Prinsip Fikih Muamalah dalam Islam
Prinsip Fikih Muamalah dalam Islam
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Fiqih Muamalah 1
Prodi Hukum Ekonomi Syariah pada Fakultas Syariah dan Hukum Islam
Institut Agama Islam Negeri Bone
Oleh:
KELOMPOK 4
MUSYAKIRA
742342022013
Dosen Pengajar:
MUAMMAR HASRI, M.H
Wassalamualaikum [Link]
Kelompok 3
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 1
A. Latar Belakang.................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah............................................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan.............................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................... 2
A. Prinsip Umum Fikih Muamalah....................................................................... 2
B. Prinsip Dasar Fikih Muamalah......................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 13
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah agama yang universal dan komprehensif. Sebagai ajaran
yang komprehensif, Islam meliputi tiga pokok ajaran, yaitu aqidah, syari’ah dan
akhlaq. Hubungan antara aqidah, syari’ah dan akhlaq dalam sistem Islam terjalin
sedemikian rupa sehingga merupakan sebuah sistem yang komprehensif. Syariah
Islam terbagi kepada dua yaitu ibadah dan mu’amalah. Ibadah diperlukan untuk
menjaga ketaatan dan keharmonisan hubungan manusia dengan khaliq-Nya.
Sementara mu’amalah dalam pengertian umum dipahami sebagai aturan
mengenai hubungan antar manusia.
Manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang berkodrat hidup
dalam masyarakat. Sebagai makhluk sosial, manusia mutlak memerlukan
manusia-manusia lainnya. Dalam hidup bermasyarakat, manusia selalu
berhubungan satu sama lain, disadari atau tidak, untuk mencukupi kebutuhan-
kebutuhan hidupnya. Pergaulan hidup tempat setiap orang melakukan perbuatan
dalam hubungannya dengan orang lain itulah yang disebut mu’amalat.
Pada prinsipnya, muamalah merupakan aspek hukum Islam yang ruang
lingkupnya luas. Dalam konteks ini, pembahasan aspek hukum Islam yang
bukan termasuk kategori ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dapat
disebut sebagai muamalah.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Prinsip Dasar Fikih Muamalah ?
2. Bagaimana Prinsip Umum Fikh Muamalah ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui Prinsip Dasar Fikih Muamalah
2. Untuk mnegetahui Prinsip umum Fikih Muamalah
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Prinsip-prinsip Dasar Fikih Muamalah
Fiqh muamalah merupakan ilmu yang berkenaan dengan hukum syara’
yang mengatur hubungan-hubungan antar manusia dengan manusia lainnya yang
sasaran utamanya adalah harta benda (al-maal). Hubungan ini memiliki cakupan
yang sangat luas, karena menyangkut hubungan antar nanusia, baik Muslim
maupun non Muslim. Namun begitu, ada beberapa asas atau prinsip-prinsip yang
harus menjadi acuan bersama dan pedoman secara umum dalam setiap aktifitas
muamalah.1
Fiqh muamalah memiliki beberapa prinsip atau asas seperti prinsip
mubah, prinsip suka sama suka, prinsip keadilan, prinsip saling menguntungkan,
prinsip tolong menolong, dan prinsip tertulis. Berikut ini penjelasannya:
1. Prinsip Mubah
Prinsip ini merupakan asas terpenting hukum Islam di bidang
muamalah.2 Prinsip ini mengandung arti bahwa fiqh muamalah memberi
kesempatan yang luas bagi tumbuh kembang berbagai bentuk dan macam
muamalah baru sesuai dengan perkembangan kebutuhan hidup masyarakat.3
Bentuk atau jenis kegiatan ekonomi bisnis baru harus disesuaikan dengan
kebutuhan.4 yang ada dengan tanpa melupakan prinsip pokok muamalah.
Dapat juga dikatakan bahwa segala bentuk transaksi bisnis dan ekonomi
beserta hal-hal yang terkait dengannya sah dan boleh dilakukan sepanjang
tidak ada dalil yang melarangnya. Dalam hal ini patokannya jelas yakni,
أألصل في المعاملة االباحة اآل أن یدل دلیل على تحریمھا
Hukum asal dalam semua bentuk muamalah adalah boleh dan sah“
”.dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya
1
Jamaluddin, “Konsep Dasar Muamalah & Etika Juala Beli (al-Bai’) Perspektif Islam”,
dalam Tribakti Jurnal Pemikiran Keislaman, Volume 28, Nomor 2, Juli-Desember 2017, h. 293-
294.
2
Prilla Kurnia Ningsih, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2021), h.15.
3
Ahmad Azhar Basyir, Op. Cit., h.10
4
Prilla Kurnia Ningsih, Op. Cit., h.16.
2
3
dikatakan sah apabila didasarkan pada keridhaan kedua belah pihak. Artinya,
tidak sah suatu akad apabila salah satu pihak dalam keadaan terpaksa, dipaksa
atau merasa tertipu. Bisa jadi saat akad berlangsung kedua belah pihak saling
meridhai, akan tetapi kemudian salah satu pihak merasa tertipu, artinya hilang
keridhaannya, maka akad tersebut bisa batal. 11 Terkait dengan prinsip ini
muncul satu kaidah fiqh
األصل في العقد رضى المتعاقدین ونتیجتھ ما التزمھ با لتعا قد
“Hukum asal dalam transaksi adalah keridhaan kedua belah pihak yang
berakad, hasilnya adalah berlaku sahnya yang diakadkan.”
Di sisi lain, secara gamblang prinsip keridhaan dalam transaksi bisnis
(muamalah) ini ditegaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 29,
اض ِّم ْن ُك ْم ۗ َواَل تَ ْقتُلُ ْٓوا اَ ْنفُ َس ُك ْم ۗ اِ َّن ِ َٰيٓاَيُّهَا الَّ ِذ ْينَ ٰا َمنُوْ ا اَل تَْأ ُكلُ ْٓوا اَ ْم َوالَ ُك ْم بَ ْينَ ُك ْم بِ ْالب
ٍ اط ِل آِاَّل اَ ْن تَ ُكوْ نَ تِ َجا َرةً ع َْن تَ َر
٢٩ هّٰللا َ َكانَ بِ ُك ْم َر ِح ْي ًما
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan (tijarah)
yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu” (QS. an-Nisa’ [4]: 29).
Uraian di atas menegaskan bahwa kebebasan berkehendak para pihak
yang melakukan transaksi sangat diperhatikan dalam hukum Islam. Tidak
boleh satu pihak memaksakan kehendak kepada pihak lainnya. Pelanggaran
terhadap kebebasan berkehendak ini berakibat tidak dapat dibenarkannya
suatu bentuk atau jenis suatu muamalah. Berhubung kebebasan berkehendak
merupakan urusan batin seseorang, maka ia terkongkritisasi dalam ijab dan
qabul.12
3. Prinsip Keadilan
Penegasan keadilan dan penghapusan semua bentuk ketidakadilan
telah ditetapkan dalam al-Qur’an sebagai misi utama para Rasul (lihat QS al-
Hadid: 25). Tidak kurang dari seratus ungkapan yang berbeda-beda dalam al-
Qur’an mengandung makna keadilan, baik secara langsung seperti ungkapan
‘adl, qisth, mizan, atau ekpresi tidak langsung. Di samping itu, terdapat lebih
dari dua ratus peringatan dalam alQur’an yang menentang ketidakadilan
11
A. Djazuli, Kaidah-Kaidah Fikih, (Jakarta: Kencana, 2006), h.130-131.
12
Prilla Kurnia Ningsih, Loc. Cit
6
13
M. Umer Chapra, Islam dan Tantangan Ekonomi, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006),
h. 211-212.
7
17
Atang Abd. Hakim, Op. Cit., h.150-151.
18
Abdul Munib, “Hukum Islam dan Muamalah”, dalam Jurnal Penelitian dan Pemikiran
Keislaman UIM, Vol. 5, No. 1, Februari 2018, h.75.
9
19
Taufik Abdullah (Eds), [Link]., h.134.
20
Abdul Munib, Op. Cit., h.74.
10
menolong dalam hal yang positif dan baik adalah firman Allah SWT., dalam
QS. alMaidah [5]: 2,
ي َوتَ َعا َونُوْ ا َعلَى ْالبِ ِّر َوالتَّ ْق ٰو ۖى
Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa......”
(QS. Al-Maidah [5]: 2).
6. Prinsip Tertulis
Dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah [2]: 282-283, disebutkan bahwa
Allah SWT., menganjurkan kepada manusia hendaknya suatu perikatan
dilakukan secara tertulis, dihadiri oleh saksi-saksi, dan diberikan
tanggungjawab individu yang melakukan perikatan dan yang menjadi saksi.
Selain itu, dianjurkan pula bahwa apabila suatu perikatan diaksanakan tidak
secara tunai, maka dapat dipegang suatu benda sebagai jaminannya. Adanya
tulisan, saksi, dan/ atau benda jaminan ini menjadi alat bukti atas terjadinya
perikatan tersebut.21
B. Prinsip-Prinsip Dasar Fikih Muamalah
1. Objek transaksi mesti halal. Artinya dilarang melakukan bisnis ataupun
aktivitas ekonomi terkait yang haram. Sebagai contoh Islam melarang
menjual minuman keras, najis, alat-alat perjuadian, dan lain-lain. Sehubungan
dengan itu berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang
mencampuradukkan barang-barang halal dan haram juga tak dibenarkan
dalam Islam.
2. Adanya keridhaan pihakpihak yang bermualamah. Dasar asas ini adalah
kalimat an taradhin minkum (saling rela diantara kalian, QS. AnNisa: 29).
Asas ini menyatakan bahwa segala transaksi yang dilakukan harus atas dasar
kerelaan antara masingmasing pihak. Kerelaan antara pihakpihak yang
berakad dianggap sebagai prasyarat bagi terwujudnya semua transaksi. Jika
dalam transaski tidak terpenuhi asas ini, maka itu artinya sama dengan
memakan sesuatu dengan cara bathil yang dilarangAllah dalam QS. 2 : 188
ࣖ َاس بِ·ااْل ِ ْث ِم َواَ ْنتُ ْم تَ ْعلَ ُم··وْ ن ْأ ِ ََواَل تَْأ ُكلُ ْٓوا اَ ْم َوالَ ُك ْم بَ ْينَ ُك ْم بِ ْالب
ِ َّاط ِل َوتُ ْدلُوْ ا بِهَٓا اِلَى ْال ُح َّك ِام لِتَ ُكلُوْ ا فَ ِر ْيقًا ِّم ْن اَ ْم َوا ِل الن
١٨٨
21
Gemala Dewi, dkk, Hukum Perikatan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana dan BPFH
UI, 2006), h.37-38.
11
A. Kesimpulan
Fiqh muamalah merupakan ilmu yang berkenaan dengan hukum syara’
yang mengatur hubungan-hubungan antar manusia dengan manusia lainnya yang
sasaran utamanya adalah harta benda (al-maal). Hubungan ini memiliki cakupan
yang sangat luas, karena menyangkut hubungan antar nanusia, baik Muslim
maupun non Muslim. Namun begitu, ada beberapa asas atau prinsip-prinsip yang
harus menjadi acuan bersama dan pedoman secara umum dalam setiap aktifitas
muamalah.
Fiqh muamalah memiliki beberapa prinsip umum yaitu prinsip mubah,
prinsip suka sama suka, prinsip keadilan, prinsip saling menguntungkan, prinsip
tolong menolong, dan prinsip [Link] prinsip dasar yaitu objek transaksi
haruslah yang halal,adanya kerihdaan semua pihak terkait,pengelolaan asset yang
amanah dan jujur.
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini tentunya masih banyak terdapat kesalahan
baik dalam segi penulisan maupun dalam segi susunan. Oleh karena itu, kritik
dan saran yang membangun dari para pembaca sangat kami harapkan demi
pembuatan makalah yang lebih baik lagi kedepannya.
12
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik (Eds). 2003. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Ajaran. Jakarta:
PT. Ichtiar Baru van Hoeve.
Dewi, Gemala dkk. 2006. Hukum Perikatan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana
dan BPFH UI.
Chapra, M. Umer. 2006. Islam dan Tantangan Ekonomi. Jakarta: Gema Insani
Press.
Hakim, Atang Abd. 2011. Fiqih Perbankan Syariah. Bandung: PT. Refika
Aditama.
Hidayat, Rahmat. 2022. Fikih Muamalah Teori dan Prinsip Hukum Ekonomi
Syariah. Medan, CV. Tunggal Esti.
Jamaluddin. 2017. “Konsep Dasar Muamalah & Etika Juala Beli (alBai’)
Perspektif Islam.” Dalam Tribakti Jurnal Pemikiran Keislaman, Volume 28,
Nomor 2, Juli-Desember 2017.
Munib, Abdul. 2018. “Hukum Islam dan Muamalah.” Dalam Jurnal Penelitian dan
Pemikiran Keislaman UIM, Vol. 5, No. 1, Februari 2018.
13