Diagnosis dan Tatalaksana DILI
Diagnosis dan Tatalaksana DILI
2021
PRAKTIKUM V
I. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Mengetahui tatalaksana penyakit pada kasus ini (Farmakologi & Non-Farmakologi)
2. Dapat menyelesaikan kasus secara mandiri dengan menggunakan metode SOAP
II. DASAR TEORI
2.1 Definisi DILI
Drug Induced Liver Injury (DILI) adalah istilah lain dari hepatotoksik yang
diinduksi oleh obat dan istilah ini sering digunakan oleh para tenaga kesehatan. DILI
merupakan penyebab utama kegagalan hati akut dan transplantasi di negara-negara barat.
Meskipun mekanisme yang tepat dari DILI masih belum diketahui, tampaknya
melibatkan dua mekanisme hepatotoksik langsung dan reaksi imunitas yang merugikan.
Kerusakan hati langsung biasanya tergantung dosis, dapat diprediksi dan eksperimen
dapat diulang. Reaksi toksisitas intrinsik rentan dialami oleh semua pasien pengguna obat
penginduksi kerusakan hati (Cinthya. 2012). DILI idiosinkratik adalah masalah serius
dengan konsekuensi pada berbagai tingkatan, termasuk kesehatan pasien individu,
keputusan peraturan farmasi, dan skema pengembangan obat.
Dari sisi klinis, DILI dapat mengakibatkan penyakit, rawat inap bahkan gagal hati
yang mengancam jiwa, kematian atau kebutuhan akan transplantasi hati. Selain itu,
diagnosis DILI merupakan salah satu gangguan hati yang paling menantang yang
dihadapi oleh ahli hepatologi karena insidennya yang relative rendah,variasi fenotipe
klinisnya, serta tidak adanya biomarker spesifik. Potensi hepatotoksik dari banyak obat
yang digunakan dalam praktik klinis selanjutnya dapat membahayakan penilaian kasus
DILI yang benar. Agen imunoterapi baru termasuk biologis, dan khususnya penghambat
checkpoint imun untuk kanker stadium lanjut, berhubungan dengan reaksi merugikan
yang dimediasi oleh kekebalan termasuk kerusakan hati (Andrade et al. 2019)
2.2 Klasifikasi
Hepatotoksisitas akibat obat secara umum dibagi menjadi dua kategori besar, yaitu
hepatotoksisitas intrinsik (hepatotoksisitas direk atau dapat diprediksi) dan
hepatotoksisitas idiosinkratik (hepatotoksisitas indirek atau tidak dapat diprediksi) (Seeff
LB, 2011).
1. Hepatotoksisitas intrinsik adalah hepatotoksisitas akibat pajanan terhadap zat kimia
industri maupun lingkungan atau toksin, seperti karbon tetraklorida, fosfor, atau beberapa
jenis jamur yang menyebabkan jejas hati.
2. Hepatotoksisitas idiosinkratik merupakan hepatotoksisitas yang disebabkan oleh obatobat
konvensional dan produk herbal yang menyebabkan hepatotoksisitas hanya pada
sejumlah kecil resipien (1:10.000-1:100.000).
Klasifikasi Berdasarkan Pola Jejas Hati, peningkatan kadar alanin aminotransferase
(ALT) lebih dari tiga kali batas atas normal (BAN) dan peningkatan bilirubin total lebih
dari dua kali BAN dapat digunakan sebagai kriteria untuk meenentukan ada tidaknya
kelainan signifikan pada parameter laboratorik hati. Peningkatan kadar enzim hati alanin
transaminase (ALT), aspartat aminotransferase (AST), dan fosfatase alkali (ALP)
dianggap sebagai indikator jejas hati, sedangkan peningkatan bilirubin total dan
terkonjugasi merupakan parameter untuk menilai fungsi hati secara keseluruhan (Imelda
Maria Loho, Irsan Hasan, 2014).
1. Campuran (Peningkatan ALP dan ALT) Penilaian pola jejas hati sangat penting karena
cenderung menyebabkan jejas dengan pola khas (American Association, 2001)
2. Hepatoselular (atau sitolitik) didefinisikan sebagai peningkatan kadar ALT dan AST
serum yang bermakna, biasanya mendahului peningkatan bilirubin total, disertai sedikit
peningkatan ALP. Contohnya adalah jejas hati imbas isoniazid.
3. Kolestatik ditandai dengan peningkatan ALP yang mendahului atau relatif lebih menonjol
dibanding peningkatan ALT maupun AST.
4. Selain ketiga macam jejas hati di atas, terdapat jejas mitokondria yang dapat dinilai
melalui biopsi hati. Jejas mitokondria ini menyebabkan steatosis mikrovaskular yang
terlihat pada biopsi hati, asidosis laktat, serta sedikit peningkatan enzim
aminotransferase, seperti yang terjadi pada jejas hati imbas asam valproat maupun
tetrasiklin parenteral dosis tinggi.
Tabel 1. Obat-obat yang telah dilaporkan dapat menyebabkan Drug- Induced Liver Injury
Penelitian yang dilakukan oleh Kazuto Tajiri and Yukihiro Shimizu di Jepang
mengungkapkan bahwa penyebab dari Drug Induced Liver Injury diantaranya adalah
asetaminofen (16,9%), anti-HIV seperti Stavudine, Didanosine, Nepirapine, Zidovudine
(16,8%), Troglitazone (11,7%), anti konvulsan seperti Asam Valproat dan phenitoin
(10,3%), anti kanker (12,3%) yang meliputi Flutamide (3,3%), Cyclophosphamide
(3,1%), Methotrexate (3,0%) dan Cytarabine (2,9%), Antibiotik (8,7%) seperti
Trovafloxacin (3,2%), Sulfa/trimethoprim (2,9%) dan Clarithromycin (2,8%), Anestesi
seperti Halothane (4,8%), Obat Anti-tuberculosis, Isoniazid (3,2%), Diklofenak (3,1%)
dan Oxycodone (3,1%) (Tajiri K and Shimizu Y, 2008)
2.5 Patofisiologi
DILI diawali dengan bioaktivitas obat yang dimetabolisme menjadi metabolit reaktif
yang mampu berinteraksi dengan makromolekul seluler, seperti protein, lemak, dan asam
nukleat. Hal ini dapat menyebabkan disfungsi protein, peroksidasi lipid, kerusakan
Deoxyribose Nucleic Acid (DNA), reaksi imunologi, stres oksidatif, disfungsi
mitokondria, dan gangguan pembentukan ATP. Gangguan fungsi seluler ini pada
akhirnya dapat menyebabkan kematian sel dan gagal hati (Loho, 2014). Obat yang dapat
menyebabkan DILI adalah beberapa obat antituberkulosis, mekanisme kerusakan sel
hepar yang diakibatkan penggunaan obat antituberkulosis diawali dari proses
metabolisme obat tersebut. Pirazinamid, etambutol, dan levofloxacin dimetabolisme oleh
enzim sitokrom P450 di hepar memicu peningkatan aktivitas enzim sitokrom P450,
sehingga metabolismenya meningkat dan menyebabkan hasil metabolit meningkat
(Singh, 2011)
Peningkatan dari kadar hydrazine akan memicu produksi Reactive Oxygen Species
(ROS) yang berlebihan, sehingga dapat menyebabkan homeostasis sel hepar terganggu,
hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada hepar seperti nekrosis dan inflamasi(Li,etal,
2015). Hydrazine yang berlebihan dapat mengaktifkan mediator
inflamasi,sepertisitokinTumor Necrosis Factor Alpha (TNF-α) oleh sel kupfferyang
menginduksi reaksi inflamasi di hepar.
2.6 Diagnosa
Tidak adanya tanda dan gejala yang spesifik serta kurangnya kriteria dan pengujian
yang spesifik membuat diagnosis DILI menjadi sulit. Diagnosis DILI sering merupakan
salah satu eksklusi (Gambar 1). Manifestasi efek hepatotoksik obat sangat bervariasi,
mulai dari kelainan enzim hati asimtomatik hingga gagal hati fulminan. Dengan
demikian, diagnosis DILI harus didasarkan pada penilaian klinis yang komprehensif,
termasuk hubungan temporal antara penyakit dan pemberian obat penyebab. Pola cedera
hati, yang merupakan karakteristik obat, juga membantu untuk diagnosis serta
menyingkirkan penyebab lain dari cedera hati akut.
Salah satu masalah yang paling sulit dalam diagnosis DILI adalah penentuan
kausalitas. Ada tiga pendekatan utama untuk menilai kausalitas (Hutchinson TA, 2006).
Pendekatan standar emas adalah tes tantangan positif, yang mirip dengan postulat
Koch. Namun, pendekatan ini tidak dilakukan, karena secara klinis berbahaya. Metode
kedua, pendekatan ad hoc, juga tidak umum digunakan. Pendekatan ketiga, dan paling
banyak digunakan, adalah skala Metode Penilaian Kausalitas Roussel Uclaf
(RUCAM). Metode ini, menunjukkan sensitivitas 86%, spesifisitas 89%, dan nilai
prediksi positif dan negatif masing-masing 93% dan 78% (Benichou C, 2003). RUCAM
adalah skala semikuantitatif, dan berisi tujuh domain, termasuk: onset dan akhir cedera
setelah inisiasi atau penghentian agen yang dicurigai; perkembangan dan jalannya
reaksi; faktor risiko; obat bersamaan; penyebab cedera hati selain obat-obatan; informasi
sebelumnya tentang obat; dan tanggapan terhadap administrasi ulang, jika ada. Skor ini
menilai kausalitas melalui pemberian skor (berkisar antara 3 dan +3 poin) untuk setiap
domain. Skor keseluruhan berkisar dari 5 hingga +14. Sebuah skor lebih besar dari
delapan untuk obat yang terlibat menunjukkan hubungan yang sangat mungkin antara
obat dan cedera hati. Skor lainnya termasuk kemungkinan (6-8), mungkin (3-5), tidak
mungkin (1-2), atau dikecualikan (<0) (Benichou C, 2003).
2.7 Penatalaksanaan
Tujuan tatalaksana DILI yang paling penting adalahs egera menghentikan obat
yang dicurigai sebagai penyebab. Pada sebagian besar kasus, jejas hati akan menyembuh
sendiri setelah obat dihentikan. Akan tetapi, apabila DILI bermanifestasi sebagai
hepatitis autoimun dan penyembuhan tidak terjadi dengan penghentian obat (Imelda
Mario Loho, Irsan Hasam, 2014). Terapi yang dapat dilakukan oleh pasien yaitu, (1)
Terapi Non Farmakologi dan (2) Terapi Farmakologi.
. 2. Terapi Farmakologi
a. Asam Ursodeoxycholi
Akhir-akhir ini obat yang sering untuk terapi suportif adalah
ursodeoxycholic acid (UDCA). Ursodeoxycholic acid (3α, 7β-dihidroksi-5β-cholanic
acid) merupakan asam empedu yang terbentuk secara alami, secara normal terdapat
pada 1-2% asam empedu manusia. Ursodeoxycholic acid merupakan asam empedu
tersier endogen yang disintesis di hepar dari 7 ketolithicolic acid, yang merupakan
hasil produk dari oksigenasi asam kenodeoksikolat (AKDK) oleh bakteri usus. Asam
ursodeoxycholic bekerja dengan cara (Dwi Prasetyo, 2015):
1. Proteksi hepatosit
Asam empedu toksik mempunyai efek merusak membran sel dengan cara meningkatkan
polaritas pada bagian apolar membran hepatosit dan kolangiosit. Ursodeoxycholic acid
secara kompetitif akan berikatan dengan bagian apolar membran tersebut, sehingga efek
yang ditimbulkan oleh asam empedu toksik dapat dikurangi. Asam empedu toksik juga
merusak sel dengan cara membuka pori-pori proteinpada membran mitokondria bagian
dalam dan mengakibatkan peningkatanpermeabilitas mitokondria, sehingga terjadi
kerusakan membran potensial dan pembengkakan mitokondria. Ursodeoxycholic acid
akan mengubah stuktur dan komposisi miscelles yang terbentuk ini bersifat protektif
terhadap hepatosit maupun kolangiosit (Dwi Prasetyo, 2015).
4. . N-Acetylcysteine
N-Acetylcysteine dikenal sebagai antioksidan kimia nontoksik digunakan untuk
mengobati berbagai gangguan. N-Acetylcysteine adalah bentuk modifikasi dari amino
cysteine, dengan atom nitrogen dan grup amino ditempelkan ke grup acetyl dimana N-
Acetylcysteine membantu mekanisme pertahanan antioksidan seluler. N-Acetylcysteine
akan mengsintesis glutation yang digunakan untuk menghambat cidera pada hati (Rudi
Satriawan, 2012).
III. KASUS
Nama Pasien Ny. Snr
Umur 54 tahun
Mrs 25 oktober 2021
Ruangan Bangsal xx
Berat Badan/Tinggi Badan 55 kg/155 cm
Riwayat Penyakit Tb terkontrol
Riwayat Alergi Obat Tidak ada riwayat alergi obat
Riwayat Penyakit Keluarga NA (not available)
Riwayat Sosial NA (not available)
Diagnosis MRS DILI dan TB Paru Relaps
Pasien wanita, 54 tahun dengan keluhan sejak 1 minggu lalu mengalami jaundice
sebelum masuk rumah sakit. Dijumpai nausea dan vomitus. Pasien mengeluhkan adanya
batuk berdahak warna kuning yang sudah semakin membaik dan Hipertiroid. Riwayat
demam, keringat malam, hemoptisis, BAK kemerahan dan penurunan BB sekitar 2 kg
dalam 1 bulan. Pasien sebelumnya sudah berobat ke RS X, dengan diagnosis TB paru dan
mendapat OAT (tablet dan injeksi), dan 2 minggu kemudian muncul jaundice, 2 tahun
yang lalu pasien juga sudah pernah mendapatkan OAT (tablet) dan sudah dinyatakan
sembuh oleh dokter.
Pada tanda vital dijumpai TD 120/80 mmHG, nadi 80x/mnt t/v cukup, pernapasan
18x/mnt, dan suhu 36,5°C. BB pasien 55 kg dengan TB 155 cm. Pemeriksaan fisik
dijumpai sklera ikterik dan pada thorax ronki basah di seluruh lapangan paru kiri.
Laboratorium dijumpai kesan leukositosis (15.150/mm3), hiperbilirubinemia
(bilirubin total 8,9 mg/dl), peningkatan ALP (173 U/L) dengan SGOT (35 U/L) dan
SGPT (35 U/L) yang normal. HbsAg dan Anti HCV non reaktif. Kesan foto thorax PA
adalah TB Paru aktif.
Terapi yang telah diterima pasien Obat Oral TB terdiri dari INH, Rifampisin, dan
Ethambutol selama 2 bulan (fase inisial), diikuti INH dan Rifampisin selama 7 bulan
(fase lanjutan) dan pasien menerima terapi PTU 3x3 tab.
Pasien didiagnosis sebagai DILI dan TB paru relaps. OAT distop sementara. Tiga
hari kemudian dilakukan pemeriksaan ulangan laboratorium didapatkan perbaikan kadar
bilirubin total 2,6 mg/dL, bilirubin direk 1,98 mg/dL, kadar ALP 300,56, SGOT 26,92
U/L, SGPT 31,2 U/L. Lalu tiga hari berikutnya dimonitoring kembali tes fungsi hati
dimana SGOT: 30,53 U/L, SGPT: 24,26 U/L, ALP: 107 U/L, Bilirubin Total: 1,80 mg/dl,
Direct Bilirubin: 1,27 mg/dl.
Berdasarkan kasus di atas, akan dibahas lebih lanjut terapi pasien khusus dalam
aspek kajian farmasi klinis dengan menggunakan pendekatan analisis SOAP.
PHARMACEUTICAL CARE
PATIENT PROFILE
Ny. SNR
Jenis Kelamin : Perempuan Tgl. MRS : 25 Oktober 2021
Usia : 54 tahun Tgl. KRS :-
Tinggi badan : 155 cm
Berat badan : 55 kg
No FIR Alasan
1. Berapa dosis obat INH, Rifampisin, dan Untuk memberikan terapi yang tepat
Ethambutol yang diberikan kepada pasien? kepada pasien.
Jawaban :
INH :
Rifampisin :
Ethambutol :
2. Apakah pasien masih mengalami mual dan Untuk memberikan terapi yang tepat
muntah? kepada pasien.
Jawaban:
3 Bagaimanakah life style pasien ? Agar dapat menyarankan terapi non-
Jawaban: farmakologi kepada pasien
PHARMACEUTICAL PROBLEM
Subjective (symptom)
Keluhan sejak 1 minggu lalu mengalami jaundice sebelum masuk rumah sakit. Dijumpai
nausea dan vomitus. Pasien mengeluhkan adanya batuk berdahak warna kuning yang sudah
semakin membaik dan Hipertiroid. Riwayat demam, keringat malam, hemoptisis, BAK
kemerahan dan penurunan BB sekitar 2 kg dalam 1 bulan.
Objective (signs)
1. Hasil pemeriksaan laboratorium
Sebelum OAT dihentikan
No Parameter Normal Hasil Pemeriksaan Keterangan
1 WBC 4000-10000/mm3 15.150/mm3 Tinggi
2 Bilirubin total 0,3-1,0 mg/dL 8,9 mg/dL Tinggi
3 ALP 30-120 U/L 173 U/L Tinggi
4 SGOT 0-35 U/L 35 U/L Normal
5 SGPT 0-37 U/L 35 U/L Normal
Pemeriksaan lainnya
1. Pemeriksaan fisik dijumpai sclera ikterik dan pada thorax ronki basah di seluruh
lapangan paru kiri.
2. Foto thorax PA adalah TB Paru aktif
3. HbsAg dan anti HCV non reaktif.
TERAPI
4. Terapi yang dicurigai DILI
Obat Yang Diterima
Indikasi Dicurigai Menyebabkan
Pasien
INH Terapi TBC Hepatocellular
Rifampisin Terapi TBC Hepatocellular
Ethambutol Terapi TBC Cholestatic
R value =
1. Diet yang diberikan harus tinggi kalori, yaitu memberikan kalori 2600-3000 kalori
per hari baik dari makanan maupun dari suplemen.
2. Konsumsi protein harus tinggi yaitu 100-125 gr (2,5 gr/kg berat badan) per hari
untuk mengatasi proses pemecahan protein jaringan seperti susu dan telur.
3. Olah raga secara teratur.
4. Mengurangi rokok, alkohol dan kafein yang dapat meningkatkan kadar metabolisme.
Tidak mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar, yaitu 4 kali per hari atau 14 kali per
minggu untuk pria dan 3 kali per hari atau 7 kali per minggu untuk wanita (Dwi
Prasetyo, 2015).
Monitoring
1. Efektivitas
a. Monitoring efektivitas penggunaan OAT (INH, Rifamfisin, Levofloxacin)
dengan melihat perbaikan gejala TBC pada pasien dan melihat tes
pemeriksaan fungsi hati (enzim SGPT, SGOT dan ALP) untuk mengetahui
perbaikan gejala dari DILI setelah penggantian kombinasi terapi TBC.
2. Efek samping
a. Terapi TBC
INH: Mual, muntah, sakit perut.
Rifampisin: Gangguan saluran cerna, seperti mual, muntah, nyeri ulu hati,
tidak nafsu makan, diare, radang usus
Levofloxacin: gangguan pencernaan, seperti diare dan sembelit, mual dan
muntah.
b. Terapi Hipertiroid
PTU: Mual dan muntah, sakit perut, rasa terbakar di dada, sakit kepala, nyeri
sendi dan otot.
DAFTAR PUSTAKA
Cinthya, S.E., Pradipta, I.S. and Abdulah, R. 2012. Penggunaan obat penginduksi kerusakan hati
pada pasien rawat inap penyakit hati. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Voluime, 1.
Dwi Prasetyo. 2015. Update Diagnostik Dan Tatalaksana Ikterik Pada Bayi.
Departemen Ilmu Kesehatan Anak. Fakultas Kedokteran. Universitas
Padjajaran.
Hutchinson TA, Lane DA. 2006. Assessing Methods For Causality Assessment Of Suspected
Adverse Drug Reactions. J Clin Epidemiol. 42:5–16. 10.1016/0895-4356(89)90020-6.
Imelda Maria Loho, Irsan Hasan. 2014. Drug-Induced Liver Injury – Tantangan dalam
Diagnosis. Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia Jakarta, Indonesia
Li, S. et al., 2015. The Role Of Oxidative stres And Antioxidants In Liver Disease. International
journal of Molecular sciences.
Loho IM, Hasan I (2014). Drug-induced liver injury – tantangan dalam diagnosis. Jurnal CKD-
214. Vol 41 (3): 1.
Saukkonen JJ, Cohn DL, Jasmer RM, Schenker S, Jereb JA, Nolan CM, dkk. 2006. An official
ATS statement: Hepatotoxicity of antituberculosis therapy. Am J Respir Crit Care Med.
174(8):935– 952.
Tajiri K and Shimizu Y. 2008. Practical Guidelines for Diagnosis and Early Management of
Drug-Induced Liver Injury. World J Gastroenterol: 14(44): 6774–6785