan
SMA/SMK/MA, pada tahap pengembangan 2 atau belum memenuhi SNP
terdapat pada jenjang SD/MI, sedangkan menurut Kabupaten/kota masih
terdapat sebagian kabupaten/kota yang belum memenuhi SNP atau baru
memenuhi Standar Pelayanan Minimal.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 13


DAFTAR PUSTAKA

TIM, 2011, Panduan Teknis Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah, Jakarta: Dirjen PMPTK
Kementterian Pendidikan Nasional dan Dirjen Pendidikan Islam
Kementerian Agama.

TIM, 2011, Panduan Teknis Monitoring Sekolah Oleh Pemerintah Daerah (MSPD),
Jakarta: Dirjen PMPTK Kementerian Pendidikan Nasional dan Dirjen
Pendidikan Islam Kementerian Agama.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan


oleh Pemerintah Daerah.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistem


Penjaminan Mutu Pendidikan.

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan


Penyelenggaraan Pendidikan.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 15 Tahun 2010 tentang Standar


Pelayanan Minimal.

Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2010 tentang Akselerasi Sistem Penjaminan Mutu
Pendidikan.

14 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


MENINGKATKAN KINERJA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING
MELALUI STANDAR PELAYANAN PENGEMBANGAN DENGAN METODE
MOTIVASI DAN KREATIVITAS PADA SMA NEGERI 11 SAMARINDA

Insiyah
Pengawas Bimbingan dan Konseling SMP/SMA/MTs/MA

Abstrak

The objective of this study is to increase productivity of counselor teachers to


implement their jobs and functions as counselor teachers. This study used
action research that focused on the supervision process. The subject of this
study was counselors teachers in SMAN 11 Samarinda. This study
implemented five procedures of activities, including: planning, action,
reflection, and followup. Data were obtained from a series of observation. This
study revealed the following findings. First, the use of methods to increase
motivation and creativity evidently improved productyvity of counselors
teachers providing awareness on their functions via Standart of service
development value, responsibility of job as counselor teachers at school.
Second, the evaluation result indicated that the use of methodes of motivation
and increasing creativity improved of productivity and job attainment as well
as responsibility on the job at school.

Kata Kunci : productivity, competence, counseling.

Seiring dengan tuntutan mutu pendidikan saat ini dan ke depan serta berkaitan
kompleksnya masalah siswa sekolah menengah atas maka diperlukan guru
bimbingan dan konseling yang kinerjanya baik dan lebih profesional sehingga dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya untuk membimbing dan menangani kasus-kasus
siswa di sekolah dapat berjalan dengan lancar, pemecahan masalah siswa dapat
berjalan lebih baik yang pada akhirnya visi misi sekolah bisa tercapai dengan baik.
Dalam rangka untuk standarisasi penilaian kinerja guru bimbingan dan konseling
diperlukan Instrumen supervisi kemampuan Pelayanan Konseling dimulai melalui
pendekatan/keadaan kompetensi standar pelayanan minimal (SPM), kompetensi
standar pelayanan pengembangan (SPP), kompetensi ketenagaan dan kinerja, yaitu
BK WAS 1 s.d 11 dan laporan kompetensi hasil kegiatan layanan Bimbingan dan
Konseling semester/tahunan.

Instrumen penilaian Pelayanan Konseling diharapkan mampu memotret kekuatan


pengembangan diri melalui pelayanan konseling di sekolah dan secara
berkesinambungan akan memberikan informasi yang berguna bagi upaya
peningkatan mutu yang relevan dengan pendidikan. Kemudian secara berkelanjutan
kompetensi–kompetensi Pelayanan Konseling tersebut diharapkan dapat
memberikan informasi yang berarti bagi upaya peningkatan mutu pengembangan

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 15


diri di sekolah–sekolah sehingga dapat dijadikan studi terhadap kompetensi-
kompetensi tersebut, yang pada gilirannya mampu memberikan dukungan data
yang sangat diperlukan dalam rangka bersama-sama membantu pemerintah untuk
merumuskan kebijakan-kebijakan di bidang pendidikan di Kota Samarinda,
khususnya berkenaan dengan penyelenggaraan dan pengaturan kegiatan Pelayanan
Konseling sebagai salah satu kegiatan alternatif pengembangan diri selain paket
ekstrakurikuler di sekolah.

Standar Pelayanan Pengembangan pada beberapa sekolah binaan dapat


dilaksanakan bilamana di sekolah ada guru BK yang berlatar belakang S1 BK atau
guru bidang studi yang mendapat SK BK mengambil sertifikasi BK sehingga Standar
Pelayanan Pengembangan BK dapat dilakukan penilaian dan dibina pada
tataran/taraf SPP, sebab pada umumnya sekolah-sekolah yang belum ada guru BK
yang berlatar S1 BK atau hanya guru yang diperbantukan untuk mendapat tugas
tambahan BK untuk melengkapi kekurangan jam sertifikasi, pelayanan Konseling
yang mereka lakukan rata-rata masih ala kadarnya dengan cara memberi nasehat,
dan mereka jarang membuat kelengkapan bukti fisik yang baik, hal ini terjadi karena
beberapa alasan diantaranya; sibuk mengajar dan sulit membagi waktu sehingga
konselingpun terkadang jarang dilakukan, oleh karena itu Standar Pelayanan
Minimal pun belum tercapai maka pembinaan dan penilaian belum bisa mencapai ke
arah SPP. Dalam kesempatan ini saya meneliti kinerja guru BK di sekolah binaan
SMA N 11 Samarinda yang semua berjumlah 4 orang yaitu; 1). Ibu [Link] Sri Sutanti,
MBA, MM yang juga sebagai Kepala Sekolah, 2). [Link] sebagai koordinator
BK, 3). [Link] MSi yang juga sebagai wakil Kepala Sekolah bagian Sapras dan
guru Penjas. 4). Ibu Winda Margareta yang juga sebagai guru Bahasa Inggris yang
mengambil tugas tambahan sebagai guru BK, dalam penelitian dimaksudkan untuk
meningkatkan peranan guru BK agar lebih baik lagi melalui Standar Pelayanan
Pengembangan (SPP). Bilamana dalam suatu sekolah kinerja guru BK telah mencapai
Standar Pelayanan Pengembangan dan daya pendukungnya sudah baik dan
maksimal maka tugas perkembangan yang dilakukan untuk para siswa di sekolah
tentu akan berjalan lebih baik.

Melalui penerapan metode motivasi dan kreativitas diharapkan guru Bimbingan dan
Konseling motivasi diri dan kreativitasnya meningkat sehingga peranannya sebagai
guru BK di sekolah dapat dijalankan dengan baik, permasalahan guru dan siswa
berkaitan dengan proses belajar mengajar maupun karir dapat tertangani dengan
tuntas, maka dari itu perlu dilakukan penelitian dengan judul Meningkatkan Kinerja
Guru Bimbingan dan Konseling melalui Standar Pelayanan Pengembangan dengan
metode Motivasi dan Kreativitas pada SMA Negeri 11 [Link] dari latar
belakang, maka masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut:
1. Apakah metode motivasi dan kreativitas dapat meningkatkan kinerja guru
bimbingan dan konseling di SMA Negeri 11 Samarinda ?
2. Sejauhmana penerapan motivasi dan kreativitas dapat meningkatkan kinerja
guru bimbingan dan konseling dalam menjalankan tugasnya di SMA Negeri 11
Samarinda ?

16 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


3. Bagaimana pengembangan motivasi dan kreativitas agar dapat berjalan secara
berkelanjutan ?
4. Sejauhmana Nilai kinerja Standar Pelayanan Pengembangan dapat
menyelesaikan permasalahan di sekolah ?

KINERJA
Kinerja dalam hal ini adalah menyangkut tentang kadar potensi individu dalam
melakukan suatu tugas atau kewajiban sebagai guru bimbingan dan konseling di
sekolah, kinerja dimaksud menyangkut tingkat pendidikan dan spesialisasinya,
tingkat kepribadian dan tingkat kesehatan individu serta tingkat ekonomi dan
sarana pendukungnya, yang kesemuanya itu berkaitan erat dengan tingkat kinerja
dalam pencapaian pelaksanaan tugas dan fungsi guru bimbingan dan konseling di
sekolah. Kinerja juga berkaitan erat dalam proses pelaksanaan tugas dan fungsi
guru bimbingan dan konseling dalam memenuhi nilai standar pelayanan
pengembangan diantaranya keberadaan ruang bimbingan dan konseling apakah
sudah representatif, penyusunan program sesuai analisis dan kebutuhan sekolah dan
siswa, evaluasi dan analisis peleksanaan program dan lain-lain.

BIMBINGAN DAN KONSELING


Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor di sekolah hendaknya; 1). Menguasai
konsep dan praksis penilaian (assessment) untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan
masalah konseli; 2). Menguasai kerangka teoretik dan praksis Bimbingan dan
Konseling; 3). Merancang Program Bimbingan dan Konseling; 4).
Mengimplementasikan Program Bimbingan dan Konseling yang komprehensif; 5).
Menilai proses dan hasil kegiatan Bimbingan dan Konseling; 6). Memiliki kesadaran
dan komitmen terhadap etika profesional; 7). Menguasai konsep dan praksis
penelitian dalam Bimbingan dan Konseling.

STANDAR PELAYANAN PENGEMBANGAN


Standar Pelayanan Pengembangan pada beberapa sekolah binaan dapat
dilaksanakan bilamana di sekolah ada guru Bimbingan Konseling yang berlatar
belakang S1 Bimbingan Konseling atau guru yang mendapat SK BK mengambil
sertifikasi BK sehingga Standar Pelayanan Pengembangan BK dapat dilakukan
penilaian dan dibina pada tataran/taraf Standar Pelayanan Pengembangan (SPP),
sebab pada umumnya sekolah-sekolah yang belum ada guru BK yang berlatar S1 BK
atau hanya guru yang diperbantukan untuk mendapat tugas tambahan BK untuk
melengkapi kekurangan jam sertifikasi, pelayanan Konseling yang mereka lakukan
rata-rata masih ala kadarnya dengan cara memberi nasehat, dan mereka jarang
membuat kelengkapan bukti fisik yang baik, hal ini terjadi karena beberapa alasan
diantaranya; sibuk mengajar dan sulit membagi waktu sehingga konselingpun
terkadang jarang dilakukan, oleh karena itu Standar Pelayanan Minimal pun belum
tercapai maka pembinaan dan penilaian belum bisa mencapai ke arah SPP. Dalam
kesempatan ini saya meneliti kinerja guru BK di sekolah binaan SMA N 11
Samarinda yang semua berjumlah 4 orang yaitu; 1). Ibu [Link] Sri Sutanti,MBA,MM
yang juga sebagai Kepala Sekolah, 2). [Link] sebagai koordinator BK, 3).
[Link] MSi yang juga sebagai wakil Kepala Sekolah bagian Sapras dan guru
Penjas. 4). Ibu Winda Margareta yang juga sebagai guru Bahasa Inggris yang

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 17


mengambil tugas tambahan sebagai guru BK, dalam penelitian dimaksudkan untuk
meningkatkan peranan guru BK agar lebih baik lagi melalui Standar Pelayanan
Pengembangan (SPP).

MOTIVASI
Kinerja seorang guru bimbingan dan konseling dalam melaksanakan tugasnya
didorong oleh motivasi ekstrinsik dan instrinsik (Hunt, Lihat Petri, 1981 dalam
Djalali, 2001). Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor
eksternal misalnya yang berhubungan dengan faktor ekonomi (davids dan
Newstrom, 1989) seperti gaji, honorarium atau insentif-insentif lainnya seperti
harapan untuk cepat naik pangkat. Untuk mendapatkan pujian dan kesan yang baik
atau sebaliknya yaitu menghindari teguran dan penilaian jelek dari atasan. Motivasi
intrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor yang datang dari dalam diri
individu. Ini akan timbul apabila tugas-tugas yang dihadapi individu merupakan
tugas yang diminati (Guilford, 1956), tugas yang menarik (Pinder, Lih, Daniel dan
Esser, 1980) dan tugas yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang dicita-citakan
(elliot dan Dewck, 1980) serta adanya rasa percaya diri dan rasa memiliki
kompetensi untuk dapat melaksanakan tugas (Deci dkk,1975; philips dan lord, 1980
dalam Djalali, 2001).

KREATIVITAS
Kreativitaas adalah sebagai aktivitas kognitif atau proses berpikir untuk
menghasilkan gagasan-gagasan yang baru dan berguna atau new ideas and useful
(Halpern, 1996; Suharnan, 1998, 2000a). Setiap orang dapat berpikir dan bertindak
kreatif pada bidang masing-masing. Sesungguhnya hampir semua bidang
kehidupan manusia dapat dijangkau oleh kreativitas. Kreativitas tidak hanya
dilakukan oleh orang-orang yang memang pekerjaannya menuntut pemikiran
kreatif, tetapi juga dapat dilakukan oleh orang biasa didalam menyelesaikan tugas-
tugas dan mengatasi masalah sehari-hari, misalnya membuat resep makanan baru,
menggunakan cara-cara lain untuk menghindari kemacetan lalulintas di kota-kota
besar, dan mengatur kembali tatanan meja kursi di ruang tamu atau pakaian di
almari agar tampak lain dan serasi (Suharnan, 2005).

CIRI-CIRI KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF


Seseorang dikatakan kreatif tentu ada indikator-indikator yang menyebabkan
seseorang itu disebut kreatif. Indikator yang sebagai ciri dari kreativitas dapat
diamati dalam dua aspek yakni aspek aptitute dan nonaptitute. Ciri-ciri aptitute
adalah ciri-ciri yang berhubungan dengan kognisi atau proses berpikir, sedangkan
ciri-ciri nonaptitute adalah ciri-ciri yang lebih berkaitan dengan sikap atau perasaan.
Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukan indikator kreativitas dikemukan oleh
(Munandar, S. C. U, 1992) sebagai berikut :
1. Dorongan ingin tahu besar
2. Sering mengajukan pertanyaan yang baik
3. Memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah
4. Bebas dalam menyatakan pendapat
5. Mempunyai rasa keindahan
6. Menonjol dalam salah satu bidang seni

18 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


7. Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah
terpengaruh oleh orang lain.
8. Rasa humor tinggi
9. Daya imajinasi kuat
10. Keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan
sebagainya; dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal, yang
jarang diperlihatkan anak-anak lain)
11. Dapat bekerja sendiri
12. Senang mencoba hal-hal baru
13. Kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan
laborasi)

Dari uraian mengenai ciri-ciri kreativitas diatas maka dapat dipahami bahwa
seseorang dikatakan kreatif apabila dalam interaksinya dengan lingkungan ciri-ciri
dari kreativitas mendominasi dalam aktivitas kehidupannya, dan melakukan
segalanya dengan cara-cara yang unik. Semua ciri-ciri tersebut secara konstruktif
dapat dimunculkan dalam diri setiap individu, sebab setiap individu memiliki
potensi kreatif. Treffinger (1980) dalam Reni Akbar-Hawadi dkk, 2001 mengatakan
bahwa tidak ada seorang pun yang tidak memiliki kreatifitas, hal ini memberikan
makna bahwa setiap orang memiliki potensi kreatif dalam dirinya.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KREATIVITAS


Kreativitas peserta didik agar dapat terwujud membutuhkan adanya dorongan
dalam diri individu (motivasi intrinsik) dan dorongan dari lingkungan (motivasi
ekstrinsik).

MOTIVASI UNTUK KREATIVITAS


Pada setiap orang ada kecenderungan atau dorongan untuk mewujudkan
potensinya, untuk mewujudkan dirinya; dorongan untuk berkembang dan menjadi
matang, dorongan untuk mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitas
seseorang. Dorongan ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika
individu membentuk hubungan-hubungan baru dengan lingkungannya dalam
upaya menjadi dirinya sepenuhnya (Rogers, 1982 dalam Munandar, 1999). Motivasi
intrinsik ini yang hendakanya dibangun dalam diri individu sejak dini. Hal ini dapat
dilakukan dengan memperkenalkan individu dengan kegiatan-kegiatan kreatif,
dengan tujuan untuk memunculkan rasa ingin tahu, dan untuk melakukan hal-hal
baru.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kepengawasan yang dilaksanakan


dalam tiga siklus, Siklus I tanggal 12,13 Oktober 2011, Siklus II tanggal 1,2 Nopember
2011, Siklus III tanggal 10 Desember 2011 dan 14 Januari 2012. Penelitian
dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut :
1. Perencanaan. Hal-hal yang dilakukan dalam perencanaan adalah: menetapkan
materi dan pokok bahasan, menyusun rencana pelaksanaan, menyiapkan

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 19


format-format bimbingan termasuk standar pelayanan pengembangan,
menyusun instrumen observasi dan evaluasi.
2. Tindakan. Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan tindakan, dalam hal ini adalah
pemberian motivasi dan kreativitas. Pada pelaksanan tindakan ini peneliti
melakukan pengamatan atau observasi untuk bahan refleksi.
3. Refleksi. Hasil Observasi dibahas oleh observer dalam hal ini penelitio.
4. Tindak lanjut. Hasil refleksi digunakan untuk menyusun rencana perbaikan pada
siklus berikutnya. Demikian seterusnya sampai tujuan yang telah dirumuskan
tercapai.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian tindakan kepengawasan dilaksanakan dalam tiga siklus yang dalam


pelaksanaannya diobservasi oleh peneliti.
Siklus I
Keberhasilan yang diharapkan pada siklus I adalah : (1). Guru bimbingan dan
konseling telah Menata ruang BK agar lebih simpatik dan menyenangkan dengan
ruang khusus dengan kondisi baik, peneliti memberikan skore 2, (2). Guru BK telah
membuat program BK sesuai analisis dan kebutuhan siswa namun belum lengkap,
sehingga peneliti memberikan skore 2, (3). Guru bimbingan dan konseling membuat
Evaluasi dan analisis program dan tindak lanjutnya peneliti memberi skore 2, (4).
Guru bimbingan dan konseling membuat laporan bulanan dan akhir tahun, peneliti
memberi skore 2, (5). Guru bimbingan dan konseling membuat Jurnal kegiatan
harian namun belum lengkap, maka peneliti memberi skore 1, (6). Guru bimbingan
dan konseling telah membagi tugas guru pembimbing termasuk jumlah dan siswa
asuh, peneliti memberi skore 2, (7). Telah ada konselor/guru pamong atau alih
fungsi yang telah mengikuti pelatihan, peneliti memberi skore 4, (8). Pembagian
tugas bimbingan dengan rasio 1 : 150 > 250, telah memenuhi syarat, sehingga peneliti
memberi skore 4, (9). Penentukan koordinator konselor berlatar belakang BK dan
berpengalaman telah memenuhi ketentuan maka peneliti memberi skore 4, (10).
Guru bimbingan dan konseling telah melaksanakan peningkatan pengetahuan
melalui pelatihan, seminar, lokakarya, peneliti memberi skore 3, (11). Guru
bimbingan dan konseling mengadakan layanan dengan pola 17 plus (perencanaan,
pelaksanaan), peneliti memberi skore 3, (12). Guru bimbingan dan konseling telah
mengadakan layanan penempatan dan penyaluran lulusan, peneliti memberi skore
4, (13). Guru bimbingan dan konseling membuat layanan kotak masalah
(pelaksanaan dan tindak lanjut), peneliti memberi skore 1, (14). Guru bimbingan dan
konseling mengadakan layanan konsultasi dan mediasi (rencana, pelaksanaan dan
tindak lanjut), peneliti memberi skore 3, (15). Guru bimbingan dan konseling telah
membuat aplikasi instrumen BK (non test), peneliti memberi skore 3, (16). Guru
bimbingan dan konseling telah menyelenggarakan himpunan data, karena belum
lengkap peneliti memberi skore 3, (17). Guru bimbingan dan konseling telah
membuat konferensi kasus, hampir lengkap, peneliti memberi skore 4, (18). Guru
bimbingan dan konseling Mengadakan kunjungan rumah, hampir lengkap, peneliti
memberi skore 4, (19). Guru melaksanakan alih tangan kasus antar guru BK dan
guru mata pelajaran/wali kelas/luar sekolah atau ahli lain, peneliti memberi skore 3.

20 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Secara keseluruhan hasil penilaian Standar Pelayanan Pengembangan guru
bimbingan dan konseling pada siklus I adalah 65.85.

Siklus II
Keberhasilan yang diharapkan pada siklus II adalah : (1). Guru bimbingan dan
konseling telah menata ruang BK agar lebih simpatik dan menyenangkan dengan
ruang khusus dengan kondisi baik, peneliti memberikan skore 2, (2). Guru BK telah
Membuat program BK sesuai analisis dan kebutuhan siswa namun belum lengkap,
sehingga peneliti memberikan skore 2, (3). Guru bimbingan dan konseling Membuat
Evaluasi dan analisis program dan tindak lanjutnya, peneliti memberi skore 2, (4).
Guru bimbingan dan konseling membuat laporan bulanan dan akhir tahun, peneliti
memberi skore 2, (5). Guru bimbingan dan konseling membuat Jurnal kegiatan
harian , hampir lengkap, maka peneliti memberi skore 2, (6). Guru bimbingan dan
konseling telah membagi tugas guru pembimbing termasuk jumlah dan siswa asuh,
peneliti memberi skore 2, (7). Telah ada konselor/guru pamong atau alih fungsi yang
telah mengikuti pelatihan, peneliti memberi skore 4, (8). Pembagian tugas bimbingan
dengan rasio 1 : 150 > 250, telah memenuhi syarat, sehingga peneliti memberi skore
4, (9). Penentukan koordinator konselor berlatar belakang BK dan berpengalaman
telah memenuhi ketentuan maka peneliti memberi skore 4, (10). Guru bimbingan
dan konseling telah melaksanakan peningkatan pengetahuan melalui pelatihan,
seminar, lokakarya, peneliti memberi skore 3, (11). Guru bimbingan dan konseling
mengadakan layanan dengan pola 17 plus (perencanaan, pelaksanaan), peneliti
memberi skore 4, (12). Guru bimbingan dan konseling telah mengadakan layanan
penempatan dan penyaluran lulusan, peneliti memberi skore 4, (13). Guru
bimbingan dan konseling membuat layanan kotak masalah (pelaksanaan dan tindak
lanjut), peneliti memberi skore 3, (14). Guru bimbingan dan konseling mengadakan
layanan konsultasi dan mediasi (rencana, pelaksanaan dan tindak lanjut), peneliti
memberi skore 4, (15). Guru bimbingan dan konseling telah membuat aplikasi
instrumen BK (non test), peneliti memberi skore 3, (16). Guru bimbingan dan
konseling telah menyelenggarakan himpunan data, hampir lengkap peneliti
memberi skore 4, (17). Guru bimbingan dan konseling telah membuat konferensi
kasus, hampir lengkap, peneliti memberi skore 4, (18). Guru bimbingan dan
konseling Mengadakan kunjungan rumah, hampir lengkap, peneliti memberi skore
4, (19). Guru melaksanakan alih tangan kasus antar guru BK dan guru mata
pelajaran/wali kelas/luar sekolah atau ahli lain, peneliti memberi skore 4. Secara
keseluruhan hasil penilaian Standar Pelayanan Pengembangan guru bimbingan
konseling pada siklus II adalah 74,39.

Siklus III
Keberhasilan yang diharapkan pada siklus III adalah : (1). Guru bimbingan dan
konseling telah Menata ruang BK agar lebih simpatik dan menyenangkan dengan
ruang khusus dengan kondisi baik, peneliti memberikan skore 2, (2). Guru BK telah
Membuat program BK sesuai analisis dan kebutuhan siswa namun belum lengkap,
sehingga peneliti memberikan skore 3, (3). Guru bimbingan dan konseling Membuat
Evaluasi dan analisis program dan tindak lanjutnya, peneliti memberi skore 3, (4).
Guru bimbingan dan konseling membuat laporan bulanan dan akhir tahun, peneliti
memberi skore 2, (5). Guru bimbingan dan konseling membuat Jurnal kegiatan

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 21


harian , hampir lengkap, maka peneliti memberi skore 2, (6). Guru bimbingan dan
konseling telah membagi tugas guru pembimbing termasuk jumlah siswa asuh,
peneliti memberi skore 3, (7). Telah ada konselor/guru pamong atau alih fungsi yang
telah mengikuti pelatihan, peneliti memberi skore 4, (8). Pembagian tugas bimbingan
dengan rasio 1 : 150 > 250, telah memenuhi syarat, sehingga peneliti memberi skore
4, (9). Penentukan koordinator konselor berlatar belakang BK dan berpengalaman
telah memenuhi ketentuan maka peneliti memberi skore 4, (10). Guru bimbingan
dan konseling telah melaksanakan peningkatan pengetahuan melalui
pelatihan,seminar, lokakarya, peneliti memberi skore 4, (11). Guru bimbingan dan
konseling mengadakan layanan dengan pola 17 plus (perencanaan, pelaksanaan),
peneliti memberi skore 4, (12). Guru bimbingan dan konseling telah mengadakan
layanan penempatan dan penyaluran lulusan, peneliti memberi skore 4, (13). Guru
bimbingan dan konseling membuat layanan kotak masalah (pelaksanaan dan tindak
lanjut), peneliti memberi skore 5, (14). Guru bimbingan dan konseling mengadakan
layanan konsultasi dan mediasi (rencana, pelaksanaan dan tindak lanjut), peneliti
memberi skore 5, (15). Guru bimbingan dan konseling telah membuat aplikasi
instrumen BK (non test), peneliti memberi skore 4, (16). Guru bimbingan dan
konseling telah menyelenggarakan himpunan data, lengkap peneliti memberi skore
5, (17). Guru bimbingan dan konseling telah membuat konferensi kasus, hampir
lengkap, peneliti memberi skore 4, (18). Guru bimbingan dan konseling Mengadakan
kunjungan rumah, hampir lengkap, peneliti memberi skore 4, (19). Guru
melaksanakan alih tangan kasus antar guru BK dan guru mata pelajaran/wali
kelas/luar sekolah atau ahli lain, peneliti memberi skore 4. Secara keseluruhan hasil
penilaian Standar Pelayanan Pengembangan guru bimbingan konseling pada siklus
III adalah 85.37.

Berdasarkan hasil refleksi terhadap penelitian tindakan kepengawasan siklus III,


peneliti berpendapat bahwa hasil pada siklus III terdapat peningkatan sesuai dengan
yang diharapkan. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel hasil penelitian dalam tiga
siklus :

Indikator Penilaian Kinerja BK (Standar Pelayanan Siklus


No.
Pengembangan) I II III
1 Menata ruang BK agar lebih simpatik dan menyenangkan, 2 2 2
2 Membuat program BK sesuai analisis dan kebutuhan siswa, 2 2 3
Membuat Evaluasi dan analisis program dan tindak
3 2 2 3
lanjutnya,
4 Membuat laporan bulanan dan akhir tahun, 2 2 2
5 Membuat Jurnal kegiatan harian, 1 2 2
Membagi tugas guru pembimbing termasuk siswa asuh dan
6 2 2 3
mem BK mapel
Ada konselor/guru pamong atau alih fungsi yang telah
7 4 4 4
pelatihan
8 Membagi tugas bimbingan dengan rasio 1 : 150 > 250, 4 4 4
9 Koordinator konselor sekolah berlatar belakang BK dan 4 4 4

22 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


berpengalaman,
Melaksanakan peningkatan pengetahuan melalui pelatihan,
10 3 3 4
seminar, lokakarya,
Mengadakan layanan dengan pola 17 plus (perencanaan,
11 3 4 4
pelaksanaan),
12 Mengadakan layanan penempatan dan penyaluran lulusan, 4 4 4
Membuat layanan kotak masalah (pelaksanaan dan tindak
13 1 3 5
lanjut),
Mengadakan layanan konsultasi dan mediasi (Rencana,
14 3 4 5
Pelaksanaan dan tindak lanjut)
15 Membuat aplikasi instrumen BK (non test) 3 3 4
16 Menyelenggarakan himpunan data, 3 4 5
17 Membuat konferensi kasus, 4 4 4
18 Mengadakan kunjungan rumah, 4 4 4
19 Melaksanakan alih tangan kasus. 3 4 4
Jumlah 54 61 70
Nilai 65,85 74,39 85,37

Berdasarkan tabel diatas, maka peneliti berkesimpulan bahwa:


1. Pemberian Motivasi dan Kreativitas kepada guru bimbingan dan konseling dapat
memberikan semangat dan memunculkan ide-ide baru sehingga kinerja dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya di sekolah dapat meningkat lebih baik.
2. Penerapan Motivasi dan Kreativitas oleh guru bimbingan dan konseling dapat
memacu prestasi kerja di sekolah, baik secara administrasi dan praktek dalam
memberikan layanan konseling pribadi, bimbingan kelompok, bimbingan
klasikal kepada siswa.
3. Motivasi dan Kreativitas guru bimbingan konseling mampu meningkatkan nilai
Standar Pelayanan Pengembangan di sekolah.

Pemberian motivasi dan kreativitas kepada guru bimbingan dan konseling bukanlah
satu-satunya metode dalam meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugas dan
fungsinya sebagai guru bimbingan dan konseling di sekolah, metode inipun
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Beberapa kelebihan dan kekurangan metode
motivasi dan kreativitas adalah:
1. Dengan metode motivasi dan kreativitas guru bimbingan dan konseling lebih
semangat dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di sekolah. Guru bimbingan
dan konseling terdorong untuk memunculkan ide-ide baru dalam upaya
perbaikan dan kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsinya di sekolah.
2. Kekurangannya adalah motivasi dan kreativitas bila dilaksanakan pada situasi
yang kurang tepat hasilnya kurang maksimal, contoh guru yang diberi motivasi
dan kreativitas kondisi badannya sedang tidak sehat.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 23


SIMPULAN
1. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kepengawasan, ternyata metode motivasi
dan kreativitas layak untuk diterapkan dalam upaya untuk meningkatkan kinerja
guru bimbingan dan konseling dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di
sekolah.
2. Penerapan motivasi dan kreativitas kinerja guru bimbingan dan konseling dapat
meningkat sehingga hasil penilaian standar pelayanan pengembangan dapat
tercapai lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006. Mengembangkan Potensi Siswa, jakarta : Diknas

Arikunto, Suhardjono, dan Sugandi, 2006. Pendidikan Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi

Aksara

As'ad Djalali, 2001. Psikologi Motivasi, Minat Jabatan, Intelegensia, Bakat dan Motivasi
[Link] : Wineka Media

Depdiknas, 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang
standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta : Departemen
Pendidikan Nasional.

Boediono, 2003. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah


Umum,Kejuruan, Madrasah Aliyah dan sederajat. Jakarta : Pusat
Kurikulum BalitbangDepdiknas.

Djumhur dan Surya, 1975. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Bandung : Ilmu

Prayitno, 1999. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah.


Jakarta :Rineka Cipta.

Suharnan, 2005. Psikologi Kognitif, Surabaya : Srikandi.

Surya Dharma, 2007. Petunjuk Teknis Penelitian Tindakan Sekolah ( School Action
Research)Peningkatan Kompetensi Supervisi Pengawas Sekolah SMA/SMK,
Jakarta. Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan
Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas.

Utami Munandar, Semiawan 1990. Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah,
Jakarta : Gramedia.

24 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


PENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MEMAHAMI TEKS DESKRIPTIF
MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN KOOPERTIF TEAM GAME
TURNAMENT (TGT) DI KELAS VIIIB SMP NEGERI 1 SANGATTA SELATAN
TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Jamalludin
Guru SMP Negeri 1 Sangatta Selatan

Abstrak

This research is a class act with the aim to improve students' English learning
outcomes through the cooperative learning approach to the theme of
understanding the type TGT descriptive text on the students in the class
VIIIB South Junior High School Year of Lesson 1 Sangata 2010/2011. The
research was conducted at South Junior High School Year of Lesson 1 Sangata
2010/2011 with research subjects VIIIB class numbered 33 students and the
object of this research is the study koopertif type TGT. Data collection
instrument in the form of the test results of study and observation. The test
results of study carried out each end of the cycle to determine the increase in
learning outcomes at the end of the cycle. These observations were carried out
at each meeting and during the learning process takes place. The study
consisted of two cycles where each cycle consists of four meetings with twice
the learning, one game tournaments and one-time test results to learn. Who
acted as executor of learning is a researcher and acting as an observer is an
English teacher class VIIIB SMP Negeri 1 South Sangatta Lessons Year
2010/2011. The results showed that there are average learning results in cycle
I of 54.70 and 70.30 for the second cycle resulting in an increase of 15.60.
Sedangakan average teacher observation of activity in the cycle I is 79.33
sedangan the second cycle of 8.2 resulting in increased. Conclusions in this
study is through learning cooperative learning outcomes type TGT english to
understand the descriptive text in class VIIIB South Junior High School Year
of Lesson 1 Sangata 2010/2011 has increased.

Kata kunci: Cooperative Learning type TGT.

PENDAHULUAN

Sampai sekarang pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa


pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus
pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. Dengan diterapkannya Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut peran guru terutama dalam proses
pembelajaran agar siswa memiliki pengalaman belajar yang bermakna. Kompetensi
yang diharapkan dikuasai siswa dapat diukur melalui indikator yang merupakan
penjabaran kompetensi dasar dan diwujudkan dalam pengalaman belajar pada

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 25


proses pembelajaran. Pengalaman belajar dapat diartikan sebagai interaksi antara
siswa dengan bahan ajar.

Berdasarkan refleksi penulis yang dilakukan sebelum melakasanakan penelitian


pembelajaran Kooperatif tipe TGT bahwa siswa sering memiliki kesulitan untuk
memahami suatu materi ajar apabila pengalaman belajar yang diberikan hanya
sebatas mendengarkan ceramah guru dan sesuatu yang abstrak. Karena tidak semua
materi ajar tepat disajikan melalui metode ceramah. Lemahnya pemahaman siswa
tersebut dilatar belakangi oleh pembelajaran bahasa inggris di sekolah masih
menggunakan pendekatan tradisional.

Penelitian ini diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan pembelajaran bahasa


Inggris khususnya untuk memahami teks deskriptif melalui pendekatan Team Game
Turnamen (TGT). Melalui pendekatan TGTperan guru dalam menyediakan dan
memberikan pengalaman belajar yang bermakna sangat diperlukan. Bagaimana
seorang guru menemukan cara terbaik untuk menyampaikan bahan ajar, sehingga
siswa dapat memahami dan mengingatnya lebih lama. Pengalaman belajar yang
dimiliki siswa merupakan bagian yang saling berhubungan dan membentuk satu
pemahaman yang utuh. Sebagai seorang guru dituntut untuk dapat berkomunikasi
secara efektif dengan siswanya yang selalu bertanya-tanya tentang alasan dari
sesuatu, arti dari sesuatu, dan hubungan dari apa yang mereka pelajari. Dan yang
tidak kalah pentingnya bagaimana guru dapat membuka wawasan berpikir yang
beragam dari siswa, sehingga mereka dapat memiliki pengalaman belajar yang
bermakna dan mampu mengkaitkannya dengan kehidupan nyata, sehingga dapat
membuka berbagai pintu kesempatan untuk keberhasilan dalam hidupnya. Semua
itu merupakan tantangan yang dihadapi guru untuk menyajikan materi ajar dengan
lebih bervariasi, dan inovatif.

Belajar koperatif merupakan pembelajaran yang dilaksanakan dalam bentuk


kelompok kecil yang siswanya bekerja sama untuk menyelesaikan tugas dan saling
meyakinkan antar anggota kelompok dalam mempelajari materi yang ditugaskan
(Johnson dan Johnson, 1990:4). Belajar kooperatif dibangun oleh lima unsur
pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran gotong royong. Lie (2002:30-36)
menyatakan kelima unsur tersebut, yaitu (1) saling ketergantungan positif, (2)
tanggung jawab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antaranggota, dan (5)
penilaian proses kelompok. Keberhasilan kelompok tergantung pada usaha setiap
anggotanya. Setiap siswa memiliki kesempatan untuk memberikan sumbangan
keberhasilan kepada kelompoknya. Dengan demikian, dalam belajar kooperatif
terdapat saling ketergantungan positif. Unsur tanggung jawab perseorangan
ditekankan kepada setiap siswa. Setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk
melakukan yang terbaik demi tercapinya keberhasilan kelompok. Unsur tatap muka
merupakan pemberian kesempatan kapada setiap siswa dalam kelompok untuk
bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi akan memberikan para pembelajar
untuk melakukan sinergi yang menguntungkan semua anggota. Dalam belajar
kooperatif terjadi komunikasi antaranggota. Keberhasilan suatu kelompok
bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan

26 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


kemampuan siswa untuk mengutarakan pendapatnya. Sementara itu, penilaian
proses kelompok merupakan penilaian kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka
agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

Shepardson (dalam Slavin, 2008) menyebutkan beberapa ciri cooperative learning


(belajar kooperatif), yaitu (1) adanya interaksi antarsiswa, (2) interdependensi positif,
(3) akuntabilitas individual, dan (4) pencapaian tujuan bersama. Keempat hal
tersebut diuraikan berikut ini. Pertama, guru perlu selalu mengupayakan adanya
interaksi antarsiswa yang berada dalam sebuah kelompok (student-to-student
interaction). Strategi belajar kooperatif tidak membenarkan guru membiarkan
seorang siswa terlalu mendominasi jalannya diskusi. Guru mempunyai kewajiban
untuk mengendalikan jalannya kegiatan belajar berkelompok ini. Kedua, guru perlu
menciptakan kondisi yang mampu memberikan kesempatan yang merata kepada
masing-masing anggota kelompok untuk berpendapat, menyampaikan ringkasan,
mempertahankan pendapat, ataupun memberikan jalan keluar jika diskusi
mengalami kemacetan. Kedua, guru perlu menciptakan interdependensi positif
dikalangan anggota kelompok. Artinya, masing-masing anggota kelompok harus
diupayakan terlibat dalam kegiatan belajar ini. Dengan cara memberikan giliran
yang telah diatur sebelumnya, guru perlu membuat siswa memaksa diri ikut
berperan dalam kelompoknya.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar secara kooperatif


menitik beratkan pembentukan siswa dalam kelompok belajar yang kecil dalam
proses pembelajaran. Kelompok belajar itu merupakan wadah siswa dalam
memecahkan masalah pembelajaran. Kelompok belajar kooperatif dibentuk dengan
mempertimbangkan latar belakang siswa. Pembelajaran kooperatif model TGT
adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan,
melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan
peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan
reinforcement.

Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif


model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping
menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan
belajar. Menurut Slavin (2002:78) Ada 6 komponen utama dalam dalam TGT yaitu:
1. Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas,
biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi
yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar
memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan
membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game
karena skor game akan menentukan skor kelompok.

2. Kelompok (team)
Kelompok terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat
dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 27


untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus
untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal
pada saat game.

3. Game Turnamen
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji
pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok.
Turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru
melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja.
Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga
siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya
ada meja II dan seterusnya.

A-1 TEAM
A-2 A-3 A -4
A
Tinggi Sedang SedangRendah

TEAM B TEAM C

Meja Meja Meja


Meja
Turnamen Turnamen Turnamen
Turnamen
1 2 4
3

C-1 C-2 C-3 C -4


B-1 B-2 B-3 B -4
Tinggi Sedang SedangRendah
Tinggi Sedang SedangRendah

4. Pemberian Tes
Pemberian tes dilakukan secara individual. Siswa menjawab kuis tentang bahan
pembelajaran. Sasaran penilaian meliputi tiga aspek. Ketiga aspek tersebut, yaitu
(1) perkembangan kerja sama siswa di dalam kelompok, (2) perkembangan
kemampuan siswa dalam melakukan suatu investigasi, pengorganisasian topik,
serta kemampuan berbagi pengetahuan dengan siswa lain, dan (3) kemampuan
individual siswa dalam memahami materi pelajaran secara keseluruhan (Eggen
dan Kauchak, 1996:300).

Aspek penilaian yang diungkapkan Eggen dan Kauchak di atas, menuntut dua
bentuk penilaian, yaitu penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses
pembelajaran digunakan untuk menilai proses kerja sama dan kaktifan siswa
dalam kelompok. Sementara itu, penilaian hasil pembelajaran dilakukan untuk
mengetahui perkembangan kemampuan dalam memahami materi pembelajaran.
Berkaitan dengan penilaian hasil, Ibrahim (2000:56) menyarankan agar butir-butir
dalam tes itu merupakan suatu jenis tes objektif, sehingga butir-butir itu dapat
diskor di kelas atau segera setelah tes selesai diberikan.

5. Team recognize (penghargaan kelompok)

28 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team
akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria
yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau
lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila
rata-ratanya 30-40.

METODOLOGI PENELITIAN

a. Rancangan Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.
Penelitian ini adalah suatu bentuk penelitian dengan melakukan tindakan-
tindakan tertentu yaitu penggunaan pembelajaran kooperatif tipe TGT kepada
siswa agar dapat memperbaiki atau meningkatkan hasil belajarnya. Dalam
penelitian, prosedur penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap-tiap siklus
dilaksanakan sesuai perubahan yang ingin di capai.
1. Perencanaan
a. Membuat desain pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif tipe TGT
dengan pemilihan tema yang ditentukan
b. Membuat alat evaluasi hasil belajar siswa untuk dikerjakan di kelas
c. Membuat lembar observasi untuk melihat kondisi belajar mengajar di
kelas pada waktu pembelajaran kooperatif tipe TGT.

2. Implementasi Tindakan
Pada tahap implementasi tindakan peneliti melaksanakan pembelajaran yang
dimulai dengan memberikan pengetahuan prosedural melalui permodelan
tentang pembelajaran kooperatif tipe TGT. Dengan tujuan untuk membantu
siswa memahami teks deskriptif yang diajarkan.
3. Observasi
Dengan menggunakan pedoman observasi yang telah direncanakan, observer
melakukan pengamatan :
a. Apakah rencana yang telah ditetapkan dilaksanakan atau tidak.
b. Jika dilaksanakan apakah pelaksanaannya sesuai dengan rencana yang
dibuat.
c. Jika sesuai apakah pelaksanannya itu berdampak pada siswa

4. Refleksi
Data yang diperoleh dari hasil observasi selama proses pembelajaran
dilakukan analisa dan dilakukan refleksi sebagai bahan penyusunan rencana
tindakan pada siklus berikutnya. Pada tahap refleksi ada beberapa kriteria
yang dijadikan sebagai rambu-rambu keberhasilan, misalnya : apakah proses
pembelajaran sudah sesuai dengan rencana dan bagaimana pengaruhnya
terhadap peningkatan hasil belajar kemampuan memahami teks deskriptif
siswa kelas VIIIB pada SMP Negeri 1 Sangata Selatan Tahun Pelajaran
2010/2011.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 29


b. Indikator keberhasilan
1. Terhadap pelaksanaan tindakan :
a. Guru lancar melaksanakan penelitian.
b. Respon siswa positif terhadap penelitian.
c. Kendala yang dihadapi minimal dan dapat di atasi oleh guru, tanpa
menimbulkan dampak yang berarti terhadap penelitian.
2. Terhadap hasil belajar siswa
a. Daya serap individu pada siklus II mengalami kenaikan jika dibandingkan
dengan siklus I.
b. Skor kemajuan siswa pada siklus II mengalamai kemajuan jika
dibandingkan degan siklus I
3. Terhadap pilihan Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran Kooperatif tipe TGT dapat digunakan untuk meningkatkan
hasil belajar bahasa Inggris. Hal ini tercermin dari kenaikan nilai siklus II di
bandingkan dengan nilai siklus I. Adapun penghitungan skor perkembangan
individu yang dikemukakan Slavin (1995) seperti terlihat dalam tabel berikut :

Tabel 1 :
Pedoman Pemberian Skor perkembangan Individu

Skor tes Skor perkembangan


Individu
(a) Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5
(b) 10 hingga 1 poin di bawah skor awal 10
(c) Skor awal sampai 10 poin di atasnya 20
(d) Lebih dari 10 poin di atas skor awal 30
(e) Nilai sempurna (tidak berdasarkan skor awal) 30

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

SIKLUS I

1. Hasil Pengamatan
Aspek yang diamati terhadap perilaku peneliti meliputi keterampilan membuka
pelajaran (A), penerapan pendekatan Cooperative leraning Tipe TGT dalam
pembelajaran (B), keterampilan membimbing kelompok dalam berdiskusi (C)
dan keterampilan menutup pelajaran (D). Pengamatan yang dilakukan observer
terhadap kinerja peneliti. Pembelajaran yang dilakukan belum sesuai harapan
dan masih terdapat beberapa kekurangan. Sebagian besar aspek yang diamati
observer dilakukan oleh peneliti dengan baik, kecuali keterampilan
menyampaikan tujuan dan pelaksanaan game turnamen, hal ini diakibatkan
peneliti belum pernah melakukaan penelitian ini. Keterampilan peneliti menutup
pelajaran termasuk katagori sangat baik pada penelitian di SMP N 1 Sangatta
Selatan. Kinerja guru sebagai peneliti rata-rata dilakukan dengan baik.

Tingkat pemahaman siswa terhadap materi ajar pada siklus I masih belum
menunjukkan perubahan yang signifikan, masih terjadi kegaduhan pada siswa

30 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


terutama dalam memulai dengan pembentukan kelompok. Pada saat game
turnamen berjalan dengan baik tapi terjadi insiden kecil yaitu para siswa saling
ejek dengan kelompok yang lain namun bisa tertasi dengan baik. Penilaian siswa
berkaitan dengan observasi dan ulangan beberapa siswa masih mengalami
kesulitan dalam berdiskusi dengan pendekatan pembelajaran kooperatif tipe
TGT, sehingga peneliti lebih banyak memberikan bimbingan pada teknis diskusi
pembelajaran kooperatif tipe TGT. Tingkat penguasaan siswa pada materi
membaca teks deskriptif pada nilai observasi rata-rata baik dan untuk nilai
ulangan termasuk kurang baik. Dengan demikian sementara dapat disimpulkan
bahwa pemahaman materi ajar secara berkelompok lebih baik bila dibandingkan
dengan pemahaman secara perseorangan.

2. Refleksi
Setelah dilakukan refleksi berdasarkan hasil pengamatan melalui diskusi antara
peneliti dan observer disimpulkan bahwa kinerja peneliti pada siklus I perlu
ditingkatkan terutama keterampilan menyampaikan tujuan dan pelaksanaan
game turnamen dalam penerapan pendekatan Cooperative Learning Tipe TGT
dalam pembelajaran dan melakukan bimbingan siswa pada proses diskusi dan
turnamen. Peneliti perlu melakukan beberapa perbaikan dalam menyampaikan
tujuan pembelajaran dan game turnamen siswa pada siklus II.

SIKLUS II

1. Hasil Pengamatan
Pelaksanaan tindakan memang belum dapat dilakukan secara maksimal, namun
telah mendekati harapan peneliti. Peneliti telah dapat mengelola kelas dengan
baik, melakukan pengamatan dan bimbingan kelompok secara merata dan siswa
memiliki kesempatan berpartisipasi lebih banyak dalam pembelajaran. Upaya
untuk meningkatkan kinerja peneliti telah benar-benar dilakukan melalui
berbagai tahap refleksi dan perbaikan. Pengamatan yang dilakukan observer pada
kinerja peneliti, rata-rata setiap aspek pengamatan yang terdiri dari keterampilan
membuka pelajaran, penerapan pendekatan Kooperatif tipe TGT dalam
pembelajaran, keterampilan membimbing kelompok dan keterampilan menutup
pelajaran termasuk katagori sangat baik. Rata-rata skor aspek pengamatan
terhadap kinerja peneliti di kelas VIIIB SMPN 1 Sangata Selatan adalah 8,2.

Kinerja peneliti belum sepenuhnya sesuai harapan, akan tetapi tindakan yang
dilaksanakan mengalami peningkatan secara bertahap mulai dari siklus I sampai
pada siklus II. Peningkatan kinerja peneliti telah diupayakan melalui diskusi
pada tahap refleksi setiap siklusnya dan usaha perbaikan perencanaan tindakan
pada siklus berikutnya. Dampak yang diharapkan dari peningkatan kinerja
peneliti adalah meningkatnya pemahaman siswa terhadap teks deskriptif dan
meningkatkan motivasi belajar siswa. Nilai observasi dan nilai ulangan yang
diperoleh siswa termasuk katagori sangat baik. Perubahan yang terjadi sangat
signifikan untuk nilai observasi mengalami kenaikan dan untuk nilai ulangan
mengalami kenaikan.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 31


2. Refleksi
Berdasarkan temuan pada siklus II dan hasil diskusi guru peneliti dengan
(observer) disimpulkan bahwa peningkatan kinerja guru berdampak
meningkatnya hasil belajar dan motivasi belajar siswa. Siswa memiliki motivasi
dalam pembelajaran apabila penyampaian materi ajar dikemas sedemikian rupa
sehingga menarik bagi siswa dan diusahakan adanya variasi penyajian. Peran
pembelajaran koopertaif tipe TGT dalam pembelajaran tidak dapat diabaikan.

Meningkatnya pemahaman siswa terhadap teks deskriptif berbanding lurus


dengan pelaksanaan tindakan yang dilakukan. Kelemahan yang dijumpai dalam
hal pengelolaan kelas terjadi apabila terdapat diskusi yang tidak sehat, sehingga
diperlukan tindakan antisipasi berupa penanganan sesegera mungkin agar
tindakan yang dilakukan semaksimal mungkin sesuai perencanaan yang dibuat.
Hasil penelitian ini belum merupakan hasil akhir dari penelitian tindakan kelas
yang dilakukan, sehingga masih perlu adanya tindak lanjut melalui perencanaan
yang lebih baik.

Analisa Data
1. Siklus I
Hasil analis kuantitatif dapat memberikan informasi prosentase keberhasilan
siswa, sedangkan analisis kualitatif dapat memberikan informasi seberapa
motivasi siswa terhadap pembelajaran bahasa inggris dengan menggunakan
pendekatan pembelajaran kooperatif tipe TGT. Hasil dari kedua analisis tersebut
akan memberikan informasi efektif tidaknya suatu pembelajaran yang telah
dilaksanakan. Jika kriteria keefektifan pembelajaran tercapai maka pembelajaran
siklus I dikatakan tuntas. Namun, jika hasil analisis tersebut memperlihatkan
pembelajaran yang kurang efektif maka perlu dilakukan tindakan siklus II untuk
memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I sampai
pembelajaran tersebut tuntas.
1. Analisis Kuantitatif
Tes akhir pada siklus I diberikan pada hari Rabu tanggal 6 Oktober 2010
pukul 09.45 – 11.05 Wita. Berikut disajikan hasil tes akhir pada siklus I dalam
tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil tes akhir siklus I

No Keterangan Jumlah Siswa


1 Siswa dengan nilai minimal di bawah 60 15
2 Siswa dengan nilai minimal di atas 60 18

Dari tabel 4.1 terlihat bahwa prosentase siswa yang mendapatkan nilai
minimal di bawah 60 sebanyak 15 siswa atau 45,45% dan siswa dengan nilai
minimal di atas 60 sebanyak 18 siswa atau 54,54 %. Hal ini menyebabkan
pembelajaran pada siklus I tidak sesuai dengan ketuntasan belajar minimal
dan perlu tindakan ke siklus berikutnya.

32 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


2. Analisis Kualitatif
Hasil observasi seluruh tindakan pada siklus I dapat dilihat selengkapnya
pada lampiran 5. Berikut disajikan hasil observasi pada siklus I dalam tabel
4.2.

Tabel 4.2 Hasil Observasi Siklus I

Keterangan Skor yang diperoleh Skor Kriteria


I II III Rata-rata
Peneliti 76 81 83 80 Baik
Siswa 70 76 77 74,33 Baik

2. Siklus II
1. Analisis Kuantitatif
Tes akhir pada siklus II diberikan pada hari Selasa tanggal 26 oktober 2010
Pukul 07.30 – 08.50 Wita. Berikut disajikan hasil tes akhir pada siklus II pada
tabel 4.3.

Tabel 4.3 Hasil tes akhir siklus II

No Keterangan Jumlah Siswa


1 Siswa dengan nilai minimal di bawah 60 2
2 Siswa dengan nilai minimal di atas 60 31

Dari tabel 4.3 terlihat bahwa prosentase siswa yang mendapatkan nilai
minimal di bawah 60 sebanyak 2 siswa atau 6,06 % dan siswa dengan nilai
minimal di atas 60 sebanyak 31 siswa atau 93,93%. Hal ini menyebabkan
pembelajaran pada siklus II sudah sesuai dengan ketuntasan belajar minimal
dan tidak perlu tindakan ke siklus berikutnya.

2. Analisis Kualitatif
Hasil observasi seluruh tindakan dalam siklus II dapat dilihat selengkapnya
pada lampiran 5. Berikut disajikan hasil observasi siklus II dalam tabel 4.4.
Tabel : 4.4 Hasil Observasi Siklus II

Tabel 4.4 Hasil Observasi Siklus II

Keterangan Skor yang diperoleh Skor Kriteria


I II III Rata-rata
Peneliti 82 83 84 83 Baik
Siswa 81 82 82 81,67 Baik

KESIMPULAN

Dari pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I dan siklus II dapat ditarik


beberapa kesimpulan yaitu : 1). Dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 33


penggunaan pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat melibatkan siswa secara aktif
sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam memahami teks deskriptif di
kelas VIIIB SMP Negeri 1 Sangatta Selatan, 2). Pengaturan alokasi waktu dalam
pembelajaran Bahasa Inggris harus betul-betul diperhatikan karena dalam
pembelajaran Bahasa Inggris dalam menggunakan pendekatan pembelajaran
kooperatif tipe TGT banyak memerlukan waktu terutama dalam game turnamen.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depatemen Pendidikan


Nasional

Eggen, Paul D. dan Donald Kauchak. 1996. Strategi for Teacher: Teaching Content and
Thinking Skill. Boston: Allyn & Bacon.

Lie. Anita. 2008. Cooperative Learning Mempraktekan Cooperative Learning di ruang


Kelas. Jakarta: Grasindo Widiasarana Indonesia.

Slavin. E. Robert. 2008. Cooperative Learning Teori, Riset dan praktik. Bandung:
Nusamedia.

Utoyo. Bambang. 2009. Sistematika Penulisan Karya Tulis Ilmiah(Makalah disampaikan


dalam pelatihan PTK di SMP Negeri 1 Sangata Selatan 2009. Lembaga
Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Samarinda.

34 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


PENGGUNAAN PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION
(RME) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN PECAHAN PADA SISWA
KELAS V (LIMA) SD NEGERI 016 BALIKPAPAN TENGAH
TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Sukarti, [Link]
Guru SD Negeri 016 Balikpapan Tengah

Abstrak

Studi ini merupakan rangkaian penelitian tindakan kelas (PTK) yang telah
dilaksanakan di SD Negeri 016 Balikpapan Tengah pada semester II tahun
pelajaran 2009/2010, dengan subyek penelitian adalah siswa kelasV (lima).
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar
siswa pada pelajaran matematika khususnya pada materi pecahan melalui
penggunaan pendekatan RME. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini
dilaksanakan dalam 2 siklus dimana setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan
kelas. Data perkembangan siswa diperoleh dengan melakukan observasi
terhadap perilaku siswadan tes hasil belajar yang terdiri dari soal essay untuk
setiap putaran. Tes dilaksanakan pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa terjadi peningkatan keaktifan siswa dan kreatifitas siswa
pada proses belajar [Link] keaktifan siswa dapat dilihat
dengan meningkatnya rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I yaitu 70,91
menjadi 80,91 pada siklus II. Selain itu juga diperoleh hasil bahwa dari 33
siswa yang mengikuti pelajaran, pada siklus I terdapat 25 (75,76%)siswa
yang berhasil atau tuntas dalam pembelajaran dan 8 (24,24%) siswayang
gagal atau tidak tuntas dalam pembelajaran dan pada siklus II terdapat 30
(90,9%) siswa yang berhasil atau tuntas dalam pembelajaran dan 3 (9,1%)
siswa yang gagal atau tidak tuntas dalam pembelajaran matematika melalui
penggunaan pendekatan RME. Dengan menggunakan pendekatan RME
keaktifan siswa juga menjadi meningkat. Hal ini ditandai dengan siswa ikut
serta dalam diskusi, turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya,
mampu berpikir bersama menyatukan pendapatnya dan membahas soal yang
diberikan serta mampu menyajikan jawaban untuk seluruh kelas. Kesimpulan
yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa melalui penggunaan
pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dapat meningkatkan
pemahaman dan hasil belajar siswa dan sangat efektif digunakan sebagai
model pembelajaran baru di sekolah.

Kata Kunci : Realistic Mathematics Education (RME), Kualitas.

PENDAHULUAN

Bidang studi matematika merupakan ilmu yang penggunaannya sangat luas, mulai
dari hal yang sederhana yang sering dilakukan anak-anak sehari-hari tanpa sadar

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 35


seperti menjumlah, membagi dan mengalikan, sampai penggunaannya dalam sains
dan teknologi mutakhir. Kemajuan sains dan teknologi saat ini tidak dapat
dipungkiri lagi merupakan kontribusi matematika dibelakangnya. Salah satu
karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak. Sifat
abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika
sehingga prestasi matematika siswa baik secara nasional maupun internasional
belum menggembirakan. Rendahnya prestasi matematika siswa ini disebabkan
faktor siswa yang mengalami masalah secara komprehensif atau secara parsial
dalam matematika (Timss, 1999). Jenning dan Dunne (1999) mengatakan bahwa
kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke
dalam situasi kehidupan nyata.

Hal lain yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena pelajaran
matematika kurang bermakna. Guru dalam pelajarannya di kelas tidak mengaitkan
dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan
kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi sendiri ide-ide
matematika. Mengaitkan pengalaman kehidupan nyata anak dengan ide-ide
matematika dalam pelajaran di kelas penting dilakukan agar pelajaran bermakna.
Menurut Van de Henvel-Panhuizen (2000), bila anak belajar matematika terpisah
dari pengalaman mereka sehari-hari maka anak akan cepat lupa dan tidak dapat
mengaplikasikan matematika.

Di sekolah telah diketahui ternyata masih banyak siswa mengalami kesulitan


matematika, malas bertanya, dan hanya sekedar memperhatikan saja. Dalam
pelajaran, diketahui bahwa pelajaran matematika bersifat abstrak sehingga siswa
mengalami kesulitan untuk mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-
hari. Diperlukan suatu pendekatan pelajaran dimana siswa belajar mengaitkan
bahan pelajaran dengan kehidupan nyata sehari-hari. Salah satu pelajaran
matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari
(mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan
sehari-hari adalah pelajaran RealisticMathematicsEducation (RME).

Karakteristik RME adalah menggunakan konteks dunia nyata, model model,


produksi dan konstruksi siswa, interaktif dan keterkaitan (intertwinment). Berkaitan
dengan hal itu, pelajaran matematika realistik memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menemukan kembali dan merekonstruksi matematika, sehingga siswa
mempunyai pengertian kuat tentang matematika. Berdasarkan uraian diatas, maka
penulis tertarik menggunakan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME)
untuk meningkatkan pemahaman pecahan pada siswa kelas V (lima) SD Negeri 016
Balikpapan Tengah tahun pelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
peningkatan keaktifan dan pemahaman siswa pada pelajaran matematika melalui
penggunaan pendekatan RME mengenai pecahan pada siswa kelas V SD Negeri 016
Balikpapan Tengah.

36 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di kelas V (lima) SD Negeri 016 Balikpapan Tengah,


dimulai pada semester II yaitu dari bulan Januari sampai April 2010. Subjek
penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 016 Balikpapan Tengah. Objek
penelitian ini adalah pelajaran matematika dengan kompetensi dasar pecahan
menggunakan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME). Penelitian ini
merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) karena penelitian ini dilaksanakan
sesuai dengan langkah-langkah PTK yaitu muiai dari tahap perencanaan,
pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.

Penelitian ini terdiri dari 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II. Masing-masing siklus
mengikuti langkah-langkah penelitian tindakan kelas sebagai berikut :
1. Perencanaan
Adapun kegiatan yang dilaksanakan pada tahap perencanaan sebagai berikut :
a. Membuat skenario pembelajaran.
b. Menetapkan materi yang akan diberikan baik itu pada siklus I dan siklus II
mengenai kompetensi dasar pecahan.
c. Membuat lembar observasi untuk memantau kegiatan guru dan siswa selama
proses pembelajaran berlangsung.
d. Membuat contoh-contoh soal dari kehidupan nyata yang sesuai dengan
materi yang akan diberikan.
e. Membuat alat evaluasi berupa soal tes hasil belajar yang akan dikerjakan
secara individu.

2. PelaksanaanTindakan
Dalam tahap ini penulis selaku guru melaksanakan apa yang telah dibuat dalam
skenario pembelajaran, mempersiapkan diri, memberikan materi kepada siswa
dengan menggunakan pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME), yang
secara realistis mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari pada
diri siswa, menyiapkan soal-soal tes (evaluasi) kepada siswa, lembar observasi,
angket akan diberikan kepada siswa pada akhir siklus I dan II telah dilaksanakan
dan alat-alat serta bahan-bahan yang akan digunakan untuk menunjang proses
pembelajaran di kelas.

3. Observasi
Pada saat penulis melaksanakan dan menerapkan model pembelajaran Realistic
Mathematics Education (RME), teman sejawat mengamati tindakan yang sedang
dilakukan adalah observer (teman sejawat). Observer mencatat segala aktivitas
guru dan aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang telah
dilaksanakan. Catatan-catatan yang dihasilkan berupa lembar observasi yang
digunakan untuk mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dalam proses
pembelajaran.

4. Refleksi
Pada tahap ini, penulis bersama observer mendiskusikan kembali hasil tindakan
pada siklus I dengan melihat langkah-langkah yang sudah dicapai dan melihat

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 37


kekuarangan-kekurangan dari langkah-langkah/tindakan yang sudah dilakukan,
yang nantinya akan diperbaiki pada siklus atau tindakan berikutnya. Instrumen
yang digunakan dalam penelitian yaitu:
a. Lembar observasi siswa yang digunakan untuk mengamati aktivitas siswa
selama pembelajaran berlangsung.
b. Tes evaluasi tiap siklus yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa
SD Negeri 016 Balikpapan
c. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Setiap siklus terdiri dari 1 RPP.
Penyusunan RPP ini bertujuan sebagai pedoman bagi guru dalam
melaksanakan pembelajaraan RME.
d. Catatan lapangan. Catatan lapangan merupakan lembar untuk mencatat
proses belajar mengajar yang dilakukan maupun kejadian atau peristiwa yang
terjadi dalam pembelajaran.
e. Dokumentasi digunakan sebagai mendeskripsikan langkah-langkah
pembelajaran RME.

Adapun teknik pengumpulan data diperoleh melalui:


a. Observasi partisipan (teman sejawat). Menurut Narbuko (1991): Observasi
partisipan adalah orang yang melakukan observasi turut ambil bagian atau
berada dalam setiap tindakan selama proses berlangsung.
b. Tes dilaksanakan pada setiap siklus untuk melihat kernampuan
pembelajaraan RME pada diri siswa di setiap sub pokok bahasan yang telah
diajarkan.
c. Soal-soal (evaluasi) yang dilaksanakan pada akhir setiap pertemuan disetiap
siklus.

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan untuk setiap siklus terdiri dari
dua belas pertemuan. Analisis data yang digunakan adalah analisis data
kuantitatif yang berupa kata-kata bukan rangkaian angka. Data yang diperoleh
melalui observasi dan tes hasil belajar dipaparkan dalam bentuk paparan naratif
dan kuantitatif. Paparan naratif yaitu dijelaskan dan disajikan dalam bentuk tabel
dan kalimat sederhana untuk setiap putaran. Analisis data kuantitatif
menggunakan analisis data statistik deskriptif dengan menggunakan rata-rata.

Selain nilai rata-rata dalam penelitian ini disajikan persentase ketuntasan kelas
belajar dimana persentase ketuntasan kelas dipergunakan untuk mengetahui
sejauh mana ketercapaian pembelajaran matematika kompetensi dasar pecahan
dengan menggunakan pendekatan RME pada siswa kelas V SDN 016 Balikpapan
Tengah. Untuk mencari ketuntasan kelas digunakan rumus :

ketuntasan kelas =

Indikator yang menjadi tolak ukur selama penelitian adalah rata-rata nilai tes
setiap siklus. Untuk mengetahui kriteria hasil belajar itu baik atau tidak
digunakan kriteria sebagai berikut:

38 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Tabel 1. Kriteria Hasil Belajar Siswa Secara Kuantitas

Rata-rata nilai Nilai Kualitas


Hasil belajar siswa
Huruf Kriteria
(Nilai Kuantitas)
79 < x ≤ 100 A Baik sekali
69 < x ≤ 79 B Baik
59 < x ≤ 69 C Cukup
49 < x ≤ 59 D Kurang
0 < x ≤ 49 E Kurang sekali

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SD Negeri 016 Balikpapan Tengah yang
terletak di Jl. Kamboja RT.30 Balikpapan Tengah. SD ini memiliki lahan seluas ± 600
m2 yang di dalamnya terdapat 12 ruangan, yang terdiri dari 9 ruang kelas, 1 ruang
kepala sekolah dan guru, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang kamar mandi/ WC guru, 1
ruang UKS, 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang guru dan 2 kamar mandi/WC siswa.

Jumlah guru secara keseluruhan ada 12 orang, yang terdiri dari 9 orang guru tetap
dan 3 guru tidak tetap. Sedangkan jumlah pegawai tata usaha adalah 1 orang. 1
orang satpam dan 2 guru bidang studi agama. Jumlah siswa pada tahun ajaran
2009/2010 adalah kelas I dengan jumlah siswa sebanyak 77 orang, kelas II dengan
jumlah siswa 40 orang, kelas III dengan jumlah siswa sebanyak 46 orang, Kelas IV
dengan jumlah siswa sebanyak 50 orang, kelas V dengan jumlah siswa sebanyak 55
orang, kelas VI dengan jumlah siswa sebanyak 56 Orang.

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus (putaran), dan tiap siklus terdiri dari
dua kali pertemuan. Secara garis besar, hasil yang diperoleh dalam penelitian ini
adalah hasil observasi dan hasil tes belajar siswa pada setiap akhir siklus. Hasil
penelitian tiap siklus adalah sebagai berikut:

Siklus 1
Siklus I dalam dua kali pertemuan. Hasil penelitian ini dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Hasil Observasi Siklus I
Hasil penelitian tentang bentuk aktivitas siswa dan aktivitas guru yang
diobservasi selama pelajaran matematika dengan materi pecahan melalui
penggunaan pendekatan RME pada siswa kelas V SD Negeri 016 Balikpapan
Tengah pada siklus I diberikan dalam Tabel 2.

Hasil observasi pada siklus I, ditinjau dari aktivitas guru,tindakan pertama penyajian
materi yang guru berikan cukup baik, tetapi guru masih kaku dalam mengajar
dengan pendekatan RME. Terlihat dalam lembar observasi bahwa guru dalam
membimbing siswa dan mengelola kelas masih kurang maksimal. Kegiatan guru

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 39


masih telalu banyak menggunakan waktu untuk [Link] itu, ditinjau dari
aktivitas siswa yaitu siswa kurang memberikan respon, hanya sebagian kecil siswa
yang aktif. Kerjasama siswa dinilai kurang karena sebagaian siswa hanya
mengharapkan jawaban temannya yang lebih pandai. Hal ini mungkin dikarenakan
oleh siswa diarahkan kepada pokok permasalahan yang akan dicari jawabannya
atau dipecahkan. Hanya saja siswa belum dapat memecahkan permasalahan yang
diberikan oleh guru disebabkan kurangnya penguasaan materi dari siswa dan
ketidakjelasan bagi siswa, antara lain petunjuk kerja kurang jelas, siswa belum
terbiasa cara belajar seperti itu. Interaksi guru dan murid masih belum berjalan
secara merata, tanya jawab hanya dilakukan oleh beberapa peserta didik saja,
aktifitas pelajaran masih lebih banyak didominasi guru.

Tabel2. Hasil Observasi Keaktifan Siswa Pada Siklus I

Aspek Hasil Ket


Pengamatan Observasi
1. Aktivitas siswa
 Perhatian siswa 2 Kurang
 Partisipasi siswa 2 Kurang
 Kreatifitas Siswa 2 Kurang
 Kerjasama 2 Kurang
2. Aktivitas Guru
 Penyajian materi 3 Cukup
 Menyajikan contoh 3 Cukup
 Memotivasi siswa 3 Cukup
 Membimbing siswa 2 Kurang
 Mengelola kelas 2 Kurang

Keterangan:
5 = Sangat baik, 4 = Baik, 3 = Cukup baik,
2 = Kurang, 1 = Sangat kurang

2. Hasil Belajar Siswa dan Analisis Data Siklus 1


Temuan hasil tes belajar pada pelajaran matematika dengan materi pecahan
melalui penggunaan pendekatan RME pada siswa kelas V SD Negeri 016
Balikpapan Tengah pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Rata-rata Hasil Belajar Siswa Tes Siklus I

Rentangan
Kategori Frekuensi Presentase Rata-rata
nilai
79 < x ≤ 100 baik sekali 13 39,4%
69 < x ≤ 79 baik 12 36,4%
70,91
59 < x ≤ 69 cukup 3 9,1%
49 < x ≤ 59 kurang 2 6,1%

40 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


0 < x ≤ 49 kurang sekali 3 9,1%
Jumlah 33 100%

Gambar 1. Hasil Belajar Siswa Tes Siklus I

Dari Tabel 3. dan Gambar 1. di atas dapat diketahui bahwa pada siklus I
pelaksanaan pelajaran matematika dengan materi pecahan melalui penggunaan
pendekatan RME pada siswa kelas V SD Negeri 016 Balikpapan Tengah
diperoleh hasil tes belajar siswa dengan nilai rata rata tes pada siklus 1 adalah
70,91 dengan kualitas baik. Dengan rincian dari 33 siswa yang hadir, terdapat 13
siswa mendapat nilai sangat baik atau 39,4% % dengan rentang nilai 79 < x ≤ 100,
siswa memperoleh nilai baik dengan rentang nilai 69 < x ≤ 79 adalah 12 siswa
atau 36,4%, siswa memperoleh nilai cukup dengan rentang nilai 59 < x ≤ 69
adalah 3 orang atau 9,1%, siswa memperoleh nilai kurang dengan rentang nilai
49 < x ≤ 59 adalah 2 siswa atau 6,1%. dan terdapat 3 siswa atau 9,1% yang
mendapatkan nilai sangat kurang dengan rentang nilai 0 < x ≤ 49. Untruk
persentase peningkatan hasil belajar siswa dari nilai dasar atau nilai awal ke
siklus 1 adalah sebesar 15 %.

3. Refleksi Siklus 1
Berdasarkan pelaksanaan tindakan pelajaran matematika dengan materi pecahan
melalui penggunaan pendekatan RME pada siswa kelas V SD Negeri 016
Balikpapan Tengah siklus I diperoleh data tentang proses dan hasil belajar yang
dicapai siswa. Setelah diolah dan dianalisis, pada penerapan pelajaran ini masih
terdapat kekurangan atau kelemahan baik dari siswa maupun dari guru yang
dapat digunakan sebagai acuan perbaikan dalam siklus II. Refleksi dilakukan
untuk menentukan apakah tindakan I berhasil atau belum. Ada beberapa aspek
yang belum mencapai 100% antara lain interaksi guru dan siswa masih belum
muncul, bimbingan guru terhadap siswa masih belum optimal dan guru masih
belum optimal dalam memperjelas materi yang disampaikan. Hal ini yang
menjadi tindakan lebih lanjut ke siklus II agar lebih baik. Beberapa kelemahan
yang ada antara lain sebagai berikut.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 41


a. Siswa belum terbiasa dengan pelajaran matematika melalui penggunaan
pendekatanRME sehingga dalam pelajaran pelaksanaan diskusi kelompok
membutuhkan waktu yang relatif lama.
b. Siswa dalam semua kelompok masih belum bisa berpartisipasi aktif dalam
diskusi. Sebagian siswa kurang dapat bekerjasama dengan kelompoknya.
Siswa cenderung membicarakan topik yang lain, sedangkan teman yang lain
mengerjakan.
c. Keaktifan siswa dalam mengajukan dan menjawab pertanyaan masih kurang.
Siswa masih ragu-ragu dan terlihat takut bertanya serta pertanyaan-
pertanyaan yang dilontarkan guru harus dijawab oleh siswa yang sama.
d. Siswa tidak mempunyai cukup referensi untuk belajar di rumah.
e. Interaksi antar siswa belum berkembang secara optimal.
f. Siswa masih ragu-ragu dalam mengajukan pertanyaan.

Melihat kelemahan-kelemahan yang terjadi dalam pelaksanaan pelajaran pada


siklus pertama, diperlukan perbaikan-perbaikan untuk tindakan pada siklus
selanjutnya. Karena hasil belajar masih rendah belum sesuai dengan apa yang
diharapkan dalam penelitian ini, maka perlu dilanjutkan ke siklus II.

Siklus II
Siklus II dilaksanakan pada minggu kedua bulan April 2010 dengan dua kali
pertemuan dengan alokasi waktu 2x 35 menit (2 jam pelajaran). Berdasarkan hasil
refleksi I diketahui bahwa kondisi pelajaran yang dilakukan perlu ada perubahan-
perubahan baik Perhatian siswa, partisipasi, kerjasama, minat dan motivasinya,
prestasi belajar siswa yang dicapai dan juga dalam hasil belajar siswa.
1. Hasil Observasi Siklus II
Dari hasil observasi terhadap siswa pada siklus II ini, diperoleh data-data hasil
observasi yang dipaparkan sebagai berikut:

Tabel 4. Hasil Observasi Keaktifan Siswa Pada Siklus II

Aspek Hasil Ket


Pengamatan Observasi
1. Aktivitas siswa
 Perhatian siswa 4 Baik
 Partisipasi siswa 4 Baik
 Kreatifitas Siswa 4 Baik
 Kerjasama 3 Cukup
2. Aktivitas Guru
 Penyajian materi 4 Baik
 Menyajikan contoh 4 Baik
 Memotivasi siswa 5 Sangat baik
 Membimbing siswa 4 Baik
 Mengelola kelas 4 Baik

Keterangan:

42 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


5 = Sangat baik, 4 = Baik, 3 = Cukup baik,
2 = Kurang, 1 = Sangat kurang

Pada siklus II sangat terlihat bahwa guru dalam menyajikan materi lebih tenang,
tidak kaku, lebih siap dan lancar. Guru sudah maksimal dalam mengelola
pelajaran dengan baik, guru mampu dalam membuat interaksi dengan siswa dan
guru sudah maksimal dalam menjelaskan materi pelajaran sehingga pemahaman
siswa meningkat. proses pelajaran sudah berjalan sesuai dengan perencanaan
yang baik.

2. Hasil Belajar Siswa dan Analisis Data Siklus II


Temuan hasil tes belajar pada siklus dua dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5. Rata-rata Hasil Belajar Siswa Tes Siklus II

Rentangan
Kategori Frekuensi Presentase Rata-rata
Nilai
79 < x ≤ 100 baik sekali 26 78,8%
69 < x ≤ 79 Baik 4 12,1%
59 < x ≤ 69 Cukup 3 9,1% 80,91
49 < x ≤ 59 Kurang 0 0,0%
0 < x ≤ 49 kurang sekali 0 0,0%
Jumlah 33 100%

Gambar 2. Hasil Belajar Siswa Tes Siklus II


Dari Tabel 5. dan Gambar 2. diatas diketahui bahwa pada siklus II, pelaksanaan
pelajaran matematika dengan materi pecahan melalui penggunaan pendekatan
RME pada siswa kelas V SD Negeri 016 Balikpapan Tengah diperoleh hasil tes
belajar siswa dengan nilai rata rata tes pada siklus 1 adalah 80,91 dengan kualitas
baik. Dengan rincian bahwa dari 33 siswa yang hadir, terdapat 26 siswa
mendapat nilai sangat baik atau 78,8% dengan rentang nilai 79 < x ≤ 100, siswa
memperoleh nilai baik dengan rentang nilai 69 < x ≤ 79 adalah 4 siswa atau
12,1%, siswa memperoleh nilai cukup dengan rentang nilai 59 < x ≤ 69 adalah 3

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 43


orang atau 9,1%, dan tidak terdapat siswa memperoleh nilai kurang dan nilai
sangat kurang. Dengan persentase peningkatan hasil belajar siswa dari siklus II
ke siklus III adalah sebesar 14 %.

3. Refleksi siklus II
Berdasarkan hasil observasi terhadap aktifitas siswa dan aktifitas guru pada
siklus II pelajaran dinilai sangat baik. Pengamatan terhadap siswa juga
mengalami kemajuan dari pada siklus I. sehingga Pada siklus II dalam kategori
baik. Aktifitas duru juga mengalami peningkatan yang cukup baik dari pada
siklus I. Hasil tindakan yang telah dilaksanakan pada siklus II ini lebih baik
dibandingkan dengan siklus I berdasarkan hasil observasi dan hasil tes akhir
siswa.

Pelaksanaan siklus II mampu memperbaiki dari siklus I. Hal ini ditunjukkan


pada hasil rata-rata kelas nilai tes nya 80,[Link] dari siklus sebelumnya
yaitu 70,91. Hal ini juga ditunjukkan pada siswa lebih aktif dalam pelajaran, serta
mampu mengerjakan soal tes. Kegiatan guru pada siklus II juga menunjukkan
bahwa guru lebih aktif, mampu memotivasi siswa dan mampu menjelaskan
materi dengan baik serta melaksanakan perannya yang utama sebagai fasilitator
dan pendamping siswa dalam melakukan pelajaran.

Berdasarkan data observasi dan tes hasil belajar pada siklus II, guru pengajar dan
observer sepakat untuk tidak melanjutkan tindakan karena tindakan yang
diberikan pada pelajaran matematika dengan materi pecahan melalui
penggunaan pendekatan RME pada siswa kelas V SD Negeri 016 Balikpapan
Tengah dalam kategori sangat baik dan meningkatkan hasil belajar [Link]
karena itu, peneliti dan observer sepakat untuk tidak melanjutkan penelitian ini
ke siklus berikutnya.

Data Hasil Belajar Pada Siklus I dan Siklus II


Data hasil belajar pada siklus I dan siklus II pada pelajaran matematika dengan
materi pecahan melalui penggunaan pendekatan RME pada siswa kelas V SD Negeri
016 Balikpapan Tengah tahun pelajaran 2009/2010 dapat dilihat pada tabel dan
grafik berikut ini:

Tabel 6. Peningkatan Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II

Persentase
Dokumentasi Nilai Nilai rata-rata
Peningkatan
Nilai dasar 61,82 -
Nilai siklus 1 70,91 15%
Nilai siklus 2 80,91 14%

44 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Gambar 3. Peningkatan Rata-Rata Hasil Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II

Ditinjau dari ketuntasan belajar pada setiap siklus pada penelitian ini mengalami
peningkatan. Hal ini terlihat dari data hasil tes siklus I pada tabel dibawah ini,
dimana pada tabel ini telah menggambarkan persentase ketuntasan belajar dan
banyaknya siswa. Ditinjau dari ketuntasan belajar pada setiap siklus pada
penelitian ini mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari data hasil tes siklus I
pada tabel dibawah ini, dimana pada tabel ini telah menggambarkan persentase
ketuntasan belajar dan banyaknya siswa.

Tabel 7. Ketuntasan Belajar Pada Siklus I

Kriteria Frekuensi Presentase Rata-rata


Tuntas 25 75,76%
70,91
Tidak Tuntas 8 24,24%
Jumlah 33 100%

Gambar 4. Ketuntasan Belajar Pada Siklus I

Dari analisa data yang diperoleh penulis sesuai tabel diatas, menunjukan bahwa
pada tes siklus I dari 33 siswa sebanyak 25 siswa atau 75,76 %yang berhasil atau
tuntas dalam pelajaran dan sebanyak 8 siswa atau 24,24 %yang gagal atau tidak

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 45


tuntas dalam pelajaran matematika dengan materi pecahan melalui penggunaan
pendekatan RME pada siswa kelas V SD Negeri 016 Balikpapan Tengah.
Selanjutnya pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 8. Ketuntasan Belajar Pada Siklus II

Kriteria Frekuensi Presentase Rata-rata

Tuntas 30 90,9%
80,91
Tidak Tuntas 3 9,1%
Jumlah 33 100%

Gambar 5. Ketuntasan Belajar PadaSiklus II

Dari analisa data yang diperoleh penulis sesuai tabel diatas, menunjukan bahwa
pada tes siklus II dari 33 siswa sebanyak 30 siswa atau 90,9% yang berhasil atau
tuntas dalam pelajaran dan sebanyak 3 siswa atau 9,1% yang gagal atau tidak tuntas
dalam pelajaran matematika dengan materi pecahan melalui penggunaan
pendekatan RME pada siswa kelas V SD Negeri 016 Balikpapan Tengah. Sesuai
dengan analisa tabel di atas pada kedua siklus terjadi peningkatan ketuntasan
belajar. Dimana pada siklus 1 ketuntasan belajar mencapai 75,76 % dan meningkat
pada siklus II menjadi 90,9%.

PEMBAHASAN

Pada siklus I terlihat bahwa pada permulaan pelajaran siswa terlihat masih krang
optimal. Hal ini mungkin terjadi karena mereka masih belum siap menghadapi
pelajaran dengan metodeyang baru sehingga mereka belum menikmati pelajaran
yang sedang berlangsung. Namun pada pelajaran selanjutnya mereka mulai
memperhatikan pelajaran, perubahan tersebut terhadi ketika guru mulai
memberikan teguran kepada mereka, baik teguran yang bersifat nasehat maupun
teguran keras. Hal lain yang juga tercatat oleh guru adalah siswa yang

46 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


memperhatikan guru ketika menjelaskan, memberikan pertanyaan, jawaban,
tanggapan, dan menjawab soal-soal yang diberikan dengan benar pada saat proses
belajar mengajar berlangsung. Siswa yang mempunyai keaktifan dalam proses
pelajaran adalah siswa tertentu saja dan siswa yang memperoleh nilai tinggi dalam
setiap siklus. Sedangkan siswa yang memperoleh nilai kurang atau aktif masih
kurang percaya diri, walaupun demikian mereka tetap memperhatikan teman-
temannya dan sesekali mereka juga terlihat menanyakan materi yang belum
dimengerti kepada temannya maupun kepada guru.

Pada siklus II, siswa yang memperhatikan materi pelajaran semakin meningkat.
Hasil observasi pada aktivitas siswa menunjukkan bahwa siswa terlihat sangat
antusias dalam mengikuti pelajaran, suasana kelas hidup karena siswa aktif dalam
pelajaran, kerjasama dalam berpasangan sangat baik, karena mereka saling
membantu dalam memahami materi yang diajarkan maupun dalam menjawab sol-
soal yang diberikan, tidak ada lagi siswa yang bermain-main dalam pelajaran, hasil
belajar siswa pun meningkat drastis dari siklus sebelumnya.
Hasil observasi pada aktivitas guru semakin meningkat dari siklus I ke siklus II.
Kemampuan guru dalam memotivasi siswa untuk belajar lebih lanjut dinilai baik
karena memenuhi kriteria berikut: (i) guru memotivasi siswa dengan kehangatan
dan antusias, (ii) guru mampu menimbulkan rasa ingin tahu siswa sehingga siswa
menjadi penasaran dan mulai mengembang kreativitasnya, (iii) guru dapat menegur
siswa dengan baik sehingga tidak menyinggung perasaan siswa tetapi malah
memotivasinya untuk belajar, (iv) dengan lebih memperhatikan siswa-siswa yang
pasif maka secara perlahan mereka dapat ikut aktif dalam [Link]
pelaksanaan pelajaran matematika dengan materi pecahan melalui penggunaan
pendekatan RME pada siswa kelas V SD Negeri 016 Balikpapan Tengah maka untuk
menentukan keefektifan hasil belajar diadakan tes tulis. Tes tulis dilaksanakan di
akhir pelajaran materi konsep pecahan untuk melihat peningkatan hasil belajar pada
setiap siklus.

Pada siklus I penelitian tindakan kelas ini dinyatatakan belum berhasil karena rata-
rata hasil belajar baru mencapai 70,91 namum siklus 1 sedikit membuahkan hasil
karena hasil belajarnya lebih tinggi dari pada nilai tes awal atau tes pendahuluan
yaitu 61,82. Setelah diadakan siklus 1 dan dilanjutkan dengan siklus II dan pada
akhir siklus II rata-rata hasil belajar meningkat menjadi 80,91.

Dari proses pelajaran matematika dengan materi pecahan melalui penggunaan


pendekatan RME pada siswa kelas V SD Negeri 016 Balikpapan Tengah pada
kenyatannya tidak seluruh siswa dapat mecapai nilai ketuntasan belajar. Hal ini
dapat diketahui dari suklus 1 ada beberapa orang yang belum mendapatkan nilai
yang baik sehingga bisa dikatakan belum tuntas belajar atau belum berhasil.
Ketidakberhasilan yang dialami oleh beberapa siswa tersebut dapat disebabkan oleh
faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal meliputi tidak menyimak
dengan baik ketika guru menyampaikan materi, kurang terlibat selama kegiatan
yang dilaksanakan dalam pelajaran, kurang dapat beradaptasi dengan cara atau
metode yang diterapkan. Sedangkan faktor eksternal meliputi suasana kelas yang

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 47


kurang kondusif, faktor sosial dan ekonomi yang mungkin terjadi dalam lingkungan
keseharian siswa sehingga mempengaruhi konsentrasi saat proses belajar mengajar
berlangsung.

Dari hasil pelajaran pada siklus 1 ke siklus 2 dapat diketahui terjadi peningkatan
kreteria. Siklus 1 dengan nilai rata-rata hasil belajar 70,91 kreteria cukup baik
meningkat pada siklus 2 menjadi 80,91 dengan kreteria sangat baik. Kenaikan
kreteria hasil belajar ini sangat dipengaruhi oleh tindakan guru yang semakin
maksimal dan aktivitas siswa yang semakin meningkat pada setiap pertemuan.
Semakin aktif siswa dalam proses pelajaran, siswa akan lebih memahami materi
yang disampaikan oleh guru. Ketuntasan belajar yang dicapai dalam penelitian ini
sudah memenuhi target yang ditetapkan dalam indikator keberasilan. Maka
penelitian tindakan kelas ini dianggap selesai.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan di SDN 016
Balikpapan Tengah tahun pembelajaran 2009/2010, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa pendekatan RME menjadi meningkat karena pendekatan RME menggunakan
konteks dunia nyata, model model, produksi dan konstruksi siswa, interaktif dan
keterkaitan (intertwinment). Hal ini dapat dilihat bahwa pada siklus I dari 33 siswa,
terdapat 25 (75,76%) siswa yang berhasil atau tuntas dalam pembelajaran dan 8
(24,24%) siswa yang gagal atau tidak tuntas dalam pembelajaran dan pada siklus II
dari 33 siswa, terdapat 30 (90,9%) siswa yang berhasil atau tuntas dalam
pembelajaran dan 3 (9,1%) siswa yang gagal atau tidak tuntas dalam pembelajaran
matematika melalui penggunaan pendekatan [Link] menggunakan
pendekatan RME keaktifan siswa menjadi meningkat. Hal ini ditandai dengan siswa
ikut serta dalam diskusi, turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, mampu
berpikir bersama menyatukan pendapatnya dan membahas soal yang diberikan serta
mampu menyajikan jawaban untuk seluruh kelas. Pendekatan Realistic Mathematics
Education (RME) sangat efektif digunakan sebagai model pembelajaran baru di
sekolah.

SARAN
Dengan memperhatikan kesimpulan dari hasil penelitian di atas, penulis
memberikan saran-saran antara lain:
1. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, maka Guru disarankan agar dalam
pembelajaran hendaknya diupayakan menggunakan Pendekatan Realistic
Mathematics Education (RME) karena pendekatan ini sangat efektif digunakan
sebagai model pembelajaran baru di sekolah.
2. Untuk siswa, agar lebih melatih diri untuk mengembangkan kemampuan melalui
interaksi dengan teman sehingga mampu mengembangkan daya pikir dan tingkat
penguasaan siswa.
3. Untuk peneliti selanjutnya, sebaiknya dapat mengembangkan penelitian sejenis
pada konsep yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

48 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Abdurrahman, M. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Rineka Cipta.
Jakarta.

Dwi, C., dkk. 2003. Implementasi Pembelajaran Matematika Realistik. Lembaga


Penelitian Universitas Negeri Malang. Malang.

Ella Yulaelawati. 2004. Kurikulum danPembelajaran. Pakar Karta. Bandung.

Hadi. 2003. Pembelajaran dengan Pendekatan Realistik. Program Pasca Sarjana


Universitas Negeri Malang. Malang.

Ismail. 2003. Media Pembelajaran (Model-Model Pembelajaran). Direktorat Pendidikan


Lanjutan Pertama. Jakarta.

Inganah, S. 2003. Model Pembelajaran Segi Empat dengan Pendekatan Matematika


Realistik. Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Malang.

Kasbolah K. 1998. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Departemen Pendidikan dan


Kebudayaan LBRD Loan. Jakarta.

Jennings, Sue & R, Dunne.1999. Math Stories,Real Stories, Real-life Stories.


[Link]

Kasbolah, K. 1998. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Departemen Pendidikan dan


Kebudayaan. Jakarta.

Loan N. K., Roestyah. -. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta.

Ngalim. 1990. Prinsip-prinsip Tehnik Evaluasi Pengajaran. Remaja Rosdakarya. Jakarta.


Nana Sudjana. 2004. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Algensindo.
Bandung.

Sugeng.S, 2008Pembelajaran Matematika [Link] Universitas Lampung.


Lampung.

Sukidin. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Insan Cendekia. Jakarta.

Suharsimi Arikunto, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara. Jakarta.

Syaipul Djamarah Bahri, dkk. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta.

Tim Bina Karya Guru. 2007. Terampil Berhitung Matematika Untuk SD Kelas V.
Erlangga. Jakarta.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 49


PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN POKOK BAHASA SISTEM
PEMERINTAHAN TINGKAT PUSAT DENGAN METODE KERJA KELOMPOK
SISWA KELAS IV SD NEGERI 003 SANGASANGA

[Link]
Guru SDN 003 Sangasanga

Abstrak

Meningkatkan Kinerja Guru adalah upaya menigkatkan kemampuan guru


dalam meningkatkan hasil belajar dikelas, melalui pelatihan pembelajaran.
Subjek penelitian ini adalah Guru-Guru kelas sebanyak 15 orang Guru SD
Negeri Sangasanga dengan jumlah guru yang mengikuti kegiatan pelatihan
kinerja Guru sebanyak 15 orang. Sedangkan objek penelitian adalah dengan
Pelatihan guru, gumpulan data dilakukan melalui, tiap siklus terdiri dari 3
pertemuan. Hasil penelitian tindakan Sekolah, menunjukkan adanya
peningkatan mutu proses KBM dan peningkatan rata-rata nilai kelas 70.09,
meningkat pada siklus 2 menjadi 76.04, dan pada siklus 3 meningkat lagi
menjadi 83.87. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dapat meningkatkan
mutu proses dan hasil belajar Mengajar (KBM) guru-guru pada SD Negeri
003 Sangasanga.

Kata Kunci: peningkatan, kerja kelompok

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pada dasarnya ilmu pengetahuan memiliki fungsi yang penting bagai kehidupan
manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan di
hampir semua aspek kehidupan manusia. Berbagai permasalahan salah satunya
dapat diselesaikan dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Demikian pula dengan matematika yang berfungsi sebagai alat dan
pelayan ilmu.

Unsur penting dalam pembelajaran ialah merangsang dan mengarahkan siswa,


untuk belajar yang mengarah pada tujuan pembelajaran. Jadi belajar bukan hanya
sekedar menolong siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, serta ide
yang tampak pada perkembangan tingkah lakunya. Dengan demikian cara mengajar
guru yang baik merupakan kunci bagi siswa untuk dapat belajar dengan baik. Untuk
itu seorang guru harus selalu mencari dan mengembangkan strategi dalam proses
pembelajaran.

Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran


matematika adalah pembelajaran dengan metode kerja kelompok. Karena metode
kerja kelompok pada umumnya lebih baik dibandingkan dengan metode tradisional,

50 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


oleh sebab itu kecendrungan untuk memanfaatkan metode ini dalam proses
pembelajaran harus terus dilangsungkan. Metode kerja kelompok yang
dipergunakan dengan baik akan mampu mengarahkan siswa sesuai dengan motivasi
dan kemampuannya.

Dalam bidang pendidikan matematika, metode kerja kelompok sangat baik untuk
digunakan. Selain untuk menarik minat siswa dalam mempelajari matematika, guru
juga dapat lebih memperhatikan siswa dalam belajar. Dari berbagai penelitian yang
dilakukan, ternyata guru sangat jarang menggunakan metode kerja kelompok,
padahal metode kerja kelompok dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis terdorong untuk mengadakan penelitian


lebih lanjut mengenai peningkatan hasil belajar PKn dengan metode kerja kelompok
pada pokok bahasan system pemerintahan tingkat pusat kelas IV SDN 003
Sangasanga semester II tahun pelajaran 2010/2011.

Kajian Teori
1. Hasil Belajar
Sumadi, S. (1991), mengemukakan hal-hal pokoknya didapat kecakapan baru
sehingga mengahasilkan sesuatu karena usaha. Menurut Slameto (1998), tes hasil
adalah sekelompok pertanyaan berbentuk lisan maupun tulisan yang harus di
jawab atau diselesaikan oleh siswa dengan tujuan mengukur kemajuan belajar
siswa. Jadi dari kedua pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa yang
dimaksud hasil belajar dalam penelitian ini adalah perubahan yang dicapai siswa
setelah melakukan kegitan belajar mengajar khususnya dalam pelajaran IPS yang
menimbulkan nilai tertentu yang didapat dari hasil belajar dan diukur dengan
rata-rata dari hasil tes yang diberikan.

2. Metode Kerja Kelompok


Dalam proses pembelajaran ditemukan banyak metode pembelajaran yang
digunakan diantaranya metode ceramah, penemuan, diskusi, kerja kelompok dan
lain sebagainya. Menurut Cilstrap dan Martin, W. mengatakan bahwa metode
kerja kelompok adalah sebagai kegiatan kelompok siswa yang biasanya
berjumlah kecil yang diorganisir untuk kepentingan belajar.

Dalam kerja kelompok siswa hendaknya dikelompokan menjadi beberapa


kelompok kecil. Menurut Marland (1990), jumlah siswa tiap kelompok maksimal
5 orang, karena bila lebih dari 5 orang, guru akan sulit mengontrol aktivitas
siswa. Jumlah siswa tiap kelompok ada baiknya tidak kurang dari 4 orang,
karena bila kurang dari 4 orang, maka interaksi dalam kelompok kurang
bermanfaat.
a. Pelaksanaan metode kerja kelompok
Dalam pelaksanaan metode kerja kelompok dimulai dengan penyajian materi
pelajaran oleh guru, kemudian diberikan contoh-contoh soal beserta cara
penyelesaiannya. Selanjutnya diberikan soal-soal latihan kepada siswa yang
harus dikerjakan berkelompok.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 51


Untuk tiap-tiap kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa yang dibentuk oleh
guru dengan menyebar siswa yang pandai keseluruh kelompok yang ada.
Penyebaran ini dimaksudkan agar 1 sampai dengan 2 orang siswa ini
diharapkan dapat memimpin anggota kelompoknya dalam memecahkan
masalah.

b. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam metode kerja kelompok


Hasibuan dan Moejiono (1985), mengatakan hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam metode kerja kelompok adalah : (1) tujaun, tujuan yang jelas bagi
setiap kelompok agar hasil kerja dapat lebih baik. Tiap anggota kelompok
hendaknya mengetahui apa yang dikerjakan dan bagaimana mengerjakan.
(2) Interaksi, dalam kerja kelompok harusnya ada tugas yang diselesaikan
bersama sehingga diperlukan pembagian kerja. Salah satu syarat utama
terjadinya kerjasama adalah komunikasi yang efektif, perlu interaksi antar
anggota kelompok. (3) Kepemimpinan, kepemimpinan yang baik akan
berpengaruh terhadap suasana kerja yang secar langsung akan
mempengaruhi proses penyelesaian tuga, produktivitas, dan iklim emosional
kelompok yang saling berkaitan dalam proses kerja kelompok.

c. Keuntungan dan kelemahan metode kerja kelompok


Roestiah (1991), keuntungan metode kerja kelompok adalah:
1) Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan
keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah.
2) Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih intensif dalam
mengadakan penyelidikan suatu kasus atau masalah
3) Mengembangkan bakat kepemimpinan dan keterampilan berdiskusi
4) Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai
individu serta kebutuhan belajarnya.
5) Para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran dan berpartisipasi dalam
diskusi
6) Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan rasa
menghargai pendapat orang lain dalam mencapai tujuan.

d. Sedangkan kelemahan metode kerja kelompok adalah :


1) Metode kerja kelompok sering melibatkan hanya siswa yang pandai, sebab
mereka mampu memimpin dan mengarahkan siswa yang kurang pandai.
2) Metode ini kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang
berbeda, dan gaya yang bervariasi dalam mengajar
3) Keberhasilan metode kerja kelompok ini sering bergantung kepada
kemampuan siswa memimpin kelompok.

Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil maknanya bahwa metode kerja
kelompok adalah suatu metode yang dipakai dalam interaksi pembelajaran
dengan mengelompokan siswa dalam suatu kelas menjadi beberapa kelompok

52 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


kecil dengan tiap kelompok beranggotakan 4-5 orang siswa untuk memecahkan
masalah atau tugas yang diberikan guru.

METODE PENELITIAN

1. Rancangan Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan ini termasuk dalam penelitian tindakan kelas
(PTK). Pada penelitian ini, penulis berperan sebagai peneliti dan teman sejawat
berperan sebagai observer. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian praktis
yang bertujuan untuk memperbaiki masalah-masalah yang terjadi dalam
kegiatan belajar mengajar dikelas dengan cara melakukan tindakan-tindakan
secara rinci prosedur penelitian tindakan dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Perencanaan
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah :
1) Membuat scenario pembelajaran
2) Membuat lembar observasi atau pengamatan yang akan digunakan oleh
observer untuk mengamati aktivitas guru dan siswa pada saat
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
3) Membuat LKS (Lembar Kerja Siswa)
4) Mambuat alat evaluasi

b. Pelaksanaan tindakan
Guru pengajar (peneliti) membuka pelajaran dengan pembukaan bahwa pada
kesempatan ini akan dibahas adalah mengenai materi polotik luar negeri
Indonesia dalam era globalisasi, dan pembelajaran dilakukan dengan metode
kerja kelompok. adapun penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, setiap
siklus terdiri dari tiga pertmuan, dan pada pertemuan akhir diadakan tes hasil
belajar siswa.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini menggunakan dua siklus. Siklus pertama
yang meliputi :
1) Pendahuluan
Mempersiapkan konsep materi yang akan dijadikan bahan pembelajaran
yaitu : siklus I (Lembaga Pemerintahan Pusat dan Organisasi Pemerintahan
Pusat), siklus II (pengaruh globalisasi dan budaya Indonesia dalam misi
kebudayaan internasinal) dan siklus III (menyikapi pengaruh globalisasi)
masing-masing siklus terdiri dari 3 kali [Link] umum prosedur
penelitian tindakan yang dilaksanakan pada setiap siklus sama, yang
membedakan adalah materi pelajaran yang berlanjut.

2) Langkah Utama
a) Guru membagi siswa dalam 4 kelompok
b) Guru menjelaskan maksud pembelajaran yaitu mengenai politik luar negeri
Indonesia dalam era globalisasi secara berkelompok
c) Guru memanggil ketua kelompok dan masing-masing diberi tugas
memperlajari mengenai hubungan saling ketergantungan antar Negara,

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 53


politik luar negeri dan peranan politik luar negeri Indonesia di tingkat
dunia, serta peranan departemen luar negeri.
d) Masing-masing kelompok mengamati dan mendiskusikan materi sesuai
dengan tugasnya secara kelompok
e) Setelah selesai diskusi, ketua kelompok menyampaikan hasil pembahasan
kelompok

3) Langkah Penutup
Guru memberikan penilaian pada kelompok-kelompok siswa yang
melakukan diskusi. Untuk siklus ke dua menunggu refleksi siklus I.

c. Observasi
Pada tahap observasi, peneliti sebagai guru pengajar melakukan tindakan
dengan menggunakan metode kerja kelompok sedangkan untuk
mengobservsi tindakan yang sedang dilakukan oleh guru dan aktivitas siswa
dilakukan oleh rekan seprofesi dengan lembar observasi.

d. Refleksi
Pada tahap refleksi ini peneliti bersama-sama observer mendiskusikan hasil
tindakan yang telah dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar. Dari hasil
tindakan tersebut peneliti dan observer dapat merefleksikan diri dengan
melihat data observasi, apakah dengan pendekatan pendekatan kontekstuan
dapat meningkatkan motivasi belajar sains siswa. Hasil analisis data yang
dilakukan dalam tahap ini akan dipergunakan sebagai acuan untuk
merencanakan putaran berikutnya.

2. Subjek dan Objek Penelitian


Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri 003 Sangasanga yang
berjumlah 31 orang, sedangkan objek dalam penelitian ini adalah upaya
peningkatan hasil belajar PKn siswa pada pokok bahasan system pemerintahan
tingkat melalui metode kerja kelompok.

3. Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Penelitian ini dilakasanakan pada bulan April 2010 di SD Negeri 003 Sangasanga.

4. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai
berikuit :
a. Pemberian tugas pekerjaan rumah (PR) untuk mengetahui hasil
perkembangan belajar PKn siswa di akhir pembelajaran/pertemuan.
b. Tes tertulis pada setiap akhir siklus untuk mengetahui kemajuan atau
peningkatan hasil belajar per siklus.
c. Observasi menggunakan table pedoman observasi untuk mengetahui
perkembangan siswa pada saat pembelajaran berlangsung.

54 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


5. Teknik Analisa Data
Teknik analisa data pada penelitian tindakan kelas ini bersifat deskriptif yang
berarti hanya memaparkan data yang diperoleh, kemudian disusun, dijelaskan
dan akhirnya dianalisis dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan
dengan manyajikan untuk setiap siklus. Analisis data yang digunakan adalah
analisis data kualitatif yang berupa rangkaian kata-kata bukan angka. Analisis
data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu : reduksi data, paparan data atau
penyajian data dan penyimpulan data.

HASILDAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 003. Siswa kelas IV dengan jumlah
siswa 31 orang dan daftar siswa kelas IV terlampir pada lampiran 1. Penelitian ini
dilaksanakan pada semester 2 tahun pembelajaran 2010/2011. Penelitian ini
terdiri dari tiga siklus dimana masing-masing siklus terdiri dari tiga kali
pertemuan. Pada setiap akhir siklus dilakukan tes hasil belajar.

Siklus I
1) Hasil Observasi

Tabel 1. Hasil Observasi Siklus I

No. Aspek Pengamatan Skor Keterangan


1. Aktivitas siswa 1: sangat kurang
a. Perhatian siswa 2.5 2: kurang
b. Partisipasi siswa 2.5 3: cukup
c. Pemahaman siswa 2.5 4: baik
d. Kerjasama siswa 2.5 5: sangat baik
2. Aktivitas guru
a. Penyajian materi 3
b. Kemampuan memotivasi 3
siswa
c. Pengelolaan kelas 3
d. Pembimbingan guru 3
terhadap siswa

Hasil observasi yang diperoleh selama proses pembelajaran berlangsung pada


siklus pertama adalah aktivitas guru dan aktivitas siswa. Aktivitas guru
dinilai cukup dengan modus nilai aktivitas guru adalah 3 sedangkan aktivitas
siswa dinilai kurang karena modus aktivitas siswa bernilai 2,5.

2) Hasil Belajar Siswa


Pada nilai pertama dinilai tugas kelompok pada siklus I yaitu 68.90.
sedangkan pada pertemuan III dilakukan tes formatif siklus pertama dan
diperoleh nilai rata-rata 63.13. berdasarkan nilai tugas dan tes formatif siklus I

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 55


diperoleh nilai rata-rata dari nilai akhir pada siklus pertama adalah 65.06
dengan kriteria cukup. Dengan persentase ketuntasan sebesar 64.52%.

3) Refleksi
Pada siklus ini kemampuan guru menyajikan materi dan kemampuan guru
mengajar siswa dinilai cukup sehingga harus ditingkatkan lagi pada siklus
selanjutnya. Sedangkan kemampuan guru dalam pengelolaan kelas dan
pembinaan guru terhadap siswa dinilai cukup karena masih ada siswa yang
rebut pada saat penyajian materi pelajaran. Aktivitas siswa yang terdiri dari
perhatian, partisipasi, pemahaman dan kerjasama siswa selama pembelajaran
pada siklus ini dinilai kurang karena masih banyak siswa yang tidak
memperhatikan pada saat penyajian materi [Link] itu telah
dirumuskan beberapa perbaikan yang akan dilakukan pada siklus kedua.

Beberapa hal yang perlu diperbaiki selama proses pembelajaran, yaitu:


a) Ada beberapa siswa yang tidak mengumpulkan informasi dengan cara
membuat catatan di buku tulis mereka
b) Hanya beberapa siswa saja yang berani bertanya jika ada materi yang
belum dipahami.
c) Siswa kurang memahami materi yang diberikan oleh guru, sehingga
kurang dapat menjelaskan tugas yang telah diberikan oleh guru pada
temannya pada saat di depan kelas.

Siklus II
1) Hasil Observasi
Hasil observasi yang diperoleh selama proses pembelajaran berlangsung pada
siklus kedua adalah aktivitas guru dan aktivitas siswa. Pada aktivitas guru
siklus kedua dinilai baik karena modus dar skor aktivitas guru bernilai 4 dan
aktivitas siswa dinilai baik karena modus dari skor aktivitas siswa bernilai 3.

Tabel 2. Hasil Observasi Siklus II

No. Aspek Pengamatan Skor Keterangan


1. Aktivitas siswa 1: sangat kurang
a. Perhatian siswa 3 2: kurang
b. Partisipasi siswa 3 3: cukup
c. Pemahaman siswa 3 4: baik
d. Kerjasama siswa 3 5: sangat baik
2. Aktivitas guru
a. Penyajian materi 4
b. Kemampuan memotivasi 4
siswa
c. Pengelolaan kelas 4
d. Pembimbingan guru 4
terhadap siswa

56 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


2) Hasil Belajar Siswa
Nilai tugas kelompok pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 70.65. sedangkan
pada pertemuan III dilakukan tes formatif siklus kedua dan diperoleh nilai
rata-rata 66.03. nilai hasil belajar pada siklus pertama sebesar 67.57 dijadikan
sebagai niali dasar pada siklus kedua. Dengan persentase ketuntasan sebesar
77.42%.

3) Refleksi
Pada siklus ini kemampuan guru menyajikan materi dan kemampuan guru
mengajar siswa dinilai baik karena siswa mulai tertarik dan focus dalam
mengikuti pelajaran PKn. Sedangkan kemampuan guru dalam pengelolaan
kelas dan pembinaan guru terhadap siswa dinilai baik, karena suasana kelas
yang tenang pada saat penyajian materi pelajaran.

Aktivitas siswa yang terdiri dari perhatian, partisipasi, pemahaman dan


kerjasama siswa selama pembelajaran pada siklus ini dinilai cukup. Beberapa
hal yang perlu diperbaiki selama proses pembelajaran, yaitu :
a) Ada siswa yang hanya melihat hasil kerja temannya tanpa mau berusaha
mengerjakan soal yang telah diberikan oleh guru.
b) Ada beberapa siswa yang tidak mau mengerjakan tugas yang diberikan
oleh guru, sehingga guru harus menyuruh kembali siswa tersebut
mengerjakannya dilain waktu.

Siklus III
1) Hasil Observasi

Tabel 3. Hasil Observasi Siklus III

No. Aspek Pengamatan Skor Keterangan


1. Aktivitas siswa 1: sangat kurang
a. Perhatian siswa 4 2: kurang
b. Partisipasi siswa 4 3: cukup
c. Pemahaman siswa 4 4: baik
d. Kerjasama siswa 4 5: sangat baik
2. Aktivitas guru
a. Penyajian materi 4
b. Kemampuan memotivasi siswa 4
c. Pengelolaan kelas 4
d. Pembimbingan guru terhadap 4
siswa

Hasil observasi yang diperoleh selama proses pembelajaran berlangsung pada


siklus ketiga adalah aktivitas guru dan aktivitas siswa. Pada aktivitas guru
siklus ketiga dinilai baik karena modus dari skor aktivitas guru bernilai 4 dan
aktivitas siswa dinilai baik karena modus dari skor aktivitas siswa bernilai 4.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 57


2) Hasil Belajar Siswa
Berdasarkan nilai tugas dan tes formatif siklus ketiga diperoleh rata-rata dari
nilai akhir pada siklus ketiga adalah 71.00 dengan kriteria baik. Nilai hasil
belajar pada siklus kedua sebesar 67.57 dijadikan sebagai nilai dasar pada
siklus ketiga. Dengan persentase ketuntasan sebesar 87.09%.

3) Refleksi
Pada siklus ini kemampuan guru menyajikan materi dan kemampuan guru
mengajar siswa dinilai baik karena siswa lebih tertarik dan focus dalam
mengikuti pelajaran PKn. Sedangkan kemampuan guru dalam pengelolaan
kelas dan pembinaan guru terhadap siswa dinilai baik karena suasana kelas
yang tenang pada saat penyajian materi pelajaran.

Aktivitas siswa yang terdiri dari perhatian, partisipasi, pemahaman,


kerjasama siswa dalam pembelajaran pada siklus ini dinilai baik karena sudah
memenuhi sebagian besar [Link] peningkatan hasil belajar
matematika siswa setelah pembelajaran dengan metode kerja kelompok dapat
dilihat pada gambar 1.

100

80 Rata-rata

60 Ketuntasan

40

20
0 Ketuntasan
ND Rata-rata
Siklus I
Siklus II
Siklus III

Gambar I Grafik Rata-rata Peningkatan Hasil Belajar

2. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa data yang dikumpulkan telah
memenuhi dan sesuai dengan indicator dan format panduan observasi. Dalam
metode kerja kelompok, siswa diajak melalui kegiatan nyata atau pengalaman
langsung yang dekat dengan kehidupan mereka untuk mendapatkan konsep
PKn yang terkandung didalamnya. Dalam pelaksanaan dengan diskusi
kelompok tetap harus mengutamakan indicator yang akan dicapai pada setiap
rencana pembelajaran yang telah dibuat. Langkah-langkah dalam pelaksanaan
pembelajaran berperan sangat penting, terutama ide untuk memberikan masalah

58 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


kontekstual yang sesuai dengan materi yang dibahas dengan tingkat kognitif
siswa, mengadakan diskusi kelas, menarik kesimpulan serta keterampilan guru
sebagai pelaksana.

Upaya penyelesaian dari masalah kontekstual yang berhubungan dengan materi


system pemerintahan tingkat pusat diberikan merupakan tempat bagi siswa
untuk merakit pengetahuan yang mereka miliki dengan symbol-simbol
penyelesainya yang mereka pahami. Untuk itu penelitian ini, menggunakan
Lembar Kerja Siswa (LKS) yang menyajikan masalah yang berhubungan dengan
kehidupan sehari-hari sekaligus mengakomodir kerja siswa dalam menuangkan
ide-ide yang dimiliki mereka untuk memecahkan masalah yang diberikan. Saat
ini diperlukan bimbingan guru kepada siswa, dan pengamatan guru terhadap
kerja siswa untuk mendapatkan pekerjaan siswa yang dapat direkomendasikan
dalam diskusi kelas.

Setiap setelah dua kali pertemuan atau setiap akhir siklus, dilakukan tes formatif
untuk mengevaluasi kemampuan siswa sekaligus penerapan pembelajaran
melalui kerja kelompok. berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa metode
kerja kelompok dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SD Negri
001 Sangasanga. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya hasil belajar PKn siswa
pada setiap siklus. Pada kegiatan pembelajaran setiap siklus mengalami
peningkatan, yaitu rata-rata aktivitas siswa pada siklus I tergolong baik dan
aktivitas guru tergolong baik, selanjutnya pada siklus II rata-rata aktivitas siswa
tergolong baik dan aktivitas guru tergolong sangat baik dan kondisi ini bertahan,
pada siklus III yaitu rata-rata aktivitas siswa tergolong baik dan aktivitas guru
juga tergolong sangat baik.

Peningkatan rata-rata hasil belajar siswa menunjukan perubahan yang signifikan,


pada siklus I terjadi pelonjakan drastic dari rata-rata nilai dasar sangat cukup
(60.00) naik menjadi (65.06). Hal ini menunjukan bahwa pembelajaran
konvensional yang diterapkan sebelum penelitian dilakukan, kurang mampu
membuat siswa dapat mengerjakan soal-soal terbuka. eningkatn hasil belajar
matematika tetap terjadi pada dua siklus berikutnya, namun tidak seperti siklus I.
pada siklus II mengalami peningkatan nilai hasil belajar siswa dari nilai siklus I
sebesar 65.06 menjadi 67.57 di siklus II, dan pada siklus III nilai hasil belajar siswa
pun semakin meningkat yaitu sebesar 71.00. Hasil penelitian ini memperlihatkan
bahwa pembelajaran dengan metode kerja kelompok mampu meningkatkan hasil
belajar PKn siswa dengan tidak hanya dari pembelajaran konvensional
sebelumnya, namun juga dalam penerapan selanjutnya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Pembelajaran dengan menggunakan metode kerja kelompok sangat efektif
dilaksanakan di sekolah karena terbukti dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa
khususnya pada pokok bahasan system pemerintahan tingkat pusat.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 59


Saran
a. Bagi siswa agar dapat meningkatkan partisipasi aktif, mengubah pola piker siswa
dalam pembelajaran PKn, dan siswa dapat menguasai materi pelajaran PKn
sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya sehingga dapat terbinanya
kerjasama yang baik antara siswa.
b. Bagi guru agar dapat menggunakan metode pembelajaran yang tepat guna
meningkatkan hasil belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

Dimyati, M. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta

Djamarah, S.B. 1994. Prestasi Belajar Dan Kesulitan Belajar. Jakarta : Usaha Nasional.

Hamalik, Oemar. 1983. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Tarsito : Bandung.

Nasution, S. 2002. Mengajar dengan Sukses. Jakarta : Bumi Aksara

Sagala, S. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.

60 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SAINS DI KELAS V DENGAN METODE
BERBASIS MASALAH DAN KOOPERATIVE LEARNING SDN 022 SEBULU

Supardi
Guru Ka. SD Negeri 022 Sebulu

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA, melalui model
pembelajaran Berbasismasalah dan pembelajaran kooprative, pada pokok
bahasan pengerjaan Gaya. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD
Negeri 022 Sebulu, dengan jumlah siswa yang mengikuti kegiatan
pembelajaran sebanyak 40 orang. Sedangkan objek penelitian adalah model
pembelajaran berbasisi masalah, pada pokok bahasan Gaya. Pengumpulan
data dilakukan melalui observasi, pemberian tugas, dan tes hasil belajar. Tes
hasil belajar dilaksanakan pada setiap akhir siklus. Penelitian ini terdiri dari
tiga siklus, tiap siklus terdiri dari 3 pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan
adanya peningkatan mutu proses KBM dan peningkatan rata-rata nilai kelas
72.59, meningkat pada siklus 2 menjadi 77.16, dan pada siklus 3 meningkat
lagi menjadi 83.87. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model
pembelajaran Berbasisi masalah dapat meningkatkan mutu proses dan hasil
belajar SAINS siswa pada pokok bahasan pengerjaan Gaya, pada siswa kelas
V SD Negeri 022 Sebulu.

Kata Kunci: Hasil Belajar, Kooperatif Learning

PENDAHULUAN

Kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan saat ini cenderung lebih menekankan
guru mengajar dibandingkan siswa belajar (penekanan pada teacing dan bukan pada
learning). Pembelajaran lebih banyak meggunakan metode ceramah, diskusi, dan
demonstrasi. Hasil penelitian Tindakan (2006), diperoleh bahwa guru kebanyakan
menekankan pada pemberian informasi, akibatnya pembelajaran banyak di
dominasi oleh guru. Belajar berbasis masalah (BBM) merupakan model pembelajaran
yang beranjak dari masalah actual yang ada di sekitar siswa. Melalui model ini,
siswa dilatih untuk memecahkan masalah yang ada disekitar kehidupannya dengan
menerapkan konsep, prinsip, dan teori. Pembelajaran seperti ini kian meningkatkan
pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang abstrak (duch, 1996).

Belajar berbasis masalah dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan berfikir


tingkat tinggi (berfikir kritis) (Ibrahim dan Nur, 2000; Ismail 2002; Hasting, 2001).
Pada BBM, siswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan mengangkat masalah
dan membatasinya, membuat dedukasi untuk menyusun hipotesis, mengumpulkan
data, melekukan induksi, menyimpulkan, dan mengajukkan solusi atas masalah
yang di angkatnya.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 61


Belajar berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan berfikir siswa yang
mencakup keterampilan berfikir tingkat tinggi dan berfikir dasar. Disamping
meningkatkan kemampuan berfikir tinggi, yaitu berfikir kritis, BBM juga
meningkatkan keterampilan berfikir rendah yaitu mengingat, pemahaman, dan
aplikasi. Gunter etal (1990) mengemukakan terjadi kaitan yang erat antara
mengingat dan memahami, antara memahami aplikasai konsep, antara mengingat
dan pemahaman, dan aplikasi dengan berfikir komleks. Siswa yang mampu berfikir
kompleks menunjukkan bahwa mereka memiliki pengetahuan, dan pemahaman
yang baik. Sebaliknya, siswa yang memiliki pengetahuan, memahami, dan dapat
menerapkan konssep-konsep akan mampu berfikir kompleks.

Salah satu strategi koopratif yang erat kaitannya dengan latihan kemampuan berfikir
kritis adalah strategi koopratif group investigasi (slavin, 1995). Tahapan-tahapan
pelaksanaan pembelajaran strategi koopratif group investigasi meliputi membentuk
kelompok dan identifikasi topik, merencanakan kegiatan investigasi, melaksanakan
investigasi, menyusun laporan, persentasi laporan, dan evaluasi. Dengan demikian
dalam strategi koopratif group investigasi ini, siswa dilatih melakukan inkuiri yang
melatih kecakapan berfikir kritis mereka. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik
untuk melakukan peneletian tindakan yang bertujuan untuk meningkatkan hasil
belajar IPA siswa kelas V SDN 022 Sebulu, dengan menerapkan model pembelajaran
koopratif tipe group investigation melalui belajar berbasis masalah.

KAJIAN PUSTAKA

1. Belajar berbasis masalah


Belajar berbasis masalah (BBM) atau problem based learning ( PBL), diterapkan
untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah,
termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar (Ibrahim dan Nur, 2000). Peran
guru dalam pembelajaran ini adalah menyajikan masalah, mengajukan
pertanyaan, dan mefasilitasi penyelidikan dan dialog. Lebih penting lagi, gur
melakukan scaffolding, yaitu suatu kerangka dukungan yang memperkaya
keterampilan dan pertumbuhan intelektual siswa. BBM tidak terjadi tanpa guru
mengembangkan linkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide
secara terbuka. BBM terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang
autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka
untuk melakukan penyelidikkan dan inkuiri.

Belajar berdasarkan masalah memiliki ciri-ciri 1) Mengajukan pertanyaan atau


masalah. BBM mengorganisasikan pertanyaan dan masalah yang sangat penting
dan secara pribadi bermakna bagi siswa. Mereka mengajukan situasi kehidupan
nyata autentik, menhindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya
berbagai macam solusi untuk situasi tersebut (Hastings, 2001). 2) Berpokus pada
keterkaitan antar disiplin. Meskipun BBM berpusat pada mata pelajaran tertentu
seperti IPA, masalah yang dipilih untuk dikaji pemecahannya ditinjau dari
banyak mata pelajaran. 3) Penyelidikan autentik BBM mengharuskan siswa
melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian masalah secara
nyata. Mereka harus menganalisis dan mendepinisikan masalah,

62 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


mengembangkan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis informasi,
melakukan eksperimen (jika diperlukan), mebuat inferensi dan merumuskan
kesimpulan sebagai solusi terhadap masalah yang diajukan (Oakey,2000), 4)
menghasilkan produk/karya dan memamerkannya.

BBM menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya
nyata atau aterpak dan peragaan yang menjalaskan atau mewakili bentuk
penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk tersebut dapat berupa
transkrip debat, laporan, model fisik, video, atau program computer. Produk ini
bertujuan untuk menunjukkan apa yang telah dilakukan siswa dan
menyampaikannya pada teman lain. 5) Kerjasama BBM juga dicirikan oleh siswa
bekerja sama antara yang satu dengan yang lainnya dalam bentuk berpasangan
atau berkelompok (antara 4-8 siswa) dalam memecahkan masalah yang
dihadapinya. Dalam pembelajarannya, siswa bekerjasama antara satu dengan
yang lain, dapat memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam
tugs-tugas kompleks dan berpeluang berbagi infuiri dan berdialog untuk
mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berfikir (Herreid, 2000).

2. Srategi Kooperatif Group Investigation


Setrategi kooperratif khususnya kooperatif group investigation memberikan
situasi belajar kepada siswa untuk melakukan investigasi guna memecahkan
masalah yang diangkat oleh kelompoksiswa itu sendiri. Setrategi kooperatif
group investigation memiliki tahapan-tahapan membentuk kelompok dan
mengidentifikasi topik yang akan diselidiki, merencanakan kegiatan investigasi,
melakukan investigasi, merencanakan laporan, presentasi laporan, dan evaluasi.
Tahapan-tahapan pelaksanaan strategi koopratif group investigation sebagai
berikut :
a. Membentuk kelompok dan identifikasi topik. Siswa membentuk kelompok
dari siswa yang memiliki interes yang sama namun heterogen. Kelompok
mengidentifikasi topik-topik yang akan dilakukan investigasinya.
b. Perencanaan kegiatan kelompok. Siswa bersama-sama merencanakan segala
sesuatu untuk melaksanakan investigasi sesuai dengan topik yang dipilihnya,
misalnya metode yang dipilih, tujuan yang ingin dicapai, dan lain sebagainya.
c. Melakukan investigasi. Siswa bersama-sama mengumpulkan informasi/ data,
melakukan analisis data, dan menentukan simpulan. Siswa menganalisis hasil
investigasinya, membahas serta mensintesis ide-ide.
d. Perencanaan laporan akhir. Kelompok merencanakan laporan hasil investigasi
dan mempersiapkan presentasi.
e. Presentasi laporan akhir. Laporan dipresentasikan di hadapan kelas. Audien
menanggapi presentasi.
f. Evaluasi. Siswa dan guru melakukan umpan balik terhadap apa yang telah
dilakukan siswa. Penilaian terhadap siswa lebih ditekankan pada kemampuan
berfikir tingkat tinggi.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 63


Metode Penelitian
1. Rancangan penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan
kelas adalah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis refletif terhadap
berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru, sejak disusunnya suatu rancangan
sampai demgan penelitian terhadap tindakan yang nyata didalam kelas yang
berupa kegiatan belajar mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran
yang dilakukan (wibawa,dkk. 2003).

Prosedur penelitian taindakan kelas dapat dijabarkan sebagai berikut :


a. Permasalahan
Masalah-masalah atau kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam proses
pembelajran di kelas V selama ini akan diperbaiki mulai dari siklus pertama
ke siklus berikutnya.

b. Perencanaan
1) Membuat desain pembelajaran yang sesuai dengan model dan pendekatan
pembelajaran yang digunakan yaitu strategi koopratif group investigation
melalui belajar berbasis masalah.
2) Membuat alat evaluasi.
3) Membuat lembar observasi.

c. Pelaksanaan tindakan
Guru mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan selama proses
pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dengan strategi koopratif group
investigation melalui belajar berbasis masalah sebagai berikut :
1) Guru memulai pelajaran dengan mengonsentrasikan siswa pada tujuan
yang dicapai dari permasalahan yang akan dipecahkan pada materi
pengertian pristiwa alam.
2) Guru membantu siswa membentuk kelompok dari siswa yang memiliki
interes yang sama namun heterogen.
3) Guru memberikan masalah kepada siswa untuk mengamati 2 contoh dari
peristiwa alam kemudian menjelaskan peristiwa alam tersebut.
4) Guru mendorong siswa untuk bekerja sama memecahkan masalah dalam
kelompoknya masing-masing.
5) Siswa dibantu guru mengumpulkan informasi dari berbagai literature
mengenai masalah yang diberikan.
6) Guru membimbing dan memotivasi siswa yang membutuhkan pada
kelompok masing-masing.
7) Guru meminta siswa mengemukakan hasil pekerjaannya.
8) Guru memberikan penilaian pada setiap kelompok.

d. Observasi
Pada tahapan observasi, penulis mengamati tindakan yang sedang dilakukan
dengan menggunakan catatan lapangan dan analisis dokumen. Catatan
lapangan berupa lembar observasi yang digunakan untuk mengidentifikasi

64 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


kelebihan dan kekurangan dalam proses pembelajaran koopratif GL melalui
belajar berbasis masalah.

e. Refleksi
Pada tahapan ini, guru merenungkan kembali hasil tindakan pada siklus I
dengan melihat langkah-langkah yang sudah dicapai dan melihat
kekurangan-kekurangan langkah-langkah/tindakan yang sudah dilakukan,
yang nantinya akan diperbaiki pada siklus atau tindakan berikutnya.

2. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada bulan maret 2010 sampai selesai. Sedangakan
tempat penelitian di SDN 022 Sebulu semester I tahun pembelajaran 2009/2010.

3. Subjek dan Objek Penelitian


Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 022 Sebulu yang berjumlah 33
orang. Sedangkan yang menjadi objek penelitian ini adalah peningkatan aktivitas
dan hasil belajar siswa melalui pembelajaran koopratif investigation.

4. Teknik Pengumpulan Data


Sesuai dengan tujuan penelitian ini, data yang diperlukan adalah keaktifan, dan
hasil belajar siswa, maka pengumpulan data dilakukan dengan :
a. Observasi penggunaan tabel pedoman observasi yang dilakukan melalui
pengamatan langsung untuk mengetahui tingkat aktivitas siswa saat
pembelajaran berlangsung.
b. Pemberian tugas kelompok berupa soal-soal esay yang akan disesuaikan
secara berkelompok. Hal ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa
pada setiap akhir pelajaran.
c. Tes hasil belajar siswa, diberikan setiap akhir siklus untuk mengetahui
peningkatan hasil belajar tiap siklus. Bentuk soal esay adalah sesuai dengan
materi yang diajarkan.

5. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data pada penelitian tindakan kelas ini bersifat deskriptif yang
berarti hanya memaparkan data yang diperoleh kemudian disusun, dijelaskan
dan akhirnya dianalisis dengan cara mendeskipsikan atau mengambarkan denga
menyajikan untuk stiap siklus. Analisis data yang digunakan adalah analisis data
kualitatif yang berupa rangkaian kata-kata bukan angka. Analisis data dilakukan
tiga tahap, yaitu: Reduksi data, paparan data atau penyajian data dan
penyimpulan data. Untuk menarik kesimpulan terlebih dahulu dilakukan analisis
data dengan menggunakan rumus rata-rata, persentase, dan grafik.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


1. Hasil Penelitian
Penguasaan kompetensi siswa tentang peristiwa alam di Indonesia dan Negara
tetangga, dari tes diperoleh data sebagaimana disajikan pada tabel berikut.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 65


Tabel 2. Rekapitulasi Tes penguasaan kopetensi siswa

Siklus Nilai Rata-rata Persen Ketuntasan Keterangan


ND 69.95 58.00% Belum tuntas
I 74.45 65.79% Belum tuntas
II 75.41 76.31% Belum tuntas
III 78.43 86.84% Tuntas

2. Pembahasan
Siklus I
Hasil observasi pada pertemuan pertama terhadap perhatian siswa dinilai cukup,
karena siswa mencatat, mendengarkan, dan memperhatikan penjelasan guru.
Sedangkan, pemahaman siswa dinilai kurang, hal itu dikarenakan masih ada
siswa yang tidak memperhatikan pada saat pelajaran berlangsung, sehingga
persentase ketuntasan siswa hanya sekitar 65,79%.

Hasil observasi pada siklus I terhadap aktivitas guru menunjukan bahwa


kemampuan guru dalam menyajikan materi dinilai cukup. Kemampuan guru
dalam menyajikan contoh dianggap baik karena sebagian siswa mampu
menjawab soal dengan tepat. Dengan demikian dapat dikatakan siswa dapat
memahami contoh soal yang diberikan guru. Adapun bimbingan yang diberikan
guru kepada siswa cukup karena guru cendrung memberikan perhatian kepada
siswa yang pandai saja. Hal ini disebapkan karena siswa yang lebih pandai
biasanya lebih aktif bertanya kepada guru. Pengelolaan kelas dinilai cukup
karena masih ada sebagian besar siswa ribut pada saat kegiaatan pembelajaran
berlangsung.
Seiring dengan meningkatnya aktivitas maka hasil belajar siswa juga meningkat
karena siswa mulai bersemangat untuk mendapat nilai yang baik, namun masih
ada saja kendala-kendala yang dihadapi pada siklus I. Berdasarkan beberapa
kendala yang terjadi pada siklus ini, maka peneliti dan observer menentukan
beberapa tindakan perbaikan yang akan dilaksanakan pada siklus kedua,
diantaranya yaitu:
a. Memusatkan perhatian siswa pada materi yang diberikan oleh guru untuk
dibaca dan dipelajari.
b. Memotipasi siswa untuk lebih aktif lagi dalam mengikuti pelajaran, sehingga
tidak ada lagi siswa yang malas-malasan mempelajari materi yang diberikan
oleh guru.
c. Memotivasi siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dimengerti.
d. Membuat siswa agar lebih berminat dengan kegiatan pembelajaran yang
dilakukan sehingga siswa juga lebih bersemangat untuk belajar.

Siklus II
Dari hasil refleksi pada silklus I, maka guru memberikan beberapa perbaikan
untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil observasi selama proses
pembelajaran berlangsung pada siklus II ini adalah, aktipitas siswa semakin

66 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


meningkat. Dimana pada siklus ini perhatian siswa dalam kegiatan pembelajaran
lebih baik dari siklus yang pertama. Sebagian besar siswa menjawab soal yang
diberikan dengan tepat dan benar . partisipasi siswa saat proses pembelajaran
berlangsung termasuk katagori cukup, karena sebagian besar siswa antusias
mengerjakan soal yang diberikan guru dan sebagian siswa tidak malu lagi
bertanya tentang materi yang kurang dimengerti. Kemampuan membaca,
menulis dan beritung siswa dinilai cukup karena sebagian siswa menampakkan
perkembangan dari siklus I ke siklus II.

Hasil belajar siswa pada siklus II mengalami peningkatan dari rata-rata nilai 74.45
menjadi berkriteria 75.41. hal ini terjadi karena siswa mulai terbiasa
menggunakan kooperatif group investigation dalam pembelajaran dikelas, siswa
mulai aktif untuk berkerja sama dalam kelompok dengan baik, dan siswa berani
bertanya jika mengalami kesulitan dalam memahami penjelasan atau soal-soal
yang diberikan guru. Akan tetapi pada siklus ini belum mencapai ketuntasan
belajar karena dari 38 siswa hanya 29 siswa (76.31%) yang tuntas belajar. Atau
dengan kata lain jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar kurang dari
85%.

Hal-hal yang telah dicapai pada siklus II, yaitu:


1. Ada peningkatan dalam memahami materi yang menjadi kewajibannya.
2. Siswa lebih antusias pada saat mengerjakan karena adanya penghargaan di
akhir pelajaran dapat memotipasi siswa untuk lebih giat lagi belajar.

Adapun hal-hal yang perlu diperbaiki dalam kegiatan pembelajaran pada siklus
selanjutnya adalah sebagai berikut:
1. Siswa masih sibuk sendiri bertanya dengan temannya dari kelompok lain
sehingga menganggu konsentrasi kelompok lain
2. Masih terlihat siswa yang kurang aktif dalam kelompok dan siswa masih
belum bias berkerja sama dengan baik dengan temannya.
3. Walaupun mengalami peningkatan hasil belajar siswa masih perlu
ditingkatkan pada siklus berikutnya karena sebagian siswa belum tuntas.

Siklus III
Setelah melihat bahwa pada siklus II belum dicapai ketuntasan belajar, maka
tindakan yang dilakukan guru pada siklus III sebagai upaya perbaikan terhadap
hasil belajar siswa adalah sebagai berikut : (i) guru lebih tegas menegur siswa
yang tidak mau berkerja sama dalam kelompoknya,(ii) guru lebih member
motivasi dan bimbingan kepada siswa yang pasif dalam kelompoknya agar siswa
tersebut dapat menyadari kemampuanya sendiri, (iii) guru hanya membantu
siswa yang mencari informasi dan memberikan petunjuk agar siswa mampu
memecahkan dan menganalisis masalahnya.(iv) siswa harus aktif bertanya
kepada guru akan hal yang belum dipahaminya. (v) guru memberikan penilaian
terbaik kepada siswa atau kelompok yang berhasil memecahkan masalah dengan
benar.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 67


Hasil observasi pada siklus III cukup meningkat dibandingkan dengan siklus II.
Siswa lebih antusias memecahkan masalah, hal ini disebabkan siswa diberikan
penghargaan atas penilaian tersendiri pada kelompok yang berhasil berkerjasama
antar anggota kelompoknya. Pemahaman siswa dan kerjasama antar anggota
kelompok dinilai baik karena siswa yang semula terlihat pasif mulai mencoba
membantu kegiatan kelompoknya. Pada siklus III ini telah dicapai ketuntasan
belajar, dimana hasil tes belajar siswa mencapai rata-rata kelas 78.43 dengan
jumlah siswa yang mencapai nilai lebih dari atau sama dengan 75 sebanyak 33
siswa. Dengan kata lain ketuntasan belajar pada siklus ini mencapai 86.84% dari
33 jumlah siswa.

HASIL NILAI SIKLUS I S/D III KELAS V SDN 022 Sebulu

No. Nama Siswa Siklus


I II III
1. Ari Maria 30 65 75
2. Candra 40 50 60
3. Dian Rahmah 30 65 85
4. Pahrul 35 65 75
5. Diana 40 70 80
6. Siti Halamah 40 70 70
7. Isa Andana 60 80 90
8. Siswanto 30 60 80
9. Dhinda Nabila Rahmania 60 60 60
10. Dilla Aurelya Putri 40 60 80
11. Farah Renata 20 60 70
12. Himatur Rosida 20 60 80
13. Husaini Habibie 40 60 90
14. Irfan Noor Hidayat 30 60 90
15. Isra Nur Jannah 40 60 80
16. Juliah Masry 35 65 85
17. Mohammad Ikhwan Wahyudi 35 65 75
18. Muhammad Abi Dzar Al-Ghiffara 60 80 90
19. Muhammad Hafied Zan 45 75 95
20. Muhammad Khalil Kawindra 60 70 90
21. Muhammad Naufal Baehaki 40 60 90
22. Muhammad Pachrhull Razi 50 70 70
23. Muhammad Raihan Haibi 60 60 70
24. Muhammad Zaki Taufiqurrahman 35 45 65
25. Muhiydin Fayril Azhar 60 60 60
26. Nazla Qanita Chairunisa 30 30 60
27. Nectar Nafi Fagistra 40 60 80
28. Nur Widya Sari 35 65 75
29. Prayoga Pri Anggara 35 65 85
30. Ratu Cantiqka Pramata 40 80 90
31. Riza Rahmayati 60 60 60
32. Rizka Febriyani 30 60 70
33. Sultan Perdana Sanjaya 40 60 80
JUMLAH 1650 2175 2350
NILAI RATA-RATA 50,50 65,90 71,21

68 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Adapun hasil siklus pertama dapat dilihat peroleh dari nilai terendah, sedang
dan nilai istimewa adalah sebagai berikut :
Nilai murid sebelum tindakan kelas.

% Keberhasilan : ∑
x 100% = x 100% = 67 %

% Kegagalan : ∑
x 100% = x 100% = 35%

Nilai sesudah tindakan kelas menggunakan pendekatan eksperimen


pengamatan, hasilnya sebagai berikut:

% Keberhasilan : ∑
x 100% = x 100% = 80%

% Kegagalan : ∑
x 100% = x 100% = 20%

Dengan menganalisa perbandingan di atas, kita dapat melihat adanya


keberhasilan dari remedial kelas. Sekolah menggunakan pendekatan eksperimen
pengamatan dinyatakan berhasil atau meningkat. Terlihat tingkat keberhasilan
65% sebelumnya dan 80% sesudah diadakan remedial. Sedangkan tingkat
kegagalan sebelumnya 35% dan sesudah diadakan remedial, tingkat
kegagalannya menurun menjadi 20%, Beararti dengan diadakan tindakan kelas
dengan menggunakan pengajaran remedial model kooperatif ternyata berhasil
dapat meningkatkan prestasi dan nilai murid yang sebelumnya mengalami
kesulitan belajar.

Peningkatan hasil belajar siswa berupa nilai rata-rata kelas dan persentase
ketuntasan belajar yang diperoleh dapat dilihat dalam grafik berikut ini.

100
80
60
Rata-rata
40
Ketuntasan
20
0
Awal Siklus I Siklus II Siklus III

Gambar 1. Grafik peningkatan hasil belajar siswa


Dari hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa terjadi peningkatan
hasil belajar IPA dari hasil belajar yang berkreteria kurang menjadi hasil belajar
yang berkreteria baik. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dikatakan bahwa
sebagian besar siswa di kelas V SDN 022 Sebulu telah tuntas belajar dalam pokok
bahasan materi Gaya Gratifiasi Bumi ?

Kesimpulan
Pembelajaran dengan menggunakan strategi koopratif Pembelajaran berbasisi masalah
dan Kooprative learning sangat efektif dilaksanakan di sekolah karena terbukti dapat
meningkatkan hasil belajar IPA siswa khusunya pada sub pokok bahasan Gaya

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 69


DAFTAR PUSTAKA

Duch, B.J ; Allen, D. E. ; and. White, H.B. 2002. Problem Based Learning : Preparing
Students to Succeed in the 21st [Link]; [Link] Diakses 9
Maret 2003.

Dumas, A. 2003. Cooperative learning Response to Diversity. California Department of


Education.

Ibrahim, M. dan Nur, M. 2000. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: Unesa


University Press.

Leksono, SM., M. Ramli, N.C. Eka dan W. Sawitar. 2006 sains Modern Untuk SD dan
MI Kelas V. Jakarta; Widya Utama

Nurhadi. 2004, Kurikulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Jakarta; Grasindo

Rositawaty, s & Aris Muharam. 2008. Senang belajar ilmu pengetahuan alam 5: untuk
Kelas V, Jakarta: Departemen Pendidikan nasional.

Sudikin, Basrowi dan susanto. 2002, Manjemen Penelitian TindakanKelas, Jakarta;


Insan Cita

Sudjana, N. 2000, Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung; Remaja Rosda
Karya

Wibawa, dkk. 2003, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta; Dirjen Pendidikan Dasar dan
Menengah

70 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PKn MATERI PEMILU
MENGGUNAKAN MODEL TALKING STICKSISWA KELAS VI
SDN. 004 LOA JANAN

Ratna Dewi
Guru SD Negeri 004 Loa Janan

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar PKn
materi pemilu Menggunakan Model Talking Stick siswa kelas VI SDN. 004
Loa Janan. Jenis penelitian iniadalah penelitian tindakan kelas (PTK), yang
dilaksanakan sebanyak tiga siklus. Subjek penelitian berjumlah 18 siswa
dengan jumlah siswa laki-laki 10 orang siswa dan perempuan 8orang siswi.
Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan lembar kerja
siswa untuk mengukur tingkat keberhasilan belajar dari setiap tindakan.
Dengan KKM yang ditentukan dalam kompetensi dasar yaitu 70. Temuan
selama pelaksanaan tindakan, antara lain penerapan Model Talking Stick
dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat
dari Motivasi belajar siswa siklus 1 dengan kriteria cukup, hal ini dapat
dilihat dari banyaknya siswa yang pasif selama pembelajaran. Hasil belajar
siswa rata-rata kelas sebesar 66,75 dengan jumlah siswa tuntas 11 orang
siswa dengan persentase ketuntasan 61,11%. Pada siklus 2 motivasi belajar
siswa mengalami peningkatan dengan kriteria baik, hal ini ditandai siswa
semakin bersemangat dalam mengkuti kegiatan pembelajaran. Hasil belajar
siswa siklus 2 meningkat dari siklus 1 dengan rata-rata kelas sebesar 73,75
dengan ketuntasan 73,75% dan siswa yang mencapai KKM sebanyak 14
orang. Motivasi belajar siswa pada siklus 3 dalam kriteria sangat baik, hal ini
ditandai dengan siswa semakin antusias dan semangat selama pembelajaran.
Hasil belajar siklus 3 mengalami peningkatan secara signifikan dengan rata-
rata kelas meningkat menjadi 81 dengan persentase ketuntasan 100% dan
seluruh siswa mampu mencapai KKM yang [Link] uraian di atas
disimpulkan penggunaan Model Talking Stickmata pelajaran PKn materi
pemilu siswa kelas VI SDN. 004 Loa Janan, motivasi dan hasil belajar siswa
dapat ditingkatkan.

Kata Kunci: Motivasi, Hasil Belajar, Pembelajaran PKn, Model Talking Stick

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah


Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) bertujuan mengembangkan potensi individu
warga negara, dengan demikian maka seorangguru PKn haruslah menjadi guru
yang berkualitas dan profesional. Pembelajaran PKnsampai saat ini masih dianggap
pelajaran yang tingkat keberhasilan siswa selalui diragukan, banyak siswa yang

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 71


dalam mengerjakan soal-soal mengalami kesulitan, pada waktu dijelaskan siswa
terlihat paham dengan contoh yang diberikan, tapi setelah dikembangkan soal yang
berbeda dengan penyelesaian yang sama rata-rata siswa menunjukkan kesulitan
dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.

Permasalahan yang timbul di kelas adalah rendanya motivasi belajar siswa dalam
mengikuti pelajaran PKn, hal ini tentunya sangat berpengaruh pada kualitas
pembelajaran, siswakesulitan menemukan jawaban yang benar, kurang aktif
bertanya, sehingga hasil evaluasi siswa selalu rendah. Dari hasil pelaksanaan
ulangan harian siswa masih kesulitan menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Hal
ini dapat dilihat rata-rata kelas hanya 64,25 sementara KKM untuk mata pelajaran
PKn adalah 70.

Faktor yang menjadi akar permasalahan adalah metode pembelajaran diterapkan


guru di kelas sering kali kurang berkesan, kurang menarik bahkan siswa banyak
kurang aktif saat guru mengadakan tanyajawab terhadap materi yang dibahas dan
dipelajari situasi perkembangan siswa yang kurang merespon [Link]
mengatasi permasalahan masalah yang ada di dalam kelas tersebut penulis
menerapkan model pembelajaran Talking Stick pada pelajaran [Link]
pembelajaranTalking Stickadalah merupakan salah satu media pembelajaran yang di
dalamnya terdapat unsur permainan,yang mana siswa dikondisikan harus siap dan
berusaha menjawab pertanyaan dengan motivasi belajar yang baik dengan diselingi
[Link] latar belakang di atas maka dapat dijadikan landasan
dilaksanakannya penelitian kelas dengan judul, peningkatan motivasi dan hasil
belajar PKn menggunakan model talking stick siswa kelas VI SDN. 004 Loa Janan.

KAJIANPUSTAKA

Motivasi Belajar
Motivasi berasal dari kata “motif”, diartikan sebagai upaya yang mendorong
seseorang untuk melakukan sesuatu. Menurut Sardiman, (2001:73) menjelaskan
bahwa“ motivasi dapat diartikan daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motivasi
dapat dikatakan sebagai serangkaian untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu,
sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, bila ia tidak suka, maka
akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu.

Menurut Huitt, W dalam Hackz Zone. 2010. [Link] [Link]/2010/03/


[Link] mengatakan motivasi adalah suatu kondisi
atau status internal (kadang-kadang diartikan sebagai kebutuhan, keinginan, atau
hasrat) yang mengarahkan perilaku seseorang untuk aktif bertindak dalam rangka
mencapai suatu tujuan. Jadi ada tiga kata kunci tentang pengertian motivasi
menurut Huitt, yaitu : 1) kondisi atau status internal itu mengaktifkan dan memberi
arah pada perilaku seseorang; 2) keinginan yang memberi tenaga dan mengarahkan
perilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan; 3) Tingkat kebutuhan dan
keinginan akan berpengaruh terhadap intensitas perilaku seseorang.

72 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Pengertian motivasi yang lebih lengkap menurut Sudarwan Danim (2002: 2) motivasi
diartikan sebagai kekuatan, dorongan, kebutuhan, semangat, tekanan, atau
mekanisme psikologis yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk
mencapai prestasi tertentu sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Motivasi paling
tidak memuat tiga unsur esensial, yakni : (1) faktor pendorong atau pembangkit
motif, baik internal maupun eksternal, (2) tujuan yang ingin dicapai, (3) strategi yang
diperlukan oleh individu atau kelompok untuk mencapai tujuan tersebut.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah kesanggupan
untuk melakukan kegiatan belajar karena didorong oleh keinginannya untuk
memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang datang dari luar. Kegiatan
itu dilakukan dengan kesungguhan hati dan terus menerus dalam rangka mencapai
tujuan.

Pengertian Model Pembelajaran Talking Stick


Model Talking Stick dapat diartikan sebagai metode pembelajaran bermain tongkat,
yaitu pembelajaran yang drancang untuk mengukur tingkat penguasaan materi
pelajaran oleh murid dengan menggunakan media tongkat. Model Talking Stick
adalah metode pembelajaran yang dipergunakan guru dalam mencapai tujuan
pembelajaran yang diiinginkan. Talking Stick sebagaimana dimaksudkan penelitian
ini, dalam proses belajar mengajar di kelas berorientasi pada terciptanya kondisi
belajar melalui permainan tongkat yang diberikan dari satu siswa kepada siswa yang
lainnya pada saat guru menjelaskan materi pelajaran dan selanjutnya mengajukan
pertanyaan. Saat guru selesai mengajukan pertanyaan, maka siswa yang sedang
memegang tongkat itulah yang memperoleh kesempatan untuk menjawab
pertanyaan tersebut. Hal ini dilakukan hingga semua siswa berkesempatan
mendapat giliran menjawab pertanyaan guru.

Teknis pelaksanaan Model Talking Sticksebagai mana tercantum dalam buku


panduan materi sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang
diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Nasional 2008 dapat digambarkan sebagai
berikut : 1) Guru menyiapkan sebuah tongkat, 2) Guru menyampaikan materi pokok
yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk
membaca dan mempelajari materi, 3) Setelah selesai membaca materi pelajaran,
siswa diperintahkan untuk menutup buku, 4) Guru mengambil tongkat dan
memberikan kepada siswa, selanjutnya guru memberikan pertanyaan dan siswa
yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya hingga
seluruh siswa mendapat bagian untuk menjawab pertanyaan, 5) Guru memberikan
kesimpulan, 6) Melakukan evaluasi, dan 7) Menutup pelajaran.

Kelebihan modeltalking stick: menguji kesiapan siswa, melatih membaca dan


memahami dengan cepat, siswa lebih giat dalam belajar. Kekurangannya Model
Talking StickSiswa yang belum siap akan terlihat gugup.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 73


METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan
kelas (PTK),dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada penelitian ini
menggunakan metode penelitian tindakan kelas dengan kolaborasi dengan teman
sejawat untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapiselama pembelajaran yang
direncanakan melalui empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan,
dan refleksi pada setiap siklusnya.

Rancangan Penelitian
Dalam penelitian ini direncanakan tiga [Link] penelitian setiap siklus
dijabarkan sebagai berikut :
1. Tahap perencanaan :
Pada tahap inikegiatan yang dilakukan adalah : a) Merencanakan pembelajaran
yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar yakni dengan membuat
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). b) Menentukan pokok bahasan
yangakan dijadikan materi bahasan pada penelitian. c) Membuat skenario
pembelajaran. d) Menyiapkan sumber belajar. e) Membuat format evaluasi. f)
Membuat format observasi pembelajaran.

2. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario
pembelajaran yang telah direncanakan. Pelaku tindakan adalah penulis selaku
guru dan yang bertindak sebagai observer adalah teman sejawat sesama guru.
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario
pembelajaran yang telah direncanakan. Dimana yang bertindak sebagai guru
dalarn penelitian ini adalah peneliti. Dan yang bertindak sebagai observer adalah
teman sejawat yang merupakan sesama guru di SDN. 004 Loa Janan.

3. Tahap Observasi
Pada tahap observasi, penulis sebagai guru pengajar melakukan tindakan dengan
menggunakan model pembelajaran talking stick, sedangkan untuk mengobservasi
tindakan yang sedang dilakukan oleh guru dan aktivitas siswa selama
pembelajaran dilakukan oleh teman sejawat yang merupakan salah satu guru
SDN. 004 Loa Jananberdasarkan lembar observasi. Adapun untuk mengetahui
hasil belajar siswa menggunakan lembar tugas.

4. Refleksi
Kegiatan pada tahap ini adalah penulis bersama observer mendiskusikan hasil
tindakan, selanjutnyamerefleksikannva berdasarkan data observasi. Yaitu melihat
kendala-kendala yang dihadapi selama pembelajaran dan mencari alternatif
pemecahan masalahnya untuk dilakukan pada tindakan siklus selanjutnya.

Teknik Pengumpulan Data


Dokumentasi adalah data yang dimiliki oleh guru pada nilai ulangan harian
sebelumnya diadakan pelaksanaan siklus kemudian dari data ini selanjutnya
dibandingkan dengan hasil belajar setelah pelaksanaan [Link] evaluasi adalah

74 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


soal-soal yang dikerjakan siswa setelah pembelajaran dilaksanakan, sebagai alat
ukur untuk mengetahui daya serap siswa.

Observasi dilakukan untuk mengamati pelaksanaan dan perkembangan


pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan para siswa dalam proses
pembelajaran. Pengamatan dilakukan sebelum, selama, dan sesudah siklus
penelitian berlangsung. Jenis observasi yang digunakan adalah observasi partisipan
artinya penulis ikut terlibat dalam proses pembelajaran (tindakan).

Teknik Analisis Data


Data kuantitatif (nilai hasil belajar siswa) yang dianalisis menggunakan analisis
statistik deskriptif dengan menggunakan rata-rata, presentasi, dan grafik dalam
keberhasilan belajar siswa. Analisis dengan menggunakan KKM 70 secara individual
dan klasikal hasil rata-rata kelas dengan standar 75% berhasil.
menggunakan rumus: ∑
Keterangan:
∑x= Nilai
x = Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada setiap siklus
n =Banyaknya siswa

Data Kualitatif yaitu data yang berupa informasi berbetuk kalimat yang memberikan
gambaran tentang ekspresi siswa tentang tingkat pemahaman siswa terhadap
pembelajaran PKn melalui sikap siswa (afektif), aktivitas siswa mengikuti pelajaran,
perhatian, antusias siswa dalam belajar, kepercayaan diri, dan motivasi belajar yang
tergmabar pada lembar observasi siswa.

Indikator Keberhasilan
Kriteria yang digunakan untuk mengungkapkan peningkatan motivasi dan hasil
belajar PKn siswa kelas VI SDN. 004 Loa Janan nilai-nilai dinyatakan dengan
menggunakan simbol atau pernyataan atau rentang skor atau kategori, yaitu:
1. Sangat Baik, Jika skor rata-rata mencapai 85 – 100
2. Baik, Jika skor rata-rata mencapai 75 – 84
3. Cukup, Jika skor rata-rata mencapai 60 – 74
4. Tidak Baik, Jika skor rata-rata mencapai 50 - 59

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di kelas VI SDN. 004 Loa Janan dalam tiga siklus. Pada
setiap siklus sebanyak 2 kali pertemuan dengan alokasi waktu untuk satu kali
pertemuan selama 2 x 35 menit. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada masing-
masing siklus seperti alur penelitian tindakan kelas yang telah diuraikan pada bab III
yaitu perencanaan, observasi dan refleksi, secara rinci hasil tindakan setiap siklus di
jabarkan sebagai berikut :

1. Diskripsi Kondisi Awal

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 75


Yang dimaksud kondisi awal adalah keadaan siswa sebelum dilaksanakan
tindakan, untuk melihat kemampuan siswa terlebih dahulumelaksanakan
ulangan harian, hasil belajar belajar siswa pada kondisi awal,masuk dalam
kriteria sedang dengan rata-rata kelas 64,25 dengan jumlah siswa yang mencapai
KKM 8 orang siswa persentase ketuntasan 44,44%.

2. Diskripsi Siklus I
a. Observasi
Pelaksanaan siklus I, suasana sangat gaduh hal ini di sebabkan siswa belum
mampu memanfaatkan waktu yang diberikan oleh guru dengan baik. Selama
proses pembelajaran, kegiatan guru pada siklus I sudah sesuai dengan
indikator pada lembar observasi yang sudah ditetapkan. Motivasi belajar
siswa masih rendah, hal ini dapat dilihat dari banyaknya siswa yang pasif
selama pembelajaran. Hasil penelitian tindakan pada siklus 1 masuk dalam
kriteria sedang denganrata-rata kelas meningkat menjadi 66,75 siswa yang
tuntas 11 orang siswa dengan ketuntasan 61,11%

b. Refleksi
Hasil observasi selama pembelajaran, terdapatbeberapa permasalahan yang
muncul dalam pembelajaran diantaranyasiswa belum terbiasa dengan metode
pembelajaran yang diterapkan guru, hal ini menyebabkan kelas menjadi
sangat gaduh yang disebabkan oleh banyaknya siswa yang bertanya dan
sebagian asyik ngobrol dengan temannya karena tidak tahu harus berbuat
apa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut pada siklus II nanti, penulis
memberi penjelasan lebih detail tentang metode pembelajaran yang
dilaksanakan.

3. Diskripsi Tindakan Siklus II


a. Hasil Pengamatan
Catatan pengamatan penulis selama pembelajaranberlangsung antara lain :
suasana kelas mulai kondusif hal ini di sebabkan siswa mampu
memanfaatkan waktu yang diberikan oleh guru dengan baik. Selama proses
pembelajaran, kegiatan guru pada siklus 2 sudah sesuai dengan indikator
pada lembar observasi yang sudah ditetapkan. Motivasi belajar siswa
mengalami peningkatan dari siklus 1 hal ini ditandai siswa semakin
bersemangat dalam mengkuti kegiatan pembelajaran dengan kriteria baik.
Hasil penelitian tindakan pada siklus 2 mengalami peningkatan dari siklus 1
masuk dalam kriteria sedang dengan rata-rata 73,75 jumlah siswa yang tuntas
sebanyak 14 orang dengan ketuntasan 77,78%.

b. Refleksi
Permasalahan yang muncul selama pembelajaran diantaranyasiswa belum
memahami metode pembelajaran yang diterapkan guru, ini dapat dilihat dari
banyaknya siswa yang bertanya dan sebagian asyik ngobrol dengan
temannya. Untuk mengatasi permasalahan ini pada siklus III nanti, penulis
memberi penjelasan lebih detail model pembelajaran talking stickdan langkah-

76 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


langkahnya serta memberikan bimbingan intensif kepada siswa yang belum
tuntas.

4. Diskripsi Tindakan Siklus III


a. Hasil Pengamatan
Pengamatan penulis selama pembelajaran berlangsung antara lain : Suasana
kelas sangat kondusif hal ini disebabkan siswa sudah memahami metode
yang diterapkan guru dan mampu memanfaatkan waktu peran yang
diberikan oleh guru dengan baik. Berdasarkan hasil pengamatan pada saat
melakukan peran siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Selama proses
pembelajaran, kegiatan guru pada siklus III dinilai sudah baik, dan sudah
sesuai dengan indikator pada lembar observasi yang sudah ditetapkan.
Motivasi belajar siswa pada siklus III semakin membaik dengan kriteria
sangat baik, hal ini ditandai dengan siswa semakin antusias selama
pembelajaran. Hasil penelitian tindakan pada siklus III mengalami
peningkatan dari siklus II dalam kriteria baik dengan rata-rata 81 jumlah
siswa yang tuntas sebanyak 18 orang dengan ketuntasan 100.

b. Refleksi
Setelah pembelajaran selesai, penulis bersama guru membahas pembelajaran
yang baru saja dilakukan pada siklus III. Dari hasil observasi selama
pembelajaran,siswa sudah terbiasa dan memahami dengan metode
pembelajaran yang diterapkan guru, keadaan kelas sangat kondusif,
permasalah yang ada pada siklus I dan siklus II sudah dapat teratasi. Hasil
belajar siswa mengalami peningkatan, seluruh siswa sudah mampu mencapai
KKM yang ditetapkan. Rekapitulasi Hasil Belajar Siklus I, Siklus II dan
Siklus III dapat dilihat pada tabel berikut:

No Uraian Rata-rata Kriteria Ketuntasan Jumlah siswa


(%) Tuntas
1 Kondisi Awal 64,25 Cukup 44,44% 8
2 Siklus 1 66,75 Cukup 61,11% 11
3 Siklus 2 73,75 Cukup 77,78% 14
4 Siklus 3 81 Baik 100% 18

Hasil belajar siklus I, siklus II dan siklus III digambarkan pada diagram batang
berikut :

REKAPITULASI HASIL BELAJAR


100
100
77.78 81
73.75
80 64.25 66.75
61.11
60 44.44 Rata-rata

40 Ketuntasan
14 18
20 8 11 Siswa Tuntas
0
Kondisi Awal Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 77


PEMBAHASAN

Kondisi Awal
Sebelum melaksanakan tindakan terlebih dahulu penulis mengadakan ulangan
harian, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi siswa secara keseluruhan
dan hasil belajar siswa pada kondisi awal ini selanjutnya dijadikan pembanding
dengan hasil belajar siklus I. Hasil belajar kondisi awal masih rendah hal ini dapat
dilihat dari ketuntasan belajar siswa hanya mencapai 44,44%, rata-rata kelas sebesar
64,25 dengan jumlah siswa yang mencapai KKM hanya 8 orang siswa.

Siklus I
Motivasi belajar siswa masih rendah, hal ini dapat dilihat dari banyaknya siswa yang
pasif selama [Link] belajar siklus I dalam kriteria sedang dan
mengalami peningkatan dari kondisi awal hal ini dapat dilihat rata-rata kelas
meningkat sebesar 2,5 menjadi 66,75 dengan jumlah siswa tuntas bertambah 3 orang
siswa menjadi 11 orang siswa dengan persentase ketuntasan 61,11%.

Siklus II
Motivasi belajar siswa mengalami peningkatan siswa semakin bersemangat dalam
mengkuti kegiatan pembelajaran dengan kriteria [Link] belajar siklus II dalam
kriteria sedang dengan rata-rata kelas sebesar 73,75 dengan ketuntasan 73,75% dan
siswa yang mencapai KKM sebanyak 14 orang. Pada siklus II hasil belajar
mengalami peningkatan sebesar 7,89% atau siswa yang tuntas meningkat 3 orang.

Siklus III
Motivasi belajar siswa semakin membaik dengan kriteria sangat baik, siswa semakin
antusias selama [Link] belajar siklus III dalam kriteria baik, rata-rata
kelas meningkat sebesar 7 menjadi 81 dengan persentase ketuntasan meningkat
sebesar 30% menjadi 100% dan seluruh siswa mampu mencapai KKM yang
ditetapkan.

Sampai pada siklus III semua hambatan dan kendala yang ditemui pada siklus I dan
siklus II sudah dapat teratasi, kondisi kelas sudah sangat kondusif target yang
ditetapkan sudah tercapai, maka sesuai rencana awal penelitian ini dihentikan hanya
sampai pada siklus III.

PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya,
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Motivasi belajar siswa masih rendah siswa masih pasif dalam pembelajaran, hasil
belajar siswa siklus I rata-rata kelas menjadi 66,75 dengan jumlah siswa tuntas
orang siswa 11 orang siswa dengan persentase ketuntasan 61,11%.

78 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


2. Motivasi belajar siswa mengalami peningkatan dengan kriteria baik siswa
semakin bersemangat dalam mengkuti kegiatan [Link] belajar siswa
siklus II rata-rata kelas sebesar 73,75 dengan ketuntasan 73,75%.
3. Motivasi belajar siswa pada siklus III dalam kriteria sangat baik, hal ini ditandai
dengan siswa semakin antusias selama pembelajaran. Hasil belajar rata-rata kelas
sebesar 81 dengan persentase ketuntasan 100%.

Berdasarkan temuan di atas dapat disimpulkan bahwa talking stick dapat


meningkatkan PKn Kelas VI SDN. 004 Loa Janan, hal ini ditandai adanya
peningkatan yang signifikan motivasi dan hasil belajar siswa.

Saran-saran
Berdasarkan kesimpulandi atas, beberapa saran untuk memperbaiki dan
meningkatkan pembelajaran dikelas yang dapat dilakukan :
1. Bagi sekolah hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan kepala sekolah untuk
meningkatkan mutu pembelajaran disekolah.
2. Bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran PKn, seorang guru sebisa mungkin
memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk berlatih
menemukan dan menyimpulkan sendiri suatu pokok bahasan yang
dipelajarinya.
3. Bagi siswa hendaknya membiasakan dan menyesuaikan dengan metode yang
diterapkan guru untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam
mata pelajaran PKn.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan


Pendidikan (KTSP), Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar Menengah.

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

[Link] dan Lilis Setyawati. 2003. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar.
Bandung: Remaja Rosdakarya

Sardiman A.M. 2001. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: Rajawali Press

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor–Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka


Cipta.

Sudarwan, Danim. 2002. Inovasi Pendidikan: Dalam Upaya Meningkatkan


Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Prestasi
Pustaka Publisher

Wahab, Abdul Aziz. 2007. Metode dan Model-Model Mengajar. Bandung: Alfabeta

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 79


PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PROBLEM BASED LEARNING)
DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH BELA
NEGARA DALAM MATA PELAJARAN PKN KELAS IXC
SMP MUHAMMADIYAH 1 SAMARINDA

Muhammad Jafron
Kepala SMP Muhammadiyah 1 Samarinda

Abstrak

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah meningkatkan kemampuan


memecahkan masalah di kelas akan dapat meningkatkan kemampuan
memecahkan masalah bela Negara dalam pelajaran PKn. Metode dalam
penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (Class Action Research)
yaitu suatu penelitian yang dikembangkan bersama-sama untuk peneliti
tentang variable yang dimanipulasikan dan dapat digunakan untuk
melakukan [Link] pengumpul data yang dipakai dalam penelitian ini
antara lain : catatan guru, catatan, wawancara, angket dan dokumen yang
terkait dengan siswa. Prosedur penelitian terdiri atas 4 tahap yakni
perencanaan, melakukan tindakan, observasi, dan evaluasi. Refleksi dalam
tahap siklus dan akan berulang kembali poada siklus–siklus
[Link] temuan temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa
model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan
pemahaman siswa tentang masalah bela negara dalam pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan pada siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 1 Samarinda.

Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah, kemampaun memecahkan masalah

Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan
dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Undang
Undang dasar 1945 dan pancasila, perlu ditingkatkan terus menerus untuk
memberikan pemahaman yang mendalam tentang Negara Kesatuan republic
Indonesia. Konstutusi Negara Republik Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh
komponen bangsa Indonesia, khususnya generasi muda sebagai generasi penerus
bangsa.

Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang


menfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu
melaksanakan hak persuara, berpendapat untuk menjadikan warga Negara yang
peduli, cerdas dan kritis serta berkarakter sesuai yang diamanatkan dalam Pancasila
dan Undang Undang Dasar 1945. Berdasarkan hasil pengamatan selama ini, siswa
kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Anak tidak begitu tertarik dengan
pelajaran PKn karena selama ini pelajaran PKn sebagai polajaran yang
mengutamakan hafalan semata, kurang menekankan penalaran sehingga

80 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


menyebabkan rendahnya minat belajar PKn di sekolah ini. Padahal Pkn sangat
diperlukan sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak dan
karakter warganegara yang dimokratis dan bertanggung jawab.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PKn dalam rangka
Nation and Character Building, antara lain (a) PKn merupakan bidang kajian
kewarganegaraan yang bertopang berbagai disiplin ilmu yang relevan yaitu : ilmu
politi, sosial. Hukum, antropologi, Psikologi dan disiplin ilmu pengetahuan yang
lain yang digunakan sebagai landasan kajian-kajian terhadap proses pengembangan
konsep, nilai dan perilaku demokratis warganegara. (b) PKn sebagai suatu proses
pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih
inspiratif dan partisipatif denganmenekankan pelatihan penggunaan logita dan
penalaran. Untuk menfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikembangkan bahan
pembelajaran yang interaktif yang dikemas dalam berbagai praktik seperti bahan
belajar tercetak, tersiar, elektronik dan bahan belajar yang digali dari lingkungan
masyarakat sebagai pengalaman langsung (hand of experience). (c) PKn
mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi peserta didik. Pengembangan
karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang cerdas dan
berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan
kecerdasan warganegara sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku
demokrasi. (d) kelas PKn digunakan sebagai laboratoruim demokrasi. Melalui PKn,
pemahaman sikap dan perilaku demokrasi dikembangkan bukan semata-mata
melalui pengajar demokrasi tetapi melalui model pembelajaran yang secara
langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi. Penilain bukan semata-mata
dimaksudkan sebagai alat kendali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan
bantuan belajar bagi siswa sehingga leih dapat berhasil dimasa depan. Evaluasi
dilakukan secara menyeluruh termasuk portofolio siswa dan evaluasi diri yang
labih bebasis kelas.

Selama ini yang penulis amati di sekolah belum sesuai dengan idealisme di atas,
bahkan siswa cenderung kurang tertarik mempelajari PKn, akibatnya pemahaman,
dan penerapan serta aspek afektif kurang memuaskan, kurang motivasi, dan ada
indikasi bagi siswa PKn itu pelajaran yang membosankan. Dari masalah yang
dikemukakan di atas, perlu dicari strategi baru dalam pembelajaran yang melibatkan
siswa secara aktif yakni mengutamakan penguasaan kompetensi harus berpusat
pada siswa, memberikan pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan
kontekstual dalam kehidupan nyata dan mengemangkan mental kuat pada siswa.
Disinilah guru dituntut untuk merancang kegiatan pembelajaran yang mampu
mengembangkan kompetensi, baik dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik
siswa.

Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan penciptaan suasana yang
menyenangkan sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam
mata pelajaran PKn. Dalam hal ini penulis memilih model “pembelajaran berbasis
masalah (Problem Based Learning) dalam meningkatkan kemampuan memecahkan
maalah Bela Negara dalam mata pelajaran PKn kelas IX”. Pembelajaran berbasis

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 81


masalah adalah suatu proses belajar mengajar dalam kelas dimana siswa terlebih
dahulu diminta mengobsesi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta untuk
mencatat masalah-masalah yang muncul, setelah itu tugas guru adalah merangsang
untuk berfikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada.

Tugas guru mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan


mendengarkan perdapat berbeda diatara mereka. Menurut E. Mulyana Pembelajaran
aktif dengan menciptakan suatu kondisi dimana siswa dapat berperan aktif,
sedangkan guru bertindak sebagai fasiliotator. Pembelajaran harus dibuat dalam
kondisi yang menyenangkan sehingga siswa akan terus termotivasi dari awal sampai
akhir kegiatan belajar mengajar (KBM).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini marupakan pengembangan metode dan strategi pembelajaran. Metode


dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (Class Action Research)
Alat pengumpul data yang dipakai dalam penelitian ini antara lain : catatan guru,
catatan, wawancara, angket dan dokumen yang terkait dengan siswa. Prosedur
penelitian terdiri atas 4 tahap yakni perencanaan, melakukan tindakan, observasi,
dan evaluasi. Refleksi dalam tahap siklus dan akan berulang kembali poada siklus–
suklus berikutnya.

Aspek yang diamati dalam setiap siklusnya adalah kegiatan atau aktifitas siswa saat
mata pelajaran PKn dengan pendekatan Problem Based Learning (Pembelajaran
Berbasis Masalah)untuk melihat perubahan tingkah laku siswa, untuk mengetahui
tingkat kemajuan belajar siswa akan mempengaruhi hasil belajar siswa dengan cara
mengumpulkan datau seperti tersebut di atas. Data yang diambil adalah data
kualitatif dari hasil tes, angket siswa antusias siswa, partisipasi siswa dalam
berdiskusi dan kemampuan siswa melaporkan hasil. Instrumen yang dipakai
berbentuk : soal tes, observasi, catatan lapangan. Data yang terkumpul akan
dianalisis untuk melihat keberhasilan siswa.

Penelitian dilakukan di SMP Muhammadiyah 1 Samarinda pada siswa kelas IX C


dengan jumlah siswa 30 anak, yang terdiri dari 12 kali-laki dan 18 perempuan.
Penelitian dilakukan pada saat mata pelajaran pendidikan Kewarganegaraan
berlangsung dengan pokok bahasan ”Pembelaan terhadap Negara”. Penelitian
direncanakan selama 2 bulan dimulai Agustus sampai dengan Oktober 2011.

HASIL PENELITIAN

Pada setiap siklus, data yang diambil adalah aktivitas siswa dan nilai evaluasi pada
akhir siklus. Hasil observasi dari siklus I ke siklus II dapat dilihat pada tabel–tabel
berikut ini :

82 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Tabel 1
Data aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaran

No. Indikator Siklus I Siklus II


1 Keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan 70 % 86.6 %
pendapat
2 Motivasi dan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran
(menyelesaikan tugas mandiri atau kelompok) 63 % 93.3 %
3 Interaksi siswa dalam mengikuti diskusi kelompok 70 % 90 %
4 Hubungan siswa dengan guru selama kegiatan belajar 76.6 % 93.3 %
mengajar
5 Hubungan siswa dengan siswa lain selama pembelajaran 96.6 % 96.6 %
(kerja kelompok
6 Partisipasi siswa dalam pembelajaran (memperhatikan), ikut
melakukan kegiatan kelompok (selalu mengikuti petunjuk 93.3 % 96.6 %
guru)
Rata – rata 79 % 92.6 %
Berdasarkan table 3 terlihat bahwa aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran
pada siklus II mengalami peningkatan dibandingkan siklus I yaitu 13.6.%.
Selanjutnya data aktivitas siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran terlihat
pada table 4.

Tabel 2
Data aktivitas siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran.

No. Indikator Siklus I Siklus II


1 Tidak memperhatikan guru 0,17% -
2 Berbicara dengan teman 0,07% -
3 Mengerjakan tugas lain - -
4 Bermain-main - -
Rata – rata 0,12% -

Berdasarkan tabel 4 terlihat bahwa aktivitas siswa yang kurang relevan dengan
kegiatan pembelajaran pada siklus 2 mengalami penurunan dibanding pada siklus 1
sebesar 0,12%. Data tanggap siswa terhadap penggunaan metode Problem Based
Learning seperti table 5 sebagai berikut.

Tabel 3
Data Tanggapan siswa terhadap metode Problem Based Learning

No Indikator Siklus I Siklus II


1 Penggunaan metode ini menyenangkan 65,6 % 91 %
2 Mudah memahami pelajaran 69,3 % 90 %
3 Ingin menggunakan metode pada 79.8 % 84 %
pertemuan selanjutnya
Rata – rata 72 % 88,3 %

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 83


Dari table 5 dapat dilihat bahwa penggunaan metode Problem Based Learning
disukai oleh siswa bahkan menginginkan agar pada pertemuan selanjutnya masih
menggunaan metode tersebut, terlihat dari siklus I 72 %, sedang pada siklus II
meningkat menjadi 88, 3 %, berarti meningkat 16,3 %

Data Pemahaman siswa tentang Bela Negara dan ketuntasan belajar dari siklus ke
siklus dapat dilihat pada table 6 sebagai berikut :

Tabel 4
Data Pemahaman Siswa tentang masalah Bela Negara dan
Ketuntasan belajar siswa

No. Indikator Siklus I Siklus II


1 Nilai rata – rata pemahaman Bela negara 75,6 83,8
2 Siswa yang telah tuntas 25 (80)% 30%
3 Siswa yang belum tuntas 5 (20%) -
Berdasarkan tabel 6 nilai rata-rata pemahaman siswa tentang masalah bela negara
mengalami peninkatan pada sklus II dibanding siklus I, begitu juga prosesntase
siswa siswa yang mencapai ketuntasan belajar meningkat dari siklus I ke siklus II
sebesar 20 %.

PEMBAHASAN

Berdasarkan tabel 3 diatas, terlihat keberanian siswa bertanya dan mengemukakan


pendapat, rerata perolehan skor siklus pertama 70 % menjadi 86 %, mengalami
peningkatan 16,6 %. Begitu pula indikator motivasi dan kegairahan dalam mengikuti
pembelajaran pada siklus pertama rata-rata 63 % pada siklus kedua 93,3 %
mengalami peningkatan 30,3%. Dalam indikator interaksi siswa selama mengikuti
diskusi kelompok pada siklus pertama 70 % dan pada siklus kedua 90 % terlihan
mengalami peningkatan 20 %. Dalam indikator hubungan siswa dengan guru selama
kegiatan pembelajaran pada siklus pertama 76,6 % sedang pada siklus kedua 93,3 %
yang berarti mengalami peningkatan 16,7 %. Dalam indikator hubungan siswa
dengan siswa, pada siklus pertama 96,6 % sedang pada siklus kedua 96,6 %
mengalami peningkatan 0%. Dalam indikator partisipasi siswa dalam pembelajaran
terlihat pada siklus pertama 93,3 % dan siklus kedua 96,6 % yang berarti mengalami
peningkatan. 3,3 %.

Melalui pembelajaran model Problem Based Learning ini terlihat hubungan siswa
dengan guru sangat signifikas karena guru tidak dianggap pribadi yang menakutkan
tetapi sebagai fasilitator dan mitra untuk berbagi pengalaman sesuai dengan konsep
belajar kreatif (creatif learning) yaitu melalui discovery dan invention serta creativity and
deversity sangan menonjol dalam model pembelajaran ini. Dengan model Problem
Based Learning guru hanya mengarahkan strategi yang efektif dan efisien yaitu
belajar bagaimana cara belajar (Learning how to learn). Dalam metode Learning How

84 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


to Learn guru hanya sebagai guide (pemberi petunjuk) untuk membantu siswa jika
mengalami kesulitan dalam mempelajari dan menyelesaikan masalah.

Dalam diskusi kelompok guru dapat mengamati karakter atau gaya belajar siswa
masing-masing. Ada kelompok siswa yang lebih suka membaca dari pada dibacakan
oleh siswa lainnya. Sifat ini termasuk siswa yang mempunyai potensi atau modalitas
visual. Ada siswa yang lebih suka berdialog, debat, suka memberikan argumentasi
dari penyampaian siswa lain atau mempunyai gaya belajar Auditorial. Ada siswa
yang lincah, fleksibel selain suka membantah, dia suka mendengarkan,
mengakomodir pendapat siswa lainnya, mampu memecahkan masalah, gaya mereka
termasuk gaya belajar kinestetik. Gaya kinestetik ini adalah type belajar konvergen
yakni siswa memiliki kekuatan otak kiri lenih dominan dan cenderung bertanya
dengan menggunakan kata bagaimana (how).

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas diatas prosentase ketercapaian pada


siklus pertama mengalami peningkatan pada siklus kedua, maka dapa disimpulkan
bahwa temuan pada penelitian dapat menjawab hipotesis yang dirumuskan: bahwa
melalui model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan
memecahkan masalah bela negara dalam mata pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan pada siswa SMP Muhammadiyah 1 Samarinda.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian diatas, ada beberapa temuan dalam penelitian tindakan
kelas ini yaitu :
1. Skor rerata aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaran mengalami
peningkatan dari siklus pertama ke siklus kedua. Pada siklus pertama keberanian
siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat meningkat dari 70 %
menjadi 86,6 % mengalami peningkatan 16,6 %.
2. Skor rerata siswa yang kurang relevan dengan pembelajaran mengalami
penurunan dari siklus pertama ke siklus kedua. Pada siklus pertama rerata
aktivitas siswa yang kurang relavan 0,12% mengalami menjadi 0% pada siklus
kedua, sehingga mengalami penurunan 0,12%.
3. Skor rerata pemahaman tentang masalah bela negara pada siklus pertama sebesar
75,6% dan pada siklus kedua sebesar 83 dikategorikan baik, demikian juga pada
penuntasan belajar pada siklus pertama 80% sedang pada siklus kedua 100%.

Berdasarkan temuan dalam penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model


pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan pemahaman siswa
tentang masalah bela negara dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada
siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 1 Samarinda.

Saran
Berdasarkan temuan temuan diatas, disarankan agar (1) Pembelajaran pengetahuan
IPS seperti PKn, Sejarah, Ekonomi, Geografi dan yang lainnya dapat menggunakan

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 85


model Problem Based Learning sebagai salah satu alternatif dalam proses
penyampaian pembelajaran di sekolah, (2) Melalui pembelajaran model Problem
Based Learning guru dapat dengan mudah merespon potensi atau modalitas siswa
dalam setiap kelompok belajar apakah siswa tersebut tergolong dalam kelompok
visual, kelompok auditorial atau kelompok kinestetik. Dengan demikian guru yang
profesional dapat lebih efektif dalam melakukan kegiatan proses belajar mengajar
dan akan lebih mudah dalam merespon perbedaan potensi yang dimilik anak
didiknya.

DAFTAR PUSTAKA

Amos, Abraham. H. F. 2005. Sistim Ketatanegaraan Indonesia. Jakarta. Raja Grafindo


Persada

Budiansyah, Dasim. 2002. Model Pembelajaran dan Penilaian Portofolio, Bandung, PT.
Gensindo

Budiarjo, Miriam. 1995. Dasar – Dasar Ilmu Politik, Jakarta, Gramedia

________,2006, Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 tentang Standar
Isi, Jakarta

Cholil Achyar. 2008. Pembelajaran Berbasis Fitrah, Pt. Balai Pustaka Jakarta

H. S. Sunardi. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Solo. Tiga Serangkai Pustaka


Mandiri

Lemhanas. 1979. Kewiraan Untuk Mahasiswa. Jakarta. Gramedia

Lemhanas. 2001. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta. Gramedia Pustaka Umum

________. 2002. Kebijakan Kurikulum. Jakarta: Depdiknas

________. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta. Depdiknas

________. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi. [Link]

Siregar. Evandhy. M. 1990. Bagaimana menjadi Pemimpin yang berhasil. Jakarta.


Yayasan Mari Belajar

Sekretariat Jendral MPR RI. 2005. Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945. Jakarta

Zaelani Sukaya, Endang. Pendidikan Kewarganegaraan, Yogyakarta, Paradigma

86 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


HUBUNGAN ANTARAKONSEP DIRI DAN KECERDASAN EMOSIONAL
DENGAN KENAKALAN REMAJA

[Link],[Link].
Pengawas SMK Kota Samarinda

Abstrak

The goal of this research was to study about the correlation between self-
concept and emotional intelligent with juvenile delinquency on SMKN‟s
students in Samarinda. The hypothesis explained that there was positive
correlation between self-concept and emotional intelligent with juvenile
delinquency, in all variables or partial. The respondents of this research were
the students of SMKN 2, 4, 5, 8, 9, 10. Each school was presented by 25
students. One hundred and fifty students were taken by random sampling.
The measurements of this research based on self-concept scale, emotional
intelligent scale and juvenile delinquency scale. The result of this research was
gained by using technical of full model regression analyze and got F = 52,293,
db = 2, and 147, p = 0.000 (p< 0,01). It meant that there was significant
correlation between self-concept and emotional intelligent with juvenile
delinquency, with effective contribution = 41.571 %. The next result showed
that self-concept partially had significant correlation with juvenile
delinquency (rxly = -0.611 and p = 0.000) with effective contribution 41.459
%, meanwhile the emotional intelligent didn‟t have significant correlation
with juvenile delinquency (rx2y = -0.044 and p = 0.301) with effective
contribution 0,112 %.

Kata Kunci: self-concept, emotional intelligent, juvenile delinquency

PENDAHULUAN

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk


watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU RI No 2 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional).

Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan maka keluarga, masyarakat dan


pemerintah sangat berperan. Pada masa balita, sebagian besar peran pendidikan
masih berada pada keluarga, dalam hal ini orang tua. Memasuki usia sekolah, ketiga
komponen berperan dalam mengantarkan anak melalui pendidikan formal. Pada
fase ini anak mulai banyak bergaul dengan lingkungan di luar keluarga sehingga di

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 87


samping orangtua, masyarakat melalui pendidikan nonformal dan pemerintah
melalui pendidikan formal, mulai banyak ikut berperan dalam mendidik anak.

Pada fase selanjutnya yaitu fase remaja, peran orangtua semakin berkurang dalam
memberikan perhatian secara langsung. Peran masyarakat dan peran pemerintah
semakin banyak, hal ini disebabkan pada usia anak telah dapat bergaul dengan
lingkungan yang lebih luas. Tidak heran kalau fase ini di samping pembentukan
mental melalui pendidikan oleh orang tua, masyarakat dan pemerintah, pencemaran
mental pun dapat terjadi sebagai akibat makin luasnya pergaulan anak dengan
lingkungan sosialnya.

Remaja adalah pribadi yang sangat diharapkan di dalam keseluruhan proses menuju
usia dewasa, oleh lingkungan, orangtua, masyarakat dan bangsanya. Dan pada saat
itu juga kepribadian remaja sangat labil dan rentan terhadap berbagai pengaruh luar
(stimulus) yang akan membentuk sikap dan pola hidupnya. Situasi tersebut tidaklah
mudah bagi remaja untuk mengatasinya. Oleh karena itu dibutuhkan bantuan dari
orang-orang yang lebih dewasa, orangtua atau guru.

Dalam kondisi statis, gejala delinquency atau kejahatan remaja merupakan gejala
sosial yang sebagian dapat diamati serta diukur kuantitas dan kualitas
kedurjanaannya, namun sebagian lagi tidak bisa diamati dan tetap tersembunyi,
hanya bisa dirasakan ekses-eksesnya. Sedang dalam kondisi dinamis, gejala
kenakalan remaja tersebut merupakan gejala yang terus menerus berkembang,
berlangsung secara progresif sejajar dengan perkembangan teknologi, industrialisasi
dan urbanisasi. Situasi tahun-tahun terakhir ini kembali menunjukkan fenomena
perilaku meyimpang para remaja usia sekolah. Banyak kenakalan remaja semakin
meningkat baik kualitas maupun kuantitas. Menurut penelitian para sarjana dari
beberapa negara, selama 30 dekade terakhir ini jumlah kejahatan anak-anak
muda/remaja melebihi jumlah kejahatan orang dewasa, khususnya di negara yang
teknologinya maju. (Kartono, 2005).

Kenakalan remaja di Indonesia sekarang ini telah mencapai tingkat yang


membahayakan. Beberapa data dan fakta yang dirunut dalam beberapa mass media
telah merunut berbagai kenakalan remaja baik secara kualitatif maupun
[Link] satu dari bentuk kenakalan remaja adalah melakukan pelanggaran
lalu lintas. Data tahun 2007 di Samarinda menunjukkan jumlah pelanggaran
lalulintas 4.911 yang dilakukan oleh remaja dari total pelanggaran 18.567. Berarti
26,45% pelanggaran lalu lintas dilakukan oleh remaja. Sedang data penyalahgunaan
narkoba, pada tahun 2005 dari 200 juta penduduk Indonesia tercatat 4 juta jiwa
terlibat penyalahgunaan narkoba dan 85% adalah dilakukan oleh generasi muda dari
berbagai kalangan. Untuk kasus penyalahgunaan narkotik dan obat-obatan terlarang
(narkoba) khususnya di kota Samarinda mengalami peningkatan. Tercatat hingga 15
November 2007 terungkap 163 kasus dengan 207 orang tersangka. Sementara tahun
2006, angka kasus narkoba jauh lebih rendah yaitu hanya 144 kasus dan 194 orang
tersangka. ([Link]).

88 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Faktor pribadi individu karena tidak adanya bimbingan dari orangtua mereka maka
tidak mustahil justru potensi sifat buruk yang ada dalam diri individulah yang akan
muncul, serta pengalaman buruk yang diterima sejak kecil dan kemudian diperkuat
ketika yang bersangkutan memasuki usia remaja. Faktor keluarga turut juga
mempengaruhi munculnya perilaku menyimpang atau kenakalan remaja.
Perkembangan mental, fisik dan sosial individu ada di bawah arahan orang tua atau
terpola dengan kebiasaan yang berlaku dalam keluarga. Dengan demikian jika
seorang remaja menjadi nakal dan liar maka faktor keluarga turut mempengaruhi
keadaan tersebut. Faktor sekolah turut memberikan konstribusi terhadap kenakalan
remaja disebabkan antara lain disiplin sekolah dan pelaksanaan tata tertib yang
dilanggar, ketidakacuhan guru dan pengelola sekolah terhadap masalah siswa di
luar urusan sekolah, serta tidak lancarnya komunikasi antara guru dan orangtua.
Faktor lingkungan yang merujuk kepada peran masyarakat, multimedia dan
berbagai fasilitas, seperti pusat-pusat hiburan, sangat besar kontribusinya terhadap
munculnya kenakalan remaja, seperti pergaulan bebas, seks bebas, narkoba dan
masih banyak lagi.

Goleman (1997) mengatakan, koordinasi suasana hati inti dari hubungan sosial yang
baik. Seorang yang pandai menyesuaikan diri atau dapat berempati, ia memiliki
tingkat emosionalitas yang baik. Kecerdasan emosional lebih untuk memotivasi diri,
ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda
kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Lima wilayah kecerdasan emosional sebagai
pedoman setiap individu, untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari.
Yakni mengenali emosi, kesadaran diri dalam mengenali perasaan ketika perasaan
itu terjadi sebagai dasar kecerdasan emosi, sehingga kita bisa peka pada perasaan
sesungguhnya dan tepat dalam pengambilan keputusan masalah.

LANDASAN TEORI

Kenakalan remaja adalah segala bentuk penyimpangan perilaku pada remaja yang
disebabkan faktor-faktor ekstrinsik dan intrinsik. Secara umum penyimpangan
perilaku pada remaja disebut kenakalan sedangkan pada dewasa disebut kejahatan.
Kenakalan di sini adalah kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain,
kenakalan yang menimbulkan korban materi, kenakalan sosial yang tidak
menimbulkan korban di pihak lain dan kenakalan yang melawan [Link]-
bentuk kenakalan itu adalah : perkelahian, perkosaan, perampokan, penganiayaan,
perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, pelacuran, penyalahgunaan obat,
seks bebas, membolos sekolah, meninggalkan rumah (minggat) dan sejenisnya.
Kenakalan yang terjadi karena faktor-faktor intrinsik, antara lain dikarenakan remaja
yang konsep dirinya rendah dan remaja yang kecerdasan emosionalnya rendah.

Konsep diri diartikan bagaimana individu memandang dan merasakan tentang


keadaan diri sendiri berdasarkan pengalaman dan interaksi dengan lingkungan.
Pandangan dan perasaan tersebut dapat bersifat fisik, psikologi maupun sosial.
Semua itu dilakukan secara sadar dalam pola pengamatan maupun penilaian
terhadap diri sendiri. Baik sebagai subyek maupun sebagai obyek, dengan indikator

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 89


adalah menurut Fitts (1971), adalah : keyakinan akan kemampuan mengatasi
masalah, keyakinan akan nilai dan prinsip yang dimiliki, penerimaan terhadap diri
sendiri, penerimaan terhadap orang lain,kepekaan terhadap situasi sosial. Remaja
yang mempunyai konsep diri maka dia akan mandiri, mampu tampil dalam segala
keadaan, mampu mngambil sikap dalam situasi sekritis apa pun. Sedangkan konsep
diri diperlukan sebagai sarana untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, di
samping juga mampu mengatasi segala masalah yang akan dihadapi.

Remaja yang mempunyai konsep diri akan memiliki seperangkat pribadi yaitu
memiliki jati diri, identitas diri dan sadar diri, sehingga remaja dapat melakukan
sosialisasi dengan lingkungan tanpa harus larut dan hanyut pada pengaruh-
pengaruh negatif seperti perilaku menyimpang atau perilaku nakal yang akhir-akhir
ini mnemang sangat meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya. Remaja dengan
kecerdasan emosional tinggi, ia akan mampu mengendalikan dorongan emosinya,
pandai membaca perasaan orang lain serta memelihara baik dengan lingkungannya.
Menurut William Damon, perkembangan moral anak tidak bisa dipisahkan dengan
emosi seseorang.

Faktor-faktor internal yang berpengaruh terjadinya kenakalan antara lain di samping


konsep diri juga kecerdasan emosional. Remaja tidak akan mudah dipengaruhi oleh
lingkungan apabila memiliki kepribadian yang kuat. Salah satu tolok ukur pribadi
yang kuat adalah seseorang memiliki emosi yang seimbang dan memandang dirinya
cukup berharga. Dengan emosi yang cerdas maka remaja akan mampu
mengendalikan dirinya untuk tidak dikuasai emosi sehingga tidak mudah
terpengaruh oleh berbagai pengaruh negatif yang dapat mendorong remaja untuk
berperilaku nakal.

Berdasarkan kajian teori di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Konsep diri dan kecerdasan emosional secara bersama-sama berkorelasi dengan
kenakalan remaja.
2. Konsep diri berkorelasi negatif dengan kenakalan remaja.
3. Kecerdasan emosional berkorelasi negatif dengan kenakalan remaja.

METODOLOGI PENELITIAN

Pada penelitian ini digunakan sampel siswa SMK Negeri di Samarinda, kelas II
sebanyak 150 orang. Kemudian hasilnya dianalisis dengan menggunakan analisis
regresi model penuh dan seluruh komputerisasi statistiknya menggunakan jasa
komputer program SPS 2005 edisi Sutrisna Hadi dan Yuni Pamardiningsih. Adapun
penelitian ini secara khusus bertujuan untuk menganalisis :
1. Hubungan konsep diri dan kecerdasan emosional dengan kenakalan remaja
2. Hubungan antara konsep diri dengan kenakalan remaja.
3. Hubungan antara kecerdasan emosional dengan kenakalan remaja.

90 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Variabel Penelitian dan Pengukuran
Hubungan antara 3 variabel dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut :

x1

x2

Keterangan :
x1 = konsep diri
x2 = kecerdasan emosi
y = kenakalan remaja

Skala kenakalan remaja berisi butir-butir pernyataan yang disusun dalam skala skor
0 sampai 4, dan terdiri dari alternatif jawaban yaitu : SS (sangat setuju), S (setuju), KS
(Kurang Setuju), TS (tidak setuju), STS (sangat tidak setuju). Kenakalan individu
diukur berdasarkan jumlah skor yang diperoleh atas respon yang diberikan terhadap
pernyataan-pernyataan. Semakin tinggi skor yang diperoleh berarti semakin tinggi
tingkat kenakalan remajanya

Konsep diri dan kecerdasan ,Aitem pernyataan memiliki alternatif jawaban yang
dimaksud terdiri atas SS (sangat setuju), S (setuju), KS (Kurang Setuju), TS (tidak
setuju), STS (sangat tidak setuju). Jika pernyataan bersifat positif berturut-turut
diberi skor 4, 3, 2, 1 dan 0, sedang jika pernyataan bersifat negatif, rentang skor
kebalikannya.

HASIL PENELITIAN

Penelitian tentang hubungan antara konsep diri, kecerdasan emosional dengan


kenakalan remaja telah mencapai hasil pengujian data statistik melalui analisis
regresi model penuh dengan hasil di bawah ini.

Hipotesis pertama “konsep diri dan kecerdasan emosional secara bersama-sama


berkorelasi dengan kenakalan remaja”. Hasil analisis data dengan statistik regresi
secara penuh mendapatkan koefisien regresi R=0,0645, F=52,294, db=2 dan 147
diperoleh p=0,000 (p<0,01) yang artinya ada korelasi yang sangat signifikan antara
konsep diri dan kecerdasan emosional secara bersama-sama dengan kenakalan
remaja. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Jadi hipotesis diterima.

Hipotesis kedua ”konsep diri berkorelasi negatif dengan kenakalan remaja”. Hasil
analisis korelasi parsial diperoleh koefisien korelasi rx 1y = -0,611 p=0,000 (p<0,05)
yang menunjukkan hubungan negatif yang sangat signifikan antara konsep diri
setelah mengontrol kecerdasan emosional dengan kenakalan remaja, jadi hipotesis

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 91


diterima. Sedangkan sumbangan efektif variabel bebas (konsep diri) terhadap
variabel terikat (kenakalan remaja) sebesar 41,459%. Hasil analisis data dapat secara
keseluruhan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 16
Rangkuman analisis regresi – model penuh

Sumber Variasi Jumlah Kuadrat Db Rerata Kuadrat F R2 / r2 p


Regresi Penuh 42,981.600 2 21,490.800 52.293 0.416 0.000
Variabel X1 42,865.800 1 42,865.800 104.304 0.415 0.000
Variabel X2 115.797 1 115.797 0.282 0.001 0.301
Residu Penuh 60,412.720 147 410.971 - - -
Total 103,394.300 149 - - - -

Tabel 17
Perbandingan bobot prediktor – model penuh

Variabel Koefisien Beta Korelasi Parsial Sumbangan .Det.(R2)


X Beta p Rpar-xy p Koef. Relatif % Efektif %
1 -1.173016 0.000 -0.611 0.000 99.731 41.459
2 -0.078608 0.289 -0.044 0.301 0.269 0.112
Total - - - - 100.000 41.571

Hipotesis ketiga ”kecerdasan emosional berkorelasi negatif dengan kenakalan


remaja”. Hasil analisis korelasi parsial rx2y = -0,044 p = 0,301 (p>0,05) menunjukkan
tidak adanya hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan emosional setelah
mengontrol konsep diri dengan kenakalan remaja. Jadi hipotesis yang menyatakan
”kecerdasan emosional berkorelasi negatif dengan kenakalan remaja” tidak diterima.
Hasil keseluruhan dapat dilihat pada tabel 17.

PEMBAHASAN

1. Hubungan secara bersama-sama antara konsep diri dan kecerdasan emosional


dengan kenakalan remaja
Berdasarkan hasil analisis regresi model penuh terhadap pengujian hipotesis
yang menyatakan ”konsep diri dan kecerdasan emosional secara bersama-sama
berkorelasi dengan kenakalan remaja, diterima, diperoleh nilai F=52,293 dengan
p<0,01. Artinya ada hubungan yang sangat signifikan antara x1 (konsep diri), x2
(kecerdasan emosional) dengan y (kenakalan remaja) dengan kata lain konsep
diri dan kecerdasan emosional mempengaruhi kenakalan remaja. Kesimpulannya
terdapat hubungan yang positif antara konsep diri dan kecerdasan emosional
dengan kenakalan remaja.

92 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Jadi konsep diri yang dimiliki seseorang memang sangat menentukan cara
individu menerima masukan dan mampu merespon lingkungan. Sehubungan
dengan aspek penilaian dan perasaan diri sendiri yang bersifat psikologi menurut
Sarwono (1986) mengatakan bahwa setiap orang mengembangkan tingkah laku
yang sesuai dengan pandangan tentang dirinya sendiri. Seseorang dikatakan
mempunyai konsep diri negatif jika ia menghakimi dan memandang dirinya
lemah, tak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang,
tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik hidup, sebaliknya
seseorang dengan konsep diri positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya
diri dan selalu bersifat positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan
yang dialaminya, Fitts (dalam Burns 1979). Sedangkan kecerdasan emosional
adalah serangkaian kemampuan, kompetensi dan kecakapan non kognitif yang
mempengaruhi seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dari tekanan
lingkungan B. Uno dalam Stein dan Book (2006).

Remaja dengan kecerdasan emosional tinggi maka akan mampu mengendalikan


dorongan emosinya, pandai membaca perasaan orang lain serta memelihara baik
dengan lingkungannya. Menurut William Damon, perkembangan moral anak
tidak bisa dipisahkan dengan emosi seseorang. Faktor-faktor internal yang
berpengaruh terjadinya kenakalan antara lain di samping konsep diri juga
kecerdasan emosional. Remaja tidak akan mudah dipengaruhi oleh lingkungan
apabila memiliki kepribadian yang kuat. Salah satu tolok ukur pribadi yang kuat
adalah seseorang memiliki emosi yang seimbang dan memandang dirinya cukup
berharga.

Sumbangan kedua variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel


tergantung sebesar 41.571%. Artinya, di samping dua variabel bebas tersebut
pada penelitian ini terdapat faktor lain yang mempengaruhi kenakalan remaja
sebesar 58,429% seperti hubungan religiusitas, kecerdasan sosial, teman sebaya,
keharmonisan keluarga.

2. Hubungan konsep diri dengan kenakalan remaja


Berdasarkan hasil analisis regresi model penuh terhadap pengujian hipotesis
yang menyatakan ”konsep diri berkorelasi negatif dengan kenakalan remaja”
diterima, dengan koefisien r = -0,611, p = 0,000 (p<0,05) yang berarti sangat
signifikan. Dengan kata lain semakin tinggi konsep diri remaja maka semakin
rendah tingkat kenakalannya.

Remaja yang mempunyai konsep diri maka dia akan mandiri, mampu tampil
dalam segala keadaan, mampu mengambil sikap dalam situasi sekritis apa pun,
sedangkan konsep diri diperlukan sebagai sarana untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungannya, di samping juga mampu mengatasi segala masalah yang
dihadapi. Muhtar dkk (2003). Remaja yang memiliki konsep diri akan memiliki
seperangkat pribadi yaitu memiliki jati diri, identitas diri dan sadar diri, sehingga
remaja dapat melakukan sosialisasi dengan lingkungan tanpa harus larut dan

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 93


hanyut pada pengaruh-pengaruh negatif seperti perilaku meyimpang atau
perilaku nakal.

Pendapat Murray (dalam Burns, 1979) memperkenalkan gagasan mengenai


konsep diri sebagai sebuah penyekat (insulator) terhadap kejahatan setelah
mendapatkan bahwa murid-murid sekolah dengan konsep diri yang positif tidak
memungjkinkan untuk menjadi penjahat atau nakal. Sumbangan Efektif (SE),
konsep diri terhadap kenakalan remaja 41,459%. Faktor lain yang harus
diperhatikan adalah kondisi-kondisi yang mempengaruhi konsep diri remaja
(Hurlock, 1994), yakni :

a. Usia Kematangan
Remaja yang matang lebih awal, yang diperlakukan seperti orang yang hampir
dewasa mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat
menyesuaikan diri dengan baik. Remaja yang matang terlambat yang
diperlakukan seperti anak-anak, merasa salah dimengerti dan bernasib kurang
baik sehingga cenderung berperilaku kurang dapat menyesuaikan diri.

b. Penampilan Diri
Penampilan diri yang berbeda membuat remaja merasa rendah diri meskipun
perbedaan yang ada menambah daya tarik fisik. Tiap cacat fisik merupakan
sumber yang memalukan yang mengakibatkan perasaan rendah diri. Sebaliknya
daya tarik fisik menimbulkan penilaian yang menyenangkan tentang ciri
kepribadian dan menambah dukungan sosial.

c. Kepatutan Seks
Kepatutan seks dalam penampilan diri, minat dan perilaku membantu remaja
mencapai konsep diri yang baik. Ketidakpatutan seks membuat remaja sadar diri
dan hal ini memberi akibat buruk pada pelakunya.

d. Nama dan Julukan


Remaja peka dan merasa malu bila teman-teman sekelompok menilai namanya
buruk atau bila mereka memberi nama julukan yang bernada cemoohan.

e. Hubungan Keluarga
Seorang remaja yang mempunyai hubungan yang erat dengan seorang anggota
keluarga akan mengidentifikasikan diri dengan orang ini dan ingin
mengembangkan pola kepribadian yang sama. Bila tokoh ini sesama jenis, remaja
akan tertolong untuk mengembangkan konsep diri yang layak untuk jenis
seksnya.

f. Teman-teman Sebaya
Teman-teman sebaya mempengaruhi pola kepribadian remaja dalam dua cara.
Pertama, konsep diri remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep
teman-teman tentang dirinya dan kedua, ia berada dalam tekanan untuk
mengembangkan ciri-ciri kepribadian yang diakui kelompok.

94 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


g. Kreativitas
Remaja yang masa kanak-kanak didorong agar kreatif dalam bermain dan dalam
tugas-tugas akademis, mengembangkan perasaan individualitas dan identitas
yang memberi pengaruh yang baik pada konsep dirinya. Sebaliknya, remaja yang
sejak awal masa kanak-kanak didorong untuk mengikuti pola yang sudah diakui
akan kurang mempunyai perasaan identitas dan individualitas.

h. Cita-cita
Bila remaja memiliki cita-cita yang tidak realistik ia akan mengalami kegagalan.
Hal ini akan menimbulkan perasaan tidak mampu dan reaksi-reaksi bertahan di
mana ia menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Remaja yang realistik
tentang kemampuannya lebih banyak mengalami keberhasilan daripada
kegagalan. Ini akan menimbulkan kepercayaan diri dan kepuasan diri yang lebih
besar yang memberikan konsep diri yang lebih baik.

3. Hubungan kecerdasan emosional dengan kenakalan remaja


Berdasarkan hasil analisis regresi model penuh terhadap pengujian hipotesis
yang menyatakan ”kecerdasan emosional berkorelasi negatif dengan kenakalan
remaja” tidak diterima dengan koefisien r = -0,044 , p= 0,301 (p>0,05) yang berarti
tidak signifikan dengan kata lain hipotesis ditolak. Ini bertentangan dengan
literatur yang berbunyi bahwa kecerdasan emosional memiliki beberapa kualitas
penting bagi keberhasilan sesorang, di antaranya kualitas berempati, kemampuan
dalam mengungkapkan serta memahami perasaan, mengendalikan amarah,
kemadirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan antar pribadi,
ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat. Goleman (1996).
Dengan emosi yang cerdas, maka remaja akan mampu mengendalikan dirinya
untuk tidak dikuasai emosi sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berbagai
pengaruh negatif yang dapat mendorong remaja untuk berperilaku nakal atau
menyimpang dari tatanan norma yang ada di lingkungannya.

Seharusnya cerdas emosional seseorang maka semakin seimbang emosi


seseorang, maka semakin rendah tingkat kenakalan seseorang, demikian juga
sebaliknya bila kecerdasan emosional rendah maka semakin ringgi tingkat
kenakalan remaja. Hal ini karena cerdas emosional seseorang maka dia akan
semakin mampu mengendalikan diri, semakin mengenali diri sendiri maupun
orang lain dan semakin mampu memotivasi diri sendiri untuk terfokus pada
tujuan yang lebih penting sehingga tidak mudah terjerumus ke dalam perilaku
menyimpang atau perilaku nakal.

Adapun tidak adanya korelasi yang signifikan antara kecerdasan emosional


dengan kenakalan remaja menunjukkan arah positif yang artinya tinggi
kecerdasan emosional seseorang tetap tinggi kenakalan seseorang (remaja), ini
dimungkinkan faktor tergesernya nilai-nilai / norma yang ada dalam masyarakat
dan kuatnya faktor eksternal yang mempengaruhi dan memicu perilaku
meyimpang atau perilaku nakal.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 95


Hasil penelitian menunjukan bahwa :
1. Hasil analisis regresi antara konsep diri dan kecerdasan emosional dengan
kenakalan remaja, menunjukkan bahwa tingkat konsep diri dan kecerdasan
emosional secara bersama-sama mempunyai hubungan negatif yang signifikan,
dengan koefisien nilai F = 52.293 dengan p < 0.01. sumbangan efektif variabel
konsep diri dan variabel kecerdasan emosional secara bersama-sama terhadap
variabel kenakalan remaja sebesar 48.571%. Sumbangan efektif variabel konsep
diri terhadap kenakalan remaja sebesar 41.459%, sedangkan sumbangan efektif
variabel kecerdasan emosional terhadap kenakalan remaja sebesar 0.112%.
2. Hasil analisis data parsial antara konsep diri dan kenakalan remaja mempunyai
hubungan yang signifikan, dengan r = 0.611, p = 0.000 (p < 0.05) dengan
sumbangan efektif 41.459% yang berarti dengan konsep diri yang positif maka
akan dapat menurunkan tingkat kenakalan remaja.
3. Hasil analisis data parsial antara kecerdasan meosional dengan kenakalan remaja
tidak signifikan karena diperoleh korelasi parsial r = -0.044, p = -0.301 (p > 0.05)
dengan sumbangan efektif hanya 0.112% dengan demikian bahwa kecerdasan
emosional tidak ada pengaruhnya dengan kenakalan remaja.

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih terdapat faktor-faktor


lain yang mempengaruhi kenakalan remaja. Peneliti lain bisa meneliti variabel bebas
lainnya yang berhubungan dengan variabel Y (kenakalan remaja).

SARAN-SARAN

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian sebagaimana tersebut di atas, di bawah ini


diajukan saran-saran sebagai berikut :
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi informasi bagi para orangtua agar
memanfaatkan informasi dari penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam
mendidik putra putrinya terutama mengembangkan konsep diri dari sejak dini
untuk membentengi diri dari pengaruh-pengaruh negatif yang bisa memicu untuk
berbuat perilaku menyimpang atau nakal. Walaupun hasil penelitian menunjukkan
tidak adanya hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan
kenakalan remaja, bukan berarti peranan kecerdasan emosional tidak penting dalam
menanggulangi kenakalan. Orang tua harus memberikan keterampilan emosional
anak-anaknya sejak dini. Contoh : anak-anak harus mengikuti dan memahami
perbedaan antara perilaku yang baik dengan yang buruk dan mengembangkan
kebiasaan dalam hal perbuatan yang konsisten dengan sesuatu yang dianggap baik,
anak-anak harus merasakan reaksi emosi negatif seperti malu, bersalah, marah,
takut, dan rendah diri apabila melanggar aturan moral.

Mengintensifkan pembinaan konsep diri dan kecerdasan emosional dalam kegiatan


pengembangan diri di sekolah. Dengan melibatkan seluruh komponen dan warga
sekolah. Misalnya melatih para siswa tentang konsep diri dan keterampilan
emosional melalui proses belajar pada khususnya dan kegiatan sekolah apa
[Link] analisis penelitian ini masih terdapat 58,429% peluang untuk

96 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


meneliti variabel lain yang berhubungan dengan kenakalan remaja seperti
kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, religiusitas.

DAFTAR PUSTAKA

Apriyanti, Irni R,. 2005. Perilaku Remaja. Pikiran Rakyat Edisi 12 April 2005.
Bandung.

Azwar, S. 1986. Relibialitas dan Validitas Interpretasi dan Komputasi. Liberty.


Yogyakarta.

___________. 1999. Penyusunan Skala Psikologi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Baron, Robert A. Byrne. D.. 2003. Psikologi Sosial (alih bahasa Dr. Ratna Juwita Dipl.
Psychl). Erlangga. Jakarta.

Burns, RB. 1979. Konsep Diri. Teori. Pengukuran. Pengembangan dan Perilaku (alih
bahasa oleh Eddy). Azkan. Jakarta.

Calhoun, J. F. & Acocella, J.R. 1990. Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan
Kemanusiaan. Terjemahan Satmoko. IKIP Semarang Press. Semarang.

Cooper, RK dan Sawat. A. Executive EQ : Kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan


dan Organisasi (Alih Bahasa Widodo). Gramedia. Jakarta.

Dayakisni, Tri dan Hadaniah. 2006. Psikologi Sosial. Universitas Muhammadiyah.


Malang.
Departemen P dan K. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.

Fitt, William H. 1972. The Self Concept and Behavior : Overview and Supplement
California : Research Monogram No VII Library of Congress Catalog Card
Number 72-80269.

Goleman, D. 1996. Emotional Intelligence (alih bahasa Hermaya). Gramedia Pustaka


Utama. Jakarta.

__________. 1999. Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi. Gramedia pustaka
Utama. Jakarta.

Hadi, S. 1994. Metodologi Riset Jilid II. Andi Offset. Yogyakarta

Hurlock, E. 1994. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang


Kehidupan. Edisi kelima. Erlangga. Jakarta.

Hutagalung, L. 2007. Pengembangan Kepribadian. Tinjauan Praktis menuju Pribadi


Positif. PT Indeks. Jakarta.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 97


Kartono. K. 2005.. Patologi II : Kenakalan Remaja. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Kerlinger, F. N. Asas-asas Penelitian Behavioral (Penterjemah : Landung Simatupang).


Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.

Mu’tadin. Z. 2002. Mengenal Kecerdasan Emosional Remaja.


[Link]

Mukhtar, Niken Ardiyani dan Erma Sulistiyaningsih. 2001. Konsep Diri Menuju
Pribadi Mandiri. Rakasta Samasta. Jakarta.

Murni. 2004. Hubungan Persepsi Terhadap Keharmonisan Keluarga dan Pemantauan Diri
Dengan Kecenderungan Delinquency Pada Remaja. Tesis. Fakultas Psikologi. UGM
Yogyakarta

Perilaku Remaja dan Permasalahannya. 1995. Yayasan Penerus Nilai-nilai Luhur


Perjuangan 1945. Surabaya.

Purwanto, N. 1984. Psikologi Pendidikan. Remaja Karya. Bandung.

Rakhmat, J. 1985. Psikologi Komunikasi. Remaja Karya. Bandung.


Santrock, John W. 2330. Adolescence Perkembangan Remaja (Alih bahasa Shinta B).
Erlangga. Jakarta.

Sarwono. SW. 2005. Psikologi Remaja. Raja Grafindo Persada. Jakarta.


Shapiro. 1999. Mengajarkan Emosional Intelligence pada Anak (Alih bahasa Kuntjoro).
Bulan Bintang. Jakarta.

Soedarsono. S. 2001. Penyesuaian Jati Diri Membentuk Pribadi. Elex Media


Komputindo. Jakarta.

Stein, S. J. 2002. Ledakan EQ : 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses


(Alih bahasa Trinanda Rainy Januarsari dan Yudhi Murtanto S. Penerbit Kaifa.
Bandung.

Sudarsono. 2004. Kenakalan Remaja. Cetakan keempat. PT Rineke Cipta. Jakarta.

Uno, H. 2006. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Bumi Aksara. Jakarta.

Willis, S. S. 2005. Remaja dan Masalahnya. Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja.
Narkoba. Free Sex dan Pemecahannya. Alfabeta. Bandung.

98 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWAMELALUI
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT(TEAMS GAMES TOURNAMENT)
PADA MATERIPENGKURAN DAN GEOMETRI DI KELAS V SD NEGERI
007SAMARINDA ULU TAHUN AJARAN 2007/2008

Umi Sayekti
Guru SDNegeri 007 Samarinda Ulu

Abstrak

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk


meningkatkan hasil belajar matematika siswa melalui model pembelajaran
kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) pada materi pengukuran
dan geometri dikelas V SD Negeri 007 Samarinda [Link] ini
dilaksanakan di SDN 007 Samarinda Ulu semester II tahun pembelajaran
2007/2008. Subjek penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik
purposive sehingga terpilih siswa kelas V-A berjumlah 31 siswa dan objek
penelitian adalah model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games
Tournament).Teknik pengumpulan data menggunakan panduan belajar,
lembar observasi, dan tes hasil belajar. Panduan belajar dan lembar observasi
diberikan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Tes hasil belajar
dilaksanakan setiap akhir siklus untuk mengetahui peningkatan hasil belajar
pada setiap siklus. Siklus I, II, dan III masing-masing dilaksanakan sebanyak
tiga kali pertemuan dengan dua kali proses pembelajaran dan satu kali tes
hasil belajar. Soal tes hasil belajar pada setiap siklus berbentuk uraian. Nilai
rata-rata ulangan harian sebelumnya dijadikan sebagai nilai dasar pada siklus
I, yaitu 59,84 menjadi 62,33 dengan kriteria cukup. Dari siklus I ke siklus II
mengalami peningkatan dari 62,33 menjadi 66,81 dengan kriteria cukup.
Demikian juga dari siklus II ke siklus III mengalami peningkatan dari nilai
rata-rata hasil belajar 66,81 menjadi 75,82 dengan kriteria baik. Aktivitas
guru pada siklus I dinilai cukup, siklus II dan III dinilai baik. Sedangkan
aktivitas siswa pada siklus I dan II dinilai cukup, siklus III dinilai
[Link] hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa melalui
model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament), hasil
belajar matematika siswa pada materi segitiga kelas V-A SD Negeri 007
Samarinda Ulu mengalami peningkatan.

Kata kunci: hasil belajar, pembelajaran kooperatif, peningkatan.

PENDAHULUAN

Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal, secara sistematis merencanakan


lingkungan pendidikan yang menyediakan berbagai kesempatan bagi peserta didik
untuk melakukan berbagai kegiatan belajar. Lingkungan tersebut disusun dan ditata
dalam suatu kurikulum yang pada gilirannya dilaksanakan dalam bentuk proses
pembelajaran. Dalam proses pembelajaran selalu terkandung maksud dan tujuan

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 99


agar terjadi interaksi antara guru dan siswa yang diharapkan dapat membawa
manfaat dari proses pembelajaran tersebut bagi siswa. (Karuru, 2006:2).

Proses pembelajaran merupakan proses yang sifatnya kompleks. Kekomplekan ini


disebabkan oleh banyaknya unsur yamg berpengaruh dalam kegiatan pembelajaran
tersebut. Tugas guru dalam proses pembelajaran adalah menciptakan suatu
lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan
efisien guna peningkatan [Link] merupakan salah satu
mata pelajaran di sekolah yang mendapatkan porsi perhatian terbesar baik dari
kalangan pendidik, orang tua, maupun anak. Tidak sedikit orang tua yang
mempunyai persepsi bahwa matematika adalah pengetahuan terpenting yang harus
dikuasai [Link] adanya tuntutan belajar matematika yang dipaksakan
sehingga banyak anak-anak yang mengalami kegagalan, dan frustasi yang
dampaknya dapat kita rasakanterhadap kepribadian anak seperti enggan belajar,
benci terhadap pelajaran, merasa terpaksa ke sekolah, rasa rendah diri, dan berbagai
efek negatif yang lain. Hal ini membawa dampak pada hasil belajar siswa. Demikian
halnya yang terjadi di SDN 007 Samarinda Ulu, dimana kurang aktif dan kurang
berminatnya siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan siswa cenderung
bermain dengan temannya. Kurang berminatnya siswa ini menjadi suatu hambatan
bagi guru sebab jika siswa kurang berminat terhadap suatu pelajaran maka
pelajaran tersebut tidak akan terserap dengan baik. Hal ini menyebabkan nilai
matematika rendah.

Model pembelajaran kooperatif tipe TGT, dapat melibatkan aktivitas seluruh siswa,
sehingga memungkinkan siswa lebih nyaman dalam belajar, bersaing dalam
kompetisi (tournament) secara sehat, dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, dan
saling bekerjasama. Didalam TGT terdapat tes pada setiap akhir pembelajaran
melalui permainan akademik. Dalam hal ini, siswa bermain dengan anggota tim lain
yang memiliki tingkat kemampuan yang sama di meja turnamen, kegiatan kelompok
diakhiri dengan pemberian skor hasil turnamen, dan penghargaan untuk setiap
[Link] menerapkan tipe TGT (Teams Games Tournament) dalam
pembelajaran matematika, diharapkan hasil belajar matematika siswa akan
meningkat dari sebelumnya.

TINJAUAN PUSTAKA

Peningkatan Hasil Belajar Matematika


Mulyasa (2005:122), mengungkapkan bahwa belajar adalah proses yang melibatkan
diri dalam interaksi antara diri sendiri dengan realita di luar diri individu yang
[Link] karena itu, hal-hal yang harus diupayakan antara lain a)
bagaimana memotivasi peserta diri dan bagaimana materi belajar harus dikemas
sehingga bisa membangkitkan motivasi, gairah dan nafsu belajar, b) belajar perlu
dikaitkan dengan seluruh kehidupan peserta didik agar dapat menumbuhkan
kesadaran mereka terhadap manfaat dari perolehan belajar.

100 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Fajar (2004:10), menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan dalam diri
seseorang yang ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas
tingkah laku seperti peningkatan pengetahuan, kecakapan, daya pikir, sikap,
kebiasaan, dan [Link] belajar merupakan jalan yang harus ditempuh oleh
seseorang (pelajar atau mahasiswa) untuk mengerti suatu hal yang sebelumnya tidak
diketa-hui tetapi belum menyeluruh tentang suatu hal. Melalui belajar seseorang
dapat meningkatkan kualitas dan kemampuannya seperti yang dikemukakan sebe-
lumnya. Apabila di dalam suatu proses belajar seseorang tidak mendapatkan suatu
peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, maka dapat dikatakan bahwa
orang tersebut mengalami kegagalan dalam proses belajar.

Karso (1994:16), mengatakan bahwa matematika adalah ilmu deduktif, sebab dalam
matematika tidak menerima generalisasi yang berdasarkan pada observasi,
eksperimen, dan coba-coba (induktif) seperti halnya ilmu pengetahuan umumnya
dan kebenaran generalisasi dalam matematika harus dapat dibuktikan secara
[Link]-dalil/sifat-sifat/rumus-rumus dalam matematika itu ditemukan
secara induktif (coba-coba, eksperimen, penelitian, dan lain-lain). Para matematisi
menentukan (menyusun) matematika atau bagiannya secara induktif tetapi begitu
suatu pola, aturan dalil, dan rumus yang merupakan generalisasi itu ditemukan,
maka generalisasi itu harus dapat dibuktikan kebenarannya secara umum (deduktif).

Cara menilai hasil belajar matematika biasanya menggunakan tes. Maksud tes yang
utama adalah mengukur hasil belajar yang dicapai oleh seseorang yang belajar
matematika. Disamping itu tes juga dipergunakan untuk menentukan seberapa jauh
pemahaman materi yang telah dipelajari. Karena itu tes dapat digunakan sebagai
penilaian diagnostik, formatif, sumatif, dan penentuan tingkat pencapaian.

Dimyati (1999:174), menyatakan bahwa peningkatan hasil belajar merupakan suatu


perubahan kognitif, afektif, dan psikomotorik seseorang ke arah yang lebih baih dan
bermutu. Kemampuan yang akan dicapai dalam pembelajaran adalah tujuan
[Link] (dalam Purwanto, 2004:84), mengungkapkan bahwa
peningkatan hasil belajar menurut teori Bloom, terjadi apabila terdapat peningkatan
pada ketiga aspek hasil belajar yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek
psikomotorik.

Suatu proses pembelajaran dikatakan mengalami peningkatan jika siswa yang


mengikuti proses belajar mengajar mengalami perubahan kemampuan ke arah yang
lebih baik dari segi pengetahuan, sikap, dan [Link] demikian, belajar
matematika merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang berlangsung
pada diri individu, yang berinteraksi dengan lingkungan dengan penuh kesadaran
secara sistematis, sehingga memiliki pola berpikir deduktif dan [Link]
hasil belajar matematika dikatakan meningkat jika ditandai dengan adanya
perubahan tingkah laku pada diri siswa ke arah yang lebih baik dari sebelumya
setelah mengalami proses pembelajaran matematika baik dari segi pengetahuan,
sikap maupun keterampilan yang dapat dilihat dengan pemberian tes hasil belajar.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 101


Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament)
1. Pengertian Pembelajaran Tipe TGT
TGT (Teams Games Tournament) atau pertandingan permainan tim pertama kali
diperkenalkan oleh David De Vries dan Keath Edward tahun 1995 yang kemudian
dikembangkan oleh Roberth E. Slavin dan kawan-kawannya (Slamet, 2005:23).
Teknik ini menggabungkan kelompok belajar, kompetisi tim, bisa digunakan untuk
meningkatkan pembelajaran fakta, konsep, dan keterampilan.

De Vries dan Slavin (dalam Krismanto (2003:16)), menyatakan TGT menekankan


adanya kompetensi. Kegiatannya seperti STAD, tetapi kompetisi dilakukan dengan
cara membandingkan kemampuan antar anggota tim dalam suatu bentuk
“turnamen”.Dalam TGT, siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim
lain untuk memperoleh tambahan poin pada skor tim mereka. Didalam tipe TGT
terdiri dari 2 kelompok, yaitu kelompok asal dan kelompok turnamen.

Wartono (2004:16), menyatakan pendapatnya tentang pembelajaran kooperatif tipe


TGT, yang merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang berkaitan dengan STAD.
Dalam TGT setiap tim mengirimkan anggota ke meja-meja turnamen untuk
memainkan permainan dengan anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin
pada skor tim mereka. Permainan disusun dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan,
dengan pelajaran yang dirancang untuk mengetes pengetahuan yang diperoleh di
kelas dan kegiatan kelompok. Setiap meja turnamen diisi oleh wakil-wakil dari
kelompok yang berbeda dan memiliki tingkat kemampuan yang setara.

Team A
High, Avarage, Avarage,
Low
Tournament
table 1 Tournament
table 4
Tournament Tournamen
table 2 t table3

Team B Team C
High, Avarage, Avarage, Low High, Avarage, Avarage, Low

Gambar 2.1
Bagan Pelaksanaan pada Meja Turnamen, Slavin (dalam Slamet, 2005:24)

Permainan dimainkan pada meja-meja turnamen. Permainan berupa pertanyaan-


pertanyaan dalam bentuk kartu soal. Kunci jawaban dari pertanyaan-pertanyaan
tersebut ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Tiap-tiap siswa akan mengambil
sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha menjawab pertanyaan yang sesuai
dengan angka tersebut. Turnamen ini memungkinkan bagi siswa dari semua tingkat,

102 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


untuk menyumbangkan dengan maksimal bagi skor-skor kelompoknya, bila mereka
berusaha dengan maksimal. Turnamen ini dapat berperan sebagai reviu materi
pelajaran.

2. Aturan Permainan TGT


Pembaca 1 Penantang 1
a. Ambil 1 kartu yang dinomori dan
temukan pertanyaan pada lembar Setuju dengan
kartu tersebut. pembaca soal atau
b. Baca soal dengan suara yang memberikan
keras. jawaban yang
c. Memberi jawaban. berbeda

Pembaca Penantang
2 2
Setuju dengan pembaca soal
Membacakan kunci atau dengan penantang
jawaban pertama atau memberikan
jawaban yang berbeda.
Gambar 2.2
Bagan Aturan Permainan Teams Games Tournament, Slavin (dalam Slamet, 2005:24)

Aturan permainan dalam TGT sebagai berikut:


a. Siswa di bagi dalam kelompok dan masing-masing siswa memposisikan
duduknya dengan menghadap meja tournament.
b. Guru menyediakan kartu soal, kartu jawaban soal, kartu nomor, kartu nilai,
dan lembar penilaian pada masing-masing meja tournament.
c. Setiap siswa mengambil kartu nomor.
d. Siswa yang memperoleh angka tertinggi bertugas sebagai pembaca 1, tertinggi
kedua menjadi penantang 1, tertinggi ketiga menjadi penantang 2, dan angka
terendah menjadi pembaca 2.
e. Pembaca 1 mengambil satu soal, membaca, dan menjawab soal tersebut.
Apabila anggota kelompok ada yang tidak setuju dengan jawaban pembaca 1,
maka penantang 1 diberi hak untuk menjawab, jika jawaban penantang 1 juga
tidak disetujui, maka penantang 2 berhak menjawab.
f. Pembaca 2 membacakan kunci jawaban.
g. Siswa yang menjawab dengan benar akan mendapat sebuah kartu nilai.
Apabila terdapat siswa yang sama dalam menjawab, maka yang berhak
mendapat kartu nilai adalah penantang yang pertama kali menjawab benar.
h. Untuk soal selanjutnya, posisi pembaca 1 ditempati penantang 1, posisi
penantang 1 ditempati penantang 2, posisi penantang 2 ditempati pembaca 2,
dan posisi pembaca 2 ditempati pembaca 1. Setiap pergantian nomor soal
posisi tempat duduk berpindah searah jarum jam.
i. Tournament selesai apabila waktu ataupun seluruh kartu soal telah terambil.
j. Siswa merekap hasil perolehan kartu pada lembar penilaian hasil turnamen
yang dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut ini: (Slavin dalam Slamet, 2005:29)

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 103


Tabel 2.1
Lembar Penilaian Soal Turnamen

Player Team Number of Card Tournament Point

k. Pedoman perhitungan nilai turnamen untuk empat pemain (siswa) dapat


dilihat pada tabel 2.2 dan contoh penentuan nilai turnamennya dapat dilihat
pada tabel 2.3 berikut ini: (Salvin dalam Slamet, 2005:27-28)

Tabel 2.2
Calculating Tournament Point For A Four Player Game

No Tie for Tie for Tie for 3wayTie 3wayTie 4wayT Tie for Low
Player
Ties Top Middle Low for Top for Low ie and High
Top Scorer 60 50 60 60 50 60 40 50
High Middle
40 50 40 40 50 30 40 50
Scorer
Low Middle
30 30 40 30 50 30 40 30
Scorer
Low Scorer 20 20 20 30 20 30 40 30

Tabel 2.3
Contoh Penentuan Nilai Turnamen

Number of Tournament
Player Team
Card Point
Rina Suzuki 6 30
Sella Yamaha 4 20
Ninin Honda 8 50
Tita Tossa 8 50

l. Pedoman perhitungan nilai turnamen untuk tiga atau dua pemain (siswa)
dapat dilihat pada tabel 2.4 berikut ini: (Slavin dalam Slamet, 2005:28)

Tabel 2.4
Calculating Tournament Point For A Three/Two Player Game

No Tie for Tie for


Player 3wayTie
Ties TopScore Low Score
Top Scorer 60 50 60 4
Low middle score 40 50 30 40
Low Scorer 20 20 30 40

104 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


No
Player Tied
Ties
Top Scorer 60 40
Low Scorer 20 40

m. Siswa menuliskan hasil perolehan point yang didapat dari meja turnamen
pada lembar perolehan nilai individu tipe TGT yang dapat dilihat pada tabel
2.5 berikut ini: (Slavin dalam Slamet, 2005:

Tabel 2.5
Individual Improvement Score Pembelajaran Model Cooperative “Type TGT”

Nama Anggota Jumlah Point Point Predikat


No
Team Kartu Individu Team Team
Team I ( )
1
2
3
4
5
6
Team II ( )
1
2
3
4
5
6

n. Kriteria penghargaan kelompok setelah turnamen dapat dilihat pada tabel 2.6
berikut ini: (Slavin dalam Slamet, 2005:29)

Tabel 2.6
Suggested Criteria For Awards

Criteria (team average) Award


Less 30 Dream Team
30  P < 40 Good Team
40  P < 45 Great Team
45 – more Super Team

3. Langkah-langkah dalam Pelaksanaan Tipe TGT

Langkah-langkah dalam pembelajaran tipe TGT adalah sebagai berikut:

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 105


a. Langkah-1: Presentasi kelas. Guru menyampaikan tujuan, motivasi
pembelajaran, dan materi singkat.

b. Langkah-2: Pembentukan kelompok kerja. Pada pembentukan kelompok asal,


siswa dikelompokkan secara heterogenitas antara 4-5 orang dengan
memperhatikan penyebaran nilai rata-rata ulangan harian pada KD
sebelumnya, gender, etnis, agama, dan lain-lain.

c. Langkah-3: Bekerja dalam kelompok. Masing-masing anggota kelompok


berdiskusi dalam kelompok kerja untuk mengerjakan panduan balajar, siswa
belajar dalam kelompok mereka masing-masing untuk memastikan bahwa
seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut.

d. Langkah-4: Validasi soal dan Scaffolding. Guru memimpin diskusi kelas dan
memberikan bimbingan untuk melakukan validasi.

e. Langkah-5: Tournament. Guru memberikan tes pada akhir pelajaran melalui


permainan akademik. Masing-masing kelompok mengirimkan anggota
turnamen sesuai dengan kompetisinya, berkumpul di meja turnamen, dan
selanjutnya melaksanakan pertandingan. Dalam permainan ini siswa
dipertandingkan dalam kelompok asal yang berbeda-beda namun
mempunyai kemampuan yang relatif sama. Siswa memainkan permainan
dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin pada
skor tim mereka. Dalam permainan tersedia kartu soal, kartu jawaban, dan
kartu nilai dan akan ada yang menjadi pembaca dan penantang secara
bergantian. Siswa yang menjawab benar akan mendapat kartu nilai. Jika
terdapat jawaban yang sama, maka yang berhak mendapat kartu nilai adalah
penantang yang pertama kali menjawab benar.
f. Langkah-6: Recognition team. Berdasarkan hasil turnamen, guru memberikan
penghargaan team dengan kriteria “super team, great team, good team dan dream
team”.

METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

Penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk penelitian dengan melakukan


tindakan-tindakan tertentu yaitu penggunaan pembelajaran kooperatif tipe TGT
(Teams Games Tournament) kepada siswa agar dapat memperbaiki atau meningkatkan
kualitas pembelajaran serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam
penelitian ini, prosedur penelitian terdiri dari tiga siklus. Tiap-tiap siklus
dilaksanakan sesuai perubahan yang ingin dicapai.

Prosedur pelaksanaan tindakan kelas adalah sebagai berikut:


a. Tahap Perencanaan

106 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah (1) membuat skenario
pembelajaran, (2) rencana pembelajaran, (3) membuat panduan belajar, (4)
membuat alat evaluasi berupa soal turnamen, (5) membuat soal tes setiap siklus,
dan (6) membuat lembar observasi untuk melihat kondisi belajar mengajar di
kelas pada saat pembelajaran melalui pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Teams
Games Tournament). Pada tahap perencanaan ini dilakukan suatu tahap
pengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan


Tahap lanjutan dari tahap perencanaan adalah tahap pelaksanaan. Dalam tahap
ini menggambarkan proses berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Tahap awal
yang dilakukan guru adalah mengkondisikan siswa, dan memberikan penjelasan
mengenai model pembelajaran kooperatif dengan tipe TGT. Tahap pelaksanaan
tindakan kelas dilakukan sesuai dengan rencana pembelajaran dan skenario
pembelajaran yang setiap siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. Waktu
pertemuan selama 2 jam pelajaran atau 80 menit.

c. Tahap observasi
Pada tahap observasi, peneliti sebagai guru pengajar melakukan tindakan
pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Untuk
mengobservasi hasil belajar siswa menggunakan panduan belajar, turnamen, dan
tes hasil belajar setiap akhir siklus. Sedangkan untuk mengobservasi guru dan
siswa di dalam kelas, dilakukan teman sejawat dengan menggunakan lembar
observasi.

d. Tahap Refleksi
Pada tahap ini, guru dan teman sejawat melakukan diskusi mengenai hasil
perubahan yang telah diperoleh dengan melihat hasil belajar dan hasil observasi
setiap siklus yang digunakan sebagai revisi dan acuan untuk merencanakan
siklus berikutnya.

Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai April 2008 di
SD Negeri 007 Samarinda Ulu.

Subjek dan Objek Penelitian


Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas V-A SD Negeri 007 Samarinda Ulu
dengan menggunakan teknik purposive (teknik pertimbangan) karena peneliti
memiliki pertimbangan tertentu dalam mengambil subyek yaitu untuk
meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V-A. Sedangkan objek dalam
penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).

Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
1. Dokumentasi nilai, adalah data yang dimiliki oleh guru matematika kelas V-A SD
Negeri 007 Samarinda Ulu berupa nilai ulangan harian matematika sebelumnya

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 107


dan dijadikan sebagai nilai dasar untuk digunakan sebagai acuan hasil tes siklus
I.
2. Panduan belajar dan hasil turnamen, untuk mengetahui hasil belajar matematika
siswa pada setiap pelaksanaan tindakan (pertemuan).
3. Observasi, menggunakan tabel pedoman observasi untuk mengetahui tingkat
aktivitas siswa dan aktivitas guru pada saat pembelajaran berlangsung.
4. Tes setiap akhir siklus, untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa per
siklus. Tes ini dibuat oleh peneliti sesuai dengan materi yang diajarkan kepada
siswa.

Teknik Analisis Data


Teknik analisis data penelitian ini secara deskriptif yang artinya hanya memaparkan
data yang diperoleh melalui panduan belajar, observasi, dan tes hasil belajar setiap
siklus. Data yang diperoleh kemudian disusun, dijelaskan dan dianalisis dengan cara
menggambarkan atau mendeskripsikan data tersebut ke dalam bentuk yang
[Link] yang dilakukan meliputi:
1. Reduksi Data
Pada tahap reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian
pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul
dari catatan-catatan yang diperoleh di lapangan.

2. Penyajian data
Data yang diperoleh melalui observasi dan tes hasil belajar dipaparkan secara
lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif, yaitu disajikan dalam bentuk tabel
dan diberi keterangan berupa kalimat sederhana. Analisis data kuantitatif
menggunakan statistik deskriptif (rata-rata dan grafik).
a. Rata-rata
Rata-rata digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan
menggunakan rata-rata skor hasil belajar masing-masing siklus dengan
menggunakan rumus: (Pramudjono, 2000:21)

x  x  x3  ...  xi x i
x 1 2  i 1

n n

Keterangan:
x = nilai rata-rata hasil belajar siswa pada setiap siklus
n = banyaknya siswa
n

x
i 1
i = jumlah skor seluruh siswa

Untuk mengetahui hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan menganalisis data
berupa nilai panduan belajar dan nilai tes pada setiap siklus menggunakan
rumus: (Depdiknas, 2005:29)

108 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


tg  2 UH
NK 
3

Keterangan:
NK = nilai hasil belajar siswa dalam setiap siklus
UH = nilai tes siswa setiap siklus
tg = nilai tugas (panduan belajar)

3. Penarikan kesimpulan
Proses pengambilan kesimpulan dari tindakan yang dilakukan yaitu data-data
yang telah dianalisis kemudian dibuat suatu kesimpulan yang sesuai dengan
tujuan penelitian.

IndikatorPeningkatan
Indikator yang menyatakan bahwa pembelajaran yang berlangsung selama
penelitian berhasil meningkatkan hasil belajar matematika siswa, jika terjadi
peningkatan nilai rata-rata hasil belajar setiap siklus dari nilai dasar atau
dikategorikan baik setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Di
setiap akhir pertemuan pada proses pembelajaran kooperatif tipe TGT(Teams Games
Tournament) terdapat penghargaan untuk setiap kelompok agar dapat mengetahui
hasil belajar kelompok dengan menggunakan poin perhitungan nilai turnamen pada
tabel 3.1 dan tabel 3.2. (Slavin dalam Slamet, 2005:27-28)

Tabel 3.1
Perhitungan Nilai Turnamen untuk Empat Pemain

No Tie for Tie for Tie for 3wayTief 3wayTie 4wayT Tie for Low
Player
Ties Top Middle Low or Top for Low ie and High
Top Scorer 60 50 60 60 50 60 40 50
High Middle
40 50 40 40 50 30 40 50
Scorer
Low Middle
30 30 40 30 50 30 40 30
Scorer
Low Scorer 20 20 20 30 20 30 40 30

Tabel 3.2
Perhitungan Nilai Turnamen untuk Tiga atau Dua Pemain

Tie for Top Tie for Low


Player No Ties 3wayTie
Score Score
Top Scorer 60 50 60 4
Low middle score 40 50 30 40
Low Scorer 20 20 30 40

Player No Ties Tied


Top Scorer 60 40
Low Scorer 20 40

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 109


Untuk mengetahui kriteria penghargaan kelompok melalui pembelajaran kooperatif
tipe TGT dapat dilihat pada tabel 3.3. (Slavin dalam Slamet, 2005:29)

Tabel 3.3
Kriteria Penghargaan Kelompok

Criteria (team average) Award


Less 30 Dream Team
30  P < 40 Good Team
40  P < 45 Great Team
45 – more Super Team

Sedangkan untuk mengetahui kriteria hasil belajar itu baik atau tidaknya, dapat
dilihat pada tabel 3.4. (Sudjana, 2002:143)

Tabel 3.4
Kriteria Hasil Belajar

Nilai Rata-rata Nilai Huruf Kriteria


80  N  100 A Baik Sekali
70  N < 80 B Baik
60  N < 70 C Cukup
50  N < 60 D Kurang
0  N < 50 E Kurang Sekali

Indikator yang menyatakan bahwa pembelajaran yang berlangsung dapat


meningkatkan hasil belajar siswa setiap siklus, jika nilai rata-rata hasil belajar lebih
dari nilai dasar, misalnya nilai rata-rata hasil belajar pada siklus pertama
dibandingkan dengan nilai dasar yaitu nilai rata-rata ulangan harian matematika
siswa sebelumnya. Sedangkan untuk siklus berikutnya yang menjadi nilai dasar
adalah nilai rata-rata hasil belajar siklus sebelumnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa data yang dikumpulkan telah memenuhi
dan sesuai dengan indikator dan format panduan observasi. Dalam melaksanakan
pembelajaran kooperatif tipe TGT terlebih dahulu diperkenalkan kepada siswa,
bahwa pembelajaran yang akan dilaksanakan berbeda dengan pembelajaran yang
biasa dilaksanakan. Dalam pembelajaran dengan tipe TGT dimulai dengan penyajian
materi singkat, mengerjakan Panduan Belajar dengan teman sekelompok, kemudian
dilanjutkan dengan permainan akademik dimana siswa bermain dengan anggota
kelompok lain yang memiliki tingkat kemampuan setara, pembelajaran diakhiri
dengan pemberian skor hasil turnamen, dan penghargaan untuk setiap kelompok.
Pada turnamen ini memungkinkan bagi siswa dari semua tingkat untuk

110 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


menyumbangkan skor maksimal untuk setiap kelompoknya dan turnamen ini dapat
berperan sebagai review materi pelajaran.

Model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki beberapa kelebihan, antara lain:
(1) melatih siswa untuk mendengar, menerima, menghargai pendapat dan gagasan
orang lain, (2) menimbuhkan rasa tanggung jawab, (3) belajar berkompetisi secara
sehat, (4) melatih siswa untuk selalu bekerjasama dengan baik, dan (5) adanya
pemberian tes dalam bentuk permainan dan pemberian penghargaan diakhir
pelajaran dapat membangkitkan semangat siswa. Kelebihan-kelebihan tersebut
dirasakan manfaatnya dalam memberikan materi pelajaran.

Setelah dilakukan tindakan sebanyak tiga siklus, terjadi peningkatan hasil belajar
matematika siswa yang dapat dilihat dari peningkatan nilai rata-rata kelas. Hasil
belajar matematika siswa dikatakan meningkat apabila nilai rata-rata hasil belajar
untuk setiap siklus lebih dari nilai rata-rata hasil belajar siklus sebelumnya. Pada
indikator peningkatan yang menjadi nilai dasar pada siklus I adalah nilai rata-rata
ulangan harian matematika siswa sebelumnya. Pada siklus II, nilai dasarnya adalah
nilai rata-rata hasil belajar siklus I. Pada siklus III, nilai dasarnya adalah nilai rata-
rata hasil belajar siklus II.

Siklus Pertama
a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti membuat rencana pembelajaran dan skenario
pembelajaran yang berkaitan dengan pokok bahasan pengukuran. Untuk
pertemuan pertama, materi yang disajikan adalah pengertian sudut dan jenis-
jenis sudut, dilanjutkan dengan pengukuran (waktu, sudut, luas, volume, dan
satuannya) pada pertemuan kedua. Sedangkan pada pertemuan ketiga diadakan
tes untuk melihat hasil belajar siswa.

b. Pelaksanaan Tindakan
Peneliti bertindak sebagai guru yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar
dibantu dengan teman sejawat sebagai observer.

c. Observasi
Berdasarkan hasil observasi menunjukkan bahwa aktivitas siswa secara
keseluruhan selama kegiatan pembelajaran dinilai cukup. Perhatian siswa
terhadap pembelajaran dinilai cukup, karena siswa mencatat, mendengar, dan
memperhatikan penjelasan guru dan bertanya apabila kurang jelas. Partisipasi
dan pemahaman siswa dinilai kurang, karena masih ada siswa yang tidak mau
memberikan pendapat untuk menyelesaikan masalah, tidak mau menerima
pendapat dari siswa yang lain. Kerja sama siswa dinilai cukup, karena ada
sebagian siswa yang mendominasi dalam menyelesaikan Panduan Belajar. Pada
saat turnamen, masih banyak siswa yang melupakan teman turnamennya, lupa
akan aturan permainan sehingga memerlukan bimbingan, dan menganggap
turnamen itu hanyalah permainan biasa sehingga banyak siswa yang tidak serius
karena mereka beranggapan teman kelompok belajarnya yang lain mampu
menyumbangkan point lebih besar. Selama peralihan siswa dari kelompok belajar

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 111


ke kelompok turnamen, suasana kelas sangatlah ribut dan agak memakan banyak
waktu.

Sedangkan aktivitas guru dinilai cukup. Hal ini dikarenakan guru mampu
menyajikan materi pelajaran dengan tepat dan jelas dalam keterkaitannya dengan
indikator yang harus dicapai, selalu berusaha memotivasi siswa. Pengelolaan
kelas dinilai cukup, karena guru hanya mampu megelola tugas rutin siswa,
menetapkan alokasi waktu, dan belum mampu menangani perilaku siswa yang
tidak diinginkan. Sedangkan pembimbingan guru terhadap siswa dinilai sangat
baik, karena guru melakukan bimbingan secara merata terhadap semua
kelompok.

Walaupun masih menemui beberapa kendala dalam pelaksanaan pembelajaran


tetapi hasil belajar matematika siswa pada siklus I mengalami peningkatan
dibandingkan nilai ulangan matematika sebelumnya. Setelah pembelajaran
dengan tipe TGT didapatkan nilai hasil belajar matematika siswa sebesar 62,33
dengan kriteria cukup. Hasil belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada
lampiran 2. Dari hasil turnamen didapatkan 5 kelompok yang mendapatkan
penghargaan good team dan 5 kelompok dengan penghargaan great team.

d. Refleksi
Peneliti bersama teman sejawat mendiskusikan hasil tindakan berdasarkan hasil
observasi dan hasil tes siklus I untuk menentukan langkah-langkah perbaikan
pada putaran selanjutnya. Hal-hal yang telah dicapai pada siklus I adalah sebagai
berikut:
a) Siswa mulai tertarik mengikuti kegiatan yang ada disetiap pembelajaran.
b) Guru selalu membimbing siswa dalam menyelesaikan masalah yang terjadi.
c) Siswa berani bertanya jika ada hal yang belum dimengerti.

Beberapa hal yang perlu diperbaiki selama proses pembelajaran, yaitu:


a) Suasana kelas yang ribut pada saat siswa diminta bersama dengan teman
kelompoknya maupun pada saat peralihan ke meja turnamen.
b) Ada sejumlah siswa dalam kelompoknya yang mendominasi menyelesaikan
tugas sehingga teman yang lain terlihat pasif.
c) Pada saat turnamen, ada sejumlah siswa yang masih melupakan teman
turnamennya dan aturan permainan dalam pembelajaran tipe TGTsehingga
menghambat jalannya turnamen.
d) Nilai rata-rata hasil belajar matematika siswa masih dinilai cukup sehingga
diperlukan tindakan pada siklus selanjutnya.

Siklus Kedua
a. Perencanaan
Berdasarkan hasil diskusi pada siklus pertama, peneliti bersama guru
matematika mempersiapkan rencana yang akan dilakukan pada siklus kedua.
Sama halnya pada siklus I, peneliti menyiapkan skenario pembelajaran dan
rencana pembelajaran yang berkaitan dengan pokok bahasan luas bangun datar.
Untuk pertemuan pertama materi yang disajikan adalah menurunkan

112 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


menentukkan luas bangun datar dan volume bangun ruang sederhana pada
pertemuan kedua, materi yang disampaikan adalah luas trapesium, jajargenjang,
belah ketupat, layang-layang, lingkaran, dan dilanjutkan pada pemberian tes
pada pertemuan ketiga. Pada tahap ini akan dilakukan beberapa tindakan
perbaikan, yaitu:
a) Peneliti menjelaskan kembali tentang model pembelajaran kooperatif tipe TGT
(Teams Games Tournament) dan meminta siswa selalu mengingat teman
sekelompoknya dan teman turnamennya.
b) Peneliti yang bertindak sebagai guru kembali menekankan pada seluruh
siswa agar semua bekerjasama dengan kelompoknya masing-masing
sehingga tidak ditemukan lagi siswa yang mendominasi tugas yang
diberikan.
c) Peneliti menekankan untuk lebih serius pada saat turnamen.

b. Pelaksanaan Tindakan
Selain berpatokan pada skenario pembelajaran yang telah dibuat, guru juga
melaksanakan beberapa tindakan perbaikan yang telah direncanakan. Tetapi
secara umum pelaksanaan tindakan sama halnya dengan siklus pertama.

c. Observasi
Hasil observasi menunjukkan bahwa aktivitas siswa masih sama dengan siklus I
yang dinilai cukup walaupun ada indikator yang meningkat. Perhatian siswa
dinilai baik, karena siswa mau mendengarkan penjelasan dari guru, bertanya
apabila ada penjelasan yang belum dipahami, dan mulai dapat mencapai
indikator yang diinginkan. Partisipasi, pemahaman, dan kerjasama siswa dalam
kelompok dan kelas dinilai cukup, karena siswa mulai mau memberikan
pendapat, termotivasi dalam mengerjakan tugas, mau memberikan tanggapan
terhadap pendapat orang lain, dan siswa dapat memahami materi yang
diberikan. Selama turnamen, siswa sudah mulai mengerti akan aturan permainan
dalam TGT sehingga mempermudah jalannya turnamen walaupun ada kelompok
turnamen yang masih membutuhkan bimbingan. Siswa juga mulai terlihat
antusias pada saat turnamen dan menganggap bahwa point yang didapatkannya
mampu memberikan sumbangan yang besar pada kelompok belajarnya.

Aktivitas guru dinilai baik, karena guru mampu menyajikan materi dengan baik,
mampu memotivasi siswa baik dalam hal pembimbingan apabila siswa
mengalami kesulitan dalam mengerjakan Panduan Belajar, maupun pada saat
turnamen. Pengelolaan kelas masih dinilai cukup, karena guru hanya mampu
mengelola tugas rutin siswa, menetapkan alokasi waktu, dan perilaku siswa
sudah sedikit dapat ditangani.

Pelaksanaan pembelajaran siklus II mengalami perubahan menjadi lebih baik


dibanding siklus I. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan rata-rata hasil
belajar siswa pada siklus kedua sebesar 62,33 naik menjadi 66,81 (cukup) dengan
besar persentase peningkatan adalah 7,19%. Hasil belajar siswa pada siklus II
dapat dilihat pada lampiran 4. Melihat antusiasmenya siswa pada saat turnamen
sehingga penghargaan kelompok pun berubah menjadi 4 kelompok

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 113


mendapatkan penghargaan good team, 4 kelompok dengan penghargaan great
team, dan 2 kelompok dengan penghargaan super team.

d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan hasil belajar pada siklus kedua, terdapat hal-hal
yang telah dicapai dan masih ada beberapa kendala yang perlu diperbaiki pada
siklus berikutnya. Berikut adalah hal-hal yang telah dicapai pada siklus II, yaitu:
a) Siswa mulai mau memberikan pendapat, termotivasi dalam mengerjakan
tugas, mau memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain, dan mau
bekerja sama dengan siswa lain.
b) Siswa telah mampu mengingat teman sekelompoknya maupun teman dalam
berkompetisi di meja turnamen.
c) Siswa lebih antusias pada saat turnamen dan adanya penghargaan diakhir
turnamen dapat memotivasi siswa untuk berkompetisi lebih baik lagi.
d) Nilai rata-rata hasil belajar matematika siswa mengalami peningkatan dari
62,33 pada siklus I menjadi 66,81 pada siklus II.

Adapun hal-hal yang perlu diperbaiki dalam kegiatan pembelajaran pada siklus
selanjutnya adalah sebagai berikut:
a) Masih ada siswa yang tidak dapat diajak berkooperatif pada saat
pembelajaran.
b) Walaupun mengalami peningkatan tapi nilai rata-rata hasil belajar
matematika siswa masih dinilai cukup sehingga diperlukan tindakan pada
siklus selanjutnya.

Pada siklus selanjutnya diharapkan peneliti yang bertindak sebagai guru dapat
mengatasi permasalahan dan kesulitan yang dialami siswa. Oleh karena itu,
peneliti dan teman sejawat sepakat untuk melanjutkan siklus ketiga sehingga
diperoleh hasil yang maksimal.

Siklus Ketiga
a. Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus kedua, peneliti melanjutkan tindakan pada
siklus ketiga. Peneliti menyiapkan skenario pembelajaran berdasarkan rencana
pembelajaran yang berkaitan dengan pokok bahasan volum bangun ruang.
Untuk pertemuan pertama materi yang disajikan adalah volume kubus dan balok
dan pertemuan kedua, materi yang disampaikan adalah volum prisma, limas dan
kerucut. Sedangkan pada pertemuan ketiga diadakan tes.

Pada tahap ini juga akan dilakukan beberapa tindakan perbaikan yaitu peneliti
yang bertindak sebagai guru harus bertindak lebih tegas pada siswa yang tidak
mau bekerja sama dengan kelompoknya sehinga mendapatkan hasil belajar yang
lebih baik.

b. Pelaksanaan Tindakan
Pada siklus ini, peneliti yang bertindak sebagai guru juga melakukan tindakan
perbaikan yang telah direncanakan bersama guru matematika berdasarkan hasil

114 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


refleksi pada siklus kedua. Akan tetapi, secara umum pelaksanaan tindakan sama
halnya dengan siklus pertama dan kedua.

c. Observasi
Hasil observasi menunjukkan bahwa aktivitas siswa dan aktivitas guru mulai
meningkat di siklus ketiga ini dengan nilai baik. Aktivitas siswa yang terdiri dari
perhatian siswa, partisipasi siswa, dan kerjasama siswa dinilai baik sedangkan
pemahaman siswa dinilai sangat baik. Siswa sudah mulai terbiasa dengan
pembelajaran tipe TGT sehingga memudahkan guru dalam proses pembelajaran.
Aktivitas guru secara keseluruhan dinilai baik dengan penyajian materi,
kemampuan memotivasi siswa, pengelolaan kelas, dan pembimbingan guru
terhadap siswa dinilai baik.

Pelaksanaan pembelajaran pada siklus III mengalami peningkatan yang baik dari
rata-rata hasil belajar siklus II sebesar 66,81 menjadi 75,82 pada siklus III dengan
kriteria baik dan persentase peningkatan sebesar 13,49%. Hasil belajar siswa pada
siklus III dapat dilihat pada lampiran 6. Dari hasil turnamen diperoleh 3
kelompok dengan penghargaan good team, 6 kelompok dengan penghargaan great
team, dan 1 kelompok dengan penghargaan super team.

d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan hasil belajar pada siklus III, peneliti dan guru
matematika sepakat untuk tidak melanjutkan tindakan karena tindakan yang
diberikan kepada siswa yaitu dengan pembelajarn kooperatif tipe TGT dinilai
baik dan telah berhasil meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pengukuran
dan geometri semester genap tahun pembelajaran 2007/2008.

Indikator yang menyatakan bahwa pembelajaran yang berlangsung dapat


meningkatkan hasil belajar siswa setiap siklus, jika nilai rata-rata hasil belajar
lebih dari nilai dasar, misalnya nilai rata-rata hasil belajar pada siklus pertama
dibandingkan dengan nilai dasar yaitu nilai rata-rata ulangan harian matematika
siswa sebelumnya. Sedangkan untuk siklus berikutnya yang menjadi nilai dasar
adalah nilai rata-rata hasil belajar siklus sebelumnya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa
Pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dapat mening-katkan
hasil belajar matematika siswa pada materi Pengukuran dan Geometri di Kelas V SD
Negeri 007 Samarinda Ulu.

Saran
1. Bagi siswa: diharapkan untuk lebih giat dan aktif dalam pembelajaran
matematika salah satunya dengan berani mengemukakan pendapat dan
bekerjasama dengan siswa yang lain.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 115


2. Bagi guru: diharapkan dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe
TGT (Teams Games Tournament) ataupun memodifikasi dengan model
pembelajaran lainnya untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Bagi peneliti lain: diharapkan untuk menerapkan penelitian yang pada pokok
bahasan dan sekolah yang berbeda ataupun mencoba menerapkan model
pembelajaran kooperatif lainnya dalam rangka peningkatan kualitas kegiatan
belajar mengajar, khususnya mata pelajaran matematika.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S., Suhardjono, dan Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi
Aksara.
Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Hudojo, H. 1990. Strategi Mangajar Belajar Matematika. Malang: IKIP Malang.

Ismail. 2002. Model-model Pembelajaran. Makalah disajikan dalam Pelatihan


Terintegrasi Berbasis Kompetensi, Guru Mata Pelajaran Matematika,
Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Jakarta, April.

Karuru, P. 2006. Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses dalam Setting Pembelajaran


Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Kualitas Belajar IPA Siswa SLTP,
(Online),([Link]
es 16 Februari 2007).

Kasbolah, K. 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Departemen Pendidikan dan


Kebudayaan.

Krismanto, A. 2003. Beberapa Teknik, Model dan Strategi dalam Pembelajaran Matematika.
Makalah disajikan dalam Pelatihan Instruktur/Pengembang SMU, Pusat
Pengembangan Penataran Guru (PPPG) Matematika, Yogyakarta, 28 Juli s.d.
10 Agustus.

Pramudjono. 2000. Statistik Dasar. Samarinda: FKIP UNMUL.

Saukah, A., Sukarnyana, I. W., Waseso, G., Wahyuni, A. S., Rafi’uddin, Ah., Susilo,
H., Hasan, A. S. K., Degeng, I. N. S., Syafi’ie, I., Ibnu, S., dan Huda, N.
2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah,
Laporan Penelitian. Malang: Universitas Negeri Malang.

Sudjana, N. 2002. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Sukidin, Basrowi, dan Suranto. 2003. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:
Insan Cipta.

116 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENJAWAB
ISI DONGENG DENGAN MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA
DENGAN BAIK MELALUI BIMBINGAN DAN LATIHAN
DI SDN 008 SEMPAJA SAMARINDA UTARA

Kulsum
Guru SD Negeri 008 Samarinda Utara

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: meningkatkan kemampuan


sisw dalam menjawab isi dongeng dengan menggunakan bahasa Indonesia
dengan baik melalui bimbingan dan latihan di SDN 008 Sempaja samarinda
utara. Teknik untuk mengetahui perkembangan siswa kita menggunakan tiga
siklus, yaitu siklus satu, siklus dua dan siklus tiga. Adapun sampel dalam
penelitian ini sebanyak 23 siswa. Dengan melakukan perbaikan pembelajaran
yang telah dilaksanakan disimpulkan bahwa untuk meningkatkan penguasaan
materi Bahasa Indonesia padamenajwab isi dongeng yang menarik dan
dongeng yang sesuai perkembangan bahasaanak, selain juga penggunaan
metode, dan pendekatan serta bimbingan dan latihanintensif.

Kata kunci : isi dongeng, bimbingan dan latihan

PENDAHULUAN

Fungsi utama bahasa adalah sebagai media komunikasi. Kita menyadari


bahwainteraksi dan segala macam kegiatan dalam masyarakat akan lumpuh tanpa
bahasa. “Bahasa adalah media komunikasi antara anggota masyarakat berupa
symbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.” (keraf, 2004). Dengan
demikian setiap warga dituntut untuk terampil bebahasa. Bila setiap warga sudah
terampil berbahasa, maka komunikasi antar warga akan berlangsung dengan baik.

Pembelajaran yang berhasil ditunjukkan oleh dipahaminya materi pelajaran oleh


siswa, tingkat penguasaan materi pelajaran Bahasa Indonesia di SDN 008 Sempaja
Samarinda Utara, pada semester ganjil tahun 2011 masih standar, terutama dalam
menjawab isi dongeng. Kesulitan yang sering terlihat pada siswa khususnya dalam
menjawab isi dongeng, siswa tidak bisa memahami isi dongeng sehingga siswa
kesulitan menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan isi dongeng, ada juga
siswa yang terkadang kurang berani menanyakan kepada guru walaupun
sebenarnya tidak mengerti.

Beberapa kali pemberian tugas pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam
menjawab isi dongeng dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang benar hanya 5
anak dari 23 siswa atau hanya 23% saja, sedangakan 18 siswa yang lainnya atau

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 117


masih 77% masih belum menguasai materi. Selama pembelajaran berlangsung siswa
ada yang asyik mendengarkan dongeng dengan baik, namun tidak ada yang
mengajukan pertanyaan bahkan ada juga siswa yang asyik bermaik sendiri di tempat
[Link] seperti itu menyebabkan rencana pembelajaran yang sudah
disusun tidak dapat berjalan dengan baik, dan tujuan pembealajran tidak dapat
tercapai secara maksimal.

Berdasarkan alasan tersebut, peneliti meminta bantuan teman sejawat untuk


mengidentifikasi kekurangan setelah pembelajaran dilaksanakan. Hasil diskusi
dengan teman sejawat ditemukan beberapa masalah yang terjadi dalam
pembelajaran antara lain:
1. Siswa tidak bisa memahami isi dongeng, sehingga mengalami kesulitan dalam
menjawab isi dongeng.
2. Siswa kurang berani mengajukan pertanyaan.
3. Tingkat penguasaan siswa dalam memahami Bahasa Indonesia dan
mengembangkan kosa kata masih rendah.

Untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran, penulis


melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas.

KAJIAN PUSTAKA

Teori Belajar
Menurut teori taksonomi Bunyamin S. Bloom mengklasifikasikan psikologi
anakdidik menjadi 3 golongan. Pertama kognitif yang berpangkal pada kecerdasan
otak(intelektual) kemampuan tersebut mengembangkan kreatifitas (daya cipta), Prof.
[Link] H. Sanford berpendapat bahwa, manusia berfikir melebihi makhluk
yang lain. Dengan kemampuan tersebut manusia berfikir melabihi kemampuan
makhluk yang lain. Dengan kemampuan tersebut manusia dapat mengalami
perubahan tingkah laku secara sadar dan cepat. Kedua Afektif yang berhubungan
dengan sikap, perasaan, tata nilai, minat dan apresiasi.

Ketiga psikomotor menyangkut keterampilan berbuat sesuatu yang berpusat pada


otot atau saraf penggerak (motoris).Arthur Wrigh Combs, menyarankan agar tujuan
proses mengajar yang dirumuskan dalam kurikulum diarahkan kepada self-
actualization (memberi kesempatan kepada anak didik untuk menyatakan jati
dirinya) sebagian pribadi yang memiliki open their experience yaitu sikap terbuka
kepada pengalaman, well informed, yaitu geng informasi yang [Link]
tindakan kelas yang digunakan PTK Diagnostik adalah penelitian yang mengarah
pada tindakan langsung yang menuntaskan kelemahan siswa yang menonjol, dalam
hal ini penekanan terhadap pemahaman arti bahasa yang belum dikuasai. Selain
PTK diagnotis juga PTK partisipan yaitu peneliti terbit langsung dalam pelaksanaan
penelitian dalam proses mulai dari awal sampai akhir, dengan hasil penelitian yang
berupa laporan. Dengan demikian, sejak perencanaan dan mengumpulkan data, lalu
menganalisis data serta berakhir dengan melaporkan hasil penelitian.

118 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Juga melalui pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran Bahasa
Indonesia, dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk
terlibat secara aktif fan kreatif dalam proses pemerolehan bahasa. Selain
menggunakan pendekatan keterampilan proses juga menggunakan pendekatan
komunikatif dengan tujuan membentuk kemampuan komunikatif siswa dalam
penggunaan Bahasa Indonesia dengan benar baik secara lisan ataupun tulisan.

Bimbingan dan Latihan


Menurut bahsa kamus bimbingan mempunyai arti petunjuk cara mengerjakan
sesuatu. Dalam proses pembelajaran seorang guru memberikan petunjuk praktis
sebagai pedoman dalam mengerjakan tugas. Sedangkan membimbing mengandung
makna memegang tangan dan menuntun, maksudnya guru selalu mengarahkan dan
memberikan perhatian khusus kepada siswa yang “kurang” sehingga mereka
merasa [Link]-latihan yang diberikan oleh guru kepada siswa yang
“kurang” berupa latihan soal pemahaman tentang aspek dongeng, dengan
memahami aspek dongeng secara otomatis mereka dengan mudah menajwab
pertanyaan tentang isi dongeng.

PELAKSANAAN PENELITIAN
Perencanaan tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru dikelasnya
sendiri melalui refleksi denga tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehinggahasil
belajar siswa meningkat (Igak Wardani, 2007).Langkah-langkah melakukan
penelitian tindakan kelas. Pada program PKP dapatdigambarkan sebagai berikut:

Subjek Penelitian
1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilaksanakan di kelas III SDN 008 Sempaja
Samarinda Utara. Waktu pelaksanaan pada tanggal 2 September 2011 sampai
tanggal 14 september 2011.

2. Mata Pelajaran
Mata pelajaran yang menjadi objek peneliti adalah BahasaIndonesia kelas III SD
dengan Pokok Bahasan mendengarkan dongeng dan hasil belajar menjelaskan isi
dongeng yang telah didengar dan mengajukan pertanyaan, serta indicator
menjawab pertanyaan tentang isi dongeng (sastra).

3. Karakteristik Siswa
Jumlah siswa kelas IIIb SDN 008 Sempaja ada 23 siswa, dengan rincian jumlah
laki-laki 15 anak, dan perempuan 8 anak. Kemampuan daya serap siswa kelas III
[Link] yang digunakan sehari-hari Bahasa Indonesia/B
[Link] sekitar rumah dekat jalan raya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Siklus I
Pengamatan yang peneliti lakukan secara intensif bersama-sama dengan
temansejawat terhadap perolehan hasil belajar (nilai ulangan harian) siswa selama

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 119


pelaksanaantindakan perbaikan pembelajaran siklus 1. Dalam pelaksanaan
penelitian pada sikluspertama peneliti pada rencana perbaikan pembelajaran Bahasa
Indonesia tentangmenjawab isi dongeng/cerita, cuma membacakan/bercerita tanpa
mengulang danganBahasa Jawa, padahal siswa belum banyak memahami Bahasa
Indonesia. Dalam hal initerlihat dari hasil evaluasi belajar siswa, ada 3 siswa
mencapat nilai 90, 1 siswa mendapatnilai 80, 6 siswa mendapat nilai 75, 3 siswa
mendapat nilai 70, 6 siswa mendapat nulai65, 3 siswa mendapat nilai 60, 1 siswa
lainnya mendapatkan nilai 50, sedangkan standarketuntasan minimalnya 75. Artinya
ada 10 siswa yang tuntas (43%) masih kurang daristandar ketuntasan klasikal yaitu
sebesar 85%.

Tabel 1
Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Bahasa Indonesiapada Siklus I

NILAI
KETUNTASAN
NO NAMA SISWA ULANGAN
BELAJAR
HARIAN
1 TITHA NATHALIA 60 Tidak Tuntas
2 FEBRI SAPUTRA 50 Tidak Tuntas
3 RAFLY SURYA HARTANTO 65 Tidak Tuntas
4 DHINI ALEXANDRA K 75 Tuntas
5 MUH. JAYADIN 60 Tidak Tuntas
6 APRILIA 65 Tidak Tuntas
7 DAFIT 75 Tuntas
8 M. ARRIDWA AGUS SEPTIANSYAH 90 Tuntas
9 NABILA CAHYATI 65 Tidak Tuntas
10 NURSYIFA 80 Tuntas
11 DEVI AFRI RAHMADANI 75 Tuntas
12 MUH RISKI APRIADI 90 Tuntas
13 MAULIADA 75 Tuntas
14 ANGGUN ARUM DANI 75 Tuntas
15 ERICA AMALIA SARAH 70 Tidak Tuntas
16 MUH ROSSY SYAHYONO 65 Tidak Tuntas
17 AGIL MAULANA 65 Tidak Tuntas
18 NUR AZIZAH 90 Tuntas
19 HAFIAT HASANAH DIRA 60 Tidak Tuntas
20 M. FAHRI ALFATH 65 Tidak Tuntas
21 AJI NUGROHO 70 Tidak Tuntas
22 NUR RAHMAN 70 Tidak Tuntas
23 AFRIZA AYU NATASYA 75 Tuntas

Tabel 2
Aspek yang Diamati Siklus I
NO ASPEK YANG DIAMATI KOMENTAR
1 Mengeluarkan pendapat Sedang
Kemampuan
2 Mengajukan pertanyaan Kurang
Siswa
3 Menceritakan kembali isi dongeng Kurang
4 Perhatian Sedang
5 Sikap Siswa Keberanian Kurang
6 kemandirian Kurang

120 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Siklus II
Strategi pembelajaran pada siklus II dipadukan dengan metode, siswa
dibacakandengan mengulang isi cerita tiap baris dengan Bahasa Indonesia sehingga
siswa lebihmengerti isi cerita. Dengan mengubah cara tersebut hasilnya ada
peningkatkan waktutidak semua bisa. Artinya belum memenuhi standart yang
[Link] hal ini terlihat dari hasil evaluasi belajar siswa, ada 5 siswa
mencapat nilai90, 6 siswa mendapat nilai 80, 5 siswa mendapat nilai 75, 4 siswa
mendapat nilai 70, 2siswa mendapat nulai 65, dan 1 siswa lainnya mendapat nilai 60,
sedangkan standarketuntasan minimalnya 75. Artinya ada 16 siswa yang tuntas
(70%) masih kurang daristandar ketuntasan klasikal yaitu sebesar 85%.

Tabel 3
Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Bahasa Indonesiapada Siklus II

NILAI
KETUNTASAN
NO NAMA SISWA ULANGAN
BELAJAR
HARIAN
1 TITHA NATHALIA 60 Tidak Tuntas
2 FEBRI SAPUTRA 70 Tidak Tuntas
3 RAFLY SURYA HARTANTO 75 Tuntas
4 DHINI ALEXANDRA K 80 Tuntas
5 MUH. JAYADIN 65 Tidak Tuntas
6 APRILIA 75 Tuntas
7 DAFIT 80 Tuntas
8 M. ARRIDWA AGUS SEPTIANSYAH 90 Tuntas
9 NABILA CAHYATI 75 Tuntas
10 NURSYIFA 90 Tuntas
11 DEVI AFRI RAHMADANI 90 Tuntas
12 MUH RISKI APRIADI 90 Tuntas
13 MAULIADA 80 Tuntas
14 ANGGUN ARUM DANI 80 Tuntas
15 ERICA AMALIA SARAH 80 Tuntas
16 MUH ROSSY SYAHYONO 75 Tuntas
17 AGIL MAULANA 70 Tidak Tuntas
18 NUR AZIZAH 90 Tuntas
19 HAFIAT HASANAH DIRA 70 Tidak Tuntas
20 M. FAHRI ALFATH 70 Tidak Tuntas
21 AJI NUGROHO 75 Tuntas
22 NUR RAHMAN 65 Tidak Tuntas
23 AFRIZA AYU NATASYA 80 Tuntas

Tabel 4
Aspek yang Diamati Siklus II

NO ASPEK YANG DIAMATI KOMENTAR


1 Mengeluarkan pendapat Sedang
Kemampuan
2 Mengajukan pertanyaan Sedang
Siswa
3 Menceritakan kembali isi dongeng Sedang
4 Perhatian Sedang
5 Sikap Siswa Keberanian Baik
6 kemandirian Sedang

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 121


Siklus 3
Pada siklus ketiga peneliti memilih strategi dengan pendekatan komunikatif, dan
menggabungkan langkah pada siklus pertama dan kedua dengan menggunakan
media yang cukup menarik yaitu dengan menggunakan cerita bergambar. Dengan
demikian siswa kelas rendah ini lebih [Link] siklus ketiga ini lebih berhasil
dan dapat memenuhi standart, karena lebh dari 85% yang menguasai pembelajaran.
Peningkatan nilai hasil evaluasi belajar siswa ada peningkatan, ada 2 siswa
mendapat nilai 100, 6 siswa mendapat nilai 90, 3 siswa mendapat nilai 85, 3 siswa
mendapat nilai 80, 7 siswa mendapat nilai 75,dan 2 siswa lainnya mendapat nilai 70,
sedangkan standar ketuntasan minimalnya 75. Artinya ada 21 siswa yang tuntas
(90%) sudah melebihi dari standar ketuntasan klasikal yaitu sebesar 85%, sehingga
kegiatan perbaikan pembelajaran tidak dilanjutkan lagi dan berhenti pada siklus 3.

Tabel 5
Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pada Siklus III
NILAI ULANGAN KETUNTASAN
NO NAMA SISWA
HARIAN BELAJAR
1 TITHA NATHALIA 70 Tidak Tuntas
2 FEBRI SAPUTRA 70 Tidak Tuntas
3 RAFLY SURYA HARTANTO 80 Tuntas
4 DHINI ALEXANDRA K 90 Tuntas
5 MUH. JAYADIN 75 Tuntas
6 APRILIA 80 Tuntas
7 DAFIT 90 Tuntas
8 M. ARRIDWA AGUS S 100 Tuntas
9 NABILA CAHYATI 75 Tuntas
10 NURSYIFA 90 Tuntas
11 DEVI AFRI RAHMADANI 85 Tuntas
12 MUH RISKI APRIADI 100 Tuntas
13 MAULIADA 90 Tuntas
14 ANGGUN ARUM DANI 85 Tuntas
15 ERICA AMALIA SARAH 80 Tuntas
16 MUH ROSSY SYAHYONO 75 Tuntas
17 AGIL MAULANA 75 Tuntas
18 NUR AZIZAH 90 Tuntas
19 HAFIAT HASANAH DIRA 75 Tuntas
20 M. FAHRI ALFATH 75 Tuntas
21 AJI NUGROHO 85 Tuntas
22 NUR RAHMAN 75 Tuntas
23 AFRIZA AYU NATASYA 90 Tuntas

Tabel 6
Aspek yang Diamati Siklus III
NO ASPEK YANG DIAMATI KOMENTAR
1 Mengeluarkan pendapat Baik
Kemampuan
2 Mengajukan pertanyaan Baik
Siswa
3 Menceritakan kembali isi dongeng Baik
4 Perhatian Baik
5 Sikap Siswa Keberanian Baik
6 kemandirian Baik

122 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Pembahasan per Siklus

Siklus I
Kegiatan penelitian pada rencana perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesiatentang
menjawab isi dongeng atau cerita, Cuma membacakan atau bercerita tanpa
mengulangdengan Bahasa Jawa, padahal siswa belum banyak memahami Bahasa
Indonesia. Dalamhal ini terlihat dari hasil pengamatan ditunjukkan dengan adanya 3
siswa mencapat nilai90, 1 siswa mendapat nilai 80, 6 siswa mendapat nilai 75, 3 siswa
mendapat nilai 70, 6siswa mendapat nulai 65, 3 siswa mendapat nilai 60, 1 siswa
lainnya mendapatkan nilai 50, sedangkan standar ketuntasan minimalnya 75.
Artinya ada 10 siswa yang tuntas (43%) masih kurang dari standar ketuntasan
klasikal yaitu sebesar 85%.

Atas dasar alasan tersebut di atas, secara reflektif peneliti memutuskan untuk
melaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran siklus II. Pada siklus II lebih
menekankan pada kekurangan/kelemahan diantaranya pada rencana perbaikan
pembelajaran Bahasa Indonesia tentang menjawab isi dongeng/cerita, cuma
membacakan atau bercerita tanpa mengulang dengan Bahasa Jawa, padahal siswa
belum banyak memahami Bahasa Indonesia.

Siklus II
Perbaikan pembelajaran pada siklus II, peneliti merubah strategi pembelajaran
dengan menambah metode yaitu denga siswa dibacakan dengan mengulang isi
cerita tiap baris dengan Bahasa Jawa, sehingga siswa lebih mengerti isi cerita.
Dengan mengubah cara tersebut hasilnya ada peningkatan walau tidak semua bisa.
Artinya belum memenuhi standart yang [Link] hal ini terlihat dari hasil
evaluasi belajar siswa, ada 5 siswa mencapat nilai 90, 6 siswa mendapat nilai 80, 5
siswa mendapat nilai 75, 4 siswa mendapat nilai 70, 2 siswa mendapat nulai 65, dan 1
siswa lainnya mendapat nilai 60, sedangkan standar ketuntasan minimalnya 75.
Artinya ada 16 siswa yang tuntas (70%) masih kurang dari standar ketuntasan
klasikal yaitu sebesar 85%.Sehingga perlu diadakan siklus III, untuk memperbaiki
kelemahan/kekurangn pada siklus II.

Siklus 3
Berdasarkan hasil diskusi tersebut diketahui bahwa pembelajaran yang dilaksanakan
pada siklus III peneliti memilih strategi dengan pendekatan komunikatif dan
menggabungkan langkah pada siklus pertama dan kedua dengan menggunakan
media yang cukup menarik yaitu dengan menggunakan cerita bergambar. Dengan
demikian siswa kelas rendah ini lebih [Link] siklus ketiga ini lebih berhasil
dan dapat memenuhi standart, karena lebih dari 85% yang menguasai pembelajaran.
Peneliti memilih strategi pembelajaran dengan pendekatan komunikatif, dan
menggabungkan langkah pada siklus pertama dan kedua dengan menggunakan
media yang menarik yaitu dengan menggunakan cerita bergambar. Dengan
demikian siswa kelas rendah ini lebih tertarik. Pada siklus ketiga ini lebih berhasil
dan dapat memnuhi standart, Karena lebih dari 85% yang menguasai pembelajaran.
Peningkatan nilai pada siklus 3 terlihat jelas, 2 siswa mendapat nilai 100, 6 siswa
mendapat nilai 90, 3 siswa mendapat nilai 85, 3 siswa mendapat nilai 80, 7 siswa

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 123


mendapat nilai 75,dan 2 siswa lainnya mendapat nilai 70, sedangkan standar
ketuntasan minimalnya 75. Artinya ada 21 siswa yang tuntas (90%) sudah melebihi
dari standar ketuntasan klasikal yaitu sebesar 85%, sehingga kegiatan perbaikan
pembelajaran tidak dilanjutkan lagi dan berhenti pada siklus 3.

Setelah diberikan bimbingan dan latihan yang intensif dan pendekatan keterampilan
proses dan pendekatan komunikati serta metode yang bervariatif pada siklus-siklus
yang dilalui maka motivasi dan minat siswa mulai terlihat, terbukti dengan nilai-
nilai yang diperoleh siswa ada peningkatan yang semula 25 % menjadi 90%. Selain
itu juga karena media yang digunakan menentukan serta seringnya tugas dan
latihan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dengan melakukan perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan dapat
kitaambil kesimpulan bahwa untuk meningkatkan penguasaan materi Bahasa
Indonesia padamenajwab isi dongeng yang menarik dan dongeng yang sesuai
perkembangan bahasaanak, selain juga penggunaan metode, dan pendekatan serta
bimbingan dan latihanintensif.

Saran
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan khususnya pembelajaran BahasaIndonesia
di kelas rendah ada yang harus dilakukan guru yaitu penggunaan media
yangmenarik dan pendekatan yang sesuai dengan materi sehingga siswa senang dan
tidakmembosankan selain bimbingan dan latihan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Djauzak dkk. 1996. Pedoman Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar di Sekolah
dasar. Jakarta:Sepsikbud.

Tim FKIP-UT. 2007. Pemantapan Kamampuan Profesional (PKP). Jakarta: Universitas


Terbuka.

Wardani, I.G.K, dkk. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.

Winataputra, Udin. S. dkk. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas


Terbuka.

Zainal, Asmawi. 2004. Tes dan Asesmen di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

124 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


UPAYA MENINGKATAKAN PEMBELAJARAN OPERASI HITUNG BILANGAN
CACAH SISWA KELAS IV SD NEGERI 021 PASIR BELENGKONG DENGAN
METODE BERDASARKAN MASALAH (PROBLEM POSING)

Bahrudin
Guru SD Negeri 021 Pasir Belengkong

Abstraks

Secara umum siswa SD kelas 4 sudah cukup mampu dalam pembentukan


soal sesuai dengan situasi yang disediakan tetapi belum maksimal. Melalui
pembelajaran siklus I yaitu pemahaman operasi penjumlahan dan
pengurangan bilangan cacah dengan pendekatan problem posing, diperoleh
hasil kemampuan siswa beragam, dimana berdasarkan kemampuan menurut
jenis soal terlihat bahwa semua siswa (100%) sudah mampu dalam
pembentukan soal dan dapat diselesaikan. Sementara itu, kemampuan
menurut masalah yang dapat diselesaikan ada 29,41% siswa hanya mampu
membuat satu pertanyaan yang dapat diselesaikan, dan 67,65% siswa
mampu membentuk soal lebih atau sama dengan dua pertanyaan yang dapat
diselesaikan. Melalui pembelajaran siklus II yaitu pemahaman operasi
perkalian dan pembagian bilangan cacah dengan pendekatan problem posing,
kemampuan siswa dalam pembentukkan soal juga beragam. Kemampuan
menurut jenis soal menunjukkan 2,94% siswa yang mampu membentuk soal
sebanyak satu dan tidak dapat diselesaikan secara Matematika. Sedangkan
97,06% sudah mampu membentuk soal dan dapat diselesaikan secara
matematik.

Kata Kunci: Peningkatan, Operasi Hitung, Problem Posing

PENDAHULUAN
Pada setiap kegiatan pendidikan formal, pelajaran Matematika selalu diajarkan dan
merupakan mata pelajaran yang oleh sebagian siswa dianggap sulit, menakutkan,
dan akhirnya dianggap sebagai momok. Berdasarkan hasil pengamatan penulis
selama ini terdapat kecenderungan bahwa Matematika sering dikeluhkan sebagai
bidang studi yang sulit dan membosankan sehingga tidak heran apabila nilai
Matematika siswa rendah dibanding dengan nilai pelajaran lain dan penguasaan
siswa terhadap Matematika juga kurang. Salah satu saran para pakar pendidikan
Matematika untuk meningkatkan mutu pembelajaran Matematika adalah dengan
menekankan pengembangan kemampuan siswa dalam pembentukan soal.
Pembentukan soal merupakan inti kegiatan matematis dan merupakan komponen
penting dalam kurikulum Matematika (English, 1998). Sebenarnya sudah sejak lama
para tokoh pendidikan Matematika menunjukkan bahwa pembentukan soal

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 125


merupakan bagian yang penting dalam pengalaman matematis siswa dan
menyarankan agar dalam pembelajaran Matematika ditekankan kegiatan
pembentukan soal (Silver, Mamona-Downs, Leung, & Kenney, 1996).

Kaitan antara tujuan pembelajaran Matematika di sekolah dan pengembangan


kemampuan pembentukan soal Matematika terletak pada pengembangan
kemampuan menggunakan pola pikir dan keterampilan menyelesaikan masalah
(Depdikbud, 1993). Hasil penelitian Silver dan Cai (1996) menunjukkan bahwa
kemampuan pembentukan soal berkorelasi positip dengan kemampuan
memecahkan soal. Dengan demikian, kemampuan pembentukan soal sangat sesuai
dengan tujuan pembelajaran Matematika di sekolah sebagai usaha untuk
meningkatkan hasil pembelajaran Matematika dan dapat membantu meningkatkan
kemampuan siswa. Hudojo (1998) menyatakan bahwa pembelajaran Matematika
hingga kini lebih didominasi oleh sistem pembelajaran secara konvensional seperti
ceramah dan drill sehingga sulit menghadapi era masa depan yang serba tidak
diketahui. Hal ini disebabkan karena guru SD berusaha untuk menyelesaikan isi
kurikulum yang telah ditetapkan untuk diselesaikan dalam setiap catur wulan
sebagaimana tuntutan minimal kurikulum yang ditetapkan. Menurut Ruseffendi
(1988), upaya membantu siswa memahami soal dapat dilakukan dengan menulis
kembali soal tersebut dengan kata-katanya sendiri, menuliskan soal dalam bentuk
lain, atau dalam bentuk yang operasional. Sedangkan Cars (dalam Sutawidjaja, 1998)
menyatakan bahwa secara umum upaya meningkatkan kemampuan siswa
memecahkan masalah utamanya dalam menyelesaikan soal operasi hitung bilangan
cacah adalah dengan mendorong keberanian siswa atau kelompok siswa untuk
membuat soal atau pertanyaan. Cara yang disarankan oleh Ruseffendi dan Cars ini
merupakan cara yang dikenal dengan istilah problem posing (pengajuan soal atau
pembentukan soal).

TINJAUAN PUSTAKA

Pada setiap kegiatan pendidikan formal, pelajaran Matematika selalu diajarkan dan
merupakan mata pelajaran yang oleh sebagian siswa dianggap sulit, menakutkan,
dan akhirnya dianggap sebagai momok. Berdasarkan hasil observasi ke beberapa SD
Negeri di Pasir Belengkong terdapat kecenderungan bahwa Matematika sering
dikeluhkan sebagai bidang studi yang sulit dan membosankan sehingga tidak heran
apabila nilai Matematika siswa rendah dibanding dengan nilai pelajaran lain dan
penguasaan siswa terhadap Matematika juga kurang. Salah satu saran para pakar
pendidikan Matematika untuk meningkatkan mutu pembelajaran Matematika
adalah dengan menekankan pengembangan kemampuan siswa dalam pembentukan
soal. Pembentukan soal merupakan inti kegiatan matematis dan merupakan
komponen penting dalam kurikulum Matematika (English, 1998). Sebenarnya sudah
sejak lama para tokoh pendidikan Matematika menunjukkan bahwa pembentukan
soal merupakan bagian yang penting dalam pengalaman matematis siswa dan
menyarankan agar dalam pembelajaran Matematika ditekankan kegiatan
pembentukan soal (Silver, Mamona-Downs, Leung, & Kenney, 1996). Sri Surtini
adalah tenaga pengajar pada FKIP Universitas Terbuka.

126 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Kaitan antara tujuan pembelajaran Matematika di sekolah dan pengembangan
kemampuan pembentukan soal Matematika terletak pada pengembangan
kemampuan menggunakan pola pikir dan keterampilan menyelesaikan masalah
(Depdikbud, 1993). Hasil penelitian Silver dan Cai (1996) menunjukkan bahwa
kemampuan pembentukan soal berkorelasi positip dengan kemampuan
memecahkan soal. Dengan demikian, kemampuan pembentukan soal sangat sesuai
dengan tujuan pembelajaran Matematika di sekolah sebagai usaha untuk
meningkatkan hasil pembelajaran Matematika dan dapat membantu meningkatkan
kemampuan siswa. Hudojo (1998) menyatakan bahwa pembelajaran Matematika
hingga kini lebih didominasi oleh sistem pembelajaran secara konvensional seperti
ceramah dan drill sehingga sulit menghadapi era masa depan yang serba tidak
diketahui. Hal ini disebabkan karena guru SD berusaha untuk menyelesaikan isi
kurikulum yang telah ditetapkan untuk diselesaikan dalam setiap catur wulan
sebagaimana tuntutan minimal kurikulum yang ditetapkan dalam Garis Besar
Program Pembelajaran (GBPP) (Toenlioe, 1997).

Menurut Ruseffendi (1988), upaya membantu siswa memahami soal dapat dilakukan
dengan menulis kembali soal tersebut dengan kata-katanya sendiri, menuliskan soal
dalam bentuk lain, atau dalam bentuk yang operasional. Sedangkan Cars (dalam
Sutawidjaja, 1998) menyatakan bahwa secara umum upaya meningkatkan
kemampuan siswa memecahkan masalah utamanya dalam menyelesaikan soal
operasi hitung bilangan cacah adalah dengan mendorong keberanian siswa atau
kelompok siswa untuk membuat soal atau pertanyaan. Cara yang disarankan oleh
Ruseffendi dan Cars ini merupakan cara yang dikenal dengan istilah problem posing
(pengajuan soal atau pembentukan soal). Hasil observasi ke beberapa SD
menunjukkan bahwa problem posing belum pernah diterapkan dalam pembelajaran,
khususnya pelajaran Matematika. Hal ini disebabkan karena dalam kurikulum tidak
tercantum pembelajaran Matematika dengan problem posing. Sedangkan dalam
pelaksanaan pembelajaran Matematika, guru selalu berpatokan pada kurikulum.
Selain itu guru belum memiliki pengetahuan tentang pembelajaran problem posing.
Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian kualitatif yang dilakukan untuk
mengetahui pengaruh implementasi problem posing pada pembelajaran operasi
hitung bilangan cacah bagi siswa sekolah dasar (SD) dan untuk mendeskripsikan
kemampuan siswa dan tingkat kesukaran dalam pembentukkan soal yang sesuai
dengan situasi yang disediakan. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 021 Pasir
Belengkong. Penelitian dimulai dengan survai pendahuluan untuk mendapatkan
informasi/gambaran proses pembelajaran Matematika di SD.

Hasil survai dibuat untuk merancang model pembelajaran Matematika dan diuji
cobakan dengan memberi tes awal (pre test) sebelum pembelajaran dan tes akhir (post
test) setelah pembelajaran. Selama proses pembelajaran berlangsung, kegiatan siswa
diamati dengan menggunakan instrumen berupa Lembar Pengamatan Tingkah
Laku. Lembar Pengamatan Tingkah Laku tersebut memuat jenis kegiatan/tingkah
laku yaitu antusiasme, keceriaan, dan kreativitas siswa. Sedangkan kegiatan guru
diamati dengan menggunakan Lembar Pengamatan Pelaksanaan Pembelajaran yang
berisi tentang pelaksanaan kegiatan awal, penyediaan alat bantu (media)

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 127


pembelajaran, pelaksanaan kegiatan penyampaian materi pelajaran, memelihara dan
meningkatkan ketertiban siswa dalam belajar, serta pelaksanaan penilaian. Data
yang dijaring dalam penelitian ini adalah data kemampuan siswa dalam
pembentukan soal operasi hitung bilangan cacah yang sesuai dengan situasi yang
disediakan dan data tentang tingkat kesukaran dari soal operasi hitung bilangan
cacah yang dibentuk siswa. Sumber data dalam penelitian ini adalah seluruh 34
siswa kelas 4 pada SD Negeri 021 Pasir Belengkong.

Instrumen yang dipergunakan adalah tes hasil belajar untuk mengukur


pembentukan soal dan tingkat kesukaran soal yang dibuat siswa meliputi jenis soal,
masalah yang dapat diselesaikan, struktur bahasa, dan banyaknya hubungan
semantic. Instrumen lainnya yang digunakan adalah wawancara yang dilakukan
terhadap siswa dan guru setelah kegiatan pembelajaran berakhir. Analisis data
dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah pengumpulan data
dengan menggunakan analisis logis (analisis yang berdasar pada penalaran logika).
Analisis tersebut dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa jenis data yang
diperoleh di lapangan adalah kalimat dan hasil kerja siswa. Data tersebut diubah
menjadi kalimat yang bermakna dan ilmiah. Analisis data yang dipergunakan
adalah model analisis yang dikemukakan oleh Milles dan Huberman (1992) yaitu
model mengalir (flow model). Model yang terdiri dari tiga komponen yaitu reduksi
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dilakukan berurutan.

HASIL OBSERVASI PENDAHULUAN


Observasi pendahuluan pada pembelajaran Matematika ditemukan bahwa guru
masih mengajar dengan cara konvensional dimana guru cenderung banyak
menggunakan metode ceramah tanpa ada variasi sehingga siswa berlaku pasif.
Kegiatan observasi ini dilajutkan dengan tes pendahuluan dengan materi operasi
hitung bilangan cacah dengan pendekatan problem posing. Pada tahap ini ditemukan:
(1) siswa tidak tahu apa yang dimaksud dengan problem posing, (2) siswa masih
banyak yang bingung dan meraba-raba apa yang dimaksud dengan problem posing,
(3) siswa masih belum tahu bagaimana cara membentuk soal dengan situasi yang
disediakan, dan (4) siswa masih asyik dengan kegiatannya sendiri yang tidak ada
hubungannya dengan masalah yang dibicarakan.

KEGIATAN PEMBELAJARAN DI KELAS


Tindakan pembelajaran dilakukan secara bertahap yaitu: (a) siklus I dengan tindakan
pembelajaran operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah dengan
pendekatan problem posing, dan (b) siklus II dengan tindakan pembelajaran operasi
hitung perkalian dan pembagian bilangan cacah dengan pendekatan problem posing.
Temuan yang diperoleh dari tindakan I ini adalah: (a) siswa belum dapat memahami
operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah dengan pendekatan
problem posing secara maksimal, (b) alat peraga yang digunakan sangat membantu
siswa dalam memahami operasi hitung penjumlahan dan pengurangan tetapi belum
bisa membantu siswa membentuk soal dengan situasi yang disediakan, dan (c) siswa
sudah dapat membentuk soal lebih dari satu tetapi tanpa memberikan informasi
baru. Temuan yang diperoleh dari tindakan II ini adalah: (a) siswa belum dapat
memahami operasi hitung perkalian dan pembagian bilangan cacah dengan

128 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


pendekatan problem posing secara maksimal, (b) alat peraga yang digunakan sangat
membantu siswa dalam memahami operasi hitung perkalian dan pembagian tetapi
belum bisa membantu siswa membentuk soal dengan situasi yang disediakan, (c)
siswa sudah dapat membentuk soal lebih dari satu tetapi tanpa memberikan
informasi yang baru.

PEMAHAMAN OPERASI HITUNG BILANGAN CACAH


Umumnya siswa SD kelas 4 sudah cukup memahami operasi hitung bilangan cacah.
Melalui pembelajaran ini terjadi perubahan tingkah laku siswa yang merupakan
suatu proses usaha yang dilalui siswa (Slameto, 1988). Siswa memiliki perhatian
utama dari pendekatan stimulus respon yang diberikan guru dan siswa mampu
menghafal maupun menggunakan rumus algoritma secara efektif sesuai dengan
pendapat As’ari (1998). Siswa lebih antusias dan bersemangat saat menggunakan
alat peraga sebagai alat bantu untuk memahami operasi penjumlahan dan
pengurangan bilangan cacah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa siswa mudah
dalam pemahaman operasi hitung bilangan cacah dan siswa senang serta
bersemangat memperagakan dengan menggunakan alat peraga benda konkret. Hal
ini sesuai dengan pendapat Dienes (dalam Karso, Prabawanto, Priatna, & Ginting,
1998) bahwa setiap konsep Matematika akan dapat dipahami dengan baik oleh siswa
apabila disajikan dalam bentuk nyata dan beragam. Secara konkret dalam kegiatan
pembelajaran operasi hitung bilangan cacah ini siswa memperlihatkan antusiasme
dalam mengikuti pembelajaran yang sejalan dengan Darwis, (dalam Herawati, 1994).
Hal tersebut dapat diketahui dari keingintahuan yang besar terhadap materi yang
dihadapi, perhatian yang terpusat pada pelajaran yang sedang dihadapi, dan
ketekunan dalam mengerjakan tugas.

PEMAHAMAN OPERASI HITUNG BILANGAN CACAH DENGAN


PENDEKATAN PROBLEM POSING
Temuan awal menunjukkan bahwa siswa masih belum tahu dan merasa asing untuk
memahami operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah dengan
pendekatan problem posing. Hal ini karena problem posing tersebut merupakan hal
yang baru dan belum pernah diketahui sebelumnya. Siswa juga belum pernah
membentuk soal dalam pelajaran Matematika, hal ini tidak sesuai dengan pendapat
Silver, et. al. (1996). Dalam pelajaran Matematika, siswa menerima apa yang
diajarkan guru sesuai dengan kurikulum yang sudah ditentukan dan bersifat
konvensional (Toenlioe, 1997 dan Hudojo, 1998). Melalui peragaan dengan
bimbingan guru yang berulang, ternyata membuahkan hasil walaupun belum
maksimal. Siswa sudah sedikit mengerti dan mempunyai gambaran pemahaman
tentang problem posing. Hal ini dapat diketahui dari ekspresi wajah siswa yang
memperlihatkan antusiasme yang tinggi. Keingin tahuan tentang problem posing
sangat besar sehingga tampak bersemangat dalam menanggapi pertanyaan dan
dalam menanggapi pertanyaan dan tugas yang diberikan guru.

Operasi Perkalian dan Pembagian Bilangan Cacah dengan Pendekatan Problem


Posing
Persepsi tentang pemahaman problem posing pada operasi penjumlahan dan
pengurangan menumbuhkan ingatan pada siswa dan memberikan respon untuk

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 129


mengingat kembali bagaimana cara membentuk soal sesuai dengan situasi yang
disediakan. Pengulangan pelajaran dengan penggunaan alat peraga yang berupa lidi
dan sedotan plastik yang disediakan guru memberikan hasil yang positip dimana
siswa lebih mudah memahami operasi perkalian dan pembagian dengan pendekatan
problem posing. Selain itu juga, kegiatan guru yang berupa peragaan siswa untuk
maju ke depan kelas dan mengerjakan soal yang diberikan ternyata memberikan
kepada siswa percaya diri yang tinggi. Melalui kegiatan ini siswa tidak hanya
menerima pelajaran Matematika secara konvensional tetapi dibimbing untuk
memunculkan kekritisan suatu masalah. Dengan cara ini guru akan merasa puas
apabila siswa mampu memahami suatu persoalan secara kritis dan mampu
menganalisa apa yang ditanyakan.

Implementasi Problem Posing pada Pembelajaran Operasi Hitung Bilangan Cacah


Implementasi problem posing pada operasi bilangan cacah secara umum sudah
mampu dilaksanakan siswa kelas 4. Siswa kelas 4 ini, dengan bimbingan guru,
termotivasi dalam pembentukan soal Matematika yang sesuai dengan situasi soal
yang disediakan guru. Secara nyata siswa sudah mampu menganalisa soal dan
merumuskan soal untuk membentuk pertanyaan Matematika yang dapat
diselesaikan. Pada implementasi problem posing pada operasi hitung bilangan cacah
ini siswa terlibat secara aktif dan siswa mampu mencari informasi apa yang harus
dilakukan. Melalui keaktifan siswa ini diperoleh keterampilan untuk memecahkan
masalah Matematika. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Kauchack dan Eggen
(1988). Hasil penelitian menunjukkan siswa aktif melakukan manipulasi alat peraga
serta aktif mencari tahu dan menyatakan pendapatnya sehingga mampu untuk
membentuk kekritisan siswa dalam memecahkan masalah Matematika yang
dihadapinya. Antusiasme, keceriaan, kreativitas siswa dan dukungan guru dengan
menyediakan alat peraga, serta penjelasan dengan urutan materi yang baik telah
memotivasi siswa terlibat aktif untuk mengimplementasikan problem posing dalam
pembelajaran Matematika.

KEMAMPUAN SISWA DALAM PROBLEM POSING


Kemampuan siswa dalam problem posing dilihat dari dua aspek, (1) operasi
penjumlahan dan pengurangan dan (2) operasi perkalian dan pembagian bilangan
cacah. Pada Tabel 1 dapat dilihat rekapitulasi hasil temuan. Seluruh siswa (100%)
mampu melakukan pembentukan dan menyelesaikan soal operasi penjumlahan dan
pengurangan sesuai dengan situasi yang disediakan. Hal ini terlihat pada saat guru
memberi tugas untuk melakukan pembentukan soal operasi penjumlahan dan
pengurangan semua siswa mampu menyelesaikan tes yang diberikan. Kejadian
tersebut terjadi karena selama siswa mengikuti pembelajaran merasa senang,
tergerak hatinya untuk mengikuti dengan tekun, dan tidak gaduh. Hal ini sesuai
hasil pengamatan dimana siswa selama mengikuti pembelajaran tidak membuat
kegaduhan tetapi siswa terlihat tenang dan serius. Demikian juga dari hasil
pengamatan kepada guru saat melaksanakan pembelajaran dimana pembelajaran
dilakukan sesuai dengan urutan yang telah direncanakan dan dilakukan berulang-
ulang sehingga siswa benar-benar mampu untuk memahami apa yang dimaksud
dengan problem posing. Tabel 1. Kemampuan Siswa dalam Problem Posing (N=34)

130 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Siswa No Kemampuan N % A Operasi Penjumlahan & Pengurangan Bilangan Cacah
a. Jenis soal 34 100 b. Jumlah soal • 1 10 29,41 • > 2 24 70,59 c. Struktur Bahasa •
Mudah 1 2,94 • Sedang 33 97,06 d. Hubungan Semantik • Cukup 9 26,74 • Sedang 25
75,53 B Operasi Perkalian & Pembagian Bilangan Cacah a. Jenis soal • Mampu
membentuk soal, tidak mampu menyelesaikan 1 2,94 • Mampu membentuk soal &
mampu menyelesaikan 33 97,06 b. Jumlah soal tanpa informasi baru • 1 Soal
perkalian 1 2,94 • 2 Soal perkalian 33 97,06 • 1 Soal pembagian 12 35,29 • 2 Soal
pembagian 22 64,71 c. Struktur Bahasa • Mudah 22 64,71 • Sedang 12 35,29 d.
Hubungan Semantik • Sedang untuk perkalian 22 64,71 • Tinggi untuk perkalian 12
35,29 • Mudah untuk pembagian 6 17,65 • Sedang untuk pembagian 28 82,35.

Sementara itu, terdapat 10 siswa (29,41%) yang mampu membuat satu pertanyaan.
Hal ini menandakan masih rendahnya tingkat kemampuan siswa dan belum
digunakannya informasi baru. Artinya siswa masih terpaku pada informasi yang
sudah disediakan saja dan belum memiliki kemampuan untuk berpikir kritis dan
belum mampu untuk merumuskan soal dari situasi yang disediakan. Di lain pihak
sebanyak 24 siswa atau 70,59% yang mampu membentuk soal lebih atau sama
dengan dua. Kemampuan membentuk soal tersebut masih termasuk rendah karena
juga belum ada informasi baru yang dinyatakan dalam soal tersebut. Hal ini
menyatakan bahwa apa yang dipelajari tentang problem posing ini merupakan hal
yang baru, merupakan hal yang masih asing, dan masih perlu pemahaman yang
mendalam tentang situasi yang disediakan. Untuk itu perlu dilakukan latihan terus
menerus sehingga dapat menumbuhkan kreativitas dan keaktifan dalam
pembentukan soal dari situasi yang disediakan. Struktur bahasa memegang peran
yang penting dan diharapkan bahwa bahasa yang dibuat oleh siswa dalam problem
posing dapat membuat orang lain paham apa maksud dari pembentukan soal yang
disampaikan. Berdasarkan struktur bahasa ini ada satu siswa (2,94%) yang mampu
membentuk soal termasuk proposisi penugasan. Berarti siswa mampu membentuk
soal yang memiliki tingkat kesukaran mudah dan belum memanfaatkan informasi
yang ada. Sedangkan struktur bahasa dengan proposisi hubungan dapat
diselesaikan 33 siswa (97,06%). Hal ini berarti siswa mampu memanfaatkan
informasi yang ada sesuai dengan situasi yang disediakan tetapi belum
menggunakan informasi tambahan atau informasi baru yang merupakan proporsi
kondisional dan memiliki kesulitan lebih tinggi. Hal ini berarti siswa sudah mampu
menggunakan informasi tambahan atau informasi baru yang sesuai dengan soal
yang disediakan. Terdapat 9 siswa (26,47%) yang mampu membentuk soal menurut
banyaknya hubungan semantik dua dari situasi yang disediakan. Berarti siswa
tersebut mampu membentuk soal dalam tingkat kesukarannya dikategorikan cukup.
Sedangkan 25 siswa (73,53%) mampu membentuk soal dengan banyaknya hubungan
semantik tiga. Berarti siswa sudah mampu membentuk soal dengan tiga hubungan
dari situasi yang disediakan. Selain itu tingkat kesukarannya lebih tinggi dibanding
dengan siswa yang membentuk soal dengan hubungan dua. Berdasarkan soal yang
dibuat siswa tersebut sudah mampu untuk berpikir dan membuat berbagai alternatif
analisis untuk memecahkan situasi yang disediakan. Masih dari Tabel 1, dapat
dilihat bahwa ada satu siswa (2,94%) yang dalam menyelesaikan tugas diberikan
ternyata sudah mampu membentuk soal tetapi tidak dapat menyelesaikan. Artinya

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 131


siswa tersebut sudah mampu membentuk soal dari situasi yang disediakan, tetapi
pembentukan soal tersebut tidak dapat diselesaikan secara matemati. Atau siswa
tersebut juga belum mampu menggunakan kemampuannya untuk menganalisis
situasi yang disediakan secara benar. Sedangkan 33 siswa (97,06%) sudah mampu
membentuk soal dan dapat menyelesaikan. Kemampuan tersebut disebabkan karena
selama siswa mengikuti pembelajaran sangat bersemangat, menunjukkan perhatian
yang sangat besar terhadap guru, roman muka yang berseri-seri, merasa senang, dan
semua siswa mencoba membuat dan membentuk soal. Hal ini dinyatakan dalam
lembar pengamatan yang dibuat pengamat. Meskipun demikian ada sebagian siswa
yang belum berani mengajukan pertanyaan. Sementara itu, terdapat satu siswa
(2,94%) yang hanya mampu membentuk soal dengan satu pertanyaan pada operasi
perkalian. Hasil wawancara dengan siswa menunjukkan bahwa siswa tersebut
belum memahami benar problem posing. Sedangkan pada operasi pembagian terdapat
12 siswa (35,29%) yang mampu membentuk soal dengan satu pertanyaan. Siswa
terebut dalam membentuk soal sesuai dengan situasi yang disediakan juga belum
memanfaatkan informasi baru. Hasil temuan pada operasi perkalian menunjukkan
ada 33 siswa (97,06%) yang mampu membentuk soal lebih atau sama dengan dua
dan dapat diselesaikan.

Hal ini menandakan bahwa siswa tersebut memiliki kemampuan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan siswa yang hanya membentuk soal dengan satu pertanyaan.
Ternyata kemampuan membentuk soal tersebut sudah ada yang memanfaatkan
informasi baru, tetapi umumnya belum memanfaatkan informasi baru. Sedangkan
kemampuan siswa dalam membentuk soal lebih atau sama dengan dua untuk
operasi pembagian sebanyak 22 siswa (64,71%). Kemampuan siswa dalam
membentuk soal yang dapat diselesaikan dengan lebih atau sama dengan dua
pertanyaan pada operasi pembagian ternyata lebih rendah dibandingkan dengan
operasi perkalian. Hal ini berarti bahwa operasi perkalian lebih mudah dikerjakan
dari pada operasi pembagian. Derajat operasi perkalian lebih rendah dibanding
dengan pembagian atau operasi perkalian lebih mudah dikerjakan dari pada
pembagian. Kemampuan siswa dalam membentuk soal pada operasi perkalian dan
pembagian yang memuat proposisi penugasan dikerjakan oleh 22 siswa (64,71%).
Temuan ini mencerminkan bahwa tingkat kesukaran soal yang dibentuk siswa masih
mudah atau sederhana struktur bahasanya. Siswa belum mampu menggunakan
analisis, menentukan alternatif pemecahan masalah, atau menghubungkan masalah
situasi yang disediakan. Sedangkan 12 siswa (35,29%) sudah mampu membentuk
soal yang memuat proposisi hubungan. Berarti siswa sudah mampu untuk
menganalisa, membuat alternatif, dan menghubungkan antara masalah situasi yang
diberikan dalam membentuk soal dan dapat diselesaikan secara matematik. Selain
itu siswa tersebut mampu untuk membentuk soal yang tingkat kesukarannya lebih
sulit dibanding dengan yang dikerjakan oleh 22 siswa di atas. Selain itu, temuan
menunjukkan ada 22 siswa (64,71%) mampu membentuk soal banyaknya hubungan
semantik dua. Hal ini berarti bahwa pekerjaan siswa tersebut hanya memuat dua
hubungan sesuai dengan situasi yang disediakan, atau siswa mampu membentuk
soal dalam tingkat kesukarannya dikategorikan sedang. Sedangkan 12 siswa
(35,29%) mampu membentuk soal banyaknya hubungan semantik tiga. Berarti

132 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


bahwa pekerjaan siswa sudah memuat tiga hubungan dari situasi yang disediakan
dengan tingkat kesukaran lebih sulit dibanding dengan siswa yang membentuk soal
dengan hubungan dua. Disamping itu, pada operasi pembagian terdapat 6 siswa
(17,65%) yang mampu membentuk soal dengan hubungan semantik satu. Berarti
kemampuan siswa dalam membentuk soal dengan tingkat kesukaran mudah atau
sederhana. Sedangkan 28 siswa (82,35%) mampu membentuk soal dengan hubungan
semantik dua yang dapat dinyatakan cukup mampu untuk membentuk soal
Matematika yang memuat dua hubungan yang saling berkaitan dan membentuk soal
Matematika yang dapat diselesaikan. Berarti siswa tersebut mampu membentuk soal
dalam tingkat kesukaran yang dikategorikan sedang.

PEMBAHASAN

Secara umum siswa SD kelas 4 sudah cukup mampu dalam pembentukan soal sesuai
dengan situasi yang disediakan tetapi belum maksimal. Melalui pembelajaran siklus
I yaitu pemahaman operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah dengan
pendekatan problem posing, diperoleh hasil kemampuan siswa beragam, dimana
berdasarkan kemampuan menurut jenis soal terlihat bahwa semua siswa (100%)
sudah mampu dalam pembentukan soal dan dapat diselesaikan. Sementara itu,
kemampuan menurut masalah yang dapat diselesaikan ada 29,41% siswa hanya
mampu membuat satu pertanyaan yang dapat diselesaikan, dan 67,65% siswa
mampu membentuk soal lebih atau sama dengan dua pertanyaan yang dapat
diselesaikan. Lebih jauh, kemampuan ditinjau dari struktur bahasa menunjukkan
bahwa 2,94% siswa dalam pembentukan soal mempunyai sifat penugasan dan
97,06% siswa dalam pembentukan soal bersifat hubungan yang dapat diselesaikan.
Disamping itu kemampuan pembentukan soal menurut banyaknya hubungan
semantik menunjukkan bahwa 26,4 % siswa pekerjaannya hanya mengandung
hubungan dua dan dapat diselesaikan secara matematik. Sedangkan 75,53% siswa
sudah mampu membentuk soal yang memiliki hubungan tiga dan dapat
diselesaikan secara matematik.

Melalui pembelajaran siklus II yaitu pemahaman operasi perkalian dan pembagian


bilangan cacah dengan pendekatan problem posing, kemampuan siswa dalam
pembentukkan soal juga beragam. Kemampuan menurut jenis soal menunjukkan
2,94% siswa yang mampu membentuk soal sebanyak satu dan tidak dapat
diselesaikan secara Matematika. Sedangkan 97,06% sudah mampu membentuk soal
dan dapat diselesaikan secara matematik. Sementara itu, kemampuan menurut
masalah yang dapat diselesaikan pada operasi perkalian dengan situasi yang
disediakan memperlihatkan 2,94% siswa yang membuat satu pertanyaan, dan
97,06% sudah mampu membentuk soal lebih atau sama dengan dua yang dapat
diselesaikan. Sedangkan dalam pembentukan soal pada operasi pembagian masih
terdapat 35,29% siswa yang hanya mampu membentuk satu pertanyaan, dan 64,71%
siswa sudah mampu membentuk soal lebih atau sama dengan dua yang dapat
diselesaikan secara matematik. Selain itu, kemampuan ditinjau dari struktur bahasa,
ada 64,71% siswa membentuk soal masih bersifat penugasan dan 35,29% siswa
dalam membentuk soal sudah bersifat hubungan yang dapat diselesaikan secara

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 133


matematik. Selanjutnya, kemampuan pembentukan soal menurut banyaknya
hubungan semantic pada operasi perkalian terdapat 22 siswa (64,71%) yang mampu
membentuk soal banyaknya hubungan semantik dua dengan tingkat kesukaran
cukup. Sedangkan 12 siswa (35,29%) mampu membentuk soal banyaknya hubungan
semantik tiga dengan tingkat kesukaran lebih tinggi. Pada operasi pembagian
terdapat 6 siswa (17,65%) yang mampu membentuk soal dengan hubungan semantik
satu, dengan tingkat kesukaran mudah atau sederhana. Sedangkan 28 siswa (82,35%)
mampu membentuk soal dengan hubungan semantik dua, dengan tingkat kesukaran
yang cukup.

KESIMPULAN
1. Kemampuan pembentukan soal belum memanfaatkan informasi yang ada secara
maksimal dan belum menggunakan informasi baru atau tambahan.
2. Tingkat kesukaran soal yang dibentuk siswa masih dalam kategori cukup.
Sementara itu, penggunaan alat peraga sebagai alat bantu sangat membantu
siswa dalam memahami soal sehingga siswa lebih aktif, kreatif dan bersemangat
mengikuti pembelajaran.

SARAN
1. Pemahaman problem posing perlu diberikan pada siswa SD sedini mungkin untuk
melatih siswa agar mampu menganalisa masalah Matematika yang dihadapi dan
memotovasi siswa terbiasa berpikir kritis dan kreatif. 2. Setiap pemahaman masalah
Matematika perlu ditunjang alat peraga yang kongkrit untuk dimanipulasi, supaya
siswa dapat mengingat lebih lama dan masalah yang dihadapi dapat diselesaikan
dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

As’ari. (1998). Penggunaan alat peraga manipulatif dalam penanaman konsep


Matematika.

Kurikulum Pendidikan Dasar, Garis-Garis Besar Program Pengajaran. Jakarta:


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Pendidikan Matematika I. Universitas Terbuka, Jakarta. Kauchak, D. & Eggen, P. D.


(1988).

Ruseffendi, E. T. (1988). Pengantar kepada membantu guru mengembangkan


kompetensinya dalam pengajaran Matematika untuk meningkatkan CBSA.
Bandung: Tarsito.

Slameto. (1988). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Bina


Aksara.

Sutawidjaja, A. (1998). Pemecahan masalah dalam pembelajaran Matematika.


Makalah Seminar Nasional di PPs IKIP Malang, 4 April 1998.

134 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA
MATERI SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL MELALUI METODE
PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW PADA SISWA KELAS VIIIA
SMP NEGERI 2 SAMARINDA TAHUN PELAJARAN 2008/2009

Hartoyo
Guru SMP Negeri 2 Samarinda
ABSTRAK

Agar dapat mengajar efektif, guru harus meningkatkan kesempatan belajar


bagi siswa (kuantitas) dan meningkatkan mutu (kualitas) mengajarnya.
Kesempatan belajar siswa dapat ditingkatkan dengan cara melibatkan siswa
secara aktif dalam belajar. Hal ini berarti kesempatan belajar makin banyak dan
optimal serta guru menunjukkan keseriusan saat mengajar. Makin banyak
siswa yang terlibat aktif dalam belajar, makin tinggi kemungkinan prestasi
belajar yang dicapainya. Sedangkan dalam meningkatkan kualitas dalam
mengajar hendaknya guru mampu merencanakan program pengajaran dan
sekaligus mampu pula melakukan dalam bentuk interaksi belajar mengajar.
Tujuan penelitian tindakan ini adalah: (a) Ingin mengetahui peningkatan
prestasi belajar siswa setelah diterapkannya metode pembelajaran kooperatif
model Jigsaw. (b) Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah
diterapkan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw. Penelitian ini
menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran.
Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan
pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas
VIIIA SMP Negeri 2 Samarinda. Data yang diperoleh berupa hasil tes
formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analis
didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I
sampai siklus III yaitu, siklus I (55,33%), siklus II (76,19%), siklus III
(87,33%).

Kata Kunci: belajar matematika, metode kooperatif model jigsaw

PENDAHULUAN
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi
modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya
pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi
dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan,
aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan
mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat
sejak dini. ( Standar isi matematika SMP/MTs : 2006 )
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari
sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis,
analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi
tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh,

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 135


mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang
selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Berdasarkan pengalaman yang telah peneliti alami dalam mengajar matematika di
SMP Negeri 2 Samarinda, Hasil yang diperoleh dari proses pembelajaran masih jauh
dari harapan. Dari sejumlah siswa yang mengikuti pembelajaran ternyata hanya 40
% yang dapat menyelesaikan persamaan linear dua variabel dengan benar. Ini
berarti masih ada 60% siswa yang yang belum paham, selain itu dimungkinkan
proses belajar mengajarnya kurang maksimal.
Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan
dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Peristiwa belajar-mengajar banyak
berakar pada berbagai pandangan dan konsep. Oleh karena itu, perwujudan proses
belajar-mengajar dapat terjadi dalam berbagai model. Bruce Joyce dan Marshal Weil
mengemukakan 22 model mengajar yang dikelompokkan ke dalam 4 hal, yaitu (1)
proses informasi, (2) perkembangan pribadi, (3) interaksi sosial, dan (4) modifikasi
tingkah laku, (Joyce & Weil, Model of Teaching, 1980).
Sebagai pengajar atau pendidik, guru merupakan salah satu faktor penentu
keberhasilan setiap upaya pendidikan. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi
pendidikan, khususnya dalam kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia
yang berhasil dari upaya pendidikan selalu bermuara pada faktor guru. Hal ini
menunjukkan betapa eksisnya peran guru dalam dunia pendidikan. Demikian pula
dalam upaya membelajarkan siswa guru dituntut memiliki multi peran sehingga
mampu menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif.
Agar dapat mengajar efektif, guru harus meningkatkan kesempatan belajar bagi
siswa (kuantitas) dan meningkatkan mutu (kualitas) mengajarnya. Kesempatan
belajar siswa dapat ditingkatkan dengan cara melibatkan siswa secara aktif dalam
belajar. Hal ini berarti kesempatan belajar makin banyak dan optimal serta guru
menunjukkan keseriusan saat mengajar. Makin banyak siswa yang terlibat aktif
dalam belajar, makin tinggi kemungkinan prestasi belajar yang dicapainya.
Sedangkan dalam meningkatkan kualitas dalam mengajar hendaknya guru mampu
merencanakan program pengajaran dan sekaligus mampu pula melakukan dalam
bentuk interaksi belajar mengajar.
Langkah-langkah tersebut memerlukan partisipasi aktif dari siswa. Untuk itu perlu
ada metode pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dalam
pembelajaran. Adapun metode yang dimaksud adalah metode
pembelajaan kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah suatu pengajaran yang
melibatkan siswa bekerja dalam kelompok-kelompok untuk menetapkan tujuan
bersama. Felder, (1994: 2).

Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa pada materi Sistem
Persaman Linear Dua Variabel setelah diterapkannya metode pembelajaran
kooperatif model Jigsaw pada siswa kelas VIIIA tahun pelajaran 2008/2009

136 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


2. Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan metode
pembelajaran kooperatif model Jigsaw pada siswa kelas VIIIA tahun pelajaran
2008/2009

Manfaat Hasil Penelitian


Penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi:
1. Sekolah sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar
siswa khususnya pada mata pelajaran matematika.
2. Guru, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran
yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.
3. Siswa, dapat meningkatkan motiviasi belajar dan melatih sikap sosial untuk saling
peduli terhadap keberhasilan siswa lain dalam mencapai tujuan belajar.

KAJIAN PUSTAKA

Definisi Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.
Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah
tingka laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. (KBBI, 1996:14).
Sependapat dengan pernyataan tersebut Sutomo (1993:68) mengemukakan bahwa
pembelajaran adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja
dilakukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau
mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Sedangkan belajar adalah suatu proses
yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses
pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan,
bertambah, berkembang daya pikir, sikap dan lain-lain. (Soetomo, 1993:120).
Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang menyebabkan siswa belajar
pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu.

Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu pengajaran yang melibatkan siswa untuk
bekerja dalam kelompok-kelompok untuk menetapkan tujuan bersama. (Felder,
1994:2).
Wahyuni (2001:8) menyebutkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan strategi
pembelajaran dengan cara menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil
yang memiliki kemampuan berbeda.
Sependapat dengan pernyataan tersebut Setyaningsih (2001:8) mengemukakan
bahwa metode pembelajaran kooperatif memusatkan aktivitas di kelas pada siswa
dengan cara pengelompokan siswa untuk bekerjasama dalam proses pembelajaran.
Dari tiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif
adalah suatu metode pembelajaran dengan cara mengelompokkan siswa ke dalam

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 137


kelompok-kelompok kecil untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah.
Kemampuan siswa dalam setiap kelompok adalah hiterogen.
Dalam pembelajaran kooperatif siswa tidak hanya sebagai objek belajar tetapi
menjadi subjek belajar karena mereka dapat berkreasi secara maksimal dalam proses
pembelajaran. Hal ini terjadi karena pembelajaran kooperatif merupakan metode
alternatif dalam mendekati permasalahan, mampu mengerjakan tugas besar,
meningkatkan keterampilan komunikasi dan sosial, serta perolehan kepercayaan
diri.
Dalam pembelajaran ini siswa saling mendorong untuk belajar, saling memperkuat
upaya-upaya akademik dan menerapkan norma yang menunjang pencapaian hasil
belajar yang tinggi. (Nur, 1996:4). Dalam pembelajaran kooperatif lebih
mengutamakan sikap sosial untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu dengan cara
kerjasama.
Pembelajaran kooperatif mempunyai unsur-unsur yang perlu diperhatikan. Unsur-
unsur tersebut sebagai berikut:
1. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang
bersama”.
2. Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap siswa lain dalam kelompoknya,
disamping tanggungjawab terhadap dirinya sendiri, dalam mempelajari materi
yang dihadapi.
3. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang
sama.
4. Para siswa harus membagi tugas dan berbagai tanggungjawab sama besarnya
diantara para anggota kelompok.
5. Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut
berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
6. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan
bekerjasama selama belajar.
7. Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi
yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Metode Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw


Siswa bekerja dalam kelomok empat atau lima orang. Setiap angota tim membaca
pasal yang berlainan. Selanjutnya para siswa didalam kelompok ahli tersebut
kembali lagi ke timnya semula dan bergantian mengerjakan apa yang sudah
dipelajarinya kepada anggota tim lain.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian
dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga
termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik
pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.

138 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti,
penanggung jawab penuh penelitian ini adalah guru. Tujuan utama dari penelitian
tindakan ini adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana guru
secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan,
pengamatan, dan refleksi.

Jenis dan Desaian Penelitian


Penelitian ini tergolong Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Peneliti juga guru yang
sekaligus melaksanakan proses pembelajaran. Model yang digunakan dalam
penelitian ini mengikuti model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari 3 (tiga)
langkah pokok yaitu : (1). Perencanaan (Planning), (2). Pelaksanaan dan Pengamatan
(Acting and Observing) dan (3). Refleksi. Penelitian dilaksanakan dalam tiga siklus.
Adapun desain dari Kemmis dan Taggart (dalam buku 3 Materi Pelatihan
Terintegrasi Matematika, 2005: 11) seperti terlihat di bawah ini.

Refleksi

Siklus I
Perencanaan
Pelaksanaan dan Pengamatan (Planning)
(Acting and Observing )

Refleksi
Revisi

Siklus II
Perencanaan
Pelaksanaan dan Pengamatan (Planning)
(Acting and Observing ) Siklus III

Refleksi
Revisi
Perencanaan
Pelaksanaan dan Pengamatan (Planning)
(Acting and Observing )

Gambar 3.1 Desain Penelitian dari Kemmis dan Taggart.


Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Silabus
Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran
pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar.
2. Rencana Pelajaran (RP)
Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman
guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 139


kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran khusus,
dan kegiatan belajar mengajar.
3. Lembar Kegiatan Siswa
Lembar kegaian ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses
pengumpulan data hasil eksperimen.
4. Tes formatif
Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan
untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep matematika pada materi
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Tes formatif ini diberikan setiap akhir
putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan ganda (objektif).

Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Samarinda Jalan K.H Akhmad Dahlan
No.1 Samarinda pada semester ganjil bulan September tahun pelajaran 2008/2009

Metode Pengumpulan Data


Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi
pengolahan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw, observasi aktivitas siswa
dan guru dan tes formatif.

Metode Analisis Data


Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu
diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif
kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan
atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui
prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap
kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah
proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan
evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran. Analisis ini dihitung
dengan menggunakan statistic sederhana yaitu:
1. Untuk menilai ulangan atau tes formatif
Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang
selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga
diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:

X 
X
N
Dengan : X = Nilai rata-rata
X = Jumlah semua nilai siswa
N = Jumlah siswa
2. Untuk ketuntasan belajar
Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara
klasikal. Berdasarkan petunju pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994
(Depdikbud,1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai

140 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut
terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan
65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus
sebagai berikut:

P
 Siswa. [Link] x100%
 Siswa
3. Untuk lembar observasi
a. Lembar observasi pengelola metode pembelajaran kooperatif model
Jigsaw.
Untuk menghitung lembar observasi pengelolaan metode pembelajaran
kooperatif model Jigsaw digunakan rumus sebagai berikut :
P1  P2
X=
2
Dimana P1 = Pengamat 1 dan P2 = Pengamat 2
b. Lembar observasi aktifitas guru dan siswa
Untuk menghitung lembar observasi aktifitas guru dan siswa digunakan
rumus sebagai berikut :
x
%= x 100 % dengan
x
[Link]. pengamatan P1  P2
X= =
Jumlah. pengamatan 2
Dimana : % = Presentase pengamatan
X = Rata-rata
∑x = Jumlah rata-rata
P1 = Pengamat 1
P2 = Pengamat 2

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Data lembar observasi diambil dari dua pengamatan yaitu data pengamatan
pengelolaan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw yang digunakan untuk
mengetahui pengaruh penerapan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw
dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dan data pengamatan aktivitas siswa dan
guru. Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah
diterapkan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw.

Gambaran Selintas Tentang Setting


Penerapan pembelajaran kooperatif berbasis gambar pada penelitian ini dirancang
dalam bentuk siklus. Siklus dalam hal ini merupakan suatu rangkaian tindakan
perbaikan dan evaluasi efektivitas pembelajaran berdasarkan suatu kriteria
keberhasilan yang menetapkan apakah tindakan yang dilakukan efektif atau tidak.
Hasil pengukuran efektifitas pembelajaran merupakan dasar yang sahih bagi
penerapan tindakan selanjutnya.
Untuk lebih jelasnya setting penelitian tindakan kelas yang dilakukan dapat
digambarkan sebagai berikut.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 141


Observasi
awal

Pembelajaran: rumus – rumus diturunkan secara


teoritis, pembelajaran berkelompok/kooperatif yang
dialami siswa kurang terarah

Siklus I Siklus II Siklus III


Metode Metode Metode
Pembelajaran Pembelajaran Pembelajaran
Model Jigsaw Model Jigsaw Model Jigsaw

Gambar 4.1 Selintas Tentang Setting Penelitian


Uraian Penelitian Secara Umum – Keseluruhan
Berdasarkan observasi awal dapat diidentifikasi bahwa pembelajaran masih
berlangsung secara konvensional, dimana rumus-rumus diturunkan secara teoretis,
bahkan sering kali siswa hanya diminta membaca/melihat rumus yang ada pada
buku tanpa penjelasan bagaimana rumus tersebut bisa terjadi dan dilanjutkan
dengan latihan-latihan soal secara berkelompok tanpa bimbingan yang maksimal.
Situasi ini tentu menyebabkan kebanyakan siswa akan bermain/bercanda dengan
temannya, bercerita diluar topik pembelajaran, sehingga pembelajaran tidak
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini tentu berdampak pada rendahnya
hasil belajar matematika, dan siswa kurang merasakan manfaat dari apa yang
mereka pelajari. Apabila siswa SMP kelas VIIIA diberikan kesempatan
belajar/diskusi kelompok sepintas kelihatan mereka aktif, namun sering kali
kektifan mereka hanya dalam bentuk fisik yang cenderung bermain, tetapi masih
sulit atau pelit untuk berbagi/bekerjasama dengan temannya. Atas dasar itulah
dirancang serangkaian tindakan dalam upaya untuk meningkatkan aktivitas
belajar siswa dan hasil belajar siswa yang ditempuh melalui metode pembelajaran
model Jigsaw.

Penjelasan per Siklus


1. Siklus I
Berdasarkan tabel 1 tampak bahwa aktivitas guru yang paling dominan pada
siklus I adalah membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep,
yaitu 21,7 %. Aktivitas lain yang presentasinya cukup besar adalah memberi
umpan balik/ evaluasi, tanya jawab dan menjelaskan materi yang sulit yaitu
masing-masing sebesar 13,3 %. Sedangkan aktivitas siswa yang paling dominan
adalah mengerjakan/ memperhatikan penjelasan guru yaitu 22,5 %. Aktivitas lain
yang presentasinya cukup besar adalah bekerja dengan sesama anggota
kelompok, diskusi antara siswa/ antara siswa dengan guru, dan membaca buku
yaitu masing-masing 18,7%, 14,4% dan 11,5 %.

142 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Pada siklus I, secaraa garis besar kegiatan belajar mengajar dengan metode
pembelajaran kooperatif model Jigsaw sudah dilaksanakan dengan baik,
walaupun peran guru masih cukup dominan untuk memberikan penjelasan dan
arahan, karena model tersebut masih dirasakan baru oleh siswa

Hasil observasi adalah aktivitas guru dan siswa seperti pada tabel berikut :

Tabel 1 Aktivitas Guru dan Siswa Pada Siklus I


No Aktivitas Guru yang diamati Presentase
Menyampaikan tujuan
1 Memotivasi siswa 5,0
2 Mengkaitkan dengan pelajaran sebelumnya 8,3
3 Menyampaikan materi/ langkah-langkah/ strategi 8,3
4 Menjelaskan materi yang sulit 6,7
5 Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan 13,3
6 konsep 21,7
7 Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil 10,0
8 kegiatan 18,3
9 Memberikan umpan balik 8,3
Membimbing siswa merangkum pelajaran
No Aktivitas siswa yang diamati Presentase
1 Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru 22,5
2 Membaca buku 11,5
3 Bekerja dengan sesama anggota kelompok 18,7
4 Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru 14,4
5 Menyajikan hasil pembelajaran 2,9
6 Menyajikan/ menanggapi pertanyaan/ ide 5,2
7 Menulis yang relevan dengan KBM 8,9
8 Merangkum pembelajaran 6,9
9 Mengerjakan tes evaluasi 8,9

Table 2 Nilai Tes Formatif Pada Siklus I


No. Keterangan No. Keterangan
Skor Skor
Absent T TT Absent T T
1 70 √ 16 50 √
2 60 √ 17 70 √
3 90 √ 18 70 √
4 80 √ 19 40 √
5 80 √ 20 30 √
6 80 √ 21 70 √
7 50 √ 22 80 √
8 40 √ 23 80 √
9 80 √ 24 90 √
10 70 √ 25 40 √
11 80 √ 26 50 √
12 50 √ 27 70 √
13 40 √ 28 70 √
14 80 √ 29 40 √
15 70 √ 30 30 √
Jumlah 770 10 5 9 7
Jumlah Skor 1960
Jumlah Skor Maksimal Ideal 3000
Rata-Rata Skor Tercapai 65,33

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 143


Keterangan: T : Tuntas
TT : Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas : 16
Jumlah siswa yang belum tuntas : 14
Klasikal : Belum tuntas

Tabel 3 Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I


No Uraian Hasil Siklus I
1 Nilai rata-rata tes formatif 65,33
2 Jumlah siswa yang tuntas belajar 16
3 Persentase ketuntasan belajar 53,33 %

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode


pembelajaran kooperatif model Jigsaw diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar
siswa adalah 65,33 dan ketuntasan belajar mencapai 53,33% atau ada 16 siswa
dari 30 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada
siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang
memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 53,337% lebih kecil dari persentase
ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena
siswa masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan
digunakan guru dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model
Jigsaw.

Refleksi
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil
pengamatan sebagai berikut:
1) Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan
tujuan pembelajaran
2) Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu
3) Siswa kurang begitu antusias selama pembelajaran berlangsung.

Revisi
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat
kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus
berikutnya.
1) Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam
menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat
langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.
2) Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan
informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan
3) Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa
sehingga siswa bisa lebih antusias.

144 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


2. Siklus II
Hasil observasi akivitas guru dan siswa :

Tabel 4 Aktivitas Guru Dan Siswa Pada Siklus II


No Aktivitas Guru yang diamati Presentase
Menyampaikan tujuan
Memotivasi siswa
1 6,7
Mengkaitkan dengan pelajaran sebelumnya
2 6,7
Menyampaikan materi/ langkah-langkah/
3 6,7
strategi
4 11,7
Menjelaskan materi yang sulit
5 11,7
Membimbing dan mengamati siswa dalam
6 25,0
menemukan konsep
7 8,2
Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan
8 16,6
hasil kegiatan
9 6,7
Memberikan umpan balik
Membimbing siswa merangkum pelajaran
No Aktivitas siswa yang diamati Presentase
Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan
1 17,9
guru
2 12,1
Membaca buku
3 21,0
Bekerja dengan sesama anggota kelompok
4 13,8
Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru
5 4,6
Menyajikan hasil pembelajaran
6 5,4
Menyajikan/ menanggapi pertanyaan/ ide
7 7,7
Menulis yang relevan dengan KBM
8 6,7
Merangkum pembelajaran
9 10,8
Mengerjakan tes evaluasi

Berdasarkan tabel 4, tampak bahwa aktifitas guru yang paling dominan pada
siklus II adalah membimbing dan mengamati siswa dalam menentukan konsep
yaitu 25%. Jika dibandingkan dengan siklus I, aktivitas ini mengalami
peningkatan. Aktivitas guru yang mengalami penurunan adalah memberi umpan
balik/evaluasi/ Tanya jawab (16,6%), mnjelaskan materi yang sulit (11,7).
Meminta siswa mendiskusikan dan menyajikan hasil kegiatan (8,2%), dan
membimbing siswa merangkum pelajaran (6,7%).
Sedangkan untuk aktivitas siswa yang paling dominan pada siklus II adalah
bekerja dengan sesama anggota kelompok yaitu (21%). Jika dibandingkan dengan
siklus I, aktifitas ini mengalami peningkatan. Aktifitas siswa yang mengalami
penurunan adalah mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru (17,9%).
Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru (13,8%), menulis yang relevan
dengan KBM (7,7%) dan merangkum pembelajaran (6,7%). Adapun aktifitas siswa
yang mengalami peningkatan adalah membaca buku (12,1%), menyajikan hasil

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 145


pembelajaran (4,6%), menanggapi/mengajukan pertanyaan/ide (5,4%), dan
mengerjakan tes evaluasi (10,8%).

Table 5 Nilai Tes Formatif Pada Siklus II


No. Keterangan No. Keterangan
Skor Skor
Absent T TT Absent T T
1 70 √ 16 60 √
2 70 √ 17 100 √
3 100 √ 18 80 √
4 80 √ 19 70 √
5 80 √ 20 50 √
6 70 √ 21 80 √
7 60 √ 22 80 √
8 50 √ 23 80 √
9 80 √ 24 90 √
10 70 √ 25 50 √
11 100 √ 26 70 √
12 80 √ 27 80 √
13 90 √ 28 90 √
14 70 √ 29 90 √
15 60 √ 30 80 √
Jumlah 1.130 12 3 1.150 12 3
Jumlah Skor = 2280
Jumlah Skor Maksimal Ideal 3000
Rata-Rata Skor Tercapai 76,00

Keterangan: T : Tuntas
TT : Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas : 24
Jumlah siswa yang belum tuntas :6
Klasikal : Belum tuntas

Tabel 6 Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus II


No Uraian Hasil Siklus II
1 Nilai rata-rata tes formatif 73,33
2 Jumlah siswa yang tuntas belajar 16
3 Persentase ketuntasan belajar 76,19

Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 73,33% dan
ketuntasan belajar mencapai 76,19% atau ada 16 siswa dari 30 siswa sudah tuntas
belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara
klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya
peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa
setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan
berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah
mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menerapkan
metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw.

Refleksi

146 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan
sebagai berikut:
1) Memotivasi siswa
2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep
3) Pengelolaan waktu.

Revisi Rancangan
Pelaksanaan kegiatan belajar pada siklus II ini masih terdapat kekurangan-
kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklus II
antara lain:
1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapat membuat siswa lebih
termotivasi selama proses belajar mengajar berlangsung.
2) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehingga tidak ada perasaan takut
dalam diri siswa baik untuk mengemukakan pendapat atau bertanya.
3) Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa merumuskan
kesimpulan/menemukan konsep.
4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baik sehingga kegiatan
pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contoh soal dan memberi soal-soal
latihan pada siswa untuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajar mengajar.

3. Siklus III
Hasil pengamatan aktifitas guru dan siswa pada siklus III adalah sebagai berikut:

Tabel 7 Aktivitas Guru dan Siswa Pada Siklus III


No Aktivitas Guru yang diamati Presentase
Menyampaikan tujuan
1 Memotivasi siswa 6,7
2 Mengkaitkan dengan pelajaran sebelumnya 6,7
3 Menyampaikan materi/ langkah-langkah/ strategi 10,7
4 Menjelaskan materi yang sulit 13,3
5 Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan 10,0
6 konsep 22,6
7 Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil 10,0
8 kegiatan 11,7
9 Memberikan umpan balik 10,0
Membimbing siswa merangkum pelajaran
No Aktivitas siswa yang diamati Presentase
1 Mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru 20,8
2 Membaca buku 13,1
3 Bekerja dengan sesama anggota kelompok 22,1
4 Diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru 15,0
5 Menyajikan hasil pembelajaran 2,9
6 Menyajikan/ menanggapi pertanyaan/ ide 4,2
7 Menulis yang relevan dengan KBM 6,1
8 Merangkum pembelajaran 7,3
9 Mengerjakan tes evaluasi 8,5

Berdasarkan tabel diatas tampak bahaw aktivitas guru yang paling dominan pada
siklus III adalah membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep
yaitu 22,6%, sedangkan aktivitas menjelaskan materi yang sulit dan memberi

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 147


umpan balik/evaluasi/tanya jawab menurun masing-masing sebesar (10%), dan
(11,7%). Aktivitas lain yang mengalami peningkatan adalah mengkaitkan dengan
pelajaran sebelumnya (10%), menyampiakan materi/strategi /langkah-langkah
(13,3%), meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan (10%), dan
membimbing siswa merangkum pelajaran (10%). Adapun aktivitas ynag tidak
menglami perubahan adalah menyampaikan tujuan (6,7%) dan memotivasi siswa
(6,7%).
Sedangkan untuk aktivitas siswa yang paling dominan pada siklus III adalah
bekerja dengan sesama anggota kelompok yaitu (22,1%) dan
mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru (20,8%), aktivitas yang
mengalami peningkatan adalah membaca buku siswa (13,1%) dan diskusi antar
siswa/antara siswa dengan guru (15,0%). Sedangkan aktivitas yang lainnya
mengalami penurunan.
Table 8 Nilai Tes Formatif Pada Siklus III
No. Keterangan No. Keterangan
Skor Skor
Absent T TT Absent T T
1 80 √ 16 90 √
2 80 √ 17 100 √
3 100 √ 18 90 √
4 90 √ 19 90 √
5 90 √ 20 90 √
6 90 √ 21 100 √
7 90 √ 22 90 √
8 60 √ 23 90 √
9 90 √ 24 100 √
10 90 √ 25 80 √
11 90 √ 26 90 √
12 80 √ 27 100 √
13 90 √ 28 90 √
14 80 √ 29 100 √
15 60 √ 30 60 √
Jumlah 1.260 13 2 1.360 14 1
Jumlah Skor = 2.620
Jumlah Skor Maksimal Ideal =3000
Rata-Rata Skor Tercapai 87,33

Keterangan: T : Tuntas
TT : Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas : 27
Jumlah siswa yang belum tuntas :3
Klasikal : Tuntas

Tabel 9 Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus III


No Uraian Hasil Siklus III
1 Nilai rata-rata tes formatif 87,33
2 Jumlah siswa yang tuntas belajar 27
3 Persentase ketuntasan belajar 87,33

148 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 87,33 dan
dari 30 siswa yang telah tuntas sebanyak 27 siswa dan 3 siswa belum mencapai
ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai
sebesar 87,33% (termasuk kategori tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami
peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada
siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam
menerapkan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw menjadikan siswa
menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih
mudah dalam memahami materi yang telah diberikan.

Refleksi
Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang
masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan metode
pembelajaran kooperatif model Jigsaw. Dari data-data yang telah diperoleh dapat
duraikan sebagai berikut:
1) Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran
dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi
persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar.
2) Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses
belajar berlangsung.
3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan
peningkatan sehingga menjadi lebih baik.
4) Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan.

Revisi Pelaksanaan
Pada siklus III guru telah menerapkan metode pembelajaran kooperatif model
Jigsaw dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa
pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak
diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan
selanjutnya adalah memaksimalkan dan mepertahankan apa yang telah ada
dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya
penerapan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat meningkatkan
proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Pembahasan
1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa
Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran kooperatif
model Jigsaw memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar
siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap
materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari sklus I, II, dan
III) yaitu masing-masing 66,67%, 76,19%, dan 85,71%. Pada siklus III ketuntasan
belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 149


Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses metode
pembelajaran kooperatif model Jigsaw dalam setiap siklus mengalami
peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu
dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus
yang terus mengalami peningkatan.

3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran


Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
matematika pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel dengan metode
pembelajaran kooperatif model Jigsaw yang paling dominan adalah
mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara
siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat
dikategorikan aktif. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah
melaksanakan langkah-langkah metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw
dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya
aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan
LKS/menemukan konsep, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya
jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.

KESIMPULAN
Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan
berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Pembelajaran dengan kooperatif model Jigsaw memiliki dampak positif dalam
meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan
ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (55,33%), siklus II
(76,19%), siklus III (87,33%).
2. Penerapan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw mempunyai pengaruh
positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan
wawancara dengan beberapa siswa, rata-rata jawaban siswa menyatakan bahwa
mereka tertarik dan berminat dengan metode pembelajaran kooperatif model
Jigsaw sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar.

SARAN
Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar
mengajar matematika lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi
siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut:
1. Untuk melaksanakan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw memerlukan
persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau
memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan metode pembelajaran
kooperatif model Jigsaw dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil
yang optimal.
2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering
melatih siswa dengan berbagai metode pembelajaran, walau dalam taraf yang
sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru,
memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu
memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.

150 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)


3. Untuk penelitian yang serupa hendaknya dilakukan perbaikan-perbaikan agar
diperoleh hasil yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algesindon.

Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineksa


Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:


Rineksa Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Dahar, R.W. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Hadi, Sutrisno. 1981. Metodogi Research. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi


Universitas Gajah Mada. Yoyakarta.

Hamalik, Oemar. 1994. Media Pendidikan. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang: IKIP Malang.

Kemmis, S. dan Mc. Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Victoria Dearcin
University Press.

Soetomo. 1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya Usaha Nasional.

Sudjana, N dan Ibrahim. 1989. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar
Baru.

Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 151


152 (BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012)
(BORNEO, Vol. VI, No. 1, Juni 2012) 153

Anda mungkin juga menyukai