LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA TANAH
TAHUN AKADEMIK 2021/2022
Disusun Oleh :
NAMA
NIM
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA
2021
Kata pengantar
Segala puji dan syukur kehadirat tuhan yang maha esa, atas rahmatnya yang begitu besar sehingga
penulis dapat menyelesaikan laporan mekanika tanah.
Dengann adanya praktikum ini diharapkan materi yang telah disampaikan selama perkuliahan,sehingga
mahasiswa dapat memiliki pemahaman lebih saat melaksanakan praktikum ini. Antara lain : pengujian
kadar air tanah, pengujian berat jenis, pengujian berat isi,isi pori,angka pori,derajat kejenuhan,pengujian
Atterberg limit,pengujian besar butir dengan Analisa ayakan dan Analisa hydrometer, sereta ppengujian
kuat geser.
Kami mengucapkan terimakasih kepada pendamping laboratorium yang telah mendampingi dan
membantu kami selama berlangsungnya praktikum ini hingga selesainya.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan laporan ini,tetapi usul dan saran serta
kritikan sangat kami harapkan untuk perbaikan laporan ini kedepannya.
Terimakasih.
Jayapura, 27 Desember 2021
Kelompok 1
2
Daftar isi
3
Daftar gambar
4
Daftar tabel
5
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar belakang
Mekanika Tanah adalah suatu cabang dari ilmu geologi Teknik yang membahas tentang keadaan fisik
dan mekanis dari tanah,khususnya tentang kekandasan (strain) dan tegasan (stress) dari tanah
tersebut.
Tanah adalah semua bahan yang berasal dari proses pelapukan(destruksi) batuan dasar, pada
umumnya terdapat sebagai lapisan penutup dari bumi.
Dalam geologi Teknik,pengertian tanah adalah batuan hasil destruksi yang bersifat lepas,lunak,
ataupun yang terkonsolidasikan yang berukuran lempung sampai berangkal,sedangkan yang
berukuran blounder(bongkah) disebut sebagai fragmen(samporno).
Ditinjau dari genesanya maka tanah disebut sebagai “residual soil” dan “transported soil” yang
dimaksud dengan “residual soil” adalah tanah yang terbentuk dari lapisan bawahnya dan
pembentukkan tanah ini berlangsung ditempat asalnya dan belum mengalami perpindahan dan
pengendapan, sedangkan yang dimaksud dengan “transported soil” adalah tanah yang terbentuk
disuatu tempat yang mengalami perpindahan ketempat lain karena terbawah oleh angin,air,es, atau
gaya arahnya sendiri
Tanah bersifat tidak berkohesi adalah tanah yang berukuran lebih besar dari 0,002 mm dalam
keadaan murni. Adanya sifat kohesi dari tanah ini menunjukkan bahwa partikel-partikel tanah saling
melekat satu sama lainnya.
1.2 Maksud Dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari praktikum mekanika tanah ini adalah
1. Untuk mengetahui sifat-sifat umum dari tanah dengan beberapa Teknik pengujian yang tersedia
di laboratorium.
1.3 Lokasi penelitian
Adapun lokasi pengambilan sampel tanah di belakang halaman parkir fakultas Teknik universitas
cenderawasih
Waktu pelaksanaan praktek Gambar Pemetaan dilaksanakan pada :
- Hari / Tanggal : 8 oktober 2021 - November 2021
- Tempat : Depan Laboratorium Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
Cenderawasih
- Cuaca : cerah
6
BAB II
Metodologi penelitian
2.1 Diagram alir penelitian
2.2 pengumpulan data
2.2.1 preparasi sampel
7
BAB II
Hasil Dan Pembahasan
3.1 Pengujian kadar air
3.1.1 dasar teori
Tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri dari butiran
mineral-mineral padat yang tidak tersementasi satu sama lainnya serta
terletak diatas batuan batuan dasar. Ikatan butiran relatif lemah yang
disebabkan karena adanya ruang (rongga) diantara pertikel-pertikel butiran
pada tanah. Ruang tersebut berisi air dan udara malah bisa kedua duanya.
Apabila tanah sudah benar-benar kering maka tidak akan ada air sama
sekali dalam porinya. Keadaan ini jarang ditemukan di tanah yang masih
dalam keadaan asli/tanah dilapangan. Air hanya dapat dihilangkan dari
tanah apabila kita ambil tindakan khusus untuk maksud itu, misalnya dengan
memanaskan didalam oven. Penyelidikan tanah yang memadai merupakan
suatu pekerjaan pendahuluan yang sangat penting pada perencanaan
sebuah proyek. Oleh sebab itu perlu dilakukan uji kadar air pada tanah agar
derajat kejenuhan pada tanah jangan sampai dikacaukan dengan kadar,
yaitu perbandingan antara berat air dalam contoh tanah dengan berat butir.
Segumpal tanah dapat terdiri dari 2 hingga 3 [Link] kondisi kering,.
kondisi jenuh air, tanah terdiri dari dua bagian yakni butiran tanah dan air
pori. Pada kondisi natural, tanah terdiri dari tiga bagian, yakni butir tanah,
pori udara dan air pori. Hubungan berat dan volume yang digunakan dalam
mekanika tanah adalah : kadar air, porositas, angka pori, berat volume,
berat jenis derajat kejenuhan dan lain-lain.
3.1.2 Alat Dan Bahan
1. krus Alluminium
2. Timbangan ketelitian 0,01 gram
3. Oven yang dilengkapi dengan termometer
4. Desicator
8
5. Bahan (benda uji) yang dibutuhkan untuk pemeriksaan kadar
air tanah tergantung pada ukuran butir maksimum dari contoh
yang diperiksa,seperti tersebut dalam tabel dibawah ini :
Ukuran butir maksimum Jumlah benda uji maksimum
¾” 1000 gr
Lewat saringan 10 100 gr
Lewaat saringan 40 10 gr
3.1.3 Langkah pengerjaan
1. Timbang cawan alluminium (W1) dan catat nomornya.
2. Masukkan benda uji yang akan dìperiksa kedalam cawan
tersebut dan timbang beratnya (W2).
3. Tutup kurs alluminium dibuka,kemudian masukkan kedalam
oven temperature tetap 110°C selama 24 jam.
4. Keluarkan krus alluminium dari oven,tutup krus dipasang
Kembali dan didinginkan dalam desikator selama kurang lebih 15
menit.
5. setelah dingin timbang dan catat beratnya (W3).
6. Data dan perhitungan Untuk menentukan besarnya kadar air
(water content) yang terkandung dalam tanah asli digunakan
rumus:
9
3.1.4 data percobaan
3.1.5 pengolahan dan analisis
Nomor Cawan 1 Cawan 2 Cawan 3 Cawan 4
cawan/kruss
Berat cawan
+contoh basah
(W2)gr
Berat cawan +
contoh kering
(W3)gr
Berat air (w2-
w3)=w4 gr
Berat cawan
kosong (w1)
Berat contoh
kering (w3-
w1)=w5 gr
Kadar air
W4/W5 X100%
Kadar air rata-
rata(%)
3.2 pengujian berat jenis
3.2.1 Dasar teori
Selain mencari kadar air dalam tanah, parameter yang
dicari pada tanah adalah berat jenis butir tanah (Gs). Berat jenis
tanah merupakan bandingan berat volume tanah dengan berat
volum air. Pengujian berat jenis tanah menggunakan standart
ASTM D654-92 (1994). Berat jenis tanah dapat ditentukan
dengan cara membandingkan antara berat butir tanah tersebut
dengan berat air (aquades) yang mempunyai isi sama pada suhu
standart.
3.2.2 Alat Dan Bahan
10
Bahan (benda uji) yang dibutuhkan untuk pemeriksaanberat
jenis terdiri dari berat jenis tanah terdiri dari :- contoh lolos
no.10 yang didapat dengan cara perempat (cone quartering),air
suling (aquades).
Alat :
a. Picnoeter dengan kapasitas minimum 100 ml
b. Desikator
c. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu tetap
d. Neraca dengan ketelitian 0,001 gr
e. Thermometer ukuran 0-50°C dengan ketelitian pembacaan 1°C
f. Saring no.4 dan no.10 dan penandanya
g. Botol semprot berisi air suling
h. Bak perendam
i. Alat pemanas (hot place)
j. Mortar dan penumbuknya
3.2.3 langkah pengerjaan
a. Timbang berat picnometer dan tutupnya (berat kosong) dengan ketelitian 0,01 gr
b. masukan benda uji kedalam picnometer dan timbang bersama tutupnya dengan ketelitian 0,01 gr
c. tambahkan air suling sehingga picnometer terisi 2/3
[Link] bahan yang mengandung lempung,diamkan benda uji terendam selama paling sedikit 24 jam.
e. didihkan isi picnometer dengan hati-hati (tutup) dilepas selama minimal 10 menit dan miringkan botol
sekali-kali untuk membantu mengeluarkan udara yang tersekap.
f. kemudian dinginkan sampai suhu kamar dan isilah picnometer dengan air suling sampai penuh atau
biarkan picnometer beserta isinya direndam dalam bejana air sampai mencapai suhu konstan. Ukur dan
catat suhu air dalam picnometer kemudian tutupnya dipasang dan ditimbang beratnya dengan ketelitian
0,01 gram.
g. bila isi picnoeter belum diketahui maka tentukan isinya. Isi picnometer dengan air usling sampai
penuh dan tutup,suhu kamar dengan ketelitiannya 1 °C
h. keringkan bagian luarnya dan timbang dengan ketelitian 0,01 gr
i. pemeriksaan dilakukan 2 kali.
11
3.2.4 data percobaan
3.2.5 pengolahan dan analisis
Nomor picnometer PIC 1 PIC 2
Berat picnometer _ contoh
(W2)gr
Berat picnometer kosong (w1)gr
Berat contoh (W3=W2-W1)gr
Temperature °C
Koreksi temperature,a(tc)
Berat Pic +contoh+air(W5),gr
Berat pic +air (W4)
Berat contoh (W6=W5-W4)gr
Berat semu (W7 =W3-W6)gr
Berat jenis = W3.a/W7
Berat jenis rata-rata
3.3 Pengujian berat isi,isi pori,angka pori,derajat kejenuhan
3.3.1 dasar teori
Berat isi tanah basah tanah asli adalah perbandingan antara berat tanah asli
seluruhnya dengan isi tanah asli seluruhnya. Berat isi merupakan
perbandingan berat tanah kering dengan suatu volume tanah termasuk
volume pori-pori tanah, umunya dinyatakan dalam gram/cm3. Besaran ini
menyatakan bobot tanah, yaitu padatan air persatuan isi. Yang paling sering
di pakai adalah bobot isi kering yang umumnya disebut bobot isi saja. Nilai
bobot isi dapat dipengaruhi oleh faktor pengolahan tanah, bahan organik,
pemadatan alat pertanian, tekstur dan, struktur, & kandungan air tanah.
( Foth, 1987 )
12
3.3.2 alat dan bahan
Benda uji yang digunakan berbentuk silinder yang telah dipreparasi dan siap
untuk dikerjakan
Alat :
a. Neraca dengan ketelitian 0,01 gr
b. Oven listrik dengan pengatur suhu maksimal 110 C
c. Ring (cincin) dengan ukuran cukup dan tidak karat
d. Pisau Perata
e. Jangka sorong
f. Desikator
3.3.3 langkah pengerjaan
1. ring (cincin) diletakkan diujung tabung contoh, kemudian ditekan sampai setinggi luas cincin
2. tanah ditekan keluar dengan extruder secukupnya hingga cincin berada diluar dan dapat dipotong
dengan pisau perata.
3. setelah dibersihkan timbang tanah dan ring dan catat
4. keluarkan tanah dari ring dan timbang ring kosong
[Link] diameter ring,tinggi ring,dan hitung volume tanahnya
3.3.4 data percobaan
13
3.3.5 pengolahan dan analisis
Ring 1
1. Berat ring+tanah basah(gr)
2. Berat ring (gr)
3. Berat tanah basah (gr)(1-2)
4. Berat bahan kering(gr)=3/(100+10)X100
5. Isi tanah basah(cm3)
6. Isi bahan kering (cm3)4/11
7. Berat isi kering 4/5
8. Isi pori (cm3)(5-6)
9. Angka pori 12(100-12)
10. Kadar air (%)
11. Berat jenis
12. Pori dari tanah basah=8/5X100%
13. Berat isi 3/5
14. Derajat kejenuhan =(3-4)X100/8
14
3.4 Pengujian Atterberg
3.4.1 batas cair
[Link] dasar teori
Batas cair tanah adalah keadaan antara cair dan plastis/keadaan air tanah bisa diputar
25 kali ketukan dengan alat Cassagrande, tanah sudah dapat merapat (sebelumnya terpisah
dalam jalur yang dibuat dengan solet). Batas cair didefinisikan sebagai kadar air yang paling
rendah dimana tanah berada dalam keadaan cair atau suatu keadaan dimana tanah berubah
dari keadaan cair menjadi plastis. Batas cair dalam persen berat kering, dimana kedua
penampang tanah yang hampir bersentuhan tetapi tidak saling melimpahi satu terhadap yang
lain.
[Link] Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan untuk uji batas cair terdiri dari :
- Contoh uji lolos saringan no.40 sebanyak 150 gr
- Air suling sebanyak 200 ml
Peralatan :
a. Alat batas cair standar (casangrande apparatus)
b. Alat pembuat alur (standar grove)
c. Sendok dempul
d. Plat kaca 45 X 45 X 0,6 cm
e. Timbangan dengan ketelitian 0,001 gr
f. Cawan kadar air minimal 4 buah
g. Spatula dengan Panjang 12,5 cm
h. Botol tempat air suling
i. Oven yang dilengkapi dengan thermostat
[Link] Langkah Pengerjaan
a. Letakkan 150 gr fraksi lolos saringan no.40 peralatan dan bahan lainnya
b. dengan menggunakan spatula,aduklah benda uji tersebut dengan menambah air
suling sedikit demi sedikit sampai homogen.
c. setelah contoh menjadi campuran yang merata,ambil Sebagian benda uji ini dan
letakkan diatas mangkok alat batas cair ; ratakan permukaannya sedemikian hingga sejajar
dengan dasar alat,bagian yang paling tebal harus 1 cm .
d. buat alur dengan jalan membagi benda uji menjadi dua bagian dengan menggunakan alat
“grooving tool”.
e. putarlah alat dengan kecepatan 120 rpm. Pemutaran ini dilakukan terus sampai dasar alur
bersinggungan sepanjang 12,70 mm, catat jumlah jatuhan dan periksa kadar airnya.
[Link] Langkah b sampai dengan c variasi kadar air yang berbeda sampai minimal 3
[Link] diperoleh jumlah pukulan antara 40-47,30-40,20-30,10-20.
15
[Link]
[Link] pengolahan dan analisis
Batas CAIR
Jumlah pukulan 15 22 32 40
Nomor cawan
Berat contoh
basah+cawan,gr
(a)
Berat contoh
kering +cawan gr
(b)
Berat air (a-b)
Berat cawan,gr
(c)
Berat contoh
kering,gr (b-c)
Kadar air(%)
Kadar air rata-
rata(%)
3.4.2 batas plastis
[Link] Dasar teori
Batas plastis tanah adalah kadar air minimum dimana masih dalam
keadaan plastis atauu keadaan diantara keadaan plastis dan keadaan semi
plastis. Batas plastis merupakan bagian – bagian dari batas – batas
konsistensi atau atteberg limit yang mana nantinya hal ini mengacu pada
sifat fisik tanah yang meliputi :
a. Cair
b. Kental
c. Plastis
d. Semi Platis
e. Padat
[Link] alat dan bahan
Benda uji: siapkan contoh lolos saringan no.40 sebanyak 30 gr.
Alat :
a. Plat kaaca 45X45X0,9 cm
16
b. Batang pembanding dengan diameter 3 mm,Panjang 15 cm
c. Neraca dengn ketelitian 0,001 gr
d. Cawan untuk menentukan kadar air 2 buah
e. Botol semprot tempat air suling
f. Oven yang dilenkapi dengan thermometer
[Link] Langkah Pengerjaan
a. letakkan benda uji diatas plat kaca,kemudian diaduk sampai kadar
air merata.
b. setelah kadar air merata, gilinglah diatas plat kaca sampai mencapai
3 mm.
[Link] sebelum diameter 3 mm sudah retak, maka benda uji
disatukan Kembali dan ditambahkan sedikit air lalu aduk sampai
merata.
d. pengadukkan dan penggilingan diulangi sampai retakkan-retakan itu
terjadi tepat pada saat gilingan berdiameter 3 mm.
e. periksa kadar batang tanah pada kondisi (d) dilakukan 2 kali
pemeriksaan.
[Link] data percobaan
[Link] Pengolahan dan analisis
Batas PLASTIS
Jumlah pukulan 1 2
Nomor cawan 1 2
Berat contoh basah+cawan,gr (a)
Berat contoh kering +cawan gr (b)
Berat air (a-b)
Berat cawan,gr (c)
Berat contoh kering,gr (b-c)
Kadar air(%)
Kadar air rata-rata(%)
3.5 Pengujian besar butir dengan analisa ayakan
3.5.1 Dasar teori
Pada dasarnya partikel-partikel pembentuk struktur tanah mempunyai ukuran bentuk
yang beraneka ragam, baik pada tanah kohesif maupun tanah non kohesif. Sifat
suatu tanah banyak ditentukan oleh ukuran butir dan [Link] dalam
17
mekanika tanah analisa ukuran butir banyak dilakukan/dipakai sebagai acuan untuk
mengklasifikasikan tanah.
3.5.2 Alat dan bahan
a. mesin ayakan
b. saringan no.4,9,10,20,40,60,80,100,200
c. neraca analitik dengan tingkat ketelitian 0,01 gr
d. pan untuk penimbangan
[Link] pembagi seperti cone quartering dan splitter
f. oven dilengkapi dengan thermostat pengatur suhu untuk mengatur pemanas
110°C
3.5.3 langkah pengujian
a. benda uji di jemur atau di oven sampai kering
b. bila banyak dilakukan dengan cone quarter atau splitter uhntuk
mendapatkan yang representative
c. timbang 50 gr dan saring
d. dan tiap saringan ditimbang berat tertahan tiap mesh (saringan)
e. hitungan persen berat tertahan dan persen berat lolos tiap mesh.
3.5.4 Data percobaan
3.5.5 Pengolahan dan analisis
Ukuran saringan Berat tertahan %berat tertahan % berat lolos
Nomor (gram) (%) (%)
-+4
-4+10
-10+20
-20+40
-40+60
-60+100
-100+200
-200+pan
Jumlah
18
3.6 Pengujian besar butir dengan Analisa hydrometer
3.6.1 dasar teori
Pada dasarnya tanah memiliki berbagai ukuran dan bentuk yang beraneka ragam
baik tanah kohesif maupun tanjah non kohesif . sifat tanah banyak ditentukan oleh
ukuran butiran dan distibusinya, sehingga analisa ukuran butiran banyak dipakai
sebagai acuan dalam Mekanika Tanah. Selain itu analisa ukuran butiran dapat
digunakan untuk :
1. Memperoleh informasi gradasi tanah
2. Kandungan butiran dan bahan organik
3. Mengetahui permeabilitas tanah
4. Untuk mengetahui perkiraan tinggi air kapiler
5. Perencanaan filter pencegahnya terhanyutnya butiran halus.
Pengujian ini dilakukan dengan dua cara yaitu analisa hidrometer dan analisa
ayak. Dalam pengujian kali ini sample yang digunakan adalah tanah yang lolos ayakan
no.200, hal ini berarti diklasifikasikan dalam tanah berbutir halus. Maka dari itu untuk
menganalisa butir tanah ini digunakan pengujian analisa hidrometer. Yang dimaksud
dengan hidrometer adalah alat yang dicemplungkan ke dalam suatu larutan untuk
menegetahui berat jenis larutan, dan kemudiadapat dipakai untuk menentukan density
larutan tanah dan air dari waktu kewaktu sebagai fungsi dari diameter butiran ekivalen.
3.6.2 Alat Dan bahan
a. Hidrometer dengan skala-skala konsentrasi (5 - 60 gram/liter) atau untuk pembacaan
berat jenis campuran (0,995 - 1,038).
b. Tabung-tabung gelas kapasitas 1000 ml, dengan diameter 6,5 cm.
c. Termometer 0 - 50 °C dengan ketelitian 1 °C.
d. Pengaduk mekanis dan mangkok dispresi / mechanical stirer.
e. Saringan-saringan No.10 ; No.20 ; No.40 ; No.80 ; No.100 ; No.200.
f. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram
g. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110 ± 5 ).
h. Tabung-tabung gelas dengan ukuran 50 ml dan 100 ml.
i. Batang pengaduk dari gelas.
j. Stop watch.
19
Benda uji disiapkan sebagai berikut :
a. Jenis-jenis tanah yang tidak mengandung batu atau hampir semua butirannya lebih
halus dari saringan No. 10. Dalam hal ini benda uji tidak perlu dikeringkan dan tidak
perlu disaring dengan saringan No. 10.
b. Jenis-jenis tanah yang mengandung batu atau mengandung yang lebih kasar dari
saringan no. 10. Keringkan contoh diudara sampai bisa disaring. Ambil benda uji yang
lewat saringan No. 10.
c. Tentukan kadar airnya untuk menentukan berat benda uji.
3.6.3 Langkah pengerjaan
a. Rendamlah benda uji tersebut dengan 100 ml air suling dan bahan dispersi
waterglass sebanyak 20 ml, atau 50 ml air suling dan bahan dispersi SHP (sodium
hexametaphospat) sebanyak 100 ml, aduk sampai merata dengan pengaduk gelas dan
biarkan terendam selama 24 jam.
b. Sesudah perendaman, pindahkan campuran semua ke dalam mangkok pengaduk
dan tambahkan air suling sampai kira-kira setengah penuh. Aduklah campuran selama
15 menit.
c. Pindahkan campuran semuanya ke dalam tabung gelas ukur dan tambahkan air
suling atau air bebas mineral sampai campuran menjadi 1000 ml. Tutuplah rapat-rapat
mulut tabung tersebut dengan telapak tangan dan kocoklah dalam arah mendatar
selama 1 menit.
d. Segera setelah dikocok letakan tabung dan dengan hati-hati masukkan hidrometer.
Biarkan hidrometer terapung bebas, dan tekanlah stop watch. Bacalah angka
skalanya pada saat stopwatch menunjukkan 0,5 menit ; 1 menit dan 2 menit dan
catatlah pada Form No.06. Bacalah pada puncak meniscus nya dan catatlah
pembacaan itu sampai 0,5 gram per liter yang terdekat atau 0,001 berat jenis (Rh).
Sesudah pembacaan pada menit kedua, angkatlah hidrometer dengan hati-hati, cuci
dengan air suling dan masukkan ke dalam air tabung yang berisi air suling yang
bersuhu sama seperti suhu tabung percobaan.
e. Masukkan kembali hidrometer dengan hati-hati ke dalam tabung dan lakukan
pembacaan hidrometer pada saat-saat 5, 15, 30 menit, 1, 4, 24 [Link] setiap
pembacaan dan kembalikan hidrometer ke dalam air suling. Lakukan proses
memasukkan dan mengangkat hidrometer masing-masing selama 10 detik.
f. Ukur suhu campuran tersebut sekali dalam 15 menit yang pertama, kemudian pada
setiap pembacaan berikutnya.
20
g. Sesudah pembacaan terakhir, pindahkan campuran tersebut ke dalam saringan No.
200 dan cucilah air pencucinya hingga jernih dan biarkan air ini mengalir terbuang.
Fraksi yang tertinggal diatas saringan No. 200 harus dikeringkan dan dilakukan
pemeriksaan analisa saringan agregat halus dan kasar
3.6.4 Data percobaan
3.6.5 Pengolahan dan analisis
Time of Elapsed Tem Actual Corr hyd Finner Hyd,corr L Kec K D
readin time p °C hyd reading,R % only for from L/t from mm
g minute reading, c minutes,R table table
Ra (6-5)
3.7 pengujian kekuatan geser langsung
3.7.1 dasar teori
Percobaan geser langsung merupakan salah satu jenis pengujian tertua dan sangat
sederhana untuk menentukan parameter kuat geser tanah c dan Ø. Dalam percobaan
ini dapat dilakukan pengukuran secara langsung dan cepat nilai kekuatan geser tanah
dengan kondisi tanpa pengaliran atau dalam konsep tegangan total. Pengujian ini
diperuntukan bagi tanah non-kohesif, namun dalam perkembangannya dapat pula
diterapkan pada jenis ntanah kohesif. Pengujian lain dengan tujuan yang sama, yakni :
Kuat tekan bebas dan Triaksial serta percobaan Geser Baling, yang dapat dilakukan di
labolatorium maupun di lapangan.
Prinsip dasar dari pengujian ini adalah dengan pemberian beban
geser/horizontal pada contoh tanah melalui cincin/kotak geser dengan kecepatan yang
tetap sanpai tanag mengalami keruntuhan. Sementara itu tanah juga diberi beban
21
vertikal yang besarnya tetap selama pengujian berlangsung. Selama pengujian
dilakukan pembacaan dial regangan pada interval yang sama dan secara bersamaan
dilakukan pembacaan beban dial geser pada bacaan regangan yang bersesuaian,
sehingga dapat digambarkan suatu grafik hubungan regangan dan tegangna geser
yang terjadi.
Umumnya pada pengujian ini dilakukan pada 3 sampel tanah yang identik,
dengan beban normal yang berbeda untuk melengkapi satu seri pengujian geser
langsung. Dari ketiga hasil pengujian akan didapatkan 3 pasang data tegangan normal
dan tegangan geser, sehingga dapat digambarkan suatu grafik hubungan keduanya
untuk menentukan nilai c dan Ø. Adapun prosedur pembebanan vertikal dan kecepatan
regangan geser akibat pembebanan horisontal, sangat menentukan parameter –
parameter kuat geser tanah yang diperoleh.
3.7.2 Alat Dan Bahan
a. Alat geser langsung (direct shear apparatus) terdiri dari :
- Stang penekan dan pemberi beban
- Alat penggeser, lengkap dengan cincin penguji (proving ring) dan dua buah arloji geser
(extensiometer).
- Cincin pemeriksa yang terbagi dua dengan penguncinya terletak dalam kotak.
- Beban-beban
- Dua buah batu pori (porous stone)
b. Alat pengeluaran contoh dan pisau pemotong.
c. Cincin cetak benda uji
d. Neraca dengan ketelitian 0,01 gram
e. Stop watch
f. Oven yang lengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110 ± 5) °C.
g. Desikator.
3.7.3 Langkah Pegerjaan
a. Timbang benda uji.
b. Masukkan benda uji ke dalam cincin pemeriksaan (shearing box) yang telah terkunci menjadi
satu, dan pasanglah batu pori pada bagian atas dan bawah benda uji.
c. Stang penekan dipasang vertikal untuk memberi beban normal pada benda uji dan diatur
sehingga beban yang diterima oleh benda uji sama dengan beban yang diberikan pada stang
tersebut.
22
d. Penggeser benda uji dipasang pada arah mendatar untuk memberi beban mendatar pada bagian
atas cincin pemeriksaan. Atur pembaca arloji geser sehingga menunjukkan angka nol. Kemudian
buka kunci cincin pemeriksaan.
e. Berikan beban normal pertama sesuai dengan beban yang diperlukan. Segera setelah
pembebanan pertama diberikan isilah kotak cincin pemeriksaan dengan air sampai penuh diatas
permukaan benda uji. Jagalah permukaan ini supaya tetap selama pemeriksaan.
f. Lakukan pergeseran dengan kecepatan 1 mm/menit (satu putaran jarum arloji geser tiap menit)
segera setelah pemberian beban, catatlah pembacaan dial gauge dengan interval yang teratur
sampai terjadi keruntuhan.
g. Lakukan pemeriksaan sehingga tekanan geser konstan dan bacalah arloji geser setiap 15 detik.
h. Berikan beban normal pada bagian uji kedua sebesar dua kali beban normal yang pertama dan
lakukan langkah (f) dan (g).
i. Berikan benda normal pada benda uji ketiga sebesar tiga kali beban normal yang pertama dan
lakukan langkah (f) dan (g), begitu juga terhadap beban selanjutnya.
3.7.4 Data Percobaan
3.7.5 pengolahan dan analisis
23
[Link]: 0,32 kg/cm2 [Link] :0,64 kg/cm2 Teg normal : 1,28 kg/cm2
24
Pergesera Beba teganga Pergeseran Beba teganga Pergesera Beba teganga
n n n n n n n n
40kg 40kg 40kg
mm DIV P kg Kg/cm2 mm DIV P kg Kg/cm2 mm DIV P kg Kg/cm2
0,00 0,00 0,00
0,16 1 1,1 0,03 0,16 3,5 3,85 12,1275 0,16 30 33 1,04
0,32 2 2,2 0,06 0,32 5 5,5 0,17 0,32 34 37,4 1,18
0,48 3 3,3 0,10 0,48 6 6,6 0,20 0,48 36 39,6 1,25
0,64 4 4,4 0,13 0,64 7 7,7 0,24 0,64 38 41,8 1,32
0,80 5 5,5 0,17 0,80 9 9,9 0,31 0,80 39 42,9 1,36
0,96 5,5 6,05 0,19 0,96 11 12,1 0,38 0,96 42 46,2 1,46
1,12 6 6,6 0,20 1,12 15 16,5 0,52 1,12 44 48,4 1,53
1,28 6,5 7,5 0,22 1,28 17 18,7 0,59 1,28 46 50,6 1,60
1,44 7 7,7 0,24 1,44 18 19,8 0,62 1,44 47 51,7 1,64
1,60 9 9,9 0,31 1,60 19 20,9 0,66 1,60 48 52,8 1,67
1,76 11 12,1 0,38 1,76 20 22 0,69 1,76 49 53,9 1,71
1,92 12 13,2 0,41 1,92 21 23,1 0,73 1,92 50 55 1,74
2,08 13 14,3 0,45 2,08 22 24,2 0,76 2,08 50,5 55,55 1,76
2,24 13 14,3 0,45 2,24 22,5 24,75 0,78 2,24 51,5 56,65 1,79
2,40 13 14,3 0,45 2,40 23 25,3 0,80 2,40 52 57,2 1,81
2,56 2,56 23,5 25,85 0,82 2,56 52 57,2 1,81
2,72 2,72 23,5 25,85 0,82 2,72 52 57,2 1,81
2,88 2,88 24 26,4 0,83 2,88
3,04 3,04 24 26,4 0,83 3,04
3,20 3,20 24 26,4 0,83 3,20
3,36 3,36 3,36
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
25
4.1 kesimpulan
4.2 saran
Lampiran
Foto dokumentasi
26