MAKALAH FARMAKOLOGI II
INFEKSI SALURAN KEMIH
NAMA : AZIZAH SIDRA UTAMI
NIM : 2120112343
KELAS : 4C
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA
2023
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Definisi Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah suatu keadaan dimana kuman atau mikroba
tumbuh dan berkembang biak dalam saluran kemih dalam jumlah bermakna (IDAI,
2011). Istilah ISK umum digunakan untuk menandakan adanya invasi mikroorganisme
pada saluran kemih (Haryono, 2012). ISK merupakan penyakit dengan kondisi dimana
terdapat mikroorganisme dalam urin yang jumlahnya sangat banyak dan mampu
menimbulkan infeksi pada saluran kemih (Dipiro dkk, 2015).
2. Etiologi
Infeksi saluran kemih sebagian besar disebabkan oleh bakteri,virus dan jamur
tetapi bakteri yang sering menjadi penyebabnya. Penyebab ISK terbanyak adalah
bakteri gram-negatif termasuk bakteri yang biasanya menghuni usus dan akan naik ke
sistem saluran kemih antara lain adalah Escherichia coli, Proteus sp, Klebsiella,
Enterobacter (Purnomo, 2014). Pasca operasi juga sering terjadi infeksi oleh
Pseudomonas, sedangkan Chlamydia dan Mycoplasma bisa terjadi tetapi jarang
dijumpai pada pasien ISK. Selain mikroorganisme, ada faktor lain yang dapat memicu
ISK yaitu faktor predisposisi (Fauci dkk., 2008).
3. Patofisiologi
Infeksi saluran kemih terjadi ketika bakteri (kuman) masuk ke dalam saluran
kemih dan berkembang biak. Saluran kemih terdiri dari kandung kemih, uretra dan dua
ureter dan ginjal (Purnomo, 2014). Kuman ini biasanya memasuki saluran kemih
melalui uretra, kateter, perjalanan sampai ke kandung kemih dan dapat bergerak naik ke
ginjal dan menyebabkan infeksi yang disebut pielonefritis (National Kidney 10
Foundation, 2012). ISK terjadi karena gangguan keseimbangan antara mikroorganisme
penyebab infeksi (uropatogen) sebagai agent dan epitel saluran kemih sebagai host.
Mikroorganisme penyebab ISK umumnya berasal dari flora usus dan hidup
secara komensal dalam introitus vagina, preposium, penis, kulit perinium, dan sekitar
anus. Kuman yang berasal dari feses atau dubur, masuk ke dalam saluran kemih bagian
bawah atau uretra, kemudian naik ke kandung kemih dan dapat sampai ke ginjal
(Fitriani, 2013).
Mikroorganisme tersebut dapat memasuki saluran kemih melalui 3 cara yaitu
ascending, hematogen seperti penularan [Link] atau [Link] , limfogen dan
langsung dari organ sekitarnya yang sebelumnya telah mengalami infeksi
(Purnomo,2014). Sebagian besar pasien ISK mengalami penyakit komplikasi. ISK
komplikasi adalah ISK yang diperburuk dengan adanya penyakit lainya seperti lesi,
obstruksi saluran kemih, pembentukan batu, pemasangan kateter, kerusakan dan
gangguan neurologi serta menurunya sistem imun yang dapat mengganggu aliran yang
normal dan perlindungan saluran urin. Hal tersebut mengakibatkan ISK komplikasi
membutuhkan terapi yang lebih lama (Aristanti, 2015).
4. Manifestasi klinik
Infeksi saluran kemih dapat diketahui dengan beberapa gejala seperti demam,
susah buang air kecil, nyeri setelah buang air besar (disuria terminal), sering buang air
kecil, kadang-kadang merasa panas ketika berkemih, nyeri pinggang dan nyeri
suprapubik (Permenkes, 2011). 11 Namun, gejala-gejala klinis tersebut tidak selalu
diketahui atau ditemukan pada penderita ISK. Untuk memegakan diagnosis dapat
dilakukan pemeriksaan penunjang pemeriksaan darah lengkap, urinalisis, ureum dan
kreatinin, kadar gula darah, urinalisasi rutin, kultur urin, dan dip-stick urine test.
(Stamm dkk, 2001).
Dikatakan ISK jika terdapat kultur urin positif ≥100.000 CFU/mL.
Ditemukannya positif (dipstick) leukosit esterase adalah 64 - 90%. Positif nitrit pada
dipstick urin, menunjukkan konversi nitrat menjadi nitrit oleh bakteri gram negatif
tertentu (tidak gram positif), sangat spesifik sekitar 50% untuk infeksi saluran kemih.
Temuan sel darah putih (leukosit) dalam urin (piuria) adalah indikator yang paling dapat
diandalkan infeksi (> 10 WBC / hpf pada spesimen berputar) adalah 95% sensitif tapi
jauh kurang spesifik untuk ISK. Secara umum, > 100.000 koloni/mL pada kultur urin
dianggap diagnostik untuk ISK ([Link] dkk, 2015).
5. Terapi Farmakologi
Terapi dapat diawali dengan pertimbangan faktor pasien, faktor mikrobiologis
dan data hasil klinis (Kurniawan, 2005). Antibiotik (antibakteri) adalah zat yang
diperoleh dari suatu sintesis atau yang berasal dari senyawa nonorganik yang dapat
membunuh bakteri patogen tanpa membahayakan manusia (inangnya). Antibiotik harus
bersifat selektif dan dapat menembus membran agar dapat mencapai tempat bakteri
berada (Priyanto, 2010). Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan
kekebalan bakteri, munculnya bakteri-bakteri yang resisten 12 terhadap suatu
antimikroba, dan peningkatan biaya pengobatan (Kurniawan, 2005)
Resistensi adalah keadaan dimana suatu mikroba tidak terhambat
pertumbuhanya dengan antibiotik dosis normal yang seharusnya. Multiple drug resisten
adalah resistensi terhadap dua atau lebih obat sedangkan cross resisten adalah resistensi
terhadap obat diikuti dengan obat lain yang belum dipaparkan (Purnomo, 2011).
Prinsip terapi antibiotik menurut European Association of Urology dalam
Guideline On Urological Infections 2015 yang dijadikan standart dapat dilihat pada
tabel dibawah ini
Tabel 1. Terapi Empiris Antimikroba Oral yang Direkomendasikan
untuk Pyelonefritis Tanpa Komplikasi Akut Ringan dan Sedang
No Nama obat Dosis oral/hari Durasi terapi
1. Siprofloksasin 500-750 mg bid 7-10 hari
2. Levofloksasin 500 mg qd 7-10 hari
3. Levofloksasin 750 mg qd 5 hari
4. Sefodoksim proksetil 200 mg bid 10 hari
5. Seftibuten 400 mg qd 10 hari
6. Trimetoprim-sulfametoksazol 160/800 mg bid 14 hari
7. Co-amoksiclav 125/500 mg tid 14 hari
Note : florokuinolon kontraindikasi pada wanita hamil, terutama untuk
bakteri gram positif
Tabel 2. Terapi Empiris Antimikroba Parenteral yang
Direkomendasikan untuk Pyelonefritis Akut Tanpa komplikasi
No Nama obat Dosis parenteral
1. Siprofloksasin 400 mg bid
2. Levofloksasin 250-500 mg qd
3. Levofloksasin 750 mg qd
4. Sefotaksim 2 gram tid
5. Seftriakson 1-2 gram qd
6. Sefazidim 1-2 gram tid
No Nama obat Dosis parenteral
7. Sefepim 1-2 gram bid
8. Ko-amoksiklav 1,5 gram tid
9. Piperasilin/tazobaktam 2,5-4,5 gram tid
10. Gentamisin 5 mg/kg qd
11. Amikasin 15 mg/kg qd
12. Ertapenem 1 gram qd
13. Imipenemmeropenem 0,5 gram tid
14. Doripenem 1 gram tid
15. Trimetoprim-sulfametoksazol 0,5 gram tid
Tabel 3. Dosis Antimikroba untuk Anak Umur 3 bulan – 12 tahun
Dosis per
Antibiotik Rute Umur Total dosis perhari
hari
Ampisilin iv 3-12 bulan 100-300 mg/kg BW 3
1-12 tahun 60-300 mg/kg BW 3
Amoksisilin oral 3 bulan – 12 tahun 50-100 mg/kg BW 2-3
Amoksisilin/ iv 3 bulan – 12 tahun 60-100 mg/kg BW 3
clavulanat
oral 3 bulan – 12 tahun 37,5-75 mg/kg BW 2-3
Sefaleksim oral 3 bulan – 12 tahun 50-100 mg/kg BW 3
(pengobatan)
Sefaleksim oral 1-12 tahun 10 mg/kg BW 1-2
(pencegahan)
Sefaklor oral 3 bulan – 12 tahun 50-100 mg/kg BW 3
(pengobatan)
Sefaklor oral 1-12 tahun 10 mg/kg BW 1-2
(pencegahan)
Sefiksim oral 3 bulan – 12 tahun 8-12 mg/kg BW 1-2
Seftriakson iv 3 bulan – 12 tahun 50-100 mg/kg BW 1
Gentamisin iv 3 bulan – 12 bulan 5-7,5 mg/kg BW 1-3
1-12 tahun 5 mg/kg BW 1-3
Nitrofuration oral 1-12 tahun 6 mg/kg BW 2
(pengobatan)
Nitrofuration oral 1-12 tahun 1-2 mg/kg BW 1
(pencegahan)
Trimetroprim oral 1-12 tahun 3-5 mg/kg BW 2
(pengobatan)
Trimetoprim oral 1-12 tahun 1 mg/kg BW 1-2
(pencegahan)
BW (Body weight)
Tabel 4. Pilihan Antibiotik untuk Terapi Infeksi Saluran Kemih dari Panduan
Penatalaksanaan Infeksi pada Traktus Genitalis dan Urinarius
Kelas Antibiotik Dosis Rute
Beta-laktam amoksisilin 250-500 mg tid oral
Ampisilin 250-500 mg qid oral
Ampisilin 1000 mg qid iv
amoksisilin/clavulanat 500mg tid atau 125 mg oral
bid
ampisilin/sulbactam 3 gram qid iv
sefotaksim 1-2 gram q4-12 h iv
seftriakson 1-2 gram qd iv
Sefepim 1-2 gram q12 h iv
sefadroksil 500 mg bid oral/iv
piperasilin/tazobactam 2,5-4,5 gram q6-8 h iv
piperasilin 2 gram bid iv
Amikasin 15 mg/kg qd iv
Sulfonamida trimethoprim 100 mg bid/200mg qd oral
trimethoprim- 160/800mg bid oral
sulfametoksazol
Quinolon siprofloksasin 500-750mg bid oral
400 mg bid iv
Ofloksasin 200-400 mg bid oral/iv
levofloksasin 250-750mg bid oral/iv
aminoglikosida gentamisin 2 - 7 mg/kg
lain-lain nitrofuration 100 mg qid oral
fosfomisin 300 mg satu dosis
imipenem/cilastatin 500mg q6h iv
ertapenem 1gram qd iv
meropenem 1 gram tid iv
Beberapa definisi antibiotik yang digunakan untuk pengobatan ISK:
a. Golongan penisilin
Penisilin dan turunannya adalah obat yang memiliki struktur beta- laktam bersifat
bakterisida terhadap gram positif dan beberapa gram negatif. Golongan penisilin
dalam struktur kimianya mempunyai 2 cincin yaitu cincin tiazolidin dan beta-laktam.
Mekanisme kerjanya menghambat sintesis dinding sel [Link] beta-laktam
jug menghambat trans-peptidasi, tahap akhir pembentukan dinding sel. Efek
samping antara lain kejang, gangguan keseimbangan Na-K, iritasi lokal.
Penggolongan penisilin :
1). Spektrum sempit, sensitif terhadap
penisilinase Contohnya : penisilin G,
penisilin V
2). Penisilin antistreptokokus
Contohnya : metisilin, oksasilin, nafsilin, kloksasilin
3). Spektrum luas, aminopenisilin
Contohnya : ampisilin,
amoksisilin
4). Penisilin anti pseudomonas
Contohnya : karbenisilin, tikarsilin, piperasilin
b. Golongan kuinolon
Norfloksasin, lomefloksasin, ofloksasin, siproflosasin,
gatifloksasin, moksifloksasin, gemifloksasin, sparfloksasin dan
levofloksasin. Kuinolon bersifat bakterisid dan berspektrum luas
yang memiliki mekanisme menghambat DNA girase pada
replikasi DNA, sehingga dapat menghambat proses replikasi
DNA dan transkripsi mRNA. Efek sampingnya adalah mual,
muntah, tidak nafsu makan, sakit perut, diare, pusing, sakit
kepala, demam, gatal-gatal. Berikut antibiotik golongan kuinolon
beserta indikasinya.
Tabel [Link] Antibiotik kuinolon dan
Indikasinya
Obat Indikasi
Siprofloksasin Berbagai infeksi kuman
Enoksasin Infeksi saluran kemih dan gonore
Lomefloksasin Infeksi saluran napas dan saluran kemih
Norfloksasin Infeksi saluran kemih
Ofloksasin Infeksi saluran napas, saluran kemih, dan
gonore
Grepafloksasin Infeksi saluran napas dan saluran kemih
Levofloksasin Infeksi saluran napas dan saluran kemih
Moxifloksasin Sinusitis bakterialis, bronkhitis, dan
peumonia
Sparfloksasin Infeksi saluran napas dan saluran kemih
a. Golongan sefalosporin
Sefalosporin merupakan antibiotik yang memiliki cincin
beta- laktam dalam strukturnya sehingga tergolong antibiotik
beta laktam. Efek sampingnya antara lain reaksi hipersensitivitas
yang identik dengan reaksi-reaksi pada golongan penisilin
termasuk anafilaksi, ruam, nefritis, granulositopenia, dan anemia
hemolitik. Mekanismenya yaitu menghambat metabolisme
dinding sel bakteri. Dibagi menjadi beberapa generasi obat,
yaitu :
Generasi I : sefaleksin, sefazolin, sefadrin dapat diberikan IM/IV. sefalotin, sefadroksil dapat
diberikan secara oral. Efektif terhadap gram positif dan memiliki aktifitasnya sedang terhadap
gram negative
Generasi II : Sefamandol, sefaklor, sefuroksim dapat diberikan secara oral. Memiliki aktifitas
terhadap gram negatif lebih tinggi.
Generasi III : Sefiksim, sefotaksim, seftriakson, seftazidin.
Aktivitas kurang aktif terhadap gram-postif
dibandingkan generasi-I, tapi lebih aktif terhadap
Enterobacteriaceae, termasuk strain yang
memproduksi beta-laktamase.
Generasi IV : sefepim dan sefpirom. Sefepim aktif terhadap
Enterobacteriaceae yang resisten terhadap
sefalosporin lainya.
b. Kotrimoksazol
Merupakan suatu kombinasi antara trimetoprim dan
sulfametoksazol yang memiliki aktifitas bakterisid. Efektif
terhadap gram postif dan negatif dan banyak digunakan untuk
infeksi saluran kemih (Tjay dkk, 2007). Efek sampingnya yaitu
mual, muntah, sakit perut, diare, tidak bisa tidur dan pendengaran
bising.
c. Aminoglikosida
Aminoglikosida merupakan antibiotik spektrum luas
terutama pada basil gram negatif aerobik. Aktifitasnya sebagai
bakterisid, yang memiliki mekanisme menghambat sintesis
protein bakteri. Kelompok aminoglikosida yang sering digunakan
adalah gentamisin, tobramisin
dan amikasin. Efek sampingnya adalah alergi, iritasi dan terjadi
toksisitas contohnya ototoksik, nefrotoksik dan gangguan
pendengaran khusunya pada pasien anak dan usia lanjut.
d. Karbapenem
Karbapenem merupakan antibiotik lini ketiga yang mempunyai
aktivitas antibiotik yang lebih luas dari pada sebagian besar beta-
laktam lainnya. Obat yang termasuk karbapenem adalah imipenem,
meropenem dan doripenem. Spektrum aktivitasnya menghambat
sebagian besar gram-positif, gram-negatif, dan anaerob. Ketiganya
sangat tahan terhadap beta-laktamase. Efek samping paling sering
adalah mual muntah, dan kejang pada dosis tinggi yang diberi pada
pasien dengan lesi sistem saraf pusat atau dengan insufisiensi ginjal.
Meropenem dan doripenem mempunyai efikasi serupa imipenem,
tetapi lebih jarang menyebabkan kejang (Permenkes, 2011)