0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
233 tayangan16 halaman

Prinsip Fikih Muamalah dalam Islam

Prinsip-prinsip dasar fiqih muamalah terdiri dari prinsip mubah, prinsip suka sama suka, prinsip keadilan, prinsip saling menguntungkan, dan prinsip tolong menolong. Prinsip mubah merupakan asas terpenting dalam hukum Islam di bidang muamalah yang memberi kesempatan luas untuk berbagai bentuk muamalah baru sesuai kebutuhan masyarakat asalkan tidak ada dalil yang melarangnya

Diunggah oleh

aris channel
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
233 tayangan16 halaman

Prinsip Fikih Muamalah dalam Islam

Prinsip-prinsip dasar fiqih muamalah terdiri dari prinsip mubah, prinsip suka sama suka, prinsip keadilan, prinsip saling menguntungkan, dan prinsip tolong menolong. Prinsip mubah merupakan asas terpenting dalam hukum Islam di bidang muamalah yang memberi kesempatan luas untuk berbagai bentuk muamalah baru sesuai kebutuhan masyarakat asalkan tidak ada dalil yang melarangnya

Diunggah oleh

aris channel
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRINSIP-PRINSIP FIKIH MUAMALAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Fiqih Muamalah 1
Prodi Hukum Ekonomi Syariah pada Fakultas Syariah dan Hukum Islam
Institut Agama Islam Negeri Bone

Oleh:

KELOMPOK 4

TIARA DWI ALDIRA


742342022023

MUSYAKIRA
742342022013

DEA SAPUTRI RAMADANI


742342022030

Dosen Pengajar:
MUAMMAR HASRI, M.H

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM ISLAM


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BONE
2023
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT. Karena
dengan atas petunjuk dan kemudahannya yang diberikan kepada saya dalam
penyelesaian salah satu tugas kuliah yaitu pembuatan makalah dalam ini materi
yang akan dibahas mengenai “Prinsip-prinsip fikih muamalah”.
Tidak lupa pula kita curahkan sholawat serta salam kepada junjungan Nabi
Muhammad SAW. yang juga telah memberi petunjuk bagi kita semua, sehingga
bisa terselamatkan dari lembah kesesatan. Dalam penyusunan makalah ini, tidak
semudah apa yang saya bayangkan. Banyak kesulitan dan hambatan yang saya
lalui dalam penyusunan makalah ini. Tapi berkat izin dan rahmat Allah SWT.
saya mampu menyelesaikannya.
Harapan saya sebagai penyusun makalah, yaitu semoga apa yang terdapat
dalam lembaran kertas ini, dapat memberi manfaat bagi para pembaca. Tidak lupa
pula saya haturkan maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang terdapat
dalam makalah [Link] pemilik kesempurnaan yang sesungguhnya adalah
Allah SWT.

Wassalamualaikum [Link]

Watampone, 25 Maret 2023

Kelompok 3

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 1
A. Latar Belakang.................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah............................................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan.............................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN..................................................................................... 2
A. Prinsip Umum Fikih Muamalah....................................................................... 2
B. Prinsip Dasar Fikih Muamalah......................................................................... 10

BAB III PENUTUP............................................................................................. 12


A. Kesimpulan....................................................................................................... 12
B. Saran................................................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah agama yang universal dan komprehensif. Sebagai ajaran
yang komprehensif, Islam meliputi tiga pokok ajaran, yaitu aqidah, syari’ah dan
akhlaq. Hubungan antara aqidah, syari’ah dan akhlaq dalam sistem Islam terjalin
sedemikian rupa sehingga merupakan sebuah sistem yang komprehensif. Syariah
Islam terbagi kepada dua yaitu ibadah dan mu’amalah. Ibadah diperlukan untuk
menjaga ketaatan dan keharmonisan hubungan manusia dengan khaliq-Nya.
Sementara mu’amalah dalam pengertian umum dipahami sebagai aturan
mengenai hubungan antar manusia.
Manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang berkodrat hidup
dalam masyarakat. Sebagai makhluk sosial, manusia mutlak memerlukan
manusia-manusia lainnya. Dalam hidup bermasyarakat, manusia selalu
berhubungan satu sama lain, disadari atau tidak, untuk mencukupi kebutuhan-
kebutuhan hidupnya. Pergaulan hidup tempat setiap orang melakukan perbuatan
dalam hubungannya dengan orang lain itulah yang disebut mu’amalat.
Pada prinsipnya, muamalah merupakan aspek hukum Islam yang ruang
lingkupnya luas. Dalam konteks ini, pembahasan aspek hukum Islam yang
bukan termasuk kategori ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dapat
disebut sebagai muamalah.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Prinsip Dasar Fikih Muamalah ?
2. Bagaimana Prinsip Umum Fikh Muamalah ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui Prinsip Dasar Fikih Muamalah
2. Untuk mnegetahui Prinsip umum Fikih Muamalah

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Prinsip-prinsip Dasar Fikih Muamalah
Fiqh muamalah merupakan ilmu yang berkenaan dengan hukum syara’
yang mengatur hubungan-hubungan antar manusia dengan manusia lainnya yang
sasaran utamanya adalah harta benda (al-maal). Hubungan ini memiliki cakupan
yang sangat luas, karena menyangkut hubungan antar nanusia, baik Muslim
maupun non Muslim. Namun begitu, ada beberapa asas atau prinsip-prinsip yang
harus menjadi acuan bersama dan pedoman secara umum dalam setiap aktifitas
muamalah.1
Fiqh muamalah memiliki beberapa prinsip atau asas seperti prinsip
mubah, prinsip suka sama suka, prinsip keadilan, prinsip saling menguntungkan,
prinsip tolong menolong, dan prinsip tertulis. Berikut ini penjelasannya:
1. Prinsip Mubah
Prinsip ini merupakan asas terpenting hukum Islam di bidang
muamalah.2 Prinsip ini mengandung arti bahwa fiqh muamalah memberi
kesempatan yang luas bagi tumbuh kembang berbagai bentuk dan macam
muamalah baru sesuai dengan perkembangan kebutuhan hidup masyarakat.3
Bentuk atau jenis kegiatan ekonomi bisnis baru harus disesuaikan dengan
kebutuhan.4 yang ada dengan tanpa melupakan prinsip pokok muamalah.
Dapat juga dikatakan bahwa segala bentuk transaksi bisnis dan ekonomi
beserta hal-hal yang terkait dengannya sah dan boleh dilakukan sepanjang
tidak ada dalil yang melarangnya. Dalam hal ini patokannya jelas yakni,
‫أألصل في المعاملة االباحة اآل أن یدل دلیل على تحریمھا‬
Hukum asal dalam semua bentuk muamalah adalah boleh dan sah“
”.dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya

1
Jamaluddin, “Konsep Dasar Muamalah & Etika Juala Beli (al-Bai’) Perspektif Islam”,
dalam Tribakti Jurnal Pemikiran Keislaman, Volume 28, Nomor 2, Juli-Desember 2017, h. 293-
294.
2
Prilla Kurnia Ningsih, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2021), h.15.
3
Ahmad Azhar Basyir, Op. Cit., h.10
4
Prilla Kurnia Ningsih, Op. Cit., h.16.

2
3

Dengan demikian, hukum dasar muamalah adalah mubah, kecuali jika


ada nash yang shahih, tsabit dan tegas dalalah-nya (ketepatgunaan sebagai
dalil) yang melarang serta mengharamkannya. Ini menjadi prinsip utama atau
kaidah utama, bahwa hukum dasar segala hal dan perbuatan adalah mubah.5
Bisa dikatakan bahwa ihwal jual beli, hibah, sewamenyewa, dan kebiasaan-
kebiasaan lainnya yang dibutuhkan manusia dalam hidup mereka, seperti
makan, minum, dan berpakaian, syariat telah datang membawa etika-etika
yang baik berkenaan dengan kebiasaan-kebiasaan tersebut. Ini berarti bahwa
manusia bebas untuk saling berjual beli dan sewamenyewa sekehendak
mereka selama tidak diharamkan syariat. Mereka juga bebas makan dan
minum sekehendak mereka selama tidak diharamkan syariat. Meskipun
demikian, ada di antaranya yang dianjurkan atau dimakruhkan. Selama syariat
tidak secara tegas membatasi, maka semua kebiasaan tersebut tetap
dipandang tanpa ketentuan (muthlaq), sesuai dengan aslinya6
Dengan demikian, berbeda dengan aktifitas ibadah yang hukum
dasarnya larangan sampai ada dalil yang memerintahkan hal tersebut, maka
hukum dasar pada muamalah adalah sebaliknya, yakni setiap aktifitas
muamalah apa pun bentuknya bebas dan sah dilakukan hingga ada dalil yang
melarangnya. Setiap orang berhak melakukan segala bentuk aktifitas
muamalah selama tidak ada dalil yang melarangnya. Itu sebabnya, kreativitas,
dinamisasi, modernisasi, digitalisasi dan fleksibelisasi sangat ditekankan
dalam aktivitas muamalah. Istilah bid’ah yang selama ini sering menjadi term
dalam ranah ibadah sama sekali tidak dijumpai dalam ranah muamalah dan
transaksi bisnis.7
Setiap Muslim diberikan ruang yang seluas-luasnya untuk melakukan
berbagai macam kesepakatan bisnis sepanjang tidak bertentangan dengan
prinsip-prinsip dan aturan-aturan umum yang telah digariskan dalam syariat.
Berbagai kesepakatan, perjanjian, perdamaian atau persyaratan semestinya
5
Yusuf al-Qaradhawi, 7 Kaidah Utama Fikih Muamalat, Terj. Fedrian Hasmand, (Jakarta
Timur: Pustaka al-Kautsar, 2010), h.10.
6
Yusuf al-Qaradhawi, Ibid., h.18.
7
Rahmat Hidayat, Fikih Muamalah Teori dan Prinsip Hukum Ekonomi Syariah, (Medan,
CV. Tunggal Esti, 2022), h.20.
4

hanya membutuhkan persetujuan pihak-pihak yang terkait di dalamnya. Islam


tidak mengatur secara rinci dan detail tentang tata cara transaksi. Semua itu
diserahkan kepada kehendak pasar dan pelaku usaha. Islam hanya
memberikan aturan-aturan yang bersifat umum dalam rangka memastikan
bahwa transaksi telah sesuai dengan tujuan syariah. Ini artinya, dalam ranah
muamalah orang tidak boleh bertanya menyangkut apa dalil atas kebolehan
melakukan transaksi tersebut atau meminta penjelasan mengenai sumber
hukum kepada seseorang kenapa melakukan transaksi tersebut. Pihak yang
semestinya menjelaskan dalil adalah pihak yang melarang atau yang
mengharamkan transaksi tersebut. Hal ini merupakan kebalikan dari ibadah,
yang mana seseorang harus dapat menjelaskan secara lugas dasar pijakan atau
dalil dalam melakukan ibadah. Namun demikian, para ulama tetap harus
menganalisis dan melakukan tinjauan hukum terhadap setiap kontrak-kontrak
bisnis dan keuangan, khususnya setiap kemunculan kontrak atau bisnis jenis
baru. Hal ini penting dilakukan mengingat banyak masyarakat awam yang
tidak memahami aturan syariah sehingga mereka membutuhkan arahan dan
bimbingan para ulama untuk menyakinkan mereka bahwa yang mereka
lakukan itu sudah sesuai dengan aturan syariat Islam.8
2. Prinsip Suka Sama Suka/Ridha (at-Taradhi)
At-taradhi adalah kerelaan yang sebenarnya, bukan kerelaan yang bersifat
semu dan seketika.9 Keridhaan ini sendiri bersifat subyektif yang tidak dapat
diketahui kecuali dengan ekspresi nyata dari pihak yang bertransaksi, baik
melalui katakata, tulisan, tindakan, atau isyarat. Oleh karena itu, keridhaan
harus ditunjukkan melalui pernyataan ijab dan qabul. Sementara persetujuan
secara ridha untuk melakukan ijab dan qabul hanya dapat dilakukan oleh
orang yang telah memiliki kecakapan hukum (ahliyyah), yaitu baligh dan
berakal. Ini juga berarti bahwa ridha juga harus bebas dari intimidasi dan
penipuan.10 Keridhaan dalam transaksi bisnis (muamalah) merupakan salah
satu prinsip pokok yang terpenting. Oleh karena itu, transaksi bisnis baru
8
Rahmat Hidayat, Ibid.
9
Taufik Abdullah (Eds), Loc. Cit.
10
Nur Kholis, Modul Transaksi dalam Ekonomi Islam, (Yogyakarta: MSI UII, 2006), h.19.
5

dikatakan sah apabila didasarkan pada keridhaan kedua belah pihak. Artinya,
tidak sah suatu akad apabila salah satu pihak dalam keadaan terpaksa, dipaksa
atau merasa tertipu. Bisa jadi saat akad berlangsung kedua belah pihak saling
meridhai, akan tetapi kemudian salah satu pihak merasa tertipu, artinya hilang
keridhaannya, maka akad tersebut bisa batal. 11 Terkait dengan prinsip ini
muncul satu kaidah fiqh
‫األصل في العقد رضى المتعاقدین ونتیجتھ ما التزمھ با لتعا قد‬
“Hukum asal dalam transaksi adalah keridhaan kedua belah pihak yang
berakad, hasilnya adalah berlaku sahnya yang diakadkan.”
Di sisi lain, secara gamblang prinsip keridhaan dalam transaksi bisnis
(muamalah) ini ditegaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 29,
‫اض ِّم ْن ُك ْم ۗ َواَل تَ ْقتُلُ ْٓوا اَ ْنفُ َس ُك ْم ۗ اِ َّن‬ ِ َ‫ٰيٓاَيُّهَا الَّ ِذ ْينَ ٰا َمنُوْ ا اَل تَْأ ُكلُ ْٓوا اَ ْم َوالَ ُك ْم بَ ْينَ ُك ْم بِ ْالب‬
ٍ ‫اط ِل آِاَّل اَ ْن تَ ُكوْ نَ تِ َجا َرةً ع َْن تَ َر‬
٢٩ ‫هّٰللا َ َكانَ بِ ُك ْم َر ِح ْي ًما‬
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan (tijarah)
yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu” (QS. an-Nisa’ [4]: 29).
Uraian di atas menegaskan bahwa kebebasan berkehendak para pihak
yang melakukan transaksi sangat diperhatikan dalam hukum Islam. Tidak
boleh satu pihak memaksakan kehendak kepada pihak lainnya. Pelanggaran
terhadap kebebasan berkehendak ini berakibat tidak dapat dibenarkannya
suatu bentuk atau jenis suatu muamalah. Berhubung kebebasan berkehendak
merupakan urusan batin seseorang, maka ia terkongkritisasi dalam ijab dan
qabul.12
3. Prinsip Keadilan
Penegasan keadilan dan penghapusan semua bentuk ketidakadilan
telah ditetapkan dalam al-Qur’an sebagai misi utama para Rasul (lihat QS al-
Hadid: 25). Tidak kurang dari seratus ungkapan yang berbeda-beda dalam al-
Qur’an mengandung makna keadilan, baik secara langsung seperti ungkapan
‘adl, qisth, mizan, atau ekpresi tidak langsung. Di samping itu, terdapat lebih
dari dua ratus peringatan dalam alQur’an yang menentang ketidakadilan

11
A. Djazuli, Kaidah-Kaidah Fikih, (Jakarta: Kencana, 2006), h.130-131.
12
Prilla Kurnia Ningsih, Loc. Cit
6

seperti zulm, itsm, dhalal, dan sebagainya. Bahkan, al-Qur’an menempatkan


keadilan paling dekat kepada takwa (QS al-Maidah: 8) karena begitu
pentingnya ia dalam struktur keimanan. Secara alamiah, ketakwaan adalah
faktor yang paling penting karena menjadi batu loncatan bagi semua amal
shaleh tak terkecuali keadilan. Nabi Muhammad SAW., bahkan menyebutkan
ketiadaan keadilan sebagai kegelapan absolut,
“Jauhilah kezaliman karena kezaliman itu adalah kegelapan pada hari
kiamat.” (HR. Muslim).
Dalam kerangka ini, Ibnu Taimiyyah berani menegaskan bahwa Allah
menyukai negara adil meskipun kafir, namun tidak menyukai negara yang
tidak adil meskipun beriman. Lebih lanjut ia menegaskan, dunia akan dapat
bertahan dengan keadilan meskipun tidak beriman, akan tetapi tidak akan
bertahan dengan ketidakadilan meskipun Islam.13
Keadilan merupakan salah satu bentuk tindakan yang banyak disebut secara
eksplisit dalam al-Qur’an, antara lain dalam QS. an-Nahl [16]: 90,
ۤ ۤ ‫هّٰللا‬
‫َر َو ْالبَ ْغ ِي يَ ِعظُ ُك ْم لَ َعلَّ ُك ْم‬ ِ ‫۞ اِ َّن َ يَْأ ُم ُر ِب ْال َع ْد ِل َوااْل ِ حْ َس‬
ِ ‫ان َواِ ْيتَاِئ ِذى ْالقُرْ ٰبى َويَ ْن ٰهى ع َِن ْالفَحْ شَا ِء َو ْال ُم ْنك‬
٩٠ َ‫تَ َذ َّكرُوْ ن‬
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS. An-Nahl [16]:
90).
Dalam pandangan ahli ushul fiqh dinyatakan bahwa kalimat al-‘adl
dalam ayat tersebut merupakan perintah langsung yang wajib untuk
dilaksanakan. Dalam Tafsir alMisbah dijelaskan bahwa kata al-‘adl
mengandung dua makna yang bertolak belakang, yakni lurus dan sama
serta bengkok dan berbeda. Seorang yang adil adalah yang berjalan lurus
dengan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuran
ganda. Persamaan inilah yang menjadikan seseorang yang adil tidak
berpihak kepada salah seorang yang berselisih.

13
M. Umer Chapra, Islam dan Tantangan Ekonomi, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006),
h. 211-212.
7

Kecuali itu, al-‘adl juga berarti “menempatkan sesuatu pada tempat


yang semestinya”. Hal ini mengantarkan kepada kondisi “persamaan”,
walaupun dalam ukuran kuantitas belum tentu sama. Di samping itu, al-‘adl
juga diartikan moderasi, artinya tidak mengurangi dan juga tidak melebihkan.
Sebagai lawannya adalah kezaliman, penganiayaan, dan keburukan,
karenanya setelah kata al-‘adl diikuti dengan kata ihsan (kebajikan).14
Dalam perspektif al-Qur’an keadilan dengan sekian macam istilah
memiliki empat macam makna. Pertama, adil berarti sama (al-musawat).
Dalam makna ini Allah SWT. berfirman dalam QS. an-Nisa’ (4): 58,
ۗ ‫اس اَ ْن تَحْ ُك ُموْ ا بِ ْال َع ْد ِل ۗ اِ َّن هّٰللا َ نِ ِع َّما يَ ِعظُ ُك ْم بِ ٖه‬ ۙ ٓ ‫۞ ا َّن هّٰللا يْأم ُر ُكم اَ ْن تَُؤ ُّدوا ااْل َمٰ ٰن‬
ِ َّ‫ت اِ ٰلى اَ ْهلِهَا َواِ َذا َح َك ْمتُ ْم بَ ْينَ الن‬
ِ ْ ُ َ َ ِ
٥٨ ‫ص ْيرًا‬ ۢ ‫هّٰللا‬
ِ َ‫اِ َّن َ َكانَ َس ِم ْيعًا ب‬
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. an-Nisa’ [4]: 58).
Khitab kata adil dalam ayat di atas adalah hakim di persidangan.
Artinya, ayat tersebut menuntun para hakim untuk menempatkan para pihak
yang berperkara dalam posisi yang sama.15 Dalam konteks ini, hukum dan
keadilan merupakan dua hal yang berjalan beriringan dan tidak dapat
dipisahkan. Hukum dibuat dan ditetapkan dimaksudkan agar orang yang
berada di bawah naungan hukum tersebut dapat menikmati dan merasakan
keadilan. Individu diperbolehkan mengembangkan hak pribadinya dengan
syarat tidak mengganggu kepentingan masyarakat.16
Kedua, adil berarti seimbang (al-mizan). Setidaknya ada dua ayat al-
Qur’an yang berbicara tentang adil dalam makna ini, yakni QS. al-Hadid (57):
25 dan QS. al-Rahman (55): 9
‫ْط َواَ ْنز َْلنَا ْال َح ِد ْي َد فِ ْي ِه بَْأسٌ َش ِد ْي ٌد َّو َمنَافِ ُع‬
ِۚ ‫ب َو ْال ِميْزَ انَ لِيَقُوْ َم النَّاسُ بِ ْالقِس‬
َ ‫ت َواَ ْن َز ْلنَا َم َعهُ ُم ْال ِك ٰت‬ِ ‫لَقَ ْد اَرْ َس ْلنَا ُر ُسلَنَا بِ ْالبَي ِّٰن‬
‫هّٰللا‬ ُ ‫اس َولِيَ ْعلَ َم هّٰللا ُ َم ْن يَّ ْن‬
٢٥ ࣖ ‫َز ْي ٌز‬ِ ‫ب اِ َّن َ قَ ِويٌّ ع‬ ِ ۗ ‫صر ُٗه َو ُر ُسلَهٗ بِ ْال َغ ْي‬ ِ َّ‫لِلن‬
14
M Arifin Hamid, Hukum Ekonomi Islam (Ekonomi Syariah) di Indonesia, (Bogor:
Ghalia Indonesia, 2007), h.119-120.
15
Atang Abd. Hakim, Fiqih Perbankan Syariah, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2011),
h.150.
16
Iwan Permana, Hadist Ahkam Ekonomi, (Jakarta: Amzah, 2020), h.41.
8

“Sesungguhnya kami telah mengutus Rasul-Rasul kami dengan membawa


bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan
neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.......” (QS. al-
Hadid [57]: 25).
٩ َ‫ْط َواَل تُ ْخ ِسرُوا ْال ِميْزَ ان‬
ِ ‫َواَقِ ْي ُموا ْال َو ْزنَ بِ ْالقِس‬
“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi
neraca itu.” (QS. al-Rahman [55]: 9).
Keadilan dalam konteks ayat tersebut semakna dengan kesesuaian
(proporsional), di mana keadilan model ini tidak menuntut kesamaan kadar
dan syarat bagi semua unit agar seimbang. Artinya, yang satu bisa lebih besar
atau lebih kecil dari yang lain sesuai dengan kadar dan waktu tertentu.
Ketiga, keadilan bermakna memelihara hak individu dan
memberikannya kepada yang berhak. Pengertian ini membawa kepada
pengertian lain, yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya, di samping itu
juga berkaitan dengan keadilan sosial yang harus dihormati. Makna ketiga ini
bersandar pada dua hal: (1) hak dan preferensi, yaitu jika seseorang membuat
sesuatu, maka ia menjadi pemilik hasil pekerjaannya; (2) kekhasan pribadi
manusia, artinya agar masyarakat meraih kebahagiaan, maka hak dan
preferensinya harus dipelihara. Keempat, keadilan yang dinisbatkan kepada
Allah SWT., dalam arti memelihara hak berlanjutnya eksistensi.17

4. Prinsip Saling Menguntungkan


Prinsip ini mengindikasikan bahwa segala bentuk kegiatan dalam
muamalah harus dapat memberikan keuntungan dan manfaat bagi pihak-
pihak yang terlibat. Prinsip ini bertujuan untuk menciptakan kerjasama antara
individu atau pihak-pihak dalam masyarakat dalam rangka saling memenuhi
keperluannya masing-masing guna meraih kesejahteraan bersama.18
Menyangkut prinsip saling menguntungkan Allah SWT. berfirman
dalam QS. al-Baqarah [2]: 278-279,

17
Atang Abd. Hakim, Op. Cit., h.150-151.
18
Abdul Munib, “Hukum Islam dan Muamalah”, dalam Jurnal Penelitian dan Pemikiran
Keislaman UIM, Vol. 5, No. 1, Februari 2018, h.75.
9

‫ب منَ هّٰللا‬ ‫هّٰللا‬


ِ ِّ ٍ ْ‫ فَاِ ْن لَّ ْم تَ ْف َعلُوْ ا فَ ·ْأ َذنُوْ ا ِب َح· ر‬٢٧٨ َ‫ٰيٓاَيُّهَا الَّ ِذ ْينَ ٰا َمنُوا اتَّقُوا َ َو َذرُوْ ا َما بَقِ َي ِمنَ الرِّ ٰب ٓوا اِ ْن ُك ْنتُ ْم ُّمْؤ ِمنِ ْين‬
٢٧٩ َ‫ظلَ ُموْ ن‬ ْ ُ‫َظلِ ُموْ نَ َواَل ت‬ ْ ‫َو َرسُوْ لِ ٖ ۚه َواِ ْن تُ ْبتُ ْم فَلَ ُك ْم ُرءُوْ سُ اَ ْم َوالِ ُك ۚ ْم اَل ت‬
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa
riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika
kamu tidak lagi mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa
Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (tidak lagi
memungut riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan
tidak pula dianiaya” (QS. Al-Baqarah [2]: 278-279).
Secara eksplisit, ayat ini berhubungan dengan larangan bermuamalah
yang mengandung unsur riba. Kemudian hal ini dikembangkan oleh Rasulullah
SAW., dalam berbagai bentuk muamalah yang diduga kuat akan merugikan
para pihak yang akan mengadakan akad, seperti tindakan monopoli (ihtikar)
dan mengganggu harga pasar. Di sinilah letak arti penting sabda Rasulullah
SAW., yang menyatakan
‫الضرر و ال ضرار‬
“Tidak boleh merugikan orang lain dan tidak boleh pula dirugikan.”
Hadits ini jelas melarang seseorang berbuat sesuatu yang merugikan orang lain
dalam bermuamalah.19

5. Prinsip Tolong Menolong/ Ta’awun


Prinsip Ta’awun atau tolong menolong mewajibkan seluruh Muslim
untuk tolong menolong dan membuat kemitraan dalam setiap kegiatan
muamalah. Dalam konteks ini, perlu dibangun kemitraan yang berorientasi
pada startegi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka
waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling
membutuhkan dan saling membesarkan.20
Terdapat banyak ayat al-Qur’an dan al-Hadits yang menekankan
keharusan saling membantu antara sesama Muslim khususnya dan umat
manusia umumnya. Di antara ayat alQur’an yang menganjurkan saling tolong

19
Taufik Abdullah (Eds), [Link]., h.134.
20
Abdul Munib, Op. Cit., h.74.
10

menolong dalam hal yang positif dan baik adalah firman Allah SWT., dalam
QS. alMaidah [5]: 2,
‫ي َوتَ َعا َونُوْ ا َعلَى ْالبِ ِّر َوالتَّ ْق ٰو ۖى‬
Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa......”
(QS. Al-Maidah [5]: 2).
6. Prinsip Tertulis
Dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah [2]: 282-283, disebutkan bahwa
Allah SWT., menganjurkan kepada manusia hendaknya suatu perikatan
dilakukan secara tertulis, dihadiri oleh saksi-saksi, dan diberikan
tanggungjawab individu yang melakukan perikatan dan yang menjadi saksi.
Selain itu, dianjurkan pula bahwa apabila suatu perikatan diaksanakan tidak
secara tunai, maka dapat dipegang suatu benda sebagai jaminannya. Adanya
tulisan, saksi, dan/ atau benda jaminan ini menjadi alat bukti atas terjadinya
perikatan tersebut.21
B. Prinsip-Prinsip Dasar Fikih Muamalah
1. Objek transaksi mesti halal. Artinya dilarang melakukan bisnis ataupun
aktivitas ekonomi terkait yang haram. Sebagai contoh Islam melarang
menjual minuman keras, najis, alat-alat perjuadian, dan lain-lain. Sehubungan
dengan itu berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang
mencampuradukkan barang-barang halal dan haram juga tak dibenarkan
dalam Islam.
2. Adanya keridhaan pihakpihak yang bermualamah. Dasar asas ini adalah
kalimat an taradhin minkum (saling rela diantara kalian, QS. AnNisa: 29).
Asas ini menyatakan bahwa segala transaksi yang dilakukan harus atas dasar
kerelaan antara masingmasing pihak. Kerelaan antara pihakpihak yang
berakad dianggap sebagai prasyarat bagi terwujudnya semua transaksi. Jika
dalam transaski tidak terpenuhi asas ini, maka itu artinya sama dengan
memakan sesuatu dengan cara bathil yang dilarangAllah dalam QS. 2 : 188
ࣖ َ‫اس بِ·ااْل ِ ْث ِم َواَ ْنتُ ْم تَ ْعلَ ُم··وْ ن‬ ‫ْأ‬ ِ َ‫َواَل تَْأ ُكلُ ْٓوا اَ ْم َوالَ ُك ْم بَ ْينَ ُك ْم بِ ْالب‬
ِ َّ‫اط ِل َوتُ ْدلُوْ ا بِهَٓا اِلَى ْال ُح َّك ِام لِتَ ُكلُوْ ا فَ ِر ْيقًا ِّم ْن اَ ْم َوا ِل الن‬
١٨٨

21
Gemala Dewi, dkk, Hukum Perikatan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana dan BPFH
UI, 2006), h.37-38.
11

Terjemahnya: “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian


yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu
membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan
sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa,
padahal kamu mengetahui.
Transasksi yang dilakukan tidak dapat dikatakan telah mencapai sebuah
bentuk kegiatan yang saling rela diantara yang melakukan transaksi jika di
dalamnya ada tekanan, paksaan, tipuan dan miss-statemen.
3. Pengurusan dana yang amanah. Amanah mempunyai akar kata yang sama
dengan kata iman dan aman, sehingga mukmin berarti yang beriman, yang
mendatangkan keamanan, juga yang memberi dan menerima amanah. Orang
yang beriman disebut juga al-mukmin, karena orang yang beriman menerima
rasa aman, iman dan amanah. Bila orang tidak menjalankan amanah berarti
tidak beriman dan tidak akan memberikan rasa aman baik untuk dirinya dan
sesama masyarakat lingkungan sosialnya. Dalam sebuah hadis dinyatakan
"Tidak ada iman bagi orang yang tidak berlaku amanah".
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Fiqh muamalah merupakan ilmu yang berkenaan dengan hukum syara’
yang mengatur hubungan-hubungan antar manusia dengan manusia lainnya yang
sasaran utamanya adalah harta benda (al-maal). Hubungan ini memiliki cakupan
yang sangat luas, karena menyangkut hubungan antar nanusia, baik Muslim
maupun non Muslim. Namun begitu, ada beberapa asas atau prinsip-prinsip yang
harus menjadi acuan bersama dan pedoman secara umum dalam setiap aktifitas
muamalah.
Fiqh muamalah memiliki beberapa prinsip umum yaitu prinsip mubah,
prinsip suka sama suka, prinsip keadilan, prinsip saling menguntungkan, prinsip
tolong menolong, dan prinsip [Link] prinsip dasar yaitu objek transaksi
haruslah yang halal,adanya kerihdaan semua pihak terkait,pengelolaan asset yang
amanah dan jujur.
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini tentunya masih banyak terdapat kesalahan
baik dalam segi penulisan maupun dalam segi susunan. Oleh karena itu, kritik
dan saran yang membangun dari para pembaca sangat kami harapkan demi
pembuatan makalah yang lebih baik lagi kedepannya.

12
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik (Eds). 2003. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Ajaran. Jakarta:
PT. Ichtiar Baru van Hoeve.

Al-Qardhawi, Yusuf. 2003. Membumikan Syariat Islam Keluwesan Aturan Ilahi


untuk Manusia. Bandung: Mizan.

Basyir, Ahmad Azhar. 2000. Asas-Asas Hukum Muamalat (Hukum Perdata


Islam). Yogyakarta: UII Press.

Dewi, Gemala dkk. 2006. Hukum Perikatan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana
dan BPFH UI.

Djazuli, A. 2006. Kaidah-Kaidah Fikih. Jakarta: Kencana.

Chapra, M. Umer. 2006. Islam dan Tantangan Ekonomi. Jakarta: Gema Insani
Press.

Hakim, Atang Abd. 2011. Fiqih Perbankan Syariah. Bandung: PT. Refika
Aditama.

Hamid, M Arifin. 2007. Hukum Ekonomi Islam (Ekonomi Syariah) di Indonesia.


Bogor: Ghalia Indonesia.

Hidayat, Rahmat. 2022. Fikih Muamalah Teori dan Prinsip Hukum Ekonomi
Syariah. Medan, CV. Tunggal Esti.

Jamaluddin. 2017. “Konsep Dasar Muamalah & Etika Juala Beli (alBai’)
Perspektif Islam.” Dalam Tribakti Jurnal Pemikiran Keislaman, Volume 28,
Nomor 2, Juli-Desember 2017.

Munib, Abdul. 2018. “Hukum Islam dan Muamalah.” Dalam Jurnal Penelitian dan
Pemikiran Keislaman UIM, Vol. 5, No. 1, Februari 2018.

Ningsih, Prilla Kurnia. 2021. Fiqh Muamalah. Jakarta: Rajawali Pers.

Permana, Iwan. 2020. Hadist Ahkam Ekonomi. Jakarta: Amzah.

13

Anda mungkin juga menyukai