LAPORAN AWAL PRAKTIKUM GEOLOGI FISIK
BATUAN METAMORF
Disusun Oleh
Nama : Raden Syafiq Tysoni Natadisastra
NPM : 140710220048
Kelompok :5
Nama Asisten : Andhika Nugraha
LABORATORIUM GEOFISIKA
DEPARTEMEN GEOFISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2022
MODUL III
BATUAN METAMORF
RABU, 21 SEPTEMBER 2022
I. Tujuan Praktikum
1.1. Praktikan mampu mengetahui pengertian dan cara pembentukan batuan
metamorf
1.2. Praktikan mampu mengetahui jenis - jenis batuan metamorf
1.3. Praktikan mampu mengidentifikasi batuan metamorf
II. Alat dan fungsi
2.1. Komparator Batuan
Sebagai alat peninjau dalam kegiatan praktikum.
2.2. Kertas HVS
Sebagai media dalam melakukan praktikum.
2.3. Alat Tulis
Berfungsi sebagai alat bantu pengukuran saat praktikum
III. Teori Dasar
3.1. Pengertian batu metamorf
Metamorf diambil dari Bahasa Yunani “metamorfosa” dari kata “meta”
dan “morph” yang berarti berubah bentuk. Dengan demikian, batu metamorf
merupakan batuan beku, sedimen, dan metamorf yang mengalami perubahan
bentuk, perubahan bentuk tersebut disebabkan oleh beberapa faktor Temperatur
(T) dan Tekanan (P), Kedalaman (D), dan Tekanan Diferensial(gaya tektonik
yang berakibat batuan mengalami tekanan (kompresi)).
3.2. Proses Pembentukan batu metamorf
Batu Metamorf merupakan batuan ubahan yang pada awalnya
merupakan batuan beku, batuan sedimen bahkan batuan metamorf sendiri dengan
bantuan agen Temperatur (T), dan Tekanan (P).
Pada awalnya batu induk(dapat berupa batuan beku, sedimen, maupun
metamorf) mendapat Tekanan dapat berupa dalam bentuk pergerakan
sesar/patahan maupun tertimbun oleh lapisan tanah lainnya. Batuan induk itu pun
mulai mendapatkan kenaikan temperatur karena perbedaan kedalaman tanah
maupun pergerakan sesar/patahan, hingga akhirnya terbentuk batuan metamorf
baru.
Gambar 1. Hubungan Antara Temperatur, Tekanan, dan Kedalaman
(Sumber: Djauhari Noor, 2012)
3.3. Struktur batuan metamorf
Terdapat 4 jenis struktur batuan metamorf, yaitu :
3.3.1. Slate
Pada umumnya bentuk batuan metamorf ini bagaikan serpihan,
dikarenakan lembaran-lembaran silikatnya membentuk garis/sejajar.
Batuan metamorf ini merupakan metamorf rendah.
Gambar 2. Batu Sabak (Slate) (kiri) dan sayatan tipis batu sabak yang
memperlihatkan tekstur “Slatey Cleavage” yang terbentuk dari adanya
orientasi lembaran mineral mineral silikat akibat Tekanan
Diferensial
(Sumber: Djauhari Noor, 2012 )
3.3.2. Schist
Pada umumnya batuan metamorf jenis memiliki bentuk yang
tidak beraturan atau sesuai Namanya “Schistosity”. Umumnya lembaran-
lembaran silikatnya terbentuk biotite dan muscovite. Ukuran dari
butiran-butiran mineral cenderung akan menjadi besar dengan
meningkatnya derajat metamorfosa.
Gambar 3. Batuan Schist (kiri) dan sayatan tipis batuan Schist yang
memperlihatkan tekstur “schistosity” dengan orientasi mineral
mineral silikat (biotite dan muscovit) yang berarah tegak lurus
dengan tekanan diferensial maksimalnya (kanan).
(Sumber: Djauhari Noor, 2009)
3.3.3. Gneiss
Pada struktu satu ini terlihat lembaran-lembaran dari mineral
silikat menjadi tidak stabil dan mineral-mineral berwarna gelap seperti
hornblende dan pyroxene mulai tumbuh, seiring dengan naiknya derajat
metamorfosa. Mineral-mineral berwarna gelap ini cenderung akan
memisahkan diri menjadi kelompok dan sering disebut “Gneissic
Banding”.
Gambar 4. Batuan Gneiss (kiri) dan sayatan tipis batuan
Gneiss yang memperlihatkan tekstur “Gneissic Banding” antara
mineral-mineral berwarna gelap dengan Feldspar dan Kuarsa (kanan).
Arah orientasi gneissic banding tegak lurus dengan tekanan diferensial
maksimalnya.
(Sumber: Djauhari Noor, 2009)
3.3.4. Granulites
Pada struktur batuan metamorf ini keseluruhan mineral-mineral
hydrous dan lembaran mineral silikat menjadi tidak stabil dan hanya
beberapa mineral hadir yang memperlihatkan orientasi. Batuan yang
dihasilkan dari proses metamorfosa derajat tinggi ini akan memiliki
tekstur granulitic yang mirip dengan tekstur phaneric dalam batuan beku.
Gambar 5. Sampel Batuan Metamorf “Granulite” (kiri) dan
Sayatan tipis tekstur “Porphyroblastic” pada batuan Granulite (kanan)
(Sumber: Djauhari Noor, 2009)
3.4. Tekstur batuan metamorf
Tekstur batuan metamorf ditentukan oleh 2 hal, yaitu :
3.4.1. Bentuk Kristal Mineral
Bentukan kristal batuan metamorf terdapat 6 jenis, yaitu :
Gambar 6. Bentuk Kristal batuan metamorf
(Sumber: Denny H Saputra, 2016)
3.4.2. Hubungan antar butiran mineral
Seberapa baik hubungan dari antar butiran mineral ada yang
Baik, Sedang dan Buruk.
3.4.3. Meningkatnya ukuran besar butir.
Selama proses progressive metamorfosa atau pada
derajat metamorfosa tertentu dalam perioda waktu yang cukup
lama, mineral-mineral cenderung akan bertambah besar
ukurannya.
3.4.4. Foliasi.
Dengan semakin meningkatnya pembentukan mineral
pipih (slaty) maka mineral-mineral ini akan berorientasi dan
mengarah kearah tegak lurus dari arah tekanan maksimal.
Mineral mineral lempung dan mica halus akan membentuk
tekstur slaty cleavage. Pada batuan yang berderajat leih tinggi,
butiran butiran mineral mica akan membentuk tekstur
sekistositi.
3.4.5. Gneissic Banding.
Pada batuan berderajat tinggi, mineral-mineral Mg-Fe
(biotite, amphibole, pyroxene, sillimanite) cenderung akan
memisahkan diri dari mineral-mineral yang berwarna lebih
terang (feldspar dan kuarsa) menghasilkan tekstur Banding
pada batuan.
3.4.6. Tekstur Porphyroblastic.
Ketika beberapa mineral-mineral metamorf baru mulai
terbentuk, dimana pertumbuhannya membentuk bentuk kristal
yang sempurna yang berada diantara matriknya. Kristal tersebut
dinamakan sebagai porphyroblasts dan umumnya dijumpai
sebagai mineral garnet, sillimanite, dan alkali feldspar.
3.4.7. Tekstur Granoblastik.
Tekstur ini terbentuk pada metamorfosa kontak yang
mengalami kenaikan temperatur yang cukup lama, batuan akan
berkembang dengan tekstur yang sangat granular. Batuan ini
dikenal dengan Hornfels.
3.5. Klasifikasi Batuan metamorf
Klasifikasi Batuan Metamorf dibagi menjadi 2 yaitu :
3.5.1. Lokal
Jenis batuan metamorf ini hanya tersebar di wilayah kecil yaitu
beberapa kilometer saja
[Link]. Metamorfosa Kontak/Heat
adalah metamorfosa yang terjadi didekat intrusi
magma yang besar. Metamorfosa kontak biasanya dikenal
sebagai metamorfosa yang bertekanan rendah dan temperatur
tinggi dan batuan yang dihasilkan seringkali batuan berbutir
halus tanpa foliasi dan dikenal sebagai hornfels.
[Link]. Metamorfosa Kataklastik
adalah metamorfosa yang diakibatkan oleh deformasi
mekanis, seperti yang terjadi pada dua blok batuan yang
mengalami pergeseran satu dan lainnya disepanjang suatu zona
sesar / patahan. Terdapat 2 jenis tekanan yang bekerja
hidrostastis, yang mencakup ke segala arah; dan stress, yang
mencakup satu arah saja.
3.5.2. Regional
Jenis batuan metamorf ini tersebar dalam wilayah yang luas.
[Link]. Metamorfosa Regional Dinamotermal
Adalah metamorfosa yang hampir sama seperti
metamorfosa thermal hanya tetapi disini Tekanany yang
bekerjanya lebih besar dari metamorfosa termal yaitu berkisar
antara 2000 – 10.000 bar.
[Link]. Metamorfosa Burial
adalah metamorfosa yang terjadi apabila batuan
sedimen yang tertimbun pada kedalaman/cekungan tertentu
dengan memiliki temperatur berkisar di antara 400-450° C serta
ketiadaannya tekanan diferensial. Mineral utama yang
dihasilkan dalam kondisi tersebut adalah mineral zeolite.
[Link]. Metamorfosa Lantai Samudera
adalah metamorfosa ini terjadi di punggung samudera,
dimana larutan panas/gas memanasi retakan-retakan batuan dan
menyebabkan perubahan mineralogi pada batuan sekitar
3.6 Contoh batuan metamorf
Gambar 7. Berbagai jenis batuan metamorf.
(Sumber: Djauhari Noor, 2009)
IV. Tugas Pendahuluan
1. Gambarkan dan jelaskan siklus batuan!
2. Sebutkan 5 contoh batuan metamorf dan ceritakan pembentukannya!
3. Jelaskan kegunaan batuan metamorf dalam pengaplikasiannya dalam
geofisika!
Jawaban :
1.
Gambar 8. Siklus Batu
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Siklus batuan konsep dasar dari 3 batuan utama, yaitu : Beku, sedimen,
dan metamorf. Batuan Beku, Sedimen, dan Metamorf memiliki sumber awal yaitu
Magma, dimana magma ini mengalami pembekuan baik dibawah permukaan
tanah maupun di atas permukaan tanah. Magma yang membeku ini membentuk
Batuan Beku, dari sini batuan beku dapat menjadi batuan metamorf maupun
sedimen.
Batu Beku mengalami pengikikisan, transportasi, pengendapan, dan
pemadatan untuk menjadi batu sedimen. Dari batuan Beku dan Batuan sedimen
jika diberikan suhu dan tekanan maka akan mengalami perubahan menjadi batuan
metamorf(ubahan). Bila metamorf menerima suhu yang lebih tinggi lagi, maka
akan mengalami pelelehan dan kembali menjadi magma.
2.
1. Batu Sabak(Slate), Batu serpih atau batu lumpur terjebak di dalam
cekungan, kekuatan tekanan maupun panas akan mengenai batuan tersebut
dan kemudian merubah mineral-mineral lempung pada serpih dan batu
lumpur tersebut. Selanjutnya akibat tekanan terus menerus, tekstur foliasi
akan berkembang membentuk sudut siku-siku sehingga menghasilkan
foliasi vertikal, dan menghasilkan batu sabak.
2. Batu Gneiss, Batuan beku menerima Suhu dan Tekanan tinggi dan
kemudian menjadi batu Gneiss.
3. Batu Pualam atau Marmer, Batu gamping atau batu kapur mengalami
peningkatan temperatur dan peningkatan tekanan yang menghasilkan Batu
Pualam.
4. Batu Kuarsit, Batu Pasir mendapatkan perubahan suhu yang sangat
tinggi sehingga batu pasir berubah menjadi Batu Kuarsit.
5. Batu Filit, Batu sabak dan sekis yang mengalami suhu dan tekanan
tinggi berubah menjadi batu ini
3. Batuan metamorf memiliki berbagai manfaat yang berguna bagi kehidupan
masyarakat, salah satu nya untuk kegeofisikaan
3.1 Sebagai bahan penting dalam eletronik yang membantu di bidang
kegeofisikaan
3.2 Sebagai bahan penyusun meja untuk digunakan dalam kegeofisikaan
3.3 sebagai bahan bangunan untuk kegeofisikaan
Daftar Pustaka
Geologinesia. (2017, Juli 28). Retrieved from Geologinesia Web site:
[Link]
Islami, N. (2017). Fisika Bumi. Riau: Universitas Riau Press.
Noor, D. (2009). Pengantar Geologi. Bogor: Pakuan University Press.
Noor, D. (2012). Pengantar Geologi, Edisi dua. Bogor: Universita Pakuan Press.