0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
142 tayangan40 halaman

Upaya Guru Kenalkan Sekolah pada Anak TK

Proposal skripsi ini membahas upaya guru dalam mengembangkan nilai agama dan moral anak usia dini di TK Darul Ikhlas Sentani. Peneliti menganalisis pengaruh lingkungan sekolah terhadap perkembangan karakter anak, dan bagaimana guru menerapkan pembelajaran untuk membentuk sikap spiritual dan moral anak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui upaya-upaya guru dalam membangun karakter anak sejak usia dini.

Diunggah oleh

Alfiya Syahli
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
142 tayangan40 halaman

Upaya Guru Kenalkan Sekolah pada Anak TK

Proposal skripsi ini membahas upaya guru dalam mengembangkan nilai agama dan moral anak usia dini di TK Darul Ikhlas Sentani. Peneliti menganalisis pengaruh lingkungan sekolah terhadap perkembangan karakter anak, dan bagaimana guru menerapkan pembelajaran untuk membentuk sikap spiritual dan moral anak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui upaya-upaya guru dalam membangun karakter anak sejak usia dini.

Diunggah oleh

Alfiya Syahli
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

UPAYA GURU DALAM MENGEMBANGKAN NILAI AGAMA

DAN MORAL ANAK USIA DINI DI TK DARUL IKHLAS


SENTANI

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana


Pendidikan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Pada
Fakultas Tarbiyah IAIN Fattahul Muluk Papua

Oleh :
Alfiya Syahli Indiyanto
NIM: 019181001

HALAMAN JUDUL

FAKULTAS TARBIYAH
IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
2023
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Proposal Skripsi yang berjudul, “Upaya Guru Dalam Mengembangkan Nilai

Agama dan Moral di TK Darul Ikhlas Sentani”, yang disusun oleh Saudara

Alfiya Syahli Indiyanto, NIM: 019181001, mahasiswa Program Studi Pendidikan

Islam Anak Usia Dini pada Fakultas Tarbiyah IAIN Fattahul Muluk Papua, telah

diuji dan dipertahankan dalam Sidang Ujian Kualifikasi Proposal Skripsi yang

diselenggarakan pada hari Kamis, 13 April 2023 Masehi, bertepatan dengan

tanggal 22 Ramadhan 1444 Hijriah, karenanya dewan penguji memandang bahwa

Proposal Skripsi tersebut telah memenuhi syarat-syarat ilmiah dan dapat disetujui

untuk menempuh Ujian Kualifikasi Hasil Penelitian.

DEWAN PENGUJI:

Ketua : Dr. Suparto Iribaram, [Link]., M.A (…….……………….)

Sekretaris : Debby Riana Hairani, [Link] (…….……………….)

Munaqisy I : Dr. Zulihi, [Link]., [Link] (…….……………….)

Munaqisy II : Maya Sari, S.S, [Link] (…….……………….)

Pembimbing I : Dr. Suparto Iribaram, [Link]., M.A (…….……………….)

Pembimbing II: Debby Riana Hairani, [Link] (…….……………….)

Jayapura, 17 April 2022


Diketahui oleh:
Dekan Fakultas Tarbiyah
IAIN Fattahul Muluk Papua,

Dr. Zulihi, [Link]., [Link].

ii
NIP. 19721231 200604 1 008

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena

atas taufik rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

proposal skripsi dengan judul Upaya Guru dalam Mengembangkan Nilai

Agama dan Moral Anak Usia Dini Di TK Darul Ikhlas Sentani. Sholawat dan

salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta seluruh

keluarga, sahabatnya yang telah menyampaikan petunjuk bagi umat.

Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa proposal skripsi ini dapat

terselesaikan atas bimbingan, nasehat, do’a, dukungan serta partisipasi dari

berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan rasa hormat serta ucapan

banyak terima kasih dan penghargaan kepada:

1. Kepada Allah SWT yang telah memberikan kesehatan dan kemudahan

dalam menyusun proposal skripsi ini sehingga dapat berjalan dengan

lancar.

2. Kedua orang tua saya (Bapak Suyanto dan Ibu Endang Susilowati) yang

dengan ketulusan hati membesarkan, mendidik, merawat, dan senantiasa

mencurahkan segalanya baik tenaga, dukungan maupun iringan do’a yang

tiada putus-putusnya.

3. Adik saya (Alifiya Qari Az Zahra Alfiyanto) dan seluruh keluarga besar

yang tanpa henti memberi semangat, do’a dan dukungan kepada peneliti.

4. Dr. H. Marwan Sileuw, S. Ag. [Link]., selaku Rektor IAIN Fattahul Muluk

Papua.

iii
5. Dr. H Talabudin Umkabu, [Link] selaku Wakil Rektor I, Dr. Amirullah,

[Link] selaku Wakil Rektor II, dan Dr. Suparto Iribaram selaku Wakil

Rektor III.

6. Dr. Zulihi, [Link]., [Link]., Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Fattahul Muluk

Papua, atas segala arahan dalam menyelesaikan proposal skripsi.

7. Dr. A. Arif Rofiki, [Link].I., selaku Wakil Dekan I dan Sigit Purwaka,

[Link] selaku Wakil Dekan II Fakultas Tarbiyah IAIN Fattahul Muluk

Papua.

8. Debby Riana Hairani, [Link]., selaku Ketua Program Studi dan Maya Sari,

S.S, [Link]., selaku Sekertaris Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia

Dini (PIAUD) yang telah mengarahkan peneliti dalam penyelesaian

proposal skripsi.

9. Dr. Suparto Iribaram, [Link].,M.A., selaku dosen pembimbing I, yang

dalam penyusunan proposal skripsi ini, telah banyak memberikan

bimbingan, dukungan, saran, kritik dan koreksi dalam penulisan proposal

skripsi ini.

10. Debby Riana Hairani, [Link]., selaku dosen Pembimbing II, yang dalam

penyusunan proposal skripsi ini, telah banyak memberikan bimbingan,

dukungan, saran, kritik dan koreksi dalam penulisan proposal skripsi ini.

11. Para dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Fattahul Muluk Papua, yang telah

memberikan kontribusi pemikiran dan pecerahan wawasan keilmuan,

sehingga dapat membuka cakrawala pengetahuan peneliti selama

menempuh studi di Fakultas Tarbiyah IAIN Fattahul Muluk Papua.

iv
12. Kepala perpustakaan IAIN Fattahul Muluk Papua, dan segenap karyawan,

atas pelayanannya selama peneliti menempuh studi dan menjadi anggota

perpustakaan.

13. Teman-teman seperjuangan di Pendidikan Islam Anak Usia Dini angkatan

2019. Terimakasih atas kebersamaan, semangat dan kerjasamanya selama

ini.

14. Kepada semua pihak-pihak yang telah mendukung dan membantu selama

perkuliahan dan penyusunan proposal skripsi ini yang tidak dapat

disebutkan satu persatu.

Atas bantuan dan kerja samanya semua pihak dalam membantu

memudahkan penyusunan atau pembuatan proposal skripsi ini dari pihak peneliti

mengucapkan banyak terimakasi semoga amal perbuatan atau kebaikan mendapat

ridho Allah SWT. Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih kurang

sempurna. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran dari berbagai

pihak demi kesempurnaan skripsi ini. Mudah-mudahan proposal skripsi ini dapat

bermanfaat. Aamiin

Jayapura, 05 April 2023

Peneliti

Alfiya Syahli Indiyanto


NIM 019181001

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................................................ii
KATA PENGANTAR..........................................................................................iii
DAFTAR ISI..........................................................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah................................................................................1
B. Rumusan Masalah.........................................................................................8
C. Kajian Pustaka...............................................................................................9
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian................................................................12
BAB II LANDASAN TEORI.............................................................................14
A. Teori perilaku (Behaviorisme Theory)........................................................14
B. Kerangka Konseptual..................................................................................15
C. Kerangka Berpikir.......................................................................................20
D. Konsep pendidikan......................................................................................22
BAB III METODE PENELITIAN....................................................................24
A. Jenis dan Lokasi Penelitian.........................................................................24
B. Sumber Data................................................................................................25
C. Metode Pengumpulan Data.........................................................................26
D. Instrumen....................................................................................................29
E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data........................................................30
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................32

vi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Anak usia dini (early childhood) merupakan anak yang berada pada usia

nol sampai dengan delapan tahun.1 Pada masa tersebut merupakan proses

pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek dalam rentang kehidupan

manusia. Proses pembelajaran terhadap anak harus memperhatikan karakteristik

yang dimiliki dalam tahap perkembangan anak. Lingkungan merupakan tempat

yang memberikan pengaruh besar bagi anak, baik dari segi moral, agama, maupun

lainnya. Lingkungan ini pula yang akan memberikan pengaruh bagaimana tabiat

atau karakter anak saat berinteraksi dengan individu lain yang ditemuinya.

Berdasarkan realita yang diamati oleh peneliti sejak bulan september –

desember 2022 lalu, di Taman Kanak-kanak (TK) Darul Ikhlas Sentani. Peneliti

menemukan bahwa perkembangan nilai agama dan moral anak di sekolah

sangatlah ditekankan. Tentunya hal ini bukanlah tanpa sebab, sekolah yang

terletak di Pasar lama Sentani tepatnya di Jalan Mambruk, Kelurahan Hinekombe,

Kabupaten Jayapura ini terdiri dari 130 peserta didik yang memiliki berbagai latar

belakang keluarga dan lingkungan. Latar belakang yang berbeda, tentunya

membawa pengaruh yang berbeda bagi anak. Anak-anak yang bersekolah di TK

Darul Ikhlas Sentani, rata-rata tinggal di wilayah pemukiman padat penduduk.

Sehingga hal ini banyak memberikan pengaruh bagi anak dalam masa

1
Susanto Ahmad, Pendidikan Anak Usia Dini (Konsep Dan Teori), ed. suryani, 1st ed.
(Jakarta: PT Bumi Aksara, 2017), h. 1

1
2

pertumbuhan dan perkembangannya, anak menyerap apapun yang mereka terima

dari lingkungannya, baik itu pengaruh positif maupun negatif. Namun, sangat

disayangkan karna banyaknya pengaruh negatif yang terlihat dari perilaku anak-

anak di TK Darul Ikhlas Sentani. Peneliti menemukan bahwa di TK Darul Ikhlas

Sentani banyak anak yang memiliki kebiasaan berperilaku kurang sopan bahkan

bertutur kata yang tidak baik. Selain itu peneliti juga menemukan bahwa

pengetahuan terkait keagamaan anak-anak masih sangat kurang, beberapa anak

bahkan sama sekali belum mengenal huruf hijaiyah ataupun melafalkan doa-doa

yang diucapkan sehari-hari. Hal ini membuktikan bahwa perlunya ditekankan

pengembangan nilai agama dan moral bagi anak usia dini.

Berbagai upaya dilakukan oleh guru agar pembelajaran di sekolah yang

berlangsung selama kurang lebih 4 jam dapat mengoptimalkan berbagai aspek

perkembangan anak, terkhusus pada pengembangan nilai agama dan moral anak.

Mulai dari perencanaan pembelajaran, hingga menyediakan media pembelajaran

yang sesuai bagi anak, dengan harapan aspek-aspek perkembangan anak dapat

terstimulus dengan optimal. Upaya yang telah dilakukan guru di TK Darul Ikhlas

Sentani ialah dengan menerapkan pembelajaran yang berlandaskan nilai-nilai

Islami dalam kegiatan sehari-hari, seperti mengajarkan tata cara beribadah dalam

agama Islam, mengenalkan dan megajak anak untuk mengamalkan doa serta

hadist yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari, menyelenggarakan kegiatan

peringatan hari besar Islam, memberikan contoh berperilaku dan bersikap baik

sesuai kaidah, serta senantiasa memberikan nasihat dengan penyampaian yang

menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak. Selain itu, guru-guru di TK Darul
3

Ikhlas Sentani juga berupaya mengembangkan nilai agama dan moral anak

melalui kerja sama dengan wali murid untuk dapat terus memantau perkembangan

nilai agama dan moral anak serta aspek perkambangan anak yang lainnya.

Proses belajar mengajar yang singkat tersebut tentunya tidak

memungkinkan guru untuk terus melakukan pengawasan guna mengembangkan

aspek nilai agama dan moral anak. Setelah usai proses belajar mengajar di

sekolah, tentunya pengawasan dan tanggung jawab anak sepenuhnya kembali

kepada orang tuanya masing-masing. Namun, tentunya guru telah menilai

bagaimana proses anak dalam mengembangkan nilai agama dan moralnya di

sekolah dengan indikator-indikator tertentu melalui pengawasan pribadi guru.

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti, di TK Darul

Ikhlas Sentani terdapat indikator-indikator yang menentukan perkembangan anak.

Berdasarkan data pribadi guru, rata-rata kemampuan dalam aspek nilai agama dan

moral anak sudah berkembang sesuai harapan (BSH). Dimana perkembangan nilai

agama dan moral anak sudah sesuai dengan indikator yang diharapkan, serta anak

sudah dapat melakukan hal-hal sederhanya yang mencerminkan adanya

perkembangan aspek nilai agama dan moral. Namun, tidak menutup kemungkinan

bahwa terdapat pula anak yang aspek nilai agama dan moralnya belum

berkembang (BB) dan ada pula yang dikategorikan mulai berkembang (MB).

Sehingga guru menekankan kepada orang tua untuk lebih baik lagi memberi

dukungan pada anak agar perkembangan nilai agama dan moral sang anak dapat

berkembang sesuai dengan yang diharapkan.


4

Dalam hal pendidikan tentunya harus ditanamkan sedini mungkin,

pendidikan tauhid merupakan pendidikan yang utama dan berpengaruh terhadap

bagaimana anak akan berpikir dan bertindak kedepannya. Tentunya pendidikan

yang telah diberikan pada anak sedini mungkin akan memberikan pengaruh yang

besar terhadap dirinya dikemudian hari nanti. Pendidikan Anak Usia Dini

(PAUD) merupakan pendidikan yang diberikan pada anak sebelum memasuki

jenjang pendidikan dasar. Pada jenjang pendidikan PAUD inilah proses

pengembangan kemampuan diri anak dioptimalkan, anak diberikan kebebasan

untuk berekspresi dan berkreasi guna mengembangkan kemampuan dirinya.

Sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional pada penjelasan BAB I pasal 1 ayat 14

bahwa:

Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan
kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan
melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan
dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam
memasuki pendidikan yang lebih lanjut.2

Dalam kitab suci Al-qur’an telah dijelaskan keutamaan menuntut ilmu

sejak usia dini, sesuai dengan firman Allah dalam Al-qur’an surah An-Nahl ayat

78 yang berbunyi :

ۢ
‫ص َار‬ َّ ‫َوال ٰلّهُ اَ ْخَر َج ُك ْم ِّم ْن بُطُْو ِن اَُّم ٰهتِ ُك ْم اَل َت ْعلَ ُم ْو َن َشْيـًٔ ۙا َّو َج َع َل لَ ُك ُم‬
َ ْ‫الس ْم َع َوااْل َب‬
٨٧( ٨٧ )َ ‫َوااْل َفِْٕـ َد َة لَ َعلَّ ُك ْم تَ ْش ُك ُر ْون‬

2
Republik Indonesia, Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional, n.d. Bab I, Pasal 1.
5

Terjemahan:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.S An-Nahl : 78)3

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ketika manusia dilahirkan tidak mengetahui

apa-apa kemudian Allah memberikan panca indra untuk dapat dimanfaatkan guna

mendapatkan pengetahuan dan ilmu. Itu sebagai isyarat pada permulaan ilmu

pengetahuan yang dianugerahkan Allah kepada manusia, yaitu berupa panca

indra. Dan yang berperan didalamnya adalah pendengaran dan penglihatan,

kemudian dari sinilah kegiatan berpikir dimulai dengan menggunakan akal.

Dengan demikian, Allah memberi hambanya panca indra untuk merubah dengan

menggunakan sarana panca indra itu dari bodoh (tidak mengetahui) menjadi

mengetahui, maka Allah menjadikan untuk hambanya pendengaran untuk

mendengarkan nash-nash ayat Al-Qur’an, dan hadist (dalil-dalil yang dapat

didengar yang menjelaskan mengenai perintah agama dan berbagai jenis

makhluknya), maka itu menunjukkan tanda-tanda ke-Esaan Allah, menjadikan

penglihatan untuk melihat keajaiban ciptaanNya dan keunikan makhluk-

makhlukNya sebagai bukti keesaan-Nya.4

Ayat diatas menjelaskan bahwa saat manusia atau seorang anak dilahirkan

pada fitrahnya memiliki potensi (pendengaran, pengelihatan dan hati). Dengan

potensi itulah mereka dapat belajar dari lingkungan, alam dan masyarakat tempat

mereka tinggal Dengan potensi itulah mereka dapat belajar dari lingkungan, alam

3
Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an Terjemah (Jakarta: Wali, 2006), h. 275

4
Amarodin, “Tela’ah Tafsir Qs. An-Nahl Ayat 78 Dan Analisisnya,” PERSPEKTIF:
Jurnal Program Studi Pendidikan Agama Islam 14, no. 2 (2021), h. 10.
6

dan masyaradengan harapan kelak mereka akan menjadi manusia yang lebih

baik.5

Mendidik anak usia dini tentunya akan berbeda dengan mendidik anak usia

remaja maupun dewasa. Diperlukan strategi dan pendekatan yang lebih mendalam

serta disesuaikan dengan kebutuhan anak. Guru akan menjadi pengamat, menjadi

model atau contoh bagi anak, dan guru pula yang akan melakukan observasi bagi

perkembangan anak. Sebagai pengamat guru tentunya dapat mengawasi

bagaimana anak berinteraksi dengan teman sebayanya, bagaimana anak

berinteraksi dengan guru lain di sekolah, bahkan benda-benda yang ada sekolah.

Sebagai model, tugas guru ialah memberikan contoh bagaimana berperilaku,

bertingkah dan bertutur yang baik6. Dengan melakukan pengamatan pada anak,

guru tentunya dapat menilai dan mengevaluasi sejauh mana perkembangan anak.

Untuk mengembangkan kemampuan anak, dibutuhkan stimulasi yang tepat

dan sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak. Aspek-aspek

perkembangan yang perlu dicapai anak dijelaskan dalam Peraturan Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 Tentang

Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini menyatakan bahwa:

Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) adalah kriteria


tentang kemampuan yang dicapai anak pada seluruh aspek perkembangan
dan pertumbuhan, mencakup aspek nilai agama dan moral, fisik-motorik,
kognitif, bahasa, sosial emosional, serta seni.7

5
Ismaya, “Upaya Guru Dalam Mengembangkan Nilai-Nilai Moral Anak Usia Dini Di
Kelompok Bermain Puja Kesuma Lampung Selatan.” Universitas Islam Negeri Raden Intan
Lampung, (2022), h.2

6
Erfha Nurrahmawati, “Peranan Guru Dalam Mengembangkan Kognitif Anak Usia
Dini”, Al-Athfaal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini, 1.1 (2018), h 83–99.
7
Permendikbud, Nomor 137 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak
Usia Dini.
7

Untuk mewujudkan Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak

(STPPA) yang meliputi aspek nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif,

bahasa, sosial emosional, dan seni seorang guru pendidikan anak usia dini harus

memiliki strategi pembelajaran yang tepat agar kemampuan anak dapat

berkembang secara optimal.

Aspek pengembangan nilai agama dan moral merupakan salah satu aspek

yang dapat dioptimalkan guru dengan memberikan contoh dan melakukan

pengamatan pada anak. Menurut Piaget, hakikat moral ialah kecenderungan

menerima dan menaati sistem peraturan. Selanjutnya ada pendapat lain seperti

yang dikatakan oleh Kohlberg yang mengemukakan bahwa aspek moral adalah

sesuatu yang tidak dibawa dari lahir tetapi sesuatu yang dikembangkan dan dapat

dipelajarai. Perkembangan moral merupakan proses internalisasi nilai atau norma

masyarakat sesuai dengan kematangan seeorang dalam menyesuaikan diri

terhadap aturan yang berlaku dalam kehidupanya.8

Menurut J. Buul, perkembangan moral dibagi menjadi empat yaitu : 1)

Tahap Anomi. Ketidakmampuan moral bayi, moral bayi barulah suatu potensi

yang siap dikembangan dalam lingkungan. Artinya bayi lahir dalam keadaan

fitrah (mempunyai potensi yang selalu siap untuk dikembangkan. Jadi tergantung

yang mau memberi warna kehidupan, sikap, perilaku, moral yang akan

ditanamkan sejak dini pada dirinya. 2) Tahap Heteromoni. Moral yang potensial

dipacu berkembang dengan bantuan orang lain atau otoritas melalui aturan atau

kedisiplinan. Artinya dengan bantuan orang lain baik keluarga maupun

8
Mursid, Belajar dan Pembelajaran PAUD, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2018),
h.76.
8

lingkungan itu yang akan memacu perkembangan moralnya. 3) Tahapan

Sosionami. Moral berkembang dalam masyarakat. Mereka lebih menaati

peraturan kelompok daripada yang bersifat otoritas. 4) Tahapan Otonomi.

Tahapan ini mengenai moral yang mengisi dan mengendalikan kata hatinya

sendiri serta kemampuan bebasnya untuk berprilaku tanpa campur tangan orang

lain atau lingkungannya.9

Melihat kenyataan di atas, maka Peneliti ingin mengetahui upaya yang

tepat dilakukan oleh guru dalam mengembangkan nilai agama dan moral anak,

sehingga perkembangan agama dan moral anak dapat Berkembang Sesuai

Harapan (BSH). Karena upaya-upaya yang dilakukan guru merupakan unsur

penting guna mencapai tujuan pembelajaran dan tercapainya Standar Tingkat

Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA). Sehingga Peneliti berkeinginan

mengangkat judul penelitian tentang “Upaya Guru Dalam Mengembangkan

Nilai Agama dan Moral Anak Usia Dini di TK Darul Ikhlas Sentani”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, permasalahan yang akan dikaji

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana upaya guru dalam mengembangkan nilai agama dan moral

anak usia dini di TK Darul Ikhlas Sentani ?

2. Bagaimana hasil dari penerapan perkembangan nilai agama dan moral

anak usia dini di TK Darul Ikhlas Sentani ?

9
Ibid, h 79-80
9

C. Kajian Pustaka

Perkembangan anak dalam aspek nilai agama dan moral amatlah penting,

tidak hanya pada jenjang pendidikan usia dini, namun juga pada jenjang

pendidikan lain dan lingkungan tempatnya berinteraksi. Pemberian stimulasi yang

tepat bagi anak tentunya sangat membantu proses pengembangan aspek nilai

agama dan moralnya, sehingga aktivitas anak sehari-hari dapat berjalan dengan

lebih baik.

Amaliah Husna dan Farida Mayar dalam penelitiannya menjelaskan

bagaimana strategi mengenalkan Asmaul Husna untuk meningkatkan nilai agama

dan moral anak usia dini. Selanjutnya, penelitian ini mengungkapkan beberapa

metode lain yang digunakan untuk mengenalkan Asmaul Husna dan

meningkatkan nilai agama dan moral anak.10 Persamaan penelitiannya yaitu

tentang bagaimana upaya dalam meningkatkan atau mengembangan nilai agama

dan moral anak usia dini. Perbedaannya ialah dalam metode penelitian, yaitu studi

literatur dan deskriptif kualitatif. Amaliah Husna dan Farida Mayar berfokus

bagaimana mengenalkan Asmaul Husna pada anak, sedangkan penelitian ini

hanya berfokus pada bagaimana upaya guru dalam mengembangkan nilai agama

dan moral anak.

Fakhriyatus Shofa Alawiyah dan Laila Masruroh dalam penelitiannya

menjelaskan bahwa, membentuk pengalaman beragama pada anak usia dini

berarti menanamkan akar beragama pada mereka. Dalam penelitian yang

dilakukan di masa pandemi saat itu, upaya yang dilakukan guru untuk

10
A Husna, “Strategi Mengenalkan Asmaul Husna Untuk Menanamkan Nilai Agama Dan
Nilai Moral Pada Anak Usia Dini,” Jurnal Pendidikan Tambusai 5 (2021), h. 9664-9670.
10

mengembangkan nilai agama dan moral ialah dengan kolaborasi antara guru dan

orangtua. Nilai-nilai agama dan moral yang dikembangkan pada anak atau siswa

TK Al-Hidayah di antaranya: mengenal agama yang dianut, mengerjakan ibadah,

berperilaku jujur, penolong (membantu orang tua, menjaga adik), tanggung jawab

(merapikan tempat tidur, mainan), menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Untuk

mengembangkan nilai-nilai tersebut, bentuk kolaborasi yang digunakan guru dan

para orang tua adalah model partnership atau shared responsibilities yaitu model

yang menekankan pada koordinasi dan kerjasama sekolah dan keluarga untuk

mengembangkan komunikasi dan kolaborasi.11 Persamaan penelitian yaitu

membahas tentang upaya guru dalam mengembangkan nilai agama dan moral

anak, dan penelitiannya menggunakan deskriptif kualitatif. Perbedaan penelitian

ialah lokasi penelitiannya, dan penelitian ini dilaksanakan pada masa pandemi.

Selain itu penelitian Fakhriyatus juga menjelaskan mengenai kolaborasi yang

dilakukan oleh pihak sekolah dengan guru.

Amnah dalam penelitiannya menjelaskan bahwa peran guru atau

lingkungan terhadap timbulnya nilai-nilai moral dan agama pada anak usia dini

merupakan suatu hal yang penting. Sikap dan cara guru menerapkan dan

memberikan contoh yang baik sesuai dengan nilai-nilai moral dan agama pada

anak memainkan peranan penting pada pembentukan tingkah laku dan moral

anak.12 Persamaan penelitian yaitu penelitiannya menggunakan deskriptif

kualitatif serta membahas nilai agama dan moral pada anak. Perbedaan penelitian

11
Fakhriyatus Shofa Alawiyah, Laila Masruroh, “Pengembangan Nilai Agama Dan Moral
Pada Masa Pandemi Di TK Al-Hidayah Lumajang,” Genius 1, no. 1 (2020), h. 43–60.
12
Amnah , “Upaya mengembangkan Nilai Agama dan Moral Anak Usia 5-6 Tahun Di TK
Nuruddin ” (2021), h. 1-142.
11

ialah pada lokasi penelitan yang diteliti dan penelitian Amnah berfokus pada

bagaimana guru menyikapi nilai agama dan moral anak, sedangkan penelitian ini

membahas tentang bagaimana usaha atau upaya-upaya yang dilakukan oleh guru

untuk mengembangkan nilai agama dan moral anak.

Fa’ikkah dengan hasil penelitian yaitu: 1). Peran guru sebagai pendidik

dalam mengembangkan nilai agama dan moral anak usia dini di RA Raudatus

Sholihin Sumberjambe, Jember Tahun Pelajaran 2018/2019 dilakukan dengan

memberikan contoh atau teladan yang baik bagi peserta didik yaitu dengan tidak

datang terlambat kesekolah, membiasakan untuk disiplin, menggunakan pakaian

yang sederhana tetapi tetap berwibawa, berkomunikasi dengan bahasa yang baik

dan bahasa madura halus (abesah), mengunjungi dan mendo`akan teman yang

sakit serta berta`ziyah pada anggota keluarga yang meninggal. 2). Peran guru

sebagai Fasilitator dilakukan dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat

mendukung proses pembelajaran berlangsung dengan baik dan kondusif, fasilitas

yang disediakan disesuaikan dengan kebutuhan fisik dan psikis peserta didik

seperti menyediakan buku tilawati, buku cerita, rak sepatu, tempat sampah serta

bangku yang disesuaikan dengan kondisi fisik peserta didik yang mengalami

keterbatasan atau difabel. 3). Peran guru sebagai pembimbing dilakukan dengan

memberikan arahan dan nasehat yang dilakukan dengan metode yang mudah

diserap oleh peserta didik yaitu dengan menceritakan kisah-kisah dengan pesan

moral didalamnya, serta membimbing anak ketika melaksanakan sholat dhuha

yang dilakukan dengan cara bekerjasama sesama guru.13 Persamaan penelitiannya

13
Fa`ikkah, “Upaya Guru dalam Mengembangkan Nilai Agama dan Moral Anak Usia
Dini di Raudhatul Athfal (RA) Raudatus Sholihin Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember”
12

ialah dengan menggunakan penelitian deskriptif kualitatif serta teknik

pengumpulan datanya. Perbedaan penelitiannya ialah pada lokasi penelitian, dan

subyek penelitiannya.

Abdurrahman dalam penelitiannya menyatakan bahwa pembentukan

sikap dan penanaman nilai-nilai dipengaruhi berbagai faktor terutama lingkungan,

yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Artinya, walaupun di sekolah

guru berusaha memberikan contoh yang baik, akan tetapi manakala tidak

didukung oleh lingkungan baik keluarga dan masyarakat, maka penanaman nilai-

nilai dan pembentukan sikap akan sulit dilaksanakan. Oleh karena itu,

pembentukan sikap memerlukan upaya semua pihak, baik lingkungan, sekolah,

masyarakat maupun keluarga. Persamaan penelitian ini ialah pada subyek

penelitiannya, sedangkan perbedaannya ialah pada metode penelitian yakni

metode penelitian.14

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang akan dibahas oleh peneliti, maka

tujuan penelitian yang ingin dicapai oleh peneliti adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui upaya guru dalam mengembangkan nilai agama dan moral

anak usia dini di TK Darul Ikhlas Sentani.

2. Untuk mengetahui hasil penerapan perkembangan nilai agama dan moral

anak usia dini di TK Darul Ikhlas Sentani.

Institut Agama Islam Negeri Jember (2019), h. 65-66


14
Abdurrahman, “Upaya Meningkatkan Perkembangan Nilai Agama dan Moral Melalui
Metode Keteladanan pada Anak Usia Dini” Jurnal Realita Volume 4 Nomor 7 Edisi April 2019
Bimbingan dan Konseling FIP IKIP Mataram, (2019), h. 700-705
13

Adapun kegunaan penelitian yang diharapkan oleh Peneliti dari penelitian

ini adalah sebagai berikut:

1. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan tambahan kajian

mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan agama dan moral

anak usia dini. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi sarana teoritis

mengenai strategi guru dalam mengembangkan kemampuan agama dan moral

anak usia dini.

2. Secara Praktis

a. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengalaman

langsung tentang strategi yang dilakukan oleh guru dalam mengembangkan

motorik halus anak usia dini.

b. Bagi Pendidik

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi sebuah masukan bagi pendidik

untuk melaksanakan strategi dalam mengembangkan kemampuan motorik

halus anak usia dini sehingga kemampuan motorik halus anak dapat

berkembang secara optimal.

c. Bagi Calon Peneliti

Dapat menambah pengetahuan serta wawasan bagi calon peneliti serta

dapat menjadi sumber inspirasi bagi peneliti selanjutnya.


BAB II

LANDASAN TEORI

Perkembangan nilai agama dan moral sangatlah penting bagi anak. Oleh

karena itu, guru harus memberikan stimulasi yang tepat bagi anak agar

perkembangan agama dan moral anak dapat berkembang secara optimal.

Pemberian stimulasi yang tepat bagi anak usia dini, sesuai dengan teori

behaviorisme. Oleh karenanya, Peneliti menjadikan teori behaviorisme sebagai

grand theory yang menjadi dasar landasan penelitian terkait strategi guru dalam

mengembangkan nilai agama dan moral anak.

A. Teori perilaku (Behaviorisme Theory)

Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan

perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi

melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif

(respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah

lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi

penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi

fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan

kecenderungan perilaku S-R (Stimulus-Respon). Teori Behavioristik

mementingkan faktor lingkungan, menekankan pada faktor bagian, menekankan

pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif,

sifatnya mekanis dan mementingkan masa lalu.15

15
Mohammad Anam S and Wasis D Dwiyogo, “Teori Belajar Behavioristik Dan
Implikasinya Dalam Pembelajaran” Universitas Negeri Malang (2019), h. 2.

14
15

Penelitian ini merujuk pada pendekatan behaviorisme sebagai grand

theory. Pencetus pendekatan behaviorisme yaitu John Broades Watson yang

berpendapat bahwa manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang

diterimanya dari lingkungan sekitar. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan

manusia yang buruk, lingkungan yang baik akan meghasilkan manusia yang baik.

Oleh sebab itu, Teori relevan ini menjadi dasar penelitian perkembangan nilai

agama dan moral anak.

B. Kerangka Konseptual

1. Upaya Guru Dalam Mengembangkan Nilai Agama dan Moral Anak

Dalam mengembangkan kemampuan nilai-nilai moral, diperlukan cara dan

stimulasi yang tepat dan menyenangkan dari seorang guru. Guru terbaik bagi anak

usia dini melakukan dan mengembangkan pembelajaran yang berkelanjutan sebab

guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,

membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik

pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar, dan pendidikan

menengah.16 Sehingga dapat dilihat bahwa, peran guru sangatlah penting bagi

anak usia dini, karena pendidikan anak usia dini merupakan awal dari

pembentukan karakter dan perilaku anak. Tidak berhenti pada jenjang pendidikan

anak usia dini, guru juga memiliki peran yang sangat penting pada jenjang

pendidikan selanjutnya, guru memiliki peran penting untuk terus membimbing

dan mengarahkan siswanya dengan sebaik mungkin.

16
Andi Fitriana Djollong, "Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Penanaman
Nilai-Nilai Toleransi antara Ummat Beragama Peserta Didik untuk Mewujudkan Kerukunan",
Jurnal Al-Ibrah, Volume VIII Nomor 01 (2019), h. 76.
16

Beberapa progam yang dapat diterapkan di Taman Kanak-Kanak dalam

rangka menanamkan dan mengembangkan prilaku moral anak diantaranya dengan

bercerita, bermain peran, bernyanyi, mengucapkan sajak, dan progam pembiasaan

lainnya.17 Ada beberapa peran yang harus dilaksanakan guru dalam

mengembangkan dan menguatkan moral pada anak usia dini, yaitu sebagai model,

pembimbingan, pelatih, motivator, dan penilai.18

2. Penanaman Nilai Agama dan Moral

Moral merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan setiap individu, baik

moral yang baik ataupun buruk. Moral berasal dari bahasa latin “mores” yang

berarti tata cara, kebiasaan dan adat.19

a. Tahap-Tahap Perkembangan Moral


Tahap- tahap perkembangan moral menurut Kohlberg yang disarikan

oleh Hardiman sebagai berikut :

1) Tingkat Prakonvensional : Pada tingkat ini seseorang sangat tanggap

terhadap aturan-aturan kebudayaan dan penilaian baik atau buruk,

tetapi ia menafsirkan baik atau buruk ini dalam rangka maksimalisasi

kenikmatan atau akibat-akibat fisik dari tndakanya (hukuman fisik,

penghargaan, tukar-menukar, kebaikan.

17
Leli Fertiliana Dea , Agus Setiawan, "Peran Guru dalam Mengembangkan Nilai Moral
Agama Pada Anak Usia Dini Di Raudlatul Althfal Ma’arif 1 Metro", Jurnal Program Studi PGRA
Volume 5 Nomor 1 (2019), h. 102.
18
Ati Sukmawati, “Peran Guru Dalam Pengembangan Moral Bagi Anak Usia Dini"
Jurnal Tadris IPA Biologi FITIK IAIN Matram, Volume VIII, Nomor 1 (2019), h. 90- 92.
19
Mursid, Belajar dan Pembelajaran PAUD, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2018),
h.76
17

2) Tingkat Konvensional : Pada tingkat ini seseorang menyadari dirinya

sebagai seseorang individu di tengah-tengah keluarga, masyarakat

dan bangsanya. Keluarga, masyarakat, bangsa dinilai memiliki

kebenarannya sendiri, karena jika menyimpang dari kelompok ini

akan terisolasi.

3) Tingkat Pasca-Konvensional/Tingkat Otonom: Pada tahap ini orang

bertindak sebagai subjek hukum dengan mengatasi hukum yang ada.

Orang pada tahap ini sadar bahwa hukum merupakan kontrak sosial

demi ketertiban dan kesejah teraan umum, maka jika hukum tidak

sesuai dengan martabat manusia, hukum dapat dirumuskan

kembali.20

b. Strategi Perkembangan Moral Pada Anak Usia 5-6 Tahun

Strategi pengembangan moral bagi anak usia 5-6 tahun pada

prinsipnya sama dengan strategi yang diterapkan pada anak di Taman Kanak-

Kanak. Namun, kualitas isi dari setiap strategi itulah yang perlu ditingkatkan.

Sehingga tentunya akan ada perubahan-perubahan yang disesuaikan dengan

fakta yang ada di setiap masa tumbuh kembang anak. Hal itu beralasan bahwa

anak usia 5-6 tahun telah memiliki kemampuan kemandirian yang cukup baik

dan telah mampu bermain kolaboratif. Secara prinsip, strategi yang

dikembangkan untuk anak sesuai 5-6 tahun sebagai berikut :

20
Ismaya, “Upaya Guru Dalam Mengembangkan Nilai-Nilai Moral Anak Usia Dini Di
Kelompok Bermain Puja Kesuma Lampung Selatan.” Universitas Islam Negeri Raden Intan
Lampung, (2022), h.29
18

1. Menyiapkan berbagai kegiatan yang mampu menstimulasi kerjasama

toleransi, dan saling setiakawan.

2. Menyiapkan media pendukung yang memungkinkan anak dapat

bekerja sama.

3. Membawa anak ke dalam situasi nyata (real time) untuk mengenalkan

pendidikan moral (field trip), seperti ke panti asuhan dan panti jompo.

4. Menyusun program kepemimpin kelompok sebagai landasan penanam

sikap leadership dan tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas.21

c. Indikator Nilai Agama dan Moral

Untuk mengetahui apakah kemampuan agama dan moral anak

berkembang atau tidak, maka perlu diketahui indikator pencapaian

perkembangan sebagai acuan. Indikator pencapaian perkembangan motorik

halus anak diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional

Pendidikan Anak Usia Dini.

Mengetahui agama yang dianutnya, meniru gerakan beribadah


dengan urutan yang benar, mengucapkan doa sebelum dan/atau
sesudah melakukan sesuatu, mengenal perilaku baik/sopan dan
buruk membiasakan diri berperilaku baik, mengucapkan salam dan
membalas salam, mengerjakan ibadah berperilaku jujur, penolong,
sopan, hormat, sportif, menjaga kebersihan diri dan lingkungan
mengetahui hari besar agama, menghormati (toleransi) agama orang
lain.22

21
Otib Satibi Hidayat, Metode Pengembangan Moral Dan Nilai-Nilai Agama (Tangerang
Selatan, 2018), h 17-18.
22
Permendikbud,Tingkat Pencapaian Perkembangan Nilai Agama dan Moral Anak Usia
Dini Sesuai Dengan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 137 Tahun
2014
19

d. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai Agama dan Moral

Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh

lingkungan. Anak memperoleh nilai-nilai moral dan lingkungan dan orang

tuanya. Dia belajar untuk mengenal nilai-nilai sesuai dengan nilai-nilai ini.

Dalam mengembangkan nilai agama dan moral anak, peranan orang tua

sangatlah penting, terutama pada waktu anak masih kecil. Beberapa sikap

orang tua yang perlu diperhatikan sehubungan dengan perkembangan moral

anak, di antaranya :

1. Konsisten dalam Mendidik Anak.

2. Sikap orang tua dalam keluarga.

3. Penghayatan dan penghayatan dan pengalaman agama yang

dianut.

4. Sikap orang tua dalam menerapkan norma.

Selanjutnya John Locke dan J.B Watson mengungkapkan faktor-

faktor apa saja yang dapat mempengaruhi perkembangan moral manusia

meliputi :

1. Pengalaman sebagai proses belajar

2. Keluarga, yang meliputi : Sikap atau keadaan sosial/ekonomi

keluarga, posisi dalam keluarga, sifat anggota keluarga lain dan

3. Kebudayaan, contoh : Bila anak hidup di suasana yang

memalukan, dia belajar untuk selalu merasa bersalah, bila orang

berada di lingkungan orang-orang yang kritis, dia akan memiliki

argument yang relevan saat bicara, dan bila orang hidup dalam
20

suasana kejujuran, maka ia akan memahami mengenal keadilan

disekitar keluarga.23

C. Kerangka Berpikir

Kerangka pemikiran adalah suatu diagram yang memiliki peran sebagai

alur logika sistematika dari tema yang akan ditulis nantinya. Menurut Polancik,

kerangka berpikir ini dibuat berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang akan

digunakan pada penelitian.24 Kemudian, dari pertanyaan-pertanyaan penelitian itu

menghasilkan suatu konsep yang saling terhubung, sehingga dapat

menggambarkan alur penelitian.

Pendidikan anak usia dini adalah upaya pembinaan yang ditujukan untuk

anak sejak lahir sampai usia enam tahun dengan memberikan rangsangan

pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani,

agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki dunia pendidikan selanjutnya.

Anak usia dini memiliki enam aspek perkembangan yang penting dan perlu

diperhatikan, yakni aspek perkembangan nilai agama dan moral, sosio-emosional,

bahasa, perkembangan seni, fisik motorik dan kognitif. Untuk mewujudkannya

maka rangsangan pendidikan yang diberikan harus sesuai dengan tumbuh

kembang dan karakteristik anak usia dini, agar kemampuan anak dapat

berkembang secara optimal.

Dalam hal ini peneliti menuangkan konsep penelitian dalam kerangka

berpikir sebagai berikut:

23
Jahja Yudrik, Psikologi Perkembangan, (Jakarta : Kencana Premadamedia, 2011), h
50-53.
24
Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif & Kualitatif
(Bandung: Alfabeta, 2010), h. 197
21

Bagan 2.1 Kerangka Berpikir


Sumber Data: Data Primer

Lingkungan Siswa

Lingkungan Baik Lingkungan Buruk

Kegiatan Penanaman Nilai


Pancasila

Penanaman Nilai Dan Penanaman Nilai


Norma Moral

Nilai-Nilai Agama

Pengembangan Nilai Agama dan Moral

Mengenal agama Membiasakan diri Memahami perilaku Mengenal ritual hari Menghormati gama
yang dianut beribadah mulia besar agama orang lain

Mengembangkan Nilai Agama dan Moral


Anak Sesuai Dengan Indikator Pencapaian
22

D. Konsep pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan

potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,

kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan

dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.25 Melalui pendidikan individu dapat

merasakan suatu proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan

untuk mencapai tujuan pendidikan.

1. Konsep Pendidikan Anak Usia Dini

Setiap anak memiliki sifat yang unik dan terlahir dengan potensi yang

berbeda-beda dengan memiliki kelebihan bakat, tingkat kecerdasan, dan minatnya

masing-masing. Misalnya, ada anak yang berbakat menyanyi, ada pula yang

berbakat menari, bermusik, bahasa, olahraga, maupun dalam bidang akademis.

Melalui lembaga pendidikan anak usia dini, diharapkan anak dapat

mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya yang meliputi enam aspek

perkembangan yang terdiri dari pengembangan moral dan nilai-nilai agama, fisik,

sosial, emosional, bahasa, seni, menguasai sejumlah pengetahuan dan ketrampilan

sesuai dengan perkembangan, serta memiliki motivasi dan sikap belajar untuk

berkreasi. Oleh sebab itu, pendidikan anak usia dini perlu diselenggarakan bagi

anak sebelum melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih lanjut seperti yang

telah dijelaskan dalam Permendikbud Nomor 146 Tahun 2014 Pasal 1 tentang

kurikulum 2013 :

25
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional
23

Pendidikan anak usia dini merupakan jenjang pendidikan sebelum jenjang


pendidikan dasar sebagai suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak
sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Dilakukan melalui pemberian
rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan
jasmani serta rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut.26

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan

pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan

sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan sesuai kelompok usia

yang dilalui oleh anak usia dini. Standar tingkat pencapaian perkembangan anak

usia dini selanjutnya disebut STTPPA yang merupakan kriteria tentang

kemampuan yang dicapai anak pada seluruh aspek perkembangan dan

pertumbuhan, yang mencakup aspek nilai agama dan moral fisik-motorik,

kognitif, bahasa, sosial-emosional, serta seni.27

Pendidikan anak usia dini memberikan upaya untuk menstimulasi,

membimbing, mengasah, dan pemberikan kegiatan yang akan menghasilkan

kemampuan, serta keterampilan anak. Pendidikan anak usia dini merupakan

pendidikan yang diberikan kepada anak yang baru lahir sampai dengan berumur

enam tahun sesuai dengan keunikan dan pertumbuhan anak usia dini maka

penyelenggaraan pendidikan anak usia dini disesuaikan dengan tahapan-tahapan

perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini tersebut.28 Sehingga anak akan

lebih siap untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya yakni pendidikan

sekolah dasar.

26
Permendikbud Nomor 146 Tahun 2014 Pasal 1 Tentang Kurikulum 2013
27
Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 Pasal 1 ayat 2 Tentang Standar Nasional
Pendidikan Anak Usia Dini
28
Susanto Ahmad, Pendidikan Anak Usia Dini (Konsep dan Teori), (Jakarta : PT. Bumi
Aksara, 2017 ), h. 15
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Lokasi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang sesuai dan akan dilakukan ialah

penelitian kualitatif deskriptif. Hal ini mengacu pada judul penelitian yang

menjelaskan mengenai Upaya Guru Dalam Mengembangkan Nilai Agama dan

Moral Anak Usia Dini di TK Darul Ikhlas Sentani. Penelitian kualitatif adalah

riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan

pendekatan induktif.29 Pendekatan induktif merupakan pendekatan dalam

pembelajaran yang bertujuan untuk menarik kesimpulan yang berlaku umum yang

berasal dari kejadian-kejadian yang khusus.

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan sasaran yang sangat dibutuhkan untuk

menentukan data yang diambil sehingga lokasi sangat penting untuk menunjang

informasi yang valid.30 Pemilihan lokasi penelitian harus didasarkan pada

pertimbangan-pertimbangan kemenarikan, keunikan dan kesesuaian dengan topik

yang dipilih. Dengan begitu peneliti diharapkan dapat menemukan hal-hal yang

bermakna dan baru dalam menyimpulkan fenomena atau objek yang diteliti

dengan berdasarkan data-data penelitian yang akurat. //////////////////////////////////////

29
Rukin, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Takalar: Yayasan Ahmat Cendekia
Indonesia, 2019), h. 6.
30
Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), h
78.

24
25

Dalam penelitian ini, peneliti mengambil lokasi penelitian di TK Darul

Ikhlas Sentani yang beralamat di komplek Masjid Al-Ikhlas, Jalan Mambruk,

Kelurahan Hinekombe, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura. Sekolah ini

dijadikan lokasi penelitian berdasarkan observasi yang telah dilakukan oleh

Peneliti pada bulan September- bulan Desember. Selain itu pertimbangan lokasi

penelitian oleh Peneliti didasarkan pada hal-hal berikut :

a. Guru-guru di TK Darul Ikhlas Sentani memiliki peran penting dalam

mengembangkan nilai agama dan moral anak.

b. Lokasi sekolah TK Darul Ikhlas Sentani yang terletak di kompleks

pasar dan ramai penduduk, yang dapat memberikan banyak pengaruh

bagi anak usia dini.

c. TK Darul Ikhlas Sentani mampu bersaing dengan lembaga pendidikan

anak usia dini lain disekitarnya.

B. Sumber Data

Sumber data dalam penulisan ini meliputi data primer dan data sekunder,

yang dimaksud dengan data primer dan data sekunder, yaitu:

1. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti

secara langsung dari sumber datanya. Untuk mendapatkan data primer, peneliti

harus mengumpulkannya secara langsung. Teknik yang dapat digunakan peneliti

untuk mengumpulkan data primer antara lain observasi dan hasil wawancara.31

Adapun data yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah : 1)

31
Sandu Siyoto and M. Ali Sodik, Dasar Metodologi Penelitian, I (Yogyakarta: Literasi
Media Publishing, 2015), h 68.
26

Guru kelompok A, B1, B4 dan B6 di TK Darul Ikhlas Sentani. 2) Kepala sekolah

TK Darul Ikhlas Sentani. 3) 2 orang anak di masing-masing kelas, yaitu kelas A,

B1, B4 dan B6 di TK Darul Ikhlas Sentani. 4) 2 orang tua wali murid dari siswa di

TK Darul Ikhlas Sentani.

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari

berbagai sumber yang telah ada.32 Data sekunder adalah data pendukung dari data

primer. Adapun sumber data yang menjadi data sekunder dalam penelitian ini

adalah data dokumen berupa: RPPH, RPPM, LKS, hasil penilaian, foto-foto

kegiatan pada saat pelaksanaan pembelajaran, dan sebagainya.

C. Metode Pengumpulan Data

1. Observasi

Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data dalam penelitian

kualitatif yang digunakan untuk memperoleh informasi atau data sebagaimana

tujuan penelitian. Dalam penelitian ini observasi yang akan digunakan ialah

observasi non partisipan, dimana peneliti bertindak sebagai pengamat untuk

mengamati peran guru dalam pengembangan nilai agama dan moral bagi anak.

Peneliti hanya akan mengamati kegiatan dan tidak ikut serta dalam kegiatan objek

penelitian.33 Jadi, dengan metode model ini peneliti dapat melakukan pengamatan

secara langsung pada objek penelitian.

32
Ibid, h. 68
33
Nana Syaodih Sukmadinata, Metodologi Penelitian Pendidikan (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2010), h.220.
27

Berikut langkah – langkah untuk melakukan observasi: 1) menentukan

objek yang akan diamati, 2) mengumpulkan fakta terkait objek, 3) menyiapkan

laporan untuk mencatat data hasil observasi, 4) melakukan pencatatan, 5)

menyunting hasil laporan observasi. Sehingga data yang akan diperoleh ialah,

bagaimana upaya guru dalam mengembangkan nilai agama dan moral anak serta

bagaimana kemampuan agama dan moral anak di TK Darul Ikhlas Sentani.

2. Wawancara

Wawancara (interview) adalah pertemuan dua orang untuk bertukar

informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna

dalam suatu topik tertentu. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan

data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan

permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-

hal dari responden yang lebih mendalam.34

Dalam penelitian ini wawancara yang peneliti lakukan adalah wawancara

bebas terpimpin dimana pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi juga

harus mengingat akan data yang akan dikumpulkan (data yang dibutuhkan). 35

Dalam wawancara ini peneliti berpedoman pada ketentuan yang menjadi

pengontrol relevan tidaknya isi wawancara, serta peneliti menggunakan

pertanyaan terbuka sehingga memungkinkan jawaban yang lebih luas, lengkap,

dan bervariasi dari narasumber.

Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan Peneliti di TK Darul Ikhlas

Sentani melalui wawancara (interview) adalah tentang upaya guru dalam


34
Sugiyono, Metode Penelitian Manajemen. (Bandung : Alfabeda, 2016), h. 384-385
35
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik . (Jakarta: Rineka
Cipta, 2010), h. 123.
28

meningkatkan nilai agama dan moral anak usia dini di TK Darul Ikhlas Sentani.

Pengumpulan data melalui wawancara dilakukan pada pihak-pihak tertentu yang

dapat memberikan informasi valid tentang bagaimana upaya guru dalam

mengembangkan nilai agama dan moral anak antara lain kepala sekolah, guru dari

kelas A, B1, B4 dan B6 di TK Darul Ikhlas Sentani dan dua orang tua wali murid

dari siswa di TK Darul Ikhlas Sentani.

Adapun langkah – langkah wawancara yang dilaksanakan peneliti terdiri

dari pembukaan, proses dan penutup. Berikut penjelasan mengenai langkah –

langkah tersebut: 1) menyiapkan pedoman wawancara, 2) pelaksanaan

wawancara, 3) kemudian interviewer menyimpulkan isi wawancara.

3. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen

dapat berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.

Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan

wawancara dalam penelitian kualitatif.36 Tujuan dokumentasi dalam penelitian ini

ialah untuk mendukung fakta dalam penelitian. Selain itu, dengan adanya

dokumentasi penelitian akan memiliki kredibilitas.

Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan peneliti di TK Darul Ikhlas

Sentani melalui dokumentasi adalah dokumen berupa profil TK Darul Ikhlas

Sentani, visi misi dan tujuan TK Darul Ikhlas Sentani, struktur organisasi TK

Darul Ikhlas Sentani, RPP, foto atau gambar kegiatan pembelajaran

pengembangan nilai agama dan moral anak, foto atau gambar peneliti saat

36
Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif & Kualitatif
(Bandung: Alfabeta, 2010), h. 204
29

melakukan penelitian di TK Darul Ikhlas Sentani, dan foto atau gambar gedung

TK Darul Ikhlas Sentani.

D. Instrumen

Instrumen penelitian adalah suatu alat digunakan untuk mengumpulkan

data dalam suatu penelitian. Peneliti dalam penelitian kualitatif sebagai human

instrument, berfungsi untuk menetapkan fokus penelitian, memilih informan

sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis

data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan dari apa yang ditemukan

dilapangan.37

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid, diperlukan instrumen yang

mendukung kegiatan penelitian. Instrumen dalam penelitian ini meliputi pedoman

observasi, pedoman wawancara, dan pedoman dokumentasi. Adapun pedoman

observasi yaitu pedoman penelitian tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan

subjek penelitian untuk menggali infromasi sebanyak-banyaknya. Sehingga, dapat

disimpulkan bahwa tujuan pedoman observasi ini adalah untuk mengumpulkan

data dan mengamati berlangsungnya pembelajaran dalam mengembangkan nilai

agama dan moral anak usia dini di TK Darul Ikhlas Sentani. Sehingga peneliti

dapat melihat kemampuan motorik halus anak, serta respon terhadap strategi

yang dilakukan oleh guru. Peneliti menggunakan pedoman observasi berupa

format catatan dokumentasi.

Selanjutnya, peneliti menggunakan pedoman wawancara agar wawancara

yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Pedoman wawancara

37
Setiawan Johan, Albi Anggito, Metodologi Penelitian Kualitatif (Sukabumi : Jejak
Publisher, 2018), h. 76.
30

berisi garis besar pertanyaan-pertanyaan peneliti yang akan diajukan kepada

subjek penelitian. Pedoman ini disusun tidak hanya berdasarkan tujuan penelitian

tetapi juga berdasarkan kajian yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Selain

itu, pedoman wawancara menjadi bahan dalam penelitian hasil penelitian, sebab

jika hanya mengandalkan ingatan maka dikhawatirkan peneliti lupa terhadap data

yang diperoleh.

Selain itu, peneliti juga menggunakan pedoman dokumentasi untuk

mengambil gambar atau foto. Pengambilan foto dalam proses penelitian befungsi

sebagai bukti konkrit atau nyata selama proses pembelajaran dalam

mengembangkan nilai agama dan moral anak di TK Darul Ikhlas Sentani. Selain

itu, pedoman dokumentasi bertujuan untuk memperoleh dan melengkapi data. Dat

E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Bognan dalam Sugiyono mengatakan bahwa “analisa data adalah proses

mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil

wawancara, catatan lapangan, bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah difahami,

dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain”.38 Dalam penelitian ini,

menggunakan teknik analisa model Miles dan Huberman yang menganalisa data

dengan cara membagi kedalam empat langkah.

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada tahap pertama ini masih bersifat kasar. Dalam hal

ini peneliti turun ke lapangan untuk mencari data yang berkaitan dengan

penelitian yang dilakukan. Dalam pencarian data, peneliti mengambil semua data

38
Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif & Kualitatif
(Bandung: Alfabeta, 2010), h 333.
31

yang ada. Kemudian, data yang diperoleh dikembangkan melalui teknik data

selanjutnya.

2. Reduksi Data

Mereduksi data berarti merangkum data, memilih hal-hal yang pokok,

memfokuskan pada hal-hal yang penting, membuang hal-hal yang tidak

diperlukan dan dicari tema dan polanya.39 Dengan kata lain, pada tahap ini peneliti

memilah dan memfokuskan data yang penting, pokok dan relevan saja supaya

hasil data memperoleh data yang valid.

3. Data Display (Penyajian Data)

Langkah ini yaitu membuat uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori

dan sejenisnya. Penyajian data dimaksudkan untuk menemukan pola-pola

bermakna. Dalam hal ini, yang paling sering dilakukan untuk menyajikan data

dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.

4. Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan yakni menjawab rumusan masalah yang ada sejak

awal yang berupa deskripsi suatu objek yang sebelumnya masih bersifat samar

sehingga menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis

atau teori.40

39
Sugiyono, Metodologi Penelitian Manajemen (Bandung: Alfabeta, 2018). (Bandung :
Alfabeda, 2016), h. 405
40
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta,
2012), h 249-253
DAFTAR PUSTAKA

Alawiyah, Fakhriyatus Shofa, Laila Masruroh. “Pengembangan Nilai Agama Dan


Moral Pada Masa Pandemi Di TK Al-Hidayah Lumajang.” Genius 1, no. 1
(2020): h. 43-60.
Albi Anggito, Johan Setiawan. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Jejak
Publisher 2018.
Amarodin. “Tela’ah Tafsir Qs. An-Nahl Ayat 78 Dan Analisisnya.”
PERSPEKTIF: Jurnal Program Studi Pendidikan Agama Islam 14, no. 2
(2021): h. 10.
Amnah. “Upaya mengembangkan Nilai Agama dan Moral Anak Usia 5-6 Tahun
Di TK Nuruddin ” Skripsi Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia
Dini (2021): h. 1-142.
Anam Mohammad, Wasis D Dwiyogo. “Teori Belajar Behavioristik Dan
Implikasinya Dalam Pembelajaran.” Jurnal Universitas Negeri Malang,
(2019): h. 2.
Arikunto S. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta,
2006.
Aulia Laily Rizqina, Bayu Suratman. “Peran Pendidik Dalam Menanamkan Nilai
Agama Dan Moral Anak Usia Dini.” Didaktika: Jurnal Kependidikan 14,
no. 1 (2020): h. 19.
Dea, Leli Fertiliana, and Agus Setiawan. “Peran Guru Dalam Mengembangkan
Nilai Moral Agama Pada Anak Usia Dini Di Raudlatul Athfal Ma’arif 1
Metro.” Jurnal Program Studi PGRA 5, no. 1 (2019): h. 102.
Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an Terjemah (Jakarta: Wali, 2006), h. 275
Djollong, Andi Fitriana. “Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam
Penanaman Nilai-Nilai Toleransi Antara Ummat Beragama Peserta Didik
Untuk Mewujudkan Kerukunan” VIII (2019): h.76.
Hidayat, Otib Satibi. Metode Pengembangan Moral Dan Nilai-Nilai Agama.
Tangerang Selatan, 2018.
Husna A, F Mayar. “Strategi Mengenalkan Asmaul Husna Untuk Menanamkan
Nilai Agama Dan Nilai Moral Pada Anak Usia Dini.” Jurnal Pendidikan
Tambusai 5 (2021): h 9664-9670.
Ismaya. “Upaya Guru Dalam Mengembangkan Nilai-Nilai Moral Anak Usia Dini
Di Kelompok Bermain Puja Kesuma Lampung Selatan,” Skripsi
Pendidikan Islam Anak Usia Dini (2022): h. 29.
Jahja, Yudrik. Psikologi Perkebangan. Jakarta : Kencana Pramadamedia, 2013.

32
Mursid. Belajar Dan Pembelajaran PAUD. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2018.
Nurrahmawati, Erfha. “Peranan Guru Dalam Mengembangkan Kognitif Anak
Usia Dini Di Tk Raudlatul Ulum Kresnomulyo,” Al-Athfaal: Jurnal Ilmiah
Pendidikan Anak Usia Dini, 1.1 (2018): h. 83–99.
Permendikbud. Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Nomor
137 Tahun 2014.
Permendikbud. Tingkat Pencapaian Perkembangan Nilai Agama dan Moral Anak
Usia Dini Sesuai Dengan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 137 Tahun 2014
Permendikbud. Nomor 146 Tahun 2014 Pasal 1 Tentang Kurikulum 2013
Permendikbud. Nomor 137 Tahun 2014 Pasal 1 ayat 2 Tentang Standar Nasional
Pendidikan Anak Usia Dini
Republik Indonesia. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional, n.d.
Republik Indonesia. Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru
Dan Dosen.
Republik Indonesia. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
Rukin. Metodologi Penelitian Kualitatif. I. Takalar: Yayasan Ahmat Cendekia
Indonesia, 2019.
Siyoto, Sandu, and M. Ali Sodik. Dasar Metodologi Penelitian. I. Yogyakarta:
Literasi Media Publishing, 2015.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta,
2012.
Sugiyono. Metodologi Penelitian Manajemen. Bandung: Alfabeta, 2018.
Sugiyono. Metodologi Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif &
Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2010.
Sukmadinata, Nana Syaodih. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2010.
Sukmawati, Ati. “Peran Guru Dalam Pengembangan Moral Bagi Anak Usia
Dini.” Jurnal Tadris IPA Biologi FITIK IAIN Matram, Volume VIII, Nomor 1
(2019): h. 90- 92
Suryabrata, Sumadi. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.
Susanto, Ahmad. Pendidikan Anak Usia Dini (Konsep Dan Teori). Jakarta: PT
Bumi Aksara, 2017.

33
34

Anda mungkin juga menyukai