HUKUM ACARA PERADILAN TATA USAHA NEGARA
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Hukum Perdata Internasional
Hukum Keluarga Islam Yang Diampu Oleh Ibu Siti Partiah, M.H
Disusun Oleh:
Kelompok 2
Badrut Tamam (19382011005)
Dewinta Eka Pratiwi (19382012009)
Muhlisin (19382011106)
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MADURA
1
KATA PENGANTAR
Pertama-tama marilah kita panjatkan rasa puji syukur Al-hamdulillah kehadirat
ALLAH SWT. yang menciptakan, mengatur dan menguasai seluruh makhluk di dunia dan di
akhirat. Semoga kita senantiasa mendapatkan limpahan rahmat dan ridho-nya. Kedua kalinya
sholawat beserta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Rasulullah Muhammad
Saw. yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju alam yang terang menderang
seperti halnya pada hari ini.
Adapun maksud dari penyusunan makalah ini untuk memenuhi tugas makalah tentang
“Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara”semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi
pembaca. Karena keterbatasan pengetahuan serta kemampuan yang kami miliki untuk
merangkai tugas makalah ini , kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan dan masih ada beberapa kekurangan makalah dalam penyusunan
kata, penulisan maupun isinya. Untuk itu saran dan kritik anda yang bersifat membangun
sangat kami harapkan dalam makalah ini.
Pamekasan, 25 Maret 2022
Kelompok 2
2
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL.......................................................................................i
KATA PENGANTAR.......................................................................................ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................iii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................
B. Rumusan Masalah...................................................................................
C. Tujuan......................................................................................................
BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengertian Hukum Tata Usaha Negara...................................................
B. Asas-asas Hukum Tata Usaha Negara ....................................................
C. Dasar Hukum Hukum Tata Usaha Negara.
D. Perbedaan Hukum Tata Usaha Negara Dengan Hukum Acara Perdata
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan.............................................................................................
B. Saran........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam pelaksanaan tugas administrasi pemerintahan yang baik yang menyangkut
urusan eksternal (pelayanan umum) maupun yang berkaitan dengan urusan internal
(seperti urusan kepegawaian), suatu instansi pemerintah (Badan/Pejabat TUN)
tidak dapat dilepaskan dari tugas pembuatan Keputusan Tata Usaha Negara.
Dengan semakin kompleksnya urusan pemerintahan serta semakin meningkatnya
pengetahuan dan kesadaran masyarakat, tidak tertutup kemungkinan timbulnya
benturan kepentingan (Conflict of Interest) antara pemerintah (Badan/Pejabat
TUN) dengan seseorang/Badan Hukum Perdata yang merasa dirugikan oleh
Keputusan Tata Usaha Negara tersebut, sehingga menimbulkan suatu sengketa
Tata Usaha Negara.
Penyelesaian sengketa Tata Usaha Negara sebagai akibat terjadinya benturan
kepentingan antara pemerintah (Badan/Pejabat TUN) dengan seseorang/ Badan
Hulum Perdata tersebut, ada kalanya dapat diselesaikan secara damai melalui
musyawarah dan mufakat, akan tetapi ada kalanya pula berkembang menjadi
sengketa hukum yang memerlukan penyelsaian lewat pengadilan. Oleh karena itu
lahirnya suatu senketa Tata Usaha Negara bukanlah suatu hal yang luar biasa,
melainkan suatu hal yang harus diselesaikan dan dicari jalan penyelesaiannya
melalui sarana yang disediakan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Hukum Tata Usaha Negara?
2. Apa Asas-asas Hukum Tata Usaha Negara?
3. Apa Dasar Hukum Hukum Tata Usaha Negara?
4. Apa Perbedaan Hukum Tata Usaha Negara Dengan Hukum Acara Perdata?
C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Pengertian Hukum Tata Usaha Negara.
2. Untuk Mengetahui Asas-asas Hukum Tata Usaha Negara.
3. Untuk Mengetahui Dasar Hukum Hukum Tata Usaha Negara.
4. Untuk Mengetahui Perbedaan Hukum Tata Usaha Negara Dengan Hukum
Acara Perdata.
5
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Hukum Tata Usaha Negara
Awalnya istilah yang digunakan untuk menyebut PTUN adalah ide
dari Wiryono Prodjodikoro untuk menyusun Rancangan Undang-Undang
tentang Acara Perkara Dalam Soal Tata Usaha Pemerintahan. Kemudian
istilah yang muncul kemudian adalah Peradilan Administrasi Negara,
selanjutnya berubah lagi menjadi Peradilan Tata Usaha Pemerintahan,
sampai akhirnya Peradilan Tata Usaha Negara dengan hadirnya UU No 5
tahun 1986. Keberadaan Peradilan TUN merupakan salah satu jalur yudisial
dalam rangka pelaksanaan asas perlindungan hukum, di samping
pengawasan jalur administratif yang berjalan sesuai dengan jalur yang ada
dalam lingkungan pemerintahan sendiri. Kehadiran Peradilan TUN
memberikan landasan pada badan yudikatif untuk menilai tindakan
eksekutif serta mengatur mengenai perlindungan hukum kepada
masyarakat.1
Istilah Hukum Acara Tata Usaha Negara itu telah mempunyai arti
tersendiri, yaitu peraturan yang mengatur tentang tata cara pembuatan suatu
ketetapan atau keputusan tata usaha negara. Aturan ini biasanya secara
inklusif ada di dalam peraturan perundang undangan yang menjadi dasar
pembuatan Ketetapan atau Keputusan Tata Usaha Negara tersebut. Oleh
karena itu untuk menghindari kerancuan dalam penggunaan istilah tersebut,
maka sebaiknya untuk Hukum Acara yang berlaku di Peradilan Tata Usaha
Negara dipergunakan istilah Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara
dan bukan Hukum Acara Tata Usaha Negara.2
HATUN adalah: “Aturan hukum yang mengatur bagaimana
prosedur atau tata cara perlengkapan tata negara atau tata usaha negara
melaksanakan tugasnya dalam menjalankan tugasnya guna mencapai
masyarakat yang adil dan makmur”.3
1
Dr. Fence M. Wantu, SH., MH, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara,( Kota Gorontalo: REVIVA
CENDEKIA, 2014), hlm. 3
2
Rozali Abdullah, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, (Jakarta: Rajawali Pers, Cetakan Pertama,
1992), hlm. 2.
3
ELIDAR SARI, S.H., M.H. & HADI ISKANDAR, S.H., M.H., HUKUM ACARA PERADILAN TATA USAHA
NEGARA, (Lhokseumawe: CV. BieNa Edukasi, 2014), hlm. 1
6
Pengadilan Tata Usaha Negara bertugas dan berwenang memeriksa,
memutus, dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara di tingkat
pertama.
Ada dua tujuan negara merumuskan pembentukan peradilan TUN,
yaitu tujuan preventif dan represif. Tujuan preventif adalah untuk
mencegah terjadinya tindakan sewenang-wenang dari aparatur negara atau
dalam istilah Undang-undang peradilan TUN adalah Badan atau Pejabat
negara. Pencegahab secara preventif ini untuk menjaga badan atau pejabat
TUN untuk tidak melakukan perbuatan melawan hukum dan merugikan
rakyat, sedangkan tujuan represif adalah apabila ada badan atau pejabat
TUN yang melawan hukum dan merugikan rakyat , maka perlu diberikan
sanksi. Tujuan tersebut juga sejalan dengan prinsip negara hukum yang
dianut oleh negara Indonesia, dimana melindungi hak asasi manusia tanpa
memandang status warga negaranya.
B. Asas- Asas Hukum Tata Usaha Negara
Spesifikasi hukum acara TUN terlihat dari asas-asas khusus yang
menjadi landasan operasional negara acara PTUN dan ini juga sebagai
bagian yang menyebabkan peradilan dalam hukum acara TUN menjadi
spesial dan berbeda dengan beberapa peradilan lain, yaitu:
1. Asas Praduga Rechtmatig (vermoeden van rechtmatigheid =
praesumptio iustae causa). Asas ini mengandung makna bahwa
tindakan penguasa selalu harus dianggap rechtmatig sampai ada
pembatalannya. Dengan asas ini gugatan tidak menunda
pelaksanaan KTUN yang digugat (pasal 67 ayat 1 UU No.5 Tahun
1986);
2. Asas Pembuktian Bebas, dimana hakim yang menetapkan beban
pembuktian;
3. Asas Keaktifan Hakim (dominus litis), berguna untuk
menyeimbangkan kedudukan para pihak;
4. Asas putusan pengadilan mempunyai kekuatan mengikat “erga
omnes”.4
4
Philipus M. Hadjon, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press,
1994), hlm. 311.
7
Dari asas-asas tersebut terdapat beberapa ciri-ciri khusus
PTUN, yaitu:
a. Sifat atau karakter Keputusan TUN yang mengandung
“Prasumptio iustae causa”, dimana KTUN selalu dianggap
sah selama belum ada putusan pembatalan.
b. Asas perlindungan terhadap kepentingan umum atau publik
yang menonjol di samping perlindungan terhadap individu.
c. Asas “self respect” atau “self obidence” dari aparatur
pemerintah terhadap putusan-putusan peradilan administrasi.
Berdasarkan pemikiran Crince le Roy, oleh Kuntjoro Purbopranoto
dirumuskan 13 asas pemerintahan yang baik yang harus tetap diperhatikan
administrasi negara. Ketiga belas asas tersebut adalah:
1. Asas kepastian negara (principle of legal);
2. Asas keseimbangan (security principle of proportionality);
3. Asas kesamaan dalam mengambil keputusan (principle of equality);
4. Asas bertindak cermat (principle of carefulness);
5. Asas motivasi untuk setiap keputusan (principle of motivation);
6. Asas tidak mencampuradukkan kewenangan (principle of
nonmisuse of competence);
7. Asas permainan yang layak (principle of fairplay);
8. Asas keadilan atau kewajaran (principle of reasonableness of
prohibition od arbitrariness);
9. Asas menanggapi pengharapan yang wajar (principle of meeting
raised expectation);
10. Asas meniadakan akibat-akibat dari suatu keputusan yang batal
(principle of undoing the consequences of unnulled decision);
11. Asas perlindungan atas pandangan hidup pribadi (principle of
protecting the personal way of life);
12. Asas kebijaksanaan (sapientia); dan
13. Asas penyelenggaraan kepentingan umum (principle of public
service)5
5
ELIDAR SARI, S.H., M.H. & HADI ISKANDAR, S.H., M.H., HUKUM ACARA PERADILAN TATA USAHA
NEGARA, (Lhokseumawe: CV. BieNa Edukasi, 2014), hlm. 8-11
8
C. Dasar Hukum Hukum Tata Usaha Negara
Dasar hukum Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terdiri dari
tiga instrumen, yaitu Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986, Undang-
undang Nomor 9 Tahun 2004 (perubahan pertama dari UU No. 5 Tahun
1986) dan Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009 (perubahan kedua dari
UU No. 5 Tahun 1986). Sebelum dikeluarkannya UU No. 5 Tahun 1986,
peradilan administrasi Indonesia masih bersifat [Link] pada masa itu
merupakan peradilan administratif yang terdapat dalam ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Sementara Nomor II/MPRS/1960.
Semu dalam arti peradilan administrasi Indonesia bersifat tidak
bebas karena tidak lepas dari pengaruh kekuasaan eksekutif dan kekuasaan
pembuat undang-undang. Sebagai penganut negara hukum sesuai Pasal 1
Ayat (3) UUD 1945, tentu saja keadaan itu merupakan penyimpangan dari
negara hukum. Semua kekuasaan, baik di bidang legislatif, eksekutif,
maupun yudikatif, saat itu tersentralisasikan di tangan Presiden.
Pada dekade berikutnya, berdasarkan Pasal 24 UUD 1945,
dikeluarkanlah UU No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Kekuasaan Kehakiman Pasal 10 juncto Undang-undang No. 4 Tahun 2004
tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 10. UU ini menyebutkan bahwa
kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan
peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata
usaha negara.
Berdasarkan UU Kekuasaan Kehakiman, dibentuklah UU No. 5
Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Dengan adanya UU ini,
di samping semakin mengukuhkan eksistensi PTUN di Indonesia, juga
membuat semakin terjaminnya perlindungan hukum terhadap warga
masyarakat atas perbuatan penguasa. Masyarakat yang keberatan dengan
keputusan yang dikeluarkan pemerintah, bisa melayangkan gugatan ke
PTUN.
Ketentuan mengenai penyelesaian sengketa administrasi melalui
peradilan tata usaha negara itu terdapat dalam Pasal 53 Ayat (1) UU No. 5
Tahun 1986, berbunyi, “Seseorang atau badan hukum perdata yang merasa
kepentingannya dirugikan oleh suatu keputusan tata usaha negara dapat
9
mengajukan gugatan tertulis kepada pengadilan yang berwenang yang
berisi tuntutan agar keputusan tata usaha negara yang disengketakan itu
dinyatakan batal atau tidak sah, dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti
rugi dan/atau rehabilitasi.”
Ketentuan yang dapat dijadikan dasar hukum untuk dijadikan dasar
penyelesaian sengketa tata usaha negara dimaksud adalah ketentuan yang
masih berlaku dalam wilayah tersebut baik ketentuan yang berlaku umum
(untuk seluruh warga) maupun khusus bagi wilayah yang bersangkutan
seperti peraturan daerah dan lain-lain.
D. Perbedaan Hukum Tata Usaha Negara dengan Hukum Acara Perdata
Perbedaan Antara Hukum Acara PTUN dengan Hukum Acara
Perdata:
1. Obyek Gugatan
Objek gugatan TUN adalah KTUN yang mengandung
perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh penguasa. Hukum
acara perdata adalah perbuatan melawan hukum (perbuatan
melawan hukum)
2. Kedudukan Para Pihak
Kedudukan para pihak dalam sengketa TUN, selalu
menempatkan seseorang atau badan hukum perdata sebagai pihk
tergugat dan badan atau pejabat TUN sebagai pihak tergugat. Pada
hukum acara perdata para pihak tidak menentukan pada kedudukan.
3. Gugat Rekonvensi
Dalam acara perdata yang dikenal dengan gugat rekonvensi
(gugat balik), yang artinya gugatan yang diajukan oleh tergugat
terhadap penggugat dalam sengketa yang sedang berjalan antar
mereka.
4. Tenggang Waktu Pengajuan Gugatan
Dalam hukum acara TUN pengajuan gugatan dapat
dilakukan dalam waktu 90 Hari.
5. Tuntutan Gugatan
Dalam hukum acara perdata tidak boleh dikatakan selalu
pokok itu (petitum primair) disertai dengan keharusan atau petitum
10
subsidiar. Dalam acara hukum PTUN hanya dikenal satu macam
tuntutan yang diajukan oleh KTUN yang diajukan oleh tergugat.
6. Rapat Permusyawaratan
Dalam hukum acara perdata tidak dikenal Rapat
permusyawaratan. Dalam hukum acara PTUN, ketentuan ini diatur
pasal 62 UU PTUN.
7. Pemeriksaan Persiapan
Dalam hukum acara PTUN juga dikenal pemeriksaan yang
juga tidak dikenal dalam hukum acara perdata. Dalam pemeriksaan
hakim wajib nasihat kepada pengugat untuk memperbaiki gugatan
dalam jangka waktu 30 hari dan memberi penjelasan kepada badan
hukum atau pejabat yang bersangkutan.
8. Putusan Verstek
Kata verstek berarti bahwa pernyataan tergugat tidak
berkencan pada hari sidang pertama. verstek terjadi maka keputusan
yang dijatuhkan oleh hakim tanpa kehadiran pihak tergugat. Ini
terjadi karena tergugat tidak diketahui tempat tinggalnya. PTUN
tidak mengenal Verstek.
9. Pemeriksaan Cepat
Dalam hukum acara PTUN terdapat pada pasal 98 dan 99
UU PTUN, pemeriksaan ini tidak dikenal pada hukum acara
perdata. Pemerikasaan cepat dilakukan karena kepentingan
penggugat sangat mendesak, apabila kepentingan itu menyangkut
KTUN yang berisikan misalnya mengungkapkan pembongkaran
bangunan atau rumah yang ditempati penggugat.
10. Sistem Hukum Pembuktian
Sistem pembuktian vrij bewijsleer) dalam hukum acara
perdata dilakukan dalam rangka memperoleh kebenaran formal,
sedangkan dalam hukum acara PTUN dilakukan dalam rangka
memperoleh kebenaran materiil (pasal 107 UU PTUN).
11. Sifat Ega Omnesnya Putusan Pengadilan
Artinya untuk siapa saja dan tidaka hanya terbatas berlaku
bagi pihak-pihak yang berperkara, sama halnya dengan hukum
acara perdata.
11
12. Pelaksanaan serta Merta (executie bij voorraad)
Dalam hukum acara PTUN tidak dikenal pelaksanaan serta
merta sebagaimana yang dikenaldalam hukum acara perdata. Ini
terdapat pada pasal 115 UU PTUN.
13. Upaya pemaksa Agar Putusan Dilaksanakan
Dalam hukum acara perdata jika pihak yang terbuka tidak
mau melaksanakan secara sukarela, maka dikenal dengan upaya
emaksa agar putusan tersebut dilaksanakan. Dalam hukum acara
PTUN tidak di kenal karena bukan hakikatnya hakikatnya dalam
putusan hukum acara perdata. Hakikat hukum acara PTUN adalah
untuk menerapkan KTUN yang telah dikeluarkan.
14. Kedudukan Pengadilan Tinggi
Dalam hukum acara perdata kedudukan pebgadilan tinggi
selalu sebagai pengadilan tingkat banding, sehingga setiap perkara
tidak dapat langsung diperiksa oleh pengadilan tinggi tetapi harus
terlebih dahulu melalui pengadilan tingkat pertama (pengadilan
Negeri). Dalam hukum acara PTUN kedudukan pengadilan dapat
sebagai pengadilan tingkat pertama.
15. Hakim Ad Hoc
Hakim Ad Hoc tidak dikenal dalam hukum acara perdata,
bila diperlukan keterangan ahli dalam bidang tertentu, hakim cukup
mendengarkan keterangan dari ahli. Dalam hukum acara PTUN
diatur pasal 135 UU PTUN. Jika memerlukan keahlian khusus maka
pengadilan dapat menujuk seorang hakim Ad Hoc sebagai anggota
majelis.6
6
[Link]
12
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
HATUN adalah: “Aturan hukum yang mengatur bagaimana prosedur atau tata
cara perlengkapan tata negara atau tata usaha negara melaksanakan tugasnya dalam
menjalankan tugasnya guna mencapai masyarakat yang adil dan makmur”.
Dasar hukum Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terdiri dari tiga
instrumen, yaitu Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986, Undang-undang Nomor 9
Tahun 2004 (perubahan pertama dari UU No. 5 Tahun 1986) dan Undang-undang
Nomor 51 Tahun 2009 (perubahan kedua dari UU No. 5 Tahun 1986). Sebelum
dikeluarkannya UU No. 5 Tahun 1986, peradilan administrasi Indonesia masih
bersifat [Link] pada masa itu merupakan peradilan administratif yang terdapat
dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Nomor II/MPRS/1960.
hukum acara TUN terlihat dari asas-asas khusus yang menjadi landasan
operasional negara acara PTUN dan ini juga sebagai bagian yang menyebabkan
peradilan dalam hukum acara TUN menjadi spesial, terdapat : Asas praduga
Rechtmatig, Asas Pembuktian Bebas, Asas Keaktifan Hakim, Asas Putusan
Pengadilan. Dan sebagainya.
Adapun perbedaan diantara Hukum tata usaha Negara dan hukum acara
perdata ada beberapa meliputi objek, kedudukan gugatan, tenggang waktu, upaya,
putusan , rapat, pemeriksaaan, dan sebagainya.
B. SARAN
Demikianlah makalah ini yang dapat kami buat, kami sebagai manusia
biasa tentu masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Namun,
pembenahan ini akan cepat dan tepat dilakukan dengan bantuan kritik dan saran
yang membangun dari para pembaca, Sehingga dengan begitu kami bisa lebih
hati-hati dan teliti lagi dalam mengerjakan tugas dan menyusun makalah lain.
Apakah ada kekurangan dari segi PPKI (Pedoman Penulisan Karya Ilmiah)
13
Fakultas Syariah atau ada kesalahan pengetikan dan tata letak yang tidak sesuai
dengan PPKI Fakultas Syariah.
14
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Rozali, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta: Rajawali Pers,
Cetakan Pertama, 1992
Hadjon Philipus M., Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 1994
[Link]
SARI ELIDAR, S.H., M.H. & HADI ISKANDAR, S.H., M.H., HUKUM ACARA
PERADILAN TATA USAHA NEGARA, Lhokseumawe: CV. BieNa Edukasi, 2014
Wantu Dr. Fence M., SH., MH, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara,Kota
Gorontalo: REVIVA CENDEKIA, 2014
15