Proses Asuhan Gizi Terstandar
Proses Asuhan Gizi Terstandar
2. Tujuan Pembelajaran
Mata kuliah ini diberikan dengan tujuan pada akhir pembelajaran mahasiswa mampu
memahami konsep asuhan gizi terstandar dan pelayanan gizi individual
3. Kompetensi Dasar
Mampu memahami konsep asuhan gizi terstandar dan pelayanan gizi individual
1
KONSEP ASUHAN GIZI TERSTANDAR DAN PELAYANAN GIZI INDIVIDUAL
A. Pendahuluan
Gizi merupakan faktor penting karena secara langsung berpengaruh terhadap kualitas
sumber daya manusia, oleh karena itu perlu pelayanan gizi yang berkualitas pada individu
masyarakat. Pelayanan gizi merupakan salah satu sub-sistem dalam pelayanan kesehatan
paripurna, yang berfokus pada keamanan pasien. Pelayanan gizi rumah sakit wajib mengacu
padaa standar yang berlaku, mengingat masih dijumpai kejadian malnutrisi di rumah sakit dan
fasilitas kesehatan lainnya.
Sejak tahun 2003 American Dietetic Association (ADA) menyusun Standarized Nutrition
Care Process (NCP). Kemudian pada tahun 2006, Asosiasi Dietesien Indonesia (AsDI) mulai
mengadopsi NCP-ADA menjadi Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT). Proses terstandar ini
adalah suatu metoda pemecahan masalah yang sistematis dalam menangani problema gizi,
sehingga dapat memberikan asuhan gizi yang aman, efektif dan berkualitas tinggi. Terstandar
yang dimaksud adalah memberikan asuhan gizi dengan proses terstandar, yaitu menggunakan
struktur dan kerangka kerja yang konsisten sehingga setiap pasien yang bermasalah gizi akan
mendapatkan 4 (empat) langkah proses asuhan gizi yaitu asessmen, diagnosis, intervensi serta
monitoring dan evaluasi.
Batasan Operasional :
1. Asuhan gizi adalah serangkaian kegiatan yang terorganisir/terstruktur yang memungkinkan
untuk identifikasi kebutuhan gizi dan penyediaan asuhan untuk memenuhi kebutuhan
tersebut.
2. Berpikir kritis adalah kemampuan menganalisis masalah gizi, merumuskan dan
mengevaluasi pemecahan masalah dengan mendengarkan dan mengamati fakta serta opini
secara terintegrasi. Karakteristik dan cara berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir
konseptual, rasional, kreatif, mandiri dan memiliki keinginan untuk tahu lebih dalam.
3. Dietetik adalah integrasi, aplikasi dan komunikasi dari prinsi-prinsip keilmuan makanan,
gizi, sosial dan keilmuan dasar untuk mencapai dan mempertahankan status gizi yang
optimal secara individual melalui pengembangan, penyediaan dan pengelolaan pelayanan
gizi dan makanan di berbagai area/lingkungan/latar belakang praktek pelayanan.
4. Konseling gizi adalah serangkaian kegiatan sebagai proses komunikasi dua arah yang
dilaksanakan oleh tenaga gizi untuk menanamkan dan meningkatkan pengertian, sikap dan
perilaku pasien dalam mengenaali dan mengatasi masalah gizi sehingga pasien dapat
memutuskan apa yang akan dilakukannya
5. Kolaborasi yaitu proses dimana individu, kelompok dengan kepentingan yang sama
bergabung untuk menangani masalah yang teridentifikasi. Pada pelaksanaan PAGT dietesien
mengkomunikasikan rencana, proses, dan hasil monitoring evaluasi kegiatan asuhan gizi
kepada pasien dan petugas kesehatan lain yang menangani masalah gizi tersebut.
6. Preskripsi diet adalah rekomendasi kebutuhan zat gizi pasien secara individual mulai dari
menetapkan kebutuhan energi, komposisi zat gizi yang mencakup zat gizi makro dan mikro,
jenis diet, bentuk makanan, frekuensi makan dan rute pemberian makanan. Preskripsi diet
dirancang berdasarkan pengkajian gizi, komponen diagnosis gizi, rujukan, rekomendasi,
kebijakan dan prosedur serta kesukaan dan nilai-nilai yang dianut oleh pasien/klien.
7. Proses asuhan gizi terstandar adalah pendekatan sistematik dalam memberikan pelayanan
asuhan gizi yang berkualitas yang dilakukan tenaga gizi, melalui serangkaian aktivitas yang
2
terorganisir yang meliputi identifikasi kebutuhan gizi sampai pemberian pelayanannya untuk
memenuhi kebutuhan gizi.
8. Tenaga gizi adalah setiap orang yang telah lulus pendidikan di bidang gizi sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan Tenaga Gizi meliputi Technical Registered Dietesien (TRD),
Nutrisionis Registered (NR) dan Registered Dietesien (RD)
MA L N UT R IS I B E R D A MP A K P A D A :
la ma pera wata n
komplika s i penya kit
bia ya peng oba ta n
terja dinya kema tia n
S E MUA P A S IE N P E R L U D IID E NT IF IK A S I:
MA L N UT R IS I A T A U B E R IS IK O MA L NU T R IS I
B E R I D UK U NG A N G IZ I K H US US
P E N T IN G S U A T U P E L A Y A N A N G IZ I Y A N G
T E R E N C A N A D E N G A N B A IK D I R U MA H S A K IT
3
P R O S E S A S U H A N G IZ I D I R UMA H S A K IT
(A S P E N)
A D MIS S IO N E V A L U A T IO N O F D IS C H A R G E
C A R E S E T T IN G P L A N N IN G
P A T IE N T A C U T E IN P A T IE N T MO NIT O R ING G oa ls
S C R E E N ING Not at ris k C A R E R E Q U IR E ME N T A c hiev ed
T E R MIN A T IO N
A t ris k O F T HE R AP Y
C ha ng e
in S tatus
P A T IE N T NUT R IT IO N IMP L E ME NT A T IO N R E A S S E S S ME NT
A S S E S S ME N T C AR E P L AN A N D UP D A T ING P L A N
A S P E N, 2002
P R IMA R Y P H Y S IC IA N N U T R IT IO N S U P P O R T T E A M:
N u tritio n S u p p o rt P h y s ic ia n
N u tritio o n S u p p o rt D ie tic ia n
Me d ic al N u tritio n S u p p o rt N u rs e
C are P ro c e s s N u tritio n S u p p o rt P h a rm a c y
N u tritio n C are P ro c e s s
P A T IE N T
N u rs in g
C are P ro c e s s
NUR S E
T h e id ea l w a y to o ffer N u tritio n a l T h era p y
is b y a N u tritio n a l S u p p o rt T ea m (N S T )
4
PAGT harus dilaksanakan secara berurutan dimulai dari langkah Asesmen, Diagnosis,
Intervensi, dan Monitoring dan Evaluasi (ADIME). Langkah-langkah tersebut saling berkaitan
satu sama lainnya dan merupakan siklus yang berulang terus sesuai respon/perkembangan pasien.
Apabila tujuan tercapai maka proses ini dihentikan, namun bila tujuan tidak tercapai atau tujuan
awal tercapai tetapi terdapat masalah gizi baru maka proses berulang kembali mulai dari asesmen
gizi.
Langkah-Langkah dalam PAGT
Langkah 3. Langkah 4.
Intervensi Gizi Monitoring dan
Evaluasi
Re-asesmen
6
e. Perilaku yaitu menggali mengenai aktivitas dan tindakan pasien yang berpengaruh
terhadap pencapaian sasaran-sasaran yang berkaitan dengan gizi, sehingga
tergambar mengenai :
- Kepatuhan
- Perilaku melawan
- Perilaku makan berlebihan yang kemudian dikeluarkan lagi (bingeing ang
purging behavior).
- Perilaku waktu makan
- Jaringan sosial yang dapat mendukung perubahan perilaku
f. Faktor yang mempengaruhi akses ke makanan yaitu mengenai faktor yang
mempengaruhi ketersediaan makanan dalam jumlah yang memadai, aman dan
berkualitas
g. Aktivitas dan fungsi fisik yaitu menggali mengenai aktifitas fisik, kemampuan
kognitif dan fisik dalam melaksanakan tugas spesifik seperti menyusui atau
kemampuan makan sendiri sehingga tergambar mengenai :
- Kemampuan menyusui
- Kemampuan kognitif dan fisik dalam melakukan aktivitas makan bagi orang tua
atau orang cacat
- Level aktivitas fisik yang dilakukan
- Faktor yang mempengaruhi akses ke kegiatan aktivitas fisik
2) Antropometri (AD)
Pengukuran tinggi badan, berat badan, perubahan berat badan, indeks massa tubuh,
pertumbuhan dan komposisi tubuh
3) Laboratorium (BD)
Keseimbangan asam basa, profil elektrolit dan ginjal, profil asam lemak esensial, profil
gastrointestinal, profil glukosa/endokrin, profil inflamasi, profil laju metabolik, profil
mineral, profil anemia gizi, profil protein, profil urine, dan profil vitamin.
4) Pemeriksaan Fisik terkait Gizi (PD)
Evaluasi sistem tubuh, wasting otot dan lemak subkutan, kesehatan mulut, kemampuan
menghisap, menelan dan bernafas serta nafsu makan.
5) Riwayat Clien (RC)
Informasi saat ini dan masa lalu mengenai riwayat personal, medis, keluarga dan sosial.
Data riwayat klien tidak dapat dijadikan tanda dan gejala (signs/symptom) problem gizi
dalam pernyataan PES, karena merupakan kondisi yang tisak berubah dengan adanya
intervensi gizi.
Riwayat klien mencakup :
- Riwayat personal yaitu menggali informasi umum seperti usia, jenis kelamin, etnis,
pekerjaan, merokok, cacat fisik.
- Riwayat medis/kesehatan pasien yaitu menggali penyakit atau kondisi pada klien
atau keluarga dan terapi medis atau terapi pembedahan yang berdampak pada status
gizi.
- Riwayat sosial yaitu menggali mengenai faktor sosioekonomi klien, situasi tempat
tinggal, kejadian bencana yang dialami, dukungan kesehatan, dan lain-lain.
7
2. Langkah 2. Nutrition Diagnosis (Diagnosa Gizi)
Diagnosis gizi sangat spesifik dan berbeda dengan diagnosis medis. Diagnosis gizi
bersifat sementara sesuai dengan respon pasien. Diagnosis gizi adalah masalah gizi
spesifik yang menjadi tanggung jawab dietesien untuk menanganinya.
Untuk menentukan diagnosa gizi harus diketahui masalah gizi, yaitu :
a. Kaji data data hasil pengkajian gizi
• Parameter yang paling penting terkait masalah gizi ?
• Adakah data-data terkait gizi yang abnormal?
• Apa yang dapat diintervensi oleh dietisien ?
b. Tentukan domain dan problem intuisi anda, dan pilih kemungkinan label/istilah
diagnosa gizi dari ADA’s IDNT Reference Manual – Standarized Language for the
Nutrition Care Process
c. Kaji definisi masing masing istilah, bandingkan etiologi, signs dan symptoms pada
daftar tersebut
d. Pilih nama problem/diagnosis gizi yang paling tepat
8
fakta fakta dari masalah gizi. Pernyataan PES menghubungkan pengkajian gizi dengan
masalah gizi aktualnya (diagnosa gizi)
KOMPONEN PES
P) PROBLEM/ label gizi ( WHAT ?)
Diagnosa gizi – masalah gizi yang ada
Menggambarkan perubahan/ gangguan status gizi pasien/ klien.
Evaluasi PES
Apakah assessment cukup menunjang penetapan problem?
- Dapatkan anda (dietisien) mengatasi atau memperbaiki masalah gizi tsb
- Apakah etiologi benar benar merupakan akar masalah ?
- Apakah S/S nya spesifik dan dapat diukur ?
- Dapatkah anda evaluasi perubahannya pada kunjungan berikutnya?
9
Diagnosis gizi dikelompokkan dalam 3 (tiga) domain, yaitu :
1) Domain asupan
2) Domain klinis
3) Domain perilaku-lingkungan
Setiap domain menggambarkan karakteristik tersendiri dalam memberikan kontribusi
terhadap gangguan kondisi gizi.
1) Domain asupan (NI)
Berbagai problem aktual yang berkaitan dengan energi, zat gizi, cairan, atau zat bioaktif,
melalui diet oral atau dukungan gizi (enteral dan parenteral). Masalah yang terjadi dapat
10
karena kekurangan (inadequate), kelebihan (excessive) atau tidak sesuai (inappropriate).
Termasuk ke dalam kelompok domain asupan adalah :
a. NI.1. Keseimbangan energi
Perubahan aktual atau perkiraan perubahan menyangkut keseimbangan energy
(kkal)
NI.1.1. Peningkatan energy expenditure
NI.1.2. Asupan energy tidak adequate
NI.1.3. Kelebihan asupan energy
NI.1.4. Perkiraan asupan energy sub optimal
NI.1.5. Perkiraan kelebihan asupan energy
b. NI.2. Asupan diet oral atau dukungan gizi
Asupan makanan dan minuman yang aktual atau perkiraannya melalui diet oral atau
dukungan gizi dibandingkan dengan tujuan pasien
NI.2.1. Asupan oral tidak adequate
NI.2.2. Kelebihan asupan oral
NI.2.3. Enteral nutrisi tidak adequate
NI.2.4. Kelebihan infuse enteral nutrisi
NI.2.5. Komposisi atau modalitas makanan enteral nutrisi kurang optimal
NI.2.6. Parenteral nutrisi tidak adequate
NI.2.7. Kelebihan infuse parenteral nutrisi
NI.2.8. Komposisi atau modalitas nutrisi parenteral kurang optimal
NI.2.9. Daya terima makanan terbatas
c. NI.3. Asupan cairan
Asupan cairan yang aktual atau estimasi dibandingkan dengan tujuan pasien
NI.3.1. Asupan cairan tidak adequate
NI.3.2. Kelebihan asupan cairan
d. NI.4. Asupan zat bioaktif
Asupan substansi bioaktif yang aktul atau yang diamati meliputi komponen,
komposisi, makanan fungsional tunggal atau suplemen makanan, alkohol
NI.4.1. Asupan substansi bioaktif tidak adequate
NI.4.2. Kelebihan asupan substansi bioaktif
NI.4.3. Kelebihan asupan alkohol
e. NI.5. Asupan zat gizi, yang mencakup problem mengenai
Asupan aktual atau perkiraan kelompok zat gizi tertentu atau zat gizi tunggal
dibandingkan dengan yang dianjurkan
NI.5.1. Peningkatan kebutuhan zat gizi (sebutkan_____)
NI.5.2. Malnutrisi
NI.5.3. Asupan protein energy tidak adequate
NI.5.4. Penurunan kebutuhan zat gizi (sebutkan______)
NI.5.5. Ketidakseimbangan zat gizi
NI.5.6. Lemak dan kolesterol
NI.5.7. Protein
NI.5.8. Karbohidrat dan serat
NI.5.9. Vitamin
[Link]
[Link] nutrient
11
2) Domain Klinis (NC)
Berbagai problem gizi yang terkait dengan kondisi medis atau fisik. Termasuk ke dalam
kelompok domain klinis adalah :
a. NC.1. Fungsional
Problem fungsional, perubahan dalam fungsi fisik atau mekanik yang
mempengaruhi atau mencegah pencapaian gizi yang diinginkan.
NC.1.1. Kesulitan menelan
NC.1.2. Kesulitan mengunyah/menggigit
NC.1.3. Kesulitan menyusui
NC.1.4. Perubahan fungsi gastrointestinal
b. NC.2. Biokimia
Problem biokimia, perubahan kemampuan metabolisme zat gizi akibat medikasi,
pembedahan, atau yang ditunjukkan oleh perubahan nilai laboratorium.
NC.2.1. Gangguan utilisasi zat gizi
NC.2.2. Perubahan nilai laboratorium terkait gizi (sebutkan____)
NC.2.3. Interaksi makanan dan obat (sebutkan______)
NC.2.4. Prediksi interaksi makanan dan obat (sebutkan______)
c. NC.3. Berat badan
Perubahan berat badan, masalah berat badan kronis atau perubahan berat badan bila
dibandingkan dengan berat badan biasanya.
NC.3.1. Berat badan kurang (underweight)
NC.3.2. Penurunan BB yang tidak diharapkan
NC.3.3. Kelebihan BB/Obesitas
NC.3.4. Kenaikan BB yang tidak diharapkan
NC.3.5. Percepatan petumbuhan sub optimal
NC.3.6. Percepatan pertumbuhan berlebih
b. Implementasi
Langkah-langkah implementasi meliputi :
- Komunikasi rencana intervensi dengan pasien, tenaga kesehatan atau tenaga lain.
Suatu intervensi gizi harus menggambarkan dengan jelas “apa”, “dimana”,
“kapan” dan “bagaimana” intervensi itu dilakukan
- Melaksanakan rencana intervensi
15