0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan29 halaman

Asuhan Keperawatan pada Klien Waham

Makalah ini membahas asuhan keperawatan pasien yang mengalami waham. Pada bab pendahuluan dijelaskan latar belakang skizofrenia dan waham sebagai salah satu gejala utama skizofrenia. Bab selanjutnya membahas tinjauan teoritis tentang konsep waham, etiologi, tanda dan gejala, jenis-jenis waham. Bab berikutnya meninjau kasus pasien skizofrenia dengan waham kebesaran beserta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan29 halaman

Asuhan Keperawatan pada Klien Waham

Makalah ini membahas asuhan keperawatan pasien yang mengalami waham. Pada bab pendahuluan dijelaskan latar belakang skizofrenia dan waham sebagai salah satu gejala utama skizofrenia. Bab selanjutnya membahas tinjauan teoritis tentang konsep waham, etiologi, tanda dan gejala, jenis-jenis waham. Bab berikutnya meninjau kasus pasien skizofrenia dengan waham kebesaran beserta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Makalah Asuhan Keperawatan Klien yang Mengalami Waham

Dosen Pengampu Keperawatan Jiwa II : Ns. Abdul Gowi, [Link]., [Link] J

Disusun oleh :
Kelompok 3

Sofiyah Nur Abdillah Hasan


Muhamad Sidky Firmansyah
Syofi Inayatul Azizah
Leo Heryana

Program Studi Sarjana Keperawatan


STIKes Horizon Karawang

1
Kata Pengantar

Syukur Alhamdulillah senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
iniguna memenuhi tugas kelompok untuk mata kuliah Keperawatan Jiwa II yang diampu
oleh Ns. Abdul Gowi, [Link]., [Link] J, dengan judul: “Makalah Asuhan Keperawatan
Klien yang Mengalami Waham".
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan
banyak pihak yang dengan tulus memberikan doa, saran dan kritik sehingga makalah ini
dapat terselesaikan
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna
dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu,
kami mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun
dari berbagai pihak. Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan khususnya kesehatan.

Karawang, 13 September 2022

2
DAFTAR ISI

JUDUL................................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR...........................................................................................2
DAFTAR ISI..........................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................5
1.1 Latar Belakang..................................................................................................5
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................6
1.3 Tujuan Penulisan...............................................................................................6
1.3.1 Tujuan Umum..............................................................................................6
1.3.2 Tujuan Khusus.............................................................................................6
1.4 Manfaat.............................................................................................................7
BAB II TINJAUAN TEORITIS...........................................................................8
2.1 Konsep Waham.................................................................................................8
2.1.2 Pengertian Waham.........................................................................................8
1.1.2 Etiologi...........................................................................................................8
1.1.3 Tanda dan Gejala............................................................................................9
1.1.4 Fase Waham...................................................................................................11
1.1.5 Jenis Waham..................................................................................................12
BAB III TINJAUAN KASUS...............................................................................14
3.1 Identitas Pasien..................................................................................................14
3.2 Alasan Masuk Yayasan Pemenang Jiwa............................................................14
3.3 Faktor Predisposisi............................................................................................14
3.4 Fisik................................................................................................................... 15
3.5 Psikososial.........................................................................................................15
3.5.1 Konsep Diri....................................................................................................15
3.5.2 Hubungan Sosial............................................................................................15
3.5.3 Spiritual..........................................................................................................15

3
3.5.4 Status Mental..................................................................................................16
3.6 Mekanisme Koping...........................................................................................17
3.7 Masalah Psikososial dan Lingkungan................................................................17
3.8 Pengetahuan Kurang Tentang Gangguan Jiwa..................................................17
3.9 Analisa Data......................................................................................................18
3.10 Diagnosa Keperawatan....................................................................................19
3.11 Diagnosa Prioritas...........................................................................................19
3.12 Intervensi Keperawatan...................................................................................19
3.13 Implementasi Keperawatan.............................................................................22
3.14 Evaluasi Keperawatan.....................................................................................23
BAB IV PENUTUP...............................................................................................26
4.1 Kesimpulan.......................................................................................................26
4.2 Saran.................................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................27

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Skizofrenia merupakan sekelompok reaksi psikotik yang memengaruhi berbagai
area fungsi individu, termasuk cara berpikir, berkomunikasi, menerima,
menginterpretasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi yang ditandai dengan
pikiran kacau, waham, halusinasi, dan perilaku aneh (Pardede, et al, 2015). Skizofrenia
merupakan gangguan mental berat dan kronis yang menyerang 20 juta orang di seluruh
dunia (WHO, 2019). Indonesia berdasarkan hasil Riskesdas (2018) didapatkan estimasi
prevalensi orang yang pernah menderita skizofrenia di Indonesia sebesar 1,8 per 1000
penduduk. (Pardede, Simanjuntak, & Laia, 2020)
Skizofrenia adalah sekelompok gangguan psikotik dengan distorsi khas proses
pikir, kadang-kadang mempunyai perasaan bahwa dirinya sedang dikendalikan oleh
kekuatan dari luar dirinya, waham yang kadang-kadang aneh, gangguan persepsi, afek
abnormal yang terpadu dengan situasi nyata atau sebenarnya, dan autisme. Skizofrenia
merupakan gangguan psikotik yang paling sering. Hampir 1% penduduk di dunia
menderita skizofrenia selama hidup mereka. Gejala skizofrenia biasanya muncul pada
usia remaja akhir atau dewasa muda. Onset pada laki-laki biasanya antara 15-25 tahun
dan pada perempuan antara 25-35 tahun. Prognosis biasanya lebih buruk pada laki-laki
bila dibandingkan denganperempuan. Onset setelah umur 40 tahun jarang terjadi.(Zahnia
& Sumekar, 2016)
Waham atau delusi merupakan keyakinan palsu yang timbul tanpa stimulus luar
yang cukup dan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: tidak realistik, tidak logis, menetap,
egosentris, diyakini kebenarannya oleh penderita, tidak dapat dikoreksi, dihayati oleh
penderita sebagai hal yang nyata, penderita hidup dalam wahamnya itu, keadaan atau hal
yang diyakini itu bukan merupakan bagian sosiokultural setempat. Waham bizzare
merupakan waham yang aneh dimana terdapat pengalaman inderawi yang tidak wajar,
Yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasa bersifat mistik atau mukjizat.
Berdasarkan DSM IV, waham bizarre dianggap sebagai kriteria yang cukup untuk
mendiagnostik skizofrenia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Sreeja de et al.
(2013) , didapatkan prevalensi waham bizarre pada pasien skizofrenia adalah 2,56%.
Lima hal yang dinilai adalah, kejadian yang tidak mungkin terjadi, sensasi tubuh,
perubahan identitas, seksual, dan agama.(Zukna & Lisiswanti 2017)
Gangguan orientasi realitas atau waham merupakan gangguan yang
mempengaruhi perubahan proses pikir yang dapat ditangani secara medis maupun

5
keperawatan. Asuhan keperawatan pada kasus waham dapat disusun sesuai rencana
tindakan keperawatan dan berdasarkan strategi pelaksanaan (SP). Beberapa rencana
tindakan yang telah disusun berdasarkan SP yaitu membantu orientasi realitas,
mendiskusikan kebutuhan yang belum terpenuhi, membantu pasien memenuhi
kebutuhannya, mendiskusikan dan melatih kemampuan yang dimiliki, dan memberikan
pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur.
Data yang diperoleh dari Medical Record Yayasan Pemenang Jiwa Sumatera
tahun 2021, pasien yang menderita skizofrenia sebanyak 75 Orang. Dari jumlah pasien
tersebut yang menjadi subjek di pembuatan askep ini adalah 1 orang dengan pasien
gangguan proses pikir : Waham (Waham Kebesaran) berinisial Tn. Y. Maka tujuan
asuhan keperawatan yang akan di lakukan ialah untuk mengajarkan strategi pelaksanaan
Waham pada Tn. Y.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan masalah yang telah di paparkan pada latar belakang maka rumusan masalah
dalam askep ini yaitu asuhan keperawatan jiwa dengan masalah gangguan proses pikir:
waham kebesaran pada tn. Y di yayasan pemenang jiwa

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
Maka tujuan asuhan keperawatan yang akan dilakukan ialah untuk mengajarkan
standar pelaksanaan gangguan proses pikir:waham dan Tn.Y mampu
melaksanakan.
1.3.2 Tujuan Khusus
Setelah melakukan asuhan keperawatan kepada pasien dengan Waham Kebesaran,
mahasiswa/i diharapkan mampu :
1. Mahasiswa mampu mengetahui defenisi, penyebab, tanda dan gejala, rentang
respon dan penatalaksanaan pada pasien Waham Kebesaran
2. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian, analisa data pada Tn. y dengan Waham
Kebesaran di Yayasan Pemenang Jiwa Sumatera.
3. Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada Tn. Y dengan
Waham Kebesaran di Yayasan Pemenang Jiwa Sumatera.

6
4. Mahasiswa mampu menetapkan intervensi keperawatan pada Tn. Y dengan
Waham Kebesaran di Yayasan Pemenang Jiwa Sumatera.
5. Mahasiswa mampu melakukan implementasi keperawatan pada Tn.Y dengan
Waham Kebesaran di Yayasan Pemenang Jiwa Sumatera.
6. Mahasiswa mampu mengevaluasi hasil asuhan keperawatan pada Tn. Y dengan
Waham Kebesaran di Yayasan Pemenang Jiwa Sumatera.
7. Mahasiswa mampu mendokumentasikan pada Tn. Y dengan Waham Kebesaran di
Yayasan Pemenang Jiwa Sumatera.

1.4 Manfaat
1. Pasien
Diharapkan tindakan yang telah di ajakarkan dapat di terapkan secara mandiri untuk
mengontrol emosi dan untuk mendukung kelangsungan kesehatan pasien.
2. Yayasan Pemenang Jiwa Sumatera.
Diharapkan dapat menjadi acuan dalam menanganin atau dalam memberikan pelayanan
kepada pasien dengan gangguan jiwa dengan perilaku kekerasan di Yayasan Pemenang
Jiwa Sumatera

7
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Waham


2.1.2 Pengertian Waham
Waham adalah keyakinan yang salah yang didasarkan oleh kesimpulan
yang salah tentang realita eksternal dan dipertahankan dengan kuat. Waham merupakan
gangguan dimana penderitanya memiliki rasa realita yang berkurang atau terdistorsi dan
tidak dapat membedakan yang nyata dan yang tidak nyata (Victoryna, 2020). Waham
adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat/terus menerus, tetapi
tidak sesuai dengan keyakinan. Penyangkalan, digunakan untuk menghindari kesadaran
dan kenyataan yang menyakitkan. Proyeksi digunakan untuk melindungi diri dari
mengenal impuls yang tidak dapat diterima dari dirinya sendiri (Nurarif & Kusuma,
2015).

1.1.2 Etiologi
Menurut World Health Organization (2016) secara medis ada banyak kemungkinan
penyebab waham, termasuk gangguan neurodegeneratif, gangguan sistem saraf pusat,
penyakit pembuluh darah, penyakit menular, penyakit metabolisme, gangguan endokrin,
defisiensi vitamin, pengaruh obat-obatan, racun, dan zat psikoaktif.
1. Faktor Predisposisi
[Link] : diturunkan, adanya abnormalitas perkembangan sistem saraf yang
berhubungan dengan respon biologis yang maladaptif.
[Link] : adanya gangguan pada korteks pre frontal dan korteks limbic
[Link] : abnormalitas pada dopamine, serotonin dan glutamat.
[Link] : ibu pencemas, terlalu melindungi, ayah tidak peduli.

[Link] Presipitasi
[Link] pengolahan informasi yang berlebihan

8
[Link] penghantaran listrik yang abnormal.
[Link] gejala pemicu
Pemicu merupakan prekursor dan stimulus yang yang sering menunjukkan episode baru
suatu penyakit. Pemicu yang biasa terdapat pada respon neurobiologik yang maladaptif
berhubungan dengan kesehatan. Lingkungan, sikap dan perilaku individu (Direja, 2011)

1.1.3 Tanda dan Gejala


Menurut Herman (2011 dalam Prakasa, 2020) bahwa tanda dan gejala gangguan proses
pikir waham terbagi menjadi 8 gejala yaitu, menolak makan, perawatan diri, emosi,
gerakan tidak terkontrol, pembicaraan tidak sesuai, menghindar, mendominasi
pembicaraan, berbicara kasar.

1. Waham Kebesaran
a. DS : Pasien mengatakan bahwa ia adalah presiden, Nabi, Wali, artisdan lainnya yang
tidak sesuai dengan kenyataan dirinya.
b. DO : Perilaku pasien tampak seperti isi wahamnya, inkoheren (gagasan satu dengan
yang lain tidak logis), tidak berhubungan, secara keseluruhan tidak dapat dimengertim
pasien mudah marah dan pasien mudah tersinggung

2. Waham Curiga
a. DS : Pasien curiga dan waspada berlebih pada orang tertentu,Pasien mengatakan
merasa diintai dan akan membahayakan dirinya.
b. DO : Pasien tampak waspada,Pasien tampak menarik diri,Perilaku pasien
tampak seperti isi wahamnya ,Inkoheren (gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak
berhubungan, secara keseluruhan tidak dapat dimengerti)

[Link] Agama
a. DS : Pasien yakin terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang-ulang
tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

9
b. DO : Perilaku pasien tampak seperti isi wahamnya ,Pasien tampak bingung karena
harus melakukan isi wahamnya,Inkoheren (gagasan satu dengan yang lain tidak logis,
tidak berhubungan, secara keseluruhan tidak dapat dimengerti)

4. Waham Somatik
a. DS : Pasien mengatakan merasa yakin menderita penyakit fisik ,Pasien mengatakan
merasa khawatir sampai panik

5. Waham Nihilistik
a. DS : Pasien mengatakan bahwa dirinya sudah meninggal dunia, diucapkan berulang-
ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
b. DO : Perilaku pasien tampak seperti isi wahamnya ,Inkoheren (gagasan satu dengan
yang lain tidak logis, tidak berhubungan, secara keseluruhan tidak dapat dimengerti ),
Pasien tampak bingung, Pasien mengalami perubahan pola tidur , Pasien kehilangan
selera makan.

6. Waham Bizzare
a. Sisip Pikir :
1) DS : Pasien mengatakan ada ide pikir orang lain yang disisipkan dalam pikirannya
yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan,Pasien mengatakan
tidak dapat mengambil keputusan
2) DO : Perilaku pasien tampak seperti isi wahamnya ,Pasien tampak bingung , Inkoheren
(gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan, secara keseluruhan tidak
dapat dimengerti) , Pasien mengalami perubahan pola tidur.
[Link] Pikir
1) DS :Pasien mengatakan bahwa orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan yang
dinyatakan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan,Pasien mengatakan merasa
khawatir sampai panik ,Pasien tidak mampu mengambil keputusan
2) DO : Pasien tampak bingung , Perilaku pasien tampak seperti isi wahamnya ,
Inkoheren (gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan, secara
keseluruhan tidak dapat dimengerti) ,Pasien tampak waspada ,Pasien kehilangan selera
makan

10
[Link] Pikir
1) DS : -Pasien mengatakan pikirannya dikontrol dari luar , Pasien tidak mampu
mengambil keputusan
2) DO : Perilaku pasien tampak seperti isi wahamnya,Pasien tampak bingung , Pasien
tampak menarik diri ,Pasien mudah tersinggung ,Pasien mudah marah ,Pasien tampak
tidak bisa mengontrol diri sendiri ,Pasien mengalami perubahan pola tidur ,Inkoheren
(gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan, secara keseluruhan tidak
dapat dimengerti)

1.1.4 Fase Waham


Menurut Eriawan (2019) Proses terjadinya waham dibagi menjadi enam yaitu :
a. Fase Lack of Human need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan pasien baik secara fisik
maupun psikis. Secara fisik pasien dengan waham dapat terjadi pada orang-orang dengan
status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya pasien sangat miskin dan menderita.
Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya untuk melakukan
kompensasi yang salah. Ada juga pasien yang secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi
kesenjangan antara Reality dengan selfideal sangat tinggi. Misalnya ia seorang sarjana
tetapi menginginkan dipandang sebagai seorang dianggap sangat cerdas, sangat
berpengalaman dan diperhitungkan dalam kelompoknya. Waham terjadi karena sangat
pentingnya pengakuan bahwa ia eksis di dunia ini. Dapat dipengaruhi juga oleh
rendahnya penghargaan saat tumbuh kembang (life span history).
b. Fase lack of self esteem
Tidak ada tanda pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self ideal
dengan self reality (kenyataan dengan harapan) serta dorongan kebutuhan yang tidak
terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya. Misalnya,
saat lingkungan sudah banyak yang kaya, menggunakan teknologi komunikasi yang
canggih, berpendidikan tinggi serta memiliki kekuasaan yang luas, seseorang tetap
memasang self ideal yang melebihi lingkungan tersebut. Padahal self reality-nya sangat
jauh. Dari aspek pendidikan pasien, materi, pengalaman, pengaruh, support system
semuanya sangat rendah.
c. Fase control internal external
Pasien mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa- apa yang ia katakan
adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Tetapi

11
menghadapi kenyataan bagi pasien adalah sesuatu yang sangat berat, karena
kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan diterima lingkungan
menjadi prioritas dalam hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil
secara optimal. Lingkungan sekitar pasien mencoba memberikan koreksi bahwa sesuatu
yang dikatakan pasien itu tidak benar, tetapi hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena
besarnya toleransi dan keinginan menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi
pendengar pasif tetapi tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan
pasien tidak merugikan orang lain.
d. Fase environment support
Adanya beberapa orang yang mempercayai pasien dalam lingkungannya menyebabkan
pasien merasa didukung, lama kelamaan pasien menganggap sesuatu yang dikatakan
tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari sinilah mulai
terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya norma ( Super Ego ) yang
ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat berbohong.
e. Fase comforting
Pasien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap bahwa
semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan sering
disertai halusinasi pada saat pasien menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya pasien
lebih sering menyendiri dan menghindar interaksi sosial (Isolasi sosial).
f. Fase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu keyakinan yang
salah pada pasien akan meningkat. Tema waham yang muncul sering berkaitan dengan
traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang).
Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan
ancaman diri dan orang lain. Penting sekali untuk mengguncang keyakinan pasien dengan
cara konfrontatif serta memperkaya keyakinan relegiusnya bahwa apa- apa yang
dilakukan menimbulkan dosa besar serta ada konsekuensi sosial.

1.1.5 Jenis Waham


Menurut Stuart (2005, dalam Prakasa, 2020) jenis waham yaitu :
[Link] kebesaran: individu meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan
khusus yang diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Misalnya, “Saya ini
pejabat di separtemen kesehatan lho!” atau, “Saya punya tambang emas.” B

12
b. Waham curiga: individu meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha
merugikan/mencederai dirinya dan siucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh, “Saya tidak tahu seluruh saudara saya ingin menghancurkan hidup saya karena
mereka iri dengan kesuksesan saya.”

c. Waham agama: individu memiliki keyakinan terhadap terhadap suatu agama secara
berlebihan dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh, “Kalau
saya mau masuk surga, saya harus menggunakan pakaian putih setiap hari.”
d. Waham somatic: individu meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau
terserang penyakit dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Misalnya, “Saya sakit kanker.” (Kenyataannya pada pemeriksaan laboratorium tidak
ditemukan tanda-tanda kanker, tetapi pasien terus mengatakan bahwa ia sakit kanker).
e. Waham nihilistik: Individu meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di
dunia/meninggal dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Misalnya,
”Ini kan alam kubur ya, semua yang ada disini adalah roh-roh”.
f. Waham sisip pikir : keyakinan pasien bahwa ada pikiran orang lain yang disisipkan ke
dalam pikirannya.
g. Waham siar pikir : keyakinan pasien bahwa orang lain mengetahui apa yang dia
pikirkan walaupun ia tidak pernah menyatakan pikirannya kepada orang tersebut
h. Waham kontrol pikir : keyakinan pasien bahwa pikirannya dikontrol oleh kekuatan di
luar dirinya.

13
BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1 Identitas Pasien
Inisial : Tn.Y
Jenis kelamin : Laki-Laki
Umur : 64 Tahun
Agama : Kristen
Status : Lajang
Tanggal pengkajian : 10 maret 2021
Informant : Komunikasi dengan pasien dan pegawai Yayasan
penenang jiwa

3.2 Alasan Masuk Yayasan Pemenang Jiwa


Alasan pasien masuk yayasan pemenangan jiwa adalah pasien mengatakan di
bawa oleh saudaranya, karena sering melihat mahluk halus ketika mau tidur dan pasien
sering stres karena usaha ketring yang mau dibuat gagal.

3.3 Faktor Predisposisi


Pasien sebelumnya tidak pernah mengalami gangguan jiwa. Pasien dibawa oleh
saudara kandungnya ke Yayasan Pemenang Jiwa Sumatera tahun 2018.1 tahun pertama
pasien sering mengalami halusinasi dengan melihat mahluk halus ketika mau tidur.
Keluarga pasien tidak ada yang pernah mengalami gangguan jiwa. Pasien mengatakan
kakak kandung nya membenci dirinya sehingga membuat usaha pasien menjadi gagal
dengan menguna guna pasien. pasien berfikir bahwa saudara membenci dirinya nya
kerena dia telah membuat saudara kecelakaan saat bekerja sehingga membuat tanagan

14
saudara kandungnya terpotong .pasien juga mengatakan bahwa saudaranya ingin
menguasai hartanya dari ATM sampai harta lainya sehingga membuat pasien.

3.4 Fisik
Pasien tidak memiliki keluhan fisik, saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital,
didapatkan hasil TD : 120/80 mmHg ; N : 80x/i ; S : 36,5oC ; P : 20x/i. Pasien memiliki
tinggi badan 175 cm dan berat badan 65 Kg.

3.5 Psikososial
Penjelasan :
Pasien anak ketiga dari 4 bersaudara, pasien berinisial Tn.Y ,anak yatim ayahnya
meninggal saat usia pasien 23 tahun.

3.5.1 Konsep Diri


a. Gambaran diri : Dengkul pasien mengalami kecacatan akibat terjatuh
b. Identitas : Pasien anak ke 3 dari 4 bersaudara, pasien hanya lulusan SMA
yang saat ini dirawat di Yayasan Pemenang Jiwa Sumatera
c. Peran : Pasien belum berkeluarga dan masing lajang, pasien sebelunya
tinggal bersama saudaranya
d. Ideal diri : Pasien sedang sakit sehinga di antarkan ke yayasan pemenangan
jiwa tersebut
e. Harga diri : Pasien merasa malu dan dirinya dibenci oleh saudaranya kerna
dianggap telah membuat tangan saudaranya Masalah
keperawatan:Gangguan konsep diri : harga diri rendah

3.5.2 Hubungan Sosial

15
Pasien mengganggap semua orang ada di yayasan adalah orang yang sangat
baik. Pasien ingin selalu mengikuti kegiatan di yayasan tersebut tetapi
terhalang karena kondisi lutut yang cedera

3.5.3 Spiritual
a. Nilai dan Keyakinan : Pasien beragama kristen dan yakin dengan
agamanya.
b. Kegiatan Ibadah : Ibadah 3 kali sehari. Yaitu pagi 2 kali,
sekitar pukul 6 pagi dan pukul 10 pagi, selanjutnya jam 7 malam.

3.5.4 Status Mental


1. Penampilan
Pasien rapi dan bersih, pasien mandi 2x sehari menggunakan shampo ,sabun dan
menggosok gigi nya.
2. Pembicaraan
Pasien saat diberikan pertanyaan dan kadang- kadang menjawab tidak nyambung.
Masalah keperawatan : Waham (Waham Kebesaran)
3. Aktivitas Motorik
Pasien tampak tegang ketika diajak berkomunikasi
4. Alam perasaan
Pasien sedih dan mau karena tinggal di yayasan, terlebih keluarga jarang datang
menjenguk.
Masalah keperawatan : Harga Diri Rendah
5. Afek
Afek pasien datar, pasien menjawab pertanyaan dari perawat
6. Interaksi selama wawancara
Selama komunikasi, pasien selalu mempertahankan bahwa dirinya adalah
pengusaha sukses .
7. Persepsi

16
Pasien tidak mengalami gangguan persepsi sensori
8. Proses Pikir
Pasien berfikir seperti Flight of idea. Pasien pada saat di ajak berbicara tidak
nyambung, menjawabnya tidak tepat pada fokus pertanyaan dari pembicaraan.
Masalah keperawatan : Waham (Waham Kebesaran)
9. Isi pikir
Pasien mengatakan memiliki usaha ketring yang besar dan kolam lele yang luas
dan sudah mengexport keluar negri
Masalah Keperawatan : Waham (Waham Kebesaran)
10. Tingkat kesadaran
Pasien tidak mengalami gangguan orientasi, pasien mengenali waktu, orang dan
tempat.
11. Memori
Pasien tidak ada gangguan daya ingat. Pasien mampu mengingat suatu hal.
12. Tingkat konsentrasi berhitung
Pasien mampu berkonsentrasi cukup baik dan pasien mampu berhitung sederhana
tanpa bantuan orang lain.
13. Kemampuan penilaian
Pasien mampu menilai mana yang lebih diutamakan dalam mengambil keputusan.
14. Daya tilik diri
pasien mengatakan bahwa usaha ketringnya sudah berjalan lancar dan kolam lele
nya sudak eksport keluar negri
Masalah keperawatan : Waham (Waham Kebesaran)

3.6 Mekanisme Koping


Pasien mengalami mekanisme koping adaptif yaitu pasien dapat berbicara baik dengan
orang lain dan berkooperatif.

3.7 Masalah Psikososial dan Lingkungan

17
Pasien mengatakan sering mengikuti kegiatan di Yayasan tersebut

3.8 Pengetahuan Kurang Tentang Gangguan Jiwa


Pasien kurang mengetahui tentang gangguan jiwa yang di alaminya dan pasien tau apa
obat yang dikonsumsinya.

3.9 Analisa Data


No. Data Masalah Keperwatan
1. DS : Pasien mengatakan bahwa ia adalah Waham b.d Stress Berlebihan
pengusaha ketring dan ternak lele yang
luas.

DO :1. ketika diajak berwawancara


terkadangan jawaban pasien tidak sesuai
dengan pertanyaan yang diberikan
perawat
2. pasien banyak bicara
3. mengulang ulang perkataanya yang
sudah pernah diucap
2. DS : Pasien merasa keluarganya tidak Risiko Harga Diri Rendah Kronis b.d
membutuhkan dia lagi dan merasa Perasaan Kurang didukung Orang
minder dengan orang lain karena di Lain
rawat dirumah sakit jiwa

DO :
1. Pasien tampak malu pandangan tidak
fokus kelawan bicara , dan tampak sedih
saat di kaji,
2. Tatapan mata kosong
3. DS : Pasien mengatakan ia sangat Koping Tidak Efektif b.d
menyesal kerena telah membuat Ketidakpercayaan Terhadap
saudaranya menjadi cacat sehingga Kemampuan Diri Mengatasi
membenci dirinya dan usaha yang Masalah
ketring yang dibuat gagal

DO :
1. Pasien tampak merenung dan bingung
jika tidak di ajak bicara
2. Pasien tampak sedih dengan keadaan

18
nya sekarang

3.10 Diagnosa Keperawatan


1. Waham b.d Stress Berlebihan
2. Risiko Harga Diri Rendah Kronis b.d Perasaan Kurang didukung Orang Lain
3. Koping Tidak Efektif b.d Ketidakpercayaan Terhadap Kemampuan Diri Mengatasi
Masalah

3.11 Diagnosa Prioritas


1. Waham b.d Stress Berlebihan

3.12 Intervensi Keperawatan


No. Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
1.(D.0105) Waham b.d Setelah dilakukan tindakan Manajemen Waham (I.09295)
Stress Berlebihan keperawatan selama 1x 24
jam keluhan perilaku Observasi :
waham diharapkan  Monitor waham yang
membaik dengan kriteria isinya membahayakan
hasil : diri sendiri, orang lain
 Keluhan Verbalisasi dan lingkungan
Waham dari  Monitor efek terapeutik
meningkat 1 jadi dan efek samping obat
menurun 5
 Perilaku waham dari Terapeutik :
meningkat 1 jadi  Bina hubungan
menurun 5 interpersonal saling
 Isi pikir sesuai percaya
realita dari  Tunjukan sikap tidak
memburuk 1 jadi menghakimi secara

19
membaik 5 konsisten
 Pembicaraan dari  Hindari memperkuat
memburuk 1 jadi gagasan waham
membaik 5  Sediakan lingkungan
 Proses Pikir dari aman dan nyaman
memburuk 1 jadi  Lakukan intervensi
membaik 5 waham (mis. Limit
Setting, pembatasan
wilayah pengekangan
fisik atau seklusi

Edukasi :
 Anjurkan
mengungkapkan dan
memvalidasi waham (uji
realitas) dengan orang
yang dipercaya
 Latih manajemen stress

Kolaborasi :
 Kolaborasi pemberian
obat, sesuai indikasi
2. (D.0101) Risiko Harga Setelah dilakukan tindakan Promosi Harga Diri (I.09308)
Diri Rendah Kronis b.d keperawatan selama 1x 24
Perasaan Kurang didukung jam keluhan Penerimaan Observasi :
Orang Lain penilaian positif terhadap  Identifikasi budaya,
diri sendiri diharapkan agama, ras, jenis
membaik dengan kriteria kelamin, dan usia
hasil : terhadap harga diri
 Penilaian diri positif  Monitor verbalisasi yang
dari menurun 1 jadi merendahkan diri sendiri
meningkat 5
 Penerimaan Terapeutik :
penilaian positif  Motivasi terlibat dalam
terhadap diri sendiri verbalisasi positif untuk
dari menurun 1 jadi diri sendiri
meningkat 5  Diskusikan pernyataan
 Konsentrasi tentang harga diri
menurun 1 jadi  Diskusikan persepsi
meningkat 5 negatif diri
 Kontak mata  Diskusikan bersama
menurun 1 jadi keluarga untuk
menetapkan harapan dan
20
meningkat 5 batasan yang jelas
 Perasaan bersalah
meningkat 1 jadi Edukasi :
menurun 5  Anjurkan
mempertahankan kontak
mata saat berkomunikasi
dengan orang lain
 Anjurkan membuka diri
terhadap kritik negatif
 Latih
pernyataan/kemampuan
positif diri
 Latih cara berpikir dan
berprilaku positif

3, (D.0096) Koping Tidak Setelah dilakukan tindakan Dukungan Pengambilan


Efektif b.d keperawatan selama 1x 24 Keputusan (I.09265)
Ketidakpercayaan jam Verbalisasi pengakuan
Terhadap Kemampuan Diri diri diharapkan membaik Observasi :
Mengatasi Masalah dengan kriteria hasil :  Identifikasi persepsi
 Perilaku kopingg mengenai masalah dan
adaptif dari informasi yang memicu
meningkat 5 jadi konflik
menurun 1
 Verbalisasi Terapeutik :
pengakuan masalah  Fasilitasi melihat situasi
dari menurun 1 jadi secara realistik
meningkat 5  Hormati hak pasien
untuk menerima atau
menolak informasi

Edukasi :
 Informasikan alternatif
solusi secara jelas
 Berikan informasi yang
diminta pasien

Kolaborasi :
 Kolaborasi dengan
tenaga kesehatan lain
dalam memfasilitasi
pengambilan keputusan

21
3.13 Implementasi Keperawatan
No. Hari/Tanggal Tindakan dan Respon
1.(D.0105) Waham b.d Senin 15 maret T : Memonitor waham yang isinya
Stress Berlebihan 2021 membahayakan diri sendiri, orang
lain dan lingkungan

R : Pasien terus mengulang-ulang


perkataannya
1.(D.0105) Waham b.d Rabu 17 /03/2021 T : Memonitor efek terapeutik dan
Stress Berlebihan Pukul 10:00 WIB efek samping obat

R : Pasien mau minum obat


1.(D.0105) Waham b.d Jumat 19/03/2021 T : Melatih manajemen stress
Stress Berlebihan Pukul 10:00 WIB R : Pasien banyak bicara

2.(D.0101) Risiko Harga T : Mengidentifikasi budaya,


Diri Rendah Kronis b.d agama, ras, jenis kelamin, dan
Perasaan Kurang didukung usia terhadap harga diri
Orang Lain
R : Pasien mengaku beragama
kristen, dan berumur 64 tahun,
pasien hilang kepercayaan

2.(D.0101) Risiko Harga Senin 22/03/2021 T : Memonitor verbalisasi yang


Diri Rendah Kronis b.d Pukul10:00 WIB merendahkan diri sendiri
Perasaan Kurang didukung
Orang Lain R : Pasien tampak malu
pandangan tidak fokus kelawan
bicara , dan tampak sedih saat di
kaji
3. (D.0096) Koping Tidak Rabu 24/03/2021 T : Mengidentifikasi persepsi
Efektif b.d Pukul10:00 WIB mengenai masalah dan informasi
Ketidakpercayaan yang memicu konflik
Terhadap Kemampuan Diri
Mengatasi Masalah R : Pasien tampak sedih dengan
keadaan nya sekarang

22
3. (D.0096) Koping Tidak Kamis 25/03/2021 T : Memfasilitasi melihat situasi
Efektif b.d Pukul10:00 WIB secara realistik
Ketidakpercayaan
Terhadap Kemampuan Diri R : Pasien tampak merenung dan
Mengatasi Masalah bingung jika tidak di ajak bicara

3.14 Evaluasi Keperawatan


No. Hari/Tanggal Evaluasi Keperawatan
1.(D.0105) Waham b.d Stress Senin 15 maret S : Pasien tampak senang
Berlebihan 2021 dan terseyum ketika diajak
berbicara

O : Pasien mampu
melakukan latihan orienatsi
realitas: orientasi
orang,waktu tempat dan
lingkungan sekitar
Pasien mampu menyebutkan
obat dan fungsinya dengan
baik dan minum obat dengan
bantuan perawat

A : Gangguan proses pikir


Waham (+)

P : Latihan :
-Orientasi realita : panggil
nama,
-Orientasi waktu,orang
dan tempat/lingkungan.
-Minum obat secara teratur
2x1 /hari
Risperidon 2 mg (2 x 1 )
Clorozapine 25 mg (1x1)
1.(D.0105) Waham b.d Stress Rabu 17 /03/2021 S : pasien terlihat Senang
Berlebihan Pukul 10:00 WIB
O : Pasien mampu
memenuhi kebutuhan dasar
dengan mandiri seperti :
- Makan 3xsehari
- Mandi 2xsehari
- Olahraga 2xsehari

23
A : Waham (+)

P : Pemenuhan kebutuhan
dasar :
-Makan 3xsehari
-Mandi 2xsehari
-Olahraga 2xsehari
1.(D.0105) Waham b.d Stress Jumat 19/03/2021 S : pasien terlihat Senang
Berlebihan Pukul 10:00 WIB
O :Pasien mampu
melakukan kemampuan
2.(D.0101) Risiko Harga Diri positif yang dimiliki dengan
Rendah Kronis b.d Perasaan motivasi
Kurang didukung Orang Lain Dengan mandiri
- Menggambar
- Menulis

A : Waham (+)

P :Pasien melakukan
kemampuan positif
yang dimiliki :
- Menggambar
- Menulis
2.(D.0101) Risiko Harga Diri Senin 22/03/2021 S : Antusias dan
Rendah Kronis b.d Perasaan Pukul10:00 WIB bersemangat
Kurang didukung Orang Lain
O : Klien mampu
Mengidentifikasi aspek
positif yang dimiliki pasien
yaitu berdoa dan bersyukur.

A : Harga Diri Rendah (+)

P : Klien selalu memulai


segala aktivitas nya dengan
bersyukur dan Doa.
3. (D.0096) Koping Tidak Rabu 24/03/2021 S : Senang dan antusias
Efektif b.d Ketidakpercayaan Pukul10:00 WIB
Terhadap Kemampuan Diri O :Klien mampu memilih
Mengatasi Masalah dan melatih kegiatan sesuai
kemampuan yaitu menulis

A : Koping Tidak Efektif

24
P : Klien melatih
kemampuan menulis yang
dimiliki nya
3. (D.0096) Koping Tidak Kamis 25/03/2021 S : Senang dan antusias
Efektif b.d Ketidakpercayaan Pukul10:00 WIB O: Klien mampu melatih
Terhadap Kemampuan Diri kegiatan sesuai kemampuan
Mengatasi Masalah yaitu menyuci piring.

A : Koping Tidak Efektif

P:
[Link],
[Link] ibadah
[Link]

25
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Setelah menguraikan tentang proses keperawatan pada Tn. Y dan disimpulkan bahwa
pasien dapat mengontrol gangguan proses pikir : Waham dengan terapi yang di ajarkan
oleh mahasiwa. Dimana pasien dapat melakukan latihan orientai realita, minum obat
secara teratur, latihan cara pemenuhan kebutuhan dasar hingga pasien dapat melakukan
kemampuan posiif yang dimiliki.

4.2 Saran
1. Bagi Mahasiswa
Hendaknya mahasiswa/i dapat melakukan askep sesuai dengan tahapantahapan
dari Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan baik dan benar yang diperoleh
selama masa pendidikan baik di akademik maupun dilapangan praktek.
2. Bagi Pasien
Diharapkan pasien dapat menerapkan terapi yang telah diberikan baik secara
medik maupun terapi keperawatan yang telah diajarkan demi percepatan
penyembuhan penyakit dengan masalah gangguan jiwa.

26
DAFTAR PUSTAKA

Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia


Standar Intevensi Keperawatan Indonesia
Standar Luaran Keperawatan Indonesia
Dalami, E., Rochimah, N., Suryati, K. R., & Lestari, W. (2009). Asuhan
Keperawatan pasien dengan gangguan jiwa
Darmiyanti, A. (2012). Analisa Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi Sesi Ii Pada
Tn. A Dengan Gangguan Proses Pikir: Waham Studi Kasus di Ruang 23
Psikiatri RSUD Saiful Anwar Malang (Doctoral dissertation, University of
Muhammadiyah Malang). [Link]
Eriawan, A. (2019). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Tn “O” Yang Mengalami
Bipolar Dengan Masalah Keperawatan Waham Paranoid Di Ruangan Palm
Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2019.
Keliat, B. A., dkk. (2019). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Keliat, B A. dkk. (2014). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas : CMHN(Basic
Course). Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Keliat, B. A. (2009). Model praktik keperawatan profesional jiwa. Jakarta: EGC.
Keliat, B. A. (2016). Prinsip dan praktik keperawatan kesehatan jiwa
stuart,indonesa ,ELSEVIER
Pardede, J. A., & Siregar, R. A. (2016). Pendidikan Kesehatan Kepatuhan Minum
Obat Terhadap Perubahan Gejala Halusinasi Pada Klienskizofrenia.
Mental Health, 3(1).
Pardede, J. A., Keliat, B. A., & Yulia, I. (2015). Kepatuhan dan Komitmen Klien
Skizofrenia Meningkat Setelah Diberikan Acceptance And Commitment
Therapy dan Pendidikan Kesehatan Kepatuhan Minum Obat. Jurnal
Keperawatan Indonesia, 18(3), 157-166,
[Link]

27
Pardede, J. A., Simanjuntak, G. V., & Laia, R. (2020). The Symptoms of Risk of
Violence Behavior Decline after Given Prgressive Muscle Relaxation
Therapy on Schizophrenia Patients. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 3(2),
91-100. [Link]
Prakasa, A., & Milkhatun, M. (2020). Analisis Rekam Medis Pasien Gangguan
Proses Pikir Waham dengan Menggunakan Algoritma C4. 5 di Rumah
Sakit Atma Husada Mahakam Samarinda. Borneo Student Research
(BSR),2(1)8-15.
Prastika, Y., Mundakir, S. K., & Reliani, S. K. (2014). Asuhan Keperawatan Jiwa
Pada Pasien Waham Kebesaran Dengan Diagnosa Medis Skizofrenia
Hebefrenik Di Ruang Flamboyan Rs Jiwa Menur Surabaya (Doctoral
dissertation, Universitas Muhammadiyah Surabaya)
Riskesdas (2018) Hasil Utama Riskesdas 2018 Kementerian Kesehatan Badan
[Link]://[Link]/res
ources/do wnload/info-terkini/[Link]
Saputri, S. F. M & Mar’atus, M. (2021). Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan
Resiko Perilaku Kekerasan. Skripsi, Universitas Kusuma Husada Surakarta
Sofian, R. (2017). Asuhan Keperawatan jiwa dengan kasus waham kebesaran pada
Tn. K di RSJ Radjiman Wediodiningrat Lawang (Doctoral dissertation,
STIKes Maharani Malang).
Victoryna, F., Wardani, I. Y., & Fauziah, F. (2020). Penerapan Standar Asuhan
Keperawatan Jiwa Ners untuk Menurunkan Intensitas Waham Pasien
Skizofrenia. Jurnal Keperawatan Jiwa, 8(1), 45-52.
[Link] WHO(2019).
Schizophrenia .Diakses 10 April 2020.
[Link]
Yusuf, A., dkk. (2015). Buku ajar keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta : Salemba.
Zahnia, S., & Sumekar, D. W. (2016). Kajian epidemiologis skizofrenia.
Jurnal
Majority, 5(4),160-166.
[Link]
Zukna, N. A. M., & Lisiswanti, R. (2017). Pasien dengan Halusinasi dan Waham
Bizarre. JurnalMedula, 7(1),3842.
[Link]

28
29

Anda mungkin juga menyukai