0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
62 tayangan54 halaman

Landasan Pendidikan di Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang bahan ajar landasan pendidikan. Isinya mencakup pengertian pendidikan, tujuan pendidikan menurut berbagai peraturan perundang-undangan, lembaga dan praktek pendidikan, serta pendidikan sebagai sistem yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Diunggah oleh

Luh Putu Agustini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
62 tayangan54 halaman

Landasan Pendidikan di Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang bahan ajar landasan pendidikan. Isinya mencakup pengertian pendidikan, tujuan pendidikan menurut berbagai peraturan perundang-undangan, lembaga dan praktek pendidikan, serta pendidikan sebagai sistem yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Diunggah oleh

Luh Putu Agustini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAHAN AJAR

LANDASAN PENDIDIKAN

OLEH

NI KOMANG ARYANI [Link]., [Link].

NIDN 0812078902

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
AGAMA HINDU AMLAPURA
2022

1
BAB I
PENDIDIKAN

1.1 Pengertian Pendidikan


Pendidikan adalah usaha untuk memanusiakan manusia. Subjek, objek atau
sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu manusia
untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Oleh karena
keberadaan manusia yang tidak dapat terlepas dari lingkungannya maka
berlangsungnya proses pendidikan itu selamanya akan berkaitan erat dengan
lingkungan dan akan saling mempengaruhi secara timbal balik.
Secara umum, pengertian pendidikan adalah suatu proses pembelajaran
pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekumpulan manusia yang diwariskan
dari satu genereasi ke generasi selanjutnya melalui pengajaran, pelatihan, dan
penelitian. Ada juga yang mengatakan definisi pendidikan adalah suatu usaha sadar
yang dilakukan secara sistematis dalam mewujudkan suasana belajar-mengajar agar
para peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya. Dengan adanya
pendidikan maka seseorang dapat memiliki kecerdasan, akhlak mulia, kepribadian,
kekuatan spiritual, dan keterampilan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan
masyarakat. Dalam bahasa Inggris, kata pendidikan disebut dengan Education
dimana secara etimologis kata tersebut berasal dari bahasa Latin, yaitu Eductum.
Kata Eductum terdiri dari dua kata, yaitu E yang artinya perkembangan dari dalam
keluar, dan Duco yang artinya sedang berkembang. Sehingga secara etimologis arti
pendidikan adalah proses mengembangkan kemampuan diri sendiri dan kekuatan
individu. Jadi, secara singkat pengertian pendidikan adalah suatu proses
pembelajaran kepada peserta didik agar memiliki pemahaman terhadap sesuatu dan
membuatnya menjadi seorang manusia yang kritis dalam berpikir.
Pengertian pendidikan menurut UU No 20 tahun 2003 adalah sebagai usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
sehingga peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak
mulia, serta ketrampilan yang diperlukan, masyarakat, bangsa dan Negara.

2
1.2 Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan menurut UU No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan adalah:
• Pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan,
kepribadian, ahlak mulia, ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti
pendidikan lebih lanjut
• Pendidikan menengah umum bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, ahlak mulia, ketrampilan untuk hidup mandiri dan
mengikuti pendidikan lebih lanjut. Untuk pendidikan menengah kejuruan pada
point terakhir adalah mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan
kejuruannya.
• Tujuan pendidikan tinggi adalah untuk mempersiapkan peserta didik menjadi
anggota masyarakat yang berahlak mulia, memliki pengethuan, terampil,
mandiri dan mampu menemukan, mengembangkan, dan menerapkan ilmu,
teknologi, serta seni yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
Secara umum tujuan-tujuan pendidikan di Indonesia mencakup tiga ranah
perkembangan manusia yaitu (1) afektif, (2) Kognisi dan (3) psikomotor.
Tujuan pendidikan juga disebutkan di dalam Undang-Undang Republik
Indonesia, diantaranya:
1. UU No. 2 Tahun 1985
Tujuan pendidikan menurut UU No. 2 Tahun 1985 adalah untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang
seutuhnya, yaitu bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki
pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, memiliki budi pekerti luhur,
mandiri, kepribadian yang mantap, dan bertanggungjawab terhadap bangsa.
2. UU. No. 20 Tahun 2003
Menurut UU. No.20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.

3
3. MPRS No. 2 Tahun 1960
Menurut MPRS No. 2 Tahun 1960, tujuan pendidikan adalah membentuk
manusia yang berjiwa Pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan
yang dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 945.

1.3 Lembaga dan Praktek Pendidikan


Lembaga pendidikan di Indonesia secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu:
1. Lembaga pendidikan jalur formal, yaitu: (a) lembaga pendidikan
prasekolah, (b) lembaga pendidikan dasar (SD dan SMP), (c) lembaga
pendidikan menengah/SMA dan SMK, (d) lembaga pendidikan tinggi
2. Lembaga pendidikan jalur nonformal
3. Lembaga pendidikan jalur informal pada keluarga dan masyarakat

1.4 Pendidikan Sebagai Sistem


Segala sesuatu yang ada di dunia ini, dari yang besar hingga yang kecil, dari
tata surya hingga seekor semut, dapat dipandang sebagai sistem. Apabila
pandangan ditujukan pada sebuah sistem tertentu maka sistem-sistem lain di luar
sistem dimaksud di pandang sebagai supra sistem. Misalnya saja kita sedang
menujukan pandangan kepada pendidikan maka sistem-sistem yang lain di luar
sistem pendidikan seperti sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial, sistem
pasar, dan sebagainya dapat dipandang sebagai supra sistem.
Berjalannya sebuah sistem adakalanya berhubungan dengan supra
sistemnya dan adakalanya tidak berhubungan dengan supra sistemnya. Apabila
berjalannya sebuah sistem berhubungan dengan supra sistemnya maka sistem
tersebut dinamakan sistem terbuka. Misalnya sekolah, pasar, rumah sakit, manusia
(orang), sapi, tanaman, dan sebagainya. Sebaliknya, jika sebuah sistem berjalan
tanpa berhubungan dengan supra sistemnya melainkan hanya berhubungan dengan
komponen-komponen yang ada di dalam sistem saja maka sistem yang demikian
disebut sebagai sistem tertutup. Misalnya jam, kipas angin, AC, dan sebagainya.
Namun demikian perlu disadari bahwa sebenarnya tidak ada sistem yang
sepenuhnya terbuka dan tidak ada pula sistem yang sepenuhnya tertutup.

4
Pendidikan merupakan salah satu sistem terbuka, karena pendidikan itu
tidak akan dapat berjalan dengan sendirinya tanpa berhubungan dengan sistem-
sistem lain di luar sistem pendidikan. Ciri-ciri pendidikan sebagai sebuah sistem
terbuka antara lain:
1. Mengimpor energi, materi, dan informasi dari luar. Pendidikan
mendatangkan pengajar, uang, alat-alat belajar, para peserta didik, dan
sebagainya dari luar lembaga Pendidikan.
2. Memiliki pemroses. Pendidikan memproses peserta didik dalam aktivitas
belajar dan pembelajaran.
3. Menghasilkan output atau mengekspor energi, materi, dan informasi.
4. Merupakan kejadian yang berantai. Memproses peserta didik (input
pendidikan) merupakan kegiatan yang beruang-ulang dan saling
berkaitan.
5. Memiliki negative entroppy, yaitu suatu usaha untuk menahan
kepunahan dengan cara membuat impor lebih besar dari pada ekspor.
Dalam pendidikan hal ini dilakukan dengan cara mengantisipasi
perubahan lingkungan dan memperbaiki kerusakan.
6. Memiliki alur informasi sebagai umpan balik untuk memperbaiki diri.
Segala informasi yang terkait dengan pendidikan dimanfaatkan oleh
penyelenggara pendidikan untuk mengambil keputusan dalam rangka
mempertahankan dan memperbaiki pendidikan.
7. Ada kestabilan yang dinamis. Pendidikan selalu dinamis mencari yang
baru, memperbaiki diri, memajukan diri agar tidak ketinggalan zaman,
bahkan berusaha mengantisipasi dan menyongsong masa depan.
8. Memiliki deferensiasi, yakni spesialisasi-spesialisasi. Dalam organisasi
pendidikan ada bagian pengajaran, keuangan, kepegawaian, kesiswaan/
kemahasiswaan dan sebagainya. Masing-masing bagian ini masih dapat
dipilah-pilah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi.
9. Ada prinsip equifinalty, yaitu banyak jalan untuk mencapai tujuan yang
sama. Para pendidik boleh berkreasi menciptakan cara-cara baru yang
lebih baik dalam usaha memajukan pendidikan.

5
Faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan adalah: (1) filsafat Negara,
(2) agama, (3) sosial, (4) kebudayaan, (5) ekonomi, (6) Politik dan (7) demografi.
Jadi pendidikan sebagai sistem berada bersama, terikat, dan tertenun di dalam
suprasistemya yang terdiri dari tujuh sistem tersebut. Penyelenggaraan dan
pelaksanaan pendidikan sebagai bagian terpenting dalam mensukseskan misi
pendidikan hendaknya memakai konsep sistem atau dikerjakan dengan memandang
hal itu sebagai sistem.

6
BAB II
LANDASAN HUKUM

2.1 Pengertian Landasan Hukum


Landasan hukum dapat diartikan sebagai peraturan baku sebagai tempat
berpijak atau titik tolak dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia landasan berasal dari kata landas
yang berarti alas atau tumpuan. Sedangkan definisi "hukum" dari Kamus Besar
Bahasa Indonesia (1997): (1) peraturan atau adat, yang secara resmi dianggap
mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah atau otoritas, (2) undang-
undang, peraturan dan sebagainya untuk mengatur kehidupan masyarakat, (3)
patokan (kaidah, ketentuan) (4) keputusan (pertimbangan) yang ditentukan
oleh hakim dalam pengadilan, vonis.
Menurut Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Pendidikan
Nasional pasal 1: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Pendidikan adalah proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. (Depdikbud,
1999: 232).
Jadi, landasan hukum pendidikan adalah dasar atau fondasi perundang-
undangan yang menjadi pijakan dan pegangan dalam pelaksanaan pendidikan di
suatu negara. Hal ini adalah aturan yang menjadi dasar hukumnya pendidikan yang
ada di Indonesia. Di antara dasar hukum pendidikan Indonesia, yaitu: UUD 1945,
UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU Nomor 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan, dan lain sebagainya.

7
2.2 Pendidikan Menurut UUD 1945
Undang-undang Dasar 1945 merupakan hukum tertinggi di Indonesia.
Semua peraturan perundang-undangan yang lain harus tunduk atau tidak boleh
bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945. Pasal-pasal yang bertalian
dengan pendidikan dalam UUD 1945 hanya 2 pasal, yaitu pasal 31 da 32 yang satu
menceritakan tentang pendidikan dan yang satu menceritakan tentang kebudayaan.
• Pasal 31 Ayat 1 berbunyi : tiap-tiap warga negara berhak mendapat
pengajaran.
• Ayat 2 : setiap warga negara wajib mengikuti Pendidikan dasar dan
pemerintah wajib membiayainya. (wajib 9 th)
• Ayat 3 : pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem
Pendidikan nasional. Ayat ini mengharuskan pemerintah mengadakan satu
sistem Pendidikan nasional untuk memberi kesempatan kepada setiap warga
negara mendapat Pendidikan.
• Pasal 32 Ayat 1 berbunyi : memajukan budaya nasional serta memberi
kebebasan kepada masyarakat untuk mengembangkannya.
• Ayat 2 : negara menghormati dan memelihara Bahasa daerah sebagai bagian
budaya nasional.
Pasal ini berhubungan dengan Pendidikan karena Kebudayaan dan
pendidikan adalah dua unsur yang saling mendukung satu sama lain. Jika
kebudayaan maju maka pendidikan juga maju demikian juga sebaliknya,
karena kebudayaan memiliki banyak aspek yang mendukung program dan
pelaksanaan pendidikan. Dengan demikian upaya memajukan kebudayaan
berarti juga sebagai upaya memajukan pendidikan.

2.3 UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


Undang-Undang yang banyak dibicarakan pada saat ini adalah UU No 20
tahun 2003, sebab undang-undang ini disebut sebagai induk peraturan perundang-
undangan pendidikan. Undang-undang ini mengatur pendidikan pada umumnya,
artinya segala sesuatu bertalian dengan pendidikan, mulai dari prasekolah sampai
dengan perguruan tinggi. Pasal-pasal dalam undang-undang ini membahas tentang
pendidikan itu sendiri tentang siswa, pendidik atau tenaga kependidikan, kurikulum

8
Pendidikan. Sebagai konsekuensi dari beragamnya bakat dan kemampuan para
siswa serta dibutuhkannya tenaga kerja menengah yang banyak maka perlu
diciptakan berbagai ragam sekolah kejuruan. Ragam sekolah ini bisa mengacu pada
kebutuhan tenaga kerja menengah dan bisa juga mengacu kepada ragam bakat dan
kemampuan para siswa.
Pasal 1 ayat 2 berbunyi sebagai berikut : Pendidikan Nasional adalah
Pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang
berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap
terhadap tuntunan perubahan zaman. Undang-undang ini mengharuskan
Pendidikan berakar pada kebudayaan nasional dan nilai-nilai agama yang
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Pasal 1 ayat 5 berbunyi : Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat
yang mengabdikan diri dalam penyelenggaraan Pendidikan. Menurut ayat ini yang
berhak menjadi tenaga kependidikan adalah setiap anggota masyarakat yang
mengabdikan dirinya dalam penyelenggaraan Pendidikan, sedangkan yang
dimaksud dengan tenaga kependidikan tertera dalam Pasal 39 ayat 1 yang
mengatakan tenaga kependidikan mencakup : tenaga administrasi, pengelola/kepala
Lembaga Pendidikan, penilik/pengawas, peneliti dan pengembang Pendidikan,
pustakawan, laboran dan teknisi sumber belajar.
Para pendidik dan masyarakat umum perlu bersikap dan bertindak positif
ikut menyukseskan program Pendidikan yang telah dirancang pemerintah dengan
cara :
1. Memberi dorongan pada peserta didik/warga untuk belajar terus, tidak
cukup tamat SD saja dengan alsan-alasan yang masuk akal.
2. Mengurangi beban kerja anak-anak, manakala mereka harus membantu
meringankan beban ekonomi orang tuanya.
3. Membantu menyiapkan lingkungan belajar dan alat-alat belajar dirumah
untuk merangsang kemauan belajar anak-anak.
4. Membantu membiayai Pendidikan
5. Mengizinkan anak pindah sekolah, bila ternyata sekolah semula tidak dapat
menampung
6. Membantu menyiapkan gedung untuk local belajar

9
7. Bersedia menjadi narasumber untuk keterampilan tertentu
8. Mengizinkan peserta didik magang di perusahaan-perusahaan dan
perdagangan-perdagangan
9. Responsif terhadap kegiatan-kegiatan sekolah, terutama yang dilaksanakan
di masyarakat.
10. Bersedia menjadi orang tua angkat atau orang tua asuh bagi anak-anak yang
sudah tidak memiliki orang tua, atau orang tuanya sudah tidak mampu
membiayai anak-anaknya.

2.4 UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen


UU RI No 14 Tahun 2005 adalah Undang-undang yang dipandang sebagai
langkah awal bagi perbaikan status guru dan dosen di Indonesia. Guru merupakan
sebagai salah satu pekerjaan yang bersifat profesi yang membutuhkan tenaga-
tenaga professional untuk melaksanakannya. Sehingga setiap guru yang akan
mengajar harus memenuhi kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikasi pendidik,
sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional. Salah satu usaha dalam pemenuhan guru yang memiliki
kemampuan kompetensi adalah melalui kegiatan sertifikasi pendidik.
Undang-undang ini memuat 84 Pasal yang mengatur tentang ketentuan
umum, kedudukan fungsi dan tujuan, prinsip profesionalitas, seluruh peraturan
tentang guru dan dosen dari kualifikasi akademik, hak dan kewajiban sampai
organisasi profesi dan kode etik, sanksi bagi guru dan dosen yang tidak
menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya, ketentuan peralihan dan ketentuan
penutup.
Pasal 8 berbunyi : Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi,
sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sementara itu pasal 10 menyatakan
kompetensi guru mencakup pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional. Guru
dalam hal ini diminta tidak hanya sekedar mengajar agar peserta didik paham dan
terampil tentang materi pelajaran yang diajarkan, melainkan materi-materi
pelajaran itu hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan Pendidikan nasional. Itulah
sebabnya setiap guru harus mengembangkan afeksi, kognisi, dan keterampilan

10
peserta didik secara berimbang dan menilainya serta ketiganya dimasukkan ke
dalam rapor.
Sertifikasi diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki pengadaan
tenaga kependidikan yang terakreditasi dengan maksud untuk menjaga mutu
kualifikasi guru. Bagi guru yang berkualitas yang memenuhi persyaratan maka
diberi imbalan seperti yang tertuang pada pasal 15, yaitu gaji pokok, beserta
tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, tunjangan fungsional,
tunjangan khusus bagi yang bertugas di daerah terpencil dan maslahat tambahan.
Pasal 15 yaitu gaji pokok beserta tunjangan yang melekat pada gaji,
tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus bagi yang bertugas di
daerah khusus dan maslahat tambahan. Yang termasuk maslahat tambahan tertuang
dalam Pasal 19 berupa kesejahteraan seperti tunjangan Pendidikan, asuransi
Pendidikan beasiswa, layanan kesehatan dan penghargaan-penghargaan tertentu.
Guru juga diberi cuti seperti pegawai biasa dan tugas belajar (pasal 40).
Pasal 24 menentukan tentang pengangkatan guru. Guru Pendidikan
menengah dan Pendidikan khusus diangkat, ditempatkan, dipindahkan dan
diberhentikan oleh pemerintah provinsi.
Pasal 42 menguraikan tentang organisasi profesi guru yang memiliki
wewenang sebagai berikut :
1. Menetapkan dan menegakkan kode etik guru
2. Memberikan bantuan hukum kepada guru
3. Memberikan perlindungan profesi guru
4. Melakukan pembinaan dan pengembangan profesi guru
5. Memajukan Pendidikan nasional.

11
BAB III
LANDASAN FILSAFAT

3.1 Filsafat, ilmu dan ilmu Pendidikan


Manusia semenjak mereka ada di muka bumi ini dan hidup bermasyarakat
sudah memiliki gambaran dan cita-cita yang mereka kejar dalam hidupnya baik
secara individu maupun berkelompok. Gambaran dan cita-cita tentang kehidupan
itulah yang mendasari adat-istiadat suatu suku atau bangsa, norma, dan hukum yang
berlaku dalam masyarakat. Begitu juga dengan pendidikan, yang mendorong
masyarakat untuk menekankan aspek atau aspek tertentu pada pendidikan agar
dapat memenuhi gambaran dan cita-cita mereka.
Filsafat adalah hasil pemikiran dan perenungan tentang sesuatu sampai ke
akar-akarnya. Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam
maka dikatakan bahwa kebenaran filsafat adalah kebenaran yang menyeluruh, yang
sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena
kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja.
Sementara filsafat mencoba menyelami sampai ke dasar untuk meraba segala
sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis.
Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani kuno
“philoshophia”. Kata philosophia merupakan kata majemuk “philos” yang berarti
“cinta” dan “shophia” yang berarti “kebajikan dan kearifan”. Jadi secara harfiah
filafat berarti cinta akan kebajikan atau kearifan’(Jan Hendrik Rapar,1996:14).
Menurut pendapat para ahli pengertian filsafat adalah:
- Plato, filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan
kebenaran yang asli.
- Immanuel Kant : filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang menjadi pokok
pangkal dari segala pengetahuan, yang didalamnya tercakup masalah
epistemelogi (filsafat pengetahuan) yang menjawab persoalan apa yang
dapat kita ketahui.

12
- Notonagoro : filsafat itu menelaah hal-hal yang menjadi objeknya dari
sudut intinya yang mutlak dan terdalam, yang tetap dan yang tidak
berubah, yang disebut hakikat.
- Ali Mudhafir : filsafat sebagai suatu metode artinya cara berfikir secara
reflektif (mendalam), penyelidikan yang menggunakan alas an, berfikir
secara hati-hati dan teliti. Filsafat berusaha untuk memikirkan seluruh
pengalaman manusia secara mendalam dan jelas (Surajiyo,2007:3-5)

Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan filsafat adalah


pemikiran radikal. Penyelidikan dengan pemikiran mendalam atau perenungan
mengenai objek sampai keakar-akarnya (radik). Maksudnya adalah berfikir
mendalam sampai ditemukan unsur-unsur inti yang secara sistematik yang
menjadikan objek pemikiran itu ada sebagaimana halnya. Sering pula dikatakan
bahwa filsafat adalah perenungan mengenai objek sampai pada tingkat kebenaran
hakiki, yaitu kebenaran tingkat abstrak-universal yang bersifat mutlak.
Sementara membahas tentang ilmu perlu didekati dari dua segi, yaitu
etimologi dan terminology. Menurut asal usul kata “science” berasal dari kata Latin
Scientia yang berarti pengetahuan. Pada kelanjutannya kata itu berasal dari bentuk
kata kerja scire yang artinya mempelajari, atau mengetahui. Pada abad XVII,
science memang diartikan apa saja yang harus dipelajari seperti menjahit atau
menunggang kuda. Baru setelah abad XVII, kata science mengalami penghalusan
berarti pengetahuan yang teratur.(The Liang Gie, 1998:15)
Kata ilmu merupakan suatu perkataan yang memiliki makna ganda, artinya
mengandung lebih dari satu arti (The liang Gie,2000:85). Ilmu dalam pengertiannya
yang lengkap dan menyeluruh adalah serangkaian kegiatan manusia dengan
pikirannya dan menggunakan berbagai tata cara sehingga menghasilkan
sekumpulan pengetahuan yang teratur mengenai gejala-gejala alami,
kemasyarakatan dan individu untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh
pemahaman, memberikan penjelasan atau melakukan penerapan
Dari segi maknanya menurut The Liang Gie (2000:86), pengertian ilmu
sekurang-kurangnya ada tiga hal, yakni; pengetahuan, aktifitas dan metode. Kaitan
dalam hal pertama dan yang umum diikuti, ilmu senantiasa berarti pengetahuan

13
(knowledge). Diantara para filsuf dari berbagai aliran terdapat pemahaman umum
bahwa ilmu adalah kumpulan yang sistematis dari pengetahuan (any systematic
body of knowledge).
Secara garis besar filsafat ada empat cabang, yaitu: (1) metafisika, yaitu
filsafat yang meninjau tentang hakekat segala sesuatu yang terdapat di ala mini, (2)
epistemology, yaitu filsafat yang membahas tentang pengetahuan dan kebenaran,
(3) logika, yaitu filsafat yang membahas tentang cara manusia berpikir dengan
benar, (4) etika, yaitu filsafat yang menguraikan tentang perilaku manusia. Dalam
buku ini digambarkan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, ilmu
pendidikan, perbuatan mendidik, pengalaman mendidik, dan keyakinan pendidik
antara lain:
1. Filsafat atau filsafat umum atau filsafat Negara menjadi sumber segala
kegiatan manusia atau mewarnai semua aktivitas warga Negara suatu bangsa.
2. Filsafat pendidikan dijabarkan dari filsafat, artinya filsafat pendidikan tidak
boleh bertentangan dengan filsafat.
3. Selanjutnya ilmu pendidikan yang bersiat teori ada di urutan ketiga sebab
dijabarkan dari filsafat pendidikan, di sinilah teori-teori pendidikan
dirumuskan.
4. Ilmu pendidikan praktis adalah merupakan konsep-konsep pelaksanaan teori-
teori pendidikan.
5. Pada langkah berikutnya adalah perbuatan mendidik yaitu tindakan-tindakan
nyata dalam menerapkan teori pendidikan praktis.
6. Sebagai akibat dari perbuatan mendidik, akan mendapatkan pengalaman
tentang mendidik.
7. Pengalaman mendidik member umpan balik kepada teori pendidikan yaitu
memanfaatkannya untuk kemungkinan merevisi teori sebelumnya.
8. Sebagai akibat revisi, sangat mungkin ilmu pendidikan memberikan umpan
balik kepada filsafat pendidikan, dan kemungkinan merevisi konsep-
konsepnya.
9. Ilmu pendidikan juga mengadakan kontak hubungan dengan pengalaman-
pengalaman mendidik, untuk selalu mengingatkan diri agar tidak
menyimpang dari teori-teori mendidik.

14
10. Perbuatan-perbuatan mendidik bisa menimbulkan keyakinan tersendiri
tentang pendidikan. Suatu keyakinan yang belum tampak pada filsafat,
filsafat pendidikan maupun ilmu pendidikan.

3.2 Filsafat Pendidikan


Filsafat pendidikan adalah hasil pemikiran dan perenungan secara
mendalam sampai ke akar-akarnya mengenai pendidikan. Filsafat pendidikan
secara umum menjawab tiga pertanyaan pokok yaitu, (1) apakah pendidikan itu?,
(2) apa yang hendak ia capai?, (3) bagaimana cara terbaik merealisasi tujuan-tujuan
itu?. Menurut Zanti Arbi bahwa maksud pendidikan adalah untuk (1)
menginspirasikan, (2) menganalisis, (3) mempreskripsikan dan (4)
menginvestigasi. Yang dimaksud menginspirasi adalah memberi inspirasi kepada
para pendidik untuk melaksanakan ide tertentu dalam Pendidikan. Sedangkan yang
dimaksud menganalisis dalam filsafat Pendidikan adalah memeriksa secara teliti
bagian-bagian Pendidikan agar dapat diketahui secara jelas validitasnya,
mempreskriptifkan dalam filsafat Pendidikan adalah upaya menjelaskan atau
memberi pengarahan kepada pendidik melalui filsafat Pendidikan. Menginvestigasi
dalam filsafat Pendidikan adalah untuk memeriksa atau meneliti kebenaran suatu
teori Pendidikan.
Filsafat pendidikan juga mengingatkan juga agar sangat hati-hati dalam
menyusun suatu teori. Dari persoalan tersebut muncul beberapa aliran filsafat
pendidikan yang mendominasi di dunia yaitu (1) aliran esensialis, yaitu filsafat
pendidikan yang bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabad-abad
lamanya, (2) aliran perenialis, yaitu filsafat pendidikan yang bertitik tolak pada
kebenaran wahyu Tuhan, (3) aliran progressive, yaitu filsafat yang bertolak dari
jiwa perubahan, relativitas, kebebasan, dinamika, ilmiah, dan perbuatan nyata, (4)
aliran rekonstruksi, yaitu filsafat yang bertolak dari cita-cita mengkontruksi
kembali kehidupan manusia secara total agar lebih baik, (5) aliran eksistensialis,
yaitu filsafat pendidikan yang bertolak dari pengalaman sebagai cara untuk
memperoleh pengetahuan.

15
3.3 Filsafat Pendidikan di Indonesia
Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik
(guru). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses
belajar mengajar (PBM). Selain itu pemahaman filsafat pendidikan akan
menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana
dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.
Ada sejumlah konsep pendidikan yang tumbuh dan berkembang dari dalam
negeri sendiri. Tetapi konsep-konsep itu sendiri belum dikaji lebih lanjut melalui
penelitian-penelitian pendidikan, yang membuat validitasnya masih diragukan.
Sehingga konsep-konsep pendidikan yang tumbuh di negeri sendiri hanya
dipandang sebagai kebudayaan saja oleh dunia pendidikan Internasional.
Ditinjau dari segi arah pengembangan pendidikan di Indonesia masih terjadi
perbedaan. Sebagian berorientasi pada ilmu pendidikan di Eropa dan sebagian lagi
berorientasi pada pendidikan di Amerika Serikat. Orientasi yang tidak sama ini
lebih meningkatkan kerumitan upaya membentuk ilmu pendidikan di Indonesia
lengkap dengan filsafat pendidikannya. Amerika Serikat yang menganut filsafat
Pragmatis dengan filsafat pendidikan Progresivis penyederhanaan makna
pendidikan tersebut di atas bisa diterima. Mereka tidak mempunyai tujuan
pendidikan yang pasti. Tujuan pendidikan dan alat pendidikan mereka sangat
mungkin akan berganti terus untuk selalu menentukan yang lebih baik bagi
kehidupan manusian. Hal inilah yang membuat mereka memandang pendidikan itu
hanya sebagai cara untuk membuat anak-anak belajar, alias hanya sebagai proses
balajar-mengajar. Indonesia punya cita-cita yang pasti dalam pendidikan, yang
harus dikejar dan diwujudkan, yaitu manusia Indonesia seutuhnya yang dijiwai oleh
sila-sila Pancasila. Untuk hal ini harus ada alat yang pasti pula. Pendidikan di
Indonesia perlu diwujudkan dalam bentuk ilmu pendidikan seperti halnya dengan
model pendidikan di Eropa. Hanya saja Ilmu Pendidikan di Indonesia harus
menunjukkan ciri khas negara Indonesia termasuk Pancasilanya. Ini berarti ilmu
pendidikan harus digali dari bumi Indonesia sendiri.
Ilmu pendidikan sebagai suatu ilmu yang utuh terdiri dari landasan, struktur
dan operasional pendidikan. Landasan akan memberi latar belakang, fondasi atau
titik tolak mengapa suatu pendidikan dibutuhkan, apa tujuan pendidikan atau

16
kemana diarahkan pendidikan itu, untuk mencapai tujuan itu apa saja yang harus
dibahas, apa saja yang harus diperhatikan agar tujuan dapat dicapai, siapa saja yang
harus dilibatkan, dan sebagainya.
Struktur ialah isi ilmu itu dengan sistematikannya serta proporsi bagian-
bagiannya yang mendukung pendidikan sebagai suatu ilmu. Struktur ilmu
pendidikan ciptaan luar negeri memang sudah ada. Pro dan kontra mengenai
pendidikan apakah sebagai ilmu atau sekedar sebagai proses belajar mengajar
seperti telah diutarakan di atas. Usaha untuk mewujudkan ilmu pendidikan yang
cocok dengan alam Indonesia belum tampak secara jelas, struktur ilmu pendidikan
belum ditangani. Ilmu pendidikan tidak sama persis dengan ilmu-ilmu yang lain
yang bersifat empiris yaitu menerangkan apa adanya dari data yang didapat
dilapangan dan bila mungkin meramalkan hal-hal yang akan terjadi, maka ilmu
pendidikan disamping ilmu empiris juga bersifat normatif artinya mengupayakan
agar norma-norma tertentu dapat diinternalisasi dan dilaksanakan oleh peserta didik
dalam kehiduan sehari-hari. Ilmu pendidikan mengandung unsur-unsur fakta dan
upaya. Fakta akan membentuk teori penjelasan tentang cara mendidik, sedangkan
upaya akan memebentuk kiat atau seni mensukseskan pendidikan terutama dalam
memasukkan norma-norma ke dalam kehidupan peserta didik. Tiga metode dalam
ilmu pendidikan :
1. Metode normatif, suatu metode yang berusaha menjelaskan tentang
keberadaan manusia, bagaimana seharusnya manusia itu bersikap dan
bertindak terhadap dirinya dan terhadap sesama manusia maupun makhluk
lain.
2. Metode eksplanatori, suatu metode yang berusaha menentukan kondisi dan
kekuatan apa yang dapat membuat suatu proses pendidikan berhasil.
3. Metode teknologi, ialah cara mendidik itu sendiri yaitu praktik mendidik di
lapangan.
Filsafat pendidikan yang bercorak Indonesia yang memadai. Filsafat itu
akan menguraikan tentang :
1. Pengertian pendidikan yang jelas, yang satu, dan berlaku di seluruh tanah
air.

17
2. Tujuan pendidian, yaitu pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang
diwarnai oleh sila-sila pancasila.
3. Model pendidikan, yang membahas tentang model pendidikan di Indonesia
yang tepat.
4. Cara mencapai tujuan, yaitu segi teknik dan pendidikan itu sendiri.

3.4 Upaya mewujudkan Filsafat Pendidikan di Indonesia


Perhatian - perhatian terhadap perlunya filsafat pendidikan itupun baru
muncul di sana-sini belum terkoordinasi menjadi suatu perhatian besar untuk segera
mewujudkannya. Kondisi seperti ini tidak terlepas dari kesimpangsiuran pandangan
para pendidik terhadap pendidikan itu sendiri, seperti telah diungkapkan di atas.
Ada suatu hasil penelitian bertalian dengan hal di atas yang dilakukan oleh Jasin,
dan kawan-kawannya (1994) dengan responden para mahasiswa PGSD, S1, S2 dan
S3 IKIP Jakarta dan para ahli pendidikan di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Penelitian itu menentukan hal-hal seperti berikut (1) lebih dari separo responden
menginginkan penegasan kembali pengertian pendidikan dan pengajaran, (2)
hampir separo responden mahasiswa dan dosen berpendapatan bahwa ilmu
pendidikan kurang dikembangkan, sementara itu seperlima para ahli pendidikan
menyatakan pendidikan kurang fungsional untuk menyimpan para calon guru, (3)
para mahasiswa dan dosen berpendapat ilmu pendidikan adalah ilmu mandiri,
sementara itu sepertiga para ahli menyatakan ilmu pendidikan adalah ilmu terapan
, dan (4) semua responden menyatakan kurang mengenal struktur ilmu pendidikan.
Dari hasil penelitian tersebut di atas dapat ditarik sejumlah masalah bertalian
dengan ilmu pendidikan, yaitu:
1. Belum jelas pengertian pendidikan dan pengajaran.
2. Ilmu pendidikan kurang dikembangkan.
3. Ilmu pendidikan kurang fungsional untuk menyiapkan para calon guru.
4. Belum jelas apakah ilmu pendidikan merupakan ilmu dasar atau ilmu
terapan.
5. Struktur ilmu pendidikan kurang dikenal.
6. Belum jelas apakah guru mendidik dan mengajar atau hanya mengajar saja.

18
Untuk mengembangkan ilmu pendidikan yang bercorak Indonesia secara
valid, terlebih dahulu dibutuhkan pemikiran dan perenungan yang mendalam
tentang ilmu itu sendiri dan budaya serta geografis Indonesia yang akan
mewarnainya. Pemikiran dan perenungan itu adalah filsafat yang khusus membahas
pendidikan yang tepat diterapkan di bumi Indonesia. Dengan kata lain, untuk
menentukan teori-teori pendidikan yang bercorak Indonesia dibutuhkan terlebih
dahulu rumusan filsafat pendidikan yang bercorak Indonesia pula.
Sesuatu akan terjadi secara relatif lebih mudah bila gagasan itu bersumber dari dan
disepakati atau disetujui oleh pemerintah. Filsafat pendidikan akan lebih mudah
mendapat jalan dalam pengembangannya, manakala pemrakarsa dapat menggugah
hati pemerintah untuk menyetujuinya. Di samping kunci utama untuk memulai
kegiatan pengembangan filsafat pendidikan itu belum ada, ada lagi kunci kedua
yang membuat sulitnya mengembangkan filsafat dan teori pendidikan itu, yaitu
kesulitan menjabarkan sila-sila Pancasila agar mudah diterapkan di lapangan.
Ada beberapa hal yang perlu dipikirkan. Hal-hal yang dimaksud adalah :
1. Apakah filsafat pendidikan yang akan dibentuk, yang sesuai dengan kondisi
dan budaya Indonesia akan diberi nama Filsafat Pendidikan Pancasila atau
dengan nama lain ?
2. Apakah filsafat pendidikan itu diambil dari filsafat pendidikan internasional
yang sudah ada, dengan memilih salah satu dari Esensialis, Pernialis,
Progresifise, dan Rekonstruksionis ? Sehingga tinggal merevisi agar cocok
dengan kondisi Indonesia.
3. Ataukah filsafat itu di munculkan bersumber dari filsafat umum yang
berlaku secara internasional, seperti yang dilaksanakan oleh Negara
Australia. Ahli pendidikan di Australia menyatakan filsafat yang
mendasari pendidikan mereka adalah Liberal, Demokrasi, dan Multicultural
(Made Pidarta, 1995). Seakan-akan mereka tidak memiliki filsafat khusus
tentang pendidikan.
Tugas utama para ahli ilmu pendidikan adalah (1) mengungkapkan pemikiran
yang sistematik dan mendasar mengenai implikasi filsafat Pancasila dalam filsafat
pendidikan nasional yang akan dibentuk, dan (2) dalam menggunakan sumber-

19
sumber dari luar termasuk teori pendidikan dan perlu diadakan saringan-saringan
agar sesuai dengan filsafat Negara kita.

3.5 Implikasi Konsep Pendidikan


Implikasi konsep pendidikan yang akan dituangkan adalah terbatas pada
penjabaran sila-sila Pancasila.
1. Filsafat pendidikan Indonesia perlu segera diwujudkan agar ilmu
pendidikan bercorak Indonesia lebih mudah dibentuk.
2. Peranan dan pengembangan sila-sila Pancasila pada diri peserta didik pada
hakikatnya adalah pengembangan afeksi.
3. Pendidikan Pancasila dan pendidikan agama tidak bertentangan, melainkan
saling melengkapi satu dengan yang lain.
4. Materi pendidikan afeksi selain bersumber dari bidang studi yang
membahas moral pancasila dan ajaran agama sebaiknya dilengkapi dengan
nilai-nilai dan adat-istiadat yang masih hidup dimasyarakat Indonesia.
5. Metode mengembangkan afeksi bisa dibagi dua yaitu:
• Untuk pendidikan afeksi yang berbentuk bidang studi, tekanan proses
belajarnya adalah pada aplikasi konsep-konsep yang dipelajari.
• Untuk pendidikan afeksi yang diselipkan pada bidang studi lain, pendidik
cukup menyinggung afeksi tertentu yang kebetulan tepat dimunculkan saat
itu untuk dipahami oleh peserta didik, dihayati, dan dilaksanakan.
6. Evaluasi pendidikan afeksi haruslah dilakukan secara nyata, diberi skor, dan
dimasukkan kedalam rapor seperti halnya dengan bidang-bidang studi yang
lain.
7. Dalam mengembangkan materi pendidikan afeksi, sangat dimungkinkan
sumber materi itu berasal dari luar negeri. Bila hal ini terjadi, maka perlu
dilakukan penyaringan terlebih dahulu agar bisa diterima oleh kondisi dan
budaya Indonesia, sebelum dimasukkan sebagai materi pendidikan.
Dalam rangka pengembangan afeksi peserta didik, ada baiknya kondisi ke
arah itu sengaja diciptakan, antara lain dengan menghadirkan jauh lebih banyak

20
budaya bangsa sendiri untuk menetralkan pengaruh budaya asing yang memang
sulit dibendung dalam abad informasi dan global ini.

21
BAB IV
LANDASAN SEJARAH

4.1 Sejarah Pendidikan Dunia


Sejarah adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau
kegiatan yang dapat didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah penuh dengan
informasi-informasi yang mengandung kejadian, model, konsep, teori, praktek,
moral, cita-cita, bentuk dan sebagainya. Informasi tersebut merupakan warisan
generasi muda dan generasi sebelumnya yang tidak terniali harganya. Sejarah
pendidikan merupakan bahan pembanding untuk memajukan pendidikan suatu
bangsa.
Sejarah pendidikan dunia dijelaskan bahwa permulaannya pada zaman
Hellenisme yaitu tahu 150 SM – 500, ke zaman pertengahan tahun 500-1500, zaman
humanism, reformasi dan kontra reformasi pada tahun 1600-an. Pendidikan pada
zaman tersebut belum banyak memberikan kontribusinya pada pendidikan.
Kemudian pada masa berikutnya adalah masa realisme yang mengarahkan
pendidikan pada kehidupan dunia dan bersumber dari keadaan di dunia pula.
Sesudah itu berkembanglah paham rasionalisme pada abad ke-18 dengan tokohnya
adalah John Locke, yang bertujuan memberikan kekuasaan bagi manusia untuk
berpikir sendiri dan bertindak untuk dirinya sendiri. Menurut keyakinan aliran ini
akal merupakan sumber pengetahuan atau pengetahuan adalah sebagai hasil olahan
akal. Teorinya yang terkenal adalah leon tabularasa atau a blank sheet of paper.
Selanjutnya muncul aliran baru yaitu aliran naturalis dengan tokohnya J.J Rousseou
sebagai reaksi terhadap aliran rasionalis. Aliran naturalis menginginkan pendidikan
harus ada kesimbangan antara rasio dan hati. Aliran ini menekankan bahwa
pendidikan sebaiknya dikembalikan kealam, alamlah yang menjadi guru. Segala
sesuatu adalah baik ketika ia baru keluar dari alam dan menjadi jelek manakala ia
berada di tangan manusia. Selanjutnya pada abad ke-19 muncul aliran
developmentalisme yang memandang proses pendidikan sebagai suatu proses
perkembangan jiwa, sehingga aliran ini merupakan gerakan psikologis dalam

22
pendidikan. Proses tersebut merupakan hasil dari aktivitas dan reaksinya terhadap
lingkungan. Tokoh aliran ini adalah Pestalozzi, Johan Fredrick Herbart, Fredrick
Wilhelm Frobel dan Stanley Hall. Zaman developmentalis diikuti oleh zaman
nasionalisme yang mengarahkan pendidikan untuk menjaga, memperkuat, dan
mempertinggi kedudukan Negara. Sehingga akibat aliran ini muncul liberalism,
positivism, dan individualism. Sebagai reaksi terhadap aliran ini muncullah aliran
sosial dalam pendidikan pada abad 20. Aliran ini berpendapat masyarakat lebih
esensial daripada individu. Tokoh-tokoh aliran ini adalah Paul Natorp dan George
Kerschenteiner dan John Dewey.

4.2 Sejarah Pendidikan di Indonesia


Sejarah pendidikan di Indonesia sudah ada sebelum Indonesia berdiri.
Pendidikan itu telah ada sejak zaman kuno, kemudian diteruskan dengan zaman
pengaruh hindu dan Budha, zaman pengaruh islam, pendidikan zaman penjajahan,
sampai dengan pendidikan zaman kemerdekaan. Pada masa perjuangan ada tiga
tokoh yang berjuang sekaligus dalam pendidikan di Indonesia, yaitu Mohammad
Syafei, Ki Hajar Dewantara, dan Kiayi H Ahmad Dahlan. Moh Syafei mendirikan
Indonesisch Nedherlandse School (INS), Ki Hajar Dewantoro mendirikan Taman
Siswa, dan KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi agama islam. Mereka
membina anak-anak dan para pemuda melalui lembaganya masing-masing untuk
mengembalikan harga diri dan martabat yang hilang akibat penjajahan belanda.

1. Pendidikan Pada Masa Portugis

Karena berkembangnya perdagangan, pada awal abad ke-16 datanglah Portugis


ke Indonesia yang kemudian disusul bangsa Spanyol. Selain untuk berdagang,
mereka juga menyebarkan agama Nasrani (Khatolik). Waktu orang-orang Portugis
datang ke Indonesia, mereka dibarengi oleh missionaris, yang diberi tugas untuk
menyebarkan agama Khatolik di kalangan penduduk Indonesia. Seorang di
antaranya adalah Franciscus Xaverius, yang dianggap sebagai peletak batu pertama
Khatolik di Indonesia. Franciscus Xaverius berpendapat bahwa untuk memperluas
penyebaran agama Khatolik itu perlu sekali didirikan sekolah-sekolah. Pada tahun
1536 didirikan sebuah seminarie di Ternate, yang merupakan sekolah agama bagi

23
anak-anak orang terkemuka. Selain pelajaran agama diberikan juga pelajaran
membaca, menulis dan berhitung. Di Solor juga didirikan semacam seminarie dan
mempunyai ±50 orang murid, di sekolah ini juga diajarkan bahasa Latin. Pada tahun
1546 di Ambon sudah ada tujuh kampung yang penduduknya beragama Khatolik,
ternyata di sana juga diselenggarakan pengajaran untuk rakyat umum. Karena
sering timbul pemberontakan, maka pada akhir abad-16 habislah kekuasaan
Portugis di Indonesia. Ini berarti habis pula riwayat missi Khatolik di Maluku. Missi
ini adalah missi negara, artinya para missionaris mendapat jaminan hidup dari
negara. Maka jatuhnya negara mengakibatkan hilangnya tenaga missi itu, sehingga
usaha-usaha pendidikan terpaksa harus dihentikan.

2. Pendidikan Pada Masa Belanda

Dengan berakhirnya kekuasaan Portugis, maka timbullah kekuasaan baru, yakni


Belanda. Belanda semula datang ke Indonesia untuk berdagang. Orang Belanda,
yang telah bersatu dalam badan perdagangan VOC, menganggap perlu
menggantikan agama Khatolik yang telah disebarkan oleh orang Portugis dengan
agamanya, yaitu agama Protestan. Untuk keperluan inilah, maka didirikan sekolah-
sekolah, terutama di daerah yang dahulu telah dinasranikan oleh Portugis dan
Spanyol.
Sekolah pertama didirikan VOC di Ambon pada tahun 1607. Pelajaran yang
diberikan berupa membaca, menulis dan sembahyang. Sebagai gurunya maka
diangkat orang Belanda, yang mendapat upah.
Hubungan antara Kompeni dengan rakyat di Pulau Jawa tidak serapat di Maluku.
Ini disebabkan oleh 2 hal:
1. Rakyat di pulau Jawa sedikit sekali menghasilkan rempah-rempah untuk
keperluan pasar dunia. Untuk mendapatkan rempah-rempah itu VOC tidak
perlu berhubungan langsung dengan rakyat, sudah cukup bila berhubungan
dengan kepala-kepala saja.
2. Rakyat di Pulau Jawa tidak terkena pengaruh Portugis. Agama Khatolik
tidak masuk ke pulau Jawa. Jadi tidak ada alasan bagi Kompeni untuk
mempengaruhi rakyat di Pulau Jawa.

24
Karena dua alasan itulah, maka di Pulau Jawa tidak ada susunan
persekolahan dan gereja yang seluas di Maluku. Sekolah pertama di Jakarta
didirikan pada tahun 1617. Lima tahun kemudian sekolah itu mempunyai murid 92
laki-laki dan 45 perempuan. Tujuan dari sekolah ini adalah menghasilkan tenaga-
tenaga kerja yang cakap, yang kelak dapat dipekerjakan pada pemerintahan,
administrasi dan gereja. Sampai tahun 1786 dipergunakan bahasa Belanda sebagai
bahasa pengantar.
Pada abad ke-17 dan 18 pendidikan kejuruan tidak diselenggarakan. Inipun
tidak mengherankan, kerena pengajaran Kompeni mempunyai dasar keagamaan.
Pikiran, bahwa taraf ekonomi masyarakat dapat dinaikkan oleh pendidikan
kejuruan, baru muncul dalam abad ke-19. Dengan bertambah meluasnya
pendidikan di Indonesia pada abad ke-20, muncullah golongan baru dalam
masyarakat di Indonesia, yaitu golongan cerdik pandai yang mendapat pendidikan
Barat, tapi tidak mendapat tempat maupun perlakuan yang sewajarnya dalam
masyarakat kolonial. Pendidikan menimbulkan keinsyafan nasional dan keinsyafan
bernegara. Dengan alat dan senjata yang dipelajarinya dari Barat sendiri, yaitu
organisasi rakyat cara modern, lengkap dengan susunan pengurus pusat dan cabang
di daerah-daerah. Pergerakan ini dicetuskan kaum cerdik pandai, sebagian besar
keturunan kaum bangsawan. Partai maupun pergerakan - pergerakan yang timbul
sesudah tahun 1908 ada yang berdasarkan agama seperti Sarekat Islam, ada yang
berdasarkan sosial seperti Muhammadiyah, ada pula yang berazaskan kebangsaan,
seperti Indische Partij, yang pertama sekali merumuskan semboyan Indie los van
Nederland yang diambil alih PNI dan diterjemahkan menjadi “Indonesia Merdeka”
(1928).
3. Pendidikan Pada Masa Jepang
Zaman penjajahan Jepang berlangsung pendek (7 Maret 1942 – 17 Agustus
1945). Karena Indonesia dikuasai Jepang di masa perang, segala usaha Jepang
ditujukan untuk perang. Murid-murid disuruh bergotong-royong mengumpulkan
batu, kerikil dan pasir untuk pertahanan. Pekarangan sekolah ditanami dengan ubi
dan sayur-mayur untuk bahan makanan. Murid disuruh menanam pohon jarak untuk
menambah minyak untuk kepentingan perang. Yang terpenting bagi kita di zaman
Jepang ialah dengan kerobohan kekuasaan Belanda diikuti pula tumbangnya sistem

25
pendidikan kolonial yang pincang. Karena pemerintahan militer Jepang
menginternir banyak orang Belanda, maka sekolah-sekolah untuk anak Belanda dan
Indonesia kalangan atas ikut lenyap. Tinggal susunan sekolah yang semata-mata
untuk anak-anak Indonesia saja. Sekolah rendah seperti Sekolah Desa 3 tahun,
Sekolah Sambungan 2 tahun, ELS, HIS, HCS yang masing-masing 7 tahun, Schakel
School 5 tahun, dan MULO dihapus semua. Yang ada hanya Sekolah Rakyat
(Kokomin Gakko) yang memberikan pendidikan selama 6 tahun, sekolah
menengah yang dibuka ialah Cu Gakko (laki-laki) dan Zyu Gakko (perempuan)
yang lama pendidikannya selama 3 tahun. Selain sekolah menengah, banyak pula
didirikan sekolah kejuruan, yang terbanyak ialah sekolah guru. Jepang menganggap
sekolah guru penting sekali, karena sekolah itu yang akan menyiapkan tenaga
dalam jumlah yang besar untuk memompakan dan mempropagandakan semangat
Jepang kepada anak didik.

4.3 Masa Reformasi


Pada masa reformasi pendidikan lebih banyak bersifat mengejar kebebasan.
Sistem desentralisasi diberikan sejalan dengan pemerintahan yang desentralisasi,
walaupun belum dapat dilaksanakan di tingkat lembaga kecuali di perguruan tinggi.
Hal ini karena berkaitan dengan kemampuan personalia pendidikan yang belum
memadai. Selain itu pemerintah juga membentuk kelompok-kelompok masyarakat
yang independen atau bebas untuk membantu pendidikan agar mampu mandiri.
Instrument-instrumen untuk mewujudkan desentralisasi pendidikan juga di
usahakan seperti MBS, life Skillls dan TQM.
Pada era pemerintahan Habibie yang masih menggunakan kurikulum 1994
yang disempurnakan pada masa pemerintahan Gus Dur. Pada masa pemerintahan
Megawati terjadi beberapa perubahan tatanan pendidikan, antara lain:
1. Diubahnya kurikulum 1994 menjadi kurikulum 2000 dan akhirnya
disempurnakan menjadi kurikulum 2002 (Kurikulum Berbasis Kompetensi)
yang merupakan kurikulum yang berorientasi pada pengembangan 3 aspek
utama, antara lain aspek afektif, kognitif dan psikomotorik.
2. Pada 8 Juli 2003 disahkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional yang memberikan dasar hukum untuk membangun

26
pendidikan nasional dengan menerapkan prinsip demokrasi, desentralisasi,
otonomi, keadilan dan menjunjung HAM.
Kemudian setelah Megawati turun dari jabatannya dan digantikan Susilo Bambang
Yudhoyono, UU No. 20/2003 masih tetap berlaku, namun pada masa SBY juga
ditetapkan UU RI No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Penetapan UU tersebut
disusul dengan pergantian kurikulum KBK menjadi Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan. Kurikulum ini berasaskan pada PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan. KTSP merupakan kurikum operasional yang disusun dan
dilaksanakan masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan
pendidikan, tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat
satuan pendidikan, kalender pendidikan serta silabus
(BSNP, 2006: 2). Tujuan pendidikan KTSP :
1. Untuk pendidikan dasar, di antaranya meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
2. Untuk pendidikan menengah, meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,
kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan hidup mandiri dan mengikuti
pendidikan lebih lanjut.
3. Untuk pendidikan menengah kejuruan, meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

4.4 Pendidikan di Indonesia Setelah Kemerdekaan (1945-1969)


Pendidikan dan pengajaran sampai tahun 1945 di selenggarakan oleh kantor
pengajaran yang terkenal dengan nama jepang Bunkyio Kyoku dan merupakan
bagian dari kantor penyelenggara urusan pamong praja yang disebut dengan
Naimubu. Setelah di proklamasikannya kemerdekaan, pemerintah Indonesia yang
baru di bentuk menunjuk Ki Hajar Dewantara, pendiri taman siswa, sebagai menteri
pendidikan dan pengajaran mulai 19 Agustus sampai 14 November 1945, kemudian
diganti oleh Mr. Dr. T.G.S.G Mulia dari tanggal 14 November 1945 sampai dengan
12 Maret 1946. tidak lama kemudian Mr. Dr. T.G.S.G Mulia dig anti oleh Mohamad
Syafei dari 12 Maret 1946 sampai dengan 2 Oktober 1946. karena masa jabatan

27
yang umumnya amat singkat, pada dasarnya tidak bayak yang dapat diperbuat oleh
para mentri tersebut.
1) Tujuan Dan Kurikulum Pendidikan
Dalam kurun waktu 1945-1969, tujuan pendidikan nasional Indonesia
mengalami lima kali perubahan. Sebagaimana tertuang dalam surat keputusan
Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PP & K), Mr. Suwandi, tanggal
1 Maret 1946, tujuan pendidikan nasional pada masa awal kemerdekaan amat
menekankan penanaman jiwa patriotosme. Hal ini dapat di pahami, karena pada
saat itu bangsa Indonesia baru saja lepas dari penjajah yang berlangsung ratusan
tahun, dan masih ada gelagat bahwa Belanda ingin kembali menjajah Indonesia.
Oleh karena itu penanaman jiwa patrionisme melalui pendidikan dianggap
merupakan jawaban guna mempertahankan negara yang baru diproklamasikan.
Sejalan dengan perubahan suasana kehidupan kebangsaan, tujuan pendidikan
nasional Indonesia pun mengalami perluasan; tidak lagi semata menekan jiwa
patrionisme.
Dalam Undang-Undang No. 4/1950 tentang dasar-dasar pendidikan dan
pengajaran di sekolah. “Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk
manusia yang cukup dan warga negara yang demokaratis secara bertanggung jawab
tentang kesejahtraan masyarakat dan tanah air”.
Kurikulum sekolah pada masa-masa awal kemerdekaan dan tahun 1950-an di
tujukan untuk:
- meningkatkan kesadaran bernegara dan bermasyarakat,
- meningkatkan pendidikan jasmani,
- meningkatkan pendidikan watak,
- menberikan perhatian terhafap kesenian,
- menghubungkan isi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, dan
- mengurangi pendidikan pikiran.
Menyusul meletusnya G-30 S/PKI yang gagal, maka melalui TAP MPRS No.
XXVII/MPRS/1966 tentang Agama, Pendidikan, dan kebudayaan di adakan
perubahan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional yaitu, “Membentuk manusia
pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikenhendaki oleh
pembukaan UUD 1945”.

28
2) Sistem Persekolahan
Sistem pendidikan di Indonesia pada awal kemerdekaan pada dasarnya
melanjutkan apa yang dikembangkan pada zaman pendudukan jepang. Sistem
dimaksud meliputi tiga tingkatan yaitu pendidikan rendah, pendidikan menengah,
dan pendidikan tinggi.
Pendidikan rendah adalah Sekolah Rakyat (SR) 6 tahun. Pendidikan menengah
terdiri dari sekolah menengah pertama dan sekolah menengah tinggi. Sekolah
menengah pertama yang berlangsung tiga tahun mempunyai beberapa jenis, yaitu
sekolah menegah pertama (SMP) sebagai sekolah menengah pertama umum;
kemudian sekolah teknik pertama (STP), kursus kerajinan negeri (KKN), sekolah
dagang,sekolah kepandayan putrid (SKP) sebagai sekolah menengah pertama
kejuruan; serta sekolah guru B (SGB) dan sekolah guru C (SGC) sebagai sekolah
menengah pertama keguruan.
Sekolah menegah tinggi berlangsung tiga tahun, meliputi sekolah menengah
tinggi (SMT) sebagai sekolah menengah umum, dan sekolah kejuruan berupa
sekolah teknik menengah (STM), sekolah teknik (ST), sekolah guru kepandayan
putrid (SGKP), sekolah guru A (SGA) dan kursus guru.
3) Pendidikan di Indonesia Selama PJP I (1969-1993)
Pembangunan jangka panjang meliputi lima pelita, yaitu pelita I-V yang dimulai
pada tahun 1969/1970 hingga tahun 1993/1994, atau 25 tahun. Selama kurun
tersebut, pendidikan Indonesia Indonesia mengalami kemajuan. Hal ini terutama di
tandai oleh semakin luasnya kesempatan untuk memperoleh pendidikan pada
semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan; meningkatnya jumblah sarana dan
prasarana pendidikan yang tersedia serta tenaga yang terlibat dalam pendidikan;
meningkatnya mutu pendidikan dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya;
semakin mantapnya sistem pendidikan nasional dengan di sahkan undang-undang
Nomor 2 Tahun 1989 tentang system pendidikan nasional beserta sejumblah
peraturan pemerintah yang menyertainya.
Namun demikian, hingga berakhirnya pelita V, pendidikan nasional masi di
hadapkan dengan berbagai tantangan baik kuantitatif maupun kualitatif. Secara
kuantitatif, tantangan yang di hadapi menyangkut pemerataan kesempatan untuk
mamperoleh pendidikan khususnya pendidikan dasar, sementara secara kualitatif

29
tantangan yang di hadapi berkenan dengan upaya mutu pendidikan, peningkatan
relefansi pendidikan dengan penbangunan, efektifitas dan efisiensi pendidikan.

4.5 Pendidikan di Indonesia Dewasa Ini


1. wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun
Pada tanggal 2 mei 1994 wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun untuk
tingkat SLTP dicanangkan. Sepuluh tahun sabelumnya, tepatnya pada tanggal
2 mei 1984, Indonesia juga memulai wajib belajar 6 tahun untuk tingkat SD,
bersamaan dengan peresmian berdirinya Universitas terbuka. Wajib belajar
pendidikan dasar 9 tahun mempunyai 2 tujuan utama yang berkaitan satu
sama lain. Pertama, meningkatkan pemerataan kesempatan untuk
memperoleh pendidikan bagi setiap kelompok umur 7-15 tahun. Kedua untuk
meningkatkan mutu sumberdaya manusia Indonesia hingga mencapai SLTP.
Dengan wajib belajar, maka pendidikan minimal bangsa Indonesia semula
6 tahun ditingkatkan menjadi 9 tahun. Sasaran-sasaran wajib belajar
pendidikan dasar 9 tahun dalam pelita VI adalah, pertama, meningkatkan
angka partisipasi kasar (APK) tingkat SLTP menjadi 66,19% dari keadaan
padaawal pelita V yang mencapai 52,67%. Kedua, meningkatkan jumblah
lulusan SD/MI yang tertampung di SLTP dan MTs sebesar 5400.000, yaitu
dari 2,56 juta pad tahun 1993/1994 menjadi 3,10 juta pada tahun 1998/1999.
Ketiga, tercapainya jumblah guru SD yang minimal berkualifikasi D-II
sebayak 80%, guru SLYP berkualifikasi D-III sekitar 70%.
Tantangan yang di hadapi oleh program wajip belajar pendidikan dasar 9
tahun memang lebih besar jika dibandikan dengan wajib belajar 6 tahun.
Alasanya antara lain, pertama, pada saat dimulainya wajip belajar pendidikan
dasar sembilan tahun, baru skitar separuh dari kelompok umur 13-15 tahun
yang berada disekolah. Kedua, daya dukung berupa dana, sarana, dan tenaga
yang dimiliki oleh Indonesia untuk melaksanakan wajip belajar pendidikan
dasar 9 tahun tidak lagi sebanyak pada saat dilaksanakan wajib belajar 6
tahun. Misalnya, pembangunan SD dalam jumblah besar melalui inpres.
Ketiga, guna menampung 6,26 juta anak usia 13-15 tahun di SLTP diperlukan
sarana, biaya, dan tenaga yang tidak sedikit. Sejak di mulai pada tahun 1994,

30
program wajip belajar pendidikan dasar sembilan tahun mencapai banyak
kemajuan. Indikator-indikator kuantitatif yang di catat menunjukan bahwa
angka partisipasi meningkat sejalan dengan semakin bertambahnya ruang
belajar, jumblah guru, dan fasilitas belajar lainnya.
2. Pelaksanaan kurikulum 1994
Kurikulum 1994 di berlakukan secara bertahap mulai tahun ajaran
1994/1995. kurikulum 1994 disusun dengan maksud agar proses pendidikan
dapat selalu menyesuakan diri dengan tantangan yang terus barkembang,
sehingga mutu pendidikan akan semakin meningkat. Kurikulum 1984 yang
telah berjalan 10 tahun dipandang perlu untuk diperbaharui karena menurut
hasil-hasil pengkajian, ditemikan adanya materi kurikulum yang tmpang
tindih dan memerlukan penambahan. Misalnya tumpang tindih antara materi
PMP, Sejarah Nasional, dan PSPB yang dalam kurikulum 1994 strukturnya
lebih di sederhanakan. Disahkannya UU No 2/1989 tentang system
Pendididkan Nasional yang diikuti oleh berbagai peraturan pemerintah
mempuyai implikasi pada perlunya kurikulum pendidikan mengalami
penyesuaian. Menyusul terjadinya informasi, dilakukan kembali revisi atas
kurikilum 1994 dengan menata kembali struktur programnya yang kemudian
dikenal dengan kurikulum 1994 yang disempurnakan.

31
BAB V
LANDASAN SOSIAL BUDAYA

5.1 Sosiologi dan Pendidikan


Sosial budaya merupakan bagian hidup manusia yang paling dekat dengan
kehidupan sehari-hari. Sosial mengacu kepada hubungan antar individu, antar
masyarakat, dan individu dengan masyarakat. Karena itu, aspek social melekat pada
diri individu yang perlu dikembangkan dalam perjalanan hidup peserta didik agar
menjadi matang.
Dalam sosiologi, perilaku atau hubungan sosial manusia bertalian dengan
nilai-nilai. Sosiologi berpandangan bahwa perilaku itu tidak bebas melainkan
mengikuti pola yang kontinu dan pola itu yang sebaga pengatur perilaku yaitu nilai-
nilai yang ada dalam masyarakat. Setiap orang secara sadar atau tidak sadar dalam
berprilaku ditentukan oleh nilai-nilai yang dianutnya atau yang dianut oleh
kelompoknya.
Ada sejumlah nilai yang secara garis besar ada empat sumber, yaitu:
a. Norma-norma, yang mencakup norma-norma umum, Folkways yaitu
norma yang berisi kebiasaan adat dan tradisi yang siatnya turun-
temurun, dan mores yaitu hal-hal yang diwajibkan untuk dianutdan
diharamkan jika dilanggar
b. Agama, yaitu nilai-nilai yang tertera dalam ajaran agama, seperti
keharusan sembahyang, berbuat baik kepada orang lainmencintai
sesame, dan sebagainya.
c. Peraturan perundang-undangan
d. Pengetahuan, seperti kita ketahui maksud dikembangkannya
Pengetahuan adalah untuk meningkatkan hidup dan kehidupan manusia.
Sekolah-sekolah harus memperhatikan pengembangan nilai-nilai ini pada
anak-anak di sekolah. Karena salah satu fungsi sekolah adalah untuk memperbaiki
mental anak-anak. Hal ini sesuai dengan harapan yang dikemukakan ahli
pendidikan yaitu bahwa sekolah adalah sebagai (1) control social yang bertujuan
untuk memperbaiki kebiasaan-kebiasaan jelek pada anak-anak,dan (2) pengubah

32
sosial yaitu untuk menyeleksi nilai-nilai menghasilkan warga Negara yang baik.
Namun tugas tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah atau
pemerintah, akan tetapi juga menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat
secara bersama-sama.

5.2 Kebudayaan dan Pendidikan


Salah satu pengertian kebudayaan yang dikemukakan oleh para ahli adalah
bahwa kebudayaan adalah keseluruhan hasil manusia hidup bermasyarakat yang
berisi aksi-aksi terhadap dan oleh sesama manusia sebagai anggota masyarakat
yang merupakan kepandaian, kepercayaan, moral, kesenian, hokum, adat-istiadat
dan lain-lain. Menurut Kerber dan Smith ada enam fungsi utama kebudayaan dalam
kehidupan manusia yang sangat erat kaitannya dengan dunia pendidikan, yaitu:
a. Penerus anak dan pengasuh anak, yaitu suatu fungsi yang menjamin
kelangsungan hidup biologis kelompok sosial
b. Pengembangan kehidupan berekonomi, yaitu pendidikan sebagai
budaya akan membuat orang mampu menjadi pelaku ekonomi yang
baik.
c. Transmisi budaya, yaitu salah satu tugas pendidikan sebagai bagian dari
kebudayaan adalah mapu membentuk dan mengemangkan generasi baru
menjadi orang-orang yang berbudaya.
d. Meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu
pendidikan sebagai budaya haruslah dapat membuat anak-anak
mengembangkan kata hati dan perasaannya taat terhadap ajaran-ajaran
agama yang dipeluknya.
e. Pengendalian sosial, yaitu pelembagaan konsep-konsep untuk
melindungi kesejahteraan individu atau kelompok.
f. Rekreasi, yaitu kegiatan yang memberikan kesempatan kepada orang
lain untuk memuaskan kebutuhannya akan permainan atau untuk
bermain.

33
5.3 Masyarakat dan Sekolah
Ada anggapan bahwa secara umum orang tua tidak mampu mendidik anaknya
secara sempurna dan lengkap. Karena itu, orang tua atau masyarakat pada
umumnya membutuhkan pihak lain, dalam hal ini lembaga pendidikan. Lembaga
pendidikan terbentuk sebagai upaya masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya.
Sehingga lembaga pendidikan ada di masyarakat dan hidup bersama-sama
masyarakat. Keduanya saling membutuhkan, masyarakat membutuhkan agar para
siswa dan remaja dibina di sekolah dan sebaliknya sekolah membutuhkan agar
masyarakat membantu kelancaran proses belajar disekolah dengan memberikan
berbagai macam fasilitas yang dibutuhkan. Pada akhirnya pendidikan akan
bermanfaat bagi masyarakat yaitu untuk meningkatkan peranan mereka sebagai
warga baik yang berkaitan dengan kewajiban maupun dengan hak mereka.
Hubungan antara sekolah dan masyarakat pada hakekatnya adalah suatu sarana
yang cukup mempunyai peranan yang menentukan dalam rangka usaha
mengadakan pembinaan pertumbuhan dan pengembangan murid-murid di sekolah.
Secara umum orang dapat mengatakan apabila terjadi kontak, pertemuan dan lain-
lain antara sekolah dengan orang di luar sekolah, adalah kegiatan hubungan sekolah
dengan masyarakat. Arthur B. Mochlan menyatakan school public relation adalah
kegiatan yang dilakukan sekolah atau sekolah untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat.
Ada suatu kebutuhan yang sama antara keduanya, baik dilihat dari segi
edukatif, maupun dilihat dari segi psikologi. Hubungan antar sekolah dan
masyarakat lebih dibutuhkan dan lebih terasa fungsinya, karena adanya
kecenderungan perubahan dalam pendidikan yang menekankan perkembangan
pribadi dan sosial anak melalui pengalaman-pengalaman anak dibawah bimbingan
guru, baik diluar maupun di dalam sekolah.
Dari beberapa pendapat para ahli, sekolah atau pendidikan memiliki manfaat
bagi masyarakat yaitu sebagai berikut :
1. Pendidikan sebagai tranmisi budaya dan pelestarian budaya
2. Sekolah sebagai pusat budaya bagi masyarakat sekitarnya
3. Sekolah mengembangkan kepribadian anak di samping oleh keluarga anak
itu sendiri

34
4. Pendidikan membuat orang menjadi warga negara yang baik, tahu akan
kewajiban dan haknya
5. Pendidikan meningkatkan integrasi sosial atau kemampuan bermasyarakat
6. Pendidikan meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis, melalui
pelajaran ilmu, teknologi, dan kesenian.
7. Sekolah meningkatkan alat kontrol sosial dengan memberi pendidikan agama
dan budi pekerti.
8. Sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial.
9. Pendidikan adalah sebagai perubahan sosial melalui kebudayaan-kebudayaan
yang baru.
10. Pendidikan berfungsi sebagai seleksi dan alokasi tenaga kerja
11. Pendidikan dapat memodifikasi hierarki ekonomi masyarakat.

5.4 Masyarakat Indonesia dan Pendidikan


Sebagian besar masyarakat Indonesia sekarang sudah sadar akan pentingnya
pendidikan untuk meningkatkan hidup dan kehidupan. Dimana-mana tampak anak-
anak berebut untuk mendapatkan sekolah, walaupun masih banyak kasus orang tua
yang menolak menyekolahkan anaknya dengan dalih membantu mencari nafkah.
Namun kasus-kasus seperti ini umumnya terjadi di daerah pelosok yang
masyarakatnya jauh dari mengenyak pendidikan.

5.5 Implikasi Konsep Pendidikan


Implikasi tentang kebudayaan terhadap pendidikan pada umumnya adalah
sebagai berikut; (1) keberadaan sekolah tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat
disekitarnya, keduanya saling menunjang, (2) perlu dibentuk badan kerjasama
antara sekolah dengan tokoh masyarakat, orang tua, atau unsure penunjang
pendidikan yang lainnya, (3) proses sosialisasi anak perlu ditingkatkan, (4)
dinamika kelompok dijadikan sebagai sumber belajar, (5) kebudayaan menyangkut
seluruh cara hidup dan kehidupan manusia yang diciptakan manusia ikut
mempengaruhi pendidikan atau perkembangan anak, (5) akibat kebudayaan masa
kini, ada kemungkinan adanya pergeseran paradigm pendidikan yaitu dari

35
pendidikan sekolah ke masyarakat luas dengan berbagai pengalaman yang luas, (6)
materi pelajaran banyak dikaitkan denga keadaan masyarakat.

36
BAB VI
LANDASAN PSIKOLOGI

6.1 Psikologi Perkembangan


Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Makin
besar seorang anak maka berkembang pula jiwanya, dengan melalui tahapan-
tahapan tertentu yang akhirnya anak itu mencapai kedewasaan baik dari segi
kejiwaannya maupun jasmaninya. Dalam perkembangan inilah seyogyanya anak-
anak belajar sebab pada masa tersebut mereka sangat peka untuk belajar, punya
banyak waktu, belum berumah tangga, belum bekerja, dan lain-lain.
Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan yaitu (1) pendekatan
pentahapan, yaitu teori yang memandang bahwa perkembangan individu berjalan
melalui tahapan-tahapan tertentu. Setiap tahap memiliki cirri-ciri khusus yang
berbeda dengan tahap yang lain, (2) pendekatan diferensial, yaitu pendekatan yang
memandang individu memiliki kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan, (3)
pendekatan ipsatif, yaitu pendekatan yang berusaha melihat karakteristik setiap
individu.
Banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli yang diuraikan dalam buku ini
tentang tahap-tahap perkembangan antara lain oleh Crijns, Rouseou, Stanley Hall,
Havinghurst, Piaget, Lawrence Kohlberg, Erikson, dan Gagne. Pembahasan tentang
psikologi perkembangan ini mencakup perkembangan umum, kognisi, moral,
afeksi dan kemampuan belajar.

6.2 Psikologi Belajar


Belajar adalah perubahan perilaku yang relative permanen sebagai hasil
pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat atau kecelakaan) dan bisa
melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikannya
kepada orang lain. Ada sejumlah prinsip belajar antara lain (1) kontiguitas, (2)
pengulangan, (3) penguatan, (4) motivasi positif, (5) tersedia materi yang lengkap,
(6) adanya apersepsi, (7) adanya strategi, dan (8) aspek-aspek jiwa anak harus dapat
dipengaruhi oleh factor-faktor dalam pengajaran.
Selanjutnya dijelaskan tentang sejumlah teori belajar, antara lain:

37
1. Teori belajar klasik yang terdiri dari (a) disiplin mental theistic, (b) disiplin
mental humanistic, (c) naturalis atau aktualisasi diri, (d) apersepsi.
2. Teori belajar modern, yang meliputi (a) R-S Bond atau asosiasi, (b)
pengkondisian instrumental, (c) pengkondisian operan, (d) penguatan, (e)
kognisi, (f) belajar bermakna, (g) insght atau gestalt, (h) lapangan, (i) tanda
(sign) dan (j) fenomenlogi. Teori belajar modern dibagi menjadi dua yaitu
teori belajar behaviorisme dan teori belajar Kognisi.

6.3 Psikologi Sosial


Psikologi sosial adalah psikologi yang mempelajarai psikologi seseorang di
masyarakat yang mengombinasikan cirri-ciri psikologi dengan ilmu social untuk
mempelajari pengaruh masyarakat terhadap individu dan antar individu. Dengan
demikian psikologi ini akan mencoba melihat keterkaitan masyarakat dengan
kondisi psikologi kehidupan individu.
Psikologi sosial terdiri dari dua kata yaitu psikologi dan sosial. Psikologi
diartikan sebuah bidang ilmu pengetahuan yang fokus terhadap perilaku dan fungsi
mental manusia secara ilmiah. Kemudian, sosial merupakan segala perilaku yang
berhubungan dengan hubungan antar individu. Jadi, pengertian psikologi sosial bisa
diartikan juga merupakan bidang keilmuan yang mempelajari tentang perilaku dan
mental manusia yang berkaitan dengan hubungan antar individu dalam masyarakat.
Interaksi sosial manusia di masyarakat baik itu antar individu, individu dan
kelompok ataupun antar kelompok memiliki respon kejiwaan. Reaksi kejiwaan
seperti sikap, emosional, perhatian, kemauan. Kemudian juga motivasi, harga diri
dan lain sebagainya tercakup dalam psikologi sosial. Psikologi sosial merupakan
ilmu mengenai proses pekembangan mental manusia sebagai makhluk sosial.
Dengan demikian, psikologi sosial mempelajari hal hal yang meliputi perilaku
manusia dalam konteks sosial.
Kemudian, kondisi dalam berinteraksi sosial dipengaruhi tidak hanya oleh
proses kejiwaan namun juga kondisi lingkungan. Faktor lingkungan berlaku seperti
norma, nilai, aturan sosial, budaya, cuaca, dan lainnya. Lingkungan tersebut
mempengaruhi harga diri, etos kerja, kebanggan, semangat hidup, ataupun
kesadaran orang dalam kehidupan sehari – hari. Peranan keluarga, teman sejawat,

38
dan orang orang dalam lingkungan juga mendorong semangat, prestasi, seseorang
dalam mencapai keberhasilan. Konsep – konsep dasar psikologi sosial menjadi
salah satu bagian dari kajian ilmu sosial sebagai berikut :
1. Emosi terhadap objek sosial
Emosi dan reaksi emosional dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Ketajaman
emosi dan reaksi emosional dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
Pengendalian respon emosi sangat penting dalam kehidupan bersosial. Emosi
merupakan kajian dari psikologi sosial yang memiliki peranan penting dalam
pembentukan perilaku seseorang teradap respon dari stimulus dalam lingkungan
sosial. Bahkan, emosi juga sebagai potensi kepribadian yang perlu dilakukan
pembinaan psikologis misal bisa melalui pendidikan keagamaan.
2. Perhatian
Perhatian atau rasa peka terhadap apa yang terjadi dalam lingkungan sosial
seseorang juga mempengaruhi cara seorang individu bersikap terhadap hubungan
sosialnya.
3. Minat
Minat atau daya tarik individu terhadap hubungan sosialnya juga
berpengaruh terhadap hubungan antar individu dan kelompok berkaitan dengan
proses interaksi dan pemberian respon. Minat muncul dari dalam diri individu dan
mungkin bisa dipengaruhi oleh subjek subjek dari luar seperti keluarga, budaya,
lingkungan.
4. Kemauan
Kemauan merupakan suatu potensi yang mendorong dalam diri individu
untuk memperoleh dan mencapai suatu yang diinginkan. Keinginan yang kuat
merupakan modal dasar dari suatu pencapaian. Kemauan menjadi landasan yang
kuat untuk melakukan sesuatu untuk berprestasi.
5. Motivasi
Motivasi sebagai konsep dasar yang timbul dari dalam diri sendiri dan juga
bisa didapatkan dari lingkungan atau orang terdekat. Motivasi merupakan kekuatan
yang mampu mendorong kemauan untuk mencapai sesuatu. Kemudian motivasi
yang keras akan memperkuat perjuangan seorang individu untuk mencapai apa
yang diinginkan.

39
6. Kecerdasan dalam menanggapi persoalan sosial
Kecerdasan merupakan modal dasar yang ada dalam diri individu masing
masing dan berbeda pada setiap individu. Kemudian juga merupakan modal dasar
untuk memecahkan permasalahan sosial yang muncul. Potensi kecerdasan yang
karakternya bersifat kognitif akan lebih mudah diukur. Sedangkan kecerdasan yang
sifatnya afektif lebih sulit diukur dan dievaluasi dengan aspek kecerdasan.
Kecerdasan juga sangatlah penting bagi individu untuk menjalani kehidupan dan
masalah masalah hidup yang terus terjadi.
7. Penghayatan
Penghayatan adalah proses kejiwaan yang sifatnya menuntut suasana yang
tenang. Proses ini tidak hanya melibatkan sikap merasakan, memperhatikan,
menikmati atau lainnya, namun lebih dari itu. Hal -hal yang terjadi dalam proses
interaksi sosial, dirasakan serta diikuti dengan tenang sehingga menimbulkan kesan
yang mendalam pada diri masing masing individu. Proses penghayatan ini
dilakukan dalam kondisi penuh kesadaran. Penghayatan penuh akan lebih sulit
dilakukan.
8. Kesadaran
Kesadaran perlu ada dalam melakukan suatu tindakan, mengambil
keputusan dalam interaksi dengan kehidupan sosial. Kesadaran pada individu
ditentukan oleh individu itu sendiri setelah melihat apa yang terjadi pada
lingkungan sosialnya sebagai respon psikologis yang positif.
9. Harga diri
Harga diri merupakan konsep yang menciptakan manusia sebagai makhluk
hidup yang bermartabat. Martabat atau harga diri yang terbina dan dipelihara akan
menjadi perhitungan bagi pihak individu lain dalam memandang individu. Harga
diri yang dijatuhkan akan merusak martabat individu dan dimanfaatkan oleh orang
lain untuk hal yang tidak positif.
10. Sikap mental
Sikap mental merupakan reaksi yang timbul dari diri masing-masing
individu jika ada rangsangan yang datang. Reaksi mental bisa bersifat positif,
negatif, dan juga netral. Hal tersebut tergantung pada kondisi diri masing masing

40
individu serta bergantung pula pada sifat rangsangan yang datang. Rangsangan
yang datang akan direspon oleh individu melalui sikap atau reaksi mental yang bisa
dikatakan positi, negatif ataupun netral.
11. Kepribadian
Kepribadian merupakan gagasan yang dinamika, sikap, dan kebiasaan yang
dibina oleh potensi biologis secara psiko-fisiologikal dan secara sosial
ditransmisikan melalui budaya, serta dipadukan dengan kemauan, dan tujuan
individu berdasarkan keperluan pada lingkungan sosialnya. Konsep dasar
kepribadian menurut Brown bersaudara yaitu sebagai ungkapan denotatif,
sedangkan yang dikemukakan oleh Hart dalam pengertian konotatif yang lebih
komprehensif. Kepribadian itu bersifat unik yang memadukan potensi internal
dengan faktor eksternal berupa lingkungan terbuka. Faktor eksternal seperti
lingkungan itu sangat kuat. Faktor lingkungan mampu berperan aktif dalam
memberikan pengaruh positif terhadap pembinaan kepribadian. Kepribadian yang
kokoh dan kuat diperlukan untuk pembangunan kehidupan yang baik dan mengatasi
tantangan tantangan atau persaingan yang semakin berat di lingkungan sosial.

6.4 Kesiapan Belajar dan Aspek-aspek Individu


Kesiapan belajar secara umum adalah kemampuan seseorang untuk
mendapatkan keuntungan dan pengalaman yang ia temukan. Sementara itu
kesiapan kognisi bertalian dengan pengetahuan, pikiran dan kualitas berpikir
seseorang dalam menghadapi situasi belajar yang baru. Kemampuan-kemampuan
ini bergantung pada tingkat kematangan intelektual.
Kesiapan belajar secara umum adalah kemampuan seseorang
untuk mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang ia temukan.
Kemampuan-kemampuan itu bergantung pada tingkat kematangan
intelektual. Contoh kematangan intelektual adalah tingkat-tingkat
perkembamgan kognisi Piaget yang telah diuraikan pada bagian psikologa
perkembangan. Ausubel mengatakan faktor yang paling penting
mempengaruhi belajar adalah apa yang sudah diketahui oleh anank-anak.
Sedangkan perihal menstruktur kognisi dalam banyak kasus para siswa

41
dapat menstruktur kembali pengetahuannya untuk penyesuaian dengan
materi-materi baru yang diterima dari pendidikan.
Pendekatan lain yang dapat dilakukan dalam mengembangkan
potensi motivasi adalah dengan program intenversi selaman anak duduk
di TK dan kelas-kelas awal di SD. Intervensi ini bisa dalam bentuk:
1. Memperbanyak ragam fasilitas di TK
2. Memberi kesempatan kepada orang tua untuk menyaksikan
interaksi yang efektif di TK dan SD. Pola interksi ini adalah:
a. Memberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan
b. Membut kegiatan-kegiatan berprestasi berhasil
c. Menciptakan tujuan-tujuan yang menantang, tidak terlalu
gampang dan tidak terlalu sukar
d. Memberi kayakinan untuk sukses serta menghargai
kemampuan-kemampuannya
e. Membuat setiap anak tertarik dan gemar belajar. Kesaksian
orang tua bisa menambah semangat anak-anak belajar
menyeleseikan tugas
Disamping itu metode tersebut, masih ada cara untuk membangun
motivasi. Cara-cara yang dimaksud adalah:
1. Memberi kepuasan terhadap kebutuhan-kebutuhan yang
dituntut,seperti:
a. Kebutuhan fisik
b. Kebutuhan diterima oleh kelompok
c. Kebutuhan mengembangkan konsep diri
2. Memberikan tugas-tugas yang menantang
3. Mengembangkan kesadaran control dari dalam. Anak-anak yang
mempunyai keyakinan kuat bahwa ia dapat mengontrol diri sendiri
tampak lebih gigih berusaha,mengambil langkah-langkah untuk
memperbaiki lingkungan, menghargai penguatan prestasi baik
dalam kesuksesan maupun dalam kegagalan, dan menolak upaya-
upaya orang untuk mempengaruhi dirinya.

42
Perlengkap peserta didik atau warga belajar sebagai subjek dalam
garis besarnya dapat dibagi menjadi lima kelompok, yaitu:
a. Watak, adalah sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang
hamper tidak dapat diubah.
b. Kemepuan umum atau IQ, ialah kecerdasan yang bersifat
umum.
c. Kemampuan khusus atau bakat, ialah kemampuan yang
dibawa sejak lahir.
d. Kepribadian, ialah penampilan seseorang secara umum.
e. Latar belakang, ialah lingkungan tempat dibesarkan
terutama lingkungan keluarga.

43
BAB VII
LANDASAN EKONOMI

7.1 Peran Ekonomi dalam Pendidikan


Kecenderungan bahwa manusia mengutamakan kesejahteraan materi
dibandingkan kesejateraan rohani membuat ekonomi mendapat perhatian yang
sangat besar. Sehingga orang berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan uang
sebanyk-banyaknya untuk memenuhi kebutuhannya.
Perkembangan ekonomi secara makro berpengaruh pada bidang
pendidikan, yaitu semakin banyaknya orang-orang kaya yang secara sukarela
menjadi bapak angkat agar anak-anak tidak mampu dapat bersekolah. Selain itu
terlaksananya system ganda dalam pendidikan, yaitu kerja sama antara sekolah
dengan usahawan dalam menunjang proses belajar. Di lain pihak bermunculan
sejumlah sekolah-sekolah unggulan yang didirikan oleh orang kaya atau
konglomerat.
Secara mikro, tingkat perekonomian masyarakat pada umumnya sangat
berpengaruh pada tingkat sekolahnya. Semakin baik perekonomiannya animo
masyarakat dalam pemberian pendidikan bagi putra-putrinya semakin baik, dan
sebaliknya, walaupun tidak semuanya demikian.
Peranan ekonomi dalam pendidikan cukup menentukan tetapi bukan
sebagai pemegang peranan penting sebab ada hal lain yang lebih menentukan hidup
matinya dan maju mundurnya suatu lembaga pendidikan dibandingkan dengan
ekonomi, yaitu dedikasi, keahlian dan ketrrampilan pengelola guru-gurunya. Inilah
yang merupakan kunci keberhasilan suatu sekolah atau perguruan tinggi. Artinya
apabila pengelola dan guru-guru/dosen-dosen memiliki dedikasi yang memadai,
ahli dalam bidangnya dan memiliki ketrampilan yang cukup dalam melaksanakan
tugasnya, memberi kemungkinan lembaga pendidikan akan sukses melaksanakan
misinya walaupun dengan ekonomi yang tidak memadai.
Fungsi ekonomi dalam pendidikan adalah menunjang kelancaran proses
pendidikan bukan merupakan modal yang dikembangkan dan juga mendapatkan
keuntungan yang berlimpah, disini peran ekonomi dalam sekolah juga merupakan
salah satu bagian dari sumber pendidikan yang membuat anak mampu

44
mengembangkan kognisi, afeksi, psikomotor untuk menjadi tenaga kerja yang
handal dan mampu menciptakn lapangan kerja sendiri, memiliki etos kerja dan bisa
hidup hemat. Selain sebagai penunjang proses pendidikan ekonomi pendidikan juga
berfungsi sebagai materi pelajaran dalam masalah ekonomi dalam kehidupan
manusia.
Dengan demikian kegunaan ekonomi dalam pendidikan terbatas pada hal-
hal:
a). Untuk membeli keperluan pendidikan yang tak dapat dibuat sendiri seperti
prasarana dan sarana, media, alat peraga dan sebagainya. b). Membiayai semua
perlengkapan gedung, seperti air, listrik telpon. c). Membayar jasa dari segala
kegiatan pendidikan, d). Mengembangkan individu yang berperilaku ekonomi,
seperti; belajar hidup hemat, e). Memenuhi kebutuhan dasar para personalia
pendidikan, f). Meningkatkan motivasi kerja, dan g). meningkatkan gairah kerja
para personalia pendidikan.
Dana pendidikan di Indonesia sangat terbatas, oleh karena itu ada
kewajiaban lembaga pendidikan untuk memperbanyak Sumber-sumber dana
pendidikan yang mungkin bisa diperoleh di antaranya: a). Dari pemerintah dalam
bentuk proyek pembangunan, penelitian dan sebagainya; b). Kerjasama dengan
instansi lain, baik pemerintah, swasta maupun dunia usaha. Kerja samanya dalam
bidang penelitian, pengabdian pada masyarakat; c). Membentuk pajak pendidikan.
Program ini bisa dirancang bersama antara lembaga pemerintah setempat dan
masyarakat, dengan cara ini bukan saja orang tua siswa yang membayar dana
pendidikan tetapi semua masyarakat; f). Usaha-usaha lainya.
Menurut jenisnya pembiayaan pendidikan dibagi atas : a). Dana rutin adalah
dana yang dipakai untuk membiayai kegiatan rutin seperti gaji pendidikan
pengabdian masyarakat, penelitian dan sebagainya; b). Dana pembangunan, adalah
dana yang dipakai untuk membiayai pembangunan fisik diberbagai bidang, seperti;
membangun prasarana dan sarana, alat belajar, media, dan kurikulum baru; c). Dana
bantuan masyarakat, termasuk SPP yang digunakan untuk membiayai hal-hal yang
belum dibiayai oleh dana rutin dan dana pembangunan; d). Dana usaha lembaga
sendiri yang penggunaanya untuk membiayai hal-hal yang belum dibiayai oleh
dana rutin dan dana pembangunan.

45
Di dalam mengelola dan merencanakan sumber dana, maka ada tiga macam
perencanaan biaya pendidikan yaitu: a). Perencanaan sacara tradisional, yaitu
merencanakan masing-masing pendidikan maka masing masing pendidikan
tersebut ditentukan biayanya; b). SP4 (Sistem Perencanaan Penyusunan Program
Dan Penganggaran): Pengaturan jenis-jenis kegiatan dalam pendidikan diatur
dalam system, alokasi dana disusun berdasarkan realita, dan semua kegiatan
ditujukan pada pencapaian target pendidikan; c). ZBB (Zero Base Budgeting),
hanya diatur untuk satu tahun anggaran. Dengan demikian dana pendidikan perlu
dikelola secara profesional dengan SP4 dan dipertanggungjawabkan dengan bukti-
bukti pembelian yang sah.

7.2 Fungsi Produksi dalam Pendidikan


Fungsi produksi adalah hubungan antara output dengan input. Suatu
organisasi pendidikan dikatakan produktif kalau paling sedikit memiliki
keseimbangan antara output dengan input. Pada umumnya fungsi produksi bagi
pendidikan ada tiga macam, yaitu (1) fungsi produksi administrator, (2) fungsi
produksi psikologi, dan (3) fungsi produksi ekonomi.
Fungsi produksi dalam pendidikan, adalah hubungan antara output dan input, di
mana ada tiga bagian yaitu:
1) Fungsi Produksi Administator; yang dipandang input adalah segala sesuatu
yang menjadi wahana dan proses dalam pendidikan, input pendidikan
meliputi:
• Prasarana dan sarana belajar, termasuk ruangan kelas dapat diuangkan,
artinya bahwa perhitungan luas dan kualitas bangunan
• Perlengkapan belajar di sekolah seperti media, alat peraga juga dihitung
harganya
• Buku-buku pelajaran, dan bentuk material lainnya seperti film, disket dan
sebagainya.
• Barang-barang yang habis dipakai seperti zat kimia dilaboratorium dan
sebagainya.
• Waktu guru bekerja, dan perangkat pegawai administrasi dalam memproses
peserta didik harus dibeli dan dibayar.

46
Kelima jenis input di atas sesudah dinilai dalam bentuk uang kemudian
dijumlahkan. Sementara itu yang dipandang sebagai output adalah berbagai
bentuk layanan dalam memproses peserta didik seperti menghitung SKS
dan lamanya peserta didik dalam belajar.
2) Fungsi Produksi Dalam Psikologi; adalah sama dengan input fungsi
produksi administrator akan tetapi outputnya berbeda. Hasil output yang ada
pada fungsi ini adalah hasil belajar siswa yang mencakup; peningkatan
kepribadian, pengarahan dan pembentukan sikap, penguatan kemauan,
penambahan pengetahuan, ilmu dan teknologi, penajaman pikiran, dan
peningkatan estetika (keindahan) serta keterampilan.
Suatu lembaga pendidikan dipandang berhasil dari segi fungsi produksi
psikologi, kalau harga inputnya sama atau lebih kecil daripada harga
outputnya. Indikator harga hanya dapat dicari dalam bentuk manfaatnya
lulusan dimasyarakat serta kecocokannya dengan norma dan kondisi
masyarakat.
3) Fungsi Produksi Ekonomi; sebagai inputnya adalah semus biaya pendidikan
seperti pada input fungsi produksi admnistrator, semua uang yang
dikeluarkan untuk keperluan pendidikan yaitu uang saku, membeli buku dan
sebagainya selama masa belajar dan uang yang mungkin diperoleh lewat
bekerja selama belajar atau kuliah, tetapi tidak didapat sebab waktu tersebut
dipakai untuk belajar atau kuliah. Sementara yang mrenjadi outputnya
adalah tambahan penghasilan peserta didik kalau sudah tamat dan bekerja,
manakala orang ini sudah bekerja sebelum belajar atau kuliah. Dan apabila
ia belum pernah bekerja yang menjadi outputnya adalah gaji yang diterima
setelah tamat dan bekerja.
Dalam menghitung harga-harga produksi ekonomi ada berbagai kesulitan
yang menghadang yaitu:
• Jika peserta didik tamat, belum tentu ia segera bekerja,
• Selama menunggu untuk mendapatkan pekerjaannya maka ia memutuskan
untuk bekerja seadanya dengan penhasilan yang tidak tetap.
• Kalaupun lulusan membuat usaha sendiri dengan modal seadanya,
penghasilan tiap bulan tidak mungkin tertatur.

47
• Kalaupun lulusan bisa bekerja dengan penghasilan tetap tiap bulan sangat
mungkin dia mencari tambahan penhasilan diluar untuk meningkatkan
nafkahnya.
• Bila bekerja disektor swasta, pengasilannya sulit dihitung sebab upah atau
gaji perusahaan bervariasi.
• Kalaupun lulusan ini bisa bekerja dengan penghasilan tiap bulan maka dia
mencari tambahan diluar untuk meningkatkan nafkahnya.

Dengan demikian fungsi produksi ekonomi akan bisa diaplikasikan dengan baik
jika ada jaminan bahwa peserta didik segera bekerja setelah lulus sebagai Pegawai
dengan gaji yang cukup sehingga tidak mencari tambahan pekerjaan diluar. Fungsi
produksi ekonomi bertalian erat dengan marketing didunia pendidikan. Dalam hal
ini Keuntungan marketing adalah a). Meningkatnya misi pendidikan secara sukses
dan terselenggara dengan baik, sebab diisi dengan program yang baik, b). Kepuasan
masyarakat ditingkatkan, c). Meningkatkan daya tarik terhadap petugas, peserta
didik, dana donatur, d). Meningkatkan keefesiensi dan kegiatan pemasaran. Akan
tetapi dalam marketing juga terdapat kelemahan adalah a). Ada kecederungan
lembaga pendidikan selalu dijadikan usaha dagang untuk mendapatkan keuntungan,
b). idealisme pendidikan cenderung diabaikan.
Menurut Mutrofin (1996) dalam Pidarta (2007:254), menyatakan bahwa
negara-negara maju hubungannya antara pendidikan dengan pembangunan
ekonomi sangatlah jelas, dimana sistem pendidikan diorientasikan kepada
kebutuhan ekonomi yang didasari pada teknologi tinggi, fleksibelitas dan mobilitas
angkatan kerja. Dalam masa pembangunan dinegara kita sekarang ini
pengembangan ekonomi mendapat tempat strategis, dengan munculnya Link and
Match, kebijaksanaan ini meminta dunia pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga
kerja yang sesuai dengan pasaran kerja, mencakup mutu, dan jumlah serta jenisnya.

7.3 Ekonomi Pendidikan


Dalam dunia pendidikan, faktor ekonomi bukan sebagai pemegang peran
utama, melainkan sebagai pemeran yang sangat menentukan keberhasilan
pendidikan. Sebab dengan ekonomi pendidikan yang memadai:
a. Prasarana, sarana, media, alat belajar, dan sebagainya data dipenuhi

48
b. Proses belajar mengajar bisa dilaksanakan secara lebih intensif, sebab pera
pendidik lebih dapat memusatkan perhatiannya, mereka idak mencari sambilan
di luar
c. Motivasi dan kegairahan kerja personalia pendidikan meningkat.
Dalam perencanaan biaya pendidikan alterative yang dikembangkan untuk
menyelesaikan suatu program perlu dinilai efektifitasnya, yaitu dengan mengukur
kaitan biaya dengan pencapaian tujuan.

49
BAB VIII
PROFESIONALISASI PENDIDIK

8.1 Profesi Pendidik


Pendidik dalam arti sempit diartikan sebagai orang-orang yang disiapkan
dengan sengaja untuk menjadi guru dan dosen. Guru dan dosen sebagai sebagai
profesi menuntut pelakunya menjadi orang yang professional. Ciri-ciri profesi
antara lain (1) pilihan terhadap jabatan itu didasarioleh motivasi, (2) telah memiliki
ilmu, (3) ilmu, pengetahuan dan keterampilan khusus tersebut diperoleh melalui
studi, (4) punya otonomi dalam bertindak, (5) mengabdi kepada masyarakat, (6)
tidak mengadvertensi keahliannya untuk mendapat klien, (7) menjadi anggota
organisasi profesi, (8) organisasi profesi mempunyai criteria untuk penerimaan
anggota baru, (9) memiliki kode etik profesi, (10) punya kekuatan dan status tinggi
sebagi eksper yag diakui dan (11) berhak mendapat imbalan yang layak.
Keberhasilan pendidikan sangat tergantung bagaimana guru dan dosen
mengoptimalkan segala upaya dan sarana dalam pengembangan proses belajar
mengajar. Keberhasilan dalam mendidik dapat dilihat dari kriteria (1) memiliki
sikap suka belajar, (2) tahu tentang cara belajar, (3) memiliki rasa percaya diri, (4)
mencintai prestasi tinggi, (5) memiliki etos kerja, (6) produktif dan kreatif, dan (7)
puas akan sukses yang dicapai.
8.2 Kode Etik Pendidik
Kode etik pendidik adalah salah satu bagian dari profesi pendiddik, artinya
setiap pendidik yang profesional akan melaksanakan etika jabatannya sebagai
pendidik. Dibawah ini adalah kode etik pendidik yang terdiri dari :
1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Maha Esa.
2. Setia kepada pancasila, UUD 1945 dan negara.
3. menjungjung tinggi harkat dan martabat peserta didik.
4. Berbakti kepada peserta didik dalam membantu mereka mengembangkan
diri.
5. Bersikap ilmiah dan menjungjung tinggi pengetahuan, ilmu, teknologi, dan
seni sebagai wahana dalam pengembangan peserta didik.

50
6. Lebih mengutamakan tugas pokok dan atau tugas negara lainnya dari pada
tugas sampingan
7. Bertanggung jawab, jujur, berprestasi, dan akuntabel dalam bekerja.
8. Dalam bekerja berpegang teguh kepada kebudayaan nasional dan ilmu
pendidikan.
9. Menjadi teladan dalam berprilaku.
10. Berprakarsa.
11. Memiliki sifat kepemimpinan
12. Menciptakan suasana belajar atau studi yang kondusif.
13. Memelihara keharmonisan pergaulan dan komunikasi serta bekerja sama
dengan baik dalam pendidikan.
14. mengadakan kerja sama dengan orang tua siswa dan tokoh-tokoh
masyarakat.
15. Taat kepada peraturan perundang-undangan dan kedinasan.
16. Mengembangkan profesi secara kontinu.
17. Secara bersama-sama memelihara dan meningkatakan mutu organisasi
profesi.
Pada umumnya para pendidik bertanggung jawab dalam melaksanakan
tugasnya, dalam tingkat tertentu mereka jujur dan berprestasi dan juga belum
diantara para pendidik yang akuntabel dalam bekerja. Mengenai keharusan menjadi
teladan dalam berprilaku, berperakarsa, dan mampu menjadi pemimpin tampaknya
masih harus dibina dan dikembangkan terus, karena menjadi teladan dalam
mendidik merupakan faktor penting sebab disamping memakai pikiran, perkataan,
dan keterampilan pendidik juga mendidik melaui pribadinya.

8.3 Pengembangan dan Organisasi Profesi


Secara terminologi, profesi dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang
mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada
pekerjaan mental bukan pekerjaan manual. Kemampuan mental yang dimaksudkan
disini adalah adanya suatu persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrumen
untuk melakukan perbuatan praktis. Profesisasi menunjukkan pada derajat
penampilan seseorang sebagai profesi atau penampilan suatu pekerjaan sebagai

51
suatu profesi. Ada yang profesinya tinggi, sedang dan rendah. Profesi juga mengacu
kepada sikap dan komitmen anggota profesi untuk bekerja berdasarkan standar
yang tinggi dan kode etik profesinya.
Pengembangan profesi adalah usaha profesi yaitu setiap kegiatan yang
dimaksudkan untuk meningkatkan profesi mengajar dan mendidik. Usaha
mengembangkan profesi ini bisa timbul dari dua segi, yaitu dari segi eksternal, yaitu
pimpinan yang mendorong guru untuk mengikuti penataran atau kegiatan akademik
yang memberikan kesempatan guru untuk belajar lagi, sedangkan dari segi internal,
guru dapat berusaha belajar sendiri untuk dapat berkembang dalam jabatannya.
Ada tiga pilar pokok yang ditunjukkan untuk suatu profesi, yaitu:
- Pengetahuan adalah segala fenomena yang diketahui yang
disistematisasikan sehingga memiliki daya prediksi, daya kontrol, dan
daya aplikasi tertentu. Pada tingkat yang lebih tinggi, pengetahuan
bermakna kapasitas kognitif yang dimiliki oleh seseorang melalui proses
belajar.
- Keahlian bermakna penguasaan substansi keilmuwan yang dapat
dijadikan acuan dalam bertindak. Keahlian juga bermakna kepakaran
dalam cabang ilmu tertentu untuk dibedakan dengan kepakaran lainnya.
- Persiapan akademik mengandung makna bahwa untuk mencapai derajat
profesi atau memasuki jenis profesi tertentu diperlukan persyaratan
pendidikan khusus, berupa pendidikan prajabatan yang dilaksanakan pada
lembaga pendidikan formal, khususnya jenjang perguruan tinggi.
Guru merupakan tenaga profesi dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Ada beberapa persyaratan suatu pekerjaan disebut sebagai profesi, yaitu:
a) Adanya pengakuan dari masyarakat dan pemerintah mengenai bidang layanan
tertentu yang hanya dapat dilakukan karena keahlian tertentu dengan kualifikasi
tertentu yang berbeda dengan profesi lain.
b) bidang ilmu yang menjadi landasan teknik dan prosedur kerja yang unik.
c) memerlukan persiapan yang sengaja dan sistematis sebelum orang mengerjakan
pekerjaan profesi tersebut.

52
d) memiliki mekanisme yang diperlukan untuk melakukan seleksi secara efektif
sehingga hanya yang dianggap kompetitiflah yang diperbolehkan
melaksanakan bidang pekerjaan tersebut.
e) memiliki organisasi profesi, disamping untuk melindungi kepentingan
anggotanya, juga berfungsi untuk meyakinkan agar para anggotanya
menyelenggarakan layanan keahlian terbaik yang dapat diberikan.
Macam-macam kegiatan guru yang termasuk kegiatan pengembangan profesi
adalah:
- mengadakan penelitian dibidang pendidikan,
- Menemukan teknologi tepat guna dibidang pendidikan,
- membuat alat pelajaran/peraga atau bimbingan,
- menciptakan karya tulis,
- mengikuti pengemba

8.4 Penyelenggaraan Pendidikan


Penyelenggaraan pendidikan adalah pengelolaan pendidikan yang
mencakup seluruh kegiatan pendidikan formal, nonformal, dan informal sesuai
dengan kewenangan Pemerintah Daerah.
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang
yang terdiri atas pendidikan dasar dan pendidikan menengah, sedangkan
pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang
dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan informal, jalur
pendidikan keluarga dan lingkungan.
Prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional di Indonesai sendiri
diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional BAB III pasal 4 yang menyebutkan bahwa prinsip penyelenggaraan
pendidikan nasional antara lain adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan diselenggarakan secara demokratis berkeadilan serta tidak
diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai
keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa
2. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu kesatuan yang sistemik dengan
sistem terbuka dan multimakna

53
3. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat
4. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun
kemauan dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran
5. Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca,
menulis dan berhitung bagi segenap warga masyarakat
6. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen
masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian
mutu layanan pendidikan
Pada poin 1 menunjukkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan
pendidikan. Pendidikan tidak hanya diperuntukkan untuk golongan tertentu saja,
namun setiap warga negara dapat memperoleh pendidikan dengan memperhatikan
beberapa nilai yaitu hak asasi, agama, kultural dan kemajemukan. Terlihak bahwa
pendidikan sangat menentang tehadap hal yang berhubungan dengan membeda-
bedakan atau mengkotak-kotakan masyarakat. Baik suku manapun, agama apapun,
warna kulit apapun berhak memperoleh pendidikan dengan baik.
Pendidikan harus dilaksanakan berdasarkan suatu sistem tertentu, dimana
sistem yang dipakai tidak dirahasiakan. Pendidikan juga dilaksanakan agar dapat
menyatu dengan budaya yang ada dalam masyarakat. Pendidikan seharusnya terus
menerus dilakukan seumur hidup baik melalui pendidikan formal maupun non-
formal.

54

Anda mungkin juga menyukai