0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan22 halaman

Pengaruh Media Sosial pada Cyber Bullying

Cyber bullying adalah tindakan bullying yang dilakukan melalui media digital seperti media sosial, chatting, dan ponsel secara berulang oleh sekelompok orang atau individu terhadap korban yang tidak mampu melawan.

Diunggah oleh

Ceevan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan22 halaman

Pengaruh Media Sosial pada Cyber Bullying

Cyber bullying adalah tindakan bullying yang dilakukan melalui media digital seperti media sosial, chatting, dan ponsel secara berulang oleh sekelompok orang atau individu terhadap korban yang tidak mampu melawan.

Diunggah oleh

Ceevan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP

PENINGKATAN KASUS CYBER BULLYING

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran Sosiologi

DISUSUN OLEH :

KELAS XI MIPA 5
KELOMPOK 1

1. ALAYSHA KHAIRA AZ-ZHARA

2. AULIA AZRIEL MUTANABBI

3. CEEVAN PATRICKK LUMBANTORUAN

4. DHEA SYAFITRI RAHMI

5. DWI MUFTI RAHMAN

6. ELFINA DAFFA RIANI

7. FELIA RIZKY KAMILA

SMA NEGERI 1 CIAMIS


TAHUN PELAJARAN 2021 – 2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah S.W.T, yang telah

melimpahkan hidayah-Nya kepada kita . Sholawat dan salam semoga tercurahkan

kepada Nabi Muhammad S.A.W. Tak lupa pada keluarganya , para sahabatnya

juga mudah-mudahan sampai kepada kita selaku umatnya. Amin

Alhamdulilah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Pengaruh

Media Sosial Terhadap Peningkatan Kasus Cyber Bullying. Makalah ini berisi

ulasan-ulasan yang membahas tentang media sosial dan cyber bullying yang dikaji

dalam ilmu semantik. Media sosial dan cyber bullying adalah dua hal yang saling

berkaitan yang akan menjadi dampak atau terjadinya proses bully. Kedua hal itu

walaupun banyak kesamaannya tapi juga banyak perbedaannya. Pertanyaannya,

apa itu cyber bullying? Apa itu media sosial? Apa pengaruh media sosial terhadap

cyber bulling? Bagaimana dampak dari adanya cyber bullying? Bagaimana upaya

yang dapat dilakukan untuk mengurangi masalah cyber bullying?. Hal tersebut akan

dibahas dalam makalah ini.

Namun dengan selesainya makalah ini tidak luput dari bantuan dari

beberapa pihak. Untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada:

1. Yang terhormat Ibu D r a . Atik Rostika selaku guru mata pelajaran

sosiologi SMA Negeri 1 Ciamis.

2. Kedua orang tua yang telah memberi motivasi dan mendukung kepada kami

baik moral dan material

3. Teman–teman yang telah memberi dorongan dan membantu dalam

menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari dengan selesainya makalah ini masih jauh dari


i
sempurna itu karena,keterbatasan ilmu yang kami [Link] itu kami

mengharapkan kritik dan saran dari pembaca .

Demikianlah makalah yang sederhana ini, mudah mudahan dapat

bermanfaat khususnya bagi kami umumnya bagi pembaca .Amin

Ciamis, Februari 2023

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................................1
1.1 Latar Belakang................................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................................2
1.3 Tujuan.............................................................................................................................2
1.4 Manfaat...........................................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................................4
2.1 Pengertian Cyber Bullying..............................................................................................4
2.2 Pengertian Medial Sosial................................................................................................6
2.3 Hubungan Media Sosial Dengan Meningkatnya Cyber Bullying....................................7
2.4 Dampak Cyber Bullying...............................................................................................10
2.5 Upaya Pencegahan Cyber Bullying..............................................................................12
BAB III PENUTUP......................................................................................................................15
3.1 Simpulan.............................................................................................................................15
3.2 Saran...................................................................................................................................16
BAB IV DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................17

iii
4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bullying merupakan salah satu tindakan perilaku agresif yang


disengaja dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang secara berulang-
ulang dan dari waktu ke waktu terhadap seorang korban yang tidak dapat
mempertahankan dirinya dengan mudah (Soetjipto, 2012). Salah satu riset
yang telah dilakukan oleh LSM Plan International dan International Center
for Research on Women (ICRW) yang di unggah awal Maret 2015 ini
menunjukkan hasil fakta mencengangkan terkait kekerasan anak di sekolah.
Di tingkat Asia, kasus bullyingyang terjadi pada siswa di sekolah mencapai
angka 70% (Qodar, 2015)

Kemajuan berbagai alat bantu audio visual di era sekarang telah


menyebabkan perubahan progresif dalam pendidikan yang melibatkan lebih
banyak ilustrasi dan demonstrasi, alat bantu audiovisual menjadi penting
dalam menyampaikan informasi yang diperlukan. Oleh sebab itu, penelitian
ini bertujuan untuk menilai perspektif siswa tentang penggunaan alat bantu
audiovisual dalam pengajaran (Souza,2014).

Pendidikan kesehatan melalui audiovisual sangat berpengaruh dalam


pemahaman responden tentang perilaku bullying (Suryaningseh, 2016). Hal
ini juga sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2010) bahwa pendidikan
merupakan suatu dasar penting dalam kehidupan manusia, karena semakin
tinggi pendidikan, maka semakin mudah untuk menerima hal baru dan lebih
mudah menyesuaikan dengan hal yang baru tersebut.

Tidak hanya memahami tentang bullying tetapi diperlukan juga norma


subjektif, norma subjektif merupakan suatu keyakinan seseorang terhadap apa
yang individu atau kelompok lain inginkan agar seseorang perbuat (Azwar,
2016). Didalam penelitian yang dilakukan Nadia (dalam Amalia, 2010)

1
norma subjektif tidak terlalu berpengaruh karena motivasi internal lebih
dominan dibandingkan dengan motivasi eksternal. Sikap terhadap perilaku
dipengaruhi oleh keyakinan bahwa perilaku tersebut akan membawakakepada
hasil yang diinginkan, keyakinan mengenai apa yang bersifat normatif
(Azwar,2016). Menurut penelitian yang dilakukan Heirman (2012)
tentangnorma subjektif mendukung anggapan bahwa remaja peduli dengan
pendapat orang lain yang signifikan, dengan remaja merasakan tekanan sosial
negatif terhadap bullying, maka sebagai remaja dapat menunjukkan niat yang
lebih rendah untuk melakukan itu.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan cyber bullying ?

2. Apa yang dimaksud dengan media sosial ?

3. Apa pengaruh media sosial terhadap cyber bullying ?

4. Bagaimana dampak dari adanya cyber bullying ?

5. Bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi masalah cyber


bullying ?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian dari cyber bullying.

2. Untuk mengetahui pengertian dari media sosial.

3. Untuk mengetahui pengaruh dari media sosial terhadap cyber bullying.

4. Untuk mengetahui dampak dari cyber bullying.

5. Untuk mengetahui upaya mengurangi masalah cyber bullying.

2
1.4 Manfaat

Manfaat dari penulisan makalah ini, diharapkan dapat memberikan

manfaat baik secara teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis, makalah

ini diharapkan dapat bermanfaat dan memberi pengetahuan baru mengenai

media sosial terhadap cyber bullying .Secara praktis, makalah ini disusun

dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi :

a. Penulis Penulis diharapkan setelah membuat dan

mempresentasikan makalah ini dapat lebih memahami dalam

penjelasan tentang cyber bullying dan media sosial.

b. Pembaca Semoga setelah membaca makalah ini, pembaca dapat

mengetahui dan memahami cyber bullying dan media sosial.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Cyber Bullying

Cyberbullying (perundungan dunia maya) ialah bullying/perundungan

dengan menggunakan teknologi digital. Hal ini dapat terjadi di media sosial,

platform chatting, platform bermain game, dan ponsel. Adapun menurut Think

Before Text, cyberbullying adalah perilaku agresif dan bertujuan yang dilakukan

suatu kelompok atau individu, menggunakan media elektronik, secara berulang-

ulang dari waktu ke waktu, terhadap seseorang yang dianggap tidak mudah

melakukan perlawanan atas tindakan tersebut. Jadi, terdapat perbedaan kekuatan

antara pelaku dan korban. Perbedaan kekuatan dalam hal ini merujuk pada sebuah

persepsi kapasitas fisik dan mental.

Cyberbullying merupakan perilaku berulang yang ditujukan untuk

menakuti, membuat marah, atau mempermalukan mereka yang menjadi

sasaran. Contohnya termasuk:

 Menyebarkan kebohongan tentang seseorang atau memposting foto

memalukan tentang seseorang di media sosial

4
 Mengirim pesan atau ancaman yang menyakitkan melalui platform

chatting, menuliskan kata-kata menyakitkan pada kolom komentar media

sosial, atau memposting sesuatu yang memalukan/menyakitkan

 Meniru atau mengatasnamakan seseorang (misalnya dengan akun

palsu atau masuk melalui akun seseorang) dan mengirim pesan jahat kepada

orang lain atas nama mereka.

 Trolling - pengiriman pesan yang mengancam atau menjengkelkan

di jejaring sosial, ruang obrolan, atau game online

 Mengucilkan, mengecualikan, anak-anak dari game online,

aktivitas, atau grup pertemanan

 Menyiapkan/membuat situs atau grup (group chat, room chat) yang

berisi kebencian tentang seseorang atau dengan tujuan untuk menebar

kebencian terhadap seseorang

 Menghasut anak-anak atau remaja lainnya untuk mempermalukan

seseorang

 Memberikan suara untuk atau menentang seseorang dalam jajak

pendapat yang melecehkan

 Membuat akun palsu, membajak, atau mencuri identitas online

untuk mempermalukan seseorang atau menyebabkan masalah dalam

menggunakan nama mereka

 Memaksa anak-anak agar mengirimkan gambar sensual atau

terlibat dalam percakapan seksual.

5
Bullying secara langsung atau tatap muka dan cyberbullying seringkali

dapat terjadi secara bersamaan. Namun cyberbullying meninggalkan jejak

digital – sebuah rekaman atau catatan yang dapat berguna dan memberikan

bukti ketika membantu menghentikan perilaku salah ini.

2.2 Pengertian Medial Sosial

Media sosial merupakan kombinasi dari tiga elemen, yaitu content,

komunitas, dan teknologi Web 2.0. Perkembangan dari media sosial akan

berdampak pada tiga area, yaitu masyarakat, perusahaan, dan lingkungan local

(Ahlqvist et. al., 2012). Media sosial bergantung terhadap teknologi mobile dan

web-based untuk membuat platform interaktif tempat pengguna berbagi,

berdiskusi, dan memodifikasi sebuah konten. Bedasarkan data dari Nielsen,

jumlah pengguna internet terus meningkat karena adanya situs media sosial

dibandingkan dengan tipe situs lainnya.

Teknologi media sosial menggabungkan model-model seperti majalah, forum

internet, weblogs, sosial blog, microblogging, wikis, jaringan sosial, gambar,

video, dan lain-lain. Dengan mengaplikasikan beberapa model tersebut, maka

terdapat enam tipe media sosial:

(1) Projek Kolaboratif, seperti Wikipedia.

(2) Blogs dan Mikroblog, seperti Twitter dan Tumblr.

(3) Komunitas konten, seperti YouTube dan DailyMotion.

6
(4) Situs Social Networking, seperti Facebook.

(5) Virtual game-worlds, seperti World of Warcraft.

(6) Virtual social worlds, seperti Second Life

Media sosial mobile merupakan kombinasi antara peralatan mobile

(handphone, tablet, dll) dan media sosial. Media social mobile berbeda dengan

media sosial di web karena terdapat faktor baru yaitu lokasi dari pengguna

(location-sensitivity) atau waktu delay antara mengirim dan menerima pesan

(time-sensitivity). Aplikasi media sosial mobile dapat dibedakan menjadi empat

tipe:

(1) Spacetimers (location dan time sensitive): Pertukaran pesan yang

bergantung terhadap lokasi spesifik dan pada waktu tertentu. Contoh:

Facebook Places, Foursquare.

(2) Space-locators (location sensitive): Pertukaran antara pesan yang

bergantung pada lokasi tempat yang spesifik. Contoh: Yelp.

(3) Quicktimers (time sensitive): Perubahan dari tradisional aplikasi media

sosial menjadi menggunakan mobile device untuk meningkatkan kesegeraan.

Contoh: Twitter messages, Facebook Status updates.

(4) Slowtimers (bukan location sensitive ataupun timesensitive): Perubahan

dari tradisional aplikasi media sosial menjadi mobile devices.

2.3 Hubungan Media Sosial Dengan Meningkatnya Cyber Bullying

Menurut Reginald H. Gonzales, Cyber bullying terjadi ketika baik korban maupun

7
pelaku merupakan orang di bawah umur. Ketika orang dewasa yang terlibat, maka cyber

bullying meningkat menjadi cyber stalking atau cyber harassment, sebuah kejahatan yang

dapat memiliki konsekuensi secara hukum. Cyber bullying dapat dilakukan dengan

menggunakan teknologi komunikasi untuk menyerang pihak lain secara sengaja dan terus

menerus. Media sosial sangat meningkatkan kemampuan komunikasi dengan platform

komunikasi yang berbeda. Dengan terus meningkanya jumlah pengguna internet, maka

masalah cyber bullying semakin serius. Tingkat kekhawatiran pengguna internet dan

pihak berwenang pun semakin meningkat.

Menurut Ahli Pendapat

Tanpa media sosial maka tidak akan terdapat cyber


Mr. T. J. Dimacali
bullying.

Media sosial memungkinkan pengguna secara online

melakukan cyber bullying karena fasilitas posting dan

Prof. Danilo Arao penyebaran konten online sangat mudah dan sama

mudahnya ketika memberikan reaksi terhadap konten

tersebut.

Permasalahan pada cyber bullying terjadi pada saat

Mr. Mark Madrona munculnya media sosial. Sebelum adanya media sosial

maka tidak ada cyber bullying.

Pelaku menjadi memiliki kekuatan untuk membuat


Atty. Abel
sasaran lebih luas melalui media sosial karena bersifat
Maglanque
anonim.

Mr. Jose Descallar Cyber bullying tejadi ketika media sosial seperti

Facebook dan Twitter memiliki fitur untuk menyimpan

8
text.

Media sosial merupakan media yang sempuran bagi


Insp. Kimberly
penjahat cyber untuk melakukan aksinya karena
Gonzales
merupakan komunitas terbuka bagi siapapun.

Cyber bullying pada media sosial memiliki efek positif


Prof. Nymia
karena kasusnya terangkat ke tempat public sehingga
Simbulan
bukti yang ada dapat dengan mudah diakses.

Atty. Christopher Semua orang saling terhubung melalui media sosia,

Lao sehingga penyebaran informasi menjadi sangat cepat.

Menurut Gonzales (2014), media sosial menyebabkan terjadinya cyber bullying.

Media sosial sebagai sebuah alat yang dirancang untuk tujuan komunikasi, kemudian

digunakan secara salah dengan merugikan orang lain. Proses pencegahan cyber bullying

memerlukan ukuran yang jelas untuk menghindari kemungkinan kerusakan yang ada.

Pertama adalah memaksakan disiplin diri di antara pengguna media sosial. Ketika

membuat akun media sosial, maka pengguna perlu memahami kegunaannya, tujuan,

kemampuan, kemungkinan efek yang ada. Cyber bullying terjadi karena kekurangan

pengetahuan yang ada.

Menurut Fisher (2013), penyalahgunaan teknologi mobile dan jaringan media sosial

menjadi permasalahan hampir di seluruh dunia. Cyber bullying bukan merupakan hal

yang sering terdengar beberapa tahun yang lalu. Teknologi mobile memungkinkan

manusia berkomunikasi kapan pun dan di mana pun. Teknologi mobile memungkinkan

untuk mengirimkan foto dan video kepada teman atau keluarga dengan sangat mudah

(cukup mengklik sebuah tombol). Revolusi ini mengubah hidup manusia secara luar

9
biasa. Hal major yang paling terasa pada anak-anak dan remaja yang memiliki telepon

seluler dan komputer pribadi adalah tersedianya akses informasi yang tidak terbatas dan

memungkinan mereka untuk bertukar informasi lintas dunia. Orang dewasa mungkin

sudah memiliki pandangan untuk tidak mempercayai dan menggunakan teknologi

sepenuhnya namun pada remaja, mereka belum memiliki pandangan yang seimbang dan

bijaksana terhadap teknologi yang ada. Teknologi membutuhkan tanggung jawab agar

tidak merugikan orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun pada

kenyataanya, penyalahgunaan teknologi meningkat sehingga menyebabkan banyak

insiden seperti aksi dan tindakan mengancam, melecehkan, mempermalukan serta

menghina. Insinden-insiden ini disebut sebagai cyber bullying. Penyalahgunaan teknologi

mobile telah menarik perhatian orang tua, psikolog sosial, dan lembaga-lembaga seperti

sekolah dan universitas. Berikut ini merupakan proses mitigasi yang menolong remaja

remaja untuk berpindah dari cyber bullying menuju cyber coping

2.4 Dampak Cyber Bullying

Bullying terjadi secara online, kamu bisa merasa seperti diserang dari mana-

mana, bahkan di dalam rumahmu sendiri. Sepertinya tidak ada jalan untuk keluar.

Dampaknya dapat bertahan lama dan memengaruhi seseorang dalam banyak cara:

 Secara Mental — merasa kesal, malu, bodoh, bahkan marah

 Secara Emosional — merasa malu atau kehilangan minat pada hal-hal

yang kamu sukai

 Secara Fisik — lelah (kurang tidur), atau mengalami gejala seperti sakit

perut dan sakit kepala

10
Perasaan ditertawakan atau dilecehkan oleh orang lain dapat membuat

seseorang tidak ingin membicarakan atau mengatasi masalah tersebut. Dalam

kasus ekstrim, cyberbullying bahkan dapat menyebabkan seseorang mengakhiri

nyawanya sendiri.

Cyberbullying dapat mempengaruhi kita dengan berbagai cara, tetapi

tentunya masalah ini dapat diatasi dan orang-orang yang terdampak juga dapat

memperoleh kembali kepercayaan diri dan kesehatan mental mereka.

Semua anak yang terpapar oleh cyberbullying dapat menderita: baik itu

korban, pelaku dan orang menyaksikan cyberbullying.

Anak-anak yang mengalami cyberbullying, umumnya:

 Menunjukkan ciri-ciri depresi 

 Memiliki masalah kepercayaan dengan orang lain

 Tidak diterima oleh rekan-rekan mereka

 Selalu waspada dan curiga terhadap orang lain (kekhawatiran berlebih)

 Memiliki masalah menyesuaikan diri dengan sekolah

 Kurang motivasi sehingga sulit fokus dalam mengikuti pembelajaran

Dampak bagi korban:

1. Dampak psikologis: mudah depresi, marah, timbul perasaangelisah, cemas,

menyakiti diri sendiri, dan perfobaan bunuh diri

11
2. Dampak sosial: menarik diri, kehilangan kepercayaan diri, lebih agresif

kepada teman dan keluarga 

3. Dampak pada kehidupan sekolah: penurunan prestasi akademik, rendahnya

tingkat kehadiran, perilaku bermasalah di sekolah. 

Dampak bagi Pelaku:

Cenderung bersifat agresif, berwatak keras, mudah marah, impulsif, lebih

ingin mendominasi orang lain, kurang berempati, dan dapat dijauhi oleh orang

lain.

Dampak bagi yang menyaksikan (bystander):

Jika cyberbullying dibiarkan tanpa tindak lanjut, maka orang yan

menyaksikan dapat berasumsi bahwa cyberbullying adalah perilaku yang diterima

secara sosial. Dalam kondisi ini, beberapa orang mungkin akan bergabung dengan

penindas karena takut menjadi sasaran berikutnya dan beberapa lainnya mungkin

hanya akan diam saja tanpa melakukan apapun dan yang paling parah mereka

merasa tidak perlu menghentikannya.

2.5 Upaya Pencegahan Cyber Bullying

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan di Journal of Child and


Adolescent Counseling, anak remaja menghabiskan banyak waktu di media sosial
lebih berisiko mengalami dan terlibat dalam cyberbullying. Lantas, bagaimana
cara mencegah cyberbullying di media sosial

Berpikir Sebelum Berkomentar Dapat Mencegah Cyberbullying Keberadaan


media sosial dengan kolom komentarnya memberikan efek dopamin kepada
pengguna. Banyak juga di antaranya yang kecanduan melayangkan komentar
sehingga sebagian besar waktunya hanya dihabiskan untuk berselancar di media

12
sosial.

Ada sensasi menyenangan ketika mendapatkan jumlah likes, komentar di


posting-an ataupun mendapatkan balasan, dukungan atas komentar yang
diberikan untuk suatu isu. Ada dorongan untuk meluapkan emosi,
mengungkapkan perasaan, mendapatkan persetujuan untuk suatu argumen.
Namun, bisa jadi ini semua memicu tindakan cyberbullying.

Upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah cyberbullying di media adalah :

1. Jangan Terlalu Sering Posting

Seperti kata pepatah, tidak akan ada asap jika tidak ada api. Mungkin kamu
tidak bisa mengatur komentar orang, tetapi kamu bisa mengelola apa-apa saja
yang bisa dibagi di media sosial pribadi.

Apalagi kalau kamu tipe orang yang mudah tersinggung, menghindari over-
posting dapat membantu menjaga kesehatan mental dengan terhindar dari
komentar-komentar netizen yang belum tentu positif buat mentalmu.

2. Batasi Komentar yang Tidak Penting

Tidak perlu menambahi isu yang sudah panas dengan komentar-komentar


yang semakin memperuncing masalah, atau ikut menghakimi subjek di suatu
posting-an. Mungkin kamu merasa lega setelah mengungkapkan pendapat, tapi
coba bayangkan, bagaimana bila orang yang sedang dibicarakan di dalam posting-
an tersebut membaca dan terpuruk karenanya? Jadi, berempatilah, kalau memang
ingin berkomentar, tetap gunakan empati dan jangan menghakimi.

3. Batasi Penggunaan Media Sosial

Terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial bisa meningkatkan


penggunaan yang tak perlu. Salah satunya membalasi komentar atau memberikan
komentar-komentar mengandung SARA di posting-an pengguna lain. Pada

13
akhirnya, ini bisa memicu ketidaknyamanan, stres dan memperparah kondisi
netizen yang sedang dalam ketidakstabilan mental.

4. Jangan Mudah Terpancing

Selain membatasi postingan, kamu juga perlu membatasi diri untuk


mengomentari sesuatu di internet. Selain itu, ketika kamu mendapatkan komentar
tidak menyenangkan di media sosial, jangan langsung terpancing. Ada pilihan
delete, block, atau report untuk segala sesuatu yang mengganggu
ketidaknyamananmu sebagai pengguna media sosial.

Tanda Cyberbullying yang Perlu Diketahui

“Cuma bercanda doang…”

“Kamunya aja yang baper…”

“Kalau enggak mau dikomentari, jangan bikin posting-an begitu…”

Pernah mendengar pernyataan-pernyataan ini? Pernyataan seperti contoh di


atas bisa membuat kamu mempertanyakan kembali ketidaknyamanan yang
dialami. Kemudian kamu pun bertanya-tanya dalam hati, apa memang benar
kamu yang terlalu sensitif?

Karena tuntutan dari komentar-komentar yang lain, akhirnya kamu


membenarkan kalau memang kamu yang terlalu sensitif dan sebenarnya tidak ada
yang salah dari komentar para netizen.

Besar kemungkinan, pembenaran inilah yang akan kamu bawa untuk


sebagai pegangan untuk melakukan hal yang sama ke orang lainnya. Tanpa sadar,
kamu semakin mengekalkan cyberbullying di media sosial.

Pada dasarnya, semua hal yang membuat tidak nyaman di media sosial, dan
tindakan negatif yang dilakukan secara berulang baik personal maupun
berkelompok adalah bentuk cyberbullying. Tidak memberi ruang pada komentar-
komentar negatif dan tidak menjadikan komentar-komentar jahat yang menghina

14
sebagai kebiasaan dan pembenaran untuk humor, adalah cara untuk menghentikan
cyberbullying di media sosial.

Yuk, sama-sama memulai menjadi pengguna media sosial yang bijak

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Perkembangan teknologi internet berdampak positif terhadap

perkembangan teknologi komunikasi. Dengan munculnya teknologi komunikasi

seperti media sosial, maka muncul pula isu cyber bullying. Cyber bullying

merupakan tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang

terhadap seseorang melalui text, gambar/foto, atau video yang cenderung

merendahkan dan melecehkan. Karakteristik media sosial yang memungkinkan

pengguna bertukar informasi secara cepat dan fitur yang memungkinkan pelaku

untuk menyembunyikan identitas menyebabkan tingkat kasus cyber bullying

terung meningkat. Cyber bullying menjadi sorotan bagi para pakar karena hal ini

sering terjadi pada para remaja. Berdasarkan ulasan yang ada, maka disarankan

15
para remaja harus memahami dan waspada terhadap cara penggunaan internet

yang tepat. Peran orang tua, sekolah, universitas, dan masyarakat dapat membantu

menekan kemungkinan terjadinya cyber bullying. Selain itu, media sosial perlu

berperan aktif dalam melakukan kampanye anti cyber bullying dan wajib

memiliki fitur yang menangani laporan-laporan terhadap kasus cyber bullying

yang terjadi.

3.2 Saran

Dalam penyusunan makalah ini, selaku penyusun kami tentunya mengalami

banyak kekeliruan dan kesalahan-kesalahan baik dalam ejaan, pilihan kata,

sistematika penulisan maupun penggunaan bahasa yang kurang di pahami.

Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, di karenakan kami masih

dalam tarap pembelajaran. Seperti ada pepatah mengatakan : “ Tak ada gading

yang tak retak “. Maka dari itu kami selaku penyusun mengharapkan kritik dan

saran yang sifatnya membangun agar kami bisa lebih baik lagi dalam pembuatan

makalah berikutnya sehingga makalah berikutnya lebih sempurna dari pada

makalah sebelumnya. Demikianlah makalah yang sederhana ini mudah-mudahan

dapat bermanfaat. Amin...

16
DAFTAR PUSTAKA
Agatston, P. W., Kowalski, R., & Limber, S. (2007). Students' Perspectives on
Cyber Bullying. Journal of Adolescent Health, 41: 59 – 60.

Ahlqvist, T., Back, A., Halonen, M., Heinonen, S. (2012). Social Media
Roadmaps Exploring the futures triggered by social media. VTT
Tiedotteita – Valtion Teknillinen Tutkimuskeskus.

Fisher, E. (2013). From Cyber Bullying to Cyber Coping: The Misuse of Mobile
Technology and Social Media and Their Effects on People's Lives.
Business and Economic Research, 3(2):127-145.

Gonzales , R. H. (2014). Social Media as a Channel and its Implications on Cyber


Bullying. DLSU Research Congress 2014.

Kowalski, R. M., Limber, S. P. (2013). Psychological, Physical, and Academic


Correlates of Cyberbullying. Journal of Adolescent Health, 53(1):13 - 20.

Modecki, K. L., Minchin, J., Harbaugh, A. G., Guerra, N. G., Runions, K. C.


(2014). Bullying Prevalence Across Contexts: A Meta-analysis
Measuring. Journal of Adolescent Health, 55(5): 602 - 611.

Smith, P., Mahdavi, J., Carvalho, M., Fisher, S., Russel, S., Tippet, N. (2008).
Cyberbullying: its nature and impact in secondary school pupils. Journal
of Child Psychology and Psychiatry, 49(4): 376-385.

Wang, J., Lannoti, R. J., & Nansel, T. R. (2009). School Bullying Among
Adolescents in the United States: Physical, Verbal, Relational, and
Cyber. Journal of Adolescent Health, 45: 368 - 375.

17

Anda mungkin juga menyukai