Membangun Kerukunan dalam Ajaran Hindu
Membangun Kerukunan dalam Ajaran Hindu
OLEH
KELOMPOK 8 :
i
KATA PENGANTAR
OM SWASTIASTU
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa karna berkat asung kerta
wara nugraha Ida kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu tanpa kurang suatu apapun.
Adapun Judul Makalah kelompok kami “Bagaimana Membangun Kerukunan sesuai ajaran
hindu” untuk menuntaskan tugas Pendidikan Agama Hindu ditingkat Perguruan Tinggi.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari [Link] harapan kami agar
pembaca berkenan memberikan umpan balik berupa kritikan dan [Link] makalah ini bisa
memberikan manfaat bagi berbagai pihak.
OM SANTHI,SANTHI,SANTHI,OM
Penulis
ii
DAFTAR ISI
COVER……………………………………………………………………………………………i
KATA PENGANTAR .................................................................................................................................. ii
DAFTAR ISI................................................................................................................................................ iii
BAB I ............................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 1
1.1 LATAR BELAKANG ........................................................................................................................ 1
1.2 RUMUSAN MASALAH .................................................................................................................... 1
1.3 TUJUAN MAKALAH........................................................................................................................ 1
BAB II........................................................................................................................................................... 3
PEMBAHASAN ........................................................................................................................................... 3
2.1 MENELUSURI URGENSI KERUKUNAN DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT YANG
DAMAI ..................................................................................................................................................... 3
2.2 ALASAN AKAN PENTINGNYA MEMBANGUN KERUKUNAN .............................................. 4
2.3 MENGGALI SUMBER HISTORIS,SOSIOLOGIS,POLITIK,DAN FILOSOFIS DALAM
MEMBANGUN KERUKUNAN .............................................................................................................. 5
2.4 MEMBANGUN ARGUMEN TENTANG DINAMIKA DAN TANTANGAN DALAM
MEMBANGUN KERUKUNAN .............................................................................................................. 7
2.5 MENDESKRIPSIKAN ESENSI DAN URGENSI MEMBANGUN KERUKUNAN ....................... 8
2.6 HAKIKAT DAN PENTINGNYA MEMBANGUN KERUKUNAN .............................................. 10
BAB III ....................................................................................................................................................... 12
PENUTUP .................................................................................................................................................. 12
3.1 KESIMPULAN ................................................................................................................................. 12
3.2 SARAN ............................................................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 14
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1
1.3.4 Untuk membangun argument dan tantangan dalam membangun kerukunan
2
BAB II
PEMBAHASAN
Dari beberapa peristiwa atau kasus yang terjadi, dapat diidentifikasi masalah�masalah yang
menjadi penyebabnya, sebagai berikut:
1. Eksklusivisme; yaitu suatu sikap kelompok yang hanya memperhatikan kelompoknya saja (in
group) dan tidak menganggap adanya kekuatan dari luar kelompoknya
2. Puritanisasi agama; yaitu usaha untuk memurnikan agama dari pengaruh unsur luar yang
bukan asaliah agamanya. Agama dianggap tidak pantas bila dihubungkan dengan sifat-sifat
kemanusiaan. Penyakralan terhadap agama secara berlebihan ini dapat memisahkan agama dari
tujuannya, karena bila dilihat dari sisi sosiokultural maka agama itu ada apabila mewujud dalam
tingkah laku masyarakat penganutnya. Kemutlakan atas kebenaran ajaran agama memang
merupakan esensi ”sradha” (iman) namun dalam wujud ”yadnya” dan ”karma” maka faktor
sosiokultural menjadi amat dominan.
3. Dilema solidaritas; Masalah solidaritas kelompok ataupun pemeluk suatu agama terhadap
sesama pemeluk agama adalah merupakan suatu loyalitas yang wajar. Loyalitas kepada suatu
golongan sering kali disalahgunakan untuk kepentingan solidaritas yang bersifat emosional
terhadap suatu aktivitas kelompok lain, karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran atau paham
yang dianutnya.
3
4. Dilema kepatuhan; Kepatuhan adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh umat
beragama, walaupun hal itu (mungkin) bertentangan dengan norma-norma agama yang
diyakininya. Kepatuhan iniberhubungan dengan seorang pemimpin
5. Analisis satu sisi; Gejala kompleksnya suatu masyarakat terlihat juga dari segi bermacam
ragamnya teknik pendekatan suatu masalah yang menimbulkan aneka ragamnya aliran falsafah,
ilmu pengetahuan sosial, termasuk permasalahan agama dan kepercayaan.
6. Dilema prasangka; Sering kali terjadi kasus SARA yang sebenarnya berawal dari munculnya
prasangka, kemudian merebak menjadi isu, seperti Islamisasi, Kristenisasi, Balinisasi, Jawanisasi
dan sebagainya. Munculnya suatu kelompok atau penganut agama yang berlainan dengan
mayoritas penduduk sebenarnya berkaitan dengan gejala urbanisasi, bahkan [Link]
masalah yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab timbulnya kesenjangan/disharmoni ataupun
konflik antar umat beragama sebagai warga bangsa yang harus dicari jalan keluarnya.
Mempertemukan tokoh-tokoh untuk berdialog adalah suatu jalan keluar yang cukup baik. Akan
tetapi hal itu akan tidak berarti apa-apa jika hasil dialog terhenti hanya sampai tingkat
musyawarah atau seminar tanpa disertai kegiatan sosialisasi. Sosialisasi hasil kesepakatan yang
bernuansa kerukunan, perdamaian, persatuan, dan kesatuan bangsa harus digiatkan karena hal itu
bukan saja merupakan tuntutan moral agama tetapi merupakan pilihan pertama bangsa Indonesia
untuk dapat mewujudkan kedaulatan dan kejayaan bangsa dan negaranya. Di samping itu ada
satu hal yang sangat mendasar untuk mengatasi persoalan kerukunan dan perdamaian, yaitu
kemauandan kesadaran kelompok untuk berupaya mengembangkan ”etik dan moral” yang
mengalir dari kemurnian nilai kebenaran universal tiap agama yang dapat diaktualisasikan dalam
konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, yang berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945.
4
sebagai Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma [Link] Bhinnêka Tunggal Ika itulah yang
oleh para pendiri negara ini dijadikan sebagai semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Maksudnya sekalipun Indonesia ini terdiri dari ragam budaya, agama, suku, ras, golongan,
maupun bahasa namun semuanya itu tetap satu negara yaitu Indonesia. Agar persatuan itu dapat
tetap tercapai maka diperlukan sikap rukun antar warga negara [Link] itu sendiri
harus terus diupayakan dan dipertahankan agar masyarakat tidak mudah dihasut dengan upaya-
upaya yang ingin memecah persatuan dan kesatuan. Salah satu cara paling ampuh untuk
melanggengkan kerukunan ialah dengan menanamkan arti pentingnya kerukunan umat beragama
bahkan ketika Anda sudah masuk perguruan tinggi. Anda harus menyadari bahwa pluralitas
masyarakat di manapun adalah sebuah realitas eksistensial yang terbentuk dari perbedaan yang
ada secara kodrati dalam kehidupan manusia dan masyarakat. Tak seorang manusia pun sama
dengan manusia lainnya walau mereka lahir sebagai saudara kembar. Tak ada cap jempol yang
sama adalah contoh paling nyata bahwa tak ada dua manusia yang absolut sama. Mungkin saja
sangat mirip tapi tidak mungkin persis sama. Sebuah masyarakat dunia terdiri dan terbentuk dari
banyak orang yang merupakan warganya. Kalaupun ada sebuah masyarakat tradisional yang
dianggap homogen namun homogenitasnya bersifat relatif sebab di dalamnya pasti ada unsur-
unsur yang berbeda sehingga heterogenitas betapapun kecilnya menjadi sesuatu yang tak
terelakan. Masyarakat bukanlah sebuah entitas organis yang statis, perubahan yang ia alami akan
memiliki corak yang sangat bervariasi sehingga memperkaya dan menambah kompleksitas
perbedaan. Karena itu tidak mungkin dihindari bahwa pluralitas yang ada secara kodrati itu
kemudian secara sosial dan kultural terus mengalami perkembangan dalam gerak dinamika
kehidupan manusia dan masyarakat yang multidimensional sifatnya, dan dengan sendirinya akan
melahirkan berbagai visi tentang kehidupan dan masa depan.
Pada zaman dahulu kala Indonesia pernah dikenal dengan sebutan “Nusantara” sebagai
sebuah bangsa yang besar dan berdaulat sudah kedatangan bangsa-bangsa lain, selanjutnya
kemudian berakulturasi antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga menghasilkan beraneka
macam budaya seperti sekarang ini. Sejak berabad-abad yang lalu, gelombang bangsa–bangsa
dan kebudayaannya yang masuk ke Indonesia dan telah menjadikan bangsa Indonesia dalam
5
wujud kebhinekaannya seperti sekarang ini. Sebenarnya sejak zaman dahulu kala, di masa gong
gentanya pura kencana Majapahit bergema, seorang cendikiawan bergelar Mpu Tantular telah
menyadari kenyataan kebhinekaan itu. Beliau menyuratkan pemikirannya di dalam Pustaka
Sutasoma yang berbunyi ”bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” yang artinya:
”walaupun itu berbeda tetapi pada hakikatnya satu, tak ada kebenaran yang ganda“.
Keanekaragaman dan kebhinekaan disatu pihak dapat menimbulkan ancaman bagi keutuhan,
persatuan, dan kesatuan bangsa, namun disisi lain sifat keterbukaan dan menerima kenyataan
serta tenggang rasa yang tinggi dan apa adanya tentu akan mampu mewujudkan keserasian,
keselarasan dan keseimbangan dalam sinergi. Oleh karena itud alam rangka sosialisasi dan
aplikasi nilai-nilai luhur agama dalam proses pembangunan nasional, maka umat Hindu dapat
mengamalkan ajarannya secara benar dengan mengupayakan revitalisasi terhadap mantra-mantra
suci Veda, sehingga mampu memberikan kontribusinya terhadap kelancaran pelaksanaan
pembangunan nasional menuju Masyarakat yang aman tentram damai dan selamat sejahtera,
suku, ras, agama bahkan antar kepentingan.
Kebenaran hakiki (kebenaran Tuhan) bersifat universal, abadi dan kebenaran ini dapat kita gali
dari nilai-nilai luhur agama yang dalam aplikasinya kemudian berkembang menjadi budaya
bangsa. Semangat untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan harus terpatri dengan baik pada
setiap manusia Indonesia sebagai warga negara yang merdeka, bersatu berdaulat adil dan
makmur dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia, yang diproklamirkan pada tanggal
17 Agustus 1945 oleh Soekarno Hatta.
Pada hakikatnya umat Hindu adalah makhluk ciptaan Tuhan yang tidak dapat dipisahkan antara
yang satu dengan yang lainnya karena merupakan satu kesatuan yang utuh. Tidak dapat
memisahkan dirinya dari sebuah perbedaan, karena ia berasal dari Tuhan dan kembali ke Tuhan
jua. Kodrat manusia pada dasarnya adalah selalu ingin meningkatkan nilai-nilai kemanusiaannya
agar dapat berevolusi menuju kemanunggalan dan sadar akan jati dirinya dengan Tuhan. Oleh
6
karena itu menghormati, menyayangi, dan menolong orang lain dalam konteks hidup beragama
adalah cerminan dari sikap yang didasari pada nilai-nilai yang ada pada Kitab suci Veda.
Selain itu, radikalisme agama juga terus mengancam eksistensi perdamaian universal. Sejumlah
peristiwa di beberapa daerah-Poso dan Maluku-menunjukkan betapa kehidupan beragama kita
justru mempersubur konflik. Perang antar agama dianggap perang suci (holy war) yang akan
mendapat pahala di surga kelak.
Dalam konteks inilah, fanatisme berlebihan atas agama yang dipancarkan dalam ekspresi
keberagamaan simbolik akan mengakibatkan radikalisasi jika tidak diminimalisasi oleh sikap-
sikap toleran atas perbedaan, akomodatif terhadap perubahan dan menerima kenyataan (realitas)
sosial. Dengan demikian, agama memiliki dua sisi paradoksal: berfungsi sebagai kenyamanan
spiritual untuk kedamaian, sekaligus menjadi media subur untuk menciptakan peperangan.
Begitu pula dengan terorisme yang selalu menebarkan ketakutan. Kini, terorisme sering
dilekatkan pada pemahaman agama yang fanatik, militan, dan radikal. Akibat hal tersebut,
pemahaman simbolik melahirkan sikap-sikap beragama intoleran atas kelompok-kelompok di
luarnya. Peristiwa Bali mestinya bisa menjadi pelajaran bagi umat Islam dan umat-umat agama
lainnya, untuk tidak mempromosikan pemahaman agama yang fanatik, militan, dan radikal,
tetapi mempromosikan pemahaman agama yang moderat.
7
2.5 MENDESKRIPSIKAN ESENSI DAN URGENSI MEMBANGUN KERUKUNAN
Svami Chinmayananda dalam bukunya “The Art Of Living” menyatakan bahwa:“sekelompok
manusia yang tinggal di suatu bagian geografis tertentu tidak dapat disebut bangsa, tapi hanya
merupakan sekelompok manusia. Apabila kelompok semacam itu hidup bersama dalam
kerukunan dan berupaya untuk mencapai suatu tujuan yang sama, barulah ia dapat disebut
“Bangsa”. Kualitas suatu bangsa sangat tergantung pada kualitas individu warga negaranya, yang
memiliki rasa persaudaraan, kasih sayang dan pengertian yang integratif”.Oleh sebab itu konsep
Tat Tvam Asi, Dharma Agama, Dharma Negara yang dapat diwujudkan dalam pengamalan
ajaran Tri Hita Karana adalah merupakan konsep pemikiran Hindu yang menjadi dasar umat
berpola perilaku dan berinteraksi dengan sesama mahkluk termasuk dengan Tuhan. Tentu dalam
hal ini menjalankan kewajiban hidup, sebagai makhluk pribadi, warga negara, maupun sebagai
umat beragama yang sadar akan hak dan kewajibannya dapat terlaksana dengan [Link]
Hindu harus mendorong dan membangun terciptanya keadilan sosial dalam masyarakat. Cita-cita
keadilan sosial dalam agama Hindu terdapat dalam konsep loksamgraha, atau kesejahteraan
untuk seluruh masyarakat. Dalam konsep loksamgraha, terkandung kesetiakawanan, kerelaan
untuk berkorban demi kepentingan orang lain yang kurang beruntung. Kenyataan yang tidak bisa
dihindari bahwa kita bangsa-bangsa Asia yang terdiri dari keanekaragaman kultur, bahasa, ras,
geografi, sejarah, agama, dan keimanan kerap terpuruk akibat seringnya penggunaan agama
sebagai alat untuk menghancurkan peradaban [Link] meneguhkan kehidupan dan ketika
Veda menyanyikan Sarve Bhavantu Sukhinah, mantra ini menekankan bahwa keselamatan
pribadi bukanlah satu-satunya tujuan, tetapi bahwa kesejahteraan masyarakat, terutama
masyarakat pemeluk Hindu, adalah sama pentingnya bahkan jauh lebih [Link]
sebagai suatu yang ideal dari masyarakat Hindu, dapat diwujudkan melalui suatu proses. Dimulai
dengan proses tumbuhnya kesadaran sosial dikalangan para pemeluk agama, bahwa masing-
masing dari kita adalah bersaudara satu sama lain: Vasudhaiva Kuṭumbakam. Bahkan hakikat
diri kita sebetulnya sama. Penderitaan bagi yang satu adalah penderitaan bagi yang lain.
Kebahagiaan bagi yang satu adalah kebahagiaan bagi yang lain, aku adalah engkau: Tat Twam
[Link] yang sejahtera, adalah merupakan jumlah total dari individu dan keluarga Hindu
yang sejahtera dan merupakan bagian dari masyarakat dunia yang sejahtera pula. Pada
hakikatnya setiap individu para pemeluk agama, harus mampu menciptakan kesejahteraannya
sendiri, melalui karma atau tindakannya sendiri. Dan untuk itu dia haruslah memiliki
8
kemampuan, kecerdasan, keahlian, dan pengetahuan serta keterampilan untuk menunjang
profesinya, dengan mana dia mencapai kesejahteraan diri dan keluarganya termasuk masyarakat
dunia. Umat Hindu diharapkan bersatu untuk membangun dan peka terhadap penyakit
masyarakat dan ikut memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh mereka yang tidak
beruntung. Agama yang tidak peka terhadap penyakit masyarakat dan tidak ikut ambil bagian
dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, tidak akan mendapat tempat
dalam masyarakat modern, tidak menarik bagi manusia modern. Malahan pada pertemuan
Tokoh-Tokoh Agama se Asia di Chiang Mai Thailand 12-16 November 2007 telah dihasilkan
kesepakatan untuk mengangkat issue yang mendunia dan telah pula di agendakan pada
Konferensi Perubahan Iklim di Nusa Dua Bali baru-baru ini yaitu: Hak Azasi Manusia,
Kesejahteraan, Kesehatan & Pendidikan, dan Lingkungan [Link] pemikiran Hindu
tentang hidup rukun dan damai ini merupakan refleksi dari ajaran Kitab suci Veda. Apabila
konsep tersebut dapat dilaksanakan secara utuh maka hasil akhir yang dicapai adalah ”Anandam
dan Santih”, kerukunan, kebahagiaan dan kedamaian. Setidaknya ada tiga strategi, yang tidak
hanya merupakan sebuah cara tetapi juga merupakan tujuan di dalamnya dalam memelihara
kerukunan antar umat beragama. Pertama, memperbesar aktor perdamaian. Asumsinya adalah
mengubah pandangan masyarakat untuk memiliki pandangan dan pemahaman agama dan
kebudayaan yang inklusif dan toleran bersifat evolutif yakni akan membutuhkan cukup lama.
Hal ini disebabkan karena eksklusitas keagamaan juga merupakan sebuah budaya. Kedua,
memperluas forum-forum perdamaian di masyarakat. Semakin banyak forum-forum kultural
yang mendiskusikan uapaya-upaya perdamaian, maka akan semakin mempersempit gerak
konflik. Forum-forum perdamaian merupakan sarana yang paling efektif untuk mengumpulkan
dan memperkuat soliditas masyarakat damai yang aktif. Forum-forum rutin yang menghadirkan
komunitas elitis-struktural dan populis-kultural akan menjadi jembatan bagi komunikasi antar
kelompok masyarakat. Ketiga, memperkuat jaringan perdamaian. Jaringan merupakan alat yang
efektif untuk mengakselerasi kepentingan perdamaian. Dengan jaringan yang kuat, baik dalam
hubungan dengan sesama masyarakat, sesama tokoh agama/adat, media, pemerintah,
DPRD,kepolisian, LSM, dan stakeholder lainnya. Upaya pencegahan konflik biasanya berbasis
jaringan untuk mengkomunikasikan dan mensosialisikan setiap temuan potensi konflik atau
strategi penyelesaian konflik. Keempat, mengadvokasi perdamaian. Inilah bagian dari upaya
mengubah kebijakan agar negara semakin peduli terhadap eksistensi perdamaian, terutama
9
bagaimana negara tidak membuat kebijakan yang menyulut konflik atau tidak melindungi korban
konflik. Advokasi biasanya dilakukan kepada Pemda, Kepolisian, DPRD, dan lembaga negara
lainnya. Advokasi tidak bisa dilakukan secara sederhana karena memerlukan kepercayaan,
otoritas, legitimasi, dan kemauan untuk mengintervensi kebijakan negara.
a. Filsafat Tat Tvam Asi, Dharma Agama, Dharma Negara adalah dasar pijakan atau pedoman
hidup bagi umat Hindu dalam menjalankan kewajibannya, sebagai individu maupun sebagai
warga negara.
b. Berpedoman pada ajaran Tat Tvam Asi Umat Hindu disarankan untuk menjalankan kehidupan
sosial ke arah saling menghargai, menghormati dan menjalin persahabatan antar sesama manusia
dan makhluk ciptaan Tuhan yang lain.
c. Pengamalan Dharma Agama tidak disarankan menyimpang dari petunjuk Veda, oleh karena
itu aplikasinya dalam kehidupan diarahkan agar setiap umat Hindu mengamalkan ajaran agama
secara betul dan utuh dengan berpedoman pada ajaran dharma sidhyarta.
10
d. Ajaran Tat Tvam Asi, Dharma Agama, dan Dharma Negara, hendaknya dapat mewujudkan
konsep ajaran Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari, sehingga konsep hidup rukun dan
damai dalam menjalankan dharma agama dan dharma negara dapat direalisasikan dengan baik.
11
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Setiap manusia sebagai insan ciptaan Tuhan yang hidup di dunia ini selalu mendambakan
kerukunan dan perdamaian. Demikian pula umat Hindu yang hidup di Negara Kesatuan
Republik Indonesia sangat mendambakan hal itu, bukan saja bagi diri atau kelompoknya tetapi
bagi keluhuran warga negara, bahkan seluruh penduduk dan atau [Link] rangka
mewujudkan kerukunan dan perdamaian sebagai bagian dari cita-cita hidupnya, diperlukan
adanya konsep pemikiran yang dapat dijadikan pedoman dalam bersikap dan berjuang demi
keseluruhan harkat dan martabat bangsanya, ditengah-tengah kehidupan lingkungannya dengan
semangat persahabatan dan [Link] pemikiran yang disajikan dalam makalah ini
lebih menekankan pada masalah ”etik dan moral” berdasarkan ajaran Veda, dalam konteks
kehidupan ber- Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, di tengah arus
kehidupan globalisasi dan perjuangan reformasi guna menemukan serta mewujudkan citra
dirinya sebagai bangsa besar yang rukun dan damai.
Setidaknya ada tiga strategi, yang tidak hanya merupakan sebuah cara tetapi juga merupakan
tujuan di dalamnya dalam memelihara kerukunan antar umat beragama. Pertama, memperbesar
aktor perdamaian. Asumsinya adalah mengubah pandangan masyarakat untuk memiliki
pandangan dan pemahaman agama dan kebudayaan yang inklusif dan toleran bersifat evolutif
yakni akan membutuhkan cukup lama. Hal ini disebabkan karena eksklusitas keagamaan juga
merupakan sebuah budaya. Kedua, memperluas forum-forum perdamaian di masyarakat.
Semakin banyak forum-forum kultural yang mendiskusikan uapaya-upaya perdamaian, maka
akan semakin mempersempit gerak konflik. Forum-forum perdamaian merupakan sarana yang
paling efektif untuk mengumpulkan dan memperkuat soliditas masyarakat damai yang aktif.
Forum-forum rutin yang menghadirkan komunitas elitis-struktural dan populis-kultural akan
menjadi jembatan bagi komunikasi antar
kelompok masyarakat. Ketiga, memperkuat jaringan perdamaian. Jaringan merupakan alat yang
efektif untuk mengakselerasi kepentingan perdamaian. Dengan jaringan yang kuat, baik dalam
12
hubungan dengan sesama masyarakat, sesama tokoh agama/adat, media, pemerintah,
DPRD,kepolisian, LSM, dan stakeholder lainnya. Upaya pencegahan konflik biasanya berbasis
jaringan untuk mengkomunikasikan dan mensosialisikan setiap temuan potensi konflik atau
strategi penyelesaian konflik. Keempat, mengadvokasi perdamaian. Inilah bagian dari upaya
mengubah kebijakan agar negara semakin peduli terhadap eksistensi perdamaian, terutama
bagaimana negara tidak membuat kebijakan yang menyulut konflik atau tidak melindungi korban
konflik. Advokasi biasanya dilakukan kepada Pemda, Kepolisian, DPRD, dan lembaga negara
lainnya. Advokasi tidak bisa dilakukan secara sederhana karena memerlukan kepercayaan,
otoritas, legitimasi, dan kemauan untuk mengintervensi kebijakan negara.
3.2 SARAN
Sebagai bangsa yang memiliki beranekaragaman suku bangsa,ras,dan agama atau bisa disebut
Bhinneka Tunggal Ika,yang dimana artinya berbeda-beda tetapi tepat satu [Link] yang dapat
disarankan yakni meningkatkan toleransi antar umat beragama dan saling menghargai dan
mengurangi sifat fanatisme demi menjaga keutuhan NKRI.
13
DAFTAR PUSTAKA
Bank Syariah. Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, [Link] – Undang Pasar Modal No. 8
Tahun 1995 (1995). Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.
(2011).
“Pasar Uang & Pasar Modal,” Jakarta: Unindra Press Bursa Efek Jakarta. (1997). Produk-Produk
Yang Ada di Pasar Modal. Jakarta : PT. Bursa Efek Jakarta
Teknik Analisis Investasi di Pasar Modal Indonesia. Jakarta : PT. Bursa Efek Jakarta Martalena,
dan M. (2011) Pengantar Pasar Modal. [Link], I. F. & Y. L. (2009) Teori Portofolio dan
Analisis Investasi. Alfabeta.
14