0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
75 tayangan15 halaman

Jenis-Jenis Tim dalam Organisasi

Ada enam jenis tim organisasi, yaitu tim formal, tim vertikal, tim horizontal, tim dengan tugas khusus, tim mandiri, dan tim pemecahan masalah. Tim dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan menjadi tim problem-solving, tim self-managed work, tim cross-functional, dan tim virtual.

Diunggah oleh

Indra Pratama
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
75 tayangan15 halaman

Jenis-Jenis Tim dalam Organisasi

Ada enam jenis tim organisasi, yaitu tim formal, tim vertikal, tim horizontal, tim dengan tugas khusus, tim mandiri, dan tim pemecahan masalah. Tim dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan menjadi tim problem-solving, tim self-managed work, tim cross-functional, dan tim virtual.

Diunggah oleh

Indra Pratama
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KONTEKS PERUBAHN TIM DENGAN MENUNJUKKAN BEBERAPA

JENIS TIM DAN KAITANNYA DENGAN KEPEMIMPINAN DAN


KEORGANISASIAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Matakuliah : Manajemen Perubahan
Dosen Pengampu : Nuri Aslami Msi.

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI


SUMATERA UTARA MEDAN

Disusun Oleh :
Kelompok 7
1. Ayu Lestari sitio (0506203164)
2. Dinda Karunia Putri (0506203195)
3. Cai Siregar (0506203191)

PROGRAM STUDI MANAEME


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
T.A 2022/ 2023
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menganugerahkan nikmat dan rahmat-Nya,
sehingga dapat menjalankan aktifitas kita sesuai dengan peran dan fungsi kita masing-masing
dengan sebaik-baiknya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda Nabi
Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah dalam kehidupan keseharian kita, khususnya dalam
memerankan tugas kita sehari-hari.
Terima kasih kami ucapkan kepada ibu dosen atas waktu yang diberikan sehingga kami
dapat menyelesaikan Makalah ini. Makalah ini disusun sebagai tugas dan tanggung jawab
sebagai mahasiswa untuk menunaikan tugas dari Ibu Dosen matakuliah Manajemen Perubahan
yaitu ibu Nur Aslami Msi.
Kiranya makalah ini dapat bermanfaat sebagai penambah khazanah ilmu pengetahuan,
dan kiranya bisa berguna untuk banyak khalayak yang membacanya. Jika terdapat kesalahan
dalam penyusunan makalah ini, penulis sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan
dankekhilafan meminta maaf. Akhir kata, saran dan kritikan yang membangun dari Dosen mata
kuliah dan teman-teman yang membacanya sangat penulis harapkan guna perbaikan makalah
ini kedepannya.

Medan, 6 Maret 2023

Kelompok 7
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i

DAFTAR ISI ............................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................................1


A. Latar Belakang Makalah .....................................................................................................1
B. Rumusan Makalah ..............................................................................................................1
C. Tujuan Makalah ..................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................3
A. Jenis-Jenis Tim Organisasi .................................................................................................3
B. Cara Meningkatkan Efektivitas Tim...................................................................................5
C. Isu-Isu Kepemimpinan dan Perubaha Tim .........................................................................5
D. Penyelarasan Tim degan Perubahan Organisasi .................................................................5
BAB III KESIMPULAN .........................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................................15


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sebuah organisasi bisnis ataupun organisasi bidang lain, team work sangat penting.
Karena dengan kerjasama tim, di dalamnya ada sebuah persenyawaan antar berbagi potensi
sehingga tujuan organisasi bisa tercapai dengan mudah. Kerjasama yang baik dan yang
didasarkan pada kebersamaan menghasilkan sebuah ekspektasi. Tetapi yang namanya
kerjasama tim merupakan ucapan yang sulit diwujudkan, berbeda dengan pengucapannya
seringkali diulang dan dikemas dalam tatabahasa yang enak didengar.
Pengertian team work adalah sebuah sistem pekerjaan yang kerjakan oleh dua orang
atau lebih untuk mendapatkan tujuan yang direncanakan bersama. Team Work merupakan suatu
bentuk kerja sama dalam beberapa sumber daya manusia, berasal dari latar belakang yang
berbeda, kedudukannya sama, dan eksis dalam berorganisasi atau perkantoran untuk
menjalankan komitmen dan meraih tujuan yang sama.
Kerja sama dalam tim kerja menjadi sebuah kebutuhan dalam mewujudkan keberhasilan
kinerja dan prestasi kerja. Kerja sama dalam tim kerja akan menjadi suatu daya dorong yang
memiliki energi dan sinergisitas bagi individu-individu yang tergabung dalam kerja tim.
Komunikasi akan berjalan baik dengan dilandasi kesadaran tanggung jawab tiap anggota. Tracy
(2006) menyatakan bahwa teamwork merupakan kegiatan yang dikelola dan dilakukan
sekelompok orang yang tergabung dalam satu organisasi. Teamwork dapat meningkatkan kerja
sama dan komunikasi di dalam dan di antara bagian-bagian perusahaan. Biasanya teamwork
beranggotakan orangorang yang memiliki perbedaan keahlian sehingga dijadikan kekuatan
dalam mencapai tujuan perusahaan. Pernyataan di atas diperkuat Dewi (2007) kerja tim
(teamwork) adalah bentuk kerja dalam kelompok yang harus diorganisasi dan dikelola dengan
baik. Tim beranggotakan orang-orang yang memiliki keahlian yang berbeda-beda dan
dikoordinasikan untuk bekerja sama dengan pimpinan. Terjadi saling ketergantungan yang kuat
satu sama lain untuk mencapai sebuah tujuan atau menyelesaikan sebuah tugas.
Dengan melakukan teamwork diharapkan hasilnya melebihi jika dikerjakan secara
perorangan. Stephen dan Timothy (2008) menyatakan teamwork adalah kelompok yang usaha-
usaha individualnya menghasilkan kinerja lebih tinggi daripada jumlah masukan individual.
Teamwork menghasilkan sinergi positif melalui usaha yang terkoordinasi. Hal ini memiliki
pengertian bahwa kinerja yang dicapai oleh sebuah tim lebih baik daripada kinerja perindividu
di suatu organisasi ataupun suatu perusahaan.

4
Permasalahan yang dihadapi dalam tim yang terimplementasi dalam sebuah kebijakan
formal dalam sebuah institusi birokrasi tidak beda dengan permasalahan Team Working di laur
birokrasi, hal ini disebabkan oleh faktor manusia sebagai subyek dalam tim itu sendiri, soliditas
tim akan tercermin pada saat proses dan saat akhir proses dari sebuah aktivitas tim yaitu hasil
akhir yang dapat dilihat dan dirasakan oleh yang berkepentingan dari sebuah organisasi yang
membentuktimdalam pencapaian sebuah tujuan.

B. Rumusan Masalah
Melihat dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai beikut :
1. Ada berapakah Jenis-jenis tim organisasi ?
2. Bagaimana Cara meningkatkan efektifitas tim ?
3. Apa saja Isu-isu kepemimpinan dalam perubahan tim ?
4. Bagaimana cara Penyelarasan tim dengan perubahan tim ?

C. Tujuan Penulisan Makalah


Secara umum tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Mengetahui Jenis-jenis tim organisasi ?
2. Mengetahui Cara meningkatkan efektifitas tim ?
3. Mengetahui Isu-isu kepemimpinan dalam perubahan tim ?
4. Mengetahui cara Penyelarasan tim dengan perubahan tim ?

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Jenis-Jenis Tim Organisasi


Menurut Daft (2000) jenis tim terdiri dari enam jenis, yaitu:
1. Tim Formal
Tim formal adalah sebuah tim yang dibentuk oleh organisasi sebagai bagian dari
struktur organisasi formal.
2. Tim Vertikal
Tim vertikal adalah sebuah tim formal yang terdiri dari seorang manajer dan
beberapa orang bawahannya dalam rantai komando organisasi formal.
3. Tim Horizontal
Tim horizontal adalah sebuah tim formal yang terdiri dari beberapa karyawan dari
tingkat hirarki yang hampir sama tetapi berasal dari area keahlian yang berbeda.
4. Tim dengan Tugas Khusus
Tim dengan tugas khusus adalah sebuah tim yang dibentuk di luar organisasi formal
untuk menangani sebuah proyek dengan kepentingan atau kreativitas khusus.
5. Tim Mandiri
Tim Mandiri adalah sebuah tim yang terdiri dari lima hingga dua puluh orang pekerja
dengan beragam keterampilan yang menjalani rotasi pekerjaan untuk menghasilkan sebuah
produk atau jasa secara lengkap, dan pelaksanaannya diawasi oleh seorang annggota terpilih.
6. Tim Pemecahan Masalah
Tim pemecahan masalah biasanya terdiri dari lima hingga dua belas karyawan yang
dibayar perjam dari departemen yang sama, dimana mereka bertemu untuk mendiskusikan cara
memperbaiki kualitas, efisiensi, dan lingkungan kerja.
Tim dapat diklasifikasikan berdasar tujuannya. Terdapat 4 bentuk umum dari tim yang
biasa kita temukan sehari-hari yaitu : Tim Problem-Solving, Tim Self-Managed Work,
Tim Cross-Functional, dan Tim Virtual.
1. Tim Problem-Solving
Bentuk tim awalnya serupa satu sama lain. Mereka umumnya terdiri atas 4 hingga 12
pekerja yang dibayar per jam dari departemen yang sama yang saling bertemu sekian jam setiap
minggu untuk membahas peningkatan kualitas, efisiensi, dan lingkungan kerja. Tim seperti ini
disebut Tim Problem-Solving.

6
Dalam tim jenis ini, para anggota saling berbagi gagasan dan menawarkan saran
seputar proses dan metode kerja seperti apa yang perlu dilakukan agar produktivitas dapat
ditingkatkan. Jarangkali tim-tim ini diberikan otoritas untuk secara unilateral (sendirinya)
menerapkan saran mereka ke dalam tindakan. Satu hal yang dikenal sebagai bentuk
Tim Problem-Solving adalah Lingkaran Kualitas. Ini merupakan tim kerja terdiri atas
gabungan 8 hingga 10 pekerja dan supervisor yang saling berbagi gagasan wilayah kewenangan
dan bertemu secara teratur guna mendiskusikan masalah kualitas pekerjaan mereka,
menyelidiki sebab-sebab masalah, dan merekomendasikan penyelesaian.
2. Tim Self-Managed Work
Tim Problem-Solving sudah ada di jalur yang benar, tetapi mereka tidak beranjak jauh
dalam hal pelibatan pekerja dalam proses pembuatan keputusan (apalagi implementasi) yang
berhubungan dengan suatu pekerjaan. Kekurangan ini mendorong eksperimen dari tim yang
benar-benar otonom yang tidak hanya bercorak problem-solving melainkan juga menerapkan
penyelesaian dan punya kewenangan penuh atas hasil-hasilnya.
Tim Work Self-Managed umumnya terdiri atas 10 hingga 15 orang yang mengambil alih
tanggung jawab dari para supervisor. Tanggung jawab ini termasuk kendali menyeluruh atas
kecelakaan kerja, penentuan penilaian pekerjaan, pemecahan masalah organisasi, dan pilihan
prosedur-prosedur pemeriksaan yang dilakukan secara kolektif. Tim ini bahkan memilih sendiri
anggotanya.
3. Tim Cross-Functional
Menurut Robbins, Custom Research, Inc, firma riset pemasaran di Minneapolis,
Amerika Serikat secara historis telah mengorganisir departemen-departemen yang bersifat
fungsional, tetapi manajemen senior menyimpulkan bahwa departemen-departemen tersebut
tidak mampu memenuhi kebutuhan yang berubah-ubah dari klien-klien firma. Akibat dari hal
tersebut, firma ini menggagas dibentuknya satu tim lintas departemen yang bertujuan
meningkatkan komunikasi dan penelusuran catatan kerja, yang akan membawa pada
peningkatan produktivitas dan kepuasan klien. Organisasi ini mencerminkan Tim Cross-
Functional. Tim ini terdiri atas pekerja-pekerja dari tingkat hirarki yang serupa tetapi beda
wilayah pekerjaannya. Mereka bergabung bersama guna menyelesaikan suatu pekerjaan.
Robbins menyebutkan, banyak organisasi sudah menggunakan Tim Cross-
Functional seperti ini semisal IBM membentuk gugus tugas tahun 1960-an yang terdiri atas
pekerja lintas departemen dalam perusahaan guna mengembangkan Sistem 360 yang terbukti
sukses. Gugus tugas tiada lain melainkan Tim Cross-Functional yang sifatnya temporer.
Namun, Robbins mencatat bahwa ledakan penggunaan Tim Cross-Functional kemudian juga

7
terjadi di tahun 1980-an yang dilakukan
oleh Toyota, Honda, Nissan, BMW, General Motors, Ford, dan DaimlerChrysler.
Sebagai contoh, masih menurut Robbins, antara tahun 1999 hingga Juni 2000
manajemen senior IBM menarik 21 pekerja dari sekitar 100 ribu staf teknologi informasinya
guna meminta saran bagaimana perusahaan bisa cepat menyelesaikan proyek dan memasarkan
produk secara cepat ke pasar. Ke-21 anggota dipilih karena mereka punya karakteristik yang
serupa dimana mereka pernah berhasil memimpin proyek-proyek berjangka cepat. “Speed
Team”, demikian julukan tim tersebut, bekerja selama 8 bulan saling berbagi informasi, menguji
perbedaan antara proyek-proyek berjangka cepat dan lambat, dan mereka mampu melahirkan
rekomendasi-rekomendasi seputar bagaimana IBM bisa mempercepat produksinya.
4. Tim Virtual
Tim-tim yang telah dibahas melakukan pertemuan face-to-face. Tim Virtual
menggunakan teknologi komputer guna menghubungkan orang-orang yang terpisah secara fisik
guna mencapai sasaran bersama. Teknik tersebut memungkinkan orang saling bekerjasama
lewat metode online, kendati mereka dipisahkan yuridiksi negara bahkan benua.
Tim Virtual dapat melakukan lebih banyak hal ketimbang tim-tim lainnya, terutama
dalam hal berbagi informasi, pembuatan keputusan, dan perampungan pekerjaan. Mereka terdiri
atas para anggota dari organisasi yang sama ataupun hubungan anggota organ dengan para
pekerja dari organisasi lain semisal supplier ataupun partner perusahaan.
Terdapat 3 faktor utama yang membedakan Tim Virtual dengan tim-tim lain yang face-
to-face, yaitu : (1) Ketiadaan komunikasi lisan-fisik; (2) terbatasnya konteks sosial, dan (3)
kemampuan mengatasi masalah waktu dan hambatan tempat. Dalam komunikasi face-to-face,
orang menggunakan paraverbal seperti nada suara, intonasi, dan volume suara serta nonverbal
seperti gerak mata, roman muka, gerak tangan, dan bahasa tubuh lainnya. Keduanya semakin
menjelaskan komunikasi, tetapi kini hal-hal tersebut nihil di dalam Tim Virtual. Tim Virtual
menderita kekuarangan laporan sosial yang manusiawi akibat interaksi langsung yang kecil
diantara para anggotanya.

B. Cara meningkatkan efektifitas tim.


Salah satu teknik untuk menciptakan tim yang berkualitas dan tangguh adalah DARE, yaitu :
1. Dream
Pertanyaan utama setiap pemimpin adalah bagaimana mempersatukan timnya untuk
menjadi sebuah tim yang solid. Prioritas pekerjaan pemimpin tersebut adalah menciptakan
dream. Dream atau mimpi adalah sebuah target yang dikomunikasikan pada semua anggota

8
tim dan dapat diterima untuk menjadi sasaran yang ingin dituju. Ada 2 pertanyaan yang
muncul, yang pertama adalah bagaimana caranya semua anggota tim mau menerima mimpi
tersebut sebagai mimpi mereka juga, dan yang kedua adalah bagaimana men-share-kan
mimpi tersebut kepada anggota tim. Intinya, dream harus benar-benar menjadi mimpi dan
impian setiap anggota tim dan individu perusahaan. Impian itu menjadi alasan dan motor
penggerak untuk bekerja dengan baik.
2. Attitude
Pada proses kerja sama dalam team work, jelas peranan attitude menjadi jauh lebih penting
dan sangat dibutuhkan dalam menjamin keberhasilan bekerja sama. Kinerja yang saling
mengisi kekurangan sesama anggota tim, dimulai dari pemahaman kekurangan dan
kelebihan setiap anggota tim dan untuk itu diperlukan attitude yang positif untuk saling
menunjang dan bukan saling menyalahkan dan menjatuhkan.
Tim yang solid memerlukan teamwork yang baik. Lalu cara membentuk teamwork yang
baik dimulai dari kerja sama yang solid.
Attitude positif itulah yang senantiasa dipelihara dan dibina untuk wawasan yang lebih luas
dalam menciptakan supertim dan bukan superman.
3. Relationship
Untuk menciptakan super tim yang saling memahami dan menutupi kelemahan individu
sehingga tercipta tim yang solid diperlukan hubungan yang harmonis dan mantap. Atas
dasar inilah maka perlu dikembangkan atmosfir yang kondusif dalam menjaga relasi
interpersonal antari ndividu tim. Relasi yang muncul tersebut dapat diciptakan atas dasar
saling menghargai antari dividu. Melalui saling menghargai akan tercipta suasana bahwa
setiap individu itu penting dan memiliki peranannya masing-masing yang berbeda dan
menguatkan dalam tim.
Menghargai saja tidaklah cukup, tetapi juga perlu saling [Link] perbedaan yang
cukup signi”kan antara saling menghargai dengan saling mempercayai. Saling menghargai
akan menghasilkan suasana yang bersahabat, tetapi setiap individu hanya akan cenderung
berperan untuk situasi sama-sama kerja dan bukan kerja sama. Saling mempercayai akan
menciptakan proses kerja sama yang sesungguhnya dan menciptakan tim menjadi tim yang
utuh dan solid.
Atmosfir yang nyaman dan kondusif akan menghasilkan tim yang kreatif, tidak kaku, dan
mudah beradaptasi dalam menghadapi persaingan yang keras dan senantiasa berubah. Tim
ini akan lebih mampu untuk survive menghadapi kondisi persaingan yang semakin tidak
menentu !

9
4. Excellent
Excellent berarti pekerjaan dan hasil yang sempurna dari teamwork.
Kesempurnaan ini dicapai justru bukan karena anggota tim adalah individu yang sempurna,
tetapi justru karena akibat proses saling menghargai dan mempercayai yang senantiasa
dipupuk dan dikembangkan sebagai atmos”r positif yang menciptakan attitude yang positif
dalam mencapai mimpi.
Kesempuraan itu tidak hanya berasal dari tercapainya tujuan, tetapi juga pada proses
pencapaian tujuannya.

C. Isu-isu kepemimpinan dalam perubahan tim


· Isu Pertama
Dalam sebuah tim terdapat lima anggota sedang melakukan rapat untuk menyelesaikan
masalah yang terjadi di tempat kerja mereka. Masing-masing anggota memiliki karakter yang
berbeda. Karakter dari lima anggota tersebut diantaranya: keras kepala, pembosan, offended
(tersinggung), pemalu, dan immature (belum dewasa). Saat melakukan diskusi, anggota yang
paling berperan dalam mengutarakan pendapat adalah anggota berkarakter keras kepala karena
ia merasa menguasai diskusi dan keputusan yang sedang dibahas dalam rapat, pendapat dari
anggota lain (anggota berkarakter immature dan offended) pun tidak ditanggapi oleh dirinya.
Sehingga anggota yang berkarakter immature dan offended tidak menerima sikap anggota yang
keras kepala dan terjadilah debat dalam rapat. Sedangkan anggota yang berkarakter pemalu dan
pembosan tidak mengeluarkan pendapat mereka.
Bagaimana cara supaya tim dapat berjalan effektif sehingga rapat dapat menghasilkan
suatu keputusan bersama untuk memecahkan solusi yang terjadi dalam rapat?
· Isu Kedua
Suatu produktivitas perusahaan menurun dikarenakan ketidakharmonisan hubungan
antara bagian sales dan marketing. Bagian sales beranggapan bahwa bagian marketing hanya
menghambur-hamburkan uang dan menghasilkan calon pelanggan yang tidak bermutu,
begitupun tim marketing beranggapan bahwa bagian sales malas dan tidak menindaklanjuti
calon pelanggan yang telah dihasilkan tim marketing. Hal ini sudah umum terjadi pada beberapa
perusahaan. Jika dibiarkan terjadi terus-menerus seperti ini maka akan merugikan perusahaan
dan berdampak pada karyawan di bagian lainnya.
Bagaimana solusi untuk hubungan tim yang baik antara sales dan marketing yang saling
berkaitan dengan job desk pada bagian tersebut?

10
Solusi
· Isu Pertama
Seperti yang telah dibahas dalam materi kelompok kami, sebuah tim memiliki anggota
yang terdiri atas dua orang atau lebih yang berinteraksi dan mengkoordinasikan kerja mereka
untuk tujuan tertentu sehingga pada tim tersebut terdapat orang-oran yang memiliki tujuan
kinerja yang sama.
Melihat kasus tersebut dimana anggota memiliki karakter berbeda-beda sebaiknya dapat
dilakukan beberapa hal berikut:
1. Sesama anggota dalam tim hendaknya mengesampingkan ego masing-masing terlebih
dahulu karena diskusi yang sedang dilakukan mengenai tujuan bersama yang akan dicapai
dalam suatu pekerjaan
2. Sesama anggota dalam tim saling menghargai apapun pendapat dari anggota lain demi
usaha yang akan dilakukan bersama-sama.
3. Adanya pembagian tugas masing-masing anggota dalam tim yang disesuaikan dengan
kemampuannuya masing-masing agar diskusi berjalan lancar seperti terdapat seorang
pemimpin diskusi, pengevaluasi, pemikir, pekerja tim, penyelaras akhir, dan sebagainya.
4. Setiap anggota tim diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapat secara bergiliran,
sehingga semua anggota aktif dalam diskusi.
5. Saling memahami dan menutupi kelemahan individu sehingga tercipta tim yang solid
diperlukan hubungan yang harmonis dan mantap.
6. Meningkatkan tipe tim problem solving dimana anggota melakukan pertemuan sekian jam
setiap minggu untuk berdiskusi membahas peningkatan kualitas dan efisiensi pekerjaan
mereka yang saling berkaitan.
· Isu Kedua
Bagian sales dan marketing adalah tim yang tidak dapat terpisahkan karena kedua bagian
tersebut akan saling berkaitan dalam meningkatkan produktivitas perusahaan. Hal berikut dapat
dilakukan untuk menjalin tim yang baik antara tim sales dan tim marketing:
1. Duduk bersama untuk melakukan komunikasi dan kolaborasi guna memberikan gagasan
yang dan feedback yang membantu satu sama lain
2. Menciptakan tim lintas fungsional dimana tim sales, tim marketing, dan tim promotion
bergabung dalam suatu event New Prduct Launch. Dengan bergabungnya mereka, anggota
tim marketing dapat bekerja sama dengan tim sales untuk menjual product baru melalui
brosur dan leaflet yang disiapkan oleh tim promotion. Hasilnya tentu lebih maksimal
dibandingkan berjalan sendiri-sendiri pada event yang berbeda. Karena tim ini memiliki

11
tingkat hirarki yang sama. Dengan tim lintas fungsional merupakan cara berbagai bidang
dalam suatu organisasi untuk bertukar informasi, mengembangkan gagasan baru dan
memecahkan masalah, serta mengkoordinasikan proyek yang rumit.

D. Penyelarasan tim dengan perubahan


Dalam pengertian sederhananya, penyelarasan strategi organisasi berarti memastikan
bahwa pembuatan strategi didasari oleh elemen-elemen perusahaan. Hal ini meliputi
menyelaraskan strategi perusahaan dengan setiap sasaran, departemen, budaya, dan anggota
perusahaan. Melalui penyelarasan tersebut, perusahaan memastikan bahwa ada konsistensi
antara strategi yang ditetapkan dengan visi perusahaan yang harus diraih dalam jangka panjang.

Jadi, ada beberapa pendekatan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan penyelarasan strategi
organisasi:

1. Mengembangkan budaya yang mendukung

Untuk mengembangkan budaya yang mendukung, sebuah perusahaan harus dengan jelas
memahami kompetensi sumber dayanya dengan memastikan bahwa karyawan, peralatan, dan
sistem bisnisnya siap untuk menghadapi perubahan. Terutama jika para karyawan tidak siap
menghadapi perubahan yang terjadi, maka sebaiknya perusahaan tersebut menyediakan
pelatihan bagi [Link] usaha untuk membentuk budaya yang mendukung, para
pemimpin juga harus terlibat dalam penyelarasan strategi organisasi dari awal dan
mengamankan sumber daya untuk memastikan kesuksesan karyawan dan perusahaan. Para
pemimpin dapat membantu mendukung penyelarasan strategi organisasi dengan cara
mendefinisikan dengan jelas tujuan perusahaan dan memberikan insentif untuk membantu
mereka menerima strategi baru.

2. Menyelaraskan manajemen

Agar memastikan kelancaran penyelarasan strategi organisasi, perusahaan harus membentuk


manajemen yang fokus kepada kinerja dan budaya yang telah disetujui oleh para pemimpin saat
perubahan strategis dimulai. Fokus ini seperti titik arah yang diikuti para manajer untuk
memberi motivasi kepada karyawan dan memberi dukungan. Untuk menyelaraskan
manajemen, pemimpin perusahaan harus tahu bagaimana mengelola perubahan dengan cara
mencari tahu alasan mengapa pihak internal enggan terhadap perubahan dalam penyelarasan

12
strategis organisasi dan membuat hubungan yang jelas antara visi perusahaan dengan teknologi
terkini, dan juga organisasi dengan prosesnya.

3. Melibatkan upaya individu dan tim

Meningkatkan self-awareness dan memastikan bahwa sebuah tim dan individu memiliki
otonomi lebih yang dapat membantu penyelarasan strategi organisasi, dan juga membantu para
karyawan untuk lebih terarah dalam mencapai sasaran perusahaan. Untuk mempromosikan
upaya tim dan individu, perusahaan harus terbuka dengan menyediakan informasi untuk
para stakeholders, termasuk karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan. Dengan
mempromosikan upaya individu dan tim, sebuah perusahaan telah membantu dalam
membentuk kepercayaan yang meningkatkan kesetiaan para karyawannya dan organisasinya
terhadap sasaran penyelarasan strategi organisasi.

13
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Fungsi dari tim yaitu dapat merubah sikap, perilaku, dan nilai pribadi serta dapat turut
serta dalam mendisiplinkan anggota tim. Sedangkan manfaat bekerja dalam tim yaitu untuk
pengambilan keputusan, merundingkan, dan bernegosiasi. Tujuan bekerja dalam tim agar
anggota memiliki visi dan misi yang sama dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan secara
efesiensi dan efektif.
Perbedaan antara kelompok dan tim kerja yaitu kelompok tidak menghasilkan sinergi
positif yang bisa menciptidakan seluruh tingkat kinerja yang lebih tinggi dari jumlah masukan
sedangkan tim kerja menghasilkan sinergy positif melalui usaha yang terkoordinasi dalam
menghasil satu tingkat kinerja yang lebih tinggi daripada jumlah masukan individual.
Tim yang efektif memiliki berbagai karaketiristik umum. Apabila peningkatan kinerja
organisasi dengan menggunakan tim, manajemen harus memastikan bahwa tim-timnya
memiliki karakteristik-karakteristik. Tim memiliki jenis-jenis sebagai berikut: tim problem
solving, tim self-managed work, tim cross-functional, tim virtual.

B. Saran
1. Meskipun tim menjadi penentu mulus tidaknya perjalanan organisasi, namun
masih diperlukan adanya kerjasama yang baik dalam melaksanakan tanggung jawab dalam
keorganisasian.
2. Tim tidak selalu terdiri dari sekumpulan orang dengan gaya, sikap, maupun cara kerja yang
sama. Perbedaan antar tim justru merupakan potensi yang akan membuat sebuah tim
menjadi kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, perbedaan cara kerja dalam tiap anggota tim
harus ditanggapi dengan positif.

14
DAFTAR PUSTAKA

Laurie J. Mullins. 2005. Management and Organizational Behavior, 7th Edition. Essex:
Pearson Education Limited
Robbins, Stephen P. 2007. Perilaku Organisasi Buku 1, Jakarta: Salemba Empat
Stephen P. Robbins. 2003. Essentials of Organization Behavior, 7th Edition. Upper
Saddle River, New Jersey: Prentice Hall

15

Anda mungkin juga menyukai