0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan7 halaman

Konsentrasi Nanas dan Penetasan Telur Ikan Patin

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi larutan nanas yang optimal untuk menghilangkan daya rekat telur ikan patin siam dan meningkatkan penetasan serta kelangsungan hidup larvanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan nanas dengan konsentrasi 0,5% dapat menghilangkan daya rekat telur secara efektif dan meningkatkan derajat pembuahan serta penetasan telur ikan patin siam.

Diunggah oleh

Amelia Suci Wardana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan7 halaman

Konsentrasi Nanas dan Penetasan Telur Ikan Patin

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi larutan nanas yang optimal untuk menghilangkan daya rekat telur ikan patin siam dan meningkatkan penetasan serta kelangsungan hidup larvanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan nanas dengan konsentrasi 0,5% dapat menghilangkan daya rekat telur secara efektif dan meningkatkan derajat pembuahan serta penetasan telur ikan patin siam.

Diunggah oleh

Amelia Suci Wardana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Borneo Akuatika

Volume 1, Nomor 1, April 2019, Halaman 18-24

PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN NANAS (Ananas comosus Linn) TERHADAP


DAYA REKAT (Adhesiveness) DAN PENETASAN TELUR IKAN PATIN SIAM
(Pangasius hypophthalamus)

EFFECT OF PINEAPPLE (Ananas comosus Linn) SOLUTION ON ADHESIVENESS


AND HATCHING EGGS FISH PATIN SIAM (Pangasius hypophthalamus)

Patricius1, Rachimi2, Eko Prasetio2

1. Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UniversitasMuhammadiyah Pontianak


2. Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Muhammadiyah Pontianak
e-mail: patrickmcnair233@[Link]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi larutan nanas yang optimal untuk
menghilangkan daya rekat pada telur ikan baung dan penetasan telur dalam meningkatkan
kelulushidupan larva yang [Link] penelitian ini dilakukan diBalai Budidaya Ikan
SUPM Anjungan, Kabupaten Mempawah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak
Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan dengan konsentrasi larutan nanas antara lain
adalah perlakuan1 A (kontrol), B (0,5%), C (1,0%), dan D (1,5%). Parameter pengamatan yang
dilakukan adalah sifat menghilangkan daya rekat telur, derajat pembuahan telur (FR), daya tetas
telur (HR), kelangsungan hidup larva (SR), dan kualitas air. Hasil dari pengamatan menunjukan
larutan nanas pada kosentrasi 0,5% dapat meningkatkan derajat pembuahan dan penetasan telur
serta kelulushidupan larva. Hal ini dikarenakan hilangnya lapisan lendir (daya rekat) yang
terdapat pada permukaan telur oleh enzim bromelin sehingga telur tidak menempel antara telur
satu dengan telur lainnya serta tidak menutupi lubang mikrofil sebagai jalannya masuknya
oksigen pada telur

Kata kunci: nanas; daya rekat telur; ikan baung

ABSTRACT

This study aims to determine the optimal concentration of pineapple solution to eliminate
adhesion to baung eggs and hatching eggs to improve the survival of good larvae. The
implementation of this research was carried out in the Fish Cultivation Center Anjungan Fish
Market, Mempawah Regency. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with 4
treatments and 3 replications with a concentration of pineapple solution, including treatment of
1 A (control), B (0.5%), C (1.0%), and D (1.5 %). The parameters observed were the properties
of removing egg adhesion, degree of egg fertilization (FR), egg hatchability (HR), larval
survival (SR), and water quality. The results of the observation showed that the pineapple
solution at a concentration of 0.5% could increase the degree of fertilization and hatching of
eggs and the graduation of larval life. This is due to the loss of the mucus layer (adhesiveness)
found on the surface of the egg by the enzyme bromelin so that the egg does not stick between
one egg and another and does not cover the microfil hole as the path of oxygen entering the egg.

Keywords : pineapple; adhesiveness; baung

18
Borneo Akuatika
Volume 1, Nomor 1, April 2019, Halaman 18-24

LATAR BELAKANG
Ikan Baung (Hemibagrus nemurus) merupakan ikan lokal yang hidup di perairan sungai yang
berada di Pulau Jawa, Sumatera dan [Link] Baung merupakan ikan konsumsi yang
berpotensi untuk [Link] penyediaan benih melalui kegiatan budidaya
pembenihan telah dilakukan, namun masih terdapat kendala yaitu sintasan yang masih rendah.
Marlina,(2011).
Perkembangan usaha budidaya ikan baung, diperlukan jumlah benih yang cukup dan
berkualitas. Disisi lain keberhasilan pembenihan ikan baung yang masih rendah menyebabkan
benih ikan baung belum terpenuhi secara kontinyu. Menurut Ali & Junianto (2014) keberhasilan
kegiatan pembenihan ikan baung masih tergolong rendah dengan derajat penetasan telur 67%
dan kelangsungan hidup larva 49,3%. Hal ini disebabkan karena telur ikan baung bersifat
adhesif atau memiliki daya rekat sehingga telur menumpuk pada salah satu areal pemijahan.
Menurut Slembrouck et al, (2005) telur adhesif akan menempel satu sama lainnya atau pada
substrat melalui selaput lendir yang lengket dan menutupi seluruh permukaanya. Karena
memiliki sifat ini, maka perlu dilakukan upaya untuk mengatasi masalah tersebut yakni dengan
cara pemberian larutan penghilang daya rekat telur ikan.
Pada ekstrak buah nanas mengandung enzim bromelin yang mampu menghilangkan daya rekat
telur (Linhart et al, 2002).Bromelin adalah enzim proteolitik yang terdapat pada tananam nanas
(Ananas comosus L).Telah dilakukan amobilisasi bromelin dari bonggol [Link] bromelin
mirip dengan papain dan fisin, sebagai pemecah protein (Wuryanti, 2006)
Dengan adanya latar belakang tersebut, maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang
pengunaan larutan nanas untuk menghilangkan daya rekat telur pada ikan baung untuk
meningkatkan daya tetas telur dalam meningkatkan kelangsungan hidup larva yang baik

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Lembaga Pembudidayaan Benih Ikan Air Tawar (LPBIAT)
SUPM, Desa Pak Buluh Kecamatan Anjongan, Kabupaten [Link] ini
dilaksanakan selama 12 hari pada tanggal 15 Juli s/d tanggal 9 Agustus 2017. Penelitian
meliputi persiapan yang dilakukan selama 5 hari dan pengamatan 7 [Link] alat yang
digunakan dalam penelitian skripsi ini adalah toples kue yang dapat menampung 1 liter air
sebanyak 12 buah, thermometer, DO meter, pH meter spuit, bulu ayam, timbangan digital,
mangkuk plastic, ember, tissue, handuk, aerator, blender, serokan, planktonet, baskom.
Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan AcakLengkap (RAL) dengan empat
perlakuan dan tiga kali ulangan.
Perlakuan A: Perlakuan kontrol (tanpa larutan nenas)
Perlakuan B: Perlakuan larutan nanas dengan konsentrasi 0,5 %
Perlakuan C: Perlakuan larutan nanas dengan konsentrasi 1,0 %
Perlakuan D: Perlakuan larutan nanas dengan konsentrasi 1,5 %
Pada tahap ini dilakukan pertama kali adalah persiapan [Link] yang digunakan adalah
toples untuk tempat [Link] yang disediakan berjumlah 12 buah, Wadah penelitian yang
berupa toples mampu diisi air bersih sebanyak 1 liter, diberi aerasi dan dicampur larutan nanas
sesuai dengan perlakuan [Link] tentang daya rekat secara visual dengan
menggoyangkan telur secara perlahan dalam wadah inkubator dengan menggunakan bulu ayam.
Proses tersebut untuk mengetahui apakah larutan nanas berpengaruh menghilangkan daya rekat
telur ikan. Menggoyangkan telur tersebut dilakukan sampai telur benar-benar berpengaruh
terhadap air yang sudah dicampur larutan nanas. Setelah proses pengamataan daya rekat selesai,
telur dijaga kestabilan kualitas airnya hingga ikan menetas menetas. Menurut Suhenda et al
(2009) pada umumnya, telur akan menetas setelah diinkubasi selama 30-34 jam.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Sifat Menghilangkan Daya Rekat Telur
Daya rekat telur adalah factor penting dalam sebuah keberhasilan dalam [Link]
data yang didapat tentang daya rekat selama penelitian dapat dilihat pada table dibawah ini.

19
Borneo Akuatika
Volume 1, Nomor 1, April 2019, Halaman 18-24

Tabel I. Daya Rekat Telur Ikan Patin Siam


Perlakuan
No Ulangan A B C D
1 1 97 77 44 15
2 2 96 73 45 12
3 3 92 69 49 18
Jumlah 285 219 138 45
Rata-rata 95 73 46 15

Pada perlakuan A (kontrol) wadah penelitian tanpa konsentrasi larutan nanas, pada kisaran 95 %
telur masih sangat melekat atau tidak efektif daya rekat terlihat telur tampak masih sangat
menggumpal dan melekat pada wadah penelitian. Penelitian selanjutnya dengan pemberian
larutan nanas 0,5 % perlakuan B pada konsentrasi ini lapisan lendir pada telur mulai berkurang.
Pada konsentrasi ini kurang efektif dalam menghilangkan daya rekat telur hanya berkisar 73 %.
Perlakuan C dengan pemberian 1 % larutan nanas dari percampuran 1 liter air sifat daya rekat
telur sudah menghilang yang dimana telur tidak ada menempel pada wadah dan cukup efektif
menghilangkan daya rekat telur berkisar 46 %. Perlakuan dengan konsentrasi pemberian
tertinggi yaitu dengan pemberian 1,5 % larutan nanas pada 1 liter air dalam wadah penelitian D
yang berisi 100 telur ikan baung. Dalam pengamatan secara visual yang dilakukan telur nampak
sedikit mengumpal dan tidak ada yang melekat didasar wadah, menumpuk dan efektif untuk
menghilangkan daya rekat telur sekitar 15 %.

Pembuahan
Pembuahan dilakukan dengan metode kering, dimana telur dan sperma yang diperoleh
ditampung dalam mangkok plastik dan diaduk hingga [Link] adalah penyatuan inti
sperma dan telur. Derajat pembuahan dari hasil penelitian selama inkubasi dapat dilihat pada
Gambar 1

100,00
Derajat Pembuahan

80,00 a
56,33
76,67 a
58,67
C
60,00 35,67
(%)

40,00
20,00
0,00
A B C D
Perlakuan

Gambar 1 :Diagram Derajat Pembuahan

Berdasarkan hasil Uji Normalitas Lilifors terhadap Derajat Pembuahan Telur didapat L hitung
maksimal (0,1309) lebih kecil dari L tabel 5% (0,242) dan Ltabel 1% (0,275), maka data
tersebut bersifat normal (lampiran 4). Pada Uji Homogenitas Bartlett didapat hasil X 2 hitung
(4,24) lebih kecil dari X2 table 5% (14,07) dan 1% (18,48,), maka diperoleh data yang bersifat
homogen (lampiran 5).
Hasil analisis varians (Anava) terhadap Derajat Pembuahan Telur diperoleh F hitung (71,41)
lebih besar dari F table 5 % (4,07) dan 1% (7,59) maka perlakuan menunjukkan hasil yang
berbeda sangat nyata. Berdasarkan (gambar 4) dapat dilihat bahwa derajat pembuahan telur
pada perlakuan B (0,5%) menghasilkan angka rata-rata pembuahan pada ikan patin siam

20
Borneo Akuatika
Volume 1, Nomor 1, April 2019, Halaman 18-24

tertinggi 76,67 %, kemudian berturut-turut pada perlakuan C (1,0%) sebesar 58,67 %, perlakuan
A/kontrol (0%) sebesar 56,33 %, dan perlakuan D (1,5%) dengan derajat pembuahan terendah
sebesar 35,67 %. Perlakuan A lebih kecil derajat pembuahannya dari B dan C dikarenakan
lapisan lendir pada telur ikan baung mengakibatkan perbedaan jumlah derajat [Link]
ini sesuai dengan pendapat Woynorovich dan Horvath (1980) bahwa kekurangan oksigen
merupakan salah satu penyebab adanya kematian telur dan embrio yang sedang
[Link] D lebih rendah dari pelakuan B, C dan A disebabkan larutan nanas yang
telalu banyak mengakibat air menjadi asam sehingga merusak telur dan membuat angka derajat
pembuahan menurun.

Daya Tetas Telur (Hatching Rate)


Faktor yang menentukan keberhasilan dalam pembenihan selain pembuahan yaitu adalah tingkat
penetasan.

a a a
120,00
92,56 96,12 b
Derajat Penetasan Telur

100,00 84,65
74,86
80,00
60,00
(%)

40,00
20,00
0,00
A B C D
Perlakuan

Gambar 2: Diagram Penetasan Telur Ikan Baung.

Berdasarkan hasil Uji Normalitas Lilifors terhadap Derajat Penetasan Telur didapat L hitung
maksimal (0,1933) lebih kecil dari L tabel 5% (0,242) dan Ltabel 1% (0,275), maka data
tersebut bersifat normal (lampiran 11). Pada Uji Homogenitas Bartlett didapat hasil X 2 hitung
(7,69) lebih kecil dari X2table 5% (14,07) dan 1% (18,48), maka diperoleh data yang bersifat
homogen (lampiran 12).Hasil analisis varians (Anava) terhadap Derajat Penetasan Telur
diperoleh F hitung (18,43) lebih besar dari F table 5 % (4,07) dan 1% (7,59) maka perlakuan
menunjukkan hasil yang berbeda sangat nyata atau Hi diterima dan Ho di tolak (Lampiran 13)
karena berbeda sangat nyata. Maka dilakukan koefisien keragaman (KK) yang didapat 4,66
karena dibawah 5 % atau kondisi homogenya maka dilakukan uji lanjut (BNJ).
Hasil penelitian (gambar 6) terlihat bahwa pada perlakuan B (konsentrasi 0,5 %) menghasilkan
angka penetasan pada telur ikan baung tertinggi dengan rata-rata 96,12 % dan diikuti oleh
masing-masing perlakuan A/kontrol (0 %) sebesar 95,67 %, perlakuan C (konsentrasi 1,0 %)
sebesar 84,65 %, perlakuan D (konsentrasi 1,5 %) sebesar 74,86 dengan nilai terendah.
Penetasan A (95,67 %) lebih rendah dari Angka penetasan B (96,12) hal ini disebabkan banyak
telur yang saling menempel dan lengket sesama telur sehingga telur-telur ini menggumpal dan
menutupi lubang mikrofil telur yang akan menyebabkan kematian akibat kekurangan oksigen.
Perlakuan B tinggi derajat penetasannya dikarenakan hilangnya lapisan lendir (daya rekat) pada
permukaan telur sehingga oksigen dapat masuk dilubang mikofil dan membantu proses
penetsan. Angka penetasan perlakuan C (47,22 %) dan D (37,83 %) sangat rendah dibandingkan
perlakuan A serta B disebabkan larutan nanas yang bersifat asam merusak dinding telur karena
konsentrasi larutan nanas sangat besar, Oleh sebab itu konsentrasi yang tepat untuk penetasan
baung adalah 0,5 %.

21
Borneo Akuatika
Volume 1, Nomor 1, April 2019, Halaman 18-24

Kelangsungan Hidup (SR)


Keberhasilan pembenihan dan pembesaran tidak lepas dari tolak ukur tingkat kelangsungan
hidup ikan [Link] penelitian yang dilaksanakan di SUPM data didapat adalah sebagai
berikut.

120,00
a a
97,31
Kelangsungan Hidup
93,07
100,00 b
77,91
80,00 c
66,28
(%)
60,00
40,00
20,00
0,00
A B C D
Perlakuan
Gambar 3: Grafik Kelangsungan Hidup Larva Ikan Patin Siam

Berdasarkan hasil Uji Normalitas Lilifors terhadap Tingkat Kelangsungan Hidup Larva didapat
L hitung maksimal (0,1086) lebih kecil dari L tabel 5% (0,242) dan Ltabel 1% (0,275), maka
data tersebut bersifat normal. Pada Uji Homogenitas Bartlett didapat hasil X2 hitung (9,47)
lebih kecil dari X2table 5% (14,07) dan 1% (18,48), maka diperoleh data yang bersifat
homogen. Hasil analisis varians (Anava) terhadap kelangsungan hidup larva diperoleh F hitung
(11,71) lebih besar dari F table 5 % (4,07) dan 1% (7,59) maka perlakuan menunjukkan hasil
yang berbeda sangat nyata atau Hi diterima dan Ho di tolak, karena berbeda sangat nyata pada
analisis varian (analisis sidik ragam) kemudian dilanjut dengan uji lanjut Beda Nyata Terkecil
(BNT). Pada uji BNT diketahui bahwa perlakuan pada taraf 5% perlakuan antara A berbeda
signifikan dengan perlakuan B, C, D dan E. Perlakuan B berbeda segnifikan dengan perlakuan
C, D, dan E. Perlakuan C berbeda signifikan dengan perlakuan D dan E. Sedangkan perlakuan
D berbeda signifikan dengan perlakuan E.
Hasil penelitian terlihat kelangsungan hidup larva yang tertinggi menunjukkan konsentrasi 0,5
% (perlakuan B) yaitu 97,31 %, kemudian diikuti berturut-turut pada konsentrasi 0 %
(perlakuan A/kontrol) sebesar 93,07 %, perlakuan 1,0 % (perlakuan C) sebesar 77,91 %,
perlakuan 1,5 % (perlakuan D) sebesar 66,28 %, dan derajat penetasan telur terendah terdapat
pada perlakuan 1,5 % (perlakuan D) sebesar 66,28 %.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari penelitian dengan penggunaan larutan nanas sangat efektif untuk
menghilangkan daya rekat telur serta meningkatkan daya tetas telur ikan baung, yaitu antara
lain: Derajat pembuahan telur ikan baung yang tertinggi 76,67 %pada perlakuan B dan terendah
35,67 % pada perlakuan D. Derajat penetasan telur ikan baung yang tertinggi 96,12 % pada
perlakuan Bdan terendah 74,86 % perlakuan D. Tingkat kelangsungan hidup larva ikan baung
yang tertinggi 97,31 % pada pelakuan B dan terendah pada pelakuan D. 66,28%. Paremeter
kualitas air selama peniltian berkisar antara; suhu 28º dan pH 5-7 ppt.

DAFTAR PUSTAKA
Anggraini. R. P, Rahardjo. A. H. D, dan Santosa. R. S. S. 2013. Pengaruh Enzim BromelinDari
Nenas Masak Dalam Pembuatan Tahu Terhadap Rendemen Dan Kekenyalan Susu.
Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto
Cahyono. B. 2012. Buku Terlengkap Budidaya Nenas Secara Komersial. Pustaka Mina. Jakarta
141 hal

22
Borneo Akuatika
Volume 1, Nomor 1, April 2019, Halaman 18-24

Dualantus dan Djauhari. R. 2010. Mortalitas dan faktor kondisi benih ikan baung (Hemibagrus
nemurus c.v)pada subtrat dasar yang berbeda. Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian,
Universitas Palangka Raya (UNPAR)
Effendi, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.163 hal.
Ferdiansyah, V. [Link] Kitosan Dari Cangkang Udang Sebagai Matriks Penyangga
pada Imobilisasi Enzim [Link]. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Fakultas
Perikanan dan Ilmu [Link] Pertanian Bogor. Bogor.
Hanafiah.K.A. [Link] Percobaan Teori dan [Link]. RajaGrapindo
[Link].255 h.
Hadiati.S dan Indriyani. N. L. P. 2008. Petunjuk Teknis Budidaya Nenas. Balai Penelitian
Tanaman Buah Tropika
Hadid. Y, Syarifudin. M. dan Amin. M. 2014. Pengaruh Salinitas Terhadap daya tetas Telur
Ikan baung. (Hemibagrus nemurus Blkr.)Akuakultur Fakultas Pertanian UNSRI
Indrawati, T. 1983. Pembuatan Kecap Keong Sawah dengan Menggunakan Enzim Bromelin.
Balai Pustaka, Jakarta.
Isriansyah. 2011. Daya Tetas Telur Ikan Patin pada Media dengan salinitas yang Berbeda.
Jurnal Ilmu Perikanan Tropis, 14 (2).
Khairuman dan Amri. K. 2008. Teknologi Budidaya Ikan Baung. Gramedia Pustaka. Jakarta
Linhart O., L. Stech, J. Svarc, M. Rodina, J.P. Audebert, J. Grecu and R. Blliard. 2002. Present
state of the culture of the European catfish (Silurus glanis L.) in Czech Republic and
France. Aquatic Living Resources 15: 109-112.
Lisdiana dan S. Widyaningsih. 1997. Budidaya Nanas Pengolahan danPemasaran. Bogor.
Mahyuddin,. K. 2010. Pandudan Lengkap Agribisnis Patin. Penebar Swadaya. Jakarta
Manurung. V. R, Yunasfi, dan Desrita. 2013. The Studied of Fish Reproduction Baung (Mystus
nemurus Cuvier Valenciennes) inBingai River Binjai City, North Sumatera Province.
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian,
UniversitasSumatera Utara,
Marizka.A, Muslim dan Fitriani. M. 2013. Laju Penyerapan Kuning Telur Tambakan
(Helostoma temminckii C.V) Dengan Suhu Inkubasi Berbeda. Program Studi Budidaya
Perairan Fakultas PertanianUniversitas Sriwijaya, Indralaya, Ogan Ilir 30662
Marlina. E. 2011. Optimasi Osmolaritas Media Dan Hubungannya Dengan Respon Fisiologis
Benih Ikan Baung (Hemibagrus nemurus). Sekolah Pasca Sarjana Istitut Pertanian Bogor.
Masrizal.,Azhari. W dan Azhar. 2001. Pengaruh Suhu Yang Berbeda Terhadap Hasil Penetasan
Telur Ikan Patin (Pangasius sutchi Fow). Fakultas Peternakan. Universitas Andalas.
Nurhadiati, A. 2002. Pemanfaatan Ekstrak Buah Nenas Sebagai Bahan Pengumpal Lateks.
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor. 58 halaman.
Riansyah, Rachimi, Farida. 2014. Pengaruh Konsentrasi LarutanNanas(Ananas comosus Linn)
Terhadap Daya Rekat (Adhesiveness) DanPenetasan Telur Ikan Patin Siam (Pangasius
hypophthalamus). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Muhammadiyah
Pontianak
Saputra, E.E., A. Hamdan dan Nuraini. 2012. Pengaruh Dosis Larutan Nenas Terhadap Daya
Rekat (Adhesiveness) dan Penetasan Telur Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus
burchell). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Riau.
[Link]
Saputra A. 2007. Pengaruh Perbedaan Frekuensi Pemberian Pakan terhadap Laju Pertumbuhan
dan Sintasan Benih Ikan Baung (Mystus nemurus). [Skripsi]. Jakarta. Teknologi
Akuakultur. Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Perairan .Sekolah Tinggi Perikanan.
Slembrouck, J. Komarudin. O. Maskur dan Legendre. 2005. Petunjuk Teknis Pembenihan Ikan
Patin Indonesia Pangasius djambal. Kerjasama IRD dan Pusat Riset Perikanan
[Link] Riset Kelautan dan [Link].143 halaman.
Suhenda. N, Samsudin. R dan Subagja. J. 2009. Peningkatan Produksi Benih Baung{Mystus
nemurus) Melalui Perbaikan Kadar Lemak Pakan Induk [Producing Good Quality Seed of

23
Borneo Akuatika
Volume 1, Nomor 1, April 2019, Halaman 18-24

Green Catfish (Mystus nemurus)by Improvement of Lipid Level of Broodstock Feed].


Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar. Bogor.
Susanto, H. dan Khairul Amri. 2002. Budidaya Ikan Patin. Penebar Swadaya. Jakarta.90
hal.
Thai, B. T. and Ngo, T. G. [Link] of Pineapple Juice for Elimination ofEgg Stickiness of
Common Carp (Cyprinus carpio L.). Asian Fisheries Science 17 : 159-162.
Woynarovich, E and L. Horvath. 1980. The Artificial Propagation of Warm Water Finishes A
Manual For [Link] Fisheries Technical Paper No. 201.
Windy, Wahyuningsih. H, dan Suryanti. A. 2014. Kebiasaan MakanIkan baung (Mystus
nemurus C.V) di Sungai Bingai Kota Binjai Provinsi Sumatera Utara. Program Studi
Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara
Medan, Indonesia
Utiah. A, Zairin. M. Jr,Mokoginta, Affandi. R danSumantadinata. K. 2007. Kebutuhan Asam
Lemak N-6 dan N-3 Dalam Pakan Terhadap Penampilan Reproduksi Ikan Baung
(Hemibagrus nemurus Blkr.)Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas
Samratulangi, Manado, Sulawesi Utara
Wirakusumah, E.S. 1995. Buah dan Sayur Untuk Terapi. Jakarta: PT Penebar Swadaya
Wuryanti. 2006. Amobilisasi enzim Bromelindari Bongol Nanas Dengan Bahan Pendukung
(Support) Keragenan dari rumput Laut (Euchema cottonii). Jurusan Kimia FMIPA
Universitas Diponegoro

24

Anda mungkin juga menyukai