Strategi Divestasi
Strategi divestasi adalah kebalikan dari investasi. Lebih lengkap lagi, divestasi merupakan
aktivitas mengurangi beberapa jumlah aset dalam rangka memperoleh keuntungan lebih besar
di masa mendatang.
Divestasi dapat menjadi bagian dari strategi penghematan secara keseluruhan untuk
menghilangkan organisasi bisnis yang tidak menguntungkan, yang membutuhkan modal
terlalu banyak, atau yang tidak cocok dengan kegiatan perusahaan lainnya. Divestasi juga
telah menjadi strategi populer bagi perusahaan untuk fokus pada bisnis inti mereka dan
menjadi kurang terdiversifikasi.
Dalam hal ini, bukan berarti divestasi merupakan hal yang merugikan. Sebab tujuan dari
divestasi yaitu mendapatkan keuntungan lebih tinggi dari sebelumnya.
sederhana, contoh divestasi adalah menjumlah sejumlah lot saham ketika harga di pasar
sedang tinggi. Hal ini dilakukan agar investor mendapatkan profit lebih besar. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa strategi divestasi adalah beberapa langkah-langkah
strategis yang dilakukan untuk mengurangi aset agar memperoleh laba semakin besar.
Tujuan Divestasi
Sudah dibahas sebelumnya, utamanya tujuan strategi divestasi adalah meraih keuntungan
sebesar-besarnya. Namun, tidak hanya itu saja. Terdapat tujuan lain dari aktivitas divestasi.
Adapun tujuan divestasi adalah berikut ini.
1. Normalisasi Aset
Pertama, tujuan divestasi adalah normalisasi aset. Biasanya suatu aset memiliki beban biaya
tambahan seperti biaya pajak, biaya perawatan, dan sejenisnya. Agar pengeluaran-
pengeluaran tersebut tidak terlalu besar, maka perusahaan perlu melakukan tindakan
pengurangan aset atau disebut divestasi.
2. Mengurangi Beban Kerugian
Tujuan divestasi berikutnya adalah mengurangi beban kerugian. Tidak semua investasi
menghasilkan keuntungan sesuai harapan. Daripada harus menanggung kerugian, biasanya
investor akan melakukan divestasi.
3. Efisiensi Profit Jangka Panjang
Tujuan divestasi terakhir adalah efisiensi profit untuk jangka panjang. Setiap investor
menginginkan profit maksimal, sehingga terkadang perlu melakukan pengorbanan. Divestasi
adalah salah satu pengorbanan paling umum dilakukan.
Kegiatan divestasi dapat dilakukan dengan beragam metode, antara lain:
1. Metode Direct Selling
Pertama, metode divestasi adalah direct selling. Metode ini merupakan cara divestasi yang
banyak diterapkan oleh banyak kalangan. Sebab cara ini terbilang mudah dan potensi profit
terlihat menjanjikan. Aktivitas direct selling dapat dijumpai pada kegiatan penjualan saham,
unit bisnis, beberapa aset perusahaan dan sejenisnya.
2. Metode Spin-Off
Metode spin-off adalah metode divestasi yang meleburkan suatu divisi menjadi entitas lain
secara terpisah. Maksud dari entitas adalah jenis perusahaan yang masih satu bagian dengan
perusahaan induk. Cara ini akan berpengaruh pada pembagian pemegang saham entitas,
meskipun pemegang saham akan tetap sama dengan sebelumnya. Selain itu, profit yang
didapatkan dari metode spin-off bukan berupa uang tunai, melainkan efisiensi biaya.
3. Metode Carve-Out
Metode carve-out adalah metode divestasi dimana sebuah cabang dari perusahaan induk
melepaskan diri menjadi sebuah entitas yang terpisah. Sehingga entitas baru tak ada
kaitannya dengan perusahaan sebelumnya. Setelah itu, cabang perusahaan tersebut akan
ditawarkan sahamnya ke masyarakat. Meski demikian, tidak semua cabang perusahaan dapat
di-divestasi menggunakan metode ini. Perusahaan tersebut wajib memastikan dulu cabang
perusahaan tersebut punya kemampuan berdiri sendiri dari segi branding di masyarakat.
4. Metode Tracking Stock
Metode tracking stock adalah strategi divestasi dengan memilih satu unit bisnis paling
menghasilkan keuntungan dan menjual sahamnya ke masyarakat. Sekilas, metode ini mirip
dengan metode carve-out. Akan tetapi, dalam metode tracking stock, perusahaan induk tidak
melepas 100% saham unit bisnis. Kepemilikan terbesar unit bisnis tersebut tetap ada dalam
kuasa perusahaan induk.
Study Case
PT Aneka Tambang Tbk (Antam) ingin fokus menggarap komoditas emas, nikel dan bauksit.
Karenanya, perusahaan ini menjual 20% saham PT Dairi Prima Mineral (DPM). Antam
menilai penjualan yang resmi dilakukan pada 29 Desember 2017 tersebut mampu membuat
kinerja keuangan tahun 2017 menjadi lebih baik.
Secara keuangan, Antam over leverage. Aset yang dijual merupakan aset yang dianggap tidak
strategis namun memiliki nilai jual yang baik, seperti saham DPM. Saham DPM merupakan
komoditas Zinc dan Lead yang dimiliki secara minoritas oleh Antam dan tidak memiliki
exposure. Oleh sebab itu antam melepas 20% saham ke PT Dairi Prima Mineral.
Join Venture
joint venture adalah usaha bisnis yang dilakukan oleh dua entitas bisnis atau lebih untuk
periode waktu tertentu. kerja sama ini diciptakan untuk memberikan tujuan spesifik dan
ditentukan dalam rencana yang telah disepakati.
Sistem ini biasanya berakhir setelah tujuan-tujuan tersebut terpenuhi kecuali para pihak
memutuskan untuk terus bekerja sama.
Para pihak yang terlibat dalam join venture ini diatur oleh perjanjian kontrak yang mereka
buat. Perjanjian tersebut menetapkan hal-hal seperti kewajiban perusahaan mereka masing2,
tingkat di mana mereka akan berbagi keuntungan atau kerugian, margin dan sebagainya, hak
dan kewajiban mereka satu sama lain.
Manfaat Join Venture
1. Untuk menggabungkan sumber daya. Perusahaan akan memiliki lebih banyak daya
saing dalam industri dan otomatis akan lebih banyak potensi keberhasilan usaha.
2. Untuk menggabungkan keahlian. Dalam bisnis teknis, satu perusahaan mungkin
memiliki keahlian di satu bagian dan perusahaan lain mungkin memiliki keahlian di
bagian lain. Misalnya, Perusahaan A pandai membuat perangkat lunak, sedangkan
Perusahaan B memiliki pengalaman menciptakan perangkat keras yang diperlukan
untuk suatu usaha.
3. Untuk menghemat uang. Dua perusahaan mungkin mempertimbangkan sistem joint
venture untuk menghemat uang pada iklan, mungkin pameran dagang atau publikasi
produk.
Perbedaan Joint Venture dengan Partnership atau Kemitraan
Joint venture mungkin memiliki beberapa kesamaan dengan partnership, tetapi dua sistem ini
tidak sama. Partnership biasanya adalah entitas bisnis tunggal yang dibentuk oleh dua orang
atau lebih, sedangkan joint venture adalah penggabungan beberapa entitas bisnis yang
berbeda (masing-masing dapat berbeda jenis badan hukum) menjadi entitas baru.
Joint venture ini memungkinkan korporasi meningkatkan keunggulan bersaing bisnisnya
melalui akses kepada sumber daya partner atau rekanan. Akses ini dapat mencakup pasar,
teknologi, kapital dan sumber daya manusia. Pembentukan tim dengan korporasi lain akan
menambahkan sumber daya dan kapabilitas yang saling melengkapi , sehingga korporasi
mampu untuk tumbuh dan memperluas secara lebih cepat dan efisien.
Alasan Umum Perusahaan Melakukan Joint Venture
-Menggabungkan sumber daya
Dengan membuat entitas bisnis baru melalui kerjasama patungan, maka memungkinkan
untuk menjangkau pasar lebih luas.
Hal ini disebabkan kedua bisnis yang bergabung memiliki rengkuhan pasar yang berbeda.
Sehingga diharapkan, entitas bisnis yang baru bisa lebih sukses dibanding dengan perusahaan
induknya.
Penghematan biaya
Bila dilihat dari segi ekonomis, usaha atau bisnis patungan bisa meningkatkan produksi
dengan biaya lebih rendah. Selain itu biaya untuk pemasaran dan periklanan bisa ditekan.
Malahan, dengan dana patungan konsep pemasaran dan periklanan bisnis patungan ini bisa
dimaksimalkan. Alhasil, potensi kerugian pun bisa ditekan. Hal ini diatur dalam perjanjian
usaha patungan, dimana pembagian kerugian dan keuntungan dibagi ke peserta joint venture.
Penggabungan keahlian
Entitas bisnis yang tergabung di bisnis patungan pastinya memiliki latar belakang, sumber
daya dan keahlian yang berbeda. Nah, saat digabungkan dengan membentuk usaha baru,
masing-masing perusahaan mendapat keuntungan dari keahlian dan bakat lain dari
perusahaan rekannya.
Alat bertumbuh
Manfaat atau alasan lain yang biasanya melandasi joint venture adalah pengembangkan alat
atau teknologi. Melalui kolaborasi bisnis baru, ada saling melengkapi antara pihak terkait
kerjasama ini. Seperti misalnya, salah satu pihak memiliki tenaga ahli, sedangkan perusahaan
rekannya memiliki teknologi yang mumpuni. Hingga menghasilkan kerjasama yang solid.
Inovasi produk dan layanan
Biasanya perusahaan yang memutuskan melakukan joint venture, saat ingin meluncurkan
produk atau layanan baru. Dengan terbentuknya entitas bisnis baru, terlepas dari perusahaan
induk, maka potensi memaksimalkan produk baru di pasar lebih terbuka lebar.
Ekspansi pasar asing
Umumnya yang terjadi saat ini, kerjasama patungan yang dilakukan bisnis lokal adalah untuk
berekspansi ke pasar asing. Dengan begitu bisnis lokal bisa memasok produk dan
memperluas jaringan distribusinya. Sebab, untuk memasuki pasar asing terbilang susah-susah
gampang. Karena beberapa negara membatasi orang asing memasuki pasar negaranya.
Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Sistem Joint Venture
1. Tujuan Khusus
Para pihak yang terlibat dalam sistem joint venture biasanya telah memiliki tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya. Mereka umumnya menyatakan tujuan ini dengan jelas dalam
persetujuan dan perjanjian yang telah disepakati oleh mereka.
2. Kesepakatan
Para pihak dalam sistem joint venture, yaitu para venturer bersama, umumnya melaksanakan
perjanjian tertulis di antara mereka. Perjanjian ini menyatakan perincian seperti kewajiban
mereka, rasio pembagian laba / rugi, hak dan kewajiban mereka, dll.
3. Durasi Tertentu
Karena semua usaha dakam sistem ini dibuat untuk tujuan tertentu, mereka umumnya
berakhir begitu tujuan tersebut terpenuhi. Namun, para pihak dapat terus bekerja bersama jika
mereka sepakat untuk melakukannya.
4. Pembagian Keuntungan
Para pihak selalu menyepakati rasio di mana mereka akan berbagi keuntungan dan kerugian
mereka. Jika tidak ada kesepakatan untuk efek ini, mereka harus membagi keuntungan secara
merata.
5. Struktur Usaha
Para pihak dapat membuat usaha patungan dengan melakukan kontrol pada salah satu aspek
berikut:
Aktiva,
Operasi, atau
Entitas bisnis itu sendiri.
Study Case Joint Venture
Persaingan bisnis yang ada di dalam produksi perangkat keras untuk produk komputer telah
mendorong banyak sekali perusahaan untuk melakukan suatu inovasi dan melakukan kerja
sama dengan perusahaan lain. Hal tersebut juga dilakukan oleh dua perusahaan teknologi
ternama asal Taiwan yaitu ASUS dan Gigabyte.
Dimana selama ini perusahaan tersebut berkompetisi secara ketat untuk memproduksi
motherboard, graphics card, dan berbagai macam komponen lain. Kedua perusahaan ini telah
setuju untuk melakukan kerja sama untuk membuat strategi terbaru dalam membuat dan
memasarkan produk motherboard dan juga graphics card di tahun 2007.