BAB II
DASAR TEORI
Bab ini membahas mengenai teori-teori pendukung yang digunakan sebagai
acuan dalam merancang tugas akhir ini.
2.1 Solenoid
Solenoid adalah sebuah kawat konduktor yang dililitkan secara rapat dan
berbentuk spiral. Gaya yang dihasilkan oleh solenoid dapat dirumuskan sebagai
berikut[1]:
F B l I …………………………………………………..............................(2.1)
Di mana :
F = Gaya Solenoid (N)
B = Kerapatan Flux Magnetik (T)
l = Panjang Solenoid (m)
I = Arus (A)
Dengan memanfaatkan gaya yang dihasilkan oleh solenoid saat dialiri arus,
maka solenoid dapat dipakai untuk beberapa aplikasi salah-satunya adalah solenoid
elektro-mekanis.
Solenoid tipe ini bekerja dengan cara menambahkan inti besi atau bahan
feromagnetik lainnya yang berbentuk silinder dan dapat bergerak bebas di dalam
kumparan. Ini menyebabkan inti besi tertarik ke arah kumparan jika kumparan
dialiri arus listrik.
Karena solenoid dapat mengubah arus listrik dan menyimpannya menjadi medan
magnet maka solenoid juga mempunyai sifat seperti induktor. Induktansi dari
sebuah solenoid dapat dirumuskan sebagai berikut[1]:
4
r1 r2 2
0.015 N 2 ( )
L 2 …………………………………….....(2.2)
r r
6 1 2 9 l 10 (r2 r1 )
2
Di mana :
L = Induktansi (mH)
𝑁 = Jumlah lilitan
r1 = Jari-jari dalam solenoid (m)
r2 = Jari-jari total solenoid (m)
𝑙 = Panjang solenoid (m)
Gambar 2.1 Solenoid [3]
5
2.2 Topologi DC to DC booster
Gambar 2.2 Skema Topologi DC to DC booster[4]
DC to DC booster adalah sebuah topologi catu daya yang dapat membuat
tegangan keluaran lebih tinggi dibandingkan dengan tegangan masukan. DC to DC
booster termasuk tipe catu daya tersaklar karena mempunyai 2 siklus yaitu siklus
“on” dan siklus “off”. Pada saat siklus on sebuah saklar akan terhubung singkat
dengan ground sehingga arus pada induktor akan meningkat dan dikonversi oleh
induktor sebagai medan magnet. Pada saat siklus off saklar akan terputus sehingga
arus pada induktor berkurang dan medan magnet induktor akan meluruh, membuat
polaritas tegangan dari induktor terbalik serta tegangan induktor akan meningkat,
proses ini menjadikan tegangan keluaran yang dirasakan oleh beban merupakan
hasil penjumlahan dari tegangan input dan juga tegangan induktor. Arus input dari
topologi ini adalah konstan atau tidak berdenyut sedangkan arus keluarannya tidak
konstan karena dioda hanya menghantarkan arus sesaat dari total keseluruhan
siklus[4].
6
2.3 LM555
LM555 merupakan sebuah integrated circuit (IC) yang dapat digunakan sebagai
penghasil waktu tunda yang akurat atau bisa juga menjadi sebuah pembangkit
osilasi. LM555 dapat dibagi menjadi 2 mode operasi yaitu operasi monostable dan
operasi astable. Untuk menghasilkan sebuah gelombang kotak yang digunakan
untuk memicu saklar dalam topologi DC to DC booster, LM555 perlu bekerja pada
mode operasi astable[5].
Gambar 2.3 Blok Diagram LM555[5]
Gambar 2.4 Rangkaian Mode Operasi Astable LM555[5]
7
2.4 Thyristor
Thyristor adalah komponen elektronika yang berfungsi sebagai saklar (switch)
atau pengendali yang terbuat dari bahan semikonduktor. Thyristor yang secara
ekslusif bertindak sebagai saklar ini pada umumnya memiliki dua hingga empat
kaki terminal. Pada prinsipnya, Thyristor yang berterminal tiga akan menggunakan
arus atau tegangan rendah yang diberikan pada salah satu kaki terminalnya untuk
mengendalikan aliran arus atau tegangan tinggi yang melewati dua terminal
lainnya. Sedangkan untuk Thyristor yang berterminal dua yang tidak memiliki
terminal kendali (GATE), fungsi saklarnya akan diaktifkan apabila tegangan pada
kedua terminalnya mencapai level tertentu. Level tegangan yang dimaksud tersebut
biasanya disebut dengan Breakdown Voltage atau Breakover Voltage. Pada saat
dibawah tegangan breakdownnya, kedua kaki terminal tidak akan mengaliri arus
listrik atau berada di posisi OFF [6]. Thyristor sendiri dapat dibagi menjadi 4 jenis
yaitu : Silicon Controlled Rectifier (SCR), Silicon Controlled Switch (SCS), Diode
Alternating Current (DIAC) dan Triode Alternating Current (TRIAC). Yang pada
skripsi ini akan digunakan thyristor dengan jenis SCR dan tipe Semikron SKKT
41/12D.
Gambar 2.5 Lambang Jenis-Jenis Thyristor[6]
8
2.5 Optocoupler
Optocoupler adalah sebuah komponen yang digunakan untuk mentransfer sinyal
elektrik diantara kedua untai yang terisolasi menggunakan media cahaya.
Optocoupler bekerja dengan cara mengubah sinyal input yang diterima menjadi
cahaya dan akan diterima disisi yang berbeda melalui sebuah sensor. Sensor
tersebut dapat berupa photoresistor, phototransistor, photodiode, SCR atau TRIAC.
Optocoupler yang digunakan adalah optocoupler dengan tipe 4N25 yang memiliki
spesifikasi sebagai berikut :
Tabel 2.1 Spesifikasi Optocoupler 4N25[7]
Gambar 2.6 Konfigurasi Pin Optocoupler 4N25 [7]
9
2.6 Operational Amplifier
Operational Amplifier atau yang biasa disebut op-amp merupakan suatu jenis
penguat elektronika dengan DC coupling yang mempunyai nilai penguatan yang
sangat besar dan terdiri dari 2 masukan serta 1 keluaran. Operational Amplifier
adalah perangkat yang sangat efisien dan serba guna. Contoh penggunaan dari
Operational Amplifier adalah untuk operasi matematika sederhana seperti
penjumlahan dan pengurangan terhadap tegangan listrik hingga dikembangkan
kepada penggunaan aplikatif seperti komparator dan osilator dengan distorsi
rendah. Operational Amplifier dalam paket IC, mempunyai karakteristik yang
mendekati dari karakteristik Operational Amplifier ideal. Yaitu[8] :
Penguatan tegangan tidak terbatas.
Impedansi masukan tidak terbatas.
Impedansi keluaran sama dengan nol.
Bandwith tidak terbatas.
Tegangan offset sama dengan nol.
Gambar 2.7 Lambang Operational Amplifier[8]
10