0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan234 halaman

Prosedur Identifikasi dan Pengendalian Risiko

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut merupakan standar operasi prosedur PT. LEMATANG tentang identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko. 2. Prosedur tersebut menjelaskan proses identifikasi bahaya di seluruh area kerja perusahaan dan penilaian risikonya beserta pengendaliannya. 3. Prosedur tersebut juga mendefinisikan istilah-istilah terkait seperti bahaya

Diunggah oleh

Herry Hse
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan234 halaman

Prosedur Identifikasi dan Pengendalian Risiko

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut merupakan standar operasi prosedur PT. LEMATANG tentang identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko. 2. Prosedur tersebut menjelaskan proses identifikasi bahaya di seluruh area kerja perusahaan dan penilaian risikonya beserta pengendaliannya. 3. Prosedur tersebut juga mendefinisikan istilah-istilah terkait seperti bahaya

Diunggah oleh

Herry Hse
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PT.

LEMATANG

STANDAR OPERASI PROSEDUR

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO,


PENGENDALIAN RISIKO

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL

DISUSUN JERI HERIYANTO Sekretaris P2K3 02 Januari 2021

Ketua P2K3 /
DISETUJUI HANNY KOHAR 02 Februari 2021
Direktur Utama
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman :

DAFTAR ISI
1) TUJUAN .................................................................................................................................................1
2) RUANG LINGKUP ..................................................................................................................................1
3) REFERENSI.............................................................................................................................................1
4) DEFENISI................................................................................................................................................1
5) PROSEDUR ............................................................................................................................................2
6. LAMPIRAN ..........................................................................................................................................17
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 1

1) TUJUAN
a. Tujuan prosedur ini adalah menguraikan proses yang digunakan untuk melakukan
mengidentifikasi dan mengevaluasi aspek bahaya K3 dan lingkungan, serta menetapkan
pengendalian risiko K3L yang telah teridentifikasi dan terevaluasi.
b. Pedoman penetapan tujuan dan sasaran serta program Manajemen K3 dan Lingkungan.

2) RUANG LINGKUP
1. Prosedur ini mencakup ketentuan – ketentuan administratif dan manajerial dalam
mengendalikan serta menangani hal – hal berkaitan dengan Keselamatan Kesehatan Kerja dan
Lindung Lingkungan di seluruh area kegiatan perusahaan.
2. Prosedur dan standar ini juga tidak langsung berlaku di arae – area kerja / proyek perusahaan
atau system kerjasama dengan perusahaan lain, tetapi dapat diberlakukan dengan
penyesuaian – penyesuaian yang diperlukan sesuai dengan kesepakatan kedua pihak.

3) REFERENSI
1. Persyarat SMM ISO 9001:2008,
2. AS/NZS 4360:2004 RISK MANAGEMENT
3. PERMEN NO 05/MEN/1996 TENTANG SMK3
4. OSHAS 18001:2007 KLAUSAL 4.3 PERENCANAAN (4.3.1 Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko Dan
Penetapan Pengendalian).

4) DEFENISI
1. Bahaya adalah sumber, kondisi maupun tindakan / aktivitas yng mempunyai potensi
menyebabkan cidera serta atau penyakit akibat kerja maupun kerugian materi
2. Identifikasi bahaya adalah upaya untuk mengetahui, mengenal, dan memperkirakan adanya
bahaya pada suatu system, seperti peralatan, tempat kerja, proses kerja, prosedur dsb.
3. Penilaian risiko adalah proses penilaian suatu risiko dengan membandingkan tingkat / kriteria
risiko yang telah ditetapkan untuk menetapkan prioritas pengendalian bahaya yang sudah di
identifikasi.
4. Perusahaan adalah PT. Lematang
5. Pengendalian Risiko adalah upaya untuk mengendalikan risiko
6. Risiko adalah yang dialami oleh pekerja dan property yang disebabkan oleh bahaya K3. Risiko
merupakan kombinasi antara kemungkinan / peluang terjadi
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 2

( likelihood ) dan keparahan ( severity )


7. Risiko ringan / Risiko yang dapat diterima adalah risiko yang dikurangi ke level yang dapat di
toleransi oleh organisasi dan memiliki kepastian hukum serta memiliki kebijakan K3LL.
8. Sakit adalah menurunnya kondisi fisik atau mental yang muncul atau menjadi lebih buruk
karena kegiatan kerja.
9. Kemungkinan adalah suatu gambaran dari probablitas yang menunjukkan keberadaan atau
paparan terhadap bahaya yang menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan
10. dengan kemungkinan harus mempertimbangkan dan mencakup frekuensi keterbukaan. Sebagai
contoh : untuk sejumlah orang yang dilibatkan, apakah bentuk pekerjaan yang dilakukan dalam
setiap hari/minggu/tahun, kecuali bila ditentukan terpisah untuk teknik - teknik analisa risiko
yang sedang digunakan.
11. Konsekuensi adalah suatu akibat tertentu yang terkait dengan suatu kejadian yang tidak
diinginkan.
12. Insiden adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan ataupun tidak direncakan terlebih dahulu,
yang jika keadaannya sedikit saja berbeda dapat mengakibatkan kerugian berupa cidera atau
kehilangan nyawa, kerusakan properti, maupun gangguan pada prose produksi dan lingkungan.

5) PROSEDUR
5.1. Identifikasi Bahaya dilakukan terhadap seluruh aktivitas operasional Perusahaan di tempat
kerja meliputi :
1. Aktivitas kerja rutin maupun non-rutin di tempat kerja.
2. Aktivitas semua pihak yang memasuki termpat kerja termasuk kontraktor, pemasok,
pengunjung dan tamu.
3. Budaya manusia, kemampuan manusia dan faktor manusia lainnya.
4. Bahaya dari luar lingkungan tempat kerja yang dapat mengganggu keselamatan dan
kesehatan kerja tenaga kerja yang berada di tempat kerja.
5. Infrastruktur, perlengkapan dan bahan (material) di tempat kerja baik yang disediakan
Perusahaan maupun pihak lain yang berhubungan dengan Perusahaan.
6. Perubahan atau usulan perubahan yang berkaitan dengan aktivitas maupun
bahan/material yang digunakan.
7. Perubahan Sistem Manajemen K3 termasuk perubahan yang bersifat sementara dan
dampaknya terhadap operasi, proses dan aktivitas kerja.
8. Penerapan peraturan perundang-undangan dan persyaratan lain yang berlaku.
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 3

9. Desain tempat kerja, proses, instalasi mesin/peralatan, prosedur operasional, struktur


organisasi termasuk penerapannya terhadap kemampuan manusia.
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 4

5.1.1. Identifikasi bahaya yang dilaksanakan memperahatikan faktor – faktor bahaya sebagai berikut :

KATEGORI A KATEGORI B KATEGORI C KATEGORI D KATEGORI E KATEGORI F KATEGORI G

Potensi bahaya yang Potensi bahaya yang Risiko terhadap Potensi bahaya yang Potensi bahaya yang Potensi bahaya yang Potensi bahaya yang
menimbulkan risiko menimbulkan risiko kesejahteraan atau menimbulkan risiko menimbulkan kerusakan menimbulkan kerusakan menimbulkan risiko
jangka Panjang pada langsung pada kesehatan sehari - hari pribadi dan psikologis. lingkungan Asset finansial
kesehatan keselamatan

1. Bahaya kimia (debu, 1. Kebakaran 1. Air Minum 1. Pelecehan, termasuk 1. Tumpahan B3 / limbah 1. Pencurian dengan 1. Risiko kerugian
uap, gas, asap) intimidasi dan B3. pengerusakan disebakan dampak
2. Listrik 2. Toilet dan fasilitas
pelecehan seksual keamanan dan sosial
2. Bahaya biologis mencuci 2. Keusakan yang 2. Salah pemakaian
3. Potensi bahaya
(penyakit dan gangguan 2. Terinfeksi HIV/AIDS diakibatkan aktifitas 2. Keterlambatan
mekanik (tidak adanya 3. Ruang makan atau 3. Tidak kesesuaian
oleh virus, bakteri, operasional.
pelindung mesin) kantin 3. Kekerasan di tempat kemampuan peralatan 3. Ketidak mampuan /
binatang dsb.)
kerja 3. Kerusakan yang kegagalan operasi.
4. Tata graha / 4. P3K di tempat kerja 4. Pelanggaran Peraturan
3. Bahaya fisik (kebisingan, diakibatkan kelalaian.
housekeeping 4. Stres dan Prosedur 4. Ketidak sesuaian
penerangan, getaran, 5. Transportasi
(penataan dan 4. Kebocoran pipa minyak penyedia / supplier
iklim kerja, terpeleset, 5. Narkoba di tempat 5. Kemampuan Pemakai
perawatan buruk pada dan gas
tersandung, dan jatuh) kerja kurang 5. Kerusakan
peralatan dan
4. Bahaya ergonomi (posisi lingkungan kerja) 6. Tidak berpengalaman 6. Bencana alam
duduk, pekerjaan dan atau tidak
berulang-ulang, jam berkompeten.
kerja yang lama)
7. Pemeliharaan yang
5. Potensi bahaya tidak baik
lingkungan yang
diakibatkan oleh
polusi/limbah yang
dihasilkan perusahaan.
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 5
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 6

5.1.2. Langkah – langkah identifikasi bahaya dan penilaian risiko adalah sebagai berikut :
[Link]. Kumpulkan semua informasi mengenai bahaya yang ada ditempat kerja. Informasi
terkait bahaya yang tersdia di tempat kerja meliputi :
1. Panduan manual pengeoperasian unit dan peralatan atau mesin.
2. Material safety data sheet (MSDS) yang disediakan oleh prosedusen bahan
kimia.
3. Laporan inspeksi langsung di lapangan dan laporan inspeksi dari Lembaga
pemerintah atau tim audit.
4. Catatan kecelakaan dan penyakit akibta kerja sebelumnya, serta laporan
investigasi kecelekaan kerja.
5. Pola kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang sering terjadi.
6. Hasil pemantauan terkait paparan, penilaian kebersihan industry (Industrial
hygiene), dan rekam medis pekerja.
7. Program K3 yang ada mencakup lockout/tagout, ruang terbatas, proses
manajemen keselamatan, alat pelindung diri, dan sebagainya.
8. Saran dan masukan dari pekerja, termasuk survei atau notulen pada
pertemuan komite K3 / P2K3.
9. Hasil analisis job Hazard analysis (JHA/JS).

[Link]. Lakukan Inspeksi secara langsung untuk menemukan potensi bahaya yang ada
ditempat [Link] menemukan potensi bahaya yang ada, dapat dilakukan
sebagai berikut :
1. Lakukan inspeksi rutin terhadap semua operasi kerja, peralatan, area kerja,
dan segala fasilitas yang terdapat di area kerja.
2. Libatkan pekerja ntuk ikut berpartisipasi dalam inspeksi dan lakukan diskusi
dengan para pekerja tentang bahaya apa saja yang mereka temukan di tempat
kerja atau yang mereka laporkan.
3. Dokumentasikan setiap inspeksi yang dilakukan untuk mempermudah
verifikasi bahaya yang sudah dikendalikan atau diperbaiki. Hasil dokumentasi
dapat berupa form, foto, atau video apada area kerja yang tedapat potensi
bahaya.
4. Inspeksi yang dilakukan mencakup semua budang dan kegiatan, sperti
penyimpanan dan pergudangan, pemeliharaan fasilitas dan peralatan, dan
kegiatan kontraktor, subkontraktor dan pekerja sementara di tempat kerja.
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 7

5. Periksa alat – alat berat / transportasi yang digunakan secara rutin.


6. Gunakan formuir inspeksi potensi bahaya yang telah disediakan. Inspeksi
biasanya mencakup potensi bahaya yang sering terjadi di area kerja, di
antaranya :
1. Tata graha secara umum.
2. Terpeleset, tersandung, dan jatuh.
3. Bahaya listrik.
4. Bahaya dari peralatan.
5. Kebakaran dan ledakan.
6. Bahaya dari potensi / praktik kerja.
7. Kekerasan di tempat kerja.
8. Ergonomi.
9. Prosedur tanggap darurat yang tidak memadai atau bahkan tidak
tersedia.
10. Sebelum mengubah operasi lokasi kerja, atau alur kerja, membuat
perubahan besar pada organisasi ; atau memperkenalkan peralatan,
material, atau proses kerja yang baru, sebaiknya diskusikan dengan
pekerja dan lakukan evaluasi perubahan yang direncanakan dengan
mempertimbangkan bahaya dan risiko terkait.
Catatan:
Banyak bahaya yang dapat diidentifikasi menggunakan metode
sederhana. Pekerja dapat menjadi sumber informasi utama dan sangat
berguna dalam identifikasi bahaya, terutama jika mereka dilatih tentang
cara mengidentifikasi bahaya dan menilai risiko.

[Link]. Lakukan identifikasi bahaya terhadap kesehatan kerja.


[Link].1. Potensi bahaya kesehatan mencakup sebagai berikut :
[Link].1.1. Faktor kimia (pelarut, perekat, cat, debu beracun [Link])
[Link].1.2. Factor fisik (kebisingan, penerangan, getaran, iklim
kerja,[Link])
[Link].1.3. Bahaya biologis (penyakit menular)
[Link].1.4. Faktor ergonomic (tugas monoton/berulang, postur
canggung, angkat berat,[Link])
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 8

[Link].2. Meninjau rekam medis pekerja untuk mendapatkan informasi


mengenai bahaya kesehatan yang terdapat dengan paparan di tempat
kerja.
[Link].2.1. Identifikasi bahaya Kimia. Lakukan peninjauan pada
MSDS dan label produk untuk mengidentifikasi bahaya
bahan kimia yang digunakan di tempat kerja.
[Link].2.2. Identifikasi seluruh aktivitas yang dapat mengakibatkan
luka pada kulit akibat paparan bahan kimia berbahaya /
bahan kimia masuk kedalam tubuh melalui penyerapan
kulit.
[Link].2.3. Identifikasi bahaya fisik. Mengidentifikasi paparan
kebisingan (diatas 85 dB), sushu ekstrem (daalam atau
luar ruangan), atau sumber radiasi (bahan radioaktif,
sinar – X, atau radiasi frekuensi radio).
[Link].2.4. Identifikasi bahaya biologis. Perhatikan apakah pekerja
berpotensi terkena sumber – sumber penyakit menular,
jamur, bersumber dari hewan (bulu atau kotoran) yang
mampu menimbulkan reaksi alergi atau asma akibta
kerja.
[Link].2.5. Lakukan peninjauan rekam medis untuk mengidentifikasi
kasus cidera pada musculoskeletal, iritasi kulit atau
dermatitis, gangguan pendengaran akibat bising (GPAB),
atau penyakit paru – paru yang terkait dengan paparan di
tempat kerja.

[Link]. Lakukan investigasi pada setiap insiden yang terjadi.

[Link]. Lakukan identifikasi bahaya yang terkait dengan situasi darurat dan aktivitas non –
rutin.
[Link].1. Keadaan darurat dapat menghadirkan bahaya yang biasa
menimbulkan risiko serius bagi pekerja.
[Link].2. Aktivitas non rutin seperti inspeksi, pemeliharaan, atau perbaikan juga
dapat menimbulkan potensi bahaya.
[Link].3. Identifikasi bahaya yang terkait dengan situasi darurat dan aktivitas
non rutin.
[Link].4. Identifikasi kemungkinan bahaya yang dapat timbul dari setiap
tahapan aktivitas ketika keadaan darurat dan aktivitas non rutin,
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 9

dengan mempertimbangkan jenis material dan peralatan yang


digunakan serta lokasi kerjanya. Potensi bahaya biasanya timbul
ketika :
 Kebakaran dan ledakan
 Penggunaan bahan kimia berbahaya
 Start up (menghidupkan mesin) setelah shut down
(mematikanmesin) yang direncanakan atau tidak direncakan.
 Aktivitas – aktivitas non rutin, seperti jarang melakukan aktivitas
pemeliharaan.
 Wabah penyakit
 Keadaan darurat akibat cuaca atau bencana alam.
 Darurat medis.
 Kekerasan di tempat kerja.

[Link]. Kelompokkan sifat bahaya yag teridentifikasi, tentukan langkah – langkah


pengendalian sementara, dan tentukan langkah – langkah sementara, dan
tentukan prioritas bahaya yang perlu pengendalian secara permanen.
[Link].1. Dinilai dan pahami bahaya yang teridentifikasi dan jenis – jenis
kecelakaan atau penyakit akibat kerja yang dapat timbul akibat bahaya.
Informasi ini dapat digunakan untuk mengembangkan tindakan
pengendalian semenytara dan menentukan prioritas bahaya mana saja
yang butuh tindakan pengandilan permanen.
[Link].2. Dalam melakukan penilaian dan pengendalian sementara lakukan hal
sebagai berikut :
[Link].2.1. Evaluasi setiao bahaya dengan mempertimbangkan tingkat
keparahan. Perhatikan apa saja dampak dari paparan
bahaya dan jumlah pekerja yang mungkin terpapar.
[Link].2.2. Gunakan tindakan pengendalian sementara untuk
melindungi pekerja sampai program pencegahan dan
pengendalian bahaya secara permanen dapat
diimplementasikan.
[Link].2.3. Perhatikan tingkat kemungkinan dan tingkat keparahan
bahaya untuk memprioritaskan bahaya atau risiko mana
yang harus ditangani terlebih dahulu. Dalam hal ini,
pengurus memiliki kewajiban untuk mengendalikan semua
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 10

bahaya yang dapat menimbulkan dampak serius dalam


jangka waktu yang Panjang bagi pekerja.

5.2. Analisa Risiko dilakukan setelah bahaya – bahaya yang ada telah diketahui.

5.3. Dalam menganalisa risiko harus memperhatikan hal sebagi berikut :


5.3.1. Kemungkinan / probabiltas kejadian kecelakaan, P.A.K, kerugian yang akan terjadi.
5.3.2. Kejadian – kejadian yang telah terjadi sebelumnya pada kegiatan atau proses tersebut.
5.3.3. Dampak yang terjadi pada kejadian.

5.4. Analisa risiko kemungkinan dapat dilhat tabel berikut :

TINGKAT KEKERAPAN
Nilai / TINGKAT
Frekuensi Kejadian (FK) Peraturan dan Persyaratan
SKALA KEKERAPAN
Kemungkinan terjadi hampir tidak Tidak ada regulasi / peraturan
pernah ada / kemungkinan terjadi perusahaan yang mengatur operasi
1 RARE bisa 1 kali dalam kurun waktu pekerjaan.
lebih dari 1 tahun, dan tidak
berulang.
Kemungkinan terjadi kecil / Ada regulasi/peraturan perusahaan
2 UNLIKELY kemungkinan terjadi 1 kali dalam dan memenuhi peraturan yang
6 bulan tetapi tidak terulang berlaku.

Kemungkinan dapat terjadi dalam Ada regulasi/peraturan perusahaan


3 POSSIBLE melakukan pekerjaan. serta terdapat pelanggaran ringan

Kemungkinan besar dapat terjadi Ada regulasi/peraturan perusahaan


4 LIKELY dalam melakukan pekerjaan dan dan melakukan pelanggaran sedang
berulang

Pasti terjadi jika pekerjaan Kasus pelanggaran berat (campura


dilaksanakan / kemungkinan tangan pemerintah untuk
5 ALMOST CERTAIN teerjadi dalam kurun waktu 1 menghentikan/menutup operasi
bulan dan berulang. atau kemungkinan dituntut secara
hukum). Pelanggaran hukum berat.
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 11

KEMUNGKINAN / PELUANG
SKALA 1 2 3 4 5

TINGKAT RARE UNLIKELY POSSIBLE LIKELY ALMOST CERTAIN


Secara teori bisa Bisa terjadi, tetapi Bisa terjadi paling Bisa terjadi 2 s/d 3 Bisa terjadi dari 3
terjadi, tetapi yakin sangat kecil banyak 1 kali kali selama kali selama
tidak akan terjadi kemungkinan selama pekerjaan pekerjaan pekerjaan
RUTIN
SIFAT PEKERJAAN

selama pekerjaan akan terjadi sekali berlangsung berlangsung berlangsung


berlangsung selama pekerjaan
berlangsung

Secara teori bisa Pernah terjadi Pernah terjadi Pernah terjadi Pernah terjadi
terjadi, tetapi belum sekali pada suatu dalam masa 5 dalam masa 3 dalam masa 1
NON RUTIN pernah mengalami waktu yang tidak tahun terkahir tahun terakhir tahun terakhir
atau pernah diketahui pasti
mendengar terjadi
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 12

5.5. Analisa konsekuensi kejadian dapat dilihat tabel berikut :

TINGKAT KEPARAHAN / SEVERITY


DAMPAK (DP)
NILA / NILAI KERUGIAN
TINGKAT
SKALA (NK) SAFETY HEALTH ENVIROMENT QUALITY
> Rp. 1.000.000,- / ( Korban bisa langsung bekerja Luka pada permukaan tubuh, pencemaran dapat tidak memperngaruhi kinerja
dapat ditanggulangi kembali, hanya memerlukan tergores, memar, sakit kepala, dibersihkan dan tidak dan sasaran serta target
oleh maintenance site istirahat tidak lebih dari 1 jam dan hanya memerlukan P3K, memperngaruhi lingkungan perusahaan.
1 INSIGIFICANT dan tidak mengganggu saja. korban tidak terluka parah sekitar
operasional unit) karena pengendalian bahaya
berfungsi dengan baik.

> Rp. 1.000.000,- s/d Rp. Korban bisa langsung bekerja Luka gores cukup dalam, terdapat penyimpangan kecil Penyimpangan kecil terhadap
10.000.00- / (dapat pada hari kejadian atau 1 hari terbakar ringan, dilokasi terhadap kondisi lingkungan, sasaran perusahaan tetapi dapat
ditanggulangi oleh setelah kejadian. serius, sesak nafas. tetapi dapat diabaikan, segera diperbaiki dan dpat
maintenance site tetapi pencemaran dapat diabaikan, pemberitaan negatif
memerlukan waktu ditanggulangi oleh tim site tetapi tidak menurunkan
2 MINOR
perbaikan tidak lebih sendiri kepercayaan stake holder
dari 2 jam dan unit maupun user / klien
dapat beroperasi
kembali)

> Rp. 10.000.000,- s/d Korban harus dibawa ke klinik luka robek, terbakar sedang, pencemaran tidak dapat Kinerja negatif dan
Rp. 20,000,000,- / terdekat dan tidak dapat tersengat aliran listrik ditanggulangi oleh tim yag ada penyimpangan cukup
(dapat diitanggulangi bekerja pada shift berikutnya. bertegangan ringan, gegar di site dan harus memerlukan memperngaruhi sasaran dan
maintenance site otak, dislokasi serius, shock bantuan tim oleh tim target perusahaan tetapi masih
3 MODERATE
dengan bantuan pihak sedang. penanggulangan dari user, dan dapat dikendalikan / diperbaiki,
luar dan memerlukan memperngaruhi lingkungan dapat memperngaruhi
waktu perbaikan tidak sekitar tetapi tidak berdampa kepercayaan stake holder
lebih dari 2 x 24 jam dan besar. maupun klien/user serta dapat
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 13

unit dapat beroperasi dilakukan perbaikan terhadap


kembali) kepercayaan.

> Rp. 20.000.000,- s/d Korban memerlukan Luka terkoyak dalam, terbakar Pencemaran dengan kuantitas Kinerja cukup buruk dan
Rp. 30.000.000,- (harus perawatan medis ke rumah berat, tersengat aliran listrik besar, penipisan SDA dengan pemberitaan cukup negatif serta
ditanggulangi oleh tim sakit dan tidak dapat bekerja bertegangan sedang, fraktur konsumsi sedang, kerusakan memperngaruhi kepercayaan
maintenance pusat dan pada 2 sampai 5 hari kerja. tuang,gegar otak, radang lingkungan sedang. stake holder maupun klien/user,
memerlukan waktu kulit, sesak nafas berat, Memerlukan waktu yang dan sangat memperngaruhi
4 MAJOR
lebih dari 2 x 24 jam) terdapat cidera tulang cukup lama tidak lebih dari 1 sasaran serta target perusahaan.
belakang, cacat minor tahun untuk melakukan Perlu perubahan terhadap
permanent. pengendalian lingkungan yang program kerja perusahaan
tercemar. dalam pencapaian target

>Rp.30.000.000,- / (unit Korban tidak dapat bekerja Amputasi, fraktur tulang pencemaran dapat Kinerja sangat buruk,
rusak parah lebih dari lebih dari 5 hari dan parah, luka kompleks, luka mengakibatka SDA tidak dapat pemberitaan sangat negatif,
75 % dan tidak dapat memerlukan perawatan bakar fatal, penyakit diperbaharui kembali dan hilangnya kepercayaan dari
5 CATASTROPHIC dioperasikan kembali intensif dari rumah sakit besar. mematikan, penyakit fatal kerusakan dapat mengancam stake holder dan klien / user,
Dan atau tidak dapat bekerja akut, kematian eksistensi kehidupan semua sasaran dan target tidak
kembali. tercapai
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 14

5.6. Analisa tingkat risiko adalah sebagai berikut :


1. Gunakan skala angka pada kemungkinan kejadian
2. Jumlahkan angka pada skala konsekuensi kejadian yang dapat terjadi dengan rumus
sebagai berikut :
Kekerapan = ( Nilai Kekerapan + Pelanggaran Peraturan )
Konsekuensi = (Nilai Kerugian + Dampak)
3. Hitunglah tingkat risiko dengan rumus sebagai berikut :
Tingkat risiko = Kekerapan x Konsekuensi

5.7. Untuk tingkat risiko dapat dilihat tabel tingkat risiko sebagai berikut :

TINGKAT RISIKO
TINGKAT RISIKO POTENSI RISIKO TINDAKAN PERBAIKAN

TIDAK DAPAT DITERIMA.(STOP) Pekerjaan tidak boleh


dilakukan sampai tingkat risiko diturunkan. Jika risiko tidak
Extreme > 80
mungkin diturunkan sekalipun dengan sumberdaya yang tidak
terbatas, pekerjaan dihentikan dan tidak boleh dilakukan

Pekerjaan dapat dilakukan dengan syarat Tindakan


pengendalian harus segera dilakukan untuk menurunkan tingkat
Resiko Tinggi (High) 37 - 79
resiko. Keterlibatan Pimpinan diperlukan untuk pengendalian
tersebut.

Harus dilakukan pengendalian tambahan untuk menurunkan


Resiko Sedang
17 - 36 tingkat resiko. Pengendalian tambahan harus diterapkan dalam
(Moderate)
periode waktu tertentu.

Tidak diperlukan pengendalian tambahan. Diperlukan


Resiko Rendah (Low) < 16 pemantauan untuk memastikan pengendalian yang ada
dipelihara dan dilaksanakan.
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 15

5.8. Untuk mempermudah Analisa tingkat risiko dapat menggunaan matriks tingkat risiko sebagai
berikut :

SEVERITY

NK DP NK DP NK DP NK DP NK DP
1 1 2 2 3 3 4 4 5 5
NEGLIGIBLE MINOR MODERATE MAJOR EXTREME
TK PP 2 4 6 8 10
RARE LOW LOW LOW LOW MEDIUM
1 1
2 4 8 12 16 20
UNLIKELY LOW LOW MEDIUM MEDIUM HIGH
2 2
4 8 16 24 32 40
LIKEHOOD

POSSIBLE LOW MEDIUM MEDIUM HIGH HIGH


3 3
6 12 24 36 48 60
LIKELY LOW MEDIUM HIGH HIGH EXTREME
4 4
8 16 32 48 64 160
ALMOST CERTAIN MEDIUM HIGH HIGH EXTREME EXTREME
5 5
10 20 40 60 80 100
Seource and Adepted from AS/NZ 4360 Standard Risk Matrix and NHS QIS Risk Matrix

5.9. Pengendalian risiko terhadap risiko yang ada mengacu pada hirarki pengendalian risiko
sebagai berikut :
1. Eleminasi
2. Subtitusi.
3. Rekayasa Teknik.
4. Kontrol Administratif.
5. Alat Pelindung Diri

5.10. Menerapkan hirarki, harus mempertimbangkan biaya relatif, manfaat pengurangan risiko,
dan keandalan dari pilihan yang tersedia. Dalam membangun dan memilih kontrol, masih
banyak hal yang perlu dipertimbangkan, diantaranya:
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 16

5.10.1 Kebutuhan untuk kombinasi kontrol, menggabungkan unsur-unsur dari hirarki di atas
(misalnya, perancangan dan kontrol administratif),
5.10.2 Membangun praktik yang baik dalam pengendalian bahaya tertentu yang
dipertimbangkan, beradaptasi bekerja untuk individu (misalnya, untuk
memperhitungkan kemampuan mental dan fisik individu),
5.10.3 Mengambil keuntungan dari kemajuan teknis untuk meningkatkan kontrol,
5.10.4 Menggunakan langkah-langkah yang melindungi semua orang (misalnya, dengan
memilih kontrol rekayasa yang melindungi semua orang di sekitar bahaya daripada
menggunakan Alat Pelindung Diri),
5.10.5 Perilaku manusia dan apakah ukuran kontrol tertentu akan diterima dan dapat
dilaksanakan secara efektif,
5.10.6 Tipe dasar kegagalan manusia/human error (misalnya, kegagalan sederhana dari
tindakan sering diulang, penyimpangan memori atau perhatian, kurangnya
pemahaman atau kesalahan penilaian, dan pelanggaran aturan atau prosedur) dan
cara mencegahnya,
5.10.7 Kebutuhan untuk kemungkinan peraturan tanggap darurat bila pengendalian risiko
gagal,
5.10.8 Potensi kurangnya pengenalan terhadap tempat kerja, contoh: visitor atau personil
kontraktor.

5.11. Setelah pengendalian telah ditentukan, maka dapat memprioritaskan tindakan untuk
melaksanakannya. Dalam prioritas tindakan, harus memperhitungkan potensi pengurangan
risiko kontrol direncanakan.
Catatan
Dalam beberapa kasus, perlu untuk memodifikasi aktivitas kerja sampai pengendalian risiko
di tempat atau menerapkan pengendalian risiko sementara sampai tindakan yang lebih
efektif diselesaikan – misalnya, penggunaan mendengar perlindungan sebagai langkah
sementara sampai sumber kebisingan dapat dihilangkan, atau aktivitas kerja dipisahkan
untuk mengurangi paparan kebisingan. kontrol sementara tidak harus dianggap sebagai
pengganti jangka panjang untuk langkah-langkah pengendalian risiko yang lebih efektif.
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO DAN PENGENDALIAN RISIKO


Tanggal Revisi : 02 Februari 2021 Revisi : 03
Tanggal Berlaku : 02 Februari 2021 Halaman : 17

5.12. Pemantauan terhadap tindakan pengendalian akan dilakukan sesuai dengan waktu yang
telah direkomendasikan.
5.13. Jika rekomendasi tindakan pengendalian tidak bisa dilakukan atau belum selesai dilakukan
sampai batas waktu yang ditentukan maka penanggungjawab terhadap tindakan harus
melakukan membuat laporan secara tertulis kepada tim yang terkait.
5.14. Pelaksanaan identifikasi bahaya dan penilaian risiko harus didokumtasikan dengan cara
berikut :
1. Foto
2. Laporan tertulis dengan form yang telah disediakan.

6. LAMPIRAN
6.1. Form IBPRPR (Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko Pengendalian Risiko)
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

PEMERIKSAAN LINGKUNGAN KERJA

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


SAFETY
DISUSUN JERI HERIYANTO 05 Februari 2021
KOORDINATOR

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 05 Februari 2021


PROSEDUR PR.009 – HSE /R.04/21

PEMERIKSAAN KUALITAS LINGKUNGAN KERJA


Tanggal Revisi : 05 FEBERUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 05 FEBERUARI 2021 Halaman : 1

Table of Contents
1) TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2) RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3) REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4) DEFENISI.......................................................................................................................................... 1
5) PROESEDUR .................................................................................................................................... 1
5.1. Identifikasi Pemantauan dan pengukuran kualitas lingkungan kerja....................................... 1
5.2. Pelaksanaan Pemantauan dan Pengukuran Kualitas Lingkungan Kerja. ................................ 1
5.2.1. Kualitas Udara ............................................................................................................. 1
5.2.2. Kebisingan ................................................................................................................... 2
5.2.3. Pencahayaan ............................................................................................................... 3
5.2.4. Suhu dan Kelembaban. ............................................................................................... 4
5.2.5. Getaran di Ruangan..................................................................................................... 5
5.2.6. Radiasi di Ruangan ...................................................................................................... 6
PROSEDUR PR.009 – HSE /R.04/21

PEMERIKSAAN KUALITAS LINGKUNGAN KERJA


Tanggal Revisi : 05 FEBERUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 05 FEBERUARI 2021 Halaman : 1

1) TUJUAN
Memastikan bahawa aspek lingkungan kerja dapat dipantau kesesuaiannya dengan peraturan
perundangan, standard dan pedoman yang berlaku dan terkait.

2) RUANG LINGKUP
Prosedur ini meliputi kegiatan dalam melakukan pemantauan serta pengukuran kualitas
lingkungan kerja di wilayah kerja perusahaan.

3) REFERENSI
PP No. 50 Tahun 2012, Sub Elemen 1.3.1 : 7.2 (1.3.1) Tinjauan terhadap penerapan SMK3 meliputi
kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi telah dilakukan, dicatat dan
didokumentasikan. (7.2) Pemantauan/Pengukuran lingkungan kerja.

4) DEFENISI

5) PROESEDUR
5.1. Identifikasi Pemantauan dan pengukuran kualitas lingkungan kerja.
1. Setiap bagian / departemen akan melakukan identifikasi terhadap kebutuhan pemantauan
dan pengukuran sesuai dengan kondisi lingkungan kerja masing-masing.
2. Hasil identifikasi akan diserahkan kepada bagian HSE.

5.2. Pelaksanaan Pemantauan dan Pengukuran Kualitas Lingkungan Kerja.


5.2.1. Kualitas Udara
[Link]. Pengukuran kualitas udara dilakukan secara berkala sesuai dengan waktu
yang ditentukan.
[Link]. Bagian HSE akan memeriksa kualitas udara yang ada diruangan kerja setiap
bagian.
[Link]. Untuk pengukuran kualitas udara pada lokasi kerja terbuka adalah
menggunakan metode visual dan pengukuran terhadap kandungan gas
berbahaya dengan menggunakan detector gas.
[Link]. Untuk pengukuran kualitas udara dalam ruangan maka pihak HSE akan minta
bantuan pihak ketiga untuk melakukan pengukuran.
PROSEDUR PR.009 – HSE /R.04/21

PEMERIKSAAN KUALITAS LINGKUNGAN KERJA


Tanggal Revisi : 05 FEBERUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 05 FEBERUARI 2021 Halaman : 2

[Link]. Standar kondisi udara yang diperbolehkan mengacu pada persyaratan


kualitas udara dari KEPMENKES RI Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 dan
PERMENAKERTRANS nomor 13/MEN/X/2011
[Link]. Kandungan debu maksimal didalam udara ruangan dalam pengukuran rata-
rata 8 jam adalah sebagai berikut :

[Link]. Pertukaran udara : 0,283 M3/menit/orang dengan laju ventilasi : 0,25 – 01,25
m/detik. Untuk ruangan kerja yang tidak menggunakan pendinginan harus
memiliki lubang ventilasi minimal 15% dari luas lantai dengan menerapkan
ventilasi silang.

[Link]. Kandungan gas pencemar dalam ruang kerja, dalam rat-rata pengukuran 8
jam sebagai berikut :

KONSNETRASI MAKSIMAL
NO. PARAMETER
(mg/m3) ppm
1 Asam Sulfida (H2S) 1
2 Amonia (NH3) 17 25
3 Karbon Monoksida (CO) 29 25
4 Nitrogen Dioksida (NO2) 5.60 3.0
5 Sulfur Dioksida 5.2 2

[Link]. Mikrobiologi

1. Angka kuman kurang dari 700 koloni/m3 udara


2. Bebas kuman pathogen

5.2.2. Kebisingan
[Link]. Pengukuran kebisingan dilakukan pada tempat-tempat kerja yang memiliki
suara yang melebihi nIlai ambang batas kebisingan.
[Link]. Pengukuran dilakukan oleh HSE secara berkala ditempat-tempat / ruang kerja
yang mempunyai kebisingan.
[Link]. Pengukuran dilakukan menggunakan alat environmental meter yang ada.
[Link]. Hasil pengukuran akan di dokumentasikan dan dibuat laporan serta tindakan
rekomendasi (jika ada).
PROSEDUR PR.009 – HSE /R.04/21

PEMERIKSAAN KUALITAS LINGKUNGAN KERJA


Tanggal Revisi : 05 FEBERUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 05 FEBERUARI 2021 Halaman : 3

[Link]. Untuk ambang batas yang ditoleransi waktu paparan yang diperbolehkan
mengacu pada peraturan PERMENAKERTRANS nomor 13/MEN/X/2011.

Waktu pemaparan per hari Intensitas kebisingan dalam dBA


8 85
4 88
Jam
2 91
1 94

30 97
15 100
7,5 103
Menit
3,7 106
1,88 109
0,94 112

28,12 115
14,06 118
7,03 121
1,76 124
Detik
0,88 127
0,44 130
0,22 136
0,11 139

Catatan : Tidak boleh terpajan lebih dari 140 dBA, walaupun sesaat

5.2.3. Pencahayaan
[Link]. Pengukuran dilakukan oleh bagaian HSE secara berkala sesuai dengan
waktu yang ada pada program kerja.
[Link]. Pemeriksaan dan pengukuran intensitas cahaya dilakukan di ruang-ruang
kerja di kantor.
[Link]. Intensitas cahaya di ruang kerja minimal 100 lux
PROSEDUR PR.009 – HSE /R.04/21

PEMERIKSAAN KUALITAS LINGKUNGAN KERJA


Tanggal Revisi : 05 FEBERUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 05 FEBERUARI 2021 Halaman : 4

[Link]. Jika cahaya kurang dari 100 lux maka dapat dilakukan peningkatan cahaya
pada lampu atau dibuat jendela atau pencahayaan luar bangunan sesuai
dengan persayaratan.
[Link]. Tata cara pelaksanaan adalah sebagai berikut :
1. Pencahayaan alam maupun buatan diupayakan agar tidak
menimbulkan kesilauan dan memiliki intensitas sesuai dengan
peruntukannya.
2. Penempatan bola lampu dapat menghasilkan penyinaran yang
optimum dan bola lampu sering dibersihkan
3. Bola lampu yang mulai tidak berfungsi dengan baik segra diganti

5.2.4. Suhu dan Kelembaban.


[Link]. Pemeriksaan ini dilakukan ruang kerja kantor asset perusahaan.
[Link]. Pemeriksaan dilakukan oleh HSE secara berkala sesuai dengan program
kerja.
[Link]. Suhu ruangan kantor adalah 18OC - 28OC. atau mengacu pada Indeks suhu
bola basah yang diperkenankan. Dapat dilihat tabel dibawah ini ;

IBB
Pengaturan waktu kerja (OC)
setiap jam Beban Kerja
Ringan Sedang Berat
75% - 100% 31.0 28.0 -
50% - 75% 31.0 29.0 27.5
25% - 50% 32.0 30.0 29.0
0% - 25% 32.2 31.1 30.5

[Link]. Kelembaban udara


1. Kelembaban udara diruang kerja akan dipantau secara berkala oleh
HSE setiap bulan sesuia dengan jadwal yang ada di program kerja.
2. Bila kelembaban udara ruang kerja > 60% perlu menggunakan alat
dehumidifier
PROSEDUR PR.009 – HSE /R.04/21

PEMERIKSAAN KUALITAS LINGKUNGAN KERJA


Tanggal Revisi : 05 FEBERUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 05 FEBERUARI 2021 Halaman : 5

3. Bila kelembaban udara ruang kerja < 40 % perlu menggunakan


humidifier (misalnya : mesin pembentuk aerosol).

[Link]. Temuan terhadap hasil pemantauan akan diberikan rekomendasi


perbaikan sesuai dengan peraturan perundangan atau standard yang
berlaku.

5.2.5. Getaran di Ruangan.


[Link]. Untuk area getaran yang ada pada ruangan maka akan diperiksa dan
dipantau secara berkala.
[Link]. Bagian yang bersangkutan bersama bagian HSE akan memantau dan
meriksa tingkat getaran yang ada.
[Link]. Tingkat getaran maksimal untuk kenyaman dan kesehatan karyawan
harus memenuhi syarat sebagai berikut :

Tingkat Getaran Maksimal


No. Frekuensi
(dalam micron = 10-6M
1 4 < 100
2 5 < 80
3 6,3 < 70
4 8 < 50
5 10 < 37
6 12,5 < 32
7 16 < 25
8 20 < 20
9 25 < 17
10 31,5 < 12
11 40 <9
12 50 <8
13 63 <6

[Link]. Agar getaran tidak memngganggu kesehatan atau membahayakan perlu


diambil tidakan sebagai berikut :
PROSEDUR PR.009 – HSE /R.04/21

PEMERIKSAAN KUALITAS LINGKUNGAN KERJA


Tanggal Revisi : 05 FEBERUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 05 FEBERUARI 2021 Halaman : 6

1. Melengkapi ruang kerja dengan peredam getar.


2. Memperbaiki/memelihara system penahan getaran
3. Mengurangi getaran pada sumber, misalnya dengan member
bantalan pada sumber getaran.

5.2.6. Radiasi di Ruangan


[Link]. Bagian HSE akan meminta bantuan perusahaan / badan lain diluar
perusahaan untuk melakukan radiasi yang ditimbulkan oleh peralatan listrik
yang ada di perusahaan.
[Link]. Tingkat radiasi medan listrik dan medan magnet listrik dtepat kerja adalah
sebagai berikut :
1. Medan listrik
a. Sepanjang hari kerja : maksimal 10 kV/m.
b. Waktu singkat dengan 2 jam per hari maskimal 30 kVm
2. Medan mangent listrik
a. Sepanjang hari kerja : maksimal 0,5 mT (mili Tesla)
b. Waktu singkat sampai dengan 2 jam perhari : 5 mT

[Link]. Tata cara laksana pencegahan adalah sebagai berikut :


1. Pencegahan terhadap radiasi medang listrik
1.1. Merancang instalasi sesuai denagn Peraturan Umum Instalasi
Listrik (PUIL).
1.2. Menyediakan alat pelindung (Isolasi) radiasi pada sumber.
2. Pencegahan terhadap radiasi medan magnet listrik :
2.1. Lokasi perkantoran jauh/tidak berada dibawah saluran udara
tegangan tinggi (SUT) atau saluran udaran tegangan ekstra
tinggi (SUTET), jarak vertical bangunan dari sumber maksimal
10 m dan jarak horizontal minimal 30 m.
FORM PEMERIKSAAN KUALITAS LINGKUNGAN KERJA
Lokasi Bagian Tanggal Pemeriksaan Pemeriksa

Item Periksa
 Kualitas udara  Kelembaban dan Suhu  Pencahayaan  Getaran  Radiasi  Kualitas Air  Kebersihan
No. Lokasi Temuan Temuan Rekomendasi Target Status Tanggung Jawab

No Pemeriksa Catatan
Nama Jabatan Tanda tangan
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

PEMERIKSAAN KESEHATAN KERJA

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


SAFETY
DISUSUN JERI HERIYANTO 04 FEBRUARI 2021
KOORDINATOR

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 04 FEBRUARI 2021


PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21

PEMERIKSAAN KESEHATAN KERJA


Tanggal Revisi : 04 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
PT. LEMATANG
Tanggal Berlaku : 04 FEBRUARI 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1) TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2) RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3) REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4) PROESEDUR .................................................................................................................................... 1
4.1. Parameter Uji Kesehatan. .................................................................................................... 1
4.2. Penetapan Paket Uji Kesehatan .......................................................................................... 1
4.3. Frekuensi Pemeriksaan Kesehatan ...................................................................................... 2
4.4. Pelaksanaan.......................................................................................................................... 2
4.5. Kriteria Penyelenggara (Provider) ...................................................................................... 2
4.6. Pencatatan/Recording ......................................................................................................... 4
4.7. Pelaporan/Reporting ........................................................................................................... 4
4.8. Follow Up.............................................................................................................................. 4
4.9. Quality Assurance ................................................................................................................ 5
PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21

PEMERIKSAAN KESEHATAN KERJA


Tanggal Revisi : 04 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
PT. LEMATANG
Tanggal Berlaku : 04 FEBRUARI 2021 Halaman : 1

1) TUJUAN
1) Memberikan pedoman kepada karyawan tentang tata cara pemeriksaan kesehatan.
2) Memastikan bahwa karyawan/pekerja telah dalam kondisi kesehatan dan stamina yang tinggi
sebelum melakukan pekerjaan dan tetap dalam kondisi sehat selama bekerja dan tidak ada
P.A.K yang di derita oleh karyawan/pekerja.

2) RUANG LINGKUP
Seluruh jajaran organisasi perusahaan dan berlaku diwilayah kerja perusahaan.

3) REFERENSI
 UU. No. 01 Tahun 1970 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
 Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per 02/Men/1980 tentang
pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dalam penyelenggaraan keselamatan kerja.
 Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per 03/Men/1982 tentang
pelayanan kesehatan kerja.

4) PROESEDUR
4.1. Parameter Uji Kesehatan.
4.1.1. Parameter uji kesehatan ditetapkan sebanyak 6 paket yang meliputi
A. Umum dan admin;
B. Penjamah makanan;
C. Kebisingan;
D. Suhu tinggi;
E. Terpapar bahan kimiawi.
F. Pengemudi mobil dan Operator Alat Berat.
4.1.2. Secara lengkap parameter uji kesehatan dapat dilihat pada Lampiran 1.

4.2. Penetapan Paket Uji Kesehatan


4.2.1. Untuk paket E, yakni semua mereka yang bekerja dengan menggunakan bahan kimiawi
sperti Benzene, Toluene, Ketone, dll.
PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21

PEMERIKSAAN KESEHATAN KERJA


Tanggal Revisi : 04 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
PT. LEMATANG
Tanggal Berlaku : 04 FEBRUARI 2021 Halaman : 2

4.2.2. Untuk Paket D, yakni mereka yang terpapar suhu tinggi melebihi NAB dalam ukuran
ISBB (WBGT).
4.2.3. Untuk paket C yakni mereka yang terpapar kebisingan dengan dosis lebih dari 0,5
dengan exchange rate 3 dB atau diatas 82 dBA (Leq).
4.2.4. Untuk paket B, penjamah makanan, yakni mereka yang berkaitan dengan penyipanan
makanan di kantin baik langsung maupun tak langsung.
4.2.5. Untuk paket F, yakni mereka yang bertugas tetap sebagai pengemudi mobil atau
Operator alat berat.
4.2.6. Selain dari mereka yang telah ditetapkan diatas maka dikenakan sebagai paket A yakni
mengikuti mereka yang ada di pekerjaan administrasi dll.
4.2.7. Untuk Fire brigade dan welders mereka dikenakan paket E (kimiawi).
4.2.8. Untuk mereka dengan multiple exposure, maka dikenakan paket tertentu ditambah
dengan parameter tertentu untuk exposure yang lain. Misalnya merekja yang terpapar
bising tinggi dan panas, maka terkena paket kebisingan (C) dan sisa selisih terhadap
paket D.

4.3. Frekuensi Pemeriksaan Kesehatan


Untuk pemeriksaan kesehatan berkala dilakukan dengan frekwensi tertentu sesuai dengan usia
karyawan sebagai berikut:
1. Usia kurang dari 39 tahun, pemeriksaan kesehatan dilakukan setiap 3 tahun.
2. Usia antara 40 sampai dengan 49 tahun, pemeriksaan kesehatan dilakukan setiap 2
tahun.
3. Usia lebih dari 50 tahun, pemeriksaan kesehatan dilakukan setiap tahun sekali.

4.4. Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan pemeriksaan perusahaan harus dapat bekerjasama dengan pihak
penyelenggara dalam menetapkan jadwal kerja dengan tetap memperhatikan kegiatan
produksi yang normal.

4.5. Kriteria Penyelenggara (Provider)


Penyelenggara yang ditunjuk harus memenuhi criteria sebagai berikut
4.6.1. Legal
Akan di survey oleh Legal Departemen atau HRD.
PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21

PEMERIKSAAN KESEHATAN KERJA


Tanggal Revisi : 04 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
PT. LEMATANG
Tanggal Berlaku : 04 FEBRUARI 2021 Halaman : 3

4.6.2. Kesanggupan
1. Seluruh pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan di lokasi perusahaan.
2. Pemeriksaan untuk spirometri harus berdasarkan terjemahaan dari nomogram
Indonesia.
3. Audiometri harus dilakukan dengan sound booth di lokasi perusahaan, dengan
audiometer yang dikalibrasi oleh petugas yang terlatih (bersertifikat).

4.6.3. Hasil Pemeriksaan


Hasil pemeriksaan (interim report) harus dapat diterima dalam waktu maximal delapan
hari dari pemeriksaan. Final report diterima paling lambat setelah 4 minggu dari saat
pemeriksaan. Hasil pemeriksaan diterima dalam database excel. Interim report memuat
hasil – hasil pemeriksaan yang penting untuk ditindak lanjuti segera, misalnya
Tuberkulosis, DM, dll.

4.6.4. Laporan Hasil Pemeriksaan


Laporan hasil pemeriksaan harus meliputi:
1. Dua Rangkap
2. Summary Group, diserahkan kepada klinik perusahaan klien dalam bentuk (secara
berkala.
3. Summary Keseluruhan, diserahkan kepada klinik perusahaan klien setelah selesai
pemeriksaan semua pegawai.

4.6.5. Komunikasi
Penyelenggara harus memberikan konsultasi kepada setiap karyawan tentang hasil
pemeriksaan kesehatannya. Penjadwalan dilakukan oleh pihak HRD.

4.6.6. Limbah
Penyelenggara harus bertanggung jawab atas limbah dari proses pemeriksaan
kesehatan.

4.6.7. Kontinuitas
Penyelenggara harus bersedia memberikan pelayanan jangka panjang berupa
pemeriksaan kesehatan pre-employment dan periodik demi menjamin uniformitas dari
data rekam medik.

4.6.8. Biaya
Penyelenggara mencantumkan biaya dengan rinci dan disetujui oleh pihak manajemen.
PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21

PEMERIKSAAN KESEHATAN KERJA


Tanggal Revisi : 04 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
PT. LEMATANG
Tanggal Berlaku : 04 FEBRUARI 2021 Halaman : 4

4.6. Pencatatan/Recording
4.6.1. Penyelenggara membuat kesimpulan akhir pemeriksaan kesehatan tiap karyawan 2
rangkap, 1 rangkap akan diberikan pada klinik perusahaan untuk disimpan sebagai
dokumen klinik dan 1 rangkap akan diberikan pada karyawan yang bersangkutan.

4.6.2. Klinik perusahaan akan menyimpan hasil pemeriksaan kesehatan tiap karyawan
minimal selama 3 tahun setelah karyawan berhenti bekerja dengan memelihara
kerahasiaan.

4.7. Pelaporan/Reporting
4.7.1. External
Pelaporan ke DISNAKERTRANS sesuai peraturan yang berlaku dilakukan oleh pihak
perusahaan.

4.7.2. Internal
[Link]. Ringkasan yang menyeluruh hasil pemeriksaan disampaikan kepada
Manajemen dengan mencantumkan saran tindak lanjut yang diperlukan.

[Link]. Pada fitness status tercantum hasil akhir pemeriksaan kesehatan, yang
disimpulkan menjadi beberapa golongan, yaitu:
1. Fit for Job (Cakap untuk bekerja)
2. Fit with restriction (Cakap dengan keterbatasan)
3. Temporary unfit (Tidak cakap untuk sementara)
4. Unfit (Tidak cakap)
5. Special (Khusus)

4.8. Follow Up
Tindak lanjut dari hasil pemeriksaan akan dilaksanakan oleh perusahaan, khususnya berupa:
1. Tindakan medik yang diperlukan dalam rangka pengobatan;
2. Rujukan ke spesialis yang bersangkutan dengan penyakit tertentu;
3. Sertifikasi kecakapan berkeja (fitnes), khususnya kepada Penjamah makanan, Drivers,
Respirator users dan Fire brigade.
PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21

PEMERIKSAAN KESEHATAN KERJA


Tanggal Revisi : 04 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
PT. LEMATANG
Tanggal Berlaku : 04 FEBRUARI 2021 Halaman : 5

4.9. Quality Assurance


Penyelengaara harus mempunyai prosedur pemeriksaan yang jelas, bersifat transparan, sesuai
dengan prinsip-prinsip ilmu kedokteran.
PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21

PEMERIKSAAN KESEHATAN KERJA


Tanggal Revisi : 04 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
PT. LEMATANG
Tanggal Berlaku : 04 FEBRUARI 2021 Halaman : 1

Lampiran 1.
PAKET GME / MCU
No Parameter Uji A B C D E F Ket
1 Identitas √ √ √ √ √ √ Lihat Lampiran 2
2 Riwayat Pekerjaan √ √ √ √ √ √ Lihat Lampiran 2
3 Riwayat Kesehatan √ √ √ √ √ √ Lihat Lampiran 2
4 Pemeriksan Fisik :
a. Tinggi Badan √ √ √ √ √ √
b. Berat Badan √ √ √ √ √ √
c. Tensi meter √ √ √ √ √ √
d. BMI √ √ √ √ √ √
e. Pemeriksaan Mata
- Refraksi (visus) √ √ √ √ √ √
- Buta Warna (ishihara) √ √ √ √ √ √
- Funduscopy √
- Tonometri √
f. Gigi dan Mulut √ √ √ √ √ √
g. Organ Fisik:
- THT √ √ √ √ √ √
- Sistem Kardiovaskular √ √ √ √ √ √
- Sistem pernafasan √ √ √ √ √ √
- Abdomen √ √ √ √ √ √
- Genito urinary system √ √ √ √ √ √
- Central & peripheral nerv. System √ √ √ √ √ √
- Kulit √ √ √ √ √ √
- Lymph Nodes √ √ √ √ √ √
- Muscle – Skeletal and spinal bones √ √ √ √ √ √
5 Rontgen thorax √ √ √ √ √ √
6 EKG
a. untuk usia 35 tahun atau lebih √ √
b. untuk usia 40 tahun atau lebih √ √ √ √
7 Laboratorium
a. Darah Lengkap
- Leukosit √ √ √ √ √ √
- LED √ √ √ √ √ √
- Diff. Count √ √ √ √ √ √
- Golongan darah dan rhesus √ √ √ √ √ √ 1 kali
b. Gula Darah
PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21

PEMERIKSAAN KESEHATAN KERJA


Tanggal Revisi : 04 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
PT. LEMATANG
Tanggal Berlaku : 04 FEBRUARI 2021 Halaman : 2

- Gula darah puasa √ √ √ √ √ √


- Gula darah 2 jam PP √ √ √ √ √ √
c. Fungsi Hati
- SGOT √ √ √ √ √ √
- SGPT √ √ √ √ √ √
- Alkali Phosphate √ √ √ √ √ √
- Gamma GT √
- Billirubin direct √
- Billirubin indirect √
- Billirubin total √
d. Fungsi Ginjal
- Ureum √ √ √ √ √ √
- Creatinin √ √ √ √ √ √
- Asam Urat √ √ √ √ √
e. Hepatitis Marker
- HBsAg √ √ √
- Anti HbsAg √ √ √
f. Urine Rutin √ √ √ √ √
g. Faeces
- Faeces Rutin √ √ √ √ √
- Faeces Culture √ 1 kali
8 Audiometri √ √
9 Spirometri √
10 Drug screening test √
Catatan:
Paket A: GME / MCU untuk umum dan admin
Paket B: GME / MCU untuk food handler
Paket C: GME / MCU untuk pekerja dengan pemaparan terhadap kebisingan tinggi
Paket D: GME / MCU untuk pekerja dengan pemaparan terhadap suhu tinggi
Paket E: GME / MCU untuk pekerja dengan pemaparan terhadap bahan kimia (solvents, dll)
Paket F: GME / MCU Driver, untuk pengemudi mobil dan forklift dan alat berat
PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21

PEMERIKSAAN KESEHATAN KERJA


Tanggal Revisi : 04 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
PT. LEMATANG
Tanggal Berlaku : 04 FEBRUARI 2021 Halaman : 1

Lampiran 2.
1. Identitas
QUESTIONNAIRE
Nama Depan Given Nama Keluarga
Name Surename

Nomor Karyawan Employee Nomor File File Tanggal Lahir Date Tempat Kelahiran Suku Bangsa
Number Number of Birth Place of Birth Ethnic Origin

Jenis Kelamin Sex Status Perkawinan Marital Jumlah Anak


Status Number of Children

Pria Wanita Bujang / Nona Menikah Janda / Duda


    
Male Female Single Married Widow / Widower

Jabatan Pekerjaan Sebagai Position Departemen


Applied for (Job title ) Department

QUESTIONNAIRE
Riwayat Kesehatan Keluarga 10 gr Alkohol = 1 Kaleng Bir = 1 Gelas Anggur Obat-Obatan yang
- Masih Hidup? Penyakit Kronis Yang Dialami? Sering Digunakan
- Meninggal? Penyebabnya?
- 10 gr Alcohol = 1 can beer = 1 glass wine = 1
Family Health History Prescribed
glass / nip spirit Medication
( Alive? - any long term illness. Dead? - Cause? )

Ayah / Father : Merokok (batang/hari)

Ibu / Mother : Cigarette ( single/day)


Alergi Terhadap
Saudara Kandung / Siblings : Minuman Alkohol (gr/minggu)
Any Allergies

Lainnya / Other : Alcohol (gr/ week)


PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21

PEMERIKSAAN KESEHATAN KERJA


Tanggal Revisi : 04 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
PT. LEMATANG
Tanggal Berlaku : 04 FEBRUARI 2021 Halaman : 1

2. Riwayat Pekerjaan
QUESTIONNAIRE
Apakah Pada Riwayat Pekerjaan Sebelumnya Anda Bekerja Berhubungan Dengan Hal-Hal Sebagai Berikut?
Previous Employment, Job Involves and Potential Occupational Hazard Exposures (Choose All Applicable)
Gunakan Tanda (√) Bila Ya
Use (√) Sign On The Chosen Items
NAMA PERUSAHAAN
BAHAYA-BAHAYA COMPANY NAME
HAZARDS Tahun/Year……...…. Tahun/Year……….... Tahun/Year…..…..… Tahun/Year…...….…
1. 2. 3. 4.
Kebisingan
Noise
Suhu Sangat Panas
Heat Stress
Suhu Sangat Dingin
Cold Stress
Getaran
Vibrasi
Debu
Dust
Bahan Kimia Berbahaya
Toxic Chemical
Cairan Berbahaya
Iritating Fluid
Asap
Fumes
Mengoperasikan Alat Berat Yang Bergerak
Operating Heavy Mobile Equipment
Bekerja Di Sekitar Mesin-Mesin Yang
Bergerak
Working Arround Rotating Machinery
Perlu Ketajaman Penglihatan Terhadap
Warna
Requires Color Vision
Bekerja Pada Ketinggian
Involving Heights
Pekerjaan Kantor
Clerical / Administrative Work
Mengelola Produk Makanan
Handling Food Products
Lain-lain
Others
PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21

PEMERIKSAAN KESEHATAN KERJA


Tanggal Revisi : 04 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
PT. LEMATANG
Tanggal Berlaku : 04 FEBRUARI 2021 Halaman : 1

3. Riwayat Kesehatan
QUESTIONNAIRE
RIWAYAT MEDIS / MEDICAL HISTORY
Berilah Tanda (√ ) Bila Anda Pernah atau Sedang Menderita Penyakit/Kondisi Berikut Ini :
Please Indicate (√) If You Ever Suffered From or Are Suffering The Following Conditions
Y N Disease / Condition Y N Disease / Condition
Head Injury or Concussion Allergies
Fainting, Blackouts, epilepsy Tuberculosis
Visual changes Psychiatric Disorder
Hearing Loss Sexual Transmitted Disease
Nose, Sinus, Throat, Voice Trouble > 4 Unusual Change of Weight > 5
Weeks Kg/Month
Obstetric or Gynaecological Problems Hypertension
Chronic Skin Problem Chest Pain / Heart Disease
Chronic Diarrhoea Malaria / Tropical Disease
Anorexia > 4 Weeks Operation / Surgery
Gastritis Back Pain > 4 Weeks
Jaundice / Hepatitis Thypoid Fever
Chronic Cough > 4 Weeks Swollen or Painful Joint
Haemorrhoid Kidney Problem / Urinary Stones
Chronic Abdominal Pain Vertigo
Diabetes Other Chronic Disease
Asthma
RIWAYAT VAKSINASI / VACCINATION HISTORY
BCG DPT POLIO MEASLES TYPHOID HEP. A HEP. B Tetanus Other
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

KESELAMATAN
PENGANGKATAN MANUAL

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


KOORDINATOR
DISUSUN JERI HERIYANTO 10 SEPTEMBER 2021
SAFETY

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 10 SEPTEMBER 2021


PROSEDUR PR.000 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN PENGANGKATAN MANUAL


Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. DEFENISI.......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
PROSEDUR PR.000 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN PENGANGKATAN MANUAL


Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
Sebagi panduan kepada karyawan dan atau pekerja untuk melakukan manual handling agar
terhindar dari cidera.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI

4. DEFENISI
Manual handling adalah transportasi atau penyanggaan beban dengan tangan dan tubuh yang
termasuk didalamnya pengangkatan, memindahkan, meletakkan, mendorong, menarik,
menggeser, mendorong, menarik, menggeser, penyanggaan.
Pengangkatan manual adalah tindakan untuk mengangkatan beban dengan tangan atau
penyangga benda dengan tubuh.

5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB


5.1. Sebelum mengangkat benda terlebih dahulu lakukan pemeriksaan mengenai berat dan besar
benda.
5.2. Lakukan pengetesan untuk stabilitas
5.3. Ketika akan mengangkat beban, maka beban tersebut harus didekatkan dengan / zona angkat
tubuh,
5.4. Letak kaki harus mantap dan pijakan kaki tidak dalam keadaan miring
5.5. Jarak antara kaki 20 – 30 cm.
5.6. Posisikan kaki dekat dengan beban yang akan diangkat dan mengurangi beban otot punggung.
5.7. Tekuklah lutut kemudian jongkok, tulang punggung harus tegak.
5.8. Berdirilah dengan menekankan kaki agar beban diserap oleh otot kaki dan beban harus didekap
tubuh anda.
5.9. Pandangan harus bebas dari hambatan dan gerakkan tubuh anda menurut perubahan letak kaki
untuk menambah kenyaman.
PROSEDUR PR.000 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN PENGANGKATAN MANUAL


Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 2

5.10. Keadaan tempat kerja atau untuk memindahkan beban dalam kondisi rapi dan tidak ada
rintangan. Dan tidak ada gangguan.
5.11. Beban angkat harus disekitar tubuh dan jangan memutar tubuh.
5.12. Istirahatlah jika merasa letih.
5.13. Jika merasa berat maka letakkan beban panggil teman untuk membantu angkat beban secara
Bersama.
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

FIT TO TASK

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


KOORDINATOR
DISUSUN JERI HERIYANTO 18 JULI 2021
SAFETY

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 18 JULI 2021


PROSEDUR PR.039 – HSE /R.04/21

FIT TO TASK
Tanggal Revisi : 18 JULI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 18 JULI 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB. ................................................................................................ 1
PROSEDUR PR.039 – HSE /R.04/21

FIT TO TASK
Tanggal Revisi : 18 JULI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 18 JULI 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
Prosedur ini bertujuan unutk memastikan bahawa karyawan / pekerja yang akan bekerja dalam
kondisi kesehatan yang prima dan siap kerja, baik sehat fisik dan sehat psikis.
Sebagai panduan bagia safety untuk melakukan pemeriksaan terhadap karyawan yang akan
memasuki area kerja proyek.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
Permaker No. 02 Tahun 1980 Tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja.

4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB.


4.1. Pemeriksaan kesehatan ini akan dilakukan dalam berikut :
4.1.1. 1 bulan sekali bagi karyawan bukan mandah
4.1.2. Setelah masa off / mulai masuk kerja kembali bagi karyawan mandah tetapi hari kerja
tidak melebihi 1 bulan.
4.2. Karyawan yang akan diperiksa sesuai jadwal yang ditentukan akan menghadap ke dokter yang
ditunjuk oleh perusahaan atau klinik yang ditunjuk oleh perusahaan. Atau pemeriksaan dapat
pula dilakukan oleh bagian safety sub bidang kesehatan.
4.3. Karyawan yang akan dilakukan pemeriksaan harus telah cukup istirahat dan tidak
mengkonsumsi obat atau NAPZA atau alcohol.
4.4. Pemeriksaan akan dilakukan untuk mengetahui derajat kesehatan karyawan.
4.5. Jika kondisi kesehatan karyawan tidak cukup sehat maka harus dinyatakan tidak cukup sehat
oleh pemeriksa secara tertulis berikut hasil pemeriksaan.
4.6. Pemeriksaan kesehatan pada fit to task ini adalah sebagai berikut :
4.6.1. Pemeriksaan fisik
4.6.2. Pemeriksaan tekanan darah.
4.6.3. Wawancara kesehatan

4.7. Bagi karyawan yang dinyatak fit maka dapat masuk wilayah kerja untuk melakukan pekerjaan.
PROSEDUR PR.039 – HSE /R.04/21

FIT TO TASK
Tanggal Revisi : 18 JULI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 18 JULI 2021 Halaman : 2

4.8. Bagi karyawan yang tidak fit maka akan diberikan waktu untuk melakukan pengobatan atau
peningkatan derajat kesehatan sesuai dengan rekomendasi.
4.9. Untuk karyawan yang telah menjalani pengobatan atau usaha peningkatan derajat kesehatan
dapat meminta pemeriksaan ulang kepada bagian safety.

5. Lampiran
FORMULIR LAPORAN PEMERIKSAAN KESEHATAN KARYAWAN (FIT TO TASK)
LOKASI
PERIODE
DAFTAR PERIKSA HASIL
KONTAK PEMERIKSAN
No. TGL. PERIKSA NAMA JABATAN BERAT TEKANAN INDRA INDRA INDRA
MENTAL DAN FIT Tdk FIT
BADAN DARAH PENDENGARAN PENGLIHATAN PENCIUMAN
PERHATIAN
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

PENGENDALIAN AKSES

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


KOORDINATOR
DISUSUN JERI HERIYANTO 10 SEPTEMBER 2021
SAFETY

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 10 SEPTEMBER 2021


PROSEDUR PR.027 – HSE /R.04/21

PENGENDALIAN AKSES
Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
4.1. Akses Kantor ........................................................................................................................ 1
4.2. Akses Gudang........................................................................................................................ 2
4.3. Akses Lokasi Kerja Proyek ..................................................................................................... 3
PROSEDUR PR.027 – HSE /R.04/21

PENGENDALIAN AKSES
Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
Sebagai panduan kepada seluruh karyawan untuk penerapan akses kontrol yang bertugas
diwilayah kerja perusahaan.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
3.1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 Tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.3. Undang-Undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB


4.1. Akses Kantor
4.1.1. Karyawan
[Link]. Setiap karyawan yang akan memasuki kantor harus melakukan absensi
yang telah disediakan.
[Link]. Security kantor harus memastikan karyawan keluar masuk tercatat pada
log book.
[Link]. Untuk memasuki ruang direksi maka harus mendapat ijin dari direksi yang
akan ditemui.
[Link]. Sebelum memasuki ruang direksi terlebih dahulu melapor ke bagian
sekretaris direksi.
[Link]. Untuk karyawan yang akan keluar kantor pada jam kerja karena ijin atau
pun keperluan kedinasan harus menunjukkan surat ijin dan atau surat
dinas yang telah disetujui oleh atasan langsung kepada security.
[Link]. Security akan mencatat pada log book.
[Link]. Log book akan dilaporkan kepada kepala bagian operasional setiap
bergantian shift keamanan.
PROSEDUR PR.027 – HSE /R.04/21

PENGENDALIAN AKSES
Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 2

4.1.2. Tamu
[Link]. Tamu harus melapor ke security
[Link]. Security wajib menanyakan keperluan tamu dan siapa yang akan di temui.
[Link]. Security akan meminta kartu identitas tamu untuk dipinjam sementara
untuk dicatat dan sebagai jaminan masuk.
[Link]. Tamu akan mengisi serta memparaf buku log book.
[Link]. Security akan memberikan informasi mengenai tamu kepada yang akan
dikunjungi dan meminta persetujuan dari yang bersangkutan.
[Link]. Jika di ijinkan maka security akan menginformasikan kepada tamu untuk
menunggu di ruang tunggu.
[Link]. Tamu yang di ijinkan akan dipersilahkan masuk ke ruang tamu.
[Link]. Security akan menolak tamu jika :
1. Yang bersangkutan tidak mau menerima tamu.
2. Alasan kedatangan tamu tidak jelas.
3. Tamu dengan membawa sajam/senpi atau barang berbahaya dan
hendak membuat keributan.
4.1.3. Tamu yang dipersilahkan masuk akan diberi id card tamu dan wajib
dipasang.
4.1.4. Jika selesasi kepentingan tamu wajib memberikan id card tamu kepada
security dan mengisi kembali log book serta identitas tamu akan
dikembalikan.

4.2. Akses Gudang


4.2.1. Hanya orang yang berkepentingan yang memasuki gudang.
4.2.2. Staff gudang dapat mengijinkan orang yang masuk sesuai dengan keperluan.
4.2.3. Setiap orang yang memasuki gudang wajib mengisi log book
4.2.4. Setiap orang yang membawa barang masuk ke gudang harus melakukan verifikasi data
ke staff logistik.
4.2.5. Barang yang akan masuk gudang akan diperiksa dan di letakkan ke tempat yang sesuai.
4.2.6. Orang yang akan mengambil barang wajib menunjukkan surat permintaan barang
yang telah disetujui oleh atasan langsung dan staff gudang.
PROSEDUR PR.027 – HSE /R.04/21

PENGENDALIAN AKSES
Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 3

4.2.7. Orang yang memasuki gudang wajib mentaati peraturan masuk gudang dan memakai
APD yang disyaratkan/diwajibkan.
4.2.8. Staff gudang wajib menolak orang yang akan memasuki gudang tanpa alasan jelas dan
tanpa id card atau ijin security.

4.3. Akses Lokasi Kerja Proyek


4.3.1. Bagian operasional akan memberikan informasi mengenai pekerja yang akan
melakukan pekerjaan dilokasi proyek kepada bagian HSE.
4.3.2. Bagian HSE akan memverifikasi pekerja dan dilakukan identifikasi risiko paparan
bahaya yang akan terpapar oleh pekerja.
4.3.3. Data yang sudah di verifikasi oleh HSE akan diberikan ke bagian HR untuk dilakukan
medical check up.
4.3.4. Bagian HSE akan meminta data pekerja/tamu untuk dilakukan pembuatan ijin masuk
lokasi.
4.3.5. Hanya pekerja yang dinyatakan sehat sesuai dengan hasil MCU yang dilakukan untuk
masuk kedalam lokasi kerja.
4.3.6. Jika Surat Ijin Masuk Lokasi telah disetujui oleh user/klien maka pekerja yang ada pada
daftar akan dilakukan induksi oleh pihak user/klien.
4.3.7. Perpanjangan terhadap Surat Ijin Masuk Lokasi akan diperpanjang minimal 1 minggu
sebelum masa berlaku surat habis.
4.3.8. Pekerja/Tamu wajib memakai Id Card jikan memasuki lokasi kerja proyek.
4.3.9. Pekerja/Tamu wajib mengisi buku log book sesuai dengan yang disediakan.
4.3.10. Pekerja wajib memakai APD yang dipersyaratkan dan diwajibkan di lokasi kerja proyek
PT. LEMATANG

STANDAR OPERASI PROSEDUR

IJIN KERJA dan JSA

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


SAFETY
DISUSUN JERI HERIYANTO 05 FEBRUARI 2021
KOORDINATOR

DISETUJUI CANDY TOHA DIREKTUR 05 FEBRUARI 2021


PROSEDUR PR.010 – HSE /R.04/21

IJIN KERJA dan JSA


Tanggal Revisi : 05 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 05 FEBRUARI 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1) TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2) RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3) REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4) DEFENISI.......................................................................................................................................... 1
5) PROESEDUR .................................................................................................................................... 1
5.1. IJin Kerja .................................................................................................................................. 1
5.2. JSA (Job Safety Analisis) .......................................................................................................... 3
PROSEDUR PR.010 – HSE /R.04/21

IJIN KERJA dan JSA


Tanggal Revisi : 05 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 05 FEBRUARI 2021 Halaman : 1

1) TUJUAN
Prosedur ini adalah untuk memberi perlindungan bagi pekerja terhadap kecelakaan dan atau
kerusakan property sebagai suatu protes kerja yang mengandung risiko tinggi.

2) RUANG LINGKUP
Prosedur ijin kerja ii mencakup system pengendalian terhadap ijin untuk melakukan pekrjaan
yang berisiko tinggi di proyek atau dilingkungan PT. Lematang oleh karyawan internal maupun
yang dilakukan oleh mitra kerja. Ataupun diarea kerja klien.

3) REFERENSI
-

4) DEFENISI
Mitra Kerja adalah orang / organisasi yang akan melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan
pekerjaan proyek dilingkungan PT. Lematang.
Pekerjaan Berisiko Tinggi adalah Pekerjaan dengan bahaya atau kondisi yang sangat
memungkinkan terjadinya kecelakaan.
Surat Ijin Kerja Aman adalah sebuah dokumen atau ijin tertulis yang digunakan untuk mengontrol
jenis pekerjaan tertentu yang perpotensi membahayakan pekerja.

5) PROESEDUR
5.1. IJin Kerja
5.1.1. Surat ijin kerja diperlukan untuk pekerjaan sebagai berikut :
[Link]. Pekerjaan tidak rutin.
[Link]. Pekerjaan rutin tetapi mempunyai risiko tinggi atau dapat
menyababkan risiko kecelakaan dengan kekerapan kategori Possible
(mungkin terjadi).
[Link]. Pekerjaan yang belum pernah dilakukan.
5.1.2. Untuk jenis ijin kerja adalah sebagi berikut :
[Link]. Ijin Kerja Biasa (ijin kerja dingin) yaitu untuk pekerjaan biasa yang tidak
mempunyai risiko kebakaran dan peledakan.
PROSEDUR PR.010 – HSE /R.04/21

IJIN KERJA dan JSA


Tanggal Revisi : 05 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 05 FEBRUARI 2021 Halaman : 2

[Link]. Ijin Kerja Panas yaitu untuk untuk pekerjaan yang mempunyai bahaya
kebakaran dan peledakan dan bahaya sengatan listrik.
[Link]. Ijin Kerja galian yaitu pekerjaan galian atau risiko tertimbun
[Link]. Ijin kerja pengangkatan yaitu untuk pekerjaan pengangkatan dengan
menggunakan crane.
[Link]. Ijin kerja Bekerja diketinggian yaitu untuk pekerjaan yang mempunyai
risiko jatuh dari ketinggian atau bekerja pada ketinggian yang melebihi
1,8 meter.
[Link]. Ijin kerja ruang terbatas yaitu untuk pekerjaan pada ruang terbatas

5.1.3. Pemohon ijin kerja yang akan mengajukan permohonan ijin pekerjaan kepada
Sub Bidang pekerjaan. Pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ijin kerja tertera di
dalam Formulir Ijin Kerja (FORM-K3-002).
5.1.4. Surat Ijin Kerja harus diberi nomor dokumen oleh bagian safety dilokasi kerja.
5.1.5. Sub Bidang pekerjaan pekerjaan kemudian melakukan pengecekan terhadap
formulir ijin kerja sekaligus memastikan area tempat bekerja sudah aman,
termasuk kelengkapan alat pemadam kebakaran & APD yang sesuai sebagai
Pengawas K3 berkewajiban melakukan pemantauan selama pekerjaan
berlangsung terkait dengan pelaksanaan K3.
5.1.6. Apabila semua perlengkapan yang dipersyaratkan dalam formulir ijin kerja sudah
terpenuhi, maka Formulir Ijin Kerja disetujui dan dikeluarkan oleh Sub Bidang
pekerjaan.
5.1.7. Sebelum memberikan Formulir Ijin Kerja, Sub Bidang pekerjaan memberikan
Briefing K3 kepada pelaksana pekerjaan.
5.1.8. Formulir Ijin Kerja yang telah disetujui kemudian dicatat ke dalam log book yang
terdapat di Sub Bidang Pekerjaan.
5.1.9. Pelaksana pekerjaan wajib menjalankan/ mematuhi APD dan SOP yang sesuai
dengan Formulir Ijin Kerja serta mematuhi semua rambu-rambu K3 yang ada.
5.1.10. Pelaksana Pekerjaan selama melakukan pekerjaannya memasang salinan surat
ijin kerja dekat tempat bekerja dan Supervisor mengawasi pekerjaan sesuai
ketentuan formulir ijin kerja yang telah ditetapkan.
5.1.11. Jika diketemukan di lokasi pekerjaan pekerja tidak sesuai dengan Formulir Ijin
Kerja yang ada, maka Sub Bidang pekerjaan berhak memberhentikan pekerjaan
dan dapat dilanjutkan kembali jika sudah memenuhi persyaratan sesuai ijin kerja
yang dikeluarkan.
PROSEDUR PR.010 – HSE /R.04/21

IJIN KERJA dan JSA


Tanggal Revisi : 05 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 05 FEBRUARI 2021 Halaman : 3

5.1.12. Jika pekerjaan telah selesai dilaksanakan, maka pelaksana pekerjaan


menandatangani Formulir Ijin Kerja yang kemudian diserahkan kepada Sub
Bidang pekerjaan untuk diperiksa apakah lokasi pekerjaan sudah bersih dan
sesuai dengan laporan pekerjaan. Jika sudah sesuai, maka Sub Bidang pekerjaan
menandatangani formulir ijin kerja sebagai persetujuan.
5.1.13. Satu Formulir Ijin Kerja hanya berlaku untuk 1 (satu) kali pekerjaan sampai
selesai.
5.1.14. Staf bidang perizinan akan mendata dan membuat laporan terhadap
kegiatan/pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan mengenai Ijin Kerja &
Briefing K3 seperti tersebut diatas.
5.1.15. Jika pekerjaan itdak dapat diselesaikan dalam 1 hari yang sama maka ijin kerja
dapat divalidasi.
5.1.16. Pengajuan ijin kerja mungkin dapat berbeda tergantung pada kebijakan
perusahaan klien.
5.1.17. Ijin kerja yang telah ditutup harus di berikan kepada pemberi ijin kerja untuk
diarsipkan.
5.1.18. Pemegang ijin kerja hanya menyimpan copy saja.

5.2. JSA (Job Safety Analisis)


5.2.1. Pekerjaan yang memerlukan JSA adalah sebagai berikut :
1. Pekerjaan tidak rutin
2. Pekerjaan yang belum pernah dilakukan.
3. Pekerjaan rutin dan dengan risiko kecelakaan tinggi dan dapat menyebabkan
P.A.K

5.2.2. JSA dibuat oleh Supervisor / Foreman dan pelaksana pekerjaan.

5.2.3. Dalam membuat JSA supervisor / foreman dapat menggunakan metode sebagai
berikut :
1. Observasi langsung dan diskusi
2. Wawancara dann diskusi

5.2.4. Langkah – langkah pembuatan JSA adalah sebagai berikut :


[Link]. Supersviosr / foreman akan melakukan inventarisasi tugas terlebih
dahulu.
PROSEDUR PR.010 – HSE /R.04/21

IJIN KERJA dan JSA


Tanggal Revisi : 05 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 05 FEBRUARI 2021 Halaman : 4

[Link]. Tugas yang dimaksud pada point [Link] adalh tugas yang berarti
pekerjaan atau single task.

[Link]. Setelah inventarisasi tugas diakukan maka harus ditetapkan tugas kritis,
yaitu :
1. Pekerjaan yang berpotensi kecelakaan tinggi
2. Pekerjaan, baru non rutin, pekerjaan berubah
3. Tingkat kekerapan tinggi
4. Tingkat keparahan tinggi
5. Pekerjaan yang belum memounyai SOP atau langkah berbahaya
tidak tertanggulangi dengan SOP yang ada.

[Link]. Uraikan tugas menjadi langkah – langkah kerja, dalam menguraikan


langkah – langkah kerja maka harus :
[Link].1. Tentukan langkah kerja dari awal sampai akhir.
[Link].2. Gunakan kata kerja aktif atau operasional sederhana pada
setiap langkah pekrjaan.
[Link].3. Hindari menggunakan kata – kata yang terlalu umum seperti
; mengoperasikan, merawat, membangun, dsb.

[Link]. Dalam menguraikan langkah – langkah kerja harus dihindari sebagai


berikut :
[Link].1. Terlau rinci dalam menyusun urutan langkah kerja.
[Link].2. Menggunakan kata kerja yang terlalu umum, sehingga
banyak bahaya yang tidak terdeteksi
[Link].3. Mencatat “bagaimana melakukan pekerjaan, “bukan apa
yang dikerjakan”.

[Link]. Identifikasi bahaya dan potensi kerugian dalam setiap langkah


pekerjaan.
[Link]. Tetapkan pengendalian bahaya setiap langkah pekerjaan.
[Link]. Tentukan penanggung jawab terhadap pengendalian yang telah
ditentukan.

5.2.5. JSA harus diberi nomor dokumen sesuai Surat Ijin Kerja.
PROSEDUR PR.010 – HSE /R.04/21

IJIN KERJA dan JSA


Tanggal Revisi : 05 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 05 FEBRUARI 2021 Halaman : 5

5.2.6. JSA yang sudah dibuat harus direview oleh bagian safety yang bertugas diarea
proyek.
5.2.7. Bagian Safety dapat menambahkan pengendalian bahaya jika diperlukan.
5.2.8. Jika telah direview maka JSA yang dibuat harus mendapatkan persetujuan dari
atasan / pimpinan bagian sub bidang pekerjaan atau site manager atau facilites
owner.
5.2.9. JSA harus ditanda tangani oleh pembuat JSA, Bagian safety,dan penyetujui JSA.
5.2.10. JSA yang telah dibuat dan disahkan wajib di sosialisasikan ke semua pekerja yang
terlibat dalam pekerjaan pada JSA tersebut.
5.2.11. Jika pekerjaan telah selesai maka JSA diarsipkan dan dimasukkan kedalam data
base.
5.2.12. JSA harus direviewe kembali jika terdapat bahaya yang belum termasuk dalam
JSA tersebut dan jika terjadi kecelakaan atau semua pengendalian pada JSA.
PT. LEMATANG

STANDAR OPERASI PROSEDUR

OBSERVASI KESELAMATAN (BBS)

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


SAFETY
DISUSUN JERI HERIYANTO 04 MARET 2021
KOORDIANTOR

DISETUJUI CANDY TOHA DIREKTUR 04 MARET 2021


PROSEDUR PR.020 – HSE /R.04/21

OBSERVASI KESELAMATAN (BBS)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
PROSEDUR PR.020 – HSE /R.04/21

OBSERVASI KESELAMATAN (BBS)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
1.1. Mengurangi tindakan atau kondisi yang tidak aman ditempat kerja.
1.2. Sebagai panduan untuk melakukan pengamatan terhadap aspek keselamatan dan
kesehatan kerja dilingkungan kerja perusahaan.
1.3. Sebagai data pendukung HSE

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
-
4. DEFINISI
4.1. Kartu Pengamatan adalah lembaran untuk pencatatan temuan pada saat melakukan
pemgamatan
4.2. Observasi keselamatan adalah tindakan yang dilakukan untuk mengamati tindakan atau
kondisi tidak aman maupun aman yang ada ditempat kerja.
4.3. Kondisi tidak aman adalah kondisi yang dapat menyebabkan celaka atau kerugian asset
atau kerusakan lingkungan.
4.4. Tindakan aman adalah prilaku yang dilakukan oleh pekera atau orang yang dapat
menyebabkan cidera / celaka dan kerusakan asset serta kerusakan lingkungan.
4.5. Pengamat adalah orang yang melakukan atau melihat tindakan atau kondisi yang dinili
tidak aman atau aman.

5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB


5.1. Pengamat tidak dibatasi oleh jabatan struktur dalam perusahaan siapa pun dalam kegiatan
perusahaan dapat menjadi pengamat.
5.2. Kartu pengamatan akan dibagikan pada setiap orang yang berada dilokasi kerja perusahaan.
5.3. Kartu pengamatan dapat diambil pada kantor masing – masing bagian.
5.4. Pengamatan dilakukan pada situasi sebagai berikut :
5.4.1. Tindakan tidak aman,
5.4.2. Kondisi atau situasi tidakan aman.
PROSEDUR PR.020 – HSE /R.04/21

OBSERVASI KESELAMATAN (BBS)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 2

5.4.3. Seriously Nearmiss


5.4.4. Tindakan aman yang dilakukan.
5.4.5. Kondisi aman.

5.5. Pengamat akan mengisi temuan yang dilihat pada form / kartu Pengamatan keselamatan.
5.6. Pengamat akan mentandai kondisi yang diamati.
5.7. Jika yang diamati adalah tindakan tidak aman maka pengamat segera memberitahukan kepada
yang diamati untuk melakukan tindakan perubahan agar menghentikan tindakan dan merubah
cara kerja yang aman.
5.8. Jika yang diamati adalah kondisi tidak aman maka pengamat segera memberitahukan pekerja /
orang yang berada di area yang diamati dan melakukan tindakan perbaikan.
5.9. Jika yang diamati adalah kondisi nearmiss maka pengamat wajib menginformasikan temuan
atau pengamatan ke pihak terkait.
5.10. Pengamatan pada sikap kerja aman / tindakan aman dan kondisi aman maka pengamat harus
menuliskan dengan jelas tindakan yang aman yang sedan berlangsung.
5.11. Pengamat harus menulis nama, bagian, jabatan serta tanggal dan waktu juga lokasi pengamatan
dengan jelas.
5.12. Untuk pengamatan harus ditulis dengan jelas siapa, dimana, kondisi apa yang diamati.
5.13. Kartu pengamatan yang sudah di isi harus dikumpulkan ke pimpinan bagian masing – masing.
5.14. Safety officer akan mengambil data rangkuman pengamatan serta kartu pengamatan yang
dikumpulkan oleh masing – masing bagian.
5.15. Safety officer akan mencatat kedalam laporan pengamatan keselematan ddan melaporkan ke
site manager dan safety coordinator setiap bulan.
5.16. Target pengamatan akan dibaut sesuai dengan kondisi dan waktu pelaksanaan peroyek.
5.17. Jumlah pengamatan akan dimasukkan kedalam laporan HSE performance.
PROSEDUR PR.020 – HSE /R.04/21

OBSERVASI KESELAMATAN (BBS)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 3

PENGAMATAN KESELAMATAN KERJA


PT. LEMATANG

Tanggal Waktu
Tempat
DATA PENGAMAT
Nama
Bagian
Jabatan
DATA PENGAMATAN KESELAMATAN
 Kondisi Tidak Aman  Kondisi Aman

 Tindak Tidak Aman  Tindakan Aman

Tindakan Yang Dilakukan

Harap lembar PEKA ini segara diberikan ke bagian HSE !


PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

PEKERJAAN PANAS

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


KOORDINATOR
DISUSUN JERI HERIYANTO 20 September 2021
SAFETY

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 20 September 2021


PROSEDUR PR.044 – HSE /R.04/21

PEKERJAAN PANAS
Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
No table of contents entries found.
PROSEDUR PR.044 – HSE /R.04/21

PEKERJAAN PANAS
Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
1.1. Untuk menghilangkan atau meminimalkan potensi terjadinya cedera pada personil dan
atau kerusakan pada properti akibat kebakaran / ledakan.
1.2. Mengidentifikasi perlunya ijin untuk melakukan pekerjaan panas pada daerah yang
rawan kebakaran.

2. RUANG LINGKUP
2.1. Prosedur ini menjelaskan mengenai sistem pengendalian terhadap ijin untuk melakukan
pekerjaan panas .
2.2. Semua area kerja PT. Lematang dan klien seperti dijelaskan dalam persyaratan di bawah
ini. Khususnya daerah kerja klien, bilamana klien tidak mempunyai sistem Ijin kerja yang
berlaku di sana dan apabila persyaratan PT. Lematang lebih aman dari persyaratan klien,
maka sistem ijin kerja PT. Lematang yang akan diberlakukan.

3. DEFENISI
3.1. Pekerjaan Panas (Hot Works) adalah aktifitas yang menimbulkan adanya sumber
penyalaan.
3.2. Daerah Rawan Kebakaran adalah daerah / operasi / proses dimana : terdapat cairan, gas,
debu yang mudah terbakar dalam jumlah dan konsentrasi yang cukup sebagai sumber
penyalaan akibat pekerjaan panas.
3.3. Daerah Hot Works adalah semua daerah kerja selain dari bengkel (workshop) dan
lapangan kerja yang tidak terkendali resiko bahaya yang ada. Pekerjaan panas di
workshop tidak diperlukan ijin kerja, dengan catatan daerah workshop sudah diambil
tindakan pencegahan yang sesuai dengan aturan.
3.4. Daerah yang tidak rawan kebakaran – daerah / operasi / proses dimana bahan-bahan
mudah terbakar berada dalam pengendalian dengan penggunaan sistem anti kebocoran
gas dan pendeteksian dini terhadap kebocoran (flashback arrestor) dimana nilai properti
atau kerugian akibat gangguan pada proses yang ada tidak terlalu berpengaruh besar. Ijin
kerja pada daerah ini tidak selalu diperlukan.
3.5. Energi adalah sesuatu bentuk gerakan atau kemungkinan yang dapat menimbulkan
gerakan.
PROSEDUR PR.044 – HSE /R.04/21

PEKERJAAN PANAS
Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 2

4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB


4.1. Tanggung Jawab
4.1.1. Para Manager, Supervisor dan Leader bertanggung jawab menjamin bahwa pekerjaan
panas dilakukan dengan cara yang aman dan dilaksanakan dengan benar.
4.1.2. Setiap karyawan bertanggung jawab untuk melasanakan persyaratan-persyaratan
yang tercantum dalam ijin kerja untuk pekerjaan panas . resiko serius.

4.2. Identifikasi / penentuan daerah rawan kebakaran


4.2.1. Pengidentifikasiaan sumber bahaya / resiko harus dilakukan oleh para Site Manager
/ Supervisor / Safety Officer, dan personil kunci bagian operasional pada semua
tempat kerja / lingkungan kerja .
4.2.2. Metode ini bertujuan untuk pengidentifikasian sumber bahaya/ resiko yang potensial
pada personil, bangunan, peralatan dan lingkungan kerja.
1. Ruang penyimpanan bahan bakar minyak dan gas
2. Ruang penyimpanan bahan-bahan mudah terbakar
3. Pemotongan dengan api atau pengelasan tangki, tabung dan drum bekas minyak
atau gas
4. Ruang peralatan listrik
5. Ruang pengisian baterai
6. Daerah lain yang memiliki konsentrasi bahan mudah terbakar dalam jumlah besar

4.3. Tanggung jawab pengawas yang terlibat dalam pekerjaan panas adalah sebagai berikut :
4.3.1. Meminta HSE Officer, Supervisor memberi wewenang kepada mereka untuk
melakukan tindakan pengurangan bahaya kebakaran dan mengeluarkan ijin kerja
panas.
4.3.2. Meyakinkan para personil terampil dan mempunyai pengetahuan teknis dalam
pengendalian bahaya yang berkaitan dengan pekerjaan panas. Pelatihan yang perlu
diberikan, berisi subyek-subyek yang berkaitan dengan kondisi lapangan, antara lain:
jenis dan karakteristik cairan dan gas mudah terbakar, deteksi gas, alat pemadam
kebakaran, teknik pemadaman kebakaran, sistem pencegahan kebakaran dan teknis
pemberian ijin kerja.
PROSEDUR PR.044 – HSE /R.04/21

PEKERJAAN PANAS
Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 3

4.3.3. Meyakinkan semua ijin kerja yang telah diterbitkan yang kemungkinan akan
diperlukan untuk peninjaun oleh perusahaan asuransi, badan pemerintah atau pihak
lainnya terdokumentasi secara benar.

4.4. Tanggung jawab personil yang diberi wewenang adalah sebagai berikut :
4.4.1. Mengkaji ruang lingkup pekerjaan panas yang akan dikerjakan bersama dengan pihak
lain yang terkait dalam pelaksanaannya.
4.4.2. Memastikan telah diajukannya ijin kerja pada daerah rawan kebakaran. Jika personil
tersebut merasa tidak yakin akan timbulnya kondisi bahaya, maka pekerjaan tersebut
diperlukan suatu ijin kerja.
4.4.3. Personil tersebut bertanggung jawab untuk memastikan bahwa potensi bahaya
kebakaran atau kesehatan yang mungkin timbul selama pekerjaan panas dilakukan,
dapat diminimalkan. Apabila potensi bahaya tersebut tidak bisa diminimalkan, maka
personil tersebut bertanggung jawab untuk memberitahukan kepada pekerja dan
menghentikan pekerjaan sampai diterbitkan atau dilakukan revisi ijin kerja.
4.4.4. Melakukan pengukuran yang spesifik seperti pemeriksaan kandungan gas mudah
terbakar, bila diperlukan, untuk mengontrol potensi bahaya dan meninjau ulang
apakah pekerja yang meminta ijin memenuhi ketentuan yang ada.
4.4.5. Memastikan ijin kerja dipatuhi sesuai persyaratan dan formulir ijin kerja diisi dan
ditanda tangani oleh Supervisor dan Leader sebelum dan setelah pekerjaan.
4.4.6. Pada saat penyelesaian pekerjaan, personil tersebut memberitahukan kepada pekerja
yang meminta ijin kerja agar melakukan inspeksi terakhir, untuk memastikan bahwa
area bersih dari peralatan Kerja Panas (Hot Work), dan memeriksa apakah lokasi
pekerjaan betul-betul bebas dari percikan api. Setelah itu lokasi tersebut dinyatakan
“aman dari api“ sebelum ijin kerja dicabut. Inspeksi ini dilakukan kira-kira satu jam
setelah pekerjaan selesai.

4.5. Tanggung jawab pekerja yang melakukan pekerjaan panas adalah sebagai berikut :
4.5.1. Melakukan inspeksi secara visual pada lokasi pekerjaan.
4.5.2. Mencatat setiap potensi bahaya kebakaran dan kesehatan yang terlihat.
4.5.3. Memeriksa apakah terdapat uap, debu, asap, dll yang beracun dan /atau mudah
meledak dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan kebakaran atau bahaya bagi
kesehatan, melalui koordinasi dengan personil yang diberi wewenang untuk
mengkoordinir pekerjaan panas tersebut.
PROSEDUR PR.044 – HSE /R.04/21

PEKERJAAN PANAS
Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 4

4.5.4. Setelah persyaratan yang ada dipenuhi maka pekerja tersebut menandatangani,
mengisi tanggal permintaan serta menempelkan ijin tersebut dekat dengan tempat
pekerjaan dilakukan.
4.5.5. Ijin kerja hanya berlaku maksimal untuk satu shift kerja atau 8 jam. Jika akan dilakukan
pada shift berikutnya maka harus dievaluasi kembali dan ijin kerja baru dibuat
kembali.
4.5.6. Meminta bantuan petugas penjaga kebakaran khusus (Fire Watch) untuk mengawasi
jalannya pekerjaan pada daerah yang sangat rawan kebakaran.
4.5.7. Melakukan inspeksi terakhir pada lokasi minimal 1 jam setelah pekerjaan selesai.
Untuk pekerjaan panas di daerah sangat rawan kebakaran pekerja meminta Fire
Watch untuk mengisi form ijin Hot Works yang menyatakan bahwa area pekerjaan
panas telah aman dari api. Jika lokasi tersebut telah aman maka ijin kerja dapat
dicabut.
4.5.8. Mengembalikan sertifikat ijin kerja panas kepada petugas yang di beri wewenang.

4.6. Ijin kerja untuk pekerja selain dari PT. Lematang


[Link]. Pekerjaan panas di daerah kerja PT. Lematang atau klien yang dilakukan selain oleh
pekerja PT. Lematang, seperti: subkontraktor, dll, harus dilakukan sesuai dengan
prosedur ini.
[Link]. Pihak lapangan dimana pekerjaan dilakukan bertanggung jawab langsung terhadap
aktivitas pekerja tersebut dan bertanggung jawab untuk menginformasikan tentang
persyaratan ijin kerja dan memastikan pekerjaan dilakukan sesuai dengan prosedur
ini.

4.7. Tinjauan ulang


4.7.1. Kebijakan sistem kontrol terhadap ijin kerja pekerjaan panas harus ditinjau ulang
secara periodik oleh Operations Manager dan HSE Coordinator, minimal setahun
sekali.
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


SAFETY
DISUSUN JERI HERIYANTO 04 MARET 2021
KOORDINATOR

DISETUJUI CANDY TOHA DIREKTUR 04 MARET 2021


PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
5.1. Sebelum Menggali .................................................................................................................. 1
5.2. Ketentuan – ketentuan penggalian......................................................................................... 2
5.3. Akses dan jalan keluar ............................................................................................................ 3
5.4. Perlindungan pekerja dari objek jatuh.................................................................................... 3
5.5. Tanah urugan (Spoil). .............................................................................................................. 3
5.6. Sistem peringatan untuk alat berat bergerak (mobile equipment) ........................................ 4
5.7. Pengujian dan pengendalian untuk zat beracun .................................................................... 4
5.8. Perlindungan dari hal Umum .................................................................................................. 5
5.9. Alat Pelindung Diri (PPE: Personal Protective Equipment). .................................................... 5
6. KLASIFIKASI TANAH ........................................................................................................................ 5
7. ANALISA TANAH ............................................................................................................................. 9
7.1. Analisa Visual ......................................................................................................................... 9
7.2. Uji Manual ............................................................................................................................ 10
8. SITEM PROTEKSI PENDUKUNG .................................................................................................... 11
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
Prosedur ini sebagai panduan bagian karyawan / pekerjan untuk melakukan pekerjaan
penggalian manual maupun menggunakan alat berat, sehingga dapat melakukan pekerjaan
penggalian dengan selamat dan aman.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
1. OSHA – 29 CFR 1926 Tentang Safety and Health Regulation for Contraction

4. DEFINISI
1. Sebuah galian atau lubang besar di permukaan tanah adalah bukan situasi yang alami yang
biasanya ditunjukkan dengan bentuk kemiringan permukaan tanahnya yang hampir
vertical atau bahkan vertikal.
2. Kelongsoran tanah adalah hal yang umum terjadi pada kecelakaan kerja galian dan saluran
dalam tanah. Karena semua gaya akan saling terkait. untuk menyebabkan terjadinya
kelongsoran tersebut. Kondisi cuaca, air, getaran, beban yang berlebih di atasnya akan
menambah potensi bahaya pada pekerjaan galian yang berujung pada kelongsoran hingga
terkubur dengan tanah yang longsor.
3. Bahaya lain adalah bahaya karena terdapatnya instalasi di bawah tanah seperti misalnya
pipa gas dan kabel yang apabila galian mengenai instalasi tersebut tidak saja merusak
instalasi tersebut tapi dapat menimbulkan korban jiwa.

5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB

5.1. Sebelum Menggali


5.1.1. Menghubungi bagian Utility atau para pemilik instalasi dalam tanah (saluran listrik
bawah tanah, saluran telepon, pipa gas, pipa air, dan lain sebagainya) untuk
mendapatkan lokasi yang tepat dari instalasi bawah tanah yang ada pada tempat yang
akan digali.
5.1.2. Jika bagian Utility atau para pemilik tidak merespons dalam waktu 24 jam atau periode
yang ditetapkan menurut hukum atau ordinansi, atau jika mereka tidak dapat
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 2

memastikan lokasi jalur utilitasnya, maka penggalian dapat diteruskan dengan


menggunakan peralatan detector bawah tanah (underground detector).
5.1.3. Mengangkat dan menghilangkan segala objek di area galian bila dianggap berpotensi
bahaya atau beresiko bagi para pekerja. Ini dapat meliputi pepohonan, bebatuan,
trotoar dan benda – benda lain.
5.1.4. Menggolongkan kelas tanah dan kandungan batuan di lokasi penggalian seperti batu
stabil, tanah kelas A, kelas B atau kelas C.
5.1.5. (Catatan : penggolongan tanah tidak perlu jika penggalian akan dilerengkan pada sudut
1 ½ H : 1 V).

5.2. Ketentuan – ketentuan penggalian


5.2.1. Orang yang kompeten harus memeriksa lokasi penggalian dan area-area yang
berdekatan dengannya setiap hari memeriksa kemungkinan terjadinya perangkap
galian, kerusakan pada sistem perlindungan perlengkapan dan situasi yang berbahaya,
atau kondisi berbahaya lainnya. Pemeriksaan juga diperlukan setelah terjadinya
kejadian natural (seperti hujan) atau kejadian yang dibuat manusia (seperti peledakan)
yang dapat meningkatkan potensi bahaya.
5.2.2. Sistem peringatan harus dipasang pada ujung atau tepi penggalian untuk memberitahu
pekerja.
5.2.3. Perlindungan yang memadai harus diberikan untuk melindungi pekerja dari kejatuhan
5.2.4. batu, tanah atau material lain.
5.2.5. Bahaya terkait dengan penggenangan air. Para pekerja tidak diizinkan untuk bekerja di
penggalian dimana terdapat air yang menggenang, kecuali bila langkah pencegahan
yang memadai telah diambil atau keadaannya terjamin dan disetujui melalui sistem izin
kerja penggalian.
5.2.6. Metode untuk mengontrol air yang menggenang atau mengalir harus ditetapkan dan
harus terdiri dari hal-hal berikut ini:
1. Penggunaan pendukung yang khusus atau sistem shield (perisai) yang disetujui
oleh orang yang kompeten.
2. Pembuatan parit, tanggul, atau cara lain yang dipakai untuk mencegah masuknya
air ke lokasi penggalian.
3. Pengadaan peralatan pemindahan air, seperti pompa, yang dioperasikan oleh
orang yang berkompeten.
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 3

4. Galian parit diperiksa secara seksama setelah hujan sebelum para pekerja diizinkan
untuk memasuki kembali lokasi penggalian.
5. Penggunaan alat pelindung diri yang sesuai dengan bahaya yang ada.
6. Pagar harus dipasang jika terdapat gang tempat berjalan atau jembatan yang
menyeberangi galian untuk akses para pekerja. Pagar harus dipasang apabila gang
tempat berjalan mempunyai tinggi diatas 1,8 m diatas permukaan tanah.
7. Semua rintangan dan beban yang berada pada lokasi yang dapat menimbulkan
bahaya bagi para pekerja harus dipindahkan atau ditopang bilamana perlu untuk
melindungi para pekerja.

5.3. Akses dan jalan keluar


5.3.1. Parit dengan kedalaman lebih dari 4 ft harus dilengkapi dengan akses keluar/masuk
yang aman seperti stairway (tangga miring), ladder (tangga vertikal) atau jalur yang
melandai atau cara – cara lainnya yang aman.
5.3.2. Jarak antara tangga atau peralatan lain yang digunakan untuk jalan keluar harus
sedemikian rupa sehingga seorang pekerja tidak perlu berjalan lebih dari 25 ft secara
lateral menuju jalan keluar terdekat. Tangga harus aman dan mempunyai lebar
minimum 36 inchi serta diletakan di atas landasan. Tangga logam tidak boleh dipakai
bila ada instalasi listrik.
5.3.3. Struktur Ramp (jalan melandai) yang dipakai harus dibuat sedemikian rupa mencegah
pekerja tergelincir (slip).

5.4. Perlindungan pekerja dari objek jatuh


[Link] pekerjaan harus memastikan bahwa para pekerja terlindung dari lepasnya
batu atau tanah yang dapat jatuh atau bergulir dari permukaan penggalian.

5.5. Tanah urugan (Spoil).


5.5.1. Tanah hasil urugan (spoil) sementara harus ditempatkan tidak lebih dekat dari 2 ft dari
ujungpermukaan penggalian yang diukur dari dasar dari spoil yang terdekat.
5.5.2. Persyaratan jarak ini memastikan bahwa batu atau tanah yang lepas dari spoil tidak
akan jatuh menimpa para pekerja di dalam galian. Spoil permanen harus ditempatkan
pada jarak yang cukup jauh dari penggalian.
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 4

5.6. Sistem peringatan untuk alat berat bergerak (mobile equipment)


5.6.1. Bilamana peralatan berat bergerak (mobile equipment) seperti truk, excavator, forklift,
dan lain sebagainya dioperasikan berdekatan dengan penggalian, atau ketika peralatan
tersebut mendekati ujung penggalian, dan operator alat berat tersebut tidak
mempunyai pandangan yang jelas atau langsung ke ujung penggalian, maka barikade
dan tanda-tanda peringatan harus dipasang, seperti misalnya tanda ”stop”, tanda
mekanis dll.
5.6.2. Galian yang dibiarkan tetap terbuka semalaman harus dipagari dan dibarikade.

5.7. Pengujian dan pengendalian untuk zat beracun


5.7.1. Para pekerja tidak diizinkan untuk bekerja dalam situasi yang berbahaya atau situasi
yang beracun. Contoh situasi tersebut meliputi :
1. Kadar oksigen kurang dari 19,5% atau di atas 23,5%
2. Konsentrasi combustible gas lebih besar dari 20% dari Lower Explosive Limit (LEL)
3. Konsentrasi substansi atau zat yang berbahaya yang melebihi konsentrasi
substansi yang ditetapkan pada Nilai Ambang Batas untuk zat pencemar di udara
yang ditetapkan oleh peraturan yang berlaku
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 5

5.8. Perlindungan dari hal Umum


5.8.1. Barikade, gang tempat jalan, penerangan dan tanda- tanda keselamatan harus dipasang
sebelum dimulainya pekerjaan penggalian. Guardrail, pagar, atau barikade harus
dipasang berdekatan dengan gang tempat berjalan dan jalan untuk mobil atau
kendaraan lainnya.
5.8.2. Para pekerja yang terekspos pada lalu lintas kendaraan umum harus mengenakan rompi
kerja dengan visibilitas tinggi atau menggunakan reflektor cahaya.

5.9. Alat Pelindung Diri (PPE: Personal Protective Equipment).


5.9.1. Pengawas yang ditunjuk harus memastikan bahwa semua pekerja mengenakan semua
peralatan keselamatan yang diperlukan seperti misalnya :
1. Helm,
2. Kacamata keselamatan,
3. Sarung tangan,
4. Sepatu keselamatan
5. alat pelindung yang lain sesuai dengan resiko atau bahaya yang mengintai pekerja

6. KLASIFIKASI TANAH
6.1. Supervisi akan mengklasifikasikan tanah dan deposit batuan berdasar kondisi lingkungan
setempat, komposisi dan struktur deposit bumi sebelum melakukan penggalain.
6.2. Untuk test yang digunakan untuk mengklasifikasikan tanah. Setiap tanah dan deposit batuan
dapat diklasifikasikan sebagai kelas A, kelas B, atau kelas C sebagaimana yang akan didefinisikan
di bawah ini.

6.2.1. Tanah Kelas A


1. Tanah Kelas A adalah tanah kohesif dengan kekuatan tekan sebesar 1,5 ton/ft (tsf)
(144 kPa) atau lebih besar. Tanah Kelas A meliputi tanah liat, tanah liat rawa, tanah
liat berpasir. Tanah- tanah yang bersemen seperti caliche dan hardpan juga dianggap
tanah kelas A.
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 6
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 7

2. Tanah tidak dapat digolongkan dalam kelas A apabila :


a) tanah tersebut retak / pecah-pecah.

b) Tanah yang menerima getaran yang disebabkan oleh lalu lintas yang cukup berat,
pergerakan tumpukan atau pengaruh-pengaruh serupa tanah yang sebelumnya
telah ”terganggu” atau memiliki air yang merembes.
c) Tanah yang merupakan bagian dari sistem berlapis dan melandai, dimana
lapisan-lapisan tersebut masuk ke dalam penggalian dengan kemiringan faktor
horizontal sebesar 4 kali faktor vertikal (4H : 1V) atau lebih besar. Tanah lainnya
yang digolongkan sebagai material yang kurang stabil.

6.2.2. Tanah kelas B


a) Tanah Kelas B adalah tanah kohesif dengan kekuatan tekan yang lebih besar 0,5 tsf
(48 kPa) tetapi kurang dari 1,5 tsf (144 kPa).
b) Tanah Kelas B meliputi tanah yang tak berperekat dan berbentuk granular
(berbutiran) seperti batu kerikil (sama dengan batu yang telah hancur lebur) ,
lempung berpasir, dan kadang-kadang lempung liat berlumpur, lempung berlumpur,
dan lempung liat berpasir.
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 8

c) Tanah kelas B juga termasuk tanah yang memenuhi kekuatan kompresif


(pemadatan) yang diklasifikasikan dalam tanah kelas A, tetapi memiliki retakan atau
terkena getaran yang disebabkan oleh lalu lintas yang cukup berat.
d) Tanah kelas B juga dapat berupa batu karang yang tidak stabil, dan tanah yang
merupakan bagian dari sistem berlapis dengan kemiringan dimana lapisan-lapisan
itu masuk ke dalam kemiringan kurang dari empat horisontal berbanding satu
vertikal yaitu (4H : 1V).

6.2.3. Tanah kelas C


1) Tanah Kelas C adalah tanah kohesif dengan kekuatan tekan yang tidak lebih dari 0,5
tsf (48 kPa) atau kurang. Tanah Kelas C meliputi: Tanah berbutiran seperti tanah
kerikil, pasir, dan pasir lempung,

2) Tanah yang terendam oleh air, tanah yang airnya bebas merembes, batuan di bawah
air yang tidak stabil.
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 9

3) Tanah di dalam sistem berlapis dan melereng dimana lapisan-lapisan masuk ke


dalam penggalian dengan gradian kemiringan lebih curam dari empat horizontal
terhadap satu
4) vertikal sampai satu vertikal (4 H : 1 V).
5) Strata geologis berlapis (dimana tanah terkonfigurasi di dalam lapisan-lapisan).
Tanah harus
6) digolongkan dengan dasar penggolongan tanah pada lapisan tanah paling lemah.
Tiap lapisan dapat digolongkan secara individual apabila lapisan yang lebih stabil
terletak di bawah lapisan yang kurang stabil, misalnya dimana Tanah Kelas C
bergantung pada puncak batuan yang stabil.
7) Penggolongan ulang. Jika, setelah penggolongan awal terjadi perubahan terhadap
kandungan, sifat, faktor-faktor, atau kondisi-kondisi lainnya, maka perubahan-
perubahan itu akan dievaluasi oleh orang yang berkompeten dan tanah akan
digolongkan kembali untuk menggambarkan keadaan-keadaan yang telah berubah
tersebut.

7. ANALISA TANAH
1) klasifikasi dari deposit dibuat berdasarkan hasil analisa visual dan uji manual. Analisa
tersebut harus dilakukan oleh ahli dibidangnya sesuai dengan pedoman testing yang
berlaku.
2) Pedoman testing yang diulas disini adalah yang mengacu pada “American Society for
Testing Materials” atau “US Department of Agriculture Textural Classification System”.

7.1. Analisa Visual


7.1.1. Analisa visual dilakukan untuk menentukan atau memperoleh informasi
kualitatif berkenaan dengan situasi umum pekerjaan galian, kondisi tanah di
sekitar galian, tanah yang membentuk tepian dari suatu galian, dan tanah yang
diambil sampelnya dari bahan galian.
7.1.2. Amati sampel tanah yang digali dan tanah yang berada di tepian (lerengan)
galian. Perkirakan rentang ukuran partikel dan jumlahnya untuk ukuran-ukuran
tersebut.
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 10

7.1.3. Tanah yang tetap menggumpal ketika digali adalah bersifat kohesif (melekat).
Tanah yang pecah / merengkah dengan mudah dan tidak tetap menggumpal
disebut “granular” berbutir butir kecil).
 Amati tanah ditepi galian yang terbuka dan area permukaan dekat dengan
galian.
 Rengkahan (crack) seperti rengkahan tegangan permukaan dapat
diindikasikan sebagai materi belahan atau retakan. Jika tanah digali
dengan sekop dan menunjukan pecah – pecah / celah-celah (spall-off)
secara vertikal, tanah tersebut rentan terhadap keretakan. “Spall” yang
kecil adalah bukti dari tanah yang bergerak dan merupakan indikasi situasi
yang sangat berbahaya.
 Amati area-area yang berdekatan dengan penggalian dan pada penggalian
itu sendiri untuk mengidentifikasikan tanah yang terganggu sebelumnya.
 Amati sesi yang terbuka dari galian untuk mengidentifikasikan lapisan –
lapisan pada tanah. Mengkaji sistem yang berlapis untuk
mengidentifikasikan jika lapisan – lapisan miring ke arah penggalian.
Estimasikan kadar kemiringan dari lapisan-lapisannya.
 Amati area yang berdekatan dengan penggalian dan sisi-sisi penggalian
yang terbuka untuk melihat air permukaan yang merembes dari samping
penggalian, dan mengetahui tinggi air permukaan (water table).
 Amati area yang berdekatan dengan penggalian untuk mengetahui
sumber – sumber getaran yang bisa mempengaruhi stabilitas muka
penggalian.

7.2. Uji Manual


Uji manual dari sampel tanah dilakukan untuk menentukan sifat kuantitatif serta
kualitatif dari tanah dan dapat memberikan banyak informasi yang diperlukan untuk
dapat menggolongkan sifat tanah. Beberapa metode uji manual adalah plastisitas, Uji
Kekuatan
Kering, dan Uji Penetrasi Induk. Pengujian dan analisa harus dilakukan oleh orang yang
berkompeten.
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 11

Estimasi dari kekuatan tanah juga dapat diperoleh melalui penggunaan penetrometer
kantong atau dengan menggunakan “shearvane”. Gambar di bawah adalah salah satu
contoh Penetrometer.

8. SITEM PROTEKSI PENDUKUNG


8.1. OSHA mensyaratkan bahwa tiap pekerja di dalam penggalian harus dilindungi dari perangkap
galian melalui sistem proteksi yang memadai dan dirancang sesuai dengan standard OSHA.
8.2. Pilihan sistem proteksi untuk mencegah kelongsoran yang dapat menyebabkan tertimbunnya
pekerja, meliputi:
a. Pelerengan atau kemiringan pada pinggir-pinggir penggalian;
b. Penopang / penyanggah kayu (Timber Shoring) atau penopang aluminium yang
mendukung/menahan pinggir-pinggir tanah galian;
c. Kotak perisai / pelindung (Box Shielding) di antara sisi tanah galian dan area kerja.
8.3. Pekerja bebas untuk memilih proteksi yang paling praktis dan sesuai untuk suatu keadaan.
8.4. Setelah pilihan system proteksi diseleksi, maka kriteria performa yang diperlukan harus
dijalankan.
8.5. Pengecualian satu-satunya adalah ketika penggalian dilakukan pada batu yang stabil atau
penggalian yang dalamnya kurang dari 5 ft dan pengawas tidak melihat adanya indikasi
kemungkinan/potensi tanah longsor atau tertimbunnya pekerja galian.
8.6. Sistem proteksi tidak perlu dilakukan atau diadakan jika penggalian dilakukan seluruhnya pada
batuan yang stabil, atau penggalian yang dalamnya kurang dari 5 ft yang tidak memberi adanya
indikasi tanah labil.
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 12

8.7. Alur dibawah ini adalah bagan pembuatan keputusan untuk dapat menentukan system proteksi
yang dibutuhkan untuk penggalian sampai dengan kedalaman 20 ft. Sistem roteksi yang dipakai
untuk penggalian dengan kedalaman lebih dari 20 ft harus dirancang oleh tenaga ahli
profesional.
8.8. Trotoar atau pavemen tidak boleh dipasang diatas galian kecuali kalau ada sistem penopang
tambahan yang dapat melindungi para pekerja dari keruntuhan.

BAGAN ALUR KEPUTUSAN UNTUK MENENTUKAN SISTEM PROTEKSI

Galian > 5 ft

Potensi Tidak Ya Berbatuan


Tertimbun Stabil

Tidak Ya
Galian > 5 ft

Ya Tidak
Slope/Shore/Shileded ?

Pilihan Pilihan
Kemiringan Shoring/Shielding

8.9. Jika tanah tidak diklasifikasikan, maka penggalian harus dilerengkan / dimiringkan dengan
sudut maksimal satu setengah horisontal per satu vertikal (1,5 H : 1 V) atau dianggap bertanah
kelas C.

8.10. Kemiringan dan Pelerengan


8.10.1. Pengamanan galian dengan metoda pelerengan (sloping) atau dengan metoda
pelerengan (benching) dapat digunakan dengan ketentuan-ketentuan sebagai
berikut:
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 13

[Link]. Kemiringan
[Link].1. Kemiringan (sloping) maksimal yang diizinkan untuk penggalian
dengan kedalaman kurang dari 20 kaki berdasarkan pada kelas tanah
tertentu :
Tabel kemiringan maksimum yang di ijinkan untuk kelas tanah tertentu

Kelas Tanah atau Batuan Maksimum Kemiringan yang


diperbolehkan

Batuan Stabil Vertikal (90O)

Kelas A ¾ : 1 (53O)

Kelas B 1 : 1 (45O)

Kelas C 1 – 1,5 : 2 (34O)

[Link].2. Gambar berikut ini memberikan contoh tentang penggalian dengan system
proteksi kemiringan pada tanah kelas A

[Link].3. Penggalian (kemiringanlerengan sederhana) pada kelas A dengan lerengan


3/4H : 1 V
[Link].4. Gambar berikut ini memberikan contoh tentang penggalian dengan
proteksi kemiringan pada tanah kelas B.
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 14

[Link].5. Penggalian (kemiringan lerengan sederhana) pada tanah kelas B dengan


lerengan 1 H : 1 V
[Link].6. Gambar berikut ini memberikan contoh tentang penggalian dengan system
proteksi kemiringan pada kelas C atau jika tanah tidak diklasifikasikan atau
tidak dapat ditemtukan kelasnya.

[Link].7. Lerengan yang sederhana dari 1 1/2 H : 1 V dapat digunakan pada semua
kelas tanah di dalam penggalian dengan kedalaman kurang dari 20 ft.

[Link]. Pelerengan
[Link].1. Sistem proteksi pelerengan (benching) adalah dengan membuat suatu
lereng pada dasar dinding galian yang dimiringkan. Ada du akelas benching
yaitu :
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 15

1. Tunggal. Benching satu tingkat atau satu tahap, dengan ketinggian


tidak melebihi 4 ft.

2. Berganda. Lebih dari satu tingkat, dengan ketingian tidak lebih dari
ketinggian 4 ft pada masing – masing tingkat / tahapannya.

[Link].2. Metode pelerangan tidak di ijinkan pada tanah kelas C. Ada banyak
pengecualian pada pedoamn kemiringan dan benching umum ini.
Diantaranya diuraikan sebagai berikut :
a) Pada tanah Kelas A, penggalian lerengan yang sederhana yang terbuka
selama 24 jam atau kurang (jangka pendek) dan yang tingginya 12 ft
atau kurang, dapat mempunyai lerengan maksimal yang diizinkan
sebesar ½ horizontal : 1 vertikal (½H : 1V) .
b) Pada tanah Kelas A, semua penggalian dengan kedalaman 8 ft atau
kurang, yang tidak dilengkapi penguat vertikal, harus memiliki
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 16

kemiringan maksimal yang diizinkan sebesar ¾H : 1V dan ketinggian


dari dinding vertikal tidak boleh lebih dari 3.5 ft.
c) Pada tanah Kelas A, penggalian yang lebih dari 8 ft dan kurang dari 12
ft, yang tidak dilengkapi oleh penguat vertikal harus memiliki
kemiringan maksimal yang diizinkan sebesar 1H : 1V dan ketinggian
sisi vertikal maksimal sebesar 3.5 ft.
d) Pada tanah Kelas A, penggalian 20 ft atau kurang yang dilengkapi
dengan penguat vertikal, harus memiliki kemiringan maksimal yang
diizinkan sebesar 3/4H : 1V. Penguat vertikal ini harus mencapai
ketinggian kurang lebih 18 inchi dari batas bawah kemiringan.
e) Pada tanah Kelas B, semua penggalian 20 ft atau kurang yang
dilengkapi penguat vertikal, harus memiliki kemiringan maksimal yang
diizinkan sebesar 1H : 1V. Penguat vertikal ini harus mencapai
ketinggian kurang lebih 18 inchi dari batas bawah kemiringan.
f) Pada tanah Kelas C, semua penggalian 20 ft atau kurang yang
dilengkapi penguat vertikal, harus memiliki kemiringan maksimal yang
diizinkan sebesar 1½ H : 1 V. Penguat vertikal ini harus mencapai
ketinggian kurang lebih 18 inchi dari batas bawah kemiringan. Lihat
Gambar 4.7 untuk contoh penggalian kelas ini.

g) Penggalian pada tanah kelas C dengan sisi bawah terlindngi secara


vertical. Penggalian dilerengkan pada 1 ½ H : 1 V.
[Link]. Penguat Vertikal (shoring)
[Link].1. Penguat vertical (shoring) digunakan untuk memperkuat galian yang telah
dibuat dan mencegah keruntuhan. Penggunaan penguat vertical ini
diperlukan khususnya apabila struktur kemiringan/lereng telah mencapai
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 17

kondisi maksimal akan tetapi galian belum mencapai kedalaman yang


diinginkan.

[Link].2. 2 jenis shoring berdasarkan materialnya yaitu : penyangga kayu dan


penyangga aluminium.
1. Penopang / penyangga kayu (timber shoring)
a) Desain untuk shoring kayu pada galian – galian dapat ditentukan
dengan menggunakan beberapa metode, yaitu :
 Menggunakan persyaratan yang tercantum pada OSHA
mengenai standard penggalian,
 Menggunakan data yang diberikan oleh produsen system
penyangga,
 Menggunakan tabulasi data lainnya yang disetujui oleh
orang yang kompeten.

b) Bagian-bagian sistem penyangga yang akan ditentukan


dengan menggunakan tabel – tabel tersebut adalah alang
penguat yang menyilang, penguat vertikal, dan penguat
horizontal (wales) jika diperlukan.
c) Pengawas yang ditunjuk harus menyeleksi ukuran dan jarak
dari bagian-bagian penyangga atau penopang dengan
menggunakan tabel yang tepat. Pemilihan didasarkan pada
kedalaman dan lebar dari galian dimana bagian-bagian ini
akan dipasang. Pada banyak contoh, pemilihan juga
didasarkan pada jarak horizontal dari brace (palang penguat)
menyilang. Jarak horizontal dari brace silang harus dipilih
sebelum ukuran dari bagian-bagian penopang tertentu dapat
ditentukan.
d) Spesifikasi desain OSHA hanya boleh diterapkan pada
galian-galian yang tidak lebih dari 20 ft (6,1 m). Kelas tanah
tempat dilakukannya penggalian harus ditentukan agar dapat
menggunakan data OSHA.
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 18

e) Ilustrasi penggunaan penahan kayu (timber shoring) sebagai


system pengaman galian.
f) Untuk persyaratan penyangga kayu “Timber Shoring” tanah kelas
A dapat dilihat table berikut :

Ukuran (aktual) dan jarak bagian penopang kayu


Palang Penguat Menyilang
Dalam
Jarak Lebar Galian (FeeT) Jarak
(kaki)
Horz Verti
<4 <6 <9 <12 <15
(Kaki) (kaki)
<6 4x4 4x4 4x6 6x6 6x6 4
<8 4x4 4x4 4x6 6x6 6x6 4
5 – 10
<10 4x6 4x6 4x6 6x6 6x6 4
<12 4x6 4x6 6x6 6x6 6x6 4
<6 4x4 4x4 4x6 6x6 6x6 4
10 – 15 <8 4x6 4x6 6x6 6x6 6x6 4
<10 6x6 6x6 6x6 6x8 6x8 4
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 19

<12 6x6 6x6 6x6 6x8 6x8 4


<6 6x6 6x6 6x6 6x8 6x8 4
<8 6x6 6x6 6x6 6x8 6x8 4
15 – 20
<10 8x8 8x8 8x8 8x8 8x10 4
<12 8x8 8x8 8x8 8x8 8x10 4
Ukuran (aktual) dan jarak bagian penopang kayu **
Wales Uprights
Dalam
Jarak Jarak Maksimum Horisontal (kaki)
(kaki) Ukuran
Vertikal
(inch) Tutup 4 5 6 8
(kaki)
- -- 2x6
- -- 2x8
5 – 10
- 4 2x6
8x8 4 2x6
- -- 3x8
8x8 4 2x6
10 – 15
8x10 4 2x6
10x10 4 3x8
6x8 4 3x6
8x8 4 3x6
15 – 20
8x10 4 3x6
10x10 4 3x6

Tanah kelas A Pa = 25 x H + 72 psf (tambahan 2 kaki).


*Kayu dengan kekuatan lengkungan tidak kurang dari 850 psi.
**Alat produksi pada kekuatan yang setara dapat digantikan
dengan kayu.

g) Untuk persyaratan minimum penyangga kayu “timber shoring”


tanah kelas B dapat dilihat tabel berikut :
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 20

Ukuran (aktual) dan jarak bagian penopang kayu


Palang Penguat Menyilang
Dalam
Jarak Lebar Galian (FeeT) Jarak
(kaki)
Horz Verti
<4 <6 <9 <12 <15
(Kaki) (kaki)
<6 4x6 4x6 6x6 6x6 6x6 5
<8 6x6 6x6 6x6 6x8 6x8 5
5 – 10
<10 6x6 6x6 6x6 6x8 6x8 5

<6 6x6 6x6 6x6 6x8 6x8 5


<8 6x8 6x8 6x8 6x8 6x8 5
10 – 15
<10 8x8 8x8 8x8 8x8 8x10 5

<6 6x8 6x8 6x8 8x8 8x8 5


<8 8x8 8x8 8x8 8x8 8x10 5
15 – 20
<10 8x10 8x10 8x10 8x10 10x10 5

Ukuran (aktual) dan jarak bagian penopang kayu **


Wales Uprights
Dalam
Jarak Ukuran (inch)
(kaki) Ukuran
Vertikal
(inch) Tutup 2 3
(kaki)
6x8 5 2x6
8x10 5 2x6
5 – 10
10x10 5 2x6

8x8 5 2x6
10 – 15 10x10 5 2x6
10x12 5 2x6
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 21

8x10 5 3x6
10x12 5 3x6
15 – 20
12x12 5 3x6

Tanah kelas B Pa = 45 x H + 72 psf (tambahan 2 kaki)


*Kayu dengan kekuatan lengkungan yang tidak kurang dari 850 psi.
**Alat produksi pada kekuatan yang setara dapat digantikan dengan kayu.

h) Persyaratan minimum penyangga kayu “Timber Shoring” untuk


tanah kelas C, dapat dilihat dalam tabel berikut :

Ukuran (aktual) dan jarak bagian penopang kayu**


Palang Penguat Menyilang
Dalam
Jarak Lebar Galian (Feet) Jarak
(kaki)
Horiz. Verti.
<4 <6 <9 <12 <15
(kaki) (kaki)
<6 6x8 6x8 6x8 8X8 8x8 5
<8 8x8 8x8 8x8 8x8 8x10 5
5 – 10
<10 8x10 8x10 8x10 8x10 8x10 5

<6 8x8 8x8 8x8 8x8 8x10 5


<8 8x10 8x10 8x10 8x10 10x10 5
10 – 15

<6 8x10 8x10 8x10 8x10 10x10 5

15 – 20
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 22

Ukuran (aktual) dan jarak bagian penopang kayu**


Wales Upright (ukuran dalam inch)
Dalam
Jarak
(kaki) Ukuran
Vertikal Tutup 4 5 6 8
(Inch)
(kaki)
8x10 5 2x6
10x12 5 2x6
5 – 10
12x12 5 2x6

10x12 5 2x6
10x12 5 2x6
10 – 15

12x12 5 3x6

15 – 20

Tanah kelas C Pa = 80 X H + 72 psf (tambah 2 kaki)


*Kayu dengan kekuatan lengkungan yang tidak kurang dari 850 psi.
**Alat produksi pada kekuatan yang setara dapat digntikan dengan kayu

i) Penyangga (shoring)/Penopang Hidrolik Aluminium.


1) Penyanggah hidrolik memberikan keunggulan yang lebih
baik dibanding penyangga kayu karena para pekerja tidak
perlu memasuki galian untuk memasangnya, cukup ringan
untuk dipasang oleh seorang pekerja dan dapat dipakai
dengan mudah pada berbagai kedalaman dan lebar galian.
2) Penyangga aluminium ini dipasang secara teratur untuk
memastikan distribusi tekanan yang merata dari
pinggiran/dinding galian sepanjang jalur galian.
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 23

3) Sistem penyangga (shoring) hidrolik harus dikonstruksi dan


digunakan sesuai dengan spesifikasi, rekomendasi dan
batas-batas yang dikeluarkan oleh produsennya.
4) Penyangga hidrolik harus dipasang sesuai dengan 29 CFR
1926 Sub bagian P Lampiran D – Shoring Hidrolik Aluminium
untuk Galian-galian. Pengawas yang ditunjuk harus
menggunakan tabel-tabel di dalam standar ini untuk
menentukan spasi vertikal dan horizontal maksimal yang
dapat dipakai dengan merujuk pada berbagai ukuran
bagian-bagian aluminium dan berbagai ukuran silinder
hidrolik.
5) Semua penyangga harus dipasang dari atas ke bawah dan
dilepas (dibongkar) dari bawah ke atas. Penyangga hidrolik
harus diinspeksi paling tidak sekali per shift untuk
memeriksa
6) kebocoran pada hose dan atau silinder-silinder, koneksi
yang rusak, nipple yang retak, dasar yang melengkung atau
kerusakan lainnya. Silinder atas dari shoring hidrolik tidak
boleh lebih dalam dari dua kaki dari ujung atas penggalian.
7) Penyangga vertikal ini, jarak antara penyangga vertikal harus
sedemikian rupa hingga membentuk sebuah sistem. Wales
yang dipasang berada tidak lebih dari dua kaki dari bagian
atasnya, tidak lebih dari empat kaki dari bagian bawah, dan
tidak lebih dari empat kaki terpisah secara vertikal.
Penyangga hidrolik harus dipasang sesuai dengan tanah
Kelas B.
8) Penyangga hidrolik harus dipasang dengan lembaran kayu
sesuai dengan tanah Kelas C.
9) Berikut ini adalah beberapa kelas penyangga hidrolik
aluminium:
Contoh Penyangga Aluminium Vertikal dalam galian dengan
tanah kelas B. Kayu “Plywood” atau tripleks dipasang
dibelakangnya untuk mencegang keruntuhan antara
penyanggah.
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 24

Contoh Sistem Horizontal Wales. Pada galian dengan tanah


Kelas C. Wales dijarakkan pada setiap 4 kaki dan menggunakan
pasangan kayu
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 25

Penyangga hidrolik aluminium vertical (spot bracing)

Penyangga hidrolik aluminium vertical (dengan plywood)

Penyangga hidrolik aluminium vertical (ditumpuk)

Penyangga hidrolik aluminium horizontal


PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 26

[Link]. Kotak Pelindung


[Link].1. Kotak pelindung (box shielding) galian berbeda dengan shoring, tidak seperti
pada shoring tegak atau sebaliknya yang digunakan sebagai penopang muka
galian, shielding ini dimaksudkan terutama untuk melindungi para pekerja dari
perangkap galian dan insiden serupa. Kotak-kotak galian umumnya dipakai di
area terbuka, tetapi dapat dipakai pula digabungkan dengan kemiringan
(sloping) dan benching pelerengan.

[Link].2. Pengawas yang ditunjuk harus memastikan bahwa langkah-langkah


keselamatan berikut ini dilakukan:
1. Periksa data tabulasi dari pabrik pembuat kotak galian untuk
maksimum kedalaman
2. kotak tersebut dapat digunakan. Data ini harus selalu berada di tempat
galian.
3. Kotak galian harus diperiksa dalam kondisi yang baik sebelum
penggunaan.
4. Ruangan antara bagian luar dari kotak galian dan permukaan galian
harus diminimalkan. Ruang antara kotak galian dan sisi penggalian ini
harus diurug kembali guna mencegah adanya gerakan lateral pada
kotak itu.
5. Kotak galian harus diperluas paling tidak 18 inchi di atas area sekitarnya
jika ada kemiringan terhadap penggalian. Ini dapat dilakukan dengan
memberikan area yang melereng berdekatan dengan kotaknya.
6. Modifikasi apapun pada kotak galian harus seijin produsen.
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 27

7. Para pekerja harus memasuki dan meninggalkan kotak galian dengan


melalui akses yang aman seperti melalui sebuah tangga atau jalur
yang melandai. Para pekerja tidak boleh bertahan dikotak galian bila
kotaknya pada bergerak.
8. Kotak galian harus dipasang secara sistematis sehingga dapat
membatasi Gerakan lateral atau gerakan berbahaya lainnya pada kotak
galian jika ada tekanan-tekanan lateral mendadak. Para pekerja tidak
boleh berada di dalam shield ketika sedang dipasang, dipindahkan atau
bergerak secara vertikal.
9. Contoh penggunaan kotak pelindung (shield Box) pada kerja galian

[Link]. Ketika pada penggalian menemui beberapa lapis kelas tanah, penggalian
harus dilerengkan sesuai dengan tabel dibawah ini yang dapat meberi contoh
penggalian yang dibuat di dalam tanah berlapis.
1. Persyaratan kemiringan pada tanah berlapis

Kemiringan yang diperlukan untuk setiap lapisan tanah

Kelas Lapisan
Lapisan Kelas A Lapisan Kelas b Lapisan Kelas C
Tanah

B di atas A ¾:1 1 :1

C di atas A ¾:1 1–½:1

C di atas B 1:1 1–½:1

A di atas B 1:1 1:1


PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21

KESELAMATAN KERJA PENGGALIAN


Tanggal Revisi : 04 MARET 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 MARET 2021 Halaman : 28

A diatas C 1–½:1 1–½:1

B di atas C 1–½:1 1–½:1

Penggalian tanah berlapis (kelas C ke kelas A). Lapisan tanah kelas C


dilerengkan pada 1 ½ : 1, sedangkan lapisan tanah kelas A dilerengkan /
dimiringkan pada ¾ : 1.

Penggalian tanah berlapis dimana tanah kelas A berada di atas tanah


kelas C. baik tanah kelas A maupun C di dalam penggaliannya harus
dilerengkan pada 1 ½ : 1.
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

MSDS DAN PENANGANAN B3

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


SAFETY
DISUSUN JERI HERIYANTO 06 FEBRUARI 2021
KOORDINATOR

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 06 FEBRUARI 2021


PROSEDUR PR.014 – HSE /R.04/21

MSDS DAN PENANGANAN B3


Tanggal Revisi : 06 Februari 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 06 Februari 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
4.1. MSDS (material safety data sheet) ....................................................................................... 1
4.2. Penanganan B3 ..................................................................................................................... 2
PROSEDUR PR.014 – HSE /R.04/21

MSDS DAN PENANGANAN B3


Tanggal Revisi : 06 Februari 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 06 Februari 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN

1.1. Sebagai pedoman bagi karyawan dalam penanganan/tata cara penggunaan B3 serta
pengendalian penggunaan B3 untuk keperluan pekerjaan dilokasi kerja perusahaan.

1.2. Sebagai panduan bagi karyawan untuk menangani dan menanggulangi tumpahan B3 yang
mungkin terjadi.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
3.1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 Tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.3. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan
Beracun.
3.4. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan
Beracun Peraturan MENLH Nomor 03 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pemberian Simbol dan
Label Bahan Berbahaya dan Beracun.

4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB

4.1. MSDS (material safety data sheet)

4.1.1. Bagian logistik akan mengidentifikasi material yang berbahaya bagi kesehatan,
lingkungan dan ludah terbakar.

4.1.2. Hasil identifikasi akan dimasukkan kedalam dokumen inventarisasi bahan kima
berbahaya

4.1.3. Material B3 yang telah teridentifikasi akan disediakan MSDS sebagai panduan
keselamatan penggunaan dan penanganan material tersebut.

4.1.4. MSDS akan disosialisasikan kepada pekerja yang mungkin akan terpapar atau
menggunakan B3 tersebut.

4.1.5. MSDS akan ditempatkan pada kotak MSDS dimana terdapat material B3.
PROSEDUR PR.014 – HSE /R.04/21

MSDS DAN PENANGANAN B3


Tanggal Revisi : 06 Februari 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 06 Februari 2021 Halaman : 2

4.1.6. Pemeriksaan ddan pembaharuan akan dilakukan oleh bagian logistik

4.2. Penanganan B3

4.2.1. Pembelian B3

[Link]. Bagian terkait akan melakukan identifikasi keperluan material yang mengandung B3.

[Link]. Bagian terkait akan meminta saran bagian HSE untuk penggunaan B3 untuk
keperluan pekerjaan proyek perusahaan.

[Link]. Bagian logistik akan menerima data keperluan bahan/material yang megandung B3
untuk dikelompokkan kedalam jenis material berbahaya.

[Link]. Bagian logistik akan melakukan pembelian kepada supplier yang terlebih dahulu
melakukan verifikasi ke supplier.

4.2.2. Transporter

[Link]. Untuk pengangkutan akan diserahkan kepada pihak supplier yang bersangkutan

[Link]. Transporter yang yang digunakan supplier akan terlebih dahulu mendapat
persetujuan oleh perusahaan sesuai dengan standard dan peraturan perundangan
yang terkait.

4.2.3. Penerimaan B3

[Link]. Barang/material B3 akan akan dilakukan pemeriksaan oleh logistik sebelum diterima
dan masuk kedalam gudang.

[Link]. Untuk material B3 cair maka tempat/wadah tidak ada yang bocor dan rusak.

[Link]. Logistik akan memastikan segel barang masih terpasang dan tidak rusak/cacat.

[Link]. Jika telah sesuai makan material dapat masuk kedalam gudang penyimpanan.

[Link]. Penempatan B3

[Link]. Barang/material yang telah diterima akan disusun/ditempatkan sesuai dengan


kelompok barang.

[Link]. Barang/material B3 ditempatkan terpisah dan dalam ruang yang berbeda dengan
material bukan B3.
PROSEDUR PR.014 – HSE /R.04/21

MSDS DAN PENANGANAN B3


Tanggal Revisi : 06 Februari 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 06 Februari 2021 Halaman : 3

[Link]. Barang/material B3 ditempatkan jauh dari sumber api

[Link]. Tata cara penyimpanan mengacu pada MSDS yang tersedia

4.2.4. Pemakaian/penggunaan B3

[Link]. Pekerja yang akan menggunakan B3 akan melaporkan ke atasan langsung untuk
mendapat persetujuan memakai material B3 yang dibutuhkan.

[Link]. Unit terkait akan membuat surat permintaan barang yang diketahui kepala bagian
unit terkait.

[Link]. Pekerja/unit terkait dapat mengambil material B3 yang diperlukan ke logistik.

[Link]. Bagian logistik akan mengeluarkan barang/material B3 yang dibutuhkan.

[Link]. Bagian logistik akan memberikan informasi mengenai barang/material B3 yang


digunakan sesuai dengan MSDS material tersebut.

[Link]. Bagian logistik harus memastikan bahwa pengguna material/bahan B3 telah paham
dan mengerti tentang penggunaan/pemakaian B3 yang baik dan benar sesuai
dengan MSDS.

[Link]. Pekerja wajib mengetahui tata cara penggunaan material B3 yang benar sesuai
dengan MSDS material tersebut.

[Link]. Pekerja dapat meminta copy MSDS pada logistik.

[Link]. Pekerja wajib menggunakan/memakai APD yang sesuai dan benar saat
menggunakan material B3

4.2.5. Pemberian Simbol dan label pada B3

[Link]. Setiap kemasan B3 wajib diberikan simbol sesuai dengan klasifikasinya dan label
sesuai dengan jenis dan klasifikasinya.

[Link]. Klasifikasi B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat:


1. Mudah meledak (explosive);
2. Pengoksidasi (oxidizing);
3. Sangat mudah sekali menyala (extremely flammable);
4. Sangat mudah menyala (highly flammable);
PROSEDUR PR.014 – HSE /R.04/21

MSDS DAN PENANGANAN B3


Tanggal Revisi : 06 Februari 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 06 Februari 2021 Halaman : 4

5. Mudah menyala (flammable); f. amat sangat beracun (extremely toxic);


6. Sangat beracun (highly toxic);
7. Beracun (toxic);
8. Berbahaya (harmful);
9. Iritasi (irritant);
10. Korosif (corrosive);
11. Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to environment);
12. Karsinogenik (carcinogenic); n. teratogenik (teratogenic);
13. Mutagenic (mutagenic);dan
14. Bahaya lain berupa gas bertekanan (pressure gas).

[Link]. Jenis B3 sebagaimana dimaksud pada point (5.5.1) sesuai dengan nama dagang
dan/atau bahan kimia dari B3 tersebut.

[Link]. Tata cara pemberian symbol mengacu pada peraturan dan perundangan yang
berlaku serta standar yang diacu.

4.2.6. Pelatihan

[Link]. Bagian unit kerja akan mendata karyawan/pekerja yang terpapar pada material B3.

[Link]. Data pekerja/karyawan akan dberikan kepada bagian HSE untuk dilakukan pelatihan
penanganan/penggunaan material berbahaya (HAZARDOUS MATERIAL HANDLING).

[Link]. Bagian HSE akan membuat jadwal pelatihan sesuai dengan program pelatihan.

[Link]. Karyawan/pekerja yang ditunjuk untuk mengikuti pelatihan wajib mengikuti


pelatihan.

[Link]. Post test akan dilakukan untuk memastikan karyawan/pekerja yang mengikuti
pelatihan telah paham dan mengerti tentang tata cara penanganan dan pemakaian
material B3.

4.2.7. Pengawasan
PROSEDUR PR.014 – HSE /R.04/21

MSDS DAN PENANGANAN B3


Tanggal Revisi : 06 Februari 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 06 Februari 2021 Halaman : 5

[Link]. Bagian HSE akan melakukan pengawasan terhadap pemakaian material B3 yang
digunakan.

[Link]. Rambu-rambu dan tanda peringatan akan dipasang ditempat-tempat yang


dibutuhkan.

[Link]. Bagian HSE berhak dan mempunyai kewenangan untuk melakukan pemeriksaan
terhadap tata cara penyimpanan B3.

[Link]. Bagian HSE berhak dan mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian
terhadap penilaian material B3 dan membatalkan/mencegah pemakaian B3 jika
tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku serta MSDS yang terkait.

[Link]. Bagian HSE secara berkala akan melakukan pemeriksaan terhadap penempatan dan
pemakaian B3.
PT. LEMATANG

STANDAR OPERASI PROSEDUR

LOCK OUT TAG OUT


(PENGUNCIAN DAN PELABELAN)

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


SAFETY
DISUSUN JERI HERIYANTO 06 FEBRUARI 2021
KOORDINATOR

DISETUJUI CANDY TOHA DIREKTUR 06 FEBRUARI 2021


PROSEDUR PR.013 – HSE /R.04/21

LOCK OUT TAG OUT


Tanggal Revisi : 06 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 06 FEBRUARI 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1) TUJUAN........................................................................................................................................... 1
2) RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3) REFERENSI ...................................................................................................................................... 1
4) DEFENISI ......................................................................................................................................... 1
5) PROESEDUR .................................................................................................................................... 2
5.1. Prosedur Lockout/Tagout (LOTO) /Penguncian & Pelabelan ........................................... 2
5.2. Identifikasi Warna LOTO .................................................................................................... 4
5.3. Prosedur Pemasangan LOTO.............................................................................................. 4
5.4. Prosedur Pelepasan LOTO .................................................................................................. 5
PROSEDUR PR.013 – HSE /R.04/21

LOCK OUT TAG OUT


Tanggal Revisi : 06 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 06 FEBRUARI 2021 Halaman : 1

1) TUJUAN
Standar ini memetapkan prosedur locking dan tagging yang diperlukan untuk mencegah
cedera akibat kejadian tidak terduga dari operasi peralatan tenaga, pembukaan kerangan,
pelepasan energi yang terakumulasi, atau enegi yang dibangkitkan oleh peralatan listrik.
Sekali ijin kerja memerlukan pengisolasian energi yang berbahaya, proses isolasi yang
ditentukan dalam standar ini harus diselesaikan sebelum diterbitkannya ijin
kerja.
Isolasi dari mesin, unit alat berat dan peralatan, diperlukan untuk mencapai kondisi aman
dan dapat dilakukan pengendalian atas akses pemeliharaan, pemeriksaan, konstruksi,
modifikasi, dan kegiatan dekomisioning dan untuk memberikan keyakinan bahwa risiko
diupayakan serendah mungkin yang dapat dilaksanakan.
Sertifikat isolasi dibutuhkan untuk menyatakan bahwa peralatan telah diisolasi dan tekunci
dari sumber-sumber yang berbahya. Juga disediakan daftar lokasi isolasi dan alat-alat yang
dipasang untuk tujuan tersebut. Isolasi harus mempunyai catatan yang dilaksanakan
terhadap:
a. Sistem mekanik/proses
b. Sistem kelistrikan
c. Sistem Keselamatan/Keadaan Darurat

2) RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku di ruang lingkup perusahaan

3) REFERENSI
-
4) DEFENISI
1. Pegawai berwenang : Petugas yang mengunci/memblok/menempatkan label pada mesin,
sarana sistem produksi atau peralatan listrik untuk lakukan perbaikan, pemeliharaan atau
modifikasi pada peralatan itu. Pegawai berwenang serta operator mungkin saja saja orang
yang sama jika pekerjaan operator juga termasuk juga melakukan pekerjaan itu. Pegawai
berwenang termasuk juga namun tak terbatas pada petugas listrik, mekanik atau orang yang
bertanggungjawab dalam aplikasi prosedur penguncian serta pemasangan label, seperti ;
penyelia pemeliharaan, mandor/penyelia pelaksana pekerjaan.
2. Tambah energi : Terkait dengan satu sumber daya, atau memiliki kandungan daya bekas atau
tersimpan.
PROSEDUR PR.013 – HSE /R.04/21

LOCK OUT TAG OUT


Tanggal Revisi : 06 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 06 FEBRUARI 2021 Halaman : 2

3. Alat pengisolasi daya : Alat mekanis yang dengan cara fisik menghindar perpindahan atau
pelepasan daya, termasuk juga namun tak terbatas pada beberapa hal tersebut : Pemutus
arus listrik yang dioperasikan dengan cara manual ; slip buta/buntu ; katup lurus ; katup blok
serta tiap-tiap alat sama yang dipakai memblok atau mengisolasi daya. Arti itu tak termasuk
juga tombol tekan, sakelar tentukan, serta peralatan type sirkuit kontrol yang lain.
4. Sumber daya : Tiap-tiap sumber listrik, mekanik, hidrolik, pneumatik, kimia, panas atau daya
lain.
5. Penguncian : Pemasangan kunci gembok pada alat pengisolasi daya, sesuai sama prosedur
yang telah diputuskan, untuk meyakinkan bahwa alat pengisolasi daya serta peralatan yang
tengah dikendalikan tidak bisa dioperasikan sampai alat pengunci itu dilepaskan.
6. Alat pengunci : Satu alat yang bisa mengunci, bisa berbentuk kunci gembok serta anak
kuncinya atau kunci gabungan, untuk menahan satu alat pengisolasi daya pada posisi aman
serta menghindar pelepasan daya pada mesin atau peralatan.
7. Perawatan serta pemeliharaan : Aktivitas di tempat kerja, seperti : pekerjaan konstruksi,
pemasangan, peletakan, penyetelan kontrol, pengubahan serta pemeliharaan serta/atau
perbaikan mesin atau peralatan. Aktivitas ini mencakup pekerjaan pelumasan, pembersihan,
perbaikan kemacetan mesin atau peralatan serta penyetelan atau pengubahan alat, di mana
pegawai mungkin saja terpapar dengan daya yg tidak diinginkan, atau mesin hidup serta
berlangsung pelepasan daya beresiko.
8. Pemasangan label : Menempatkan satu label disuatu alat pengisolasi daya untuk melarang
orang mengoperasikan atau mengalirkan daya disuatu peralatan yang tengah dirawat,
dipelihara, diperbaiki, dimodifikasi atau dikontrol tanpa ada izin.
9. Label : Satu sinyal peringatan yang pasti, berbentuk label serta perlengkapannya yang bisa
dipasangkan dengan kuat pada alat pengisolasi daya hingga bisa tunjukkan bahwa alat
pengisolasi daya serta peralatan yang tengah dikendalikan tak bisa dioperasikan sampai label
dilepaskan.
10. Memblok : Menempatkan satu alat manfaat menghindar gerakan daya, mesin atau
peralatan.

5) PROESEDUR
5.1. Prosedur Lockout/Tagout (LOTO) /Penguncian & Pelabelan
Sistem Penguncian serta Pelabelan (yang dimaksud LOTO) mempunyai tujuan mengamankan
orang yang tengah bekerja atau ada di sekitar mesin, instalasi listrik atau sarana sistem produksi
yang tengah diperbaiki serta dalam perawatan. Perlindungan itu dikerjakan dengan mengisolasi
daya beresiko atau penguncian, pemasangan pengaman serta label pada sumber-sumber daya
yang bisa mencederai seorang.
PROSEDUR PR.013 – HSE /R.04/21

LOCK OUT TAG OUT


Tanggal Revisi : 06 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 06 FEBRUARI 2021 Halaman : 3

5.1.1. Sistem LOTO ini adalah kriteria minimal yang perlu diaplikasikan pada semua sarana
jika pegawai atau mitra kerjanya lakukan pekerjaan pada tempat kerja dimana
pelepasan daya beresiko sangatlah mungkin saja bisa berlangsung, seperti pada
kondisi tersebut :
1. Mesin/peralatan sistem baru yang akan dibeli serta dipasang
2. Peralatan yang ada tengah dimodifikasi, diperbaiki, direnovasi atau diganti
3. Alat pengisolasi daya tengah diperbaiki atau tengah dibuatkan/ditambahkan
disuatu peralatan.
5.1.2. Daya mencakup Daya Kinetik (style yang dikarenakan oleh satu benda) serta Daya
Mungkin (daya yang tersimpan didalam satu benda yg tidak bergerak) . Daya Kinetik
serta Mungkin mencakup Listrik, Mekanik, Hidraulik, Pneumatik, Kimia, Panas, dan
lain-lain.
Sistem ini mencakup prosedur proses LOTO dengan peran serta tanggung jawab
berkenaan dari pelaksana sistem, serta infrastruktur yang dibutuhkan untuk
berjalannya sistem.
Berikut adalah peralatan-peralatan dari LOTO:
1. Label
Label mesti di buat berwarna standard untuk tunjukkan siapa yang
menempatkan. Pemasang mesti menandatanganinya. Label umumnya di buat
tidak sama warna untuk mempermudah pekerja mengerti derajat bahaya yang
ada.
2. Alat Pengunci
Yaitu suatu hal yang disarankan untuk memakai alat pengunci yang standard. Alat
pengunci mesti tidak bisa di buka terkecuali dengan alat pemasang logam. Kunci
gembok serta anak kuncinya mesti dipunyai semasing orang, serta tak berperan
juga sebagai kunci master. Pemasang mesti memegang anak kuncinya.
3. Piranti Keras Bantu Lainnya
4. Misal dari piranti ini diantaranya seperti penghalang, yellow tape, barricade,
skillet, rantai, flensa-buta, pelindung sirkuit ingindali.
5. Checklist
Pemasangan serta Pelepasan Kunci serta LabelChecklist pemasangan kunci serta label
mesti di isi serta pelepasan kunci serta label mesti di isi oleh pegawai berwenang.
PROSEDUR PR.013 – HSE /R.04/21

LOCK OUT TAG OUT


Tanggal Revisi : 06 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 06 FEBRUARI 2021 Halaman : 4

5.2. Identifikasi Warna LOTO


5.4.1. Jenis warna untuk mengidentifikasi LOTO. Klasifikasi warna yaitu :
1) Warna Biru, perbaikan peralatan oleh mekanik
2) Warna Merah, Safety
3) Warna Kuning, Asset Holder
4) Warna Hijau, Operator
5) Warna Putih, Pekerja Confined Space
6) Warna Merah Muda. electrical atau instrumen
5.4.2. LOTO ini dibagi dalam sebagian warna dengan maksud untuk membedakan peruntukan
pekerjaan yang tengah dikerjakan, seperti, , pekerjaan confined space, serta untuk
operator.
5 Pemicu Paling utama Terjadinya Kecelakaan Kerja Sehubungan dengan LOTO
a) Kegagalan untuk hentikan peralatan
b) Kegagalan untuk memutus aliran daya dari sumbernya
c) Kegagalan untuk melenyapkan sumber energi
d) Secara tak berniat mengoperasikan kembali peralatan yang tengah diperbaiki
e) Tidak Membersihkan ruang kerja saat sebelum mengoperasikan kembali
peralatan yang udah diperbaiki

5.3. Prosedur Pemasangan LOTO


5.5.1. Memberitahu serta memperingatkan operator atau pekerja yang dipengaruhi atau
terkait dengan mesin/ peralatan bahwa peralatan bakal ditetapkan sambungannya dari
sumber arus,
5.5.2. Persiapan untuk menentukan sambungan, mematikan mesin atau peralatan.
Untuk mesin yang dikendalikan dengan system automatis program computer jadi mesti
dimatikan dengan cara manual juga sebagai sinyal untuk mengkomunikasikan bahaya
pada operator atau orang yang bisa mengoperasikan mesin dari tempat lain.
5.5.3. Peralatan dimatikan/ditetapkan sambungannya dari sumber arus
5.5.4. Mengisolasi peralatan
5.5.5. Memasang Lockout serta Tagout
5.5.6. Lepaskan atau buang daya yang tersisa bila ada
PROSEDUR PR.013 – HSE /R.04/21

LOCK OUT TAG OUT


Tanggal Revisi : 06 FEBRUARI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 06 FEBRUARI 2021 Halaman : 5

5.5.7. Verifikasi kembali bahwa daya udah dimatikan

5.4. Prosedur Pelepasan LOTO


5.6.1. Pastikan peralatan udah aman untuk dioperasikan kembali
Pindahkan peralatan kerja serta pengaman
5.6.2. Amankan seluruhnya pekerja yang terkait jauh dari peralatan/mesin
5.6.3. Lepaskan LOTO oleh orang yang memasangnya
5.6.4. Beritahu seluruhnya pekerja yang terkait dengan peralatan bahwa peralatan bakal
selekasnya dioperasikan kembali
5.6.5. Hidupkan energi
5.6.6. Peralatan/mesin yang udah diperbaiki bisa dipakai kembali
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

HOUSE KEEPING

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL

DISUSUN JERI HERIYANTO SAFETY OFFICER 04 MARET 2021

DISETUJUI CANDY TOHA DIREKTUR 04 MARET 2021


PROSEDUR PR.019 – HSE /R.04/21

HOUSE KEEPING
Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
5.1. Standar dan persyaratan kesehata kesehatan lingkungan kerja / perkantoran meliputi : .... 1
5.2. Penyedian fasilitas kebersihan : .............................................................................................. 1
5.3. Penerapan kebersihan. ........................................................................................................... 2
5.4. Pemeriksaan............................................................................................................................ 4
6. Lampiran ......................................................................................................................................... 5
PROSEDUR PR.019 – HSE /R.04/21

HOUSE KEEPING
Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
1.1. Sebagai pedomaan bagi seluruh karyawan dalam rangka menjaga kenyaman dan
kesehatan dilingkungan kerja.
1.2. Mengurangi risiko terjadinya kecelakaan yang bersumber dari kondisi kebersihan dan
kerapian.
1.3. Mengurangi risiko timbulnya penyakit akibat kerja yang diakibatkan lingkungan kerja
yang tidak sehat.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
3.1. PERMENAKERTRANS No. 05 Tahun 2018 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Lingkungan Kerja.

4. DEFINISI
-

5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB


5.1. Standar dan persyaratan kesehata kesehatan lingkungan kerja / perkantoran meliputi :
5.1.1. Sarana bangunan
5.1.2. Penyedian air
5.1.3. Toilet
5.1.4. Pengelolaan limbah
5.1.5. Cuci tangan pakai sabun
5.1.6. Pengamanan pangan
5.1.7. Pengendalian vector dan binatang pembawa penyakit.

5.2. Penyedian fasilitas kebersihan :


5.2.1. Safety officer akan mengidentifikasi limbah yang dihasilkan pada poryek /tempat kerja.
PROSEDUR PR.019 – HSE /R.04/21

HOUSE KEEPING
Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 2

5.2.2. Identifikasi limbah akan dituangkan kedalam bentuk laporan tertulis.


5.2.3. Fasilitas kebersihan yang telah terindetifikasi akan di verifikasi oleh bagian logistik untuk
dibuat surat permintaan barang yang selanjutnya akan diberikan ke supplier untuk
pengadaan sesuai dengan kebutuhan.
5.2.4. Fasilitas yang telah tersedia akan ditempatkan sesuai dengan rekomendasi pada laporan.
5.2.5. Safety officer akan memeriksa ulang penyediaan dan penempatpan fasiltas kebersihan.

5.3. Penerapan kebersihan.


5.3.1. Unit alat berat, truk, kendaraan sarana
[Link]. Operator, helper, driver harus membersihkan unit sebelum dan sesudah
beroperasi.
[Link]. Tangga naik / pegangan tangga dan tempat pijakan harus bersih dari tanah /
lumpur atau miyak / oli.
[Link]. Pencucian unit dilakukan secara rutin dan berkala.
[Link]. Debu – debu pada dashboard cabin harus di bersihkan, terutama pada kaca –
kaca kabin untuk mencegah terhalangnya padangan.
[Link]. Unit yang akan dilakukan pemeriksaan laik operasi / perawatan / perbaikan
harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum pekerjaan dilakukan.
[Link]. Pembersihan terhadap unit dari bekas tindakan perawatan / perbaikan harus
dilakukan sebelum unit diserah terimakan kembali.

5.3.2. Tempat kerja perkantoran.


[Link]. Karyawan yang bekerja di staff ajib melakukan pembersihan ditempat kerja
masing – masing dari kotoran atau debu.
[Link]. Lantai kantor harus dibersihkan setiap pagi sebelum mulai aktifitas dan
sesudah aktifitas kantor.
[Link]. Tempat sampah yang telah penuh akan dibuang ke tempat penampung
sementara yang kemudian untuk diserahkan ke pengumpul sampah / dinas
kebersihan kota.
[Link]. Bagian bangunan seperti kaca dan dinding dibersihkan secara berkala dan
rutin.
[Link]. Saluran – saluran air kotor tidak boleh tersumbat dan harus selalu dijaga
kebersihannya.
PROSEDUR PR.019 – HSE /R.04/21

HOUSE KEEPING
Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 3

5.3.3. Perbengkelan, Gudang.


[Link]. Fasiltas kebersihan kan disediakan sesuai dengan jenis limbah yang ada.
[Link]. Tempat penampungan limbah B3 sementara akan disediakan.
[Link]. Lantai bengkel harus selalu bersih dari ceceran oli / minyak / tanah / lumpur.
[Link]. Lantai bengkel harus dibersihkan sebelum dan selesai bekerja.
[Link]. Penempatan bahan dan limbah B3 harus terpisah dengan kegiatan yang dapat
menimbulkan peledakan dan kebakaran.
[Link]. Kunci – kunci atau alat mekanik harus di bersihkan dan dirapikan jika selesai
digunakan dan ditempatkan pada tempatnya.

5.3.4. Tempat mandah.


[Link]. Tempat mandah akan disediakan sesuai dengan standar kesehatan.
[Link]. Fasilitas kebersihan disediakan disetiap ruang meliputi :
1. Tempat sampat bukan basah
2. Sapu ijuk dan serokan sampah
3. kain lap dan pel.
[Link]. Lantai mess (tempat mandah harus selalu bersih) dan disapu setiap hari.
[Link]. Karyawan penghuni mess bertanggung jawab atas kebersihan kamar tidur
masing dan dapur serta ruang nonton dan tamu.
[Link]. Pada halaman mess akan disediakan tempat sampah, jika penuh wajib segera
dibuang ketempat pengumpul sampah / TPA terdekat atau melalui petugas
sampah setempat.
[Link]. Halaman mess harus dibersihkan dari kotoran, daun – daunan dan rumput
secara rutin dan berkala.
[Link]. Dinding dan plafon mess akan dibersihkan secara rutin dan berkala sertiap 3
bulan sekali dari debu dan kotoran lain yang menempel.
[Link]. Saluran air hatus dijaga kebersihan dari kotoran.
[Link]. Tulisan – tulisan atau poster kebersihan akan dipasang.
[Link]. Pakaian – pakaian kotor dilarang digantung di dinding.
[Link]. Pakaian kotor diletakkan di tempat yang di sediakan ditempat cuci pakaian.
PROSEDUR PR.019 – HSE /R.04/21

HOUSE KEEPING
Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 4

5.3.5. Yard parkir alat berat.


[Link]. Disediakan tempat sampah,
[Link]. Dibersihkan secara rutin dan berkala dari kotoran / sampah / rumputan.
[Link]. Alat berat yang diparkir harus disusun dengan rapi.
[Link]. Jadwal kebersihan (piket) akan dibuat dan dilakukan secara bergiliran oleh
karyawan.

5.3.6. Kamar mandi / WC / Saluran air.


[Link]. Kamar mandi harus dibersihkan setiap hari secara bergiliran sesuai dengan
jadwal piket.
[Link]. Lantai dan dinding kamar mandi harus bersih dari lumut dan kotoran (sampah)
[Link]. Dilarang membuang barang yang dapat membuat wc menjadi buntu /
tersumbat.
[Link]. Jika terdapat retakan pada lantai mandi maka harus dengan segera dilaporkan
ke bagian umum dan segera dilakukan perbaikan.

5.3.7. Pengendalian tanaman hama dan binatang.


[Link]. Lubang angin dan jendela akan dipasang kawat nyamuk untuk mencegah
nyamuk dan serangga terbang masuk kedalam ruangan.
[Link]. Tanaman – tanaman liar akan dipotong secara rutin untuk mencegah tempat
bersarang binatang berbisa seperti ular / kalajengking dsb,
[Link]. Untuk rumput akan disemprot dengan pestisida secara rutin dan berkala
untuk mencegah pertumbuhannya.
[Link]. Sekitar mess karyawan akan di taburi belerang secara rutin untuk mencegah
masuknya ular ke dalam mess.
[Link]. Lubang – lubang saluran air kotor akan diberi penyaring untuk mencegah tikus
dan ular masuk.

5.4. Pemeriksaan.
5.4.1. Pemeriksaan akan dilakukan secara rutin dan berkala oleh safety officer untuk
kepatuhan penerapan kebersihan.
5.4.2. Pemeriksaan akan dituangkan kedalam bentuk laporan pemeriksaan kebersihan.
PROSEDUR PR.019 – HSE /R.04/21

HOUSE KEEPING
Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 5

5.4.3. Temuan – temuan yang ditemukan harus dilakukan perbaikan sesuai dengan
rekomendasi dan dalam batas waktu yang ditentukan.
5.4.4. Jika dalam waktu batas yang ditentukan temuan tidak dapat dilakukan perbaikan maka
penanggung jawab perbaikan akan membuat laporan alasan secara tertulis kepada
bagian safety.

6. Lampiran
1. Form pemeriksaan kebersihan harian
PT. LEMATANG
CHECK LIST PEMERIKSAAN KEBERSIHAN HARIAN
Periode

Lokasi
Tanggal Periksa
No. Item Periksa
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
St
Prf
St
Prf
St
Prf
St
Prf
St
Prf
St
Prf
St
Prf
St
Prf

Keterangan ; St = Status : C = Cek, P = Perbaikan, G = Ganti


Prf = Paraf pemeriksa
PT. LEMATANG

STANDAR OPERASI PROSEDUR

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


SAFETY
DISUSUN JERI HERIYANTO 04 MARET 2021
KOORDINATOR

DISETUJUI DIREKTUR DIREKTUR 04 MARET 2021


PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR dan TANGGUNG JAWAB ............................................................................................. 1
4.1. Keselamatan berkendara .................................................................................................... 1
4.2. Keselamatan transportasi Air .............................................................................................. 4
4.3. Keselamatan Transportasi udara......................................................................................... 5
4.4. Transportasi Angkutan Alat Berat ....................................................................................... 5
4.5. Mengemudi dengan AMAN ............................................................................................... 13
4.6. Mengemudi Agar Selamat ................................................................................................. 14
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
1. Memberikan pedoman kepada karyawan tentang tata cara pelaksanaan kegiatan logistik
termasuk dalam kegiatan transportasi darat, air dan udaran.
2. Menjamin keselamatan karyawan/asset perusahaan pada kegiatan/aktivitas berkendaraan.

2. RUANG LINGKUP
Seluruh jajaran organisasi perusahaan dan berlaku diwilayah kerja perusahaan.

3. REFERENSI
1. UU. No. 01 Tahun 1970 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
2. UU 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas.

4. PROSEDUR dan TANGGUNG JAWAB

4.1. Keselamatan berkendara


4.1.1. Pemilihan alat transportasi .
[Link]. Pemilihan alat transportasi untuk kegiatan kerja perusahaan adalah sebagai
berikut :
1. Kegunaan dan fungsi kendaraan
2. Jumlah/berat angkutan
3. Kondisi rute yang dilalui
4. Umur kendaraan.
[Link]. Manejemen perusahaan menunjuk Bagian HSE untuk melakukan tindakan
pemeriksaan dan pemilihan kendaraan yang akan digunakan dalam aktivitas
perusahaan.
[Link]. Bagian HSE mempunyai kewenangan untuk menolak atau menghentikan
operasi kendaraan yang digunakan perusahaan jika dinilai akan
menimbulkan risiko kecelakaan atau dapat menimbulkan kerugian.
[Link]. Kendaraan yang telah dinyatakan laik operasi akan di tindak lanjuti dengan
dilakukan dilakukan penetapan dan pemeriksaan berkala.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 2

4.1.2. Kualifikasi Pengemudi


[Link]. Kualifikasi pengemudi untuk kendaraan perusahaan adalah sebagai berikut
:
[Link].1. Kendaraan berat
1. Usia minimal 30 tahun Maksimal 54 Tahun
2. Pendidikan SMU sederajat
3. Berbadan sehat dan tidak buta warna
4. Memiliki SIM denga klas BII Umum
[Link].2. Kendaraan ringan
1. Usia minimal 25 tahun maksimal 54 tahun
2. Pendidikan SMU sederajat
3. Berbadan sehat dan tidak buta warna
4. Memiliki SIM denga klas BI Umum
[Link].3. Lulus syarat test administrasi, test tertulis serta test
kemampuan sesuai dengan kendaraan yang akan di kemudikan

4.1.3. Pemeriksaan Kendaraan.


[Link]. Pengemudi akan melakukan pemeriksaan sebelum menjalankan unit
[Link]. Gejala kelainan pada unit akan segera dilaporkan kepada mekanik dan
dibuat catatan
[Link]. Jika unit di dapat gejala kerusakan maka unit tidak boleh di operasikan.
[Link]. Bagian HSE akan secara berkala memeriksa dan menguji kelaikan tiap unit
seseuai dengan jadwal yang telah ditentukan 2 bulan sekali.
[Link]. Unit kendaraan yang telah dinyatakan laik jalan maka akan ditempel stiker
ok.
[Link]. Jika terdapat temuan dalam pemeriksaan dan pengujian maka unit
dilarang dioperasikan sampai seluruh rekomendasi temuan telah selesai
dilakukan dan dlakukan pemeriksaan dan pengujian ulang.
[Link]. Hasil pemeriksaan dan temuan serta tindakan perbaikan akan diarsipkan
dibagian HSE dan bagian operasional.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 3

4.1.4. Perawatan dan perbaikan


[Link]. Pengemudi/driver akan melakukan perawatan rutin sebelum dan sesudah
unit dioperasikan.
[Link]. Perawatan dan perbaikan akan dilakukan sesuai dengan jadwal perawatan
rutin.
[Link]. Unit yang telah masuk masa perawatan segera dilakukan perawatan.
[Link]. Untuk kerusakan pada bagia tertentu akan dilakukan perbaikan dan
dilakukan pemeriksaan jika telah selesai perbaikan.
[Link]. Perbaikan dilakukan pada bengkel pihak ke 2 yang telah ditunjuk oleh
perusahaan.
[Link]. Tindakan perawatan dan perbaikan pada unit harus memperhatikan aspek
K3 dan Tag Out wajib dipasang pada unit sesuai dengan prosedur
pemasangan LOTO.

4.1.5. Keselamatan Moving material.


[Link]. Pengemudi dan Hepler akan memeriksa material yang akan di angkut.
[Link]. Pengemudi berwenang untuk menilai apakah material yang akan diangkut
sesuai denga kemampuan unit yang dikemudikan.
[Link]. Pengemudi berhak menolak moving material jika kondisi tidak aman dan
tidak sesuai dengan kemampuan unit.
[Link]. Pengemudi akan mengarahkan penyusun barang/forklift untuk melakukan
menyusun material diatas bak unit.
[Link]. Material harus tersusun rapid an sesuai dengan titik berat unit.
[Link]. Helper akan mengikat material dengan baik dan benar.
[Link]. Pengemudi akan memastikan ikatan dalam kondisi benar dan erat.
[Link]. Pengemudi akan menjalankan kendaraan dalam batas kecepatan aman
yang disyaratkan
[Link]. Pengemudi wajib mematuhi peraturan lalu – lintas yang berlaku.
[Link]. Pengemudi dan helper akan secara berkala memeriksa kendaraan selama
perjalanan.
[Link]. Jika kondisi cuaca hujan deras maka wajib berhenti ditempat yang aman.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 4

[Link]. Jika kondisi jalan berlumpur dan tidak aman maka perjalanan dihentikan
dan driver segera menginformasikan ke atasan langsung dan untuk
mencari rute yang paling aman.
[Link]. Waktu berkendara/mengemudikan adalah sebagai berikut
1. Berkendara 2 jam tanpa henti dengan waktu istirahat 15 menit.
2. Berkendara 4 jam tanpa henti dengan waktu istirahar 30 menit
3. Maksimal berkendara dalam 1 hari adalah 12 jam

4.1.6. Keselamatan berkendara untuk kendaraan penumpang


[Link]. Jumlah penumpang adalah jumlah kursi dan seat belt yang tersedia pada
unit.
[Link]. Dilarang membawa penumpang di bak terbuka dan bersama barang-
barang.
[Link]. Pengemudi wajib melakukan pemeriksaan unit dan memastikan bahwa
unit laik operasi.
[Link]. Pengemudi wajib mengingatkan penumpang untuk memasang seatbelt.
[Link]. Penumpng wajib mengingatkan pengemudi dalam keselamatan.
[Link]. Waktu berkendara/ mengemudikan kendaraan adalah sebagai berikut :
1. Berkendara 2 jam tanpa henti dengan waktu istirahat 15 menit.
2. Berkendara 4 jam tanpa henti dengan waktu istirahar 30 menit
3. Maksimal berkendara dalam 1 hari adalah 12 jam

4.2. Keselamatan transportasi Air


4.2.1. Manajemen akan meminta saran bagian HSE untuk melakukan pemilihan sarana
transportasi air.
4.2.2. Bagian HSE akan mengumpulkan informasi dan data tentang sarana transportasi yang
akan dipakai.
4.2.3. Pemilihan dilakukan harus berdasarkan persyaratan yang dijadikan pedoman dan
peraturan perundangan yang berlaku.
4.2.4. Perusahaan subkotrantor penyedia transportasi air akan secara berkala dilakukan
tinjau ulang oleh bagian HSE.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 5

4.3. Keselamatan Transportasi udara.


4.3.1. Manajemen akan menunjuk bagian HSE untuk melakukan mengumpulkan informasi
tentang maskapai penerbangan umum yang baik dan sesuai dengan persayaratan
yang berlaku.
4.3.2. Hasil informasi sebagai acuan dalam memilih maskapai penerbangan yang dapat
dipercaya sebagai alat transportasi bagi karyawan atau manajemen dalam melakukan
perjalanan dinas menggunakan maskapai penerbangan.

4.4. Transportasi Angkutan Alat Berat


Mobilisasi alat berat dengan menggunakan truck Oil Field Truck / Flat Bed Truck / Trailer Low
Bouy sangat berisiko. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan saat Loading unloading dan
Transport maka harus memperhatikan hal – hal berikut :
1. Unit transport dalam kondisi baik dan laik jalan
2. Peralatan pendukung cukup dan laik pakai
3. Driver dan Helper dalam kondisi sehat jasmani dan rohani dan mengetahui kondisi rute
yang akan dilalui.
4. Saat loading dan unloading hanya orang yang berkepentingan yang berada dekat
dengan unit.
5. Muatan harus tersusun rapi
6. Ikatan pada posisi benar dan kuat.
7. Menjaga batas kecepatan aman.
8. Selalu melakukan pemeriksaan terhadap ikatan muatan.
9. Menggunakan stick isolator waktu menaikkan kabel listrik yang menghalangi jalan..
10. Untuk jalan yang jarang atau belum pernah dilalui harus dilakukan journey assessment
dan hasil dari pengendalian bahaya harus dikomunikasi dengan semua pihak / bagian
yang berkepentingan.
11. Pengawalan harus sesuai dengan prosedur.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 6

TRUCK FORKLIFT INDUSTRI


Kemungkinan bahaya Tindakan pencegahan
1. Pergerakan mesin ke depan a) Roda depan dan belakang truk menubruk ganjal yang
terpasang tetap pada dasar trailer.
b) Truk diikat ke trailer dengan menggunakan lashing point
buatan pabrikan
2. Pergerakan mesin ke belakang a) Seperti A dan B di atas
b) Fork diturunkan ke dek dan tekanan hidrolis dibebaskan
dengan operasi kontrol dua kali dengan mematikan
mesin.
c) Ikat dari lashing point ke anchorage point di samping
trailer.
3. Pergerakan mesin ke samping Pengekangan diberikan oleh tali yang digunakan untuk
pengekangan ke depan dan belakang.

Catatan : jika ashing point buatan pabrikan tidak tersedia maka ikat sekitar tiang depan dan
belakang ke tempat penarik kendaraan (towing point) di belakang.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 7

Wheel Tractor Shovel


Kemungkinan bahaya Tindakan pencegahan
1. Artikulasi bagian depan mesin Palang pivot locking dikunci pada posisinya, dalam hal
dalam hubungannya dengan pivot steer machine.
bagian belakang.

2. Pergerakan bucket asembly a) Bebaskan tekanan hidrolis pada sistem dengan


mengoperasikan semua kontrol dua kali, dengan mesin
dimatikan.
b) Ikat untuk mengamankan bucket ke anchorage point di sisi
trailer.
3. Pergerakan mesin ke depan a) Roda depan menubruk penyangga terhadap dinding
pemisah trailer, atau berat ballast belakang menubruk
dinding pemisah traktor jika cukup kuat.
b) Ikat dari poros depan atau towing hook ke anchorage point
di samping trailer.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 8

4. Pergerakan mesin ke belakang a) Roda belakang menubruk penyangga atau bucket


menubruk dinding pemisah belakang.
b) Ikat dari poros depan atau towing hook ke anchorage point
di samping trailer.
5. Pergerakan mesin ke samping Pengekangan diberikan oleh ikatan diagonal yang
digunakan untuk mencegah pergerakan ke depan dan
belakang
Catatan: Gunakan lashing point yang dirancang pabrikan, A, jika tersedia
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 9

Excavator Hidrolis
Kemungkinan bahaya Tindakan pencegahan
1. Mesin membentur overhead Muat perlengkapan di posisinya untuk memberikan
obstruction. ketinggian lebih rendah secara keseluruhan.
2. Pergerakan kabin dan superstrukture a) Bebaskan tekanan hidrolis dengan mengoperasikan
sehubungan dengan sasis mesin. semua kontrol dua kali, dimana mesin dimatikan.
b) Gunakan slew lock pada slewing ring
3. Pergerakan lengan pencedok Ikat dengan mengamankan bucket ke anchorage
excavator (dipper arm) dari posisi point di samping trailer.
muat
4. Pergerakan mesin ke depan a) Excavator roda atau excavator ‘rantai’ menubruk
dinding pemisah trailer dimana distribusi berat
dimungkinkan , atau menubruk penopang..
b) Ikat rantai dari towing point depan excavator atau
sasis melintang ke anchorage point di samping
trailer.
5. Pergerakan mesin ke belakang a) Kedua jenis excavator menubruk penyangga.
b) Ikat rantai dari towing point belakang excavator atau
di bawah undercarriage lashing point ke anchorage
point di samping trailer.
6. Pergerakan mesin ke samping Pengekangan diberikan oleh ikatan rantai yang
digunakan untuk mencegah pergerakan ke depan dan
belakang. Jangan ganjal barang yang berat antara
bucket dan sasis mesin.
7. Pergerakan pendukung Ikat diatas baulking.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 10
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 11

Motor Grader
Kemungkinan bahaya Tindakan pencegahan
1. Pergerakan mesin ke a. Roda depan traktor menubruk ganjal.
depan b. Roda depan menubruk dinding pemisah trailer.
c. Ikatan diagonal dari towing hook atau lashing point ke
anchorage point di samping trailer.
2. Pergerakan mesin ke a. Roda belakang traktor roda depan grader menubruk ganjal.
belakang b. Ikat dari rangka ke anchorange point di samping trailer.
c. Ikat dari rangka utama depan ke anchorage point pada dinding
pemisah trailer.
3. Pergerakan vertikal mesin Pengendalian diberikan oleh tali di atas rangka utama dan yang
memberikan penahan depan dan belakang.
4. Pergerakan mesin ke Pengendalian diberikan oleh tali yang digunakan untuk
samping penahan lainnya. Gunakan mekanisme pivot lock, jika cocok,
guna mencegah artikulasi. Bebaskan tekanan hidrolis dengan
mengoperasikan kontrol paling kurang dua kali dengan mesin
mati.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 12

Bulldozer
Kemungkinan bahaya Tindakan pencegahan
1. Pergerakan mesin ke depan a) Mata pisau (blade) buldozer dibuka dan diletakkan di dek
depan trailer.
b) Rantai (track) depan menubruk penyangga terhadap
dinding pemisah trailer.
c) Ikat dari trunnion rangka- U mata pisau buldozer ke
anchorage point di sisi trailer.
2. Pergerakan mesin ke a) Rantai (track) menubruk ganjal dinding pemisah trailer.
belakang b) Ikat dari towing point ke sisi trailer.
3. Pergerakan mesin ke a) Pengendalian diberikan oleh penahan untuk mencegah
samping pergerakan ke depan dan belakang.
b) Ikat dari samping ke anchorage point trailer.
4. Pergerakan pendukung a) Mata pisau (blade) buldozer disimpan di dek depan. Ikat
piringan pisau ke sisi trailer.
b) Ikat dari samping balok penyangga.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 13

4.5. Mengemudi dengan AMAN


4.5.1. Tahap persiapan
[Link]. Kondisi Kendaraan, misalnya sebelum melakukan perjalanan, cek dan test setiap
peralatan yang ada di mobil anda, misalnya: Kondisi rem, tanda lampu “sign”, lampu
mobil,klakson, kondisi ban termasuk kembangnya (biasanya masih diatas 1 mm tebal
alur ditelapak ban), oli mesin, minyak rem, air pendingin, kondisi wiper, dan lain
sebagainya. Terakhir kap mesin harus sudah rapat.
[Link]. Kondisi Peralatan, apakah spare part (minyak rem, ban cadangan, air accu, dll
tersedia), alat P3K, sabuk pengaman, tools, segi tiga pengaman, dan lain sebagainya.
[Link]. Kondisi Driver, apakah sudah makan, tidak sakit/fit, sudah tidur cukup, tidak lupa
membawa SIM dan STNK yang masih berlaku, memakai alat pelindung diri (APD)
seperti yang di syaratkan beberapa perusahaan.

4.5.2. Saat Mengemudi


[Link]. Hindari pengemudi lain yang aggressive (”ugal-ugalan”), sebagai contoh dibelakang
Anda ada kendaraan yang terlalu mepet, sebaiknya Anda menghindar dan
mempersilahkan pengemudi itu menyusulnya (menyalip), karena bila sesuatu
terjadi misalnya saat adanya pengereman mendadak, maka sudah pasti mobil yang
dibelakang Anda tersebut akan menabrak kendaraan Anda.
[Link]. Patuhi aturan lalulintas yang berlaku saat itu, misal berusaha turunkan kecepatan
selalu dibawah kecepatan maksimum yang diperbolehkan, dan lain sebagainya.
[Link]. Hindari pandangan yang terhalang, misalnya Anda sedang mengemudi dibelakang
container, sehingga pandangan sangat tertutup oleh bak konteiner (”seperti
menghadap tembok”) maka Anda harus berusaha menghindarinya dengan pindah
jalur.
[Link]. Patuhi “aturan 2 (dua) detik” (two second rule) yaitu aturan menjaga jarak di jalan
arteri atau jalan biasa, dimana mobil Anda dengan mobil di depan anda harus
berjarak selama 2 (dua) detik, mengukurnya misal ada kendaraan didepan Anda
melewati suatu tiang maka saat kendaraan Anda sampai di tiang tersebut harus
dicapai dalam dua detik, tetapi jarak ini harus bertambah menjadi lebih lama (3, 4, 5
detik) bila kecepatan menjadi lebih kencang misalnya saat mengemudi di jalan tol.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21

KEGIATAN LOGISTIK (TRANSPORTASI)


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 14

4.6. Mengemudi Agar Selamat


4.6.1. Utamakan Keselamatan, janganlah berpikiran atau mempunyai niat agresif dalam
mengemudi (”jangan ugal-ugalan”)
4.6.2. Perhatikan sekitar Anda, missal ada pengemudi yang ugal-ugalan, maka patut
dihindari oleh Anda sebagai pengemudi yang sadar (tidak ikut ugal-ugalan).
4.6.3. Jangan tergantung dari Pengemudi lain, maka janganlah sekali kali memperkirakan
tindakan pengemudi kendaraan lain, seperti memperkirakan kendaraan itu pasti belok
kiri maka kita kekanan.
4.6.4. Selalu mempunyai jalan keluar, misal saat ada pengereman mendadak, maka bisa
menghindarinya.
4.6.5. Ikuti Aturan 2 (dua) detik, yaitu menjaga jarak sepanjang dua detik dengan kendaraan
di depannya, bila di tol maka aturan menjadi aturan 4 (empat) detik, atau bahkan
menjadi aturan 5 (lima) detik.
4.6.6. Hindari resiko, sebagai pengemudi harus bisa membaca resiko yang bisa terjadi dan
segera hindari resiko itu.
4.6.7. Fokus mengemudi, hindari mengemudi sambil mengobrol, makan, minum atau
berbicara lewat hand phone ( HP ), sebaiknya betul betul focus mengemudi.
4.6.8. Yang perlu diingat saat mengemudi adalah, Anda sebagai bagian dari masyarakat
jalanan yang saat itu Anda berada, maka Anda harus berprinsip bahwa Anda adalah
pengemudi yang membawa kebaikan bagi semua orang disamping buat Anda sendiri
serta Keluarga Anda, ingat Istri Anda, Orang tua, dan Anak Anda selalu mendambakan
Anda selalu berada di tengah-tengah mereka, kenapa kita harus bertindak konyol
dengan mempertaruhkan nyawa atau badan Anda sendiri. Kendali ada ditangan Anda.
4.6.9. Istrihatlah jika anda telah mengemudi selama :

Lama Mengemudi Waktu Istirahat

2 jam 15 menit

4 jam 30 menit

Tidak boleh mengemudi lebih dari 11 jam dalam 1 hari


PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

PRE – USE INSPECTION


ALAT BERAT DAN KENDARAAN

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


SAFETY
DISUSUN JERI HERIYANTO 10 APRIL 2021
KOORDINATOR

DISETUJUI CANDY TOHA DIREKTUR 10 APRIL 2021


PROSEDUR PR.023 – HSE /R.04/21

PRE – USE INSPECTION ALAT BERAT DAN KENDARAAN


Tanggal Revisi : 10 APRIL 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 APRIL 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................. 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB .................................................................................................. 1
4.1. Alat berat bukan angkat.......................................................................................................... 1
4.2. Crane ....................................................................................................................................... 2
4.3. Vacum Truck ........................................................................................................................... 2
4.4. Dump Truck ............................................................................................................................. 3
4.5. Winch Truck ............................................................................................................................ 3
4.6. Flat bed Truck dan Trailer ....................................................................................................... 4
4.7. Truk Box .................................................................................................................................. 4
4.8. Kendaraan sarana ................................................................................................................... 5
PROSEDUR PR.023 – HSE /R.04/21

PRE – USE INSPECTION ALAT BERAT DAN KENDARAAN


Tanggal Revisi : 10 APRIL 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 APRIL 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
1.1. Sebagai pedoman bagi operator dan driver untuk melakukan pemeriksaan pada unit
sebelum beroperasi.
1.2. Meminimalisir kesalahan terhadap pengeoperasian alat berat dan kendaraan.
1.3. Meminimalisir risiko bahaya pada saat pengeoperasian unit.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI

4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB


4.1. Alat berat bukan angkat.
4.1.1. Operator harus memastikan dirinya dalam keadaan sehat secara fisik dan psikis.
4.1.2. Operator melakukan pemeriksaan terhadap dokumen SILO dan SIO serta Ijin kerja dan
JSA pekerjaan yang akan dilakukan.
4.1.3. Operator berkomunikasi dengan foreman alat berat untuk melakukan pekerjaan.
4.1.4. Operator wajib memeriksa keadaan sekeliling unit alat berat dan memastikan tidak ada
orang lain berada disekitar unit dan bahaya lain yang dapat menimbulkan kecelakaan.
4.1.5. Hal – hal pemeriksaan yang akan dilakukan sebagai berikut :
[Link]. Siapkan dokumen pemeriksaan harian
[Link]. Lakukan pemeriksaan sesuai dengan item periksa dalam form pemeriksaan
harian
[Link]. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi sebagi berikut :
1. Pemeriksaan body dan alat fungsi utama (bucket/blade/dsb)
2. Pemeriksaan pada mesin
3. Pemeriksaan system hidrolik
4. Pemeriksaan kelistrikan
5. Pemeriksaan penggerak (track / ban)
PROSEDUR PR.023 – HSE /R.04/21

PRE – USE INSPECTION ALAT BERAT DAN KENDARAAN


Tanggal Revisi : 10 APRIL 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 APRIL 2021 Halaman : 2

4.1.6. jika dalam pemeriksaan terdapat kejanggalan atau kerusakan maka hal tersebut
dimasukkan kedalam laporan pemeriksaan harian dan segera dilaporkan keatasan
langsung serta bagian maintenance untuk di tindaklanjuti oleh mekanik.
4.1.7. Jika unit dalam kondisi baik / lyak operasi maka operator dapat melanjutkan pekerjaan.

4.2. Crane
4.2.1. Lakukan pemeriksaan terhadap dokumen (SKPP dan SIO) pastikan dalam masa berlaku.
4.2.2. Siapkan dokumen pemeriksaan harian unit.
4.2.3. Operator dibantu helper melakukan pemeriksaan terhadap :
1. Body dan Under carried
2. Kebocoran hidrolik boom
3. Pemeriksaan pada mesin dan system bahan bakar.
4. Pemeriksaan hook block, shavel, wire rope dan drum.
5. Pemeriksaan pada system kelistrikan
6. Pemeriksaan pada safety device crane, pastikan semua dalam kondisi baik.
4.2.4. Untuk rigger haru melakukan pemeriksaan pada peralatan bantu angkat (lifting gear),
pastikan semua dalam kondisi baik dan layak pakai serta sesuai dengan barang yang
akan diangkat.
4.2.5. Untuk peralatan bantu angkat (lifting gear) harus mempunyai sertifikat kelayakan
pemakaian.
4.2.6. Jika terdapat kerusakan pada saat pemeriksaan maka harus segera di koordinasikan ke
atasan langsung.

4.3. Vacum Truck


4.3.1. Driver melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen kerja. Surat kendaraan
dan SIM
4.3.2. Helper melakukan pemeriksaan peralatan penunjang kendaraan seperti, dongkrak,
kunci roda dan sebagainya.
4.3.3. Lakukan pemeriksaan sekeliling unit untuk memastikan tidak bahaya disekitar unit.
4.3.4. Lakukan pemeriksaan pada body unit dan bagian bawah unit.
4.3.5. Lakukan pemeriksaan kondisi mesin
PROSEDUR PR.023 – HSE /R.04/21

PRE – USE INSPECTION ALAT BERAT DAN KENDARAAN


Tanggal Revisi : 10 APRIL 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 APRIL 2021 Halaman : 3

4.3.6. Lakukan pemeriksaan pada pompa vacuum


4.3.7. Lakukan pemeriksaan pada valve dan selang, serta tank vacuum.
4.3.8. Lakukan pemeriksaan kelistrikan
4.3.9. Lakukan pemeriksaan pada system kemudi dan pengereman.
4.3.10. Jika terdapat kejanggalan atau kerusakan harus dituliskan pada laporan pemeriksaan
harian dan laporkan kepada atasan langsung dan bagian maintenance.

4.4. Dump Truck


4.4.1. Driver melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen kerja. Surat kendaraan
dan SIM
4.4.2. Helper melakukan pemeriksaan peralatan penunjang kendaraan seperti, dongkrak,
kunci roda dan sebagainya.
4.4.3. Lakukan pemeriksaan sekeliling unit untuk memastikan tidak bahaya disekitar unit.
4.4.4. Lakukan pemeriksaan pada body unit dan bagian bawah unit.
4.4.5. Lakukan pemeriksaan kondisi mesin
4.4.6. Lakukan pemeriksaan pada pompa hidrolik dan tank minyak hidrolik
4.4.7. Lakukan pemeriksaan kelistrikan
4.4.8. Lakukan pemeriksaan pada system kemudi dan pengereman.
4.4.9. Jika terdapat kejanggalan atau kerusakan harus dituliskan pada laporan pemeriksaan
harian dan laporkan kepada atasan langsung dan bagian maintenance.

4.5. Winch Truck


4.5.1. Driver melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen kerja. Surat kendaraan
dan SIM
4.5.2. Helper melakukan pemeriksaan peralatan penunjang kendaraan seperti, dongkrak,
kunci roda dan sebagainya.
4.5.3. Lakukan pemeriksaan sekeliling unit untuk memastikan tidak bahaya disekitar unit.
4.5.4. Lakukan pemeriksaan pada body unit dan bagian bawah unit.
4.5.5. Lakukan pemeriksaan kondisi mesin
4.5.6. Lakukan pemeriksaan pada penggerak winch dan wire rope winch
4.5.7. Lakukan pemeriksaan kelistrikan
PROSEDUR PR.023 – HSE /R.04/21

PRE – USE INSPECTION ALAT BERAT DAN KENDARAAN


Tanggal Revisi : 10 APRIL 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 APRIL 2021 Halaman : 4

4.5.8. Lakukan pemeriksaan pada system kemudi dan pengereman.


4.5.9. Jika terdapat kejanggalan atau kerusakan harus dituliskan pada laporan pemeriksaan
harian dan laporkan kepada atasan langsung dan bagian maintenance.

4.6. Flat bed Truck dan Trailer


4.6.1. Driver melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen kerja. Surat kendaraan
dan SIM
4.6.2. Helper melakukan pemeriksaan peralatan penunjang kendaraan seperti, dongkrak,
kunci roda dan sebagainya.
4.6.3. Lakukan pemeriksaan sekeliling unit untuk memastikan tidak bahaya disekitar unit.
4.6.4. Lakukan pemeriksaan pada body unit dan bagian bawah unit.
4.6.5. Lakukan pemeriksaan kondisi mesin
4.6.6. Lakukan pemeriksaan tangga naik unit
4.6.7. Lakukan pemeriksaan kelistrikan
4.6.8. Lakukan pemeriksaan pada system kemudi dan pengereman.
4.6.9. Jika terdapat kejanggalan atau kerusakan harus dituliskan pada laporan pemeriksaan
harian dan laporkan kepada atasan langsung dan bagian maintenance.

4.7. Truk Box


4.7.1. Driver melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen kerja. Surat kendaraan
dan SIM
4.7.2. Helper melakukan pemeriksaan peralatan penunjang kendaraan seperti, dongkrak,
kunci roda dan sebagainya.
4.7.3. Lakukan pemeriksaan sekeliling unit untuk memastikan tidak bahaya disekitar unit.
4.7.4. Lakukan pemeriksaan pada body unit dan bagian bawah unit.
4.7.5. Lakukan pemeriksaan kondisi mesin
4.7.6. Lakukan pemeriksaan pada box unit dan pintu box serta penguncian box
4.7.7. Lakukan pemeriksaan kelistrikan
4.7.8. Lakukan pemeriksaan pada system kemudi dan pengereman.
4.7.9. Jika terdapat kejanggalan atau kerusakan harus dituliskan pada laporan pemeriksaan
harian dan laporkan kepada atasan langsung dan bagian maintenance.
PROSEDUR PR.023 – HSE /R.04/21

PRE – USE INSPECTION ALAT BERAT DAN KENDARAAN


Tanggal Revisi : 10 APRIL 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 APRIL 2021 Halaman : 5

4.8. Kendaraan sarana


4.8.1. Driver melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen kerja. Surat kendaraan
dan SIM
4.8.2. Helper melakukan pemeriksaan peralatan penunjang kendaraan seperti, dongkrak,
kunci roda dan sebagainya.
4.8.3. Lakukan pemeriksaan seluruh safety belt pada bangku penumpang.
4.8.4. Lakukan pemeriksaan sekeliling unit untuk memastikan tidak bahaya disekitar unit.
4.8.5. Lakukan pemeriksaan pada body unit dan bagian bawah unit.
4.8.6. Lakukan pemeriksaan kondisi mesin
4.8.7. Lakukan pemeriksaan kelistrikan
4.8.8. Lakukan pemeriksaan pada system kemudi dan pengereman.
4.8.9. Jika terdapat kejanggalan atau kerusakan harus dituliskan pada laporan pemeriksaan
harian dan laporkan kepada atasan langsung dan bagian maintenance.
4.8.10. river melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen kerja. Surat kendaraan
dan SIM
4.8.11. Helper melakukan pemeriksaan peralatan penunjang kendaraan seperti, dongkrak,
kunci roda dan sebagainya.
4.8.12. Lakukan pemeriksaan sekeliling unit untuk memastikan tidak bahaya disekitar unit.
4.8.13. Lakukan pemeriksaan pada body unit dan bagian bawah unit.
4.8.14. Lakukan pemeriksaan kondisi mesin
4.8.15. Lakukan pemeriksaan pada pompa vacuum
4.8.16. Lakukan pemeriksaan pada valve dan selang, serta tank vacuum.
4.8.17. Lakukan pemeriksaan kelistrikan
4.8.18. Lakukan pemeriksaan pada system kemudi dan pengereman.
4.8.19. Jika terdapat kejanggalan atau kerusakan harus dituliskan pada laporan pemeriksaan
harian dan laporkan kepada atasan langsung dan bagian maintenance.
PT. LEMATANG

STANDAR OPERASI PROSEDUR

PENGELOLAAN SAMPAH DAN LIMBAH B3

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


KOORDINATOR
DISUSUN JERI HERIYANTO 23 SEPTEMBER 2021
SAFETY

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 23 SEPTEMBER 2021


PROSEDUR PR.026 – HSE /R.04/21

PENGELOLAAN SAMPAH DAN LIMBAH B3


Tanggal Revisi : 17 September 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 17 September 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB. ................................................................................................ 1
5.1. Penyedian fasilitas pengelolaan sampah dan limbah B3 ........................................................ 1
5.2. Pengelolaan sampah dan limbah B3 ....................................................................................... 2
5.3. Kerjasama perusahaan dengan perusahaan pengelola limbah .............................................. 3
5.4. Kerjasama perusahaan dengan perusahaan pengelola limbah B3 ......................................... 3
5.5. Pemeriksaan ............................................................................................................................ 3
PROSEDUR PR.026 – HSE /R.04/21

PENGELOLAAN SAMPAH DAN LIMBAH B3


Tanggal Revisi : 17 September 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 17 September 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
1.1. Prosedur ini disusun sebagai pedoman bagi karyawan / pekerja dan bagian logistik
untuk melaksanakan kegiatan pengelolaan sampah dann limbah B3 yang dihasilkan oleh
kegiatan pekerjaann proyek yang sedang berlangsung.
1.2. Untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan, baik tanah maupun air.
1.3. Agar kegiatan pengelolaan sampah dann limbah B3 menjadi efektif dan berlangsung
dengan aman.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
3.1. UU No. 04 Tahun 1982 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
3.2. UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
3.3. PP No. 19 Tahun 1994 Tentang Pengelolaan Limbah Beracun dan Berbahaya

4. DEFINISI
4.1. Sampah organik yaitu ampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran,
daun – daun kering, dan sebaginya.
4.2. Sampah Anorganik yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastic wadah
pembungkus makanan, kertas, plastic dan sebagainya.
4.3. Limbah B3 yaitu sisa kegiatan proyek yang berasal dari bahan – bahan berbahaya dan
beracun, seperti : Filter oli / Minyak / udara bekas, oli bekas dan sebagainya.

5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB.


5.1. Penyedian fasilitas pengelolaan sampah dan limbah B3
5.1.1. Perusahaan akan menyediakan fasilitas pengelolaan sampah dan limbah B3
seperti tempat sampah dan tempat penyimpanan sementara limbah B3.
5.1.2. Bagian operasional akan mengidentifikasi keperluan pengelolaan sampah
sebelum memulai proyek, dalam menetapkan keperluan pengelolaan sampah
dan limbah B3 bagian operasional akan meminta petunjuk dan saran safety
officer / safety koodinator.
PROSEDUR PR.026 – HSE /R.04/21

PENGELOLAAN SAMPAH DAN LIMBAH B3


Tanggal Revisi : 17 September 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 17 September 2021 Halaman : 2

5.1.3. Untuk area perbengkelan, kantor dan serta mess karyawan identifikasi keperluan
pengelolaan sampah dan limbah menjadi tanggung jawab facility owner masing
– masing bagian.
5.1.4. Tempat sampah akan disediakan sesuai dengan jenis sampah yang ada di area
tersebut sesuai dengan klasifikasi sampah.
5.1.5. Untuk TPS akan di buat sesuai standar dan peraturan yang berlaku.
5.1.6. Untuk area lokasi proyek yang tidak memungkinkan dibangun TPS limbah B3,
maka proyek tersebut dapat menggunakan fasiltas TPS B3 dilokasi proyek yang
terdekat.

5.2. Pengelolaan sampah dan limbah B3


5.2.1. Tempat sampah yang disediakan harus sesuai diberi warna sesuai dengan
klasifikasi limbah, sebagi berikut :
1. Limbah Organik yaitu warna hijau
2. Limbah Anorganik yaitu warna kuning
3. LImbah Logam yaitu warna merah
4. Limbah B3 yaitu warna hitam
5.2.2. Tempat sampah di tempatkan diarea / temoat yang terdapat banyak aktifitas
kerja.
5.2.3. Karyawan yang berada diarea tersebut menjadi penanggung jawab atas fasilitas
tempat sampah tersebut.
5.2.4. Tempat sampah diberikan penutup dan harus selalu tertutup rapat untuk
menghidari bintang atau serangga seperti lalat masuk ketempat sampah
terutama tempat sampah organic.
5.2.5. Tempat sampah yang hampir penuh wajib dibuang ke tempat pembuangan
limbah terdekat.
5.2.6. Untuk limbah logam dan limbah B3 harus di buang ke TPS limbah B3.
5.2.7. Untuk limbah sampah organic dan anorganik dibuang ke TPA terdekat.
5.2.8. Jika tempat penampungan limbah B3 ditempat TPS hamper penuh / 80 % maka
bagian logistik akan memanggil pihak pengelola limbah B3.
5.2.9. Untuk pengmabilan limbah B3 harus dilakukan serah terima dengan bukti form
serah terima yang sesuai dengan peraturan dan perundangan RI. (manifes
limbah)
PROSEDUR PR.026 – HSE /R.04/21

PENGELOLAAN SAMPAH DAN LIMBAH B3


Tanggal Revisi : 17 September 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 17 September 2021 Halaman : 3

5.2.10. Pengisian manifes limbah harus sesuai dengan banyaknya limbah B3 yang
diserahterimakan.

5.3. Kerjasama perusahaan dengan perusahaan pengelola limbah


5.3.1. Sampah organik dan anorganik
5.3.2. Perusahaan akan melakukan kerjasama dengan pihak kebersihan dari
pemerintah setempat untuk pengambilan sampah tersebut.
5.3.3. Pengambilan sampah oleh pihak pengelola sampah harus dilakukan secara rutin
dan berkala.
5.3.4. Kerjasama dilakukan secara berkelanjutan.

5.4. Kerjasama perusahaan dengan perusahaan pengelola limbah B3


5.4.1. Sebelum melakukan kerjasama dengan perusahaan pengelola limbah B3, maka
bagian safety akan melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen
perusahaan pengelola limbah B3 dan harus dalam masa berlaku.
5.4.2. Safety koordinator akan melakukan kunjungan ke perusahaan pengelola limbah
untuk memeriksa fasiltas pengelola dan termasuk unit transport limbah B3.
5.4.3. Jika perusahaan memenuhi persyaratan maka kerjasama dapat dilakukan.
5.4.4. Safety koordinator akan secara berkala melakukan penilaian aspek kelayakan
pada perusahaan pengelola limbah B3 untuk sebagai acuan perpanjangan
kontrak kerjasama.
5.4.5. Jika dalam penilaian tidak memenuhi persayaratan maka kerjasama dapat
dihentikan.

5.5. Pemeriksaan
5.5.1. Pemeriksaan kepatuhan terhadap kegiatan pengelolaan sampah akan dilakukan
oleh safety officer ddan juga dapat dilakukan oleh safety koordinator.
5.5.2. Hasil pemeriksaan akan dimasukan kedalam laporan pemeriksaan kesehatan
lingkungan kerja.
PT. LEMATANG

STANDAR OPERASI PROSEDUR

PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


SAFETY
DISUSUN JERI HERIYANTO 10 April 2021
KOORDINATOR

DISETUJUI CANDY TOHA DIREKTUR 10 April 2021


PROSEDUR PR.024 – HSE /R.04/2

PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR


Tanggal Revisi : 10 APRIL 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 APRIL 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 2
5.1. Tempat penampungan B3 dan limbah B3. ............................................................................. 2
5.2. Perbengkelan. ......................................................................................................................... 2
5.3. Diluar bengkel. ........................................................................................................................ 3
5.4. Pengendalian pencemaran. .................................................................................................... 3
PROSEDUR PR.024 – HSE /R.04/2

PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR


Tanggal Revisi : 10 APRIL 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 APRIL 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
1.1. Sebagai pendoman untuk tiindakan pengendalian pencemaran pada air yang mungkin
terjadi akibat aktifitas kerja perusahaan.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
3.1. Undang – Undang No. 32. Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
3.2. Undang – Undang No. 37 Tahun 2014 tentang Konservasi Tanah dan Air
3.3. PP No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
3.4. Kep. KaBaPelDal KEP-01/BAPEDAL/09/1995 TENTANG Tata Cara dan Persyaratan Teknis
Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

4. DEFINISI
 Bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat B3 adalah zat, energi, dan/atau
komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara langsung
maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup,
dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup
manusia dan makhluk hidup lain.
 Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disingkat DAS adalah satuan wilayah daratan yang
merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anakanak sungai yang berfungsi
menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau
atau ke laut secara alamiah, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas
di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.
 Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemeliharaan air sehingga tercapai kualitas air yang
diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin agar kualitas air tetap dalam kondisi
alamiahnya.
 Pengendalian pencemaran air adalah upaya pencegahan dan penanggulangan
pencemaran air serta pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai
dengan baku mutu air.
 Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan
atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun
PROSEDUR PR.024 – HSE /R.04/2

PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR


Tanggal Revisi : 10 APRIL 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 APRIL 2021 Halaman : 2

sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan
peruntukannya;
 Beban pencemaran adalah jumlah suatu unsur pencemar yang terkandung dalam air atau
air limbah;
 Daya tampung beban pencemaran adalah kemampuan air pada suatu sumber air, untuk
menerima masukan beban pencemaran tanpa mengakibatkan air tersebut menjadi
cemar;
 Air limbah adalah sisa dari suatu hasil usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair;

5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB


5.1. Tempat penampungan B3 dan limbah B3.
5.1.1. Setiap tempat proyek yang terdapat perbengkelan atau tempat perbaikan alat berat
atau terdapat Gudang penyimpanan B3 yang digunakan dalam rangka perawatan dan
perawatan alat berat akan disediakan tempat penampungan limbah B3 sementara
5.1.2. Tempat penyinpanan B3 harus memenuhi persyarat yang berlaku.
5.1.3. Tempat penyimpanan limbah B3 harus memenuhi peraturan dan perundangan yang
berlaku.
5.1.4. Dalam tempat penampungan harus disediakan tempat penampungan yang ckup untuk
menampungan tumpahan.
5.1.5. Tempat penyimpanan B3 dan limbah B3 lantainya harus terbuat dari coran dan disemen
aci mempunyai kemiringan yang cukup untuk mengalirkan cairan tumpahan ke dalam
penampungan tumpahan.
5.1.6. Pada tempat tampungan atau drum penampungan harus diletakkan diatas palet.
5.1.7. Disediakan pasir untuk membersihkan ceceran oli.
5.1.8. Tempat penampungan tumpahan harus sering diperiksa dan jika telah melampaui batas
yang ditentukan maka harus segar dikosongkan dan limbah di masukkan kedalam drum
penampungan.
5.1.9. Untuk tempat cuci tangan dan shower harus diberi seluran air yang terhubung dengan
tempat oil catcher.

5.2. Perbengkelan.
5.2.1. Bengkel harus dilengkapi dengan kolam penyaringan air limbah yang dilengkapi oil trap
(oil catcher).
PROSEDUR PR.024 – HSE /R.04/2

PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR


Tanggal Revisi : 10 APRIL 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 APRIL 2021 Halaman : 3

5.2.2. Tempat penecucian dan pembilasan wajib dilengkapi dengan saluran air yang
terhuubung dengan kolam penyaringan air limbah.
5.2.3. Mekanik atau orang yang melakukan perbaikan tidak boleh melakukan tindakan yang
dapat menyebabkan tumpahan / ceceran B3 atau limbah B3 pada saat melakukan
pencucian unit atau perbaikan unit.
5.2.4. Tempat oleh harus mepunyai penutup dan tertutup rapat sehingga jika terguling tidak
terjadi tumpahan.
5.2.5. Oli bekas atau limbah B3 lainnya harus dibuang ke tempat penampungan sementara.

5.3. Diluar bengkel.


5.3.1. Mekanik dan helper harus menyiapkan tempat penampungan / ember yang cukup
untuk menampung oli bekas dari unit.
5.3.2. Oli bekas harus dimasukkan kedalam diregen yang telah disediakan untuk filter bekas ,
majun bekas dansebagianya dimasukkan penampungan dan ditutup.
5.3.3. Oli bekas dan limbah B3 lainnya harus dibawah kepenampungan / tempat penyimpanan
sementara B3 yang berada di yard terdekat.

5.4. Pengendalian pencemaran.


5.4.1. Karyawan atau personal yang melihat tumpahan cairan limbah B3 atau minyak harus
segera melaporkan kepada atasan langsung dan bagian safety (safety officer/safety
koordinator)
5.4.2. Atasan langsung yang bersangkutan akan menginformasikan kepada tim
penanggulangan pencemaran.
5.4.3. Safety officer akan membuat laporan tumpahan tersebut.
5.4.4. Tim pengendalian akan melakukan upaya pengendalian tumpahan sesuai dengan cara
berikut :
5.4.5. Melokalisir area luasan pencemaran menggunakan peralatan oil boom
5.4.6. Menggunakan ember atau gayung untuk mengambil tumpahan oli yang berada
dipermukaan air.
5.4.7. Cairan yang limbah / minyak dan air yang terkontaminasi akan dimasukan ke dalam
drum penampungan atau diregen penampungan.
5.4.8. Jika oli atau limbah terlalu melebihi dari 10 barrel maka harus dihisap menggunakan
vacuum truck.
PROSEDUR PR.024 – HSE /R.04/2

PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR


Tanggal Revisi : 10 APRIL 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 APRIL 2021 Halaman : 4

5.4.9. Tanah atau material yang terkontaminasi harus diambil menggunakan cangkul atau alat
berat excavator dan tanah tersebut harus di tampung pada wadah khusus.
5.4.10. Setelah cairan minyak yang tertumpah tidak terlihat lagi pada permukaan air maka air
tersebut hrus dihisap gunak memastikan tidak ada lagi minyak yang berada di air.
5.4.11. Jika telah selesai oil boom akan segera diangkat dari permukaan air.
5.4.12. Safety officer dan safety koordinator serta bagian yang terdampak akan membuat
laporan berita acara penanganan pencemaran dan melaporkan ke manajemen
perusahaan serta pihak yang berwenang yang terkait.
5.4.13. Jika pencemaran terhadap air tidak dapat ditanggulangi oleh tim penanggulangan
perusahaan maka Direktur dalam hal ini selaku pimpinan operasional perusahaan akan
meng informasikan kejadian tersebut kepada pihak penanggulangan pencemaran
dalam hal ini badan penanggulangan bencana daerah untuk meminta bantuan
penanganan pencemaran.
5.4.14. Dalam hal kejadian pencemaran skala besar maka direktur utama akan membuat
laporan ke pada pihak yang berwenang atas kejadian tersebut.
PT. LEMATANG

STANDAR OPERASI PROSEDUR

KEAMANAN DAN PENJAGAAN

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL

DISUSUN JERI HERIYANTO KOORDINATOR SAFETY 20 SEPTEMBER 2021

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 20 SEPTEMBER 2021


PROSEDUR PR.028 – HSE /R.04/21

KEAMANAN DAN PENJAGAAN


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
4.1. Organisasi Keamanan. ........................................................................................................ 1
4.2. Kerjasama keamanan ......................................................................................................... 2
4.3. Keamanan kantor ............................................................................................................... 2
4.4. Keamanan lokasi kerja proyek. .......................................................................................... 2
4.5. Penanganan bahaya keamanan ......................................................................................... 3
4.5.1. Premanisme ........................................................................................................... 3
4.5.2. Pencurian/Perampokan ......................................................................................... 3
4.5.3. Ancaman Bom ........................................................................................................ 4
4.5.4. Intimidasi dan perkelahian dan pelecehan serta bullying...................................... 4
PROSEDUR PR.028 – HSE /R.04/21

KEAMANAN DAN PENJAGAAN


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
1.1. Sebagai panduan kepada seluruh tenaga keamanan yang bertugas diwilayah kerja
perusahaan.
1.2. Sebagai panduan bagi karyawan untuk menghadapi situasi bahaya keamanan yang
mungkin terjadi di tempat kerja.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
3.1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 Tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.3. Undang-Undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB


4.1. Organisasi Keamanan.
4.1.1. Manajemen memasukkann keamanan kedalam organisasi bagian operasional.
4.1.2. Seluruh kegiatan pengamanan asset dan karyawan merupakan tanggung jawab
manajemen.
4.1.3. Bagian unit kerja operasional bertanggung jawab atas pelaksanaan aspek keamanan
perusahaan, termasuk perencanaan dan kegiatan yang dilakukan.
4.1.4. Organisasi keamanan untuk dilokasi proyek berada dibawah pengawas lapangan.
4.1.5. Pengawas lapangan merupakan koordinator keamanan proyek perusahaan.
4.1.6. Sumber daya manusia tenaga keamanan merupakan hasil dari seleksi yang sesuai dan
diambil dari area ring 1 proyek/kantor.
4.1.7. Tenaga keamanan bertanggung jawab untuk melakukan pengamanan pada seluruh
karyawan yang berada di area kerja dan asset perusahaan.
4.1.8. Keamanan akan membuat laporan kegiatan dan dilaporkan ke pengawas lapangan
atau kepala bagian operasional.
PROSEDUR PR.028 – HSE /R.04/21

KEAMANAN DAN PENJAGAAN


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 2

4.2. Kerjasama keamanan


4.2.1. Bagian operasional yang membawahi organisasi keamanan akan melakukan
kerjasama dengan Kepolisian/TNI setempat.
4.2.2. Untuk keamanan sekitar lokasi kerja maupun kantor perusahaan akan menjalin
komunikasi dengan aparat pemerintah setempat maupun tokoh masyarakat setempat
atau masyarakat setempat.
4.2.3. Komunikasi akan dilakukan secara berkala.
4.2.4. Hasil-hasil pembicaraan akan didokumentasikan dan dilaporkan ke Manajemen.
4.2.5. Segala tindakan untuk aspek keamanan merupakan tanggung jawab perusahaan

4.3. Keamanan kantor


4.3.1. Keamanan kantor akan di awasi langsung oleh kepala bagian unit kerja operasional.
4.3.2. Laporan keamanan akan didokumentasikan dan di laporkan ke manajemen langsung.
4.3.3. Keamanan wajib dan berhak untuk melakukan pemeriksaan serta meminta
keterangan identitas diri dan keperluan tamu.
4.3.4. Identitas dan keperluan tamu serta waktu masuk dan keluar akan dicatat kedalam
buku log book keamanan.
4.3.5. Tamu wajib menanda tangani log book.
4.3.6. Keamanan wajib memeriksa semua ruang dalam kantor dalam rangka menjaga
keamanan.

4.4. Keamanan lokasi kerja proyek.


4.4.1. Pengawas lapangan/pengurus akan melakukan komunikasi dengan masyarak
sekitar/tokoh masyarakat/pemerintah setempat/POLRI/TNI untuk mencari informasi
tentang kondisi keamanan lokasi kerja proyek perusahaan.
4.4.2. Pengawas lapangan akan melaporkan hasil informasi ke manajemen perusahaan.
4.4.3. Pengawas lapangan akan membentuk satuan keamanan lokasi kerja.
4.4.4. Penerapan akses control akan ditetapkan dan dilakukan secara efektif.
4.4.5. Tim keamanan proyek bertanggung jawab penuh dalam aspek keamanan dilokasi
proyek.
4.4.6. Tim keamanan proyek akan bertanggung jawab langsung ke pengawas lapangan.
PROSEDUR PR.028 – HSE /R.04/21

KEAMANAN DAN PENJAGAAN


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 3

4.4.7. Tim keamanan proyek berwenang dan berhak melakukan semua aktifitas masuk dan
keluar pekerja/karyawan/tamu dan lalu lintas barang yan masuk dan keluar proyek.
4.4.8. Tim keamanan berhak dan wajib menolak orang/tamu yang akan masuk kelokasi kerja
proyek dengan alasan tidak jelas.

4.5. Penanganan bahaya keamanan


4.5.1. Premanisme
[Link]. Pengawas lapangan selaku koordinator keamanan akan melakukan
pendekatan moral terhadap premanisme dengan melakukan koordinasi
dahulu kepada tokoh masyarakat setempat.
[Link]. Tindakan-tindakan intolerir yang diakibatkan oleh premanisme akan
dilaporkan ke POLRI setempat.
[Link]. Karyawan/pekerja yang mendapat ancaman premanisme akan dilakukan
pengamanan intensif.
[Link]. Tim keamanan dan bagian HSE akan berusaha menenangkan
karyawan/pekerja jika terdapat ancaman premanisme

4.5.2. Pencurian/Perampokan
[Link]. Tim keamanan akan melakukan pemeriksaan terhadap fasilitas keamanan.
[Link]. CCTV dan pagar pengaman akan ditempatkan di tempat-tempat yang
ditentukan.
[Link]. Pemeriksaan akan dilakukan secara berkala sesuai dengan jadwal yang
ditentukan.
[Link]. Temuan dalam pemeriksaan akan didokumentasikan dan segera
dilaporkan dan dilakukan tindakan perbaikan serta pencegahan
secepat/sesegera mungkin.
[Link]. Pelaku pencurian/perampokan akan segera dibawa dan dilaporkan ke
POLRI setempat/terdekat.
[Link]. Segala tindakan pencurian baik dilakukan oleh pekerja/karyawan/orang
lain akan dilaporkan ke pihak Kepolisian terdekat.
[Link]. Pelaku akan diamankan sebelum dibawa ke kantor Kepolisian terdekat.
PROSEDUR PR.028 – HSE /R.04/21

KEAMANAN DAN PENJAGAAN


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 4

4.5.3. Ancaman Bom


[Link]. Tim keamanan segera berkoordinasi dengan Manajemen perihal adanya
ancaman bom yang terjadi.
[Link]. Manejemen akan berkoordinasi dengan tim tanggap darurat/HSE.
[Link]. Tim keamanan akan menghubungi pihak Kepolisian terdekat.
[Link]. Tim tanggap darurat/HSE akan menginformasikan ancaman bom ke
karyawan dan mencegah kepanikan.
[Link]. Tim tanggap darurat/HSE akan mengumpulkan seluruh karyawan/pekerja
ketempat berkumpul aman.
[Link]. Tim keamanan akan mentup semua akses masuk keluar kantor/lokasi
proyek setelah karyawan/pekerja semuanya telah dikumpulkan ditempat
berkumpul aman.
[Link]. Penelusuran terhadap ancaman bom/letak bom akan diserahkan ke pihak
Kepolisian.
[Link]. Kantor/lokasi kerja tidak boleh dimasuki sampai waktu dinyatakan aman
oleh pihak Kepolisian.

4.5.4. Intimidasi dan perkelahian dan pelecehan serta bullying


[Link]. Karyawan/pekerja yang mendapat tekanan intimidasi/pelecehan serta
bullying segera melaporkan kejadian yang dialami ke bagian HSE dan
Keamanan
[Link]. Karyawan/pekerja yang mejadi korban akan diminta keterangan dan
diberikan konsuling.
[Link]. Orang/Karyawan/pekerja yang merupakan pelaku akan ditindak tegas dan
dilaporkan ke pihak Kepolisian.
[Link]. Jika terdapat karyawan/pekerja berkelahi maka yang melihat akan melerai
perkelahaian.
[Link]. Tim keamanan akan melerai dan mendamaikan karyawan/pekerja yang
melakukan perkelahian.
[Link]. Bagian HR akan memberikan sanksi kepada karyawan yang berkelahi.
PT. LEMATANG

STANDAR OPERASI PROSEDUR

TANGGAP DARURAT KEAMANAN

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL

DISUSUN JERI HERIYANTO KOORDINATOR SAFETY 20 SEPTEMBER 2021

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 20 SEPTEMBER 2021


PROSEDUR PR.029 – HSE /R.04/21

TANGGAP DARURAT KEAMANAN


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
4.1. Penanganan bahaya keamanan ............................................................................................. 1
4.1.1. Premanisme ............................................................................................................... 1
4.1.2. Pencurian/Perampokan ............................................................................................. 2
4.1.3. Ancaman Bom ........................................................................................................... 2
4.1.4. Intimidasi dan perkelahian dan pelecehan serta bullying ......................................... 3
PROSEDUR PR.029 – HSE /R.04/21

TANGGAP DARURAT KEAMANAN


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
1.1. Sebagai panduan bagian keamanan untuk melakukan penanganan kejadian darurat
keamanan.
1.2. Sebagai panduan bagi karyawan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya keadaan
darurat keamanan.
1.3. Mengurang risiko dampak yang lebih besar akibat kejadian daurat keamanan

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
3.1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 Tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.3. Undang-Undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB


4.1. Penanganan bahaya keamanan
4.1.1. Premanisme
[Link]. Pengawas lapangan selaku koordinator keamanan akan melakukan
pendekatan moral terhadap premanisme dengan melakukan koordinasi
dahulu kepada tokoh masyarakat setempat.
[Link]. Tindakan-tindakan intolerir yang diakibatkan oleh premanisme akan
dilaporkan ke POLRI setempat.
[Link]. Karyawan/pekerja yang mendapat ancaman premanisme akan dilakukan
pengamanan intensif.
[Link]. Tim keamanan dan bagian HSE akan berusaha menenangkan
karyawan/pekerja jika terdapat ancaman premanisme
PROSEDUR PR.029 – HSE /R.04/21

TANGGAP DARURAT KEAMANAN


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 2

4.1.2. Pencurian/Perampokan
[Link]. Tim keamanan akan melakukan pemeriksaan terhadap fasilitas keamanan.
[Link]. CCTV dan pagar pengaman akan ditempatkan di tempat-tempat yang
ditentukan.
[Link]. Pemeriksaan akan dilakukan secara berkala sesuai dengan jadwal yang
ditentukan.
[Link]. Temuan dalam pemeriksaan akan didokumentasikan dan segera
dilaporkan dan dilakukan tindakan perbaikan serta pencegahan
secepat/sesegera mungkin.
[Link]. Pelaku pencurian/perampokan akan segera dibawa dan dilaporkan ke
POLRI setempat/terdekat.
[Link]. Segala tindakan pencurian baik dilakukan oleh pekerja/karyawan/orang
lain akan dilaporkan ke pihak Kepolisian terdekat.
[Link]. Pelaku akan diamankan sebelum dibawa ke kantor Kepolisian terdekat.

4.1.3. Ancaman Bom


[Link]. Tim keamanan segera berkoordinasi dengan Manajemen perihal adanya
ancaman bom yang terjadi.
[Link]. Manejemen akan berkoordinasi dengan tim tanggap darurat/HSE.
[Link]. Tim keamanan akan menghubungi pihak Kepolisian terdekat.
[Link]. Tim tanggap darurat/HSE akan menginformasikan ancaman bom ke
karyawan dan mencegah kepanikan.
[Link]. Tim tanggap darurat/HSE akan mengumpulkan seluruh karyawan/pekerja
ketempat berkumpul aman.
[Link]. Tim keamanan akan mentup semua akses masuk keluar kantor/lokasi
proyek setelah karyawan/pekerja semuanya telah dikumpulkan ditempat
berkumpul aman.
[Link]. Penelusuran terhadap ancaman bom/letak bom akan diserahkan ke pihak
Kepolisian.
[Link]. Kantor/lokasi kerja tidak boleh dimasuki sampai waktu dinyatakan aman
oleh pihak Kepolisian.
PROSEDUR PR.029 – HSE /R.04/21

TANGGAP DARURAT KEAMANAN


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 3

4.1.4. Intimidasi dan perkelahian dan pelecehan serta bullying


[Link]. Karyawan/pekerja yang mendapat tekanan intimidasi/pelecehan serta
bullying segera melaporkan kejadian yang dialami ke bagian HSE dan
Keamanan
[Link]. Karyawan/pekerja yang mejadi korban akan diminta keterangan dan
diberikan konsuling.
[Link]. Orang/Karyawan/pekerja yang merupakan pelaku akan ditindak tegas dan
dilaporkan ke pihak Kepolisian.
[Link]. Jika terdapat karyawan/pekerja berkelahi maka yang melihat akan melerai
perkelahaian.
[Link]. Tim keamanan akan melerai dan mendamaikan karyawan/pekerja yang
melakukan perkelahian.
[Link]. Bagian HR akan memberikan sanksi kepada karyawan yang berkelahi.
PT. LEMATANG

STANDAR OPERASI PROSEDUR

PENANGANAN DAMPAK BAHAYA SOSIAL

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL

DISUSUN JERI HERIYANTO KOORDINATOR SAFETY 20 SEPTEMBER 2021

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 20 SEPTEMBER 2021


PROSEDUR PR.030 – HSE /R.04/21

PENANGANAN DAMPAK BAHAYA SOSIAL


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. LINGKUP.......................................................................................................................................... 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR DAN TANGGUNG JAWAB ............................................................................................ 2
5.1 Dampak sosial kekerasan. ....................................................................................................... 2
5.2 Dampak sosial pelecehan seksual ........................................................................................... 3
5.3 Stress. ...................................................................................................................................... 4
5.4 Dampak sosial demontrasi. ..................................................................................................... 5
5.5 Dampak sosial kerusakaan lingkungan. .................................................................................. 6
PROSEDUR PR.030 – HSE /R.04/21

PENANGANAN DAMPAK BAHAYA SOSIAL


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
a. Tujuan prosedur ini adalah menguraikan proses yang digunakan untuk penanganan dampak
sosial yang mungkin akan terjadi akibat kegiatan perusahaan.
b. Meminimalisir dampak bahaya sosial yang mungkin akan terjadi di wilayah kerja perusahaan.

2. LINGKUP
Prosedur ini mencakup program kerja K3 PT. LEMATANG

3. REFERENSI
3.1 Persyarat SMM ISO 9001:2008,
3.2 PERMEN NO 05/MEN/1996 TENTANG SMK3
3.3 OSHAS 18001:2007 KLAUSAL 4.3 PERENCANAAN (4.3.1 Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko
Dan Penetapan Pengendalian).

4. DEFINISI
1. Tempat kerja adalah setiap lokasi dimana dilakukan aktifitas kerja dibawah kendali
perusahaan.
2. Alat Pelindung Diri adalah Suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi
seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di
tempat kerja.
3. Karyawan adalah pekerja yang bekerja pada PT. LEMATANG.
4. Karyawan subkontraktor adalah orang yang bekerja pada perusahaan lain yang ikut serta
dalam kegiatan proyek PT. LEMATANG.
5. Tamu adalah orang yang mempunyai kepentingan / bekerja di area kegiatan untuk
sementara waktu ( waktu singkat ) yang masuk kedalam area kerja perusahaan.
6. Stres akibat jam kerja terlalu tinggi atau tidak sesuai waktunya ; Stres adalah gangguan
mental yang dihadapi seseorang akibat adanya tekanan. Tekanan ini muncul dari kegagalan
individu dalam memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Tekanan ini bisa berasal dari
dalam diri, atau dari luar
7. Kekerasan di dalam organisasi : tindakan agresi dan penyerangan pada kebebasan atau
martabat seseorang yang dapat dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang
PROSEDUR PR.030 – HSE /R.04/21

PENANGANAN DAMPAK BAHAYA SOSIAL


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 2

8. Kekerasan yang dilakukan perorangan perlakuan kekerasan dengan menggunakan fisik


(kekerasan seksual), verbal (termasuk menghina), psikologis (pelecehan), oleh seseorang
dalam lingkup lingkungannya.
9. Kekerasan yang dilakukan oleh negara atau kelompok, yang oleh Max Weber didefinisikan
sebagai "monopoli, legitimasi untuk melakukan kekerasan secara sah" yakni dengan alasan
untuk melaksanakan putusan pengadilan, menjaga ketertiban umum atau dalam keadaan
perang yang dapat berubah menjadi semacam perbuatanan terorisme yang dilakukan oleh
negara atau kelompok yang dapat menjadi salah satu bentuk kekerasan ekstrem (antara
lain, genosida, dll.). [6]
10. Tindakan kekerasan yang tercantum dalam hukum publik adalah tindakan kekerasan yang
diancam oleh hukum pidana (sosial, ekonomi atau psikologis (skizofrenia, dll.)).
11. Kekerasan dalam politik umumnya pada setiap tindakan kekerasan tersebut dengan suatu
klaim legitimasi bahwa mereka dapat melakukannya dengan mengatas namakan suatu
tujuan politik (revolusi, perlawanan terhadap penindasan, hak untuk memberontak atau
alasan pembunuhan terhadap raja lalim walaupun tindakan kekerasan dapat dibenarkan
dalam teori hukum untuk pembelaan diri atau oleh doktrin hukum dalam kasus perlawanan
terhadap penindasan di bawah tirani dalam doktrin hak asasi manusia.
12. Terorisme adalah serangan – serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan
perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme
tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba
dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.
13. Penindasan adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk
menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu
kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik.
14. Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan – pendekatan yang terkait dengan seks yang
diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara
verbal ataupun fisik merujuk pada seks.
15. Keberadaan bahan candu yang tidak menyenangkan dalam lingkungan kerja,
seperti rokok dan alkohol

5. PROSEDUR DAN TANGGUNG JAWAB


5.1 Dampak sosial kekerasan.
1. Direktur utama selaku pimpinan tertinggi perusahaan akan menginstrusikan kepada kepala
bagian yang ada untuk mengatur segela sesuatu kegiatan yang dapat mencegah kekerasan
di dalam wilayah kerja perusahaan termasuk di kantor.
PROSEDUR PR.030 – HSE /R.04/21

PENANGANAN DAMPAK BAHAYA SOSIAL


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 3

2. Pengawasan terhadap prilaku akan dilakukan masing – masing kepala bagian.


3. Jika ada indikasi terhadap / mengarah tindak kekerasan yang dilakukan oleh orang luar
perusahaan maka kepala bagian akan melakukan tindakan preventif dan segera melaporkan
kepada manajemen.
4. Direktur dan bagian HSE akan menerima laporan dan segera melakukan tindakan yang
dianggap perlu untuk melakukan pencegahan tindak kekerasan dan melaporkan kepada
pihak berwajib jika terdapat tindak kekerasan terhadap karyawan.
5. Masing – masing pengawas pekerjaan akan secara terus menerus mengawasi tingkah laku
pekerja yang dibawahnya guna menghindari tindak kekerasan sesama pekerja.
6. Jika terjadi pekerlahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh pekerja terhadap pekerja
lain maka pengawas akan segera melaporkan ke kepala bagian dan akan segera
berkoordinasi dengan keamanan untuk mengamankan pelaku dan korban.
7. Jika perselisihan secara kekeluargaan dan atau pelaku tindak kekerasan mengancam atau
mengulangi perbuatannya maka dalam hal ini perusahaan melalui bagian HR akan
melaporkan kepada pihak berwajib dan segera megeluarkan pelaku dari pekerjaan.
8. Laporan terhadap tindak kekerasan akan dilaporkan tidak lebih dari 1 x 24 jam setelah
kejadian.
9. Pemeriksaan akan dilakukan oleh keamanan terhadap pekerja / tamu untuk memastikan
tidak ada benda untuk digunakan tindak kekerasan yang masuk dilokasi kerja / kantor.
10. Keamanan dalam hal ini security berhak dan wajib menahan barang – barang yang dapat
digunakan untuk tindak kekerasan dan menolak pekerja / tamu yang terindikasi akan
melakukan keributan atau tindak kekerasan.
11. Yang termasuk dalam kekerasan dalam prosedur ini adalag sebagai berikut :
1. Tindakan intimidasi
2. Tindakan pemukulan / kontak fisik.
3. Tindakan verbal / ancaman.
4. Tindakan pemaksaan kehendak.

5.2 Dampak sosial pelecehan seksual


1. Macam - macam perilaku yang digolongkan dalam pelecehan seksual dalam prosedur ini
adalah sebagai berikut :
 Lelucon seks, menggoda secara terus menerus akan hal – hal yang berkaitan dengan
seks baik secara langsung maupun melalui media seperti surat, SMS, maupun surat-e.
PROSEDUR PR.030 – HSE /R.04/21

PENANGANAN DAMPAK BAHAYA SOSIAL


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 4

 Penyiksaan secara verbal akan hal – hal yang terkait dengan seks.
 Memegang ataupun menyentuh dengan tujuan seksual.
 Secara berulang berdiri dengan dekat sekali atau hingga bersentuhan badan dan
badan antar orang.
 Secara berulang meminta seseorang untuk bersosialisasi (tinggal, ikut pergi) di luar
jam kantor walaupun orang yang diminta telah mengatakan tidak atau
mengindikasikan ketidak tertarikannya.
 Memberikan hadiah atau meninggalkan barang-barang yang dapat merujuk
pada seks.
 Secara berulang menunjukkan perilaku yang mengarah pada hasrat seksual.
 Membuat atau mengirimkan gambar – gambar , kartun, atau material lainnya yang
terkait dengan seks dan dirasa melanggar etika/ batas.
 Di luar jam kerja memaksakan ajakan – ajakan yang terkait dengan seks yang
berpengaruh pada lingkup kerja.
2. Manajemen akan melakukan pengawasan terhadap tingkah laku karyawan dan dalam hal ini
pengawasan akan ditunjuk oleh manajemen adalah bagian HSE.
3. Perusahaan akan memberikan fasilitas perusahaan sesuai dengan jenis gender karyawan.
4. Perusahaan akan menyediakan mess inap terpisah dengan mess karyawan/pekerja pria.
5. Mess karyawan wanita akan dijaga selama 24 jam oleh penjaga keamanan wanita.
6. Perusahaan akan menyediakan ruang istirahat bagi karyawan wanita.
7. Tindakan pelecehan seksual yang terjadi akan dilaporkan pihak berwajib.
8. Perusahaan akan menyediakn fasilitas konsuling dan rehabilitasi terhadap karyawan yang
mengalami tindakan pelecehan seksual.
9. Bagian HR akan memonitor dan memberi informasi terhadap kejadian dan tindakan
rehabilitasi atau konsiling karyawan yang menjadi korban kepada manajemen.
10. Tenaga keamanan (security) dapat mengambil tindakan terhadap pelaku pelecehan dan atau
tindakan pencegahan terhadap kondisi – kondisi yang dapat menimbulkan pelecehan
seksual.

5.3 Stress.
1. Manajemen menunjuk bagian HR untuk mengatur segala sesuatu yang dianggap perlu untuk
mencegah dan tindakan penanggulangan stress ditempat kerja.
PROSEDUR PR.030 – HSE /R.04/21

PENANGANAN DAMPAK BAHAYA SOSIAL


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 5

2. Waktu kerja disesuaikan dengan kondisi pekerjaan yang mengacu kepada peraturan
perundangan RI yang berlaku.
3. Untuk mencegah stress akibat kerja perusahaan akan memberikan waktu sesuai ketentuan
berlaku.
4. Family gathering akan dilakukan secara berkala untuk meningkatkan keakraban dan
kekompakan serta refreshing bagi pekerja dan keluarganya.
5. Pemantauan terhadap pekerja akan dilakukan masing – masing supervisor.
6. Indikasi terhadap stress kerja akan segera dilaporkan secara tertulis oleh supervisor masing
– masing dan dilaporkan ke kepala bagian masing – masing serta diteruskan ke bagian HSE
dan HR.
7. Tindakan preventif akan dilakukan / diambil guna mencegah stres dan mengurang tingkat
stress pekerja.

5.4 Dampak sosial demontrasi.


1. Bagian HR dalam hal ini bertindak sebagai hubungan masyarakat akan melakukan langkah
komunikasi dan koordinasi terhadap aparat pemerintah / pihak berwajib (TNI/POLRI) / tokoh
masyarakat sekitar untuk melakukan langkah – langkah terbaik guna pencegahan dampak
sosial yang diakibatkan oleh kegiatan perusahaan.
2. Untuk kegiatan proyek maka bagian HR bersama Bagian Operasional untuk melakukan
koordinasi dengan aparat pemerintah / pihak berwajib (TNI/POLRI) / tokoh masyarakat
sekitar lokasi proyek sebelum mulai pekerjaan proyek tidak kurang dari 2 bulan sebelum
mulai pekerjaan.
3. Musyawarah dengan aparat pemerintah / pihak berwajib (TNI/POLRI) / tokoh masyarakat
sekitar lokasi proyek akan dilakukan di balai pertemuan masyarakat setempat atau dikantor
pemerintahan.
4. Program – program CSR akan disampaikan dan dilaksanakan sesuai kemufakatan dan
program kerja.
5. Jika terjadi demontrasi maka bagian operasional akan berkoordinasi dengan aparat
setempat untuk melakukan langkah – langkah yang dianggap perlu guna mengamankan
pekerja dan fasiltas proyek.
6. Tenaga pengaman (security) akan mengambil tindakan – tindakan yang dianggap perlu untuk
mengamankan pekerja dan fasilitas proyek sebelum aparat TNI/POLRI tiba dilokasi kerja.
7. Safety Officer akan segera melakukan evakuasi terhadap seluruh pekerja ke tempat yang
aman ketika ada demonstrasi massa.
PROSEDUR PR.030 – HSE /R.04/21

PENANGANAN DAMPAK BAHAYA SOSIAL


Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 6

8. Pekerja dilarang untuk melakukan tindakan atau hal – hal yang dapat memancing /
menimbulkan keributan / kemarahan massa demonstrasi.
9. Bagian HR dalam hal ini bagian hubungan masyarakat akan melakukan negoisasi kepada
massa demonstrasi untuk mencegah terjadinya tindakan anarkis dan mengetahui
permasalahan yang terjadi.
10. Penyelesaian terhadap masalah sosial setempat yang menimbulkan demontrasi massa akan
diselesaikan melalui musyarah yang dilakukan ditempat pertemuan pemerintahan setempat
yang dihadiri oleh tokoh masyarakat dan aparat pemerintahan setempat serta TNI/POLRI.
11. Langkah – langkah pengamanan dapat dilihat pada prosedur keamanan.

5.5 Dampak sosial kerusakaan lingkungan.


1. Bagian operasional dan HSE akann melakukan identifikasi terhadap kegiatan proyek yang
dapat berdampak sosial kerusakan lingkungan.
2. Hasil identifikasi akan dibahas dalam rapat koordinasi sebelum proyek dimulai.
3. Tindakan – tindakan pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya sosial kerusakan
lingkungan akan ditetapkan dan dimasukkan kedalam program kerja HSE proyek / HSE plan
proyek.
4. Tindakan – tindakan terhadap penanggulangan jika terjadi kejadian akan dibuat tracking
untuk mengetahui kontrol pelaksanaan perbaikan yang dilakukan.
5. Bagian operasional bersama HSE akan melakukan koordinasi dengan aparat yang berwenang
dengan kejadian untuk melakukan penanggulangan bersama jika terjadi kerusakan
lingkungan yang cukup besar dan berdampak sosial bagi masyarakat sekitar.
6. Laporan akan dilaporkan kemanajemen dengan segera.
7. Pengawasan terhadap berjalannya program pencegahan dan penanggulangan akan
dilakukan oleh bagian HSE dan dilaporkan secara berkala ke manajemen perusahaan.
8. Manajemen perusahaan akan menyetujui segala tindakan yang diambil guna pencegahan
dan penanggulangan dampak kerusakan lingkungan terhadap sosial masyarakat sekitar.
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

ALAT PELINDUNG DIRI

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


SAFETY
DISUSUN JERI HERIYANTO 04 MARET 2021
KOORDINATOR

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 04 MARET 2021


PROSEDUR PR.021 – HSE /R.04/21

ALAT PELINDUNG DIRI


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
1. Sebagai pedoman bagi karyawan untuk tata cara pemilihan, pemakaian, perawatan dan
penyimpanan alat pelindung diri.
2. Mencegah kecelakaan karena kesalahan pemilihan APD.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
1. UU No. 01 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kesehatan Kerja

2. PP No. 50 Tahun 2012, Tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

3. PERMENAKERTRANS No. 08/MEN/VII/2010 Tentang Alat Pelindung Diri

4. OHSAS 18001:2007 Klausal 3.2.1 Risiko dan 3.21 Penilaian risiko

4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB

4.1. Pemilihan Alat Pelindung Diri


4.1.1. Bagian kerja akan mengidentifikasi semua bahaya yang mungkin terpapar pada tiap
tenaga kerja.

4.1.2. Hasil indentifikasi akan dilaporkan ke bagian HSE untuk diverifikasi. Hasil verifikasi
akan diberikan kembali ke bagian unit tersebut.

4.1.3. Pemilihan Alat Pelindung Diri harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Sesuai dengan bahaya yang ada
2. Harus dapat memberikan perlindungan yang cukup kuat terhadap bahaya yang
spesifik atau bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja.
3. Alat pelindung diri harus seringan mungkin dan senyaman mungkin saat
digunakan.
4. Bentuk cukup menarik
5. Waktu pemakaian cukup lama
6. Alat pelindung diri tidak menibulkan bahaya-bahaya tambahan bagi pemakainya
PROSEDUR PR.021 – HSE /R.04/21

ALAT PELINDUNG DIRI


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 2

yang dikarenakan bentuk dan bahayanya yang tidak tepat atau karena salah
dalam menggunakannya.
7. Harus memenuhi persayaratan standar yang ada
8. Tidak membatasi gerakan dan persepsi sensoris pemakaiannya
9. Mudah untuk dirawat

4.1.4. Jenis Alat Pelindung Diri yang gunakan adalah sebagai berikut :
[Link]. Pelindung Kepala
Sumber bahaya: tertimpa benda jatuh, terbentur benda keras, rambut terlilit
benda berputar.
APD: helm, bump caps

[Link]. Pelindung Mata


Sumber bahaya: cipratan bahan kimia atau logam cair, debu, katalis powder,
proyektil, gas, uap dan radiasi.
APD: safety spectacles, goggle, faceshield, welding shield.
[Link]. Pelindung Pendengaran
Sumber bahaya: suara dengan tingkat kebisingan lebih dari 85 dB.
APD: ear plug, ear muff, canal caps.
[Link]. Pelindung Pernafasan.
Sumber bahaya: debu, uap, gas, kekurangan oksigen (oxygen defiency).
APD: respirator, breathing apparatus

[Link]. Pelindung Tangan dan Lengan


Sumber bahaya: temperatur ekstrim, benda tajam, tertimpa benda berat,
sengatan listrik, bahan kimia, infeksi kulit.

APD: sarung tangan (gloves), armlets, mitts.


[Link]. Tubuh
Sumber bahaya: temperatur ekstrim, cuaca buruk, cipratan bahan kimia atau
logam cair, semburan dari tekanan yang bocor dan penetrasi benda tajam.
APD: boiler suits, chemic al suits, vest, apron, full body suit, jacket.
[Link]. Pelindung Kaki.
Sumber bahaya: lantai licin, lantai basah, benda tajam, benda jatuh, cipratan
bahan kimia dan logam cair, aberasi.
PROSEDUR PR.021 – HSE /R.04/21

ALAT PELINDUNG DIRI


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 3

APD: safety shoes, safety boots, legging, spat.


[Link]. Pelindung Jatuh.
Sumber bahaya : Ketinggian, pekerjaan dengan potensi jatuh
APD : Body Harness, Full Body Harness.

4.2. Pemakaian Alat Pelindung Diri


5.2.1. Seluruh pekerja dan siap pun yang memasuki area kerja yang terdapat persayaratan
penggunaan Alat Pelindung Diri maka wajib memakai APD yang disyaratkan.

5.2.2. Bagian HSE akan mengawasi displin pemakaian APD diarea kerja.

5.2.3. Alat Pelindung Diri wajib dipakai dengan benar dan sesuai dengan fungsinya.

5.2.4. Rambu-rambu peringatan pemakaian APD dipasang di tempat-tempat kerja sesuai


dengan kondisi bahaya yang ada ditempat kerja tersebut.

4.3. Perawatan Alat Pelindung Diri


4.3.1. Setiap pekerja/karyawan/siapa pun yang mendapatkan inventaris APD wajib merawat
APD dengan baik dan benar.

4.3.2. Perawatan APD sesuai dengan petunjuk dari pabrik yang mengeluarkan APD tersebut.

4.4. Penyimpanan APD


4.4.1. Alat pelindung diri yang menjadi stock harus disimpan di tempat logistik/gudang.

4.4.2. APD ditempatkan di rak-rak yang disediakan.

4.4.3. APD tidak boleh diletakkan langsung diatas lantai (minimal 15cm) dari permukaan
lantai

4.4.4. APD tidak boleh terkena matahari langsung.

4.4.5. Ruang penyimpanan tidak boleh lembab dan harus mempunyai sirkulasi yang cukup.

4.4.6. APD yang tersimpan harus dilakukan pembersihan secara berkala dengan lap yang
halus.

4.5. Standar Acuan APD


4.5.1. Pelindung Kepala
PROSEDUR PR.021 – HSE /R.04/21

ALAT PELINDUNG DIRI


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 4

[Link]. Safety Helmet (ANZI


4.5.2. Pelindung Mata dan Muka
4.5.3. Pelindung Pendengaran
4.5.4. Pelindung Pernafasan
4.5.5. Pelindung Tangan
4.5.6. Pelindung Kaki
4.5.7. Pelindung Jatuh

4.6. Pemusnahan
4.6.1. APD yang telah rusak harus diganti dengan APD yang baru.

4.6.2. Karyawan/pekerja yang akan menukar APD wajib membawa APD yang lama

4.6.3. Batas pemberian APD baru tidak merujuk pada waktu (jika rusak diganti)

4.6.4. Sebelum menukar APD maka karyawan/pekerja harus mendapat persetujuan dari
kepala bagian/Bagian HSE.

4.6.5. APD yang rusak wajib segera dimusnahkan

4.6.6. Tata cara pemusnahan mengikuti rekomendasi pabrikan pembuat APD.

4.7. Pengawasan dan Pemeriksaan


4.7.1. Manajemen menunjuk bagian HSE untuk melakukan pengawasan dan pemeriksaan
terhadap penggunaan APD.

4.7.2. Pemeriksaan terhadap APD akan dilakukan secara berkala 1 bulan sekali.

4.7.3. Dalam kegiatan pemeriksaan APD, bagian HSE dapat membuat rekomendasi untuk
penggantian/pemberian APD kepada karyawan.

4.7.4. Sanksi dapat diberika kepada pekerja/karyawan/siapa pun yang tidak menggunakan
APD di area yang diwajibkan memakai APD.

4.7.5. Pemeriksaan akan didokumentasikan dalam bentuk laporan pemeriksaan APD.

4.7.6. Hasil pemeriksaan akan diarsipkan.


PROSEDUR PR.021 – HSE /R.04/21

ALAT PELINDUNG DIRI


Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 5

4.7.7. Jika terdapat temuan maka laporan hasil pemeriksaan serta rekomendasi akan
diteruskan kebagian unit kerja yang bersangkutan untuk ditindaklanjuti.

4.8. Pelatihan
4.8.1. Bagian akan meidentifikasi keperluan pelatihan APD.
4.8.2. Jadwal pelatihan APD akan diberikan kepada bagian HR yang akan diteruskan kebagian
unit kerja.
4.8.3. Pelaksanaan pelatihan APD akan dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati.
4.8.4. Peserta yang ditunjuk harus menghadiri pelatihan, jika tidak dapat hadir maka harus
membuat surat tertulis dengan alasan yang jelas dan tepat serta disetujui oleh atasan
yang bersangkutan.
PROSEDUR PR.021 – HSE /R.02/19

ALAT PELINDUNG DIRI


Tanggal Revisi : 04 Maret 2019 Revisi : 02
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2019 Halaman : 6

Persyaratan Umum untuk APD

Dimana dibutuhkan Jenis perlindungan Persyaratan Kesesuaian Standard


Mata dan Muka Dimana mesin atau proses operasi Goggles / pelindung wajah / kaca Pas dipakai dan aman (pas sempit ANSI Z87.1 - 2003
menimbulkan suatu bahaya dari mata pengaman ( yang ber penutup dipakai, tapi tidak mempengaruhi
particle melayang / melanting / samping ), kedok / topeng las gerakan)
memercik atau memantulkan sinar / dengan lensa hitam untuk mengelas
cairan berbahaya.
Kepala Dimana ada bahaya benda yang Topi pengaman / Safety Head ( Nyaman, pas dipakai. ANSI Z89.1-2003
mungkin jatuh atau melayang atau bertepi, pelindung tegangan
kemungkinan terantuk benda keras terbatas dan tidak mudah pecah
atau arus pendek listrik diarea ).
kepala.
Kaki / jari kaki Tempat kerja dimana ada potensial Safety Shoes, yang berfungsi Pas dipakai. ASTM F 2413 – 2005
kecederaan menimpa / terantuk menahan benturan benda keras
kaki atau jari kaki. pada kaki / jari kaki dan ketahanan
bahaya listrik.
Tangan Bahaya terpotong jari, atau Sarung tangan: bahan katun / kulit / Pas dipakai. OSHA 3151-12R 2004
penanganan bahan korosif, pelarut karet , sarung tangan penahan panas
atau bahan kimia lainnya atau chemical.
Pendengaran Paparan kebisingan sama atau Pelindung telinga ( ear protection ) : Pas dipakai dan jenisnya sesuai OSHA 3151-12R 2004
melebihi 85 dBA dalam waktu 8 jam. Penutup telinga penuh (ear muff), dengan paparan kebisingan di
sumbat telinga (ear plug). lokasi ybs.
PROSEDUR PR.021 – HSE /R.02/19

ALAT PELINDUNG DIRI


Tanggal Revisi : 04 Maret 2019 Revisi : 02
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2019 Halaman : 7

Pernafasan Di tempat kerja dengan lingkungan Masker dengan penyaring udara Berbagai perlengkapan pelindung ANSI Z88.7-2001
udara pernafasan yang terbatas atau
berdebu, masker dengan penyaring pernapasan yang disyaratkan
lingkungan dengan konsentrasi bahaya bahan kimia, masker dengan harus sesuai dalam pemakain-
oksigen yang kurang, atau udara pasokan udara bersih / Peralatan nya.
yang tercemar / berdebu. Pernafasan Udara ( Breathing
Apparatus ).
Pencegah jatuh Ketika bekerja pada ketinggian di Sabuk pengaman ( Safety Belt ), Pas dipakai. OSHA 3151-12R 2004
atas 2,5 meter, tempat terbuka. parasut (harness)
PEMERIKSAAN ALAT PELINDUNG DIRI
Lokasi Periksa Periode Bagian / Unit Kerja Pemeriksa Halaman
Nama Jabatan
ALAT PELINDUNG DIRI
No. Tanggal Periksa Nama Jabatan EP/ Keterangan
CA SH SG GG MS HG SS FC WG AP FB
EM

Diperiksa oleh, Diketahui oleh, Catatan


PT. LEMATANG

STANDAR OPERASI PROSEDUR

INSPEKSI DAN PEMELIHARAAN


PERALATAN

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


KOORDINATOR
DISUSUN JERI HERIYANTO 10 September 2021
SAFETY

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 10 September 2021


PROSEDUR PR.031 – HSE /R.04/21

INSPEKSI DAN PEMELIHARAAN PERALATAN


Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
4.1. Penggunaan Peralatan Listrik. ................................................................................................ 1
4.2. Penggunaan Peralatan tangan mekanik ................................................................................. 2
4.3. Peralatan Ukur. ....................................................................................................................... 2
4.4. Penyimpanan alat dan peralatan. ........................................................................................... 2
4.5. Kalibrasi alat dan peralatan. ................................................................................................... 3
4.6. Sertifikasi peralatan ................................................................................................................ 3
4.7. Pemeriksaan alat dan peralatan ............................................................................................. 4
4.8. Perawatan alat/peralatan ....................................................................................................... 4
5. LAMPIRAN ...................................................................................................................................... 4
5.1. Form Pemeriksaan alat/peralatan .......................................................................................... 4
PROSEDUR PR.031 – HSE /R.04/21

INSPEKSI DAN PEMELIHARAAN PERALATAN


Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
Sebagai panduan kepada seluruh karyawan untuk tata cara penggunaan, penyimpanan,
sertifikasi peralatan.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
3.1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 Tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.3. Undang-Undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB


4.1. Penggunaan Peralatan Listrik.
4.1.1. Peralatan listrik yang akan digunakan akan diperiksa sebelum digunakan.
4.1.2. Pemeriksaan akan dilakukan bagian yang terkait.
4.1.3. Bagian HSE berwenang melakukan pemeriksaan dan menyatakan alat tidak layak pakai
jika alat tersebut dinilai tdak laik dan dapat menimbulkan celaka.
4.1.4. Peralatan listrik akan diperiksa kelaikan secara berkala.
4.1.5. Alat yang tidak laik pakai atau dinilai dapat menimbulkan kecelakaan maka harus diberi
label merah dan di tempatkan ditempat barang yang tidak terpakai.
4.1.6. Pemakai alat wajib merawat alat yang dipakai.
4.1.7. Peralatan yang dipakai wajib dipasang grounding sebelum digunakan.
4.1.8. Pemakai wajib memakai alat sesuai fungsi dan kemampuan alat yang digunakan.
4.1.9. Penyimpanan terhadap alat listrik yang digunakan harus ditempat kering dan sesuai
dengan rekomendasi pabrik.
PROSEDUR PR.031 – HSE /R.04/21

INSPEKSI DAN PEMELIHARAAN PERALATAN


Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 2

4.2. Penggunaan Peralatan tangan mekanik


4.2.1. Pekerja yang akan memakai peralatan wajib memeriksa kondisi peralatan yang akan
dipakai.
4.2.2. Pekerja yang menggunakan peralatan wajib menggunakan peralatan sesuai fungsi dan
dilarang menggunakan peralatan tidak pada fungsi dan kemampuan.
4.2.3. Pimpinan pekerjaan wajib melakukan pemeriksaan terhadap peralatan dan tata cara
penggunaan peralatan secara berkala.
4.2.4. Pekerja yang menggunakan peralatan tidak sesuai fungsi dan posisi yang salah wajib di
tegur dan di ingatkan.
4.2.5. Bagian HSE wajib dan berwenang melakukan pemeriksaan terhadap peralatan secara
berkala.
4.2.6. Bagian HSE berhak memberikan label merah untuk peralatan yang diperiksa jika kondisi
yang dapat menimbulkan bahaya atau celaka atau rusak.
4.2.7. Peralatan yang telah diberi label merah ditempatkan dilokasi yang telah disediakan.
4.2.8. Dilarang menggunakan peralatan yang telah diberi lebel merah atau tidak sesuai fungsi
dan diluar batas kemampuan alat.

4.3. Peralatan Ukur.


4.3.1. Bagian terkait akan melakukan pemeriksaan visual terhadap alat ukur sebelum
digunakan dan dilakukan kalibrasi secara berkala.
4.3.2. Pemakai alat ukur wajib menggunakan alat ukur sesuai fungsi dan benar.
4.3.3. Alat ukur yang dipakai akan dibersihkan setelah dipakai/digunakan.
4.3.4. Alat ukur yang telah dipakai akan disimpan tempat yang disediakan dan tata cara
penyimpanan sesuai dengan rekomendasi pabrik.

4.4. Penyimpanan alat dan peralatan.


4.4.1. Penyimpanan peralatan dan alat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Tempat kering/tidak lembab.
2. Dipisahkan sesuai jenis alat dan peralatan.
3. Tidak bercampur/dekat material yang dapat mengoksidasi.
4. Mudah dijangkau.
PROSEDUR PR.031 – HSE /R.04/21

INSPEKSI DAN PEMELIHARAAN PERALATAN


Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 3

5. Tempat tersebut tidak terkena percikan air/banjir.


6. Tersusun/jika tumpukan harus sesuai dengan rekomendasi pabrik atau didalam
wdah/tempat alat.
4.4.2. Lakukan pembersihan terhadap alat dan peralatan yang tersimpan secara rutin.
4.4.3. Alat dan peralatan yang digunakan jangan tercampur dengan alat/peralatan yang
rusak/berlabel merah.

4.5. Kalibrasi alat dan peralatan.


4.5.1. Bagian yang terkait akan mendata alat peralatan yang digunakan untuk dikalibrasi.
4.5.2. Bagian yang terkait akan membuat daftar alat/peralatan yang dikalibrasi.
4.5.3. Data alat/peralatan akan diberikan ke pada bagian logistik.
4.5.4. Bagian logistik akan membuat kerjasama dengan pihak perusahaan yang dapat
mengkalibrasi alat/peralatan.
4.5.5. Pemilihan perusahaan jasa kalibrasi dilakukan atas dasar penilaian kehandalan supplier.
4.5.6. Bagian HSE berhak dan berwenang melakukan verifikasi terhadap perusahaan jasa
kalibrasi.
4.5.7. Alat/peralatan yang telah dikalibrasi wajib diminta bukti surat hasil kalibrasi dari
perusahaan jasa kalibrasi.
4.5.8. Kalibrasi akan dilakukan secara berkala sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuat.

4.6. Sertifikasi peralatan


4.6.1. Bagian yang terkait akan mendata alat/peralatan yang membutuhkan sertifikasi laik
pakai.
4.6.2. Bagian terkait akan memberikan data ke bagian HSE untuk dilakukan sertifikasi.
4.6.3. Bagian HSE akan menghubungi perusahaan jasa sertifikasi alat/peralatan.
4.6.4. Alat/peralatan yang akan dilakukan RIKSA dan UJI untuk kehandalan.
4.6.5. Alat/peralatan yang lulus RIKSA dan UJI akan dikeluarkan sertifikat kelaikan penggunaan
peralatan.
4.6.6. Sertifikasi alat/peralatan akan dilakukan perpanjangan minimal 1 bulan sebelum masa
berlaku sertifikasi berakhir.
PROSEDUR PR.031 – HSE /R.04/21

INSPEKSI DAN PEMELIHARAAN PERALATAN


Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 4

4.7. Pemeriksaan alat dan peralatan


4.7.1. Bagian terkait akan membuat program rencana pemeriksaan terhadap alat/peralatan.
4.7.2. Pemeriksaan alat/peralatan dilakukan sesuai dengan jadwal program pemeriksaaan
yang telah dibuat.
4.7.3. Bagian HSE berhak dan berwenang untuk melakukan pemeriksaan alat/peralatan.
4.7.4. Temuan terhadap pemeriksaan akan dilakukan tindakan sesuai dengan rekomendasi.
4.7.5. Hasil pemeriksaan dilaporkan ke bagian HSE dan diarsipkan.
4.8. Perawatan alat/peralatan
4.8.1. Bagian akan alat/peralatan akan membuat program perawatan terhadap alat/peralatan.
4.8.2. Tata cara perawatan alat/peralatan yang digunakan sesuai dengan rekomendasi pabrik
yang mengeluarkan alat/peralatan tersebut.
4.8.3. Pemakai alat/peralatan wajib melakukan perawatan rutin sebelum dan sesudah
digunakan.
4.8.4. Perawatan berkala akan dilakukan secara berkala sesuai dengan jadwal program
perawatan.
4.8.5. Perawatan berkala dilakukan oleh orang yang mempunyai kompetensi.
4.8.6. Orang yang tidak mempunyai kompetensi tidak boleh melakukan RIKSA dan UJI
perawatan tersebut.

5. LAMPIRAN
5.1. Form Pemeriksaan alat/peralatan
PEMERIKSAAN ALAT & PERALATAN
Lokasi Periksa Tanggal Periksa Nama Pemeriksa Hal.
Nama : / Jabatan :

No. Nama Alat/Peralatan Penempatan Kondisi Keterangan


Bagus Sedang Rusak

Catatan :

Peran Nama Jabatan Tanda Tangan

Pemeriksa

Diketahui
PT. LEMATANG

STANDAR OPERASI PROSEDUR

PEMERIKSAAN
KELAIKAN ALAT BERAT DAN SERTIFIKASI

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


KOORDINATOR
DISUSUN JERI HERIYANTO 20 AGUSTUS 2021
SAFETY

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 20 AGUSTUS 2021


PROSEDUR PR.040 – HSE /R.04/21

PEMERIKSAAN KELAYAKAN ALAT BERAT DAN SERTIFIKASI


Tanggal Revisi : 20 AGUSTUS 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 AGUSTUS 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB. ................................................................................................ 1
4.1. Pemeriksaan kelaikan alat berat berkala (colour code) ......................................................... 1
4.2. Sertifikasi................................................................................................................................. 2
PROSEDUR PR.040 – HSE /R.04/21

PEMERIKSAAN KELAYAKAN ALAT BERAT DAN SERTIFIKASI


Tanggal Revisi : 20 AGUSTUS 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 AGUSTUS 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
Sebagai panduan bagi bagian safety dan operasional untuk melakukan pemeriksaan kelaikan
alat berat dan sertifikasi

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
3.1. Permenaker No. 05 Tahun 1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut
3.2. ISO 12480 tentang standar to ensure safe lifting and hoisting
3.3. ISO 4309 tentang Crane wire ropes care and maintenance, inspection and discard
3.4. ASME b30.5 2004 tentang Mobile and Locomotive Cranes.

4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB.


4.1. Pemeriksaan kelaikan alat berat berkala (colour code)
4.1.1. Safety officer dan mekanik akan melakukan pemeriksaan unit alat berat untuk kelaikan
operasi unit alat berat.
4.1.2. Pemeriksaaan ini dilakukan per 3 bulan sekali.

4.1.3. Dari hasil periksa, Safety officer akan memberikan catatan sebagai berikut :
[Link]. Laik operasi yaitu unit alat berat aman untuk dioperasikan tanpa catatan.
[Link]. Laik operasi dengan catatan yaitu alat berat aman dioperasikan tetapi dengan
catatan dan untuk segera dilakukan tindakan atas catatan yang ada.
[Link]. Tidak laik operasi yaitu alat dalam kondisi tidak aman utnuk dioperasikan dan
dilarang dioperasikan

4.1.4. Untuk unit yang diperbolehkan operasi akan diberi penandaan pada unit :
PROSEDUR PR.040 – HSE /R.04/21

PEMERIKSAAN KELAYAKAN ALAT BERAT DAN SERTIFIKASI


Tanggal Revisi : 20 AGUSTUS 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 AGUSTUS 2021 Halaman : 2

TELAH DIPERIKSA TELAH DIPERIKSA


BULAN : JANUARI / FEBRUARI / MARET BULAN : APRIL / MEI / JUNI
TANGGAL : ……………… TANGGAL : ………………
PEMERIKSA, PEMERIKSA,
Nama Jabatan Paraf Nama Jabatan Paraf

TELAH DIPERIKSA TELAH DIPERIKSA


BULAN : JULI / AGUSTUS / SEPTEMBER BULAN : OKTOBER/ NOVEMBER / DESEMBER
TANGGAL : ……………… TANGGAL : ………………
PEMERIKSA, PEMERIKSA,
Nama Jabatan Paraf Nama Jabatan Paraf

4.1.5. Tanda periksa harus ditempelkan pada unit ditempat yang mudah terlihat dan sesuai
dengan bulan periksa serta di isi dengan jelas dan diparaf oleh pemeriksa.
4.1.6. Tanda periksa pada periode yang lalu harus dilepas dari unit untuk memastikan tidak
ada mis komunikasi.
4.1.7. Laporan periksa harus dilaporkan kepada safety koordinator, dan diarsipkan.
4.1.8. Untuk unit alat berat yang dinyatakan tidak laik operasi dapat di periksa ulang jika
catatan yang ada telah terpenuhi.

4.2. Sertifikasi
4.2.1. Pengajuan perpanjangan untuk sertifikasi unti alat berat akan diajukan 3 bulan sebelum
habis masa berlaku sertifkat kelaikan unit tersebut.
4.2.2. Untuk sertifikat kelaikan baru maka pengajuan paling lambat 1 bulan sebelum alat
digunakan.
4.2.3. Unit alat berat akan diperiksa untuk kelengkapan dan kesiapan oleh safety officer dan
spv. Operasional dan Mekanik.
4.2.4. Unit alat berat akan dilengkapi terdahulu sebelum dilakukan sertifikasi.
PROSEDUR PR.040 – HSE /R.04/21

PEMERIKSAAN KELAYAKAN ALAT BERAT DAN SERTIFIKASI


Tanggal Revisi : 20 AGUSTUS 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 AGUSTUS 2021 Halaman : 3

4.2.5. Sertifikasi akan dilakukan oleh perusahaan jasa K3 yang mempunyai ijin dan mempunyai
kompetensi untuk melakukan pemeriksaan untuk sertifikasi.
4.2.6. Sertifikat untuk alat berat bukan angkat akan dikeluarkan oleh DISNAKERTRANS /
KEMENAKERTRANS RI.
4.2.7. Sertifikat untuk alat berat angkat dalam hal CRANE dan Lift Truck / Forklift akan
dikeluarkan oleh DITJEN MIGAS RI.
PT. LEMATANG

STANDAR OPERASI PROSEDUR

MANAJEMEN PERUBAHAN

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


SAFETY
DISUSUN JERI HERIYANTO 04 APRIL 2021
KOORDINATOR

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 04 APRIL 2021


PROSEDUR PR.00.. – HSE /R.04/21

MANAJEMEN PERUBAHAN
Tanggal Revisi : 04 April 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 April 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN............................................................................................................................................ 1
2. RUANG LINGKUP .............................................................................................................................. 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB.................................................................................................... 1
4.1. Perubahan sistem manejemen perusahaan ........................................................................ 1
4.2. Perubahan sistem kerja ....................................................................................................... 2
4.3. Sistem on/off ....................................................................................................................... 2
4.4. Serah terima pekerjaan ....................................................................................................... 2
4.5. Perubahan penggunaan peralatan/unit ............................................................................... 2
4.6. Pergantian Tenaga Kerja Inti. ............................................................................................... 3
PROSEDUR PR.00.. – HSE /R.04/21

MANAJEMEN PERUBAHAN
Tanggal Revisi : 04 April 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 April 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
1.1. Sebagai panduan kepada seluruh karyawan untuk melakukan kegiatan perubahan
terhadap system kerja/peralatan kerja.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
3.1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 Tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.3. Undang-Undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB


4.1. Perubahan sistem manejemen perusahaan
4.1.1. Manajemen akan berkoordinasi dengan seluruh kepala bagian.
4.1.2. Manajemen akan melakukan rapat manajemen dengan seluruh tingkatan manejemen
4.1.3. Hasil rapat akan didokumentasikan dan ditetapkan.
4.1.4. Perubahan sistem manajemen perusahaan akan dilakukan sosialisasi keseluruh
karyawan paling lambat 6 bulan sebelum perubahan.
4.1.5. Perubahan sistem manajemen perusahaan dapat dilakukan jika :
1. Adanya perubahan kegiatan perusahaan.
2. Adanya penambahan kegiatan perusahaan.
3. Adanya aturan perundangan yang menyebabkan harusnya dilakukan perubahan.
4. Terjadinya perubahan struktur manajemen.
5. Terjadinya kecelakaan kategori fatal lebih dari 2 kali dalam 3 bulan
PROSEDUR PR.00.. – HSE /R.04/21

MANAJEMEN PERUBAHAN
Tanggal Revisi : 04 April 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 April 2021 Halaman : 2

4.2. Perubahan sistem kerja


4.2.1. Manajemen akan memberikan informasi perihal rencana perubahan sistem kerja
4.2.2. Manajemen akan meminta saran dari P2K3 dan bagian HR untuk rencana perubahan
sistem kerja dengan cara mengadakan rapat koordinasi.
4.2.3. Sistem kerja yang sudah disepakati akan ditetapkan kedalam surat keputusan
manajemen.
4.2.4. Sistem kerja akan disosialisasikan keseluruh karyawan/pekerja.
4.2.5. Sosialisasi menjadi tanggung jawab bagian unit kerja HR.
4.2.6. Peubahan sistem kerja akan juga disebarkan melalui surat elektronik

4.3. Sistem on/off


4.3.1. Karyawan yang akan selesai melakukan tugas kerja (libur kerja) wajib mengisi formulir
(libur kerja) dan memberikan informasi mengenai pekerjaan yang sedang dilakukan dan
akan dilanjutkan oleh rekan kerja pengganti.
4.3.2. Laporan form libur kerja paling lambat diterima oleh atasan 2 hari sebelum hari libur
kerja.
4.3.3. Serah terima akan dilakukan paling lambat 2 hari sebelum karyawan libur kerja.

4.4. Serah terima pekerjaan


4.4.1. Karyawan/pekerja yang akan libur kerja dalam hal cuti maka wajib mengisi form
cuti/libur kerja.
4.4.2. Karyawan yang akan libur wajib menunjuk rekan kerja untuk delegasi tugas.
4.4.3. Karyawan yang diberi delegasi tugas akan menerima tugas yang diberikan dan
melakukan serah terima tugas paling lambat 1 minggu sebelum rekan kerja cuti.

4.5. Perubahan penggunaan peralatan/unit


4.5.1. Perubahan terhadap peralatan/unit akan di informasikan ke bagian karyawan yang
menggunakan perlatan/unit tersebut.
4.5.2. Kepala bagian operasional selaku bagian terkait dalam kegiatan tersebut akan meminta
produsen yang mengeluarkan peralatan/unit melakukan pelatihan tata cara
penggunaan/pengeoperasian peralatan/unit teresebut.
PROSEDUR PR.00.. – HSE /R.04/21

MANAJEMEN PERUBAHAN
Tanggal Revisi : 04 April 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 April 2021 Halaman : 3

4.5.3. Bagian Operasional akan berkoordinasi dengan bagian HR tentang jadwal pelaksanaan
dan tata cara pelatihan tersebut.
4.5.4. Karyawan yang akan menggunakan/mengeoperasikan peralatan/unit tersebut wajib
menghadiri/mengikuti pelatihan yang dilaksanakan.
4.5.5. Uji kemampuan terhadap pengeoperasian peralatan/pengeoperasian akan dilakukan
untuk memastikan bahwa karyawan tersebut paham dan mengerti tata cara
penggunaan dan atau mengeoprasikan dengan baik dan benar.
4.5.6. Bagian HSE berwenang dalam melakukan pengawasan pelatihan dan penggunaan
peralatan tersebut.

4.6. Pergantian Tenaga Kerja Inti.


4.6.1. Yang dimaksud dalam hal ini adalah penggantian SDM inti, yang termasuk dalam SDM
ini adalah sebagai berikut :
1. Manager Bagian
2. Site Manager
3. Supervisor
4. Engineer / Draffter
5. Staff
4.6.2. Untuk jabatan bagian Safety semua level termasuk dalam tujuan prosedur ini.
4.6.3. Pergantian dilakukan jika :
1. Mengundurkan diri
2. Diberhentikan
3. Pindah Tugas / [Link].
4.6.4. Sebelum pergantian, Manager bagian harus membuat surat memo kepada bagian HR
berdasarkan sifat penggantian (alasan penggantian).
4.6.5. Serah terima harus dilakukan paling lambat 2 minggu sebelum jadwal pergantian.
4.6.6. Untuk SDM yang melaksanakan pergantian harus benar – benar memiliki bidang unjuk
kerja yang sama yang sesuai dengan posisi.
4.6.7. Untuk SDM yang akan melakukan pergantian yang dikarenakan kenaikan jabatan atau
demutasi harus dilakukan pelatihan untuk jabatan baru sesuai dengan yang ditentukan.
4.6.8. Penggantian SDM harus mendapatkkan persetujuan manajemen.
PT. LEMATANG

STANDAR OPERASI PROSEDUR

PENANGANAN DARURAT
KECELAKAAN KERJA, INSIDEN, P.A.K

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


KOORDINATOR
DISUSUN JERI HERIYANTO 23 SEPTEMBER 2021
SAFETY

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 23 SEPTEMBER 2021


PROSEDUR PR.033 – HSE /R.04/21

PENANGANAN KEADAAN DARURAT KECELAKAAN KERJA, INSIDEN, P.A.K


Tanggal Revisi : 23 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 23 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 2
5.1. Penanganan kecelakaan kerja / kecelakaan dinas. ................................................................. 2
5.2. Penanganan Insiden / Nearmiss / Duga Berbahaya. .............................................................. 2
5.3. Penanganan Penyakit Akibat Kerja (P.A.K) ............................................................................. 3
5.4. Pelaporan tindak lanjut kecelakaan, insiden serta penyakit akibat kerja. ............................. 3
PROSEDUR PR.033 – HSE /R.04/21

PENANGANAN KEADAAN DARURAT KECELAKAAN KERJA, INSIDEN, P.A.K


Tanggal Revisi : 23 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 23 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
Prosedur Penanganan Kecelakaan, Insiden & Penyakit Akibat Kerja ini disusun dengan
tujuan untuk memastikan dengan cepat sistem pelaporan, penyelidikan dan penanganan
kecelakaan kerja, insiden / nearmiss, perkiraan bahaya dan penyakit akibat kerja mendapatkan
penanganan dengan segera.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
3.1. ISO 9001:2008, Klausul 8.3 Perbaikan
3.2. ISO 9001:2008, Klausul 8.5.2 Tindakan Korektif
3.3. ISO 14001:2004, Klausul 4.4.7 Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat
3.4. PP No. 50 Tahun 2012, Sub Elemen 8.2 Pelaporan kecelakaan

4. DEFINISI
1. Kecelakaan adalah Suatu kejadian yang tidak diinginkan yang mengakibatkan kematian,
cedera, kerusakan properti maupun gangguan pada proses produksi dan lingkungan
2. Insiden adalah Suatu kejadian yang mempunyai potensi untuk terjadinya suatu kecelakaan,
termasuk nearmiss, accident
3. Kecelakaan Kerja adalah Kecelakaan yang menimpa pegawai pada waktu jam kerja di
lingkungan kerja.
4. Kecelakaan Dinas adalah Kecelakaan yang menimpa pegawai karena hubungan kerja
(pada waktu dalam perjalanan berangkat dari rumah atau pulang ke rumah dimana
ia berdomisili dengan melalui route yang biasa atau wajar dilalui dan atau
melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan tugas kedinasan dengan ketentuan
bahwa pelaksanaannya disesuaikan berdasarkan prosedur yang berlaku)
5. Penyakit Akibat Kerja adalah Penyakit yang disebabkan/timbul dari akibat suatu pekerjaan
atau lingkungan kerja.
6. Duga Bahaya adalah Suatu pemikiran yang diambil karena adanya suatu peristiwa atau
aktifitas yang mempunyai bahaya potensial dan belum teridentifikasi.
7. Sekretaris P2K3 adalah Sekretaris untuk setiap kegiatan K3 yang ditunjuk oleh perusahaan.
PROSEDUR PR.033 – HSE /R.04/21

PENANGANAN KEADAAN DARURAT KECELAKAAN KERJA, INSIDEN, P.A.K


Tanggal Revisi : 23 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 23 SEPTEMBER 2021 Halaman : 2

8. Karyawan / Personil adalah Semua individu yang terlibat dalam kegiatan operasional
perusahaan, baik pegawai, mitra kerja, pihak ketiga maupun tamu perusahaan.

5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB


5.1. Penanganan kecelakaan kerja / kecelakaan dinas.
5.1.1. Setiap personil atau karyawan yang mengetahui kejadian kecelakaan kerja / kecelakaan
dinas harus melaporkan kejadian dan memberikan informasi mengenai kejadian
kecelakaan ke bagian safety atau unit yang ditunjuk.
5.1.2. Penanganan korban dilakukan sesuai dengan IK P3K & Evalauasi.
5.1.3. Jika korban di nilai perlu penanganan lanjutan maka tim evakuasi akan segera
membawa korban ke klinik dan atau kerumah sakit terdekat untuk penanganan
selanjutnya.
5.1.4. Untuik korban kecelakaan akan diberikan pengobatan dann perawatan serta rehabitasi
sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan sesuai dengan arahan dan rekomendasi dari
dokter yang menangani korban tersebut.
5.1.5. Atasan langsung korban atau safety officer kemudian membuat laporan kejadian
kecelakaan kerja dengna menggunakan formulir laporan kecelakaan kerja, kemudian
segera di kirimkan kebagian sekretariat P2K3 dan atau Safety Koordinator.
5.1.6. Bagian HR dan Safet akan membuat laporan ke BPJS dan Disnaker setempat dengan
menggunakan form yang tersedia pada BPJS ketenagakerjaan.
5.1.7. Safety Koordinator akan menentukan tim investigasi untuk melakukan investigasi
kecelakaan.
5.1.8. Tim investigasi akan melakukan investigasi kecelakaan dan membuat laporan tertulis
kepada Manajemen perusahaan.

5.2. Penanganan Insiden / Nearmiss / Duga Berbahaya.


5.2.1. Setiap personil atau karywan yang mengetahui kejadian adanya insiden / nearmiss /
duga bahaya harus segera melaporkan temuan tersebut dan memberikan informasi
dengan jelas kepada atasan dan atau bagian safety.
5.2.2. Kemudian atasan yang bersangkutan atau safety officer akan menuju lokasi kejadian
utnuk melakukan verifikasi terhadap laporan kejadian dan jika ditemukan ketidak
sesuaian maka akan dilakukan tindak perbaikan sesuai dengan prosedur yang terkait.
5.2.3. Safety officer menginformasikan insiden / nearmiss / duga bahaya kepada safety
koordiantor dalam bentuk dokumen laporan dan disimpan.
PROSEDUR PR.033 – HSE /R.04/21

PENANGANAN KEADAAN DARURAT KECELAKAAN KERJA, INSIDEN, P.A.K


Tanggal Revisi : 23 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 23 SEPTEMBER 2021 Halaman : 3

5.2.4. Tindakan perbaikan tersebut akan dimasukan kedalam tracking action untuk dilakukan
pemantauan.

5.3. Penanganan Penyakit Akibat Kerja (P.A.K)


5.3.1. Setiap karyawan yang memiliki penyakit akibat kerja segera melaporkan ke atasan
langsung.
5.3.2. Atasan yang bersangkutan akan menindak lanjuti laporan karyawan dengan segera
melaporkan ke bagian safety dan HR
5.3.3. Staff HR akan mengkonfirmasi ke karyawan bersangkutan dan memberikan surat
rekomendasi pemeriksaan kesehatan karyawan yang bersangkutan ke klinik atau rumah
sakit yang ditunjuk.
5.3.4. Klinik atau rumah sakit yang ditunjuk harus mempunyai dokter pemeriksa yang
mempunyai sertifikasi hygiene.
5.3.5. Selanjutnya safety koordinator dan dokter yang ditunjuk selaku pemeriksa melakukan
penyidikan dengan menggunakan formulir laporan penyidikan penyakit akibat kerja.
5.3.6. Karyawan yang telah dinyatakan menderita penyakit akibat kerja akan dilakukan
pengobatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sesuai dengan rekomendasi dokter.
5.3.7. Bagian HR akan membuat laporan ke BPJS ketenagakerjaan dan Disnaker setempat.

5.4. Pelaporan tindak lanjut kecelakaan, insiden serta penyakit akibat kerja.
5.4.1. Bagian safety dan tim P2K3 dan atau bagian HR melaporkan kepada disnaker mengenai
data karyawan terkait kecelakaan, insiden, penyakit akibat kerja dan meninggal / cacat
tetap akibat kecelakaan kerja secara berkala, yang disahkan oleh manager HR dan
Direktur.
5.4.2. Terkait karyawan yang meninggal / cacat tetap akibat kecelakaan kerja maka bagian
safety melaporkan ke Direktur Utama selaku ketua P2K3.
5.4.3. Manager HR akan mengurus asuransi korban.
5.4.4. Karyawan yang mengalami cacat tetap namun bias bekerja maka sub bidang HR akan
melakukan proses pengalihan tugas sesuai dengan kemampuan pegawai terkait atau
melakukan pilihan pension dini.
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

LAPORAN KINERJA K3LL

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


KOORDINATOR
DISUSUN JERI HERIYANTO 21 / 09 / 2021
OFFICER

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 21 / 09 / 2021


PROSEDUR PR.036 – HSE /R.04/21

LAPORAN KINERJA K3LL


Tanggal Revisi : 21 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 21 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
5.1. Pelaporan Kinerja K3LL bulanan proyek. .............................................................................. 1
5.2. Pelaporan Kinerja Bulanan K3LL bulanan Perusahaan. ........................................................ 1
5.3. Pelaporan kinerja K3LL proyek untuk Klien / User ............................................................... 2
5.4. Laporan Statistik K3LL ........................................................................................................... 3
5.5. Lampiran. .............................................................................................................................. 3
PROSEDUR PR.036 – HSE /R.04/21

LAPORAN KINERJA K3LL


Tanggal Revisi : 21 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 21 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
1.1. Prosedur ini dibuat sebagai panduan bagi bagian safety untuk pelaporan kinerja K3LL.
1.2. Sebagai data kinerja K3LL.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
1. OSHAS 18001 : 2002, Guidelines for the implementation of OHSAS 18001:1999
2. PP. 50 Tagun 2012, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
3. KepDirjenBinaawas No. Kep. 84?BW/1998, Cara pengisian formulir laporan dan analisis
statistik kecelakaan

4. DEFINISI
-
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB
5.1. Pelaporan Kinerja K3LL bulanan proyek.
1. Safety officer akan melaporkan kinerja K3LL di area yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Untuk laporan harus diketahui oleh site manager proyek bersangkutan.
3. Laporan yang akan dilaporkan harus ditanda tangani.
4. Dalam hal laporan harus sesuai dengan form yang telah tersedia dan disertai data
pendukung laporan.
5. Laporan Kinerja K3LL bulanan akan dikirim ke Safety Koordinator yang berada dikantor
pusat dan telah diterima paling lambat tanggal 10 setiap bulan. Dan tidak melebihi
tanggal 15 setiap bulan.
6. Laporan Kinerja akan diarsipkan

5.2. Pelaporan Kinerja Bulanan K3LL bulanan Perusahaan.


1. Untuk pelaporan bulanan perusahaan akan dilaporkan oleh safety officer kepada
manajemen setiap bulan pada tanggal 15 setiap bulan.
PROSEDUR PR.036 – HSE /R.04/21

LAPORAN KINERJA K3LL


Tanggal Revisi : 21 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 21 SEPTEMBER 2021 Halaman : 2

2. Laporan kinerja bulanan perusahaan meliputi :


[Link]. Data Lagging.
1. Jumlah Nearmiss
2. Jumlah P3K
3. Jumlah MTC
4. Jumlah RWDC
5. Jumlah LTI
6. Jumlah Fatality
7. Jumlah kecelakaan berkendara
8. Jumlah kejadian pencemaran / tumpahan lebih dari 10 barrel

[Link]. Data Leading


1. Jumlah pekerja
2. Jumlah safe manhours
3. Jumlah hari kerja selamat
4. Jumlah pelatihan aspek K3LL yang dilakukan
5. Jumlah MWT yag dilakukan
6. Jumlah Audit yang dilakukan.

3. Laporan kinerja K3LL akan di periksa dan ditinjau oleh manejemen setiap per 3 bulan
dan 1 tahun sekali pada saat tinjauan manajemen.
4. Laporan kinerja K3LL harus ditanda tangani dan diarsipkan

5.3. Pelaporan kinerja K3LL proyek untuk Klien / User


1. Laporan kinerja K3LL proyek akan dibuat oleh safety officer sesuai dengan HSE Plan
proyek yang bersangkutan.
2. Laporan berupa dokumen laporan yang telah tersedia seperti pada lampiran dan
berikut data pendukungnya.
3. Laporan Kinerja K3LL bulanan untuk Klien / user harus diperiksa dan diketahui oleh
site manager dan atau safety coordinator.
4. Laporan kinerja K3LL bulanan wajib ditanda tangani sebelum dilaporkan ke user /
klien.
PROSEDUR PR.036 – HSE /R.04/21

LAPORAN KINERJA K3LL


Tanggal Revisi : 21 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 21 SEPTEMBER 2021 Halaman : 3

5. Laporan akan dibuat 2 rangkap dan diarsipkan

5.4. Laporan Statistik K3LL


1. Laporan statistk K3LL akan dilaporkan setiap tahun kepada Manajemen
2. Safety koordinator mempunyai kewewenangan untuk membuat laporan statistk K3LL
3. K3LL statistik akan memnajdi bahan acuan untuk meninjau program K3LL dan sebagai
tolak ukur kinerja K3LL.
4. K3LL statistic akan dipublikasikan ke seluruh bagian dan akan di pajang / dipasang
pada papan informasi K3LL setiap site proyek dan bengkel.

5.5. Lampiran.
1. Form Laporan Kinerja K3LL.
2. Form Statistik K3LL
LAPORAN BULANAN KINERJA K3LL PT. LEMATANG

Bulan Tahun

Nama Pekerjaan / Proyek : No. Kontrak

Lokasi Proyek :

Alamat :

Contact Person : Jabatan :

Telepon : Fax Email

LAGGING INDICATOR
No Data Kecelakaan Bulan ini Kumulatif Rata - Rata
A. Catatan Kecelakaan Kerja
1 Jumlah total Recordable Inceident
2 TRI Rate (per sejuta jam kerja)
3 Jumlah Kecelakaan dengan kehilangan hari Kerja (LWDC)
4 LWDC Rate (per sejuta jam kerja)
5 Jumlah Kecelakaan dengan kehilangan jam kerja (LTI)
6 LTI Rate
7 Jumlah Fatality (Cacat Tetap/Kematian)
B. Data Pendukung
1 Jumlah Hampir Celaka (Seriosly Nearmiss)
2 Jumlah Kejadian P3K
3 Jumlah Kejadian MTC
4 Jumlah Kejadian Permanent Partial Disability (PPD)
5 Jumlah Kejadian Permanent Total Disability (PTD)
6 Jumlah Kejadian Kecelakaan Berkendara
7 Jumlah Kejadian Kerusakan Asset Abnormal
8 Jumlah Kejadian Kerusakan Lingkungan / Pencemaran
9 Jumlah Kejadian Kehilangan/Perampokan (Keamanan)
10 Jumlah Kejadian Sosial (Demontrasi/Penyetopan operasi,dll)
Uraian Kejadian Kecelakaan
Tanggal Kejadian Uraian Kejadian Klasifikasi Jumlah Hari Hilang

LEADING INDICATOR
No Indikator Bulan ini Kumulatif Rata – Rata
1 Jumlah Tenaga Kerja
2 Jumlah Hari Kerja Aman
3 Jumlah Jam Kerja Aman
4 Jumlah MWT yang dilakukan
5 Jumlah Rapat K3LL
 Safety Talk yang dilakukan
 Rapat K3 Bulanan
 Accidential Meeting
6 Jumlah orientasi K3LL yang dilakukan
7 Jumlah Inspeksi yang dilakukan
 Jumlah Pemeriksaan APAR dan Kotak P3K
 Pemeriksaan Alat Pelindung Diri
 Pemeriksaan Safety Equipment
 Pemeriksaan Kualitas Lingkungan Kerja
8 Jumlah Ijin Kerja yang dibuat
 Ijin Kerja Biasa / Dingin
 Ijin Kerja Panas
 Ijin Kerja Galian
 Ijin Kerja Pengangkatan
 Ijin Kerja Ruang Terbatas
9 Jumlah JSA yang Dibuat
10 JumlahObsevasi Behavior Based Safety yang dilakukan
11 Jumlah Pelatihan K3LL yang dilakukan


12 Jumlah latihan / drill Rencana Tanggap Darurat yang dilakukan
13 Jumlah investigasi kecelakaan yang dilakukan
 Persentase tindak lanjut rekomendasi yang telah dilakukan
Program K3LL lainnya
No Tanggal Nama Program K3LL Fasilitator Tempat/Lokasi

Disiapkan Oleh ; Disetujui Oleh ;


Nama : Nama :
Jabatan : Jabatan :
Tanda Tangan : Tanda Tangan :

Tanggal : Tanggal :
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

LAPORAN KECELAKAAN DAN INVESTIGASI


KECELAKAAN

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


SAFETY
DISUSUN JERI HERIYANTO 06 FEBRUARI 2021
KOORDINATOR

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 06 FEBRUARI 2021


PROSEDUR PR.012 – HSE /R.04/21

PELAPORAN KECELAKAAN KERJA DAN INVESTIGASI KECELAKAAN

Tanggal Revisi : 06 FEBRUARI 2021 Revisi : 04


Tanggal Berlaku : 06 FEBRUARI 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN............................................................................................................................................ 1
2. RUANG LINGKUP .............................................................................................................................. 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB .................................................................................................... 1
4.1. Pelaporan insiden, nearmiss dan ketidaksesuaian .................................................................. 1
4.2. Respon terhadap insiden, nearmiss dan ketidaksesuaian. ...................................................... 2
4.3. Investigasi ................................................................................................................................ 2
4.4. Analisa Kecelakaan. ................................................................................................................. 3
5. LAMPIRAN........................................................................................................................................ 3
PROSEDUR PR.012 – HSE /R.04/21

PELAPORAN KECELAKAAN KERJA DAN INVESTIGASI KECELAKAAN

Tanggal Revisi : 06 FEBRUARI 2021 Revisi : 04


Tanggal Berlaku : 06 FEBRUARI 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
1.1. Untuk memastikan semua insiden yang terjadi diselidiki, tindakan perbaikan dan pencegahan
telah dilaksanakan untuk setiap ketidaksesuaian, insiden (termasuk kecelakaan dan nearmiss)
dan terkait penyakit akibat kerja, sehingga kejadian serupa tidak akan terjadi lagi. Semua
peristiwa akan dilaporkan melalui Formulir Insiden Investigasi dan RCA.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
3.1. Kebijakan Pemerintah Indonesia (Undang-undang) No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 pada Sistem Keselamatan
dan Manajemen Kesehatan.
3.3. OHSAS 18001:2007, Elemen 4.5.3
3.4. ISO 14001:2004, Elemen 4.5.3

4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB


4.1. Pelaporan insiden, nearmiss dan ketidaksesuaian
4.1.1. Pelaporan awal bisa dilakukan secara verbal menggunakan telepon atau komunikasi
langsung.

4.1.2. Daftar batas waktu untuk pelaporan dan pemilihan tim investigasi:

No Jenis Insiden Batas Waktu untuk Minimal Tim Investigasi


melaporkan
1 Nyaris 2 x 24 jam Pengawas
celaka/nearmiss
2 Kecelakaan 1,5 x 24 jam a. Site Manager
kecil/Ringan b. HSE officer disite
3 Kecelakaan Besar 1 x 24 jam a. Direktur Utama / Direktur
b. Manager Bagian
c. Site Manager
d. HSE Koordinator
4 Kecelakaan Fatal 1 x 24 jam a. Direktur Utama / Direktur
b. Manager Bagian
c. Site Manager
d. HSE Koordinator Pengawas
DISNAKERTRANS setempat.
PROSEDUR PR.012 – HSE /R.04/21

PELAPORAN KECELAKAAN KERJA DAN INVESTIGASI KECELAKAAN

Tanggal Revisi : 06 FEBRUARI 2021 Revisi : 04


Tanggal Berlaku : 06 FEBRUARI 2021 Halaman : 2

4.1.3. Laporan kecelakaan dapat ditulis oleh karyawan yang mengetahui kejadian tersebut
atau dibantu oleh penanggung jawab HSE

4.1.4. Selanjutnya melaporkan untuk dituliskan dan dikirim langsung, atau melalui fax, atau
surat elektronik ke kantor pusat.

4.1.5. Kecelakaan yang melibatkan cidera atau luka dengan tingkat ringan sampai dengan
tingkat tinggi dan fatal, diperlukan ke PT. BPJS ketenaga kerjaan dan Dinas Tenaga Kerja
dan Transmigrasi Setempat kurang dari 2 x 24 jam setelah kejadian.

4.1.6. Pelaporan awal untuk ke PBJS ketenaga kerjaan dapat dlakukan melalui telepon.

4.1.7. Kecelakaan yang berdampak pada lingkungan akan dilaporkan ke Pemerintah Daerah,
dan Pihak berwajib.

4.2. Respon terhadap insiden, nearmiss dan ketidaksesuaian.


4.2.1. Tidakan pertama untuk melaporak adanya kejadian nearmiss, insiden dan ketidak
sesuaian diperlukan untuk dilakukan oleh karyawan yang mengetahui insiden itu.

4.2.2. Kepala bagian / pengawas lapangan diperlukan untukmenentukan tindakan perbaikan


awal dan / atau tindakan lebih lanjut saat laporan pertama diterima pada nearmiss,
insiden dan ketidaksesuaian.

4.2.3. Untuk menangani korban dari kecelakaan kerja dilakukan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.

4.3. Investigasi
4.3.1. Investigasi yang dilakukan harus meliputi :
1. Pengumpulan data, dengan memeriksa tempat kejadian dan mengumpulkan
informasi dari korban dan saksi kejadian.
2. Meninjau penilaian risiko terdahulu dari aktivitas, produk dan jasa yang terkait.
3. Menganalisis data yang dapat digunakan untuk menemukan sebab langsung
(tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman), akar masalah (fajtor personil atau
pekerjaan) dan control manajemen.
4. Merekomendasi tindakan pencegahan atas kejadian.
5. Memantau rekomendasi berdasarkan hasil investigasi

4.3.2. Investigasi ini dilakukan dalam sebuah tim dan jumlah anggota tergantung pada tingkat
kepatuhan kecelakaan, insiden dan nermiss serius atau ketidaksesuaian yang terjadi.
PROSEDUR PR.012 – HSE /R.04/21

PELAPORAN KECELAKAAN KERJA DAN INVESTIGASI KECELAKAAN

Tanggal Revisi : 06 FEBRUARI 2021 Revisi : 04


Tanggal Berlaku : 06 FEBRUARI 2021 Halaman : 3

4.3.3. Investigasi akan dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah kehilangan bukti.

4.3.4. Time line penyelidikan jika memungkinkan selesai tidaklebih dari satu bulan sejak
kejadian terjadi.

4.3.5. Anggota tim investigasi harus orang yang sudah mendapat pelatihan investigasi dan
memenuhi persayaratan untuk melakukan investigasi.

4.3.6. Saksi adalah orang yang mengetahui dan melihat langsung kejadian.

4.3.7. Laporan investigasi menggunakan form laporan investigasi yang telah ditetapkan.
4.3.8. Rekomendasi tindakan perbaikan ddan pencegahan yang ditulis dalam laporan
investigasi.

4.3.9. Hasil investigasi akan segera dilaporakan ke Manajemen perusahaan.

4.3.10. Laporan investigasi yang sudah dilaporkan ke Manajemen Peruahaan akan diteruskan
ke bagian terkait.

4.3.11. Waktu maksimum untuk memantau rekomendasi dari hasil pemeriksaan dan/atau
tindakan perbaikan dan pencegahan adalh 14 hari setelah laporan dikeluarkan.

4.4. Analisa Kecelakaan.


4.4.1. Setelah data telah terkumpul maka dilakukan Analisa penyebab kecelakaan.
4.4.2. Metode Analisa penyebab kecelakaan yang dipakai adalah sebagai berikut :
1. SCAT
2. Fish Bone

5. LAMPIRAN
1. Form laporan kecelakaan
2. Form Investgasi Kecelakaan
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

AUDIT K3LL

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL


KOORDINATOR
DISUSUN JERI HERIYANTO 11 AGUSTUS 2021
SAFETY

DISETUJUI HANNY KOHAR DIREKTUR UTAMA 11 AGUSTUS 2021


PROSEDUR PR.035 – HSE /R.04/21

AUDIT K3LL
Tanggal Revisi : 11 Agustus 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 11 Agustus 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR DAN TANGGUNG JAWAB ............................................................................................ 1
4.1. Audit K3................................................................................................................................. 1
4.1.1. Pembuatan Program Audit Internal......................................................................... 1
4.1.2. Persiapan Pelaksanaan Audit Internal ..................................................................... 2
4.1.3. Pelaksanaan Audit Internal ...................................................................................... 2
4.1.4. Penyusunan dan penerbitan Laporan Pelaksanaan Audit Internal ......................... 2
4.1.5. Pemantauan Tindakan Perbaikan ............................................................................ 3
PROSEDUR PR.035 – HSE /R.04/21

AUDIT K3LL
Tanggal Revisi : 11 Agustus 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 11 Agustus 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
Sebagai pedoman bagi karyawan yang ditunjuk untuk melakukan inpeksi dan audit K3

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
3.1. Undang-UndangRepublik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 Tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.3. Undang-Undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

4. PROSEDUR DAN TANGGUNG JAWAB


4.1. Audit K3
4.1.1. Pembuatan Program Audit Internal
[Link]. Program Audit Internal dibuat setiap tahun oleh Tim menggunakan Formulir
Program Audit Internal, disetujui oleh Wakil Manajemen dan disahkan oleh
Pimpinan tertinggi perusahaan.
[Link]. Program Audit Internal menguraikan unit kerja yang akan diaudit, waktu
pelaksanaan, tim auditor yang terdiri ketua tim dan anggota yang tidak
mengaudit pekerjaannya, dengan harus mempertimbangkan status dan
kepentingan proses yang diaudit serta hasil audit internal dan eksternal
sebelumnya.
[Link]. Seluruh unit kerja yang berada dalam kewenangan perusahaan akan diaudit
secara berkala minimal 1 (satu) kali dalam setahun.
[Link]. Setiap tim auditor minimal terdiri atas 2 orang yang bertindak sebagai Ketua
tim auditor dan Anggota, dan tidak berasal dari unit kerja yang akan diaudit.
[Link]. Lingkup audit disesuaikan tugas dan tanggungjawab masing-masing unit
kerja dalam penerapan Sistem Manajemen Terpadu.
PROSEDUR PR.035 – HSE /R.04/21

AUDIT K3LL
Tanggal Revisi : 11 Agustus 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 11 Agustus 2021 Halaman : 2

4.1.2. Persiapan Pelaksanaan Audit Internal


[Link]. Ketua Tim Audit menyusun rencana pada Formulir Jadwal Audit Internal
yang disampaikan ke Auditee paling lambat 3 (tiga) hari sebelum
pelaksanaan.
[Link]. Tim audit menyiapkan daftar pertanyaan menggunakan Formulir Checklist
Audit Internal dan peralatan audit lain yang diperlukan.
[Link]. Berdasarkan rencana audit yang telah diterima, unit kerja yang akan diaudit
menunjuk personil yang memiliki tugas dan tanggungjawab di dalam
pelaksanaan kegiatan yang akan diaudit untuk mendampingi Tim Audit
selama pelaksanaan audit
[Link]. Apabila memerlukan Tenaga Ahli Pendamping, Ketua Tim Audit harus
menyampaikan kepada unit kerja yang akan diaudit bersamaan dengan
penyampaian Rencana Pelaksanaan Audit Internal.

4.1.3. Pelaksanaan Audit Internal


[Link]. Audit diawali dengan mengadakan pertemuan pembuka (Opening Meeting)
yang dihadiri oleh Tim Auditor dan auditee, untuk menjelaskan maksud,
tujuan dan memastikan jadwal audit.
[Link]. Kegiatan audit dilaksanakan berdasarkan jadwal audit yang telah disepakati
auditee, meliputi kegiatan pemeriksaan dokumen-dokumen terkait,
wawancara dengan auditee atau pekerja dan observasi di lapangan.
[Link]. Temuan audit dan rencana perbaikan dikonfirmasi kepada auditee pada saat
pelaksanaan audit dan dicatat dalam Formulir Temuan Audit Internal dan
Formulir Permintaan Tindakan Perbaikan dan Pencegahan.
[Link]. Pada saat pertemuan penutup (Closing Meeting), auditor menjelaskan hasil
temuan audit yang ditemukan kepada auditee.

4.1.4. Penyusunan dan penerbitan Laporan Pelaksanaan Audit Internal


[Link]. Laporan Pelaksanaan Audit Internal disusun Ketua Tim Auditor paling lambat
3 (tiga) hari setelah audit berakhir, dilengkapi dengan Formulir Temuan
Audit Internal dan salinan dari Formulir Tindakan Perbaikan dan Pencegahan
yang dibuat oleh auditor yang dirangkum pada Formulir Pemantauan
Tindaklanjut Permasalahan atau Ketidaksesuaian.
[Link]. Laporan disampaikan kepada Wakil Manajemen dan Unit Kerja yang diaudit,
sebagai bahan untuk Tinjauan Manajemen.
PROSEDUR PR.035 – HSE /R.04/21

AUDIT K3LL
Tanggal Revisi : 11 Agustus 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 11 Agustus 2021 Halaman : 3

[Link]. Rekaman Permintaan Tindakan Perbaikan dan Pencegahan yang dibuat oleh
auditor, disimpan dan dipelihara oleh Sekretariat P2K3.

4.1.5. Pemantauan Tindakan Perbaikan


[Link]. Tim Auditor memantau pelaksanaan hingga tindaklanjut temuan dinyatakan
ditutup sesuai target yang ditetapkan auditee untuk dilaporkan kepada
Wakil Manajemen.
[Link]. Unit kerja yang bertanggung jawab melaksanakan tindakan perbaikan secara
proaktif melaporkan perkembangan tindakan perbaikan yang dilakukannya
kepada Auditor dan bila tindakan perbaikan telah dilaksanakan, auditee
menyampaikan kepada auditor untuk diverifikasi dan dinyatakan selesai/
tertutup oleh auditor.
[Link]. Hasil verifikasi dicatat dalam Formulir Tindakan Perbaikan dan Pencegahan
yang relevan dan pada Rekaman Formulir Pemantauan Tindakanlanjut
Permasalahan atau Ketidaksesuaian dinyatakan tertutup/ selesai
selanjutnya.
[Link]. Bila tindakan perbaikan tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana,
maka unit kerja yang bertanggung jawab melaksanakan tindakan perbaikan
harus segera membuat rencana tindakan perbaikan dan pencegahan yang
baru dan disampaikan kepada Auditor.
[Link]. Ketua Tim Auditor Internal memutakhirkan data dengan menggunakan
Rekaman Formulir Pemantauan Tindakanlanjut Permasalahan atau
Ketidaksesuaian.
NO. Dokumen. :
FORMULIR CHECKLIST AUDIT No. Revisi
Tanggal Revisi
:
:
INTERNAL Tanggal Audit :
Halaman :
Lokasi Audit :
No. Item Periksa/Verifikasi Auditee Hasil*) Keterangan
1.

Catatan : *) beri tanda  bila sesuai dan NC/Obs bila tidak sesuai
NC : No Conformity
Obs : Observation
Auditor,

( )
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G

STANDAR OPERASI PROSEDUR

TINJAUAN MANAJEMEN

PERAN NAMA JABATAN TANDA TANGAN TANGGAL

DISUSUN JERI HERIYANTO Safety Koordinator 18 September 2021

DISETUJUI HANNY KOHAR Direktur Utama 18 September 2021


PROSEDUR PR.041 – HSE /R.04/21

TINJAUAN MANAJEMEN
Tanggal Revisi : 18 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 18 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
PROSEDUR PR.041 – HSE /R.04/21

TINJAUAN MANAJEMEN
Tanggal Revisi : 18 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 18 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1

1. TUJUAN
Sebagai komitmen Manajemen perusahaan terhadap aspek K3LL maka diperlukan program
K3LL yang memudahkan untuk mencapai tujuan, target K3LL perusahaan, tentu saja dalam
melaksanakan program – program K3LL terdapat halangan atau pun kendala, maka untuk itu
diperlukan tinjauan manajemen agar dapat melihat seberapa efektif pelaksanaan program kerja
yang dijalankan dan sejauh mana telah terlaksanya program – program kerja tersebut di
implementasikan.
Untuk mencegah terjadi miss komunikasi dalam pelaksanaan tinjuan manajemen maka
Manejemen perusahaan menetapkan prosedur ini sebagai acuan perusahaan.

2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.

3. REFERENSI
ISO 9001 : 2015 ; Manajemen Quality, Klausal 9 sub 9.3. Tinjauan Manajemen.

4. DEFINISI
-
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB
5.1. Direktur Utama merupakan senior manager dan selaku pengambil keputusan akhir di
perusahaan.

5.2. Safety Koordinator akan melaporkan kinerja HSE dan safety statistik / statistik K3LL kepada
Direktur Utama / Direktur.

5.3. Tinjauan manejemen akan dilakukan minimal 1 kali dalam setahun kalender kerja.

5.4. Sebelum melakukan tinjauan manajemen Direktur Utama melalui manajemen representative
akan mengumpulkan data untuk melakukan tinjauan aspek K3LL perusahaan.

5.5. Tinjauan manajemen akan dilaksanakan dikantor pusat.

5.6. Setiap perwakilan site terdiri dari :


1. Site Manager
2. HR
PROSEDUR PR.041 – HSE /R.04/21

TINJAUAN MANAJEMEN
Tanggal Revisi : 18 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 18 SEPTEMBER 2021 Halaman : 2

3. Maintenance & Logistik

5.7. Perwakilan site proyek akan membawa informasi dari area kerja masing – masing dalam bentuk
laporan pertanggunjawaban kinerja selama kurun waktu 6 bulan atau setahun yang telah
berjalan.

5.8. Untuk bagian kerja diperusahaan akan diwakilkan oleh Manager bagian masing – masing dan
supervisor bagian kerja tersebut.

5.9. Laporan pada point 5.7. akan di tuangkan didalam dokumen dalam bentuk tertulis dan bentuk
PPT (power point) untuk dipersentasikan pada rapat tinjauan manajemen.

5.10. Untuk kinerja safety akan diwakilkan oleh safety koordinator.

5.11. Data yang di bahas dalam tinjauan manajemen sebagai berikut :


1. Temuan pada pelaksaan MWT dan tindak lanjutnya.
2. Temuan pada audit dan tindak lanjutnya.
3. Permasalahan – permasalah yang kritis pada proyek.
4. Isu – isu besar yang ada.
5. Kinerja K3LL
6. Data kecelakaan yang terjadi

5.12. Untuk pembahasan pada tinjauan manajemen akan dibuat notulen rapat dan di sebarluaskan
ke pada anggota rapat.

5.13. Manajemen tertinggi dalam hal ini akan membuat tracking list untuk melakukan pemantauan
terhadap tindak perbaikan pada hal / permasalahan tinjauan manajemen.

Common questions

Didukung oleh AI

PT. Lematang addresses risks associated with non-routine activities by incorporating detailed procedures for these situations, recognizing their unique hazards. The approach includes thorough planning and coordination with workers prior to beginning non-routine tasks such as maintenance or construction . This is complemented by a requirement to evaluate potential risks and employ specific safety measures like training and mock drills to prepare for emergency scenarios . The rigorous analysis and structured response ensure that risks are minimized even during unforeseen or atypical operations .

PT. Lematang ensures regulatory compliance and worker safety concerning noise hazards by enforcing monitoring and assessment of noise exposure levels, ensuring they do not exceed permissible limits . The procedures involve using personal protective equipment (PPE) like earplugs or earmuffs and regularly maintaining machinery to minimize noise production . Compliance with these standards not only adheres to regulations but actively protects workers from hearing loss and related health issues .

Documentation of workplace inspections plays a pivotal role in PT. Lematang's risk management procedures by serving as a record of identified hazards and implemented corrective actions . These records enable ongoing evaluation of risk controls, facilitate compliance audits, and provide data for trend analysis to predict and prevent future risks . Maintaining comprehensive documentation ensures accountability and continuous improvement of safety practices .

PT. Lematang employs a comprehensive approach to fire risk management which includes regular inspections, maintaining proper housekeeping to remove combustible materials, and ensuring proper functionality of fire suppression systems like sprinklers . They also emphasize worker training for emergency procedures and maintenance of clear and accessible escape routes . While these measures are robust, the approach's effectiveness could be limited if there are lapses in routine maintenance or if emergency drills are not conducted regularly, potentially reducing preparedness during an actual fire event .

PT. Lematang takes a proactive approach in handling emergency situations involving mechanical equipment, emphasizing routine inspections, proper documentation, and readiness protocols . The strength of this approach lies in its comprehensive nature which includes preemptive measures like user training and equipment maintenance . However, the potential weakness could be in the reliance on documentation and procedural compliance which may not fully anticipate the variability of real-time emergencies or human error under stress .

Involving workers in PT. Lematang's hazard identification and risk assessment processes is significant as it leverages the workers' firsthand experience and insights into potential risks in their immediate work environment. This inclusive approach fosters a safety culture where workers feel responsible and involved in enhancing workplace safety. Furthermore, it ensures that potential hazards are identified accurately and promptly due to the workers' familiarity with the operational processes . Such involvement also increases compliance and the effectiveness of implemented control measures .

PT. Lematang integrates external collaboration into its security threat management procedures by establishing partnerships with local law enforcement agencies such as the police or the military for security oversight . This cooperation involves sharing information about potential threats and coordinating in response to security incidents like theft, vandalism, or other crimes . By leveraging external expertise and resources, PT. Lematang enhances its capability to effectively manage security threats and ensures a safer work environment .

PT. Lematang's procedures for identifying and controlling physical hazards fundamentally enhance occupational safety by structuring a systematic approach to hazard identification and mitigation. The procedures involve comprehensive inspections of all workplace operations and equipment, encouraging worker participation to identify potential hazards, and ensuring documentation to track hazard controls . These practices are designed to minimize risks associated with environmental conditions such as noise and lighting, mechanical equipment, and electrical safety, thus reducing injury rates and improving worker safety .

PT. Lematang outlines specific steps to manage chemical hazards that begin with reviewing Material Safety Data Sheets (MSDS) and product labels to understand the hazards of chemicals used in the workplace . Further steps include inspecting for activities that could lead to chemical exposure through skin absorption or inhalation, and monitoring industrial hygiene to assess exposure levels . Additionally, training workers on handling and storage practices of hazardous chemicals is part of the procedure to ensure safety .

PT. Lematang uses defined criteria such as soil cohesiveness, compressive strength, and environmental conditions to classify soil into different categories before excavation starts . This classification assists in determining the appropriate protective systems like sloping, benching, or shoring, which are essential for preventing soil collapse during excavation . By accurately classifying the soil, they ensure that safe operational limits are established and maintained, significantly reducing the risk of trench collapses and enhancing worker safety .

Anda mungkin juga menyukai