0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
136 tayangan20 halaman

Perbedaan SPT dan SSP dalam Pajak

Makalah ini membahas tentang SPT (Surat Pemberitahuan) dan SSP (Surat Setoran Pajak). SPT digunakan untuk melaporkan penghitungan dan pembayaran pajak, sedangkan SSP digunakan oleh Wajib Pajak untuk menyetorkan pajak yang terutang."

Diunggah oleh

Rifki Andio
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
136 tayangan20 halaman

Perbedaan SPT dan SSP dalam Pajak

Makalah ini membahas tentang SPT (Surat Pemberitahuan) dan SSP (Surat Setoran Pajak). SPT digunakan untuk melaporkan penghitungan dan pembayaran pajak, sedangkan SSP digunakan oleh Wajib Pajak untuk menyetorkan pajak yang terutang."

Diunggah oleh

Rifki Andio
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SPT & SSP

MAKALAH

DOSEN PENGAMPU:
Dra. Susfa Yetti, Msi,AK.

DISUSUN OLEH:
RIFKI ANDIO (C1C022119)
ARSYI MURDIAH (C1C022117)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM STUDI AKUNTANSI
UNIVERSITAS JAMBI
2023
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “SPT
& SSP” ini tepat pada waktunya. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas
kuliah Perpajakan [Link] dengan tersusunnya makalah ini kami menyampaikan
terima kasih kepada ibu Dra. Susfa Yetti, Msi,AK. selaku dosen pengampu mata
kuliah Perpajakan1.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kami dan pembaca. kami menyadari
bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan. Namun kami tetap
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif sehingga bisa menjadi
acuan dalam penyusunan makalah selanjutnya.

Jambi, 20 Maret 2023

Tim penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii


DAFTAR ISI ............................................................................................................... iii
BAB I ............................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang Makalah ............................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................ 1
BAB II .......................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN .......................................................................................................... 2
2.1 SPT ................................................................................................................. 2
2.3 SSP ................................................................................................................. 8
BAB III ....................................................................................................................... 15
PENUTUP .................................................................................................................. 15
3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 15
3.2 Saran .............................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 17

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Makalah


Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan yang selanjutnya disebut SPT
Tahunan PPh untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak meliputi SPT
Tahunan Orang Pribadi dan SPT Tahunan Badan. Pelaporan SPT Tahunan dilakukan
setiap tahun atas tahun pajak tahun sebelumnya. Batas waktu pelaporan pajak bagi
wajib pajak pribadi atau pekerja adalah maksimal tiga bulan setelah tahun pajak
berakhir atau pada akhir Maret.

Bagi Wajib Pajak yang ingin menyetorkan pajak, maka diwajibkan untuk
mengisi formulir SSP atau Surat Setoran Pajak. Peraturan terbaru mengenai bentuk,
isi, dan tata cara pengisian SSP ini tertuang dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak
Nomor PER-09/PJ/2020. Beleid ini aturan perubahan atau menggantikan peraturan
sebelumnya yakni Peraturan Dirjen Pajak No. PER-38/PJ/2009 tentang Perubahan
Keenam atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-38/PJ/2009 tentang
Bentuk Formulir Surat Setoran Pajak. Melalui SSP, Wajib Pajak harus melengkapi
formulir dan menyerahkannya ke kas negara melalui tempat pembayaran yang telah
ditunjuk Menteri Keuangan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu SPT?
2. Apa yang dimaksud SSP?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui SPT
2. Untuk memahami SSP

1
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 SPT
1. Pengertian SPT

Menurut (Mardiasmo 2018, 35) Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang
oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan atau pembayaran
pajak, objek pajak atau bukan objek pajak, dan atau harta dan kewajiban sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Sebagai seorang wajib pajak, sudah menjadi suatu keharusan bagi anda untuk
melakukan pelaporan SPT. Untuk itu, anda harus mempelajari dengan baik apa dan
bagaimana SPT ini dilaporkan. SPT atau Surat Pemberitahuan sendiri bisa dibagi
menjadi dua kategori yang meliputi SPT Masa dan SPT Tahunan. Dimana SPT
Tahunan merupakan suatu surat pemberitahuan (SPT) yang digunakan untuk suatu
tahun pajak. Sedangkan SPT Masa adalah suatu surat pemberitahuan yang digunakan
untuk suatu masa [Link], SPT Masa ini digunakan untuk beberapa jenis
pajak yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. Seperti
Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penghasilan, dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah.

Wajib pajak juga harus bertanggung jawab atas informasi yang tertera dalam
SPT. Jika terdapat informasi yang tidak sesuai, Ditjen Pajak sebagai penyelenggara
kegiatan pajak dapat meminta keterangan dan pertanggungjawaban pada Wajib Pajak.
SPT memuat informasi seputar jumlah pajak terutang serta pelunasan pajak yang
telah dilakukan dalam periode tertentu. Segala informasi yang dituliskan dalam SPT
harus benar, lengkap, dan jelas.

2
2. Macam-macam SPT
Menurut (Resmi 2011, 42–43) Surat Pemberitahuan (SPT) dapat dibedakan
sebagai berikut:
1. SPT Masa, yaitu SPT yang digunakan untuk melakukan pelaporan atas
pembayaranpajak [Link] Masa terdiri atas:
a. SPT Masa PPh Pasal 21 dan Pasal 26;
b. SPT Masa PPh Pasal 22;
c. SPT MIasa PPh Pasal 23 dan Pasal 26;
d. SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2);
e. SPT Masa PPh Pasal 15;
f. SPT Masa PPN dan PPnBM;
g. SPT Masa PPN dan PPnBM bagi Pemungut.
2. Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan, yaitu SPT yang digunakan untuk
pelaporantahunan. SPT Tahunan terdiri atas:
1. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Badan (1771-Rupiah);
2. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Badan yang diizinkan menyelenggarakan
pembukuandalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika
Serikat(1771-US);
3. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi yang mempunyai penghasilan
dariusaha/pekerjaan bebas yang menyelenggarakan pembukuan atau norma
penghitunganpenghasilan neto; dari satu atau lebih pemberi kerja;yang
dikenakan PPh final dan/ataubersifat final; dan dari penghasilan lain (1770);
4. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi yang mempunyai penghasilan
darisatu atau lebih pemberi kerja; dalam negeri lainnya;dan yang dikenakan
PPh finaldan/atau bersifat final (1770 S);
5. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi yang mempunyai penghasilan
darisatu pemberi kerja dengan penghasilan bruto tidak melebihi Rp30 juta
setahun(1770 SS);

3
3. Fungsi SPT
Menurut (Sumanda 2016, 40) fungsi yang dimiliki oleh SPT (Surat Pemberitahuan)
ini bisa meliputi:

1. Bagi Wajib Pajak


Sebagai sarana WP untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan
penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang :
a. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri atau melalui
pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam satu Tahun Pajak atau Bagian
TahunPajak;
b. Penghasilan yang merupakan objek pajak dan atau bukan objek pajak;
c. Harta dan kewajiban;
d. Pemotongan/ pemungutan pajak orang atau badan lain dalam 1 (satu) Masa
Pajak
2. Bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP)
Sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan
jumlah PPN dan PPnBM yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang :
a. Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran;
b. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh PKP dan
ataumelalui pihak lain dalam satu masa pajak, yang ditentukan oleh ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku
3. Bagi Pemotong atau Pemungut Pajak

SPT ini memiliki fungsi sebagai sarana untuk melaporkan pajaknya. Serta
memberikan pertanggungjawaban atas kewajiban pajaknya. Yaitu pajak yang telah
dipotong atau yang telah dipungut oleh pihak lain serta penyetorannya.

4. Bentuk dan Isi SPT


SPT Dapat Berbentuk:

4
a. Formulir Kertas (Hardcopy) SPT berbentuk formulir kertas (hardcopy) dapat
diambil secara langsung di Kantor Pelayanan Pajak dan tempat lain yang
ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
b. Dokumen Elektronik SPT Masa PPN dalam bentuk data elektronik wajib
digunakan oleh PKP yang:
c. Melaporkan Pemberitahuan Ekspor Barang, Pemberitahuan Ekspor Jasa Kena
Pajak/BKP Tidak Berwujud
d. Menerbitkan Faktur Pajak selain Faktur Pajak yang menurut ketentuan
diperkenankan untuk tidak mencantumkan identitas pembeli serta nama dan
tanda tangan penjual, dan/atau menerima Nota Retur/Nota Pembatalan
e. Melaporkan Pemberitahuan Impor Barang atas impor BKP dan/atau SSP atas
Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud/JKP dari luar Daerah Pabean
f. Menerima Faktur Pajak yang dapat dikreditkan dan/atau menerbitkan Nota
Retur/Nota Pembatalan
g. Menerima Faktur Pajak yang tidak dapat dikreditkan atau mendapat fasilitas
dan/atau menerbitkan Nota Retur/Nota Pembatalan atas pengembalian
BKP/pembatalan JKP yang Pajak Masukannya tidak dapat dikreditkan atau
mendapat fasilitas
SPT Masa bentuk dokumen elektronik wajib digunakan oleh pemotong pajak,
sepanjang pemotong pajak dimaksud memenuhi kriteria sebagai berikut:
➢ Menerbitkan lebih dari 20 (dua puluh) bukti pemotongan PPh Pasal 23
dan/atau Pasal 26 dalam 1 (satu) Masa Pajak; dan/atau
➢ Jumlah penghasilan bruto yang menjadi dasar pengenaan PPh lebih dari
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dalam satu bukti pemotongan. SPT
Masa PPN wajib disampaikan setiap Pengusaha Kena Pajak dalam bentuk
dokumen elektronik. SPT Masa PPN bagi pemungut PPN wajib disampaikan
dalam bentuk dokumen elektronik oleh setiap pemungut PPN, selain:
➢ Bendahara Pemerintah Pusat
➢ Bendahara Pemerintah Daerah
➢ Kepala Urusan Keuangan SPT Tahunan wajib disampaikan dalam bentuk
dokumen elektronik oleh Wajib Pajak yang:
➢ Terdaftar di KPP Madya, KPP di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat
Jenderal Pajak Jakarta Khusus, dan KPP di lingkungan Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar
➢ Sudah pernah menyampaikan SPT Tahunan dalam bentuk dokumen elektronik
➢ Diwajibkan menyampaikan SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 21, 23/26,
PPN dalam bentuk dokumen elektronik
➢ Menggunakan jasa konsultan pajak dalam pemenuhan kewajiban pengisian
SPT Tahunan Pajak Penghasilan
➢ Laporan keuangannya diaudit oleh Akuntan Publik. SPT Berisi: SPT paling
sedikit memuat:

5
a) Jenis pajak
b) Nama Wajib Pajak dan Nomor Pokok Wajib Pajak
c) Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak yang bersangkutan
d) Tanda tangan Wajib Pajak atau kuasa Wajib Pajak.

5. Yang Wajib Mengisi SPT


Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) menegaskan, setiap wajib pajak,
termasuk pensiunan, wajib mengisi Surat Pemberitahuan (SPT) tahunan dengan
benar, lengkap, dan jelas, menandatangani SPT, serta menyampaikan SPT tersebut.
Hal tersebut sesuai dengan aturan yang tertuang di dalam pasal 3 ayat 1 Undang-
undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Jadi walaupun berstatus sebagai
pensiunan, selama masih memiliki NPWP dan masih menjadi wajib pajak, tetap
diwajibkan untuk pelaporan SPT tahunan.
Namun, jika wajib pajak tersebut sudah tidak lagi memenuhi persayaratan
subjektif atau objektif, dalam hal ini mungkin penghasilan mereka sudah berada di
bawah PTKP, maka dapat mengajukan permohonan Non-Efektif (NE). Permohonan
non-efektif (NE) bisa dilakukan secara online dengan mengisi Formulir Permohonan
Penetapan Wajib Pajak Non Efektif. Adapun untuk mengajukan permohonan non
efektif, dilakukan oleh wajib pajak sendiri dengan validasi data berupa: NPWP,
Nama, Nomor Induk Kependudukan, Alamat tempat tinggal, Alamat email yang
terdaftar pada sistem informasi Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Nomor telepon atau
nomor telepon seluler yang terdaftar pada sistem informasi DJP, Tahun Pajak, Status,
dan Nominal SPT Tahunan Orang Pribadi Terakhir yang dilaporkan.

6. Tata Cara Pengisian dan Penyampaian SPT.


Tata cara pengisian SPT diatur sebagai berikut.
1) Wajib Pajak wajib mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan dengan
benar,lengkap,jelas, dan menandatanganinya.
2) Surat Pemberitahuan Wajib Pajak badan harus ditandatangani oleh pengurus
ataudireksi.
3) Dalam hal Wajib Pajak menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus
untukmengisi dan menandatangani Surat Pemberitahuan, surat kuasa khusus
tersebut harusdilampirkan pada Surat Pemberitahuan.
4) Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak yang
wajibmenyelenggarakan pembukuan harus dilampiri dengan laporan
keuangan berupaneraca dan laporan laba rugi serta keterangan lain yang
diperlukan untuk menghitungbesarnya Penghasilan Kena Pajak.
5) Dalam hal laporan keuangan diaudit oleh Akuntan Publik tetapi tidak
dilampirkanpada Surat Pemberitahuan,Surat Pemberitahuan dianggap tidak

6
lengkap dan tidakjelas,sehingga Surat Pemberitahuan dianggap tidak
disampaikan.

7. Batas Waktu Penyampaian SPT


Dalam bukunya Herry Purwono (2010, hal. 33), SPT wajib disampaikan oleh
wajib pajak, dengan batas waktu:
1. Untuk SPT Masa, paling lama 20 hari setelah akhir Masa pajak
2. Untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi, Paling
lama 3 bulan setlah akhir Tahun Pajak.
3. Untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan, paling lama 4
bulan setelah akhir tahun.

8. SPT dianggap tidak disampaikan


Meskipun Wajib Pajak telah menyampaikan SPT, namun demikian SPT tersebut
dianggap tidak disampaikan apabila:
1. Surat Pemberitahuan tidak ditandatangani sesuai ketentuan.
2. Surat Pemberitahuan tidak sepenuhnya dilampiri keterangan dan/atau
dokumen yang ditentukan. 17
3. Surat Pemberitahuan yang menyatakan lebih bayar disampaikan setelah
3(tiga) tahun sesudah berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak atau Tahun
Pajak, dan Wajib Pajak telah ditegur secara tertulis.
4. Surat Pemberitahuan disampaikan setelah Direktur Jendral Pajak melakukan
pemeriksaan atau menerbitkan surat ketetapan pajak.

9. Sanksi Terlambat atau Tidak Menyampaikan SPT


Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang
ditentukan batas waktu perpanjangan penyampian Surat penyampaian Surat
Pemberitahuan, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar :
1. Rp. 500,000 untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai
2. Rp. 100,000 untuk Surat Pemberitahuan Masa Lainnya
3. RP. 100,000 untuk Surat Pemberihauan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib
Pajak Badan
4. RP. 100,000 untuk Surat Pemberihauan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib
Pajak Orang Pribadi
Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak meyampaikan Surat Pemberitahuan
atau menyampaiakan Surat Pemberitahuan, tetapi isinya tidak benar atau tidak
lengkap, atau melapmpirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat
menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara, tidak dikenai sanksi pidana apabila

7
keaalpaan tersebut pertama kali dilakuakan oleh Wajib pajak dan Wajib Pajak tersebut
wajib melunasi kekurangan pembayaran jumlah pajak yang terutang beserta sanksi
administrai berupa kenaikan 200% dari jumlah pajak yang kurang dibayar yang
ditetapkan melalui penerbitan Surat ketetapan Pajak kurang bayar.
2.3 SSP
1. Pengertian SSP

Menurut UU Nomor 6 Tahun 1983 Pasal 1, “Surat Setoran Pajak adalah surat
yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran
pajak yang terutang ke Kas Negara atau ke tempat pembayaran lain yang ditetapkan
oleh Menteri Keuangan”. Menurut Undang-Undang No.28 Tahun 2007, “Surat
Setoran Pajak (SSP) adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah
dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas
negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan”. Menurut
(Resmi 2011, 31) Surat Setoran Pajak (SSP) adalah surat yang oleh wajib pajak
digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke kas
negara melalui kantor Penerima Pembayaran.

2. Fungsi SSP

Adalah sebagai bukti utama dan sarana administradi bagi Wajib pajak yang
sudah melakukan pembayaran pajak sesuai aturan yang berlaku. Bagi wajib pajak
yang telah menyelesaikan kewajibannya terkait dengan pajak, akan mendapat bukti
pembayaran pajak yang telah disahkan atau telah mendapat validasi dari pejabat
kantor atau pihak lainnya yang memiliki kewenangan dalam hal ini. SSP adalah unsur
penting dari kegiatan penyetoran atau pembayaran pajak. Apabila dijabarkan, berikut
adalah fungsi dari Surat Setoran Pajak atau SSP Pajak:

1) SSP sebagai tanda bukti pembayaran pajak dari wajib pajak


2) Bukti pengesahan yang diberikan oleh pejabat kantor penerima pembayaran
3) Sebagai validasi oleh pihak yang berwenang

8
4) Surat atau dokumen telah terjadinya penyetoran pajak
5) Pengganti bukti potong
6) Berfungsi juga sebagai bukti pungutan pajak

3. Jenis SSP di Indonesia


1) Surat Setoran Pajak Standar

SSP ini biasa digunakan para wajib pajak saat melakukan kewajibannya ke
Kantor Penerima Pembayaran. Surat ini sendiri nantinya mempunyai tujuan sebagai
bukti pembayaran dalam isi, ukuran dan bentuk dan dibuat rangkap lima. (Ibnu 2022)
Setiap rangkapnya sendiri akan diberikan kepada pihak yang berbeda-beda

• Lembar pertama ditujukan kepada Wajib Pajak dan dipergunakan sebagai


arsip.
• Lembar kedua diperuntukan bagi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang
diberikan melewati Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).
• Lembar ketiga akan digunakan Wajib Pajak saat melapor ke KPP.
• Lembar keempat akan diberikan untuk Kantor Penerima Pembayaran.
• Lembar kelima akan dipergunakan sebagai arsip Wajib Pungut atau pihak
berwenang lainya yang telah diatur dalam undang-undang perpajakan.
2) Surat Setoran Pajak Khusus

Mempunyai fungsi yang ada pada SSP Standar dalam administrasi perpajakan
dan menjadi bukti pembayaran yang dicetak oleh Kantor Penerima Pembayaran
menggunakan mesin transaksi yang telah ditetapkan atau diatur oleh pemerintah. SSP
ini hanya dapat dicetak saat terjadi transaksi pembayaran sebanyak 2 lembar, yang
dimana lembar pertama memiliki fungsi yang sama dengan lembar ke-1 dan lembar
ke-3 SSP Standar. Selain itu juga dapat dicetak secara terpisah dan nantinya dapat
dipergunakan dengan lembar ke-2 SSP Standar, serta diteruskan kepada KPPN
sebagai lampiran Daftar Nominatif Penerimaan (DNP).

3) Surat Setoran Pabean, Cukai, dan Pajak (Impor)

9
SSP ini dibuat untuk usaha yang mengimport barang atau importit dan bisa
berbentuk dalam Surat Setoran Cukai, Pajak, dan Pabean. Surat jenis ini dibuat dalam
enam rangkap dan diberikan kepada pihak- pihak tertentu seperti

• Lembar 1a diberikan untuk KPPBC (Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea


dan Cukai) melewati Penyetor.
• Lembar 1b nantinya diberikan untuk Penyetor.
• Lembar 2a diperuntukan untuk KPBC melalui KPPN.
• Lembar 2b & 2c diberikan untuk KPP melalui KPPN.
• Lembar 3a & 3b ditujukan kepada KPP melalui Penyetor.
• Lembar 4 diberikan untuk Bank Persepsi atau Pos Indonesia.
4) Surat Setoran Cukai Terkait Barang Kena Cukai dan PPN Hasil Tembakau
Buatan dalam Negeri (SSCP)

Berbeda dengan surat lainnya, surat pajak ini berlaku bagi pengusaha untuk
cukai atas Barang Kena Cukai dan PPN hasil tembakau buatan dalam negeri. Akan
dibuat dalam enam rangkap dan diberikan kepada yang berwenang seperti

• Lembar 1a ditujukan KPBC yang diberikan melalui Penyetor.


• Lembar 1b ditujukan untuk Wajib Pajak.
• Lembar 2a ditujukan untuk KPBC melewati KPPN.
• Lembar 2b ditujukan kepada untuk KPP melalui KPPN.
• Lembar 3 ditujukan untuk KPP melewati Wajib Pajak.
• Lembar 4 ditujukan kepada Bank Persepsi atau PT Pos Indonesia.

4. Batas Waktu Pembayaran atau Penyotoran Pajak

Jangka waktu pembayaran atau penyetoran pajak diatur sebagai berikut:

a) Pembayaran Masa

10
1. PPh Pasal 4 Ayat (2) yang dipotong oleh pemotong pajak penghasilan haru
disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah masa pa jak
berakhir,kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.
2. PPh Pasal 4 Ayat (2) yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak harus disetor
paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah masa pajak
berakhir, kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.
3. PPh Pasal 4 Ayat (2) atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan atau
bangunan yang dipotong/dipungut atau yang harus dibayar sendiri oleh Wajib
Pajak,harus disetor sebelum akta, keputusan, perjanjian, kesepaka tan atau
risalah lelang atas pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan
ditandatangani oleh pejabat yang berwenang.
4. PPh Pasal 15 yang dipotong oleh pemotong PPh harus disetor paling lama
tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir.
5. PPh Pasal 15 yang harus dibayar sendiri harus disetor paling lama tanggal 15
(lima belas) bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir.
6. PPh Pasal 21 yang dipotong oleh pemotong PPh harus disetor paling lama
tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir.
7. PPh Pasal 23 dan PPh Pasal 26 yang dipotong oleh pemotong PPh harus di
setor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah masa pajak
berakhir.
8. PPh Pasal 25 harus dibayar paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan ber
kutnya setelah masa pajak berakhir.
9. PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor harus dilunasi ber
samaan dengan saat pembayaran bea masuk dan dalam hal Bea Masuk ditunda
atau dibebaskan, PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPBM atas in por harus
dilunasi pada saat penyelesaian dokumen pemberitahuan pabean impor.
10. PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor yang dipungut oleh
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai harus disetor dalam jangka waktu 1 (satu)
hari kerja setelah dilakukan pemungutan pajak.

11
11. PPh Pasal 22 yang pemungutannya dilakukan oleh kuasa pengguna ang garan
atau pejabat penanda tangan Surat Perintah Membayar sebagai pemungut PPh
Pasal 22, harus disetor pada hari yang sama dengan pelak sanaan pembayaran
kepada Pengusaha Kena Pajak rekanan pemerintah melalui Kantor Pelayanan
Perbendaharaan Negara.
12. PPh Pasal 22 yang dipungut oleh Bendahara Pengeluaran harus disetor paling
lama 7 (tujuh) hari setelah tanggal pelaksanaan pembayaran atas penyerahan
barang yang dibiayai dari belanja negara atau belanja daerah, dengan
menggunakan Surat Setoran Pajak atas nama rekanan dan ditan datangani oleh
bendahara.
13. PPh Pasal 22 yang pemungutannya dilakukan oleh Wajib Pajak badan tertentu
sebagai pemungut pajak harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
14. PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang dalam satu masa pajak harus disetor
paling lama akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir dan sebelum
Surat Pemberitahuan Masa PPN disampaikan.
15. PPN yang terutang atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan
atauJasa Kena Pajak dari luar daerah pabean harus disetor oleh orang pribadi
atau badan yang memanfaatkan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan atau
Jasa Kena Pajak dari luar daerah pabean, paling lama tanggal 15 (lima belas)
bulan berikutnya setelah saat terutangnya pajak.
16. PPN yang terutang atas kegiatan membangun sendiri harus disetor oleh orang
pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri paling lama
tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir.
17. PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Pejabat
Penandatangan Surat Perintah Membayar sebagai pemungut PPN, harus
disetor pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran kepada
Pengusaha Kena Pajak Rekanan Pemerintah melalui Kantor Pelayanan
Perbendaharaan Negara.

12
18. PPN atau PPN dan PPnBM yang dipungut oleh bendahara pengeluara sebagai
pemungut PPN, harus disetor paling lama 7 (tujuh) hari setelah tanggal
pelaksanaan pembayaran kepada Pengusaha Kena Pajak Rekanan Pemerintah
melalui Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara.
19. PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Pemungut
PPN yang ditunjuk selain Bendahara Pemerintah, harus disetor paling lama
tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir.
20. PPh Pasal 25 bagi wajib pajak dengan kriteria tertentu sebagaimana di
maksud dalam Pasal 3 Ayat (3b) Undang-Undang KUP yang melaporkan
beberapa masa pajak dalam satu Surat Pemberitahuan Masa, harus dibayar
paling lama pada akhir masa pajak terakhir.
21. Pembayaran masa selain PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dengan kriteria
tertentu harus dibayar paling lama sesuai dengan batas waktu untuk ma sing-
masing jenis pajak.
b) Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, serta Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Keberatan,
Surat Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan
Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah,
harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan.
c) Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan
Tahunan Pajak Penghasilan harus dibayar lunas sebelum Surat Pemberitahuan
Pajak Penghasilan disampaikan.

Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak bertepatan
dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional, pembayaran atau
penyetoran pajak dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. Hari libur nasional
sebagaimana dimaksud termasuk hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan
Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh pemerintah dan cuti bersama secara nasional
yang ditetapkan oleh pemerintah. Setiap keterlambatan pembayaran dikenakan bunga

13
sebesar 2% sebulan, yang dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai
dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
SPT atau Surat Pemberitahuan adalah surat yang digunakan sebagai laporan
pajak oleh Wajib Pajak. SPT ini digunakan untuk melaporkan setiap penghitungan
dan pembayaran pajak yang telah dilaksanakan oleh wajib pajak bersangkutan baik
itu orang pribadi ataupun badan. Dimana penghitungan serta pembayaran pajak
tersebut bisa dilakukan untuk objek pajak ataupun bukan objek pajak. Kemudian
harta dan kewajiban pajak sesuai dengan ketentuan serta peraturan perundang-
undangan perpajakan yang telah ditetapkan. Pada umumnya, wajib pajak
menggunakan jasa konsultan pajak Surabaya dalam mengurus laporan SPT.

Surat Setoran Pajak (SSP) merupakan bukti pembayaran atau penyetoran pajak
yang sudah dilakukan oleh Wajib Pajak dengan menggunakan formulir atau dengan
cara lain ke kas negara. Penyampaian SSP ini dapat melalui tempat pembayaran,
seperti Pos, Bank BUMN/BUBD, dan lainnya. Wajib Pajak harus terlebih dahulu
membuat SPP dan membawa SSP tersebut ke bank atau kantor pos sebelum
membayar pajak. Adapun SSP akan dianggap sah jika sudah disahkan oleh pejabat
kantor penerima pembayaran atau jika telah divalidasi pembayarannya oleh pihak
berwenang.

3.2 Saran
Kantor pelayanan pajak hendaknya membantu dalam menginformasi hal-hal
yang berkaitan dengan pajak sehingga wajib pajak mengetahui informasi tersebut
secara cepat, tepat, dan efisien. Sehingga semua wajib pajak yang terdaftar bisa tepat
waktu menyampaikan SPTnya kepada kantor pelayanan pajak setempat dan yang
belum terdaftar sebagai wajib pajak bisa secepatnya untuk mendaftar.

15
Penulis sadar bahwa masih banyak kekurangan yang penulis miliki, baik dari
tulisan maupun bahasan yang penulis sajikan, oleh karena itu mohon di berikan
sarannya agar penulis bisa membuat makalah lebih baik lagi, dan semoga makalah ini
bisa bermanfaat bagi kita semua, dan menjadi wawasan kita dalam memahami
paragraf.

16
DAFTAR PUSTAKA

Mardiasmo. 2018. PERPAJAKAN. Yogyakarta: Penerbit ANDI.

Resmi, Siti. 2011. PERPAJAKAN. Yogyakarta: Salemba Empat.

Sumanda, Kamadie. 2016. 1 Buku Ajar Modul Ajar Pengantar Perpajakan.

Admin. 2022. “Glosarium Pajak: Surat Setoran Pajak (SSP).” [Link].

[Link]
Surat-Setoran-Pajak-(SSP

Ibnu. 2022. “Surat Setoran Pajak: Pengertian, Fungsi, Jenis Dan Contohnya.”

[Link]

17

Anda mungkin juga menyukai