0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan157 halaman

Detail Konstruksi Jembatan Prategang

Dokumen tersebut memberikan informasi tentang proyek awal pembangunan jembatan beton prategang di Kabupaten Musi Rawas. Jembatan tersebut memiliki panjang 32 m dan lebar 10 m, dengan struktur atas berupa plat lantai, trotoar, tiang sandaran, dan balok induk prategang serta struktur bawah berupa pondasi tiang pancang.

Diunggah oleh

Indah Anggreini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan157 halaman

Detail Konstruksi Jembatan Prategang

Dokumen tersebut memberikan informasi tentang proyek awal pembangunan jembatan beton prategang di Kabupaten Musi Rawas. Jembatan tersebut memiliki panjang 32 m dan lebar 10 m, dengan struktur atas berupa plat lantai, trotoar, tiang sandaran, dan balok induk prategang serta struktur bawah berupa pondasi tiang pancang.

Diunggah oleh

Indah Anggreini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS PROYEK AWAL JEMBATAN

Sebuah jembatan beton prategang dengan data teknis sebagai berikut:


1. Nama Jembatan : Jembatan Adhyatama
2. Lokasi : Kabupaten Musi Rawas
3. Jenis Konstruksi : Jembatan Beton Prategang
4. Panjang Bentang : 32 m
5. Lebar Jembatan : 10 m
6. Bangunan Atas
a. Plat Lantai
1) Lebar = 7,60 m
2) Tebal = 0,20 m
3) Mutu baja tulangan (fy) = 240 Mpa
4) Mutu beton (fc’) = 30 MPa
b. Trotoar
1) Lebar = 0,80 m
2) Tinggi = 0,15 m
3) Mutu baja tulangan (fy) = 400 Mpa
4) Mutu beton (fc’) = 30 MPa
c. Tiang sandaran
1) Tinggi = 1,05 m
2) Mutu baja tulangan (fy) = 240 Mpa
3) Mutu beton (fc’) = 30 MPa
d. Balok Induk (Balok I Prategang) 5 buah
1) Jarak balok memanjang As ke As = 1,90 m
2) PC strand uk Ø = 12,70 mm
e. Balok Diafragma
1) Mutu beton (fc’) = 30 Mpa
2) Mutu baja tulangan (fy) = 400 Mpa
f. Perkerasan Jalan
1) Jenis Perkerasan : Perkersan Lentur

1
2) Tebal Perkersan = 0,05 m
3) Kemiringan =2%
7. Bangunan Bawah
a. Pondasi tiang pancang diameter Ø = 0,60 m
Dengan gambar teknis jembatan ditunjukan pada gambar No.1, No.2, No.3, No.4,
No.5, No.6 dan No.7
Tentukan struktur atas dan struktur bawah yang digunakan pada jembatan beton
prategang tersebut!

2
Penyelesaian:
Perhitungan konstruksi adalah perhitungan pada setiap bagian-bagian
jembatan beton, perhitungan tersebut meliputi perhitungan estimasi pembebanan,
analisa struktur jembatan dan perencanaan penulangan. Bertujuan mengetahui
konstruksi jembatan secara keseluruhan yang tepat sesuai analisa dari data yang
telah diperoleh berdasarkan peraturan pelaksanaan pembangunan jembatan beton
prategang yang telah ditetapkan.

1.1 Data Teknis Proyek


1. Nama Jembatan : Jembatan Air Satrio
2. Lokasi : Kabupaten Banyuasin
3. Jenis Konstruksi : Jembatan Beton Prategang
4. Panjang Bentang : 32 m
5. Lebar Jembatan : 10 m
6. Bangunan Atas
a. Plat Lantai
1) Lebar = 7,60 m
2) Tebal = 0,20 m
3) Mutu baja tulangan (fy) = 240 Mpa
4) Mutu beton (fc’) = 30 MPa
b. Trotoar
1) Lebar = 0,80 m
2) Tinggi = 0,15 m
3) Mutu baja tulangan (fy) = 400 Mpa
4) Mutu beton (fc’) = 30 MPa
c. Tiang sandaran
1) Tinggi = 1,05 m
2) Mutu baja tulangan (fy) = 240 Mpa
3) Mutu beton (fc’) = 30 MPa
d. Balok Induk (Balok I Prategang) 5 buah
1) Jarak balok memanjang As ke As = 1,90 m
2) PC strand uk Ø = 12,70 mm

3
e. Balok Diafragma
1) Mutu beton (fc’) = 30 Mpa
2) Mutu baja tulangan (fy) = 400 Mpa
f. Perkerasan Jalan
1) Jenis Perkerasan : Perkersan Lentur
2) Tebal Perkersan = 0,05 m
3) Kemiringan =2%
7. Bangunan Bawah
a. Pondasi tiang pancang diameter Ø = 0,60 m

1.2 Perhitungan Bangunan Atas (PBA)


Bangunan atas terletak pada bagian atas konstruksi jembatan yang
menampung beban-beban lalu lintas, orang, barang dan berat sendiri konstruksi
yang kemudian menyalurkan beban tersebut ke bagian bawah.
1.2.1 Plat Lantai Kendaraan
Merupakan lintasan utama yang dilalui kendaraan. Lebar jalur kendaraan
yang diperkirakan cukup untuk berpapasan dua buah kendaraan.

Gambar 1 Potongan Melintang Lantai Kendaraan

a) Data teknis
Tebal aspal + overlay (5 cm + 5 cm) = 0,10 m
Tinggi genangan air rencana = 0,05 m
Jarak antar balok induk = 1,90 m

4
Lebar laju lalu lintas = 7,60 m
Tebal plat kendaraan = 0,20 m
ts ≥ 200 m
ts ≥ (100 + 40.1,9) = 176 mm
(RSNI T-12-2004, hal 40)
Jadi, tebal pelat lantai kendaraan yang diambil 20 cm.

b) Bahan struktural
Mutu beton = K-350
Kuat tekan beton (fc’) = 30 MPa
Mutu baja (fy) = 400 MPa

c) Berat isi
Berat beton bertulang = 25 kN/m3
Berat aspal = 22 kN/m3
Berat air hujan = 10 kN/m3

d) Analisa beban
1. Beban mati
Berat aspal = 0,10 m x 1 m x 22 kN/m3 x 2 = 4,40 kN/m
Berat pelat lantai = 0,20 m x 1 m x 25 kN/m3 x 1,3 = 6,50 kN/m
Berat air hujan = 0,05 m x 1 m x 10 kN/m3 x 2 = 1,00 kN/m +
DLult = 11,90 kN/m
Pelat lantai kendaraan dianggap pelat satu arah.

Gambar 2 Koefisien Momen Pada Lantai Kendaraan Arah X

5
Momen lapangan (MIx)
MIx = x qD1 x L2

MIx = 1/14 x 11,90 kN/m x (1,9 m)2


= 3,069 kN.m

Momen tumpuan (Mtx)


Mtx = x qD1 x L2

Mtx = 1/10 x 12,78 kN/m x (1,9 m)2


= 4,269 kN.m

Jadi,
MIx = 3,069 kN.m
Mtx = 4,269 kN.m
My = 0 kN.m

2. Beban hidup
Berasal dari kendaraan bergerak (muatan T) :

A B
Gambar 3 Penyaluran Tegangan Dari Roda Akibat Bidang Kontak

a1 = 0,2 m ; b1 = 0,5 m

Pembebanan oleh truk = 112,50 KN (RSNI 2005)


a = a1 + (2 x tebal aspal) + (2 x 0,5 x tebal beton)
= 0,20 + (2 x 0,10) + (2 x 0,5 x 0,20) = 0,60 m

6
b = b1 + (2 x tebal aspal) + (2 x 0,5 x tebal beton)
= 0,50 + (2 x 0,10) + (2 x 0,5 x 0,20) = 0,90 m
Beban truk
Tu = 1,8 x 1,3 T = 1,8 x 1,3 x 112,50 = 263,25 KN
Jadi pembebanan truk,

= = = 487,50 kN/m2

Tinjauan kondisi ban:


a) Kondisi 1
Satu roda belakang satu kendaraan di tengah bentang

Gambar 4 Tinjauan Ban Kondisi 1

Ukuran Ban
ty = Panjang = 0,9 m
ty = Lebar = 0,6 m
Ix = 1,90 m
Iy = ~ (lantai tidak menumpu pada balok diafragma)

Luasan 1
= 0,316

= 0,474

7
Dari tabel Bitner:
fxm = 0,1703
fym = 0,0736

Maka didapat:
Mx1 = fxm x qu x tx x ty
= 0,1703 x 487,5 kN/m2 x 0,6 m x 0,9 m
= 44,831 kN.m
My1 = fym x qu x tx x ty
= 0,0736 x 487,5 kN/m2 x 0,6 m x 0,9 m
= 19,375 kN.m
Momen Akhir:
Mx1 = 44,831 kN.m
My1 = 19,375 kN.m

b) Kondisi 2
Satu roda belakang dua kendaraan di tengah bentang

Gambar 5 Tinjauan Ban Kondisi 2

Ix = 1,9 m
Iy = ~ (lantai tidak menumpu pada balok diafragma)

Luasan 1
Ukuran Ban

8
ty = Panjang = 1,9 m
tx = Lebar = 0,6 m
= 0,316

=1

Dari tabel Bitner:


fxm = 0,1396
fym = 0,0322
Maka didapat:
Mx1 = fxm x qu x tx x ty
= 0,1396 x 487,5 kN/m2 x 0,6 m x 1,9 m
= 77,583 kN.m

My1 = fym x qu x tx x ty
= 0, 0322 x 487,5 kN/m2 x 0,6 m x 1,9 m
= 17,895 kN.m

Luasan 2
Ukuran Ban
ty = Panjang = 0,1 m
tx = Lebar = 0,6 m
= 0,316

= 0,053

Dari tabel Bitner:


fxm = 0,1937
fym = 0,1745

9
Maka didapat:
Mx2 = fxm x qu x tx x ty
= 0,1937 x 487,5 kN/m2 x 0,6 m x 0,1 m
= 5,666 kN.m

My2 = fym x qu x tx x ty
= 0,1745x 487,5 kN/m2 x 0,6 m x 0,1 m
= 5,104 kN.m

Momen Akhir:
Mx = Mx1 - Mx2
= 77,583 kN.m - 5,666 kN.m
= 71,92 kN.m
My = My1 – My2
= 17,895 kN.m - 5,104 kN.m
= 12,79 kN.m

Dari hasil perhitungan tinjauan roda kendaraan maka momen yang


diperoleh adalah,
Mx = 71,92 kN.m
My = 12,79 kN.m

3. Beban angin
Faktor beban ultimate (Kew) = 1,20
Koefisien serat (Cw) = 1,5
Kecepatan angin (Vw) = 35 m/dt
a = 420 cm = 4,2 m
b = 275 – 175 = 100 cm =1m
h = 420 cm = 4,2 m
L = 175 cm = 1,75 m

10
Tew = 0,0012 x CW x Vw2 x ab
= (0,0012) x (1,50) x (35 m/dt) x (4,2 . 1)
= 9,261 kN

Gambar 6 Pembebanan Angin

Pew = x Tew

= x 9,261 kN

= 11,113 kN.m
Kombinasi Beban
MIx = Beban mati + Beban hidup + beban angin
= 3,069 kN.m + 71,917 kN.m + 11,113 kN.m
= 86,099 kN.m
Mtx = Beban mati + Beban hidup + beban angin
= 4,269 kN.m + 71,917 kN.m + 11,113 kN.m
= 87,326 kN.m
My = Beban mati + Beban hidup + beban angin
= 0 kN.m + 19,375 kN.m + 11,113 kN.m
= 30,488 kN.m

e) Penulangan
1. Penulangan lapangan arah x
Mux = 86,099 kN.m

11
Diameter tulangan arah X D = 16 mm
fc’ = 30 MPa
fy = 400 MPa
p = 40 mm
b = 1000 mm
β1 = 0,85
Tebal plat = 200 mm

d’ = h – p – 0,5 diameter tulangan tekan


d’ = 200 – 40 – (0,5 x 16)
d’ = 152 mm

Rasio Penulangan

= ρ . fy (1 - )

= ρ . 400 (1 - )

4,658 = 400 ρ – 1129,4118 ρ2


ρ = 0,0275600
ρmin = 1,0 / fy = 1,0 / 400 = 0,004166667

ρmax = x x 0,75

= x x 0,75

= 0,04838
ρmin < ρ < ρmax (oke)

Luas tulangan (As)


As = ρ x b x d’
As = 0,0275600 x 1000 mm x 152 mm
= 4189,12159 mm2
Tulangan yang dipakai = D 16 – 100 (2010,6 mm2)

12
2. Penulangan tumpuan arah x
Mux = 87,326 kN.m
Diameter tulangan arah X D = 16 mm
fc’ = 30 MPa
fy = 400 MPa
p = 40 mm
b = 1000 mm
β1 = 0,85
Tebal plat = 200 mm

d’ = h – p – 0,5 diameter tulangan tekan


d’ = 200 – 40 – (0,5 x 16)
d’ = 152 mm

Rasio Penulangan

= ρ . fy (1 - )

= ρ . 400 (1 - )

4,725 = 400 ρ – 1129,4118 ρ2


ρ = 0,0280040
ρmin = 1,0 / fy = 1,0 / 400 = 0,004166667

ρmax = x x 0,75

= x x 0,75

= 0,0280040
ρmin < ρ < ρmax (oke)

Luas tulangan (As)


As = ρ x b x d’
As = 0,0126813 x 1000 mm x 152 mm
= 4256,601203 mm2

13
Tulangan yang dipakai = D 16 – 100 (2010,6 mm2)

3. Penulangan arah y
Mux = 30,48 kN.m
Diameter tulangan arah Y D = 13 mm
fc’ = 30 MPa
fy = 400 MPa
p = 40 mm
b = 1000 mm
β1 = 0,85
Tebal plat = 200 mm

d’ = h – p – diameter tulangan x - 0,5 diameter tulangan y


d’ = 200 – 40 – 16 – (0,5 x 13)
d’ = 137,50 mm

Rasio Penulangan

= ρ . fy (1 - )

= ρ . 400 (1 - )

2,015 = 400 ρ – 1129,4118 ρ2


ρ = 0,0111710
ρmin = 1,0 / fy = 1,0 / 400 = 0,004166667

ρmax = x x 0,75

= x x 0,75

= 0,0111710
ρmin < ρ < ρmax (oke)

Luas tulangan (As)


As = ρ x b x d’

14
As = 0,126813 x 1000 mm x 152 mm
= 1536,007021 mm2
Tulangan yang dipakai = D 13 – 150 (884,882 mm2)

D13 - 150
D13 - 150
D16 - 100

D16 - 100

20

190 190
Gambar 3.7 Penulangan Plat Lantai
Gambar 7 Penulangan Plat Lantai

1.2.2 Perhitungan Pipa Sandaran


a. Bahan
Baja tulangan (fy) = 240 MPa
Dipakai pipa sandaran  = 3”
Berat Pipa = 7,13 kg/m’
Jarak antar tiang = 2,0 m

15
Gambar 8 Jarak Antar Tiang Sandaran
b. Pembebanan
Terdiri dari dua pembebanan yang bekerja pada arah vertical dan
horizontal, untuk arah horizontal beban hidup yang bekerja sebesar 100
kg/m², sedangkan beban vertical merupakan berat sendiri pipa sandaran.

Gambar 9 Pembebanan Pipa sandaran

Beban horizontal = 100 kg/m²


Beban Vertikal = 7,13 kg/m²
R =√

R=√ = 100,254 kg/m²

16
c. Perhitungan Momen
Mu =

= 50,1269 kg.m ~ 501269 Nmm

d. Kontrol Tegangan

Rluar = 38,10 mm = 76,2 mm


Rdalam = 34,10 mm = 68,2 mm
Aluar = 2279,028
Adalam = 1825,612

X01 = = = 16,170 mm

X0z = = = 14,472 mm

X0 = = = 15,321 mm

Zx = x A x X0 x 2 = x ( ( 76,2 - 68.2 x 2 )

= 63.273 mm
Mn untuk penampang kompak
Mn = Zx . fy

Mn = 63.273 mm x 240 Mpa = 15185603,56 [Link]


Mn Mu
0,85x 15185603,56 [Link] Mu
12907763,03 [Link] 501269 [Link] Aman

17
1.2.3. Perhitungan Tiang Sandaran
a. Data Teknis
Berat beton bertulang = 25 KN/m³
Berat pipa sandaran = 7,13 kg/m

Gambar 10 Dimensi Pipa dan Tiang Sandaran

18
b. Pembebanan

Gambar 11 Pembenan Tiang sandaran

1. Beban Mati
Pipa sandaran = 2 x 2,0 m x 7,13 kg/m x 2 = 57,040 kg = 0,5704 kN
MDpipa = 0,5704 kN x 0,137 m = 0,078 kN.m
Berat sendiri beton
I. 0,55 m x 0,15 m x 25 kN/m³ x 1,3 = 2,681 kN
MDI = 0,402 Kn x 0,25 m = 0,670 kN.m
II. 0,40 m x 0,30 m x 2 m x 25 kN/m³ x 1,3 = 7,800 kN
MDII = 7,800 Kn x 0,249 m = 1,942 kN.m
III. 0,5 m x 0,40 m x 0,10 m x 2 m x 25 kN/m³ x 1,3 = 1,300 kN
MDIII = 1,300 kN x 0,667 m = 0,867 kN.m
IV. 0,25 m x 0,40 m x 2 m x 25 kN/m³ x 1,3 = 6,500 Kn
MDIV = 6,500 kN x 0,20 m = 1,300 kN.m
MDTotal = 0,078 kN.m + 0,670 kN.m + 1,942 kN.m + 0,867
kN.m + 1,300 kN.m = 4,858 kN.m

19
2. Beban Hidup
Beban Sandaran = 1 kN/m
ML = 1 kN/m x 0,950 m x 2,0 m x 1,8 = 3,420 kN.m

3. Momen Ultimate = MD + ML
= 4,858 kN.m + 3,420 kN.m
= 8,278 kN.m

c. Penulangan
Mutu beton (fc’) = 30 Mpa
Mutu Baja (fy) = 240 Mpa
Diameter tulangan pokok = D13 mm
Diameter tulangan sengkang = D10 mm
Tebal Selimut Beton (P) = 20 mm
β1 = 0,85
Jarak tulangan tekan dengan serat terluar (d’)
d’ = lebar tiang sandaran - - sengkang – ½ tul. Pokok
d’ = 400 mm – 40 mm – 10 mm – ½ x 13 mm = 343,5 mm

Rasio penulangan

= fy ( 1 - )

= . 240 ( 1 - )

0,817 = 240 – 1139,412 ² = 0,0047438


= = = 0,00583


= = = 0,00571

Diambil nilai terkecil, Maka = 0,00571

= x x 0,75

= x x 0,75 = 0,0484

< maka digunakan = 0,00571

20
Luas tulangan (As)
As = bd’
As = 0,00571 x 400 mm x 343,5 mm = 783,928 mm²

Banyak tulangan (n) = = = 5,909 ~ 6 buah

As pakai = n x

=6x

= 795,990 mm > 783,928 mm

Jarak tulangan (s) = x 1000 mm

= x 1000 mm

= 169,231 ~ 150 mm

As ada = x 1000 mm

= x 1000 mm

= 884,433 mm
Tulangan yang dipakai D13 – 150 (884,433 mm )

Sengkang ( tulangan pembagi )


As = 0,002 x b x Lebar tiang sandaran
= 0,002 x 1000 x 300 mm
= 600 mm

Tulangan yang dipakai D10 – 100 ( 785,398 mm )

21
Gambar 12 Penulangan Tiang Sandaran

1.2.4. Perhitungan Pipa Saluran Air


Intensitas curah hujan (I100) = 331,77 mm/jam
Koefisien pada permukaan aspal = 0,90
Panjang jembatan = 32 m
Lebar badan jalan = 7,60 m
Tinggi air hujan rencana = 0,05 m
Lebar Badan Jembatan = 10,0 m
Data rencana antar pipa = 2,0 m
Debit Air Hujan (Qt)
A = L x B = 32 m x 3,8 m = 121,6 m = 0,000122km

Qt =

Qt =

= 0,01009 m³/detik

Jumlah pipa (n) =

= = 16

n = 16 buah

22
Qpipa = = = 0,000630 m /s

Dengan v = √

=√
= 0,99 m/s
Diameter Q=AxV

A= = 0,000637 m²

A= x x d²

0,000637 m² = x x d²

d = 0,028474 m = 3 cm
Digunakan pipa 2” = 5,08 cm > 3 cm ( ok )

1.2.5. Lantai Trotoar


Berada dipinggir sepanjang lantai jembatan dan berfungsi sebagai tempat
pejalan kaki.
a. Data Teknis
Tinggi trotoar = 0,15 m
Lebar trotoar = 0,80 m
Tebal pelat kantilever = 0,27 m
Berat beton = 25 Kn/m
Berat pipa sandaran = 8,278 Kn/m

23
Gambar 13 Penampang pelat katilever

b. Pembebanan Trotoar
Pipa sandaran = 2 x 2,0 x 7,13 kg/m x 2 = 57,040 kg = 0,5704 Kn
MDpipa = 0,5704 Kn x 0,6169 m = 0,352 kN.m

1. Berat sendiri beton


I. 0,55 m x 0,15 m x 25 kN/m³ x 1,3 = 2,681 kN
MDI = 0,402 Kn x 0,730 m = 0,670 kN.m
II. 0,40 m x 0,30 m x 2 m x 25 kN/m³ x 1,3 = 7,800 kN
MDII = 7,800 Kn x 0,730 m = 5,694 kN.m
III. 0,5 m x 0,40 m x 0,10 m x 2 m x 25 kN/m³ x 1,3 = 1,300 kN
MDIII = 1,300 kN x 0,547 m = 0,711 kN.m
IV. 0,25 m x 0,40 m x 2 m x 25 kN/m³ x 1,3 = 6,500 Kn
MDIV = 6,500 kN x 0,680 m = 4,420 kN.m
V. 0,15 m x 0,48 m x 2 m x 25 kN/m³ x 1,3 = 4,680 Kn
MDV = 4,680 kN x 0,240 m = 1,123 kN.m
VI. 0,20 m x 0,88 m x 2 m x 25 kN/m³ x 1,3 = 11,440 Kn
MDIV = 11,440 kN x 0,440 m = 5,034 kN.m

24
VII. 0,5 m x 0,88 m x 0,07 X 2 m x 25 kN/m³ x 1,3 = 2,002 Kn
MDIV = 2,002 kN x 0,311 m = 0,623 kN.m
MDTotal = 0,352 kN.m + 0,670 kN.m + 5,694 kN.m + 0,711 kN.m +
4,420 kN.m + 1,123 kN.m + 5,034 kN.m + 0,623 kN.m
= 18,627 kN.m

2. Beban Hidup
Beban pejalan kaki = 5 kN/m
Mt = 5 kN/m x 0,80 m x 1,0 m x 1,8 = 7,200 kN.m

3. Momen Ultimate = MD + ML
= 25,827 kN.m

c. Penulangan
Mux = 25,827 kN.m
Diameter tulangan arah X, D = 16 mm
Diameter tulangan arah Y, D = 13 mm
Fc’ = 30 Mpa
Fy = 400 Mpa
P = 40 mm
Tebal pelat = 0,27 m

d’ = h – p – 0,5 diameter tulangan tekan


= 270 mm – 40 mm – ( 0,5 x 16 )
= 150 mm

Rasio Penulangan

= fy ( 1 - )

= . 400 ( 1 - )

1,435= 400 – 3137,255 ² = 0,0363584

25
= = = 0,00244

= x x 0,75

= x x 0,75 = 0,03636

< < (OK)


Jadi dipakai = 0,03636
Luas tulangan (As)
As = bd
As = 0,03636 x 1000 mm x 150 mm
= 5453,763 mm²
Tulangan yang diapakai D16 – 100 (2010,619 mm²)
Sengkang ( Tulangan pembagi )
As = 0,0018 x b x Tebal plat kantilever
= 0,0018 x 1000 m x 270 mm
= 486 mm²
Tulangan yang dipakai D13 – 150 (884,882 mm²)
Untuk penulangan trotoar, diberi penulangan dengna tujuan pembatasan
retak sesuai dengan RSNI T-12-2004 halaman 108 yang mana isinya dapat
disimpulkan sebagai berikut :
Semua permukaan komponen beton harus diberi penulangan dalam dua arah
masing – masing minimal 500 mm²/m, dipasang sejajar permukaan dan dua arah
membentuk sudut tegak lurus jarak tulangan tidak boleh melebihi 300 mm.
Maka diambil tulangan untuk lantai trotoar yaitu = D10 – 250

26
Gambar 14 Penulangan Plat Lantai dan Trotoar

1.2.6. Balok Diafragma


Diafragma merupakan struktur yang bekerja menahan berat sendiri tidak
menerima beban luar dan tidak sebagai struktur utama.
a. Balok Diafragma Tepi

Gambar 15 Diafragma Tepi

1. Bahan struktural
Mutu beton = K.300
Kuat tekan beton ( fc’) = 30 Mpa

27
Mutu baja (fy) = 400 Mpa
Berat beton bertulang = 25 kN.m²

2. Pembebanan
Berat sendiri total
= 0,2 m x 1,25 m x 25 KN/m3 x 1,3
= + 8,125 KN/m
Berat segitiga atas
= (0,5 x 2 x 0,2 m x 0,1 m x 0,04 m x 25KN/ m3 x 1,3) / 1,3
= - 0,020 KN/m
Berat segitiga bawah
= (0,5 x 2 x 0,2 m x 0,05 m x 0,05 m x 25KN/ m3 x 1,3) / 1,3
= - 0,013 KN/m
Wu = + 8,125 KN/m - 0,020 KN/m - 0,013 KN/m
= 8,093 KN/m
MuLap =

= 1,710 KNm
MuTum =

= 1,140 KNm

3. Penulangan Lapangan
Momen Lapangan = 1,710 KNm
Mutu Beton (fc’) = 30 MPa
Mutu Baja (fy) = 400 MPa
Diameter tulangan pokok = 16 mm
Diameter tulangan sengkang = 13 mm
Tebal selimut beton (p) = 40 mm
Jarak tulangan tekan dengan serat terluar (d’)

28
d’ = tinggi diafragma – p – diameter sengkang -  tulangan yang

dipakai
= 1250 mm – 40 mm – 13 – 0,5 (16) mm = 1189 mm

( )

( )

0,0076 = 400 - 3137,255

√ √

Dari kedua pernyataan diatas diambil terbesar, maka


= 0,0035

Jadi dipakai = 0,0035


Luas tulangan (As)
As = ρ x b x d´
As = 0,0035 x 200 mm x 1189 mm
= 832,3 mm2
832 3

Tulangan yamg dipakai 5 Ø 16 (1005,31 mm2).

4. Penulangan Tumpuan
Momen Tumpuan = 1,140 KNm

29
Mutu Beton (fc’) = 30 MPa
Mutu Baja (fy) = 400 MPa
Diameter tulangan pokok = 16 mm
Diameter tulangan sengkang = 13 mm
Tebal selimut beton (p) = 40 mm

Jarak tulangan tekan dengan serat terluar (d’)


d’ = tinggi diafragma – p – diameter sengkang -  tulangan yang

dipakai
= 1250 mm – 40 mm – 13 – 0,5 (16) mm
= 1189 mm

( )

( )

0,0050 = 400 - 3137,255

√ √

Dari kedua pernyataan diatas diambil terbesar, maka


= 0,0035

Jadi dipakai = 0,0035

Luas tulangan (As)


As = ρ x b x d´
As = 0,0035 x 200 mm x 1189 mm = 832,3 mm2

30
832 3

Tulangan yamg dipakai 5 Ø 16 (1005,31 mm2).

Gambar 3.16 Penulangan Diafragma Tepi

b. Balok Diafragma Tengah

Gambar 17 Diafragma Tengah

1. Bahan struktural
Mutu beton = K - 300
Mutu baja (fy) = 400 MPa
Kuat tekan beton (fc’) = 30 MPa
Berat beton bertulang = 25 KN/ m3

31
2. Pembebanan
Berat sendiri total
= 0,2 m x 1,25 m x 25 KN/m3 x 1,3
= + 8,125 KN/m
Berat segitiga atas
= (0,5 x 2 x 0,2 m x 0,3 m x 0,12 m x 25KN/ m3 x 1,3) / 1,7
= - 0,138 KN/m
Berat segitiga bawah
= (0,5 x 2 x 0,2 m x 0,25 m x 0,25 m x 25KN/ m3 x 1,3) / 1,7
= - 0,239 KN/m
Wu = + 8,125 KN/m - 0,138 KN/m - 0,002 KN/m
= 7,748 KN/m

MuLap =

= 2,799 KNm
MuTum =

= 1,866 KNm

3. Penulangan Lapangan
Momen Lapangan = 2,885 KNm
Mutu Beton (fc’) = 30 MPa
Mutu Baja (fy) = 400 MPa
Diameter tulangan pokok = 16 mm
Diameter tulangan sengkang = 13 mm
Tebal selimut beton (p) = 40 mm

Jarak tulangan tekan dengan serat terluar (d’)

32
d’ = tinggi diafragma – p – diameter sengkang -  tulangan yang

dipakai
= 1250 mm – 40 mm – 13 – 0,5 (16) mm
= 1189 mm

( )

( )

0,0124 = 400 - 3137,255

√ √

Dari kedua pernyataan diatas diambil terbesar, maka


= 0,0035

Jadi dipakai = 0,0035

Luas tulangan (As)


As = ρ x b x d´
As = 0,0035 x 200 mm x 1189 mm
= 832,3 mm2
832 3

Tulangan yamg dipakai 5 Ø 16 (1005,31 mm2).

33
4. Penulangan Tumpuan
Momen Tumpuan = 1,866 KNm
Mutu Beton (fc’) = 30 MPa
Mutu Baja (fy) = 400 Mpa
Diameter tulangan pokok = 16 mm
Diameter tulangan sengkang = 13 mm
Tebal selimut beton (p) = 40 mm

Jarak tulangan tekan dengan serat terluar (d’)


d’ = tinggi diafragma – p – diameter sengkang –  tulangan yang

dipakai
= 1250 mm – 40 mm – 13 – 0,5 (16) mm
= 1189 mm

( )

( )

0,0082 = 400 – 3137,255

√ √

Dari kedua pernyataan diatas diambil terbesar, maka


= 0,0035

Jadi dipakai = 0,0035

34
Luas tulangan (As)
As = ρ x b x d´
As = 0,0035 x 200 mm x 1189 mm
= 832,3 mm2
832 3

Tulangan yamg dipakai 5 Ø 16 (1005,31 mm2).

Gambar 18 Penulangan Diafragma Tengah

1.2.7. Balok Induk


a. Struktur Balok Prategang

Gambar 19 Balok Girder

35
1. Data Jembatan
Panjang balok prategang (L) = 30 m
Jarak antar balok prategang (S) = 1,90 m
Tebal plat lantai jembatan (h0) = 0,20 m
Tebal lapis aspal + overlay (ha) = 0,10 m
Tinggi genangan air hujan (th) = 0,05 m

2. Bahan Struktural
Beton prategang Wc = 25,5 KN/m3
Beton bertulang Wc’ = 25 KN/m3
Aspal Waspal = 22 KN/m3
Air hujan Wair = 10 KN/m3

3. Dimensi Balok Induk


Dengan h total = 170 cm, bentuk dan dimensi ukuran balok girder
digunakan sesuai dengan yang ada di pasaran guna kemudahan pada
saat pelaksanaannya.

Gambar 20 Dimensi Balok Prategang

36
4. Beton Prategang
Mutu beton prestress = K - 500
Kuat tekan beton (fc’) = 0,83 x (K/10)
= 41,5 MPa
Modulus elastisitas beton (Ec) = 4700 x √
= 30277,6 MPa
Angka poisson () = 0,2
Modulus geser (G) = Ec/ (2 x (1 + ))
= 12615,667 Mpa

Kuat tekan beton pada keadaan awal (saat transfer)


fci = 0,8 x fc’ = 0,8 x 41,5 MPa = 33,2 MPa

 Tegangan ijin beton pada saat penarikan :


Tegangan ijin tekan fci = 0,6 x fci
= 19,920 MPa
Tekan ijin tarik = 0,5 x √
= 3,221 MPa
 Tegangan ijin beton pada keadaan akhir :
Tegangan ijin tekan fcs = 0,45 x fc’
= 18,675 MPa
Tegangan ijin tarik fts = 0,50 x √
= 3,221 MPa

5. Baja Prategang
Jenis strands = Uncoated 7 Wire Super Strands ASTM A–416 grade
270
Tegangan leleh strands (fyp) = 0,85 x fpu
= 1582 MPa
Kuat tarik strands (fpu) = 270 Ksi

37
= 1862 MPa
Diameter nominal strands = 12,7 mm atau

Luas tampang nominal satu strands (Ast) = 98,7 mm2


Beban putus minimal satu strands (Pbs) = 0,789 kg/m
Jumlah kawat untaian (strands cable) = 19 kawat untaian / tendon

6. Lebar Efektif Plat lantai


Lebar efektif plat diambil dari nilai terkecil dibawah ini, berdasarkan
buku Edward G Nawy pada halaman 357
a) L = = 8,00 m

b) S = 1,90 m
c) 12 x h0 = 12 x 0,2 m = 2,40 m
Maka lebar efektif plat Be = 1,90 m
Kuat tekan beton plat fc’ (plat) = 0,83 x (Kplat/10)
= 29,05 MPa
Kuat tekan beton balok fc’ (balok) = 0,83 x (Kplat/10)
= 41,50 MPa
Modulus elastis plat beton E(plat) = 4700 x √

= 4700 x √
= 25332,084 MPa
Modulus elastis beton prategang E(balok) = 4700 x √

= 4700 x √
= 30277,632 MPa
Nilai perbandingan modulud elastic plat dan beton
n = Eplat/Ebalok = 25332,084/30277,632 = 0,83666
Jadi lebar penganti beton plat lantai jembatan (Beff)
Beff = n x Be = 0,83666 x 1,90 m = 1,590 m

38
Be = 190 cm
Be = 159

S = 190 S = 190

Gambar 21 Lebar Efektif Plat


Gambar 3.21 Lebar Efektif Plat

7. Section Properties Balok Prategang

Gambar 22 Section Properties Balok Prategang

39
Tabel 1 Section Properties Balok Prategang

Dimensi Inersia
Jarak Inersia Inersia
Luas Statis Momen
Terhadap Momen Momen
No Lebar Tinggi Penampang Momen A*(Y-
h Alas Y Io Ix
b A (m²) (A*Y) Yb)²
(m) (m) (m4) (m4)
(m) (m³) (m4)
1 0,64 0,07 0,045 1,665 0,075 0,0320 0,00002 0,032
2 0,8 0,13 0,104 1,565 0,163 0,0577 0,00015 0,058
3a 0,3 0,12 0,018 1,460 0,026 0,0074 0,00001 0,007
3b 0,3 0,12 0,018 1,460 0,026 0,0074 0,00001 0,007
4 0,2 1,25 0,250 0,875 0,219 0,0008 0,03255 0,033
5a 0,25 0,25 0,031 0,333 0,010 0,0074 0,00011 0,008
5b 0,25 0,25 0,031 0,333 0,010 0,0074 0,00011 0,008
6 0,7 0,25 0,175 0,125 0,022 0,0845 0,00091 0,085
Total 0,672 0,551 0,2046 0,034 0,238

Tinggi balok prategang ( h ) = 1,70 m


Luas penampang balok prategang (A) = 0,672 m²

Letak titik berat Yb = ∑
= = 0,820 m

Ya = h – Yb = 1,70 m – 0,820 m = 0,880 m


Momen inersia terhadap titik berat balok
Ix = ∑ ∑ = 0,2046 + 0,034 = 0,238 m4
Tahanan momen sisi atas Wa = Ix / Ya = 0,238/0,880 = 0,27102 m³
Tahanan momen sisi bawah Wb = Ix / Yb = 0,238/0,820 = 0,29078 m³

40
h. Section Properties Balok Komposit (Balok + Plat)

Gambar 23 Properties Balok Komposit (Balok + Plat)

Tabel 2 Properties Balok Komposit (Balok + Plat)

Dimensi Inersia
Jarak Inersia Inersia
Luas Statis Momen
Tinggi Terhadap Momen Momen
No Lebar Penampang Momen A*(Y-
h Alas Y Io Ix
b A (m²) (A*Y) Yb)²
(m) (m) (m4) (m4)
(m) (m³) (m4)
0 1,59 0,20 0,318 1,800 0,572 0,1406 0,00106 0,142
1 0,64 0,07 0,045 1,665 0,075 0,0126 0,00002 0,013
2 0,80 0,13 0,104 1,565 0,163 0,0192 0,00015 0,019
3a 0,30 0,12 0,018 1,460 0,026 0,0019 0,00001 0,002
3b 0,30 0,12 0,018 1,460 0,026 0,0019 0,00001 0,002
4 0,20 1,25 0,250 0,875 0,219 0,0169 0,03255 0,049
5a 0,25 0,25 0,031 0,333 0,010 0,0201 0,00011 0,020
5b 0,25 0,25 0,031 0,333 0,010 0,0201 0,00011 0,020
6 0,70 0,25 0,175 0,125 0,022 0,1785 0,00091 0,179
Total 0,990 1,124 0,4118 0,035 0,447

Tinggi total balok komposit (hc) = 1,9 m


Luas penampang balok komposit (Ac) = 0,990 m²

Letak titik berat Ybc = ∑
= = 1,135 m

Yac = Hc – Ybc = 1,90 m – 1,135 m = 0,765 m


Momen Inersia terhadap titik berat balok komposit

41
Ixc = ∑ ∑ = 0,4119 + 0,0350 = 0,447 m4
Tahanan momen sisi atas plat Wac = Ixc / Yac = 0,447/0,765
= 0,584 m³
Tahanan momen sisi atas balok W’ac = Ixc / (Yac-ho) = 0,791 m³
Tahanan momen sisi bawah Wbc = Ixc / Ybc = 0,447/1,135
= 0,394 m³

b. Analisa Pembebanan Balok Prategang


1. Berat sendiri
a) Berat diafragma
Berat diafragma tepi (w) = 8,093 kN
Berat diafragma tengah (w) = 7,748 kN
Jumlah diafragma = 7 buah
Panjang bentang = 32 m
Jarak diafragma (dari tengah bentang jembatan )
Xn = 16 m X2 = 6 m
X1 = 10 m X3 = 0 m
Momen maksimum di tengah bentang
Mmax = (½[(5 x Wtengah) + (2 x Wtepi)] x Xn) – (P1 x Xn) – (P2 x
X1) – (P3 x X2) – (P4 x X3)
Mmax = (½[(5 x 7,748 kN) + (2 x 8,093 kN)] x 16 m) – (8,093 kN x
16 m) – (7,748 kN x 10 m) – (7,985 kN x 6 m) – (7,985 kN
x 0 m)
Mmax = 185,961 kN.m
Berat diafragma ekivalen

Qdiafragma =

b) Beban akibat berat sendiri balok girder


Panjang balok prategang (L) = 33 m
Luas penampang (A) = 0,672 m²

42
Berat beton (Wc) = 25 kN/m²
Berat balok prategang
Qbalok = A x Wc
= 0,672 m² x 25 kN/m³
= 16,81 kN/m

c) Gaya Geser dan Momen Akibat Berat Sendiri

Gambar 24 Gaya Geser dan Momen akibat berat sendiri

Panjang bentang (L) = 32 m


Gaya geser (Vms) = ½ x Qms x L
Momen (Mms) = 1/8 x Qms x L²

Tabel 3 Gaya Geser dan Momen akibat berat sendiri yang terfaktor
Jenis Beban Lebar Tebal Luas Berat Sat Beban Geser Momen
No Beban Terfaktor B h A W Qms Vms Mms
(m) (m) (m²) (kN/m³) (kN/m) (kN) (kN/m)
1 Balok 1,2 20,160 322,704 2581,632
Prategang
2 Plat Lantai 1,3 1,9 0,2 0,38 25 12,350 197,600 1580,8
3 Deck Slab 1,3 1,3 0,07 0,091 25 2,958 47,320 378,56
4 Diafragma 1,3 1,89 30,219 241,74953
Total = 37,365 597,843 4782,7415

43
Tabel 4 Gaya Geser dan Momen akibat berat sendiri yang tidak terfaktor
Lebar Tebal Luas Berat Beban Geser Momen
No Jenis Beban B h A Sat W Qms Vms Mms
(m) (m) (m²) (kN/m³) (kN/m) (kN) (kN/m)
1 Balok
16,800 268,920 2151,36
Prategang
2 Plat Lantai 1,9 0,2 0,38 25 9,500 152,000 1216
3 Deck Slab 1,3 0,07 0,091 25 2,275 36,400 291,2
4 Diafragma 1,453 23,245 185,96118
Total = 30,035 480,565 3844,5212

d) Berat Mati Tambahan (MA)


Berat mati tambahan terdiri dari,
 Berat aspal + overlay = 0,10 m
 Genangan air hujan = 0,05 m

Tabel 5 Berat mati tambahan (MA) yang terfaktor


Jenis Beban Lebar Tebal Luas Berat Sat Beban Geser Momen
No Beban Terfaktor B (m) h (m) A W Qms Vms Mms
(m²) (kN/m³) (kN/m) (kN) (kN/m)
1 Lapisan
2,0 1,9 0,10 0,19 22 8,360 133,760 1070,080
Aspal
2 Air Hujan 2,0 1,9 0,05 0,095 10 1,900 30,400 243,200
Total = 10,260 164,160 1313,280

44
Tabel 6 Berat mati tambahan (MA) yang tidak terfaktor

Lebar Tebal Luas Berat Beban Geser Momen


No Jenis Beban B h A Sat W Qms Vms Mms
(m) (m) (m²) (kN/m³) (kN/m) (kN) (kN/m)
1 Lapisan
1,9 0,10 0,19 22 4,180 66,880 535,040
Aspal
2 Air Hujan 1,9 0,05 0,095 10 0,950 15,200 121,600
Total = 5,130 82,080 656,640

e) Beban Lajur “D” (TD)


Beban lajur terdiri atas,
a. Beban terbagi rata (q) = 8,719 kPa
b. Beban garis (p) = 49 kN/m
Untuk intensitas q dan p tergantung dari panjang bentang jembatan
dan faktor beban dinamis (FBD) dengan bentang 32 m adalah 40 %.

Gambar 25 Beban lajur “D” (TD)

Jarak antar balok (S) = 1,9 m


Panjang balok (L) = 32 m

Beban merata pada balok (QTD) =qxS

45
= 8,719 kPa x 1,9 m
= 16,566 kN/m

Faktor beban dinamis (FBD) = 40 %


Beban terpusat pada balok (PTD) = (1 + FBD) x P x S
= (1 + 0,4) x 49 kN/m x 1,9 m
= 130,340 kN

Gaya geser dan momen maksimum pada balok akibat beban lajur
“D”
VTD = (1/2 x QTD x L) + (½ x PTD)
= (0,5 x 16,566 kN/m x 32 m) + (0,5 x 130,34 kN)
= 330,220 kN
MTD = (1/8 x QTD x L²) + (1/4 x PTD x L)
= (1/8 x 16,566 kN/m x (32 m)²) + (1/4 x 130,340 kN x 32
(m)
= 3163,12 kN.m

f) Gaya Rem (TB)


Pengaruh pengereman dari lalu lintas diperhitungkan sebagai
gaya dalam arah memanjang dan dianggap bekerja pada jarak 1,80 m
diatas permukaan lantai jembatan.
Besarnya gaya rem (HTB) = 100 kN
Panjang balok (L) = 30 m
Jumlah balok prategang (n) = 5 buah
Jarak antar balok prategang (S) = 1,90 m
Faktor beban = 1,8

Gaya rem untuk L = 30 m, TTB = HTB/n = 20 kN


Gaya rem, TTB = 5 % beban lajur “D” tanpa faktor dinamis
QTB = q x s = 17,100 kN/m

46
PTB = p x s = 93,100 kN
TTB = 5 % x (QTD x L + PTD) = 31,160 kN > 20 kN
Maka diambil gaya rem 31,160 kN
Jarak terhadap titik berat balok (Y)
Y = 1,80 + ho + ha + Yac
= 1,80 + 0,20 + 0,10 + 0,765
= 2,865 m
Beban momen akibat gaya rem terfaktor
M = TTB x Y x 1,8 = 31,160 x 2,865 x 1,8 = 160,706 kNm
Beban momen akibat gaya rem tidak terfaktor
M = TTB x Y = 31,160 x 2,865 = 89,281 kNm

Gambar 26 Gaya Rem (TB)

Gaya geser dan momen maksimum pada balok akibat gaya rem
 Gaya geser dan momen gaya rem yang terfaktor
VTB = M / L = 160,706 kNm / 32 m = 5,022 kN
MTB = ½ x M = ½ x 160,706 kNm = 80,353 kN.m
 Gaya geser dan momen gaya rem yang tidak terfaktor
VTB = M / L = 80,353 kNm / 32 m = 2,790 kN

47
MTB = ½ x M = ½ x 80,353 kNm = 40,176 kN

g) Beban Angin (EW)

TEW h

Qms
h/2

L
QEW
QEW

Gambar
Gambar 3.27 Beban
27 Beban Angin
Angin

Beban angin dihitung jika angin yang meniup kendaraan diatas


lantai jembatan, yang merupakan bidang samping kendaraan dengan
ketinggian 2 m diatas jembatan, dengan rumus :
TEW = 0,0012 x Cw x Vw²
Koefisien serat (Cw) = 1,2 m
Kecepatan angin rencana (Vw) = 30 m/s
Jarak antar roda kendaraan (X) = 1,75 m
Panjang balok (L) = 32 m
Faktor beban = 1,2
Beban angin (TEW) terfaktor = 0,0012 x Cw x (Vw)² x 1,2
= 0,0012 x 1,2 x (30)² x 1,2
= 1,555 kN/m
Beban angin (TEW) tidak terfaktor = 0,0012 x Cw x (Vw)²
= 0,0012 x 1,2 x (30)²
= 1,296 kN/m

Transfer beban angin ke lantai jembatan (QEW) yang terfaktor


QEW = (1/2 x (h : X)) x TEW
= (1/2 x (2 : 1,75)) x 1,555 = 0,889 kN/m

48
Transfer beban angin ke lantai jembatan (QEW) yang tidak terfaktor
QEW = (1/2 x (h : X) x TEW
= (1/2 x (2 : 1,75) x 1,296
= 0,741 kN/m
Gaya geser dan momen beban angin terfaktor
VEW = ½ x QEW x L
= ½ x 0,889 kN/m 32 m
= 14,219 kN
MEW = 1/8 x QEW x L²
= 1/8 x 0,889 kN/m x (32 m)²
= 113,752 kN.m
Gaya geser dan momen beban angin tidak terfaktor
VEW = ½ x QEW x L
= ½ x 0,741 kN/m x 32 m = 11,849 kN
MEW = 1/8 x QEW x L²
= 1/8 x 0,741 kN/m x (32 m)² = 94,793 kN.m

h) Beban Gempa (EQ)


Perhitungan beban gempa menggunakan rumus sebagai berikut :
TEQ = Kh x Wt
Kh =CxS
Faktor beban = 1,0
Koefisien geser untuk wilayah gempa 4 (Banyuasin) adalah dari
peraturan pembebanan jembatan (RSNI – T – 02 – 2005 : 40)  (C)
= 0,15
Faktor tipe struktur (S) = 1,3  untuk prategang penuh

Berat total yang berupa berat sendiri ditambah berat mati tambahan
dengan nilai : Qma = 5,130 kN/m
Qms = 30,035 kN/m

49
L = 32 m
WT = (Qms + Qma) x L
= (30,035 kN/m + 5,130 kN/m) x 32 m
= 1125,290 kN
Kh =CxS
= 0,15 x 1,3 = 0,195
TEQ = Kh x WT
= 0,195 x 1125,290 kN = 219,432 kN
QEQ = TEQ / L
= 219,432 / 32 m = 6,857 kN/m

Gambar 28 Beban Gempa

Gaya geser dan momen maksimum


VEQ = ½ x QEQ x L
= ½ x 6,857 kN/m x 32 m = 109,716 kN
MEQ = 1/8 x QEQ x L²
= 1/8 x 6,857 kN/m x (32 m)² = 877,726 kN.m

50
Tabel 7 Resume Momen dan Gaya Geser pada Balok Beban Terfaktor
Kode M
No. Jenis Beban Q (kN/m) P (kN)
Beban (kN/m)
1 Berat Sendiri MS 37,365 - -
Beban Mati
2 MA 10,260 - -
Tambahan
3 Lajur “D” TD 16,566 130,340 -
4 Gaya Rem TB - - 160,706
5 Angin EW 0,889 - -
6 Gempa EQ 6,857 - -

Tabel 8 Resume Momen dan Gaya Geser pada Balok Beban Tidak Terfaktor
Kode M
No. Jenis Beban Q (kN/m) P (kN)
Beban (kN/m)
1 Berat Sendiri MS 30,035 - -
Beban Mati
2 MA 5,130 - -
Tambahan
3 Lajur “”D TD 16,566 130,340 -
4 Gaya Rem TB - - 89,281
5 Angin EW 0,741 - -
6 Gempa EQ 6,857 - -

51
Tabel 9 Persamaan Momen dan Geser
No Jenis Beban Kode Beban Persamaan Momen
1 Berat sendiri MS Mx = ½ x Qms x (L x (X - X²))
mati
2 Tambahan MA Mx = ½ x Qma x (L x (X - X²))
3 Lajur “D” TD Mx = ½ x Qtd x (L x (X - X²)) + ½
x Ptd x (X)
4 Gaya Rem TB Mx = X/L x Mtb
5 Angin EW Mx = ½ x Qew x (L x (X - X²))
6 Gempa EQ Mx = ½ x Qeq x (L x (X - X²))
1 Berat sendiri MS Vx = Qms x (L/2 – X)
mati
2 Tambahan MA Vx = Qma x (L/2 – X)
3 Lajur “D” TD Vx = Qtd x (L/2 – X) + ½ x Ptd
4 Gaya Rem TB Vx = Mtb/L
5 Angin EW Vx = Qew x (L/2 – X)
6 Gempa EQ Vx = Qeq x (L/2 – X)

52
Tabel 10 Momen pada Balok Prategang Akibat Beban Terfaktor

Momen47 pada Balok Prategang Akibat Beban Terfaktor KOMB. I KOMB. III
KOMB. II KOMB. IV
Jarak MS + MA MS + MA
Berat Mati MS + MA MS + MA
x Berat Lajur Rem Angin Gempa + TD + + TD +TB
Sendiri Tambahan + TD + EW + EQ
(m) Balok "D" TD TB EW EQ TB + EW
MS MA (KNm) (KNm)
(KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm)
(KNm) (KNm)
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
1 312,620 579,160 159,030 321,937 5,022 13,775 106,287 1065,149 1073,902 1078,924 844,477
2 605,620 1120,955 307,800 627,309 10,044 26,661 205,717 2066,108 2082,724 2092,768 1634,472
3 877,352 1625,385 446,310 916,115 15,066 38,658 298,290 3002,876 3026,467 3041,533 2369,985
4 1129,464 2092,449 574,560 1188,355 20,088 49,766 384,005 3875,453 3905,131 3925,219 3051,015
5 1361,408 2522,149 692,550 1444,030 25,110 59,986 462,864 4683,839 4718,715 4743,825 3677,562
6 1573,182 2914,483 800,280 1683,139 30,132 69,317 534,865 5428,034 5467,219 5497,352 4249,628
7 1764,788 3269,452 897,750 1905,682 35,154 77,760 600,008 6108,039 6150,644 6185,799 4767,211
8 1936,224 587,056 984,960 2111,660 40,176 85,314 658,295 6723,853 6768,990 6809,166 5230,311
9 2087,492 3867,295 1061,910 2301,072 45,198 91,979 709,724 7275,476 7322,256 7367,455 5638,929
10 2218,590 4110,169 1128,600 2473,919 50,221 97,755 754,296 7762,908 7810,443 7860,663 5993,065
11 2329,520 4315,677 1185,030 2630,200 55,243 102,643 792,011 8186,149 8233,550 8288,792 6292,718
12 2420,280 4483,820 1231,200 2769,915 60,265 106,642 822,869 8545,200 8591,577 8651,842 6537,889
13 2490,872 4614,598 1267,110 2893,065 65,287 109,753 846,869 8840,060 8884,526 8949,812 6728,577
14 2541,294 4708,011 1292,760 2999,649 70,309 111,974 864,012 9070,729 9112,394 9182,703 6864,783
15 2571,548 4764,059 1308,150 3089,667 75,331 113,307 874,298 9237,207 9275,184 9350,514 6946,507

53
16. 2581,632 4782,742 1313,280 3163,120 80,353 113,752 877,726 9339,494 9372,893 9453,246 6973,748

Tabel 11 Momen pada Balok Prategang Akibat Beban Tidak Terfaktor

Momen pada Balok Prategang Akibat Beban Tidak Terfaktor KOMB. I KOMB. III
KOMB. II KOMB. IV
Jarak Berat Mati MS + MA MS + MA
Berat Lajur Rem Angin Gempa MS + MA MS + MA
x Sendiri Tambahan + TD + + TD +TB
Balok "D" TD TB EW EQ + TD + EW + EQ
(m) MS MA TB + EW
(KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm)
(KNm) (KNm) (KNm) (KNm)
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
1 260,516 465,547 79,515 321,937 2,790 11,479 106,287 869,790 878,479 881,269 651,350
2 504,225 901,060 153,900 627,309 5,580 22,217 205,717 1687,848 1704,486 1710,066 1260,677
3 731,126 1306,536 223,155 916,115 8,370 32,215 298,290 2454,176 2478,021 2486,391 1827,981
4 941,220 1681,978 287,280 1188,355 11,160 41,472 384,005 3168,773 3199,085 3210,245 2353,263
5 1134,506 2027,384 346,275 1444,030 13,950 49,989 462,864 3831,639 3867,677 3881,628 2836,523
6 1310,985 2342,755 400,140 1683,139 16,740 57,765 534,865 4442,774 4483,798 4500,539 3277,760
7 1470,656 2628,091 448,875 1905,682 19,530 64,800 600,008 5002,178 5047,448 5066,978 3676,974
8 1613,520 2883,391 492,480 2111,660 22,320 71,095 658,295 5509,851 5558,626 5580,946 4034,166
9 1739,576 3108,656 530,955 2301,072 25,110 76,649 709,724 5965,793 6017,332 6042,442 4349,335
10 1848,825 3303,885 564,300 2473,919 27,900 81,463 754,296 6370,004 6423,567 6451,467 4622,482
11 1941,266 3469,080 592,515 2630,200 30,690 85,536 792,011 6722,485 6777,330 6808,021 4853,606
12 2016,900 3604,239 615,600 2769,915 33,480 88,869 822,869 7023,234 7078,622 7112,103 5042,707

54
Momen pada Balok Prategang Akibat Beban Tidak Terfaktor KOMB. I KOMB. III
KOMB. II KOMB. IV
Jarak Berat Mati MS + MA MS + MA
Berat Lajur Rem Angin Gempa MS + MA MS + MA
x Sendiri Tambahan + TD + + TD +TB
Balok "D" TD TB EW EQ + TD + EW + EQ
(m) MS MA TB + EW
(KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm)
(KNm) (KNm) (KNm) (KNm)
13 2075,726 3709,362 633,555 2893,065 36,270 91,461 846,869 7272,252 7327,442 7363,713 5189,786
14 2117,745 3784,451 646,380 2999,649 39,060 93,312 864,012 7469,540 7523,791 7562,852 5294,842
15 2142,956 3829,504 654,075 3089,667 41,850 94,423 874,298 7615,096 7667,669 7709,519 5357,876
16 2151,360 3844,521 656,640 3163,120 44,640 94,793 877,726 7708,922 7759,074 7803,715 5378,888

Tabel 12 Gaya Geser pada Balok Prategang Akibat Beban Terfaktor


Jarak Gaya Geser pada Balok Prategang Akibat Beban Terfaktor KOMB. I KOMB. II KOMB. III KOMB. IV

55
x Berat Mati MS + MA MS + MA MS + MA MS + MA
Berat Lajur Rem Angin Gempa
(m) Sendiri Tambahan + TD + + TD + EW + TD +TB + EQ
Balok "D" TD TB EW EQ
MS MA TB (KNm) + EW (KNm)
(KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm)
(KNm) (KNm) (KNm) (KNm)
0 322,704 597,843 164,160 330,220 2571,292 14,219 109,716 3663,515 1106,442 3677,734 871,718
1 302,535 560,478 153,900 313,654 2410,587 13,330 102,859 3438,618 1041,362 3451,949 817,236
2 282,366 523,112 143,640 297,089 2249,881 12,442 96,001 3213,722 976,283 3226,163 762,754
3 262,197 485,747 133,380 280,523 2089,175 11,553 89,144 2988,825 911,203 3000,378 708,271
4 242,028 448,382 123,120 263,958 1928,469 10,664 82,287 2763,929 846,124 2774,593 653,789
5 221,859 411,017 112,860 247,392 1767,763 9,776 75,430 2539,032 781,044 2548,808 599,306
6 201,690 373,652 102,600 230,826 1607,058 8,887 68,572 2314,136 715,965 2323,022 544,824
7 181,521 336,287 92,340 214,261 1446,352 7,998 61,715 2089,239 650,885 2097,237 490,342
8 161,352 298,921 82,080 197,695 1285,646 7,109 54,858 1864,343 585,806 1871,452 435,859
9 141,183 261,556 71,820 181,129 1124,940 6,221 48,001 1639,446 520,726 1645,667 381,377
10 121,014 224,191 61,560 164,564 964,235 5,332 41,143 1414,549 455,647 1419,881 326,894
11 100,845 186,826 51,300 147,998 803,529 4,443 34,286 1189,653 390,567 1194,096 272,412
12 80,676 149,461 41,040 131,433 642,823 3,555 27,429 964,756 325,488 968,311 217,930
13 60,507 112,096 30,780 114,867 482,117 2,666 20,572 739,860 260,408 742,526 163,447
14 40,338 74,730 20,520 98,301 321,412 1,777 13,714 514,963 195,329 516,740 108,965
15 20,169 37,365 10,260 81,736 160,706 0,889 6,857 290,067 130,249 290,955 54,482
16 0,000 0,000 0,000 65,170 0,000 0,000 0,000 65,170 65,170 65,170 0,000

56
Tabel 13 Gaya Gaser pada Balok Prategang Akibat Beban Tidak Terfaktor
Gaya Gaser pada Balok Prategang Akibat Beban Tidak Terfaktor KOMB. I KOMB. III
KOMB. II KOMB. IV
Jarak Berat Mati MS + MA MS + MA
Berat Lajur Rem Angin Gempa MS + MA MS + MA
x Sendiri Tambahan + TD + + TD +TB
Balok "D" TD TB EW EQ + TD + EW + EQ
(m) MS MA TB + EW
(KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm)
(KNm) (KNm) (KNm) (KNm)
0 268,920 480,565 82,080 330,220 1428,496 11,849 109,716 2321,361 904,714 2333,210 672,361
1 252,113 450,530 76,950 313,654 1339,215 11,109 102,859 2180,349 852,243 2191,458 630,338
2 235,305 420,495 71,820 297,089 1249,934 10,368 96,001 2039,337 799,771 2049,705 588,316
3 218,498 390,459 66,690 280,523 1160,653 9,627 89,144 1898,325 747,300 1907,953 546,293
4 201,690 360,424 61,560 263,958 1071,372 8,887 82,287 1757,313 694,828 1766,200 504,271
5 184,883 330,389 56,430 247,392 982,091 8,146 75,430 1616,301 642,357 1624,448 462,248
6 168,075 300,353 51,300 230,826 892,810 7,406 68,572 1475,289 589,885 1482,695 420,226
7 151,268 270,318 46,170 214,261 803,529 6,665 61,715 1334,277 537,414 1340,943 378,203
8 134,460 240,283 41,040 197,695 714,248 5,925 54,858 1193,265 484,942 1199,190 336,180
9 117,653 210,247 35,910 181,129 624,967 5,184 48,001 1052,254 432,471 1057,438 294,158
10 100,845 180,212 30,780 164,564 535,686 4,443 41,143 911,242 379,999 915,685 252,135
11 84,038 150,177 25,650 147,998 446,405 3,703 34,286 770,230 327,528 773,933 210,113
12 67,230 120,141 20,520 131,433 357,124 2,962 27,429 629,218 275,056 632,180 168,090
13 50,423 90,106 15,390 114,867 267,843 2,222 20,572 488,206 222,585 490,428 126,068
14 33,615 60,071 10,260 98,301 178,562 1,481 13,714 347,194 170,113 348,675 84,045
15 16,808 30,035 5,130 81,736 89,281 0,741 6,857 206,182 117,642 206,923 42,023

57
Gaya Gaser pada Balok Prategang Akibat Beban Tidak Terfaktor KOMB. I KOMB. III
KOMB. II KOMB. IV
Jarak Berat Mati MS + MA MS + MA
Berat Lajur Rem Angin Gempa MS + MA MS + MA
x Sendiri Tambahan + TD + + TD +TB
Balok "D" TD TB EW EQ + TD + EW + EQ
(m) MS MA TB + EW
(KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm) (KNm)
(KNm) (KNm) (KNm) (KNm)
16 0,000 0,000 0,000 65,170 0,000 0,000 0,000 65,170 65,170 65,170 0,000

58
3. Gaya Prategang, Eksentrisitas dan Jumlah Tendon
a. Kondisi Awal (Saat Transfer)
Mutu beton = K - 500
Kuat tekan beton pada kondisi awal (saat transfer) = 33200 kPa
Kuat tekan beton (fc’) = 41500 kPa
Luas penampang atas (Wa) = 0,271 m3
Luas penampang (A) = 0,672 m2
Luas penampang bawah (Wb) = 0,291 m3
Jarak titik berat terhadap alas balok (Yb) = 0,820 m

Gambar 29 Diagram tegangan kondisi awal ( saat transfer )

Momen akibat berat sendiri balok ( Mbalok ) = 2151,36 kN.m


Ditetapkan jarak titik berat tendon terhadap alas (Zo)= 0,135 m
Eksentrisitas tendon (es )= Yb - Zo = 0,820 m – 0,135 m = 0,685 m
Dari gambar diatas didapatkan persamaan :
Tegangan diserat atas = -Pt/A + Pt x es/Wa – Mbalok/Wa
(Pt) = Mbalok /(es-Wa/A)
= 2151,36 kN.m /(0,685 m – 0,271 m3/0,672 m2)
= 7629,633 kN

59
Tegangan diserat bawah

( )

=
( )

= 7107,786 kN
Dari kedua persamaan diatas maka nilai (Pt) yang diambil adalah = 7107,786
kN

b. Kondisi Akhir
Jenis strands = Uncoated 7 Wire Super Strands ASTM A-416 grade 270
Kuat tarik strand ( fpu ) = 1840000 kPa
Tegangan leleh strand ( fpy ) = 0.85. fpu = 1564000 kPa
Diameter nominal strand = 0,0127 m atau ½″
Diameter selubung ideal = 0,084 m
Luas tampang strand = 0,00188 m2
Luas tampang nominal satu strand ( Ast ) = 0,00010 m2
Jumlah kawat untaian( strands cable ) = 19 Kawat untaian/tendon
Beban putus minimal satu strand ( Pbs ) = 184 kN
Beban putus satu tendon ( Pb1 ) = 3496 kN
Modulus elastisitas strand ( Es ) = 195000000 kPa

Gaya prategang saat jacking ( Pe )


(Pe) = ....................…….............................. Persamaan 1
( Pe ) = 0,8 x Pb1 x nt ............................................... Persamaan 2
Dari Persamaan (1) dan (2) diperoleh jumlah tendon yang diperlukan
Jumlah tendon (nt )= = 2,99 tendon

Jumlah strand (ns)= = 56,81 strand

Posisi baris tendon


Jumlah tendon (nt) = 3 tendon,
Jumlah strand (ns1) = 57 strands

60
Diameter selubung tendon = 84 mm

Persentase tegangan yang leleh yang timbul pada baja (% jackingforce)

Gaya prategang yang terjadi akibat jacking


Pj = Po x ns x Pbs = % x 57 x 184 = 8362,102 kN
Diperkiraan kehilangan tegangan( loss of presstres ) = 35 %
Gaya prategang akhir setelah kehilangan tegangan (loss of prestres)
sebesar 35 %
Peff = 65% x Pj = 65% x 8362,102 kN = 5435,366 kN

c. Pembesian Balok Prategang


Tulangan arah memanjang digunakan besi diameter= D13 mm
As = π/4 x D2 = 0,00013 m2
1) Luas tulangan bagian bawah
Luas tampang bagian bawah ( A bawah ) = 0,287 m2
Luas tulangan bagian bawah (As bawah)= 0,5% x Abawah = 0,001435 m2
Jumlah tulangan = (As bawah)/ π/4 x D2 = 10,811 buah
Dipakai tulangan 12 D13
2) Luas tulangan bagian atas
Luas tampang bagian atas( A atas ) = 0,209 m2
Luas tulangan bagian atas (As atas) = 0,5% x Aatas = 0,00105 m2
Jumlah tulangan = (As atas ) / π/4 x D2 = 7,873 buah
Dipakai tulangan 10 D13
3) Luas tulangan bagian tengah
Luas tampang bagian atas( A badan ) = 0,176 m2
Luas tulangan bagian atas (As badan) = 0,5% x A badan = 0,00088 m2
Jumlah tulangan = (As badan) / π/4 x D2 = 6,630 buah
Dipakai tulangan 8 D13

61
Gambar 30 Pembesian Balok Prategang

d. Posisi Tendon di Tengah Bentang

Gambar 31 Posisi Tendon di Tengah Bentang


Diambil jarak dari alas balok ke as baris tendon ke-1 (a) = 0,10 m
Jumlah tendon baris ke-1 (nt1) = 2 tendon, jumlah strand (ns) = 38 strand
Jumlah tendon baris ke-2 (nt3) = 1 tendon, jumlah strand ( ns ) = 19 strand

62
Jumlah tendon ( nt ) = 3 tendon, jumlah strand (ns ) = 57 strand
Eksentrisitas (es ) = 0,685 m
Zo = Yb – es = 0,820 m – 0,685 m = 0,135 m
Yd = jarak vertikal antara as ke as tendon.

Momen statis tendon terhadap alas:


ns x Zo = n1x a + n2x (a + yd)
yd = ns x (Zo – a) / n2 = 57 x ( 0,135 – 0,1 ) / 19 = 0,105 m
yd pakai = 0,150 m
Diameter selubung tendon ( dt ) = 0,084 m
Jarak bersih vertikal antara selubung tendon :
yd – dt = 0,150 – 0,084 = 0,066 m

e. Posisi Tendon di Tumpuan

Gambar 32 Posisi Tendon di Tumpuan

63
Tabel 14 Jumlah Tendon Terpakai
Jumlah tendon baris ke-1 nt1 1 tendon ns1 19 strands
Jumlah tendon baris ke-2 nt2 1 tendon ns1 19 strands
Jumlah tendon baris ke-3 nt3 1 tendon ns1 19 strands
nt 3 tendon ns 57 strands

Diambil jarak dari alas balok ke as baris tendon terbawah (a’) = 0,350m
Ye = letak titik berat tendon terhadap pusat tendon terbawah
Yb = 0,820 m
Momen statis tendon terhadap pusat tendon terbawah

Tabel 15 Momen statis tendon di tumpuan


ni yd’ ni x yd’
19 0 0
19 1 19
19 2 38
Total 57

∑ni x yd´/yd´ = 57
∑ni x yd’ = ns x ye
ye = yb – a´ = 0,820 m – 0,350 m = 0,470 m
ye/yd’ = (∑ni x yd’/yd’)/ns = 57/57 = 1,0
yd’ =ye/(ye/yd’) = 0,470 m /1,0 = 0,470 m
Zo = yb = a’+ye = a’+ye = 0,35 m + 0,470 m = 0,820 m

64
f. Eksentrisitas Masing – Masing Tendon
Tabel 3.16 Selisih posisi tendon di tumpuan dan di tengah bentang (fi)
Nomor Posisi tendon di fi
Posisi tendon di tumpuan Zi' Nomor Zi
Tendon tengah bentang Zi'-Zi
X = 0,00 (m) tendon (m)
X = 15,00
1 Z1' = a' + (2 x yd') 1,290 1 Z1 = a + yd 0,250 1,040
2 Z2' = a' + yd’ 0,820 2 Z2 = a 0,100 0,720
3 Z3' = a' 0,350 3 Z3 = a 0,100 0,250

g. Lintas inti Tendon


Panjang balok ( L ) = 32 m
Eksentrisitas ( es ) = ( f ) = 0,685 m

Persamaan lintas tendon ( Y ) =

Gambar 33 Persamaan parabola

Tabel 17 Persamaan lintasan tendon

Jarak Tinjau Persamaan lintasan tendon


(m) (m)
X Y
-0,25 -0,02316
0 0,0000
1 0,0830
2 0,1606
3 0,2328

65
Jarak Tinjau Persamaan lintasan tendon
(m) (m)
X Y
4 0,2997
5 0,3613
6 0,4175
7 0,4683
8 0,5138
9 0,5540
10 0,5888
11 0,6182
12 0,6423
13 0,6610

Xo = 0,25 L/2 + Xo = 16,25 m


eo = 0,027 es + eo = 0,712 m

⁄ ⁄

⁄ ⁄

g. Sudut Angkur

Persamaan lintas tendon (Y) =

( dy/dx) =

Untuk X = 0 ( Posisi di tumpuan ) dy/dx = 4 x fi / L


Persamaan sudut angkur α = ATAN (dy/dx)

Tabel 18 Sudut angkur

66
[Link] Eksentrisitas fi (m) dy/dx Sudut Angkur

1 f1 = 1,040 0,13 7,8946°


2 f2 = 0,720 0,09 5,4836°
3 f3 = 0,250 0,03125 1,90896°

h. Tata letak dan trace cable


Panjang bentang (L) = 32 m
fo = es = 0,685 m
yb = 0,820 m
Zi = Zi’- 4 * fi * X/L2 * (L-X)

Tabel 19 Trace masing – masing tendon


Jarak Tinjauan (m) Jarak dari tepi bawah (m)
(M) Z1 Z2 Z3
0 1.2900 0.8200 0,2431
1 1.1560 0.7272 0,2108
2 1.0312 0.6408 0,1808
3 0.9156 0.5608 0,1531
4 0.8093 0.4872 0,1275
5 0.7122 0.4200 0,1042
6 0.6244 0.3592 0,0831
7 0.5458 0.3048 0,0642
8 0.4765 0.2568 0,0475
9 0.4164 0.2152 0,0331
10 0.3656 0.1800 0,0208
11 0.3240 0.1512 0,0108
12 0.2916 0.1288 0,0031
13 0.2685 0.1128 - 0,0025
Dengan nilai :

67
Z1' 1,290 f1 1,040
Z2' 0,820 f2 0,720
Z3' 0,243 f3 0,250

Gambar 34 Posisi tendon di 0 m Gambar 35 Posisi tendon di 5,00 m

Gambar 36 Posisi tendon di 10,0 m Gambar 37 Posisi tendon di 13,0 m

68
1,40

1,20
Jarak dari Tepi Bawah
1,00

0,80
Z1
0,60 Z2
0,40 Z3

0,20

0,00
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Jarak Tinjau (m)

Gambar 38 Trace masing – masing tendon

1. Kehilangan Tegangan
a. Kehilangan tegangan akibat gesekan angur (Ancorage Friction)
Gaya prategang akibat jacking:

Kehilangan gaya akibat angkur diperhitungkan sebesar 3% dari gaya prategang


akibat jacking.

b. Kehilangan tegangan akibat gesekan kabel (Jack Friction)


Sudut lintas tendon dari ujung ke tengah :
θ BC =
θ AB =
Perubahan sudut total lintasan tendon :

Dari tabel 4.7 Desain Struktur Beton Prategang; TY Lin Ned dan H burns
halaman 96 untuk tendon yang diminyaki terlebih dahulu diperoleh :
Koefisien Wobble (β) = 0,0038
Koefisien Gesek (μ) = 0,1

69
Gaya pratekan akibat jacking setelah memperhitungkan loss of prestress akibat
angkur

Loss of prestress akibat gesekan kabel

Dengan e = 2,7183 (Bilangan Natural)


Untuk Lx = 13,25 m

Untuk Lx = 26,50 m

c. Kehilangan tegangan akibat pemendekan elastis (Elastic Shortering)


Jarak titik berat tendon terhadap titik berat tampang balok:

Momen inersia tampang balok beton (Ix) = 0,238 m4


Modulus elastisitas balok beton (Ec) = 30277630 kPa
Luas tampang balok beton (A) = 0,6723 m2
Modulus elastisitas baja prategang (strand) (Es) = 195000000 kPa
Jumlah total strand (ns) = 57 strands
Beban putus satu strand (Pbs) = 184 KN
Luas tampang nominal satu strand (Ast) = 0,00010 m2
Momen akibat berat sendiri balok (Mbalok) = 2151,36 KNm
Luas tampang tendon baja prategang

Modulus rasio antara baja prategang dengan balok prategang :

70
Fcir =

= 23,171 MPa

Es = Kes x n x fcir = 0,5 x 6,440 x 16,364 = 74,614 MPa

Fsi = = 1383,547 MPa

%Es =

d. Kehilangan Tegangan Akibat Pengangkuran (Anchoring)


Luas tampang tendon baja prategang (At) = 0,00570 m2
Modulus elastic baja prategang (Es) = 195000000 kPa
Gaya prategang akibat jacking, Pj = 7886,218 kN
Panjang tarik masuk diambil 2,5 mm (ΔL) = 0,0025 m
Gaya prategang akibat gesekan, Px = 5605,781 kN
Kehilangan gaya prategang per m panjang = P = = 24,871 N/mm

Lx = 13,250 m

Lset = √ = 10,570 m

ΔP = 2P Lset = 2 x 24,871 x 10,570 = 525,777 kN

%ΔP = 6,667 %

e. Kehilangan Tegangan Akibat Waktu


1) Pengaruh Susut (Shrinkage)
Berdasarkan buku Desain Struktur Beton Prategang TY Lin dan Ned H.
Burns :
ΣSH = 8,2 x 10-6 (1-0,06 V/S) (100-RH)
RH = 75%
Es = 195000 MPa
Waktu tunggu 30 hari, Ksh = 0,58

71
V = 0,672 x 30 = 20,169 m3
S = (2 x 0,672) + (2 x 45,05) + (21,20+18,55) = 131,19461 m2
V/S = 0,1537 m = 6,052 inch
ΣSH = 8,2 x 10-6 (1-0,075 (5,236)) (100-75) = 0,000124
SH = ΣSH x Ksh x Es = 0,000124 x 0,58 x 195000 = 14,024 MPa

Fsi = = 1383,547 MPa

%SH =

2) Pengaruh Rangkak (Creep)


Berdasarkan buku Drsain Struktur Beton Prategang TY Lin dan Ned H.
Burns :
Kcr untuk komponen pasca tarik = 1,6
Momen akibat berat sendiri balok ( Mbalok ) = 2151,360 kN.m
Momen akibat berat sendiri dan beban mati
tambahan (MDtotal) = 3182,201 kNm
Gaya prategang awal ( Pt ) = 5024,339 kN
n=6
Jarak titik berat tendon baja terhadap titik
berat tampang balok (es) = 0,685 m
Luas tampang balok beton ( A ) = 0,672 m2
Momen inersia tampang balok beton (Ix) = 0,23842 m4

Fcir =

= 11,18MPa

Fcds = = 9,143 MPa

Fsi = = 1383,547 MPa

CR = Kcr . n . (Fcir – Fcds)

72
= 1,6 x 6,44 x (11,18 – 9,143) = 33,6508 MPa

%CR = % = 2,4322 %

3) Kehilangan Tegangan Akibat Relaksasi Baja


Uncoated 7 wire Super Strand stress-relieved ASTM A-416 Grade 270.
Kre = 138 MPa
J = 0,15
fpu = 1840 MPa
fpi = 0,7 x fpu = 1288 MPa

, C = 1,0

RE = [138 – 0,15 (SH + CR + ES)] x C =[138 – 0,15(14,080 +33,6508


+74,6142)] x 1,0
RE = - 1990,32287 MPa

Fsi = = 1383,547 MPa

%RE = = - 143,856541 %

Kehilangan Prategang Total


= 5,393%+ 6,667 % + 1,0178 % + 2,078 % + 8,701 % =
888,3499 %
Cukup dekat dengan estimasi awal (kehilangan gaya prategang
akhir
= 35%) OK
Kontrol tegangan pada tendon baja pasca tarik segera setelah
penyaluran gaya prategang:
Tegangan ijin tendon baja pasca tarik = 0,70 x fpu
= 0,70 x 1840 MPa
= 1288 MPa
Tegangan yang terjadi pada tendon baja pasca tarik
fp = Peff /At
= 3842,174 kN / 0,0057 m2
= 674065,614 MPa < 1288 MPa (OK

73
2. Tegangan Yang Terjadi Pada Penampang Balok
Kuat tekan beton ( fc’ ) = 41500 kPa
Kuat tekan beton pada keadaan awal ( saat transfer ) fci’= x 41500 kPa
= 33200 kPa
Tegangan ijin beton pada saat penarikan ;
Tegangan ijin tekan fci = 0,6 x fci’ = 19920 kPa
Tegangan ijin tarik fti = 0,50 x √ = 2880,9 kPa
Tegangan ijin beton pada keadaan akhir ;
Tegangan ijin tekan fcs = 0,45 x fc’ = 18675 kPa
Tegangan ijin tarik fts = 0,5 x √ = 3221 kPa

a. Keadaan Awal
Pt = 5024,339 kN Wa = 0,271 m3
Mbalok = 2151,36 kNm Wb = 0,291 m3
A = 0,672 m2 es = 0,685 m

Gambar 39 Diagram tegangan saat transfer

Tegangan ijin tekan beton -0,6 x fci’ = - 19920 kPa

Tegangan diserat atas ( Pt ) =

= -2712,37033 kPa

74
Tegangan diserat bawah ( Pt ) =

= - 11910,7213 kPa
< -0,6 x fci’ = - 11910,7213 kPa (Aman)

b. Keadaan Setelah Loss of Prestressed


Tegangan ijin tekan beton – 0,45 x fc’ = 18675 kPa
Peff = 3842,174 kN Wa = 0,271 m3
Mbalok = 2151,36 kNm Wb = 0,291 m3
A = 0,672 m2 es = 0,685 m

Gambar 40 Diagram tegangan setelah loss of prestres

Tegangan di serat atas fa =

= - 3941,91503 kPa

Tegangan di serat bawah fb =

= - 7367,50158 kPa
< -0,45 x fc’ = -7367,50158 kPa (Aman)

75
c. Keadaan Setelah Plat Lantai Selesai Dicor (Beton Muda)
Tegangan ijin tekan beton – 0,45 x fc’ = 18675 kPa
Peff = 3842,174 kN Wa = 0,271 m3
Mbalok = 2151,36 kNm Wb = 0,291 m3
Mplat = 802,750 kNm Mbalok+plat = 2954,11 kNm
A = 0,670 m2 es = 0,685 m

Tegangan di serat atas fa =

= - 6903,89842 kPa

Tegangan di serat bawah fb =

= - 4606,85738 kPa
< -0,45 x fc’ = - 4606,85738 kPa (Aman)

d. Keadaan Plat dan Balok Menjadi Komposit


Tegangan ijin tekan beton – 0,45 x fc’ = 18675 kPa
Peff = 3842,174 kN Wa = 0,271 m3
Mbalok = 2151,36 kNm Wb = 0,291 m3
Mplat = 802,750 kNm Mbalok+plat = 2954,11 kNm
Ac = 0,990 m2 es = 0,685 m
Ybc =1,135 m Yb = 0,820 m
e’s = es + (Ybc –Yb) = 1,00 m W’ac = 0,790 m3
Wac =0,584 m3 Wbc = 0,394 m3

76
Gambar 41 Diagram tegangan setelah balok dan plat menjadi komposit

Tegang beton diserat atas plat

fac =

-2360,3263 kPa

Tegang beton diserat atas balok

f’ac =

- 2757,32463 kPa

Tegang beton diserat bawah balok

fbc =

= = - 6136,79052 kPa

< -0,45 x fc’ = - 6136,79052 kPa (Aman)

3. Tegangan Yang Terjadi Pada Balok Komposit


a. Tegangan akibat berat sendiri ( MS )
Momen akibat berat sendiri (Mms ) = 2570,321 kNm
W’ac = 0,790 m3 Wac = 0,584 m3
Wbc = 0,394 m3

77
Gambar 42 Diagram tegangan akibat berat sendiri

Tegangan beton di serat atas plat (fac) = - Mms/Wac= - 4401,235 kPa


Tegangan beton di serat atas balok (f’ac) = - Mms/W’ac = - 3252,204 kPa
Tegangan beton di serat bawah balok (fbc) = Mms/Wbc = 6528,975 kPa

b. Tegangan akibat beban mati tambahan (Ma)


Momen akibat berat sendiri (Mma ) = 431,88 kNm
W’ac = 0,790 m3 Wac =0,584 m3
Wbc = 0,394 m3

Gambar 43 Diagram Tegangan Akibat Beban Mati Tambahan

Tegangan beton di serat atas plat (fac) = -Mma/Wac = -739,5205 kPa


Tegangan beton di serat atas balok (f’ac) = -Mma/W’ac = -545,9924 kPa
Tegangan beton di serat bawah balok (fbc) = -Mma/Wbc = 1096,142 kPa

78
c. Tegangan akibat susut dan rangkak (SR)
1) Tegangan akibat susut beton
Modulus elastis plat beton E (plat) = 4700√ (plat)
= 4700√
= 25742,960 Mpa
Modulus elastis beton prategang E (balok) = 4700√ (balok)

= 4700√
= 30277,632 Mpa

Nilai perbandingan modulus elastis plat dan beton n =

= 0,8502303
Lebar plat lantai jembatan efektif, Beff = 1,590 m
Tebal plat lantai ho = 0,2 m Yac = 0,765 m
Aplat = Beff x ho = 0,318 m2 Eplat = 25742,960 kPa
∑SH = 0,000124 Ac = 0,990 m2
Ps = Aplat x Eplat x ∑SH x n
= 318000 mm2 x 25742,960 N/ mm2 x 0,000124 x 0,8502303
= 863,066 kN

e’ = Yac -

= 0,765 -

= 0,665 m

Wac = 0,584 m3
Wbc = 0,394 m3
W’ac = 0,790 m

79
Gambar 44 Diagram Tegangan Akibat Susut Beton

Tegangan beton di serat atas plat (fac) = –

= –

= -110,988 kPa

Tegangan beton di serat atas balok (f’ac) = –

= –

= 189,675 kPa

Tegangan beton di serat bawah balok (fbc) = –

= +

= 2328,481 kPa

2) Tegangan akibat rangkak


Pt = 7629,633 kN Peff = 5435,366 kN
e’s = es + (Ybc - Yb) = 1,000 m Mbalok+plat = 2954,11 kNm
3
Wbc = 0,394 m W’ac = 0,790 m3
Ac = 0,990 m2 Wac = 0,584 m3

80
Gambar 45 Diagram Tegangan Rangkak Beton

a) Tegangan pada balok sebelum loss of prestressed (σ1)


Tegangan beton di serat atas plat

(fac) =

= 299,3328068 kPa

Tegangan beton di serat atas balok

(f’ac) =

= - 1790,804 kPa
Tegangan beton di serat bawah balok

(fbc) =

= - 19573,511 kPa

b) Tegangan pada balok setelah Tegangan pada balok sebelum loss of


prestressed (σ2)
Tegangan pada balok di serat atas plat

(fac) =

= - 1241,54259 kPa

81
Tegangan beton di serat atas balok

(f’ac) =

= - 2983,949 kPa
Tegangan beton di serat bawah balok

(fbc) =

= - 8629,779 kPa

Tegangan pada beton akibat rangkak


Tegangan beton di serat atas plat (fac) = σ2 – σ1 = - 1540,8754 kPa
Tegangan beton di serat atas balok (f’ac) = σ2 – σ1 = - 1193,146 kPa
Tegangan beton di serat bawah balok (fbc) = σ2 – σ1 = - 10943,732 kPa
Tegangan pada beton akibat susut dan rangkak
Tegangan beton di serat atas plat (fac) = -110,988 + (-1540,8754)
= - 1651,864 kPa
Tegangan beton di serat atas balok (f’ac) = 189,098 + (-1193,146)
= - 1003,471 kPa
Tegangan beton di serat bawah balok (fbc) = 2328,481 + (- 10943,732)
= -8615,251 kPa
c) Tegangan akibat prategang (Pr)
e’s = es + (Ybc - Yb) = 1,000 m Ac = 0,990 m3
Peff = 5435,366 kN W’ac = 0,790 m3
Wac = 0,584 m3 Wbc = 0,394 m3

82
Gambar 46 Diagram Tegangan Prategang

Tegangan beton di serat atas plat (fac) =

= 3816,864946 kPa

Tegangan beton di serat atas balok (f’ac) =

= 1387,049952 kPa

Tegangan beton di serat bawah balok (fbc) =

= -19285,61 kPa
d) Tegangan akibat beban lajur “D” (TD)
Momen akibat beban lajur (MTD) = 3163,120 kNm
W’ac = 0,790 m3 Wac = 0,584 m3
Wbc = 0,394 m3

83
Gambar 47 Diagram Tegangan Akibat Beban Lajur “D”

Tegangan beton di serat atas plat (fac) = - MTD / Wac


= - 3163,120 / 0,584
= - 5416,301 kPa

Tegangan beton di serat atas balok (f’ac) = - MTD / W’ac


= - 3163,120 / 0,790
= - 4002,267 kPa
Tegangan beton di serat bawah balok (fbc) = - MTD / Wbc
= - 3163,120 / 0,394
= 8028,223 kPa

e) Tegangan akibat gaya rem (TB)


Momen akibat gaya rem (MTB) = 89,281 kNm
W’ac = 0,790 m3 Wac = 0,584 m3
Wbc = 0,394 m3

Gambar 48 Diagram Tegangan Akibar Gaya Rem

84
Tegangan beton di serat atas plat (fac) = - MTB / Wac
= - 89,281 / 0,584
= - 152,8783957kPa
Tegangan beton di serat atas balok (f’ac) = - MTB / W’ac
= - 89,281 / 0,790
= - 112,9664069 kPa
Tegangan beton di serat bawah balok (fbc) = MTB / Wbc
= 89,281 / 0,394
= 226,60148 kPa

f) Tegangan akibat pengaruh temperatut (ET)


Gaya internal akibat perbedaan temperature :
Pt = At x Ebalok x β x (Ta + Tb) / 2
Perbedaan temperature (∆T) = 15°
Modulus elastisitas balok (Ebalok) = 30277600 kPa
Koefisien muai (β) = 0,0000111/°C
At = luas tampang yang ditinjau
Ta = perbedaan temperatur gradient bagian atas
Tb = perbedaan temperatur gradient bagian bawah

Gambar 49 Diagram Tegangan Akibar Pengaruh Temperatur

85
Wac = 0,584 m3 Wbc = 0,394 m3
Ybc = 1,135 m Yac = 0,765 m
W’ac = 0,790 m3 Ac = 0,99 m2
Beff = 1,590 m h = 1,70 m
Tabel 20 Momen Akibat Temperatur
Temperatur
Lebar Tebal Luas (Ta+Tb)/ Momen
Atas Bawah Gaya Lengan Terhadap Titik Berat Zi
No b H At 2 Mpt
1a 1b Pt (Kn) Penampang Balok Komposit (kNm)
(m) (m) (m2) (°C) (kNm)
(°C) (°C)
0 1.590 0.200 0.318 15.00 10.00 12.50 1335.923 Z0 = Yac - h0/2 0.665 888.3891
1 0.640 0.070 0.045 10.00 9.30 9.65 145.943 Z1 = Yac - h0-h1/2 0.530 77.3500
2 0.800 0.130 0.104 9.30 8.00 8.65 302.339 Z2 = Yac - h0 - h1 - h2/2 0.430 130.0057
3 0.300 0.120 0.036 8.00 6.80 7.40 89.532 Z3 = Yac - h0 - h1 - h2 - h3/3 0.305 27.3073
4 0.200 0.650 0.13 8.00 0 4.00 174.762 Z4 = Yac - h0 - h1 - h2 - h4/3 0.040 6.9905
1130.042
∑ Pt = 2048.500 ∑Mpt=
5

Eksentrisitas ep = ∑ Mpt / ∑ Pt = 0,552 m


Tegangan beton di serat atas plat
fca = - Ebalok x β x ∆T + ∑ Pt/Ac + ∑ Pt x ep/Wac = - 1037,024 kPa
Tegangan beton di serat atas balok
f’ca = - Ebalok x β x ∆T + ∑ Pt/Ac + ∑ Pt x ep/W’ac = - 1543,403 kPa
Tegangan beton di serat bawah balok
fcb = ∑ Pt/Ac - ∑ Pt x ep/Wbc = - 798,936 kPa

g) Tegangan akibat beban angina (Ew)


Momen akibat beban angina (MEW) = 94,739 kNm
W’ac = 0,790 m3 Wac = 0,584 m3
Wbc = 0,394 m3

86
Gambar 50 Diagram Tegangan Akibat Beban Angin

Tegangan beton di serat atas plat (fac) = - MGW / Wac


= - 94,739 / 0,584
= - 162,317 kPa
Tegangan beton di serat atas balok (f’ac) = - MGW / W’ac
= - 94,739 / 0,790

= - 119,941 kPa
Tegangan beton di serat bawah balok (fbc) = MGW / Wbc
= 94,739 / 0,394
= 240,592 kPa

h) Tegangan akibat beban gempa (EQ)


Momen akibat beban gempa (MEQ) = 877,726 kNm
W’ac = 0,790 m3 Wac = 0,584 m3
Wbc = 0,394 m3

87
Gambar 51 Diagram Tegangan Akibat Beban Gempa
Tegangan beton di serat atas plat (fac) = - MEQ / Wac
= - 877,726 / 0,584
= - 1502,956 kPa
Tegangan beton di serat atas balok (f’ac) = - MEQ / W’ac
= - 877,726 / 0,790
= - 1110,579 kPa
Tegangan beton di serat bawah balok (fbc) = MEQ / Wbc
= 877,726 / 0,394
= 2227,732 kPa
7. Kontrol Tegangan Kombinasi Tegangan
Mutu beton = K-500
Kuat tekan beton fc’ = 41500 kPa
Tegangan ijin beton pada keadaan akhir :
Tegangan ijin tekan fcs = 0,45 x fc’ = 18675 kPa
Tegangan ijin tarik fts = 0,5 x √ = 101,858 kPa

Tabel 21 Kombinasi Tegangan Untuk Tegangan Ijin


Kombinasi Pembebanan
Aksi/Beban Simbol
1 2 3 4 5
A. Aksi Tetap
berat sendiri MS √ √ √ √ √
beban mati tambahan MA √ √ √ √ √
susut dan rangkak SR √ √ √ √ √
prategang PR √ √ √ √ √
B. Aksi Transien
beban laju "D" TD √ √ √ √
gaya rem TB √ √ √ √
C. Aksi Lingkungan
pengaruh temperatur ET √ √
beban angin EW √ √
beban gempa EQ √

88
a. Kontrol tegangan kombinasi 1
Tabel 22 Kontrol Tegangan Kombinasi 1
Sim
Aksi/Beban fac (kPa) f'ac (kPa) fbc (kPa)
bol
A. Aksi Tetap
berat sendiri MS 4402.490 3252,204 6528,975
beban mati tambahan MA -739.521 -545.992 1096.142
susut dan rangkak SR -1651,864 -1003,471 -8615,251
prategang PR 3816,865 1387,050 -19285,614
B. Aksi Transien
beban laju "D" TD -5416,301 -4002,267 8028,223
gaya rem TB -151,878 -112,966 226,601
C. Aksi Lingkungan
pengaruh temperatur ET - - -
beban angin EW - - -
beban gempa EQ - - -
tegangan total kombinasi -257,536 -1025,443 -12020,924
keterangan < fc' (AMAN) < fc' (AMAN) < fc' (AMAN)

b. Kontrol tegangan kombinasi 2


Tabel 23 Kontrol Tegangan Kombinasi 2
Sim
Aksi/Beban fac (kPa) f'ac (kPa) fbc (kPa)
bol
A. Aksi Tetap
berat sendiri MS 4401,235 3252,204 6528,975
beban mati tambahan MA -739,521 -545,992 1096,142
susut dan rangkak SR -1651,864 -1003,471 -8615,251
prategang PR 3816,865 1387,050 -19285,614
B. Aksi Transien
beban laju "D" TD -5416,301 -4002,267 8028,223

89
gaya rem TB -152,878 -112,966 226,601
C. Aksi Lingkungan
pengaruh temperatur ET -1037,024 -1542,196 -798,936
beban angin EW - - -
beban gempa EQ - - -
tegangan total kombinasi -779,489 -2567,639 -12819,860
keterangan < fc' (AMAN) < fc' (AMAN) < fc' (AMAN)

c. Kontrol tegangan kombinasi 3


Tabel 23 Kontrol Tegangan Kombinasi 3
Sim
Aksi/Beban fac (kPa) f'ac (kPa) fbc (kPa)
bol
A. Aksi Tetap
berat sendiri MS 4401,235 3252,204 6528,975
beban mati tambahan MA -739,521 -545,992 1096,142
susut dan rangkak SR -1651,864 -1003,471 -8615,251
prategang PR 3816,865 1387,050 -19285,614
B. Aksi Transien
beban laju "D" TD -5416,301 -4002,267 8028,223
gaya rem TB -152,878 -112,966 226,601
C. Aksi Lingkungan
pengaruh temperatur ET - - -
beban angin EW -162,317 -119,941 240,592
beban gempa EQ - - -
tegangan total kombinasi 257,536 -1025,443 -12020,924
keterangan < fc' (AMAN) < fc' (AMAN) < fc' (AMAN)

90
[Link] tegangan kombinasi 4
Tabel 25 Kontrol tegangan kombinasi 4

Aksi/Beban Simbol fca (kPa) f41ca (kPa) fcb (kPa)


[Link] Tetap
Berat sendiri MS 4401,235 3252,204 6528,975
Beban mati tambahan MA -739,521 -545,992 1096,142
Susut dan rangkak SR -1651,864 -1003,471 -8615,251
Prategang PR 3816,865 1387,050 -19285,614
B. Aksi Transien
Beban lajur "D" TD -5416,301 -4002,267 8028,223
Gaya rem TB -152,878 -112,966 226,601
C. Aksi Lingkungan
Pengaruh temperatur ET - - -
Beban angin EW -162,317 -119,941 240,592
Beban gempa EQ - - -
Tegangan total kombinasi 95,219 -1145,384 -11780,332
Keterangan < fc'(AMAN) < fc'(AMAN) < fc'(AMAN)

[Link] tegangan kombinasi 5


Tabel 26 Kontrol tegangan kombinasi 5

Aksi/Beban Simbol fca (kPa) f41ca (kPa) fcb (kPa)


[Link] Tetap
Berat sendiri MS 4401,234589 3252,203523 6528,974593
Beban mati tambahan MA -739,5205479 -545,9924147 1096,142132
Susut dan rangkak SR -1651,863593 -1003,470876 -8615,250922
Prategang PR 3816,864946 1387,049952 -19285,61422
B. Aksi Transien
Beban lajur "D" TD - - -

91
Gaya rem TB - - -
C. Aksi Lingkungan
Pengaruh temperatur ET - - -
Beban angin EW - - -
Beban gempa EQ -1502,956 -1110,579 2227,732
Tegangan total kombinasi 4720.164 4323,759 1979,211
Keterangan < fc'(AMAN) < fc'(AMAN) < fc'(AMAN)

8. Pembesian End Block

Gambar 52 Sambungan tekan pada segmental

Tabel 27 Gaya prategang akibat jacking


Angkur (VSL)
No
Dim Dim(mm ns Pbs Po (%) Pj (kN) Sudut
Kabel
(mm) ) (strand) (kN) (0)
1 265 250 19 184 79,730 8362,102 7,895
2 265 250 19 184 79,730 8362,102 5,484
1 265 250 19 184 79,730 8362,102 1,909

92
Gambar 53 Momen statis penampang balok

Letak titik berat Ya = 0,880 m


Ya = 0,820 m

Tabel 28 Momen Statis Luas Bagian Atas (Sxa)


Lebar b Tinggi h Luas A Lengan Momen
No
(m) (m) (m2) Y (m) A*Y
1 0,64 0,07 0,0448 0,845 0,03786
2 0,80 0,13 0,104 0,815 0,08476
3a 0,30 0,12 0,036 0,820 0,01476
3b 0,30 0,12 0,036 0,820 0,01476
4 0,2 0,68 0,136 0,540 0,07344
Sxa = 0,18458

Tabel 28 Momen Statis Luas Bagian Bawah (Sxb)


Lebar b Tinggi h Luas A Lengan Momen
No
(m) (m) (m2) Y (m) A*Y
4 0,2 0,57 0,1140 0,285 0,03249
5a 0,25 0,25 0,0313 0,487 0,01523
5b 0,25 0,25 0,0313 0,487 0,01523
6 0,70 025 0,1750 0,695 0,12163

93
Sxb = 0,18458

a. Perhitungan Sengkang Untuk Bursting Force

Gambar 54 Sengkang Bursting Force


Rasio perbandingan lebar plat angkur untuk sengkang arah vertikal (ra) = a1/1
Perbandingan lebar plat angkur untuk sengkang arah horizontal (rb) = a1/a
Bursting force arah vertikal (Pbta) = 0,30 x (1-ra) x Pj
Bursting force arah horizontal (Pbtb) = 0,30 x (1-rb) x Pj
Luas tulangan sengkang arah vertikal yang diperlukan (Ara) =Pbta/(0,85 x fs)
Luas tulangan sengkangan arah horizontal yang diperlukan (Arb) = Pbtb/(0,85 x
fs )
fs = tegangan ijin tarik baja sengkang,untuk baja sengkang U-32
Tegangan leleh baja sengkang fy =320000 kPa
Tegangan ijin baja sengkang fs = 0,578 x fy = 184960 kPa
Digunakan sengkang tertutup berdiameter : 2 D13 mm
Luas penampang sengkang (As) = π /4 x D2 = 265,45 mm2
Jumlah sengkang arah vertikal yang diperlukan (n) – Ara/As
Jumlah sengkang arah horizontal yang diperlukan (n) = Arb/As
Tabel 30 Perhitungan sengkang arah Vertikel
Angkur Angkur Jumlah
No
Hidup Mati Pj al a(mm) ra Pbta Ara Sengkang
Kabel 2
Dim(mm) Dim(mm) (kN) (mm) (kN) (mm ) (n)

1 265 250 8362,10 265 340 0,779 1,3259E-


553,374 0,003520
1694 05

94
2 265 250 8362,10 265 340 0,779 1,3259E-
553,374 0,003520
1694 05
3 265 250 8362,10 265 340 0,779 1,3259E-
553,374 0,003520
1694 05

Tabel 31 Perhitungan sengkang arah Horizontal


Angkur Angkur Jumlah
No
Hidup Mati Pj al a(mm) ra Pbta Ara Sengkang
Kabel
Dim(mm) Dim(mm) (kN) (mm) (kN) (mm2) (n)

1 265 250 8362,101 1,3259E-


265 340 0,779 553,374 0,003520
694 05
2 265 250 8362,101 1,3259E-
265 340 0,779 553,374 0,003520
694 05
3 265 250 8362,101 1,3259E-
265 340 0,779 553,374 0,003520
694 05

[Link] sengkang yang digunakan untuk Brusting force


Tabel 32 Brusting Force Jumlah sengkang
No. Angkur Angkur Jumlah
kabel Hidup Mati Sengkang
(VSL) (VSL) (n)
1 265 250 2
2 265 250 2
3 265 250 2

95
Gambar 55 Tulangan bursting steel terpasang

9. Tulangan Geser
M = Momen akibat beban
V = Gaya geser akibat beban
Persamaan lintasan tendon (y) = 4 x f x X/L2 x (L-X)
Sudut kemiringan tendon (α) = ATAN (4 x f x (L-2X)/L2)
Komponen gaya arah X (Px) – Peff x cos α
Komponen gaya arah Y (Py) = x sin α
Resultan gaya geser (Vr) = V-Py
Tegangan geser yang terjadi (fv) = Vr x Sx/(b x 1x)

Gambar 56 Tinjauan tulangan geser


Untuk tinjauan diatas garis netral
Tegangan beton di serat atas (fa) = -Px / A + Px x e/Wa – M/Wa
Sudut bidang geser (γ) = ½ ATAN (2 x fv/fa)
Jarak sengkang yang diperlukan (as) = fa x At/(fv x b x tan γ )

96
Untuk tinjau dibawah garis netral
Tegangan beton di serat bawah (fb) = -Px /A + Px x c/Wb- M/Wb
Sudut bidang geser (γ) = ½ ATAN (2 x fv/fb)
Jarak sengkang yang diperlukan (as) = fa x At/(fv x b x tan γ )
At = Luas tulangan geser
Untuk tulangan geser digunakan tulangan berdiameter D-13
At = π/4 x D2 = 132,732 mm2
f = 0,685 m L = 32 m
Peff = 5435,366 kN b = 0,2 m
A = 0,6723 m2 1x = 0,238 m4
Wa = 0,27102 m3 Wb = 0,29078 m3

97
Tabel 33 Perhitungan jarak tulangan geser di atas garis netral
Kombinasi III Pers (1) Pers (2) Pers (3) Pers (4) Pers (5) Pers (6) Pers (7) Pers (8) Pers (9)
X
Momen Geser E α Px Py Vr fv fa γ As
(m)
(kN.m) (kN) (m) (rad) (kN) (kN) (kN) (kPa) (kPa) (rad) (m)
0 0,000 3677,734 0,000 0,085 5415,544 463,770 3213,964 14252,480 -8055,250 -0,648 0,005
1 1073,902 3451,949 0,083 0,080 5417,933 434,976 3016,973 13378,912 -10362,810 -0,601 0,006
2 2082,724 3226,163 0,161 0,075 5420,171 406,145 2820,018 12505,507 -12535,687 -0,553 0,006
3 3026,467 3000,378 0,233 0,069 5422,256 377,280 2623,098 11632,256 -14574,144 -0,506 0,007
4 3905,131 2774,593 0,300 0,064 5424,190 348,383 2426,210 10759,147 -16478,425 -0,459 0,007
5 4718,715 2548,808 0,361 0,059 5425,970 319,456 2229,352 9886,170 -18248,759 -0,413 0,008
6 5467,219 2323,022 0,417 0,053 5427,597 290,501 2032,521 9013,314 -19885,354 -0,368 0,009
7 6150,644 2097,237 0,468 0,048 5429,071 261,522 1835,715 8140,568 -21388,402 -0,325 0,009
8 6768,990 1871,452 0,514 0,043 5430,390 232,521 1638,931 7267,921 -22758,078 -0,284 0,011
9 7322,256 1645,667 0,554 0,037 5431,555 203,499 1442,168 6395,362 -23994,536 -0,245 0,012
10 7810,443 1419,881 0,589 0,032 5432,566 174,460 1245,421 5522,881 -25097,916 -0,207 0,014
11 8233,550 1194,096 0,618 0,027 5433,421 145,407 1048,690 4650,466 -26068,337 -0,171 0,016
12 8591,577 968,311 0,642 0,021 5434,121 116,340 851,971 3778,106 -26905,900 -0,137 0,020
13 8884,526 742,526 0,661 0,016 5434,666 87,264 655,262 2905,791 -27610,688 -0,104 0,026
14 9112,394 516,740 0,674 0,011 5435,055 58,180 458,560 2033,508 -28182,766 -0,072 0,038

98
Kombinasi III Pers (1) Pers (2) Pers (3) Pers (4) Pers (5) Pers (6) Pers (7) Pers (8) Pers (9)
X
Momen Geser E α Px Py Vr fv fa γ As
(m)
(kN.m) (kN) (m) (rad) (kN) (kN) (kN) (kPa) (kPa) (rad) (m)
15 0,000 3677,734 0,000 0,085 5415,544 463,770 3213,964 14252,480 -8055,250 -0,648 0,005
16 1073,902 3451,949 0,083 0,080 5417,933 434,976 3016,973 13378,912 -10362,810 -0,601 0,006

Tabel 34 Perhitungan tulangan geser di bawah garis netral


Kombinasi III Pers (1) Pers (2) Pers (3) Pers (4) Pers (5) Pers (6) Pers (7) Pers (8) Pers (9)
X
Momen Geser E α Px Py Vr fv fa γ As
(m)
(kN.m) (kN) (m) (rad) (kN) (kN) (kN) (kPa) (kPa) (rad) (m)
0 0,000 3677,734 0,000 0,085 5415,544 463,770 3213,964 14252,480 -8055,250 -0,648 0,005
1 1073,902 3451,949 0,083 0,080 5417,933 434,976 3016,973 13378,912 -10362,810 -0,601 0,006
2 2082,724 3226,163 0,161 0,075 5420,171 406,145 2820,018 12505,507 -12535,687 -0,553 0,006
3 3026,467 3000,378 0,233 0,069 5422,256 377,280 2623,098 11632,256 -14574,144 -0,506 0,007
4 3905,131 2774,593 0,300 0,064 5424,190 348,383 2426,210 10759,147 -16478,425 -0,459 0,007
5 4718,715 2548,808 0,361 0,059 5425,970 319,456 2229,352 9886,170 -18248,759 -0,413 0,008
6 5467,219 2323,022 0,417 0,053 5427,597 290,501 2032,521 9013,314 -19885,354 -0,368 0,009
7 6150,644 2097,237 0,468 0,048 5429,071 261,522 1835,715 8140,568 -21388,402 -0,325 0,009
8 6768,990 1871,452 0,514 0,043 5430,390 232,521 1638,931 7267,921 -22758,078 -0,284 0,011
9 7322,256 1645,667 0,554 0,037 5431,555 203,499 1442,168 6395,362 -23994,536 -0,245 0,012

99
10 7810,443 1419,881 0,589 0,032 5432,566 174,460 1245,421 5522,881 -25097,916 -0,207 0,014
11 8233,550 1194,096 0,618 0,027 5433,421 145,407 1048,690 4650,466 -26068,337 -0,171 0,016
12 8591,577 968,311 0,642 0,021 5434,121 116,340 851,971 3778,106 -26905,900 -0,137 0,020
13 8884,526 742,526 0,661 0,016 5434,666 87,264 655,262 2905,791 -27610,688 -0,104 0,026
14 9112,394 516,740 0,674 0,011 5435,055 58,180 458,560 2033,508 -28182,766 -0,072 0,038
15 9275,184 290,955 0,682 0,005 5435,288 29,091 261,864 1161,248 -28622,180 -0,040 0,066
16 9372,893 65,170 0,685 0,000 5435,366 0,000 65,170 289,000 -28928,957 -0,010 0,265

100
Tabel 35 Sengkang / tulangan geser
Jarak sengkang D-13
X Tinjauan Tinjauan Jarak
(m) Geser 1 Geser 2 Yang diambil
(mm) (mm) (mm)
0 5 5 50
1 6 6 50
2 6 6 50
3 7 7 50
4 7 7 100
5 8 8 100
6 9 9 150
7 9 9 150
8 11 11 200
9 12 12 200
10 14 14 200
11 16 16 250
12 20 20 250
13 26 26 250
14 38 38 250
15 66 66 250

10. Penghubung Geser (Sher Conector)


Tegangan geser horizontal akibat gaya lintang pada penampang yang ditinjau
dihitung dengan rumus :
fv = Vi x Sx/(bv x lxc)
Vi = gaya lintang pada penampang yang ditinjau
bv = Lebar bidang gesek
Sx = Momen statis luasan plat terhadap titik berat penampang komposit
Sx = beff x ho x (Yac – ho/2)

101
Beff = Lebar efektif plat
ho = Tebal plat
lxc = Inersia penampang balok komposit
Luas total sher conector
Ast = ns x As
Ns = Jumlah shear conector
As = Luas satu shear conector
Jarak antar shear conector,dihitung dengan rumus
as = fs x Ast x kt/(fv v bv)
kf = Koefisien gesek pada bidang kontak (1-1,4)
fs = Tegangan ijin baja shear cornector
fs = 0,578 x fy
fci = tegangan ijin beton balok komposit

Gambar 57 Tulangan shear conector

Dimension
Beff = 1,590 m
Ho = 0,20 m
Bv = 0,64 m

102
Section properties
Yac = 0765
Ixc = 0,447 m4
Kuat tekan beton (f9 e) = 41500 kPa
Tegangan ijin beton (fci) = 0,030 x f9e = 12450 kPa
Tegangan ijin geser (fvi) = 0,20 x f9e = 2490 kPa

Mutu baja U -32


Tegangan leleh (fy) = U x 104 = 320000 kPa
Tegangan ijin (fs) = 0,578 x fy = 184960 kPa
Koefisien gesek (kf) = 1

Untuk shear conector digunakan tulangan D 13


Jumlah besi tulangan ns = 2
As = π/4 * D2 = 0,00013 m2
Ast = ns * As = 0,00027 m2
Sx = beff * ho * (Yac – ho/2 ) = 0,21150 m3

103
Tabel 36 Perhitungan Jarak shear conector
X KOMB I KOMB II KOMB III KOMB I KOMB II KOMB III Kontrol KOMB I KOMB II KOMB III Diambil jarak shear
(m) Vi (kN) Vi (kN) Vi (kN) fv (kN) fv (kN) fv (kN) Fvi = 2490 kN a1 (m) a2 (m) a3 (m) conector (mm)
0 1293.866 1050.696 1307.196 957.045 777.177 966.905 < fvi (aman) 0.080 0.099 0.079 50
1 1211.953 984.995 1224.395 896.455 728.579 905.658 < fvi (aman) 0.086 0.105 0.085 50
2 1130.040 919.293 1141.593 835.866 679.981 844.412 < fvi (aman) 0.092 0.113 0.091 50
3 1048.127 853.591 1058.791 775.277 631.383 783.165 < fvi (aman) 0.099 0.122 0.098 100
4 966.214 787.889 975.989 714.687 582.785 721.918 < fvi (aman) 0.107 0.132 0.106 100
5 884.301 722.188 893.188 654.098 534.187 660.672 < fvi (aman) 0.117 0.144 0.116 100
6 802.388 656.486 810.386 593.509 485.588 599.425 < fvi (aman) 0.129 0.158 0.128 100
7 720.475 590.784 727.584 532.919 436.990 538.178 < fvi (aman) 0.144 0.176 0.143 150
8 638.562 525.082 644.782 472.330 388.392 476.932 < fvi (aman) 0.162 0.198 0.161 150
9 556.648 459.381 561.981 411.741 339.794 415.685 < fvi (aman) 0.186 0.226 0.185 200
10 474.735 393.679 479.179 351.151 291.196 354.438 < fvi (aman) 0.218 0.263 0.216 200
11 392.822 327.977 396.377 290.562 242.598 293.192 < fvi (aman) 0.264 0.316 0.262 200
12 310.909 262.275 313.575 229.973 193.999 231.945 < fvi (aman) 0.334 0.395 0.331 200
13 228.996 196.574 230.774 169.383 145.401 170.698 < fvi (aman) 0.453 0.528 0.449 200
14 147.083 130.872 147.972 108.794 96.803 109.452 < fvi (aman) 0.705 0.793 0.701 200
15 65.170 65.170 65.170 48.205 48.205 48.205 < fvi (aman) 1.592 1.592 1.592 200

104
11. Lendutan Balok
a. Lendutan Pada Balok Prestress (Sebelum Komposit)
Ebalok = 30277600,00 kPa
Ix = 0,238 m4
L = 32 m

1. Lendutan Pada Keadaan Awal (Transfer)


Pt = 7107,786 kN
Mbalok = 2151,36 kNm
es = 0,685 m

Qpt1 = = 38,043 kN/m

Qbalok = = 16,808 kN/m

( )
= = -0,040 m ke atas

2. Lendutan Setelah Loss Of Prestress


Peff = 5435,366 kN
Mbalok =2151,36 kNm
es = 0,685 m

Qpeff = = 29,092 kN/m

Qbalok = = 23,079 kN/m

( )
= = -0,023 m ke atas

3. Lendutan Setelah Plat Selesai Dicor (Beton Muda)


Peff = 5435,366 kN
Mbalok+plat = 2954,11 kNm
es = 0,685 m

Qpeff = = 29,092 kN/m

Qbalok+plat = = 23,079 kN/m

105
( )
= = -0,011 m ke atas

4. Lendutan Setelah Plat dan Beton Menjadi Komposit


Peff = 5435,366 kN
Mbalok+plat =2954,11 kNm
e’s = es +(ybc - yb) = 1,00 m
Ixc = 0,447 m4

Qpeff = = 42,464 kN/m

Qbalok+plat = = 23,079 kN/m

( )
= = -0,037 m ke atas

b. Lendutan Pada Balok Komposit


Section Properties :
Ebalok = 30277600,00 kPa
L = 32 m
e’s = 1,0 m
Wac = 0,584 m3
Ixc = 0,44673 m4
Peff = 5435,366 kN
Ac = 0,990 m2
Wbc = 0,394 m3

1. Lendutan Akibat Berat Sendiri (Ms)


QTD = 37,365 kN/m

= = 0,038 m ke bawah

2. Lendutan Akibat Beban Mati Tambahan (Ma)


QMA = 10,26 kN/m

106
= = 0,010 m ke bawah

3. Lendutan Akibat Prestress (Pr)


Peff = 5435,366 kN
e’s = 1,0 m

Qpeff = = 42.464 kN/m

= = -0,043m ke atas

4. Lendutan Akibat Susut dan Rangkak (Sr)


a. Lendutan Akibat Susut (shrinkage)
Ps = 863,066 kN
e’ = 0,665 m
Qps = = 4,484 kN/m

= = 0,004 m

b. Lendutan Akibat Rangkak (Creep)


Peff = 5435,366 kN
Pt = 7107,789 kN
e’ = 0,665 m
Lendutan pada balok setelah plat lantai selesai dicor ( beton muda ),
Qpr = = 36,927 kN/m

1 = = 0,037 m

Lendutan pada balok setelah plat dan balok menjadi komposit,


Qpr = = 28,238 kN/m

2 = = 0,028 m

Lendutan akibat rangkak,


= 2- 1= - 0,008 m
Lendutan akibat susut rangkak, = - 0,008 m ke atas

107
5. Lendutan Akibat Beban Lajur “D” (Td)
QTD = 16,565 kN/m
PTD = 130,34 kN

= + = 0,004 m ke bawah

6. Lendutan Akibat Beban Rem (Tb)


MTB = 89,281 kN

= = 0,000434 m ke bawah

7. Lendutan Akibat Pengaruh Temperatur (Et)


∑Pt = 2048,500 kN
ep = 0,552 m

= = 0,005496 m ke bawah

8. Lendutan Akibat Beban Angin (Ew)


QEW = 0,741 kN/m

= = 0,000748 m ke bawah

9. Lendutan Akibat Beban Gempa (Eq)


QEQ = 6,857 kN/m

= = 0,00692 m ke bawah

Tabel 1.37 Kontrol lendutan terhadap kombinasi beban


Kombinasi Kombinasi Kombinasi Kombinasi Kombinasi
Aksi / Beban Simbul
1 2 3 4 5
A. Aksi Tetap
Berat Sendiri MS 0,0377172 0,0377172 0,0377172 0,0377172 0,0377172
Berat Mati
MA 0,0103567 0,0103567 0,0103567 0,0103567 0,0103567
Tambahan
Susut dan
SR 0,0045261 0,0045261 0,0045261 0,0045261 0,0045261
Rangkak

108
Prategang PR -0,0428638 -0,0428638 -0,0428638 -0,0428638 -0,0428638
B. Aksi Transien
Beban Lajur "D" TD 0,0046499 0,0046499 0,0046499 0,0046499 0,0046499
Gaya Rem TB 0,0004339 0,0004339 0,0004339 0,0004339 0,0004339
C. Aksi
Lingkungan
Pengaruh
ET 0,0054960 0,0054960
Temperatur
Beban Angin EW 0,0007475 0,0007475
Beban Gempa EQ 0,0069218
Tegangan Total
0,0148200 0,0203160 0,0155676 0,0210635 0,0217418
Kombinasi
Keterangan <L/300 = 0,0935 (AMAN)

12. Tinjauan ultimate balok prestress


a. Kapasitas Momen ultimate balok
Modulus elastis baja prategang (strands) ASTM A-416 Grade 270:
Es = 195000 Mpa
Jumlah total strands ns = 57 buah
Luas tampang nominal satu strands Ast = 0,0001 m2
Kuat tarik strands fpu = 1862 MPa
Tegangan leleh tendon baja prategang fpy = 1583 MPa
Luas tampang tendon baja prategang Aps = ns Ast = 0,00563 m2
Mutu beton = K-500
Kuat tekan beton fc’ = 41,5 MPa
Kuat leleh baja prestress (fps) pada keadaan ultimite, ditetapkan sebagai
berikut:

Untuk nilai, L/H ≤ 30: fps = MPa

fps = harus ≤ feff + 400 MPa


Dan harus ≤ 0,8 fpy
Dengan, L = panjang bentang balok
H = tinggi total balok
Panjang balok prategang, L= 32 m
Gaya prestress efektif (setelah loss of prestress), peff = 5435,366 kN

109
Tegangan efektif baja prestress, feff = × 10-3 = 928,304 MPa

Luas penampang balok prategang komposit, AC = 0,990 m2

Rasio luas penampang baja prestress, ρp = = 0,00568 m2

Gambar 3.58 Diagram tegangan kapasitas momen ultimate balok

Tinggi total balok prategang, H = h + h0 = 1,9 m

= 16,842 < 32 (OK)

fps = = 1971,486 MPa

fps = feff + 400 = 1328,304 MPa


fps = 0,8 × fpy = 1266,160MPa
Diambil kuat leleh baja prategang, fps = 1971,486 MPa
β1 = 0,85 untuk fc’ ≤ 30 MPa

β1 = 0,85 – 0,05 × untuk fc’ > 30 MPa

β1 harus ≥ 0,65 untuk fc’ = 41,5 MPa


maka nilai,

β1 = 0,85 – 0,05 × = 0,768

letak titik berat tendon baja prategang terhadap alas balok, Z0 = 0,135 m
tinggi efektif balok, d = h + h0 - Z0 = 1,765 m
kuat tekan beton, fc’ = 41500 kPa
kuat leleh baja prategang, fps = 1971,486 kPa

110
gaya tarik pada baja prestress, Ts = Aps × fps = 11,091 kN
Diperkirakan, a < h0 h0 = 0,20 m
Gaya tekan beton, Cc = (Beff × a) × 0,85 × fc’
Cc = Ts
Maka,

a= = = 0,114 m < h0 = 0,000198 m ( OKE )

Mn = Aps × fps (d - )

= 0,0057 × 1121385 (1,765 - ) = 19576,289 kNm

Mu ≤ ϕ Mn = 0,8 × 10917,389 kNm = 15661,031 kNm

b. Momen ultimate balok


1. Momen akibat susut dan rangkak
Gaya internal akibat susut (Ps)

Ps = Aplat × Eplat × ∆εsu × [ ] = 863,066 kN

Pt = 7107,786 kN
Peff = 5435,366 kN

Eksentrisitas gaya susut terhadap pusat penampang,



e' = = 0,665 m

e’s = 1,00 m
Momen akibat susut, (MS) = - Ps × e’ = -573,939 kNm
Momen akibat rangkak, (MR) = (Pt - Peff) × e’s = 1672,420 kNm
Momen akibat susut dan rangkak, (MSR) = MS + MR = 1098,482 kNm

2. Momen akibat pengaruh temperatur


Gaya internal akibat perbedaan temperatur,

∑Pt = = 2048,500 Kn

Eksentrisitas gaya terhadap pusat penampang balok

111
ep = 0,552 m

Momen akibat pengaruh temperatur


MFT = ∑Pt × ep = 1130,772 kNm

3. Momen akibat prategang


Gaya prategang efektif Peff = 5435,366 kN
Eksentrisitas tendon e’S = 1,00 m
Momen akibat gaya prategang MPR = - Peff × e’s = -5435,366 kNm

Tabel 3.38 Kontrol kombinasi momen ultimate

Aksi / Beban Simbul Kombinasi 1 Kombinasi 2 Kombinasi 3 Kombinasi 4 Kombinasi 5


A. Aksi Tetap
Berat Sendiri MS 4782,74153 4782,74153 4782,74153 4782,74153 4782,74153
Berat Mati Tambahan MA 1313,28000 1313,28000 1313,28000 1313,28000 1313,28000
Susut dan Rangkak SR 1098,48163 1098,48163 1098,48163 1098,48163 1098,48163
Prategang PR -5435,36610 -5435,36610 -5435,36610 -5435,36610 -5435,36610
B. Aksi Transien
Beban Lajur "D" TD 3163,12000 3163,12000 3163,12000 3163,12000 3163,12000
Gaya Rem TB 89,28098 89,28098 89,28098 89,28098 89,28098
C. Aksi Lingkungan
Pengaruh Temperatur ET 1130,77200 1130,77200
Beban Angin EW 94,79314 94,79314
Beban Gempa EQ 877,72643
Tegangan Total
5011,53804 6142,31004 5106,33119 6237,10319 5889,26447
Kombinasi
Keterangan ɸ Mn = 12528,8251 KNm

1.3 Perhitungan Bangunan Bawah


Terletak di bagian bawah suatu jembatan yang berfungsi menerima beban
dari bangunan atas dan kemudian menyalurkan ke pondasi lalu ke tanah keras.
Bangunan bawah meliputi perletakan, abutment dan pondasi.

112
1.3.1 Perletakan
Berupa landasan elastomer berupa karet yang dilapisi pelat baja baja.
Elastomer ini terdiri dari elastomer vertikal yang berfungsi menahan gaya
horizontal dan elastomer horizontal berfungsi menahan gaya vertikal.
1. Analisa pembebanan
a. Beban mati bangunan atas
Akibat berat sendiri (QMS) = 37,365 kN/m
Bentang jembatan (L) = 32 m
Beban total Pult = QMS × L
= (37,491 kN/m) × 32 m
= 1195,685 kN
Untuk setengah bentang jembatan
Gaya vertikal (V1) = × Pult

= × 1195,685 kN

= 597,843 kN
Gaya horizontal (H1) = 0 kN

b. Beban mati tambahan


Akibat beban mati tambahan (QMA) = 10,260 kN/m
Beban total Pult = QMA × L
= (10,260 kN/m) × 32 m
= 328,320 kN
Untuk setengah bentang jembatan
Gaya vertikal (V2) = × Pult

= × 328,320 kN

= 164,260 kN
Gaya horizontal (H2) = 0 kN

c. Beban lajur “D”


Akibat beban mati tambahan (QTD) = 16,566 kN/m

113
Bentang jembatan (L) = 32 m
Beban total Pult = QTD × L
= 16,566 kN/m × 32 m
= 530,100 kN
Untuk setengah bentang jembatan
Gaya vertikal (V3) = × Pult

= × 530,100 kN

=265,050 kN
Gaya horizontal (H3) = 0 kN

d. Gaya rem
Akibat gaya rem (HTB) = 100 kN
Untuk setengah bentang jembatan
Gaya horizontal (H4) = × HTB

= × 100 kN

= 50 kN
Gaya vertikal (V4) = 0 kN
e. Beban Angin
Akibat beban angin (QEW) = 0,889 kN/m
Akibat beban angin (HEW) = 1,555 kN/m
Bentang jembatan (L) = 32 m
Beban total Pult = QEW × L
= (0,889 kN/m) × 32 m
= 28,438 kN
Beban total Hult = HEW × L
= (1,555 kN/m) × 32 m
= 49,766 kN
Untuk setengah bentang jembatan
Gaya vertikal (V5) = × Pult

114
= × 28,438 kN

= 14,219 Kn

Gaya horizontal (H5) = × Hult

= × 49,766 kN

= 24,883 kN

f. Beban gempa
Akibat beban gempa (TEQ) = 6,857 kN
Untuk setengah bentang jembatan
Gaya horizontal (H6) = × HEQ

= × 24,883 kN

= 3,429 kN
Gaya vertikal (V6) = 0 kN

2. Penentuan Elastomer
a. Elastomer horizontal untuk arah vertikal
Gaya vertikal maksimum
Vtot = V1 + V2 + V3 + V5
= 597,843 kN + 164,260 kN + 265,050 kN + 14,219 kN
= 1041,272 kN
Untuk satu abutment terdapat 5 balok induk maka jumlah elastomer N = 5

Gaya vertikal 1 elastomer =

= 208,254 kN
Dari tabel k8-3 Perletakan dan Hubungan Lantai PU. Bina Marga hal. 19
Dengan nilai V = 197,105 kN, maka didapat elastomer dengan,
Serial nomer = 010902R-5
Ukuran = 230 mm × 200 mm × 41 mm

115
Jumlah lapis dalam = 2 buah
Tebal karet dalam = 9 mm
Tebal selimut sisi = 6 mm
Tebal selimut atas dan bawah = 4 mm
Tebal plat baja = 5 mm
Tebal total = 41 mm
Kapasitas beban per unit = 219 kN

Gambar 3. 59 Elastomer horizontal untuk arah vertikal

b. Elastomer vertikal untuk gaya horizontal


Gaya horizontal maksimum
Htot = H1 + H2 + H3 + H4 + H5 + H6
= 0 kN + 0 kN + 0 kN + 50 kN + 24,883 kN + 3,429 kN
= 78,312 kN
Untuk satu abutment terdapat 5 balok induk maka jumlah elastomer
N=5

Gaya vertikal 1 elastomer =

= 15,662 kN
Dari tabel k8-3 Perletakan dan Hubungan Lantai PU. Bina Marga
hal. 19
Dengan nilai V = 30,617 kN, maka didapat elastomer dengan,
Serial nomer = 010906R-5
Ukuran = 230 mm × 150 mm × 97 mm
Jumlah lapis dalam = 6 buah

116
Tebal karet dalam = 9 mm
Tebal selimut sisi = 6 mm
Tebal selimut atas dan bawah = 4 mm
Tebal plat baja = 5 mm
Tebal total = 97 mm
Kapasitas beeban per unit = 116 kN

Gambar 3.60 Elastomer vertikal untuk gaya horizontal


c. Elastomer vertikal untuk gaya ke samping
Gaya horizontal ke samping maksimum
Htot = H5
= 24,883 kN
Untuk satu abutment terdapat 5 balok induk maka jumlah elastomer
N=5

Gaya vertikal 1 elastomer =

= 5000 kN
Dari tabel k8-3 Perletakan dan Hubungan Lantai PU. Bina Marga hal. 19
Dengan nilai V = 4,666 kN, maka didapat elastomer dengan,
Serial nomer = 010906R-5
Ukuran = 230 mm × 150 mm × 97 mm
Jumlah lapis dalam = 6 buah
Tebal karet dalam = 9 mm
Tebal selimut sisi = 6 mm
Tebal selimut atas dan bawah = 4 mm
Tebal plat baja = 5 mm

117
Tebal total = 97 mm
Kapasitas beeban per unit = 116 kN

Gambar 3.61 Elastomer vertikal untuk gaya ke samping

1.3.2 Plat Injak


Berfungsi untuk mencegah defleksi yang terjadi pada permukaan jalan akibat
desakan tanah.

Gambar 3.62 Plat Injak Jembatan


a. Pembebanan

Untuk berat kendaraan dibelakanh bangunan penahan tanah diasumsikan sama


dengan berat tanah setinggi 60 cm

Berat Lapisan aspal = 0,10 m x 22 kN/m3 x 1 m x 2 = 4,4 kN/m

Berat lapisan perkerasan = 0,20 m x 22 kN/m3 x 1 m x 2 = 8,8 kN/m

Berat plat injak = 0,30 m x 25 kN/m3 x 1 m x 1,3 = 9,75 kN/m

qtotal = 22,95 kN/m

118
Berat kendaraan (qLLult) = 0,6 m x 17,2 kN/m3 x 1 m x 1,8 = 18,576 kN/m

qULT total = qDLult + qLLult = 22,95 kN/m + 18,576 kN/m = 41,526 kN/m

b. Momen pada Plat Injak

Multmax = 1/8 x qULT total x L2

= 1/8 x 41,526 Kn/m x 322 m

= 5315,328 kN/m2

c. Penulangan

Mux = 129,769 kN.m

Diameter tulangan arah melintang D = 19 mm

Fc = 20 MPa

Mutu Baja U – 39 fy = 390 MPa

Tebal plat = 200 mm p = 40 mm

d’ = h – p – 0,5 diameter tulangan x

d’ = 300 – 40 – (0,5 x 19)

d’ = 250,5 mm

( )

( )

119
Jadi, dipakai = 0,007228

Luas Tulangan (As)

As = ρ x b x d’

= 0,0144639 x 1000 mm x 250,5 mm

= 3623,215 mm²

Tulangan yang dipakai = D 19 – 150 (As = 3623,215 mm2)

Sedangkan untuk tulangan susut diambil nilai 50% dari tulangan pokok dan pakai
tulangan D16

A’s = 50% As = 50% x 189-,192 mm² = 1811,607mm²

Maka, digunakan tulangan D 16 – 150 (As = 1811,607 mm²)

Gambar 3.63 Tulangan Plat Injak


1.3.3 Abutment
Merupakan salah satu bagian konstruksi jembatan yang terdapat pada ujung –
ujung jembatan yang berfungsi sebagai pendukung bagi bangunan diatasnya.

120
Gambar 3.64 Abutment

Lebar jalan (jalur lalu lintas) = 7,6 m

Lebar trotoar (pejalan kaki) = 0,8 m

Lebar total jembatan = 10 m

Tebal plat lantai jembatan = 0,2 m

Tebal lapisan aspal dan overlay = 0,10 m

Tebal trotoar = 0,15 m

Tebal genangan air hujan = 0,05 m

Tinggi girder prategang = 1,7 m

Jarak antar balok prategang = 1,9 m

Panjang bentang jembatan = 32 m

121
Tabel 3.39 Dimensi Abutment

Segmen Notasi (m) Notasi (m)


1 h1 0,55 b1 0,3
2 h2 1,45 b2 0,5
3 h3 0,6 b3 1,55
4 h4 0,45 b4 0,45
5 h5 1,05 b5 1,05
6 h6 0,2 b6 1,7
7 h7 0,2 b7 1,7
8 h8 1 b8 4,5

122
Panjang abutment = 10 m
Tebal wing-wall = 0,5 m
Berat beton bertulang = 25,0 kN/m³
Berat aspal = 22,0 kN/m³
Berat jenis air = 9,8 kN/m³

1. Analisis Beban Kerja


a. Berat Sendiri
Berat sendiri adalah berat bahan dan bagian jembatan yang merupakan
elemen struktural, ditambah dengan elemen non struktural yang dipikul dan
bersifat tetap. Berat sendiri dibedakan menjadi dua macam, yaitu berat sendiri
struktural atas, dan berat struktural bawah.
1. Berat sendiri struktural atas
Tabel 3.40 Beban struktur atas

Parameter volume Berat Berat


No Beban L satuan
n satuan
b (m) t (m) (m) (Kn)
1 slab 7,6 0,2 30 1 25 kN/m3 1216
2 deck slab 1,26 0,07 30 4 25 kN/m3 282,24
3 trotoar 1,2 0,15 30 2 25 kN/m3 288
4 beton prategang 30 5 16,8 kN/m3 2688
5 diafragma 30 4 1,843 kN/m3 235,904
total berat sendiri
(Wms) = 4710,144

Beban pada abutment akibat berat sendiri struktur atas


Pms = ½ Wms = ½ x 4710,144 kN = 2355,072 kN

123
Gambar 3.65 Segmen Abutment

Eksentrisitas beban terhadap pondasi


e = (4,5/2)-1,7-(1,05/2) = 0,025 m
Momen pada pondasi akibat berat sendiri struktur atas
Mms = Pms x e = 2355,072 kN x 0,025 = 58,8768 kN.m

2. Berat sendiri struktural bawah


Berat isi beton bertulang Wc = 25 kN/m³
Berat isi tanah Ws = 17,2 kN/m³
Lebar abutment arah Y By = 10 m
Tebal wing-wall = 0,50 m

Gambar 3.66 Pembebanan berat sendiri struktur tanah

124
Tabel 3.41 Segmen abutment
Jarak titik
No. Lebar W Berat Momen
parameter bagian O
Segmen Beban b H A (m) (kN/m3) (kN) (m) (kN.m)
Abutment
G1 0,3 0,55 0,165 10 25 41,25 -0,650 -26,81
G2 0,5 1,45 0,725 10 25 181,25 -0,750 -135,93
G3 1,55 0,60 0,930 10 25 232,50 -0,225 -52,31
G4 0,45 0,45 0,101 10 25 25,31 -0,700 -17,72
G5 1,05 1,10 1,155 10 25 288,75 0,000 0,000
G6 1,7 0,20 0,170 10 25 42,50 -1,117 -47,47
G7 1,7 0,20 0,170 10 25 42,50 1,117 -47,47
G8 4,5 1,00 4,500 10 25 1125 0,000 0,000
Wing wall
T1 3,5 0,55 1,925 0,5 25 24,06 -2,250 -54,14
T2 3,3 1,025 3,383 0,5 25 42,28 -2,650 -112,05
T3 2,05 2,075 2,127 0,5 25 26,59 -2,933 -77,98
T4 1,25 1,875 2,344 0,5 25 29,30 -1,625 -47,61
T5 0,45 0,450 0,101 0,5 25 1,27 -0,850 -1,08
T6 0,45 0,400 0,180 0,5 25 2,25 -0,775 -1,74
T7 1,7 0,200 0,170 0,5 25 21,13 -1,683 -35,76
Tanah
W1 1,45 0,55 0,798 10 17,2 137,17 -1,525 -209,18
W2 1,25 2,05 2,563 10 17,2 440,75 -1,625 -716,22
W3 1,25 0,85 1,063 10 17,2 182,75 -1,625 -296,97
W4 0,45 0,45 0,101 10 17,2 17,42 -0,850 -14,80
W5 0,45 0,40 0,18 10 17,2 30,96 -0,775 -23,99
W6 1,7 0,20 0,170 10 17,2 29,24 -1,683 -49,22
Pms = 2964,16 Mms = - 1873,51

Tabel 3.42 Beban Berat sendiri total


No. Berat Sendiri Pms (kN) Mms (kN.m)
1 Struktur Atas 2355,072 58,876
2 Struktur Bawah 2964,16 -1873,514
5319,232 -1814,637

125
b. Beban Mati Tambahan
Beban mati tambahan (superimposed dead load), adalah berat seluruh
bahan yang menimbulkan suatu beban pada jembatan yang merupakan elemen
non-struktural, dan mungkin besarnya berubah selama umur jembatan. Jembatan
dianalisis harus mampu memikul beban tambahan seperti :
1. Penambahan lapisan aspal (overlay) dikemudian hari.
2. Genangan air hujan jika sistem drainase tidak bekerja dengan baik.

Tabel 3.43 Beban Mati Tambahan


Parameter Volume
W Berat
No. Beban Tebal Lebar Panjang
(kN/m³) (kN)
(m) (m) (m)
1. Lapisan Aspal
0,10 7,6 32 22 535,04
+ Overlay
2. Tiang
sandaran & 32 266,99
Pipa sandaran
3. Air hujan 0,05 10 32 9,8 156,8
Total berat sendiri (Wma) 958,8

Beban pada abutment akibat beban mati tambahan,


Pma = ½ x Wma = ½ x 958,8 = 479,42 kN
Eksentrisitas beban terhadap pondasi
e = 0,025 m
Momen pada pondasi akibat berat sendiri struktur atas,
Mma = Pma x e = 11,99 kN.m

c. Tekanan Tanah (TA)


Pada bagian tanah dibelakang dinding abutment yang dibebani lalulintas,
harus diperhitungkan adanya beban tambahan yang setara dengan tanah setebal
0,6 m yang berupa beban merata ekivalen beban kendaraan pada bagian tersebut.

126
Gambar 3.67 Beban Tanah

Tekanan tanah lateral dihitung berdasarkan harga nominal dari berat tanah (ws),
susut gesek (ϕ), dan kohesi (c) dengan :

Φ’ = tan-1(KϕR x tan Φ) dengan faktor reduksi untuk Φ’, KϕR = 0,8


C’ = KCR x C dengan faktor reduksi untuk C’, KcR = 1,0
Berat tanah, ws = 17,2 kN/m³
Beban Kendaraan q = 0,6 m x ws = 10,32 kN/m³

Berat Tanah, ws = 17,2 kN/m³


Sudut gesek dalam, ϕ = 35º
Φ’= tan-1(KϕR x tan Φ) = 29º
Koefisien tekanan tanah aktif, Ka = (1 - sin ϕ)(1+sin ϕ)
Ka = 0,271
Kohesi, c = 0 Kpa
Tinggi total abutment, H = 4,65 m
Lebar abutment, By = 10 m

127
Tabel 4.44 Tekanan tanah aktif
Gaya Akibat Tekanan TTA Lengan
No. y Mms
Tanah (kN) thd. O
1. TTA = (0,6 x Ws) x H x
130,047 y = H/2 2,325 302,359
Ka x By
2. TTA = ½ x (H2) x Ws x Ka
503,934 y = H/3 1,550 781,098
x By
TTA 633,981 MTA 1083,457

d. Beban Lajur

Beban kendaraan yang berupa beban lajur “D” terdiri beban terbagi merata
(Uniformly Distributed Load), UDL dan beban garis (Knife Edge Load), KEL
seperti pada gambar dibawah ini. UDL mempunyai intensitas q (kPa) yang
besarnya tergantung pada panjang total L yang dibebani lalu-lintas seperti gambar
dibawah ini atau dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :

q = 8,719 kPa untuk L ≤ 32 m


q = 8,719 x (0,5 + 15/L) kPa untuk L > 32 m

Gambar 3.68 Beban Lajur “D”

Gambar 3.69 Intensitas Uniformly Distributed Load (UDL)

Untuk panjang bentang, L = 32 m

128
Beban terbagi rata, q = 8,719 kN/m2
Beban garis, p = 49 kN/m
Faktor beban dinamis (Dinamic Load Allowance) untuk BTR diambil sebagai
berikut :
FBD = 40%

Gambar 3.70 Faktor beban Dinamis


(DLA)
Untuk harga, L = 32 m bi = 7,6 m DLA = 40%
Besar beban lajur “D” :
Wtd= q x L x (5,5 + b)/2 + p x DLA x (5,5 + b)/2 = 1955,83 kN

Gambar 3.71 Pembebanan Lajur “D”


Beban pada abutment akibat beban lajur “D”
Ptd= ½ x Wtd = 977,915 kN

129
Eksentrisitas beban terhadap pondasi,

e = 0,025 m

Momen pada pondasi akibat beban lajur “D”

MTD = PTD × e = 24,447875 kNm

e. Beban Pejalan Kaki (TP)

Jembatan jalan raya direncanakan mampu memikul beban hidup


merata pada trotoar yang besarnya tergantung pada luas bidang trotoar
yang didukungnya.

A = luas bidang trotoar yang dibebani pejalan kaki (m2)

Beban hidup merata q = 5 kNm/m2

Panjang bentang, L = 32 m

Lebar trotoar, b = 0,8 m

Jumlah trotoar, n=2

Gambar 3.72 Beban untuk Pejalan Kaki

Luas bidang trotoar yang didukung abutment,

A = b x L/2 x n = 25,6 m2

Beban merata pada pedestrian,

130
q = 5 – (0.033 x ( A - 10 )) = 4,4852 kPa

Beban pada abutment akibat pejalan kaki,

Gambar 3.73 Pembebanan Jalan Kaki

PTP = A x q = 114,82112 KN

Eksentrisasi beban terhadap pondasi,

e = 0,025 m

Momen pada pondasi akibat beban pendestrian,

MTP = PTP × e = 2,870 kNm

f. Gaya Rem (TB)

pengaruh pengereman dari lalu-lintas diperhitungkan sebagai gaya


dalam arah memanjang dan dianggap bekerja pada permukaan lantai
jembatan. Besarnya gaya rem arah memanjang jembatan tergantung
panjang total jembatan (L1) sebagai berikut;

131
Gambar 3.74 Beban untuk Gaya Rem

Gaya rem TTB = 90 kN Untuk L = 32 m

Lengan terhadap pondasi YTB =h = 4,65 m

Momen pondasi akibat gaya rem MTB = TTB × YTB = 418,5 kNm

Lengan Terhadap Breast Wall Y’TB = 3,65 m

Momen pada Breast Wall akibat gaya rem MTB = TTB × Y’TB = 328,5 kNm

g. Pengaruh Temperatur (ET)

Untuk memperhitungkan tegangan maupun deformasi struktur


yang timbul akibat pengaruh temperatur, diambil perbedaan temperatur
yang besarnya setengah dari selisih antara temperatur maksimum dan
temperature minimum rata-rata pada lantai jembatan.

Temperatur maksimum rata-rata Tmax = 40 °C

Temperatur minimum rata-rata Tmin = 15 °C

∆T = (Tmax – Tmin) / 2

Perbedaan temperatur, ∆T = 12.5 ºC

Koefisien muai panjang untuk beton, α = 0,00001 / ºC

Kekakuan geser untuk tumpuan berupa elatomeric, k = 1500 KN/m

132
Panjang bentang girder, L = 32 m

Jumlah tumpuan elastomeric, n = 5 buah

Gaya pada abutment akibat pengaruh temperatur,

TET = α x ∆T x k x L/2 x n

= 0,00001 × 12.5 × 1500 × 32 / 2 × 5

= 15 kN

Gambar 3.75 Pembebanan pengaruh temperature

Lengan terhadap fondasi,

YET = h = 2,650 m

Momen pada fondasi akibat temperatur,

MET = TET x YET = 15 x 2,650 = 39,75 kNm

Lengan terhadap breast wall,

Y'ET = 1,45 m

Momen pada breast wall akibat temperatur,

133
M’ET = TET x Y’ET = 15 x 1,45 = 21,75 kNm

h. Beban Angin (EW)

1. Angin yang meniup bidang samping jembatan.

Gaya akibat angina yang meniup bidang samping jembatan


dihitung dengan rumus:

TEW1 = 0,0006 × CW × (VW)2 × Ab

Ab = luas bidang samping jembatan

Koefisien seret CW = 1,2

Kecepatan angin rencana (m/dtk) VW = 30 m/dtk

Panjang bentang L = 32 m

Tinggi bidang samping ha = 3,10 m

Luas bidang samping jembatan Ab =L / 2 × ha = 49,6 m2

Gambar 3.76 Pembebanan angin

134
Beban angina abutment:

TEW1 = 0,0006 × CW × (VW)2 × Ab = 32,141 kNm

Lengan terhadap pondasi YEW1 = 4,20 m

Momen pada pondasi akibat beban angin:

MEW1 = TEW1 × YEW1 = 134,991 kNm

Lengan terhadap Breast Wall Y’EW1 = 2,95 m

Momen pada Breast Wall:

M’EW1 = TEW1 × Y’EW1 = 94,815 kNm

2. Angin yang Meniup Kendaraan

Gaya angin tambahan horizontal pada permukaan lantai


jembatan akibat beban angina yang meniup kendaraan di atas lantai
jembatan dihitung dengan rumus :

Dengan Cw = 1,2

TEW2 = 0,0012 × CW × (VW)2 × L/2 = 20,736 kN

Lengan terhadap pondasi YEW2 = 4,450 m

Momen pada pondasi akibat beban angin:

MEW2 = TEW2 × YEW2 = 92,275 kNm

Lengan terhadap Breast Wall Y’EW2 = 3,513 m

Momen pada Breast Wall:

M’EW2 = TEW2 × Y’EW2 = 72,846 kNm

135
3. Beban angin total pada abutmen

Total beban angin total pada abutmen,

TEW = TEW1 + TEW2 = 52,877 kN

Total momen pada pondasi,

MEW = MEW1 + MEW2 = 227,267 kNm

Total momen pada Breast Wall,

M’EW = M’EW1 + M’EW2 = 167,661kNm

4. Transfer Beban Angin ke Lantai Jembatan

Gambar 3.77 Pembebanan beban angin

Beban angin tambahan yang meniup bidang samping kemdaraan:

TEW = 0,0012 × CW × (VW)2 = 1,296 kN/m

Bidang vertikal yang ditiup angin merupakan bidang samping


kendaraan dengan tinggi 2,00 m di atas lantai jembatan.

h = 2,00 m

136
Jarak antara roda kendaraan, x = 1,75 m

Gaya pada abutmen akibat transfer beban angin ke lantai jembatan.

PEW = 2 × [ ½ × h/x × TEW] × L/2 = 23,698 kN

Eksentrisitas beban terhadap pondasi

e = 0,025 m

Momen pada pondasi akibat transfer beban angin

MEW = PEW × e =0,592 kN

5. Beban Gempa (EQ)

a. Beban gempa statik ekivalen

Beban gempa rencana dihitung dengan rumus:

TEQ = Kh × I × Wt

Dengan, Kh = C × S

TEQ = Gaya gempa total dalam arah yang ditinjau

Kh = Koefisien ekivalensi beban gempa horizontal

C = Koefisien geser gempa = 0,17 (wilayah gempa III)

I = Faktor kepentingan ( Tabel 3.4) = 1

S = Faktor tipe bangunan ( Tabel 3.5) = 1

Wt = berat total abutment = PMS + PMA

Waktu getar struktur dihitung dengan rumus:

T = 2 × π × √ [WTP / (g × Kp)]

137
g = percepatan grafitasi (9,8 m/dtk)

Kp = kekakuan struktur yang merupakan gaya


horizontal yang diperlukan untuk menimbulkan satu
satuan lendutan (kN/m)

WTP = PMS (str atas) + ½ × PMS (str bawah)

Sumatera Selatan berada pada wilayah gempa 4 maka didapat nilai


C ditunjukan pada gambar dibawah ini.

Gambar 3.78 koefisien geser dasar

b. Beban Gempa Arah Memanjang Jembatan (Arah X)

Tinggi Breast Wall, LB = 1,650 m

Ukuran Penampang Breast Wall, b = By = 10m

h = b5 = 1,10 m

Inersia penampang Breast Wall,

lc = 1/12 × b × h3 = 1,109 m4

Mutu beton, fc’ = 20 Mpa

Modulus elastis beton,

138
Ec = 4700 × √ fc’ = 21019,039 Mpa

Ec = 21019039 kPa

Nilai kekuatan,

Kp = 3 × Ec × lc / Lb3 = 15569658,5 kNm

Percepatan grafitasi, g = 9,8 m/dtk

Berat sendiri struktur atas,

PMS (str atas) = 2355,072 kN

Berat sendiri struktur bawah,

PMS (str bawah) = 2964,16 kN

Berat total struktur,

WTP = PMS (str atas) + ½ × PMS (str bawah) = 3837,152 kN

Waktu getar alami struktur,

T = 2 × π × √ [WTP / (g × Kp)] = 0,031 dtk

Kondisi tanah dasar termasuk sedang (medium)

Koefisien geser tanah, C = 0,15

Untuk struktur jembatan dengan daerah sendi beton


prategang, maka factor jenis struktur, S = 1,3 × F

Dengan, F = 1,25 – 0,0025 × n

F≥1

F = factor perangkanan = 1,2375 > 1 ( oke )

n = Jumlah sendi plastis yang menahan deformasi arah


lateral

139
Diambil S = 1,3

Kh = C × S = 0,15 × 1,3 = 0,254

Untuk jembatan permanen lainnya dimana rute alternatif


tersedia, maka diambil factor kepentingan I = 1,0

Gaya gempa TEQ = Kh × I × Wt = 0,254 × 1 × 2834,49

= 718,54

Tabel 3.45 Gaya Gempa Perbagian


Berat (Wt) TFQ Lengan Y MFQ
No (kN) (kN) (m) (kn.m)
Struktur Atas
Pms 1,913.496 373 4.65 1735.062
Pma 388.781 75.812 4.65 352.527
Abutment
G1 41.25 8.044 4.375 35.191
G2 181.25 35.344 3.375 119.285
G3 232.5 45.338 2.35 106.543
G4 25.313 4.936 1.9 9.378
G5 288.75 56.309 1.525 85.867
G6 42.5 8.288 1.067 8.84
G7 42.5 8.288 1.067 8.84
G8 1125 219.375 0.5 109.688
Wing Wall
T1 24.063 4.692 4.375 20.528
T2 42.281 8.245 3.588 29.578
T3 26.586 5.184 2.383 12.356
T4 29.297 5.713 2.138 12.211

140
T5 1.266 0.247 1.75 0.432
T6 2.25 0.439 1.4 0.614
T7 2.125 0.414 1.133 0.47
Tanah
W1 137.17 26.748 4.375 117.023
W2 440.75 85.946 3.075 264.284
W3 182.75 35.636 1.625 57.909
W4 17.415 3.396 1.75 5.943
W5 30.96 6.037 1.4 8.452
W6 29.24 5.702 1.133 6.462
TEQ = 1023.261 MEQ = 3107.485

YEQ = MEQ / TEQ = 3.29 m

c. Beban Gempa Arah Melintang Jembatan (Arah Y)

Nilai kekakuan, Kp = 3 × Ec × Ic / Lb3

Inersia penampang Breast Wall, Ic = 1/12 × h × b3

Waktu gelagar alami struktur

T = 2 × π × √[Wtp / (g × Kp)] = 0,031 detik

Koefisian geser dasar C = 0,15

Faktor tipe struktur S = 1,3 × F = 1,3

Koefisien beban gempa horizontal Kh = C × S = 0,195

Factor kepentingan I = 1,0

Gaya gempa Teq = Kh × I × Wt = 0,195 × Wt

Berat sendiri struktur atas,

141
Pms (atas) = 2207,88kN

Berat sendiri struktur bawah,

Pms (bawah) = 2964,16 kN

Pms = 5172,04 kN

Berat mati tambahan Pma = 449,6 kN

Beban mati total Wt = 5621,64 kN

Beban gempa arah melintang

Teq = Kh × I × Wt = 1096.22 kN

Momen pada pondasi akibat beban gempa

Meq = Teq × Yeq = 3329.045 kN.m

d. Tekanan Tanah Dinamis Akibat Gempa

Gaya gempa arah lateral akibat tekanan tanah dinamis


dihitung dengan menggunakan koefisien tekanan tanah
dinamis (∆ Kag) sebagai berikut,

Θ = tan-1 (Kh)

Kag = cos2 (ϕ – θ) / (cos2 0 × (1 / √(sinϕ × sin(ϕ-0) / (cos0))

∆ Kag = Kag – Ka

Tekanan tanah dinamis, P = Hw × ws × ∆ Kag

142
H = 4,65 m By = 10

Kh = 0,195 ϕ = 0,5061 rad

Ka = 0,271 Ws = 17,2 kN/m3

θ = tan-1 (Kh) = 0,1925833 cos2(ϕ-θ) = 0,999

Kag = cos2 (ϕ – θ) / (cos2 0 × (1 / √(sinϕ × sin(ϕ-0) / (cos0))

= 0,993

∆ Kag = Kag – Ka = 0,722

Gaya gempa lateral, Teq = ½ × H2 × Ws × ∆ Kag × By

= 1342,708 kN

Lengan terhadap pondasi, Yeq = 2/3 × H = 3,10 m

Momen akibat gempa, Meq = Teq × Yeq = 4162,394

i. Gesekan pada perletakan (FB)

koefisien gesek pada tumpuan yang berupa elastomer μ = 0,18

Gaya gesek yang timbul hanya ditinjau terhadap beban berat sendiri dan
beban mati tambahan.

Reaksi abutmen akibat Pms (atas) = 2355,072 kN

Berat mati tambahan Pma = 479,42 kN

143
Reaksi abutmen akibat beban tetap Pt = Pms + Pma = 2834,49 kN

Gaya gesek pada pada perletakan Tfb = μ × Pt =510,208

Gambar 3.80 Gesekan pada perletakan

Lengan terhadap pondasi YFB = 2,65 m


Momen pada pondasi akibat gesekan MFB = TFB x YFB=1352,051 kNm
Lengan terhadap Breast Wall Y’FB = 1,45 m
Momen pada Breast Wall akibat gerakan MFB =TFB x YFB=739,801 kN.m

144
Tabel 3.46 Rekap Beban Kerja

Horizontal Momen
Vertikal P
Aksi / Beban Simbol Mx
(kN) Tx ( Kn ) Ty (kN) My (kN.m)
(kN.m)
A. Aksi Tetap
Berat Sendiri MS 5319,412 - - -1.770 -
Beban mati
MA 479,42 - - 11,99 -
tambahan
Tekanan Tanah TA - 633,981 - 1.083,457 -
B. Aksi Transien
Beban lajur "D" TD 977,915 - - 24,4479 -
Beban
TP - - -
pendestrian 114,82112 2,87053
Gaya rem TB - 90 - 418,5 -
C. Aksi Lingkungan
Pengaruh
ET - - -
temperatur 15,0 39,75
Beban angin EW 52,887 - - 227,267 -
Beban Gempa EQ - 1037,285 1037,285 3.329,045 3.329
Tekanan tanah
EQ - 1342,584 - 4.162,011 -
dinamis
D. Aksi Lainnya
Gesekan FB - 510,208 - 1352,051 -

145
Tabel 3.47 Kombinasi Beban Abutment -1

Horizontal Momen
Vertikal P
Aksi / Beban Simbol Tx ( Kn Ty My
(kN) Mx (kN.m)
) (kN) (kN.m)
A. Aksi Tetap
Berat Sendiri MS 5319,412 - - -1,770 -
Beban mati
MA 449,60 - - 11,99 -
tambahan
Tekanan Tanah TA - 633,981 - 1.083,457 -
B. Aksi Transien
Beban lajur "D" TD 977,915 - - 23,686 -
Beban pendestrian TP 114,821 - - 2,723 -
Gaya rem TB - - - - -
C. Aksi Lingkungan
Pengaruh temperatur ET - - - - -
Beban angin EW - - - - -
Beban Gempa EQ - - - - -
Tekanan tanah
EQ - - - - -
dinamis
D. Aksi Lainnya
Gesekan FB - - - - -
6891,564 633,98 0,00 1120,992 0,00

146
Tabel 3.48 Kombinasi Beban Abutment -2

Horizontal Momen
Vertikal P
Aksi / Beban Simbol Mx My
(kN) Tx (Kn) Ty (kN)
(kN.m) (kN.m)
A. Aksi Tetap
Berat Sendiri MS 5319,412 - - -1,770 -
Beban mati
MA 479,42 - - 11,99 -
tambahan
Tekanan Tanah TA - 633,981 - 1.083,457 -
B. Aksi Transien
Beban lajur "D" TD 977,915 - - 24,447 -
Beban pendestrian TP 114,821 - - 2,870 -
Gaya rem TB - 90 - 418,5 -
C. Aksi Lingkungan
Pengaruh temperatur ET - - - - -
Beban angin EW 52,887 - - 227,267 -
Beban Gempa EQ - - - - -
Tekanan tanah
EQ - - - - -
dinamis
D. Aksi Lainnya
Gesekan FB - - - - -
6944,441 723,981 0,00 1766,758 0,00

147
Tabel 3.49 Kombinasi Beban Abutment -3

Horizontal Momen
Vertikal
Aksi / Beban Simbol Ty Mx
P (kN) Tx ( Kn ) My (kN.m)
(kN) (kN.m)
A. Aksi Tetap
Berat Sendiri MS 5319,412 - - -1,770 -
Beban mati
MA 479,42 - - 11,99 -
tambahan
Tekanan Tanah TA - 633,981 - 1083,458 -
B. Aksi Transien
Beban lajur "D" TD 977,915 - - 24,447 -
Beban pendestrian TP 114,821 - - 2,870 -
Gaya rem TB - 90,00 - 418,50 -
C. Aksi Lingkungan
Pengaruh temperatur ET - - - - -
Beban angin EW 52,887 - - 227,267 -
Beban Gempa EQ - - - - -
Tekanan tanah
EQ - - - - -
dinamis
D. Aksi Lainnya
Gesekan FB - 510,208 - 1152,051 -
6944,441 1234,189 0,00 3118,809 0,00

148
Tabel 3.50 Kombinasi Beban Abutment -4

Horizontal Momen
Vertikal P
Aksi / Beban Simbol Ty
(kN) Tx ( Kn ) Mx (kN.m) My (kN.m)
(kN)
A. Aksi Tetap
Berat Sendiri MS 5319,412 - - -1,770 -
Beban mati
MA 479,42 - - 11,99 -
tambahan
Tekanan Tanah TA - 633,981 - 1083,458 -
B. Aksi Transien
Beban lajur "D" TD 977,915 - - 24,447 -
Beban pendestrian TP 114,821 - - 2,87 -
Gaya rem TB - 90,00 - 418,5 -
C. Aksi Lingkungan
Pengaruh temperatur ET - 15,0 - 39,8 -
Beban angin EW 52,877 - - 227,267 -
Beban Gempa EQ - - - - -
Tekanan tanah
EQ - - - - -
dinamis
D. Aksi Lainnya
Gesekan FB - 510,208 - 1352,051 -
6944,441 1249,189 0,00 3158,559 0,00

149
Tabel 3.51 Kombinasi Beban Abutment -5

Horizontal Momen
Vertikal
Aksi / Beban Simbol Mx
P (kN) Tx ( Kn ) Ty (kN) My (kN.m)
(kN.m)
A. Aksi Tetap
Berat Sendiri MS 5319,412 - - -1,770 -
Beban mati
MA 479,42 - - 11,99 -
tambahan
Tekanan Tanah TA - - - - -
B. Aksi Transien
Beban lajur "D" TD - - - - -
Beban pendestrian TP - - - - -
Gaya rem TB - - - - -
C. Aksi Lingkungan
Pengaruh temperatur ET - - - - -
Beban angin EW - - - - -
Beban Gempa EQ - 1037,285 1.096,22 3150,075 3150,075
Tekanan tanah
EQ - 1342,584 - 4.162,011 -
dinamis
D. Aksi Lainnya
Gesekan FB - 510,208 - 1352,051 -
5697,828 2890,077 1037,285 8674,352 3150,075

150
Tabel 3.52 Rekap kombinasi beban untuk perencanaan tegangan kerja Abutment
Kombinasi Mx My
Tegangan P (KN) Tx (KN) Ty (KN)
Beban (KN.m) (KN.m)
Kombinasi -
1 0% 6891,564 633,981 0,000 1120,992 0,000
1
Kombinasi -
2 25% 6944,441 723,981 0,000 1766,758 0,000
2
Kombinasi -
3 40% 6944,441 1234,189 0,000 3118,809 0,000
3
Kombinasi -
4 40% 6944,441 1249,189 0,000 3158,559 0,000
4
Kombinasi -
5 50% 5798,828 2890,077 1037,285 8674,352 3150,075
5

151
2. Kontrol Stabilitas Guling
a. Stabilitas Guling Arah X
Angka aman terhadap guling diambil (SF) = 1,5
( Pondasi, Zainal. Hal 81 )
Letak titik guling (A) ujung pondasi terhadap pusat pondasi
Bx / 2 = 2,25 m
k = Persen kelebihan beban yang diinginkan (%)
M = Momen penyebab guling arah X
Momen penahan guling, MPX = P x (Bx/2) x (l + k)

O A

bx
bx/2 bx/2

Gambar 3.81 Stabilitas guling arah X

Tabel 3.53 Stabilitas guling arah X

Kombinasi Mx Mpx My
No tegangan P (KN) SF
beban (KNm) (KNm) (KNm)
Kombinasi -
1 0% 6891,564 1120,992 15506,020 13,83 Aman
1
Kombinasi -
2 25% 6944,441 1766,758 19531,240 11,05 Aman
2
Kombinasi -
3 40% 6944,441 3118,809 21874,989 7,01 Aman
3
Kombinasi -
4 40% 6944,441 3158,559 21874,989 6,93 Aman
4
Kombinasi -
5 50% 5798,828 8674,352 19571,045 2,26 Aman
5

152
b. Stabilitas Guling Arah Y
Angka aman terhadap guling diambil (SF) = 1,5
Letak titik guling (A) ujung pondasi terhadap pusat pondasi
By / 2 = 2,325 m
k = Persen kelebihan beban yang diinginkan (%)
My = Momen penyebab guling arah X
Momen penahan guling, Mpy = P x (Bx/2) x (l + k)

Tabel 3.54 Stabilitas guling arah Y

Kombinasi Ty Mpx My
No tegangan P (KN) SF
beban (KNm) (KNm) (KNm)

Kombinasi -
1 0% 6891,564 0,000 15506,020 Aman
1
Kombinasi -
2 25% 6944,441 0,000 19531,240 Aman
2
Kombinasi -
3 40% 6944,441 0,000 21874,989 Aman
3
Kombinasi -
4 40% 6944,441 0,000 21874,989 Aman
4

c. Kontrol Stabilitas Geser


1) Stabilitas geser arah X
Parameter dasar arah Pile cap
Sudut geser ɸ’ = 29
Kohesi C=0
Ukuran dasar Pile cap
Lebat Bx = 4,50 m
Panjang By = 11,0 m
k = Persen kelebihan beban yang diingikan (%)
Ty = Gaya penyebab gaya geser
Gaya penahan Geser

153
H = (C x Bx x By + P x tan ɸ ) x (l + k)

TX

Gambar 3.82 Stabilitas geser arah X

Tabel 3.55 Stabilitas geser arah X

Kombinasi Mx Mpx My
No tegangan P (KN) SF
beban (KNm) (KNm) (KNm)
Kombinasi -
1 0% 6891,564 1120,992 3056,901 5,45 Aman
1
Kombinasi -
2 25% 6944,441 1766,758 7700,889 21,79 Aman
2
Kombinasi -
3 40% 6944,441 3118,809 8624,996 5,53 Aman
3
Kombinasi -
4 40% 6944,441 3158,559 8624,996 5,46 Aman
4
Kombinasi -
5 50% 5798,828 8674,352 7716,583 1,78 Aman
5

2) Stabilitas geser arah Y


Parameter dasar arah Pile cap
Sudut geser ɸ = 27o
Kohesi C=0
k = Persen kelebihan beban yang diingikan (%)
Ty = Gaya penyebab gaya geser

154
Gaya penahan Geser
H = ( C x Bx x By + P x tan ɸ ) x ( l + k )

Tabel 3.56 Stabilitas geser arah Y

Kombinasi Ty Mpx My
No tegangan P (KN) SF
beban (KNm) (KNm) (KNm)
Kombinasi -
1 0% 6891,564 0,000 45121,880 0,00 Aman
1
Kombinasi -
2 25% 6944,441 0,000 56835,108 0,00 Aman
2
Kombinasi -
3 40% 6944,441 0,000 63655,320 0,00 Aman
3
Kombinasi -
4 40% 6944,441 0,000 63655,320 0,00 Aman
4
Kombinasi -
5 50% 5798,828 1037,285 56950,937 5,49 Aman
5

3. Kontrol terhadap kelongsoran daya dukung


P = 6704,743 kN
e = 0,025 m
qult = ( Persamaan Terzaghi)
Untuk
= 29°
Nc = 29,24
N = 11,6
C =0
Nq = 15,9
= 17,2 KN/m3
Maka :
qult =
= ( 0 x 29,24 ) + ( 17,2 x 0 x 15,9) + ( 0,4 x 17,2 x 4,2 x 11,6 )
= 632,616 KN/m

155
Diagram tegangan berupa trapesium

( )

( )

Dari hasil pengontrolan terhadap stabilitas abutment, maka dapat diketahui


bahwa abutment :
a. Aman terhadap guling
b. Aman terhadap geser
c. Aman terhadap kelongsoran daya dukung
Dari hasil tersebut, didapatkan dengan pondasi telapak sudah dapat
memenuhi stabilitas pondasi.

156
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis perhitungan, maka diambil kesimpulan bahwa:


1. Jembatan dengan panjang bentang 32 m, lebar lalu lintas 10 m, dan lebar
trotoar 2 x 0,8 m di setiap sisi tepi jembatan. Sehingga lebar total
jembatan 11,6 m.
2. Tiang sandaran jembatan dibuat dengan jarak setiap 2 m, dengan dimensi
0,15 m x 0,15 m dan tinggi 1 m dari atas trotoar.
3. Trotoar jembatan pada sisi kanan dan kiri jembatan sepanjang bentang
jembatan dengan lebar 0,8 m dengan tebal 0,15 m.
4. Pelat lantai jembatan digunakan beton bertulang dengan dilapisi
permukaan aus berupa aspal setebal 0,05 m.
5. Gelagar memanjang digunakan balok-T yang menjadi satu kesatuan
dengan pelat lantai jembatan. Gelagar memanjang digunakan sebanyak 5
buah dengan jarak antar gelagar memanjang sebesar 1,90 m dengan
dimensi 1,7 m x 0,8 m.
6. Abutment jembatan digunakan dengan panjang 10 m dengan tebal wing
wall 0,5 m.

157

Anda mungkin juga menyukai