0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan106 halaman

Huntara untuk Pengungsi Gunung Agung

Buku ini membahas konsep pembangunan hunian sementara (huntara) untuk pengungsi akibat letusan Gunung Agung di Bali. Huntara dirancang menggunakan teknologi RISHA dan mengadaptasi arsitektur tradisional Bali. Buku ini juga menjelaskan kriteria desain tata bangunan dan lingkungan serta konsep penyediaan air bersih, sanitasi, dan drainase di kawasan huntara.

Diunggah oleh

Irwanto Limarno
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan106 halaman

Huntara untuk Pengungsi Gunung Agung

Buku ini membahas konsep pembangunan hunian sementara (huntara) untuk pengungsi akibat letusan Gunung Agung di Bali. Huntara dirancang menggunakan teknologi RISHA dan mengadaptasi arsitektur tradisional Bali. Buku ini juga menjelaskan kriteria desain tata bangunan dan lingkungan serta konsep penyediaan air bersih, sanitasi, dan drainase di kawasan huntara.

Diunggah oleh

Irwanto Limarno
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

3
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

ANTARA
Antisipasi Bencana dengan Huntara

Studi Kasus
Huntara untuk Pengungsi
Gunung Agung di Karangasem

1
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

2
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

ANTARA: ANTISIPASI BENCANA DENGAN HUNTARA


Penulis: Arip Pauzi Rahman, Ayu Listiani, Eka Susanti, Musthafa Halim,
Putu Geria Sena, Saraya Eka Shafina

Editor: Irwan Kurniawan


Desain isi dan cover: Tim Nuansa

Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved

Cetakan I, Oktober 2020

PENERBIT NUANSA CENDEKIA


Komplek Sukup Baru No. 23, Ujungberung - Bandung 40619
Telp/Fax: 022-7801410
redaksi@[Link]
[Link]@[Link]
[Link]

Anggota IKAPI

Kode Penerbitan: PN-1075-02-20


ISBN 978-602-350-948-5
ISBN 978-602-350-947-8 (sumber elektronis)

Balai Penelitian & Pengembangan Perumahan Wilayah II Denpasar

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT


BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
PUSAT LITBANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

4
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

KATA PENGANTAR
KEPALA SATKER BALAI LITBANG PERUMAHAN WILAYAH II
DENPASAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh; Salam Sejahtera; Om


Swastiastu; Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.
Sebagai peringkat ke-3 negara yang memiliki gunung berapi terbanyak di
dunia, Indonesia memiliki 139 gunung berapi yang lokasinya tersebar di Sumatera,
Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Maluku dan Papua. Karena posisinya yang berada
di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik maka tidak mengherankan apabila
bencana alam berupa gunung meletus merupakan hal lumrah yang terjadi di
Indonesia. Salah satu gunung berapi yang aktif berada di Provinsi Bali yaitu Gunung
Agung. Gunung Agung tercatat beberapa kali meletus dengan letusan terdahsyat
terjadi pada tahun 1963 dan tahun 2017 yang mengakibatkan rusaknya puluhan
desa dan memakan korban ribuan jiwa. Pada tahun 2020 ini, status tingkat aktivitas
Gunung Agung pun sempat berada pada level III (Siaga).
Dalam upaya penanggulangan bencana yang merupakan tanggung jawab
bersama, Kementerian PUPR turut berperan dalam pelaksanaan mitigasi dan
pengurangan risiko bencana khususnya di bidang infrastruktur. Sesuai dengan amanat
Bapak Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat bahwa dalam pelaksanaan
mitigasi dan pengurangan risiko bencana, penerapan teknologi merupakan salah
satu hal yang sangat penting diperhatikan. Balai Litbang Perumahan Wilayah II
Denpasar yang memiliki tugas melakukan penelitian dan pengembangan teknologi
bidang perumahan dan permukiman sesuai potensi dan nilai-nilai lokal berusaha untuk
menghadirkan konsep hunian sementara bagi para pengungsi erupsi Gunung Agung
yang mampu memberikan kenyamanan, baik dari segi pemenuhan kebutuhan dasar
maupun dari segi pengaplikasian nilai-nilai tradisional Bali.
Buku berjudul ANTARA - Antisipasi Bencana dengan Huntara, Studi Kasus:
Huntara untuk Pengungsi Gunung Agung di Karangasem ini berisi konsep

5
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

pembangunan hunian sementara (huntara) hasil penelitian Balai Litbang Perumahan


Wilayah II Denpasar yang meliputi aspek arsitektur, struktur bangunan dan penyehatan
lingkungan. Pada aspek arsitektur, dihadirkan Konsep Arsitektur Tradisional Bali yang
didasarkan pada nilai-nilai masyarakat Bali yang telah berkembang secara turun-
temurun, kemudian dipadukan dengan peraturan-peraturan teknis yang berlaku.
Pada aspek struktur bangunan, digunakan teknologi RISHA yang merupakan hasil
teknologi Badan Litbang Kementerian PUPR. Sementara itu, dari aspek penyehatan
lingkungan, disajikan konsep pemenuhan kebutuhan dasar dari segi air minum,
pengelolaan air limbah, sampah, dan drainase.
Akhir kata, atas izin dari Tuhan Yang Maha Esa serta segala upaya dari pihak-
pihak yang terlibat dalam penyusunan buku ini, kami harapkan buku ANTARA -
Antisipasi Bencana dengan Huntara, Studi Kasus: Huntara untuk Pengungsi
Gunung Agung di Karangasem dapat memberikan manfaat dan menjadi referensi
bagi berbagai pihak yang membacanya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Om Shanti Shanti Shanti Om,
Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.

KEPALA SATKER BALAI LITBANG PERUMAHAN WILAYAH II DENPASAR


Ir. Johnny Rakhman, [Link].

6
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat-Nya buku dengan judul ANTARA - Antisipasi Bencana dengan Huntara,
Studi Kasus: Huntara untuk Pengungsi Gunung Agung di Karangasem dapat
diselesaikan sesuai harapan.
Buku ini mencoba untuk menggambarkan secara singkat mengenai desain
kawasan serta bangunan hunian sementara (Huntara) bagi pengungsi yang
terkena dampak erupsi Gunung Agung. Desain hunian dan kawasan sementara ini
pun dilengkapi dengan konsep perencanaan penyediaan fasilitas penyediaan air,
pengelolaan limbah domestik, pengelolaan sampah, dan sistem drainase. Melalui hal
tersebut, diharapkan kenyamanan calon penghuni dan kebutuhan mereka terhadap
pelayanan dapat terpenuhi.
Desain bangunan hunian sementara tersebut menggunakan teknologi RISHA
(Rumah Instan Sederhana Sehat) yang siap dihuni menetap 5-10 tahun mendatang.
Fasad bangunan memasukkan konsep dan nilai budaya yang ada pada arsitektur
tradisional Bali, sehingga diharapkan bisa diterima dengan baik oleh warga
pengungsi. Konstruksi Huntara pun dapat dibongkar kembali jika sudah tidak
diperlukan lagi. BLPW II Denpasar pun menawarkan desain penataan kawasan
hunian yang mengacu pada Prinsip Tata Bangunan yang tertuang dalam Peraturan
Daerah Provinsi Bali No. 3 Tahun 2005.

Salam Hormat Kami,


Tim Penulis

7
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

8
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Kepala Satker Balai Litbang Perumahan Wilayah II Denpasar .... 5
Kata Pengantar Penulis ............................................................................................................ 7
Daftar Isi................... ...................................................................................................................... 9
Bab 1 Kilas Balik Letusan Gunung Agung................................................................... 11
1.1. Kejadian Letusan Gunung Agung ............................................................... 12
1.2. Kondisi dan Status Wilayah Terdampak .................................................... 15
1.3. Pilihan Upaya Penanganan Wilayah Terdampak .................................... 17

Bab 2 Apa Itu Hunian Sementara .................................................................................... 18


2.1. Hunian Sementara ............................................................................................ 18
2.2. Konsep Arsitektur Tradisional Bali dalam Kawasan Hunian ............... 19
2.3. Sektor Air Minum dan Sanitasi ..................................................................... 22

Bab 3 Kriteria Desain Tata Bangunan Dan Lingkungan Tradisional Bali ..... 29
3.1. Tata Bangunan dan Lingkungan Dilihat dari Peraturan ...................... 29
3.2 Prioritas Kriteria Desain Tata Bangunan dan Lingkungan
Tradisional ............................................................................................................ 32

Bab 4 Konsep Pembangunan Prototipe Hunian Sementara.............................. 42


4.1 Bidang Arsitektur............................................................................................... 42
4.1.1. Analisis dan Konsep Tapak ................................................................. 42
4.1.2. Site Plan Kawasan Huntara Rendang .............................................. 51
4.1.3. Analisis dan Konsep Tata Bangunan ............................................... 53
4.1.4. Konsep Tampilan dan Struktur Bangunan .................................... 62
4.1.5. Konsep Struktur Bangunan................................................................ 64

9
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

4.2. Bidang Air Minum dan Sanitasi .................................................................... 65


4.2.1 Konsep Penyediaan Air Minum di Kawasan Hunian
Sementara ................................................................................................ 65
4.2.2 Konsep Sistem Pengelolaan Air Limbah di Kawasan
Hunian Sementara ................................................................................ 67
4.2.3 Konsep Sistem Pengelolaan Persampahan di Kawasan
Hunian Sementara ................................................................................ 70
4.2.4 Konsep Sistem Drainase di Kawasan Hunian Sementara ......... 72

Bab 5 Pembangunan Prototipe Hunian Sementara............................................... 76


5.1 Material Teknologi Hasil Litbang BLPW II Denpasar yang dapat
Diterapkan dalam Hunian Sementara ....................................................... 76
5.2 Perjalanan Pembangunan Prototipe Hunian Sementara ................... 88
Bab 6 Penutup ...................................................................................................................... 97
Biografi Penulis ...................................................................................................................... 99
Kontributor ................................................................................................................................. 103
Referensi .................................................................................................................................. 105

10
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

BAB KILAS BALIK LETUSAN


1 GUNUNG AGUNG

Gambar 1. Visualisasi Erupsi Gunung Agung Tahun 2017


(Sumber: Robert F. Sisson/National Geographic/Getty Images)

11
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

1.1. Kejadian Letusan Gunung Agung

Letusan Gunung Agung di Bali pada tahun 1963 merupakan yang paling
mematikan setelah Indonesia merdeka. Awal letusan terjadi pada bulan Februari
1963, dan berlangsung hingga Januari 1964. Tercatat bahwa kolom letusan
diperkirakan mencapai 26 km di atas permukaan laut. Total volume batuan padat
(dens rock equivalent – DRE volume) yang dilontarkan pada letusan tersebut mencapai
4 km, yang menyebabkan kerusakan besar karena didominasi oleh aliran piroklastik.
Aliran piroklastik merupakan salah satu hasil letusan gunung berapi yang bergerak
dengan sangat cepat (700 km/jam) yang terdiri dari gas panas, abu vulkanik, dan
batuan. Gas yang dikeluarkannya dapat mencapai temperatur di atas 1000 0C. Aliran
magma yang dihasilkan merupakan magma tipe porphyritic basalt dan tipe andesite.
Puncak letusan yang terjadi pada 17 Maret-16 Mei 1963 memuntahkan abu dan gas
yang kaya belerang ke lapisan stratosfer. Letusan Gunung Agung memang masih
lebih kecil dibandingkan dengan letusan gunung api di Indonesia yang terjadi pada
abad sebelumnya, yaitu Gunung Tambora pada tahun 1815 dan Gunung Krakatau
pada tahun 1883. Namun, letusan Gunung Agung yang terjadi pada abad ke-20 ini
dan bersifat eksplosif hanya bisa disaingi oleh letusan Gunung Pinatubo di Filipina
pada tahun 1991 yang menewaskan 840 jiwa.
Laporan Kepala Bagian Vulkanologi Direktorat Geologi ke UNESCO (United Nations
Educational, Scientific and Cultural Organization) pada tahun 1964 menyebutkan
bahwa letusan Gunung Agung pada saat itu menyebabkan 1.549 orang tewas, 1.700
rumah hancur, 225.000 jiwa kehilangan mata pencaharian, dan 100.000 jiwa harus
mengungsi secara permanen. Dampak kerusakan lainnya adalah 8 buah jembatan
hancur dan diperkirakan 316.518 ton produksi pangan hancur. Dampak terluas yang
dirasakan akibat letusan Gunung Agung pada saat itu adalah penurunan suhu Bumi
(rata-rata 0,4 0C). Dampak penurunan suhu akibat letusan Gunung Agung setara
dengan dampak letusan Gunung Tambora (1815) dan Gunung Krakatau (1883).
Fenomena menjadi menarik karena jumlah material yang dimuntahkan tiga gunung
tersebut jauh berbeda. Perbandingan volume material letusan Tambora, Krakatau,
dan Agung adalah 150:20:1. Meskipun volume material yang dilontarkan memiliki
perbedaan jumlah yang signifikan, penurunan suhu akibat letusan Gunung Agung
terjadi akibat dampak kandungan belerang (SO2) yang sangat pekat pada gas yang
disemburkan. Kandungan aerosol sulfat yang sangat pekat pada gas hasil letusan
Gunung Agung menutupi lapisan stratosfer bumi sehingga menghalangi radiasi
panas matahari dan menyebabkan penurunan suhu.
Pada tahun 2017, Gunung Agung kembali menunjukkan tanda-tanda erupsi.
Status Gunung Agung dinaikkan menjadi level Siaga (level III) pada bulan November

12
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

2017. Gempa bumi tektonik dari gunung berapi telah terdeteksi sejak awal bulan
Agustus, dan aktivitas gunung berapi tersebut meningkat selama beberapa minggu
sebelum menurun secara signifikan pada akhir bulan Oktober. Periode kedua dari
kegiatan utama dimulai pada akhir bulan November. Melihat rekam jejak letusan
tahun 1963, selain potensi kerusakan akibat material erupsi, risiko bencana terletak
pada banyaknya jumlah penduduk yang tinggal di zona bahaya (4-6 km). Rekaman
letusan Gunung Agung selama tahun 2017 disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Rekaman Erupsi Gunung Agung Tahun 2017

WAKTU DESKRIPSI DAMPAK


September • Kenaikan status “Waspada” • 122.500 orang dievakuasi dari rumah
2017 menjadi “Awas” dan sekitar mereka yang berada di sekitar gunung
844 gempa vulkanik dan 300- berapi.
400 gempa bumi.
• Pengungsi berkumpul di ruang
olahraga dan bangunan masyarakat
di sekitar Klungkung, Karangasem,
Buleleng, dan daerah lainnya.
Oktober 2017 • Aktivitas gunung berapi • Lebih dari 100.000 orang dalam
menurun secara signifikan, radius 10 km dari gunung berapi telah
yang mengarah ke penurunan diperintahkan untuk mengungsi di
status “Waspada”. lebih dari 270 lokasi terdekat.

• Ada letusan freatik yang


dilaporkan pada pukul 09.05
(UTC), dengan awan abu atas
mencapai 3.842 m (12.605 ft)
di atas permukaan laut.

• Abu gunung berapi


dilaporkan naik sekitar 1,5-
4 km di atas puncak kawah,
dan hanyut ke arah selatan
dan menyebabkan lokasi di
sekitarnya ditutupi oleh abu
vulkanik dengan lapisan tipis
abu berwarna gelap.

13
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

WAKTU DESKRIPSI DAMPAK


November • Letusan menyebabkan lahar • 40.000 orang harus dievakuasi dari
2017 gunung telah mencapai 22 desa di sekitar kawasan Gunung
bagian selatan gunung Agung.
berapi. Biro Meteorologi
• Bandara Internasional Lombok, yang
Pemerintah Australia
terletak di Pulau Lombok, ditutup
melaporkan bahwa bagian
pada tanggal 26 November 2017.
atas kolom letusan mencapai
ketinggian 9,144 m (5,7 km). • Bandara Internasional Ngurah Rai di
Bali ditutup pada tanggal 27 Novem-
ber 2017.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menetapkan peta


Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Agung, yang dapat dilihat pada Gambar 2,
yang terbagi atas tiga zona, yaitu: KRB III (sampai dengan radius 6 km), KRB II (sampai
dengan radius 9 km), KRB I (sampai dengan radius 12 km). Terdapat 28 desa yang
masuk kawasan rawan yang tersebar di enam kecamatan, antara lain:

Desa Sukadana, Desa Ban, dan Desa Tianyar;

Desa Datah, dan Desa Ababi bagian atas;

Padang Kerta kecuali Desa Adat Peladung dan Desa Adat Temaga, Kelurahan
Karangasem yang berdekatan dan dialiri Tukad (Sungai) Janga;

Api, Desa Bebandem bagian atas, Desa Jungutan, dan Desa Bungaya Kangin;

Menanga bagian atas seperti Pemuteran dan sekitarnya;

Peringsari bagian atas seperti Lusuh dan Padang Aji, serta Desa Muncan bagian
atas seperti Pejeng dan beberapa banjar di daerah sekitarnya.

14
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Gambar 2. Radius Bahaya Status Awas Gunung Agung


(sumber: [Link]

1.2. Kondisi dan Status Wilayah Terdampak


Kondisi erupsi Gunung Agung yang terus menaikkan statusnya mulai dari
bulan September hingga November 2017 tentunya mengancam keselamatan warga
yang tinggal pada area sekitar gunung. Efek dari bencana letusan Gunung Agung
tentunya dapat menyebabkan terjadinya kerusakan infrastruktur, kerugian materi
bahkan korban jiwa. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menanggulangi
kerugian tersebut adalah melalui penyediaan titik lokasi pengungsian sehingga
memudahkan masyarakat mendapat lokasi untuk berlindung dari bencana letusan
Gunung Agung. Telah dilakukan upaya pengungsian masyarakat yang berada pada
wilayah KRB I, II, dan III. Adapun rekapitulasi data pengungsi pada wilayah-wilayah
yang terdampak adalah seperti pada Tabel 2.

15
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Tabel 2. Rekapitulasi Data Pengungsi - Peningkatan Aktivitas Gunung


JUMLAH PENGUNGSI
No. LOKASI
L (Jiwa) P (Jiwa)
1 BULELENG 1.608 1.486
2 KLUNGKUNG 1.543 1.529
3 KARANGASEM 5.902 5.443
4 BANGLI 271 277
5 TABANAN 292 74
6 DENPASAR 65 -
7 GIANYAR - -
8 BADUNG - 117
9 GIANYAR 88 -
Jumlah 9.769 8.926

Akibat serangkaian erupsi yang terjadi, maka warga mulai mengungsi ke


daerah-daerah yang aman. Posko-posko pengungsi umumnya berlokasi di tanah
kosong, seperti lapangan sepak bola, lapangan desa atau menempati bangunan

Gambar 3. Kondisi tempat pengungsian: a) Posko Rendang – Karangasem,


b) Fasilitas toilet di Posko Ulakan, c) Posko Ulakan – Karangasem,
d) Fasilitas MCK di Posko Ulakan

16
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

umum, seperti bale banjar adat. Kondisi tempat hunian sementara (Huntara) pada
tanah kosong umumnya berupa tenda-tenda darurat dilengkapi dengan fasilitas
kamar mandi/toilet umum dan penampungan air bersih. Kondisi hunian sementara
tersebut memiliki banyak kelemahan, salah satunya adalah air hujan mudah masuk
ke dalam tenda ketika hujan, temperatur ruang yang panas, dan sirkulasi udara yang
kurang baik. Gambaran kondisi posko pengungsi bisa dilihat pada Gambar 3.

1.3. Pilihan Upaya Penanganan Wilayah Terdampak

Dalam upaya penanggulangan bencana, berbagai upaya pemerintah telah


dikerahkan dalam merencanakan skema untuk hunian tinggal para pengungsi.
Beberapa skema telah direncanakan dengan didasarkan pada mitigasi bencana dan
sejauh mana penanganan jangka panjang dari kondisi aktivitas Gunung Agung.
Telah disiapkan skema jenis hunian baik yang bersifat sementara maupun tetap
yang dibedakan berdasarkan status tanah dari hunian terbangun. Adapun skema
permukiman pasca bencana dapat dilihat pada Gambar 4.

`Gambar 4. Pilihan Hunian dan Permukiman Pasca Bencana

17
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

BAB APA ITU HUNIAN


2 SEMENTARA

2.1. Hunian Sementara

Penanganan pasca bencana yang biasa dilakukan antara lain melalui


menyediakan hunian darurat (emergency shelter) berupa tenda darurat sampai
masyarakat terdampak dapat direlokasi atau lokasi bencana selesai direkonstruksi.
Pengungsi di tenda darurat kehilangan privasi, kehilangan rasa aman dan nyaman,
dan lebih mudah tertular penyakit karena tenda darurat umumnya diisi oleh lebih
dari satu Kepala Keluarga (KK). Tenda darurat hanya didesain umumnya untuk
melindungi dari cuaca dan kurang manusiawi untuk menjadi tempat tinggal yang
lama. Menurut International Federation of Red Cross Foundation Red Crescent Societies
(IFRC), pengungsi yang menunggu 1 tahun di tempat pengungsian sebaiknya
menggunakan hunian sementara (temporary shelter). Hunian sementara dengan
sistem bongkar-pasang secara cepat dan mudah dapat menjadi solusi bagi para
pengungsi. Tingginya intensitas bencana di Indonesia sehingga memerlukan hunian
sementara instan sesuai kondisi setempat dari segi transportasi dan iklim mendorong
munculnya gagasan membuat hunian sementara dengan sistem bongkar-pasang.
Tipe hunian dapat dibagi sesuai dengan lama penggunaan, sebentar
hingga permanen, ke dalam beberapa kategori: emergency shelter, temporary
shelter, transitional shelter, progressive shelter, core shelter, dan permanent housing.
Emergency shelter atau tempat perlindungan yang bersifat darurat menyediakan
kebutuhan dasar bagi pengungsi. Hunian darurat ini ditujukan untuk memberikan
kebutuhan tempat tinggal paling dasar dalam waktu singkat setelah terjadinya
bencana. Kebutuhan yang harus dipenuhi adalah tempat berlindung dari cuaca
dan ruang istirahat. Temporary shelters atau tempat berlindung atau rumah pasca
bencana didesain untuk menjadi tempat penampungan cepat. Hunian sementara ini

18
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

ditujukan untuk menjadi jembatan antara emergency shelter dan permanent shelter,
dan diprioritaskan dalam hal kecepatan membangun dan biaya yang minimal dalam
pembangunannya. Batas penggunaan hunian sementara kurang lebih 1 tahun.
Organisasi Sphere Project menyatakan bahwa ruang gerak per orang adalah 3,5
meter persegi. Hal ini sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan oleh BNPB, yaitu
ruang gerak per orang di Indonesia adalah 3 meter persegi.
Bangunan hunian sementara harus mampu menampung kegiatan dasar rumah
tangga dalam kondisi iklim dingin. Dengan demikian, iklim juga menjadi salah
satu pertimbangan dalam menentukan rancangan hunian sementara. Selain itu,
lama bernaung, praktik budaya, keselamatan dan privasi, mata pencaharian, dan
ketersediaan material bangunan juga harus dipertimbangkan dengan matang agar
tujuan pembangunan hunian sementara dapat tercapai.

2.2. Konsep Arsitektur Tradisional Bali dalam


Kawasan Hunian

Arsitektur Bali memiliki perwujudan yang dilandasi serta dilatarbelakangi oleh


ajaran agama Hindu yang meresap ke dalam tatanan kehidupan masyarakat dan
menyangkut segala aspek kehidupan, seperti filosofi, etika dan ritual. Adapun tiga
kerangka dasar agama Hindu adalah: tatwa (falsafah), tata susila (etika), dan ritual
(upacara). Pengaruh agama Hindu menghasilkan corak budaya, integrasi sosial dan
sistem pengendalian masyarakat yang unik serta memiliki perwujudan yang diatur
dalam asta kosala kosali (Glebet, 1986).
Arsitektur Bali dapat diartikan sebagai tata ruang dari wadah kehidupan
masyarakat Bali yang telah berkembang secara turun-temurun dengan segala aturan
yang diwarisi dari zaman dahulu, sampai pada perkembangan satu wujud dengan
ciri-ciri fisik yang terungkap pada lontar Asta Kosala-Kosali, Asta Patali, dan lainya,
sampai pada penyesuaian-penyesuaian oleh para undagi yang masih selaras dengan
petunjuk-petunjuk.
Arsitektur tradisional Bali memiliki konsep-konsep dasar dalam menyusun dan
memengaruhi tata ruangnya, antara lain:

Orientasi ruang tradisional Bali bersumber dari konsep Andabhuana atau


Bhuananda yang diartikan bumi atau “telur jagat”. Berdasarkan konsep ini, konsep
ruang di Bali berorientasi pada potensi alam setempat. Glebet (2002:11) menyatakan
bahwa konseptual perancangan arsitektur Bali didasarkan pada tata nilai ruang

19
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

atau orientasi ruang. Orientasi tersebut dibentuk oleh tiga sumbu, yaitu: (1) sumbu
kosmos (bhur, bhuah, swah atau litosfer, hidrosfer, atmosfer) atau sumbu langit bumi
(akasa-pertiwi); (2) sumbu ritual kangin-kauh (terbit terbenamnya matahari); (3)
sumbu natural kaja-kelod, gunung-laut, masing-masing dengan daerah tengah yang
bernilai madia.

Konsep Tri Mandala merupakan ungkapan tiga tata nilai wilayah ruang, yang
terdiri dari: ruang sakral/spiritual, ruang profan/komunal, dan ruang pelayanan/
komersial. Struktur tata ruang Tri Mandala ini berpedoman pada orientasi: 1) arah/
posisi gunung-laut (kaja-kelod), 2) arah tinggi-rendah (tegeh dan lebah), dan 3)
berdasarkan sumbu Matahari yaitu Timur-Barat (Matahari terbit dan terbenam)
(Sulistyawati, dkk., 1985:7)

Gambar 5. Pembagian Ruang Tri Mandala dan Sanga Mandala


(Sumber: Meganada, 1990)

Konsep Tri Angga yang mengatur susunan unsur-unsur kehidupan manusia


di alamnya/lingkungan fisik, yaitu: utama angga, madya angga, dan nista angga.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini tercermin dalam hierarki tata nilai rumah dan
desa. Suatu adat atau kebiasaan yang juga memperlihatkan adanya keseimbangan
hubungan manusia dengan alam, manusia dengan sesama dalam perhitungan
ergonomis dan estetika bentuk bangunan adalah konsepsi Asta Kosala-Kosali dan
Asta Bumi (Astika, 1986).

20
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Konsep Tri Angga berlaku dari yang bersifat makro (alam semesta/bhuana
agung) sampai yang paling mikro (manusia/bhuana alit). Dalam skala wilayah,
gunung memiliki nilai utama; dataran bernilai madya dan lautan pada nilai nista.
Dalam perumahan, Khayangan Tiga (utama), Perumahan penduduk (madya),
Kuburan (nista), juga berlaku dalam skala rumah dan manusia. Tri Angga memiliki
tiga susunan badan atau, dengan kata lain, ‘tiga nilai fisik’, yaitu: kepala (utama
angga), badan (madya angga), dan kaki (nista angga) (Glebet, 2002).

Alternatif desain lainnya adalah samblung konsep. Konsep desain ini mengambil
tema bentuk desain pengulangan dan berderet. Samblung konsep juga terinspirasi
dari salah satu ragam hias pepatran (ukiran), yaitu patra samblung. Patra samblung
adalah patra yang mempunyai unsur motif yang paling sedikit, tidak bertangkai dan
sederhana di antara patra-patra yang ada di Bali.
Pada umumnya, bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu
dipenuhi hiasan berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias
tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan, simbol-simbol
dan penyampaian komunikasi (Davison, Enu, Granquist, 2003). Namun saat ini, ragam
hias Bali sudah mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman yang dipengaruhi
modernisasi serta pabrikasi telah mengutamakan kepraktisan dan fungsi. Ukiran dan
ragam hias di Bali sering dikenal dengan nama pepatraan. Makna dari pepatraan
adalah memberikan perlindungan kepada kehidupan manusia dari rasa takut,
panas dan haus, sehingga memberikan kenyamanan bagi manusia yang tinggal di
lingkungan bangungan yang dihiasi dengan hiasan ini.
Pepatraan terdiri dari lima bagian, yaitu: (1) Patra Wangga, tergolong kekerasan
yang merupakan sebagian dari suatu flora dengan penampilan bagian-bagian
keindahannya; (2) Patra Sari, bentuknya menyerupai flora dari jenis berbatang jalar
melingkar dan linggar balik berulang. Penonjolan sari bunga merupakan identitas
pengenal sesuai namanya, yaitu patra sari. Daun dan bunga dilukiskan dalam pola
yang diperindah. Patra Sari dapat digunakan pada bidang-bidang lebar atas, daun
umumnya untuk bidang-bidang sempit, tidak bisa dibuat dalam banyak variasi
karena lingkar-lingkar batang jalar, daun-daun sari, kelopak dan daun bunga
merupakan pola-pola tetap sebagai identitas; (3) Patra Bun-bunan, dapat bervariasi
dalam berbagai jenis flora yang tergolong bun-bunan (tumbuh-tumbuhan berbatang
jalar). Dibuat dengan pola berulang antara daun dan bunga dirangkai batang jalar.
Dapat pula dibuat variasi dengan julur-julur dari batang jalar; (4) Patra Pid-pid, juga
melukiskan flora dari jenis daun bertulang tengah dengan daun-daun simetris yang
dapat bervariasi. Jenis daun yang dilukiskan ditempatkan pada bidang sempit; (e)

21
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Patra Punggel, mengambil bentuk dasar liking paku, sejenis flora dengan lengkung-
lengkung daun muda pohon paku.
Patra Punggel merupakan patra yang paling banyak digunakan, selain bentuknya
yang murni sebagai Patra punggeh utuh. Patra Punggel umumnya melengkapi segala
bentuk kekarangan (patra-patra jenis fauna) sebagai hiasan bagian (lidah naga patra
punggel api-apian), ekor singa dan hiasan-hiasan untuk patra tunggal puncak atap
yang disebut bantala pada atap yang bukan berpuncak satu. Serupa dengan Patra
Samblung, Patra Olanda, Patra Cina dan Patra Bali, masing-masing patra tersebut
dengan kemungkinan diberi nama berdasarkan negara asalnya.
Patra Samblung adalah patra yang dibuat dengan pengulangan-pengulangan
motif kepitan tanpa adanya suatu motif penyela. Pola Patra Samblung merupakan
penyederhanaan bentuk tanaman menjalar (Hartanti & Nediari, 2014). Ada pula
Patra Banci yang bervariasi dari gabungan patra yang dirangkai dalam satu kesatuan
serasi dengan mewujudkan identitas baru. Patra Pae, mengambil bentuk tumbuh-
tumbuhan sejenis kapu-kapu yang dibuat dalam bentuk pola berulang berjajar
memanjang. Patra Ganggong, menyerupai bentuk tumbuh-tumbuhan ganggang air
yang dibuat dalam bentuk pola berulang berjajar memanjang. Patra Batun Timun,
bentuk dasar serupa biji mentimun yang dibuat dalam susunan pola diagonal
berulang. Sela-sela susunan dihias dengan bentuk-bentuk para mas-masan setengah
bidang. Patra Sulur, melukiskan pohon jalar jenis beruas-ruas dengan daun-daun
sulur bercabang-cabang tersusun, berulang. Patra Sulur dipolakan pula dalam
bentuk tiga jalur batang jalar teranyam berulang.

(a) (b)
Gambar 6. (a) Sketsa Patra Punggel, (b) Contoh Ukiran Patra Punggel
(Sumber: [Link]

2.3. Sektor Air Minum dan Sanitasi


Air minum dan sanitasi merupakan hak dan kebutuhan dasar bagi manusia yang
harus dipenuhi setiap saat. Dalam kondisi darurat seperti saat terjadinya bencana,

22
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

para pengungsi sangat rentan terkena infeksi dan penyakit. Kasus penyakit menular
makin meningkat seiring dengan minimnya akses terhadap air minum dan kondisi
sanitasi lingkungan yang memburuk. Bencana yang terjadi dapat menyebabkan
rusaknya fasilitas umum dan kesehatan yang mengakibatkan munculnya Kejadian
Luar Biasa (KLB) diare dan disentri yang dipengaruhi oleh ketersediaan sumber air
minum yang terbatas seperti yang terjadi pada bencana gempa bumi di Provinsi D.I.
Yogyakarta pada tahun 2006 (Suryani dan Orbayinah, 2017). KLB yang terjadi pada
saat bencana umumnya disebabkan oleh kondisi lingkungan yang kurang higienis,
persediaan air terbatas, serta jumlah jamban atau fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus)
yang sangat tidak memadai.
Minimnya kuantitas air minum dapat mengakibatkan dehidrasi, sementara air
yang buruk dari segi kualitas dapat menjadi agen penyebaran berbagai jenis penyakit.
Menurunnya kualitas air dapat disebabkan oleh buruknya kondisi lingkungan dan
sanitasi (sampah, air limbah, dan limbah tinja). Menurut cara penyebarannya, ada 4
macam penyakit yang penularannya melibatkan air (Priyanto, 2011), yaitu:
− Water Borne Disease: penyakit yang ditularkan langsung melalui air minum,
di mana air yang diminum mengandung kuman patogen. Jenis penyakitnya
adalah kolera, tipus dan disentri.
− Water Washed Disease: penyakit yang disebabkan higienitas air yang buruk yang
dapat menular melalui infeksi pada saluran pencernaan (diare), infeksi pada kulit
dan mata (skabies dan trakoma), serta penyakit melalui cairan kemih binatang
pengerat (leptospirosis).
− Water Based Disease: penyakit yang disebabkan oleh bibit penyakit yang
sebagian siklus kehidupannya berhubungan dengan air. Contoh penyakitnya
adalah Schistosomiasis.
− Water Related Vectors: penyakit yang disebabkan oleh vektor penyakit yang
sebagian atau seluruh perindukannya berada di air. Jenis penyakitnya adalah
demam berdarah, malaria, dan filariasis.

Selain menyediakan hunian, makanan dan fasilitas kesehatan, pemerintah juga


harus menyediakan sarana dan prasarana air dan sanitasi yang memadai baik dari segi
kuantitas maupun kualitas. Dalam penyediaan sarana prasarana tersebut, terdapat
standar layanan yang wajib dipenuhi berdasarkan kajian dari Sphere Association
(2018) yang tercantum dalam The Sphere Handbook: Humanitarian Charter and
Minimum Standards in Humanitarian Response. Di Indonesia sendiri, Sphere Handbook
telah masuk ke dalam perangkat kebijakan dan standar layanan kemanusiaan
Indonesia yaitu dalam SNI 7937:2013 tentang Layanan Kemanusiaan dalam Bencana.
Dalam Sphere Handbook terdapat standar untuk 6 aspek dalam lingkup pasokan air,

23
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

sanitasi dan kebersihan (WASH–Water Supply, Sanitation and Hygiene Promotion) yaitu
standar kebersihan, standar pasokan air, standar pengelolaan limbah tinja, standar
pengendalian vektor, standar pengelolaan sampah padat, serta standar air, sanitasi
dan kebersihan dalam kondisi wabah penyakit. Selain itu, materi pada bagian ini
juga disadur dari Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana
yang dibuat oleh Departemen Kesehatan RI (2007) serta dari peraturan-peraturan
teknis lainnya yang berlaku di Indonesia.

1. Standar Pasokan Air minum

Setiap orang harus memiliki kemudahan akses terhadap air minum yang
terjamin kuantitasnya supaya dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Jarak dari
setiap hunian menuju ke pusat sumber air tidak boleh lebih dari 500 meter dan waktu
antre di sumber air tidak boleh lebih dari 30 menit. Jumlah maksimal pengguna pada
fasilitas air minum bersama adalah:
− 250 orang untuk setiap keran air (untuk laju aliran air 7,5 liter/menit);
− 500 orang untuk setiap pompa air tangan (untuk laju aliran air 17 liter/menit);
− 400 orang untuk setiap sumur (untuk laju aliran air 12,5 liter/menit);
− 100 orang untuk setiap fasilitas tempat cuci bersama; serta
− 50 orang untuk setiap fasilitas pemandian umum.

Sementara itu, dari segi kuantitas, jumlah rata-rata kebutuhan air untuk minum
dan kebutuhan domestik adalah 15 liter per orang per hari yang dibagi sesuai
kebutuhan pada Tabel 3.

Tabel 3. Kebutuhan Air Per Individu

Kuantitas (Liter/Orang/
Kebutuhan Faktor Pengaruh
Hari)
Kebutuhan dasar (makan Iklim dan kondisi fisik
2,5 - 3
dan minum) masing-masing individu
Membersihkan diri 2-6 Norma sosial dan budaya
Tipe makanan serta
Memasak 3-6
norma sosial dan budaya
Total Kebutuhan Air per
7,5 - 15
Individu
(Sumber: The Sphere Handbook, 2018)

24
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Dalam pemilihan sumber air perlu diperhatikan kontinuitas dan keamanannya


serta kebutuhan instalasi pengolahan air. Perlu diperhatikan pula jumlah kebutuhan
air untuk keperluan ibadah, fasilitas umum (MCK, dapur umum, tempat cuci
bersama), sekolah, sarana kesehatan, serta kegiatan pertanian dan peternakan. Pada
saat mendesain sarana air minum, perlu diperhatikan keberagaman jenis kelamin
(pemisahan untuk privasi perempuan dan laki-laki), kelompok usia (khususnya
anak-anak dan lansia), serta orang-orang dengan disabilitas atau kebutuhan khusus
supaya seluruh kelompok tersebut dapat mengakses air dengan mudah tanpa
terkecuali. Apabila memungkinkan, lakukan konsultasi dan pelibatan dari masing-
masing kelompok tersebut untuk mendapatkan masukan. Perhatikan dan analisis
pula perubahan kebiasaan penggunaan air oleh masyarakat pengungsi pada
saat sebelum bencana dan saat setelah bencana supaya dapat merancang sistem
penyediaan air minum yang berkelanjutan.

Air harus memiliki rasa yang bisa diterima serta memenuhi kualitas untuk
diminum, dimasak, dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari tanpa menyebabkan
gangguan kesehatan. Kehadiran bakteri fecal coliform (mayoritas merupakan E. coli)
mengindikasikan adanya kontaminasi feses manusia dan hewan dan kemungkinan
mengandung patogen berbahaya sehingga air harus diolah untuk menghilangkan
bakteri tersebut. Apabila dalam pengolahan air tersebut digunakan klorin sebagai
desinfektan, maka perlu dilakukan pengecekan kadar residu klorin pada keran
keluaran.
Di Indonesia, standar kualitas air minum yang harus dipenuhi mengacu kepada
Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air
Minum. Persyaratan kualitas air minum terdapat pada lampiran Permenkes No. 492
Tahun 2010 yang terdiri dari parameter wajib dan parameter tambahan. Suplai air
minum dapat diperoleh dari pengembangan jaringan PDAM atau pemerintah
setempat dapat membangun sistem pengolahan sendiri asalkan sesuai dengan
baku mutu tersebut.
Beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian adalah:
− Apabila mengalami kesulitan untuk memenuhi standar minimum dari segi
kuantitas dan kualitas secara bersamaan, maka prioritaskan kuantitas terlebih
dahulu. Air dengan kualitas sedang dapat digunakan untuk mencegah dehidrasi,
mengurangi stres dan mencegah penyakit diare; serta
− Air dapat mengalami kontaminasi pada saat pengumpulan, penyimpanan,
pendistribusian, dan saat diambil dari keran sehingga perlu dilakukan
pengecekan dan pembersihan fasilitas secara berkala.

25
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Untuk memenuhi kebutuhan air minum, langkah yang paling mudah dilakukan
adalah pengembangan jaringan PDAM eksisting menuju lokasi pengungsian.
Apabila belum tersedia jaringan PDAM di sekitar lokasi, maka dapat dibangun sarana
penyediaan air minum sederhana yang memanfaatkan sumber air terdekat, seperti
sungai dan mata air atau menggali sumur dangkal. Sarana yang dapat dibangun
dapat berupa tangki air (bisa dilengkapi tower), jaringan perpipaan, hidran umum
dan keran umum. Untuk pelengkap, dapat disediakan ember pada tiap rumah untuk
menampung dan mengambil air.

2. Standar Pengelolaan Limbah Tinja


Pengelolaan limbah tinja harus dilakukan secara on site (setempat) agar tidak
mencemari lingkungan sekitar. Fasilitas pengolahan limbah tinja berupa kamar
mandi/toilet dan septic tank atau biofilter harus segera dibangun dan disediakan
supaya limbah tinja dapat segera dikelola. Toilet dapat dibangun pada setiap hunian
atau dapat pula digunakan sistem komunal yaitu dengan membangun MCK komunal
yang dapat digunakan bersama-sama. Kloset atau jamban kemudian dihubungkan
ke septic tank ataupun tangki biofilter dengan sistem individual atau komunal.
Septic tank dan tangki biofilter minimal berjarak 10 meter dari sumur bor atau
sumber air tanah untuk mencegah potensi pencemaran tinja ke sumber air. Apabila
menggunakan septic tank maka perlu dipertimbangkan kegiatan penyedotan tinja
secara rutin.
Selain itu pula perlu diperhatikan topografi lahan, kondisi tanah, serta lokasi
sekitar. Fasilitas toilet dan septic tank/biofilter tidak boleh dibangun di area berbukit,
dilewati oleh angin yang berembus menuju area hunian, berada di dekat jalan
raya dan fasilitas umum/komunal (khususnya fasilitas kesehatan) serta tempat
penyimpanan makanan. Untuk penanganan tinja bayi dan balita, dapat digunakan
popok atau potty.
Toilet harus dirancang terpisah untuk gender yang berbeda, memiliki privasi
untuk pengguna, serta aman dan ramah guna untuk perempuan, anak kecil, lansia
dan orang dengan disabilitas. Pada toilet harus tersedia akses air yang lancar dan
mudah digunakan untuk keperluan cuci tangan, membersihkan diri, dan membuang
tinja. Toilet juga harus dilengkapi dengan wadah pembuangan pembalut wanita
agar tidak menyumbat saluran air limbah atau septic tank. Selain itu, harus dilakukan
upaya meminimalkan terbentuknya sarang nyamuk dan lalat serta timbulnya bau
yang tidak sedap.
Jarak maksimal antara daerah permukiman pengungsi dengan toilet adalah
50 meter. Pada tahap awal penanggulangan bencana, harus tersedia toilet komunal
dengan rasio minimal 1 toilet untuk 50 orang. Untuk selanjutnya, perlu dilakukan

26
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

peningkatan jumlah toilet dengan minimal jumlah 1 buah toilet untuk 20 orang
dengan rasio toilet wanita dan toilet laki-laki adalah 3:1.
Limbah tinja harus dikelola dengan baik dan aman supaya tidak mencemari
lingkungan dan mengganggu kesehatan masyarakat. Pada tahap awal, perlu
dirancang pengelolaan limbah tinja dengan kapasitas 1-2 liter/orang/hari. Sementara
untuk tahap lanjutan, rencanakan pengelolaan air limbah dengan kapasitas 40-90
liter/orang/tahun. Perlu dipastikan bahwa air limbah domestik berupa gray water (air
limbah dari dapur, kegiatan mencuci dan buang air kecil) tidak disatukan dengan
limbah tinja karena penanganannya berbeda, kecuali jika lokasi permukiman
merupakan lokasi hunian yang merupakan permukiman tetap dan terdapat fasilitas
SPAL (Sistem Pengelolaan Air Limbah) eksisting. Apabila memungkinkan, dapat
dilakukan pemanfaatan limbah tinja menjadi sumber energi seperti biogas.

Pengelolaan limbah padat/sampah meliputi perencanaan sistem pengelolaan


sampah, pemilahan sampah di sumber, transportasi ke Tempat Penampungan
Sementara (TPS), serta transportasi dan pemrosesan akhir serta daur ulang sampah.
Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat mencemari air permukaan dan air
tanah yang berujung pada terganggunya kesehatan manusia. Pada area permukiman
dengan populasi rendah dan komunal, dapat dibuat lubang pembuangan sampah
dengan ukuran yang disesuaikan dengan jumlah populasi. Lubang pembuangan
idealnya berlokasi kurang lebih 15 meter dari area permukiman serta harus
dilengkapi dengan pagar untuk mengamankan dari anak-anak dan binatang. Untuk
pengumpulan sampah secara komunal pada tahap awal perlu disediakan wadah
kontainer berukuran 100 liter untuk setiap 40 rumah tangga. Pada tahap selanjutnya,
perlu disediakan 1 wadah kontainer untuk setiap 10 rumah tangga karena semakin
lama produksi sampah akan semakin meningkat.
Sementara itu pada skala rumah tangga perlu disediakan wadah sampah dengan
ukuran 10 liter. Tempat sampah disarankan memiliki tutup dan mudah dipindahkan
atau diangkat untuk menghindari lalat serta bau. Apabila memungkinkan, dapat
dilakukan pemilahan sampah di sumbernya dengan menyediakan tempat sampah
terpilah dan mengadakan sosialisasi. Rancang pula sistem untuk pengangkutan
sampah secara terjadwal dari rumah tangga dan fasilitas umum. Sebisa mungkin,
sampah diangkut setiap hari dari setiap rumah. Sampah yang dikumpulkan dari
rumah tangga dan fasilitas umum diangkut menuju ke TPS untuk selanjutnya
dipilah dan didaur ulang kemudian diangkut menuju TPA (Tempat Pemrosesan
Akhir) terdekat. Untuk pengelolaan sampah tersebut, dapat dijalin koordinasi dan
kerjasama dengan petugas atau pengelola sampah dan pemerintah setempat.

27
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Timbulan sampah rumah tangga yang dihasilkan tergantung pada cara


memperoleh dan memasak makanan serta aktivitas-aktivitas yang dilakukan
sehari-hari. Asumsikan timbulan sampah pada huntara (dikategorikan rumah semi
permanen) adalah 2–2,25 liter/orang/hari atau 0,3–0,35 kg/orang/hari (Damanhuri
dan Padmi, 2010).
Pada fasilitas-fasilitas umum juga perlu disediakan wadah sampah yang
disesuaikan dengan kegiatan dan aktivitasnya. Jika terpaksa melakukan penguburan
sampah, misal di lubang, maka lubang harus ditutup dengan lapisan tanah agar
terhindar dari vektor. Sampah pasar dapat diolah seperti mengolah sampah domestik.
Sampah dari tempat pemotongan hewan dan pasar ikan dapat dibuang ke lubang
besar yang tertutup di sebelah tempat penyembelihan atau pengolahan ikan. Darah
dapat dialirkan ke dalam lubang melalui saluran yang tertutup lempeng (untuk
mengurangi akses lalat). Air juga harus tersedia untuk keperluan pembersihan.

4. Standar Pengelolaan Saluran Drainase


Dalam Peraturan Menteri PUPR No. 14 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan
Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, disebutkan bahwa perlu
tersedianya sistem jaringan drainase skala kawasan dan skala kota sehingga tidak
terjadi genangan (lebih dari 30 cm, selama 2 jam) dan tidak lebih dari 2 kali setahun.
Konsep drainase yang saat ini didorong untuk diterapkan di Indonesia adalah
drainase ramah lingkungan. Definisi drainase ramah lingkungan adalah upaya untuk
mengelola air kelebihan (air hujan) dengan berbagai metode, di antaranya dengan
menampung melalui bak tandon air untuk langsung bisa digunakan, menampung
dalam tampungan buatan atau badan air alamiah, meresapkan dan mengalirkan
ke sungai terdekat tanpa menambah beban pada sungai yang bersangkutan serta
senantiasa memelihara sistem tersebut sehingga berdaya guna secara berkelanjutan
(Kementerian Pekerjaan Umum, 2014).
Drainase ramah lingkungan dapat mengurangi potensi terjadinya banjir,
genangan dan longsor. Sementara itu, pada Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2008
tentang Pengelolaan Sumber Daya Air disebutkan bahwa jaringan drainase harus
terpisah dengan pengumpul air limbah sehingga semua air limbah (dari tempat cuci,
dapur, kamar mandi dan kakus) harus dibuang ke jaringan pengumpul air limbah.
Saluran drainase terbagi menjadi 2 jenis, yaitu saluran terbuka dan tertutup.
Bentuk penampang saluran terbuka terdiri dari bentuk trapesium, persegi, setengah
lingkaran, dan segitiga. Sementara itu bentuk penampang saluran tertutup terdiri
dari bentuk persegi dan trapesium. Saluran dapat berupa saluran alami (dinding dari
tanah) ataupun saluran buatan (dinding pasangan batu atau beton).

28
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

KRITERIA DESAIN
TATA BANGUNAN
BAB DAN LINGKUNGAN
3 TRADISIONAL BALI

3.1. Tata Bangunan dan Lingkungan Dilihat dari


Peraturan

Kebijakan perumahan dan permukiman undang-undang No. 1 Tahun 2011


tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, merumuskan bahwa: Perumahan
adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau
lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan.
Sedangkan permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas
lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas
umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau
kawasan perdesaan.

Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 6 Tahun 2001 tentang Izin


Bangunan
Dalam hal ini, perda Kota Denpasar Nomor 6 Tahun 2001 tentang izin bangunan,
Bab V Syarat-syarat bangunan-bangunan, Pasal 56 mensyaratkan: (1) Koefisien
Dasar Bangunan (KDB) maksimum 75% sepanjang tidak ditetapkan yang lain;
(2) Koefisien Lantai Bangunan (KLB) maksimum 2 x Koefisien Dasar Bangunan
(KDB); (3) Jarak bangunan diatur berdasarkan keputusan Walikota Denpasar.
Areal setra atau kuburan tidak diperkenankan untuk dimanfaatkan sebagai
jalan umum kecuali atas persetujuan umat pemilik setra atau kuburan yang
bersangkutan.

29
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 5 Tahun 2015 tentang Bangunan


Gedung
Berdasarkan peraturan Kota Denpasar, dalam hal ini tentang bangunan
gedung, Pasal 7 mensyaratkan:

karakter sederhana serta memiliki kompleksitas dan teknologi sederhana


dan/atau Bangunan Gedung yang sudah memiliki desain prototipe.

tidak sederhana serta memiliki kompleksitas dan atau teknologi tidak


sederhana.

dan persyaratan khusus, yang dalam perencanaan dan pelaksanaannya


memerlukan penyelesaian/teknologi khusus.

manusia tinggal dapat berbentuk: bangunan rumah tinggal, bangunan


rumah tinggal deret, bangunan rumah tinggal susun, dan bangunan
rumah tinggal sementara.

sampai 6 meter, lebar telajakan minimal 0,5 m. Lebar jalan 6-8 m, lebar
telajakan minimal 0,75 m. Lebar jalan 8-12 m, minimal 1 m. Lebar 12-18 m,
minimal 1,5 m. Lebar jalan di atas 18 m, minimal 2 m.

Perwali Kota Denpasar Nomor 25 Tahun 2010 tentang Persyaratan


Arsitektur Bangunan Gedung
Dalam Perwali ini yaitu tentang persyaratan arsitektur bangunan gedung,
Pasal 8, poin (1). Prinsip-prinsip tata ruang dan orientasi.

teben.

menciptakan komposisi Ruang Terbuka (Void).

aturan yang berlaku.

30
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

dengan seimbang, menyatu, dan proporsional.

Adapun Perwali Nomor 25 Tahun 2010 tentang persyaratan arsitektur


bangunan gedung, Pasal 8, poin (3). Prinsip-prinsip ragam hias sesuai dengan
pekerjaan ini, antara lain: (1) menerapkan ragam hias tradisional Bali pada
komponen bangunan dengan seimbang, menyatu, dan proporsional; (2)
modifikasi pada elemen ragam hias tradisional dengan mempertahankan
karakteristik bentuk awal; (3) menggunakan warna-warna natural mencer-
minkan kedekatan dengan alam; (4) material wajib yang dipergunakan dari
bahan/material alam, seperti batu bata, batu paras, atau batu lainnya; (5)
pepalihan dan ornamen/ukiran mencerminkan khas Bali dengan ketentuan:
Unsur kepala (dengan pepalihan/penutup, piringan, ganggong, dan sepatu),
unsur badan dengan tempelan dan/atau ornamen, unsur kaki dengan
pepalihan/ganggong, piringan, dan sabuk, penggunaan bahan-bahan
ornamen/pepalihan minimal 20% (dua puluh per seratus) dari luas dinding
bangunan serta memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur tradisional
Bali yang berlaku umum atau arsitektur dan lingkungan setempat khas
bebandungan.

Berdasarkan peraturan formal terkait di atas, maka kriteria umum yang


digunakan untuk melakukan penilaian atas data yang dikumpulkan yang tersusun
adalah berdasarkan teori dan kebijakan yang terkait. Adapun penjelasannya lebih
terprinci dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Kriteria Tata Bangunan dan Lingkungan Permukiman dan Bangunan Arsitektur Bali

KRITERIA DETAIL SUMBER


Menerapkan konsep Menerapkan orientasi yang Babad Bali & I Nyoman Glebet, 1986,
“hulu-teben” jelas dengan menerapkan Arsitektur Tradisional Daerah Bali
konsep hulu dan teben. “Hulu”
artinya arah yang utama,
sedangkan “teben” artinya hilir
atau arah berlawanan dengan
hulu.

31
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Kesesuaian fungsi Utama mandala untuk area Perda Provinsi Bali No.5 tahun 2005
ruang dan orientasi suci, madya mandala untuk tentang persyaratan Arsitektur
ruang sesuai konsep area tempat tinggal, dan nista Bangunan Gedung & Perwali Nomor
Tri Mandala mandala untuk area profan 25 tahun 2010 tentang persyaratan
(wc/km). arsitektur bangunan gedung, Pasal
8, poin (1). Prinsip-prinsip tata ruang
dan orientasi
Menerapkan kon- Adanya peruntukan fungsi Perwali Nomor 25 tahun 2010
sep Tri Mandala se- ruang yang jelas untuk zona tentang persyaratan arsitektur
cara jelas dan pro- utama mandala, madya bangunan gedung, Pasal 8, poin
porsional mandala, dan nista mandala (1). Prinsip-prinsip tata ruang dan
pada bangunan rumah tinggal. orientasi
Menerapkan konsep Proporsi antara kepala ba- Glebet, Nyoman, dkk. 2002.
Tri Angga secara ngunan (atap), badan bangun- Arsitektur Tradisional Daerah Bali.
proporsional an dengan ketinggian 1 Denpasar: Departemen Pendidikan
lantai kurang lebih 300 cm dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi
(24 rai+pengurip), dan kaki dan Dokumentasi Kebudayaan
bangunan berupa peninggian Daerah.
lantai ataupun umpak minimal
1,2 (satu koma dua) meter dari
permukaan jalan, sehingga
menyiratkan adanya kepala,
badan dan kaki secara kuat dan
jelas.

3.2 Prioritas Kriteria Desain Tata Bangunan dan


Lingkungan Tradisional

Dalam mendapatkan kriteria desain terhadap tata bangunan dan lingkungan


yang sesuai dengan kaidah Arsitektur Tradisional Bali (ATB), dilakukan penyusunan
instrumen survei berdasarkan sintesis dari peraturan formal yang berlaku dan
terkait dengan tata ruang dan bangunan. Terdapat beberapa variabel utama yang
dikumpulkan menjadi draf kriteria yang ditelaah lagi keabsahannya melalui survei
dan observasi lapangan. Poin-poin dalam instrumen survei dikategorisasikan
berdasarkan tata perancangan arsitektural disertai dengan penjelasan secara detail
pada masing-masing Sub-Kategorinya dan dilengkapi dengan nilai pembobotan.

32
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Tabel 5. Kategorisasi Kriteria Desain pada Instrumen Survei


Kategori A. Tata Ruang dan Orientasi B. Tata Bangunan C. Ornamentasi dan Ragam
Hias
Sub- A1. Menerapkan konsep B1. Menerapkan C1. Penggunaan
Kategori “Hulu-Teben” konsep Tri ornamen pada
Angga secara bangunan (minimal
proporsional 20% luas dinding)
A2. Kesesuaian fungsi ruang B2. Bentuk atap C2. Tipe ornamen/
dan orientasi ruang bangunan pepalihan pada
sesuai konsepsi Tri dominan limas/ bangunan (dominan
Mandala pelana khas Bali hand made atau
precast)
A3. Memiliki KDB sesuai B3. Proporsi C3. Kesatuan dan
ketentuan (maks. 75%) harmonis keseimbangan
dengan ornamen
lingkungan
A4. Menerapkan jarak B4. Artikulasi pada C4. Ragam bentuk
sempadan jalan Sistem Struktur ornamen yang
terhadap bangunan digunakan
(min. 2.5 m)
A5. Menerapkan sempadan C5. Ornamen
samping dan belakang menggunakan
(min. 1 m) bahan-bahan
organik/alam
A6. Memiliki area telajakan C6. Menggunakan warna
(0.5m–2m) yang natural (earth
tone: merah bata,
hitam, abu-abu,
coklat)
A7. Menerapkan konsep Tri
Mandala secara jelas dan
proporsional
A8. Letak pintu masuk sesuai
dengan tata letak pada
ATB

(Sumber: Laporan Kriteria Desain Tata Bangunan dan Lingkungan Berdasarkan Tata Nilai Lokal
Masyarakat Bali, 2019)

Tabel di atas disusun untuk mengetahui faktor kriteria apa saja yang menjadi
titik berat dalam penilaian bangunan bernuansa arsitektur Bali dan bagaimanakah
pembobotan atau skoring terhadap keutamaan tiap variabelnya. Variabel-variabel
tersebut kemudian diaplikasikan pada instrumen survei lapangan.

33
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Titik sebaran survei dan observasi lapangan dilakukan pada zona budidaya 4
(Zona B4) di 4 kota besar di Bali, yaitu Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan. Dari
masing-masing lokasi sebaran survei dan observasi diambil sebanyak 60 sampel
responden, sehingga total terdapat 240 sampel responden.
Dari hasil rekapitulasi survei dan observasi lapangan, ditemukan bahwa
terdapat perubahan pada urutan prioritas masing-masing sub-kriteria. Pada Kategori
A – Tata Ruang dan Orientasi dan Kategori C – Ornamentasi dan Ragam Hias pada
masing-masing lokasi kajian menunjukkan prioritas yang berbeda-beda. Sementara
itu, untuk Kategori B – Tata Bangunan, seluruh lokasi kajian tidak menunjukkan
perubahan prioritas sama sekali.

Tabel 6. Rekapitulasi Perubahan Prioritas Masing-masing Kategori Kriteria Desain

Perubahan
Tata Ruang dan Urutan
A Kotamadya Kabupaten Kabupaten Kabupaten
Orientasi Prioritas
Denpasar Badung Gianyar Tabanan
A1 Menerapkan konsep
Prioritas I A1 A1 A3 A3
“Hulu-Teben”
A2 Kesesuaian fungsi ruang
dan orientasi ruang sesuai Prioritas II A3 A3 A2 A2
konsep Tri Mandala
A3 KDB sesuai ketentuan Prioritas III A4 A2 A8 A1
A4 Menerapkan jarak
sepadan jalan terhadap Prioritas IV A2 A7 A7 A7
bangunan
A5 Menerapkan sempadan
Prioritas V A7 A8 A1 A4
samping dan belakang
A6 Memiliki area telajakan Prioritas VI A8 A4 A4 A8
A7 Menerapkan konsep Tri
Mandala secara jelas dan Prioritas VII A5 A5 A5 A5
proporsional
A8 Letak pintu masuk Prioritas VIII A6 A6 A6 A6
B Tata Bangunan Urutan Kotamadya Kabupaten Kabupaten Kabupaten
Denpasar Badung Gianyar Tabanan
Prioritas
B1 Menerapkan konsep Tri
Prioritas I B3 B3 B3 B3
Angga secara proporsional
B2 Bentuk atap bangunan Prioritas II B2 B2 B2 B2
B3 Proporsi yang harmonis
Prioritas III B1 B1 B1 B1
dengan lingkungan
B4 Artikulasi sistem struktur Prioritas IV B4 B4 B4 B4

34
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

C Ornamentasi dan Ragam Urutan Kotamadya Kabupaten Kabupaten Kabupaten


Hias Prioritas Denpasar Badung Gianyar Tabanan
C1 Penggunaan ornamen
Prioritas I C1 C1 C1 C1
pada bangunan
C2 Tipe ornamen/pepalihan
Prioritas II C6 C6 C5 C5
pada bangunan
C3 Kesatuan dan
Prioritas III C3 C3 C3 C3
keseimbangan ornamen
C4 Ragam bentuk ornamen
Prioritas IV C2 C2 C6 C5
yang digunakan
C5 Menggunakan bahan-
Prioritas V C5 C5 C4 C2
bahan organik
C6 Menggunakan warna-
Prioritas VI C4 C4 C2 C4
warna yang natural

(Sumber: Laporan Kriteria Desain Tata Bangunan dan Lingkungan Berdasarkan Tata Nilai Lokal Masyarakat Bali,
2019)

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa tiap kategori di tiap kawasan memiliki
prioritas yang berbeda-beda. Untuk Tata Ruang dan Orientasi (Kategori A), hal yang
menjadi prioritas utama adalah menerapkan konsep ‘”Hulu-Teben’’ dan memiliki KDB
sesuai ketentuan. Untuk Tata Bangunan (Kategori B), hal yang menjadi prioritas utama
pada tiap lokasi di SARBAGITA adalah harmonisasi dengan lingkungan. Sementara
itu, untuk Ornamentasi dan Ragam Hias pada Bangunan (Kategori C), yang menjadi
prioritas adalah penggunaan ornamen pada bangunan/tipe ornamentasi. Dapat
disimpulkan poin-poin yang menjadi prioritas kriteria dalam suatu bangunan hunian
dengan arsitektur Bali pada wilayah kajian antara lain:
1. Mengaplikasikan konsep “Hulu-Teben” pada tata ruang dan orientasinya;
2. Memiliki KDB sesuai ketentuan;
3. Tata bangunan yang harmonis dengan lingkungan; serta
4. Bangunan mengaplikasikan ornamentasi Bali pada fasadnya.

Kategori B memiliki urutan prioritas yang sama dari seluruh wilayah kajian.
Proporsi antara bangunan dan harmonisasi dengan lingkungan sekitarnya dianggap
sangat penting pada masing-masing daerah. Untuk menonjolkan arsitektur Bali-nya,
bentuk fasad khas Bali diutamakan dalam pengaplikasian pada fasad bangunan.
Selain itu, perlu pula diterapkan konsep Tri Angga secara proporsional pada
bangunan. Untuk poin prioritas terakhir, yaitu artikulasi sistem struktur, struktur
harus mengikuti luasan dan desain dari fasad bangunan itu sendiri.
Setelah didapatkan prioritas kriteria desain sesuai dengan masukan 240
responden, untuk mendapatkan masukan secara akademis dan teknis, dilakukan

35
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

validasi kepada beberapa narasumber akademisi, praktisi dan pemangku adat


wilayah terkecil (kepala lingkungan) melalui diskusi teknis. Diskusi teknis dilakukan
dengan metode brainstorming antara tim dan peserta yang menghasilkan beberapa
masukan sebagai berikut:
1. Kajian terhadap penerapan ATB seharusnya bisa masuk hingga level kebijakan,
karena saat ini peraturan tentang penerapan ATB masih bersifat umum dan
belum bisa menjangkau pada implementasi;
2. Pendetailan melalui simplifikasi karakter ATB untuk mendapatkan value yang
paling kuat dengan modal paling minimal;
3. Ditambahkan kriteria yang ada dengan poin terkait ruang bersama; serta
4. Kajian tentang ATB harus bisa menyentuh hingga level menjawab tantangan
terhadap kriteria yang dihasilkan versus modernisasi bangunan, apakah
akulturasi, transformasi atau adaptasi.

Diskusi teknis juga menghasilkan kriteria desain final yang telah disempurnakan
dengan beberapa detail/rincian yang disertai dengan parameter dalam menilai
implementasi ATB di lapangan. Kriteria Tata Bangunan dan Lingkungan Berdasarkan
Tata Nilai Masyarakat Tradisional Bali tercantum pada Tabel 7.

Tabel 7. Kriteria Desain Tata Bangunan dan


Lingkungan Berdasarkan Tata Nilai Masyarakat Tradisional Bali

KRITERIA-KRITERIA TATA BANGUNAN NILAI PEMBOBOTAN


Detail Kriteria 1 2 3
A. Tata Ruang dan Orientasi
1. Menerapkan Menerapkan Tidak Hulu mendekati Hulu tepat
konsep “Hulu- orientasi yang menerapkan ke arah gunung mengarah ke
Teben” jelas dengan konsep Hulu- yang berada di gunung yang
menerapkan Teben Utara/Timur. Teben berada di Utara/
konsep hulu dan mendekati ke arah Timur. Teben
teben. “Hulu” hilir yang berada di mengarah ke
artinya arah Selatan/Barat (<15˚) hilir yang berada
yang utama, di Selatan/Barat
sedangkan
“teben” artinya
hilir atau arah
berlawanan
dengan hulu

36
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

KRITERIA-KRITERIA TATA BANGUNAN NILAI PEMBOBOTAN


Detail Kriteria 1 2 3
2. Kesesuaian Utama mandala Tidak ada Fungsi ruang jelas Fungsi ruang
fungsi ruang untuk area suci, pembagian untuk utama mandala jelas: utama
dan orientasi madya mandala yang jelas sebagai tempat suci, mandala
ruang sesuai untuk area sisanya campuran. (tempat suci),
konsep Tri tempat tinggal, madya mandala
Mandala. dan nista (ruang tidur,
mandala untuk ruang keluarga,
area profan dan lain-lain),
(WC/KM) nista mandala
(KM/WC, dapur,
area kotor
lainnya)
3. Memiliki Koefisien dasar KDB >75% KDB = 75% KDB <75%
KDB sesuai bangunan (KDB)
ketentuan sebesar 75%
untuk bangunan
rumah tinggal
sederhana tidak
bertingkat
4. Menerapkan Untuk lebar <2,5 meter =2,5 meter dihitung >2,5 meter
jarak jalan yang dihitung dari dari tepi daerah milik dihitung dari
sempadan kurang dari 6 tepi daerah jalan tepi daerah milik
jalan terhadap (enam) meter, milik jalan jalan
bangunan letak garis
sempadan
bangunan
adalah sama
dengan lebar
daerah milik
jalan dihitung
dari as jalan,
tetapi tidak
boleh kurang
dari 2,5 meter
dihitung dari
tepi daerah milik
jalan
5. Menerapkan Letak garis Tidak terdapat Hanya terdapat Terdapat
sempadan sempadan sempadan sempadan samping/ sempadan
samping dan samping dan belakang samping dan
belakang belakang belakang
bangunan yang
berbatasan
dengan tetangga
adalah paling
sedikit 1 meter
dari batas persil
untuk bangunan
satu lantai

37
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

KRITERIA-KRITERIA TATA BANGUNAN NILAI PEMBOBOTAN


Detail Kriteria 1 2 3
6 Memiliki area Lebar telajakan Tidak sesuai Sesuai dari yang Lebih dari yang
telajakan (jarak antara dipersyaratkan dipersyaratkan
pagar dan tepi
luar got): lebar
jalan sampai 6,
minimal 0,5m;
lebar jalan 6-8
m, minimal 0,75
m; lebar jalan
8-12 m, minimal
1 m; lebar 12-18
m, minimal 1,5
m; lebar jalan
di atas 18 m,
minimal 2 m
7 Tata letak • Jika pintu Tidak sesuai Kurang sesuai Sesuai
pintu masuk masuk
dari Timur,
terletak
1/3 bagian
Selatan dari
panjang sisi
Timur
• Jika pintu Tidak sesuai Kurang sesuai Sesuai
masuk dari
Selatan,
terletak
1/3 bagian
Timur dari
panjang sisi
Selatan
• Jika pintu Tidak sesuai Kurang sesuai Sesuai
masuk
dari Barat,
terletak
1/3 bagian
Utara dari
panjang sisi
Barat
• Jika pintu Tidak sesuai Kurang sesuai Sesuai
masuk
dari Utara,
terletak
1/3 bagian
Barat dari
panjang sisi
Utara

38
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

KRITERIA-KRITERIA TATA BANGUNAN NILAI PEMBOBOTAN


Detail Kriteria 1 2 3
B. Tata Bangunan
1. Menerapkan Proporsi Hanya terdiri Menerapkan 2 bagian Menunjukkan
konsep Tri antara kepala dari 1 bagian dari Tri Angga jelas bagian
Angga secara bangunan dari Tri Angga dari Tri Angga
proporsional (atap), badan sesuai yang
bangunan dipersyaratkan
dengan
ketinggian
1 lantai
+300 cm (24
rai+pangurip),
dan kaki
bangunan,
peninggian
lantai ataupun
umpak minimal
40 cm (5
sedeme +
pengurip) dan
maksimal 1,2
meter dari
permukaan
jalan, sehingga
menyiratkan
adanya kepala,
badan dan kaki
secara kuat dan
jelas
2. Bentuk atap Bentuk atap Gabungan atap Gabungan atap limas/ Seluruh atap
bangunan dominan adalah limas/pelana pelana dan atap datar, adalah atap
atap limas/ dan atap dengan proporsi luas limas dan/atau
pelana yang datar, dengan atap datar <50% luas pelana
khas Bali proporsi luas atap pelana/limas
atap datar
>50% luas atap
pelana/limas;
atau seluruhnya
atap datar
3. Proporsi yang Memperhatikan Melakukan Melakukan Bangunan
harmonis proporsi yang pengkondisian pengkondisian kontur mengikuti kontur
dengan harmonis kontur tanah tanah (cut and fill) tanah yang ada
lingkungan dengan (cut and fill) ≤1,2 meter
lingkungan >1,2 meter
dengan
mengikuti
kontur tanah
yang ada

39
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

KRITERIA-KRITERIA TATA BANGUNAN NILAI PEMBOBOTAN


Detail Kriteria 1 2 3
4. Artikulasi Artikulasi sistem Tidak terdapat Artikulasi sebagian Artikulasi
sistem struktur dapat artikulasi sistem sistem struktur dapat seluruh sistem
struktur dilihat dengan struktur yang dilihat dengan jelas struktur dapat
jelas sebagai ditonjolkan dilihat dengan
kejujuran sistem jelas
struktur, seperti
pilar-pilar kolom
bangunan
C. Ornamentasi dan Ragam Hias
1. Penggunaan Penggunaan Tidak ada Bahan-bahan Bahan-bahan
ornamen pada bahan-bahan ornamen/ ornamen/pepalihan ≤ ornamen/
bangunan ornamen/ pepalihan 20% luas dinding pepalihan > 20%
pepalihan pada dinding luas dinding
minimal 20% bangunan
dari luas dinding
bangunan
2. Tipe ornamen/ Jenis ornamen Seluruh Ornamen campuran Seluruhnya
pepalihan apakah ornamen atau antara buatan tangan merupakan
pada didominasi >50% bukan (handmade) dan hasil ornamen
bangunan ornamen buatan merupakan pabrikasi buatan tangan
tangan atau ornamen (handmade)
cetakan buatan tangan seperti ukiran
(handmade)
3. Kesatuan dan Kesatuan dan Tidak terdapat Ornamen hanya Ornamen
keseimbangan keseimbangan ornamen tiga merupakan bagian merupakan
ornamen ornamen dilihat dimensi/tidak yang menempel pada bagian dari
dari banyaknya timbul (berupa bangunan struktur
ornamen timbul gambar dua bangunan
yang digunakan dimensi (misal: candi
(pahatan, semata) bentar sekaligus
ukiran, dll) berfungsi
sebagai
pagar masuk
bangunan;
ukiran pada
kolom/saka
bangunan)

40
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

KRITERIA-KRITERIA TATA BANGUNAN NILAI PEMBOBOTAN


Detail Kriteria 1 2 3
4. Ragam bentuk Menerapkan <50% ragam 50% ragam hias asli Seluruh ragam
ornamen yang jenis ragam hias asli/ hias adalah
digunakan hias asli, antara didominasi oleh ragam hias asli
lain: ragam ragam bentuk
hias pola alam pengembangan
(tumbuhan,
binatang,
gunung, laut,
dll); ragam hias
dewa-dewi;
ragam hias
pola wujud
manusia/tokoh
kepahlawanan
dalam lontar
(cerita
Mahabharata/
Ramayana)
5. Menggunakan Bahan organik Ornamen Ornamen dibuat dari Seluruh
bahan-bahan khususnya yang didominasi campuran bahan- ornamen
organik mempengaruhi bahan-bahan bahan organik yang menggunakan
ekspresi non organik mendominasi dan bahan organik
bangunan (bata, (semen, seng, bahan non-organik
batu, kayu) dll)
6. Menggunakan Warna Penggunaan Sebagian besar Seluruh
warna-warna natural yang warna natural ornamen tidak ornamen
yang natural mencerminkan pada bangunan berwarna (warna abu- didominasi oleh
kedekatan sebagai abu dasar) warna-warna
dengan alam pengganti alam (merah
(merah bata, ornamen bata, hitam,
hitam, abu-abu, cokelat, kuning/
dst) oranye tua)

(Sumber: Laporan Kriteria Desain Tata Bangunan dan Lingkungan Berdasarkan Tata Nilai Lokal
Masyarakat Bali, 2019)

41
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

KONSEP PEMBANGUNAN
BAB PROTOTIPE HUNIAN
4 SEMENTARA

Penyusunan konsep desain pembangunan prototype hunian sementara


(Huntara) dimulai dengan programming terhadap tapak dan ruang dalam disertai
implementasi kriteria desain tata bangunan dan lingkungan yang telah dijelaskan
pada bab sebelumnya. Programming berupa analisis pemrograman arsitektural, baik
pada tapak maupun pada ruang dalam unit Huntara. Sementara itu, konsep desain
merupakan tindak lanjut dari analisis yang dilakukan pada tahapan programming
yang diwujudkan dalam sebuah gambar ilustrasi berupa penataan tapak, penataan
massa bangunan hingga penataan ruang dalam. Konsep desain digunakan sebagai
landasan dalam pembuatan rencana desain atau gambar kerja melalui perwujudan
gambar yang lebih rinci, seperti site plan, denah bangunan hingga rencana utilitas
kawasan dan bangunan.

4.1 Bidang Arsitektur


4.1.1. Analisis dan Konsep Tapak
Lokasi site penerapan Rumah Prototipe dan Desain Penataan Kawasan Hunian
Sementara Berdasarkan Kriteria Arsitektur Bali, terletak di desa Rendang, Kecamatan
Rendang, Kabupaten Karangasem. Site dipilih disesuaikan dengan permintaan dari
pemerintah daerah Kabupaten Karangasem yang didasari oleh wewenang untuk
memanfaatkan lahan milik pemerintah provinsi.

42
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Gambar 7. Peta Administrasi Kabupaten Karangasem


(Sumber: [Link]

Ditinjau dari segi lokasi,


site terpilih memiliki jarak
sekitar 14 km dari puncak
Gunung Agung dan termasuk
di luar zona kawasan rawan
bencana (KRB) erupsi Gunung
Agung yaitu di atas 12 km
(Pusat Vulkanologi dan
Mitigasi Geologi (PVMBG)).
Dengan demikian, dari
sisi keamanan layak untuk
dimanfaatkan sebagai salah
satu lokasi penerapan kawasan
hunian sementara untuk
mengantisipasi bahaya yang
timbul dari bencana erupsi
Gunung Agung.

Gambar 8. Analisis Jarak Aman Melalui Aerial Peta Kecamatan Rendang


(Sumber: Google Earth dan Analisis Tim, 2019)

43
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Lokasi site berada pada koordinat lokasi 8°26’21.0”S dan 115°25’35.8”E dan
berjarak 2,1 km ke arah selatan kantor Desa Rendang. Site dapat diakses melalui jalan
Astina Pura III yang memiliki lebar jalan 3 meter dengan kondisi telah diperkeras
aspal dengan kualitas yang sudah baik (Gambar 4.3).

Gambar 9. Peta Lokasi Site Huntara Desa Rendang


(Sumber: Google Earth dan Analisis Tim, 2019)

Site ini memiliki luasan 6.705,03 m2, yang terbagi menjadi dua bagian dan
terpisahkan oleh jalan lingkungan dengan lebar jalan 3 meter. Site pertama memiliki
luasan luas site 5.573,03 m2, berada di sisi utara jalan. Adapun batas-batas site ini
adalah sebagai berikut:
a. Sebelah utara berbatasan dengan rumah warga dan kebun
b. Sebelah timur berbatasan dengan jalan
c. Sebelah selatan berbatasan dengan kebun dan jalan
d. Sebelah barat berbatasan dengan kebun

Sedangkan site kedua di selatan jalan memiliki luasan 1.132 m2 dengan batas-
batas sebagai berikut:
a. Sebelah utara berbatasan dengan jalan
b. Sebelah timur berbatasan dengan sawah

44
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

c. Sebelah selatan berbatasan dengan sawah


d. Sebelah barat berbatasan dengan sawah

Selain itu, kondisi lingkungan sekitar site yang masih berupa lahan perkebunan
dan sawah, diharapkan mengurangi dampak sosial yang mungkin muncul apabila
sudah mulai ditempati oleh warga terdampak bencana. Dari sisi jalan akses menuju
site, lebar jalan = 3 meter dengan kondisi telah diperkeras aspal dengan kondisi yang
baik, mempermudah dalam sirkulasi kendaraan baik roda dua maupun roda empat
yang nantinya akan mengangkut manusia dan barang masuk dan keluar dari site.

Gambar 10. Analisis Topografi–Site Desa Rendang


(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

45
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Site di Desa Rendang memiliki kondisi topografi yang berundak-undak karena


pemanfaatan site eksisting saat ini adalah untuk lahan perkebunan dan sawah oleh
masyarakat sekitar. Elevasi tertinggi pada site pertama yang terletak di utara jalan
adalah pada level +502.00 mdpl yang berada di sisi bagian utara, dan yang terendah
pada sisi bagian tenggara dengan level +498.00 mdpl yang berbatasan dengan jalan.
Untuk site di sisi selatan yang berbatasan dengan jalan memiliki elevasi pada +498.30
mdpl. Namun secara rata-rata, elevasi site dominan pada elevasi +501.50 mdpl
yang berada di bagian tengah site. Untuk mengoptimalkan kondisi topografi site
dan meminimalkan kegiatan pematangan lahan, maka unit hunian akan dibangun
pada elevasi +501.50 mdpl dengan melakukan cut and fill pada bagian entrance
site, dengan memperhatikan sudut kemirigan dari jalan masuk yang direncanakan.
Kondisi topografi site di sisi selatan tidak jauh berbeda dengan kondisi site di sisi utara
jalan. Kondisi topografi yang secara umum berundak-undak dengan elevasi tertinggi
berada di sisi utara pada level +498.30 mdpl dan terendah di sisi selatan dengan
elevasi +494.00 mdpl. Pengolahan site nantinya diarahkan dengan meminimalkan
kegiatan cut and fill pada site, dengan tetap mempertahankan kondisi topografi
eksisting. Perletakan bangunan akan menyesuaikan dengan elevasi site, sehingga
pematangan site hanya dilakukan pada bagian jalan akses (Gambar 11).

Gambar 11. Analisis Potongan Tapak Eksisting (atas) dan Rencana (bawah)
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

46
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Sistem sirkulasi di sekitar site Desa Rendang adalah dua arah, dengan lebar jalur
sirkulasi 3 meter. Dari kantor Desa Rendang, site ini berjarak kurang lebih 2,1 km,
dan dapat ditempuh melalui jalan Astina Pura III. Kondisi pergerakan di sekitar site
tergolong sepi, karena bukan merupakan jalur pergerakan utama di Desa Rendang,
selain kondisi eksisting lingkungan sekitar masih berupa lahan perkebunan dan
persawahan. Letak site yang memiliki dua sisi yang berbatasan dengan jalan, yaitu
sisi timur site dan sisi selatan site, memungkinkan perletakan entrance pada site
pada salah satu sisi tersebut. Perletakan entrance pada site harus mudah dikenali
serta dipengaruhi oleh kondisi topografi site dan aturan tata letak pemesuan sesuai
dengan konsep tata letak pemesuan pada rumah tradisional Bali.
Berdasarkan kondisi konsep tata letak pemesuan, tata letak entrance di sisi
timur berada pada sepertiga bagian selatan dari panjang sisi timur. Bila dilihat dari
sisi keamanan dan topografi, perletakan pada bagian ini kurang baik karena terlalu
dekat dengan tikungan serta perbedaan elevasi jalan dan site yang cukup tinggi
kurang lebih 3,5 meter membutuhkan jalan akses yang lebih panjang menuju ke
site. Di sisi selatan, berdasarkan
konsep tata letak pemesuan,
tata letak entrance berada
pada sepertiga bagian timur
dari panjang sisi selatan. Dari
sisi keamanan, letak entrance di
sini lebih aman dari pengaruh
sirkulasi di sekitar site, dengan
beda elevasi yang sama dengan
perbedaan elevasi di sisi timur,
namun lebih memungkinkan
untuk membuat jalan akses
yang lebih panjang (Gambar
12).

Gambar 12. Analisis Potongan Tapak


Eksisting dan Rencana
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

47
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Pembagian zoning pada site didasarkan pada konsep pembagian halaman pada
natah/halaman rumah tradisional Bali yang menganut konsep Tri Mandala. Dengan
mengadopsi tata nilai Tri Mandala, maka site secara umum dibagi menjadi 3 halaman
yang memiliki fungsi pokok berbeda-beda. Konsep Tri Mandala terdiri dari:
a. Utama Mandala yang merupakan zona untuk tempat suci yang berada pada
wilayah hulu site. Pada zona utama mandala, fungsi pokok yang nantinya akan
diwadahi adalah terkait dengan kegiatan keagamaan, seperti tempat suci,
namun tidak menutup kemungkinan pemanfaatan fungsi lain terkait dengan
efisiensi dalam pemanfaatan lahan.
b. Madya Mandala yang merupakan zona untuk kegiatan sosialisasi yang berada
di tengah-tengah site. Pada bagian Madya Mandala, fungsi umum yang akan
diwadahi di sini adalah terkait perumahan, ruang terbuka hijau, fasilitas sosial
dan fasilitas umum.
c. Nista Mandala yang merupakan zona untuk kegiatan penunjang berada di
wilayah teben dari site. Di bagian Nista Mandala, fungsi yang nantinya akan
diwadahi adalah fungsi penunjang atau service, untuk menunjang kegiatan di
dalam site.

Konsep penataan tapak pembangunan Huntara dijabarkan dalam Tabel 8,


sesuai dengan filosofi Tri Mandala. Pembahasan dimulai dari implementasi tata nilai
Tri Mandala ke dalam tapak dilengkapi dengan pembahasan tentang penataan
entrance, penataan massa dan pola sirkulasi pada tapak.

Tabel 8. Konsep Penataan Tapak

NO KONSEP PENATAAN TAPAK KONSEP DESAIN


1. Konsep Tri Mandala terdiri dari:
• Utama Mandala yang
merupakan zona untuk tempat
suci yang berada pada wilayah
hulu site.

• Madya Mandala yang


merupakan zona untuk
kegiatan sosialisasi yang
berada di tengah-tengah site.

48
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

NO KONSEP PENATAAN TAPAK KONSEP DESAIN


• Nista Mandala yang
merupakan zona untuk
kegiatan penunjang yang
berada di wilayah teben dari
site. Di bagian Nista Mandala,
fungsi yang nantinya akan
diwadahi adalah fungsi
penunjang atau service, untuk
menunjang kegiatan di dalam
site.
2. Tata letak akses menuju dan
keluar site:
• Site di sisi utara memiliki dua
sisi yang langsung berhadapan
dengan jalan lingkungan, yaitu
sisi selatan dan timur site.
• Perletakan entrance menuju
ke site dapat ditempatkan
pada salah satu dari dua sisi
site ini, yaitu sisi timur dan
selatan site.
• Namun akses dari arah timur
site cukup curam sebesar
<16°, sedangkan akses menuju
site dari arah selatan cukup
landai sebesar <7°.
• Sehingga akses utama
ditempatkan di arah selatan
site.

49
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

NO KONSEP PENATAAN TAPAK KONSEP DESAIN


3. Konsep tata massa
• Pola massa yang diterapkan
pada site Desa Rendang
adalah pola massa grid untuk
efisiensi dalam penggunaan
lahan.
• Satu blok massa bangunan
direncanakan mampu
menampung 4 KK dengan
model rumah gandeng.
• Blok massa hunian diletakan
pada bagian tengah site, dan
untuk fasilitas umum dan
sosial diletakkan di sekeliling
blok massa hunian.
• Ruang terbuka hijau
memanfaatkan lahan sisa dari
blok massa bangunan dan
jalur sirkulasi. Ruang terbuka
hijau ini dapat dimanfaatkan
sebagai titik kumpul (assembly
point), ruang bermain anak,
ruang sosialisasi dengan
dilengkapi bangunan seperti
gazebo atau tempat duduk.
• Sisi bagian selatan yang
merupakan zona Nista
Mandala dimanfaatkan
sebagai areal untuk
pengolahan limbah komunal.
• Site di sisi selatan jalan
didesain untuk area
peternakan atau area kebun.

50
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

NO KONSEP PENATAAN TAPAK KONSEP DESAIN


4. Pola sirkulasi

Pola sirkulasi yang diterapkan pada


site Desa Rendang adalah sirkulasi
linier yang saling terhubung antar-
blok hunian. Jaringan pergerakan
direncanakan memiliki lebar 3,5
meter serta dilengkapi dengan jar-
ingan drainase dengan lebar 50 cm
berupa saluran terbuka. Terdapat
emergency exit atau akses alter-
natif apabila terjadi bencana yang
dapat digunakan sebagai evakuasi.

(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

Konsep penataan tapak digunakan sebagai landasan dalam membuat rencana


desain tapak. Rencana desain tapak merupakan perwujudan gambar yang lebih
rinci, dari konsep penataan tapak menjadi gambar kerja, berupa Site Plan dan Layout
Plan Kawasan.

4.1.2. Site Plan Kawasan Huntara Rendang

Berdasarkan kriteria desain yang telah disusun, intensitas penggunaan lahan


pada site direncanakan maksimal 40% dari luas lahan merupakan lahan yang
terbangun. Dengan luas lahan yang tersedia pada site di Desa Rendang adalah
6.705,03 m2, maka luas lahan yang dapat dibangun pada site di Desa Rendang
adalah 2.682,12 m2. Pemanfaatan sebagai fungsi hunian menjadi prioritas dalam
penanganan penataan site kawasan hunian sementara ini, selain diperlukan juga
beberapa fasilitas penunjang apabila terjadi mobilisasi pengungsi ke kawasan ini.

51
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Beberapa fasilitas dasar yang dipersiapkan meliputi:


1. Ruang informasi, sebagai ruang pencarian informasi terhadap para pengungsi
yang ditampung;
2. Gudang logistik, tempat penyimpanan bahan makanan, obat-obatan dan
kebutuhan dasar lainnya;
3. Bangunan serbaguna, sebagai tempat belajar, ruang pertemuan dan klinik
kesehatan;
4. Bangunan penunjang utilitas, seperti genset, tangki air, dan ruang pompa dan
tempat ibadah.

Intensitas penggunaan lahan pada site di Desa Rendang dapat dilihat pada
Tabel 9.

Tabel 9. Intensitas Penggunaan Lahan di Site Desa Rendang

Fungsi Lahan Luas Persentase

Lahan Tidak Terbangun


1.668,00 m2
a. Jalan Lingkungan
159.00 m2
b. Parkir
39,00 m2
c. Pura
2.135,53 m2
d. RTH

Total 4.021,53 m2 60 %

Lahan Terbangun
2.250,00 m2
a. Rumah Tinggal (@9x250m2)
36,00 m2
b. Bangunan Informasi
36,00 m2
c. R. Serbaguna 54,00 m2
d. Gudang Logistik 15,00 m2
e. Tangki Air 292.5 m2

f. Kandang
Total 2.683,50 m2 40 %

(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

52
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Satu blok massa hunian direncanakan untuk 4 KK serta dilengkapi dengan


2 kamar mandi dan 2 dapur terpisah yang dapat dimanfaatkan secara komunal
oleh penghuni dari 1 blok hunian. Jaringan pergerakan internal (premises road)
direncanakan dengan lebar 3,5 m dengan finishing paving block serta dilengkapi
jaringan drainase lingkungan dengan lebar 50 cm berupa saluran terbuka.

Gambar 13. Site Plan dan Layout Plan Kawasan Huntara Rendang
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

Bagian tengah site dioptimalkan sebagai blok hunian, sedangkan fasilitas


penunjang kawasan lainnya memanfaatkan ruang sisa dari blok hunian. Ruang
informasi dan logistik dilengkapi dengan fasilitas parkir, diletakkan di sisi selatan
dekat dengan entrance utama untuk memudahkan dalam pencarian informasi
maupun sirkulasi barang ke penyimpanan.

4.1.3. Analisis dan Konsep Tata Bangunan

Rumah merupakan wadah bagi kegiatan manusia, di mana di dalam wadah


tersebut dilakukan kegiatan menghuni atau bertempat tinggal yang meliputi
serangkaian aktivitas yang dilakukan dalam rentang waktu 24 jam (harian).
Penampungan/hunian sementara adalah tempat tinggal sementara selama korban
bencana mengungsi, baik berupa tempat penampungan massal maupun keluarga,
atau individual. Tata Bangunan pada Huntara terdiri dari bentuk pola ruang. Aktivitas

53
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

secara umum yang dilakukan oleh penghuni adalah: 1) istirahat, 2) memasak, 3)


berkumpul dengan keluarga, 4) beribadah, 5) menerima tamu, 6) MCK, dan 7)
mencuci pakaian. Dari definisi dan aktivitas yang dilakukan oleh penghuni, nantinya
akan dikelompokkan menjadi dua, yaitu fungsi ruang untuk hunian dan service yang
dapat dimanfaatkan secara komunal. Dari pengelompokan tersebut, terlebih dahulu
dilakukan analisis terhadap kegiatan dan besaran ruang dan analisis terhadap
organisasi dan sirkulasi ruang untuk mendapatkan konsep tata bangunan
khususnya untuk ruang dalam.

A. Program Kegiatan dan Besaran Ruang


Program kegiatan berdasar pada pelaku kegiatan dalam objek perancangan
ini adalah desain tata bangunan. Pelaku kegiatan yang terwadahi dalam bangunan
rumah tinggal dapat dikelompokkan menjadi penghuni dan tamu. Dari kedua
pelaku kegiatan tersebut, dapat diklasifikasikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan
pada bangunan rumah sebagaimana terlhat pada Tabel 10. Berdasarkan program
kegiatan dari para pelaku kegiatan yang ada dalam perancangan ini, dapat
diidentifikasi kebutuhan ruang untuk mewadahi kegiatan-kegiatan yang dilakukan.

Tabel 10. Program Kegiatan dan Kebutuhan Ruang Penghuni Huntara

Pelaku
No Uraian Kegiatan Kebutuhan Ruang
Kegiatan
1 Penghuni • Istirahat • Ruang Tidur
• Memasak • Dapur
• Makan • Ruang Makan
• Berkumpul dengan keluarga • Ruang Keluarga
• Beribadah • Pura/Merajan
• Menerima tamu • Ruang Tamu/Teras
• Mandi, buang air besar/kecil • Kamar Mandi/WC
• Mencuci dan menjemur pa- • Ruang cuci dan Jemur
kaian
2 Tamu • Bertamu • Ruang Tamu/Teras

(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

Kebutuhan ruang pada unit rumah tinggal di atas dapat dikelompokkan


menjadi tiga berdasarkan fungsi ruangnya yaitu:
a. Fungsi Utama berupa ruang tidur
b. Fungsi Penunjang berupa ruang keluarga, ruang makan, dan ruang tamu/teras
c. Fungsi Servis berupa dapur, ruang cuci + jemur dan kamar mandi/WC.

54
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Dari fungsi ruang tersebut, yang diwadahi dalam satu unit hunian sementara ini
adalah fungsi utama dan penunjang yang meliputi ruang istirahat, ruang keluarga
yang juga dapat dimanfaatkan untuk ruang makan, dan teras. Dapur dan kamar
mandi direncanakan terpisah sebagai unit yang dimanfaatkan secara komunal.
Dari fungsi ruang yang diwadahi dalam satu unit hunian sementara ini, di mana
dalam satu unit hunian untuk 1 KK dengan asumsi penghuni sebanyak 5 orang,
direncanakan terdapat 2 kamar tidur, 1 ruang keluarga dan 1 teras. Berikut studi
untuk masing-masing ruang yang terdapat dalam satu unit hunian.

Tabel 11. Analisis Standar Kebutuhan Besaran Ruang

NAMA RUANG STUDI RUANG LUASAN

Luasan ruang 9 m2
Ruang Tidur
(2 Kamar Tidur = 18 m2)

Ruang Keluarga Luasan ruang 9 m2

Teras Puslitbang Permukiman 2011 Luasan ruang 3,04 m2


TOTAL LUAS LANTAI 30,04 M2

Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019

55
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Studi terhadap ruang dalam ini menunjukkan bahwa secara luasan lantai sudah
memenuhi standar minimal yang telah ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Kepala
Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 7 Tahun 2008 tentang Pedoman
Tata Cara Pemberian Bantuan Pemenuhan Kebutuhan Dasar yaitu 3 m2 per orang.

B. Organisasi dan Sirkulasi Ruang


Analisis terhadap organisasi dan sirkulasi ruang pada unit Huntara didasarkan
pada aktivitas yang dilakukan pada ruang-ruang di dalam rumah yang dikelompokkan
menjadi 3, yaitu:
Tabel 12. Program Pengelompokan Ruang Berdasarkan Aktivitas

KELOMPOK RUANG NAMA RUANG KETERANGAN


RUANG BERSAMA • Teras
• R. Keluarga
PRIVAT
• Ruang makan
RUANG ISTIRAHAT • Ruang tidur
RUANG SERVIS • Dapur
KOMUNAL
• Kamar mandi

(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

Dari pengelompokan ruang berdasarkan aktivitas ruang, sifat ruang serta


pelaku kegiatan, maka pola sirkulasi pada model rumah tinggal dapat digambarkan
sebagai berikut:

Gambar 14. Pola Sirkulasi Hunian Huntara Rendang


(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

56
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

C. Konsep Tata Bangunan


Konsep penataan ruang dalam mengacu pada konsep penataan hunian pada
arsitektur Bali sebagai dasar yang disusun dalam kriteria desain tata bangunan.
Konsep orientasi hulu-teben menjadi dasar dalam penyusunan konsep ruang dalam,
di mana ruang tidur pada hunian tradisional Bali selalu ditempatkan atau mengarah
ke hulu. Ruang service seperti dapur dan kamar mandi/WC direncanakan terpisah
dari unit hunian sebagai ruangan yang dapat dimanfaatkan secara komunal dan
diletakkan di bagian teben. Selain konsep orientasi hulu-teben, hal lain yang menjadi
pertimbangan dalam penataan ruang dalam adalah perletakan ruangan diarahkan
selalu berada di sisi bangunan untuk mempermudah pencahayaan dan penghawaan
alami pada bangunan. Kriteria desain di atas, digabungkan dengan analisis program
ruang yang telah disusun sebelumnya, menjadi sebuah penataan ruang dalam yang
dapat dilihat pada Gambar 15 dan Gambar 16.

Gambar 15. Penyusunan Pola Ruang Dalam Huntara Rendang


(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

57
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Gambar 16. Organisasi Ruang Dalam Huntara Rendang


(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

D. Konsep Punggel dan RISHA Sebagai Konfigurasi Penataan Ruang Dalam


Konsep desain hunian sementara untuk pengungsi dirancang sebagai
perwujudan suatu bangunan dengan fungsi ruang-ruang inti yang dihuni oleh satu
keluarga. Konsep hunian idealnya dapat dikembangkan menjadi lebih besar, namun
tidak membutuhkan pembongkaran struktur yang massif agar efisien dalam biaya.
Terinspirasi dari motif ukiran pada bangunan arsitektur di Provinsi Bali,
konfigurasi penataan ruang dalam mengambil tema punggel. Punggel dikenal sebagai
salah satu jenis patra (ukiran) dalam ornamen bangunan di Bali. Patra Punggel adalah
jenis patra yang dominan ditemukan pada bangunan yang merupakan perwujudan
dari bagian-bagian tanaman merambat. Punggel adalah punggal yang terpotong
atau istilah untuk batang tanaman yang terpotong. Patra Punggel, menyederhanakan
bentuk dasar tanaman, seperti lengkungan dari batang tumbuhan paku. Patra
Punggel dapat berupa pengulangan searah atau pengulangan timbal balik dari
potongan-potongan suatu bentuk tanaman rambat (Glebet, 1981).

58
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Gambar 17. Patra Punggel


(Sumber: [Link]

Konsep punggel digunakan sebagai refleksi hunian sederhana yang merupakan


potongan dari satu massa bangunan yang utuh. Konsep punggel digunakan untuk
menggabungkan 2 unit Huntara dalam satu massa yang hanya dibatasi oleh dinding
partisi. Konsep punggel juga digunakan sebagai antisipasi apabila Huntara nantinya
akan difungsikan sebagai Hunian Tetap (Huntap) dan memerlukan ruang yang lebih
luas daripada bentuk aslinya.
Sesuai dengan program kebutuhan besaran ruang, didapatkan luas untuk
1 unit Huntara adalah 27 m2 yang mengakomodasi ruang-ruang dengan fungsi
utama, yaitu 1 ruang keluarga (9 m2) dan 2 kamar tidur (18 m2). Apabila ke depannya
dibutuhkan luas ruangan yang lebih besar akibat perkembangan kebutuhan ruang
dalam satu keluarga, konsep hunian punggel dapat diperbesar menjadi tipe 54 m2
tanpa mengubah konstruksi. Salah satu sekat dinding yang melekat direncanakan
mudah dibongkar, sehingga menghubungkan 2 bangunan tipe 27 m2 menjadi 1
buah bangunan tipe 54 m2.
Kombinasi konsep punggel menyesuaikan dengan modul pada teknologi
RISHA, yaitu 3 x 3 meter (1 modul = 9 m2). Modul tersebut akan lebih memudahkan
dalam pengaturan konfigurasi ruangan apabila ingin dilakukan perluasan dengan
kelipatan luasan per 9 m2. Visualisasi konfigurasi bentuk punggel konsep tipe 27 m2
menjadi punggel konsep tipe 54 m2 dapat dilihat pada Gambar 18.

59
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Gambar 18. Konfigurasi Bentuk Punggel Konsep Tipe 27 m2 Menjadi Punggel Konsep Tipe 54 m2
(Sumber: Hasil Analisis Pribadi, 2019)

E. Layout Plan Huntara


Penyusunan denah unit hunian untuk satu Kepala Keluarga (KK) mengacu pada
konsep ruang dalam yang merupakan hasil dari proses analisis program ruang dan
kriteria desain yang telah disusun. Berdasarkan dua hal di atas, dalam 1 unit hunian
untuk 1 KK terdiri dari 2 unit ruang tidur dan 1 ruang keluarga serta teras dengan luas
lantai 27 m2 + 3 m2.

Gambar 19. Transformasi Konsep Layout Plan (Denah Unit Hunian)


(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

60
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Pengaturan denah ruangan dipengaruhi pula oleh sistem dan material struktur
yang digunakan pada bangunan. Dengan mengadopsi sistem struktur rangka dan
bahan dari panel RISHA, maka modul struktur yang digunakan adalah 3 x 3 meter.
Transformasi konsep ruang dalam ke dalam denah bangunan huntara dengan
mengacu pada modul struktur RISHA dapat dilihat pada Gambar 20.
Untuk mengoptimalkan penggunaan lahan, maka tipe rumah yang direncanakan
adalah tipe rumah gandeng, di mana tiap-tiap massa bangunan direncanakan
mampu menampung 4 KK, dengan dilengkapi 2 dapur dan 2 kamar mandi/WC yang
dibangun untuk dimanfaatkan secara komunal. Adapun denah hunian untuk 1 KK
dan 1 unit bangunan hunian dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 20. Konsep Denah Unit Huntara Tipe 27 Berdasarkan Modul RISHA
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

Gambar 21. Konsep Denah 1 Massa Bangunan Dilengkapi dengan Dapur dan WC Komunal
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

61
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

4.1.4. Konsep Tampilan dan Struktur Bangunan

Tampilan bangunan terdiri dari analisis terhadap pembentukan fasad/tampak


bangunan hingga struktur bangunan. Struktur bangunan membentuk bagian
utama bangunan, sedangkan fasad merupakan citra dari tampilan keseluruhan
bangunan. Tampilan bangunan tradisional umumnya dipengaruhi secara proporsi
yang memperlihatkan susunan bagian-bagian bangunan sesuai dengan konsep Tri
Angga, di mana bangunan memperlihatkan pembagian kepala-badan-kaki yang
jelas (Gambar 22). Bagian kepala diwujudkan dengan tampilan atap berbentuk
limasan, bagian badan dengan memperlihatkan bagian badan bangunan berupa
dinding, dan bagian kaki diwujudkan dengan adanya peninggian lantai bangunan
dari level halaman di sekitarnya.

Gambar 22. Analisis Tampilan Bangunan Sesuai dengan Konsep Tri Angga
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

Fasad bangunan direncanakan mengadopsi proporsi tampilan bangunan


tradisional Bali secara simplifikasi, yaitu hanya mengambil separasi antara Kepala-
Badan-Kaki. Bagian kepala bangunan (utama) yang diwujudkan dengan atap
berbentuk limasan menggunakan bahan spandek. Pemisahan bagian kaki dan
badan bangunan direncanakan dengan meninggikan level sloof bangunan terhadap
muka tanah asli (ekspose) dan memberikan perbedaan warna antara sloof, dinding
bangunan dan atap, sehingga dapat mempertegas artikulasi pada bagian kaki (nista),
badan bangunan (madya) dan atap (utama).

Gambar 23. Fasad Bangunan Huntara (Tampak Depan)


(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

62
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Gambar 24. Fasad Bangunan Huntara (Tampak Samping)


(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

Tampilan fasad bangunan menunjukkan bahwa sisi depan dan belakang tidak
memperlihatkan perbedaan, dikarenakan masing-masing merupakan pintu masuk
utama ke dalam unit hunian. Bagian sisi bangunan tidak diberi jendela karena selain
menghindari kontak langsung dengan sinar matahari, juga untuk menghindari arah
hadap bangunan ke bagian WC dan dapur komunal. Penghawaan dan pencahayaan
pada bangunan mengoptimalkan pencahayaan alami melalui penyediaan bukaan
pada bangunan berupa jendela kaca.

Gambar 25. Konsep Visualisasi 3 Dimensi - Fasad Bangunan Huntara


(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

63
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

4.1.5. Konsep Struktur Bangunan

Struktur bangunan, seperti yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya,


menggunakan teknologi RISHA berupa modul-modul berukuran 3 m x 3 m yang
membentuk satu massa bangunan besar yang dapat menampung 4 model unit
hunian tipe 27. Dengan demikian, satu massa bangunan memiliki ukuran: 6 m (lebar)
x 18 m (panjang) atau total 108 m2, yang terbagi menjadi 12 modul bangunan, atau
3 m x 3 m x 12 modul.
Inti dari teknologi sistem RISHA adalah sistem ukuran modul dan komponen
panel yang dapat digunakan dalam pembentukan modul ruang yang lebih besar.
RISHA merupakan sistem struktur pracetak kecil yang dapat dikerjakan oleh
masyarakat secara umum. RISHA terdiri dari tiga buah panel, yakni Panel P1 (10 cm
x 30 cm x 120 cm), Panel P2 (10 cm x 20 cm x 120 cm), dan Panel P3 (10 cm x 30 cm
x 30 cm). Ukuran modul panel yang dimiliki adalah 1,20 m dengan tebal komponen
10 cm dan lebar struktur 30 cm, sehingga ruang yang dapat dibentuk merupakan
perpaduan dari ukuran 1,20 m dan 30 cm. Sistem ukuran tersebut berlaku pada
setiap arah, baik arah vertikal (digunakan untuk pembentukan kolom) maupun arah
horizontal (digunakan sebagai sloof dan balok).

b
Gambar 26. Konsep Potongan (a) Memanjang Bangunan; (b) Memendek Bangunan
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2019)

64
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Gambar 26 menunjukkan potongan memanjang dan memendek bangunan


Huntara yang dibentuk oleh komponen-komponen panel RISHA. Setiap modul
dibentuk oleh kolom, balok dan sloof yang tersusun melalui komponen panel yang
membentuk sebuah kubus besar berukuran: 3 m (panjang) x 3 m (lebar) x 3 m (tinggi).
Panel sloof berfungsi sebagai perkuatan struktur bagian bawah dan konstruksi lantai.
Sedangkan panel balok berfungsi sebagai pengaku struktur bagian atas dan sebagai
tumpuan rangka atap yang terbuat dari baja ringan.
Tinggi bagian dalam bangunan (tinggi bersih) adalah 2,7 m dan direncanakan
tidak menggunakan penutup plafon untuk memaksimalkan sirkulasi penghawaan
yang masuk ke dalam bangunan dan keluar melalui bawah tritisan atap. Selain itu,
tidak digunakannya penutup plafon adalah dikarenakan fungsi sementara hunian,
yang sewaktu-waktu dapat dibongkar dan pasang maupun diperlebar sesuai
kebutuhan.

4.2. Bidang Air Minum dan Sanitasi


4.2.1 Konsep Penyediaan Air Minum di Kawasan Hunian Sementara

Air minum merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi manusia
dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan air minum didasarkan pada jumlah
pengungsi dan juga aktivitas yang dilakukannya. Kebutuhan air minum rumah
tangga untuk kota kecamatan adalah sebesar 100 liter/orang/hari (Direktorat
Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, 2016). Akan tetapi, menurut
Sphere Association (2018), standar kebutuhan air untuk pengungsi adalah 15 liter/
orang/hari yang terdiri dari 3 liter/orang/hari untuk kebutuhan dasar makan dan
minum, 6 liter/orang/hari untuk membersihkan diri dan 6 liter/orang/hari untuk
memasak. Kebutuhan air pada perencanaan kali ini akan ditetapkan sebesar 100
liter/orang/hari karena status Huntara ke depannya akan berubah menjadi Huntap
(hunian tetap).
Selain untuk keperluan rumah tangga, perlu diperhitungkan juga kebutuhan air
untuk keperluan fasilitas umum, seperti tempat suci, ruang serbaguna, serta Kantor
Logistik dan Informasi. Selain itu pula, akses air bersih diperlukan pada area reservoir/
sumur bor, gardu PLN, RTH, tempat pengolahan limbah dan TPS, tempat parkir serta
kebutuhan hewan ternak di kandang untuk minum hewan dan membersihkan
kandang.
Alternatif pertama penyediaan sumber air di area Huntara adalah dengan
mengambil air dari jaringan PDAM eksisting. Pada ruas jalan di depan area Huntara
terdapat jaringan pipa PDAM dengan diameter pipa 2-3 inci. Sumber air baku yang

65
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

digunakan oleh PDAM Tirta Tohlangkir Unit Rendang berasal dari Mata Air Arca dan
Mata Air Gerubug. Tim BLPW II Denpasar sudah pernah melakukan koordinasi dengan
PDAM Tirta Tohlangkir Unit Rendang dan pihak PDAM bersedia untuk memasukkan
area Huntara Desa Rendang ke dalam business plan PDAM. Opsi lain adalah dengan
memasukkan area Huntara Desa Rendang ke dalam program PAMSIMAS (Penyediaan
Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) yang direncanakan oleh PDAM Tirta
Tohlangkir. Air dari jaringan PDAM eksisting perlu dipompa menuju ke area Huntara
karena elevasi area Huntara yang lebih tinggi daripada elevasi pipa air PDAM.
Sementara itu alternatif kedua penyediaan sumber air adalah dengan
membangun sumur bor yang dilengkapi dengan rumah pompa dan genset untuk
mengantisipasi pemadaman listrik. Berdasarkan hasil koordinasi antara Tim BLPW
II Denpasar dengan Dinas PUPR Kabupaten Karangasem, pembangunan sumur bor
dapat diusulkan kepada Badan Geologi, Kementerian ESDM.
Sistem pengaliran air yang digunakan pada kawasan Huntara adalah sistem
gravitasi dengan cara meletakkan reservoir/tangki air di bagian utara area huntara
yang memiliki elevasi tertinggi. Air dari PDAM atau sumur bor akan ditampung
dalam reservoir kemudian didistribusikan ke area pelayanan dengan menggunakan
jaringan perpipaan.

Gambar 27. Rencana Jaringan Air Bersih Kawasan Huntara Rendang


(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2020)

66
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Sistem jaringan air bersih akan dialirkan dengan pipa distribusi yang berukuran
1,5 dan 2 inci menuju ke toilet bersama, dapur bersama, blok hunian warga, kandang
ternak, serta fasilitas umum dan sosial yang ada di area Huntara. Pada blok hunian
warga akan disediakan keran air di bagian depan hunian yang dapat digunakan
bersama (1 keran air untuk 2 KK). Untuk pengembangan selanjutnya, apabila Huntara
beralih menjadi Huntap, dapat dipasang tambahan keran air sehingga setiap KK
dapat memiliki 1 keran air pribadi. Pada keran air pribadi tersebut dapat dilengkapi
dengan meteran air untuk mencatat konsumsi air setiap KK. Pada area Huntara juga
dapat ditambahkan hidran umum untuk mengantisipasi kebutuhan air saat terjadi
kebakaran.

Gambar 28. Ilustrasi Keran Air dan Meteran Tiap KK (kiri) dan Hidran Umum (kanan)
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2019)

4.2.2 Konsep Sistem Pengelolaan Air Limbah di Kawasan Hunian Sementara

Air limbah domestik yang dikelola meliputi black water (limbah tinja manusia)
dan grey water (air limbah dari floor drain toilet dan wastafel dapur). Perhitungan debit
air limbah domestik yang dihasilkan didasarkan pada besarnya pemakaian air minum.
Volume air limbah adalah 80% air minum sehingga apabila konsumsi air minum di
Huntara Desa Rendang adalah 100 liter/orang/hari, maka debit air limbah domestik
yang dihasilkan adalah sebesar 80 liter/orang/hari. Sistem pengelolaan limbah yang
akan digunakan adalah SPAL-D (Sistem Pengelolaan Air Limbah - Domestik) setempat
skala komunal dengan pengolahan menggunakan IPAL komunal.
Komponen dari sistem IPAL komunal adalah sambungan rumah (dari kamar
mandi dan dapur umum menggunakan pipa persil), bak kontrol, grease trap, manhole,
dan IPAL komunal.

67
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

1. Bak kontrol berfungsi sebagai kontrol pertemuan aliran dari kamar mandi dan
dapur. Bak kontrol terbuat dari pasangan batu bata yang diaci halus dengan
dimensi yang disesuaikan dengan kondisi lapangan;
2. Grease trap sejenis dengan bak kontrol namun difungsikan khusus untuk
menyaring padatan dan minyak dari dapur dengan dimensi sama dengan bak
kontrol;
3. Sedangkan manhole merupakan lubang kontrol aliran limbah yang ada di pipa
induk yang terbuat dari cetakan beton dengan ukuran minimal 50 x 50 cm2,
harus kedap air, memiliki tutup yang mudah dibuka, serta tahan terhadap
tekanan kendaraan yang lewat di atasnya.

Air limbah dari kamar mandi dan dapur bersama akan dialirkan secara gravitasi
dari utara menuju selatan area Huntara dengan jaringan perpipaan melewati bak
kontrol, grease trap, dan manhole kemudian menuju ke IPAL. Sedangkan limbah
tinja dari hewan ternak dapat diolah menjadi pupuk tanaman. Ke depannya apabila
memungkinkan, dapat dibangun instalasi biogas untuk mengolah tinja hewan
ternak menjadi gas metan yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kompor
untuk keperluan memasak di dapur umum.

Gambar 29. Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik


(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2020)

68
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Teknologi pengolahan air limbah yang digunakan pada IPAL adalah ABR
(Anaerobic Baffle Reactor) dan AF (Anaerobic Filter). Teknologi anaerob umum
digunakan pada sistem skala permukiman karena operasionalnya yang mudah
(tidak perlu oksigen) serta produksi lumpur aktif rendah. ABR dan AF memiliki
keunggulan efisiensi pengolahan yang tinggi serta tidak membutuhkan lahan
yang luas. Pada sistem ABR (Gambar 30), air limbah diolah secara fisik dan biologi
dengan menggunakan sekat-sekat yang berfungsi untuk menghasilkan turbulensi.
Sementara itu pada AF (Gambar 31), air limbah mengalir melalui filter yang menjebak
partikel dan mendegradasi bahan organik dengan biomassa yang melekat pada
media.

Gambar 30. Anaerobic Baffle Reactor (ABR)


(Sumber: Tilley, et al., 2014 dengan modifikasi Penulis)

Gambar 31. Anaerobic Filter (AF)


(Sumber: Tilley, et al., 2014 dengan modifikasi Penulis)

69
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

4.2.3 Konsep Sistem Pengelolaan Persampahan


di Kawasan Hunian Sementara

Sistem pengelolaan sampah yang direkomendasikan meliputi pemilahan


sampah di sumber, pengangkutan ke TPS (Tempat Penampungan Sementara) serta
pengangkutan menuju TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) dengan menerapkan peran
serta masyarakat dalam prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Asumsi rata-rata timbulan
sampah untuk rumah semi permanen adalah 2-2,25 liter/orang/hari (Damanhuri dan
Padmi, 2010). Untuk perhitungan diambil nilai terbesar yaitu 2,25 liter/orang/hari.
Dalam 1 KK diasumsikan terdapat 4 orang sehingga timbulan sampah pada tiap KK
sebesar 2,25 liter/orang/hari dikali 4 orang/KK adalah 9 liter/KK/hari.

Gambar 32. Konsep Perletakan Tempat Sampah dan Bak Sampah Komunal
(Sumber: Hasil Analisis Tim, 2020)

Pada setiap KK dapat disediakan 2 tempat sampah ukuran masing-masing 10


liter yang dilengkapi dengan penutup dan mudah untuk diangkat atau dipindahkan.
Penyediaan 2 tempat sampah di setiap KK dimaksudkan agar warga dapat melakukan
pemilahan sampah ke dalam 2 jenis dasar, yaitu organik (mudah terurai) dan
anorganik (sulit terurai). Sampah organik contohnya adalah sampah sisa makanan

70
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

dan dapur serta sampah daun-daunan dan rumput. Sementara itu, sampah anorganik
contohnya adalah sampah plastik, kertas, kardus, kaca/gelas, besi dan logam lainnya
(Badan Standardisasi Nasional, 2008). Apabila memungkinkan, untuk selanjutnya
dapat dilakukan sosialisasi untuk peningkatan kesadaran memilah ke dalam 5 jenis
sampah, yaitu sampah yang mudah terurai, sampah yang dapat digunakan kembali,
sampah yang dapat didaur ulang, sampah yang mengandung B3 serta limbah B3, dan
sampah lainnya atau residu. Peningkatan ini juga harus diikuti dengan penyediaan
5 buah tempat sampah.

Gambar 33. Ilustrasi Tempat Sampah Ukuran 10 L untuk setiap KK


(Sumber: [Link] 2020)

Selain di masing-masing hunian KK, tempat sampah juga diletakkan di daerah-


daerah yang menjadi tempat aktivitas bersama publik, seperti toilet bersama, dapur
bersama, tempat suci, Ruang Terbuka Hijau, kandang, serta fasilitas sosial dan
fasilitas umum lainnya. Sampah dari hunian dan fasilitas umum dan sosial tersebut
dapat dikosongkan setiap hari dengan membuangnya ke bak sampah komunal yang
berdimensi 1 x 1,5 m2. Sampah dari bak sampah komunal kemudian diangkut ke TPS
yang terdapat di area Huntara 1-2 hari sekali.

Gambar 34. Ilustrasi Bak Sampah Komunal di Huntap Pagerjurang, Sleman, DIY
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2019)

71
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Di TPS berlangsung kegiatan pemisahan, pencucian, pembersihan, dan


pengemasan produk daur ulang sampah seperti botol plastik, botol kaca, dan kardus.
Produk-produk tersebut dapat didaur ulang sendiri menjadi produk kerajinan atau
dijual ke pemulung atau pengepul sampah. Sampah-sampah organik dapat diolah
dalam skala lingkungan menjadi kompos dan dijual atau diberikan kepada warga
sekitar Huntara. Untuk melakukan kegiatan daur ulang, bisa dibentuk Bank Sampah
apabila memungkinkan. Sementara itu, sampah-sampah B3 dikelola sesuai dengan
ketentuan yang berlaku, kemudian sampah residu sisanya akan diangkut menuju
ke TPA. Pengangkutan sampah ke TPA dilakukan bila kontainer TPS telah penuh
atau sesuai jadwal pengangkutan yang dikoordinasikan dengan Dinas Kebersihan
Kabupaten Karangasem. Biaya pengangkutan sampah untuk sementara dapat
dialokasikan dari bantuan Pemerintah Daerah. Apabila Huntara sudah beralih
menjadi Huntap maka pembiayaan dapat dibebankan kepada masyarakat penghuni
atau sesuai kebijakan Pemerintah Daerah.

4.2.4 Konsep Sistem Drainase di Kawasan Hunian Sementara

Saluran drainase akan dibuat terpisah, yaitu saluran air hujan dan saluran air
buangan rumah tangga dari floor drain kamar mandi dan wastafel (grey water).
Pemisahan ini sesuai dengan PP No. 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber
Daya Air. Pemisahan dilakukan karena karakteristik air hujan dan grey water berbeda
sehingga pengolahannya pun berbeda. Selain itu, air hujan juga dapat ditampung
dan dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. Infiltrasi air hujan terhadap sistem
perpipaan air limbah mempunyai toleransi 5% dari total debit air limbah.

Gambar 35. Sistem Penampungan Air Hujan


(Sumber: Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman, 2017)

72
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Air hujan dapat dijadikan sumber air bersih dan bahkan bahan baku air minum
tetapi harus melalui pengolahan terlebih dahulu. Pada bagian atap Huntara akan
dipasang talang air (penampang terbuka) yang akan disambungkan dengan pipa
ke filter yang minimal terdiri dari pasir silika dan kerikil. Pasir silika berfungsi untuk
menghilangkan kandungan lumpur tanah, partikel kecil dan sedimen pada air,
sementara kerikil berfungsi sebagai penahan komponen media filter. Pasir yang
digunakan memiliki ketebalan: 300-400 mm, diameter efektif: 0,3-1,2 mm, koefisien
keseragaman: 1,2-1,4 mm dan porositas: 0,4. Kerikil yang digunakan memiliki
ketebalan 200-350 mm dan berdiameter 10-40 mm. Sebagai pelengkap, dapat
ditambahkan media filter berupa karbon aktif dan kapur. Karbon aktif berfungsi untuk
menyerap racun, menghilangkan bau dan juga sebagai desinfeksi, sementara kapur
berfungsi sebagai penetralisasi pH asam (apabila diperlukan). Filter yang terpakai
lama-kelamaan akan menjadi kotor sehingga dapat mengurangi kinerjanya dan
karena itu perlu dilakukan backwash (pembersihan media filter melalui pengaliran air
dengan arus terbalik dan tekanan tinggi) atau mengganti media dari filter tersebut.

Gambar 36. Ilustrasi Komponen Media Filter


(Sumber: Ilustrasi Tim, 2020)

Air yang telah melalui filter kemudian ditampung dalam bak penampung yang
dilengkapi pipa dan keran air sehingga bisa langsung digunakan sebagai tambahan
air untuk keperluan mencuci, menyiram tanaman dan flushing toilet. Bak penampung
dapat terbuat dari bahan ferro semen, pasangan bata dan Fiberglass Reinforce Plastic
(FRP). Bahan dari besi atau drum tidak direkomendasikan untuk digunakan sebagai
bahan PAH karena mudah berkarat dan menyerap panas (Pusat Litbang Perumahan
dan Permukiman, 2017).

73
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Alternatif lain pengelolaan air hujan di kawasan Huntara adalah dengan cara
mengalirkan air hujan ke saluran drainase rumah dan masuk ke sumur resapan
sebelum ke saluran drainase. Sumur resapan adalah sumur yang dibuat sebagai
tempat penampungan air hujan berlebih agar memiliki waktu dan ruang untuk
meresapkan ke dalam tanah secara infiltrasi dan perkolasi. Standar penerapan sumur
resapan didasarkan pada SNI 06-2405:1991 tentang Sumur Resapan Pekarangan dan
SNI 03-2453:2002 tentang Tata Cara Perencanaan Teknik Sumur Resapan Air Hujan
untuk Lahan Pekarangan. Air hujan dari saluran drainase rumah akan dialirkan ke bak
kontrol yang dilengkapi dengan saringan kawat pada ujung pipa.
Bak kontrol juga dilengkapi dengan saringan kawat di bagian ujung pipa yang
mengarah ke sumur resapan. Pipa air hujan dari talang maupun dari saluran drainase
rumah menuju sumur resapan dengan kemiringan pipa 2%. Di bagian atas sumur
resapan dipasang tutup dari beton bertulang dan dapat ditimbun dengan tanah
kembali. Sementara itu, di bagian bawah sumur resapan ditambahkan batu kali atau
pecahan bata merah dan juga ijuk. Jarak sumur resapan dari sumur air bersih dan
resapan lain serta septic tank adalah >2 m dan resapan septic tank adalah >5 m (Pusat
Litbang Perumahan dan Permukiman, 2017).

Gambar 37. Skema Sumur Resapan dan Drainase Lingkungan


(Sumber: Hasil Ilustrasi Tim, 2020)

Air hujan yang tidak melalui talang dan sumur resapan akan dialirkan langsung
melalui saluran drainase yang akan dibangun di bagian sisi kiri dan kanan jalan akses
dalam area Huntara dengan aliran air dari utara menuju ke selatan (secara gravitasi
sesuai topografi area). Saluran drainase tersebut akan dilengkapi dengan tutup grill

74
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

cast iron untuk menghalangi sampah dan juga supaya tidak ada anak kecil terperosok.
Saluran drainase dalam area Huntara akan disambungkan dengan saluran drainase
eksisting yang terdapat di luar area Huntara.
Di bagian luar area Huntara terdapat saluran drainase eksisting di sepanjang
jalan akses dengan dimensi tinggi 40 cm dan lebar 42 cm pada bagian timur dan
dimensi tinggi 100 cm dan lebar 110 cm pada bagian selatan. Saluran drainase
lingkungan tersebut tersambung dengan saluran irigasi dengan dimensi cukup
besar yaitu tinggi 110 cm dan lebar 195 cm. Aliran air dari saluran drainase tersebut
bercabang dua dan langsung dialirkan ke sawah-sawah yang terdapat di depan
lokasi rencana Huntara. Sementara itu, air limbah grey water akan dialirkan dengan
pipa tertutup dari floor drain kamar mandi, wastafel dan dapur menuju IPAL komunal.

Gambar 38. Ilustrasi Saluran Drainase dengan Penutup Grill Cast Iron
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2019)

75
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

PEMBANGUNAN
BAB PROTOTIPE HUNIAN
5 SEMENTARA

5.1 Material Teknologi Hasil Litbang BLPW II


Denpasar yang Dapat Diterapkan dalam
Hunian Sementara

Dalam kegiatan penelitian dan pengembangan yang selama ini telah dilakukan
oleh BLPW II Denpasar, dihasilkan beberapa teknologi bahan bangunan yang dapat
diterapkan pada pembangunan hunian untuk meningkatkan kualitas bangunan
tersebut dan juga untuk menjawab berbagai permasalahan di bidang permukiman.
Beberapa teknologi tersebut adalah eco paving, papan lapis pelepah gewang dan
bambu laminasi.

A. Eco Paving

Eco paving merupakan produk inovasi berupa paving block yang terbuat dari
campuran pasir pasang dan sampah plastik tas kresek. Sampah plastik tersebut
digunakan untuk menggantikan fungsi semen sebagai pengikat (binder) material
pasir. Tujuan penggunaan sampah plastik tas kresek adalah untuk mengurangi
timbulan sampah plastik yang mencemari lingkungan sekitar. Sampah plastik yang
digunakan dalam pembuatan eco paving ini hanya yang berjenis tas kresek berbahan
dasar LDPE (Low Density Polyethylene) karena berdasarkan hasil dari beberapa
penelitian, jenis plastik yang mampu memberikan hasil maksimal sebagai material
pengganti semen dalam produk perkerasan adalah plastik jenis PE (Polyethylene),
PS (Polystyrene) dan PP (Polypropylene). Selain itu, tas kresek merupakan sampah

76
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

plastik yang cukup banyak ditemui di TPS dan TPA karena masyarakat sangat sering
menggunakan produk tas kresek dalam kehidupan sehari-hari.
Pembuatan eco paving dilakukan dengan metode pelelehan (melted). Proses
pelelehan dan pencampuran pasir dan sampah plastik dilakukan secara manual
dengan menggunakan wadah drum bekas yang diletakkan di atas pemanas berupa
kompor gas. Sampah plastik tas kresek akan dicacah dengan mesin pencacah sampah
plastik, dicampur merata dengan pasir kemudian dipanaskan di atas kompor hingga
plastik meleleh dan menyelimuti pasir menjadi campuran yang homogen. Campuran
tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cetakan paving block untuk selanjutnya
dicetak dan dipadatkan dengan menggunakan mesin cold press.

Gambar 39. Proses Pelelehan dan Pencampuran Pasir dan Plastik


(Sumber: Dokumentasi Tim, 2019)

Gambar 40. Proses Pencetakan dan Pemadatan Menggunakan Mesin Cold Press
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2019)

77
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Produk eco paving telah melalui proses pengujian yang meliputi pengujian berat,
berat jenis dan absorbsi yang mengacu pada SNI 03-0691:1996 tentang Bata Beton
(Paving Block) serta pengujian kuat tekan yang mengacu pada ASTM C 109-01 yaitu
Standard Test Method for Compressive Strenght of Hydraulic Cemnet Mortars (using 2 in.
or [50 mm] Cube Specimens) atau Metode Standar Pengujian untuk Kekuatan Tekan
Mortar Semen Hidrolik.

Gambar 41. Produk Eco Paving


(Sumber: Dokumentasi Tim, 2019)

Pada penelitian eco paving yang dilakukan oleh BLPW II Denpasar, digunakan
3 variasi rasio perbandingan volume antara pasir dengan plastik untuk campuran
benda uji yaitu 1:4; 1:6; dan 1:8. Berdasarkan hasil pengujian terhadap benda uji,
didapati nilai rata-rata kuat tekan pada umur benda uji 1 hari adalah 21,5 MPa (variasi
1:4), 23,53 MPa (variasi 1:6), dan 22,6 MPa (variasi 1:8). Sementara itu, nilai rata-rata
kuat tekan pada umur benda uji 7 hari adalah 23,16 MPa (variasi 1:4), 24,55 MPa
(variasi 1:6), dan 25,2 MPa (variasi 1:8). Ketiga nilai kuat tekan pada 3 variasi benda
uji pada umur 1 hari dan 7 hari berada di atas 20 MPa. Sesuai dengan standar teknis
dalam SNI 03-0691:1996 tentang Bata Beton (Paving Block), ketiga variasi benda uji
tersebut memenuhi syarat paving block mutu B sehingga produk eco paving dapat
digunakan sebagai perkerasan pada pelataran parkir, pejalan kaki, dan taman.

Keunggulan dan Kelemahan Penerapan Eco Paving


Untuk mengaplikasikan produk inovasi yang dihasilkan sekaligus untuk
mengetahui durabilitas dari produk eco paving, dilakukan penerapan produk pada
area teras Huntara Desa Rendang. Produk eco paving akan dipasang berdampingan
dengan paving block konvensional agar nantinya dapat dibandingkan kualitas dan
durabilitasnya. Luas area pemasangan dan pola pemasangan eco paving dan paving
block pada teras dapat dilihat pada Gambar 42.

78
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Gambar 42. Pola Pemasangan Eco Paving dan Paving Block pada Teras Huntara
(Sumber: Ilustrasi Tim, 2019)

Kebutuhan eco paving dan paving block konvensional untuk 4 unit teras Huntara
adalah sebagai berikut:
- Eco paving ukuran 20 x 20 x 6 cm3
14 buah/rumah x 4 rumah = 56 buah
- Paving block konvensional ukuran 20 x 20 x 7,5 cm3
42 buah/rumah x 4 rumah = 168 buah

Proses produksi eco paving dilakukan secara swadaya oleh tim dari BLPW II
Denpasar di Laboratorium Bahan Bangunan BLPW II Denpasar. Produksi dilakukan
selama 3 hari untuk menghasilkan 65 buah eco paving. Produk eco paving yang sudah
melalui proses quality control kemudian diangkut ke lokasi Huntara untuk dipasang
pada area teras. Pemasangan perkerasan pada area teras dilakukan selama 1 hari
yang meliputi proses pembersihan dan pemadatan area kerja, levelling tanah dan
pemasangan kanstin, penebaran pasir dan pemasangan paving block dan eco paving
serta pengisian celah dan pemadatan.

Gambar 43. Pemasangan Eco Paving pada Teras Huntara

Karena kegiatan penerapan produk eco paving baru dan masih dilakukan serta
belum bisa diperoleh hasil pengamatannya maka keunggulan dan kelemahan

79
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

produk eco paving akan dijelaskan dari segi pembuatan dan karakteristiknya.
Keunggulan pertama, produk eco paving menggunakan bahan baku berupa sampah
sehingga dapat menjadi salah satu alternatif pengolahan sampah di Indonesia. Tidak
menutup kemungkinan bahwa plastik jenis lain selain tas kresek LDPE juga dapat
dimanfaatkan dalam pembuatan eco paving sehingga makin banyak sampah plastik
yang dapat dimanfaatkan supaya tidak mencemari lingkungan.
Keunggulan kedua, produk eco paving memiliki kekuatan tekan yang tidak
kalah dari paving block konvensional. Hal ini terbukti dari hasil pengujian yang
menunjukkan bahwa produk eco paving memenuhi syarat paving block mutu B
sebagai perkerasan pada pelataran parkir, pejalan kaki, dan taman. Kuat tekan
merupakan parameter yang paling penting dalam produk perkerasan.
Keunggulan ketiga, produk ini memiliki bobot yang lebih ringan daripada
paving block konvensional. Berat eco paving berada di kisaran 2-2,3 kg, lebih ringan
daripada paving block yang rata-rata memiliki bobot 2,5-3 kg. Keuntungan dari
produk yang lebih ringan adalah kemudahan dalam proses transportasi produk dari
tempat produksi menuju ke lokasi pemasangan paving block.
Sementara itu, kekurangan dari produk eco paving ini adalah belum
dilakukannya analisis ekonomi mengenai perbandingan antara biaya pembuatan
paving block konvensional dan pembuatan eco paving. Selain itu, belum dilakukan
analisis lingkungan yang meliputi penggunaan energi dalam pembuatan eco paving,
bahaya emisi asap yang dihasilkan dalam proses pemanasan plastik, serta potensi
terbentuknya mikroplastik yang mampu mencemari lingkungan.

B. Papan Lapis Pelapah Gewang


Pohon gewang (Corypha Utan) adalah nama sejenis pohon palem yang besar,
berbatang tunggal tidak bercabang, tingginya sekitar 15-20 m, dan hanya tumbuh
dengan baik dengan jumlah yang cukup banyak di Pulau Timor, Nusa Tenggara
Timur. Pada umumnya bagian dari pohon gewang yang dimanfaatkan adalah
pelepah daunnya. Dinding rumah-rumah penduduk di Pulau Timor terbuat dari
pelepah pohon gewang (bebak) yang disusun sedemikian rupa dan dipasak menjadi
bidang-bidang penutup dinding rumah. Susunan dinding (bebak) yang berongga
dan tidak masif dari segi estetika menampilkan kesan kumuh, kurang menarik dan
termarginalkan (suku pedalaman).
Pada tahun 2012-2013, dilakukan penelitian pengembangan teknologi pelepah
gewang menjadi papan lapis dengan ukuran modul 60 cm x 120 cm. Teknologi ini
menggunakan metode teknik kempa dingin dan perekat jenis polyurethane untuk
penggunaan dinding pengisi interior dan eksterior. Kegiatan penelitian tersebut
meliputi pengubahan bentuk pelepah gewang alami menjadi bentuk pipih untuk

80
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

memudahkan proses kempa serta peningkatan kepadatan (densitas) pelepah


gewang tanpa merusak struktur serat alaminya yang menjadi sumber kekuatan.
Papan lapis pelepah gewang ini merupakan peningkatan kualitas dari bahan penutup
dinding konvensional yang disebut bebak yang juga berbahan dasar pelepah pohon
gewang.

Gambar 44. Model Papan Lapis Pelepah Gewang Ukuran 60 cm x 120 cm


(Sumber: Dokumentasi Tim, 2013)

Pemasangan papan lapis pelepah gewang sebagai dinding pengisi dilakukan


dengan cara sebagai berikut:
− Siapkan rangka dinding kayu dengan bingkai ukuran 5/10 cm dan pengaku
kayu ukuran 5/7 cm;
− Pasang dinding pengisi berupa papan lapis pelepah gewang mengikuti ukuran
lubang rangka dinding yang ada hingga tertutup rapat;
− Pasang list kayu ukuran 2 cm x 2 cm kemudian dipaku sepanjang pertemuan sisi
dinding pengisi dengan rangka dinding. Tujuannya adalah untuk memperkuat
posisi dinding pengisi tetap pada posisinya.

Keunggulan dan Kelemahan Penerapan Papan Lapis Pelepah Gewang


Keunggulan teknologi papan lapis pelepah gewang, selain mengusung
keunggulan yang dibawa oleh bahan pelepah gewang itu sendiri, adalah dimensi
dapat disesuaikan dengan kebutuhan, dapat dibuat susunan yang lebih rapat tanpa
adanya celah atau lubang, sifat mekanika yang tinggi, serta menampilkan tekstur
serat yang alami dan indah. Saat pengaplikasian pada bangunan, pengerjaannya
sama dengan bahan kayu pada umumnya sehingga tidak membutuhkan keahlian

81
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

khusus. Sementara itu, kelemahan teknologi papan lapis pelepah gewang adalah
sangat rentan terhadap mikroorganisme perusak (karena merupakan bahan
organik) serta strukturnya yang bisa rusak apabila dalam proses pembuatannya
tidak menggunakan lem dan kompaksi bahan yang tidak memenuhi spesifikasi yang
disyaratkan.

Gambar 45. Model Pemasangan Papan Lapis Pelepah Gewang sebagai Penutup Dinding
(Sumber: Analisis Tim, 2013)

Gambar 46. Rumah Tipe 36 di Kantor PIP2B, Dinas PUPR Provinsi NTT dengan Dinding Menggunakan
Papan Lapis Pelepah Gewang Dikombinasikan dengan Batako
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2013)

82
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Gambar 47. Rumah di Perumahan BTN Kolhua, Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang,
Provinsi NTT dengan Dinding Menggunakan Papan Lapis Pelepah Gewang Dikombinasikan dengan
Batako
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2013)

Gambar 48. Rumah di Kompleks Pondok Sawah, Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota
Kupang, Provinsi NTT dengan Dinding Menggunakan Papan Lapis Pelepah Gewang Dikombinasikan
dengan Batako
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2013)

C. Bambu Laminasi
Kayu sebagai bahan utama konstruksi ketersediaannya sudah semakin
berkurang di alam. Selain karena jumlahnya yang terbatas, kayu merupakan salah
satu material yang sulit diperbaharui secara cepat. Pemanfaatan kayu dengan
cara eksploitasi besar-besaran sering tidak diimbangi dengan usaha reboisasi atau
peremajaan. Itulah sebabnya semakin didapatkan kayu dengan kualitas baik dan
dimensi yang dibutuhkan di pasaran.

83
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Di sisi lain, bambu sudah dikenal oleh masyarakat sejak dahulu dan telah
digunakan sebagai bahan untuk keperluan sehari-hari mulai dari makanan, peralatan
rumah tangga, musik, upacara keagamaan sampai bangunan rumah yang mereka
tempati, sehingga di pedesaan, sebagian besar masyarakatnya mempunyai rumpun
bambu di pekarangannya. Tanaman bambu Indonesia ditemukan di dataran rendah
sampai pegunungan dengan ketinggian sekitar 300 m dari permukaan air laut dan
umumnya tumbuh di tempat terbuka dan daerahnya bebas dari genangan air.
Bambu memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat,
ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta
ringan. Harga bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain
karena ketersediaannya yang cukup melimpah dan mudah ditemukan di seluruh
daerah di Indonesia. Beberapa kelebihan bambu jika dipergunakan untuk komponen
bangunan, yaitu sebagi berikut:
a. Merupakan bahan yang sangat mudah untuk diperbarui (3-5 tahun sudah dapat
ditebang);
b. Harganya murah serta pengerjaannya mudah karena tidak memerlukan tenaga
terdidik, cukup dengan peralatan sederhana pada kegiatan pembangunan;
c. Mempunyai kekuatan tarik yang tinggi (beberapa jenis bambu melampaui kuat
tarik baja mutu sedang); serta
d. Masa konstruksi cukup singkat sehingga biaya pelaksanaan konstruksi menjadi
murah.

Kelemahan bambu adalah adanya beberapa keterbatasan dalam pengguna-


annya. Sebagai bahan bangunan, faktor yang sangat mempengaruhi bambu adalah
sifat fisiknya (bulat) yang agak menyulitkan dalam pengerjaannya secara mekanis,
variasi dimensi dan panjang ruas yang tidak seragam serta mudah terserang
organisme perusak, seperti bubuk, rayap dan jamur.
Salah satu teknologi bahan bangunan sebagai alternatif pengganti kayu adalah
inovasi bambu laminasi. Bambu Petung (Dendrocalamus asper) digunakan sebagai
bahan utama bambu laminasi karena merupakan tumbuhan yang dapat hidup
di semua musim dan dapat dijumpai mulai dari dataran rendah sampai dataran
tinggi, dari pegunungan berbukit dengan lereng curam sampai landai (Sastrapraja,
[Link],1977). Selain itu, bambu memiliki sifat dan karakteristik yang cepat tumbuh (fast
growing species), umur tebang relatif singkat yaitu 4-5 tahun, serta dari segi kekuatan,
bambu memiliki kekuatan yang relatif tinggi dengan tingkat elastisitas dan sifat
mekanika yang dapat dipersaingkan (Subiyanto, dkk., 1994, dalam Setyawati, 2009)
sehingga memiliki peluang untuk dijadikan bahan pengganti kayu.
Beberapa alasan yang menjadi pertimbangan bambu dijadikan sebagai alterna-
tif bahan pengganti kayu, di antaranya adalah:

84
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

a. Penggunaan bambu sangat luas untuk berbagai macam tujuan karena memiliki
keunggulan sebagai bahan bangunan;
b. Aplikasi bambu sebagai bahan konstruksi tidaklah sulit;
c. Bambu merupakan salah satu material yang sangat potensial untuk pemenuhan
kebutuhan perumahan; serta
d. Bambu sebagai bahan bangunan telah diakui masyarakat dunia dengan
terbitnya standar internasional (ISO).

Inovasi teknologi bahan bangunan yang dikembangkan oleh Balai Pengem-


bangan Teknologi Perumahan Tradisional Denpasar adalah “Bambu Laminasi”
(dalam penelitian yang berjudul Peningkatan Kualitas dan Pemanfaatan Bahan
Bangunan Lokal untuk Menunjang Pelestarian Arsitektur Tradisional Tahun 2009).
Bambu laminasi ini dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti bahan kayu yang
diharapkan bisa diterima oleh masyarakat.

Gambar 49. Bambu Laminasi Dibuat Model Balok


(Sumber: Dokumentasi Tim, 2009)

Gambar 50. Bambu Laminasi Dibuat Model Papan


(Sumber: Dokumentasi Tim, 2009)

85
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Gambar 51. Proses Konstruksi Bambu Laminasi sebagai Struktur Rumah


(Sumber: Dokumentasi Tim, 2009)

Gambar 52. Bambu Laminasi dapat Diaplikasikan sebagai Pintu, Kusen dan Partisi
(Sumber: Dokumentasi Tim, 2009)

Keunggulan dan Kelemahan Penerapan Bambu Laminasi


Keunggulan teknologi bambu laminasi, selain mengusung keunggulan yang
dibawa oleh bahan bambu itu sendiri, adalah dimensinya dapat disesuaikan dengan
kebutuhan, dimungkinkan dibuat tanpa adanya sambungan, sifat mekanika tinggi,
mampu dibuat penampang beraneka ragam bentuk, serta menampilkan tekstur
serat yang alami dan indah. Selain itu, dapat menghasilkan balok laminasi dengan
berbagai bentuk dan ukuran sesuai dengan tujuan pemakaian, dapat memanfaatkan
bambu yang berdimensi kecil, serta kekuatan dan keawetannya dapat ditingkatkan
dengan perlakuan-perlakuan tertentu. Beberapa kelebihan ini tentunya dapat
menjawab kebutuhan masyarakat tentang kualitas, kekuatan dan dimensi bahan
kayu yang bervariasi. Sementara itu, kelemahan bambu adalah sebagai bahan
organik akan sangat rentan terhadap mikroorganisme perusak serta strukturnya
dapat rusak apabila dalam proses pembuatannya menggunakan lem dan kompaksi
bahan yang tidak memenuhi spesifikasi yang disyaratkan.

86
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Gambar 53. Ilustrasi Penggunaan Produk Teknologi BLPW II pada Bangunan Huntara Desa Rendang
(Sumber: Ilustrasi Tim, 2020)

Pada Gambar 53 dapat dilihat ilustrasi bangunan Huntara Desa Rendang,


Kabupaten Karangasem yang memanfaatkan 3 produk teknologi BLPW II Denpasar,
yaitu eco paving, papan lapis pelepah gewang dan bambu laminasi serta 1 produk
teknologi Puslitbang Perumahan dan Permukiman yaitu RISHA. Ketiga hasil teknologi
BLPW II Denpasar yang telah disebutkan di atas pada dasarnya dapat diterapkan

87
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

pada pembangunan prototipe Huntara di Desa Rendang. Eco paving diaplikasikan


sebagai perkerasan pada area teras, papan lapis pelepah gewang digunakan
sebagai material dinding, bambu laminasi diaplikasikan sebagai pintu dan kusen
jendela, sedangkan RISHA digunakan pada struktur bangunan. Akan tetapi, dalam
pelaksanaan pembangunan terdapat beberapa keterbatasan terutama dari segi
anggaran sehingga, pada kenyataannya, hanya produk eco paving yang diterapkan
dalam pembangunan Huntara Desa Rendang, Kabupaten Karangasem.

5.2 Perjalanan Pembangunan Prototipe Hunian


Sementara

Balai Litbang Perumahan Wilayah II Denpasar telah bekerjasama dengan


Pemerintah Kabupaten Karangasem melalui surat permohonan untuk penerapan
rumah contoh atau prototipe yang akan digunakan sebagai hunian pengungsi
dampak erupsi Gunung Agung pada Maret 2019. Lokasi pembangunan (site) terdapat
di Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, yang memiliki jarak aman radius 14 km
dari puncak Gunung Agung. Site merupakan lahan produktif yang ditanami tanaman
rambat oleh pengolah lahan sehingga diperlukan koordinasi dengan perangkat desa
setempat.
Pembangunan prototipe hunian sementara pengungsi Gunung Agung di Desa
Rendang mulai dilakukan per tanggal 30 September 2019 dan selesai pada tanggal
18 Desember 2019. Total lama pekerjaan konstruksi Huntara di Desa Rendang adalah
11 minggu. Pengawasan dilakukan secara intensif setiap minggu pada tahap awal
pembangunan (minggu ke-1 sampai dengan minggu ke-4), kemudian untuk minggu
berikutnya dilakukan setiap 2 minggu sekali. Pengawasan dilakukan bekerjasama
dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Karangasem.
Perjalanan pekerjaan pembangunan prototipe Huntara di Desa Rendang dirangkum
pada Tabel 12.

88
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Tabel 12. Perjalanan Pekerjaan Pembangunan Prototipe Huntara Desa Rendang

Akumulasi
Waktu
Jenis Pekerjaan Progres Foto Lapangan/Keterangan
Pekerjaan
Pekerjaan
Minggu I Pekerjaan Setting Out
Pemasangan Patok

Gambar 54. Setting Out dan Pemasangan Patok

Pengiriman Panel RISHA 19,6%


dari workshop pelaksana
pembangunan

Gambar 55. Pengiriman Panel RISHA ke Site

Minggu II Pembersihan Lahan Progres terkendala oleh koordinasi di lapangan antara


penggarap lahan dan SDM dari pihak pelaksana,
Pemasangan Bouwplank
sehingga hanya bisa dilaksanakan pembersihan lahan,
Pekerjaan Galian Pondasi bouwplank dan penggalian pondasi hingga akhir
minggu ke-2.

20,6%

Gambar 56. Bouwplank dan Pekerjaan Galian Pondasi

89
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Akumulasi
Waktu
Jenis Pekerjaan Progres Foto Lapangan/Keterangan
Pekerjaan
Pekerjaan
Minggu III Pekerjaan Pondasi Batu Pekerjaan pondasi setempat batu kali selesai
Kali (Setempat) dilaksanakan pada pertengahan minggu ke-3

Pekerjaan Struktur RISHA


– Pemasangan Sloof P2

41.9%
Gambar 57. Pekerjaan Sloof P2
Pekerjaan Struktur RISHA
– Pemasangan Kolom P1
dan P2

Gambar 58. Pekerjaan Sloof P2 serta Kolom P1 dan P2


Pada minggu ke-3, seluruh panel P2 untuk sloof dan panel kolom P1 dan P2 sudah terpasang
100%. Total sebanyak 2 modul RISHA (18 m2) sudah selesai dipasang.

Gambar 59. Progres Keseluruhan Pekerjaan pada Minggu ke-3

90
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Akumulasi
Waktu
Jenis Pekerjaan Progres Foto Lapangan/Keterangan
Pekerjaan
Pekerjaan
Minggu IV Pekerjaan Struktur RISHA
–Pemasangan Kolom P1
dan P2 serta Ring Balk P2
dan P3 (lanjutan)

54.7%

Gambar 60. Progres Struktur RISHA 100%


Pekerjaan Beton Rabat Pekerjaan Urugan Kembali dan Urugan Lantai selesai
Untuk Lantai Bangunan 100% pada pertengahan minggu ke-4 yang kemudian
dilanjutkan dengan pekerjaan rabat beton.

Gambar 61. Progres 100% Pekerjaan Rabat Beton pada Minggu ke-4
Minggu V & VI Pekerjaan Acian Lantai

Pekerjaan Rangka Atap


(Perakitan) Gambar 62. Progres Acian Lantai dan Rangka Atap
Pekerjaan Konstruksi
Teras

69.3%

Gambar 63. Progres 100% Konstruksi Teras


Pekerjaan Rangka
Dinding

Gambar 64. Pekerjaan Rangka Dinding

91
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Akumulasi
Waktu
Jenis Pekerjaan Progres Foto Lapangan/Keterangan
Pekerjaan
Pekerjaan
Minggu VII Pekerjaan Rangka Atap Pemasangan Rangka Atap selesai 100% pada minggu
& VIII ke-7. Penutup atap belum dipasang karena terdapat
sebagian area yang terhalang batang pohon kelapa.

80%
Gambar 65. Rangka Atap Terhalang Pohon Kelapa
Pekerjaan Dinding GRC
(2 lapis)
Pekerjaan Kusen Pintu
dan Jendela

Gambar 66. Progres 100% Dinding dan Kusen

Minggu IX & X Pekerjaan Penutup Atap


dan Lisplank 95%

Pekerjaan Pintu dan


Jendela

Gambar 67. Progres 100% Bangunan Tanpa Cat


Pemasangan Paving
Block Konvensional dan
Eco-Paving pada Teras

Gambar 68. Pemasangan Paving Block dan Eco Paving


pada Teras

92
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Akumulasi
Waktu
Jenis Pekerjaan Progres Foto Lapangan/Keterangan
Pekerjaan
Pekerjaan
Pekerjaan Instalasi
Kelistrikan

Gambar 69. Pekerjaan Instalasi Kelistrikan


Minggu XI Pekerjaan Pengecatan
Dinding, Lisplank dan
Struktur (Eksterior)

100%

Gambar 70. Progres 100% Bangunan Huntara

(Sumber: Dokumentasi Tim, 2019)

Selama progres pekerjaan konstruksi, terdapat beberapa kendala di lapangan


sehingga dilakukan modifikasi dan revisi desain serta penambahan volume pekerjaan
berupa:
1. Perubahan bentuk atap pada teras, yang semula terdapat tritisan dirancang
ulang menjadi lurus dikarenakan tidak sesuainya perhitungan volume pekerjaan
atap;
2. Penambahan panel RISHA dikarenakan kekurangan hitung volume pekerjaan
pada saat perencanaan;
3. Finishing permukaan teras yang semula menggunakan beton diubah
menggunakan produk inovasi BLPW II Denpasar yaitu eco paving; serta
4. Dinding bangunan yang semula direncanakan unfinished, dimodifikasi dengan
desain cat yang disepakati bersama Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman
Kabupaten Karangasem.

93
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

SERAH TERIMA DAN TESTIMONI BANGUNAN


PROTOTIPE HUNTARA

Proses serah terima dilaksanakan pada tanggal 3 Februari 2020 oleh Kepala Pusat
Litbang Perumahan dan Permukiman (Ka PUSKIM) Kementerian PUPR, didampingi
perangkat pejabat di lingkungan Balai Litbang Perumahan Wilayah II Denpasar,
kepada Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Kadis Perumkim)
Kabupaten Karangasem beserta jajarannya. Prosesi serah terima dilakukan secara
simbolis dan ditutup dengan testimoni dari masing-masing pimpinan instansi.

Gambar 71. Prosesi Serah Terima Prototipe Huntara Desa Rendang


(Sumber: Dokumentasi Tim, 2020)

Ka PUSKIM menjelaskan bahwa prototipe Huntara yang dibangun dengan


perpaduan antara kajian terhadap Arsitektur Tradisional Bali dan Teknologi
RISHA merupakan prototipe yang dapat dimanfaatkan oleh Dinas Perumkim Kab.
Karangasem untuk kebutuhan replikasi dengan pengajuan melalui Direktorat
Rumah Khusus, Direktorat Jenderal Perumahan, Kementerian PUPR. Pemanfaatan
hendaknya dapat dikoordinasikan melalui pendataan penghuni yang paling
membutuhkan, yaitu yang memiliki jarak rumah terdekat dari puncak Gunung
Agung, sehingga kebermanfaatan hunian akan tercapai. Sementara itu, Kepala Dinas
(Kadis) Perumkim Kabupaten Karangasem menjelaskan bahwa untuk pemanfaatan
bangunan prototipe Huntara selanjutnya akan dikaji lebih dalam dengan Dinas/
OPD lainnya di Kabupaten Karangasem sebagai referensi untuk dikembangkan
menjadi tempat akomodasi dan percontohan wisata penanggulangan bencana
maupun pendukung agrowisata yang sudah ada sebelumnya di Desa Rendang
dan sekitarnya. Kadis Perumkim juga menjelaskan bahwa konsep dan DED yang
telah dibuat oleh Tim Balai Litbang Perumahan Wilayah II Denpasar akan dijadikan
acuan dalam pengajuan bantuan dan pengembangan ke Direktorat Rumah Khusus,
Direktorat Jenderal Perumahan, Kementerian PUPR.

94
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

ANGGARAN BIAYA PEMBANGUNAN PROTOTIPE HUNTARA DESA RENDANG


Pembangunan prototipe Huntara di Desa Rendang dibiayai sepenuhnya oleh
APBN melalui DIPA Satuan Kerja Balai Litbang Perumahan Wilayah II Denpasar Tahun
Anggaran 2019. Kontrak kerja kepada pelaksana pembangunan prototipe dilakukan
dalam satu tahap dengan Rincian Anggaran Biaya (RAB) yang ditampilkan pada
Tabel 13.
Tabel 13. RAB Pembangunan Prototipe Huntara Desa Rendang

No. Uraian Pekerjaan Jumlah Harga

1. Pekerjaan Persiapan Rp 2,306,880.00


- Pembersihan lokasi manual
- Bowplank kayu kelas III 5/7 cm dan papan 2,5/20 cm
2. Pekerjaan Pondasi Rp 6,901,169.02
- Galian tanah pondasi manual
- Urugan tanah kembali manual
- Pondasi batu kali setempat dengan campuran 1:5 (semen : pasir)
-Urugan tanah lokal dan pasir lokal
3. Pekerjaan Struktur Rp 82,305,720.00
-Panel RISHA P1, P2 dan P3
- Plat galvanisT = 3 mm
- Baut dan ring galvanisØ = 12 mm
4. Pekerjaan Dinding Rp 16,760,898.43
- Dinding partisi GRC 4,5 mm
- Rangka besi hollow 4,2 x 4,2
5. Pekerjaan Lantai Rp 7,390,681.87
- Beton rabat campuran 1:3:5 (semen : pasir : kerikil)
- Acian semen
6. Pekerjaan Kusen, Daun Pintu dan Jendela Rp 17,034,045.70
- Kusen pintu dan jendela kayu (setara kayu lokal)
- Daun pintu panel kayu (setara kayu lokal)
- Daun jendela kayu (setara kayu lokal) + kaca 5 mm
7. Pekerjaan Kunci dan Penggantung Rp 7,066,370.40
- Engsel pintu (setara Dekkson Iron)
- Engsel jendela (setara Dekkson Iron)
- Kunci tanam pintu (setara Dekkson Iron)
- Kait angin jendela (setara Belleza)
- Grendel jendela (setara Belleza)

95
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

No. Uraian Pekerjaan Jumlah Harga

8. Pekerjaan Atap Rp 28,481,644.27


- Penutup atap (setara spandek 0,25 mm)
- Bubungan atap (setara spandek 0,25 mm)
- Rangka atap baja ringan (baja ukuran 0,75)
- Lisplang (setara Kalsi Plank)
9. Pekerjaan Instalasi Listrik Rp 5,471,950.00
- Kabel 2 x 2,5 mm (setara NYM 2 x 2,5 mm)
- Instalasi lampu(setara NYM 2 x 2,5 mm)
- Instalasi stop kontak (setara NYM 2 x 2,5 mm)
- Saklar tunggal (setara Brocco)
- Stop kontak (setara Brocco)
- Breaker (1 x MCB 40 A, setara Brocco dan Phillips)
- Fitting + lampu (setara Brocco)
Sub Total Rp 173,719,359.69
Pajak (PPN) 10% Rp 17,371,935.97
TOTAL Rp 191,091,295.66

96
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

BAB PENUTUP
6
Sebanyak 28 desa yang tersebar di 6 kecamatan di Provinsi Bali masuk ke dalam
Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Agung sehingga penduduk yang bermukim
pada daerah tersebut dapat terancam keselamatannya saat terjadi erupsi. Salah satu
upaya mitigasi yang dapat dilakukan adalah penyediaan hunian sementara (huntara)
yang aman dan layak untuk warga terdampak. Huntara harus dilengkapi pula dengan
akses air bersih dan sarana prasarana sanitasi yang memadai karena pada kondisi
darurat saat terjadi bencana, para pengungsi akan sangat rentan terkena masalah
kesehatan akibat kondisi lingkungan yang buruk.
Selain didesain untuk memenuhi kebutuhan pengungsi akan hunian yang
layak, prototipe huntara yang dibangun juga menerapkan konsep dan nilai budaya
yang ada pada arsitektur tradisional Bali supaya dapat diterima dengan baik oleh
pengungsi yang merupakan masyarakat asli Bali. Arsitektur tradisional Bali memiliki
konsep-konsep dasar kehidupan masyarakat Bali yang telah berkembang secara
turun temurun dan mempengaruhi tata ruang wadah kehidupannya. Konsep ini
dilandasi dan dilatarbelakangi oleh ajaran agama Hindu yang menyangkut segala
aspek kehidupan. Konsep tata ruang yang diterapkan meliputi konsep Sanga
Mandala (berorientasi pada potensi alam setempat), konsep Tri Mandala (tata nilai
wilayah ruang), konsep Tri Angga (susunan unsur kehidupan manusia di alamnya),
serta konsep ragam hias/ornamentasi.
Penyusunan konsep desain huntara berkarakteristik arsitektur tradisional Bali
dilakukan dengan menyintesis berbagai peraturan formal terkait tata ruang dan
bangunan yang berlaku menjadi kriteria-kriteria desain yang kemudian disurveikan
kepada masyarakat dan divalidasi oleh beberapa narasumber ahli. Hasil penelitian
ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Daerah dan stakeholder

97
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

terkait dalam mendesain bangunan yang memiliki nilai-nilai lokal. Prototipe huntara
yang saat ini telah dibangun di kawasan pengungsian Desa Rendang dapat dijadikan
sebagai bangunan percontohan untuk direplikasikan sesuai kebutuhan. Selain itu,
dengan fleksibilitas modul RISHA yang digunakan pada huntara memungkinkan
untuk dilakukannya alih status huntara menjadi hunian tetap (huntap). Konsep desain
huntara ini diharapkan dapat menjawab berbagai permasalahan dan kendala yang
ada baik dari aspek kebencanaan, arsitektur tradisional, struktur dan penyehatan
lingkungan.
Beberapa teknologi bahan bangunan yang dikembangkan oleh Pusat Litbang
Perumahan dan Permukiman, Kementerian PUPR juga turut diterapkan pada
pembangunan prototipe huntara di Desa Rendang. Pada bagian struktur bangunan
huntara digunakan teknologi RISHA, sementara pada bagian perkerasan jalan area
teras huntara diaplikasikan teknologi Eco Paving yang ramah lingkungan. Sebagai
unit kerja yang memiliki tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan di
bidang perumahan dan permukiman, diharapkan ke depannya akan timbul lebih
banyak lagi inovasi teknologi yang dihasilkan dan diterapkan untuk terciptanya
infrastruktur perumahan dan permukiman yang andal.

98
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

BIOGRAFI PENULIS

Penulis yang bernama Arip Pauzi Rahman ini men-


jabat sebagai Kepala Seksi Penyelenggara Teknis Balai
Litbang Perumahan Wilayah II Denpasar. Ini merupakan
buku karya ketiga dari peneliti lulusan S2 Human
Settlement, Katholieke Universiteit Leuven, Belgia ini. Buku
pertamanya berjudul Kawal Kotaku (2019) dan buku
kedua berjudul VISUAL (Vertikalitas Arsitektur Tradisional
Bali) pada Rumah Susun di Kawasan Sarbagita. Selain itu,
ia juga pernah menjadi ketua tim di beberapa kegiatan
litbang, di antaranya Ketua Tim Kegiatan Penelitian
Penyusunan Konsep Pedoman Penilaian Ecosettlement
(Eco Degree) di Hulu DAS (2013), Ketua Tim Kegiatan
Pengembangan Sistem Evakuasi dari Bahaya Tsunami
pada Kawasan Permukiman Perkotaan (2014), Ketua Tim
Penelitian Penataan Kawasan Kumuh Perkotaan dengan
Pendekatan Partisipatif (2015-2018), dan Direksi Teknis
Penerapan Prototipe Hunian Subkomunal di Kawasan
Semanggi Surakarta (2018). Penulis yang hobi membaca
ini bisa dihubungi lebih lanjut ke alamat surat elektronik:
ariprachman@[Link].

99
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Lahir di Surabaya pada 1992, penulis bernama


lengkap Ayu Listiani ini merupakan staf Balai Litbang
Perumahan Wilayah II Denpasar yang menjabat sebagai
Penelaah Penyehatan Lingkungan Permukiman. Setelah
lulus dari S1 Teknik Lingkungan ITB, ia mulai mengabdi
di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat pada 2016 dan ikut terlibat dalam beberapa
kegiatan antara lain Tim Pendampingan Rehabilitasi
dan Rekonstruksi Rumah Korban Bencana Gempa Bumi
di Provinsi NTB (2018-2019), Tim Penelitian Kriteria
Desain Tata Bangunan dan Lingkungan Berdasarkan
Tata Nilai Masyarakat Tradisional Bali (2019), Tim
Penelitian Pemanfaatan Sampah Plastik sebagai Paving
Block Ramah Lingkungan (Eco Paving) (2019), serta Tim
Penelitian Model Rumah Susun Berkarakteristik Lokal
di Kota Denpasar (2019). Sesuai dengan background
pendidikannya, penulis memiliki ketertarikan pada
bidang waste management dan circular economy di
samping menekuni hobi membaca dan bermain puzzle.
Buku ini merupakan karya keduanya setelah
buku berjudul Sinkronisasi Program dan Pembiayaan
Pembangunan Jangka Pendek 2018-2020, Keterpaduan
Pengembangan Kawasan dengan Infrastruktur PUPR
Pulau Jawa yang diterbitkan pada 2016. Penulis dapat
dihubungi lebih lanjut melalui alamat surat elektronik:
ayulistiani219@[Link]

Penulis bernama lengkap Eka Susanti ini telah


menjadi staf teknis Balai Litbang Perumahan Wilayah
II Denpasar dan menjabat sebagai Penata Bangunan
Gedung dan Permukiman mulai tahun 2016. Selama
bekerja di Balai Litbang Perumahan Wilayah II
Denpasar, ia terlibat dalam beberapa kegiatan pe-
nelitian antara lain Pemetaan Tipologi Rumah
Tinggal Masyarakat Tradisional di Provinsi Bali dan
Pengembangannya (2016), Tim kegiatan Pemetaan
Rumah Tinggal Masyarakat pada Permukiman
Tradisional di Provinsi NTB dan NTT (2017-2018), dan

100
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Tim Kegiatan Penyusunan Kriteria Desain Tata bangunan


dan Lingkungan Berdasarkan Tata Nilai Masyarakat
Tradisional Bali (2019).
Lulusan S2 Arsitektur Lingkungan Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya ini sudah terlibat dalam
beberapa penulisan buku antara lain Rumah Tradisional
Nusa Tenggara dalam Sketsa, Traditional Houses of
Nusa Tenggara in Sketch (versi bilingual dari buku
Rumah Tradisional Nusa Tenggara dalam Sketsa), Potret
Fotogrametri Kelayakan Huni–12 Permukiman Tradisional
Nusa Tenggara, dan VISUAL (Vertikalitas Arsitektur
Tradisional Bali) pada Rumah Susun di Kawasan Sarbagita.
Penulis yang memiliki ketertarikan pada desain dan
arsitektur vernakular ini bisa dihubungi lebih lanjut ke
alamat surat elektronik: [Link]@[Link].

Penulis yang bernama lengkap Musthafa Halim


ini adalah staf teknis Balai Litbang Perumahan Wilayah
II Denpasar yang menjabat sebagai Penelaah Bangunan
Gedung dan Kawasan Permukiman. Selama berkarir di
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,
ia terlibat dalam beberapa kegiatan, yaitu Tim Pemetaan
dan Perencanaan Pasca Bencana Palu, Sigi dan Donggala
(2018), penelitian tentang Kriteria Desain Tata Bangunan
dan Lingkungan Berdasarkan Tata Nilai Masyarakat
Tradisional Bali (2019), Pembangunan Prototipe Hunian
Sementara di Desa Rendang Kabupaten Karangasem
dengan Teknologi RISHA (2019), dan penelitian
tentang Pengembangan Model Rumah Susun Berbasis
Karakteristik Lokal di Kota Denpasar (2019).
Ini merupakan buku kedua dari penulis lulusan
jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya Malang ini.
Penulis yang mempunyai hobi kuliner ini bisa dihubungi
lebih lanjut ke alamat surat elektronik: musthafahalim88@
[Link].

101
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Putu Geria Sena adalah pegawai non PNS


substantif yang menjabat sebagai Penata Bangunan
Gedung dan Permukiman di Balai Litbang Perumahan
Wilayah II Denpasar di bawah Kementerian Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat. Membantu penelitian
dan pengembangan pada lingkup bidang struktur,
terutama pengembangan teknologi beton pracetak
sebagai struktur rumah sederhana. Buku ini meru-
pakan karya kedua penulis setelah sebelumnya
terlibat di dalam penulisan buku “Rumah Sistem Panel
Instan (RUSPIN) Solusi Inovatif Membangun Rumah” di
tahun 2019. Penulis dapat dihubungi secara personal
di: putugeriasena@[Link].

Perempuan bernama lengkap Saraya Eka


Sharfina ini merupakan salah satu staf teknis di
Balai Litbang Perumahan Wilayah II Denpasar yang
menjabat sebagai Penelaah Bangunan Gedung
dan Kawasan Permukiman. Tahun 2019 menjadi
tahun pertamanya mengabdi di Kementerian Pe-
kerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Dalam
tahun pertamanya, ia berkesempatan untuk ter-
libat dalam beberapa kegiatan penelitian, yaitu
penelitian tentang Kriteria Desain Tata Bangunan
dan Lingkungan Berdasarkan Tata Nilai Masyarakat
Tradisional Bali, dan tentang Pengembangan Model
Rumah Susun Berbasis Karakteristik Lokal di Kota
Denpasar dan Pengembangan Model Rumah Susun
Berbasis Karakteristik Lokal di Kota Denpasar.
Buku ini menjadi buku kedua yang ditulis oleh
penulis lulusan jurusan Arsitektur Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya ini. Penulis yang
memiliki ketertarikan pada Building Information
Modelling (BIM) ini dapat dihubungi lebih lanjut ke
alamat surat elektronik: sarayasharfina@[Link].

102
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

KONTRIBUTOR

Johnny Rakhman
Kepala Balai
Periode 2018-2020

Desak Putu Damayanti


Eks Peneliti Ahli Muda Bidang Arsitektur

103
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Made Widiadnyana Wardiha


Peneliti Ahli Muda Bidang Teknik Lingkungan

Pradwi Sukma Ayu Putri


Peneliti Ahli Pertama Bidang Teknik Lingkungan

Rudi Setiadji Agustiningtyas


Perekayasa Ahli Muda

104
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

REFERENSI

Astika. 1986. Peranan Banjar pada Masyarakat Bali. Denpasar: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Davison, J., Enu, N., dan Granquist, B. 2003. Bali Architecture. Hongkong: Periplus
Edition Ltd.
Damanhuri, E. dan Padmi, T. 2010. Pengelolaan Sampah. Bandung: Institut Teknologi
Bandung.
Gelebet, I Nyoman dkk. 1981 Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Denpasar: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Bali.
Gelebet, I Nyoman. dkk. 1986. Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Denpasar:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi
Kebudayaan Daerah
Gelebet, Nyoman, dkk. 2002. Arsitektur Tradisional Daerah Bali. Denpasar: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan
Daerah.
Hartanti, Grace & Nediari, Amarena. 2014. Pendokumentasian Aplikasi Ragam
Hias Budaya Bali, Sebagai Upaya Konservasi Budaya Bangsa Khususnya pada
Perancangan Interior. Jurnal HUMANIORA Vol.5 No.1 April 2014: 521-540
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan
Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi,
Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Pekerjaan Umum. 2010. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik
Indonesia No. 14 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang

105
ANTARA: Antisipasi Bencana dengan Huntara

Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum


Republik Indonesia.
Kementerian Pekerjaan Umum. 2014. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik
Indonesia No. 12 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase
Perkotaan. Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia.
Meganada, I Wayan. 1990. Morfologi Grid Patern pada Desa di Bali. Bandung: Program
Pasca Sarjana S2 Arsitektur, Institut Teknologi Bandung.
Pemerintah Indonesia. 2008. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sumber Daya Air. Jakarta: Pemerintah Indonesia.
Pemerintah Kota Denpasar. 2001. Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 6 Tahun
2001 tentang Ijin Bangun – Bangunan di Kota Denpasar. Denpasar: Pemerintah
Kota Denpasar
Pemerintah Kota Denpasar. 2015. Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 5 Tahun
2015 tentang Bangunan Gedung. Denpasar: Pemerintah Kota Denpasar
Pemerintah Kota Denpasar. 2010. Peraturan Walikota Denpasar Nomor 25 Tahun 2010
tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung di Kota Denpasar. Denpasar:
Pemerintah Kota Denpasar
Pemerintah Provinsi Bali. 2005. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 Tahun 2005
tentang Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung. Denpasar: Pemerintah
Provinsi Bali
Priyanto, D. 2011. Peran Air dalam Penyebaran Penyakit. BALABA, 7 (01), 27-28.
Santoso, Wilson Edo, Felecia, dan Togar W. S. Panjaitan. 2016. Pembuatan Prototipe
Hunian Sementara untuk Pengungsi di Indonesia. Jurnal Titra. 4(2). 235 – 242
Sphere Association. 2011. The Sphere Handbook: Humanitarian Charter and Minimum
Standards in Humanitarian Response (3th ed.). Southampton, United Kingdom.
Sphere Association. (2018). The Sphere Handbook: Humanitarian Charter and Minimum
Standards in Humanitarian Response (4th ed.). Geneva, Switzerland.
Sulistyawati, dkk. 1985. Preservasi Lingkungan Perumahan Pedesaan dan Rumah
Tradisional Bali di Desa Bantas, Kabupaten Tabanan. Denpasar: P3M Universitas
Udayana.
Suryani, L. dan Orbayinah, S. (2017). Upaya Preventif Penyakit Water Borne Disease
pada Masyarakat Pasca Gempa Bumi Yogyakarta. Jurnal Berdikari, 5 (2), 150-157.

106

Anda mungkin juga menyukai