ASUHAN KEBIDANAN PADA NY.
A G6P4A1 USIA
KEHAMILAN 39-40 MINGGU INPARTU KALA II
DI UOBK RSUD AL-MULK
KOTA SUKABUMI
KARYA TULIS ILMIAH
NENG DEWI RIYANI
32722401D19033
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SKABUMI KOTA
SUKABUMI
2022
ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. A G6P4A1 USIA
KEHAMILAN 39-40 MINGGU INPARTU KALA II
DI UOBK RSUD AL-MULK
KOTA SUKABUMI
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan Untuk Menyelesaikan Mata Ajar Karya Tulis Ilmiah Pada
Program Studi D III Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sukabumi
NENG DEWI RIYANI
32722401D19033
PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUKABUMI KOTA
SUKABUMI
2022
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS
Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini adalah hasil karya sendiri dan semua sumber
baik yang dikutip bukan hasil plagiat
Sukabumi, Juni 2022
Yang menyatakan
NENG DEWI RIYANI
NIM : 32722401D19033
i
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK
Sebagai sivitas akademik STIKES Sukabumi, saya yang bertanda tangan dibawah
Ini :
Nama : Neng Dewi Riyani
NIM : 32722402D19033
Program Studi : DIII Kebidanan
Dengan mengembangkan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan
kepada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sukabumi Hak Royalty Non ekslusif
(Non-exsclusive Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. A G6P4A1 USIA KEHAMILAN 39-40
MINGGU INPARTU KALA II DI UOBK RSUD AL-MULK KOTA
SUKABUMI
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalty Non
Ekslusif ini Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sukabumi berhak menyimpan,
mengalih media formatkan, mengelola dalam bentuk pengkajian data (database),
merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan
nama saya sebagai penulis pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buatkan dengan sebenarnya.
Dibuat Di : Sukabumi
Pada Tanggal : Juni, 2022
Yang Menyatakan,
(………………………………….......)
ii
LEMBAR PENGESAHAN
Karya Tulis Ilmiah Telah Disetujui Dan Dipertanggungjawabkan Dihadapan
Tim Penguji Sidang Karya Tulis Ilmiah Program Studi D III Kebidanan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kota Sukabumi
Sukabumi, Juni 2022
Pembimbing Utama, Pembimbing Pendamping,
Nuur Octascriptiriani R, [Link],[Link] Shinta Utami, [Link].,[Link]
NIDN. 0427108802 NIDN. 0407098704
Menyetujui, Mengetahui,
STIKES Sukabumi Program Studi DIII Kebidanan
Ketua Ketua
H. Iwan Permana, [Link].,[Link].,[Link] Shinta Utami,[Link].,[Link]
NIDN. 0417067405 NIDN. 0407098704
iii
ABSTRACT
DIII Midwifery Study Program
HIGH SCHOOL OF HEALTH SCIENCE, SUKABUMI CITY
SCIENTIFIC WRITING, JUNE 2022
Neng Dewi Riyani
ID : 32722401D19033
MIDWIFE CARE IN NY. A G6P4A1 AGE 39-40 WEEKS OF PREGNANCY
INPARTU TIME II IN UOBK RSUD AL-MULK
SUKABUMI CITY
Childbirth is a series of events that ends with the expulsion of a term
baby, followed by the expulsion of the placenta and fetal membranes from the
mother's body through the birth canal, and takes place with or without the help of
a midwife.
Midwifery care to Mrs. A 39 years old G6P4A1 is 39-40 weeks pregnant
starting from the second stage, which is < 10 minutes by APN, the third stage is
10 minutes and the puerperal assessment is 2 hours, 6 hours, 16 hours and the
postpartum period is 8 days.
Midwifery care for Mrs. A 39 years old G6P4A1 39-40 weeks pregnant.
The care provided is danger signs for postpartum mothers, danger signs for
newborns, umbilical cord care, exclusive breastfeeding and proper use of
contraception. The care provided is in accordance with hospital procedures and
collaboration with doctors.
Based on the care that has been given, there is no gap between theory
and practice, so it is expected to be able to maintain and improve Midwifery Care
services so that they can get fast and appropriate care.
Keywords: Maternal Maternity, G6P4A1 39-40 Weeks UOBK RSUD AL-MULK
Reference : 20 (9 books, 2 journals, 3 scientific papers, 3 papers, 2 websites)
2012-2022.
iv
ABSTRAK
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KOTA SUKABUMI
KARYA TULIS ILMIAH, JUNI 2022
Neng Dewi Riyani
NIM : 32722401D19033
ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. A G6P4A1 USIA KEHAMILAN 39-40
MINGGU INPARTU KALA II DI UOBK RSUD AL-MULK
KOTA SUKABUMI
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan
pengeluaran bayi yang cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan
selaput janin dari tubuh ibu melalui jalan lahir, serta berlangsung dengan bantuan
atau tanpa bantuan seorang bidan.
Asuhan kebidanan pada Ny. A usia 39 tahun G6P4A1 hamil 39-40
minggu mulai dari kala II yaitu < 10 menit secara APN, kala III 10 menit dan
dilakukan pengkajian nifas 2 jam, 6 jam, 16 jam dan nifas yang ke 8 hari.
Asuhan kebidanan pada Ny. A usia 39 tahun G6P4A1 hamil 39-40
minggu. Asuhan yang diberikan yaitu tanda bahaya pada ibu nifas, tanda bahaya
bayi baru lahir, perawatan tali pusat, asi ekslusif dan alat kontrasepsi yang tepat
digunakan. Asuhan yang diberikan sesuai dengan protap rumah sakit dan
kolaborasi dengan dokter.
Berdasarkan asuhan yang telah diberikan tidak ditemukan adanya
kesenjangan antara teori dan praktik, sehingga diharapkan mampu
mempertahankan dan meningkatkan pelayanan Asuhan Kebidanan sehingga dapat
mendapatkan asuhan yang cepat dan tepat.
Kata Kunci : Ibu Bersalin, G6P4A1 39-40 Minggu UOBK RSUD AL-MULK
Referensi : 20 (9 buku, 2 jurnal, 3 karya tulis ilmiah, 3 makalah, 2 website)
2012-2022.
v
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum [Link]
Puji serta syukur penulis sampaikan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya yang tiada batas sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Asuhan
Kebidanan Pada Ny.A G6P4A1 Usia Kehamilan 39-40 Minggu Inpartu Kala
II di UOBK RSUD AL MULK Kota Sukabumi” Karya Tulis Ilmiah ini
diajukan sebagai syarat menyelesaikan mata kuliah tugas akhir.
Sholawat dan salam marilah kita lantunkan kepada Nabi Muhammad
SAW, dan semoga terlimpahkan pada baginda Nabi Muhammad SAW,
keluarganya, sahabatnya, pengikutnya, dan kita semua hingga kita semua
mendapatkan syafaat di yaumil akhir, Aamiinn.
Penulis menyadari bahwa penyusuna Karya Tulis Ilmiah ini banyak
menemukan hambatan dan kesulitan. Namun atas segala bimbingan, arahan serta
dukungan penuh dari berbagai pihak penulis mampu menyelesaikan Karya Tulis
Ilmiah ini. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih
kepada:
1. H. Iwan Permana, [Link].,[Link].,[Link] selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Sukabumi.
2. dr. Munifah Budi Isnaeni, MMRS. Selaku Direktur UOBK RSUD Al mulk
Kota Sukabumi.
3. Shinta Utami, [Link].,[Link] Ketua Prodi DIII Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehahan Sukabumi,
Sekaligus pembimbing pendamping yang telah memberikan dukungan dan
arahan.
4. Nuur Octascriptiriani R, [Link]., [Link] selaku pembimbing utama yang telah
memberikan dukungan dan arahan.
5. Nina Marlina,[Link].,[Link] selaku pembimbing lahan yang telah memberikan
arahan dan dukungan.
vi
6. Orang tua beserta keluarga tercinta, yang selalu memberikan dukungan moral,
spiritual dan material yang tidak terhingga.
7. Teman-teman seperjuangan yang sama-sama berjuang dan saling memberi
semangat dan dukungan.
Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna,
baik dari materi maupun teknik penulisan. Meskipun kami telah berusaha
segenap kemampuan, namun kami menyadari bahwa dalam penulisan ini masih
banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi,
mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis.
Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi perbaikan dan penyempurnaan. Penulis mengharapkan semoga
Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat dan memberikan kontribusi yang positif bagi
penulis pada kasusnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Sukabumi, 2022
Penulis
vii
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI..................................................ii
LEMBAR PENGESAHAN..............................................................................iii
ABSTRACT........................................................................................................iv
ABSTRAK.........................................................................................................v
KATA PENGANTAR.......................................................................................vi
DAFTAR ISI......................................................................................................viii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................1
A. Latar Belakang........................................................................................1
B. Tujuan......................................................................................................3
C. Manfaat....................................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................6
A. Tinjauan Teori Klinis..............................................................................6
1. Persalinan..........................................................................................6
2. Bayi Baru Lahir.................................................................................19
3. Nifas..................................................................................................24
4. Keluarga Berencana..........................................................................31
B. Tinjauan teori manjemen ashan kebidanan menurut hellen varney 2007
dan SOAP................................................................................................36
BAB III TINJAUAN KASUS38
A. Persalinan Fisiologis...............................................................................38
1. SOAP Kala II....................................................................................38
2. SOAP Kala III...................................................................................47
3. SOAP Kala IV...................................................................................49
B. Nifas Fisiologis.......................................................................................51
viii
1. SOAP 2 Jam Post Partum..................................................................51
2. SOAP 6 Jam Post Partum..................................................................54
3. SOAP 16 Jam Post Partum................................................................57
4. SOAP 8 Hari Post Partum................................................................61
C. Bayi Baru Lahir fisiologis.......................................................................64
1. SOAP Bayi Baru Lahir 40 Menit......................................................64
2. SOAP Bayi Baru Lahir 6 Jam...........................................................69
3. SOAP Bayi Baru Lahir 16 Jam.........................................................72
4. SOAP Bayi Baru Lahir 8 Hari..........................................................74
BAB IV PEMBAHASAN78
A. Persalinan................................................................................................78
B. Nifas........................................................................................................80
C. Bayi Baru Lahir.......................................................................................83
BAB V PENUTUP.............................................................................................87
A. Simpulan.................................................................................................87
B. Saran........................................................................................................87
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................89
LAMPIRAN
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan nasional diarahkan untuk meningkatkan
kesadaran, kemampuan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar
peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat
terwujud. Pembangunan kesehatan pada periode 2015-2019 adalah Program
Indonesia Sehat yang merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) 2005-2025, dengan sasaran
meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalusi upaya
kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan
perlindungan financial dan pemerataan pelayanan kesehatan. (Kemenkes
RI,2015)
Upaya peningkatan derajat kesehatan ibu dan bayi merupakan salah
satu bentuk investasi di masa depan. Keberhasilan upaya kesehatan ibu dan
bayi, diantaranya dapat dilihat dari Inikator Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB).menurut Word Health Organization (WHO),
setiap hari pada tahun 2017 sekitar 810 wanita meninggal, pada akhir tahun
mencapai 295.000 orang 94% diantaranya terdapat di negara berkembang.
(WHO, 2019). Pada tahun 2018 angka kematian bayi lahir sekitar 18
kematian per 1.000 kelahiran hidup. Tingginya angka kematian ibu (AKI) dan
1
2
Angka Kematian Bayi (AKB) disebabkan oleh komplikasi pada kehamilan
dan persalinan (Kemenkes.2021).
Berdasarkan data Sampling Registration System (SRS) tahun 2018,
sekitar 76% Kematian ibu dan pasca persalinan dengan proposi 24% terjadi
saat hamil, 36% saat persalinan dan 40% pasca bersalinan. Yang mana lebih
dari 62% Kematian Ibu dan Bayi di rumah sakit. Tingginya kematian ini
disebabkan oleh berbagai faktor risiko yang terjadi mulai dari fase sebelum
hamil yaitu kondisi wanita usia subur yang anemia, kurang energi kalori,
obesitas, mempunyai penyakit penyerta seperti tuberculosis dan lain-lain.
Pada saat hamil ibu juga mengalami berbagai penyulit seperti hipertensi,
pendarahan, anemia, diabetes, infeksi, penyakit jantung dan lain-lain.
(Kemenkes,2021)
Adapun berdasarkan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat tahun 2020
angka kematian ibu sebesar 479 kasus sedangkan angka kematian bayi
sebesar 1866 kasus, dan berdasarkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota
Sukabumi, mencatat sepanjang 2022 angka kematian Ibu dan angka kematian
bayi (AKI dan AKB) nol kasus. Sementara, terhitung sejak Januari hingga
Desember 2021 lalu mencapai sebanyak 20 AKI dan 20 AKB. (Dinkes Kota
Sukabumi,2022).
Berdasarkan data tahunan UOBK RSUD AL-MULK Kota Sukabumi
tahun 2021 terdapat 1497 pasien kebidanan dan jumlah kematian bayi
terdapat 2 (0,13%), sedangkan angka kematian ibu nol kasus di UOBK RSUD
AL-MULK (Laporan tahunan UOBK RSUD AL-MULK).
3
Peran bidan dalam menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan ibu
yaitu membantu ibu merencanakan kehamilan yang sehat, mendampingi ibu
salama proses kehamlian, menolong ibu dalam proses persalinan, asuhan
pasca persalinan dan pelayanan keluarga berencana dan dalam rencana
kehamilan, bidan dapat melakukan upaya promotif dan preventif.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk menggali dalam
studi ibu hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, dengan memberikan “Asuhan
Kebidanan Pada Ny. A G6P4A1 Usia Kehamilan 39-40 minggu Inpartu
Kala II di RSUD AL MULK Kota Sukabumi”.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan Komprehensif
dengan standar asuhan kebidanan serta mendokumentasikan dalam
bentuk SOAP.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian data subjektif dimulai dari
persalinan, bayi baru lahir dan nifas pada Ny. A G6P4A1 usia
kehamilan 39-40 minggu kala II di UOBK RSUD AL-MULK.
b. Mampu melakukan pengkajian data objektif dimulai dari persalinan,
bayi baru lahir dan nifas pada Ny. A G6P4A1 usia kehamilan 39-40
minggu inpartu kala II di UOBK RSUD AL-MULK.
4
c. Mampu menetukan pengkajian Analisa dimulai dari persalinan, bayi
baru lahir dan nifas pada Ny. A G6P4A1usia kehamilan 39-40
minggu inpartu kala II di UOBK RSUD AL-MULK.
d. Mampu melakukan penatalaksanaan asuhan kebidanan secara
komprehensif dimulai dari persalinan, bayi baru lahir dan nifas pada
Ny. A G6P4A1 usia kehamilan 39-40 minggu inpartu kala II di
UOBK RSUD AL-MULK.
e. Mampu melakukan evaluasi hasil asuhan kebidanan yang diberikan
dimulai dari persalinan, bayi baru lahir dan nifas pada Ny. A
G6P4A1 usia kehamilan 39-40 minggu inpartu kala II di UOBK
RSUD AL-MULK.
f. Mampu melakukan pendokumentasian asuhan kebidanan mulai dari
persalinan, bayi baru lahir dan nifas pada Ny. A G6P4A1 usia
kehamilan 39-40 minggu inpartu kala II di UOBK RS AL-MULK.
C. Manfaat
1. Teoritis
Asuhan kebidanan Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat
dijadikan sebagai sumber reverensi bagi perpustakaan Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Kota Sukabumi sehingga menambah pengetahuan
khususnya dalam bidang kesehatan kebidanan yang berkaitan dengan
penerapan Asuhan Kebidanan Komprehensif.
2. Praktis
5
Asuhan kebidanan Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat dijadikan
sebagai bahan masukan dalam mempertahankan mutu pelayanan
kesehatan khusunya dalam kasus asuhan kebidanan kompehensif, hingga
terwujudnya mutu pelayanan yang dapat meningkatkan derajat kesehatan
yang baik khususnya kesehatan ibu dan anak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori Klinis
1. Persalinan
a. Pengertian persalinan
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan
pengeluaran bayi yang cukup bulan, disusul dengan pengeluaran
plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu melalui jalan lahir, serta
berlangsung dengan bantuan atau tanpa bantuan (Kekuatan ibu
sendiri). (Ari Kurniarum,2016)
Definisi persalinan normal menurut WHO adalah persalinan
yang dimulai secara spontan, beresiko rendah pada awal persalinan
dan tetap demikian selama proses persalinan. Bayi dilahirkan secara
spontan dalam presentasi belakang kepala usia kehamilan antara 37
hingga 42 Minggu lengkap.
Dapat disimpulkan bahwa persalinan merupakan pengeluaran
hasil konsepsi yaitu janin dan placenta, saat usia kehamilan sudah
cukup bulan yaitu 37 sampai 42 Minggu masa kehamilan (Ari
Kurniarum,2016).
b. Fisiologi persalinan
6
7
Fisiologi persalinan ialah suatu proses pengeluaran hasil
konsepsi yang dapat hidup di dunia luar dari rahim melalui jalan
lahir atau dengan jalan lain. Serangkaian kejadian yang berakhir
dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hamper cukup
bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari
tubuh ibu (Nurul Husnul Lail,2019)
c. Tanda-tanda persalinan
Menurut Ari Kurniarum (2016) tanda-tanda persalinan sebagai
berikut:
1. Lightening
Beberapa seminggu sebelum persalinan, calon ibu merasa
bahwa keadaannya menjadi lebih berat. Ia merasa kurang sesak,
tetapi sebaliknya ia merasa bahwa berjalan sedikit lebih suka,
dan sering diganggu oleh prasaan nyeri pada anggota bawah.
2. Pollikisuria
Pada akhir bulan 9 hasil pemeriksaan didapatkan
epigastrium kendor, fundus uteri lebih rendah dari pada
kedudukannya dan kepala janin sudah mulai masuk kedalam
pintu atas panggul. Keadaan ini menyebabkan kandung kencing
tertekan sehingga merangsang ibu untuk sering kencing yang
disebut pollakisuria.
3. Fase Labar
8
Kontraksi palsu atau dikenal dengan dunia medis sebagai
kontraksi Braxton Hicks merupakan hal yang normal yang
terjadi pada wanita hamil. Kontraksi semacam itu merupakan
persiapan rahim untuk menghadapi persalinan dan akan muncul
lebih sering sebagai tanda melahirkan semakin dekat.
Tiga atau empat minggu persalinan, calon ibu diganggu oleh his
pendahuluan ini bersifat :
a) Nyeri yang hanya terasa diperut bagian bawah
b) Tidak teratur
c) Lamanya his pendek, tidak bertambah kuat dengan majunya
waktu dan bila dibawa jalan malah sering berkurang.
d) Tidak ada pengaruh pada pendataran atau pembukaan
serviks
4. Penipisan dan pembukaan servix
Penipisan an pembukaan servix ditandai dengan adanya
pengeluaran lendir dan darah sebagai tanda pemula
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan
1. Passage
Faktor jalan lahir ibu yang bisa mempengaruhi persalinan.
Adapun faktor jalan lahir terdiri :
a) Bagian keras : tulang panggul (rangka panggul)
b) Bagian lunak : otot-otot, jaringan-jaringan dan ligament
2. Power
9
Kekuatan yang dapat mempengaruhi terjadinya persalinan.
Adapun power yang dapat mempengaruhi persalinan terdiri :
a) Kontraksi uterus : kekuatan otot yang mendorong janin
dalam persalinan adalah his, kontraksi otot-otot perut,
kontraksi diagfragma, dan aksi ligamen.
b) Tenaga mengejan : suatu aktivitas yang dilakukan ibu
yaitu mengejan seperti mengejan buang air besar dengan
kekuatan yang jauh lebih kuat sehingga menutupnya
glottis sehingga mengakibatkan kontraksi otot-otot perut
dan menekan diafragmanya kebawah (Ari
Kurniarum,2016).
c. Perubahan dalam proses persalinan
1. Perubahan Serviks : Dengan terjadinya pendataran
serviks/effasement menyebabkan pelembaran kanalis servikalis
menjadi 1 lubang besar sehingga dapat dilalui bayi.
2. Perubahn Sistem Kardiovaskuler : Tekanan darah meningkat
selama kontraksi, kenaikan diastole 15 (10-20) mmHg, kenaikan
diastole 5-10 mmHg.
3. Perubahan Sistem Respirasi : Pernapasan sedikit meningkat
karena kontraksi uterus dan diagfragma tertekan janin (Ari
Kurniarum,2016).
b. Penatalaksanaan dalam proses persalinan
Langkah-langkah dalam APN menurut JNPK-KR 2008 :
10
1. Medengar dan melihat adanya tanda persalinan kala dua.
2. Memastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan
esensial untuk menolong pesalinan dan penatalaksana
komplikasi segera pada ibu dan bayi baru lahir.
3. Memakai celemek plastik atau dari bahan yang tidak tembus
cairan.
4. Melepaskan dan menyimpan semua persiapan yang dipakai, cuci
tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian
keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih
dan kering.
5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan yang akan
digunakan untuk pemeriksaan dalam.
6. Masukan oksitosin kedalam tabung suntik (menggunakan tangan
yang bersarung tangan DTT atau steril dan pastikan tidak terjadi
kontaminasi pada alat tulis).
7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-
hati dari anterior (depan) ke posterior (belakang) menggunakan
kapas atau kasa yang dibasahi air DTT.
8. Melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan
lengkap.
9. Dekomentasi sarung tangan (mencelupkan tangan kanan yang
bersarung tangan kedalam lautan klorin 0,5%, membuka sarung
tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya didalam
11
larutan klorin 0,5% selama 10 menit). Mencuci kedua tangan
setelah sarung tangan dilepas.
10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus mereda
(relaksasi) untuk memastikan DJJ masih dalam batas normal
(120-160 x/menit).
11. Memberi tahu ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan
keadaan janin cukup baik, kemudian bantu ibu menemukan
posisi yang nyaman dan sesuai dengan keinginannya.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi meneran
jika ada rasa ingin meneran atau kontraksi yang kuat. Pada
kondisi itu, ibu diposisikan setengah duduk atau posisi lain yang
diinginkan dan pastikan ibu merasa nyaman.
13. Melakukan bimbingan meneran pada saat ibu mempunyai
dorongan yang kuat untuk meneran atau timbul kontraksi yang
kuat.
14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil
posisi nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk
meneran dalam 60 menit.
15. Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) diperut
ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6
cm.
16. Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bawah bokong ibu.
12
17. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali
kelengkapan alat dan bahan.
18. Memakai sarung tangan DTT kedua tangan.
19. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5-6 cm,
memasang handuk bersih untuk mengeringkan janin pada perut
ibu.
20. Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin.
21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran Paksi
luar secara spontan.
22. Setelah kepala melakukan putaran Paksi luar, pegang secara
biparental. Menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat
kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala kearah bawah dan
distal hingga bahu depan muncul dibawaharkuspubis dan
kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu
belakang.
23. Setelah kedua bahu lahir, geser tangan bawah untuk menopang
kepala dan bahu. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan
memegang tangan dan siku sebelah atas.
24. Setelah badan dan tangan lahir, penelusuran tangan atas
berlanjut ke punggung, bokong dan tungkai dan kaki, janin
untuk memegang tungkai bawah (masukan jari telunjuk diantara
kedua kaki dan pegang kedua kaki dengan melingkarkan ibu jari
13
pada satu sisi dan jari-jari lainya pada sisi yang lain agar
bertemu dengan jari telunjuk).
25. Melakukan penilaian selintas :
(a) Apakah bayi menangis kuat dan atau bernafas tanpa
kesulitan? bayi menangis spontan, bernapfas dengan normal,
tidak ada tarikan dinding dada.
(b) Apakah bayi bergerak aktif? bayi bergerak aktif, tidak ada
kelainan.
26. Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian
tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan
verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering.
Memastikan bayi dalam posisi aman diperut bagian bawah ibu.
27. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan hanya satu bayi
yang lahir (hamil tunggal) dan bukan kehamilan ganda
(gemelli).
28. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus
berkontraksi baik.
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10
unit IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral
(lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
30. Setelah 2 menit bayi lahir, memegang tali pusat dengan satu
tangan pada sekitar 5 cm dari pusar bayi, kemudian jari telunjuk
dan jari tengah tangan lain menjepit tali pusat pada titik tersebut
14
kemudian tahan klem ini pada posisinya, gunakan jari telunjuk
dan tengah tangan lain untuk mendorong isi tali pusat ke arah
ibu (sekitar 5 cm) dan klem tali pusat pada sekitar 2 cm distal
dari klem pertama.
31. Memotong dan mengikat tali pusat. Dengan satu tangan, pegang
tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan
pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut. Mengikat tali
pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian
melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatkannya
dengan simpul kunci pada sisi yang lainnya. Melepaskan klem
dan memasukankedalam wadah yang telah disediakan.
32. Meletakan bayi tengkurap didada ibu untuk kontak kulit ibu-
bayi. Meluruskan bahu bayi sehingga dada bayi menempel di
dada [Link] kepala bayi berada diantara
payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari puting susu atau
areola mamae ibu.
33. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari
vulva.
34. Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, ditepi atas
simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
35. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan
tangan kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan
hati-hati ke arah dorsokranial. Jika plasenta tidak lahir setelah
15
30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu
hingga timbul kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur.
36. Bila pada penekanan bagian bawah dinding depan uterus kearah
dorsal ternyata diikuti dengan pergeseran tali pusat ke arah distal
maka lanjutkan dorongan ke arah Dorso kranial hingga plasenta
dapat dilahirkan.
37. Setelah plasenta tampak di introitus vagina, lahirkan plasenta
dengan kedua tangan. Memegang dan memutar plasenta sampai
selaput ketuban terpilin kemudian melahirkan dan meletakan
plasenta pada wadah yang telah disediakan.
38. Segera plasenta dan selaput ketuban lahri, melakukan masase
(pemijatan) pada uterus, meletakan telapak tangan di fundus dan
lakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut
hingga uterus berkontraksi (uterus terasa keras).
39. Periksa kedua sisi plasenta (maternal-fetal) pastikan plasenta
telah dilahirkan lengkap. Masukan plasenta kedalam kantung
plastik atau tempat khusus.
40. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum.
Melakukan penjahitan bila laserasi yang luas dan menimbulkan
perdarahan. Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan
aktif, segera lakukan penjahitan.
41. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi
perdarahan pervaginam.
16
42. Mencelupkan tangan yang masih memakai tangan kedalam
larutan klorin 0,5%, bersihkan noda darah dan cairan tubuh,
lepaskan secara terbalik dan rendam sarung tangan dengan
sabun dan air bersih mengalir, keringkan tangan dengan tissue
atau handuk pribadi yang bersih dan kering.
43. Memastikan kandung kemih kosong.
44. Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan
menilai kontraksi.
45. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
46. Memeriksakan nadi ibu dan memastikan keadaan ibu baik.
47. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi
bernafas dengan baik.
48. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin
0,5% untuk dekontaminasi(10 menit). Cuci dan bilas peralatan
setelah di dekontaminasi.
49. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah
yang sesuai.
50. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DTT.
Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu
memakai pakaian bersih dan kering.
51. Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk
membantu apabila ibu ingin minum.
52. Dekontamniasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.
17
53. Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5%
melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
merendamnya dilarutan klorin 0,5%.
54. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian
keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih
dan kering.
55. Memakai sarung tangan bersih/DTT untuk melakukan
pemeriksaan fisik bayi.
56. Dalam satu jam pertama, memberikan salep/tetes mata
profilaksis infeksi, vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri
anterilateral, pemeriksaan fisik bayi baru lahir, pernafasan bayi
normal (40-60 kali/menit) dan temperatur tubuh (normal 36,5-
37,5⁰C) setiap 15 menit.
57. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan
imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral. Meletakan
bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu dapat
disusukan.
58. Melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
merendamnya di dalam lautan klorin 0,5% selama 10 menit.
59. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian
mengeringkan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih
dan kering.
18
60. Melengkapi patograf (halaman depan dan belakang), memeriksa
tanda vital dan asuhan kala IV Persalinan.
c. Teori Patograf
a. Pengertian patograf
Alat untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu
menetukan keputusan dalam penatalaksanaan, alat bantu yang
digunakan selama fase aktif persalinan, Catatan grafik mengenai
kemajuan persalinan untuk memantau keadaan ibu dan janin (dr.
Sutrisno spg,2020).
b. Tujuan patograf
1. Untuk mencatatkan hasil observasi dan kemajuan perslinan,
dengan VT menilai pembukaan serviks.
2. Untuk menilai apakah proses persalinan berjalan normal.
3. Dan untu mendeteksi secara dini, sehingga dapat menentukan
tindakan yang harus dimbil dalam waktu yang tepat.
c. Penggunaan patograf
1. Ditemukan sebagai eleme penting pada setiap persalinan kala
1 fase aktif.
2. Membantu untuk menentukan apakah bisa dilakukan
Persalinan normal atau persalinan dengan tindakan.
3. Digunakan dimana Fasilitas Kesehatan yang melayani
persalinan.
4. Harus dibuat secara utin oleh Penolong Persalinan.
19
d. Manfaaat pengunaan patograf
1. Membantu penolong persalinan dalam memantau,
mengevalui, membuat keputusan klinik tepat dan cepat.
2. Memudahkan penolong persalinan dalam menemukan secara
dini masalah atau penyulit dalam persalinan sehingga dapat
segera mengambil tindakan.
3. Menurunkan kasus kegawat daruratan, petsalinan lama dan
mengurangi kasus seksio cesarean.
4. Menurunkan kematian ibu dan anak.
2. Bayi Baru Lahir
a. Pengertian bayi baru lahir
Bayi baru lahir adalah masa kehidupan bayi pertama diluar
rahim sampai dengan usia 28 hari dimana terjadi perubahan yang
sangat besar dari kehidupan didalam harim menjadi diluar rahim.
Pada masa ini terjadi pematangan organ hampir disemua sistem
(Cunningham,2012).
Bayi baru lahir yaitu kondisi dimana bayi baru lahir (neonatus),
lahir melalui jalan lahir dengan presentasi kepala secara spontan
tanpa gangguan, menangis kuat, nafas secara spontan teratur, berat
badan antara 2500-4000 gram.
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari usia
kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dengan berat badan
lahirnya 2500 gram sampai dengan 4000 gram, lahir langsung
20
menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang
berat (Astuti Setiyani,2016).
b. Perubahan fisiologis bayi baru lahir
1. Perubahan pernafasan
Saat kepala janin melewati jalan lahir, ia akan mengalami
penekanan yang tinggi pada toraknya, dan tekanan ini akan
hilang pada tiba-tiba setelah lahir. Proses mekanis ini
menyebabkan cairan yang ada didalam paru-paru hilang karena
terdorong ke bagian Perifer paru lalu di absorpi. Karena
terstimulus oleh sensor kimia, suhu, serta mekanis akhirnya bayi
memulai aktifitas nafas untuk yang pertama kali (Astuti
Setiyani,2016)
2. Perubahan sirkulasi
Aliran darah pada plasenta berhenti pada saat tali pusat di
klem. Tindakan ini meningkatkan suplai oksigen ke plasenta
menjadi tidak ada dan menyebabkan selangkaian reaksi
selanjutnya.
3. Termoregulasi
Bayi baru lahir mempunyai kecenderungan untuk
mengalami stress fisik akibat perubahan suhu diluar uterus.
Fluktuasi di dalam uterus minimal, rentang maksimal hanya
0,60C sangat berbeda dengan kondisi diluar uterus. Pada
lingkungan yang dingin, pembentukan suhu yang dingin,
21
pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan
usaha utama seorang bayi yang kedinginan untuk mendapatkan
kembali panas tubuhnya.
4. Pengaturan sistem gastrointestinal
Kemampuan BBL cukup bulan untuk menelan dan
mencerna makanan (selain susu) masih terbatas.
5. Perubahan pada sistem imun
Sistem imunitas BBL masih belum matang, sehingga
menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan
alergi.
6. Perubahan pada sistem ginjal
Ginjal pada BBL menunjukan penurunan aliran darah
ginjal dan penurunan kecepatan filtrasi glomerulus, kondisi ini
mudah menyebabkan retensi cairan dan intoksikasi air.
c. Tanda-tanda bayi baru lahir normal
Menurut Azis (2020) tanda- tanda bayi normal seperti berikut :
1. Lahir atrem antara 37-42 Minggu.
2. Berat badan 2500-4000 gram.
3. Panjang badan 48-52 cm.
4. Lingkar dada 30-38.
5. Lingkar kepala 33-35.
6. Lingkar lengan 11-12.
7. Frekuensi denyut jantung 120-160 x/menit.
22
8. Pernafasan ± 40-60 x/menit
9. Kulit kemerah-merahan licin karena jaringan subkutan yang
cukup.
10. Rambut lanugo tidak terlihat, dan rambut kepala biasanya telah
sempurna.
11. Kuku agak panjang dan lemas.
12. Nilai APGAR >7.
13. Gerak aktif.
14. Bayi lahir langsung menangis kuat.
15. Reflekx rooting (mencari puting dengan rangsangan taktik pada
pipi dan daerah mulut).
16. Reflex sucking (isap).
17. Reflex swallowing (menelan).
18. Reflex Moro (gerakan memeluk jika dikagetkan).
19. Reflex grasping (menggenggam).
20. Genetalia
a) Pada laki-laki kematangan ditandai dengan testis yang berada
pada skrotum dan penis yang berlubang.
b) Pada perempuan kematangan ditandai dengan vagina dan
uterus yang berlubang, serta adanya labia minora dan labia
mayora.
21. Eliminasi baik yang ditandai dengan keluarganya meconium
dalam 24 jam pertama dan bewarna hitam kecoklatan.
23
d. Tanda bahaya bayi baru lahir
Menurut Buku KIA (2021) ada beberapa tanda-tanda
Bayi Baru Lahir :
Tali pusat kemerahan sampai dinding perut, berbau atau bernanah.
Tinja bayi saat buang air besar berwarna pusat, demam atau panas
tinggi, demam, muntah-muntah, kulit dan mata bayi kuning, lemah,
dingin, menangis atu merintih terus, sesak nafas, kejang, dan tidak
mau menyusu.
e. Penatalaksanaan bayi baru lahir
Menurut Elly Dwi Wahyuni (2018) berikut penatalaksanaan
Bayi baru lahir :
1. Pemotongan Tali Pusat
Setelah bayi lahir, tali pusat dipotong 3 cm dari dinding
perut bayi dengan gunting steril dan diikat dengan pengikat
steril. Luka tali pusat dibersihkan dan dirawat dengan perawatan
terbuka tanpa dibubuhi apapun.
2. Inisiasi Menyusu Dini
Inisiai menyusu dini adalah proses membiarkan
membiarkan bayi menyusu sendiri segera setelah melahirkan.
melakukannya juga tidak sulit, hanya membutuhkan waktu
sekitar satu atau dua jam.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Rismawati
dan Fadjriah Ohorella 2021). Bahwa IMD banyak memberikan
24
manfaat bagi bayi karena hipotermi, mendapat anti bodi dari
kolostum, menelan bakteri aman yang berkoloni diusus
menyaingi bakteri pathogen, membuat kadar glukosa bayi lebih
baik setelah beberapa jam setelah persalinan dan menurunkan
intensitas ikterus karena pengeluaran mekonium yang lebih dini.
Sementara manfaat IMD bagi ibu antara lain membuat jalinan
kasih sayang ibu dan bayi, ibu nerasa lebih tenang, membantu
kontraksi uterus, mengurangi risiko pendarahan dan
mempercepat pengeluaan plasenta.
3. Pemberian Vitamin K1
Vitamin K adalah vitamin yang larut dalam lemak,
merupakan suatu naftukoinon yang beperan dalam modifikasi
aktifitas beberapa protein yang berperan dalam pembekuan
darah.
4. Pencegah Infeksi Mata
Beri salep mata antibioti pada kedua mata untuk merawat
mata bayi. Salep antibiotik tersebut harus dberikan dalam waktu
satu jam setelah kelahiran, upaya frofilaksis infeksi mata tidak
efektif jika diberikan lebih dari satu jam.
5. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir akan langsung
dilakukan sesaat setelah bayi dilahirkan. Pemeriksaan ini
meliputi pengecekan organ vital, seperti detak jantung,
25
pernapasan, suhu tubuh, berat badan, panjang badan dan organ
tubuh lainnya.
6. Pemberian Imunisasi HB0
Pemberian HB0 kepada bayi baru lahir untuk memberikan
perlindungan terhadap penyakit hepatitits B. Tujuannya untuk
memberikan kekebalan tubuh.
f. Kunjungan Neonatus
Menurut Buku KIA (2020) Kunjungan neonatus yaitu :
Kunjungan Neonatus 1 : Pada periode 6 jam sampai
dengan 48 jam setelah lahir.
Kunjungan Neonatus 2 : Pada periode 3 hari sampai 7 hari
setelah lahir.
Kunjungan Neonatus3 : Pada periode 8 hari sampai 28
hari setelah lahir.
3. Nifas
a. Pengertian nifas
Masa nifas (peurperieum) adalah dimulai setelah plasenta lahir
dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan
sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 Minggu, akan
tetapi seluruh alat genetal baru pulih kembali seperti keadaan
sebelum hamil dalam waktu 3 bulan. (Elly Dwi Wahyuni,2018).
26
Masa nifas (Post Partum) adalah masa dimulai setelah kelahiran
plasenta dan berakhir ketika alat kandungan kembali semula seperti
sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari
(Yuliana & Hakim,2020).
Masa nifas adalah masa pemulihan paska persalinan hingga
seluruh organ reproduksi wanita pulih kembali sebelum kehamilan
berikutnya.
b. Fisiologis nifas
1. Sistem Kardiovaskular
Denyut jantung, volume dan curah jantung meningkat
segera setelah melahirkan karena terhentinya aliran darah ke
plasenta yang mengakibatkan beban jantung meningkat yang
dapat diatasi dengan haemokonsentasi sampai volume darah
kembali normal. (Elly Dwi Wahyuni,2018)
2. Sistem Repruduksi
a. Uterus
Uterus beramgsur-angsur kecil (involusi) sehingga kembali
sebelum hamil.
b. Lochia
Cairan sekret yang berasal dari cavumuteri dan vagina dalam
masa nifas.
c. Serviks
27
Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek, kendor
dan berbentuk seperti corong. Hal ini disebabkan corpusuteri
berkontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi, sehingga
perbatasan antara corpus dan serviks uteri berbentuk cincin.
d. Vulva dan vagina
Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami
penekanan sehingga mengalami peregangan, setelah beberapa
hari persalinan kedua organ ini kembali dalam keadaan
kendor. Rugae timbul kembali pada minggu ketiga. Hymen
tampak sebagai tonjolan kecil dan dalam proses pembekuan
berubah menjadi karankula emitiformis yang khas bagi
wanita multipara
e. Payudara
Ketika hormon yang dihasilkan yang dihasilkan plasentas
tidak ada lagi untuk mengambat kelenjar pituitary akan
mengeluarkan proklatin (hormonelaktogenik).
Ketika bayi menghisap puting, reflek syaraf merangsang
lobusposteriorpituarutary untuk menyekresi hormon
oksitosin. Oksitosin merangsang reflek letdwon
(mengalirkan), sehingga menyebabkan infeksi ASI melalui
sinus laktiferus payudara keduktus yang terdapat pada puting.
3. Perubahan sistem pencernaan
28
Sistem gastroinetesnital selama kehamilan dipengaruhi
oleh beberapa hal, diantaranya tingginya kadar progesteron yang
dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan
kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos.
Pasca melahirkan, kadar progestron juga menurun.
4. Perubahan perkemihan
Pada awal postpartum, kandung kemih mengalami edema,
kongesti, dan hipotenik. Hal ini disebabkan adanya overdistensi
pada saat kala dua persalinan dan pengeluaran urine yang
tertahan selama proses persalinan. Sumbatan pada uretra
disebabkan oleh adanya trauma saat persalinan berlangsung dan
trauma ini dapat berkurang setelah 24 jam postpartum.
3. Perubahan tanda-tanda vital
1. Suhu: 360C-370C. Pasca persalinan, tubuh dapat naik kurang
lebih 0,50C dari keadaan normal.
2. Nadi: Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali
permenit. Sehabis melahirkan denyut nadi akan lebih cepat,
jika denyut nadi melebihi 100 hal ini mungkin disebabkan
oleh infeksi atau pendarahan postpartum yang tertunda.
3. Tekanan darah: Tekanan darah normal manusia adalah
sistolikantara 90-120 mmHg dan diastolic 60-80 mmHg.
Pasca persalinan pada kasus normal, tekanan darah biasanya
tidak berubah.
29
4. Pernfasan: Frekuensi pernafasan normal pada orang dewasa
adalah 16-24 kali permenit. Pada postpartum umumnya
pernafasan lambat atau normal. Hal ini disebabkan ibu
dalam pemulihan atau istrirahat.
c. Tanda bahaya nifas
Menurut dari Buku KIA (2021) Tanda bahaya Nifas yaitu :
1. Pendarahan lewat jalan lahir: yaitu pendarahan postpartum atau
pendarahan pasca persalinan dengan keluarnya darah dari jalan
lahir segera setelah meahirkan.
2. Demam lebih dari dua hari: demam tinggi yang terjadi dapat
mengindikasikan mengalami insfeksi pada masa nifas.
3. Keluar cairan berbau lewat jalan lahir:hal tersebut merupakan
tanda adanya infeksi didaerah kelamin dan sekitar anus, sebab
pada dasarnya, darah nias yang normal tidak memunculkan bau
busuk dan menyengat.
4. Payudara bengkak, merah disertai rasa sakit: hal ini terjadi
karena payudara yang tidak disusukan dengan benar, pemakaian
bra yang terlalu ketat, mengalami kurang gizi, kurang istrirahat,
atau mengalami anemia.
5. Bengkak diwajah, tangan dan kaki, atau sakit kepala dan kejang-
kejang: gejala tersebut berhubungan dengan terjadinya pre-
eklamsi postpartum (tekanan darah tinggi yang disertai adanya
protein dalam urin pada saat nifas).
30
6. Ibu terlihat sedih, murung dan menagis tanpa sebab (depresi):
penyebabnya adalah kekecewaan emosional bercampur rasa
takut yang dialami kebanyakan ibu yang baru saja melahirkan.
d. Penatalaksanaan masa nifas
Beberapa penatalaksanan asuhan kebidanan nifas menurut Elly Dwi
Wahyuni (2018) diantaranya :
1. Konseling pada ibu nifas: merupakan serangkaian kegiatan
paling pokok dari bimbingan dalam usaha membntu kien secara
tatap muka langsung dengan tujuan agar klien dapat mengambil
tanggung jawab sendiri terhadap persoalan atau masalah khusus,
yang dihadapi oleh klien dapat teratasi.
2. Pendidikan kesehatan pada ibu nifas: merupakan suatu tindakan
pemberian informasi atau pengetahuan tentang perawatan
selama nifas bagi ibu dan bayi.
3. Senam nifas: serangkaian gerakan senam yang dilakukan oleh
ibu setelah bersalin pada hari pertama sampai hari kyang
kesepuluh, jika lewat jalur operasi Caesar pastikan luka jahitan
diperut sudah pulih.
4. Pijat oksitosin: adalah pijatan disepanjang tulang belakang
(vertebre) sampai tulang costae kelima atau keenam. Pijat ini
berfungsi untuk meningkatkan oksitosin yang dapat
meneangkan ibu, sehingga ASI pun keuar dengan sendirinya.
31
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Elis Nurainun
dan Endang Susilowati (2021) bahwa Ada beberapa faktor yang
dapat mempengruhi reflex oksitosin yaitu pikiran , perasaan dan
emosi ibu. Pengeluaran oksitosin dapat terhambat atau
meningkat oleh perasaan ibu. Hormone oksitosin dapat
menyebabkan sel-sel otot yang mengelilingi saluran pembuat
susu mengerut atau berkontraksi sehingga ASI terdorong keluar
dari saluran produksi ASI dan mengalir siap dihisap oleh bayi.
Jika ibu memiliki pikiran, perasaan dan emosi yang kuat, maka
kemungkinan akan menekan reflex oksitosin dalam
menghambat dan menurunkan oksitosin.
5. Perawatan dari peurperineum: upaya memberikan pemenuhan
kebutuhan rasa nyaman dengan cara menyehatkan daerah antara
kedua paha yang dibatasi pada wanita yang habis melahirkan
terhindar dari infeksi.
6. Pengawasan peurperineum ibu nifas: dilakukan waktu
perawatan perenieum.
7. Perawatan luka jahitan : Selalu menjaga kebersihan area vagina,
ganti pembalut secara berkala,
8. Teknik menyusui : Cradle hold, Cross-cradle hold, football hold,
lyng down.
9. Perawatan puting susu lecet : bersihkan area puting susu yang
lecet terlebih dahulu, kompres dengan air hangat, mengganti bra
32
yang lebih baik, perhatikan cara menyusu, mengoleskan asi pada
putting,dan gunakan salep pelindung.
d. Kunjungan Nifas
Menurut buku KIA (2021) KF ada empat, yaitu :
KF 1 : 6 jam – 2 hari setelah persalinan
KF 2 : 3 – 7 hari setelah persalinan
KF 3 : 8 – 28 hari persalinan
KF 4 : 29 – 42 hari persalinan
4. Keluarga Berencana
a. Pengertian keluarga berencana
KB merupakan tindakan membantu individu atau pasangan
suami istri untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval
diantara kelahiran.
Tujuan Keluarga Berencana meningkatkan kesejahteraan ibu
dan anak serta mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan
sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pengendalian
pertumbuhan penduduk Indonesia (Zulala,Nuli Nuryanti,2018).
b. Macam – macam keluarga berencana dan cara kerjanya
33
Menurut Zulala, Nuli Nuryanti (2018) ada beberapa macam-
macam keluarga berencana dan cara kerjanya serta efek samping
yaitu:
a) KB Hormonal
1. KB kombinasi
Mekanisme: Pil kombinasi menekan ovulasi, mencegah
implantasi, mengentalkan lendir serviks sehingga sulit dilalui
oleh sperma, dan menganggu pergerakan tuba sehingga
transportasi telur terganggu. Pil ini diminum setiap hari.
Efek samping : Perubahan pola haid (haid jadi sedikit atau
semakin pendek, haid tidak teratur, haid jarang, atau tidak
haid), sakit kepala, pusing, mual, nyeri payudara, perubahan
berat badan, perubahaan suasana perasaan, jerawat (dapat
membaik atau memburuk, tapi biasaya membaik), dan
peningkatan tekanan darah.
4. Pil hormon progestin
Mekanisme: Minipil menekan sekresi gonadotropin dan
sintesis steroid seks di ovarium, endometrium mengalami
transformasi lebih awal sehingga implantasi lebih sulit,
mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi
sperma, mengubah motilitas tuba sehingga transportasi
sperma terganggu. Pil diminum setiap hari.
34
Efek samping : Perubahan pola haid (menunda haid lebih
lama pada ibu menyusui, haid tidak teratur, haid memanjang
atau sering, haid jarang, atau tidak haid), sakit kepala, pusing,
perubahan suasana perasaan, nyeri payudara, nyeri perut, dan
mual.
5. KB suntik kombinasi
Mekanisme: Suntikan kombinasi menekan ovulasi,
mengentalkan lendir serviks sehingga penetrasi sperma
terganggu, atrofi pada endometrium sehingga implantasi
terganggu, dan menghambat transportasi gamet oleh
tubapalopi Suntikan ini diberikan sekali tiap bulan.
Efek samping : Perubahan pola haid (menunda haid lebih
lama pada ibu menyusui, haid tidak teratur, haid memanjang
atau sering, haid jarang, atau tidak haid), sakit kepala, pusing,
perubahan suasana perasaan, nyeri payudara, nyeri perut, dan
mual.
6. Suntikan progestin
Mekanisme: Suntikan progestin mencegah ovulasi,
mengentalkan lendir serviks sehingga penetrasi sperma
terganggu, menjadikan selaput rahim tipis dan atrofi, dan
menghambat transportasi gamet oleh tuba. Suntikan diberikan
3 bulan sekali (DMPA).
35
Efek samping : Perubahan pola haid (haid tidak teratur atau
memanjang dalam 3 bulan pertama, haid jarang, tidak teratur
atau tidak haid dalam 1 tahun), sakit kepala, pusing, kenaikan
berat badan, perut kembung atau tidak nyaman, perubahan
suasana perasaan, dan penurunan hasrat seksual.
7. Implant
Mekanisme: Kontrasepsi implan menekan ovulasi,
mengentalkan lendir serviks, menjadikan selaput rahim tipis
dan atrofi, dan mengurangi transportasi sperma. Implan
dimasukkan di bawah kulit dan dapat bertahan higga 3-7
tahun, tergantung jenisnya.
Efek samping : Perubahan pola haid (haid tidak teratur atau
memanjang dalam 3 bulan pertama, haid jarang, tidak teratur
atau tidak haid dalam 1 tahun), sakit kepala, pusing, kenaikan
berat badan, perut kembung atau tidak nyaman, perubahan
suasana perasaan, dan penurunan hasrat seksual.
b. KB Non Hormonal
1. Tubektomi
Mekanisme: Menutup tuba falopii (mengikat dan memotong
atau memasang cincin), sehingga sperma tidak dapat
bertemudengan ovum
Efek samping : Tidak ada
2. Vasektomi
36
Mekanisme: Menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan
jalan melakukan oklusi vasa deferens sehingga alur
transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi tidak
terjadi.
Efek samping : Tidak ada
3. Kondom
Mekanisme: Kondom menghalangi terjadinya pertemuan
sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma di ujung
selubung karet yang dipasang pada penis sehingga sperma
tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi
perempuan.
Efek sampig : Memicu risiko infeksi menular seksual (IMS),
Reaksi alergi lateks dan kehamilan yang tak direncanakan.
4. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
Mekanisme: Dalam Rahim AKDR dimasukkan ke dalam
uterus. AKDR menghambat (AKDR) kemampuan sperma
untuk masuk ke tuba falopii, mempengaruhi fertilisasi
sebelum ovum mencapai kavumuteri, mencegah sperma dan
ovum bertemu, mencegah implantasi telur dalam uterus.
Efek samping : Efek samping: Perubahan pola haid terutama
dalam 3-6 bulan pertama (haid memanjang dan banyak, haid
tidak teratur, dan nyeri haid).
37
B. Tinjauan Teori Manajemen Asuhan Kebidanan Menurut Hellen
Varney 2007 dan SOAP
Alur berfikir bidan saat menghadapi klien meliputi 7 langkah.
Untuk orang lain mengetahui apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan
melalui proses berfikir sistematis, didokumentasikan dalam bentuk SOAP,
yaitu :
a. S : Subjektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data
klien melalui anamnesa sebagai langkah I Varney. Catatan ini
berhubungan dengan masalah sudut pandang pasien, ekspresi klien
mengenai kekhawatiran dan keluhannya dicatat sebagai kutipan
langsung atau ringkasan yang berhubungan dengan diagnosa
(Irianti,dkk,2014).
b. O : Objek
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik
klien, hasil laboratorium, dan tes diagnostik lain yang dirumuskan
dalam data fokus untuk mendukung analisis sebagai langkah I
Varney. Data ini memberikan bukti gejala klinis yang berhubungan
dengan diagnosis (Irianti,dkk,2014).
c. A : Analisa
38
Menggambar pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data
subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi.
1. Diagnosis atau masalah
2. Antilasi diagnosis atau masalah potensial
3. Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi atau
kolaborasi dan rujukan sebagai langkah 2,3, dan 4 Varney.
d. P : Penatalaksanaan
Membuat rencana tindakan saat itu atau yang akan datang. Untuk
mengusahakan tercapainya kondisi klien yang baik mungkin atau
menjaga mempertahankan kesejahteraanya. Proses ini termasuk tujuan
tertentu dari kebutuhan pasien yang harus dicapai dalam batas waktu
tertentu. Dalam perencanaan harus tertuang asuhan yang akan
direncanakan, bagaimana pelaksanaan dan hasil dari suatu asuhan
yangdiberikan (Irianti,dkk, 2014).Menggambarkan pendokumentasian
dari tindakan dan evaluasi perencanaan berdasarkan analisa sebagai
langkah 5,6, dan 7 dalam manajemen menurutnya Barney.
Catatan SOAP dipakai untuk pendokumentasian karena :
a. Pembuatan metode SOAP merupakan perkembangan informasi
yangsistematis mengorganisir penemuan menjadi suatu rencana
asuhan.
b. Metode ini merupakan instisari proses penatalaksanaan kebidanan
untuk tujuan mengadakan pendokumentasian asuhan.
39
c. SOAP merupakan urutan-urutan yang dapat membantu dalam
mengogalisir pikiran dan memberikan asuhan yang menyeluruh.
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Asuhan Kebidanan Persalinan
1. SOAP Kala II
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN
[Link] : 115568
Tanggal masuk : 28 Februari 2022/19.55 WIB
Tanggal/jam pengkajian : 28 Februari 2022/20:00 WIB
Tempat pengkajian : UOBK RSUD Al-mulk
Nama Pengkaji : Neng Dewi Riyani
A. DATA SUBJEKTIF
IDENTITAS
ISTRI SUAMI
Nama : Ny.A Tn.D
Umur : 39 tahun 40 tahun
Suku : Sunda Sunda
Agama : Islam Islam
Pendidikan : SMA SMK
Pekerjaan : IRT Wirasuwasta
Alamat : Kp. Pasir malang 002/006 Gunung guruh.
[Link] : 08211543xxxx
40
41
1. Alasan datang : Ibu mengatakan merasa mules dan keluar lendir
bercampur darah dari jam 18.30 wib.
2. Keluhan Utama : Ibu mengatakan ingin segera mengedan.
3. Riwayat Obstetri
Riwayat Kehamilan Sekarang :
HPHT : 23-05-2021 HPL: 30-02-2022
Gerakan janin : >10 x dalam 12 jam
Keluhan saat hamil muda : Tidak ada keluhan
Pemeriksaan ANC : Kunjungan pertama di Puskesmas
Kunjungan ke 2-4 di posyandu
Imunisasi TT : TT3 Trimester 2 (28-09-2021)
Obat yang dikonsumsi : Obat : Fe ( habis )
Jamu : Tidak ada
Riwayat Haid
Menarche : 13 tahun
Siklus : 28 hari
Lamanya : 7 hari
Banyaknya : 3x ganti pembalut
Dismenorhoe : Tidak ada
Keluhan : Tidak ada keluhan
Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Hami Tgl Usia Jenis Temp Penyuli Anak Nifas
l ke patu kehamila at t
J BB P As Penyuli
42
s n K B i t
1. 200 Abortus
2
2. 200 9 bulan Sponta Ruma Tdk L 3k - Ya Tdk
4 n h ada g ada
3. 200 9 bulan Sponta Ruma Tdk L 3k - Ya Tdk
8 n h ada g ada
4. 201 9 bulan Sponta Ruma Tdk P 3k - Ya Tdk
4 n h ada g ada
5. 201 9 bulan Sponta Rs Tdk L 3k - Ya Tdk
9 n ada g ada
Hami Ini
l
4. Riwayat Ginekologi
Infertilitas : Tidak ada
Massa : Tidak ada
Penyakit : Tidak ada
Operasi : Tidak ada
5. Riwayat KB
Menggunakan Kontrasepsi : Iya
Jenis Kontrasepsi : KB suntik 3 bulan
Keluhan : Tidak ada
Lamanya pemakaian : 2 tahun
Alasan berhenti : Kehamilan
6. Riwayat penyakit yang pernah dan sedang diderita : Ibu mengatakan
tidak pernah mempunyai riwayat penyakit.
7. Pola nutrisi
Makan terakhir :Nasi dan lauk pauk jam 17.00
wib
43
Pantangan makan : Tidak ada pantangan
Minum :Air putih dan teh manis jam 19.00
wib
8. Pola eliminasi
BAB terakhir : 15.00 wib
BAK terakhir : 19.30 wib
Masalah : Tidak ada masalah
9. Pola tidur
Malam : 7 jam/hari
Siang : 1 jam /hari
Masalah : Tidak ada masalah
10. Data sosial
Dukungan suami : Suami mendukung
Dukungan keluarga : Keluarga mendukung
Masalah : Tidak ada msalah
11. Riwayat Penggunaan bahan lain
Merokok (ibu & suami) : Ibu & suami tidak merokok
Minum alkohol (ibu & suami) : Ibu & suami tidak mengonsumsi
Obat-obat terlarang : Ibu & suami tidak mengonsumsi
B. DATA OBJEKTIF
1. Kesadaran : Composmentis
2. BB sebelum hamil : 65 kg
BB selama hamil : 75 kg
44
Tinggi Badan : 155 cm
LILA : 26 cm
IMT : BB = 65 = 27,1 Gemuk
TB (1,51)
3. Tanda-tanda vital
Nadi : 82 x/mnt
Suhu : 36.0o C
Tekanan darah : 130/80mmHg
Respirasi : 22 x/mnt
4. Kepala
Rambut : Bersih tidak berketombe tidak rontok
Mata : Konjungtiva : Berwarna merah muda
Sklera : Berwarna putih
Penglihatan : Baik
Telinga : Normal, tidak ada pengeluaran
Hidung : Normal, tidak ada pengeluaran
Mulut : Normal, bersih, tidak berbau, tidak ada karang gigi
Leher : KGB : Tidak ada pembengkakan KGB
Kelenjar tiroid : Tidak ada pembengkakan tiroid
Vena Jugularis : Tidak ada peningkatan
5. Thorax
Dada : Bentuk simetri : Normal Simetris
Mamae : Bentuk simetri : Normal Simetris
Puting susu : Menonjol
45
Benjolan : Tidak ada
Ekskresi : Asi
Paru-paru : Visikuler
Jantung : Reguler
5. Abdomen
Inspeksi : Striae : Ada
Luka bekas operasi : Tidak ada
Palpasi : Tinggi Fundus Uteri : 30 cm
Posisi Janin
Leopold I :Teraba bulat lembek (bokong)
Leopold II :Teraba kiri datar melenting
memanjang ( puki)
Leopold III :Teraba bulat keras (kepala)
Leopold IV : Divergen
Perlimaan : 1/5
TBBJ : (30-11)x155 = 19 x 155 = 2.945 kg
Auskultasi : DJJ : 145x/menit
6. Genitalia Luar
Bentuk : Normal simetris
Varises : Tidak ada
Oedema : Tidak ada
Massa/Kista : Tidak ada
Pengeluaran pervaginam : Lendir bercampur darah
46
7. Pemeriksaan dalam
Vulva/ vagina : Tidak Ada Kelainan
Portio : Tidak teraba
Pembukaan : 10 cm
Ketuban : Pecah spontan, Jernih, bau nya
khas.
Presentasi : Kepala
Penunjuk : Ubun- ubun kecil kiri depan
Penurunan kepala : Hodge 4
Moulage :O
8. Ekstremitas
Bentuk : Kaki : Normal Tangan : Normal
Kuku : Kaki : Kemerahan Tangan : Kemerahan
Refleks Patella : Positif (+)
Oedema : Tidak ada
9. Kulit
Warna : Tidak pucat
Turgor : Kembali dalam 2 detik
10. Data Penunjang (LABORATORIUM)
11.1 Pemeriksaan Urine
Protein : Negatif (28-02-2022)
Glukosa : Tidak dilakukan
47
10.2 Pemeriksaan Darah
Hb : 11,7 (28-02-2022)
Golongan darah : B (28-02-2022)
10.3 Pemeriksaan lain-lain bila diperlukan : Antigen (-) 28-02-2022.
C. ANALISA
G6P4A1 Gravida 39-40 Minggu Inpartu kala II
D. PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan persalinan segera
akan dimulai. Ibu Mengetahui Hasil Pemeriksaan.
2. Menyiapkan partus set dan memakai APN lengkap. Sudah Di Lakukan.
3. Mengajarkan ibu teknik mengedan yang benar yaitu kepala ibu diangkat,
mata dibuka dan melihat ke perut, mulut tertutup dan ketika mengedan
tidak boleh ada suara/ mengedan ditenggorokan, kaki dibuka lebar dan
ditarik kearah dada ibu. Ibu Mengerti Teknik Mengedan Yang Baik.
4. Membantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman untuk meneran, boleh
setengah duduk atau miring kiri. Ibu Memilih Setengah Duduk.
5. Memimpin ibu meneran bila ada dorongan untuk meneran hingga kepala
crowning. Diameter bayi tampak 5-6 cm membuka vulva, kemudian alat
partus set, memakai kedua sarung tangan, melakukan stenneng agar tidak
terjadi robekan perineum dan agar kepala bayi tidak melakukan defleksi
terlalu cepat, kepala bayi lahir berturut-turut mulai dari dahi, mata,
hidung, mulut dan dagu bayi, Kepala bayi lahir. Bayi Sudah Lahir.
48
6. Melakukan cek lilitan tali pusat, tidak ada lilitan tali pusat. Tunggu bayi
melakukan putaran paksi luar, kepala bayi dipegang secara bipariental,
kemudian lakukan sanggah susur. Bayi lahir spontan pukul 20.05 WIB.
Penilaian selintas : Bayi langsung menangis, tonus otot aktif, warna kulit
kemerahan, Jenis kelamin laki-llaki, bayi dalam keadaan Baik dan
normal.
7. Simpan bayi di perut ibu, keringkan bayi sambil memberikan rangsangan
taktil, bayi menangis kuat, Dilakukan.
2. SOAP Kala III
ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. A P5A1 INPARTU KALA III
Hari/Tanggal Pengkajian : Senin, 28 Februari 2022
Waktu pengkajian : 20.08 WIB
SUBJEKTIF
Ibu mengatakan masih terasa mules.
OBJEKTIF
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Pemeriksaan abdomen : TFU 2 jari dibawah pusat, uterus globuler, tidak ada
49
janin kedua, kandung kemih kosong.
ANALISA
Ny. A P5A1 Kala III
PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu akan dilakukan penyuntikan oksitosin untuk mempercepat
pelepasan plasenta. Menyuntikan oksitosin 10 IU secara IM di 1/3 paha kanan
bagian luar. Sudah Dilakukan.
2. Melakukan pemotongan tali pusat dengan cara jepit tali pusat 2-3 cm dengan
umbilical lalu jepitkan klem yaitu 2-3 cm dari umbilical, lalu potong pusat
dengan cara lindungi perut bayi dari gunting dengan telapak tangan kiri,
kemudian IMD. Sudah Dilakukan.
3. Memberitahu ibu bahwa akan dilakukan tindakan pengeluaran plasenta dan
menganjurkan ibu untuk tidak mengedan. Ibu Mengerti.
4. Terdapat semburan darah dari jalan lahir dan tali pusat memanjang.
Melakukan penegangan tali pusat terkendali. Tangan kanan memegang tali
pusat, tangan kiri berada disimfisis menekan uterus kearah dorso cranial.
Memindahkan klem ke tali pusat 5-10 cm di depan vulva setiap kali tali pusat
memanjang. Dilakukan.
5. Plasenta lahir spontan pukul 20.18 WIB. Melakukan masase fundus uteri 15
kali dalam waktu 15 detik menggunakan tangan kiri. Uterus berkontraksi
dengan baik, darah yang keluar ±100 cc. Sudah Dilakukan.
6. Periksa kelengkapan plasenta. Bagian maternal : kotiledon utuh, selaput utuh.
Bagian fetal : insersie tali pusat marginalis, tali pusat terpilin dan dilindungi
50
jelly warton, terdapat 2 arteri dan 1 vena, panjang tali pusat ±50 cm.
Dilakukan.
7. Memeriksa adanya laserasi atau tidak. Tidak Ada Laserasi.
3. SOAP Kala IV
ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. A P5A1 INPARTU KALA IV
Hari/Tanggal pengkajian : Senin/ 28 Februari 2022
Waktu pengkajian : 20.20 WIB.
SUBJEKTIF
Ibu mearasa senang dan lelah
OBJEKTIF
Keadaan umum : Baik
51
Kesadaraan : Composmentis
Tekanan darah : 120/70 mmHg, Nadi : 88 x/menit, Respirasi :
23 x/menit
Suhu : 36,5ºC
Abdomen : Kontraksi uterus keras, TFU 2 jari dibawah
pusat, Kandung kemih kosong, Pendarahan 60
ml.
ANALISA
Ny. A P5A1 Kala IV
PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu tidak terdapat laserasi. Mengajarkan ibu untuk masase
fundus uteri. Ibu Bisa Melakukan Masase Uterus Sendiri.
2. Membersihkan ibu dan lingkungan tempat tidur untuk memberikan rasa
nyaman. Dilakukan.
3. Merapihkan alat, membuang sampah kering dan tajam pada masing-masing
tempat sampah yang sudah disediakan. Dekontaminasi alat bekas pakai.
4. Rendam alat selama 10 menit dalam larutan klorin, kemudian cuci bilas dan
disterilkan dalam air mendidih selama 20 menit. Dilakukan.
5. Menganjurkan ibu untuk beristrirahat, makan dan minum, Ibu bersedia.
6. Menganjurkan ibu untuk makan dan minum, juga memberikan obat
cefadroxil 500mg 2x1, asam mefenamat 500mg 3x1. Sudah dilakukan dan
memberikannya kepada keluarga.
52
7. Melakukan pemantauan selama 2 jam pertama. 15 menit sekali di 1 jam
pertama dan 30 menit sekali pada jam kedua, Ibu bersedia.
8. Melakukan pendokumentasian dan melengkapi patograf, Dilakukan.
53
B. Asuhan Kebidanan Nifas
1. SOAP 2 Jam Post Partum
ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS
PADA NY. A P5A1 POST PARTUM 2 JAM
Tanggal/Jam pengkajian : 28 Februari 2022/ 22.05 WIB
Tempat pengkajian : Ruang Bersalin UOBK RSUD ALMULK
SUBJEKTIF
Ibu mengatakan tidak ada keluhan
OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Keadaan emosional : Stabil
2. Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Denyut nadi : 82 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,2ºC
3. Pemeriksaan fisik
Muka : Simetris, tidak pucat, tidak oedema.
Leher : Tidak ada pembengkakan kelenjar tyroid.
54
Dada : Simetris tidak ada tarikan dinding dada,
areola hipergmentasi, puting susu menonjol,
tidak ada benjolan atau nyeri tekan,
pengeluaran kolostrum belum ada, bunyi
jantung normal, suara nafas vesikuler, tidak
adarochi atau wheezing.
Abdomen : Kontraksi uterus keras, TFU 2 jari dibawah
pusat, kandung kemih kosong.
Genetalia : Tidak oedema, tidak hematom, tidak ada luka
jahitan, loche rubra berwarna merah tua,
jumlah ±10cc.
Ekstermitas :
Atas :Simetris, tidak oedema, tidak ada varises,
CRT < 2 detik.
Bawah :Simetris, tidak oedema, tidak ada varises,
CRT < 2 detik.
ANALISA
Ny. A P5A1 postpartum 2 jam.
PENATALAKSANAAN
1. Memberitaukan hasil pemeriksaan, bahwa ibu dalam keadaan baik-baik saja,
Ibu Mengetahui Hasil Pemeriksaannya.
55
2. Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini secara bertahap seperti miring
kiri/kanan kemudian duduk ditempat tidur. Ibu Bersedia Dan Aku Akan
Melakukannya.
3. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya untuk merangsang produksi ASI
dan untuk membantu merangsang kontraksi rahim agar tidak terjadi
perdarahan. Ibu Bersedia.
4. Memberitahu ibu tentang tanda bahaya masa nifas yaitu seperti pusing,
pandangan kabur, perdarahan banyak dari jalan lahir, uterus lembek atau tidak
berkontraksi. Jika ibu merasakan tanda bahaya tersebut untuk segera
memberitahu petugas kesehatan. Ibu Mengerti Dan Akan Melakukannya.
5. Memberitahu ibu untuk tidak menahan BAB atau BAK karena akan
menghalangi involusi uterus. Ibu Mengerti.
6. Menganjurkan ibu untuk makan dan minum serta istrirahat yang cukup. Ibu
Bersedia.
56
2. SOAP 6 Jam Post Partum
ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS
PADA NY. A P5A1 POST PARTUM 6 JAM
Tanggal/Jam pengkajian : 01 Maret 2022/ 02.10 WIB
Tempat pengkajian : Ruang Sumayah 2 UOBK RSUD ALMULK
SUBJEKTIF
Ibu mengatakan sudah BAK 2 kali dan belum ingin BAB.
OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Keadaan emosional : Stabil
2. Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Denyut nadi : 82 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,2ºC
3. Pemeriksaan fisik
Mata :Sklerea tidak ikterik, konjungtiva tidak
anemis, fungsi penglihatan baik.
57
Payudara : Simetris, berisi dan lunak, puting susu
menonjol, sudah ada pengeluaran kolostrum.
Abdomen : Kontraksi uterus keras, TFU 2 jari dibawah
pusat, kandung kemih kosong.
Genetalia : Tidak oedema, tidak hematom, lochea rubra
berwarna merah tua, jumlah ±10 cc.
ANALISA
Ny. A P5A1 postpartum 6 Jam.
PENATALAKSANAAN
1. Memberitahukan hasil pemeriksaan, bahwa ibu dalam keadaan baik-baik saja,
Ibu mengetahui kondisi kesehatannya.
2. Mengingatkan ibu untuk tidak menahan BAB dan BAK karena akan
menghalangi involusi uterus. Dan menganjurkan kepada ibu untuk
mengonsumsi buah-buahan dan sayuran, Ibu mengerti dengan penjelasan
yang diberikan dan bersedia mengikuti anjuran yang diberikan.
3. Mengingatkan ibu untuk meminum kembali terapi yang sudah diberikan,
makan dan minum terlebih dahulu, Ibu bersedia.
4. Memberitahu ibu untuk makan-makanan yang bergizi, konsumsi buah dan
sayur, serta susu agar produksi ASI ibu lancar dan untuk mempercepat proses
pemulihan pasca persalinan, Ibu mengerti dan akan melakukannya.
5. Memberitahu ibu untuk melakukan personal hygiene yang baik. Setelah ibu
BAK dan BAB, siram vagina ibu dengan air dingin dan bersih, gunakan
sabun pembersih atau antiseptik, bersihkan daerah kewanitaan ibu dari depan
58
kain bersih dan menganjurkan ibu untuk mengganti pembalut sesering
mungkin, Ibu mengerti.
6. Menganjurkan ibu untuk beristirahat, Ibu bersedia.
59
3. SOAP 16 Jam Post Partum
ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS
PADA NY. A P5A1 POST PARTUM 16 JAM
Tanggal/Jam pengkajian : 01 Maret 2022/ 12.10 WIB
Tempat pengkajian : Ruang Sumayah 2 UOBK RSUD ALMULK
SUBJEKTIF
Ibu mengatakan keadaannya lebih baik dan ibu mengatakan sudah BAB dan sudah
BAK 3 kali.
OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Keadaan emosional : Stabil
2. Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Denyut nadi : 83x/menit
Pernafasan : 22 x/menit
Suhu : 36,50C
3. Pemeriksaan fisik
Mata : Sklerea tidak ikterik, konjungtiva tidak
anemis, fungsi penglihatan baik.
60
Payudara : Simetris, berisi dan lunak, puting susu
menonjol, pengeluaran kolostrum ada.
Abdomen : Kontraksi uterus keras, TFU 3 jari dibawah
pusat, kandung kemih kosong.
Genetalia : Tidak oedema, tidak hematom, lochea rubra
berwarna merah tua, jumlah ±5 cc.
ANALISA
Ny. A P5A1 postpartum 16 Jam.
PENATALAKSANAAN
1. Memberitaukan hasil pemeriksaan, bahwa ibu dalam keadaan baik-baik saja,
Ibu mengetahui kondisi kesehatannya.
2. Mengingatkan ibu untuk tidak boleh ada makanan yang dipantang, makan-
makanan yang bergizi, konsumsi buah dan sayur serat susu agar produksi ASI
lancar dan konsumsi makan-makanan yang menggandung protein tinggi
minsalnya ikan, daging, telur untuk mempercepat penyembuhan luka dan
pemulihan pasca persalinan, Ibu mengerti.
3. Menganjurkan ibu untuk mengikuti pola tidur bayi, memanfaatkan waktu saat
bayi tidur untuk beristirahat, agar saat menyusui bayinya pada malam hari ibu
tidak kelelahan, Ibu bersedia.
4. Mengajarkan pada ibu cara menyusui yang benar yaitu mulut bayi masuk ke
dalam puting sampai setengah areola sehingga membentuk seperti bulan
sabit, mulut bayi dan dagu harus melekat pada payudara ibu, kepala dan
badan bayi harus sejajar satu garis lurus menghadap kebadan ibu, tangan ibu
61
menopang badan dan bokong bayi. Setelah disusui, bayi harus disendawakan
agar tidak gumoh dengan cara menepuk-nepuk pundaknya. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Elis Nurainun dan Endang Susilowati (2021)
bahwa Ada beberapa faktor yang dapat mempengruhi reflex oksitosin yaitu
pikiran , perasaan dan emosi ibu. Pengeluaran oksitosin dapat terhambat atau
meningkat oleh perasaan ibu. Hormon oksitosin dapat menyebabkan sel-sel
otot yang mengelilingi saluran pembuat susu mengerut atau berkontraksi
sehingga ASI terdorong keluar dari saluran produksi ASI dan mengalir siap
dihisap oleh bayi. Jika ibu memiliki pikiran, perasaan dan emosi yang kuat,
maka kemungkinan akan menekan reflex oksitosin dalam menghambat dan
menurunkan oksitosin. Ibu mengerti cara menyusui yang benar dan akan
melakukannya.
5. Memberitahu ibu untuk melakukan personal hygiene yang baik. Setelah ibu
BAK dan BAB, siram vagina ibu dengan air dingin dan bersih, guna
pembersih atau antiseptik, bersihkan daerah kewanitaan ibu dari depan kain
bersih dan menganjurkan ibu untuk mengganti pembalut sesering mungkin,
Ibu mengerti.
6. Mengingatkan ibu tentang tanda bahaya pada masa nifas, yaitu sakit kepala
hebat dan menetap, pandangan kabur, demam tinggi, kejang, oedema,
payudara bengkak merah dan sakit, perdarahan banyak dan keluar cairan
berbau dari jalan lahir. Jika ada salah satu dari tanda bahaya tersebut segera
datang ke fasilitas kesehatan terdekat, Ibu mengerti dan tahu tentang tanda
bahaya pada masa nifas.
62
7. Memberitahu ibu bahwa ibu sudah diperbolehkan pulang karena keadaan ibu
sudah membaik dan memberitahu ibu untuk kunjungan ulang pada 4 tanggal
Maret 2022, boleh dibidan ataupun difasilitas kesehatan yang lain, Ibu
mengerti dan akan melakukannya.
8. Sesuai data subjektif ibu, ibu melakukan kunjungan ulang nifas ke 2 di pmb
terdekat, dilakukan.
63
4. SOAP 8 Hari Post Partum
ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS
PADA NY. A P5A1 POST PARTUM 8 HARI
Tanggal/Jam pengkajian : 09 Maret 2022/ 09.00 WIB
Tempat pengkajian : Rumah Ny. A
SUBJEKTIF
Ibu mengatakan tidak ada keluhan.
OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Keadaan emosional : Stabil
2. Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Denyut nadi : 82 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,50 C
64
3. Pemeriksaan fisik
Mata : Simetris, sklerea tidak ikterik, konjungtiva
tidak anemis, fungsi penglihatan baik.
Payudara : simetris, berisi dan sedikit keras, putting susu
menonjol, pengeluaran ASI lancar.
Abdomen : Kontraksi uterus keras, TFU pertengahan
pusat, kandung kemih kosong.
Genetalia : Tidak oedema, tidak hematom, perineum
sedikit kotor, lochea sanguinolenta, jumlah
sedikit.
4. Pemeriksaan penunjang
Tidak dilakukan.
ANALISA
Ny. A P5A1 postpartum 8 hari.
PENATALAKSANAAN
1. Memberitahukan hasil pemeriksaan, bahwa ibu dalam keadaan baik-baik saja,
Ibu mengetahui hasil pemeriksaannya
2. Memastikan involusi uterus ibu dan kontraksi uterus ibu, Involus uterus ibu
berjalan normal yaitu pertengahan pusat, kontraksi uterus ibu berkontraksi
keras.
65
3. Memberitahu ibu untuk sesering mungkin menyusui bayinya minimal 2 jam
sekali agar payudara ibu tidak keras, dikhawatirkan terjadi bendungan ASI,
Ibu mengerti dan bersedia mengikuti anjuran.
4. Mengingatkan ibu untuk istirahat yang cukup dengan memanfaatkan waktu
yang ada (saat bayinya tidur) termasuk tidur disiang hari. Ibu akan
beristirahat sesuai anjuran.
5. Mengingatkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan daerah vagina, Ibu
mengerti.
6. Menginformasikan pada ibu tentang alat kontrasepsi untuk ibu menyusui dan
rencanakan bersama suami KB apa yang akan ibu pilih setelah 40 hari.
Menganjurkan ibu untuk memilih KB steril yang sesuai dengan usia ibu, Ibu
mengerti dan akan berunding dengan keluarga terlebih dahulu.
7. Memberitahu ibu untuk segera datang ke fasilitas kesehatan terdekat jika ibu
mengalami masalah kesehatan dan setelah 40 hari untuk menggunakan alat
kontrasepsi yang telah ibu pilih, Ibu mengeri dan bersedia.
8. Memberitahu ibu untuk kunjungan ulang yang ke 4 pada 29-42 postpartum
boleh di ke rumah sakit, pmb atau pelayanan kesehatan terdekat, Ibu mengerti
dan akan melakukannya.
66
C. Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir
1. SOAP Bayi Baru Lahir Usia 40 Menit
ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR
PADA BAYI NY. A USIA 40 MENIT
DI UOBK RSUD AL-MULK KOTA SUKABUMI
Tanggal pengkajian : 28 Februari 2022
Jam pengkajian : 20.40 WIB
SUBJEKTIF
1. Identitas klien
Nama bayi : Bayi Ny.A
Tanggal lahir : 28 Februari 2022
Jam lahir : 20.05 WIB
Usia : 0 jam 40 menit
Jenis kelamin : Laki-laki
2. Keluhan utama
Tidak ada keluhan.
67
OBJEKTIF
1. Penilaian selintas dan tindakan pada bayi baru lahir
Warna kulit : Kemerahan
Tangisan : Langsung menangis spontan
Tonus otot : Aktif
Segera setelah bayi lahir, bayi dikeringkan dan diberikan rangsangan taktil.
2. Anthopometri
Berat badan : 2900 gram
Panjang badan : 47 cm
Lingkar dada : 32 cm
Lingkar kepala : 32 cm
3. Tanda-tanda vital
Denyut jantung : 147 x/menit
Pernapasan : 45 x/menit
Suhu : 36,50C
4. Pemeriksaan fisik
a. Kepala
Simetris : ya
Ubun-ubun : datar, tidak ada cekungan.
Caput succadeneum : tidak ada
Chepal hematom : tidak ada
Sutura : tidak ada moulase
b. Mata
68
Simetris : ya
Konjungtiva : merah muda
Sklerea : putih
Kelopak mata : terbuka dan tertutup
Refleks pupil : ada
Tanda-tanda infeksi : tidak ada
Refleks glabella : ada
c. Hidung
Simetris : ya
Lubang hidung : ada
Pengeluaran : tidak ada
Pernapasan cuping hidung : tidak ada
d. Telinga
Simetris : ya
Lubang telinga : ada
Daun telinga : ada
Pengeluaran : tidak ada
e. Mulut dan faring
Simetris : ya
Bibir dan langit-langit : tidak sianosis, tidak ada labioskiziz dan
labiopalatoskiziz
Refleks rooting : ada
Refleks sucking : ada
69
Refleks swallowing : ada
f. Leher
Pembengkakan : tidak ada pembengkakan tiroid
Benjolan : tidak ada
Refleks Tonik Neck : ada
g. Dada
Simetris : ya
Bunyi nafas : vesikuler
Retraksi : tidak ada
Bunyi jantung : reguler
h. Abdomen
Bentuk : simetris
Penonjolan tali pusat : tidak ada
Pendarahan tali pusat : tidak ada
Keadaan tali pusat : baik
i. Punggung
Bentuk : simetris
Cekungan/ pembengkakan : tidak ada/ tidak ada
Refleks galan t : tidak ada
j. Ekstremitas
Atas :Gerakan : aktif
Jumlah jari : 10 jari lengkap
CRT : kembali dalam 2 detik
70
Refleks graps: ada
Refleks moro: ada
Kelainan : tidak ada
Bawah Gerakan : aktif
Jumlah jari : 10 jari lengkap
CRT : kembali dalam 2 detik
Refleks plantar : ada
Refleks babinski : tidak ada
Kelainan : tidak ada
ANALISA
Neonatus Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan usia 40 menit.
PENATALAKSANAAN
1. Memberitahukan kepada ibu keluarga hasil pemeriksaan yaitu bayi dalam
keadaan baik berjenis kelamin laki-laki, berat badan bayi 2900 gram, panjang
bayi 47 cm, lingkar kepala bayi 32 dan lingkar dada bayi 32, Ibu dan keluarga
mengetahui hasil pemeriksaan.
2. Melakukan perawatan tali pusat tanpa membubuhkan betadine, alkohol atau
ramuan lain pada tali pusat bayi dan membungkus umbilical klem
menggunakan kassa steril agar tidak melukai daerah sekitar tali pusat,
Perawatan tali pusat sudah dilakukan.
3. Menggunakan popok bayi, baju dan topi bayi, Dilakukan
71
4. Memberitahukan ibu bahwa bayinya akan diberikan salep mata tetracycline
1% untuk mencegah terjadi infeksi pada mata bayi, Mengoleskan salep mata
pada konjungtiva mata bayi.
5. Memberitahu ibu bahwa bayinya akan diberikan injeksi vitsmin K dengan
dosis 1 mg untuk mencegah pendarahan pada otak bayi, Menyuntikan vitamin
K kepada bayi sediaan 2 mg sebanyak 0,5 ml secara IM di 1/3 distal anterior
paha bayi sebelah kiri dengan aspirasi terlebih dahulu.
6. Membedong bayi untuk memberikan kenyamanan dan kehangatan, Sudah
dilakukan.
2. SOAP Bayi Baru Lahir Usia 6 Jam
ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR
PADA BAYI NY. A USIA 6 JAM
Tanggal pengkajian : 01 Maret 2022
Waktu pengkajian : 02. 10 WIB
Tempat pengkajian : Ruang Sumayah 2
SUBJEKTIF
Tidak dapat dikaji.
OBJEKTIF
72
1. Antropometri
Berat Badan : 2900 gram
Panjang Badan : 48 cm
Lingkar Kepala : 34 cm
Lingkar Dada : 33 cm
2. Tanda-tanda vital
Denyut jantung : 137 x/menit
Pernapasan : 48 x/menit
Suhu : 36,50C
3. Pemeriksaan fisik
Mata : Konjungtiva merah muda, sklera putih, tidak ada tanda-
tanda infeksi.
Hidung : Tidak ada pernapasan cuping hidung
Kulit : Kemerahan, tidak ada pembengkakan, tidak ada
perlukaan.
Tali pusat : Bersih, tidak ada pendarahan tali pusat, tidak ada tanda-
tanda infeksi, menonjol saat menangis.
Genetalia : Bersih, sudah Bab dan Bak, tidak ada kelainan.
4. Status nutrisi
Bayi sudah disusui.
5. Status eliminasi
Bayi sudah BAB dan BAK.
ANALISA
73
Neonatus Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan usia 6 jam.
PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan bayinya, Ibu dan keluarga
sudah mengetahui hasil pemeriksaan bayinya
2. Memberitahu ibu untuk selalu menjaga kehangatan bayi agar tetap hangat,
Ibu mengerti dan akan melakukannya.
3. Menggantikan popok dan kain bedong bayi yang basah karena bayi BAK,
Dilakukan.
4. Memeriksa keadaan tali pusat bayi, dikhawatirkan tali pusat bayi basah
terkena air seni bayi, Tali pusat bayi dan kassa pembungkus tali pusat dalam
keadaan dalam keadaan baik dan kering.
5. Memberitahu ibu tentang tanda bahaya bayi baru lahir yaitu bayi tidur terus
menerus, bayi tidak mau menyusu, hipotermi (suhu bayi rendah), hipertermi
(suhu bayi terlalu tinggi), kulit dan mata bayi kuning, pendarahan pada tali
pusat, Ibu mengerti tanda bahaya pada bayi baru lahir.
6. Memberitahu ibu dan keluarga besok pagi akan diperiksa kembali. Jika
keadaan bayi baik, diperbolehkan pulang, Ibu dan keluarga bersedia.
74
3. SOAP Bayi Baru Lahir Usia 16 Jam
ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR
PADA BAYI NY. A USIA 16 JAM
Tanggal pengkajian : 01 Maret 2022
Waktu pengkajian : 12.10 WIB.
Tempat pengkajian : Ruang Sumayah 2
SUBJEKTIF
75
Tidak dapat dikaji.
OBJEKTIF
Tanda-tanda Vital
Denyut jantung : 145 x/menit
Pernafasan : 46 x/menit
Suhu : 36,50C
Antropometri
Berat Badan : 2900 gram
Panjang Badan : 48 cm
Lingkar Kepala : 34 cm
Lingkar Dada : 33 cm
ANALISA
Neonatus Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan usia 16 jam.
PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan bahwa bayinya dalam
keadaan baik, Ibu dan keluarga mengetahui hasil pemeriksaannya.
2. Memberutahu ibu dan keluarga bahwa bayinya akan diberikan imunisasi HB0
dipaha kanan untuk mencegah penyakit hepatitis tipe B, Menyuntikan vaksin
HB0 dengan dosis 0,5 ml di 1/3 paha kanan bagian luar, sudah dilakukan.
3. Memberitahu ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin minimal 2 jam
sekali tanpa batas waktu (on demand) dan tidak memberikan makanan apapun
seperti air putih, madu, buah-buahan sampai bayi berusia 6 bulan, Ibu dan
keluarga mengerti dan tidak akan melakukannya.
76
4. Memberitahu ibu untuk selalu memandikan bayinya setiap hari, kemudian
menjemur bayi bagian depan dan belakang bayi dibawah sinar matahari pagi
antara pukul 07.00-09.00 selama ±15-30 menit, Ibu bersedia dan akan
melakukannya.
5. Memberikan Pendidikan Kesehatan tentang cara merawat tali pusat bayi yaitu
dengan cara bersihkan tali pusat bayi setiap hari dan setiap kali terlihat kotor,
bersihkan tali pusat bayi dengan air hangat, setelah itu keringkan
menggunakan kain bersih dan kering, jaga agar tetap kering, jangan bubuhkan
betadine, alkohol atau ramuan-ramuan lain pada tali pusat bayi. Ibu
mengetahuinya dan mengerti cara merawat tali pusat.
6. Mengingatkan ibu tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir yaitu bayi tidur
terus menerus, bayi tidak mau menyusu, kulit dan mata bayi kuning, mata
bernanah, demam tinggi, gumoh, kejang, ada tarikan dinding dada, nafas
cepat >60 x/menit, pendarahan pada tali pusat, tali pusat bernanah atau
berbau. Jika terdapat salah satu tanda bahaya yang sudah dijelaskan segera
datang ke fasilitas kesehatan, Ibu mengerti dan tahu tanda bahaya pada bayi
baru lahir.
77
4. SOAP Bayi Baru Lahir Usia 8 Hari
ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR
PADA BAYI NY. A USIA 8 HARI
Tanggal pengkajian : 8 Maret 2022
Waktu pengkajian : 12.10 WIB.
Tempat pengkajian : Rumah Ny. A
SUBJEKTIF
Tidak dapat dikaji.
OBJEKTIF
1. Antropometri
Berat badan : 2900 gram
Panjang badan : 48 cm
Lingkar kepala : 34 cm
Lingkar dada : 33 cm
2. Tanda-tanda vital
Denyut jantung : 145 x/menit
Pernafasan : 46 x/menit
Suhu : 36,5 C
3. Pemeriksaan fisik
Mata : Sklerea sedikit kuning, konjungtiva merah muda, tidak
ada tanda- tanda infeksi
Hidng : Tidak ada pernafasan cuping hidung.
78
Kulit : Sedikit kuning, tidak ada pembengkakan, tidak ada
perlukaan.
Abdomen : Simetris, tali pusat sudah puput pada hari kelima, pusar
bayi bersih, tidak ada tanda-tanda infeksi.
4. Status nutrisi
Bayi diberikan secara on demand.
5. Status eliminasi
Bayi BAB 2-3 kali dalam sehari, warna BAB hitam, BAK 6-7 kali dalam
sehari.
ANALISA
Neonatus Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan usia 8 hari.
PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa bayinya dalam keadaan baik, Ibu
mengetahui hasil pemeriksaan.
2. Mengingatkan kepada ibu tentang tanda bahaya pada bayi baru lahir yaitu
bayi tidur terus menerus, bayi tidak mau menyusu, suhu bayi terlalu tinggi
atau terlalu rendah, kejang, kuning, ada tarikan dinding dada, nafas cepat >60
x/menit, Ibu mengetahui tanda bahaya bayi baru lahir.
3. Mengingatkan ibu untuk menjemur bayinya setiap pagi dan sering-sering
menyusui bayinya karena kulit bayi sedikit kuning, jika kuningnya bertambah
segera konsultasikan ke bidan atau ke fasilitas kesehatan terdekat, Ibu
bersedia menjemur bayinya setiap hari dan menyusui bayinya sesering
mungkin.
79
4. Memberikan Pendidikan Kesehatan tentang ASI Ekslusif yaitu air susu ibu
yang diberikan kepada bayi sejak umur 0-6 bulan, bayi hanya diberikan ASI
saja tanpa makanan tambahan lainnya. Manfaat ASI Ekslusif yaitu dapat
dijadikan metode KB sementara (MAL), sebagai bentuk mencurahkan kasih
sayang kepada bayi dan memperkuat ikatan batin ibu dan anak, ASI mudah
dicerna oleh bayi, ASI kaya akan antibodi (zat kekebalan tubuh), IQ bayi
lebih tinggi, bayi yang diberikan ASI Ekslusif sampai 6 bulan akan
menurunkan resiko sakit jantung saat dewasa, menurunkan resiko diare dan
kematian bayi mendadak. Keuntungan memberikan ASI yaitu ASI memiliki
gizi yang sempurna, mudah dalam proses pemberiannya (tidak perlu
persiapan khusus), mengurangi biaya rumah tangga, bayi yang mendapat ASI
jarang sakit, sehingga dapat menghemat biaya untuk berobat, menyusui (ASI)
dapat membakar kalori sehingga membantu penurunan berat badan lebih
cepat, Ibu mengerti tentang ASI Ekslusif, manfaat serta keuntungan.
5. Memberitahu ibu untuk rutin mengikuti kegiatan posyandu agar bayi
mendapat imunisasi dasar lengkap dan untuk memantau tumbuh kembang
bayi, Ibu bersedia mengikuti kegiatan posyandu setiap bulan.
6. Memberitahu ibu tentang macam-macam imunisasi dasar lengkap untuk bayi
yaitu imunisasi HB0 untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit
Hepatitis B, diberikan 1 kali pada usia 0-7 hari. Imunisasi BCG untuk
kekebalan terhadap penyakit tuberculosis (TBC), diberikan 1 kali yaitu pada
usia 1 bulan. Imunisasi DPT untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit
difteri (batuk rejan), pertusis dan tetanus, diberikan 3 kali yaitu pada usia 2,3
80
dan 4 bulan. Imunisasi Polio untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit
poliomyelitis, diberikan 4 kali yaitu pada usia 1,2,3 dan 4 bulan. Imunasi
Campak untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit campak, diberikan 1
kali yaitu pada usia 9 bulan, Ibu mengetahui macam-macam Imunisasi dasar
untuk bayi dan manfaat serta jadwal pemberian imunisasi.
BAB IV
PEMBAHASAN
Asuhan kebidanan pada Ny.A dan bayinya dilaksanakan pada tanggal
28 Februari 2022 – 01 Maret 2022 UOBL RSUD AL-MULK Kota Sukabumi dan
pada tanggal 08 Maret 2022 dilakukan kunjungan nifas dan kunjungan neonatus
dirumah Ny. A. Uraian pembahasan penulisan mengenai asuhan kebidanan pada
Ny.A dimulai dari intranatal care, postnatal care, postnatal care, dan bayi baru
lahir, sebagai berikut :
A. Persalinan
1. Kala II
Pada tanggal 28-02-2022 jam 19.55 WIB, ibu datang ke rumah sakit.
Ibu mulai merasakan mules yang teratur dan semakin kuat sejak pukul
18.30 WIB, dan sudah keluar lendir darah dan dilakukan dengan
pemeriksaan dengan hasil pemeriksaan tanda vital ibu dalam batas
normal, denyut jantung janin dalam keadaan baik, his ibu 4x dalam 10
menit 45 detik, saat pemeriksaan dalam pada Ny. A vulva/vagina tidak
ada kelainan, portio tidak teraba, ketuban utuh di lakukan amiotomi
dengan cairan ketuban berwarna jernih, pembukaan 10, presentasi kepala.
Bayi lahir pukul 20.05 WIB langsung menangis. Saat melahirkan ibu
tidak mengalami laserasi jalan lahir. Persalinan Ny. A selesai dalam
waktu <10 menit dari mulainya persalinan. Hal ini sesuai teori menurut
81
82
Doengs (2020) bahwa proses persalinan normal umumnya terjadi di
antara minggu ke-37 sampai ke-42. Dengan durasi maksimal 1 jam untuk
multipara. Asuhan kebidanan yang diberikan sudah sesuai advis dokter
dengan asuhan persalinan normal. Persiapan pertolongan persalinan
menurut Saifudin (2018), yaitu partus set, obat-obatan seperti oksitosin,
ergometrin, salep mata, infus set, perlengkapan ibu dan bayi sudah
disiapkan sejak awal, mengajarkan ibu teknik mengatasi rasa nyeri,
menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi,
menganjurkan keluarga untuk selalu mendampingi ibu dan sering-sering
memantau keadaan ibu. Dengan penatalaksanaan yang tepat tersebut,
persalinan Ny. A berjalan dengan lancar dan tanpa komplikasi.
Dalam pelaksanaan asuhan kebidanan pada Ny.A tidak dapat
kesenjangan antara teori dan praktik.
2. Kala III
Pada pukul 20.08 WIB proses kala III (Pelepasan dan pengeluaran
plasenta) pada Ny.A berlangsung dengan lancar sekitar 10 menit setelah
bayi baru lahir, adapun penatalaksanaan yang dilakukan yaitu melakukan
manajemen aktif kala III yang meliputi pemberian oksitosin 10 IU secara
IM. dan melakukan peregangan tali pusat dengan tangan kanan, dan
tangan kiri melakukan dorsol kranial, melakukan masase uteri selama 15
kali dalam 15 detik sampai kontraksi uterus baik setelah plasenta lahir.
Plasenta lahir pukul 20.18 WIB, setelah plasenta mulai, mengecek
83
kelengkapan plasenta dari mulai kotiledon sampai pemeriksaan plasenta
sisi maternal (yang melekat pada dinding uterus) untuk memastikan
bahwa semuanya lengkap dan utuh, setelah diperiksa plasenta lahir
lengkap. Hal ini sesuai dengan panduan APN JNPK-KR (2018) bahwa
plasenta tidak boleh lebih dar 30 menit.
3. Kala IV
Pada pukul 20.20 WIB proses kala IV (setelah plasenta lahir)
dilakukan pemeriksaan kelengkapan plsenta, kontraksi uterus, kandung
kemih, perlukaan jalan lahir dan jumlah pendarahan. Tidak terdapat
robekan jalan lahir pada Ny. A dan di Kala IV ini juga dilakukan
pemantauan 15 menit pada jam pertama dan 30 menit pada jam kedua.
Observasi yang dilakukan tanda-tanda vital, pernafasan, suhu, TFU,
kontraksi, kandung kemih, dan pendarahan. Hal ini sesuai dengan teori
panduan APN JNPK-KR (2018). Pemantauan kala IV sangat penting
karena sebagian besar kejadian angka kematian terjadi dalam 2 jam
postpartum setelah kelahiran bayi. Pada kala IV Ny.A terjadi dengan
normal atau tidak ada masalah apapun.
B. Nifas
1. 2 jam postpartum
Pada tanggal 28-02-2-22 pada jam 22.05 WIB masa nifas Ny.A
pemantauan involusi uteri, dalam pemberian terapi Ny. A diberikan tablet
cefadroxil 500mg 2x1, asam mefenamat 500mg 3x1. Adapun Asuhan
yang diberikan kepada ibu diantaranya adalah : Menganjurkan ibu untuk
84
mobilisasi dini seperti miring kanan miring kiri, menganjurkan ibu untuk
menyusui bayinya untuk merangsang produksi ASI, memberitahu tentang
tanda bahaya nifas, memberitahu ibu untuk tidak menahan BAB dan BAK
karena akan menghalangi involusi uterus, dan menganjurkan ibu untuk
beristrirahat yang cukup.
Masa nifas Ny.A berlangsung normal sesuai dengan teori
Wiknjosastro (2019) tinggi fundus uteri setelah persalinan yaitu 2 jari
dibawah pusat, lochea rubra berwarna merah tua terdiri dari darah dari
plasenta, perdarahan nifas dalam batas normal.
2. 6 Jam Postpartum
Pada tanggal 01-03-2022 pukul 02.10 WIB dalam 6 jam postpartum
masa nifas Ny. A berlangsung normal diperoleh data ibu tidak ada
keluhan, pemeriksaan tanda-tanda vital dalam batas normal, kontraksi
uterus baik, tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat, kandung kemih
kosong, pendarahan dalam batas normal. Keadaan tersebut sesuai dengan
teori yang dikemukakan oleh Andin (2020). Bahwa tinggi fundus uteri
setelah 6 jam 2 jari dibawah pusat. Asuhan yang diberikan diantaranya :
Mengingatkan ibu untuk tidak menahan BAB dan BAK .Memberitahu ibu
untuk menyusui bayinya sesering mungkin minimal 2 jam sekali.
Menganjurkan ibu untuk beristrirahat. Memberitahu ibu untuk
menggunakan alat kontrasepsi. Memberitahu ibu untuk datang kefasilitas
kesehatan terdekat jika ibu mengalami masalah setelah 40 hari.
85
3. 16 jam Postpartum
Pada tanggal 01-03-2022 pukul 16 jam postpartum ini masa nifas Ny.
A berlangsung berjalan normsl sesuai data yang diperoleh ibu mengatakan
keadaannya lebih baik dan sudah BAB dan BAK. Tanda-tanda vital dalam
batas normal, kontraksi uterus keras, tinggi fundus uterus 3 jari dibawah
pusat, kandung kemih kosong, dan lochea rubra. Asuhan yang diberikan
kepada Ny. A diantanya adalah : Mengingatkan ibu untuk memenuhi
nutrisinya, menganjurkan ibu untuk beristrirahat dengan mengikuti pola
tidur bayi, Mengajarkan ibu untuk personal hygiene setelah ibu BAB dan
BAK, Mengingatkan ibu tentang tanda bahaya nifas, Memberitahu ibu
bahwa ibu sudah dianjurkan pulang karena ibu sudah dalam keadaan baik
dan sesuai data subjektif ibu, memberitahu dan mengajarkan ibu pijat
oksitosin untuk memperlancar pengeluaran ASI.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Elis Nurainun dan
Endang Susilowati (2021) bahwa Ada beberapa faktor yang dapat
mempengruhi reflex oksitosin yaitu pikiran, perasaan dan emosi ibu.
Pengeluaran oksitosin dapat terhambat atau meningkat oleh perasaan ibu.
Hormone oksitosin dapat menyebabkan sel-sel otot yang mengelilingi
saluran pembuat susu mengerut atau berkontraksi sehingga ASI terdorong
keluar dari saluran produksi ASI dan mengalir siap dihisap oleh bayi. Jika
ibu memiliki pikiran, perasaan dan emosi yang kuat, maka kemungkinan
akan menekan reflex oksitosin dalam menghambat dan menurunkan
86
oksitosin. Memberitahu ibu melakukan kunjungan ulang nifas ke 2 di
pmb atau fasilitas kesehatan terdekat.
4. 8 Hari Postpartum
Pada tanggal 08-03-2022 pukul 10.00 WIB saat kunjungan rumah hari
ke delapan post partum, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital Ny. A dalam
batas normal, tinggi fundus uteri berada di pertengahan pusat simpisis,
lochea berwarna menjadi putih kekuningan sebanyak setengah pembalut
yang dinamakan lochea serosa (Vivian, 2019), pada pemeriksaan fisik
didapati payudara ibu sedikit keras. Setelah dilakukan anamnesa ibu
mengatakan menyusui bayinya hanya saat bayinya menangis, dalam hal
ini ibu dianjurkan untuk sering-sering menyusui bayinya secara on
demand atau minimal 2 jam sekali. Penulis melakukan pengkajian KF1,
dan KF 3, pasien melakukan KF 2 ke bpm terdekat, untuk KF 4 penulis
menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang ke fasilitas kesehatan terdekat.
Hal ini sesuai dengan kebijakan pemerintah 4 kali kunjungan tujuannya
untuk mencegah terjadinya komlikasi pada ibu nifas, deteksi dini dan
memastikan ibu sehat. JNPK-KR (2018).
C. Bayi Baru Lahir
1. 1 Jam Bayi Baru Lahir
Pada tanggal 28-02-2022 jam 20.05 WIB bayi lahir spontan dengan
letak belakang kepala, dengan masa gestasi 39-40 minggu, berjenis
kelamin laki-laki, menangis kuat, gerakan aktif, berat badan bayi 2900
87
gram, panjang bayi 47 cm, lingkar dada 33 cm dan lingkar kepala 33 cm.
Pada tindakan asuhan bayi baru lahir dilakukan dengan sesuai asuhan
kebidanan seperti menjaga kehangatan bayi, melakukan pemeriksaan fisik
dan antropometri, melakukan perawatan tali pusat, memberikan vit. K,
salep mata. IMD dilakukan hanya 7 menit, sedangkan menurut JNPK-KR
(2018) bayi harus mendapatkan kontak kulit dengan kulit dengan kulit
ibunya segera setelah lahir selama paling sedikit satu jam. IMD
merupakan proses sangat penting untuk menunjang keberhasilan ASI
Ekslusif, merangsang hormon oksitosin sehingga dapat menurunkan
angka pendarahan pasca persalinan dan merangsang hormon prolaktin
yang berfungsi memproduksi ASI. Selain itu proses ini juga dapat
mencegah bayi kehilangan panas, menstabilkan pernafasan bayi,
mengurangi angka kematian bayi baru lahir 22% dan masih banyak lagi
keuntungan dan manfaat lainnya.
Peran bidan juga sangat penting dalam menentukan keberhasilan
pelaksanaan IMD. Salah satunya dapat dilakukan dengan cara
memberikan informasi, konseling tentang manfaat IMD agar ibu bersalin
mempunyai motivasi untuk melakukan IMD. Diharapkan dengan adanya
program IMD ini sedikit banyaknya dapat mengurangi angka kematian
ibu maupun bayi.
2. 6 Jam Bayi Baru Lahir
Pada tanggal 01-03-2022 jam 02.10 WIB tanda-tanda vital dalam
keadaan baik, berat badan 2900 gram, panjang bayi 48 cm, lingkar kepala
88
34 cm dan lingkar dada 33 cm, bayi sudah BAK dan BAB byai sudah di
susui. Adapun asuhan yang diberika yaitu : Memberitahu ibu untuk selalu
menjaga kehangatan bayi, mengingatkan ibu tentang tanda bahaya bayi
baru lahir seperti bayi terus menerus tidur, tidak mau menyusu, kulit dan
mata bayi kuning, pendarhan pada tali pusat, dan memberitahukan ibu dan
keluarga besok pagi akan diperiksa kembali. Hal ini sesuai dengan teori
panduan APN JNPK-KR (2018).
3. 16 Jam Bayi Baru Lahir
Pada tanggal 01-03-2022 jam 12.10 WIB tanda-tanda vital dalam
dalam keadaan baik, bayi sudah BAB dan BAK, sudah menyusu, sudah
dimandikan, dan diberikan imunisasi HB0. Asuhan yang diberikan yaitu
adalah : Memberitahu untuk sesering mungkin bayinya minimal 2 jam
sekali, memberitahu ibu untuk selalu memandikan bayinya setiap hari
dipagi hari dan menjemur bayinya dibawah sinar matahari antara pukul
07.00-09.00 selama ±15-30 menit, Mengingatkan kembali tanda bahaya
bayi baru lahir yaitu kulit dan mata bayi kuning, bayi tidak mau menyusu,
demam tinggi, kejang, dan ada tarikan dinding. Hal ini sesuai dengan teori
panduan APN JNPK-KR (2018).
4. 8 Hari Bayi Baru Lahir
Pada kunjungan neonatus hari ke 8, tanggal 08-03-2022 pukul 10.00
WIB. Tanda-tanda vital bayi dalam keadaan baik, tali pusat bayi sudah
puput pada hari ke 4, tidak ada tanda-tanda insfeksi, kulit bayi terlihat
89
sedikit kuning (ikterus), akan tetapi warna kuning pada bayi tersebut
masih termasuk kedalam ikterus fisiologis. Menurut Asrining Surasmi
(2020) ikterus fisiologis adalah ikterus yang terjadi karena metabolisme
normal bilirubin pada bayi baru lahir usia minggu pertama. Peninggian
kadar bilirubin terjadi pada hari ke-2 dan ke-3 serta mencapai puncaknya
pada hari ke-5 sampai ke-7, kemudian menurun pada hari ke 10-14. Untuk
pelaksanaan hal ini, ibu dianjurkan untuk sering-sering menyusui bayinya
dan menjemur bayinya setiap hari dibawah sinar matahari tanpa
menggunakan pakaian selama ±15-30 menit antara pukul 07.00 – 09.00
WIB. Meskipun termasuk kedalam ikterus fisiologis, bidan harus tetap
memantau dan mewaspadai apakah warna kuning yang muncul pada kulit
bayi tersebut mengarah pada tanda bahaya bayi baru lahir atau tidak,
sehingga bidan dapat menetukan penanganan yang sesuai dengan
kebutuhan bayi tersebut. Penulis melakukan pengkajian KN 1 , dan KN 3
untuk KN2 pasien melakukan kunjungan ke bpm terdekat, penulis
menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang ke fasilitas kesehatan terdekat
jika kulit bayi semakin kuning atau memburuk. Hal ini sesuai dengan
kebijakan pemerintah untuk 3 kali kunjungan JNPK-KR (2018).
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Setelah melakukan asuhan kebidanan pada Ny.A G6P4A1 usia
kehamilan 39-40 minggu inpartu kala II di UOBK RSUD AL-MULK Kota
Sukabumi dari mulai persalinan, nifas dan bayi baru lahir, pada tanggal 28-
02-2022 sampai 01-03-2022 dapat disimpulkan bahwa :
1. Pengkajian data subjektif pada Ny.A sudah lengkap, tidak ada
kesenjangan antara teori dan praktik.
2. Pengkajian data objektif pada Ny.A sudah lengkap, tidak ada
kensenjangan antara teori dan praktik.
3. Pengkajian data analisa pada Ny. A sudah lengkap, tidak ada
kesenjangan antara teori dan praktik.
4. Pengkajian data penatalaksaan pada Ny. A sudah lengkap, tidak ada
kesenjangan antara teori dan praktik.
5. Asuhan yang diberikan pada Ny.A sudah sesuai dengan kebutuhan, tidak
ada kesenjangan antara teori maupun praktik.
6. Pendokumentasian pada Ny.A sudah lengkap tidak terdapat kesenjangan
antara teori maupun praktik.
B. Saran
1. Bagi UOBK RSUD AL-MULK Kota Sukabumi
90
91
Rumah sakit mampu mempertahankan pelayanan dan fasilitas kesehatan
yang baik.
2. Bagi petugas kesehatan
Bidan sudah dapat mempertahankan kualitas pelayanan yang bagus serta
melakukan pelayanan yang sesuai protap UOBK RSUD AL-MULK.
3. Bagi Ibu
Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang ke fasilitas kesehatan terdekat
ataupun bpm agar untuk menurunkan risiko terjadinya mortalitas dan
mordibitas pada ibu nifas dan bayi baru lahir.
DAFTAR PUSTAKA
Arydinna,dr.2020. Asuhan Persalinan Manajemen Nyeri Persalinan. Yogyakarta :
Universitas Aisyah.2020
Azis.2020..Bayi Baru Lahir Normal. Politeknik Kesehatan Jogyakarta 2020
Dinkes. RI. Angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Kota Sukabumi. 2022.
Dwi,Elly wahyuni.2018. Asuhan kebidanan nifas dan menyusui. Pusat pendidikan
Kementrian Kesehatan RI.2018
Elis Nurainun, Endang Susilowati. 2021. Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap
Produksi Asi Pada Ibu Nifas. Journal Kebidanan. Vol. 7 No 1.
JNPK-RR, 2018. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : Jaringan Nasional
Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi.
Lail, Husnul Nurul. 2019. Modul Asuhan kebidanan komprehensif. Jakarta : LPU-
UNAS
Kemenkes RI. 2020. Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Jawa
Barat : Dinas Kesehatan. RI.2020
Kemenkes RI. [Link] kesehatan ibu dan anak. Jakarta : Kementrian kesehatan
RI.2021
Kemenkes RI. [Link] kesehatan ibu dan anak. Jakarta : Kementrian kesehatan
RI.2021
Kemenkes RI. 2021. Pembangunan Kesehatan Nasional. Jakarta : Kementrian
Kesehatan RI.2021
Kemenkes RI.2021. Angka Kematian Ibu Dan Bayi. Jakarta : Kementrian
Kesehatan RI.2021
Kurniarum, Ari. 2016. Asuhan kebidanan persalinan bayi baru lahir. Jakarta:
Kemenkes RI
Setiyani, Astuti; Sukesi; Esyuananik. 2016. Asuhan Kebidanan Neonates, Bayi,
Balita Dan Anak Prasekolah. Jakarta : Kemenkes RI.
92
Sutrisno,dr spog.2020. Ilmu Patograf. Jakarta : 2020
Zulala,Nuli Nuryanti.2018. Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta :
Fakultas Ilmu Kesehatan.
93
LAMPIRAN
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok bahasan : Perawatan Bayi Baru Lahir
Sup Pokok Bahasan : Tanda-Tanda Bahaya pada Bayi Baru Lahir
Waktu : 1 x 10 menit
Tempat : Ibu yang mempunyai bayi baru lahir
Sasaran : Ruang Sumayah 2
I. Tujuan Penyuluhan Umum
Setelah diberikan penyuluhan, ibu diharapkan mengetahui tanda-tanda
bahaya pada bayi baru lahir, sehingga jika terdapat tanda bahaya pada bayi
baru lahir dapat segera ditangani.
i. Tujuan Penyuluhan Khusus
Ibu mengetahu pengertian dari tanda bahaya pada bayi bar lahir.
Ibu mengetahui tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir.
ii. Metode
Ceramah dan tanya jawab.
iii. Media
Leafleat
DOKUMENTASI
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
MEGA PENA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Volume 1, Nomor 1, (2021) pp. 21-25
ISSN 2807-677X (Online)
[Link]
DOI: 10.37289/mp
1 Pentingnya Iniasiasi Menyusu Dini (IMD) pada Bayi Baru
Lahir
Rismawati¹*, Fadjriah Ohorella²
2
¹Fakultas Keperawatan & Kebidanan, Universitas Megarezky, Indonesia, email: [Link]@[Link]
Program Studi DIII Kebidanan, Fakultas Keperawatan & Kebidanan, Universitas Megarezky, Indonesia, email:
fadjriahohorella17@[Link]
*Koresponden penulis
Info Artikel Abstract
Diajukan: - Early initiation of breastfeeding (IMD) is the first step in the success
Diterima: - of exclusive breastfeeding. Colostrum contained in breast milk is
Diterbitkan: useful for increasing the baby's immune system and lowering the
- IMR due to hypothermia. In addition, IMD is also useful for the
relationship between mother and baby and makes babies feel
Keyword: calm. Objective as knows the knowledge of pregnant women
IMD, Baby about the importance of IMD in newborns. The method used in
this community service is to conduct counseling and distribute
leaflets to increase mother's knowledge about IMD. Results from
Kata Kunci:
the data processing using the Paired Sample Test with 16
IMD, Bayi
respondents there was an increase which can be seen from the
average value of the extension pre-test, which is 42.50 and the
average post-test value of counseling 67.50. So the p-value =
0.000.
Abstrak
Inisiasi menyusu dini (IMD) merupakan Langkah awal dalam
keberhasilan dari pemberian ASI Ekslusif. Kolostrum yang
terdapat pada ASI berguna untuk meningkatkan kekebalan
tubuh bayi dan menurunkan AKB karena hipotermi. Selain itu
IMD juga bermanfaat untuk jalinan kasih saying ibu dan bayi
serta membuat bayi merasa tenang. Tujuan untung mengetahui
pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya IMD pada bayi baru
lahir. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini
adalah dengan melakukan penyuluhan dan membagikan leaflet
untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang IMD. Hasil dari
olah data dengan menggunakan Uji Paired Sampel Test dengan
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
jumlah responden sebanyak 16 orang mengalami peningkatan
yang dapat dilihat dari nilai rata-rata pre-test penyuluhan yaitu
42,50 dan nilai rata-rata post-test penyuluhan 67,50.
Sehingga nilai p-value = 0,000.
Is licensed under a
Creative Commons Attributions Share Artikel 4.0 International License
~
2 PENDAHULUAN
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi saat ini telah banyak dilakukan oleh masyarakat
dunia. Inisiasi menyusu dini (IMD) terdapat kolostrum yang merupakan makanan yang
sangat tepat dan baik bagi bayi hingga usia 6 bulan dan dilanjutkan pemberian ASI
sampai umur 2 tahun (Yusuf, 2019).
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan program dari Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, berupa rangsangan awal yang dimulai dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI)
secara dini dan diharapkan berlanjut hingga enam bulan pertama kehidupan bayi (Diba
Faisal et al., 2020). Dalam persiapan menyusui yang lebih baik, ibu hamil dapat
bergabung dalam kelas Bimbingan Persiapan Menyusui (BPM) sehingga ibu bisa lebih
siap nantinya untuk menyusui bayinya (Apriastuti, 2016).
Melalui Inisiasi Menyusu Dini (IMD) bayi dapat sesegera mungkin mendapatkan
kolostrum yang terdapat didalam ASI. Bayi yang mendapat kesempatan IMD lebih dulu
mendapatkan kolostrum yang berguna untuk meningkatkan kekebalan tubuh neonatal
daripada yang tidak diberi kesempatan (Ilmiah & Keperawatan, 2018).
Pentingnya pemberian IMD merupakan salah satu cara dalam menyukseskan Kesehatan
bayi secara fisik dan psikis yang selama ini masih kurang diterapkan karena cenderung
mengabaikan IMD dengan anggapan bahwa putting mengandung kuman dan kotor pada
saat ibu bersalin (Fauziah Nasution, 2017).
Masalah yang menjadi penghambat pelaksanaan IMD tidak dilakukan diantaranya yaitu
kurangnya konseling oleh tenaga Kesehatan dan kurangnya praktek IMD, kepercayaan
keluarga yang masih kuat bahwa ibu memerlukan istirahat yang cukup setelah
melahirkan sehingga menyusui sulit dilakukan, serta kurangnya kepedulian terhadap
pentingnya IMD (Kesehatan et al., 2020).
Proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada bayi baru lahir dilakukan sesaat setelah lahir
dengan kriteria bayi harus dalam keadaan sehat dan menangis, tali pusat telah dipotong
dan badan bayi telah dilap dengan menggunakan kain hangat dengan tetap
mempertahankan verniks. Bayi dalam keadaan telanjang diletakkan didada ibu dengan
posisi tengkurap, kemudian bayi dibiarkan untuk mencari putting susu ibunya (Siahaan &
Panjaitan, 2020).
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
Pada hari pertama sebenarnya bayi belum memerlukan cairan atau makanan, tetapi
pada usia 30 menit harus di susukan pada ibunya, bukan untuk pemberian nutrisi tetapi
untuk belajar menyusu atau membiasakan menghisap puting susu dan juga guna
mempersiapkan ibu untuk mulai memproduksi ASI. Apabila bayi tidak menghisap puting
susu pada setengah jam setelah persalinan, Prolaktin (hormon pembuat ASI) akan turun
dan sulit merangsang prolaktin sehingga ASI baru akan keluar pada hari ketiga atau lebih
dan memperlambat pengeluaran kolostrum (Adam et al., 2016).
Pentingnya Iniasiasi Menyusu Dini (IMD) pada Bayi Baru Lahir
IMD banyak memberikan manfaat bagi bayi di antaranya menurunkan angka kematian
bayi karena hipotermi, mendapatkan antibodi dari kolostrum, menelan bakteri aman
yang berkoloni di usus menyaingi bakteri patogen, membuat kadar glukosa bayi lebih
baik setelah beberapa jam setelah persalinan dan menurunkan intensitas ikterus karena
pengeluaran mekonium yang lebih dini. Sementara bagi ibu manfaat IMD antara lain
membuat jalinan kasih sayang ibu dan bayi, ibu merasa lebih tenang, membantu kotraksi
uterus, mengurangi risiko perdarahan dan mempercepat pengeluaran plasenta (Lestari,
2019).
3 METODE PELAKSANAAN
Kegiatan penyuluhan ini berlangsung pada tanggal 22 Mei 2021 pukul 09.00 Wita sampai
12.00 Wita di Puskesmas Pattingalloang Kota Makassar dengan jumlah responden ibu
hamil sebanyak 16 orang. Kegiatan pengabdian yang dilakukan berupa penyuluhan
kepada ibu hamil tentang pentingnya melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan
colostrum pada bayi dan ibu. Tahap pertama, sebelum penyuluhan dilakukan, terlebih
dahulu ibu diberikan kuesioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang IMD
dan colostrum (pre). Tahap kedua, melakukan penyuluhan dengan menggunakan Power
point dan membagikan leaflet pada ibu. Tahap ketiga, membagikan kembali kuesioner
kepada ibu untuk mengethui tingkat pengetahuan setelah dilakukan penyuluhan.
4 HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Tabel. 1 : Hasil Analisis
pengetahuan Ibu hamil tentang pentingnya Inisiasi Menyusu
Dini pada Bayi Baru Lahir Variabel N Mean Std.
α= 0,05
Deviation
Pre-Test 16 42,50 9,309 P=0,000
Post-Test 16 67,50 10,646
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
Sumber : Data Primer, 2021
Dari hasil olah data yang dilakukan dengan menggunakan Uji Paired Sampel Test
dengan jumlah responden sebanyak 16 orang mengalami peningkatan yang dapat
dilihat dari nilai rata-rata pre-test penyuluhan yaitu 42,50 dan nilai rata-rata post-
test penyuluhan 67,50. Sehingga nilai p-value = 0,000.
Is licensed under a
Creative Commons Attributions Share Artike 4.0 International LIcense
~
Gambar 1. penyuluhan
5 B. Pembahasan
Inisiasi Menyusui Dini (IMD) memberikan kesempatan pada bayi baru lahir untuk
menyusu pada ibunya dalam satu jam pertama kehidupannya, karena sentuhan bayi
melalui refleks hisapnya yang timbul mulai 30-40 menit setelah lahir akan
menimbulkan rangsangan sensorik pada otak ibu untuk memproduksi hormone
prolaktin dan memberikan rasa aman pada bayi (Siahaan & Panjaitan, 2020).
Dalam hal pemahaman pelaksanaan program Inisiasi Menyusu Dini (IMD) peran
orang tua dan keluarga, khususnya ibu menjadi sangat penting. Pengetahuan,
kepercayaan dan perilaku seorang ibu akan berpengaruh terhadap proses inisiasi
menyusui dini, sehingga dapat mempengaruhi status kesehatan anaknya. Masalah
pemahaman, pengertian dan ketepatan ibu dalam program inisiasi menyusui dini
tidak akan menjadi halangan yang besar jika ibu mempunyai pengetahuan, sikap dan
perilaku yang baik (Apriastuti, 2016).
Inisiasi menyusu dini merupakan tahapan awal dimana bayi yang telah melewati
masa bersalin akan mengenal asupan berupa air susu ibu. Pemahaman yang baik
terkait IMD bukan hanya dipengaruhi oleh status Pendidikan ibu yang tinggi, tetapi
juga karena ibu selalu terpapar melalui sosialisai, penyuluhan dan pelatihan yang
dilakukan oleh petugas kesehatan (Adam et al., 2016).
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
Kesuksesan dalam pelaksanaan IMD sangat bermanfaat bagi ibu maupun bayi.
Manfaat yang luar biasa bagi ibu setelah melakukan IMD terutama dalam produksi
hormon oksitosin dan prolaktin, stimulasi hormon oksitosin akan merangsang
kontraksi uterus sehingga dapat menghindari terjadinya perdarahan pasca
persalinan, merangsang pengeluaran colostrum dan produksi ASI. Bagi bayi, IMD
tidak kalah memiliki banyak manfaat antara lain dengan adanya kontak kulit antara
ibu dan bayi akan berdampak pada kestabilan temperatur tubuh dan sistem
pernafasan, pola tidur akan
Pentingnya Iniasiasi Menyusu Dini (IMD) pada Bayi Baru Lahir
lebih baik, bayi merasa lebih nyaman karena hubungan psikologis ibu dan bayi
terbentuk sejak awal (Ningsih, 2021).
6 KESIMPULAN
Pengetahuan tentang pentingnya Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada bayi baru lahir
merupakan faktor yang sangat penting dalam keberhasilan IMD pada ibu post partum
sehingga perlu dilakukan sosialisasi atau penyuluhan.
7 DAFTAR RUJUKAN
Adam, A., Bagu, A. A., & Sari, N. P. (2016). Pemberian Inisiasi Menyusu Dini Pada Bayi
Baru Lahir. Jurnal Kesehatan Manarang, 2(2), 76.
[Link]
Apriastuti, D. A. (2016). Jurnal Kebidanan hubungan pengetahuan penayangan video imd
dengan relationship knowledge video views imd with attitude pregnant. VIII(01),
84–93.
Diba Faisal, A., Serudji, J., & Ali, H. (2020). Pelaksanaan Program Inisiasi Menyusu Dini Di
Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah. Jurnal
Kesehatan Andalas, 8(4), 1–9. [Link]
Fauziah Nasution. (2017). Inisiasi Menyusu Dini dan Bounding Attachment dalam
Peningkatan Kesehatan Secara Fisik dan Psikis. Jurnal Jumantik, 2, 40–42.
Ilmiah, J., & Keperawatan, B. (2018). Indonesian Journal of Nursing Research (IJNR). 1(2).
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
Kesehatan, P., Pertiwi, B., Bulan, U., & Kunci, K. (2020). Jurnal Kesehatan Pertiwi. 2,
88–94.
Lestari, M. (2019). Faktor Terkait Inisiasi Menyusu Dini pada Ibu Postpartum di Rumah
Sakit Umum Daerah Kota Cilegon. Jurnal Penelitian Dan Pengembangan
Pelayanan Kesehatan, 3(1), 17–24. [Link]
Ningsih, M. (2021). Keajaiban Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Jurnal Ilmiah
Sangkareang Mataram, 8(1),
1–8.
[Link]
tp://[Link]/60566/
Siahaan, J. M., & Panjaitan, M. (2020). Simulasi Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Wilayah
Kerja Puskesmas Bandar Baru Kecamatan Sibolangit tahun 2020. Jurnal Pengabdian
Masyarakat (Kesehatan), 2(1), 12–17.
Is licensed under a
Creative Commons Attributions Share Artike 4.0 International LIcense
Yusuf, K. (2019). Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Inisiasi
Menyusu Dini (IMD). Ghidza: Jurnal Gizi Dan Kesehatan, 3(1), 33.
[Link]
PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PRODUKSI ASI PADA
IBU NIFAS : LITERATURE REVIEW
Elis Nurainun1, Endang Susilowati2
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
1,2
Jurusan Sarjana Kebidanan , Universitas Islam Sultan Agung , Indonesia
Email: elisnurainun@[Link]
8 Info Artikel Abstrak
Kata Kunci: Latar Belakang: ASI eksklusif sangat disarankan untuk diberikan pada bayi
Pijat Oksitosin, Produksi baru lahir sampai usia enam bulan dan tanpa adanya
pendamping ASI. Keluarnya
ASI, Ibu Nifas ASI yang lancar pada ibu menyusui merupakan kebutuhan yang sangat
penting untuk memenuhi nutrisi bayi, ASI merupakan
nutrisi terbaik bagi bayi untuk mencegah infeksi dan
beberapa penyakit lainnya. Pada ibu nifas, keadaan
emosinya dinilai masih belum stabil dan berkaitan dengan
refleks oksitosin. Presentase keadaan emosi ibu berkaitan
dengan refleks oksitosin yang dapat mempengaruhi
produksi ASI sekitar 80% sampai 90%. Tujuan: untuk
mengetahui pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi
ASI pada ibu nifas. Metode: Artikel ini menggunakan
metode studi tinjauan pustaka dari jurnal ilmiah dengan
penuntun kata kunci. Jurnal ilmiah yang terseleksi
sejumlah 8 jurnal, masing-masing jurnal mewakili satu
pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi ASI dan
memberi informasi yang bervariatif. Hasil: Pijat oksitosin
merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi
ketidaklancaran produksi ASI. Pemijatan dilakukan
sepanjang tulang belakang (vertebrae) sampai tulang
costae kelima keenam, pijat oksitosin merupakan usaha
untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah
melahirkan. Kesimpulan : Berdasarkan analisa yang telah
dilakukan adalah pijat oksitosin efektif untuk produksi ASI.
Ada pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi ASI,
karena ada perbedaan yang signifikan antara produksi ASI
sebelum dan sesudah perlakuan.
Article Info Abstract
Keywords: Background: Exclusive breastfeeding is strongly recommended to be
Oxytocin Massage, given to newborns until the age of six months and without
Breast Milk Production, complementary breastfeeding. The smooth discharge of breast milk in
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
Postpartum nursing mothers is a very important requirement to fulfill the baby's
nutrition, breast milk is the best nutrition for babies to prevent infection
and several other diseases. In postpartum mothers,
their emotional state is considered unstable and is related
to the oxytocin reflex. The percentage of mother's
emotional state is related to the oxytocin reflex which can
affect milk production by about 80% to 90%. Purpose :
Determine the effect of oxytocin massage on milk
production in postpartum mothers. Methods: This article
uses a literature review study method from scientific
journals with keyword guidance. 8 scientific journals were
selected, each journal representing an effect of oxytocin
massage on breast milk production and providing varied
information. Result: Oxytocin massage is one of the
alternatives to overcome the non-smooth production of
breast milk. The massage is carried out along the spine
(vertebrae) to the fifth and sixth rib, oxytocin massage is an
attempt to stimulate the hormones prolactin and oxytocin
after childbirth. Conclusion: Based on the analysis that has
been done, oxytocin massage is effective for breast milk
production. There is an effect of oxytocin massage on milk
production, because there is a significant difference
between milk production before and after treatment.
© 2021 Poltekkes Kemenkes Pontianak
9 PENDAHULUAN gangguan gastrointestinal pada bayi
karena ASI langsung diproduksi oleh ibu
sehingga segar dan steril. Komposisi
Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi
yang terkandung dalam ASI sangat
terbaik yang paling tepat bagi bayi baru
mengandung banyak manfaat, yaitu
lahir sampai umur 6 bulan, karena usus
sebagai nutrisi, hormon, kekebalan
bayi belum bisa mencerna makanan
tubuh, faktorpertumbuhan, anti alergi,
pada masa tersebut selain dengan
antibodi serta anti inflamasi yang dapat
pemberian ASI. ASI dapat mengurangi
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
mencegah terjadinya infeksi pada bayi sedangkan hormon oksitosin merupakan
(Ulfa, 2013). hormon yang mempengaruhi
pengeluaran ASI. Salah satu alternatif
Berdasarkan data dari profil kesehatan untuk memperlancar produksi ASI yaitu
Indonesia tahun 2017, cakupan dengan melakukan pijat oksitosin.
presentasi bayi yang mendapat ASI Pemijatan oksitosin dilakukan di
eksklusif di Indonesia adalah sebesar sepanjang tulang belakang (vertebrae)
61,33% (Kemenkes, 2018). Pemerintah dengan tujuan untuk merangsang
telah menargetkan pencapaian ASI hormon oksitosin setelah melahirkan
Ekslusif di Indonesia sebesar 80%, (Mardiyaningsih, Setyowati, & Sabri,
namun hal itu masih belum tercapai 2011).
hingga saat ini. Upaya untuk
meningkatkan cakupan ini dengan Ada beberapa faktor yang dapat
memberikan informasi yang benar dan mempengaruhi refleks oksitosin yaitu
tepat mengenai berbagai manfaat ASI pikiran, perasaan dan emosi ibu.
eksklusif bagi ibu maupun bayi sehingga Pengeluaran oksitosin dapat terhambat
dapat meningkatkan kesadaran atau meningkat oleh perasaan ibu.
masyarakat mengenai pentingnya Hormon oksitosin akan menyebabkan
pemberian ASI Eksklusif pada bayi sel-sel otot yang mengelilingi saluran
(Saputri, Ginting, & Zendato, 2019). pembuat susu mengerut atau
berkontraksi sehingga ASI terdorong
Target pencapaian ASI sulit dicapai keluar dari saluran produksi ASI dan
disebabkan karena salah satunya yaitu mengalir siap untuk dihisap oleh bayi.
ASI tidak keluar. Permasalahan tidak Jika ibu memiliki pikiran, perasaan dan
lancarnya proses keluarnya ASI yang emosi yang kuat, maka kemungkinan
menjadi salah satu penyebab seseorang akan menekan refleks oksitosin dalam
tidak dapat menyusui bayinya sehingga menghambat dan menurunkan produksi
proses menyusui terganggu/terhambat ASI (Latifah & Wahid, 2015).
karena itu diperlukan pendekatan pada
masyarakat untuk dapat mengubah Dengan menggunakan studi literatur,
kebiasan buruk yaitu sebelum bayi tujuan artikel ini adalah mengkaji
berusia 6 bulan sudah diberikan pengaruh pijat oksitosin terhadap
makanan pendamping ASI dan produksi ASI pada ibu nifas.
membantu ibu dalam proses menyusui
dengan mengenalkan berbagai metode
untuk memperlancar ASI (Ulfa, 2013).
10 METODE
Produksi dan pengeluaran ASI
merupakan dua faktor yang dapat Dalam penelitian ini dilakukan pencarian
mempengaruhi keluarnya ASI. Hormon literatur melalui media Google Scholar
prolaktin merupakan hormon yang dan DOAJ. Tujuan artikel ni adalah
dapat mempengaruhi produksi ASI mengulas masalah pengaruh pijat
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu didapatkan sebanyak 8 artikel nasional
nifas. Kata kunci yang dipakai untuk yang direview. Jurnal yang ditemukan
penelusuran literatur adalah “Pijat kemudian dispesifikkan berdasarkan
Oksitosin”, “Produksi ASI”, “Ibu Nifas”. kriteria inklusi dan eksklusi yaitu: IC1=
Cara yang digunakan dalam mencari jurnal dipublikasikan dalam berbahasa
artikel yaitu dengan menggunakan indonesia, IC2= artikel dipublikasikan
bahasa Indonesia yang relevan. Artikel dalam rentang waktu 2016-2020, IC3=
yang didapat direview untuk jenis penelitian kuantitatif, IC4= jurnal
memperoleh artikel yang sesuai dengan tidak duplicate yang diterbitkan dari
kriteria yang sudah ditentukan. Kriteria Google Scholar dan DOAJ. Setelah
inklusi pada pencarian artikel yaitu disesuaikan berdasarkan IC1-IC4 maka
dipilih berdasarkan tahun terbit dimulai artikel yang tersisa adalah 22. Kemudian
dari tahun 2016 sampai tahun 2020 dan reviewer melakukan IC5 berupa
subjek merupakan ibu nifas normal. penyeleksian berdasarkan kesesuaian
Kriteria eksklusi pada pencarian artikel judul artikel dan abstrak dengan tujuan
yaitu dipilih berdasarkan variabel dari sistematik review ini yaitu memiliki
penelitian, variabel tidak boleh konten utama menyelidiki pengaruh
membandingkan dengan variabel lain. pijat oksitosin terhadap produksi ASI
Pencarian dilakukan sesuai dengan kata pada ibu nifas. Sehingga dipilih 8 jurnal
kunci dan didapatkan artikel yang yang akan dianalisis. Diagram Alur
mendekati kriteria sebanyak 39, seleksi sistematik review dapat dilihat di
penyaringan dilakukan berdasarkan gambar 1 pada lampiran.
kriteria inklusi dan eksklusi dan
11 HASIL
Dari 6 artikel yang terpilih, penelitian dilakukan di Indonesia.
Seluruh artikel yang dianalisis jenis
penelitiannya adalah dengan
pendekatan kuantitatif dan semua
penelitian menggunakan metode
pretest
dan postest pada ibu nifas. Adapun strategi
pencarian literature dapat dilihat pada
gambar 1.
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
Pencarian Literatur
Basis data : Google Scholar dan DOAJ
Hasil Pencarian (n=39)
Hasil pencarian yang
tidak diproses kembali
(n=17) Tidak memenuhi
IC1 -IC4
Hasil pencarianyang akan
diproses kembali (n=22)
Hasil pencarian yang
tidak diproses kembali
(n=14) Tidak memenuhi
IC5
Studi terdahulu yang
relevan dengan penelitian
ini (n=8)
Gambar 1 : Proses Pencarian Literature Review
12 Tabel 1. Hasil Ekstraksi Data Tentang Pengaruh Pijat
Oksitosin Terhadap Produksi ASI Ibu Nifas
Judul Metode Teknik Sample Analisa Data Hasil Penelitian
Sampling
Pengaruh Eksperimen Accidental 10 Uji statistik Adanya peningkatan
Pijat (preexperimental sampling responden. nonparametrik ratarata produksi ASI
Oksitosin designs) Responden yaitu uji sebelum dan sesudah
Terhadap dengan One dilakukan Wilcoxon pijat oksitosin dengan
Group Pre and Signed Rank nilai Z adalah 2,673 dan
Produksi Asi intervensi
Post Test Test dengan nilai p-value adalah
Pada Ibu sebelum
Postpartum Design dan sesudah nilai alpha 0,008 (p≤0,05).
dilakukan 0,05. Kesimpulannya ada
pijat pengaruh yang
oksitosin signifikan terhadap
produksi ASI sebelum
dan sesudah dilakukan
pijat oksitosin pada Ibu
Postpartum (Saputri et
al., 2019).
Pengaruh Eksperimen Purposive 32 orang Uji Chi Square Hasil penelitian
Pijat semu (Quasi sampling yang terdiri diperoleh p value =
Oksitosin Eksperimen) dari 16 orang 0,032 (p value < 0,05).
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
Terhadap dengan sebagai Hal tersebut
Produksi ASI rancangan responden menunjukkan bahwa
Pada Ibu perbandingan yang di ada pengaruh pijat
Postpartum kelompok statis intervensi oksitosin terhadap
(Static Group produksi ASI pada ibu
Di dan 16 orang
Comparison) postpartum di
Puskesmas sebagai
Puskesmas Woha
Woha Bima variabel Bimatahun 2017
Tahun 2017 kontrol (Dahniarti, 2017).
Pengaruh Eksperimental Purposive 32 orang Univariat dan Hasil Uji
Pijat dengan desain Sampling yang terdiri bivariat statistik
Oksitosin rancangan dari 16 orang menggunakan menggunakan
Terhadap posttest dengan sebagai uji chi-square chi-square
Produksi ASI kelompok responden (x2) diperoleh
Pada Ibu control yang di p-value=
Nifas intervensi 0,037 (p-value ≤0,05)
dan 16 orang yang berarti ada
sebagai pengaruh
signifikan antara
variabel
pijat
kontrol
oksitosin terhadap
produksi ASI pada ibu
post partum di BPM Lia
Maria Sukarame Bandar
Lampung
Tahun
2017 (Asih, 2017).
Pengaruh Quasi Total 21 orang Uji pre dan Hasil uji statistik
Pijat eksperiment Sampling post test didapatkan p-value
Oksitosin tanpa kelompok sebesar 0.000 maka
Terhadap kontrol dengan dapat disimpulkan ada
pengaruh pijat
Peningkatan menggunakan
oksitosin terhadap
Produksi ASI pendekatan one
produksi ASI, karena
Ibu Menyusui group pretest- ada perbedaan yang
Di Puskesmas postest design signifikan antara
Plus produksi ASI sebelum
Mandiangin dan sesudah perlakuan
(Delima, Arni, &
Rosya, 2016)
Pengaruh PreEksperimen Accidental 15 orang Uji t-test Hasil uji statistik
Pijat dengan Sampling independent menggunakan uji t-test
Oksitosin rancangan sampel diperoleh nilai
Terhadap penelitian one dengan taraf signifikan sebesar
signifikan α =
Produksi ASI group pre test 0,004 lebih kecil dari
0,05
Pada Ibu and post test taraf signifikan 5%
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
Post Partum design atau (p value = 0,004 <
Di Bpm Meli 0,05) maka dapat
R. dinyatakan ada
Palembang pengaruh yang
Tahun 2018 signifikan pijat
oksitosin terhadap
produksi ASI ibu post
partum
di BPM Meli Rosita
Palembang Tahun 2018
(Italia & Yanti, 2019).
Pengaruh Quasi Total 26 orang Univariat dan Hasil penelitian
Pijat eksperimen sampling yaitu 13 bivariat didapatkan pengaruh
Oksitosin dengan responden menggunakan pijat oksitosin
Terhadap pendekatan kelompok uji paired t-test terhadap peningkatan
Peningkatan Nonequivalent perlakukan dan uji produksi ASI pada Ibu
Produksi ASI control group dan 13 independent t- Postpartum p-value
test 0,000 (<ɑ = 0,05). Dari
Ibu desaign responden 13 responden
Postpartum pretestposttest. kelompok kelompok
tidak Dilakukan pijat
perlakuan. oksitosin rata - rata
produksi ASI sebanyak
24,0 ml dan 13
responden kelompok
tidak dilakukan pijat
oksitosin rata - rata
produksi ASI sebanyak
11,7 ml (Fara &
Mayasari, 2020).
Pengaruh Experiment Purposive 42 responden Uji wilcoxon Hasil penelitian
Pijat dengan true sampling dimana pada yaitu
Oksitosin experiment kelompok diperoleh nilai asymp
Terhadap dengan experiment zig (0,000)< (0,05)
rancangan sehingga
Produksi ASI sebanyak 21
PrePost Test Two dapat disimpulkan
Pada Ibu Post responden
Group Desain bahwa terdapat
Partum di dan kelompok
pengaruh signifikan
Rumah Sakit kontrol pijat oksitosin
Khusus sebanyak 21 terhadap
Daerah Ibu responden produksi ASI
dan Anak pada
Siti ibu
Fatimah postpartum di rumah
Makassar sakit ibu dan anak siti
fatimah makassar
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
(Kartini, Ajeng, &
Suaningsih, 2020)
Pengaruh Pra eksperimen, Purposive 16 responden Uji paired t test Hasil penelitian
Pijat menggunakan sampling didapatkan dari uji
Oksitosin one group statistik Wilcoxon dan
Terhadap pretest postest didapati nilai Z
Produksi ASI frekuensi
Ibu menyusu bayi sebesar
Menyusui di 3.573a dan p-value
Wilayah sebesar 0.000
Kerja sedangkan nilai Z
Puskesmas frekuensbuang air kecil
Sidomulyo bayi sebesar -3.547a
Rawat Jalan dan p-value sebesar
Pekanbaru 0.000, yang berarti
(p<0,05). Hasil
tersebut menunjukkan
adanya pengaruh pijat
oksitosin terhadap ibu
menyusui (Magdalena,
Auliya, Usraleli, Melly,
& Idayanti, 2020).
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
13 PEMBAHASAN
Dari hasil literature review yang telah dipaparkan semua artikel menjelaskan hasil
penelitian adanya pengaruh yang signifikan antara pijat oksitosin terhadap produksi ASI.
Pijat oksitosin merupakan cara alternatif untuk mengurangi keadaan emosional ibu yang
tidak stabil. keadaan tersebut dapat membantu dalam proses pengeluaran ASI. Semua
artikel menjelaskan hasil penelitian tentang pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi
ASI pada ibu nifas sehingga dapat digunakan sebagai dasar review jurnal penelitian. Dari
kelima jurnal yang digunakan untuk mereview tiga diantaranya menggunakan metode
pre-eksperimental dan dua menggunakan quasi eksperimen.
Hasil penelitian rata-rata sebelum di lakukan perlakuan dan sesudah dilakukan pijat
oksitosin terdapat peningkatan produksi ASI. Pijat oksitosin yang dilakukan pada ibu
postpartum dapat meningkatkan produksi ASI karena dapat memicu pengeluaran
hormon oksitosin yang sangat penting dalam pengeluaran ASI. Ketika dilakukan pijat
oksitosin maka oksitosin akan memicu sel-sel myopitel yang mengelilingi alveoli dan
duktus untuk berkontraksi sehingga mengalirkan ASI dari alveoli (pabrik susu) ke duktus
menuju sinus dan puting susu sehingga terjadi pengeluaran ASI dan produksi ASI
meningkat (Saputri et al., 2019).
Secara fisiologis pijat oksitosin melalui neurotransmitter akan merangsang medullla
oblongata dengan mengirim pesan ke hypotalamus di hipofise posterior hal tersebut
merangsang refleks oksitosin atau refleks let down untuk mensekresi hormon oksitosin
ke dalam darah. Dengan diberikan pijat oksitosin akan lebih memperlancar produksi ASI
pada ibu menyusui dan juga memberikan kenyamanan pada ibu
(Delima et al., 2016).
Pijat oksitosin juga mudah dilakukan dengan gerakan yang tidak terlalu banyak sehingga
dapat diingat oleh keluarga untuk dilakukan dan tak membutuhkan waktu yang lama.
Dukungan dari suami dan keluarga juga berperan penting dalam menyusui. Salah satu
wujud dukungan tersebut dapat dilihat dari suami dan keluarga menyetujui untuk
melakukan pijat oksitosin sehingga ibu dapat termotivasi untuk menyusui bayinya serta
adanya anggota keluarga yang bersedia membantu melakukan pekerjaan rumah yang
biasa dilakukan ibu (Asih, 2017).
Hal ini sesuai dengan pernyataan Latifah (2015), yang menyatakan bahwa melakukan
perawatan payudara atau breast care dapat meningkatkan produksi ASI jika dilakukan
pada ibu nifas, cara tersebut bertujuan untuk melancarkan peredaran darah dan
mencegah tersumbatnya saluran produksi ASI sehingga pengeluaran ASI lancar. Selain
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
itu, cara lain yang dapat dilakukan untuk memperlancar produksi ASI yaitu dengan
melakukan pijat oksitosin. Pijat oksitosin merupakan pijat yang dilakukan untuk
merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah melahirkan. Pijat ini dilakukan pada
tulang belakang dengan pemijatan dimulai dari tulang belakang servikal (cervikal
vertebrae) sampai tulang belakang torakalis dua belas. Fungsi dari pijat oksitosin yaitu
untuk meningkatkan hormon oksitosin dan ibu menjadi rileks setelah dilakukan
pemijatan. Pijat oksitosin dapat memperlancar pengeluaran ASI dan meningkatkan
produksi ASI dengan cara mengurangi tersumbatnya saluran produksi ASI (Latifah &
Wahid, 2015).
14 PENUTUP
Berdasarkan hasil literature review dari delapan artikel dapat disimpulkan bahwa
adanya pengaruh yang signifikan antara pijat oksitosin terhadap produksi ASI. Pijat
oksitosin merupakan cara alternatif untuk mengurangi keadaan emosional ibu yang
tidak stabil. keadaan tersebut dapat membantu dalam proses pengeluaran ASI. Semua
artikel menjelaskan hasil penelitian tentang pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi
ASI pada ibu nifas sehingga dapat digunakan sebagai dasar review jurnal penelitian. Dari
kedelapan jurnal yang digunakan untuk mereview empat diantaranya menggunakan
metode preeksperimental dan empat menggunakan quasi eksperimen.
Saran yang dapat diberikan untuk pelaksanaan literature review selanjutnya adalah
sebaiknya database yang digunakan lebih banyak sehingga bisa mendapatkan artikel
yang lebih lengkap dan baik, serta batasan tahun pencarian artikel dengan kata kunci
yang ditetapkan adalah lima tahun terakhir agar literature lebih update.
15 DAFTAR PUSTAKA
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
Asih, Y. (2017). Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Nifas. Jurnal
Keperawatan, 12.
Dahniarti, D. (2017). Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Produksi ASI Pada Ibu
Postpartum Di Puskesmas Woha Bima Tahun 2017.
Jurnal Ilmiah Mandala Education, 3(2).
Delima, M., Arni, G., & Rosya, E. (2016). Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Peningkatan
Produksi ASI Ibu Menyusui Di Puskesmas Plus Mandiangin. Jurnal Ipteks
Terapan, 9(4), 283–293.
[Link]
Fara, Y. D., & Mayasari, A. T. (2020). Pengaruh pijat oksitosin terhadap peningkatan
produksi ASI ibu postpartum, 2(2), 269–276.
Italia, & Yanti, M. S. (2019). Pengaruh Pijat Oksitosin terhadap Produksi ASI pada Ibu
Postpartum di BPM Meli R. Palembang Tahun 2018. Jurnal Kesehatan Dan
Pembangunan, 9(17). [Link]
Kartini, Ajeng, A., & Suaningsih, F. (2020). Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap
Peningkatan Produksi ASI Pada Ibu Post Partum Di Puskesmas Balaraja. Jurnal Ilmiah
Keperawatan Indonesia, 3(1), 18–30. Kemenkes. (2018). Profil Kesehatan Indonesia.
Latifah, J., & Wahid, A. (2015). Perbandingan Breast Care Dan Pijat Oksitosin Terhadap
Produksi Asi Pada Ibu Post Partum Normal. Perbandingan Breast Care Dan Pijat
Oksitosin DK, 3(1), 34–43.
Magdalena, M., Auliya, D., Usraleli, U., Melly, M., & Idayanti, I. (2020). Pengaruh Pijat
Oksitosin Terhadap Produksi ASI Ibu Menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas
Sidomulyo Rawat Jalan Pekanbaru. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi,
20(2),
344. [Link]
Mardiyaningsih, E., Setyowati, & Sabri, L. (2011). Efektifitas Kombinasi Teknik Marmet
Dan Pijat Oksitosin Terhadap Produksi Asi Ibu Post Seksio Di Rumah Sakit Wilayah
Jawa Tengah. Jurnal Keperawatan Soedirman, 6(1), 56–61.
Saputri, I. N., Ginting, D. Y., & Zendato, I. C. (2019). Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap
Produksi Asi Pada Ibu Postpartum. Jurnal Kebidanan Kestra, 2(1).
Ulfa, R. R. M. (2013). Efektivitas Pemberian Teknik Marmet Terhadap Pengeluaran ASI
Pada Ibu Menyusui 0-6 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Arjasa Kabupaten
Jember. Jurnal Universitas Jember.
JURNAL KEBIDANAN KHATULISTIWA
Volume 138 Nomor 1, Januari 2021, hlm 20-26
P-ISSN 2460-1853, E-ISSN 2715-727X
LEMBAR KONSULTASI
Nama : Neng Dewi Riyani
NIM : 32722401D19033
Pembimbing : Nuur Octascriptiriani R.S,.[Link]
Judul : Asuhan kebidanan pada Ny. A G6P4A1 usia kehamilan
39-40 minggu Inpartu kala II.
No Tanggal Materi yang Saran Paraf
dikonsultasikan
1. 22-02-2022 Bab 1 Revisi Bab 1
2. 28-02-2022 Bab 1 Revisi Bab 1
Bab 2 Revisi Bab 2
3. 08-03-2022 Bab 1 Revisi Bab1
Bab 2 Revisi Bab 2
Bab 3 Revisi Bab 3
Daptar Pustaka Revisi daftar
Pustaka
4. 09-03-2022 Bab 1 Bab 1
Bab 2 Bab 2
Bab 3 Bab 3
Daftar pustaka Daftar pustaka
5. 10-03-2022 Bab 1 Revisi penulisan
Bab 2 IMD
Bab 3 Hodge
Tanda bahaya
Bayi baru lahir
30-05-2022 Konsul draf pasca Penambahan ,
6. sidang proposal Penatalaksana,
dan pembahasan
7. 03-06-2022 Bab 4 dan Bab 5 Revisi Bab 4 dan
BAB 5
8. 04-06-2022 Bab 4 dan Bab 5 ACC
9. 08-06-2022 Daftar Pustaka Revisi daftar
pustaka
10. 13-06-2022 Daftar Pustaka ACC
11. 23-07-2022 Konsul draf pasca Penambahan kata
sidang
12 13-07-2022 Konsul draf KTI ACC Draf pasca
sidang hasil
LEMBAR KONSULTASI
Nama : Neng Dewi Riyani
NIM : 32722401D19033
Pembingbing : Shinta Utami [Link]. [Link]
Judul : Asuhan Kebidanan pada Ny. A G6P4A1 usia kehamilan 39-40
minggu Inpartu kala II.
No Tanggal Materi yang Saran Paraf
dikonsutasikan
1. 22-02-2022 Bab 1 Revisi Bab 1
2. 01-03-2022 Bab 1 Revisi Bab 1
Bab 2 Bab 2
3 04-03-2022 Bab 2 Bab 2 acc
Bab 3 Revisi Bab 3
4. 08-03-2022 Bab 3 Revisi Bab 3
5. 10-03-2022 Bab 1, Bab 2 dan Revisi penulisan
Bab 3
6. 02-06-2022 Bab 3 Revisi Bab 4
Bab 4 Bab 3 Acc
7. 09-06-2022 Bab 4 Revisi Bab 4
Bab 5
8. 04-06-2022 BAB 4 ACC
9. 09-06-2022 Daftar pustaka Revisi daftar
pustaka
10. 13-06-2022 Daftar pustaka, ACC
Lampiran-lampiran
11. 24-07-2022 Konsul draf pasca Penambahan kata
sidang
12. 14-07-2022 Konsul draf pasca ACC draf pasca
sidang KTI sidang hasil
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
NAMA : NENG DEWI RIYANI
Tempat, Tanggal Lahir : Sukabumi, 01 Juni 2000
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku : Sunda
Telp./[Link] : 082115438041
E-mail : nengdewiriyani@[Link]
Alamat : Kp. Cikangkung RT.04, RW.01, Desa GunungBatu,
Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi.
PENDIDIKAN
2008 – 2013 SDN 1 GUNUNGBATU
2013 – 2016 SMPN 2 CIRACAP
2016 – 2019 SMAN 1 CIRACAP
2019 – 2022 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kota Sukabumi