HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP
DENGAN PERILAKU PENERAPAN HIGIENE SANITASI
PENJAMAH MAKANAN PADA RUMAH MAKAN
(Studi di Kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin)
Oleh :
ILHAM RAMADHAN
NIM : P07131221001J
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN
PROGRAM STUDI GIZI DAN DIETETIKA
2021
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP
DENGAN PERILAKU PENERAPAN HIGIENE SANITASI
PENJAMAH MAKANAN PADA RUMAH MAKAN
(Studi di Kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin)
Proposal Skripsi guna memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh
Predikat Sarjana Terapan Gizi
Oleh :
ILHAM RAMADHAN
NIM : P07131221001J
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN
PROGRAM STUDI GIZI DAN DIETETIKA
2021
@ 2021
Hak Cipta ada pada penulis
LEMBAR PENGESAHAN
Proposal Skripsi berjudul “Hubungan Pengetahuan dan Sikap Dengan
Perilaku Penerapan Higiene Sanitasi Penjamah Makanan pada Rumah
Makan (Studi di Kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin)” telah
dipertahankan di depan Tim Penguji Proposal Skripsi dalam rangka memperoleh
predikat Sarjana Terapan Gizi.
Batulicin, November 2021
Pembimbing I, Pembimbing II,
(Rusmini Yanti, SKM., MS) (Hj. Aprianti, [Link]., [Link])
NIP. 1970022151991032001 NIP. 196604171988032002
Mengetahui :
Ketua Jurusan Gizi
Poltekkes Kemenkes Banjarmasin
(Rijanti Abdurrachim, DCN., M. Kes, RD)
NIP. 196311101987032001
Susunan Tim Penguji Proposal Skripsi
1. Magdalena, A., M. Kes : Ketua Penguji (………………..)
2. Hj. Aprianti, [Link]., [Link] : Anggota (………………..)
3. Rusmini Yanti, SKM., MS : Anggota (………………..)
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala Rahmat
dan Karunia-Nya yang telah dilimpahkan sehingga proposal skripsi yang berjudul
“Hubungan Pengetahuan dan Sikap Dengan Perilaku Penerapan Higiene
Sanitasi Penjamah Makanan pada Rumah Makan (Studi di Kecamatan
Simpang Empat Kota Batulicin)” dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Proposal skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
memperoleh predikat Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika di Politeknik Kesehatan
Kementerian Kesehatan Banjarmasin Jurusan Gizi.
Dalam penyusunan proposal skripsi ini, tidak lepas dari bimbingan dan
masukan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah memberikan bantuan baik dalam segi moril maupun
materil sehingga terwujudnya proposal skripsi ini. Ucapan terima kasih juga
disampaikan kepada yang terhormat :
1. Dr. H. Mahpolah, [Link]. selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kementerian
Kesehatan Banjarmasin.
2. Rijanti Abdurrachim, DCN., [Link], RD selaku Ketua Jurusan Gizi Politeknik
Kesehatan Kementerian Kesehatan Banjarmasin.
3. Rusmini Yanti, SKM., MS selaku pembimbing yang telah banyak
memberikan bimbingan, masukan, koreksi serta saran dalam penyusunan dan
perbaikan proposal skripsi ini.
4. Sajiman, SKM., [Link] selaku Ketua Program Studi Sarjana Terapan Gizi dan
Dietetika Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Banjarmasin.
i
5. Magdalena, A., M. Kes selaku pembimbing akademik yang telah memberikan
saran dan dukungannya.
6. Seluruh dosen dan staf Jurusan Gizi yang telah memberikan dorongan dan
saran-saran untuk kelancaran proposal skrispi ini.
7. Kedua orang tua saya yang selalu mensupport, mendoakan dan memotivasi
saya selama penyusunan proposal ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna
dalam pembuatan proposal skripsi ini. Untuk itu penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun demi kelancaran dalam pembuatan
proposal skripsi ini. Penulis berharap semoga proposal skripsi ini dapat berguna
bagi kita semua, Amin.
Batulicin, November 2021
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HAK CIPTA
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR................................................................................... v
DAFTAR TABEL........................................................................................ vi
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................ vii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................. 6
C. Tujuan Penelitian............................................................... 7
1. Tujuan Umum............................................................... 7
2. Tujuan Khusus.............................................................. 7
D. Manfaat Penelitian............................................................. 8
1. Bagi Institusi ................................................................ 8
2. Bagi Penjamah Makanan.............................................. 8
3. Bagi Peneliti Selanjutnya............................................. 8
E. Keaslian Penelitian............................................................. 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Higiene dan Sanitasi Makanan........................................... 10
1. Pengertian Higiene ..................................................... 10
iii
2. Pengertian Sanitasi...................................................... 10
B. Prinsip Higiene dan Sanitasi Makanan.............................. 11
C. Pemilihan Bahan Makanan……........................................ 12
D. Penyimpanan Bahan Makanan........................................... 13
E. Pengolahan Makanan......................................................... 15
F. Penyimpanan Makanan Masak ......................................... 19
G. Pengangkutan Makanan..................................................... 19
H. Penyajian Makanan............................................................ 20
I. Penjamah Makanan............................................................ 22
J. Pengetahuan........................................................................ 23
K. Sikap................................................................................... 24
L. Perilaku............................................................................... 25
M. Peran Penjamah Makanan Dalam Penularan Penyakit
Bawaan Makanan............................................................... 26
N. Rumah Makan.................................................................... 27
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
A. Kerangka Konsep............................................................... 29
B. Hipotesis............................................................................. 30
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Jenis Peneitian .................................................................. 31
B. Desain Penelitian............................................................... 31
C. Tempat dan Waktu Penelitian........................................... 31
D. Populasi dan Sampel Penelitian ......................................... 32
E. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional.................... 33
iv
F. Metode Pengumpulan Data................................................ 35
G. Pengolahan Data................................................................. 36
H. Analisis Data...................................................................... 37
I. Jadwal Penelitian dan Rencana Anggaran.......................... 41
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
v
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Teori
Gambar 3.1 Kerangka Konsep
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
Tabel 2.1 Suhu dan Lama Penyimpanan Bahan Makanan Mentah Segar
Tabel 2.2 Suhu Penyimpanan Makanan Masak Berdasarkan Jenisnya
Tabel 4.1 Definisi Operasional
Tabel 4.2 Pengetahuan Penjamah Makanan
Tabel 4.3 Sikap Penjamah Makanan
Tabel 4.4 Perilaku Penjamah Makanan
Tabel 4.5 Interpretasi Koefisien Korelasi
Tabel 4.6 Jadwal Penelitian
Tabel 4.7 Rencana Anggaran
vii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Izin
Lampiran 2 Kuesioner Pengetahuan
Lampiran 3 Lembar Persetujuan Responden
Lampiran 4 Kuesioner Sikap
Lampiran 5 Lembar Checkist
Lampiran 6 Kartu konsultasi
Lampiran 7 Penyataan siap Ujian
viii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk melanjutkan
kehidupan. Makanan yang dibutuhkan harus sehat dalam arti memiliki
nilai gizi yang optimal seperti vitamin, mineral, hidrat arang, lemak dan
lainnya. Makanan harus murni dan utuh dalam arti tidak mengandung
bahan pencemar serta harus higiene (Yulia Y, 2016).
Agar makanan dapat bermanfaat bagi tubuh manusia maka harus
dikelola dengan baik dan benar. Makanan seharusnya memenuhi kriteria
untuk aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan penyakit. Dalam
paradigma kesehatan lingkungan, kontaminasi yang terjadi pada
makanan dan minuman dapat menyebabkan makanan tersebut menjadi
media penularan penyakit (Anggraini, 2018).
Penyakit yang ditimbulkan oleh makanan yang terkontaminasi
disebut penyakit bawaan makanan (food borned disease). Penyakit
bawaan makanan disebabkan oleh kontaminasi makanan terjadi pada
setiap tahap produksi, pengiriman dan rantai makanan. Sebagian besar
muncul sebagai masalah pencernaan seperti diare. (WHO, 2015)
Sentra Informasi Keracunan (SIKer) Nasional melaporkan kasus
keracunan nasional yang disebabkan oleh makanan pada tahun 2017
yaitu sebanyak 77,42%. Menurut data dari Badan Pengawas Obat dan
2
Makanan, pada Bulan Januari hingga Maret 2015, di Indonesia terjadi
kasus keracunan akibat pangan yang di sebabkan oleh makanan sebanyak
6 insiden dengan jumlah korban sebanyak 281 orang. Selanjutnya di
bulan April hingga Juni 2015, sebanyak 8 insiden keracunan makanan
dengan jumlah korban sebanyak 379 orang (BPOM, 2015).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) tahun 2020 penyakit yang
ditularkan melalui makanan salah satunya diare. Prevalensi diare di
Kabupaten Tanah Bumbu yaitu sekitar 2159 kasus dan salah satu faktor
akibatnya dikarenakan oleh penyakit akibat kontaminasi pada makanan
(Riskesdas, 2020).
Upaya higiene sanitasi makanan sangat diperlukan untuk
mencegah dan melindungi makanan dari kontaminasi dan
mikroorganisme penular penyakit. Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011
tentang persyaratan higiene sanitasi jasa boga menyebutkan bahwa upaya
higiene sanitasi untuk mengendalikan faktor risiko terjadinya
kontaminasi terhadap makanan, baik yang berasal dari bahan makanan,
orang, tempat dan peralatan agar aman dikonsumsi (Kemenkes, 2011).
Berdasarkan UU Republik Indonesia No.18 Tahun 2012 Tentang
Pangan, agar pangan dapat dikonsumsi dengan aman maka perlu
dilakukan higiene sanitasi. Dalam menangani bahaya pada pangan, setiap
orang yang terlibat dalam rantai pangan wajib mengendalikan risiko
bahayanya, baik yang berasal dari peralatan yang digunakan, bahan baku
3
makanan, sarana, proses produksi, maupun perorangan sehingga
keamanan terjamin (Kemenkes, 2017).
Sebagian besar pengusaha rumah makan di Indonesia belum paham
dalam persyaratan higiene sanitasi yang erat hubungannya dengan
kesehatan. Pada dasarnya pengusaha rumah makan dalam menjalankan
usahanya hanya memikirkan segi komersial saja dan kurang
memperhatikan peraturan tentang kesehatan dan sanitasi tempat umum.
Permasalahan yang ada dalam pengawasan higiene sanitasi yakni perlu
adanya peraturan/kebijakan yang mengatur mengenai pendirian dan
pengelolaan sanitasi tempat-tempat umum yaitu termasuk rumah makan
(Setiyobroto, 2017).
Hasil penelitian pelaksanaan higiene dan sanitasi makanan ditinjau
dari aspek penjamah makanan (Foodhandler) Di RC (Retreat Center)
Sukamakmur ditemukan bahwa 37,5% penjamah makanan belum
mengetahui wajib memeriksakan kesehatannya setiap 6 bulan sekali.
Sebanyak 50% petugas penjamah makanan tidak menggunakan penutup
kepala sewaktu bekerja,100 % petugas penjamah makanan bekerja hanya
kadang-kadang menggunakan pakaian kerja dan hanya kadang-kadang
petugas penjamah makanan pada saat keluar dari WC/toilet mencuci
tangan menggunakan sabun terlebih dahulu (Meliala, 2017).
Salah satu faktor penyebab terjadinya keracunan makanan yaitu
tingkat pengetahuan. Penjamah makanan harus memiliki dasar-dasar
pengetahuan tentang higiene sanitasi makanan serta memiliki
4
keterampilan kesehatan untuk mencegah penularan penyakit. Tingkat
pengetahuan penjamah makanan juga berpengaruh terhadap kejadian
keracunan makanan. Pengetahuan penjamah makanan tentang higiene
dan sanitasi pengolahan makanan sangat mempengaruhi kualitas
makanan yang akan disajikan. Ketidaktahuan dapat menjadi sumber
cemaran karena pengetahuan yang rendah maka kesadarannya pun
rendah. Hal tersebut menyebabkan terjadinya penyalahgunaan bahan
makanan yang dapat menimbulkan bahaya (PGRS, 2013).
Faktor penyebab lainnya yaitu sikap penjamah makanan. Sikap
penjamah makanan juga dapat menimbulkan risiko kesehatan, artinya
sikap penjamah makanan yang tidak baik akan berdampak pada higienes
makanan yang disajikan. Sebaliknya, sikap penjamah makanan yang baik
dapat menghindarkan makanan dari kontaminasi atau pencemaran dan
keracunan (Andani, 2016).
Rumah makan merupakan tempat yang sering dikunjungi oleh
masyarakat umum, maka perlu diperhatikan dari higiene sanitasi
makanan karena rumah makan memiliki salah satu fungsi tempat
pengolahan makanan. Dalam menyelenggarakan usahanya pada
umumnya, pengusaha rumah makan dan restoran hanya mementingkan
segi komersial saja. Diperlukan penatalaksanaan yang baik dan benar
agar tidak terjadi masalah kesehatan. Masalah kesehatan seperti water
and food borne disease disebabkan oleh sanitasi yang tidak memenuhi
persyaratan. Hal ini dapat dilihat dari KLB (kejadian luar biasa) dan
5
wabah penyakit perut yang disebabkan oleh kelalaian dari penjamah
makanan dan pengusaha restoran yang kurang mengerti masalah
kebersihan dalam penyelenggaraan makanan (Mukono, 2016).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Sari di rumah makan
Puskesmas Air Tawar Padang Tahun 2016, menunjukkan bahwa 62,2%
higiene penjamah tidak memenuhi syarat, 52,8% responden memiliki
pengetahuan rendah, 50% memiliki sikap negatif. Sedangkan penelitian
yang dilakukan Irawan di rumah makan wilayah kerja Pelabuhan Laut
KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) Kelas II Padang Tahun 2016,
menyimpulkan bahwa penjamah makanan memiliki penerapan higiene
sanitasi kurang baik sebanyak 53,4%, memiliki pengetahuan rendah
47,8%, memiliki sikap negative 43,8% dan tidak pernah ikut pelatihan
71,6% .
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wina pada penjamah
makanan di rumah makan kecamatan Padang Timur tahun 2013,
menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan,
sikap dan personal higiene penjamah makanan dengan perilaku penjamah
makanan dalam penerapan higiene sanitasi makanan. terendah yaitu
kecamatan pauh dengan memenuhi syarat hanya 51%. Penelitian yang
dilakukan oleh Yofi di rumah makan di pinggir pantai kota pariaman
tahun 2018 menunjukkan bahwa sebanyak 40,4% penjamah makanan
memiliki penerapan higiene sanitasi makanan yang kurang baik, 36,2%
6
mempunyai tingkat pengetahuan rendah, 51,1% memiliki sikap negatif,
46,8%.
Berdasarkan hasil observasi yang telah peneliti lakukan pada
beberapa rumah makan di kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin
menunjukkan belum terpenuhinya standar kesehatan dalam penerapan
higiene dan sanitasi makanan. Hal ini ditemukan pada penerapan
personal hygiene penjamah makanan saat mengolah makanan, terdapat
penjamah makanan yang tidak menggunakan masker, sarung tangan dan
penutup kepala serta tidak menggunakan celemek. Peneliti juga
menemukan sejumlah penjamah makanan masih berbicara dan merokok
pada saat mengolah makanan, hal ini dapat mengakibatkan kontaminasi
ke makanan.
Selama observasi, peneliti juga menemukan tempat sampah dalam
keadaan terbuka yang dapat mengundang lalat maupun binatang lainnya.
Tempat sampah juga diletakkan disebelah tempat pengolahan makanan
dan disebelah peralatan yang telah dibersihkan. Hal ini dapat
mengakibatkan terkontaminasinya makanan dan alat yang telah
dibersihkan.
Berdasarkan data yang didapat dari puskesmas Simpang Empat,
kasus diare yang diakibatkan oleh makanan sepanjang bulan Januari
sampai bulan November tahun 2021 di Kecamatan Simpang Empat
mencapai 104 kasus lebih tinggi jika dibandingkan dengan Kecamatan
Batulicin dan angka yang melonjak naik daripada tahun sebelumnya yang
7
berjumlah 50 kasus, dimana dari semua kasus efek keracunan yaitu diare
selalu terjadi pada saat kostumer pulang atau tidak langsung mengalami
keracunan pada saat di tempat makan. Salah satu faktor penyebab kasus
diare di Kecamatan Simpang Empat disebabkan oleh kontaminasi pada
makanan dari rumah makan atau warung. Tentunya peran penjamah
makanan berpengaruh terhadap kejaian ini dan dikhawatirkan angka
kasus yang melonjak akan terus bertambah sehingga perlu mendapat
perhatian khusus.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian tentang hubungan pengetahuan dan sikap penjamah makanan
dengan perilaku penjamah makanan dalam penerapan higiene sanitasi
makanan pada rumah makan di Kecamatan Simpang Empat Kota
Batulicin.
B. Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku
penerapan higiene sanitasi penjamah makanan pada rumah makan di
Kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
8
Untuk mengetahui pengetahuan dan sikap dengan perilaku
penerapan higiene sanitasi penjamah makanan pada rumah makanan
di Kecamatan Simpang Empat kota Batulicin.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi pengetahuan penjamah makanan pada
rumah makan di Kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin.
b. Untuk mengidentifikasi sikap penjamah makanan pada rumah
makan di Kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin.
c. Untuk mengidentifikasi perilaku penjamah makanan pada rumah
makan di Kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin.
d. Untuk menganalisis hubungan pengetahuan dengan perilaku
penjamah makanan dalam penerapan higiene sanitasi pada rumah
makanan di Kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin.
e. Untuk menganalisis hubungan sikap dengan perilaku penjamah
makanan dalam penerapan higiene sanitasi pada rumah makanan
di Kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Rumah Makan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan untuk
menambah pengetahuan penjamah makan tentang penerapan higiene
sanitasi makanan dan dapat diterapkan pada pengolahan makanan
yang akan disajikan kepada pengunjung.
9
2. Bagi Universitas
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan dalam
pengembangan ilmu tentang higiene sanitasi makanan.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi yang
bisa dipergunakan sebagai acuan dalam penelitian selanjutnya.
E. Keaslian Penelitian
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
Nama
No Judul Variabel Metode Perbedaan
Peneliti
1. Rahmayani Hubungan Variabel bebas : Penelitian Tempat
(2018) Pengetahuan dan Pengetahuan, kuantitatif penelitian,
Tindakan sikap dengan judul,
Penerapan Variabel terikat : pendekata variabel
Higiene Sanitasi
hygiene sanitasi n cross
Pedagang
Makanan Jajanan
10
Di Pinggir Jalan makanan jajanan sectional
2. Halimatus Hubungan Variabel bebas :, Penelitian Tempat
Sakdiyah Personal Hygiene Personal observasio penelitian,
(2017) Pedagang Hygiene -nal judul,
Makanan Dengan Variabel terikat : dengan variabel
Cemaran Bakteri
Keberadaan pendekata
Coliform Pada
Jajanan (Cilok) Coliform pada n cross
Di Sekolah Dasar jajanan sectional
Wilayah Kerja
UPT PKM
Kepanjen
3 Kharisma Evaluasi Variabel bebas : Penelitian Tempat
Muhammad penerapan higiene tindakan observasio penelitian,
(2017) sanitasi kantin di penjamah -nal judul,
Universitas makanan dengan variabel
Andalas
Variabel terikat : pendekata
higiene sanitasi n cross
kantin sectional
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Higiene dan Sanitasi Makanan
1. Pengertian Higiene
11
Menurut Pelayanan Gizi Rumah Sakit tahun 2013, higiene
adalah usaha kesehatan preventif yang menitikberatkan kegiatannya
kepada usaha kesehatan individu. Higiene ialah upaya kesehatan
masyarakat yang khusus meliputi segala usaha yang dilakukan untuk
memelihara, melindungi dan meningkatkan derajat kesehatan jiwa
dan badan, baik untuk masyarakat maupun individu, yang bertujuan
untuk memberi dasar-dasar kelangsungan hidup yang sehat dan
meningkkan kesejahteraan hidup manusia (Rejeki, 2015).
Menurut Suyono higiene makanan adalah suatu usaha
pencegahan penyakit yang menitikberatkan aktifitasnya pada usaha-
usaha kebersihan atau kesehatan atau keutuhan makanan itu sendiri
(Whole Someness Of Food).
2. Pengertian Sanitasi Makanan
Sanitasi adalah usaha-usaha pengawasan yang ditujukan pada
faktor lingkungan yang merupakan rantai dari penularan terhadap
penyakit. Sanitasi makanan adalah usaha untuk pencegahan yang
menitikberatkan terhadap tindakan dan kegiatan yang dilakukan untuk
untuk melindungi makanan dan minuman dari hal yang
membahayakannya dan dapat mengganggu kesehatan mulai dari
sebelum makanan diproduksi, selama proses pengolahan,
penyimpanan, pengangkutan, penjualan sampai kepada masyarakat
dimana makanan dan minuman itu siap untuk dikonsumsi. Sanitasi
juga merupakan usaha kesehatan lingkungan lebih banyak
12
memperhatikan masalah kebersihan untuk mencapai kesehatan
(PGRS, 2013).
Sanitasi makanan yang buruk dapat disebabkan oleh faktor
kimia dan faktor mikrobiologi. Faktor kimia disebabkan karena
adanya zat-zat kimia yang digunakan untuk mempertahankan
kesegaran bahan makanan, obat-obat penyemprot hama, penggunaan
wadah bekas obat-obat pertanian untuk kemasan makanan dan lain
sebagainya. Sedangkan penyebab faktor mikrobiologi yaitu karena
adanya kontaminasi oleh bakteri, virus, jamur, dan parasit. Akibatnya
sanitasi makanan yang buruk dapat menimbulkan gangguan kesehatan
pada orang yang mengkonsumsi makanan tersebut (Sumantri, 2017).
B. Prinsip Higiene dan Sanitasi Makanan
Prinsip higiene dan sanitasi makanan adalah pengendalian terhadap
faktor penyehatan makanan yaitu faktor tempat atau bangunan, bahan
makanan, orang dan peralatan. Penyehatan makanan dilakukan sebagai
upaya untuk mengetahui empat faktor tersebut yang menimbulkan
gangguan kesehatan dan keracunan makanan. Untuk mengetahui faktor-
faktor tersebut, perlu dilakukan analisis terhadap enam prinsip higiene
dan sanitasi makanan, yaitu: (Rejeki, 2015)
a. Pemilihan bahan makanan
b. Penyimpanan bahan makanan
c. Pengolahan makanan
d. Penyimpanan makanan jadi
13
e. Pengangkutan makanan
f. Penyajian makanan
C. Pemilihan Bahan Makanan
Semua jenis bahan makanan perlu mendapatkan perhatian secara
fisik serta terjamin kesegarannya, terutama pada bahan makanan yang
mudah rusak dan membusuk seperti ikan, daging, susu, telor, buah, sayur
dan makanan kaleng. Bahan makanan yang baik kadang tidak mudah
ditemui karena perjalanan bahan makanan yang begitu panjang dan
melalui perdagangan yang begitu luas. Upaya yang dapat dilakukan untuk
memperoleh bahan makanan yang baik adalah dengan menghindari
penggunaan bahan makanan yang berasal dari sumber yang tidak jelas
karena kurang dapat dipertanggungjawabkan secara kualitas (Mundiatun,
2018).
Bahan-bahan yang dimakan dalam keadaan mentah dalam proses
pengangkutannya harus terpisah dari bahan-bahan baku lain dan bahan
yang bukan bahan pangan, serta penyimpanannya pun harus terpisah.
Bahan makanan harus dikirim sedemikian rupa sehingga dapat terhindar
dari tumbuhnya mikroorganisme patogen dan pembentukan toksin dengan
mengatur lamanya waktu pengiriman, aktifitas air dan suhu dari bahan
baku makanan tersebut. Pemilihan bahan mentah harus dilakukan dengan
teliti. Dalam memilih bahan makanan harus dipastikan bahwa bahan
makanan tersebut dalam kondisi yang bersih, tidak bercampur dengan
14
bahan-bahan kimia atau bahan-bahan yang bukan bahan makanan
(Rejeki, 2015).
D. Penyimpanan Bahan Makanan
Bahan makanan yang tersedia tidak semuanya langsung
dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan makanan yang tidak langsung diolah
perlu penyimpanan yang baik. Sifat bahan makanan berbeda-beda serta
dapat rusak dan membusuk, sehingga perlu dijaga kualitas dari bahan
makanan tersebut. Tempat penyimpanan bahan makanan perlu
diperhatikan susunan dan konstruksinya agar terhindar dari kerusakan
makanan yang disebabkan oleh faktor fisik. Faktor fisik terkait dengan
kondisi ruangan yang tidak mendukung pengamanan makanan seperti
temperatur ruangan yang panas dan lembab serta sirkulasi udara yang
kurang baik (Sumantri, 2010).
Kerusakan bahan makanan dapat terjadi akibat kontaminasi dan
tercemar bakteri, karena perlakuan manusia dan alam, adanya enzim
dalam makanan yang diperlukan dalam proses pematangan seperti pada
buah dan kerusakan mekanis seperti adanya gesekan, tekanan dan
benturan. Pencegahan pencemaran bakteri dilakukan untuk
mengendalikan dan mencegah terjadinya kerusakan pada bahan makanan.
Bakteri memiliki sifat dan karakteristik seperti sifat hidupnya, daya tahan
panas, faktor lingkungan hidup, kebutuhan oksigen dan berdasarkan
pertumbuhannya. Penyimpanan bahan makanan harus memperhatikan
prinsip first in first out (FIFO) dan first expired first out (FEFO) yaitu
15
bahan makanan yang terlebih dahulu disimpan dan yang mendekati masa
kadaluarsa digunakan terlebih dahulu. Ada empat cara penyimpanan
bahan makanan sesuai suhu yang disyaratkan,yaitu : (Rejeki, 2015)
1. Penyimpanan sejuk (cooling)
2. Penyimpanan dingin (chilling)
3. Penyimpanan dingin sekali (freezing)
4. Penyimpanan beku (frozen)
Syarat dalam penyimpanan bahan makanan yaitu sebagai berikut :
1. Tempat penyimpanan bahan makanan selalu terpelihara dalam
keadaan bersih.
2. Penempatannya harus terpisah dari makanan jadi atau makanan yang
telah dimasak.
3. Untuk setiap jenis makanan disimpan dalam suhu yang sesuai,
ketebalan makanan padat tidak lebih dari 10 cm dan kelembaban
penyimpanan dalam ruangan 80%-90%.
4. Makanan yang disimpan di gudang disimpan dengan cara tidak
menempel pada langit-langit, dengan ketentuan:
a. Jarak antara makanan dengan lantai 15 cm
b. Jarak antara makanan dengan dinding 5 cm
c. Jarak antara makanan dengan langit-langit 60 cm
5. Bahan makanan disimpan dalam aturan sejenis, disusun dalam rak-rak
sedemikian rupa sehingga tidak mengakibatkan busuknya bahan
16
makanan. Bahan makanan yang masuk lebih dahulu harus dikeluarkan
terlebih dahulu dan bahan makanan yang masuk belakangan
dikeluarkan terakhir atau disebut dengan sistem FIFO (first in fisrt
out).
Tabel 2.1 Suhu dan lama penyimpanan bahan makanan mentah segar
No. Jenis Bahan Lama Waktu Penyimpanan
Makanan < 3 hari ≤ 1 minggu > 1 minggu
1 Daging, ikan, -5 – 0 °C -10 - - 50 °C < - 10 °C
udang dan hasil
olahnya
2 Telur, buah dan 5 – 7 °C -5 – 0 ° C <-5°C
hasil olahanya
3 Sayur, buah dan 10 ° C 10 ° C 10 ° C
minuman
4 Tepung dan biji- 25 0C 25 0C 25 0C
bijian
Sumber : PGRS 2013
E. Pengolahan Makanan
Pengolahan makanan adalah proses pengubahan bentuk dari bahan
makanan mentah menjadi makanan yang siap untuk dimakan. Dalam
pengolahan makanan yang baik, harus mengikuti kaidah dan prinsip-
prinsip higiene dan sanitasi makanan. Kebersihan diri penjamah makanan
serta peralatan dapur untuk mengolah makanan merupakan faktor penting
yang harus diperhatikan (Anies, 2015).
Cara pengolahan makanan yang baik dan benar dapat menjaga
mutu dan keamanan hasil olahan makanan. Sedangkan cara pengolahan
yang salah dapat menyebabkan kandungan gizi dalam makanan hilang
secara berlebihan. Secara alamiah beberapa jenis vitamin (B dan C)
17
rentan rusak akibat pemanasan. Bahan makanan yang langsung terkena
air rebusan akan menurun nilai gizinya terutama vitamin-vitamin larut air
(B kompleks dan C), sedangkan vitamin larut lemak (ADEK) kurang
terpengaruh. Makanan menjadi tidak aman dikonsumsi jika dalam
pengolahannya ditambahkan BTP yang melampaui batas yang
diperbolehkan sehingga berbahaya bagi kesehatan (PGRS, 2013).
Pengolahan makan yang baik adalah pengolahan makanan yang
mengikuti kaidah prinsip-prinsip higiene dan sanitasi atau cara produksi
makanan yang baik yaitu : (PGRS, 2013)
1. Tenaga Penjamah Makanan
Penjamah makanan adalah orang yang secara langsung maupun
tidak langsung berhubungan dengan produksi makanan mulai dari
tahap persiapan, hingga ke penyajian makanan. Peran penjamah
makanan sangatlah penting dalam proses manajemen produksi
makanan. Penjamah makanan mempunyai peluang untuk menularkan
penyakit lewat makanan Kebersihan diri dan kesehatan penjamah
makanan merupakan kunci kebersihan dalam pengolahan makanan
yang aman dan sehat, karena penjamah makanan juga merupakan
salah satu vektor yang dapat mencemari bahan pangan baik berupa
cemaran fisik, kimia maupun biologis (PGRS, 2013).
2. Cara Pengolahan Makanan
Kontaminasi terhadap makanan oleh peralatan, penjamah
makanan, proses penanganannya, maupun air harus dihindari selama
18
pengolahan makanan baik dalam mencuci, meracik, maupun
memasak.
Cara pengolahan makanan yang serba bersih : (Retno,2006)
a. Menerapkan dasar-dasar higiene perorangan bagi para tenaga
pengolahan (penjamah makanan).
b. Menerapkan dasar-dasar higiene dan sanitasi makanan.
c. Melarang petugas dengan penyakit kulit atau yang mempunyai
luka-luka pada tangan atau jari-jari untuk bekerja sebagai
pengolah makanan.
3. Peralatan Makanan
Peralatan pengolahan pangan yang kotor dapat mencemari pangan,
oleh karena itu peralatan harus dijaga agar selalu tetap bersih. Upaya
untuk menghindari pencemaran pangan dari peralatan yang kotor,
lakukan hal-hal berikut: (PGRS, 2013)
a. Gunakanlah peralatan yang mudah dibersihkan. Peralatan yang
terbuat dari stainless steel umumnya mudah dibersihkan. Karat
dari peralatan logam dapat menjadi bahaya kimia dan lapisan
logam yang terkelupas dapat menjadi bahaya fisik jika masuk ke
dalam pangan.
b. Bersihkan permukaan meja tempat pengolahan pangan dengan
deterjen/sabun dan air bersih dengan benar.
19
c. Bersihkan semua peralatan termasuk pisau, sendok, panci, piring
setelah dipakai dengan menggunakan deterjen/sabun dan air
panas.
d. Letakkan peralatan yang tidak dipakai dengan menghadap ke
bawah.
e. Bilas kembali peralatan dengan air bersih sebelum mulai
memasak.
Penjamah makanan harus mempehatikan semua kegiatan dalam
produksi makanan dan makanan terlindungi dari kontak langsung
dengan tubuh penjamah makanan. Perlindungan kontak langsung
makanan dengan tubuh dapat dilakukan dengan memakai sarung
tangan plastik sekali pakai, menggunakan penjepit makanan dalam
mengambil makanan dan menggunakan peralatan makan lainnya
seperti sendok dan garpu. Pada proses pengolahan makanan harus
terhindar dari segala bentuk pencemaran. Pencemaran pada makanan
dapat dihindari dengan menggunakan celemek, menggunakan tutup
kepala dan tutup mulut serta menggunakan sepatu khusus dapur
(Mukono, 2008).
F. Penyimpanan Makanan Masak
Makanan yang sudah dimasak apabila disimpan pada suhu kamar
maka akan cepat terjadinya pertumbuhan bakteri. Pada suhu kamar
bakteri akan cepat berkembang biak dan makanan akan menjadi cepat
20
rusak dan basi. Diantara bakteri terdapat beberapa bakteri yang
menghasilkan racun (toksik). Cara yang tepat untuk menghindari bakteri
dengan menyimpan makanan di tempat yang bersih, tertutup, dan suhu di
atas atau di bawah suhu kamar adalah tersebut. Makanan jadi tidak tidak
boleh disimpan dengan bahan makanan mentah (PGRS, 2013).
Tabel 2.2 Suhu Penyimpanan Makanan Masak Berdasarkan Jenisnya
Suhu Penyimpanan
No. Jenis Makanan Disajikan
Akan segera Belum segera
dalam waktu
disajikan disajikan
lama
1 Makanan kering 25ºC s/d 30ºC
2 Makanan basah >60ºC -10ºC
(berkuah)
3 Makanan cepat >65.5ºC -5ºCs/d -10ºC
basi (santan, telur,
susu)
4 Makan disajikan 5ºC s/d 10ºC <10ºC
Dingin
G. Pengangkutan Makanan
Makanan masak sangat disukai oleh bakteri karena cocok untuk
berkembangnya bakteri. Oleh karena itu cara penyimpanan dan
pengangkutannya harus memperhatikan wadah penyimpanan makanan
masak (setiap makanan masak memiliki wadah yang terpisah, pemisahan
didasarkan pada jenis makanan dan setiap wadah harus memiliki tutup
tetapi tetap berventilasi serta alat pengangkutan yang khusus (PGRS,
2013).
Pengangkutan makanan yang baik serta dilakukan dengan cara
yang benar sangat berperan dalam mencegah terjadinya pencemaran dan
21
kontaminasi pada makanan. Dalam pengangkutan makanan harus
memperhatikan kaidah dan prinsip higiene sanitasi makanan. Makanan
yang telah masak lebih tinggi risikonya mengalami pencemaran dari pada
bahan makanan. Oleh karena itu, pengendalian yang perlu diperhatikan
dalam pengangkutan makanan adalah pada makanan masak (Rejeki,
2015).
H. Penyajian Makanan
Penyajian makanan merupakan rangkaian akhir dari perjalanan
makanan. Makanan yng disajikan adalah makanan yang siap dan laik
santap. Saat penyajian makanan perlu diperhatikan bahwa makanan
tersebut terhindar dari pencemaran dan kontaminasi silang agar makanan
dapat dikatakan layak untuk dikonsumsi. Peralatan yang digunakan dalam
penyajian makanan harus dalam kondisi yang bersih. Tutup makanan
harus dapat menutupi makanan secara sempurna, karena makanan yang
terbuka akan mudah tercemar. Penjamah makanan yang berperan dalam
menyajikan makanan harus senantiasa menjaga kesehatan dan kebersihan
pakainnya. Penting untuk diperhatikan bahwa penjamah makanan yang
menyajikan makanan tidak mencemari makanan yang ia sajikan
(Mundiatun, 2018).
Hal–hal yang perlu diperhatikan pada tahap penyajian makanan
antara lain sebagai berikut : (PGRS, 2013)
1. Prinsip penyajian makanan
22
a. Prinsip pewadahan yaitu setiap jenis makanan ditempatkan dalam
wadah yang terpisah dan memiliki tutup untuk mencegah
terjadinya kontaminasi silang.
b. Prinsip kadar air yaitu makanan yang mengandung kadar air tinggi
baru dicampur menjelang penyajian untuk menghindari makanan
cepat basi.
c. Prinsip edible part yaitu setiap bahan yang disajikan merupakan
bahan yang dapat dimakan, hal ini bertujuan untuk menghindari
kecelakaan salah makan.
d. Prinsip pemisah yaitu makanan yang disajikan dalam dus harus
dipisah satu sama lain.
e. Prinsip panas yaitu penyajian makanan yang harus disajikan
dalam keadaan panas, hal ini bertujuan untuk mencegah
pertumbuhan bakteri dan meningkatkan selera makan. Panas yaitu
makanan yang harus disajikan panas diusahakan tetap dalam
keadaan panas dengan memperhatikan suhu makanan, sebelum
ditempatkan dalam alat saji panas makanan harus berada pada
suhu > 600C.
f. Prinsip bersih yaitu setiap peralatan/wadah yang digunakan harus
higienis, utuh, tidak cacat atau rusak.
g. Prinsip handling yaitu setiap penanganan makanan tidak boleh
kontak langsung dengan anggota tubuh.
23
h. Prinsip tepat penyajian disesuaikan dengan kelas pelayanan dan
kebutuhan. Tepat penyajian yaitu tepat menu, tepat waktu, tepat
tata hidang dan tepat volume (sesuai jumlah).
I. Penjamah Makanan
Penjamah makanan menurut Depkes RI (2006) adalah orang yang
secara langsung berhubungan dengan makanan dan peralatan mulai dari
tahap persiapan, pembersihan, pengolahan, pengangkutan sampai
penyajian. (Maryam Maghafirah, Sukismanto, 2018)
Menurut Hartanto (2016), penjamah makanan (food handler)
dipakai untuk semua orang yang menangani, menyiapkan atau
menghidangkan makanan tanpa peduli apakah orang tersebut ibu rumah
tangga atau pembantu rumah tangga (yang menyiapkan makanan bagi
keluarga) atau penjamah makanan profesional seperti mereka pada usaha
jasa boga atau katering makanan (koki, pelayan), toko-toko pengecer
makanan, pasar, swalayan, industri makanan atau usaha-usaha rumah
tangga (misalnya toko roti) atau penjaja makanan kaki lima. Bergantung
pada tugasnya, profesional lainnya seperti perawat dan pramugari juga
dapat disebut sebagai penjamah makanan. Penjamah makanan yang
bekerja pada industri makanan kelas menengah dan besar memerlukan
pendidikan dan pelatihan di bidang keamanan makanan.
Kebersihan diri dan kesehatan penjamah makanan perlu
diperkatikan karena berpengaruh terhadap keamanan makanan. Tenaga
penjamah makanan merupakan salah satu faktor yang dapat mencemari
24
bahan pangan baik berupa cemaran fisik, kimia maupun biologis.
Personal hygiene atau higiene perseorangan adalah upaya dari diri
seseorang dalam menjaga kebersihan dirinya untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan dirinya sendiri (Rejeki, 2015).
J. Pengetahuan
Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan melalui
proses sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap objek tertentu.
Pengetahuan merupakan domain yang penting dalam terbentuknya
perilaku atau open behavior (Donsu, 2017). Pengetahuan adalah segala
sesuatu yang diketahui. Manusia memiliki rasa ingin tahu, lalu ia
mencari, hasilnya ia tau sesuatu. Sesuatu itulah yang dinamakan
pengetahuan.
Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari keingintahuan dan
pengalaman seseorang dalam melakukan pengindraan terhadap suatu
rangsangan tertentu (Notoadmojo, 2003). Menurut Plato dalam Budiman
dan Riyanto (2013), pengetahuan adalah “kepercayaan diri” yang
dibenarkan atau valid.
Menurut Budiman dan Riyanto (2013), adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi pengetahuan seseorang sebagai berikut :
1. Pendidikan, yakni upaya perubahan sikap dan perilaku seseorang
melalui pengajaran dan pelatihan. Semakin tinggi pendidikan
seseorang maka semakin cepat juga dalam menerima dan memahami
25
informasi yang diberikan sehingga pengetahuan seseorang juga akan
semakin tinggi.
2. Informasi, informasi yang diterima sangat berpengaruh terhadap
pengetahuan seseorang. Seseorang yang sering mendapatkan
informasi mengenai pembelajaran maka akan meningkatkan dan
menambah pengetahuan dan wawasannya.
3. Pengalaman, yakni sesuatu yang pernah dilakukan seseorang atau
pengalaman yang diperoleh sebagai pembelajaran yang dapat
dijadikan pengetahuan apabila dihadapkan dengan masalah yang
sama.
4. Sosial ekonomi, yakni kemampuan meningktkan pengetahuan
seseorang yang dipengaruhi oleh social ekonomi. Apabila sosial
ekonomi yang baik makan pengetahuannya juga akan baik dan
apabila sosial ekonomi kurang maka pengetahuan yang diperolehnya
juga kurang baik.
5. Budaya, yakni dalam tradisi seseorang yang baik dan buruknya akan
mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang tersebut.
K. Sikap
Sikap menurut Damiati, dkk (2017) adalah respon tertutup
seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu yang melibatkan pikiran,
perasaan, perhatian dan gejala kejiwaan lainnya. Sikap merupakan suatu
proses penilaian yang dilakukan seseorang terhadap suatu objek atau
situasi tertentu yang disertai dengan perasaan dan memberikan dasar
26
untuk berperilaku dalam cara yang dipilihnya. Sikap menunjukkan bagian
dari kesiapan mental, yaitu suatu proses yang berlangsung dalam diri
seseorang, bersama atau terkoordinasi dengan pengalaman individual
masing-masing, mengarahkan dan menetukan respon terhadap berbagai
objek atau situasi (Notoatmojo, 2012)
L. Perilaku
Perilaku merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta
interaksi manusia degan lingkungannya kemudian dijadikan kebiasaan
karena adanya nilai yang diyakini. Perilaku manusia pada hakekatnya
adalah tindakan atau aktivitas dari manusia baik yang diamati maupun
tidak dapat diamati oleh interaksi manusia dengan lingungannya yang
terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan. Perilaku
merupakan respon individu terhadap stimulus yang berasal dari luar
maupun dari dalam dirinya. Respon ini terbentuk dua macam yaitu bentuk
pasif dan bentuk aktif. Bentuk pasif adalah respon internal yaitu yang
terjadi dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat dilihat dari
orang lain sedangkan bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu dapat
diobservasi secara langsung (Triwibowo, 2015).
M. Peran Penjamah Makanan dalam Penularan Penyakit Bawaan
Makanan
Resiko besar untuk terjadinya kontaminasi makanan ada pada
penjamah makanan. Organisme yang berbahaya di dalam dan
27
dipermukaan tubuh penjamah makanan dapat berkembang biak hingga
mencapai dosis infektif jika terdapat kondisi yang sesuai dan mencapai
makanan atau permukaan tempat kerja pengolahan makanan
(Hasanah,2013)
Kenyataan juga menunjukkan bahwa penjamah makanan dapat
terinfeksi melalui makanan yang diolah, sehingga dapat terjadi arus
kontaminasi 2 arah antara penjamah makanan dengan makanan yang
mereka olah. Arah manapun yang terjadi, kerugian akibat kontaminasi
makanan dan akibat penjamah makanan yang terkena infeksi cukup besar,
karena itu harus dicegah (Hasanah, 2013).
Penjamah makanan dapat memindahkan kuman patogen dalam
makanan dengan berbagai cara. Batuk dan bersin dapat menularkan
kuman dari penjamah makanan. Tangan penjamah makanan yang luka,
mungkin mengandung kuman patogen yang akan pindah ke makanan jika
mereka memegang makanan langsung dengan tangannya. Kuman patogen
dapat pindah ke makanan melalui tangan penjamah makanan yang tidak
bersih, tidak mencuci tangan sesudah dari toilet, atau sebelum mengolah
makanan.
N. Rumah Makan
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1098/Menkes/SK/VII/2003 mengenai persyaratan higiene sanitasi rumah
makan dan restoran, rumah makan adalah setiap tempat usaha komersial
28
yang ruang lingkup kegiatannya adalah menyediakan makanan dan
minuman untuk umum di tempat usahanya. Sedangkan restoran
merupakan salah satu jenis usaha jasa pangan di sebagian atau seluruh
bangunan yang permanen dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan
untuk proses pembuatan, penyimpanan, penyajian dan penjualan makanan
dan minuman bagi umum di tempat usahanya. Rumah makan dan restoran
menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi oleh masyarakat
umum, untuk itu memerlukan perhatian khusus di bidang sanitasi rumah
makan dan restoran (Mukono, 2004).
Rumah makan dan restoran tidak hanya memberikan kepuasan
kepada pelanggan dengan menikmati makanan dan minuman yang
tersedia di rumah makan dan rertoran tersebut. Namun sebaliknya dapat
menimbulkan dampak negatif terhadap para pelanggan. Makanan dan
minuman yang disuguhkan oleh rumah makan dan restoran dapat
menimbulkan penyakit yang dikenal dengan food and water borne
disease. Penyakit yang ditularkan mikroorganisme melalui makanan dan
minuman biasanya berupa penyakit infeksi (Mukono, 2004). Dari
beberapa dampak itu dapat menimbulkan adanya kejadian atau wabah
penyakit perut yang justru disebabkan oleh kelalaian dan pemilik rumah
makan atau restoran yang kurang mengerti masalah kebersihan dalam
penyelengganaan makanan dan minuman (L. Nuraini, 2019)
29
I. Kerangka Teori
Pada penelitian ini kerangka teori yang digunakan berpedoman pada teori
[Link], sebagai berikut :
30
Faktor Predisposisi :
1. Motivasi
2. Pendidikan Gambar 2.1 Kerangka Teori
3. Pengetahuan
4. Sikap
5. Kepercayaan
6. Tingkat sosial
ekonomi
Faktor Pendukung :
1. Penyediaan
fasilitas sanitasi Perilaku Penerapan
2. Penyuluhan Higiene Sanitasi
tentang higiene Makanan
saniasi
Faktor Pendorong :
1. Pengawasan
rumah makan
2. Sikap petugas
3. Perilaku petugas
kesehatan atau
petugas lain
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
A. Kerangka Konsep
Berdasarkan kerangka teori pada penelitian ini diperoleh variabel yang
diduga memiliki hubungan kuat dengan perilaku penjamah makanan dalam
penerapan higiene sanitasi makanan sebagai berikut :
Perilaku Penerapan Higiene Sanitasi
Penjamah Makanan
Pengetahuan Penjamah Sikap Penjamah
Makanan Makanan
Gambar 3.1 Kerangka Konsep
Keterangan :
: Variabel bebas/independen
: Variabel terikat/dependen
B. Hipotesis
32
1. Terdapat hubungan pengetahuan dengan perilaku penerapan higiene sanitasi
penjamah makanan pada rumah makan di Kecamatan Simpang Empat Kota
Batulicin.
2. Terdapat hubungan sikap dengan perilaku penerapan higiene sanitasi
penjamah makanan pada rumah makan di Kecamatan Simpang Empat Kota
Batulicin.
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik
yang dilakukan dengan pengamatan kemudian menjelaskan adanya
hubungan antar variabel. Pengujian hipotesis digunakan untuk mencari
hubungan antara hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku
penerapan higiene sanitasi penjamah makanan pada rumah makan di
Kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin.
B. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan yaitu cross sectional dimana
variabel terikatnya adalah perilaku penjamah makanan sedangkan variabel
bebas yaitu pengetahuan dan sikap dikumpulkan secara bersamaan (satu
waktu) pada saat penelitian berlangsung.
C. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada 26 rumah makan yang berada
dalam wilayah Kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai bulan Juni
tahun 2022.
34
D. Populasi dan sampel Penelitian
1. Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah penjamah makanan pada 26
rumah makan di Kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin dengan
jumlah 131 orang.
2. Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah penjamah makanan pada
rumah makan di kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin. Untuk
menentukan besar sampel peneliti menggunakan rumus Lameshow
(Sugyono, 2014).
Z ². N . p . q
n=
d 2(N −1)+ Z ². p . q
Keterangan:
n = Besar sampel
N = Besar Populasi
d = Derajat ketapatan ( 10%)
p = Proporsi target populasi (0,5)
q = proporsi tanpa atribut 1-p = 0,5
Z = Standar deviasi normal untuk 1,96 dengan CI 95%
1, 96².130 .0 .5.0,5
n=
0 ,1²( 130−1)+ 1, 96².0 , 5.0,5
124,852
n=
1,29+ 0,96
35
124,852
n=
2,25
n=55,4=56 Orang
Sampel dalam penelitian berjumlah 56 orang. Pada penelitian ini
kriteria sampel terdiri dari kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.
a. Kriteria Inklusi
1) Bersedia menjadi responden
2) Dapat berkomunikasi dengan baik
b. Kriteria Eksklusi
1) Responden tidak dapat ditemui tiga kali kunjungan berturut-
turut
2) Responden dalam keadaan sakit sehingga tidak dapat bekerja
E. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
1. Variabel Penelitian
a. Variabel Independen ( Bebas )
Variabel independen pada penelitian ini adalah pengetahuan dan
sikap penjamah makanan.
b. Variabel Dependen ( Terikat )
Variabel dependen pada penelitian ini adalah penerapan higiene
sanitasi penjamah makanan di rumah makan.
36
2. Definisi Operasional
Tabel 4.1 Definisi Operasional Higiene Sanitasi Penjamah Makanan Rumah Makan
No Variabel Definisi Operasional Cara ukur dan Alat ukur Hasil ukur Skala Data
1 Pengetahuan Pemahaman penjamah makanan mengenai Wawancara dan menggunakan - Baik : ≥ 75% Ordinal
Penjamah Makanan penerapan higiene sanitasi makanan kuesioner - Cukup : 56-74%
- Kurang : ≤ 55%
(Arikunto, 2013)
2 Sikap Penjamah Reaksi psikologis penjamah makanan Wawancara dan menggunakan - Baik : 0-7 Ordinal
Makanan terhadap penerapan higiene sanitasi kuesioner - Kurang Baik : 8-15
makanan.
3 Perilaku Penerapan Tindakan yang diperlihatkan oleh Observasi dan menggunakan - Baik : 11-20 Ordinal
Higiene Sanitasi penjamah makanan terhadap penerapan lembar ceklist - Kurang Baik : 0-10
penjamah makanan higiene sanitasi makanan
37
F. Metode Pengumpulan Data
1. Jenis Data
a) Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung, yakni
pengetahuan, sikap dan perilaku penjamah makanan.
b) Data Sekunder
Data terkait tentang kejadian diare serta laporan jumlah rumah
makan di wilayah Kecamatan Simpang Empat.
2. Cara Pengumpulan Data
a. Data Primer
1) Pengetahuan Penjamah Makanan
Diperoleh dengan wawancara langsung dengan penjamah makanan
dan mengisi kuesioner.
2) Sikap Penjamah Makanan
Diperoleh dengan wawancara langsung dengan penjamah makanan
dan mengisi kuesioner.
3) Perilaku Penerapan Higiene Sanitasi Penjamah Makanan
Diperoleh dengan observasi secara langsung dan mengisi lembar
ceklist.
b. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari laporan Pukesmas Kecamatan
Simpang Empat/Dinas yang terkait tentang kejadian diare dan laporan
tentang jumlah rumah makan di wilayah kecamatan Simpang Empat
Kota Batulicin.
38
G. Pengolahan Data
1. Pengolahan Data
Untuk memperoleh suatu kesimpulan masalah yang diteliti, maka
analisis data merupakan langkah penting dalam penelitian. Data yang sudah
terkumpul akan diolah dan diteliti kelengkapannya serta dianalisis dengan
program komputer dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Penyuntingan (Editing)
Setelah data dikumpulkan kemudian dilakukan editing untuk
mengecek kelengkapan data, kesinambungan data dan keseragaman data
sehingga validitas dapat terjamin.
b. Pengkodean (Coding)
Merupakan proses penyusunan data sebelum analisa yang ada
dalam kuisioner dan lembar observasi dengan menandai masing-masing
jawaban dengan kode berupa angka menjadi bentuk yang mudah dibaca
oleh alat pengolah data.
c. Memasukkan Data (Data Entry)
Merupakan proses memasukkan data yang telah dirubah menjadi
kode-kode kedalam alat pengolah data.
d. Pembersihan Data (Data Cleaning)
Data yang akan dikumpulkan kemudian dilaksanakan cleaning
data (pembersihan data) yang berarti sebelum data diolah, data dicek
terlebih dahulu agar tidak terdapat data yang tidak perlu.
39
H. Analisis Data
1. Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk mengetahui frekuensi distribusi
masing-masing variabel yang diteliti yaitu variabel independen
(pengetahuan, sikap) dan variabel dependen (perilaku penjamah makanan),
sehingga frekuensi distribusi pengetahuan, sikap dan perilaku penerapan
higiene sanitasi penjamah makanan dapat diketahui. Pada analisis ini
menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo ,
2005).
a. Pengetahuan Penjamah Makanan
Pada kuesioner pengetahuan terdiri dari 15 pertanyaan mengenai
higiene sanitasi makanan. Penilaian kuesioner pengetahuan dilakukan
dengan menggunakan skala Guttman dimana jawaban benar mendapat
skor 1 (satu) dan jawaban salah mendapat skor 0 (nol), Penilaian
dilakukan dengan caa mengolah hasil kuesioner dalam bentuk
presentase dengan perhitungan seperti yang dimuat oleh Arikunto
(2013) sebagai berikut :
Skor yang Diperoleh
Skor Presentase= X 100 %
Total Skor Maksimum
Dari hasil perhitungan tersebut, hasil perolehan nilai tingkat
pengetahuan dijadikan dalam 3 kategori :
1) Tingkat pengetahuan kategori baik jika nilainya ≥75%
2) Tingkat pengetahuan cukup jika nilainya 56-74%
3) Tingkat pengetahuan kurang jika nilainya ≤55%
40
Tabel 4.2 Pengetahuan Penjamah Makanan
Pengetahuan Penjamah
Frekuensi %
Makanan
Baik
Cukup
Kurang
Jumlah
b. Sikap Penjamah Makanan
Sikap penjamah makanan dalam penelitian ini diukur dengan
menggunakan kuesioner yang terdiri dari 15 pertanyaan mengenai
tanggapan atau pernyataan responden terhadap higiene sanitasi makanan
dimana jawaban setuju mendapat skor 1 (satu) dan jawaban tidak setuju
mendapat skor 0 (nol) sehingga nilai tertinggi adalah 15 (lima belas) dan
nilai terendah adalah 0 (nol). Dalam penentuan interval pada hasil
kuesioner sikap dilakukan dengan menggunakan rumus sturgess sebagai
berikut :
skor tertinggi−skor terendah
Interval=
jumlah kelas
15−0
Interval= =7,5=7
2
Sehingga diperoleh interval sikap penjamah makanan sebagai
berikut :
1) 0 –7 : Sikap kurang baik
2) 8 – 15 : Sikap baik
Tabel 4.3 Sikap Penjamah Makanan
Sikap Penjamah Makanan Frekuensi %
Baik
Kurang Baik
Jumlah
41
c. Perilaku Penerapan Higiene Sanitasi Penjamah Makanan
Perilaku penerapan higiene sanitasi penjamah makanan dalam
penelitian ini diukur dengan menggunakan lembar observasi yang terdiri
dari 20 pernyataan mengenai perilaku terhadap higiene sanitasi
makanan, dimana jawaban ”Ya” mendapat skor 1 (satu) dan jawaban
“Tidak” mendapat skor 0 (nol) sehingga nilai tertinggi adalah 20 (dua
puluh) dan nilai terendah adalah 0 (nol). Penentuan interval kelas pada
hasil pengamatan dengan lembar observasi menggunakan rumus
sturgess sebagai berikut :
skor tertinggi−skor terendah
Interval=
jumlah kelas
20−0
Interval= =10
2
Sehingga diperoleh interval perilaku penjamah makanan sebagai
berikut :
1) 0 –10 : Perilaku kurang baik
2) 11 – 20 : Perilaku baik
Tabel 4.4 Perilaku Penjamah Makanan
Perilaku Penjamah
Frekuensi %
Makanan
Baik
Kurang Baik
Jumlah
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara
variabel independen (pengetahuan, sikap) dengan variabel dependen
(perilaku penjamah makanan). Untuk mengetahui hubungan kedua variabel
ini, maka digunakan uji chi square dengan derajat kepercayaan 95% dan α =
42
0,05. Apabila nilai p < 0,05 yang artinya terdapat hubungan yang bermakna
antara variabel yang diteliti.
Berdasarkan nilai signifikan: jika nilai signifikan <0,05 terdapat
korelasi maka H0 ditolak dan Ha diterima yang menyimpulkan bahwa
terdapat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Sedangkan
sebaliknya jika nilai signifikansi >0,05 tidak terdapat korelasi maka H0
diterima dan Ha ditolak yang menyimpulkan bahwa tidak terdapat
hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Adapun ketentuan yang
berlaku pada uji chi square, sebagai berikut (Riyanto, Agus 2010) :
1. Bila tabel 2x2 dan tidak ada nilai Expected (harapan) / E<5, maka uji
yang digunakan sebaiknya ”Continuity Correction”
2. Bila tabel 2x2 dan ada nilai Expected (harapan) / E<5, maka uji yang
digunakan adalah ”Fisher’s Exact Test”
3. Bila tabelnya lebih dari 2x2, misalnya 2x3, 3x3, dan lain-lain, maka
digunakan uji ”Pearson Chi Square”
Untuk mengetahui keeratan hubungan antara variabel peneliti
menghitung CC (Coefisien Contingency) dengan kreteria sebagai berikut :
Tabel 4.5 Interpretasi Koefisien Korelasi
Interval Tingkat
Koefisien Hubungan
0,00 – 0,14 Sangat rendah
0,15 – 0,29 Rendah
0,30 – 0,44 Sedang
0,45 – 0,59 Kuat
0,59 – 0,7 Sangat Kuat
43
I. Jadwal Penelitian dan Rencana Anggaran
Tahapan dan waktu kegiatan akan diuraikan pada tabel 4.6 berikut ini :
Tabel 4.6 Jadwal Penelitian
Tahun 2021 Tahun 2022
Bulan ke : Bulan ke :
No Kegiatan 9 10 11 12 1 2 3 4
1 Pengajuan judul X
2 Penyusunan proposal X
3 Ujian proposal X
4 Perbaikan proposal X
5 Persiapan penelitian X
6 Pengumpulan data X
7 Pengolahan data X
8 Analisis data X
9 Penyusunan Skripsi X
10 Ujian Skripsi X
Rincian anggaran biaya untuk kegiatan penelitian diuraikan pada tabel 3.6
sebagai berikut :
Tabel 4.7 Rencana Anggaran
No Kegiatan Anggaran
1. Pembuatan Proposal Penelitian
a. Pembelian ATK Rp 100.000
b. Revisi Rp 50.000
c. Penggandaan/fotokopi Rp 100.000
d. Penjilidan Rp 100.000
2. Pengambilan Data
a. Fotokopi kuesioner Rp 100.000
b. Insentif responden Rp 200.000
c. Transportasi Rp 100.000
3. Pembuatan TA
a. Pengolahan dan analisis data Rp 100.000
b. Revisi Rp 50.000
c. Penggandaan/fotokopi Rp 100.000
d. Penjilidan Rp 100.000
e. Transport Rp 100.000
f. Lain-lain (biaya tak terduga) Rp 100.000
Total Rp 1.300.000
44
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Umar Fahmi. 2012. Dasar-dasar Penyakit Berbasis Lingkungan. Jakarta:
Rajawali Pers.
Agustya SR. Faktor yang Berhubungan dengan Penerapan Higiene Sanitasi Makanan
Tahap Pengolahan di Rumah Makan Wilayah Kerja Puskesmas Padang Pasir
Tahun 2015. Padang : Universitas Andalas; 2015.
Budiman dan Rianto. Kuisioner Pengetahuan dan Sikap Dalam Penelitian Kesehatan:
Salemba Medika; 2013.
Cahyaningsih, dkk. 2009. Hubungan Higiene Sanitasi dan Perilaku Penjamah Makanan
Dengan Kualitas Bakteriologis Peralatan Makanan dengan Kualitas
Bakteriologis Peralatan Makan di Warung Makan. Jurnal. Berita Kedokteran
Masyarakat Vol. 25, No. 4, Desember 2009.
Faizal WG. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Penjamah Makanan Tahap
Pengolahan Makanan dalam Penerapan Higiene Sanitasi di Rumah Makan di
Kecamatan Padang Timur. Padang : Universitas Andalas; 2013.
Fajriansyah F, 2016. Hygiene dan Sanitasi Pengolahan Roti pada Pabrik Roti Paten
Bakery. AcTion: Aceh Nutrition Journal. 2016.
Fathonah, Siti. Higiene Sanitasi Makanan. Semarang : Fakultas Teknik Universitas
Negeri Semarang; 2005.
Febria Agustya dkk. Higiene dan Sanitasi Pada Pedagang Makanan Jajanan Tradisional
di Lingkungan Sekolah Dasar di Kelurahan Demang Lebar Daun Palembang
2009.
Irawan R. Hubungan Perilaku Penjamah Makanan dengan Penerapan Higiene Sanitasi
Makanan pada Tahap Pengolahan di Rumah Makan Wilayah Kerja Pelabuhan
Laut KKP Kelas II Padang. Padang : Universitas Andalas; 2016.
Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar. 2011. Menuju
Kantin Sehat di Sekolah.
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit. Jakarta: Dirjen
Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1429/ Menkes/SK/II/2006
Tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Sekolah.
45
Kumalasari, dkk. 2017. Hubungan Sanitasi Dengan Status Bakteriologi Koliform dan
Keberadaan Salmonella sp pada Jajanan di Sekolah Dasar Wilayah Kecamatan
Tembalang, Semarang. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 1098/MENKES/SK/VII/2003 Tentang Persyaratan Hygiene
Sanitasi Rumah Makan dan Restoran. Jakarta: Menkes RI; 2003.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011 Tentang Persyaratan Higiene dan Sanitasi
Jasaboga. Jakarta: Menkes RI; 2011.
Ningsih R. 2014. Penyuluhan Hygiene Sanitasi Makanan Dan Minuman, Serta Kualitas
Makanan Yang Dijajakan Pedagang Di Lingkungan Sdn Kota Samarinda. Jurnal
Kesehatan. Vol 10. No 1.
Notoatmodjo S. Metodologi Kesehatan. Jakarta : [Link] Cipta; 2010.
Pratiwi, Defiyanti. 2012. Hygiene Sanitasi Pedagang Kue Dan Keberadaan Escherichia
coli Pada Makanan Jajanan Kue Cucur Di Wilayah Pasar Tradisional Desa
Kaliyoso Kecamatan Bongomeme Kabupaten Gorontalo Tahun 2012. Jurnal
Kesehatan Masyarakat Vol 1, No 1 (2012). Fakultas Ilmu Kesehatan dan
Keolahragaan, Universitas Negeri Gorontalo.
Purnawijayanti, Hiasinta. A. 2001. Sanitasi, Higiene dan Keselamatan Kerja dalam
Pengolahan Makanan. Yogyakarta: Kanisius.
Rejeki S, 2015. Sanitasi Hygiene Dan K3(Kesehatan Dan Keselamatan Kerja). Bandung:
Rekayasa Sains; 2015.
Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen
Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2016.
Saparinto, Cahyo dan Diana Hidayati, 2006. Bahan Tambahan Pangan. Yogyakarta :
Kanisius.
Sari SK. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Higiene Perorangan Penjamah
Makanan di Wilayah Kerja Puskesmas Air Tawar Tahun 2016. Padang: FKM
Unand; 2016
Setyorini, Endah. 2013. Hubungan Praktek Higiene Pedagang Dengan Keberadaan
Eschericia Coli pada Rujak yang di Jual di Sekitar Kampus Universitas Negeri
Semarang. Unnes Journal of Public Health Vol. 2 No.3 Tahun 2013. Departemen
Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan.
Triwibowo, Cecep. Pengantar Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Nuha Medika:
Yogyakarta; 2015
46
Wibawa, Anton. 2006. Faktor Penentu Kontaminasi Bakteriologik pada Makanan
Jajanan di Sekolah Dasar di Kabupaten Tangerang. Tesis. Program Pasca
Sarjana, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Indonesia.
WHO. Penyakit Bawaan Makanan. Jakarta: EGC; 2015.
Yasmin G, Madanijah S, 2010. Perilaku penjaja pangan jajanan anak sekolah terkait gizi
dan keamanan pangan di Jakarta dan Sukabumi. Jurnal Gizi dan Pangan. 2010.
Yulia Y, 2016. Higiene Sanitasi Makanan, Minuman Dan Sarana Sanitasi Terhadap
Angka Kuman Peralatan Makan Dan Minum Pada Kantin. Jurnal Vokasi
Kesehatan. 2016.
47
LAMPIRAN
48
Lampiran 1
49
Lampiran 2
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini
Nama :
Alamat :
Menyatakan bahwa saya bersedia menjadi responden dalam penelitian yang berjudul hubungan
pengetahuan dan sikap dengan perilaku dalam penerapan higiene dan sanitasi penjamah makanan di rumah
makan kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin Tahun 2022. Demikian surat pernyataan persetujuan ini di
buat dengan sesungguhnya untuk dapat digunakan dengan seperlunya.
Batulicin,……………
Responden Peneliti
(…………………)
50
Lampiran 3
KUESIONER PENELITIAN
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP
DENGAN PERILAKU PENERAPAN HIGIENE SANITASI
PENJAMAH MAKANAN PADA RUMAH MAKAN
(Studi di Kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin)
I. Data Umum
Hari/Tanggal :
Nomor Responden :
II. Data Responden
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Alamat :
Pendidikan Terakhir :
Lama Kerja :
III. Kuisioner Pengetahuan
1. Apa yang dimaksud dengan konsep kebersihan makanan (hygiene sanitasi makanan)?
a. Penyelenggaraan makanan yang menarik, enak dan bergizi
b. Penyelenggaraan pengolahan makanan sesuai keinginan diri sendiri
c. Penyelenggaraan makanan untuk mengendalikan faktor risiko terjadinya
kontaminasi (pencemaran) terhadap makanan
2. Apa yang seharusnya dilakukan sebelum bahan makanan diolah ?
a. Mencuci bahan makanan
b. Mengupas bahan makanan
c. Memotong/mengiris bahan makanan
3. Perlengkapan apa yang harus di pakai saat melakukan pengolahan makanan ?
a. Pakaian kerja, penutup rambut
b. Celemek, alas kaki/sepatu kedap air
c. a dan b benar
4. Apakah resiko yang akan ditimbulkan bila petugas penjamah makanan mengobrol pada
saat melakukan pengolahan makanan?
a. Menimbulkan kebisingan di dapur
b. Akan memperlambat pekerjaan
c. Akan mampu mencemari makanan melalui percikan ludah
5. Apakah resiko bila petugas penjamah makanan merokok pada saat melakukan
pengolahan makanan?
a. Berbahaya bagi kesehatan
b. Berbahaya bagi orang lain
c. Akan mengkontaminasi (mencemari) makanan melalui abu rokok
51
6. Apa resiko yang akan ditimbulkan bila penjamah makanan menderita penyakit menular
saat melakukan pengolahan makanan?
a. Tidak akan berisiko
b. Berisiko untuk dirinya sendiri
c. Akan beresiko mencemari makanan dari penjamah makanan ke makanan yang di
olahan
7. Apa yang seharusnya dilakukan terhadap bahan makanan yang akan diolah?
a. Langsung dilakukan proses pengolahan terhadap bahan makanan jika secara fisik
sudah baik
b. Bahan makanan dicuci terlebih dahulu dengan air mengalir sebelum dilakukan proses
pengolahan makanan
c. Bahan makanan dicuci terlebih dahulu pada air biasa dan tidak mengalir
8. Bagaimana seharusnya peralatan yang baik dalam proses pengolahan makanan ?
a. Terbuat dari bahan tidak berbahaya dan anti karat
b. Peralatan utuh, tidak rusak dan bersih
c. A dan b benar
9. Bagaimana seharusnya cara mencuci peralatan yang digunakan untuk pengolahan
makanan?
a. Peralatan dicuci dengan cara penjamah makanan masing-masing
b. Mencuci dengan air mengalir saja
c. Mencuci dengan air mengalir dan menggunakan bahan pembersih
10. Dalam proses pengangkutan makanan yang sudah jadi, sebaiknya makanan diangkut
dengan cara ?
a. Makanan diangkut dengan kedua tangan penjamah makanan yang menggunakan APD
(Alat Pelindung Diri)
b. Makanan diangkut dengan kedua tangan penjamah makanan yang tidak menggunakan
APD (Alat Pelindung Diri)
c. Makanan diangkut dengan kereta dorong yang tertutup
11. Bagaimana penyajian makanan yang baik dan benar ?
a. Menyajikan sesuai dengan keinginan
b. Menyajikan makanan menggunakan peralatan sesuai peruntukannya
c. Menyajikan makanan harus baik terhindar dari pencemaran dan peralatan yang
dipakai bersih dan sesuai peruntukannya
12. Menurut anda, tindakan apa yang sebaiknya dilakukan terhadap makanan yang akan
disajikan dalam keadaan hangat ?
a. Mewadahi makanan seperti makanan yang lain
b. Makanan ditutup meggunakan wadah yang tertutup
c. Makanan dihangatkan menggunakan alat penghangat makanan
13. Menurut anda, bagaimana cara penyajian makanan berkuah yang baik ?
a. Menggunakan wadah terpisah tanpa tutup
b. Menggunakan wadah tertutup yang dicampur dengan makanan lain
c. Menggunkan wadah tertutup dan terpisah dari makanan lain
14. Makanan jadi atau makanan yang telah masak harus segera disajikan. Apakah resiko
yang dapat ditimbulkan bila makanan yang telah masak tidak segera disajikan ?
a. Makanan akan berisko mengalami perubahan rasa
b. Makanan akan berisko mengalami perubahan bentuk fisik
c. Makanan akan berisiko mengalami pencemaran baik tercemar oleh debu, atau
serangga
15. Bagaimana seharusnya memilah (penyusunan) bahan makanan yang baik ?
a. Bahan makana yang berbeda disimpan pada dua tempatyang berbeda
b. Bahan makanan dipilah dan penyimpanan dijadikan satu
c. Bahan makanan dipilah dan penyimpanan sesuai dengan jenis bahan makanan
basah/kering
IV. Kuisioner Sikap
1. Pakaian kerja, penutup rambut, celemek, alas kaki/sepatu kedap air
merupakan perlengkapan yang harus digunakan saat melakukan pengolahan
makanan.
a. Setuju
b. Tidak setuju
2. Selalu mencuci tangan sebelum bekerja, setelah bekerja dan setelah keluar
dari toilet/jamban
a. Setuju
b. Tidak setuju
3. Pada saat melakukan pengolahan makanan diperbolehkan mengobrol karena
tidak akan berisiko terhadap makanan yang diolah
a. Setuju
b. Tidak setuju
4. Pada saat melakukan pengolahan makanan tidak boleh merokok karena
akan mengkontaminasi (mencemari) makanan melalui abu rokok
a. Setuju
b. Tidak setuju
5. Petugas penjamah makanan yang menderita penyakit menular
diperbolehkan tetap ikut melakukan pengolahan makanan karena tidak
berisiko
a. Setuju
b. Tidak setuju
6. Bahan makanan yang akan diolah sebaiknya dicuci terlebih dahulu
a. Setuju
b. Tidak setuju
7. Peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan makanan adalah peralatan
yang anti karat, dalam keadaan bersih dan tidak terbuat dari bahan berbahaya
a. Setuju
b. Tidak setuju
8. Setiap jenis makanan jadi (masak) mempunyai wadah masing-masing dan
tertutup
a. Setuju
b. Tidak setuju
9. Wadah makanan yang digunakan harus utuh, kuat, tidak karat dan ukurannya
memadai dengan jumlah makanan yang akan ditempatkan
a. Setuju
b. Tidak setuju
10. Setiap pengolahan makanan maupun peralatan makanan yang digunakan tidak
kontak langsung dengan anggota tubuh terutama tangan dan bibir
a. Setuju
b. Tidak setuju
11. Makanan yang bersifat panas, bila disajikan harus tetap dalam keadaan panas
a. Setuju
b. Tidak setuju
12. Makanan yang bersifat dingin, bila disajikan harus tetap dalam keadaan
dingin
a. Setuju
b. Tidak setuju
13. Tempat penyimpanan bahan makanan harus terhindar dari kemungkinan
kontaminasi (pencemaran) baik oleh bakteri, serangga, tikus dan hewan
lainnya maupun bahan berbahaya lainnya
a. Setuju
b. Tidak setuju
14. Dalam proses penyimpanan, bahan makanan dipisah antara makanan
basah dan makanan kering
a. Setuju
b. Tidak setuju
15. Dalam proses penyimpanan, bahan makanan tidak boleh menempel pada
lantai, dinding, dan langit-langit
a. Setuju
b. Tidak setuju
Lampiran 5
LEMBAR OBSERVASI
PENERAPAN PERILAKU HIGIENE SANITASI MAKANAN
Hasil Pengamatan
No Observasi
Ya Tidak
1 Mencuci tangan dengan air dan sabun antiseptik sebelum dan
sesudah mengolah makanan
2 Bahan makanan dicuci dengan air bersih sebelum diolah
3 Menggunakan bahan makanan segar, tidak berjamur dan
tidak berlendir
4 Ruangan tempat mengolah makanan bersih, tidak basah dan
tidak berbau
5 Tenaga pegolah makanan menggunakan celemek pada saat
mengolah makanan
6 Memiliki kuku pendek dan bersih
7 Tenaga pengolah makanan menggunakan tutup kepala selama
pengolahan makanan
8 Tenaga pengolah makanan tidak merokok saat mengolah
makanan
9 Tidak mengobrol saat mengolah makanan
10 Penjamah makanan tidak meludah, bersin dan batuk di depan
makanan
11 Pekerja yang sedang sakit tidak ikut mengolah makanan
12 Memiliki tempat sampah yang tertutup
13 Tidak menggunakan MSG secara berlebihan
14 Penyimpanan bahan makanan bersih, kering dan terbebas dari
serangga dan tikus
15 Menggunakan peralatan pengolah makanan yang terbuat dari
bahan anti karat dan tidak mengandung zat racun
16 Peralatan makanan dicuci dengan air bersih dan menggunakan
deterjen
17 Menyimpan peralatan makanan yang bersih dalam rak
penyimpanan yang terlindung dari serangga dan tikus
18 Melindungi makanan dari kontak langsung dengan tubuh
19 Di ruang dapur tersedia tempat penyimpanan peralatan,
pengolahan makanan dan penyimpanan bahan makanan
20 Membuang sampah pada tempat sampah
KARTU KONSULTASI
Foto Hitam
Nama : Ilham Ramadhan
Putih 3 x 4
NIM : P07131221001J
Pembimbing : Rusmini Yanti, SKM, MS
Judul : Hubungan Hubungan Pengetahuan dan Sikap
Dengan Perilaku Penjamah Makanan dalam
Penerapan Higiene Sanitasi Makanan pada
Rumah Makan (Studi di Kecamatan Simpang
Empat Kota Batulicin)
No Tanggal Saran Perbaikan Paraf
1. 16 Oktober Pengajuan Judul
2021
2. 20 Oktober Konsultasi BAB I, BAB II, BAB III,
2021 BAB IV dan Kuesioner
3. 1 November Perbaikan BAB I, BAB II, BAB III,
2021 dan BAB IV
4. 17 November Perbaikan BAB I, BAB II, BAB III,
2021 dan BAB IV
5. 21 November Perbaikan BAB I, BAB III dan BAB
2021 IV
6. 30 November Perbaikan BAB 1 dan BAB IV
2021
Pembimbing,
(Rusmini Yanti, SKM, MS)
NIP.1970022151991032001
Lampiran 7
PERNYATAAN SIAP UJIAN PROPOSAL SKRIPSI
Mahasiswa yang tersebut dibawah ini :
Nama : Ilham Ramadhan
NIM : P07131221001J
Judul Skripsi : Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Penjamah
Makanan dalam Penerapan Higiene Sanitasi Makanan Pada Rumah
Makan (Studi di Kecamatan Simpang Empat Kota Batulicin)
Dinyatakan siap untuk mengikuti ujian proposal skripsi.
Demikian surat pernyataan ini agar dapat dipergunakan seperlunya.
Batulicin, Novermber 2021
Pembimbing I
(Rusmini Yanti, SKM, MS)
NIP. 1970022151991032001