SALINAN
GUBERNUR BALI
PERATURAN GUBERNUR BALI
NOMOR 28 TAHUN 2020
TENTANG
TATA KELOLA PARIWISATA BALI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
GUBERNUR BALI,
Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan Pariwisata Bali perlu dikelola
dengan baik untuk memastikan kualitas dan keberlanjutan
Pariwisata Bali sesuai dengan visi pembangunan daerah
“Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan
Semesta Berencana menuju Bali Era Baru;
b. bahwa kepariwisataan Bali yang bersumber pada budaya
dan nilai-nilai Sad Kerthi telah memberikan kontribusi untuk
meningkatkan pembangunan daerah dan memperkenalkan
Daya Tarik Wisata Bali;
c. bahwa Pemerintah Provinsi memiliki kewenangan
untuk mengkoordinasikan penyelenggaraan kepariwisataan
di wilayahnya, maka diperlukan pengaturan untuk
memberikan arah, landasan dan kepastian hukum dalam
Tata Kelola Pariwisata Bali;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan
Peraturan Gubernur tentang Tata Kelola Pariwisata Bali;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang
Pembentukan Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara
Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1958 Nomor 115, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 1649);
2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang
Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4966);
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah
diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2012 tentang
Sertifikasi Kompetensi dan Sertifikasi Usaha di Bidang
Pariwisata (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2012 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5311);
5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015
tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 2036)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 120 Tahun 2018 tentang Perubahan
Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80
Tahun 2015 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 157);
6. Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 1 Tahun 2016 tentang
Penyelenggaraan Sertifikasi Usaha Pariwisata (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 437);
7. Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 10 Tahun 2018
tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara
Elektronik Sektor Pariwisata (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2018 Nomor 1235);
8. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2012
tentang Kepariwisataan Budaya Bali (Lembaran Daerah
Provinsi Bali Tahun 2012 Nomor 2, Tambahan Lembaran
Daerah Provinsi Bali Nomor 2);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN GUBERNUR TENTANG TATA KELOLA
PARIWISATA BALI.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan:
1. Provinsi adalah Provinsi Bali.
2. Pemerintah Provinsi adalah Pemerintah Provinsi Bali.
3. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Provinsi dan
Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Bali.
4. Gubernur adalah Gubernur Bali.
5. Perangkat Daerah Provinsi yang selanjutnya disebut
Perangkat Daerah adalah Perangkat Daerah yang
menyelenggarakan urusan kepariwisataan di Provinsi
yang selanjutnya disebut Perangkat Daerah.
6. Perangkat Daerah Kabupaten/Kota adalah
Perangkat Daerah yang menyelenggarakan urusan
kepariwisataan di Kabupaten/Kota.
7. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang
terkait dengan Pariwisata dan bersifat multidimensi
serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud
kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi
antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama
wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan
pengusaha.
8. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata
dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang
disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah,
dan Pemerintah Daerah.
9. Pariwisata Budaya Lokal adalah Pariwisata yang
dilandasi filosofi Tri Hita Karana yang bersumber dari
kearifan lokal Sad Kerthi.
10. Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang
memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa
keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil
buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan
kunjungan wisatawan.
11. Daerah Tujuan Wisata yang selanjutnya disebut
Destinasi Pariwisata adalah kawasan geografis yang
berada dalam satu atau lebih wilayah administratif
yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas
umum, fasilitas Pariwisata, aksesibilitas, serta
masyarakat yang saling terkait dan melengkapi
terwujudnya kepariwisataan.
12. Usaha Pariwisata adalah usaha yang menyediakan
barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan
wisatawan dan penyelenggaraan Pariwisata.
13. Tata Kelola Pariwisata adalah rangkaian kegiatan
terstruktur sinergi terkordinasi yang meliputi
perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian secara
inovatif serta terpola yang melibatkan berbagai
pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan Usaha
Pariwisata.
14. Pengusaha Pariwisata adalah orang atau sekelompok
orang yang melakukan kegiatan Usaha Pariwisata.
15. Pengelola adalah orang atau sekelompok orang yang
melakukan kegiatan Usaha Pariwisata dengan
menerapkan sistem manajemen tertentu.
16. Industri Pariwisata adalah kumpulan Usaha
Pariwisata yang saling terkait dalam rangka
menghasilkan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan
kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan
Pariwisata.
17. Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan,
keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki,
dihayati, dan dikuasai oleh pekerja Pariwisata untuk
mengembangkan profesionalitas kerja.
18. Standar Usaha Pariwisata adalah rumusan kualifikasi
Usaha Pariwisata dan/atau klasifikasi Usaha
Pariwisata yang mencakup aspek produk, pelayanan
dan pengelolaan Usaha Pariwisata.
19. Usaha Daya Tarik Wisata adalah usaha yang
kegiatannya mengelola daya tarik wisata alam, daya
tarik wisata budaya, daya tarik wisata spiritual
dan/atau daya tarik wisata buatan/binaan manusia.
20. Usaha Kawasan Pariwisata adalah usaha yang
kegiatannya membangun dan/atau mengelola
kawasan dengan luas tertentu untuk memenuhi
kebutuhan Pariwisata.
21. Usaha Jasa Transportasi Wisata adalah usaha khusus
yang menyediakan angkutan untuk kebutuhan dan
kegiatan Pariwisata, bukan angkutan transportasi
reguler/umum.
22. Usaha Jasa Perjalanan Wisata adalah usaha Biro
Perjalanan Wisata dan Agen Perjalanan Wisata.
23. Biro Perjalanan Wisata yang selanjutnya disingkat
BPW meliputi usaha penyediaan jasa perencanaan
perjalanan dan/atau jasa pelayanan dan
penyelenggaraan Pariwisata, termasuk penyelenggaraan
perjalanan ibadah.
24. Usaha Jasa Makanan dan Minuman adalah usaha jasa
penyediaan makanan dan minuman yang dilengkapi
dengan peralatan dan perlengkapan untuk proses
pembuatan dapat berupa restoran, kafe, jasa boga,
dan bar/kedai minum.
25. Usaha Penyediaan Akomodasi adalah usaha yang
menyediakan pelayanan penginapan yang dapat
dilengkapi dengan pelayanan Pariwisata lainnya.
26. Usaha Penyelenggaraan Kegiatan Hiburan dan
Rekreasi adalah usaha yang ruang lingkup
kegiatannya berupa usaha seni pertunjukan, arena
permainan, karaoke, bioskop, serta kegiatan hiburan
dan rekreasi lainnya yang bertujuan untuk Pariwisata.
27. Usaha Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan
Insentif, Konferensi dan Pameran yang selanjutnya
disingkat PPIKP yang dikenal dengan istilah MICE
(Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) adalah
usaha yang memberikan jasa bagi suatu pertemuan
sekelompok orang, menyelenggarakan perjalanan bagi
karyawan dan mitra usaha sebagai imbalan atas
prestasinya, serta menyelenggarakan pameran dalam
rangka menyebarluaskan informasi dan promosi suatu
barang dan jasa berskala nasional, regional, dan
internasional.
28. Usaha Jasa Informasi Pariwisata adalah usaha yang
menyediakan data, berita, feature, foto, video dan hasil
penelitian mengenai kepariwisataan yang disebarkan
dalam bentuk bahan cetak dan/atau elektronik.
29. Usaha Jasa Konsultan Pariwisata adalah usaha yang
menyediakan saran dan rekomendasi mengenai studi
kelayakan, perencanaan, pengelolaan usaha,
penelitian, dan pemasaran di bidang kepariwisataan.
30. Usaha Jasa Pramuwisata adalah usaha yang
menyediakan dan/atau mengkoordinasikan tenaga
pemandu wisata untuk memenuhi kebutuhan
wisatawan dan/atau kebutuhan Biro Perjalanan
Wisata.
31. Usaha Wisata Tirta adalah usaha yang
menyelenggarakan wisata dan olahraga air, termasuk
penyediaan sarana dan prasarana serta jasa lainnya
yang dikelola secara komersial di perairan laut, pantai,
sungai, danau dan waduk.
32. Usaha Solus Per Aqua yang selanjutnya disingkat SPA
adalah usaha perawatan yang memberikan layanan
dengan metode kombinasi terapi air, terapi aroma,
pijat, rempah-rempah, layanan makanan/minuman
sehat, dan olah aktivitas fisik dengan tujuan
menyeimbangkan jiwa dan raga dengan tetap
memperhatikan tradisi dan budaya bangsa Indonesia.
33. Usaha Wisata Kesehatan (medical tourism) adalah
usaha jasa wisata perawatan kesehatan yang bersifat
preventif, kuratif, dan rehabilitatif termasuk
perawatan kesehatan tradisional.
34. Kartu Tanda Pengenal Pramuwisata yang selanjutnya
disebut KTPP adalah kartu identitas yang
dipergunakan bagi pramuwisata dalam melaksanakan
tugas kepemanduan wisata.
35. Tanda Daftar Usaha Pariwisata yang selanjutnya
disingkat TDUP adalah izin yang diterbitkan oleh
Lembaga OSS untuk dan atas nama Menteri,
Pimpinan Lembaga, Gubernur, atau Bupati/Walikota
setelah pelaku usaha melakukan pendaftaran dan
untuk memulai usaha dan/atau kegiatan serta
pelaksanaan komersial atau operasional dengan
memenuhi persyaratan dan/atau komitmen.
36. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Dunia Usaha
yang selanjutnya disingkat TSLDU adalah tanggung
jawab yang melekat pada setiap perusahaan untuk
menciptakan kondisi yang serasi, seimbang dan sesuai
dengan lingkungan, nilai, norma dan budaya
masyarakat setempat.
Pasal 2
Tata kelola Pariwisata Bali dilakukan dalam satu kesatuan
wilayah, satu pulau, satu pola, dan satu tata kelola yang
bertujuan untuk:
a. menata pengelolaan penyelenggaraan Pariwisata Bali;
b. meningkatkan kinerja tata kelola penyelenggaraan,
pembinaan, pengawasan dan evaluasi Tata Kelola
Pariwisata;
c. memberikan kepastian hukum, keamanan, dan
kenyamanan bagi wisatawan terhadap produk
Pariwisata yang ditawarkan;
d. memberikan jaminan kepastian hukum bagi pelaku
industri Pariwisata dalam menyelenggarakan
Tata Kelola Pariwisata yang berkualitas dan
berkelanjutan; dan
e. menyediakan informasi bagi semua pihak yang
berkepentingan dalam penyelenggaraan Tata Kelola
Pariwisata.
Pasal 3
Ruang lingkup Peraturan Gubernur ini meliputi:
a. Usaha Pariwisata;
b. Tata Kelola Usaha Pariwisata;
c. koordinasi antar pelaku Pariwisata;
d. pembinaan dan pengawasan;
e. peran serta masyarakat; dan
f. pendanaan.
BAB II
USAHA PARIWISATA
Pasal 4
(1) Usaha Pariwisata meliputi:
a. Daya Tarik Wisata;
b. kawasan Pariwisata;
c. jasa transportasi wisata;
d. jasa perjalanan wisata;
e. jasa makanan dan minuman;
f. penyediaan akomodasi;
g. penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi;
h. penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif,
konferensi dan pameran;
i. jasa informasi Pariwisata;
j. jasa konsultan Pariwisata;
k. jasa pramuwisata;
l. wisata tirta;
m. SPA; dan
n. wisata kesehatan.
(2) Sub jenis Usaha Pariwisata sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Gubernur ini.
Pasal 5
Penyelenggaraan Usaha Pariwisata sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 harus memenuhi legalitas usaha
dan standar Usaha Pariwisata sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan.
Pasal 6
(1) Setiap pengelola Usaha Pariwisata sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 harus menjadi anggota
asosiasi Pariwisata Provinsi.
(2) Asosiasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
berbadan hukum, memiliki Anggaran Dasar/Anggaran
Rumah Tangga, kode etik asosiasi dan menjalankan
fungsinya secara efektif sebagai wujud komitmen
untuk melaksanakan Tata Kelola Pariwisata yang
berkualitas dan berdaya saing.
BAB III
TATA KELOLA USAHA PARIWISATA
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 7
(1) Pengusaha Pariwisata wajib menyediakan barang
dan/atau jasa Pariwisata yang berkualitas, berdaya
saing, natural, dan ramah lingkungan.
(2) Dalam menyediakan barang dan/atau jasa Pariwisata
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengusaha
Pariwisata harus mengutamakan:
a. pelayanan kepada wisatawan;
b. persaingan usaha yang sehat;
c. etika bisnis;
d. produk lokal;
e. kearifan lokal;
f. kesejahteraan karyawan; dan
g. kerjasama antar pelaku Usaha Pariwisata lokal.
(3) Pengusaha Pariwisata dalam menyediakan barang
dan/atau jasa harus sesuai dengan jenis usaha yang
tercantum dalam perizinan.
(4) Wisatawan yang berkunjung ke Bali merupakan
wisatawan yang berkualitas, yaitu:
a. menghormati nilai-nilai budaya, tradisi, dan
kearifan lokal;
b. ramah lingkungan;
c. waktu tinggal lebih lama;
d. berbelanja lebih banyak;
e. memberdayakan sumber daya lokal;
f. melakukan kunjungan ulang; dan
g. berperilaku tertib dengan selalu menggunakan
sarana transportasi usaha jasa perjalanan wisata.
(5) Dalam penentuan harga paket wisata yang berisiko
tinggi, pengusaha wisata telah memperhitungkan
asuransi jiwa bagi wisatawan.
(6) Asuransi jiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
diutamakan menggunakan perusahaan asuransi
nasional.
Bagian Kedua
Tata Kelola Daya Tarik Wisata
Pasal 8
(1) Daya Tarik Wisata dapat berupa alam, budaya,
spiritual, buatan dan/atau gabungan yang berbasis
kearifan lokal, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
(2) Daya Tarik Wisata harus menjamin kepuasan
wisatawan, pelestarian budaya, alam, dan
pemberdayaan sumber daya lokal.
(3) Daya Tarik Wisata harus menyediakan produk
kerajinan rakyat yang menjadi penciri (ikon) di wilayah
destinasi wisata.
(4) Produk kerajinan rakyat sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) hanya boleh dijual di destinasi tersebut.
(5) Pemberdayaan sumber daya lokal sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) meliputi:
a. pengelola;
b. tenaga kerja;
c. komoditas;
d. produk; dan
e. investasi.
Pasal 9
(1) Daya Tarik Wisata sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 dikelola secara profesional, melembaga, dan
berbasis digital.
(2) Pengelolaan secara profesional sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) berdasarkan keahlian dan kompetensi.
(3) Pengelolaan secara melembaga sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) wajib berbadan hukum, memiliki izin
dan/atau ditetapkan dengan keputusan Bupati/
Walikota.
(4) Pengelolaan berbasis digital sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi:
a. sistem pemetaan area Daya Tarik Wisata;
b. sistem informasi dan promosi;
c. sistem reservasi dan pembayaran satu pintu/tiket
tunggal; dan
d. sistem monitoring keamanan dan kenyamanan.
(5) Sistem pembayaran satu pintu/tiket tunggal
sebagaimana dimaksud ayat (4) huruf c meliputi:
a. tiket masuk;
b. parkir;
c. transportasi dalam kawasan;
d. pemandu wisata khusus;
e. busana adat;
f. tempat penitipan barang; dan
g. toilet.
Pasal 10
(1) Daya Tarik Wisata Spiritual sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 ayat (1) merupakan kegiatan wisata
minat khusus berupa perjalanan wisata menuju
tempat melakukan kegiatan spiritual yang meliputi
penyucian diri (pengelukatan), tapa, brata, yoga,
semadi, darmayatra dan tirtayatra.
(2) Pengelolaan Daya Tarik Wisata Spiritual sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib berbentuk badan hukum
atau ditetapkan dengan Keputusan Bupati/ Walikota.
Pasal 11
(1) Pengelola Daya Tarik Wisata Spiritual dalam
memberikan pelayanan berkewajiban menyediakan
pemandu Wisata Spiritual.
(2) Dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan
spiritual, pemandu Wisata Spiritual, harus:
a. menghormati nilai-nilai spiritual berdasarkan
kearifan lokal; dan
b. memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya atau
memiliki keterangan kemampuan untuk memandu
Wisata Spiritual dari asosiasi pemandu Wisata
Spiritual.
Pasal 12
(1) Wisatawan yang berminat khusus untuk Daya Tarik
Wisata Spiritual berhak mendapatkan pelayanan
sesuai dengan paket Wisata Spiritual yang dijanjikan.
(2) Wisatawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
wajib menghormati nilai-nilai spiritual dan etika
berdasarkan kearifan lokal.
Bagian Ketiga
Tata Kelola Di Kawasan Pariwisata
Pasal 13
(1) Kawasan Pariwisata paling sedikit meliputi:
a. hotel atau jenis akomodasi lainnya;
b. restoran atau rumah makan; dan
c. daya tarik wisata.
(2) Pengembangan Kawasan Pariwisata sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilarang:
a. menggusur masyarakat adat;
b. menutup akses masyarakat lokal;
c. menguasai area publik;
d. memindahkan sarana umum; dan
e. merusak dan/atau mencemari alam dan
lingkungan.
Pasal 14
(1) Pengelola Kawasan Pariwisata dan pengusaha
Pariwisata di Kawasan Pariwisata harus berkomitmen
untuk mewujudkan Pariwisata yang berbasis budaya,
berkualitas, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
(2) Pengelola Kawasan Pariwisata harus menyediakan
ruang bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah
(UMKM) untuk memasarkan dan menjual produk yang
dihasilkannya.
(3) Dalam rangka mewujudkan Pariwisata yang
berkualitas dan berkelanjutan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), Pengelola Kawasan Pariwisata
bekerjasama dengan pengusaha Pariwisata membuat
kesepakatan untuk mencegah terjadinya persaingan
tidak sehat antar hotel, restoran, dan Daya Tarik
Wisata.
Pasal 15
Pengelola Kawasan Pariwisata harus menjamin keamanan,
kenyamanan, keselamatan dalam rangka memenuhi
kepuasan wisatawan.
Bagian Keempat
Tata Kelola Jasa Transportasi Pariwisata
Pasal 16
(1) Jasa transportasi Pariwisata berkewajiban secara
profesional melayani wisatawan mulai dari kedatangan
menuju fasilitas Pariwisata sampai dengan
meninggalkan Bali.
(2) Transportasi Pariwisata yang digunakan dalam
melayani wisatawan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) wajib:
a. memiliki perizinan;
b. laik operasional dan memenuhi standar pelayanan
minimum;
c. usia kendaraan maksimal 10 (sepuluh) tahun;
d. menggunakan desain khas branding Bali; dan
e. memenuhi standar khusus angkutan dan
pengemudi Pariwisata Bali.
(3) Transportasi Pariwisata yang digunakan dalam
melayani wisatawan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diupayakan secara optimal menggunakan
kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.
(4) Asosiasi transportasi Pariwisata dapat melakukan
kerjasama dengan asosiasi Pariwisata lainnya dalam
menetapkan tarif transportasi Pariwisata untuk
mencegah persaingan tidak sehat termasuk dalam
pemberian komisi kepada pengemudi.
Pasal 17
(1) Pengelola Kawasan Pariwisata berkewajiban
menyelenggarakan transportasi dalam kawasan dan
tata kelola transportasi yang memastikan tersedianya
konektivitas secara baik antar obyek dalam kawasan.
(2) Penyelenggaraan transportasi dalam kawasan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus ramah
lingkungan.
Bagian Kelima
Tata Kelola Usaha Jasa Perjalanan Wisata
Pasal 18
(1) Biro Perjalanan Wisata dapat bekerjasama dengan
Usaha Pariwisata lainnya dalam tata kelola Usaha
Jasa Perjalanan Wisata.
(2) Kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dengan Usaha Pariwisata lainnya yang
berizin berdasarkan perjanjian/kontrak kerjasama.
(3) Biro Perjalanan Wisata dapat atau tanpa menyusun
paket-paket wisata yang disesuaikan dengan pangsa
pasar wisata negara asal wisatawan.
(4) Paket wisata yang disusun sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) wajib berisi agenda kunjungan ke
obyek-obyek wisata di wilayah Desa Adat yang
memiliki atraksi seni dan/atau kerajinan rakyat.
(5) Biro Perjalanan Wisata sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) dapat mempromosikan produk-produk wisata
lainnya berdasarkan kesepakatan.
(6) Biro Perjalanan Wisata dalam bekerjasama dengan
penyedia jasa Pariwisata dapat memperoleh imbalan
dalam bentuk komisi paling tinggi 15% (lima belas
persen) dari harga jual yang ditentukan oleh penyedia
jasa Pariwisata.
(7) Biro Perjalanan Wisata dalam melakukan setiap
aktivitas perjalanan wisata harus menggunakan
pramuwisata yang memiliki KTPP.
Pasal 19
(1) Biro Perjalanan Wisata berkewajiban membawa
wisatawan ke penyedia jasa Pariwisata berdasarkan
permintaan wisatawan atau mitra usaha.
(2) Biro Perjalanan Wisata dapat memberi saran kepada
mitra usaha dalam dan luar negeri jika permintaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan berdampak
terhadap kepuasan wisatawan.
(3) Biro Perjalanan Wisata berkewajiban menyarankan
kepada mitra usaha dalam dan luar negeri untuk
menggunakan penyedia jasa Pariwisata yang berizin.
(4) Asosiasi Pariwisata bersama Penyedia Jasa Pariwisata
menentukan harga jual minimum kepada Biro
Perjalanan Wisata dalam dan luar negeri untuk
memperoleh harga yang kompetitif.
Pasal 20
Biro Perjalanan Wisata wajib membayar makanan dan
minuman secara langsung pada saat transaksi kepada
Pengusaha Jasa Makanan dan Minuman.
Bagian Keenam
Tata Kelola Jasa Makanan dan Minuman
Pasal 21
(1) Pengusaha Jasa Makanan dan Minuman harus
menyediakan makanan dan minuman yang memenuhi
standar keamanan pangan dengan mengutamakan
bahan baku dan produk lokal.
(2) Pengusaha Jasa Makanan dan Minuman membuat
kesepakatan dengan pengusaha jasa wisata lainnya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), dalam
menetapkan harga berbasis pembayaran satu pintu.
Bagian Ketujuh
Tata Kelola Penyediaan Akomodasi
Pasal 22
(1) Pengusaha Penyediaan Akomodasi menjual produk
berupa kamar secara langsung kepada wisatawan atau
melalui Biro Perjalanan Wisata.
(2) Pengusaha Penyediaan Akomodasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) memberikan harga kamar
lebih rendah kepada Biro Perjalanan Wisata Lokal
daripada melalui Biro Perjalanan Wisata Asing dan
wisatawan yang memesan secara langsung.
(3) Pengusaha Penyediaan Akomodasi memberikan komisi
paling tinggi 15% (lima belas persen) kepada Online
Travel Agent dan korporasi swasta.
(4) Setiap Pengusaha Penyediaan Akomodasi di Bali yang
melakukan transaksi penjualan produk dan/atau
pertukaran informasi baik langsung maupun tidak
langsung dengan Online Travel Agent dan korporasi
swasta wajib melalui Portal Satu Pintu Pariwisata Bali.
Pasal 23
(1) Harga jual minimum penyediaan akomodasi
ditetapkan setiap tahun berdasarkan kesepakatan
antara asosiasi terkait dikoordinasikan oleh Gabungan
Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali.
(2) Dalam penetapan harga jual minimum sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), asosiasi terkait harus
memperhatikan :
a. sub jenis akomodasi;
b. musim kunjungan wisatawan;
c. kawasan Pariwisata; dan
d. segmen pasar.
(3) Dalam hal tidak ada kesepakatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) Pemerintah Provinsi dapat
melakukan mediasi.
Pasal 24
(1) Pengusaha Penyediaan Akomodasi harus
mencantumkan klausul force majeure kedalam
perjanjian pemesanan kamar dengan pihak Biro
Perjalanan Wisata, korporasi atau wisatawan.
(2) Dalam hal Pengusaha Penyediaan Akomodasi
menggunakan jasa Biro Perjalanan Wisata harus
bekerja sama dengan Biro Perjalanan Wisata yang
tergabung dalam asosiasi perjalanan wisata yang
resmi di dalam atau di luar negeri.
Bagian Kedelapan
Tata Kelola Penyelenggaraan Kegiatan
Hiburan dan Rekreasi
Pasal 25
(1) Kegiatan Hiburan dan Rekreasi mencakup seni,
olahraga, petualangan alam, taman, hiburan malam,
permainan, dan rumah pijat.
(2) Dalam Penyelenggaraan Kegiatan Hiburan dan
Rekreasi, penyelenggara dan pengguna harus
menghormati nilai-nilai budaya, tradisi, adat istiadat,
kearifan lokal, dan ramah lingkungan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali.
(3) Dalam Penyelenggaraan Kegiatan Hiburan dan
Rekreasi, penyelenggara harus menampilkan seni,
olahraga rekreasi, petualangan alam khas Bali,
permainan tradisional, pijat tradisional Bali yang
mengutamakan sumber daya lokal Bali.
(4) Penyelenggara Kegiatan Hiburan dan Rekreasi
bertanggungjawab untuk mencegah terjadinya
pelecehan terhadap seniman dan pelaku Kegiatan
Hiburan dan Rekreasi.
Pasal 26
(1) Seniman dan pelaku Kegiatan Hiburan dan Rekreasi
harus diperlakukan dan difasilitasi secara sopan,
beretika, manusiawi, dan bermartabat.
(2) Seniman dan pelaku kegiatan hiburan dan rekreasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memperoleh imbalan jasa yang layak dari pengguna
jasa.
Pasal 27
Wisatawan berhak mendapatkan:
a. hiburan dan rekreasi yang unik, menarik dan
berkualitas;
b. pelayanan yang profesional, ramah dan sopan; dan
c. pelindungan untuk mencegah terjadinya perbuatan
tidak menyenangkan.
Bagian Kesembilan
Tata Kelola Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif,
Konferensi, Pameran dan Penyelenggaraan
Acara Khusus
Pasal 28
(1) PPIKP meliputi:
a. penyelenggaraan kegiatan pertemuan dan
konferensi, terdiri dari:
1) perencanaan dan penawaran penyelenggaraan
pertemuan dan konferensi;
2) perencanaan dan pengelolaan anggaran
pertemuan dan konferensi;
3) pelaksanaan dan penyelenggaraan pertemuan
dan konferensi;
4) pelayanan terjemahan simultan; dan
5) pelayanan perlengkapan pertemuan dan
konferensi.
b. perencanaan, penyusunan dan penyelenggaraan
program perjalanan insentif;
c. perencanaan dan penyelenggaraan pameran;
d. penyusunan dan pengkordinasian penyelenggaraan
wisata sebelum, selama dan sesudah konferensi;
e. penyediaan jasa kesekretariatan bagi
penyelenggaraan PPIKP; dan
f. kegiatan lain guna memenuhi kebutuhan peserta
PPIKP.
(2) Penyelenggaraan Acara Khusus (spesial event)
mencakup kegiatan perencanaan, pengkordinasian
dan penyelenggaraan Acara Khusus meliputi acara
festival, perayaan, pesta pernikahan, wisata olahraga
minat khusus dan acara sejenis.
(3) Penyelenggara kegiatan PPIKP dan Acara Khusus
harus:
a. bekerjasama dengan perusahaan lokal yang
memiliki izin bidang PPIKP atau izin bidang Acara
Khusus;
b. bekerjasama dengan perusahaan lokal yang
bernaung dibawah asosiasi Pariwisata yang resmi;
c. mendukung pelestarian alam, budaya dan kearifan
lokal;
d. mengutamakan perusahaan penyedia jasa hiburan
yang berdomisili di Bali;
e. mengutamakan makanan dan minuman produk
lokal;
f. memberikan kesempatan kepada perajin UMKM di
Bali untuk mempromosikan dan menjual produk
branding Bali yang berkualitas di tempat
penyelenggaraan PPIKP dan Acara Khusus; dan
g. mengutamakan produk lokal untuk pengadaan
cinderamata.
(4) Penyelenggara kegiatan PPIKP dan Acara Khusus
menggunakan:
a. busana adat Bali, paling sedikit pada saat acara
pembukaan; dan
b. aksara Bali yang ditempatkan di atas huruf Latin
pada latar belakang (backdrop).
(5) Busana adat Bali sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
huruf a adalah hasil produksi industri lokal Bali.
Pasal 29
(1) Pemasok produk wisata memberikan harga yang lebih
kompetitif kepada perusahaan jasa bidang PPIKP dan
Acara Khusus anggota asosiasi PPIKP dan
penyelenggara Acara Khusus di Bali.
(2) PPIKP dan penyelenggara Acara Khusus sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) yaitu perusahaan jasa yang
berdomisili di Bali.
Pasal 30
Wisatawan peserta PPIKP dan Acara Khusus berhak
mendapatkan:
a. pelayanan yang profesional;
b. keamanan dan kenyamanan dalam pelaksanaan
kegiatan; dan
c. informasi dan pengenalan budaya serta kearifan lokal.
Bagian Kesepuluh
Tata Kelola Jasa Informasi Pariwisata
Pasal 31
(1) Usaha Jasa Informasi Pariwisata meliputi produk:
a. data;
b. berita;
c. feature;
d. foto dan video; dan
e. hasil penelitian mengenai kepariwisataan yang
disebarkan dalam bentuk bahan cetak dan/atau
elektronik.
(2) Produk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memiliki nilai informasi sesuai dengan nilai-nilai
budaya, tradisi, dan kearifan lokal.
(3) Informasi Pariwisata yang disajikan harus menjaga
citra positif Pariwisata berbasis budaya.
Pasal 32
Pengusaha Jasa Informasi Pariwisata harus memberikan
informasi secara jelas, akurat, dan dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya kepada pengguna
jasa informasi.
Pasal 33
(1) Videografer dan fotografer yang membuat video
dan foto perihal Pariwisata Bali harus memakai fixer
film lokal sesuai dengan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan.
(2) Pembuatan video dan foto sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) mengutamakan penggunaan fotografer
dan videografer lokal.
Bagian Kesebelas
Tata Kelola Jasa Konsultan Pariwisata
Pasal 34
(1) Jasa Konsultan Pariwisata mencakup usaha
penyediaan saran dan rekomendasi mengenai studi
kelayakan, perencanaan, pengelolaan usaha,
penelitian, dan pemasaran di bidang Kepariwisataan.
(2) Penyedia Jasa Konsultan Pariwisata sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus memiliki tim ahli dalam
bidang studi kelayakan, perencanaan, pengelolaan
usaha, penelitian, dan pemasaran Pariwisata.
(3) Tim ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
mengutamakan sumber daya lokal.
Pasal 35
(1) Penyedia Jasa Konsultan Pariwisata sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) bekerja berdasarkan
kesepakatan bersama dengan pengguna Jasa
Konsultan Pariwisata.
(2) Kesepakatan bersama sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat dibuat dalam bentuk akta nota riil atau
akta para pihak.
Bagian Kedua Belas
Tata Kelola Jasa Pramuwisata
Pasal 36
(1) Biro Perjalanan Wisata wajib menggunakan
Pramuwisata yang sudah memiliki KTPP.
(2) KTPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh
melalui uji kompetensi oleh lembaga pendidikan yang
kompeten di bidang Pariwisata budaya.
(3) Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
berkaitan dengan budaya, tradisi, dan kearifan lokal
dengan bobot 70% (tujuh puluh persen) serta
kompetensi yang berkaitan dengan bahasa dan teknik
kepemanduan dengan bobot 30% (tiga puluh persen).
(4) Lembaga pendidikan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) bekerjasama dengan Perangkat Daerah, PHDI,
Majelis Desa Adat Provinsi, dan Asosiasi Pramuwisata.
(5) Pramuwisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus bersikap dan berperilaku sopan, santun,
beretika, dan profesional serta menjaga citra
Pariwisata Bali.
(6) Pramuwisata harus memandu wisatawan agar tidak
melanggar nilai-nilai budaya, tradisi, dan kearifan
lokal serta tempat suci dan tempat yang disucikan.
Pasal 37
(1) Pramuwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36
ayat (1) harus menggunakan seragam busana adat
Bali dengan desain standar dan menggunakan pin
perusahaan.
(2) Desain standar busana Pramuwisata sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Perangkat
Daerah.
Pasal 38
(1) Pramuwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36
ayat (1) berhak mendapatkan imbalan jasa (guide fee)
yang layak sesuai dengan kesepakatan antara asosiasi
Biro Perjalanan Wisata dan asosiasi Pramuwisata
Provinsi.
(2) Pramuwisata yang berhak mengantar Wisatawan
sampai ke Daya Tarik Wisata yaitu Pramuwisata
Umum yang memiliki KTPP.
(3) Dalam hal pada Daya Tarik Wisata sudah tersedia
Pramuwisata Khusus, Pramuwisata Umum
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib
bekerjasama dengan Pramuwisata Khusus.
Pasal 39
Wisatawan berhak mendapatkan pelayanan yang sopan,
santun, beretika, profesional, serta informasi mengenai
Daya Tarik Wisata dan pengenalan budaya lokal.
Bagian Ketiga Belas
Tata Kelola Wisata Tirta
Pasal 40
(1) Usaha Wisata Tirta wajib berbentuk badan hukum dan
memiliki perizinan resmi yang dikeluarkan oleh
Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya.
(2) Kegiatan Wisata Tirta dapat dilaksanakan di sungai,
danau, dan laut.
(3) Usaha Wisata Tirta memiliki Standar Prosedur
Operasional dalam melakukan aktivitas usahanya dan
standarisasi peralatan yang digunakan sesuai dengan
ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
(4) Pengusaha Wisata Tirta wajib:
a. bergabung dalam asosiasi pengusaha Wisata
Tirta; dan
b. mempekerjakan tenaga kerja yang memiliki
sertifikat Kompetensi.
(5) Pengusaha Wisata Tirta harus mengutamakan
penggunaan tenaga kerja lokal.
Pasal 41
Pengusaha Wisata Tirta dan wisatawan wajib menjaga
kebersihan, keindahan, dan kesucian sungai, danau, dan
laut.
Pasal 42
(1) Pengusaha Wisata Tirta dapat menjual paket Wisata
Tirta secara langsung kepada wisatawan atau
bekerjasama dengan BPW.
(2) Kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
harus dilakukan dengan BPW yang memiliki izin dan
tergabung dalam asosiasi BPW yang resmi.
(3) Penentuan harga paket Wisata Tirta ditetapkan
bersama antara asosiasi pengusaha Wisata Tirta dan
asosiasi BPW.
Pasal 43
(1) Wisatawan Wisata Tirta harus didampingi oleh
pemandu yang memiliki Sertifikat Kompetensi sesuai
dengan bidangnya untuk menjamin keamanan,
kenyamanan dan keselamatan wisatawan.
(2) Pemandu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
mentaati Standar Prosedur Operasional dalam
memberikan pelayanan kepada wisatawan untuk
mencegah terjadinya kecelakaan.
Bagian Keempat Belas
Tata Kelola SPA
Pasal 44
(1) Usaha SPA wajib berbentuk badan hukum, memiliki
perizinan resmi dan memiliki sertifikat usaha.
(2) Kegiatan usaha SPA merupakan usaha perawatan
yang memberikan layanan dengan metode kombinasi
terapi air, terapi aroma, pijat, rempah-rempah,
layanan makanan/minuman sehat, dan olah aktivitas
fisik dengan tujuan menyeimbangkan jiwa dan raga
dengan tetap memperhatikan tradisi, budaya, dan
kearifan lokal Bali.
(3) Usaha SPA sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus:
a. mempekerjakan terapis yang memiliki sertifikat
Kompetensi;
b. menggunakan produk lokal dan memiliki izin Badan
Pengawas Obat dan Makanan;
c. memiliki menu treatment lokal (Balinese massage);
d. memiliki Standar Prosedur Operasional; dan
e. tergabung dalam asosiasi SPA.
Pasal 45
(1) Pengusaha SPA dapat menjual paket SPA secara
langsung kepada wisatawan atau bekerjasama dengan
BPW.
(2) Kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
harus dilakukan dengan BPW yang memiliki izin dan
tergabung dalam asosiasi BPW yang resmi.
(3) Penentuan harga paket SPA ditetapkan bersama
antara asosiasi pengusaha SPA dan asosiasi BPW.
Pasal 46
Terapis SPA dalam memberikan pelayanan kepada
wisatawan harus profesional, menjaga kehormatan diri
dan perusahaan.
Bagian Kelima Belas
Tata Kelola Wisata Kesehatan
Pasal 47
(1) Wisata kesehatan merupakan perjalanan seseorang ke
destinasi Pariwisata untuk tujuan mendapatkan
pengobatan dan perawatan kesehatan.
(2) Wisata kesehatan meliputi pelayanan kesehatan
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
(3) Pengusaha Wisata Kesehatan wajib
memiliki izin sesuai dengan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan.
(4) Pengusaha Wisata Kesehatan mempromosikan dan
memberdayakan pelayanan kesehatan tradisional Bali
kepada wisatawan.
(5) Pengusaha Wisata Kesehatan harus bergabung dalam
asosiasi pengusaha Wisata Kesehatan yang diakui oleh
Pemerintah Daerah.
Pasal 48
(1) Pelayanan kesehatan tradisional Bali sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 47 ayat (4) dapat diberikan oleh
Pengusada dan tenaga kesehatan tradisional yang
memiliki sertifikat Kompetensi.
(2) Sertifikat Kompetensi sebagai Pengusada diberikan
oleh Gotra Pengusada.
(3) Sertifikat Kompetensi sebagai tenaga kesehatan
tradisional diberikan oleh asosiasi yang menaunginya.
(4) Pengusada dan tenaga kesehatan tradisional
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menjadi
anggota asosiasi profesi.
Pasal 49
(1) Dalam memberikan pelayanan kesehatan pengusaha
Wisata Kesehatan bekerjasama dalam penggunaan
fasilitas kesehatan milik pemerintah atau swasta.
(2) Kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dituangkan dalam bentuk kontrak kerja.
BAB IV
KOORDINASI ANTAR PELAKU USAHA PARIWISATA
Pasal 50
(1) Masing-masing induk organisasi (asosiasi) Usaha
Pariwisata mengoordinasikan pelaksanaan tata kelola
Usaha Pariwisata antar pelaku usaha.
(2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan secara berkala setiap 6 (enam) bulan
sekali atau sewaktu-waktu dianggap perlu oleh
pemangku kepentingan melalui Perangkat Daerah.
(3) Hasil koordinasi sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) digunakan sebagai pedoman bersama dalam
pelaksanaan tata kelola Usaha Pariwisata.
(4) Tata cara pelaksanaan koordinasi diatur oleh
masing-masing induk organisasi (asosiasi) Usaha
Pariwisata.
BAB V
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 51
(1) Gubernur melakukan pembinaan dan pengawasan
penyelenggaraan tata kelola pariwisata.
(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilaksanakan oleh Perangkat Daerah.
(3) Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Perangkat
Daerah bersinergi dengan Perangkat Daerah
Kabupaten/Kota.
(4) Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) membentuk Tim
Pembina dan Pengawas.
(5) Tim Pembina dan Pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) paling sedikit terdiri atas unsur
Perangkat Daerah, instansi terkait, asosiasi
Pariwisata, dan akademisi.
Pasal 52
(1) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51
dapat berupa:
a. sosialisasi;
b. supervisi dan konsultasi;
c. bimbingan teknis;
d. pendidikan dan pelatihan;
e. penelitian dan pengembangan;
f. pengembangan sistem informasi;
g. penyebarluasan informasi;
h. pengembangan kesadaran dan tanggung jawab
pelaku usaha;
i. pemberian penghargaan kepada pelaku usaha yang
berprestasi; dan/atau
j. fasilitasi pemasaran/promosi.
(2) Perangkat Daerah dapat meminta penjelasan kepada
pelaku usaha mengenai pelaksanaan tata kelola Usaha
Pariwisata.
(3) Dalam pelaksanaan pembinaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) Perangkat Daerah dapat
bekerja sama dengan instansi terkait, organisasi
kepariwisataan, dan/atau pemangku kepentingan
lainnya.
Pasal 53
(1) Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51
dapat berupa:
a. monitoring dan evaluasi;
b. pemeriksaan ke lapangan;
c. penerimaan laporan kegiatan usaha; dan/atau
d. penerimaan pengaduan.
(2) Hasil pengawasan dijadikan sebagai bahan evaluasi
dalam pelaksanaan tata kelola Usaha Pariwisata.
(3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilakukan paling sedikit setiap 6 (enam) bulan sekali.
(4) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dilaporkan kepada Gubernur.
BAB VI
PERAN MASYARAKAT
Pasal 54
(1) Masyarakat dapat berperan dalam pelaksanaan Tata
Kelola Usaha Pariwisata.
(2) Peran serta sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat dilakukan secara perorangan atau terorganisasi.
(3) Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) disampaikan Perangkat Daerah sesuai
kewenangannya berupa:
a. penyampaian saran dan masukan mengenai Tata
Kelola Usaha Pariwisata; dan/atau
b. penyampaian laporan atas dugaan pelanggaran
dalam pelaksanaan Tata Kelola Usaha Pariwisata.
BAB VII
PENDANAAN
Pasal 55
Pendanaan pelaksanaan penyelenggaraan tata kelola
Pariwisata Bali bersumber dari :
a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Semesta
Berencana Provinsi; dan
b. sumber pendapatan lain yang sah dan tidak mengikat;
BAB VIII
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 56
(1) Setiap orang atau Pengusaha Pariwisata yang
melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3),
Pasal 8 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 9 ayat (3), Pasal 11,
Pasal 13 ayat (2), Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2),
Pasal 15, Pasal 16 ayat (2), Pasal 17 ayat (2), Pasal 18
ayat (4), dan ayat (7), Pasal 19 ayat (3), Pasal 20,
Pasal 21 ayat (1), Pasal 24, Pasal 25 ayat (2) dan
ayat (3), Pasal 26, Pasal 28 ayat (3), Pasal 31 ayat (2),
dan ayat (3), Pasal 32, Pasal 33 ayat (1), Pasal 34
ayat (2), Pasal 36 ayat (1), ayat (5), dan ayat (6),
Pasal 37 ayat (1), Pasal 38 ayat (3), Pasal 40 ayat (1),
ayat (4), dan ayat (5), Pasal 41, Pasal 42 ayat (2),
Pasal 43 ayat (2), Pasal 44 ayat (1), dan ayat (3),
Pasal 45 ayat (2), Pasal 46, Pasal 47 ayat (3) dan
ayat (5), dan Pasal 48 ayat (4) dikenakan sanksi
administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), berupa:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis;
c. penghentian sementara kegiatan;
d. penghentian tetap kegiatan;
e. pencabutan sementara izin;
f. pencabutan tetap izin;
g. denda administratif; dan/atau
h. sanksi administratif lain sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan.
(3) Pengenaan sanksi adminstratif sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) sesuai dengan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 57
Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Peraturan Gubernur ini dengan
penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Bali.
Ditetapkan di Bali
PARAF KOORDINASI
pada tanggal 8 Juni 2020
Ass. Pemerintahan dan
Kesra GUBERNUR BALI,
Kepala Biro Hukum
ttd
Kepala Dinas Pariwisata
WAYAN KOSTER
Diundangkan di Bali
pada tanggal 8 Juni 2020
SEKRETARIS DAERAH PROVINSI BALI,
ttd
DEWA MADE INDRA
BERITA DAERAH PROVINSI BALI TAHUN 2020 NOMOR 28
LAMPIRAN
PERATURAN GUBERNUR BALI
NOMOR 28 TAHUN 2020
TENTANG
PENYELENGGARAAN TATA KELOLA
PARIWISATA BALI
SUB JENIS USAHA PARIWISATA
NO JENIS USAHA SUB JENIS USAHA
1 2 3
1. Daya Tarik Wisata a. Pengelolaan Museum;
b. Pengelolaan Peninggalan Sejarah dan
Purbakala;
c. Pengelolaan Pemandian Air Panas Alami;
d. Pengelolaan Goa;
e. Wisata Agro;
f. Pengelolaan Pemukiman dan/atau
Lingkungan Adat;
g. Pengelolaan Objek Ziarah; dan
h. Spritual.
2. Kawasan Pariwisata Kawasan Pariwisata.
3. Jasa Transportasi Wisata a. Angkutan Jalan Wisata;
b. Angkutan Wisata dengan Kereta Api;
c. Angkutan Laut Wisata Dalam Negeri;
d. Angkutan Laut Internasional Wisata; dan
e. Angkutan Wisata di Sungai dan Danau.
4. Jasa Perjalanan Wisata a. Biro Perjalanan Wisata; dan
b. Agen Perjalanan Wisata.
5. Jasa Makanan dan a. Restoran;
Minuman b. Rumah Makan;
c. Jasa Boga;
d. Pusat Penjualan Makanan;
e. Bar/Pub; dan
f. Kafe.
6. Penyediaan Akomodasi a. Hotel;
b. Pondok Wisata;
c. Bumi Perkemahan;
d. Persinggahan Karavan;
e. Vila;
f. Hotel Kondominium;
g. Apartemen Servis;
h. Rumah Wisata;
i. Jasa Manajemen Hotel; dan
j. Hunian Wisata Senior/Lanjut Usia.
7. Penyelenggaraan Kegiatan a. Sanggar Seni;
Hiburan dan Rekreasi b. Jasa Impresariat/Promotor;
c. Galeri Seni;
d. Gedung Pertunjukan Seni;
e. Rumah Bilyar;
1 2 3
f. Lapangan Golf;
g. Gelanggang Bowling;
h. Gelanggang Renang;
i. Lapangan Sepak Bola/Futsal
j. Lapangan Tenis;
k. Wisata Olahraga Minat Khusus;
l. Wisata Petualangan Alam;
m. Taman Bertema;
n. Taman Rekreasi;
o. Kelab Malam;
p. Diskotik;
q. Karaoke;
r. Arena Permainan; dan
s. Panti/Rumah Pijat.
8. Penyelenggaraan Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan
Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konferensi, dan Pameran.
Insentif, Konferensi, dan
Pameran
9. Jasa Informasi Pariwisata Jasa Informasi Pariwisata.
10. Jasa Konsultan Pariwisata Jasa Konsultan Pariwisata.
11. Jasa Pramuwisata Jasa Pramuwisata.
12. Wisata Tirta a. Wisata Arum Jeram;
b. Wisata Selam;
c. Wisata Dayung;
d. Wisata Selancar;
e. Wisata Olahraga Tirta;
f. Wisata Memancing; dan
g. Dermaga Wisata.
13. Spa Spa.
14. Wisata Kesehatan Wisata Kesehatan.
GUBERNUR BALI,
ttd
WAYAN KOSTER