Huntara untuk Pengungsi Gunung Agung
Huntara untuk Pengungsi Gunung Agung
3
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
ANTARA
Antisipasi Bencana dengan Huntara
Studi Kasus
Huntara untuk Pengungsi
Gunung Agung di Karangasem
1
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
2
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Anggota IKAPI
4
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
KATA PENGANTAR
KEPALA SATKER BALAI LITBANG PERUMAHAN WILAYAH II
DENPASAR
5
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
6
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat-Nya buku dengan judul ANTARA - Antisipasi Bencana dengan Huntara,
Studi Kasus: Huntara untuk Pengungsi Gunung Agung di Karangasem dapat
diselesaikan sesuai harapan.
Buku ini mencoba untuk menggambarkan secara singkat mengenai desain
kawasan serta bangunan hunian sementara (Huntara) bagi pengungsi yang
terkena dampak erupsi Gunung Agung. Desain hunian dan kawasan sementara ini
pun dilengkapi dengan konsep perencanaan penyediaan fasilitas penyediaan air,
pengelolaan limbah domestik, pengelolaan sampah, dan sistem drainase. Melalui hal
tersebut, diharapkan kenyamanan calon penghuni dan kebutuhan mereka terhadap
pelayanan dapat terpenuhi.
Desain bangunan hunian sementara tersebut menggunakan teknologi RISHA
(Rumah Instan Sederhana Sehat) yang siap dihuni menetap 5-10 tahun mendatang.
Fasad bangunan memasukkan konsep dan nilai budaya yang ada pada arsitektur
tradisional Bali, sehingga diharapkan bisa diterima dengan baik oleh warga
pengungsi. Konstruksi Huntara pun dapat dibongkar kembali jika sudah tidak
diperlukan lagi. BLPW II Denpasar pun menawarkan desain penataan kawasan
hunian yang mengacu pada Prinsip Tata Bangunan yang tertuang dalam Peraturan
Daerah Provinsi Bali No. 3 Tahun 2005.
7
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
8
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
DAFTAR ISI
Kata Pengantar Kepala Satker Balai Litbang Perumahan Wilayah II Denpasar .... 5
Kata Pengantar Penulis ............................................................................................................ 7
Daftar Isi................... ...................................................................................................................... 9
Bab 1 Kilas Balik Letusan Gunung Agung................................................................... 11
1.1. Kejadian Letusan Gunung Agung ............................................................... 12
1.2. Kondisi dan Status Wilayah Terdampak .................................................... 15
1.3. Pilihan Upaya Penanganan Wilayah Terdampak .................................... 17
Bab 3 Kriteria Desain Tata Bangunan Dan Lingkungan Tradisional Bali ..... 29
3.1. Tata Bangunan dan Lingkungan Dilihat dari Peraturan ...................... 29
3.2 Prioritas Kriteria Desain Tata Bangunan dan Lingkungan
Tradisional ............................................................................................................ 32
9
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
10
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
11
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Letusan Gunung Agung di Bali pada tahun 1963 merupakan yang paling
mematikan setelah Indonesia merdeka. Awal letusan terjadi pada bulan Februari
1963, dan berlangsung hingga Januari 1964. Tercatat bahwa kolom letusan
diperkirakan mencapai 26 km di atas permukaan laut. Total volume batuan padat
(dens rock equivalent – DRE volume) yang dilontarkan pada letusan tersebut mencapai
4 km, yang menyebabkan kerusakan besar karena didominasi oleh aliran piroklastik.
Aliran piroklastik merupakan salah satu hasil letusan gunung berapi yang bergerak
dengan sangat cepat (700 km/jam) yang terdiri dari gas panas, abu vulkanik, dan
batuan. Gas yang dikeluarkannya dapat mencapai temperatur di atas 1000 0C. Aliran
magma yang dihasilkan merupakan magma tipe porphyritic basalt dan tipe andesite.
Puncak letusan yang terjadi pada 17 Maret-16 Mei 1963 memuntahkan abu dan gas
yang kaya belerang ke lapisan stratosfer. Letusan Gunung Agung memang masih
lebih kecil dibandingkan dengan letusan gunung api di Indonesia yang terjadi pada
abad sebelumnya, yaitu Gunung Tambora pada tahun 1815 dan Gunung Krakatau
pada tahun 1883. Namun, letusan Gunung Agung yang terjadi pada abad ke-20 ini
dan bersifat eksplosif hanya bisa disaingi oleh letusan Gunung Pinatubo di Filipina
pada tahun 1991 yang menewaskan 840 jiwa.
Laporan Kepala Bagian Vulkanologi Direktorat Geologi ke UNESCO (United Nations
Educational, Scientific and Cultural Organization) pada tahun 1964 menyebutkan
bahwa letusan Gunung Agung pada saat itu menyebabkan 1.549 orang tewas, 1.700
rumah hancur, 225.000 jiwa kehilangan mata pencaharian, dan 100.000 jiwa harus
mengungsi secara permanen. Dampak kerusakan lainnya adalah 8 buah jembatan
hancur dan diperkirakan 316.518 ton produksi pangan hancur. Dampak terluas yang
dirasakan akibat letusan Gunung Agung pada saat itu adalah penurunan suhu Bumi
(rata-rata 0,4 0C). Dampak penurunan suhu akibat letusan Gunung Agung setara
dengan dampak letusan Gunung Tambora (1815) dan Gunung Krakatau (1883).
Fenomena menjadi menarik karena jumlah material yang dimuntahkan tiga gunung
tersebut jauh berbeda. Perbandingan volume material letusan Tambora, Krakatau,
dan Agung adalah 150:20:1. Meskipun volume material yang dilontarkan memiliki
perbedaan jumlah yang signifikan, penurunan suhu akibat letusan Gunung Agung
terjadi akibat dampak kandungan belerang (SO2) yang sangat pekat pada gas yang
disemburkan. Kandungan aerosol sulfat yang sangat pekat pada gas hasil letusan
Gunung Agung menutupi lapisan stratosfer bumi sehingga menghalangi radiasi
panas matahari dan menyebabkan penurunan suhu.
Pada tahun 2017, Gunung Agung kembali menunjukkan tanda-tanda erupsi.
Status Gunung Agung dinaikkan menjadi level Siaga (level III) pada bulan November
12
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
2017. Gempa bumi tektonik dari gunung berapi telah terdeteksi sejak awal bulan
Agustus, dan aktivitas gunung berapi tersebut meningkat selama beberapa minggu
sebelum menurun secara signifikan pada akhir bulan Oktober. Periode kedua dari
kegiatan utama dimulai pada akhir bulan November. Melihat rekam jejak letusan
tahun 1963, selain potensi kerusakan akibat material erupsi, risiko bencana terletak
pada banyaknya jumlah penduduk yang tinggal di zona bahaya (4-6 km). Rekaman
letusan Gunung Agung selama tahun 2017 disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Rekaman Erupsi Gunung Agung Tahun 2017
13
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Padang Kerta kecuali Desa Adat Peladung dan Desa Adat Temaga, Kelurahan
Karangasem yang berdekatan dan dialiri Tukad (Sungai) Janga;
Api, Desa Bebandem bagian atas, Desa Jungutan, dan Desa Bungaya Kangin;
Peringsari bagian atas seperti Lusuh dan Padang Aji, serta Desa Muncan bagian
atas seperti Pejeng dan beberapa banjar di daerah sekitarnya.
14
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
15
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
16
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
umum, seperti bale banjar adat. Kondisi tempat hunian sementara (Huntara) pada
tanah kosong umumnya berupa tenda-tenda darurat dilengkapi dengan fasilitas
kamar mandi/toilet umum dan penampungan air bersih. Kondisi hunian sementara
tersebut memiliki banyak kelemahan, salah satunya adalah air hujan mudah masuk
ke dalam tenda ketika hujan, temperatur ruang yang panas, dan sirkulasi udara yang
kurang baik. Gambaran kondisi posko pengungsi bisa dilihat pada Gambar 3.
17
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
18
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
ditujukan untuk menjadi jembatan antara emergency shelter dan permanent shelter,
dan diprioritaskan dalam hal kecepatan membangun dan biaya yang minimal dalam
pembangunannya. Batas penggunaan hunian sementara kurang lebih 1 tahun.
Organisasi Sphere Project menyatakan bahwa ruang gerak per orang adalah 3,5
meter persegi. Hal ini sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan oleh BNPB, yaitu
ruang gerak per orang di Indonesia adalah 3 meter persegi.
Bangunan hunian sementara harus mampu menampung kegiatan dasar rumah
tangga dalam kondisi iklim dingin. Dengan demikian, iklim juga menjadi salah
satu pertimbangan dalam menentukan rancangan hunian sementara. Selain itu,
lama bernaung, praktik budaya, keselamatan dan privasi, mata pencaharian, dan
ketersediaan material bangunan juga harus dipertimbangkan dengan matang agar
tujuan pembangunan hunian sementara dapat tercapai.
19
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
atau orientasi ruang. Orientasi tersebut dibentuk oleh tiga sumbu, yaitu: (1) sumbu
kosmos (bhur, bhuah, swah atau litosfer, hidrosfer, atmosfer) atau sumbu langit bumi
(akasa-pertiwi); (2) sumbu ritual kangin-kauh (terbit terbenamnya matahari); (3)
sumbu natural kaja-kelod, gunung-laut, masing-masing dengan daerah tengah yang
bernilai madia.
Konsep Tri Mandala merupakan ungkapan tiga tata nilai wilayah ruang, yang
terdiri dari: ruang sakral/spiritual, ruang profan/komunal, dan ruang pelayanan/
komersial. Struktur tata ruang Tri Mandala ini berpedoman pada orientasi: 1) arah/
posisi gunung-laut (kaja-kelod), 2) arah tinggi-rendah (tegeh dan lebah), dan 3)
berdasarkan sumbu Matahari yaitu Timur-Barat (Matahari terbit dan terbenam)
(Sulistyawati, dkk., 1985:7)
20
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Konsep Tri Angga berlaku dari yang bersifat makro (alam semesta/bhuana
agung) sampai yang paling mikro (manusia/bhuana alit). Dalam skala wilayah,
gunung memiliki nilai utama; dataran bernilai madya dan lautan pada nilai nista.
Dalam perumahan, Khayangan Tiga (utama), Perumahan penduduk (madya),
Kuburan (nista), juga berlaku dalam skala rumah dan manusia. Tri Angga memiliki
tiga susunan badan atau, dengan kata lain, ‘tiga nilai fisik’, yaitu: kepala (utama
angga), badan (madya angga), dan kaki (nista angga) (Glebet, 2002).
Alternatif desain lainnya adalah samblung konsep. Konsep desain ini mengambil
tema bentuk desain pengulangan dan berderet. Samblung konsep juga terinspirasi
dari salah satu ragam hias pepatran (ukiran), yaitu patra samblung. Patra samblung
adalah patra yang mempunyai unsur motif yang paling sedikit, tidak bertangkai dan
sederhana di antara patra-patra yang ada di Bali.
Pada umumnya, bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu
dipenuhi hiasan berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias
tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan, simbol-simbol
dan penyampaian komunikasi (Davison, Enu, Granquist, 2003). Namun saat ini, ragam
hias Bali sudah mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman yang dipengaruhi
modernisasi serta pabrikasi telah mengutamakan kepraktisan dan fungsi. Ukiran dan
ragam hias di Bali sering dikenal dengan nama pepatraan. Makna dari pepatraan
adalah memberikan perlindungan kepada kehidupan manusia dari rasa takut,
panas dan haus, sehingga memberikan kenyamanan bagi manusia yang tinggal di
lingkungan bangungan yang dihiasi dengan hiasan ini.
Pepatraan terdiri dari lima bagian, yaitu: (1) Patra Wangga, tergolong kekerasan
yang merupakan sebagian dari suatu flora dengan penampilan bagian-bagian
keindahannya; (2) Patra Sari, bentuknya menyerupai flora dari jenis berbatang jalar
melingkar dan linggar balik berulang. Penonjolan sari bunga merupakan identitas
pengenal sesuai namanya, yaitu patra sari. Daun dan bunga dilukiskan dalam pola
yang diperindah. Patra Sari dapat digunakan pada bidang-bidang lebar atas, daun
umumnya untuk bidang-bidang sempit, tidak bisa dibuat dalam banyak variasi
karena lingkar-lingkar batang jalar, daun-daun sari, kelopak dan daun bunga
merupakan pola-pola tetap sebagai identitas; (3) Patra Bun-bunan, dapat bervariasi
dalam berbagai jenis flora yang tergolong bun-bunan (tumbuh-tumbuhan berbatang
jalar). Dibuat dengan pola berulang antara daun dan bunga dirangkai batang jalar.
Dapat pula dibuat variasi dengan julur-julur dari batang jalar; (4) Patra Pid-pid, juga
melukiskan flora dari jenis daun bertulang tengah dengan daun-daun simetris yang
dapat bervariasi. Jenis daun yang dilukiskan ditempatkan pada bidang sempit; (e)
21
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Patra Punggel, mengambil bentuk dasar liking paku, sejenis flora dengan lengkung-
lengkung daun muda pohon paku.
Patra Punggel merupakan patra yang paling banyak digunakan, selain bentuknya
yang murni sebagai Patra punggeh utuh. Patra Punggel umumnya melengkapi segala
bentuk kekarangan (patra-patra jenis fauna) sebagai hiasan bagian (lidah naga patra
punggel api-apian), ekor singa dan hiasan-hiasan untuk patra tunggal puncak atap
yang disebut bantala pada atap yang bukan berpuncak satu. Serupa dengan Patra
Samblung, Patra Olanda, Patra Cina dan Patra Bali, masing-masing patra tersebut
dengan kemungkinan diberi nama berdasarkan negara asalnya.
Patra Samblung adalah patra yang dibuat dengan pengulangan-pengulangan
motif kepitan tanpa adanya suatu motif penyela. Pola Patra Samblung merupakan
penyederhanaan bentuk tanaman menjalar (Hartanti & Nediari, 2014). Ada pula
Patra Banci yang bervariasi dari gabungan patra yang dirangkai dalam satu kesatuan
serasi dengan mewujudkan identitas baru. Patra Pae, mengambil bentuk tumbuh-
tumbuhan sejenis kapu-kapu yang dibuat dalam bentuk pola berulang berjajar
memanjang. Patra Ganggong, menyerupai bentuk tumbuh-tumbuhan ganggang air
yang dibuat dalam bentuk pola berulang berjajar memanjang. Patra Batun Timun,
bentuk dasar serupa biji mentimun yang dibuat dalam susunan pola diagonal
berulang. Sela-sela susunan dihias dengan bentuk-bentuk para mas-masan setengah
bidang. Patra Sulur, melukiskan pohon jalar jenis beruas-ruas dengan daun-daun
sulur bercabang-cabang tersusun, berulang. Patra Sulur dipolakan pula dalam
bentuk tiga jalur batang jalar teranyam berulang.
(a) (b)
Gambar 6. (a) Sketsa Patra Punggel, (b) Contoh Ukiran Patra Punggel
(Sumber: [Link]
22
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
para pengungsi sangat rentan terkena infeksi dan penyakit. Kasus penyakit menular
makin meningkat seiring dengan minimnya akses terhadap air minum dan kondisi
sanitasi lingkungan yang memburuk. Bencana yang terjadi dapat menyebabkan
rusaknya fasilitas umum dan kesehatan yang mengakibatkan munculnya Kejadian
Luar Biasa (KLB) diare dan disentri yang dipengaruhi oleh ketersediaan sumber air
minum yang terbatas seperti yang terjadi pada bencana gempa bumi di Provinsi D.I.
Yogyakarta pada tahun 2006 (Suryani dan Orbayinah, 2017). KLB yang terjadi pada
saat bencana umumnya disebabkan oleh kondisi lingkungan yang kurang higienis,
persediaan air terbatas, serta jumlah jamban atau fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus)
yang sangat tidak memadai.
Minimnya kuantitas air minum dapat mengakibatkan dehidrasi, sementara air
yang buruk dari segi kualitas dapat menjadi agen penyebaran berbagai jenis penyakit.
Menurunnya kualitas air dapat disebabkan oleh buruknya kondisi lingkungan dan
sanitasi (sampah, air limbah, dan limbah tinja). Menurut cara penyebarannya, ada 4
macam penyakit yang penularannya melibatkan air (Priyanto, 2011), yaitu:
− Water Borne Disease: penyakit yang ditularkan langsung melalui air minum,
di mana air yang diminum mengandung kuman patogen. Jenis penyakitnya
adalah kolera, tipus dan disentri.
− Water Washed Disease: penyakit yang disebabkan higienitas air yang buruk yang
dapat menular melalui infeksi pada saluran pencernaan (diare), infeksi pada kulit
dan mata (skabies dan trakoma), serta penyakit melalui cairan kemih binatang
pengerat (leptospirosis).
− Water Based Disease: penyakit yang disebabkan oleh bibit penyakit yang
sebagian siklus kehidupannya berhubungan dengan air. Contoh penyakitnya
adalah Schistosomiasis.
− Water Related Vectors: penyakit yang disebabkan oleh vektor penyakit yang
sebagian atau seluruh perindukannya berada di air. Jenis penyakitnya adalah
demam berdarah, malaria, dan filariasis.
23
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
sanitasi dan kebersihan (WASH–Water Supply, Sanitation and Hygiene Promotion) yaitu
standar kebersihan, standar pasokan air, standar pengelolaan limbah tinja, standar
pengendalian vektor, standar pengelolaan sampah padat, serta standar air, sanitasi
dan kebersihan dalam kondisi wabah penyakit. Selain itu, materi pada bagian ini
juga disadur dari Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana
yang dibuat oleh Departemen Kesehatan RI (2007) serta dari peraturan-peraturan
teknis lainnya yang berlaku di Indonesia.
Setiap orang harus memiliki kemudahan akses terhadap air minum yang
terjamin kuantitasnya supaya dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Jarak dari
setiap hunian menuju ke pusat sumber air tidak boleh lebih dari 500 meter dan waktu
antre di sumber air tidak boleh lebih dari 30 menit. Jumlah maksimal pengguna pada
fasilitas air minum bersama adalah:
− 250 orang untuk setiap keran air (untuk laju aliran air 7,5 liter/menit);
− 500 orang untuk setiap pompa air tangan (untuk laju aliran air 17 liter/menit);
− 400 orang untuk setiap sumur (untuk laju aliran air 12,5 liter/menit);
− 100 orang untuk setiap fasilitas tempat cuci bersama; serta
− 50 orang untuk setiap fasilitas pemandian umum.
Sementara itu, dari segi kuantitas, jumlah rata-rata kebutuhan air untuk minum
dan kebutuhan domestik adalah 15 liter per orang per hari yang dibagi sesuai
kebutuhan pada Tabel 3.
Kuantitas (Liter/Orang/
Kebutuhan Faktor Pengaruh
Hari)
Kebutuhan dasar (makan Iklim dan kondisi fisik
2,5 - 3
dan minum) masing-masing individu
Membersihkan diri 2-6 Norma sosial dan budaya
Tipe makanan serta
Memasak 3-6
norma sosial dan budaya
Total Kebutuhan Air per
7,5 - 15
Individu
(Sumber: The Sphere Handbook, 2018)
24
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Air harus memiliki rasa yang bisa diterima serta memenuhi kualitas untuk
diminum, dimasak, dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari tanpa menyebabkan
gangguan kesehatan. Kehadiran bakteri fecal coliform (mayoritas merupakan E. coli)
mengindikasikan adanya kontaminasi feses manusia dan hewan dan kemungkinan
mengandung patogen berbahaya sehingga air harus diolah untuk menghilangkan
bakteri tersebut. Apabila dalam pengolahan air tersebut digunakan klorin sebagai
desinfektan, maka perlu dilakukan pengecekan kadar residu klorin pada keran
keluaran.
Di Indonesia, standar kualitas air minum yang harus dipenuhi mengacu kepada
Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air
Minum. Persyaratan kualitas air minum terdapat pada lampiran Permenkes No. 492
Tahun 2010 yang terdiri dari parameter wajib dan parameter tambahan. Suplai air
minum dapat diperoleh dari pengembangan jaringan PDAM atau pemerintah
setempat dapat membangun sistem pengolahan sendiri asalkan sesuai dengan
baku mutu tersebut.
Beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian adalah:
− Apabila mengalami kesulitan untuk memenuhi standar minimum dari segi
kuantitas dan kualitas secara bersamaan, maka prioritaskan kuantitas terlebih
dahulu. Air dengan kualitas sedang dapat digunakan untuk mencegah dehidrasi,
mengurangi stres dan mencegah penyakit diare; serta
− Air dapat mengalami kontaminasi pada saat pengumpulan, penyimpanan,
pendistribusian, dan saat diambil dari keran sehingga perlu dilakukan
pengecekan dan pembersihan fasilitas secara berkala.
25
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Untuk memenuhi kebutuhan air minum, langkah yang paling mudah dilakukan
adalah pengembangan jaringan PDAM eksisting menuju lokasi pengungsian.
Apabila belum tersedia jaringan PDAM di sekitar lokasi, maka dapat dibangun sarana
penyediaan air minum sederhana yang memanfaatkan sumber air terdekat, seperti
sungai dan mata air atau menggali sumur dangkal. Sarana yang dapat dibangun
dapat berupa tangki air (bisa dilengkapi tower), jaringan perpipaan, hidran umum
dan keran umum. Untuk pelengkap, dapat disediakan ember pada tiap rumah untuk
menampung dan mengambil air.
26
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
peningkatan jumlah toilet dengan minimal jumlah 1 buah toilet untuk 20 orang
dengan rasio toilet wanita dan toilet laki-laki adalah 3:1.
Limbah tinja harus dikelola dengan baik dan aman supaya tidak mencemari
lingkungan dan mengganggu kesehatan masyarakat. Pada tahap awal, perlu
dirancang pengelolaan limbah tinja dengan kapasitas 1-2 liter/orang/hari. Sementara
untuk tahap lanjutan, rencanakan pengelolaan air limbah dengan kapasitas 40-90
liter/orang/tahun. Perlu dipastikan bahwa air limbah domestik berupa gray water (air
limbah dari dapur, kegiatan mencuci dan buang air kecil) tidak disatukan dengan
limbah tinja karena penanganannya berbeda, kecuali jika lokasi permukiman
merupakan lokasi hunian yang merupakan permukiman tetap dan terdapat fasilitas
SPAL (Sistem Pengelolaan Air Limbah) eksisting. Apabila memungkinkan, dapat
dilakukan pemanfaatan limbah tinja menjadi sumber energi seperti biogas.
27
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
28
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
KRITERIA DESAIN
TATA BANGUNAN
BAB DAN LINGKUNGAN
3 TRADISIONAL BALI
29
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
sampai 6 meter, lebar telajakan minimal 0,5 m. Lebar jalan 6-8 m, lebar
telajakan minimal 0,75 m. Lebar jalan 8-12 m, minimal 1 m. Lebar 12-18 m,
minimal 1,5 m. Lebar jalan di atas 18 m, minimal 2 m.
teben.
30
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Tabel 4. Kriteria Tata Bangunan dan Lingkungan Permukiman dan Bangunan Arsitektur Bali
31
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Kesesuaian fungsi Utama mandala untuk area Perda Provinsi Bali No.5 tahun 2005
ruang dan orientasi suci, madya mandala untuk tentang persyaratan Arsitektur
ruang sesuai konsep area tempat tinggal, dan nista Bangunan Gedung & Perwali Nomor
Tri Mandala mandala untuk area profan 25 tahun 2010 tentang persyaratan
(wc/km). arsitektur bangunan gedung, Pasal
8, poin (1). Prinsip-prinsip tata ruang
dan orientasi
Menerapkan kon- Adanya peruntukan fungsi Perwali Nomor 25 tahun 2010
sep Tri Mandala se- ruang yang jelas untuk zona tentang persyaratan arsitektur
cara jelas dan pro- utama mandala, madya bangunan gedung, Pasal 8, poin
porsional mandala, dan nista mandala (1). Prinsip-prinsip tata ruang dan
pada bangunan rumah tinggal. orientasi
Menerapkan konsep Proporsi antara kepala ba- Glebet, Nyoman, dkk. 2002.
Tri Angga secara ngunan (atap), badan bangun- Arsitektur Tradisional Daerah Bali.
proporsional an dengan ketinggian 1 Denpasar: Departemen Pendidikan
lantai kurang lebih 300 cm dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi
(24 rai+pengurip), dan kaki dan Dokumentasi Kebudayaan
bangunan berupa peninggian Daerah.
lantai ataupun umpak minimal
1,2 (satu koma dua) meter dari
permukaan jalan, sehingga
menyiratkan adanya kepala,
badan dan kaki secara kuat dan
jelas.
32
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
(Sumber: Laporan Kriteria Desain Tata Bangunan dan Lingkungan Berdasarkan Tata Nilai Lokal
Masyarakat Bali, 2019)
Tabel di atas disusun untuk mengetahui faktor kriteria apa saja yang menjadi
titik berat dalam penilaian bangunan bernuansa arsitektur Bali dan bagaimanakah
pembobotan atau skoring terhadap keutamaan tiap variabelnya. Variabel-variabel
tersebut kemudian diaplikasikan pada instrumen survei lapangan.
33
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Titik sebaran survei dan observasi lapangan dilakukan pada zona budidaya 4
(Zona B4) di 4 kota besar di Bali, yaitu Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan. Dari
masing-masing lokasi sebaran survei dan observasi diambil sebanyak 60 sampel
responden, sehingga total terdapat 240 sampel responden.
Dari hasil rekapitulasi survei dan observasi lapangan, ditemukan bahwa
terdapat perubahan pada urutan prioritas masing-masing sub-kriteria. Pada Kategori
A – Tata Ruang dan Orientasi dan Kategori C – Ornamentasi dan Ragam Hias pada
masing-masing lokasi kajian menunjukkan prioritas yang berbeda-beda. Sementara
itu, untuk Kategori B – Tata Bangunan, seluruh lokasi kajian tidak menunjukkan
perubahan prioritas sama sekali.
Perubahan
Tata Ruang dan Urutan
A Kotamadya Kabupaten Kabupaten Kabupaten
Orientasi Prioritas
Denpasar Badung Gianyar Tabanan
A1 Menerapkan konsep
Prioritas I A1 A1 A3 A3
“Hulu-Teben”
A2 Kesesuaian fungsi ruang
dan orientasi ruang sesuai Prioritas II A3 A3 A2 A2
konsep Tri Mandala
A3 KDB sesuai ketentuan Prioritas III A4 A2 A8 A1
A4 Menerapkan jarak
sepadan jalan terhadap Prioritas IV A2 A7 A7 A7
bangunan
A5 Menerapkan sempadan
Prioritas V A7 A8 A1 A4
samping dan belakang
A6 Memiliki area telajakan Prioritas VI A8 A4 A4 A8
A7 Menerapkan konsep Tri
Mandala secara jelas dan Prioritas VII A5 A5 A5 A5
proporsional
A8 Letak pintu masuk Prioritas VIII A6 A6 A6 A6
B Tata Bangunan Urutan Kotamadya Kabupaten Kabupaten Kabupaten
Denpasar Badung Gianyar Tabanan
Prioritas
B1 Menerapkan konsep Tri
Prioritas I B3 B3 B3 B3
Angga secara proporsional
B2 Bentuk atap bangunan Prioritas II B2 B2 B2 B2
B3 Proporsi yang harmonis
Prioritas III B1 B1 B1 B1
dengan lingkungan
B4 Artikulasi sistem struktur Prioritas IV B4 B4 B4 B4
34
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
(Sumber: Laporan Kriteria Desain Tata Bangunan dan Lingkungan Berdasarkan Tata Nilai Lokal Masyarakat Bali,
2019)
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa tiap kategori di tiap kawasan memiliki
prioritas yang berbeda-beda. Untuk Tata Ruang dan Orientasi (Kategori A), hal yang
menjadi prioritas utama adalah menerapkan konsep ‘”Hulu-Teben’’ dan memiliki KDB
sesuai ketentuan. Untuk Tata Bangunan (Kategori B), hal yang menjadi prioritas utama
pada tiap lokasi di SARBAGITA adalah harmonisasi dengan lingkungan. Sementara
itu, untuk Ornamentasi dan Ragam Hias pada Bangunan (Kategori C), yang menjadi
prioritas adalah penggunaan ornamen pada bangunan/tipe ornamentasi. Dapat
disimpulkan poin-poin yang menjadi prioritas kriteria dalam suatu bangunan hunian
dengan arsitektur Bali pada wilayah kajian antara lain:
1. Mengaplikasikan konsep “Hulu-Teben” pada tata ruang dan orientasinya;
2. Memiliki KDB sesuai ketentuan;
3. Tata bangunan yang harmonis dengan lingkungan; serta
4. Bangunan mengaplikasikan ornamentasi Bali pada fasadnya.
Kategori B memiliki urutan prioritas yang sama dari seluruh wilayah kajian.
Proporsi antara bangunan dan harmonisasi dengan lingkungan sekitarnya dianggap
sangat penting pada masing-masing daerah. Untuk menonjolkan arsitektur Bali-nya,
bentuk fasad khas Bali diutamakan dalam pengaplikasian pada fasad bangunan.
Selain itu, perlu pula diterapkan konsep Tri Angga secara proporsional pada
bangunan. Untuk poin prioritas terakhir, yaitu artikulasi sistem struktur, struktur
harus mengikuti luasan dan desain dari fasad bangunan itu sendiri.
Setelah didapatkan prioritas kriteria desain sesuai dengan masukan 240
responden, untuk mendapatkan masukan secara akademis dan teknis, dilakukan
35
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Diskusi teknis juga menghasilkan kriteria desain final yang telah disempurnakan
dengan beberapa detail/rincian yang disertai dengan parameter dalam menilai
implementasi ATB di lapangan. Kriteria Tata Bangunan dan Lingkungan Berdasarkan
Tata Nilai Masyarakat Tradisional Bali tercantum pada Tabel 7.
36
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
37
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
38
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
39
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
40
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
(Sumber: Laporan Kriteria Desain Tata Bangunan dan Lingkungan Berdasarkan Tata Nilai Lokal
Masyarakat Bali, 2019)
41
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
KONSEP PEMBANGUNAN
BAB PROTOTIPE HUNIAN
4 SEMENTARA
42
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
43
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Lokasi site berada pada koordinat lokasi 8°26’21.0”S dan 115°25’35.8”E dan
berjarak 2,1 km ke arah selatan kantor Desa Rendang. Site dapat diakses melalui jalan
Astina Pura III yang memiliki lebar jalan 3 meter dengan kondisi telah diperkeras
aspal dengan kualitas yang sudah baik (Gambar 4.3).
Site ini memiliki luasan 6.705,03 m2, yang terbagi menjadi dua bagian dan
terpisahkan oleh jalan lingkungan dengan lebar jalan 3 meter. Site pertama memiliki
luasan luas site 5.573,03 m2, berada di sisi utara jalan. Adapun batas-batas site ini
adalah sebagai berikut:
a. Sebelah utara berbatasan dengan rumah warga dan kebun
b. Sebelah timur berbatasan dengan jalan
c. Sebelah selatan berbatasan dengan kebun dan jalan
d. Sebelah barat berbatasan dengan kebun
Sedangkan site kedua di selatan jalan memiliki luasan 1.132 m2 dengan batas-
batas sebagai berikut:
a. Sebelah utara berbatasan dengan jalan
b. Sebelah timur berbatasan dengan sawah
44
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Selain itu, kondisi lingkungan sekitar site yang masih berupa lahan perkebunan
dan sawah, diharapkan mengurangi dampak sosial yang mungkin muncul apabila
sudah mulai ditempati oleh warga terdampak bencana. Dari sisi jalan akses menuju
site, lebar jalan = 3 meter dengan kondisi telah diperkeras aspal dengan kondisi yang
baik, mempermudah dalam sirkulasi kendaraan baik roda dua maupun roda empat
yang nantinya akan mengangkut manusia dan barang masuk dan keluar dari site.
45
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Gambar 11. Analisis Potongan Tapak Eksisting (atas) dan Rencana (bawah)
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)
46
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Sistem sirkulasi di sekitar site Desa Rendang adalah dua arah, dengan lebar jalur
sirkulasi 3 meter. Dari kantor Desa Rendang, site ini berjarak kurang lebih 2,1 km,
dan dapat ditempuh melalui jalan Astina Pura III. Kondisi pergerakan di sekitar site
tergolong sepi, karena bukan merupakan jalur pergerakan utama di Desa Rendang,
selain kondisi eksisting lingkungan sekitar masih berupa lahan perkebunan dan
persawahan. Letak site yang memiliki dua sisi yang berbatasan dengan jalan, yaitu
sisi timur site dan sisi selatan site, memungkinkan perletakan entrance pada site
pada salah satu sisi tersebut. Perletakan entrance pada site harus mudah dikenali
serta dipengaruhi oleh kondisi topografi site dan aturan tata letak pemesuan sesuai
dengan konsep tata letak pemesuan pada rumah tradisional Bali.
Berdasarkan kondisi konsep tata letak pemesuan, tata letak entrance di sisi
timur berada pada sepertiga bagian selatan dari panjang sisi timur. Bila dilihat dari
sisi keamanan dan topografi, perletakan pada bagian ini kurang baik karena terlalu
dekat dengan tikungan serta perbedaan elevasi jalan dan site yang cukup tinggi
kurang lebih 3,5 meter membutuhkan jalan akses yang lebih panjang menuju ke
site. Di sisi selatan, berdasarkan
konsep tata letak pemesuan,
tata letak entrance berada
pada sepertiga bagian timur
dari panjang sisi selatan. Dari
sisi keamanan, letak entrance di
sini lebih aman dari pengaruh
sirkulasi di sekitar site, dengan
beda elevasi yang sama dengan
perbedaan elevasi di sisi timur,
namun lebih memungkinkan
untuk membuat jalan akses
yang lebih panjang (Gambar
12).
47
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Pembagian zoning pada site didasarkan pada konsep pembagian halaman pada
natah/halaman rumah tradisional Bali yang menganut konsep Tri Mandala. Dengan
mengadopsi tata nilai Tri Mandala, maka site secara umum dibagi menjadi 3 halaman
yang memiliki fungsi pokok berbeda-beda. Konsep Tri Mandala terdiri dari:
a. Utama Mandala yang merupakan zona untuk tempat suci yang berada pada
wilayah hulu site. Pada zona utama mandala, fungsi pokok yang nantinya akan
diwadahi adalah terkait dengan kegiatan keagamaan, seperti tempat suci,
namun tidak menutup kemungkinan pemanfaatan fungsi lain terkait dengan
efisiensi dalam pemanfaatan lahan.
b. Madya Mandala yang merupakan zona untuk kegiatan sosialisasi yang berada
di tengah-tengah site. Pada bagian Madya Mandala, fungsi umum yang akan
diwadahi di sini adalah terkait perumahan, ruang terbuka hijau, fasilitas sosial
dan fasilitas umum.
c. Nista Mandala yang merupakan zona untuk kegiatan penunjang berada di
wilayah teben dari site. Di bagian Nista Mandala, fungsi yang nantinya akan
diwadahi adalah fungsi penunjang atau service, untuk menunjang kegiatan di
dalam site.
48
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
49
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
50
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
51
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Intensitas penggunaan lahan pada site di Desa Rendang dapat dilihat pada
Tabel 9.
Total 4.021,53 m2 60 %
Lahan Terbangun
2.250,00 m2
a. Rumah Tinggal (@9x250m2)
36,00 m2
b. Bangunan Informasi
36,00 m2
c. R. Serbaguna 54,00 m2
d. Gudang Logistik 15,00 m2
e. Tangki Air 292.5 m2
f. Kandang
Total 2.683,50 m2 40 %
52
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Gambar 13. Site Plan dan Layout Plan Kawasan Huntara Rendang
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)
53
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Pelaku
No Uraian Kegiatan Kebutuhan Ruang
Kegiatan
1 Penghuni • Istirahat • Ruang Tidur
• Memasak • Dapur
• Makan • Ruang Makan
• Berkumpul dengan keluarga • Ruang Keluarga
• Beribadah • Pura/Merajan
• Menerima tamu • Ruang Tamu/Teras
• Mandi, buang air besar/kecil • Kamar Mandi/WC
• Mencuci dan menjemur pa- • Ruang cuci dan Jemur
kaian
2 Tamu • Bertamu • Ruang Tamu/Teras
54
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Dari fungsi ruang tersebut, yang diwadahi dalam satu unit hunian sementara ini
adalah fungsi utama dan penunjang yang meliputi ruang istirahat, ruang keluarga
yang juga dapat dimanfaatkan untuk ruang makan, dan teras. Dapur dan kamar
mandi direncanakan terpisah sebagai unit yang dimanfaatkan secara komunal.
Dari fungsi ruang yang diwadahi dalam satu unit hunian sementara ini, di mana
dalam satu unit hunian untuk 1 KK dengan asumsi penghuni sebanyak 5 orang,
direncanakan terdapat 2 kamar tidur, 1 ruang keluarga dan 1 teras. Berikut studi
untuk masing-masing ruang yang terdapat dalam satu unit hunian.
Luasan ruang 9 m2
Ruang Tidur
(2 Kamar Tidur = 18 m2)
55
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Studi terhadap ruang dalam ini menunjukkan bahwa secara luasan lantai sudah
memenuhi standar minimal yang telah ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Kepala
Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 7 Tahun 2008 tentang Pedoman
Tata Cara Pemberian Bantuan Pemenuhan Kebutuhan Dasar yaitu 3 m2 per orang.
56
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
57
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
58
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
59
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Gambar 18. Konfigurasi Bentuk Punggel Konsep Tipe 27 m2 Menjadi Punggel Konsep Tipe 54 m2
(Sumber: Hasil Analisis Pribadi, 2019)
60
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Pengaturan denah ruangan dipengaruhi pula oleh sistem dan material struktur
yang digunakan pada bangunan. Dengan mengadopsi sistem struktur rangka dan
bahan dari panel RISHA, maka modul struktur yang digunakan adalah 3 x 3 meter.
Transformasi konsep ruang dalam ke dalam denah bangunan huntara dengan
mengacu pada modul struktur RISHA dapat dilihat pada Gambar 20.
Untuk mengoptimalkan penggunaan lahan, maka tipe rumah yang direncanakan
adalah tipe rumah gandeng, di mana tiap-tiap massa bangunan direncanakan
mampu menampung 4 KK, dengan dilengkapi 2 dapur dan 2 kamar mandi/WC yang
dibangun untuk dimanfaatkan secara komunal. Adapun denah hunian untuk 1 KK
dan 1 unit bangunan hunian dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 20. Konsep Denah Unit Huntara Tipe 27 Berdasarkan Modul RISHA
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)
Gambar 21. Konsep Denah 1 Massa Bangunan Dilengkapi dengan Dapur dan WC Komunal
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)
61
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Gambar 22. Analisis Tampilan Bangunan Sesuai dengan Konsep Tri Angga
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)
62
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Tampilan fasad bangunan menunjukkan bahwa sisi depan dan belakang tidak
memperlihatkan perbedaan, dikarenakan masing-masing merupakan pintu masuk
utama ke dalam unit hunian. Bagian sisi bangunan tidak diberi jendela karena selain
menghindari kontak langsung dengan sinar matahari, juga untuk menghindari arah
hadap bangunan ke bagian WC dan dapur komunal. Penghawaan dan pencahayaan
pada bangunan mengoptimalkan pencahayaan alami melalui penyediaan bukaan
pada bangunan berupa jendela kaca.
63
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
b
Gambar 26. Konsep Potongan (a) Memanjang Bangunan; (b) Memendek Bangunan
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)
64
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Air minum merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi manusia
dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan air minum didasarkan pada jumlah
pengungsi dan juga aktivitas yang dilakukannya. Kebutuhan air minum rumah
tangga untuk kota kecamatan adalah sebesar 100 liter/orang/hari (Direktorat
Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, 2016). Akan tetapi, menurut
Sphere Association (2018), standar kebutuhan air untuk pengungsi adalah 15 liter/
orang/hari yang terdiri dari 3 liter/orang/hari untuk kebutuhan dasar makan dan
minum, 6 liter/orang/hari untuk membersihkan diri dan 6 liter/orang/hari untuk
memasak. Kebutuhan air pada perencanaan kali ini akan ditetapkan sebesar 100
liter/orang/hari karena status Huntara ke depannya akan berubah menjadi Huntap
(hunian tetap).
Selain untuk keperluan rumah tangga, perlu diperhitungkan juga kebutuhan air
untuk keperluan fasilitas umum, seperti tempat suci, ruang serbaguna, serta Kantor
Logistik dan Informasi. Selain itu pula, akses air bersih diperlukan pada area reservoir/
sumur bor, gardu PLN, RTH, tempat pengolahan limbah dan TPS, tempat parkir serta
kebutuhan hewan ternak di kandang untuk minum hewan dan membersihkan
kandang.
Alternatif pertama penyediaan sumber air di area Huntara adalah dengan
mengambil air dari jaringan PDAM eksisting. Pada ruas jalan di depan area Huntara
terdapat jaringan pipa PDAM dengan diameter pipa 2-3 inci. Sumber air baku yang
65
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
digunakan oleh PDAM Tirta Tohlangkir Unit Rendang berasal dari Mata Air Arca dan
Mata Air Gerubug. Tim BLPW II Denpasar sudah pernah melakukan koordinasi dengan
PDAM Tirta Tohlangkir Unit Rendang dan pihak PDAM bersedia untuk memasukkan
area Huntara Desa Rendang ke dalam business plan PDAM. Opsi lain adalah dengan
memasukkan area Huntara Desa Rendang ke dalam program PAMSIMAS (Penyediaan
Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) yang direncanakan oleh PDAM Tirta
Tohlangkir. Air dari jaringan PDAM eksisting perlu dipompa menuju ke area Huntara
karena elevasi area Huntara yang lebih tinggi daripada elevasi pipa air PDAM.
Sementara itu alternatif kedua penyediaan sumber air adalah dengan
membangun sumur bor yang dilengkapi dengan rumah pompa dan genset untuk
mengantisipasi pemadaman listrik. Berdasarkan hasil koordinasi antara Tim BLPW
II Denpasar dengan Dinas PUPR Kabupaten Karangasem, pembangunan sumur bor
dapat diusulkan kepada Badan Geologi, Kementerian ESDM.
Sistem pengaliran air yang digunakan pada kawasan Huntara adalah sistem
gravitasi dengan cara meletakkan reservoir/tangki air di bagian utara area huntara
yang memiliki elevasi tertinggi. Air dari PDAM atau sumur bor akan ditampung
dalam reservoir kemudian didistribusikan ke area pelayanan dengan menggunakan
jaringan perpipaan.
66
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Sistem jaringan air bersih akan dialirkan dengan pipa distribusi yang berukuran
1,5 dan 2 inci menuju ke toilet bersama, dapur bersama, blok hunian warga, kandang
ternak, serta fasilitas umum dan sosial yang ada di area Huntara. Pada blok hunian
warga akan disediakan keran air di bagian depan hunian yang dapat digunakan
bersama (1 keran air untuk 2 KK). Untuk pengembangan selanjutnya, apabila Huntara
beralih menjadi Huntap, dapat dipasang tambahan keran air sehingga setiap KK
dapat memiliki 1 keran air pribadi. Pada keran air pribadi tersebut dapat dilengkapi
dengan meteran air untuk mencatat konsumsi air setiap KK. Pada area Huntara juga
dapat ditambahkan hidran umum untuk mengantisipasi kebutuhan air saat terjadi
kebakaran.
Gambar 28. Ilustrasi Keran Air dan Meteran Tiap KK (kiri) dan Hidran Umum (kanan)
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2019)
Air limbah domestik yang dikelola meliputi black water (limbah tinja manusia)
dan grey water (air limbah dari floor drain toilet dan wastafel dapur). Perhitungan debit
air limbah domestik yang dihasilkan didasarkan pada besarnya pemakaian air minum.
Volume air limbah adalah 80% air minum sehingga apabila konsumsi air minum di
Huntara Desa Rendang adalah 100 liter/orang/hari, maka debit air limbah domestik
yang dihasilkan adalah sebesar 80 liter/orang/hari. Sistem pengelolaan limbah yang
akan digunakan adalah SPAL-D (Sistem Pengelolaan Air Limbah - Domestik) setempat
skala komunal dengan pengolahan menggunakan IPAL komunal.
Komponen dari sistem IPAL komunal adalah sambungan rumah (dari kamar
mandi dan dapur umum menggunakan pipa persil), bak kontrol, grease trap, manhole,
dan IPAL komunal.
67
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
1. Bak kontrol berfungsi sebagai kontrol pertemuan aliran dari kamar mandi dan
dapur. Bak kontrol terbuat dari pasangan batu bata yang diaci halus dengan
dimensi yang disesuaikan dengan kondisi lapangan;
2. Grease trap sejenis dengan bak kontrol namun difungsikan khusus untuk
menyaring padatan dan minyak dari dapur dengan dimensi sama dengan bak
kontrol;
3. Sedangkan manhole merupakan lubang kontrol aliran limbah yang ada di pipa
induk yang terbuat dari cetakan beton dengan ukuran minimal 50 x 50 cm2,
harus kedap air, memiliki tutup yang mudah dibuka, serta tahan terhadap
tekanan kendaraan yang lewat di atasnya.
Air limbah dari kamar mandi dan dapur bersama akan dialirkan secara gravitasi
dari utara menuju selatan area Huntara dengan jaringan perpipaan melewati bak
kontrol, grease trap, dan manhole kemudian menuju ke IPAL. Sedangkan limbah
tinja dari hewan ternak dapat diolah menjadi pupuk tanaman. Ke depannya apabila
memungkinkan, dapat dibangun instalasi biogas untuk mengolah tinja hewan
ternak menjadi gas metan yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kompor
untuk keperluan memasak di dapur umum.
68
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Teknologi pengolahan air limbah yang digunakan pada IPAL adalah ABR
(Anaerobic Baffle Reactor) dan AF (Anaerobic Filter). Teknologi anaerob umum
digunakan pada sistem skala permukiman karena operasionalnya yang mudah
(tidak perlu oksigen) serta produksi lumpur aktif rendah. ABR dan AF memiliki
keunggulan efisiensi pengolahan yang tinggi serta tidak membutuhkan lahan
yang luas. Pada sistem ABR (Gambar 30), air limbah diolah secara fisik dan biologi
dengan menggunakan sekat-sekat yang berfungsi untuk menghasilkan turbulensi.
Sementara itu pada AF (Gambar 31), air limbah mengalir melalui filter yang menjebak
partikel dan mendegradasi bahan organik dengan biomassa yang melekat pada
media.
69
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Gambar 32. Konsep Perletakan Tempat Sampah dan Bak Sampah Komunal
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2020)
70
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
dan dapur serta sampah daun-daunan dan rumput. Sementara itu, sampah anorganik
contohnya adalah sampah plastik, kertas, kardus, kaca/gelas, besi dan logam lainnya
(Badan Standardisasi Nasional, 2008). Apabila memungkinkan, untuk selanjutnya
dapat dilakukan sosialisasi untuk peningkatan kesadaran memilah ke dalam 5 jenis
sampah, yaitu sampah yang mudah terurai, sampah yang dapat digunakan kembali,
sampah yang dapat didaur ulang, sampah yang mengandung B3 serta limbah B3, dan
sampah lainnya atau residu. Peningkatan ini juga harus diikuti dengan penyediaan
5 buah tempat sampah.
Gambar 34. Ilustrasi Bak Sampah Komunal di Huntap Pagerjurang, Sleman, DIY
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2019)
71
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Saluran drainase akan dibuat terpisah, yaitu saluran air hujan dan saluran air
buangan rumah tangga dari floor drain kamar mandi dan wastafel (grey water).
Pemisahan ini sesuai dengan PP No. 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber
Daya Air. Pemisahan dilakukan karena karakteristik air hujan dan grey water berbeda
sehingga pengolahannya pun berbeda. Selain itu, air hujan juga dapat ditampung
dan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. Infiltrasi air hujan terhadap sistem
perpipaan air limbah mempunyai toleransi 5% dari total debit air limbah.
72
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Air hujan dapat dijadikan sumber air bersih dan bahkan bahan baku air minum
tetapi harus melalui pengolahan terlebih dahulu. Pada bagian atap Huntara akan
dipasang talang air (penampang terbuka) yang akan disambungkan dengan pipa
ke filter yang minimal terdiri dari pasir silika dan kerikil. Pasir silika berfungsi untuk
menghilangkan kandungan lumpur tanah, partikel kecil dan sedimen pada air,
sementara kerikil berfungsi sebagai penahan komponen media filter. Pasir yang
digunakan memiliki ketebalan: 300-400 mm, diameter efektif: 0,3-1,2 mm, koefisien
keseragaman: 1,2-1,4 mm dan porositas: 0,4. Kerikil yang digunakan memiliki
ketebalan 200-350 mm dan berdiameter 10-40 mm. Sebagai pelengkap, dapat
ditambahkan media filter berupa karbon aktif dan kapur. Karbon aktif berfungsi untuk
menyerap racun, menghilangkan bau dan juga sebagai desinfeksi, sementara kapur
berfungsi sebagai penetralisasi pH asam (apabila diperlukan). Filter yang terpakai
lama-kelamaan akan menjadi kotor sehingga dapat mengurangi kinerjanya dan
karena itu perlu dilakukan backwash (pembersihan media filter melalui pengaliran air
dengan arus terbalik dan tekanan tinggi) atau mengganti media dari filter tersebut.
Air yang telah melalui filter kemudian ditampung dalam bak penampung yang
dilengkapi pipa dan keran air sehingga bisa langsung digunakan sebagai tambahan
air untuk keperluan mencuci, menyiram tanaman dan flushing toilet. Bak penampung
dapat terbuat dari bahan ferro semen, pasangan bata dan Fiberglass Reinforce Plastic
(FRP). Bahan dari besi atau drum tidak direkomendasikan untuk digunakan sebagai
bahan PAH karena mudah berkarat dan menyerap panas (Pusat Litbang Perumahan
dan Permukiman, 2017).
73
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Alternatif lain pengelolaan air hujan di kawasan Huntara adalah dengan cara
mengalirkan air hujan ke saluran drainase rumah dan masuk ke sumur resapan
sebelum ke saluran drainase. Sumur resapan adalah sumur yang dibuat sebagai
tempat penampungan air hujan berlebih agar memiliki waktu dan ruang untuk
meresapkan ke dalam tanah secara infiltrasi dan perkolasi. Standar penerapan sumur
resapan didasarkan pada SNI 06-2405:1991 tentang Sumur Resapan Pekarangan dan
SNI 03-2453:2002 tentang Tata Cara Perencanaan Teknik Sumur Resapan Air Hujan
untuk Lahan Pekarangan. Air hujan dari saluran drainase rumah akan dialirkan ke bak
kontrol yang dilengkapi dengan saringan kawat pada ujung pipa.
Bak kontrol juga dilengkapi dengan saringan kawat di bagian ujung pipa yang
mengarah ke sumur resapan. Pipa air hujan dari talang maupun dari saluran drainase
rumah menuju sumur resapan dengan kemiringan pipa 2%. Di bagian atas sumur
resapan dipasang tutup dari beton bertulang dan dapat ditimbun dengan tanah
kembali. Sementara itu, di bagian bawah sumur resapan ditambahkan batu kali atau
pecahan bata merah dan juga ijuk. Jarak sumur resapan dari sumur air bersih dan
resapan lain serta septic tank adalah >2 m dan resapan septic tank adalah >5 m (Pusat
Litbang Perumahan dan Permukiman, 2017).
Air hujan yang tidak melalui talang dan sumur resapan akan dialirkan langsung
melalui saluran drainase yang akan dibangun di bagian sisi kiri dan kanan jalan akses
dalam area Huntara dengan aliran air dari utara menuju ke selatan (secara gravitasi
sesuai topografi area). Saluran drainase tersebut akan dilengkapi dengan tutup grill
74
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
cast iron untuk menghalangi sampah dan juga supaya tidak ada anak kecil terperosok.
Saluran drainase dalam area Huntara akan disambungkan dengan saluran drainase
eksisting yang terdapat di luar area Huntara.
Di bagian luar area Huntara terdapat saluran drainase eksisting di sepanjang
jalan akses dengan dimensi tinggi 40 cm dan lebar 42 cm pada bagian timur dan
dimensi tinggi 100 cm dan lebar 110 cm pada bagian selatan. Saluran drainase
lingkungan tersebut tersambung dengan saluran irigasi dengan dimensi cukup
besar yaitu tinggi 110 cm dan lebar 195 cm. Aliran air dari saluran drainase tersebut
bercabang dua dan langsung dialirkan ke sawah-sawah yang terdapat di depan
lokasi rencana Huntara. Sementara itu, air limbah grey water akan dialirkan dengan
pipa tertutup dari floor drain kamar mandi, wastafel dan dapur menuju IPAL komunal.
Gambar 38. Ilustrasi Saluran Drainase dengan Penutup Grill Cast Iron
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2019)
75
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
PEMBANGUNAN
BAB PROTOTIPE HUNIAN
5 SEMENTARA
Dalam kegiatan penelitian dan pengembangan yang selama ini telah dilakukan
oleh BLPW II Denpasar, dihasilkan beberapa teknologi bahan bangunan yang dapat
diterapkan pada pembangunan hunian untuk meningkatkan kualitas bangunan
tersebut dan juga untuk menjawab berbagai permasalahan di bidang permukiman.
Beberapa teknologi tersebut adalah eco paving, papan lapis pelepah gewang dan
bambu laminasi.
A. Eco Paving
Eco paving merupakan produk inovasi berupa paving block yang terbuat dari
campuran pasir pasang dan sampah plastik tas kresek. Sampah plastik tersebut
digunakan untuk menggantikan fungsi semen sebagai pengikat (binder) material
pasir. Tujuan penggunaan sampah plastik tas kresek adalah untuk mengurangi
timbulan sampah plastik yang mencemari lingkungan sekitar. Sampah plastik yang
digunakan dalam pembuatan eco paving ini hanya yang berjenis tas kresek berbahan
dasar LDPE (Low Density Polyethylene) karena berdasarkan hasil dari beberapa
penelitian, jenis plastik yang mampu memberikan hasil maksimal sebagai material
pengganti semen dalam produk perkerasan adalah plastik jenis PE (Polyethylene),
PS (Polystyrene) dan PP (Polypropylene). Selain itu, tas kresek merupakan sampah
76
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
plastik yang cukup banyak ditemui di TPS dan TPA karena masyarakat sangat sering
menggunakan produk tas kresek dalam kehidupan sehari-hari.
Pembuatan eco paving dilakukan dengan metode pelelehan (melted). Proses
pelelehan dan pencampuran pasir dan sampah plastik dilakukan secara manual
dengan menggunakan wadah drum bekas yang diletakkan di atas pemanas berupa
kompor gas. Sampah plastik tas kresek akan dicacah dengan mesin pencacah sampah
plastik, dicampur merata dengan pasir kemudian dipanaskan di atas kompor hingga
plastik meleleh dan menyelimuti pasir menjadi campuran yang homogen. Campuran
tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cetakan paving block untuk selanjutnya
dicetak dan dipadatkan dengan menggunakan mesin cold press.
Gambar 40. Proses Pencetakan dan Pemadatan Menggunakan Mesin Cold Press
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2019)
77
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Produk eco paving telah melalui proses pengujian yang meliputi pengujian berat,
berat jenis dan absorbsi yang mengacu pada SNI 03-0691:1996 tentang Bata Beton
(Paving Block) serta pengujian kuat tekan yang mengacu pada ASTM C 109-01 yaitu
Standard Test Method for Compressive Strenght of Hydraulic Cemnet Mortars (using 2 in.
or [50 mm] Cube Specimens) atau Metode Standar Pengujian untuk Kekuatan Tekan
Mortar Semen Hidrolik.
Pada penelitian eco paving yang dilakukan oleh BLPW II Denpasar, digunakan
3 variasi rasio perbandingan volume antara pasir dengan plastik untuk campuran
benda uji yaitu 1:4; 1:6; dan 1:8. Berdasarkan hasil pengujian terhadap benda uji,
didapati nilai rata-rata kuat tekan pada umur benda uji 1 hari adalah 21,5 MPa (variasi
1:4), 23,53 MPa (variasi 1:6), dan 22,6 MPa (variasi 1:8). Sementara itu, nilai rata-rata
kuat tekan pada umur benda uji 7 hari adalah 23,16 MPa (variasi 1:4), 24,55 MPa
(variasi 1:6), dan 25,2 MPa (variasi 1:8). Ketiga nilai kuat tekan pada 3 variasi benda
uji pada umur 1 hari dan 7 hari berada di atas 20 MPa. Sesuai dengan standar teknis
dalam SNI 03-0691:1996 tentang Bata Beton (Paving Block), ketiga variasi benda uji
tersebut memenuhi syarat paving block mutu B sehingga produk eco paving dapat
digunakan sebagai perkerasan pada pelataran parkir, pejalan kaki, dan taman.
78
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Gambar 42. Pola Pemasangan Eco Paving dan Paving Block pada Teras Huntara
(Sumber: Ilustrasi Tim, 2019)
Kebutuhan eco paving dan paving block konvensional untuk 4 unit teras Huntara
adalah sebagai berikut:
- Eco paving ukuran 20 x 20 x 6 cm3
14 buah/rumah x 4 rumah = 56 buah
- Paving block konvensional ukuran 20 x 20 x 7,5 cm3
42 buah/rumah x 4 rumah = 168 buah
Proses produksi eco paving dilakukan secara swadaya oleh tim dari BLPW II
Denpasar di Laboratorium Bahan Bangunan BLPW II Denpasar. Produksi dilakukan
selama 3 hari untuk menghasilkan 65 buah eco paving. Produk eco paving yang sudah
melalui proses quality control kemudian diangkut ke lokasi Huntara untuk dipasang
pada area teras. Pemasangan perkerasan pada area teras dilakukan selama 1 hari
yang meliputi proses pembersihan dan pemadatan area kerja, levelling tanah dan
pemasangan kanstin, penebaran pasir dan pemasangan paving block dan eco paving
serta pengisian celah dan pemadatan.
Karena kegiatan penerapan produk eco paving baru dan masih dilakukan serta
belum bisa diperoleh hasil pengamatannya maka keunggulan dan kelemahan
79
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
produk eco paving akan dijelaskan dari segi pembuatan dan karakteristiknya.
Keunggulan pertama, produk eco paving menggunakan bahan baku berupa sampah
sehingga dapat menjadi salah satu alternatif pengolahan sampah di Indonesia. Tidak
menutup kemungkinan bahwa plastik jenis lain selain tas kresek LDPE juga dapat
dimanfaatkan dalam pembuatan eco paving sehingga makin banyak sampah plastik
yang dapat dimanfaatkan supaya tidak mencemari lingkungan.
Keunggulan kedua, produk eco paving memiliki kekuatan tekan yang tidak
kalah dari paving block konvensional. Hal ini terbukti dari hasil pengujian yang
menunjukkan bahwa produk eco paving memenuhi syarat paving block mutu B
sebagai perkerasan pada pelataran parkir, pejalan kaki, dan taman. Kuat tekan
merupakan parameter yang paling penting dalam produk perkerasan.
Keunggulan ketiga, produk ini memiliki bobot yang lebih ringan daripada
paving block konvensional. Berat eco paving berada di kisaran 2-2,3 kg, lebih ringan
daripada paving block yang rata-rata memiliki bobot 2,5-3 kg. Keuntungan dari
produk yang lebih ringan adalah kemudahan dalam proses transportasi produk dari
tempat produksi menuju ke lokasi pemasangan paving block.
Sementara itu, kekurangan dari produk eco paving ini adalah belum
dilakukannya analisis ekonomi mengenai perbandingan antara biaya pembuatan
paving block konvensional dan pembuatan eco paving. Selain itu, belum dilakukan
analisis lingkungan yang meliputi penggunaan energi dalam pembuatan eco paving,
bahaya emisi asap yang dihasilkan dalam proses pemanasan plastik, serta potensi
terbentuknya mikroplastik yang mampu mencemari lingkungan.
80
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
81
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
khusus. Sementara itu, kelemahan teknologi papan lapis pelepah gewang adalah
sangat rentan terhadap mikroorganisme perusak (karena merupakan bahan
organik) serta strukturnya yang bisa rusak apabila dalam proses pembuatannya
tidak menggunakan lem dan kompaksi bahan yang tidak memenuhi spesifikasi yang
disyaratkan.
Gambar 45. Model Pemasangan Papan Lapis Pelepah Gewang sebagai Penutup Dinding
(Sumber: Analisis Tim, 2013)
Gambar 46. Rumah Tipe 36 di Kantor PIP2B, Dinas PUPR Provinsi NTT dengan Dinding Menggunakan
Papan Lapis Pelepah Gewang Dikombinasikan dengan Batako
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2013)
82
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Gambar 47. Rumah di Perumahan BTN Kolhua, Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang,
Provinsi NTT dengan Dinding Menggunakan Papan Lapis Pelepah Gewang Dikombinasikan dengan
Batako
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2013)
Gambar 48. Rumah di Kompleks Pondok Sawah, Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota
Kupang, Provinsi NTT dengan Dinding Menggunakan Papan Lapis Pelepah Gewang Dikombinasikan
dengan Batako
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2013)
C. Bambu Laminasi
Kayu sebagai bahan utama konstruksi ketersediaannya sudah semakin
berkurang di alam. Selain karena jumlahnya yang terbatas, kayu merupakan salah
satu material yang sulit diperbaharui secara cepat. Pemanfaatan kayu dengan
cara eksploitasi besar-besaran sering tidak diimbangi dengan usaha reboisasi atau
peremajaan. Itulah sebabnya semakin didapatkan kayu dengan kualitas baik dan
dimensi yang dibutuhkan di pasaran.
83
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Di sisi lain, bambu sudah dikenal oleh masyarakat sejak dahulu dan telah
digunakan sebagai bahan untuk keperluan sehari-hari mulai dari makanan, peralatan
rumah tangga, musik, upacara keagamaan sampai bangunan rumah yang mereka
tempati, sehingga di pedesaan, sebagian besar masyarakatnya mempunyai rumpun
bambu di pekarangannya. Tanaman bambu Indonesia ditemukan di dataran rendah
sampai pegunungan dengan ketinggian sekitar 300 m dari permukaan air laut dan
umumnya tumbuh di tempat terbuka dan daerahnya bebas dari genangan air.
Bambu memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat,
ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta
ringan. Harga bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain
karena ketersediaannya yang cukup melimpah dan mudah ditemukan di seluruh
daerah di Indonesia. Beberapa kelebihan bambu jika dipergunakan untuk komponen
bangunan, yaitu sebagi berikut:
a. Merupakan bahan yang sangat mudah untuk diperbarui (3-5 tahun sudah dapat
ditebang);
b. Harganya murah serta pengerjaannya mudah karena tidak memerlukan tenaga
terdidik, cukup dengan peralatan sederhana pada kegiatan pembangunan;
c. Mempunyai kekuatan tarik yang tinggi (beberapa jenis bambu melampaui kuat
tarik baja mutu sedang); serta
d. Masa konstruksi cukup singkat sehingga biaya pelaksanaan konstruksi menjadi
murah.
84
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
a. Penggunaan bambu sangat luas untuk berbagai macam tujuan karena memiliki
keunggulan sebagai bahan bangunan;
b. Aplikasi bambu sebagai bahan konstruksi tidaklah sulit;
c. Bambu merupakan salah satu material yang sangat potensial untuk pemenuhan
kebutuhan perumahan; serta
d. Bambu sebagai bahan bangunan telah diakui masyarakat dunia dengan
terbitnya standar internasional (ISO).
85
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Gambar 52. Bambu Laminasi dapat Diaplikasikan sebagai Pintu, Kusen dan Partisi
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2009)
86
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Gambar 53. Ilustrasi Penggunaan Produk Teknologi BLPW II pada Bangunan Huntara Desa Rendang
(Sumber: Ilustrasi Tim, 2020)
87
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
88
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Akumulasi
Waktu
Jenis Pekerjaan Progres Foto Lapangan/Keterangan
Pekerjaan
Pekerjaan
Minggu I Pekerjaan Setting Out
Pemasangan Patok
20,6%
89
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Akumulasi
Waktu
Jenis Pekerjaan Progres Foto Lapangan/Keterangan
Pekerjaan
Pekerjaan
Minggu III Pekerjaan Pondasi Batu Pekerjaan pondasi setempat batu kali selesai
Kali (Setempat) dilaksanakan pada pertengahan minggu ke-3
41.9%
Gambar 57. Pekerjaan Sloof P2
Pekerjaan Struktur RISHA
– Pemasangan Kolom P1
dan P2
90
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Akumulasi
Waktu
Jenis Pekerjaan Progres Foto Lapangan/Keterangan
Pekerjaan
Pekerjaan
Minggu IV Pekerjaan Struktur RISHA
–Pemasangan Kolom P1
dan P2 serta Ring Balk P2
dan P3 (lanjutan)
54.7%
Gambar 61. Progres 100% Pekerjaan Rabat Beton pada Minggu ke-4
Minggu V & VI Pekerjaan Acian Lantai
69.3%
91
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Akumulasi
Waktu
Jenis Pekerjaan Progres Foto Lapangan/Keterangan
Pekerjaan
Pekerjaan
Minggu VII Pekerjaan Rangka Atap Pemasangan Rangka Atap selesai 100% pada minggu
& VIII ke-7. Penutup atap belum dipasang karena terdapat
sebagian area yang terhalang batang pohon kelapa.
80%
Gambar 65. Rangka Atap Terhalang Pohon Kelapa
Pekerjaan Dinding GRC
(2 lapis)
Pekerjaan Kusen Pintu
dan Jendela
92
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Akumulasi
Waktu
Jenis Pekerjaan Progres Foto Lapangan/Keterangan
Pekerjaan
Pekerjaan
Pekerjaan Instalasi
Kelistrikan
100%
93
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
Proses serah terima dilaksanakan pada tanggal 3 Februari 2020 oleh Kepala Pusat
Litbang Perumahan dan Permukiman (Ka PUSKIM) Kementerian PUPR, didampingi
perangkat pejabat di lingkungan Balai Litbang Perumahan Wilayah II Denpasar,
kepada Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Kadis Perumkim)
Kabupaten Karangasem beserta jajarannya. Prosesi serah terima dilakukan secara
simbolis dan ditutup dengan testimoni dari masing-masing pimpinan instansi.
94
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
95
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
96
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
BAB PENUTUP
6
Sebanyak 28 desa yang tersebar di 6 kecamatan di Provinsi Bali masuk ke dalam
Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Agung sehingga penduduk yang bermukim
pada daerah tersebut dapat terancam keselamatannya saat terjadi erupsi. Salah satu
upaya mitigasi yang dapat dilakukan adalah penyediaan hunian sementara (huntara)
yang aman dan layak untuk warga terdampak. Huntara harus dilengkapi pula dengan
akses air bersih dan sarana prasarana sanitasi yang memadai karena pada kondisi
darurat saat terjadi bencana, para pengungsi akan sangat rentan terkena masalah
kesehatan akibat kondisi lingkungan yang buruk.
Selain didesain untuk memenuhi kebutuhan pengungsi akan hunian yang
layak, prototipe huntara yang dibangun juga menerapkan konsep dan nilai budaya
yang ada pada arsitektur tradisional Bali supaya dapat diterima dengan baik oleh
pengungsi yang merupakan masyarakat asli Bali. Arsitektur tradisional Bali memiliki
konsep-konsep dasar kehidupan masyarakat Bali yang telah berkembang secara
turun temurun dan mempengaruhi tata ruang wadah kehidupannya. Konsep ini
dilandasi dan dilatarbelakangi oleh ajaran agama Hindu yang menyangkut segala
aspek kehidupan. Konsep tata ruang yang diterapkan meliputi konsep Sanga
Mandala (berorientasi pada potensi alam setempat), konsep Tri Mandala (tata nilai
wilayah ruang), konsep Tri Angga (susunan unsur kehidupan manusia di alamnya),
serta konsep ragam hias/ornamentasi.
Penyusunan konsep desain huntara berkarakteristik arsitektur tradisional Bali
dilakukan dengan menyintesis berbagai peraturan formal terkait tata ruang dan
bangunan yang berlaku menjadi kriteria-kriteria desain yang kemudian disurveikan
kepada masyarakat dan divalidasi oleh beberapa narasumber ahli. Hasil penelitian
ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Daerah dan stakeholder
97
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
terkait dalam mendesain bangunan yang memiliki nilai-nilai lokal. Prototipe huntara
yang saat ini telah dibangun di kawasan pengungsian Desa Rendang dapat dijadikan
sebagai bangunan percontohan untuk direplikasikan sesuai kebutuhan. Selain itu,
dengan fleksibilitas modul RISHA yang digunakan pada huntara memungkinkan
untuk dilakukannya alih status huntara menjadi hunian tetap (huntap). Konsep desain
huntara ini diharapkan dapat menjawab berbagai permasalahan dan kendala yang
ada baik dari aspek kebencanaan, arsitektur tradisional, struktur dan penyehatan
lingkungan.
Beberapa teknologi bahan bangunan yang dikembangkan oleh Pusat Litbang
Perumahan dan Permukiman, Kementerian PUPR juga turut diterapkan pada
pembangunan prototipe huntara di Desa Rendang. Pada bagian struktur bangunan
huntara digunakan teknologi RISHA, sementara pada bagian perkerasan jalan area
teras huntara diaplikasikan teknologi Eco Paving yang ramah lingkungan. Sebagai
unit kerja yang memiliki tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan di
bidang perumahan dan permukiman, diharapkan ke depannya akan timbul lebih
banyak lagi inovasi teknologi yang dihasilkan dan diterapkan untuk terciptanya
infrastruktur perumahan dan permukiman yang andal.
98
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
BIOGRAFI PENULIS
99
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
100
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
101
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
102
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
KONTRIBUTOR
Johnny Rakhman
Kepala Balai
Periode 2018-2020
103
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
104
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
REFERENSI
Astika. 1986. Peranan Banjar pada Masyarakat Bali. Denpasar: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Davison, J., Enu, N., dan Granquist, B. 2003. Bali Architecture. Hongkong: Periplus
Edition Ltd.
Damanhuri, E. dan Padmi, T. 2010. Pengelolaan Sampah. Bandung: Institut Teknologi
Bandung.
Gelebet, I Nyoman dkk. 1981 Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Denpasar: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Bali.
Gelebet, I Nyoman. dkk. 1986. Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Denpasar:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi
Kebudayaan Daerah
Gelebet, Nyoman, dkk. 2002. Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Denpasar: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan
Daerah.
Hartanti, Grace & Nediari, Amarena. 2014. Pendokumentasian Aplikasi Ragam
Hias Budaya Bali, Sebagai Upaya Konservasi Budaya Bangsa Khususnya pada
Perancangan Interior. Jurnal HUMANIORA Vol.5 No.1 April 2014: 521-540
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan
Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi,
Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Pekerjaan Umum. 2010. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik
Indonesia No. 14 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang
105
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara
106