0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan15 halaman

Proses Asuhan Gizi Terstandar

Mata kuliah ini membahas konsep asuhan gizi terstandar dan pelayanan gizi individual melalui Nutrition Care Process (NCP) yang terdiri atas penilaian gizi, diagnosis gizi, intervensi gizi, serta monitoring dan evaluasi. Tujuannya agar mahasiswa memahami pendekatan sistematis dalam memberikan pelayanan gizi berkualitas kepada pasien secara individual.

Diunggah oleh

Rizki Triandini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan15 halaman

Proses Asuhan Gizi Terstandar

Mata kuliah ini membahas konsep asuhan gizi terstandar dan pelayanan gizi individual melalui Nutrition Care Process (NCP) yang terdiri atas penilaian gizi, diagnosis gizi, intervensi gizi, serta monitoring dan evaluasi. Tujuannya agar mahasiswa memahami pendekatan sistematis dalam memberikan pelayanan gizi berkualitas kepada pasien secara individual.

Diunggah oleh

Rizki Triandini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KONSEP ASUHAN GIZI TERSTANDAR DAN PELAYANAN GIZI INDIVIDUAL

1. Deskripsi Mata Kuliah


Mata kuliah ini mempelajari :
a. Pengertian Nutrition Care Process (NCP)
b. Nutrition Assessment
c. Nutrition Diagnosis
d. Nutrition Intervention
e. Nutrition Monitoring dan Evaluation
f. Dokumentasi

2. Tujuan Pembelajaran
Mata kuliah ini diberikan dengan tujuan pada akhir pembelajaran mahasiswa mampu
memahami konsep asuhan gizi terstandar dan pelayanan gizi individual

3. Kompetensi Dasar
Mampu memahami konsep asuhan gizi terstandar dan pelayanan gizi individual

1
KONSEP ASUHAN GIZI TERSTANDAR DAN PELAYANAN GIZI INDIVIDUAL

A. Pendahuluan
Gizi merupakan faktor penting karena secara langsung berpengaruh terhadap kualitas
sumber daya manusia, oleh karena itu perlu pelayanan gizi yang berkualitas pada individu
masyarakat. Pelayanan gizi merupakan salah satu sub-sistem dalam pelayanan kesehatan
paripurna, yang berfokus pada keamanan pasien. Pelayanan gizi rumah sakit wajib mengacu
padaa standar yang berlaku, mengingat masih dijumpai kejadian malnutrisi di rumah sakit dan
fasilitas kesehatan lainnya.
Sejak tahun 2003 American Dietetic Association (ADA) menyusun Standarized Nutrition
Care Process (NCP). Kemudian pada tahun 2006, Asosiasi Dietesien Indonesia (AsDI) mulai
mengadopsi NCP-ADA menjadi Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT). Proses terstandar ini
adalah suatu metoda pemecahan masalah yang sistematis dalam menangani problema gizi,
sehingga dapat memberikan asuhan gizi yang aman, efektif dan berkualitas tinggi. Terstandar
yang dimaksud adalah memberikan asuhan gizi dengan proses terstandar, yaitu menggunakan
struktur dan kerangka kerja yang konsisten sehingga setiap pasien yang bermasalah gizi akan
mendapatkan 4 (empat) langkah proses asuhan gizi yaitu asessmen, diagnosis, intervensi serta
monitoring dan evaluasi.

Batasan Operasional :
1. Asuhan gizi adalah serangkaian kegiatan yang terorganisir/terstruktur yang memungkinkan
untuk identifikasi kebutuhan gizi dan penyediaan asuhan untuk memenuhi kebutuhan
tersebut.
2. Berpikir kritis adalah kemampuan menganalisis masalah gizi, merumuskan dan
mengevaluasi pemecahan masalah dengan mendengarkan dan mengamati fakta serta opini
secara terintegrasi. Karakteristik dan cara berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir
konseptual, rasional, kreatif, mandiri dan memiliki keinginan untuk tahu lebih dalam.
3. Dietetik adalah integrasi, aplikasi dan komunikasi dari prinsi-prinsip keilmuan makanan,
gizi, sosial dan keilmuan dasar untuk mencapai dan mempertahankan status gizi yang
optimal secara individual melalui pengembangan, penyediaan dan pengelolaan pelayanan
gizi dan makanan di berbagai area/lingkungan/latar belakang praktek pelayanan.
4. Konseling gizi adalah serangkaian kegiatan sebagai proses komunikasi dua arah yang
dilaksanakan oleh tenaga gizi untuk menanamkan dan meningkatkan pengertian, sikap dan
perilaku pasien dalam mengenaali dan mengatasi masalah gizi sehingga pasien dapat
memutuskan apa yang akan dilakukannya
5. Kolaborasi yaitu proses dimana individu, kelompok dengan kepentingan yang sama
bergabung untuk menangani masalah yang teridentifikasi. Pada pelaksanaan PAGT dietesien
mengkomunikasikan rencana, proses, dan hasil monitoring evaluasi kegiatan asuhan gizi
kepada pasien dan petugas kesehatan lain yang menangani masalah gizi tersebut.
6. Preskripsi diet adalah rekomendasi kebutuhan zat gizi pasien secara individual mulai dari
menetapkan kebutuhan energi, komposisi zat gizi yang mencakup zat gizi makro dan mikro,
jenis diet, bentuk makanan, frekuensi makan dan rute pemberian makanan. Preskripsi diet
dirancang berdasarkan pengkajian gizi, komponen diagnosis gizi, rujukan, rekomendasi,
kebijakan dan prosedur serta kesukaan dan nilai-nilai yang dianut oleh pasien/klien.
7. Proses asuhan gizi terstandar adalah pendekatan sistematik dalam memberikan pelayanan
asuhan gizi yang berkualitas yang dilakukan tenaga gizi, melalui serangkaian aktivitas yang
2
terorganisir yang meliputi identifikasi kebutuhan gizi sampai pemberian pelayanannya untuk
memenuhi kebutuhan gizi.
8. Tenaga gizi adalah setiap orang yang telah lulus pendidikan di bidang gizi sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan Tenaga Gizi meliputi Technical Registered Dietesien (TRD),
Nutrisionis Registered (NR) dan Registered Dietesien (RD)

B. Pengertian Proses Asuhan Gizi Terstandar/Nutrition Care Process


The National Academy of Science’s (NAS) Institute of Medicine (IoM) telah
mendefinisikan kualitas sebagai berikut:
Suatu level pelayanan kesehatan untuk individu dan populasi yang dapat meningkatkan
kemungkinan tercapainya hasil kesehatan yang diinginkan dan sesuai dengan pengetahuan
profesional mutahir.
Kualitas pelaksanaan dapat dinilai dengan mengukur:
a. Hasil akhir pasien (outcome)
b. Konsistensi penyelenggara pelayanan mentaati proses asuhan yang disepakati (PROSES)
Dalam upaya praktisi gizi dapat mencapai dengan baik ke dua ukuran kualitas pelaksanaan diatas,
dibuat suatu Proses Asuhan Gizi Terstandar
Adapun latar belakang dari terbentuknya PAGT adalah :
Maln u tris i d an K o n s ek u en s in y a
G IZ I ME MP E N G A R U H I P R O S E S P E N Y E MB U H A N P E N Y A K IT

MA L N UT R IS I B E R D A MP A K P A D A :
la ma pera wata n
komplika s i penya kit
bia ya peng oba ta n
terja dinya kema tia n

S E MUA P A S IE N P E R L U D IID E NT IF IK A S I:
MA L N UT R IS I A T A U B E R IS IK O MA L NU T R IS I
B E R I D UK U NG A N G IZ I K H US US

P E N T IN G S U A T U P E L A Y A N A N G IZ I Y A N G
T E R E N C A N A D E N G A N B A IK D I R U MA H S A K IT

3
P R O S E S A S U H A N G IZ I D I R UMA H S A K IT
(A S P E N)

A D MIS S IO N E V A L U A T IO N O F D IS C H A R G E
C A R E S E T T IN G P L A N N IN G

P A T IE N T A C U T E IN P A T IE N T MO NIT O R ING G oa ls
S C R E E N ING Not at ris k C A R E R E Q U IR E ME N T A c hiev ed

T E R MIN A T IO N
A t ris k O F T HE R AP Y
C ha ng e
in S tatus

P A T IE N T NUT R IT IO N IMP L E ME NT A T IO N R E A S S E S S ME NT
A S S E S S ME N T C AR E P L AN A N D UP D A T ING P L A N

A S P E N, 2002

P R IMA R Y P H Y S IC IA N N U T R IT IO N S U P P O R T T E A M:
N u tritio n S u p p o rt P h y s ic ia n
N u tritio o n S u p p o rt D ie tic ia n
Me d ic al N u tritio n S u p p o rt N u rs e
C are P ro c e s s N u tritio n S u p p o rt P h a rm a c y

N u tritio n C are P ro c e s s
P A T IE N T

N u rs in g
C are P ro c e s s

NUR S E
T h e id ea l w a y to o ffer N u tritio n a l T h era p y
is b y a N u tritio n a l S u p p o rt T ea m (N S T )

4 (Empat) Langkah Proses Asuhan Gizi


1. Penilaian Gizi
2. Diagnosis Gizi
3. Intervensi Gizi
4. Monitoring dan Evaluasi Gizi

Model Asuhan Gizi & Proses Asuhan Gizi Terstandard

SISTEM PELAYANAN KESEHATAN KONDISI LOKAL

PENGETAHUAN GIZI BERPIKIR KRITIS KETERAMPILAN

S PENILAIAN GIZI DIAGNOSIS GIZI


K mengumpulkan informasi identifikasi masalah,
dan analisis menentukan penyebab
R
I
TIM/DIETISIEN
N
I
N
G
PASIEN
MONITORING GIZI DAN INTERVENSI GIZI
EVALUASI Rencana
monitoring kemajuan Implementasi

KERJA SAMA KOMUNIKASI

EKONOMI SOSIAL BUDAYA

AMERICAN DIETETIC ASSOCIATION, 2003

4
PAGT harus dilaksanakan secara berurutan dimulai dari langkah Asesmen, Diagnosis,
Intervensi, dan Monitoring dan Evaluasi (ADIME). Langkah-langkah tersebut saling berkaitan
satu sama lainnya dan merupakan siklus yang berulang terus sesuai respon/perkembangan pasien.
Apabila tujuan tercapai maka proses ini dihentikan, namun bila tujuan tidak tercapai atau tujuan
awal tercapai tetapi terdapat masalah gizi baru maka proses berulang kembali mulai dari asesmen
gizi.
Langkah-Langkah dalam PAGT

Langkah 1. Pengkajian/Asesmen Gizi


Mengumpulkan, verifikasi, interpretasi data
yang relevan untuk identifikasi problem gizi

Langkah 2. Diagnosis Gizi


Menyimpulkan dengan pernyataan PES
Problem (P) Etiologi (E) Sign/Symptom (S)
Penamaan masalah gizi Data yang menunjukkan
sesuai terminologi Akar penyebab adanya problem dan
diagnosis gizi masalah dapat diukur secara
kuantitatif dan kualitatif

Etiologi (E) Sign/Symptom (S)


Sasaran intervensi Ukuran keberhasilan
intervensi gizi

Langkah 3. Langkah 4.
Intervensi Gizi Monitoring dan
Evaluasi
Re-asesmen

1. Langkah 1. Nutrition Assessment (Penilaian Gizi)


a. Menggali informasi yang memadai untuk mengidentifikasi masalah gizi yang spesifik.
b. Data; dikumpulkan, verifikasi dan Interpretasi.
c. Membedakan antara data yang penting dan tidak penting.
d. Membandingkan dengan standar/rujukan.
e. Komponen essensial dalam pelayanan dan managemen gizi pasien
f. Tahap awal dari NCP sebagai dasar mengidentifikasi masalah gizi (diagnosa
gizi)
g. Membutuhkan ketrampilan (basic dan advance) serta berfikir kritis
h. Pengetahuan, ketrampilan, pengambilan keputusan yang berbasis fakta serta
profesionalisme → Performance yang dapat dipercaya/diandalkan
Tujuan:
5
Mengumpulkan dan menginterpretasi informasi/data pasien yang relevan untuk
mengidentifikasi problem gizi dan penyebabnya
Cara memperoleh data :
• Dari pasien melalui interview, observasi dan pengukuran
• Informasi dari petugas kesehatan yang merujuk : Catatan medik, Tes laboratorium
Langkah yang harus dilakukan :
 Kumpulkan dan pilih data yang merupakan faktor yang dapat mempengaruhi status gizi
dan kesehatan
 Kelompokkan data berdasarkan kategori asesmen gizi :
- Riwayat gizi dengan kode FH (Food History)
- Antropometri dengan kode AD (Anthropometry Data)
- Laboratorium dengan kode BD (Biochemical Data)
- Pemeriksaan fisik gizi dengan kode PD (Physical Data)
- Riwayat klien dengan kode CH (Client History)
 Data diinterpretasi dengan membandingkan terhadap kriteria atau standar yang sesuai
untuk mengetahui terjadinya penyimpangan.

Kategori Data Asesmen Gizi :


1) Riwayat Gizi (FH)
Pengumpulan data riwayat yang dilakukan dengan cara interview, termasuk interview
khusus seperti recall makanan 24 jam, food frequency questioner (FFQ) atau metoda
asesmen gizi lainnya. Berbagai asupan yang digali adalah :
a. Asupan makanan dan zat gizi, yaitu pola makan utama dan snack, menggali
komposisi dan kecukupan asupan makan dan zat gizi, sehingga tergambar mengenai:
- Jenis dan banyaknya asupan makanan dan minuman
- Jenis dan banyaknya asupan makanan enteral dan parenteral
- Total asupan energi
- Asupan makronutrien
- Asupan mikronutrien
- Asupan bioaktif
b. Cara pemberian makan dan zat gizi yaitu menggali mengenai diet saat ini dan
sebelumnya, ada modifikasi diet, dan pemberian makanan enteral dan parenteral,
sehingga tergambar mengenai :
- Order diet saat ini
- Diet yang lalu
- Lingkungan makan
- Pemberian makanan enteral dan parenteral
c. Penggunaan medikamentosa dan obat komplemen-alternatif (interaksi obat dan
makanan) yaitu menggali mengenai penggunaan obat dengan resep dokter ataupun
obat bebas, termasuk penggunaan produk obat komplemen-alternatif.
d. Pengetahuan/keyakinan/sikap yaitu menggali tingkat pemahaman mengenai
makanan dan kesehatan, informasi dan pedoman mengenai gizi yang dibutuhkan,
selain itu juga mengenai keyakinan dan sikap yang kurang sesuai mengenai gizi dan
kesiapan pasien untuk mau berubah

6
e. Perilaku yaitu menggali mengenai aktivitas dan tindakan pasien yang berpengaruh
terhadap pencapaian sasaran-sasaran yang berkaitan dengan gizi, sehingga
tergambar mengenai :
- Kepatuhan
- Perilaku melawan
- Perilaku makan berlebihan yang kemudian dikeluarkan lagi (bingeing ang
purging behavior).
- Perilaku waktu makan
- Jaringan sosial yang dapat mendukung perubahan perilaku
f. Faktor yang mempengaruhi akses ke makanan yaitu mengenai faktor yang
mempengaruhi ketersediaan makanan dalam jumlah yang memadai, aman dan
berkualitas
g. Aktivitas dan fungsi fisik yaitu menggali mengenai aktifitas fisik, kemampuan
kognitif dan fisik dalam melaksanakan tugas spesifik seperti menyusui atau
kemampuan makan sendiri sehingga tergambar mengenai :
- Kemampuan menyusui
- Kemampuan kognitif dan fisik dalam melakukan aktivitas makan bagi orang tua
atau orang cacat
- Level aktivitas fisik yang dilakukan
- Faktor yang mempengaruhi akses ke kegiatan aktivitas fisik
2) Antropometri (AD)
Pengukuran tinggi badan, berat badan, perubahan berat badan, indeks massa tubuh,
pertumbuhan dan komposisi tubuh
3) Laboratorium (BD)
Keseimbangan asam basa, profil elektrolit dan ginjal, profil asam lemak esensial, profil
gastrointestinal, profil glukosa/endokrin, profil inflamasi, profil laju metabolik, profil
mineral, profil anemia gizi, profil protein, profil urine, dan profil vitamin.
4) Pemeriksaan Fisik terkait Gizi (PD)
Evaluasi sistem tubuh, wasting otot dan lemak subkutan, kesehatan mulut, kemampuan
menghisap, menelan dan bernafas serta nafsu makan.
5) Riwayat Clien (RC)
Informasi saat ini dan masa lalu mengenai riwayat personal, medis, keluarga dan sosial.
Data riwayat klien tidak dapat dijadikan tanda dan gejala (signs/symptom) problem gizi
dalam pernyataan PES, karena merupakan kondisi yang tisak berubah dengan adanya
intervensi gizi.
Riwayat klien mencakup :
- Riwayat personal yaitu menggali informasi umum seperti usia, jenis kelamin, etnis,
pekerjaan, merokok, cacat fisik.
- Riwayat medis/kesehatan pasien yaitu menggali penyakit atau kondisi pada klien
atau keluarga dan terapi medis atau terapi pembedahan yang berdampak pada status
gizi.
- Riwayat sosial yaitu menggali mengenai faktor sosioekonomi klien, situasi tempat
tinggal, kejadian bencana yang dialami, dukungan kesehatan, dan lain-lain.

7
2. Langkah 2. Nutrition Diagnosis (Diagnosa Gizi)
Diagnosis gizi sangat spesifik dan berbeda dengan diagnosis medis. Diagnosis gizi
bersifat sementara sesuai dengan respon pasien. Diagnosis gizi adalah masalah gizi
spesifik yang menjadi tanggung jawab dietesien untuk menanganinya.
Untuk menentukan diagnosa gizi harus diketahui masalah gizi, yaitu :
a. Kaji data data hasil pengkajian gizi
• Parameter yang paling penting terkait masalah gizi ?
• Adakah data-data terkait gizi yang abnormal?
• Apa yang dapat diintervensi oleh dietisien ?
b. Tentukan domain dan problem intuisi anda, dan pilih kemungkinan label/istilah
diagnosa gizi dari ADA’s IDNT Reference Manual – Standarized Language for the
Nutrition Care Process
c. Kaji definisi masing masing istilah, bandingkan etiologi, signs dan symptoms pada
daftar tersebut
d. Pilih nama problem/diagnosis gizi yang paling tepat

Cara penentuan diagnosis gizi :


a. Lakukan integrasi dan analisa data asesmen dan tentukan indikator asuhan gizi.
Asupan makanan dan zat gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan akan
mengakibatkan terjadinya perubahan dalam tubuh. Hal ini ditunjukkan dengan
perubahan laboratorium, antropometri dan kondisi klinis tubuh. Karena itu, dalam
menganalisis data asesmen gizi penting mengkombinasikan seluruh informasi dari
riwayat gizi, laboratorium, antropometri, status klinis dan riwayat pasien secara
bersama-sama.
b. Tentukan domain problem/masalah gizi berdasarkan indikator asuhan gizi (tanda dan
gejala). Problem gizi dinyatakan dengan terminologi diagnosis gizi yang dibakukan.
Perlu diingat bahwa yang diidentifikasi sebagai diagnosis gizi adalah problem yang
penanganannya berupa terapi/intervensi gizi. Diagnosis gizi adalah masalah gizi
spesifik yang menjadi tanggung jawab dietesien untuk menanganinya. Penamaan
masalah dapat merujuk pada terminologi diagnosis gizi.
c. Tentukan etiologi (penyebab problem)
d. Tuliskan pernyataan diagnosis gizi dengan format PES (Problem - Etiologi –
Sign/Symptom)

“DIAGNOSIS GIZI BUKAN DIAGNOSIS MEDIS”

Dinyatakan dalam kalimat yang terstruktur yang dikenal dengan “ PES “


Problem : Masalah gizi spesifik yang aktual – Nama Diagnosis Gizi
Etiologi : Akar Penyebab masalah
Signs/Symptoms : Fakta/Bukti yang menunjukkan masalah gizi
Pernyataan Diagnosa Gizi :
Diagnosa gizi disimpulkan dalam satu kalimat yang terstruktur yang dikenal dengan
PES
Diagnosa gizi menggambarkan masalah gizi (PROBLEM), akar penyebab masalahnya
(ETIOLOGY), dan data pengkajian gizi (SIGNS-SYMPTOMS) yang menunjukkan

8
fakta fakta dari masalah gizi. Pernyataan PES menghubungkan pengkajian gizi dengan
masalah gizi aktualnya (diagnosa gizi)

KOMPONEN PES
P) PROBLEM/ label gizi ( WHAT ?)
 Diagnosa gizi – masalah gizi yang ada
 Menggambarkan perubahan/ gangguan status gizi pasien/ klien.

(E) ETIOLOGY ( WHY ?)


 Faktor penyebab masalah
(S) SIGNS or SYMPTOMS ( HOW DO I KNOW ?)
 Data yg menunjukkan bahwa pasien mempunyai masalah gizi yang spesifik
Kalimat PES yang baik adalah
• Sederhana, jelas dan singkat
• Spesifik untuk pasien/klien atau kelompok
• Berkaitan dengan satu masalah yang terkait dengan gizi
• Berkaitan dengan etiologi yang akurat
• Berdasarkan data pengkajian yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan/
dipercaya

Contoh Pernyataan Diagnosis Gizi (PES)


Asupan lemak yang berlebihan berkaitan dengan frekuensi konsumsi makanan cepat saji
dibuktikan dengan meningkatnya serum kolesterol, dan konsumsi burger dan kentang
90 gr 10 kali dalam seminggu.

P– what’s the problem ? Asupan lemak yg berlebihan


E – Why is this ? Frekuensi konsumsi makanan cepat saji
S/S – How do you know a problem exists?
Serum kolesterol
konsumsi burger dan kentang 10 kali / mg

Evaluasi PES
Apakah assessment cukup menunjang penetapan problem?
- Dapatkan anda (dietisien) mengatasi atau memperbaiki masalah gizi tsb
- Apakah etiologi benar benar merupakan akar masalah ?
- Apakah S/S nya spesifik dan dapat diukur ?
- Dapatkah anda evaluasi perubahannya pada kunjungan berikutnya?

9
Diagnosis gizi dikelompokkan dalam 3 (tiga) domain, yaitu :
1) Domain asupan
2) Domain klinis
3) Domain perilaku-lingkungan
Setiap domain menggambarkan karakteristik tersendiri dalam memberikan kontribusi
terhadap gangguan kondisi gizi.
1) Domain asupan (NI)
Berbagai problem aktual yang berkaitan dengan energi, zat gizi, cairan, atau zat bioaktif,
melalui diet oral atau dukungan gizi (enteral dan parenteral). Masalah yang terjadi dapat
10
karena kekurangan (inadequate), kelebihan (excessive) atau tidak sesuai (inappropriate).
Termasuk ke dalam kelompok domain asupan adalah :
a. NI.1. Keseimbangan energi
Perubahan aktual atau perkiraan perubahan menyangkut keseimbangan energy
(kkal)
NI.1.1. Peningkatan energy expenditure
NI.1.2. Asupan energy tidak adequate
NI.1.3. Kelebihan asupan energy
NI.1.4. Perkiraan asupan energy sub optimal
NI.1.5. Perkiraan kelebihan asupan energy
b. NI.2. Asupan diet oral atau dukungan gizi
Asupan makanan dan minuman yang aktual atau perkiraannya melalui diet oral atau
dukungan gizi dibandingkan dengan tujuan pasien
NI.2.1. Asupan oral tidak adequate
NI.2.2. Kelebihan asupan oral
NI.2.3. Enteral nutrisi tidak adequate
NI.2.4. Kelebihan infuse enteral nutrisi
NI.2.5. Komposisi atau modalitas makanan enteral nutrisi kurang optimal
NI.2.6. Parenteral nutrisi tidak adequate
NI.2.7. Kelebihan infuse parenteral nutrisi
NI.2.8. Komposisi atau modalitas nutrisi parenteral kurang optimal
NI.2.9. Daya terima makanan terbatas
c. NI.3. Asupan cairan
Asupan cairan yang aktual atau estimasi dibandingkan dengan tujuan pasien
NI.3.1. Asupan cairan tidak adequate
NI.3.2. Kelebihan asupan cairan
d. NI.4. Asupan zat bioaktif
Asupan substansi bioaktif yang aktul atau yang diamati meliputi komponen,
komposisi, makanan fungsional tunggal atau suplemen makanan, alkohol
NI.4.1. Asupan substansi bioaktif tidak adequate
NI.4.2. Kelebihan asupan substansi bioaktif
NI.4.3. Kelebihan asupan alkohol
e. NI.5. Asupan zat gizi, yang mencakup problem mengenai
Asupan aktual atau perkiraan kelompok zat gizi tertentu atau zat gizi tunggal
dibandingkan dengan yang dianjurkan
NI.5.1. Peningkatan kebutuhan zat gizi (sebutkan_____)
NI.5.2. Malnutrisi
NI.5.3. Asupan protein energy tidak adequate
NI.5.4. Penurunan kebutuhan zat gizi (sebutkan______)
NI.5.5. Ketidakseimbangan zat gizi
NI.5.6. Lemak dan kolesterol
NI.5.7. Protein
NI.5.8. Karbohidrat dan serat
NI.5.9. Vitamin
[Link]
[Link] nutrient
11
2) Domain Klinis (NC)
Berbagai problem gizi yang terkait dengan kondisi medis atau fisik. Termasuk ke dalam
kelompok domain klinis adalah :
a. NC.1. Fungsional
Problem fungsional, perubahan dalam fungsi fisik atau mekanik yang
mempengaruhi atau mencegah pencapaian gizi yang diinginkan.
NC.1.1. Kesulitan menelan
NC.1.2. Kesulitan mengunyah/menggigit
NC.1.3. Kesulitan menyusui
NC.1.4. Perubahan fungsi gastrointestinal
b. NC.2. Biokimia
Problem biokimia, perubahan kemampuan metabolisme zat gizi akibat medikasi,
pembedahan, atau yang ditunjukkan oleh perubahan nilai laboratorium.
NC.2.1. Gangguan utilisasi zat gizi
NC.2.2. Perubahan nilai laboratorium terkait gizi (sebutkan____)
NC.2.3. Interaksi makanan dan obat (sebutkan______)
NC.2.4. Prediksi interaksi makanan dan obat (sebutkan______)
c. NC.3. Berat badan
Perubahan berat badan, masalah berat badan kronis atau perubahan berat badan bila
dibandingkan dengan berat badan biasanya.
NC.3.1. Berat badan kurang (underweight)
NC.3.2. Penurunan BB yang tidak diharapkan
NC.3.3. Kelebihan BB/Obesitas
NC.3.4. Kenaikan BB yang tidak diharapkan
NC.3.5. Percepatan petumbuhan sub optimal
NC.3.6. Percepatan pertumbuhan berlebih

3) Domain perilaku-lingkungan (NB)


Berbagai problem gizi yang terkait dengan pengetahuan, sikap/keyakinan, lingkungan
fisik, akses ke makanan, air minum, atau persediaan makanan, dan keamanan makanan.
Problem yang termasuk ke dalam kelompok domain perilaku-lingkungan adalah :
a. NB.1. Pengetahuan dan kepercayaan
Problem pengetahuan dan keyakinan, kepercayaan, lingkungan fisik, akses terhadap
makanan atau keamanan makanan
NB.1.1. Kurangnya pengetahuan terkait makanan dan zat gizi
NB.1.2. Perilaku dan kepercayaan yang tidak mendukung terkait dengan
makanan dan zat gizi (gunakan dengan hati-hati)
NB.1.3. Tidak siap untuk diet/merubah perilaku
NB.1.4. Kurang dapat menjaga/monitoring diri
NB.1.5. Gangguan pola makan
NB.1.6. Kurang patuh mengikuti rekomendasi gizi
NB.1.7. Pemilihan makanan yang salah
b. NB.2. Aktivitas fisik dan fungsi
Problem aktivitas fisik dan kemampuan mengasuh diri sendiri
NB.2.1. Aktivitas fisik kurang
NB.2.2. Aktivitas fisik yang berlebihan
12
NB.2.3. Tidak mampu/tidak mau mengurus diri sendiri
NB.2.4. Kemampuan menyiapkan makanan terganggu
NB.2.5. Kualitas hidup yang buruk
NB.2.6. Kesulitan makan secara mandiri
c. NB.3. Keamanan dan akses makanan
Problem akses dan keamanan makanan
NB.3.1. Asupan makanan yang tidak aman
NB.3.2. Akses makanan dan air terbatas
NB.3.3. Akses suplai gizi terbatas

Etiologi Diagnosis Gizi


Etiologi mengarahkan intervensi gizi yang akan dilakukan. Apabila intervensi gizi tidak
dapat mengatasi faktor etiologi, maka target intervensi gizi ditujukan untuk mengurangi
tanda dan gejala problem gizi.

a. Langkah 3. Nutrition Intervention (Intervensi Gizi)


Intervensi gizi adalah suatu tindakan yang terencana yang ditujukan untuk merubah perilaku
gizi, kondisi lingkungan, atau aspek status kesehatan individu. Tujuan dari intervensi adalah
mengatasi masalah gizi yang teridentifikasi melalui perencanaan dan penerapannya terkait
perilaku, kondisi lingkungan atau status kesehatan individu, kelompok atau masyarakat
untuk memenuhi kebutuhan gizi klien.
Intervensi gizi terdiri dari 2 (dua) komponen yang saling berkaitan yaitu perencanaan dan
implementasi.
a. Perencanaan
Langkah-langkah perencanaan sebagai berikut :
- Tetapkan prioritas diagnosis gizi berdasarkan dengan kegawatan masalah,
keamanan dan kebutuhan pasien. Intervensi diarahkan untuk menghilangkan
penyebab (etiologi dari problem), bila etiologi tidak dapat ditangani oleh ahli gizi
maka intervensi direncanakan untuk mengurangi tanda dari masalah
(sign/symptom)
- Pertimbangkan panduan Medical Nutrition Theraphy (MNT), penuntun diet,
konsensus dan regulasi yang berlaku
- Diskusikan rencana asuhan dengan pasien, keluarga, atau pengasuh pasien
- Tetapkan tujuan yang berfokus pada pasien
- Buat strategi intervensi, misalnya modifikasi makanan, edukasi/konseling
- Merancang preskripsi diet. Preskripsi diet dirancang berdasarkan pengkajian gizi,
komponen diagnosis gizi, rujukan rekomendasi, kebijakan dan prosedur serta
kesukaan dan nilai-nilai yang dianut oleh pasien/klien.
- Tetapkan waktu dan frekuensi intervensi
- Identifikasi sumber-sumber yang dibutuhkan
Dalam perencanaan intervensi gizi harus mempertimbangkan beberapa hal, yaitu :
- Perhitungan kebutuhan gizi, penentuan kebutuhan gizi yang diberikan kepada
pasien atas dasar diagnosis gizi, kondisi pasien dan jenis penyakitnya
- Jenis Diet, pada umumnya pasien masuk ke ruang rawat sudah dibuat permintaan
makanan berdasarkan pesanan/preskripsi diet awal dari dokter/dokter penanggung
jawab pasie (DPJP). Dietesien bersama tim atau secara mandiri akan menetapkan
13
jenis diet berdasarkan diagnosis gizi. Bila jenis diet yang ditentukan sesuai dengan
preskripsi diet maka diet tersebut diteruskan dengan dilengkapi dengan rancangan
diet. Bila diet tidak sesuai akan dilakukan usulan perubahan jenis diet dengan
mendiskusikannya lebih dahulu bersama DPJP
- Modifikasi Diet, merupakan pengubahan dari diet definitifke model diet yang lain.
Pengubahan dapat berupa perubahandalam konsistensi, meningkatkan/menurunkan
nilai energi, menambah/mengurangi jenis bahan makanan atau zat gizi yang
dikonsumsi, membatasi jenis atau kandungan makanan tertentu, menyesuaikan
komposisi zat gizi (protein, lemak, KH, cairan dan zat gizi lain), mengubah
jumlah, frekuensi makan dan rute makanan.
- Jadual Pemberian Diet, jadual dituliskan sesuai dengan pola makan, sebagai
contoh :
makan pagi : 500 kkal
selingan pagi : 200 kkal
makan siang : 600 kkal
selingan sore : 200 kkal
makan malam : 600 kkal
- Jalur Makanan, makanan yang diberikan dapat melalui oral, pipa/tube atau
parenteral

b. Implementasi
Langkah-langkah implementasi meliputi :
- Komunikasi rencana intervensi dengan pasien, tenaga kesehatan atau tenaga lain.
Suatu intervensi gizi harus menggambarkan dengan jelas “apa”, “dimana”,
“kapan” dan “bagaimana” intervensi itu dilakukan
- Melaksanakan rencana intervensi

Kategori Intervensi Gizi


Intervensi gizi dikelompokkan dalam 4 (empat) kategori sebagai berikut :
1) Pemberian makanan/diet (kode internasional – ND – Nutrition Delivery).
Penyediaan makanan atau zat gizi sesuai kebutuhan melalui pendekatan individu
meliputi :
- ND.1. Pemberian makanan dan snack
- ND.2. Enteral dan parenteral
- ND.3. Suplemen
- ND.4. Substansi bioaktif
- ND.5. Bantuan saat makan
- ND.6. Suasana makan
- ND.7. Pengobatan terkait gizi
2) Edukasi (kode internasional – E – Edukasi)
Merupakan proses formal dalam melatih ketrampilan atau membagi pengetahuan yang
membantu pasien/klien mengelola atau memodifikasi diet dan perubahan perilaku secara
sukarela untuk menjaga atau meningkatkan kesehatan. Edukasi gizi meliputi :
a. E.1. Edukasi gizi tentang konten/materi yang bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan
b. E.2. Edukasi gizi penerapan yang bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan
14
Pedoman dasar pada edukasi gizi, mencakup :
a. Sampaikan secara jelas tujuan dari edukasi
b. Tetapkan prioritas masalah gizi sehingga edukasi yang disampaikan tidak komplek
c. Rancang materi edukasi gizi menyesuaikan dengan kebutuhan individu pasien,
melalui pemahaman tingkat pengetahuannya, ketrampilannya, gaya/cara
belajarnya.
3) Konseling (C)
4) Koordinasi asuhan gizi

b. Langkah 4. Monitoring dan Evaluasi


Menentukan derajat perkembangan yang dicapai dibandingkan dengan tujuan atau hasil
yang diinginkan.
3 Komponen :
1) Monitor Perkembangan
Kegiatan mengamati perkembangan kondisi pasien yang bertujuan untuk melihat
hasil yang terjadi sesuai yang diharapkan, misalnya mengecek pemahaman dan
ketaatan pasien; mengecek asupan makanan pasien; menentukan apakah intervensi
dilaksanakan sesuai dengan rencana/preskripsi diet; menentukan apakah status gizi
pasien tetap atau berubah; mengidentifikasi hasil lain baik yang positif maaupun
negatif; mengumpulkan informasi yang menunjukkan alasan tidak adanya
perkembangan dari kondisi pasien.
2) Mengukur Perubahan (Hasil)
Kegiatan yaitu mengukur perkembangan/perubahan yang terjadi sebagai respon
terhadap intervensi gizi. Parameter yang harus diukur berdasarkan tanda dan gejala
dari diagnosis gizi
3) Melakukan Evaluasi Hasil
Berdasarkan ketiga tahapan di atas akan didapatkan 4 jenis hasil, yaitu:
- Dampak perilaku dan lingkungan terkait gizi yaitu tingkat pemahaman, perilaku,
akses dan kemampuan yang mungkin mempunyai pengaruh pada asupan
makanan dan zat gizi
- Dampak asupan makanan dan zat gizi merupakan asupan makanan dan atau zat
gizi dari berbagai sumber, misalnya makanan, minuman, suplemen, dan melalui
rute oral, pipa/tube maupun parenteral
- Dampak terhadap tanda dan gejala fisik yang terkait gizi yaitu pengukuran yang
terkait dengan antropometri, biokimia dan parameter pemeriksaan fisik/klinis
- Dampak terhadap pasien terhadap intervensi gizi yang diberikan pada kualitas
hidupnya.

15

Anda mungkin juga menyukai