Laporan Fieldtrip Petrologi Sulawesi
Laporan Fieldtrip Petrologi Sulawesi
KELOMPOK IX
KENDARI
2017
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk meluluskan mata kuliah Petrologi pada Jurusan
OLEH
KELOMPOK IX
KENDARI
2017
Disetujui Oleh:
Mengetahui :
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah
pada waktunya.
Dalam proses penyusunan laporan ini, penulis banyak mengalami kesulitan. Namun
berkat bantuan dan bimbingan dari beberapa pihak, terutama kepada yang terhormat dosen
pembimbing mata kuliah Petrologi bapak Dr. Ir. Muh. Chaerul S.T., [Link]., [Link]. serta para
asisten yang memberikan bimbingan dan koreksi sehingga laporan ini dapat terselesaikan,
untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih serta penghargaan sebesar-besarnya,
dan semoga Tuhan yang maha Esa dapat melimpahkan Rahmat-Nya atas segala amal yang
dilakukan.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi
kesempurnaan laporan ini. Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak
yang telah berperan serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga
Tuhan yang maha Esa senantiasa meridhoi segala usaha yang telah dilakukan.
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul...............................................................................................................
Halaman Pengesahan.....................................................................................................
Halaman Tujuan............................................................................................................
Kata Pengantar..............................................................................................................
Daftar Isi.........................................................................................................................
Daftar Foto.....................................................................................................................
Daftar Tabel...................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................
6.1 Kesimpulan................................................................................................................
6.2 Saran..........................................................................................................................
Daftar Pustaka...............................................................................................................
Lampiran........................................................................................................................
DAFTAR FOTO
DAFTAR TABEL
PENDAHULUAN
Sulawesi dan daerah sekitarnya terletak pada pertemuan tiga lempeng yang saling
bertabrakan; Lempeng Benua Eurasia yang relatif diam, Lempeng Pasifik yang bergerak ke
barat dan Lempeng Australia-Hindia yang bergerak ke utara, sehingga kondisi tektoniknya
sangat kompleks, dimana kumpulan batuan dari busur kepulauan, batuan bancuh, ofiolit,
dan bongkah dari mikrokontinen terbawa bersama proses penunjaman, tubrukan, serta
proses tektonik lainnya. Adapun struktur geologi yang berkembang didominasi sesar-sesar
mendatar, dimana mekanisme pembentukan struktur geologi Sulawesi bisa dijelaskan
Pulau Sulawesi adalah pulau di negara Indonesia yang mempunyai batuan penyusun
paling kompleks diantara batuan penyususun pulau-pulau yang lain. Dari beberapa provinsi
di wilayah Sulawesi itu sendiri , salah satu daerah yang memiliki struktur geologi yang
kompleks adalah Sulawesi tenggara. Daerah Sulawesi tenggara merupakan bagian dari
kepingan benua kepulauan. Meski demikian ada beberapa daerah yang temasuk dalam
Sulawesi tenggara yang struktur geologinya masih berkaitan erat dengan proses-proses
geologi yang ada di mandala timur yang terkenal dengan kompleks ofiolitnya.
Dari perkembang pengetahuan tentang peristiwa geologi sejak dahulu, manusia ingin
struktur, tekstur, warna yang berbeda untuk setiap jenisnya bagaimana terbentuknya gunung
api, perlapisan bumi atau lapisan-lapisan bumi, gempa, tanah longsor dan lainnya. Juga
bagaimana menentukan jurus dan kemiringan batuan serta menentukan posisi pada peta.
pengkajian secara teori mengenai identifikasi batuan, menentukan strike dan dip serta
menentukan posisi pada peta tidaklah cukup hanya di lakukan di laboratorium saja.
singkapan batuan, dapat mengukur sendiri strike dan dip serta dapat menentukan posisi pada
Maksud dari praktikum lapangan petrologi adalah untuk mengamati litologi penyusun
Adapun tujuan dari praktikum lapangan Fieltrip Geologi Dasar adalah sebagai berikut
2. Menentukan Strik dan Dip dari singkapan batuan yang didapatkan dilapangan
3. Menentukan titik kordinat dari singkapan batuan
2016. Perjalanan ke lapangan di daerah Wawolesea kabupaten konawe utara, dimulai dari
pelataran Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Universitas Halu Oleo pukul 7.00 WITA
menggunakan 5 unit bus Damri. Di lapangan terdapat 9 stasiun yang akan menjadi objek
pengmatan. Semua praktikan beserta dosen dan asisten pendamping berjalan menuju daerah
yang telah ditentukan mengunakan kendaraan (bus Damri) dengan waktu ±9 jam 20 menit.
Dari pelataran Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Universitas Halu Oleo menuju stasin
waktu ± 20 menit. Dari stasiun 2 menuju stasiun 3 membutuhkan waktu sekitar 15 menit.
Dari stasiun 3 menuju stasiun 4 membutuhkan waktu sekitar 50 menit. Dari stasiun 4 menuju
sekitar 30 menit. S dari stasiun 7 menuju stasin 8 membutukan waktu skitar 30 dan yang
terakhir sebelum sampai pada tempat peristirahatan yaitu dari stasiun 8 ke stasiun 9
10 menit.
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum lapanag ini yaitu :
N
Alat dan bahan Kegunaan
O
1. Rusman, E Sukido, Sukarna. D. Haryono, E, Simanjuntak T.O 1993. Keterangan Peta
2. Sukamto, R. 1975. Struktural of Sulawesi in the light of Plate Tektonik. Dept. of Mineral
4. Surono, 2013. Geologi lengan Tenggara Sulawesi. Badan geologi. Kementrian energi
Manfaat dari penelitian ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui Litolgi
GEOLOGI REGIONAL
Pulau Sulawesi, yang mempunyai luas sekitar 172.000 km2 (van Bemmelen,
1949), di kelilingi oleh laut yang cukup dalam. Sebagian besar daratannya dibentuk
telah diuraikan sebelumnya, Pulau Sulawesi berbentuk huruf “K” dengan empat lengan:
timur dengan ujung baratnya membelok kearah utara – selatan, Lengan tenggara
memanjang barat laut – tenggara, dan Lengan Selatan mebujur utara selatan. Keempat
bagian tengah Sulwesi yang merupakan pegunungan dan dibentuk oleh batuan gunung
api. Di ujung timur Lengan Utara terdapat bebera pagunungan api aktif, di antaranya
Gunung Lokon, Gunung Soputan, dan Gunung Sempu. Rangakaian gunung aktif ini
dibentuk oleh batuan [Link] antara Lengan Timur dan bagian Tengah
Sulawesi disusun oleh batuan malihan, sementara Lengan Tenggara di bentuk oleh
sekitarnya merupakan pertemuan tiga lempeng yang aktif bertabrakan. Akibat tektonik
aktif ini, pulau Sulawesi dan daerah sekitarnya dipotong oleh sesar regional yang masih
sistem sesar regional yang memotong pulau ini serta batuan penyusunya bagian tengah
umumnya berarah timur laut – baratdaya. sesar yang masih aktif sampai sekarang ini
Van bemmelen (1945) membagi lengan tenggara sulawesi menjadi tiga bagian:
ujung utara, bagian tengah, dan ujung selatan Ujung utara mulai dari palopo sampai
teluktolo; dibentuk oleh batuan ofiolit, Bagian tengah , yang merupakan bagian paling
lebar (sampai 162,5 km), didominasi oleh batuan malihan dan batuan sedimen
mesozoikum. Ujung selatan lengan tenggara merupakan bagian yang relative lebih
landai ;batuan penyusunya didominasi oleh batuan sedimen tersier, uraian dibawah ini
lembuke morfologi tanah ini sangat kasar dengan kemiringan lereng yang tajam.
Setidakya ada lima satuan morfologi yang dibedakan dan bagian tengah dan
ujung selatan lengan teggara sulawesi yang pegunungan perbukitan tinggi. Perbukitan
selatan kendari satuan ini terdiri dari bukit-bukit yang mencapai ketinngian 500 m
dpl. Dengan morfologi kasar. Batuan penyusun moefologi ini berupa batuan
Satuan perbukitan rendah, menempati luas di utara kendari dan ujung selatan
lengan tenngara sulawesi batuan ini terdiri dari bukit kecil dan rendah dengan
Satuan karst, dicirikan perbukitan kecil dan sungai di bawah permukaan tanah.
Sebagian besar batuan penyusun satuan morfologi didominasi oleh batu gamping
berumur poleoen dan selebihnya batu gamping mesosoikum perubahan ini erat
Batuan malihan berderajat rendah (low grade metamorphic) ini merupakan batuan
fasies epidot-amfibolit. Batuan malihan ini terjadi karena adanya proses burial
metamorphism. Batuan penyusunnya berupa sekis mika, sekis kuarsa, sekis klorit,
Di atas batuan malihan itu secara tak selaras menindih batuan sedimen klastika,
dari batusabak, filit dan kuarsit, setempat sisipan batugamping hablur. Formasi
Laonti terdiri atas batugamping hablur bersisipan filit di bagian bawahnya dan
Pada Neogen tak selaras di atas kedua mendala yang saling bersentuhan itu,
hingga Pliosen yang terdiri dari Formasi Eemoiko dan Formasi Boepinang.
gampingan dan napal. Formasi Boepinang terdiri atas batulempung pasiran, napal
pasiran, dan batupasir. Secara tak selaras kedua formasi ini tertindih oleh Formasi
Alangga dan Formasi Buara yang saling menjemari. Formasi Alangga berumur
Pliosen, terbentuk oleh konglomerat dan batupasir yang belum padat. Formasi
Buara dibangun oleh terumbu koral, setempat terdapat lensa konglomerat dan
batupasir yang belum padat. Formasi ini masih memperlihatkan hubungan yang
menerus dengan pertumbuhan terumbu pada pantai yang berumur Resen. Satuan
Struktur geologi di Sulawesi didominasi oleh arah barat laut – tenggara yang
berupa sesar mendatar sinistral dan sesar naik Sesar Palu–Koro memotong Sulawesi
bagian barat dan tengah, menerus ke bagian utara hingga ke Palung Sulawesi Utara
yang merupakan batas tepi benua di Laut Sulawesi. Jalur Sesar Palu – Koro
merupakan sesar mendatar sinistral dengan pergeseran lebih dari 750 km (Tjia, 1973;
Sukamto, 1975), arah gerak sesuai dengan jalur Sesar Matano dan jalur Sesar Sorong.
Sesar Sadang yang terletak di bagian barat dan sejajar dengan Sesar Palu berada
pada lengan Selatan Sulawesi, lembah Sungai Sadang dan Sungai Masupu yang
Sukamto,1975) yang berlawanan arah dengan Sesar Palu – Koro dan pola sesar
Sesar Matano merupakan sesar mendatar sinistral berarah barat laut – timur
memotong Sulawesi Tengah dan melalui Danau Matano, merupakan kelanjutan dari
Sesar Palu ke arah timur yang kemudian berlanjut dengan prisma akresi Tolo di Laut
Banda Utara.
Sistem Sesar Lawanopo berarah barat laut – tenggara, melewati Teluk Bone
dan Sulawesi Tenggara. Sesar ini kemungkinan berperan dalam pembukaan Teluk
Bone, seperti pembukaan yang terjadi di daratan Sulawesi Tenggara yang merupakan
zona sesar mendatar sinistral Neogen. Sesar Lawanopo memisahkan mintakat benua
Tengah.
Sesar naik Batui terletak pada bagian timur lengan Timur Sulawesi,
merupakan hasil dari tumbukan platform Banggai – Sula dengan Sulawesi yang
terangkat.
serta ada pula yang berarah hampir sama dengan lipatan tua.
Perdaunan atau foliasi juga umumnya berkembang baik dalam satuan batuan
glaukofan dan serpentin yang tersekiskan dalam Kompleks Ultramafik. Secara umum
perdaunan terlipat dan pada jalur sesar mengalami gejala kink banding. Belahan
umumnya berupa belahan bidang sumbu dan di beberapa tempat berupa belahan
retak (fracture cleavage). Belahan retak umumnya dijumpai dalam batupasir malih
dan batugamping malih. Secara umum bidang belahan berarah sejajar atau hampir
Kekar dijumpai hampir pada semua batuan, terutama batuan beku (Kompleks
Ultramafik dan Mafik), batuan sedimen malih Mesozoikum, dan batuan malihan
Samudera Pasifik, Lempeng Benua Australia dan Lempeng Benua Eurasia saling
bertumbukkan.
jenis morfologi yang ada di daerah wawolesea yaitu : lapis karst, stalaktik jembatan
alam dan travertinit. Pembentukan lapis stalaktik yang diakibatkan oleh air meteorik
jembatan alam terbentuk karna adanya sungai yang menerobos suatu batu gamping dan
travetin terbentuk karna adanya air yang kaya akan kandungan Ca, serta memiliki
timur (East Sulawesi Ophiolit Belt) berupa ofilit yang segmen kerak samudra
Batuan kompleks ofiolit dan sedimen pelagis di Lengan Timur dan Tenggara
Sulawesi dinamakan Sabuk Ofiolit Sulawesi Timur. Sabuk ini terdiri atas batuan-
batuan mafik dan ultramafik disertai batuan sedimen pelagis dan melange di beberapa
dominan lebih jauh ke utara, terutama di sepanjang pantai utara Lengan Tenggara
Sulawesi. Sekuens ofiolit yang lengkap terdapat di Lengan Timur, meliputi batuan
mafik dan ultramafik, pillow lava dan batuan sedimen pelagis yang didominasi
limestone laut dalam serta interkalasi rijang berlapis. Berdasarkan data geokimia sabuk
Ofiolit Sulawesi Timur ini diperkirakan berasal dari mid-oceanic ridge (Surono, 1995).
continental terrain = SSCT) menempati area yang luas di Lengan Tenggara Sulawesi,
sedangkan sabuk ofiolit terbatas hanya pada bagian utara lengan tenggara Sulawesi.
SSCT berbatasan dengan Sesar Lawanopo di sebelah timur laut dan Sesar Kolaka di
sebelah barat daya. Dataran ini dipisahkan dari Dataran Buton oleh sesar mendatar,
dimana pada ujung timur terdapat deretan ofiolit yang lebih tua. SSCT
memiliki batuan dasar metamorf tingkat rendah dengan sedikit campuran aplitic,
sedimen klastik tersebut mencakup formasi Meluhu di akhir Triassic dan unit
Tampakura.
sedangkan batuan metamorf muda disebabkan oleh patahan dalam skala besar ketika
continental terrain Sulawesi Tenggara bertabrakan dengan sabuk ofiolit, Batuan
metamorf ini diterobos oleh aplite dan ditindih oleh lava kuarsa-latite terutama di
Di daerah konawe utara, batuan dasar secara tidak selaras ditindih oleh
formasi Meluhu berumur Triassic, yang terdiri dari sandstone, shale dan mudstone.
metamorf itu mungkin tertutup oleh sedimen tipis. Adanya sedikit fragmen
membentuk lapisan tipis dengan cakupan lateral terbatas di daerah sumber. Sedikit
fragmen igneous rock mungkin berasal dari dyke yang menerobos basement metamorf.
Umur formasi Meluhu setara dengan umur formasi Tinala di dataran Matarombeo dan
umur formasi Tokala di dataran Siombok, hal ini disebabkan litologi ketiga formasi
tersebut serupa, dimana terdapat deretan klastik yang dominan di bagian yang
lebih rendah dan karbonat yang dominan di bagian yang lebih tinggi dari ketiga
menunjukkan umur akhir Triassic, dimana kehadiran ammonoids dan polen dalam
wilayah Tuetue dari formasi Meluhu sangat mendukung penafsiran ini. Formasi Tokala
di daratan Konawe utara yang berada di lengan timur Sulawesi, terdiri dari
limestone dan napal dengan sisipan shale dan chert (rijang). Adapun Steptorhynchus,
Productus dan Oxytoma yang sekarang berada di formasi Tokala menunjukan usia
antara formasi ini dan bagian atas formasi Meluhu, usia akhir Triassic mungkin yang
paling tepat untuk usia formasi Tokala, sedangkan usia Permo -Carbonaferous
mungkin merupakan usia basementnya, dimana formasi Tokala ditindih oleh batuan
konglomerat pink granite dari formasi Nanaka yang mungkin berasal dari
LANDASAN TEORI
Petrologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan geologi yang mempelajari
batuan pembentuk kulit bumi, mencakup aspek pemerian (deskripsi) dan aspek genesa-
interpretasi. Pengertian luas dari petrologi adalah mempelajari batuan secara mata
telanjang, secara optik/mikroskopis, secara kimia dan radio isotop. Studi petrologi
secara kimia sering disebut petrokimia yang dapat dipandang sebagai bagian dari ilmu
geokimia. Untuk kuliah dan praktikum mahasiswa Teknik Geologi semester 2 maka
studi petrologi dibatasi secara megaskopis saja. Aspek pemerian antara lain meliputi
interpretasi mencakup tentang sumber asal (“source”) hingga proses atau cara
terbentuknya batuan. Batuan didefinisikan sebagai semua bahan yang menyusun kerak
(kulit) bumi dan merupakan suatu agregat (kumpulan) mineral-mineral yang telah
menghablur (mengkristal). Dalam arti sempit, yang tidak termasuk batuan adalah tanah
dan bahan lepas lainnya yang merupakan hasil pelapukan kimia, fisis maupun biologis,
serta proses erosi dari batuan. Namun dalam arti luas tanah hasil pelapukan dan erosi
ataupun mineral sejenis. Andesit (sering disebut batu candi) tersusun oleh mineral-
termasuk batuan metamorf yang oleh mineral kalsit yang mengalami ubahan. Bagian
terluar Bumi yang disebut litosfir disusun oleh masa batuan padat yang keras dan kaku.
yaitu batuan beku (igneous rocks), batuan sediment (sedimentary rocks), dan batuan
Aspek pemberian nama antara lain meliputi warna, tekstur, struktur, komposisi,
atau penamaan batuan. Aspek genesa – interpretasi mencakup tentang sumber asal
(“source”) hingga proses atau cara terbentuknya batuan. Batuan didefinisikan sebagai
semua bahan yang menyusun kerak (kulit)bumi dan merupakan suatu agregat
yang tidak termasuk batuan adalah tanah dan bahan lepas lainnya yang merupakan
hasil pelapukan kimia, fisika maupun biologis, serta proses erosi dari batuan. Namun
dalam arti luas tanah hasil pelapukan dan erosi tersebut termasuk batuan.
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk langsung dari permbekuan magma
dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik dibawah permukaan sebagai batuan intrusif
serta volatile. Volatile terdiri dari CO2, Sulfur (S), Chlorine (Cl), Flourine (F) dan
Boron (B) yang dikeluarkan ketika magma membeku. Magma terbagi menjadi 3
macam :
seperti granit dan diorit dan berwarna terang. Magma ini dapat menghasilkan letusan
yang hebat karena magmanya yang bersifat kental. Magma tipe ini menghasilkan tipe
dan berwarna gelap. Contohnya gabro, muskovit, basalt dan biotit. Karena sifatnya
yang cair magma dapat menutupi wilayah yang luas, tetapi lapisannya tipis. Jenis
magma ini dapat dijumpai pada pematang samudera dimana kedua lempeng saling
menjauh dan berada didataran vulkanik serta plato pada benua. Tipe gunung api yang
dihasilkan dari magma ini adalah tipe Hawaii, tipe Pahoehoe dan tipe gunung api
perisai (tameng)
Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada,
baik di mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh salah satu
dari proses-proses :
Kenaikan temperatur.
Penurunan tekanan.
Perbahan komposisi.
kawah gunung ber api atau melalui celah (patahan) yang kemudian membeku menjadi
batuan yang bentuknya bermacam-macam. Bila cairan tersebut encer akan meleleh
menjadi batuan seperti lava ropi atau lava blok (umumnya di Indonesia membentuk
lava blok). Bila agak kental, akan mengalir tidak jauh dari sumbernya
lava tetapi suhunya masih tinggi, bila posisinya tidak stabil akan mengalir
pengkristalan, bentuk butir, ukuran butir dan pola susunan butir mineral-mineral
1. Derajat Pengkristalan
Hipokristalin, bila massa batuan terdiri dari kristal dan gelas vulkanik.
2. Bentuk Kristal
Euhedral, bentuk kristalnya sempurna.
menjadi:
Faneritik, ukuran butir relatif seragam dan dapat dikenali dengan mata
telanjang.
mata telanjang.
beku ekstrusif dan intrusif. Hal ini pada nantinya akan menyebabkan perbedaan
pada tekstur masing-masing batuan tersebut. Kenampakan dari batuan beku yang
tersingkap merupakan hal pertama yang harus kita perhatikan. Kenampakan inilah
hasil dari letusan gunung berapi akibat adanya gaya endogen. Yang kemudian
piroklastik
gunung api meletus, dan pada saat pengendapan memiliki ukuran ketebalan yang
JenisPengendapan
1. PiroklastikJatuhan (Fall)
Endapan jatuhan piroklastik yang terjadi dari letusan gunung api yang
2. PiroklastikAliran (Flow)
gunung api yang memiliki kecepatan tinggi pada saat adanya longsoran.
Endapan aliran ini berisikan batu yang berukuran bongkah dan abu.
3. Piroklastik Surge
Susunan mineral dari batuan piroklastik tidak jauh berbeda dengan mineral
pembentuk batuan beku. Hal ini disebabkan oleh zat yang terkandung dalam
bentuk dari [Link] batuan beku butirannya campuran dari beberapa butir,
2. FragmenLitik
3. Kristal Individu
Ukuran butir adalah ukuran dari batuan piroklastik itu sendiri, terbagi
Block (untuk yang berbentuk menyudut) dan Bomb (untuk yang membentuk
2. Bentuk Butir
macam yaitu
3. Kompaksi
pemadatan dan litifikasi hancuran batuan lain (klastik) dan atau pemadatan dan
litifikasi dari hasil reaksi kimia dan organik (nonklastik). Batuan sedimen klastik yaitu
batuan sedimen yang berasal dari rombakan/pecahan masa batuan atau mineral yang
Meliputi:
- Membulat (rounded)
- Menyudut (angular)
- Sangat baik
- Terpilih sedang
- Terpilih buruk
D. Kemas adalah sifat hubungan antar butir, kesatuannya didalam satu masa dasar atau
- Sangat baik
- Baik
- Sedang
- Buruk
- Baik
- Buruk
batuan yang sebelumnya telah ada. Proses metamorf terjadi pada keadaan padat
dengan perubahan kimiawi dalam batas – batas tertentu saja dan meliputi proses –
yang keseluruhannya atau sebagian besar terjadi dalam keadaan padat, yakni tanpa
melalui fasa cair. Proses metamorfosa suatu proses yang tidak mudah untuk dipahami
Metamorfosa Kontak/Thermal
atm dan temperatur 300 – 800oC. Pada metamorfosa kontak, batuan sekitarnya
berubah menjadi hornfels atau hornstone (batutanduk). Susunan batu tanduk itu
sama sekali tergantung pada batuan sedimen asalnya (batulempung) dan tidak
tergantung pada jenis batuan beku di sekitarnya. Pada tipe metamorfosa lokal ini,
yang paling berpengaruh adalah faktor suhu di samping faktor tekanan, sehingga
struktur metamorfosa yang khas adalah non foliasi, antara lain hornfels itu sendiri.
Metamorfisme Dislokasi/Dinamik/Kataklastik
sekitar sesar. Pergerakan antar blok batuan akibat sesar memungkinkan akan
B. Metamorfisme Regional
proses ini pengaruh suhu dan tekanan berjalan bersama – sama. Tekanan yang
Metamorfisme Beban
tebal di atasnya. Tekanan mempunyai peranan yang penting dari pada suhu.
Metamorfisme ini pada umumnya tidak disertai oleh deformasi ataupun
penetrasi yang menghsilkan skistositas hanya aktif secara setempat, jika tidak
dikenal juga metamorfisme hidrotermal (Coomb, 1961). Dalam hal ini larutan
penambahan unsur dalam batuan yang di bawa oleh larutan panas dan lebih
a. Stasiun 1
4-5
BATA
TEKSTUR
P P P P
KOMPOSISI MATERIAL
-FRAGMEN
PEMBENTUK
-MATRIKS
b. Stasiun 2
Dijumpai singkapan batuan Ditumbuhi oleh tumbuhan Struktur dari singkapan ini
penyebaran N 34˚E, dimana curam serta dengan tata guna penggambarannya yaitu
batugamping kristalin.
c. Stasiun 3
Dijumpai suatu singkapan Ditumbuhi oleh tumbuhan Struktur dari singkapan ini
dengan strike dip N pelapukannyatinggi, stadia slopnya yaitu 27˚ dan strike
260˚/76˚ dan slop 27˚ tua, relief yang curam dengan dipnya yakni N 260˚/27˚
dengan arah penggambaran tata guna lahan sebagai area serta arah penggambaran N
berfoliasi dengan
adalah Batulempung
Karbonatan.
c. Stasiun 3
nonklastik dengan strike dip pelapukannyatinggi, stadia berlapis dengan strike dip N
N 100˚/60˚ dengan arah tua, relief yang curam dengan 100˚/60˚ E, arah
kristalin
d. Stasiun 4
sedimen nonklastik yang yang bervariasi, dengan adalah berlapis dengan arah
batugamping kristalin.
e. Stasiun 5
sedimen klastik pada daerah yang bervariasi, tingkat adalah berlapis dengan arah
kemasnya terbuka,
porositas rendah.
komposisi materialnya
f. Stasiun 6
sedimen nonklastik dengan yang bervariasi dengan tata berdegradasi dengan strike
warna lapuk putih, warna guna lahan sebagai tempat dip N 266˚ E dan slopnya 5˚
segar hitam, teksturnya wisata permandian air panas. serta arah penggambarannya
batuan Travertin.
g. Stasiun 7
coklat, teksturnya
nonklastik, strukturnya
batuan batugamping
kristalin.
h. Stasiun 8
metamorf pada titik mangga, kelapa dan jeruk. foliasi pada titik koordinat S
122˚17’09,3” dengan warna tinggi, berstadia tua dengan dengan arah gambar N 67˚
lapuk coklat, warna segar tata guna lahan sebagai E.
kristaloblastik serta
strukturnya berfoliasi
Sepertinite.
i. Stasiun 9
metamorf dengan arah jati putih dan tumbuhan jenis berupa kristaloblastik
j. Stasiun 10
jenis batuan beku, warna yang bervariasi dengan massive dengan arah
segarnya hitam, warna tingkat pelapukn yang tinggi penggambaran N 191˚ E.
inequigranular serta
4.2 Pembahasan
Identifikasi yang dilakukan pada stasiun 1 yaitu ditemukan litologi batuan yang
terdari diri batulanau dan batulempung. Batulanau terbentuk dari hasil pengendapan
material-material sedimen yang tertransportasi media air, angin dan gletser serta
memiliki ukuran butir <1/256 mm. Batulempung sama dengan batulanau terbentuk
dari hasil pengendapan material sedimenyang memiliki ukuran butir <1/256 mm.
sedimen nonklastik, yaitu batugamping kristalin dimana proses terbentuknya yaitu dari
sedimen yang terdiri dari batulempung karbonatan. Batu inni terbentuk dari hasil
pengendapan material-material yang tertranspor oleh air, angin dan gletserke suatu
sedimen yakni batudolomit. Batu ini terbentuk dari hasil pengendapan material-
material sedimen yang tertransportasi oleh media air, angin dan gletser sebelum batuan
dengan jenis batuan sedimen yang merupakan batupasir halus. Batupasir halus ini
relative sama.
dengan jenis batuan sedimen nonklastik berupa Travertin yang merupakan endapan
material-material sedimen.
sedimen berupa batugamping kristalin. Batuan ini terbentuk dari hasil pengendapan
Identifikasi yang dilakukan pada stasiun 8 dan yaitu dijumpai litologi batuan
dengan jenis batuan beku yaitu batugranit. Batugranit ini terbentuk dari proses
BAB V
DISKUSI
Hasil dari diskusi kelompok kami yaitu bahwa wilayah wawolesea terdapat 4 jenis
morfologi yang menyusun wilayah ini yaitu capies karst, stalaktit, jembatan alam, dan
travertin. Pembentukan stalaktit dan capies ini di akibatkan oleh air meorik, sedangkan
jembatan alam karena adanya sungai yang menerobos suatu batugamping dan
travertinterbentuk karena adanya air yang kaya akan kandungan Ca serta memiliki
kecepatan aliran yang lambat dan di dukung topografi di bawahnya. Wilayah wawolesea ini
memiliki sumber air panas (hidrotermal) dan sampai saat ini belum ada ahli geologi yang
dapat memecahkan fenomena alam ini. Daerah wawolesea ini memiliki banyak jenis abtuan
yang dapat di jumpai seperti batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf.
Daerah pemetaan dapat di capai dari kendari ke konawe utara dengan kendaraan
darat. Sarana hubungan dari ibukota kecamatan ke tiap desa ke konawe hanya dengan
kendaraan darat. Perjalanan dari kota kendari ke kabupaten konawe utara membutuhkan
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1. Pada litologi di daerah wawolesea terdapat 3 jenis batuan yaitu batuan beku, batuan
sedimen dan batuan metamorf. Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari hasil
kristalisasi magma. Batuan sedimen yaitu batuan yang mengalami proses pelapukan,
2. Pada data geomorfologi di daerah penelitian terdapat beberapa aspek yang dapat di
amati, seperti luas wilayah, reliefnya (kemiringan lereng, bentuk lembah, dan
puncak). Tingkat pelapukan, jenis dan tipe erosi, jenis gerakan tanah, soil, sungai,
6.2 Saran
Saran yang dapat di berikan oleh kelompok kami mengenai praktikum lapangan
(fieldtrip) ini agar alat (kompas) di perbanyak lagi supaya pada saat mengukur strike dan
DAFTAR PUSTAKA
Calvert, S. J. & Hall, R., 2003, The Cenozoic Geology Of The Lariang And Karama
Regions, Western Sulawesi: New Insight Into The Evolution Of The Makassar
Rusmana, E., Sukido, Sukarna, D., Haryono, E., Simandjuntak, T.O. 1993. Keterangan Peta
Sukamto, R. 1975. Structural of Sulawesi In The Light of Plate Tectonic. [Link] Mineral
Surono,2013, Geologi Lengan Tenggara Sulawesi, Badan Geologi, Kementrian Energi dan
Dari internet
pukul 16.32 )
N 180o E
Data singkapan
dengan titik koordinat S 03 56 02,5” dan E 122 24 26”. Bersifat insitu dengan arah
penyebaran yang berbeda-beda dimana dengan pada litologi pertama dari barat timur
laut sampai timur tenggara, litologi dua dari barat timur laut sampai timur tenggara
begitu juga dengan litologi tiga dan lima sedangkan pada litologi empat dari barat
sampai ketimur yang bersifat selaras. Dengan arah foto 90 dengan strike 123,
Data Litologi 1
Dengan jenis batuan sedimen klastik, memiliki warna lapuk coklat dan warna
segar putih dan tekstur yang terdiri dari ukuran butir lempung, bentuk butir rounded
atau membundar dengan porositas rendah dan dengan kemas tertutup serta
permeabilitas tinggi dan dengan struktur berlapis jadi dapat disimpulkan dari hasil
Data Litologi 2
Dengan jenis batuan sedimen klastik, dengan warna lapuk merah dan warna
segar coklat. Dengan tekstur yang terdiri dari ukuran butir lempung, bentuk butir
tinggi dengan struktur berlapis. Jadi dapat disimpulkan dari hasil identifikasi nama
Data Litologi 3
Dengan jenis batuan sedimen klastik, dengan warna lapuk coklat dan warna
segar abu-abu. Dengan tekstur yang terdiri dari ukuran butir lempung,bentuk butir
rounded, sortasi baik, porositas rendah dengan kemas tertutup dan permeabilitas tinggi
dengan struktur berlapis. Jadi disimpulkan bahwa nama batuannya adalah batu lempung.
Data Litologi 4
Dengan jenis batuan sedimen klastik, dengan warna lapuk coklat dan warna
segar abu-abu. Dengan tekstur yang terdiri dari ukuran butir lempung, bentuk butir
rounded, sortasi baik, porositas rendah, kemas tertutup, serta permeabilitas tinggi
dengan struktur berlapis. Jadi dapat disimpulkan nama batuannya adalah batu lempung.
Data Litologi 5
Dengan jenis batuan sedimen klastik, dengan warna lapuk coklat dan warna
segar merah dengan tekstur yang terdiri dari sortasi baik, porositas rendahm kemas
terbuka, permeabilitas tinggi, dengan tekstur berlapis. Jadi dapat disimpulkan dari hasil
N 124o E
Data singkapan
Di jumpai singkapan batuan sedimen non klastik dengan dimensi 3x3 meter
pada strike 47o dan dip 27o pada titik koordinat () yang bersifat insitu memiliki
kenampakan hubungan yang selaras dengan sekitarnya dengan arah penyebaran dari
Data litologi
Litologi pertama di jumpai jenis batuan sedimen non klastik dengan warna lapuk
coklat dan warna segar abu-abu yang memiliki tekstur kristalin dengan struktur oolitik
dengan komposisi mineralnya yaitu kalsit, dolomit, dan aragonite. Dari ciri fisik yang di
miliki batuan ini dapat di ketahui nama batuannya adalah batulempung karbonat.
Litologi dua di jumpai sedimen non klastik dengan warna segar abu-abu dan
warna lapuk coklat dengan tekstur non klastik dan struktur oolitik, komposisi
mineralnya yang terdiri dari mineral kalsit, dolomit, dan aragonite. Dari ciri fisiknya
Data singkapan
Di jumpai singkapan batuan sedimen dengan arah penyebarannya dari barat laut
ke timur tenggara dengan dimensi 2x3 meter yang bersifat insitu, hubungan dengan
batuan di sekitarnya berlapis pada strike dip pada litologi pertama yaitu 132o dan 45o
serta pada litologi kedua yaitu 45o dan 49o pada titik koordinat
Data litologi
Litologi pertama di jumpai batuan sedimen dan memiliki warna lapuk coklat dan
warna segar abu-abu serta tekstur yang tersusun atas ukuran butir lempung (<1/256)
dengan bentuk angular dan sortasi tertutup dan memiliki kemas tertutup dengan
permeabilitas tinggi serta porositas rendah. Batuan ini mempunyai struktur yang
berlapis. Dari ciri fisik di atas dapat di ketahui nama batuan ini adalah batulempung
karbonatan
Litologi kedua di jumpai jenis batuan sedimen dengan warna lapuk coklat dan
warna segar abu-abu, tekstur batuan ini yaitu non klastik dengan struktur amorf.
Komposisi mineral penyusun batuan ini terdiri dari mineral kalsit, dolomit dan
aragonite. Dari ciri fisik di atas dapat di ketahui nama batuan ini adalah batugamping.
Acara : Fieltrip Petrologi Cuaca : Cerah
Data singkapan :
Di jumpai singkapan batuan batuan sedimen non klastik yang berupa eksitu
Pada singkapan ini terdapat jenis batuan sedimen non klastik yang memiliki
warna lapuk coklat dan warna segar abu-abu serta teksturnya non klastik dan memiliki
struktur berlapis. Dari data diatas sehingga nama batuan diatas dapat disimpulkan
Data geomorfologi :
tinggi, stadia tua dimana reliefnya landai dan tata guna lahannya pemukiman.
Acara : Fieltrip Petrologi Cuaca : Cerah
N 160O E
Data singkapan :
Dijumpai singkapan sedimen non klastik dengan dimensi dua kali lima meter
dengan arah penyebarannya dari barat daya ke timur laut yang bersifat insitu dengan
kenampakan atau hubungan batuan sekitarnya selaras dengan arah foto 160o dengan
slop 10o.
Data litologi :
Dengan jenis batuan sedimen non klstik dengan warna lapuk coklat dan warna
segar abu-abu dengan tekstur kristalin dengan komposisi mineral yang terdiri dari kalsit,
dolomit, dan aragonit. Dengan struktur styolit. Dengan keterangan bereaksi dengan hcl
namun tidak terlalu banyak. Jadi dapat disimpulkan pada hasil identifikasi nama
batuannya adalah batugamping.
Acara : Fieltrip Petrologi Cuaca : Cerah
Data singkapan:
Di jumpai singkapan batuan sedimen non klastik dengan dimensi 2x2 meter.
Bersifat insitu dengan arah penyebaran dimana hubungan batuan yang selaras di
sekitarnya.
Data litologi
Jenis batuan edimen non klastik warna lapuk abu-abu dan warna segar putih,
dengan tekstur kristalin, dan komposisi mineral yang terdiri dari kalsit, dolomit dan
aragonit dan struktur cone in cone. Jadi dapat di simpulkan dari hasil identifikasi
Di jumpai pada singkapan batuan sedimen non klastik yang berupa insitu dengan
strike n 48c / 83 dengan arah penggambaran N 322 c dan slope 25. Dimana
mempunyai warna lapuk coklat serta warna segar abu-abu, dengan tekstur non klastik
Data morfologi:
pelapukan tinggi dengan stadia tua, denga tata guna lahan yaitu sebagai perkebunan.
Data struktur
Di jumpai singkapan batuan metamorf dengan arah foliasi 270 yaitu bersifat
Data litologi
Dengan jenis batuan metamorf dengan warna segar hijau dan warna lapuk abu-
abu, dengan tekstur lepidoblastik, dengan struktur foliasi, denga komposisi mineral
terdiri dari olivin, serpetin, piroksin,amphibole, oligoklas dan kuarsa. Jadi dapat di
Data singkapan
Di jumpai singkapan batuan beku ultrabasa dengan dimensi 5x6 meter yang
Data litologi
Di jumpai batuan beku ultrabas dengan warna lapuk abu-abu dan warna segar
penyusun batuan ini terdiri dari mineral olivin, biotit, oligoklas, kuarsa dan piroksen,
Struktur batuan ini massive. Dari ciri fisik di atas ldapat di ketahui nama batuan ini
adalah peridotit