PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP
PENINGKATAN KASUS CYBER BULLYING
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran Sosiologi
DISUSUN OLEH :
KELAS XI MIPA 5
KELOMPOK 1
1. ALAYSHA KHAIRA AZ-ZHARA
2. AULIA AZRIEL MUTANABBI
3. CEEVAN PATRICKK LUMBANTORUAN
4. DHEA SYAFITRI RAHMI
5. DWI MUFTI RAHMAN
6. ELFINA DAFFA RIANI
7. FELIA RIZKY KAMILA
SMA NEGERI 1 CIAMIS
TAHUN PELAJARAN 2021 – 2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah S.W.T, yang telah
melimpahkan hidayah-Nya kepada kita . Sholawat dan salam semoga tercurahkan
kepada Nabi Muhammad S.A.W. Tak lupa pada keluarganya , para sahabatnya
juga mudah-mudahan sampai kepada kita selaku umatnya. Amin
Alhamdulilah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Pengaruh
Media Sosial Terhadap Peningkatan Kasus Cyber Bullying. Makalah ini berisi
ulasan-ulasan yang membahas tentang media sosial dan cyber bullying yang dikaji
dalam ilmu semantik. Media sosial dan cyber bullying adalah dua hal yang saling
berkaitan yang akan menjadi dampak atau terjadinya proses bully. Kedua hal itu
walaupun banyak kesamaannya tapi juga banyak perbedaannya. Pertanyaannya,
apa itu cyber bullying? Apa itu media sosial? Apa pengaruh media sosial terhadap
cyber bulling? Bagaimana dampak dari adanya cyber bullying? Bagaimana upaya
yang dapat dilakukan untuk mengurangi masalah cyber bullying?. Hal tersebut akan
dibahas dalam makalah ini.
Namun dengan selesainya makalah ini tidak luput dari bantuan dari
beberapa pihak. Untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada:
1. Yang terhormat Ibu D r a . Atik Rostika selaku guru mata pelajaran
sosiologi SMA Negeri 1 Ciamis.
2. Kedua orang tua yang telah memberi motivasi dan mendukung kepada kami
baik moral dan material
3. Teman–teman yang telah memberi dorongan dan membantu dalam
menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari dengan selesainya makalah ini masih jauh dari
i
sempurna itu karena,keterbatasan ilmu yang kami [Link] itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca .
Demikianlah makalah yang sederhana ini, mudah mudahan dapat
bermanfaat khususnya bagi kami umumnya bagi pembaca .Amin
Ciamis, Februari 2023
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................................1
1.1 Latar Belakang................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................................2
1.3 Tujuan.............................................................................................................................2
1.4 Manfaat...........................................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................................4
2.1 Pengertian Cyber Bullying..............................................................................................4
2.2 Pengertian Medial Sosial................................................................................................6
2.3 Hubungan Media Sosial Dengan Meningkatnya Cyber Bullying....................................7
2.4 Dampak Cyber Bullying...............................................................................................10
2.5 Upaya Pencegahan Cyber Bullying..............................................................................12
BAB III PENUTUP......................................................................................................................15
3.1 Simpulan.............................................................................................................................15
3.2 Saran...................................................................................................................................16
BAB IV DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................17
iii
4
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bullying merupakan salah satu tindakan perilaku agresif yang
disengaja dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang secara berulang-
ulang dan dari waktu ke waktu terhadap seorang korban yang tidak dapat
mempertahankan dirinya dengan mudah (Soetjipto, 2012). Salah satu riset
yang telah dilakukan oleh LSM Plan International dan International Center
for Research on Women (ICRW) yang di unggah awal Maret 2015 ini
menunjukkan hasil fakta mencengangkan terkait kekerasan anak di sekolah.
Di tingkat Asia, kasus bullyingyang terjadi pada siswa di sekolah mencapai
angka 70% (Qodar, 2015)
Kemajuan berbagai alat bantu audio visual di era sekarang telah
menyebabkan perubahan progresif dalam pendidikan yang melibatkan lebih
banyak ilustrasi dan demonstrasi, alat bantu audiovisual menjadi penting
dalam menyampaikan informasi yang diperlukan. Oleh sebab itu, penelitian
ini bertujuan untuk menilai perspektif siswa tentang penggunaan alat bantu
audiovisual dalam pengajaran (Souza,2014).
Pendidikan kesehatan melalui audiovisual sangat berpengaruh dalam
pemahaman responden tentang perilaku bullying (Suryaningseh, 2016). Hal
ini juga sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2010) bahwa pendidikan
merupakan suatu dasar penting dalam kehidupan manusia, karena semakin
tinggi pendidikan, maka semakin mudah untuk menerima hal baru dan lebih
mudah menyesuaikan dengan hal yang baru tersebut.
Tidak hanya memahami tentang bullying tetapi diperlukan juga norma
subjektif, norma subjektif merupakan suatu keyakinan seseorang terhadap apa
yang individu atau kelompok lain inginkan agar seseorang perbuat (Azwar,
2016). Didalam penelitian yang dilakukan Nadia (dalam Amalia, 2010)
1
norma subjektif tidak terlalu berpengaruh karena motivasi internal lebih
dominan dibandingkan dengan motivasi eksternal. Sikap terhadap perilaku
dipengaruhi oleh keyakinan bahwa perilaku tersebut akan membawakakepada
hasil yang diinginkan, keyakinan mengenai apa yang bersifat normatif
(Azwar,2016). Menurut penelitian yang dilakukan Heirman (2012)
tentangnorma subjektif mendukung anggapan bahwa remaja peduli dengan
pendapat orang lain yang signifikan, dengan remaja merasakan tekanan sosial
negatif terhadap bullying, maka sebagai remaja dapat menunjukkan niat yang
lebih rendah untuk melakukan itu.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan cyber bullying ?
2. Apa yang dimaksud dengan media sosial ?
3. Apa pengaruh media sosial terhadap cyber bullying ?
4. Bagaimana dampak dari adanya cyber bullying ?
5. Bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi masalah cyber
bullying ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari cyber bullying.
2. Untuk mengetahui pengertian dari media sosial.
3. Untuk mengetahui pengaruh dari media sosial terhadap cyber bullying.
4. Untuk mengetahui dampak dari cyber bullying.
5. Untuk mengetahui upaya mengurangi masalah cyber bullying.
2
1.4 Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini, diharapkan dapat memberikan
manfaat baik secara teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis, makalah
ini diharapkan dapat bermanfaat dan memberi pengetahuan baru mengenai
media sosial terhadap cyber bullying .Secara praktis, makalah ini disusun
dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi :
a. Penulis Penulis diharapkan setelah membuat dan
mempresentasikan makalah ini dapat lebih memahami dalam
penjelasan tentang cyber bullying dan media sosial.
b. Pembaca Semoga setelah membaca makalah ini, pembaca dapat
mengetahui dan memahami cyber bullying dan media sosial.
3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Cyber Bullying
Cyberbullying (perundungan dunia maya) ialah bullying/perundungan
dengan menggunakan teknologi digital. Hal ini dapat terjadi di media sosial,
platform chatting, platform bermain game, dan ponsel. Adapun menurut Think
Before Text, cyberbullying adalah perilaku agresif dan bertujuan yang dilakukan
suatu kelompok atau individu, menggunakan media elektronik, secara berulang-
ulang dari waktu ke waktu, terhadap seseorang yang dianggap tidak mudah
melakukan perlawanan atas tindakan tersebut. Jadi, terdapat perbedaan kekuatan
antara pelaku dan korban. Perbedaan kekuatan dalam hal ini merujuk pada sebuah
persepsi kapasitas fisik dan mental.
Cyberbullying merupakan perilaku berulang yang ditujukan untuk
menakuti, membuat marah, atau mempermalukan mereka yang menjadi
sasaran. Contohnya termasuk:
Menyebarkan kebohongan tentang seseorang atau memposting foto
memalukan tentang seseorang di media sosial
4
Mengirim pesan atau ancaman yang menyakitkan melalui platform
chatting, menuliskan kata-kata menyakitkan pada kolom komentar media
sosial, atau memposting sesuatu yang memalukan/menyakitkan
Meniru atau mengatasnamakan seseorang (misalnya dengan akun
palsu atau masuk melalui akun seseorang) dan mengirim pesan jahat kepada
orang lain atas nama mereka.
Trolling - pengiriman pesan yang mengancam atau menjengkelkan
di jejaring sosial, ruang obrolan, atau game online
Mengucilkan, mengecualikan, anak-anak dari game online,
aktivitas, atau grup pertemanan
Menyiapkan/membuat situs atau grup (group chat, room chat) yang
berisi kebencian tentang seseorang atau dengan tujuan untuk menebar
kebencian terhadap seseorang
Menghasut anak-anak atau remaja lainnya untuk mempermalukan
seseorang
Memberikan suara untuk atau menentang seseorang dalam jajak
pendapat yang melecehkan
Membuat akun palsu, membajak, atau mencuri identitas online
untuk mempermalukan seseorang atau menyebabkan masalah dalam
menggunakan nama mereka
Memaksa anak-anak agar mengirimkan gambar sensual atau
terlibat dalam percakapan seksual.
5
Bullying secara langsung atau tatap muka dan cyberbullying seringkali
dapat terjadi secara bersamaan. Namun cyberbullying meninggalkan jejak
digital – sebuah rekaman atau catatan yang dapat berguna dan memberikan
bukti ketika membantu menghentikan perilaku salah ini.
2.2 Pengertian Medial Sosial
Media sosial merupakan kombinasi dari tiga elemen, yaitu content,
komunitas, dan teknologi Web 2.0. Perkembangan dari media sosial akan
berdampak pada tiga area, yaitu masyarakat, perusahaan, dan lingkungan local
(Ahlqvist et. al., 2012). Media sosial bergantung terhadap teknologi mobile dan
web-based untuk membuat platform interaktif tempat pengguna berbagi,
berdiskusi, dan memodifikasi sebuah konten. Bedasarkan data dari Nielsen,
jumlah pengguna internet terus meningkat karena adanya situs media sosial
dibandingkan dengan tipe situs lainnya.
Teknologi media sosial menggabungkan model-model seperti majalah, forum
internet, weblogs, sosial blog, microblogging, wikis, jaringan sosial, gambar,
video, dan lain-lain. Dengan mengaplikasikan beberapa model tersebut, maka
terdapat enam tipe media sosial:
(1) Projek Kolaboratif, seperti Wikipedia.
(2) Blogs dan Mikroblog, seperti Twitter dan Tumblr.
(3) Komunitas konten, seperti YouTube dan DailyMotion.
6
(4) Situs Social Networking, seperti Facebook.
(5) Virtual game-worlds, seperti World of Warcraft.
(6) Virtual social worlds, seperti Second Life
Media sosial mobile merupakan kombinasi antara peralatan mobile
(handphone, tablet, dll) dan media sosial. Media social mobile berbeda dengan
media sosial di web karena terdapat faktor baru yaitu lokasi dari pengguna
(location-sensitivity) atau waktu delay antara mengirim dan menerima pesan
(time-sensitivity). Aplikasi media sosial mobile dapat dibedakan menjadi empat
tipe:
(1) Spacetimers (location dan time sensitive): Pertukaran pesan yang
bergantung terhadap lokasi spesifik dan pada waktu tertentu. Contoh:
Facebook Places, Foursquare.
(2) Space-locators (location sensitive): Pertukaran antara pesan yang
bergantung pada lokasi tempat yang spesifik. Contoh: Yelp.
(3) Quicktimers (time sensitive): Perubahan dari tradisional aplikasi media
sosial menjadi menggunakan mobile device untuk meningkatkan kesegeraan.
Contoh: Twitter messages, Facebook Status updates.
(4) Slowtimers (bukan location sensitive ataupun timesensitive): Perubahan
dari tradisional aplikasi media sosial menjadi mobile devices.
2.3 Hubungan Media Sosial Dengan Meningkatnya Cyber Bullying
Menurut Reginald H. Gonzales, Cyber bullying terjadi ketika baik korban maupun
7
pelaku merupakan orang di bawah umur. Ketika orang dewasa yang terlibat, maka cyber
bullying meningkat menjadi cyber stalking atau cyber harassment, sebuah kejahatan yang
dapat memiliki konsekuensi secara hukum. Cyber bullying dapat dilakukan dengan
menggunakan teknologi komunikasi untuk menyerang pihak lain secara sengaja dan terus
menerus. Media sosial sangat meningkatkan kemampuan komunikasi dengan platform
komunikasi yang berbeda. Dengan terus meningkanya jumlah pengguna internet, maka
masalah cyber bullying semakin serius. Tingkat kekhawatiran pengguna internet dan
pihak berwenang pun semakin meningkat.
Menurut Ahli Pendapat
Tanpa media sosial maka tidak akan terdapat cyber
Mr. T. J. Dimacali
bullying.
Media sosial memungkinkan pengguna secara online
melakukan cyber bullying karena fasilitas posting dan
Prof. Danilo Arao penyebaran konten online sangat mudah dan sama
mudahnya ketika memberikan reaksi terhadap konten
tersebut.
Permasalahan pada cyber bullying terjadi pada saat
Mr. Mark Madrona munculnya media sosial. Sebelum adanya media sosial
maka tidak ada cyber bullying.
Pelaku menjadi memiliki kekuatan untuk membuat
Atty. Abel
sasaran lebih luas melalui media sosial karena bersifat
Maglanque
anonim.
Mr. Jose Descallar Cyber bullying tejadi ketika media sosial seperti
Facebook dan Twitter memiliki fitur untuk menyimpan
8
text.
Media sosial merupakan media yang sempuran bagi
Insp. Kimberly
penjahat cyber untuk melakukan aksinya karena
Gonzales
merupakan komunitas terbuka bagi siapapun.
Cyber bullying pada media sosial memiliki efek positif
Prof. Nymia
karena kasusnya terangkat ke tempat public sehingga
Simbulan
bukti yang ada dapat dengan mudah diakses.
Atty. Christopher Semua orang saling terhubung melalui media sosia,
Lao sehingga penyebaran informasi menjadi sangat cepat.
Menurut Gonzales (2014), media sosial menyebabkan terjadinya cyber bullying.
Media sosial sebagai sebuah alat yang dirancang untuk tujuan komunikasi, kemudian
digunakan secara salah dengan merugikan orang lain. Proses pencegahan cyber bullying
memerlukan ukuran yang jelas untuk menghindari kemungkinan kerusakan yang ada.
Pertama adalah memaksakan disiplin diri di antara pengguna media sosial. Ketika
membuat akun media sosial, maka pengguna perlu memahami kegunaannya, tujuan,
kemampuan, kemungkinan efek yang ada. Cyber bullying terjadi karena kekurangan
pengetahuan yang ada.
Menurut Fisher (2013), penyalahgunaan teknologi mobile dan jaringan media sosial
menjadi permasalahan hampir di seluruh dunia. Cyber bullying bukan merupakan hal
yang sering terdengar beberapa tahun yang lalu. Teknologi mobile memungkinkan
manusia berkomunikasi kapan pun dan di mana pun. Teknologi mobile memungkinkan
untuk mengirimkan foto dan video kepada teman atau keluarga dengan sangat mudah
(cukup mengklik sebuah tombol). Revolusi ini mengubah hidup manusia secara luar
9
biasa. Hal major yang paling terasa pada anak-anak dan remaja yang memiliki telepon
seluler dan komputer pribadi adalah tersedianya akses informasi yang tidak terbatas dan
memungkinan mereka untuk bertukar informasi lintas dunia. Orang dewasa mungkin
sudah memiliki pandangan untuk tidak mempercayai dan menggunakan teknologi
sepenuhnya namun pada remaja, mereka belum memiliki pandangan yang seimbang dan
bijaksana terhadap teknologi yang ada. Teknologi membutuhkan tanggung jawab agar
tidak merugikan orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun pada
kenyataanya, penyalahgunaan teknologi meningkat sehingga menyebabkan banyak
insiden seperti aksi dan tindakan mengancam, melecehkan, mempermalukan serta
menghina. Insinden-insiden ini disebut sebagai cyber bullying. Penyalahgunaan teknologi
mobile telah menarik perhatian orang tua, psikolog sosial, dan lembaga-lembaga seperti
sekolah dan universitas. Berikut ini merupakan proses mitigasi yang menolong remaja
remaja untuk berpindah dari cyber bullying menuju cyber coping
2.4 Dampak Cyber Bullying
Bullying terjadi secara online, kamu bisa merasa seperti diserang dari mana-
mana, bahkan di dalam rumahmu sendiri. Sepertinya tidak ada jalan untuk keluar.
Dampaknya dapat bertahan lama dan memengaruhi seseorang dalam banyak cara:
Secara Mental — merasa kesal, malu, bodoh, bahkan marah
Secara Emosional — merasa malu atau kehilangan minat pada hal-hal
yang kamu sukai
Secara Fisik — lelah (kurang tidur), atau mengalami gejala seperti sakit
perut dan sakit kepala
10
Perasaan ditertawakan atau dilecehkan oleh orang lain dapat membuat
seseorang tidak ingin membicarakan atau mengatasi masalah tersebut. Dalam
kasus ekstrim, cyberbullying bahkan dapat menyebabkan seseorang mengakhiri
nyawanya sendiri.
Cyberbullying dapat mempengaruhi kita dengan berbagai cara, tetapi
tentunya masalah ini dapat diatasi dan orang-orang yang terdampak juga dapat
memperoleh kembali kepercayaan diri dan kesehatan mental mereka.
Semua anak yang terpapar oleh cyberbullying dapat menderita: baik itu
korban, pelaku dan orang menyaksikan cyberbullying.
Anak-anak yang mengalami cyberbullying, umumnya:
Menunjukkan ciri-ciri depresi
Memiliki masalah kepercayaan dengan orang lain
Tidak diterima oleh rekan-rekan mereka
Selalu waspada dan curiga terhadap orang lain (kekhawatiran berlebih)
Memiliki masalah menyesuaikan diri dengan sekolah
Kurang motivasi sehingga sulit fokus dalam mengikuti pembelajaran
Dampak bagi korban:
1. Dampak psikologis: mudah depresi, marah, timbul perasaangelisah, cemas,
menyakiti diri sendiri, dan perfobaan bunuh diri
11
2. Dampak sosial: menarik diri, kehilangan kepercayaan diri, lebih agresif
kepada teman dan keluarga
3. Dampak pada kehidupan sekolah: penurunan prestasi akademik, rendahnya
tingkat kehadiran, perilaku bermasalah di sekolah.
Dampak bagi Pelaku:
Cenderung bersifat agresif, berwatak keras, mudah marah, impulsif, lebih
ingin mendominasi orang lain, kurang berempati, dan dapat dijauhi oleh orang
lain.
Dampak bagi yang menyaksikan (bystander):
Jika cyberbullying dibiarkan tanpa tindak lanjut, maka orang yan
menyaksikan dapat berasumsi bahwa cyberbullying adalah perilaku yang diterima
secara sosial. Dalam kondisi ini, beberapa orang mungkin akan bergabung dengan
penindas karena takut menjadi sasaran berikutnya dan beberapa lainnya mungkin
hanya akan diam saja tanpa melakukan apapun dan yang paling parah mereka
merasa tidak perlu menghentikannya.
2.5 Upaya Pencegahan Cyber Bullying
Menurut data kesehatan yang dipublikasikan di Journal of Child and
Adolescent Counseling, anak remaja menghabiskan banyak waktu di media sosial
lebih berisiko mengalami dan terlibat dalam cyberbullying. Lantas, bagaimana
cara mencegah cyberbullying di media sosial
Berpikir Sebelum Berkomentar Dapat Mencegah Cyberbullying Keberadaan
media sosial dengan kolom komentarnya memberikan efek dopamin kepada
pengguna. Banyak juga di antaranya yang kecanduan melayangkan komentar
sehingga sebagian besar waktunya hanya dihabiskan untuk berselancar di media
12
sosial.
Ada sensasi menyenangan ketika mendapatkan jumlah likes, komentar di
posting-an ataupun mendapatkan balasan, dukungan atas komentar yang
diberikan untuk suatu isu. Ada dorongan untuk meluapkan emosi,
mengungkapkan perasaan, mendapatkan persetujuan untuk suatu argumen.
Namun, bisa jadi ini semua memicu tindakan cyberbullying.
Upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah cyberbullying di media adalah :
1. Jangan Terlalu Sering Posting
Seperti kata pepatah, tidak akan ada asap jika tidak ada api. Mungkin kamu
tidak bisa mengatur komentar orang, tetapi kamu bisa mengelola apa-apa saja
yang bisa dibagi di media sosial pribadi.
Apalagi kalau kamu tipe orang yang mudah tersinggung, menghindari over-
posting dapat membantu menjaga kesehatan mental dengan terhindar dari
komentar-komentar netizen yang belum tentu positif buat mentalmu.
2. Batasi Komentar yang Tidak Penting
Tidak perlu menambahi isu yang sudah panas dengan komentar-komentar
yang semakin memperuncing masalah, atau ikut menghakimi subjek di suatu
posting-an. Mungkin kamu merasa lega setelah mengungkapkan pendapat, tapi
coba bayangkan, bagaimana bila orang yang sedang dibicarakan di dalam posting-
an tersebut membaca dan terpuruk karenanya? Jadi, berempatilah, kalau memang
ingin berkomentar, tetap gunakan empati dan jangan menghakimi.
3. Batasi Penggunaan Media Sosial
Terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial bisa meningkatkan
penggunaan yang tak perlu. Salah satunya membalasi komentar atau memberikan
komentar-komentar mengandung SARA di posting-an pengguna lain. Pada
13
akhirnya, ini bisa memicu ketidaknyamanan, stres dan memperparah kondisi
netizen yang sedang dalam ketidakstabilan mental.
4. Jangan Mudah Terpancing
Selain membatasi postingan, kamu juga perlu membatasi diri untuk
mengomentari sesuatu di internet. Selain itu, ketika kamu mendapatkan komentar
tidak menyenangkan di media sosial, jangan langsung terpancing. Ada pilihan
delete, block, atau report untuk segala sesuatu yang mengganggu
ketidaknyamananmu sebagai pengguna media sosial.
Tanda Cyberbullying yang Perlu Diketahui
“Cuma bercanda doang…”
“Kamunya aja yang baper…”
“Kalau enggak mau dikomentari, jangan bikin posting-an begitu…”
Pernah mendengar pernyataan-pernyataan ini? Pernyataan seperti contoh di
atas bisa membuat kamu mempertanyakan kembali ketidaknyamanan yang
dialami. Kemudian kamu pun bertanya-tanya dalam hati, apa memang benar
kamu yang terlalu sensitif?
Karena tuntutan dari komentar-komentar yang lain, akhirnya kamu
membenarkan kalau memang kamu yang terlalu sensitif dan sebenarnya tidak ada
yang salah dari komentar para netizen.
Besar kemungkinan, pembenaran inilah yang akan kamu bawa untuk
sebagai pegangan untuk melakukan hal yang sama ke orang lainnya. Tanpa sadar,
kamu semakin mengekalkan cyberbullying di media sosial.
Pada dasarnya, semua hal yang membuat tidak nyaman di media sosial, dan
tindakan negatif yang dilakukan secara berulang baik personal maupun
berkelompok adalah bentuk cyberbullying. Tidak memberi ruang pada komentar-
komentar negatif dan tidak menjadikan komentar-komentar jahat yang menghina
14
sebagai kebiasaan dan pembenaran untuk humor, adalah cara untuk menghentikan
cyberbullying di media sosial.
Yuk, sama-sama memulai menjadi pengguna media sosial yang bijak
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Perkembangan teknologi internet berdampak positif terhadap
perkembangan teknologi komunikasi. Dengan munculnya teknologi komunikasi
seperti media sosial, maka muncul pula isu cyber bullying. Cyber bullying
merupakan tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang
terhadap seseorang melalui text, gambar/foto, atau video yang cenderung
merendahkan dan melecehkan. Karakteristik media sosial yang memungkinkan
pengguna bertukar informasi secara cepat dan fitur yang memungkinkan pelaku
untuk menyembunyikan identitas menyebabkan tingkat kasus cyber bullying
terung meningkat. Cyber bullying menjadi sorotan bagi para pakar karena hal ini
sering terjadi pada para remaja. Berdasarkan ulasan yang ada, maka disarankan
15
para remaja harus memahami dan waspada terhadap cara penggunaan internet
yang tepat. Peran orang tua, sekolah, universitas, dan masyarakat dapat membantu
menekan kemungkinan terjadinya cyber bullying. Selain itu, media sosial perlu
berperan aktif dalam melakukan kampanye anti cyber bullying dan wajib
memiliki fitur yang menangani laporan-laporan terhadap kasus cyber bullying
yang terjadi.
3.2 Saran
Dalam penyusunan makalah ini, selaku penyusun kami tentunya mengalami
banyak kekeliruan dan kesalahan-kesalahan baik dalam ejaan, pilihan kata,
sistematika penulisan maupun penggunaan bahasa yang kurang di pahami.
Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, di karenakan kami masih
dalam tarap pembelajaran. Seperti ada pepatah mengatakan : “ Tak ada gading
yang tak retak “. Maka dari itu kami selaku penyusun mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun agar kami bisa lebih baik lagi dalam pembuatan
makalah berikutnya sehingga makalah berikutnya lebih sempurna dari pada
makalah sebelumnya. Demikianlah makalah yang sederhana ini mudah-mudahan
dapat bermanfaat. Amin...
16
DAFTAR PUSTAKA
Agatston, P. W., Kowalski, R., & Limber, S. (2007). Students' Perspectives on
Cyber Bullying. Journal of Adolescent Health, 41: 59 – 60.
Ahlqvist, T., Back, A., Halonen, M., Heinonen, S. (2012). Social Media
Roadmaps Exploring the futures triggered by social media. VTT
Tiedotteita – Valtion Teknillinen Tutkimuskeskus.
Fisher, E. (2013). From Cyber Bullying to Cyber Coping: The Misuse of Mobile
Technology and Social Media and Their Effects on People's Lives.
Business and Economic Research, 3(2):127-145.
Gonzales , R. H. (2014). Social Media as a Channel and its Implications on Cyber
Bullying. DLSU Research Congress 2014.
Kowalski, R. M., Limber, S. P. (2013). Psychological, Physical, and Academic
Correlates of Cyberbullying. Journal of Adolescent Health, 53(1):13 - 20.
Modecki, K. L., Minchin, J., Harbaugh, A. G., Guerra, N. G., Runions, K. C.
(2014). Bullying Prevalence Across Contexts: A Meta-analysis
Measuring. Journal of Adolescent Health, 55(5): 602 - 611.
Smith, P., Mahdavi, J., Carvalho, M., Fisher, S., Russel, S., Tippet, N. (2008).
Cyberbullying: its nature and impact in secondary school pupils. Journal
of Child Psychology and Psychiatry, 49(4): 376-385.
Wang, J., Lannoti, R. J., & Nansel, T. R. (2009). School Bullying Among
Adolescents in the United States: Physical, Verbal, Relational, and
Cyber. Journal of Adolescent Health, 45: 368 - 375.
17