Penanganan RTLH di Jawa Tengah
Penanganan RTLH di Jawa Tengah
Oleh :
Wiwin Widiastuti, SE, MSc, MT.
Ir. Eny Hari Widowati, [Link]
Af’idatul Lathifah S. Ant., MA
Oleh :
Wiwin Widiastuti, SE, MSc, MT.
Ir. Eny Hari Widowati, [Link]
Af’idatul Lathifah S. Ant., MA
ii
PENANGANAN PROGRAM RUMAH TIDAK LAYAK HUNI BERBASIS
SWADAYA MASYARAKAT DI JAWA TENGAH
(PENELITIAN AWAL DALAM MENDUKUNG PROGRAM
PENGENTASAN KEMISKINAN)
Penulis :
Wiwin Widiastuti, SE, MSc, MT.
Ir. Eny Hari Widowati, [Link]
Af‟idatul Lathifah S. Ant., MA
Editor :
Prof. Dr. Mudjahirin Thohir, MA
Tahun :
2019
Penerbit :
Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah
Provinsi Jawa Tengah
Jalan Pemuda No. 127 – 133 Semarang
iii
LEMBAR PENGESAHAN
Mengetahui,
Kepala Bidang Peneliti
Riset dan Pengembangan
TRI YUNI ATMOJO, ST, [Link] WIWIN WIDIASTUTI, SE, MSc, MT.
Pembina Tk. I Pembina
NIP. 19720203 199803 1 010 NIP. 19670818 199603 2 001
Mengesahkan,
KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN,
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH
PROVINSI JAWA TENGAH
iv
KATA PENGANTAR
v
ABSTRAK
vi
ABSTRACT
vii
DAFTAR ISI
Hal
Halaman Judul.................................................................................................. i
Lembar Pengesahan ......................................................................................... iv
Kata Pengantar ................................................................................................. v
Abstrak ............................................................................................................. vi
Abstract ............................................................................................................ vii
Daftar Isi ......................................................................................................... viii
Daftar Tabel ..................................................................................................... x
Daftar Gambar .................................................................................................. xi
viii
[Link]. RTLH Corporate Social Responsibility ............ 46
4.1.2. Pelaksanaan Program Rumah Tidak Layak Huni ........... 47
4.1.3. Swadaya yang Dimiliki Masyarakat ............................... 48
[Link]. Swadaya Material ............................................. 50
[Link]. Swadaya Non Material ...................................... 52
4.1.4. Problem Teknis Pelaksanaan Program RTLH ................ 57
4.2. PEMBAHASAN ......................................................................... 59
4.2.1. Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam
pengelolaan RTLH berbasis swadaya masyarakat .......... 59
4.2.2. Pola-pola pendanaan swadaya masyarakat yang
diterapkan dalam penanganan rehabilitasi RTLH ........... 59
4.2.3. Pola pendanaan swadaya masyarakat yang bisa
diterapkan di kabupaten/kota di Jawa Tengah ................ 62
BAB V PENUTUP.......................................................................................... 63
5.1. Kesimpulan ................................................................................. 63
5.2. Saran ........................................................................................... 64
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 65
ix
DAFTAR TABEL
x
DAFTAR GAMBAR
xi
BAB I
PENDAHULUAN
1
bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester; iv) Tidak
memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain; v)
Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik; v) Sumber air
minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan. Untuk
Kemensos berdasarkan database terpadu dan keluarga penerima manfaat PKH.
Untuk Kementerian PUPR adalah Masyarakat yang berpenghasilan rendah.
Berdasarkan data dari sinar harapan bahwa sampai akhir tahun 2018 di
Indonesia masih terdapat rumah tidak layak huni sebesar 3,4 juta unit yang
tersebar di berbagai Provinsi. Provinsi Jawa Tengah sampai dengan tahun 2019
masih terdapat rumah tidak layak huni sebesar 1.723.500 unit (TPKPD, 2019).
Untuk menangani permasalahan tersebut maka pemerintah telah mengeluarkan
kebijakan berupa program penyediaan rumah dan peningkatan kualitas rumah
tidak layak huni yang di lakukan oleh kementerian, lembaga non kementerian dan
Pemerintah Daerah.
Program penanganan rumah tidak layak huni yang di keluarkan oleh
pemerintah antara lain Program Bantuan Stimulan perumahan Swadaya (BSPS)
atau Bedah Rumah yang terbagi menjadi dua yaitu Peningkatan Kualitas Rumah
Swadaya di Provinsi dan Program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak layak Huni
dan Sarana Lingkungan (RS-RTLH dan Sarling). Kegiatan ini dilakukan secara
gotong royong agar tercipta kondisi rumah yang layak sebagai tempat tinggal.
Pemerintah Daerah juga mengimplementasikan program Bankeupemdes RTLH.
Di Jawa Tengah pada umumnya penghuni rumah tidak layak huni
merupakan warga masyakat yang berpenghasilan rendah bahkan dalam kriteria
dari Biro Pusat Statistik mereka sering dikatakan sebagai bagian dari masyarakat
dengan kategori Rumah Tangga Miskin (RTM). RTM ini terdapat di kawasan
perkotaan dan pedesaan. Berkaitan dengan RTLH dalam RTM maka penanganan
RTLH perlu dilakukan untuk mengurangi jumlah penduduk miskin.
Penanganan RTLH dilaksanakan dengan mensinergikan program dari Pusat,
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Pembagian tugas dan
tanggung jawab penanganan tahunan diupayakan dengan perbandingan 20%
Pemerintah Pusat, 30% Pemerintah Provinsi dan 50% Pemerintah Kabupaten
2
Kota. Penanganan Bansos RTLH Tahun 2017 dilaksanakan menyebar dan
bertahap sesuai dengan tingkat kemiskinan, sesuai prioritas a) Prioritas Pertama
Desa/ 3 komponen rusak; b) Prioritas Kedua Desa/ 2 komponen rusak;c) Prioritas
Ketiga Desa/ 1 komponen rusak. Kriteria penerima bantuan sosial RTLH adalah
berdasarkan kondisi rumah, pemilik rumah, letak dan status rumah.
Model pembiayaan untuk Penanganan Rumah Tidak Layak Huni adalah
berupa bantuan langsung kepada penerima. Dalam APBD Provinsi Jawa Tengah,
belanja untuk Kegiatan Penanganan Rumah Tidak Layak Huni masuk dalam
Belanja Tidak Langsung (BTL) pada anggaran Dinas Perumahan dan Kawasan
Permukiman. Penerima bantuan rumah tidak layak huni (RTLH) yang telah
dilaksanakan, bisa menerima bantuan kembali sekurang-kurangnya 5 tahun (dapat
mengajukan proposal kembali) dan pada tahun 2018-2019 pembiayaan dilakukan
dengan Bantuan Keuangan Pemerintah Desa dengan sasaran adalah seluruh desa
di Jawa Tengah dan masing-masing desa sebanyak 3 unit dengan tidak
memperhatikan apakah desa tersebut merupakan desa miskin. Penanganan RTLH
yang tersebar di semua desa dan tidak difokuskan ke desa miskin tentu saja
pengentasan kemisikinan dari indicator rumah layak huni menjadi tidak optimal.
Program rehabilitasi rumah tidak layak huni dilaksanakan dalam rangka
upaya pengentasan kemiskinan masyarakat Jawa Tengah, berupa stimulan
bantuan tunai langsung yang nilai nominalnya di lapangan belum bisa
dipergunakan untuk melaksanakan 100% pemugaran atau renovasi rumah tidak
layak huni menjadi rumah layak huni, diperlukan tambahan dana yang harus
disediakan oleh penerima bantuan. Dana tambahan harus disediakan dengan cara
swadaya artinya si penerima bantuan harus menyedianakan dana untuk
pembangunan rumah layak huni di satu sisi penerima bantuan adalah masyarakat
miskin yang tidak memiliki dana. Selain itu, swadaya berupa tenaga gotong
royong juga diharapkan hadir dalam penangana RTLH ini dengan asumsi
penerima dana adalah masyarakat miskin yang di lingkungannya masih kental
dengan budaya gotong royong.
Skema pemberian dana RTLH tersebut tentu saja berpotensi memberatkan
penerima dana mengingat masyarakat penerima dana kemungkinan tidak memiliki
3
dana tunai. Belum lagi kebiasaan gotong royong yang muali luntur membuat
program ini menjadi sulit untuk direalisasikan. Hanya saja, sejak digulirkan
hingga saat ini, progrma penanganan RTLH masih terus berjalan. Hal ini
membuktikan bahwa program tersebut dapat direalisasikan sekalipun dengan
penerimaan dana yang minim. Untuk itu, penelitian ini mencoba melihat
bagaimana penanagan RTLH di wilayah Jawa Tengah dan bagaimana
keswadayaan masyarakat penerima dana dalam merealisasikan program
penangana RTLH.
1.2. PERMASALAHAN
Penanganan rehabilitasi RTLH di Provinsi Jawa Tengah dilakukan dengan
menggunakan dana pemerintah dan pemerintah daerah. Indikator yang berbeda
digunakan dalam skema pendanaan rehabilitasi RTLH pemerintah dan pemerintah
daerah. Disatu sisi indikator RTLH adalah merupakan salah satu faktor kriteria
penentu penduduk miskin, sehingga desa miskin merupakan target dan sasaran
penanganan RTLH. Tetapi kebijakan pemerintah dengan memberikan bantuan
stimulan dalam rehabilitasi RTLH mengharuskan adanya swadaya dari penerima
manfaat, sedangkan penerima manfaat adalah masyarakat miskin pada desil 1 dan
desil 2. Sehingga kondisi ini diduga akan menjadi beban bagi masyarakat
penerima manfaat. Sedangkan harapan pemerintah terhadap penyediaan dana
secara swadaya melalui gotong royong masyarakat dalam mendukung program
rehabilitasi RTLH sulit dilakukan karena nilai-nilai tersebut telah luntur.
Berdasarkan permasalahan tersebut maka dapat ditarik permasalahan sebagai
berikut:
1. Bagaimana implementasi penanganan RTLH untuk pengentasan
kemiskinan di Jawa Tengah, dengan dana pemerintah dan pemerintah
daerah?
2. Apakah faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi
pengelolaan rehabilitasi RTLH berbasis swadaya masyarakat?
3. Bagaimana pola-pola pendanaan swadaya masyarakat yang selama ini
diterapkan dalam penanganan rehabilitasi RTLH?
4
4. Bagaimana pola pendanaan swadaya masyarakat yang dapat diterapkan
di kabupaten/kota di Jawa Tengah dalam penanganan rehabilitasi RTLH?
1.4. SASARAN:
Diperolehnya pola swadaya masyarakat dalam pelaksanaan program Rumah
Tidak Layak Huni (RTLH) di kabupaten/kota di Jawa Tengah.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
6
Dengan demikian, sekurang-kurangnya ada dua pendekatan yang digunakan
untuk pemahaman tentang kemiskinan, yaitu pendekatan absolut dan pendekatan
relatif. Pendekatan pertama adalah perspektif yang melihat kemiskinan secara
absolut, yaitu berdasarkan garis absolut yang biasanya disebut dengan garis
kemiskinan Syahrir (dalam Arya Budi, 2013). Pendekatan yang kedua adalah
pendekatan relatif, yaitu melihat kemiskinan itu berdasarkan lingkungan dan
kondisi sosial masyarakat.
Pendekatan yang sering digunakan oleh para ahli ekonomi adalah
pendekatan dari segi garis kemiskinan (poverty line). Garis kemiskinan diartikan
sebagai batas kebutuhan minimum yang diperlukan seseorang atau rumahtangga
untuk dapat hidup dengan layak. Akan tetapi, diantara para ekonom terdapat
perbedaan dalam menetapkan tolak ukur yang digunakan untuk menetapkan garis
kemiskinan tersebut.
Indikator utama kemiskinan berdasarkan batasan yang telah dipaparkan di
atas dapat dilihat dari berbagai aspek. Indikator-indikator kemiskinan adalah
sebagai berikut:
1. Terbatasnya kecukupan dan mutu pangan.
2. Terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan kesehatan.
3. Terbatasnya akses dan rendahnya mutu pelayanan pendidikan.
4. Terbatasnya akses terhadap air bersih.
5. Lemahnya kepastian kepemilikan dan penguasaan tanah.
6. Memburuknya kondisi lingkungan hidup dan sumberdaya alam.
7. Lemahnya jaminan rasa aman, lemahnya partisipasi, dan besarnya beban
kependudukan yang disebabkan oleh besarnya tanggungan keluarga dan
adanya tekanan hidup yang mendorong terjadinya migrasi atau
urbanisasi.
7
makanan dan bukan makanan yang diukur, namun dari sisi pengeluaran. P1
(Indeks Kedalaman Kemiskinan) dan P2 (Indeks Keparahan Kemiskinan) indeks
tersebut Memberikan informasi yang saling melengkapi pada insiden kemiskinan
dan juga penghitungan dari Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) merupakan
penjumlahan nilai kebutuhan minimum dari komoditi-komoditi non-makanan
terpilih yaitu yang meliputi perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Maka
Penduduk Miskin merupakan penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran
perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan dan tidak dapat memenuhi
kebutuhan perumahan, sandan, pendidikan dan kesehatan. Seperti halnya pada
Program Bantuan Perbaikan RTLH bahwa rumah menjadi salah satu penilaian
dalam menentukan masyarakat miskin.
Kemiskinan seperti diungkapkan oleh Suparlan (1994), yaitu suatu keadaan
kekurangan harta atau benda berharga yang diderita oleh seseorang atau
sekelompok orang. Akibat dari hal tersebut maka seseorang atau sekelompok itu
akan merasa kurang mampu membiayai kebutuhan-kebutuhan hidupnya
sebagaimana layaknya. Kekurang mampuan tersebut mungkin hanya pada tingkat
kebutuhan-kebutuhan budaya (adat, upacara-upacara, moral dan etika), atau pada
tingkat pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial (pendidikan, berkomunikasi dan
berinteraksi dengan sesama) atau pada tingkat pemenuhan kebutuhan-kebutuhan
yang mendasar (makan minum, berpakaian, bertempat tinggal atau rumah,
kesehatan dan sebagainya).
Selanjutnya Supriatna (1997) mengemukakan lima karakteristik masyarakat
miskin, antara lain: 1). Tidak memiliki faktor produksi sendiri; 2). Tidak
mempunyai kemungkinan untuk memperoleh aset produksi dengan kekuatan
sendiri; 3). Tingkat pendidikan pada umunya rendah; 4). Banyakdiantara mereka
tidak mempunyai fasilitas; 5). Diantara mereka berusia relatif muda dan tidak
mempunyai keterampilan atau pendidikan yang memadai.
Sedangkan Menurut Mubyarto (2004) bahwa: “Kemiskinan di gambarkan
sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok
atau kebutuhan hidup minimum yaitu sandang, pangan, perumahan, pendidikan
dan kesehatan.
8
Berdasarkan pada uraian diatas maka Kemiskinan dapat diartikan sebagai
keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, dan air minum. Hal tersebut sangat
berhubungan erat dengan kualitas hidup. Secara ekonomi, kemiskinan dapat
dilihat dari tingkat kekurangan sumber daya yang dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan hidup serta meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang.
Menurut Suparlan (1985), kemiskinan yang terjadi di Indonesia secara
sosiologis memiliki beberapa pola, yaitu:
1. Kemiskinan Individu
Kemiskinan individu terjadi karena adanya kekurangan-kekurangan yang
dipandang oleh seseorang mengenai syarat-syarat yang diperlukan
untukmengatasi dirinya dari lembah kemiskinan.
2. Kemiskinan Relatif
Kemiskinan relatif merupakan pengertian yang disebut dengan social
economics status atau disingkat dengan SES (biasanya untuk keluarga
atau rumahtangga). Dalam hal ini diadakan perbandingan antara
kekayaan materil dari keluarga atau rukun tetangga di dalam suatu
komunitas teritorial.
3. Kemiskinan Struktural
Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh struktur
sosial ekonomi yang sedemikian rupa sehingga masyarakat menjadi
bagiannya. Kemiskinan struktural dipahami sebagai kemiskinan yang
terjadi disebabkan oleh ketidakmerataan sumberdaya karena struktur dan
peran seseorang dalam masyarakat.
4. Kemiskinan Budaya
Kemiskinan budaya adalah kemiskinan yang diderita oleh suatu
masyarakat ditengah-tengah lingkungan alam yang mengandung banyak
bahan mentah yang bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki taraf hidup.
9
2.1.2. Partisipasi Masyarakat
Didalam kamus besar bahasa Indonesia partisipasi adalah perihal turut
berperan serta dalam suatu kegiatan (keikutsertaan). Sedangkan dalam kamus
sosiologi participation ialah setiap proses identifikasi atau menjadi peserta suatu
proses komunikasi atau kegiatan bersama dalam suatu situasi sosial tertentu.
Conyers (1991) berpendapat didalam Suharto sebagai berikut: pertama,
partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi
mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat setempat, yang tanpa
kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal; kedua,
bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan
jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena
mereka akan lebih mengetahui seluk-beluk proyek tersebut dan akan mempunyai
rasa memiliki terhadap proyek tersebut; ketiga, bahwa merupakan suatu hak
demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka
sendiri.
Suatu definisi partisipatif baik deskriptif maupun normatif terutama harus
menekankan bahwa segala perkembangan masyarakat dan pembangunan
merupakan proses yang hanya bisa berhasil jika hanya dijalankan bukan saja bagi
tetapi juga bersama dengan dan oleh rakyat sendiri, terlebih orang miskin. Dengan
kata lain Masyarakat harus ikut secara aktif dalam menentukan danmenjalankan
upaya dan program bantuan dari pemerintah, dan dengan demikian dapat
menentukan keadaan hidup mereka sendiri mulai dari saat pengambilan
keputusan, pelaksanaan, pengawasannya hingga perawatan suatu program. Seperti
halnya program Bantuan Perbaikan RTLH yang diberikan oleh pemerintah kepada
masyarakat untuk penetingan bersama dan masyarat harus ikut serta dalam
pelaksanaannya agar program tersebut dapat berhasil.
Menurut teori Sherry Arnstein (1971). Dalam konsepnya, Arnstein
menjelaskan “partisipasi masyarakat yang didasarkan kepada kekuatan
masyarakat untuk menentukan suatu produk akhir, tiap tangga dibedakan
berdasarkan corresponding to the extent of citizen’s power in determining the plan
and/or program”. Secara umum dalam model ini ada tiga derajat partisipasi
10
masyarakat, 1). Tidak Partisipatif (Non Participation); 2). Derajat Semu (Degrees
of Tokenism); 3). Kekuatan Masyarakat (Degrees of Citizen Powers).
Tabel 2. 1
Level Partisipasi Menurut Arnsten
1 Manipulasi (manipulation) Tidak Partisipatif
2 Terapi (theraphy) (Non Participation)
3 Pemberian Informasi (information) Partisipasi Semu
4 Konsultasi (consultation) (Tokenism)
5 Penentraman (placation)
6 Kendali Warga (citizen control) Derajat Kuasa/ Kekuatan
7 Kuasa yang didelegasi (delegated power) Masyarakat
8 Kemitraan (partnership) (Degree of Citizen Power)
Sumber: Sherry R Arnstein, A Ladder of Citizen Participation. Journal of the
American Instituteof Planners 35.1969, Hal 216-224
11
perbaikan kualitas pembangunan. Hal tersebut menandakan masyarakat memiliki
kendali dimana masyarakat meningkatkan level partisipasi tertinggi yaitu citizen
control/citizen power.
12
Modal sosial dapat merujuk pada norma atau jaringan yang memungkinkan
orang untuk melakukan tindakan kolektif. Modal sosial sebagai agregat
sumberdaya aktual ataupun potensial yang diikat untuk mewujudkan jaringan
yang awet sehingga melembagakan hubungan persahabatan yang saling
menguntungkan. Jaringan sosial (social network) dikonstruksi melalui strategi
investasi yang berorientasi pada pelembagaan hubungan kelompok (group
relation) yang dapat dipakai sebagai sumber terpercaya untuk meraih keuntungan
(Kushandajani, 2008). Modal sosial sebagai gambaran organisasi sosial, jaringan
sosial, saling kepercayaan, norma-norma yang memfasilitasi koordinasi dan
kerjasama dan saling menguntungkan. Pentingnya kerjasama dalam kegiatan
kelompok diperkuat oleh saling kepercayaan dan norma. Saling kepercayaan
dapat dijelaskan dari interaksi- interaksi yang didasari perasaan yakin, bahwa
orang lain akan memberi respon sebagaimana yang diharapkan dan saling
mendukung (Pranadji, 2006). Modal sosial tergantung pada tiga kunci yaitu
kepercayaan dari lingkungan sosial dan perluasan aktual dari kewajiban yang
sudah dipenuhi, jaringan informasi yang sangat penting sebagai basis tindakan
dan norma serta sanksi yang efektif dalam kelompok atau suatu komunitas yang
dapat mendukung individu untuk memperoleh prestasi (Syahyuti, 2008).
13
1. Faktor Kesehatan
Salah satu kriteria rumah layak huni atau tidak adalah dari sisi kesehatan.
Hunian yang dianggap layang haruslah berada di lokasi yang tidak
terkena banjir dan tidak lembap. Selain itu, setiap ruangannya haruslah
memenuhi persyaratan pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik.
Kehadiran utilitas jaringan listrik yang berfungsi, juga menjadi poin
penting dari rumah layak huni. Setiap lingkungan perumahan harus
mendapatkan daya listrik dari PLN minimum 450 VA. Kemudian,
tersedia pula penerangan jalan umum.
Selain listrik, kehadiran jaringan air bersih dari PDAM atau berasal dari
sumur pompa juga wajib tersedia. Syarat air dalam kategori layak
dikonsumsi apabila secara fisik terlihat jernih, tidak berbau dan tidak
berasa.
2. Faktor Keamanan Bangunan
Faktor keamaanan konstruksi juga menjadi hal utama yang harus dimiliki
rumah layak huni. Bangunan rumah harus memenuhi persyaratan teknis
dan pemilihan material yang tepat.
Bagian atap harus memiliki kemiringan yang disesuaikan dengan bahan
penutup yang digunakan. Sehingga tidak akan mengakibatkan bocor.
Persentase atap bocor sedang yakni < 20% dari luas atap dan persentase
atap bocor berat, yaitu >20% dari luas atap. Sedangkan, bagian lantai
harus terbuat dari material yang mudah dibersihkan, tidak lembap serta
kuat untuk menahan beban yang akan timbul dan memperhatikan
lendutannya.
Pada bagian dinding, harus dirancang sedemikian rupa, sehingga dapat
memikul beban di atasnya serta berat angin. Untuk bagian dinding kamar
mandi, setidaknya harus memiliki ketinggian 1,5 meter di atas
permukaan lantai.
3. Faktor Keindahan dan Kenyamanan
Setelah rumah aman secara konstruksi, bangunan dapat dikatakan layak
huni jika dirancang secara indah dan nyaman. KemenPUPR
14
menyarankan untuk menggunakan gaya arsitektur lokal serta penataan
dan penentu besaran ruangan yang optimal.
15
2.3. KERANGKA PEMIKIRAN
16
BAB III
METODE PENELITIAN
17
belum berhasil dalam menerapkan program tersebut sedangkan responden akan
dipilih secara sengaja yaitu yang telah berhasil dan belum berhasil memanfaatkan
program tersebut.
18
pedesaan dan perkotaan, wilayah pesisir dan pegunungan, wilayah
yang sukses menerapkan gotong royong dan wilayah yang sudah
minim partisipasi masyarakat dalam gotong royong. FGD
melibatkan staf Disperakim, perangkat desa yang menerima dana
rehabilitasi RTLH, dan fasilitator lapangan.
19
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. HASIL
4.1.1. Skema RTLH di Provinsi Jawa Tengah
[Link]. Data Statistik Kondisi Kemiskinan di Jawa Tengah
Jumlah penduduk miskin di Provinsi Jawa Tengah pada Maret 2019 sebesar
3.743,23 ribu orang (10,80%), turun 124, 19 ribu orang (0,39%) poin dibanding
September 2018, sementara jumlah penduduk miskin Indonesia turun 529,86 ribu
orang atau penurunan kemiskinan Indonesia sebesar 0,25persen poin.
Gambar 4.1.
Penduduk Miskin di Provinsi Jawa Tengah Th. 2014-2019
20
Klaten 12,28%, Demak 11,86%, Grobogan 11,77%, Purworejo 11,67%, dan Blora
11,90%.
Terdapat 9 (sembilan) Kabupaten/kota dengan tingkat kemiskinan dibawah
Provinsi Jawa Tengah dan diatas Nasional, yaitu: Cilacap 11,25%, Magelang
11,23%, Wonogiri 10,75%, Pekalongan 10,06%, Boyolali 10,04%, Karanganyar
10,01%, Pati 9,90%, Temanggung 9,87% dan Kendal 9,84%.
Sementara terdapat 12 Kabupaten/Kota dengan tingkat kemiskinan dibawah
Provinsi Jawa Tengah dan Nasional, yaitu Kota Surakarta 9,08%, Kab. Batang
8,69%, Kab. Tegal 7,94%, Kota Magelang 7,87%, Kota Tegal 7,81%, Kab.
Sukoharjo 7,41%, Kab. Semarang 7,29%, Kab. Jepara 7,00%, Kab. Kudus 6,98%,
Kota Pekalongan 6,75%, Kota Salatiga 4,84% dan Kota Semarang 4,14%.
Gambar 4.2
Posisi Relatif Tingkat Kemiskinan Kabupaten/Kota di Jawa Tengah
(Kondisi Maret 2019)
21
3. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/rumbia/kayu berkualitas
rendah/tembok tanpa diplester.
4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah
tangga lain.
5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
6. Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air
hujan.
7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak
tanah.
8. Hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam dalam satu kali seminggu.
9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.
10. Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari
11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/poliklinik.
12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas
lahan 500m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan
dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,-
per bulan.
13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/tidak tamat
SD/tamat SD.
14. Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual denga minimal Rp.
500.000,- seperti sepeda motor kredit/non kredit, emas, ternak, kapal
motor, atau barang modal lainnya.
Jika 9 variabel terpenuhi maka suatu rumah tangga disebut rumah tangga miskin.
Sedangkan kriteria rumah yang layak huni adalah rumah yang memenuhi
persyaratan keselamatan bangunan, dan kecukupan minimum luas bangunan, serta
kesehatan penghuni (penjelasan pasal 24 huruf a UU PKP). Rumah Tidak Layak
Huni yang selanjutnya disingkat RTLH adalah rumah yang tidak memenuhi
persyaratan keselamatan bangunan, kecukupan minimum luas bangunan, dan
kesehatan penghuni. Rumah dalam kondisi tidak layak huni ditentukan
berdasarkan tiga indikator rumah layak huni, yaitu:
22
1. Aspek keselamatan bangunan: (a) komponen struktur bangunan (pondasi,
sloof, kolom/tiang. ring balok, kerangka atap); dan (b). kualitas bahan
penutup atap, lantai, dinding;
2. Aspek kesehatan penghuni: (a) pencahayaan; (b) penghawaan; dan (c)
ketersediaan MCK;
3. Aspek kecukupan minimum luas bangunan
Dari ke-14 kriteria miskin menurut standar BPS, terdapat 5 (lima) point
kriteria yang sesuai dengan standar kriteria rumah tidak layak huni yaitu:
1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2 per orang.
2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.
3. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/rumbia/kayu berkualitas
rendah/tembok tanpa diplester.
4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah
tangga lain.
5. Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air
hujan.
23
1. Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari Pemerintah
Pusat - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Republik
Indonesia
Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya yang selanjutnya disingkat BSPS
adalah bantuan Pemerintah bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk
mendorong dan meningkatkan keswadayaan dalam peningkatan kualitas
rumah dan pembangunan baru rumah beserta prasarana, sarana, dan
utilitas umum (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat Nomor 07/PRT/M/2018 pasal 1).
Bantuan ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR),
yaitu masyarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu
mendapat dukungan pemerintah untuk memperoleh rumah.
Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang diberikan berupa
uang digunakan untuk membeli bahan bangunan dan membayar upah
kerja. Sedangkan jenis kegiatan BSPS terdiri atas: (1) Peningkatan
Kualitas Rumah Swadaya selanjutnya disingkat PKRS, yang merupakan
kegiatan memperbaiki rumah tidak layak huni menjadi layak huni yang
diselenggarakan atas prakarsa dan upaya masyarakat baik secara
perseorangan atau berkelompok; dan (2) Pembangunan Baru Rumah
Swadaya yang selanjutnya disingkat PBRS, yang merupakan kegiatan
pembangunan rumah baru yang layak huni yang diselenggarakan atas
prakarsa dan upaya masyarakat baik secara perseorangan atau
berkelompok.
Kegiatan Peningkatan Kualitas Rumah Swadaya (PKRS) dimaksudkan
untuk memperbaiki rumah tidak layak huni menjadi layak huni dengan
memenuhi persyaratan: (a). keselamatan bangunan; (b). kesehatan
penghuni; dan (c). kecukupan minimum luas bangunan. Keselamatan
bangunan meliputi pemenuhan standar keandalan komponen struktur
bangunan serta peningkatan kualitas bahan penutup atap, lantai, dan
dinding bangunan. Kesehatan penghuni meliputi pemenuhan standar
kecukupan sarana pencahayaan dan penghawaan serta ketersediaan
24
sarana utilitas bangunan meliputi sarana mandi, cuci, dan kakus.
Kecukupan minimum luas bangunan meliputi pemenuhan standar ruang
gerak minimum per-orang untuk kenyamanan bangunan.
Kegiatan Pembangunan Baru Rumah Swadaya (PBRS) dilakukan oleh
Penerima BSPS dengan persyaratan: (a). pembangunan Rumah baru
pengganti Rumah rusak total; atau (b). pembangunan Rumah baru di atas
kavling tanah matang.
Besaran nilai BSPS untuk jenis kegiatan Peningkatan Kualitas Rumah
Swadaya (PKRS) adalah Rp 17.500.000,- (tujuh belas juta lima ratus ribu
rupiah), dengan perincian Rp. 15.000.000 (lima belas juta rupiah) adalah
ongkos bahan bangunan dan Rp 2.500.000 (dua juta lima ratus ribu
rupiah) adalah ongkos tukang. Sedangkan besaran nilai BSPS untuk jenis
kegiatan Pembangunan Baru Rumah Swadaya (PBRS) adalah sebesar
Rp. 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah).
Dalam pelaksanaan kegiatan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya
(BSPS) di lapangan dibantu oleh Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL)
yang merupakan tenaga profesional pemberdayaan lokal yang menjadi
penggerak dan pendamping penerima bantuan dalam melaksanakan
kegiatan BSPS.
2. Bantuan Rumah Swadaya, Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik
Bidang Perumahan Permukiman Subbidang Rumah Swadaya dari
Pemerintah Pusat - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Republik Indonesia
Bantuan Rumah Swadaya (BRS) adalah bantuan pemerintah bagi
masyarakat berpenghasilan rendah untuk mendorong dan meningkatkan
keswadayaan dalam peningkatan kualitas rumah dan pembangunan baru
rumah besert aprasarana, sarana, dan utilitas umum. Dana Alokasi
Khusus (DAK) Fisik Subbidang Rumah Swadaya adalah dana yang
dialokasikan dari APBN untuk membantu masyarakat berpenghasilan
rendah yang sifatnya stimulant guna mendorong dan meningkatkan
keswadayaan dalam rangka pemenuhan kebutuhan perumahan swadaya
25
layak huni melalui peningkatan kualitas rumah dan pembangunan baru
rumah berserta prasarana, sarana, dan utilitas umum yang merupakan
prioitas nasional dan menjadi urusan dan kewenangan Pemerintah
Daerah.
Kegiatan Dana Alokasi Khusus (DAK) reguler dan afirmasi bertujuan
mengurangi backlog dan rumah tidak layak huni yang ada di Provinsi dan
Kabupaten/Kota. Kekuranga rumah (backlog) adalah jumlah rumah
tangga/keluarga dikurangi jumlah rumah tangga/keluarga yang telah
menghuni atau menempati rumah.
Program Bantuan Rumah Swadaya meliputi: (a) Peningkatan Kualitas
Rumah Swadaya disingkat PKRS; (b) Pembangunan Rumah Baru
Swadaya disingkat PRBS; (c) Pembangunan prasarana jalan lingkungan
termasuk drainase dalam rangka pemenuhan rumah swadaya yang layak
huni bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah.
Peningkatan Kualitas Rumah Swadaya (PKRS) adalah kegiatan
memperbaiki rumah tidak layak huni menjadi layak huni yang
diselenggarakan atas prakara dan upaya masyarakat baik secara
perseorangan atau berkelompok. Sedangkan Pembangunan Rumah Baru
Swadaya (PRBS) adalah kegiatan pembangunan rumah baru yang layak
huni yang diselenggarakan atas prakarsa dan upaya masyarakat baik
secara perseorangan atau berkelompok.
Bantuan Rumah Swadaya DAK yang diberikan kepada Masyarakat
Berpenghasilan Rendah jenis Peningkatan Kualitas Rumah Swadaya
(PKRS) adalah sebesar Rp 17.500.000 (tujuh belas juta lima ratus ribu
rupiah) dengan perincian Rp 15.00.000 (lima belas juta rupiah)
dipergunakan untuk ongkos pembelian bahan bangunan dan Rp.
2.500.000 (dua juta lima ratus ribu rupiah) dialokasikan untuk ongkos
tukang.
Dalam pelaksanaan kegiatan Bantuan Rumah Swadaya DAK di lapangan
dibantu oleh Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) yang merupakan tenaga
26
profesional pemberdayaan lokal yang menjadi penggerak dan
pendamping penerima bantuan dalam melaksanakan kegiatan BRS.
Bantuan Rumah Swadaya diselenggarakan sesuai dengan prisip-prinsip:
a. Swadaya Masyarakat
Bantuan Rumah Swadaya bersifat stimulant dalam rangka
peningkatan kualitas rumah swadaya dan pembangunan baru rumah
swadaya agar layak huni, mencakup kualitas kelayakan rumah agar
dapat dihuni diperlukan komitmen serta kesiapan masyarakat berupa
dana swadaya baik berupa tabungan bahan bangunan maupun asset
lain atau tabungan yang dapat dijadikan dana tambahan.
b. Pemberdayaan Masyarakat
Kegiatan dilakukan dalam rangka memberdayakan masyarakat agar
mampu melakukan penyelenggaraan perumahan swadaya mulai dari
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan secara bertanggungjawab.
c. Transparan dan dapat dipertanggungjawabkan
Pengelolaan kegiatan dilakukan secara transparan dan dapat
dipertanggung jawabkan menurut peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
d. Pengembangan Mandiri Pasca Kegiatan
Pengembangan mandiri pasca konstruksi adalah kegiatan swadaya
pembangunan perumahan setelah selesainya program bantuan rumah
swadaya, dilakukan atas inisiatif/prakarsa dan dengan dana dari
masyarakat sendiri. Keberhasilan tersebut ditentukan oleh proses
pemberdayaan masyarakat sejak persiapan hingga pasca konstruksi
yang dilakukan oleh Kelompok Penerima Bantuan (KPB) secara
swadaya.
3. Bantuan Keuangan Pemerintah Desa untuk Rehabilitasi Rumah
Tidak Layak Huni (Bankeu Pemdes RTLH) dari Pemerintah
Provinsi Jawa Tengah.
Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Desa diberikan sebagai bentuk
dukungan Daerah kepada Pemerintah Desa dalam rangka percepatan
27
pembangunan desa, pemberdayaan masyarakat desa dan penanggulangan
kemiskinan.
Berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 7 Tahun 2019
Tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 48
Tahun 2017 Tentang Pedoman Pemberian Bantuan Keuangan Kepada
Pemerintah Desa Di Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi Jawa
Tengah memberian Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Desa untuk
Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (Pasal 13 butir g) disebut sebagai
Bankeu Pemdes Rehabilitasi RTLH. Rehabilitasi adalah kegiatan
pemulihan suatu keadaan menjadi seperti semula. Rumah Tidak Layak
Huni yang selanjutnya disingkat RTLH adalah rumah yang tidak
memenuhi persyaratan kecukupan minimal luas, kualitas dan kesehatan
bangunan.
Bantuan Keuangan Pemerintah Desa Rehabilitasi Rumah Tidak Layak
Huni adalah merupakan dana bantuan yang bersifat stimulan yang
memerlukan peran serta masyarakat untuk swadaya dan gotong – royong,
yang merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan prakarsa dan
swadaya masyarakat dalam mewujudkan Rumah Layak Huni, yang perlu
melibatkan masyarakat sejak proses pengusulan, perencanaan hingga
pelaksanaan. Bankeu Pemdes Rehabilitasi RTLH dari Pemerintah
Provinsi Jawa Tengah diberikan kepada masing-masing desa sejumlah 5
(lima) unit rumah dengan dana sebesar @ Rp. 10.000.000 (sepuluh juta
rupiah).
Dalam pelaksanannya Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Desa
ditransfer langsung ke Rekening Kas Desa dan dianggarkan dalam APB
Desa. Bantuan Keuangan Kepada Pemerintah Desa dapat digunakan
untuk biaya operasional dan/atau administrasi kegiatan paling tinggi 5%
(lima persen) dari pagu anggaran kegiatan. Pemerintah Kabupaten dan
Kecamatan memfasilitasi serta berperan aktif melakukan pembinaan,
pengendalian dan pengawasan terhadap kegiatan Bantuan Keuangan
kepada Pemerintah Desa sesuai kewenangannya.
28
Prinsip-Prinsip Pengelolaan Bantuan Keuangan Pemerintah Desa adalah:
a. Berpihak pada Masyarakat Miskin: Kegiatan bantuan keuangan
kepada pemerintah desa diarahkan bermanfaat untuk masyarakat
miskin.
b. Transparansi: Bantuan keuangan kepada pemerintah desa
dilaksanakan dengan semangat keterbukaan, seluruh masyarakat dan
pelaku memiliki akses yg sama terhadap informasi tentang rencana,
pelaksanaan pembangunan Desa dan pemberdayaan masyarakat.
c. Swakelola dan gotong royong: Kegiatan bantuan keuangan kepada
pemerintah desa dilakukan secara swakelola dengan memaksimalkan
pemanfaatan sumber daya yang ada di desa secara gotong royong
dengan melibatkan partisipasi masyarakat untuk memperluas
kesempatan kerja dan pemberdayaan masyarakat setempat.
d. Swadaya: Dalam pelaksanaan kegiatan masyarakat ikut serta
mendukung baik berupa uang, barang, dan /atau tenaga sesuai
dengan kemampuan.
e. Partisipatif: Masyarakat turut berperan aktif dalam setiap kegiatan
bantuan keuangan kepada pemerintah desa.
f. Akuntabel: Pengelolaan kegiatan bantuan keuangan kepada
pemerintah desa dilaksanakan sesuai dengan aturan dan ketentuan
serta dapat dipertanggungjawabkan.
g. Keberlanjutan: Pelaksanaan bantuan keuangan kepada pemerintah
desa dilakukan secara terkoordinasi, terintegrasi dan
berkesinambungan.
h. Responsif gender: Dalam pelaksanaan bantuan keuangan kepada
pemerintah desa, perempuan mempunyai hak yang sama dengan
laki-laki.
4. Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Pemerintah
Kabupaten/Kota.
Bantuan dana rehabilitasi untuk Rumah Tidak Huni (RTLH) dari
Anggaran Pemerintah Belanja Daerah (APBD) Kabupaten/Kota yang
29
diberikan kepada desa dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/kota di
Jawa Tengah. Besaran dana rehabilitasi RTLH rata-rata sebesar Rp
10.000.000 (sepuluh juta rupiah) per unit rumah. Model pengelolaan
program RTLH yang bersumber dari APBD kabupaten/kota beragam
sesuai kemampuan daerah. Beberapa daerah menganggarkan dana untuk
tenaga fasilitator lapangan dan sebagian tidak.
5. Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Pemerintah Desa
Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Provinsi
Jawa Tengah, pada beberapa kabupaten/kota dianggarkan dari dana
Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes). Bantuan dana rehabilitasi
RTLH dari anggaran desa sepenuhnya terlaksana atas inisiatif Kepala
Desa. Besarnya dana rehabilitasi RTLH rata-rata sebesar Rp. 10.000.000
(sepuluh juta rupiah) per unit rumah. Bantuan dana rehabilitasi RTLH
dari APBDesa dimaksudkan sebagai stimulan untuk peningkatan kualitas
rumah tidak layak huni menjadi rumah layak huni.
6. Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Swasta/Corporate
Social Responsibility.
Dana untuk pelaksanaan Program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni
(RTLH) di Provinsi Jawa Tengah, pada beberapa kabupaten/kota berasal
dari dana swasta/Corporate Social Responsibility. Bantuan dana
rehabilitasi RTLH dari Corporate Social Responsibility (CSR)
sepenuhnya terlaksana atas inisiatif Kepala Daerah yang aktif
berkolaborasi dan bekerjasama dengan perusahaan swasta. Besarnya
dana rehabilitasi RTLH rata-rata sebesar Rp. 15.000.000 (limabelas juta
rupiah) s/d Rp. 20.000.000 (duapuluh juta rupiah) per unit rumah.
Bantuan dana rehabilitasi RTLH dari Corporate Social Responsibility
(CSR) dimaksudkan sebagai stimulan untuk peningkatan kualitas rumah
tidak layak huni menjadi rumah layak huni dalam rangka mendukung
upaya pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan di Jawa Tengah
30
[Link]. Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari Pemerintah
Pusat - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Republik
Indonesia
1. Persyaratan Penerima Bantuan
Penerima BSPS merupakan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)
yang memenuhi persyaratan:
a. Warga negara Indonesia yang sudah berkeluarga;
b. Memiliki atau menguasai tanah dengan alas hak yang sah;
c. Belum memiliki Rumah, atau memiliki dan menempati satu-satunya
Rumah dengan kondisi tidak layak huni;
d. Belum pernah memperoleh BSPS atau bantuan pemerintah untuk
program perumahan;
e. Berpenghasilan paling banyak sebesar upah minimum daerah
provinsi; dan
f. Bersedia berswadaya dan membentuk KPB dengan pernyataan
tanggung renteng.
2. Mekanisme Pelaksanaan Pekerjaan
a. Membentuk Kelompok Penerima Bantuan (KPB) yang memenuhi
persyaratan: (1) terdiri atas unsur ketua merangkap anggota,
sekretaris merangkap anggota, bendahara merangkap anggota dan
anggota; (2) anggota KPB paling banyak 20 (dua puluh) orang; (3)
anggota KPB bertempat tinggal di desa/kelurahan yang sama; dan
(4) ditetapkan oleh kepala desa/lurah.
b. Penyelenggaraan BSPS meliputi tahapan:
(1) pengusulan lokasi BSPS;
(2) penetapan lokasi;
(3) penyiapan masyarakat;
(4) penetapan calon Penerima BSPS;
(5) pencairan, penyaluran, dan pemanfaatan BSPS bentuk uang;
(6) pengadaan dan penyerahan BSPS bentuk barang; dan
(7) pelaporan.
31
Usulan lokasi BSPS meliputi nama desa/kelurahan yang dilengkapi
dengan data: a. jumlah Rumah tidak layak huni; dan jumlah kebutuhan
kekurangan Rumah Swadaya. Usulan lokasi BSPS ditujukan kepada
Menteri c.q. Direktur Jenderal yang dilakukan oleh bupati/walikota
dengan tembusan gubernur setelah sebelumnya dilakukan verifikasi oleh
pemerintah daerah provinsi.
Berdasarkan hasil verifikasi dilakukan penetapan lokasi BSPS. Lokasi
BSPS untuk daerah kabupaten/kota ditetapkan oleh Menteri dan lokasi
BSPS untuk desa/kelurahan ditetapkan oleh Direktur Jenderal
berdasarkan lokasi BSPS yang ditetapkan oleh Menteri.
Penyiapan masyarakat dilaksanakan pada lokasi BSPS oleh Tenaga
Fasilitator Lapangan. Tahap perencanaan meliputi kegiatan: a. sosialisasi
dan/atau penyuluhan; b. verifikasi calon Penerima BSPS; c. kesepakatan
calon Penerima BSPS; dan d. identifikasi kebutuhan dan penyusunan
proposal.
Kesepakatan calon Penerima BSPS dilakukan melalui rembuk warga
untuk: a. menentukan calon Penerima BSPS; b. membentuk KPB dan
bersepakat untuk tanggung renteng dalam pelaksanaan kegiatan BSPS;
dan c. menentukan toko/penyedia bahan bangunan.
Identifikasi kebutuhan dan penyusunan proposal dilakukan melalui
rembuk warga. Tahap pelaksanaan meliputi kegiatan bimbingan teknis
dalam pemeriksaan kuantitas bahan bangunan, teknik konstruksi
bangunan, dan kualitas bangunan. Tahap pengawasan kegiatan
pemantauan pelaksanaan konstruksi yang dilakukan antar sesama
anggota KPB. Tahap pelaporan meliputi bimbingan teknis dalam
menyusun laporan pertanggungjawaban kegiatan BSPS. Tahap
pengembangan mandiri pasca kegiatan meliputi bimbingan teknis dan
supervisi dalam pemanfaatan, pemeliharaan, dan pengembangan terhadap
hasil kegiatan BSPS.
Penetapan Calon Penerima BSPS, PPK melakukan pemeriksaan proposal
yang diajukan oleh calon Penerima BSPS. Hasil pemeriksaan terhadap
32
proposal calon Penerima BSPS ditetapkan oleh PPK dan disahkan oleh
KPA/Kepala Satker sebagai Penerima BSPS.
Pencairan BSPS bentuk uang dilakukan melalui Bank/Pos penyalur
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Penyaluran
BSPS bentuk uang dilakukan oleh Bank/Pos penyalur ke rekening
Penerima BSPS dalam 1 (satu) tahap. Pemanfaatan BSPS dalam bentuk
uang dilakukan oleh Penerima BSPS dengan cara
pemindahbukuan/transfer uang dari rekening Penerima BSPS ke rekening
toko/penyedia bahan bangunan untuk pembelian bahan bangunan dan
penarikan tunai untuk pembayaran upah kerja. Pemanfaatan BSPS dalam
bentuk uang dilakukan dalam 2 (dua) tahap masing-masing sebesar 50%
(lima puluh persen) dari nilai bantuan sesuai dengan daftar rencana
pemanfaatan bantuan dari Penerima BSPS.
Pengadaan BSPS bentuk barang dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan tentang pengadaan barang/jasa
pemerintah. Penyerahan BSPS bentuk barang dilakukan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Penerima BSPS didampingi TFL dalam menyusun dan menyampaikan
laporan pertanggungjawaban pemanfaatan BSPS kepada PPK. Laporan
disampaikan secara berjenjang melalui TFL, Koordinator Fasilitator,
PPK, KPA/Kepala Satker, Direktur Jenderal melalui Direktur Rumah
Swadaya.
3. Nominal Dana Bantuan dan Mekanisme Penyaluran Dana
Nominal dana bantuan BSPS sebesar Rp 17.500.000 (tujuhbelas juta lima
ratus ribu rupiah) dengan perincian dana sebesar Rp. 15.000.000
(limabelas juta rupiah) diperuntukkan biaya bahan bangunan dan sebesar
Rp 2.500.000 (du juta lima ratus ribu rupiah) untuk biaya tukang.
Mekanisme penyaluran dana:
a. Pencairan BSPS bentuk uang dilakukan melalui Bank/Pos penyalur
b. Penyaluran BSPS bentuk uang dilakukan oleh Bank/Pos penyalur ke
rekening Penerima BSPS dalam 1 (satu) tahap
33
c. Pemanfaatan BSPS dalam bentuk uang dilakukan oleh Penerima
BSPS dengan cara pemindahbukuan/transfer uang dari rekening
Penerima BSPS ke rekening toko/penyedia bahan bangunan untuk
pembelian bahan bangunan dan penarikan tunai untuk pembayaran
upah kerja.
d. Pemindahbukuan/transfer uang dilakukan setelah bahan bangunan
dikirim oleh toko/penyedia bahan bangunan dan diterima oleh
Penerima BSPS.
e. Pemanfaatan BSPS dalam bentuk uang dilakukan dalam 2 (dua)
tahap masing-masing sebesar 50% (lima puluh persen) dari nilai
bantuan sesuai dengan daftar rencana pemanfaatan bantuan dari
Penerima BSPS.
4. Tenaga Pendamping
Dalam skema pendanaan BSPS terdapat tenaga pendamping yaitu
Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL). TFL ditunjuk oleh PPK berdasarkan
keahlian untuk melakukan pemberdayaan masyarakat terhadap kegiatan
BSPS. TFL dalam melaksanakan tugas dikoordinasikan oleh koordinator
fasilitator yang ditunjuk oleh PPK. Koordinator fasilitator mempunyai
cakupan wilayah kerja untuk 1 (satu) daerah kabupaten/kota. Tenaga
Fasilitator Lapangan (TFL) bertugas antara lain:
a. Melakukan penyiapan masyarakat melalui pendampingan untuk
memberdayakan masyarakat calon Penerima BSPS.
b. Melakukan pendampingan pada tahap perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan, pelaporan, dan pengembangan mandiri pasca kegiatan.
34
[Link]. Bantuan Rumah Swadaya, Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik
Bidang Perumahan Permukiman Subbidang Rumah Swadaya dari
Pemerintah Pusat - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan
Republik Indonesia
1. Persyaratan Penerima Bantuan
Persyaratan penerima bantuan adalah masyarakat berpenghasilan rendah,
dengan kondisi rumah tidak layak huni, bertempat tinggal di
desa/kelurahan yang ditetapkan sebagai lokasi kumuh di lokasi program
Kotaku yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya.
Kriteria calon penerima bantuan berupa uang adalah Masyarakat
Berpenghasilan Rendah yang memenuhi persyaratan: (1) WNI yang
sudah berkeluarga; (2) memiliki atau mengyasai tanah dengan alas hak
yang sah dengan ketentuan tidak dalam sttus sengketa dan sesuai tata
ruang wilayah; (3) belum memiliki rumah, atau memiliki dn menempati
satu-satunya rumah dengan kondisi tidak layak huni; (4) belum pernah
memperoleh Bantuan Rumah Swadaya atau bantuan pemerintah untuk
program perumahan; 5) berpenghasilan paling banyak sebesar upah
minimum daerah kota/kab dan (6) bersedia berswadaya dan membentuk
Kelompok Penerima Bantuan (KPB) degan pernyataan tanggung renteng
2. Mekanisme Pelaksanaan Pekerjaan.
a. Penunjukkan Bank/Pos Penyalur
Bank/pos penyalur yang ditunjuk sebagai bank yang menerima
transfer dari KUD dan/atau RKUD yang digunakan oleh individu
penerima PBRS dan/atau PKRS pada bank yang sama dengan
KUD/RKUD yang kebijakannya ditetapkan oleh Kepala Daerah
b. Penyiapan Masyarakat
(1) Sosialisasi/penyuluhan, dan pelatihan masyarakat serta
rembug warga
(2) Identifikasi dan verifikasi calon penerima bantuan
c. Penetapan Penerima Bantuan
d. Pencairan dan Penyaluran BRS
35
e. Pemanfaatan Bantuan Rumah Swadaya
f. Pengembalian Sisa Dana
36
f) Penerima bantuan malaksanakan PBRS atau PKRS rumah
swadaya dengan dana tahap I didampingi TFL
g) Setelah progress fisik mencapai paling sedikit 30%, dilakukan
penarikan dana, dilakukan penarikan dana dari tabungan
penerima bantuan sebesar 50% dari upah tukang. Pembayaran
upah tukang tahap 1 sebesar 50% dari upah
h) Penyusunan laporan penggunaan dana tahap I dan seterusnya
hingga tahap 2
4. Tenaga Pendamping
Dalam skema pendanaan Bantuan Rumah Swadaya, Dana Alokasi
Khusus (DAK) Fisik Bidang Perumahan Permukiman Subbidang
Rumah Swadaya terdapat tenaga pendamping yaitu Tenaga
Fasilitator Lapangan (TFL).
37
5) Tidak memiliki fasilitas kamar mandi dan jamban baik di
dalam atau di luar rumah (komunal) serta tidak memiliki
sambungan listrik sendiri;
b. Letak dan Status Rumah
1) Rumah calon Penerima bukan masuk dalam asrama milik suatu
instansi;
2) Rumah calon penerima bukan termasuk rumah masih dalam
waktu kredit perbankan;
3) Rumah tidak berdiri pada kawasan larangan pemerintah misal:
bantaran/ tanggul sungai, waduk, tanah kas desa, pemakaman,
trotoar, ruang milik jalan;
4) Rumah milik sendiri, bukan kontrakan, tidak dalam sengketa
(misal tanah/ bangunan rumah warisan yang belum dibagi),
tidak berdiri di lahan milik orang lain (yayasan pemerintah,
perusahaan, dsb). Memiliki tanah dibuktikan dengan Foto Copy
sertifikat hak atas tanah atau surat keterangan memiliki tanah
dari kepala desa/ lurah;
c. Pemilik Rumah
1) Berdomisili tetap (penduduk) di lokasi kegiatan dan rumah
ditempati sendiri;
2) Bersedia untuk memanfaatkan bansos yang dikerjakan dengan
berswadaya dan bergotong-royong;
3) Belum pernah mendapat bantuan pemugaran rumah secara
berturut-turut.
Dalam Pemenuhan Kriteria bagi Calon Penerima Bankeu Pemdes
Rehabilitasi RTLH adalah:
a. Kondisi Rumah minimal memenuhi 2 (dua) kriteria pada point 1
(atap),2 (lantai), dan 3 (dinding);
b. Status dan Letak Rumah harus memenuhi semua kriteria;
c. Pemilik Rumah harus memenuhi semua kriteria.
38
d. Seluruh data yang diusulkan adalah data by name by addres yang
diperoleh dari Pemutakhiran Basis Data Terpadu/PBDT tahun 2015;
2. Mekanisme Pelaksanaan Pekerjaan
Mekanisme pelaksanaan pekerjaan Bankeu pemdes rehabilitasi RTLH
meliputi:
a. Musyawarah
Musyawarah dilakukan dalam rangka Rembug Warga penetapan
sasaran/kelompok sasaran penerima Bansos RTLH serta dalam
rangka pembentukan pokmas, yang dalam pelaksanaannya
dilengkapi dengan berita acara dan kelengkapan daftar hadir.
b. Identifikasi dan Verifikasi Lapangan
Identifikasi dan Verifikasi lapangan sebagai bahan dalam
penyusunan proposal usulan awal, dapat dilaksanakan oleh
Perangkat Desa/Aparat Kelurahan, Pokmas dan Tokoh Masyarakat.
c. Proposal Usulan
Proposal usulan awal disusun sebagai kelengkapan pengajuan
Bantuan Keuangan Pemerintah Desa Rehabilitasi Rumah Tidak
Layak Huni (RTLH), dilengkapi dengan lampiran-lampiran sesuai
ketentuan.
d. Verifikasi Penerima Bantuan Keuangan Pemerintah Desa
Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni
Setelah semua kelengkapan proposal terpenuhi, selanjutnya akan
dilakukan proses verifikasi dan validasi lapangan yang dilaksanakan
dengan berkoordinasi dengan TKSK (Tim Kesejahteraan Sosial
Kecamatan).
e. Penetapan Daftar Penerima Bantuan Keuangan Pemerintah Desa
Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni
Setelah terverifikasi dan tervalidasi data calon penerima bantuan,
baik proposal ataupun lapangan, Dinas Perumahan Rakyat dan
Kawasan Permukiman Provinsi Jawa Tengah membuat surat
39
rekomendasi Kepada Gubernur Jawa Tengah untuk kemudian
ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur.
f. Pelaksanaan Bantuan Keuangan Pemerintah Desa Rehabilitasi
Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)
1) Pendampingan Pelaksanaan Bantuan Keuangan Pemerintah
Desa Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni
Pendampingan pelaksanaan Bankeu Pemdes Rehbilitasi Rumah
Tidak Layak Huni (RTLH) dilakukan oleh Dinas Perumahan
Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi Jawa Tengah dalam
rangka mendampingi proses sebelum dan sesudah pencairan
Bankeu Pemdes Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)
hingga pemanfaatan Bantuan .
2) Mekanisme Pendampingan
Mekanisme pendampingan pelaksanaan Bantuan Keuangan
Pemerintah Desa Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni
(RTLH) meliputi:
a) Mendampingi pokmas dalam mempersiapkan dokumen-
dokumen persyaratan pencairan Bankeu Pemdes Rumah
Tidak Layak Huni (RTLH) dibantu oleh tim TKSK (Tim
Kesejahteraan Sosial Kecamatan) setempat hingga proses
pencairan di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
Provinsi Jawa Tengah;
b) Sosialisasi dan melakukan pendampingan kepada calon
penerima tentang proses pemanfaatan Bankeu Pemdes
Rumah Tidak Layak Huni (RTLH);
c) Pendampingan terhadap Pokmas dalam menyusun Laporan
Pertanggungjawaban Program Bankeu Pemdes Rumah
Tidak Layak Huni (RTLH) berkoordinasi dengan tim TKSK
(Tim Keseahteraan Sosial Kecamatan)setempat;
d) Penyusunan Laporan Evaluasi Hasil Pemanfaatan Program
Bankeu Pemdes Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
40
e) Pengendalian, Monitoring Dan Evaluasi Serta Pelaporan
dan Pertanggungjawaban
3. Nominal dana Bantuan dan Mekanisme Penyaluran Dana
Penggunaan Dana Bankeu Pemdes Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)
untuk setiap unit rumah sebesar Rp. 10.000.000,00 (Sepuluh Juta Rupiah)
dengan ketentuan penggunaan dana sebagai berikut :
a. Harus dibelanjakan untuk bahan material seluruhnya. Tidak
diperkenankan menggunakan dana bantuan untuk membayar tukang,
konsumsi dan lain sebagainya.
b. Kebutuhan lainnya diharapkan dapat dipenuhi dan didukung oleh
potensi yang ada di Desa/Kelurahan yaitu dari dana mandiri
penerima bantuan dan swadaya masyarakat sekitar.
Mekanisme Penyaluran Dana
a. Calon penerima Bankeu Pemdes Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)
mengajukan Surat Permohonan Pencairan kepada Gubernur c.q.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi
Jawa Tengah yang terlebih dahulu telah diverifikasi dan
mendapatkan rekomendasi/pengantar dari Organisasi Perangkat
Daerah (OPD) yang membidangi;
b. Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi Jawa
Tengah setelah mengevaluasi kelengkapan administrasi pencairan
kemudian merekomendasikan/mengantar kepada Badan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Daerah Sekretariat Daerah Provinsi Jawa
Tengah untuk diproses dan direalisasikan dana bantuan dimaksud
dengan mentransfer ke nomor rekening Kelompok Masyarakat
(Pokmas) melalui bank penyalur.
c. Dalam pelaksanannya Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Desa
ditransfer langsung ke Rekening Kas Desa dan dianggarkan dalam
APB Desa. Bantuan Keuangan Kepada Pemerintah Desa dapat
digunakan untuk biaya operasional dan/atau administrasi kegiatan
paling tinggi 5% (lima persen) dari pagu anggaran kegiatan.
41
4. Tenaga Pendamping
Pada skema Bantuan Keuangan Pemerintah Desa untuk Rehabilitasi
RTLH Provinsi Jawa Tengah tidak terdapat tenaga pendamping
lapangan.
42
3) Rumah tidak berdiri pada kawasan larangan pemerintah misal:
bantaran/ tanggul sungai, waduk, tanah kas desa, pemakaman,
trotoar, ruang milik jalan;
4) Rumah milik sendiri, bukan kontrakan, tidak dalam sengketa
(misal tanah/ bangunan rumah warisan yang belum dibagi),
tidak berdiri di lahan milik orang lain (yayasan pemerintah,
perusahaan, dsb). Memiliki tanah dibuktikan dengan Foto Copy
sertifikat hak atas tanah atau surat keterangan memiliki tanah
dari kepala desa/ lurah;
c. Pemilik Rumah
1) Berdomisili tetap (penduduk) di lokasi kegiatan dan rumah
ditempati sendiri;
2) Bersedia untuk memanfaatkan bankeu pemdes yang dikerjakan
dengan berswadaya dan bergotong-royong;
3) Belum pernah mendapat bantuan pemugaran rumah secara
berturut-turut.
Dalam Pemenuhan Kriteria bagi Calon Penerima Bankeu Pemdes
Rehabilitasi RTLH adalah:
a. Kondisi Rumah minimal memenuhi 2 (dua) kriteria pada point 1
(atap), 2 (lantai), dan 3 (dinding);
b. Status dan Letak Rumah harus memenuhi semua kriteria;
c. Pemilik Rumah harus memenuhi semua kriteria.
d. Seluruh data yang diusulkan adalah data by name by addres yang
diperoleh dari Pemutakhiran Basis Data Terpadu/PBDT tahun 2015;
2. Mekanisme Pelaksanaan Pekerjaan
Mekanisme pelaksanaan pekerjaan Bankeu pemdes rehabilitasi RTLH
meliputi:
a. Musyawarah
Musyawarah dilakukan dalam rangka Rembug Warga penetapan
sasaran/kelompok sasaran penerima Bansos RTLH serta dalam
43
rangka pembentukan pokmas, yang dalam pelaksanaannya
dilengkapi dengan berita acara dan kelengkapan daftar hadir.
b. Identifikasi dan Verifikasi Lapangan
Identifikasi dan Verifikasi lapangan sebagai bahan dalam
penyusunan proposal usulan awal, dapat dilaksanakan oleh
Perangkat Desa/Aparat Kelurahan, Pokmas dan Tokoh Masyarakat.
c. Proposal Usulan
Proposal usulan awal disusun sebagai kelengkapan pengajuan
Bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), dilengkapi
dengan lampiran-lampiran sesuai ketentuan.
d. Verifikasi Penerima Bantuan Keuangan Pemerintah Desa
Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni
Setelah semua kelengkapan proposal terpenuhi, selanjutnya akan
dilakukan proses verifikasi dan validasi lapangan yang dilaksanakan
dengan berkoordinasi dengan TKSK (Tim Kesejahteraan Sosial
Kecamatan).
e. Penetapan Daftar Penerima Bantuan Keuangan Pemerintah Desa
Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni
Setelah terverifikasi dan tervalidasi data calon penerima bantuan,
baik proposal ataupun lapangan, Dinas Perumahan Rakyat dan
Kawasan Permukiman membuat surat rekomendasi Kepada Bupati
untuk kemudian ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati.
f. Pelaksanaan Bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni
(RTLH)
1) Pendampingan
Pendampingan pelaksanaan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak
Huni (RTLH) dilakukan oleh Dinas Perumahan Rakyat dan
Kawasan Permukiman dalam rangka mendampingi proses
sebelum dan sesudah pencairan Bantuan Rehabilitasi Rumah
Tidak Layak Huni (RTLH) hingga pemanfaatan Bantuan.
44
2) Mekanisme Pendampingan
Mekanisme pendampingan pelaksanaan Bantuan Rehabilitasi
Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) meliputi:
a) Mendampingi pokmas dalam mempersiapkan dokumen-
dokumen persyaratan pencairan Bantuan Rehabilitasi
Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dibantu oleh tim TKSK
(Tim Kesejahteraan Sosial Kecamatan) setempat hingga
proses pencairan;
f) Sosialisasi dan melakukan pendampingan kepada calon
penerima tentang proses pemanfaatan bantuan Rehabilitasi
Rumah Tidak Layak Huni (RTLH);
g) Pendampingan terhadap Pokmas dalam menyusun Laporan
Pertanggungjawaban Program Bantuan Rehabilitasi Rumah
Tidak Layak Huni (RTLH) berkoordinasi dengan tim TKSK
(Tim Keseahteraan Sosial Kecamatan)setempat;
h) Penyusunan Laporan Evaluasi Hasil Pemanfaatan Program
Bankeu Pemdes Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
i) Pengendalian, Monitoring Dan Evaluasi Serta Pelaporan
dan Pertanggungjawaban
3. Nominal dana Bantuan dan Mekanisme Penyaluran Dana
Penggunaan Dana Bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni
(RTLH) untuk setiap unit rumah sebesar Rp. 10.000.000,00 (Sepuluh
Juta Rupiah) dengan ketentuan penggunaan dana sebagai berikut :
a. Harus dibelanjakan untuk bahan material seluruhnya. Tidak
diperkenankan menggunakan dana bantuan untuk membayar tukang,
konsumsi dan lain sebagainya.
b. Kebutuhan lainnya diharapkan dapat dipenuhi dan didukung oleh
potensi yang ada di Desa/Kelurahan yaitu dari dana mandiri
penerima bantuan dan swadaya masyarakat sekitar.
Mekanisme Penyaluran Dana
45
c. Calon penerima Bankeu Pemdes Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)
mengajukan Surat Permohonan Pencairan kepada Gubernur c.q.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi
Jawa Tengah yang terlebih dahulu telah diverifikasi dan
mendapatkan rekomendasi/pengantar dari Organisasi Perangkat
Daerah (OPD) yang membidangi;
d. Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi Jawa
Tengah setelah mengevaluasi kelengkapan administrasi pencairan
kemudian merekomendasikan/mengantar kepada Badan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Daerah Sekretariat Daerah Provinsi Jawa
Tengah untuk diproses dan direalisasikan dana bantuan dimaksud
dengan mentransfer ke nomor rekening Kelompok Masyarakat
(Pokmas) melalui bank penyalur.
4. Tenaga Pendamping
Pada skema Bantuan Rehabilitasi RTLH dari Pemerintah kabupaten/kota
dan Desa pada sebagian kabupaten/kota menyediakan petugas fasilitator
lapangan, namun di bebrpa kabupaten/kota tidak terdapat tenaga
pendamping lapangan.
46
pemdes yang dikerjakan dengan berswadaya dan bergotong-royong;
dan belum pernah mendapat bantuan pemugaran rumah secara
berturut-turut.
d. Seluruh data yang diusulkan adalah data by name by addres yang
diperoleh dari Pemutakhiran Basis Data Terpadu/PBDT tahun 2015;
2. Nominal dana Bantuan dan Mekanisme Penyaluran Dana
Nominal Dana Bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)
dari Corporate Social Responsibility untuk setiap unit rumah sebesar
antara Rp. 15.000.000,00 (Limabelas Juta Rupiah) sampai dengan Rp.
20.000.000 (dua puluh juta rupiah)
3. Tenaga Pendamping
Pada skema Bantuan Rehabilitasi RTLH dari CSR kabupaten/kota tidak
menyediakan petugas fasilitator lapangan.
47
secara terus menerus dan selektif yang bertujuan untuk melindungi dari
kemungkinan terjadinya resiko sosial.
2. Capaian Program RTLH di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Tengah
Persentase jumlah RTLH belum tertangani dibandingkan dengan jumlah
Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di kabupaten/kota di Jawa Tengah
berdasar penghitungan Basis Data Terpadu Tahun 2015 masih diatas
55%, dengan rata-rata 75,20%.
Tabel 4.1
Capaian Hasil Program RTLH s/d Tahun 2019
Data RTLH RTLH
Pelaks. RTLH
RTLH Terbangun yg belum
Kab/Kota 2019 tersisa
BDT 2015 s/d 2018 ditangan
(unit) (unit)
(unit) (unit) (%)
Kota Surakarta 11.036 3.611 440 6.985 63,29
Kab. Batang 51.201 5.511 2.105 43.585 85,13
Kab. Boyolali 46.895 2.938 2.453 42.085 89,74
Kab. Semarang 39.984 15.420 2.411 22.153 55,40
Kota Semarang 12.615 2.124 1.695 8.796 69,73
Kab. Cilacap 101.938 8.368 3.420 90.150 88,44
Sumber: Data Primer, 2019
48
[Link]. Swadaya Material
1. Dana Tunai
Dalam pelaksanaan program RTLH, terdapat swadaya masyarakat
berwujud dana tunai, yaitu berupa tabungan atau uang dari penerima
bantuan RTLH, bantuan uang dari sanak saudara penerima bantuan,
ataupun swadaya berupa hutang untuk mencukupi pemenuhan kebutuhan
pelaksanaan pembangunan RTLH. Dana tunai yang dimiliki seringkali
berjumlah jauh lebih besar dibandingkan dana yang diterima dari
berbagai skema penanganan RTLH, nominalnya mulai dari Rp
5.000.000,00 hingga Rp 30.000.000,00. Besaran nominal ini bergantung
pada besaran ukuran rumah yang dibangun. Skema penanganan RTLH
menetapkan ukuran rumah yang layak minimal adalah 36m2. Pada
kenyataannya, penerima bantuan seringkali mampu membangun lebih
besar dari ukuran tersebut. Misalnya di Kabupaten Boyolali, seorang
penerima bantuan RTLH bahkan menggelontorkan dana hingga Rp
50.000.000,00 yang berasal dari bantuan sanak saudaranya dan mampu
membangun rumah seluas 72m2.
Calon penerima dana sudah diberitahu terlebih dahulu oleh perangkat
desa jika akan menerima dana penanganan RTLH. Pemberitahuan
dilakukan biasanya satu tahun hingga 6 bulan sebelum ditetapkan sebagai
penerima dana. Pemberitahuan ini juga sebagai bentuk konfirmasi
kesiapan dan kesanggupan penerima dana untuk menyediakan tambahan
swadaya. Fasilitator juga menanyakan kesiapan nominal dana yang bisa
disediakan sebagai dana tambahan. Hanya saja, seringkali calon
penerima dana enggan menyebutkan nominal yang dimiliki, mereka
hanya menjawab “enggih, wonten dana” (iya ada dana). Menurut para
fasilitator, jawaban tersebut muncul karena seringkali calon penerima
dana justru khawatir tidak akan menerima bantuan karena sudah
memiliki uang untuk membangun atau merenovasi rumahnya. Fasilitator
juga sering menasehatkan kepada penerima bantuan agar tidak
menggunakan uang tunai modal usaha karena dikhawatirkan jika modal
49
usaha terpakai, maka kehidupan penerima bantuan selanjutnya malah
justru akan terbebani.
2. Dana Non Tunai
Dana swadaya tambahan bisa didapatkan oleh penerima bantuan RTLH
dari penjualan aset-aset yang dimiliki seperti ternak, pohon yang kayunya
yang bisa dijual, dan tanah pekarangan. Aset yang potensial mendukung
keswadayaan ini juga sebelumnya didata oleh fasilitator lapangan untuk
memastikan bahwa penerima bantuan RTLH bisa merealisasikan
pembangunan rumahnya hingga selesai. Hanya saja, fasilitator seringkali
memberi masukan kepada penerima bantuan agar tidak menjual aset
produktif yang kemungkinan bisa dijadikan sumber penghasilan sehari-
hari, seperti tanah pekarangan yang dijadikan lahan kebun atau sawah.
Kekhawatiran fasilitator ini disebabkan pengalaman dari kasus-kasus
sebelumnya, penerima bantuan RTLH mampu membangun rumah yang
layak huni tetapi kehilangan sumber penghasilan sehari-hari, sehingga
keberadaan rumah tersebut justru menurunkan penghasilan penerima
bantuan.
Sumber daya alam yang ada di lingkungan sekitar penerima bantuan
seperti pasir, batu, bambu, kayu bekas, dan tanah liat juga dimanfaatkan
oleh penerima bantuan sebagai material tambahan. Pasca pemberitahuan,
calon penerima bantuan akan bersiap-siap menyediakan material
tambahan tersebut. Mereka akan menambang pasir atau batu dari kali,
menebang bambu yang bisa dimanfaatkan sebagai reng dan usuk atap,
atau menebang pohon untuk berbagai kebutuhan pintu dan jendela
beserta kusennya. Kayu-kayu bekas dari bangunan lama atau dari
sumbangan orang-orang sekitar penerima bantuan juga dapat digunakan.
Misalnya di Kabupaten Batang di Desa Ujungnegara, terdapat beberapa
penerima bantuan yang tidak bisa menyediakan swadaya sama sekali,
tetapi perangkat desa tetap memberikan bantuan RTLH karena kondisi
rumah mereka yang sangat memprihatinkan. Perangkat desa yang
mendampingi pembangunan rumah memanfaatkan kayu-kayu bekas yang
50
ada di wilayah pembangunan PLTU Batang sebagai bahan pelengkap
pembangunan rumah, sehingga dengan dana sebesar Rp 10.000.000,00
dan tanpa tambahan swadaya tunai, rumah masih tetap bisa dibangun
dengan layak. Beberapa penerima bantuan di Kabupaten Boyolali juga
mengandalkan sumber daya alam sekitar seperti pasir dan batu kali yang
memang banyak terdapat di Boyolali sebagai material tambahan. Mereka
mengaku menyisihkan waktu setiap hari untuk menambang pasir atau
batu. Beberapa penerima bantuan malah membuat sendiri batako yang
akan digunakan untuk membangun rumah dari pasir yang juga mereka
tambang sendiri. Pemanfaatan sumber daya alam sekitar ini mampu
menopang biaya pembangunan 20%-30% dari total keseluruhan biaya
yang dibutuhkan.
3. Dorongan Untuk Melakukan Swadaya
Swadaya yang dilakukan oleh masyarakat dalam membangun atau
merenovasi rumahnya seringkali di luar perkiraan para perangkat desa
yang mendampingi ataupun fasilitator lapangan. Besarnya swadaya
masyarakat membuat hasil bangunan rumah penerima bantuan RTLH
menjadi lebih layak. Hal ini disebabkan oleh dorongan kuat dalam
masyarakat penerima bantuan untuk menyelesaikan pembangunan
RTLH. Para penerima bantuan sering menyatakan bahwa kesempatan
untuk mendapatkan bantuan RTLH tidak dimiliki oleh semua orang,
maka ketika mereka mendapatkannya kesempatan tersebut dimanfaatkan
sebaik mungkin “mumpung dapat bantuan ya sekalia dibangun yang
baik”, ungkap salah seorang informan penerima bantuan. Aji mumpung
saat menerima bantuan ini memang seringkali menjadi alasan utama
penerima bantuan untuk mengusahakan swadaya baik berupa material
maupun non material.
Beberapa informan juga mengungkapkan alasan mereka mengeluarkan
tambahan dana swadaya yang besar, seperti ungkapan “Sisan-sisan”
(sekalian). Mereka menganggap bahwa pemugaran rumah jika tidak
dilakukan secara menyeluruh justru akan merugikan karena harus
51
melakukan tambal sulam bangunan di kemudian hari. Akan tetapi jika
pemugaran dan pembangunan dilakukan secara total maka mereka hanya
akan kerepotan sekali waktu saja. Beberapa informan juga menggunakan
ungkapan seperti “wis teles nyemplung sisan” (sudah kepalang basah ya
menceburkan diri saja sekalian). Ungkapan ini menggambarkan jika para
penerima bantuan merasa sudah terlanjur menyanggupi menerima
bantuan sehingga mereka merasa lebih baik merenovasi rumah secara
maksimal. Masyarakat penerima bantuan bertekad keras mengupayakan
untuk bisa menyelesaikan pembangunan rumah tidak layak huni menjadi
rumah yang layak huni.
52
kembali melakukan gotong royong pemasangan atap. Sama dengan
perubuhan, pemasangan atap juga hanya berlangsung selama satu
hari saja. Tidak hanya tenaga, warga sekitar penerima bantuan juga
memberikan bantuan berupa makanan atau minuman bagi peserta
gotong royong.
Gotong royong kerja bakti saat merubuhkan rumah dan memasang
atap dalam pembangunan RTLH banyak dilakukan di daerah
perdesaan dan perkotaan, misalnya di Kabupaten Boyolali baik di
pedesaan maupun perkotaan rata-rata masih menggunakan system
gotong royong dalam pembangunan rumah. Lain halnya di wilayah
Kota Solo, sebagian besar wilayah penerima bantuan RTLH tidak
lagi menggalakkan gotong royong untuk membangun rumah.
b. Gotong Royong Harian
Sebagian masyarakat di Jawa Tengah terutama di perdesaan dan di
area dataran tinggi yang kegotong-royongannya masih sangat kuat
melakukan gotong royong harian dalam membangun Rumah Tidak
Layak Huni hingga selesai menjadi rumah layak huni. Gotong
royong masyarakat tersebut dikoordinatori oleh tetua kampung
seperti ketua RT, dan atau perangkat desa. Peran koordinator dalam
gotong royong harian pembangunan RTLH adalah
mengkoordinasikan: (1) cara kerja; (2) pembagian kerja termasuk
jumlah pekerja dan lama kerja dalam 1 hari; dan (3) manajemen
pengelolaan pembangunan RTLH hingga menjadi rumah layak huni.
Dalam satu hari, rata-rata gotong royong dilakukan oleh 5-8 orang
yang bergotong royong mulai dari pukul 08.00-16.00. Sekalipun
demikian, penerima bantuan juga menyediakan tukang yang bisa
mengarahkan para peserta gotong royong dalam membangun rumah.
Rata-rata pelaksanaan pembangunan rumah dengan gotong royong
memakan waktu antara 10 hari hingga 30 hari. Jika ada warga sekitar
yang tidak bisa bergotong royong karena pekerjaan rutin, maka ia
akan mendapat jatah di hari libur atau mengganti partisipasi gotong
53
royongnya dengan memberikan bantuan makanan bagi peserta
gotong royong.
Wilayah-wilayah yang masih menerapkan gotong royong harian
dalam membangun rumah adalah wilayah pedesaan yang rata-rata
penduduknya masih bekerja di bidang informal, seperti buruh
bangunan, buruh tanam, atau petani. Hal ini karena waktu bekerja
mereka lebih fleksibel dan tidak terikat.
Meskipun pembangunan dengan gotong royong dapat mengurangi
beban biaya pembangunan rumah, beberapa penerima bantuan justru
tidak ingin rumahnya dibangun dengan gotong royong. Alasannya,
seringkali pembangunan dengan gotong royong tidak bisa sebaik
atau serapi pekerjaan tukang bangunan. Mereka juga merasa
pekewuh atau sungkan untuk menegur para peserta gotong royong
jika ada kesalahan dalam proses pembangunan.
c. Gotong Royong Pembangunan oleh Saudara Dekat
Sebagian bentuk swadaya masyarakat dalam pembangunan RTLH
adalah gotong royong pembangunan oleh saudara dekat dari
penerima bantuan. Seringkali karena tidak terdapat ongkos tukang
dalam skema bantuan RTLH, maka saudara dekat yang berprofesi
sebagai tukang batu/kayu atau mempunyai kemampuan bekerja
sebagai tukang membantu melaksanakan pembangunan RTLH
hingga pembangunan selesai.
2. Problematika dalam Gotong Royong
Tidak semua penerima bantuan RTLH bisa memanfaatkan gotong royong
di wilayah mereka untuk membantu pembangunan rumah. Beberapa
wilayah, khususnya di wilayah perkotaan sudah tidak lagi
mempraktekkan gotong royong dalam pembangunan rumah, sehingga
biaya tukang sudah sepenuhnya ditanggung oleh penerima bantuan.
Dalam pelaksanaan gotong royong pembangunan RTLH, terdapat
problematika yang terjadi di masyarakat, diantaranya adalah:
54
a. Gotong royong harian hanya dilakukan di wilayah-wilayah yang
masuk kawasan pedesaan dengan masyarakat miskin. Biasanya di
wilayah tersebut, masyarakat sekitar lebih banyak bekerja di bidang
nonformal seperti petani atau buruh bangunan sehingga mereka
memiliki waktu kerja yang lebih fleksibel. Para peserta gotong
royong dikoordinir oleh ketua RT setempat yang sebelumnya sudah
diberi tahu oleh kepala desa bahwa salah satu warga RT tersebut
menerima bantuan RTLH. Koordinasi dilakukan ketua RT dengan
mengumpulkan warga dan membagi mereka menjadi kelompok-
kelompok kerja. Jika ada warga yang bekerja di sektor formal dan
memiliki waktu terbatas, biasanya akan dijadwalkan di hari libur.
Selain gotong royong tenaga, warga sekitar penerima bantuan RTLH
juga seringkali menyumbang bahan makanan atau makanan matang
yang menjadi teman kerja peserta gotong royong.
Gotong royong pembangunan rumah dilakukan mulai pukul 08.00-
16.00. Pemilik rumah juga tetap menyediakan tukang sebagai
pengarah dalam pembangunan rumah. Pada prakteknya, seringkali
pekerjaan yang dilakukan dengan gotong royong memang tidak bisa
maksimal. Pemiliki rumah tidak bisa menetapkan waktu kerja yang
pasti karena sifatnya hanya sukarela. Terkadang peserta yang datang
sesuai dengan jadwal, terkadang datang dan pergi sesempatnya saja.
Belum lagi hasil pengerjaan yang juga tidak selalu sesuai dengan
standar karena para pekerja tidak memiliki keahlian di bidang
bangunan.
b. Gotong royong perubuhan dan pemasangan atap dilakukan di
wilayah pedesaan, sebagian besar wilayah pedesaan masih
melakukan hal tersebut. Perubuhan dilakukan di awal tahapan kerja
dan hanya membutuhkan waktu sehari saja, begitu pula dengan
pemasangan atap yang juga hanya dilakukan selama satu hari
sehingga hampir dipastikan seluruh warga sekitar penerima bantuan,
khususnya laki-laki dewasa, akan mengikuti gotong royong tersebut.
55
Gotong royong ini tidak memerlukan koordinasi dari kepala RT,
kabar akan adanya gotong royong menyebar dari mulut ke mulut.
c. Gotong royong tidak lagi dilakukan di wilayah-wilayah perkotaan,
dalam pelaksanaan pembangunan RTLH murni mengandalkan
tukang bayaran. Hal ini disebabkan karena masyarakat di wilayah
perkotaan sebagian besar bekerja di sektor formal sehingga mereka
tidak memiliki waktu luang yang cukup. Masyarakat juga tidak lagi
memiliki kepentingan bersama, sehingga mereka lebih bersifat
invidual. Modal sosial tidak lagi dimiliki secara bersama,
ketergantungan satu sama lain semakin rendah karena berbagai
kepentingan masyarakat telah dipenuhi oleh sistem yang
mengandalkan materi. Akan tetapi, tetap saja ada wilayah-wilayah
perkotaan yang masih melaksanakan gotong royong meskipun hanya
saat perubuhan atau pembongkaran saja.
Minimnya swadaya masyarakat berupa tenaga kerja membuat hasil
renovasi rumah penerima bantuan RTLH di perkotaan seringkali
ukuran dan kualitasnya malah lebih rendah dibanding di wilayah
pedesaan. Akan tetapi, justru penerima bantuan di wilayah perkotaan
tidak mengeluarkan biaya tambahan yang besar dalam proses
pembangunan.
d. Beberapa penerima bantuan RTLH justru memilih untuk tidak
membangun secara gotong royong karena dinilai malah membebani
biaya karena harus menyediakan makanan serta hasil kerja tidak rapi
atau tidak sesuai dengan standar. Memang beberapa bangunan
terkadang tidak dibangun sesuai standar keamanan, tetapi pemilik
rumah mengaku sungkan untuk mengingatkan warga yang bergotong
royong karena merasa pekerjaan gotong royong tersebut sifatnya
hanya sukarela. Pemilik rumah khawatir dianggap tidak tahu terima
kasih jika menuntut macam-macam kepada warga yang membantu
gotong royong “sungkan bade matur niki niku, sampun dibantu
56
nggih matur nuwun ngoten, mangke misal rewel nopo-nopo ndak
mboten dibantu malih”.
3. Dorongan untuk Melakukan Gotong Royong
Dalam masyarakat terutama di perdesaan dan di daerah dataran tinggi
terdapat kecenderungan dan dorongan untuk tetap melakukan gotong
royong dalam kehidupan bermasyarakat, tercermin dari ungkapan:
“guyup rukun, podo butuh-e” yang berarti ungkapan bahwa dalam
bermasyarakat warga akan selalu saling membutuhkan sehingga
dorongan untuk saling membantu dan saling menolong selalu ada dalam
masyarakat (resiprositas). Hal ini terjadi karena masyarakat khususnya
kalangan menengah ke bawah masih menjadikan hubungan sosial
sebagai penjamin kelangsungan hidup mereka, ketika kebutuhan-
kebutuhan belum bisa dipenuhi secara maksimal oleh materi. Inilah yang
disebut sebagai modal sosial, dimana modal ini digunakan masyarakat
yang belum bisa memenuhi kebutuhan material mereka secara mandiri,
sehingga mengandalkan pemenuhan kebutuhan oleh lingkungan
sosialnya.
57
2. Swadaya Materi yang Membebani
Swadaya masyarakat berupa uang tunai atau hutang membebani
kehidupan penerima dana di kemudian hari. Hal ini terjadi karena kondisi
yang terjerat hutang, menjual aset kerja seperti tanah produktif,
menggunakan modal usaha dimana seharusnya uang digunakan untuk
modal tetapi malah digunakan untuk membangun rumah.
3. Kecemburuan Sosial di Masyarakat
Kecemburuan sosial masayrakat dalam penerimaan program bantuan
RTLH terjadi antara lain karena:
a. Terdapatnya beberapa skema pendanaan RTLH dengan besaran dana
bervariasi dan beberapa skema pendanaan program tersebut bisa
dilaksanakan dalam suatu area yang berdekatan mengakibatkan
kecemburuan sosial dalam masyarakat. Kesenjangan besaran dana
dari setiap skema RTLH peningkatan kualitas RTLH (10juta, 15juta,
17.5juta), sedangkan pembangunan baru RTLH sebesar 30 juta
b. Data penerima RTLH terkadang tidak sesuai dengan data lapangan,
warga yang sangat miskin yang membutuhkan perbaikan rumah
justru tidak mendapatkan dana. Pemutakhiran Basis Data Terpadu
2015 (PBDT 2015) banyak dikeluhkan karena tidak sesuai dengan
kondisi dilapangan.
4. Dana RTLH dijadikan Modal Janji Politik
Dana bantuan rehabilitasi RTLH dijadikan modal janji politik pada
beberapa lokasi penelitian. Hal ini terjadi karena „titipan‟ aspirasi,
pemilihan kepala daerah, ataupun pemilihan kepala desa
5. Tenaga Pendampingan Lapangan tidak Merata
Tidak semua skema bantuan rehabilitasi RTLH menyediakan Tenaga
Fasilitator lapangan yang berfungsi sebagai pendamping dalam
pelaksanaan program RTLH di lapangan. Pendampingan yang tidak
merata mengakibatkan terjadinya perbedaan dalam penanganan
/pelaksanaan program RTLH dilapangan.
58
4.2. PEMBAHASAN
4.2.1. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat dalam Pengelolaan
RTLH Berbasis Swadaya Masyarakat
Dalam pelaksanaan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Provinsi
Jawa Tengah, terdapat factor pendukung dan penghambat dalam pengelolaannya.
1. Faktor Pendukung:
a. Komitmen kepala daerah (kebijakan teknis)
b. Kekerabatan/gotong-royong masy. Perdesaan
c. Semangat masyarakat untuk menurunkan angka RTLH
d. Program RTLH dinilai sangat membantu pemerintah desa &
masyarakat meskipun proporsinya masih sangat kecil dibanding
yang total jumlah yang memerlukan rehabilitasi
2. Faktor Penghambat:
a. Data base yang tidak aktual
b. Minimnya nominal bantuan RTLH, terdapatnya biaya (pajak &
operasional)
c. Terdapatnya perbedaan skema pendanaan & sistem penyaluran
d. Memudarnya sikap gotong royong masyarakat, utamanya di
perkotaan
4.2.2. Pola-pola Pendanaan Swadaya Masyarakat yang Diterapkan dalam
Penanganan Rehabilitasi RTLH
1. Swadaya Material
a. Dana Tunai
Dalam pelaksanaan program RTLH, terdapat swadaya masyarakat
berwujud dana tunai, yaitu berupa tabungan/uang dari penerima
bantuan RTLH, bantuan uang dari saudara penerima bantuan,
ataupun swadaya berupa hutang untuk mencukupi pemenuhan
kebutuhan pelaksanaan pembangunan RTLH
b. Dana Non Tunai
59
Swadaya masyarakat dalam bentuk dana non tunai berupa ternak,
pohon yang bisa dijual, tanah, sumber daya alam di sekitar seperti
pasir, batu, bambu, kayu bekas.
c. Dorongan Untuk Melakukan Swadaya
Terdapat dorongan kuat dalam masyarakat penerima bantuan untuk
menyelesaikan pembangunan RTLH karena mumpung mendapatkan
bantuan dari pemerintah. Dengan istilah dalam masyarakat Jawa:
“Sisan-sisan, wis teles nyemplung sisan, mumpung ada bantuan
pembangunan rumah”. Masyarakat penerima bantuan bertekad keras
mengupayakan untuk bisa menyelesaikan pembangunan rumah tidak
layak huni menjadi rumah yang layak huni.
2. Swadaya Non Material
a. Gotong Royong Pembangunan
Swadaya non material berupa gotong royong pembangunan Rumah
Tidak Layak Huni yang dilaksanakan oleh masyarakat adalah
berupa:
1) Gotong Royong Perubuhan Rumah dan Pemasangan Atap
Sebagian besar masyarakat di Jawa Tengah melakukan gotong
royong kerja bakti saat merubuhkan rumah dan memasang atap.
Gotong royong tersebut dilakukan oleh para tetangga pada satu
RT/RW/Desa/Dusun. Gotong royong kerja bakti saat
merubuhkan rumah dan memasang atap dalam pembangunan
RTLH banyak dilakukan di daerah perdesaan dan perkotaan.
2) Gotong Royong Harian
Sebagian masyarakat di Jawa Tengah terutama di perdesaan dan
di area dataran tinggi yang kegotong-royongannya masih sangat
kuat melakukan gotong royong harian dalam membangun
Rumah Tidak Layak Huni hingga selesai menjadi rumah layak
huni. Gotong royong masyarakat tersebut dikoordinatori oleh
tetua kampung seperti ketua RT, dan atau perangkat desa. Peran
koordinator dalam gotong royong harian pembangunan RTLH
60
adalah mengkoordinasikan: (1) cara kerja; (2) pembagian kerja
termasuk jumlah pekerja dan lama kerja dalam 1 hari; dan (3)
manajemen pengelolaan pembangunan RTLH hingga menjadi
rumah layak huni.
3) Gotong Royong Pembangunan oleh Saudara Dekat
Sebagian bentuk swadaya masyarakat dalam pembangunan
RTLH adalah gotong royong pembangunan oleh saudara dekat
dari penerima bantuan. Seringkali karena tidak terdapat ongkos
tukang dalam skema bantuan RTLH, maka saudara dekat yang
berprofesi sebagai tukang batu/kayu atau mempunyai
kemampuan bekerja sebagai tukang membantu melaksanakan
pembangunan RTLH hingga pembangunan selesai.
b. Dorongan untuk Melakukan Gotong Royong
Dalam masyarakat terutama diperdesaan dan di daerah dataran tinggi
terdapat kecenderungan dan dorongan untuk tetap melakukan gotong
royong dalam kehidupan bermasyarakat, tercermin dari ungkapan:
“guyup rukun, podo butuh-e” yang berarti ungkapan bahwa dalam
bermasyarakat warga akan selalu saling membutuhkan sehingga
dorongan untuk saling membantu dan saling menolong selalu ada
dalam masyarakat (resiprositas).
3. Pola-pola Swadaya Masyarakat
Pola swadaya masyarakat dalam pembangunan rehabiltasi RTLH adalah:
a. Swadaya (gotong royong) masyarakat sekitar dalam bentuk
1) tenaga
2) bahan material bangunan /bahan baku bangunan
3) bahan makanan
b. Swadaya masyarakat penerima bantuan dalam bentuk
1) bahan bangunan
2) dana tunai/uang
3) pinjaman uang/hutang
4) tenaga
61
c. Swadaya masyarakat (saudara/famili) penerima bantuan dalam
bentuk uang dan tenaga
62
BAB V
PENUTUP
5.1. KESIMPULAN
1. Implementasi bantuan program Rumah Tidak Layak Huni di Jawa
Tengah, terdapat berbagai skema pendanaan, yaitu dari APBN, APBD,
APBDesa, dan Corporate Social Responsibility.
2. Faktor pendukung utama dalam pengelolaan RTLH berbasis swadaya
masyarakat adalah adanya keswadayaan masyarakat, kekerabatan/
gotong-royong masyarakat, komitmen kepala daerah (kebijakan teknis)
dan semangat masyarakat untuk menurunkan angka RTLH.
3. Faktor penghambat dalam pengelolaan RTLH berbasis swadaya
masyarakat adalah (a) data base kemiskinan yang tidak actual; (b)
minimnya nominal bantuan RTLH dengan biaya pajak & operasional; (c)
perbedaan skema pendanaan & sistem penyaluran; (d) memudarnya sikap
gotong royong masyarakat, utamanya di perkotaan
4. Pola-pola pendanaan swadaya masyarakat yang diterapkan dalam
penanganan rehabilitasi RTLH adalah
a. Swadaya (gotong royong) masyarakat sekitar dalam bentuk tenaga,
bahan material bangunan /bahan baku bangunan, bahan makanan
b. Swadaya masyarakat penerima bantuan dalam bentuk bahan
bangunan, dana tunai/uang, pinjaman uang/hutang, tenaga
c. Swadaya masyarakat (saudara/famili) penerima bantuan dalam
bentuk uang dan tenaga
5. Pola-pola pendanaan swadaya masyarakat yang bisa diterapkan dalam
penanganan rehabilitasi RTLH di Kabupaten/kota di Jawa Tengah
a. Komponen: (1) Bantuan dana untuk bahan material bangunan dan
biaya tukang pada tingkat layak, (2) Swadaya masyarakat penerima
bantuan (dana/material/tenaga) dan swadaya masyarakat sekitar
(tenaga/material)
63
b. Sistem/Mekanisme: (1) Terdapat koordinasi Kelompok Penerima
Bantuan, (2) Tanpa potongan pajak dan biaya operasional dan (3)
Terdapat Tenaga Fasilitator Lapangan .
5.2. SARAN
1. Diperlukan validasi primer terhadap database PBDT 2015 sebagai data
dasar dalam penentuan calon penerima bantuan rehabilitasi Rumah Tidak
Layak Huni (RTLH) di Provinsi Jawa Tengah
2. Diperlukan sistem pengelolaan database Rumah Tidak Layak Huni
(RTLH) secara on line di Jawa Tengah
3. Diperlukan penambahan nilai dan kuota penanganan Rumah Tidak Layak
Huni (RTLH) di masing-masing mata anggaran, baik APBN, APBD
Provinsi, ataupun APBD Kab./Kota.
4. Diperlukan kerjasama terintegrasi dari semua pihak (pemerintah pusat,
provinsi, kabupaten dan swasta/CSR) untuk bersama-sama
mengintervensi penanganan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di
Provinsi Jawa Tengah
64
DAFTAR PUSTAKA
65