0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan340 halaman

Konsep Penganggaran Siri' na Pesse

Disertasi ini membahas konsep penganggaran berdasarkan kearifan lokal Siri' na Pesse di Kabupaten Luwu Timur. Penelitian menggunakan studi kasus untuk mengungkap lima unsur penganggaran Siri' na Pesse: sensitivitas batin, nilai-nilai lokal, kinerja anggaran, kesejahteraan masyarakat, dan martabat manusia. Hasilnya menunjukkan bahwa penganggaran Siri' na Pesse berbasis pada kepeka

Diunggah oleh

asia ramli
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan340 halaman

Konsep Penganggaran Siri' na Pesse

Disertasi ini membahas konsep penganggaran berdasarkan kearifan lokal Siri' na Pesse di Kabupaten Luwu Timur. Penelitian menggunakan studi kasus untuk mengungkap lima unsur penganggaran Siri' na Pesse: sensitivitas batin, nilai-nilai lokal, kinerja anggaran, kesejahteraan masyarakat, dan martabat manusia. Hasilnya menunjukkan bahwa penganggaran Siri' na Pesse berbasis pada kepeka

Diunggah oleh

asia ramli
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

DISERTASI

MENEMUKENALI KONSEP PENGANGGARAN SIRI’ NA


PESSE: STUDI KASUS BERBASIS KEARIFAN LOKAL
DI KABUPATEN LUWU TIMUR

EXPLORING OF SIRI’ NA PESSE BUDGETARY CONCEPT:


A CASE STUDY OF LOCAL WISDOM IN
LUWU TIMUR REGENCY

ANDI MATTINGARAGAU TENRIGAU

PROGRAM DOKTOR ILMU EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017

i
DISERTASI

MENEMUKENALI KONSEP PENGANGGARAN SIRI’ NA


PESSE: STUDI KASUS BERBASIS KEARIFAN LOKAL
DI KABUPATEN LUWU TIMUR

EXPLORING OF SIRI’ NA PESSE BUDGETARY CONCEPT:


A CASE STUDY OF LOCAL WISDOM IN
LUWU TIMUR REGENCY

sebagai persyaratan untuk memeroleh gelar Doktor

disusun dan diajukan oleh

ANDI MATTINGARAGAU TENRIGAU


P0500 3114 26

PROGRAM DOKTOR ILMU EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017

ii
iii
iv
ABSTRAK

Menemukenali Konsep Penganggaran Siri’ na Pesse: Studi Kasus


Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Luwu Timur

Andi Mattingaragau Tenrigau


Iwan Triyuwono
Darwis Said
Ratna Ayu Damayanti

Penelitian ini bertujuan mengungkap penganggaran siri’ na pesse di Kabupaten


Luwu Timur. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yang berbasis kearifan
lokal. Hasil penelitian mengungkap konsep penganggaran siri’ na pesse yang
dibangun dari lima unsur, yaitu kepekaan batin berbasis rasa, nilai-nilai kearifan
lokal, kinerja anggaran, kesejahteraan, serta harkat dan martabat. Unsur rasa
merupakan sensitifitas psikologi yang muncul dari problematika anggaran dan sosial
yang dialami masyarakat sehingga mendorong lahirnya kepekaan batin pesse dan
siri’. Unsur nilai-nilai kearifan lokal lahir dari dorongan rasa siri’ na pesse yang
dipraktikkan dalam menyusun anggaran. Unsur kinerja anggaran merupakan output
yang dihasilkan dari alokasi anggaran yang diarahkan untuk membiayai program
dan kegiatan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Unsur kesejahteraan merupakan
kenikmatan yang dirasakan oleh masyarakat dari pemanfaatan output yang
dihasilkan. Unsur harkat dan martabat merupakan kepercayaan dan pengakuan
yang berikan oleh masyarakat dari pemanfaatan output guna memenuhi kebutuhan
publiknya atau yang diterima dari institusi lain. Sehubungan dengan hal tersebut,
maka penganggaran siri’ na pesse merupakan konsep yang berbasis pada
kepekaan batin dan nilai-nilai kearifan lokal yang memandang manusia sebagai
insan yang memiliki harga diri dan berfungsi sebagai pendorong pembangunan guna
sejahteraan bersama dalam rangka mencapai harkat dan martabat.

Kata Kunci: Penganggaran, siri’ na pesse, nilai-nilai kearifan lokal, harkat dan
martabat.

v
ABSTRACT

Exploring of Siri’ na Pesse Budgetary Concept: A Local Wisdom-Based


Case Study in East Luwu Regency

Andi Mattingaragau Tenrigau


Iwan Triyuwono
Darwis Said
Ratna Ayu Damayanti

This study was aimed to reveal siri’ na pesse budgeting in East Luwu regency. This
study used case study method based on local wisdom. The results reveal that siri' na
pesse budgeting concept established from five elements, namely sensitivity of mind-
based sense, the values of local wisdom, budgetary performance, welfare, and
dignity and prestige. The element of sense is the psychological sensitivity that arises
from the budgetary and social problematic experienced by society in order to
encourage the occurrence of pesse and siri' inner senses. The element of local
wisdom values arise from the encouraging of siri’ na pesse sense that is practiced in
budgeting. The element of budgetary performance is the output generated from
budget allocations directed to finance programs and activities needed by the
community. The welfare element is a pleasure enjoyed by the community from the
utilization of the resulting output. The element of dignity and prestige is the trust and
recognition given by the community from the utilization of output to meet the public
needs or received from other institutions. In relation to those elements, the budgeting
of siri' na pesse is a concept based on inner sensitivity and the values of local
wisdom which views human beings as being self-esteem and serves as a driver of
development for the common prosperity in order to attain prestige and dignity.

Keywords: Budgeting, siri’ na pesse, local wisdom values, dignity and prestige.

vi
KATA PENGANTAR

Hamba bersujud di bawah arasMu, atas asmaMu; Allah Yang Maha


Pengasih dan Maha Penyayang, dan atas kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan disertasi ini sebagai mana yang diharapkan. Penulis haturkan rasa
syukur yang mendalam kehadirat-Nya seraya mengucapkan segala puji bagi Allah
SWT, Tuhan semesta alam dengan rampungnya disertasi ini yang merupakan salah
satu persyaratan akademik guna memperoleh gelar Doktor dalam Program Ilmu
Ekonomi dengan mengambil konsentrasi Akuntansi di Universitas Hasanuddin
(Unhas) Makassar.
Judul yang diangkat dalam disertasi ini adalah Menemukenali Konsep
Penganggaran Siri’ na pesse: Studi Kasus Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten
Luwu Timur. Ide yang melatarbelakangi penelitian ini berawal pada tahun 2002
ketika saya mengeditori penerbitan buku tentang kejuangan Andi Djemma dalam
revolusi Luwu 1946 sebagai bentuk dukungan pengusulan beliau sebagai pahlawan
nasional. Pada bagian prolog, saya dan dua rekan lainnya; Andi Molang Chaerul,
[Link]., [Link]., dan Wahida, SE., [Link]., menulis sebuah artikel sederhana tentang
kecerdasan siri’ sebagai moral force perjuangan Andi Djemma. Penulisan tersebut
mendapat sokongan dari Forum Komunikasi Pasca Sarjana Tana Luwu (FKMPTL)
dan Prof. A. S. Achmad selaku Rektor Universitas Andi Djemma Palopo yang kala
itu juga sebagai dosen Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin.
Dari buku itu, istilah siri’ dan pesse menjadi bahan diskusi Kami sejak tahun
tersebut hingga berlanjut terjalinnya hubungan komunikasi dengan rekan studi waktu
di UMI dulu, Bapak Dr. Bala Bakri, SE., [Link], alumni Program Doktor Akuntansi
Brawijaya Malang. Komunikasi semakin intens saat penentuan judul disertasi. Saat
itu muncul ide untuk mengangkat tentang siri’ na pesse sebagai judul penelitian
karena dianggap menarik dan khas untuk diteliti. Dari diskusi itulah muncul ide untuk
menggunakan istilah siri’ dan pesse dengan mengambil core research
penganggaran daerah.
Menjadi kehawatiran kemudian bahwa apakah istilah itu dapat diadopsi
dalam penganggaran siri’ na pesse. Hal inilah yang menjadi pertimbangan berat bagi

vii
saya, seorang pemula yang baru mengembara di “alam rimba” metode kualitatif.
Suatu alam yang selama ini hampir pasti tidak pernah terjamah oleh saya walaupun
eksistensinya secara sadar saya pahami.
Alhamdulillah, “alam rimba” yang sebelumnya gelap-gulita itu, berlahan-lahan
dapat disinari matahari hingga ke ranting, dahan, batang pohon, dan bahkan ke
tanah di mana pohon itu tumbuh. Berbagai poblematika dalam proses dinamika
penyusunan disertasi dapat penulis selesaikan, terutama dalam pemilihan judul
khas, menyusun ide dan motivasi penelitian, menyusun landasan teori berbasis
kearifan lokal, pemilihan metode penelitian yang tepat, merancang pendekatan dan
alat analisis siri’ na pesse yang sama sekali (mungkin) jauh dari kesempurnaan,
hingga pada proses teknis penyusunan dan analisis pembahasannya.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penyelesaian disertasi ini telah
melibatkan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung,
perorangan maupun lembaga yang telah memberikan kontribusi yang konstruktif.
Oleh sebab itu, pada kesempatan ini penulis ucapkan terimakasih dan penghargaan
yang setinggi-tingginya kepada yang penulis hormati.
Pertama, Bapak Prof. Iwan Triyuwono, SE., Ak. ,[Link]., Ph.D., selaku
promotor yang senantiasa memberikan perhatian, bimbingan, arahan, kritikan, dan
pencerahan yang sifatnya konstruktif sehingga disertasi ini dapat rampung
sebagaimana yang diharapkan. Di tengah kesibukan beliau di Fakultas Ekonomi dan
bisnis Universitas Brawijaya Malang, beliau menyempatkan waktu datang pada
setiap tahapan proses disertasi ini. Beliau banyak meluangkan waktunya
memberikan pencerahan dan berbagi ilmu sebagai bekal dalam membangun
gagasan-gagasan yang produktif. Kearifan, keluasan ilmu pengetahuan, dan
pengalaman beliau membuat setiap bimbingan menjadi lebih hidup dan
bersemangat. Dari pemikiran beliau, beberapa gagasan-gagasan baik yang terkait
dengan disertasi ini maupun yang berhubungan dengan pasca riset ini menjadi
pemikiran yang layak dikembangkan untuk pengembangan selanjutnya, yang
menurut hemat saya, sebagai apresiasi dan perlu untuk ditidaklanjuti untuk
pengembangan ilmu pengetahuan berikutnya.

viii
Kedua, kepada Bapak Dr. Darwis Said, SE., Ak., [Link] selaku kopromotor I
yang senantiasa memberikan masukan konstruktif. Pemikiran-pemikiran beliau yang
kritis brilian membuat disertasi ini dapat memenuhi aspek ontologinya dan
metodologinya. Dari pencerahan beliau, wawasann metodologi saya khususnya
kualitatif menjadi bertambah. Penggunaan metode siri’ na pesse merupakan salah
satu sumbangsih berharga beliau dalam penelitian ini. Saat pengajuan usulan
penelitian (proposal), beliau telah menyarankan ide tersebut. Metode ini semakin
kokoh ketika Bapak Prof. Iwan Triyuwono, SE., Ak. ,[Link]., Ph.D., menyarankan hal
ini. Walaupun awalnya saya ragu dan tidak yakin untuk menformulasikan suatu
metode yang saya anggap “invisible” tapi berkat bimbingan beliau-beliau akhirnya
dapat dihadirkan di sini. Harapan saya agar metode yang terbilang “bayi” ini dapat
disempurnan lagi kemudian.
Ketiga, kepada Ibu Dr. R.A. Damayanti, SE., Ak.,[Link].,Sc.,CA selaku
kopromotor II yang sangat kritis dalam mengoreksi setiap bagian dalam disertasi ini.
Bimbingan beliau yang sangat berharga adalah sumbangsih dalam membangun ide
dan motivasi penelitian, metodologi, dan telaah kritis hasil penelitian. Di tangan
beliaulah, saya merasakan kenikmatan dalam menulis. Walaupun awalnya saya
sangat kesulitan beradaptasi dengan masukan-masukan kritis yang sangat
fundamental, namun akhirnya saya merasa mendapatkan “angin segar”. Dalam
proses bimbingan, dengan alasan waktu, saya sering mempercepat penyerahan
nashkah revisi masukan-masukan yang disarankan oleh beliau. Namun pada
akhirnya kadang saya lambat menyetorkan revisi naskah dengan alasan “saya telah
menikmati menulis seperti apa yang diajarkan beiau”.
Keempat, kepada para penguji: Bapak Dr. Muhammad Sujunus, SE., MAFIS,
Ak., Bapak Dr. Alimuddin, SE., Ak., MM., Kepada Dr. Syarifuddin, SE., Ak., [Link].,
Sc., CA., Bapak Dr. Yohanis Rura, SE., Ak., [Link]., CA., Bapak Haryanto, [Link].,
Ph.D., dan Ibu Grace T. Pontoh, SE., Ak., [Link]., CA yang setiap proses disertasi tak
henti-hentinya memberikan masukan dan kritikan yang konstruktif. Banyak
masukan-masukan yang sangat berharga yang beliau berikan menambah bobot dan
kesempurnaah disertasi ini sehingga dapat mencapai tujuannya.

ix
Kelima, kepada rekan-rekan mahasiswa S3 angkatan 2011 dan angkatan
lain yang banyak memberikan motivasi dan masukan sehingga peneliti semakin
bersemangat dalam menyelesaikan proses studi yang dijalani. Merasa sama-sama
menjalani proses studi dan memahami segala rintangan yang dihadapi, maka sudah
pada tempatnya Kami saling merespon dan menyokong satu sama salainnya.
Keenam, Bapak Dr. Marsus Suti selaku Rektor Universitas Andi Djemma
Palopo dan segenap jajarannya, Ibu Rafiqa Asaff. SE., [Link]., dan Ibu Nujannah,
SE., [Link]., selaku Dekan dan Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan segenap
jajarannya, serta pihak Yayasan To Ciung Luwu yang masing-masing berperan
dalam mendorong melanjutkan studi dan mendukung penyelesaiannya.
Ketujuh, kepada sahabat-sahabat saya Alumni Nurul Kalam Study Club
Universitas Muslim Indonesia (UMI) diantaranya Muhammad Nur, SE., [Link].,
[Link], SE., [Link]., Dahniar Daud, SE., [Link]., Nur Amal, SE., [Link]., Saida Said,
SE., [Link]., Ansar Hamsah, SE., Martono, SE., Andi Nur Cahaya Laela Basri, SE.,
yang senantiasa memberikan dorongan moril dalam penyelesaian studi saya.
Demikian juga kepada segenap anggota Nurul Kalam Studi Club UMI yang tidak
sempat saya sebutkan namanya satu per satu.
Kedelapan, ayahanda Andi Azis Tenrigau dan ibunda almarhumah Andi
Suharni Pandariah Pandangai, ananda ucapkan banyak terima kasih yang setinggi-
tingginya. Ayahanda Andi Azis Tenrigau sejak kecil telah banyak menceritakan,
mengisahkan, dan mengajarkan kearifan lokal Luwu, Bugis, Makassar, Mandar, dan
Toraja. Beberapa bahan bacaan yang beliau susun sejak tahun 1980-an, atas
inisiatif dan dorongan beliau untuk diterbitkan menjadi sebuah buku, akhirnya
terwujud. Bersama dengan sahabat saya Andi Molang Chaerul, [Link]., [Link]. Kami
menerbitkan beberapa buku kearifan lokal yang menurut pembacanya banyak
memberikan kontribusi khususnya yang berhubungan dengan kearifan lokal di Luwu
Utara dan Luwu Timur yang dianggap semakin hari semakin tenggelam. Beliau juga
banyak mengajarkan pesan-pesan (pappeseng) orang-orang dahulu baik yang lahir
dalam tradisi tutur maupun tradisi tulis (lontara) serta pesan-pesan agama.
Kepada Ibunda Almarhumah Andi Suharni Pandaria Pandangai, beliau
memenuhi panggilan Sang Pencipta tahun 2002 disaat saya sedang menempuh

x
studi S2 di perguruan tinggi ini. Beliau mengartarkan saya mencapai sarjana
ekonomi, namun karena memenuhi panggilan Allah SWT, beliau hanya dapat
mengantarkan dan melihat saya di alam baka’ sana dalam mencapai gelar magister
dan doktor. Alfatiha kepada Beliau, banyak pesan-pesan berharga, pengorbanan,
dan kasih sayang yang diberikan yang tidak dapat saya lupakan.
Kesembilan, kepada saudara-saudara saya: Andi Paku Alam, Dra. Andi
Bunga Eja; Dra. Andi Besse Alam; Andi Tenri Alam; Andi Sinrang, [Link]; dan Andi
Sitti Nur Alam, Ners; dan Fitriani, SE., yang juga banyak memberikan dorongan moril
dalam penyelesaian studi saya. Kepada Andi Bunga Eja dan H. Ridwan Razak
(suami), saya ucapkan terimakasih. Begitu besar pengorbanan yang telah diberikan
kepada saya, baik secara moril maupun materi. Proses perjalanan studi saya, tidak
terlepas dengan kebersamaan beliau, sejak tingkat SMA, strata satu, strata dua,
hingga strata tiga ini. Begitupun kepada ipar-ipar saya yang lainya.
Kesepuluh, teristimewa yang tercinta dan tersayang istri Herawati Dahlan,
SE., [Link] dan anak semata wayang Andi Pandangai Tenrigau. Keduanya sebagai
motivasi saya dalam mencapai cita-cita ini. Pengorbanan, pengertian, dan dorongan
moril yang diberikan begitu besar, terutama saat saya menjalani proses studi S3 ini.
Saya tidak begitu banyak mengungkapkan kontribusi mereka, karena sesungguhnya
begitu banyak makna yang dapat Kami petik yang dijadikan sebagai moral force
dalam menjalani aktivitas keseharian Kami. Biarkanlah makna yang memaknai
maknanya.
Kesebelas, kepada warga RT 2 RW 24 Permata Sudiang Raya, yang juga
senantiasa menyokong saya dalam menyelesaikan studi ini. Kepada Bapak
Muhammad Ibrahim selaku ketua RT 2, pengertian dan bantuan Bapak bersama
warga, Kami ucapakan terimakasih. Beberapa tugas dan tanggung jawab yang
merupakan Kita bersama di tingkat RT, RW, dan Kelurahan yang juga merupakan
bagian dari beban dan tanggung jawab saya, dengan penuh pengertian dan
keikhlasan Bapak rela mengakomodir karena memahami kesibukan saya selama ini
dalam penyelesaian studi.
Keduabelas, kepada seluruh pihak yang tidak sempat saya sebutkan satu
persatu yang secara langsung atau tidak telah berkontribusi dalam penyelesaian

xi
studi ini, saya ucapak terima kasih. Begitupun kepada lingkungan di mana saya dan
kita semua berinteraksi, baik yang saya ketahui maupun tidak, tentu memiliki andil
yang berarti. Hal ini mengingatkan saya dengan pandangan para Filsuf Yunani (Poli,
2010) bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini berhubungan dengan
segala sesuatunya, menunjukkan bahwa eksistensi mereka pada esensinya nyata
dan berarti.
Pada akhirnya, penulis menyadari bahwa sebuah produk manusia tidak
terlepas dari kekeliruan dan kelemahan didalamnya. Masukan yang konstruktif
segala pihak senantiasa penulis terima dengan harapan memberikan manfaat di
masa yang akan datang, terutama dalam mendukung kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Hanya kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa kita sandarkan
semuanya dan kesempurnaan hanya ada padaNya.

Makassar , Nopember 2017

Penulis

Andi Mattingaragau Tenrigau

xii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ……………………………………………………............. i


HALAMAN JUDUL ……………………………………………………................ ii
HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... iii
ABSTRAK ...................................................................................................... iv
ABSTRCK ...................................................................................................... v
KATA PENGANTAR ..................................................................................... vi
DAFTAR ISI ................................................................................................... xii
DAFTAR TABEL ........................................................................................... xv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xvii
DAFTAR SINGKATAN .................................................................................. xix
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1
1.1 Pengantar Memahami Ide dan Motivasi Penelitian............... 1
1.2 Fokus Penelitian ................................................................... 16
1.3 Tujuan Penelitian ………………………………………............ 16
1.4 Kontribusi Penelitian ……………………………………........... 16
1.4.1 Kontribusi Teori ………………………………………...... 16
1.4.2 Kontribusi Praktis ……………………………………...... 17
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 19
2.1. Konsep Siri’ na pesse .......................................................... 19
2.1.1 Menelusuri Histori Siri’ na Pesse .............................. 19
2.1.2 Filosofi Makna Siri’ na Pesse...................................... 19
2.1.3 Ciri-Ciri Konsep Siri’ na Pesse ................................... 24
2.1.4 Sulapa’ Eppa’: Konsep Siri’ na Pesse Berbasis Nilai . 25
2.2 Nilai-Nilai Siri’ na Pesse ....................................................... 30
2.2.1 Unsur Nilai-Nilai Siri’ na Pesse ................................... 30
[Link] Tongeng (Kebenaran) ..................................... 31
[Link] Lempu’ (Kejujuran) .......................................... 33
[Link] Getteng (Ketegasan) ....................................... 37
[Link] Adele’ (Keadilan) ............................................. 41
2.2.2 Penghancur (Destroyed) Nilai-Nilai Siri’ na Pesse ..... 43
2.3 Penyusunan Anggaran Berbasis Nilai-Nilai Siri’ na Pesse... 47
2.4 Hirarki Siri’ na Pesse ....................................................... 51
2.5 Ikhtisar .................................................................................. 55
BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... 57
3.1 Menelusuri Metodologi Penelitian yang Relevan ............... 57
3.2 Interpetif: Paradigma Penelitian ......................................... 59
3.3 Metode Studi Kasus ........................................................... 62
3.4 Siri’ na Pesse Sebagai Alat Analisis Pengolahan Data ...... 64
3.5 Situs Penelitian .................................................................. 68
3.6 Proses Penelitian ............................................................... 69
3.7 Penetapan Informan ........................................................... 70

xiii
3.8 Konsekuensi Etis Penelitian ............................................... 72
3.9 Metode Pengumpulan Data ............................................... 73
3.10 Analisis Data ...................................................................... 76
3.11 Alur Pikir Penelitian ............................................................ 77
BAB IV RASA SIRI’ NA PESSE: DARI REALITAS SOSIAL HINGGA
TINDAKAN SIPAKATAU DAN PEMAKNAAN ANGGARAN ..... 80
4.1 Mukaddimah ....................................................................... 80
4.2 Realitas Sosial Mendorong Lahirnya Rasa Siri’ na Pesse. 81
4.2.1 Potret Penyusunan Anggaran Dalam Pengelolaan
Keuangan Daerah .................................................... 81
4.2.2 Fakta Sosial Dasar Penyusunan Anggaran:
Lahirkan Rasa Siri’ na Pesse .................................. 83
4.3 Kepekaan Kebatinan dan Sipakatau: Ciri Landasan
Psikologi Penyusun Anggaran ........................................... 98
4.4 Ikhtisar ................................................................................ 103
BAB V INTERNALISASI NILAI-NILAI KONSEP PENGANGGARAN
SIRI’ NA PESSE DALAM PENYUSUNAN ANGGARAN ........... 105
5.1 Mukaddimah ....................................................................... 105
5.2 Internalisasi dan Eksistensi Nilai-Nilai Siri’ na Pesse ........ 108
5.2.1 Nilai Tongeng (Kebenaran) ...................................... 107
5.2.2 Nilai Lempu’ (Kejujuran) ........................................... 110
5.2.3 Nilai Getteng (Ketegasan) ........................................ 114
5.2.4 Nilai Adele’ (Keadilan) .............................................. 118
5.2.5 Nilai Lalambater Tarangtajo/Siwolong Polong ......... 122
5.3 Ikhtisar ................................................................................ 124
BAB VI PENGANGGARAN SIRI’ NA PESSE CIPTAKAN KINERJA
ANGGARAN DAN KESEJAHTERAAN ..................................... 128
6.1 Mukaddimah ....................................................................... 128
6.2 Nilai-Nilai Siri’ na Pesse Lahirkan Kinerja Anggaran ......... 129
6.3 Anggaran Siri’ na Pesse Ciptakan Kinerja Anggaran ........ 133
6.4 Kinerja Anggaran Mendorong Lahirnya Kesejahteraan
Masyarakat ......................................................................... 140
6.5 Ikhtisar ................................................................................ 144
BAB VII HARKAT DAN MARTABAT: MAKNA PENGANGGARAN
SIRI’ NA PESSE ........................................................................ 146
7.1 Mukaddimah ....................................................................... 146
7.2 Transformasi Harga Diri Menuju Harkat dan Martabat ...... 146
7.3 Harkat dan Martabat Sebagai Idividu, Tim Kerja, dan
Institusi ............................................................................... 150
7.4 Harkat dan Martabat: Esensi Penegakan Siri’ na Pesse
dan Makna Penyusunan Anggaran .................................... 153
7.5 Ikhtisar ................................................................................ 156

xiv
BAB VIII MENEMUKENALI “ARTEFAK” LOKAL: PENGANGGARAN
BERBASIS SPIRITUALITAS SIRI’ NA PESSE ......................... 158
8.1 Mukaddimah ....................................................................... 158
8.2 Konsep Penganggaran Siri’ na Pesse ............................... 159
8.3 Ikhtisar ................................................................................ 174
BAB IX KONSEP PENGANGGARAN SIRI’ NA PESSE: WAJAH
BARU DI TENGAH SISTEM PENGANGGARAN KONVEN-
SIONAL ....................................................................................... 176
9.1 Mukaddimah ....................................................................... 176
9.2 Karakteristik dan Kelebihan Konsep Penganggaran Siri’
na Pesse ............................................................................ 177
9.3. Konsep Penganggaran Siri’ na Pesse dan Anggaran
Berbasis: Antara Persamaan dan Perbedaan .................... 188
9.4. Ikhtisar ................................................................................ 192
BAB X SIMPULAN, IMPLIKASI, KETERBATASAN, DAN PENELI-
TIAN LANJUTAN ....................................................................... 194
10.1 Simpulan Utama ................................................................. 194
10.2 Implikasi Penelitian ............................................................ 200
10.2.1 Implikasi Praktis .................................................... 200
10.2.2 Implikasi Kebijakan ............................................... 201
10.2.3 Implikasi Teoritis ................................................... 202
10.3 Unsur-Unsur Kebaruan ................................................. 202
10.4 Keterbatasan Penelitian ..................................................... 204
10.5 Penelitian Lanjutan ............................................................. 205
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….......... 207
LAMPIRAN .................................................................................................... 216-329

xv
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Informan Kunci dan Pendukung ............................................................ 71

4.1 Panjang Jalan Menurut Jenis Jalan dan Pemerintah yang Berwenang
di Kabupaten Luwu Timur (Dalam Km) ................................................. 86

4.2 Jumlah Fasilitas Kesehatan Menurut Jenisnya di Kabupaten Luwu


Timur Tahun 2007 ................................................................................. 87

4.3. Anggaran Pengembangan IKM/UMKM Dinas Koperindag Kabupaten


Luwu Timur 2010-2014 (Ribuan Rupiah) .............................................. 97

6.1 Perbandingan Belanja Tidak Langsung dan Langsung Luwu Timur


2010-2014 (Satuan Rupiah) .................................................................. 130

6.2 Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Dinas Koperindag dan dan
Kesehatan Kabupaten Luwu Timur Tahun 2016 (Satuan Rupiah) ....... 131

6.3 Kinerja Program dan Kegiatan Pembangunan Kesehatan Luwu Timur


Tahun 2013-2015 .................................................................................. 136

6.4 Anggaran Bidang Ekonomi-Infrastruktur Tahun 2006-2009 Program


Desa Mengepung Kota di Kabupaten Luwu Timur (Satuan Rupiah) .... 142

9.1. Karakteristik Konsep Penganggaran Siri’ na Pesse ............................. 178

9.2 Jenis, Substansi, dan Penilaian Sistem Penganggaran ....................... 186

9.3 Persamaan dan Perbedaan antara Konsep Penganggaran Siri’ na


Pesse dengan Anggaran Berbasis Kinerja ........................................... 190

xvi
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Sulapa Eppa’ Nilai Siri’ na Pesse .......................................................... 26

2.2 Sulapa Eppa’ Dekadensi Nilai Siri’ na Pesse ........................................ 27

2.3 Analog Senter, Nilai-Nilai yang Membangun Siri’ ................................. 28

2.4 Sulapa’ Eppa’ Wolosuji (Segi Empat Ketupat) ...................................... 29

2.5 Basis Nilai Dalam Penyusunan Anggaran ............................................ 48

2.6. Spektrum Lempu’ .................................................................................. 51

2.7 Hirarki Siri’ na Pesse/Timpa’ Laja Siri’ na Pesse .............................. 52

3.1 Kerangka Alur Pemikiran ...................................................................... 78

4.1 Penyusunan Anggaran Dalam Siklus Pengelolaan Keuangan Daerah. 82

4.2 Hubugan Psikologi Operasional Pesse dan Siri’ Dalam Penyusunan


Anggaran SKPD .................................................................................... 95

6.1 Anggaran Dinas Koperindag Berdasarkan Program Penciptaan dan


Pengembangan Produk dan Jasa Tahun 2010-2014 (Satuan Rupiah) 134

6.2 Realisasi Anggaran Ekonomi-Infrastruktur dan Kesehatan Kabupaten


Luwu Timur Tahun 2010-2014 (Rp miliar) ............................................. 137

7.1 Transformasi “Harga Diri” Aktor Mencapai “Harkat Dan Martabat ........ 149

8.1 Konsep Penganggaran Siri’ na Pesse ................................................... 165

xvii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1 Manuskrip Hasil Wawancara Pihak TAPD ......................................... 216

2 Manuskrip Hasil Wawancara Dengan Pihak Dinas Koperindag ......... 225

3 Manuskrip Hasil Wawancara Bidang Kesehatan (1) .......................... 237

4 Manuskrip Hasil Wawancara Bidang Kesehatan (2) .......................... 241

5 Manuskrip Hasil Wawancara Bidang Kesehatan (3) .......................... 247

6 Manuskrip Hasil Wawancara Dengan Pihak Bappeda ....................... 256

7 Manuskrip Hasil Wawancara Dengan Pihak DPPKAD (1) ................. 261

8 Manuskrip Hasil Wawancara Dengan Pihak DPPKAD (2) ................. 274

9 Manuskrip Hasil Wawancara Dengan Pelaku UMKM ........................ 281

10 Jumlah Fasilitas Kesehatan Luwu Timur Tahun 2005 dan 2010 ....... 284

11 Manuskrip Wawancara dan Monitoring Program Bidang Ekonomi (1) 285

12 Manuskrip Wawancara dan Monitoring Program Bidang Ekonomi (2) 288

13 Manuskrip Wawancara dan Monitoring Program Bidang Kesehatan 290

14 Anggaran Infrastruktur Program Desa Mengepung Kota Kabupaten


Luwu Timur (Rp Miliar) ....................................................................... 292

15 Anggaran Ekonomi dan Infrastruktur Kabupaten Luwu Timur 2010.. 293

16 Anggaran Kesehatan Kabupaten Luwu Timur Tahun 2010 ............... 296

17 Anggaran Ekonomi dan Infrastruktur Kabupaten Luwu Timur Tahun


2011 ................................................................................................... 297

18 Anggaran Kesehatan Kabupaten Luwu Timur Tahun 2011 ............... 299

19 Anggaran Ekonomi dan Infrastruktur Kabupaten Luwu Timur Tahun


2012 ................................................................................................... 300

xviii
20 Anggaran Kesehatan Kabupaten Luwu Timur Tahun 2012 ............... 304

21 Anggaran Ekonomi dan Infrastruktur Kabupaten Luwu Timur Tahun


2013 ................................................................................................... 305

22 Anggaran Kesehatan Kabupaten Luwu Timur Tahun 2013 ............... 309

23 Anggaran Ekonomi dan Infrastruktur Kabupaten Luwu Timur Tahun


2014 ................................................................................................... 310

24 Anggaran Kesehatan Kabupaten Luwu Timur Tahun 2014 ............... 316

25 Akumulasi Anggara Ekonomi-Infrastruktur dan Kesehatan


Kabuapaten Luwu Timur Tahun 2010-2014 ....................................... 317

26. Anggaran Program Pengembangan Produk Barang dan Jasa Dinas


Koperindag Kabupaten Luwu Timur Tahun 2010 (RP Satuan) .......... 318

27 Anggaran Program Pengembangan Produk Barang dan Jasa Dinas


Koperindag Kabupaten Luwu Timur Tahun 2011 (RP Satuan) .......... 319

28 Anggaran Program Pengembangan Produk Barang dan Jasa Dinas


Koperindag Kabupaten Luwu Timur Tahun 2012 (Rp Satuan) .......... 320

29 Anggaran Program Pengembangan Produk Barang dan Jasa Dinas


Koperindag Kabupaten Luwu Timur Tahun 2013 (Rp Satuan) .......... 321

30 Anggaran Program Pengembangan Produk Barang dan Jasa Dinas


Koperindag Kabupaten Luwu Timur Tahun 2014 (Rp Satuan) .......... 322

31 Pembangunan Jalan dan Jembatan Tahun 2011-2014 Dalam


Program Desa Mengepung Kota ........................................................ 323

32 Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Dinas Koperindag TA 2016 ..... 324

33 Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Dinas Kesehatan TA 2016 ...... 325

34. Panjang Jalan Menurut Jenis Jalan dan Pemerintahan yang


Berwenang di Kabupaten Luwu Timur 2007 (Dalam Km) .................. 326

35. Belanja Tidak Langsung (BL) dan Biaya Langsung (BL) Kabupaten
Luwu Timur dan Propinsi di Indonesia Tahun 2010–2013 ................. 327

36. Pemetaan Konsep Penganggaran Siri’ na Pesse .............................. 329

xix
DAFTAR SINGKATAN

APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah


Bappeda : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
BPK : Badan Pemeriksa Keuangan
DAK : Dana Alokasi Khusus
DBD : Deman Berdarah Dengue
Depdagri : Departemen Dalam Negeri
Depkeu : Departemen Keuangan
Dinkes : Dinas Kesehatan
Dirjen : Direktur Jenderal
DPPKAD : Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah
DPRD : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
E-KTP : Elektronic-Kartu Tanda Penduduk
Kemenkeu : Kementerian Keuangan
Koperindag : Koperasi, Industri, dan Perdagangan
KUA : Kebijakan Umum Anggaran
KPK : Komisi Pemberantasan Korpsi
LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat
Lutim : Luwu Timur
Pemkab : Pemerintah Kabupaten
Permendagri : Peraturan Menteri Dalam Negeri
Perda : Peraturan Daerah
PP : Peraturan Pemerintah
PPAS : Prioritas Plafon Anggaran Sementara
Promkes : Promosi Kesehatan
Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat
Pustu : Puskesmas Pembantu
Raperda : Rancangan Peraturan Daerah
RAPBD : Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

xx
Renstra : Rencana Strategis
RI : Republik Indonesia
RKA : Rencana Kerja Anggaran
RKPD : Rencana Kerja Pemerintah Daerah
RPJMD : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
RPJPD : Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
SKPD : Satuan Kerja Perangkat Daerah
SKPKD : Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah
Sul-Sel : Sulawesi Selatan
UU : Undang-Undang
VCT : Voluntary Counseling and Testing/Konseling dan Tes Sukarela
WTP : Wajar Tanpa Pengecualian

xxi
1

BAB I

PENDAHULUAN

Makkeda To MaccaE ri Luwu’: Tabbarang tau


riala parewa ri tau. Iayapa nariala parewa ri tanaE
eppa’pi mengkaiwi. Seuwani malempu’pi,. Ma-
duanna kenawa-nawapi, matellunna sugi’pi, ma-
eppa’na waranipi.
Tidak semua orang dapat dijadikan sebagai alat
negara. Seseorang yang dapat dijadikan alat
negara jika memiliki empat hal. Pertama, jika ia
jujur; kedua, jika ia berpikiran panjang; ketiga jika
ia kaya; dan keempat jika dia pemberani.
Wasiat To Ciung/To Maccae ri Luwu
(Cendekiawan Luwu)

1.1. Pengantar Memahami Ide dan Motivasi Penelitian

Penganggaran merupakan salah satu aktivitas komprehensif pengelolaan

keuangan yang dilaksanakan dalam setiap periode akuntansi. Aktivitasnya

dilakukan secara terus menerus yang dimulai dari perencanaan, penyusunan,

pelaksanaan, pelaporan, dan pemeriksaan (Arif, Muchlis, dan Iskandar,

2009:124). Penganggaran merupakan proses penentuan jumlah alokasi dana

(Mardiasmo, 2009:61) dan merupakan penjabaran sumber daya keuangan untuk

berbagai tujuan (Wildavsky, 1975:27).

Salah satu bagian dari penganggaran adalah penyusunan anggaran yang

merupakan turunan dari tahapan perencanaan anggaran. Kegiatan ini bertujuan

untuk membiayai berbagai belanja guna kebutuhan tahun berikutnya. Kegiatan

tersebut dilakukan pada level pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten dan

kota. Pada tahapan ini, penyusunan anggaran dianggap sebagai aktivitas yang

sangat vital. Hal tersebut karena anggaran merupakan rencana keuangan

mendatang, gambaran strategis pemerintah, alat pengendalian, instrumen politik,

dan disusun dalam periode tertentu (Arif, Muchlis, dan Iskandar, 2009:126). Hal

tersebut menunjukkan bahwa anggaran memiliki posisi yang sangat strategis

1
2

sehingga memberi peluang terjadinya pengaruh kepentingan politik, baik di

dalam pembahasannya maupun penetapannya (Halim dan Damayanti, 2007)1.

Munculnya berbagai kepentingan dalam proses penganggaran karena

adanya keinginan dan penilaian yang berbeda terhadap anggaran (Wildavsky

dan Caiden, 2004:3). Keinginan yang berbeda tersebut merupakan kepentingan

yang terselubung dari pihak-pihak internal dan eksternal. Di antara mereka, ada

yang bertindak berdasarkan keinginan pribadi, golongan, kelompok, dan atau

dari pihak institusi lainnya. Keinginan berbeda tersebut berpotensi mendorong

pihak-pihak berkepentingan melakukan intervensi saat penyusunan anggaran

dilaksanakan.

Intervensi dalam penyusunan anggaran merupakan fenomena yang

terjadi di beberapa daerah di belahan Indonesia dan bahkan menurut Rose dan

Ackerman (2000:15) juga terjadi di negara lain. Perilaku semacam itu dapat

terjadi baik pada tataran internal maupun eksternal. Secara internal, intervensi

memungkinkan terjadi antara sesama penyusun anggaran, antara SKPD,

pimpinan eksekutif kepada SKPD, legislatif kepada eksekutif, pemerintah pusat

kepada pemerintah daerah, dan bahkan melibatkan masyarakat. Wildavsky dan

Caiden (2004:7) mengargumentasikan hal tersebut bahwa ukuran dan bentuk

anggaran merupakan masalah yang menyebabkan terjadinya perdebatan serius,

baik presiden, partai politik, administrator, anggota kongres (legislatif), kelompok

kepentingan, dan warga negara yang berkepentingan yang bersaing satu sama

lain untuk mendapatkan preferensi terkait dengan anggaran.

1
Penganggaran menurut The National Committe on Governmental Accounting atau Komite
Nasional Akuntansi Pemerintah di Amerika Serikat adalah “a budgeting is a plan of financial
operations emboding estimates of proposed expenditures for a given period of time and the
proposed means of financing them” (Anggaran adalah satu rencana kegiatan yang diukur dalam
satuan uang yang berisi perkiraan belanja dalam satu periode tertentu dan sumber yang
diusulkan untuk membiayai belanja tersebut (Arif dan Iskandar, 2009:122-123).
3

Pandangan Wildavsky dan Caiden (2004:7) menunjukkan pentingnya

anggaran bagi para pemangku kepentingan sehingga mendorong munculnya

intervensi dalam penyusunannya yang menimbulkan berbagai masalah. Rose

dan Ackerman (2010:39,41,189) mengakui intervensi anggaran merupakan

tindakan untuk memenuhi keuntungan pribadi yang berdampak pada

penyalahgunaan jabatan, korupsi, penyeleksian proyek-proyek, dan hilangnya

pendapatan pada anggaran negara.

Di Indonesia, dampak intervensi anggaran terkuat pada awal tahun 2017 2

terkrait manipulasi anggaran E-KTP yang melibatkan oknum pihak legislatif dan

pihak terkait lainnya. Kasus serupa juga dapat dilihat dari penelitian Sinaga

(2016) yang mengungkap eksistensi mafia anggaran di level kementerian,

lembaga, dan pemerintah daerah. Sementara itu, di level pemerintah daerah juga

terjadi beberapa kasus intervensi dalam penyusunan anggaran. Hal tersebut

terjadi di beberapa kasus perencanaan anggaran di Aceh (Saeno, 2016) dan

intervensi pihak eksternal di Banten (Dan, 2016).

Kecenderungan munculnya intervensi terhadap anggaran menurut

Wildavsky dan Caiden (2004) karena kurangnya kontrol, adanya niat pihak-pihak

terkait, pertarungan antara elit politik, keterbatasan anggaran dari kebutuhan,

dan persoalan prinsip atau nilai-nilai. Munculnya intervensi dari berbagai pihak

dengan berbagai motivasi di dalamnya merupakan potret suram yang terjadi di

beberapa daerah di Indonesia dengan tujuan untuk memenuhi kepentingan-

kepentingan pribadi atau golongan saja.

Hal tersebut dapat dilihat dari penelitian tentang proses penganggaran di

Kabupaten Jembrana yang dilakukan Damayanti (2009). Hasil penelitian

2
Diungkapkan di berbagai media, baik cetak, visual, maupun elektronik. Seperti halnya yang
diberitakan di [Link]
4

mengungkap adanya tindakan eksekutif dan legislatif yang pada kenyataannya

didorong oleh keinginan untuk mencari kekuasaan, income, reputasi publik,

prestise, patronase, dan berbagai motif lainnya. Dalam penelitian tersebut,

terlihat ada tendensi yang melekat bagi eksekutif dan legislatif untuk

memanipulasi bahkan melakukan penyelewengan dengan mendistorsi informasi

yang dikomunikasikan ke publik demi untuk kepentingan pribadi, yaitu dengan

membuat keputusan yang konsisten dengan kepentingan mereka.

Penelitian tersebut menunjukkan adanya interaksi politik dan kekuasaan

yang melibatkan eksekutif dengan legislatif. Interaksi dapat dilakukan dalam

konteks hubungan kerja maupun melalui kebijakan akuntansi anggaran. Hal

tersebut juga ditemukan dari penelitian Syarifuddin (2009) di Jembrana bahwa

terjadinya interaksi politik dan kekuasaan yang meliputi politisasi proses

akuntansi dalam sebuah organsiasi pemerintahan (akuntansi anggaran). Fakta

tersebut menyiratkan bahwa anggaran tidak hanya dimaknai sebagai kebijakan

akuntansi semata tanpa melihat lebih jauh aspek transendentalnya. Padahal

aspek transendental yang berhubungan dengan kearifan lokal khususnya nilai-

nilai siri’ na pesse dianggap sebagai pandangan hidup bagi masyarakat di

Sulawesi Selatan (Lopa, 1988:8) dan dianggap sebagai harga diri dan keteguhan

hati yang harus diperjuangkan (Mattulada, 2005:72).

Jika ditelusuri dari prosesnya, seyogyanya tindakan inkonstitusional tidak

terjadi karena APBD disusun berdasarkan skedul perencanaan yang terjadwal

(Mahmudi, 2010:16) yang didukung perundang-undangan yang berlaku.

Seharusnya APBD mencerminkan produk yang diharapkan untuk memenuhi

kepentingan bersama, tetapi bukan sebagai objek persinggahan pemangku

berbagai kepentingan untuk memenuhi keinginan pribadi atau golongan tertentu.

Berbagai fenomena tersebut menunjukkan bahwa di seputar pengelolaan


5

keuangan daerah khususnya penganggaran masih menyisahkan problematika

anggaran yang belum dapat diselesaikan hingga kini.

Di Indonesia, problematika dalam pengelolaan keuangan negara telah

berlangsung sejak dahulu (Nasution, 2009).3 Berbagai kelemahan yang

ditemukan sebagai evaluasi pemerintah untuk menerapkan sistem

penganggaran yang dianggap dapat meminimalisir masalah keuangan yang

terjadi. Dalam merespon berbagai problematika tersebut, Indonesia telah silih

berganti menggunakan sistem penganggaran, namun pada kenyataannya

berbagai masalah masih terjadi pada berbagai level dalam pemerintahan. Hal ini

menunjukkan bahwa sistem pengelolaan keuangan yang digunakan selama ini

masih rentan dengan problematika, baik dalam konteks penganggaran maupun

aspek moralitas.

Menjadi suatu keniscayaan bahwa Indonesia dianggap sebagai negara

yang kental dengan prinsip orientalis yang kaya dengan nilai-nilai kearifan lokal

justru masih berkubang dengan persoalan-persoalan yang bertentangan dengan

nilai-nilai yang dianut selama ini. Seyogyanya, kearifan lokal yang dimiliki

menjadi tameng dari tindakan untuk mencari kekuasan, income, reputasi publik,

prestise, dan patronase.

Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa akuntansi sarat dengan nilai

universalitas yang juga berlaku pada sistem penganggaran yang ada, namun

Rosenau (1992:xii) menganggapnya jika itu hanya bersifat logosentrisme yang

merupakan pola berfikir yang melegitimasi dengan kebenaran universalitas.

Seyogyanya, nilai-nilai yang dianut tidak hanya sebatas teks melainkan harus

3
Kelemahan meliputi desain dan pelaksanaan sistem pengendalian internal, ketidakpatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan, penyimpanan keuangan negara yang semrawut,
tidak adanya informasi tentang aset maupun hutang negara, dan pengungkapan SAL (Sisa
Anggaran Lebih) yang tidak konsisten dan tidak memadai.
6

terbatinkan dalam hati dan terlembagakan secara formal supaya menjadi

pedoman dan pegangan utama dalam melakukan penganggaran.

Banyaknya kelemahan yang ditemui dalam pengelolaan keuangan

termasuk dalam hal penganggaran telah mendorong pemerintah melakukan

reformasi tata kelola keuangan negara. Salah satu motif dari kebijakan tersebut

adalah memperbaiki stabilitas sistem keuangan (Dokumen Bank Dunia, 2006).

Kementerian Keuangan RI (2017) mencatat dua alasan yang melatarbelakangi

reformasi anggaran. Pertama, didasarkan atas hasil evaluasi sistem anggaran

negara yang diterapkan selama ini. Kedua sejalan dengan perkembangan ilmu

manajemen keuangan modern bahwa sistem anggaran negara Indonesia sudah

sepatutnya dilakukan reformasi mengikuti prinsip-prinsip pengelolaan keuangan

publik yang secara internasional digunakan.

Langkah yang ditempuh tersebut merupakan bukti keseriusan pemerintah

untuk menata pengelolaan keuangan Indonesia termasuk dalam hal

pengaggaran. Terbilang antara tahun 1999-2004, pemerintah telah

mengeluarkan lima undang-undang (UU) yang dapat diidentifikasi sebagai

kerangka hukum baru dari sistem manajemen publik.4 Salah satu di antaranya

adalah UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang dipahami sebagai

titik awal reformasi tata kelola keuangan negara5. Kebijakan yang dilakukan

tersebut dipandang sebagai bentuk langkah maju dalam menata sistem

keuangan guna memperkokoh landasan desentralisasi dan memberi ruang yang

lebar bagi daerah dalam mengelola keuangannya sendiri.

4
Regulasi lainnya di antaranya UU No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, UU No
32 tahun 2004 sebagai pengganti UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Darah, UU No. 33
tahun 2004 sebagai pengganti UU No. 25 tahun 1999 dan UU No. 15 tahun 2015 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
5
Sebelum UU No.17 tahun 2003 disahkan, pelaksanaanpengelolaan keuangan negara masih
menggunakanketentuan perundang-undangan yang disusun pada masapemerintahan kolonial
Hindia [Link] yang berlakuberdasarkan Aturan Peralihan UUD 1945, yaituIndische
Comptabiliteitswet (ICW) Stbl. 1925 No. [Link] tersebut dirubah dan diundangkan dalam
lembaran negara 1954 No. 6, 1955 No. 49, dan terakhir UU No. 9 Tahun 1968 (Nasution, 2017).
7

Ruang lingkup reformasi sistem anggaran negara meliputi tiga

pendekatan penganggaran, yaitu penganggaran berbasis kinerja (performance

based budgeting), penganggaran terpadu (unified budgeting), dan kerangka

pengeluaran jangka menengah (medium term expenditure framwork) (Kemenkeu

RI, 2017)6. Di antara ketiga pendekatan tersebut, penganggaran berbasis kinerja

merupakan pendekatan yang paling utama.

Pendekatan penganggaran berbasis kinerja (performance based

budgeting) berfokus pada output dan outcome dari kegiatan yang dilakukan oleh

pemerintah untuk mencapai efisiensi, efektivitas, dan rasionalitas dalam

pengelolaan anggaran. Sementara dua pendekatan lainnya yaitu unified

budgeting dan medium term expenditure framework merupakan bentuk

implementasi bagi sempurnanya pelaksanaan anggaran berbasis kinerja (Madjid

dan Ashari, 2013)7.

Reformasi anggaran diharapkan dapat memaksimalkan pengelolaan

keuangan negara dari tingkat pemerintah pusat hingga ke pemerintah daerah

secara efisein dan efektif agar anggaran yang tersedia dimanfaatkan untuk

memenuhi kebutuhan masyarakat luas. Kebutuhan masyarakat berupa sarana

fisik seperti fasilitas umum dan non fisik di antaranya pemberdayaan dan

pemerataan ekonomi lokal, serta pengentasan kemiskinan. Hal tersebut dapat

tercapai jika distribusi anggaran difokuskan pada alokasi belanja langsung.

Namum pada kenyataannya, umumnya daerah di Indonesia masih menetapkan

6
Ruang lingkup lainnya di antaranya menyempurnakan klasifikasi belanja negara baik fungsi-
organisasi-ekonomi, dan menyempurnakan dokumentasi anggaran (di mana untuk
perencanaan penganggaran setiap K/L diwajibkan menyusun RKA-KL dan untuk pelaksanaan
anggaran setiap K/L wajib menyusun DIPA).
7
Keunggulan penganggaran berbasis kinerja dapat dilihat dari tujuannya, yaitu: 1) menunjukan
keterkaitan antara pendanaan dengan kinerja yang akan dicapai (directly linkages between
performance and budget); 2) meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam penganggaran
(operational efficiency), dan 3) meningkatkan fleksibilitas dan akuntabilitas unit dalam
melaksanakan tugas dan pengelolaan anggaran (more flexibility and accountability) (Madjid dan
Ashari, 2013).
8

alokasi anggaran untuk belanja langsung masih rendah. Padahal pada

esensinya, belanja langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara

langsung dengan pelaksanaan program kegiatan (Permendagri No. 13 tahun

2006) yang outputnya langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Hal tersebut dapat dilihat pada pada level provinsi di Idonesia, di mana

terhitung sejak tahun 2010- 2014 alokasi belanja masih didominasi oleh belanja

tidak langsung yaitu sebesar 60,52% berbanding 39,48% untuk belanja langsung

(Lampiran 35). Sementara itu, pada periode yang sama anggaran yang

dialokasikan Kabupaten Luwu Timur untuk biaya langsung sebesar 58,54%

sedangkan belanja tidak langsung 41,46% (lampiran 10). Hal tersebut

menunjukkan bahwa daerah paling ujung Utara di Sulawesi Selatan tersebut

menaruh perhatian besar dalam memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan

problematika masyarakatnya.

Langkah yang diambil tersebut menunjukkan bahwa para stakeholder

khususnya pemerintah maupun aktor penyusun anggaran memiliki dan

mengimplementasikan nilai-nilai siri’ na pesseyang merupakan bagian yang tidak

terpisahkan dari kearifan lokal mereka. Hal inilah salah satu hal yang menarik

untuk diteliti di Pemerintah Kabupaten Luwu Timur untuk mengetahui eksistensi

nilai-nilai kearifan lokal khususnya nilai-nilai siri’ na pesse yang dianut dalam

penyusunan anggaran.

Muncul kesadaran bahwa salah satu hal yang perlu mendapat perhatian

dalam pengelolaan keuangan adalah eksistensi nilai-nilai lokal yang merupakan

bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas setempat termasuk aktor penyusun

anggaran. Konflik yang terjadi antar pemangku kepentingan merupakan bagian

dari persoalan nilai-nilai. Wildavsky dan Caiden (2004:3) mengakui pentingnya


9

peranan nilai-nilai atau yang dianggapnya sebagai prinsip-prinsip dalam

penganggaran karena merupakan hal yang sangat fundamental.

Pesan yang ingin disampaikan tersebut bahwa apapun tindakan yang

dilakukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi pada level masyarakat

maupun pemerintah daerah belum terjawab jika belum menyentuh masalah

fundamental, yaitu nilai-nilai yang sejatinya menjadi hal transendental bagi pihak-

pihak terkait. Hal ini menjadi persoalan yang sedang dihadapi sekarang bahwa

nilai-nilai yang merupakan bagian dari diri manusia secara integral kadang

disangsikan keberadaannya. Salah satunya dapat dilihat dari pandangan ekstrim

Chua (1986:606) yang menganggap objek independen dari subjek yang berarti

mengenyampingkan fakta tentang eksistensi manusia secara sosial. Padahal

pada hakekatnya, penganggaran atau akuntansi tidak terlepas dari nilai dan

makna yang terbentuk dari interaksi manusia.

Argumen tersebut juga diakui Capra (1997:255) yang menganggap

bahwa tidak ada yang disebut ilmu sosial (akuntansi) yang bebas nilai. Padahal

dalam doktrin kultur mengakui substansi manusia terdiri dari unsur nilai,

moralitas/batin dan fisik8. Thomas Aquinas (1225-1247 M) dengan jargon akal

budinya (Suseno, 1997) membenarkan hal tersebut bahwa eksistensi manusia

ada pada keselarasan antara iman (termasuk nilai-nilai spiritual) dan akal.

Namun, eksistensi nilai-nilai yang melekat pada manusia terkadang

dikesampingkan dan dilupakan.

Terlebih, di era globalisasi dan kapitalisme sekarang ini, eksistensi nilai-

nilai atau moralitas juga mengalami masalah terutama pada level ekonomi dan

kultural. Pada level ekonomi, Adam Smith (McCreadie, 2103:58) menganggap

nilai sebagai uang yang berfungsi sebagai alat pertukaran barang yang

8
QS An-Najm, 53:42, menegaskan penciptaan manusia berdimensi dua, tanah dan ruh
(spiritual,termasuk nilai-nilai, norma, dan etis).
10

menghasilkan uang. Nilai yang dimaksud tidak berfokus pada nilai-nilai

kemanusiaan melainkan pada nilai ekonomis. Suatu pandangan yang dengan

tegas mengenyampingkan eksistensi nilai-nilai humanis yang bersifat intrinsik

dan transendental dalam diri manusia.

Sementara itu pada level kultural kearifan lokal (local wisdom),

globalisasi dan kapitalisme juga dipandang berbahaya karena dianggap

melemahkan kultur lokal (Ritzer, 2014:538) dan merusak bentuk tatanan sosial

tradisional yang merupakan bagian dari lingkungan sosial (Triyuwono, 2000:31)9

itu sendiri. Hal tersebut menjadi kekhawatiran akan berdampak negatif dalam

tatanan sosial kemasyarakatan (Lopa, 1988) yang salah satunya adalah siri’ na

pesse10 (Hamid, 2005:8).

Dalam interaksi sosial kemasyarakatan pada berbagai level, nilai-nilai

kearifan lokal siri’ na pesse merupakan roh atau spiritualitas dan pertahanan diri.

Siri’ dapat saja luntur dan cenderung berubah jika diracuni oleh paham

kapitalisme (Lopa, 1988:8). Hal tersebut dapat terjadi jika masyarakat

pendukungnya tidak lagi berpegang pada struktur budayanya (Mattulada,

2005:64). Oleh sebab itu, salah satu wujud menangkal berbagai dampak

(eksternal) yang terjadi adalah tetap berpegang pada identitas kearifan lokal

(Seabrook, 2004) dan selanjutnya menghasilkan konsep siri’ na siri’ yang

kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam

penyusunan anggaran.

Dalam hal ini, Lopa (1988:10) dengan tegas menyerukan agar konsep siri’

napesseyang pernah eksis perlu dirumuskan kembali “...agar dapat berfungsi

sebagai pendorong meningkatkan pembangunan...” termasuk dalam konsep

9
Padahal jika ditelusuri dari akar sejarahnya, kapitalisme pada dasarnya memiliki tujuan sebagai
sarana untuk beragama (religius). Hal tersebut dapat dilihat dari pemikiran Saint Thomas
Aquinas (1225-1274), Max Weber (1905), dan Ibnu Khaldun.
10
Secara etimologi, pesse adalah perasaan iba atau toleransi kebatinan dan siri’ adalah malu
11

penganggaran daerah yang berbasis kearifan lokal. Lebih lanjut, Lopa (1988:11-

12) memberikan ciri-ciri konsep siri’ (na pesse).

...karakteristik orang-orang yang memiliki siri’ yaitu: beriman kepada


Allah SWT, ikhlas dan jujur, tabah dalam perjuangan hidup untuk
mempertahakankan kembali dirinya, tidak sombong dan takabbur,
bersikap demokratis, mampu memecahkan masalah secara arif bijaksana
tapi rasional, memperkuat solidaritas sosial dan melindungi golongan
lemah, konsisten dan memiliki integritas pribadi, serta berperilaku santun.

Selain ciri-ciri yang dikemukakan tersebut, konsep siri’ menurut Farid

(2005:54) salah satunya adalah sifat berhemat11. Jika dibawa ke ranah

pengelolaan keuangan daerah, maka konsepsiri’ menurut Farid (2005:54) identik

dengan azas efisien12 dan ekonomis13 sebagaimana termaktub dalam

Permendagri No. 13 tahun 2006, khususnya terkait dengan penganggaran.

Ciri-ciri yang dikemukakan tersebut juga sejalan dengan pandangan

beberapa ahli yang eksis mengkaji dan meneliti konsep siri’. Dalam pandangan

ini, siri’ dianggap sebagai etos kerja atau harga diri/dignity (Hamid, 2005:3 dan

Mattulada, 2005:69), keteguhan hati (Mattulada, 2005:70), pendorong

pembangunan (Lopa, 2005:91) iman (Al Gazali dalam Farid, 2005:28), dan sifat

berhemat dan tidak kikir (Farid, 2005:54). Kajian dan penelitian yang dilakukan

tersebut tidak hanya sebatas pada determinasi siri’ belaka, melainkan juga terkait

dengan pesse (iba, toleransi kebatinan) yang merupakan pasangan dua

kosakata yang selalu disematkan dalam tradisi tutur dan tulisan masyarakat

pendukungnya khususnya di Sulawesi Selatan. Dalam konteks penelitian ini, dua

kosakata tersebut dibingkai dengan istilah siri’ na pesse.

11
Hal ini sesuai dengan pesan Ammana Gappa, Matoa III Kampung Wajo (1676) bahwa
“belanjakan saja semua uangmu, ... tapi jangan menghabiskan modalmu”(Farid, 2005). Konsep
tersebut lahir dari pengamatan yang dilakukan pada zaman dahulu di mana orang-orang Bugis
sangat boros dalam membelanjakan uangnya yang berdampak pada kebangkrutan atau krisis
anggaran.
12
Dalam konteks pengelolaan keuangan daerah, efisien berarti pencapaian keluaran yang
maksimum dengan masukan tertentu atau penggunaan masukan yang terendah untuk
mencapai keluaran tertentu (Permendagri, No. 13 tahun 2006).
13
Memperoleh masukan dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada tingkat harga yang terencah
(Permendagri, No. 13 tahun 2006)
12

Siri’ na pesse merupakan konsep yang dipraktikkan pada masa lalu di

Sulawesi Selatan termasuk di Pemerintahan Kedatuan Luwu. Konsep tersebut

memfokuskan pada kesejahteraan rakyat melalui pemanfaatan aset datu (raja)

yang dikelola oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Tenrigau,

2017:58-65). Konsep tersebut terimplementasi pada kegiatan-kegiatan adat

khususnya dalam memobilitasi anggaran melalui mekanisme makkasiwiyang

atau persembahan14 (Tenrigau, 2007:54). Seiring dengan peralihan kekuasaan,

konsep siri’ na pesse secara institusi legal formal tidak lagi berlaku karena

pemerintahan adat yang berada dalam jajaran struktur pemerintahan pada masa

tersebut sudah tidak berlaku lagi, namun secara kultural masih tetap berlangsung

hingga sekarang sehingga motivasi untuk menghidupkan kembali konsep siri’ na

pesse masih terus diupayakan walau dalam lingkup yang terbatas.

Memperhatikan eksistensi konsep siri’ na pesse pada masa lalu dan

relevansinya dengan praktik penganggaran pada masa kekinian khususnya

dalam pengelolaan keuangan daerah di Luwu Timur, menjadi bukan hal yang

tersangsikan jika eksistensinya dapat diakomodir kemudian.

Kegalauan yang dipikirkan Lopa (1988) menjadi kekhawatiran agar

konsep siri’ tidak bergeser dari bingkainya dan selanjutnya dibutuhkan konstruksi

ulang guna mendapatkan kembali formulasi yang sejatinya. Apalagi, sistem

penganggaran yang ada sekarang belum mengadopsi kearifan lokal secara utuh

(lihat Permendagri No. 6 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan

Daerah dan kebijakan lainnya).

Kesadaran untuk menemukenali konsep siri’ na pesse sangat beralasan

mengingat masih banyak masyarakat dan entitas pendukung lainnya yang

mengharapkan eksistensi produk masa lalu tersebut. Hal itu dapat ditelusuri

14
Terjabarkan pada bab dua
13

pada beberapa penelitian dan seminar, serta berbagai upaya lainnya baik yang

dilakukan oleh pemerintah maupun pihak yang terkait lainnya. Seperti penelitian

yang dilakukan Andaya (Farid, 2005:44) yang menemukan adanya tiga konsep

dalam kultur orang Bugis-Makassar, yaitu siri’, pesse, dan were. Penelitian juga

dilakukan Miller (1985) tentang hubungan batin (mallinrung) dan lahir (talle’) yang

dipersamakan dengan Siri’. Demikian halnya yang dihasilkan Kahar (2012)

tentang eksistensi nilai-nilai siri’na pesse. Hasil penelitian menunjukkan adanya

basis nilai-nilai kearifan lokal siri’na pesse dalam model management control

system yang holistik.

Munculnya dorongan dan kesadaran untuk mengangkat dan meng-

implementasikan siri’ na pesse tidak terlepas dari keinginan kuat dari berbagai

stakeholder. Keinginan tersebut tidak hanya pada level sosial kemasyarakatan

saja, tetapi juga pada pemerintahan termasuk dalam praktik penganggaran

daerah di Luwu Timur. Walaupun dewasa ini, sistem penganggaran yang dianut

di Indonesia khususnya di Luwu Timur telah banyak membawa perubahan

positif, namun di sisi lain juga tidak dapat menutup mata bahwa masih terjadi

berbagai masalah dalam implementasinya. Problematika anggaran yang telah

disebutkan sebelumnya merupakan kasus-kasus yang memperkuat persepsi

bahwa sistem penganggaran yang diadopsi sekarang tidak hanya cukup

mengedepankan faktor sistim dan teknis belaka, tetapi aspek yang bersifat

transendental yang berbasis nilai, juga menjadi pertimbangan utama untuk

dikedepankan.

Oleh sebab itu, guna menghasilkan anggaran yang berbasis siri’ na

pesse, maka aktor penyusun anggaran tidak hanya didukung dengan payung

hukum belaka, tetapi aspek etis/moralitas meliputi nilai-nilai siri’ na pesse yang

merupakan bagian kearifan lokal masyarakat setempatmenjadi hal penentu.


14

Menurut Errington (1977) bahwa dengan siri’ seseorang dapat menghindari

segala tindakan yang merusak harga diri dan harakat martabatnya. Atas dasar

itu, maka sudah sewajarnya jika siri’ dan pesse merupakan duasikap moral yang

menjaga stabilitas dan berdimensi harmonisasi (Hamid, 2005:xiii).

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa wujud kearifan lokal dalam suatu

komunitas akan mengalami pergeseran secara perlahan. Penelitian yang

dilakukan Sartini (2004) terkait kearifan lokal di Bali menunjukkan perbedaan

antara kearifan lokal sekarang dengan dulu dan bahkan yang akan datang. Hal

tersebut menunjukkan bahwa kearifan lokal merupakan produk masyarakat yang

didalamnya terdapat nilai-nilai luhur yang telah terinternalisasi kepada

penganutnya dari waktu ke waktu.

Menyadari begitu pentingnya eksistensi nilai dalam penganggaran telah

menggugah Mahzar (1983) memposisikannya sebagai elemen utama dalam

lingkaran peradaban yang dibuatnya. Nilai kultur yang dimaksud tersebut adalah

nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) seperti nilai-nilai yang terdapat dalam

masyarakat yang sangat relevan digunakan sebagai pegangan dalam

penyusunan anggaran. Sementara itu, anggaran yang disusun tiap tahunnya

yang merupakan salah satu aspek yang terkait dalam akuntansi (Suartana, 2010)

hanya dipahami sebatas angka-angka belaka (accounting number). Padahal

secara filosofis teoretis, akuntansi tidak hanya dipahami sebatas bebas nilai

(value laden) saja, tetapi dipengaruhi oleh nilai-nilai yang melingkupinya (Hines,

1989; Morgan, 1988; Subiyantoro dan Triyuwono, 2004). Dalam artian bahwa

akuntansi yang sarat dengan angka-angkapadadasarnya tidak berdiri sendiri

tetapi harus diinterpretasikan lebih luas (Triyuwono, 2000:29) termasuk dalam

kerangka penganggaran berbasis siri’ na pesse.


15

Oleh sebab itu, akuntansi juga merupakan hasil dari interaksi sosial yang

sarat dengan nilai-nilai sosial dan kearifan lokal. Atas dasar itu, maka penerapan

akuntansi haruslah mempertimbangkan lingkungan sosialnya (Triyuwono,

2000:29) di mana aktor mempraktikkan nilai-nilai kearifan lokal tersebut. Menurut

Choi (1975), Alkafaji (1983), Hofstede (1987), Schreuder (1987), dan Perera

(1989) bahwa akuntansi secara sosial diilhami oleh lingkungannya. Hal tersebut

juga dipertegas Blumer bahwa individu secara individu atau kolektif bertindak

terhadap lingkungannya atas dasar pemaknaan yang oleh Garfinkel dan Sacks

disebutnya sebagai fakta sosial yang juga merupakan dasar dari pelaksanaan

tindakan (Coulon, 2008:152) dari para aktor, termasuk dalam konteks penyusun

anggaran.

Secara enkulturasi15 dan sosialisasi16, siri’ melekat pada pribadi tiap

individu (Hamid, 2005) sehingga secara sadar, nilai-nilai siri’ na pesse telah

dipraktikkan dalam segala lini kehidupan sehari-hari. Sebagai bagian dari

pendukung kearifan lokal, maka aktor penyusun anggaran seyogyanya

berpegang pada nilai-nilai siri’ na pesse sehingga anggaran yang dihasilkan

nantinya juga akan melahirkan program dan kegiatan yang sarat dengan siri’ na

pesse, yaitu konsep penganggaran yang meletakkan nilai-nilai siri’ na pesse

sebagai basisnya. Nilai-nilai yang dimaksud di antaranya tongeng (kebenaran),

getteng (ketegasan), lempu’ (kejujuran), dan adele’ (keadilan), serta nilai-nilai

kearifan lokal lainnya.

Berangkat dari ide dan motivasi penelitian yang dikemukakan di atas,

maka peneliti merasa tertarik merespon pandangan yang dikemukakan oleh

Lopa (1988) untuk menemukenali kembali konsep siri’ na pesse yang menjadi

15
Internalisasi budaya (pembudayaan), menyesuaikan pikiran dan sikap dengan sistem norma
atau adat atau penyesuaian alam dengan lingkungan budayanya.
16
Penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya.
16

landasan dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam konteks penyusunan

anggaran di Kabupaten Luwu Timur. Berdasarkan pada konteks penelitian

tersebut, maka penulis tertarik mengambil judul yaitu Menemukenali Konsep

Penganggaran Siri’ na pesse: Studi Kasus Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten

Luwu Timur.

1.2 Fokus Penelitian

Berdasarkan ide dan motivasi penelitian yang dikemukakan tersebut,

maka fokus dari penelitian yang diajukan adalah bagaimanakah penganggaran

siri’ na pesse di Kabupaten Luwu Timur?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada fokus penelitian tersebut, maka tujuan dari penelitian

ini adalah untuk mengungkap penganggaran siri’ na pesse di Kabupaten Luwu

Timur, meliputi: kepekaan batin terhadap problematika sosial yang terjadi di

masyarakat, praktik nilai-nilai kearifan lokal, motivasi dalam penyusunan

anggaran, dan pemaknaan terhadap anggaran.

1.4 Kontribusi Penelitian

Mengacu pada fokus dan tujuan dalam penelitian ini, maka kontribusi dari

penelitian ini meliputi kontribusi teoretis dan kontribusi praktis yang dijabarkan

berikut.

1.4.1 Kontribusi Teori

Dalam akuntansi sektor publik dikenal beberapa sistem penganggaran di

antaranya: line item budgeting, performance budgeting, planning programming

budgeting system, zero base budgeting, dan medium term budgeting framework.
17

Sehubungan dengan riset yang dilakukan ini pada ranah akuntansi sektor publik,

maka kontribusi dari peneleitian ini adalah melengkapi sistem penganggaran

konvensional yang telah eksis selama ini.

Penganggaran siri’ na pesse merupakan konsep yang menitikberatkan

pada basis kepekaan batin dan nilai-nilai kearifan lokal, sedangkan sistem

penganggaran yang telah ada lebih berfokus pada aspek teknis. Oleh sebab itu,

hasil penelitian ini mewarnai sistem penganggaran yang telah ada, sehingga

eksistensi sistem penganggaran tidak hanya memenuhi aspek teknis seperti

yang dianut pada sistem penganggaran yang telah ada, tetapi juga aspek non

teknis yang dianut pada konsep penganggaran siri’ na pesse.

1.4.2 Kontribusi Praktis

Kontribusi praktis dari hasil panelitian ini pada dua [Link], dalam

penyusunan anggaran daerah, konsep penganggaran siri’ na pesse dapat

dijadikan sebagai rujukan operasional sehingga Anggaran, Pendapatan, dan

Belanja Daerah (APBD) yang dihasilkan berbasis pada kepekaan batin dan nilai-

nilai kearifan lokal. Konsep ini berfokus pada keberpihakan masyarakat (pro

proor) sehingga anggaran yang dialokasikan diarahkan untuk mendorong

pembangunan guna mencapai kesejahteraan bersamadalam rangka

mewujudkan harkat dan maratabat.

Kedua, konsep penganggaran siri’ na pesse dapat dijadikan sebagai

rujukan dalam membuat rencana pembangunan daerah, baik jangka panjang

(RPJPD), jangka menengah (RPJMD), dan rencana kerja (Renja) tahunan.

Dalam penyusunan rencana kerja pembangunan, faktor kearifan lokal (local

wisdom) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari daerah itu sendiri sehingga

arah pembangunan yang disusun tidak terlepas dari karakter masyarakat yang
18

dianut selama ini. Hal ini sesuai dengan amanat UU No. 25 Tahun 2004 tentang

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) bahwa masing-masing

daerah menyusun RPJPD untuk daerahnya masing-masing. Sehubungan

dengan hal tersebut, maka penganggaran siri’ na pesse yang dihasilkan dari

penelitian ini merupakan konsep yang sarat dengan kearifan lokal setempat

karena terkait dengan rasa siri’ (malu) dan pesse (empati) dan nilai-nilai yang

eksis dipraktikkan selama ini.


19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pemerintahan masa lalu ...merasa sangat malu


apabila dalam buku kas yang dipertanggung-
jawabkannya terdapat selisih jumlah setengah
sen, meskipun selisihnya lebih (tidak ada uang
negara yang hilang)... Lebih-lebih lagi kalau buku
kasnya ada tekoran setengah sen, maka
malunya sudah sangat luar biasa, sehingga ada
kalanya oknum pejabat tersebut menderita sakit.
Lopa, 2005

2.1 Konsep Siri’ na Pesse

Siri’ na pesse bagi masyarakat di Sulawesi Selatan dianggap sebagai

pandangan hidup (Lopa, 1988:8) yang dipraktikkan dari dahulu hingga kini.

Dalam rentang waktu yang panjang, eksistensi siri’ na pessedapat ditelusuri baik

secara historis maupun ciri-ciri yang dimiliki seperti pada tataran filosofis maupun

dalam basis nilai.

2.1.1 Menelusuri Histori Eksistensi Siri’ na Pesse

Batasan tentang siri’ (termasuk pesse) secara tegas tidak ditemukan

pada manuskrip-manuskriplontara’ dan sastra Bugis17 (Marzuki, 1995). Namun

eksistensi siri’ na pessetidak dapat dipisahkan dari sejarah dan kultur

masyarakat yang mendukung peradaban tersebut. Beberapa peristiwa sosial

lokal yang dapat ditelusuri untuk memahami eksistensi pesse dan siri’ dapat

ditemui dalam praktik perkawinan (Pelras, 2006:251), pembelaan harga diri

(Mattulada, 2005:72), kesejahteraan/asugireng (Farid, 2005:55), dan sebagainya.

Salah satu kisah yang dapat dijadikan petunjuk untuk memahami dan

menelusuri eksistensi awal siri’ na pesse dalam peradaban Bugis dapat dilihat

pada sebuah kisah tentang cinta terlarang Sawerigading dengan saudara

kembarnya We Tenri Abeng yang termuat dalam naskah kuno I La Galigo dan
17
Besar kemungkinan yang dimaksud adalah manuskrip epos I La Galigo.

19
20

beberapa literatur yang mengisahkan ulang tentang peristiwa tersebut. Kendati

tidak disinggung secara tekstual, tetapi eksistensi siri’ na pesse dapat dilihat

pada konsekuensi perilaku yang dihasilkan dari tindakan tersebut. Hal ini seperti

yang diungkapkan Lopa (1988:2-3) bahwa siri’ merupakan suatu hal yang

abstrak dan hanya dapat dilihat dari akibat wujud yang dihasilkannya. Atas dasar

itu untuk menelusuri eksistensi siri’ na pessejuga dapat dilihat berdasarkan pada

argumen tersebut.

Eksistensi siri’ na pessediawali dari kisah pertentangan yang terjadi

dalam Kedatuan Luwu. Sawerigading sang putra mahkota (ana’ mattola18) yang

sejak lahir dipisahkan dengan We Tenri Abeng, tiba-tiba berniat ingin mengawini

saudara kembarnya saat keduanya dipertemukan pertama kali pada acara

menginjak tanah (Kern 1989, Mattata 1967, dan Enre 1999). Lantaran keinginan

tersebut merupakan pantangan (sapa’ tana19) dan bertentangan dengan adat,

sehingga mendapat reaksi keras penolakan dari ayahandanya datu (raja) Batara

Lettu dan segenap pemangku adat.

Penolakan tersebut tidak serta merta membuat hasrat Sawerigading

[Link] orang yang menentangnya dibunuh. Lantaran tidak

mendapatkan dukungan dari siapa pun, akhirnya Sawerigading menemui orang

pintar bernama Kajoa Laliddo untuk meminta sarannya. Namun jawaban yang

diterima Sawerigading sangat diplomatis dan normatif (Wawancara Tenrigau,

peminat sejarah dan budaya Luwu).

Usiaku telah berumur tujuh ‘tongkat besi’ (sangat tua), saya belum pernah
mendengar ada orang yang ingin mempersunting saudaranya sendiri. Pernah
saya mendengar hal seperti itu, tetapi itu hanya cerita belaka (pau-pau rikodong),
yaitu di mana salah seorang anak raja ingin mengawini saudaranya sendiri.
Akhirnya yang terjadi adalah bencana, kemarau panjang, tanaman gagal panen,
dan banyak rakyat kelaparan dan mati. Akhirnya keinginan anak raja itu

18
Anak yang lahir ketika orang tuanya menjabat sebagai datu (raja).
19
Merujuk pada kata lain dari pemali, pantangan berdasarkan kebiasaan atau adat istiadat yang
jika dilanggar akan berdampak buruk terhadap tatanan sosial kemasyarakatan atau kepada
individu bersangkutan.
21

dibatalkan dan tidak lama kemudian situasi menjadi seperti sedia kala dan rakyat
menjadi sejahtera kembali.

Sawerigading akhirnya luluh mendengar penjelasan sang kakek nan

bijaksana itu. Tidak berselang lama, ia pun bergegas menemui adiknya. Melihat

kakaknya larut dalam kesedihan yang mendalam, We Tenri Abeng juga merasa

bersedih sehingga memunculkan rasa pesse dalam hati sanubarinya. Kesedihan

yang dialami saudaranya tersebut membuat We Tenri Abeng memberikan saran

untuk tidak melakukan kawin sumbang atau inses (Pelras, 2006:259) dan

menyarankan agar ke Negeri Cina (Tiongkok) untuk mempersunting I Cu Dai

yang dianggap mirip dengannya. Lantaran menanggung rasa malu (siri’) yang

besar, saran adiknya itu diterima. Atas pernikahannya dengan I Cu Dai, ia

dikarunia tiga anak, salah seorang di antaranya yang terkenal adalah I La Galigo

(yang kemudian menjadi nama kitab kuno dan Lontara’ Bugis, Laga Ligo).

Selanjutnya, cobaan sebagai kesatria kembali teruji ketika istrinya ingin

mengunjungi Luwu, menemui mertuanya di kampung halaman suaminya.

Sawerigading sangat berat hati memberikan izin kepada istri dan anak-anaknya

lantaran mengingat sumpahnya dulu untuk tidak lagi kembali ke Luwu.

Sawerigading sangat merasa malu (siri’). Namun cinta dan rasa pesse yang

tinggi kepada istri dan anak-anak, serta keluarganya di Luwu, akhirnya dia

menyetujuinya.

Sekeping kisah tersebut dapat ditarik benang merahnya bahwa: (1) pesse

muncul ketika We Tenri Abeng melihat kakaknya terpuruk dan bersedih lantaran

hasratnya untuk mempersuntingnya ditolak karena bertentangan dengan adat.

Esensinya bahwa rasa pesse lahir ketika melihat atau menghadapi problematika

yang sedang terjadi. (2) Siri’ muncul ketika Sawerigading dijatuhi hukuman adat

ripoppangi tana (ke luar Luwu) sehingga marasa malu (masiri’) dan akhirnya

meninggalkan Luwu menuju negeri Cina (Tiongkok) demi untuk membela


22

siri’nya. Esensinya bahwa rasa siri’ lahir karena merasa dipermalukan. (3) Pesse

muncul ketika Sawerigading menolak permintaan istrinya yaitu I Cu Dai ke Tana

Luwu lantaran mengingat sumpahnya dulu untuk tidak lagi menginjak tanah

kelahirannya itu. Lantaran tidak tega dan merasa iba atau kasihan kepada anak

dan istrinya, akhirnya Sawerigading memenuhi permintaan istrinya. (4) Siri’ na

pesse harus dipertahankan dan diperjuangkan demi untuk menegakkan harga

diri danharkat dan martabat.

2.1.2 Filosofi Makna Siri’ na Pesse

Secara historis, siri’ telah ada pada masa lampau. Beberapa petuah-

petuah yang terdapat dalam lontara’telah menyinggung bahwa sikap siri’ na

pessemerupakan penyangga bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat

Bugis-Makassar (Pelras, 2006 dan Moein, 1990). Namun jika dibawa ke dalam

ranah kajian filsafat sejarah, maka sejatinya akan ditemui bagaimana nilai-nilai

siri’ dan passe itu sendiri menggambarkan kehidupan ketika hal tersebut

dituangkan dalam bentuk tulisan, kemudian masa kini, dan rencana masa depan

yang lebih baik dengan berpedoman pada nilai falsafah tersebut (Ankersmit,

1987). Siri’ mengungkap jenis-jenis perilaku yang merupakan unsur-unsur yang

prinsip sebagaimana menurut Hamid (1985:37) bahwa:

Dalam kehidupan manusia Bugis-Makassar, siri’ merupakan unsur yang prinsipil


dalam diri mereka (masyarakat pendukungnya). Tidak ada satu nilai pun yang
paling berharga untuk dibela dan dipertahankan di muka bumi selain daripada
siri’.Bagi manusia Bugis-Makassar, siri’ adalah jiwa mereka, harga diri mereka,
dan martabat [Link] untuk menegakkan dan membela siri’ yang
dianggap tercemar atau dicemarkan oleh orang lain, termasuk jiwanya yang
paling berharga demi tegaknya siri’ dalam kehidupan mereka.

Makna siri’ tidak dapat didefinisikan secara baku karena akan ditafsirkan

berbeda menurut ruang dan waktu. Dalam menemukan makna siri’ menurut

Mattulada (2005:63) bahwa:


23

Kalau kita mau mencari makna siri’ dalam kehidupan empiris, maka akan
berhadapan dengan kenyataan dari makna tertentu yang diberikan oleh
masyarakat. Makna siri’ dalam kenyataan empiris berbeda-beda menurut ruang
dan waktu tertentu tergantung pada bagaimana tingkat perkembangan makna,
nilai, dan struktur sosial yang mendukungnya. Perkataan lain, makna itu amat
ditentukan oleh tingkat kebudayaan yang menyangkut masalah nilai dalam
kehidupan.

Memang terdapat beberapa pandangan mengenai siri’. Hamid (1985:3)

dan Mattulada (2005:69) mengartikan siri’ sebagai etos kerja atau harga diri

(dignity), keteguhan hati (Mattuda, 2005:70), pendorong pembangunan (Lopa,

2005:91), dan iman (Al Gazali dalam Farid, 2005:28) dan sifat berhemat dan

tidak kikir (Farid, 2005:54). Selain siri’ juga dikenal istilah [Link] harfiah

pessediartikan sebagai empati atau perasaan iba yang dirasakan seseorang

dalam dirinya. Pessemenurut Pelras (2006:252) bahwa:

... merasakan penderitaan orang lain dalam perut sendiri (hati/perasaan),


mengindikasikan perasaan haru (empati) yang mendalam terhadap tetangga,
kerabat, atau sesama anggota kelompok sosial. Hal ini melambangkan
solidaritas, tak hanya pada seseorang yang dipermalukan, namun juga bagi
siapa saja dalam kelompok sosial yang sedang dalam keadaan serba
kekurangan, berduka, mengalami musibah, atau menderita sakit keras.

Jadi pesse berhubungan erat dengan identitas dan pesseyang dirasakan

bersama merupakan pengikut para anggota kelompok [Link] saling pesse

antaranggota sebuah kelompok adalah kekuatan pemersatu yang [Link]

menurut Hamid (2005:xi) adalah suasana masyarakat dalam hati individu.

Ditanggapi oleh individu sebagai iba hati terhadap suasana masyarakatnya

sehingga cenderung untuk mengabdi atas cinta kasih sesama [Link]

merupakan rasa simpati yang dalam konsep masyarakat Bugis-Makassar

merupakan rasa atau perasaan empati terhadap sesama dan seluruh anggota

komunitas dalam masyarakat.


24

2.1.3 Ciri-Ciri Konsep Siri’ na Pesse

Wujud konsep siri’ na pesse pada masa lalu tidak terbakukan secara

legal formal, numun dalam implementasinya pada level panggadareng

(keadatan) dapat ditelusuri berdasarkan ciri-ciri yang dipraktikkan dalam

beberapa momentum, salah satunya pada saat pelaksanaan kegiatan adat. Pada

subbab sebelumnya telah disinggung proses penganggaran untuk

menyukseskan pelaksanaan adat melalui mekanisme makkasiwiyang. Praktik

tersebut syarat dengan nuansa nilai-nilai kearifan lokal yang dikembangkan pada

masa tersebut.

Beberapa ahli dan sejarawan mengungkapkan jika siri’ na pesse memiliki

ciri-ciri yang dapat dijadikan untuk menyusun konsep siri’ na pesse. Menurut

Lopa (1988:11-12) bahwa ciri-ciri dari siri’ (meliputi pesse) adalah (1) beriman

kepada Allah SWT, (2) ikhlas dan jujur, (3) tabah dalam perjuangan hidup untuk

mempertahakankan kembali dirinya, (4) tidak sombong dan takabbur, (5)

bersikap demokratis, (6) mampu memecahkan masalah secara arif bijaksana tapi

rasional, (7) memperkuat solidaritas sosial dan melindungi golongan lemah, serta

(8) konsisten dan memiliki integritas pribadi, dan berperilaku santun.

Ciri-ciri dari konsep siri’ yang dikemukakan tersebut pada dasarnya juga

merupakan ciri-ciri yang dimiliki unsur pesse. Hal tersebut didasarkan pada

alasan bahwa beberapa butir yang dikemukakan merupakan bagian dari ranah

pesse. Salah satu butir yang mewakili unsur pesse adalah butir ke tujuh yaitu

memperkuat solidaritas yang secara etimologi artinya sama dengan pesse yaitu

toleransi atau solidaritas. Oleh sebab itu, konsep siri’ yang dikemukakan Lopa

(1988:11-12) pada dasarnya merupakan konsep siri’ na pesse.

Selain yang dikemukakan tersebut, konsep siri’ menurut Farid (2005:54)

salah satunya adalah sifat berhemat dan tidak kikir. Hal ini sesuai dengan pesan
25

Ammana Gappa, Matoa III Kampung Wajo (1676) bahwa “belanjakan saja

semua uangmu, ...tapi jangan menghabiskan modalmu” (Farid, 2005:55). Konsep

tersebut lahir dari pengamatan yang dilakukan pada zaman dahulu di mana

orang-orang Bugis sangat boros dalam membelanjakan uangnya yang

berdampak pada kebangkrutan atau krisis anggaran. Jika dibawa ke ranah

pengelolaan keuangan daerah, maka konsep siri’ menurut Farid (2005:55) identik

dengan azas efisien20 dan ekonomis21 (Permendagri Nomor 13 tahun 2006)

khususnya terkait dengan penganggaran.

2.1.4 Sulapa’ Eppa’: Konsep Siri’ na PesseBerbasis Nilai

Siri’ na pesse (bahasa Bugis) adalah sebuah konsep yang sangat

menentukan dalam identitas masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya.

Konsep siri’ mengacu pada perasaan malu dan harga diri sedangkan pesse

mengacu pada suatu kesadaran dan perasaan empati terhadap penderitaan

yang dirasakan oleh setiap anggota masyarakat.

Secara fungsional, siri’ na pessetidak berdiri sendiri melainkan dibangun

dari nilai-nilai tradisional yang kental dipegang dan dipraktekkan selama ini oleh

masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai yang membangun siri’ terdiri dari tongeng

(kebenaran), getteng (ketegasan), lempu’ (kejujuran), dan adele’ (keadilan)

(Rahman, 2002:66-67). Keempat nilai-nilai tersebut dianalogkan sebagai rumah

bersegi empat yang memiliki empat tiang. Keempat tiang mewakili masing-

masing nilai tersebut sebagaimana menurut Tenrigau (2002:8) berikut:

Siri’ dibangun dalam empat pilar, yaitu tongeng (kebenaran), getteng


(ketegasan), lempu (kejujuran), dan adele’ (keadilan), ... Keempat pilar itu dapat
dianalogikan sebagai sulapa appa (bersegi/sudut empat) yang berbentuk bujur

20
Dalam konteks pengelolaan keuangan daerah, berarti pencapaian keluaran yang maksimum
dengan masukan tertentu atau penggunaan masukan yang terendah untuk mencapai keluaran
tertentu (Permendagri, No. 13, 2006).
21
Memperoleh masukan dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada tingkat harga yang terendah
(Permendagri, No. 13, 2006)
26

sangkar. Sisi-sisi dari bujur sangkar itu masing-masing diwakili oleh nilai-nilai
tersebut. Nilai-nilai siri’ yang terdapat di sisi masing-masing sudut bujur sangkar
itu akan bersinergi dan membentuk suatu kekuatan yang utuh dan kokoh. Nilai
dan bobot dari setiap sudut bujur sangkar itu adalah sama sehingga setiap
sisinya adalah sama pula.

Gambaran tersebut menegaskan bahwa rumah bersegi empat itu akan

kuat dan simetris jika ditopang keempat pilarnya yang saling berhubungan satu

sama lain. Segala gangguan dari luar menerjang, rumah itu akan tetap kokoh

berdiri tanpa sedikit pun bergeser bahkan roboh. Demikian halnya dengan siri’

yang ditopang dengan keempat pilar nilai tongeng (kebenaran), getteng

(ketegasan), lempu’ (kejujuran), dan adele’ (keadilan). Segala cobaan,

rongrongan dan gangguan yang datang dari luar, maka siri’ akan tetap tegak

tidak bergeser (toddopuli’ temmalara’/pendirian yang kokoh).

S
Siri’

Gambar 2.1 Sulapa Appa’ Nilai Siri’ na pesse (Tenrigau dkk., 2002:9)

Namun, siri’ itu akan goyah atau mengalami dekadensi jika salah satu

atau keseluruhan dari keempat nilai itu redup atau tidak lagi mencerminkan nilai

intrinsiknya, maka siri’ itu tidak simetris lagi. Oleh karena itu nilai-nilai itu perlu

direkondisionalkan (charge) kembali agar tetap kokoh dan eksis.


27

Gambar 2.2 Sulapa Appa’ Dekadensi Nilai Siri’ na Pesse (Tenrigau dkk., 2002:9)

Siri’ yang dianalogkan sebagai rumah persegi empat tidak terlepas dari

simbol sulapa’ appa’ (Bugis: sulapa eppa’)


’) yang secara harfiah diartikan persegi

empat (Farid, 2005:46). Istilah sulapa’ eppa’ menjadi simbol yang dianut atau

dipahami oleh orang Bugis-Makassar.


Bugis Sulapa Appa’ juga ditafsirkan sebagai

simbol dari empat sumber utama kehidupan, yaitu angin, api, tan
tanah, dan air,

sebagaimana menurut Macmud (1976:24) bahwa sulapa eppa’E secara harfiah

berarti ‘persegi empat’ karena melukiskan karakter dan sifat manusia terbenih

dalam sifat, bahkan nawa-nawa (pikiran, hati nurani) seperti angin, api, air, dan

tanah. Orang
g yang dapat menyeimbangkan keempat sifat dan pikiran itu

dinamakan manusia yang mempunyai siri’nasesse’baubau (rasa kemanusiaan)

yang tersayat bak sembilu karena penderitaan sendiri, keluarga, sekampung,

atau senegara) (Farid, 2005:46-47).


2005:46

Selain analog rumah


rumah tersebut di atas, Tenrigau (2002:10) juga

menganalogkan siri’ sebagai senter. Lampu dianalogkan dengan siri’ yang akan

menyala terang benderang jika keempat baterainya yang dianalogkan juga

sebagai nilai-nilai tongeng (kebenaran), getteng (ketegasan), lempu


lempu’ (kejujuran),

dan adele’ (keadilan) tetap terjaga (memiliki muatan) dengan baik.


28

Gambar 2.3 Analog Senter, Nilai-Nilai yang Membangun Siri’ (Tenrigau, dkk.,
2002;10)

Apabila salah satu atau keseluruhan dari batu baterai mengalami soak

atau habis sama sekali, maka senter akan redup atau tidak bercahaya sama

sekali. Agar lampu senter tetap bercahaya, maka sumber energi itu harus selalu

diisi (charge). Demikian juga halnya dengan siri’ agar tetap eksis maka perlu

melakukan kajian mendalam dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan

sosial kemasyarakatan serta tetap selalu mempertahankannya. Semakin dikaji

dan diamalkan nilai-nilai siri’ tersebut, maka manusia akan semakin tahu tentang

hakikat dan makna dari siri’ itu sendiri sehingga dengan demikian, manusia dapat

memahami dirinya lewat kacamata siri’.

Pada dasarnya, simbol sulapa appa’ dapat ditemui pada huruf lontara’

yang berbentuk segi empat yang mirip dengan rumah adat Bugis, Makassar, dan

Mandar yang bersudut-sudut dan membentuk segi empat (praktis tidak terlihat

lekukan membentuk oval) yang dianalogkan dengan nilai-nilai lokal. Jika

dimaknai lebih dalam, maka kata siri’ dalam aksara Galigo (lontara’)

dilambangkan dengan huruf awalnya yaitu “SA” yang bentuknya hurufnya

segi empat jajaran genjang seperti halnya dengan konsep siri’ yang dikemukakan

sebelumnya.
29

Gambar 2.4 Sulapa’ Eppa’ Wolasuji/Segi Empat Ketupat (Mattulada, 1995:9)

Filosofi sulapa eppa’dipopulerkan oleh Mattulada (1995:9) yang

esensinya menekankan pada perbuatan mewujudkan manusia. Menurutnya

bahwa:

“SA” menyimbolkan mikrokosmos/sulapa’ eppa’na taue (segi empat


tubuh manusia), dipuncak terletak kepalanya, di sisi kiri dan kanan adalah
tangannya, dan ujung bawah adalah kakiknya. Simbol / / itu,
menyatakan diri secara konkrit pada bahagian kepala manusia yang
disebut sauang, berarti mulut atau tempat ke luar. Menurut mereka dari
mulutlah segala sesuatu dinyatakan ialah sadda (bunyi). Bunyi-bunyi itu
disusun sehingga mempunyai makna (simbol-simbol) yang disebut ada
(kata, sabda atau titah). Dari kata ada (kata) ialah segala sesuatu yang
meliputi seluruh tertib kosmos (sarwa alam) di atur melalui ada (kata atau
logos). Bila kata itu dibubuhi kata sandang tertentu = E, ia menjadi adaE
(kata itu). Inilah yang menjadi pangkal kata ade (adat, ade’, yakni sabda
atau penertib) yang meliputi sarwa alam / / = sa, seperti diutarakan
dalam kata-kata hikmah berikut
bunyi mewujudkan kata
kata mewujudkan perbuatan
perbuatan mewujudkan manusia

Ungkapan tersebut menyiratkan bahwa konsep sulapa’ eppa’(segi empat)

pada esensinya adalah perbuatan (human behavior) manusia yang tidak lain

adalah personifikasi dari siri’ na pesse. Hal ini juga diungkapkan Hamid

(2005:xiii) bahwa siri’ na pesse adalah dua sikap moral yang menjaga stabilitas

dan berdimensi harmonisasi agar tatanan sosial atau pangadareng (adat istiadat)

berjalan secara dinamis.


30

2.2 Nilai-Nilai Siri’ na Pesse

Nilai-nilai kearifan lokal yang dipraktikkan selama ini merupakan bagian

dari siri’ na pesse. Nilai-nilai tersebut dianggap sebagai penopang eksisnya siri’

na pesse namun di sisi lain ada juga tindakan sebagai perusak (destroyed). Nilai-

nilai kearifan lokal yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari merupakan

wujud dari upaya untuk menegakkan siri’ na pesse sedangkan yang mencederai

dianggap sebagai tindakan penodaan (bakke) yang bertentangan dengan norma-

norma yang dianut dalam masyarakat. Norma-norma tersebut merupakan

struktur sosial yang dibangun dari waktu ke waktu oleh masyarakat, termasuk

siri’ na pesse.

2.2.1 Unsur Nilai-Nilai Siri’ na Pesse

Siri’ na pessemerupakan dua unsur yang selalu dihubungkan satu sama

lain. Keduanya saling melengkapi dan tidak berdiri sendiri. Siri’ merupakan satu

kesatuan dalam kebulatan pola perilaku untuk membangun martabat atau harga

diri dan keteguhan kepribadian (Mattulada, 2005:69-70). Bagi masyarakat

pendukungnya, siri’ na pesse tidak hanya dipahami sebatas harfiahnya saja yaitu

malu dan empati, tetapi secara substansi keduanya memiliki nilai-nilai yang

membangun kedua unsur tersebut.

Berangkat dari konsep siri’ na pesseyang diuraikan sebelumnya bahwa

kedua unsur itu dibangun dengan nilai-nilai lokal tongeng (kebenaran), getteng

(ketegasan), lempu’ (kejujuran), dan adele’ (keadilan) (Rahman 2002 dan

Tenrigau 2002). Keempat nilai tersebutmengandung makna yang lebih dalam

karena berhubungan dengan transendental yang merupakan prinsip-prinsip yang

dianut dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut senantiasa dijaga dan dipraktikkan

dalam kehidupan sehari-hari sehingga terinternalisasi dalam diri masyarakat.


31

[Link] Tongeng (Kebenaran)

Tongeng (kebenaran) merupakan salah satu nilai yang dianggap berat

dilaksanakan dalam praktik kehidupan sehari-hari, tetapi jika ditegakkan akan

mendapatkan apresiasi besar dari masyarakat. Menurut Arung Bila (Rahim,

2012:75) bahwa “temmate lempuE, mawatang sapparenna attotongengnge”yang

artinya tak binasa kejujuran, amat sukar mendapatkan kebenaran itu. Pandangan

tersebut mempertegas bahwa penegakan tongeng memiliki tantangan yang

besar. Namun di sisi lain, bagi yang melanggar tongeng atau aturan akan

dijauhkan atau dikucilkan oleh masyarakat. Menurut Nenek Allomo (Rahim,

2012:63) bahwa seorang hakim yang menyimpang dari ketentuan peradilan

(aturan) tidak akan didekati rumahnya (dikucilkan) selama empat puluh malam,

karena memperdayai orang yang tongeng (benar). Kedua pandangan tersebut

memperlihatkan tesis dan anti tesis, di mana di satu sisi tongeng sangat sulit

ditegakkan (karena terkait dengan aturan) dan di sisi lain jika tidak dilaksanakan

atau mengingkari akanmendapapatkan kuhuman sosial dari masyarakat.

Seseorang yang menegakkan nilai tongeng adalah pertanda ciri orang

yang baik. Menurut Arung Bila (Rahim, 2012:80) bahwa orang baik memiliki

empat ciri: pertama, mengeluarkan kata dengan benar (tongeng), kedua

mengemukakan kata dengan sepantasnya; ketiga menyambut kata-kata dan

menenangkannya, dan keempat melaksanakan kata tepat sampai sasaran.

Pandangan tersebut menekankan pada unsur kesesuaian antara perkataan dan

tindakan dan sasaran yang hendak dicapai dari keduanya.

Tongeng dapat juga dihubungkan dengan acca (kecerdasan) yaitu orang

yang memiliki pikiran yang panjang atau bijaksana. Menurut To Accae ri Luwu

(Rahim, 2012:106) bahwa tanda orang berpikiran panjang (termasuk acca) ada

empat jenisnya, pertama, menyukai perbuatan yang benar (tongeng); kedua,


32

menyukai perkataan yang benar; ketiga, jika menghadap semak belukar ia

kembali; dan keempat, jika melewati jalan ia berhati-hati. Dua unsur pertama

menekankan pada kesesuaian antara perkataan dan tindakan, sedangkan dua

unsur yang terakhir pada menekankan pada aturan yang harus ditegakkan.

Kata semak belukar yang dimaksud adalah problematika, baik dalam

konteks sosial kemasyarakatan (civil society) maupun dalam beraktivitas. Pada

banyak kasus, aturan dianggap sebagai dasar dalam menyelesaikan

permasalahan karena memuat batasan-batasan kebenaran (tongeng) yang mesti

diikuti. Pihak-pihak yang tidak mengindahkan aturan berarti dianggap telah

melakukan kesalahan (inkonstitusional). Antara aturan dan acca

(kecerdasan/pengetahuan) memiliki keterkaitan yang erat karena aturan dapat

dijalankan jika seseorang memiliki ke-acca-an yang representatif. Tanpa

didukung ke-acca-an, maka aturan tidak dapat ditegakkan yang pada akhirnya

juga berimbas kepada eksistensi tongeng. Seseorang yang memiliki ke-acca-an

berarti dapat mempertimbangkan akibat yang terjadi dari tindakan yang

dilakukannya. Dalam pandangan La Bungkace To Udama MatinroE ri Kanna

(Rahim, 2012:33) memaknai pandai (acca) sebagai kemampuan dalam

mempertimbangkan akibat suatu perbuatan yang dapat melanggar aturan. Hal ini

juga sesuai dengan pandangan Kajao Lali’dong22 (Rahim, 2012:40) yang

memaknai acca sebagai kemampuan dalam merangkai kata yaitu tidak pernah

lepas dari peraturan.

Terma aturan menurut To Maccae ri Luwu (Rahim, 2012:113) adalah

mengamankan yang berpatutan, menyetarakan menurut kewajaran,

membuktikan apa yang pernah terjadi. Pandangan tersebut menekankan pada

22
Nama Kajao Lali’dong merupakan sebutan kepada orang-orang pandai karena keilmuwannya.
Nama ini banyak juga digunakan di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, termasuk di Pinrang
(Tenrigau, 2016 dan wawancara dengan Dr. Suriadi Mappangara (Dosen Sejarah Unhas) di
Makassar, 2015).
33

pentingnya penegakan aturan berdasarkan ketetapan yang telah ditentukan dan

mengujinya dengan [Link] menegakkan aturan, menurut To Maccae

ri Luwu (Rahim, 2012:131) bahwa:

Aturan itu tidak mengenal belas kasihsan dan tidak juga mempermudah. Jika
sesuatu sudah dikenakan peraturan dan diancam hukuman, maka akan robeklah
yang robek, berlubanglah yang berlubang, dan putuslah perkataan. Sebab aturan
itu tidak beranak dan tidak bercucu. Ia juga tidak memandang kekayaan dan
jasa. Terhadap siapa saja, peraturan itu berlakudan dengan negeri diperintah
disertai wibawa. Adapun yang menyebabkan hamba takut kepada rajanya, ialah
kalau raja tidak dinilai buruk oleh rakyatnya. Juga jika raja tidak memperlihatkan
perbuatan yang senonoh pada waktu mengungkapkan perkataannya.

Pandangan tersebut menekankan pentingnya aturan untuk ditegakkan

tanpa membedakan antara satu dengan lainnya. Seseorang yang menegakkan

aturan berarti dapat dikatakan sudah melakukan tongeng (kebenaran) karena

sudah sesuai dengan apa yang telah ditetapkan untuk diikuti dan dilaksanakan

bersama.

Dari berbagai pandangan tersebut, beberapa hal yang terkait tongeng.

Pertama, tongeng berhubungan dengan perkataan dan perbuatan yang benar;

kedua, penegakan tongeng dibutuhkan aturan yang mengikat; dan ketiga, dalam

memahami dan menjamin implementasi dari tongeng dibutuhkan acca

(pengetahuan/kecerdasan) yang memadai.

[Link] Lempu’ (Kejujuran/Honesty)

Lempu’ (kejujuran) merupakan salah satu nilai yang dianut dalam

masyarakat di Sulawesi Selatan dan Barat. Pada masa lalu, nilai ini

dipraktikkandalam menjalankanpemerintahan maupun interaksi sosial

kemasyarakatan. Secara teks, eksistensi nilai inidapat dilihat pada pesan-pesan

leluhur yang mengedepankan dan menganjurkan untuk berbuat lempu’ seperti

To Maccae ri Luwu, Karaeng Matowae, Nenek Mallomo, La Bungkace To Udama

MatinroE ri Kanna (Rahim, 2012) dan sebagainya.


34

Secara etimologi, jujur diartikan sebagai lurus hati, tidak berbohong

(misalnya dengan berkata apa adanya); tidak curang (misalnya dengan

permainan, dengan mengikuti aturan yang berlaku); tulus dan ikhlas23. Substansi

dari definisi ini menekankan pada sikap seseorang untuk berbuat seperti pada

definisinya. Dalam pandangan Alber (2011) kejujuran dianggap sebagai

pengakuan dalam berkata atau memberikan sebuah informasi yang sesuai

kenyataan dan kebenaran, dalam arti memiliki batasan-batasan dan lebih bersifat

kondisional dalam aplikasinya sepanjang tidak ke luar dari tujuan dan makna

dasar. Batasan-batasan dalam perilaku jujur yang dimaksud tersebut adalah

orang yang tidak berbohong.

Lempu’ jika diinterpretasi lebih jauh memiliki cakupan yang luas. Lempu’

dilihat dalam dimensi perkataan (lisan) dan dimensi tindakan/perilaku berarti

menempatkan sesuatu pada tempatnya. Selain itu lempu’ juga dikonotasikan

tidak berbohong (dalam dimensi perkataan) atau tidak mengatakan yang tidak

sesuai dengan kenyataannya. Dalam dimensi tindakan, lempu’ berati

menempatkan sesuatu pada tempatnya dan tidak mengambil yang bukan haknya

atau bukan miliknya sehingga dapat dikatakan bahwa kejujuran adalah mutiara

yang terpendam dalam jiwa (Kahar, 2012).

Cendikiawan Bugis, Makassar, Mandar sejak dulu telah mengungkapkan

tentang kejujuran (Mannahao, 2010: 35-36) bahwa:

Sabbi’na lempu’e limai: (1) narekko salai’, nangauwi asalanna, (2) narekko rionroi
sala, naddampangengngi tau ripasalonna, (3) narekko risanre’kiwi, de’
nappabbeleang, (4) narekko rirennuangngi, de’ napace’kowang, (5) narekko
majjanciwi, narupaiwi jancinna (bukti dari kejujuran ada lilma, (1) kalau bersalah,
ia mengakui kesalahannya, (2) kalau ditempati bersalah, ia memaafkan orang
yang bersalah, (3) kalau dijadikan tempat bersandar, ia tidak mengecewakan, (4)
kalau dipercaya, ia tidak menipu, (5) kalau berjanji, ia menepati janji).

23
[Link]/jujur
35

Esensi dari lempu’ terhadap pandangan tersebut menekankan pada

amanah, yaitu sikap apa adanya seperti apa yang sebenarnya dibebankan dan

diharapkan kepadanya. Pandangan ini sejalan dengan catatan dari Lontara’ Andi

Makkaraka Renreng bahwa terdapat tiga macam kejujuran, yaitu kejujuran

Tuhan terhadap hambanya, kejujuran hamba terhadap Tuhannya, dan

(kejujuran) yang bercermin pada dirinya. Kejujuran dalam konteks tesebut

menekankan pada tindakan apa adanya yang semestinya dilakukan berdasarkan

batasan-batasan yang mesti dilakukan.

Nilai kejujuran dapat dilihat dari tanda atau ciri yang melekat pada

seseorang seperti yang diungkapkan Albert (2011). Menurut To Maccae ri Luwu

(Rahim, 2012:96) bahwa tanda orang jujur; pertama orang bersalah kepadanya

dimaafkan; kedua dapat dipercaya dan tidak khianat; ketiga tidak serakah

sesuatu yang bukan haknya; dan keempat tidak menginginkan kebaikan jika

kebaikan itu hanya diinginkan sendiri. Pandangan ini sejalan dengan

cendikiawan Bugis, Makassar, Mandar (Mannahao, 2010) yang memaknai

kejujuran adalah amanah.

Seseorang yang amanah, akan berkata baik atau berkata apa adanya

sesuai fakta atau informasi yang mendukung dan senantiasa menjaga dengan

baik agar amanah yang diberikan kepadanya tetap terjaga. Dalam pandangan

yang diwasiatkan Nenek Allomo24 (Rahim, 2012:69) sebagai berikut.

Kejujuran itu diumpamakan dengan burung liar yang tidak dapat ditangkap jika
tidak diketahui penjinakannya. Adapun yang dapat menjinakkan adalah
pantangan, sangkarnya ialah takut dan waspada, makanannya ialah tidak
mendengarkan perkataan buruk maupun perkataan baik.

Secara intrinstik, pandangan tersebut menekankan bahwa lempu’ itu

memiliki batasan-batasan yang mesti diperhatikan. Seperti menganalogkan

lempu’ sebagai burung liar yang dapat dijinakkan dengan pantangannya. Kata

24
Cendekia Sidenreng masa dahulu
36

dijinakkan mengandung arti adalah pantangan. Hal ini dapat ditarik

benangmerahnya bahwa lempu’ itu pantangannya adalah tidak berbohong, apa

adanya, dan objektif. Lanjutan dari pandangan itu yaitu sangkarnya adalah takut

dan waspada yang menunjukkan perlunya kehati-hatian dan konsekuensi yang

diakibatkan jika tidak keluar dari koridor batasan-batasan aturan teknis yang

ditetapkan. Selanjutnya pandangan itu menyebutkan bahwa “maknanya ialah

tidak mendengarkan perkataan buruk maupun perkataan baik” yang

menunjukkan konsistensi pada batasan-batasan yang menjadi aturan.

Pandangan Nenek Allomo tersebut menekankan bahwa kejujuran tidak

berdiri sendiri tetapi memiliki batasan-batasan yang tidak keluar dari

substansinya. Batasan-batasan yang dimaksud tersebut juga diungkapkan To

Maccae ri Luwu (Rahim, 2012:117) bahwa jujur itu di antaranyakepada

rakyatnya, dirinya, dan semua yang dilihat serta didengar telinga, apa yang

hendak dilakukan atau diikrarkan, dilihat yang di depan dan memperkirakan yang

di belakang, tidak meninggalkan janji, serta berkata keras dan lembut menurut

kewajarannya25.

Lebih lanjut, To Maccae ri Luwu (Rahim, 2012:105) memberikan

pandangan pentingnya bagi abdi atau alat negara untuk mengedepankan lempu’.

Menurutnya bahwa empat hal yang mesti dilakukan, yaitu jika ia jujur, berpikiran

panjang, kaya, dan pemberani. Dalam konteks berpemerintahan dewasa ini, abdi

atau alat negara yang dimaksud To Maccae ri Luwu dapat meliputi aktor

penyusun anggaran yang harus bersikap jujur, berpikiran panjang yaitu

memahami aturan, kaya yang berarti pengalaman, dan pemberani yang berarti

komitmen dan kemampuan menanggung konsekuensi atau taro ada taro gau

(satunya perkataan dengan perbuatan).

25
Pandangan ini merupakan intisari dari sekian banyak hal-hal yang menyebabkan seorang raja
(atau pemimpin) tetap tenang dalam kerajaannya.
37

Dari sekian pandangan dan argumentasi tersebut, beberapa hal yang

menjadi batasan nilai lempu’. Pertama, lempu’ berhubungan dengan tindakan

berkata benar/tidak bohong yang berarti menyajikan informasi apa adanya

secara objektif yang terbebas dari manipulatif. Kedua, lempu’ berhubungan

dengan aturan, yaitu tindakan harus berdasarkan koridor atau batasan yang

telah menjadi ketetapan. Ketiga, kewajaran yaitu penyajian informasi yang logis

dan realistis supaya dapat diterima secara rasional.

[Link] Getteng (Ketegasan)

Beberapa semboyan yang menggambarkan tentang getteng (ketegasan),

seperti toddo’ puli’ temma lara’, tenrisau to maega, tebbakke tongengge, dan

berbagai pesan-pesan leluhur yang menjadi pegangan nilai pada masa dahulu.

Secara simbolik, semboyan tersebut dapat dijumpai di beberapa palagan atau

monumen perjuangan di daerah.

Getteng (ketegasan) dapat dimaknai seperti pada semboyan toddo’ puli’

temma lara’ yang artinya kokoh di tempat tidak bergeser (Rahman, 2002:67).

Semboyan tersebut diabadikan di monumen perjuangan rakyat Luwu 23 Januari

1946 di Palopo sebagai simbol perlawanan terhadap pendudukan KNIL/NICA26.

Makna dari semboyan menggambarkan eksistensi getteng (ketegasan) sebagai

perilaku atau sikap yang kuat untuk tetap berpegang teguh pada prinsip,

tuntunan, pernyataan, atau tindakan yang benar-benar dipahami dan melekat

dalam jiwa sanubari.

Secara empiris, semboyan ini mengingatkan sikap getteng Raja Luwu ke-

36 ketika diminta oleh tentara KNIL/NICA di Istana Luwu agar menurunkan

26
Netherlands Indie Civil Administration (NICA)/Koninklijke Nederlands (ch)–Indish Leger (KNIL).
Kedua institusi tersebut datang ke Kerajaan Luwu pasca kemerdekaan Indonesia 17 Agustus
1945 yang ingin kembali menancapkan kekuasaannya setelah pasukan Jepang ditaklukkan
sekutu pada Agustus 1945.
38

bendera Merah Putih dan menggantikan dengan bendera Belanda Merah Putih

Biru. Saat itu, walau dalam tekanan berat, beliau dengan sikap tegas menolak

menurunkan bendera Merah Putih dan menggantinya dengan bendera Belanda

(Mattata, 1967, Tenrigau, 2016). Pernyataan sikap Andi Djemma merupakan

wujud dari sikap getteng yang tidak bergeser sama sekali dengan apa yang

dipahami sebagai suatu tongeng (kebenaran) walaupun nyawa sebagai

konsekuensinya. Sikap yang ditunjukkan tersebut juga menunjukkan nilai warani

(keberanian), yaitu ke-warani-an bersikap dan ke-warani-an menanggung

konsekuensi logis yang timbul.

Semboyan lain yang terkait dengan getteng adalah taro ada taro gau

yangartinya bersatunya ucapan dengan perbuatan dan tenrisau to maega yang

artinya orang banyak tidak terkalahkan yang berarti kebulatan tekad atau

persatuan (Tenrigau, 2002:ii). Semb

oyan ini tertulis di monumen perlawanan rakyat Luwu di Belopa

Kabupaten Luwu. Esensi dari semboyan tersebut adalah komitmen yang kuat,

bersikap mempertahankan tongeng (kebenaran) dan lempu’ (kejujuran) dan

keteguhan yang bulat antara ucapan dan perbuatan.

Getteng (bahasa Bugis) atau akkontutojeng (bahasa Makassar) juga

diartikan sebagai berketetapan hati. Menurut To Maccae ri Luwu (orang cerdas

dari tanah Luwu) bahwa eppai gauna gettengnge: (1) tessalaie janci,(2) tessosori

ulu ada’, (3) telluka anu pura’ teppinra assituruseng, (4) mabbicara naparapi,

mabinru’i tepupi napaja (empat perbuatan yang ditimbulkan oleh keteguhan hati/

getteng, yaitu (1) tidak mengingkari janji, (2) tidak mengkhianati ikrar, (3) tidak

membatalkan keputusan, (4) berbicara ia mampu, kalau mengerjakan sesuatu

tidak berhenti sebelum selesai (Kahar, 2010). Pandangan tersebut semakna

dengan semboyan tebbakke tongengge (Rahman, 2002:97), toddo’ puli’ temma


39

lara dan taro ada taro gau (Tenrigau, 2002:ii) yang berarti komitmen bersikap

dan melaksanakan apa yang dikatakan. Salah satu dari keempat ciri dari sikap

getteng tersebut, yaitu “berbicara ia mampu, kalau mengerjakan sesuatu tidak

berhenti sebelum selesai” dianut sebagai slogan Universitas Andi Djemma

Palopo. Karakter itu menunjukkan komitmen untuk meraih suatu cita-cita dengan

etos kerja yang tinggi.

Penegakan getteng tercermin dari sikap dan perilakunya dalam interaksi

sosial. Seseorang yang bersikap getteng, tentu menunjukkan karakter yang

menjadi ciri-ciri dari nilai tersebut. Sikap getteng yang ditunjukkan Datu Luwu

Andi Djemma dan semboyan Universitas Andi Djemma Palopo merupakan wujud

dari penegakan getteng. Menurut To Ciung (Farid, 2002:33) bahwa ciri-ciri

getteng dapat diwujudkan dalam delapan tindakan, sebagaimana berikut.

Arua sabbinna gettengE: seuwani, topalebbiE; ada maduanna, takkurangiE ada;


matellunna, palettuE passuroang; maeppa’na, paodaE ada patuju; malimanna,
pogauE gau’ patuju; maennanna, pogauE gau’ makkenna tuttureng, enrengnge
ada-adanna; mapitunna, saroi maseri silasanaE; maaruanna, pakkatunaiE alena
silasanaE.
(Delapan tanda getteng (ketegasan) yaitu: tidak melebihkan kata-kata, tidak
mengurangi kata-kata, menyampaikan suruhan, mengatakan kata-kata benar,
melakukan perbuatan benar, berhati-hati dalam melakukan perbuatan serta
berbicara, menarik simpati yang semestinya dan merendahkan diri yang
sepantasnya).

Pandangan tersebut sangat jelas menunjukkan batasan atau ciri dari

tindakan getteng, di antaranya meliputi perilaku tongeng (kebenaran) dan lempu’

(kejujuran). Ungkapan “tidak melebihkan kata-kata” dan “tidak mengurangi kata-

kata” dapat dimaknai sebagai tindakan lempu’ (jujur) yaitu menyampaikan atau

menyajikan informasi apa adanya secara objektif. Ungkapan “mengatakan kata-

kata benar” dan “melakukan perbuatan benar” dimaknai sebagai perilaku

tongeng (kebenaran). Sementara itu, ungkapan “berhati-hati dalam melakukan

perbuatan serta berbicara” adalah wujud dari tindakan lempu’ karena terkait

kemampuan teknis dalam memahami aturan. sedangkan ungkapan “menarik


40

simpati yang semestinya dan merendahkan diri yang sepantasnya” dapat

dimaknai sebagai tindakan dualitas tongeng dan lempu’ yang memberikan

persepsi satunya kata dengan perbuatan. Jadi esensi getteng (ketegasan) dalam

pandangan To Ciung (Farid, 2002) adalah melakukantindakan tongeng dan

lempu’. Artinya, jika seseorang ingin bersikap getteng, maka harus berlaku

tongeng dan lempu’ terlebih dahulu karena jika itu tidak dilakukan, maka sangat

sulit bersikap getteng atau tegas.

Dalam menegakkan getteng dibutuhkan (warani) keberanian karena

tanpa keberanian, getteng tidak akan dapat ditegakkan. Seseorang yang

menegakkan ke-warani-an akan mendatangkan banyak kebaikan dari pada

kejelekannya karena senantiasa membela kebenaran dan kejujuran yang

menjadi haknya yang mesti dipertahankan atau diperebutkan. Menurut Arung

Bila (Rahim, 2012:84-85) bahwa:

Agguruiwi gau’na towaraniE, enrengnge empe’na. Apa’ iya gau’na towaraniE


seppuloi uwangenna, seuwamua ja’na, jajinna asera decenna. Iyamuaro
nariaseng maja’ ceddiE apa’ matei. Naiya mua topellorengnge mate muto, apa’
de’sa temmatena seininna makkenyawaE.
(Sesungguhnya perbuatan orang berani ada sepuluh macammnya, hanya satu
keburukannya. Hanyalah disebut yang satu itu jelek, sebab ia mati. Akan tetapi
orang penakutpun akan mati juga karena semua yang bernyawa akan mati)

Pandangan tersebut menggarisbawahi pentingnya getteng ditegakkan.

Seseorang yang menegakkan getteng dengan penuh ke-warani-an akan

mendatangkan lebih banyak manfaatnya dari pada menjadi sosok yang pelloreng

(penakut). Pada dasarnya, pandangan tersebut memperlihatkan bahwa getteng

meliputi adanya tesis warani (keberanian) dan anti tesis pelloreng

(penakut).Hanya saja, sikap warani merupakan karakter yang dominan yang

dimiliki seseorang yang menegakkan getteng.

Dalam pandangan yang lebih ekstrim, Arung Bila (Rahim, 2012:86) lebih

lanjut mengemukakan bahwa “orang penakut tidak ada kebaikan yang dimiliki,
41

sekalipun hanya satu tidak ada juga. Ada empat tandanya orang penakut itu,

pertama banyak salahnya; kedua, dustanya banyak; ketiga serakah; keempat

kurang rasa malunya (siri’)”. Oleh sebab itu, seorang yang warani selalu siap

menghadapi segala konsekuensi yang diterimanya, sebagaimana pandangan To

Maccae ri Luwu (Rahim, 2012:107-108) bahwa tandanya orang berani ada

empat, yaitu: pertama, ia tidak gentar menerima perkataan jelek dan perkataan

baik; kedua, ia tidak mendengar berita tetapi didengarnya juga; ketiga, tak takut

ia ditempatkan di depan atau di belakang, keempat, tak takut ia menghadapi

lawan”.

Dari berbagai pandangan tersebut, beberapa simpulan yang dapat ditarik.

Pertama, dalam menegakkan getteng dibutuhkan sikap dan komitmen yang kuat

untuk berpegang pada apayang dianggap tongeng (kebenaran) dan lempu’

(kejujuran); kedua, dalam menegakkan getteng dibutuhkan warani (keberanian)

baik dalam bersikap maupun konsekuensinya; ketiga, hal-hal yang dapat

merusakgetteng adalah pelloreng (penakut), berbuat kesalahan, banyak dusta

(bohong), serakah, dan tidak memiliki rasa malu (siri’).

[Link] Adele’ (Keadilan)

Kata adil dalam literatur kearifan lokal Bugis-Makassar sangat jarang

ditemui. Berbeda dengan kosakatatongeng (kebenaran), lempu’ (kejujuran), dan

getteng (ketegasan) yang masih dapat ditemui di beberapa literatur dan

manuskrip. Adele’ (keadilan) dalam pandangan La Wadeng Arung Bila, secara

harfiah berarti perwujudan tingkah laku dari lidah, tingkah laku dari hati, dan

tingkah laku dari perbuatan yang mesti diperhatikan terhadap pihak-pihak dalam

masyarakat (Mannahao, 2010:56). Pernyataan tersebut menggarisbawahi tiga

bentuk dari keadilan, yaitu ucapan, hati, dan perbuatan. Jadi adele’ berarti adil
42

bertutur kata, dibenarkan dengan hati (karena ada niat), dan adil dalam

perbuatan. Dalam artian lain bahwa ucapan sesuai dengan kata hati dan

dibuktikan dengan tindakan yang nyata.

Bagi orang-orang Luwu,27 sifat adil dihubungkan dengan kepemimpinan.

Pemerintah yang berlaku adil diibaratkan sama dengan melakukan sholat selama

40 malam. Hal tersebut diungkapkan I Sahe MakkunraikepadaRahman (2002:66)

bahwa adele’ mapparenta datu’e padami patappulo wenni sempajangnge (hanya

semalam pemerintah berbuat adil sama dengan 40 malam bersembahyang).

Secara etimologi, tentu adil tidak dapat disamakan dengan salat 40 malam, tetapi

secara terminologi menunjukkan bahwa adele’ bagi seorang pemimpin memiliki

keutamaan yang lebih besar karena menyangkut hidup orang banyak. Seorang

pemimpin yang tidak berlaku adil kepada masyarakatnya maka sudah barang

tentu akan berdampak terhadap instabilitas keseimbangan dan interaksi dalam

bermasyarakat.

Jika merujuk pada pandangan La Wadeng Arung Bila (Mannahao,

2010:56) yang menekankan adele’ dalam tiga tindakan, yaitu ucapan, hati, dan

perbuatan, maka pandangan To Maccae ri Luwu berikut memiliki korelasi dengan

pernyataan tersebut. Walaupun tidak menyebutkan secara konkrit arti dari adele’,

tetapi pandanganTo Maccae ri Luwu (Rahim, 2012:95) dapat memberikan

gambaran tentang adele’ sebagai berikut.

Makkedai TomaccaE ri Luwu: ripariajangngi riajangngE, ripalau’i alauE,


ripariamaniangngi ri amaniangngE, ripariase’i ri ase’E, ripariawai ri
awaE.(Berkata to MaccaE ri Luwu, ditempatkan di Barat yang di Barat,
Ditempatkan di Timur yang di Timur, ditempatkan di Selatan yang di Selatan,
ditempatkan di Utara yang di Utara. Ditempatkan di atas yang di atas, dan
ditempatkan di bawah yang di bawah)

27
Pernyataan hasil wawancara Prof. Dr. Darmawan Mas’ud Rahman di Palopo yang kala itu
Kabupaten Luwu masih meliputi kabupaten dan kota yang ada sekarang yaitu Luwu Utara,
Luwu Timur, Kota Palopo, dan Kabupaten Luwu (bagian selatan Kota Palopo).
43

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa tanda dari kejujuran itu adalah

menempatkan sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya atau

sepatutnya, menilai sesuatu dengan sebenarnya serta berlaku adil dan

bijaksana. Pandangan ini sesuai dengan La Wadeng Arung Bila (Mannahao,

2010:56) yang menekankan pada kewajaran antara ucapan dengan hati dan

perbuatan yang juga dalam pandangan To Maccae ri Luwu merupakan tindakan

yang menempatkan sesuatu pada tempatnya yang juga diartikan kewajaran. Jadi

pada esensi pandangan To Maccae ri Luwu dan La Wadeng Arung Bila

menekankan kejujuran pada kewajaran.

2.2.2 Penghancur (Destroyed) Nilai-Nilai Siri’ na Pesse

Hamka (1977:185) seorang guru besar kenamaan membagi empat nilai-

nilai kontradiktif yang merupakan lawan dari siri’, yaitu bodoh, zalim, syahwat,

dan gahdab. Zalim yaitu meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, syahwat

berarti rakus, tamak berarti keinginan menerima banyak dan tak mau memberi.

Ghadab artinya marah yang bisa aktif karena sombong, dengki, dan benci.

Orang yang memiliki nilai-nilai penghancur (destroyed) semacam ini kalau

berkuasa akan menindas, tak peduli, kalau dikuasai oleh orang mau menjilat,

mengambil muka, kehilangan harga diri. Kepada orang kuat sangat pengecut

dan kepada orang lemah menindas.

Dalam pemahaman orang Bugis-Makassar dikenal empat unsur sebagai

sumber kehidupan, yaitu api, angin, air, dan tanah. Unsur itu diabadikan La

Sangaji Puanna La Senggeng untuk menganalogkan sifat dari manusia. Tiga

unsur tersebut yaitu api, angin, dan air yang dianggap sebagai perusak atau

penghancur (destroyed) dari konstruksi (nilai-nilai yang membangun) siri’ na

pessedan unsur tanah dianggap sebagai katalisator.


44

Keempat unsur tersebut digambarkan Farid (2005:46-50), pertama

angin: bicara silangi tanae riona ritaue madde’ tekeng bicara, nasabak riwerenna

waramparang ri toribicarae, ianaritu mala pasosok sipak angin ritu kedona.

Angingnge mangkauk mautang tanai lempuk, engkana mau maka naolanaolai,

pura pole oraik, pura pole alauk. Artinya keputusan yang merusak negeri ialah

jikalau kegembiraan terhadap seseorang yang dipakai memutuskan persoalan,

karena (aparat yang memutuskan) telah diberikan harta benda oleh orang yang

dipersoalkan/diadili. Itulah yang mengambil sogokan (korupsi) maka

perbuatannya bersifat angin, angin itu berbuat dengan kekerasan yang tidak

berdasarkan kejujuran karena hanya melalui jalan satu-satunya yang ditempuh

(tanpa berusaha melalui jalan lebih baik). Angin itu datangnya dari Barat dan dari

Timur.

Angin diibaratkan sebagai seorang yang curang karena suka korupsi,

selalu mengambil jalan pintas sekali pun tercela, serta dapat dikategorikan to

rangga sela” yaitu orang yang tidak tetap pendiriannya, tidak berprinsip (getteng)

dan hanya mementingkan uang belaka. Ia rela melakukan apa saja (ibaratnya

arah mata angin datang dari Barat dan Timur) selama yang dilakukan itu dapat

menghasilkan arus kas masuk (cash in flow) bagi dirinya tanpa memperhatikan

dampak yang ditimbulkannya untuk kemaslahatan orang banyak.

Kedua-api, sifat ini dilukiskan bahwa rekko gellinna ri taue naddetekeng

bicara, naengngerangngi ri wettu engkana apasa lanna ri alena naia

nababbarengngi, olo tongeng napasalai. Sipak apinna ritu kedo. Naia apie

mangkarauk maraja temmita munri. Artinya bila amarahnya yang dipakai

memutuskan persoalan/perkara, karena diingatnya pada waktu adanya

kesalahan orang itu terhadap dirinya dan itulah dipakai memukulnya

(menghukumnya). Sesungguhnya ia harus membenarkan tetapi


45

dipersilahkannya. Ada pun apiitu berbuat kuat melampaui batas dan tak

memperhitungkan akibatnya.

Api itu diibaratkan seseorang yang suka marah, cepat mengamuk, atau

bertindak hebat tanpa menggunakan rasio atau akal pikirannya. Ia tidak

memperhitungkan akibat perbuatannya itu baik kepada dirinya maupun kepada

orang lain atau organisasi.

Ketiga-air, sifat ini dilukiskan bahwa esse’ babbuana nabbicarang, ianaritu

pabbicara makkalepak nasabak seajinna assininnawa nganna nakalepaksi. Olo

salanatongengngengngi: sipak uae ritu kedona. Ia uae macca namnisik, iakiadek

gettenna, iana malleppek-leppek iani matuna-tuna iani naccoloki. Artinya rasa

kasihan yang dipakai memutuskan perkara, itulah aparat/pejabat yang memihak,

sebab yang tersangkut ialah sanak atau kawan akrabnya, maka ia melindungi

mereka. Hal seperti itu bersifat air. Air itu pandai dan teliti tetapi tidak tegas

(getteng) di mana tempat yang rendah, di mana tempat yang hina dina,

kesanalah ia mengalir.

Air diibaratkan orang yang menggunakan belas kasihan yang melanggar

norma untuk menerapkan suatu hal, sehingga melindungi orang yang bersalah,

karena orang itu sanak atau sahabatnya. Walaupun air itu pintar dan teliti, tetapi

ia suka melakukan perbuatan yang hina. Sifat air itu juga dimiliki orang yang

suka menjilat ke atas dan menginjak ke bawah. Sifat air menggambarkan

nepotisme.

Keempat-tanah, sifat ini dilukiskan bahwa pabbicara tongeng

madecengngi napasisauk-sauk wali-wali urekna bicarae, napenisik i sininna

majak e namapaccing, naellaui ri Dewata Seuae tenriawa, tenriasek, teccukuk,

teccengak, dek gaga barak seuana maelok nala sangadinna mua riatinna

tongeng. Nasappa attetongenna tongengge, nasalae nasappak asalla.


46

Naengkana nitu madecengnaiamua napampiang atongengenna tongengnge

nawere’ toni asalanna salae. Ianaritu sipak tana kedo: malempuk namawatang,

iatomi padecengngi tana perajai wanua. Artinya pejabat yang benar ialah yang

memelihara keempat alat bukti kedua belah pihak yang bersengketa (lalu

disambungnya atau dipertentangkannya) diteliti semua yang buruk dan setelah

itu dimohonnya kehadapan Tuhan Yang Maha Esa agar tidak di bawah (tidak

merasa segan terhadap pihak yang kuat posisinya di masyarakat) dan tidak di

atas (tidak memandang enteng pihak yang lemah), tidak tunduk dan tidak

menengadah (tidak berpandangan vertikal di atas), tidak ada yang akan

ditetapkannya selain dari apa yang benar menurut kata hatinya. Ia mencari

kebenaran yang benar dan yang bersalah dicarinya kesalahannya, apabila

ditemuinya yang baik, maka diberikannya kebenaran kepada pihak yang benar,

dan diberikannya pula kesalahan kepada pihak yang salah. Itulah sifat tanah

yang bergerak, jujur, dan kuat. Itu sajalah yang memperbaiki dan dapat

membesarkan negeri.

Menurut kriteria dahulu kala, orang yang berasal usul baik yang

menonjolkan sifat tanahnya yang menetralisir sifat api, angin, dan air, itulah yang

perlu dicontoh (patuppu batu) dan orang demikian dianggap paling sempurna

siri’nya. Jadi ada anggapan dahulu bahwa semakin tinggi kedudukannya

seseorang dalam masyarakat dan pemerintah, makin dianggap mempunyai siri’

yang lebih sempurna daripada orang biasa. Oleh sebab itu, orang-orang Bugis

dan Makassar berupaya untuk meraih keberhasilan atau kinerja (performa)

karena hal tersebut merupakan representasi dari siri’ itu sendiri.


47

2.3 Penyusunan Anggaran Berbasis Nilai-Nilai Siri’ na Pesse

Eksistensi nilai-nilai siri’ na pessememiliki peran penting dalam proses

penyusunan anggaran dalam segala level. Oleh sebab itu, nilai-nilai siri’ na

pesse senantiasa terus ditegakkan untuk melahirkan anggaran yang efisien,

efektif, transparan, akuntabel, dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

Dalam penyusunan anggaran terdapat beberapa kriteria yang menjadi

rujukan. Menurut To Ciung (Rahim,2012:108-109) bahwa kriteria-kriteria tersebut

yaitu: kita harus jujur (lempu’),kita harus berkata benar (tongeng), kita harus

teguh pendirian/tegas (getteng), kita harus mawas diri (waspada dan penuh

perhatian), yang disebut jujur (lempu’) ialah bila kita dapat mengukur diri sendiri,

yang disebut berkata benar (tongeng) jika tidak keluar kata bohong dari mulut

kita, yang disebut tegas (getteng) bila kita tidak mengingkari janji, yang disebut

waspada dan penuh perhatian bila mata kita tidak tidur baik siang maupun

malam memikirkan hal-hal yang dapat memperbaiki negeri kita, yang disebut

pemurah ialah bila kita mampu untuk memberi makan orang lain siang dan

malam, yang disebut pikiran nyaman ialah bila kita tidak marah jika diperingati

atau dinasehati, yang dinamakan berani ialah bila kita tidak membedakan

kematian dan kehidupan, yang dinamakan tidak membedakan ialah memandang

sama bila kita berada atau tidak berada.

Kriteria yang digunakan To Ciung dalam melahirkan transparansi pada

penganggaran, secara garis besar dibangun dalam empat pilar nilai yaitu:

tongeng (kebenaran), getteng (ketegasan), lempu’ (kejujuran), dan adele’

(keadilan). Keempat pilar nilai siri’ na pesse tersebut tersusun secara vertikal

yang menggambarkan hubungan operasional dari nilai-nilai tesebut, seperti pada

gambar berikut.
48

Tongeng Lempu’
Kebenaran Kejujuran

Mata Tidak Tidur Siang Berkata Benar


dan Malam (Dokumen Sumber)
(Bertanggung Jawab Secara
Konstitusional) Tidak Bohong
(Apa Adanya)

Mengukur Diri Sendiri


(Capaian Output dan Sasaran )

Tidak Marah Jika Dinasehati


(Amanah, Korektif-Daftar Harga)

Getteng
Ketegasan

Waspada dan Hati-Hati


(Mempertahankan Tongeng dan Lempu’)

Tidak Ingkar Janji


(Komitmen)

Tidak Membedakan Kematian dan Kehidupan


(Berani Menanggung Risiko)

(Adele’/Keadilan)
Memandang Sama Ada atau Tidak Ada
(Proporsional)

Memberi Makan Siang dan Malam


(Keberpihakan (Pro Poor)/Kesejahteraan)

Gambar 2.5 Basis Nilai Dalam Penyusunan Anggaran (Rahim, 2012:108-109)

Jika dijabarkan lebih luas dalam hubungannya dengan proses

penganggaran, maka nilai tongeng (kebenaran) yang menggambarkan bahwa

anggaran yang disusun harus berdasarkan pada kebijakan, prosedur, dan aturan
49

yang berlaku dan dipertanggungjawabkan secara konstitusional (refleksi dari

mata tidak tidur siang dan malam).

Nilai lempu’ (kejujuran) menggambarkan bahwa anggaran yang disusun

harus berdasarkan dokumen sumber seperti dokumen perencanaan

pembangunan daerah yang meliputi RPJPD, RPJMD, RKPD, PPAS/PAS yang

berisafat top down dan dokumen dari hasil musrenbang yang bersifat bottom up

(berkata benar). Anggaran disusun tidak boleh keluar dari dokumen sumber

(objektif) dan diarahkan untuk menghasilkan output untuk memenuhi aspek

sufieisnsi yaitu kebutuhan sosial dasar dan kebutuhan infrastruktur dasar untuk

kesejahteraan masyarakat (mengukur diri sendiri) berdasarkan acuan daftar

harga yang ditetapkan pemerintah (perwujudan dari tidak marah jika dinasehati).

Nilai getteng (ketegasan) menggambarkan bahwa anggaran yang disusun

harus berdasarkan aturan/tongeng dan dokumen sumber (lempu’) (waspada dan

hati-hati) dan tetap komitmen (tidak ingkar janji) untuk menolak berbagai macam

tindakan inkonstitusional dengan risiko apapun (tidak membedakan sama ada

atau tidak ada). Sedangkan nilai adele’ (keadilan) menggambarkan bahwa

anggaran yang disusun harus proporsional ke setiap level unit kerja dan

menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat supaya output yang dihasilkan

dapat dinikmati masyarakat pada umumnya.

Begitu pentingnya nilai-nilai siri’ na pesse dalam perencanaan dan

penyusunan anggaran sehingga bagi orang-orang yang masih berpegang teguh

pada nilai-nilai lokal akan merasa sangat malu (masiri’) jika dalam pelaksanaan

proses penyusunan anggaran melakukan tindakan yang berlawanan dengan

kebijakan, prosedur, dan peraturan walaupun dalam kapasitas yang sangat kecil.

Tindakan yang mencederai siri’ pada dasarnya tidak diukur besar kecilnya apa

yang dilakukan. Menurut Lopa (2005:92) bahwa:


50

Pemerintahan masa lalu memiliki kedisiplinan yang sangat kuat dan merasa
sangat malu apabila dalam buku kas yang dipertanggungjawabkannya terdapat
selisih jumlah setengah sen. Meskipun selisihnya lebih (tidak ada uang negara
yang hilang) sudah sangat malu karena dianggap tidak tahu mengerjakan buku
[Link]-lebih lagi kalau buku kasnya ada tekoran setengah sen, maka malunya
sudah sangat luar biasa, sehingga ada kalanya oknum pejabat tersebut
menderita sakit (terutama sakit tekanan batin) berminggu-minggu lamanya
karena merenungkan kejadian itu.

Menyikapi pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan pada

masa lalu sangat peka, hati-hati, dan teliti menggunakan anggaran. Jika terjadi

selisih mereka sangat malu. Rasa malu bukan hanya karena terjadinya selisih

minus karena tindakan korupsi atau selisih lebih karena pengeluaran kas yang

tidak tercatat atau karena kebutuhan pribadi. Rasa malu itu juga berlaku jika

mereka diberikan gratifikasi untuk tujuan tertentu sehingga merugikan suatu

pihak atau negara dalam lingkup yang luas.

Jika menoleh kebelakang, dalam upaya untuk mempertahankan siri’ juga

terjadi pada masa pemerintahan kerajaan. Sawerigading (anak dari Batara Lettu’,

raja kedua Kerajaan Luwu) suatu ketika ditawari berdamai oleh raja Guttu

Tellamma, negeri Saliweng Langi’. Guttu Tellamma menawarkan hadiah berupa

sejumlah harta benda kepada Sawerigading asal mau menerima perdamaian

yang ditawarkan kepadanya. Sawerigading menolaknya karena pantang

menerima suap dari mana pun. Usaha keras dan kegigihan untuk mencapai

harkat dan martabat tergambar dalam peristiwa perjuangan Sawerigading ketika

ingin mempersunting We Cudai di Tanah Cina (Tiongkok). Walaupun

Sawerigading harus menghadapi berbagai macam tantangan dan rintangan, ia

tak pernah gentar hingga usahanya benar-benar berhasil (Said, 2003).

Sikap yang ditunjukkan pemerintah dahulu sebagaimana yang dimaksud

Lopa (2005) dan Sawerigading (Said, 2003) merupakan komitmen (commitment)

untuk mewujudkan transparansi dalam menciptakan keadilan kepada semua

orang. Nilai-nilai tersebut merupakan spektrum dari kejujuran (lempu’) yang


51

berhubungan dengan komitmen (commitment), disiplin (discipline), bertanggung

jawab (responsible), dan adil (justice) (Mannahao, 2010).

Adil
Justice

Disiplin Lempu’ Komitmen


Discipline Commitment
Jujur

Bertanggung
Jawab
Responsible

Gambar 2.6 Spektrum Lempu’ (Mannahao, 2010:30)

Sikap komitmen menunjukkan keteguhan hati (getteng/ketegasan) untuk

menggunakan anggaran dengan sebaik-baiknya sesuai dengan pagu anggaran

yang telah disepakati bersama. Disiplin menunjukkan waspada dan hati-hati

dalam penggunaan anggaran agar anggaran yang digunakan benar-benar

terarah dan sesuai dengan peruntukannya. Bertanggungjawab menunjukkan

bahwa apa yang telah dilakukan, mulai dari penyusunan hingga penggunaan

anggaran harus dipertanggungjawabkan dengan baik dan benar sehingga

melahirkan keadilan bagi semua. Itulah proses penganggaran yang jujur

(lempu’).

2.4 Hirarki Siri’ na Pesse

Beberapa penulis mengklasifisikan siri’ na pesse. Andaya (1979:366)

membagi siri’ menjadi dua, yaitu (1) aib yang disebabkan oleh serangan orang

lain, dan (2) rasa malu yang disebabkan oleh nasib buruk yang menimpa

seseorang. Sedang Farid (2005:51-52) membagi siri’ membagi tiga, (1) siri’, yaitu

harkat, martabat, dan harga diri manusia, (2) siri’masiri’ yaitu perasaan aib dan
52

hina sebagai akibat keadaan yang menimpa misalnya karena miskin, dungu,

berdosa karena memfitnah atau perbuatan sendiri yang menyebabkan orang

merasa aib, (3) siri’ nipakasiri’ yaitu perasaan aib sehingga merasa diri bukan

manusia lagi disebabkan penghinaan orang lain, misalnya ditempeleng atau

dimaki-maki di muka umum, diludahi mukanya, dituduh melakukan sesuatu

pelanggaran adat, dan dilarikan istri atau salah seorang anggota keluarganya.

Sementara itu, Mannahao (2010:27) membagi siri’ menjadi tiga yang

digambarkan sebagai atap rumah (timpa’ laja’) orang Bugis, Makassar, dan

Mandar berbentuk segi tiga yang bersusun tiga. Ketiga susun prototipe itu

masing-masing adalah (1) siri’e ripadatta rupa tau’ (malu kepada sesama

manusia), (2) siri’e riwattakaleta tau (malu terhadap diri sendiri), dan (3) siri’e ri

Allah Ta’ala (malu kepada Allah Ta’ala).

Gambar 2.7 Hirarki Siri’ na Pesse/Timpa’ Laja Siri’ na Pesse (Mannahao,


2010:27)

Dari ketiga hirarki tersebut, prototipe siri’e ri Allah Ta’ala memiliki porsi

yang paling besar sebab ukurannya adalah hati. Baik dilihat maupun tidak oleh

orang lain, manusia harus malu kepada Allah mana kala melakukan tindakan

yang tidak sesuai dengan aturan Allah (karena Allah pasti mengetahuinya).

Kemudian siri’e ri watakkaleta (malu terhadap diri sendiri), artinya kita bisa saja

membohongi orang lain tetapi kita tidak dapat membohongi diri kita sendiri. Lalu

tingkatan siri’e ripadatta rupa tau merupakan tingkatan yang paling nampak,

sebab berhubungan langsung dengan penilaian orang lain terhadap diri kita.
53

Hirarki siri’ yang digambarkan di atas seperti yang tertuang dalam pesan-

pesan (pappaseng) yang mengandung nilai-nilai spiritual yaitu: tellu riala sappo,

(1) tau’e ri dewatae, (2) siri’e ri watakkale, (3) siri’e ri padatta rupa tau. Artinya

tiga yang dijadikan pagar, (1) rasa takut kepada Allah, (2) rasa malu kepada diri

sendiri, dan (3) rasa malu pada sesama manusia (Kahar, 2012).

Di Mandar, siri’ dinamakan lokko’ yang juga diartikan malu. Lokko’

(mandar) atau siri’ (Luwu-Bugis, Makassar) dibagi dalam lima tingkatan (Lopa,

2005:81-83). Pertama, kayyang siri’ yaitu siri’ yang besar. Orang ini selalu teliti

tutur bahasanya dan perbuatannya. Meminjam saja sesuatu (walaupun hal kecil)

ia merasa malu walaupun yang dipinjam itu milik temannya sendiri.

Kedua, naissang siri’ yaitu mengetahui atau memiliki siri’. Orang ini selalu

teliti juga tutur bahasa dan perbuatannya tetapi sedikit di bawah dari kayyang

siri’. Jika ingin meminjam sesuatu kepada kawannya sendiri karena sangat perlu,

maka wajar jika meminjamnya sepanjang yang dipinjam itu digunakan untuk

kebaikan dan dikembalikan.

Ketiga, kurang siri’ (rasa malunya tipis/kurang). Orang ini seperti yang

suka meminta-minta walaupun di sekeliling tetangganya mencemohkannya.

Dahulu pernah terjadi di Mandar dikeluarkan oleh rakyatnya karena

pekerjaannya suka meminta-minta sehingga dijuluki maradia dipasung (dipasung

artinya dikeluarkan). Berbeda dengan maradia missung yang berarti marradia

tidak berfungsi lagi karena permintaannya sendiri atau sudah habis masa

jabatannya.

Keempat, andian siri’ atau tidak memiliki malu. Orang ini tingkah laku

sehari-harinya tidak membedakan lagi mana yang baik dan mana yang buruk.

Baik atau buruk, halal atau haram baginya sama saja. Terpenting baginya adalah

tujuan tercapai. Tidak peduli, istri dan anaknya makan sembarang di rumah
54

orang walaupun tidak diundang. Oknum-oknum pejabat yang suka melakukan

korupsi termasuk oknum-oknum penegak hukum yang suka menerima suap,

meskipun masyarakat disekelilingnya mencemooh dianggapnya biasa-biasa

saja, tidak ada malunya sama sekali.

Kelima, mate siri’ atau mati malu (tidak akan ada lagi/hilang). Orang ini

menganggap dirinya seolah-olah tidak hidup lagi. Ia merasakan sudah habis

sama sekali harga dirinya sehingga ia hidup menyendiri dan biasanya

meninggalkan kampung halamannya untuk selama-lamanya. Orang yang ditimpa

mate siri’, seperti anak gadisnya diperkosa orang lain, namun ia tidak mampu

melakukan pembalasan karena misalnya kekuatannya lemah dan anggota

keluarganya tidak dapat menanggung dan malunya sudah tidak ada lagi. Orang

yang ditimpa kemalangan ini biasanya bunuh diri, tetapi ada kalanya juga

mengambil tindakan mallomo puru (melakukan pembunuhan dengan membabi

buta terutama membunuh orang yang telah mencemohnya).

Pendapat lain juga dikemukakan Moeing (1990:24) yang membagi siri’

menjadi tiga, yaitu pertama, siri’ yang menimbulkan akibat kriminal misalnya

karena ada perkelahian sehingga ia pun melibatkan diri dan akhirnya membunuh

orang lain. Kedua, siri’ yang hanya merugikan orang pribadi atau kelompok

manusia. Misalnya kedatangan tamu, maka ia akan memberikan yang terbaik

bagi tamunya, sehingga walaupun ia tidak mampu, bagaimanapun pahitnya

kehidupan yang dia alami namun dia akan mengupayakan untuk memberi

jamuan kepada tamunya sebab mereka memiliki prinsip moda mappakala’bii tau

padatta rupa tau, alabe dipakala’bik yaitu menghormati seseorang berarti

menghormati diri sendiri. Ungkapan lain yaitu doi anna barang-barang

dipameang ditia gau mapia anna loa mapia dipadatta rupa tau andiang dibaluang
55

disapa. Artinya uang dan harta dapat dicari atau dibeli tetapi tutur kata yang baik

tidak ada dijual di mana-mana.

Ketiga, siri’ yang menata kehidupan sebaik-baiknya dalam kehidupan

berkelompok atau bermasyarakat. Siri’ ini menempatkan diri dalam kehidupan

bermasyarakat, baik di daerah sendiri maupun di daerah orang lain. Malu (siri’)

jika tidak berbuat sesuai dengan norma-norma kehidupan yang terdapat di dalam

masyarakat.

2.5 Ikhtisar

Siri’ na pesse telah eksis sejak peradaban Bugis kuno muncul di Luwu

Timur. Pesse lahir karena adanya problematika anggaran dan sosial yang

mendorong munculnya kepekaan kebatinan, sedangkan siri’ muncul untuk

mengatasi problematika yang sedang dialami demi untuk menegakkan harkat

dan martabat suatu individu, komunitas, atau institusi secara kelembagaan.

Pada tataran implementasi dalam setting sosial, siri’ na pessetidak

berdiri sendiri melainkan dibangun di atas pondasi nilai-nilai yang sangat spesifik

dan unik, yaitu tongeng (kebenaran), lempu’ (kejujuran), getteng (ketegasan),

adele’ (keadilan), dan nilai-nilai kearifan lokal lainnya yang relevan. Dibalik nilai-

nilai siri’ na pesse itu juga terdapat sifat atau perilaku yang dapat merusak

(destroyed) konstruksi,di antaranya korupsi, kolusi, bodoh, zalim, syahwat, dan

gahdab atau karakter dan perilaku lain yang menyimpang (anomali).

Nilai-nilai siri’ na pessetidak hanya dipahami secara etimologi sebagai

empati dan malu, melainkan juga dipahami secara kontekstual berdasarkan

situasi dan kondisi yang terjadi. Dalam hubungannya dengan penyusunan

anggaran di pemerintah daerah, maka siri’ na pessedapat dipahami sebagai

komitmen kuat untuk melahirkan suatu produk APBD berkualitas yang terbebas
56

dari intervensi kepentingan pribadi atau golongan, disusun secara transparan,

bertanggungjawab, berdasarkan kebijakan, prosedur, dan aturan yang berlaku

demi untuk meraih harkat dan martabat.

Konsep siri’ na pesse yang pernah eksis pada masa lalu memiliki ciri-ciri

yang dikenali. Ciri-ciri tersebut meliputi: (1) beriman kepada Allah SWT, (2) ikhlas

dan jujur, (3) tabah dalam perjuangan hidup untuk mempertahakan kembali

dirinya, (4) tidak sombong dan takabbur, (5) bersikap demokratis, (6) mampu

memecahkan masalah secara arif bijaksana dan rasional, (7) memperkuat

solidaritas sosial dan melindungi golongan lemah, serta (8) konsisten dan

memiliki integritas pribadi, dan berperilaku santun.


57

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian kualitatif tidakmengistimewakan


salah satu metodologi atas metodologi
yang lain
Salim, 2006

3.1 Menelusuri Metodologi Penelitian yang Relevan

Metodologi merupakan kerangka teori dan prinsip yang menjadi dasar

metode dan prosedur. Metodologi dalam wacana ilmu pengetahuan merupakan

bagian yang penting karena merupakan pola yang digunakan untuk

memproduksi ilmu pengetahuan (Sawarjuwono, 1998:2). Metodologi menurut

Babbie (1979:7) merupakan bagian dari epistimologi (sub-field of epistimology)

yang disebut sebagai ilmu untuk menemukan (the science of finding out). Oleh

karena itu, dalam melahirkan ilmu pengetahuan diperlukan penelitian yang baik,

sedangkan penelitian yang baik jika memiliki tujuan yang jelas.

Dalam menjawab fokus penelitian, peneliti harus mampu melakukan

pengamatan terlebih dahulu lalu memilih alat analisis yang [Link]

pengamatan dibutuhkan paradigma atau perspekstif (world view atau paradigm)

(Mulyana, 2003:13) yang dapat menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi

agar hasil yang didapatkan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Suatu

paradigma memiliki keunikan dan karakter masing-masing yang berbeda

sehingga secara implisit tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan semua

persoalan keilmuan dan persoalan praktis yang terjadi di objek penelitian.

Masing-masing paradigma dengan kekhasan yang dimiliki mampu

menyelesaikan persoalan-persoalan tertentu.

57
58

Paradigma sendiri merupakan istilah yang dilontarkan pertama kali oleh

Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions (1970)

yang ditulis sebagai jawaban atas pergolakan ilmu (science war) yang sedang

terjadi saat itu. Paradigma merupakan suatu pendekatan investigasi suatu objek

atau titik awal mengungkapkan point of view, formulasi suatu teori, mendesign

pertanyaan atau refleksi yang sederhana. Paradigma dapat diformulasikan

sebagai keseluruhan sistem kepercayaan, nilai, dan teknik yang digunakan

bersama oleh kelompok komunitas ilmiah (Ritzer, 2014:5). Paradigma sebagai

serangkaian keyakinan dasar yang membimbing tindakan (Guba, 1990:17) dan

sebagai seperangkat asumsi-asumsi teoritis umum dan hukum-hukum serta

teknik-teknik aplikasi yang dianut secara bersama oleh para anggota suatu

komunitas ilmiah (Heriyanto, 2003:28).

Burrell dan Morgan (1979:22) membagi paradigma-paradigma dalam

empat bagian besar berdasarkan perbedaan asumsi meta teori mengenai sifat

dasar sains sosial (the nature of social science) dan sifat dasar masyarakat (the

nature of society). Keempat paradigma besar tersebut adalah fungsionalist

paradigm, interpretive paradigm, radical humanist paradigm dan radical

strukturalist [Link] terjalin melalui mutually exclussive dalam

memandang realitas sosial.

Dalam konteks akuntansi, pembagian paradigma di kalangan ilmuwan

masih beragam. Pendekatan yang dilakukan Chua (1986) secara spesifik

membedakan akuntansi dalam tiga world view yaitu: mainstreamaccounting

tought, interpretive alternative, dan critical alternative(Kamayanti, 2006:26-27).

Namun sekarang ini, para ahli telah menambah beberapa jenis paradigma

berdasarkan kajian dan cara pandang mereka masing-masing sehingga

meperkaya paradigma yang telah ada.


59

Pelbagai paradigma tersebut memiliki sifat dasar sains social yang

menurut Burrell dan Morgan (1979:3) dibagi dalam empat asumsi yaitu ontologi,

epistemologi, human nature, danmetodologi. Sifat dasar masyarakat menurut

Burrell dan Morgan (1979:3) digambarkan sebagai sosiologi regulasidan

sosiologi perubahan [Link] regulasi mementingkan pada kebutuhan

regulasi dalam hubungan antar manusiadengan menekankan kebersamaan dan

keseragaman. Sosiologi regulasi berkaitan dengan status quo, tatanan sosial,

konsensus, integrasi dan kohesi sosial, solidaritas, kebutuhan akan kepuasan,

danaktualitas. Sosiologi perubahan radikal berada pada posisi berlawanan

dengan sosiologi regulasi di mana intinya untuk mencari penjelasan terhadap

perubahan radikal, konflik struktural, dominasi, serta kontradiksi sosial yang

dilihat ahli teori sebagai karakter masyarakat modern.

3.2 Interpretif: Paradigma Penelitian

Penelitian pada ranah interpretif lebih memusatkan kajian pada

interpretasi makna atas realitas sosial. Fakta merupakan tindakan yang spesifik

dan kontekstual yang bergantung pada pemaknaan sebagian orang dalam

situasi sosial. Perilaku dan pernyataan dapat memiliki makna yang banyak dan

dapat dinterpretasikan dengan berbagai cara (Newman, 1997: 72).

Dalam paradigma interpretif, tugas teori adalah memaknai (to interpret dan

to understand), bukan to explain dan to predict sebagaimana dalam paradigma

positivisme (Triyuwono, 2006:239). Jadi eksistensi teori dalam paradigma

interpretif diukur dari kemampuannya untuk memaknai bukan kemampuannya

untuk menjelaskan dan meramalkan.

Dalam bidang akuntansi, pandangan paradigma interpretif menurut

Belkaoui (2004:24) akan berfokus pada upaya menjelaskan tatanan sosial dari
60

sudut pandang seorang normalis, antipositivis, voluntaris, dan ideologis. Ia akan

menjadikan pemahaman pengalaman subjektif yang dialami oleh individu yang

terlibat dalam persiapan, komunikasi, verifikasi, atau penggunaan informasi

akuntansi sebagai sasarannya. Bagi para interpretatis, akuntansi tidak lebih dari

hanya sekedar nama, konsep, dan label yang digunakan untuk membuat suatu

kenyataan sosial. Ia hanya dapat dimengerti dari sudut pandang pihak-pihak

yang terlibat langsung dalam pembuatan, komunikasi, dan penggunaannya.

Teori-teori akuntansi yang lahir dari paradigma interpretivisme pada

umumnya sarat dengan subjektivitas, sehingga setiap temuannya terikat oleh

nilai (value-laden). Teori yang terikat nilai menurut Triyuwono (2006:240)

bukanlah hal yang tabu, tetapi sebaliknya nilai yang terkandung dalam teori

tersebut menunjukkan keilmiahan teori dalam paradigma ini. Manusia memiliki

subjektivitas yang secara sadar atau tidak akan masuk dan menyatu dalam

proses konstruksi ilmu pengetahuan. Jika subjektivitas itu telah menyatu dalam

setiap proses, maka ilmu pengetahuan secara niscaya akan sarat dengan nilai.

Pendekatan interpretif pada studi ilmu-ilmu sosial (diantaranya ilmu

akuntansi) berfokus pada makna yang membentuk aksi dan institusi serta

interpretasi atas cara para aktor dalam membangun institusi sosialnya. Asumsi

yang dibangun dalam teori interpretif bahwa seorang peneliti tidak akan dapat

memahami hubungan manusia secara semestinya jika tidak memahami makna

yang saling berkaitan. Oleh karena itu, pendekatan interpretif berangkat dari

upaya untuk mencari penjelasan tentang peristiwa-peristiwa sosial atau budaya

yang didasarkan pada perspektif dan pengalaman orang yang [Link]

interpretif diadopsi dari orientasi praktis. Secara umum pendekatan interpretif

merupakan sebuah sistem sosial yang memaknai perilaku secara detail, melihat

fenomena, dan menggali pengalaman dari objek penelitian (Newman, 1997:68).


61

Interpretif melihat fakta sebagai sesuatu yang unik dan memiliki konteks

dan makna yang khusus sebagai esensi dalam memahami makna

[Link] melihat fakta sebagai hal yang cair (tidak kaku) yang melekat

pada sistem makna dalam pendekatan [Link]-fakta tidaklah imparsial,

objektif, dan netral. Menurut Newman (1997:72) bahwa:

fakta merupakan tindakan yang spesifik dan kontekstual yang bergantung pada
pemaknaan sebagian orang dalam situasi sosial. Interpretif menyatakan situasi
sosial mengandung ambiguisitas yang besar. Perilaku dan pernyataan dapat
memiliki makna yang banyak dan dapat diinterpretasikan dengan berbagai cara.

Dalam hubungannya dengan perubahan struktur pemikiran akuntansi,

paradigma interpretif juga dapat digunakan sebagai instrumen [Link] jika

menghendaki perubahan dalam akuntansinya, maka dapat melanjutkan

pendekatan interpretif dengan pendekatan yang ada dalam paradigma kritis

(Budiyantoro dan Triyuwono 2004). Hal ini dapat dilihat dalam pandangan Marsh

dan Gerry (2002:160).

teoriinterpretif yang berkembang dalam ranah penelitian kualitatif mempunyai dua


akar utama yaitu (1) pendekatan interpretif yang berakar pada ilmu kemanusiaan,
khususnya sejarah. Ilmu tersebut bersumber dari hermeneutika dan filsafat
fenomenologi yang berusaha memahami makna yang dilekatkan orang pada
tindakan sosial, (2) pendekatan-pendekatan baru terhadap teori interpretif yang
tumbuh subur seiring meningkatnya kesadaran tentang kekeliruan pandangan
tujuan ilmiah behavioralisme dan strukturalisme yang memutlakkan bahwa setiap
bentuk temuan riset dapat direplikasi.

Berdasarkan pada substansi paradigma tersebut, maka penelitian ini

relevan menggunakan interpretif. Hal ini didasarkan bahwa dalam menyusun

anggaran dasar yang dijadikan acuan adalah kondisi yang sedang dialami

masyarakat. Kondisi tersebut merupakan input dalam mengeksplorasi realitas

yang terjadi guna mengungkap fakta sosial baik yang nampak maupun yang

tidak nampak sehingga dapat mengungkap makna yang terkandung dari

penyusunan anggaran.
62

3.3 Metode Studi Kasus

Esensi sebuah penelitian adalah untuk mendapatkan jawaban dari fokus

penelitian yang diajukan. Dalam memberikan jawaban dibutuhkan metode yang

relevan. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yang menurut Creswell

(2010:20) sebagai berikut.

Studi kasus merupakan strategi penelitian dimana di dalamnya peneliti


menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau
sekelompok [Link]-kasus dibatasi oleh waktu dan aktivitas, dan peneliti
mengumpulkan informasi secara lengkap dengan menggunakan berbagai
prosedur pengumpulan data berdasarkan waktu yang telah ditentukan.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penelitian studi kasus

memfokuskan pada suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok

individu yang kasus-kasusnya dibatasi oleh waktu dan aktivitas. Pembatasan

waktu dan aktivitas yang dimaksud mengarah pada pengumpulan data dan

informasi terhadap suatu peristiwa yang dibatasi dalam rentang waktu tertentu.

Oleh sebab itu studi kasus dianggap sebagai bentuk strategi dalam penelitian

kualitatif.

Robert E. Stake menyebut jika studi kasus lebih dominan ke ranah

penelitian kualitatif (Denzim dan Lincoln, 2009:299). Studi kasus bisa berarti

proses mengkaji kasus sekaligus hasil dari proses pengkajian tersebut. Sebuah

kasus ruang lingkupnya jika lebih spesifik (Denzim dan Lincoln, 2009:300). Jika

ditinjau dari wilayahnya, maka penelitian studi kasus hanya meliputi daerah atau

subyek yang sangat sempit. Namun, ditinjau dari sifat penelitian, penelitian kasus

lebih mendalam (Arikunto, 2010). Jadi pada dasarnya studi kasus merupakan

penelitian terhadap kehidupan satu atau beberapa komunitas, organisasi atau

perorangan yang dijadikan unit analisis, dengan menggunakan pendekatan

kualitatif.
63

Penggunaan studi kasus dalam penelitian ini didasarkan pada beberapa

[Link], bahwa penyusunan anggaran di Kabupaten Luwu Timur

berhubungan dengan penyusunan program dan kegiatan; dilakukan oleh

individu-individu dalam tim, dibatasi oleh waktu dengan jadwal tertentu,dan

pengumpulan data dilakukan melalui prosedur. Karakteristik dari alasan tersebut

sesuai dengan pandangan Creswell (2010:20) bahwa studi kasus terkait

penyelidikan suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok

individu yang dibatasi waktu dan dalam mengumpulkan informasi menggunakan

prosedur berdasarkan waktu yang telah ditentukan.

Kedua, sehubungan dengan fokus dari penelitian ini, yang menurut Yin

(1994:21) bahwa studi kasus dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan

penelitian berupa bagaimana (how) dan mengapa (why). Hal tersebut

mengindikasikan bahwa pertanyaan how atau why membutuhkan eksplorasi

untuk mengungkap permasalahan yang ingin dijawab melalui penelitian.

Ketiga, bahwa penyusunan anggaran yang diteliti terkait terkait dengan

kontemporeritas (kekinian) karena berhubungan dengan reformasi anggaran

yang diluncurkan pemerintah untuk memperbaiki pengelolaan keuangan

negara/daerah. Selain hal tersebut, penelitian ini juga mengambil setting kearifan

lokal mengenai siri’ na pesse yang belum banyak dilakukan oleh peneliti

sebelumnya.

Alasan tersebut sesuai dengan pandangan Yin (1994:21) bahwa studi

kasus memfokuskan diri untuk meneliti fenomena‐fenomena yang cukup

kontemporer (kekinian). Beberapa kasus yang amat jarang ditemui dan

karenanya belum banyak penelitian yang berusaha mengungkapnya menjadi hal

yang mendasari seorang peneliti menggunakan studi kasus. Hal ini dikarenakan

dari beberapa penelitian yang dilakukan terkait siri’ na pesse lebih banyak
64

menyinggung pada aspek budaya, sejarah, perkawinan (kawin lari), dan

persoalan pidana terkait pembunuhan karena alasan malu (siri’). Sementara itu,

penelitian dalam ranah topik siri’ na pesse yang berhubungan dengan

penganggaran, sepanjang informasi yang diketahui belum banyak dilakukan oleh

peneliti.

3.4 Siri’ na Pesse Sebagai Alat Analisis Pengolahan Data

Dalam penelitian, siri’ na pesseberperan sebagai alat analisis pengolahan

data. Cara kerja alat analisis ini dikenali dari etimologi kata dan ciri-ciri yang

dimiliki (Lopa, 1988). Ciri-ciri berdasarkan etimologi seperti pada kata siri’

diartikan sebagai malu, keteguhan hati (Mattuda, 2005), etos kerja (Hamid, 1985

dan Mattulada, 2005), pendorong pembangunan (Lopa, 2005), hemat dan tidak

kikir/efisiensi (Farid, 2005), harga diri (Hamka, 1977; Hamid, 1985; dan

Mattulada, 2005), dan bahkan diartikan sebagai manusia susila/kemanusiaan

(Tapala, 1977). Demikian halnya dengan kata pesse diartikan sebagai empati

atau toleransi kebatinan (Hamid, 200528 dan Pelras, 2006) atau ikut merasakan

penderitaan yang dirasakan orang lain (Hamid, 1985).

Berdasarkan pada ciri-ciri etimologi kata tersebut, beberapa kata kunci

yang dapat ditarik. (1) Pesse terkait dengan toleransi kebatinan yaitu merasakan

penderitaan orang lain. (2) Siri’ terkait perasaan malu (karena menemukan

kondisi yang tidak ideal termasuk penderitaan orang lain), pendorong

pembangunan, harga diri, harkat dan martabat, dan kemanusiaan.

Selanjutnya, ciri-ciri siri’ na pesse menurut Lopa (1988:11-12) meliputi:

beriman kepada Allah (spiritualitas), ikhlas dan jujur (nilai-nilai), tabah

memperjuangkan hidup guna mempertahakan kembali dirinya (harkat dan

28
Dipandang sebagai suasana hati individu atau iba hati terhadap suasana masyarakat.
65

martabat), tidak sombong dan takabbur (nilai-nilai), bersikap demokratis

(berkinerja), mampu memecahkan masalah secara arif bijaksana tapi rasional

(nilai-nilai), memperkuat solidaritas sosial dan melindungi golongan lemah

(kesejahteraan), konsisten dan memiliki integritas pribadi (nilai-nilai), serta

berperilaku santun (nilai-nilai). Kedua, bagian ciri-ciri siri’ na pesse secara

etimologi maupun yang dikemukakan Lopa (1988) secara garis besar memiliki

lima unsur utama, yaitu kepekaan kebatinan (rasa), nilai-nilai, kinerja,

kesejahteraan, serta harkat dan martabat. Berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki

tersebut, maka siri’ na pesse sebagai alat analisis dapat berfungsi sebagai

instrumen pengolahan data yang terdiri dari lima tahapan analisis.

Analisis pertama, pengolahan data berdasarkan unsur kepekaan

kebatinan (rasa). Informasi yang diperoleh peneliti dari lokus penelitian terlebih

dahulu diidentifikasi berdasarkan basis rasa siri’ na [Link] atau data-

data berdasarkan sensitivitas rasa yang diterima aktor penyusun anggaran

berupa fakta sosial berupa problematika yang dialami masyarakat. Menurut

Pelras (2006:252) bahwa:

Pesseterkait dengan perasaan haru merasakan penderitaan orang lain yang


mendalam terhadap tetangga, kerabat, atau sesama anggota kelompok sosial,
tak hanya pada seseorang .., namun juga bagi siapa saja dalam kelompok sosial
yang sedang dalam keadaan serba kekurangan, berduka, mengalami musibah,
atau menderita sakit keras.

Jika dibawa dalam konteks berpemerintahan, pernyataan Pelras

(2006:252) menegaskan bahwa informasi yang dibutuhkan terkait dengan pesse

adalah kondisi sosial kemasyarakatan relevan dihubungkan dengan distribusi

anggaran yang disusun oleh aktor pada saat penyusunan anggaran. Jadi dalam

konteks ini, informasi yang diolah bersumber dari dua sisi, yaitu kondisi sosial

kemasyarakatan (fakta sosial) dalam suatu daerah pemerintahan dan kondisi


66

aktor dalam penyusunan anggaran. Kedua sumber informasi tersebut kemudian

diolah untuk mendapatkan jawaban dari fokus penelitian yang diajukan.

Terkait dengan hal ini, dalam lontara (kitab kuno) Bugis Luwu disebutkan

bahwa patuppu’ ri ade’ yang berarti dalam melakukan aktivitas harus

berlandaskan pada kultur yang berlaku. Dalam konteks berpemerintahan,

kulturbisa dikonotasikan dengan kebijakan, prosedur, dan aturan29 atau struktur

sosial yang telah terbatinkan sebagai dasar aktor dalam penyusunan anggaran.

Jadi informasi atau data-data yang dibutuhkan terkait dengan kondisi masyarakat

seperti problematika anggaran, distribusi pendapatan (pemerataan),kemampuan

mengakses informasi dan mengolah atau mendapatkan sumber daya, dan

sebagainya.

Analisis kedua, mengidentifikasi informasi atau data-data yang terkait

dengan penerapan nilai-nilai siri’ na pesse yang masih eksis digunakan oleh

aktor dalam menyusun aggararan. Nilai-nilai tersebut di antaranya: tongeng

(kebenaran), lempu’ (kejujuran), getteng (ketegasan), adele’ (keadilan) (Rahman,

2002:66-67), dan lalambate tarangtajo atau siwolong polong (kerja sama)

(RPJPD 2005-2025 Kabupaten Luwu Timur).

Analisis ketiga, mengidentifikasi informasi atau data-data yang terkait

dengan kinerja yang dicapai oleh aktor dalam menyusun anggaran (kinerja

anggaran). Esensi dari tahapan ini adalah pengalokasian anggaran dalam

membiayai pembangunan sarana publik yang dapat dinikmati oleh masyarakat

[Link] ini sesuai dengan Hamid (2005:4) bahwa siri’ merupakan perwujudan

dari etos kerja dan pendorong pembangunan (Lopa, 2005:91). Oleh sebab itu,

29
Kebijakan, prosedur, dan peraturan memiliki substansi yang [Link] merupakan
suatu rencana yang dijadikan sebagai pedoman umum dalam pengambilan
[Link] prosedur merupakan rencana yang memberikan seperangkat petunjuk
rinci untuk melaksanakan suatu kegiatan atau tindakan atau menentukan suatu kebiasaan
dalam menangani [Link] peraturan merupakan jenis rencana yang paling
sederhana, paling rinci, dan paling operasional, tetapi dilakukan berulang-ulang (Tenrigau,
2015).
67

aktor dianggap berkinerja jika anggaran yang disusun diarahkan untuk dapat

memberikan output berupa fasilitas atau sarana yang dinikmati publik dengan

capaian target-target yang telah ditetapkan.

Analisis keempat, mengidentifikasi informasi atau data-data yang

mengarah pada pencapaian kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan

merupakan bentuk dari kenikmatan yang dirasakan masyarakat dari penggunaan

fasilitas yang disediakan pemerintah. Kesejahteraan merupakan umpan balik dari

anggaran yang digunakan secara efektif dan efesien untuk membangun fasilitas

publik yang bersumber dari dana masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan Farid

(2005:54) bahwa siri’ merupakan sifat berhemat dan tidak [Link] bahwa

anggaran yang bersumber dari masyarakat dimanfaatkan dengan efisien dan

efektif kemudian dikembalikan lagi kepada masyarakat dalam bentuk penyediaan

fasilitas publik.

Analisis kelima, mengidentifikasi informasi atau data-data yang terkait

dengan penghargaan (rewards) yang diberikan publik. Rewards dalam konteks

penelitian ini mengarah pada kepecayaan atau pengakuan yang diberikan

stakeholder, masyarakat luas, atau institusi yang berwenang secara formal

kepada aktor atau tim penyusun anggaran atau pemerintah daerah terhadap

kinerja anggaran yang dihasilkan.

Analisis keenam, mengidentifikasi informasi atau data-data yang terkait

dengan pencapaian penegakan siri’ na pesse. Menurut Pelras (2006) bahwa

“...siri’ dapat dimaknai sebagai harga diri atau kehormatan atau dapat juga

diartikan sebagai pernyataan sikap yang tidak serakah terhadap kehidupan

duniawi”. Ungkapan tersebut mempertegas bahwa setiap bentuk kegiatan yang

dilakoni sesorang tidak hanya dilihat dari aspek dunianya saja tetapi yang tidak

kalah pentingnya adalah bagaimana mencapai harga diri atau harkat dan
68

[Link] Pelras tersebut sejalan dengan Hamid (1985:37) bahwa “...

bagi masyarakat Bugis-Makassar ...tidak ada satu nilai pun yang paling berharga

untuk dibela dan dipertahankan di muka bumi selain daripada siri”.

Setelah data-data telah terkumpul semuanya dan telah diidentifikasi,

maka selanjutnya data diolah dan disusun berdasarkan urutan aspek-aspek yang

menyusun konsep penganggaran siri’ na pesse. Data-data tersebut disusun

mulai dari aspek kepekaan kebatinan rasa siri’ na pesse, kemudian nilai-nilai siri’

na pesse, lalu kinerja anggaran, kesejahteraan (masyarakat), serta harkat dan

martabat.

3.5 Situs Penelitian

Dalam menjawab fokus dari penelitian ini, saya memilih lokus penelitian

di Kabupaten Luwu Timur. Daerah ini merupakan pemekaran dari kabupaten

induknya Luwu Utara pada tanggal 25 Pebruari 2003 berdasarkan Undang-

Undang Nomor 07 tahun 2003. Saat pemekaran, luas wilayah 6.944,98 km 2 yang

terdiri dari 13 kecamatan dengan ibu kotanya Malili (Tim Fipo dkk., 2009).

Daerah yang terletak di ujung paling Utara di Provinsi Sulawesi Selatan

tersebut mengambil motto Bersama Membangun Luwu Timur. Dalam

menjalankan roda pemerintah, daerah ini menetapkan visi 2025, yaitu Kabupaten

Luwu Timur yang maju melalui pembangunan berkelanjutan berdasarkan nilai

agama dan budaya dengan misi yang diembannya adalah kesejahteraan,

ketentraman dan ketertiban, serta keberlanjutan pembangunan sebagaimana

yang tertuang dalam RPJPD Kabupaten Luwu Timur 2005.

Alternatif pertimbangan yang mendasari pemilihan lokus penelitian di

Kabupaten Luwu Timur dan tempat pengambilan data adalah: (1) secara historis,

Kabupaten Luwu Timur merupakan daerah awal peradaban kebudayaan Bugis


69

Kuno (Bubeck dan Prasetio, 2000) di mana konsep awal siri’ na pesse diyakini

telah eksis pada masa tersebut, (2) komitmen daerah meraih predikat Wajar

Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Komitmen

tersebut diwujudkan dengan diraihnya predikat WTP tahun 2011, 2012, 2014,

dan 2015, serta (3) visi 2025 yaitu komitmen membangun Luwu Timur

berlandaskan pada nilai agama dan budaya yang sangat relevan dengan topik

yang diangkat dalam penelitian ini yang memfokuskan pada penganggaran yang

berbasis pada siri’ na pesse.

3.6 Proses Penelitian

Secara operasional, penelitian ini terdiri beberapa [Link], diawali

dari prosedur formal yakni mengajukan permohonan penelitian ke Pemerintah

Kabupaten Luwu Timur. Kedua, melakukan observasi lapangan yang merupakan

metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian

melalui pengamatan dan penginderaan. Pada tahapan ini menggunakan

observasi tidak berstruktur yaitu observasi yang dilakukan tanpa menggunakan

guide observasi sehingga saya harus mampu mengembangkan daya

pengamatan dalam mengamati suatu objek.

Pada tahapan observasi ini perlu penguasaan ilmu tentang objek secara

umum dari apa yang hendak diamati (Bungin, 2007:117) lalu mengidentifikasi

problem pada situs-situs internal maupun eksternal pemerintahan. Situs internal

didasarkan pada penyusunan anggaran atau Rencana Kerja Anggaran (RKA)

SKPD yang merupakan fase ke dua dari lima fase pengelolaan keuangan

daerah.

Ketiga, melakukan eksplorasi data secara internal kepada para aktor

penyusun anggaran SKPD. Eksplorasi data dilakukan dengan wawancara


70

mendalam (indepth interview) kepada kepala dinas, aktor dan tim penyusun

anggaran SKPD, dan pihak terkait dalam jajaran pemerintah daerah yang

memiliki hubungan kuat dengan objek penelitian.

Keempat, selain melakukan wawancara mendalam juga berinteraksi

dengan aktor terkait dengan aktivitas dalam kehidupan keseharian mereka, baik

pada saat melaksanakan tugas maupun selepas jam kantor. Hal ini dilakukan

untuk memahami lebih mendalam sisi nampak dan yang terselubung dalam diri

aktor, lalu memaknainya.

Dalam menggali informasi terhadap informan kunci dilakukan melalui

wawancara mendalam (indepth interview). Wawancara merupakan suatu metode

pengumpulan data dengan berdialog langsung dengan informan. Tujuan dari

wawancara, pada dasarnya adalah untuk mencatat pendapat (opini), perasaan,

emosi, tindak-tanduk dan hal lain yang berkaitan dengan individu yang ada

dalam organisasi, institusi, atau masyarakat.

3.7 Penetapan Informan

Informan merupakan para aktor yang dianggap memahami informasi

yang dibutuhkan, baik sebagai pelaku maupun orang lain yang memiliki

kapasitas untuk memberikan data. Saat memulai melakukan penelitian, terlebih

dahulu berupaya menemukan gatekeeper, yaitu orang yang pertama dapat

menerima saya di lokasi penelitian dan sebagai pemberi petunjuk tentang siapa

yang dapat diwawancarai atau diobservasi dalam rangka memperoleh informasi

berkaitan dengan topik penelitian ini (Bungin, 2007:76). Menurut Salim

(2006:131) pada prinsipnya setiap anggota masyarakat yang diteliti bisa menjadi

informan. Hanya saja perlu menyadari bahwa tidak setiap orang dapat menjadi

informan yang baik.


71

Demi untuk kelancaran penelitian dan mendapatkan gambaran yang lebih

mendalam, terlebih dahulu melakukan wawancara dengan informan utama yang

mengetahui seluk beluk Pemerintahan Luwu Timur dan memiliki kapasitas

sebagai pengarah. Setelah mendapat gambaran umum terkait kondisi objek

penelitian, selanjutnya menentukan informan kunci. Penetapan dan pilihan

informan didasarkan pada anggapan bahwa informan tersebut mengetahui dan

atau memahami data, informasi, ataupun fakta sebagaimana tujuan yang ingin

dicapai dalam penelitian ini.

Dalam penelitian ini, informan yang dibutuhkan adalah para aktor sebagai

tim penyusun anggaran di tingkat SKPD. Mengingat objek yang diteliti terkait

dengan masalah ekonomi infrastruktur dan kesehatan, maka informan yang

relevan adalah tim anggaran di dinas Koperindag, Bappeda, dinas kesehatan

serta pihak terkait dengan penganggaran yaitu DPPKAD dan Tim Anggaran

Pemerintah Daerah (TAPD).

Tabel 3.1 Informan Kunci dan Pendukung


No Kapasitas/Jabatan Tema
1. Tim Anggaran Pemerintah Daerah Luwu Timur Konsep Siri’ na Pesse
Kepala Dinas Koperindag Luwu Timur Konsep Siri’ na Pesse dan Data
2.
Bidang Ekonomi
3. Kepala Dinas Kesehatan Data Bidang Kesehatan
Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Anggaran dan Program
4.
Kesehatan Kesehatan
5. Kepala Bidang Anggaran Dinas Kesehatan Penganggaran Puskesmas
6. Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Data Ekonomi-Infrasturkut
Kepala Seksi Anaisis Anggaran, Bidang Proses Penyusunan Anggaran,
7.
Anggaran DPPKAD Data Keuangan / APBD
Staf Seksi Pengalokasian dan Pemanfaatan Proses Penyusunan Anggaran,
8.
Anggaran DPPKAD Data Keuangan / APBD
9. Pelaku UMKM Praktik UMKM
10. Dosen Sejarah Universitas Hasanuddin Kearifan Lokal
11. Peminat Keluwuan Kearifan Lokal

Guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang konsep

penganggaran berbasis siri’ na pesseyang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal

di Kabupaten Luwu Timur dari perspektif yang berbeda digunakan Triangulasi.

Menurut Flick (Denzin, 2009:307-308) bahwa:


72

Triangulasi merupakan proses pemanfaatan persepsi yang beragam untuk


mengklarifikasi makna, memverifikasi kemungkinan dari suatu observasi ataupun
interpretasi... Teknik triangulasi dapat juga digunakan untuk mengklarifikasi
makna dengan cara mengidentifikasi cara pandang yang berbeda terhadap
berbagai fenomena.

Teknik triangulasi digunakan untuk memverifikasi data-data yang

diperoleh dari aktor dengan aktor lainnya, atau informan lainnya, atau dari

informasi tertulis [Link] agar data-data yang diperoleh tersebut valid

dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

3.8 Konsensus Etis Penelitian

Salah satu hal penting yang saya perhatikan di lapangan pada proses

pengambilan data adalah persoalanetis. Keberhasilan dalam mengumpulkan

data, tidak terlepas dari kemampuan membangun saling kepercayaan kepada

informan, apalagi jika metode yang digunakan adalah kualitatif.

Dalam penelitian kualitatif, pertimbangan etis dimaksudkan untuk

membangun adanya saling kepercayaan dengan partisipan selama di lapangan

maupun [Link] etis penelitian adalah persoalan yang menyangkut

ancaman bahaya, persetujuan, privasi, dan kerahasiaan data (Denzin dan

Lincoln, 2009:538). Persetujuan pengumpulan data dari individu-individu yang

berwenang tidak lain adalah untuk memberikan akses untuk melakukan

penelitian yang merupakan prosedur etis yang harus dipatuhi. Begitu pula untuk

memperoleh data melalui interview juga harus disertai izin dari partisipan atau

informan.

Beberapa prosedur etis yang menjadi konsensus dengan pihak

Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, aktor penyusun anggaran, dan informan

eksternal, baik selama penelitian maupun setelah proses pengumpulan data,

antara lain adalah: (1) sebelum penelitian, terlebih dahulu harus mengajukan

surat permohonan persetujuan penelitian secara resmi ke pemerintah setempat,


73

(2) dalam kurun waktu penelitian berlangsung, harus membawa surat penelitian

dari insititusi peneliti dalam hal ini Universitas Hasanuddin Makassar. Selain itu,

juga tidak meminta wawancara kepada narasumber yang sedang melakukan

aktivitas lain atau sedang menjalankan tugas tanpa sepengetahuan sebelumnya

dalam bentuk kesepakatan atau komitmen untuk melakukan wawancara.

3.9 Metode Pengumpulan Data

Data merupakan bahan baku utama dalam proses produksi suatu hasil

penelitian. Oleh sebab itu, data dianggap memegang peranan penting dalam

menentukan tujuan penelitian. Dalam memperoleh data dibutuhkan suatu

metode yang relevan supaya proses pengolahannya cepat dan tepat.

Sehubungan dengan penelitian ini, peneliti memilih menggunakan studi kasus

karena dalam proses pengumpulan data difokuskan pada suatu program,

peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu. Hal ini sesuai ungkapkan

Creswell (2010:20) bahwa penelitian studi kasus memfokuskan pada suatu

program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu yang kasus-

kasusnya dibatasi oleh waktu dan aktivitas.

Pembatasan waktu menurut Creswell (2010:20) yang dalam penelitian ini

ditujukan pada data-data kuantitatif seperti data-data terkait anggaran yang

berdurasi satu tahun. Data-data kuantitatif tersebut berupa data-data dalam

APBD yang relevan dengan penelitian ini meliputi data-data insfrastruktur

pembangunan ekonomi, pemerataan ekonomi lokal, pemberdayaan ekonomi

lokal dan pengentasan kemiskinan, serta layanan kesehatan. Sementara

pembatasan aktivitas yang dimaksud Creswell (2010:20) yang terkait dengan

penelitian ini yaitu data-data yang berhubungan dengan program dan kegiatan

SKPD.
74

Selain menggunakan studi kasus, penelitian ini juga menggunakan

pendekatan siri’ na pesse. Pendekatan ini bersifat transedental dan fundamental

karena berada pada ranah psikologi kebatinan dengan nilai rasa kalbu aktor

sebagai instrumennya. Cara kerja pendekatan siri’ na pesse menekankan pada

kepekaan kebatinan aktor terhadap realitas sosial yang terjadi yang kemudian

diinterpretasikan untuk mendapatkan suatu makna.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka untuk mendukung metode studi

kasus dengan pendekatan siri’ na pesse, maka salah satu metode pengumpulan

data yang digunakan adalah wawancara mendalam (indepth interview).

Berdasarkan pendapat tersebut, maka metode pengumpulan data pada

penelitian ini dilakukan melalui wawancara mendalam (indept interview). Menurut

Mulyana (2006) wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang,

melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seseorang lainnya

dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan tujuan tertentu.

Wawancara juga penting untuk memperoleh informasi di bawah permukaan dan

menemukan apa yang orang pikirkan dan rasakan mengenai peristiwa tertentu.

Di samping itu dalam melakukan penggalian data dengan model indepth

interview akan menggali semua masalah kehidupan sehari-hari dalam bentuk

wacana percakapan terbuka. Setiap wacana percakapan dianalisis dan

dikembangkan sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari di kalangan

masyarakat.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka wawancara mendalam dilakukan

terhadap informan yang telah ditetapkan sebelumnya sesuai dengan

kapasitasnya masing-masing. Agar pertanyaan yang diajukan dalam proses

wawancara tepat sasaran (dalam hal ini sesuai dengan tujuan penelitian), maka

konstruksi awal pertanyaan diadaptasi dari dokumen-dokumen tertulis


75

pemerintah kabupaten. Dokumen tersebut berupa rumusan visi, misi, APBD,

RPJPD, RPJMD, danberbagai pelaporan keuangan daerah, serta dokumen

pendukung lainnya. Pertanyaan selanjutnya dikembangkan secara reflektif

berdasarkan jawaban yang disampaikan informan selama proses wawancara

berlangsung.

Setelah itu saya melakukan studi dokumentasi. Cara dokumentasi dalam

pengumpulan data saya lakukan untuk melengkapi data yang diperoleh dari hasil

wawancara. Dokumen dibutuhkan dalam rangka memperkuat analisis data yang

diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan. Dokumen-dokumen yang

dikumpulkan antara lain dokumen RKJPD, RKPJMD, APBD penetapan,

kumpulan peraturan daerah, kumpulan surat keputusan bupati, dan dokumen

pendukung lainnya. Data ini hanya bersifat pelengkap untuk mendapatkan

informasi yang dapat diinterpretasi untuk merespon hasil kerja aktor penyusun

anggaran atau Rencana Kerja Anggaran (RKA) Satuan Kerja Perangkat Daerah

(SKPD).

Selanjutnya peneiti melakukan pengamatan. Menurut Bungin (2007:115)

bahwa observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan

menggunakan panca indera mata sebagai alat bantu utamanya selain

pancaindera lainnya seperti telinga, penciuman, mulut, dan kulit. Oleh sebab itu,

observasi adalah kemampuan peneliti untuk menggunakan pengamatannya

melalui hasil kerja pancaindera mata serta dibantu dengan panca indera lainnya.

Dalam penelitian ini, pengamatan dilakukan dengan bantuan pegawai

pemerintah kabupaten khususnya yang memiliki hubungan kuat dengan objek

penelitian, di antaranya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda),

DPPKAD, humas, dan bagian pemerintahan lainnya yang memiliki korelasi

dengan penelitian ini.


76

3.10 Analisis Data

Dalam menghasilkan output penelitian, salah satu tahapan yang paling

penting adalah analisis data. Tahapan ini merupakan upaya mencari dan menata

secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dan hal-hal lain untuk

meningkatkan pemahaman tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya

sebagai temuan kepada orang lain (Muhadjir, 2000:142). Dalam menganalisis

data untuk penelitian dengan paradigma positivistik umumnya “meminjam” alat

dari ilmu statistik dalam menganalisis data yang tersedia. Sedang paradigma non

positivistik ”meminjam” teori dari berbagai bidang (terutama teori-teori sosial)

untuk mensintesa temuan mereka.

Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan secara kontinuitas yaitu dari

saat memulai, sedang, dan saat selesainya proses pengumpulan data. Namun,

analisis secara formal dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, melakukan

pendeskripsian dengan menggambarkan fakta-fakta yang diperoleh dari

lapangan tanpa proses pemaknaan yang mendalam. Pendeskripsian data

tersebut di antaranyamengenai problematika yang dihadapi masyarakat,

eksistensi nilai-nilai kearifan lokal, output penggunaan anggaran, rasa

kesejahteraan masyarakat, dan respon publik. Dari proses tersebut saya mulai

menentukan tema-tema pokok secara umum yang berkaitan dengan penyusunan

anggaran anggaran SKPD berdasarkan hasil eksplorasi yang melahirkan

pemaknaan.

Kedua, melakukan interpretasi dokumen, dilakukan untuk

menginterpretasikan hasil percakapan atau wawancara serta fakta-fakta

dokumen dan selanjutnya dilakukan interpretasi untuk memperoleh makna

secara umum. Hasil interpretasi tidak melihat benar tidaknya tafsiran yang

diberikan, tetapi menekankan pada argumentasi sebagai landasanpenafsiran.


77

Ketiga, melakukan pemaknaan. Tahapan ini dimulai dengan

mengelompokkan tema-tema penyusunan anggaran yang merupakan tema

kunci, baik yang diperoleh dari dokumen tertulis, maupun hasil wawancara

dengan para informan.

3.11 Alur Pikir Penelitian

Penyusunan anggaran merupakan aktivitas yang dilaksanakan setiap

tahun. Pelaksanaannya melibatkan berbagai stakeholder yang merupakan

perwakilan yang diatur berdasarkan keputusan. Mereka merupakan tim anggaran

yang mewakili pihak legislatif dan eksekutif. Pihak legislatif diwakili Dewan

Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sedangkan pihak eksekutif merupakan Tim

Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) yang terdiri dari Badan Perencanaan

Pembangunan Daerah (Bappeda), PPKD, sekertaris daerah (sekda), Satuan

Kerja Perangkat Daerah (SKPD), dan pejabat lainnya sesuai kebutuhan daerah

(Permendagri, 2006).

Pada tingkat SKPD, penyusunan anggaran dilaksanakan oleh para aktor

yang meliputi kepala SKPD dan jajaran yang terkait didalamnya. Dalam proses

penyusunan anggaran, siri’ na pesse merupakan basis utama yang menjadi

landasan psikologi dan operasional. Basis tersebut terinternalisasi secara

personal individu maupun tim kerja.

Secara sistematis, kerangka pemikiran dari penelitian ini diawali dari

observasi lapang yang kemudian mendorong lahirnya kepekaan kebatinan yaitu

rasa dan nilai-nilai siri’ na pesse, kemudian ditindaklanjuti dengan penyusunan

anggaran yang luarannya untuk menyejahterakan masyarakat sehingga

melahirkan pengakuan dan pencapaian harkat dan martabat. Desain ini

merupakan inti dalam menemukenali konsep pengangaran siri’ na pesse.


78

Problematika Anggaran dan


Sosial Kemasyarakatan

Rasa Siri’ naPesse Nilai-Nilai


Siri’ na pesse

Penyusunan Anggaran

Kesejahteraan Masyarakat

Konsep Penganggaran Siri’ na Pesse

Gambar 3.1 Kerangka Alur Pemikiran

Desain menggambarkan bahwa sebelum penyusunan anggaran diawali di

tingkat SKPD, terlebih dahulu para aktor penyusun anggaran melakukan

observasi ke lapagangan sehubungan dengan kondisi yang terjadi dalam setting

sosial kemasyarakatan. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun, baik secara

formal maupun non formal untuk melihat secara langsung fakta yang terjadi.

Berbagai fakta sosial yang ditemukan akan mengundang sensasi yang

melahirkan sensitivitas rasa siri’ na pesse. Rasa tersebut mendorong eksisnya

nilai-nilai kearifan lokal (siri’ na pesse) yang meliputi tongeng (kebenaran),

getteng (ketegasan), lempu’ (kejujuran), adele’ (keadilan) (Rahman, 2002:66-67),

dan nilai-nilai lainnya. Interaksi tersebut dibangun antar aktor meliputi cara
79

bertindak, bertutur kata, berfikir, dan berperilaku yang merupakan bagian yang

tidak terpisahkan dari karakter lokal yang terinternalisasi.

Rasa dan nilai-nilai siri’ na pesse merupakan basis dalam penyusunan

anggaran. Pada tahap ini anggaran yang disusun mengacu pada dokumen

perencanaan pemerintah daerah meliputi RPJPD, RJPMD, RKPD, Renstra

SKPD, Renja, seta Kebijakan Umum APBD (KUA) dan PPAS (Mahmudi, 2010).

Anggaran yang disusun dialokasikan untuk pembangunan fisik dan non fisik bagi

masyarakat guna memenuhi unsur kesejahteraannya. Pencapaian kesejahteraan

akan melahirkan kepercayaan dan pengakuan sehingga melahirkan harkat dan

martabat. Hal tersebut merupakan desain dalam menyusun konsep.

Pada esensinya, konsep penganggaran siri’ na pesse dibangun dari basis

kepekaan kebatinan rasa siri’ na pesse yang mendorong lahirnya nilai-nilai siri’

na pesse yang selanjutnya terimpelementasi dalam penyusunanan anggaran

berdasarkan dokumen perencanaan pemerintah guna memenuhi kesejahteraan

masyarakat luas. Keterpenuhan ekspektasi tersebut pada akhirnya berdampak

terhadap terciptanya harkat dan martabat yang merupakan makna dari konsep.
80

BAB IV

RASA SIRI’ NA PESSE: REALITAS SOSIAL SEBAGAI


DASAR PENYUSUNAN ANGGARAN

Jangan melalukan sesuatu yang dapat memper-


malukan mereka. Sebab rasa malu (martabat)
itulah yang diperhambakan. Perhatikan pula
kesungguhannya, percayai dia, beri tanggung
jawab kepada mereka yang sungguh-sungguh,
yang sesuai dengan keadaan dirinya.
Wasiat To Ciung (Cendekiawan Luwu)

4.1 Mukaddimah

Bab ini terdiri dari dua subbab, yaitu pembahasan lahirnya rasa siri’ na

pesse dan landasan psikologi penyusunan anggaran. Pada subbab 4.2

pembahasan memfokuskan pada penggalian lahirnya rasa siri’ na pesse yang

terjadi dalam dua situasi. Pertama, rasa siri’ na pesse muncul ketika aktor

menemukan problematika anggaran dan sosial yang terjadi di masyarakat.

Kedua, siri’ na pesse lahir dari sensasi yang dirasakan aktor dari dokumen atau

data yang dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan anggaran.

Selanjutnya, pembahasan pada subbab 4.3 memfokuskan pada kepekaan

batin rasa siri’ na pesse sebagai landasan psikologis penyusunan anggaran,

sedangkan sipakatau (saling memanusiakan atau humanisme) sebagai dasar

operasional siri’ na pesse dalam penyusunan anggaran. Penekanannya pada

esensi manusia itu sendiri yang merupakan bagian dari struktur masyarakat

berkebutuhan dalam masyarakat. Problematika yang dihadapi manusia

merupakan bagian yang terintergrasi dengan masalah yang dihadapi dalam satu

tatanan sosial kemasyarakatan itu pula, sehingga jika dalam struktur masyarakat

terjadi instabilitas, maka akan berdampak pada keseimbangan secara

menyeluruh. Memosikan manusia sebagai manusia (humanisme) merupakan

80
81

esensi penganggaran berbasis siri’ na pesse dalam rangka menciptakan

keseimbangan masyarakat.

4.2 Realitas Sosial Mendorong Lahirnya Rasa Siri’ na Pesse

Realitaas sosial biasa juga disebut fakta sosial merupakan kondisi

objektik yang dialami masyarakat dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Kondisi objektif menggambarkan problematika masyarakat, baik dari segi

anggaran untuk membiayai kebutuhan publiknya maupun masalah sosial yang

sedang dialami.

4.2.1. Potret Penyusunan Anggaran dalam Pengelolaan Keuangan Daerah

Fokus dari penelitian ini adalah penyusunan anggaran di tingkat SKPD,

khususnya berhubungan dengan bidang ekonomi dan kesehatan yang menjadi

objek riset ini. Penyusunan anggaran merupakan bagian dari perencanaan yang

merupakan salah satu dari tahapan siklus pengelolaan keuangan daerah.

Tahapan tersebut menurut Machmudi (2010:16) meliputi perencanaan,

pelaksanaan, pelaporan, dan evaluasi. Sehubungan dengan hal tersebut,

sebelum membahas penyusunan anggaran di tingkat SKPD, pada bagian ini

mencoba menguraikan terlebih dahulu secara singkat tentang proses

perencanaan dalam siklus pengelolaan keuangan daerah.

Sebelum aktor melakukan penyusunan anggaran, terlebih dahulu

menyiapkan dokumen perencanaan pemerintah daerah yang merupakan

dokumen sumber dalam penyusunan anggaran. Dokumen tersebut meliputi

RPJPD, RPJMD, RKPD, KUA dan PPAS. Menurut Hasbiyantor Baharuddin (Tim

Anggaran Pemerintah Daerah /TAPD Luwu Timur) bahwa:

Awalnya mengacu pada RPJP untuk 20 tahun, lalu RPJMD untuk lima tahun, lalu
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) untuk satu tahun, kemudian KUA
PPAS. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Kebijakan Umum Anggaran
(KUA) dan PPAS ini disusun oleh Bappeda. PPAS ini dibahas bersama dengan
DPRD. Di PPAS tersebut sudah ditetapkan besaran anggaran secara
82

keseluruhan per SKPD. Ketika PPAS ditetapkan oleh DPRD, maka PPAS
dijadikan dasar oleh SKPD untuk menyusun Rencana Kerja Anggaran (RKA).
Setelah Musrenbang selesai dilaksanakan, maka disusunlah
disusunlah RKPD dan Renja
yang dijadikan dasar proses penganggaran di tingkat SKPD.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dokumen sumber merupakan

input dari penyusunan anggaran pada tahapan perencanaan dalam pengelolaan

keuangan daerah. Secara substansi, menurut Mahmudi (2010:17) bahwa

dokumen tersebut terbagi dua, Pertama adalah dokumen perencanaan

pembangunan daerah berupa RPJPD, RPJMD, dan RKPD yang memuat visi,

misi, tujuan, kebijakan, strategi, program, dan kegiatan. Kedua adalah dokumen

perencanaan keuangan daerah berupa Kebijakan Umum APBD, Prioritas dan

Plafon Anggaran, serta APBD.

Gambar 4.1 Penyusunan Anggaran dalam Siklus Pengelolaan Keuangan Daerah


(Mahmudi, 2010:16)
83

Perencanaan pembangunan daerah disusun berdasarkan jangka waktu

perencanaan yaitu 20 tahun untuk RJPJPD, lima tahun untuk RPMD, dan satu

tahun untuk RKPD, sedangkan untuk perencanaan keuangan daerah berupa

RAPBD yang kemudian menjadi APBD berlaku untuk satu tahun. Anggaran,

Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD) merupakan wujud dari anggaran yang

disusun di tingkat SKPD yang dituangkan dalam bentuk RKA SKPD yang

kemudian disatukan menjadi RAPBD lalu disahkan menjadi APBD.

4.2.2. Fakta Sosial sebagai Dasar Penyusunan Anggaran: Lahirkan Rasa


Pesse dan Siri’

Penyusunan anggaran adalah bagian dari proses perencanaan di tingkat

SKPD dan merupakan tahapan yang dilalui untuk melahirkan APBD. Pada

proses tersebut dilakukan dalam dua pendekatan, yaitu perencanaan dari atas

(top down) dan dari bawah (bottom up). Menurut H. April (Kadis Kesehatan Luwu

Timur) bahwa “...proses lahirnya anggaran itu, ... ada yang buttom up dan top

down...” Pendekatan top down merupakan penentuan kebijakan umum APBD

serta penetapan prioritas dan plafon anggaran, sedangkan perencanaan bottom

up merupakan usulan program, kegiatan, dan anggaran dari masing-masing unit

kerja (Mahmudi, 2010:18).

Dalam penyusuan anggaran, program yang disusun ada yang bersifat

multi years dan ada yang harus terealisasi penuh dalam satu tahun anggaran.

Program yang bersifat multi years pelaksanaannya dilakukan dalam beberapa

tahun dan biasanya merupakan program jangka menengah dan panjang yang

membutuhkan anggaran yang besar dan waktu yang lama sehingga harus

diselesaikan dalam beberapa tahun. Program ini biasanya melibatkan beberapa

SKPD yang saling terkait karena secara substansi memiliki variasi kegiatan.
84

Desa Mengepung Kota merupakan salah satu program multi years yang

diluncurkan tahun 2004 setahun setelah Kabupaten Luwu Timur mekar dari Luwu

Utara. Program tersebut mengusung konsep pembangunan dari desa ke kota

sebagaimana diungkapkan Bupati Luwu Timur A. Hatta Marakarma (Fajar, 2010)

bahwa:

Pembangunan yang sedang digalakkan di Luwu Timur (Lutim) sekarang ini


mengacu pada program desa mengepung kota. Konsep ini sangat sederhana,
namun dampaknya terasa bagi masyarakat. Secara teknis, aplikasi program
pembangunan diawali dari desa kemudian menuju ke kota.

Desa Mengepung Kota (DMK) merupakan program multi years yang

dilaksanakan beberapa SKPD dengan cakupan wilayah kerjanya meliputi seluruh

kabupaten (lampiran 11). Salah satu tujuan program adalah mengatasi

keterbelakangan dalam segala bidang yang dihadapi masyarakat.

Selanjutnya adalah program yang harus terealiasasi penuh dalam

setahun yang bersifat jangka pendek. Program ini tidak berlanjut ke tahun

berikutnya sehingga anggarannya disusun berdasarkan kebutuhan tahun

bersangkutan. Seperti program di bidang ekonomi untuk kebutuhan petani

adalah jalan tani, irigasi, pupuk, bantuan alat pertanian, jembatan, dan

sebagainya. Sementara itu, di bidang kesehatan di antaranya program

mengatasi masalah kesehatan melalui layanan kesehatan (lampiran 13),

program pengentasan sarang jentik nyamuk demam berdarah, kesehatan ibu

dan anak, dan sebagainya.

Kedua bentuk program tersebut, yaitu multi years maupun berdurasi

setahun, maka program, kegiatan, dan anggarannya harus berdasarkan

dokumen perencanaan pembangunan yang merupakan dokumen sumber dalam

menyusun anggaran. Jadi penyusunan anggaran harus mengacu ke dokumen

tersebut karena didalamnya telah memuat visi dan misi Pemerintah Kabupaten
85

Luwu Timur dalam mencapai pembangunan jangka panjang, menengah, maupun

tahunan.

Penyusunan anggaran merupakan aktivitas rutin yang dilaksanakan tiap

tahunnya. Kagiatan ini dilakukan untuk menetapkan program, kegiatan, dan

anggaran yang harus terealisasi tahun berikutnya. Setiap SKPD berkewajiban

menyusun anggaran tahunan yang dituangkan dalam RKA. Seperti halnya di

Dinas Kesehatan Luwu Timur, penyusunan anggaran dilakukan tiap tahun

dengan mengacu pada dokumen sumber, salah satunya adalah hasil

Musrenbang yang dituangkan dalam dokumen RKPD yang merupakan kumpulan

usulan dari masyarakat yang berskala prioritas. Sebelum melakukan penyusunan

anggaran, pihak dinas kesehatan terlebih dahulu melakukan observasi ke

masyarakat untuk melihat realitas sosial yang terjadi kemudian menyocokkan

dengan dokumen hasil Musrenbang yang merupakan bentuk pendekatan bottom

up. Hal tersebut diungkapkan Yetriani Bosa (Kabid Anggaran Dinkes Luwu

Timur) sebagai berikut.

Alur penyusunan anggaran... di dinas kesehatan melalui mekanisme. Seperti


belanja langsung misalnya pembangunan fisik melalui beberapa tahapan.
Dimulai dari musrembang ... Kehadiran wakil dinas kesehatan bertujuan melihat
skala prioritas program yang diusulkan sekaligus melakukan investigasi lapangan
bersama Bappeda dan dinas terkait. Pada saat investigasi dilakukan, Kita tinjau
apakah program yang diusulkan merupakan prioritas dan layak mendapatkan
pembangunan tahun berikutnya.

Observasi lapang bertujuan untuk melihat langsung kondisi di masyarakat

dan sekaligus merespon problematika yang terjadi. Realitas sosial yang dihadapi

masyarakat memberikan sensasi tersendiri bagi aktor baik dalam benaknya

maupun dalam hatinya. Di bidang ekonomi misalnya, seperti yang dialami pelaku

UMKM di Malili dan Wasuponda yang mengeluhkan kekurangan modal usaha,

keterbatasan alat kerja, minimnya pengetahuan kewirausahaan, dan masalah

kemasan serta pelabelan (lampiran 12). Begitu pun yang dialami petani di
86

Mangkutana mengeluhkan ketersediaan irigasi, mesin bajak, pupuk, dan bibit.

Sementara itu, di bidang kesehatan juga mengalami hal yang sama. Seperti yang

dialami ibu-ibu di Wasuponda yang mengeluhkan kondisi kesehatan anak-anak

dan minimnya sarana prasarana kesehatan yang tersedia (lampiran 13),

Keterbelakangan tersebut sangat dirasakan seluruh stakeholder di

Kabupaten Luwu Timur. Badan Pusat Statistik (BPS) 2007 mencatat jika pada

tahun tersebut, di bidang ekonomi memperlihatkan terbatasnya infrastruktur

khususnya panjang jalan negara dan provinsi jenis aspal, kerikil, dan tanah

tercatat tidak ada, sementara jalan kabupaten yang beraspal hanya mencapai

42,186 km, kerikil 97,378 km, dan tanah 11,165 km, sebagaimana

divisualisasikan pada tabel berikut.

Tabel 4.1 Panjang Jalan Menurut Jenis Jalan dan Pemerintahan yang
Berwenang di Kabupaten Luwu Timur 2006 (BPS Luwu Timur, 2007)
Panjang Jalan (Km)
Jenis Jalan
Negara Provinsi Kabupaten Jumlah
Aspal 0 0 42.186 42.186
Kerikil 0 0 97,378 97,378
Tanah 0 0 11,165 11,165
Tidak Terinci 0 0 0 0
Jumlah 0 0 150,729 150,729

Kondisi tersebut dianggap sangat memprihatinkan mengingat jalan

merupakan salah satu jenis infrastruktur yang sangat strategis. Fungsi jalan

berperan dalam mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat, baik sebagai

sarana mobilitas hasil produksi ke sentra ekonomi maupun jalur transportasi bagi

masyarakat kota dan desa-desa terpencil menuju pusat layanan kesehatan.

Kapasitas panjang jalan yag rendah juga dibarengi dengan minimnya

ketersediaan sarana prasarana kesehatan. Jika mengacu pada sumber yang

sama untuk tahun 2006, maka jumlah fasilitas kesehatan berdasarkan jenisnya,

seperti rumah sakit menunjukkan bahwa Pemerintah Luwu Timur tahun tersebut

belum memiliki sama sekali kecuali yang dipunyai PT. Inco (swasta), sedangkan
87

jumlah Puskesmas induk sebanyak 12 unit atau tiap kecamatan memiliki satu

Puskesmas kecuali Kecamatan Malili dan Towuti masing-masing dua unit,

Puskesmas pembantu (Pustu) 59 unit, praktek dokter 20 unit, serta Posyandu,

klinik balita, dan apotik jumlahnya belum tersedia. Kondisi tersebut belum

diperhadapkan dengan tenaga kesehatan yang juga jumlahnya belum

proporsional, seperti jumlah dokter yang tersedia 28 orang dan dari jumlah

tersebut hanya terdapat satu orang dokter spesialis, bidan 145 orang, paramedik

114 orang, dan apoteker empat orang.

Tabel 4.2 Jumlah Fasilitas Kesehatan Menurut Jenisnya di Kabupaten Luwu


Timur Tahun 2007 (BPS Luwu Timur, 2007)
Rumah Sakit Puskesmas Praktek
Kecamatan
Jumlah Tempat Tidur Induk Pembantu Dokter
Burau - - 1 10 2
Wotu - - 1 8 3
Tomoni - - 6 2
Tomoni Timur - - 1 4 -
Angkona - - 1 7 -
Malili - - 2 9 5
Towuti - - 2 3 2
Nuha 1* 50* 1 3 2
Wasuponda - - 1 5 1
Mangkutana - - 1 5 -
Kalaena - - 1 3 1
Jumlah 2007 - - 12 63 18
Jumlah 2006 - - 12 59 20
*) Milik PT. Inco (sekarang PT. Vale)

Minimnya sarana kesehatan menunjukkan bahwa keterpenuhan hak

masyarakat untuk mendapatkan layanan yang layak belum dirasakan secara

utuh. Kondisi tersebut benar-benar memperlihatkan potret suram layanan

kesehatan yang dialami masyarakat Luwu Timur secara masif. Walaupun diakui

bahwa sarana penunjang ekonomi dan kesehatan telah tersedia, namun jumlah

itu dianggap tidak representatif jika dibandingkan dengan luas wilayah yang

dimiliki daerah. Bahkan untuk tahun 2007, kondisi tersebut belum banyak
88

mengalami perubahan kecuali pada peningkatan Pustu tetapi puntuk praktek

dokter justru mengalami penurunan.

Jika data tersebut dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun 200030

sebesar 231.385 jiwa menunjukkan bahwa tiap puskesmas melayani 19.282 jiwa

atau 0,008%. Angka tersebut belum termasuk pertambahan penduduk hingga

tahun 2006 yang tentu saja membuat rasio ini semakin tidak berimbang. Kondisi

ini belum termasuk fasilitas jalan dan ketersediaan alat transportasi yang

terbatas sehingga makin menyulitkan masyarakat dalam mengembangkan

sumber-sumber ekonomi dan pencapaian tingkat harapan hidup yang layak.

Realitas tersebut dapat dipahami mengingat secara geografis Luwu Timur

memiliki wilayah tiga dimensi yang terdiri dari daratan, pegunungan, dan lautan

dengan luas wilayan 6,944.88 km2 atau 11,14% dari luas Provinsi Sulawesi

Selatan. Sementara itu, luas wilayah kabupaten paling ujung Utara ini tidak

sebanding dengan ketersediaan sarana prasaran kesehatan (hasil indepth

interview, lampiran 13).

Katerbatasan sarana dan tenaga kesehatan yang dimiliki Pemerintah

Luwu Timur membuat masyarakat sulit untuk mengakses pusat layanan

kesehatan karena jaraknya yang jauh sehingga membutuhkan waktu yang

banyak untuk mencapai pusat kesehatan dengan lokasi tempat tinggal mereka.

Hal tersebut diungkapkan Sufriati31, Sekertaris Dinkes Luwu Timur bahwa:

Keterbatasan sarana dan prasarana kesehatan sangat dirasakan masyarakat


Luwu Timur terutama pasca pemekaran. Daerah yang secara geografis memiliki
2
daratan, gurung, dan laut, dengan luas wilayah 6,944.88 km atau 11,14% dari
luas Provinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayah yang dimiliki kabupaten paling
Utara di Propopinsi Sulawesi Selatan ini tidak sebanding dengan sarana
prasaran kesehatan yang dimiliki. Masyarakat mengeluhkan layanan kesehatan
karena untuk berobat membutuhkan jarak yang jauh dan waktu yang lama untuk
tiba di pusat layanan kesehatan.

30
Data jumlah penduduk tahun 2006 belum tersedia
31
Lihat Lampiran 13
89

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan layanan yang

terjadi merupakan masalah kesehatan yang mesti diatasi. Problematika ini

dirasakan sangat jauh dari harapan yang diinginkan masyarakat Luwu Timur.

Problematika infrastruktur dan sarana kesehatan merupakan persoalan yang

kompleks karena bukan hanya dilihat dari segi fisik tetapi juga anggaran yang

dibutuhkan cukup besar. Program desa mengepung kota merupakan salah satu

terobosan yang diluncurkan pemerintah untuk mengatasi problematika tersebut

yang bersifat multi years.

Problematika anggaran dan sosial yang dialami masyarakat merupakan

fenomena yang memicu kepekaan batin. Siapa pun yang melihatnya pasti akan

merasakan pesse (empati) dan siri’ (malu) karena persoalan tersebut merupakan

masalah manusia secara umum dan jika tidak diatasi, maka dalam situasi

tertentu akan berdampak terhadap keseimbangan dalam masyarakat. Seperti

yang dipahami dalam pandangan filsuf Yunani (Poli, 2010) bahwa setiap sesuatu

akan berhubungan dengan segala sesuatunya di muka bumi ini. Jadi jika terjadi

problematika sosial akan berdampak terhadap bidang-bidang lainnya secara

terintegrasi.

Problematika yang dikemukakan tersebut merupakan bagian dari temuan

yang didapatkan Puskesmas Wasuponda. Sebelum melakukan penyusunan

anggaran, terlebih dahulu mereka terjun ke lapangan untuk melihat langsung

kondisi yang dialami masyarakat. Observasi dilakukan untuk memastikan

eksistensi usulan masyarakat yang diajukan di Musrenbang kemudian

disesuaikan dengan kebutuhan anggaran yang tertuang dalam KUA PPAS

SKPD. Setelah itu, barulah disusun program, kegiatan, dan anggaran untuk

kebutuhan tahun berikutnya yang dikemudian diajukan ke tingkat dinas.


90

Usulan anggaran yang diajukan pihak Puskesmas tidak semua dapat

diakomodir oleh pihak penyusun anggaran di tingkat dinas. Usulan tersebut

terlebih dahulu di cross check di tingkat Puskesmas dan selanjutnya diidentifikasi

kelayakan dan urgensinya. Identifikasi (cross check) ini dilakukan berdasarkan

usulan yang telah diajukan sebelumnya, seperti kebutuhan akan mobiler, obat-

obatan, peralatan medis, kondisi gedung, pengadaan bangunan polindes/Pustu/

Puskemas, tenaga medis dan para medis, dan berbagai fasilitas lainnya. Hal

tersebut diungkapkan Yetriani Bosa (Kabid Anggaran Dinkes Luwu Timur)

sebagai berikut.

Saya turun ke lapangan sampai ke pustu. Jadi yang masuk dalam tupoksi saya
itu yang saya anggarkan. Seperti peralatan kesehatan, mobile-mobilernya,
sarana prasarana-nya, kelayakan bangunannya. Tapi kalau ke masyarakat
adalah program,... Jadi ketimpangan-ketimpangan yang terjadi selama ini dapat
diatasi karena setiap tahun kami selalu mengakomodir berdasarkan hasil
pengamatan kami dilapangan.

Selain usulan dari tingkat Puskesmas, pihak dinas juga mendapatkan

masukan dari masyarakat mengenai kondisi yang sedang mereka alami.

Masukan ini diterima ketika pihak dinas melakukan kunjungan terutama pada

saat sosialisasi, melakukan monitoring program yang sedang berjalan, atau pada

saat melewati suatu daerah maupun komunitas tertentu. Dari sinilah pihak dinas

menemukan masalah dan ketimpangan kesehatan yang sedang dihadapi

masyarakat seperti wabah deman berdarah, prevalensi gizi balita buruk,

keterbatasan Posyandu, Pustu, dan Puskesmas, serta masalah kesehatan

lainnya.

Bagi aktor penyusun anggaran, problematika yang dihadapi masyarakat

direspon dalam hati sanubari secara mendalam sehingga memunculkan

kepekaan batin rasa pesse dan rasa siri’. Rasa pesse yang terbatinkan lahir dari

proses pengamatan terhadap realitas sosial yang bersifat empiris yang kemudian

mendorong lahirnya rasa siri’ aktor ketika melihat ketimpangan dan keterpurukan
91

yang terjadi. Lantaran merasa masiri’, maka aktor menindaklanjuti dengan

tindakan anggaran pada saat penyusunan dilaksanakan.

Menurut H. Sahidin Halun (TAPD Luwu Timur) bahwa ketika terjadi

fenomena anggaran atau realitas sosial, maka respon pertama kali yang muncul

adalah rasa pesse. Katakanlah seorang aktor penyusun anggaran yang rasa

pessenya muncul sebagai reaksi kebatinan dari dalam hati sanubarinya yang

paling dalam melihat ketimpangan-ketimpangan anggaran dan masalah sosial

yang terjadi, maka di saat itulah muncul rasa pesse aktor yang meresponnya.

Pesse di sini muncul jika melihat terjadinya ketimpangan-ketimpangan. Misalnya


saja, tidak semua desa memiliki potensi yang sama. Pesse itu muncul ketika kita
melihat kondisi yang memang tidak selayaknya. (H. Sahidin Halun, TAPD Luwu
Timur).

Pernyataan informan mempertegas bahwa terjadinya berbagai macam

ketimpangan merupakan pemicu munculnya kepekaan batin yang

membangkitkan rasa pesse. Respon ini bersifat fitrah karena aktor merupakan

manusia yang memiliki hati nurani yang akan tersentuh ketika melihat atau

mendapatkan fenomena-fenomena sosial. Dalam pandangan Wilhelm Wundt

dan ahli-ahli psikologi modern menegaskan bahwa jiwa manusia merupakan

suatu kesatuan jiwa raga yang berkegiatan sebagai keseluruhan (Garungan,

2004:27). Dalam konteks ini, pandangan tersebut sejalan dengan realita bahwa

rasa pesse dan rasa siri’ yang dirasakan aktor penyusun anggaran merupakan

bagian dari masalah kemanusiaan itu sendiri yang dapat dialami oleh siapa saja

termasuk aktor penyusun anggaran.

Bentuk kepekaan batin tidak hanya dirasakan aktor ketika melihat

langsung problematika sosial di lapangan, tetapi juga ketika melihat data-data

berupa dokumen perencanaan pembangunan daerah, hasil Musrenbang, dan

hasil reses anggota DPRD yang dijadikan sebagai dasar penyusunan anggaran.

Walaupun data-data tersebut bersifat kuantitatif atau deskriptif, tetapi aktor tetap
92

merasakan suasana batin yang mendalam. Rasa pesse dan rasa siri’ muncul

begitu melihat realitas data yang memperlihatkan problematika sosial, seperti

maasalah kemiskinan, kesehatan, keterbatasan infrastruktur, dan sebagainya.

Kepekaan batin yang dirasakan aktor terpicu walau hanya melihat data-

data sekunder belaka karena adanya sensasi (sensation) dari pengalaman masa

lalu yang terbatinkan. Situasi ini seperti pandangan John Lokcke mengenai

tabula rasa bahwa manusia memahami sesuatu karena adanya pengalaman

inderawi yang diterima seseorang dari sensasi yang dialaminya (Tafsir, 2008).

Jadi ketika melihat data-data sekunder atau kuantitatif, maka rasa siri’ na pesse

aktor muncul merespon data inderawi tersebut.

Kepekaan batin yang dirasakan aktor penyusun anggaran pada dasarnya

merupakan respon untuk memperbaiki keseimbangan sosial. Aktor sebagai

manusia merupakan bagian dari struktur kemasyarakatan yang ketika terjadi

instabilitas juga berdampak pada keseimbangan secara menyeluruh. Oleh sebab

itu, ketika aktor melihat masalah sosial baik secara langsung maupun dari data-

data sekunder berupa dokumen, maka aktor penyusun anggaran meresponnya

secara kebatinan yang kemudian ditindaklanjuti dengan tindakan anggaran.

Penyusunan anggaran merupakan tindakan yang lahir dari dorongan rasa

pesse dan rasa siri’ untuk mengatasi problematika sosial yang terjadi yang jika

tidak diatasi dapat menurunkan kualitas hidup yang menyebabkan perubahan

sosial. Dalam teori perubahan sosial Marxian mengakui jika problematika

semacam itu berpotensi menyebabkan kehancuran masyarakat (Ritzer, 2014).

Jadi keberpihakan dalam mengatasi masalah sosial di Luwu Timur jika merujuk

dalam pandangan Tan Malaka merupakan salah satu upaya mengantarkan ke

luar dari keterbelakangan (Suseno, 2013).


93

Masalah-masalah sosial dan pembangunan di Luwu Timur yang terjadi di

berbagai sektor terutama pada beberapa tahun pertama pemekaran Kabupaten32

sangat dirasakan dampaknya masyarakat. Seperti yang telah diuraikan

sebelumnya mengenai masalah yang terjadi di bidang ekonomi seperti jalan,

jembatan, irigasi, drainase, dan di bidang kesehatan seperti minimnya sarana

fisik perawatan, tenaga dokter, bidan, apoteker dan sebagainya.

Dalam kasus-kasus yang telah uraikan tersebut menunjukkan bahwa

realitas sosial yang dialami masyarakat telah membuat miris hati aktor ketika

melihat masalah yang sedang dihadapi masayarakat. Di sini dapat diungkapkan

bahwa lahirnya rasa pesse bukan merupakan kebetulan, tetapi suatu akumulasi

perasaan empati atau toleransi kebatinan yang kuat ketika aktor terjun ke

lapangan melihat situasi yang terjadi.

Rasa pesse lahir dari serangkaian upaya yang sadar yang dilakukan

aktor untuk menemukenali ketimpangan-ketimpangan yang terjadi, kemudian

dengan kapasitas yang dimilikinya mampu melakukan suatu tindakan siri’ guna

mengatasi problematika melalui penyusunan anggaran. Tindakan siri’ diwujudkan

melalui anggaran yang disusun untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan yang

diperlukan masyarakat baik secara fisik maupun yang bersifat non fisik.

Langkah yang dilakukan Dinas Kesehatan Luwu Timur dengan terjun

langsung mengamati problematika yang sedang dialami masyarakat merupakan

bukti konkrit reaksi dari rasa pesse aktor untuk mengatasi ketimpangan yang

terjadi. Dorongan kuat yang bersumber dari dalam kalbu sebagai bentuk

toleransi kebatinan dalam mengatasi ketimpangan-ketimpangan membuktikan

bahwa rasa siri’ na pesse aktor masih eksis dan aktif.

32
Hal tersebut dapat dilihat dari data BPS Luwu Timur terutama pada beberapa tahun pertama
pemekaran jika dibandingkan dengan wilayah daerah yang luas.
94

Ketika penyusun anggaran merasakan pesse, maka pada saat itulah

aktor penyusun anggaran bertindak sebagai to pesse33. Setelah rasa pesse

muncul, maka rasa pesse kemudian menyampaikan pesan (signal) ke rasa siri’.

Pada saat inilah rasa siri’ bereaksi dan melakukan tindakan nyata untuk

menutupi sensitivitas rasa pesse yang dialami aktor dengan melakukan

penyusunan anggaran.

Aktor yang melakukan penyusunan anggaran bertujuan untuk mengatasi

problematika yang terjadi sebagai akibat dari respon rasa siri’ terhadap rasa

pesse. Dalam kondisi ini aktor penyusun anggaran bertindak sebagai to siri34.

Selanjutnya, sebagai respon balik (feedback signal), rasa siri’ kemudian

mengirim pesan ke rasa pesse bahwa tindakan anggaran telah dilakukan dalam

penyusunan anggaran. Situasi di mana rasa pesse aktor menerima respon balik

dari rasa siri’, maka disaat itulah pesse dan siri menjadi satu kesatuan yang

holistik yang melekat padanya makna yang satu dan sebutan kata yang satu,

yaitu siri’ na pesse. Aktor yang semacam itu pada akhirnya di sebut sebagai to

siri’ na pesse, yang berarti aktor yang memiliki rasa pesse dan rasa siri’.

Hubungan operasional antara rasa pesse dan rasa siri’ dalam penyusunan

anggaran divisualisasikan berikut.

33
Istilah to pesse mengacu pada kosakata Bugsi Luwu, yaitu to berarti orang dan pesse berarti
empati. Jadi to pesse menunjukkan orang yang merasakan pesse atau berempati sebagai
konsekuensi terjadinya ketimpangan-ketimpangan anggaran. Penyebutan “to” biasa digunakan
untuk menunjukkan orang yang melakukan sesuatu sehubungan pekerjaannya atau
menunjukkan identitasnya.
34
Seperti halnya dengan to pesse, istilah to siri’ juga biasa ditujukan untuk menunjuk aktor yang
melakukan tindakan untuk memenuhi rasa siri’nya. Kelumraan dalam masyarakat menyutkan to
masiri’ yaitu orang yang malu, to tae siri’nya yaitu orang tidak memiliki rasa malu, dan
sebagainya.
95

3. Dorongan Rasa Pesse

1. Observasi
Problematika Anggaran 4. Reaksi Anggaran
Pesse Siri’
dan Kemasyarakatan
2. Pesan Pesse

5. Toleransi Rasa Siri’

Gambar 4.2 Hubungan Psikologi Operasional Rasa Pesse dan Siri’ dalam
Penyusunan Anggaran SKPD (Hasil Wawancara, Kepustakaan,
dan Observasi Lapang)

Hubungan psikologi operasional antara rasa pesse dan rasa siri’ terjalin

dalam tataran emosional. Rasa pesse dianggap oleh aktor penyusun anggaran35

lebih dahulu eksis menyikapi problematika yang terjadi dalam masyarakat,

seperti pada kasus keterbatasan modal yang dialami para pelaku UMKM (yang

telah disebutkan sebelumnya). Pandangan tersebut sejalan dengan Hamid

(2005:xii) yang menganggap bahwa pesse merupakan suasana masyarakat

dalam hati individu (aktor) yang dalam pandangan Pelras (2006:252) berarti

merasakan penderitaan kelompok sosial. Pandangan aktor penyusun anggaran

dan Hamid (2005:xii) memahami sama bahwa eksistensi pesse sebagai unsur

rasa lebih dahulu eksis ketika terjadi problematika di masyarakat. Hal ini juga

sejalan dengan pandangan Lopa (1995:91) bahwa pesse merupakan daya

pendorong pembangunan. Pandangan tersebut dapat dimaknai sebagai

pendorong eksisnya rasa siri’ dalam menyikapi rasa pesse yang dialami aktor

penyusun anggaran guna memenuhi pembangunan yang dibutuhkan masyarakat

secara luas.

35
Seperti yang diungkapkan H. Sahidin Halun bahwa rasa pesse muncul ketika melihat
ketimpangan atau problematika dalam masyarakat.
96

Rasa pesse muncul karena adanya tanggapan individu aktor penyusun

anggaran berupa iba hati terhadap suasana masyarakat yaitu para pelaku

UMKM sehingga cenderung untuk mengabdi atas cinta kasih sesama manusia

(Hamid, 2005). Ungkapan cinta kasih merupakan perasaan mendalam yang

dirasakan aktor terhadap problematika anggaran yang dirasakan oleh

masyarakat yang dianggap sebagai perwujudan pesse. Farid (2005:57)

memandang hal tersebut sebagai rasa kemanusiaan yang adil dan beradab,

sehingga dengan demikian, manusia (aktor penyusun anggaran) rela berkorban

untuk mengatasi kondisi yang tidak diharapkan tersebut.

Rasa rela berkorban yang dimaksud Farid (2005:57) yaitu suasana

kebatinan (pesse) yang mendorongan munculnya rasa siri’ untuk melakukan

tindakan penganggaran (budget reaction). Rasa siri’ ini muncul sebagai bentuk

pranata pertahanan harga diri’ dan martabat manusia (aktor penyusunan

anggaran) sebagai individu dan sekaligus sebagai anggota masyarakat (di mana

aktor berinteraksi). Munculnya rasa siri’ yang dirasakan oleh aktor penyusun

anggaran, seperti halnya pada Dinas Koperindag Luwu Timur karena tidak ingin

melihat ketimpangan dan dampak dari instabilitas sosial masyarakat.

Rasa siri’ aktor tergugah sehingga tampil melakukan penyeimbangan

(stabilisator) melalui kebijakan anggaran (budget reaction) saat penyusunan

anggaran dilaksanakan. Eksistensi siri’ merupakan stabilisator yang senantiasa

menginginkan harmonisasi di dalam berbagai macam interaksi (Hamid, 2005).

Tindakan ini merupakan bentuk dari upaya mempertahankan siri’ yang

merupakan bagian tidak terpisahkan dari aktor itu sendiri. Tindakan anggaran

seperti pada alokasi anggaran dalam menyelesaikan problematika anggaran bagi

pelaku UMKM, sebagaimana tabel berikut.


97

Tabel 4.3 Anggaran Pengembangan IKM/UMKM Dinas Koperindag Kabupaten


Luwu Timur 2010-2014 (Ribuan Rupiah)
Program 2010 2011 2012 2013 2014
Pelatihan Kewirausahaan 450.979 450.979 557.959 261.186 0
Kerjasama di Bidang HAKI 63.502 0 0 0 0
Program Peningkatan Ekonomi Lokal 33.092 0 0 0 0
Pengembangan Pasar dan Distribusi
5.016.600 5.016.600 6.707.173 7.666.050 6.255.092
Barang/Produk
Promosi Produk UMKM daerah 75.088 195.581 234.438 209.125 130.600
Penataan Tempat Usaha Pedagang 0
101.520 101.520 0 0
Kaki Lima Dan Asongan (PK5)
Fasilitasi IKM terhadap pemanfaatan 0
45.480 45.480 0 0
sumber daya
Fasilitasi Peralatan IKM 1.195.754 1.195.754 718.445 0 0
Fasilitasi IKM Terhadap Pemanfaatan 0
110.158 110.158 1.684.151 0
Sumber Daya
Penyediaan Sarana dan Prasarana
klaster industri (Bengkel Industri 22.100 22.100 1.620.000 0 249.480
Lampia dan Klaster Industri)
Fasilitasi IKM (Bantuan Peralatan) 0 0 899.000 0 121.964
Fasilitasi Penyelesaian Permasala-
0 0 0 196.688 228.884
han Pengaduan Konsumen
Pengembangan Kawasan Home
0 0 0 0 415.728
Industri
Jumlah 7.114.273 7.138.172 12.421.166 8.333.049 7.401.747

Sumber: Lampiran 15, 17, 19, 21, 23 (data diolah)

Pengalokasian anggaran (budget reaction) merupakan bentuk dari

motivasi untuk mengejar ketertinggalan sebagai bentuk upaya dalam

menegakkan siri’, sebagaimana diungkapkan informan.

Siri’ itu merupakan motivasi untuk mengejar ketertinggalan atau ketimpangan-


ketimpangan sosial. Oleh sebab itu, dana itu harus dipicu betul dan diwujudkan
dalam penganggaran dan dibuat betul-betul untuk bisa dinikmati oleh masyarakat
(H. Sahidin Halun, Asisten Satu, TAPD).

Tindakan anggaran yang dilakukan aktor penyusun anggaran pada Dinas

Koperindag (tabel 4.2) merupakan bentuk dari partisipasi rasa siri’ terhadap rasa

pesse yang terjalin sebagai sensasi yang dirasakan ketika menemukan

problematika anggaran dan sosial di masyarakat. Karakter rasa pesse dan rasa

siri’ merupakan hubungan timbal balik (the balance of the reciprocal relationship)

yang lahir dari sensasi dalam diri aktor menyikapi fenomena ketimpangan-

ketimpangan sosial dan anggaran. Pada tataran outputnya, hubungan itu


98

bertujuan untuk membangun tatanan sosial agar terjadi keseimbangan dalam

masyarakat.

4.3 Kepekaan Batin dan Sipakatau: 36 Ciri Landasan Psikologi Penyusunan


Anggaran

Pada tataran psikologi, siri’ na pesse merupakan unsur rasa (sense,

Bugis: nawa-nawa) yang lahir dari suasana kepekaan batin dalam hati sanubari

aktor yang ditangkap dari akar problematika masyarakat, seperti: kemiskinan,

minimnya sarana dan prasarana publik, keterbatasan infrastruktur, dan

ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di berbagai bidang. Rasa siri’ na pesse

mendorong aktor mengambil tindakan anggaran dengan tujuan untuk mengatasi

problematika yang dihadapi masyarakat.

Secara kasuistik37, salah satu fenomena potret suram yang

menggambarkan ketimpangan ekonomi yang dialami pedagang kaki lima di Malili

yang selama ini hanya menjinjing dan memikul barang dagangannya untuk

ditawarkan ke konsumen. Mereka tersebar di titik-titik kumpulan orang-orang dan

tempat-tempat strategis lainnya. Hampir setiap hari mereka menelusuri lorong-

lorong dan gang-gang kecil dengan mengharapkan keberuntungan. Kendati telah

berupaya untuk mendapatkan omset yang besar, namun di antara mereka hanya

memperoleh omset penjualan yang jumlahnya tidak lebih dari seratus ribu rupiah

per hari. Sementara itu, jumlah anggota keluarga yang ditanggung cukup banyak

yang harus dipenuhi kebutuhan hidupnya tiap hari. Namun, harapan untuk

memenuhi kewajibannya itu hanya menjadi keinginan yang sepihak lantaran

keterbatasan-keterbatasan yang dimilikinya38.

36
Sipakatau, bahasa Bugis yaitu sipaka artinya saling dan tau yaitu orang yang berarti saling
[Link] dapat juga diartikan sebagai humanis yang berarti kemanusiaan
(menganggap manusia sebagai objek terpenting).
37
Hasil monitoring/pengamatan peneliti
38
Hasil monitoring lapang pedangang kaki lima.
99

Fenomena tersebut sangat menyayat hati bagi siapa saja insan yang

melihatnya. Ketika aktor penyusun anggaran terjun ke lapangan melakukan

monitoring, pemandangan seperti itu di temui di beberapa daerah dan bahkan

dalam kota Malili, ibu kota Kabupaten Luwu Timur. Sebarannya juga terdapat di

sepanjang bantaran sungai Malili yang membelah dua kota itu dan di puncak-

puncak bukit tempat rumah-rumah penduduk terkonsentrasi. Disanalah para

pedagang kaki lima menjajakan dagangannya dari pagi hingga sore hari bahkan

sampai malam hari.

Ketimpangan ekonomi, keterbatasan anggaran, dan ketertinggalan di

beberapa sektor yang dialami Kabupaten Luwu Timur memang dirasakan

terutama pada awal pemekaran daerah. Munculnya berbagai problematika telah

mendorong lahirnya rasa siri’ na pesse aktor penyusun anggaran bertindak

mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat dengan meluncurkan berbagai

program pemberdayaan dan kebijakan anggaran. Langkah yang dilakukan

tersebut dalam pandangan Pierre L Van dan Berghe (Wirawan, 2013:43)

merupakan bentuk dari suatu analisis masyarakat secara keseluruhan yang

merupakan bagian dari sistem yang saling berhubungan39.

Desa Mengepung Kota merupakan program multi years yang diluncurkan

untuk mengatasi problematika di berbagai bidang. Salah satu wujud kegiatannya

adalah pemerataan infrastruktur berupa penambahan dan perbaikan jalan

dengan tujuan agar para pedagang dan produsen dapat mendistribusikan barang

dan jasanya ke sentra-sentra ekonomi (lampiran 11).

Program tersebut juga terintegrasi dengan Pemberdayaan Usaha Kecil,

Mikro, dan Menengah (UMKM). Program yang diluncurkan Dinas Koperasi,

Perdagangan, dan Industri Luwu Timur (Koperindag) tersebut, salah satu

39
Salah satu ciri perspektif dari teori strukturalis fungsionalis
100

fokusnya adalah pemberdayaan para pedagang kaki lima yang selama ini

kesulitan mendapatkan modal usaha, peralatan kerja, dan bahkan tempat usaha

yang strategis (lampiran 12). Pemberdayaan dilakukan dalam bentuk pelatihan

kewirausahaan, bantuan dan pelatihan penggunaan peralatan, peningkatan mutu

produk, sertifikasi produk, bahkan pemasaran dengan mengikutsertakan dalam

pameran-pameran baik berskala lokal, provinsi, maupun tingkat nasional di

Jakarta.

Berbagai kebijakan yang diambil Pemerintah Luwu Timur dalam

mengatasi problematika masyarakat lahir dari kepekaan batin yang menggugah

rasa siri’ na pesse. Realitas problematika masyarakat tersebut merupakan

pemandangan yang mendorong rasa pesse yang kemudian melahirkan rasa siri’

sehingga mendorong aktor penyusun anggaran melakukan tindakan anggaran

dengan mengalokasikan ke bidang-bidang yang urgen untuk diatasi.

Seperti halnya kebijakan peningkatan ekonomi masyarakat lokal dengan

meluncurkan program Pemberdayaan UMKM didukung dengan anggaran

sebesar Rp1,346 miliar pada tahun 2009 sampai 2011 (lampiran 12). Dari jumlah

tersebut, di antaranya dialokasikan pada pembelian gerobak untuk kebutuhan

pedagang kaki lima yang tidak memiliki fasilitas peralatan usaha.

Begitupun di sektor infrastruktur pada program Desa Mengepung Kota

telah dikucurkan anggaran sebesar Rp571,766 miliar. Jumlah tersebut

merupakan akumulasi dari tahun 2006 hingga 2009 yang terdistribusi pada

pembangunan jalan sebesar Rp409,644 miliar, jembatan Rp18,404 miliar, irigasi

Rp56,526 miliar, dan drainase Rp87,192 miliar (lampiran 11).

Kebijakan anggaran yang dikeluarkan Pemerintah Luwu Timur tidak

hanya bertumpu pada pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal belaka, tetapi

juga di bidang kesehatan menjadi salah satu prioritas. Hal ini dilakukan untuk
101

mengintegrasikan program agar bersinergi dengan program-program lain supaya

terjadi keseimbangan tatanan sosial kemasyarakatan secara horisontal

fungsional.

Bukti keseriusan pemerintah di bidang kesehatan juga dapat dilihat dari

alokasi anggaran yang dikucurkan pada tahun 2010 hingga 2014 sebesar

Rp68,426 miliar (lampiran 25). Jumlah ini dimaksudkan untuk mendukung

kontinuitas program yang telah dilaksanakan sebelumnya supaya masyarakat

dapat terjamin kesehatannya dalam melakukan aktivitas ekonomi sehingga

mendapatkan pendapatan yang layak untuk hidup nyaman dan sejahtera.

Masyarakat sebagai pelakon kehidupan merupakan insan penerima

manfaat dari penggunaan anggaran yang telah dialokasikan dalam penyusunan

anggaran. Sebagai suatu kesatuan entitas, masyarakat menyadari bahwa proses

penganggaran yang dilaksanakan tidak lain adalah untuk mengatasi

problematika yang mereka hadapi. Oleh sebab itu, ketika program

pemberdayaan diluncurkan, mereka turut serta dalam menyukseskan dengan

melibatkan diri, baik dalam mengikuti pelatihan, pemanfaatan hibah peralatan

usaha, maupun dalam pengembangan dan peningkatan kualitas produk yang

dijalankan pemerintah.

Kepedulian Pemerintah Luwu Timur dalam mengatasi problematika

melalui program pemberdayaan dan kebijakan anggaran telah memberikan

kotribusi nyata kepada penerima manfaat. Pedang kaki lima misalnya, yang

tadinya menjajakan dagangannya dengan cara memikul dan berpindah-pindah

tempat, dengan adanya program Pemberdayaan UMKM, mereka sudah merasa

diberdayakan. Berbagai fasilitas diberikan di antaranya bantuan gerobak dagang

dan penyediaan tempat berjualan yang telah ditata menarik di beberapa titik
102

strategis dalam Kota Malili, seperti di sepanjang garis bibir Sungai Malili dan di

atas bukit di mana rumah-rumah penduduk terkonsentrasi.

Tindakan ini merupakan wujud sipakatau yang berhumanis. Masyarakat

diberikan kembali kualitas insaninya dalam mengembangkan diri (usaha),

mengaktualisasikan diri, dan mendapatkan kembali makna dari hidupnya, yaitu

sebagai insan yang dimanusiakan (sipakatau). Masyarakat diposisikan kembali

pada fitrahnya, baik sebagai manusia individu maupun masyarakat sosial dan

kembali mengambil perannya masing-masing dalam menciptakan sistem

kemasyarakatan yang seimbang. Hal ini seperti yang dipahami dalam psikologis

humanis yang memandang positif dan mencitrakan baik terhadap manusia.

Tindakan yang dilakukan oleh aktor dalam penyusun program, kegiatan,

dan anggaran merupakan bagian dari perwujudan psikologis humanis yang oleh

Moslow (1966) memandangnya sebagai manusia yang memiliki dimensi otoritas

dalam kehidupannya sendiri dan sebagai mahluk yang sadar dan mandiri. Jika

melihat pada pedang kaki lima yang hidup serba keterbatasan, maka pada

dasarnya kondisi itu merupakan peristiwa anomali dari suatu kondisi ideal yang

tidak semestinya dialami lantaran belum sepenuhnya terberdayakan proses

pembangunan.

Tindakan aktor mengambil kebijakan anggaran merupakan wujud

sipakatau (saling memanusiakan) yang menurut Max Weber (Wirawan, 2013:97)

merupakan tindakan manusia yang penuh dengan arti. Hal ini bisa dipahami

secara subjektif, yang dalam konteks sosial kemasyarakatan dipandang sebagai

upaya menciptakan keteraturan-keteraturan dalam keseimbangan tatanan

masyarakat. Pada sisi lain, Antony Giddens dengan teori struktural fungsionalnya

memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang seluruh bagiannya saling


103

tergantung satu sama lain dan bekerja sama menciptakan keseimbangan

(Wirawan, 2013:42).

Bertitik tolak dari problematika tersebut, maka masalah keterbatasan,

ketertimpangan, dan keterbelakangan yang dialami masyarakat Luwu Timur

merupakan masalah kemanusiaan yang menimbulkan kepekaan batin sehingga

mendorong lahirnya rasa siri’ na pesse. Sipakatau atau memanusiakan manusia

atau saling memanusiakan merupakan tindakan humanis yang menjadi dasar

operasional dari rasa siri’ na pesse yang bermakna bahwa manusia pada

dasarya adalah fitrah, sadar, mandiri, memiliki potensi dalam mengaktualisasikan

diri dan makna hidupnya.

4.4 Ikhtisar

Berdasarkan hasil analisis terkait penyusunan anggaran di tingkat SKPD

di Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, maka ditarik beberapa simpulan.

Pertama, landasan psikologis penganggaran adalah kepekaan batin rasa siri’ na

pesse, sedangkan landasan operasional rasa siri’ na pesse adalah sipakatau

(saling memanusiakan). Basis ini meletakkan unsur kemanusiaan sebagai

landasan dalam penyusunan anggaran. Manusia merupakan bagian dari struktur

masyarakat sehingga setiap masalah yang terjadi akan mengganggu tatanan

sosial. Oleh sebab itu, esensi dari penyusunan anggaran yang berbasis siri’ na

pesse adalah untuk membangun dan menjaga keseimbangan dalam masyarakat

secara permanen.

Kedua, dalam penyusunan anggaran, siri’ na pesse lahir dari dua situasi,

yaitu realitas sosial atau fakta empiris sosial di akar rumput dan dari pengamatan

dokumen-dokumen (kuantitatif, gambar, dan audio visual). Berdasarkan fakta

empiris sosial, siri’ na pesse muncul ketika melihat langsung ketimpangan-


104

ketimpangan dalam kemasyarakatan, seperti kemiskinan, kurangnya sarana-

prasarana kesehatan, minimnya infrastruktur, layanan masyarakat yang buruk

dan sebagainya. Sedangkan berdasarkan dokumen-dokumen, siri’ na pesse lahir

karena sensasi yang ditangkap aktor melihat data-data, gambar, maupun audio

visual yang menunjukkan adanya masalah kemasyarakatan.

Ketiga, ketika aktor penyusun anggaran menyaksikan terjadinya

masalah sosial, maka rasa pesse meresponnya lebih awal setelah itu respon

rasa siri’ muncul sebagai bentuk respon rasa pesse. Hubungan antara kedua

unsur rasa tersebut merupakan hubungan tindakan timbal balik rasa siri’ na

pesse yang pada tataran implementasinya bertujuan untuk mengatasi

problematika masyarakat yang terjadi.


105

BAB V

INTERNALISASI NILAI-NILAI KONSEP PENGANGGARAN


SIRI’ NA PESSE DALAM PENYUSUNAN ANGGARAN

Upasekko makkatenning ri limae akkatenningnge:


mammulanna; ri ada tongengnge, maduanna;
rilempuE, matellunna; ri gettengE, maeppa’na;
sipakatau, malimanna; mappesonaE di Dewata
Seuwae
Saya wasiatkan padamu lima pegangan.
Pertama; pada kata benar, kedua; pada ke-
jujuran, ketiga; pada ketegasan, keempat; pada
saling menghargai, dan kelima; berserah diri
kepada Tuhan Yang Maha Esa
Papesseng to Riolo (Pesan Orang Dahulu)
Rahim, 2012

5.1 Mukaddimah

Pada bab IV sebelumnya telah dibahas mengenai unsur rasa siri’ na

pesse yang merupakan basis psikologi dalam penyusunan anggaran. Unsur ini

merupakan pemicu (driven) lahirnya nilai-nilai siri’ na pesse meliputi tongeng

(kebenaran), lempu’ (kejujuran), getteng (ketegasan), adele’ (keadilan) dan

lalembate tarangtajo atau siwolong polong (kerja sama). Nilai-nilai tersebut

merupakan fakta lapangan yang dipraktikkan aktor dalam proses penyusun

anggaran.

Substansi pembahasan tiap-tiap nilai siri’ na pesse meliputi definisi, wujud

eksistensi dalam penyusunan anggaran, dan prinsip dasar yang mendukung

eksistensi nilai-nilai kearifan lokal tersebut. Selain itu, juga disajikan pembahasan

mengenai unsur-unsur perusak (destroyed) pada beberapa nilai siri’ na pesse

yang dimaksud.

5.2 Internalisasi dan Eksistensi Nilai-Nilai Siri’ na pesse

Penyusunan anggaran dilaksanakan setelah melaksanakan beberapa

tahapan kegiatan perencanaan. Ditingkat SKPD khususnya Dinas Kesehatan

105
106

Luwu Timur, penyusunan anggaran dilakukan setelah pelaksanaan Musrenbang

(desa, kecamatan, dan kabupaten), penetapan RKPD, dan KUA PPAS. Menurut

Yetriani Bosa (Kabid Anggaran Dinkes) bahwa “alur penyusunan anggaran ... di

Dinas Kesehatan melalui mekanisme, dimulai dari Musrembang desa,

kecamatan, dan kabupaten”. Pernyataan informan menunjukkan bahwa

penyusunan anggaran dilakukan berdasarkan mekanisme sebelumnya karena

data yang dibutuhkan sebagai bahan acuan salah satunya bersumber dari

tahapan sebelumnya.

Dalam penyusunan anggaran, pihak SKPD melibatkan unsur-unsur

secara internal, baik pimpinan, bagian, seksi, dan staf yang tergabung dalam tim

penyusun anggaran SKPD. Mengingat penyusunan anggaran merupakan

tahapan perencanaan, maka pada tahapan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu

input, proses, dan output (Mahmudi, 2010:16). Pada tahap input, dokumen

perencanaan pemerintah daerah yang dibutuhkan adalah RPJPD, RPJMD,

RKPD, Renstra SKPD, Renja, dan KUA PPAS. Dokumen ini dibutuhkan oleh

aktor sebagai acuan dalam melakukan penyusunan anggaran. Sementara pada

bagian proses merupakan penentuan KUA dan PPAS (top down) dan usulan

program, kegiatan, dan anggaran dari SKPD bersangkutan (bottom up).

Kedua sumber dokumen perencanaan pembangunan tersebut (top down

dan bottom up) sebagai bahan baku dalam penyusunan anggaran. Penyusunan

anggaran ini outputnya adalah lahirnya RKA SKPD (kemudian disatukan menjadi

RAPBD). Dalam proses penyusunan anggaran para aktor melakukan interaksi

antara satu dengan lainnya dalam satu tim dalam mengolah data-data dokumen

perencanaan untuk selanjutnya dituangkan dalam RKA. Interaksi yang dilakukan

para aktor mengedepankan nilai-nilai siri’ na pesse.


107

Dalam penelitian ini, nilai-nilai siri’ na pesse merupakan nilai-nilai yang

terinternalisasi dalam diri aktor dan dipraktikkan dalam penyusunan anggaran

SKPD di Pemerintah Kabupaten Luwu Timur. Nilai-nilai tersebut meliputi

tongeng, lempu’, getteng, adele’, dan lalambate tarangtajo atau siwolong polong.

5.2.1 Nilai Tongeng (Kebenaran)

Nilai tongeng (kebenaran) yang dianut aktor yaitu penyusunan anggaran

berdasarkan aturan yang berlaku dan mempertanggungjawabkan kepada

masyarakat. Menurut H. Sahidin Halun40 bahwa “tongeng (kebenaran) itu adalah

aturan” yang terkait dengan tanggung jawab. Hal tersebut menunjukkan bahwa

menegakkan tongeng berarti menegakkan aturan yang bertanggung jawab.

Dalam konteks kearifan lokal, menurut To MaccaE ri Luwu 41 bahwa tongeng

dianggap sebagai ade’ puaraonro atau aturan berkekuatan tetap (Rahim,

2012:93) yang harus dipatuhi dan dijalankan karena merupakan konsensus

bersama.

Jika dilihat secara kasuistik, maka wujud nilai tongeng (kebenaran) dalam

penyusunan anggaran di Dinas Kesehatan Luwu Timur dipraktikkan pada

tindakan aktor dalam merasionalkan anggaran. Dalam hal ini, anggaran yang

dipandang tidak sesuai dengan dokumen sumber yang tertera di KUA PPAS atau

berbeda dengan daftar harga yang ditetapkan oleh dinas Koperindag selanjutnya

dirasionalkan agar mencerminkan anggaran yang benar (tongeng).

Praktik tersebut sejalan dengan pernyataan informan Andi Tulleng42

bahwa “... jika anggaran itu tidak masuk akal saya sampaikan, itu kan tanggung

jawab, jadi kebenaran (tongeng) dikedepankan, katakan benar jika itu benar dan

40
TAPD Luwu Timur
41
Nama cendekia pada zaman Kedatuan Luwu yang sangat termashur dengan pokok pikirannya
dalam banyak hal.
42
Kasi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu TImur
108

katakan salah jika itu salah”. Jadi wujud tongeng menurut informan adalah

bertindak dan berkata benar yang dalam pandangan To MaccaE ri Luwu berkata

benar “jika tidak dikeluarkannya perkataan dusta dari mulutnya” (Rahim,

2012:109).

Tongeng (kebenaran) dalam penyusunan anggaran terkait dengan

tindakan berdasarkan aturan yang dipertanggungjawabkan yang menurut

Mardiasmo (2009:21) bersifat horisontal kepada masyarakat. Aktor menyadari

bahwa anggaran yang mereka susun bersumber dari masyarakat, oleh sebab itu

sudah seharusnya juga dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Bentuk

pertanggungjawabannya yaitu menyusun anggaran secara logis dan rasional

berdasarkan aturan yang berlaku yang berpihak kepada masyarakat yang

kemudian dituangkan dalam RKA SKPD bersangkutan.

Tindakan dalam menegakkan tongeng juga didasarkan pada prinsip

keaccaan (kecerdasan) yang dimiliki aktor dalam memahami kebijakan,

prosedur, dan aturan, serta petunjuk teknis yang berlaku. Ketika melakukan

penyusunan anggaran, kemampuan inteligensi aktor berperan dalam memahami

konten aturan dan juknis sehingga anggaran yang dirasionalkan tercapai. Salah

satu wujud prinsip acca dalam penyusunan anggaran adalah penentuan daftar

harga satuan berdasarkan daftar harga yang dikeluarkan pemerintah (dinas

koperindag) sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah

No.105 tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan

Daerah. Jadi setiap nilai rupiah dalam akun belanja pada program dan kegiatan

harus berdasarkan pada daftar harga yang dikeluarkan Pemeirntah Luwu Timur.

Ungkapan Andi Tulleng bahwa “kalau ada program tapi tidak diketahui

substansinya bagaimana, misalnya ini program anggarannya (sekian) juta,

logiskah program dan anggaran itu?”. Pernyataan ini mempertegas bahwa setiap
109

nilai rupiah yang muncul harus logis dan berbanding lurus terhadap program dan

kegiatannya. Ungkapan informan pada dasarnya mengarah pada pengendalian

manajemen terutama pada unsur perencanaan yang bersifat preventif atau

preventive control (Mardiasmo, 2009). Sehubungan dengan hal ini, maka pada

dasarnya bahwa logisitas, rasionalitas, dan relevansi anggaran merupakan

tindakan pengendalian preventif karena terkait dengan perencanaan yang

dijabarkan dalam bentuk program dan kegiatan.

Oleh sebab itu, dalam mempertanggungjawabkan penyusunan anggaran,

aktor menyadari pentingnya kemampuan berpengetahuan (acca) dalam

memahami aturan yang berlaku dan segala instrumen yang mendukungnya.

Memahami substansi program dengan benar (tongeng) yang relevan dengan

besaran anggarannya merupakan bagian dari menegakkan nilai tongeng

(kebenaran). Dalam artian bahwa program dan anggaran yang diajukan tidak

bertentangan dengan aturan yang berlaku supaya kebenaran regulasi tetap

ditegakkan.

Dalam menegakkan tongeng juga terdapat tindakan bakke (luka) yang

bersifat inkonstitusional sebagai perusak (destroyed) nilai. Tindakan ini berupa

pengaturan besaran jumlah anggaran terhadap suatu program yang dilakukan

aktor atas pesanan oknum. Praktik ini kebenarannya didukung informan Andi

Tulleng yang menyatakan bahwa “...kasi masukmi anggaranku, kasi mi dulu

(sekian) juta, ...Ini kan persoalan kepentingan?”. Tindakan aktor semacam ini

sama saja menciptakan atau memperlihatkan kola’nya (kelemahan). Menurut

H. Zakaria43 bahwa bakke (kesalahan) harus dihindari karena sekali saja

melakukan bakke (kesalahan), maka nilai tongeng (kebenaran) yang diamalkan

43
Kepala Dinas Koperindag Kabupaten Luwu TImur
110

selama ini akan hancur (destroyed) sehingga masyarakat tidak mempercayai lagi

profesionalisme yang telah dibangun.

Kalau orang ... ada kola’nya (kesalahannya), maka ... susah untuk didengar
karena pada saat dia mengatakan begini tapi pernah dia melakukan kola’. Jadi
jangan engkau memberikan bakke/luka (walau) satu kali (H. Zakaria (Kadis
Koperindag Luwu Timur)

Melakukan tindakan bakke (inkonstitusional) sangat jelas merusak

(destroyed) nilai tongeng (kebenaran). Selain berdampak terhadap rendahnya

kualitas anggaran yang di susun juga dapat menurunkan kepercayaan dari

masyarakat. Jika berkaca pada pesan-pesan Puang ri Magalatung (Rahim 2012),

maka tindakan bakke tersebut dianggap sebagai perbuatan salah. Tindakan

bakke juga dianggap Hamka (1977:185) sebagai tindakan zalim karena

meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Artinya, tindakan bakke bukan bagian

dari emansipasi nilai tongeng dan justru mencederai kualitas dari anggaran yang

pada akhirnya juga berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Pada

premis ini, nilai tongeng terletak pada kepatuhan aturan yang

dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan dalam implementasinya

mengedepankan ke-acca-an (berpengetahuan/cerdas) agar tidak melakukan

tindakan bakke (inkonstitusional).

5.2.2 Nilai Lempu’ (Kejujuran)

Nilai lempu’ (kejujuran) dalam penyusunan anggaran yaitu menyajikan

anggaran apa adanya secara objektif berdasarkan dokumen sumber yang telah

ditetapkan. Sumber data yang dimaksud bersifat top down dan bottom up yang

kemudian dituangkan menjadi Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) SKPD

(Mahmudi, 2010:18). Salah satu dokumen sumber yang menjadi rujukan dalam

menyusun anggaran adalah KUA PPAS. Menurut Muhammad Ikhsan (TAPD

DPPKAD Luwu Timur) bahwa:


111

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) ... menyusun anggaran program yang
tidak boleh melebihi dari PPAS. Padahal dalam PPAS terdapat harga patokan
anggaran sebagai rujukan dalam menyusun dengan efesien dan dapat
dipertanggungjawabkan.

Menyusun anggaran untuk kebutuhan program dan kegiatan yang

melebihi KUA PPAS merupakan tindakan yang subjektif karena setiap item

anggaran sudah tertuang dalam daftar harga yang telah ditetapkan oleh

pemerintah yang dalam hal ini dikeluarkan oleh dinas Koperindag. Jadi

objektivitas dalam menyusun anggaran adalah berdasarkan dokumen sumber.

Secara kasuistik, penyusunan anggaran di Dinas Kesehatan Luwu Timur

mengacu pada data yang bersumber dari dokumen perencanaan pembangunan

yang terdiri dari RKJP44 daerah, RPJM45 daerah, Rencana Kerja Pembangunan

yang bersifat top down. Sedangkan yang bersifat bottom up bersumber dari hasil

Musrenbang46 daerah yang dituangkan dalam RKPD47 dan KUA PPAS48.

Dokumen sumber ini selanjutnya dibahas di tingkat dinas bersamaan dengan

kebutuhan anggaran internal. Data-data ini disusun apa adanya secara objektif

tanpa melebih-lebihkan. Semua informasi yang masuk dibahas bersama dan

hasilnya dituangkan dalam dokumen RKA Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu

Timur dan substansinya tidak keluar dari frame sumbernya. Dokumen inilah yang

kemudian diajukan ke DPRD dalam bentuk Ranperda49 untuk dibahas bersama.

Penyusunan anggaran apa adanya yang dalam konteks ini adalah

objektivitas dapat dilihat di bagian perencanaan dinas kesehatan ketika

menyusun program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

Program ini disusun dengan jumlah anggaran sebesar Rp.500.000.000 (lima

ratus juta rupiah). Jika dilihat dari jumlahnya, maka angka tersebut sangat

44
Rencana Pembangunan Jangka Panjang
45
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
46
Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang)
47
Rencana Kerja Pemerintah Daerah
48
Kebijakan Umum Anggaran-Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS)
49
Rencana Peraturan Daerah (Ranperda)
112

fantastis. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi tim penyusun anggaran terkait

urgensitas dan logisitas program dengan besaran jumlah anggarannya dan

dukungan sumber masukan program.

Ketika program ini disusun, aktor meresponnya dengan mengedepankan

nilai lempu’ (kejujuran). Besaran jumlah anggaran yang diusulkan harus benar-

benar berpatokan pada dokumen-dokumen sumber yang telah disusun

sebelumnya dan sesuai dengan KUA PPAS. Jika anggaran program yang

disusun jumlahnya lebih, maka aktor akan menguranginya dan jika kurang, maka

akan ditambahkan. Pada dasarnya, penyusunan anggaran yang dilakukan aktor

dilakukan dengan objektif apa adanya berdasarkan input dokumen-dokumen

sumber, sebagaimana diungkapkan Andi Tulleng (Promkes Dinkes Luwu Timur)

berikut.

...progam Promosi Kesehatan nilainya 500 juta, kemudian dikembalikan ke dinas


kesehatan. Lalu kita buat kembali lagi dan menyesuaikan dengan angka itu (KUA
PPAS). Jika lebih kita kurangi dan jika kurang kita tambahkan, karena sudah
menjadi kebijakan dari atas.

Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat jika dilhat

dari besaran anggarannya memang terbilang besar untuk ukuran kabupaten.

Namun tim penyusun anggaran Dinas Kesehatan Luwu Timur melihat lebih

dalam substansi programnya, misalnya jenis dan sub kegiatan, cakupan

penerima manfaat, cakupan luas wilayah, kondisi geografis, kondisi sosial

masyarakat, waktu yang dibutuhkan, dan sebagainya. Proses semacam ini pada

dasarnya merupakan bagian dari internalisasi nilai lempu’ (kejujuran) yang

teremansipasi dalam praktik penyusunan anggaran. Fenomena program Promosi

Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat tersebut merupakan wujud konkrit

emansipasi nilai lempu’ yang dikedepankan aktor. Anggaran yang disusun aktor

mengacu pada dokumen sumber secara objektif yang dilakukan dengan penuh

amanah.
113

Dalam pandangan To MaccaE ri Luwu (Rahim, 2012:96), tindakan aktor

yang dengan tegas menolak intervensi untuk berkompromi dalam memanipulasi

anggaran merupakan praktik amanah. Tindakan tersebut merupakan wujud dari

nilai lempu’ (kejujuran), termasuk getteng (ketegasan) untuk bersikap dan warani

(berani) dalam mengambil keputusan dengan segala konsekuensi yang terjadi.

Makkedae To MaccaE ri Luwu: naiya lamperiE sunge’ lempuE. Eppa gau’na to


malempuE. Seuwani, risalaiE na’dampeng. Maduanna, riparennuangiE
tennapajekkoi, bettuanana sanresiE tennabelleang. Matellunna, temmangoaengi
tenniaE anunna. Maeppa’na, tessesse’ deceng rekko alenami napodecengngi.
(Adapun yang memanjangkan usia ialah kejujuran. Ada empat jenis perbuatan
orang jujur. Pertama, orang bersalah kepadanya dimaafkan; kedua, diamanahi
tidak khianat, ketiga, tidak serakah bukan miliknya; dan keempat, tidak mencari
kebaikan jika hanya untuk dirinya sendiri) (Pesan To MaccaE ri Luwu, Rahim
2012:96).

Jadi esensi nilai lempu’ (kejujuran) menurut To MaccaE ri Luwu adalah

pemaaf, amanah, objektif, dan kebaikan bersama. Jika berkaca pada

cendekiawan tersebut, maka nilai lempu’ pada program Promosi Kesehatan dan

Pemberdayaan Masyarakat terletak pada sifat amanah dan objektif. Amanah

ditunjukkan dengan tindakan menyusun anggaran berdasarkan dokumen-

dokumen perencanaan pembangunan yang telah disusun sebelumnya yang

bersifat top down yang direlevansikan dengan hasil Musrenbang. Sedangkan

objektif adalah tindakan yang tidak melebih-lebihkan anggaran sehingga ke luar

dari frame KUA-PPAS sebagaimana.

Dasar dari tindakan objektif juga terlihat dari proses lahirnya program dan

anggaran di tingkat Puskesmas melalui tiga langkah (P), yaitu P1 adalah

perencanaan tingkat Puskesmas (PTP), P2 adalah lokakarya mini (lokmin), dan

P3 adalah evaluasi kinerja. Proses langkah P1 dimulai dari identifikasi data

tahun sebelumnya untuk kebutuhan tahun berikutnya. Setelah itu menuju ke

langkah P2 yaitu lokakarya mini (lokmin) yang dilaksanakan awal tahun dan tiap

bulannya. Lokmin awal tahun ini untuk mengajukan program dan anggaran,
114

sedangkan lokmin yang dilaksanakan setiap bulan sebagai pemantau

pelaksanaan program bulanan meliputi identifikasi masalah pada program

berjalan dan solusinya.

... (P1) dimulai dari identifikasi data. Misalnya untuk tahun 2015, maka dia harus
melihat data laporan akhir tahun 2014. Setelah itu masuk ke lokmin. Di awal
tahun, disitulah muncul semua program. Lokmin dilaksanakan setiap bulan. Yang
dilaksanakan pada awal tahun, disinilah diajukan program-program dan
anggarannya. Lokmin memang diadakan tiap bulan, tetapi untuk menentukan
anggaran tahun berikutnya hanya diadakan di awal tahun (lokmin awal tahun).
Fungsinya memantau pelaksanaan program tiap bulan, yaitu mengidentigikasi
masalah yang yang terjadi pada program yang telah berjalan. Setelah itu
dicarikan solusinya (Andi Tulleng, Kasi Promkes Dinkes Luwu TImur).

Proses penganggaran di tingkat Puskesmas merupakan masukan dan

bahan pertimbangan oleh tim penyusunan anggaran SKPD untuk mengakomodir

program dan anggaran yang diajukan. Setidaknya program dan anggaran yang

diajukan Puskesmas tersebut memiliki unsur lempu’ (kejujuran) karena

prosesnya diketahui dan tidak ada yang disembunyikan. Selain itu, anggaran

yang diajukan mengacu ke standar harga yang dikeluarkan Dinas Koperindag

Luwu Timur.

Berdasarkan pada bahasan tersebut, maka premis dari limitasi nilai

lempu' (kebenaran) adalah penyusunan anggaran secara objektif apa adanya

berdasarkan dokumen sumber yang dilakukan melalui proses secara struktural

dan dilaksanakan secara amanah. Pada esensinya, nilai lempu’ (kebenaran)

berkenaan dengan objektifitas dan amanah.

5.2.3 Nilai Getteng (Ketegasan)

Nilai getteng (ketegasan) yang dianut dalam menyusun anggaran adalah

komitmen bersikap dan bertindak mempertahankan tongeng (kebenaran) dan

lempu’ (kejujuran) serta berani mengambil keputusan dan konsekuensi yang

dihasilkan. Eksistensi nilai ini seperti yang terjadi di Dinas Koperindag Luwu

Timur dimana emansipasi getteng diwujudkan dalam beberapa situasi. Ketika


115

memulai penyusunan anggaran saat pertama kali, kepala dinas memberikan

arahan kepada para anggota tim untuk senantiasa getteng terhadap berbagai

intervensi dan komitmen menegakkan tongeng dan lempu’ saat menyusun

anggaran. Arahan itu sebagai antisipasi munculnya intervensi negatif dari

berbagai pihak berkepentingan terhadap anggaran yang dapat mencederai nilai

tongeng dan lempu’.

Arahan tersebut merupakan bentuk dukungan dalam menegakkan nilai

getteng. Aktor yang menegakkan nilai getteng berarti telah menegakkan nilai

tongeng dan lempu’. Oleh sebab itu, dasar dalam ber-getteng adalah

menegakkan tongeng dan lempu’. Menurut H. Zakaria50 bahwa “... orang baru

bisa tegas (getteng) jika dia tongeng (benar) dan malempu’ (jujur). Kalau orang

tidak tongeng dan malempu’ atau ada kola’nya (kesalahannya), maka susah

untuk getteng (tegas)”.

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa getteng bergantung pada

tongeng dan lempu’. Dalam pandangan To MaccaE ri Luwu (Rahim, 2012:98)

bahwa getteng terdiri dari delapan unsur, yang salah satunya adalah

mengucapkan perkataan yang tongeng (benar). Hal ini menunjukkan bahwa

untuk menegakkan getteng maka aktor harus menegakkan tongeng terlebih

dahulu.

Sebagai dasar dalam menegakkan nilai getteng, maka dalam menyusun

anggaran aktor senantiasa berpatokan pada kebijakan, prosedur, dan peraturan

yang berlaku (lihat bahasan tongeng) serta menyajikan anggaran apa adanya

secara objektif (lihat bahasan lempu’) dengan penuh komitmen dan konsekuen.

Secara kasuistik intervensi anggaran di Dinas Kesehatan Luwu Timur yang

mencoba mengomunikasikan besaran anggaran dengan jumlah tertentu kepada

50
Kadis Koperindag Luwu Timur
116

aktor penyusun anggaran yang kemudian ditolak dan dihapus dalam daftar

anggaran yang merupakan wujud dari nilai getteng. Dari sini terlihat adanya

keberanian aktor untuk menolak tindakan intervensi. Keberanian ini muncul

karena adanya dorongan rasa siri’ sehingga aktor merasa layak melakukan

tindakan tersebut karena membela tongeng yaitu bekerja berdasarkan kebijakan,

prosedur, dan peraturan yang berlaku serta jujur dalam menyajikan anggaran

secara objektif.

Ke-getteng-an yang ditunjukkan aktor penyusun anggaran dalam

menolak setiap bentuk intervensi merupakan nilai yang dicontohkan Datu Luwu

(raja) ke-36 Andi Djemma (Rahman, 2002:66). Ketika tentara Belanda/KNIL

meminta kepada Paduka Andi Djemma untuk menurunkan bendera Merah Putih

yang sedang berkibar di halaman istana Luwu dan menggantikannya dengan

bendera Belanda Merah Putih Biru, maka dengan sikap tegas (getteng) dan

warani (berani) beliau mengatakan “lebih baik saya mati ditembak oleh tuan-tuan

dari pada mati dibunuh oleh rakyat sendiri” (A.S. Achmad, 2002:xxviii-xxix). Sikap

yang ditunjukkan Andi Djemma merupakan wujud nilai getteng dalam membela

kebenaran.

Sikap getteng (ketegasan) yang dimiliki aktor penyusunan anggaran

SKPD berkontribusi dalam menangkal intervensi dari pihak-pihak yang

berkepentingan. Intervensi anggaran ini muncul menjelang dan saat penyusunan

anggaran dengan motif gratifikasi atau pembagian prosentase anggaran proyek.

Hal tersebut sebagaimana diungkapkan informan berikut.

... kasi masukmi anggaranku, kaumi nanti yang anui... kasi mi dulu ...(sekian
Rp)... Inikan persoalan kepentingan kan? ...kan kau tau mika toh? Cocok mi itu,
...(sekian Rp). Nah, mungkin ini ada tommi lebih-lebihnya, karena mungkin ini
anunya .... Begitu” (Andi Tulleng, Kasi Promkes Dinkes Luwu TImur).
117

Pernyataan tersebut menunjukkan kuatnya aroma kepentingan terhadap

anggaran yang memanfaatkan aktor penyusun anggaran untuk memenuhi

harapannya. Tindakan tersebut menurut hasil penelitian Damayanti (2009)

didorong oleh keinginan untuk memaksimalkan fungsi utilitas dalam melayani diri

sendiri, terutama yang terkait dengan income.

Tindakan intervensi anggaran yang dilakukan oleh pihak-pihak

berkepentingan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai siri’ na pesse seperti

tongeng dan lempu’. Padahal seyogyanya nilai-nilai tersebut jika dibawa dalam

ranah pendekatan fungsional yang seharusnya terintergrasi dengan para aktor

(Wirawan, 2013:42) untuk meminimalisir tindakan-tindakan yang bersifat

inkonstitusional yang bertentangan dengan rasa siri’ na pesse.

Pada kenyataannya, intervensi negatif yang dilakukan kepada aktor saat

penyusunan anggaran mengalami kendala karena aktor masih konsisten

menegakkan nilai getteng, yaitu warani (keberanian) bersikap untuk menolak

setiap bentuk intervensi negatif. Ke-warani-an yang ditunjukkan oleh aktor

penyusun anggaran pada Dinas Kesehatan Luwu Timur tersebut menurut Farid

(2005:43) merupakan bentuk tekad kuat mempertahankan siri’ na pesse yang

merupakan bentuk dari komitmen atau ketetapan hati sebagaimana ungkapan

berikut.

Tanranna to waranie, napappada-pada ri engkana ri dekna. Cekdekna


enrengnge maega, ripaddiolona nenniak ri paddimunrianna, ri mengkalingana
kare’na majak dek natassunre’wa, nakare’ba madeceng dek natakkauang.
(Tanda orang yang berani ialah menyamakan adanya dan tidak adanya, sedikit
atau banyaknya, didahulukan atau dibelakangkan, dan disaat mendengar berita
buruk ia tak gentar, dan waktu ia mendengar berita baik ia tak menampakkan
kegembiraan)

Ungkapan tersebut merupakan sebuah pandangan yang relevan dengan

keberanian dan komitmen aktor menolak setiap bentuk intervensi negatif dalam

penyusunan anggaran. Ke-getteng-an tersebut tidak ubahnya sebuah semboyan


118

yang terdapat di monumen peringatan perjuangan rakyat Luwu 23 Januari 1946

yang bertulis toddo’ puli’ temma lara’ yang berarti pendirian yang kokoh dan

ketegasan dan keberanian membela tongeng (kebenaran).

Dalam menegakkan nilai getteng, aktor menyadari adanya konsekuensi

logis yang ditimbulkan seperti adanya tekanan dari berbagai pihak

berkepentingan dan munculnya kontra produktif dari kalangan internal dan

eksternal dan bahkan dalam situasi ekstrim dapat berujung pada kematian.

Namun hal itu bukan merupakan masalah bagi aktor, karena mereka berprinsip

bahwa dalam menegakkan getteng akan terhindar konsekuensi negatif karena

mereka merasa telah melakukan penyusunan anggaran dengan tongeng dan

lempu’. Tindakan aktor tersebut sejalan dengan pandangan Arung Bila51 (Rahim,

2012) bahwa “Sesungguhnya perbuatan orang berani ada sepuluh macamnya,

hanya satu keburukannya. Hanyalah disebut yang satu itu jelek, sebab ia mati.

Akan tetapi orang penakutpun akan mati juga karena semua yang bernyawa

akan mati”. Pandangan tersebut mempertegas bahwa dalam menegakkan nilai

getteng dibutuhkan ke-warani-an dalam mewujudkan anggaran yang terbebas

dari intervensi negatif dari pihak-pihak berkepentingan.

5.2.4 Nilai Adele’ (Keadilan)

Nilai adele’ (keadilan) yang dianut dalam penyusunan anggaran adalah

distribusi anggaran secara proporsional pada setiap jajaran dalam SKPD secara

wajar. Seperti halnya pada Dinas Kesehatan Luwu Timur, saat penyusunan

anggaran, distribusi anggaran di tingkat Puskesmas dilakukan berdasarkan luas

wilayah kerja, jumlah masyarakat terlayani, jarak dari pusat layanan kesehatan,

ketersediaan peralatan kerja, dan sebagainya. Berbagai alasan tersebut menjadi


51
To maccana Soppeng atau orang pintarnya Soppeng yang banyak menulis pesan-pesan dalam
bentuk kronik lontara. Pokok-pokok pikirannya dimuat dalam buku Dr. BF. Mathes, Boegineshe
Cristomathie yang diterbitkan di Amsterdam tahun 1872.
119

dasar pertimbangan bagi aktor dalam mendistribusikan anggaran. Puskesmas

yang memiliki jumlah desa yang banyak, dengan Puskesmas yang hanya

melayani beberapa desa tentu besaran anggarannya berbeda. Begitupun

dengan Puskesmas yang berada di desa terpencil dan yang ada di kota yang

melayani banyak orang tentu juga berbeda jumlah anggarannya.

Pada kenyataannya, hal tersebut dapat dilihat pada Puskesmas di kota

Malili yang secara fisik dan kelengkapan fasilitasnya lebih representatif dibanding

dengan Puskesmas di beberapa kecamatan. Puskesmas di kota Malili secara

fisik dikategorikan cukup besar karena berlantai dua dan kapasitas bangunan

yang luas. Dari segi pelayanan, Puskesmas memiliki ruang dokter, ruang rawat

inap, ruang nifas, ruang operasi, ruang VCT, ruang rapat, rumah dokter,

kendaraan operasional dan ambulance, tenaga medis dan paramedis, dan

sebagainya. Fasilitas yang dimiliki tersebut memungkinkan pelayanan dapat

dioptimmalkan. Sementara itu, Puskesmas yang ada di beberapa kecamatan

kondisinya tidak representatif dengan Puskesmas Malili. Seperti halnya

Puskesmas Mangkutana, walau terbilang cukup baik tetapi tidak lebih

representatif dibanding dengan Puskesmas Malili yang berada dalam ibu kota

kabupaten.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa perbedaan lokasi dan jumlah

penduduk yang dilayani memungkinkan munculnya perbedaan distribusi

anggaran. Perbedaan tersebut bersifat wajar atau logis karena volume kegiatan

yang besar berdampak terhadap serapan anggaran yang besar pula. Tindakan

semacam itu merupakan bentuk keadilan kewajaran karena alasan situasional.

Jadi berbagai perbedaan situasi sebagai dasar aktor dalam mendistribusikan

anggaran secara proporsional, sebagaimana diungkapkan informan berikut.

Puskesmas yang memiliki jumlah desa yang sedikit dan Puskesmas yang
memiliki jumlah desa yang banyak serta Puskesmas yang berada di Kota yang
120

wilayah kerjanya lebih luas, tentu ini berbeda (anggarannya). Puskesmas yang
terpencil sedikitji desanya dan ruang lingkup wilayahnya sedikitji, anggarannya
tentu lebih rendah. Itulah adele’ (keadilan), karena tidak mungkin kita berikan, eh
.. ratami. Tidak adele’ (adil) namaya itu (Andi Tulleng, Kasi Promosi Kesehatan
Dinkes).

Keadilan yang dimaksud bukan pemerataan distribusi anggaran,

melainkan distribusi yang wajar atau logis, dalam konteks ini disebut keadilan

kewajaran. Praktik ini identik dengan pandangan Valasquez (2005:37) bahwa

“keadilan sebagai kewajaran yang pada dasarnya dimiliki oleh setiap orang” yang

dalam konteks penganggaran merupakan hak bagi setiap unit kerja dalam

jajaran SKPD secara wajar. Dalam pandangan Aristoteles52 dianggap sebagai

keadilan dalam tindakan manusia, yaitu titik tengah di antara kedua ujung ekstrim

yang terlalu banyak dan terlalu sedikit.

Keadilan kewajaran terjadi karena alasan situasi. Tanpa alasan situasi,

keadilan kewajaran ini tidak berlaku karena sudah pasti anggaran akan

didistribusikan secara merata dengan jumlah yang sama besarnya, khususnya

kepada Puskesmas yang tersebar di beberapa kecamatan dalam Kabupaten

Luwu Timur. Alasan situasi ini mengedepankan logisitas atau kewajaran

proporsional dalam mendistribusikan anggaran.

Menegakkan nilai adele’ (keadilan) bagi tim penyusunan anggaran SKPD

memang tidak mudah karena terkait kepentingan dari masing-masing jajaran

atau pihak Puskesmas. Perlakuan yang tidak adil dari tim penyusun anggaran

SKPD dapat menyebabkan pihak Puskesmas saling tuding dan merasa bahwa

kebutuhan anggaran yang mereka ajukan adalah yang paling diprioritaskan

untuk dianggarkan. Hal ini diakui oleh Andi Tulleng bahwa: “Perdebatan kadang

(terjadi) di Puskesmas. Kadang kita mengarahkan bahwa ini lebih penting. Jadi

52
[Link]
121

siapa yang logis, maka dia benar-benar diprioritaskan. Jadi tergantung juga di

dalam memberikan penjelasan”.

Jadi selain logis, maka alasan situasi merupakan hal yang utama dalam

menegakkan adele’ (keadilan). Walaupun pihak tim penyusun anggaran SKPD

sudah berlaku adele’ (adil) dalam menyusun anggaran, tetapi jika tidak mampu

menjelaskan secara realistis alasan situasi maka adele’ (keadilan) yang

ditegakkan itu tidak berguna di mata pengusul anggaran. Disinilah posisi

pentingnya tindakan penjelasan situasi dalam menegakkan nilai adele’ (keadilan)

dalam menyusun anggaran di tingkat SKPD.

Sementara itu, distribusi anggaran tidak hanya didapatkan karena alasan

situasi melainkan juga karena alasan eksistensi. Hal tersebut dapat dilihat dalam

setiap tahun anggaran, dapat dipastikan bahwa setiap Puskesmas yang tersebar

di Kabupaten Luwu Timur mendapatkan jatah anggaran walaupun dalam jumlah

yang berbeda. Kepastian tiap Puskesmas mendapatkan bagian anggaran karena

eksistensinya dalam melayani masyarakat. Jadi kehadiran Puskesmas

merupakan pertanda bahwa institusi kesehatan tersebut pasti akan mendapatkan

bagian distribusi anggaran dari dinas kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa

distribusi anggaran ke setiap Puskesmas yang telah berpartisipasi dalam

melayani masyarakat pasti akan mendapatkan anggaran tiap tahunnya. Jadi

alokasi anggaran ke Puskesmas merupakan bentuk keadilan eksistensi karena

perannya dalam melayani masyarakat.

Jadi keadilan eksistensi merupakan keadilan yang diberikan kepada

setiap Puskesmas yang secara legal formal eksis melayani masyarakat. Besaran

distribusi anggaran yang didapatkan tergantung dari alasan situasi yang

mendukungnya. Dalam sejarah APBD Luwu Timur, setiap Puskesmas yang eksis

selalu mendapatkan distribusi anggaran setiap tahunnya. Mereka bahkan diminta


122

untuk memasukkan besaran anggaran yang dibutuhkan berdasarkan alasan

situasi yang dimilikinya dan bersama-sama membahas anggaran dalam proses

penyusunannya. Realitas ini menunjukkan bahwa keadilan eksistensi terwujud

jika adanya pihak Puskesmas atau unit kerja bersangkutan dalam jajaran dinas

berperan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

5.2.5 Nilai Lalambate Tarangtajo53 atau Siwolong Polong54 (Kerja Sama)

Wujud nilai lalambate tarangtajo atau Bugis: siwolong polong dalam

penyusunan anggaran adalah semangat bekerja sama dalam mencapai tujuan

dan sasaran anggaran dengan mengoptimalkan setiap potensi yang dimiliki dan

menyiasati keterbatasan yang dialami. Bekerja sama menunjukkan peran aktif

tiap-tiap anggota dalam penyusun anggaran berdasarkan fungsi pada bidangnya

masing-masing.

Eksistensi nilai lalambate tarangtajo/siwolong polong dalam menyusun

program, kegiatan, dan anggaran dipraktikkan di Puskesmas Wasuponda.

Anggaran disusun secara siwolong polong (bersama-sama) antara kepala

Puskesmas, tata usaha, dan bidang-bidang yang terkait. Siwolong polong

mereka lakukan dalam satu tim kerja dengan saling melengkapi potensi yang

dimiliki antar setiap anggota tanpa ada yang merasa lebih menonjolkan diri dari

yang lainnya. Mereka menyadari bahwa peran setiap anggota sangat dibutuhkan

dalam tim kerja untuk mencapai tujuan bersama dan bukan dibangun dari peran

individu secara personal. Tindakan yang mereka lakukan tersebut sejalan

dengan pesan-pesan (pappeseng) orang dahulu di Sulawesi Selatan (Rahim:

2012:162-163).

53
Bahasa Wotu, merupakan bahasa pengantar anak suku Wotu yang berada dalam Kabupaten
Luwu Timur. Pada masa pemerintahan Kedatuan Luwu, Wotu merupakan salah satu
penyokong utama tegaknya kedaulatan kedatuan. Kini, Wotu sebagai kecamatan berjarak
sekitar 40 km arah barat kota Malili.
54
Bahasas Bugis
123

Aja’ muangoi onrong, aja’to muaccinnai tanre tudangnge, de’tu mullei


padecengngi tana, risappa’po muompo’ rijello’po muakkengau.
(Jangan serakah pada kedudukan, jangan pula terlalu menginginkan jabatan
tinggi, sebab niscaya engkau takkan bisa memperbaiki negeri, nanti bila engkau
di cari baru muncul, nanti bila engkau ditunjuk baru mengia)

Pesan-pesan leluhur tersebut terinternalisasi pada proses penyusunan

anggaran di tingkat Puskesmas Wasuponda yang diwujudkan dalam bentuk

lalambate tarangtajo atau siwolong polong dalam membangun kebersamaan

untuk mencapai tujuan tanpa mengedepankan peran masing-masing individu.

Dalam proses penyusunan anggaran, kerja sama itu dibangun dalam

kebersamaan dengan semangat yang tinggi untuk mewujudkan tujuan dan

sasaran anggaran. Suasana tersebut tidak hanya diwujudkan dalam bentuk

partisipasi kegotongroyongan secara fisik, tetapi berpikir bersama-sama agar

anggaran yang terbatas dapat dialokasikan untuk menghasilkan tujuan, yaitu

menghasilkan ouput seperti pengadaan sarana fisik dan program non fisik agar

dapat dinikmati masyarakat untuk memenuhi kesejahteraannya.

Lalambate tarangtajo atau siwolong polong yang dibangun pihak

Puskesmas Wasuponda pada akhirnya melahirkan semangat kebersamaan

dalam tim yang mendorong lahirnya kreatifitas berupa ide-ide positif untuk

mengoptimalkan setiap potensi yang dimiliki dan menyiasati setiap bentuk

keterbatasan guna mencapai tujuan dan sasaran anggaran. Hal ini tercermin dari

upaya Puskesmas Wasuponda dalam menyukseskan programnya dengan

menggandeng pihak ketiga, di antaranya PT. Vale (dahulu PT. Inco, Tbk.),

pemerintahan desa, dan masyarakat terkait setempat.

Salah satu program yang berhasil dilaksanakan Puskesmas Wasuponda

adalah program Desa Mandiri yang salah satu jenis kegiatannya adalah

Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD. Kegiatan ini dilaksanakan dengan

menggunakan anggaran APBD. Namun jika melihat cakupan penerima manfaat


124

dan luasnya wilayah kerja program, maka besaran anggarannya dianggap tidak

mencukupi. Anggaran itu hanya mampu membiayai beberapa kecammatan saja.

Semangat lalambate tarangtajo atau siwolong polong (kerja sama) yang

dibangun mendorong pihak Puskesmas bahu membahu dan berusaha keras

agar program tersebut dapat terealisasi di seluruh daerah rawan DBD di

Kabupaten Luwu Timur.

Hal inilah yang dipikirkan dan dikerjakan secara bersama-sama saat

menyusun anggaran dan ketika terealisasi mereka secara bersama-sama pula

mewujudkan semangat kebersamaan itu dalam bentuk membangun partnership

yang saling menguntungkan dengan PT. Vale, pemerintah desa, dan masyarakat

sebagai penerima manfaat. Hasilnya, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk

DBD dapat dilaksanakan diseluruh Kabupaten Luwu Timur. Sebagai bentuk

dukungan, PT. Vale berpartisipasi dalam pengadaan anggaran, pemerintah desa

sebagai mobilisator partisipasi masyarakat, dan masyarakat berpartisipasi

menyukseskan program tersebut berdasarkan tujuan, target, dan sasaran

program. Jadi esensi dari nilai lalambate tarangtajo atau siwolong polong adalah

membangun kerja sama dalam melaksanakan program dengan mengoptimalkan

setiap potensi yang ada dan menyiasati keterbatasan yang dimiliki.

5.3 Ikhtisar

Berdasarkan pada bahasan dalam bab ini, terdapat beberapa kesimpulan

yang dapat ditarik. Pertama, Nilai-nilai siri’ na pesse yang terinternalisasi dalam

diri aktor teremansipasi dalam peyusunan anggaran di tingkat SKPD, di

antaranya tongeng (kebenaran), lempu’ (kejujuran), getteng (ketegasan), adele’

(keadilan), dan lalambate tarangtajo atau siwolong polong (kerja sama). Nilai-
125

nilai ini teremansipasi karena adanya dorongan dari kepekaan rasa siri’ na pesse

dalam diri aktor.

Kedua, nilai tongeng (kebenaran) yang dianut dalam menyusun

anggaran yaitu keberpihakan dan kepatuhan terhadap kebijakan, prosedur, dan

aturan yang berlaku dan menghindari setiap bentuk tindakan inkonstitusional.

Nilai ini dibangun dalam dua hal, bertanggung jawab dan acca (kecerdasan).

Bertanggung jawab berhubungan dengan tindakan operasional bahwa anggaran

yang disusun harus berdasarkan pada landasan formal berupa kebijakan,

prosedur, dan aturan yang mengikat. Sedangkan acca berhubungan dengan

kemampuan aktor dalam memahami kebijakan, prosedur, dan aturan sehingga

anggaran yang dibuat dan dituangkan dalam bentuk RKA dapat dipertanggung-

jawabkan.

Ketiga, nilai lempu’ (kejujuran) dalam penyusunan anggaran yaitu

menyajikan anggaran apa adanya secara objektif berdasarkan sumber dokumen

yang telah ditetapkan. Dua prinsip dasar yang dianut dalam menegakkan nilai

lempu’, yaitu objektif dan amanah.

Objektif yaitu penyusunan anggaran harus berdasarkan dokumen

sumber, baik yang bersifat top down maupun bottom up serta sumber-sumber

yang mendukungnya. Dokumen sumber yang bersifat top down meliputi RPJPD,

RPJMD, RKPD, dan KUA-PPAS, sedangkan yang bersifat bottom up adalah

hasil Musrenbang. Secara teknis, saat menentukan dasar nilai anggaran yang

disusun mengacu pada daftar harga yang dikeluarkan oleh dinas koperindag.

Berdasarkan dokumen-dokumen sumber tersebut anggaran disusun dengan apa

adanya secara objektif tanpa melebihkan atau mengurangi. Sedangkan prinsip

amanah merupakan tindakan kepatuhan untuk senantiasa berpegang pada


126

dokumen sumber agar anggaran yang disusun tetap berada dalam koridor legal

formal.

Kelima, Nilai getteng (ketegasan) yang dianut dalam penyusunan

anggaran adalah komitmen bersikap dan bertindak mempertahankan tongeng

(kebenaran) dan lempu’ (kejujuran) serta berani mengambil keputusan dan

konsekuensi yang dihasilkan. Nilai ini dibangun dalam dua prinsip, yaitu

komitmen dan warani (berani). Komitmen yaitu konsisten menegakkan tongeng

(kebenaran) dan lempu’ (kejujuran) dalam menyusun anggaran. Komitmen ini

berupa konsistensi mematuhi seluruh kebijakan, prosedur, dan aturan yang

berlaku dalam menyusun anggaran. Sedangkan warani (berani) merupakan

kemampuan merealisasikan tongeng dan lempu’ dengan segala konsekuensinya

serta menolak setiap bentuk intervensi anggaran dari pihak-pihak yang

berkepentingan.

Keenam, nilai adele’ (keadilan) yang dianut dalam penyusunan anggaran

adalah distribusi anggaran secara proporsional pada setiap jajaran dalam SKPD

secara wajar. Keadilan ini terbagi dua, yaitu keadilan eksistensi dan keadilan

kewajaran. Keadilan eksistensi adalah keadilan distribusi anggaran yang

didapatkan unit kerja dalam jajaran SKPD seperti unit Puskesmas karena

eksistensinya dalam melayani masyarakat. Artinya bahwa ketika Puskesmas

secara legal formal telah terdaftar maka dengan sendirinya pada tahun

berikutnya akan mendapatkan porsi anggaran tertentu. Sedangkan keadilan

kewajaran adalah keadilan yang didapatkan tiap unit kerja dalam SKPD seperti

Puskesmas terhadap distribusi anggaran. Besarnya anggaran yang didapatkan

Puskesmas berdasarkan prinsip alasan situasi. Artinya bahwa distribusi

anggaran diberikan berdasarkan alasan-alasan yang melekat padanya seperti


127

luas wilayah, cakupan penerima manfaat, jarak dari pusat layanan kesehatan,

dan sebagainya.

Ketujuh, nilai lalambate tarangtajo atau siwolongpolong (kerja sama)

dalam penyusunan anggaran adalah semangat bekerja sama dalam mencapai

tujuan dan sasaran anggaran dengan menyiasati keterbatasan dan

mengoptimalkan potensi yang tersedia. Kerja sama ini diwujudkan dengan

melibatkan seluruh jajaran dalam lingkup SKPD. Terkhusus di Puskesmas,

anggaran disusun dengan melibatkan kepala Puskesmas, tata usaha, dan

bidang-bidang yang terkait. Prinsip yang yang dibangun pada nilai lalambate

tarangtajo atau siwolong polong adalah semangat yang tinggi dalam mendorong

lahirnya kreativitas berupa ide-ide guna menyiasati keterbatasan anggaran dan

mengoptimalkan kemampuan yang ada.


128

BAB VI

PENGANGGARAN SIRI’ NA PESSE CIPTAKAN KINERJA


ANGGARAN DAN KESEJAHTERAAN

Organisasi yang melakukan pengukuran


kinerja dengan memasukkan dimensi
keuangan dan non keuangan secara ber-
samaan akan memiliki kinerja lebih baik,
dibanding organisasi yang hanya menggu-
nakan alat ukur keuangan saja
(Hoque dan James, 2000)

6.1. Mukaddimah

Pada pembahasan sebelumnya telah diulas dua bab, yaitu lahirnya rasa

siri’ na pesse sebagai respon dari fakta sosial dan eksistensi nilai-nilai siri’ na

pesse dalam penyusunan anggaran. Pada bab ini pembahasan difokuskan pada

kinerja anggaran dan kesejahteraan. Pembahasan kedua unsur ini secara

substansi memiliki keterkaitan yang erat karena output merupakan wujud dari

kinerja anggaran yang merupakan dasar dalam menentukan kesejahteraan bagi

masyarakat.

Pada subbab 6.2 pembahasan difokuskan pada ciri-ciri anggaran siri’ na

pesse yang didasarkan pada keberpihakan anggaran kepada masyarakat dan

berdasarkan pada konsep dan arah kebijakan anggaran dalam dokumen

rencana pembangunan (RPJP, RPJM, dan tahunan). Keberpihakan anggaran

kepada masyarakat ditunjukkan dengan perbandingan alokasi anggaran

berdasarkan belanja langsung dan belanja tidak langsung.

Pada subbab 6.3 pembahasan difokuskan pada capaian output yang

merupakan wujud dari kinerja anggaran. Kinerja anggaran ditunjukkan dalam

bentuk pencapaian output berdasarkan target seperti pada bidang ekonomi-

infrastruktur dan kesehatan. Selanjutnya subbab 6.4 membahas tentang

kesejahateraan yang dianggap sebagai nilai tambah (value added) yang diterima

128
129

masyarakat. Kesejahteraan tersebut lahir dari manfaat yang dinikmati

masyarakat dari output yang dihasilkan dari penggunaan anggaran yang telah

disusun sebelumnya di tingkat SKPD yang dituangkan dalam bentuk RKA-SKPD.

6.2. Keberpihakan kepada Masyarakat: Ciri Anggaran Siri’ na pesse

Saat penyusunan program dan kegiatan di tingkat SKPD, motivasi utama

yang diwujudkan aktor adalah mengarahkan anggaran berpihak kepada

kebutuhan masyarakat (pro poor). Keberpihakan tersebut didasarkan pada dua

hal. Pertama, pada tataran psikologi, bahwa motivasi terhadap anggaran

didorong oleh kepekaan batin yang dirasakan aktor saat menemukan

problematika anggaran dan sosial yang dialami oleh masyarakat. Wujud

kepekaan batin berupa unsur rasa dan nilai-nilai siri’ na pesse yang muncul dan

mendorong aktor melakukan tindakan alokasi anggaran yang berpihak kepada

masyarakat (pro poor).

Wujud keberpihakan anggaran tercermin pada proporsi anggaran belanja

langsung yang lebih besar dari belanja tidak langsung. Proporsi belanja langsung

yang besar merupakan bagian dari motivasi aktor terhadap anggaran yang

ditujukan untuk memenuhi aspek sufisiensi, yaitu kebutuhan dasar sosial dan

kebutuhan infrastruktur dasar bagi masyarakat. Keberpihakan aktor terhadap

anggaran merupakan komitmen untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Hal

tersebut diungkapkan oleh H. Zakaria. (Kadis Koperindag Luwu Timur) bahwa:

Kita harus berpihak kepada pemenuhan hajat hidup orang banyak. Oleh sebab
itu anggaran Luwu Timur kalau bisa yang kita mau dekati 36:64, yaitu 36 untuk
belanja aparatur dan 64 untuk belanja program. Itu sudah menggambarkan
penganggaran yang sebenarnya. Keberpihakan kita kepada kepentingan
masyarakat.

Motivasi anggaran bagi aktor sudah jelas diarahkan untuk pemenuhan

hajat hidup orang banyak. Dalam hal ini, eksistensi masyarakat dijadikan sebagai

objek melalui kebijakan anggaran terutama dalam pembangunan sarana publik.


130

Komitmen aktor mengarahkan anggaran yang berpihak kepada masyarakat

merupakan bentuk dari anggaran berbasis siri’ na pesse. Dalam RKA SKPD atau

APBD, anggaran ini dapat dilihat dari ciri-cirinya yaitu proporsi belanja langsung

lebih besar dari belanja tidak langsung. Ciri-ciri ini menekankan pada

keberpihakan kebutuhan orang banyak (to maega) yang dalam hukum adat Luwu

masa lalu disebut muttangnga rirappangnge yang berarti memperhatikan

keadaan masyarakat (Mattata, 1967:).

Keberpihakan kepada orang banyak identik dengan konsep mangngellek

pasang yang pernah dipraktikkan di Luwu masa lalu, yang secara etimologi

diartikan sebagai air laut yang naik/pasang55 (Ahmad, 2002:xxv). Analogitas

tersebut dapat diartikan sebagai bentuk eksistensi masyarakat (to maega) dalam

proses penganggaran yang wujudnya tidak hanya dilihat dari proses Musrenbang

tetapi juga kontribusi mereka dalam memenuhi kas daerah (cash in flow) baik

dalam bentuk pajak, retribusi, maupun dalam bentuk lainnya. Mengingat pada

kenyataannya bahwa masyarakat memiliki kontribusi dalam mengisi kas daerah,

maka sudah sewajarnya saat penyusunan anggaran motivasi aktor adalah

mengarahkan anggaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tabel 6.1 Perbandingan Belanja Tidak Langsung dan Langsung Luwu Timur
2010-2014 (APBD Luwu Timur, Rp Rupaih)
Belanja Perbandingan (%)
Tahun
Tidak Langsung Langsung BTL BL
2010 [Link] [Link] 52,31 47,69
2011 [Link] [Link] 44,81 55,19
2012 [Link] [Link] 39,84 60,16
2013 [Link] [Link] 42,21 57,79
2014 [Link] [Link] 35,80 64,20
Jumlah [Link].306 [Link].008 41,46 58,54
BTL: Belanja Tidak Langsung, BL: Belanja Langsung

55
Mangngellek pasang semacam teori kontrak sosial yang di Barat tidak pernah dipraktikkan
(Achmad, 2002:xxv).
131

Tabel tersebut menunjukkan keberpihakan anggaran yang diwujudkan

Pemerintah Kabupaten Luwu Timur tahun 2010 sampai 2014 merupakan bentuk

komitmen keberpihakan kepada masyarakat (pro poor). Selama kurun waktu

tersebut, Pemerintah Luwu Timur telah menunjukkan keberpihakan anggaran

melalui belanja langsung yang porsinya 58,54% lebih besar dari belanja tidak

langsung 41,46%. Hal tersebut menunjukkan bahwa distriubsi anggaran untuk

membiayai berbagai macam program dan kegiatan khususnya yang langsung

bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat merupakan wujud dan ciri anggaran

berbasis siri’ na pesse yang merupakan bentuk keberpihakan kepada

masyarakat (to maega).

Terkhusus pada dua SKPD yaitu dinas kesehatan dan Koperindag yang

menjadi lokus dari penelitian ini, keperpihakan anggaran dapat dilihat salah

satunya pada tahun 2016. Pada periode tersebut, anggaran yang direncanakan

untuk kedua SKPD menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat dengan

proporsi belanja langsung terhadap belanja tidak langsung mencapai 87,47%

berbanding 12,43% untuk dinas koperindag dan 60,77% berbanding 39,23%

untuk dinas kesehatan, sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 6.2 Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Dinas Koperindag dan dan
Kesehatan Kabupaten Luwu Timur Tahun 2016 (Lampian 32 dan 33,
data diolah)
Anggaran
Dinas Jumlah Proporsi (%)*
Langsung Tidak Langsung
Koperindag [Link] [Link] [Link] 87,47 : 12,43
Kesehatan [Link] [Link] [Link] 60,77 : 39,23
Rerata 74,14 : 25,86
*) Proporsi anggaran langsung terhadap jumlah anggaran

Proporsi belanja langsung yang lebih besar dari belanja tidak langsung

untuk kedua SKPD tersebut menunjukkan tingginya komitmen Dinas Koperindag

dan Dinas Kesehatan Luwu Timur dalam mengalokasikan anggaran guna


132

membiayai program-program berbasis kemasyarakatan. Komitmen ini

merupakan manifestasi dari unsur rasa siri’ na pesse yang ditunjukkan aktor

sebagai upaya untuk mengatasi berbagai problematika anggaran dan sosial yang

dialami oleh masyarakat Luwu Timur selama ini.

Kita harus berpihak kepada pemenuhan hajat hidup orang banyak. Oleh sebab
itu anggaran Luwu Timur kalau bisa yang kita mau dekati adalah 36:64, yaitu 36
untuk belanja aparatur (tidak lagsung) dan 64 untuk belanja program (langsung).
Itu sudah menggambarkan penganggaran yang sebenarnya. Keberpihakan kita
kepada kepentingan masyarakat (H. Zakaria, Kadis Koperindag Luwu Timur).

Keberpihakan anggaran kepada masyarakat lahir dari kontribusi

dorongan nilai siri’ na pesse saat penyusunan anggaran karena adanya

sensitifitas kepekaan batin yang dirasakan aktor terhadap problematika anggaran

dan sosial yang dialami masyarakat. Nilai tersebut pada dasarnya merupakan

pendorong pembangunan lantaran anggaran yang digunakan merupakan hasil

kontribusi dari dorongan nilai-nilai kearifan lokal. Tindakan semacam itu paralel

dengan pandangan Lopa (2005:91) bahwa “siri’ merupakan pendorong bagi

pembangunan” yang dalam konteks ini mengarah pada output yang lahir dari

dorongan rasa siri’ na pesse dan nilai-nilai kearifan lokal. Pandangan ini berbeda

dengan hasil penelitian yang dilakukan Pasoloran (2015) di Provinsi Sulawesi

Selatan bahwa postur anggaran daerah yang kurang ideal dan adanya korupsi

anggaran daerah yang menunjukkan bahwa distribusi sumber daya publik belum

sepenuhnya berorientasi pada kepentingan masyarakat. Esensi yang dimaksud

Pasoloran (2015) mengarah pada pengalokasian anggaran yang seyogyanya

dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat.

Kedua, selain berdasarkan keberpihakan anggaran berdasarkan besaran

kuantitasnya, juga dapat dilihat dari perencanaan secara struktur yang bersifat

top down. Hal tersebut dapat dilihat pada RPJP daerah Luwu Timur 2005 hingga

2025 yang menetapkan visi dan misi mengarah kepada pendekatan budaya dan
133

agama (Bagian Hukum dan Organisasi Sekretariat Daerah, 2005). Pada salah

satu penjabaran visinya menyebutkan bahwa nilai-nilai agama dan budaya

dimaknai sebagai penegasan bahwa pembangunan (anggaran) yang

dilaksanakan tidak bersifat sekuler. Begitupun yang tertuang dalam salah satu

penjabaran misinya bahwa pemanfaatan sumber daya harus sedapat mungkin

menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Perencanaan tersebut merupakan dasar

dalam menyusun RPJM (menengah) dan tahunan secara struktural.

Arah kebijakan anggaran dalam dokumen rencana pembangunan (RPJP,

RPJM, dan tahunan) dan dominasi besaran belanja langsung merupakan ciri-ciri

dari anggaran yang berbasis siri’ na pesse. Ciri-ciri tersebut menekankan pada

keberpihakan kepada kebutuhan masyarakat yang merupakan salah satu

stakeholder yang memiliki kontribusi dalam penganggaran.

6.3. Anggaran Siri’ na Pesse Ciptakan Kinerja Anggaran

Anggaran yang disusun di tingkat SKPD Luwu Timur salah satunya untuk

membiayai kebutuhan masyarakat baik dalam bentuk penyediaan sarana publik

yang bersifat fisik maupun program non fisik lainnya. Keberpihakan kepada

masyarakat merupakan motivasi aktor terhadap anggaran yang didorong oleh

unsur kepekaan batin dan nilai-nilai yang muncul sebagai respon atas berbagai

problematika yang terjadi di lapangan. Menurut informan H. Zakaria (Kadis

Koperindag) bahwa “...masyarakatlah yang harus kita perhatikan, oleh sebab itu

anggaran harus berorientasi pada masyarakat”.

Anggaran memiliki banyak fungsi di antaranya sebagai penilaian kinerja

(Mardiasmo, 2009:65). Pencapaian kinerja tergantung dari output yang di

dihasilkan berdasarkan target-target yang ditetapkan. Menurut Andi Tullang (Kasi


134

Promkes Luwu Timur) bahwa “output


“ ... ditetapkan untuk mencapai target
target-target

dalam renstra”. Jadi pencapaian kinerja merujuk pada target yang ditetapkan.

Beberapa output yang dihasilkan sehubungan penciptaan barang dan

jasa yang dilakukan Dinas Koperindag Luwu Timur dapat dilihat pada gambar

berikut. Sejak tahun 2010-2014,


2010 2014, Koperindag Luwu Timur telah membuat

berbagai program dan kegiatan untuk mendorong produksi barang da


dan jasa.

Program dan kegiatan tersebut meliputi pelatihan pelaku UMKM, kerjasama di

bidang hak kekayaan intelektual (HAKI), penataan tempat usaha, fasilitasi sarana

produksi, fasilitasi modal usaha, pembinaan IKM/UMKM untuk memperkuat

jaringan klaster, promosi


promosi produk, pengembangan pasar dan di
distribusi barang

(jasa), dan sebagainya seperti yang divisualisasikan pada gambar berikut

[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
Anggaran

[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
-
2010 2011 2012 2013 2014
Barang 233.778.000 [Link] [Link] 261.186.000 537.691.000
Jasa [Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
Barang dan Jasa [Link] [Link] [Link] 209.125.000 249.480.000

Tabel 6.1 Anggaran Dinas Koperindag Berdasarkan Program Penciptaan dan


Pengembangan Produk dan Jasa 2010-2014
2010 (Lampiran 26
26-30, data
diolah)
Program yang dibuat Dinas Koperindag merupakan bentuk dari kinerja

anggaran dari program dalam rangka pengembangan dan penciptaan barang

dan jasa. Seperti halnya pemberdayaan pelaku UMKM usaha minuman mengaku

menerima berbagai bantuan dari pemerintah


pemerintah yang dianggap berkontribusi dalam

meningkatkan usahanya.
135

Saya dapat bantuan gerobak. Kebetulan usaha saya adalah jus buah jadi cocok
dengan bantuan tersebut. Gerobak ini saya gunakan untuk memajang buah dan
juga tempat membuat minuman. Bantuan ini sangat membantu usaha saya
(Haris, pelaku UMKM usaha minuman).

Anggaran yang dialokasikan dalam bentuk program dilaksanakan

berdasarkan target yang telah ditetapkan. Penetapan target pada program dan

kegiatan sebagai acuan dalam menentukan kinerja. Tanpa menetapkan target,

maka kinerja sulit untuk diukur.

Dinas Kesehatan Luwu Timur, untuk mengetahui kinerja dilihat dari

target, sasaran, maupun operasinalnya yang diamati melalui monitoring dan

evaluasi terhadap program dan kegiatan. Hal tersebut diungkapkan Yetriani Bosa

(Kabid Anggaran Dinkes) bahwa “...program yang diajukan harus lebih detail lagi,

seperti targetnya apa, sasarannya apa, dan operasionalnya diuraikan secara

rinci”. Jadi penilaian dilakukan berdasarkan Indikator Kinerja Utama (IKU) dan

Indikator Kinerja Kunci (IKK) kemudian melihat target kinerja dan hasil

capaiannya, seperti divisualisasikan pada tabel 6.3.

Kinerja diukur pada tiap program dan kegiatan berdasarkan target yang

dicapai. Tabel berikut memperlihatkan target dan hasil yang dicapai pada setiap

program yang dibuat tahun 2013-2015 pada Dinas Kesehatan Luwu Timur. Ada

dua tolok ukur yang menjadi acuan, yaitu target kinerja dan hasil yang dicapai.

Target kinerja diukur dengan batas ambang yang harus dicapai pada setiap

program, sedangkan hasil capaian menunjukkan progresifitas implementasi di

lapangan.
136

Tabel 6.3 Kinerja Program dan Kegiatan Pembangunan Kesehatan Luwu Timur
Tahun 2013-2015 (Dinkes Luwu Timur, 2015)
2013 2014 2015 (Triwulan I)
No IKU/IKK Target Hasil Target Hasil Target Hasil
Kinerja Capaian Kinerja Capaian Kinerja Capaian
Presentase Ibu Bersalin
1 yang ditolong Tenaga 85% 90,11% 87% 93,26% 90% 21,62%
Kesehatan Terlatih
Angka Kesakitan DBD
2 Menjadi dibawah 54 per 53 70 52 88,2 51 52
100.000 Penduduk
Perilaku Hidup Bersih
0 Pen-
3 dan Sehat Tingkat RT 60% 64,98% 65% 76% 70%
dataan
Mencapai 55%
Angka Kematian Bayi Per
4 30 2 28 1 24 1,5
1000 Kelahiran Hidup
Cakupan Pelayanan
5 92,59% 95,25% 95% 83,59% 100% 23%
Kesehatan Maskin

Berdasarkan pada penyajian tabel tersebut menunjukkan bahwa

umumnya hasil capaian pelaksanaan program dalam kurun waktu 2013-2015

berada di atas target yang ditetapkan. Artinya bahwa selama kurun waktu

tersebut Dinas Kesehatan Luwu Timur telah berkinerja dengan baik. Pencapaian

target tidak terlepas dari indikator-indikator yang ditetapkan pada setiap program

sehingga pelaksanaan program dapat dicapai. Menurut Mahmudi (2007a:89)

bahwa terdapat beberapa karakteristik indikator kinerja diantaranya: sederhana,

mudah dipahami; dapat dikuantifikasi; dikaitkan dengan standar dan target; fokus

kepada pelayanan, kualitas, dan efisiensi; serta dikaji secara teratur. Oleh sebab

itu, capaian kinerja pada Dinas Kesehatan dapat dicapai karena sesuai dengan

indikator-indikator kinerja berdasarkan lingkungan yang dihadapi.

Pada realitasnya, bagi eksekutif (budgeter holder) atau aktor, pencapaian

kinerja yang mereka maksud adalah mengarahkan anggaran untuk mencapai

tujuan dan sasaran secara efektif dan efisiensi. Oleh sebab itu, saat proses

penyusunan anggaran dilakukan, salah satu tujuan yang mereka harapkan

adalah alokasi anggaran untuk menghasilkan output berupa sarana fisik (tangible
137

assets) dan non fisik yang berpihak kepada masyarakat


masyarakat yang dapat memberikan

kesejahteraan bersama56 berdasarkan target yang ditetapkan.

Pada level kabupaten, wujud kinerja anggaran berbasis siri’ na pesse

dapat dilihat pada serapan anggaran periode tahun 2010 hingga 2014 di sektor

ekonomi-infrastruktur
tur dan kesehatan yang menunjukkan peningkatan dari tahun

ke tahun dalam kurun waktu tersebut. Peningkatan tersebut tidak hanya dilihat

dari sisi komitmen perencanaannya saja, melainkan juga realisasinya kepada

masyarakat sebagaimana yang divisualisasikan pada gambar berikut.

350,000

300,000

250,000
Rp Miliar

200,000

150,000

100,000

50,000

-
2010 2011 2012 2013 2014
Ekonomi & Infrasturktur 64,181 10,465 182,880 222,967 308,295
Kesehatan 17,652 60,113 37,044 43,956 75,877

Gambar 6.2 Realisasi Anggaran Ekonomi-Infrastruktur


Ekonomi Infrastruktur dan Kesehatan Kabu
Kabu-
paten Luwu Timur Tahun 2010-2014
2010 (Lampiran
Lampiran 25, Rp miliar)

Realisasi anggaran di bidang ekonomi-infrastruktur


ekonomi infrastruktur selama tahun 2010

hingga 2014 memperlihatkan dinamika yang sangat signifikan. Progresi


Progresivitas

tersebut terdistribusi untuk mendorong kemajuan ekonomi melalui pembangunan

berbagai jenis infrastruktur,


infrastruktur pemerataan, dan pemberdayaan ekonomi lokal, serta

pengentasan kemiskinan57. Peningkatan yang sama juga terjadi


erjadi pada realisasi

anggaran di bidang kesehatan. Anggaran tersebut dialokasikan untuk


56
Seperti diungkapkan Sahidin Halun (TAPD), [Link] (Kadis Koperindag), dan Muhammad
Ikhsan (Kasi Analisis Anggaran Bidang Anggaran DPPKAD) Luwu Timur.
57
Lihat lampiran 15, 17, 19, 21, 23
138

pembangunan sarana dan prasarana kesehatan yang meliputi pembangunan

rumah sakit, Puskesmas, Pustu, renovasi sarana kesehatan, pengadaan alat

seperti genset dan peralatan kesehatan, program Bidan Kesehatan Masyarakat,

program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), program Peningkatan Gizi dan Promosi

Kesehatan, serta beberapa kegiatan pendukung lainnya58.

(Anggaran disusun untuk membiayai) ...seperti peralatan kesehatan, mobile-


mobilernya, sarana prasarananya, kelayakan bangunannya. Tapi kalau ke
masyarakat adalah program, misalnya bidang kesehatan masyarakat, KIA
(kesehatan ibu dan anak), gizi, dan promosi kesehatan (Yetriani Bosa, Kepala
Bidang Anggaran Dinas Kesehatan Luwu Timur).

Fasilitas publik yang dibangun tersebut merupakan output dari

penggunaan anggaran yang disusun sebelumnya di tingkat SKPD berdasarkan

nilai-nilai siri’ na pesse yang bertujuan untuk mengatasi ketimpangan sarana dan

prasarana yang dialami masyarakat. Hadirnya fasilitas publik dalam bentuk fisik

maupun program pemberdayaan merupakan bentuk dari kinerja anggaran siri’ na

pesse karena pemanfaatannya merupakan hasil dari penyusunan anggaran yang

didasarkan atas kepekaan batin rasa siri’ na pesse.

Kinerja anggaran yang dibangun dari nilai-nilai pesse na sri’ merupakan

wujud dari etos kerja dengan semangat tinggi yang menurut Hamid (2005:3)

berada pada lingkaran etika dan logika yang bertumpu pada nilai-nilai dalam

hubungannya dengan pola-pola tingkah laku dan rencana-rencana manusia.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan Geertz (1973:126) bahwa:

..the moral (and aesthetic) aspect of a given culture, the evaluatif elements, have
commonly been summed upin the term “etos” while the cognitive, extential
aspects have been designated by the term “word view”. A Peopel ethos in the
tone, character, and quality of their underlying attitude toward view is their picture
of the way things in sheer actuality are, their picture of the way things in sheer
actuality are, their consept of nature, of self, of society.

Pandangan tersebut mempertegas jika etos kerja pada dasarnya

merupakan gambaran kualitas hidup dan estetika moral etik dalam suasana hati

58
Lihat lampiran 16, 18, 20, 22, dan 24.
139

(kebatinan) dan sikap yang merupakan kenyataan hidup yang tergambar dalam

konsep tentang alam, diri, dan masyarakat. Pandangan ini juga sejalan dengan

Aristoteles (Hamid, 2013:3) yang membedakan etos dengan pikiran dan

intelegensi. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kinerja anggaran yang

praktikkan di Luwu Timur merupakan wujud dari etos kerja yang lahir dari

kepekaan batin (Geertz, 1973:126 dan Aristoteles, -386-449 SM) rasa siri’ na

pesse karena adanya problematika anggaran dan sosial kemudian ditindaklanjuti

dengan nilai-nilai siri’ na pesse (Rahman, 2002:66-67), sehingga melahirkan

anggaran yang dimanfaatkan untuk menghasilkan output yang diharapkan

masyarakat guna mendorong pembangunan (Lopa, 2005:91).

Hasil yang dicapai terkait program pembangunan kesehatan di Dinas

Kesehatan Luwu Timur (tabel 6.3) merupakan wujud dari kinerja anggaran yang

berbasis siri’ na pesse. Anggaran yang disusun berdasarkan kepekaan batin dan

nilai-nilai kearifan lokal yang dialokasikan untuk membiayai berbagai kebutuhan

masyarakat yang termasuk sarana publik dan program pemberdayaan (output).

Output yang dinikmati oleh masyarakat merupakan bentuk dari kinerja

anggaran. Output tersebut mesti dipenuhi karena berhubungan dengan

kebutuhan dasar yang dijamin secara konstitusi. Ketika kebutuhan tersebut tidak

terwujud, maka masyarakat juga mengalami suasana batin berupa munculnya

rasa siri’ na pesse yang mendalam. Rasa siri’ na pesse tidak hanya dirasakan

oleh aktor penyusun anggaran melainkan juga masyarakat. Jika rasa siri’ na

pesse yang dirasakan aktor karena problematika anggaran dan sosial, maka

masyarakat juga melihat dari sudut pandang yang sama. Hanya saja aktor

menyikapinya dengan kebijakan anggaran dalam penyusunannya, tetapi

masyarakat menyikapinya dalam bentuk partisipasi anggaran secara bersama

untuk mengatasi problematika yang sedang dihadapi. Berangkat dari


140

pembahasan yang telah diulas tersebut, maka pada dasarnya kinerja anggaran

yang berbasis siri’ na pesse berorientasi pada output untuk memenuhi kebutuhan

masyarakat, baik fisik maupun non fisik.

6.4 Kinerja Anggaran Mendorong Lahirnya Kesejahteraan Masyarakat

Motivasi yang ditunjukkan aktor pada penyusunan anggaran adalah

menciptakan output, yaitu luaran yang dihasilkan dari realisasi anggaran dalam

membiayai program fisik (tangible assets) dan non fisik di antaranya jalan, irigasi,

drainase, jembatan, sarana dan prasarana kesehatan, dan berbagai program

pemberdayaan lainnya. Output yang dihasilkan diarahkan untuk mencapai

sasaran anggaran yaitu kesejahteraan bagi masyarakat berkebutuhan.

Kesejahteraan yang dirasakan masyarakat pada dasarnya terletak pada

sufisiensi59 dalam dua hal, yaitu pada kebutuhan infrastruktur dasar dan

kebutuhan dasar sosial. Pada kebutuhan dasar infrastruktur, terjadi pada bidang

ekonomi-infrastruktur di mana Pemerintah Luwu Timur memprioritaskan

pembangunan pada pembangunan jalan, jembatan, irigasi, dan drainase,

sedangkan kebutuhan dasar sosial diataranya adalah kesehatan dan

pemberdayaan ekonomi lokal.

Sebelum program Desa Mengepung Kota di luncurkan, kondisi jalan

sangat memprihatinkan karena umumnya belum beraspal dan hanya jalan

propinsi saja yang beraspal. Kini kondisinya jauh berbeda dari sebelumnya,

karena jalan-jalan yang menghubungkan antar kecamatan dan bahkan antar

desa juga telah beraspal. Di Kecamatan Mangkutana misalnya, jalan-jalan yang

menghubungkan antar desa yang selama ini hanya kondisinya berkerikil campur

tanah, setelah hadirnya program Desa Mengepung Kota sudah dapat dilalui

59
Ketersediaan layanan publik
141

dengan aspal. Pemandangan ini terlihat di hampir seluruh kecamatan dan desa

di Luwu Timur. Program yang diluncurkan pemerintah merupakan bentuk

komitmen untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur dasar masyarakat sehingga

sejahtera dapat dinikmati secara bersama.

Sementara itu, di bidang pemerintah juga menyediakan rumah sakit,

Puskesmas, Pustu, dan sarana mobilitas program kesehatan lainnya untuk

mengatasi masalah-masalah yang dihadapi masyarakat selama ini. Semua itu

dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar sosial yang merupakan ekspektasi

masyarakat baik bersifat horisontal maupun vertikal, seperti petani, nelayan,

buruh, pegawai, investor, pejabat, orang miskin, orang kaya, dan berbagai

profesi lainnya. Masyarakat berkebutuhan ini identik dengan pandangan Giddens

(2010) atau Karl Marx60 (Suseno, 2016) yang menyebutnya sebagai kelas-kelas

sosial yang menjadi subjek dalam struktur institusi atau lingkungan sosial.

Bedanya, dalam pandangan Karl Marx (Suseno, 2016) kelas sosial yang

dimaksud adalah kelas-kelas dalam perusahaan, seperti para kaum buruh,

sedangkan dalam konteks ini masyarakat berkebutuhan adalah kelas-kelas

dalam masyarakat yang benar-benar membutuhkan sarana dan prasarana untuk

mengatasi problematika yang mereka sedang alami. Seperti halnya yang terjadi

pada kelas petani di Kecamatan Mangkutana yang sangat membutuhkan

kehadiran irigasi untuk mengairi sawah mereka. Kebutuhan tersebut direspon

oleh Pemerintah Luwu Timur dan mewujudkan keinginan tersebut dengan

membangun irigasi. Kehadiran irigasi tersebut benar-benar memenuhi kebutuhan

kelas petani sehingga membawa kesejahteraan bagi mereka. Realita kasus

semacam itu dapat dilihat secara statistik terhadap pemenuhan ekspektasi

60
Hanya saja, Karl Marx tidak menjelaskan secara rinci mengenai bagaimana semestinya struktur
kelas sosial yang disebutnya pada banyak kesempatan. Namun para ilmuwan memahami
pandangan Karl Marx yang banyak menyinggung eksistensi buruh dalam suatu institusi.
142

infrastruktur untuk memenuhi harapan masyarakat berkebutuhan seperti pada

program Desa Mengepung Kota pada tabel berikut.

Tabel 6.4 Anggaran Bidang Ekonomi-Infrastruktur Tahun 2006-2009 Program


Desa Mengepung Kota di Kabupaten Luwu Timur (Lampiran 11,
Satuan Rupiah)
Tahun Jalan Jembatan Irigasi Drainase
2006 [Link].25 - - [Link]
2007 [Link],00 - [Link] [Link]
2008 [Link],00 - [Link] [Link]
2009 [Link],00 [Link] - [Link]

Hadirnya sarana jalan, jembatan, irigasi, dan drainase yang telah

dinikmati manfaatnya oleh masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat telah

merasakan kesejahteraan dari output yang dihasilkan dari penggunaan anggaran

yang telah disusun sebelumnya pada tingkat SKPD yang berbasis siri’ na pesse.

Kesejahteraan tersebut oleh informan disebutnya sebagai value added (nilai

tambah). Jadi value added merupakan nilai tambah yang didapatkan dari output

yang dinikmati dan dirasakan masyarakat berkebutuhan sehingga penerima

manfaat menjadi sejahtera atau terpenuhi kebutuhannya. Jika output yang

dihasilkan tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, berarti kesejahteraan

merupakan suatu kemustahilan sehingga anggaran yang telah disusun menjadi

sia-sia belaka (inefficient) dan pada akhirnya membuat masiri’ (malu).

Output dan impact berarti di situ ada nilai tambah atau value added yaitu
kesejahteraan. Kalau tidak ada nilai tambah, jadi apa yang kita kerjakan itu sia-
sia, ya tentu kita merasa malu (masiri’). Misalnya memprogramkan
pembangunan ekonomi, tapi apa yang kita kerjakan itu ternyata manfaatnya tidak
ada sementara anggaran telah dikucurkan sedemikian besar, Akhirnya malu juga
(H. Sahidin Halun, TAPD)

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa output yang dihasilkan dan

dirasakan manfaatnya oleh masyarakat memberikan nilai tambah (value added)

berupa kesejahteraan bersama. Kesejahteraan inilah yang merupakan harapan

bersama bagi seluruh stakeholder sosial yang dalam konteks otonomi daerah
143

diartikan sebagai keterpenuhan kebutuhan masyarakat dengan menikmati hasil

pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah (JPIP, 2003).

Komitmen Pemerintah Kabupaten Luwu Timur untuk menyejahterakan

masyarakatnya diwujudkan dalam berbagai program pemberdayaan dan

pengadaan sarana publik. Program pemberdayaan yang diluncurkan pemerintah

meliputi pemberdayaan dan pemerataan ekonomi masyarakat lokal melalui

program pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Sementara program yang berhubungan dengan pengadaan sarana publik

diwujudkan melalui program Desa Mengepung Kota (lampiran 10). Program ini

memprioritaskan pengadaan sarana publik yang benar-benar dibutuhkan oleh

masyarakat meliputi jalan, jembatan, drainase, dan irigasi. Program ini bersifat

multi years dan dilaksanakan bersama-sama dengan beberapa SKPD.

Sarana publik (aset) yang dihadirkan oleh Pemerintah Luwu Timur untuk

tujuan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat juga sesuai dengan hasil

penelitian yang dilakukan Anto (2016) di Provinsi Sulawesi Tenggara. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa aset (sarana publik) dipahami sebagai instrumen

kesejahteraan masyarakat yang secara kolektif melebihi aset untuk

kesejahteraan individu dan kesejahteraan organisasi. Dalam konteks penelitian

ini, aset atau sarana publik juga dimaknai sebagai kesejahteraan karena

diperuntukkan bagi seluruh masyarakat Luwu Timur.

Kesejahteraan yang dinikmati masyarakat Luwu Timur yang diwujudkan

berdasarkan sufisiensi merupakan pemenuhan pada kebutuhan infrastruktur

dasar dan kebutuhan dasar sosial, juga dikenal dalam terma otonomi daerah

yang digagas Jawa Pos Institute of Pro Otonomi-JPIP (2003:18). Sufisiensi

dalam pandangan JPIP (2003:18) merupakan indikator perbaikan layanan publik

dalam kaitannya dengan dua hal, yaitu kebutuhan dasar sosial dan kebutuhan
144

infrastruktur sosial. Kebutuhan sufisiensi tersebut merupakan langkah konkrit

Pemerintah Luwu Timur dalam memenuhi kesejahteraan masyarakatnya.

6.5 Ikhtisar

Seperti telah disebutkan pada bagian mukaddimah bahwa substansi bab

ini membahas tentang kinerja anggaran dan kesejahteraan (value added).

Berdasarkan pembahasan tersebut, maka beberapa simpulan yang dapat ditarik

adalah sebagai berikut.

Pertama, Ciri-ciri anggaran berbasis siri’ na pesse dilihat dari

keberpihakan kepada masyarakat (pro poor). Hal tersebut dapat dilihat dari

proporsi belanja langsung yang lebih besar dibanding dengan belanja tidak

langsung. Belanja langsung merupakan anggaran yang dialokasikan untuk

membiayai proyek dan kegiatan yang ditujukan untuk kebutuhan masyarakat,

sedangkan belanja tidak langsung umumnya ditujukan untuk membiayai

pengeluaran rutin pegawai.

Ketiga, Salah satu keberpihakan kepada masyarakat ditunjukkan dengan

komitmen terhadap anggaran tahun 2010-2014 pada bidang ekonomi-

infrastruktur dan kesehatan di Kabupaten Luwu Timur. Pada kurun waktu

tersebut realisasi anggaran menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun pada

masing-masing bidang. Pada kenyataannya, progresivitas anggaran yang di

realisasikan berdampak terhadap output yang dihasilkan, masyarakat sebagai

sasaran anggaran dapat menikmati manfaatnya, sehingga ketimpangan-

ketimpangan pelayanan yang dirasakan selama ini dapat teratasi dengan baik.

Keempat, anggaran siri’ na pesse mendorong lahirnya output yang

dihasilkan baik dalam bentuk fisik maupun non fisik. Di bidang ekonomi-

infrastruktur, output meliputi meliputi jalan, irigasi, drainase, jembatan, program


145

pemberdayaan ekonomi lokal, program pemerataan ekonomi lokal, program

pengentasan kemiskinan, dan sebagainya. Output di bidang kesehatan meliputi

rumah sakit, Puskesmas, Pustu, Polindes, program Desa Mandiri, pengentasan

jentik sarang nyamuk, program kesehatan ibu dan anak, dan sebagainya. Output

yang dihasilkan dari kedua bdang tersebut terukur berdasarkan target sehingga

menghasilkan kinerja anggaran.

Kelima, output yang dihasilkan tersebut baik dalam bentuk fisik (tangibel

assets) maupun non fisik untuk meminimalisir keterbatasan sarana publik yang

tersedia yang kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat berkebutuhan sehingga

berdampak terhadap pemenuhan rasa kesejahteraan bersama. Kesejahteraan

itu merupakan nilai tambah (value added) yang dirasakan masyarakat

berkebutuhan yang meliputi masyarakat kelas vertikal dan horisontal di

antaranya petani, nelayan, buruh, pegawai, pejabat, orang kaya, orang miskin

dan sebagainya secara bersama-sama.


146

BAB VII

HARKAT DAN MARTABAT: MAKNA DI BALIK


PENGANGGARAN SIRI’ NA PESSE

Siri’ berarti kehormatan, harga diri, harkat dan


martabat yang senantiasa menjiwai “manusia”
dalam berbagai aspek kehidupan
Rahim, 2012

7.1 Mukaddimah

Bab ini membahas tentang harkat dan martabat yang merupakan makna

yang lahir dari konsep penganggaran siri’ na pesse. Pencapaian harkat dan

martabat pada esensinya merupakan wujud dari pengakuan masyarakat maupun

penghargaan atas capaian prestasi yang diterima oleh pemerintah baik secara

institusi maupun tim kerja atau individu.

Substansi bab ini terdiri dari empat bagian. Pada subbab 7.2 membahas

proses pencapaian harkat dan martabat yang dimulai dari kepemilikan harga diri

yang bersifat kefitrahan sejak lahir yang kemudian berproses secara inderawi,

lalu terlibat dalam penganggaran. Subbab 7.3 membahas harkat dan martabat

yang dirasakan aktor secara individu, tim kerja, maupun institusi pemerintah.

Sementara pada subbab 7.4 membahas tentang esensi dan makna dari

penganggaran siri’ na pesse. Makna merupakan sesuatu yang terdapat dibalik

sebuah proses, yaitu harkat dan martabat.

7.2. Transformasi Harga Diri Menuju Harkat dan Martabat

Pada bahasan sebelumnya disebutkan bahwa tujuan akhir dari

penyusunan anggaran siri’ na pesse adalah pencapaian harkat dan martabat.

Tujuan tersebut dicapai dari tahapan-tahapan yang dimulai dari proses

pengamatan problematika anggaran dan sosial, penyusunan anggaran yang

146
147

berbasis nilai-nilai kearifan lokal, serapan anggaran (output) untuk pembangunan

sarana publik yang memberikan kesejahteraan, hingga memperoleh pengakuan

dari publik yang dapat memberikan harkat dan martabat.

Secara personal, pencapaian harkat dan martabat tercipta dari sosok

aktor yang memiliki harga diri61 yang merupakan nilai yang dimiliki sejak lahir.

Dalam terma agama, harga diri merupakan nilai yang melekat pada setiap

manusia yang dilahirkan dalam keadaan fitrah (QS. Ar Rum:3062) dan sempurna

(QS. At Tin:463). Terma ini sedikit memiliki kesamaan dalam pandangan John

Locke dari segi proses perkembangan manusia, namun berbeda dari esensi

kelahirannya. John Locke (Tafsir, 2008:34) memandang manusia dilahirkan

identik dengan tabula rasa64 laksana kertas putih yang bersih tanpa memiliki

makna dan lebih bersifat pasif.

Merujuk pada terma agama65, maka pada esensinya manusia-aktor

dilahirkan dalam keadaan fitrah dan sempurna yang sarat dengan harga diri.

Dalam proses perkembangannya, aktor mengalami transformasi mencapai

tujuan siri’’nya yaitu harkat dan martabat (Tapala:1977:66). Proses inilah yang

disebutkan John Locke sebagai pengalaman inderawi, yang dalam konteks

penelitian ini adalah upaya untuk menegakkan siri’ melalui proses dalam

penyusunan anggaran untuk mendapatkan harkat dan martabat.

Ciri-ciri aktor yang memiliki harga diri adalah acca (cerdas) berdasarkan

pengetahuan (knowledge) dan berpengalaman (experience), percaya diri, dan

menjunjung tinggi nilai-nilai universalitas (meliputi keariafan lokal). Ciri-ciri itu

61
Harga diri adalah kesadaran akan seberapa besar nilai yang diberikan kepada diri sendiri
([Link]
62
Dalam tejemahan “...Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitra itu, tidak ada
perubahan pada fitrah Allah...”
63
Dalam terjemahan “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya”.
64
Teori tabula rasa memandang manusia sebagai insan yang tidak yang tidak yang tidak ubahnya
bagaikan sebatas kertas putih saja.
65
Khususnya Islam, memandang manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah.
148

terlihat dari karakter aktor baik dalam bertutur kata, bertindak, maupun dalam

memahami dan mendeskripsikan dirinya66. Seperti halnya dalam bertutur kata,

aktor mengucapkan kata penghargaan seperti tabe yang digunakan setiap

momen, seperti ketika mengajukan argumentasi atau pendapat, memotong

pembicaraan, atau ketika keliru memahami atau melakukan sesuatu hal saat

penyusunan anggaran.

Dalam bertindak, harga diri diwujudkan aktor pada kehati-hatian dalam

menyusun anggaran dan senantiasa mengedepankan rasa dan nilai-nilai siri’ na

pesse seperti tongeng, lempu’ getteng, adele’ dan lalembate tarangtajo atau

siwolong polong (seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya). Tindakan ini

dilakukan seperti dalam merelevansikan secara logis anggaran yang disusun

berdasarkan daftar harga yang dibuat Dinas Koperidag Luwu Timur supaya tidak

menjadi temuan dikemudian hari atau mengalami pembiasan anggaran yang

berujung pada inefisiensi.

Begitu pun dengan harga diri yang dikedepankan aktor dalam

mendeskripsikan dirinya, tentang pengalaman dan kemampuan intelektual yang

menunjukkan ke-acca-an yang dimilikinya. Kapasitas yang melekat tersebut

menunjukkan bahwa aktor memiliki kapasitas yang layak dalam menyelesaikan

tugas penyusunan anggaran yang diamanahkan kepadanya. Harga diri tersebut

merupakan kesadaran akan seberapa besar nilai yang diberikan kepada diri

sendiri atau pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya sendiri

(Santrock, 2010:47). Jadi setiap aktor yang terlibat dalam tim penyusun anggaran

SKPD akan mentransformasikan harga dirinya mencapai tingkatan harkat dan

martabat. Transformasi diwujudkan secara kefitrahan kemudian ditindaklanjuti

66
Telah diungkapkan pada pembahasan sebelumnya, di mana aktor merasa bahwa kapasitas
yang dimiliki memungkinkan diamanahkan sebagai tim penyusun anggaran di Dinas Kesehatan
Luwu Timur.
149

melalui proses inderawi hingga masuk ke proses penganggaran berbasis siri’ na

pesse. Perjalanan harga diri aktor menuju pencapaian harkat dan martabat

divisualisasikan pada gambar berikut.

Harga Diri (Kefitrahan)

Proses Inderawi
(Pengalaman,
Acca,dan lainnya)
Proses Penganggaran
Siri’ na pesse
Melalui Unsur:
Kepekaan Batin
Siri’ na pesse,
Nilai-Nilai Kearifan Lokal,
Kinerja Anggaran,
Kesejahteraan

Kepercayaan

Pengakuan

Harkat dan Martabat

Gambar 7.1 Transformasi harga diri Aktor Mencapai Harkat dan Martabat

Proses seorang aktor penyusun anggaran dalam menegakkan siri’ na

pesse melalui tahapan transformasi dari kefitrahan harga diri hingga mencapai

harkat dan martabat. Pada tahapan awal, manusia (aktor) yang dilahirkan

memiliki harga diri karena dalam keadaan fitrah (QS. Ar Rum:30) dan sempurna

(QS. At Tin:4). Dalam proses mencapai tujuan penegakan siri’ na pesse, aktor

mengalami proses inderawi dengan menjalani berbagai perjalanan hidup


150

sehingga memiliki pengalaman (experience), acca (knowledge), dan kepekaan

batin, bagaikan tabula rasa pada kertas putih yang akhirnya membentuk aktor

berharga diri yang layak menerima amanah sebagai aktor penyusun anggaran.

Tahapan selanjutnya, aktor mengalami proses dalam penyusunan anggaran

yang berbasis siri’ na pesse sebagaimana visualisasi gambar 4.1 yang terdiri: (1)

rasa siri’ na pesse, (2) eksistensi nilai-nilai siri’ na pesse, (3) kinerja anggaran,

(4) kesejahteraan, serta (5) harkat dan martabat.

7.3. Harkat dan Martabat sebagai Individu, Tim Kerja, dan Institusi

Aktor secara individu, tim kerja, maupun sebagai pemerintah dapat

merasakan pengakuan (rewards) dari berbagai pihak atas capaian yang telah

dihasilkan. Pengakuan tersebut dapat dilihat secara internal dan eksternal

institusional maupun berdasarkan utilitas yang dihasilkan. Pengakuan secara

internal pemerintahan, dapat diterima dari sesama rekan kerja, antar SKPD,

pemerintah, dan legislatif. Sedangkan secara eksternal pemerintah datang dari

masyarakat, organisasi sosial kemasyarakatan, antar pemerintahan, antar

negara, maupun dari lembaga-lembaga internasional. Sementara itu, pengakuan

berdasarkan manfaat dapat datang dari pihak-pihak yang merasakan langsung

maupun tidak langsung atas kinerja yang dihasilkan.

Dalam penyusunan anggaran di tingkat SKPD, posisi aktor berada pada

tiga sisi, yaitu individu, tim kerja, maupun sebagai institusi pemerintah sehingga

setiap pengakuan yang muncul dapat dirasakan dalam tiga situasi yang sama.

Namun dalam kondisi situasional, aktor dapat merasakan pengakuan dalam

keadaan yang berbeda. Seperti ketika aktor ke lapangan melakukan monitoring

program Pengembangan UMKM di bantaran bibir Sungai Malili, nampak para

penerima manfaat larut dalam suka cita yang mendalam dengan memberikan
151

senyuman dan ucapan terima kasih. Sambutan yang diberikan tersebut direspon

balik dengan tangan terbuka oleh aktor, juga dengan senyuman dan rasa

gembira. Kedua pihak sama-sama menunjukkan euforia kegembiraan karena

merasakan manfaat bersama dari program yang dijalankan. Pihak pelaku UMKM

merasa terbantu dengan adanya berbagai fasilitas yang diberikan kepadanya

berupa pemberian modal kerja, pelatihan, pengadaan alat, dan relokasi strategis

berjualan, sehingga mendatangkan nilai tambah ekonomi yang dihasilkan.

Sedangkan bagi aktor, pengakuan dalam bentuk apresiasi yang diterima

menunjukkan jika secara individu telah berkinerja dengan baik sehingga

membangkitkan harkat dan martabat secara personal pula.

Harkat dan martabat yang dirasakan aktor melekat pada dirinya dalam

setiap situasi, baik saat melakukan aktivitas keseharian sebagai aktor penyusun

anggaran, penanggung jawab program, maupun sebagai bagian dari anggota

masyarakat dalam masyarakat berkebutuhan. Dalam situasi lain, kondisi ini tidak

dominan saat aktor secara individu berada dalam tim kerja. Saat penyusunan

anggaran dilakukan secara tim, dominasi aktor secara individu terbilang kecil.

Hal ini karena tiap aktor secara individu memiliki potensi kontribusi yang sama.

Namun dalam kondisi tertentu, secara kasuistik ada aktor yang merasa lebih

dominan saat kegiatan tersebut berlangsung, namun hal ini bersifat anomali

karena terkait dengan persoalan teknis belaka.

Salah satu wujud harkat dan martabat secara tim dirasakan ketika

mendapatkan pengakuan berupa penghargaan WTP dari BPK RI atas kinerja

pengelolaan keuangan daerah yang mereka telah dilakukan. Pengakuan yang

mereka terima tersebut juga direspon secara kebatinan berupa eufora

kegembiraan. Pengakuan tersebut dianggap sebagai spirit untuk meningkatkan

kinerja dalam mengelola keuangan daerah demi kesejahteraan masyarakat. Hal


152

ini juga diakui oleh informan Andi Tulleng67 bahwa WTP pada dasarnya sebagai

spirit untuk meningkatkan kinerja pengelolaan keuangan daerah yang lebih baik.

Pengakuan berupa WTP juga dirasakan segenap stakeholder68 secara

institusi dalam jajaran pemerintahan. Keberhasilan tersebut juga direspon secara

kebatinan dalam bentuk euforia kegembiraan, rasa bangga yang tinggi, dan

ditindaklanjuti dengan respon secara terbuka dengan mengundang wartawan

untuk peliputan, memuat di majalah Intern Warta Luwu Timur, di koran lokal, dan

sebagainya. Pengakuan yang diterima ini merupakan hasil dari tindakan maseddi

siri’ (kesatuan siri’) untuk menegakkan siri’ secara bersama seluruh elemen

dalam Pemerintahan Luwu Timur.

Euforia kebatinan yang dialami secara individu, tim kerja, maupun

segenap stakeholder dalam institusi Pemerintahan Kabupaten Luwu Timur

merupakan padanan dari doktrin ilmu sosial yang dikenal dengan teori

pertukaran sosial (exchange theory) yang dimotori George Caspar Homans

(Ritzer, 2014:89). Menurut teori ini bahwa orang melakukan pertukaran karena

termotivasi oleh gabungan berbagai tujuan dan keinginan yang khas (Wirawan,

2013:175). Dalam konteks ini, keinginan khas yang dimaksud adalah hasrat

untuk mencapai harkat dan martabat yang dipertukarkan dengan keinginan aktor

ketika melakukan menyusun anggaran. Jadi pertukaran bukan dalam bentuk

bendawi melainkan secara psikologis yang bersifat transedental.

Jadi respon yang diperlihatkan dalam menyikapi pengakuan atau

penghargaan yang diterima aktor merupakan bentuk personifikasi suasana

kebatinan yang dirasakan secara bersama-sama yang pada akhirnya melahirkan

67
Kasi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Luwu Timur
68
Meliputi bupati sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daarah, kepala SKPKD,
bendahara umum daerah, pengguna anggaran, pengguna barang, kuasa bendahara umum
daerah, kuasa pengguna anggaran, pejabat penatausahaan keuangan daerah SKPD, pejabat
pelaksana teknis kegiatan, bendahara penerimaan, bendahra pengeluaran, dan aktor penyusun
anggaran lainnya
153

nilai harkat dan martabat. Nilai tersebut dianggap sebagai pencapaian yang

paling esensi karena dipandang sebagai lambang atau simbol harga diri dalam

mempertahankan siri’. Menurut To Maccae ri Luwu (Rahim, 2012) bahwa

mempertahankan siri’ merupakan tindakan yang diperhambakan yaitu upaya

optimalisasi kemampuan (strongth) dan sumber daya yang dimilliki untuk

membela dan menegakkan siri’.

7.4 Harkat dan Martabat: Esensi Penegakan Siri’ dan Makna Penyusunan
Anggaran

Harkat dan martabat merupakan perwujudan akhir dari penganggaran siri’

na pesse yang lahir dari pengakuan berbagai pihak, baik secara internal dan

eksternal pemerintah daerah maupun formal dan informal. Bentuknya berupa

penghargaan (rewards) simbolik maupun pengakuan langsung dari publik

kepada aktor atau institusi pemerintah terhadap berbagai pencapaian yang

dihasilkan.

Penghargaan (rewards) yang diterima merupakan bentuk pengakuan

yang lahir dari kepercayaan, baik karena menikmati langsung manfaat dari

output yang dihasilkan atau persepsi positif yang ditimbulkan, maupun melalui

penilaian formal. Berbagai penghargaan yang diterima Pemerintah Kabupaten

Luwu Timur sejak berdirinya tahun 2003 hingga sekarang merupakan harga yang

diterima dalam bentuk kepercayaan dan pengakuan. Semakin banyak

kepercayaan yang diterima akan semakin meningkatkan harga sehingga pada

akhirnya melahirkan harkat dan martabat, baik secara individu, tim kerja, maupun

dalam tataran pemerintah, sebagaimana pernyataan informan berikut.

...Kalau harkat dan martabat itu berarti pengakuan. Pengakuan halayak itu
adalah martabat dan itulah unsur terakhir bahwa dengan adanya ini semua
memunculkan pengakuan publik dan pengakuan pemerintah, dibuktikan dengan
adanya apresiasi dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi seperti
154

69
penghargaan-penghargaan, misalnya WTP dan penghargaan lainnya. Kenapa
mereka mengakui karena kita punya harga, kita dipercaya. Orang tidak mungkin
memberikan pengakuan kepada kita jika tidak ada kepercayaan. Kepercayaan
dari sudut pandang anggaran, yaitu kita mampu melakukan penganggaran
berbasis pesse na pesse atau berbasis kearifan lokal. Nah inilah hasilnya,
mendapatkan pengakauan, baik secara institusional maupun secara publis
([Link] Halun, TAPD Luwu Timur).

Dalam konteks pengelolaan keuangan daerah, munculnya penghargaan

(rewards) dari berbagai pihak karena kontribusi dari penganggaran yang

dilakukan berbasis siri’ na pesse. Penghargaan tersebut dapat dilihat dari

keberhasilan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur memperoleh rewards dalam

pengelolaan keuangan daerah dengan predikat WTP dari BPK RI Provinsi

Sulawesi Selatan empat kali, tahun 2011, 2012, 2014, dan 201570. Penghargaan

tersebut merupakan bentuk perwujudan yang menurut Mattulada (2005:70)

sepadan dengan harga diri yang dibangun melalui proses menegakkan nilai-nilai

(unsur rasa dan nilai-nilai siri’ na pesse), bekerja keras (unsur kinerja anggaran)

untuk memperoleh penghidupan yang baik (kesejahteraan) agar tidak terhina

oleh kemiskinan dan kemelaratan (unsur harkat dan martabat).

Pandangan Mattulada tersebut juga sejalan dengan Farid (2005), Daeng

Tapala (1977), dan Korn (1952) bahwa dapat dikatakan penganggaran siri’ na

pesse pada esensinya merupakan upaya untuk menegakkan siri’ yang dianggap

paling berharga. Dalam pandangan Abdullah (1985:37) menyebutnya bahwa

“tidak ada suatu nilai pun yang paling berharga untuk dibela dan dipertahankan

di muka bumi selain dari pada siri’” dengan tujuan memperoleh harkat dan

martabat (Rahim, 2012 dan Mattulada, 2005). Dari berbagai pandangan tersebut

mempertegas bahwa upaya penegakan siri’ merupakan tindakan yang mesti

dilakukan karena dianggap sebagai nilai yang paling esensi. Bahkan dalam

69
Pengakuan dari Badan Pemeriksa Keuangan Pemerintah (BPKP) dengan Wajar Tanpa
Pengecualian.
70
[Link] dan [Link]
155

pandangan ekstrim, siri’ dianggap diperhambakan yang berkonotasi bahwa

apapun cara dan upaya yang dapat dilakukan demi untuk menegakkan siri’.

Berharkat dan bermartabat merupakan suatu capaian yang terhormat

karena dianggap sebagai nilai yang tertinggi. Pihak yang berharkat dan

bermartabat berarti memiliki dan senantiasa meningkatkan harga dirinya agar

menjadi bernilai terhormat sehingga mengalami kelayakan dalam kehidupan

bermasyarakat. Dalam pandangan Mattulada (2005:69) bahwa harga diri

merupakan kelayakan dalam kehidupan sebagai manusia yang diakui dan

diperlakukan sama oleh setiap orang terhadap sesamanya.

Harkat dan martabat yang dicapai merupakan hasil dari penyusunan

anggaran yang lahir dari rasa pesse dan siri’ atas problematika anggaran dan

sosial yang terjadi dan didasarkan atas nilai-nilai kearifan lokal agar

menghasilkan output yang dapat menyejahterakan, sehingga melahirkan

kepercayaan dan pengakuan, yaitu harkat dan martabat. Dalam koteks

pengelolaan keuangan daerah di Luwu Timur, maka penganggaran berbasis siri’

na pesse bermakna harkat dan martabat.

Harkat dan martabat merupakan nilai yang bersifat abstrak yang

wujudnya tidak dapat ditelusuri secara fisik, namun dapat diidentifikasi

berdasarkan polarisasi melalui ciri-ciri operasional kerja maupun psikologis

motivasi yang hendak dicapai, seperti berikut. Pertama, komitmen

mempertahankan prestasi atau pengakuan (reward) yang dihasilkan atau yang

diraih dalam berbagai situasi. Hal ini dapat dilihat dari kerja keras Kabupaten

Luwu Timur dalam mempertahankan WTP yang diraih pada tahun 2011.

Hasilnya, upaya tersebut dibuktikan pada tahun 2012, 2014, dan 2015 yang

kembali meraih prestasi yang sama.


156

Kedua, berkomitmen mengarahkan anggaran yang pro kepada

masyarakat (publik) pada tahun berikutnya. Hal tersebut dapat dilihat pada APBD

yang umumnya memperlihatkan dominasi anggaran langsung terhadap

anggaran tidak langsung. Program Desa Mengepung Kota merupakan wujud dari

salah satu komitmen anggaran yang pro kepada masyarakat.

Ketiga, secara teknis, anggaran senantiasa di susun berdasarkan pada

sensitivitas rasa dan nilai-nilai siri’ na pesse. Sensitivitas rasa mengacu pada

problematika anggaran dan sosial yang terjadi. Sedangkan anggaran berbasis

nilai mencakup kepatuhan pada kebijakan, prosedur, dan aturan (tongeng);

disajikan dengan apa adanya secara objektif (lempu’); komitmen berpegang

pada kebenaran, kejujuran, menghindari intervensi negatif, dan warani

menanggung konsekuensi (getteng), distribusi anggaran secara proporsional

berdasarkan kewajaran (adele’), dan kerja sama dalam kebersamaan (lalembate

tarang tajo/siwolong polong).

7.5 Ikhtisar

Berdasarkan bahasan dalam bab ini, beberapa simpulan yang dapat

ditarik. Pertama, transformasi harga diri menuju harkat martabat dimulai dari

sejak dilahirkan. Aktor sebagai manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yang

telah melekat padanya harga diri. Dalam perjalanan hidup mengalami proses

inderawi sehingga aktor berpengetahuan (acca) dan memiliki pengalaman

(experience) hingga masuk ke proses penganggaran berbasis siri’ na pesse

(sebagaimana divisualisasikan gambar 4.1)

Kedua, dalam penyusunan anggaran di tingkat SKPD, posisi aktor

berada pada tiga sisi, yaitu individu, tim kerja, dan sebagai institusi pemerintah,

sehingga setiap pengakuan yang muncul dapat dirasakan dalam tiga situasi yang
157

sama. Secara individu, harkat dan martabat yang dirasakan aktor terutama ketika

pengakuan datang disaat aktor berada secara terpisah dengan aktor lainnya

dalam tim kerja. Hal ini karena aktor merasa lebih dominan memposisikan dirinya

dalam ruang dan waktu. Sedangkan secara tim kerja, harkat dan martabat

dirasakan aktor ketika melebur dengan aktor lainnya dalam unit kerja. Seperti

halnya ketika memperoleh penghargaan WTP dari BPK RI, euforia kegembiraan

serta harkat dan martabat dirasakan secara kolektif. Dalam kondisi ini,

kebersamaan tim lebih dominan dalam merasakan harkat dan martabat. Situasi

ini juga sama yang dirasakan dengan institusi pemerintah. Bedanya, jika tim

kerja merupakan unit yang lebih kecil sedangkan pemerintah meliputi seluruh

staheholder dalam institusi.

Ketiga, penganggaran siri’ na pesse pada esensinya adalah upaya untuk

menegakkan siri’ yang bermakna harkat dan martabat. Mengingat sifatnya

abstrak sehingga harkat dan martabat tidak dapat diidentifikasi secara fisik.

Dalam mengenali atau mengetahui eksistensi harkat dan martabat, maka harus

melihat ciri-ciri yang melekat atau polarisasi kerja yang mendukungnya. Ciri-ciri

harkat dan martabat adalah: (1) komitmen mempertahankan prestasi atau

pengakuan (reward) yang diraih dalam berbagai situasi. (2) komitmen

mengarahkan anggaran yang berpihak kepada masyarakat (pro poor) pada

tahun berikutnya. (3) secara teknis, anggaran senantiasa di susun berdasarkan

pada sensitivitas rasa dan nilai-nilai siri’ na pesse.


158

BAB VIII

MENEMUKENALI ARTEFAK LOKAL MENUJU KONSEP PENGANGGARAN


BERBASIS SIRI’ NA PESSE

Narekko melokko lolongengngi decenna lino


enrengnge decenna ahera’, aja’ mueloreng-
ngi nasellung anu maja’ anu madecengnge,
aja’ na engka ri atimmu masengengngi engka
gau’ tennaiseng Allah Ta’ala
Jika engkau berkeinginan memperoleh
kebaikan dunia dan kebaikan akhirat,
usahakan untuk tidak mencampurkan yang
buruk dengan yang baik, jangan sampai
engkau menganggap ada perbuatan yang
tidak diketahui Allah Ta’ala
Pappaseng to Riolo (Wasiat Orang Dahulu)

8.1 Mukaddimah

Bab ini membahas tentang konsep penganggaran siri’ na pesse yang

merupakan penegasan dari bab-bab pembahasan sebelumnya. Dua alasan yang

mendasari pengungkapan konsep yang dihasilkan, yaitu kondisi masyarakat dan

kondisi tim penyusun anggaran. Berdasarkan kondisi masyarakat, konsep

penganggaran siri’ na pesse merujuk pada kasus-kasus lapangan. Kasus-kasus

tersebut menunjukkan adanya masalah sosial yang dialami masyarakat dalam

aktivitas keseharian. Beberapa kasus yang telah dibahas sebelumnya menjadi

sumber data dalam menyusun konsep penganggaran siri’ na pesse.

Selanjutnya adalah kondisi tim penyusun anggaran sebagai informan

kunci yang memahami dengan baik seluk beluk dari penganggaran. Mereka

adalah para pelaku atau aktor penyusun anggaran yang memiliki peran penting

dalam melahirkan suatu anggaran di tingkat SKPD. Informasi yang diberikan

informan kunci sangat mendukung penelitian ini sehingga konsep penganggaran

siri’ na pesse dapat dihadirkan sebagai hasil penelitian ini.

158
159

Konsep penganggaran siri’ na pesse diuraikan dalam lima unsur, yaitu

rasa siri’ na pesse, nilai-nilai siri’ na pesse, kinerja anggaran, kesejahteraan,

serta harkat dan martabat. Secara garis besar, formulasi konsep penganggaran

siri’ na pesse difokuskan pembahasannya dalam bab ini. Sedangkan substansi

kelima unsur yang menyusun konsep telah dibahas pada bab-bab sebelumnya

secara berkesinambungan.

Bahasan subbab kedua meliputi karakteristik dan kelebihan konsep

penganggaran siri’ na pesse, serta perbedaan dengan sistem penganggaran

yang lain. Subbahasan ini merupakan intisari dari bab-bab sebelumnya yang

membahas substansi penganggaran siri’ na pesse secara luas.

8.2 Konsep Penganggaran Siri’ na Pesse

Pada bab-bab sebelumnya telah dibahas mengenai beberapa hal yang

berhubungan dengan penganggaran berbasis siri’ na pesse. Secara khusus,

substansi pembahasan diulas pada bab IV hingga bab VII secara berurutan.

Konten pada bab-bab tersebut berhubungan dengan lima unsur, yaitu rasa siri’

na pesse, nilai-nilai siri’ na pesse, kinerja anggaran, kesejahteraan (masyarakat),

serta harkat dan martabat. Kelima unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang

saling berhubungan antara satu bab dengan bab lainnya secara

berkesinambungan.

Kelima unsur tersebut terangkai berdasarkan substansi bahasan dan

kesinambungan antara satu unsur dengan unsur lainnya yang membentuk suatu

konsep. Pada tataran operasional, konsep tersebut menggambarkan suatu

keterhubungan meliputi penyusunan anggaran, proporsi anggaran, alokasi dan

implementasi anggaran di lapangan, luaran (output), dan sensasi yang dirasakan

masyarakat berupa kepercayaan dan pengakuan.


160

Pada tataran penyusunan anggaran, dua unsur pertama berhubungan

dengan psikologis, yaitu unsur rasa siri’ na pesse dan unsur nilai-nilai. Unsur

rasa siri’ na pesse berhubungan dengan suasana batin dalam proses

penyusunan anggaran. Kondisi ini merupakan suasana psikologi yang dirasakan

aktor ketika melakukan observasi ke masyarakat untuk melihat situasi yang

terjadi71. Dari sini memunculkan rasa pesse (empati, toleransi kebatinan) dan

rasa siri’ (malu, tindakan) sebagai stimulus (leverage) aktor dalam mengambil

keputusan penyusunan anggaran. Munculnya rasa siri’ na pesse’ yang dialami

aktor sejalan dengan temuan Andaya (1975) yang menyatakan bahwa

munculnya rasa siri’ na pesse karena adanya kondisi buruk yang menimpa

masyarakat.

Obeservasi yang dilakukan aktor bertujuan untuk memperoleh data

sebagai bahan baku dalam penyusunan anggaran di tingkat SKPD. Upaya yang

dilakukan tersebut merupakan sebuah langkah yang mencirikan proses

penyusunan anggaran yang berbasis kepekaan batin siri’ na pesse. Kegiatan ini

merupakan hal yang esensi karena merupakan salah satu bagian yang

terpenting dalam melahirkan APBD yang sarat dengan unsur kearifan lokal.

Selanjutnya adalah unsur nilai-nilai siri’ na pesse. Substansi ini

berhubungan dengan nilai-nilai kearifan lokal yang terinternalisasi dalam diri

aktor dan muncul dari dorongan unsur pertama, yaitu dari rasa siri’ na pesse.

Nilai-nilai siri’ na pesse bereaksi berdasarkan karakter yang dimiliki masing-

masing nilai tersebut, meliputi tongeng (kebenaran), lempu (kejujuran), getteng

(ketegasan), adele’ (keadilan), dan lalambate tarang tajo atau siwolong polong

(bekerja sama).

71
Seperti yang terjadi pada problematika yang dialami pelaku UMKM dan kasus-kasus kesehatan
masyarakat
161

Eksistensi nilai-nilai siri’ na pesse yang dipraktikkan aktor saat

penyusunan anggaran juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Kahar

(2010). Temuan tersebut menunjukkan adanya nilai-nilai siri’ na pesse yang

dipraktikkan pada diri aktor dalam management control system. Penelitian ini

juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Bakri dan Amalia (2014) bahwa

nilai-nilai siri’ na pesse diantaranya lempu’ (kejujuran), getteng (ketegasan),

warani (keberanian), dan acca (kecerdasan) merupakan nilai-nilai yang

berkontribusi dalam meraih kepercayaan dan reputasi dalam melakukan aktivitas

ekonomi atau bisnis yang dalam penelitian ini relevan dengan penganggaran.

Anggaran yang disusun berdasarkan rasa siri’ na pesse dan nilai-nilai

pada tataran operasional dialokasikan untuk membiayai kebutuhan masyarakat,

terutama dalam bentuk fisik berupa fasilitas umum maupun program non fisik

lainnya dalam bentuk penguatan kelembagaan masyarakat (community

development) di antaranya: pemberdayaan ekonomi lemah, pemerataan

ekonomi lokal, atau program pemberdayaan lainnya. Alokasi anggaran yang

digunakan dalam pengadaan output merupakan bentuk kinerja anggaran. Dalam

hal ini, anggaran tidak dilihat dari besaran nilai nominalnya (input), melainkan

yang utama adalah memperhatikan pada kinerja anggaran yang salah satunya

dapat dilihat dari output yang dihasilkan berdasarkan target-target yang

ditentukan (Mahmudi, 2007:89).

Kinerja anggaran salah satunya dapat dilihat dari komitmen pemerintah

dalam memberdayakan masyarakat, seperti yang dilakukan kepada para pelaku

IKM/UMKM. Kebijakan anggaran yang dilakukan Dinas Koperindag Luwu Timur

sejalan dengan teori yang dikembangkan Rappaport (1984:56). Menurut teori

tersebut bahwa pemberdayaan merupakan kebijakan sosial dan pendekatan

dalam memecahkan masalah-masalah sosial pula. Pemberdayaan tidak hanya


162

melilbatkan pemerintah semata, tetapi dianggap sebagai proses interaksi antara

individu sebagai warga negara dengan lingkungannya dengan kemampuan

sosiopolitik yang dimiliki. Pada kenyataannya bahwa pemberdayaan yang

dilakukan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur merupakan cara untuk

meningkatkan pelayanan kepada masyarakat (Berger dan Neuhaus, 1977:73).

Output yang dihasilkan oleh Pemerintah Luwu Timur dalam bentuk

sarana publik berupa jalan, jembatan, drainase, irigasi, maupun pemberdayaan

atau penguatan dan pemerataan ekonomi lokal yang dituangkan dalam sejumlah

program dan kegiatan, dinikmati oleh masyarakat sehingga memberikan rasa

kesejahteraan. Hal ini sejalan dengan Midgley (2000:xi) yang menganggap

kesejahteraan sebagai “... a condition or state of human well being”.

Kesejahteran terjadi manakala kehidupan manusia aman dan bahagia karena

terpenuhinya kebutuhannya. Kebutuhan yang dimaksud bukan hanya kebutuhan

dasar melainkan juga kebutuhan publik seperti kebutuhan infrastruktur dasar dan

kebutuhan sosial dasar (JPIP, 2003:18). Kesejahteraan sosial merupakan

kegiatan-kegiatan yang terorganisasi dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan

dari segi sosial melalui pemberian bantuan kepada orang untuk memenuhi

kebutuhan-kebutuhan di dalam beberapa bidang kehidupan.

Oleh sebab itu, pelayanan kesejahteraan sosial di Luwu Timur diarahkan

pada pemberian perhatian utama terhadap individu-individu, kelompok-

kelompok, komunitas-komunitas dan kesatuan-kesatuan penduduk yang lebih

luas; seperti pada pelayanan pemeliharaan atau perawatan, penyembuhan dan

pencegahan, dan berbagai pelayanan lainnya.

Jika memperhatikan teori Dunham (1965), maka ditemui adanya

hubungan antara bantuan-bantuan dengan kesejahteraan. Bantuan-bantuan

yang dimaksud tersebut mengarah pada alokasi anggaran yang diarahkan oleh
163

aktor untuk mencapai sasaran yaitu tingkat kesejahteraan masyarakat pada saat

penyusunan anggaran dilakukan. Pemberdayaan IKM/UMKM yang dilakukan

dinas Koperindag merupakan wujud alokasi anggaran yang dituangkan dalam

program dan kegiatan berupa bantuan modal, pelatihan peningkatan kualitas

produk, fasilitasi bantuan barang, relokasi usaha ke tempat strategis, promosi

hasil produksi, maupun program pemberdayaan lainnya. Menurut H. Zakaria

(Kadis Koperindag) bahwa:

... Kita punya tanggung jawab dengan jalan memberikan uluran tangan berupa
bantuan dalam keadaan apapun kondisi kita.. ... Kita harus berpihak kepada
pemenuhan hajat hidup orang banyak (masyarakat). Oleh sebab itu, anggaran
Luwu Timur kalau bisa yang kita mau ... belanja untuk program. Itu sudah
menggambarkan penganggaran yang sebenarnya. Keberpihakan kita kepada
kepentingan masyarakat.

Pandangan informan mempertegas bahwa kesejahteraan merupakan

pemenuhan kebutuhan yang mesti dinikmati oleh masyarakat. Penelitian yang

dilakukan Anto (2015) di Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa aset-aset yang

dimiliki oleh pemerintah dimaknai sebagai kesejahteraan. Hasil penelitian ini

mendukung pandangan Zastrow (2000:6) bahwa kesejahteraan pada dasarnya

merupakan sistem yang meliputi program dan pelayanan yang membantu orang

(masyarakat) agar dapat memenuhi kebutuhan sosialnya.

Tingkat kesejahteraan yang dirasakan masyarakat melahirkan respon

positif berupa lahirnya kepercayaan yang kemudian melahirkan pengakuan.

Kepercayaan dan pengakuan tersebut merupakan dampak dari anggaran yang

disusun berbasis siri’ na pesse yang memberikan rasa kesejahteraan

masyarakat, sebagaimana diungkapkan H. Sahidin Halun (TAPD).

Kepercayaan dari sudut pandang anggaran, yaitu kita mampu melakukan


penganggaran berbasis siri’ na pesse atau berbasis kearifan lokal. Nah inilah
hasilnya, mendapatkan pengakuan, baik secara institusional maupun secara
publis.
164

Penyataan yang dikemukakan informan sejalan dengan apa yang

dirasakan oleh pelaku UMKM. Kesejahteraan dianggap sebagai

Sejak ada Luwu Timur, hidup kami semakin bagus. Pemerintah sediakan
semuanya. Termasuk juga memperhatikan usaha kami. Semuanya semakin
lancar. Walaupun pendapatan kami naik turun, tapi masih lebih baik dari yang
dulu-dulu. Kami percaya bahwa pemerirntah akan memperhatikan kami. Saya
menikmati usaha ini dan hasilnya sudah lebih baik. Saya ucapakan terima kasih
kepada pemerintah karena telah membantu kami (Haris, pelaku UMKM)

Kepercayaan yang diungkapkan pelaku UMKM menunjukkan adanya

pengakuan terhadap apa yang telah dilakukan pemerintah (Koperindag).

Kepercayaan dan pengakuan ini tidak hanya berdampak terhadap pelaku UMKM

tetapi juga pada level institusi formal di tingkat lembaga tinggi negara. Seperti

halnya penghargaan (rewards) yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten Luwu

Timur dari BPK RI tahun 2011, 2012, 2014, 2015 berupa predikat WTP dalam hal

pengelolaan keuangan. Penghargaan ini merupakan bentuk kepercayaan dan

pengakuan atas upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Luwu Timur dalam

mengelola keuangannya, termasuk dalam proses penyusunan anggaran.

Kepercayaan dan pengakuan merupakan wujud dari harkat dan martabat

dan merupakan wujud dari upaya dalam menegakkan siri’ na pesse. Menurut

Hamid (1985:37) bahwa:

... siri’ merupakan unsur yang prinsipil dalam diri mereka (manusia). Tidak ada
satu nilai pun yang paling berharga untuk dibela dan dipertahankan di muka bumi
selain daripada siri’. Bagi manusia ..., siri’ adalah jiwa mereka, harga diri mereka,
dan martabat mereka.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pada dasarnya siri’ merupakan

sesuatu yang sangat utama untuk dibela atau ditegakkan guna meraih harkat

dan martabat. Dalam konteks penyusunan anggaran, maka anggaran yang

disusun berbasis siri’ na pesse pada hakikatnya dimaknai sebagai harkat dan

martabat. Menurut H. Sahidin Halun (TAPD Luwu Timur) bahwa anggaran yang
165

disusun merupakan niat dan komitmen dalam rangka mencapai harkat dan

martabat.

... dana itu harus dipicu betul dan diwujudkan dalam penganggaran dan
dibuat betul-betul untuk bisa dinikmati oleh masyarakat dan itu sekarang
sudah nyata. Karena memang niat dan komitmennya itu adalah
mengangkat harkat dan martabat Luwu Timur.

Berdasarkan dari uraian singkat tersebut, maka konsep penganggaran

dari hasil penelitian ini adalah konsep penganggaran siri’ na pesse, yang

divisualisasikan berikut.

(1) Rasa Siri' Na Pesse

(2) NIlai-NIlai Siri' Na Pesse

(3) Kinerja Anggaran

(4) Kesejahteraan

(5) Harkat dan Martabat

Gambar 8.1 Konsep Penganggaran Siri’ na Pesse

Gambar tersebut menunjukkan konsep penganggaran siri’ na pesse yang

dibangun dari lima unsur, yaitu rasa siri’ na pesse, nilai-nilai siri’ na pesse, kinerja

anggaran, kesejahteraan, serta harkat dan martabat. Konsep ini diperkuat

dengan pernyataan informan H. Sahidin Halun (TAPD Luwu Timur) yang

menekankan konsep tersebut pada basis siri’ na pesse. Menurutnya bahwa

penganggaran yang berbasis siri’ na pesse tersusun dari lima unsur, yaitu rasa

siri’ na pesse (sense of siri’ na pesse), nilai-nilai siri’ na pesse (siri’ na pesse

values), kinerja anggaran (budgetary performance), kesejahteraan (welfare),

serta harkat dan martabat (restige and dignity).

... Inti
di sini (gambar 8.1) adalah siri’ na pesse. Nilai-nilai siri’ na pesse harus kita
aplikasikan secara lurus supaya dapat dipertanggungjawabkan. Selanjutnya
unsur-unsur yang terdapat di lingkaran kedua adalah nilai-nilai yang dipicu dari
166

lingkaran inti yaitu siri’ na pesse. ...Setelah itu lingkaran ketiga adalah unsur
kinerja. ... Tataran di luar kinerja adalah value added serta harkat dan martabat
72
yang berada pada lingkaran paling luar pada gambar tersebut . Jadi pola pikir
dari lingkaran tersebut, seperti itu. Pola pikir seperti itu artinya substansinya ada,
proses perjalanannya ada, dan mudah kita jelaskan. Siri’ na pesse adalah
pengungkit. Semua proses-proses yang dijalani kalau menurut saya, sudah
begitu karena semuanya telah terkaver di lingkaran itu. Ada output dan
impacnya. Kalau harkat dan martabat itu berarti pengakuan. (H. Sahidin, TAPD).

Pernyataan informan sejalan dengan hasil penelitian ini yang

menemukenali konsep penganggaran siri’ na pesse yang divisualisasikan pada

gambar tersebut. Pandangan tersebut menempatkan unsur siri’ na pesse pada

lingkaran paling dalam yang merupakan inti dari konsep. Memposisikan siri’ na

pesse sebagai inti dari konsep tidak terlepas dari pemahaman masyarakat Luwu

Timur (termasuk aktor) yang menganggap siri’ na pesse sebagai pandangan

hidup (Lopa, 1988:8). Siri’ (dan juga pesse) dianggap sebagai suatu sistem nilai

sosio kultur dan kepribadian yang merupakan pranata pertahanan harga diri dan

martabat manusia sebagai individu sekaligus anggota masyarakat (Hamka,

1977:16 dan Farid, 2005:50).

Sebagai salah satu pandangan hidup yang berbasis kearifan lokal, maka

siri’ na pesse tidak hanya dikenal di Sulawesi Selatan, tetapi dalam terminologi

Jepang juga dikenal dengan sebutan bushido (siri’). Di Jepang konsep tersebut

dijadikan sebagai pemicu pembangunan. Budaya bushido kemudian dimodifikasi

berdasarkan tuntutan zaman dan dijadikan sebagai spirit keberhasilan

pembangunan (Farid, 2005:17). Inilah rahasia keberhasilan pembangunan

Jepang yang diungkapkan para pembicara di konferensi bertema Religion and

Progress in Modern Asia di Manila pada tahun 1963.

Sama halnya bushido di Jepang, siri’ na pesse juga dianggap sebagai

pemicu (leverage) pembangunan (Lopa, 2005:91) termasuk dalam konteks

72
Gambar yang dimaksud adalah konsep penganggaran siri’ na pesse yang dibahas pada bab-
bab selanjutnya.
167

penganggaran daerah. Menurut H. Sahidin Halun (TAPD Luwu Timur) bahwa siri’

na pesse dianggap sebagai pemicu lahirnya unsur-unsur dalam konsep

penganggaran sebagaimana yang dimaksudkan pada gambar tersebut.

Menurutnya bahwa nilai-nilai siri’ na pesse lahir karena adanya dorongan dari

rasa siri’ na pesse yang mendalam terhadap fenomena-fenomena sosial dan

anggaran yang terjadi dalam masyarakat. Unsur rasa siri’ na pesse juga

mendorong lahirnya kinerja anggaran sehingga dengan output yang dihasilkan

dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas sehingga dapat memberikan

nilai tambah (value added) dalam bentuk kesejahteraan. Rasa sejahtera yang

dinikmati masyarakat pada akhirnya melahirkan kepercayaan dan pengakuan

publik sehingga berdampak terhadap lahirnya harkat dan martabat.

Konsep penganggaran siri’ na pesse juga dikemukakan oleh H. Zakaria

(Kadis Koperindag Luwu Timur). Menurutnya bahwa dalam penyusunan

anggaran, Pemerintah Luwu Timur telah mengakomodir beberapa unsur terkait

penganggaran siri’ na pesse, meliputi: ketauhidan, rasa siri’ na pesse, nilai-nilai

siri’ na pesse, kesejahteraan, serta harkat dan martabat. Kelima unsur tersebut

merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dari unsur pertama hingga

unsur kelima sehingga membentuk suatu konsep penganggaran yang berbasis

siri’ na pesse.

Nilai spiritualitas itu, kalau saya memang pusatnya pada keyakinan ... Itu intinya,
... lebih pada aspek ketuhanan. ...Lalu siri’ datang sebagai salah satu bagian.
...(kemudian) nilai-nilai itu kita sebut sebagai nilai-nilai kearifan lokal atau nilai-
nilai siri’ na pesse. ...nilai tambah atau value added untuk mencapai
kesejahteraan masyarakat, karena pemerintah hadir untuk menyejahterakan
masyarakatnya sehingga mendapatkan harkat dan martabat (H. Zakaria, Kadis
Koperindag Luwu Timur).

Pandangan tersebut mendukung konsep penganggaran siri’ na pesse

yang dikemukakan oleh H. Sahidin Halun sebagaimana yang divisualisasikan

pada gambar 8.1 Walaupun pernyataan H. Zakaria terdapat perbedaan kecil


168

dengan konsep yang telah dikemukakan tersebut (gambar 8.1), tetapi hal ini

tidak menunjukkan perbedaan yang terlalu lebar karena hanya menambahkan

unsur ketauhidan (spiritual) di dalamnya yang memosisikan Sang Pencipta

sebagai landasan spritual dalam penyusunan anggaran, sebagaimana

diungkapkan H. Zakaria.

Kalau itu (penganggaran) sudah merasuk pada pandangan ... atau prinsip
pengangggaran (yaitu aspek ketuhanan), maka itu baru dikatakan
pengganggaran berbasis spiritualitas. Artinya bahwa basis spiritualitas
merupakan suatu prinsip dalam melakukan proses penyusunan anggaran.

Pemahaman terhadap spiritualitas yang dimaksud H. Zakaria tidak

terlepas dari lingkungan di mana informan berinteraksi. Hal ini didasarkan bahwa

aktor merupakan insan yang beragama yang mempercayai adanya Tuhan. Oleh

sebab itu, sebagai manusia individu dan manusia sosial yang religius, maka

aktor tidak dapat dipisahkan dengan pengalaman spiritual yang dialaminya.

Spiritualitas dalam konsep ketuhanan merupakan keyakinan yang dapat

dipahami sebagai agama yang mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Kuasa

(Hendrawan, 2009:18). Eksistensi Tuhan dalam penyusunan anggaran SKPD

merupakan dasar spiritualitas yang sangat fundamental. Aktor yang berpegang

pada dasar spiritualitas akan berdampak pada terbentuknya mentalitas yang

bercirikan orientalis yang lebih holistis, altruistis, pelayanan kepada manusia,

komitmen pada kebenaran, dan bentuk-bentuk perilaku luhur serta kesadaran diri

atau self awarness (Hendrawan, 2009:60).

Praktik penganggaran yang dikemukakan kedua informan tersebut pada

dasarnya memiliki banyak persamaan. Dari pernyataan yang dikemukakan

kedua informan tersebut, persamaannya terdapat pada jumlah unsur yang

menyusun konsep, memiliki keterwakilan unsur yang sama (siri’ na pesse, nilai-

nilai lokal, value added, dan harkat dan martabat) dan unsur-unsur penyusun

konsep dimaknai sama oleh informan, serta harkat dan martabat merupakan
169

unsur terakhir yang menyusun konsep. Hal ini menunjukkan bahwa kedua aktor

berpandangan sama bahwa tujuan akhir dari konsep siri’ na pesse adalah

mewujudkan harkat dan martabat atau penegakkan siri’ na pesse sebagaimana

juga yang dimaksud Mattulada (2005).

Sementara itu, dari pernyataan yang dikemukakan oleh informan

sebelumnya juga menunjukkan adanya perbedaan mendasar antara kedua

informan tersebut, yaitu terletak pada unsur pertama yang menyusun konsep

penganggaran. Jika H. Zakaria meletakkan unsur ketauhidan sebagai basis dari

konsep penganggaran sedangkan H. Sahidin Halun meletakkan unsur rasa siri’

na pesse sebagai basisnya. Perbedaan dalam memahami konsep siri’ na pesse

hanya terletak pada cara pandang yang spesifik dalam memahami basis

penganggaran. Informan H. Zakaria meletakkan pandangannya berdasarkan

spiritualitas sedangkan H. Sahidin Halun menekankan pada kepekaan batin

unsur rasa yaitu rasa siri’ na pesse. Perbedaan ini tidak terlepas dari sensasi dan

refleksivitas berdasarkan pengalaman kerja dan kondisi lingkungan kearifan lokal

di mana aktor melakoni, menerima, dan memaknai situasinya (mind).

Jika melihat substansi dan alur operasional, maka pada dasarnya kedua

konsep adalah sama. Jika merujuk pada teori Habermas (1987), maka kedua

konsep tersebut dapat dikomunikasikan untuk membangun suatu dialektika

dialogis konsep dalam menarik satu garis lurus. Dalam konteks ini, Habermas

(1987:69) menekankan bahwa “...menyelesaikan ketidaksepakatan-ketidak-

sepakatan..., dan tiba pada persetujuan-persetujuan” merupakan tindakan nyata

untuk menyatukan kedua kutub yang berbeda.

Jika kedua konsep penganggaran tersebut dirujuk ke premis Habermas

tentang the theory of communicative action, maka berdasarkan konten

substansinya, pada dasarnya kedua pandangan tersebut dapat dikomunkasikan


170

sehingga menjadi suatu konsep penganggaran. Mengacu pada teori tersebut,

maka untuk mengomunikasikan kedua konsep penganggaran berdasarkan

substansi dan keterkaitan alur antara satu unsur dengan unsur yang lainnya,

maka konsep yang dikemukakan oleh H. Sahidin Halun sudah mewakili konsep

yang dikemukakan H. Zakaria. Berdasarkan hal tersebut, maka konsep

penganggaran siri’ na pesse yang direkomendasikan dalam penelitian ini seperti

yang divisualisasikan pada gambar 8.1 yang dibangun dari lima unsur yaitu: rasa

siri’ na pesse, nilai-nilai siri’ na pesse, kinerja anggaran, kesejahteraan, serta

harkat dan martabat.

Sementara itu, unsur spiritualitas yang dikemukakan H. Zakaria sebagai

basis spiritualitas dalam penyusunan anggaran pada dasarnya sudah melekat

pada setiap unsur dalam konsep penganggaran dalam pandangan H. Sahidin

Halun. Menurut Mitroff dan Denton bahwa spiritualitas bersifat universal yang

mencakup: keyakinan atau kepercayaan (faith), kesucian, perasaan mendalam

terhadap sesuatu, nilai-nilai tertentu individu, perasaan kagum dan hormat

terhadap kehadiran transenden, sumber dan pemberi terakhir ataupun arti dan

tujuan kehidupan, serta kedamaian dan ketenangan batin. Jadi batasan

spiritualitas tidak hanya dipahami pada aspek ke-Tuhan-an saja melainkan ruang

lingkupnya yang sangat luas (Hendrawan, 2009:19-20).

Konsep penganggaran siri’ na pesse yang dihasilkan tersebut juga

sejalan dengan ciri-ciri konsep siri’ na pesse yang dikemukakan Lopa (1988:11-

12). Menurutnya bahwa ciri-ciri konsep siri’ na pesse meliputi: (1) beriman

kepada Allah SWT, (2) ikhlas dan jujur, (3) tabah dalam perjuangan hidup untuk

mempertahankan kembali dirinya, (4) tidak sombong dan takabbur, (5) bersikap

demokratis, (6) mampu memecahkan masalah secara arif bijaksana tapi rasional,
171

(7) memperkuat solidaritas sosial dan melindungi golongan lemah, serta (8)

konsisten dan memiliki integritas pribadi, dan berperilaku sanutan.

Delapan ciri-ciri yang merupakan unsur dari konsep siri’ na pesse yang

disebutkan Lopa (1988:11-12) jika diurut berdasarkan keterhubungan dengan

unsur-unsur pada konsep penganggaran siri’ na pesse (seperti pada gambar 8.1)

maka nampak relevansi yang paralel. (1) Beriman kepada Allah SWT

berhubungan dengan spiritual yang juga merupakan bagian dari unsur rasa.

Menurut Mitroff dan Denton bahwa spiritual bersifat universal (Wirawan,

2009:20), termasuk spiritual dan perasaan mendalam terhadap sesuatu yang

dalam konteks penelitian ini merupakan kepekaan batin rasa pesse dan siri’. (2)

Memperkuat solidaritas sosial dan melindungi golongan lemah juga relevan

dengan unsur rasa siri’ na pesse. Solidaritas sosial merupakan perasaan haru

atau iba (pesse) yang muncul karena adanya problematika anggaran dan sosial

yang terjadi.

Selanjutnya, (3) Ikhlas dan jujur juga merupakan unsur nilai-nilai siri’ na

pesse yaitu lempu’. (4) Konsisten dan memiliki integritas pribadi merupakan

unsur nilai-nilai siri’ na pesse yaitu getteng dan warani. (5) Tidak sombong dan

tidak takabur merupakan nilai-nilai kearifan lokal. (6) Tabah dalam perjuangan

hidup untuk mempertahankan kembali dirinya berhubungan dengan unsur kinerja

karena terkait upaya untuk berkinerja. (7) Mampu memecahkan masalah secara

arif bijaksana tapi rasional berhubungan dengan unsur kinerja dan unsur

kesejahteraan. Memecahkan masalah merupakan upaya untuk mencapai kinerja

guna kesejahteraan bersama. (8) Berperilaku panutan terkait dengan unsur

harkat dan martabat. Panutan mengarah kepada apresiasi terhadap kinerja yang

dihasilkan sehingga mendapatkan kepercayaan dan pengakuan berupa

penghargaan (rewards) yang dapat meningkatkan harkat dan martabat.


172

Berangkat dari konsep yang dikemukakan H. Zakaria dan H. Sahidin

Halun, serta Lopa (1988) pada dasarnya memiliki persamaan yang relevan. Oleh

sebab itu, penganggaran berbasis siri’ na pesse seperti yang divisualisasikan

pada gambar 8.1 merupakan konsep yang dihasilkan dalam penelitian ini. Pada

unsur pertama yaitu rasa siri’ na pesse merujuk pada definisi pesse yang berarti

rasa haru atau empati atau simpati yang merupakan perasaan iba hati terhadap

suasana masyarakat ((Pelras, 2006:252) berlandaskan pada kemanusiaan yang

adil dan beradab (Farid, 2005:57). Dalam konteks ini unsur siri’ na pesse

menekankan pada unsur rasa (sense) atau kepekaan batin aktor.

Selanjutnya unsur nilai-nilai siri’ na pesse merujuk pada nilai-nilai yang

dianut aktor penyusun anggaran di antaranya tongeng, getteng, lempu’, adele’

dan nilai-nilai kearifan lokal lainnya (Rahman, 2002:66-67) yang dianggap

sebagai sistem nilai kultural dan kepribadian (Farid, 2005). Nilai-nilai siri’ na

pesse (kearifan lokal) tersebut merupakan nilai-nilai yang terinternalisasi dalam

diri aktor yang dipraktikkan dalam penyusunan anggaran.

Unsur berikutnya adalah kinerja anggaran, merujuk pada definisi siri’ yaitu

etos kerja (Geertz, 1973:126), kerja keras, dan berprestasi (Abu Hamid, 2005:8).

Kerja keras yang dimaksud adalah kesungguhan aktor dalam menyusun

anggaran agar benar-benar terarah dan dapat mencapai tujuannya. Sedangkan

berprestasi dimaksudkan adalah output yang dihasilkan dari penggunaan

anggaran.

Unsur kesejahteraan, merujuk pada hakikat siri’ yaitu hidup lebih

sejahtera atau asugireng73. Filosofi Bugis yang melatarbelakangi adalah “onrokko

mammatu-matu nopole’ marakae’ naia makkaluk”, yang artinya tinggallah

73
Lawan katanya adalah kemiskinan yang oleh orang Luwu Timur dianggap sebagai siri’. Sejak
dahulu orang-orang Bugis Makassar di kenal sebagai perantau karena salah satu alasannya
mencari peruntungan (kesejahteraan).
173

bermalas-malas, lalu yang datang bergegas ialah yang melingkar atau berhasil

(Farid, 2005:42). Dalam konteks ini bahwa kesejahteraan itu adalah upaya dari

kerja keras yang hasilnya dinikmati baik individu maupun masyarakat luas.

Unsur harkat dan martabat, merujuk pada definisi siri’ yaitu harga diri

(Mattulada, 1984; Marzuki, 1995; dan Lopa, 2005). Menurut Hamid (2005:ii)

bahwa siri’ merupakan penilaian harga diri yang datang dari lingkungan sosial

atau eksistensi manusia di atas segala-galanya. Pandangan tersebut

menekankan pada harga diri (dignity) yang lahir dari penilaian dalam lingkungan

sosial.

Susunan struktur unsur pada konsep penganggaran siri’ na pesse

(sebagaimana pada gambar 8.1) didasarkan pada tiga hal. Pertama terletak

pada collect data berdasarkan kasus-kasus dalam lingkup penyusunan anggaran

dalam proses penganggaran. Kedua, terletak pada etimologi kosakata siri’ na

pesse itu sendiri yang didefinisikan mewakili unsur- unsur yang dibangun. Ketiga

berdasarkan pada keterkaitan antar unsur, di mana kelima unsur yang menyusun

konsep penganggaran siri’ na pesse memperlihatkan keterkaitan antara satu

dengan lainnya secara berkesinambungan sehingga membentuk suatu struktur

yang holistik.

Keterkaitan antara satu unsur dengan unsur lainnya merupakan suatu

mata rantai yang berkesinambugan. Diawali dari unsur rasa siri’ na pesse yang

dianggap basis atau landasan psikologis, unsur nilai-nilai siri’ na pesse

merupakan landasan operasional, unsur kinerja anggaran merupakan tujuan

operasional, kesejahteraan (masyarakat) merupakan sasaran operasional, serta

harkat dan martabat merupakan tujuan yang hendak dicapai dan dipahami

sebagai makna dari penyusunan anggaran berbasis siri’ na pesse.


174

Konsep penganggaran yang menekankan pada basis siri’ na pesse

dianggap sebagai pendorong munculnya nilai-nilai siri’ na pesse atau nilai-nilai

kearifan lokal. Selanjutnya anggaran yang disusun berdasarkan pada nilai-nilai

siri’ na pesse menghasilkan output baik dalam bentuk program fisik maupun

bukan fisik. Luaran (output) yang dihasilkan diarahkan pada sasarannya yaitu

kesejahteraan bersama bagi masyarakat luas. Pemenuhan rasa sejahtera yang

dinikmati masyarakat melahirkan kepercayaan dan pengakuan yang berujung

pada lahirnya harkat dan martabat. Capaian harkat dan martabat merupakan

tujuan utama dari penegakan siri’ na pesse yang dipahami sebagai makna dari

penyusunan anggaran berbasis siri’ na pesse. Berdasarkan pada bahasan

tersebut, maka konsep penganggaran siri’ na pesse merupakan konsep yang

berbasis pada kepekaan batin dan nilai-nilai kearifan lokal yang memandang

manusia sebagai insan yang memiliki harga diri dan berfungsi sebagai

pendorong pembangunan guna sejahteraan bersama dalam rangka mencapai

harkat dan martabat.

8.3 Ikhtisar

Dari hasil analisis dan pembahasan dalam bab ini, ditarik beberapa

simpulan. Pertama, berdasarkan data-data, baik primer yang merupakan hasil

pengamatan lapangan dan wawancara mendalam maupun sekunder berupa

dokumen-dokumen pendukung dan APBD, maka dihasilkan suatu konsep

penganggaran yang dalam konteks penelitian ini dinamakan Konsep

Penganggaran Siri’ na Pesse. Secara psikologi, konsep berfokus pada basis

kepekaan batin yaitu rasa siri’ na pesse. Rasa pesse merupakan toleransi

kebatinan yang muncul dari sensasi emosional aktor atas masalah-masalah

sosial yang terjadi di masyarakat. Rasa siri’ merupakan respon yang dihasilkan
175

aktor sebagai dorongan rasa pesse untuk melakukan tindakan anggaran agar

problematika yang dialami masyarakat dapat diatasi melalui alokasi anggaran

yang dituangkan dalam program dan kegiatan.

Kedua, penganggaran berbasis siri’ na pesse dibangun dari lima unsur,

yaitu rasa siri’ na pesse, nilai-nilai siri’ na pesse, kinerja anggaran,

kesejahteraan, serta harkat dan martabat. Kelima unsur tersebut merupakan satu

kesatuan yang memiliki karakteristik masing-masing.

Ketiga, terdapat lima karakteristik konsep penganggaran siri’ na pesse,

yaitu landasan psikologi yaitu penyusunan anggaran berdasarkan pada basis

kepekaan batin unsur rasa siri’ na pesse, landasan operasional yaitu

penyusunan anggaran berdasarkan pada basis nilai-nilai siri’ na pesse, tujuan

operasional yaitu penyusunan anggaran diarahkan untuk memenuhi kebutuhan

masyarakat, sasaran operasional yaitu penyusunan anggaran diarahkan untuk

memenuhi kesejahteraan masyarakat, serta harkat dan martabat yaitu

penyusunan anggaran ditujukan untuk menegakkan siri’ na pesse.

Keempat, berdasarkan pada beberapa karakteristik dan unsur yang

dimiliki, maka penganggaran siri’ na pesse merupakan konsep yang berbasis

pada kepekaan batin dan nilai-nilai kearifan lokal yang memandang manusia

sebagai insan yang memiliki harga diri dan berfungsi sebagai pendorong

pembangunan guna sejahteraan bersama dalam rangka mencapai harkat dan

martabat.
176

BAB IX

KONSEP PENGANGGARAN SIRI’ NA PESSE: WAJAH BARU DI TENGAH


SISTEM PENGANGGARAN KONVENSIONAL

Berbaiklah pada semua ... Orang terbaik di


antara kalian adalah yang menguntungkan
orang lain
Muhammad

9.1 Mukaddimah

Bab ini membahas dua subbab, yaitu karakteristik dan kelebihan konsep

penganggaran siri’ na pesse dengan sistem penganggaran konvensional serta

persamaan dan kelebihannya dengan anggaran berbasis kinerja yang digunakan

di Indonesia. Subbab pertama membahas tentang karakteristik-karakteristik yang

dimiliki konsep penganggaran siri’ na pesse, meliputi: landasan psikologi

(kepekaan batin), landasan operasional (nilai-nilai), tujuan operasional (output),

sasaran operasional (outcome), serta makna anggaran (harkat dan martabat).

Karakteristik-karakteristik yang dimiliki penganggaran siri’ na pesse membuat

konsep tersebut memiliki beberapa kelebihan dari sistem penganggaran

konvensional. Selain itu, penyajian bahasan pada subbab ini juga menampilkan

tabel yang memetakan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing sistem

penganggaran tersebut.

Subbab kedua membahas tentang persamaan konsep penganggaran siri’

na pesse dengan anggaran berbasis kinerja yang sedang dipraktikkan di

Indonesia. Kesamaan terletak pada aspek teknis terutama yang berhubungaan

dengan konektivitas antara anggaran (input) dengan output, dan outcome. Selain

itu juga dibahas mengenai kelebihan penganggaran siri’ na pesse dengan

anggaran berbasis kinerja pada tataran transendental terutama yang terkait

dengan kepekaan batin, nilai-nilai kearifan lokal, dan prestise.

176
177

9.2 Karakteristik dan Kelebihan Konsep Penganggaran Siri’ na Pesse

Konsep penganggaran siri’ na pesse dibangun dari basis kepekaan batin.

Basis ini menekankan pada pendekatan sensitifitas rasa siri’ dan pesse yang

menempatkan manusia sebagai insan yang memiliki harga diri dan martabat

yang mesti dihormati sebagai sesama mahluk Tuhan (sipakatau). Penganggaran

siri’ na pesse merupakan konsep yang berbasis pada hal-hal yang bersifat

transendental. Basis tersebut terdapat pada unsur rasa siri’ dan pesse, nilai-nilai

yang dianut masyarakat setempat, dan prestise. Ketiga unsur tersebut

merupakan karakteristik yang dimiliki konsep penganggaran siri’ na pesse yang

membedakan dengan sistem penganggaran konvensional.

Penganggaran siri’ na pesse merupakan konsep yang secara teoretis

fungsinya sama dengan sistem penganggaran konvesnional sebagai alat dalam

proses penganggaran. Dalam sektor publik, dikenal beberapa sistem

penganggaran, diantaranya: line item budgeting, incremental budgeting, zero

based budgeting (ZBB), planning programmming and budgeting system,

performance budgeting, dan medium term budgeting framework (MTBF)

(Bastian, 2010; Mardiasmo, 2009; Angraini dan Puranto, 2010; dan Rahajeng,

2016). Di antara sistem penganggaran tersebut semuanya memiliki kelebihan

dan kelemahan masing-masing.

Penganggaran siri’ na pesse memiliki beberapa karakteristik yang

mewakili tiap-tiap unsur yang membangun konsepnya. Karakteristik-karakteristik

tersebut sebagai ciri-ciri yang dapat digunakan untuk membedakan dengan

sistem penganggaran konvensional, meliputi: landasan psikologi, landasan

operasional, tujuan dan sasaran operasional, serta makna anggaran. Tabel

berikut memvisualisasikan karakteristik-karakteristik tersebut.


178

Tabel 9.1 Karakteristik Konsep Penganggaran Siri’ na Pesse


No Karakteristik Unsur Substansi
1. Landasan Rasa Siri’ na Pesse Anggaran disusun berdasarkan
Psikologis kepekaan batin berbasis rasa
(Pemicu/Driven) siri’dan pesse
2. Landasan Nilai-Nilai Siri’ na Penyusunan anggaran dilakukan
Operasional Pesse bersandarkan nilai-nilai siri’ na
(Pemicu/Driven dan pesse seperti: tongeng, lempu,
Proses) getteng, adele’ dan lalembata
tarangtajo/siwolog polong

3. Tujuan Operasional Kinerja Anggaran Anggaran disusun untuk memenuhi


(Output) kebutuhan masyarakat

4. Sasaran Kesejahteraan Anggaran disusun untuk memenuhi


Operasional kebutuhan masyarakat
(Outcomes)
5. Prestise Harkat dan Martabat Anggaran disusun untuk menegak-
(Makna Anggaran) kan siri’ na pesse yang dimaknai
sebagai harkat dan martabat

Tabel tersebut menunjukkan karakteristik-karakteristik pada konsep

penganggaran siri’ na pesse yang membedakan dengan sistem penganggaran

konvensional. Karakteristik-karakteristik tersebut merupakan ciri-ciri yang

mewakili tiap-tiap unsur yang membangun konsep tersebut. Pertama, landasan

psikologis yang menekankan pada penyusunan anggaran berbasis kepekaan

batin yaitu rasa siri’ dan pesse. Basis ini bereaksi dalam suasana batin ketika

aktor melihat atau menjumpai problematika anggaran dan sosial yang terjadi di

masyarakat. Karakter ini meletakkan sikap sipakatau (saling memanusiakan)

terhadap eksistensi manusia sebagai insan yang memiliki harga diri yang secara

fitrah hadir bersamaan dengan proses kelahirannya (QS. Rum:30 dan QS. At-

tin:4) yang seyogyanya diperlakukan sama laiknya dengan eksistensi manusia

pada umumnya. Jadi ciri dari karakteristik ini adalah kepekaan batin.

Kedua, landasan operasional penyusunan anggaran menekankan pada

nilai-nilai siri’ na pesse, meliputi: tongeng (kebenaran), lempu’ (kejujuran),

getteng (ketegasan), adele’ (keadilan), dan lalambate tarangtajo/siwolongpolong

(kerja sama). Nilai-nilai tersebut terinternalisasi dalam diri aktor secara holistis
179

dan dipraktikkan pada penyusunan anggaran. Ciri dari karakteristik ini terletak

pada tiap-tiap nilai tersebut.

Ketiga, tujuan anggaran menekankan pada output atau luaran yang

dihasilkan dari penggunaan anggaran yang berpihak kepada masyarakat (pro

poor). Keberpihakan tersebut terletak pada sufisiensi, yaitu kebutuhan dasar

sosial seperti layanan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, serta

kebutuhan infrastruktur dasar diantaranya jalan, jembatan, irigasi, drainase, dan

sarana publik lainnya. Ciri dari karakteristik ini adalah keberpihakan kepada

masyarakat.

Keempat, sasaran anggaran difokuskan kepada pencapaian

kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan output yang dihasilkan dari

pengorbanan anggaran yang disusun ditingkat SKPD. Kesejahateraan

merupakan outcome yang diterima masyarakat, baik sebagai bentuk pertukaran

nilai atas partisipasinya dalam pembangunan (pajak, retribusi dan lain-lain)

maupun sebagai individu warga negara yang memiliki harga diri dan memiliki hak

yang sama dengan manusia lainnya dalam menikmati pembangunan. Ciri dari

karakteristik ini adalah keterpenuhan kebutuhan.

Kelima, prestise merupakan tujuan akhir dari proses penyusunan

anggaran yaitu menegakkan siri’ na pesse. Penyusunan anggaran dimaknai oleh

aktor sebagai harkat dan martabat yang merupakan prestise yang dicapai dari

etos kerja sehingga mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari masyarakat

dan atau pihak-pihak terkait pada level institusi. Ciri dari karakteristik ini ini

adalah kepercayaan dan pengakuan.

Secara konseptual, konsep penganggaran siri’ na pesse merupakan

sebuah tahapan yang terdiri dari input, proses, output, outcomes, dan prestise.

Tahapan input, meliputi kepekaan batin yang muncul dari sensitivitas rasa siri’ na
180

pesse dan bertindak sebagai pemicu atau pendorong (driven) bagi aktor dalam

penyusunan anggaran. Proses, merupakan eksistensi nilai-nilai siri’ na pesse

yang dipraktikkan aktor sehingga anggaran yang disusun mengarah kepada

pencapaian tujuan dan sasaran. Output merupakan sarana publik yang

dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Outcome merupakan

manfaat yang dirasakan masyarakat dari penggunaan output. Prestise

merupakan tahapan untuk mencapai harkat dan martabat yang dianggap

sebagai nilai paling esensi dalam menegakkan siri’ na pesse

Berdasarkan karakteristik-karakteristik yang dimiliki penganggaran siri’ na

pesse, maka terdapat beberapa kelebihan yang dimiliki konsep penganggaran

siri’ na pesse. Kelebihan-kelebihan tersebut terdapat pada tataran psilologis,

teknis, dan prestise. Pertama, pada tataran psikologis (non teknis) di mana

penyusunan anggaran berbasis pada kepekaan batin dan nilai-nilai siri’ na

pesse. Basis tersebut menekankan pada faktor psikologis karena terkait dengan

unsur rasa yang bersifat transendental, yaitu siri’ dan pesse. Unsur tersebut

memandang manusia sebagai insan yang memiliki harga diri yang eksistensinya

harus dihargai dan dihormati (sipakatau). Segala problematika anggaran dan

sosial yang dihadapi masyarakat menjadi fokus dari konsep ini yang harus

diakomodir melalui kebijakan dan tindakan anggaran.

Karakteristik penganggaran siri’ na pesse yang berfokus pada tataran

psikologis sehingga konsep ini dapat digunakan pada semua sistem

penganggaran konvensional sepanjang tidak berbenturan dengan aspek

teknisnya. Faktor psikologis yang khas karena mengadopsi kearifan lokal

merupakan salah satu nilai lebih dari konsep penganggaran siri’ na pesse yang

secara teoretis belum dimiliki oleh sistem penganggaran konvensional.


181

Kedua, pada aspek teknis, konsep penganggaran siri’ na pesse berfokus

pada output dan outcome. Anggaran disusun dengan memperbesar proporsi

belanja langsung guna membiayai berbagai program untuk memenuhi kebutuhan

dasar sosial dan insfrastruktur dasar kepada masyarakat. Hal ini merupakan

salah satu kelebihan yang dimiliki konsep penganggaran siri’ na pesse.

Sementara itu, pada beberapa sistem penganggaran konvensional hanya

berfokus pada sisi penerimaan dan pengeluaran dan penentuan besaran

anggaran tahun berikutnya74.

Fokus kepada kebutuhan masyarakat merupakan karakteristik aspek

teknis yang dimiliki konsep penganggaran siri’ na pesse. Hal tersebut didasarkan

bahwa anggaran yang dikelola oleh pemerintah bersumber dari masyarakat dan

sudah sewajarnya jika dikembalikan lagi kepada masyarakat. Artinya bahwa

eksistensi masyarakat dalam daerah diletakkan pada posisi yang harus dihargai

(sipakatau). Dalam pappaseng (pesan-pesan leluhur) Bugis dikatakan bahwa

“tau sipakatau, maseddi siri’ mappatettong pesse” yang artinya manusia saling

memanusiakan, menyatukan siri’ (malu/harga diri) menegakkan pesse

(solidaritas).

Pada sistim penganggaran konvensional, seperti line item budgeting,

penyusunan anggaran hanya didasarkan pada dan dari mana dana berasal dan

untuk apa dana tersebut digunakan (Bastian, 2010:194). Hal tersebut

menunjukkan bahwa fokus dari sistem ini terletak pada sisi penerimaan dan

pengeluaran. Aspek transendental belum menjadi perhatian utama yang harus

diadopsi dalam praktik penganggaran.

Demikian halnya pada incremental budgeting yang menekankan pada

pendapatan dan belanja yang memungkinkan dapat direvisi selama tahun

74
Terjadi pada line item budgeting dan incremental budgeting
182

berjalan, sekaligus sebagai dasar penentuan usulan anggaran periode tahun

berikutnya (Bastian, 2010:196). Sistem ini bersifat incremental karena hanya

menambah dan atau mengurangi jumlah rupiah pada item-item anggaran yang

sudah ada sebelumnya dengan menggunakan data tahun sebelumnya sebagai

dasar untuk menyesuaikan besarnya penambahan atau pengurangan tanpa

kajian mendalam (Mardiasmo, 2009:76).

Kedua sistem tersebut merupakan penganggaran tradisional karena

dianggap sudah lama dan memiliki banyak kelemahan. Kelemahan line item

budgeting terletak pada pengendalian yang hanya berfokus pada

administratifnya saja dan berorientasi pada input sehingga tidak memberikan

informasi tentang kinerja. Kelemahan lainnya terletak pada penetapan anggaran

melalui pendekatan incremental (kenaikan anggaran berdasarkan tahun

sebelumnya) sedangkan pada incremental budgeting sama dengan line item

budgeting (Bastian, 2010:195-196).

Sementara itu, zero base budgeting berfokus pada tiga prinsip. Ketiga

prinsip tersebut meliputi: a) anggaran diasumsikan dimulai dari nol, b) didasarkan

pada anggaran tahun berjalan bukan tahun lalu, c) item anggaran yang sudah

tidak relevan dan tidak mendukung pencapaian tujuan dapat dihilangkan pada

struktur tahun anggaran tahun berjalan, dan dimungkinkan untuk memunculkan

item anggaran baru dalam anggaran tahun lalu tidak ada (Anggarini dan Puranto,

2010:44). Lantaran sistem ini merupakan korektif dari sistem tradisional line item

budgeting dan incremental budgeting, sehingga penentuan besaran anggaran

tidak didasarkan pada peningkatan dari tahun sebelumnya tetapi diasumsikan

dimulai dari nol. Sistem ini juga hanya menekankan pada penentuan anggaran

pada saat [Link] sistem ini terletak pada prosesnya yang

memakan banyak waktu, terlalu teoretis, tidak praktis, membutuhkan banyak


183

biaya, menghasilkan banyak kertas kerja karena terkait dengan pembuatan paket

keputusan, cenderung menekankan manfaat jangka pendek dan membutuhkan

teknologi yang maju (Anggarini dan Puranto, 2016:45).

Selanjutnya adalah planning, programming, and budgeting system

(PPBS) merupakan teknik penganggaran yang didasarkan pada sistem yang

berorientasi pada output dan tujuan dengan penekanan utama pada alokasi

sumber daya berdasarkan analisis ekonomi (Anggarini dan Puranto, 2010:46).

Pemilihan alternatif berdasarkan manfaat paling besar dalam pencapaian tujuan.

Sistem ini lebih berorientasi pada output dan tujuan dan menunjukkan komitmen

dalam mengatasi problematika anggaran dan masyarakat secara khusus, namun

prosentasi proporsi anggaran tidak ditentukan sebagaimana pada konsep

penganggaran siri’ na pesse yang menekankan dominansi belanja langsung.

Kelemahan dari sistem PPBS adalah proses multikompleks dan memerlukan

banyak perhitungan serta analisis, memerlukan pengelola yang ahli dan memiliki

kualitas tinggi, dan terlalu kompleks baik teknis maupun praktis.

Kemudian performance based budgeting digunakan untuk mengukur

kinerja serta pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik (Anggarini dan

Puranto, 2010:44). Sistem ini merupakan proses perencanaan, pembuatan

program, dan penganggaran yang terkait dalam suatu sistem sebagai kesatuan

yang bulat dan tidak terpisah yang didalamnya terkandung identifikasi dan tujuan

organisasi serta permasalahan yang timbul (Bastian, 2010:202). Sistem ini sudah

lebih baik dari yang lainnya, namun komitmen anggaran kepada masyarakat

belum menjadi prioritas karena hanya menekankan sisi kinerja yang ingin

dicapai. Kelemahan sistem ini bahwa tidak semua kegiatan dapat

distandarisasikan. Kelemahan lainnya bahwa tidak semua kinerja diukur secara


184

kuantitatif dan tidak semua jelas mengenai pengambilan keputusan dan siapa

yang menanggung beban tersebut.

Berikutnya adalah medium term budgeting framework (MTBF) merupakan

kerangka strategi kebijakan tentang anggaran belanja unit organisasi. Kerangka

ini melimpahkan tanggung jawab yang lebih besar kepada unit organisasi

menyangkut penentuan alokasi dan penggunaan sumber dana pembangunan.

Mekanisme sistem ini terletak pada penetapan komponen anggaran berdasarkan

top down dan penyesuaian perkiraan anggaran biaya yang disesuaikan menurut

sumber daya yang tersedia. Secara teknis, sistem ini sudah baik karena

memenuhi unsur strategi anggaran dan alokasi penggunaan sumber dana

pembangunan yang tanggung jawabnya dilimpahkan ke unit organisasi, namun

proporsi besaran anggaran terhadap masyarakat tidak diatur. Kelemahan dari

sistem ini terletak pada kondisi suatu negara atau organisasi di mana kebijakan

fiskal dan kondisi sosial politik yang tidak stabil.

Berdasarkan pada beberapa karakteristik yang dianut pada sistem

penganggaran konvensional, maka berdasarkan pada aspek teknis, sistem

penganggaran siri’ na pesse secara konsep memiliki beberapa nilai lebih. Hal

tersebut karena sistem ini berorientasi kepada kebutuhan publik (kebutuhan

sufisiensi) sehingga anggaran yang disusun diarahkan untuk memenuhi

kepentingan masyarakat (output) guna mencapai kesejahteraan (outcomes)

bersama. Oleh sebab itu, ciri dari konsep penganggaran siri’ na pesse adalah

proporsi anggaran yang lebih besar kepada masyarakat melalui akun belanja

langsung. Hal tersebut mempertegas bahwa konsep penganggaran siri’ na pesse

meletakkan komitmen keberpihakan yang kuat kepada masyarakat yang lebih

luas (pro poor).


185

Ketiga, dari sisi prestise, penganggaran siri’ na pesse bertujuan

mencapai harkat dan martabat. Konsep ini tidak hanya melihat dari input yaitu

anggaran yang disusun pada tataran psikologis berbasis rasa siri’ na pesse dan

nilai-nilai kearifan lokal, atau pada tataran teknis yaitu menghasilkan output

berupa sarana publik dan outcome dalam mencapaian kesejahteraan, tetapi juga

pada tujuan akhir yaitu prestise. Pencapaian harkat dan martabat mempertegas

bahwa penyusunan anggaran merupakan sebuah proses dalam menegakkan

siri’ na pesse. Ketika siri’ na pesse sudah ditegakkan, maka pada

konsekuensinya juga berdampak pada terciptanya prestise, yaitu harkat dan

martabat.

Jika merujuk pada substansi penganggaran siri’ na pesse yang berfokus

pada unsur-unsur transendental membuat konsep tersebut lebih bersifat fleksibel

secara operasional. Hal tesebut karena konsep ini dapat diterapkan pada setiap

sistem penganggaran konvensional, baik pada line item budgeting, incremental

budgeting, zero base budgetinng, planning programming and budgeting

framework, planning programming and budgeting framework, dan terlebih pada

budgeting performance yang secara teknis memiliki kesamaan dengan

penganggaran siri’ na pesse.


186

Tabel 9.2 Jenis, Substansi, dan Penilaian Sistem Penganggaran (Hasil Penelitian dan Bastian, 2010)
No Jenis Substansi Kelebihan Kelemahan

1. Siri’ na Pesse Penyusunan anggaran didasarkan pada aspek 1. Mudah diterapkan karena berbasis transen- Masih bersifat konsep
Budgeting transedental, yaitu kepekaan batin berbasis dental dan tidak membutuhkan pengetahuan
unsur rasa siri’ na pesse (input) dan nilai-nilai yang kompleks.
kearifan lokal (operational), yang memandang 2. Dapat diterapkan di setiap daerah karena
manusia sebagai insan yang memiliki harga berbasis kearifan lokal (nilai-nilai)
diri yang harus diberdayakan melalui program 3. Anggaran (input) berorientasi ke masyarakat
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat (output) sehingga dapat mengatasi problema-
(output) guna kesejahteraan bersama tika anggaaran dan sosial (outcome).
(outcome) dalam rangka mencapai harkat dan 4. Dapat diparalelkan dengan sistem pengang-
martabat (prestice). garan konvensional.
5. Pendorong pembangunan karena anggaran
dimaknai sebagai harkat dan martabat.
2. Line Item Penyusunan anggaran didasarkan pada dan Relatif mudah menelusurinya dan mengamankan [Link] berfokus pada
Budgeting dari mana dana berasal (pos-pos penerimaan) komitmen diantara partisipan sehingga dapat administratifnya saja dan ber-
dan untuk apa dana tersebut digunakan (pos- mengurangi konflik. orientasi pada input
pos pengeluaran) sehinggatidak memberikan
informasi kinerja.
[Link] anggaran pada pen-
dekatan incremental
3. Incremental Sistem anggaran belanja dan pendapatan Kemampuan mengatasi rumitnya proses penyu- Seperti pada sistem line item
Budgeting yang dapat direvisi selama tahun berjalan sunan anggaran, tidak memerlukan pengetahuan budgeting
sekaligus sebagai dasar penentuan usulan yang terlalu rumit dalam memahami program-
anggaran periode tahun akan dating program baru, dan dapat mengurangi konflik

4. Zero Base Sistem yang menghilangkan incrementalism Muncul unit keputusan yang menghasilkan Membutuhkan banyak kertas kerja
Budgeting (ZBB) dan line item karena anggaran diasumsikan berbagai paket alternatif anggaran yang dibuat data, serta menuntut penerapan
mulai dari nol (zero base). ZBB tidak sebagai motivasi bagi terciptanya anggaran sistem manajemen informasi yang
berpatokan pada anggaran tahun lalu untuk organisasi yang lebih responsif terhadap cukup canggih.
menyusun anggaran tahun ini, namun kebutuhan masyarakat dan fluktuasi anggaran
penentuan anggaran dimulai dari hal baru
sama sekali
187

No Jenis Konten Kelebihan Kelemahan

5. Planning Proses perencanaan, pembuatan program, 1. Menggambarkan tujuan organisasi yang lebih [Link] proses multikom-
Programming dan penganggaran yang terkait dalam suatu nyata, pleks dan memerlukan banyak
Budgeting System sistem sebagai kesatuan yang bulat dan tidak 2. Menghindarkan pertentangan dan over-laping perhitungan serta analisis
(PPBS) terpisah yang didalamnya terkandung iden- program, serta mewujudkan sinkronisasi dan [Link] pengelola yang ahli
tifikasi dan tujuan organisasi serta permasa- integrasi antar aparat organisasi dalam proses dan memiliki kualitas yang tinggi
lahan yang timbul perencanaan, dan [Link] kompleks, baik secara
3. Alokasi sumber daya yang lebih efisien dan teknis maupun praktis
efektif berdasarkan analisis biaya manfaat
untuk mencapai tujuan
6. Performance Sistem penganggaran yang berorientasi pada 1. Memungkinkan pendelegasian wewenang ke [Link] semua kegiatan dapat
Budgeting output organisasi dan berkaitan erat dengan dalam pengambilan keputusan, distandarisasikan
visi, misi, serta rencana strategis organisasi. 2. Merangsang partisipasi dan memotivasi unit [Link] semua kinerja diukur
Sistem ini mengalokasikan sumber daya ke kerja melalui proses pengusulan dan peni- secara kuantitatif
program bukan ke unit organisasi semata dan laian anggaran bersifat faktual, [Link] semua jelas mengenai
memakai pengukuran output sebagai indikator 3. Membantu fungsi perencanaan dan mem- siapa pengambilan keputusan
kinerja organisasi pertajam pembuatan keputusan, dan siapa yang menanggung
4. Memungkinkan alokasi dana secara optimal beban keputusan tersebut.
dengan didasarkan efisiensi unit kerja, dan
5. Menghindarkan pemborosan.

7. Medium Term Kerangka strategi kebijakan tentang anggaran Banyaknya peluang yang tidak bisa digunakan Pendekatan MTBF tergantung
Budgeting belanja unit organisasi. Kerangka ini melim- karena pendekatan yang menyeluruh. Dalam pada kondisi suatu negara atau
Framework pahkan tanggung jawab yang lebih besar pendekatan sektoral, kebijakan penggunaan organisasi. Kebijakan fiskal dan
(MTBF) kepada unit organisasi menyangkut penen- sumber daya secara sektoral dapat dilakukan sosial politik yang tidak mendu-
tuan alokasi dan penggunaan sumber dana dalam konteks perencanaan serta alokasi sumber kung merupakan bagian dari
pembangunan. Mekanisme MTBF menetap- daya dan sistem anggaran secara keseluruhan. kelemahan penerapan sistem ini.
kan komponen anggaran berdasarkan top Akibatnya pendekatan ini lebih sektoral akan
down dan penyesuaian perkiraan anggaran menyeimbangkan pelaksanaan kebijakan dalam
biaya disesuaikan menurut sumber daya yang sumber daya di level sektoral serta lintas sektoral.
tersedia Jadi berbagai peluang dapat dimanfaatkan oleh
agen di sektor sektoral terkait.
216

Pada tabel tersebut dengan jelas memaparkan konsep penganggaran siri’

na pesse dan sistem penganggaran konvensional pada tataran substansi,

kelebihan, dan kelemahan masing-masing. Keberadaan konsep penganggaran

siri’ na pesse telah memberikan tempat tersendiri dalam sistem penganggaran

konvensional. Pada sistem penganggaran konvensional lebih menekankan pada

aspek teknis, sedangkan konsep penganggaran siri’ na pesse lebih berfokus ke

aspek transendental.

9.3. Konsep Penganggaran Siri’ na Pesse dan Anggaran Berbasis Kinerja:


Antara Persamaan dan Perbedaan

Konsep penganggaran siri’ na pesse dan anggaran berbasis kinerja

merupakan dua alat penganggaran yang memiliki persamaan dan perbedaan.

Anggaran berbasis kinerja merupakan sistem yang diadopsi Pemerintah

Indonesia berdasakan UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara

(Anggarini dan Puranto, 2010:25). Sebelum reformasi sektor publik diluncurkan,

pengelolaan keuangan memiliki banyak kelemahaman (Nasution, 2009:8).

Sistem penganggaran yang selama ini digunakan dianggap tidak lagi relevan

dalam menjawab perubahan jaman yang sedang berlangsung.

Output dari regulasi tersebut merekomendasikan penggunaan anggaran

berbasis kinerja dalam penyusunan anggaran dengan penekanan pada

pertanggungjawaban tidak terbatas pada alokasi input saja tetapi juga turut

mempertimbangkan output dan outcome (Halim dan Damayanti, 2007:iv). Secara

konseptual, budgeting reform menyiratkan adanya perubahan dari anggaran

tradisional (traditionnal budgeting) ke anggaran berbasis kinerja (performance

budgeting). Hal tersebut didasarkan pada karakteristik sistem penganggaran line


217

item budgeting dan incremental budgeting yang lebih menekankan pada sisi

penerimaan dan pengeluaran saja serta penentuan proporsi besaran anggaran

tahun berikutnya berdasarkan tahun sebelumnya.

Jika dilihat dari aspek teknis operasional, maka terdapat persamaan

antara konsep penganggaran siri na pesse dengan anggaran berbasis kinerja

yang dianut Indonesia. Persamaan tersebut terdapat pada sisi aspek teknisnya,

di mana antara kedua alat penganggaran tersebut sama-sama menekankan

pada hubugan antara input, output, dan outcome. Pada konsep penganggaran

siri’ na pesse, anggaran yang disusun difokuskan untuk pencapaian output yang

dibutuhkan masyarakat berdasarkan capaian target-target yang ditentukan

dengan sasaran adalah kesejahteraan masyarakat (outcomes).

Hal sama juga dianut pada anggaran berbasis kinerja di mana anggaran

yang disusun juga dihubungkan antara input, output, dan outcome (Halim dan

Damayanti, 2007:iv dan ). Dalam PP No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan

Keuangan Daerah, pasal 39 menekankan pada sistem anggaran yang

mengutamakan upaya pencapaian hasil kinerja (output) dari perencanaan

alokasi biaya (input) yang telah ditetapkan. Memperhatikan karakteristik yang

dimiliki kedua alat penganggaran tersebut, maka persamaan terletak pada aspek

teknis yaitu menghubungkan antara input ke output dan outcomenya.

Selain dilihat pada sisi persamaannya, kedua alat penganggaran tersebut

juga memiliki perbedaan. Perbedaan yang mendasar yang dimiliki sistem

anggaran berbasis kinerja yaitu tidak memfokuskan pada unsur transendental

dan prestise. Jadi anggaran yang disusun lebih menekankan pada jumlah

anggaran (input) hubungannya ke output dan outcomenya sehingga tidak ada

jaminan keberpihakan kepada masyarakat. Oleh sebab itu, postur APBD yang
218

dihasilkan tidak mengukur proporsi belanja langsung terhadap belanja tidak

langsung, tetapi anggaran tersebut memenuhi value for money yaitu ekonomis,

efisien, dan efektif sehingga dapat mencapai output dan outcomenya.

Penyusunan anggaran yang berbasis pada transendental (input)

menekankan pada unsur kepekaan batin yang menggugah rasa siri’ dan pesse

serta nilai-nilai lokal sehingga mendorong aktor memprioritaskan alokasi

anggaran pada program-program yang berpihak kepada masyarakat. Begitupun

dari sisi prestise, bahwa upaya untuk mencapai harkat dan martabat sebagai

wujud motivasi dalam meningkatkan etos kerja guna berpestasi, yaitu mencapai

output dan outcome. Sementara itu, pada sistem anggaran berbasis kinerja

berfokus pada hubungan antara input, output, dan outcome tanpa melihat dari

sisi prestise. Dalam hal ini, anggaran berbasis kinerja lebih menekankan pada

penggunaan anggaran (input) untuk selalu berusaha pemperhatikan setiap

rupiah yang diperoleh dan yang digunakan (Halim dan Damayanti, 2007:v).

Tabel 9.3. Persamaan dan Perbedaan antara Konsep Penganggaran Siri na


Pesse dengan Anggaran Berbasis Kinerja
Sistem Anggaran Persamaan Perbedaan
Siri’ na Pesse Aspek Teknis Unsur Psikologis
1. Output, anggaran berfokus pada Anggaran disusun berdasarkan
pemenuhan kebutuhan masya- kepekaan batin yaitu dengan
rakat melalui program dan kegia- mengedepankan unsur ras siri’
tan. Tolok ukur kinerja adalah dan pesse. Sementara input dari
pencapaian hasil berdasarkan sisi penerimaan anggaran diang-
target. Wujud output berupa gap bersifat teknis yang dapat
kebutuhan dasar sosial dan diupayakan dengan memper-
kebutuhan infrastruktur dasar. hatikan potensi yang ada dan
2. Outcomes, anggaran yang disu- keterbatasan yang dimiliki.
sun benar-benar mencerminkan Unsur Prestise
output yang dibutuhkan oleh Anggaran disusun untuk mene-
masyarakat supaya dapat dinik- gakkan siri’ na pesse (harga diri)
mati secara luas untuk memenu- guna mencapai harkat dan
hi kesejahteraan bersama. martabat.
Berbasis Kinerja Aspek Teknis Secara formal, regulasi tidak
Menekankan pada keterkaitan mengatur aspek psikologis dan
antara anggaran (input) yang kearifan lokal. Anggaran berbasis
dijabarkan dalam program dan kinerja lebih berfokus pada input
219

kegiatan dengan hasil yang dicapai (anggaran) yang dihubungkan ke


(output) dan outcome. output dan outcome guna
memenuhi value for money.
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa penganggaran siri’ na pesse

dapat diterapkan pada anggaran berbasis kinerja. Hal tersebut didasarkan pada

aspek teknis di mana keduanya menekankan pada keterhubungan antara input,

output, dan outcome. Penganggaran siri’ na pesse memandang output terkait

dengan kinerja yang dihasilkan dari penggunaan anggaran berdasarkan target

yang ditentukan dan outcome terkait dengan manfaat yang dinikmati oleh

masyarakat. Artinya bahwa anggaran yang disusun diarahkan untuk memenuhi

aspek sufisiensi, yaitu memenuhi kebutuhan dasar sosial dan kebutuhan

infrastruktur dasar yang memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut, maka pada dasarnya penganggaran siri’ na pesse

dapat diterapkan pada anggaran berbasis kinerja.

Perbedaan mendasar pada kedua alat penganggaran tersebut terletak

pada sisi input khususnya yang terkait dengan unsur transendental yaitu

kepekaan batin berupa rasa siri’ na pesse dan nilai-nilai kearifan lokal yang

dianut, serta tujuan akhir dari penyusunan anggaran yaitu pencapaian prestise

harkat dan martabat. Ketiga unsur tersebut secara tekstual formalitas tidak diatur

secara teoretis maupun dalam regulasi terkait pengelolaan keuangan negara di

Indonesia. Jadi anggaran berbasis kinerja secara teoretis, kebijakan, dan empiris

merupakan sistem penganggaran yang memusatkan perhatian pada aspek

teknis belaka.

Berdasarkan karakteristik yang dimiliki, maka konsep penganggaran siri’

na pesse merupakan soft concept karena menekankan pada kepekaan batin,

nilai-nilai kearifan lokal, dan prestise. Oleh sebab itu, jika mengacu pada

substansi yang dimiliki, maka penganggaran siri’ na pesse dapat


220

diimplementasikan pada semua sistem penganggaran konvensional dengan

asumsi: ada komitmen dari pihak-pihak yang berkompoten, secara teknis

anggaran difokuskan pada kebutuhan aspek sufisiensi yaitu memenuhi kebuhan

dasar sosial dan kebutuhan infrastruktur dasar, dan ketiga mengadopsi kearifan

lokal masyarakat setempat.

9.4. Ikhtisar

Berdasarkan pada pembahasan tersebut, beberapa hal yang dapat

disimpulkan. Pertama, konsep penganggaran siri’ na pesse memiliki

karakteristik-karakteristik yang membedakan dengan sistem penganggaran

konvensional, yang meliputi: landasan psikologi, landasan operasional, tujuan

dan sasaran anggaran, serta prestise.

Kedua, kelebihan konsep penganggaran siri’ na pesse terletak pada

aspek transendental, yaitu pada unsur psikologi, nilai-nilai kearifan lokal, dan

prestise. Ketiga aspek transendental tersebut merupakan tahapan input, proses,

dan tujuan konsep. Unsur psikologi merupakan tahapan input, yaitu anggaran

yang disusun berdasarkan pada kepekaan batin yang berfungsi sebagai pemicu

atau pendorong (driven). Pada tahapan ini, anggaran yang dihasilkan merupakan

dorongan dari unsur rasa siri’ dan rasa pesse yang dimiliki aktor. Selanjutnya

unsur nilai-nilai siri’ na pesse merupakan tahapan proses, yaitu nilai-nilai yang

dipraktikkan aktor dalam menyusun anggaran untuk menghasilkan sarana publik

guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara itu, prestise merupakan

tahapan tujuan konsep yaitu upaya untuk menegakkan siri’ na pesse dalam

rangka mencapai harkat dan martabat.


221

Ketiga, persamaan konsep penganggaaran siri’ na pesse dengan

anggaran berbasis kinerja yang diterapkan di Indonesia terletak pada koneksitas

antara anggaran (input), output, dan outcame. Sementara perbedaan mendasar

lerletak pada komitmen anggaran antara keduanya. Konsep penganggaran siri’

na pesse menitikberatkan anggaran pada kebutuhan masyarakat melalui

program-program yang tertuang dalam belanja langsung, sedangkan anggaran

berbasis kinerja bersifat kondisional. Artinya bahwa pada konsep penganggaran

siri’ na pesse memiliki proporsi anggaran belanja langsung yang lebih besar

untuk membiayai kebutuhan masyarakat seperti kebutuhan dasar sosial dan

infrasturktur dasar.
222

BAB X

SIMPULAN, IMPLIKASI, UNSUR KETERBARUAN,


KETERBATASAN, DAN PENELITIAN LANJUTAN

‫ﻗو ًﻣـﺎ ﺑِ َﺟ َﮭﺎﻟـ ٍﺔ‬


ْ ‫ﺑـوا‬ْ ِ‫اٍنْ ﺟـﺂ َءﻛ ْم َﻓﺎﺳقٌ ﺑـِ َﻧﺑ ٍﺎ ﻓﺗﺑ ّﯾﻧـ ُ ْوا أنْ ُﺗﺻ‬
‫ﺻ ِﺑ ُﺣ ْـوا ﻋﻠَﻰ َﻣﺎ ﻓ َﻌ ْﻠﺗـ ُ ْم ﻧـدﻣﯾـن‬
ْ ‫ﻓ ُﺗ‬
... jika datang seorang ... kepadamu membawa
informasi, maka tangguhkanlah (hingga kamu
mengetahui kebenarannya) agar tidak menye-
babkan kaum berada dalam kebodohan (kehan-
curan) sehingga kamu menyesal terhadap apa
yang kamu lakukan.
QS. Al Hujarat:6

10.1 Simpulan Utama

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data empirik yang telah

diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka simpulan utama dalam penelitian ini

sebagai berikut.

1. Konsep penganggaran siri’ na pesse dibangun dari lima unsur, yaitu rasa

siri’ na pesse, nilai-nilai kearifan lokal, kinerja anggaran, kesejahteraan,

serta harkat dan martabat.

a. Unsur rasa siri’ na pesse, lahir dari kepekaan batin yaitu rasa siri’ dan

pesse atas problematika anggaran dan sosial yang dialami

masyarakat. Siri’ dan pesse merupakan sensitifitas yang dirasakan

aktor ketika terjun ke lapangan untuk mengamati kondisi yang dialami

masyarakat sebagai dasar dalam menyusun anggaran.

b. Unsur nilai-nilai siri’ na pesse merupakan nilai-nilai yang dipraktikkan

aktor pada saat menyusun anggaran. Nilai-nilai tersebut meliputi:

tongeng, lempu’, getteng, adele’ dan lalambate tarangtajo atau

siwolong polong.

194
223

1) Tongeng (kebenaran) merupakan tindakan kepatuhan terhadap

kebijakan, prosedur, dan aturan yang berlaku dan senantiasa

menghindari setiap bentuk tindakan inkonstitusional. Nilai ini

dibangun dalam dua prinsip, yaitu bertanggung jawab dan acca

(kecerdasan). Bertanggung jawab berhubungan dengan tindakan

operasional bahwa anggaran yang disusun berdasarkan pada

landasan formal berupa kebijakan, prosedur, dan aturan yang

berlaku. Bentuk pertanggungjawaban penyusunan anggaran

adalah lahirnya RKA SKPD. Acca (kecerdasan/kepintaran)

merupakan kemampuan aktor dalam memahami kebijakan,

prosedur, dan aturan sehingga anggaran yang dibuat dapat

dituangkan dalam RKA dan dipertanggungjawabkan secara legal

formal berdasarkan aturan. Salah satu wujud acca dalam

penyusunan anggaran adalah penentuan harga satuan

berdasarkan daftar harga yang dikeluarkan dinas koperindag

sebagaimana yang diamanatkan dalam PP No. 105 tahun 2000

tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah.

2) Lempu’ (kejujuran) merupakan tindakan objektif dalam menyusun

anggaran berdasarkan sumber dokumen yang telah ditetapkan.

Dua prinsip dasar yang dianut dalam menegakkan nilai lempu’,

yaitu objektif dan amanah. Objektif yaitu penyusunan anggaran

harus berdasarkan pada dokumen sumber baik yang bersifat top

down maupun bottom up dan sumber-sumber yang

mendukungnya. Dokumen sumber yang bersifat top down meliputi

RPJPD, RPJMD, RKPD, dan KUA-PPAS, sedangkan yang bersifat


224

bottom up adalah hasil Musrenbang. Secara teknis, saat

menentukan besaran nilai anggaran pada setiap program dan

kegiatan, aktor mengacu pada daftar harga yang dikeluarkan oleh

pemerintah (dinas koperindag) dan pagu anggaran yang tertuang

dalam PPAS. Jadi penyusunan anggaran berdasarkan pada

dokumen sumber menunjukkan anggaran disusun secara objektif.

Sementara itu, pinsip amanah merupakan tindakan kepatuhan

untuk senantiasa berpegang pada dokumen sumber agar anggaran

yang disusun tetap berada dalam koridor legal formal.

3) Getteng (ketegasan) merupakan sikap komitmen mempertahankan

tongeng (kebenaran) dan lempu’ (kejujuran) serta berani (warani)

mengambil keputusan dan menanggung konsekuensi yang

dihasilkan. Nilai ini dibangun dalam dua prinsip, yaitu komitmen

dan warani (berani). Komitmen yaitu konsisten menegakkan

tongeng (kebenaran) dan lempu’ (kejujuran) dalam menyusun

anggaran. Komitmen ini berupa konsistensi mematuhi seluruh

kebijakan, prosedur, dan aturan yang berlaku dalam menyusun

anggaran. Warani (berani) merupakan kemampuan merealisasikan

tongeng dan lempu’ dengan segala konsekuensi yang timbul dan

menolak setiap intervensi negatif dari pihak-pihak berkepentingan.

4) Adele’ (keadilan) merupakan tindakan pendistribusian anggaran

secara proporsional pada setiap jajaran dalam SKPD secara wajar

dan proporsional. Keadilan ini terbagi dua, yaitu keadilan eksistensi

dan keadilan kewajaran. Keadilan eksistensi merupakan keadilan

distribusi anggaran yang didapatkan unit kerja dalam jajaran


225

SKPD, seperti unit Puskesmas karena eksistensinya dalam

melayani masyarakat. Artinya bahwa ketika Puskesmas secara

legal formal telah terdaftar, maka pada tahun berikutnya berhak

mendapatkan porsi anggaran dalam besaran tertentu. Selanjutnya

keadilan kewajaran merupakan keadilan dalam distribusi anggaran

yang didapatkan tiap unit kerja dalam SKPD seperti pada

Puskesmas. Besarnya anggaran yang didapatkan tiap unit

Puskesmas berdasarkan pada alasan situasi. Artinya bahwa

distribusi anggaran diberikan berdasarkan alasan-alasan yang

melekat pada unit Puskesmas, seperti: luas wilayah, cakupan

penerima manfaat, jarak dari pusat layanan kesehatan, dan

sebagainya. Seperti halnya pada puskesmas Malili mendapatkan

proporsi anggaran yang lebih besar dari Puskesmas Mangkutana.

5) Lalambate tarangtajo/siwolong polong (kerja sama) merupakan

semangat bekerja sama dalam mencapai tujuan dan sasaran

anggaran dengan mengoptimalkan potensi yang dimiliki dan

menyiasati keterbatasan yang dihadapi. Nilai ini diwujudkan dalam

bentuk kerja sama dengan melibatkan seluruh jajaran dalam

lingkup SKPD dan pihak ekternal. Di tingkat Puskesmas, anggaran

disusun dengan melibatkan kepala Puskesmas, tata usaha, dan

bidang-bidang yang terkait. Prinsip yang dibangun pada nilai ini

adalah semangat yang tinggi dalam mendorong lahirnya kreativitas

berupa ide-ide guna menyiasati keterbatasan anggaran dan

mengoptimalkan kemampuan atau potensi yang ada. Salah satu

wujud nilai ini yaitu kerja sama yang dibangun Puskesmas


226

Wasuponda dalam menyukseskan program pemberantasan jentik

DBD dengan melibatkan PT. Vale, kepada desa, dan masyarakat

sekitar. Alhasil, anggaran yang terbatas pada APBD dapat disiasati

sehingga cakupan wilayah proram mengkaver seluruh kabupaten.

c. Unsur kinerja anggaran merupakan output yang dihasilkan berupa

pogram fisik dan non fisik berdasarkan capaian target-target yang

ditentukan. Program fisik merupakan kebutuhan infrastruktur dasar

masyarakat meliputi jalan, jembatan, irigasi, drainase, sarana

kesehatan dan fasilitas lainnya, sedangkan program non fisik

merupakan kebutuhan dasar sosial meliputi layanan kesehatan,

pemberdayaan ekonomi, penguatan kelembagaan, dan sebagainya.

d. Unsur kesejahteraan merupakan kenikmatan batin dan fisik yang

dirasakan masyarakat secara luas dari penggunaan output yang

dihasilkan dari penggunaan anggaran.

e. Unsur harkat dan martabat, lahir dari kepercayaan dan pengakuan

pada tataran internal dan eksternal. Pada tataran internal,

kepercayaan dan pengakuan datang dari lingkungan dalam

pemerintah, sedangkan pada tataran eksternal datang dari

masyarakat, antar pemerintah, maupun dari pihak institusi, baik

secara formal dan informal.

3. Konsep penganggaran siri’ na pesse merupakan konsep yang berbasis

pada kepekaan batin dan nilai-nilai kearifan lokal yang memandang

manusia sebagai insan yang memiliki harga diri dan berfungsi sebagai

pendorong pembangunan guna sejahteraan bersama dalam rangka

mencapai harkat dan martabat.


227

4. Perbedaan konsep penganggaran siri’ na pesse dengan sistem

penganggaran konvensional terlatak pada basis transendental yang

menganut unsur kepekaan batin rasa siri’ dan pesse, nilai-nilai kearifan

lokal, serta prestise yaitu harkat dan martabat. Berdasarkan hal tersebut,

maka kelebihan konsep penganggaran siri’ na pesse yaitu: mudah

diterapkan karena berbasis transendental dan tidak membutuhkan

pengetahuan yang kompleks, dapat diterapkan di setiap daerah karena

berbasis kearifan lokal (nilai-nilai), anggaran (input) berorientasi ke

masyarakat (output) sehingga dapat mengatasi problematika anggaaran

dan sosial (outcome), dapat diparalelkan dengan sistem penganggaran

konvensional, dan sebagai pendorong pembangunan karena anggaran

dimaknai sebagai harkat dan martabat.

10.2. Implikasi Penelitian

Tulisan ini diharapkan memiliki implikasi-implikasi positif baik secara

praktis dalam penyusunan anggaran SKPD, implikasi kebijakan dalam tataran

Pemerintah Daerah Luwu Timur, maupun implikasi terhadap pengembangan ilmu

pengetahuan melalui riset-riset bidang akuntansi publik terkhusus pada

penganggaran daerah berbasis kearifan lokal.

10.2.1. Implikasi Praktis

Penelitian ini merekomendasikan agar dalam proses penyusunan

program, kegiatan, dan anggaran terkhusus di tingkat SKPD Luwu Timur supaya

dapat mempertimbangkan penggunaan konsep penganggaran siri’ na pesse.

Kelebihan dari konsep ini karena berbasis transendental sehingga mudah

diterapkan pada setiap sistem penganggaran yang bersifat teknis. Secara


228

konseptual, penganggaran siri’ na pesse menekankan pada landasan psikologis

yaitu berbasis rasa, landasan operasional berbasis nilai, dan meletakkan sasaran

anggaran berbasis sipakatau (saling memanusiakan) yaitu kesejahteraan

masyarakat.

Berdasarkan landasaran psikologis, anggaran disusun berbasis rasa siri’

na pesse yang lahir dari kepekaan batin atas problematika anggaran dan sosial

yang dihadapi masyarakat. Proses penyusunannya berbasis nilai dan

mengedepankan unsur sipakatau (humanis) sebagai sasaran anggaran.

Anggaran yang telah dihasilkan yang tertuang dalam APBD, selanjutnya

dialokasikan ke masyarakat masyarakat berkebutuhan dan publik secara luas.

Output yang dihasilkan berdasarkan target-target yang telah ditentukan

merupakan kinerja yang dihasilkan (kinerja anggaran) yang pada akhirnya

dinikmati manfaatnya oleh masyarakat berkebutuhan secara khusus dan dan

publik secara umum. Pelayanan yang diberikan pemerintah yang dinikmati publik

membuat masyarakat menjadi sejahtera. Kesejahteraan inilah yang melahirkan

kepercayaan dan pengakuan kepada aktor penyusun anggaran maupun kepada

institusi Pemerintah Kabupaten Luwu Timur sehingga mendapatkan predikat

harkat dan martabat sebagai wujud dari menegakkan siri’ na pesse. Inilah esensi

dari konsep penganggaran siri’ na pesse.

Secara legal formal, konsep penganggaran siri’ na pesse pada dasarnya

memiliki relevansi dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah

(RPJPD) 2005-2025 Kabupaten Luwu Timur. Dalam visi termaktub bahwa

Kabupaten Luwu Timur yang maju melalui pembangunan berkelanjutan dengan

berdasarkan nilai agama dan budaya. Nilai budaya yang dimaksud meliputi

aspek rasa siri’ na pesse dan nilai-nilai kearifan lokal. Pada dasarnya konsep
229

penganggaran siri’ na pesse tidak hanya dapat diimpelentasikan di Kabupaten

Luwu Timur tetapi juga di daerah lain. Konsep ini dapat juga diimplementasikan

pada level korporat di perusahaan-perusahaan yang berorientasi profit.

10.2.2 Implikasi Kebijakan

Pemerintah Kabupaten Luwu Timur merupakan organisasi pemerintah

yang memegang wewenang dalam membuat kebijakan-kebijakan untuk

diimplementasikan dalam jajaran unit kerja yang ada. Sehubungan dengan hal

tersebut, hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan dalam membuat kebijakan-

kebijakan yang tertuang dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah

dan proses penyusunan program, kebijakan, dan anggaran. Hal tersebut

didasarkan pada relevansi antara proses penyusunan anggaran dengan konsep

penganggaran siri’ na pesse yang dihasilkan dalam penelitian ini.

Relevansi itu terdapat pada beberapa hal, di antaranya kondisi religiusitas

aktor dalam penganggaran, kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat,

konvergensi nilai-nilai lokal dalam rutinitas keseharian, upaya untuk berkinerja,

harapan terhadap kesejahteraan, dan komitmen menegakkan siri’ na pesse

(harkat dan martabat). Hal-hal semacam itu berbanding lurus dengan konsep

yang dihasilkan dalam penelitian ini.

10.2.3 Implikasi Teoretis

Secara teoretis, penelitian ini memberikan implikasi terhadap

pengembangan landasan teori terutama yang terkait dengan penganggaran

sektor pemerintahan. Teori-teori tentang penganggaran konvensional dan sistem

baru yang dikenal dengan new public management sudah banyak dibahas para

ahli di beberapa literatur. Hasil penelitian ini setidaknya memberikan kontribusi


230

dengan warna tersendiri yang unik dan khas karena konsep ini disusun berbasis

siri’ na pesse atau nilai-nilai kearifan lokal.

Kontribusi teoretis yang disumbangkan dari hasil penelitian ini adalah

hadirnya konsep penganggaran siri’ na pesse. Konsep ini melengkapi konsep

dan sistem penganggaran publik yang telah ada sebelumnya yang juga pernah

eksis secara bergantian di gunakan, khususnya di Indonesia.

10.3. Unsur-Unsur Kebaruan

Berdasarkan pembahasan sebelumnya, maka terdapat beberapa unsur

kebaruan yang dihasilkan dari penelitian ini. Pertama, penganggaran siri’ na

pesse merupakan konsep yang bersifat holistik karena menganut pada

pendekatan aspek transendental, kearifan lokal, dan teknis. Konsep ini tidak

hanya melihat anggaran pada besaran angka-angka, melainkan juga pada aspek

transendental dan kearifan lokal. Konsep ini dibangun dari lima aspek, yaitu rasa

siri’ na pesse, nilai-nilai kearifan lokal, kinerja anggaran, kesejahteraan, serta

harkat dan martabat. Kelima aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang

utuh. Keberhasilan implementasi dari konsep ini jika seluruh aspek tersebut

dapat berfungsi dengan baik. Unsur kebaruan dari aspek pertama terletak pada

landasan psikologis dan operasional yang berbasis rasa siri’ na pesse dan nilai-

nilai kearifan lokal. Selama ini, penelitian terkait dengan siri’ na pesse lebih

banyak ditemui pada bidang ilmu hukum yang terkait kawin lari (Bugis: silariang)

dan kriminal (pembunuhan untuk menegakkan siri’), serta bidang sejarah dan

budaya. Siri’ na pesse yang terkait dengan penganggaran hingga saat ini belum

banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya.


231

Kedua, unsur kebaruan dari penelitian ini yang terkait dengan nilai-nilai

kearifan lokal adalah lalambate tarang tajo atau siwolong polong. Nilai ini

mengedepankan semangat yang tinggi dalam bekerja sama guna mencapai

tujuan yang telah ditetapkan. Ciri khas dari nilai ini adalah kemampuan dalam

mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki dan menyiasati keterbatasan yang

dihadapi untuk ke luar dari berbagai problematika yang dihadapi yang dalam

konteks penelitian ini terkait dengan anggaran.

Ketiga, secara operasional, makna dari penyusunan anggaran adalah

mencapai harkat dan martabat. Dalam mencapai harkat dan martabat, terlebih

dahulu anggaran yang dialokasikan ke program dan kegiatan harus

menghasilkan output dengan capaian target-target agar dinikmati masyarakat

secara luas sehingga kesejahteraan dapat dirasakan bersama. Terpenuhinya

rasa kesejahteraan berdampak terhadap lahirnya kepercayaan dan pengakuan.

Pengakuan yang lahir tersebut pada akhirnya berdampak terhadap terciptanya

harkat dan martabat, baik yang dirasakan oleh aktor secara individu, tim kerja,

maupun kepada organisasi atau institusi Pemerintah Kabupaten Luwu Timur.

Capaian harkat dan martabat inilah merupakan wujud dari upaya dalam

menegakkan siri’ na pesse yang dianggap sebagai capaian utama yang selalu

diperjuangkan untuk dapat diraih.

10.4 Keterbatasan Penelitian

Disadari bahwa penelitian yang dilakukan ini memiliki keterbatasan

terutama dalam waktu pelaksanaan penyusunan anggaran dan proses

pengumpulan data. Seperti halnya dengan dengan daerah-daerah lain di

Indonesia bahwa penyusunan anggaran di Luwu Timur telah memiliki jadwal


232

yang tetap dan tiap tahapannya hanya dilakukan sekali setahun. Hal ini menjadi

kendala karena harus menjaga momentum tahunan tersebut. Hal yang

menggembirakan saya adalah pelaksanaan penyusunan anggaran dilaksanakan

dalam beberapa hari sehingga memungkinkan memiliki kesempatan untuk

mengamati proses penyusunan dan tahapan di hari-hari berikutnya. Hal lain yang

menjadi kendala adalah kesibukan informan di lapangan karena padatnya

kegiatan yang kadang telat menginformasikan jadwal kegiatan. Jadi saya harus

menghubungi aktor berkali-kali untuk mendapatkan jadwal yang pasti.

Kendala lain adalah kesulitan untuk mewawancarai informan dalam

durasi waktu yang luang. Informan terkadang tidak memiliki waktu yang cukup

untuk diwawancarai karena padatnya jadwal dan target penyelesaiaan pekerjaan

yang telah ditentukan. Jadi kadang saya harus mewancarai secara spot-spot

dengan durasi waktu wawancara yang pendek kemudian dilanjutkan lagi di

kesempatan lain. Metode wawancara yang saya lakukan ini memungkinkan

informasi yang dibutuhkan dapat terakomodir.

Kendati demikian, walaupun persoalan kesiapan informan untuk

diwawancai menjadi satu kendala, tetapi alhamdulillah, di antara mereka ada

juga yang bersedia meluangkan waktunya yang cukup besar kepada saya. Hal

ini membuat saya mendapatkan angin segar untuk lebih leluasa mengeksplorasi

informasi yang dibutuhkan dan mengkonfirmasi informasi lapang yang saya

amati sebelumnya.

10.5 Penelitian Lanjutan

Penelitian ini menghasilkan suatu formulasi teoretis yaitu konsep

penganggaran siri’ na pesse. Konsep ini dibangun dari lima aspek yaitu rasa siri’
233

na pesse, nilai-nilai siri’ na pesse, kinerja anggaran, kesejahteraan (value

added), serta harkat dan martabat. Konsep ini merupakan hasil eksplorasi di

Luwu Timur dengan latar kultur lingkungan dan organisasi pemerintahan yang

berbeda dengan daerah pada umumnya. Namun, tidak menutup kemungkinan di

daerah lain yang memiliki korelasi dengan akar budaya dengan penelitian ini juga

dapat dijadikan objek penelitian sehingga dapat melengkapi hasil dari penelitian

ini dikemudian hari.

Saya menyadari bahwa penelitian ini tidak dapat memberikan

pembahasan yang lebih paripurna karena kompleksnya penganggaran daerah

dan keterbataan waktu yang tersdia. Memang keparipurnaan itu hanya milik

Allah SWT Tuhan Yang Maha Mengetahui, tetapi upaya ke arah mewujudkan

hasil yang paripurna menjadi harapan dan upaya bersama khususnya bagi

peneliti. Setidaknya ekspektasi itu dapat disharing kepada peneliti-peneliti yang

akan datang yang lebih jeli melihat fenomena-fenomena yang dapat memberikan

kontribusi lanjutan dari sudut pandang yang berbeda terkait konsep yang

dibangun ini dengan pendekatan yang sama atau pendekatan lainnya yang

relevan.

Mengingat bahwa kemungkinkan satu peneliti dengan peneliti yang lain

dalam situasi latar yang sama dapat memberikan analisis dan simpulan yang

berbeda. Artinya, hasil penelitian ini masih memungkinkan dibangunnya konsep

yang lebih komprehensif dari peneliti yang akan datang karena sifat dari konsep

ini tidak berbasis teknis operasional melainkan berbasis kepekaan batin. Alasan

lain, dengan menggunakan pernyataan Patton (2006) bahwa “penelitian kualitatif

bersifat subjektif yang dapat diilustrasikan sebagai seni. Dalam seni tidak ada

patokan ideal dan penilaian yang tunggal. Keindahan adalah tergantung dari
234

siapapun yang melihatnya. Oleh sebab itu prinsip universalitas sangat di

kesampingkan”. Merujuk pada pernyataan tersebut sangat memungkinkan jika

konsep pengganggaran siri’ na pesse terbuka untuk dapat disempurnakan

berdasarkan relevansi akar budaya yang mendukungnya.

DAFTAR PUSTAKA

Alkafaji, Yas Abbass. An Empirical Investigation into the Association Between


Mayaor Politico-Ssocioeconomic Factors and Accounting Practices in a
Sample of Word Countries. Ann Arbor: University Microfilms International.

Andaya, Leonard Y. 1975. The Nature of Kingship in Botne: In Precolonial State


System in South East Asia. Edited by Anthony Reid and Lance Castel.
The Council of the Malayan of Royal Asiatic Society.

Andaya, Leonard Y. 2004. Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan


Abad Ke-17. Makassar, Ininnawa.

Anggarini, Yunita dan Puranto, Hendra. 2010. Anggaran Berbasis Kinerja:


Penyusunan APBD Secara Komprehensif. Yogyakarta. UPP STIM YKPN.

Ankersmit, F.R. 1987. Refleksi Tentang Sejarah: Pendapat-pendapat Modern


Tentang Filsafat Sejarah. Terjemahan Dick Hartoko. Jakarta: Garmedia.

Anto, La Ode 2016. Akuntansi Aset Pemerintah Daerah: Pemaknaan Dalam


Perspektif Pengelola Keuangan Daerah. Disertasi. Makassar. Program
Doktor Ilmu Ekonomi Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas
Hasanuddin.

Arif, Bahtiar, Muchlis, dan Iskandar. 2009. Akuntansi Pemerintahan. Jakarta:


Akademia.

Arikunto, S. 2010. Prosedur penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. (Edisi.


Revisi). Jakarta : Rineka Cipta.

A. S. Ahmad. 2002. Andi Djemma: Pahlawan Kemerdekaan Indonesia. Dalam A.


Mattingaragau T, A. Molang Chaerul, dan Wahida, Ed. Andi Djemma
Pahlawan Nasional Dari Bumi Sawerigading. Cetakan Kedua. Hal. 97 –
112. Palopo: Andi Djemma University Press.

Babbie, Earl R. 1979. Practice of Social Research, Second Ed., Belmont,


California: Wadworth Publishing Company, Inc.
235

Bagian Hukum dan Organisasi Sekretariat Daerah Luwu Timur, 2005. Himpunan
Peraturan Daerah Luwu Timur Tahun 2005. Malili: Bagian Hukum dan
Organisasi Sekretariat Daerah Luwu Timur.

Bakri, Bala dan Amalia, Tri Handayani. 2014. Internalisasi Nilai-Nilai Siri’ na
Pesse Dalam Mengonstruksi Tujuan Bisnis. Prosiding MAMI: Jakarta.

Bastian, Indra. 2010. Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar. Edisi Ketiga.
Jakarta, Erlangga.

Belkaoui, AR. 2004. Accounting Theori. Ed 5th by Thomson Learning. Singapore:


Division TL Asia ltd.

Berger, Peter L and Neuhaus, Richard J. 1977. To Empower People: The Role of
Mediating Structures in Public Policy. Washington, American Institute for
Public Policy Resarch.

BPS Kabupaten Luwu Timur. 2008. Kaputen Luwu Timur Dalam Angka
2007/2008. Malili: Kerjasama BPS Kabupaten Luwu Timur dan Bappeda
Kabupaten Luwu Timur

BPS Kabupaten Luwu Timur. 2010. Kaputen Luwu Timur Dalam Angka 2010.
Malili: Kerjasama BPS Kabupaten Luwu Timur dan Bappeda Kabupaten
Luwu Timur

BPS Kabupaten Luwu Timur. 2011. Kaputen Luwu Timur Dalam Angka 2011.
Malili: Kerjasama BPS Kabupaten Luwu Timur dan Bappeda Kabupaten
Luwu Timur

Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif “Komunikasi, ekonomi, kebijakan


publik dan ilmu sosial lainnya. Jakarta: Kencana.

Burrell, G., dan G. Morgan. 1979. Sociological Paradigms and Organizational


Analysis. USA: Ashgate Publishing Company.

Capra, Fritjof. 1987. Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan
Kebudayaan. Yogyakarta, Jejak.

Choi, Frederick D.S. 1975. Multinational Challenges for Managerial Accountans.


Journal of Contempory Business (Autumn): 51-67.

Chua, Wai Fong. 1986. Radical Developments in Accounting Thought. The


Accounting Review. Vol. LXL Oktober 1986

Coulon, Alain. 2008. L’ethnometodologie (Etnometodologi). Penerjemah Jimmy


Ph., PAAT. Ampenan: Lengge.

Coulon, A. 2008. Etnometodologi. Cetakan Ketiga. Jakarta: Kelompok Kajian


Studi Kultural (KKSK) Jakarta dan Yayasan Lengge Mataram, Lengge.
236

Creswell, John W. 1994. Research Design: Qualitative and Quantitative


Approaches. London, New Delhi, Sage.

. 2008. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif,


dan Mixed. Edisi Ketiga. Bandung, Pustaka Pelajar.

Daeng Tapala, La Side. 1977. Pengertian Perkembangan Siri’ pada Suku Bugis.
Dalam Materi dan Kesimpulan Seminar Makalah Siri’ di Sulawesi Selatan
Tanggal 11-13 Juli 1977. Makassar, Panitia Penyelenggara Seminar
Kodak XVIII Sulselra.

Damayanti, R.A. 2010. Hubungan Keagenan Pemerintah Daerah Dalam Konteks


Anggaran: Sebuah Agenda Rekonstruksi. Disertasi. Malang: Program
Doktor Ilmu Akuntansi Universitas Brawijaya.

Dan. 2016. Intervensi Anggaran di Banten Masih Kuat, (Online),


[Link] diakses 5 Agustus 2016.

Denzin, N.K. dan Lincoln, Y.S. 1994. Handbook of Qualitative Research. London,
New Delhi, Sage.

Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Anggaran. 2009.


Anggaran Berbasis Kinerja (Bagian 1), (Online), ([Link]
[Link]/[Link]?ContentId=628). Diakses 24 Mei 2017.

Dokumen Bank Dunia. 2006. Pidato Alan Greenspan (Mantan Ketua Federeral
Reserve di muka Group Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional.
Seminar Program). Washington SC., September 1999.

Dunham, Arthur. 1965. Community Walfare Organization: Principles and


Practice. New York: Thomas Y. Crowell Co.

Enre, Fahruddin A. 1999. Ritumpangnge Walenrengnge: Sebuah Episode Sastra


Bugis Klasik Galigo. Jakarta, Yayasan Obor.

Errington, Shely. 1977. Siri’: Siri’, Darah dan Kekuasaan Politik Dalam Kerajaan
Luwu’ Zaman Dulu. Bingkisan, seri Baru, 1 (2), hal 40-62.

. 2005. Siri’, Pesse, dan Were pandangan Hidup Orang


Bugis. Dalam Siri’ dan Pesse: Harga Diri Bugis, Makassar, Mandar, dan
Toraja. Cetakan kedua. Makassar: Pustaka Refleksi.

Farid, Andi Zainal Abidin. 2005. Siri’, Pesse, dan Were’: Pandangan Hidup Orang
Bugis. Dalam Siri’ dan Pesse: Harga Diri Manusia Bugis, Makassar,
Mandar, Toraja. Makassar: Pustaka Refleksi.

Guba, E.G. 1990. The Paradigm Dialog. Newbury Park, CA: Sage.
237

Garungan, WA. 2004. Psikologi Sosial. Bandung, PT. Rafika Aditama.

Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Culture. Basic Book Inc, New York.

Halim, Abdul, dan Damayanti, Theresia. 2007. Seri Bunga Rampai Manajemen
Keuangan Daerah: Pengelolaan Keuangan Daerah. Yogyakarta: UPP
STIM YKPS.

Hamid, Abdullah 1985. Manusia Bugis Makassar: Suatu Tinjauan Historis


Terhadap Pola Tingkah Laku dan Pandangan Hidup Manusia Bugis-
Makassar. Jakarta: Inti Dayu.

Hamid, Abdullah. 2005. Kepercayaan dan Upacara dari Budaya Bugis Kuno,
Dalam Nurhayati Rahman, Anil Hukma, dan Idwar Anwar (ed) Laga Ligo:
Menelusuri Jejak Warisan Dunia. Makassar, Pusasat Studi Lagaligo Divisi
Ilmu Sosial dan Humaniora Pusat Kegiatan Penelitian Unhas.

Hamid, Abu. 2005. Siri’ Butuh Revitalisasi. Dalam Pustaka Refleksi. Siri’ dan
Pesse: Harga Diri Manusia Bugis, Makassar, Mandar, Toraja. Makassar:
Pustaka Refleksi.

.2005. Siri’ dan Etos Kerja. Dalam Siri’ dan Pesse: Harga Diri Bugis,
Makassar, Mandar, dan Toraja. Makassar: Cetakan kedua. Pustaka
Refleksi.

Hamka. 1977. Pandangan Agama Islam Terhadap Siri. Dalam materi dan
kesimpulan, Panitia Penyelenggaran.

Hendrawan, Sanerya. 2009. Spiritual Manajemen: From Personal Enlightenment


Towards God Corporate Governance. Bandung, Mizan.

Heriyanto, Husain. 2003. Paradigma Holistik Dialog Filsafat, Sains, dan


Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead. Jakarta Selatan: Teraju.

Hilnes, Ruth D. 1989. The sociopolitical paradigm in financial accounting


research. Accounting, Auditing, and Accountability Journal 2 (1): 52-76.

Hofstede, G. 1987. The Culture’s Context of Accounting: In Berry E Cushing (ed).


Accounting and Culture. Sarasota: American Accounting Association: 1-
11.

Homans, George. 1974. Social Behavior: Its Elementary Form. Rev. Ed. New
York, Harcourt Brace Jovanovic.

[Link]

Indriantoro, 2000. An Empirical Study of Locus of Control and Cultural


Dimentions as Moderating Variables of The Effect of Partici - pative
238

Budgeting on Job Performance and Job Satifaction. Jurnal Ekonomi dan


Bisnis Indonesia.

Izutsu, Toshihiko. 1993. Konsep-Konsep Etika Religius dalam Qur’an.


Teremahan. Agus Fahri Husein, A.E. Priyono, Misbah Zulfa Elisabeth,
Supriyanto Abdullah. Yogyakarta, Tiara Wacana.

JPIP. 2003. Kemajuan Berkebebasan, Kebebasan Berkemajuan. Surabaya, JP


Press.

Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu). 2017. Reformasi


Anggaran Dilatarbelakangi Dua Hal. ([Link]
diakses 3 Agustus 2017).

Lawang, MZ. Robert. 1986. Buku Materi Pokok Sistem Sosial Indonesia. Jakarta,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Universitas Terbuka.

Lutfillah, Novrida Qudsi dan Sukoharsono, Eko Ganis. 2013. Historiografi


Akuntansi Indonesia Masa Mataram Kuo (Abad VII-XI Masehi). Jurnal
Akuntansi Multiparadigma. Vol 4, No. 1. Hal 75-84.

Mahmudi. 2007. Manajemen Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta, UPP STIM


YKPN.

Mahmudi. 2010. Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Yogyakarta,


UPP STIM YKPN.

Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta. Offset Andi.

Marzuki, Laica. 1995. Bagian Kesadaran Hukum Bugis Makassar: Sebuah


Telaah Filsafat Hukum. Makassar, Hasanuddin University.

Mattata, HM. Sanudi Dg. 1967. Luwu Dalam Revolusi. Makassar, Bhakti Baru.

McCreadie, Karen. 2013. Uang Menghasilkan Uang (The Wealth of Nations: A 52


Brilliant Ideas Interpretation. Terjemahan Deasy Ekawati. Yogyakarta,
Kanisius.

Miller, Susan. 1985. Suatu Perbandingan dari Pandangan Barat dan Dari
Pandangan Bugis. Makalah Hasil Penelitian. Tamalanrea-Makassar.

Mitroff, Ian dan Elizabeth A, Delton. 1999. A Spiritual Audit of Corporate.


America, Sanfrancisco, Jossey-Bass.

Moeing, MG. 1990. Menggali Nilai-Nilai Budaya Bugis Makassar dan Sirik Na
Pacce. Makassar, Yayasan Mapress.
239

Kahar, Abdul. [Link] Konsep Sistem Pengendalian Manajemen


“Pangngadareng” Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal Siri’ dan Pesse.
Disertasi. Malang: Universitas Brawijaya.

Kern, R.A. 1989. I La Galigo. Yogyakarta Gadja Mada University Press.

Lopa, Baharuddin. 1988. Reaktualisasi Budaya Siri’ Dalam Proses Modernitas.


Dalam Makala Temu Budaya Daerah Ssulawesi Selatan. Ujung Pandang.
Panitia Pelaksana Temu Budaya Daerah Sulawesi Selatan.

Lopa, Baharuddin. 2005. Siri Dalam Masyarakat Mandar. Dalam Siri’ dan Pesse:
Harga Diri Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Cetakan kedua.
Makassar, Pustaka Refleksi.
.
Madjid, Noor Cholis dan Ashari, Hasan. 2013. Analisis Implementasi Anggaran
Berbasis Kinerja: Studi Kasus Pada Badan Pendidikan dan Pelatihan
Keuangan. Jakarta: Kementerian Keuangan Republik Indonesia Badan
Pendidikan dan Peltihan.

Mahzar. 1983. Integralisme. Bandung: Penerbit Pustaka Perpustakaan Salman


ITB.

Mannahao, Mustari Idris. 2010. The Secret of Siri’ na Pesse. Makassar, Pustaka
Refleksi.

Mattata, Sanusi Daeng. 1967. Luwu Dalam Revolusi. Makassa: Karya Bhakti

Mattulada. 1995. Latoa: Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang
Bugis. Ujung Pandang. Hasanuddin University Press.

Mattulada. 2005. Siri’ Dalam Masyarakat Makassar. Dalam Siri’ dan Pesse:
Harga Diri Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Cetakan kedua.
Makassar, Pustaka Refleksi.

Moeng Mg, Andi. 1990. Mengenali Nilai-Nilai Budaya Bugis Makassar dan Siri’
na Pesse. Makassar, Yayasan Mapres.

Moleong, Lexy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung, PT Remaja


Rosdakarya.

Morgan at al. 1979. Introduction to psychology. Sixth edition. Kogakusha, Tokyo:


McGraw-Hill.

Moslow, Abhaman H. 1966. Motivation and Personality. New York-USA, Sage


Publication Inc.

Muhadjir, Noeng, 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi IV. Yogyakarta:


Rake Sarasin.
240

Mulyana Deddy. 2003. Ilmu Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Deddy, 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Nasution, Anwar. 2009. Perbaikan Pengelolaan Keuangan Negara Dalam Era


Reformasi, (Online), ([Link]
04/[Link]), diakses 22 Juli 2017.

Nasution, Mulia P. 2001. Kesempurnaan Pengelolaan Keuangan Negara. Media


Keuangan, Agustus 2001 ([Link] Diakses 3
Agustus 2017

Natsir, Yurnadi. 2008. Evaluasi Anggaran Berbasis Kinerja. Modus Aceh.

Newman, W. L. 1997. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative


Approaches in Social Works. New York: Columbia University.

Pasoloran, Oktavianus 2016. Narsisme Dana Aspirasi Masyarakat Dalam


Penganggaran Daerah: Studi Interpretif-Kritis Dengan Kajian Etno-
Semiotika. Disertasi. Makassar. Program Doktor Ilmu Ekonomi Fakultas
Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin.

Parera, M.H.B. 1989. Towards a Framework to Analyze the Impact of Culture on


Accounting. The International Journal of Accounting 24 (1):42-56

Patton, Michel Quinn. 2002. Quantitative Research and Evaluation Methods.


USA, Sage Publication Inc.

Pawiloy, Sarita. 2002. Ringkasan Sejarah Luwu: Bumi Sawerigading Tana Luwu
Mappatuwo. Makassar, CV. Telaga Zamzam

Pawito. (2007). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: Pelangi Aksara


Yogyakarta.

Pelras, Christian. 1995. Les Bugis et la Modernite: Perspective Indonesiennes.


Paris, L’Ambassade de la Republique d’Indonesie en France.

. 2006. The Bugis. Penerjemah Abdul Rahman Abu, Hasriadi,


dan Nurhadi Sirimorok. Jakarta: Nalar.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 Tentang Pengelolaan


Keuangan Daerah.

Peraturan Pemerintah No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan


Daerah.

Peraturan Pemerintah No.105 tahun 2000 tentang Pengelolaan dan


Pertanggungjawaban Keuangan Daerah
241

Poli, W.I.M. 2010. Tonggak-Tonggak Sejarah Pemikiran Ekonomi. Surabaya,


Brilian Internasional.

Prabowo, Tri Jatmiko Wahyu, Leung, Philomen, dan Guthie, James. 2017.
Reformis in Publik Sector Accounting and Budgeting in Indonesia (2003-
2015): Confusion in Implementation. Journal of Public Budgeting,
Accounting, & Financial Management, 29 (1):104-137.

Putra, Heddy Shri Ahimsa. 2008. Paradigma dan Revolusi Ilmu Dalam
Aantropologi Budaya: Sketsa Beberapa Episode. Pidato Pengukuhan
Jabatan Guru Besar Pada Fakualtas Budaya Universitas Gajah Mada.
Yogyakarta.

Rahajeng, Anggi. 2016. Perencanaan Penganggaran Keuangan Daerah.


Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

Rahim, Abdul. 2012. Pappaseng: Wujud Idea Budaya Bugis-Makassar.


Makassar, Bidang Kesejarahan dan Keperbukalaan Dinas Kebudayaan
dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan.

Rahman, Mas’ud Darmawan. 2002. Andi Djemma: Pahlawan Kemerdekaan


Indonesia. Dalam A. Mattingaragau T, A. Molang Chaerul, dan Wahida,
Ed. Andi Djemma Pahlawan Nasional Dari Bumi Sawerigading. Cetakan
Kedua. Hal. 97 – 112. Palopo: Andi Djemma University Press.

Rappaport, J. 1984. Studies Participation in Development Project. New York:


world Bank.

Ritzer, George .2004. Sosiologi Pengetahuan Berparadigma Ganda. Terjemahan


Alimandan. Cetakan ke-5. Jakarta: Rajawali Press.

Ritzer, G dan Goodman Douglas J. 2005. Teori Sosiologi [Link]


Alimandan. Jakarta, Prenada Media.

Ritzer, G. 2014. Teori Sosiologi Modern. Terjemahan Triwibowo B.S. Edisi


Ketujuh. Jakarta, Kencana.

Rosenau, Pauline. Marie. 1992. Post Modernism and The Social Science:
Insight, Inroads, Instrusion. West Sussex, Pricenton University Press.

Said, Mashadi. 2003. Toddopuli Temmalara’: Jendela dengan Kaca yang Bening
Tentang Manusia Luwu. Disajikan pada Festival Lagaligodan Seminar
Internasional Sawerigading di Masamba, Luwu Utara Sulawesi Selatan
Indonesia 10-14 Desember 2003.

Saeno. 2016. KPK: Intervensi Anggaran di Aceh Masih Kuat, (Online),


[Link] diakses 5 Agustus 2016).
242

Salim, Agus. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: [Link]
Wacana.

Santrock, J. W. 2010. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Kencana.

Sartini. Menggali Kearifan Lokal Nusantara: Sebuah Kajian Filsafat. Jurnal


Filsafat, Agustus 2004, Jilid 37, Nomor 2.

Schreuder, Hein. 1987. Accounting Research, Practice and Culture: A European


Perspective , in Barry E. Cushing (ed). Accounting and Culture. Sarasota,
FL: American Accounting Association: 12-22.

Seabrook, Jeremy.2004. Localization Culture, dalam http;//globalpolicy.


22/08/2004.

Suartana, I Wayan. 2010. Akuntansi Keprilakuan: Teori dan Implementasi.


Yogyakarta: Offset Andi.

Subiantoro, Eko B. dan Triyuwono, Iwan 2004. Laba Humanis: Tafsir Sosial atas
Konsep Laba Dengan Pendekatan Hermeneutika. Malang, PPBEI-FE
Unibraw.

Suseno, Franz Magnis. 1997. 13 Tokoh Etika: Sejak Zaman Yunani sampai Abad
ke-19. Yogyakarta, Kanisius.

Suseno, Franz Magnis. 2013. Dalam Bayang-Bayang Lenin: Enam Pemikiran


Marxisme dari Lenin Sampai Tan Malaka. Jakarta, PT. Gramedia Pustaka
Utama.

Suseno, Franz Magnis. 2016. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialise Utopis ke
Perselisiha Revisionisme. Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama.

Suwarjuwono, T. 1998. Bahasa Akuntansi Dalam Praktik: Sebuah Critical


Accounting Studi. Jurnal Tema 6 (2).

Syarifuddin. 2009. Keeputusan Akuntansi Anggaran: Aksentuasi Drama Politik


dan Kekuasaan. Disertasi. Malang: Program Doktor Ilmu Akuntansi
Universitas Brawijaya.

Tafsir, Ahmad. 2008. Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra.
Bandung, Rosda.

Tenrigau, Andi Mattingaragau, dkk. 2002. Kecerdasan Siri’ Sebagai Moral Force
Perjuangan Andi Djemma; Refleksi Atas Penganugerahan Andi Djemma
Sebagai Pahlawan Nasional. Dalam A. Mattingaragau, A. Molang
Chaerul, dan Wahida (Editor). Andi Djemma Pahlawan Nasional Dari
Bumi Sawerigading. Palopo: Andi Djemma University Press.
243

Tenrigau, Andi Mattingaragau. 2007. Andi Tenriadjeng: Berjuang Demi Negara


dan Agama, Di Balik Peristiwa 23 Januari 1946 dan Hubungannya
dengan Abdul Qahhar Mudzakkar. Palopo: Andi Djemma University
Press.

Tenrigau, Andi Mattingaragau, Chaerul, Andi Molang, dan Tenrigau, Andi Azis.
2016. Baebunta Dalam Kerajaan Luwu. Cilallang, Yayasan Andi
Pandangai.

Tenrigau, Andi Mattingaragau. 2017. Pesse na Siri’ Budgetary System: A


Historiography Study of Luwu Kingdom in Islamic Period. Journal of
Research in Humanities and Social Science. 58-65.

Tim Fipo. 2009. Menggalai Potensi Menumbuhkan Inovasi: Pemaparan Hasil


Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Otonomi Daerah Terhadap Kinerja
Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan. Makassar: Fipo.

Triyuwono, Iwan. 2000. Organisasi dan Akuntansi Syari’ah. Yogyakarta: LKiS.

Triyuwono, Iwan. 2006. Perspektif, Metodologi dan Teori Akuntansi Syariah.


Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Undang-Undang No.17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Undang-Undang No.25 tahun 2003 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan


Nasional.

Undang-Undang No. 1 tahun 2004 tentang Perbendahraan Negara.

Undang-Undang No 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan


Nasional

Wildavsky. Aoron dan Caiden, Naomi. 2004. The New Politics of the Budgetary
Process. 5th ed. United State: Pearson Education (Inc.)

Wirawan, IB. 2013. Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma: (Fakta Sosial,
Definisi Sosial, dan Perilaku Sosial). Jakarta: Kencana.

Yin, Robert K. (1994). Case Study Research: Design and Methods. Thousand
Oaks, Sage Publications.

Zastrow, Charles. 2000. Introduction to Social Work and Social Welfare. United
States: Brooks Cole.
244

Lampiran 1

Manuskrip Hasil Wawancara Pihak TAPD

Informan H. Sahidin Halun


Jabatan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), Asisten
Pemerintahan Setdakab Luwu Timur
Tanggal/Waktu 29 Mei 2015/Pukul 10:08
Topik Penganggaran berbasis siri’ na pesse
Lokasi/Situasi/Latar Wawancara dilakukan di ruang kerja Asisten Satu dalam
Wawancara situasi tenang dan didampingi seseorang dari unsur
pemerintahan walaupun kebersamaan tidak sampai pada
akhir pembicaraan. Saya diterima dengan baik setelah
sebelumnya membuat janji.
Peneliti Menurut Anda bagaimanakah eksistensi kearifan lokal
siri’ na pesse di Kabupaten Luwu Timur sekarang ini?
H. Sahidin Halun Ya, siri’ na pesse masih ada dan masih dipraktikkan di
Pemerintahan Luwu Timur, terutama sifat sipakatau yang
dalam praktiknya pada level eksekutif dan legislatif
secara normatif. Dalam konteks sipakatau, siri’ na pesse
dapat diartikan tidak ada unsur semena-mena
didalamnya. Yang dikemukakan legislatif dan eksekutif
masing-masing mempunyai fungsi. Kalatakanlah Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) memiliki fungsi
pengawasan terhadap kelangsungan pemerintahan. Jadi
mereka (DPRD) tidak boleh semena-mena (terhadap
eksekutif), begitu pun sebaliknya dengan pihak eksekutif.
Disitulah bagaimana cara keduanya bertindak secara
lurus. Ya, dibutuhkan getteng bagi pihak legislatif (untuk
menjalankan tugasnya) mengawasi pihak legislatif.
Peneliti Pengawasan terkait penyusunan anggaran?
H. Sahidin Halun Ya, baik dalam penyusunan anggaran maupun dalam
implementasinya. Kita (eksekutif) menyusun anggaran
untuk selanjutnya dinilai oleh mereka (DPRD).
Pengawasan memang wajar dilakukan karena terkait
dengan anggaran dan anggaran itu dibutuhkan
masyarakat. Di dalam pelaksanaannya nanti, kami
eksekutif harus berpatokan dengan itu, supaya anggaran
yang disusun bisa kena sasaran. Dengan demikian tidak
ada diantara kita nanti ini yang saling menyalahkan, wah
ini pemerintah seenaknya saja menganggarkan. Selain
itu, pihak DPRD juga merupakan bagian dari
penganggaran karena pada akhirnya kalau muncul
masalah, bukan hanya eksekutif tapi legislatif juga terlibat
didalamnya.
Peneliti Jadi siri’ adalah rasa malu dan pesse adalah empati
merasakan penderitaan orang banyak. Apakah itu
dianggap kekuatan moral dalam bertindak? Karena
245

manusia itu pada dasarnya sadar untuk bertindak. Jadi,


apakah siri’ na pesse ada pada tataran tindakan atau
merupakan pemicu dalam diri manusia untuk melakukan
tongeng, getteng, lempu dan adele’.
H. Sahidin Halun Saya kira kedua-duanya. Inikan juga komitmen siri’ na
pesse dalam artian sebenarnya bahwa kita harus
berpatokan pada prinsip atau nilai-nilai siri’ na pesse
tersebut kemudian bagaimana mengap-likasikan dan
mempertanggung-jawabkannya. Keduanya saling
berhubungan, saya kira di situ. Tidak hanya dalam
tataran bahwa kita ucapkan tapi betul-betul kita harus
lakukan. Katakanlah jika kita bawa ke anggaran, ketika
kita sudah anggarankan dalam jumlah tertentu, maka ya
itu juga harus kita aplikasikan.
Peneliti Jadi siri’ na pesse juga merupakan semacam pemicu?
H. Sahidin Halun Nah, saya kira sependapat dengan itu. Siri’ na pesse
adalah pemicu kemudian dalam melak-sanakannya juga
ada dasarnya. Kita harus berpegang pada apa yang telah
kita komitmenkan. Berkomitmen bahwa apa yang kita
canangkan, katakanlah menyusun anggaran, maka itu
harus kita laksanakan, tidak boleh ada penyelewengan
didalamnya supaya anggaran itu kena sasaran.
Peneliti Jika siri’ dan pesse dianggap sebagai pemicu melakukan
sesuatu berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal misalnya
tongeng, getteng, lempu, dan adele’, jika saya bisa
gambarkan, mohon dikoreksi jika apa yang bapak pahami
ini keliru. Misalnya ini inti, yaitu siri’ na pesse, kemudian
diluar lingkaran ini (siri’ na pesse) muncul nilai-nilai
tongeng, getteng, lempu’, dan adele’ dan nilai-nilai
pendukung lainnya. Jadi ini inti yang mendorong manusia
untuk melakukan nilai-nilai tersebut?
H. Sahidin Halun Benar, bahwa yang kita maksudkan inti di sini adalah siri’
na pesse. Nilai-nilai siri’ na pesse harus kita aplikasikan
secara lurus supaya dapat dibertanggungjawabkan.
Selanjutnya, unsur-unsur yang terdapat di lingkaran
kedua adalah nilai-nilai yang dipicu dari lingkaran inti
yaitu siri’ na pesse. Persoalannya apakah betul siri’ na
pesse masih kita pegang teguh dan mengaplikasikannya.
Menurut saya, kita di sini (Luwu Timur) apakah itu dalam
aktifitas pemerintahan atau aktivitas sosial lainnya, itu
tetap kita pegang. Siri’ na pesse adalah ajaran leluhur
kita. Selama ini orang beranggapan jika siri’ na pesse
lebih dominan dilakukan di Bugis dan Makassar, padahal
kita juga di Luwu Timur lebih kental di sini.
Peneliti Bagaimana Anda memahami dan melihat dalam
implementasinya terkait dengan tongeng, getteng,
lempu’, adele’, dan nilai-nilai lain dalam tataran
penganggaran?
H. Sahidin Halun Jika kita bicara tentang penyusunan anggaran, awalnya
itu dimulai dari aspirasi, musrenbang. Nah dari
musrenbang itu mulai dari tingkat desa sampai ketingkat
246

kabupaten bahkan nasional. Karena kita ini hanya


membatasi pada tingkat kabupaten saja, nah jika dimulai
dari musrenbang tingkat desa dulu, itu artinya bahwa kita
betul-betul membutuhkan kejujuran itu dari bawah.
Katakanlah ada suatu objek pembangunan yang
diusulkan untuk dianggarkan di musrenbang. Ketika
sampai di ditingkat kabupaten, kita betul-betul
mengapresiasi usulan itu. Itu wujud dari aplikasi nilai-nilai
siri’ na pesse dalam penganggaran.
Peneliti Jadi betul-betul yang dibutuhkan oleh masyarakat, bukan
yang diinginkan?
H. Sahidin Halun Ya, yang dibutuhkan. Jadi yang idealnya itu adalah yang
dibutuhkan bukan yang diinginkan. Di situlah kejujuran
dan konsistensi atau getteng.
Peneliti Selain kejujuran, di mana posisi getteng, lempu’, dan
adele’? Misalnya getteng, apakah dalam penyusunan
anggaran itu, dikatakan getteng ketika, misalnya
konsisten dengan anggaran yang telah ditetapkan
terbebas dari intervensi?
H. Sahidin Halun Ya, betul, kita harus konsisten. Cuma terkadang dalam
perjalanannya bukan hanya aspirasi tapi juga kadang-
kadang disitu masuk masalah kebijakan pemerintah.
Penyusunan anggaran ini selain dari musrenbang juga
ada unsur kebijakan di dalamnya.
Peneliti Bersifat bottom up dan top down?
H. Sahidin Halun Ya, begitu. Karena kebetulan juga ada yang mendesak
sesuai dengan kebutuhan pemerintah yang tidak diajukan
oleh masyarakat. Jadi ada pertemuan antara keduanya.
Nah jadi konsistensi ini adalah sesuai dengan kebutuhan.
Tapi ada juga benang merahnya bahwa kebutuhan itu
bukan saja aspirasi dari bawah tapi juga dari pemerintah,
oleh sebab itu muncullah kebijakan.
Peneliti Jadi turut merasakan, artinya pemerintah juga harus lebih
peka?
H. Sahidin Halun Ya, pemerintah turut merasakan, kepedulian, atau
perhatian. Jika kita mau bawa ke bahasa siri’ na pesse,
maka di sini terjalin hubungan kebatinan, yaitu antara
pemerintah dan masyarakat. Inilah yang dikatakan pesse.
Peneliti Turut merasakan penderitaan masyarakat?
H. Sahidin Halun Ya, begitu.
Peneliti Kemudian, tongeng atau benar. Dimana bisa diwujudkan
itu? Apakah bisa diwujudkan dengan melakukan aturan-
aturan yang berlaku?
H. Sahidin Halun Saya kira betul, benar (tongeng) itu adalah aturan. Nah
apakah aturan itu benar-benar kita laksanakan. Nah
disinilah peranan tongeng, konsistensi, dan komitmen.
Peneliti Apakah gettteng juga berada di situ?
247

H. Sahidin Halun Ya, itu juga adalah getteng.


Peneliti Kita ke getteng, seberapa pessenya pemerintah
mengalokasikan anggarannya kepada masyarakat dan
keberpihakannya kepada masyarakat. Saya ingat dulu
ada program pemerintah tentang Desa Mengepung Kota.
Apakah ini bentuk dari pesse, bahwa anggaran itu
difokuskan kepada desa?
H. Sahidin Halun Saya kira itu bukan pesse. Itu realita. Pesse di sini
muncul jika terjadi ketimpangan-ketimpangan. Misalnya
saja, desa itu tidak semua memiliki potensi yang sama.
Pesse itu muncul ketika kita melihat kondisi yang
memang tidak selayaknya. Muncullah pesse. Hal ini tidak
bisa dibiarkan begitu saja.
Peneliti Selama ini anggaran yang Anda lihat terkait dengan
pesse bagaimana? Apakah dalam bentuk bedah rumah
atau pengentasan kemiskinan misalnya?
H. Sahidin Halun Ya, pengentasan kemiskinan dalam artian luas, bedah
rumah dan bantuan-bantuan stimulan, bantuan-bantuan
sosial, apalagi jika sudah jelas-jelas mereka itu terkena
bencana, saya kira di situ ada rasa keperihatinan.
Peneliti Jadi bukan prosentase anggaran kepada masyarakat?
H. Sahidin Halun Ya, betul. Kalau prosentase anggaran itu kan sekali lagi
itu realita. Toh jika ada daerah kita angkat jumlah
anggarannya, memang itu barangkali sesuai dengan
kebutuhan. Tapi tidak tertutup kemungkinan di situ ada
pesse.
Peneliti Nah kembali lagi. getteng itu ketegasan dan konsistensi.
Adakah nilai-nilai yang dibangun dalam getteng itu?
H. Sahidin Halun Konsistensi, apa yang sudah direncanakan, apa yang
telah di komitmenkan itu harus dilaksanakan, tidak
berubah. Kita janjian misalnya, jam sekian kita sepakat,
itu harus kita lakukan. Menepati janji, menjalankan apa
yang telah kita ungkapkan, melaksanakan apa yang
sudah kita janjikan sama orang.
Peneliti Nilai-nilai apa yang Anda lihat dalan penyusunan
anggaran? Terkadang kita melakukan sesuatu dengan
sadar, tetapi kita tidak sadar bahwa apa yang kita
lakukan itu adalah nilai-nilai dari siri’ na pesse. Tapi bagi
orang lain yang melihat kita akan berpendapat bahwa
yang bersangkutan itu jujur, lempu, adil, dan getteng.
H. Sahidin Halun Ada, misalnya kita anggarkan sekian, ya kita laksanakan
tanpa ada penyelewengan di dalamnya.
Peneliti Benarkah dalam penyusunan anggaran ada intervensi
politik, intervensi golongan, intervensi pribadi?
H. Sahidin Halun Kita tidak bisa pungkiri bahwa kadang-kadang ada
intervensi, tapi prosentasinya saya kira kecil. Kejujuran itu
memang dibutuhkan di sini. Ya, intervensi itu, sekali lagi
tidak bisa dipungkiri kadang-kadang ada tapi mungkin
248

juga intervensi yang masuk itu mungkin karena ada


pertimbangan-pertimbangan. Katakanlah intervensi
politik, misalnya pada saat dia kampanye dulu dia
janjikan bahwa saya akan bangun jembatan di sini.
Padahal ini lain, kita ini menilai bahwa sebenarnya
pembangunan jembatan belum urgen karena jembatan
itu masih dapat digunakan, tapi karena desakan politik,
ya sudah, di atur aja. Seperti itu misalnya.
Peneliti Saya kembali lagi, bahwa siri’ na pesse ini adalah
pemicu, dasar, dan landasan dalam melakukan sesuatu.
Jadi ini kontekstual. Nah, dalam penyusunan anggaran,
aktor penyusun anggaran memaknai nilai-nilai siri’ na
pesse itu, misalnya tadi kita telah membahas tentang
lempu’ misalnya dalam musrenbang bagaimana
mengajukan program yang memang di butuhkan,
kemudian tongeng yaitu penyusunan anggaran dilakukan
secara benar, berdasarkan aturan-aturan yang berlaku,
demikian juga getteng adalah konsistensi, menepati janji
kepada masyarakat bahwa apa yang mereka ajukan itu
kita akomodir berdasarkan kebutuhan dan prioritas?
H. Sahidin Halun Saya kira begitu, bahwa dalam tatanan aplikasi itu dari
apa yang kita rencanakan apakah itu betul-betul
diaplikasikan dan konsisten dilaksanakan. Nah disini ada
nilai kejujuran. Apa bila nilai kejujuran ditonjolkan di situ,
katakan suatu kegiatan atau proyek, maka apakah
anggaran yang direncanakan itu betul-betul tidak
diselewengkan, atau bangunan apakah sesuai dengan
kualitas yang diinginkan. Nah disini mental yang bicara
Peneliti Kemudian bentuk adele’ di mana?
H. Sahidin Halun Adele’ berarti mana kala yang kita berikan itu betul-betul
dia butuh. Saya kira keadilan di situ. Menempatkan
secara proporsional. Presiden Soeharto dulu sering
katakan bahwa melakukan sesuatu secara proporsional,
bahwa yang adil itu bukan berarti rata tapi yang dimaksud
adil itu adalah yang proporsional. Nah mengapa
anggaran tidak merata di setiap kecamatan, karena faktor
keadilan. Secara filosofis itulah semua yang dimaksud
siri’ na pesse.
Peneliti Kemudian, nilai-nilai kearifan lokal apa yang paling
menonjol yang diterapkan bupati dalam melaksanakan
pembangunan?
H. Sahidin Halun Saya bersama-sama bupati selama 12 tahun di mana
beliau menahkodai daerah ini, adalah keinginannya untuk
kepentingan masyarakat. Jadi masyarakat yang
diutamakan. Makanya kita lihat pembangunan yang
dimulai sejak dulu di Luwu Timur, yaitu membangun dari
desa dulu lalu ke kota. Makanya ada itu program Desa
Mengepung Kota, yang mendapat penghargaan dari
FIPO Fajar. Itu wujud komitmen membangun daerah ini.
Peneliti Jika dihubungkan siri’ na pesse di mana posisinya,
249

apakah itu kolaborasi kedua-duanya?


H. Sahidin Halun saya kira itu kolaborasi, karena merasa malu. Siri’ itu
merupakan motivasi untuk mengejar ketertinggalan atau
ketimpangan-ketimpangan sosial. Oleh sebab itu, dana
itu harus dipicu betul dan diwujudkan dalam
penganggarandan dibuat betul-betul untuk bisa dinikmati
oleh masyarakat dan itu sekarang sudah nyata. Karena
memang niat dan komitmennya itu adalah mengangkat
harkat dan martabat Luwu Timur. Artinya kita ini bergerak
kalau ada pemicunya, karena ada motivasi awal yaitu siri’
na pesse, sehingga ini terkait dengan harga diri. Martabat
itu dijunjung tinggi karena bukan di buat-buat atau bukan
untuk mendapatkan pengakuan dari mana, tapi betul-
betul nawaitunya yang muncul dari dalam.
Peneliti Bagaimana dengan ketegasan beliau?
H. Sahidin Halun Apalagi kalau soal ketegasan. Dulu itu ada istilah, dia itu
lari seribu kami ini pembantunya lari seratus. Begitu
perhatian dan kepeduliannya, kadang-kadang, waktu itu
saya masih kepala dinas pendidikan, misalnya dalam
perjalannya ke luar Luwu Timur, katakanlah ketika sudah
memasuki wilayah Luwu Timur, kadang-kadang dia
menelpon. Kenapa itu sekolahmu begitu, kenapa itu
jembatanmu, kenapa ini, kenapa itu?. Begitu perhatian
dan kepeduliannya terhadap daerah ini. Saya 12 tahun di
sini tidak pernah saya dengar dari mulutnya mengatakan
bagus itu kalau kita cari lahan untuk buat vila. Itu tidak
pernah saya dengar. Itulah semua wujud dari nilai
kejujuran. Bukan di puji-puji karena sesuatu, tidak. Saya
betul-betul, banyak mengadopsi gayanya. Nilai-nilai
ketegasannya juga, beliau tidak segan-segan menegur
kita. Apa yang ada dalam dirinya itu tidak ada kata-kata
kiasan. Dia sampaikan. Dia itu betul-betul menilai Kami
berdasarkan kinerja dari bawahannya.
Peneliti Beliau itu ingin melihat perubahan-perubahan
H. Sahidin Halun Dia kan selalu bilang, saya kan lahir di sini, dan insya
Allah saya mati di sini, makanya saya mau membangun
daerah ini. Betul-betul tinggi harga dirinya untuk
mengangkat daerahnya.
Peneliti Ketika saya mengelilingi kota, saya melihat banyak
perubahan, bersih, asri, dan unit bisnis muncul. Kini
sudah ramai.
H. Sahidin Halun Itulah cita-cita kita semua di sini yang di picu beliau.
Paradigma kami di pemerintahan melayani bukan lagi di
layani.
Peneliti Apakah dengan begitu, terkait pengelolaan keuangan
daerah berbuah WTP?
H. Sahidin Halun Nah itu semuanya buah dari siri’. Bukan pacce di situ tapi
siri’nya.
Peneliti Itukan penilaian dari BPK/BPKP, tentang pengelolaan
250

keuangan bagaimana?
H. Sahidin Halun Nah itu semua yang dinilai, apa pernah anggaran itu
direncanakan, sudah sesuaikah perencanaan tersebut
atau tidak, apa benar tidak ada penyelewengan
didalamnya, apa benar yang dianggarkan ini sesuai
dengan realisasi, dan yang terpenting apa benar
anggaran itu kena sasaran. Kalau dulu kan pemeriksaan
itu tidak disentuh ke perencanaan. Sekarang sudah
masuk. Bukan cuma administrasi keuangan saja yang
dilihat. Sesuaikah dengan sistem akuntansi pemerintahan
atau tidak? Sekarang pemeriksa sudah membuka
RPJMP, RPJMD, dan renja. Intinya semua proses
penyusunan anggaran dilihat. Semua itu mereka buka.
Apakah semuanya telah sesuai atau tidak. Semuanya dia
periksa, luar biasa. Kalau kita tidak benar, kan malu.
Misalnya pencatatan-pencatatan aset apakah sudah
benar. Saya kira semua itulah yang ada benang
merahnya dengan siri’ na pesse.
Peneliti Jadi saya lanjutkan lagi. Lalu di lingkaran berikutnya?
H. Sahidin Halun Setelah itu lingkaran ketiga adalah unsur kinerja.
Peneliti Karena niat yang baik didorong oleh nilai-nilai siri’ na
pesse dalam proses implementasi untuk melahirkan
output dan impact.
H. Sahidin Halun Output dan impact berarti di situ ada nilai tambah atau
value added yaitu kesejahteraan. Kalau tidak ada nilai
tambah, jadi apa yang kita kerja itu sia-sia, ya tentu kita
merasa malu (masiri’). Misalnya memprogramkan
pembangunan ekonomi, tapi apa yang kita kerjakan itu
ternyata manfaatnya tidak ada sementara anggaran telah
dikucurkan sedemikian besar, akhirnya malu juga.
Peneliti Masih adakah tataran di luar kinerja ini?
H. Sahidin Halun Tataran diluar kinerja adalah value added dan harkat dan
martabat yang berada dilingkaran paling luar pada
gambar tersebut. Jadi pola pikir dari lingkaran itu. Pola
pikir seperti itu arti substansinya ada, proses
perjalanannya ada, dan mudah kita jelaskan. Siri’ na
pesse adalah pengungkit. Semua proses-proses yang
dijalani kalau menurut saya, sudah begitu karena
semuanya telah terkover di lingkaran itu. Ada output dan
impactnya. Kalau harkat dan martabat itu berarti
pengakuan. Pengakuan halayak itu adalah martabat dan
itulah unsur terakhir bahwa dengan adanya ini semua
memunculkan pengakuan publik dan pengakuan
pemerintah, dibuktikan dengan adanya apresiasi dari
pemerintah pusat dan pemerintah propinsi seperti
penghargaan-penghargaan misalnya WTP dan
penghargaan lainnya. Kenapa mereka mengakui karena
kita punya harga, kita dipercaya. Orang tidak mungkin
memberikan pengakuan kepada kita jika tidak ada
kepercayaan. Kepercayaan dari sudut pandang
anggaran, yaitu kita mampu melakukan penganggaran
251

berbasis siri’ na pesse atau berbasis kearifan lokal. Nah


inilah hasilnya, mendapatkan pengakuan, baik secara
institusional maupun secara publis.
Peneliti Apa modal utama dalam bekerja?
H. Sahidin Halun Keiklasan modal utama kita bekerja. Kita tidak
mendapatkan hasil jika kita tidak ikhlas. Pesan orang-
orang tua yang bijak, bahwa apapun yang kita kerjakan
kita harus ikhlas dulu. Niatnya harus ikhlas karena di
dalam ajaran agama juga kita diajarkan berbuat ikhlas.
Ajaran adat istiadat, sosial, juga kita diajarkan begitu.
252

Lampiran 2

Manuskrip Hasil Wawancara Dengan Pihak Dinas Koperindag


Informan Ir. H. Zakaria Bakri, [Link].
Jabatan Kepala Dinas Koperindag Luwu Timur
Tanggal/Waktu 29 Mei 2015/Pukul 10:08
Topik Penganggaran Berbasis Spiritualitas
Lokasi/Situasi/Latar Wawancara dilakukan di ruang kerja Kepala Dinas
Wawancara Koperindag. Wawancara dilakukan dalam situasi tenang
tanpa ada orang lain yang berada dalam ruangan. Saya
diterima dengan baik setelah sebelumnya membuat janji
untuk melakukan wawancara.
Peneliti Dari hasil wawancara sebelumnya dengan beberapa
informan bahwa nilai-nilai siri’ na pesse di Pemerintah
Kabupaten Luwu Timur masih di anut, baik dalam jajaran
pejabat maupun jajaran pegawai walaupun tidak secara
formal tekstual. Bagaimana pendapat Anda dan apakah
nilai-nilai siri’ na pesse itu dapat juga diimplementasikan
dalam pengan-ggaran daerah.
H. Zakaria Bakri Penganggaran yang berkorelasi dengan tanggung jawab
mungkin ada. Artinya tanggung jawab itu kan sekarang
orang artikan secara pendek, katakanlah kalau saya
hubungkan nanti dengan tanggung jawab saya sebagai
pejabat, maka tentu saya harus bertanggung jawab
kepada atasan saya yang walaupun pada akhirnya saya
juga harus bertanggung jawab kepada masyarakat. Saya
kira jika masih sebatas tanggung jawab itu, belum
menyangkut spiritualitas tetapi hanya menyangkut moral
saja. Tapi spiritualitas dengan moral hampir berdekatan.
Nanti dia masuk ke tataran spiritualitas kalau orang
sudah beranggapan bahwa pada hakekatnya tanggung
jawab ini intinya satu saja yaitu pada Tuhan (Allah) dan
itu berkaitan dengan bagaimana nanti dengan kehidupan
manusia. Kalau itu (penganggaran) sudah merasuk pada
pandangan atau pikiran maka itu baru dikatakan
penganggaran berbasis spiritualitas.
Peneliti Jadi penyusunan anggaran itu pertanggungjawa-bannya
terletak pada prinsip?
H. Zakaria Bakri Ya, pertanggungjawaban itu ada pada bagaimana
sampai pada pertanggungjawaban akhir.
Peneliti Bukan cuma dalam konteks yaitu pandangan atau
pikiran?
H. Zakaria Bakri Tidak, pertanggungjawaban secara konteks berarti saya
masih bisa bertanggung jawab kepada bupati atau
kepada masyarakat. Itu masih bisa kita kelabui.
Penganggaran secara konteks takarannya di moral saja,
belum masuk kepada inti spiritual.
253

Peneliti Jadi spiritual ini adalah tanggungjawab kepada Allah


SWT?
H. Zakaria Bakri Ya, kalau saya berpandangan begitu. Secara pribadi
tentu. Kalau saya tanggung jawab kepada Allah SWT dan
itu baru kita rasakan nanti, kita lihat dan kita alami ketika
hidup sesudah mati.
Peneliti Dalam implementasinya, pertanggungjawaban terletak
pada bagaimana bertanggung jawab kepada Tuhan?
H. Zakaria Bakri Kalau spiritualitas yang kita mau bahas seharusnya
seperti itu. Walaupun spiritualitas juga bisa pada aspek
lain. Kalau saya pandangannya seperti itu. Jadi, memang
pemikirannya itu jangka waktu yang jauh ke depan. Pada
dasarnya belum bisa kita bayangkan bagaimana.
Peneliti Jadi apakah ada dampak ketika kita berspiritualitas
terhadap kerja kita, misalnya dalam penyusunan
anggaran menghadapi tahun berikutnya?
H. Zakaria Bakri Sangat, sangat berpengaruh. Karena tentu kita berpikir,
sebenarnya kalau kita mau lihat orang yang
bertanggungjawab itu, lihat dulu bagaimana ia
bertanggungjawab sebagai hamba kepada Tuhannya.
Kalau dia belum lakukan apa yang harus dia lakukan
sebagai bentuk tanggung jawab kepada yang memberi
dia hidup, pada hakekatnya dia belum
bertanggungjawab. Kalau hal itu yang mendasari
tanggung jawab kita dalam menjalani kehidupan ini, maka
hidup ini kita mau pertanggungjawabkan kepada Allah
SWT Tuhan Yang Maha Esa.
Peneliti Lalu bagimana dengan penyusunan anggaran?
H. Zakaria Bakri Dihubungkan dengan siri’ na pesse, berarti itu
menyangkut duniawi saja. Bagaimana kita berempati
bahwa kita tidak boleh berlebihan karena masih banyak
orang yang hidupnya sengsara, maka masyarakat yang
harus kita perhatikan. Oleh sebab itu, anggaran harus
berorientasi pada masyarakat. Katakanlah anggaran
biaya aparatur tidak boleh lebih besar dari pada biaya
pembangunan yang langsung dirasakan oleh
masyarakat. Itu mungkin dapat dikatakan penganggaran
siri’ na pacce. Siri’ juga bisa membawa orang pada
kondisi kekinian, yaitu serba keterbukaan. Siri’ juga
memacu kita mengerem seseorang dalam membuat
penganggaran jangan sampai nanti kalau dia salah tidak
sesuai dengan mekanisme, sehingga bisa dipenjarakan
atau diproses secara hukum. Jika orang menerapkan
nilai-nilai siri’, seharusnya dia berfikir. Tetapi kalau tidak,
bisa berdampak negatif pada dirinya, berarti dia tidak
memiliki konsep siri’ didalamnya. Jadi kalau saya,
spiritualitas siri’ na pacce itu adalah sesuatu yang bisa di
satukan tapi pada hakekatnya terpisah.
Peneliti Kemarin saya wawancara dengan Bapak Sahidin. Ada
gambar yang dibuat terkait dengan lingkaran siri’ na
254

pesse yang menurutnya bahwa pada bagian lingkaran


dalam yaitu inti disebut sebagai siri’ na pesse dan di luar
intinya disebut sebagai kearifan lokal tongen, getteng,
lempu, adele, lalu dari lingkaran luar tersebut melahirkan
value added (nilai tambah), yaitu kinerja, lalu melahirkan
harkat dan martabat. Tetapi jika memperhatikan
pembicaraan Bapak tadi, saya berfikir bahwa sebenarnya
masih ada inti dari siri’ na pesse ini?
H. Zakaria Bakri Nilai spiritualitas itu, kalau saya memang pusatnya pada
keyakinan bahwa hidup ini kita pertanggungjawabkan
kepada yang memberi kita hidup (Allah/Tuhan). Itu
intinya. Jadi pada iman dan takwa. Kalau spiritualitas
intinya di situ. Lalu siri’ datang sebagai salah satu bagian,
karena nabi (Muhammad) mengatakan malu itu bagian
dari iman. Jadi siri’ na pacce berada di luar inti. Kenapa
siri’ datang? karena ada iman. Ada keyakinan bahwa kita
ini nantinya akan dihisap oleh yang menciptakan kita
(Allah/Tuhan) oleh yang memberi kita hidup karena hidup
ini diberikan untuk kita pertanggungjawabkan. Di situ
muncullah siri’, muncullah tanggungjawab dan
sebagainya.
Peneliti Jadi intinya?
H. Zakaria Bakri Lebih pada aspek Ketuhanan. Kalau bahasanya adalah
Tauhid, nilai tauhid, ketauhidan. Nilai ketauhidan itulah
yang ada kaitannya dengan spiritualitas, siri’ na pesse
adalah bagian dari itu. Siri’ na pesse itu kalau lingkaran
dia satu jalur dengan tanggung jawab. Sama halnya jika
diskusi tentang Pancasila. Bagaimana sih orang supaya
bisa pancasilais. Saya bilang jalankan saja agamanya.
Kalau orang telah menjalankan agamanya dengan baik,
otomatis dia telah pancasilais, tidak usah ada sila2 itu.
Karena agama sudah mencakup semua itu, bahkan lebih
luas dari pancasila. Jadi sekarang bagaimana agama ini
bisa membumi dinurani orang yang beriman. Kalau tidak
maka akan jadi sulit. Jadi orang yang beragama pasti
pancasilais. Tapi orang pancasilais belum tentu
beragama.
Peneliti Jadi spiritualitas di sini menfokuskan pada aspek
ketauhidan?
H. Zakaria Bakri Jadi kalau saya intinya disitu. Landasan spiritualitas itu
adalah ketauhidan. Kita mengerti bahwa hidup ini
tanggung jawab tetapi akhir dari tanggung jawab itu di
sana, di akhirat. Banyak orang tidak percaya karena
belum ada orang yang kembali dari akhirat. Kan nanti
kalau kita diperiksa di sana bukan kita yang berbicara. Di
surat Yasin ada (Alyami nahtimu ... dst yg artinya) nanti di
suatu saat kita ditanya Tuhan maka yang menjawab kaki
kita, tangan kita.
Peneliti Dilingkaran luar pertama dari inti yang Anda maksud yaitu
siri’ na pacce, Lalu bagaimana kedudukan pesse?
255

H. Zakaria Bakri Pesse itu secara harfiah adalah pedis. Tetapi secara
hakikat yang mendekati sebenarnya adalah empati. Kita
pada saat melihat orang menderita kita ikut merasakan.
Dan tidak cuma merasakan tetapi kita punya tanggung
jawab dengan jalan berikan uluran tangan berupa
bantuan dalam keadaan apapun kondisi kita.
Peneliti Kalau dalam konteks anggaran berarti anggaran
merupakan keberpihakan?
H. Zakaria Bakri Ya, kita harus berpihak kepada pemenuhan hajat hidup
orang banyak. Oleh sebab itu anggaran Luwu Timur
kalau bisa yang kita mau dekati 36:64, yaitu 36 untuk
belanja aparatur dan 64 untuk belanja program. Itu sudah
menggambarkan penganggaran yang sebenarnya.
Keberpihakan kita kepada kepentingan masyarakat.
Bagaimana membangun jalan, membangun jembatan,
bagaimana sekolah diperbaiki,bagaimana bedah rumah,
bagaimana kita memberi bantuan peralatan pada Usaha
Kecil dan Menengah (UKM) dan bagaimana memberi
hibah barang, hibah uang dan sebagainya dengan
prosedur dan mekanisme yang berlaku. Saya sudah lama
bekerja. Ketika saya dipercaya sebagai Kepala Dinas
Perikanan, disaat itu saya gelindingkan barang. Saya
katakan kepada yang terkait, bahwa “Jujurki”. Karena
nilai kejujuran itu sangat bermanfaat. Itu juga masuk ke
ranah spiritualitas
Peneliti Lalu?
H. Zakaria Bakri Saya selalu bilang kepada mereka, “Jujurki”, jangan kita
menipu diri sendiri. Kalau ada yang kita mohonkan, jika
pemerintah (memberikan batasan atau aturan) maka ikuti
itu. Janganki mangoa, serakah. Jangan sampai program
tersebut memasukkan (pihak keluarga) seperti anak, juga
menantu, juga saudara, kita semua.
Peneliti Jadi lawannya jujur adalah mangoa?
H. Zakaria Bakri Benar. Saya pernah baca bukunya Ari Ginanjar. Ada
penelitian tentang manajer-manajer perusahaan besar
dunia. Di telusuri aspek apa sebenarnya membuat
pimpinan top perusahaan ini sukses, ternyata 80%
adalah kejujuran. Dan itu juga yang ada pada Rasulullah
(Muhammad). Jadi jujur itu adalah nilai spiritualitas yang
universal. Sehingga semua orang (siapa pun dia) juga
cinta pada orang jujur. Orang tidak beragama juga suka
pada orang jujur dan Tuhan menghargai kejujuran itu.
Jadi nilai kejujuran itu sebenarnya kaitannya dengan
salah satu ayat dalam Al-Quran dengan firmanNya
“Walau anna ahlalquraamanu wattaqau lafatahna
baraqatin minassamaai wal ardi” bahwa jikalau sekiranya
penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah
Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi. Di unsur itulah iman dan takwa ada
kejujuran, maka Tuhan akan menurunkan berkah dari
langit dan menumbuhkan berkah dari bumi. Itukan ayat,
256

di Albakarah. Jadi saya kasih tau mereka, jika Tuhan


sudah berkah (maka tanaman akan subur). Pupuk itu
cuma penyebab saja. Kenapa dulu orang bersawah tidak
ada pupuk? Karena Kejujuran masih terpelihara. Mungkin
orang dulu tidak sembahyang ketika bertani tapi padinya
jadi, karena tidak ada yang bohong. Tuhan hargai itu
kejujurannya sebagai bagian dari nikmat. Pengabdian
kepada Allah itu adalah urusannya. Saya katakan kepada
mereka, Jujurki. Janganki melakukan kebohongan-
kebohongan.
Peneliti Kalau pada saat penyusunan anggaran ini bagaimana?
H. Zakaria Bakri Ini konsep Jujur, seharusnya anggaran juga tertanam
unsur spiritualitas. Jujur berarti anggaran saya akan
pertanggungjawabkan nanti. Jangan ditutup-tutupi.
Kejujuran berfikir, jangan mengajak orang untuk berbuat
jujur, seharusnya yang bersangkutan juga harus terlebih
dahulu jujur.
Peneliti Waktu menyusun anggaran, apakah semuanya duduk
bersama? Khususnya dilingkungan Anda, pernahkan
Anda memberikan penekanan terhadap sesuatu kepada
mereka?
H. Zakaria Bakri Saya selalu mengatakan kepada staf saya, susunlah
anggaran sesuai dengan kebutuhan, jangan keinginan. Di
pemerintahan banyak hal-hal yang mesti kita tanggulangi.
Di situlah biasa bermain.
Peneliti Kembali lagi ke nilai spiritualitas
H. Zakaria Bakri Jadi sebenarnya nilai spritualitas itulah yang kita
tonjolkan di dalam penganggaran. Sekarang ini dalam
setahun anggaran empat hingga lima kali diperiksa
sehingga setiap selesai melaksanakan program harus
dipertanggungjawabkan. Menjadi PNS bukan untuk
memperkaya diri, kalau ingin memperkayah diri, jangan
jadi PNS.
Peneliti Sederhana dan kaya berbeda pak?
H. Zakaria Bakri Sederhana itu sikap. Boleh orang punya uang tapi
sikapnya sederhana. Ada orang mungkin tidak punya
uang tapi hidupnya “Wah” kelihatan mengelabui. Hidup ini
bagaimana kita makan yang sehat, bagaimana
mendapatkan pendidikan, bagaimana kesehatan bisa
terawat, kemudian bagaiamana beribadah, memiliki
transportasi, konsumsi, itukan yang kita butuhkan dalam
hidup. Kalau orang mau “di bilang”, ya mungkin.
Peneliti Konsep siri’ na pesse ditopang oleh nilai-nilai kearifan
lokal, tongeng, getteng, lempu, dan adele. Jadi ini
merupakan konsep sulapa appa. Bagaimana Anda
melihat dan nilai-nilai apa saja yang menjadi penopang
siri’ na pesse selain nilai-nilai tadi. Dimana posisi nilai-
nilai itu dan nilai-nilai apa yang merusaknya.
H. Zakaria Bakri Nilai-nilai itu kita sebut sebagai nilai-nilai kearifan lokal
257

atau nilai-nilai siri’ na pesse. Orang bisa malempu’ (jujur)


jika dia yakin bahwa lempu’ ini bagian dari tongeng
(kebenaran) yang akan membawa kita kepada suatu titik
kebahagiaan. Orang lempu’ itu tidak berfikir duniawi. Oleh
sebab itu orang yang lempu atau orang jujur misalnya
disuatu instansi, biasa dikatakan akan susah hidupnya
karena dibenci orang. Diumpamakan, kalau dihutan itu
ada kayu yang lurus pasti cepat ditebang, bengkok-
bengkoklah sedikit. Inikan sesuatu yang keliru tapi orang
pahami itu sebagai sesuatu yang dilakukan. Karena
untuk eksis harus begitu (bengkok) dari pada malempu’ki
tapi tidak eksis. Artinya eksisnya dia di dunia bukan di
sana (akhirat). Sementara eksisnya lempu itu ada
diakhirat. Ini adalah bagian dari tanggungjawab
Peneliti Jadi penganggaran, apapun resikonya harus kita
malempu.
H. Zakaria Bakri Ya, dalam penganggaran daerah melibatkan banyak
pihak sehingga menimbulkan banyak sekali pihak yang
berkepentingan. Jadi kalau kita mau bagaimana lempu ini
kita aplikasikan dan terapkan, maka kembali lagi bahwa
kita paham jika hidup ini bukan di sini, tetapi hidup ini ada
di sana yang abadi. Kemudian getteng, getteng ini adalah
tegas.
Peneliti Jika kita menyusun anggaran harus juga getteng.
H. Zakaria Bakri Ya, sebenarnya biasanya kan orang baru bisa tegas dan
didengar ketegasannya jika dia tongeng dan malempu’.
Kalau orang tidak tongeng dan malempu’ atau ada
kola’nya (kesalahannya), maka susah untuk getteng
(tegas), susah untuk di dengar karena pada saat dia
mengatakan begini tapi pernah dia melakukan kola’. Jadi
jangan engkau memberikan bakke (luka) satu kali (sekali
kita melakukan kesalahan, maka persepsi orang akan
jatuh kepada kita jika ada yang melakukan kesalahan
yang sama untuk kedua kalinya). Ini sama halnya dengan
kulit ular yang rusak disebut kola’, bakke ataukah rusak
atau cacat. Jadi biasanya orang yang getteng (tegas) itu
malempu’ (jujur).
Peneliti Jadi malempu’ itu menjadi dasar?
H. Zakaria Bakri Benar, Tongeng dahulu, baru malempu’ dan getteng.
Orang getteng karena malempu’. Jadi orang yang
malempu’ (jujur), maka tongeng itu menjadi dasarnya.
Jadi dalam implementasinya, masih di atas (duluan) itu
tongeng dari pada malempu’.
Peneliti Jadi tongeng dulu baru jujur kemudian getteng?
H. Zakaria Bakri Jadi tongeng itu adalah kebenaran. Jadi kalau orang jujur
biasanya tongeng yang dia pakai sebagai dasar, yaitu
kebenaran illahiah, kebenaran spiritual, tetapi kita harus
yakin bahwa kebenaran spiritual itu juga merupakan
sunnatullah. Kebenaran sunnatullah itu adalah kebenaran
umum atau bersifat universal. Jadi semut jika diganggu
258

juga bisa menggigit. Itu sunnatullah. Jadi tongeng adalah


dasar bagi orang yang jujur. Jadi orang getteng bisa
melakukan itu jika ada sifat jujurnya. Karena tidak ada
gunanya getteng kalau orang pembohong. Untuk apa dia
getteng? Jika semua ini dilakukan, itu berarti dia sudah
adil. Karena untuk menciptakan keadilan harus ada orang
getteng.
Peneliti Tongeng, baru jujur, baru getteng, baru adele?
H. Zakaria Bakri Benar, karena katakanlah saya zalim, harus ada orang
yang getteng membenarkan saya. “Salahki kalau begitu,
jangan lakukan, salahki”. Untuk mencapai keadilan harus
begitu. Kalau ada orang yang zalim atau ambil haknya
orang, datang orang getteng mengarahkan “salahki kalau
begitu”.
Peneliti Dari empat nilai-nilai siri’ na pesse tersebut, apa saja
yang dapat merusaknya?
H. Zakaria Bakri Pertama, bagaimana memahami hidup dengan benar
(tongeng). Tentu sesuai dengan konsep spiritualitas. Jadi
konsep hidup yang benar (tongeng) itu kan harus
berdasarkan agama. Agama benci pada mangoa
(keserahakan), kepada hal-hal yang jelek. Jika dia
memahami itu, maka dia kembali lagi ke agama. Kalau
orang mau menanamkan sifat itu tadi kuncinya
bagaimana dia memahami dan melaksanakan agamanya
dengan baik. Jadi dasarnya kembali lagi kepada iman
dan takwa.
Peneliti Jadi perlu pemahaman yang baik tentang hidup yang
benar sesuai agama.
H. Zakaria Bakri Benar, sesuai dengan pemahaman tentang nilai-nilai
spiritualitas itu tadi. Dari situ nanti timbul siri’ dan pesse.
Peneliti Bisakah kita katakan bahwa siri’ na pesse merupakan
pemicu atau leverage?
H. Zakaria Bakri Bisa, bahwa siri’ na pesse itu dikatakan sebagai pemicu
(leverage), tetapi hanya sebatas tanggung jawab duniawi
saja. Saya merasa masiri’ atau malu jika saya dikatakan
pembohong. Jika hanya sebatas masiri’ atau malu, bisa
saja dia berbohong dan disembunyikan, tetapi bukan
tanggungjawab hidup. Saya malu jika diketahui orang
berbohong. Saya malu kepada Allah jika saya bohong. Itu
yang benar. Dan kita tidak dapat menyembunyikan
tentang kebohongan kita. Jadi jika kita malu pada Allah,
itu baru bisa mengerem kita berbohong, tapi jika malu
kepada manusia berarti masih bisa menipu. Jadi malu itu
juga dalam agama dikatakan malunya sama Allah. Saya
malu kepada Allah karena Allah maha pemberi, saya
malu kepada Allah karena Allah maha pemaaf,.karena
pada diri kita ada sifat-sifat Allah. Makanya manusia itu
adalah khalifatul fil ardi. Harusnya manusia itu mewarisi
sifat-sifat Allah itu secara terbatas.
259

Peneliti Ada catatan dari Buya Hamka bahwa ada beberapa nilai
yang menghancurkan nilai-nilai siri’. Jadi sebenarnya
Hamka juga memahami tentang siri. Juga disebutkan ada
perusak nilai termasuk keserakahan/mangoa. Jika
Hamka menyebutnya nilai Bodoh, zalim, sahwat, dan
gada’. Menurut Anda?
H. Zakaria Bakri Sahwat itu jangan diartikan nafsu birahi saja. Banyak
bentuknya, menguasai dunia, menguasai harta, dan
sebagainya merupakan bagian dari itu.
Peneliti Jadi apa yang merusak nilai-nilai kearifan lokal tersebut
dalam hubungannya dengan penganggaran?
H. Zakaria Bakri Yang merusak adalah masalah kepentingan dan ambisi.
Misalnya seorang legislator memiliki kepentingan dan
berambisi terhadap anggaran. Pokoknya daerah
pemilihanku tidak boleh kosong. Harus ada
pembangunan di sana. Mereka tidak berfikir holistik,
mereka berfikir sekat-sekat.
Peneliti Jadi yang merusak nilai-nilai siri adalah tidak ada
pemahaman baik tentang hidup yang benar.
H. Zakaria Bakri Jadi orang bodoh itu bukan orang yang tidak sekolah.
Banyak orang tidak sekolah, tidak tau sebenarnya hakikat
hidup. Itu juga dikatakan bodoh tentang hakikat hidup
sehingga lahirlah keserakahan, ambisi, sahwat, dan
sebagainya.
Peneliti Menarik membicarakan ambisi tentang anggaran, bukan
cuma legislatif tapi kalangan birokrasi eksekutif juga?
H. Zakaria Bakri Sebenarnya jika kesalahan anggaran yang kita akan teliti,
maka tidak ada pelaksanaan anggaran yang tidak
memiliki kekurangan karena berbagai hal. Tetapi yang
terlaksana dan yang bisa dipertanggungjawabkan secara
administratif itu mungkin ada. Tapi dikatakan sempurna
betul itu tidak ada. Olehnya itu penegak hukum atau
jaksa harus dapat membaca gestur orang, sehingga
dapat mengetahui aspek psikologis mana orang
memberikan keterangan bohong atau keliru dalam
kesalahannya atau sengaja. Harus begitu karena kalau
salah, tanggung jawabnya luar biasa. Seorang pejabat
daerah dipenjara karena memperjuangkan siri’nya
melalui pengadilan akhirnya dia menang. Siapa yang
tanggung dosanya selama dia dipenjara? Juga ada fakta,
seseorang sebelum jadi bupati, rumahnya bocor-bocor.
Jika dia bepergian dan memiliki kelebihan uang maka dia
kembalikan ke bendahara. Jadi jangan juga skeptis
terhadap pejabat yang dipenjara. Boleh jadi dia itu ditipu
oleh seseorang atau bawahan. Itulah tanggung jawab
sebagai pimpinan sebagai penanggungjawab anggaran.
Jadi siri’ na pesse dalam penganggaran dapat dikaitkan
dengan pemerintahan yang clean and clear.
Peneliti Dari literatur disebutkan bahwa anggaran itu mudah
dimanipulasi dan sangat sarat dengan kepentingan-
260

kepentingan politik?
H. Zakaria Bakri Kepala-kepala dinas misalnya, yang dianggap sebagai
pengayom masyarakat, lebih mementing-kan
keluarganya. Jadi saya harus berani melakukan tindakan,
masih ada warani.
Peneliti Apakah warani (berani) yang dimaksud adalah turunan
dari getteng?
H. Zakaria Bakri Ia, warani merupakan bagian dari getteng. Jadi saya
harus warani, seperti mengatakan kepada mereka bahwa
saya tidak akan kucurkan anggaran kepada keluarga
saya kecuali jika memang ada jalannya (haknya), saya
bantu sesuai aturan. Jika tidak ada aturan saya tidak
mau. Jaman Rasulullah itu juga ada hadits yang
mengatakan bahwa bantulah orang yang dekat
(denganmu). Jadi kalau kau mau bantu, bantu dulu
keluarga terdekatmu. Tetapi ini tidak berlaku universal.
Peneliti Bagaimana jika hal semacam itu ada yang memaknai
sebagai nepotisme?
H. Zakaria Bakri Nepotisme itu sebenarnya adalah sesuatu yang tidak bisa
dipisahkan. Katakanlah saya dosen lalu ada ponakanku.
Sebenarnya dia tidak lulus tapi saya kasih lulus, itu
nepotisme. Kalau dia lulus saya luluskan itu bukan
nepotisme.
Peneliti Bagaimana dengan anggaran, apa dikenal juga dengana
nepotisme anggaran?
H. Zakaria Bakri Anggaran juga begitu. Contoh, membuat kelompok
nelayan lalu saya kucurkan anggaran, padahal kelompok
nelayan itu fiktif karena ada orangnya tapi kegiatannya
tidak ada (sementara anggaran telah dikucurkan).
Peneliti Jadi membantu orang yang terdekat dengan kita buka
nepotisme anggaran?
H. Zakaria Bakri Jika ada bantuan yang bukan berasal dari kita tapi
kekuatan kita ada di situ, bantuan bukan yang bersumber
dari pribadi yang punya kewenangan atau punya hak
untuk memberikan bantuan tersebut. Dari orang lain
bantuannya tapi dia dikasih kewenangan lalu dia atur
salah, disitulah (nepotisme anggaran). Memberikan
bantuan sesuai dengan persyaratan yang diatur, itu tidak
masalah. Misalnya, Anda punya sesuatu (anggaran,
misalnya karena sebagai penguasa anggaran), minta
tolong sama saya, tolong pak dibagikan pada orang-
orang, saratnya seperti ini, lalu ingkar dari sarat lalu
kemudian (anggaran) itu diberikan kepada keluarga.
Peneliti Di Luwu Timur, apa ada yang terkait dengan nepotisme
anggaran?
H. Zakaria Bakri Jika kita berbicara kemungkinan-kemungkinan, itu bisa.
Tapi jika kita bicara fakta, yah perlu penelusuran.
Peneliti Jadi dalam konsep Anda, ada dikatakan hakikat, ada
261

tauhid, dan ada nilai-nilai, lalu selanjutnya?


H. Zakaria Bakri Saya berharap, tadi itu kan ada hakikat, ada tauhid,
kemudian ada siri’ na pesse, ada nilai-nilai tongeng,
getteng, lempu, adale’, hemat saya ini adalah modal
utama, jika ini bisa sinergi dan bisa dipahami dengan baik
hubungannya antara satu dengan yang lain, hemat saya
ini modal utama untuk mencapai penganggaran yang
betul-betul jujur, bertanggungjawab dan memiliki nilai
tambah atau value added untuk pencapaian
kesejahteraan masyarakat. Karena pemerintah hadir
untuk menyejahterakan masyarakat sehingga
mendapatkan harkat dan martabat. Jika ini dipahami
dengan baik dan benar-benar ditetapkan, maka ini
menjadi sesuatu yang dahsyat.
Peneliti Bisakah saya mengatakan bahwa ini akan
menyejahterakan masyarakat, akan melahirkan
penganggaran yang paripurna, penganggaran yang
bertanggungjawab?
H. Zakaria Bakri Bertanggungjawab itu bukan hanya sebatas hakikat.
Peneliti Benarkah jika bupati juga mengasistensi anggaran?
H. Zakaria Bakri Iya, bupati langsung mengasistensinya. Kalau dia
berkunjung ke SKPD dan mendapatkan, misalnya
penganggaran kabel yang tiap tahunnya dianggarkan,
lalu tahun berikutnya dia dapatkan dianggarkan lagi, dia
lalu katakan, jika disambung itu kabelmu, bisa
menghubungkan dari makassar ke malili (ibu kota Luwu
Timur). Kemana semua itu kabelmu. Dia katakan begitu.
Begitu juga misalnya pembelian sebuah timba, dia
katakan tidak bisakah kau sisipkan (uang pribadi) untuk
membeli timba, kan ada perjalanan dinasmu. Jangan lagi
kau anggarkan itu. Ternyata hal semacam itu tidak
populer dan ternyata orang yang mau membangun pasti
tidak populer. Tetapi pada saat kita merenung, alam
bawah sadar kita bekerja, ada juga benarnya. Dan beliau
itu mengatakan “Ia memang sekarang kau mengira saya
ini tidak baik, tetapi nanti setelah saya lengser baru kau
merasakan” (apa yang saya katakan itu bermanfaat).
262

Lampiran 3

Manuskrip Hasil Wawancara Bidang Kesehatan (1)

Informan H. April
Jabatan Kepala Dinas Kesehatan Luwu Timur
Tanggal 26 Mei 2015
Topik Penganggaran berbasis siri’ na pesse
Lokasi/Situasi/Latar Wawancara dilakukan di ruang kerja Kepala Dinas
Wawancara Kesehatan. Saat wawancara situasi tenang tanpa ada
orang lain yang berada dalam ruangan. Saya diterima
dengan baik.
Peneliti Apa pendapat Anda tentang siri’ na pesse?
H. April Siri’ itu berarti malu dan pesse itu adalah lombok atau
empati atau atau rasa haru dari dalam jiwa. Pesse berarti
terharu dalam ketidakberuntungan.
Peneliti Masih adakah siri’ na pesse di Luwu Timur?
H. April Hemat saya, siri’ na pesse itu tidak hilang, selama kita
punya hati nurani berarti siri’ na pesse itu masih tetap ada.
Kita ini manusia memiliki asas keadilan dan kemanusaiaan
yang merupakan perwujudan siri’ na pesse itu sendiri.
Peneliti Tetapi jika dikatakan bahwa siri’ na pesse itu sudah
memudar?
H. April Siri’ na pesse mulai memudar jika kita berbicara
kepentingan pribadi, tapi jika berbicara kepentingan
masyarakat maka siri’ na pesse tidak pudar.
Peneliti Mengapa dikatakan begitu?
H. April Kita lihat bagaimana proses lahirnya anggaran itu.
Penganggaran ini kan ada yang buttom up dan top down.
Jadi mulai dari desa hingga kabupaten. Jadi siapa
sebenarnya yang menggunakan anggaran itu. Anggaran itu
harus memperhatikan pemanfaatannya dan pihak terkait
seperti pengguna anggaran, penentu kebijakan anggaran,
pengesahan anggaran, dan sebagainya. Anggaran itu kan
ujung-ujungnya pelayanan publik. Katakanlah di tataran
dinas kesehatan. Contohnya di kesehatan sebagai
pengguna anggaran, maka tentu yang terkait diatasnya ada
tim anggaran TAPD, Bappeda, Keuangan, kemudian
bermitra dengan kasda dan juga dengan banggar di DPRD.
Nah ini kita belum berbicara dengan pemanfaatan
anggaran. Pemanfaatan anggaran ini jika di dinas
kesehatan maka kita melihat lagi ke tingkat dibawahnya.
Misalnya yang mengelola dan melaksanakan anggaran.
Anggaran yang dialokasikan ke masyarakat dikatakan
masyarakat sebagai pengguna anggaran.
Peneliti Berapa proporsi anggaran untuk kesehatan di Luwu Timur?
263

H. April Di KUA-PPAS telah disebutkan di situ. Kalau pada tingkat


nasional, anggaran kesehatan itu tidak boleh kurang 5%.
Tapi kalau di Kabupaten Luwu Timur sudah lewat dari
angka itu, bahkan sekitar 15%.
Peneliti Apa yang mendasari sehingga dinas kesehatan membuat
anggaran di atas 5%?
H. April Luwu Timur jauh dari pusat pelayanan kesehatan atau jauh
dari pusat propinsi. Propinsi merupakan pusat pelayanan
kesehatan yang lebih memadai. Nah sekarang ini kan
sudah otonomi daerah. Jadi daerah diberikan kewenangan
luas untuk mengeloh daerahnya sendiri termasuk bidang
kesehatan. Oleh karena itu Luwu Timur harus berupaya
maksimal menyediaan sarana kesehatan bagi masyarakat.
Apalagi urusan kesehatan merupakan kewajiban
pemerintah daerah yang diatur dalam undang-undang (UU)
otonomi daerah. Melalui amanah UU otonomi tersebut,
maka pemerintah daerah memiliki peran yang besar untuk
mengembangkan layanan kesehatan kepada
masyarakatnya. Baik buruknya layanan kesehatan sangat
tergantung kebijakan pemerintah daerah. Sebagai daerah
yang baru terbentuk, Luwu Timur yang menempatkan pusat
layanan di kota Malili yang masih kurang pembangunannya
dan harus segera dilengkapi. Memang memulai
pembangunan di daerah terasa berat, tetapi pemerintah
terus berupaya menggenjot pembangunan. Hasilnya
sekarang sudah dirasakan masyarakat. Dibandingkan
sebelum mendapatkan alokasi anggaran dari pemerintah
untuk pembangunan, kondisi masyarakatnya yang
terbelakang dan kualitas kesehatannya masih sangat
rendah. Parahnya lagi, dulu pernah ada kejadian
masyarakat disini ada yang meninggal tidak diketahui
penyakit yang dideritanya karena tidak ada yang periksa.
Peneliti Dapatkah dikatakan jika kondisi itu merupakan bagian dari
siri’ na pesse?
H. April Ya, kejadian ini tidak boleh lagi terjadi setelah adanya
pemekaran kabupaten dan pemerintahan yang baru
terbentuk 12 tahun silam. Keprihatinan sekarang inilah
yang mendorong pemerintah daerah berkomitmen untuk
membenahi pembangunan diberbagai aspek khususnya
bidang kesehatan. Tujuannya agar dapat mengejar
ketertinggalan sehingga dapat sejajar dengan daerah
lainnya. Pelan tapi pasti, komitmen pembangunan
kesehatan Luwu Timur sudah mulai nampak. Berdasarkan
hasil penelitian Indeks kesehatan masyarakat daerah yang
dilakukan oleh Balitbanda, Luwu Timur menempati urutan
ke empat di Sulawesi Selatan sebagai daerah yang berhasil
memperbaiki indeks pembangunan manusianya. Semua ini
bisa menjadi bukti bahwa pemerintah daerah memiliki
kepedulian yang tinggi pada pembangunan pada
masyarakat melalui proses penganggaran pembangunan
daerah.
264

Peneliti Kemudian berbicara nilai-nilai kearifan lokal, nilai apa yang


Anda lihat terkait dengan penganggaran?
H. April Terkait keadilan (adele’) dalam proses penganggaran,
pemerintah daerah mewujudkannya melalui pengalokasian
anggaran pembangunan, bukan hanya di kota tetapi juga di
pelosok. Berbicara keadilan berarti setiap desa
mendapatkan anggaran pembangunan secara
proporsional, misalnya setiap desa mendapat jatah
pembangunan fisik berupa pembangunan Pos Kesehatan
Desa (Poskesdes) dan beberapa pembangunan
Puskesmas Pembantu (Pustu) yang ada di desa. Selain
program fisik, pemerintah juga mengalokasikan anggaran
program non fisik, seperti program desa siaga. Dalam
Program desa siaga tersebut terdapat penyediaan sumber
daya manusia (SDM) paramedis (bidan dan perawat) yang
kompeten. Pada hakekatnya semua masyarakat memiliki
hak yang sama untuk memperoleh layanan pembangunan
fisik maupun non fisik. Pemerintah harus cermat
menganalisis, semua kebutuhan warga khususnya pada
bidang kesehatan.
Peneliti Lalu apakah dalam penganggaran itu biasa terjadi
pergeseran anggaran atau keberpihakan anggaran karena
alasan tertentu?
H. April Perubahan anggaran itu memang ada dan juga ada yang
dinamakan pergeseran anggaran. Pergeseran anggaran
terjadi karena sejak awal kita meletakkan anggaran yang
kurang tepat. Ada program yang kelebihan anggaran atau
ada juga program yang kekurangan anggaran. Itulah di
geser tapi dia tidak digeser di kegiatan lain tapi dalam
kegiatan itu sendiri. Nah di sini pemerintah cukup konsisten
terhadap apa yang telah diprogramkan, khususnya program
kebutuhan masyarakat. Hanya saja aturan dalam
penyusunan program dan penetapan anggaran melibatkan
berbagai pihak, selain dari pihak eksekutif (SKPD) juga
harus melibatkan legislatif. Keberadaan anggota DPRD
juga diperlukan, khususnya badan anggaran (banggar)
sebagai mitra pemerintah daerah (eksekutif) dalam
pembahasan program dan anggaran. Anggaran dibahas
secara bersama untuk mempertemukan usulan masyarakat
melalui musrembang, usulan program SKPD, dan usulan
program DPRD yang diperoleh melalui reses. Namun yang
menjadi catatan di sini bahwa kepentingan pribadi atau
kelompok sebaiknya tidak diakomodir dalam penyusunan
anggaran. Apalagi penyusunan anggaran merupakan
kesepakatan kedua belah pihak yaitu eksekutif dan
legislatif.
265

Lampiran 4

Manuskrip Hasil Wawancara Bidang Kesehatan (2)


Informan Yetriani Bosa, [Link]., [Link].
Jabatan Kepala Bidang Anggaran Dinas Kesehatan Luwu Timur
Tanggal Kepala Sub Bagian Perencanaan Dinas Kesehatan
Topik Mekanisme penyusunan anggaran
Lokasi/Situasi/Latar Wawancara dilakukan di ruang kerja Kepala Bidang
Wawancara Anggaran Dinas Kesehatan Luwu Timur dalam situasi
tenang walau ada beberapa pegawai dalam ruangan.
Saya diterima dengan baik dengan penuh
kebersahajaan.
Peneliti UU No. 36 tahun 2009 mengamanatkan alokasi anggaran
belanja kesehatan dalam APBN sebesar 5%. Bagaimana
proporsi anggaran di Dinas Kesehatan Luwu Timur ?
Yetriani Bosa Belanja kesehatan dalam APBD Luwu Timur terbagi
menjadi dua, yaitu belanja langsung dan belanja tidak
langsung. Khusus kesehatan, belanja langsung tahun
2015 kurang dari 10 persen.
Peneliti Bagaimana dengan penyusunan anggaran langsung dan
non langsung di dinkes?
Yetriani Bosa Alur penyusunan anggaran belanja langsung dan tidak
langsung di Dinas Kesehatan melalui mekanisme.
Seperti belanja langsung misalnya, pembangunan fisik
melalui beberapa tahapan. Dimulai dari musrembang
desa, kecamatan, kabupaten. Setiap pelaksanaan
musrembang tingkat kecamatan ada perwakilan SKPD,
termasuk yang mewakili dinas kesehatan. Kehadiran
wakil dinas kesehatan bertujuan melihat skala prioritas
program yang diusulkan sekaligus melakukan investigasi
lapangan bersama Bappeda dan dinas terkait. Pada saat
investigasi dilakukan, Kita tinjau apakah program yang
diusulkan merupakan prioritas dan layak mendapatkan
pembangunan tahun berikutnya. Rangkaian proses ini
dilakukan secara rutin, utamanya terkait program
pembangunan fisik. Pada sisi perencanaan, kami turun
melihat sarana dan prasarana secara langsung. Karena
bisa saja program usulan masyarakat pada saat
musrembang belum tentu menjadi kebutuhan mendesak
bagi mereka. Ada pula program yang diperoleh melalui
dinas terkait, berdasarkan hasil invetigasi petugas
dilapangan pada sarana kesehatan yang ada, misalnya
ke puskesmas, pustu, dan poskesdes. Kemudian untuk
program langsung, kami di dinas kesehatan membagi
kerja berdasarkan bidang masing-masing. Ada empat
bidang yang ada. Setiap bidang sudah mengetahui
kebutuhannya, terutama bidang yang ada dibawahnya.
Masing-masing bidang menyusun program yang akan
dikerjakan pada tahun yang akan datang. Apalagi salah
266

satu fungsi dinas sebagai pengawasan dan pembinaan


terhadap puskesmas. Bidang yang membawahi
puskesmas harus rutin melakukan pertemuan untuk
membahas kebutuhan yang diperlukan dan membahas
program apa saja yang akan dilaksanakan tahun depan.
Setelah rapat internal dilakukan, maka bidang yang
membawahi puskesmas mengajukan anggaran program
pada bagian perencanaan. Ada pula rapat penyusunan
anggaran di dinas kesehatan. Namun sebelum rapat
penyusunan anggaran, kami di bidang perencanaan
bersurat terlebih dahulu pada pimpinan puskesmas.
Tujuannya agar pihak puskesmas datang bersama kami
untuk mempresentasikan kebutuhan anggarannya
masing-masing. Untuk biaya operasional puskesmas, ada
agenda pembahasan bersama antara puskesmas dengan
bidang perencanaan. Sedangkan bidang program juga
melakukan rapat internal untuk menyusun program. Pada
prinsipnya bidang anggaran rutin melakukan rapat
bersama dengan bidang lainnya, membahas porsi
anggaran.
Peneliti Jadi pada dasarnya ketika menyusun anggaran
operasional puskesmas, pihak dinas kesehatan duduk
bersama dengan puskesmas untuk membahas anggaran
terkait program dan kegiatan.
Yetriani Bosa Ya, terkait dengan program bisa lihat seperti pengadaan
obat-obatan, gizi, desa siaga. Pihak puskesmas
menyusun anggarannya dan membahas bersama di
tingkat dinas. Setiap program puskesmas akan dibagi
berdasarkan program masing-masing dan dibahas
bersama. Hasil pembahasan programnya akan
diteruskan pada bagian perencanaan. Hal ini dilakukan
untuk melihat apakah sudah sesuai porsi anggaran yang
dibutuhkan. Jadi memang tidak pernah ada bahwa dinas
kesehatan plafonnya hanya segini, tidak ada. Memang
dinas kesehatan diberikan porsi anggaran sesuai
kebutuhannya, selama tidak melebihi dari angka 15% dari
anggaran APBD. Apalagi besaran APBD Luwu Timur
sangat tinggi dibandingan dengan APBD kabupaten
lainnya.
Peneliti Ketika melakukan rapat penyusunan anggaran bersama
dengan jajaran di bawahnya seperti puskesmas,
pernahkah muncul gugatan dari mereka yang
mempersoalkan tentang faktor keadilan anggaran?
Yetriani Bosa Tidak, karena proporsi anggaran yang diberikan
berdasarkan analisis. Kami mengetahui bagaimana
kondisi mereka. Inilah gunanya dinkes duduk bersama
dengan puskesmas. Pembahasan anggaran bersama
mereka sudah kita lakukan selama tiga tahun. Dalam tiga
tahun terakhir, setiap puskesmas diminta untuk membuat
rencana kerja anggaran (RKA). Kemudian diinput oleh
bidang perencanaan sehingga dapat diketahui secara
jelas kebutuhan setiap puskesmas. Apalagi kami duduk
267

bersama membahas kebutuhan anggarannya, makanya


ada sinergi antara puskesmas dengan dinas kesehatan.
Intinya bahwa Program puskesmas yang tidak
membutuhkan anggaran besar, maka akan mendapat
porsi anggaran sesuai yang mereka perlukan. Untuk apa
diberi anggaran banyak kalau akhirnya akan menjadi
silpa.
Peneliti Jadi faktor keadilan?
Yetriani Bosa Terkait dengan kesenjangan kebutuhan anggaran antara
puskesmas yang satu dengan yang lainnya hingga
sekarang tidak pernah terjadi. Kalau ada program
puskesmas yang membutuhkan anggaran yang banyak,
maka dapat dilakukan secara bertahap sesuai
kemampuan. Selain itu, proses penganggaran yang ada
di Luwu Timur masih berjalan baik.
Peneliti Terkait dengan intervensi anggaran?
Yetriani Bosa Hemat saya tidak.
Peneliti Tapi jika hal itu memang ada, bagaimana sikap kita?
Yetriani Bosa Sejauh ini, itu tidak ada. Biasanya kalau anggota DPRD
melakukan reses ke bawah, disitu kita samakan dengan
program hasil musrembang yang telah kita buat
sebelumnya. Jika memang program itu sudah ada di
musrembang maka kita tidak akomodir. Tapi kalau
memang program itu belum masuk ke musrembang, dan
dibutuhkan maka kita perlu akomodir. Jadi tidak ada
program titipan.
Peneliti Bagaimana jika ada suatu program yang mereka ajukan
didorong untuk direalisasikan?
Yetriani Bosa Di Luwu Timur, selama saya di perencanaan tidak ada
seperti itu. Memang kebutuhan yang mereka ajukan
adalah kebutuhan juga. Jadi titipan yang mengada-ada
itu tidak ada dan sampai saat ini, pemerintah tidak mau
diintervensi oleh siapapun.
Peneliti Sebelum menyusun anggaran, terlebih dahulu Anda
kelapangan melihat kondisi sebenarnya dan apakah
terjadi ketimpangan, dan bagaimana Anda merasakan hal
itu?
Yetriani Bosa Saya turun ke lapangan sampai ke pustu-pustu. Jadi
yang masuk dalam tupoksi saya itu yang saya
anggarkan. Cuma kami sampai di pustu.
Peneliti Misalnya?
Yetriani Bosa Seperti peralatan kesehatan, mobile-mobilernya, sarana
prasarananya, kelayakan bangunannya. Tapi kalau ke
masyarakat adalah program, misalnya bidang kesehatan
masyarakat, KIA (kesehatan ibu dan anak), gizi, dan
promosi kesehatan. Jadi ketimpangan-ketimpangan yang
terjadi selama ini dapat diatasi karena setiap tahun kami
selalu mengakomodir berdasarkan hasil pengamatan
268

kami dilapangan.
Peneliti Dari penjelasan Anda disimpulkan bahwa penganggaran
di dinas kesehatan telah memenuhi unsur keadilan dan
juga tegas dalam mempertahankan anggaran dari
intervensi. Sementara itu, anggaran yang telah disusun
tersebut selanjutnya akan di bawa ke renja.
Yetriani Bosa Anggaran yang telah disusun oleh perencanaan dalam
bentuk RKA akan diasistensi oleh Bappeda. Kemudian
diperiksa oleh tim anggaran pemerintah daerah yang
terdiri dari sekda, Bappeda, bagian keuangan, dan
asisten. Kalau dibutuhkan, anggaran yang diusulkan juga
diekspos ke Bupati. Selanjutnya diserahkan kepada
komisi yang membidangi kesehatan. Setelah itu baru
diserahkan ke badan anggaran. Pada proses inilah,
biasanya ada anggaran dikurangi ataupun program yang
dihapus. Meskipun demikian, jarang ada program
dihapus dan anggaran dikurangi.
Peneliti Lalu bagaimana dengan pembangunan fisik?
Yetriani Bosa Tentang pembangunan fisik disini harus berdasarkan
kepentingan masyarakat. Kalau kepentingan perorangan
tidak bisa mengintervensi kami. Kami melakukan
pembangunan terlebih dahulu melakukan investigasi
kelapangan sehingga dapat dijamin bahwa program itu
menjadi kebutuhan masyarakat.
Peneliti Oleh sebab itu, biasanya muncul kepentingan-
kepentingan yah?
Yetriani Bosa Nah makanya kita perlu turun ke lapangan meninjau.
Dibutuhkan investigasi. Jadi kita utamakan berdasarkan
skala kebutuhan. Memang banyak usulan masyarakat
yang merupakan keinginan, tapi kita meninjau apa layak
atau tidak. Jika tidak layak, kita diskusi dengan pak desa
dan menjelaskan. Jadi banyak segi yang harus
diperhitungkan dan dipertimbangkan.
Peneliti Ketitka melakukan penyusunan anggaran di kantor
Dinkes, bagaimana polanya?
Yetriani Bosa Terkait penyusunan anggaran di bagi tiga berdasarkan
bidangnya masing-masing. Kita duduk bersama untuk
membicarakan berbagai program di setiap bidang. Tiap
bidang mengisi format anggaran yang telah disediakan.
Jadi di saat itu juga kita input langsung. Jadi mereka
bersama-sama, ada perwakilan dari bidang, dari
puskesmas, dan dari perencanaan. Jadi sudah fix di situ
dan langsung diselesaikan.
Peneliti Apakah bapak kepala dinas juga hadir?
Yetriani Bosa Kepala Dinas Kesehatan juga hadir, tapi biasanya
terlebih dahulu membuka kegiatan penyusunan
anggaran. Di situ dia menyampaikan beberapa hal yang
dianggap penting lalu diserahkan ke perencanaan.
269

Peneliti Bagaimana dengan Bappeda?


Yetriani Bosa Renja kita sudah ikuti dan ekspos program. Di situ teliti
satu per satu. Jika ada kesalahan di indikator-indikatnya,
maka itu yang diperbaiki.
Peneliti Apa masalah yang dihadapi di renja?
Yetriani Bosa Tidak ada masalah yang utama. Cuma program yang
diajukan harus lebih detail lagi, seperti targetnya apa,
sasarannya apa, dan operasionalnya diurai secara rinci.
Memang dalam penyusunan anggaran terdapat
perdebatan. Tidak mudah menerima setiap usulan
program. Bisa jadi anggaran meningkat karena ada
penambahan pustu atau poskesdes.
Peneliti Bagaimana dengan siri’ na pesse jika dihubungkan
dengan penganggaran. Sebagaimana kita pahami bahwa
siri’ itu berarti malu dan pesse berarti empati atau
toleransi kebatinan.
Yetriani Bosa Jika berbicara mengenai nilai-nilai siri’ na passe dalam
keseharian tentunya masih ada. Dalam hubunganya
dengan keadilan penganggaran. Makna adil menurut
kami yaitu melihat kebutuhan puskesmas dengan
membandingkan luas wilayah puskesmas. Jadi itulah
keadilan. Selain itu, kami juga harus transparan dan
terbuka terhadap anggaran yang telah di buat. Tidak ada
yang di sembunyikan. Olehnya itu mempublis anggaran
DPA yang telah dibuat dan itulah cara kami memaknai
transparansi, tidak ada yang di sembunyikan.
270

Lampiran 5

Manuskrib Hasil Wawancara Bidang Kesehatan (3)

Informan Andi Tulleng, S. Km., M. Kes.


Jabatan Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Luwu
Timur
Tanggal/Waktu 23 Maret 2016
Topik Proses Penganggaran dan Verifikasi di DPPKAD
Situasi/Latar Wawancara Wawancara dilakukan dalam situasi tenang. Saya
diterima dengan baik di salah satu Kafe setelah
sebelumnya membuat janji untuk melakukan wawancara.
Peneliti Di dinas kesehatan, di bagian mana program disusun?
Andi Tulleng Di bagian perencanaan, disitulah diramu semua program-
program dan anggaran masing-masing bidang di dinas
kesehatan. Dahulu, penganggaran di puskesmas dan
dinas dilakukan secara terpisah. Di Puskesmas membuat
RKA sendiri atau DPA sendiri dan dinas juga membuat
DPA sendiri. Namun sekarang digabung dan DPAnya di
buat di dinas kesehatan.
Peneliti Hal itu memang pernah dikemukakan informan lainnya
bahwa tahun 2012 antara dinas kesehatan dan
Puskesmas masing-masing membuat anggarannya.
Andi Tulleng Memang pernah begitu, tapi setelah itu digabung
kembali. Namun ada lagi rencana untuk memisahkan
karena kebutuhan Puskesmas itu yang lebih mengetahui
adalah mereka sendiri. Dikhawatirkan jangan sampai ada
kebutuhan mereka yang tidak diakomodir.
Peneliti Bagaimana mekanisme penyusunan anggaran di tingkat
Puskesmas?
Andi Tulleng Idealnya, di Puskesmas ada disebut P1, P2, dan P3. P1
adalah Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP), P2
adalah loka karya mini atau lokmin, dan P3 adalah
evaluasi kinerja.
Peneliti Bagaimana dengan PTP?
Andi Tulleng Idealnya dimulai dari identifikasi data. Misalnya untuk
tahun 2015, maka dia harus melihat data laporan akhir
tahun 2014. Setelah itu masuk ke lokmin. Di awal tahun,
disitulah muncul semua program. Lokmin dilaksanakan
setiap bulan. Yang dilaksanakan pada awal tahun,
disinilah diajukan program-program dan anggarannya.
Jadi sistem penganggaran di pemerintahan itu adalah
N+1. Penganggaran ini dikoordinir oleh TU di tingkat
Puskesmas.
Peneliti Jika lokmin diadakan tiap bulan, lalu apakah hasil tiap
bulan itu yang diakumulasi untuk menentukan anggaran
tahun berikutnya?
271

Andi Tulleng Tidak, lokmin memang diadakan tiap bulan, tetapi untuk
menentukan anggaran tahun berikutnya hanya diadakan
di awal tahun.
Peneliti Fungsi lokmin bulanan itu apa?
Andi Tulleng Fungsinya memantau pelaksanaan program tiap bulan,
yaitu mengidentifikasi masalah yang yang terjadi pada
program yang telah berjalan. Setelah itu dicarikan
solusinya. Masalah pada program tersebut biasanya tidak
hanya diselesaikan dari program itu, tetapi biasanya
diselesaikan dengan pelaksanaan program lain.
Contohnya DBD (demam berdarah) yang dibidangi P2
yaitu pencegahan dan pemberantasan penyakit, tapi P2
ini tidak berdiri sendiri jika memang betul-betul ingin
menuntaskan DBD itu. Bisa saja dia minta bantuan ke
bidang kesbang, seperti di promosi. Jadi sebelum hari H
ada kampanye, bagaimana pencegahannya, jika sudah
ada masalah baru di fogging.
Peneliti Jadi lokmin ini pada dasarnya adalah evaluasi?
Andi Tulleng Dapat dikatakan begitu. Jadi sebelum lokmin dia ke
lapangan dulu melakukan identifikasi, pengamatan,
kemudian melaporkan hasilnya. Selanjutnya kepala
Puskesmas yang arahkan solusinya. Setelah itu
diagendakan rencananya untuk bulan berikutnya.
Memasuki bulan berikutnya, hasil temuan bulan lalu
dibicarakan.
Peneliti Setelah itu?
Andi Tulleng Selain lokmin bulanan ada juga lokmin lintas sektor yang
dilaksanakan per triwulan. Jadi pembahasan tidak hanya
fokus pada sektornya tetapi terkait dengan sektor-sektor
yang lain. Misalnya sektor pendidikan, agama, persoalan
desa dan kecamatan. Misalnya untuk menyukseskan
program KB, maka perlu dilibatkan KB, KBKS, dan
kementerian agama. Ini idealnya. Selanjutnya, ada juga
bersifat insidentil. Ada juga Puskesmas yang menyusun
anggaran setelah diminta. Biasanya program mereka itu
hanya bersifat rutin. Program baru itu biasanya bersifat
fisik atau juga usulan pengadaan genset, kendaraan
dinas, renovasi.
Peneliti Bagaimana metode penyusunan anggaran di tingkat
Puskesmas?
Andi Tulleng Penyusunan anggaran di Puskesmas tidak terlalu banyak
melibatkan orang, sekitar 2 atau 3 orang, diantaranya
kepala puskesmas, TU, dan pengawal program.
Peneliti Bagaimana di tingkat Poskesdes dan Posyandu?
Andi Tulleng Biasanya ada bantuan dana operasional kesehatan untuk
Puskesmas dan jaringannya seperti untuk Pustu,
Poskedes, dan Posyandu. Pustu adalah perpanjangan
tangan dari pemerintah, sedangkan Poskesdes dan
Posyandu yang filosofinya adalah jaringan Puskesmas
272

yang berada diluar pemerintahan. Poskesdes dan


posyandu lebih kepada pemberdayaan masyarakat.
Tidak sama dengan Pustu. Pustu itu secara administrasi
ada hubungannya dengan Puskesmas.
Peneliti Apakah ketika menyusun anggaran ada format yang
diikuti atau formnya?
Andi Tulleng Sudah ada, di daerah ada Simda (sistem Informasi
Manajemen Keuangan Daerah), jadi sudah terformat.
Berdasarkan permendagri No. 13/2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah dan No. 56/2005 tentang
Sistim Informasi Keuangan Daerah) begitupun dengan
rekening-rekenningnya sudah lengkap. Itu di tingkat
kabupaten, jadi Puskesmas mengacu ke situ.
Peneliti Dalam penyusunan anggaran terlebih dahulu menyusun
programnya, tapi terkadang ketika sudah menyusun
program sudah diikuti juga dengan kegiatan dan
anggarannya. Padahal kegiatan dan nilai atau angka-
angkanya itu menyusul kemudian dalam tahapan RKA?
Andi Tulleng Awalnya memang sudah lengkap kita ajukan, cuma
belum parmanen. Baru usulan, sudah ada program,
kegiatan, dan anggarannya termasuk kode rekeningnya.
Cuma di TAPD menyesuaikan kembali berdasarkan
anggaran yang tersedia. Itulah yang kemudian
disesuaikan dengan usulan tadi. Jika sudah keluar KUA
PPAS disitulah muncul plafon per program. Misalnya
progam promosi kesehatan nilainya 500 juta. Kemudian
dikembalikan ke dinas kesehatan. Lalu kita buat kembali
lagi dan menyesuaikan dengan angka itu. Jika lebih kita
kurangi dan jika kurang kita tambahkan, karena sudah
menjadi kebijakan dari atas. Misalnya untuk tahun
berikutnya, saya sudah membuat program Promosi
Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. Di program
itu terbagi lagi beberapa kegiatan dan sub-sub kegiatan.
Misalnya pengembangan media, peningkatan tenaga
promosi kesehatan, upaya peningkatan kesehatan
masyarakat, dan sebagainya.
Peneliti Pada saat penyusunan anggaran di dinas, selain
puskesmas, siapa-siapa saja yang terlibat?
Andi Tulleng Jika di dinas kesehatan ada empat bidang dan satu
sekretriat. Semuanya duduk bersama, ada bidang
kesehatan masyarakat, pelayanan kesehatan (yankes),
bidang P2PL, bidang yanpar (pelayanan farmasi) dan
sekretariat tentang umum. Puskesmas mewakili bidang-
bidang sesuai bidangnya dan usulannya masing-masing.
Jadi tidak mewakili Puskesmasnya. Jadi anggaran yang
dibahas berdasarkan bidangnya masing-masing,
termasuk kesekretariatan misalnya mengusulkan
kendaraan, anggaran umum lain, dan sebagainya. Jadi di
Puskesmas ada UPTD yaitu Unit Pelayanan Teknis
Dinas. Misalnya program Orientasi PHBS, maka untuk
menyukseskan program tersebut Kami memanggil
273

beberapa petugas untuk menjelaskan PHBS tersebut,


seperti bagaimana pelaporannya, intervensinya, dan
sebagainya. Jadi yang intervensi itu adalah pihak
Puskesmas. Kami hanya meningkatkan kapasitasnya,
meningkatkan skillnya. Jadi yang jalankan bukan dinas
tapi puskesmas. Oleh sebab itu, suatu program tidak
tuntas jika tidak ada Puskesmas karena dia yang
melaksanakan. Jadi dinas itu membimbing,
mengarahkan, dan membina. Makanya ada juga
supervisi, monitoring,
Peneliti Bagaimana eksistensi kepala dinas dalam pembahasan
anggaran?.
Andi Tulleng Kepala dinas hadir dalam penyusunan anggaran tetapi
tidak terlalu larut lebih lama. Kadang dia juga larut untuk
mengawal anggaran tapi itu jarang. Cuma pada saat
pembukaan penyusunan anggaran beliau memberikan
pengarahan. Tapi selama ini tiap kepala dinas kesehatan
berbeda substansi pengarahannya. Untuk kadis sekarang
(H. April) lebih fokus pada pembangunan fisik.
Sedangkan yang sebelumnya agak berimbang, fisik dan
non fisik. Program fisik biasanya terkait dengan sarana
kesehatan seperti Puskesmas, Poskesdes, posyandu,
dan sebagainya. Sedangkan non fisik biasanya diarahkan
ke hal-hal yang lagi mengemuka di masyarakat, misalnya
DBD. Jadi arahan untuk tahun depan yaitu
penanganannya secara terpadu, koordinasi dengan
program yang lain, dan anggarannya ditambah. Jadi jika
dalam penganggaran foggingnya di 20 fokus, maka
anggarannya juga diarahkan ke promkes untuk
penyuluhan.
Peneliti Apa lagi arahan-arahan dari kepala dinas ketika memulai
penyusunan anggaran?
Andi Tulleng Kepala dinas sering mengarahkan sebelum memulai
penyusunan anggaran seperti pada kepala dinas
sekarang dr. H. April bahwa penyusunan anggaran itu
dapat dijadikan sebagai ladang amal, agar dapat
mengena ke masyarakat, kita ini harus berjalan sesuai
dengan hati nurani. Tetapi yang paling sering adalah
sebagai ladang amal. Sedangkan kepala dinas
sebelumnya yaitu dr. Sarifuddin mengatakan bahwa
kalau menyusun anggaran harus berfokus kepada
masyarakat, apalagi kegiatan ini setiap tahun
dilaksanakan. Jadi lebih kepada sasaran anggaran. Hal
itu karena beliau itu sudah senior. Jadi dr. Mahfuddin
sering mengarahkan dalam bahasa bugis, karena dia
memang orang Malangke.
Peneliti Selama dalam proses penyusunan anggaran, nilai-nilai
apa yang Anda rasakan, dilihat, dan bahkan
diimplementasikan?
Andi Tulleng Logis, misalnya anggaran untuk konsultasi ke propinsi
setiap bulan. Itu berarti dalam satu tahun 12 kali, padahal
274

itu bisa dilakukan tiga hingga enam kali setahun. Jadi


saya diperencanaan, saya ramu bahwa ini paling banyak
tiga hingga enam kali kunjungan konsultasi. Ini kan
mubazir padahal ini bahkan bisa dilakukan tiga hingga
enam kali setahun. Kadang kita kaget melihat kok kenapa
begini. Apa sih substansinya?. Artinya, saya ini bukan
juga bersih, tetapi kita bisa mengetahui mana yang
benar. Masa setiap bulan ke Makassar untuk konsultasi
atau hanya untuk mengambil slide?
Peneliti Bagaimana mengatasi hal tersebut?
Andi Tulleng Saya panggil kepala bidangnya karena kepala bidang
membawahi tiga kepala seksi. Jika saya panggil kepala
seksinya kan posisinya sama dengan saya. Jadi aproach
ke atas. Nah kadang kepala bidangnya juga sampaikan
“masa tiap bulan ke Makassar, kurangi ini”. Sementara itu
ada juga yang komplen dan berkata “kenapa anggaranku
di kurangi?” Kalau begitu bicaraki dulu dengan kepala
bidangta. Inilah logis. Jadi ini bukan jujur, kalau jujur
berarti cocokmi itu, tapi ini logis karena ada pemikiran
bahwa apakah ini betul. Jadi saya logisnya dulu baru
kejujuran. Karena kita merasa jujur tapi kita tidak
mengerti. Bagaimana ini sudah benar atau sudah salah.
Jadi ini perlu referensi.
Peneliti Jadi benarkan dulu baru jujur?
Andi Tulleng Ya, ya. Bagaimana kita mau jujur kalau kita tidak benar.
Kalau ada program tapi tidak diketahui substansinya
bagaimana, misalnya ini program anggarannya 10 juta,
yah jujurmi itu karena kita tidak tau logikanya toh?.
Makanya logiskah program dan anggaran itu?
Peneliti Selain itu apa lagi?
Andi Tulleng Logis, kejujuran.
Peneliti Kalau kejujuran dalam konteks penyusunan anggaran
yang bagaimana?
Andi Tulleng Kadang dalam penyusunan anggaran kita sudah
mengetahui bahwa barang ini harganya satu juta. Terus
masuk dalam DIPA 1,5 juta. Itu bisa saja karena mana
proses tendernya, mana pajaknya, mana apanya. Nah itu
kalau tidak dimengerti, dipertanyakan. Kok bisanya itu
satu setengah juta padahal harganya cuma satu juta. Nah
tunggu dulu, perlu diketahui bahwa bukan Cuma harga
dasarnya, tetapi mana pajaknya, mana embel-embelnya.
Tetapi biasanya Koperindag itu mengeluarkan
standarisasi harga. Misalnya kertas harganya berapa,
snack, makanan, ya mengacu ke standar yang
dikeluarkan Dinas Koperindag.
Peneliti Jadi mengacu ke situ.
Andi Tulleng Ya, selanjutnya ada lagi, yaitu persoalan kepentingan.
Misalnya, kasi masukmi anggaranku, kaumi nanti yang
anui... e.. kasi mi dulu 10 juta, nanti ... Inikan persoalan
275

kepentingan kan?
Peneliti Kasi masimi dulu anggaranku, kasimi dulu 10 juta, dan ...
.
Andi Tulleng e....misalnya ... ia dok, kan kau tau mika toh? Cocok mi
itu, 10 juta.
Peneliti Mungkin sudah termasuk “ini” di dalam situ?
Andi Tulleng Nah, mungkin ini ada tommi lebih-lebihnya, karena
mungkin ini anunya ... anunya ... anunya. Begitu.
Peneliti Jadi intervensi anggaran?
Andi Tulleng Kepentingan.
Peneliti Jika unsur keadilan di situ apakah ada?
Andi Tulleng Ada, ada unsur keadilan. Misalnya anggaran administrasi
ATK suatu Puskesmas yang memiliki jumlah desa yang
sedikit dan Puskesmas yang memiliki jumlah desa yang
banyak serta Puskesmas yang berada di Kota yang
wilayah kerjanya lebih luas, tentu ini berbeda. Puskesmas
yang terpencil sedikitji desanya dan ruang lingkup
wilayahnya sedikitji, anggarannya tentu lebih rendah.
Itulah adele’ (keadilan), karena tidak mungkin kita
berikan, eh .. ratami. Tidak adele’ (adil) namanya itu.
Peneliti Jadi proporsional
Andi Tulleng Ya, proporsional.
Peneliti Dalam penyusunan anggaran terkadang terjadi
perdebatan. Bagaimana menyikapiya.
Andi Tulleng Perdebatan kadang di Puskesmas, eh usulkan genset,
usulkan ini, ganti kendaraan. Ada juga puskesmas lain
mengatakan, jangan mi kau semua, berikan juga
puskesmas lain. Kadang kita mengarahkan bahwa ini
lebih penting. Jadi siapa yang logis, maka dia benar-
benar diprioritaskan. Jadi tergantung juga di dalam
memberikan penjelasan.
Peneliti Bagaimana rasa tanggung jawab terkait dengan
anggaran tersebut?
Andi Tulleng Merasa memiliki tanggung jawab moral, kepada pribadi
dulu baru tanggung jawab kepada Tuhan.
Peneliti Bagaimana bentuk tanggung jawabnya?
Andi Tulleng Maksudnya, jika anggaran itu tidak masuk akal saya
sampaikan, itukan tanggung jawab itu. Jadi kebenaran
dikedepankan, katakan benar jika itu benar dan katakan
salah jika itu salah. Jadi kita diskusi. Kadang saya
sampaikan tidak logis ini. Itulah kadang ada yang kontra
kepada saya maupun pro. Saya mengerti substansi
program karena saya juga dari kampus. Saya juga
merasa masih ideal, idealis, karena saya juga dari LSM.
Peneliti Tanggung jawab lainnya?
276

Andi Tulleng Tentu ke daerah, ke pimpinan, ke bupati, dan kepada


negara, itu secara berjenjang. Jika sudah bertanggung
jawab kepada diri sendiri dan kepada Tuhan, maka
merembes kepada yang lain. Memang jika kita ingin
menegakkan itu, kita ke luar dulu dari zona nyaman.
Sekarang kita contohkan yang lain, misalnya ini DPA,
DPA kan dibuat untuk menterjemahkan rencana strategis.
Rencana strategis itu kan mengacu ke RPJMD. RPJMD
mengacu ke visi dan misi bupati. Itu periode pertama
bupati. Nah sudah dirubahmi RPJMD, dirubahmi renstra
tapi kegiatan itu terus di copy paste. Output programkan
sudah ditetapkan untuk mencapai target-target dalam
renstra. Kan ada RPJP daerah 20 tahun, RPJMD 5 tahun
yang dibuat dalam kerangka daerah yang diterjemahkan
dari visi misinya bupati. Dalam RPJMD dituangkan dalam
bentuk rencana strategis masing-masing sektor di SKPD
atau sektor kesehatan. Jadi ada namanya Renstra Dinas
Kesehatan. Itu penerjemahan dari RJPMD. Jadi Renstra
5 tahun, inilah yang indikator-indikator. Renstra ini
dituangkan dalam bentuk Rencana Kerja (Renja) untuk
satu tahun. Jadi Renja ini apa yang menjadi indikator tiap
tahun itulah dibuat DPA (Dokumen Pelaksanaan
Anggaran). Kalau target saya untuk menurunkan
kematian anak, saya buat kegiatan, seperti bagaimana
sosialisasi, bagaimana ibu-ibu lancar datang menimbang
bayinya, dan sebagainya. Itu kan kegiatan-kegiatan. Nah
bayangkan jika Renstra itu sudah berubah tapi kegiatan
masih begitu-begitu saja. Itu tidak benar, Ketika saya
presentasi saya katakan tidak benar itu. Oleh sebab itu
Renstranya dinas kesehataan 2010-2015 saya yang buat.
Peneliti Apakah ketika dalam bekerja kalatakanlah menyusun
anggaran dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa
tanggung jawab, ada reward yang diberikan pimpinan
atau dari pemerintah?
Andi Tulleng Rewards secara simbolik tidak ada tapi secara lisan itu
ada. Katakan ketika penyusunan anggaran atau renstra,
pimpinan saya biasa katakan kami semua bahwa
penyusunan renstra sebaiknya diberikan kepada si A
karena yang bersangkutan memiliki kemampuan dan
pengalaman yang cukup dan dapat dipercaya.
Peneliti Kalau secara tim?
Andi Tulleng Secara tim rewards itu ada. Misalnya dalam pelaksanaan
suatu program, ketika program tersebut berhasil, maka
pemerintah memberikan rewards berupa sertifikat atas
capaian kinerja yang dihasilkan.
277

Lampiran 6

Manuskrip Hasil Wawancara Dengan Pihak Bappeda

Informan Ramadhan Pirade, SE., MM.


Jabatan Kepala Bidang Ekonomi Bappeda
Tanggal/ Waktu 27 Mei 2015, Pukul 10:26
Topik Verifikasi/Rasionalisasi Anggaran
Lokasi/Situasi/Latar Wawancara dilakukan di ruang rapat Bappeda. Ketika
Wawancara saya datang, pihak Bappeda sedang membahas
anggaran dari SKPD terkait rencana kerja (Renja) 2016.
Disaat pembahasan saya terlibat mengamati jalannya
rapat kemudian setelah selesai saya melakukan sesi
wawancara bersama dengan anggota rapat. Wawancara
ini sifatnya tidak terjadwal walau sebelumnya pihak
Bappeda telah mengetahui kedatangan saya dan
menyatakan kesediaannya untuk diwawancarai kapan
saja.
Peneliti Bagaimana Anda melihat kewajaran setiap anggaran
yang diajukan SKPD?
Ramadhan Pirade Setiap program yang disusun masing-masing SKPD
harus melalui asistensi terdahulu. Program yang
diasistensi memenuhi unsur kewajaran sehingga
penggunaan anggaran pun menjadi rasional. Nilai
kecermatan dan kejujuran dalam merencanakan dan
membuat program menjadi prinsip yang utama. Kadang
juga ditemukan program SKPD yang diajukan hanya
mengikuti program tahun sebelumnya sehingga nampak
tidak ada peningkatan program. Apalagi SKPD sudah
terdesak untuk mengajukan program.
Peneliti Apakah kondisi tersebut memang biasa terjadi?
Ramadhan Pirade Hampir rata-rata begitu. Oleh sebab itu SKPD harus
berfikir bahwa apa yang harus dicapai lima tahun
mendatang. Misalnya program pada dinas kesehatan
yang mestinya mampu mengurangi jumlah orang sakit,
tapi kenyataannya berbeda. Setiap tahun masyarakat
yang sakit malah semakin bertambah. Oleh sebab itu
dibutuhkan sinergisitas program antara dinas kesehatan
dengan rumah sakit. Kedua instutisi ini mampu
membangun koordinasi yang intens sehingga
penanganan masyarakat yang sakit juga lebih maksimal.
Peneliti Dibutuhkan sinergisitas dan kemampuan dalam
memahami problematika internal khususnya terkait
dengan anggaran?
Ramadhan Pirade Memang dibutuhkan hal semacam itu, setidaknya pada
tahap persiapan. Seperti belanja, hasil monev yang lalu,
seharusnya belanja untuk fisik sebaiknya tidak boleh di
anggarankan pada triwulan pertama, paling tidak pada
278

tahap dipersiapan. Nanti fisik itu di triwulan tiga dan


empat. Apa yang mau dibayar di triwulan pertama
sementara administrasi baru berjalan. Disinilah pengguna
anggaran harus melihat, bukan hanya menerima kerja
dari bidangnya atau PPTKnya tapi kita juga harus kontrol
dia. Kemudian dalam menetapkan angka-angka dari
program harus disesuaikan dengan kebutuhan.
Katakanlah diklat-diklat. Tidak ada itu diklat-diklat
struktural atau aparatur dikerjakan di triwulan pertama.
Semua itu butuh persiapan.
Peneliti Saya kembali ke penganggaran. Pada dasarnya saya
ingin melihat bagaimana penganggaran berbasis lokal,
siri’ na pesse di Luwu Timur, menurut Anda, bagaimana?
Ramadhan Pirade Di Luwu Timur, siri’ na pesse masih eksis dan tidak
luntur, tapi kurang. Alasannya, pertama karena tidak
paham tugas pokok, maka kurang tanggung jawab.
Termasuk keterbatasan menjabarkan apa yang
dibutuhkan pada program tersebut. Mereka telah
diberikan tanggung jawab tapi tidak melaksanakan
dengan baik. Hal semacam itu memang ditemukan
bahwa pekerjaan yang diberikan tidak dijalankan dengan
maksimal. Bahkan pembagian kerja secara proporsional
nampak jauh dari harapan. Kadang banyak pekerjaan
pada suatu instansi dikerjakan hanya satu orang PPK.
Padahal banyak staf yang perlu diberikan pekerjaan agar
mereka merasa diberdayakan sehingga pelaksanaan
pekerjaan lebih efesien. Harusnya pekerjaan itu dibagi
secara proporsional berdasarkan jumlah seksi sesuai
kompetensi yang dimiliki. Jadi pada dasarkan kadang
bukan mereka tidak dapat mengerjakan tapi mereka tidak
dikasih kesempatan. Jika mereka dikasih kesempatan,
maka mereka akan bertanggung jawab. Hal yang paling
berisiko juga adalah kurangnya koordinasi antara
pengguna anggaran dengan PPK atau PPTK. Hal ini
tidak terlalu bagus. Cobalah merubah pola itu. Satu orang
menangani sembilan program kegiatan. Nah itu yang
perlu didistribusikan sekarang. Mana lebih efisien
pekerjaan itu dikerjakan satu orang ketimbang dikerjakan
beberapa orang. Memang ujung-ujungnya akan terjadi
mis komunikasi antar program karena pengguna
anggaran tidak leluasa lagi memerintahkan untuk
menggunakan uang karena sudah ditangani lebih dari
satu orang. Katakanlah tiga orang. Jadi tiga orang itu
mengerjakan tiga atau empat kegiatan. Inikan perlu
komunikasi ke pimpinan tentang teknis penggunaan
uang.
Peneliti Apakah anggaran yang masuk ke Bappeda yang telah
diasistensi sudah mencerminkan kebutuhan masyarakat?
Ramadhan Pirade Anggaran di Luwu Timur tetap mangacu pada hasil
musrembang. Disitulah sejauh mana SKPD menyerap
atau merespon kebutuhan masyarakat.
Peneliti Jadi kembali lagi ke masyarakat apa yang mereka
279

butuhkan. Lalu apakah ada program yang muncul


walaupun tidak diusulkan dalam musrembang?
Ramadhan Pirade Ada, ini kan bottom up dan top down.
Peneliti Jadi bersifat kebijakan?
Ramadhan Pirade Tidak semua kebutuhan masyarakat dapat mereka
pikirkan. Program yang populer paling infrastruktur jalan,
jembatan, pendidikan, kesehatan, drainase. Tapi seperti
penyuluhan-penyuluhan dan peningkatan sumberdaya
manusia mereka tidak pikirkan. Jadi tidak semua program
masyarakat harus diterima. Jadi ada pertimbangan
keadilan dan kepentingan masyarakat banyak. Bisa saja
mereka meminta untuk dibangunkan jalan. Tapi
kepentingan ekonomi di sana tidak ada maka tidak
bermanfaat, Atau mungkin saja mereka meminta
dibangunkan jalan ternyata ada kepentingan kepala desa
didalamnya.
Peneliti Jadi ada kepentingan tersembunyi?
Ramadhan Pirade Kita juga perlu investigasi untuk menentukan usulan itu
penting atau tidak.
Peneliti Saya melihat bahwa dalam delapan tahun terakhir
pembangunan infrastruktur sangat pesat. Tentu ini
memerlukan anggaran yang tinggi. Seberapa besar
proporsi anggaran yang dialokasikan kepada masyarakat,
terutama rutin dan non rutin (langsung dan tidak
langsung)
Ramadhan Pirade Rutin dan non rutin dua-duanya penting. Proporsi
penggunaan anggaran untuk belanja rutin dengan
belanja publik (langsung) Luwu Timur masih berimbang.
Jika ada logika menyatakan perbandingan 30:70 itu juga
tidak logis. Karena untuk membiayai belanja aparatur itu
juga sangat besar. Disinilah dilihat kejelian bagian
perencanaan untuk menggarap atau berkoordinasi
dengan kementerian atau pihak terkait untuk sharing
pembiayaan. Jadi bukan saja dari APBD tapi bisa saja
dari pusat, propinsi, kementerian, dan sebagainya.
Penganggaran belanja 50 berbanding 50 persen juga
tidak masalah. Intinya jangan macet pelayanan.
Peneliti Bagaimana komitmen bupati dalam menyikapi anggaran,
apakah ada arahan beliau yang mengarah untuk
mensejahterakan masyarakat?
Ramadhan Pirade Beliau itu kan sudah punya program dari Desa ke Kota.
Jadi pembangunan difokuskan di desa karena memang
desa masih minim infrastruktur . Komitmen Bupati pada
pembangunan memang sangat berpihak kepada
kepentingan masyarakat. Pembangunan infrastruktur
jalan, agraris dan sarana pendukung pertanian yang
diperkuat di desa. Hal ini dilakukan karena potensi
ekonomi masyarakat lebih banyak di desa sehingga wajar
apabila pemerintah menggalakkan program
pembangunan desa mengepung kota. Ke depan,
280

Pemerintah Luwu Timur sebaiknya membuat konsep


pembangunan terpadu dengan cara penguatan
pembangunan daerah terisolir dan wilayah pesisir. Upaya
pembangunan pesisir dilakukan untuk mengejar
ketertinggalan pembangunan daerah tersebut. Meskipun
pada aspek pendapatan masyarakat pesisir sudah
semakin membaik. Hanya saja mereka terbatas
infrastruktur jalan yang dapat digunakan untuk
memperlancar distribusi hasil tangkapan kepada
konsumen atau pedagang. Pembangunan Luwu Timur
berdasarkan nilai-nilai lokal yang ada. Setiap program
yang dicanangkan melalui musyawarah (tudang sipulung
yang biasa ditemukan dalam sektor pertanian) dan
gotong royong.
Peneliti Apakah memungkinkan dalam proses penganggaran
akan muncul program baru?
Ramadhan Pirade Suatu program yang diajukan di DPR untuk pembahasan,
bisa saja ada program baru yang dimunculkan sesuai
kebutuhan SKPD. Meskipun nampak tidak diusulkan
dalam musrembang dari masyarakat. Ada juga program
yang diusulkan oleh SKPD tertolak karena dianggap
belum menjadi prioritas setelah dilakukan asistensi.
Apalagi belum pernah dibahas oleh tim anggaran. Tim
anggaran eksekutif berasa dari personel keuangan,
Bapeda yang ditetapkan melalui SK bupati. Sebelum
membuat anggaran program tahun yang akan datang,
maka perlu ada koordinasi dengan dinas Pendapatan.
Tujuannya untuk mengkalkulasi besaran anggaran yang
ada dengan jumlah anggaran akan dibelanjakan pada
semua program. Artinya bahwa tim anggaran perlu
mengetahui berapa persiapan modal yang dimiliki daerah
sehingga besaran belanja program juga dapat diatur. Hal
yang penting juga diperhatikan dalam belanja modal
adalah pembagian kerja disemua bidang. Semua bidang
dibeberapa SKPD harus dilibatkan. Bidang membuat
program kerja masing-masing sehingga tidak boleh ada
yang mendominasi. Setiap anggota harus memiliki
pekerjaan sehigga mereka bertanggung jawab
menjalankan program. Sumber daya manusia setiap
bidang mestinya ditingkatkan supaya amanah pekerjaan
yang berikan dapat terlaksana dengan baik. Dalam
pemeriksaan yang biasa dilakukan oleh inspektorat juga
melakukan identifikasi pada setiap instansi tentang
jumlah staf, tugas dan kerjanya masing-masing.
Inspektorat dapat mengusulkan pada pimpinan (Bupati)
sewaktu-waktu dilakukan mutasi agar jumlah staf yang
ada sesuai kebutuhan. Ada SKPD yang membutuhkan
tenaga staf yang banyak dan ada pula yang cukup
beberapa orang saja. Bisa jadi ada SKPD yang stafnya
menumpuk padahal pekerjaan sedikit sehingga banyak
yang tidak kebagian pekerjaan. Cara mengatasi kejadian
seperti ini, dapat dilakukan dengan cara melakukan rapat
koordinasi dengan pimpinan SKPD bersangkutan. Untuk
281

melakukan monitoring program di SKPD cukup dilakukan


oleh sekertaris. Anggaran monitoring juga harus
disiapkan. Paling tidak monev sekertaris dilakukan
khususnya pelaporan program.
282

Lampiran 7

Manuskrip Hasil Wawancara Dengan Pihak DPPKAD (1)


Informan Muhammad Ikhsan S., SE., MM.
Jabatan Kepala Seksi Analisis Anggaran, Bidang Anggaran
DPPKAD Luwu Timur
Tanggal Mei 2015 dan 5 April 2016
Topik Proses Penyusunan Anggaran, Asistensi Anggaran, dan
Nilai-Nilai Lokal Dalam Mengasistensi Anggaran
Lokasi/Situasi/Latar Wawancara dilakukan di ruang kerja kepala seksi
Wawancara anggaran dalam situasi tenang tanpa ada orang lain yang
berada dalam ruangan. Saya diterima dengan baik
setelah sebelumnya membuat janji untuk melakukan
wawancara.
Peneliti Apa wewenang analisis anggaran?
Muhammad Ikhsan Dalam uraian tugas atau tupoksi kami adalah
menganalisis dan memverifikasi DPA (Dokumen
Pelaksanaan Anggaran).
Peneliti Bagaimana tahapan penganggaran di Luwu Timur?
Muhammad Ikhsan Secara teknis penyusunan anggaran sebelum APBD
ditetapkan terlebih melalui Musrembang. Adapun proses
musrembang secara bertahap yaitu tingkat desa,
kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional. Setelah
selesai Musrembang tingkat nasional, maka sudah ada
kepastian daftar program namun belum ditentukan postur
anggarannya dalam bentuk angka-angka.
Peneliti Selanjutnya?
Muhammad Ikhsan Setelah Musrenbang nasional dilaksanakan, selanjutnya
Bappeda menyusun Kebijakan Umum Anggaran (KUA)-
Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS).
Substansi muatan KUA secara umum menggambarkan
tentang program apa yang akan dilakukan pemerintah
daerah tahun depan. Keberadaan KUA juga merupakan
turunan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) yang memuat visi misi dan program
kepala daerah. Oleh karena itu rencana program yang
ada tidak boleh keluar dari petunjuk RPJMD. Sedangkan
isi dari PPAS itu sendiri terkait dengan prioritas dan
plafon anggaran bersifat sementara yang didalamnya
terdapat catatan angka-angka anggaran sementara
SKPD. Tahapan selanjutnya, PPAS tersebut di bahas
bersama DPRD dengan pemerintah daerah (eksekutif) di
dalamnya terdiri dari Bappeda, staf ahli yang dipimpin
oleh Sekda.
Peneliti Apa hasil dari tim pembahasan anggaran tersebut?
283

Muhammad Ikhsan Hasil pembahasan bersama pemerintah dengan DPRD,


akan menghasilkan prioritas dan plafon anggaran (PPA).
Tahapan berikutnya PPA ditetapkan dan pemerintah
menerbitkan rencana kerja anggaran (RKA) SKPD.
Tujuan RKA dijadikan sebagai pedoman kepala SKPD.
Adapun isi dari RKA SKPD yaitu gambaran program,
kegiatan, rekening belanja, output, dan presentase
kegiatan.

Peneliti Lalu selanjutnya?


Muhammad Ikhsan Jika RKA sudah dianggap rampung dari hasil
penyusunan RKA SKPD berdasarkan Permendagri No 13
tahun 2006, maka RKA SKPD yang ada, dibahas oleh
Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Tujuan
pembahasan kali ini, RKA akan dikompilasi menjadi
RAPBD. Artinya bahwa RKA SKPD merupakan cikal
bakal RAPBD yang akan diserahkan kepada DPRD.
RAPBD dibahas bersama dengan DPRD, dilakukan
melalui rapat terbuka. Bahkan pembahasannya dibuka
untuk umum, para kepala desa dan masyarakat boleh
hadir di ruang sidang pembahasan. Peserta yang hadir
juga diberi kesempatan untuk berbicara, memberikan
masukan dan saran.
Peneliti Bagaimana teknis pembahasannya?
Muhammad Ikhsan Secara teknis pembahasan RAPBD pun diatur, dimulai
dari kepala SKPD membacakan RKA-nya masing-masing
dihadapan anggota DPRD dan tim anggaran pemerintah
daerah (TAPD). Hal ini dilakukan secara bergiliran
masing-masing SKPD pada lingkup kerjanya. Setelah
dibacakan, maka badan anggaran DPRD akan
mengajukan tanggapan berupa masukan, koreksi, saran
dan pertanyaan terkait RKA yang sedang di bahas.
Misalnya, SKPD mengusulkan pembangunan jalan
ataupun program lainnya. Usulan tersebut mendapatkan
tanggapan dari anggota DPRD, bisa saja ada
penghapusan program, pengurangan anggaran, ataupun
sebaliknya anggaran program ditambahkan. Oleh karena
itu program dan anggaran yang diusulkan SKPD
dimungkinkan ada perubahan dalam proses pembahasan
dengan pihak DPRD. Berdasarkan aturan yang berlaku
alokasi waktu pembahasan RAPBD antara pemerintah
dengan DPRD dilakukan selama dua minggu.
Peneliti Setelah pembahasan selesai?
Muhammad Ikhsan Setelah pembahasan selesai, tentu ada koreksi dari
DPRD. Koreksi itu berupa penambahan program ataupun
pengurangan program. Demikian pula postur
anggarannya,
Peneliti Jadi DPRD juga melakukan koreksi anggaran?
Muhammad Ikhsan DPRD dapat mengurangi anggaran ataupun menambah
anggaran apabila diperlukan. Adakan namanya “tebak-
284

tebak berhadiah”, ini hanya isitilah saya. Tergantung dari


penjelasan dan rasionalisasi SKPD yang bersangkutan
dihadapan anggota DPRD. Meskipun perubahan-
perubahannya tidak terlalu banyak. Selain itu, terkait
dengan tupoksi bagian analisis anggaran yang diberikan
kewenangan melakukan verifikasi anggaran program.
Bertugas untuk menelisik semua anggaran program yang
ada. Apabila ada anggaran yang kurang rasional maka
seksi analisis anggaran dapat meminta penjelasan
kepada SKPD. Anggaran yang tidak rasional akan
diperbaiki atau boleh dikurangi. Ada juga ditemukan
SKPD menyusun anggaran dengan istilah “tebak-tebak
berhadiah”.
Peneliti Maksudnya?
Muhammad Ikhsan Program yang diajukan jika diterima ya sukur jika ditolak
atau di koreksi tidak masalah.
Peneliti Adakah kondisi semacam itu?
Muhammad Ikhsan Kalau penilaian subjektif saya ada. Artinya bahwa SKPD
membuat postur anggaran secara subyektifitas tidak
rasional menurut analisis subyektif tim seksi analisis
anggaran. SKPD mestinya menyusun anggaran program
yang tidak boleh melebihi dari PPAS. Padahal dalam
PPAS terdapat harga patokan anggaran sebagai rujukan
dalam menyusun dengan efesien dan dapat
dipertanggungjawabkan. Misalnya, program
pembangunan fisik, belanja ATK SKPD semuanya
memiliki patokan harga. Patokan standar harga ini
biasanya dibuat oleh koperindag. Disinilah tugas bagian
analisis anggaran merasionalkan antara program dengan
anggaran yang dibutuhkan. Setelah tahapan
pembahasan bersama eksekutif dengan legislatif
dianggap selesai, maka dokumen RAPBD dikirim ke
provinsi sebelum ditetapkan menjadi domumen APBD.
Tujuannya untuk di evaluasi dan disetujui oleh gubernur
sebagai perpanjangan tangan dari kementerian dalam
negeri melalui Badan Pengelola Keuangan Daerah
bidang Evaluasi provinsi. Dokumen RAPBD yang dikirim
ke provinsi dilengkapi dengan persyaratan, melampirkan
KAU, PPAS dan persyaratan lainnya. Dokumen RAPBD
dari kabupaten tersebut kembali dianalisis oleh bidang
Evaluasi, Badan Pengelola Keuangan Daerah tingkat
provinsi.
Peneliti Setelah itu, apakah masih ada perbaikan?
Muhammad Ikhsan Ya, ada beberapa perbaikan seperti penempatan posisi
rekening program dan hal-hal yang diperlukan. Tapi
bidang evaluasi propinsi tidak punya kewenangan
melakukan intervensi besaran anggaran program. Artinya
bahwa pada tahap ini tidak ada lagi pengurangan
anggaran ataupun mengurangi jumlah program. Hasil
koreksi RAPBD dari provinsi tersebut akan dikembalikan
ke kabupaten. Kemudian ditindaklanjuti untuk dilakukan
285

perbaikan oleh tim anggaran kabupaten. Setelah RAPBD


rampung perbaikannya berdasarkan koreksi verifikasi
Badan Pengelola Keuangan Daerah tingkat propinsi,
maka eksekutif kembali mengagendakan rapat dengan
legislatif. Rapat bersama antara pemerintah dengan DPR
kali ini dikenal dengan istilah rapat paripurna. Tujuan
untuk menetapkan RAPBD menjadi APBD kabupaten,
tanpa ada perdebatan lagi karena agenda paripurna
hanya mengetuk palu sebagai tanda ditetapkannya
RAPBD menjadi APBD. Dokumen APBD yang telah
ditetapkan berdasarkan hasil rapat paripurna pemerintah
bersama DPR, dituangkan dalam bentuk PERDA.
Peneliti Proses penganggaran secara garis besar yaitu
perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pengawasan,
pelaporan, dan pertanggungjawaban. Lalu di mana
proses penyusunan anggaran dalam proses itu?
Muhammad Ikhsan Memang dalam penyusunan anggaran cukup panjang.
Masih ada porsi Bappeda dalam melakukan asistensi
program dan kegiatan SKPD. Misalnya penyusunan
APBD tahun 2016, SKPD membuat program dan
kegiatan kemudian diasistensi oleh Bappeda. SKPD
terlebih dahulu membuat RKA lebih awal yang
disesuaikan dengan RPJMD yang muatannya adalah visi,
misi, dan program kepada daerah. Meskipun sudah RKA
sebelumnya sudah diasistensi tetapi SKPD masih dapat
mengajukan RKA yang baru. Harapannya supaya ada
kegiatan baru yang dapat diakomodir atau disetujui
dengan berbagai alasan. Bisa jadi karena ada perubahan
aturan undang-undang baru sehingga perlu penyusuaian
pelaksanaan program.
Peneliti Lalu, kapan nilai angka rupiah itu muncul?
Muhammad Ikhsan Dalam penyusunan anggaran, nilai rupiah sudah muncul,
yaitu dicantumkan dalam PPAS. Kalau berbicara tentang
penyususan anggaran maka rangkaiannya adalah PPAS,
KUA, dan RKA. Muatan dalam PPAS adalah
mencantumkan besaran anggaran per SKPD. Setiap
SKPD dapat membuat program sesuai dengan besaran
jatah anggaran yang telah ditetapkan dalam PPAS.
Artinya SKPD tidak boleh semaunya membuat program
yang membutuhkan anggaran melebihi dari batas jatah
anggaran yang diberikan. Oleh karena itu PPAS juga
dikenal sebagai plafon anggaran sementara. Jadi
penyusunan anggaran masing-masing SKPD memiliki
rangkaian tersendiri. Dimulai rencana kegiatan kemudian
diterbitkan RKA SKPD. Data RKA diverifikasi oleh
Bappeda. Kemudian RKA hasil verifikasi akan disedorkan
kebagian analisis anggaran. RKA harus mengikuti
petunjuk PPAS. Kalau hasil pemeriksaan bagian analisis
anggaran menemukan kecocokan antara alokasi jatah
anggaran PPAS SKPD dengan rencana kegiatan
anggaran (RKA) SKPD, maka pengajuan dapat diterima.
Jadi dokumen RKA SKPD inilah yang akan dibawa ke
286

DPRD. Memang alur penyusunan anggaran APBD


membutuhkan waktu. lama dan penyiapkan proses
administrasi yang panjang. Pembahasan aggaran di
DPRD dibeberapa daerah biasanya juga berbeda,
misalnya Kabupaten Sidrap. Pemerintah Sidrap tidak
menyiapkan RKA. Cukup yang disiapkan adalah
Ranperda APBD sebagai bahan pembahasan di DPRD.
Bahan anggaran yang dibahas pemerintah Sidrap
bersama DPRDnya tidak secara detail
membicarakannya. Anggaran yang dibahas hanya dalam
bentuk postur anggaran besar. Lain halnya kabupaten
Bantaeng yang secara detail dicantumkan rincian
anggarannya dalam APBD.
Peneliti Lalu di Luwu Timur?
Muhammad Ikhsan Kalau sistem penyusunan anggaran di Luwu Timur
dilakukan secara terstruktur, mulai pembuatan PPAS.
Kemudian PPAS akan dibuatkan RKA. Dokumen RKA
diverifikasi oleh BAPPEDA. Hasil verifikasi RKA oleh
Bappeda akan dilanjutkan pada bagian seksi analisis
anggaran. Setelah di analisis, RKA akan dilanjutkan
untuk dibahas di DPRD. RKA yang sudah ditetapkan
akan berubah menjadi dokumen pelaksanaa anggaran
(DPA).
Peneliti Anggaran sangat rawan diselewengkan. Apakah di Luwu
Timur ini pernah terjadi kasus pelewengan anggaran?
Muhammad Ikhsan Biasanya itu ada
Peneliti Pernah masuk ke ranah hukum?
Muhammad Ikhsan Ia, banyak. Faktanya memang demikian, ada beberapa
SKPD yang harus berurusan dengan kasus hukum
karena melakukan penyelewengan anggaran daerah.
Misalnya, program pembangunan fisik yang
membutuhkan banyak biaya. Ditemukan bahwa
pengerjaan proyek dilapangan tidak sesuai dengan
besteknya dari kontrak yang disepakati. Pembangunan
jalan bisa saja berkurang dari nilai kontrak, seperti
ketebalan dan panjangnya.
Peneliti Apakah ada standar alokasi anggaran untuk tiap sektor,
misalnya disektor ekonomi atau disektor lainnya?
Muhammad Ikhsan Di Luwu Timur standar alokasi anggaran APBD sudah
diatur, seperti alokasi anggaran pendidikan. Pemerintah
mengalokasikan anggaran 20 persen tiap tahunnya. Hal
ini sesuai amanah UUD 1945 tentang alokasi anggaran
bidang pendidikan. Apalagi Luwu Timur berkomitmen
menyukseskan program pendidikan gratis yang
digalakkan gubernur Sulawesi Selatan. Begitu pun
dengan bidang keseahtan. Terkait pelayanan kesehatan
gratis di Sulawesi Selatan dengan adanya BPJS, maka
secara otomatis Jamkesmas dan Jamkesda akan tidak
berlaku lagi. Jadi mengatasi hal ini daerah nanti akan
menanggung masyarakat miskin dengan memasukkan di
287

BPJS akan tetapi yang membayarkan premi mereka


adalah pemerintah daerah. Jadi Jamkesda tetap berlaku
di daerah, tetapi pada level nasional masyarakat miskin
akan diuruskan BPJS karena Jamkesmas tidak berlaku
lagi. Artinya bahwa masyarakat di daerah dapat
mengakses sarana kesehatan di daerah secara gratis.
Beda halnya setelah masyarakat Luwu Timur yang sakit
membutuhkan rujukan ke Makassar. Masyarakat harus
mengurus BPJS. Bagi yang mampu dapat mengurus
BPJS mandiri, sedangkan masyarakat kurang mampu
ditanggung pemerintah daerah. Sementara itu, bagi premi
BPJS warga tidak mampu akan dianggarkan dalam
alokasi APBD kabupaten setiap tahun. Konsekuensinya
adalah, postur anggaran APBD bidang kesehatan akan
mengalami kenaikan. Oleh karena itu, tugas pemerintah
adalah melakukan update data masyarakat setiap tahun.
Tujuannya untuk mengidentifikasi jumlah masyarakat
yang kurang mampu dan yang sudah mampu secara
ekonomi. Berdasarkan UU No. 14 tahun 2014, bahwa
pada 2019 semua warga indonesia negara harus menjadi
peserta BPJS. Jadi ini adalah asas keadilan.
Peneliti Seperti halnya pendidikan dan kesehatan yang
ditetapkan banyaknya jumlah anggaran dalam APBD
berdasarkan undang-undang, lalu bagaimana dengan
bidang lain?
Muhammad Ikhsan Setiap SKPD memiliki bagian persentase anggaran dari
APBD. Lebih detailnya ada pada Bappeda. Didalamnya
juga sudah diatur porsi belanja langsung dan belanja
tidak langsung masing-masing SKPD. Hal yang perlu
juga digali dari penganggaran APBD yaitu keadilan
proporsi anggaran yang didistribusi di setiap program.
Peneliti Selain itu, hal apa saja yang menjadi penekanan?
Muhammad Ikhsan Hal yang lain yang perlu menjadi penekanan dalam
penyusunan anggaran yaitu ketegasan pemerintah
daerah dalam membuat program dan mengalokasikan
anggaran.
Peneliti Bagaimana dengan transparansi anggaran?
Muhammad Ikhsan Terkait transparansi anggaran, Luwu Timur mengupload
jumlah APBD, realisasi anggaran, laporan keuangan,
kegiatan dinas DPPKAD di website DPKAD.
Wawancara Lanjutan 5 April 2016
Peneliti Nah, dalam proses asistensi anggaran, nilai-nilai apa
yang Anda rasakan, lihat, atau lakukan?
Muhammad Ikhsan Nilai kejujuran (lempu’), yaitu ketika anggaran yang
diajukan SKPD tidak ada yang disembunyikan. Jangan
jauh dari aturan yang ditetapkan, seperti permendagri
yang dikeluarkan tiap tahun tentang pedoman
penyusunan APBD yang kemudian Kami follow up
dengan surat ederan yang ditandatangani bupati. Itu pun
juga kami sesuaikan dengan kebutuhan di sini. Jadi kami
288

juga tetap berpegang pada penekanan-penekanan yang


ditekankan pada permendagri itu, misalnya prinsip
akuntabilitas, tidak boros, hemat, dan sasarannya jelas.
Peneliti Jadi asistensi dilakukan berdasarkan aturan?
Muhammad Ikhsan Ya tentu, selain itu kita juga berpegang teguh pada nilai-
nilai lokal dan berpegang teguh pada prinsip bahwa
anggaran itu untuk kesejahteraan rakyat. Jadi tidak boleh
ada kepentingan-kepentingan tertentu yang melekat
didalamnya yang mengakomodir keinginan orang per
orang atau kelompok tertentu.
Peneliti Apakah hal semacam itu juga biasa terjadi, seperti titipan
atau intervensi anggaran?
Muhammad Ikhsan Biasanya sudah dituangkan dalam RKA.
Peneliti Jadi boleh jadi dalam RKA itu ada terselip hal semacam
itu?
Muhammad Ikhsan Untuk melihat itu, kita lihat angka pembandingnya dulu.
Misalnya SKPD A dan B. SKPD A membeli suatu barang,
ketika kita telusuri harga barang A dengan kualitas
tertentu, lalu SKPD B membeli barang yang sama tetapi
harganya lebih tinggi dari barang yang dibeli SKPD A,
nah ini mungkin saja mengindikasikan ada kepentingan-
kepentingan di situ. Itu yang sering kita kejar.
Peneliti Apakah harga barang itu mengacu pada standar harga
barang yang ditetapkan Koperindag?
Muhammad Ikhsan Benar, tapi besaran anggaran itu biasanya juga diketahui
dari hal-hal yang biasa dilakukan orang-orang tertentu,
misalnya perjalanan dinas. Itukan juga kadang-kadang
kalau menurut kami tidak logis. Jika dihitung-hitung
perjalanan dinasnya bisa saja mereka tidak pernah ada di
kantor. Itukan ada upaya yang kurang bagus. Nah itu
yang kita pangkas.
Peneliti Tadi sempat disinggung akuntabilitas, bisa digambarkan?
Muhammad Ikhsan Akuntabilitas yaitu bisa dipertanggungjawabkan. Artinya
walaupun kami di anggaran tidak terlibat langsung
pertanggungjawabannya tetapi setidaknya kita juga
berusaha agar penganggaran itu setidaknya jika dilihat
oleh orang awam itu masuk akal. Tidak asal dibuat begitu
saja.
Peneliti Pertanggungjawaban yang dimaksudkan disini arahnya
kemana?
Muhammad Ikhsan Secara pribadi, pertanggungjawaban itu pertama harus
kepada Tuhan dulu, kemudian prinsip APBD itukan
sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Jadi
pertanggungjawaban kedua adalah kepada rakyat. Jadi
prinsip saya, walaupun orang menganggap saya
melawan arus, tetapi jika menurut saya jika hal itu kurang
logis dan tidak berpihak kepada kepentingan rakyat, saya
menentang (warani-getteng).
289

Peneliti Jadi benar-benar melakukan tugas sesuai yang


diamanahkan dan berdasarkan aturan?
Muhammad Ikhsan Ya, secara pribadi saya seperti itu yang walaupun
kadang-kadang ada orang yang kurang senang kepada
saya, tidak apa-apa karena anggaran itu bukan punya
kita tetapi uang rakyat.
Peneliti Bertanggung jawab yang dimaksud tadi yaitu kepada
Tuhan bagaimana wujudnya?
Muhammad Ikhsan Apa yang ada dalam hati kita, apa yang kita katakan, dan
apa yang kita lakukan pasti diketahui oleh Tuhan. Jadi
ada kesadaran pribadi bahwa sebagai orang beriman
suatu saat nanti bagaimanapun akan dimintai
pertanggungjawaban. Nah itu prinsip yang paling utama
bagi saya.
Peneliti Sebelum asistensi anggaran, apakah Anda menyadari
bahwa tugas itu tanggungjawabnya sangat besar kepada
Tuhan?
Muhammad Ikhsan Tanggung jawab kepada Tuhan merupakan kesadaran
pribadi. Jadi kadang saya berfikir bahwa ini semua
permainan dunia, jadi sekali lagi dibutuhkan kesadaran
pribadi.
Peneliti Lalu tanggungjawab kepada atasan, pemerintah atau
kepada masyarakat, bagaimana wujudnya?
Muhammad Ikhsan Saya juga menempatkan diri saya sebagai bagian dari
anggota masyarakat. Jadi walaupun saya juga mewakili
pemerintah, tapi bagaimanapun juga saya adalah
anggota masyarakat yang merasakan dampaknya. Jika
pemanfaatan anggaran itu dampaknya baik atau buruk,
yah saya pun juga merasakan dampak baik dan
buruknya. Jika di depan rumah saya dibangun drainase,
ketika itu tidak baik, maka dampak buruknya juga saya
rasakan. Jadi tanggung jawab saya di bagian anggaran
adalah bagaimana memperbaiki itu.
Peneliti Selain nilai kejujuran, nilai lainnya?
Muhammad Ikhsan Yang paling penting adalah kehati-hatian dalam
penempatan rekening. Pemeriksaan BPK bukan hanya
penganggarannya saja, tapi juga diperencanaannya. Jadi
dimulai dari proses penyusunannya. Kalau
diperencanaan dan penganggarannya amburadul,
walaupun belanjanya sudah benar karena dari
perencanaan dan penganggarannya atau akarnya yang
salah, tetap bisa jadi temuan.
Peneliti Jadi kehati-hatian ini merupakan asistensi yang mendetail
atau maccuccung?
Muhammad Ikhsan Ya, kita mengeluarkan semua pengetahuan dan
kemampuan kita secara optimal dalam memeriksa
anggaran itu.
Peneliti Selain kehati-hatian?
290

Muhammad Ikhsan Ketegasan juga walaupun dalam level saya sebagai


kepala seksi itu tidak berpengaruh atau kecil karena
masih ada atasan saya. Tapi secara pribadi saya juga
menerapkan getteng dalam tupoksi saya, tapi apakah
didengarkan atau tidak, kan masih ada atasan saya lagi.
Peneliti Pada saat asistensi, apakah duduk bersama?
Muhammad Ikhsan Duduk bersama, ada dari unsur Bappeda, para asisten
dan staf ahli, DPPKAD termasuk semua kepala bidang
dan beberapa staf, ini diketahui oleh sekda.
Peneliti Jadi mengatasnamakan TAPD?
Muhammad Ikhsan Benar, TAPD namanya, Jadi asistensi itu kami lakukan
kadang di kantor DPPKAD, atau di ruang rapat sekda di
kantor bupati. Pelaksanaannya tergantung situasi,
kadang sepekan. Biasanya siang malam. Yang lama itu
biasanya Tarkim, PU, dinas kesehatan, dikpora dan dinas
pendidikan. Ini semua berbicara teknis dan kegiatannya
cukup banyak.
Peneliti Pada saat asistensi pertama kali, bagaimana arahan dari
pimpinan?
Muhammad Ikhsan Tidak terlalu formal, tapi biasanya di pimpin kepala
Bappeda atau kepala dinas DPPKAD sebagai sekertaris,
tapi biasanya yang paling sering asisten dan staf ahli.
Peneliti Diantara mereka yang pernah memimpin pelaksanaan
asistensi, arahan apa yang berkesan?
Muhammad Ikhsan Mereka biasa tekankan bahwa perencanaan dan
penganggaran itu harus dilaksanakan sesuai dengan
aturan. Jangan ada yang keluar dari aturan karena bisa
jadi akan menjadi temuan di kemudian hari dari BPK. Itu
yang saya ingat, dan umumnya disampaikan seperti itu.
Dalam mengasistensi kita biasanya tidak seruangan
tetapi biasanya dibagi dua.
Peneliti Dalam proses asistensi, tupoksi Anda membetulkan
penempatan rekening dan besaran angka-angkanya?
Muhammad Ikhsan Jadi begini, dari unsur Bappeda mengasistensi program
dan kegiatannya. Sementara DPPKAD adalah
rekeningnya. Mencocokkan apa program dan kegiatan
SKPD dengan rekeningnya. Jangan sampai program dan
kegiatan A tetapi memakai rekening B. Termasuk
kesesuaian dengan standar harga yang telah kami buat.
Peneliti Maksudnya standar harga yang dibuat oleh Koperindag
atau DPPKAD?
Muhammad Ikhsan Untuk DPPKAD, kami buat edaran tersendiri karena kami
lihat standar harga di Koperindag terlalu tinggi. Misalnya
harga untuk komputer, jika tidak salah di atas 10 juta.
Padalah itu hanya 8.500.000 saja dengan
memperhitungkan keuntungan pihak ketiga juga, karena
itu harus juga diperhitungkan. Selama ini, sudah
beberapa tahun kami lakukan dan tidak ada masalah.
291

Peneliti Bagaimana komputer yang berspesifikasi tertentu dengan


kapasitan yang besar untuk tujuan tertentu, tentu
harganya lebih mahal?
Muhammad Ikhsan Harga 8.500.000 untuk kebutuhan biasa di kantor itu
sudah cukup. Barang sekarang yang begitu sudah
murah, tidak sama dengan dulu. Sudah mencukupi
dengan pekerjaan sehari-hari di kantor, kecuali ada yang
meminta secara khusus, seperti pengolahan data satelit,
pemetaan peta dari PU, dari kehutanan untuk rendering
gambar dan satelit karena di situ ada software GIS yang
membutuhkan spek yang tinggi. Itu yang kita maklumi
yang seharga 25 juta, tapi tidak seberapa jumlahnya.
Peneliti Standar harga yang digunakan selama ini dari
Koperindag, bagaimana menyikapi ini, sementara standar
harga dari Kopeirndag bersifat formal?
Muhammad Ikhsan Ya memamang yang atur itu adalah peraturan bupati.
Peneliti Bagaimana dengan standar harga yang dikeluarkan
DPPKAD, apakah nantinya tidak berbenturan?
Muhammad Ikhsan Sepengetahuan saya tidak ada perintah dalam
Permendagri untuk mengacu kesitu. Yang diperintahkan
dalam Permendagri itu adalah standar biaya umum dan
analisis standar belanja. Itu yang kami pegang untuk
penyusuan, Dipermendagri no 13/2006.
Peneliti Apa dasar dari pembuatan standar harga itu?
Muhammad Ikhsan Kita melakukan survei harga secara on line dan atau ke
toko-toko. Prinsipnya kami di anggaran bahwa ketika kita
masih dapat menggunakan harga di bawah standar harga
yang dibuat oleh Koperindag kenapa kita harus pakai
yang lebih mahal. Akan jadi pemborosan saja.
Peneliti Jadi ada tim yang dibentuk untuk menentukan standar
harga itu?
Muhammad Ikhsan Tim anggaran mengundang para petinggi SKPD,
sekretariat daerah, para asiten, membicarakan itu untuk
mendapatkan masukan dari mereka. Harga bukan hanya
terkait barang saja tetapi ada juga harga-harga lain
seperti honororium dan jasa lainnya. Jadi bukan kami
yang menentukan sendiri.
Peneliti Hasilnya, apakah ada legalitas formalnya dan apakah
atas nama DPPKAD atau TAPD?
Muhammad Ikhsan DPPKAD adalah bagian dari TAPD. Jadi atas nama
TAPD.
Peneliti Bagaimana reaksi dari Koperindag?
Muhammad Ikhsan Saya tidak tahu persis fungsi standar harga yang
dikeluarkan Koperindag, apakah digunakan oleh pihak
lain atau bagaimana. Tapi biasanya ada barang-barang
tertentu yang harganya tidak ada pada standar harga
TAPD, jadi saling mengisi dengan standar harga yang
292

dikeluarkan Dinas Koperindag. Di sinilah juga bagi kami


apakah merupakan kelebihan atau kekurangan, ketika
SKPD menyusun anggaran basanya mereka juga
menyurvei secara on line. Yang menyurvei itu biasanya
fungsional SKPD. Mereka punya kasubag perencana jadi
mereka merencanakan untuk tahun berikutnya. Jadi
mereka menyurvei lebih awal supaya jika mereka di tanya
mereka punya dasar harga.
Peneliti Jadi harga ini bisa mengacu ke tiga dasar harga itu tadi?
Muhammad Ikhsan Bisa, karena itu tidak apa-apa.
Peneliti Yang utama nanti pada saat asistensi baru ditentukan
besarannya?
Muhammad Ikhsan Ya, diputuskan di situ. Kami juga mengecek harga,
misalnya jika rumah sakit berencana membeli barang alat
kesehatan yang harganya ratusan juta, saya secara
pribadi dan tim mengecek juga ke internet.
Peneliti Bagaimana bapak menyikapi perdebatan dalam proses
asistensi?
Muhammad Ikhsan Ini mungkin juga merupakan keterbatasan dari kami dan
kami bertahan dengan itu, sementara mereka
mengetahui lebih pasti, sehingga perdebatan itu kadang-
kadang terjadi. Ini juga biasanya orang salah tanggap
ketika kami “menguliti” anggarannya biasanya ada
perasaan tidak enak dari pihak sana.
293

Lampiran 8

Manuskrip Hasil Wawancara Dengan Pihak DPPKAD (2)


Informan Hasbiantoro Baharuddin, SE., MM.
Jabatan Staf Seksi Pengalokasian dan Pemanfaatan Anggaran
DPPKAD
Tanggal/Waktu 23 Maret 2016
Topik Proses Penganggaran dan Verifikasi di DPPKAD
Situasi/Latar Wawancara Wawancara dilakukan dalam situasi tenang. Saya
diterima dengan baik dengan penuh kebersahajaan
Peneliti Bagaimana proses penganggaran setelah Musrenbang
selesai dilaksanakan?
Hasbiyanto Baharuddin Awalnya mengacu pada RPJP untuk 20 tahun, lalu
RPJMD untuk lima tahun, lalu Rencana Kerja Pemerintah
Daerah (RKPD) untuk satu tahun, kemudian KUA PPAS.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Kebijakan
Umum Anggaran (KUA) dan PPAS ini disusun oleh
Bappeda. PPAS ini dibahas bersama dengan DPRD. Di
PPAS tersebut sudah ditetapkan besaran anggaran
secara keseluruhan per SKPD. Ketika PPAS ditetapkan
oleh DPRD, maka PPAS dijadikan dasar oleh SKPD
untuk menyusun Rencana Kerja Anggaran (RKA).
Setelah Musrenbang selesai dilaksanakan, maka
disusunlah RKPD dan Renja yang dijadikan dasar proses
penganggaran di tingkat SKPD.
Peneliti Jadi KUA PPAS di buat Bappeda dan di bahas bersama
DPRD?
Hasbiyanto Baharuddin Benar, Tapi yang termuat disitu adalah program, kegitan,
dan nilai anggarannya secara garis besarnya per SKPD.
Peneliti Apakah breakdown kegiatannya sudah ada?
Hasbiyanto Baharuddin Belum ada. Dari sinilah kemudian disampaikan kepada
SKPD bahwa inilah anggaran yang ada di PPAS.
Misalnya Anggaran A untuk tahun berikutnya sebesar
Rp2 miliar. Belanja tidak langsungnya sekian miliar dan
belanja langsungnya sekian miliar. Setelah itu, SKPD
menyusun RKA sesuai plafon anggaran yang tertuang di
PPAS. Misalnya kita ambil contoh tadi di mana SKPD A
diberikan Rp2 miliar yang terbagi menjadi belanja gaji
Rp1 miliar dan belanja langsung Rp1 miliar. Dari situ
SKPD terkait menyusun anggarannya masing-masing
berdasarkan plafon tersebut. Jadi SKPD tidak boleh
membuat anggaran lebih dari itu. Selain itu, SKPD juga
harus berpatokan pada peraturan bupati tentang
pedoman penyusunan RKA. Misalnya belanja cetak
seperti baliho per meter, fotocopy per lembar dan
begitupun dengan honorarium narasumber dari propinsi
dan dari kabupaten sendiri. Semua itu terteta dalam
294

satuan standar harga di peraturan bupati. Jadi harus


mengacu kesitu.
Peneliti Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa SKPD
menyusun RKA berdasarkan KUA PPAS. Apakah setelah
itu hasilnya diserahkan ke Bappeda dan PPAD untuk
diasistensi?
Hasbiyanto Baharuddin Bappeda mengasistensi pada konteks program dan
kegiatannya. Apakah program kegiatan yang diusulkan
SKPD dalam RKA tersebut ada di rencana kerjanya yang
dibuat dalam RKPD kabupaten.
Peneliti Jadi proses asistensi yang dilaksanakan di Bappeda
kemarin yang menampilkan program dan nilai rupiahnya
itu sudah masuk ke tahapan apa?
Hasbiyanto Baharuddin Ada yang namanya program dan kegiatan. Misalkan
program administrasi perkantoran kegiatannya adalah
penyedia jasa surat menyurat dan jumlah anggarannya
lima juta. Kalau biaya surat menyurat atau administrasi
perkantoran ini, dari situ kita lihat, apakah masuk direnja
pada saat penyusunan renja. Jika ia, oke masuk. Setelah
itu disinkronkan dengan renja kemudian dimunculkan lagi
di RKA. Kita lihat lagi angkanya, lima juta tersebut apa
yang dibeli. Sesuai tidak dengan harga standar yang
dikeluarkan dengan peraturan bupati. Tetapi secara
konteks keuangan (DPPKAD) yang menverifikasi itu.
Ketika kegiatan dari a sampai z ditotal semuanya, jika
melebihi dari angka PPAS, maka harus dipangkas lagi.
Peneliti Siapa yang mengasistensi itu?
Hasbiyanto Baharuddin Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).
Peneliti Setelah diserahkan ke dinas untuk menyusun RKA
PPAS. Jadi penyusunan anggaran di SKPD yang saya
amati sebelumnya adalah penyusunan anggaran dalam
tahap RKA PPAS?
Hasbiyanto Baharuddin Benar.
Peneliti Setelah tahap RKA PPAS selajutnya di verifikasi oleh
Bappeda?
Hasbiyanto Baharuddin Diasistensi oleh TAPD yang didalamnya termasuk
Bappeda dan Keuangan DPPKAD. Kita mulai dulu dari
Renja, di mana renja itu juga bagian dari musrenbang.
Renja itu di buat oleh SKPD. Misalkan dinas PU untuk
tahun berikutnya ingin membangun jalan. Itu nanti
dicocokkan dengan musrenbang. Jadi Renja dibuat
sebelumya oleh SKPD sebelum pelaksanaan
Musrenbang. Di Musrenbang itu umumnya membahas
fisik sedangkan di SKPD tidak semua membahas fisik
tetapi ada juga non fisik. Misalnya di dinas PU ingin
membuat jalan sekian kilo meter dengan biaya sekian
miliar. Inilah kekemudian yang diasistensi oleh bappeda.
Peneliti Item apa saja yang tertuang dalam Renja?
295

Hasbiyanto Baharuddin Program, kegiatan, sasaran, dan target. Jadi belum ada
nilai rupiahnya sebenarnya.
Peneliti Tapi kadang ada juga yang mencantumkan nilai
rupiahnya untuk mempercepat pekerjaan?
Hasbiyanto Baharuddin Ya, tapi biasanya cuma program dan target. Nanti pada
tahap RKA baru memunculkan nilai rupiah.
Peneliti Setelah selesai Renja di buat selanjutnya diverifikasi di
Bappeda?
Hasbiyanto Baharuddin Hasil renja tersebut sebagai dasar pembuatan RKPD.
Peneliti Setelah itu diasistensi ke Bappeda?
Hasbiyanto Baharuddin Bappeda pada dasarnya hanya mengasistensi program
bukan pada tataran mengasistensi nilai rupiahnya.
Peneliti Memang berdasarkan literatur, bahwa secara teknis
daerah yang memiliki kewenangan khusus karena di
undang-undang hanya mengatur secara garis besar. Tapi
kita ke pembahasan saja jika asistensi yang dilakukan
Bappeda kemarin adalah membahas tentang program
dan nilai rupiahnya.
Hasbiyanto Baharuddin Ya.
Peneliti Setelah selesai verifikasi di Bappeda, barulah diajukan
lagi ke DPPKAD.
Hasbiyanto Baharuddin Jadi hasil renja itu dituangkan ke RKPD.
Peneliti Jadi hasil verifikasi di Bappeda dituangkan dalam bentuk
RKPD.
Hasbiyanto Baharuddin Ya, RKPD pemerintah daerah. RKPD itulah dibuat lagi
yang namanya KUA dan PPAS. PPAS itulah yang
menggambarkan berapa total (gelondongan) anggaran
per SKPD yang ditetapkan bersama dengan DPRD.
Setelah itu, itulah yang dijadikan dasar oleh SKPD dalam
menyusun RKA.
Peneliti Jadi SKPD sebagai dasar membuat KUA PPAS, lalu apa
acuan Bappeda menetapkan KUA PPAS?
Hasbiyanto Baharuddin Itu ada dasar acuannya tersendiri. Misalnya berapa
realisasi anggaran tahun lalu, diolah ulang datanya
sehingga mendapatkan angka itu.
Peneliti Setelah KUA PPAS dibuat oleh Bappeda, selanjutnya
diserahkan ke SKPD sebagai dasar untuk menyusun
RKA SKPD. Di RKA SKPD sudah ada program, kegiatan,
dan nilai rupiahnya. Setelah itu?
Hasbiyanto Baharuddin RKA di susun, selanjutnya diserahkan ke TAPD yakni
Bappeda dan DPPKAD untuk diverifikasi atau diasistensi.
Peneliti Jadi mereka duduk bersama?
Hasbiyanto Baharuddin Mereka bekerjasama bersama-sama. Cuma tugas
mereka berbeda. Bappeda memverifikasi programnya,
sedangkan DPPKAD mengasistensi pada anggaran. Jadi
296

tugas DPPKA mengasistensi anggaran dan rekeningnya,


apakah sudah cocok dengan peraturan. Sedangkan
Bappeda mengasistensi pada nama pogram dan
kegiatannya, apakah itu sudah sama dengan Renja yang
dulu disulkan. Apa output keluarannya sama dengan
yang diajukan di Renja dulu. Biasanyakan berubah.
Misalnya di Renja dulu 90 unit setelah itu berubah
menjadi 100 unit. Jadi harus sama dengan Renja.
Makanya Bappeda pada konteks verifikasi RKA dia
berada pada konteks program, kegiatan, target, tolok
ukur, dan keluarannya sengankan di DPPKAD pada
rekening belanja saja dan angka-angka rupiahnya.
Peneliti Bagaimana sikap DPPKAD terhadap hasil asistensi dari
Bappeda?
Hasbiyanto Baharuddin Kadang Kami juga mengkritisi hasil asistensi Bappeda
dan memberikan masukan juga.
Peneliti Jika di DPPKAD apa saja yang menjadi domainnya?
Hasbiyanto Baharuddin Salah satunya mengasistensi rekening belanjanya.
Kadang SKPD salah penempatan rekening belanjanya.
Misalnya untuk fotokopi dimasukkan ke rekening belanja
cetak. Padahal itu salah. Seharusnya untuk fotokopi
dimasukkan ke rekening fotokopi, sedangkan untuk cetak
dimasukkan ke rekening belanja cetak. Begitupun dengan
perjalanan dinas kadang terbalik. Perjalanan dinas dalam
daerah ditempatkan ke luar propinsi begitupun
sebaliknya. Jadi Kita perbaiki posisi rekeningnya.
Begitupun dengan satuan-satuan harganya. Kita
berpedoman ke pedoman penyusunan RKA. Misalnya
pembelian laptop standarnya Rp8.500.000 biasanya
ditulis Rp15 juta. Itu kita pangkas menjadi Rp8.500.000.
Begitupun belanja fotokopi yang diajukan Rp300 per
lembar padahal dipedoman sebesar Rp250 per lembar,
kita pangkas juga. Begitupun dengan perjalanan dinas
dianggarkan Rp200 juta untuk satu tahun ke depan. Kita
lihat lagi realisasi sebelumnya sampai bulan sebelas
kemarin. Ternyata sampai bulan sebelas kemarin cuma
mampu menghabiskan tidak sampai Rp100 juta. Maka
kita rasionalkan menjadi Rp150 juta saja.
Peneliti Jadi wewenang DPPAD adalah rekening belanja dan
satuan harga. Setelah selesai di tahapan TAPD
selanjutnya?
Hasbiyanto Baharuddin Hasil asistensi selanjutnya diserahkan ke DPRD sebagai
bahan Ranperda (Rancangan Peraturan Daerah). Jadi
ketika diserahkan ke DPRD, itu bukan lagi atas nama
TAPD tapi pemerintah karena yang menyerahkan adalah
bupati. Kecuali jika tahap pembahasannya kemudian,
TAPD ada di situ untuk menjelaskan ke anggota DPRD.
Peneliti Terkait dengan pertanggungjawaban atau akunta-bilitas
bagaimana?
Hasbiyanto Baharuddin Setiap SKPD perlu pertanggungjawaban keuangan.
297

Pertanggungjawaban itu ada ditingkat SKPD dan Pejabat


Penatausahaan Keuangan (PPK). Jadi PPK harus benar-
benar memverifikasi pertanggung-jawaban kegiatan-
kegiatan dari tiap bidang. Jika hal itu tidak dilakukan,
maka ketika Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) datang
mereka dapat saja mendapatkan temuan-temuan proyek.
Kadang BPK menemukan volume proyek tidak sesuai
dengan hasil pekerjaannya. Seperti, dikontrak proyek
harusnya 50 meter pengaspalan, tetapi dari dokumen
ditemukan cuma 49 meter sehingga kurang satu meter.
Hal ini biasanya terjadi karena faktor memperbesar
keuntungan. Maka biasanya BPK memanggil
kontraktornya untuk menyelesai-kan pekerjaannya atau
ganti rugi atau mengembalikan uangnya. Disinilah
tanggungjawab moril oleh pimpro pihak pengawas,
kenapa proyek tersebut lolos dibuatkan berita acaranya
padahal belum sempurna pekerjaannya.
Peneliti Lalu di mana tanggung jawab moril pihak DPPKAD dalam
memverifikasi anggaran?
Hasbiyanto Baharuddin Tanggung jawab moril Kami itu jika Kami tidak serius
memverifikasi atau mengasistensi perencanaan
penganggaran yang disusun oleh SKPD. Ini serius
karena merupakan uang masyarakat. Maka sangat
disayangkan jika uang yang begitu banyak hanya di
buang begitu saja dalam artian bahwa yang harusnya
dibutuhkan hanya 5 juta tapi dianggarkan 15 juta. Ketika
Kami meloloskan ini, maka ini adalah tanggung jawab
Kami, dan ini tidak boleh terjadi. Jadi Kami tetap harus
profesional.
Peneliti Jadi jika mengutip pernyataan informan lain, bahwa
tanggung jawab itu adalah kepada diri sendiri dan juga
kepada Tuhan, bagaimana?
Hasbiyanto Baharuddin Benar, jika berbicara Tuhan berarti itu sudah bahasa
abstrak.
Peneliti Apa yang dirasakan ketika Anda bekerja tidak
profesional?
Hasbiyanto Baharuddin Itukan tanggung jawab moral secara sosial kepada
masyarakat. Seperti bahasanya Pak Ikhsan bahwa
“bagaimana supaya kita menganggarakan secara
profesional, jika ada sisa anggaran harus dikembalikan ke
kas daerah jangan dibuatkan pertanggungjawaban fiktif
lalu dibagi-bagi”. Ini kasus-kasus yang banyak terjadi dan
di daerah lainpun seperti itu. Selanjutnya, bagaimana Kita
membangun cara berfikirnya dia. Kadang sebagian
teman-teman pola ekonominya terbalik. Yang saya
pahami bahwa Kami juga kadang beda pendapat.
Misalnya ada suatu barang ingin dibeli dengan kualitas
baik tetapi harga yang murah. Saya katakan, saya ini kan
orang ekonomi, dan di SKPD juga tidak semua orang
ekonomi. Sepengetahuan saya, dalam formulasi ekonomi
kualitas suatu barang berbanding lurus dengan harganya.
298

Jadi jika kita inginkan suatu produk yang bagus, ya harus


kita anggaran dengan harga yang bagus juga.
Peneliti Tanggungjawab administrasi dalam konteks verifikasi
aggaran, dimana posisinya?
Hasbiyanto Baharuddin Sekarang, pertanggungjawaban keuangan di SKPD. Di
lingkungan Kami di SKPD, tanggung jawab keuangan itu
adalah mempertanggungjawabkan secara benar apa
yang Kami lakukan. Kadang ada biaya yang tidak
teranggarkan. Jadi kadang harus dibuatkan
pertanggungjawaban lain. Tetapi pertanggungjawaban
administrasi itu adalah apa yang dibelanjakan. Jika
belanjanya makan minum 500 ribu ya, kita
pertanggungjawabkan 500 ribu, jangan
dipertanggungjawabkan satu juta.
299

Lampiran 9

Manuskrip Hasil Wawancara Dengan Pelaku UMKM

Informan Haris
Aktivitas Pelaku Usaha Jus Buah (UMKM)
Waktu Mei 2015/Pukul 20.05
Situasi/Latar Wawancara Suasana ramai karena merupakan Pusat Kuliner di
sekitar Jembatan Malili. Wawancara berjalan dengan
lancar.
Peneliti Sejak kapan Bapak terjun ke usaha ini?
Haris Saya mulai usaha di sini sejak tahun 2011.
Peneliti Aktivitas Bapak sebelumnya?
Haris Saya seorang pekerja di Karebbe dan di Soroako di
salah satu perusahaan.
Peneliti Lalu bagaimana Bapak bisa menekuni pekerjaan ini,
bukankah Bapak bekerja di sana?
Haris Waktu itu memang saya sedang bekerja. Jadi Ibu yang
melakukan jualan. Cuma, pekerjaan saya itu bersifat
musiman. Sekitar akhir tahun 2010 atau awal 2011
kontrak saya diperusahaan sudah habis dan tidak
diperpanjang lagi. Jadi saya lanjutkan usaha ini.
Peneliti Bagaimana awalnya Bapak berjualan di tempat ini?
Haris Sebenarnya tahun 2011 ada program pemerintah mau
membantu para pedagang. Informasi itu saya dengar
dari teman dan saya cari tau, siapa tau saya bisa juga
dibantu.
Peneliti Apakah Bapak juga mendapatkan bantuan?
Haris Waktu itu kami disampaikan bagi yang berminat
mendapatkan bantuan pengembangan usaha agar
mendaftarkan diri. Saya pun mendaftar.
Peneliti Dari mana informasi itu?
Haris Dari Dinas Koperindag.
Peneliti Kemudian?
Haris Setelah saya dan teman-teman mendaftarkan diri, kami
ditanya tentang apa usaha kami, apa yang kami
butuhkan. Karena kami di sini usahanya tidak sama. Ada
usaha gorengan, minuman, makanan, dan lain-lain.
Peneliti Kalau Bapak dapat bantuan apa?
Haris Saya dapat bantuan gerobak. Kebetulan usaha saya
adalah jus buah jadi cocok dengan bantuan gerobak.
Gerobak ini saya gunakan untuk memajang buah dan
juga tempat membuat minuman. Usaha ini sangat
300

membantu usaha saya.


Peneliti Selain itu, apa masih ada bantuan lain?
Haris Bantuan lain ada, seperti blender, kursi, payung besar.
Alat itu membantu sekali usaha kami. Apalagi setelah
jalan di sini sudah diperbaiki pengunjung ramai datang.
Peneliti Lalu bagaimana Bapak bisa berjualan di sini, apakah
ditempat ini ada bayarannya?
Haris Tempat ini memang disediakan oleh pemerintah. Ketika
kami di data saat itu, kami disediakan tempat di sini.
Tempat ini dibuat khusus untuk pedagang seperti kami.
Peneliti Apa yang Bapak rasakan sekarang ini?
Haris Maksudnya Pak?
Peneliti Setelah mendapatkan bantuan dan ditempatkan
berjualan di sini?
Haris Sangat membantu Pak. Pendapatan kami ada
peningkatan. Dulu itu susah. Orang-orang malas datang
belanja. Dengan adanya bantuan seperti gerobak yang
harganya sekitar Rp6 juta, itu sangat membantu kami.
Dari mana kami bisa dapatkan uang sebanyak itu. Begitu
juga kami ditempatkan di sini. Tempat ini sangat bagus.
Posisinya di pinggir sungai, pinggir jalan utama, dan
dekat dengan jembatan. Jadi orang-orang dari sebelah
tidak memutar lagi jika mereka mau belanja di sini. Lebih
dekat.
Peneliti Jadi posisi jualan di sini sangat menguntungkan?
Haris Benar Pak, sangat bagus selain dekat jembatan,
posisinya juga di pinggir jalan dan jalannya juga sudah
bagus. Jadi orang semakin ramai datang belanja ke sini.
Apalagi di sini banyak orang yang tinggal karena pusat
kota dulu.
Peneliti Dengan adanya fasilitas yang disediakan pemerintah,
bagaimana tanggapan Bapak?

Haris Di sini, yang kami rasakan bukan cuma bantuan yang


diberikan tapi juga pemerintah sediakan rumah sakit,
Puskesmas, pendidikan gratis, dan jalan-jalan sudah
bagus semua sampai ke lorong-lorong. Dapat dikatakan
jalan di sini 100 persen sudah bagus semua, di aspal
dan di beton. Apa yang dilakukan pemerintah sudah
bagus, kami merasakan semua apa yang telah diberikan.
Semuanya disediakan. Bukan cuma kami tapi dari
kelompok usaha lain juga mendapatkan bantuan dan
merasakan manfaatnya. Kami merasa senang.
Peneliti Kalau sebelumnya bagaimana?
Haris Susah, bagaimana mau berusaha kalau jalannya tidak
bagus. Sejak ada Luwu Timur, hidup kami semakin
bagus. Pemerintah sediakan semuanya. Termasuk juga
301

memperhatikan usaha kami. Semuanya semakin lancar.


Walaupun pendapatan kami naik turun, tapi masih lebih
baik dari yang dulu-dulu. Kami percaya bahwa
pemerirntah akan memperhatikan kami. Saya menikmati
usaha ini dan hasilnya sudah lebih baik. Saya ucapakan
terima kasih kepada pemerintah karena telah membantu
kami.
302

Lampiran 10

Jumlah Fasilitas Kesehatan Luwu Timur Tahun 2005 dan 2010

Pertumbuhan
No Fasilitas 2006 2010 (%)
1. Rumah Sakit (Unit) 1 2 100
2. Tenaga Kesehatan (Orang) 291 501 72,16
a. Dokter Umum 21 43 104,76
b. Dokter Gigi 6 17 183,33
c. Dokter Ahli 1 4 300,00
c. Apoteker 4 5 25,00
d. Paramedik Perawatan 114 250 119,30
e. Bidan 145 1
82 25,52
3. Puskesmas Pembantu (Unit) 59 78 32,20
4. Posyandu 216 246 13,89
Sumber: BPS Luwu Timur 2007 dan 2010 (Data diolah)
303

Lampiran 11
Manuskrip Wawancara dan Monitoring Program Bidang Ekonomi (1)

Kabupaten / Kota Luwu Timur


Nara Sumber Kamarullah, Amiruddin, danM. Husni
Pegawai Dinas PU
Topik Sarana Prasarana

1. Nama Program/Kebijakan
DESA MENGEPUNG KOTA
2. Latar Belakang

Luwu Timur enam tahun lalu, Andi Hatta Marakarma menatap tanah Sulawesi
Selatan itu dengan penuh keinginan untuk perbaikan dan perkembangan. Tak
ada yang kurang dengan daerah di Teluk Bone itu. Punya gunung di utara, cocok
untuk perkebunan. Di punggungnya ada Danau Towuti. Airnya siap memutar
turbin listrik. Dari kaki gunung hingga pantai menghampar sawah yang subur.
Saat panen raya mirip karpet kuning. Di tengah ”karpet” itu ada Danau Matano.
Dalamnya 600 meter paling dalam di Asia.
Tapi, Andi melihat jalan-jalan yang rusak. Akibatnya berantai, hasil panen tak
terangkut, irigasi amburadul. Akhirnya petani pun beralih bertanam kakao, yang
sudah tak lagi jadi primadona. ANDI paham betul bahwa potensi Luwu Timur
adalah pertanian padi, karena 80 persen penduduknya petani, dan di sana
terhampar 19 ribu hektare sawah. Ini pula yang menjadi salah satu modal bagi
kabupaten itu ketika memisahkan diri dari Luwu Utara pada Maret 2003.
Untuk menggerakkan semua potensi, kuncinya adalah perbaikan infrastruktur.
Maka, ia tidak memprioritaskan pembangunan kantornya, yang menumpang di
kantor Kecamatan Malili. Ia mengutamakan pembangunan jalan desa dan jalan
tani yang menjangkau hingga ke pelosok. Andi menyebut pola pembangunan ini
dengan istilah ”Desa Mengepung Kota”.

3. Pelaksana dan Pihak Yang Terkait


a. Pelaku Program : Dinas PU
b. Instansi yang terlibat : Bappeda, Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan
c. Penanggungjawab : Dinas PU
d. Pelaksana Program : Dinas PU
e. Penerima manfaat Program : petani dan masyarakat desa
f. Penerima dampak Positif : petani dan masyarakat desa

4. Waktu Pelaksanaan Program


Tahun 2004 sampai 2015

5. Tempat Pelaksanaan Program


Seluruh desa di 11 Kecamatan (Desa Nuha, Kec. Nuha, Kec. Wotu Jl. Dalam
Kota Wotu, Kec. Wotu Jl. Cempae Wotu, Kec. Burau Jl. SMA Burau, Desa Lauwo
304

Kec. Burau)

6. Mekanisme/Alur/Terobosan Program
Bupati Luwu Timur memfokuskan pembangunan ke pedesaan, mulai dengan
membangun kantor desa, jalan desa, dan irigasi. Bupati yang gemar
mengendarai mobil sendirian hingga ke pelosok desa ini juga membebaskan
daerah terisolasi dengan membuka jalan baru dan membangun jembatan. Jalan-
jalan yang tadinya berlubang, kini sudah diperbaiki. Secara bertahap dilakukan
perbaikan dari jalan tanah ke kerikil, kemudian kerikil ke jalan hotmix dan beton.
Jalan menuju desa- desa tertinggal mulai dibangun, termasuk pembenahan jalan
tani/jalan desa agar penghasilan para petani bisa meningkat signifikan, dan cost
yang mereka keluarkan tidak terlalu tinggi. Intinya agar sarana pertanian atau
produksi bisa lebih mudah masuk. Hasil produksi pertanian juga bisa lebih mudah
diangkut. Jembatan darurat diganti dengan jembatan permanen. Hingga 2008
volume perintisan atau pembukaan jalan mencapai 200,362 km, pengkrikilan
jalan sepanjang 541,747 km dan pengaspalan jalan 218,521 km, jembatan semi
permanen dan permanen atau jembatan beton dari bentangan 5 meter hingga 25
meter sebanyak 97 buah, 24 km jalan beton di jalur lingkar Puncak Indah Malili
dan Kecamatan Angkona, serta 49,818 km panjang drainase
Pada tahun ketiga, pembangunan baru mengarah ke pusat pemerintahan di
Malili, termasuk membangun kantor bupati. Kompleks pemerintahan dibangun di
sebuah perbukitan, bekas perkebunan. Untuk menghidupkan kota ini, dia
membuka jalan tembus ke beberapa penjuru.
Inisiatif luar biasa yang dilakukan Bupati Luwu Timur mengantarkannya menjadi 1
dari 10 Kepala Daerah Bupati/Walikota di seluruh Indonesia yang dipilih majalah
Tempo sebagai Bupati berprestasi.
Anggaran pembangunan fisik jalan, jembatan, dan irigasi

Tahun Jalan & Jembatan Irigasi/ drainase Total


2006 [Link].25 Drainase [Link] [Link]
2007 [Link],00 Drainase10.273.703.306 [Link]
[Link]
2008 [Link] Drainase [Link] [Link]
Pengairan [Link]
2009 Jalan [Link] Drainase [Link] [Link]
Jembatan [Link]

7. Output / Outcomes - Deskripsi Hasil


Salah satu petani yang merasakan kemakmuran hidup sebagai petani adalah
Wasono, Ketua Kelompok Tani Ambarawa, yang memiliki 20 hektare lahan
sawah. Dalam lima tahun terakhir, dia melihat perubahan signifikan di kampung
halamannya, Desa Wonorejo, Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur. Pria 41
tahun ini bersama rekannya sesama petani tak lagi kesulitan mengangkut hasil
pertanian karena jalan beraspal sudah menjangkau hingga ke pelosok. Irigasi
persawahan juga membaik. ”Dulu ongkos angkut satu karung gabah Rp 9.000,
sekarang hanya Rp 2.000 (menurun 77,8%),” kata Wasono. Demikian pula salah
satu komentar penduduk di Kabupaten Towuti, “Dulu tak ada mobil angkutan
305

umum yang masuk ke desa kami yang berjarak 30 km dari ibu kota kecamatan.
Untuk menjangkau kecamatan, kami harus berjalan kaki atau menyewa ojek
dengan biaya PP Rp. 700.000, itupun motor ojek lebih sering dituntun daripada
dikendarai. Sekarang mobil angkutan pun bisa masuk dengan leluasa. Ongkos
ojek tinggal Rp. 75.000,- dan angkutan umum Rp. 15.000,- (menurun 80%)“.
Setelah pemekaran, tidak hanya wajah Malili yang dibenahi, tetapi juga ibu kota
tujuh kecamatan lainnya. Setidaknya ada 300 lampu jalan yang dipasang di jalan-
utama Malili dan ibu kota tujuh kecamatan lainnya. Dalam hal
Sejak itu perubahan demi perubahan memang mengalir di Malili. Tidak hanya
dari gelap gulita menjadi terang benderang. Bukan pula hanya perbaikan dan
pembangunan jalan-jalan atau jembatan. Aktivitas sebagian besar warga yang
tadinya hanya bertani dan berkebun, sekarang menjadi semakin beragam.
Di pagi hari, pemandangan di jalan-jalan tidak hanya disuguhi pak tani dengan
cangkul di pundak. Sejak pukul 07.00 Wita, kendaraan umum maupun pribadi,
roda dua maupun empat, sudah berseliweran membawa buruh bangunan ke
sejumlah lokasi pembangunan di Luwu Timur. Atau juga, membawa orang-orang
kantoran berpakaian seragam ke instansi pemerintahan atau swasta.
Di siang hari, aktivitas warga Malili semakin dinamis. Aktivitas perdagangan di
pasar atau toko-toko yang terletak di beberapa ruas jalan utama Malili tampak
ramai oleh pembeli. Warung makan yang sebelum pemekaran relatif sepi, mulai
dipadati pengunjung karena tingginya hilir mudik manusia yang melintas di Malili.
Toko-toko semi permanen yang tadinya hanya menjajakan kebutuhan pak tani,
seperti barang keperluan rumah tangga, makanan, dan pupuk, kini juga
menjajakan kebutuhan orang kantoran, bahkan pengusaha. Warga Malili yang
ingin membeli telepon seluler beserta voucher pulsa tidak lagi perlu jauh-jauh ke
kota Masamba atau Palopo yang harus ditempuh 2-3 jam perjalanan. Atau ingin
membeli berbagai jenis bahan bangunan, sejumlah toko menyediakannya
dengan lengkap.
Jika ingin bermalam di Malili tidak perlu khawatir dengan tempat menginap. Di
keca-matan ini tersedia 13 hotel sejak dua tahun belakangan ini fasilitasnya mulai
dibenahi. Misal, sudah tersedia kamar dengan pendingin udara dan televisi di
ruang tamu. Memang, datang ke Malili tidak lantas mengharapkan apa saja yang
dibutuhkan tersedia di sana. Kebutuhan seperti bioskop, pusat perbelanjaan
terpadu, warung internet, dan restoran, belum tersedia. Sedangkan pemanfaatan
telekomunikasi yang optimal masih dengan menggunakan jaringan PT Telkom.
Penggunaan jaringan beberapa provider telepon seluler masih mengalami
hambatan, yaitu lemahnya sinyal di beberapa tempat.
306

Lampiran 12
Manuskrip Wawancara dan Monitoring Program Bidang Ekonom (2)
Dinas Koperindag
Nara Sumber Ir. H. Firnandus Ali, [Link]. Kadis Koperindag
Abd. Wahid SP, Kabid Koperasi dan UKM
Topik Pemberdayaan Ekonomi dan Pengentasan Kemiskinan, Sarana
Prasarana
1. Nama Program/Kebijakan
Pengembangan UMKM (UKM/IKM)

2. Latar Belakang Program


Motivasi kuat para pelaku UMKM untuk mengembangkan usahanya terkendala
keterbatasan modal kerja, peralatan produksi, pengetahuan kewirausahaan dan
tingginya sewa lokasi strategis berjualan
3. Pelaksana dan Pihak Yang Terkait
a. Sumber Program : Dinas Koperindag
b. Instansi yang terlibat : Bappeda, Dinas pertanian, peternakan dan
perkebunan, Dinas Perikanan dan Kelautan,
Badan Ketahanan Pangan, dan BP4K
c. Pelaksana Program : Bidang Koperasi, Bidang Perindustrian dan
UKM, Bidang Industri
d. Penanggungjawab : Kabid Koperasi, kabid Perindustrian, dan Kabid
Perdagangan
e. Rekanan : PT. Inco (pendampingan dan pelatihan serta
kerjasama) dan PT. Smart
4. Waktu Dan Tempat Pelaksanaan Program
a. 2007, pengembangan produk UKM/IKM diantaranya anyaman di Kec. Nuha,
kripik pisang di Kec. Nuha dan Mangkutana, industri pusat pelatihan
kerajinan tangan dari tempurung dan kayu di Desa Kertoraharjo Kec. Tomoni
Timur.
b. 2008 industri mebel di Kec. Angkona dan Kec. Burau
c. 2008 Anyaman di desa Nuha kec. Nuha
d. 2008 usaha kompos di Kec. Mangkutana
e. 2010 Fasilitasi Kemasan dan perlengakpannya
f. 2011 Peningkatan daya saing produk, berupa kemasan dan peralatan

Luaran/Manfaat
a. UKM/IKM-UMKM menghasilkan berbagai macam produk yang telah dikemas,
diantaranya jus dengen (water drink Luwu Timur), kerajinnan tangan, keripik
pisang, dan sebagainya
b. Para UMKM khususnya pedagang kaki lima telah memiliki tempat khusus
307

berjualan yang disediakan oleh Dinas Koperindag dan telah mengikuti


pelatihan. Pendapatan mereka meningkat dari sebelumnya.
c. Produk IKM/UKM dapat terpasarkan

Payung Hukum :
a. Keputusan Bupati Luwu Timur No. 348 Tahun 2008 tanggal 31 Des 2008
Tentang Pemberian Hibah Kepada Kelompok UKM dan Koperasi Kab. Luwu
Timur.
b. Keputusan Bupati Luwu Timur No. 218 Tahun 2009 tanggal 30 Oktober 2009
tentang Pemberian Bantuan Sosial Kelompok Masyarakat Kepada Kelompok
Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Kab. Luwu Timur Tahun 2009.
Penerima Manfaat : UMKM dan masyarakat Umum
Multiflier Effect : Pedagang hasil produksi UMKM di Malili, di
berai-gerai bandara, dan sebagainya
Komitmen Anggaran : Sangat kuat
Cakupan Wilayah : Seluruh Kecamatan se Kabupaten Luwu Timur
308

Lampiran 13

Manuskrip Wawancara dan Monitoring Program Bidang Kesehatan

Dinas Kesehatan Luwu Timur


Nara Sumber Sufriati, Sekertaris Dinas
Rd. Adnan, Kabid Kesmas
Topik Problematika Pelayanan Kesehatan
1. Nama Program/Kebijakan
Mengatasi Masalah Kesehatan Melalui
Layanan Kesehatan Masyarakat
2. Latar Belakang Program
Keterbatasan sarana dan prasaran kesehatan sangat dirasakan masyarakat
Luwu Timur terutama pasca pemekaran. Daerah yang secara geografis
memiliki daratan, gurung, dan laut ini memiliki luas wilayan 6,944.88 km 2
atau 11,14% dari luas Propinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayah yang dimiliki
kabupaten paling Utara di Propopinsi Sulawesi Selatan ini tidak sebanding
dengan sarana prasaran kesehatan yang dimiliki. Masyarakat mengeluhkan
layanan kesehatan karena untuk berobat membutuhkan jarak yang jauh dan
waktu yang lama untuk tiba di pusat layanan kesehatan.
3. Pelaksana dan Pihak Yang Terkait
a. Sumber Program : Dinas Kesehatan
b. Instansi yang terlibat : PKK kabupaten, PMD,
c. Penanggungjawab : Kabid Yankes, Kabid Kesmas, Kabid
P2TL, Kabid Pelaynanan
d. Pelaksana Program : Bid Yankes, Bid Kesmas, Bid P2TL, Bid
Pelayanan
e. Rekanan : -
4. Waktu Pelaksanaan Program
Program dilaksanakan pada tahun 2006
5. Tempat Pelaksanaan Program
Se Kabupaten Luwu Timur
6. Mekanisme/Alur/Terobosan Program
Dalam rangka untuk memenuhi pelayanan kesehatan di Kab. Luwu Timur,
kebijakan yang diambil dinas kesehatan diantaranya:
a. Pengadaan Sarana Kesehatan
1) Pengadaan Puskesmas Keliling sebanyak 13 unit di mana tiap
kecamatan masinsg-masing dib diberikan 1 unit kendaraan.
2) Pengadaan ambulans mayat 5 unit pada Januari 2009. Kendaraan ini
309

khusus melayanai masayrakat Lutim yang ingin dikembumikan di


kampungnya yang berada di Sulsel. Dari kelima unit kendaraan ini, 1
unit ditempatkan di Makassar yang melayani warga Lutim yang
meninggal yang ingin dikebumikan di kampungnya. Sementara di
Lutim ada 4 unit. Kelima kendaraan ini melayani 5 sona yaitu :
a) Sona 1 melayani makassar 1 unit,
b) Sona 2 melayani Malili, angkona dan lampia 1 unit,
c) Sona 3 melayani Kec. Tomoni dan Kec. Tomoni Timur 1 unit
d) Sona 4 melayani Kec. Wotu dan Kec. Burau 1 unit
e) Sona 5 melayani Kec. Wasuponda dan Soroako 1 unit.
Pengadaan 5 unit ambulans mayat ini melengkapai 5 unit ambulans
mayat yang telah diopersikan sebelumnya, yaitu
a) Melayani Kec. Malili 2 unit
b) Melayani Kec. Mangkutana dan Kec. Akalaena 1 unit, dan
c) Melayani Kec. Wowondula 2 unit.
b. Pelayanan Rawat Inap Puskesmas
1) Pelayanan rawat inap 100% semua di tingkat Puskesmas.
2) 2010 beberapa pustu yang dipersipakan rawat inap.
3) Pemberian tunjangan keterpencilan bagi petugas Rp.1 juta perbulan.

Luaran/Manfaat
1. Tersedianya mobil ambulans
2. Rawat inap 100% dapat dilayani di tingkat Puskesmas
3. Beberapa Pustu juga melayani rawat inap
4. Masyarakat menikmati layanan kesehatan yang disediakan pemerintah
Payung Hukum :
Perda No.9/2009 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Gratis di
Kabupaten Luwu TImur
310

Lampiran 14

Anggaran Infrastruktur Program Desa Mengepung Kota


Kabupaten Luwu Timur (Rp Miliar)

Tahun Jalan Jembatan Irigasi Drainase Jumlah


2006 59,303 - 21,759 - 81,062
2007 49,966 - 10,274 14,400 74,640
2008 94,048 - 24,493 16,220 134,761
2009 206,327 18,404 - 56,572 281,303
Jumlah 409,644 18,404 56,526 87,192 571,766

Sumber: Hasil Monitorinng dan Evaluasi Fipo Fajar 2009


293

Lampiran 15
Anggaran Ekonomi Dan Infrastruktur Kabupaten Luwu Timur Tahun 2010 (RP Satuan)
Dinas/Badan (SKPD) Kode Rekening Program/Kegiatan Anggaran
[Link].01.15.03 Pembangunan jalan [Link]
[Link].01.15.05 Pembangunan jembatan [Link]
[Link].01.16.03 Pembangunan saluran drainase/gorong-gorong [Link]
[Link].01.18.03 Rehabilitasi/pemeliharan jalan 700.000.000
[Link].01.24.10 Rehabilitasi/pemeliharan jaringan irigasi 600.000.000
[Link].01.24.14 Rehabiltiasi/pemeliharaan normalisasi saluran sungai 600.000.000
PU dan Penataan Ruang
[Link].01.24.16 Pemberdayaan petani pemakai air 125.242.500
[Link].01.24.18 Pembangunan jaringan irigasi [Link]
[Link].01.29.04 Pembangunan sarpras fasum 200.000.000
Fasilitasi pembagunan sarpras dasr permukiman berbasis
[Link].01.17.02 246.136.000
masy
[Link].01.18.01 Pembangunan/peningkatan infrastruktur [Link]
Bappeda [Link].01.15.10 penyelenggaraan pameran investasi 195.581.000
[Link].01.16.06 penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan 80.384.000
Peningkatan kerjasama di bidang HAKI 63.502.000
Pengembangan kebijakan dan program peningkatan
[Link].01.17.10 33.092.000
ekonomi lokal
Dinas Koperasi, Perindustrian, [Link].01.18.03 Pengembangan pasar dan distribusi barang/produk [Link]
Perdagangan, dan Penanaman Modal Penyelenggaraan promosi produk usaha mikro kecil dan
[Link].01.18.09 75.088.000
menengah daerah
Penataan tempat usaha bagi pedagang kaki lima dan
[Link].01.19.03 101.520.000
asongan
Fasilitasi bagi industri kecil menengah terhadap pemanfaatan
[Link].01.16.01 45.480.000
sumber daya
294

Pembinaan, industri kecil menengah dalam memperkuat


[Link].01.16.02 370.595.000
jaringan klaster industri
[Link].01.16.07 Fasilitasi peralatan bagi industri kecil dan menengah [Link]
Fasilitasi bagi industri kecil menengah terhadap pemanfaatan
[Link].01.16.09 110.158.000
sumber daya (budidaya persutraan dan pembuatan benang)
Penyediaan sarana maupun prasarana klaster industri
[Link].01.18.02 22.100.000
(pengembangan bengkel industri Lampia)
Peningkatan kualitas SDM kesejahteraan sosial masy [Link]
Sekertariat Daerah
[Link].04.15.03 Pembangunan jalan 90.100.000
[Link].01.05.04 Pelatihan petugas lapangan 33.800.000
[Link].01.15.01 Pelatihan petani dan pelaku agribisnis 308.900.000
[Link].01.15.02 Penyuluhan dan pendampingan petani 31.476.500
[Link].01.15.03 Peningkatan kemampuan lembaga petani 113.814.000
[Link].01.15.06 pemberdayaan pengembangan usaha agribisnis pedesaan 89.765.000
[Link].01.15.08 Apresiasi kelembagaan petani dan pelaku agribisnis 69.995.000
[Link].01.16.15 Pengembangan intensifikasi tanaman padi/palawija 21.763.500
[Link].01.16.17 Pengembangan pertanian pada lahan kering 23.407.500
Peningkatan produksi, produktivitas dan mutu produk
[Link].01.16.29 11.657.000
perkebunan
Dinas Pertanian, Perkebunan, dan
Peternakan Pembinaan dan pengembangan pembenihan tanaman
[Link].01.16.33 316.360.000
pangan
[Link].01.16.37 pengembangan sarpras pengelolaan lahan dan air [Link]
[Link].01.18.02 Pengadaan sarpras teknologi pertanian 460.180.000
temu lapang gelar teknolgi pertanian perkebunan dan
[Link].01.18.09 16.350.000
peternakan
[Link].01.18.10 penyuluhan penerapan teknologi sistem pertanaman 70.490.000
[Link].01.19.02 Penyediaan sarpras produksi pertanian/perkebunan 128.092.500
[Link].01.19.03 Pengembangan bibit unggul pertanian/perkebunan 110.570.000
Pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit menular
[Link].01.21.02 163.347.000
ternak
295

[Link].01.22.03 Pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat 530.260.000


[Link].01.22.06 Pembelian dan pendistribusian vaksin dan pakan ternak 68.375.000
[Link].01.24.02 Pengadaan sarpras teknologi peternakan tepat guna 147.107.000
[Link].01.24.04 Penyuluhan penerapan teknologi peternakan tepat guna 41.070.000
[Link].01.25.01 Pengembangan agribisnis perkebunan 442.184.000
[Link].01.15.01 Pembinaan kelompok ekonomi masyarakat pesisir 17.810.000
Pembentukan kelompok masy swakarsa pengamanan
[Link].01.16.01 253.920.000
sumber daya kelautan
[Link].01.19.01 Pengembangan budaya kelautan 64.967.500
[Link].01.20.01 pengembangan bibi ikan unggul 276.300.000
Dinas Kelautan dan Perikanan
[Link].01.20.02 Pendampingan pada kelompok tani pembididayaikan 37.765.000
[Link].01.20.03 Pembinaan dan pengembangan perikanan [Link]
[Link].01.21.01 Pendampingan pada kelompok nelayan perikanan tangkap 33.440.000
[Link].01.21.02 Pembangunan tempat pelelangan/pendaratan ikan [Link]
[Link].01.23.01 Optimalisasi pengelolaan dan pemasaran hasil perikanan 293.720.000
~ Penyuluhan transmigrasi lokal 11.395.000
Dinas Tenaga Kerja ~ Penyebarluasan informasi bursa tenaga kerja 9.028.500
~
Pembinaan kelompok pembangunan desa 26.528.500
Badan Pemberdayaan Masyarakat,
Perempuan, dan Desa ~ Penyelenggaran pendidikan dan pelatihan teknis pada masy
376.825.000
kader pemberdayaan masy
~ Penanganan daerah rawan pangan 85.490.000
~ Pembinaan desa mandiri pangan 205.423.000
Dinas Ketahanan Pangan
~ Pengembangan lumbung pangan desa 20.588.000
~ Promosi atas hasil pertanian/perkebunan unggulan daerah 43.367.000
Total [Link]
Sumber: APBD Pokok Luwu Timur Tahun 2010
296

Lampiran 16

Anggaran Kesehatan Kabupaten Luwu Timur Tahun 2010 (RP Satuan)

Dinas/Badan (SKPD) Kode Rekening Program/Kegiatan Anggaran


Dinas Pendidikan Kebudayaan,
[Link].01.16.14 Pembangunan sarana air bersih dan sanitasi 302.400.000
Pariwisata Pemuda dan Olahraga
Penyediaan pelayanan KB dan alat kontrasepsi bagi keluarga
[Link].01.15.01 30.165.000
miskin
[Link].01.15.02 Pelayanan KIE 44.800.000
[Link].01.15.03 Peningkatan perlindungan hak reproduksi individu 30.685.000
[Link].01.15.05 Pembinaan KB 6.905.000
[Link].01.15.07 Pembangunan gedung alat 491.177.500
[Link].01.17.03 Pengadaan kontrasepsi dan peralatan medis 267.550.000
KB dan Keluarga Sejahtera
[Link].01.17.04 Pelayanan KB medis operasi 17.490.800
[Link].01.18.02 Operasional kelompok masyarakat peduli KB 663.410.000
Pengembangan dan peningkatan akses dan kualitas PIK
[Link].01.20.02 9.160.000
KRR
Penyuluhan penanggulangan narkoba dan PMS termasuk
[Link].01.21.01 17.745.000
HIV/AIDS
[Link].01.23.01 Pelatihan tenaga pendamping kelompok bina keluarga di kec 12.775.600
Pekerjaan Umum Pembangunan jaringan air bersih/air minum 780.325.500
Total [Link]
Sumber: APBD Pokok Luwu Timur Tahun 2010
297

Lampiran 17

Anggaran Ekonomi Dan Infrastruktur Kabupaten Luwu Timur Tahun 2011 (RP Satuan)
Dinas/Badan (SKPD) Kode Rekening Program/Kegiatan Anggaran
Bappeda [Link].01.15.10 penyelenggaraan pameran investasi 195.581.000,00
[Link].01.16.06 penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan 80.384.000,00
[Link].01.18.03 Pengembangan pasar dan distribusi barang/produk [Link],00
Penyelenggaraan promosi produk usaha mikro kecil dan
[Link].01.18.09 75.088.000,00
menengah daerah
Penataan tempat usaha bagi pedagang kaki lima dan
[Link].01.19.03 101.520.000,00
asongan
Dinas Koperasi, Perindustrian, Fasilitasi bagi industri kecil menengah terhadap pemanfaatan
Perdagangan, dan Penanaman [Link].01.16.01 45.480.000,00
sumber daya
Modal Pembinaan, industri kecil menengah dalam memperkuat
[Link].01.16.02 370.595.000,00
jaringan klaster industri
[Link].01.16.07 Fasilitasi peralatan bagi industri kecil dan menengah [Link],00
Fasilitasi bagi industri kecil menengah terhadap pemanfaatan
[Link].01.16.09 110.158.000,00
sumber daya (budidaya persutraan dan pembuatan benang)
Penyediaan sarana maupun prasarana klaster industri
[Link].01.18.02 22.100.000,00
(pengembangan bengkel industri Lampia)
Sekertariat DPRD [Link].04.15.03 Pembangunan jalan 90.100.000,00
Dinas Pertanian, Perkebunan, dan [Link].01.15.06 pemberdayaan pengembangan usaha agribisnis pedesaan 89.765.000,00
Peternakan [Link].01.22.03 Pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat 530.260.000,00
[Link].01.15.01 Pembinaan kelompok ekonomi masyarakat pesisir 17.810.000,00
[Link].01.20.01 pengembangan bibit ikan unggul 276.300.000,00
Dinas Kelautan dan Perikanan
[Link].01.21.02 Pembangunan tempat pelelangan/pendaratan ikan [Link],00
[Link].01.23.01 Optimalisasi pengelolaan dan pemasaran hasil perikanan 293.720.000,00
298

Pemantauan pengelolaan dan penggunaan dana pemerintah


[Link].01.17.05 18.320.000,00
bagi KUKM
Koperindag
Pengembangan kebijakan dan program peningkatan ekonomi
[Link].01.17.10 33.092.000,00
lokal
Total [Link],00

Sumber: APBD Pokok Luwu Timur Tahun 2011


299

Lampiran 18

Anggaran Kesehatan Kabupaten Luwu Timur Tahun 2011 (Rp Satuan)


Dinas/Instansi (SKPD) KODE REKENING PROGRAM ANGGARAN (RP)
~ Belanja Langsung [Link],00
Dinas Kesehatan
Belanja tidak langsung [Link],00
Belum langsung [Link],00
Rumah Sakit
Belanja tidak langsung [Link],00
Pendidikan kebudayaan,
[Link].01.16.14 Pembangunan sarana air bersih dan sanitasi 302.400.000,00
pariwisata pemuda dan olahraga
Penyediaan pelayanan KB dan alat kontrasepsi bagi
[Link].01.15.01 30.165.000,00
keluarga miskin
[Link].01.15.02 Pelayanan KIE 44.800.000,00
[Link].01.15.03 Peningkatan perlindungan hak reproduksi individu 30.685.000,00
[Link].01.15.07 Pembangunan gedung alat 491.177.500,00
Badan KB dan Keluarga [Link].01.17.03 Pengadaan kontrasepsi dan peralatan medis 267.550.000,00
Sejahtera
[Link].01.17.04 Pelayanan KB medis operasi 17.490.800,00
[Link].01.18.02 Operasional kelompok masyarakat peduli KB 663.410.000,00
Pengembangan dan peningkatan akses dan kualitas PIK
[Link].01.20.02 9.160.000,00
KRR
Penyuluhan penanggulangan narkoba dan PMS termasuk
[Link].01.21.01 17.745.000,00
HIV/AIDS
Total [Link],00
Sumber: APBD Pokok Luwu Timur Tahun 2011
300

Lampiran 19

Anggaran Ekonomi Dan Infrastruktur Kabupaten Luwu Timur Tahun 2012 (RP Satuan)

Dinas/Badan (SKPD) Kode Rekening Program/Kegiatan Anggaran


[Link].01.17.05 Fasilitasi Penyelenggaraan Festival Budaya Daerah 482.775.000
Program Peningkatan Upaya Penumbuhan
[Link].01.17 607.232.000
Kewirausahaan dan Kecakapan Hidup Pemuda
Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Peningkatan pemanfaatan Teknologi Informasi dalam
[Link].01.15.02 47.750.000
Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Pemasaran Pariwisata
Pelaksanaan Promosi Pariwisata Nusantara di Dalam &
[Link].01.15.05 [Link]
Luar Negeri
[Link].01.16.06 Pengembangan Daerah Tujuan Wisata 151.200.000
[Link].01.15.03 Pembangunan Jalan [Link]
[Link].01.15.05 Pembangunan Jembatan [Link]
.[Link].18.03 Rehabilitasi/ Pemeliharaan Jalan [Link]
[Link].01.18.04 Rehabilitasi / Pemeliharaan Jembatan 150.000.000
[Link].01.24.10 Rehabilitasi/Pemeliharaan Jaringan irigasi 200.000.000
[Link].01.24.14 Rehabilitasi/Pemeliharaan Normalisasi Saluran Sungai 250.000.000
Dinas PU [Link].01.24.16 Pemberdayaan Petani Pemakai Air 209.575.500
[Link].01.24.18 Pembangunan Jaringan Irigasi [Link]
Pembangunan Embung dan Bangunan Penampung Air
[Link].01.26.01 624.000.000
Lainnya
Pemberdayaan Penyedia Jasa Konstruksi (Orang
[Link].01.32.01 84.520.000
Perseorangan, Badan Usaha)
Pemberdayaan Pengguna Jasa Konstruksi (Instansi
[Link].01.32.02 46.290.000
Pemerintah, Orang Perseorangan, Badan Usaha)
Dinas Tata Ruang dan Permukiman [Link].05.15.03 Pembangunan Jalan [Link]
301

[Link].05.16.03 Pembangunan Saluran Drainase/ Gorong-Gorong [Link]


[Link].05.16.05 Rehabilitasi/ Pemeliharaan Drainase 250.000.000
[Link].05.29.01 Pembangunan/ Peningkatan Infrastruktur [Link]
[Link].05.30.01 Penataan Lingkungan Permukiman Penduduk Perdesaan 86.904.000
Pembangunan Sarana dan Prasarana Rumah Sederhana
[Link].05.15.07 [Link]
Sehat
[Link].01.22.12 Feasibility Study Pembangunan Industri kakao 201.940.000
Bappeda [Link].01.22.13 Penyusunan Master Plant Pengembangan Industri Kakao 216.635.000
Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Program
[Link].01.23.05 123.630.750
Penanggulangan Kemiskinan Daerah
[Link].01.18.02 Pengadaan Halte Bus Bus, Taxi, Gedung Terminal 140.400.000
Dinas perhubungan dan Informatika Pembangunan Jembatan Penyeberangan Gedung
[Link].01.18.03 355.320.000
Terminal
Badan Keluarga Berencana dan
[Link].01.18.04 Pemberdayaan Ekonomi Keluarga 15.290.000
Keluarga Sejahtera
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi [Link].01.21.02 Peningkatan peran aktif masyarakat dan dunia usaha 39.609.000
dan Sosial [Link].01.16.01 Penyebarluasan Informasi Bursa Tenaga Kerja 5.480.000
Penyelenggaraan Promosi Produk Usaha Mikro Kecil
[Link].01.17.09 234.438.000
Menengah
[Link].01.18.03 Pengembangan Pasar dan Distribusi Barang/Produk [Link]
Fasilitasi bagi Industri Kecil Menengah terhadap
[Link].01.16.01 Pemanfaatan Sumber Daya (Bantuan Peralatan Produksi 899.000.000
Dinas Koperasi, Perindustrian dan untuk IKM hasil Pertanian dalam arti luas)
Perdagangan Pembinaan Industri Kecil dan Menengah dalam
[Link].01.16.02 192.320.000
memperkuat Jaringan Klaster Industri
Fasilitasi bagi Industri Kecil Menengah terhadap
[Link].01.16.09 Pemanfaatan Sumber Daya ( Bimtek Pembuatan Bubuk 365.639.000
Coklat, Meises dan Permen Cokelat)
Fasilitasi bagi Industri Kecil dan Menengah terhadap
[Link].01.16.10 [Link]
Pemanfaatan Sumber Daya (Pengadaan Peralatan
302

Pengolahan Rumput Laut)


[Link].01.18.02 Penyediaan Sarana maupun Prasarana Klaster Industri [Link]
[Link].01.18.05 Penyediaan Mesin Peralatan Pengolahan Kakao 718.445.000
Kantor Pelayanan Terpadu [Link].20.18.02 Fasilitasi Kemudahan Perizinan Pengembangan Usaha 187.968.000
Pemberdayaan Pengembangan Usaha Agribisnis
[Link].01.15.06 399.702.500
Pedesaan (PUAP)
[Link].01.16.17 Pengembangan Pertanian pada lahan kering 67.790.000
Fasilitasi dan Pendampingan Peningkatan Ketahanan
[Link].01.16.32 136.801.500
Pangan Kabupaten
Fasilitasi dan Pendampingan Pengelolaan Lahan dan Air
[Link].01.16.35 [Link]
(PLA)
Fasilitasi dan Pendampingan Dana Bantuan Luar Negeri
[Link].01.16.36 74.981.500
(BLN)
Pengembangan Sarana dan Prasarana Pengelolaan
[Link].01.16.37 [Link]
Dinas Pertanian, Perkebunan dan Lahan dan Air (PLA)
Peternakan Peningkatan Produksi dan Produktivitas Tanaman Kakao
[Link].01.16.42 713.640.500
dan Lada
[Link].01.16.43 Pemeliharaan Kebun Hortikultura 60.922.500
Peningkatan Produksi dan Produktivitas Tanaman Padi
[Link].01.16.44 [Link]
dan Jagung
Promosi atas hasil produksi pertanian/perkebunan
[Link].01.17.07 45.970.000
unggulan daderah
[Link].01.18.02 Pengadaan sarana dan Prasarana teknologi pertanian [Link]
[Link].01.19.02 Penyediaan Sarana Produksi Pertanian/Perkebunan 489.950.000
[Link].01.25.01 Pengembangan Agribisnis Perkebunan 371.442.000
[Link].04.16.14 Pembinaan Desa Mandiri Pangan 240.168.000
[Link].04.16.18 Pengembangan Lumbung Pangan Desa 498.012.000
Badan Ketahanan Pangan
[Link].04.16.19 Pengembangan Model Distribusi Pangan yang Efisien 516.284.200
[Link].04.17.07 Promosi Atas Hasil Pertanian/ Perkebunan Unggulan 77.163.000
303

Daerah
Badan Pelaksana Penyuluhan [Link].05.15.03 Diseminasi Teknologi Peningkatan Produksi Padi 258.915.000
Pertanian,Perikanan dan Kehutanan [Link].05.15.07 Peningkatan Sistem Pemanfaatan dan Produktifitas Lahan 147.100.000
Pengawasan Penyelenggaraan Usaha Pengelolaan
[Link].01.15.07 84.831.000
Pertambangan
Dinas Energi dan Sumber Daya Interkoneksi Jaringan PLTMH Bantilang dengan Jaringan
Mineral [Link].01.17.03 695.820.000
PLN
[Link].01.17.05 Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) [Link]
[Link].01.15.02 Pengembangan Kelompok Usaha Bersama Perikanan 555.100.000
[Link].01.20.01 Pengembangan Bibit Ikan Unggul 83.240.000
[Link].01.20.02 Pendampingan Pada kelompok Tani Pembudidaya Ikan 86.640.000
Dinas Kelautan dan Perikanan
[Link].01.21.02 Pembangunan Tempat Pelelangan/Pendaratan Ikan [Link]
[Link].01.23.01 Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Hasil Perikanan [Link]
[Link].01.24.02 Pengembangan Kawasan Budidaya Air Payau 671.520.000
Total [Link]

Sumber: APBD Pokok Luwu Timur Tahun 2012


304

Lampiran 20

Anggaran Kesehatan Kabupaten Luwu Timur Tahun 2012 (Rp Satuan)

Dinas/Badan (SKPD) Kode Rekening Program/Kegiatan Anggaran


Penyediaan Pelayanan KB dan alat kontrasepsi bagi
[Link].01.15.01 45.357.600
keluarga miskin
[Link].01.15.02 Pelayanan KIE 82.517.000
Badan Keluarga Berencana dan [Link].01.15.05 Pembinaan Keluarga berencana 30.719.400
Keluarga Sejahtera
[Link].01.17.03 Pengadaan Alat Kontrasepsi dan Peralatan Medis 765.320.000
[Link].01.17.04 Pelayanan KB Medis operasi 37.999.000
[Link].01.18.02 Operasional Kelompok masyarakat peduli KB 696.940.000
Total [Link]

Sumber: APBD Pokok Luwu Timur Tahun 2012


305

Lampiran 21

Anggaran Ekonomi Dan Infrastruktur Kabupaten Luwu Timur Tahun 2013 (Rp Satuan)

Dinas/Badan Kode Rekening Program/Kegiatan Anggaran


[Link].01.15.03 Pembangunan jalan [Link]
[Link].01.15.05 Pembangunan jembatan [Link]
[Link].01.18.03 Rehabilitasi/ pemeliharaan jalan [Link]
[Link].01.18.04 rehabilitasi /pemeliharaan jembatan 400.000.000
PU [Link].01.24.10 rehabilitasi/ pemeliharaan jaringan irigasi 350.000.000
[Link].01.24.16 pemberdayaan petani pemakai air 61.020.000
[Link].01.24.18 pembangunan jaringan irigasi [Link]
[Link].01.24.19 Peningkatan pengelolaan irigasi partisipatif 147.400.000
pembangunan embung dan bangunan penampung air
[Link].01.26.20 728.000.000
lainnya
[Link].05.15.03 pembangunan jalan [Link]
[Link].05.16.03 pembangunan saluran drainase/ gorong-gorong [Link]
Dinas Tata Ruang dan [Link].05.16.04 rehabilitasi/ pemeliharaan drainase 750.000.000
Pemukiman Pembangunan sarana dan prasarana rumah
[Link].05.15.07 [Link]
sederhana sehat
[Link].01.26.25 WISMP (water resources irrigation sector program) 168.148.000
Bappeda [Link].01.15.10 Penyelengggaraan Pameran investasi 218.970.000
Kegiatan penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
Badan KB dan Pemberdayaan [Link].01.18.03 47.210.000
membangun keluarga sejahtera
Perempuan [Link].01.18.04 Pemberdayaan ekonomi keluarga 9.845.000
Penyelenggaraan promosi produk usaha mikro kecil
Dinas Koperindag [Link].01.17.09 209.125.000
menengah
fasilitasi penyelesaian permasalahan pengaduan
[Link].01.15.02 196.688.000
konsumen
306

[Link].01.18.03 Pengembangan pasar dan distribusi [Link]


Fasilitasi bagi industri kecil dan menengah terhadap
[Link].01.16.09 pemanfaatan sumber daya(bimtek diseversifikasi 261.186.000
pengelolaan kakao terpadu )
Peningkatan kualitas SDM kesejahteraan sosial
[Link].03.21.03 [Link]
masyarakat
sekertariat Daerah
Sosialisasi, pemantauan, pembinaan, dan
[Link].03.28.01 743.748.000
pengelolaan raskin
Dinas Pendapatan, pengelolaan [Link].[Link].[Link] Bantuan sosial pada individu dan keluarga 533.060.000
[Link].[Link].[Link] Bantuan keuangan kepada desa;
Bantuan pembangungan infrastruktur desa [Link]
Keungan dan aset daerah Bantuan keuangan kepada Rumah tangga ((Bantuan
perbaikan rumah bagi warga miskin 124 desa) + (2 [Link]
kelurahan x 5 rumah))
[Link].[Link].[Link] Bantuan masyarakat (dana pendamping PNPM) 480.000.000
Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Burau [Link].09.18.03 31.243.800
membangun keluarga sejahtera
Peningkatan peran ibu rumah tangga dalam
Kecamatan wotu [Link].10.18.03 26.120.000
membangun keluarga sejahtera
Kegiatan Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Tomoni [Link].11.18.03 41.950.000
membangun keluarga sejahtera
Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Mangkutana [Link].12.18.03 30.370.000
membangun keluarga sejahtera
Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Angkona [Link].13.18.03 32.490.000
membangun keluarga sejahtera
Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Malili [Link].14.18.03 41.050.000
membangun keluarga sejahtera
Peningkatan peran ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Nuha [Link].15.18.03 34.200.000
membangun keluarga sejahtera
Kegiatan Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Towuti [Link].16.18.05 51.475.000
membangun keluarga sejahtera
Kecamatan Tomoni Timur [Link].17.18.03 Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam 24.750.000
307

membangun keluarga sejahtera


Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Kalaena [Link].18.18.03 31.610.000
membangun keluarga sejahtera
Peningkatan peran ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Wasuponda [Link].19.18.03 21.825.000
membangun keluarga sejahtera
Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
[Link].01.18.03 membangun keluarga sejahtera (TP PKK Kab 520.931.000
BPMD LuwunTimur)
Pemberdayaan lembaga dan organisasi masyarakat
[Link].01.15.01 490.861.500
perdesaan (pendampingan PNPM-MP) 11 kecamatan
Pemberdayaan pengembangan usaha agribisnis
[Link].01.15.06 61.227.500
pedesaan (PUAP)
Fasilitasi dan pendampingan peningkatan ketahanan
[Link].01.16.32 61.468.500
pangan kabupaten
Fasilitasi dan pendampingan pengelolaan latihan dan
[Link].01.16.35 498.785.000
air (PLA)
Pengembangan sarana dan prasarana pengelolaan
[Link].01.16.37 [Link]
lahan air (PLA)
Pengendalian hama terpadu (PHT) tanaman
[Link].01.16.41 266.222.500
perkebunan
Dinas Pertanian, Perkebunan [Link].01.16.43 Pemeliharaan kebun holtikultura 33.422.500
dan Peternakan Pengawasan penetapan standar mutu benih
[Link].01.16.45 34.010.000
perkebunan
Promosi atas hasil produksi pertanian/perkebunan
[Link].01.17.07 21.710.000
unggulan daerah
[Link].01.18.02 Pengadaan sarana dan prasarana teknologi 923.000.000
[Link].01.19.02 Penyediaan sarana produksi pertanian/perkebunan 820.997.500
Pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit
[Link].01.21.02 161.868.500
menular ternak
[Link].01.22.11 Peningkatan populasi ternak sapi 155.990.000
[Link].01.25.01 Pengembangan agribisnis perkebunan 199.939.000
308

[Link].04.16.13 Pengembangan cadangan pangan daerah 120.400.000


[Link].04.16.18 Pengembangan lumbung pangan desa 442.230.000
Badan Katahan Pangan [Link].04.16.19 Pengembangan model distribusi pangan yang efesien 361.061.240
[Link].04.16.33 internalisasi penganekaragaman konsumsi pangan 75.810.000
promosi atas hasil produksi pertanian/perkebunan
[Link].04.17.07 48.340.000
unggulan daerah
penyuluhan dan pendampingan petani dan pelaku
Badan Pelaksana penyuluhan [Link].05.15.02 97.273.000
agribisnis
Pertanian, pertanian dan [Link].05.15.03 Peningkatan kelas kemampuan petani 41.512.500
penyediaan barang cetakan dan pengadaan (media
[Link].05.18.11 90.090.000
Kehutanan informasi penyuluhan massal)
[Link].05.19.09 demonstrasi padi sehat semi organik 84.656.500
[Link].01.20.02 pendampingan pada kelompok tani pembudidaya ikan 49.760.000
[Link].01.20.03 pembinaan dan pengembangan perikanan 269.790.000
pendampingan pada kelompok nelayanan perikanan
[Link].01.21.01 172.290.000
Dinas kelautan dan perikanan tangkap
[Link].01.21.02 pembangunan tempat pelelangan/ pendaratan iakan [Link]
[Link].01.23.01 optimasi pengelollan dan pemasaran hasil perikanan [Link]
[Link].01.21.04 pengembangan kawasan budidaya air payau [Link]
Belanja modal pengadaan tanah sarana umum
[Link].[Link].[Link] 750.000.000
dermaga
Setda (Bagian Pemerintah) [Link].[Link].[Link] Belanja modal pengadaan tanah perumahan 412.500.000
[Link].[Link].[Link] Belanja modal pengadaan tanah pertanian 150.000.000
[Link].[Link].[Link] Belanja modal pengadaan tanah sarana umum jalan [Link]
Setda (bagia Ekbang) [Link].03.28 Program pembinaan dan pengelolaan raskin 743.748.000
Badan Pemberdayaan Masyara- Fasilitas kemitraan swasta dan usaha mikro kecil dan
[Link].01.16.05 55.495.000
kat dan Pemerintahan Desa menengah diperdesaan (gelar TTG TK Nasional)
Total [Link]

Sumber: APBD Pokok Luwu Timur Tahun 2013


309

Lampiran 22

Anggaran Kesehatan Kabupaten Luwu Timur Tahun 2013 (RP Satuan)

Dinas/Badan (SKPD) Kode Rekening Program/Kegiatan Jumlah


Penyediaan Pelayanan KB dan alat kontrasepsi bagi
[Link].01.15.01 46.977.000
keluarga miskin
[Link].01.15.05 Pembinaan keluarga berencana 37.029.400
[Link].01.17.03 Pengadaan alat kontrasepsi dan peralatan medis 46.480.000
[Link].01.17.04 Pelayanan KB medis operasi 24.947.000
Badan KB dan Pemberdayaan [Link].01.18.02 operasional kelompok masyarakat peduli KB 743.850.000
Pengembangan dan peningkatan akses dan kualitas
[Link].01.20.02 60.495.000
PIK KRR
penyuluhan penanggulangan narkoba dan PMS
[Link].01.21.01 24.710.000
termasuk HIV/AIDS di sekolah
Pelatihan tenaga pendamping kelompok bina keluarga
[Link].01.23.01 211.099.000
di kecamatan
Bimbingan manajemen terhadap kader posyandu
[Link].01.15.05 655.249.000
Badan Pemberdayaan dalam pelaksanaan posyandu
Masyarakat dan Pemerintah [Link].[Link].[Link] Organisasi Kemasyarakatan (Belanja Hibah) pada; 75.000.000
Desa KPA 75.000.000
PMI 200.000.000
Belanja modal pengadaan tanah sarana kesehatan
Setda (Bagian Pemerintah) [Link].[Link].[Link] 225.000.000
puskesmas
Total [Link]

Sumber: APBD Pokok Luwu Timur Tahun 2013


310

Lampiran 23

Anggaran Ekonomi Dan Infrastruktur Kabupaten Luwu Timur Tahun 2014 (Rp Satuan)

Dinas/Badan (SKPD) Kode Rekening Program/Kegiatan Anggaran


[Link].01.15.03 Pembangunan jalan [Link]
[Link].01.15.05 Pembangunan jembatan [Link]
[Link].01.18.03 Rehabilitasi/ pemeliharaan jalan [Link]
[Link].01.18.04 rehabilitasi /pemeliharaan jembatan 756.000.000
[Link].01.24.10 rehabilitasi/ pemeliharaan jaringan irigasi 324.000.000
Dinas Pekerjaan Umum
[Link].01.24.16 pemberdayaan petani pemakai air 120.624.500
[Link].01.24.18 pembangunan jaringan irigasi [Link]
[Link].01.24.19 Peningkatan pengelolaan irigasi partisipatif 293.841.500
pembangunan embung dan bangunan
[Link].01.26.01 800.000.000
penampung air lainnya
[Link].05.15.03 pembangunan jalan [Link]
Dinas Tata Ruang dan
[Link].05.16.03 pembangunan saluran drainase/ gorong-gorong [Link]
Permukiman
[Link].05.16.05 rehabilitasi/ pemeliharaan drainase 745.470.000
Water resources irrigation sector program
[Link].01.26.25 180.014.000
Bappeda (WISMP)
[Link].01.15.10 Penyelengggaraan Pameran investasi 248.770.000
Dinas Perhubungan, [Link].01.16.04 Rehabilitasi/pemeliharaan terminal/pelabuhan 25.000.000
Komunikasi dan Informatika [Link].01.18.01 Pembangunan gedung terminal 608.000.000
Kegiatan penyuluhan bagi ibu rumah tangga
Badan KB dan [Link].01.18.03 55.260.000
dalam membangun keluarga sejahtera
Pemberdayaan Perempuan
[Link].01.18.04 Pemberdayaan ekonomi keluarga 22.230.800
Dinas Tenaga Kerja, [Link].01.16.01 penyebarluasan informasi bursa tenaga kerja 7.905.000
Transmigrasi dan Sosial [Link].01.16.03 kerjasama pendidikan dan pelatihan 503.790.000
311

Penyelenggaraan promosi produk usaha mikro


[Link].01.17.09 130.600.000
kecil menengah
fasilitasi penyelesaian permasalahan
[Link].01.15.02 228.884.000
pengaduan konsumen
Pengembangan pasar dan distribusi
[Link].01.18.03 [Link]
barang/produk
Dinas Koperindag
Fasilitasi bagi industri kecil dan menengah
[Link].01.16.09 121.963.500
terhadap pemanfaatan sumber daya
penyediaan sarana maupun prasarana klaster
[Link].01.18.04 249.480.000
industri
pengembangan kawasan home industri
[Link].01.19.01 415.727.500
unggulan (KHILAN)
[Link].[Link].[Link] Pengadaan tanah (tanah perumahan) 375.000.000
[Link].[Link].[Link] Pengadaan tanah (tanah kawasan industri) [Link]
[Link].[Link].[Link] Pensertifikatan tanah (tanah kawasan industri) 381.000.000
Sekretariat Daerah Peningkatan kualitas SDM kesejahteraan sosial
[Link].03.21.03 [Link]
masyarakat
Sosialisasi, pemantauan, pembinaan, dan
[Link].03.28.01 722.320.200
pengelolaan raskin
Belanja hibah (kelompok ternak sejahtera desa
[Link].[Link].[Link] 38.520.000
atue)
Belanja bantuan sosial (Individu dan atau
[Link].[Link].[Link]
keluarga)
Dinas Pendapatan, Bantuan perbaikan rumah bagi masyarakat
[Link]
Pengelolaan Keuangan dan berpenghasilan rendah
Aset Daerah [Link].[Link].[Link] Belanja bantuan sosial (masyarakat) 435.000.000
Belanja bantuan sosial (Individu dan atau
[Link].[Link].[Link] 500.000.000
keluarga)
Belanja bantuan keuangan kepada desa (BK-
[Link].[Link].[Link] [Link]
PIPP)
312

Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam


Kecamatan Burau [Link].09.18.03 48.793.800
membangun keluarga sejahtera
Peningkatan peran ibu rumah tangga dalam
Kecamatan wotu [Link].10.18.03 43.000.000
membangun keluarga sejahtera
Kegiatan Penyuluhan bagi ibu rumah tangga
Kecamatan Tomoni [Link].11.18.03 43.500.000
dalam membangun keluarga sejahtera
Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Mangkutana [Link].12.18.03 40.128.000
membangun keluarga sejahtera
Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Angkona [Link].13.18.03 41.490.000
membangun keluarga sejahtera
Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Malili [Link].14.18.03 67.200.000
membangun keluarga sejahtera
Peningkatan peran ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Nuha [Link].15.18.03 68.300.000
membangun keluarga sejahtera
Kegiatan Penyuluhan bagi ibu rumah tangga
Kecamatan Towuti [Link].16.18.05 62.500.000
dalam membangun keluarga sejahtera
Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Tomoni Timur [Link].17.18.03 26.000.000
membangun keluarga sejahtera
Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Kalaena [Link].18.18.03 38.080.000
membangun keluarga sejahtera
Peningkatan peran ibu rumah tangga dalam
Kecamatan Wasuponda [Link].19.18.03 34.220.000
membangun keluarga sejahtera
Kantor Pelayanan Perizinan Fasilitasi kemudahan perizinan pengembangan
[Link].20.18.02 71.833.400
Terpadu usaha
Penyuluhan bagi ibu rumah tangga dalam
[Link].01.18.03 membangun keluarga sejahtera (TP PKK Kab 550.501.000
Badan Pemberdayaan
LuwuTimur)
Masyarakat dan
Pemberdayaan lembaga dan organisasi
Pemerintahan Desa
[Link].01.15.01 masyarakat perdesaan (pendampingan PNPM- 577.635.000
MP) 11 kecamatan
313

[Link].01.15.10 Pelatihan keterampilan usaha home industri 48.870.000


Pelatihan keterampilan manajemen badan
[Link].01.16.02 57.875.000
usaha milik desa
Pemberdayaan pengembangan usaha
[Link].01.15.06 79.565.000
agribisnis pedesaan (PUAP)
Fasilitasi dan pendampingan peningkatan
[Link].01.16.32 61.665.000
ketahanan pangan kabupaten
Fasilitasi dan pendampingan pengelolaan
[Link].01.16.35 501.771.000
latihan dan air (PLA)
Pengembangan sarana dan prasarana
[Link].01.16.37 [Link]
pengelolaan lahan air (PLA)
Pengendalian hama terpadu (PHT) tanaman
[Link].01.16.41 87.877.500
perkebunan
[Link].01.16.43 Pemeliharaan kebun holtikultura 19.430.000
Pengawasan penetapan standar mutu benih
Dinas Pertanian, [Link].01.16.45 33.690.000
perkebunan
Perkebunan dan Promosi atas hasil produksi
Peternakan [Link].01.17.07 25.150.000
pertanian/perkebunan unggulan daerah
Pengadaan sarana dan prasarana teknologi
[Link].01.18.02 [Link]
pertanian
Penyediaan sarana produksi
[Link].01.19.02 79.710.000
pertanian/perkebunan
Pemeliharaan kesehatan dan pencegahan
[Link].01.21.02 147.781.250
penyakit menular ternak
[Link].01.21.04 Pengawasan perdagangan ternak antar daerah 48.210.000
Fasilitasi dan pendampingan bantuan bidang
[Link].01.22.10 47.875.000
peternakan
[Link].01.22.11 Peningkatan populasi ternak sapi 122.880.000
[Link].01.25.01 Pengembangan agribisnis perkebunan 181.770.000
314

[Link].04.16.13 Pengembangan cadangan pangan daerah 39.405.000


[Link].04.16.18 Pengembangan lumbung pangan desa 510.725.000
internalisasi penganekaragaman konsumsi
[Link].04.16.33 55.640.000
Badan Ketahanan Pangan pangan
[Link].04.16.37 Pembinaan dan Pelatihan pengolahan pangan 17.650.000
promosi atas hasil produksi
[Link].04.17.07 110.720.000
pertanian/perkebunan unggulan daerah
Pelatihan petani dan pelaku agribisnis (kursus
[Link].05.15.01 37.790.000
tani)
penyuluhan dan pendampingan petani dan
[Link].05.15.02 59.560.000
pelaku agribisnis
sistem pemanfaatan dan peningkatan
[Link].05.15.07 119.020.000
produktifitas lahan (kaji tetap)
Badan Pelaksana Penyuluhan teknologi pertanian/perkebunan
[Link].05.18.08 345.695.000
Penyuluhan Pertanian, tepat guna (PENAS)
Perikanan dan Kehutanan Temu lapang gelar teknologi pertanian tepat
[Link].05.18.09 13.268.000
guna
Program sekolah lapang pengendalian hama
[Link].05.19.11 79.240.000
terpadu (SL-PHT)
Pemberdayaan petani melalui pengawalan dan
[Link].05.24.08 pendampingan penyuluh di sentra produksi sapi 13.500.000
(demonstrasi cara pengelolaan ternak sapi)
Pendampingan pada kelompok tani
[Link].01.20.02 93.945.000
pembudidaya ikan
[Link].01.20.03 Pembinaan dan pengembangan perikanan 188.704.800
Dinas kelautan dan Pendampingan pada kelompok nelayan
[Link].01.21.01 48.290.000
perikanan perikanan tangkap
Pembangunan tempat pelelangan
[Link].01.21.02 [Link]
ikan/pendaratan ikan
[Link].01.23.01 Optimalisasi pengelolaan dan pemasaran hasil 621.850.000
315

perikanan
Pembinaan dan pengembangan kelompok
[Link].01.23.02 31.175.000
pengolahan dan pemasaran hasil perikanan
[Link].01.24.02 Pengembangan kawasan budidaya air payau [Link]
Total [Link]
Sumber: APBD Pokok Luwu Timur Tahun 2014
316

Lampiran 24

Anggaran Kesehatan Kabupaten Luwu Timur Tahun 2014 (Rp Satuan)

Dinas/Badan (SKPD) Kode Rekening Program/Kegiatan Jumlah


Sosialisasi keselamatan dan kesehatan kerja
Dinas Pekerjaan Umum [Link].01.31.03
(K3)
Penyediaan Pelayanan KB dan alat
[Link].01.15.01 40.650.000
kontrasepsi bagi keluarga miskin
[Link].01.15.05 Pembinaan keluarga berencana 317.741.000
Pengadaan alat kontrasepsi dan peralatan
[Link].01.17.03 256.500.000
medis
Badan KB dan Pemberdayaan [Link].01.17.04 Pelayanan KB medis operasi 25.077.000
Perempuan [Link].01.18.02 operasional kelompok masyarakat peduli KB 668.170.000
Pengembangan dan peningkatan akses dan
[Link].01.20.02 65.513.000
kualitas PIK KRR
penyuluhan penanggulangan narkoba dan
[Link].01.21.01 26.960.000
PMS termasuk HIV/AIDS di sekolah
Pelatihan tenaga pendamping kelompok bina
[Link].01.23.01 153.552.000
keluarga di kecamatan
Total [Link]
Sumber: APBD Pokok Luwu Timur Tahun 2014
317

Lampiran 25

Akumulasi Anggaran Ekonomi/Infrastruktur Dan Kesehatan


Kabupaten Luwu Timur Tahun 2010-2014 (Rp Satuan)

Bidang 2010 2011 2012 2013 2014 Jumlah

Ekonomi dan
[Link],00 [Link],00 [Link] [Link] [Link] [Link],00
Infrastruktur

Kesehatan [Link],00 [Link],00 [Link] [Link] [Link] [Link],00

Jumlah [Link],00 [Link],00 [Link],00 [Link],00 [Link],00 [Link],00

Sumber: Lampairan 5.1 sampai 5.10


318

Lampiaran 26

Anggaran Program Pengembangan Produk Barang dan Jasa Dinas Koperindag


Kabupaten Luwu Timur Tahun 2010 (RP Satuan)

Barang dan
Kode Rekening Program / Kegiatan Barang Jasa
Jasa
[Link].01.16.06 Penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan 80.384.000
~ Peningkatan kerjasama di bidang HAKI 63.502.000
[Link].01.17.10 Pengembangan kebijakan dan program peningkatan ekonomi lokal 33.092.000
[Link].01.18.03 Pengembangan pasar dan distribusi barang/produk [Link]
Penyelenggaraan promosi produk usaha mikro kecil dan menengah
[Link].01.18.09 75.088.000
daerah
[Link].01.19.03 Penataan tempat usaha bagi pedagang kaki lima dan asongan 101.520.000
Fasilitasi bagi industri kecil menengah terhadap pemanfaatan sumber
[Link].01.16.01 45.480.000
daya
Pembinaan, industri kecil menengah dalam memperkuat jaringan klaster
[Link].01.16.02 370.595.000
industri
[Link].01.16.07 Fasilitasi peralatan bagi industri kecil dan menengah [Link]
Fasilitasi bagi industri kecil menengah terhadap pemanfaatan sumber
[Link].01.16.09 110.158.000
daya (budidaya persutraan dan pembuatan benang)
Penyediaan sarana maupun prasarana klaster industri (pengembangan
[Link].01.18.02 22.100.000
bengkel industri Lampia)
Jumlah 233.778.000 [Link] [Link]
Total [Link]
Sumber:APBD 2010, data diolah
319

Lampiran 27

Anggaran Program Pengembangan Produk Barang dan Jasa Dinas Koperindag


Kabupaten Luwu Timur Tahun 2011 (RP Satuan)
Barang dan
Kode Rekening Program / Kegiatan Barang Jasa
Jasa
[Link].01.16.06 penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan 80.384.000
[Link].01.18.03 Pengembangan pasar dan distribusi barang/produk [Link]
Penyelenggaraan promosi produk usaha mikro kecil dan menengah
[Link].01.18.09 75.088.000
daerah
[Link].01.19.03 Penataan tempat usaha bagi pedagang kaki lima dan asongan 101.520.000
Fasilitasi bagi industri kecil menengah terhadap pemanfaatan sumber
[Link].01.16.01 45.480.000
daya
Pembinaan, industri kecil menengah dalam memperkuat jaringan klaster
[Link].01.16.02 370.595.000
industri
[Link].01.16.07 Fasilitasi peralatan bagi industri kecil dan menengah [Link]
Fasilitasi bagi industri kecil menengah terhadap pemanfaatan sumber
[Link].01.16.09 110.158.000
daya (budidaya persutraan dan pembuatan benang)
Penyediaan sarana maupun prasarana klaster industri (pengembangan
[Link].01.18.02 22.100.000
bengkel industri Lampia)
[Link].01.17.10 Pengembangan kebijakan dan program peningkatan ekonomi lokal 33.092.000
[Link].01.15.06 Pemberdayaan pengembangan usaha agribisnis pedesaan 89.765.000
[Link].01.22.03 Pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat 530.260.000
[Link].01.15.01 Pembinaan kelompok ekonomi masyarakat pesisir 17.810.000
[Link].01.20.01 pengembangan bibi ikan unggul 276.300.000
[Link].01.23.01 Optimalisasi pengelolaan dan pemasaran hasil perikanan 293.720.000
Jumlah [Link] [Link] [Link]
Total [Link]

Sumber:APBD 2011, data diolah


320

Lampiran 28

Anggaran Program Pengembangan Produk Barang dan Jasa Dinas Koperindag


Kabupaten Luwu Timur Tahun 2012 (RP Satuan)
Barang dan
Kode Anggaran Program / Kegiatan Barang Jasa
Jasa
[Link].01.17.09 Penyelenggaraan Promosi Produk Usaha Mikro Kecil Menengah 234.438.000
[Link].01.18.03 Pengembangan Pasar dan Distribusi Barang/Produk [Link]
Fasilitasi bagi Industri Kecil Menengah terhadap Pemanfaatan Sumber
[Link].01.16.01 Daya (Bantuan Peralatan Produksi untuk IKM hasil Pertanian dalam arti 899.000.000
luas)
Pembinaan Industri Kecil dan Menengah dalam memperkuat Jaringan
[Link].01.16.02 192.320.000
Klaster Industri
Fasilitasi bagi Industri Kecil Menengah terhadap Pemanfaatan Sumber
[Link].01.16.09 365.639.000
Daya (Bimtek Pembuatan Bubuk Coklat, Meises dan Permen Cokelat)
Fasilitasi bagi Industri Kecil dan Menengah terhadap Pemanfaatan
[Link].01.16.10 [Link]
Sumber Daya (Pengadaan Peralatan Pengolahan Rumput Laut)
[Link].01.18.02 Penyediaan Sarana maupun Prasarana Klaster Industri [Link]
[Link].01.18.05 Penyediaan Mesin Peralatan Pengolahan Kakao 718.445.000
Jumlah [Link] [Link] [Link]
Total [Link]

Sumber: APBD 2012, data diolah


321

Lampiran 29
Anggaran Program Pengembangan Produk Barang dan Jasa Dinas Koperindag
Kabupaten Luwu Timur Tahun 2013 (RP Satuan)

Kode Anggaran Program / Kegiatan Barang Jasa Barang dan


Jasa
[Link].01.17.09 Penyelenggaraan promosi produk usaha mikro kecil menengah 209.125.000
[Link].01.18.03 Pengembangan pasar dan distribusi [Link]
Fasilitasi bagi industri kecil dan menengah terhadap pemanfaatan
[Link].01.16.09 261.186.000
sumber daya (bimtek diseversifikasi pengelolaan kakao terpadu )
Jumlah 261.186.000 [Link] 209.125.000
Total [Link]

Sumber: APBD 2013, data diolah


322

Lampiran 30

Anggaran Program Pengembangan Produk Barang dan Jasa Dinas Koperindag


Kabupaten Luwu Timur Tahun 2014 (RP Satuan)
Barang dan
Kode Anggaran Program / Kegiatan Barang Jasa
Jasa
[Link].01.16.03 Pengembangan pasar dan distribusi barang/produk [Link]
Fasilitasi bagi industri kecil dan menengah terhadap
[Link].01.17.09 121.963.500
pemanfaatan sumber daya
[Link].01.18.04 penyediaan sarana maupun prasarana klaster industri 249.480.000
[Link].01.19.01 pengembangan kawasan home industri unggulan (KHILAN) 415.727.500
Jumlah 537.691.000 [Link] 249.480.000
Total [Link]

Sumber: APBD 2014, data diolah


323

Lampiran 31

Pembangunan Jalan Dan Jembatan Tahun 2011-2014 Dalam


Program Desa Mengepung Kota

Infastruktur 2011 2012 2013 2014

Jalan (Km) 1.705,95 1.739,69 1.752,36 1.757,32

Jembatan (Unit) 165,00 176,00 184,00 199,00

BSBR (Unit) * * 619 615

BSBR (Rp) * * [Link] [Link]

Sumber: Laporan Monitoring dan Evaluasi FIPO Fajar, 2015


Keterangan:
BSBR : Bantuan Sosial Bedah Rumah
324

Lampiran 32

Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Dinas Koperindag TA 2016

RENCANA KERJA DAN ANGGARAN


SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Formulir

R K A S K P D
PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR
Tahun Anggaran : 2016

Urusan Pemerintahan : 1.15 Urusan Wajib Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
Organisasi : 1 . 15 .01 DINAS KOPERASI, PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
Sub Unit Organisasi : 1 . 15 . 01 . 01 DINAS KOPERASI, PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN

RINGKASAN ANGGARAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN


SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH

KODE JUMLAH
REKENING URAIAN
(Rp)
1 2 3

5 BELANJA [Link],00
5.1 BELANJA TIDAK LANGSUNG [Link],00

5.1.1 [Link],00
Belanja Pegawai
5.2 [Link],00
BELANJA LANGSUNG
5.2.1
Belanja Pegawai 29.000.000,00
5.2.2
BelanjaBarangdanJasa [Link],00
5.2.3
Belanja Modal [Link],00

SURPLUS / (DEFISIT) ([Link],00)

Sumber: DPPKAD Luwu TImur


325

Lampiran 33

Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Dinas Kesehatan Tahun 2016

RINGKASAN DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN Formulir


SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH DPA SKPD

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR


Tahun Anggaran 2016

Urusan Pemerintahan : 1 . 15Urusan Wajib Koperasi dan Usaha Kecil Menengah


Organisasi : 1 . 15 . 01DINAS KOPERASI, PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
Sub Unit Organisasi : 1 . 15 . 01 . 01DINAS KOPERASI, PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
KODE JUMLAH
REKENING URAIAN
(Rp)
1 2 3

5 BELANJA [Link],00

5.1 BELANJA TIDAK LANGSUNG [Link],00

5.1.1 Belanja Pegawai [Link],00


5.2 BELANJA LANGSUNG [Link],00
5.2.1 Belanja Pegawai
29.000.000,00
5.2.2 Belanja Barang dan Jasa
[Link],00
5.2.3 Belanja Modal
[Link],00
SURPLUS / (DEFISIT) ([Link],00)

RENCANA PELAKSANAAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PERTRIWULAN

TRIWULAN
NO. URAIAN
I II III IV JUMLAH
1 2 3 4 5 6 7

1 Pendapatan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00


2.1 Belanja Tidak Langsung [Link],00 0,00 0,00 0,00 [Link],00

2.2 Belanja Langsung 276.864.250,00 [Link],00 [Link],00 [Link],00 [Link],00

3.1 Penerimaan Pembiayaan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

3.2 Pengeluaran Pembiayaan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

Sumber: DPPKAD Luwu TImur


326

Lampiran 34

Panjang Jalan Menurut Jenis Jalan dan Pemerintahan yang Berwenang di


Kabupaten Luwu Timur 2007 (Dalam Km)

Panajang Jalan
Jenis Jalan
Negara Propinnsi Kabupaten Jumlah
Aspal 0 0 48,840 48,840
Kerikil 0 0 135,788 135,788
Tanah 0 0 42,920 42,920
Tidak Terinci 0 0 0 0
Jumlah 0 0 227,188 227,188

Sumber: BPS Luwu Timur 2007/2008


327

Lampiran 35

Belanja Tidak Langsung (BTL) dan Belanja Langsung (BL)


Kabupaten Luwu Timur dan Propinsi Indonesia Tahun 2010–2014
(Satuan Rupiah)
Luwu Timur Propinsi Di Indonesia (Rp Ribu)
Tahun
BTL BL BTL BL
2010 [Link] [Link] [Link] [Link]
2011 [Link] [Link] [Link] [Link]
2012 [Link] [Link] [Link] [Link]
2013 [Link] [Link] [Link] [Link]
2014 [Link] [Link] [Link] [Link]
Jumlah [Link].306 [Link].008 [Link] [Link]
Prosentase 41,46 58,54 60,52 39,48
Total BL dan
[Link].314 [Link]
BTL
Sumber: APBD Kabupaten Timur dan Propinsi Indonesia tahun 2010-2014 (data diolah)
328

Lampiran 36
Pemetaan Konsep Penganggaran Siri’ na Pesse

Karakteristik Unsur Substansi Wujud Kelebihan


Landasan Siri’ na Pesse 1. Prolematika masyarakat, seperti Problematika Khusus:
Operasional kemiskinan, keterbatasan infra- Pedagang kaki lima yang kesulitan mengakses 1. Mudah diterapkan karena
(Kepekaan Batin) berbasis transendental
(Input) struktur, kesulitan mengakses modal, keterbatasan peralatan kerja,
modal, dan sebagainya sebagai keterbatasan pengetahuan, dan tidak dan tidak membutuhkan
pemicu munculnya rasa pesse mempunyai tempat yang tetap untuk berjualan. pengetahuan yang kom-
aktor penyusun anggaran. Pesse Mereka hanya menjajakkan juala-nnya secara pleks.
ini men-dorong lahirnya rasa siri’ mobile dari rumah ke rumah. 2. Dapat diterapkan di setiap
sehingga aktor terdorong untuk daerah karena berbasis
Solusi Pemerintah: kearifan lokal (nilai-nilai)
menyusun anggaran berdasar-kan
kebutuhan bukan keinginan. Kebijakan Program Pember-dayaan UMKM 3. Anggaran (input) ber-
2. Jadi penyusunan anggaran yang memberikan pelatihan, peralatan ker-ja, orientasi ke masyarakat
diarahkan pada sipakatau, yaitu gerobak, lokasi menjual strategis, dan modal (output) sehingga dapat
memanusiakan manusia sebagai kerja. mengatasi problema-tika
subjek penerima manfaat anggaaran dan sosial
(outcome).
Landasan Nilai-Nilai Nilai-nilai lokal yang dianut dalam Tongeng: Dinkes merasionalkan anggaran
4. Dapat diparalelkan
Operasional penyusunan dan asistensi anggaran agar proporsional dan logis berdasarkan daftar
Siri’ na Pesse dengan sistem pengang-
SKPD meliputi: tongeng (kebena-ran), harga yang ditetapkan koperindag.
(Proses) garan konvensional.
lempu’ (kejujuran), getteng (ketega- Lempu’: kasus di dinkes di mana penyusunan
5. Pendorong pembangunan
san) dan warani (berani), adele’ anggaran bersifat top down dan button up
karena anggaran dimak-
(keadilan), lalambate tarangtajo/ dengan apa adanya secara proporsional.
nai sebagai harkat dan
siwolong polong (kerja sama), mesa Getteng: Dinkes, saat penyusunan anggaran,
martabat.
kada dipatuwo pantang kada aktor komitmen menolak intervensi negatif dan
dipomate (satu kata dengan per- konsisten menegakkan tongeng dan lempu’
buatan). berdasarkan kebijakan, prosedur, dan aturan.
Adele’: Dinkes, anggaran didistribusikan
secara wajar ke setiap unit jajaran, berdasar-
kan alasan situasi.
Lalambate tarangtajo/siwo-long polong:
Dinkes, penyusunan anggaran di Puskesmas
dengan semangat kerja sama melahirkan
kreatifitas, mengoptimalkan potensi dan
menyiasati keterbatasan.
329

Tujuan Kinerja Anggaran Penggunaan anggaran ditujukan Program Desa Mengepung Kota
Operasional untuk menghasilkan output agar Output pada bidang Ekonomi-Infrastruktur
(Output) masya-rakat dapat terlayani berupa jalan, irigasi, drainase, dan jembatan.
kebutuhan publiknya. Output berupa Output pada bidang kesehatan meliputi rumah
fisik yaitu jalan, jembatan, drainase, sakit, puskesmas, pustu, dan program non fisik
kesehatan, dan sarana publik liannya, lainnya.
serta non fisik seperti program
pemerataan dan permberdayaan
ekonomi lokal.
Sasaran Kesejahteraan Output yang dihasilkan dari peng- Masyarakat berkebutuhan dan publik
Operasional gunaan anggaran ditujukan untuk menikmati output anggaran, seperti pedagang
dimanfaatkan atau dinikmati guna kaki lima, petani, nelayan, karyawan, pegawai,
(Outcome) kesejahteraan masyarakat. dan sebagainya.
Prestise Harkat dan 1. Kesejahteraan yang dirasakan Secara individu:
Martabat menciptakan kepercayaan dan Kunjungan ke UMKM di bantaran Sungai Malili
(Makna pengakuan dari masyarakat dan disam-but dengan euforia suka cita. Aktor
Anggaran) publik. Pengakuan ini pada mendapatkan keperca-yaan dan pengakuan
akhirnya berdampak terhadap yang membuatnya merasa harkat dan
lahirnya harkat dan martabat, baik martabatnya terangkat.
secara individu, tim kerja, maupun
Secara tim kerja dan institusi
institusi pemerintah daerah.
2. Pada dasarnya harkat dan mar- Penghargaan predikat WTP pada 2011, 2012,
tabat secara fitrah sudah ada sejak 2014, dan 2015 dari BPK RI merupakan wujud
aktor dilahirkan, kemudian ber- dari penegakan siri’ na pesse yang memberikan
poses secara inderawi dan dalam rasa harkat dan martabat.
penganggaran berbasis siri’ na
pesse.
3. Harkat dan martabat merupakan
upaya untuk penegakan siri’ na
pesse.
4. Harkat dan martabat sebagai
makna penyusunan anggaran.

Anda mungkin juga menyukai