0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan27 halaman

Pengukuran Jarak dan Tinggi Praktikum

Laporan praktikum ini membahas pengukuran jarak dan tinggi secara manual tanpa menggunakan peralatan khusus. Mahasiswa melakukan taksiran jarak dengan menghitung langkah kaki, mengukur sudut terhadap objek, dan menaksir tinggi objek menggunakan peralatan sederhana. Tujuan praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat melakukan pengukuran jarak, sudut, dan tinggi secara manual di lapangan ketika tidak membawa per
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan27 halaman

Pengukuran Jarak dan Tinggi Praktikum

Laporan praktikum ini membahas pengukuran jarak dan tinggi secara manual tanpa menggunakan peralatan khusus. Mahasiswa melakukan taksiran jarak dengan menghitung langkah kaki, mengukur sudut terhadap objek, dan menaksir tinggi objek menggunakan peralatan sederhana. Tujuan praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat melakukan pengukuran jarak, sudut, dan tinggi secara manual di lapangan ketika tidak membawa per
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGUKURAN JARAK DAN TINGGI

(Laporan Praktikum Perpetaan)

Oleh
Fadsyah Muhammad Arbi
2215051063

JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2022
Judul Praktikum : Pengukuran Jarak dan Tinggi

Tanggal Praktikum : 30 September 2022

Tempat Praktikum : Ruang 3.3 Gedung Teknik Geofisika Universitas


Lampung

Nama : Fadsyah Muhammad Arbi

NPM : 2215051063

Fakultas : Teknik

Jurusan : Teknik Geofisika

Kelompok : III (Tiga)

Bandar Lampung, 6 Oktober 2022


Mengetahui,
Asisten

Muhammad Rizqi Halim

ii
NPM 1915051010

iii
Pengukuran Jarak dan Tinggi

Oleh
Fadsyah Muhammad Arbi

ABSTRAK

Praktikum perpetaan ini dilaksanakan pada tanggal 30 September 2022 di Gedung


Teknik Geofisika lantai tiga ruang 3.3 secara tatap muka dengan topik
pembahasan pengukuran jarak dan tinggi. Pengukuran jarak dan tinggi merupakan
kasus yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pada
umumnya kita jarang sekali membawa alat ukur, sehingga kita hanya bisa
memperkirakan jarak dan tinggi suatu objek dengan menggunakan benda-benda
yang kita miliki. Hal ini bertujuan agar kita dapat melakukan pengukuran secara
manual dengan melakukan taksiran jarak dengan hanya menggunakan langkah
kaki, dapat melakukan taksiran sudut terhadap suatu objek, serta dapat melakukan
penaksiran tinggi dari suatu benda dengan menggunakan peralatan seadanya. Pada
dasarnya kegiatan ini dilakukan dengan metode percobaan dan pengukuran
langsung terhadap suatu objek dengan menggunakan alat-alat yang sering kita
jumpai di lapangan di saat kita tidak membawa peralatan yang lengkap dan
memadai dalam melakukan kegiatan pengukuran. Praktikum mengenai taksiran
jarak, sudut dan tinggi ini merupakan salah satu ilmu yang sangat penting,
terutama bagi mahasiswa teknik geofisika yang sering melakukan eksplorasi
penelitian yang membutuhkan data dan informasi keadaan di lapangan.

iii
DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................ii
ABSTRAK.............................................................................................................iii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................v
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Tujuan Praktikum..................................................................................2

II. TEORI DASAR

III. METODOLOGI PRAKTIKUM


A. Alat dan Bahan......................................................................................4
B. Diagram Alir.........................................................................................5

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan..................................................................................6
B. Pembahasan...........................................................................................6

V. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iv
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Alat Tulis..............................................................................................5
Gambar 2. Kalkulator.............................................................................................5
Gambar 3. Modul Praktikum Batuan Sedimen......................................................5
Gambar 4. Diagram Alir.........................................................................................6

v
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengukuran jarak dan tinggi merupakan tugas pengukuran untuk


menentukan tinggi beberapa titik di Bumi terhadap permukaan laut rata-rata
dan juga jarak dari suatu titik terhadap titik lainnya. Pekerjaan ini juga dapat
diterapkan pada pekerjaan bangunan yang titik konstruksinya harus
ditentukan oleh ketinggian dan jarak. Alat ukur perbedaan ketinggian presisi
tinggi dan jarak diperlukan untuk mengukur pekerjaan dalam pekerjaan
konstruksi. Bukan hanya dapat digunakan pada pekerjaan konstruksi,
pengukuran ini juga digunakan pada geofisika eksplorasi dimana
pengukuran tinggi ini berguna sekali untuk menentukan berapa titik tinggi
dan jarak daripada tempat yang kami jelajahi seperti mengukur ketinggian
lereng dan juga mengukur jarak suatu bukit dari bagian bawah hingga
puncak sehingga kami dapat melakukan penaksiran dalam pengukuran
tinggi dan jarak tersebut.

Pada praktikum yang dilaksanakan kali ini, mahasiswa akan mempelajari


metode penaksiran terhadap suatu tinggi dengan jarak yang telah kami
tentukan sendiri. Dengan harapan, keilmuan yang kami dapat mengenai
penaksiran tinggi dapat kami terapkan baik secara teoris maupun teknis
pada saat terlaksanakannya kegiatan pemetaan di lapangan.

B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan praktikum perpetaan mengenai pengukuran sudut dan tinggi


yaitu sebagai berikut.
1. Mahasiswa dapat melakukan pengukuran secara manual.
2. Dapat melakukan taksiran jarak menggunakan langkah kaki.
3. Dapat melakukan taksiran sudut.
4. Dapat melakukan taksiran tinggu suatu benda.
II. TEORI DASAR

Jarak adalah panjang lintasan yang ditempuh oleh suatu benda dalam selang
waktu tertentu. Jarak juga dapat diartikan besar perpindahan dari posisi awal ke
posisi akhir atau lintasan terpendek antara dua titik (Iman, 2022). Jarak juga bisa
diartikan sebagai ruang yang menghubungkan antara dua lokasi atau dua objek
dan dihitung melalui hitungan Panjang ataupun waktu. Jarak merupakan faktor
pembatas yang bersifat alami. Konsep jarak dibagi menjadi dua, yaitu jarak
mutlak dan jarak relatif. Jarak mutlak adakah jarak sesungguhnya yang ditarik
secara garis lurus antara dua titik, sedangkan jarak relatif adalah jarak atas
pertimbangan tertentu (Atmoko & Rudarti, 2020). Jarak antara dua buah titik di
muka bumi adalah jarak terpendek antara kedua titik tersebut tergantung jarak
tersebut terletak pada bidang datar, bidang miring atau bidang tegak. Pada bidang
datar disebut jarak datar, pada bidang miring disebut jarak miring, dan pada
bidang tegak disebut jarak tegak/tinggi (Stefano, 2019).

Jarak dibagi menjadi tiga bagian, yaitu jarak miring (slope distance), jarak datar
(horizontal distance), dan jarak vertikal (vertical distance). Jarak miring adalah
jarak yang diukur sepanjang garis penghubung lurus antara dua titik di permukaan
bumi. Jarak horizontal adalah jarak terukur sebagai penghubung terpendek antara
dua titik yang posisinya telah diproyeksikan pada bidang datar, atau dapat
dikatakan jarak yang diukur pada peta. Sedangkan jarak vertical adalah jarak yang
dihitung dari selisih Panjang dua garis proyeksi yang melalui kedua titik di
permukaan bumi, atau dapat dikatakan sebagai jarak terpendek antara dua bidang
datar yang melalui kedua titik tersebut (Sasongko, 2018).

Pengukuran adalah penentuan jarak antara dua titik di permukaan


[Link] jarak dibedakan menjadi 2 macam, yaitu pengukuran jarak tidak
langsung dan pengukuran jarak langsung. Pengukuran jarak tidak langsung adalah
pengukuran dengan kira-kira yang biasanya menggunakan skala pada peta.
Sedangkan pengukuran langsung adalah pengukuran dengan menggunakan
instrument atau alat ukur jarak langsung (Maiyudi, 2021).
Data jarak meliputi jarak dalam arti posisi horizontal dan vertical. Posisi
horizontal meliputi: d, D (distance), L (acumulatif distance). Sedangkan jarak
dalam posisi vertical meliputi h, H, t, T = tinggi atau beda tinggi (height). Satuan
Panjang yang lazim digunakan dalam pengukuran adalah satuan metrics dan
satuan britis. Satuan metriks yang digunakan adalah satuan yang didasarkan pada
satuan meter internasional (meter standar) (Syaripudin, 2019)

Pengukuran beda tinggi antara dua titik di lapangan dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu cara langsung dengan menggunakan alat ukur yang dipasang mendatar,
serta cara tidak langsung dengan mengukur panjang miringnya sudut yang
terbentuk terhadap lereng (Basuki, 2020). Beda tinggi antara titik-titik di
permukaan bumi dapat ditentukan dengan dua metode, yaitu metode sipat datar
(levelling) dan metode trigonometris (trigonometric levelling). Metode sipat datar
(levelling) adalah suatu teknik pengukuran beda tingi antara titik-titik di
permukaan bumi dengan menggunakan alat penyipat datar (waterpas optic) dalam
rangka menentukan ketinggian relative dari titik-titik tersebut terhadap suatu
bidang refrensi atau acuan tertentu. Metode selanjutnya adalah metode
trigonometris, untuk menentukan beda tinggi dengan menggunakan metode
trigonometris diperlukan data sudut vertical dan jarak mendatar. Metode
trigonometris menggunakan alat ukur yang disebut sebagai Theodolite. Theodolite
merupakan alat ukur sudut dan pengukur jarak. Pengukuran beda tinggi dengan
menggunakan metode trigonometris disebut sebagai pengukuran tak langsung
(Sasongko, 2018).
III. METODELOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:

Gambar 1. Alat Tulis

Gambar 2. Kalkulator

Gambar 3. Modul Praktikum


5

B. Diagram Alir
Adapun langkah-langkah praktikum ini dapat dirincikan dalam diagram alir
berikut.

Mulai

Menyiapkan Alat dan Bahan

Melakukan Studi Literatur

Melakukan Pengukuran Terhadap Tongkat,


Langkah Kaki, dan Tinggi Badan Pengukur

Melakukan Pengukuran Jarak, Sudut dan Tinggi


Suatu Objek

Menghitung Taksiran Jarak, Taksiran Sudut, dan


Taksiran Tinggi

Hasil dari Praktikum

Selesai

Gambar 4. Diagram Alir


IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan praktikum kali ini terlampir pada lembar lampiran.

B. Pembahasan

Praktikum ini dilaksanakan pada Jumat, 30 September 2022 di lantai 3, di


ruang 3.3 Gedung Teknik Geofisika, dengan topik pembahasan mengenai
pengukuran jarak dan tinggi. Jalannya praktikum dimulai dengan pelaksanaan
pretest yang diawasi oleh asisten dosen, yang mana pretest dilakukan untuk
mengukur seberapa besar pemahaman praktikan dalam memahami materi
praktikum. Setelah melaksanakan pretest praktikum, mahasiswa dipersilahkan
untuk istirahat sejenak sembari menunggu hasil pretest. Setelah dilakukannya
preteset, dilanjutkan dengan pemaparan materi yang di sampaikan oleh
asisten Restu Ningsih (1915051001). Dijelaskan mengenai pengukuran jarak
dan tinggi, perkiraan jarak atau tinggi, dan peralatan penunjang yang bisa
digunakan saat melakukan pengukuran saat tidak membawa alat pengukur.
Langkah-langkah yang dilakukan pada praktikum ini meliputi taksiran jarak,
taksiran sudut dan taksiran tinggi dengan menghitung sudut “a” serta taksiran
jarak menggunakan rumus tangensial. Selanjutnya dibuka sesi tanya jawab
mengenai materi yang telah di sampaikan.

Jarak merupakan pengukuran dari satu tempat ketempat lainnya, dihitung


secara horizontal. Jarak adalah angka yang menunjukan seberapa jauh benda
tersebut berpindah tempat melalui lintasan tertentu. Dalam fisika jarak dapat
diartikan sebagai panjang lintasan yang di tempuh suatu objek dengan
melakukan usaha, di mulai dari posisi awal ke posisi akhir. Jarak berbeda
dengan perpindahan. Jarak memiliki nilai, sehingga ilmu fisika jarak termasuk
kedalam besaran skalar. Tinggi adalah pengukuran secara vertikal suatu objek.
Pengukuran jarak ditujukan untuk membandingkan dan mengetahui
kekurangan dari setiap pengukuran secara langsung dan secara tidak langsung.
Pengukuran jarak
langsung yaitu pengukuran yang langsung mendapatkan nilai pengukur
dengan cara mengukur garis yang menghubungkan antara dua titik, seperti
menggunakan meteran. Pengukuran jarak tak langsung yaitu pengukuran yang
tidak langsung mendapatkan hasil sebelum melalui proses perhitungan. Sudut
merupakan suatu daerah yang terbentuk dari pertemuan antara dua garis pada
satu titik tertentu. Konsep dasar pengukuran sudut yaitu dengan membagi satu
lingkaran penuh dengan satuan tertentu. Terdapat tiga pengukuran yang masih
digunakan sampai saat ini seperti derajat, gradian, dan grad tetapi yang umum
digunakan yaitu derajat dan gradian. Pengukuran tinggi, tinggi adalah
pengukuran objek secara vertikal. Tinggi suatu objek di permukaan bumi
adalah tinggi yang diukur dari suatu bidang referensi, yang ketinggiannya
dianggap nol. Dalam kehidupan sehari-hari alat ukur jarang dibawa, sehingga
untuk mengukur suatu objek biasanya hanya dengan memperkirakan jarak
atau tinggi objek tersebut. Perkiraan jarak atau tinggi dapat dilakukan dengan
memanfaatkan benda-benda di sekitar kita atau benda-benda yang kita miliki
apabila kita tahu besaran yang kita miliki tersebut. Peralatan yang dapat
digunakan untuk pengganti alat ukur yaitu lengan (berapa panjang lengan
kita), jari-jari (berapa panjang satu jengkal jari-jari), dan Langkah kaki (berapa
jarak langkah kaki kita). Untuk mengetahui besaran-besaran tersebut, maka
perlu mengukur berapa panjang sebenarnya bagain tubuh kita sehingga dapat
digunakan untuk memperkirakan jarak ataupun tinggi. Fungsi pengukuran
jarak dan tinggi di bidang geofisika salah satunya adalah digunakan dalam
metode gaya berat (gravitasi) karena dasar teori yang di gunakan yaitu Hukum
Newton mengenai gravitasi bumi.

Praktikum mengenai taksiran jarak, sudut dan tinggi ini merupakan salah satu
hal yang sangat penting, terutama bagi mahasiswa teknik geofisika yang
sering melakukan eksplorasi penelitian yang membutuhkan data dan informasi
keadaan di lapangan, yang mana untuk mendapatkan data dan informasi
lapangan diperlukan peralatan yang menunjang pengamatan. Adapun alat-alat
geofisika yang digunakan dalam melakukan pengukuran jarak dan tinggi yaitu
GPS (Global Positioning System,) merupakan suatu sistem yang terdiri atas
konstelasi satelit radio navigasi dan juga segmen kontrol tanah yang berfungsi
mengelola operasi satelit dan pengguna dengan penerima khusus,
menggunakan data satelit untuk memenuhi persyaratan dari posisi. Hasil yang
diberikan gambar permukaan bumi dalam bentuk 3 dimensi (3D). Fungsi GPS
tidak hanya untuk kepentingan militer, survey pemetaan ataupun geodesi saja,
tetapi juga untuk penelitian geofisika (geodinamika, studi atmosfer,
meteorologi dan lain sebagainya). Dibalik kelebihan yang dimiliki oleh GPS,
alat ini juga memiliki kelemahan yaitu tidak dapat digunakan pada tempat
yang tidak mampu menerima sinyal GPS oleh antena alat penerima yang
berada di dalam ruang, bawah terowongan atau di bawah air. Cara penggunaan
GPS, pertama nyalakan perangkat GPS tunggu hingga sinyal terhubung. Atur
untuk menambahkan halaman hingga muncul halaman Area Calculation
kemudian tekan tombol start lalu enter. Jika tombol start berubah menjadi
tombol stop, berarti GPS sudah dapat digunakan. Total Station, merupakan
alat ukur elektronik yang berasal dari pengembangan theodolit. Namun alat ini
dilengkapi oleh pengukuran jarak dan sudut secara elektronik dengan bantuan
dari reflektor sebagai target dan pengganti rambu ukur. Untuk mempermudah
penggunaan, total station perlu dihubungankan dengan komputer. Fungsi total
station yaitu dapat digunakan untuk menghitung jarak, arah, titik koordinat
dan juga beda tinggi secara elektronis. Untuk menggunakan total station
pastikan posisi tripod sudah stabil dan kuat untuk menopang total station dan
terletak di titik koordinat yang telah ditentukan. Atur nivo di kedua sumbu
agar tepat pada posisi di tengah lingkaran dan sejajar dengan posisi kita saat
berdiri. Jika sudah sesuai dan semua berada pada posisi yang tepat
(gelembung nivo berada di tengah), total station siap digunakan. Theodolit,
fungsi dari theodolit yaitu untuk pengukuran polygon, pemetaan situasi dan
juga pengamatan matahari. Tidak hanya itu, theodolit juga bisa berfungsi
seperti PPD jika sudut vertikalnya diubah menjadi 90 o. Teropong yang ada di
theodolit, membuatnya dapat membidik ke segala arah. Pada konstruksi
bangunan, theodolit dapat berfungsi untuk menentukan sudut siku-siku pada
pondasi dan juga mengukur ketinggian bangunan bertingkat. Untuk
menggunakan theodolit pastikan posisikan tripod atau penyangga panjang
pada tempat yang datar dan atur ketinggiannya sekitar tinggi dada.
Kencangkan sekrup pengunci pada kaki penyangga panjang. Usahakan plat
tribar (untuk meletakan theodolit) dalam keadaan datar. Letakan theodolit
kemudian kencangkan sekrup pengunci. Atur nivo sampai sumbu I berada
pada posisi vertikal dan atur juga nivo pada tabung agar sumbu II berada pada
posisi mendatar, atur theodolit pada hingga berada pada posisi tengah titik ikat
(BM). Waterpass, termasuk ke dalam alat ukur optik yang berfungsi untuk
mengukur beda tinggi dari satu titik atau lebih, penggunaan waterpas saat ini
sangat luas. Terdapat beberapa syarat dalam menggunakan waterpas, yaitu
syarat dinamis (sumbu 1 vertikal) dan syarat statis (garis yang mendatar pada
bagian diafragma sejajar sumbu 1, garis nivo tegak lurus sumbu 1, garis bidik
pada teropong sejajar dengan garis arah nivo). Cara menggunakan waterpas ini
sebaiknya menggunakan tripod atau kaki tiga sebagai penyangga dan
posisikan pada titik koordinat yang sudah ditentukan. Pastikan tripod dalam
posisi stabil dan kuat serta plat tempat dudukan waterpas tidak dalam keadaan
miring. Letakan waterpas di atas plat tersebut, usahakan waterpas untuk tidak
bergerak atau dalam keadaan stabil. Atur sumbu I vertikal dan sumbu II
horisontal dengan menggunakan sekrup penyeimbang nivo. Tepatkan
gelembung nivo berada di tengah lingkaran. Kompas, komponen utama yang
ada di alat ukur ini yaitu jarum dan lingkaran berskala, dimana salah satu
ujung jarum tersebut dibuat dari magnet atau besi berani, bagian tengah jarum
dipasang sebuah sumbu sehingga jarum dapat bergerak bebas ke arah
horisontal sesuai dengan arah medan magnet bumi yaitu utara dan selatan.
Ada baiknya menggunakan kompas yang memiliki cairan nivo yang berfungsi
menstabilkan gerakan jarum dan juga alat pembidik atau visir. Fungsi dari
kompas yaitu menentukan arah dari mata angin dan penunjuk arah terutama
utara dan selatan. Selain itu, kompas bisa juga sebagai penentu arah dari suatu
titik ke titik lain yang ditunjukan pada besaran azimut (besarnya sudut yang
dimulai dari arah utara ke selatan), membuat siku – siku dan mengukur sudut
horisontal. Cara penggunaan kompas yaitu pegang dan atur agar kompas
dalam keadaan mendatar sehingga jarum dapat bergerak dengan bebas. Jika
kompas memiliki cairan nivo, usahakan agar gelembung tepat berada di
tengah. Meteran atau pipa ukur, biasanya berbentuk seperti pita yang memiliki
panjang tertentu. Meteran juga bisa disebut dengan rol meter, karena saat
disimpan atau dalam keadaan tidak digunakan, meteran akan digulung atau
dirol. Fungsi dari meteran yaitu untuk mengukur panjang dan jarak. Biasanya
satuan yang digunakan terdapat 2 ukuran yaitu ukuran satuan metrik (mm, cm,
m) dan satuan inggris (inch, feet, yard). Pembacaan angka 0 ada yang dibaca
tepat diujung meteran adapula yang dinyatakan pada jarak tertentu di ujung
meteran. Cara menggunakan meteran cukup dengan merentangkan meteran
dari suatu titik ke titik lainnya pada suatu objek bidang yang akan diukur.
Untuk mendapatkan hasil yang valid, ada baiknya dilakukan oleh dua orang
dimana salah satu berada pada titik awal atau angka 0 dan yang lain bergerak
menuju titik akhir perhitungan sekaligus membaca angka pada meteran pada
titik tersebut.

Resume jurnal 1 “Rancang Bangun Klinometer Sebagai Pendukung


Praktikum Fisika Kelautan dan Geofisika” oleh Haidul 2021.
Klinometer merupakan alat untuk mengukur sudut elevasi yang dibentuk
antara garis datar dengan sebuah garis yang menghubungkan sebuah titik pada
garis datar tersebut dengan titik puncak suatu objek (Syahrudi, 2019). Dalam
bidang geofisika, geologi, kelautan, klinometer sangat di butuhkan dalam
menentukan elevasi maupun kemiringan suatu wilayah (Sari, dkk, 2020). Sari
DR, 2018 melakukan analisis waktu kerja pengukuran tinggi pohon
menggunakan klinometer dan hagamer. Penelitiannya menghasilkan sebuah
kesimpulan bahwa klinometer memiliki kelebihan lebih cepat dalam
mengukur ketinggian pohon dibandingkan menggunakan hagamer. Dalam
pembelajaran trigonometri, Sultoni, 2018 telah melakukan penelitian
efektifitas penggunaan klinometer untuk pengukuran tinggi suatu objek. Dari
hasil penelitiannya dapat disimpulkan bahwa klinometer lebih efektif untuk
mengukur tinggi objek. Klimometer juga digunakan dalam menentukan strike
dan dip pada survey geologi. Analisis data yang di lakukan mengacu pada
metode ADDIE (Analysis, Dsign, Development, Implementation and
Evaluatuion). Pada penelitian ini, analisis data dilakukan secara kualitatif
terhadap tahapan perancangan klinometer, kalibrasi serta data hasil pengujian
klinometer yang telah dirancang.
Resume jurnal 2 “Perbandingan Pengukuran Luas Area Antara Theodolit
Dan Global Positioning System (GPS)” oleh Awliya Tribhuwana 2021.
Pengukuran luas area merupakan jumlah luasan bidang horizontal yang
dikelilingi oleh garis-garis batas, garis batas merupakan bidang poligon yang
dilakukaun dengan pengukuran dilapangan, pengukuran luas area merupakan
salah satu informasi hasil pengukuran lapangan yang dibutuhkan dalam
perencanaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan
pengukuran luas dengan menggunakan theodolit dan GPS, serta untuk
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pengukuran poligon.
Penelitian dilaksanakan di Majasem Kota Cirebon pada Bulan Maret 2018.
Alat yang digunakan dalam pengukuran luas area adalah Theodolite dan GPS.
Hasil pengukuran lapangan dianalisis data pengukuran thoedolit dan GPS
sehingga mendapatkan hasil koordinat theodolit dan koordinat GPS. Untuk
menentukan besaran luasan area dalam penelitian ini digunakan metode
koordinat. Penelitian ini membandingkan hasil pengukuran theodolit dan GPS
yang dilakukan di Perumahan Majasem Cirebon, dari hasil pengolahan data
dihasilkan perbandingan luas pengukuran theodolit 2129,65,m2 dan GPS
2132,500 m2. Selisih luas antara pengukuran theodolit dan GPS adalah 2,848
m2. Faktor penentu terjadinya selisih disebabkan oleh setting theodolit sangat
berpengaruh pada pengolahan data, pada saat membidik maupun pada saat
pengukuran jarak langsung, keadaan cuaca agar memberikan efek
pencahayaan pada theodolit.
V. KESIMPULAN

Dari hasil praktikum perpetaan mengenai kompas dan sudut azimuth yang telah
dilakukan, maka didapatlah kesimpulan dari hasil praktikum, yaitu sebagai
berikut.
1. Pengukuran jarak dan tinggi dapat dilakukan secara manual dengan
menggunakan alat ataupun benda-benda yang kita miliki, tentunya sudh
diketahui nilai atau besaran dari alat ukut yang kita miliki tersebut.
2. Alat ukur yang kita bisa gunakan sebagai penunjang praktikum di lapangan
adalah tongkat, langkah kaki, lengan, jari-jari tangan, dan sebagainya yang
digunakan untuk mengukur jarak dari sisi pengukur ke suatu objek atau dari
objek satu ke objek lain dengan melakukannya berulang kali sehingga
mendapatkan hasil taksiran nilai yang mendekati nilai sempurna (tepat).
3. Penaksiran sudut dapat dilakukan dengan meletakkan tongkat yang sudah
diketahui tinggi pada jarak yang telah ditentukan, sehingga dapat ditentukan
taksiran sudut dengan menggunakan rumus tangensial untuk menghitung nilai
sudut.
4. Penaksiran tinggi suatu benda dilakukan dengan menentukan tinggi badan
pengukur, kemudian dihitung tinggi benda yang ditaksir dengan taksiran
sudut dan taksiran jarak benda yang diukur dengan mengalikan tangensial
sudut yang didapat dengan jarak objek yang diukur.
AFTAR PUSTAKA

Atmoko, D.R., Rudarti. (2020). Geografi. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana


Indonesia.
Basuki, Y. R. (2020). Dasar Survei dan Pemetaan. Malang: Azhar Publisher.
Haidul, Y. (2021). Rancang Bangun Klinometer Sebagai Pendukung Praktikum
Fisika. Indonesian Journal of Laboratory, 1-4.

Iman, S. (2022). Modul Praktis Fisika . Lombok Tengah: Pusat Pengembangan


Pendidikan dan Penelitian Indonesia.
Kandi, A. A., Norman, I. W., & dkk. (2022). Modul Praktikum Perpetaan. Bandar
Lampung: Universits Lampung.
Maiyudi, R. (2021). Ilmu Ukur Tambang. Padang: UNP Press.
Mohammed, A. H. (2000). Asas Ukur Kejuruteraan. Johor: Universiti Teknologi
Malaysia.
Rijal, S., Barkey, R.A., Nursaputra, M., Ahmad, B., Abkar. (2019). Survey dan
Pemetaan Kehutanan. Makassar: Fakultas Kehutanan Universitas
Hasanuddin.
Sasongko, R. (2018). Survey Rekayasa Konstruksi. Malang: Polinema Press.
Stefano, A. (2019). Ilmu Ukur Tanah. Makassar: Garis Putih Pratama.
Syaripudin, A. (2019). Pengantar Survey dan Pengukuran. Jakarta: Direktorat
Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Tribuhuwana, A. (2018). Perbandingan Pengukuran Luas Area Antara Theodolit dan
Global Positioning System (GPS). Logika, 1-5.
LAMPIRAN
Lampiran 1
Hasil Pretest

Gambar 1. Hasil Pretest


Lampiran 2
Tugas Praktikum

Gambar 2. Tugas Praktikum


Lampiran 3
Jurnal ”Perbandingan Pengukuran Luas Area Antara Theodolit dan Global
Positining System (GPS)”

Gambar 3. Jurnal “Perbandingan Pengukuran Luas Area Antara Theodolit dan


Global Positining System (GPS)”

Lampiran 4
Jurnal “Rancang Bangun Klinometer Sebagai Pendukung Praktikum Fisika
Kelutan dan Geofisika”

Gambar 4. Jurnal “Rancang Bangun Klinometer Sebagai Pendukung


Praktikum Fisika Kelutan dan Geofisika”

Common questions

Didukung oleh AI

Klinometer dianggap lebih efektif dalam pengukuran tinggi objek karena alat ini dapat mengukur sudut elevasi antara garis datar dan garis yang menghubungkan titik pada garis datar tersebut dengan puncak objek secara cepat. Penelitian oleh Sari (2018) menunjukkan bahwa klinometer lebih unggul dalam kecepatan pengukuran dibandingkan dengan alat seperti hagamer .

Praktikum ini bermanfaat bagi mahasiswa Teknik Geofisika karena mereka sering terlibat dalam eksplorasi penelitian yang membutuhkan data dan informasi di lapangan. Penguasaan metode penaksiran jarak dan tinggi dapat diterapkan baik secara teoris maupun teknis saat kegiatan pemetaan di lapangan, sehingga mereka dapat menentukan tinggi dan jarak suatu lokasi dengan peralatan yang terbatas .

Alternatif untuk mengukur jarak di lapangan bisa menggunakan langkah kaki, tongkat, atau bahkan bagian tubuh seperti lengan. Kelebihannya adalah metode ini tidak membutuhkan peralatan kompleks dan dapat digunakan kapan saja. Namun, kekurangannya adalah kurang akurat dan hasil hanya berupa estimasi kasar .

Meteran digunakan untuk pengukuran jarak panjang dan lebar, kompas untuk menentukan arah azimuth, dan klinometer untuk menentukan sudut elevasi. Kombinasi alat-alat ini memungkinkan pengukuran yang lebih akurat dan efisien di lapangan, terutama ketika peralatan lebih kompleks tidak tersedia .

Metode sipat datar menggunakan penyipat datar (waterpas optic) untuk menentukan ketinggian relatif titik terhadap referensi dan memerlukan garis pandang mendatar. Sebaliknya, metode trigonometris menggunakan data sudut vertikal dan jarak mendatar untuk menghitung ketinggian objek tanpa memerlukan garis pandang mendatar .

Metode trigonometris dalam pengukuran beda tinggi melibatkan pengukuran sudut vertikal dan jarak mendatar menggunakan alat seperti Theodolite. Menggunakan rumus trigonometrik, hasil pengukuran sudut vertikal ini kemudian digabungkan dengan jarak mendatar untuk menghitung ketinggian objek dari titik ukur .

Kendala dalam pengukuran luas area menggunakan Theodolite dapat disebabkan oleh setting alat dan keadaan cuaca yang mempengaruhi pencahayaan pada alat. GPS dapat mengalami kesalahan akibat interferensi sinyal. Untuk mengatasi masalah ini, penting mengetahui pengaturan yang tepat dan memahami kondisi lapangan sebelum memulai pengukuran, serta menggunakan peralatan komplementer untuk memvalidasi hasil .

Pengukuran jarak horizontal adalah mengukur jarak terpendek antara dua titik setelah posisi keduanya diproyeksikan pada bidang datar atau pada peta. Sedangkan jarak vertikal dihitung dari selisih panjang dua garis proyeksi yang melalui kedua titik di permukaan bumi, atau jarak terpendek antara dua bidang datar yang melalui kedua titik tersebut .

Penting untuk mengenal perbedaan karena jarak mutlak memberikan nilai sebenarnya dari satu titik ke titik lain, sedangkan jarak relatif dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang bisa menyebabkan kesalahan dalam interpretasi data. Mengetahui jenis sifat jarak ini penting dalam analisis data agar sesuai dengan konteks pengukuran .

Pemahaman dasar tentang pengukuran jarak dan tinggi penting bagi mahasiswa teknik karena ini adalah keterampilan dasar yang dibutuhkan dalam eksplorasi geofisika dan konstruksi. Ini memungkinkan mereka untuk melakukan pengukuran secara akurat saat peralatan lengkap tidak tersedia dan membantu dalam menyelesaikan masalah praktis di lapangan .

Anda mungkin juga menyukai