Prosedur Identifikasi dan Pengendalian Risiko
Prosedur Identifikasi dan Pengendalian Risiko
LEMATANG
Ketua P2K3 /
DISETUJUI HANNY KOHAR 02 Februari 2021
Direktur Utama
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21
DAFTAR ISI
1) TUJUAN .................................................................................................................................................1
2) RUANG LINGKUP ..................................................................................................................................1
3) REFERENSI.............................................................................................................................................1
4) DEFENISI................................................................................................................................................1
5) PROSEDUR ............................................................................................................................................2
6. LAMPIRAN ..........................................................................................................................................17
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21
1) TUJUAN
a. Tujuan prosedur ini adalah menguraikan proses yang digunakan untuk melakukan
mengidentifikasi dan mengevaluasi aspek bahaya K3 dan lingkungan, serta menetapkan
pengendalian risiko K3L yang telah teridentifikasi dan terevaluasi.
b. Pedoman penetapan tujuan dan sasaran serta program Manajemen K3 dan Lingkungan.
2) RUANG LINGKUP
1. Prosedur ini mencakup ketentuan – ketentuan administratif dan manajerial dalam
mengendalikan serta menangani hal – hal berkaitan dengan Keselamatan Kesehatan Kerja dan
Lindung Lingkungan di seluruh area kegiatan perusahaan.
2. Prosedur dan standar ini juga tidak langsung berlaku di arae – area kerja / proyek perusahaan
atau system kerjasama dengan perusahaan lain, tetapi dapat diberlakukan dengan
penyesuaian – penyesuaian yang diperlukan sesuai dengan kesepakatan kedua pihak.
3) REFERENSI
1. Persyarat SMM ISO 9001:2008,
2. AS/NZS 4360:2004 RISK MANAGEMENT
3. PERMEN NO 05/MEN/1996 TENTANG SMK3
4. OSHAS 18001:2007 KLAUSAL 4.3 PERENCANAAN (4.3.1 Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko Dan
Penetapan Pengendalian).
4) DEFENISI
1. Bahaya adalah sumber, kondisi maupun tindakan / aktivitas yng mempunyai potensi
menyebabkan cidera serta atau penyakit akibat kerja maupun kerugian materi
2. Identifikasi bahaya adalah upaya untuk mengetahui, mengenal, dan memperkirakan adanya
bahaya pada suatu system, seperti peralatan, tempat kerja, proses kerja, prosedur dsb.
3. Penilaian risiko adalah proses penilaian suatu risiko dengan membandingkan tingkat / kriteria
risiko yang telah ditetapkan untuk menetapkan prioritas pengendalian bahaya yang sudah di
identifikasi.
4. Perusahaan adalah PT. Lematang
5. Pengendalian Risiko adalah upaya untuk mengendalikan risiko
6. Risiko adalah yang dialami oleh pekerja dan property yang disebabkan oleh bahaya K3. Risiko
merupakan kombinasi antara kemungkinan / peluang terjadi
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21
5) PROSEDUR
5.1. Identifikasi Bahaya dilakukan terhadap seluruh aktivitas operasional Perusahaan di tempat
kerja meliputi :
1. Aktivitas kerja rutin maupun non-rutin di tempat kerja.
2. Aktivitas semua pihak yang memasuki termpat kerja termasuk kontraktor, pemasok,
pengunjung dan tamu.
3. Budaya manusia, kemampuan manusia dan faktor manusia lainnya.
4. Bahaya dari luar lingkungan tempat kerja yang dapat mengganggu keselamatan dan
kesehatan kerja tenaga kerja yang berada di tempat kerja.
5. Infrastruktur, perlengkapan dan bahan (material) di tempat kerja baik yang disediakan
Perusahaan maupun pihak lain yang berhubungan dengan Perusahaan.
6. Perubahan atau usulan perubahan yang berkaitan dengan aktivitas maupun
bahan/material yang digunakan.
7. Perubahan Sistem Manajemen K3 termasuk perubahan yang bersifat sementara dan
dampaknya terhadap operasi, proses dan aktivitas kerja.
8. Penerapan peraturan perundang-undangan dan persyaratan lain yang berlaku.
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21
5.1.1. Identifikasi bahaya yang dilaksanakan memperahatikan faktor – faktor bahaya sebagai berikut :
Potensi bahaya yang Potensi bahaya yang Risiko terhadap Potensi bahaya yang Potensi bahaya yang Potensi bahaya yang Potensi bahaya yang
menimbulkan risiko menimbulkan risiko kesejahteraan atau menimbulkan risiko menimbulkan kerusakan menimbulkan kerusakan menimbulkan risiko
jangka Panjang pada langsung pada kesehatan sehari - hari pribadi dan psikologis. lingkungan Asset finansial
kesehatan keselamatan
1. Bahaya kimia (debu, 1. Kebakaran 1. Air Minum 1. Pelecehan, termasuk 1. Tumpahan B3 / limbah 1. Pencurian dengan 1. Risiko kerugian
uap, gas, asap) intimidasi dan B3. pengerusakan disebakan dampak
2. Listrik 2. Toilet dan fasilitas
pelecehan seksual keamanan dan sosial
2. Bahaya biologis mencuci 2. Keusakan yang 2. Salah pemakaian
3. Potensi bahaya
(penyakit dan gangguan 2. Terinfeksi HIV/AIDS diakibatkan aktifitas 2. Keterlambatan
mekanik (tidak adanya 3. Ruang makan atau 3. Tidak kesesuaian
oleh virus, bakteri, operasional.
pelindung mesin) kantin 3. Kekerasan di tempat kemampuan peralatan 3. Ketidak mampuan /
binatang dsb.)
kerja 3. Kerusakan yang kegagalan operasi.
4. Tata graha / 4. P3K di tempat kerja 4. Pelanggaran Peraturan
3. Bahaya fisik (kebisingan, diakibatkan kelalaian.
housekeeping 4. Stres dan Prosedur 4. Ketidak sesuaian
penerangan, getaran, 5. Transportasi
(penataan dan 4. Kebocoran pipa minyak penyedia / supplier
iklim kerja, terpeleset, 5. Narkoba di tempat 5. Kemampuan Pemakai
perawatan buruk pada dan gas
tersandung, dan jatuh) kerja kurang 5. Kerusakan
peralatan dan
4. Bahaya ergonomi (posisi lingkungan kerja) 6. Tidak berpengalaman 6. Bencana alam
duduk, pekerjaan dan atau tidak
berulang-ulang, jam berkompeten.
kerja yang lama)
7. Pemeliharaan yang
5. Potensi bahaya tidak baik
lingkungan yang
diakibatkan oleh
polusi/limbah yang
dihasilkan perusahaan.
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21
5.1.2. Langkah – langkah identifikasi bahaya dan penilaian risiko adalah sebagai berikut :
[Link]. Kumpulkan semua informasi mengenai bahaya yang ada ditempat kerja. Informasi
terkait bahaya yang tersdia di tempat kerja meliputi :
1. Panduan manual pengeoperasian unit dan peralatan atau mesin.
2. Material safety data sheet (MSDS) yang disediakan oleh prosedusen bahan
kimia.
3. Laporan inspeksi langsung di lapangan dan laporan inspeksi dari Lembaga
pemerintah atau tim audit.
4. Catatan kecelakaan dan penyakit akibta kerja sebelumnya, serta laporan
investigasi kecelekaan kerja.
5. Pola kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang sering terjadi.
6. Hasil pemantauan terkait paparan, penilaian kebersihan industry (Industrial
hygiene), dan rekam medis pekerja.
7. Program K3 yang ada mencakup lockout/tagout, ruang terbatas, proses
manajemen keselamatan, alat pelindung diri, dan sebagainya.
8. Saran dan masukan dari pekerja, termasuk survei atau notulen pada
pertemuan komite K3 / P2K3.
9. Hasil analisis job Hazard analysis (JHA/JS).
[Link]. Lakukan Inspeksi secara langsung untuk menemukan potensi bahaya yang ada
ditempat [Link] menemukan potensi bahaya yang ada, dapat dilakukan
sebagai berikut :
1. Lakukan inspeksi rutin terhadap semua operasi kerja, peralatan, area kerja,
dan segala fasilitas yang terdapat di area kerja.
2. Libatkan pekerja ntuk ikut berpartisipasi dalam inspeksi dan lakukan diskusi
dengan para pekerja tentang bahaya apa saja yang mereka temukan di tempat
kerja atau yang mereka laporkan.
3. Dokumentasikan setiap inspeksi yang dilakukan untuk mempermudah
verifikasi bahaya yang sudah dikendalikan atau diperbaiki. Hasil dokumentasi
dapat berupa form, foto, atau video apada area kerja yang tedapat potensi
bahaya.
4. Inspeksi yang dilakukan mencakup semua budang dan kegiatan, sperti
penyimpanan dan pergudangan, pemeliharaan fasilitas dan peralatan, dan
kegiatan kontraktor, subkontraktor dan pekerja sementara di tempat kerja.
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21
[Link]. Lakukan identifikasi bahaya yang terkait dengan situasi darurat dan aktivitas non –
rutin.
[Link].1. Keadaan darurat dapat menghadirkan bahaya yang biasa
menimbulkan risiko serius bagi pekerja.
[Link].2. Aktivitas non rutin seperti inspeksi, pemeliharaan, atau perbaikan juga
dapat menimbulkan potensi bahaya.
[Link].3. Identifikasi bahaya yang terkait dengan situasi darurat dan aktivitas
non rutin.
[Link].4. Identifikasi kemungkinan bahaya yang dapat timbul dari setiap
tahapan aktivitas ketika keadaan darurat dan aktivitas non rutin,
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21
5.2. Analisa Risiko dilakukan setelah bahaya – bahaya yang ada telah diketahui.
TINGKAT KEKERAPAN
Nilai / TINGKAT
Frekuensi Kejadian (FK) Peraturan dan Persyaratan
SKALA KEKERAPAN
Kemungkinan terjadi hampir tidak Tidak ada regulasi / peraturan
pernah ada / kemungkinan terjadi perusahaan yang mengatur operasi
1 RARE bisa 1 kali dalam kurun waktu pekerjaan.
lebih dari 1 tahun, dan tidak
berulang.
Kemungkinan terjadi kecil / Ada regulasi/peraturan perusahaan
2 UNLIKELY kemungkinan terjadi 1 kali dalam dan memenuhi peraturan yang
6 bulan tetapi tidak terulang berlaku.
KEMUNGKINAN / PELUANG
SKALA 1 2 3 4 5
Secara teori bisa Pernah terjadi Pernah terjadi Pernah terjadi Pernah terjadi
terjadi, tetapi belum sekali pada suatu dalam masa 5 dalam masa 3 dalam masa 1
NON RUTIN pernah mengalami waktu yang tidak tahun terkahir tahun terakhir tahun terakhir
atau pernah diketahui pasti
mendengar terjadi
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21
> Rp. 1.000.000,- s/d Rp. Korban bisa langsung bekerja Luka gores cukup dalam, terdapat penyimpangan kecil Penyimpangan kecil terhadap
10.000.00- / (dapat pada hari kejadian atau 1 hari terbakar ringan, dilokasi terhadap kondisi lingkungan, sasaran perusahaan tetapi dapat
ditanggulangi oleh setelah kejadian. serius, sesak nafas. tetapi dapat diabaikan, segera diperbaiki dan dpat
maintenance site tetapi pencemaran dapat diabaikan, pemberitaan negatif
memerlukan waktu ditanggulangi oleh tim site tetapi tidak menurunkan
2 MINOR
perbaikan tidak lebih sendiri kepercayaan stake holder
dari 2 jam dan unit maupun user / klien
dapat beroperasi
kembali)
> Rp. 10.000.000,- s/d Korban harus dibawa ke klinik luka robek, terbakar sedang, pencemaran tidak dapat Kinerja negatif dan
Rp. 20,000,000,- / terdekat dan tidak dapat tersengat aliran listrik ditanggulangi oleh tim yag ada penyimpangan cukup
(dapat diitanggulangi bekerja pada shift berikutnya. bertegangan ringan, gegar di site dan harus memerlukan memperngaruhi sasaran dan
maintenance site otak, dislokasi serius, shock bantuan tim oleh tim target perusahaan tetapi masih
3 MODERATE
dengan bantuan pihak sedang. penanggulangan dari user, dan dapat dikendalikan / diperbaiki,
luar dan memerlukan memperngaruhi lingkungan dapat memperngaruhi
waktu perbaikan tidak sekitar tetapi tidak berdampa kepercayaan stake holder
lebih dari 2 x 24 jam dan besar. maupun klien/user serta dapat
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21
> Rp. 20.000.000,- s/d Korban memerlukan Luka terkoyak dalam, terbakar Pencemaran dengan kuantitas Kinerja cukup buruk dan
Rp. 30.000.000,- (harus perawatan medis ke rumah berat, tersengat aliran listrik besar, penipisan SDA dengan pemberitaan cukup negatif serta
ditanggulangi oleh tim sakit dan tidak dapat bekerja bertegangan sedang, fraktur konsumsi sedang, kerusakan memperngaruhi kepercayaan
maintenance pusat dan pada 2 sampai 5 hari kerja. tuang,gegar otak, radang lingkungan sedang. stake holder maupun klien/user,
memerlukan waktu kulit, sesak nafas berat, Memerlukan waktu yang dan sangat memperngaruhi
4 MAJOR
lebih dari 2 x 24 jam) terdapat cidera tulang cukup lama tidak lebih dari 1 sasaran serta target perusahaan.
belakang, cacat minor tahun untuk melakukan Perlu perubahan terhadap
permanent. pengendalian lingkungan yang program kerja perusahaan
tercemar. dalam pencapaian target
>Rp.30.000.000,- / (unit Korban tidak dapat bekerja Amputasi, fraktur tulang pencemaran dapat Kinerja sangat buruk,
rusak parah lebih dari lebih dari 5 hari dan parah, luka kompleks, luka mengakibatka SDA tidak dapat pemberitaan sangat negatif,
75 % dan tidak dapat memerlukan perawatan bakar fatal, penyakit diperbaharui kembali dan hilangnya kepercayaan dari
5 CATASTROPHIC dioperasikan kembali intensif dari rumah sakit besar. mematikan, penyakit fatal kerusakan dapat mengancam stake holder dan klien / user,
Dan atau tidak dapat bekerja akut, kematian eksistensi kehidupan semua sasaran dan target tidak
kembali. tercapai
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21
5.7. Untuk tingkat risiko dapat dilihat tabel tingkat risiko sebagai berikut :
TINGKAT RISIKO
TINGKAT RISIKO POTENSI RISIKO TINDAKAN PERBAIKAN
5.8. Untuk mempermudah Analisa tingkat risiko dapat menggunaan matriks tingkat risiko sebagai
berikut :
SEVERITY
NK DP NK DP NK DP NK DP NK DP
1 1 2 2 3 3 4 4 5 5
NEGLIGIBLE MINOR MODERATE MAJOR EXTREME
TK PP 2 4 6 8 10
RARE LOW LOW LOW LOW MEDIUM
1 1
2 4 8 12 16 20
UNLIKELY LOW LOW MEDIUM MEDIUM HIGH
2 2
4 8 16 24 32 40
LIKEHOOD
5.9. Pengendalian risiko terhadap risiko yang ada mengacu pada hirarki pengendalian risiko
sebagai berikut :
1. Eleminasi
2. Subtitusi.
3. Rekayasa Teknik.
4. Kontrol Administratif.
5. Alat Pelindung Diri
5.10. Menerapkan hirarki, harus mempertimbangkan biaya relatif, manfaat pengurangan risiko,
dan keandalan dari pilihan yang tersedia. Dalam membangun dan memilih kontrol, masih
banyak hal yang perlu dipertimbangkan, diantaranya:
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21
5.10.1 Kebutuhan untuk kombinasi kontrol, menggabungkan unsur-unsur dari hirarki di atas
(misalnya, perancangan dan kontrol administratif),
5.10.2 Membangun praktik yang baik dalam pengendalian bahaya tertentu yang
dipertimbangkan, beradaptasi bekerja untuk individu (misalnya, untuk
memperhitungkan kemampuan mental dan fisik individu),
5.10.3 Mengambil keuntungan dari kemajuan teknis untuk meningkatkan kontrol,
5.10.4 Menggunakan langkah-langkah yang melindungi semua orang (misalnya, dengan
memilih kontrol rekayasa yang melindungi semua orang di sekitar bahaya daripada
menggunakan Alat Pelindung Diri),
5.10.5 Perilaku manusia dan apakah ukuran kontrol tertentu akan diterima dan dapat
dilaksanakan secara efektif,
5.10.6 Tipe dasar kegagalan manusia/human error (misalnya, kegagalan sederhana dari
tindakan sering diulang, penyimpangan memori atau perhatian, kurangnya
pemahaman atau kesalahan penilaian, dan pelanggaran aturan atau prosedur) dan
cara mencegahnya,
5.10.7 Kebutuhan untuk kemungkinan peraturan tanggap darurat bila pengendalian risiko
gagal,
5.10.8 Potensi kurangnya pengenalan terhadap tempat kerja, contoh: visitor atau personil
kontraktor.
5.11. Setelah pengendalian telah ditentukan, maka dapat memprioritaskan tindakan untuk
melaksanakannya. Dalam prioritas tindakan, harus memperhitungkan potensi pengurangan
risiko kontrol direncanakan.
Catatan
Dalam beberapa kasus, perlu untuk memodifikasi aktivitas kerja sampai pengendalian risiko
di tempat atau menerapkan pengendalian risiko sementara sampai tindakan yang lebih
efektif diselesaikan – misalnya, penggunaan mendengar perlindungan sebagai langkah
sementara sampai sumber kebisingan dapat dihilangkan, atau aktivitas kerja dipisahkan
untuk mengurangi paparan kebisingan. kontrol sementara tidak harus dianggap sebagai
pengganti jangka panjang untuk langkah-langkah pengendalian risiko yang lebih efektif.
PROSEDUR PR.004 – HSE /R.03/21
5.12. Pemantauan terhadap tindakan pengendalian akan dilakukan sesuai dengan waktu yang
telah direkomendasikan.
5.13. Jika rekomendasi tindakan pengendalian tidak bisa dilakukan atau belum selesai dilakukan
sampai batas waktu yang ditentukan maka penanggungjawab terhadap tindakan harus
melakukan membuat laporan secara tertulis kepada tim yang terkait.
5.14. Pelaksanaan identifikasi bahaya dan penilaian risiko harus didokumtasikan dengan cara
berikut :
1. Foto
2. Laporan tertulis dengan form yang telah disediakan.
6. LAMPIRAN
6.1. Form IBPRPR (Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko Pengendalian Risiko)
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G
Table of Contents
1) TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2) RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3) REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4) DEFENISI.......................................................................................................................................... 1
5) PROESEDUR .................................................................................................................................... 1
5.1. Identifikasi Pemantauan dan pengukuran kualitas lingkungan kerja....................................... 1
5.2. Pelaksanaan Pemantauan dan Pengukuran Kualitas Lingkungan Kerja. ................................ 1
5.2.1. Kualitas Udara ............................................................................................................. 1
5.2.2. Kebisingan ................................................................................................................... 2
5.2.3. Pencahayaan ............................................................................................................... 3
5.2.4. Suhu dan Kelembaban. ............................................................................................... 4
5.2.5. Getaran di Ruangan..................................................................................................... 5
5.2.6. Radiasi di Ruangan ...................................................................................................... 6
PROSEDUR PR.009 – HSE /R.04/21
1) TUJUAN
Memastikan bahawa aspek lingkungan kerja dapat dipantau kesesuaiannya dengan peraturan
perundangan, standard dan pedoman yang berlaku dan terkait.
2) RUANG LINGKUP
Prosedur ini meliputi kegiatan dalam melakukan pemantauan serta pengukuran kualitas
lingkungan kerja di wilayah kerja perusahaan.
3) REFERENSI
PP No. 50 Tahun 2012, Sub Elemen 1.3.1 : 7.2 (1.3.1) Tinjauan terhadap penerapan SMK3 meliputi
kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi telah dilakukan, dicatat dan
didokumentasikan. (7.2) Pemantauan/Pengukuran lingkungan kerja.
4) DEFENISI
5) PROESEDUR
5.1. Identifikasi Pemantauan dan pengukuran kualitas lingkungan kerja.
1. Setiap bagian / departemen akan melakukan identifikasi terhadap kebutuhan pemantauan
dan pengukuran sesuai dengan kondisi lingkungan kerja masing-masing.
2. Hasil identifikasi akan diserahkan kepada bagian HSE.
[Link]. Pertukaran udara : 0,283 M3/menit/orang dengan laju ventilasi : 0,25 – 01,25
m/detik. Untuk ruangan kerja yang tidak menggunakan pendinginan harus
memiliki lubang ventilasi minimal 15% dari luas lantai dengan menerapkan
ventilasi silang.
[Link]. Kandungan gas pencemar dalam ruang kerja, dalam rat-rata pengukuran 8
jam sebagai berikut :
KONSNETRASI MAKSIMAL
NO. PARAMETER
(mg/m3) ppm
1 Asam Sulfida (H2S) 1
2 Amonia (NH3) 17 25
3 Karbon Monoksida (CO) 29 25
4 Nitrogen Dioksida (NO2) 5.60 3.0
5 Sulfur Dioksida 5.2 2
[Link]. Mikrobiologi
5.2.2. Kebisingan
[Link]. Pengukuran kebisingan dilakukan pada tempat-tempat kerja yang memiliki
suara yang melebihi nIlai ambang batas kebisingan.
[Link]. Pengukuran dilakukan oleh HSE secara berkala ditempat-tempat / ruang kerja
yang mempunyai kebisingan.
[Link]. Pengukuran dilakukan menggunakan alat environmental meter yang ada.
[Link]. Hasil pengukuran akan di dokumentasikan dan dibuat laporan serta tindakan
rekomendasi (jika ada).
PROSEDUR PR.009 – HSE /R.04/21
[Link]. Untuk ambang batas yang ditoleransi waktu paparan yang diperbolehkan
mengacu pada peraturan PERMENAKERTRANS nomor 13/MEN/X/2011.
30 97
15 100
7,5 103
Menit
3,7 106
1,88 109
0,94 112
28,12 115
14,06 118
7,03 121
1,76 124
Detik
0,88 127
0,44 130
0,22 136
0,11 139
Catatan : Tidak boleh terpajan lebih dari 140 dBA, walaupun sesaat
5.2.3. Pencahayaan
[Link]. Pengukuran dilakukan oleh bagaian HSE secara berkala sesuai dengan
waktu yang ada pada program kerja.
[Link]. Pemeriksaan dan pengukuran intensitas cahaya dilakukan di ruang-ruang
kerja di kantor.
[Link]. Intensitas cahaya di ruang kerja minimal 100 lux
PROSEDUR PR.009 – HSE /R.04/21
[Link]. Jika cahaya kurang dari 100 lux maka dapat dilakukan peningkatan cahaya
pada lampu atau dibuat jendela atau pencahayaan luar bangunan sesuai
dengan persayaratan.
[Link]. Tata cara pelaksanaan adalah sebagai berikut :
1. Pencahayaan alam maupun buatan diupayakan agar tidak
menimbulkan kesilauan dan memiliki intensitas sesuai dengan
peruntukannya.
2. Penempatan bola lampu dapat menghasilkan penyinaran yang
optimum dan bola lampu sering dibersihkan
3. Bola lampu yang mulai tidak berfungsi dengan baik segra diganti
IBB
Pengaturan waktu kerja (OC)
setiap jam Beban Kerja
Ringan Sedang Berat
75% - 100% 31.0 28.0 -
50% - 75% 31.0 29.0 27.5
25% - 50% 32.0 30.0 29.0
0% - 25% 32.2 31.1 30.5
Item Periksa
Kualitas udara Kelembaban dan Suhu Pencahayaan Getaran Radiasi Kualitas Air Kebersihan
No. Lokasi Temuan Temuan Rekomendasi Target Status Tanggung Jawab
No Pemeriksa Catatan
Nama Jabatan Tanda tangan
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G
DAFTAR ISI
1) TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2) RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3) REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4) PROESEDUR .................................................................................................................................... 1
4.1. Parameter Uji Kesehatan. .................................................................................................... 1
4.2. Penetapan Paket Uji Kesehatan .......................................................................................... 1
4.3. Frekuensi Pemeriksaan Kesehatan ...................................................................................... 2
4.4. Pelaksanaan.......................................................................................................................... 2
4.5. Kriteria Penyelenggara (Provider) ...................................................................................... 2
4.6. Pencatatan/Recording ......................................................................................................... 4
4.7. Pelaporan/Reporting ........................................................................................................... 4
4.8. Follow Up.............................................................................................................................. 4
4.9. Quality Assurance ................................................................................................................ 5
PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21
1) TUJUAN
1) Memberikan pedoman kepada karyawan tentang tata cara pemeriksaan kesehatan.
2) Memastikan bahwa karyawan/pekerja telah dalam kondisi kesehatan dan stamina yang tinggi
sebelum melakukan pekerjaan dan tetap dalam kondisi sehat selama bekerja dan tidak ada
P.A.K yang di derita oleh karyawan/pekerja.
2) RUANG LINGKUP
Seluruh jajaran organisasi perusahaan dan berlaku diwilayah kerja perusahaan.
3) REFERENSI
UU. No. 01 Tahun 1970 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per 02/Men/1980 tentang
pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dalam penyelenggaraan keselamatan kerja.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per 03/Men/1982 tentang
pelayanan kesehatan kerja.
4) PROESEDUR
4.1. Parameter Uji Kesehatan.
4.1.1. Parameter uji kesehatan ditetapkan sebanyak 6 paket yang meliputi
A. Umum dan admin;
B. Penjamah makanan;
C. Kebisingan;
D. Suhu tinggi;
E. Terpapar bahan kimiawi.
F. Pengemudi mobil dan Operator Alat Berat.
4.1.2. Secara lengkap parameter uji kesehatan dapat dilihat pada Lampiran 1.
4.2.2. Untuk Paket D, yakni mereka yang terpapar suhu tinggi melebihi NAB dalam ukuran
ISBB (WBGT).
4.2.3. Untuk paket C yakni mereka yang terpapar kebisingan dengan dosis lebih dari 0,5
dengan exchange rate 3 dB atau diatas 82 dBA (Leq).
4.2.4. Untuk paket B, penjamah makanan, yakni mereka yang berkaitan dengan penyipanan
makanan di kantin baik langsung maupun tak langsung.
4.2.5. Untuk paket F, yakni mereka yang bertugas tetap sebagai pengemudi mobil atau
Operator alat berat.
4.2.6. Selain dari mereka yang telah ditetapkan diatas maka dikenakan sebagai paket A yakni
mengikuti mereka yang ada di pekerjaan administrasi dll.
4.2.7. Untuk Fire brigade dan welders mereka dikenakan paket E (kimiawi).
4.2.8. Untuk mereka dengan multiple exposure, maka dikenakan paket tertentu ditambah
dengan parameter tertentu untuk exposure yang lain. Misalnya merekja yang terpapar
bising tinggi dan panas, maka terkena paket kebisingan (C) dan sisa selisih terhadap
paket D.
4.4. Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan pemeriksaan perusahaan harus dapat bekerjasama dengan pihak
penyelenggara dalam menetapkan jadwal kerja dengan tetap memperhatikan kegiatan
produksi yang normal.
4.6.2. Kesanggupan
1. Seluruh pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan di lokasi perusahaan.
2. Pemeriksaan untuk spirometri harus berdasarkan terjemahaan dari nomogram
Indonesia.
3. Audiometri harus dilakukan dengan sound booth di lokasi perusahaan, dengan
audiometer yang dikalibrasi oleh petugas yang terlatih (bersertifikat).
4.6.5. Komunikasi
Penyelenggara harus memberikan konsultasi kepada setiap karyawan tentang hasil
pemeriksaan kesehatannya. Penjadwalan dilakukan oleh pihak HRD.
4.6.6. Limbah
Penyelenggara harus bertanggung jawab atas limbah dari proses pemeriksaan
kesehatan.
4.6.7. Kontinuitas
Penyelenggara harus bersedia memberikan pelayanan jangka panjang berupa
pemeriksaan kesehatan pre-employment dan periodik demi menjamin uniformitas dari
data rekam medik.
4.6.8. Biaya
Penyelenggara mencantumkan biaya dengan rinci dan disetujui oleh pihak manajemen.
PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21
4.6. Pencatatan/Recording
4.6.1. Penyelenggara membuat kesimpulan akhir pemeriksaan kesehatan tiap karyawan 2
rangkap, 1 rangkap akan diberikan pada klinik perusahaan untuk disimpan sebagai
dokumen klinik dan 1 rangkap akan diberikan pada karyawan yang bersangkutan.
4.6.2. Klinik perusahaan akan menyimpan hasil pemeriksaan kesehatan tiap karyawan
minimal selama 3 tahun setelah karyawan berhenti bekerja dengan memelihara
kerahasiaan.
4.7. Pelaporan/Reporting
4.7.1. External
Pelaporan ke DISNAKERTRANS sesuai peraturan yang berlaku dilakukan oleh pihak
perusahaan.
4.7.2. Internal
[Link]. Ringkasan yang menyeluruh hasil pemeriksaan disampaikan kepada
Manajemen dengan mencantumkan saran tindak lanjut yang diperlukan.
[Link]. Pada fitness status tercantum hasil akhir pemeriksaan kesehatan, yang
disimpulkan menjadi beberapa golongan, yaitu:
1. Fit for Job (Cakap untuk bekerja)
2. Fit with restriction (Cakap dengan keterbatasan)
3. Temporary unfit (Tidak cakap untuk sementara)
4. Unfit (Tidak cakap)
5. Special (Khusus)
4.8. Follow Up
Tindak lanjut dari hasil pemeriksaan akan dilaksanakan oleh perusahaan, khususnya berupa:
1. Tindakan medik yang diperlukan dalam rangka pengobatan;
2. Rujukan ke spesialis yang bersangkutan dengan penyakit tertentu;
3. Sertifikasi kecakapan berkeja (fitnes), khususnya kepada Penjamah makanan, Drivers,
Respirator users dan Fire brigade.
PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21
Lampiran 1.
PAKET GME / MCU
No Parameter Uji A B C D E F Ket
1 Identitas √ √ √ √ √ √ Lihat Lampiran 2
2 Riwayat Pekerjaan √ √ √ √ √ √ Lihat Lampiran 2
3 Riwayat Kesehatan √ √ √ √ √ √ Lihat Lampiran 2
4 Pemeriksan Fisik :
a. Tinggi Badan √ √ √ √ √ √
b. Berat Badan √ √ √ √ √ √
c. Tensi meter √ √ √ √ √ √
d. BMI √ √ √ √ √ √
e. Pemeriksaan Mata
- Refraksi (visus) √ √ √ √ √ √
- Buta Warna (ishihara) √ √ √ √ √ √
- Funduscopy √
- Tonometri √
f. Gigi dan Mulut √ √ √ √ √ √
g. Organ Fisik:
- THT √ √ √ √ √ √
- Sistem Kardiovaskular √ √ √ √ √ √
- Sistem pernafasan √ √ √ √ √ √
- Abdomen √ √ √ √ √ √
- Genito urinary system √ √ √ √ √ √
- Central & peripheral nerv. System √ √ √ √ √ √
- Kulit √ √ √ √ √ √
- Lymph Nodes √ √ √ √ √ √
- Muscle – Skeletal and spinal bones √ √ √ √ √ √
5 Rontgen thorax √ √ √ √ √ √
6 EKG
a. untuk usia 35 tahun atau lebih √ √
b. untuk usia 40 tahun atau lebih √ √ √ √
7 Laboratorium
a. Darah Lengkap
- Leukosit √ √ √ √ √ √
- LED √ √ √ √ √ √
- Diff. Count √ √ √ √ √ √
- Golongan darah dan rhesus √ √ √ √ √ √ 1 kali
b. Gula Darah
PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21
Lampiran 2.
1. Identitas
QUESTIONNAIRE
Nama Depan Given Nama Keluarga
Name Surename
Nomor Karyawan Employee Nomor File File Tanggal Lahir Date Tempat Kelahiran Suku Bangsa
Number Number of Birth Place of Birth Ethnic Origin
QUESTIONNAIRE
Riwayat Kesehatan Keluarga 10 gr Alkohol = 1 Kaleng Bir = 1 Gelas Anggur Obat-Obatan yang
- Masih Hidup? Penyakit Kronis Yang Dialami? Sering Digunakan
- Meninggal? Penyebabnya?
- 10 gr Alcohol = 1 can beer = 1 glass wine = 1
Family Health History Prescribed
glass / nip spirit Medication
( Alive? - any long term illness. Dead? - Cause? )
2. Riwayat Pekerjaan
QUESTIONNAIRE
Apakah Pada Riwayat Pekerjaan Sebelumnya Anda Bekerja Berhubungan Dengan Hal-Hal Sebagai Berikut?
Previous Employment, Job Involves and Potential Occupational Hazard Exposures (Choose All Applicable)
Gunakan Tanda (√) Bila Ya
Use (√) Sign On The Chosen Items
NAMA PERUSAHAAN
BAHAYA-BAHAYA COMPANY NAME
HAZARDS Tahun/Year……...…. Tahun/Year……….... Tahun/Year…..…..… Tahun/Year…...….…
1. 2. 3. 4.
Kebisingan
Noise
Suhu Sangat Panas
Heat Stress
Suhu Sangat Dingin
Cold Stress
Getaran
Vibrasi
Debu
Dust
Bahan Kimia Berbahaya
Toxic Chemical
Cairan Berbahaya
Iritating Fluid
Asap
Fumes
Mengoperasikan Alat Berat Yang Bergerak
Operating Heavy Mobile Equipment
Bekerja Di Sekitar Mesin-Mesin Yang
Bergerak
Working Arround Rotating Machinery
Perlu Ketajaman Penglihatan Terhadap
Warna
Requires Color Vision
Bekerja Pada Ketinggian
Involving Heights
Pekerjaan Kantor
Clerical / Administrative Work
Mengelola Produk Makanan
Handling Food Products
Lain-lain
Others
PROSEDUR PR.008 – HSE /R.02/21
3. Riwayat Kesehatan
QUESTIONNAIRE
RIWAYAT MEDIS / MEDICAL HISTORY
Berilah Tanda (√ ) Bila Anda Pernah atau Sedang Menderita Penyakit/Kondisi Berikut Ini :
Please Indicate (√) If You Ever Suffered From or Are Suffering The Following Conditions
Y N Disease / Condition Y N Disease / Condition
Head Injury or Concussion Allergies
Fainting, Blackouts, epilepsy Tuberculosis
Visual changes Psychiatric Disorder
Hearing Loss Sexual Transmitted Disease
Nose, Sinus, Throat, Voice Trouble > 4 Unusual Change of Weight > 5
Weeks Kg/Month
Obstetric or Gynaecological Problems Hypertension
Chronic Skin Problem Chest Pain / Heart Disease
Chronic Diarrhoea Malaria / Tropical Disease
Anorexia > 4 Weeks Operation / Surgery
Gastritis Back Pain > 4 Weeks
Jaundice / Hepatitis Thypoid Fever
Chronic Cough > 4 Weeks Swollen or Painful Joint
Haemorrhoid Kidney Problem / Urinary Stones
Chronic Abdominal Pain Vertigo
Diabetes Other Chronic Disease
Asthma
RIWAYAT VAKSINASI / VACCINATION HISTORY
BCG DPT POLIO MEASLES TYPHOID HEP. A HEP. B Tetanus Other
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G
KESELAMATAN
PENGANGKATAN MANUAL
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. DEFENISI.......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
PROSEDUR PR.000 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
Sebagi panduan kepada karyawan dan atau pekerja untuk melakukan manual handling agar
terhindar dari cidera.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
4. DEFENISI
Manual handling adalah transportasi atau penyanggaan beban dengan tangan dan tubuh yang
termasuk didalamnya pengangkatan, memindahkan, meletakkan, mendorong, menarik,
menggeser, mendorong, menarik, menggeser, penyanggaan.
Pengangkatan manual adalah tindakan untuk mengangkatan beban dengan tangan atau
penyangga benda dengan tubuh.
5.10. Keadaan tempat kerja atau untuk memindahkan beban dalam kondisi rapi dan tidak ada
rintangan. Dan tidak ada gangguan.
5.11. Beban angkat harus disekitar tubuh dan jangan memutar tubuh.
5.12. Istirahatlah jika merasa letih.
5.13. Jika merasa berat maka letakkan beban panggil teman untuk membantu angkat beban secara
Bersama.
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G
FIT TO TASK
FIT TO TASK
Tanggal Revisi : 18 JULI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 18 JULI 2021 Halaman : 1
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB. ................................................................................................ 1
PROSEDUR PR.039 – HSE /R.04/21
FIT TO TASK
Tanggal Revisi : 18 JULI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 18 JULI 2021 Halaman : 1
1. TUJUAN
Prosedur ini bertujuan unutk memastikan bahawa karyawan / pekerja yang akan bekerja dalam
kondisi kesehatan yang prima dan siap kerja, baik sehat fisik dan sehat psikis.
Sebagai panduan bagia safety untuk melakukan pemeriksaan terhadap karyawan yang akan
memasuki area kerja proyek.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
Permaker No. 02 Tahun 1980 Tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja.
4.7. Bagi karyawan yang dinyatak fit maka dapat masuk wilayah kerja untuk melakukan pekerjaan.
PROSEDUR PR.039 – HSE /R.04/21
FIT TO TASK
Tanggal Revisi : 18 JULI 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 18 JULI 2021 Halaman : 2
4.8. Bagi karyawan yang tidak fit maka akan diberikan waktu untuk melakukan pengobatan atau
peningkatan derajat kesehatan sesuai dengan rekomendasi.
4.9. Untuk karyawan yang telah menjalani pengobatan atau usaha peningkatan derajat kesehatan
dapat meminta pemeriksaan ulang kepada bagian safety.
5. Lampiran
FORMULIR LAPORAN PEMERIKSAAN KESEHATAN KARYAWAN (FIT TO TASK)
LOKASI
PERIODE
DAFTAR PERIKSA HASIL
KONTAK PEMERIKSAN
No. TGL. PERIKSA NAMA JABATAN BERAT TEKANAN INDRA INDRA INDRA
MENTAL DAN FIT Tdk FIT
BADAN DARAH PENDENGARAN PENGLIHATAN PENCIUMAN
PERHATIAN
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G
PENGENDALIAN AKSES
PENGENDALIAN AKSES
Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
4.1. Akses Kantor ........................................................................................................................ 1
4.2. Akses Gudang........................................................................................................................ 2
4.3. Akses Lokasi Kerja Proyek ..................................................................................................... 3
PROSEDUR PR.027 – HSE /R.04/21
PENGENDALIAN AKSES
Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1
1. TUJUAN
Sebagai panduan kepada seluruh karyawan untuk penerapan akses kontrol yang bertugas
diwilayah kerja perusahaan.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
3.1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 Tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.3. Undang-Undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
PENGENDALIAN AKSES
Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 2
4.1.2. Tamu
[Link]. Tamu harus melapor ke security
[Link]. Security wajib menanyakan keperluan tamu dan siapa yang akan di temui.
[Link]. Security akan meminta kartu identitas tamu untuk dipinjam sementara
untuk dicatat dan sebagai jaminan masuk.
[Link]. Tamu akan mengisi serta memparaf buku log book.
[Link]. Security akan memberikan informasi mengenai tamu kepada yang akan
dikunjungi dan meminta persetujuan dari yang bersangkutan.
[Link]. Jika di ijinkan maka security akan menginformasikan kepada tamu untuk
menunggu di ruang tunggu.
[Link]. Tamu yang di ijinkan akan dipersilahkan masuk ke ruang tamu.
[Link]. Security akan menolak tamu jika :
1. Yang bersangkutan tidak mau menerima tamu.
2. Alasan kedatangan tamu tidak jelas.
3. Tamu dengan membawa sajam/senpi atau barang berbahaya dan
hendak membuat keributan.
4.1.3. Tamu yang dipersilahkan masuk akan diberi id card tamu dan wajib
dipasang.
4.1.4. Jika selesasi kepentingan tamu wajib memberikan id card tamu kepada
security dan mengisi kembali log book serta identitas tamu akan
dikembalikan.
PENGENDALIAN AKSES
Tanggal Revisi : 10 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 10 SEPTEMBER 2021 Halaman : 3
4.2.7. Orang yang memasuki gudang wajib mentaati peraturan masuk gudang dan memakai
APD yang disyaratkan/diwajibkan.
4.2.8. Staff gudang wajib menolak orang yang akan memasuki gudang tanpa alasan jelas dan
tanpa id card atau ijin security.
DAFTAR ISI
1) TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2) RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3) REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4) DEFENISI.......................................................................................................................................... 1
5) PROESEDUR .................................................................................................................................... 1
5.1. IJin Kerja .................................................................................................................................. 1
5.2. JSA (Job Safety Analisis) .......................................................................................................... 3
PROSEDUR PR.010 – HSE /R.04/21
1) TUJUAN
Prosedur ini adalah untuk memberi perlindungan bagi pekerja terhadap kecelakaan dan atau
kerusakan property sebagai suatu protes kerja yang mengandung risiko tinggi.
2) RUANG LINGKUP
Prosedur ijin kerja ii mencakup system pengendalian terhadap ijin untuk melakukan pekrjaan
yang berisiko tinggi di proyek atau dilingkungan PT. Lematang oleh karyawan internal maupun
yang dilakukan oleh mitra kerja. Ataupun diarea kerja klien.
3) REFERENSI
-
4) DEFENISI
Mitra Kerja adalah orang / organisasi yang akan melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan
pekerjaan proyek dilingkungan PT. Lematang.
Pekerjaan Berisiko Tinggi adalah Pekerjaan dengan bahaya atau kondisi yang sangat
memungkinkan terjadinya kecelakaan.
Surat Ijin Kerja Aman adalah sebuah dokumen atau ijin tertulis yang digunakan untuk mengontrol
jenis pekerjaan tertentu yang perpotensi membahayakan pekerja.
5) PROESEDUR
5.1. IJin Kerja
5.1.1. Surat ijin kerja diperlukan untuk pekerjaan sebagai berikut :
[Link]. Pekerjaan tidak rutin.
[Link]. Pekerjaan rutin tetapi mempunyai risiko tinggi atau dapat
menyababkan risiko kecelakaan dengan kekerapan kategori Possible
(mungkin terjadi).
[Link]. Pekerjaan yang belum pernah dilakukan.
5.1.2. Untuk jenis ijin kerja adalah sebagi berikut :
[Link]. Ijin Kerja Biasa (ijin kerja dingin) yaitu untuk pekerjaan biasa yang tidak
mempunyai risiko kebakaran dan peledakan.
PROSEDUR PR.010 – HSE /R.04/21
[Link]. Ijin Kerja Panas yaitu untuk untuk pekerjaan yang mempunyai bahaya
kebakaran dan peledakan dan bahaya sengatan listrik.
[Link]. Ijin Kerja galian yaitu pekerjaan galian atau risiko tertimbun
[Link]. Ijin kerja pengangkatan yaitu untuk pekerjaan pengangkatan dengan
menggunakan crane.
[Link]. Ijin kerja Bekerja diketinggian yaitu untuk pekerjaan yang mempunyai
risiko jatuh dari ketinggian atau bekerja pada ketinggian yang melebihi
1,8 meter.
[Link]. Ijin kerja ruang terbatas yaitu untuk pekerjaan pada ruang terbatas
5.1.3. Pemohon ijin kerja yang akan mengajukan permohonan ijin pekerjaan kepada
Sub Bidang pekerjaan. Pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ijin kerja tertera di
dalam Formulir Ijin Kerja (FORM-K3-002).
5.1.4. Surat Ijin Kerja harus diberi nomor dokumen oleh bagian safety dilokasi kerja.
5.1.5. Sub Bidang pekerjaan pekerjaan kemudian melakukan pengecekan terhadap
formulir ijin kerja sekaligus memastikan area tempat bekerja sudah aman,
termasuk kelengkapan alat pemadam kebakaran & APD yang sesuai sebagai
Pengawas K3 berkewajiban melakukan pemantauan selama pekerjaan
berlangsung terkait dengan pelaksanaan K3.
5.1.6. Apabila semua perlengkapan yang dipersyaratkan dalam formulir ijin kerja sudah
terpenuhi, maka Formulir Ijin Kerja disetujui dan dikeluarkan oleh Sub Bidang
pekerjaan.
5.1.7. Sebelum memberikan Formulir Ijin Kerja, Sub Bidang pekerjaan memberikan
Briefing K3 kepada pelaksana pekerjaan.
5.1.8. Formulir Ijin Kerja yang telah disetujui kemudian dicatat ke dalam log book yang
terdapat di Sub Bidang Pekerjaan.
5.1.9. Pelaksana pekerjaan wajib menjalankan/ mematuhi APD dan SOP yang sesuai
dengan Formulir Ijin Kerja serta mematuhi semua rambu-rambu K3 yang ada.
5.1.10. Pelaksana Pekerjaan selama melakukan pekerjaannya memasang salinan surat
ijin kerja dekat tempat bekerja dan Supervisor mengawasi pekerjaan sesuai
ketentuan formulir ijin kerja yang telah ditetapkan.
5.1.11. Jika diketemukan di lokasi pekerjaan pekerja tidak sesuai dengan Formulir Ijin
Kerja yang ada, maka Sub Bidang pekerjaan berhak memberhentikan pekerjaan
dan dapat dilanjutkan kembali jika sudah memenuhi persyaratan sesuai ijin kerja
yang dikeluarkan.
PROSEDUR PR.010 – HSE /R.04/21
5.2.3. Dalam membuat JSA supervisor / foreman dapat menggunakan metode sebagai
berikut :
1. Observasi langsung dan diskusi
2. Wawancara dann diskusi
[Link]. Tugas yang dimaksud pada point [Link] adalh tugas yang berarti
pekerjaan atau single task.
[Link]. Setelah inventarisasi tugas diakukan maka harus ditetapkan tugas kritis,
yaitu :
1. Pekerjaan yang berpotensi kecelakaan tinggi
2. Pekerjaan, baru non rutin, pekerjaan berubah
3. Tingkat kekerapan tinggi
4. Tingkat keparahan tinggi
5. Pekerjaan yang belum memounyai SOP atau langkah berbahaya
tidak tertanggulangi dengan SOP yang ada.
5.2.5. JSA harus diberi nomor dokumen sesuai Surat Ijin Kerja.
PROSEDUR PR.010 – HSE /R.04/21
5.2.6. JSA yang sudah dibuat harus direview oleh bagian safety yang bertugas diarea
proyek.
5.2.7. Bagian Safety dapat menambahkan pengendalian bahaya jika diperlukan.
5.2.8. Jika telah direview maka JSA yang dibuat harus mendapatkan persetujuan dari
atasan / pimpinan bagian sub bidang pekerjaan atau site manager atau facilites
owner.
5.2.9. JSA harus ditanda tangani oleh pembuat JSA, Bagian safety,dan penyetujui JSA.
5.2.10. JSA yang telah dibuat dan disahkan wajib di sosialisasikan ke semua pekerja yang
terlibat dalam pekerjaan pada JSA tersebut.
5.2.11. Jika pekerjaan telah selesai maka JSA diarsipkan dan dimasukkan kedalam data
base.
5.2.12. JSA harus direviewe kembali jika terdapat bahaya yang belum termasuk dalam
JSA tersebut dan jika terjadi kecelakaan atau semua pengendalian pada JSA.
PT. LEMATANG
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
PROSEDUR PR.020 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
1.1. Mengurangi tindakan atau kondisi yang tidak aman ditempat kerja.
1.2. Sebagai panduan untuk melakukan pengamatan terhadap aspek keselamatan dan
kesehatan kerja dilingkungan kerja perusahaan.
1.3. Sebagai data pendukung HSE
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
-
4. DEFINISI
4.1. Kartu Pengamatan adalah lembaran untuk pencatatan temuan pada saat melakukan
pemgamatan
4.2. Observasi keselamatan adalah tindakan yang dilakukan untuk mengamati tindakan atau
kondisi tidak aman maupun aman yang ada ditempat kerja.
4.3. Kondisi tidak aman adalah kondisi yang dapat menyebabkan celaka atau kerugian asset
atau kerusakan lingkungan.
4.4. Tindakan aman adalah prilaku yang dilakukan oleh pekera atau orang yang dapat
menyebabkan cidera / celaka dan kerusakan asset serta kerusakan lingkungan.
4.5. Pengamat adalah orang yang melakukan atau melihat tindakan atau kondisi yang dinili
tidak aman atau aman.
5.5. Pengamat akan mengisi temuan yang dilihat pada form / kartu Pengamatan keselamatan.
5.6. Pengamat akan mentandai kondisi yang diamati.
5.7. Jika yang diamati adalah tindakan tidak aman maka pengamat segera memberitahukan kepada
yang diamati untuk melakukan tindakan perubahan agar menghentikan tindakan dan merubah
cara kerja yang aman.
5.8. Jika yang diamati adalah kondisi tidak aman maka pengamat segera memberitahukan pekerja /
orang yang berada di area yang diamati dan melakukan tindakan perbaikan.
5.9. Jika yang diamati adalah kondisi nearmiss maka pengamat wajib menginformasikan temuan
atau pengamatan ke pihak terkait.
5.10. Pengamatan pada sikap kerja aman / tindakan aman dan kondisi aman maka pengamat harus
menuliskan dengan jelas tindakan yang aman yang sedan berlangsung.
5.11. Pengamat harus menulis nama, bagian, jabatan serta tanggal dan waktu juga lokasi pengamatan
dengan jelas.
5.12. Untuk pengamatan harus ditulis dengan jelas siapa, dimana, kondisi apa yang diamati.
5.13. Kartu pengamatan yang sudah di isi harus dikumpulkan ke pimpinan bagian masing – masing.
5.14. Safety officer akan mengambil data rangkuman pengamatan serta kartu pengamatan yang
dikumpulkan oleh masing – masing bagian.
5.15. Safety officer akan mencatat kedalam laporan pengamatan keselematan ddan melaporkan ke
site manager dan safety coordinator setiap bulan.
5.16. Target pengamatan akan dibaut sesuai dengan kondisi dan waktu pelaksanaan peroyek.
5.17. Jumlah pengamatan akan dimasukkan kedalam laporan HSE performance.
PROSEDUR PR.020 – HSE /R.04/21
Tanggal Waktu
Tempat
DATA PENGAMAT
Nama
Bagian
Jabatan
DATA PENGAMATAN KESELAMATAN
Kondisi Tidak Aman Kondisi Aman
PEKERJAAN PANAS
PEKERJAAN PANAS
Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1
DAFTAR ISI
No table of contents entries found.
PROSEDUR PR.044 – HSE /R.04/21
PEKERJAAN PANAS
Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1
1. TUJUAN
1.1. Untuk menghilangkan atau meminimalkan potensi terjadinya cedera pada personil dan
atau kerusakan pada properti akibat kebakaran / ledakan.
1.2. Mengidentifikasi perlunya ijin untuk melakukan pekerjaan panas pada daerah yang
rawan kebakaran.
2. RUANG LINGKUP
2.1. Prosedur ini menjelaskan mengenai sistem pengendalian terhadap ijin untuk melakukan
pekerjaan panas .
2.2. Semua area kerja PT. Lematang dan klien seperti dijelaskan dalam persyaratan di bawah
ini. Khususnya daerah kerja klien, bilamana klien tidak mempunyai sistem Ijin kerja yang
berlaku di sana dan apabila persyaratan PT. Lematang lebih aman dari persyaratan klien,
maka sistem ijin kerja PT. Lematang yang akan diberlakukan.
3. DEFENISI
3.1. Pekerjaan Panas (Hot Works) adalah aktifitas yang menimbulkan adanya sumber
penyalaan.
3.2. Daerah Rawan Kebakaran adalah daerah / operasi / proses dimana : terdapat cairan, gas,
debu yang mudah terbakar dalam jumlah dan konsentrasi yang cukup sebagai sumber
penyalaan akibat pekerjaan panas.
3.3. Daerah Hot Works adalah semua daerah kerja selain dari bengkel (workshop) dan
lapangan kerja yang tidak terkendali resiko bahaya yang ada. Pekerjaan panas di
workshop tidak diperlukan ijin kerja, dengan catatan daerah workshop sudah diambil
tindakan pencegahan yang sesuai dengan aturan.
3.4. Daerah yang tidak rawan kebakaran – daerah / operasi / proses dimana bahan-bahan
mudah terbakar berada dalam pengendalian dengan penggunaan sistem anti kebocoran
gas dan pendeteksian dini terhadap kebocoran (flashback arrestor) dimana nilai properti
atau kerugian akibat gangguan pada proses yang ada tidak terlalu berpengaruh besar. Ijin
kerja pada daerah ini tidak selalu diperlukan.
3.5. Energi adalah sesuatu bentuk gerakan atau kemungkinan yang dapat menimbulkan
gerakan.
PROSEDUR PR.044 – HSE /R.04/21
PEKERJAAN PANAS
Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 2
4.3. Tanggung jawab pengawas yang terlibat dalam pekerjaan panas adalah sebagai berikut :
4.3.1. Meminta HSE Officer, Supervisor memberi wewenang kepada mereka untuk
melakukan tindakan pengurangan bahaya kebakaran dan mengeluarkan ijin kerja
panas.
4.3.2. Meyakinkan para personil terampil dan mempunyai pengetahuan teknis dalam
pengendalian bahaya yang berkaitan dengan pekerjaan panas. Pelatihan yang perlu
diberikan, berisi subyek-subyek yang berkaitan dengan kondisi lapangan, antara lain:
jenis dan karakteristik cairan dan gas mudah terbakar, deteksi gas, alat pemadam
kebakaran, teknik pemadaman kebakaran, sistem pencegahan kebakaran dan teknis
pemberian ijin kerja.
PROSEDUR PR.044 – HSE /R.04/21
PEKERJAAN PANAS
Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 3
4.3.3. Meyakinkan semua ijin kerja yang telah diterbitkan yang kemungkinan akan
diperlukan untuk peninjaun oleh perusahaan asuransi, badan pemerintah atau pihak
lainnya terdokumentasi secara benar.
4.4. Tanggung jawab personil yang diberi wewenang adalah sebagai berikut :
4.4.1. Mengkaji ruang lingkup pekerjaan panas yang akan dikerjakan bersama dengan pihak
lain yang terkait dalam pelaksanaannya.
4.4.2. Memastikan telah diajukannya ijin kerja pada daerah rawan kebakaran. Jika personil
tersebut merasa tidak yakin akan timbulnya kondisi bahaya, maka pekerjaan tersebut
diperlukan suatu ijin kerja.
4.4.3. Personil tersebut bertanggung jawab untuk memastikan bahwa potensi bahaya
kebakaran atau kesehatan yang mungkin timbul selama pekerjaan panas dilakukan,
dapat diminimalkan. Apabila potensi bahaya tersebut tidak bisa diminimalkan, maka
personil tersebut bertanggung jawab untuk memberitahukan kepada pekerja dan
menghentikan pekerjaan sampai diterbitkan atau dilakukan revisi ijin kerja.
4.4.4. Melakukan pengukuran yang spesifik seperti pemeriksaan kandungan gas mudah
terbakar, bila diperlukan, untuk mengontrol potensi bahaya dan meninjau ulang
apakah pekerja yang meminta ijin memenuhi ketentuan yang ada.
4.4.5. Memastikan ijin kerja dipatuhi sesuai persyaratan dan formulir ijin kerja diisi dan
ditanda tangani oleh Supervisor dan Leader sebelum dan setelah pekerjaan.
4.4.6. Pada saat penyelesaian pekerjaan, personil tersebut memberitahukan kepada pekerja
yang meminta ijin kerja agar melakukan inspeksi terakhir, untuk memastikan bahwa
area bersih dari peralatan Kerja Panas (Hot Work), dan memeriksa apakah lokasi
pekerjaan betul-betul bebas dari percikan api. Setelah itu lokasi tersebut dinyatakan
“aman dari api“ sebelum ijin kerja dicabut. Inspeksi ini dilakukan kira-kira satu jam
setelah pekerjaan selesai.
4.5. Tanggung jawab pekerja yang melakukan pekerjaan panas adalah sebagai berikut :
4.5.1. Melakukan inspeksi secara visual pada lokasi pekerjaan.
4.5.2. Mencatat setiap potensi bahaya kebakaran dan kesehatan yang terlihat.
4.5.3. Memeriksa apakah terdapat uap, debu, asap, dll yang beracun dan /atau mudah
meledak dalam jumlah yang cukup untuk menyebabkan kebakaran atau bahaya bagi
kesehatan, melalui koordinasi dengan personil yang diberi wewenang untuk
mengkoordinir pekerjaan panas tersebut.
PROSEDUR PR.044 – HSE /R.04/21
PEKERJAAN PANAS
Tanggal Revisi : 20 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 20 SEPTEMBER 2021 Halaman : 4
4.5.4. Setelah persyaratan yang ada dipenuhi maka pekerja tersebut menandatangani,
mengisi tanggal permintaan serta menempelkan ijin tersebut dekat dengan tempat
pekerjaan dilakukan.
4.5.5. Ijin kerja hanya berlaku maksimal untuk satu shift kerja atau 8 jam. Jika akan dilakukan
pada shift berikutnya maka harus dievaluasi kembali dan ijin kerja baru dibuat
kembali.
4.5.6. Meminta bantuan petugas penjaga kebakaran khusus (Fire Watch) untuk mengawasi
jalannya pekerjaan pada daerah yang sangat rawan kebakaran.
4.5.7. Melakukan inspeksi terakhir pada lokasi minimal 1 jam setelah pekerjaan selesai.
Untuk pekerjaan panas di daerah sangat rawan kebakaran pekerja meminta Fire
Watch untuk mengisi form ijin Hot Works yang menyatakan bahwa area pekerjaan
panas telah aman dari api. Jika lokasi tersebut telah aman maka ijin kerja dapat
dicabut.
4.5.8. Mengembalikan sertifikat ijin kerja panas kepada petugas yang di beri wewenang.
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
5.1. Sebelum Menggali .................................................................................................................. 1
5.2. Ketentuan – ketentuan penggalian......................................................................................... 2
5.3. Akses dan jalan keluar ............................................................................................................ 3
5.4. Perlindungan pekerja dari objek jatuh.................................................................................... 3
5.5. Tanah urugan (Spoil). .............................................................................................................. 3
5.6. Sistem peringatan untuk alat berat bergerak (mobile equipment) ........................................ 4
5.7. Pengujian dan pengendalian untuk zat beracun .................................................................... 4
5.8. Perlindungan dari hal Umum .................................................................................................. 5
5.9. Alat Pelindung Diri (PPE: Personal Protective Equipment). .................................................... 5
6. KLASIFIKASI TANAH ........................................................................................................................ 5
7. ANALISA TANAH ............................................................................................................................. 9
7.1. Analisa Visual ......................................................................................................................... 9
7.2. Uji Manual ............................................................................................................................ 10
8. SITEM PROTEKSI PENDUKUNG .................................................................................................... 11
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
Prosedur ini sebagai panduan bagian karyawan / pekerjan untuk melakukan pekerjaan
penggalian manual maupun menggunakan alat berat, sehingga dapat melakukan pekerjaan
penggalian dengan selamat dan aman.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
1. OSHA – 29 CFR 1926 Tentang Safety and Health Regulation for Contraction
4. DEFINISI
1. Sebuah galian atau lubang besar di permukaan tanah adalah bukan situasi yang alami yang
biasanya ditunjukkan dengan bentuk kemiringan permukaan tanahnya yang hampir
vertical atau bahkan vertikal.
2. Kelongsoran tanah adalah hal yang umum terjadi pada kecelakaan kerja galian dan saluran
dalam tanah. Karena semua gaya akan saling terkait. untuk menyebabkan terjadinya
kelongsoran tersebut. Kondisi cuaca, air, getaran, beban yang berlebih di atasnya akan
menambah potensi bahaya pada pekerjaan galian yang berujung pada kelongsoran hingga
terkubur dengan tanah yang longsor.
3. Bahaya lain adalah bahaya karena terdapatnya instalasi di bawah tanah seperti misalnya
pipa gas dan kabel yang apabila galian mengenai instalasi tersebut tidak saja merusak
instalasi tersebut tapi dapat menimbulkan korban jiwa.
4. Galian parit diperiksa secara seksama setelah hujan sebelum para pekerja diizinkan
untuk memasuki kembali lokasi penggalian.
5. Penggunaan alat pelindung diri yang sesuai dengan bahaya yang ada.
6. Pagar harus dipasang jika terdapat gang tempat berjalan atau jembatan yang
menyeberangi galian untuk akses para pekerja. Pagar harus dipasang apabila gang
tempat berjalan mempunyai tinggi diatas 1,8 m diatas permukaan tanah.
7. Semua rintangan dan beban yang berada pada lokasi yang dapat menimbulkan
bahaya bagi para pekerja harus dipindahkan atau ditopang bilamana perlu untuk
melindungi para pekerja.
6. KLASIFIKASI TANAH
6.1. Supervisi akan mengklasifikasikan tanah dan deposit batuan berdasar kondisi lingkungan
setempat, komposisi dan struktur deposit bumi sebelum melakukan penggalain.
6.2. Untuk test yang digunakan untuk mengklasifikasikan tanah. Setiap tanah dan deposit batuan
dapat diklasifikasikan sebagai kelas A, kelas B, atau kelas C sebagaimana yang akan didefinisikan
di bawah ini.
b) Tanah yang menerima getaran yang disebabkan oleh lalu lintas yang cukup berat,
pergerakan tumpukan atau pengaruh-pengaruh serupa tanah yang sebelumnya
telah ”terganggu” atau memiliki air yang merembes.
c) Tanah yang merupakan bagian dari sistem berlapis dan melandai, dimana
lapisan-lapisan tersebut masuk ke dalam penggalian dengan kemiringan faktor
horizontal sebesar 4 kali faktor vertikal (4H : 1V) atau lebih besar. Tanah lainnya
yang digolongkan sebagai material yang kurang stabil.
2) Tanah yang terendam oleh air, tanah yang airnya bebas merembes, batuan di bawah
air yang tidak stabil.
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21
7. ANALISA TANAH
1) klasifikasi dari deposit dibuat berdasarkan hasil analisa visual dan uji manual. Analisa
tersebut harus dilakukan oleh ahli dibidangnya sesuai dengan pedoman testing yang
berlaku.
2) Pedoman testing yang diulas disini adalah yang mengacu pada “American Society for
Testing Materials” atau “US Department of Agriculture Textural Classification System”.
7.1.3. Tanah yang tetap menggumpal ketika digali adalah bersifat kohesif (melekat).
Tanah yang pecah / merengkah dengan mudah dan tidak tetap menggumpal
disebut “granular” berbutir butir kecil).
Amati tanah ditepi galian yang terbuka dan area permukaan dekat dengan
galian.
Rengkahan (crack) seperti rengkahan tegangan permukaan dapat
diindikasikan sebagai materi belahan atau retakan. Jika tanah digali
dengan sekop dan menunjukan pecah – pecah / celah-celah (spall-off)
secara vertikal, tanah tersebut rentan terhadap keretakan. “Spall” yang
kecil adalah bukti dari tanah yang bergerak dan merupakan indikasi situasi
yang sangat berbahaya.
Amati area-area yang berdekatan dengan penggalian dan pada penggalian
itu sendiri untuk mengidentifikasikan tanah yang terganggu sebelumnya.
Amati sesi yang terbuka dari galian untuk mengidentifikasikan lapisan –
lapisan pada tanah. Mengkaji sistem yang berlapis untuk
mengidentifikasikan jika lapisan – lapisan miring ke arah penggalian.
Estimasikan kadar kemiringan dari lapisan-lapisannya.
Amati area yang berdekatan dengan penggalian dan sisi-sisi penggalian
yang terbuka untuk melihat air permukaan yang merembes dari samping
penggalian, dan mengetahui tinggi air permukaan (water table).
Amati area yang berdekatan dengan penggalian untuk mengetahui
sumber – sumber getaran yang bisa mempengaruhi stabilitas muka
penggalian.
Estimasi dari kekuatan tanah juga dapat diperoleh melalui penggunaan penetrometer
kantong atau dengan menggunakan “shearvane”. Gambar di bawah adalah salah satu
contoh Penetrometer.
8.7. Alur dibawah ini adalah bagan pembuatan keputusan untuk dapat menentukan system proteksi
yang dibutuhkan untuk penggalian sampai dengan kedalaman 20 ft. Sistem roteksi yang dipakai
untuk penggalian dengan kedalaman lebih dari 20 ft harus dirancang oleh tenaga ahli
profesional.
8.8. Trotoar atau pavemen tidak boleh dipasang diatas galian kecuali kalau ada sistem penopang
tambahan yang dapat melindungi para pekerja dari keruntuhan.
Galian > 5 ft
Tidak Ya
Galian > 5 ft
Ya Tidak
Slope/Shore/Shileded ?
Pilihan Pilihan
Kemiringan Shoring/Shielding
8.9. Jika tanah tidak diklasifikasikan, maka penggalian harus dilerengkan / dimiringkan dengan
sudut maksimal satu setengah horisontal per satu vertikal (1,5 H : 1 V) atau dianggap bertanah
kelas C.
[Link]. Kemiringan
[Link].1. Kemiringan (sloping) maksimal yang diizinkan untuk penggalian
dengan kedalaman kurang dari 20 kaki berdasarkan pada kelas tanah
tertentu :
Tabel kemiringan maksimum yang di ijinkan untuk kelas tanah tertentu
Kelas A ¾ : 1 (53O)
Kelas B 1 : 1 (45O)
[Link].2. Gambar berikut ini memberikan contoh tentang penggalian dengan system
proteksi kemiringan pada tanah kelas A
[Link].7. Lerengan yang sederhana dari 1 1/2 H : 1 V dapat digunakan pada semua
kelas tanah di dalam penggalian dengan kedalaman kurang dari 20 ft.
[Link]. Pelerengan
[Link].1. Sistem proteksi pelerengan (benching) adalah dengan membuat suatu
lereng pada dasar dinding galian yang dimiringkan. Ada du akelas benching
yaitu :
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21
2. Berganda. Lebih dari satu tingkat, dengan ketingian tidak lebih dari
ketinggian 4 ft pada masing – masing tingkat / tahapannya.
[Link].2. Metode pelerangan tidak di ijinkan pada tanah kelas C. Ada banyak
pengecualian pada pedoamn kemiringan dan benching umum ini.
Diantaranya diuraikan sebagai berikut :
a) Pada tanah Kelas A, penggalian lerengan yang sederhana yang terbuka
selama 24 jam atau kurang (jangka pendek) dan yang tingginya 12 ft
atau kurang, dapat mempunyai lerengan maksimal yang diizinkan
sebesar ½ horizontal : 1 vertikal (½H : 1V) .
b) Pada tanah Kelas A, semua penggalian dengan kedalaman 8 ft atau
kurang, yang tidak dilengkapi penguat vertikal, harus memiliki
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21
8x8 5 2x6
10 – 15 10x10 5 2x6
10x12 5 2x6
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21
8x10 5 3x6
10x12 5 3x6
15 – 20
12x12 5 3x6
15 – 20
PROSEDUR PR.016 – HSE /R.04/21
10x12 5 2x6
10x12 5 2x6
10 – 15
12x12 5 3x6
15 – 20
[Link]. Ketika pada penggalian menemui beberapa lapis kelas tanah, penggalian
harus dilerengkan sesuai dengan tabel dibawah ini yang dapat meberi contoh
penggalian yang dibuat di dalam tanah berlapis.
1. Persyaratan kemiringan pada tanah berlapis
Kelas Lapisan
Lapisan Kelas A Lapisan Kelas b Lapisan Kelas C
Tanah
B di atas A ¾:1 1 :1
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
4.1. MSDS (material safety data sheet) ....................................................................................... 1
4.2. Penanganan B3 ..................................................................................................................... 2
PROSEDUR PR.014 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
1.1. Sebagai pedoman bagi karyawan dalam penanganan/tata cara penggunaan B3 serta
pengendalian penggunaan B3 untuk keperluan pekerjaan dilokasi kerja perusahaan.
1.2. Sebagai panduan bagi karyawan untuk menangani dan menanggulangi tumpahan B3 yang
mungkin terjadi.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
3.1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 Tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.3. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan
Beracun.
3.4. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan
Beracun Peraturan MENLH Nomor 03 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pemberian Simbol dan
Label Bahan Berbahaya dan Beracun.
4.1.1. Bagian logistik akan mengidentifikasi material yang berbahaya bagi kesehatan,
lingkungan dan ludah terbakar.
4.1.2. Hasil identifikasi akan dimasukkan kedalam dokumen inventarisasi bahan kima
berbahaya
4.1.3. Material B3 yang telah teridentifikasi akan disediakan MSDS sebagai panduan
keselamatan penggunaan dan penanganan material tersebut.
4.1.4. MSDS akan disosialisasikan kepada pekerja yang mungkin akan terpapar atau
menggunakan B3 tersebut.
4.1.5. MSDS akan ditempatkan pada kotak MSDS dimana terdapat material B3.
PROSEDUR PR.014 – HSE /R.04/21
4.2. Penanganan B3
4.2.1. Pembelian B3
[Link]. Bagian terkait akan melakukan identifikasi keperluan material yang mengandung B3.
[Link]. Bagian terkait akan meminta saran bagian HSE untuk penggunaan B3 untuk
keperluan pekerjaan proyek perusahaan.
[Link]. Bagian logistik akan menerima data keperluan bahan/material yang megandung B3
untuk dikelompokkan kedalam jenis material berbahaya.
[Link]. Bagian logistik akan melakukan pembelian kepada supplier yang terlebih dahulu
melakukan verifikasi ke supplier.
4.2.2. Transporter
[Link]. Untuk pengangkutan akan diserahkan kepada pihak supplier yang bersangkutan
[Link]. Transporter yang yang digunakan supplier akan terlebih dahulu mendapat
persetujuan oleh perusahaan sesuai dengan standard dan peraturan perundangan
yang terkait.
4.2.3. Penerimaan B3
[Link]. Barang/material B3 akan akan dilakukan pemeriksaan oleh logistik sebelum diterima
dan masuk kedalam gudang.
[Link]. Untuk material B3 cair maka tempat/wadah tidak ada yang bocor dan rusak.
[Link]. Logistik akan memastikan segel barang masih terpasang dan tidak rusak/cacat.
[Link]. Jika telah sesuai makan material dapat masuk kedalam gudang penyimpanan.
[Link]. Penempatan B3
[Link]. Barang/material B3 ditempatkan terpisah dan dalam ruang yang berbeda dengan
material bukan B3.
PROSEDUR PR.014 – HSE /R.04/21
4.2.4. Pemakaian/penggunaan B3
[Link]. Pekerja yang akan menggunakan B3 akan melaporkan ke atasan langsung untuk
mendapat persetujuan memakai material B3 yang dibutuhkan.
[Link]. Unit terkait akan membuat surat permintaan barang yang diketahui kepala bagian
unit terkait.
[Link]. Bagian logistik harus memastikan bahwa pengguna material/bahan B3 telah paham
dan mengerti tentang penggunaan/pemakaian B3 yang baik dan benar sesuai
dengan MSDS.
[Link]. Pekerja wajib mengetahui tata cara penggunaan material B3 yang benar sesuai
dengan MSDS material tersebut.
[Link]. Pekerja wajib menggunakan/memakai APD yang sesuai dan benar saat
menggunakan material B3
[Link]. Setiap kemasan B3 wajib diberikan simbol sesuai dengan klasifikasinya dan label
sesuai dengan jenis dan klasifikasinya.
[Link]. Jenis B3 sebagaimana dimaksud pada point (5.5.1) sesuai dengan nama dagang
dan/atau bahan kimia dari B3 tersebut.
[Link]. Tata cara pemberian symbol mengacu pada peraturan dan perundangan yang
berlaku serta standar yang diacu.
4.2.6. Pelatihan
[Link]. Bagian unit kerja akan mendata karyawan/pekerja yang terpapar pada material B3.
[Link]. Data pekerja/karyawan akan dberikan kepada bagian HSE untuk dilakukan pelatihan
penanganan/penggunaan material berbahaya (HAZARDOUS MATERIAL HANDLING).
[Link]. Bagian HSE akan membuat jadwal pelatihan sesuai dengan program pelatihan.
[Link]. Post test akan dilakukan untuk memastikan karyawan/pekerja yang mengikuti
pelatihan telah paham dan mengerti tentang tata cara penanganan dan pemakaian
material B3.
4.2.7. Pengawasan
PROSEDUR PR.014 – HSE /R.04/21
[Link]. Bagian HSE akan melakukan pengawasan terhadap pemakaian material B3 yang
digunakan.
[Link]. Bagian HSE berhak dan mempunyai kewenangan untuk melakukan pemeriksaan
terhadap tata cara penyimpanan B3.
[Link]. Bagian HSE berhak dan mempunyai kewenangan untuk melakukan penilaian
terhadap penilaian material B3 dan membatalkan/mencegah pemakaian B3 jika
tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku serta MSDS yang terkait.
[Link]. Bagian HSE secara berkala akan melakukan pemeriksaan terhadap penempatan dan
pemakaian B3.
PT. LEMATANG
DAFTAR ISI
1) TUJUAN........................................................................................................................................... 1
2) RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3) REFERENSI ...................................................................................................................................... 1
4) DEFENISI ......................................................................................................................................... 1
5) PROESEDUR .................................................................................................................................... 2
5.1. Prosedur Lockout/Tagout (LOTO) /Penguncian & Pelabelan ........................................... 2
5.2. Identifikasi Warna LOTO .................................................................................................... 4
5.3. Prosedur Pemasangan LOTO.............................................................................................. 4
5.4. Prosedur Pelepasan LOTO .................................................................................................. 5
PROSEDUR PR.013 – HSE /R.04/21
1) TUJUAN
Standar ini memetapkan prosedur locking dan tagging yang diperlukan untuk mencegah
cedera akibat kejadian tidak terduga dari operasi peralatan tenaga, pembukaan kerangan,
pelepasan energi yang terakumulasi, atau enegi yang dibangkitkan oleh peralatan listrik.
Sekali ijin kerja memerlukan pengisolasian energi yang berbahaya, proses isolasi yang
ditentukan dalam standar ini harus diselesaikan sebelum diterbitkannya ijin
kerja.
Isolasi dari mesin, unit alat berat dan peralatan, diperlukan untuk mencapai kondisi aman
dan dapat dilakukan pengendalian atas akses pemeliharaan, pemeriksaan, konstruksi,
modifikasi, dan kegiatan dekomisioning dan untuk memberikan keyakinan bahwa risiko
diupayakan serendah mungkin yang dapat dilaksanakan.
Sertifikat isolasi dibutuhkan untuk menyatakan bahwa peralatan telah diisolasi dan tekunci
dari sumber-sumber yang berbahya. Juga disediakan daftar lokasi isolasi dan alat-alat yang
dipasang untuk tujuan tersebut. Isolasi harus mempunyai catatan yang dilaksanakan
terhadap:
a. Sistem mekanik/proses
b. Sistem kelistrikan
c. Sistem Keselamatan/Keadaan Darurat
2) RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku di ruang lingkup perusahaan
3) REFERENSI
-
4) DEFENISI
1. Pegawai berwenang : Petugas yang mengunci/memblok/menempatkan label pada mesin,
sarana sistem produksi atau peralatan listrik untuk lakukan perbaikan, pemeliharaan atau
modifikasi pada peralatan itu. Pegawai berwenang serta operator mungkin saja saja orang
yang sama jika pekerjaan operator juga termasuk juga melakukan pekerjaan itu. Pegawai
berwenang termasuk juga namun tak terbatas pada petugas listrik, mekanik atau orang yang
bertanggungjawab dalam aplikasi prosedur penguncian serta pemasangan label, seperti ;
penyelia pemeliharaan, mandor/penyelia pelaksana pekerjaan.
2. Tambah energi : Terkait dengan satu sumber daya, atau memiliki kandungan daya bekas atau
tersimpan.
PROSEDUR PR.013 – HSE /R.04/21
3. Alat pengisolasi daya : Alat mekanis yang dengan cara fisik menghindar perpindahan atau
pelepasan daya, termasuk juga namun tak terbatas pada beberapa hal tersebut : Pemutus
arus listrik yang dioperasikan dengan cara manual ; slip buta/buntu ; katup lurus ; katup blok
serta tiap-tiap alat sama yang dipakai memblok atau mengisolasi daya. Arti itu tak termasuk
juga tombol tekan, sakelar tentukan, serta peralatan type sirkuit kontrol yang lain.
4. Sumber daya : Tiap-tiap sumber listrik, mekanik, hidrolik, pneumatik, kimia, panas atau daya
lain.
5. Penguncian : Pemasangan kunci gembok pada alat pengisolasi daya, sesuai sama prosedur
yang telah diputuskan, untuk meyakinkan bahwa alat pengisolasi daya serta peralatan yang
tengah dikendalikan tidak bisa dioperasikan sampai alat pengunci itu dilepaskan.
6. Alat pengunci : Satu alat yang bisa mengunci, bisa berbentuk kunci gembok serta anak
kuncinya atau kunci gabungan, untuk menahan satu alat pengisolasi daya pada posisi aman
serta menghindar pelepasan daya pada mesin atau peralatan.
7. Perawatan serta pemeliharaan : Aktivitas di tempat kerja, seperti : pekerjaan konstruksi,
pemasangan, peletakan, penyetelan kontrol, pengubahan serta pemeliharaan serta/atau
perbaikan mesin atau peralatan. Aktivitas ini mencakup pekerjaan pelumasan, pembersihan,
perbaikan kemacetan mesin atau peralatan serta penyetelan atau pengubahan alat, di mana
pegawai mungkin saja terpapar dengan daya yg tidak diinginkan, atau mesin hidup serta
berlangsung pelepasan daya beresiko.
8. Pemasangan label : Menempatkan satu label disuatu alat pengisolasi daya untuk melarang
orang mengoperasikan atau mengalirkan daya disuatu peralatan yang tengah dirawat,
dipelihara, diperbaiki, dimodifikasi atau dikontrol tanpa ada izin.
9. Label : Satu sinyal peringatan yang pasti, berbentuk label serta perlengkapannya yang bisa
dipasangkan dengan kuat pada alat pengisolasi daya hingga bisa tunjukkan bahwa alat
pengisolasi daya serta peralatan yang tengah dikendalikan tak bisa dioperasikan sampai label
dilepaskan.
10. Memblok : Menempatkan satu alat manfaat menghindar gerakan daya, mesin atau
peralatan.
5) PROESEDUR
5.1. Prosedur Lockout/Tagout (LOTO) /Penguncian & Pelabelan
Sistem Penguncian serta Pelabelan (yang dimaksud LOTO) mempunyai tujuan mengamankan
orang yang tengah bekerja atau ada di sekitar mesin, instalasi listrik atau sarana sistem produksi
yang tengah diperbaiki serta dalam perawatan. Perlindungan itu dikerjakan dengan mengisolasi
daya beresiko atau penguncian, pemasangan pengaman serta label pada sumber-sumber daya
yang bisa mencederai seorang.
PROSEDUR PR.013 – HSE /R.04/21
5.1.1. Sistem LOTO ini adalah kriteria minimal yang perlu diaplikasikan pada semua sarana
jika pegawai atau mitra kerjanya lakukan pekerjaan pada tempat kerja dimana
pelepasan daya beresiko sangatlah mungkin saja bisa berlangsung, seperti pada
kondisi tersebut :
1. Mesin/peralatan sistem baru yang akan dibeli serta dipasang
2. Peralatan yang ada tengah dimodifikasi, diperbaiki, direnovasi atau diganti
3. Alat pengisolasi daya tengah diperbaiki atau tengah dibuatkan/ditambahkan
disuatu peralatan.
5.1.2. Daya mencakup Daya Kinetik (style yang dikarenakan oleh satu benda) serta Daya
Mungkin (daya yang tersimpan didalam satu benda yg tidak bergerak) . Daya Kinetik
serta Mungkin mencakup Listrik, Mekanik, Hidraulik, Pneumatik, Kimia, Panas, dan
lain-lain.
Sistem ini mencakup prosedur proses LOTO dengan peran serta tanggung jawab
berkenaan dari pelaksana sistem, serta infrastruktur yang dibutuhkan untuk
berjalannya sistem.
Berikut adalah peralatan-peralatan dari LOTO:
1. Label
Label mesti di buat berwarna standard untuk tunjukkan siapa yang
menempatkan. Pemasang mesti menandatanganinya. Label umumnya di buat
tidak sama warna untuk mempermudah pekerja mengerti derajat bahaya yang
ada.
2. Alat Pengunci
Yaitu suatu hal yang disarankan untuk memakai alat pengunci yang standard. Alat
pengunci mesti tidak bisa di buka terkecuali dengan alat pemasang logam. Kunci
gembok serta anak kuncinya mesti dipunyai semasing orang, serta tak berperan
juga sebagai kunci master. Pemasang mesti memegang anak kuncinya.
3. Piranti Keras Bantu Lainnya
4. Misal dari piranti ini diantaranya seperti penghalang, yellow tape, barricade,
skillet, rantai, flensa-buta, pelindung sirkuit ingindali.
5. Checklist
Pemasangan serta Pelepasan Kunci serta LabelChecklist pemasangan kunci serta label
mesti di isi serta pelepasan kunci serta label mesti di isi oleh pegawai berwenang.
PROSEDUR PR.013 – HSE /R.04/21
HOUSE KEEPING
HOUSE KEEPING
Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 1
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
5.1. Standar dan persyaratan kesehata kesehatan lingkungan kerja / perkantoran meliputi : .... 1
5.2. Penyedian fasilitas kebersihan : .............................................................................................. 1
5.3. Penerapan kebersihan. ........................................................................................................... 2
5.4. Pemeriksaan............................................................................................................................ 4
6. Lampiran ......................................................................................................................................... 5
PROSEDUR PR.019 – HSE /R.04/21
HOUSE KEEPING
Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 1
1. TUJUAN
1.1. Sebagai pedomaan bagi seluruh karyawan dalam rangka menjaga kenyaman dan
kesehatan dilingkungan kerja.
1.2. Mengurangi risiko terjadinya kecelakaan yang bersumber dari kondisi kebersihan dan
kerapian.
1.3. Mengurangi risiko timbulnya penyakit akibat kerja yang diakibatkan lingkungan kerja
yang tidak sehat.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
3.1. PERMENAKERTRANS No. 05 Tahun 2018 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Lingkungan Kerja.
4. DEFINISI
-
HOUSE KEEPING
Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 2
HOUSE KEEPING
Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 3
HOUSE KEEPING
Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 4
5.4. Pemeriksaan.
5.4.1. Pemeriksaan akan dilakukan secara rutin dan berkala oleh safety officer untuk
kepatuhan penerapan kebersihan.
5.4.2. Pemeriksaan akan dituangkan kedalam bentuk laporan pemeriksaan kebersihan.
PROSEDUR PR.019 – HSE /R.04/21
HOUSE KEEPING
Tanggal Revisi : 04 Maret 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 Maret 2021 Halaman : 5
5.4.3. Temuan – temuan yang ditemukan harus dilakukan perbaikan sesuai dengan
rekomendasi dan dalam batas waktu yang ditentukan.
5.4.4. Jika dalam waktu batas yang ditentukan temuan tidak dapat dilakukan perbaikan maka
penanggung jawab perbaikan akan membuat laporan alasan secara tertulis kepada
bagian safety.
6. Lampiran
1. Form pemeriksaan kebersihan harian
PT. LEMATANG
CHECK LIST PEMERIKSAAN KEBERSIHAN HARIAN
Periode
Lokasi
Tanggal Periksa
No. Item Periksa
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
St
Prf
St
Prf
St
Prf
St
Prf
St
Prf
St
Prf
St
Prf
St
Prf
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR dan TANGGUNG JAWAB ............................................................................................. 1
4.1. Keselamatan berkendara .................................................................................................... 1
4.2. Keselamatan transportasi Air .............................................................................................. 4
4.3. Keselamatan Transportasi udara......................................................................................... 5
4.4. Transportasi Angkutan Alat Berat ....................................................................................... 5
4.5. Mengemudi dengan AMAN ............................................................................................... 13
4.6. Mengemudi Agar Selamat ................................................................................................. 14
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
1. Memberikan pedoman kepada karyawan tentang tata cara pelaksanaan kegiatan logistik
termasuk dalam kegiatan transportasi darat, air dan udaran.
2. Menjamin keselamatan karyawan/asset perusahaan pada kegiatan/aktivitas berkendaraan.
2. RUANG LINGKUP
Seluruh jajaran organisasi perusahaan dan berlaku diwilayah kerja perusahaan.
3. REFERENSI
1. UU. No. 01 Tahun 1970 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
2. UU 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas.
[Link]. Jika kondisi jalan berlumpur dan tidak aman maka perjalanan dihentikan
dan driver segera menginformasikan ke atasan langsung dan untuk
mencari rute yang paling aman.
[Link]. Waktu berkendara/mengemudikan adalah sebagai berikut
1. Berkendara 2 jam tanpa henti dengan waktu istirahat 15 menit.
2. Berkendara 4 jam tanpa henti dengan waktu istirahar 30 menit
3. Maksimal berkendara dalam 1 hari adalah 12 jam
Catatan : jika ashing point buatan pabrikan tidak tersedia maka ikat sekitar tiang depan dan
belakang ke tempat penarik kendaraan (towing point) di belakang.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21
Excavator Hidrolis
Kemungkinan bahaya Tindakan pencegahan
1. Mesin membentur overhead Muat perlengkapan di posisinya untuk memberikan
obstruction. ketinggian lebih rendah secara keseluruhan.
2. Pergerakan kabin dan superstrukture a) Bebaskan tekanan hidrolis dengan mengoperasikan
sehubungan dengan sasis mesin. semua kontrol dua kali, dimana mesin dimatikan.
b) Gunakan slew lock pada slewing ring
3. Pergerakan lengan pencedok Ikat dengan mengamankan bucket ke anchorage
excavator (dipper arm) dari posisi point di samping trailer.
muat
4. Pergerakan mesin ke depan a) Excavator roda atau excavator ‘rantai’ menubruk
dinding pemisah trailer dimana distribusi berat
dimungkinkan , atau menubruk penopang..
b) Ikat rantai dari towing point depan excavator atau
sasis melintang ke anchorage point di samping
trailer.
5. Pergerakan mesin ke belakang a) Kedua jenis excavator menubruk penyangga.
b) Ikat rantai dari towing point belakang excavator atau
di bawah undercarriage lashing point ke anchorage
point di samping trailer.
6. Pergerakan mesin ke samping Pengekangan diberikan oleh ikatan rantai yang
digunakan untuk mencegah pergerakan ke depan dan
belakang. Jangan ganjal barang yang berat antara
bucket dan sasis mesin.
7. Pergerakan pendukung Ikat diatas baulking.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21
Motor Grader
Kemungkinan bahaya Tindakan pencegahan
1. Pergerakan mesin ke a. Roda depan traktor menubruk ganjal.
depan b. Roda depan menubruk dinding pemisah trailer.
c. Ikatan diagonal dari towing hook atau lashing point ke
anchorage point di samping trailer.
2. Pergerakan mesin ke a. Roda belakang traktor roda depan grader menubruk ganjal.
belakang b. Ikat dari rangka ke anchorange point di samping trailer.
c. Ikat dari rangka utama depan ke anchorage point pada dinding
pemisah trailer.
3. Pergerakan vertikal mesin Pengendalian diberikan oleh tali di atas rangka utama dan yang
memberikan penahan depan dan belakang.
4. Pergerakan mesin ke Pengendalian diberikan oleh tali yang digunakan untuk
samping penahan lainnya. Gunakan mekanisme pivot lock, jika cocok,
guna mencegah artikulasi. Bebaskan tekanan hidrolis dengan
mengoperasikan kontrol paling kurang dua kali dengan mesin
mati.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21
Bulldozer
Kemungkinan bahaya Tindakan pencegahan
1. Pergerakan mesin ke depan a) Mata pisau (blade) buldozer dibuka dan diletakkan di dek
depan trailer.
b) Rantai (track) depan menubruk penyangga terhadap
dinding pemisah trailer.
c) Ikat dari trunnion rangka- U mata pisau buldozer ke
anchorage point di sisi trailer.
2. Pergerakan mesin ke a) Rantai (track) menubruk ganjal dinding pemisah trailer.
belakang b) Ikat dari towing point ke sisi trailer.
3. Pergerakan mesin ke a) Pengendalian diberikan oleh penahan untuk mencegah
samping pergerakan ke depan dan belakang.
b) Ikat dari samping ke anchorage point trailer.
4. Pergerakan pendukung a) Mata pisau (blade) buldozer disimpan di dek depan. Ikat
piringan pisau ke sisi trailer.
b) Ikat dari samping balok penyangga.
PROSEDUR PR.022 – HSE /R.04/21
2 jam 15 menit
4 jam 30 menit
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................. 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB .................................................................................................. 1
4.1. Alat berat bukan angkat.......................................................................................................... 1
4.2. Crane ....................................................................................................................................... 2
4.3. Vacum Truck ........................................................................................................................... 2
4.4. Dump Truck ............................................................................................................................. 3
4.5. Winch Truck ............................................................................................................................ 3
4.6. Flat bed Truck dan Trailer ....................................................................................................... 4
4.7. Truk Box .................................................................................................................................. 4
4.8. Kendaraan sarana ................................................................................................................... 5
PROSEDUR PR.023 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
1.1. Sebagai pedoman bagi operator dan driver untuk melakukan pemeriksaan pada unit
sebelum beroperasi.
1.2. Meminimalisir kesalahan terhadap pengeoperasian alat berat dan kendaraan.
1.3. Meminimalisir risiko bahaya pada saat pengeoperasian unit.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
4.1.6. jika dalam pemeriksaan terdapat kejanggalan atau kerusakan maka hal tersebut
dimasukkan kedalam laporan pemeriksaan harian dan segera dilaporkan keatasan
langsung serta bagian maintenance untuk di tindaklanjuti oleh mekanik.
4.1.7. Jika unit dalam kondisi baik / lyak operasi maka operator dapat melanjutkan pekerjaan.
4.2. Crane
4.2.1. Lakukan pemeriksaan terhadap dokumen (SKPP dan SIO) pastikan dalam masa berlaku.
4.2.2. Siapkan dokumen pemeriksaan harian unit.
4.2.3. Operator dibantu helper melakukan pemeriksaan terhadap :
1. Body dan Under carried
2. Kebocoran hidrolik boom
3. Pemeriksaan pada mesin dan system bahan bakar.
4. Pemeriksaan hook block, shavel, wire rope dan drum.
5. Pemeriksaan pada system kelistrikan
6. Pemeriksaan pada safety device crane, pastikan semua dalam kondisi baik.
4.2.4. Untuk rigger haru melakukan pemeriksaan pada peralatan bantu angkat (lifting gear),
pastikan semua dalam kondisi baik dan layak pakai serta sesuai dengan barang yang
akan diangkat.
4.2.5. Untuk peralatan bantu angkat (lifting gear) harus mempunyai sertifikat kelayakan
pemakaian.
4.2.6. Jika terdapat kerusakan pada saat pemeriksaan maka harus segera di koordinasikan ke
atasan langsung.
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB. ................................................................................................ 1
5.1. Penyedian fasilitas pengelolaan sampah dan limbah B3 ........................................................ 1
5.2. Pengelolaan sampah dan limbah B3 ....................................................................................... 2
5.3. Kerjasama perusahaan dengan perusahaan pengelola limbah .............................................. 3
5.4. Kerjasama perusahaan dengan perusahaan pengelola limbah B3 ......................................... 3
5.5. Pemeriksaan ............................................................................................................................ 3
PROSEDUR PR.026 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
1.1. Prosedur ini disusun sebagai pedoman bagi karyawan / pekerja dan bagian logistik
untuk melaksanakan kegiatan pengelolaan sampah dann limbah B3 yang dihasilkan oleh
kegiatan pekerjaann proyek yang sedang berlangsung.
1.2. Untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan, baik tanah maupun air.
1.3. Agar kegiatan pengelolaan sampah dann limbah B3 menjadi efektif dan berlangsung
dengan aman.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
3.1. UU No. 04 Tahun 1982 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
3.2. UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
3.3. PP No. 19 Tahun 1994 Tentang Pengelolaan Limbah Beracun dan Berbahaya
4. DEFINISI
4.1. Sampah organik yaitu ampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran,
daun – daun kering, dan sebaginya.
4.2. Sampah Anorganik yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastic wadah
pembungkus makanan, kertas, plastic dan sebagainya.
4.3. Limbah B3 yaitu sisa kegiatan proyek yang berasal dari bahan – bahan berbahaya dan
beracun, seperti : Filter oli / Minyak / udara bekas, oli bekas dan sebagainya.
5.1.3. Untuk area perbengkelan, kantor dan serta mess karyawan identifikasi keperluan
pengelolaan sampah dan limbah menjadi tanggung jawab facility owner masing
– masing bagian.
5.1.4. Tempat sampah akan disediakan sesuai dengan jenis sampah yang ada di area
tersebut sesuai dengan klasifikasi sampah.
5.1.5. Untuk TPS akan di buat sesuai standar dan peraturan yang berlaku.
5.1.6. Untuk area lokasi proyek yang tidak memungkinkan dibangun TPS limbah B3,
maka proyek tersebut dapat menggunakan fasiltas TPS B3 dilokasi proyek yang
terdekat.
5.2.10. Pengisian manifes limbah harus sesuai dengan banyaknya limbah B3 yang
diserahterimakan.
5.5. Pemeriksaan
5.5.1. Pemeriksaan kepatuhan terhadap kegiatan pengelolaan sampah akan dilakukan
oleh safety officer ddan juga dapat dilakukan oleh safety koordinator.
5.5.2. Hasil pemeriksaan akan dimasukan kedalam laporan pemeriksaan kesehatan
lingkungan kerja.
PT. LEMATANG
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 2
5.1. Tempat penampungan B3 dan limbah B3. ............................................................................. 2
5.2. Perbengkelan. ......................................................................................................................... 2
5.3. Diluar bengkel. ........................................................................................................................ 3
5.4. Pengendalian pencemaran. .................................................................................................... 3
PROSEDUR PR.024 – HSE /R.04/2
1. TUJUAN
1.1. Sebagai pendoman untuk tiindakan pengendalian pencemaran pada air yang mungkin
terjadi akibat aktifitas kerja perusahaan.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
3.1. Undang – Undang No. 32. Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
3.2. Undang – Undang No. 37 Tahun 2014 tentang Konservasi Tanah dan Air
3.3. PP No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
3.4. Kep. KaBaPelDal KEP-01/BAPEDAL/09/1995 TENTANG Tata Cara dan Persyaratan Teknis
Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
4. DEFINISI
Bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat B3 adalah zat, energi, dan/atau
komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara langsung
maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup,
dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup
manusia dan makhluk hidup lain.
Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disingkat DAS adalah satuan wilayah daratan yang
merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anakanak sungai yang berfungsi
menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau
atau ke laut secara alamiah, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas
di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.
Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemeliharaan air sehingga tercapai kualitas air yang
diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin agar kualitas air tetap dalam kondisi
alamiahnya.
Pengendalian pencemaran air adalah upaya pencegahan dan penanggulangan
pencemaran air serta pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai
dengan baku mutu air.
Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan
atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun
PROSEDUR PR.024 – HSE /R.04/2
sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan
peruntukannya;
Beban pencemaran adalah jumlah suatu unsur pencemar yang terkandung dalam air atau
air limbah;
Daya tampung beban pencemaran adalah kemampuan air pada suatu sumber air, untuk
menerima masukan beban pencemaran tanpa mengakibatkan air tersebut menjadi
cemar;
Air limbah adalah sisa dari suatu hasil usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair;
5.2. Perbengkelan.
5.2.1. Bengkel harus dilengkapi dengan kolam penyaringan air limbah yang dilengkapi oil trap
(oil catcher).
PROSEDUR PR.024 – HSE /R.04/2
5.2.2. Tempat penecucian dan pembilasan wajib dilengkapi dengan saluran air yang
terhuubung dengan kolam penyaringan air limbah.
5.2.3. Mekanik atau orang yang melakukan perbaikan tidak boleh melakukan tindakan yang
dapat menyebabkan tumpahan / ceceran B3 atau limbah B3 pada saat melakukan
pencucian unit atau perbaikan unit.
5.2.4. Tempat oleh harus mepunyai penutup dan tertutup rapat sehingga jika terguling tidak
terjadi tumpahan.
5.2.5. Oli bekas atau limbah B3 lainnya harus dibuang ke tempat penampungan sementara.
5.4.9. Tanah atau material yang terkontaminasi harus diambil menggunakan cangkul atau alat
berat excavator dan tanah tersebut harus di tampung pada wadah khusus.
5.4.10. Setelah cairan minyak yang tertumpah tidak terlihat lagi pada permukaan air maka air
tersebut hrus dihisap gunak memastikan tidak ada lagi minyak yang berada di air.
5.4.11. Jika telah selesai oil boom akan segera diangkat dari permukaan air.
5.4.12. Safety officer dan safety koordinator serta bagian yang terdampak akan membuat
laporan berita acara penanganan pencemaran dan melaporkan ke manajemen
perusahaan serta pihak yang berwenang yang terkait.
5.4.13. Jika pencemaran terhadap air tidak dapat ditanggulangi oleh tim penanggulangan
perusahaan maka Direktur dalam hal ini selaku pimpinan operasional perusahaan akan
meng informasikan kejadian tersebut kepada pihak penanggulangan pencemaran
dalam hal ini badan penanggulangan bencana daerah untuk meminta bantuan
penanganan pencemaran.
5.4.14. Dalam hal kejadian pencemaran skala besar maka direktur utama akan membuat
laporan ke pada pihak yang berwenang atas kejadian tersebut.
PT. LEMATANG
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
4.1. Organisasi Keamanan. ........................................................................................................ 1
4.2. Kerjasama keamanan ......................................................................................................... 2
4.3. Keamanan kantor ............................................................................................................... 2
4.4. Keamanan lokasi kerja proyek. .......................................................................................... 2
4.5. Penanganan bahaya keamanan ......................................................................................... 3
4.5.1. Premanisme ........................................................................................................... 3
4.5.2. Pencurian/Perampokan ......................................................................................... 3
4.5.3. Ancaman Bom ........................................................................................................ 4
4.5.4. Intimidasi dan perkelahian dan pelecehan serta bullying...................................... 4
PROSEDUR PR.028 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
1.1. Sebagai panduan kepada seluruh tenaga keamanan yang bertugas diwilayah kerja
perusahaan.
1.2. Sebagai panduan bagi karyawan untuk menghadapi situasi bahaya keamanan yang
mungkin terjadi di tempat kerja.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
3.1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 Tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.3. Undang-Undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
4.4.7. Tim keamanan proyek berwenang dan berhak melakukan semua aktifitas masuk dan
keluar pekerja/karyawan/tamu dan lalu lintas barang yan masuk dan keluar proyek.
4.4.8. Tim keamanan berhak dan wajib menolak orang/tamu yang akan masuk kelokasi kerja
proyek dengan alasan tidak jelas.
4.5.2. Pencurian/Perampokan
[Link]. Tim keamanan akan melakukan pemeriksaan terhadap fasilitas keamanan.
[Link]. CCTV dan pagar pengaman akan ditempatkan di tempat-tempat yang
ditentukan.
[Link]. Pemeriksaan akan dilakukan secara berkala sesuai dengan jadwal yang
ditentukan.
[Link]. Temuan dalam pemeriksaan akan didokumentasikan dan segera
dilaporkan dan dilakukan tindakan perbaikan serta pencegahan
secepat/sesegera mungkin.
[Link]. Pelaku pencurian/perampokan akan segera dibawa dan dilaporkan ke
POLRI setempat/terdekat.
[Link]. Segala tindakan pencurian baik dilakukan oleh pekerja/karyawan/orang
lain akan dilaporkan ke pihak Kepolisian terdekat.
[Link]. Pelaku akan diamankan sebelum dibawa ke kantor Kepolisian terdekat.
PROSEDUR PR.028 – HSE /R.04/21
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
4.1. Penanganan bahaya keamanan ............................................................................................. 1
4.1.1. Premanisme ............................................................................................................... 1
4.1.2. Pencurian/Perampokan ............................................................................................. 2
4.1.3. Ancaman Bom ........................................................................................................... 2
4.1.4. Intimidasi dan perkelahian dan pelecehan serta bullying ......................................... 3
PROSEDUR PR.029 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
1.1. Sebagai panduan bagian keamanan untuk melakukan penanganan kejadian darurat
keamanan.
1.2. Sebagai panduan bagi karyawan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya keadaan
darurat keamanan.
1.3. Mengurang risiko dampak yang lebih besar akibat kejadian daurat keamanan
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
3.1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 Tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.3. Undang-Undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
4.1.2. Pencurian/Perampokan
[Link]. Tim keamanan akan melakukan pemeriksaan terhadap fasilitas keamanan.
[Link]. CCTV dan pagar pengaman akan ditempatkan di tempat-tempat yang
ditentukan.
[Link]. Pemeriksaan akan dilakukan secara berkala sesuai dengan jadwal yang
ditentukan.
[Link]. Temuan dalam pemeriksaan akan didokumentasikan dan segera
dilaporkan dan dilakukan tindakan perbaikan serta pencegahan
secepat/sesegera mungkin.
[Link]. Pelaku pencurian/perampokan akan segera dibawa dan dilaporkan ke
POLRI setempat/terdekat.
[Link]. Segala tindakan pencurian baik dilakukan oleh pekerja/karyawan/orang
lain akan dilaporkan ke pihak Kepolisian terdekat.
[Link]. Pelaku akan diamankan sebelum dibawa ke kantor Kepolisian terdekat.
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. LINGKUP.......................................................................................................................................... 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR DAN TANGGUNG JAWAB ............................................................................................ 2
5.1 Dampak sosial kekerasan. ....................................................................................................... 2
5.2 Dampak sosial pelecehan seksual ........................................................................................... 3
5.3 Stress. ...................................................................................................................................... 4
5.4 Dampak sosial demontrasi. ..................................................................................................... 5
5.5 Dampak sosial kerusakaan lingkungan. .................................................................................. 6
PROSEDUR PR.030 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
a. Tujuan prosedur ini adalah menguraikan proses yang digunakan untuk penanganan dampak
sosial yang mungkin akan terjadi akibat kegiatan perusahaan.
b. Meminimalisir dampak bahaya sosial yang mungkin akan terjadi di wilayah kerja perusahaan.
2. LINGKUP
Prosedur ini mencakup program kerja K3 PT. LEMATANG
3. REFERENSI
3.1 Persyarat SMM ISO 9001:2008,
3.2 PERMEN NO 05/MEN/1996 TENTANG SMK3
3.3 OSHAS 18001:2007 KLAUSAL 4.3 PERENCANAAN (4.3.1 Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko
Dan Penetapan Pengendalian).
4. DEFINISI
1. Tempat kerja adalah setiap lokasi dimana dilakukan aktifitas kerja dibawah kendali
perusahaan.
2. Alat Pelindung Diri adalah Suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi
seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di
tempat kerja.
3. Karyawan adalah pekerja yang bekerja pada PT. LEMATANG.
4. Karyawan subkontraktor adalah orang yang bekerja pada perusahaan lain yang ikut serta
dalam kegiatan proyek PT. LEMATANG.
5. Tamu adalah orang yang mempunyai kepentingan / bekerja di area kegiatan untuk
sementara waktu ( waktu singkat ) yang masuk kedalam area kerja perusahaan.
6. Stres akibat jam kerja terlalu tinggi atau tidak sesuai waktunya ; Stres adalah gangguan
mental yang dihadapi seseorang akibat adanya tekanan. Tekanan ini muncul dari kegagalan
individu dalam memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Tekanan ini bisa berasal dari
dalam diri, atau dari luar
7. Kekerasan di dalam organisasi : tindakan agresi dan penyerangan pada kebebasan atau
martabat seseorang yang dapat dilakukan oleh perorangan atau sekelompok orang
PROSEDUR PR.030 – HSE /R.04/21
Penyiksaan secara verbal akan hal – hal yang terkait dengan seks.
Memegang ataupun menyentuh dengan tujuan seksual.
Secara berulang berdiri dengan dekat sekali atau hingga bersentuhan badan dan
badan antar orang.
Secara berulang meminta seseorang untuk bersosialisasi (tinggal, ikut pergi) di luar
jam kantor walaupun orang yang diminta telah mengatakan tidak atau
mengindikasikan ketidak tertarikannya.
Memberikan hadiah atau meninggalkan barang-barang yang dapat merujuk
pada seks.
Secara berulang menunjukkan perilaku yang mengarah pada hasrat seksual.
Membuat atau mengirimkan gambar – gambar , kartun, atau material lainnya yang
terkait dengan seks dan dirasa melanggar etika/ batas.
Di luar jam kerja memaksakan ajakan – ajakan yang terkait dengan seks yang
berpengaruh pada lingkup kerja.
2. Manajemen akan melakukan pengawasan terhadap tingkah laku karyawan dan dalam hal ini
pengawasan akan ditunjuk oleh manajemen adalah bagian HSE.
3. Perusahaan akan memberikan fasilitas perusahaan sesuai dengan jenis gender karyawan.
4. Perusahaan akan menyediakan mess inap terpisah dengan mess karyawan/pekerja pria.
5. Mess karyawan wanita akan dijaga selama 24 jam oleh penjaga keamanan wanita.
6. Perusahaan akan menyediakan ruang istirahat bagi karyawan wanita.
7. Tindakan pelecehan seksual yang terjadi akan dilaporkan pihak berwajib.
8. Perusahaan akan menyediakn fasilitas konsuling dan rehabilitasi terhadap karyawan yang
mengalami tindakan pelecehan seksual.
9. Bagian HR akan memonitor dan memberi informasi terhadap kejadian dan tindakan
rehabilitasi atau konsiling karyawan yang menjadi korban kepada manajemen.
10. Tenaga keamanan (security) dapat mengambil tindakan terhadap pelaku pelecehan dan atau
tindakan pencegahan terhadap kondisi – kondisi yang dapat menimbulkan pelecehan
seksual.
5.3 Stress.
1. Manajemen menunjuk bagian HR untuk mengatur segala sesuatu yang dianggap perlu untuk
mencegah dan tindakan penanggulangan stress ditempat kerja.
PROSEDUR PR.030 – HSE /R.04/21
2. Waktu kerja disesuaikan dengan kondisi pekerjaan yang mengacu kepada peraturan
perundangan RI yang berlaku.
3. Untuk mencegah stress akibat kerja perusahaan akan memberikan waktu sesuai ketentuan
berlaku.
4. Family gathering akan dilakukan secara berkala untuk meningkatkan keakraban dan
kekompakan serta refreshing bagi pekerja dan keluarganya.
5. Pemantauan terhadap pekerja akan dilakukan masing – masing supervisor.
6. Indikasi terhadap stress kerja akan segera dilaporkan secara tertulis oleh supervisor masing
– masing dan dilaporkan ke kepala bagian masing – masing serta diteruskan ke bagian HSE
dan HR.
7. Tindakan preventif akan dilakukan / diambil guna mencegah stres dan mengurang tingkat
stress pekerja.
8. Pekerja dilarang untuk melakukan tindakan atau hal – hal yang dapat memancing /
menimbulkan keributan / kemarahan massa demonstrasi.
9. Bagian HR dalam hal ini bagian hubungan masyarakat akan melakukan negoisasi kepada
massa demonstrasi untuk mencegah terjadinya tindakan anarkis dan mengetahui
permasalahan yang terjadi.
10. Penyelesaian terhadap masalah sosial setempat yang menimbulkan demontrasi massa akan
diselesaikan melalui musyarah yang dilakukan ditempat pertemuan pemerintahan setempat
yang dihadiri oleh tokoh masyarakat dan aparat pemerintahan setempat serta TNI/POLRI.
11. Langkah – langkah pengamanan dapat dilihat pada prosedur keamanan.
1. TUJUAN
1. Sebagai pedoman bagi karyawan untuk tata cara pemilihan, pemakaian, perawatan dan
penyimpanan alat pelindung diri.
2. Mencegah kecelakaan karena kesalahan pemilihan APD.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
1. UU No. 01 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kesehatan Kerja
2. PP No. 50 Tahun 2012, Tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
4.1.2. Hasil indentifikasi akan dilaporkan ke bagian HSE untuk diverifikasi. Hasil verifikasi
akan diberikan kembali ke bagian unit tersebut.
4.1.3. Pemilihan Alat Pelindung Diri harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Sesuai dengan bahaya yang ada
2. Harus dapat memberikan perlindungan yang cukup kuat terhadap bahaya yang
spesifik atau bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja.
3. Alat pelindung diri harus seringan mungkin dan senyaman mungkin saat
digunakan.
4. Bentuk cukup menarik
5. Waktu pemakaian cukup lama
6. Alat pelindung diri tidak menibulkan bahaya-bahaya tambahan bagi pemakainya
PROSEDUR PR.021 – HSE /R.04/21
yang dikarenakan bentuk dan bahayanya yang tidak tepat atau karena salah
dalam menggunakannya.
7. Harus memenuhi persayaratan standar yang ada
8. Tidak membatasi gerakan dan persepsi sensoris pemakaiannya
9. Mudah untuk dirawat
4.1.4. Jenis Alat Pelindung Diri yang gunakan adalah sebagai berikut :
[Link]. Pelindung Kepala
Sumber bahaya: tertimpa benda jatuh, terbentur benda keras, rambut terlilit
benda berputar.
APD: helm, bump caps
5.2.2. Bagian HSE akan mengawasi displin pemakaian APD diarea kerja.
5.2.3. Alat Pelindung Diri wajib dipakai dengan benar dan sesuai dengan fungsinya.
4.3.2. Perawatan APD sesuai dengan petunjuk dari pabrik yang mengeluarkan APD tersebut.
4.4.3. APD tidak boleh diletakkan langsung diatas lantai (minimal 15cm) dari permukaan
lantai
4.4.5. Ruang penyimpanan tidak boleh lembab dan harus mempunyai sirkulasi yang cukup.
4.4.6. APD yang tersimpan harus dilakukan pembersihan secara berkala dengan lap yang
halus.
4.6. Pemusnahan
4.6.1. APD yang telah rusak harus diganti dengan APD yang baru.
4.6.2. Karyawan/pekerja yang akan menukar APD wajib membawa APD yang lama
4.6.3. Batas pemberian APD baru tidak merujuk pada waktu (jika rusak diganti)
4.6.4. Sebelum menukar APD maka karyawan/pekerja harus mendapat persetujuan dari
kepala bagian/Bagian HSE.
4.7.2. Pemeriksaan terhadap APD akan dilakukan secara berkala 1 bulan sekali.
4.7.3. Dalam kegiatan pemeriksaan APD, bagian HSE dapat membuat rekomendasi untuk
penggantian/pemberian APD kepada karyawan.
4.7.4. Sanksi dapat diberika kepada pekerja/karyawan/siapa pun yang tidak menggunakan
APD di area yang diwajibkan memakai APD.
4.7.7. Jika terdapat temuan maka laporan hasil pemeriksaan serta rekomendasi akan
diteruskan kebagian unit kerja yang bersangkutan untuk ditindaklanjuti.
4.8. Pelatihan
4.8.1. Bagian akan meidentifikasi keperluan pelatihan APD.
4.8.2. Jadwal pelatihan APD akan diberikan kepada bagian HR yang akan diteruskan kebagian
unit kerja.
4.8.3. Pelaksanaan pelatihan APD akan dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati.
4.8.4. Peserta yang ditunjuk harus menghadiri pelatihan, jika tidak dapat hadir maka harus
membuat surat tertulis dengan alasan yang jelas dan tepat serta disetujui oleh atasan
yang bersangkutan.
PROSEDUR PR.021 – HSE /R.02/19
Pernafasan Di tempat kerja dengan lingkungan Masker dengan penyaring udara Berbagai perlengkapan pelindung ANSI Z88.7-2001
udara pernafasan yang terbatas atau
berdebu, masker dengan penyaring pernapasan yang disyaratkan
lingkungan dengan konsentrasi bahaya bahan kimia, masker dengan harus sesuai dalam pemakain-
oksigen yang kurang, atau udara pasokan udara bersih / Peralatan nya.
yang tercemar / berdebu. Pernafasan Udara ( Breathing
Apparatus ).
Pencegah jatuh Ketika bekerja pada ketinggian di Sabuk pengaman ( Safety Belt ), Pas dipakai. OSHA 3151-12R 2004
atas 2,5 meter, tempat terbuka. parasut (harness)
PEMERIKSAAN ALAT PELINDUNG DIRI
Lokasi Periksa Periode Bagian / Unit Kerja Pemeriksa Halaman
Nama Jabatan
ALAT PELINDUNG DIRI
No. Tanggal Periksa Nama Jabatan EP/ Keterangan
CA SH SG GG MS HG SS FC WG AP FB
EM
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
4.1. Penggunaan Peralatan Listrik. ................................................................................................ 1
4.2. Penggunaan Peralatan tangan mekanik ................................................................................. 2
4.3. Peralatan Ukur. ....................................................................................................................... 2
4.4. Penyimpanan alat dan peralatan. ........................................................................................... 2
4.5. Kalibrasi alat dan peralatan. ................................................................................................... 3
4.6. Sertifikasi peralatan ................................................................................................................ 3
4.7. Pemeriksaan alat dan peralatan ............................................................................................. 4
4.8. Perawatan alat/peralatan ....................................................................................................... 4
5. LAMPIRAN ...................................................................................................................................... 4
5.1. Form Pemeriksaan alat/peralatan .......................................................................................... 4
PROSEDUR PR.031 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
Sebagai panduan kepada seluruh karyawan untuk tata cara penggunaan, penyimpanan,
sertifikasi peralatan.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
3.1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 Tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.3. Undang-Undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
5. LAMPIRAN
5.1. Form Pemeriksaan alat/peralatan
PEMERIKSAAN ALAT & PERALATAN
Lokasi Periksa Tanggal Periksa Nama Pemeriksa Hal.
Nama : / Jabatan :
Catatan :
Pemeriksa
Diketahui
PT. LEMATANG
PEMERIKSAAN
KELAIKAN ALAT BERAT DAN SERTIFIKASI
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB. ................................................................................................ 1
4.1. Pemeriksaan kelaikan alat berat berkala (colour code) ......................................................... 1
4.2. Sertifikasi................................................................................................................................. 2
PROSEDUR PR.040 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
Sebagai panduan bagi bagian safety dan operasional untuk melakukan pemeriksaan kelaikan
alat berat dan sertifikasi
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
3.1. Permenaker No. 05 Tahun 1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut
3.2. ISO 12480 tentang standar to ensure safe lifting and hoisting
3.3. ISO 4309 tentang Crane wire ropes care and maintenance, inspection and discard
3.4. ASME b30.5 2004 tentang Mobile and Locomotive Cranes.
4.1.3. Dari hasil periksa, Safety officer akan memberikan catatan sebagai berikut :
[Link]. Laik operasi yaitu unit alat berat aman untuk dioperasikan tanpa catatan.
[Link]. Laik operasi dengan catatan yaitu alat berat aman dioperasikan tetapi dengan
catatan dan untuk segera dilakukan tindakan atas catatan yang ada.
[Link]. Tidak laik operasi yaitu alat dalam kondisi tidak aman utnuk dioperasikan dan
dilarang dioperasikan
4.1.4. Untuk unit yang diperbolehkan operasi akan diberi penandaan pada unit :
PROSEDUR PR.040 – HSE /R.04/21
4.1.5. Tanda periksa harus ditempelkan pada unit ditempat yang mudah terlihat dan sesuai
dengan bulan periksa serta di isi dengan jelas dan diparaf oleh pemeriksa.
4.1.6. Tanda periksa pada periode yang lalu harus dilepas dari unit untuk memastikan tidak
ada mis komunikasi.
4.1.7. Laporan periksa harus dilaporkan kepada safety koordinator, dan diarsipkan.
4.1.8. Untuk unit alat berat yang dinyatakan tidak laik operasi dapat di periksa ulang jika
catatan yang ada telah terpenuhi.
4.2. Sertifikasi
4.2.1. Pengajuan perpanjangan untuk sertifikasi unti alat berat akan diajukan 3 bulan sebelum
habis masa berlaku sertifkat kelaikan unit tersebut.
4.2.2. Untuk sertifikat kelaikan baru maka pengajuan paling lambat 1 bulan sebelum alat
digunakan.
4.2.3. Unit alat berat akan diperiksa untuk kelengkapan dan kesiapan oleh safety officer dan
spv. Operasional dan Mekanik.
4.2.4. Unit alat berat akan dilengkapi terdahulu sebelum dilakukan sertifikasi.
PROSEDUR PR.040 – HSE /R.04/21
4.2.5. Sertifikasi akan dilakukan oleh perusahaan jasa K3 yang mempunyai ijin dan mempunyai
kompetensi untuk melakukan pemeriksaan untuk sertifikasi.
4.2.6. Sertifikat untuk alat berat bukan angkat akan dikeluarkan oleh DISNAKERTRANS /
KEMENAKERTRANS RI.
4.2.7. Sertifikat untuk alat berat angkat dalam hal CRANE dan Lift Truck / Forklift akan
dikeluarkan oleh DITJEN MIGAS RI.
PT. LEMATANG
MANAJEMEN PERUBAHAN
MANAJEMEN PERUBAHAN
Tanggal Revisi : 04 April 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 April 2021 Halaman : 1
DAFTAR ISI
1. TUJUAN............................................................................................................................................ 1
2. RUANG LINGKUP .............................................................................................................................. 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB.................................................................................................... 1
4.1. Perubahan sistem manejemen perusahaan ........................................................................ 1
4.2. Perubahan sistem kerja ....................................................................................................... 2
4.3. Sistem on/off ....................................................................................................................... 2
4.4. Serah terima pekerjaan ....................................................................................................... 2
4.5. Perubahan penggunaan peralatan/unit ............................................................................... 2
4.6. Pergantian Tenaga Kerja Inti. ............................................................................................... 3
PROSEDUR PR.00.. – HSE /R.04/21
MANAJEMEN PERUBAHAN
Tanggal Revisi : 04 April 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 April 2021 Halaman : 1
1. TUJUAN
1.1. Sebagai panduan kepada seluruh karyawan untuk melakukan kegiatan perubahan
terhadap system kerja/peralatan kerja.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
3.1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 Tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.3. Undang-Undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
MANAJEMEN PERUBAHAN
Tanggal Revisi : 04 April 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 April 2021 Halaman : 2
MANAJEMEN PERUBAHAN
Tanggal Revisi : 04 April 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 04 April 2021 Halaman : 3
4.5.3. Bagian Operasional akan berkoordinasi dengan bagian HR tentang jadwal pelaksanaan
dan tata cara pelatihan tersebut.
4.5.4. Karyawan yang akan menggunakan/mengeoperasikan peralatan/unit tersebut wajib
menghadiri/mengikuti pelatihan yang dilaksanakan.
4.5.5. Uji kemampuan terhadap pengeoperasian peralatan/pengeoperasian akan dilakukan
untuk memastikan bahwa karyawan tersebut paham dan mengerti tata cara
penggunaan dan atau mengeoprasikan dengan baik dan benar.
4.5.6. Bagian HSE berwenang dalam melakukan pengawasan pelatihan dan penggunaan
peralatan tersebut.
PENANGANAN DARURAT
KECELAKAAN KERJA, INSIDEN, P.A.K
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 2
5.1. Penanganan kecelakaan kerja / kecelakaan dinas. ................................................................. 2
5.2. Penanganan Insiden / Nearmiss / Duga Berbahaya. .............................................................. 2
5.3. Penanganan Penyakit Akibat Kerja (P.A.K) ............................................................................. 3
5.4. Pelaporan tindak lanjut kecelakaan, insiden serta penyakit akibat kerja. ............................. 3
PROSEDUR PR.033 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
Prosedur Penanganan Kecelakaan, Insiden & Penyakit Akibat Kerja ini disusun dengan
tujuan untuk memastikan dengan cepat sistem pelaporan, penyelidikan dan penanganan
kecelakaan kerja, insiden / nearmiss, perkiraan bahaya dan penyakit akibat kerja mendapatkan
penanganan dengan segera.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
3.1. ISO 9001:2008, Klausul 8.3 Perbaikan
3.2. ISO 9001:2008, Klausul 8.5.2 Tindakan Korektif
3.3. ISO 14001:2004, Klausul 4.4.7 Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat
3.4. PP No. 50 Tahun 2012, Sub Elemen 8.2 Pelaporan kecelakaan
4. DEFINISI
1. Kecelakaan adalah Suatu kejadian yang tidak diinginkan yang mengakibatkan kematian,
cedera, kerusakan properti maupun gangguan pada proses produksi dan lingkungan
2. Insiden adalah Suatu kejadian yang mempunyai potensi untuk terjadinya suatu kecelakaan,
termasuk nearmiss, accident
3. Kecelakaan Kerja adalah Kecelakaan yang menimpa pegawai pada waktu jam kerja di
lingkungan kerja.
4. Kecelakaan Dinas adalah Kecelakaan yang menimpa pegawai karena hubungan kerja
(pada waktu dalam perjalanan berangkat dari rumah atau pulang ke rumah dimana
ia berdomisili dengan melalui route yang biasa atau wajar dilalui dan atau
melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan tugas kedinasan dengan ketentuan
bahwa pelaksanaannya disesuaikan berdasarkan prosedur yang berlaku)
5. Penyakit Akibat Kerja adalah Penyakit yang disebabkan/timbul dari akibat suatu pekerjaan
atau lingkungan kerja.
6. Duga Bahaya adalah Suatu pemikiran yang diambil karena adanya suatu peristiwa atau
aktifitas yang mempunyai bahaya potensial dan belum teridentifikasi.
7. Sekretaris P2K3 adalah Sekretaris untuk setiap kegiatan K3 yang ditunjuk oleh perusahaan.
PROSEDUR PR.033 – HSE /R.04/21
8. Karyawan / Personil adalah Semua individu yang terlibat dalam kegiatan operasional
perusahaan, baik pegawai, mitra kerja, pihak ketiga maupun tamu perusahaan.
5.2.4. Tindakan perbaikan tersebut akan dimasukan kedalam tracking action untuk dilakukan
pemantauan.
5.4. Pelaporan tindak lanjut kecelakaan, insiden serta penyakit akibat kerja.
5.4.1. Bagian safety dan tim P2K3 dan atau bagian HR melaporkan kepada disnaker mengenai
data karyawan terkait kecelakaan, insiden, penyakit akibat kerja dan meninggal / cacat
tetap akibat kecelakaan kerja secara berkala, yang disahkan oleh manager HR dan
Direktur.
5.4.2. Terkait karyawan yang meninggal / cacat tetap akibat kecelakaan kerja maka bagian
safety melaporkan ke Direktur Utama selaku ketua P2K3.
5.4.3. Manager HR akan mengurus asuransi korban.
5.4.4. Karyawan yang mengalami cacat tetap namun bias bekerja maka sub bidang HR akan
melakukan proses pengalihan tugas sesuai dengan kemampuan pegawai terkait atau
melakukan pilihan pension dini.
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
5.1. Pelaporan Kinerja K3LL bulanan proyek. .............................................................................. 1
5.2. Pelaporan Kinerja Bulanan K3LL bulanan Perusahaan. ........................................................ 1
5.3. Pelaporan kinerja K3LL proyek untuk Klien / User ............................................................... 2
5.4. Laporan Statistik K3LL ........................................................................................................... 3
5.5. Lampiran. .............................................................................................................................. 3
PROSEDUR PR.036 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
1.1. Prosedur ini dibuat sebagai panduan bagi bagian safety untuk pelaporan kinerja K3LL.
1.2. Sebagai data kinerja K3LL.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
1. OSHAS 18001 : 2002, Guidelines for the implementation of OHSAS 18001:1999
2. PP. 50 Tagun 2012, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
3. KepDirjenBinaawas No. Kep. 84?BW/1998, Cara pengisian formulir laporan dan analisis
statistik kecelakaan
4. DEFINISI
-
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB
5.1. Pelaporan Kinerja K3LL bulanan proyek.
1. Safety officer akan melaporkan kinerja K3LL di area yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Untuk laporan harus diketahui oleh site manager proyek bersangkutan.
3. Laporan yang akan dilaporkan harus ditanda tangani.
4. Dalam hal laporan harus sesuai dengan form yang telah tersedia dan disertai data
pendukung laporan.
5. Laporan Kinerja K3LL bulanan akan dikirim ke Safety Koordinator yang berada dikantor
pusat dan telah diterima paling lambat tanggal 10 setiap bulan. Dan tidak melebihi
tanggal 15 setiap bulan.
6. Laporan Kinerja akan diarsipkan
3. Laporan kinerja K3LL akan di periksa dan ditinjau oleh manejemen setiap per 3 bulan
dan 1 tahun sekali pada saat tinjauan manajemen.
4. Laporan kinerja K3LL harus ditanda tangani dan diarsipkan
5.5. Lampiran.
1. Form Laporan Kinerja K3LL.
2. Form Statistik K3LL
LAPORAN BULANAN KINERJA K3LL PT. LEMATANG
Bulan Tahun
Lokasi Proyek :
Alamat :
LAGGING INDICATOR
No Data Kecelakaan Bulan ini Kumulatif Rata - Rata
A. Catatan Kecelakaan Kerja
1 Jumlah total Recordable Inceident
2 TRI Rate (per sejuta jam kerja)
3 Jumlah Kecelakaan dengan kehilangan hari Kerja (LWDC)
4 LWDC Rate (per sejuta jam kerja)
5 Jumlah Kecelakaan dengan kehilangan jam kerja (LTI)
6 LTI Rate
7 Jumlah Fatality (Cacat Tetap/Kematian)
B. Data Pendukung
1 Jumlah Hampir Celaka (Seriosly Nearmiss)
2 Jumlah Kejadian P3K
3 Jumlah Kejadian MTC
4 Jumlah Kejadian Permanent Partial Disability (PPD)
5 Jumlah Kejadian Permanent Total Disability (PTD)
6 Jumlah Kejadian Kecelakaan Berkendara
7 Jumlah Kejadian Kerusakan Asset Abnormal
8 Jumlah Kejadian Kerusakan Lingkungan / Pencemaran
9 Jumlah Kejadian Kehilangan/Perampokan (Keamanan)
10 Jumlah Kejadian Sosial (Demontrasi/Penyetopan operasi,dll)
Uraian Kejadian Kecelakaan
Tanggal Kejadian Uraian Kejadian Klasifikasi Jumlah Hari Hilang
LEADING INDICATOR
No Indikator Bulan ini Kumulatif Rata – Rata
1 Jumlah Tenaga Kerja
2 Jumlah Hari Kerja Aman
3 Jumlah Jam Kerja Aman
4 Jumlah MWT yang dilakukan
5 Jumlah Rapat K3LL
Safety Talk yang dilakukan
Rapat K3 Bulanan
Accidential Meeting
6 Jumlah orientasi K3LL yang dilakukan
7 Jumlah Inspeksi yang dilakukan
Jumlah Pemeriksaan APAR dan Kotak P3K
Pemeriksaan Alat Pelindung Diri
Pemeriksaan Safety Equipment
Pemeriksaan Kualitas Lingkungan Kerja
8 Jumlah Ijin Kerja yang dibuat
Ijin Kerja Biasa / Dingin
Ijin Kerja Panas
Ijin Kerja Galian
Ijin Kerja Pengangkatan
Ijin Kerja Ruang Terbatas
9 Jumlah JSA yang Dibuat
10 JumlahObsevasi Behavior Based Safety yang dilakukan
11 Jumlah Pelatihan K3LL yang dilakukan
12 Jumlah latihan / drill Rencana Tanggap Darurat yang dilakukan
13 Jumlah investigasi kecelakaan yang dilakukan
Persentase tindak lanjut rekomendasi yang telah dilakukan
Program K3LL lainnya
No Tanggal Nama Program K3LL Fasilitator Tempat/Lokasi
Tanggal : Tanggal :
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G
DAFTAR ISI
1. TUJUAN............................................................................................................................................ 1
2. RUANG LINGKUP .............................................................................................................................. 1
3. REFERENSI ....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB .................................................................................................... 1
4.1. Pelaporan insiden, nearmiss dan ketidaksesuaian .................................................................. 1
4.2. Respon terhadap insiden, nearmiss dan ketidaksesuaian. ...................................................... 2
4.3. Investigasi ................................................................................................................................ 2
4.4. Analisa Kecelakaan. ................................................................................................................. 3
5. LAMPIRAN........................................................................................................................................ 3
PROSEDUR PR.012 – HSE /R.04/21
1. TUJUAN
1.1. Untuk memastikan semua insiden yang terjadi diselidiki, tindakan perbaikan dan pencegahan
telah dilaksanakan untuk setiap ketidaksesuaian, insiden (termasuk kecelakaan dan nearmiss)
dan terkait penyakit akibat kerja, sehingga kejadian serupa tidak akan terjadi lagi. Semua
peristiwa akan dilaporkan melalui Formulir Insiden Investigasi dan RCA.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
3.1. Kebijakan Pemerintah Indonesia (Undang-undang) No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 pada Sistem Keselamatan
dan Manajemen Kesehatan.
3.3. OHSAS 18001:2007, Elemen 4.5.3
3.4. ISO 14001:2004, Elemen 4.5.3
4.1.2. Daftar batas waktu untuk pelaporan dan pemilihan tim investigasi:
4.1.3. Laporan kecelakaan dapat ditulis oleh karyawan yang mengetahui kejadian tersebut
atau dibantu oleh penanggung jawab HSE
4.1.4. Selanjutnya melaporkan untuk dituliskan dan dikirim langsung, atau melalui fax, atau
surat elektronik ke kantor pusat.
4.1.5. Kecelakaan yang melibatkan cidera atau luka dengan tingkat ringan sampai dengan
tingkat tinggi dan fatal, diperlukan ke PT. BPJS ketenaga kerjaan dan Dinas Tenaga Kerja
dan Transmigrasi Setempat kurang dari 2 x 24 jam setelah kejadian.
4.1.6. Pelaporan awal untuk ke PBJS ketenaga kerjaan dapat dlakukan melalui telepon.
4.1.7. Kecelakaan yang berdampak pada lingkungan akan dilaporkan ke Pemerintah Daerah,
dan Pihak berwajib.
4.2.3. Untuk menangani korban dari kecelakaan kerja dilakukan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.
4.3. Investigasi
4.3.1. Investigasi yang dilakukan harus meliputi :
1. Pengumpulan data, dengan memeriksa tempat kejadian dan mengumpulkan
informasi dari korban dan saksi kejadian.
2. Meninjau penilaian risiko terdahulu dari aktivitas, produk dan jasa yang terkait.
3. Menganalisis data yang dapat digunakan untuk menemukan sebab langsung
(tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman), akar masalah (fajtor personil atau
pekerjaan) dan control manajemen.
4. Merekomendasi tindakan pencegahan atas kejadian.
5. Memantau rekomendasi berdasarkan hasil investigasi
4.3.2. Investigasi ini dilakukan dalam sebuah tim dan jumlah anggota tergantung pada tingkat
kepatuhan kecelakaan, insiden dan nermiss serius atau ketidaksesuaian yang terjadi.
PROSEDUR PR.012 – HSE /R.04/21
4.3.3. Investigasi akan dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah kehilangan bukti.
4.3.4. Time line penyelidikan jika memungkinkan selesai tidaklebih dari satu bulan sejak
kejadian terjadi.
4.3.5. Anggota tim investigasi harus orang yang sudah mendapat pelatihan investigasi dan
memenuhi persayaratan untuk melakukan investigasi.
4.3.6. Saksi adalah orang yang mengetahui dan melihat langsung kejadian.
4.3.7. Laporan investigasi menggunakan form laporan investigasi yang telah ditetapkan.
4.3.8. Rekomendasi tindakan perbaikan ddan pencegahan yang ditulis dalam laporan
investigasi.
4.3.10. Laporan investigasi yang sudah dilaporkan ke Manajemen Peruahaan akan diteruskan
ke bagian terkait.
4.3.11. Waktu maksimum untuk memantau rekomendasi dari hasil pemeriksaan dan/atau
tindakan perbaikan dan pencegahan adalh 14 hari setelah laporan dikeluarkan.
5. LAMPIRAN
1. Form laporan kecelakaan
2. Form Investgasi Kecelakaan
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G
AUDIT K3LL
AUDIT K3LL
Tanggal Revisi : 11 Agustus 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 11 Agustus 2021 Halaman : 1
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. PROSEDUR DAN TANGGUNG JAWAB ............................................................................................ 1
4.1. Audit K3................................................................................................................................. 1
4.1.1. Pembuatan Program Audit Internal......................................................................... 1
4.1.2. Persiapan Pelaksanaan Audit Internal ..................................................................... 2
4.1.3. Pelaksanaan Audit Internal ...................................................................................... 2
4.1.4. Penyusunan dan penerbitan Laporan Pelaksanaan Audit Internal ......................... 2
4.1.5. Pemantauan Tindakan Perbaikan ............................................................................ 3
PROSEDUR PR.035 – HSE /R.04/21
AUDIT K3LL
Tanggal Revisi : 11 Agustus 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 11 Agustus 2021 Halaman : 1
1. TUJUAN
Sebagai pedoman bagi karyawan yang ditunjuk untuk melakukan inpeksi dan audit K3
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
3.1. Undang-UndangRepublik Indonesia No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3.2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Indonesia nomor Per. 05/Men/1996 Tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
3.3. Undang-Undang Republik Indonesia No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
AUDIT K3LL
Tanggal Revisi : 11 Agustus 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 11 Agustus 2021 Halaman : 2
AUDIT K3LL
Tanggal Revisi : 11 Agustus 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 11 Agustus 2021 Halaman : 3
[Link]. Rekaman Permintaan Tindakan Perbaikan dan Pencegahan yang dibuat oleh
auditor, disimpan dan dipelihara oleh Sekretariat P2K3.
Catatan : *) beri tanda bila sesuai dan NC/Obs bila tidak sesuai
NC : No Conformity
Obs : Observation
Auditor,
( )
PT. LEMATANG
PT. LEMATANG G
TINJAUAN MANAJEMEN
TINJAUAN MANAJEMEN
Tanggal Revisi : 18 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 18 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1
DAFTAR ISI
1. TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
2. RUANG LINGKUP ............................................................................................................................ 1
3. REFERENSI....................................................................................................................................... 1
4. DEFINISI .......................................................................................................................................... 1
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB ................................................................................................. 1
PROSEDUR PR.041 – HSE /R.04/21
TINJAUAN MANAJEMEN
Tanggal Revisi : 18 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 18 SEPTEMBER 2021 Halaman : 1
1. TUJUAN
Sebagai komitmen Manajemen perusahaan terhadap aspek K3LL maka diperlukan program
K3LL yang memudahkan untuk mencapai tujuan, target K3LL perusahaan, tentu saja dalam
melaksanakan program – program K3LL terdapat halangan atau pun kendala, maka untuk itu
diperlukan tinjauan manajemen agar dapat melihat seberapa efektif pelaksanaan program kerja
yang dijalankan dan sejauh mana telah terlaksanya program – program kerja tersebut di
implementasikan.
Untuk mencegah terjadi miss komunikasi dalam pelaksanaan tinjuan manajemen maka
Manejemen perusahaan menetapkan prosedur ini sebagai acuan perusahaan.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku pada setiap wilayah kegiatan perusahaan.
3. REFERENSI
ISO 9001 : 2015 ; Manajemen Quality, Klausal 9 sub 9.3. Tinjauan Manajemen.
4. DEFINISI
-
5. PROSEDUR & TANGGUNG JAWAB
5.1. Direktur Utama merupakan senior manager dan selaku pengambil keputusan akhir di
perusahaan.
5.2. Safety Koordinator akan melaporkan kinerja HSE dan safety statistik / statistik K3LL kepada
Direktur Utama / Direktur.
5.3. Tinjauan manejemen akan dilakukan minimal 1 kali dalam setahun kalender kerja.
5.4. Sebelum melakukan tinjauan manajemen Direktur Utama melalui manajemen representative
akan mengumpulkan data untuk melakukan tinjauan aspek K3LL perusahaan.
TINJAUAN MANAJEMEN
Tanggal Revisi : 18 SEPTEMBER 2021 Revisi : 04
Tanggal Berlaku : 18 SEPTEMBER 2021 Halaman : 2
5.7. Perwakilan site proyek akan membawa informasi dari area kerja masing – masing dalam bentuk
laporan pertanggunjawaban kinerja selama kurun waktu 6 bulan atau setahun yang telah
berjalan.
5.8. Untuk bagian kerja diperusahaan akan diwakilkan oleh Manager bagian masing – masing dan
supervisor bagian kerja tersebut.
5.9. Laporan pada point 5.7. akan di tuangkan didalam dokumen dalam bentuk tertulis dan bentuk
PPT (power point) untuk dipersentasikan pada rapat tinjauan manajemen.
5.12. Untuk pembahasan pada tinjauan manajemen akan dibuat notulen rapat dan di sebarluaskan
ke pada anggota rapat.
5.13. Manajemen tertinggi dalam hal ini akan membuat tracking list untuk melakukan pemantauan
terhadap tindak perbaikan pada hal / permasalahan tinjauan manajemen.
PT. Lematang addresses risks associated with non-routine activities by incorporating detailed procedures for these situations, recognizing their unique hazards. The approach includes thorough planning and coordination with workers prior to beginning non-routine tasks such as maintenance or construction . This is complemented by a requirement to evaluate potential risks and employ specific safety measures like training and mock drills to prepare for emergency scenarios . The rigorous analysis and structured response ensure that risks are minimized even during unforeseen or atypical operations .
PT. Lematang ensures regulatory compliance and worker safety concerning noise hazards by enforcing monitoring and assessment of noise exposure levels, ensuring they do not exceed permissible limits . The procedures involve using personal protective equipment (PPE) like earplugs or earmuffs and regularly maintaining machinery to minimize noise production . Compliance with these standards not only adheres to regulations but actively protects workers from hearing loss and related health issues .
Documentation of workplace inspections plays a pivotal role in PT. Lematang's risk management procedures by serving as a record of identified hazards and implemented corrective actions . These records enable ongoing evaluation of risk controls, facilitate compliance audits, and provide data for trend analysis to predict and prevent future risks . Maintaining comprehensive documentation ensures accountability and continuous improvement of safety practices .
PT. Lematang employs a comprehensive approach to fire risk management which includes regular inspections, maintaining proper housekeeping to remove combustible materials, and ensuring proper functionality of fire suppression systems like sprinklers . They also emphasize worker training for emergency procedures and maintenance of clear and accessible escape routes . While these measures are robust, the approach's effectiveness could be limited if there are lapses in routine maintenance or if emergency drills are not conducted regularly, potentially reducing preparedness during an actual fire event .
PT. Lematang takes a proactive approach in handling emergency situations involving mechanical equipment, emphasizing routine inspections, proper documentation, and readiness protocols . The strength of this approach lies in its comprehensive nature which includes preemptive measures like user training and equipment maintenance . However, the potential weakness could be in the reliance on documentation and procedural compliance which may not fully anticipate the variability of real-time emergencies or human error under stress .
Involving workers in PT. Lematang's hazard identification and risk assessment processes is significant as it leverages the workers' firsthand experience and insights into potential risks in their immediate work environment. This inclusive approach fosters a safety culture where workers feel responsible and involved in enhancing workplace safety. Furthermore, it ensures that potential hazards are identified accurately and promptly due to the workers' familiarity with the operational processes . Such involvement also increases compliance and the effectiveness of implemented control measures .
PT. Lematang integrates external collaboration into its security threat management procedures by establishing partnerships with local law enforcement agencies such as the police or the military for security oversight . This cooperation involves sharing information about potential threats and coordinating in response to security incidents like theft, vandalism, or other crimes . By leveraging external expertise and resources, PT. Lematang enhances its capability to effectively manage security threats and ensures a safer work environment .
PT. Lematang's procedures for identifying and controlling physical hazards fundamentally enhance occupational safety by structuring a systematic approach to hazard identification and mitigation. The procedures involve comprehensive inspections of all workplace operations and equipment, encouraging worker participation to identify potential hazards, and ensuring documentation to track hazard controls . These practices are designed to minimize risks associated with environmental conditions such as noise and lighting, mechanical equipment, and electrical safety, thus reducing injury rates and improving worker safety .
PT. Lematang outlines specific steps to manage chemical hazards that begin with reviewing Material Safety Data Sheets (MSDS) and product labels to understand the hazards of chemicals used in the workplace . Further steps include inspecting for activities that could lead to chemical exposure through skin absorption or inhalation, and monitoring industrial hygiene to assess exposure levels . Additionally, training workers on handling and storage practices of hazardous chemicals is part of the procedure to ensure safety .
PT. Lematang uses defined criteria such as soil cohesiveness, compressive strength, and environmental conditions to classify soil into different categories before excavation starts . This classification assists in determining the appropriate protective systems like sloping, benching, or shoring, which are essential for preventing soil collapse during excavation . By accurately classifying the soil, they ensure that safe operational limits are established and maintained, significantly reducing the risk of trench collapses and enhancing worker safety .