Daftar
Isi
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
BAB II. BANTEN SEBELUM ISLAM
A. Tingkat Kehidupan Masa Prasejarah
B. Kesinambungan Budaya Prasejarah pada Masa Hindu-Budha di Banten
BAB III. PROSES ISLAMISASI DI BANTEN
A. Masuknya Islam ke Banten
B. Proses Banten Menjadi Kerajaan Bercorak Islam
1. Perluasan Pengaruh Islam di Banten
2. Berdirinya Kota Banten Tanggal 8 Oktober 1526
3. Sekitar Syarif Hidayatullah dan Fatahillah
BAB IV. MASA PEMERINTAHAN KESULTANAN BANTEN
A. Maulana Hasanuddin (1552 - 1570)
1. Konflik Bersenjata antara Banten dan Pajajaran
2. Usaha Maulana Hasanuddin dalam Pengembangan Banten
3. Banten Melepaskan Diri dari Kuasa Demak
B. Maulana Yusuf (1570 - 1580)
1. Pengembangan Kota Banten
2. Peristiwa Menjelang Wafatnya Maulana Yusuf
C. Maulana Muhammad
Kanjeng Ratu Banten Surosowan (1580 - 1596)
D. Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir (1596 - 1651)
1. Kedatangan Bangsa Belanda di Banten
2. Mangkubumi Arya Ranamanggala
3. Penyerbuan Mataram ke Batavia
4. Keadaan Banten setelah Mangkubumi Arya Ranamanggala
E. Sultan Ageng Tirtayasa (1651 - 1672)
1. Perang Melawan Kompeni Belanda
2. Politik Adu-domba Belanda
3. Tahap Akhir Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa
4. Perjuangan Gerilya Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf
F. Pemerintahan Sultan-Sultan Banten sesudah Sultan Ageng Tirtayasa
G. Penghancuran Surosowan oleh Daendels
BAB V. BANTEN DI BAWAH KEKUASAAN PENJAJAH
A. Peranan Ulama di Tubuh Kesultanan Banten
B. Peristiwa Geger Cilegon 1888
1. Beberapa Peristiwa yang Mendahului Geger Cilegon
2. Jalannya "Pemberontakan"
C. Gerakan Politik Menentang Penjajah
D. Masa Pendudukan Tentara Jepang di Indonesia
1. Masuknya Tentara Jepang di Indonesia
2. Pembela Tanah Air (Peta)
3. Penderitaan Rakyat Selama Penjajahan Jepang
4. Reaksi Rakyat Terhadap Pemerintah Pendudukan Jepang
BAB VI. MASA AWAL KEMERDEKAAN RI
A. Penyerangan Markas Kempetai di Serang
B. Penghianatan Dewan Rakyat
C. Dari TKR sampai TNI
1. Berdirinya Divisi 1000/I Banten
2. Terbentuknya ALRI di Banten
D. Perang Memperebutkan Kemerdekaan RI
1. Peristiwa Makam Pahlawan 1000
2. Serangan NICA ke Perbatasan Banten
3. Palagan di Sepatan
DAFTAR
KEPUSTAKAAN
APPENDIKS
I. Deskripsi tentang Banten Lama
II. Silsilah Sultan Banten dan Putra-putranya
III. Galeri Foto
1.
Galeri Foto – 1
2.
Galeri Foto – 2
3.
Galeri Foto - 3
4.
Galeri Foto - 4
5.
Galeri Foto - 5
IV. Lampiran
BAB I PENDAHULUAN
Ibnu Khaldun (1322 -
1406) seorang cendekiawan muslim berpendapat bahwa sejarah pada
hakekatnya adalah kisah masyarakat atau kisah kebudayaan yang
merupakan perubahan-perubahan manusia secara sadar sebagai usaha
untuk menyempurnakan perikehidupannya. Dalam perubahan-
perubahan itu termasuk perubahan pada lingkungan alam sekitarnya
yang merupakan hukum yang ditetapkan oleh Al-Khalik untuk
manusia ciptaan-Nya. Sejarah adalah gambaran masa lalu tentang
manusia sebagai makhluk sosial, yang disusun secara ilmiah, teratur
(sistematik) dan diusahakan selengkap mungkin, meliputi urutan fakta
dalam ruang dan waktu, beserta penafsiran (interpretasi) dan
penjelasan (eksplanasi), berdasarkan sumber-sumber sejarah yang
terseleksi dan teruji.
Dengan menggunakan metode-metode baku dalam penulisan sejarah,
diharapkan produk yang dihasilkan merupakan penulisan tentang
sejarah yang sebenarnya telah terjadi. Segala hal yang berkaitan kuat
atau pun hanya berhubungan pada bukti-bukti sejarah, dapat juga
dijadikan keterangan sejarah. Bukti-bukti sejarah itu dapat terdiri dari
berbagai ragam, mulai dari segala jenis dokumen, arsip, peta kuno,
silsilah, mata uang, prasasti, pada berbagai media (termasuk nisan),
peralatan, pemukiman kuno, pelabuhan kuno, sisa-sisa
pertahanan/perbentengan, sisa bangunan, teknologi, natulasi, dan
sebagainya.
Para sejarawan juga diminta perhatiannya terhadap berbagai sumber,
seperti berita perjalanan, catatan harian, hikayat, tambo, legende dan
sebagainya, karena sekali pun sebagian dari sumber-sumber itu
mengalami reduksi mau pun imbuhan, secara keseluruhan
mengandung fakta sejarah tentang sesuatu peristiwa, gejala, atau
sesuatu hal. Hanya perlu diingat, bahwa transformasi data dan
keutuhannya dipengaruhi oleh perjalanan waktu, perubahan persepsi
serta proses pewarisan data tersebut. Dimensi ruang, waktu dan
budaya masa lalu dalam dinamika dan perspektif sejarah, senantiasa
memiliki kaitan erat dengan tokoh, manusia dan kemanusiaannya. Hal
ini antara lain disebabkan bahwa dalam sejarah bidang apa pun,
manusia tetap menjadi tema sentral kajian dan pengungkapan sejarah.
Masih dalam hal sumber sejarah, Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary
menyatakan bahwa lingkup bahasan sejarah antara lain meliputi kajian
terhadap sumber-sumber literer, khususnya produk yang semasa atau
berdekatan dengan terjadinya sesuatu peristiwa sejarah (1991: 6). Oleh
karenanya sejarawan haruslah memberikan perhatian dan penghargaan
sepantasnya terhadap babad, hikayat dan tambo, yang juga memiliki
fungsi sebagai salah satu sumber sejarah. Hal demikian tidak dimiliki
oleh sejarawan barat. Ambary mengemukakan contoh, bahwa Prof.
C.C. Berg amat mengenyampingkan kitab-kitab babad untuk
diperhitungkan sebagai salah satu sumber sejarah (1938, II). Berg
menganggap bahwa babad tidak dapat dipercaya, bohong, penuh
khayal, tahayul, artifisial dan sebagainya. Ini tentunya (boleh jadi)
dipengaruhi oleh kurangnya penguasaan atau pemahaman informasi
yang ia peroleh mengenai psikologi dan persepsi orang Jawa
(khususnya) terhadap kekuasaan dan penguasa.
Ambary dengan cermat mengamati bahwa Babad Tanah Jawi (yang
ditulis sejak abad XVI M. dan seterusnya), mengandung banyak
paparan mengenai sejumlah peristiwa sejarah, yang notabene dapat
diuji silang terhadap sumber-sumber lain, yang (dianggap) lebih
otentik dan shahih. Kitab-kitab babad sebagai produk sastra, mungkin
memang berlebihan dalam menggambarkan raja dan kekuasaannya.
Tetapi seorang raja dalam persepsi rakyat yang dipimpinnya, adalah
seorang primus inter pares dan sah (legitimate), sekali pun misalnya ia
mencapai tahta melalui makar, tetap ia memiliki "simpanan"
legitimasi dalam bentuk lain, yakni: kesinambungan.
Untuk itu ia mengawini anak dan/atau istri raja terdahulu, mendapat
pulung/nurbuat. Dalam banyak kitab babad/ hikayat banyak tokoh
sejarah yang dikemas dalam citra magis-religius, sakral, sekti, dewa
dunia, kalipatullah dan sebagainya.
Ambary juga mengutip Prof. Soetjipto Wirjosoeparto (1963) dan
kemudian Soemarsaid Moertono (1985), bahwa dalam kitab-kitab
babad dan sejenisnya terkandung peristiwa-peristiwa yang layak
diperhatikan, bernilai setara dengan sumber-sumber sejarah dalam
bentuk yang lainnya. Begitu pula, penyusunan-penyusunan dinasti/
keluarga/ wangsa perlu mendapat perhatian yang wajar, seraya
membandingkannya terhadap daftar-daftar yang dimuat dalam sumber
lainnya.
Sejarah masa lalu, dapat menjadi "sesuatu" yang "dekat" terhadap kita
dan hari-hari ini. Seorang tokoh sejarah yang muncul di panggung
peristiwa 1-2
abad lalu, boleh jadi terasa amat dekat dengan kelompok dan suasana
batin masa kini. Ini tentunya merupakan dampak dari pengaruh faktor-
faktor emosi, ikatan genealogi, besarnya dampak peristiwa di seputar
sang tokoh, apresiasi dan sebagainya. Ini pun secara gegabah dapat
dianggap sebagai bias, yang menjadi salah satu sumber subyektivitas
sejarah. Subyektivitas sejarah dapat pula bersumber dari pra-sangka
kelompok, trauma, ideologi, ras/etnisitas dan sebagainya, tetapi
bagaimana pun, subyektivitas sejarah adalah bagian yang memang ada
dalam upaya kita mencapai obyektivitas sejarah.
Karena sumber-sumber sejarah tidak lepas dari keterkaitannya dengan
(antara lain): ikatan keagamaan, kesukuan/etnisitas,
(antara lain): ikatan keagamaan, kesukuan/etnisitas,
kepentingan/interest, politik/ideologi dan sebagainya, maka tidak
jarang penulis sejarah terjebak dalam produk penulisan sejarah yang
dapat dipandang sebagai sejarah yang dikehendaki oleh si penulis.
Merekam kejadian masa lalu yang seratus prosen benar, bukanlah
suatu perbuatan mudah atau tidak dikatakan tidak mungkin. Karena
manusia sebagai subyek sejarah, tentunya memiliki konsekuensi
bahwa setiap kupasan tentangnya senantiasa pula memiliki
subyektivitas, sekali pun upaya-upaya pengungkapannya diusakan,
secara maksimal, untuk menjadi seobyektif mungkin.
Ke-subyektif-an sejarah itu akan selalu muncul, sebagaimana diakui
oleh Mr. A.K. Pringgodigdo: " . . . barangkali akan terlihat pula bahwa
yang menulis adalah anak bangsa Indonesia dan barang kali terdapat
pula dalam buku ini satu dua pemandangan atau kesimpulan dari
penulis yang sangat bergandengan dengan haluannya sendiri, . . ."
(1949: 13). Dan sebagaimana diakui oleh Prof. Dr. Noegroho
Notosoesanto: " . . . Tetapi sebagian besar sumber sejarah berasal dari
kesaksian manusia, karenanya tidak memiliki realitas obyektif,
melainkan hanya merupakan simbol daripada hal-hal yang pernah
nyata di masa lampau (1974:IV). Subyektivitas itu pulalah yang
menyebabkan terjadinya perbedaan visi, misalnya, Belanda
menyatakan Pangeran Diponegoro sebagai pemberontak, sebaliknya,
para sejarawan dan rakyat Indonesia dengan kacamata nasionalnya
menganggap Pangeran Diponegoro sebagai pahlawan dan pejuang
(1987:47). Prof. Dr. Haryati Soebadio mengingatkan, bahwa: "Sejarah
apa pun dan di kawasan mana pun di dunia ini penuh dengan peristiwa
yang di satu sisi bisa menimbulkan aneka macam lagenda dan bahkan
mitos, sedangkan di sisi lain bisa seketika terlupakan karena memang
selamanya pasang surut, masa keemasan di samping masa pergolakan
dan bahkan kemusnahan." (1991 a: 69). Karena itu ia sekali lagi
mengingatkan agar: " . . . sejarawan perlu mawas diri, supaya ia tetap
menjaga integritasnya sebagai peneliti ilmiah. Sejarawan sebagai
ilmiawan tidak diharapkan memberi tafsiran yang melanggar etika
ilmiyahnya. Ia mutlak harus mampu menghadapi sekalian peristiwa
dan kejadian-kejadian di sekitarnya dengan sikap seobyektif mungkin
dan serasional mungkin . . ." (1991 b: 7-8).
Namun demikian, haruslah disadari bahwa kajian sejarah beserta
peninggalan/warisan budaya masa lalu atau dikenal dewasa ini dengan
istilah benda cagar budaya mempunyai arti penting secara nasional. Di
istilah benda cagar budaya mempunyai arti penting secara nasional. Di
dalam penjelasan Undang-Undang No. 5
Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, Presiden Soeharto
menegaskan bahwa: "Benda cagar budaya mempunyai arti penting bagi kebudayaan
bangsa, khususnya untuk memupuk rasa kebanggaan nasional serta memperkokoh jatidiri
bangsa."
Maka sesungguhnya, makna sejarah diakui penting dan karenanya
diperlukan. Memang diakui seringkali terjadi kesenjangan pemahaman
antara sejarah sebagai peristiwa maupun sejarah sebagai kisah, atau
dengan perkataan lain terdapat perbedaan nuansa antara sejarah yang
benar-benar terjadi dan sejarah sebagaimana diceritakan. Tetapi yang
penting, para sejarahwan dan masyarakat pemakai informasi
kesejarahan, tetap harus meng-hindari segala kemungkinan
penyusunan "sejarah yang sebaiknya", karena hal itu adalah "penipuan
sejarah".
Bagaimana pun, sejarah senantiasa memiliki perspektif masa depan,
dan karena itu tidak ada alasan untuk bersikap pesimistik. Peryataan
G.J. Reiner yang sungguh membesarkan hati :
" . . . it is better, therefore, far better, that he should confess, to himself and to his readers, the
nature of his approach, display his bias . . ." (1961: 174) Keterbukaan sikap tersebut jelas
amat diperlukan, mengingat bahwa: "Reality is not 'rational' or 'realistic' in the sense that
everything which exists or happens is logical or necessary or explicable, most of it is
surprising, fantastic and improbable . . ." (Marc Bloch, 1954).
Di samping itu, rekaman sejarah -- seperti yang dinyatakan oleh
Binford (1983:23) -- merupakan bentuk statik dari dinamika yang
terjadi di masa lalu, sebagaimana halnya dinamika masa kini yang
dapat diamati pada kehidupan sehari-hari. Melalui kerangka pikir yang
dinamik, maka rekaman sejarah masa lalu (yang bersifat statik) akan
dapat dimengerti dan dijelaskan secara dinamik pula. Oleh karenanya,
untuk lebih memahami tentang kejadian dan dinamika kehidupan
masa lalu, maka fakta sejarah yang berasal dari rekaman sejarah
haruslah didekati secara kritis.
Dalam kajian ilmu sejarah sedikitnya terdapat dua teori kebenaran
yang pada umumnya memiliki relevansi terhadap pengujian kebenaran
fakta sejarah, yakni apa yang biasa disebut dengan teori kebenaran
korespondensi (correspondance theory of truth) dan teori kebenaran
koherensi (coherence theory of truth) (WH Walsh, 1970: 74-75).
Walsh menyatakan bahwa teori korespondensi mengacu pada: sesuatu
(pernyataan) itu benar apabila sama (correspond) dengan realitasnya
(yakni apa yang benar-benar telah terjadi). Sementara itu teori
koherensi menyatakan bahwa sesuatu itu (suatu pernyataan) benar
apabila cocok (coherence) dengan pernyataan-peryataan lain yang
pernah diucapkan/dinyatakan dan diterima kebenarannya.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka dalam pemakaian data sejarah,
terlebih dahulu, harus diteliti baik secara intern maupun ekstern.
Pendekatan intern adalah dilakukan dengan penelitian fisik dan tingkat
dapat dipercayanya naskah sebagai sumber sejarah, sedangkan
pendekatan ekstern dilakukan dengan menguji-silang sumber-sumber
utama yang akan digunakan dengan sumber-sumber lain. Nanti dalam
analisis data diterapkan metode deskriptif, dan analogi komparatif.
Dalam hal pengujian data sejarah ini, sikap kritik para penulis sejarah
adakalanya sampai pada tahapan skeptik (ragu) dalam memandang
informasi yang terkandung dalam suatu rekaman sejarah, tanpa
maksud meremehkannya. Karena seperti yang dijadikan sikap oleh
Prof. Nugroho Notosoesanto, ialah bahwa setiap rekaman sejarah, apa
pun wujudnya, memiliki kesempatan yang sama untuk diteliti.
Karena itulah dalam penyusunan Catatan Masalalu Banten ini,
khususnya ketika pembahasan menyentuh para tokoh, akan dihindari
sedapat mungkin berbagai penafsiran yang subyektif meski pun tidak
mungkin seratus prosen. Salah satu misal, kehebatan sesuatu
pertempuran akan diukur melalui jumlah pasukan yang terlibat, taktik
dan strategi yang digunakan, teknologi peralatan, lama pertempuran,
jumlah korban atau kerusakan dan sebagainya.
Bukan dengan dramatisasi berlebihan yang mengarah pada retorika.
Diusahakan, supaya dalam penulisan sejarah ini, tidak terjerat dalam
"keinginan" tertentu, maka haruslah diperhatikan kaidah-kaidah
disiplin ilmu sejarah, baik sejarah dalam pengertian sebagai kisah dari
peristiwa atau pengalaman serta ikhwal manusia masa lampau, mau
pun sejarah sebagai aktualitas atau sebagai peristiwa itu sendiri. Untuk
mencapai maksud di atas, teori sejarah akan diterapkan membantu
menjelaskan sejarah dalam pengertian sebagai aktualitas, dan
menyusun kembali sejarah sebagai kisah (historiografi), dengan
pemaparan yang mendatar tanpa melupakan pendalaman data. Di
samping itu pula, dalam penulisan Catatan Masalalu Banten, data-
data yang bersumber dari tradisi lisan, akan disebut tetap sebagai
tradisi lisan, tetapi sebaliknya pula, apabila sesuatu sumber memang
berasal/merupakan dokumen yang otentik, juga akan disebut sebagai
dokumen otentik yang telah teruji kebenarannya; sehingga pembaca
dapat menilai lebih obyektif.
Untuk memenuhi kriteria penulisan sejarah seperti yang disebutkan di
atas, maka dalam penulisan Catatan Masalalu Banten digunakan
seperangkat metode dan teknik penulisan yang tentu tidak akan
terlepas kait dari cara-cara menghimpun dan mengolah bahan-bahan
atau sumber yang menjadi materi penulisan. Karena itu dilakukan
sinkronisasi dan integrasi antara metode dan teknik penelitian dengan
metode dan teknik penulisan. Metode-metode yang digunakan dalam
penyusunan risalah ini, meliputi :
1.
Heuristik, yaitu kegiatan menghimpun jejak/bekas/ peninggalan masa lampau, baik yang
bersifat literer/
artifaktual, ipsefaktual dan ekofaktual.
2.
Kritik, yaitu kegiatan pemeriksaan dan pengujian menyeluruh bagi sumber data yang telah
terhimpun itu, secara:
margin-left:2.0cm;margin-bottom:.0001pt;text-indent:-1.0cm;mso-
list:l0 level2 lfo2; tab-stops:list 2.0cm;mso-layout-grid-
align:none;punctuation-wrap:simple; text-autospace:none;vertical-
align:baseline">a.
intern, yakni pengujian terhadap materi dari setiap sumber meliputi: keruangan/spatial,
pertanggalan/ temporan, bentuk/formal, struktur, konteks, serta fungsi dari pada setiap
sumber.
b.
ekstern, yakni meneliti kelengkapan, kebenaran, otentisitas, orisionalitas, termasuk pengujian
terhadap sumber lain secara silang.
3.
Interpretasi, yaitu menafsirkan setiap sumber baik secara individual maupun korelasional,
baik dengan analisis maupun dengan analogis. Analisis diarahkan pada aspek-aspek kontek,
struktur, fungsi dan latar belakang dikeluarkannya setiap produk sumber sejarah. Sementara
analogi secara terbatas diarahkan pada kesejamanan dokumen lain dalam aspek
ruang/geografi, etnisitas, kultural dan bentang waktunya.
4.
Eksplanasi, yaitu menjelaskan secara berstruktur fakta-fakta sejarah, penganalisaan serta
rekontruksi sejarah, baik sejarah sebagai peristiwa mau pun sejarah sebagai kisah;
margin-left:1.0cm;margin-bottom:.0001pt;text-indent:-1.0cm;mso-
list:l0 level3 lfo2; tab-stops:list 1.0cm left 2.0cm;mso-layout-grid-
align:none;punctuation-wrap: simple;text-autospace:none;vertical-
align:baseline">5.
Presentasi/Penulisan akan dilakukan dengan teknik paparan (eksposisi) secara mendatar
(horizontal/synchronic), mau pun secara vertikal (diachronic).
Sebagai pengantar kepada uraian selanjutnya, pemahaman kesejarahan
Banten tidak bisa dilepaskan dari keadaan situasi kemasyarakatan
yang terjadi jauh di belakang dan dalam lingkup yang lebih luas.
Sebelum para penyiar agama Islam datang, di Indonesia sudah
berkembang berbagai kepercayaan, baik berupa kepercayaan asli
seperti animisme, maupun agama-agama Hindu dan Buddha yang
berasal dari Asia Selatan, malah semacam percampuran (sinkretisme)
dari berbagai kepercayaan dan agama-agama tersebut. Hal ini
mengandung pengertian bahwa bagian masyarakat tertentu
mencampur adukkan unsur-unsur dari ajaran serta upacara-upacara
dari kepercayaan dan agama di atas.
Nieuwenhuijze (1958:2) menyebutkan adanya latar belakang yang
bagus bagi masuknya Islam di Indonesia, yaitu bahwa masyarakat
Nusantara yang dimasuki unsur-unsur budaya Islam sejak abad XIII
M. itu dilukiskan sebagai "masyarakat tertutup" yang merupakan
M. itu dilukiskan sebagai "masyarakat tertutup" yang merupakan
sekelompok manusia yang saling padu, terisolir dan bebas, serta
merupakan kelompok swasembada yang dipisahkan dari seluruh
ummat manusia, dimana menurut Nieuwenhuijze selanjutnya:
margin-left:1.0cm;margin-bottom:.0001pt;text-indent:-1.0cm;mso-
list:l2 level1 lfo4; tab-stops:list 1.0cm left 2.0cm;mso-layout-grid-
align:none;punctuation-wrap: simple;text-autospace:none;vertical-
align:baseline">1.
penguasa dan atau kekuasaan adalah peran yang dimiliki masyarakat itu di alam semesta;
2.
manusia sebagai pribadi pertama-tama adalah anggota masyarakat dan bukan individu;
3.
penyerapan unsur asing secara sinkretik.
Selanjutnya, Agama Islam tampil menggantikan ideologi komunitas
Nusantara, sehingga ideologi tersebut terakhir menjadi:
1.
di depan Tuhan manusia adalah sama, dan ini secara diametral bertentangan dengan sistem
stratifikasi sosial berkasta dalam agama Hindu;
2.
iman memegang tempat utama dalam Islam dan bukan pendekatan kritis analitis terhadap
setiap permasalahan semesta; dan
3.
konsep "ummah" dalam Islam berhasil menggantikan kesatuan komunal masyarakat
sederhana, dan sekaligus memberikan rasa tentram bagi para warga ummat.
Secara politis tampak bahwa masuknya agama Islam tidak mengubah
hubungan agama dengan kekuasaan (Arbi Sanit, 1976:14). Seperti
raja-raja terdahulu, kerajaan-kerajaan Islam sesuai dengan ajaran
agama Islam menggunakan agama sebagai landasan kekuasaan dan
legitimasi kekuasaan para sultan daulat Islam di Nusantara.
legitimasi kekuasaan para sultan daulat Islam di Nusantara.
Selama hampir 300 tahun di bawah kekuasaan kolonial Belanda,
pandangan masyarakat mengenai hubungan antara kekuasaan dengan
agama hampir tidak berubah. Hal ini terjadi karena kekuasaan kolonial
Belanda berdiri di atas dua sistem yang sama sekali berbeda, yakni:
1.
Belanda membangun sistem kekuasaan yang "prinsipnya" sekuler dengan segala aparat
birokrasinya; sebaliknya
2.
di lain pihak masyarakat dikukuhkan ke dalam sistemnya yang semula telah mereka kenal dan
tumbuhkan, di mana perkaitan agama dengan organisasi dan sistem kekuasaan di dalam
masyarakat begitu erat.
Struktur masyarakat di Indonesia
> pada masa permulaan kedatangan
Islam, dalam beberapa hal masih melanjutkan tradisi budaya Indonesia
pra-Hindu. Hal ini dapat diketahui karena budaya Hindu di Indonesia
hanya menyentuh lapisan kaum bangsawan dan raja-raja, itupun hanya
mengambil beberapa aspek kehidupan saja (Tjandrasasmita et al.,
1975:62). Ketika corak pemerintahan Islam menjadi mapan, struktur
sosial pun tak banyak mengalami perubahan berarti. Papan bawah
dalam struktur masyarakat Jawa tetap menjalani sejarah tanpa
perubahan. Namun demikian perubahan sosial tetap ada, berkat
adanya konsep "ummah" dalam Islam, yang berhasil dijembatani oleh
peran-peran para kyai dan ulama, kesenjangan dalam struktur tersebut
-- walau pun tetap ada dan ini alamiah -- berhasil dikurangi.
Namun ketika penetrasi kolonial secara intensif menyentuh kehidupan
sehari-hari rakyat biasa melalui pajak yang berat, pengerahan tenaga
buruh berlebih-lebihan, dan berbagai peraturan yang menindas, maka
dirasakan realitas kekuasaan kolonial tidaklah cocok dengan realitas
sosial ekonomi dan stabilitas yang dicita-citakan masyarakat
tradisional (Kartodirdjo, 1984: 3-4). Lebih celaka lagi ketika
kekuasaan kolonial "merambah" ke daerah peka, yakni agama.
"Pesan" kekolonialan "memaksa" pemerintah penjajah mendukung
usaha kristenisasi bagi penduduk pribumi yang beragama Islam,
usaha kristenisasi bagi penduduk pribumi yang beragama Islam,
karena di samping sebagai "penjinakan" ummat Islam juga untuk
missi suci yang dibawa mereka sejak awal. "Pemurtadan"
inilah yang akhirnya menjerat pemerintah penjajah kepada maraknya
perlawanan rakyat yang dipimpin para ulama Islam.
Banten tumbuh dan dibesarkan oleh peran pedagang, mulai dari strata
terendah, menengah (perantara) sampai pada elite priyayi pedagang di
strata paling atas.
Penetrasi kekuasaan militer dan armada dagang Belanda, menghapus
perdagangan perantara dan berbagai jenis industri. Onghokham
menyatakan, bahwa masyarakat kemudian hanya mengenal dua
golongan, yakni golongan penguasa dan golongan petani penghasil
agrikultur, yang harus menyerahkan hasil mereka kepada penguasa
sebagai upeti (1983:10).
Banten yang pernah mencapai puncak keandalan pola ekonomi
eksternal (perdagangan jarak menengah dan jauh) dan internal (agro-
ekonomi), diluluh-lantakkan oleh berbagai peristiwa politik dan
ekonomi yang dipaksakan oleh pemerintah kolonial dengan segala
akibat dan dampaknya. Sebaliknya, pada masa puncak kejayaannya,
Banten yang dihuni oleh sekitar 30.000 -- 40.000 jiwa (Valentijn,
1858: 353-255) didatangi oleh para pedagang dari India, Cina, Jepang,
Siam, Philipina, Pegu, Persia, Arab, Syria, Inggris, Belanda, Perancis,
Denmark dan Portugis (Tjandrasasmita, 1975:193).
"Keramaian" dan potensi Banten pada masa puncak kejayaannya,
antara lain tampak pada catatan Jourdain bahwa pada tahun 1619
perahu Cina rata-rata berukuran 300 ton, dan catatan J.P. Coen tentang
adanya perahu Cina yang membawa dagangan senilai 300.000 real
(Wibisono, 1985:793-794).
Pada tahun 1598
terdapat catatan export lada dari Banten dengan perahu Cina sebanyak
18.000
karung (5 jung), perahu Gujarat 3.000 karung dan Perahu Belanda
sebanyak 9.000 karung lada (Keuning, 1938:92).
sebanyak 9.000 karung lada (Keuning, 1938:92).
Tetapi sebaliknya kehancuran Banten dan kesengsaraan rakyat Banten
-- setelah penetrasi kekuasaan militer, ekonomi dan politik VOC dan
kemudian dilanjutkan oleh Belanda -- adalah tak terperikan.
Kesengsaraan rakyat ini kemudian berlanjut dengan akibat tanam
paksa, resesi ekonomi (maleise) pendudukan bala tentara facis Dai
Nippon, dan bahkan oleh bencana alam, wabah penyakit dan perang
kemerdekaan itu sendiri.
Pada perjanjian tahun 1609 antara Banten dengan VOC, Banten harus
memberikan konsesi/pembebasan pajak dan kebolehan VOC boleh
tetap mukim di Banten; pada perjanjian tahun 1658 Banten harus
membayar pampasan perang, menjamin keamanan armada dagang
VOC di Banten dan membebaskan segala pajak dan cukai bagi VOC;
sedang pada perjanjian tahun 1684 ditambah lagi dengan larangan
bepergian bagi rakyat Banten dan sebaliknya ke Batavia (Uka
Tjandrasasmita, 1975).
Tahapan-tahapan perjanjian "damai" yang disodorkan kompeni inilah
yang akhirnya membawa kesultanan Banten "terpuruk" ke tangan
penjajahan berkelanjutan. Maka sejak tahun 1752, secara de facto
Banten berada di bawah kuasa VOC. Melalui perjanjian yang
ditandatangani VOC dan Sultan Abulma'ali Zainul'alimin, setiap tahun
Sultan harus menghadap/membayar upeti kepada VOC di Batavia,
hanya VOC yang boleh mendirikan benteng di Banten, VOC pun
memonopoli perdagangan (juga penanaman) komoditas kopi dan tebu.
Abad XVII-XVIII M., Banten dan Indonesia pada umumnya penuh
dengan pergolakan berskala menengah dan besar, sementara pada
abad XIX-XX terjadi pula perang-perang lokal yang sama dan
berakhir dengan perang-perang kecil, yang dalam 1-7 hari telah dapat
dipadamkan Belanda.
Belanda dengan politik devide et empera, tak selamanya berperang
dalam pengertian yang sungguh-sungguh berperang dengan penguasa/
kekuasaan pribumi. Lebih sering terjadi Belanda (sebelumnya VOC),
senantiasa memanfaatkan atau bahkan menumbuhkan intrik istana,
atau adu-domba di kalangan elite kekuasaan, yang biasanya
berkembang dengan internal conflict, yang bermuara pada perjanjian-
perjanjian yang antara lain meminta bantuan Belanda. Perjanjian
dalam rangkaian internal conflict tersebut, senantiasa amat merugikan
penguasa pribumi, dan akan berakibat semakin dalamnya campur
tangan kekuasaan Belanda terhadap urusan-urusan intern/otoritas
kerajaan.
Taufik Abdullah menyatakan bahwa pembuatan perjanjian-perjanjian
apapun dilihat sepanjang perjanjian tersebut menguntungkan telah
menjadi muslihat yang sering dipakai oleh VOC. Dalam hal ini
pemerintah Hindia Belanda hanyalah mewarisi kebiasaan VOC ". . .
Setiap perjanjian baru yang dibuat, tidak hanya sekedar mengukuhkan
kembali isi perjanjian terdahulu yang oleh Belanda dipandang telah
dilanggar tetapi juga, dan ini yang paling sering, menyodorkan hal
yang lebih lanjut akan melemahkan kesultanan . . ." (1984:16).
Contoh-contoh mengenai hal tersebut di atas amat lengkap, baik yang
telah dialami oleh Banten, Mataram, Aceh, Palembang, Banjar, Gowa-
Tallo, Buton, Ternate dan Tidore.
Perjanjian yang pernah dilakukan oleh Kesultanan Banten dengan
VOC/Belanda, antara lain:
Tahun 1609 : antara Mangkubumi dengan VOC
dimana (1) Belanda bersedia membantu Banten apabila Banten
diserang oleh negara lain, tetapi sebaliknya Belanda tidak akan
membantu Banten apabila Banten menyerang negara lain (2) Belanda
boleh berniaga di Banten dan orang Belanda yang menetap di Banten
tidak dikenakan pajak, dan (3) bangsa Eropa selain Belanda tidak
boleh bertempat tinggal di Banten.
Tahun 1658 : perjanjian perdamaian yang dipaksakan oleh Belanda kepada Sultan Abdulfath,
antara lain: (1) pengembalian tawanan perang dari kedua belah pihak, (2) kewajiban
membayar pampasan perang oleh Banten pada pihak Belanda, (3) jaminan keamanan
Banten terhadap kepentingan Belanda di Banten, (4) pembebasan pemeriksaan bagi
kapal-kapal Kompeni Belanda yang datang ke Banten, (5) serta dibebaskan dari segala
pungutan bea masuk, (6) larangan pelintasan batas bagi rakyat Banten dan Batavia.
Tahun 1684 : perjanjian yang dipaksakan Belanda kepada Sultan Haji sebagai kompensasi
bantuan militer Belanda bagi Sultan Haji dalam menghadapi Sultan Ageng Tirtayasa
(ayahnya), Syekh Yusuf dan Pangeran Purbaya, antara lain: (1) tetap berlakunya
perjanjian tahun 1658, (2) larangan bepergian bagi rakyat Banten ke Batavia dan
sebaliknya, (3) penetapan perbatasan wilayah Banten dan wilayah Kompeni Belanda,
(4) pembayaran kerugian perang dan akibat perampokan kepada Belanda, (5) pelepasan
tuntutan Banten atas wilayah Cirebon, dan sebagainya.
Dari contoh perjanjian yang dilakukan oleh penguasa-penguasa
pribumi dengan VOC/Belanda, tampak jelas bahwa isi perjanjian-
perjanjian, biasanya bermula pada konsesi perdagangan, monopoli
oleh Belanda dan berakhir pada campurtangan terhadap kedaulatan,
dan tidak jarang berakhir dengan penghapusan administrasi politik
sesuatu kerajaan.
Akibat perjanjian-perjanjian inilah akhirnya Kesultanan Banten yang
pernah berjaya selama hampir 200 tahun mengalami kepudarannya
sampai tenggelam dalam kegelapan. Hingga Deandels dengan leluasa
mengobrak-abrik keraton kebanggaan rakyat Banten.
Masyarakat Banten selama abad XIX, boleh dikata cukup menderita
khususnya sejak dihapuskannya Kesultanan Banten oleh Daendells
pada tahun 1812. Struktur kekuasaan di Banten menjadi sangat labil
oleh karena kehilangan tulang punggungnya.
Meski pun berstatus tinggi dan sangat terpandang dalam masyarakat,
namun para bangsawan sudah tidak berkuasa lagi. Sementara itu
unsur-unsur pemerintah kolonial, terutama elite birokrasinya belum
berakar, maka suasana pengaruh lebih berpusat pada para ulama. Kyai
dan Haji. Di samping itu, di desa-desa para jawara berperan sebagai
kepalanya.
Dalam keadaan seperti itu, di mana-mana sering timbul vakum
kekuasaan, yang membuka ruang bergerak bagi pelbagai unsur
masyarakat, yang terpaksa berjuang di bawah tanah untuk survivalnya,
antara lain: para petualang, bandit sosial, pemberontak dan lain
sebagainya (Kartodirdjo, 1988: 47).
Sejak tahun 1840
gerakan-gerakan mulai reda, di satu pihak secara sporadik keamanan
gerakan-gerakan mulai reda, di satu pihak secara sporadik keamanan
masih diganggu oleh perbanditan dari Sahab, Conat, Ija, Sakan dan
Kemodin; sementara itu secara berkala meletus huru-hara yang
berpusat pada tempat tertentu seperti: Cikande Udik (1845), affair
Pungut (1862), geger Haji Wahia (1850), affair Usup (1851), peristiwa
Kolelet (1866) dan peristiwa Jayakusuma (1869).
Kiranya tepat apabila dikatakan bahwa Banten memiliki tradisi
memberontak. Segala macam gejolak, besar-kecil, dicetuskan secara
individual atau kolektif, kesemuanya dapat dipandang sebagai
manifestasi protes terhadap kekuasaan asing yang memaksakan orde
politik baru kepada masyarakat Banten.
Sartono Kartodirdjo pun pernah mengkonstantir, bahwa: "Ketika
penetrasi kolonial secara intensif menyentuh kehidupan sehari-hari
rakyat biasa melalui pajak yang berat, pengerahan tenaga buruh yang
berlebih-lebihan, dan peraturan yang menindas, pada umumnya
dirasakan bahwa realitas sosial harmoni dan stabilitas yang dicita-
citakan masyarakat tradisional jauh dari harapan (1984: 3).
Hasan Muarif Ambary (1991:17), mengamati kecenderungan sosial-
politik abad-abad XVIII-XIX M., dengan munculnya mitos ratu adil,
imam mahdi atau bahkan sang messiah, boleh jadi merupakan obsesi
bahkan mungkin apologia terhadap ketidakberdayaan dan kehilangan
referensi lingkungan budaya yang sesuai dengan keyakinan.
Bersamaan dengan gejala itu, orientasi nilai berpindah dari keraton-
keraton ke pesantren-pesantren. Pesantren pada abad XVIII-XIX
semakin kuat kedudukannya sebagai pusat harapan di antara
sempitnya pilihan.
Pendapat Ambary, kiranya paralel dengan pernyataan dari
Kartodirdjo, yang telah memberikan gambaran bagaimana pesantren
dan kyai menjadi panutan ummat ketika elite birokrasi pribumi
semakin kehilangan peran dan kekuasaan. Ia berasumsi, kalau rakyat
pada umumnya lebih condong kepada pihak kaum berprotes, namun
keadaan yang terpecah belah serta tidak adanya koordinasi yang tidak
mampu memobilisasi rakyat bahkan ideologi nativisme, yaitu yang
bertujuan merestorasi kesultanan tidak berdaya lagi (1988: 48). Di
samping itu, kebijaksanaan serta tindakan penguasa kolonial sekitar
tahun 1880 terhadap wabah hewan, bahaya kelaparan serta epidemi
sakit panas, hanya menambah kesengsaraan serta keresahan di
kalangan rakyat.
"Reportase"
Kartodirdjo terhadap keadaan rakyat Banten pada tahun 1880-an,
antara lain mengemukakan bahwa sebagai akibat pembantaian kerbau
secara massal dan kehadiran kuburannya di mana-mana, di seluruh
Banten rakyat menderita sakit panas, yang pada Agustus 1880
mencapai ± 210.000 orang penderita di mana ± 40.000 orang di
antaranya menemui ajalnya.
Pemandangan di desa-desa sungguh menyedihkan, jalan-jalan sepi,
banyak rumah tidak dihuni, padi di sawah dibiarkan membusuk karena
kekurangan tenaga. Banyak ibu tidak dapat menyusui anaknya
sehingga angka kematian anak sangat tinggi. Dari banyak rumah
terdengar ratap tangis, dzikir dan do'a.
Dapat diduga bahwa wabah penyakit hewan dan wabah sakit panas
membawa akibat serius dalam keadaan hasil pertanian dan bahan-
bahan makanan. Suatu himbauan kepada Pemerintah Batavia agar
Banten termasuk Lebak diberi bantuan, segera mendapatkan
tanggapan positif, baik berupa dropping bahan makanan, maupun
dalam bentuk program-program pembangunan jalan dan irigasi.
Rakyat Banten lambat-laun memulihkan kehidupannya menuju ke
arah normal. Namun letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda (23
Agustus 1883) menimbulkan gelombang laut setinggi 30 meter yang
melanda pantai barat Banten, menghancurkan Anyer, Merak,
Caringin, serta desa-desa Sirih, Pasauran, Tanjur dan Carita.
Kesemuanya sirna tanpa meninggalkan bekas, korban jiwa mencapai ±
21.500 orang tenggelam disapu gelombang.
Musibah yang bertubi-tubi menimpa rakyat Banten dengan sendirinya
membawa dampak luas, tidak hanya di bidang sosial ekonomi, tetapi
juga dalam bidang sosial politik dan kehidupan keagamaan. Meskipun
kehidupan sosial ekonomi segera dapat dipulihkan pada tahun-tahun
berikutnya, namun suasana di kalangan rakyat penuh kegelisahan dan
berikutnya, namun suasana di kalangan rakyat penuh kegelisahan dan
keresahan.
Sementara itu, pihak pemerintah melaksanakan sistem perpajakan
yang baru, sehubungan dengan penghapusan pelbagai kerja wajib,
seperti kerja pancen dan kerja rodi. Pada tahun berikutnya, setahun
setelah letusan G. Krakatau, pajak tanah dikurangi f. 124.000,- Pada
tahun berikutnya, 1884, pajak tanah itu untuk seluruh negeri
dinaikkan, dan di Banten terkumpul lebih besar jumlahnya dari jumlah
pajak tanah tahun 1972, meskipun jumlah penduduk turun ± 100.000
(Kartodirdjo, 1988: 55).
Pada tahun 1886 dalam masyarakat yang penuh keresahan timbul
kekeruhan yang disebabkan oleh merajalelanya gerombolan perampok
di bawah pimpinan Sakam. Karena sukar ditangkap, pada rakyat
timbul kepercayaan bahwa ia berjimat dan memiliki kekebalan. Dan
banyak lagi contoh keresahan/kemelut akibat meluasnya perbanditan
dengan segala dampak penanganannya.
Menurut hasil kajian Kartodirdjo, di Banten Utara pada tahun 1887
dan 1888 kekuatan-kekuatan sosial lambat laun mulai terkristalisasi
serta mewujudkan diri sebagai gerakan perlawanan di bawah tanah
bagaikan api di bawah sekam (1988: 57).
Di Banten Utara terlaksana konsolidasi kekuatan tersebut oleh karena
di daerah ini tersedia basis yang kokoh serta sistem kepemimpinan
yang memiliki otoritas tidak hanya besar, tetapi juga kharismatik.
BAB II
BANTEN SEBELUM ISLAM
A. TINGKAT
KEHIDUPAN MASA PRASEJARAH
Wilayah Banten yang terletak di ujung barat pulau Jawa, tepatnya antara 105°6`
sampai 106°46` BT dan 5°46` sampai 7°1` LS. Dikelilingi Laut Jawa
di sisi utara, Selat Sunda di sisi barat dan Samudra Hindia di sisi
selatan. Pulau-pulau di sekitarnya antara lain: Pulau Panaitan, Pulau
Rakata, Pulau Sertung, Pulau Panjang, Pulau Dua, Pulau Deli dan
Pulau Tinjil. Secara administratif kepemerintahan melingkupi daerah
Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kabupaten Serang, Kota
Cilegon, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.
Berdasarkan keadaan lingkungan alamnya, daerah Banten dapat dibagi menjadi empat, yaitu:
1.
Daerah pantai;
2.
Daerah pedataran dan kaki perbukitan;
3.
Daerah Gunung Karang, Gunung Salak, Gunung Gede Gunung Honje, Gunung Polasari dan
Gunung Batur;
4.
Daerah pegunungan.
1). Daerah pantai
Daerah pantai merupakan daerah yang kering dan tidak subur, meliputi daerah pantai utara
sekitar Teluk Banten, pantai Pontang, pesisir Tangerang, dan pantai Selat Sunda. Seperti
umumnya daerah-daerah pantai utara Jawa, di daerah pantai ini banyak sungai-sungai
bermuara dan banyak membawa lumpur hasil erosi dari daerah pedalaman. Banyaknya
pengendapan lumpur di daerah pantai ini menyebabkan garis pantai makin bergeser ke arah
laut. Daerah ini berketinggian kurang dari lima meter di atas permukaan laut. Curah hujan
rata-rata kurang dari 1500
milimeter/tahun. Karena tanahnya tidak subur, maka tanah
persawahan sangat sedikit dan kebanyakan digunakan untuk tambak
pemeliharaan ikan dan ditanami palawija dan kelapa.
2) Daerah pedataran dan kaki perbukitan
Daerah ini meliputi wilayah-wilayah Kota Cilegon, Kabupaten Serang utara dan timur,
Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang. Tanahnya merupakan tanah pedataran yang
sangat luas (hampir meliputi 50% dari seluruh wilayah Kabupaten Serang dan Tangerang)
dengan sedikit daerah kaki perbukitan di sebelah selatannya. Berketinggian kira-kira 100
meter dari permukaan laut.
Curah hujan rata-rata 1500 - 2000 milimeter/tahun. Daerah ini
merupakan daerah pertanian yang sangat luas dan subur.
3) Daerah Gunung Karang, Gunung Salak, Gunung Gede, Gunung Honje,
Gunung Polasari dan Gunung Batur
Daerah ini merupakan daerah bergunung walaupun letaknya di daerah pantai. Tanahnya
sangat subur. Berketinggian sampai 600 meter di atas permukaan laut dan merupakan daerah
perkebunan. Curah hujan rata-rata 1500 - 2000
milimeter/tahun.
4) Daerah pegunungan
Daerah ini merupakan tanah pesawahan dan perkebunan yang sangat subur dan meliputi
wilayah selatan Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.
Berketinggian 200 - 2000 meter di atas permukaan laut. Curah hujan
di daerah ini cukup tinggi, rata-rata 2000 - 3000 milimeter/tahun.
Rekonstruksi tingkat kehidupan prasejarah di wilayah Propinsi Banten, mungkin harus ditarik
paling tidak ke bentang waktu antara 10.000 - 5.000 tahun lalu, sebagaimana acuan bukti-
bukti hadirnya bekas-bekas habitasi kelompok-kelompok manusia di wilayah ini. Titimangsa
tersebut boleh bersifat hipotetis dan sangat sementara, mengingat di wilayah Banten selain
ditemukan sisa-sisa teknologi tingkat kehidupan masa bercocok tanam, juga ditemukan sisa-
sisa budaya gua, dan tradisi pembuatan alat-alat batu inti dan serpih bilah di Cigeulis,
Pandeglang.
Salah satu hal yang agak kurang menguntungkan dalam kajian tingkat kehidupan masa
prasejarah di wilayah Banten, adalah masih kurangnya penelitian arkeologi secara intensif dan
berkesinambungan di wilayah dimaksud.
Penelitian-penelitian belum dilakukan secara menyeluruh dan masih
bersifat sepotong-sepotong.
Pada Kala Plestosin (± 3 juta – 10.000 tahun sebelum Masehi) dimana terjadi penurunan
drastis suhu bumi sehingga es yang biasanya hanya ada di daerah kutub telah meluas, dan
permukaan air laut turun drastis, disamping terjadi pengangkatan daratan sehingga juga
terbentuk gunung/ pegunungan baru. Pulau Jawa, Sumatra dan Kalimantan menjadi satu
dataran dengan benua Asia dan Eropa, yang disebut dengan paparan Sunda (Sunda shelf),
sedangkan pulau-pulau di bagian timur Indonesia bersatu dengan Australia yang disebut
paparan Sahul (Sahul shelf). Masa inilah yang diduga sebagai masa penyebaran penduduk
Nusantara. Baru setelah adanya perubahan iklim yang diikuti dengan pencairan es, pulau-
pulau tersebut menjadi terpisah oleh lautan. Selat Sunda yang dulunya merupakan sungai
besar, berubah menjadi selat yang memisahkan Sumatra dan Jawa. Dengan ditemukannya
singkapan endapan tanah formasi plestosen di Banten, maka diyakini bahwa daerah ini
muncul semasa dengan munculnya benua Asia (Kartodirdjo, 1975: 33).
Secara umum, perkembangan budaya manusia pada masa prasejarah digambarkan berupa 3
tahapan yang masing-masing memiliki ciri tertentu: masa berburu dan
mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, dan masa kemahiran
mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, dan masa kemahiran
teknik (perundagian). Masa berburu dan mengumpulkan makanan,
ditandai dengan kepandaian berburu binatang hutan, menangkap ikan,
kerang dan siput di lat atau di sungai dan mengumpulkan makanan
dari alam sekitarnya, misalnya umbi-umbian seperti keladi, buah-
buahan atau biji-bijian dan daun-daunan.
Hidup berburu dan mengumpul makanan adalah cara hidup yang
pokok pasa masa itu. Mungkin merekapun telah mengenal pertanian,
walau dengan cara yang sangat sederhana dan dengan cara berpindah-
pindah sesuai dengan kesuburan tanah dan alam lingkungannya.
Biasanya mereka sudah mempunyai tempat tinggal di goa-goa alam di
dekat sumber air atau sungai walau tidak tetap.
Mereka akan berpindah tempat apabila keadaan alam atau persediaan
makanan sudah makin berkurang. Dalam hal alat-alat penopang
hidupnya pun sangat sederhana yang dibuat dari batu, tulang ataupun
bambu, berupa batu atau tulang yang ditajamkan, seperti kapak
perimbas, kapak penetak, pahat genggam, kapak genggam dan alat
serpih. Dalam keadaan yang lebih maju, mereka juga membuat mata
anak panah yang terbuat dari batu atau tulang yang diberi gerigi untuk
keperluan berburu binatang. Walaupun mereka sudah hidup
berkelompok, namun dalam ukuran yang sangat sederhana, tergantung
dari keadaan tempat yang ditinggalinya. Peninggalan masa ini di
Banten dapat ditemukan di Cigeulis, Pandeglang berupa kapak
perimbas, kapak penetak, pembelah dan serpih bilah. Di Sanghiyang
Sirah, Ujung Kulon juga ditemukan lukisan gua yang kemungkinan
besar dibuat oleh penghuni gua pada masa itu.
Masa kehidupan bercocok tanam (neolitik), masa ini ditandai dengan mulai cara hidup
menetap di suatu perkampungan yang terdiri dari tempat-tempat tinggal sederhana yang
didiami secara berkelompok oleh beberapa keluarga.
Populasi mulai meningkat, dan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan
mulai diatur antar anggota masyarakat. Kegiatan bercocok tanam,
pemeliharaan hewan ternak sudah mulai dibiasakan di samping
kegiatan berburu dan menangkap ikan masih terus dilakukan. Unsur
kepercayaan dalam kehidupan perkampungan sangat dipentingkan
untuk membina, mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan
dalam hidup bersama. Pemujaan kepada benda-benda alam yang besar
seperti gunung-gunung, matahari, bulan, laut, pohon-pohon besar,
arwah nenek moyang yang dianggap sakti dan keramat yang akan
arwah nenek moyang yang dianggap sakti dan keramat yang akan
dapat menolong dan mencegah kemurkaan alam menjadi dasar
kepercayaan mereka. Teknologi pembuatan pakaian, gerabah (alat
yang dibuat dari tanah liat), alat-alat kerja, dan perhiasan mulai
dikenal; pembuatan alat berburu seperti kapak, beliung persegi dan
mata tombak atau anak panah mulai ditingkatkan dengan diasah halus
dan spesifik. Pada tahun 1980 ketika Departemen Pekerjaan Umum
melaksanakan perluasan dan perbaikan irigasi DAS Cibanten Hilir
tepatnya di plot Kampung Odel, Desa Kasunyatan, Kecamatan
Kasemen, Kabupaten Serang sekitar 2 km di selatan Masjid Agung
Banten, ditemukan berbagai benda berciri prasejarah, seperti serpih,
bilah, alat batu inti, beliung persegi, belincung, fragmen gerabah
"cord-marked", manik-manik, fragmen gelang dan cincin perunggu,
yang seluruhnya bercampur dengan temuan-temuan yang berciri
Banten-Islam.
Hasil survey dan ekskavasi yang dilakukan di Karadenan, Odel dan Kenari yang masih
termasuk DAS Cibanten, memperlihatkan jenis-jenis temuan sebagai berikut:
alat batu 186 buah
margin-left:1.0cm;margin-bottom:.0001pt;tab-stops:1.0cm 2.0cm right
191.4pt left 212.65pt">tatal batu 600 buah
margin-left:1.0cm;margin-bottom:.0001pt;tab-stops:1.0cm 2.0cm right
191.4pt left 212.65pt">batu apung 9 buah
margin-left:1.0cm;margin-bottom:.0001pt;tab-stops:1.0cm 2.0cm right
191.4pt left 212.65pt">pecahan batu (chunk) 17 buah
margin-left:1.0cm;margin-bottom:.0001pt;tab-stops:1.0cm 2.0cm right
191.4pt left 212.65pt">pecahan gerabah 5.280 buah
margin-left:1.0cm;margin-bottom:.0001pt;tab-stops:1.0cm 2.0cm right
191.4pt left 212.65pt">pecahan keramik 581 buah
margin-left:1.0cm;margin-bottom:.0001pt;tab-stops:1.0cm 2.0cm right
191.4pt left 212.65pt">manik-manik 43 buah
margin-left:1.0cm;margin-bottom:.0001pt;tab-stops:1.0cm 2.0cm right
191.4pt left 212.65pt">k a c a 24 buah
margin-left:1.0cm;margin-bottom:.0001pt;tab-stops:1.0cm 2.0cm right
191.4pt left 212.65pt">fragmen logam 29 buah
margin-left:1.0cm;margin-bottom:.0001pt;tab-stops:1.0cm 2.0cm right
191.4pt left 212.65pt">fragmen tulang 73 buah
margin-left:1.0cm;margin-bottom:.0001pt;tab-stops:1.0cm 2.0cm
6.0cm 212.65pt">fragmen gigi 17 buah Dari ketiga plot
penelitian di sepanjang DAS Cibanten Hilir tersebut, terlihat akumulasi data yang
menampakkan kecenderungan membentuk pola linear, yaitu pola huni di sepanjang aliran
sungai. Sungai merupakan lingkungan mikro yang dianggap penting, baik sebagai prasarana
transportasi atau pun sumber daya untuk keperluan industri, rumah tangga dan sebagainya.
Mengingat salah satu kondisi situs telah teraduk, yang berdampak tercampurnya unsur-unsur
budaya berciri prasejarah dan Banten-Islam, menimbulkan permasalahan apakah situs Odel
merupakan situs prasejarah yang kemudian langsung sinambung dengan situs Banten-Islam,
ataukah situs Odel merupakan multi component-site.
Apabila sebagai situs yang berkesinambungan, diasumsikan akan
ditemui tingginya tingkat persamaan dalam perbandingan unsur-unsur
budaya prasejarah dan Banten-Islam. Namun pada kasus situs Odel
ini, yang dijumpai adalah tingginya tingkat perbedaan kedua budaya
tersebut, yang mana ini berarti bahwa situs Odel di DAS Cibanten
Hilir merupakan multi component-site.
Pada tingkat kehidupan berikutnya, wilayah Banten memasuki masa proto sejarah yang antara
lain ditandai oleh kehadiran, pembuatan dan penggunaan benda-benda logam, yang secara
tipologis di masa-masa lalu sering dikaitkan dengan Budaya Dongson. Penemuan berbagai
kapak perunggu tipe kapak corong di Pamarayan, Kopo, Pandeglang, Cikupa dan Cipari.
Selain itu ditemukan pula benda-benda perunggu dan besi dari jenis senjata dan alat-alat
pertanian, menunjukkan jenis penggunaan dan pengenalan terhadap teknologi pembuatan
benda-benda logam itu sendiri.
Salah satu temuan penting ialah sebuah nekara perunggu dari Banten dengan tipe Heger IV.
Seperti halnya penemuan nekara dari Waleri (Jawa Tengah), maka temuan nekara tipe Heger
IV ini termasuk langka di Indonesia,
karena biasanya yang ditemukan adalah nekara-nekara tipe Heger I
(Soerjono et al, 1984: 246).
Nekara tipe Heger IV berbentuk seperti dandang terbalik, bagian atas datar dan bagian bawah
terbuka. Nekara ini mempunyai bidang pukul menutup badan nekara, bahu berbentuk
cembung dan bagian tengahnya hanya sedikit membentuk cekungan pinggang dan selanjutnya
melurus ke bawah. Pada nekara ini tampak bentuk seolah-olah bagian atas lebih besar
daripada bagian bawah. Tipe ini juga disebut dengan tipe Cina.
Proto-sejarah wilayah Banten semakin lengkap dengan ditemukannya situs yang mengandung
sistem penguburan di Anyer. Tempayan kubur Anyer berisi tulang belulang manusia yang
mayatnya dikuburkan secara primer beserta benda-benda gerabah dan atau perunggu yang
berfungsi sebagai "bekal kubur".
Situs Anyer ditemukan pada tahun 1954, dan pada tahun berikutnya
(1955) diselidiki oleh Hendrik Robert van Heekeren dan Basuki, dan
baru pada tahun 1980-an dilanjutkan penelitiannya oleh Haris
Sukendar dan Joyce Ratna Indraningsih. Diduga kebudayaan demikian
adalah sisa dari kebudayaan megalitik tua (4500 - 2500 SM) yang
berkembang di sana
>.
Benda-benda gerabah dari situs Anyer belum banyak diperoleh sebagai sample penelitian.
Di antaranya adalah sebuah cawan berkaki (pedupaan) seperti yang
ditemukan pada situs-situs kompleks budaya Buni (Jawa Barat
Timur), serta sebuah kendi tanpa cerat berleher panjang, tanpa hiasan.
Tempayan dan benda gerabah Anyer, pada umumnya merupakan
gerabah berwarna coklat kehitaman dan diupan. Masa perkembangan
gerabah Anyer diduga antara 200 - 500 Masehi.
Di antara masa-masa akhir neolitik-perundagian (logam awal), bahkan sampai pada masa
sejarah, tumbuh dan berkembang budaya dan tradisi megalit, yang beresensi pada
kultus/pemujaan leluhur, yang diwujudkan melalui pendirian bangunan-bangunan batu, baik
secara mengelompok (kompleks) maupun individual.
R.
von Heine Geldern (1945: 151), menganggap bahwa tumbuh-
berkembangnya budaya megalit ke Indonesia berlangsung dalam dua
aliran, yakni:
1) Megalit tua; yang dalam
perkembangannya dibawa oleh aliran etnik atau kultural, yang datang
pada tingkat kehidupan bercocok tanam, dengan komunitas manusia
yang memperkenalkan budaya beliung persegi. Budaya ini
berlangsung antara 2.500
- 1.500 SM, dengan memperkenalkan adat pendirian menhir[1] (tunggal
maupun kelompok), dolmen [2] (bukan berupa kuburan), pelinggih batu, undakan batu[3],
patung-patung simbolik monumental, dan lain-lain.
2) Megalitik muda; rangkaian
migrasi yang berlangsung pada masa berkembangnya kebudayaan
Dongson[4] dan Logam Awal, memperkenalkan adat pendirian kubur peti batu, kubur
dolmen, sarkopagus[5] dan kubur bejana batu (stone vats).
Menurut Rumbi Mulia (1980: 609), penemuan-penemuan bangunan arca/area megalit di
wilayah Banten, antara lain ditemukan di:
1) Tenjo, Pandeglang: arca
dengan teknik pahat dasar, seluruh bagian utama tubuh lengkap,
bentuk-bentuk dan ukuran mata, telinga tidak proporsional. Arca ini
sekarang disimpan di Museum Nasional (Inv. no. 480n), digambarkan
dalam posisi duduk.
2) Candi, Lebak: bangunan
megalit dengan 11 arca di atasnya, yang seluruhnya kini disimpan di
Museum Nasional (Inv. No. 4222 s/d 4232).
3) Kerta, Parengkujang, Lebak:
ditemukan arca dari batu tanah liat (clay-stone), disimpan di Museum
Nasional (Inv. No. 3865).
4) Kosala, Lebak: bangunan
berundak dan di dekatnya ditemukan arca yang dikenal sebagai arca
Kosala, pahatan menggambarkan posisi sedang duduk.
Bangunan megalit Kosala dan Arca Domas memperlihatkan adanya hubungan dengan orang-
orang Baduy yang kini hidup meng-isolir diri di daerah Banten Selatan. Monumen-
monumennya berupa bangunan batu berundak lima
> tingkat, dan pada setiap undak
terdapat menhir (Soejono et al., 1984: 219). Dalam kompleks tersebut
dijumpai batu berbentuk segi lima, di bagian bawah yang tertanam
dalam tanah terdapat sejumlah batu bulat bergaris tengah antara 10 -
15 cm.
Di situs ini pula terdapat arca kecil melukiskan tokoh yang duduk bersila, ditemukan dekat
bangunan berundak. Kedua tangan arca ini digambarkan dilipat ke depan, dan salah satu
tangannya mengacungkan ibujari. Arca Domas memiliki 13 undakan batu, dan undak paling
atas didirikan sebuah menhir berukuran besar. Menurut kepercayaan orang Baduy, menhir ini
merupakan lambang dari Batara Tunggal sang pencipta roh, dan kepadanya pula roh-roh
tersebut kembali.
Peninggalan megalit di Lebak Sibedug berupa bangunan berundak empat, yang seluruhnya
setinggi 6 meter. Di depan undakan batu ini terdapat lahan datar dan di sini pula terdapat
sebuah menhir yang ditunjang batu-batu berukuran kecil.
Bangunan berundak di Kosala, Arca Domas dan Lebak Sibedug tersebut, masih dipuja dan
dikeramatkan, dan karenanya bangunan-bangunan megalit di Banten Selatan ini termasuk
kategori living megalithic culture, yang berarti benda-benda arkeologi/megalit yang masih
berada dalam konteks sistem perilaku pendukungnya.
Hasan Muarif Ambary (1991: 397), menyatakan bahwa peninggalan kolosal bangunan
megalitik di Lebak Sibedug (Cibedug) merupakan salah satu prototipe tempat pemujaan
tradisi megalit yang umum terdapat di Asia Tenggara. Sementara itu Halwany Michrob
(1988) melihat kemungkinan adanya persamaan-persamaan unsur arsitektur Lebak Sibedug
dan Arca Domas terhadap berbagai bangunan di Madagaskar dari bagian barat sampai Rupa-
nui, P. Paskah, Pekan, Formosa, Campa, Aoteraroa, New Zealand.
Khusus mengenai "orang Baduy" yang masih melakukan pemujaan/pengeramatan Arca
Domas dan Lebak Sibedug, sebenarnya terbagi dalam kelompok Baduy Luar yang menghuni
habitat seluas ± 2606 ha, dan Baduy Dalam yang menghuni habitat seluas ± 2515 ha, yang
seluruhnya berada pada ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut.
Keterpencilan pemukiman orang Baduy, hendaknya dilihat dalam perspektif paling
resen/modern. Karena dari perspektif orang Baduy sendiri, "isolasi" (jika pun istilah ini tepat
untuk digunakan), sekaligus menampakkan keberhasilan orang Baduy dalam mengelola
teknik adaptasi mereka terhadap lingkungan alam di mana mereka hidup dan tinggal.
Penemuan-penemuan unsur bangunan megalit dari wilayah Banten akhir-akhir ini, antara lain
menghasilkan informasi mengenai adanya punden berundak di gunung Cupu, jajaran menhir
di puncak Gunung Karang, dolmen di situs Sang Hyang Dengdek, menhir (Sirit Bedug) di
Pandeglang, dan sebagainya (Michrob, 1988: 18).
Peninggalan prasejarah agaknya pernah ada di sekitar Banten Girang (Banten Hulu), sejak di
tempat tersebut di situs itu ditemukan pula keramik Cina yang berasal dari masa Dinasti Han
(206 SM - 220 M), serta undakan-undakan di atas gua Banten Girang.
Namun demikian agaknya memang perlu hati-hati dalam menafsirkan periodisasi bangunan-
bangunan berundak. Agus Aris Munandar (1992: 284) menyatakan bahwa bangunan berundak
di Jawa Barat tidaklah selalu berasal dari masyarakat yang mendukung tradisi megalit, karena
ada juga bangunan-bangunan berundak yang dapat dihubungkan dengan kegiatan keagamaan
masyarakat kerajaan Sunda (Hindu), bahkan pada periode akhir masa Hindu-Budha di Jawa.
Sebagai contoh bangunan berundak Kosala, yang pada jarak sekitar 100 meter ditemukan
sebuah arca. Oleh beberapa sarjana arca tersebut dinyatakan sebagai arca Budha, tinggi 50
cm, dipahat dalam relief tinggi, sikap tangan menunjuk pada mudra tertentu. Menurut Rumbi
Mulia (1980: 616-618), arca Kosala ini dihubungkan persamaannya dengan arca perwujudan
jaman klasik akhir yang melambangkan pengruwatan, dan mungkin menggambarkan arca
leluhur.
Peringatan ini kemudian diulangi oleh Satyawati Suleiman (1992: 318), yang menyatakan
bahwa arca-arca tipe Pajajaran yang ditemukan di Jawa Barat memiliki bentuk yang sangat
mirip dengan arca-arca yang ditemukan di wilayah Polynesia, maka dahulu arca-arca tipe
Pajajaran sering disebut dengan arca tipe Polynesia. Ditambah lagi dengan lokasi penemuan
yang seringkali di dekat/sekitar bangunan berundak, maka orang sering pula menafsirkannya
sebagai arca prasejarah. Salah satu arca yang pernah disebut dengan tipe Polynesia
> ini, ada yang berinskripsi angka tahun
antara 1263 - 1341 Masehi.
Betapa pun demikian, sungguh jelas bahwa wilayah Banten telah intensif dihuni sejak masa-
masa paling tua untuk wilayah ini, yakni sejak masa pertanian awal, mungkin lebih awal lagi
sejak masa berburu dan mengumpul makanan tingkat lanjut, seperti jika benar pada lukisan
gua di Sanghiyang Sirah, Ujung Kulon, atau pun alat-alat batu, kulit kerang dan pecahan
gerabah yang ditemukan di dasar-dasar gua Kampung Candi, pantai Bojonegara, yang
malangnya telah diruntuhkan untuk "pemburuan batu" bagi keperluan pembuatan landasan
pacu dan pembangunan bandara Sukarno Hatta.
Jika benar bahwa keramik masa Dinasti Han telah ditemukan di Banten Girang, setidaknya
wilayah ini telah terjangkau hubungan internasional, lebih awal dari pertumbuhan komunitas
nelayan di pantai utara Bekasi, dimana di komplek budaya Buni pernah ditemukan pecahan
gerabah romano-roulette yang bertitimangsa abad-abad I - II Masehi.
Wilayah Banten tumbuh dan berkembangnya tak lepas kait dengan vitalitas Selat Sunda
sebagai alur alternatif perdagangan dan pelayaran samudra India
> -
Laut Cina Selatan -- selain melalui Selat Malaka. Kesinambungan
habitasi berbagai pusat pemukiman di wilayah Banten, adalah sekedar
kelanjutan tradisi mengoptimalkan wilayah-wilayah pemukiman yang
memiliki daya dukung potensial, sejak masa prasejarah, sejarah dan
resen.
B. KESINAMBUNGAN
BUDAYA PRASEJARAH PADA MASA HINDU-BUDHA DI
BANTEN
Ketika turun tirai kehidupan nirleka di wilayah Banten, menyusul kemudian tumbuhnya tata-
kehidupan yang mendapat pengaruh anasir-anasir budaya Hinduistik dari India, wilayah
Banten telah eksis di panggung sejarah dan tetap memainkan peran sejarahnya dalam dimensi
ruang dan budaya. Masa-masa awal berkembangnya anasir-anasir Hinduistis di wilayah
Banten, sama halnya dengan bentang waktu kehidupan masa prasejarah, masih belum tergali
secara tuntas dan dalam eksplanasi yang belum menyeluruh. Pengungkapan periode awal
berkembangnya Hinduisme di wilayah Banten belum banyak didasarkan pada fakta-fakta
arkeologis, meski pun beberapa di antaranya memiliki signifikansi hubungan dengan berbagai
pusat politik, seperti Tarumanagara dan Pakuan Pajajaran. Salah satu usaha untuk menembus
stagnasi dalam rekonstruksi periode-periode ini, antara lain melalui kajian sumber asing.
Tetapi karena kurangnya data-data, kita belum dapat mengetahui apakah mereka pun sudah
mengenal bentuk kerajaan. Yang pasti mereka telah mengenal hubungan dengan luar negeri,
terutama dengan kerajaan-kerajaan di India dan Asia Tenggara (Ambary, 1977: 447). Bukti-
bukti tentang hal ini dapat dilihat dari ditemukannya bangunan berupa pundan berundak di
Lebak Sibedug, Banten Selatan, yang merupakan bangunan-pengantar antara bangunan
prasejarah dengan candi berundak, seperti Borobudur, yang juga terdapat di beberapa tempat
di Asia (Michrob, 1988: 4).
Berita yang paling meyakinkan tentang hubungan Banten dengan Eropa
>, India dan Cina adalah dengan diketemukannya peta yang dibuat
oleh Claudius Ptolomeus. Peta ini dibuat pada tahun 165 M.
berdasarkan tulisan geograf Starbo (27 - 14 SM) dan Plinius (akhir
abad pertama masehi). Dalam peta ini digambarkan tentang jalur
pelayaran dari Eropa ke Cina dengan melalui: India, Vietnam, ujung
utara Sumatra, kemudian menyusuri pantai barat Sumatra, Pulau
Panaitan, Selat Sunda, terus melalui Laut Tiongkok Selatan sampai ke
Cina (Yogaswara, 1978: 21-38).
Hal ini dimungkinkan karena memang menurut penyelidikan Prof. Ir. Anwas Adiwilaga, di
Pulau Panaitan pada kira-kira tahun 130 M pernah berdiri satu kerajaan yang merupakan
kerajaan tertua di Jawa Barat. Kerajaan ini bernama Salakanagara (Negeri Perak) dengan
pusatnya di kota
> Rajatapura, yang
terletak di pesisir barat Pandeglang. Raja pertamanya bernama
Dewawarman I (130 - 168 M). Daerah kekuasaannya meliputi:
Kerajaan Agrabinta (di Pulau Panaitan), Kerajaan Agnynusa (di Pulau
Krakatau), dan daerah ujung selatan Sumatra
>. Dengan demikian seluruh Selat Sunda dapat
dikuasai Dewawarman I ini, sehingga ia digelari Haji Raksa
Gapurasagara (Raja Penguasa Gerbang Lautan) (Yogaswara,
1978:38).
Dengan diketemukannya patung Ganesha dan patung Shiwa di lereng
Gunung Raksa, Pulau Panaitan, dapatlah diduga bahwa masyarakatnya
beragama Hindu Shiwa.
Pulau Panaitan merupakan pulau yang langsung berhubungan dengan Selat Sunda --
yang bersama Pulau Peucang, luasnya sekitar 17.500 Ha -- termasuk
kawasan pelestarian/suaka alam Taman Nasional Ujung Kulon.
Penelitian geologi di Pulau Panaitan, menunjukkan bahwa pulau ini
telah ada sejak ± 26
juta tahun lalu, apabila dilihat dari umur batuan yang paling tua. Pada
berbagai singkapan, tampak bahwa pulau ini tersusun dari jenis-jenis
batuan andezite, tuffa, gamping dan yang termuda batuan aluvial.
Data arkeologi dari Pulau Panaitan berupa arca Siwa, Ganesha dan lingga semu/lingga patok.
Arca Shiwa dari Panaitan pernah raib dicuri, namun kemudian arca tersebut dapat diamankan
dan sekarang disimpan di Museum Negeri Sri Badhuga, Bandung, dengan nomor inventaris
306.2981. Arca ini berukuran tinggi 76,5 cm, lebar dan tebal maksimum 32,5 cm dan 24 cm,
dibuat dari batuan andezitik.
Arca Shiwa ini sering dikatakan berbentuk statik dan sederhana, tidak sama dengan
penggambaran Dewa Shiwa pada umumnya. Hal lain dari arca ini ialah tangan belakang yang
memegang trisula dipahat langsung pada sandaran arca di belakang kepala. Kedua tangan
bagian depan bersikap varadamudra dan memegang padma memakai selempang pola pita
lebar.
Arca Dewa Shiwa Pulau Panaitan ini bermahkota tanpa candrakapala, mata terpejam, besaran
kepala tidak proporsional apabila dibandingkan dengan postur tubuh, dalam posisi duduk di
atas nandi yang juga menghadap frontal.
Sikap duduknya digambarkan kurang lazim -- bukan yogamudra atau
semi-yogamudra -- karena kedua telapak kaki dipertautkan dalam
posisi bersila dengan ujung-ujung jari kaki "jinjit" di atas kepala
nandi. Arca Siwa tersebut diduga oleh para arkeolog berasal dari abad
ke-7 Masehi, suatu abad memuncaknya kesenian Hindu di pesisir
utara Jawa Barat (Cibuaya) dan pedalaman (Cangkuang).
Sementara itu, arca Ganesha Pulau Panaitan meski pun digambarkan tanpa mahkota, namun
penggambaran bagian-bagian utama/ umum tubuhnya cukup lengkap. Ganesha ini
digambarkan dalam ukuran tidak proporsional, duduk di atas batur.
Belalainya menjuntai kemudian lengkung ke arah tangan kiri.
Sedangkan pada lingga semu tidak didapati atribut sebagai salah satu
lambang emanasi Shiwa, sehingga lingga Pulau Panaitan ini dianggap
berfungsi sebagai patok batas tanah.
Kehadiran anasir-anasir budaya Hinduistis di Pulau Panaitan, mengarahkan pemikiran bahwa
pulau ini amat boleh jadi pernah jadi pulau tempat persinggahan para pelayar/musafir, atau
lebih buruk lagi sebagai pulau tempat terdamparnya kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda.
Beberapa di antara para pelayar itu diduga beragama Hindu Shiwa, yang terutama memuja
Dewa Shiwa, Ganesha dengan segala atributnya. Shiwa dikenal sebagai dewa penguasa dan
perusak alam, sementara Ganesha dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan serta pembantu
memecahkan halangan/ persoalan.
Bukti-bukti arkeologi masa Hindu_Indonesia di Banten antara lain juga tampak pada
jajaran/kelompok lingga di Baros (Serang), lingga di Pulau Handeuleum, lingga dan yoni di
situs Sang Hyang Heuleut, dan arca nandi di Karangantu.
Hinduisme di wilayah Banten agaknya memang berpuncak dan
berpusat di Banten Girang, ketika menjadi Kawasan Prabu Pucuk
Umun, salah satu bawahan Pakuan Pajajaran yang beribukota di
Bogor.
Situs Banten Girang terletak di tepi sungai Cibanten berjarak 13 km dari Banten Lama. Di
tempat ini masih memperlihatkan beberapa temuan arkeologis, yang menampakkan ceruk
(gua) pertapaan, benteng keliling, saluran yang mengelilingi benteng (nampak setelah
diekskavasi), makam Ki Jong dan Mas Jo, serta sejumlah temuan artefak yang tersebar hampir
di seluruh situs, seperti: mata-kail, bandul jaring, uang kepeng, pecahan keramik lokal dan
keramik asing (Ming, Yuan, Song, Swankalok dan sebagainya), perhiasan emas, manik-
manik, serta berbagai fragmen alat dari logam. Hal ini menunjukkan bahwa pada masanya
Banten Girang merupakan suatu area kota
> yang penting.
Dalam penelitian Ambary (1985), dilihat dari tipe nisan dan artefak kijing yang dipakai dalam
makam kuno Ki Jong dan Mas Jo di Banten Girang, maka dalam tipologi nisan makam Islam
dimasukkan kelompok tipe Demak-Troloyo.
Selanjutnya, Montana (1988:71) mencatat kekunoan situs ini dari
gundukan tanah sekitar 300 meter di sebelah utara makam, yang
ternyata di bawah permukaannya terdapat batu berundak, dan di
bawah batu berundak itu lah terdapat dua buah gua ceruk di tebing
padas sebelah timur Cibanten. Apabila dilihat dari tipologi ceruk-
ceruk/gua yang ada di sana
>, paling tidak Banten Girang telah
muncul pada sekitar abad XI-XII M (Guillot, 1990: 12). Lebih
menarik lagi, dari data babad, Banten Girang masih difungsikan pada
masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (abad XVII), dimana pada
waktu-waktu tertentu sultan berwisata dengan kegiatan memancing
ikan di tempat itu. Dan menurut keterangan Caeff, di tempat ini Sultan
Tirtayasa menyuruh membuatkan sebuah istana sebagai tempat
mengungsi kaum wanita di masa perang (Djajadiningrat, 1983: 125).
Dari penelitian arkeologis tahun 1989, 1990, 1991 dan 1992 Lukman Nurhakim (1992)
berhasil mengungkap berbagai aspek penting dari situs Banten Girang.
Tempat ini merupakan situs pemukiman dalam skala kota
> pra-industri, yang dikelilingi
benteng dari tanah -- baik pada sisi dalam maupun luar tanggul --
untuk keperluan pertahanan. Tanggul tanah sebagai benteng di Banten
Girang, sebagaimana halnya di situs-situs lain, sudah dikenal luas baik
pada masa prasejarah akhir dan klasik, yang kemudian berlanjut pada
kota-kota kuno periode Indonesia-Islam; seperti di Pugung Raharjo
(Lampung), Pasir Angin (Bogor),Aceh, Barus (Sumatra Utara), Rao
(Sumatra Barat), Muara Takus (Riau), Muara Jambi (Jambi), Biting
(Lumajang), dan Surosowan (Banten, Serang).
Dari hasil ekskavasi diketahui bahwa situs Banten Girang berfungsi sebagai: (a) pusat
pemukiman -- terlihat dari banyaknya sebaran artefak, teknofak dan sosiofak, (b) pusat
upacara -- adanya dua gua persemedian/pemujaan, dan (c) benteng untuk melindungi
keduanya. Selanjutnya, Lukman Nurhakim memandang adanya fase-fase kehidupan di Banten
Girang yang meliputi:
margin-left:3.0cm;margin-bottom:.0001pt;text-indent:-3.0cm;mso-
list:l1 level1 lfo4; tab-stops:list 1.0cm left 2.0cm 3.0cm;mso-layout-
grid-align:none; punctuation-wrap:simple;text-
autospace:none;vertical-align:baseline">1)
Fase I; fase subordinasi Pakuan-Pajajaran dimana gua dijadikan pusat upacara
keagamaan bercorak Hinduistik (Hindu-Budha);
2)
Fase II; fase pendudukan/ administrasi politik Islam masa Maulana Hasanuddin;
3)
Fase III; fase surutnya Banten Girang karena pusat administrasi politik dipindahkan ke
Banten Lama di pesisir, tetapi Banten Girang masih tetap digunakan bahkan sampai masa
pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1652 - 1671), sultan Banten kelima;
4)
Fase IV; fase akhir, ketika Banten Lama sudah dihancurkan oleh Daendels pada tahun
1815, dimana diduga frekwensi penggunaan Banten Girang semakin menurun;
5)
Fase V; fase resen, okupasi lanjut oleh penduduk Banten Girang masa sekarang yang
digunakan untuk lahan pertanian dan lahan pemukiman.
Melalui perbandingan dengan berbagai bentuk fisik benteng di berbagai tempat, atas dasar
penemuan keramik masa Dinasti Han (206 SM - 220 M) dan struktur berundak di atas gua dan
lingkungan benteng, amat boleh jadi okupasi Banten Girang sudah berlangsung lama sekali,
bahkan sejak ketika berlangsung masa kehidupan prasejarah dan proto-sejarah.
Dengan ditemukannya Prasasti Munjul, yang terletak di tengah Sungai Cidangiang, Desa
Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, berita tentang Banten dapat lebih
diperjelas lagi. Prasasti ini, yang diperkirakan berasal dari abad V, bertuliskan huruf Pallawa
dengan bahasa Sanksekerta antara lain berbunyi:
0cm;margin-left:1.0cm;margin-bottom:.0001pt;text-
indent:0cm">vikrantayam vanipateh
prabbhuh satyaparakramah
narendraddhvajabutena crimatah
purnnavarmmanah
Terjemahannya: (ini tanda) penguasa dunia yang perkasa, prabu yang setia serta penuh
kepahlawanan, yang menjadi panji segala raja, yang termashur Purnawarman
Prasasti ini menunjukkan bahwa bahwa daerah kuasa Tarumanagara sampai juga ke Banten,
dan diceritakan pula bahwa negara pada masa itu dalam kemakmuran dan kejayaan.
Berita atau sumber-sumber sejarah mengenai Banten dari masa sebelum abad ke-16
memang sangat sedikit kita temukan. Tapi setidak-tidaknya pada abad
XII-XV, Banten sudah menjadi pelabuhan kerajaan Pajajaran.
Untuk selanjutnya keadaan Banten dari abad VII sampai dengan abad XII tidak ditemukan
berita sejarah yang meyakinkan. Demikian juga, tidak diketahui siapakah penguasa daerah
Banten waktu itu, padahal benda-benda peninggalan dari masa itu sudah banyak ditemukan.
Berita tentang Banten baru muncul kembali pada awal abad XIV dengan diketemukannya
prasasti di Bogor.
Prasasti ini menyatakan bahwa Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri
Sang Ratu Dewata, dan Banten sampai awal abad XVI termasuk
daerah kekuasaannya (Ambary, 1980: 447). Memang, Kerajaan
Pajajaran merupakan kerajaan besar, yang daerah kuasanya
meliputi: seluruh Banten, Kalapa (Jakarta), Bogor, sampai Cirebon,
ditambah pula daerah Tegal dan Banyumas sampai batas Kali Pamali
dan Kali Serayu.
Daerah-daerah ini dibagi dalam empat Kerajaan bagian yang merupakan wilayah otonom,
yaitu:
1)
Kerajaan Indramayu; dikuasai oleh Prabu Indra Kusumah.
2)
Kerajaan Raja Galuh; dikuasai oleh Prabu Cakraningrat.
3)
Kerajaan Luragung; dikuasai oleh Prabu Luragung.
4)
Kerajaan Talaga; dikuasai oleh Prabu Pucuk Umun, salah seorang putra Prabu Siliwangi.
Kerajaan-kerajaan bagian tersebut mempunyai kuasa penuh atas daerahnya sendiri. Raja
Pajajaran hanya menuntut pengakuan kekuasaan dipertuan oleh kerajaan-kerajaan tersebut.
Untuk membuktikan kesetiaannya itu, setahun sekali mereka diharuskan membawa
kuwerabakti serta sowan ke ibukota Kerajaan Pajajaran. Kuwerabakti ini berupa barang-
barang keperluan upacara keagamaan serta kebutuhan sehari-hari.
Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesyan memberi-kan keterangan-keterangan yang
cukup jelas mengenai adanya kelompok masyarakat kerajaan Sunda sebelum Islam.
Kelompok itu tidak disebutkan berdasar tata jenjang di dalam sistem birokrasi pemerintahan;
pembagiannya didasarkan kepada fungsi yang dimiliki masing-masing kelompok tersebut.
Oleh sebab itu, dijumpai adanya kelompok rohani dan cendekiawan, kelompok alat negara,
dan kelompok ekonomi yang kemudian terbagi ke dalam beberapa golongan.
Kelompok rohani dan cendekiawan terdiri dari memen (=dalang) yang mengetahui berbagai
lagu dan nyanyian, hempul yang mengetahui berbagai macam permainan, prepantun yang
mengetahui berbagai macam pantun dan ceritera, marangguy yang mengetahui berbagai
macam ukiran ukiran, pangoyok yang mengetahui berbagai macam pakaian, paratanda yang
mengetahui berbagai macam tingkat dan kehidupan keagamaan, berahmana yang mengetahui
berbagai macam mantra, janggan yang mengetahui berbagai macam pertanda zaman, pandita
yang mengetahui berbagai macam buku pustaka keagamaan, paraloka yang mengetahui
berbagai macam tingkah para dewa, juru basa darmamurcaya yang mengetahui berbagai
macam bahasa yang diketahui orang pada masa tersebut (=juru bahasa), dan barat katiga
peramal cuaca?. Disamping itu, ada kelompok yang sama sekali tidak jelas identitasnya,
seperti belamati, juru moha. Semua kelompok masyarakat yang disebutkan itu, di dalam
melaksanakan dharma atau tugas masing-masing sesuai dengan fungsinya, disebut ngawakan
tapa di nagara (=melaksanakan tapa di tengah negara).
Kelompok masyarakat berdasarkan ekonomi antara lain pangalasan (=orang utas), juru lukis
(=pelukis), pande dang (=pandai tembaga, pembuat perabot dari tembaga), pande mas (pandai
mas), pande glang (=pandai gelang), pande wesi (=pandai besi), guru wida(ng) medu wayang
(=pembuat wayang), kumbang gending (=penabuh gamelan, pembuat gamelan?), tapukan
(=penari), banyolan (=pelawak), pahuma (=peladang), panyadap (=penyadap), panyawah
(=penyawah), panyapu (=penyapu), pamanah (pemanah), pangulang desa calagara
(=pemungut pajak di pelabuhan), rare angon (=penggembala), pacelengan (=peternak babi),
pakotokan (=peternak ayam), palika (=nelayan, penangkap ikan), pretolom (=penyelam),
pahuwang (=pawang, pelaut), harop catra (=juru masak). Kelompok masyarakat yang
bertugas sebagai alat negara ialah mantri (=menteri), bayangkara (=penjaga keamanan),
prajurit (=prajurit, tentara), pam(a)rang (=pemerang, tentara), nu nangganan (=nama jabatan
di bawah mangkubumi).
Kepala prajurit disebut hulu jurit.
Yang tidak kurang menariknya ialah keterangan yang menyatakan bahwa di kerajaan Sunda
juga sudah terdapat orang-orang yang memperoleh penghasilan dengan jalan yang tidak
disukai masyarakat umumnya. Pekerjaan itu ialah antara lain meor (=?), ngodok (=merogo,
mencopet?), nyepet (=mencopet?), ngarebut (=merebut), ngarogoh (=merogoh saku),
papanjingan (=memasuki (rumah orang, mencuri), maling (=mencuri), dan ngabegal
(=membegal).
Pekerjaan seperti itu termasuk cekap carup, sesuatu yang pantang
diturut, dan hal-hal seperti itu disebut sebagai guru nista, yaitu hal-hal
yang dianggap sangat nista atau hina.
Ibukota Kerajaan Sunda/Pajajaran ini disebut dengan nama Pakwan atau menurut berita dari
Barros -- seorang pelaut Portugis -- dengan nama Daio/ Dayo (Djajadiningrat, 1983: 84). Kota
Pakwan/Pakuan ini terletak kira-kira di daerah Bogor sekarang. Agama yang dianut oleh raja
dan rakyat Pajajaran adalah agama Hindu-Budha. Dan untuk penyembahan terhadap dewa-
dewanya, mereka banyak mendirikan kuil dan biara. Di antaranya ada biara yang dikhususkan
untuk menampung wanita-wanita yang ditinggal mati suaminya -- tetapi tidak mau dibakar
bersama jenazah suaminya, dan ada juga biara untuk wanita tua yang belum mendapatkan
suami (Djajadiningrat, 1983:84).
Bandar-bandar kerajaan Sunda, oleh Tome Pires, inspektur pajak Portugis di Malaka yang
ikut dalam ekspedisi ke Pulau Jawa (1512 - 1515) digambarkan sebagai berikut:
1)
Banten, merupakan sebuah kota
> niaga yang baik, terletak di tepi
sebuah sungai. Kota ini dikepalai oleh seorang Kapten
(=Syahbandar?), sedangkan wilayah niaganya mencapai Sumatra
> dan bahkan kepulauan Maladewa. Pelabuhan
Banten merupakan pelabuhan besar dan merupakan pula bandar untuk
beras, bahan makanan, dan lada.
2)
Pondang (Pontang?), merupakan sebuah kota
> yang besar, tetapi pelabuhannya
tidak sepenting Banten. Jalur niaga dan barang-barang yang
diperdagangkannya sama dengan Banten.
3)
Cheguide (Cikande?), juga sebuah kota
> besar. Perniagaan dari bandar ini
dilakukan dengan Pariaman, Andalas, Tulangbawang, Sekampung,
dan lain-lain.
Barang dagangannya sama dengan Banten dan Pondang.
4)
Tangaram (Tangerang), yang merupakan kota
> besar, barang dagangannya juga sama
dengan bandar-bandar yang disebutkan terdahulu.
5)
Calapa (atau Xacatra = Jakarta, merurut Joao de Barros), merupakan sebuah kota
> yang sangat besar, serta terbaik.
Hubungan niaganya juga lebih luas, antara lain dengan Sumatra,
Palembang
>, Lawe,
Tanjungpura, Malaka, Makasar, Jawa dan Madura. Pelabuhan ini
letaknya kira-kira dua hari perjalanan dari ibukota kerajaan Pajajaran,
yang disebut Dayo (=dayoh, kota), tempat raja bersemayam. Para
pedagang dari seluruh kerajaan (Pajajaran) selalu berdatangan ke
Kalapa. Pelabuhan ini diperintah secara teratur, lengkap dengan hakim
dan klerek. Raja mengeluarkan peraturan tertulis untuk setiap
pelanggaran yang dilakukan penduduk setempat.
6)
Chi Manuk/ Chemano (Cimanuk), merupakan bandar kerajaan Sunda yang paling timur,
sekaligus sebagai batas kerajaan. Walaupun bandar itu dikatakan sebagai bandar yang besar
dan cukup ramai, tetapi jung tidak dapat merapat. Di Cimanuk, sudah banyak berdiam orang-
orang yang beragama Islam, walaupun syahbandarnya sendiri beragama Sunda (Cortessao,
1944: 166-173).
Di samping memiliki bandar pelabuhan yang cukup ramai, seperti yang disebutkan di atas,
kerajaan Sunda juga memiliki jalan lalulintas darat yang cukup penting, yang sedemikian jauh
sedikit sekali diketahui oleh para pedagang asing di masa yang lebih kemudian. Jalan darat
itu, ada dua jurusan yang semuanya berpusat di Pakuan Pajajaran; satu menuju ke arah timur,
dan yang lainnya menuju ke arah barat.
Jalan yang menuju ke timur, menghubungkan Pakuan dengan Karangsambung yang terletak
di tepi Cimanuk -- batas kerajaan di sebelah timur -- melalui Cilongsi dan Cibarusa, lalu dari
sana, membelok ke arah utara sampai di Karang, di tepi Citarum (desa Tanjungpura). Dari
Tanjungpura, ada sambungannya melalui Cikao dan Purwakarta, kemudian berakhir di
Karangsambung (Dam, 1957: 299). Barangkali dari Karangsambung jalan itu masih ada
terusannya ke arah timur dan selatan. Yang ke timur sampai Cirebon, lalu berbelok ke selatan
lewat Kuningan, dan akhirnya sampai di Galuh dan Kawali. Sedangkan jalan satunya lagi,
dari Karangsambung ke arah selatan, melalui Sindangkasih dan Talaga sampai di Galuh dan
Kawali. Jalan lainnya yang menuju ke barat, bermula dari Pakuan Pajajaran melalui Jasinga
dan Rangkasbitung, menuju Banten Girang (girang = hulu)[6] dan berakhir di Banten yang
merupakan bandar kerajaan Sunda yang paling barat. Jalan darat lainnya dari Pakuan
Pajajaran menuju Ciampea dan Rumpin, berakhir di situ, karena perjalanan selanjutnya
dilakukan dengan melalui sungai Cisadane, -- yang memang cukup baik alirannya sejak
muara Cianten -- menuju ke Pontang, Cikande dan Tangerang (Dam, 1957: 297). Melalui
jalan-jalan darat dan sungai itulah hasil bumi kerajaan Pajajaran diangkut, dan melalui jalan
yang sama itu pula keperluan penduduk di pedalaman dikirimkan.
Untuk ke Kalapa, dipakai jalur sungai Ciliwung yang dapat dilayari dari Pakuan dalam waktu
dua hari. Karena itulah Pelabuhan Kalapa dapat dianggap gerbang masuk ke Pakuan
(Ayathrohaedi, 1979: 336).
Pada awal abad XVI, yang berkuasa di Banten adalah Prabu Pucuk Umun[7] dengan pusat
pemerintahan Kadipaten di Banten Girang (Ambary, 1982: 2).
Untuk menghubungkan antara Banten Girang dengan pelabuhan
Banten, dipakai jalur sungai Cibanten yang pada waktu itu masih
dapat dilayari (Ayathrohaedi, 1976 : 37), disamping masih ada jalan
darat yang melalui Klapadua (Djajadiningrat, 1983 : 124).
Pada waktu Tome Pires mengunjungi Banten pada tahun 1513, Banten merupakan pelabuhan
yang belum begitu berarti, tetapi sudah disebutkan sebagai pelabuhan kedua terbesar dari
kerajaan Sunda setelah Kalapa. Hubungan dagang telah banyak dilakukan antara Banten
dengan Sumatra, dan juga Maladewa. Pada waktu itu, Banten sudah merupakan pelabuhan
pengekspor beras, bahan makanan dan lada (Cortessao, 1941: 168-169; Melink - Roeslofsz,
1962: 124). Sedangkan sekitar tahun 1522 Banten sudah merupakan pelabuhan yang cukup
berarti, yang setiap tahunnya kerajaan Sunda mengekspor 1000 bahar lada melalui pelabuhan
Banten dan Kalapa (Chijs, 1881: 4).
Ketika kerajaan Islam berdiri, pusat kekuasaan di wilayah ini, yang semula berkedudukan di
Banten Girang, dipindahkan ke kota
> Surosowan, di Banten Lama dekat
pantai. Dari sudut politik dan ekonomi, pemindahan ini dimaksudkan
untuk memudahkan hubungan antara pesisir Utara Jawa dengan
pesisir Sumatra, melalui Selat Sunda dan Samudra Indonesia
>. Situasi ini
berkaitan dengan kondisi politik Asia Tenggara masa itu, dimana
Malaka sudah jatuh di bawah kekuasaan Portugis, sehingga pedagang-
pedagang yang segan berhubungan dengan Portugis mengalihkan jalur
pelayarannya melalui Selat Sunda.
Secara arkeologis, rangkaian perubahan-perubahan kultural di Banten ketika masa pra-
kesultanan ditandai oleh artefakta Sunda yang Hindu-Budhistik. Miksic (1989: 6) menyatakan
bahwa ketika perubahan tersebut menyentuh tataran sosialisasi Islam, maka terhadap
perubahan ikutan unsur kultural yang berasal dari pengaruh Jawa Timur dan Jawa Tengah,
serta panggantian simbol-simbol keagamaan Hindu-Budha dengan Islam. Selanjutnya John N.
Miksic menganjurkan agar dikembangkan kajian terhadap himpunan
gerabah yang berasal dari masa Hindu Pajajaran.
Menhir, adalah sebuah batu tegak yang diletakkan dengan sengaja di suatu
[1]
tempat untuk memperingati arwah orang yang telah meninggal.
Dolmen, atau “meja batu’, adalah susunan batu yang terdiri dari sebuah batu
[2]
lebar yang ditopang oleh beberapa batu lain sehingga berbentuk seperti meja;
berfungsi sebagai temopat untuk mengadakan kegiatan pemujaan arwah leluhur.
Undakan batu adalah sebuah bangunan berundak atau bertingkat yang
[3]
diatasnya ditempatkan benda-benda yang dikeramatkan atau makam orang yang
dikeramatkan; berfungsi sebagai tempat upacara pemujaan arwah leluhur.
Pembuatan dan penggunaan logam sering dikaitkan dengan kebudayaan
[4]
Dongson.
Sarkofagus, adalah kubur batu yang terdiri dari wadah dan tutup yang bentuk
[5]
dan ukurannya sama.
Banten Girang, terletak kira-kira 3
[6]
km di sebelah selatan kota Serang sekarang, atau 13 km dari Banten Lama.
Menurut Babad Cibeber, Prabu Pucuk Umun ini disebut juga Ratu Ajar
[7]
Domas
BAB
III
PROSES ISLAMISASI
DI BANTEN
A. MASUKNYA ISLAM KE
BANTEN
Islam adalah agama yang mula-mula tumbuh di jazirah Arab, tepatnya di kota
> Mekkah.
Disampaikan oleh seorang rasul yang bernama Muhammad yang lahir
pada tahun 570 M. Pokok ajaran agama Islam adalah Tauhid, yaitu
bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang ada di
dunia ini; oleh karenanya manusia hendaknya hanya tunduk kepada
Yang Menciptakannya saja, tidak kepada yang lain. Sang Pencipta ini
bernama Allah, yakni Tuhan yang Maha Satu, Pencipta seluruh alam
semesta, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Hanya kepada-Nya
sajalah manusia menyembah dan mengabdikan diri, serta menuruti
segala perintah dan larangan-Nya; dan hanya dengan jalan itulah
kehidupan manusia akan damai dan bahagia. Sebagai petunjuk dan
bimbingan hidup manusia di dunia ini, Allah menurunkan al-Qur'an --
yakni kitab yang berisi segala perintah, larangan dan petunjuk bagi
kehidupan manusia -- kepada rasul (nabi, utusan)-Nya, yaitu
Muhammad bin Abdullah. Islam, mengajarkan bahwa manusia berasal
dari satu keturunan, sehingga semuanya mempunyai derajat dan
kedudukan yang sama, semuanya harus saling tolong-menolong untuk
bersama-sama mendapat keridaan Allah.
Semula, agama ini hanya dipeluk oleh sekelompok kecil saja bahkan karena tekanan-tekanan
dari pembesar negeri, Muhammad dan pengikutnya dua kali pindah atau hijrah; yaitu pada
tahun 615 M hijrah ke Abesinia dipimpin oleh Ja'far ibn Abi Thalib, dan sekitar tahun 622 M
hijrah ke Yatsrib (Madinah sekarang). Tapi tidak lama kemudian yakni pada tahun 630 M,
kota
> Mekkah dapat
dikuasainya bahkan seluruh jazirah Arab bernaung di bawah bendera
Islam.
Muhammad wafat pada tahun 632 M.; kemudian digantikan -- sebagai
khalifah (pemimpin negara) -- oleh Abubakar Siddiq, selanjutnya
Umar ibn Khattab, Usman ibn Affan, dan Ali ibn Abi Thalib.
Pada masa kekhalifahan Abubakar dan Umar, terjadilah perluasan daerah kekuasaan negara
Islam. Damsyik dikuasai pada tahun 629, Syam dan Irak pada tahun 637, Mesir terus sampai
ke Maroko pada tahun 645. Demikian juga Parsi (646), Samarkand (680), dan seluruh
Andalusia
> (719). Sehingga pada tahun 732, kekuasaan
negara Islam telah membentang dari teluk Biskaya di sebelah barat
hingga Turkestan (Tiongkok) dan India di sebelah timur (Paradisastra,
1981: 8 - 9).
Sejalan dengan perkembangan daerah kekuasaan negara Islam, perdagangan dan kegiatan
ekonomi lainnya pun maju dengan pesat. Kapal-kapal dagang Islam dari bangsa Arab dan
Turki telah biasa berniaga ke Afrika Utara
>, India, Malaka sampai Cina dan Eropa. Sehingga dikatakan bahwa
pada abad IX tidak ada kapal bangsa asing lain yang ada di jalur yang
menghubungkan Eropa dan Cina selain pedagang yang beragama
Islam (Salim, 1962: 10). Pedagang-pedagang muslim inilah yang
membawa barang dagangan dari daerah timur (Asia
>) ke barat (Eropa).
Disebutkan bahwa jalur pelayaran ke timur adalah sebagai berikut: Sesudah menyusuri pantai
Semenanjung India sampai ke Quilon di Malabar, kemudian terus ke Ceylon
>. Dari sana terus ke ujung Sumatra (Aceh) dan dengan melalui Selat
Malaka sampailah ke Palembang
>.
Selanjutnya menyusuri pantai utara pulau Sumatra, kembali lagi
dengan melalui jalur yang sama sampai di Kamboja. Dari sana
> perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri pantai Cochin
> (Cina) sampai
di pesisir negeri Cina. Setelah keadaan angin baik, mereka kembali ke
negerinya dengan melalui rute yang sama (Salim, 1962 : 10 - 13).
Di samping berdagang, mereka pun aktif menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk negeri
yang mereka singgahi; sebab menurut ajaran Islam, menyebarkan agama merupakan
kewajiban setiap pemeluknya sebagaimana juga menyebarkan kebaikan kepada sesamanya.
Dengan cara demikian maka pada abad ke-7, sudah banyak penduduk negeri Cina yang
beragama Islam (Bukhari, 1971: 10). Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya Masjid Chee Lin
Se dan Masjid Kwang Tah Se di Kanton pada masa Dinasti Tang (618 - 905 M) (Tien Ying
Ma, 1979: 29).
Demikian pula dengan kepulauan Nusantara. Diperkirakan, pada abad ke-7 dan ke-8 M
(abad pertama Hijriah), pedagang-pedagang Muslim telah singgah di
nusantara, sehingga agama Islam sudah banyak dikenal dan dianut
oleh beberapa penduduk pribumi di nusantara (Tjandrasasmita, 1981:
362). Banyak sudah bukti sejarah yang diperoleh para ahli tentang
masuknya ajaran agama Islam di nusantara ini (Ambary, 1981: 522).
Bahkan pada tahun 840, umat Islam di Peureulak (Aceh) sudah dapat
mendirikan satu negara bercorak Islam dengan Sayid Maulana sebagai
raja pertamanya (Toynbee, 1981: 324). Demikian juga, sejak masa
Sriwijaya, Kediri, Daha, Janggala dan Majapahit, sudah ada
kelompok-kelompok umat Islam (perkampungan muslim), terutama di
daerah pesisir (Ambary, 1981: 552) [1].
Sejarah telah mencatat, bahwa hubungan nusantara, terutama Sumatra, dengan tanah Arab
telah berlangsung lama sejak zaman sebelum Islam. Para pedagang Arab mencari rempah-
rempah, yang waktu itu hanya dijumpai di Sumatra
>, yaitu berupa kemenyan (styrax sumatrana)
dan kapur barus (dryobalanops aromatica) ─ sehingga dalam
khazanah bahasa Arab pun dikenal kata "barus" sebagai nama kapur-
barus. Dengan keadaan ini, tidaklah mengherankan, apabila kronik
Cina Hsin Tang Shu (Sejarah Dinasti Tang) mencatat bahwa pada
tahun 674
M. sudah ada pemukiman pedagang Arab dan Cina muslim di
Sriwijaya; Palembang dan Kedah. Keadaan di atas, juga berkaitan
dengan adanya aktifitas perdagangan dan pelayaran yang meningkat
antara Dinasti Umayyah (660-749 M.), Dinasti T'ang (618-905 M.)
dan Dinasti Sriwijaya (abad ke-7
s.d 14 M.) (Tjandrasasmita, 1975: 85-86).
Dengan melihat eratnya hubungan perdagangan antara Arab, Cina, India dan kepulauan
Nusantara, dan, ditunjang dengan keaktifan penyebaran agama Islam oleh pedagang muslim
ini kepada penduduk pribumi, maka Thomas W. Arnold (1979: 209) menyatakan bahwa
agama Islam datang di Nusantara dibawa oleh para pedagang Arab yang muslim pada
permulaan tahun Hijriah.
Di Pulau Jawa, bukti tentang adanya masyarakat Islam baru ditemui pada abad ke-11 M.
Sebuah batu nisan bertuliskan huruf Arab Kufi ditemukan di Leran, dekat Gresik, Jawa
Timur. Batu ini menerangkan tentang wafatnya seorang muslimah yang bernama Fathimah
binti Maimun tanggal 7 Rajab 475 Hijriah, bertepatan dengan 2 Desember 1082 Masehi
(Salam, 1977: 5). Bahkan dalam Kakawin Ghatotkacasraya gubahan Mpu Panuluh ditulis
abad ke-12 M, sudah ditemukan beberapa istilah Arab. Hal ini menunjukkan bahwa istilah-
istilah Arab itu sudah diserap menjadi bahasa negeri (Kurnia, 1980).
Banten, ─ yang berada di jalur pelayaran internasional ─ diperkirakan pada abad pertama
Masehi sudah dikunjungi oleh bangsa lain: India
>, Cina
dan Eropa. Dan bahkan pada abad ke-7 menjadi pelabuhan ramai yang
dikunjungi oleh pedagang-pedagang internasional, ─ seiring dengan
meningkatnya volume perdagangan antara barat dan timur [2] ─ tidaklah
terlepas dari keadaan di atas. Pedagang-pedagang dan, mungkin mubalig-mubalig dari Arab,
Cina ataupun India dan Peureulak singgah di Banten dan mengajarkan agama Islam di sana
>. Walaupun belum diadakan penelitian
lanjutan, besar kemungkinan, di Banten pun kegiatan penyebaran
Islam ini sudah dimulai jauh sebelum abad ke-15.
Tentang keberadaan orang-orang Islam di Banten, Tome' Pires, menyebutkan bahwa di daerah
Cimanuk, kota pelabuhan dan batas kerajaan Sunda dengan Cirebon, banyak dijumpai orang
Islam. Ini berarti bahwa pada akhir abad ke-15 M. di wilayah kerajaan Sunda Hindu sudah
ada masyarakat yang beragama Islam.
Karena hubungan yang didorong oleh faktor ekonomi, maka mereka
umumnya tinggal di kota pelabuhan, seperti juga di Kalapa dan
Banten. Yang jelas, sewaktu Sunan Ampel Denta pertama datang ke
Banten, sudah didapatinya banyak penduduk yang beragama Islam
walaupun Bupatinya masih beragama Hindu. Bahkan di Banten sudah
berdiri satu masjid di Pecinan, yang kemudian diperbaiki oleh Syarif
Hidayatullah (Purwaka, 20).
Dalam Purwaka Caruban Nagari dijelaskan bahwa Syarif Hidayat beserta 98
orang muridnya dari Cirebon, berusaha mengislamkan penduduk di
Banten. Dengan kesabaran dan ketekunan, banyaklah yang mengikuti
jejak Syarif Hidayatullah ini. Bahkan akhirnya Bupati Banten dan
sebagian besar rakyatnya memeluk agama Islam.
Karena tertarik akan budi pekerti dan ketinggian ilmunya, maka Bupati Banten menikahkan
Syarif Hidayatullah dengan adik perempuannya yang bernama Nhay Kawunganten. Dari
pernikahan ini Syarif Hidayatullah dikaruniai dua anak yang diberinya nama Ratu Winaon
dan Hasanuddin [3] (Djajadiningrat, 1983:161).
Tidak lama kemudian, karena panggilan uwaknya, Cakrabuana, Syarif
Hidayat berangkat ke Cirebon.
Di sana ia diangkat menjadi Tumenggung yang memerintah daerah
Cirebon, menggantikan uwaknya yang sudah tua. Sedangkan tugas
penyebaran Islam di Banten diserahkan kepada Hasanuddin.
Dengan ketekunan dan kesungguhan serta kelembutan hatinya, usaha Hasanuddin ini
membuahkan hasil yang menakjubkan. Diceritakan bahwa di antara yang memeluk agama
Islam adalah 800 orang pertapa/ resi dengan sebagian besar pengikutnya (Toynbee, 1981:
335) [4]. Sehingga di Banten telah terbentuk satu masyarakat Islam di antara penduduk
pribumi yang masih memeluk ajaran nenek moyang.
B. PROSES
BANTEN MENJADI KERAJAAN BERCORAK ISLAM
Rempah-rempah merupakan barang yang sangat dibu-tuhkan orang Eropa untuk dijadikan
bumbu, campuran minuman dan obat-obatan. Rempah-rempah itu mula-mula sampai di
pasaran Eropa melalui pedagang-pedagang Arab di Timur Tengah.
Pedagang-pedagang Portugis, Spanyol dan Belanda merupakan
pedagang perantara dalam perdagangan rempah-rempah itu. Mereka
membeli rempah-rempah itu di pelabuhan-pelabuhan Timur Tengah,
yang kemudian mereka pasarkan di Eropa Barat.
Tapi setelah Constantinopel, ibukota Kerajaan Romawi Timur, jatuh ke tangan Kesultanan
Turki Usmani pada tanggal 29 Mei 1453, terjadilah perubahan besar. Paus, pemimpin
keagamaan Kristen Katolik, yang berpusat di Vatikan, Roma, mengumumkan "perang suci"
dengan umat Islam, yang kemudian dikenal dengan nama Perang Salib (Soeroto, 1965: 59-
76). Dalam keadaan perang ini dimintakan supaya seluruh umat Katolik membantu tentara
yang sedang berperang mengusir tentara Islam di Eropa. Demikian juga dalam bidang
perdagangan, mereka dilarang berhubungan dengan umat Islam kecuali dengan tujuan
menghancurkan kekuatan Islam. Mengindahkan seruan Paus ini, para pedagang dari Portugis,
Spanyol dan negeri Eropa lainnya, memutuskan hubungan perniagaan mereka dengan para
pedagang muslim, sehingga mereka tidak lagi membeli rempah-rempah dari orang Islam.
Akibatnya, harga rempah-rempah di Eropa menjadi sangat mahal karena memang sukar
didapat.
Hal ini mendorong mereka berusaha keras untuk menemukan tempat
di mana rempah-rempah itu ditanam.
Dengan memperalat Mualim Ibn Majid, seorang ilmuwan muslim dalam bidang kelautan,
akhirnya bangsa Portugis berlayar sampai di Calikut
>, India, pada tahun 1498 M di bawah pimpinan Vasco da Gama
(Tjandrasasmita, 1975: 5-7). Berawal dari sinilah bangsa Asia
dikenalkan dengan praktek kolonialisme barat yang bertentangan
dengan prinsip-prinsip kemanusiaan.
Dalam ekspedisi selanjutnya, beberapa pelabuhan penting di pantai India
> dikuasai Portugis. Dan untuk melebarkan kekuasaannya dibangun
benteng yang kuat di Goa, pesisir barat India.
Dari kota pelabuhan Goa inilah Portugis selanjutnya meluaskan
daerah jajahannya ke arah barat dengan memerangi Turki dan ke arah
timur dengan menduduki daerah-daerah di Nusantara.
Pada tanggal 5 Agustus 1511 pasukan Portugis dapat merebut Malaka dari kekuasaan Sultan
Malaka, Makhmudsyah. Disusul dengan penaklukan Samudra Pasai pada tahun 1521, dan
pada akhirnya Maluku pun dapat didudukinya. Semua tindakan itu mereka lakukan demi
untuk kekuasaan, kekayaan dan tugas sucinya dalam menghancurkan umat Islam di mana pun
berada. Tujuan dagang mereka telah dicampuri dengan maksud dan tujuan lain, yaitu
penguasaan di segala sektor kehidupan masyarakat, dan juga pelampiasan rasa dendam pada
umat Islam, sehingga di samping berdagang mereka pun memperdaya, merampas dan
akhirnya menjajah, termasuk pemaksaan agama kepada rakyat yang dikuasainya (Suminto,
1985:13).
Dengan menguasai Malaka, Portugis mengharapkan dapat memonopoli semua perdagangan
rempah-rempah di Asia Tenggara. Dengan cara monopoli ini, mereka menginginkan
keuntungan yang sebesar-besarnya dengan cara mematikan bangsa lain.
Sikap dan tingkah-laku bangsa Portugis di Malaka yang memaksakan monopoli perdagangan
dan bahkan cenderung selalu memusuhi pedagang-pedagang yang beragama Islam tadi
menimbulkan rasa benci dan permusuhan; padahal pada umumnya, pedagang di Asia
Tenggara beragama Islam. Karena sikap Portugis yang tidak bersahabat itu, maka para
pedagang muslim tadi segan dan tidak singgah di bandar Malaka. Bahkan, banyak pedagang
muslim yang tinggal di Malaka pindah ke Aceh, Banten, Cirebon dan Demak. Sikap angkuh
bangsa Portugis ini pula yang menyebabkan akhirnya kapal-kapal dagang Arab, Parsi, Cina
dan bangsa lainnya tidak sudi melewati Selat Malaka.
Memang di Malaka, Portugis membuat peraturan baru yang dianggap kurang adil, sehingga
terjadilah keadaan sebagai berikut:
1)
Pedagang-pedagang dari kepulauan Nusantara harus menjual dagangannya hanya kepada
orang Portugis. Demikian juga bagi bangsa lain yang akan membeli rempah-rempah harus
melalui orang Portugis dengan harga yang sudah ditentukan.
2)
Perlakuan orang Portugis yang kasar dan bahkan mempersulit dengan bea-bea tinggi, terutama
bagi pedagang yang beragama Islam.
Keadaan dan situasi yang tidak menguntungkan itu, akhirnya mendorong para pedagang dari
India, Parsi, Arab, Cina dan bangsa lainnya, walaupun melalui jalan yang sulit, dapat
berhubungan langsung dengan pelabuhan-pelabuhan di kepulauan Nusantara melalui Selat
Sunda. Hal ini menyebabkan jalur pelayaran niaga beralih dari Selat Malaka. Mereka tidak
menyinggahi Malaka tetapi menyusur pantai utara Sumatra terus membelok ke Aceh Barat,
Barus, Singkel, Padang Pariaman dan Salida, kemudian terus ke pelabuhan Banten. Dari
pelabuhan inilah barang-barang perniagaan yang ke dan dari kepulauan Nusantara
didistribusikan. Dengan perubahan jalur perniagaan laut di Asia Tenggara ini, kedudukan
pelabuhan Banten menjadi begitu penting, sehingga menjadi ramai dikunjungi pedagang-
pedagang asing dan dari kepulauan nusantara
1. Perluasan Pengaruh Islam Di Banten
Sejalan dengan perkembangan pelabuhan Banten, maka semakin banyak orang-orang Islam
yang berkunjung dan menetap di kota pelabuhan ini, sehingga lama kelamaan Banten menjadi
pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Untuk penyebaran agama Islam kepada
penduduk pribumi Banten, peran Hasanuddin beserta pengikut-pengikutnya sangat
menentukan.
Dengan kehalusan akhlak dan ketinggian ilmu keislamannya,
Hasanuddin mendapat sambutan baik, yang akhirnya beberapa
pembesar negri dan bahkan 800 ajar beserta pengikutnya memeluk
Islam. Dalam pada itu, di wilayah timur, pusat pengembangan agama
Islam didorong oleh kerajaan Demak.
Trenggono, raja Demak ke-3 pengganti Dipati Unus, bercita-cita
meluaskan pengaruh Islam ke seluruh Pulau Jawa ─ yang berarti juga
perluasan hegemoni Demak.
Melihat perkembangan kekuatan Islam di barat dan timur yang cukup pesat ini, menimbulkan
kekhawatiran raja Pajajaran kalau-kalau agama Hindu ─
yang menjadi agama negara ─ akan makin terdesak, dan Pajajaran
akan kehilangan kewibawaannya di daerah pantai.
Untuk menanggulangi bahaya ini maka raja Pajajaran mengambil kebijaksanaan, antara lain:
Pertama, membatasi pedagang-pedagang yang beragama Islam mengunjungi pelabuhan-
pelabuhan yang berada di bawah pengawasan Pajajaran.
Kedua, mengadakan hubungan persahabatan dan kerja sama dengan kuasa Portugis yang
berkedudukan di Malaka, dengan maksud agar Portugis dapat membantu Pajajaran
kalau diserang Demak.
Dalam pada itu, sampai tahun 1521 yang berkuasa di Pajajaran adalah Jayadewata yang
bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata atau
disebut juga Prabu Silihwangi. Untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan orang
Portugis di Malaka itu raja mengutus putra mahkota, Ratu Sangiang atau Surawisesa [5].
Ajakan kerja sama di bidang militer ini sudah tentu diterima baik oleh Jorge d'Albuquerque,
penguasa tertinggi Portugis di Malaka, yang memang berkeinginan menguasai kerajaan
Pajajaran yang kaya dengan lada. Bahkan maksud yang lebih jauh lagi yaitu untuk
menghancurkan dan menguasai kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam di Jawa.
Pada tanggal 21 Agustus 1522, Henrique Leme, utusan Gubernur Malaka menandatangani
perjanjian persahabatan dengan raja Pajajaran, Pangeran Surawisesa, pengganti Sri Baduga,
yang isinya antara lain:
margin-left:2.0cm;margin-bottom:.0001pt;text-indent:-1.0cm;mso-
list:l5 level1 lfo4; tab-stops:list 1.0cm left 2.0cm;mso-layout-grid-
align:none;punctuation-wrap: simple;text-autospace:none;vertical-
align:baseline">1)
Portugis dapat mendirikan benteng di pelabuhan Sunda Kalapa.
2)
Raja Pajajaran akan memberikan lada sebanyak yang diperlukan Portugis sebagai penukaran
barang-barang kebutuhan Pajajaran.
3)
Portugis bersedia akan membantu Pajajaran apabila diserang tentara Demak atau yang
lainnya.
4)
Sebagai tanda persahabatan, raja Pajajaran menghadiahkan 1000 karung (1000 x 10600 caxas
Jawa = 160 bahar = 351 sentenar) lada setiap tahun kepada Portugis.
Untuk memperingati dan sebagai tanda adanya perjanjian tersebut, dibuatlah tugu batu di
pinggir kiri muara sungai Ciliwung.
Tindakan raja Pajajaran ini bukannya menyelesaikan masalah, melainkan membuat situasi
semakin tidak menentu. Rakyat kerajaan Pajajaran, yang sudah banyak beragama Islam,
menyambut perjanjian persahabatan Portugis ini dengan ketidakpuasan. "Pamor" raja di mata
rakyat semakin menurun.
Beberapa daerah pesisir berusaha pula melepaskan diri dari
pengawasan Pajajaran. Terjadilah perlawanan rakyat yang antara lain
dipimpin oleh Hasanuddin yang menentang perjanjian itu.
Dalam pada itu, mendengar perjanjian persahabatan antara Pajajaran dengan Portugis ini,
yang salah satunya ditujukan langsung kepada Demak, Trenggono, raja Demak, menjadi
marah. Karena itu ia berusaha untuk menghancurkan kekuasaan Portugis di Nusantara, berikut
Pajajaran yang berani mengadakan perjanjian dengan bangsa asing yang dibencinya. Peristiwa
inilah, salah satunya, yang menjadi
momentum perluasan pengaruh Islam ke wilayah Jawa Barat.
Kemarahan raja Demak kepada Pajajaran ini dapat dimaklumi, karena perjanjian itu diadakan
tidak lama setelah kegagalan Demak, secara beruntun, dalam usahanya mengusir bangsa
Portugis di Malaka. Demak berusaha menghancurkan kekuasaan Portugis di Malaka, tapi di
lain pihak Pajajaran mengadakan perjanjian persahabatan [6]. Masuknya Portugis ke Pulau
Jawa akan berakibat fatal bagi kemerdekaan nusantara secara keseluruhan.
Dalam kondisi dan situasi psikologis kekalahan yang masih
membekas di kalangan para pemimpin Demak ini, maka kerjasama
militer Pajajaran dengan Portugis itu dianggap sebagai serangan
balasan terhadap Demak, dan karenanya merupakan ancaman serius
bagi kelangsungan hidup kerajaan Demak.
Dari aspek ekonomi, penguasaan Portugis atas jalur pelayaran ke Selat
Malaka, dapat mematikan sumber ekonomi Demak ─ karena di
Malaka, hasil bumi Demak dipasarkan untuk nanti ditukarkan dengan
barang kebutuhan rakyat. Di samping itu, pembatasan pedagang
muslim di kota-kota pelabuhan Pajajaran, menimbulkan rasa
permusuhan antara dua kerajaan bertetangga yang berlainan
pandangan hidup tersebut. Peristiwa inilah yang mendorong makin
besarnya hasrat Trenggono untuk segera menguasai Pajajaran. Atas
pertimbangan-pertimbangan ini, Trenggono menugaskan Fatahillah,
saudara ipar dan juga panglima perang Demak, bersama dengan 2000
pasukan pilihan untuk segera menyerang Pajajaran.
Sebelum mengadakan penyerbuan ke Pajajaran, pasukan Demak yang dipimpin Fatahillah,
dengan menggunakan kapal-kapal besar berangkat ke Cirebon
> untuk mendengar nasehat Syarif
Hidayatullah (Djajadiningrat, 1983:87). Dari Cirebon inilah
direncanakan strategi penyerangan. Sesuai dengan saran Syarif
Hidayatullah, pasukan gabungan Demak dan Cirebon yang dipimpin
oleh Fatahillah, Pangeran Cirebon, Dipati Keling dan Dipati
Cangkuang berangkat ke Banten (Purwaka, tt: 23).
Dan tanpa mengalami banyak kesulitan yang berarti, pasukan
gabungan ini dapat menguasai Banten pada tahun 1525
(Djajadiningrat, 1983: 125). Hal ini bukan saja karena kuatnya
pasukan gabungan Demak-Cirebon, tapi juga berkat bantuan dari
pasukan pribumi yang dipimpin oleh Hasanuddin. Selanjutnya, untuk
pemantapan keamanan di daerah yang baru dikuasai ini maka
diangkatlah Hasanuddin menjadi Adipati Banten dengan pusat
pemerintahan di Banten Girang. Sesuai dengan penetapan Syarif
Hidayatullah, pusat pemerintahan di Banten Girang ini kemudian
dipindahkan ke dekat pelabuhan yang kemudian disebutnya
Surosowan. Pemindahan ibukota Banten ini terjadi pada tahun 1526
(Djajadiningrat, 1983: 123-124).
Setahun kemudian, yakni tahun 1527 terdengar berita bahwa pasukan Portugis dengan enam
buah kapal besar dan persenjataan lengkap telah meninggalkan Malaka dengan tujuan Sunda
Kalapa. Mendengar berita ini, Fatahillah dan Hasanuddin mengumpulkan para senapati untuk
merun-dingkan tindakan selanjutnya; dan diputuskan untuk segera menguasai Sunda Kalapa.
Maka disiapkanlah pasukan gabungan Demak, Cirebon dan Banten untuk berangkat ke Sunda
Kelapa melalui jalan darat dan laut.
Penyerbuan ini dipimpin oleh Fatahillah, Pangeran Cirebon, Dipati
Keling dan Dipati Cangkuang dengan tentara berkekuatan 1452 orang
(Purwaka, tt: 23). Dengan bantuan penduduk setempat, yang memang
sudah banyak beragama Islam, maka dengan mudah Sunda Kelapa
dapat dikalahkan pada tahun 1527.
Atas persetujuan Sultan Demak dan Syarif Hidayatullah, maka
Fatahillah diangkat menjadi Adipati di Sunda Kelapa. Dan untuk
menyatakan rasa syukur atas kemenangan ini, nama Sunda Kelapa
diganti dengan Jayakarta yang artinya "kota yang menang".
Tidak lama kemudian, armada Portugis dari Malaka yang dipimpin oleh Francisco de Sa
sampai di bandar Sunda Kelapa dengan maksud semula untuk membangun benteng, sesuai
dengan perjanjian tahun 1522. Pasukan Portugis ini terdiri dari dua buah galyun, sebuah gale,
sebuah galeota, sebuah caravella dan sebuah brigantin dengan persenjataan lengkap berupa
meriam-meriam besar dan senjata api lainnya (Djajadiningrat, 1983:80). Mereka tidak
mengetahui bahwa Sunda Kelapa sudah dikuasai tentara Islam. Tentu saja maksud Portugis
itu ditolak Fatahillah. Hal ini membuat Francisco de Sa marah dan mengancam hendak
menghancurkan Sunda Kelapa.
Maka terjadilah perang terbuka di pelabuhan Sunda Kelapa. Tentara
Portugis mendapat perlawanan hebat dari tentara Islam yang dipimpin
oleh Pangeran Cirebon, sehingga mereka semuanya kembali ke kapal
dan meminta bantuan dari kapal-kapal perang mereka yang masih
menunggu di lepas pantai. Akhirnya, karena didorong semangat jihad,
pasukan Islam dapat mengusir Portugis dari perairan Jayakarta.
Diceritakan pula, bahwa sebelum pasukan Portugis itu sampai di
Teluk Jakarta, di tengah perjalanan terjadi angin ribut, sehingga
sebuah kapal brigantin yang dipimpin oleh Duarte Coelho terpisah
dari kapal yang lain dan kandas di pelabuhan Banten. Kapal Portugis
ini pun dapat dikuasai prajurit Banten, sehingga banyak tentaranya
terbunuh (Djajadiningrat, 1983: 81-82).
Setelah berhasil mengamankan Sunda Kalapa dari ancaman Portugis, Hasanuddin dan
Fatahillah bekerja sama menangani pembangunan di Banten dan Jayakarta.
Hasanuddin bertanggung jawab dalam masalah pengembangan
wilayah dan pendidikan kamasyarakatan, sedangkan Fatahillah
menangani bidang keamanan dan pertahanan wilayah. Sehingga pada
masa itu Islam menyebar dengan pesat dan keamanan negara terjamin.
Kedua penguasa wilayah ini memerintah atas nama Sultan Demak
(Hamka, 1976:178).
Penguasaan Banten dan Sunda Kalapa ini mempunyai arti yang sangat penting bagi kerajaan
Demak, karena antara lain:
1)
Dengan dikuasainya Banten dan Sunda Kalapa, akan memudahkan pengembangan pengaruh
Islam ke Pajajaran di kemudian hari.
2)
Banten dapat dijadikan tempat yang strategis bagi perluasan wilayah Demak ke pantai selatan
Sumatra, Lampung dan Palembang
> yang kaya
> yang kaya
akan cengkeh dan lada.
3)
Dengan dikuasainya pantai utara Jawa Barat yaitu Banten, Sunda Kalapa dan Cirebon, maka
kekhawatiran Demak atas pengaruh Portugis di Pulau Jawa dapat diatasi.
4)
Banten juga dapat dijadikan pusat penyebaran agama Islam untuk masyarakat Jawa Barat dan
sebagian Sumatra Selatan yang masih animis.
Melihat perkembangan kemajuan daerah Banten yang pesat, maka pada tahun 1552 Kadipaten
Banten ditingkatkan statusnya menjadi Kerajaan di bawah pengawasan Demak, dengan
Hasanuddin sebagai raja Banten pertamanya. Sedangkan Fatahillah pada tahun yang sama
(1552) diangkat menjadi penguasa di Cirebon mewakili Syarif Hidayatullah, karena Pangeran
Pasarean yang memerintah sebelumnya telah meninggal pada tahun 1552 itu. Untuk
menjalankan tugas pemerintahan di Jayakarta diangkat Pangeran Bagus Angke, menantu
Hasanuddin (Purwaka, tt: 27).
2. Berdiri Kota Banten Tanggal 8 Oktober 1526
Tentang tarikh berdirinya Kasultanan Banten di Surosowan ini dituliskan sebagai berikut:
"Inkang kalang Banten nagari sedengnyan haro hara ikang nunaya jeng sisa Sabakingkin
anak ira susuhunan Jatipurba lawan pra saparisharanya teka wong muslim prasiya sira,
wiweha kahanan ika wadya Demak lan Charbon teka ta prahwa nira mandeg ing labuhan
Banten nagari, irika tang ayuddha mwang anggepuk wadya bala Budha-Prawa. Bopatya
Banten nagari lawan saparicharyanya lumayu menjing wanantara paran ira mangidul ngetan
ringkitha-gung Pakuan Pajajaran, witan ikang pramatya Banten nagari. Ri huwuws ika binu
patyakna ta sira Sabakingkin Banten nagari lawan nawastwan ngaran Hasanuddin deng
rama nira Susuhunan Jatipurba kang lungguh raja paditha atahwa Sang Kamastwing sarat
Sunda, kang tamolah ing Puserbumi nagari ya ta Charbon, kithaya sinebut Garage (Purwaka
Caruban Nagari, pupuh 162 - 168).
Terjemahan teks tersebut adalah:
(162) Pada waktu itu di Banten sedang timbul huru-hara yang di-sebabkan oleh Pangeran
Sabakingkin, putera Susuhunan Jatipurba dengan para pengikutnya. (163) Orang-orang
muslim dan para muridnya, bertambah-tambah dengan kedatangan angkatan bersenjata
Demak dan Cirebon yang telah berlabuh di pelabuhan Banten, kemudian menyerang dan
memukul (164) angkatan bersenjata Budha-prawa. Adipati Banten dan para pengikutnya
melarikan diri masuk hutan belantara menuju ke arah tenggara ke kota
> besar Pakuan
Pajajaran. (165) Setelah itu dinobatkanlah Pangeran Sabakingkin di
negeri Banten dengan gelar (168) Pangeran Hasanuddin oleh
ayahnya dipertuan bagi seluruh daerah Sunda, yang berpusat di
Puserbumi yaitu negeri Cirebon
> atau Garage (Atja, 1972: 57-58).
Djajadiningrat (1983:123-124) menuliskan tentang tarikh penaklukan Banten Girang ini ada
dua sangkala yang keduanya berbeda.
Brasta gempung warna tunggal tidak mempunyai nilai angka selain
daripada 1400 Saka atau 1478 Masehi. Sangkala kedua berbunyi Ilang
kari warna lan nagri; kata kari adalah suatu kesalahan penurunan
naskah yang ditulis dalam pegon, karena kata ini tidak pernah ditemui
dalam bahasa sangkala. Mungkin kata itu berasal dari kata kadi =
kaya = 3.
Sehingga seharusnya berbunyi: ilang kadi warna lan nagri, dan ini
berarti angka tahun 1480 Saka atau 1558 Masehi.
Selanjutnya, dari keterangan Caeff, wakil VOC di Banten (1671), menyebutkan bahwa
"Banten Lama" (dimaksudkan Banten Girang) yang letaknya sedikit di atas Clappadoa, kira-
kira enam jam perjalanan kaki dari Tirtayasa ke Pontang dan tiga jam dari Banten. Sultan
Ageng telah menyuruh mendirikan sebuah istana di sana, yang digunakan sebagai tempat
mengungsi kaum wanita di masa perang.
Kelapadua sekarang masih merupakan sebuah kampung kira-kira di
barat laut Serang. Oleh karenanya, ibukota lama Banten haruslah
letaknya di bagian barat atau barat daya Serang; yaitu Banten Girang
(Banten Hulu). Tempat inilah yang dilaporkan Joao de Barros pada
tahun 1525 Faletehan mendapat sambutan yang ramah dan selanjutnya
menjadi tuan. Kemudian, masih menurut de Barros, pada tahun 1527
dari Banten yang letaknya lebih ke hilir sungai di tepi laut, Faletehan
dapat menguasai Sunda Kalapa. Dari berita ini dapatlah ditarik
kesimpulan, bahwa dua sangkala di atas haruslah diabaikan, karena
tidaklah mungkin terjadi. Pemerintahan Banten tidak akan
membiarkan "musuh" yang eksis di dekat-dekat dirinya, sementara
Pinto [7], menceritakan bahwa pada tahun 1546 Tagaril mengirimkan sebagian besar
tentaranya untuk membantu Demak menggempur Pasuruan. Demikian pula pemindahan
ibukota dari Banten Girang ke Banten yang diceritakan Sajarah Banten, tak dapat terjadi oleh
Hasanuddin. Yang demikian itu haruslah dilakukan oleh ayahnya, dan barangkali segera
setelah direbutnya Banten Girang; dan yang paling memungkinkan adalah antara tahun 1525
dan 1527(Djajadiningrat, 1983: 127).
Jika penaklukan Banten Girang terjadi pada tahun 1525 M, maka pendirian Banten Pesisir
(Surosowan) sesuai bukti arkeologis dengan berita asing dan Purwaka Caruban Nagari terjadi
tidak lain pada tahun 1526 M. Mengenai ketepatan waktu yang berupa tanggal, meskipun
tidak ada berita pasti, namun dapat dianalogikan dengan hari mulia yaitu Muharram tanggal
satu sebagaimana juga gambaran menuju peperangan ke Pakuwan Pajajaran yang dilakukan
pada Muharram, tahun Alip 1579 (Djajadiningrat, 1983: 145-146).
1
Syuro atau 1 Muharram adalah hari baik untuk melakukan peristiwa
penting yang dipercayai oleh masyarakat pada waktu itu, maka untuk
pemindahan ibukota Banten dari Banten Girang ke Surosowan
(Banten pesisir) itu dimungkinkan terjadi pada tanggal 1 Muharram
933 Hijriah yang, menurut Tabel Wuskfeld, bertepatan dengan tanggal
8 Oktober 1526 Masehi.
3. Sekitar Syarif Hidayatullah dan Fatahillah
Untuk lebih memperluas keterangan di atas, penulis menganggap perlu, secara singkat,
menguraikan riwayat tokoh Syarif Hidayatullah dan Fatahillah. Karena, kedua tokoh inilah
yang memegang peran menentukan dalam kesejarahan kerajaan Banten khususnya, dan
penyebaran agama Islam di Jawa bagian Barat.
Dalam Purwaka Caruban Nagari, dikisahkan tentang silsilah keturunan Syarif Hidayatullah,
sebagai berikut:
Prabu Siliwangi raja Pakuan Pajajaran dari perkawinannya dengan Nhay Subang Larang
mempunyai 3 orang anak: Raden Walangsungsang, Nhay Lara Santang dan Raden Jaka
Sangara. Nhay Lara Santang, yang kemudian memeluk agama ibunya yaitu agama Islam,
pergi ke Makkah bersama Raden Walangsungsang untuk menunaikan ibadah haji sambil
menuntut ilmu agama di sana
>. Mereka berguru pada Syekh Abdul
Jadid yang kemudian Nhay Lara Santang menikah dengan Maulana
Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah seorang raja di Mesir. Dari
pernikahan ini lahirlah Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah, yang
lahir dua tahun kemudian.
Setelah Syarif Hidayatullah berumur 20 tahun, dia pergi ke Makkah untuk belajar ilmu agama
pada Syekh Tajmuddin al-Kubri selama dua tahun, dan kepada Syekh Athaullahi Sajali
selama dua tahun pula. Syarif Hidayat tidak mau menggantikan ayahnya yang telah wafat
untuk menjadi raja di Mesir, tetapi jabatan tersebut diserahkan kepada adiknya, Syarif
Nurullah. Syarif Hidayat sendiri pergi ke Pulau Jawa untuk menyiarkan agama Islam. Daerah
pertama yang dikunjunginya adalah Pasai dan dua tahun kemudian singgah di bandar Banten.
Di sana didapati sudah banyak penduduk yang beragama Islam, hasil usaha Sayid Rakhmat
atau Sunan Ampel, yang juga masih terhitung keluarga. Dari Banten, barulah Syarif Hidayat
pergi ke Jawa Timur yakni ke Ngampel. Oleh Sunan Ampel, Syarif Hidayat ditetapkan
sebagai da'i di Pesambangan (Sembung) bersama uwaknya Haji Abdullah Iman, nama lain
dari Raden Walangsungsang.
Syarif Hidayat membuat pondok di Bukit Sembung, Gunung Jati,
sehingga dikenal dengan nama Maulana Jati atau Syekh Jati.
Istri dan anak Syarif Hidayat(ullah) adalah sebagai berikut:
margin-left:1.0cm;margin-bottom:.0001pt;text-indent:-1.0cm;mso-
list:l3 level1 lfo8; tab-stops:list 1.0cm left 2.0cm;mso-layout-grid-
align:none;punctuation-wrap: simple;text-autospace:none;vertical-
align:baseline">1)
Nhay Babadan seorang putri dari Ki Gedheng Babadan.
Pernikahan ini tidak berlangsung lama karena Nhay Babadan
meninggal dunia, tanpa dikaruniai anak.
2)
Nhay Lara Bagdad atau Syarifah Bagdad, adik dari Maulana Abdurahman Bagdadi atau
Pangeran Panjunan. Dari pernikahan ini dikaruniai dua orang anak: Pangeran Jayakelana dan
Pangeran Bratakelana.
Pangeran Jayakelana kemudian kawin dengan Ratu Pembayun putri Raden Fattah, sultan
Demak pertama. Pangeran Jayakelana meninggal dunia pada usia muda, selanjutnya, Ratu
Pembayun menikah dengan Fatahillah atau Fadilah Khan seorang pemuda asal Pasai.
Sedangkan Pangeran Bratakelana menikah dengan Ratu Nyawa, adik dari Prabu Trenggono.
Dalam perjalanan menuju Cirebon, Pangeran Bratakelana gugur dalam
pertempuran melawan bajak laut, dan karenanya ia disebut dengan
nama Pangeran Sendang Lautan atau Pangeran Gung Anom.
3)
Nhay Tepasari, putri dari Ki Gedheng Tepasari dari Majapahit. Dari pernikahan ini Syarif
Hidayat dikaruniai dua orang anak: Nhay Ratu Ayu dan Pangeran Mahmud Arifin, yang
kemudian disebut Pangeran Pasarean.
Nhay Ratu Ayu kemudian menikah dengan Pangeran Muhammad Yunus atau Pangeran
Sabrang Lor, putra tertua Raden Fattah. Pernikahan ini tidak dikaruniai anak, karena
Muhammad Yunus mati muda ─ memerintah Demak selama tiga tahun saja. Nhay Ratu Ayu
kemudian menikah lagi dengan Fatahillah dan dikaruniai dua orang anak: Ratu Wanawati
Raras dan Pangeran Sedang Garuda. Adapun Pangeran Mahmud Arifin atau Pangeran
Pasarean menikah dengan Ratu Nyawa, yaitu janda dari Pangeran Bratakelana atau Pangeran
Gung Anom. Dari pernikahannya dikaruniai 6 orang anak, yaitu:
(1.)
Pangeran Kesatrian, yang kemudian menikah dengan seorang putri asal Tuban.
(2.)
Pangeran Losari, yang menjadi Panembahan Losari.
(3.)
Pangeran Suwarga, yang kemudian menjadi Adipati di Cirebon
> dengan gelar
Pangeran Adipati Pakungja atau Pangeran Sedang Kemuning.
Pangeran ini kemudian menikah dengan Ratu Wanawati Raras, putri
dari Fatahillah dengan Nhay Ratu Ayu.
(4.)
Ratu Emas, yang kemudian menikah dengan Tubagus Banten di Banten.
(5.)
Pangeran yang berkeluarga di Panjunan.
(6.)
Pangeran Weruju.
4)
Nhay Kawunganten, adik Adipati Banten.
Dari pernikahan ini lahirlah dua orang anak: Ratu Winaon atau Putri Wulung Ayu dan
Hasanuddin atau disebut juga Pangeran Sabakingkin. Ratu Winaon kemudian menikah
dengan Pangeran Atas Angin atau Pangeran Raja Laut, yang kemungkinan nama lain dari
Sunan Kalijaga.
5)
Pada tahun 1478, Syarif Hidayatullah menikah dengan Nhay Pakungwati, putri uwaknya,
Raden Walangsungsang dengan Nhay Indhang Geulis.
Pernikahan ini tidak membuahkan keturunan, sehingga Nhay
Pakungwati mengambil Nhay Ratu Ayu dan Pangeran Pasarean
menjadi anak angkatnya ─
karena ibunya, Nhay Tepasari, meninggal dunia sewaktu mereka
masih kecil.
6)
Pada tahun 1481, Syarif Hidayat menikah dengan Putri Ong Tien, seorang putri raja Cina
yang datang ke Pulau Jawa dengan rombongan yang besar. Dengan putri Cina ini Syarif
Hidayat beroleh seorang putra tetapi meninggal pada saat dilahirkan. Empat tahun kemudian
Putri Ong Tien pun wafat.
Di Cirebon, Syarif Hidayatullah diangkat menjadi Tumenggung yang menguasai daerah
Cirebon dan sekitarnya, menggantikan Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabhumi.
Adapun tugasnya di Banten, yakni menyebarkan agama Islam
diserahkan kepada anaknya, Hasanuddin.
Semenjak Cirebon dikuasakan kepada Syarif Hidayatullah, Cirebon
> tidak pernah lagi mengirimkan kuwerabhakti atau upeti kepada Raja
Pajajaran. Hal inilah yang menyebabkan Pajajaran mengirimkan enam
puluh orang prajurit yang dipimpin oleh Tumenggung Jagabaya untuk
menagih upeti tersebut. Tapi akhirnya prajurit-prajurit tersebut tidak
berani memerangi Cirebon, dan, bahkan semuanya memeluk agama
Islam dan menjadi murid Syarif Hidayatullah yang setia.
Pada saat di Cirebon, Syarif Hidayatullah diangkat oleh para wali atau pimpinan penyebaran
agama Islam di Pulau Jawa untuk menjadi Penetap panatagama Rasul Saerat Sunda yang
berkuasa penuh di seluruh daerah Sunda, menggantikan Syekh Nurul Jati yang sudah
mangkat. Dan untuk mengkhususkan pemikirannya kepada penyebaran agama Islam, Syarif
Hidayatullah pada tahun 1528 mengangkat putranya, Pangeran Pasarean, menjadi
Tumenggung di Cirebon sebagai wakil dirinya. Dan setelah Pangeran Pasarean mangkat
(1552), pemangku kuasa di Cirebon
> diserahkan kepada Fatahillah atau
Pangeran Pasai, menantu Syarif Hidayatullah.
Pangeran Pasai, menantu Syarif Hidayatullah.
Pada tahun 1568, Syarif Hidayatullah meninggal dunia pada usia lanjut, yang kemudian
dimakamkan di puncak Bukit Sembung, komplek Gunung Jati, tempat dia mengajar. Dengan
meninggalnya Syarif Hidayatullah, maka Fatahillah menjadi pemegang kuasa penuh di
Cirebon sampai meninggalnya pada tahun 1570. Jenazahnya dikubur di Gunung Jati, sejajar
dengan makam Sunan Gunung Jati.
Sebenarnya antara Syarif Hidayatullah dan Fatahillah masih ada hubungan kekerabatan.
Fatahillah atau Fadhilah Khan lahir pada tahun 1490 di Samudra
Pasai. Dia adalah putra Makhdar Ibrahim dari Gujarat yang menetap
di Pasai sebagai Imam Agama. Makhdar Ibrahim adalah putra dari
Maulana Abdul Gafur alias Maulana Malik Ibrahim seorang putra dari
Barkat Zainul Alim adik dari Ali Nurul Alim kakek Syarif
Hidayatullah dan juga kakek Ibrahim Zainul Akbar (ayah Sunan
Ampel). Sunan Ampel adalah guru dan mertua Raden Fatah pendiri
kerajaan Demak. Jadi Jelaslah bahwa Fatahillah masih terhitung
keponakan Syarif Hidayatullah dari garis ayah. Kekerabatan ini
kemudian dipererat lagi dengan perkawinan. Fatahillah memperistri
Nhay Ratu Ayu, putri Syarif Hidayatullah (janda Pangeran Sabrang
Lor) dan juga menikah dengan Ratu Pembayun (janda Pangeran
Jayakelana), putri Raden Fatah. Dengan demikian Fatahillah adalah
mantu, keponakan dan murid dari Syarif Hidayatullah, juga mantu dari
Raden Fatah.
[1] Pendapat Snouck Horgronje, yang menyatakan bahwa Islam masuk ke
kepulauan Nusantara pada abad ke-13 M., barangkali, dimaksudkan adalah
bukannya masuknya Islam ke Nusantara, tetapi permulaan umat Islam di
Nusantara sudah menjadi satu kekuatan sosial yang perlu diperhitungkan,
bahkan sudah mampu mendirikan negara yang bercorak keislaman.
[2] Hal demikian dimungkinkan karena penemuan teknologi perkapalan yang
sudah mampu membuat kapal-kapal ukuran besar yang mampu berlayar jauh dan
mengangkut sekitar 600 - 700 orang (Berger, 1962:14).
[3] Dalam catatan Babad
Banten, anak Syarif Hidayatullah ini bernama Wulung Ayu dan Hasanuddin.
[4] Dalam Babad Banten
diceritakan bahwa, Hasanuddin mendatangi 800 ajar pengikut Pucuk Umun di
Gunung Pulosari, yang kemudian mereka memeluk agama Islam; dan mereka
pun bersedia menjadi pengikut setia Hasanuddin ("Kawula sakakah anut, tuwan
kaya pucuk umum")
[5] Kecurigaan raja
Pajajaran ini bertambah tebal dengan hadirnya pasukan Demak di Cirebon
sewaktu pesta perkawinan 4 pasangan: Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana,
Ratu Aju dengan Pangeran Sabrang Lor, Pangeran Jayakelana dengan Ratu
Pembayun, dan Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa).
[6] Pada tahun 1512, armada Demak dengan 90 buah kapal jung yang
berkekuatan 12.000 prajurit dilengkapi dengan meriam-meriam buatan sendiri
menyerang penguasa Portugis di Malaka. Perang besar ini dipimpin oleh Patih
Yunus kakak tertua dari Prabu Trenggono yang berakhir dengan kekalahan
pasukan Demak dan gugurnya Patih Yunus yang selanjutnya dikenal dengan
Pangeran Sabrang Lor.
[7] Fernao Mendes Pinto
atau Tome Pinto (1510-1583), adalah pimpinan armada Portugis yang juga ikut
menandatangani perjanjian Pajajaran-Portugis (1522) mencatat semua
pengalaman pelayarannya dari Goa ke Nusantara dalam buku Peregrinacao
(Penjelajahan).
BAB IV
MASA PEMERINTAHAN
KESULTANAN BANTEN
A. MAULANA
HASANUDDIN (1552 - 1570)
Dalam Babad Banten menceritakan bahwa Sunan Gunung Jati
dan putranya, Hasanuddin, datang dari Pakungwati (Cirebon
>) untuk mengislamkan masyarakat di
daerah Banten. Mula-mula mereka datang di Banten Girang, lalu terus
ke
ke
selatan, ke Gunung Pulosari, tempat bersemayamnya 800 ajar yang
kemudian semuanya menjadi pengikut Hasanuddin. Di lereng Gunung
Pulosari
itu, Sunan Gunung Jati mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan
keislaman kepada
anaknya. Setelah ilmu yang dikuasai Hasanuddin sudah dianggap
cukup, Sunan
Gunung Jati memerintahkan supaya anaknya itu berkelana sambil
menyebarkan
agama Islam kepada penduduk negeri.
Hasanuddin
berkeliling sambil berdakwah dari satu daerah ke daerah lain. Sesekali
bertempat di Gunung Pulosari, Gunung Karang atau Gunung Lor,
bahkan sampai
ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon. Setelah tujuh tahun melakukan
tugasnya
itu, Hasanuddin bertemu kembali dengan ayahnya, yang kemudian
membawanya
pergi menunaikan ibadah haji ke Mekah (Djajadiningrat, 1983:34).
Dalam
menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk pribumi, Hasanuddin
menggunakan
cara-cara yang dikenal oleh masyarakat setempat, seperti menyabung
ayam
ataupun mengadu kesaktian. Diceritakan, bahwa dalam acara
menyabung ayam di
menyabung ayam di
Gunung Lancar yang dihadiri oleh banyak pembesar negri, dua orang
ponggawa Pajajaran, Mas Jong dan Agus Jo --- disebut juga Ki Jongjo
--- memeluk
agama Islam dan bersedia menjadi pengikut Hasanuddin.[1]
Setelah Banten
dikuasai oleh pasukan Demak dan Cirebon pada tahun 1525, atas
petunjuk dari
Syarif Hidayatullah, pada tanggal 1 Muharram 1526 M. atau 8
Oktober 1526 M,
pusat pemerintahan Banten, yang tadinya berada di pedalaman yakni
di Banten
Girang (3 km dari kota Serang) dipindahkan ke dekat pelabuhan
Banten. Dalam
pemindahan pusat pemerintahan Banten ke pesisir tersebut, Syarif
Hidayatullah pulalah yang menentukan dimana tempat dalem (istana),
benteng, pasar, dan alun-alun harus dibangun. Semakin besar dan
majunya
daerah Banten, maka pada tahun 1552 Banten yang tadinya hanya
sebuah
kadipaten diubah menjadi negara bagian Demak dengan Hasanuddin
sebagai
rajanya, dengan gelar Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan.
1. Konflik Bersenjata antara Banten dan Pajajaran
Masalah
yang dianggap cukup penting dalam kesejarahan Banten adalah
bagaimana usaha
Maulana Hasanuddin dalam menjaga kestabilan politik dan keamanan
negaranya.
Hal ini ada kaitannya juga dengan keadaan negara tetangga, yakni
Kerajaan
Pajajaran, yang jaraknya tidak begitu jauh. Dari proses berdirinya
Kerajaan
Banten, yang secara kewilayahan sangat merugikan Pajajaran,
dapatlah
dipahami apabila kedua negara yang berbeda pandangan hidupnya ini
saling
curiga-mencurigai. Pemerintahan di Banten merasa terancam
keamanannya
kalau-kalau pasukan Pajajaran akan merebut kembali wilayah yang
telah
diduduki tentara Islam, demikian juga sebaliknya. Kecurigaan ini
didukung
dengan banyaknya pertempuran kecil, terutama di daerah perbatasan
kedua
negara, yang masih terus berlangsung sampai 5 tahun. Baru pada tahun
1531
tercapailah kesepakatan damai antara Pajajaran, Banten dan Cirebon
>. Perjanjian ini di tandatangani
oleh Surawisesa, Fatahillah, Hasanuddin dan Cakrabuana.
Di dalam
Kerajaan Pajajaran sendiri, setelah perjanjian damai antara Banten dan
Kerajaan Pajajaran sendiri, setelah perjanjian damai antara Banten dan
Pajajaran ini ditandatangi, Surawisesa, raja Pajajaran saat itu,
berkesempatan untuk menumpas pemberontakan di 15 daerah
kekuasaannya. Dan
baru setelah 2 tahun pemberontakan ini berhasil ditumpas. Pada tahun
1535
Surawisesa meninggal dunia yang kemudian dikuburkan di Padaren.
Surawisesa
atau Ratu Sangiang dikenal dalam naskah babad dengan nama Guru
Gantangan, sedangkan dalam pantun di sebut Mundinglaya Dikusuma.
Penggantinya
adalah Dewata Buana yang dikenal sebagai "raja resi", karena dia
lebih banyak hidup di pertapaan dari pada memperhatikan
pemerintahan
negaranya.
Dalam
pada itu, mungkin karena kecurigaan kepada Pajajaran, Banten
menyusun
pasukan khusus yang mampu bergerak cepat, tanpa membawa nama
Kerajaan
Banten. Pasukan khusus yang dipimpin oleh Pangeran Yusuf, putra
mahkota
Banten, ditugaskan untuk menanggulangi kerusuhan-kerusuhan yang
disebabkan
oleh tentara Pajajaran atau pemberontak di perbatasan. Namun, karena
alasan
yang belum jelas, pasukan ini menyerang serta menguasai beberapa
yang belum jelas, pasukan ini menyerang serta menguasai beberapa
daerah
perbatasan, bahkan akhirnya menyerang ibukota Pakuan. Hanya berkat
kuatnya
benteng yang dibangun Sri Baduga, pasukan penyerang tidak mampu
memasuki kota
>. Akan tetapi
dalam pertempuran ini gugur dua orang senapati tangguh yakni
Tohaan Ratu
Sarendet dan Tohaan Ratu Sangiang. Gagal memasuki ibukota
Pajajaran,
pasukan ini mengalihkan sasaran dengan menguasai daerah
Sumedang, Ciranjang
dan Jayagiri.
Ratu
Dewata memerintah selama 8 tahun (1535 - 1543), penggantinya
adalah Ratu
Sakti yang memerintah secara kejam dan lalim. Banyak penduduk
dihukum mati
dan dirampas hartanya tanpa alasan. Raja ini dicap sebagai melanggar
adat
keraton kerena mengawini seorang putri larangan [2] dari keluaran [3]. yang
dilarang adat secara keras. Bahkan, yang lebih parah, Ratu Sakti pun diketahui memperistri
ibu
tirinya sendiri. Ratu Sakti meninggal pada tahun 1551 dan digantikan
oleh
Sang Nilakenda atau Sang Lumahing Majaya.
Sang
Nilakenda lebih banyak mementingkan hal-hal mistis. Upacara-
upacara mistis
ini menggunakan matra-mantra dalam ketidaksadaran (mabuk). Hal ini
mendorong penghuni istana kepada ketagihan minuman keras.
Pekerjaan raja
hanya berfoya-foya dan menjurus ke arah kemaksiatan. Gejala
demikian
akhirnya menyebar ke seluruh penduduk negeri, sehingga membawa
kelemahan
negara, kekacauan pemerintahan dan penderitaan bagi rakyat
Pajajaran.
Keadaan yang tidak terkendali di Pajajaran ini dianggap berbahaya
bagi
keamanan penduduk Banten, di samping suatu kesempatan baik.
Barangkali ini
pulalah yang mendorong Maulana Hasanuddin untuk segera
mengadakan serangan
ke pusat pemerintahan Pajajaran. Pakuan dengan mudah dikuasai
pasukan
Pangeran Yusuf pada tahun 1567; walaupun Sang Nilakendra sendiri
dapat
meloloskan diri.
Raja
Pajajaran terakhir adalah Ragamulya atau Prabu Surya Kencana. Raja
ini
tidak berkedudukan di Pakuan, melainkan di Pulosari, Pandeglang,
tidak berkedudukan di Pakuan, melainkan di Pulosari, Pandeglang,
sehingga
disebut juga Pucuk Umun (Panembahan) Pulosari. Karena kedudukan
Pulosari demikian sulit ditembus musuh, maka baru pada masa
pemerintahan
Maulana Yusuf --- yang merasa tidak terikat perjanjian dengan
Pajajaran ---
benteng Pulosari ini dapat direbut pasukan Banten dengan susah
payah.
Kejadian ini berlangsung pada Pajajaran sirna ing bhumi ekadaci
weshakamasa sahasra limangatus punjul siji ikang sakakala (tanggal
11
suklapaksa bulan Wesaka tahun 1501 Saka). Dihitung dengan
penanggalan
Masehi dan Hijriah akan jatuh pada tanggal 8 Mei 1579 atau 11 Rabiul
awal
987, hari Jum'at Legi. Pasukan Banten ini dipimpin langsung oleh
Maulana
Yusuf yang berangkat dari Banten pada hari Ahad tanggal 1 Muharam
tahun
Alif dengan sangsakala bumi rusak rekeh iki atau tahun 1501 Saka.
Dari
keterangan di atas, dapatlah diketahui bahwa penyerangan Banten ke
Pajajaran, sedikitnya terjadi dalam 3 gelombang besar:
Pertama, pada masa pemerintahan Ratu Dewata Buana (1535 - 1543) yang dikisahkan :
"Datang na bencana
musuh ganal, tambuh sangkane, prangrang di burwan ageung, pejah
musuh ganal, tambuh sangkane, prangrang di burwan ageung, pejah
Tohaan Ratu
Sarendet jeung Tohaan Ratu Sangiang" (Datang serangan pasukan
tidak diketahui asal usulnya: perang di alun-alun, gugur Tohaan Ratu
Sarendet dan
Tohaan Ratu Sangiang).
Kedua, pada pemerintahan Nilakendra (1551 - 1567) yang dikisahkan: "Alah prengrang
mangka tan nitih
ring kadat-wan" (Kalah perang, karena itu tidak tinggal di
keraton).
Ketiga, pada masa pemerintahan Ragamulya (1567 - 1579) yang dikisahkan: "tembey datang
na prebeda,
bwana alit sumurup ing ganal, metu sanghara ti Selam" (mulailah
datang perubahan, budi tenggelam datang nafsu, muncul bahaya dari
Islam).
2 Usaha
Maulana Hasanuddin dalam
Pengembangan Banten
Usaha
Hasanuddin untuk mengubah satu daerah nelayan kecil menjadi
sebuah
w:st="on">kota
> yang layak
dijadikan ibukota negara, bukanlah satu perbuatan yang mudah.
Dengan
bantuan pasukan Demak, Cirebon dan juga
penduduk di sekitar, pembangunan kota baru ini dapat terlaksana
dengan mulus. Kota Banten, berkembang dengan
pesat.
Mengenai
keadaan fisik kota Banten --- yang kemudian lebih disebut Surosowan
--- di masa mula berdirinya
ini, sangat sulit direkontruksikan karena terbatasnya data.
Digambarkan
oleh Diogo do Couto, yang juga mengikuti perjalanan Francisco de Sa,
bahwa kota
> Banten terletak
di pertengahan pesisir teluk, yang lebarnya sampai tiga mil, dengan
kedalaman antara dua sampai 6 depa. Kota ini panjangnya 850 depa, di
tepi pantai panjangnya 400 depa; masuk ke
dalamnya lebih panjang. Melalui tengah
w:st="on">kota
> ada sungai jernih, di mana kapal jung dan gale dapat berlayar
masuk. Sepanjang pinggiran kota
> ada anak sungai yang hanya perahu
kecil saja bisa masuk. Kota Banten dikelilingi benteng terbuat dari
bata
dan lebarnya tujuh telapak tangan. Bangunan-bangunan pertahanannya
terbuat
dari kayu, terdiri dari dua tingkat yang dilengkapi dengan meriam.
Teluk
Teluk
itu di beberapa tempat berlumpur, dan di beberapa tempat lagi
berpasir;
dalamnya antara dua dan enam depa (Djajadiningrat, 1983:145).
Di
tengah kota terdapat sebuah lapangan luas, disebut alun-alun, yang
digunakan bukan saja
untuk kepentingan kegiatan ketentaraan dan kesenian rakyat juga
digunakan
sebagai pasar di pagi hari. Istana raja terletak di bagian selatan
alun-alun, yang di sampingnya terdapat bangunan datar yang
ditinggikan dan
beratap, disebut srimanganti, yang digunakan sebagai tempat raja
bertatap muka dengan rakyat. Sedangkan sebelah barat alun-alun
didirikan
sebuah masjid agung (Ambary, 1988: 30).
Pemindahan
pusat pemerintahan dari daerah pedalaman ke pesisir sangatlah
menguntungkan
baik dalam bidang politik maupun sosial-ekonomi; dengan kepindahan
pusat
kota itu hubungan dengan negara-negara lain di pesisir Jawa, Sumatra
Barat
dan Malaka, bahkan hubungan dengan negara di luar kepulauan
nusantara pun
akan lebih mudah. Pelabuhan Banten, yang pada masa Pajajaran hanya
menjadi
menjadi
pelabuhan kedua setelah Kalapa, pada masa Maulana Hasanuddin
telah berubah
menjadi bandar besar yang menjadi persinggahan utama dan
penghubung antara
pedagang dari Arab, Parsi, India dan Cina dengan negara-negara di
Nusantara. Situasi demikian berkaitan dengan keadaan peta politik di
Asia Tenggara; setelah Malaka dikuasai Portugis. Dengan keadaan itu,
Banten, yang berada
di tengah perdagangan rempah-rempah ke dan dari Maluku, menjadi
tempat
untuk membeli bekal perjalanan, tempat perdagangan rempah-rempah
dan barang
dagangan lain dari luar negeri (Tjandrasasmita, 1975: 322).
Pedagang-pedagang dari Arab, Persi, Gujarat,
Birma, Cina dan negara-negara lain datang secara berkala di Banten;
demikian juga pedagang dari Nusantara.
Maulana
Hasanuddin, dalam usahanya membangun dan mengembangkan kota
> Banten, lebih menitikberatkan pada
pengembangan di sektor perdagangan, di samping memperluas daerah
pertanian
dan perkebunan. Ia berusaha mendorong peningkatan pendapatan
rakyatnya
dengan melalui pertumbuhan pasar yang cepat. Karena Banten
menjadi tempat persinggahan perdaganan rempah-rempah dari Eropa
maupun Asia dan juga daerah-daerah di nusantara, maka Banten pun
harus mempunyai
persediaan lada yang cukup, yang pada waktu itu menjadi hasil
perdagangan
utama. Hasil lada ini diambil dari daerah Banten sendiri dan daerah
lain di
bawah kuasa Banten, yaitu Jayakarta, Lampung dan Bengkulu.
Perkebunan lada
di daerah-daerah itu diperluas untuk memenuhi kebutuhan
perdagangan yang
berkembang (Tjandrasasmita, 1975: 323).
Untuk
menggambarkan ramainya perdagangan di Banten ini diceritakan oleh
Willem
Lodewycks (1596) sebagai berikut (Chijs, 1889:53-56):
"Di
Banten ada tiga pasar yang dibuka setiap hari. Yang pertama dan
terbesar
terletak di sebelah timur kota (Karangantu). Di sana banyak ditemukan
pedagang-pedagang asing dari Portugis, Arab, Turki, Cina, Quilon
(India
>), Pegu (Birma), Melayu, Benggala,
w:st="on">Gujarat
>, Malabar, Abesinia dan dari seluruh
nusantara. Mereka berdagang sampai pukul sembilan pagi. Pasar
nusantara. Mereka berdagang sampai pukul sembilan pagi. Pasar
kedua
terletak di alun-alun dekat masjid agung, yang dibuka sampai tengah
hari
bahkan sampai sore. Di pasar ini diperdagangkan merica, buah-
buahan,
senjata keris, tombak, pisau, meriam kecil, kayu cendana, tekstil, kain
putih untuk bahan batik, binatang peliharaan, kambing dan sayuran.
Orang-orang Cina menjual benang sulam, sutra, damast, porselen dan
lain-lain. Di sini juga dijual rempah-rempah dan obat-obatan.
Demikian
besarnya pasar kedua ini sehingga ujungnya hampir menyambung
dengan pasar
pertama di pelabuhan. Pasar ketiga terletak di daerah Pacinan yang
dibuka
setiap hari sampai malam".
Cara
jual-beli di Banten, pada saat itu, banyak yang masih menggunakan
sistem
barter; menukar barang dengan barang yang lain, terutama di daerah
pedalaman. Di antara daerah yang dibawa dari daerah pedalaman
berupa hasil
bumi terutama beras dan lada, ditukar dengan kebutuhan sehari-hari
seperti
garam, pakaian, dan lain-lain. Hasil bumi di atas itulah yang kemudian
oleh
pedagang di jual kembali sebagai barang eksport. Selain sistem barter,
di Banten juga dikenal adanya uang sebagai alat tukar. Tome Pires
menceritakan bahwa mata uang yang biasa digunakan adalah real
banten dan cash cina (caxa).
Jumlah
penduduk kota Banten pada masa Maulana Hasanuddin belum
ditemukan data yang
pasti; namun melihat kemampuan Banten mengirimkan 7000
tentaranya ke
Pasuruan tahun 1546 untuk membantu Demak menaklukkan daerah itu
(Djajadiningrat, 1983:84), terlihat, betapa cukup padatnya kota ini.
Kalau
perbandingan antara banyaknya tentara dengan penduduk biasa 1 : 10
saja,
maka paling tidak penduduk kota Banten saat itu ada sekitar 70.000
jiwa.
Karena
banyaknya pedagang muslim yang, selain aktif berniaga juga aktif
menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk negeri, maka di Banten
terkumpul
beberapa ulama yang mengajarkan Islam kepada siapa saja. Akhirnya,
Banten
pun menjadi pusat penyebaran ajaran Islam untuk daerah Jawa Barat
dan
sebagian Sumatra. Banyak santri (pelajar) dari luar daerah yang
sengaja datang ke Banten untuk belajar
ilmu-ilmu agama, sehingga tumbuhlah beberapa perguruan Islam,
seperti di
Kasunyatan. Di tempat ini berdiri Masjid Kesunyatan yang umurnya
lebih tua
dari Masjid Agung Banten (Ismail, 1983: 35). Di sini pulalah tempat
tinggal
dan mengajar Kiyai Dukuh yang kemudian bergelar Pangeran
Kesunyatan, guru
Pangeran Yusuf (Djajadiningrat, 1983:163). Di samping membangun
Mesjid
Agung di dekat alun-alun, Maulana Hasanuddin juga memperbaiki
mesjid di
Pacinan dan Karangantu (Ambary, 1978:1 dan Michrob, 1984:5).
Masjid Agung
dan masjid di Pacinan ini mempunyai atap tumpang limasan dalam
w:st="on">lima
> susun, dan ini
menjadi model mesjid-mesjid kuno di Jawa, seperti Masjid Demak,
Sendang
Duwur dan sebagainya.
3. Banten
Melepaskan Diri dari Kuasa Demak
Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Fattah (Raden Patah)
atau Pangeran Jinbun sekitar tahun 1500. Ia adalah putra Prabu
Brawijaya
Brawijaya
Kertabhumi, raja Majapahit terakhir, dari seorang selir asal Cina
(Djajadiningrat, 1983: 266; Muljana, 1968: 95).
Pada
tahun 1478 terjadilah penyerbuan terhadap Majapahit oleh Kediri
>. Prabu Brawijaya gugur dalam
pertempuran itu, dibunuh oleh Senapati Udara, seorang patih
w:st="on">Kediri
>. Dengan
demikian Prabu Giri Indra Wardhana, Raja Kediri, mengambil alih
kekuasaan
Majapahit. Tapi pada tahun 1498 Prabu Indra Wardhana dibunuh pula
oleh
Patih Udara dalam satu pemberontakan, yang kemudian, Patih Udara
mengangkat
dirinya menjadi Raja Majapahit dengan gelar Prabu Udara.
Perubahan
politik di pusat pemerintahan Majapahit ini merupakan salah satu
faktor
yang mendorong semangat Raden Fattah untuk lebih giat lagi
mengembangkan
daerahnya, Bintaro, menjadi daerah kuat dengan santri-santrinya yang
dididik keprajuritan. Di samping itu, penyebaran agama Islam lebih
ditingkatkan sehingga sebagian besar masyarakat pesisir utara Jawa
memeluk
memeluk
agama Islam. Hal ini dapat dikaitkan dengan dorongan moril Sunan
Giri
kepada Raden Fattah bahwa dialah yang lebih berhak menjadi raja
Majapahit
dibandingkan dengan Prabu Udara. Dengan kata lain, jika Raden
Fattah
menyerang Prabu Udara dalam rangka merebut pusat pemerintahan
Majapahit,
maka peristiwa tersebut ditafsirkan sebagai usaha untuk mengambil
pusaka
orang tuanya sendiri. Karenanya, beberapa raja di pesisir utara Jawa
menganggap pemerintahan Prabu Udara atas Majapahit ini tidak sah.
Hubungan
yang tidak harmonis antara daerah-daerah pesisir utara dangan pusat
pemerintahan Majapahit, mengakibatkan ekonomi menjadi lemah.
Karena
sebagaimana telah dijelaskan, bahwa daerah-daerah pesisir utara Jawa
adalah
kota-kota pelabuhan dagang, yang merupakan sumber pemasukan
devisa yang
sangat potensial untuk kas negara, melalui perdagangan ekspor-
impornya.
Krisis ekonomi yang berkepanjangan ini pada gilirannya merusak
kesatuan
sosial kehidupan masyarakat dan secara tidak langsung ikut
melemahkan
kekuatan Majapahit.
Dalam
keadaan kerajaan yang tidak menentu akibat penolakan rakyat secara
the
jure terhadap pemerintahannya, pengaruh Islam maju cukup pesat di
pesisir utara Jawa, ditambah keadaan kehidupan sosial-ekonomi rakyat
yang
semakin memburuk --- yang pada akhirnya menyebabkan kewibawaan
pemerintah
pusat menurun --- maka Prabu Udara mengadakan hubungan
persahabatan dengan
Portugis di Malaka.
Dengan
membawa hadiah-hadiah yang berharga, pada tahun 1512
berangkatlah utusan
Majapahit menemui Alfonso d'Albuquerque di Malaka (Berg, 1952:
385).
Mendengar tindakan Prabu Udara itu, Raden Fattah dibantu beberapa
raja
pesisir segera mengadakan penyerangan besar-besaran terhadap
Majapahit pada
tahun 1517. Melalui pertempuran hebat dan banyak memakan korban
akhirnya
Majapahit dapat dikalahkan. Prabu Udara dan beberapa pengikut
setianya
melarikan diri ke Bali, Pasuruan dan
Blambangan. Semua barang kebesaran Majapahit dipindahkan ke
Bintaro, yang
selanjutnya menjadi ibu kota Kerajaan Demak. Maka pada masa
Raden Fattah, di Pulau Jawa hanya ada dua
kerajaan Hindu, yakni Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat dan Kerajaan
Blambangan di Pasuruan.
Raden
Fattah mempunyai tiga orang putra: Pangeran Muhammad Yunus,
Pangeran Sekar
Seda Lepen dan Pangeran Trenggono. Sebagai putra raja, mereka
dilatih dalam
urusan pemerintahan untuk dipersiapkan menjadi pemimpin negara
sepeninggal
orang tuanya. Dalam hal ini, Muhammad Yunus, sebagai putra tertua,
diangkat
menjadi Patih Demak, yang bertugas sebagai pendamping raja dalam
segala
urusan kenegaraan; sehingga ia disebut Patih Yunus atau Patih Unus.
Patih
Yunus yakin bahwa Portugis adalah musuh besar umat Islam. Mereka
selalu
berusaha menghancurkan negara-negara Islam. Ini mereka buktikan
sendiri
dengan menjajah Kesultanan Malaka dan di Malaka pedagang-
pedagang yang
beragama Islam selalu dipersulit dengan berbagai peraturan dan pajak
yang
yang
tinggi. Orang Portugis bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan Hindu
untuk
menghancurkan Kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan Hindu lebih
senang
bersahabat dengan bangsa asing, Portugis, dibanding bersahabat
dengan
kerajaan Islam di Jawa. Persahabatan Majapahit dengan Portugis lebih
meyakinkan Patih Yunus untuk menyerang dan menghancurkan
Portugis di
Malaka.
Maka
pada tahun 1512, setelah mendapatkan izin ayahnya, bersama dengan
90 buah
kapal jung yang berkekuatan 12.000 prajurit dilengkapi dengan
meriam-meriam buatan sendiri, berangkatlah armada Demak ke
Malaka. Perang
besar terjadi di Selat Malaka pada tahun 1513, tapi karena pertahanan
armada Portugis lebih kuat dan lebih berpengalaman dalam
pertempuran laut,
maka pasukan Demak pulang dengan membawa kekalahan. Patih
Yunus sendiri
pulang dengan sebuah jung ke Jepara, bandar kerajaan Demak. Setelah
penyerangan Malaka itu, Patih Yunus bergelar Pangeran Sabrang Lor
(Berg, 1952: 385).
Raden
Fattah meninggal pada tahun 1518, kemudian tahta Demak digantikan
oleh
Pangeran Muhammad Yunus. Muhammad Yunus meninggal dunia
pada tahun 1521
dengan tidak meninggalkan putra, oleh karena itu adiknyalah yang
berhak
menggantikan sebagai raja Demak. Kedua adik Muhammad Yunus,
yakni Pangeran
Sekar Seda Lepen dan Pangeran Trenggono sama-sama ingin menjadi
raja, maka
terjadilah perebutan pengaruh di antara keduanya. Apabila hal
demikian
didiamkan, dikhawatirkan akan terjadi perang saudara yang akan
menimbulkan
perpecahan dan menelan banyak korban. Pikiran semacam inilah yang
mendorong
Pangeran Mu'min atau dikenal dengan nama Sunan Prawoto, anak
sulung
Pangeran Trenggono, membunuh Pangeran Sekar Seda Lepen. Dengan
demikian
maka Pangeran Trenggono diangkat menjadi Raja Demak pada tahun
1521 sampai
tahun 1546 (Hamka, 1976: 158-160).
Pada
kurun pemerintahan Trenggono, perluasan pengaruh Islam mengalami
kemajuan
yang pesat di Jawa. Tahun 1527, dikuasainya wilayah Jawa Barat.
Kemudian
Kemudian
pada tahun 1546 diadakan penyerangan ke Pasuruan, Panarukan, dan
Supit
Urang, sebagai daerah-daerah penting Kerajaan Blambangan. Dalam
usaha
memperluas pengaruh Islam di Jawa Timur ini, Banten mengirimkan
7.000
prajurit pilihan yang langsung dipimpin oleh Fatahillah untuk
membantu
pasukan Demak. Walaupun ketiga daerah tersebut dapat dikuasainya,
tapi
Trenggono sendiri gugur dalam satu pertempuran.
Tahta
Demak kemudian dipegang oleh Sunan Prawoto, anak tertua
Trenggono. Tapi
baru satu tahun ia memerintah Demak, Sunan Prawoto dibunuh oleh
misannya
Arya Penansang, putra Pangeran Sekar Seda Lepen, sebagai tindakan
balas
dendam. Anak Sunan Prawoto, yaitu Pangeran Pangiri, juga akan
dibunuhnya
pula, namun tidak berhasil, karena Pangeran Pangiri lebih dahulu
meloloskan
diri dan berlindung kepada Pangeran Hadiri, Adipati Kalinyamat.
Akhirnya,
Pangeran Hadiri pun dibunuh oleh suruhan Arya Penansang (Berg,
1952: 390).
Krisis
kepemimpinan di pusat kerajaan Demak ini berlangsung cukup lama,
yaitu
sekitar 21 tahun (1547 - 1568). Kefakuman kepemimpinan Demak ini
baru
berakhir setelah Jaka Tingkir, menantu Trenggono, dapat membunuh
Arya
Penansang dalam suatu pertempuran sengit. Jaka Tingkir dinobatkan
menjadi
penguasa di Demak dengan gelar Sultan Adiwijoyo dan pusat
pemerintahan
dipindahkan ke Pajang; sedangkan Demak dijadikan kadipaten dengan
Arya
Pangiri sebagai bupatinya. Sultan Adiwijoyo memerintah selama 16
tahun
(1568 - 1586), yang kemudian tewas dalam pertempuran melawan
pasukan
Mataram yang dipimpin oleh Sutowijoyo.
Kemelut
berkepanjangan yang melanda pemerintahan ini menyebabkan
kerajaan Demak
menjadi lemah dalam segala bidang kehidupan. Keadaan ini
mengakibatkan
Demak kehilangan kewibawaannya di mata dunia internasional,
sedang dalam
waktu yang bersamaan, Banten, mengalami kemajuan dalam segala
segi. Situasi
demikianlah yang mendorong Hasanuddin mengambil keputusan
untuk melepaskan
Banten dari pengawasan Demak. Banten menjadi kerajaan yang berdiri
sendiri,
dengan Maulana Hasanuddin sebagai raja pertamanya. Sedang wilayah
kekuasaannya pada waktu itu meliputi Banten, Jayakarta sampai
Kerawang,
Lampung, Indrapura sampai Solebar (Djajadiningrat, 1983: 38).
Tindakan
Hasanuddin melepaskan diri dari pengawasan Demak ini dianggap
sangat
penting, karena di samping untuk kemajuan pengembangan daerah
Banten, juga,
berarti Hasanuddin tidak mau ikut terlibat dalam keributan di
pemerintahan
Demak, yang masih terhitung famili dekat. Dengan
ketidakterikatannya dengan
Demak, maka dalam masa pemerintahan Maulana Hasanuddin selama
18 tahun
(1552 - 1570), banyak kemajuan yang diperoleh Banten dalam segala
bidang
kehidupan (Djajadiningrat, 1983:181).
Dalam
kehidupan pribadi Maulana Hasanuddin, dari pernikahannya pada
tahun 1526
dengan putri Raja Demak, Trenggono, yang bernama Pangeran Ratu
(Ratu Ayu
(Ratu Ayu
Kirana), dikarunia anak : Ratu Pembayun, Pangeran Yusuf, Pangeran
Arya,
Pangeran Sunyararas, Pangeran Pajajaran, Pangeran Pringgalaya, Ratu
Agung
atau Ratu Kumadaragi, Pangeran Molana Magrib dan Ratu Ayu
Arsanengah.
Sedang anak dari istri yang lainnya: Pangeran Wahas, Pangeran Lor,
Ratu
Rara, Ratu Keben, Ratu Terpenter, Ratu Wetan dan Ratu Biru. Ratu
Pembayun
kemudian menikah dengan Ratu Bagus Angke putra Ki Mas Wisesa
Adimarta yang
selanjutnya mereka tinggal di Angke daerah Jayakarta (Djajadiningrat,
1983:128).
Maulana
Hasanuddin wafat pada tahun 1570 dan dikuburkan di samping Masjid
Agung.
Setelah kematiannya Maulana Hasanuddin dikenal dengan sebutan
Sedakinking kemudian sebagai gantinya dinobatkanlah Pangeran
Yusuf menjadi Raja Banten
ke-2.
B. MAULANA YUSUF
(1570 - 1580)
Masa
pemerintahan Maulana Hasanuddin, pembangunan negara lebih
dipusatkan pada
bidang keamanan kota, perluasan wilayah perdagangan, di samping
penyebaran dan
pemantapan kepercayaan rakyat kepada ajaran Islam; sedangkan pada
masa
Maulana Yusuf strategi pembangunan lebih dititikberatkan pada
pengembangan
kota, keamanan wilayah, perdagangan dan pertanian. Tahun 1579,
pasukan
Banten dapat merebut Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran
(Djajadiningrat,
1983:153). Ponggawa-ponggawa yang ditaklukkan lalu di-islamkan
dan
masing-masing dibiarkan memegang jabatannya semula
(Djajadiningrat, 1983:
37). Dengan demikian, gangguan keamanan yang dikhawatirkan
datang dari Pajajaran sudah berkurang. Maulana Yusuf dapat lebih
memusatkan perhatiannya pada
pembangunan sektor ekonomi dan pertanian.
Pada
masa pemerintahan Maulana Yusuf, perdagangan sudah demikian
maju sehingga
Banten merupakan tempat penimbunan barang-barang dari segala
penjuru dunia
yang nantinya disebarkan ke seluruh kerajaan di Nusantara (Sutjipto,
1961:13). Situasi perdagangan di Karangantu, sebagai pelabuhan
Banten,
Banten,
digambarkan sebagai berikut : Pedagang-pedagang dari Cina
membawa uang
kepeng yaitu uang yang terbuat dari timah, porselen, sutra, beludru,
benang
emas, kain sulaman, jarum, sisir, payung, selop, kipas, kertas, dan
sebagainya. Pulangnya mereka membawa lada, nila, kayu cendana,
cengkeh,
buah pala, kulit penyu dan gading gajah. Orang Arab dan
w:st="on">Persia
> membawa permata dan obat-obatan. Orang Gujarat menjual kain
dari kapas dan sutra, kain putih dari Coromandel. Pulangnya
mereka membeli rempah-rempah. Sedangkan orang Portugis
mambawa kain-kain
dari Eropa dan India.
Barang-barang
dari luar negeri ini diambil oleh pedagang-pedagang dari Jawa,
Makasar,
Sumbawa, Palembang dan lainnya. Ke Banten pedagang-pedagang ini
membawa garam dari Jawa Timur,
gula dari Jepara dan Jayakarta, beras dari Makasar dan Sumbawa, ikan
kering
dari Karawang, Banjarmasin dan Palembang. Minyak kelapa dari
Belambangan,
rempah-rempah dari Maluku, lada dari Lampung dan Solebar, kayu
cendana dari
kepulauan Sunda kecil, gading gajah dari Andalas, tenunan dari Bali
dan
Sumbawa, timah putih dan timah hitam dari Perak, Kedah dan Ujung
Selong di
Malaka, besi dari Karimata, damar dari Banda dan Banjarmasin
(Sanusi Pane,
1950:182).
1. Pengembangan
Kota Banten
Dengan
majunya perdagangan maritim di Banten, maka kota Surosowan, sejak
pindahnya kota ini dari Wahanten
Girang tanggal 8 Oktober 1526 M dikembangkan menjadi kota
> pelabuhan terbesar di Jawa (Michrob,
dkk., 1990). Babad Banten pupuh XXII menyatakan: Gawe Kuta
baluwarti
bata kalawan kawis yang artinya: membangun kota
> dan perbentengan dari bata dan
karang. Dari awal dinasti Maulana Yusuf inilah Banten menjadi ramai
baik oleh penduduk pribumi maupun pendatang. Oleh karenanya
dibuatlah
aturan penempatan penduduk sesuai dengan keahlian dan asal daerah
penduduk
itu (Ambary, 1977:448). Sehingga tumbuhlah perkampungan untuk
orang India,
orang India,
perkampungan orang Pegu, orang Arab, Turki, Persia, Siam, Cina dan
sebagainya. Di samping ada pula perkampungan untuk orang Melayu,
Ternate,
Banjar, Bugis, Makasar, Bali (Tjandrasasmita, 1975:160).
Perkampungan
untuk orang asing biasanya ditempatkan di luar tembok kota
>. Seperti Kampung Pekojan yang
terletak di sebelah barat pasar Karangantu diperuntukkan bagi
pedagang-pedagang muslim yang berasal dari Arab, Gujarat,
Mesir dan Turki. Kampung Pecinan terletak di sebelah barat Masjid
Agung di
luar batas kota,
diperuntukkan bagi pendatang dari Cina. Kampung Panjunan tempat
pemukiman
tukang anjun (gerabah, periuk, belanga, dan sebagainya). Kampung
Kepandean
tempat pandai besi, Pangukiran tempat tukang ukir, Pagongan tempat
pembuat
gong dan gemelan, Sukadiri tempat pengecoran logam, dan pembuatan
senjata
perang (Tjandrasasmita, 1975:162). Demikian juga untuk golongan
birokrasi
tertentu, seperti : Kademangan tempat demang, Kesatrian, tempat para
senopati, perwira dan para prajurit istana, Kefakihan tempat ulama-
senopati, perwira dan para prajurit istana, Kefakihan tempat ulama-
ulama
hukum Islam, dan sebagainya (Michrob, 1981:74).
Pengelompokan
pemukiman ini bukan saja dimaksudkan untuk kerapihan dan
keserasian
w:st="on">kota
> tetapi yang
lebih penting adalah untuk keamanan. Setiap kampung secara
bersama-sama
dapat segera mencegah pencurian, perampokan dan kebakaran yang
sering
terjadi (Chijs, 1881:66). Yang akhirnya, ini pun dapat merupakan
upaya
penyebaran dan perluasan kota (Michrob, 1981:31).
Tembok
keliling kota diperkuat dan dipertebal, demikian juga tembok benteng
di sekeliling
istana. Tembok benteng diperkuat dengan lapisan luar yang terbuat
dari bata
dan batu karang dengan parit-parit di sekelilingnya (Djajadiningrat,
1983:144, Michrob, 1983:31). Perbaikan Masjid Agung pun
dikerjakannya, dan
sebagai kelengkapan dibuatlah menara dengan bantuan Cek Ban Cut
arsitek
muslim asal Mongolia (Ismail, 1983).
Di
samping mengembangkan pertanian yang sudah ada, Maulana Yusuf
pun mendorong
rakyatnya untuk membuka daerah-daerah baru bagi persawahan,
sehingga sawah
di Banten bertambah luas sampai melewati daerah Serang sekarang.
Sedangkan
untuk memenuhi kebutuhan air bagi sawah-sawah tersebut, dibuatlah
terusan-terusan irigasi dan bendungan-bendungan (Djajadiningrat,
1983:38
dan 59).
Bagi
persawahan yang terletak di sekitar kota, dibangun satu danau buatan
yang dinamakan Tasikardi. Air dari sungai
Cibanten dialirkan melalui terusan khusus ke danau ini, yang
kemudian
dibagi ke daerah-daerah di sekitar danau. Tasikardi juga digunakan
bagi
pemenuhan kebutuhan air bersih bagi kebutuhan masyarakat di
w:st="on">kota
>. Dengan melalui
pipa-pipa yang terbuat dari terakota, setelah dibersihkan/ diendapkan
di pengindelan abang dan pengindelan putih, air yang sudah jernih
tersebut
dialirkan ke keraton dan tempat-tempat lain di dalam kota
>. Di tengah danau buatan tersebut
>. Di tengah danau buatan tersebut
terdapat pulau kecil yang digunakan untuk tempat rekreasi keluarga
keraton.
Dari
permaisuri Ratu Hadijah, Maulana Yusuf mempunyai
dua anak
yaitu Ratu Winaon dan Pangeran Muhammad, sedangkan dari istri-
istri lainnya
baginda dikaruniai anak antara lain: Pangeran Upapati, Pangeran
Dikara,
Pangeran Mandalika atau Pangeran Padalina, Pangeran Aria
Ranamanggala,
Pangeran Mandura, Pangeran Seminingrat, Pangeran Dikara (lagi),
Ratu Demang
atau Ratu Demak, Ratu Pacatanda atau Ratu Mancatanda, Ratu
Rangga, Ratu
Manis, Ratu Wiyos dan Ratu Balimbing (Djajadiningrat, 1983:39).
Pada
tahun 1580, Maulana Yusuf mangkat dalam usia 80 tahun dan
dimakamkan di
Pakalangan Gede dekat Kampung Kesunyatan sekarang, karenanya
setelah
meninggal Maulana Yusuf diberi gelar Pangeran Penembahan
Pekalangan Gede atau Pangeran Pasarean. Sebagai penggantinya,
diangkatlah Pengeran
Muhammad, anak Maulana Yusuf yang pada waktu itu baru berusia 9
tahun
(Djajadiningrat, 1983-163).
2. Peristiwa
menjelang wafatnya Maulana Yusuf
Ketika
Maulana Yusuf sakit keras, datanglah Pangeran Aria Jepara dengan
membawa
pasukan besar ke Banten dengan maksud untuk menjeguk. Pangeran
Aria Jepara
dengan pasukannya yang dipimpin oleh Ki Demang Laksamana,
kemudian
ditempatkan di Pagebangan di luar tembok batas
w:st="on">kota
>. Pangeran Jepara adalah adik dari
Maulana Yusuf yang pendidikannya diserahkan kepada bibinya Ratu
Kalinyamat
di Jepara. Mendengar wafatnya Maulana Yusuf yang kemudian
digantikan
Pangeran Muhammad yang masih kecil itu, timbullah niat Pangeran
Aria untuk
menjadi pengganti Raja Banten. Keinginan ini mendapat sambutan
baik dari
Patih Mangkubumi yang semenjak Sultan sakit memegang kendali
pemerintahan.
Melihat keadaan demikian, Kadhi (hakim), Senapati Pontang, Dipati
Jayanegara, Ki Waduaji dan Ki Wijamanggala yang ditunjuk sebagai
Wali
Sultan, mengirim surat kepada Mangkubumi supaya Mangkubumi
tetap setia
kepada raja yang baru saja mangkat. Sindiran halus ini dapat dipahami
oleh
Mangkubumi, sehingga diadakanlah rapat di antara pembesar-
pembesar istana
tanpa diketahui Pangeran Aria Japara. Akhirnya disetujuilah usul
supaya
Pangeran Muhammad tetap diangkat menjadi Raja, sedangkan roda
pemerintahan
untuk sementara tetap ditangani oleh Patih Mangkubumi sampai Putra
Mahkota
dewasa.
Diaturlah
cara menyampaian berita itu kepada Pangeran Japara agar tidak terjadi
pertumpahan darah diantara para saudara sepupu yang akan
menambah kedukaan
rakyat Banten. Mangkubumi pergi dengan membawa seekor gajah
kerajaan
menemui Pangeran Japara di luar kota,
dan minta supaya Pangeran menaiki gajah tersebut dengan memakai
pakaian
kebesaran lengkap ke keraton, seolah-olah memang usul Pangeran
Japara
diterima rakyat. Dengan diapit oleh Mangkubumi dan Ki Demang
diterima rakyat. Dengan diapit oleh Mangkubumi dan Ki Demang
Laksamana,
Pangeran Japara dan pasukannya beriringan pergi ke keraton. Sampai
di tepi
sungai di luar tembok benteng keraton, sebelum darpalagi,
Mangkubumi
memberi aba-aba untuk berhenti. Di seberang sungai, di bawah atap
srimanganti, yaitu gerbang di luar istana, sudah menanti Putra
Mahkota yang duduk dalam
pangkuan Kadhi dikelilingi para ponggawa dan para menteri kerajaan
dengan
pasukan Banten yang cukup kuat. Selanjutnya, Mangkubumi
menyeberangi sungai
sendirian, untuk kemudian menyiagakan pasukan Banten supaya
waspada apabila
terjadi yang tidak dikehendaki.
Setelah
persiapan beres, Mangkubumi kembali menemui Pangeran Jepara, dan
mengatakan
bahwa ia diperintahkan Putra Mahkota untuk menghalang-halangi
Pangeran
Jepara dan rombongan menyeberangi sungai, dan dengan segala
hormat minta
supaya Pangeran segera meninggalkan Banten dengan kapal-kapal
yang telah
disediakan. Mengetahui muslihat Mangkubumi itu, marahlah Pangeran
Jepara
dan memerintahkan pasukannya untuk menyerbu keraton. Maka
dan memerintahkan pasukannya untuk menyerbu keraton. Maka
terjadilah
pertempuran hebat di luar benteng istana. Dalam pertempuran itu Ki
Demang
Laksamana tewas di tangan Mangkubumi sehingga akhirnya pasukan
Pangeran
Aria Japara melarikan diri kembali ke Jepara. Setelah kejadian tersebut
dinobatkanlah Pangeran Muhammad menjadi Raja Banten ke-3
dengan gelar Kanjeng Ratu Banten Surosowan. Kadhi menyerahkan
perwaliannya kepada Mangkubumi
(Djajadiningrat, 1983: 39-41).
C. MAULANA MUHAMMAD KANJENG RATU
BANTEN SUROSOWAN (1580 - 1596)
Keadaan
Banten pada masa Maulana Muhammad ini dapat kita ketahui dari
kesaksian
Willem Lodewycksz, juru tulis Cornelis de Houtman yang mendarat di
pelabuhan Banten pada tahun 1596. Dari catatan mereka dapatlah
diketahui
keadaan kota Banten secara lebih jelas.
Ketika itu,
Banten telah mempunyai tembok-tembok yang tebalnya lebih dari
depa orang dewasa dan terbuat dari bata merah. Tembok-tembok itu
tidak mempunyai
menara-menara, melainkan semacam tiang gantungan setinggi tiga
stagie yang terbuat dari kayu besar (kira-kira 3 m). Orang dapat
melayari
w:st="on">kota
> seluruhnya
melalui banyak sungai. Diperkirakan besar Kota Banten sebesar
w:st="on">kota
> Amsterdam pada
tahun 1480 ketika kota itu dikelilingi tembok untuk pertama kalinya.
(Chijs, 1881:18 dan Djajadiningrat,
1983:144).
Mulai
dari pintu gerbang besar istana sampai di luar, terdapat bangunan-
bangunan:
made bahan, tempat tambak baya melakukan jaga, made mundu dan
made gayam, selanjutnya sitiluhur atau sitihinggil yang di dekatnya
terdapat bangunan untuk gudang senjata dan kandang kuda
kerajaan. Kemudian terdapat pakombalan yaitu penjagaan untuk
"wong gunung". Di sebelah utara terdapat tempat perbendaharaan
dan di sebelah barat berdiri masjid dengan menara di sampingnya.
Kemudian
terdapat satu perkampungan yang disebut Candi Raras, yang di
antaranya terdapat bangunan-bangunan made bobot dan made sirap.
Di sebelah timur made bobot terdapat mandapa yaitu suatu
bangunan terbuka yang di sana dipasang meriam Ki Jimat yang
mengarah ke utara. Dekat srimanganti terdapat waringinkurung dan
watugilang. Di tepi sungai
terdapat panyurungan atau galangan kapal kerajaan. Di sebelah barat
laut terdapat pasar dan di sebelah baratnya terdapat masjid besar
kerajaan.
Dekat panyurugan terdapat tonggak yang mengikat gajah raja yang
bernama Rara Kawi. Di sebelahnya terdapat jembatan besar dari kayu
jati melintasi sungai yang selanjutnya terdapat jalan raya dengan pagar
kembar menuju ke arah utara ke perbentengan. Perbentengan sebelah
dalam
atau baluwarti dalem disebut lawang sademi atau lawang
seketeng yang di sebelah baratnya berdiri pohon beringin besar dan
perbentengan Sambar Lebu (Djajadiningrat, 1983:57).
Banten
mempunyai kapal perang yang menyerupai kapal galai dengan dua
tiang
layar. Keistimewaan kapal ini mempunyai serambi yang sempit
dengan geladak
luas. Hal ini memungkinkan tentara lebih leluasa bergerak dalam
perang. Di
bagian depannya ditempatkan empat pucuk meriam. Sedangkan ruang
pengayuh
ditempatkan di bagian bawah. Untuk perjalanan jauh seperti ke
Maluku, Banda,
Kalimantan, Sumatra dan Malaka digunakan kapal
jung besar dengan layar kecil di depannya. Di samping itu ada juga
perahu-perahu lesung kecil yang bisa berlayar dengan cepat yang
belum
pernah dilihat oleh orang Belanda sebelumnya (Tjandrasasmita,
1975:17-18).
Setiap kapal asing yang hendak berlabuh di Bandar Banten diharuskan
melalui
semacam pintu gerbang dan membayar bea masuk (Michrob, 1984:5).
Tentang
pasar sebagai pusat perekonomian, dapat dilihat dari catatan Willem
Lodewyckz yang mengatakan sebagai berikut: "Di sebelah timur
w:st="on">kota
> yaitu daerah Karangantu, terdapat sebuah pasar
yang pagi maupun siang terdapat pedagang-pedagang dari Portugis,
Arab,
Turki, Cina, Keling, Pegu, Malaya, Bengali, Gujarat,
Malabar dan Abesinia. Juga terdapat pedagang-pedagang dari
Nusantara
seperti dari Bugis, Jawa dan lain-lain. Pasar kedua terletak di Paseban,
yang memperdagangkan keperluan sehari-hari. Dan pasar ke tiga
terletak di
Pacinan yang dibuka sebelum dan sesudah pasar-pasar lain tutup.
Barang-barang yang diperdagangkan di pasar ketiga ini bermacam
ragam, mulai
dari kain sutra dari Cina dan Gujarat sampai sisir dan kipas.
Diceritakan pula, bahwa barang-barang tekstil dari Gujarat
> ini 20 jenis. Transansi perdagangan di pasar
ini berjalan mudah, karena mata uang dan pertukaran mata uang
(money
changer) sudah dikenal” (Tjandrasasmita, 1975: 218-231).
Maulana
Muhammad terkenal sebagai orang yang shaleh[4]. Untuk kepentingan
menyebaran agama Islam ia banyak mengarang kitab-kitab agama yang kemudian di-wakaf-
kan kepada yang membutuhkan. Sultan sangat hormat kepada gurunya yang bernama
Kiyai Dukuh yang bergelar Pangeran Kasunyatan di Kampung
Kesunyatan
(Djajadiningrat, 1983:39 dan 164). Untuk sarana ibadat dibangunnya
masjid-masjid sampai ke pelosok-pelosok yang di
w:st="on">sana
> terdapat banyak masyarakat muslim.
Dalam shalat berjamaah terutama pada shalat Jum'at dan Hari Raya,
Sultan
yang selalu menjadi imam dan khotib. Mesjid Agung yang terletak di
tepi
alun-alun diperindahnya. Tembok masjid dilapisi dengan porselen dan
tiangnya dibuat dari kayu cendana (Michrob, 1981:32). Untuk tempat
shalat
perempuan disediakan tempat khusus yang disebut pawestren atau
pawadonan (Tjandrasasmita, 1975:131-132).
Peristiwa
yang menonjol pada masa Maulana Muhammad adalah peristiwa
penyerbuan ke Palembang
>. Kejadian
ini bermula dari hasutan Pangeran Mas yang ingin menjadi raja di
w:st="on">Palembang
>. Pangeran
Mas adalah putra dari Aria Pangiri, putra dari Sunan Prawoto atau
Pangeran
Mu'min dari Demak. Aria Pangiri tersisih dua kali dari haknya
menjadi raja
di Demak, dan karena ketahuan hendak melepaskan diri dari kuasa
Mataram,
Sutawijaya, raja Mataram, hendak membunuhnya. Tapi atas bujukan
istrinya hal itu tidak dilakukannya setelah Aria Pangiri berjanji tidak
akan kembali ke daerah Mataram untuk selamanya. Akhirnya dia
menetap di Banten sampai meninggalnya.
Terdorong
oleh darah muda dan pandainya Pangeran Mas membujuk, Sultan pun
dapat
dipengaruhinya. Saran Mangkubumi dan pembesar-pembesar senior
lainnya tidak
diindahkannya, sehingga akhirnya disiapkanlah pasukan perang untuk
segera
mengadakan penyerbuan ke Palembang.
Dengan 200 kapal perang berangkatlah pasukan Banten dipimpin oleh
Sultan
Muhammad yang didampingi Mangkubumi dan Pangeran Mas.
Lampung, Seputih dan
Semangka diperintahkan untuk mengerahkan tentaranya menyerang
dari darat.
Maka terjadilah pertempuran hebat di Sungai Musi sampai berhari-hari
lamanya. Dan akhirnya pasukan Palembang dapat dipukul mundur.
Tapi dalam keadaan yang hampir berhasil itu, sultan
yang memimpin pasukan dari kapal Indrajaladri tertembak yang
mengakibatkan kematiannya. Penyerangan ke
w:st="on">Palembang
> ini tidak dilanjutkan, pasukan
Banten kembali tanpa hasil (Djajadiningrat, 1983: 41-42). Peristiwa
gugurnya Maulana Muhammad ini terjadi menurut sangsakala prabu
lepas
tataning prang atau tahun 1596 M (Djajadiningrat, 1983: 168).
Adapun
tentang Pangeran Mas, diceritakan bahwa setelah pulang dari
Palembang tidak
berani lama-lama menetap di Banten karena rakyat menganggap dialah
penyebab
kematian sultan, sehingga ia pergi kepada Pangeran Ancol di Jayakarta
untuk
bisa menetap disana. Tetapi di Jayakarta pun Pangeran Mas tidak
disenangi,
akhirnya di suatu malam didapati Pangeran Mas dibunuh oleh anak
kandungnya
kandungnya
sendiri (Hamka, 1982:84).
Maulana
Muhammad meninggal dalam usia yang sangat muda kurang lebih 25
tahun dengan
meninggalkan seorang anak yang baru berusia 5 bulan dari permaisuri
Ratu
Wanagiri, putri dari Mangkubumi. Anak inilah yang menggantikan
pemerintahannya. Maulana Muhammad, setelah meninggalnya diberi
gelar Pangeran Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana,
dan dikuburkan di serambi Masjid Agung
(Djajadiningrat, 1983:169).
D. SULTAN ABUL MAFAKHIR MAHMUD
ABDUL KADIR (1596 - 1651)
Setelah Maulana Muhammad meninggal dunia, maka sebagai
penggantinya dinobatkan anaknya, Abul Mafakhir, yang baru berusia
5 bulan.
Karena itu, untuk menjalankan roda pemerintahan ditunjuk
Mangkubumi
Jayanagara sebagai walinya. Mangkubumi Jayanegara adalah seorang
tua yang
lemah lembut dan luas pengalamannya dalam hal pemerintahan. Setiap
akan
mengambil putusan yang dianggap penting, beliau selalu musyawarah
dengan
pembesar lainnya terutama dengan seorang wanita tua bijaksana yang
juga
ditunjuk sebagai pengasuh Sultan muda yang bernama Nyai Emban
Rangkun
(Djajadiningrat, 1983:169). Dalam masa pemerintahannya, negara
banyak
mengalami kemajuan terutama dalam bidang perdagangan. Pada
masanya pulalah
kapal dagang Belanda yang pertama mendarat di pelabuhan Banten.
Masa
pemerintahan perwalian oleh Mangkubumi Jayanagara sebagai wakil
Sultan Abul
Mafakhir adalah masa yang paling pahit dalam pemerintahan
Kesultanan
Banten, karena adanya pertentangan di antara beberapa keluarga
kerajaan
yang saling berbeda kepentingan di samping adanya keinginan dari
pihak yang
hendak merebut tahta kerajaan karena Sultan masih kecil.
Mangkubumi
Jayanagara meninggal pada tahun 1602 yang digantikan oleh adiknya.
Tapi
tidak lama kemudian, yaitu pada tanggal 17 Nopember 1602 ia dipecat
dari
jabatannya karena "berkelakuan tidak baik". Dan karena
dikhawatirkan akan menyebabkan perpecahan dan irihati di antara
pangeran
pangeran
dan pembesar negara, maka diputuskan untuk tidak mengangkat
Mangkubumi
baru; sedangkan perwalian diserahkan pada ibunda Sultan, Nyai Gede
Wanagiri
(Djajadiningrat, 1983:170).
Tidak
lama kemudian Nyai Gede Wanagiri menikah kembali dengan seorang
bangsawan
keraton. Atas desakannya pula, suaminya itu diangkat sebagai
Mangkubumi.
Dalam kenyataan sehari-hari, Mangkubumi yang baru ini di samping
tidak
mempunyai wibawa, juga banyak menerima suap dari pedagang-
pedagang asing,
hingga banyak peraturan dan perjanjian dagang yang lebih banyak
menguntungkan pribadi mereka dibanding untuk kepentingan negara
dan rakyat.
Sehingga rakyat menderita, sedangkan raja tidak tahu apa-apa dan
bahaya
bangsa asing telah mengancam seluruh Banten. Keadaan ini
menimbulkan rasa
ketidakpuasan dari sebagian pembesar kerajaan, yang akibatnya
menimbulkan
kekacauan di dalam negeri. Keadaan demikian tidak segera dapat
diatasi
karena Mangkubumi disibukkan oleh ulah pedagang-pedagang
karena Mangkubumi disibukkan oleh ulah pedagang-pedagang
Belanda yang
banyak menimbulkan keributan dengan anak negeri, maupun dengan
pedagang
dari Inggris dan Portugis. Sebagian Pangeran memihak kepada
pedagang
Portugis dan sebagian lainnya membela pedagang Belanda. Padahal
antara pedagang
Belanda dan Portogis itu saling bermusuhan.
Peraturan-peraturan yang dikeluarkan Mangkubumi tidak dihiraukan oleh sebagian besar
Pangeran.
Kekuasaan Mangkubumi hanya terbatas di dalam istana saja,
sedangkan di
luar, pangeran-pangeran itulah yang berkuasa. Setiap Pangeran dapat
mengeluarkan peraturan sendiri yang kadang-kadang saling
bertentangan, dan
bahkan berbeda dengan putusan Mangkubumi.
Pertentangan
antar pembesar keraton ini akhirnya menimbulkan keributan serius
pada bulan
Oktober 1604, dimana Pangeran Mandalika, putra Maulana Yusuf,
menahan
sebuah jung dari Johor. Perintah Mangkubumi untuk melepaskan
kembali
jung itu tidak dihiraukan oleh Pangeran Mandalika; bahkan, untuk
melawan
tentara kerajaan yang diperintahkan menangkapnya, Pangeran
Mandalika
Mandalika
bergabung dengan pangeran-pangeran penentang lainnya, dan
membuat benteng
pertahanan di luar kota.
Makin lama kedudukan dan jumlah mereka semakin kuat, sehingga
sangat
mengkha-watirkan pemangku kuasa. Lebih-lebih lagi banyak rakyat
yang
simpati terhadap tindakan mereka itu.
Pada
bulan Juli 1605, Pangeran Jayakarta beserta beberapa pembesar negeri
dengan
pasukan besar dan kuat datang di Banten untuk menghadiri perayaan
khitanan
Sultan muda. Atas permintaan Mangkubumi, Pangeran Jayakarta
bersedia
membantu menumpas para pemberontak. Dengan bantuan orang
Inggris, pasukan
Pangeran Jayakarta ini memulai penyerangan dengan menerobos
langsung ke
kubu pertahanan para perusuh; sedangkan orang Inggris membantu
dengan
menembaki kubu pertahanan musuh dari kejauhan. Pertempuran hebat
di luar kota
> ini akhirnya
dapat memukul mundur pasukan pembangkang, maka diadakanlah
perjanjian
perjanjian
damai. Para pemimpin pasukan perusuh
diharuskan meninggalkan Banten dalam waktu selambat-lambatnya 6
hari dan
hanya boleh diikuti 30 orang anggota keluarganya (Djajadiningrat,
1983:
171-172).
Dengan
diusirnya biang kerusuhan ini, keadaan Banten tidaklah semakin
membaik,
bahkan sebaliknya suasana semakin tegang. Pertentangan antar
pembesar
negara ini sudah demikian hebatnya, sehingga kerusuhan yang sama
terjadi
lagi pada bulan Juli 1608 yang dikenal dengan Peristiwa Pailir.
Pertentangan
antar pembesar kerajaan yang kian memuncak ini menimbulkan
persaingan tidak
sehat di antara mereka. Masing-masing kelompok berusaha
memperkuat
kedudukan dirinya dalam segala segi. Untuk mengumpulkan dana
sebanyak-banyaknya bagi kepentingan mempersenjatai diri, para
pangeran
perusuh itu melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat bertentangan
dengan
hukum yang berlaku, sehingga tidak jarang terjadi perampokan kapal-
kapal
kapal
pedagang asing ataupun pribumi. Karena tindakan itu, otomatis
perniagaan di
Banten terhenti.
Salah
satu sebab lagi yang menimbulkan rasa tidak senang para pangeran ini
adalah
sikap dan tindakan Mangkubumi. Diceritakan, Mangkubumi, yang
juga adalah
ayah tiri Sultan Muda, mendidik Sultan dengan penuh tanggung jawab
dan
kasih sayang, sehingga hampir tidak sekejap pun Sultan muda
ditinggalkan,
baik dalam penghadapan dan dalam pertemuan-pertemuan dengan
para
ponggawa dan pejabat-pejabat tinggi istana maupun waktu memeriksa
keadaan
kota atau pun pada waktu sasapton, Sultan muda tidak lepas dari
pangkuannya. Dengan demikian, orang-orang harus selalu bersembah
sujud
apabila bertemu Mangkubumi karena pasti dipangkuannya ada Sultan
muda. Hal
ini banyak mengundang ketidaksenangan dan iri hati pada beberapa
pangeran
dan bangsawan lainnya.
Beberapa
bangsawan, di antaranya Pangeran Arya Ranamanggala, Pangeran
bangsawan, di antaranya Pangeran Arya Ranamanggala, Pangeran
Mandura,
Pangeran Kulon, Pangeran Singaraja, Ratu Bagus Kidul, Dipati
Yudanagara dan
lain-lain mengadakan pertemuan untuk mengatasi kekacauan itu.
Dalam
pertemuan itu diputuskan untuk segera membunuh Mangkubumi ---
yang dianggap
sebagai biang keladi kerusuhan. Tugas membunuh itu diserahkan
kepada
Adipati Yudanagara atas jaminan dari Pangeran Runamanggala,
Pangeran Mandura
dan juga Kadhi.
Untuk
melaksanakan tugasnya itu, Adipati Yudanagara mengadakan
pembakaran di
dalam istana, sehingga Mangkubumi keluar seorang diri tanpa
membawa Sultan
muda. Kesempatan itu dipergunakan Yudanagara untuk menyerang
dan membunuh
Mangkubumi dengan menggunakan sebilah tombak. Kejadian ini
berlangsung pada
tanggal 23 Oktober 1608.
Terbunuhnya
Mangkubumi itu membuat kesedihan yang begitu mendalam pada
Sultan muda,
sehingga Pangeran Arya Ranamanggala dan Pangeran Upapatih
sehingga Pangeran Arya Ranamanggala dan Pangeran Upapatih
merasa kasihan
kepadanya. Maka bermusyawarahlah Pangeran Arya Ranamanggala,
Pangeran
Upapatih, Pangeran Mandalika dan beberapa bangsawan penting
lainnya untuk
membicarakan pembunuhan Mangkubumi; Pangeran Kulon, Pangeran
Singaraja,
Ratu Bagus Kidul, dan Tubagus Prabangsa tidak mau mengikuti
pertemuan itu.
Dalam pada itu, mendengar adanya pertemuan demikian, Adipati
Yudanagara
merasa cemas kalau-kalau dirinya akan ditangkap dan hukum mati ---
karena
dialah yang membunuh Mangkubumi. Oleh karena itu Adipati
Yudanagara menemui
Pangeran Kulon, dan menyatakan bahwa dirinya dan kawan-kawan
lainnya akan
mendukung Pangeran Kulon menjadi raja Banten. Dukungan Adipati
ini menambah
semangat Pangeran Kulon yang memang berambisi besar untuk
menjadi raja
Banten. Pangeran Kulon merasa dirinyalah yang paling berhak
memegang
kekuasaan di Banten, dibandingkan dengan Sultan Abdul Kadir.
Pangeran Kulon
adalah cucu Maulana Yusuf putra dari Ratu Winaon dengan Pangeran
Gabang
dari Cirebon.
Ratu Winaon adalah putri sulung Maulana Yusuf dari permaisuri,
kakak
kandung Maulana Muhammad; adapun Sultan Abdul Mufakhir
Muhammad Abdul Kadir
adalah anak Sultan Muhammad dari seorang istri yang lain, karena
permaisuri
tidak berputra. Tekad Pangeran Kulon ini didukung oleh beberapa
Pangeran
dan bangsawan Banten, di antaranya Rangga Loleta, Adipati Keling,
Pangeran
Wiramanggala, Singajaya, Syahbandar, Tumenggung Anggabaya dan
Panji
Jayengtilem. Mereka mendirikan benteng pertahanan di hilir sungai
dekat
Pabean di daerah pesisir. Banyak rakyat yang simpati terhadap
perjuangan
mereka, terutama rakyat di daerah Kepalembangan. Diperkirakan
pasukan yang
dikumpulkan oleh Pangeran Kulon sekitar enam sampai delapan ribu
orang
(Djajadiningrat, 1983: 176).
Karena
tindakan Pangeran Kulon dan pasukannya ini dianggap
membahayakan negara,
maka Pangeran Ranamanggala dan Pangeran Upapatih mengumpulkan
pasukan
kerajaan untuk menyerang kubu pemberontak. Mendengar rencana
penyerangan
ini, Pangeran Kulon segera menyiapkan pasukannya. Dengan dipimpin
oleh
Panji Jayengtilem dan Singajaya serta dibantu oleh dua puluh orang
prajurit
terbaiknya, pasukan perusuh mengadakan penyerbuan mendadak ke
istana.
Namun, pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Senopati Pangeran
Upapatih telah
menanti di luar benteng Keraton Surosowan, sehingga terjadilah
perang
saudara yang hebat.
Jalannya
perang saudara itu digambarkan oleh Sajarah Banten sebagai berikut:
"Diiringi dengan suara gong pengerah Kiyai Bicak, pasukan
kerajaan menyambut serangan pasukan Pangeran Kulon. Pangeran
Arya
Ranamanggala dan Sultan Abdul Kadir mengawasi pertempuran itu
dari atas
perbentengan. Dilihatnya pasukan kerajaan bagaikan burung kerenda
yang menyambar-nyambar mangsanya di sawah. Panji Jayengtilem
akhirnya dapat
dibunuh oleh Pangeran Upapatih, sedangkan Pangeran Singajaya
gugur di
tangan Ki Subuh, pembantu Pangeran Upapatih[5]. Dengan demikian maka
pasukan pemberontak akhirnya mengundurkan diri kembali ke kubunya di hilir
sungai".
Untuk
memancing kemarahan Pangeran Kulon dan juga membuat jera
tentaranya,
mayat-mayat pasukan pemberontak dihanyutkan di atas rakit-rakit
yang
terbuat dari batang pisang supaya dapat dilihat oleh Pangeran Kulon
dan
pasukannya di hilir sungai. Hal ini membuat marah Pangeran Kulon,
sehingga
tanpa perhitungan matang pada hari berikutnya ia memimpin sendiri
penyerangan dengan mengerahkan semua pasukan yang ada.
Pada
mulanya pasukan pemberontak dapat mendesak tentara kerajaan,
sehingga
meriam induk kerajaan yang bernama Ki Jajaka Tuwa dapat direbut.
Dalam Babad Banten diceritakan, bahwa dengan menggunakan
meriam itu
Pangeran Kulon dapat mematahkan dahan waringinkurung yang ada di
samping istana. Setelah Pangeran Arya Ranamanggala dan
pasukannya datang
membantu, tentara kerajaan akhirnya dapat memukul mundur
pemberontak.
Mereka kembali ke kubunya di hilir sungai untuk mengatur serangan
berikutnya.
Pada
saat yang genting itu, datanglah Pangeran Jayakarta dengan pasukan
yang
besar, yang kemudian ditempatkan di Pagebangan. Melalui usaha
Pangeran
Jayakarta, akhirnya perang saudara ini dapat dihentikan dan perjanjian
perdamaian dapat disepakati bersama. Pangeran Kulon, Pangeran
Singaraja,
Tubagus Prabangsa dan pimpinan pemberontak lainnya --- atas
jaminan
Pangeran Jayakarta --- tidak dibunuh, tapi semuanya dibawa ke
Jayakarta
sebagai tempat pengasingan selama empat tahun[6].
Setelah
kejadian itu Banten menjadi aman, Pangeran Ranamanggala diangkat
menjadi
Mangkubumi dan juga wali Sultan muda. Perang saudara yang
kemudian dikenal
dengan nama Pailir[7] terjadi pada sangsakala tanpa guna tataning prang atau tahun
1530 Saka atau sekitar tanggal 8 Maret
1608 sampai tanggal 26 Maret 1609 (Djajadiningrat, 1983: 43:46 dan
169-179).
1. Kedatangan Bangsa Belanda di Banten
Berbeda
dari abad sebelumnya, pada abad XIV kekuasaan Kesultanan Turki
tidak lagi
menguasai sebagian besar Eropa dan Asia Timur. Daerah-daerah itu
kini
dikuasai negara-negara Kristen terutama Portugis, sehingga Lisabon
kembali
menjadi pusat perdagangan rempah-rempah di Eropa. Pedagang-
pedagang
Inggris, Belanda dan sebagainya membeli rempah-rempah dari
Lisabon. Apalagi
daerah-daerah penghasil rempah-rempah itu hanya diketahui Portugis
(Sutjipto, 1961).
Pengangkutan
rempah-rempah dari Lisabon mendatangkan keuntungan banyak bagi
pedagang-pedagang Belanda; yaitu menyalurkannya kembali ke
Jerman dan
negara-negara lain di Eropa Timur. Tetapi karena pecahnya perang
antara
Nederland dengan Spanyol pada tahun 1568 yang dikenal dengan
“Perang
Delapan Puluh Tahun”[8] mengakibatkan perdagangan Belanda di Eropa Selatan
menjadi tidak lancar, lebih-lebih sesudah Spanyol berhasil
menduduki Portugal pada tahun 1580. Raja Spanyol, Phillipos II, yang
mengetahui bahwa kemakmuran Nederland sebagian besar didapat
dari
perdagangan di Portugal, memukul Nederland dengan melarang kapal-
kapal
dagang Belanda mengunjungi bandar-bandar di daerah kekuasaannya.
Akibat
Akibat
tindakan itu, perdagangan rempah-rempah Belanda terhenti, kemajuan
Lisabon
terhambat dan harga rempah-rempah di Eropa menjadi tinggi, karena
persediaan berkurang.
Situasi
perang antara Spanyol dan Belanda itu banyak membuat pedagang-
pedagang
Belanda mengalami kesukaran, apalagi sering terjadi perampokan
kapal-kapal
dagangnya oleh pelaut Inggris dan juga penangkapan oleh armada
Spanyol[9]. Hal-hal semacam inilah yang mendorong pedagang-pedagang Belanda untuk
dapat langsung berhubungan dengan
negara-negara di Asia sebagai penghasil cengkeh dan lada, tanpa
diketahui
patroli Spanyol.
Gagasan
untuk mencari sumber rempah-rempah di Asia itu dilaksanakan
melalui
persiapan dan perencanaan yang cukup baik. Ahli-ahli ilmu bumi
seperti
Pancius, seorang pendeta di Amsterdam dan Mercator di Nederland
Selatan diserahi menyusun peta dunia dan dimintai
pandangan-pandangannya.
Ketika
itu (1593) terbitlah sebuah buku Itineratio dalam bahasa Belanda
karya
Jan Huygen van Linschoten yang menceritakan tentang benua Asia
dan mengenai
Hindia (Indonesia),
lengkap dengan adat istiadat, agama, barang dagangan yang disenangi
penduduk, dan sebagainya mengenai daerah Asia itu. Pengarang buku
ini pernah ikut dalam expedisi Portugis ke Asia dan
pernah tinggal beberapa lama di Goa,
w:st="on">India
>.
Untuk
menghindari pengejaran tentara Portugis, beberapa pedagang Belanda,
dibantu
oleh pemerintah, dengan kapal yang dirancang khusus mencoba
mengarungi Laut
Es, sebelah utara benua Eropa dengan perhitungan akan memperoleh
jalan
tersingkat menuju Asia, tanpa melalui Tanjung Harapan. Tiga kali
percobaan
ekspedisi ini dilaksanakan, namun ketiga-tiganya mengalami
kegagalan. Kapal
mereka terjepit di tengah-tengah lautan es di dekat pulau Nova
Zembla,
sehingga separoh anak buah kapalnya meninggal karena kedinginan.
Laksamana
Jacob van Heemskerck yang memimpin pelayaran itu kembali ke
w:st="on">Amsterdam
> dengan
susah payah menghabarkan kegagalan ekspedisinya.
Akhirnya
pedagang-pedagang Amsterdam mempersiapkan
empat buah kapal untuk mencari jalan ke Indonesia
> melalui Tanjung
Harapan. Pada tangga 2 April 1595 kapal-kapal tersebut bertolak dari
pangkalan Tessel, Belanda Utara, di bawah pimpinan Cornelis de
Houtman dan
Pieter de Keyser. Cornelis de Houtman mengepalai urusan
perdagangan, dan
Pieter de Keyser mengepalai urusan navigasi.
Karena
adanya dua pimpinan dalam satu ekspedisi pertama ini, maka sering
terjadi
keributan yang berasal dari perbedaan pendapat di antara keduanya.
Hal
demikian akhirnya menimbulkan perkelahian di antara anak buah
kapal,
sehingga sebuah kapal hancur dan sebagian penumpangnya tewas.
Namun
demikian, ekspedisi ini akhirnya membuahkan hasil, yakni dengan
keberhasilan mereka mendarat di pelabuhan Banten pada tanggal 23
Juni 1596.
Kedatangan
kapal dagang Belanda itu disambut ramah oleh penduduk negeri dan
seperti
biasanya apabila ada kapal asing merapat, banyak penduduk pribumi
yang naik
ke kapal untuk menawarkan makanan ataupun dagangan lainnya. Hal
ini disalah
artikan oleh awak kapal, sehingga mereka bertindak kasar dan angkuh.
Walau
pun demikian, penduduk negri yang terkenal ramah itu masih
menawarkan lada
yang memang mereka butuhkan.
Bertepatan
dengan kedatangan kapal dagang Belanda itu, Banten sedang bersiap-
siap
untuk mengadakan penyerangan ke Palembang.
Oleh karenanya Banten minta orang Belanda itu meminjamkan
kapalnya guna
pengangkutan prajurit dengan sewa yang memadai. Permintaan itu
ditolak
dengan alasan mereka datang ke Banten hanya untuk berdagang dan
setelah
selesai akan cepat kembali pulang takut ada kapal Portugis yang
datang.
Tapi
sampai pasukan Banten kembali dari Palembang, mereka masih tetap
belum pergi, karena menunggu panen lada yang tidak lama
lagi; waktu panen lada harga akan jauh lebih murah. Alasan demikian
membuat
Mangkubumi Jayanegara marah. Lebih parah lagi, orang-orang
Belanda itu pada
suatu malam, menyeret dua buah kapal dari Jawa yang penuh dengan
lada ke
kapalnya dan memindahkan semua isinya. Dan dengan membawa
muatan hasil
rampokan itu mereka pergi sambil menembaki
w:st="on">kota
> Banten.
Melihat
kelakuan orang Belanda ini, rakyat Banten --- yang baru saja
kehilangan
sultannya --- sangat marah. Beberapa tentara Banten menyerbu ke
kapal
Belanda dan menangkap Houtman beserta delapan anak kapal. Dengan
tebusan
45.000 gulden sebagai ganti kerugian, barulah de Houtman dilepaskan
dan
diusir dari Banten (2 Oktober 1596)[10].
Pada
tanggal 1 Mei 1598 rombongan baru pedagang Belanda berangkat dari
tanggal 1 Mei 1598 rombongan baru pedagang Belanda berangkat dari
Nederland
menuju Indonesia dengan delapan buah kapal yang di pimpin oleh
Jacob van
Neck dibantu oleh van Waerwijk dan van Heemskerck. Pada tanggal
28 Nopember
1598 rombongan kedua ini tiba di Banten. Mereka diterima baik oleh
rakyat
Banten karena tingkah lakunya berbeda dengan pendahulunya.
Pengalaman
pertama yang merugikan itu rupanya dijadikan pelajaran. Mereka
pandai
membawa diri dan sanggup menahan hati bila berhadapan dengan
Mangkubumi,
bahkan permohonan untuk menghadap Sultan pun dikabulkan. Dengan
membawa
hadiah sebuah piala berkaki emas sebagai tanda persahabatan, van
Neck menghadap
kepada Sultan Abdul Mafakhir.
Mangkubumi
Jayanagara membujuk van Neck untuk membantu tentara Banten
dalam
penyerangan ke Palembang --- sebagai pembalasan atas kematian
Sultan Muhammad --- dengan imbalan
lada sebanyak dua kapal penuh. Semula van Neck menyetujui usul
Mangkubumi
ini, tapi karena van Neck minta dibayar di muka satu kapal dan sisanya
sesudahnya, sedangkan Mangkubumi menghendaki pembayaran
sesudahnya, sedangkan Mangkubumi menghendaki pembayaran
sekaligus setelah
penyerangan selesai, maka penyerangan ke
w:st="on">Palembang
> tidak diteruskan. Van Neck
kembali ke Belanda dengan tiga kapal yang penuh muatan, sedangkan
van
Waerwijk dan van Heemskerck melanjutkan perjalanannya ke Maluku
dengan lima
> buah kapal
(Tjandrasasmita, 1977:353 dan Djajadiningrat, 1983:164).
Dengan
keberhasilan dua ekspedisi dagang ke
w:st="on">Indonesia
> ini akhirnya
berduyun-duyunlah orang-orang Belanda untuk berdagang. Tercatat
pada tahun
1598 saja ada 22 kapal milik perorangan dan perikatan dagang dari
w:st="on">Nederland
> menuju
w:st="on">Indonesia
>. Bahkan tahun 1602
ada 65 kapal yang kembali dari kepulauan Indonesia
> dengan muatan penuh.
Suatu
hari datanglah utusan khusus pemerintah Portugis dari Malaka dengan
membawa
hadiah uang 10.000 rial dan berbagai perhiasan yang bagus dan mahal.
Mereka
minta supaya Banten memutuskan hubungan dagang dengan Belanda
dan apabila
orang-orang Belanda itu datang supaya kapal-kapalnya dirusak atau
diusir.
Dikatakan pula, bahwa nanti akan datang armada Portugis yang akan
mengadakan pembersihan terhadap kapal Belanda di perairan Banten
dan negeri
timur lainnya.
Mangkubumi
Jayanagara menerima semua hadiah tersebut, tapi, secara rahasia,
diutusnya
kurir untuk menyampaikan berita itu kepada pedagang Belanda,
supaya mereka
segera meninggalkan Banten karena armada Portugis akan menyergap
mereka.
Mendengar berita itu, kapal dagang Belanda pun segera meninggalkan
Banten.
Tidak
lama kemudian pada tahun 1598 sampailah angkatan laut Portugis
dipimpim
oleh Laurenco de Brito dari pangkalannya di Goa.
Setelah dilihatnya tidak ada satu pun kapal Belanda yang berlabuh di
Banten, marahlah mereka. Mangkubumi dituduh telah berhianat dan
bersekongkol dengan Belanda karena membocorkan rahasia, dan
menuntut supaya
Mangkubumi mengembalikan semua hadiah yang sudah diberikan.
Sudah tentu
Mangkubumi tidak mau menuruti kemauan mereka, karena Portugis
tidak ada hak
dan wewenang untuk mengusir kapal-kapal asing yang sedang
berlabuh di
Banten.
Dengan
kemarahan yang amat sangat, diserangnya pelabuhan Banten, barang-
barang
yang ada di sana dirampas dan diangkut ke kapalnya, bahkan lada
kepunyaan pedagang dari Cina
pun dirampasnya pula. Melihat kejadian itu, tentara Banten, yang
memang
sudah dipersiapkan, menyerang kapal-kapal Portugis itu, sehingga tiga
buah
kapal Portugis dapat dirampas dan seorang laksamananya tewas;
sedangkan
yang lainnya melarikan diri, setelah meninggalkan barang hasil
rampasannya
(Djajadiningrat, 1983: 164).
Karena
persaingan ketat antar sesama pedagang Belanda yang berlomba-
lomba untuk
mendapat rempah-rempah dari negeri timur, maka keuntungan mereka
pun
sedikit, dan bahkan rugi --- dari data-data yang dikumpulkan, ternyata
kerugiannya mencapai 5 laksa gulden. Melihat kenyataan ini maka
pada tahun
1602 dibentuknya persatuan dagang yang
kemudian diberi nama
“Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dengan modal pertama
6,5
juta gulden dan berkedudukan di Amsterdam; dan tujuannya adalah
mencari laba sebanyak-banyaknya, di samping untuk
memperkuat kedudukan Belanda melawan kekuasaan Portugis dan
Spanyol.
Berdirinya
VOC ini dibantu oleh pemerintah kerajaan Belanda, sehingga VOC
diberi
hak-hak sebagai berikut (Sutjipto, 1961:24):
1) Hak monopoli untuk berdagang di
wilayah antara Amerika dan Afrika.
2) Dapat membentuk angkatan perang
sendiri, mengadakan peperangan, mendirikan benteng dan bahkan
menjajah.
3) Berhak untuk mengangkat pegawai
sendiri.
4) Berhak untuk membuat peradilan
sendiri (justisi).
5) Berhak mencetak dan mengedarkan
uang sendiri.
uang sendiri.
Sebaliknya
VOC mempunyai kewajiban yang harus dipenuhi terhadap pemerintah
kerajaan
Belanda, yaitu :
1) Bertanggung jawab kepada Staten
General (Dewan Perwakilan Rakyat Belanda).
2) Pada waktu perang harus membantu
pemerintah dengan uang dan angkatan perang.
Pembentukan
VOC di samping untuk menyatukan langkah dalam perdagangan dan
modal, juga
didorong dengan adanya saingan baru yang dianggapnya berat, yaitu
pedagang-pedagang Inggris yang telah membentuk satu kongsi dagang
yang
bernama EIC (East India Compagnie) pada tahun 1600.
Untuk
memudahkan gerak dan siasat dagangnya, VOC membuka kantor-
kantor cabang di
Middelberg, Delft, Rotterdam,
Hoorn dan
Enkhuizen. Setelah dirasa kedudukan VOC sudah mapan, maka pada
tahun 1610
tahun 1610
dibuka pula kantor dagang untuk Hindia Timur atau Kepulauan
Nusantara,
dengan Pieter Both menjadi Gubernur Jendral yang dibantu Dewan
Penasehat
(Raad van Indie) yang anggotanya terdiri dari 5 orang.
Dicarinya
daerah-daerah strategis untuk dijadikan pusat kegiatan di Hindia
Timur ini.
Alternatif pertama dipilihnya Johor, tetapi karena Johor terlalu dekat
dengan Malaka yang duduki Portugis, maka dipilihnya alternatif kedua
yakni
Banten. Walaupun di Banten telah berdiri perwakilan dagang VOC
sejak tahun
1603 --- yang diketuai oleh Francois Wittert --- tapi karena di Banten
pun
Mangkubumi Arya Ranamanggala selalu bertindak tegas dalam
menghadapi
orang-orang asing, pilihan ini dibatalkan. Akhirnya VOC menetapkan
Jayakarta sebagai pusat kegiatannya, karena walau pun Jayakarta di
bawah
kuasa Banten, namun penguasa di sana tidak begitu kuat. Maka pada
tahun 1610 berangkatlah Pieter Both dari
w:st="on">Amsterdam
> menuju
Jayakarta bersama dengan 8 buah kapal besar. Pada bulan Nopember
1611 VOC
1611 VOC
berhasil mendirikan kantor dagang di Jayakarta. Untuk mengontrol
tindakan
VOC, Pangeran Jayakarta membolehkan perusahaan dagang Inggris
yang
tergabung dalam East India Company (EIC) membuat kantor
dagangnya di
Jayakarta, berhadapan dengan kantor dagang VOC.
2. Mangkubumi
Arya Ranamanggala
Setelah
Mangkubumi yang juga ayah tiri Sultan dibunuh orang, maka
diangkatlah
Pangeran Arya Ranamanggala menjadi penggantinya. Pangeran Arya
Ranamanggala
adalah putra Maulana Yusuf dari istri yang bukan permaisuri. Tentang
tahun
kelahirannya tidak jelas, tapi yang pasti dia lebih muda dari Maulana
Muhammad (Djajadiningrat, 1983:190).
Tindakan
pertama yang dilakukannya sebagai Mangkubumi adalah menertibkan
keamanan
negara. Yaitu dengan memberikan hukuman tegas kepada pangeran
atau ponggawa
yang melakukan penyelewengan, bahkan untuk kelancaran
yang melakukan penyelewengan, bahkan untuk kelancaran
pemerintahan Sultan
Muda pun tidak diizinkan mempengaruhi urusan pemerintahan. Hal ini
berlangsung hingga Sultan mempunyai anak tiga (Djajadiningrat
1983:190).
Dengan cara demikian barulah kerajaan Banten dapat diselamatkan
dari
kehancuran dan perpecahan, baik dari rongrongan di dalam maupun
desakan-desakan dari negara asing. Peraturan-peraturan atau pun
keputusan-keputusan Mangkubumi terdahulu diperbaharuinya.
Peraturan yang berisi tentang
keharusan pedagang Cina untuk menjual lada hanya kepada Belanda
dicabutnya,
kemudian dibuatlah peraturan yang isinya menyatakan bahwa siapa
pun dapat
membeli atau menjual lada kepada siapa saja dengan harga yang
disetujui
bersama.
Dalam
menghadapi pedagang-pedagang asing Eropa, Mangkubumi tidak
bertindak
"berat sebelah", tingkah laku mereka yang kadang-kadang
menyinggung perasaan, terutama pedagang-pedagang dari Belanda,
akan ia
tanggapi dengan kepala dingin. Ini dapat dibuktikan sewaktu pedagang
Belanda mengajukan perjanjian pada tahun 1609. Naskah perjanjian
yang
yang
dibuat Belanda itu diajukan kepada Mangkubumi yang isinya adalah:
1.
Belanda bersedia membantu Banten apabila diserang oleh
negara lain, tapi kalau Banten akan menyerang negara lain Belanda
tidak
akan membantu.
2.
Belanda dibolehkan berniaga dengan rakyat Banten. Dan
apabila ada orang Belanda yang ingin menetap di Banten dia tidak
dikenakan
pajak.
3.
Bangsa Eropa selain bangsa Belanda tidak dibolehkan
tinggal di Banten.
Perjanjian
yang berat sebelah dan sangat menyinggung kewibawaan negara itu
tidak
ditolaknya dengan kasar, tapi diterimanya dengan senyum biar pun
isinya tidak
diterima. Bahkan tidak lama kemudian dikeluarkan peraturan tentang
kenaikan
pajak ekspor untuk lada dan ketentuan pajak import untuk barang-
barang yang
tadinya belum terkena peraturan pajak.
tadinya belum terkena peraturan pajak.
Dalam
hal perpajakan di Banten pada tahun 1609, secara terperinci dicatat
oleh
pegawai Belanda dimana untuk membeli 8440 karung lada dikenakan
pajak
sebagai berikut :
Pajak
kerajaan sebesar 8 % dari harga beli:
(4 real per karung) f.
6.346,00
Ruba-ruba untuk raja, dengan ketentuan:
500 real untuk 6000 karung f 1.625,00
Ruba-ruba untuk Syahbandar
250 real untuk 6000 karung f 625,00
Beli-belian (suatu pajak khusus)
666 real tiap satu karung f 2.202,00
Panggoro, pajak khusus lain :
11,50% cash tiap satu karung f 14,00
Pajak untuk juru tulis
dihitung per 100 karung f 198,00
Pajak untu juru timbang
margin-left:2.0cm;tab-stops:19.85pt 39.7pt 59.55pt 241.0pt right
297.7pt">per 100 karung f 198,00
Biaya mengangkut lada ke rumah timbang f 98,00
Jumlah f 11.533,00
Jumlah
f. 11.533,00 ini harus dibayar sebagai pajak ekspor barang seharga f.
33.760,00. Kain yang dimasukkan Belanda dikenakan pajak sebesar 3
% dari
harga jual, bahkan untuk barang ekspor yang bukan hasil dalam negeri
dikenakan pajak lebih besar (Tjandrasasmita, 1975:80).
Ternyata,
pajak yang demikian besar itu hanya berlaku untuk orang Belanda.
Karena dalam
kenyatannya pedagang dari Cina hanya dikenakan pajak 5% dari harga
beli
dengan syarat mereka harus membawa hadiah berupa barang porselen
Cina.
De-ngan demikian tidaklah heran apabila penulis-penulis Belanda
menceritakan Mangkubumi Arya Ranamanggala ini adalah orang yang
paling
jahat, curang dan rakus (Djajadiningrat, 1983:190).
Peraturan
ketat semacam ini dilakukan Mangkubumi dengan maksud supaya
pedagang-pedagang Belanda tidak lagi berniaga di Banten, karena
setelah
diperhatikan, mereka bukan saja datang semata-mata untuk berdagang,
tapi
juga berusaha menanamkan pengaruh dan mencampuri politik negara.
Karena
faktor Arya Ranamanggala ini pulalah maka VOC tidak memilih
Banten sebagai
pusat kegiatan dagangnya, tetapi dipilihnya Jayakarta.
Yang
berkuasa di Jayakarta pada saat itu ialah Pangeran Jayakarta atau
disebut
juga Pangeran Wijayakrama, yang memerintah atas nama Kesultanan
Banten.
Pangeran Jayakarta ingin supaya pelabuhan Jayakarta ramai seperti
Banten,
sehingga tawaran L'Hermito untuk menjadikan Jayakarta sebagai pusat
perdagangan Belanda diterima dengan senang hati. Maka pada tanggal
10-13
Nopember 1610, ditandatanganilah perjanjian antara VOC, yang
diwakili oleh
L'Hermito dengan Pangeran Jayakarta. Perjanjian tersebut kemudian
disyahkan
oleh Gubernur Jenderal Pieter Both pada bulan Januari 1611. Isi
perjanjian
antara lain adalah sebagai berikut:
1)
Orang Belanda dibolehkan membeli tanah di Jayakarta
seluas 50 depa dengan harga 1.200 real.
2)
Barang-barang yang dibeli orang Belanda dikenakan pajak,
kecuali barang tersebut dibeli dari pedagang Cina.
kecuali barang tersebut dibeli dari pedagang Cina.
3)
Bahan makanan kebutuhan sehari-hari tidak dikenakan
pajak.
4)
Belanda akan membantu Jayakarta apabila diserang musuh,
tapi tidak kalau Jayakarta yang memulai penyerangan.
5)
Orang Portugis dan Spanyol tidak dibolehkan berdagang di
Jayakarta.
6)
Belanda dibolehkan mengambil kayu untuk bahan pembuat
kapal di pulau-pulau di depan teluk Jakarta.
7)
Pegawai-pegawai yang lari dari kedua belah pihak akan
dikembalikan.
8)
Pangeran bersedia menagih piutang orang Belanda apabila
dimintakan.
9)
Kedua belah pihak akan menghukum orang masing-masing
apabila mereka bersalah.
Pada
bulan Januari 1611, Pieter Both membujuk Pangeran Jayakarta untuk
mengizinkan VOC membuat benteng, tetapi permintaan itu dengan
tegas
ditolak, bahkan Pangeran menginginkan bahan makanan yang dibeli
VOC pun
harus dikenakan pajak. Terpaksa keinginan itu dituruti Pieter Both.
Karena
izin mendirikan benteng tidak diperoleh, maka VOC mendirikanlah
sebuah
gedung batu yang digunakan sebagai kantor dan gudang di sebelah
timur
sungai Ciliwung (Sanusi Pane, 1950:193).
Dibukanya
hubungan dagang dengan Belanda ini membuat semakin ramainya
pelabuhan
Jayakarta. Hubungan intim ini membuat gusar Mangkubumi
Ranamanggala.
Khawatir akan niat baik Belanda terhadap Jayakarta yang nanti
akhirnya akan
merembet ke daerah Banten lainnya. Maka Mangkubumi mengutus
Nyai Emban
Rangkum, seorang yang dianggap berwibawa bagi Pangeran Jayakarta,
untuk
menghadap Pangeran Jayakarta dan memberi peringatan agar hati-hati
dengan
orang-orang Belanda. Peringatan ini bukannya diterima baik oleh
orang-orang Belanda. Peringatan ini bukannya diterima baik oleh
Pangeran
Jayakarta tapi bahkan membuat curiga dan prasangka buruk terhadap
Mangkubumi. Hal inilah yang membuat hubungan antara Jayakarta
dan Banten
agak sedikit renggang, bahkan kadang-kadang seperti bermusuhan.
Situasi panas
antara Jayakarta dan Banten ini sengaja diperuncing lagi oleh Jan
Pieterzoon Coen, presiden direktur kantor dagang Belanda di Banten
dan
Jayakarta yang baru, dengan memindahkan sebagian besar kegiatan
dagang
Belanda dari Banten ke Jayakarta, sehingga perdagangan di Banten
sedikit
menurun --- walau pun, untuk menjaga membesarnya pengaruh Inggris
di
Banten, VOC masih tetap membuka kantor perwakilannya di
Banten[11].
Pada
tahun 1618, datanglah di Banten kapal berbendera Perancis tetapi
awak kapal
dan bahkan nahodanya orang Belanda, padahal ada larangan keras dari
pemerintah Belanda, bahwa bagi orang Belanda yang bekerja di kapal
asing
tidak boleh membocorkan rahasia peta jalan menuju ke negara timur,
tapi
mungkin karena pembayaran yang tinggi, maka ada juga yang tidak
mungkin karena pembayaran yang tinggi, maka ada juga yang tidak
mentaati.
Semua awak kapal Perancis itu ditawan oleh Pieterzoon Coen --- yang
pada
tahun itu (bulan Juni 1618) ia diangkat menjadi Gubernur Jendral
VOC untuk
Hindia Timur, menggantikan Pieter Both. Tetapi dengan pertolongan
orang
Inggris, di antara mereka itu ada yang dapat melarikan diri dan minta
perlindungan kepada Mangkubumi Ranamanggala.
Jan
Pieterszoon Coen mendesak Mangkubumi supaya menyerahkan orang
Belanda yang
melarikan diri itu, tapi sebaliknya Mangkubumi pun mendesak supaya
melepaskan
kapal Perancis dan awaknya, karena Belanda tidak berhak menangkap
kapal
asing di pelabuhan Banten. Coen bukannya mengindahkan kehendak
Mangkubumi,
bahkan dibawanya kapal Perancis itu ke Jayakarta. Atas perbuatan
Belanda
itu Mangkubumi tidak dapat berbuat apa-apa karena memang Banten
tidak ada
kekuatan untuk menggempur kompeni Belanda.
Makin
meruncinglah permusuhan antara Banten dan VOC. Untuk
memperlunak sikap
memperlunak sikap
keras Mangkubumi dan juga mengacaukan perekonomian Banten,
kompeni
mengadakan blokade ekonomi; dimana VOC tidak lagi membeli lada
dari Banten,
bahkan, kapal-kapal asing pun dilarang berlabuh di Banten. Tindakan
VOC ini
sangat merugikan Banten, sehingga harga lada di pasar Banten
menurun tajam.
Suatu
hari datanglah kapal jung dari negeri Cina yang tujuannya hendak
membeli lada di Banten, dan dengan mudah terjadilah transaksi jual
beli
dengan pedagang Banten. Kejadian ini terdengar oleh JP. Coen,
sehingga
dengan marah diancamnya pedagang Cina itu agar segera
mengembalikan lada
yang sudah dibelinya, dan apabila tidak maka kapalnya akan
ditenggelamkan
di tengah laut oleh Belanda. Mangkubumi memprotes tindakan rendah
Belanda
itu, tapi kembali beliau tidak bisa berbuat apa-apa.
Empat
bulan embargo VOC atas Banten ini berlangsung, sehingga pedagang-
pedagang
asing tidak dapat membeli lada dari Banten karena takut dengan
ancaman
Belanda, akibatnya pelabuhan Banten sepi dari kapal-kapal dagang.
Sebaliknya pelabuhan Jayakarta semakin ramai. Perdagangan VOC
semakin maju,
sehingga untuk menampung barang dagangannya dibutuhkan
tambahan gudang yang
lebih luas. Maka dibangunnya lagi sebuah gudang baru di tepi sungai
Ciliwung berhadapan dengan Nasau, gudang yang pertama. Gudang
ini
diberi nama Mauritius sesuai dengan nama raja Belanda, Prins
Maurits. Selain itu dibuatnya pula
sebuah rumah sakit dan sebuah kubu yang dikawal meriam dengan
pasukan yang
kuat di pulau Onrust di Teluk Jayakarta. Bahkan pada tanggal 22
Oktober
1618, VOC juga mulai membangun sebuah benteng kuat yang seluruh
penjurunya
dijaga meriam-meriam besar.
Pembangunan
benteng ini ditentang keras oleh Pangeran Jayakarta, tetapi Belanda
terus
membangunnya juga. Terpukullah rasa harga diri Pangeran, tapi dia
tidak
bisa berbuat apa-apa karena memang tidak ada kemampuan untuk
mencegah niat
Belanda itu. Maka sadarlah akan bahaya orang Belanda atas Banten
dan
Jayakarta khususnya. Tapi diingatnya pula akan ketergantungan
Jayakarta khususnya. Tapi diingatnya pula akan ketergantungan
Jayakarta
dengan adanya pedagang Belanda itu, apalagi pangeran dan pejabat-
pejabat
tingginya sudah sering mendapatkan hadiah-hadiah dari orang
Belanda.
Khawatir dengan tindakan orang Belanda selanjutnya dan lemahnya
kekuatan
tentara Jayakarta, maka diambil kebijaksanaan bahwa semua orang
asing yang
tinggal di Jayakarta dapat mendirikan benteng-benteng pertahanan.
Dengan
keizinan ini orang Inggris segera membuat benteng di tepi barat sungai
Ciliwung, berhadapan dengan benteng Belanda. Demikian juga dengan
pedagang-pedagang Cina.
Melihat
pembangunan benteng Inggris itu Jan Piterzoon Coen mengajukan
protes.
Karena protesnya tidak ditanggapi, maka ia memerintahkan tentara
Belanda
menembak hancur benteng yang sedang dibuat Inggris. Orang Inggris
tidak
mampu melawan serangan Belanda itu karena kekuatannya jauh lebih
kecil
dibanding dengan tentara Belanda. Demikian juga dengan pedagang-
pedagang
Cina.
Cina.
Pada
tanggal 23 Desember 1618 berlabuhlah di Jayakarta 11 buah kapal
Inggris.
Melihat kenyataan bahwa benteng yang baru dibangun Inggris itu telah
dihancurkan Belanda, mereka pun menyerang benteng Belanda dari
laut, dan
Belanda pun membalasnya dengan mengerahkan 7 buah kapal
perangnya. Maka
terjadilah pertempuran hebat di Teluk Jayakarta antara dua kekuatan
yang
seimbang. Tetapi akhirnya Belanda terdesak setelah Inggris
mendatangkan
lagi 3 buah kapal yang lain. JP. Coen memerintahkan sebagian
pasukannya
mundur dan melarikan diri ke Ambon untuk
mencari bantuan. Hal ini terjadi pada tanggal 31 Desember 1618.
Sedangkan
di benteng kompeni sepeninggal JP. Coen, pimpinan benteng
dipercayakan
kepada Pieter van den Broecke, disertai 250 orang termasuk 25 orang
Jepang
dan 70 orang budak belian, mereka diperintahkan untuk tetap bertahan
di
dalam benteng.
Sementara
itu di keraton Surosowan, mendengar adanya pertempuran di Teluk
itu di keraton Surosowan, mendengar adanya pertempuran di Teluk
Jayakarta
segera diadakan pertemuan pembesar-pembesar keraton untuk segera
mengirimkan bantuan ke Jayakarta guna menghancurkan benteng
Belanda.
Jayakarta adalah daerah kuasa Banten, sehingga kehancuran Belanda
sangat
diharapkan Mangkubumi, meski pun tidak mengharapkan Inggris
nantinya menggantikan Belanda. Maka berangkatlah 4000 orang
tentara Banten, yang kemudian
ditempatkan di Muara Angke sambil menunggu perintah selanjutnya.
Benteng
Belanda telah dikepung dari tiga jurusan, di Teluk Jayakarta Inggris
menempatkan 5 buah kapalnya, sebelah barat oleh pasukan Banten
sedangkan di
selatan oleh tentara Jayakarta. Dapat dipastikan bila ketiga kekuatan
ini
menyerang secara bersamaan, benteng Belanda tanpa kesulitan akan
mudah
direbut.
Tapi tidak
demikian keadaannya. Inggris ingin agar benteng Belanda itu direbut
dan
dikuasai sebagai ganti benteng mereka yang dihancurkan Belanda.
Sedangkan
Pangeran Jayakarta dan orang-orang Banten menginginkan benteng
Belanda
Belanda
tersebut dihancurkan dan semua penghuninya ditahan, karena, secara
ekonomis, Jayakarta dan Banten masih membutuhkan kehadiran
pedagang Belanda
itu. Tujuan Pangeran Jayakarta dan Pangeran Ranamanggala pun
berbeda.
Pangeran Jayakarta menginginkan agar Pangeran Ranamanggala
jangan terlalu dekat
dengan pihak Belanda, sebab hal itu akan merugikan kedudukan
Jayakarta.
Sedangkan Pangeran Ranamanggala berprinsip bahwa Jayakarta
adalah daerah
taklukan Banten sehingga semua tindakan Jayakarta, apalagi tentang
hubungan
luar negeri, harus atas izin Banten. Dari perbedaan tujuan ini, akhirnya
tidak ada satu pasukan pun yang mendahului menyerang benteng.
Setelah
beberapa hari benteng Belanda itu dikepung, Pangeran Jayakarta
memerintahkan agar perang ditangguhkan dan diajukan perdamaian.
Maka pada
tanggal 19 Januari 1619 terjadi kesepakatan antara Pangeran Jayakarta
dengan Belanda, dimana Belanda diharuskan membayar kerugian
6000 real
kepada Pangeran Jayakarta, sedangkan komandan pasukan Belanda
yang ada di
benteng, Pieter van den Broecke, ditahan sebagai jaminan.
Pada
waktu yang hampir bersamaan diadakan pula perjanjian antara Inggris
dan
Pangeran Jayakarta yang berisi:
1)
Inggris akan membayar kerugian perang kepada Pangeran
Jayakarta sebanyak 2000 real.
2)
Orang Belanda dilarang berniaga di Jayakarta
3)
Inggris dan Jayakarta akan bersama-sama menyerang
benteng Belanda. Kemudian benteng yang telah direbut itu akan
diserahkan
kepada Pangeran Jayakarta. Sedangkan harta bendanya dibagi dua
antara
Inggris dan Pangeran Jayakarta.
Dengan adanya perjanjian antara Pangeran Jayakarta dan
pasukan Inggris ini pengepungan benteng diperketat. Diserukan
kepada
orang-orang Belanda agar menyerah secara baik-baik --- yang nanti
mereka
akan dikirim ke Koromandel atas jaminan Inggris --- atau benteng
akan
direbut secara paksa. Melihat banyaknya pasukan yang mengepung,
maka
komandan pasukan Belanda menyatakan diri akan menyerah.
komandan pasukan Belanda menyatakan diri akan menyerah.
Diaturlah
tatacara pengambilalihan benteng dan pengamanan tawanan.
Disepakati bahwa
perjalanan orang Belanda ke Koromandel akan dikawal ketat oleh
pasukan
Inggris, supaya jangan diganggu tentara Banten dan Jayakarta.
Rencana ini
telah disetujui baik oleh Belanda, Inggris, maupun Jayakarta. Tiba-tiba
ketika maksud tersebut akan dilaksanakan, datang sanggahan dari
Banten.
Pangeran Arya Ranamanggala tetap berprinsip Jayakarta adalah daerah
kekuasaan Banten, oleh karenanya tidak ada hak untuk mengadakan
perjanjian
dengan orang asing tanpa persetujuan Banten. Di samping itu,
Ranamanggala
berpendapat bahwa orang Belanda dan orang Inggris sama saja,
mereka ingin
mengeruk kekayaan negara tanpa memperdulikan keadaan penduduk
asli. Bila
dalam keadaan lemah, mereka bersedia mentaati perjanjian, tapi bila
sudah
kuat dirobeklah perjanjian tersebut. Penghancuran benteng Belanda
mutlak
harus dilaksanakan, dan semua tawanan harus diserahkan serta
menjadi
wewenang Banten. Demikian juga dengan pihak Inggris, mereka harus
wewenang Banten. Demikian juga dengan pihak Inggris, mereka harus
segera
pergi dari Jayakarta. Dan apabila mereka tidak mau, maka pemerintah
Banten
akan menghancurkan semua kapal dan loji Inggris yang ada di Banten.
Utusan
Pangeran Ranamanggala, yaitu Tumenggung Pangeran Upapatih,
beserta 4000
orang pasukannya mengepung orang-orang Inggris, sehingga mereka
kembali ke
pangkalannya di Banten. Orang-orang Belanda yang ditawan Pangeran
Jayakarta
diserahkan kepada Pangeran Upapatih. Dan atas perintah Mangkubumi
Ranamanggala, Pangeran Jayakarta dipecat dari jabatannya, kemudian
bersama
Tumenggung dan lima puluh pengawalnya dikirim ke Tanahara untuk
menjalani hukuman. Peristiwa
ini terjadi pada tanggal 15 Pebruari 1619 (Djajadiningrat, 1983:184)
[12].
Selanjutnya,
Banten mendesak agar Belanda menyerahkan bentengnya untuk
kemudian
dihancurkan. Tetapi setelah dilihatnya tentara Banten tidak begitu
kuat,
pasukan Belanda tidak mau menyerah, mereka lebih baik bertahan di
dalam
benteng sambil menunggu bantuan.
Pada
tanggal 10 Mei 1619 Pieter de Carpentier dan Andaris Soury dengan
kapal
Ceylon tiba di Jayakarta mendahului kapal yang ditumpangi JP Coen.
Beberapa
hari kemudian JP Coen menyusul dengan enam belas kapal dari
w:st="on">Ambon
>. Dengan kekuatan 1000 orang tentara Belanda ini
pengepungan benteng tidak ada artinya lagi. Maka pada tanggal 30
Mei 1619
benteng dan sekitarnya telah jatuh ke tangan kompeni Belanda (VOC).
Mereka
kemudian menamakan tempat tersebut menjadi
w:st="on">Batavia
>, sebagai peringatan kepada
nenek moyang bangsa Belanda, yaitu suku Bataaf.
Pada
bulan April 1619, Jan Pieterszoon Coen memerintahkan tentaranya
untuk
merampas daerah-daerah di seberang sungai Ciliwung, yang termasuk
wilayah
Banten. Hanya dengan mengerahkan 1000 orang tentaranya saja
Belanda dapat
merebut seluruh kota Jayakarta. Tembok-tembok batas kota dan
benteng Jayakarta dihancurkan dan dibakar habis. Dan sejak saat itu
nama Jayakarta pun diganti dengan Batavia (Djajadiningrat,
1983:186). Dengan ancaman akan menyerang Banten, akhirnya
Mangkubumi Ranamanggala menyerahkan kembali orang-orang
Belanda yang
ditawanannya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 30 Mei 1619 (Hamka,
1976:269).
Supaya
dalam hal pengadaan beras jangan terlalu bergantung kepada Mataram,
Belanda
membuat sawah-sawah baru di sekitar Batavia.
Dan karena penduduk pribumi selalu mengadakan perlawanan ---
dipimpin oleh
beberapa ponggawa Pangeran Jayakarta orang-orang Banten --- JP
Coen pun
mengambil beribu-ribu orang Cina untuk dipekerjakan. Orang-orang
Cina itu
diberi tanah untuk bertani, berdagang bahkan diperbantukan untuk
membuat
benteng-benteng di sekeliling kota.
Di antara mereka diangkat menjadi kepala penduduk Cina, yang diberi
wewenang untuk mengambil pajak tanah bagi penduduk pribumi, dan
bahkan
memelihara tentara sendiri[13]. Di luar benteng kota Batavia, rakyat Jayakarta di
bawah pimpinan Pangeran Wijayakusumah, Tubagus Arya
Suta dan Tubagus Wahas terus mengadakan perlawanan dengan
bantuan
prajurit-prajurit Banten[14].
Pada
tahun 1619 itu pula diadakan perjanjian persahabatan antara kompeni
Belanda
(VOC) dengan Inggris dalam hal perdagangan di nusantara. Inggris
dibolehkan
berdagang di Batavia,
meski dalam prakteknya, antara orang Inggris dan orang Belanda
sering
terjadi bentrokan, sehingga akhirnya orang Inggris pindah ke Banten.
Dalam
pada itu, kekalahan pasukan Banten di Jayakarta, membuat rakyat
Banten
tidak pernah berhenti menentang VOC. Sering terjadi bentrokan antar
kedua
belah pihak. Pejuang-pejuang Banten sering mengadakan perampasan
dan
keributan di darat maupun di laut terhadap orang-orang Belanda.
Kapal-kapal
VOC sering dirampok, orangnya dibunuh dan kapalnya
ditenggelamkan. Demikian
juga perkebunan-perkebunan tebu yang ditangani Belanda dirusaknya,
mereka
membabat pohon-pohon tebu itu pada malam hari. Kejadian semacam
ini sering
dan sukar sekali ditumpasnya, karena mereka menggunakan sistim
gerilya.
gerilya.
Diserangnya rombongan Belanda pada malam hari kemudian apabila
pasukan dari
Batavia datang, mereka lari; sehingga tentara kompeni jarang dapat
menangkap
perusuh-perusuh itu.
Setelah
perang pada tahun 1619 itu, Banten menempatkan pasukannya yang
besar dan
kuat di Tangerang. Pasukan ini dipimpin oleh Tumenggung
Wirautama dan
Rangga Wirapatra dibantu oleh dua orang kepercayaan Mangkubumi.
Pasukan
khusus ini dipersiapkan bukan saja sebagai benteng penghalang antara
w:st="on">Batavia
> dengan Banten, tapi juga dapat digunakan untuk
menyerang Batavia.
Dari Tangerang inilah kegiatan gerilya Banten di lancarkan
(Djajadiningrat,
1983:50).
Karena
gangguan-gangguan ini maka hubungan antara
w:st="on">Batavia
> dan Banten menjadi tetap tegang.
Sehingga tahun 1633 terjadilah perang besar antara dua kekuatan yang
Sehingga tahun 1633 terjadilah perang besar antara dua kekuatan yang
saling
bermusuhan itu.
Kira-kira
bulan Januari 1624, Mangkubumi Pangeran Arya Ranamanggala
meletakkan
jabatannya karena sakit, segala kewenangan diserahkan kepada Sultan
Abdul
Kadir yang memang sudah dewasa. Tapi walaupun demikian,
Ranamanggala masih
menjadi orang yang sangat dibutuhkan nasehatnya oleh Sultan dalam
mengambil
keputusan-keputusan penting. Bahkan kadang-kadang pendapatnyalah
yang dijadikan
padoman kebijaksanaan Sultan. Hal ini dapat dibuktikan dengan
keputusan
tentang hubungan Banten dengan kompeni Belanda. Banten tetap tidak
dapat
bersahabat dengan Belanda, walaupun Sultan dengan pembesar
lainnya
cenderung untuk berdamai (Djajadiningrat, 1983:190). Barulah pada
tanggal
16 Nopember 1624, Pangeran Arya
Ranamanggala menyerahkan pemerintahan
seluruhnya kepada Sultan.
Dua
tahun kemudian yakni tanggal 13 Mei 1626 Pangeran Arya
Ranamanggala
meninggal dunia. Dengan upacara kenegaraan jenazahnya
dimakamkan di serambi
barat Masjid Agung. Untuk memperingati kebesaran pahlawan besar
ini, rakyat
Banten kemudian menyebutnya dengan Pangeran Gede
(Djajadiningrat,
1983:191).
3. Penyerbuan
Mataram ke Batavia
Setelah
Sultan Sutawijaya meninggal, diangkatlah anaknya yang bernama Mas
Jolang
sebagai sultan di Mataram (1601 - 1613). Sedangkan putra sulungnya
yaitu
Pangeran Puger menjadi adipati Demak. Mas Jolang meninggal di
desa Krapyak
dan dimakamkan di Pasar Gede dengan gelar Sedo Krapyak. Sebagai
penggantinya diangkatlah putra sulungnya Mas Rangsang dengan
gelar Penembahan Agung Senopati Ing Ngalogo Ngamdurahman
(1613 - 1645), atau disebut juga Prabu Pandito Cokrokusumo.
Kemudian ia memakai gelar Sultan sehingga dikenal
dengan nama Sultan Agung.
Pada
masa pemerintahan Sultan Agung ini, Mataram mengalami zaman
kejayaan. Hasil
pertaniannya, terutama beras, melimpah sehingga menjadi hasil ekspor
terbesar bagi Mataram. Ibu kota kerajaan
semula di Karta (Kartosuro) yang kemudian dipindahkan ke Plered,
yang
kedua-duanya terletak di Kabupaten Bantul, Yogyakarta,
sekarang. Untuk menggambarkan bagaimana keadaan penduduk
Kartosuro,
dikatakan bahwa makanan yang dibutuhkan rakyat adalah 4000 ekor
binatang
sembelihan setiap hari dan kalau gong di pojok-pojok kota dipukul,
maka
dalam tempo setengah hari saja berkumpul 200.000 orang yang siap
dengan
senjata di tangan (Sanusi Pane 1950:197-198).
Sultan
Agung bercita-cita untuk menyatukan Pulau Jawa dalam
pemerintahannya dan
mengusir Belanda. Untuk itu ia menyiapkan tentara yang kuat dengan
penasehat yang cakap yaitu Kalifah Imam dan Kiyai Surodono. Dalam
waktu
yang relatif singkat direbutnya Wirosobo, Lasem, Pasuruan, Pajang
dan
Tuban. Demikian juga Madura (1624), Surabaya (1625) dan
Blambangan (1639). Bahkan kerajaan-kerajaan di Jawa Barat pun
yaitu Cirebon,
dan Priyangan mengakui kekuasaan Mataram. Sehingga otomatis
hampir seluruh
Jawa kecuali Batavia dan Banten, berada di bawah kekuasaan
Mataram. Usaha penaklukan Banten
sudah sering dilakukan Mataram; misalnya pada tahun 1596, Mataram
pernah
mengirimkan 15.000 tentaranya ke Banten dan menyerang dari laut;
tapi tidak
berhasil. Demikian juga pada tahun 1626 dengan bantuan dari
w:st="on">Palembang
>, Mataram
mengulangi lagi usahanya itu walau tanpa hasil apapun
(Djajadiningrat,
1983:180-20).
Dorongan
ingin menguasai seluruh Jawa inilah yang merisaukan kesultanan
Banten,
sehingga hubungan antara Banten dengan Mataram kelihatan selalu
sehingga hubungan antara Banten dengan Mataram kelihatan selalu
tegang. Hal
ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan mengapa Banten
membiarkan
orang-orang Belanda tetap diam di Jayakarta. Padahal pada
permulaannya
banyak pembesar Banten mengusulkan supaya kompeni Belanda itu
diusir
sebelum mereka kuat. Mangkubumi Arya Ranamanggala berpikir
bahwa tempat
kedudukan orang Belanda itu dapat dijadikan penghalang atau benteng
pemisah
antara Mataram dan Banten (Djajadiningrat, 1983:47).
Di pihak
lain, musuh terbesar Mataram adalah kompeni Belanda, tapi rasanya
Sultan
Agung belum cukup kuat untuk menyerang
w:st="on">Batavia
>. Tapi apabila Banten sudah berada
di bawah kuasanya, barulah saat penyerbuan ke
w:st="on">Batavia
> ini akan dimulai. Hal demikian
sukar sekali terwujud, karena jalan ke Banten terhalang oleh
kekuasaan
Belanda di Batavia. Oleh karenanya diajukan usul kepada kompeni;
bahwa
bahwa
apabila kompeni bersedia membantu penyerbuan Mataram ke Banten,
maka
kompeni akan dibolehkan membeli beras dari Mataram sebanyak-
banyaknya. Usul
itu ditolaknya karena kompeni sudah mengetahui maksud yang
tersimpan dalam tawaran perjanjian itu.
Baru
setelah Surabaya dapat dikuasai Mataram
(1625), Sultan Agung merencanakan penyerangan ke
w:st="on">Batavia
>. Untuk perbekalan bagi
pasukannya, disiapkan di tempat-tempat yang dilalui, seperti di Jepara,
Tegal, Kendal, Pekalongan, Ciasem, Cirebon dan Kerawang --- yang
direbutnya dari Banten. Karawang terkenal penghasil
beras yang besar bagi Banten (Djajadiningrat, 1983:200).
Dalam
pada itu Jan Pieterszoon Coen diberhentikan sebagai Gubernur Jendral
VOC
pada tahun 1623. Akan tetapi pada tahun 1627 dia diangkat kembali
setelah
didengar berita bahwa Mataram akan menyerbu
w:st="on">Batavia
>.
Pada
tahun 1628 berangkatlah pasukan Mataram untuk menyerang Batavia
>. Pasukan ini dibagi dalam tiga
kelompok. Pasukan pertama dipimpin oleh Baurekso yang akan
menyerang
w:st="on">Batavia
> pertamakali
dari laut. Pasukan kedua dipimpin oleh Tumenggung Sura Agulagul,
Dipati
Mandureja, Dipati Upasanta, Dipati Tohpati dan Tumenggung
Anggabaya.
Pasukan ini lebih banyak dari pasukan pertama dan akan berperang
apabila
Baurekso terdesak. Sedangkan pasukan ketiga dipimpin oleh Adipati
Juminah
dan Pangeran Singaranu. Pasukan ketiga ini jumlahnya sama dengan
pasukan
kedua, mereka akan menyerang apabila diperlukan (Djajadiningrat,
1983:50
dan 186).
Mendengar
adanya pemberangkatan pasukan Mataram secara besar-besaran itu,
Sultan
Banten merasa cemas, diperintahkannya supaya memperkuat pasukan
penyanggah
di Tangerang. Dikhawatirkan kalau-kalau pasukan Mataram ini
kemudian akan
kemudian akan
menyerang Banten.
Pasukan
Mataram yang dikerahkan untuk menyerbu
w:st="on">Batavia
> ini adalah pasukan terbesar dalam
sejarah Jawa. Karena pasukan ini adalah gabungan dari prajurit-
prajurit Surabaya
>, Demak,
Pasuruan, Ponorogo, Madura, Priyangan dan lain-lain (Sanusi Pane,
1950:204).
Sore
hari tanggal 26 Agustus 1628 datanglah 59 kapal Mataram di
pelabuhan
Batavia dengan menyamar sebagai kapal dagang dengan membawa
80.000 prajurit
yang dipimpin Baurekso. Maka terjadilah perang besar yang banyak
memakan
korban di kedua belah pihak. Pasukan Mataram tidak dapat menembus
benteng
pertahanan Belanda, karena memang Belanda telah menyiapkan
meriam-meriam
besar untuk menghadapi pasukan Mataram. Pertempuran itu
berlangsung sampai
berminggu-minggu, sehingga Mataram harus mengakui kekuatan
senjata yang
senjata yang
dimiliki VOC. Pengepungan pasukan Mataram dibuat tidak berdaya
lagi, bahkan
akhirnya Tumenggung Baurekso sendiri gugur dalam pertempuran 21
Oktober
1628 (Djajadiningrat 1983:186).
Melihat
keadaan pasukan Baurekso itu maka pada tanggal 21 September 1628
pasukan
kedua bergabung untuk menyerang Batavia dari segala arah. Hampir
Batavia dapat direbutnya. Tembok-tembok
w:st="on">kota
> diruntuhkan dan benteng-benteng kecil di sekitar
w:st="on">kota
> dapat direbut.
Sehingga serdadu kompeni Belanda hanya dapat bertahan di dalam
benteng
induk di tepi sungai Ciliwung saja.
Untuk
memaksa pasukan Belanda keluar dari bentengnya, Tumenggung Sura
Agulagul
memerintahkan untuk memben-dung sungai Ciliwung dan
mengalihkan alirannya,
sehingga di perbentengan akan mengalami kesulitan air. Dan memang
hal ini
terjadi. Penyakit kolera berjangkit dalam benteng, bahkan akhirnya
Gubernur
Jendral Jan Pieterszoon Coen sendiri mati terkena penyakit ini
(Djajadiningrat, 1983:187).
Dalam
situasi yang sangat menentukan itu, ternyata pertempuran yang
berjalan
hampir lima bulan tersebut banyak menghabiskan tenaga, dana,
kecerdikan dan keberanian,
juga persediaan makanan. Persedian makanan pasukan Mataram sudah
semakin
menipis, sedangkan orang-orang Banten tidak ada yang mau
membantunya. Hal
ini dapat dipahami, karena memang antara Banten dan Mataram
sedang ada dalam
situasi permusuhan dan saling curiga. Sehingga banyak prajurit
Mataram yang
meninggal karena kelaparan atau karena penyakit. Melihat keadaan
yang
menyedihkan ini, maka pada tangga 3 Desember 1628 Tumenggung
Sura Agulagul
memerintahkan pasukannya kembali pulang ke Mataram
(Djajadiningrat,
1983:186).
Tapi
baru saja orang Belanda mengira bahwa pertempuran sudah selesai,
datanglah
datanglah
pasukan Mataram yang lebih besar. Pasukan ketiga dipimpin oleh
Pangeran
Juminah, Pangeran Singaranu, Dipati Puger dan Dipati Purbaya.
Dikepungnya
kembali benteng Belanda itu. Karena banyaknya pasukan Mataram ini,
maka
orang Belanda tidak ada yang berani menyerang keluar dari
perbentengan.
Pengepungan
ini berjalan berbulan-bulan. Tapi karena kelaparan, penyakit dan
banyaknya
prajurit Mataram yang meninggalkan barisan, maka makin lemahlah
pasukan
penyerang. Pengepungan ini pun mengalami kegagalan yang tragis.
Akhirnya
pada tanggal 7 Oktober 1629, pasukan Mataram menghentikan
pengepungannya
dan mereka kembali ke Mataram dengan meninggalkan prajurit-
prajuritnya yang
mati dan sakit diperjalanan (Djajadiningrat, 1983:51 dan 187).
Sultan
Agung sangat marah mendengar kekalahannya itu. Direncanakannya
lagi
penyerangan ke Batavia yang akan dipimpinnya sendiri. Untuk supaya
kejadian kekalahan itu jangan
terulang lagi, maka harus dibuat lumbung-lumbung padi di beberapa
tempat di
tempat di
dekat Batavia;
dan tugas ini diserahkan kepada Kerawang. Namun maksud besar
Sultan Agung
ini tidak terlaksana, karena Belanda telah mendengar rencana itu, dan
lumbung-lumbung yang sudah dibuat, dibakar oleh Belanda. Sampai
meninggalnya Sultan Agung, rencana penyerbuan selanjutnya ke
w:st="on">Batavia
> tidak pernah
terwujudkan.
4. Keadaan Banten setelah Mangkubumi Arya Ranamanggala
Setelah
meninggalnya Mangkubumi Arya Ranamanggala, kesultanan Banten
sepenuhnya di
tangan Sultan Abdul Kadir. Pada masa itu hubungan Banten dengan
w:st="on">Batavia
> sedang
memburuk. Banyak perampokan dan pengrusakan yang dilakukan
orang Banten
terhadap milik kompeni. Karena gangguan-gangguan ini, kompeni
mengadakan
ekspedisi pembersihan ke daerah-daerah kuasa Banten. Daerah yang
menjadi
sasaran ekspedisi antara lain Tanahara, Anyer dan beberapa daerah di
Lampung. Maka terjadilah pertempuran-pertempuran sengit di daerah
tersebut
pada sekitar bulan Nopember 1633. Pertempuran-pertempuran tersebut
lebih
banyak dimenangkan pasukan Banten, karena kekuatan kompeni
sedang melemah
akibat serbuan Mataram yang memakan waktu sangat lama
(Djajadiningrat,
1983: 189).
Pada
tanggal 5 Januari 1634 dikirimnya lagi pasukan laut kompeni yang
lebih kuat
untuk mengepung kota Banten, maka diadakanlah blokade menyeluruh
atas daerah Teluk Banten.
Pengepungan Belanda di perairan Tanahara dapat digagalkan oleh
pasukan yang
dipimpin Tubagus Singaraja, kuasa Banten di
w:st="on">sana
>. Sedangkan pengepungan di perairan
pelabuhan Banten, baru dapat digagalkan setelah digunakan taktik
baru. Atas
usul Wangsadipa, prajurit-prajurit Banten memuat sampah dan
rumput-rumput
kering di atas beratus-ratus perahu kecil yang kemudian dibasahi
dengan
minyak bakar. Pada malam hari perahu-perahu tadi diluncurkan dekat
dengan
kapal-kapal kompeni. Dalam jarak yang sudah dekat, barulah rumput
kering
tersebut dibakar. Dengan cara ini banyak kapal kompeni yang ikut
juga
terbakar, dan akhirnya pengepungan Belanda dapat juga digagalkan.
Peristiwa
pembakaran kapal-kapal kompeni itu disebut dalam sejarah Banten
dengan
istilah Pabaranang (Djajadiningrat, 1983:189).
Pertempuran-pertempuran kecil maupun besar antara Batavia dan Banten terus berlangsung.
Semuanya ini lebih banyak merugikan kompeni,
padahal kompeni sedang sibuk menghadapi perang dengan Mataram
dan Makasar.
Oleh karenanya diadakanlah genjatan senjata dengan Banten pada
bulan Juli
1636; tapi dalam prakteknya baru bisa dilaksanakan pada bulan Maret
1639.
Sultan
Abdul Kadir, dari permaisurinya (putri Pangeran Rangga Singasari)
mempunyai
5 orang anak: Pangeran Pekik, Ratu Dewi, Ratu Mirah, Ratu Ayu dan
Pangeran
Banten. Sedangkan dari istri yang lain, Sultan mempunyai lebih dari
30 anak
(Djajadiningrat, 1983:50). Pangeran Pekik atau Pangeran Kilen diasuh
oleh
paman tuanya yaitu Mangkubumi Arya Ranamanggala. Dialah yang
kemudian
diangkat menjadi Putra Mahkota.
Islam
mengajarkan supaya ummatnya bersatu baik dalam keadaan damai
maupun dalam
keadaan perang. Mereka diwajibkan menunaikan ibadah haji di
Mekkah. Dalam
kesempatan haji itulah mereka berkumpul saling memberikan
informasi tentang
keadaan negaranya dan menentukan apa yang harus dikerjakannya
untuk
kebesaran Islam di negaranya masing-masing. Mereka secara tidak
tertulis
mengadakan koordinasi di antara negara-negara Islam. Terbentuklah
satu kekhalifahan Islam yang luas, yang dipimpin oleh khalifah yang
mengurusi/menguasai
w:st="on">kota
> suci Mekkah.
Semangat Pan Islamisme dari ummat Islam --- yang merasa
kedaulatannya terusik oleh kolonialis --- sedang tumbuh dengan
suburnya.
Dalam
masa pemerintahan Sultan Abdul Kadir, antara tahun 1633 atau 1634,
diutuslah beberapa pembesar istana ke Mekkah. Utusan ini dipimpin
oleh Labe Panji,
Tisnajaya dan Wangsaraja. Dalam rombongan ini ikut pula Pangeran
Pekik,
sebagai wakil ayahnya, sambil menunaikan ibadah haji.
Sekitar
tanggal 21 April dan 4 Desember 1638, rombongan yang diutus ke
Mekkah
sampai kembali di Banten. Mereka disambut dengan upacara
kebesaran kenegaraan.
Diceritakan upacara penyambutan ini dalam Sajarah Banten sebagai
berikut: "Di Banten, Sultan memerintahkan kepada Tumenggung Wira
Utama
untuk membuat persiapan secukupnya bagi keperluan penyambutan
itu. Pada
hari yang ditentukan, semua persiapan telah sempurna. Setiap orang
telah
siap di tempatnya masing-masing. Sultan duduk bersama pengiringnya
di srimanganti.
Yang menerima surat dari khalifah Mekkah adalah Ki Pekih, di atas
kapal. Ketika kapal akan
merapat, dari atas kapal ditembakkan meriam sebelas kali, yang
kemudian
dibalas dengan jumlah yang sama dari perbentengan. Gemelan ditabuh
dan
sekali lagi meriam ditembakkan sebagai penghormatan. Bendera dari
Mekkah
dibawa oleh Kiyai Rangga Paman, sedangkan hadiah-hadiah lainnya
dibawa oleh
Tumenggung Indrasupati". Dari Mekkah Sultan mendapat gelar
kebesaran Sultan
Abdulmafakhir Mahmud Abdul Kadir sedangkan Pangeran Pekik
mendapat
gelar Sultan Ma'ali Akhmad. Untuk utusan yang baru datang dari
Mekkah itu, Sultan memberi hadiah dan gelar kebangsawanan.
Demang Tisnajaya
mendapat gelar Haji Wangsaraja (Djajadiningrat, 1983:53 dan 193 -
196). Labe Panji, kepala rombongan yang pertama meninggal dunia
dalam
perjalanan ke Mekkah.
Tidak
lama setelah kedatangan rombongan dari Mekkah itu, ibunda Sultan
yakni Nyai
Gede Wanagiri meninggal dunia. Dan atas perintah Sultan, ibundanya
dikuburkan di Desa Kenari, karena di tempat itulah Nyai Gede
Wanagiri
senang beristirahat menenangkan hati. Di Desa Kenari ini, Sultan
memerintahkan untuk dibuatkan taman yang indah dengan rusa-rusa
dan
binatang peliharaan lainnya, dan Sultan sering beristirahat di taman ini
setelah berziarah ke makam ibundanya.
Apabila
Sultan sedang berada di istana setelah selesai penghadapan para
ponggawa,
baginda duduk dengan muka menghadap ke selatan dengan sebuah
kitab di
sampingnya. Sultan mengajarkan ilmu agama kepada para istrinya,
pedekan
tundan, pedekan jawi, para nyai dan istri-istri para ponggawa dan para
istri mentri[15]. Sedangkan di ruang lain berkumpul pula para nyai sambil mengajar
mengaji al-Qur'an kepada
para pangeran kecil dan putri-putri istana. Nyai-nyai ini dipimpin oleh
Nyai Mas Eyang.
Memang
dalam Sejarah Banten, Sultan Abdul Kadir terkenal sebagai seorang
ulama
yang saleh. Sultan mengarang beberapa kitab ilmu agama yang
kemudian
disebarkan secara cuma-cuma kepada rakyatnya. Salah satu kitab
karangannya
“Insan Kamil” yang kemudian diambil Dr. Snuock Hurgronje,
pegawai pemerintah Hindia Belanda (Roesjan, 1950:29). Sultan sering
memeriksa kompleks istana dan keadaan rakyatnya pada malam hari
dengan
ditemani oleh Ki Cili Duhung. Apabila ditemukan rakyat yang sakit
atau
penderitaan lainnya, maka keesokan harinya Sultan memerintahkan Ki
Gula
Geseng dan Ki Gula Ngemu (nama orang) untuk memberikan bantuan.
Sultan pun
sering seserangan yaitu mengontrol sawah-sawah kerajaan yang
terletak di daerah Serang sekarang (Djajadiningrat, 1983: 58-61). Hasil
sawah ini di samping untuk memenuhi kebutuhan istana juga sewaktu-
waktu
dijual untuk pengontrol harga beras di pasaran. Dengan demikian
kebutuhan
rakyat akan beras dapat dipenuhi (Lombart, 1986:97).
Sultan
Abulma'ali Ahmad mempunyai putra sebagai berikut: Dari perkawinan
dengan
Ratu Martakusuma (Putri Pangeran Jayakarta), dikaruniai 5 orang anak
: Ratu
Kulon (Ratu Pembayun), Pangeran Surya, Pangeran Arya Kulon,
Pangeran Lor,
dan Pangeran Raja. Dari perkawinannya dengan Ratu Aminah (Ratu
Wetan),
mempunyai anak: Pangeran Wetan, Pangeran Kidul, Ratu Inten dan
Ratu
Tinumpuk. Sedangkan dari istri yang tidak dikenal namanya, berputra:
Ratu
Petenggak, Ratu Tengah, Ratu Wijil, Ratu Pusmita, Pangeran Arya
Dipanegara
atau Tubagus Abdussalam atau Pangeran Raksanagara, Pangeran
Aryadikusuma
atau Tubagus Abdurahman atau Pangeran Singandaru (Djajadiningrat,
atau Tubagus Abdurahman atau Pangeran Singandaru (Djajadiningrat,
1983:59).
Dalam
pada itu, Cirebon biar pun tidak pernah diserang Mataram, tapi pada
tahun
1619 keadaannya sudah seperti jajahan Mataram saja (Djajadiningrat,
1983:200). Sehingga atas desakan Mataram, Sultan Cirebon
mengancam Banten
agar supaya mengakui kuasa Mataram; dan apabila tidak maka Banten
akan
diperanginya. Peringatan seperti ini ditegaskan lagi pada tahun 1637.
Karena desakan dan ancaman dari Mataram pula, maka pada tahun
1650 yakni
setelah Pangeran Girilaya menjadi Sultan Cirebon menggantikan
ayahnya,
Penembahan Ratu, karena Banten tidak mau tunduk pada ancaman
Cirebon,
Sultan merencanakan penyerbuan ke Banten.
Dengan
menggunakan 60 buah kapal, berangkatlah pasukan
w:st="on">Cirebon
> ke Banten dipimpin oleh Senopati
Ngabehi Panjangjiwa. Setelah sampai diperairan Sumur Angsana,
mereka
memutuskan berlayar ke hulu sungai untuk membakar Tanahara.
memutuskan berlayar ke hulu sungai untuk membakar Tanahara.
Rencana
penyerangan pasukan ini sudah didengar Sultan Abdul Kadir. Maka
dikirimnya
satu pasukan yang dipimpin oleh Lurah Astrasusila, Demang
Narapaksa dan
Demang Wirapaksa. Mereka berangkat dengan menggunakan 50 buah
kapal perang.
Sultan menjanjikan hadiah sebanyak 2000 real dan baju kebesaran
kepada
siapa saja yang sangat berjasa dalam peperangan itu.
Sesampainya
di Tanahara, pasukan dibagi tiga bagian. Pasukan pertama dipimpin
oleh
Lurah Astrasusila, bersembunyi di Tanjung Gede. Sedangkan pasukan
kedua dan
ketiga masing-masing dipimpin oleh Demang Narapaksa dan Demang
Wirapaksa,
menanti di Muara Pasilian.
Pagi-pagi
sekali pasukan Cirebon sudah mendarat di Pelabuhan Tanahara.
Senopati Panjangjiwa bersama sebagian
kecil pasukannya berlayar masuk ke hulu sungai untuk menyelidiki
keadaan.
Tapi karena sebab yang belum jelas, Senopati Panjangjiwa meletakkan
senjatanya dan menyerahkan diri kepada Demang Wirapaksa, diikuti
oleh
oleh
pasukannya. Selanjutnya, Senopati Panjangjiwa dibawa menghadap
Sultan di
Surosowan; karena tindakannya itu Sultan memberi ampun dan
hadiah-hadiah
kepada mereka semua.
Sedangkan
pasukan Cirebon yang lain --- yang sedang menunggu kabar dari
Senopati Panjangjiwa di hilir
--- melihat banyak senjata yang hanyut di sungai. Mereka menyangka
di hulu
sungai sedang terjadi pertempuran hebat antara pasukan Panjangjiwa
dengan
pasukan Banten. Dengan segera mereka berlayar ke hulu untuk
membantu
temannya. Secara tiba-tiba Lurah Astrasusila dan pasukannya
menyergap
pasukan Cirebon itu. Serangan mendadak ini tidaklah mereka duga
sama sekali. Pertempuran
ini berlangsung dengan hebat. Tapi akhirnya dari 60 buah kapal
tinggal satu
kapal yang dapat melarikan diri dan kembali ke
w:st="on">Cirebon
>, sedangkan yang lainnya dapat
ditawan atau gugur. Tentara Cirebon yang menyerah dan ditawan
semuanya
dibunuh tanpa terkecuali.
dibunuh tanpa terkecuali.
Kejadian
ini diberitakan kepada Sultan yang baru selesai khutbah hari raya di
Banten. Betapa marahnya Sultan mendengar berita pembantaian
tersebut.
Sultan menginginkan semua yang sudah menyerah tidak boleh
dibunuh. Karena
kejadian itu, hadiah yang sudah dijanjikan ditarik kembali dan Lurah
Astrasusila diusir dari istana. Peristiwa inilah yang kemudian dikenal
dengan Peristiwa Pagarage atau Pacerebonan, yang terjadi pada
tahun 1650 (Djajadiningrat, 1983: 68-69 dan 205).
Untuk
memperingati kemenangan pasukan Banten dalam peristiwa Pagarage
tersebut, diadakan upacara sasapton. Jalannya pesta kemenangan ini
diceritakan sebagai berikut :
Sepanjang
tepi sungai rakyat dan ponggawa ditempatkan dalam kemah-kemah
yang berjajar
rapi. Sebagai tanda pengenal, mereka menggunakan bendera-bendera
yang
berbeda yang berwarna-warni. Para ponggawa
duduk di bawah pohon beringin dekat srimanganti, menghadap candi
rasmi menantikan sultan keluar dari istana. Sepanjang jalan yang akan
dilalui sultan, berjejer menyambut para priyayi: di mande mundu
ditempatkan priyayi medang sebanyak dua puluh orang, di made
gayam ditempatkan priyayi parasara empat puluh orang dan
panyendekan ada priyayi kalamisani dengan kereta-keretanya.
Sebagai
kepala penjaga ialah Ki Suraita. Sedangkan sitinggil diurus oleh Ki
Naraita yang juga menjadi kepala penyimpanan senjata dan kuda.
Empat ekor
kuda telah disiapkan namanya Sekardiyu, Kalisahak, Sumayuda, dan
Layarwaring. Pembawa tanda kebesaran istana berjalan di muka,
barulah
sultan keluar dengan diiringi tabuhan gemelan sekati.
Sultan
duduk di lampit yang digelar di tanah dikelilingi para mentri. Gamelan
mesa
patra ditabuh dan menperdengarkan lagu-lagunya. Para ponggawa
telah siap di tempatnya masing-masing dan bersamaan dengan itu
terdengar pula gamelan dari kemah-kemah. Pangeran Adipati Anom
mengendarai
kuda diiringi oleh para ponggawa dengan kudanya pula. Dan sasapton
pun dimulai.
Yang
menjadi bintang pada sasapton itu ialah Ratu Bagus Komala yang
menunggang kuda Sekar Tinggal, demikian juga saudaranya Ratu
Bagus Kencana;
keduanya anak Pangeran Upapati. Mereka itu lawan Pangeran Adipati
Anom yang
menunggang kuda Layarwaring, kuda dari Bali.
Menjelang
malam hari, sasapton itu berhenti dan sultan pun kembali ke keraton
dengan diiringi lagu gemelan sekati. Ratu Bagus Kencana kemudian
mendapat gelar Tubagus Singawangi dan Ratu Bagus Komala bergelar
Tubagus Ewaraja (Djajadiningrat, 1983:70).
Tidak
lama setelah Peristiwa Pagarage ini, Putra Mahkota Pangeran Pekik
atau Sultan Abulma'ali Ahmad meninggal dunia, setelah ia menderita
sakit
yang cukup lama (1650). Putra Mahkota dimakamkan di pekuburan
Kenari
(Ismail, 1980:18). Sebagai penggantinya, jabatan Putra Mahkota
diserahkan
kepada anaknya Sultan Abulma'ali Ahmad, yakni Pangeran Surya,
dengan gelar Pangeran Adipati Anom[16] (Tjandrasasmita, 1975: 269).
Tidak
lama setelah itu yakni pada tanggal 10 Maret 1651, Sultan
Abumafakhir
Mahmud Abdul Kadir meninggal dunia. Jenazahnya dikuburkan di
Kenari,
berdekatan dengan makam ibundanya dan putra kesayangannya,
Sultan
Abulma'ali Akhmad (Ismail, 1980:18 dan Djajadiningrat, 1983:199).
Sebagai
penggantinya diangkatlah Pangeran Adipati Anom Pangeran Surya
penggantinya diangkatlah Pangeran Adipati Anom Pangeran Surya
menjadi
Sultan Banten ke-5.
E. SULTAN
AGENG TIRTAYASA (1651 - 1672)
Setelah kegagalan Sultan Agung menduduki
w:st="on">Batavia
>, keadaan
Mataram tidak lagi sekuat semula. Banyak dana, perbekalan, dan
prajurit
yang dikorbankan dalam pertempuran itu. Kemunduran ini ditambah
lagi dengan
kelesuan di bidang perdagangan, terutama perdagangan antar negara,
Malaka
sudah dikuasai kompeni Belanda pada tahun 1641, demikian juga
daerah-daerah
Indonesia Timur seperti Ambon, Maluku, kepulauan Saparua, dan
sebagainya.
Sedangkan daerah bagian barat seperti Banten, Lampung dan
Bengkulu --- yang
masuk kuasa Banten --- sedang bermusuhan dengan Mataram, dan
juga Laut Jawa
hampir sudah dikuasai oleh kompeni, sehingga hubungan dagang
Mataram dengan
Palembang dan Jambi pun otomatis terhenti.
Dalam
keadaan demikian, Sultan Agung pun wafat, tahun 1645 dan
dikuburkan
dipemakaman Imogiri. Penggantinya Pangeran Aryo Prabu Adi
Mataram yang
bergelar Amangkurat I tidak sekuat Sultan Agung, sehingga banyak
daerah
yang memberontak melepaskan diri dari Mataram. Situasi yang kacau
ini
memaksa Amangkurat I mengadakan perjanjian persahabatan dengan
kompeni
Belanda pada tahun 1647, yang isinya sebagai berikut (Sanusi Pane,
1950:
206-207):
1)
Belanda akan mengirimkan utusan ke Mataram setiap tahun.
2)
Orang-orang Mataram harus memakai kapal kompeni apabila
hendak keluar negeri.
3)
Orang-orang mataram boleh berdagang bebas kecuali dengan
daerah Ternate, Ambon dan Banda.
4)
Orang-orang Mataram yang akan berlayar dan melalui Selat
Malaka harus mendapat izin terlebih dahulu dari kompeni.
Dengan
perjanjian ini konfrontasi antara Belanda dengan Mataram berakhir,
namun,
akhirnya Mataram sangat bergantung dengan Kompeni. Bandar-bandar
Mataram menjadi sepi karena kapal mereka sukar sekali mendapat izin
untuk melintasi Malaka,
sedangkan rempah-rempah yang sangat digemari orang-orang asing
tidak mereka
miliki karena mereka dilarang berdagang di Maluku. Di lain pihak
Kompeni
mendapat banyak keuntungan karena dengan perjanjian ini kompeni
dapat
mengontrol segala kegiatan Mataram; dan yang lebih penting lagi,
Kompeni
dapat beristirahat, menyatukan kekuatannya untuk menghadapi
perlawanan di
daerah lain.
Di
Maluku, Belanda pun mendapat keuntungan besar, karena sejak tahun
1605
Kompeni merebut Ambon dan Tidore dari tangan Portugis, demikian
juga Banda
(1609) dan akhirnya Ternate pun dapat dikuasainya sehingga di
daerah-daerah
itu Belanda dapat memonopoli perdagangan lada dan cengkeh. Untuk
menjaga
harga cengkeh tetap tinggi, maka Kompeni menghancurkan kebun-
kebun cengkeh
kebun cengkeh
di kepulauan Ambon dan sekitarnya. Usaha
penghancuran inilah yang dikenal dengan Pelayaran Hongi yang
banyak
merugikan rakyat di daerah itu (Burger, 1962:53).
Daerah
rempah-rempah yang masih bebas dari pengaruh Kompeni hanyalah
Makasar.
Orang-orang Makasar menjual rempah-rempah pada siapa saja yang
datang ke sana
>, seperti orang
w:st="on">Portugis
>, Denmark,
Belanda, Perancis dan Inggris. Hal ini dianggap oleh kompeni sangat
merugikannya, karena itu Makasar pun harus diperangi. Diadakanlah
blokade
di sekitar perairan Makasar pada tahun 1633. Baru pada tahun 1636
diadakan
perjanjian perdamaian, tapi pada tahun 1640 kembali terjadi
pertempuran.
Prajurit Makasar yang dipimpin rajanya Sultan Hasanuddin berperang
dengan
gagah berani. Peperangan ini berlangsung lama, baru pada tahun 1655
diadakan perdamaian, tapi karena saling berbeda kepentingan akhirnya
kembali terjadi perang hingga tahun 1660 dan pada tahun 1666.
kembali terjadi perang hingga tahun 1660 dan pada tahun 1666.
Karena
penghianatan Aru Palaka, anak Raja Sopeng, akhirnya kompeni dapat
menguasai
Makasar, dan diadakan perjanjian di Bongaya pada tahun 1667 (Sanusi
Pane,
1950: 207-210) :
1)
Makasar melepaskan kuasanya atas Negeri Bugis (Bone,
Luwu, dan Gowa) serta Bima dan Sumbawa.
2)
Perahu Makasar hanya boleh berlayar dengan
w:st="on">surat
> izin kompeni.
3)
Makasar tidak boleh berdagang dengan bangsa lainya
kecuali dengan Belanda.
4)
Hanya kompeni saja yang boleh memasukkan kain-kain dan
barang-barang dari Cina.
5)
Makasar harus membayar semua biaya perang, menyerahkan
salah satu bentengnya dan mengirim tawanan ke
w:st="on">Batavia
> sebagai jaminan.
Meskipun perjanjian Bongaya telah ditandatangani,
perlawanan bersenjata kepada kompeni berlangsung terus. Baru
setelah
benteng Sombaopu dikuasai kompeni tahun 1669, Makasar
sepenuhnya di tangan
kompeni. Dengan kekalahan Makasar ini banyak patriot dari Bugis
yang pergi
ke Banten dan Jawa Timur untuk melanjutkan perjuangannya melawan
Belanda
(Sagimun, 1975:259).
Pada
abad ke-17 ini, Belanda telah menguasai beberapa daerah kerajaan
besar
seperti: Mataram, Maluku, Batavia dan Makasar. Sedangkan dalam
bidang ekonomi, Belanda telah memegang
monopoli perdagangan rempah-rempah secara luas, bahkan Belanda
pun berhasil
memperoleh monopoli di Sumatera Tengah yakni di
w:st="on">Palembang
> (1642) dan Jambi (1643)
(Burger, 1962:60). Di pihak lain, rakyat nusantara sebagian besar
berada
dalam kemiskinan dan penindasan akibat keserakahan Belanda ini.
Setelah
Sultan Abulmafakhir Mahmud Abdul Kadir wafat, Pangeran Adipati
Anom
dinobatkan menjadi Sultan Banten ke-5 pada tanggal 10 Maret 1651
(Djajadiningrat, 1983:205). Untuk memperlancar sistem
pemerintahannya
Sultan mengangkat beberapa orang yang dianggap cakap sebagai
pembantunya.
Jabatan Patih atau Mangkubumi dipercayakan kepada Pangeran
Mandura dan
wakilnya Tubagus Wiratmaja, sebagai Kadhi atau Hakim Agung
diserahkan
kepada Pangeran Jayasentika, tapi karena Pangeran Jayasentika
meninggal
tidak lama setelah pengangkatan itu dalam perjalanan menunaikan
ibadah
haji, maka jabatan Kadhi diserahkan kepada Entol Kawista yang
kemudian dikenal
dengan nama Faqih Najmuddin. Pangeran Mandura dan Pangeran
Jayasentika adalah Putra Sultan 'Abulmafakhir Mahmud Abdul Kadir,
jadi
masih terhitung paman, sedangkan Faqih Najmuddin adalah menantu
Sultan
Abulmufakhir yang menikah dengan Ratu Lor.
Untuk memudahkan
pengawasan daerah-daerah yang tersebar luas seperti Lampung,
Solebar,
Solebar,
Bengkulu, dan lainnya, diangkatlah ponggawa-ponggawa dan nayaka-
nayaka di bawah pengawasan dan tanggung jawab Mangkubumi.
Dalam waktu-waktu
tertentu nayaka-nayaka ini diharuskan datang ke Banten dan
berkumpul
di kediaman Mangkubumi di Kemuning, di seberang sungai, untuk
melaporkan
keadaan daerahnya masing-masing. Biasanya setelah itu para
ponggawa dan nayaka ini dibawa menghadap Sultan di istana
Surosowan, untuk menerima petunjuk-petunjuk
dan pesan-pesan yang harus disampaikan kepada rakyat di daerahnya
masing-masing (Djajadiningrat, 1983:71).
Mangkubumi
Pangeran Mandura diserahi tugas mengatur dan mengawasi
kesejahteraan
prajurit karajaan, baik tentang perumahannya di Kanari maupun
tentang
persenjataannya. Rumah-rumah senopati dan ponggawa ditempatkan
sedemikian
rupa sehingga, di samping mereka dapat cepat mengetahui keadaan
prajurit-prajuritnya, tetapi dengan mudah mereka pun dapat segera
menerima
instruksi sultan (Djajadiningrat, 1983:71 dan Tjandrasasmita,
1967:11).
Memang
Pangeran Surya yang bergelar Pangeran Ratu Ing Banten adalah
seorang
ahli strategi perang yang dapat diandalkan. Hal ini dibuktikan sewaktu
masih menjabat Putra Mahkota, Pangeran Surya-lah yang mengatur
gerilya
terhadap pendudukan Belanda di Batavia.
Seperti
juga kakeknya, Pangeran Ratu tidaklah melepaskan jalur hubungan
dengan
kekhalifahan Islam yang berpusat di Mekkah, yang biasanya dilakukan
sambil
menunaikan ibadah haji. Persiapan untuk mengadakan pertemuan
dengan pusat
kekhalifahan di Mekah itu, Sultan mengadakan musyawarah dengan
beberapa
pembesar kerajaan yang antara lain: Pangeran Mandura, Pangeran
Mangunjaya
dan Mas Dipaningrat; yang selanjutnya diputuskan supaya Santri Betot
beserta tujuh orang lainnya diutus ke Mekah. Delegasi ini ditugaskan
untuk
melaporkan penggantian sultan di Banten, juga menceritakan keadaan
nusantara dan Kesultanan Banten khususnya dalam hubungannya
dengan kompeni
Belanda. Di samping itu pula, untuk memperdalam pengetahuan
rakyat Banten
kepada agama Islam, dimintakan supaya Khalifah mengirimkan guru
agama ke
Banten.
Setiba
kembali utusan ini dari Mekkah, Khalifah Makkah menyampaikan
sepucuk
w:st="on">surat
> untuk Sultan
bersama tiga orang utusan yang bernama Sayid Ali, Abdunnabi, dan
Haji Salim.
Dari khalifah Makkah pula Pangeran Ratu Ing Banten mendapat gelar
Sultan
'Abulfath Abdulfattah. Santri Betot kemudian diberi nama Haji Fattah
dan mendapat hadiah-hadiah dari sultan, demikian juga ketujuh orang
pengiringnya.
1. Perang
Melawan Kompeni Belanda
Dalam
masalah politik kenegaraan, Sultan 'Abulfath Abdulfattah dengan tegas
menentang segala bentuk penjajahan bangsa asing atas negaranya.
Mengembalikan
Jayakarta ke pangkuan Banten merupakan cita-cita utama dan
karenanya Sultan
tidak akan pernah mau berbaikan dengan kompeni Belanda. Sultan
melihat
bahwa perjanjian damai antara Sultan Abulmufakhir dengan kompeni
bahwa perjanjian damai antara Sultan Abulmufakhir dengan kompeni
pada tahun
1645 sudah tidak lagi dipatuhi kompeni. Kompeni Belanda masih
selalu
mencegat kapal-kapal dagang asing yang hendak berlabuh dan
mengadakan
transaksi dagang di bandar Banten, sehingga pelabuhan Banten
mengalami
banyak penurunan, karena pedagang-pedagang asing segan berlabuh di
Banten
takut diserang kapal-kapal kompeni, baik waktu datang maupun
setelah mereka
meninggalkan Banten. Membalas tindakan kompeni ini Sultan pun
memerintahkan
tentaranya untuk selalu mengadakan perusuhan pada intalasi milik
kompeni,
di mana saja; diharapkan orang-orang Belanda itu segera
meninggalkan
Banten. Sultan pun memperkuat pasukannya di Tangerang dan Angke,
yang telah
lama dijadikan benteng pertahanan terdepan dalam menghadapi
kompeni
Belanda. Dari daerah ini pulalah pada tahun 1652 pasukan Banten
mengadakan
penyerangan ke Batavia (Tjandrasasmita, 1967:12).
Melihat
situasi yang semakin panas itu, kompeni mengirimkan utusan ke
Banten untuk
Banten untuk
menyampaikan usulan pembaharuan perjanjian tahun 1645.
Dibawanya
hadiah-hadiah yang menarik untuk melunakkan hati Sultan, tapi Sultan
'Abulfath menolak usulan tersebut. Utusan kedua dikirimnya pula pada
bulan
Agustus 1655, tapi seperti utusan yang pertama, Sultan pun
menolaknya;
Banten bertekad hendak meleyapkan penjajah Belanda walau apapun
resikonya.
Pada
tahun 1656 pasukan Banten yang bermarkas di Angke dan Tangerang
mengadakan
gerilya besar-besaran, dengan mengadakan pengrusakan kebun-kebun
tebu dan
penggilingan-penggilingannya, pencegatan serdadu-serdadu patroli
Belanda,
pembakaran markas patroli, dan beberapa pembunuhan orang-orang
Belanda,
yang semuanya dilakukan pada malam hari. Di samping itu perahu-
perahu
ramping prajurit Banten sering mencegat kapal kompeni, dan
membunuh semua
tentara Belanda dan merampas semua senjata serta kapalnya. Sehingga
kapal
kompeni yang hendak melewati perairan Banten haruslah dikawal
pasukan yang
kuat.
Untuk
menghadapi kompeni dalam pertempuran yang lebih besar, Sultan
'Abulfath
memperkuat pertahanannya baik dalam jumlah maupun kwalitasnya.
Diadakanlah hubungan yang lebih baik dengan negara-negara lain
seperti Cirebon
>, Mataram dan lain-lain
(Tjandrasasmita, 1967:13). Bahkan dari Kerajaan Turki, Inggris,
Perancis,
dan Denmark, banyak didapatkan bantuan berupa senjata-senjata api
yang sangat dibutuhkan
(Chijs, 1881: 58-59). Diadakanlah kesatuan langkah dan penyatuan
pasukan di
daerah kuasa Banten; Lampung, Bangka,
Solebar, Indragiri, dan daerah lainnya mengirimkan pasukan
perangnya untuk
bergabung dengan pasukan Surosowan.
Demikian
juga keadaan kompeni di Batavia, pasukan
perang kompeni diperkuat dengan serdadu-serdadu sewaan dari
Kalasi,
Ternate, Bandan, Kejawan, Melayu, Bali,
Makasar dan Bugis. Memang serdadu yang berasal negeri Belanda
sendiri
sangat sedikit, mereka sengaja mengambil penduduk pribumi untuk
sangat sedikit, mereka sengaja mengambil penduduk pribumi untuk
menghadapi
orang pribumi lainnya; dalam pertempuran pun, orang Belanda selalu
berada
di belakang sedangkan yang maju perang selalu serdadu pribumi.
Diperkuatnya
penjagaan-penjagaan dan benteng-benteng di perbatasan Angke,
Pesing,
Tangerang; tapi karena kompeni sedang sibuk berperang dengan
Makasar,
mereka tidak bisa banyak menyiapkan pasukan.
Setelah
terjadi beberapa kali pertempuran yang banyak merugikan kedua belah
pihak,
maka sekitar bulan Nopember atau Desember 1657 Kompeni
mengajukan usul
gencatan senjata. Perjanjian gencatan senjata ini tidak segera dapat
disepati, karena syarat-syarat perjanjian itu belum semuanya
disepakati;
kepentingan Belanda dan kepentingan Banten selalu berbeda. Tanggal
29 April
1658 datanglah utusan Belanda ke Banten membawa
w:st="on">surat
> dari Gubernur Jendral Kompeni yang
berisi rangcangan perjanjian persahabatan. Usul perdamaian ini terdiri
dari
10 pasal:
10 pasal:
1)
Kedua belah pihak harus mengembalikan tawanan perangnya
masing-masing.
2)
Banten harus membayar kerugian perang berupa 500 ekor
kerbau dan 1500 ekor sapi.
3)
Blokade Belanda atas Banten akan dihentikan setelah
Sultan Banten menyerahkan pampasan perang.
4)
Kantor perwakilan Belanda di Banten harus diperbaiki
atas biaya dari Banten.
5)
Sultan Banten harus menjamin keamanan dan kemerdekaan
perwakilan kompeni di Banten.
6)
Karena banyaknya barang-barang kompeni dicuri dan
digelapkan oleh orang Banten, maka kapal-kapal kompeni yang datang
di
Banten dibebaskan dari pemeriksaan.
7)
Setiap orang Banten yang ada di Batavia
> harus dikembalikan ke Banten,
> harus dikembalikan ke Banten,
demikian juga sebaliknya.
8)
Kapal-kapal kompeni yang datang ke pelabuhan Banten
dibebaskan dari bea masuk dan bea keluar.
9)
Perbatasan Banten dan
w:st="on">Batavia
> ialah garis lurus dari Untung
Jawa hingga ke pedalaman dan pegunungan.
10)
Untuk menjaga hal-hal yang tidak diingini, warga kedua
belah pihak dilarang meliwati batas daerahnya masing-masing.
Dari
rancangan naskah perjanjian yang diajukan kompeni ini Sultan
'Abulfath
dapat melihat kecurangan dan ketidaksung-guhan kompeni atas
pedamaian;
kompeni hanya mengharapkan keuntungan sendiri tanpa
memperhatikan
kepentingan rakyat Banten. Oleh karenanya pada tanggal 4 Mei 1658,
Sultan
mengirimkan utusan ke Batavia untuk mengajukan perubahan atas
rancangan naskah perjanjian itu :
1)
Rakyat Banten dibolehkan datang ke Batavia
> setahun sekali untuk membeli
senjata, meriam, peluru, mesiu, besi, cengkeh dan pala.
2)
Rakyat Banten dibebaskan berdagang di Ambon dan Perak tanpa dikenakan pajak dan cukai.
Usul
Sultan ini dengan serta merta ditolaknya, kompeni hanya
menginginkan
supanya orang Banten membeli rempah-rempah dari kompeni dengan
harga yang
ditentukan dan harus membayar pajak. Monopoli rempah-rempah di
Ambon dan
Maluku adalah suatu yang sangat menguntungkan kompeni, sehingga
apabila
Banten dibolehkan berdagang di sana,
hapuslah monopoli ini. Demikian juga apabila orang Banten
dibolehkan
membeli alat-alat perang, ini akan memungkinkan Banten memperkuat
diri dan
dengan mudah akan merebut kembali Batavia.
Penolakan
Gubernur Kompeni atas usul ini membuat Sultan sadar bahwa tidaklah
mungkin
akan ada persesuaian pendapat antara dua musuh yang berbeda
kepentingan
ini, bahkan dengan perdamaian ini kompeni berkesempatan untuk
menyusun
kekuatan. Karena berpikiran demikian maka pada tanggal 11 Mei 1658
dikirimnya surat balasan yang menyatakan bahwa Banten dan
kompeni Belanda tidak akan mungkin
bisa berdamai. Tiada jalan lain yang harus ditempuh kecuali perang.
Sejak
itulah Sultan Abulfath Abdulfattah mengumumkan "perang sabil"
menghadapi kompeni Belanda. Seluruh kekuatan angkatan perang
Banten
dikerahkan ke daerah-daerah perbatasan, maka terjadilah pertempuran
besar
di darat dan laut. Pertempuran ini berlangsung tanpa henti-hentinya
sejak
bulan Mei 1658 sampai dengan tanggal 10 Juli 1659 (Djajadiningrat,
1983:71
dan Tjandrasasmita, 1967: 12-16).
Satu
peristiwa yang mempercepat meletusnya perang antara Banten dan
kompeni
Belanda, dalam situasi yang demikian panas, adalah peristiwa
dibunuhnya
Lurah Astrasusila oleh patroli Belanda; Lurah Astrasusila adalah salah
seorang ponggawa Banten yang kena marah Sultan karena peristiwa
pagarage di Sumur Angsana. Karena perbuatannya itu ia merasa
bersalah dan berdosa
kepada Allah, maka untuk menebus dosanya ini dia ingin ikut
berperang dan
mati sahid, dengan cara demikian mudah-mudahan Sultan pun akan
memaafkannya.
Suatu
hari, seusai shalat Magrib, Astrasusila berlayar dengan sebuah kuting
ke arah timur menuju Tanjung Kahit, dan berusaha mencegat kapal
Belanda
yang biasa berlayar dari Tong-Jawa atau Batavia. Ia melihat sebuah
selup kompeni, dan bersama dua orang temannya ia berpura-pura
menjadi penjual
kelapa yang dengan mudah dinaikkan ke atas selup kompeni. Di atas
selup,
Lurah Astrasusila dan kedua temannya mengamuk hingga banyak
serdadu Belanda
yang dibunuhnya, tapi akhirnya ketiga orang itupun gugur. Peristiwa
terbunuhnya
Luruh Astrasusila ini disampaikan kepada Sultan 'Abulfath. Sultan
merasa
terharu bercampur marah atas pengorbanan punggawanya itu,
demikian juga
dengan para pembesar lainnya. Sejak saat itulah Sultan menyatakan
perang
kepada kompeni (Djajadiningrat, 1983:73).
Untuk
lebih jelasnya tentang persiapan prajurit Banten dalam menghadapi
perang
ini, "Sajarah Banten" menceritakan:
a. Angkatan laut
(1) Armada laut yang menjaga perairan
Karawang dipimpin oleh Pangeran Tumenggung Wirajurit.
(2) Armada laut yang berkedudukan di
dekat pelabuhan Untung Jawa dipimpin oleh Aria Suranata.
(3) Armada laut yang berkedudukan di
dekat Tanahara dipimpin oleh Pangeran Ratu Bagus Singandaru.
(4) Armada laut yang bertugas di dekat
perairan Tanjung Pontang dipimpin oleh Ratu Bagus Wiratpada.
(5) Armada laut yang berkedudukan di
dekat Pelabuhan Ratu dipimpin oleh Tumenggung Saranubaya.
b. Angkatan darat
(1) Pasukan yang dipimpin oleh Ngabehi
Wirasaba dan Ngabehi Purwakarti dikirim ke Caringin untuk menjaga
musuh
yang masuk dari daerah selatan.
(2) Pasukan yang dipimpin oleh Ngabehi
Tanuita ditempatkan di kota Surosowan sebagai penjaga ibukota
Kesultanan.
(3) Pasukan yang dipimpin oleh Ngabehi
Tanujiwa ditugaskan sebagai pasukan penghubung antara garis depan
Tanujiwa ditugaskan sebagai pasukan penghubung antara garis depan
Angke dan
Tangerang dengan kota Surosowan.
(4) Pasukan yang dipimpin oleh Raden
Senopati Ing Ngalaga (Panglima Perang) dan Rangga Wirapatra
ditugaskan
menjadi pasukan penyerang dan menjadi pasukan induk dengan
kekuatan 5000
prajurit pilihan.
c. Pasukan meriam
Pasukan
meriam ini ditempatkan di pantai sekitar ibukota Kesultanan, untuk
menjaga
musuh yang datang dari Teluk Banten. Tiap meriam dipercayakan
kepada 10
orang prajurit khusus dengan seorang pimpinan kelompok. Sejarah
Banten
mencatat nama-nama meriam itu dengan pimpinan kelompoknya
sebagai berikut: Jajaka tua dipercayakan kepada Pangeran Upapatih,
Jaka Pekik kepada
Pangeran Kidul, Kalantaka kepada Pangeran Lor, Nilantaka kepada
Pangeran Kulon, Kalajaya kepada Pangeran Wetan, Ki Muntab kepada
Tubagus Suradinata, Urangayu kepada Pangeran Wirasuta,
Pranggisela kepada Pangeran Prabangsa, Danamarga kepada
Pangeran Sutamanggala, Jaka
Dalem kepada Pangeran Gusti; sedangkan lima puluh buah meriam
lagi
dipercayakan kepada ponggawa lainnya. Disusunnya meriam-meriam
itu dari
itu dari
Sunya Gagak, Kuta Karang hingga tepi sungai. Dari Pabean Barat
hingga
Pabean Timur, dari Kuta Jagabaya sampai Kadongkalan dan
Kapatihan.
Pada
hari yang sudah ditentukan, yaitu pada hari Senin tahun kadi ula
pandawa
iku atau tahun 1580 Saka atau tahun 1657/1658 M (Djajadiningrat,
1983:73 dan 212), pasukan perang Banten itu berangkat ke pos
penyerangannya
masing-masing seperti yang sudah diintruksikan. Pada hari
pemberangkatan
itu Sultan menyuruh membagi-bagikan hadiah berupa uang dan
pakaian kepada
prajurit serta keluarganya sebagai tanda kenang-kenangan dan penguat
tekad.
Pembesar
kerajaan yang ikut dalam pasukan perang itu antara lain: Kartiduta,
Haji
Wangsaraja, Demang Narapaksa, dan Kanduruhan Wadoaji. Ki Haji
Wangsaraja
dan Raden Senopati Ing Ngalaga duduk dalam sebuah tandu.
Demikian banyak
pasukan yang berangkat pada hari itu, sehingga barisan terdepan sudah
sampai di Pangapon sedangkan barisan belakang masih berada di alun-
alun
Surosowan.
Setelah
berjalan delapan hari sampailah mereka di Tangerang dan bergabung
dengan
pasukan yang sudah berada di sana.
Untuk tempat peristirahatan, dibuatlah barak-barak baru di Tangerang
dan
Angke sebagai pusat pertahanan dan basis penyerangan.
Mendengar
pemberangkatan pasukan Banten ini, kompeni segera mempersiapkan
pasukan
yang dibagi menurut asal daerah masing-masing, orang Ternate
dipimpin oleh
orang Ternate, begitu juga orang Kalasi, Kejawan, Bandan, Bali dan
Ambon.
Dan setelah berjalan kaki selama satu hari pasukan kompeni ini
sampai di
Angke, berhadapan dengan pasukan Banten.
Tujuh
hari tujuh malam kedua pasukan yang bermusuhan itu saling
berhadap-hadapan
tanpa ada salah satu yang mendahului menyerbu. Baru setelah
Senopati Ing
Ngalaga memberikan aba-aba untuk menyerang, bersiap-siagalah
semuanya.
Raden Senapati Ing Ngalaga naik kuda berkeliling sambil menantang
Raden Senapati Ing Ngalaga naik kuda berkeliling sambil menantang
musuh,
sedangkan Ki Rangga Wirapatra berjalan di barisan terdepan. Setelah
Haji
Wangsaraja berdo'a mohon perlindungan Allah untuk menghancurkan
orang kafir
penindas, berangkatlah pasukan ke medan laga.
Sepanjang
hari pertempuran berlangsung hebat tanpa henti-hentinya. Tidak dapat
dipastikan siapa yang paling hebat. Baru setelah hari senja,
pertempuran
itu mulai reda, dan kedua belah pihak menarik diri dari garis perang,
kembali ke kubunya masing-masing.
Selama
tiga hari tidak terjadi pertempuran, masing-masing pihak beristirahat
sambil mengatur taktik penyerangan selanjutnya. Raden Senopati Ing
Ngalaga
memanggil para ponggawa untuk merundingkan taktik dan strategi
perang serta
memberi instruksi lainnya. Kemudian ditetapkan supaya penyerangan
dilakukan
dengan formasi burung dadali (format penyerangan menyebar), karena
musuh memakai formasi papak (saff tempur melingkar disatukan).
Untuk
mengacaukan mental pasukan kompeni dan menghancurkan tempat-
tempat
persem-bunyian mereka, Ngabehi Wira Angun-angun dan Prayakarti
ditugaskan
untuk membakar desa di sekeliling kubu musuh dan juga membakari
tanaman
tebu milik kompeni. Dan nanti, bersamaan dengan pembakaran-
pembakaran itu,
Senopati Ing Ngalaga dengan 500 prajurit pilihan bergerak melingkar
dan
menyerang musuh dari belakang.
Keesokan
harinya, setelah tanda penyerangan dibunyikan mulailah mereka
menjalankan
tugasnya masing-masing. Ngabehi Wira Angun-angun, Prayakarti dan
beberapa
serdadu pilihan secara diam-diam membakar kampung-kampung,
tanaman tebu dan
pabrik penggilingan tebu serta menghancurkan segala tempat yang
mungkin
menjadi sarang musuh. Sedangkan Raden Senopati Ing Ngalaga
dengan 500
tentaranya bergerak ke arah timur dengan tujuan menyerang musuh
dari
belakang. Adapun prajurit lainnya dipimpin oleh ponggawa dan
senopati yang
gagah berani menyerang dari depan dengan penyerangan diatur
sedemikian rupa
sehingga memungkinkan tiap prajurit berperang satu lawan satu.
Pasukan
yang dipimpin oleh Demang Narapaksa dan Demang Wirapaksa
banyak menimbulkan
kerugian jiwa di pihak kompeni. Banyak pimpinan mereka yang dapat
dibinasakan, di antaranya Kapiten Drasti, Kapiten Perancis, Kapiten
Terus,
dan Kapiten Darus. Pertempuran pada hari itu berlangsung hebat,
sehingga
banyak mengambil korban dari kedua pihak, dan baru setelah senja
tiba
pertempuran pun dihentikan.
Hari
berikutnya Raden Senopati memanggil Prayakarti untuk
menyampaikan berita
tentang keadaan medan perang, sambil menyerahkan barang-barang
rampasan perang kepada Sultan di
Surosowan. Bersama empat puluh orang pengawal berangkatlah
Prayakarti ke
ibukota Banten. Membaca surat dari Raden Senopati, terlihat wajah
Sultan mencerminkan perasaan gembira
bercampur sedih dan gemas. Sultan sangat mengharapkan kehancuran
kompeni
secepatnya. Kemudian Sultan berdiri dan memberikan maklumat:
"Barang
siapa yang dapat menyerahkan satu kepala kompeni Belanda akan
diberikan
hadiah 10 real dan barang siapa yang dapat menyerahkan satu telinga
hadiah 10 real dan barang siapa yang dapat menyerahkan satu telinga
Belanda
akan diberi hadiah 5 real." Kepada Prayakarti atas jasa-jasanya Sultan
menghadiahkan sebuah desa serta sebuah lampit dengan kotaknya,
demikian juga keempat puluh pengawalnya semua mendapat hadiah
(Djajadiningrat, 1983: 73-75).
Dalam
pada itu, pertempuran di laut pun telah terjadi dengan hebat.
Diceritakan,
Ratu Bagus Wangsakusuma ketika sedang melakukan patroli di
perairan dekat
Pontang, dilihatnya sebuah kapal besar milik kompeni di Selat Pulo
Pemujan
yang sedang menurunkan sebuah slup penuh berisi senjata menuju ke
pantai. Ratu Bagus Wangsakusuma dan prajuritnya bersembunyi di
belakang
Pulau Dua dan menyergap kapal kompeni itu, sehingga semua serdadu
kompeni
dapat dibinasakan dan senjatanya dapat dirampas. Berita keberhasilan
ini
disampaikan kepada Sultan berikut semua senjata rampasannya.
Sarantaka
dan Sacantaka bersama dua pacalang berhasil menghancurkan sebuah
kapal kompeni di Tanjung Balukbuk. Pangeran Ratu Bagus
Singandaru dapat
menghancurkan sebuah kapal jung besar milik kompeni yang baru
datang
dari Malaka di dekat Tanjung Barangbang. Demikian juga dengan
pasukan Kyai
Haji Abbas, mereka dapat menghancurkan kapal kompeni di dekat
perairan
Gosong Bugang, semua barang rampasan diserahkan kepada Sultan.
Armada-armada
Banten di perairan jauh pun mencatat kemenangan yang
menggembirakan.
Pasukan yang dipimpin oleh Rangga Natajiwa, Surantaka dan
Wiraprana dapat
menghancurkan armada kompeni di Krawang yang mengangkut
pasukan dari Jawa
Timur. Sedangkan di perairan Pelabuhan Ratu, pasukan Saranurbaya
dapat
menghancurkan kapal kompeni, walaupun Saranurbaya sendiri luka
parah yang
mengakibatkan ia meninggal dunia lima hari kemudian.
Di
perairan Teluk Banten, di depan kota Surosowan, datang 11 kapal
perang
kompeni, dalam formasi mengepung dari Pulau Lima di timur sampai
ke Pulau
Dua. Di Surosowan, pasukan meriam yang sudah disiapkan, segera
mengarahkan
sasarannya ke kapal-kapal itu, maka terjadilah tembak menembak
sasarannya ke kapal-kapal itu, maka terjadilah tembak menembak
yang seru
dari kedua pasukan (Djajadiningrat, 1983: 75-76). Beberapa meriam
Banten
banyak yang tepat mengenai sasaran; si Jaka Pekik, si Muntab dan si
Kalantaka
selalu tepat mengenai kapal-kapal kompeni itu, sehingga armada
penyerang
melarikan diri dan kembali ke Batavia dengan meninggalkan kapal-
kapal yang
rusak dan tenggelam (Tjandrasasmita, 1967:21). Pertempuran hebat di
darat
dan di laut ini terus menerus berlangsung sampai tujuh belas bulan
lamanya
(Djajadiningrat, 1983:76).
Pada
suatu malam yang sunyi tapi tegang itu Arya Mangunjaya, salah
seorang
ponggawa yang memimpin pasukan perang di front Tangerang -
Angke, menghadap
Sultan tanpa melalui prosedur biasa, melaporkan tentang keadaan
w:st="on">medan
> perang.
Dilaporkan bahwa keadaan prajurit dan ponggawa-ponggawanya
masih dalam
kondisi baik dan mereka siap untuk bertempur, tapi keadaan mereka
pun perlu
pun perlu
diperhatikan karena sudah lebih satu tahun mereka berperang tanpa
henti;
maka alangkah lebih baik lagi apabila Sultan mengganti mereka
dengan
pasukan yang lebih segar. Setelah Sultan berunding dengan pembesar
lainnya,
diperintahkannya Mangkubumi untuk menyiapkan pasukan pengganti.
Maka keesokan
harinya, Mangkubumi dan Pangeran Mandura menyiapkan prajurit-
prajurit
Banten di Surosowan untuk diberangkatkan ke Tangerang dan Angke.
Arya
Mangunjaya diangkat sebagai panglima perang dengan Arya
Wiratmaja sebagai
wakilnya. Pasukan pengganti ini diberangkatkan pada tahun mantri
kunjara
tataning jurit atau pada tahun 1581 Saka/1659 M. Bersama pasukan
itu
ikut pula Sayyid Ali, utusan dari Mekkah, untuk menggantikan Kyai
Haji
Wangsaraja yang bertugas untuk memelihara semangat juang dan
keyakinan
agama prajurit. Sedangkan Pangeran Senopati bersama seluruh
pasukannya
dipanggil pulang kembali ke Surosowan (Tjandrasasmita, 1967:22).
Kedatangan
pasukan pengganti ini diketahui oleh kompeni Belanda. Maka untuk
pasukan pengganti ini diketahui oleh kompeni Belanda. Maka untuk
mengimbangi kekuatan pasukan Banten itu, dikirimnya lagi pasukan
tambahan
dari Batavia.
Setelah
kedua pasukan itu saling berhadapan, diadakan perang tanding antara
pemimpin kedua pasukan. Arya Mangunjaya ditantang oleh seorang
Kapten
Belanda, yang kemudian dapat dibunuhnya. Prayakarti ketika hendak
memenggal
kepala kapten musuh yang sudah dibunuhnya, tiba-tiba dibokong oleh
empat
orang musuh sehingga ia gugur. Maka serentak kedua pasukan itu
mengadakan
serangan, dan perang besar dimulai, sampai senja hari. Keesokan
harinya
Arya Mangunjaya memerintahkan beberapa orang prajurit untuk pergi
ke
Surosowan melaporkan jalannya perang, sambil membawa prajurit-
prajurit yang
terluka, tawanan perang dan juga harta rampasan.
Pertempuran
baru dilanjutkan selang beberapa hari kemudian. Banyak prajurit dari
kedua
pihak yang gugur dan terluka. Prajurit Banten yang terluka segera
dikirim
ke Surosowan, tapi banyak pula yang meninggal di perjalanan karena
lukanya
yang parah.
Karena
penyerangan pasukan Banten ini dilakukan terus menerus dan tanpa
mengenal
takut, akhirnya kedudukan kompeni semakin terdesak sampai
mendekati batas kota
> Batavia.
Penduduk dan pejabat kompeni segera mengungsi ke daerah lain,
khawatir
kalau-kalau pasukan Banten dapat menembus benteng pertahanan
w:st="on">kota
>; tambahan
tentara tidak mungkin diharapkan, karena pada waktu itu kompeni pun
sedang
sibuk berperang dengan Makasar. Karena keadaan terdesak inilah
kompeni
berusaha mengadakan perdamaian dengan Sultan 'Abulfath di
Surasowan, dan
sudah tentu Sultan menolak usul perdamaian tersebut. Untuk
melunakkan hati
Sultan, kompeni minta tolong kepada Sultan Jambi untuk tercapainya
perjanjian persahabatan itu. Sultan Jambi mengirimkan utusannya
Kiyai
Damang Dirade Wangsa dan Kiyai Ingali Marta Sidana ke Surosowan.
Damang Dirade Wangsa dan Kiyai Ingali Marta Sidana ke Surosowan.
Akhirnya
pada tanggal 10 Juli 1659, ditandatangani perjanjian damai antara
Sultan
'Abulfath Abdulfattah dengan Gubernur Jendral Joan Matsuiyker.
Dengan
ditandatanganinya perjanjian gencatan senjata ini, maka berakhirlah
untuk
sementara perang besar antara Banten dan kompeni Belanda.
Perjanjian
gencatan senjata tanggal 10 Juli 1659 itu, dijadikan kesempatan yang
baik
oleh Sultan Abulfath untuk membenahi diri guna persiapan
menghadapi kompeni
selanjutnya. Untuk tujuan itulah, Sultan mulai mengadakan
pembangunan-pembangunan dalam segala bidang yang pada waktu
sebelumnya
tertunda karena perang.
Guna
memenuhi kebutuhan senjata api dan senjata berat lainnya, Sultan
mengadakan
hubungan dengan negara Inggris, Portugis dan Perancis yang bersedia
menjual
senjata-senjata yang dibutuhkan Banten --- pada waktu itu antara
Belanda,
Inggris, Portugis dan Perancis sedang terjadi persaingan dagang yang
keras.
keras.
Dalam pada itu, hubungan Banten dengan kerajaan Islam di Turki
berjalan
baik, sehingga orang-orang Banten yang pergi haji, pulangnya dapat
membawa
senjata-senjata yang dibelinya dari Turki.
Senjata-senjata
perang ini, selain diperoleh dengan cara membeli dari luar negeri,
Banten
pun sebenarnya sudah mampu membuatnya sendiri. Hal ini terbukti
dari hasil
penggalian di situs Kampung Sukadiri dan Kepandean, di sana
> ditemukan seperangkat alat-alat
pengecoran logam dan juga wadah pencetak senjata (Mundardjito,
1977:546).
Itulah sebabnya mengapa Banten pun mampu mengirimkan meriam
dan senjata api
lainnya, lengkap dengan peluru serta mesiunya sebanyak beberapa
kapal
kepada pasukan Trunojoyo di Jawa Timur (Sanusi Pane, 1950:212).
Dalam
pengadaan kapal perang, Sultan memesan dari beberapa galangan
kapal di
Jawa, seperti di Jepara dan Gresik. Sedangkan kapal perang yang besar
dan
khusus, dibuat sendiri di galangan kapal di Banten dengan bantuan
orang-orang Portugis dan Belanda yang sudah Islam (Tjandrasasmita,
1975:17).
Untuk
memperkuat ketahanan angkatan perangnya, Sultan juga mengangkat
prajurit-prajurit muda yang kesemuanya dilatih guna menghadapi
w:st="on">medan
> perang yang
berat. Mereka dipersiapkan untuk menempati pos terdepan di
Tangerang dan
Angke, karenanya pada tahun 1660 Sultan pun memerintahkan
membuat
perkampungan prajurit di sebelah barat Untung Jawa, yang
diperkirakan mampu
menampung 5000 sampai 6000 prajurit (Tjandrasasmita, 1967:28).
Kemudian
untuk tempat pengungsian bagi kaum wanita apabila terjadi
peperangan,
terutama untuk wanita kraton, Sultan membuat tempat perlindungan di
Banten
Girang (Djajadiningrat, 1983: 125).
Selain
di Tangerang, Sultan juga membuat perkampungan prajurit pilihan di
Pontang,
bahkan akhirnya Sultan menyuruh membuat istana yang nantinya
digunakan
sebagai pusat pengontrol kegiatan di Tangerang dan Batavia
>, di samping untuk tempat
peristirahatan. Maka dengan demikian Pontang dijadikan penghubung
antara
Surosowan dan benteng pertahanan di Tangerang, yang juga
mempersingkat
jalur komunikasi dari medan perang. Untuk menghubungkan
Surosowan, Pontang dan Tangerang, digunakan dua
jalur, di samping jalan darat yang sudah ada dari Surosowan ke
Pontang,
juga dibuat saluran tembus yang digali sepanjang jalan kuno, yakni
dari
sungai Untung Jawa (Cisadane), Tanahara hingga ke Pontang --- dari
Tanahara, dengan menyusuri sungai Cisadane sampailah ke pantai
Pasilian.
Saluran tembus antara Pontang dan Tanahara ini dibuat cukup lebar,
sehingga
dapat dilayari kapal perang ukuran sedang. Proyek pembuatan saluran
ini
dimulai pada tahun 1660 dan selesai sekitar tahun 1678. Melalui
sungai
buatan ini, Sultan dapat segera mengirimkan bantuan ke Tangerang
baik dari
pos Pontang maupun dari Surosowan (Tjandrasasmita, 1967:27).
Sungai
buatan ini --- yang pasti dikerjakan dengan kemauan dan biaya raksasa
---
---
bukan saja dimaksudkan untuk kepentingan militer tetapi juga untuk
pertanian. Sehingga dengan dibangunnya saluran tembus itu berarti
daerah sekitarnya menjadi daerah subur, maka tumbuhlah daerah
sekitar Pontang sebagai daerah
penghasil padi yang dapat diandalkan untuk Banten. Rupanya inilah
yang
dituju oleh Sultan, yaitu mempersiapkan daerah strategis untuk pos
pembantu
penyerangan ke Batavia, di samping juga menjadi "daerah kantong"
atau penyedia bahan makanan bagi prajurit di medan perang.
Selain
itu, Sultan pun berusaha menyempurnakan dan memperbaiki keadaan
di dalam
ibukota kerajaan. Dengan bantuan ahli bangunan dari Portugis dan
Belanda,
yang sudah masuk Islam, di antaranya Hendrik Lucasz Cardeel,
diperbaiki
pula bangunan-bangunan istana Surosowan. Benteng istana diperkuat
dan
diberi bastion, bangunan berbentuk setengah lingkaran di setiap mata
angin, yang dilengkapi dengan 66 buah meriam diarahkan ke segenap
penjuru
(Chijs, 1881:39)[17]. Sungai di sekeliling benteng dan irigasi di sekitar ibukota pun
diperlebar dan ditingkatkan daya
jangkaunya, sehingga areal sawah yang mendapat pengairan semakin
luas.
luas.
Daerah yang tadinya selalu kekurangan air menjadi subur; padi dan
tanaman
produksi lainnya sangat menunjang kemakmuran rakyat Banten,
diperkirakan
produksi merica rata-rata 3.375.000 pon pada tahun 1680 - 1780
(Chijs,
1881:70).
Dengan
ditandatanganinya gencatan senjata antara Banten dan Batavia
>, berarti blokade Kompeni atas
pelabuhan Banten pun berakhir. Kapal-kapal dagang asing yang
tadinya takut
berlabuh di Banten, sekarang mereka dapat berniaga dengan aman dan
bebas.
Maka ramailah pelabuhan Banten dengan kapal-kapal dagang dari
berbagai
negara, seperti dari Manila, Jepang, Cina, India, Persia dan Arab,
bahkan
pedagang-pedagang dari Ingris, Perancis, Denmark, Belanda dan
Portugis pun
membuka kantor perwakilannya di Banten. Karena Mataram dalam
situasi perang
dengan kompeni, maka pusat perdagangan di bagian timur pun beralih
ke
Banten; otomatis wilayah dagang Banten ini meliputi hampir seluruh
daerah
nusantara. Sehingga dapat dikatakan bahwa Banten mencapai puncak
kejayaannya --- dan pada masa itu pun dikeluarkan uang emas
Kesultanan
Banten (Burger, 1962:63).
Dalam
masa itu pula perkembangan pendidikan agama Islam maju dengan
pesat. Di
komplek Masjid Agung dibangun sebuah madrasah yang dimaksudkan
untuk
mencetak pemimpin rakyat yang saleh dan taat beragama, demikian
juga di
beberapa daerah lainnya. Untuk mempertinggi ilmu keagamaan dan
membina
mental rakyat serta prajurit Banten didatangkan guru-guru dari Aceh,
Arab
dan daerah lainnya. Salah satunya adalah seorang ulama dari Makasar,
Syekh
Yusuf Taju'l Khalwati, yang kemudian dijadikan Mufti Agung, guru
dan mantu
Sultan Abulfath (Hamka, 1982:38).
Sultan
membina hubungan baik dengan beberapa negara Islam seperti dengan
Aceh dan
Makasar, demikian juga dengan negara Islam di India
>, Mongol, Turki dan
Mekkah. Sultan menyadari bahwa, untuk menghadapi kompeni yang
Mekkah. Sultan menyadari bahwa, untuk menghadapi kompeni yang
kuat dan
penuh dengan taktik licik tidaklah mungkin dihadapi oleh Banten
sendiri.
Dalam kegiatan diplomatik, Sultan pernah mengirimkan utusan ke
Ingris yang
terdiri dari 31 orang dipimpin oleh Naya Wipraya dan Jaya Sedana
pada
tanggal 10 Nopember 1681. Utusan ini bukan saja sebagai kunjungan
persahabatan tetapi juga sebagai upaya mencari bantuan persenjataan
(Russel
Jones, 1982).
#Demikian
pesatnya usaha yang dilakukan Sultan 'Abulfath Abdul Fattah dalam
membangun
kemakmuran Banten, sebagai persiapan mengusir penjajah Belanda,
sehingga
Gubernur Jendral Ryklop van Goens, pengganti Gubernur Jendral Joan
Matsuiyker, menulis dalam suratnya yang ditujukan kepada
Pemerintah
Kerajaan Belanda tanggal 31 Januari 1679, bahwa "Yang amat perlu
untuk
pembinaan negeri kita adalah penghancuran dan penghapusan Banten.
…
Banten harus ditaklukkan, bahkan dihancur leburkan, atau kompeni
yang
lenyap" (Tjandrasasmita, 1967:35).
lenyap" (Tjandrasasmita, 1967:35).
2. Politik
Adu-domba Belanda
Dari
perkawinannya Sultan 'Abulfath Abdul Fattah dikaruniai anak:
1)
Dari istri Ratu Adi Kasum, puteri Pangeran Arya
Iwardaya, dikarunia anak seorang yaitu Abdul Kohar.
2)
Dari istri Ratu Ayu Gede, berputera: Pangeran Arya Abdul
'Alim, Pangeran Arya Ingayuja Pura dan Pangeran Arya Purbaya.
3)
Dari istri Ratu Siti, berputera: Pangeran Sugiri.
4)
Dari istri yang tidak disebut namanya. berputra: Tubagus
Raja Suta, Tubagus Rajaputra, Tubagus Husen, Raden Mandaraka,
Raden Saleh,
Raden Arum, Raden Mesir, Raden Muhammad, Tubagus Muhasim,
Tubagus Wetan,
Tubagus Muhammad 'Arif, Tubagus Abdul, Ratu Jamiroh, Ratu Ayu,
Ratu Kidul,
Ratu Marta, Ratu Adi, Ratu Ummu, Ratu Majidah, Ratu Habibah, Ratu
Fatimah,
Ratu Asyithoh, dan Ratu Nasibah.
Seperti
kebiasaan yang dilakukan sultan-sultan sebelumnya, Sultan 'Abulfath
Abdul
Fattah mengangkat putra pertamanya menjadi putra mahkota. Jabatan
ini
biasanya dikaitkan sebagai Mangkubumi pembantu atau Mangkubumi
kedua
dalam struktur pemerintahan. Wewenang putra mahkota rupanya
cukup besar,
sehingga semua kebijaksanaan Sultan haruslah hasil musyawarah
antara
sultan, mangkubumi dan putra mahkota. Oleh karenanya putra
mahkota pun
mempunyai pembantu-pembantunya sendiri, seperti juga mempunyai
pasukan dan
sebagainya. Pengangkatan Abdul Kohar menjadi Pangeran Gusti
(Putra Mahkota)
terjadi pada tanggal 16 Pebruari 1671, bertepatan dengan datangnya
w:st="on">surat
> dari Syarif
Mekkah, yang isinya antara lain bahwa Pangeran Gusti diberi gelar
Sultan
Abu'n Nasr Abdul Kohar (Djajadiningrat, 1983: 55, 208).
Putra
Mahkota Sultan Abu'n Nasr Abdul Kohar diberi kuasa untuk mengatur
semua
urusan dalam negeri, sedangkan urusan luar negeri masih sepenuhnya
wewenang
Sultan Abdul Fattah. Semenjak itu Sultan 'Abulfath Abdul Fattah
pindah ke
istana yang baru di Pontang (kira-kira 13 km ke arah timur Surosowan,
yang
sekarang desa Tirtayasa) --- karena itu diberi sebutan Sultan Ageng
Tirtayasa. Keputusan ini diambil (mungkin) Sultan ingin memusatkan
perhatian pada bidang pertahanan di Tangerang dan Angke; karena
dari
Tirtayasa keadaan di garis depan akan lebih mudah dikontrol,
demikian juga
keadaan di Surosowan pun akan cepat diketahui karena perhubungan
antara
kedua daerah sudah cukup baik. Tapi dengan pindahnya Sultan
'Abdulfath ke
Tirtayasa ini, Belanda semakin mendapat kesempatan baik, karena
sewaktu beliau
masih di Surosowan, kompeni tidak dapat berbuat banyak karena
memang Sultan
dikenal dengan keteguhan sikapnya; Sultan ingin supaya kompeni
Belanda
hancur dan enyah dari bumi nusantara.
Dengan segala
rayuan dan bujukan halus, kompeni berusaha mendekati Putra
Mahkota, dan
akhirnya, Putra Mahkota pun dapat dipengaruhinya. kompeni Belanda
akhirnya, Putra Mahkota pun dapat dipengaruhinya. kompeni Belanda
mendapat
banyak kemudahan, baik dalam bidang perdagangan maupun bidang
lainnya.
Bahkan dalam setiap acara penting di istana Surosowan, wakil
kompeni selalu
diundang hadir. Kedekatan hubungan dengan kompeni ini sampai-
sampai
mempengaruhi cara pikir dan tingkah laku Putra Mahkota. Dalam
kehidupan
sehari-hari, cara berpakaian, makanan dan sebagainya, Putra Mahkota
banyak
meniru kebiasaan-kebiasaan orang Belanda, yang dirasa asing oleh
rakyat
Banten. Sehingga tidaklah aneh apabila sebagian besar rakyat dan
pembesar
kerajaan tidak menyenanginya (Tjandrasasmita, 1967 : 35).
Melihat
keadaan demikian itu, Sultan Ageng Tirtayasa sangatlah prihatin.
Dibujuknya
Putra Mahkota untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah, yang nanti
pulangnya
meninjau beberapa negara Islam. Diharapkan dengan cara demikian,
kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak selaras dengan adat keislaman
sedikit
banyak dapat dihilangkan. Di samping itu pula Putra Mahkota dapat
memperluas wawasan berpikirnya, demi kemajuan Kesultanan Banten
memperluas wawasan berpikirnya, demi kemajuan Kesultanan Banten
(Hamka,
1976: 303). Maka pada tahun 1674 berangkatlah Putra Mahkota Sultan
Abu'nasr
Abdul Kahar beserta rombongannya ke Mekkah, sekalian melawat ke
negeri-negeri Islam lainnya. Perjalanan ini memakan waktu dua tahun
pulang
pergi.
Selama
Putra Mahkota pergi ke Mekkah, pemerintahan di Surosowan
dipercayakan
kepada adiknya, Pangeran Purbaya. Mengingat sifat Pangeran Purbaya
yang
jauh lebih baik dari kakaknya, Sultan Ageng Tirtayasa banyak
menyerahkan
tanggung jawab kerajaan ke pundaknya. Sehingga begitu Putra
Mahkota pulang
dari Mekkah, didapatinya Pangeran Purbaya lebih banyak
mendapatkan
kekuasaan dari ayahnya. Karena itulah terjadi adanya ketegangan
hubungan
antara Putra Mahkota --- yang kemudian dikenal dengan sebutan
Sultan Haji
--- dengan Pangeran Purbaya. Demikian juga antara Sultan Haji
dengan
ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa.
Keadaan
demikian dimanfaatkan oleh kompeni untuk menghasut Sultan Haji
dan berusaha
mengadu-dombakan antara ayah dan anak. Sehingga timbullah
keberanian Sultan
Haji untuk menentang kebijaksanan ayahnya. Dan karena dianggapnya
semua
orang di istana memusuhinya, Sultan Haji lebih percaya kepada
kompeni yang
dianggapnya sebagai kawan sejati, dan dijadikannya orang-orang
Belanda itu
sebagai penasehatnya.
Dalam
situasi yang demikian itu, datanglah tiga orang pangeran dari
w:st="on">Cirebon
>. Mereka
adalah Pangeran Martawijaya, Pangeran Kartawijaya dan Pangeran
Wangsakerta[18]. Ketiganya diterima baik oleh Sultan dan dijanjikan untuk menjadikan
mereka sultan di
w:st="on">Cirebon
> yang merdeka atas jaminan Banten.
Dengan bantuan beberapa prajurit pilihan dari Banten, mereka
ditugaskan
untuk menyusun kekuatan rakyat Cirebon yang nanti disiapkan
menyerang kompeni dari arah timur[19]. Tindakan Sultan membantu ketiga
pangeran Cirebon itu ditentang oleh Sultan Haji, yang dianggapnya mencampuri urusan
kompeni,
dan ini berbahaya bagi rakyat Banten.
dan ini berbahaya bagi rakyat Banten.
Biar pun
perjanjian persahabatan telah ditandatangani, Sultan masih melihat
adanya
usaha kompeni untuk memak-sakan monopoli perdagangan di Banten;
bahkan
mereka pun berusaha mengadu-domba antara rakyat dan pembesar
istana. Karena
itulah, secara diam-diam, Sultan membantu perlawanan rakyat
terhadap
kompeni Belanda. Sultan membina hubungan baik dengan Trunojoyo
di Jawa
Timur dan Sultan Hasanuddin di Makasar[20]. Dan, setelah perlawanan
Trunojoyo dan Hasanuddin dapat dikalahkan Belanda, Sultan menerima
prajurit-prajurit mereka bergabung untuk bersama-sama memerangi
kompeni.
Sultan membantu mereka dalam mengadakan kekacauan-kekacauan di
perbatasan Batavia
>. Pasukan ini
pun berkali-kali mengadakan serangan gerilya pada pos-pos kompeni
antara Cirebon
> dan Citarum,
bahkan juga menyerang benteng kompeni di Tanjung Pura dekat
Krawang (Sanusi
Pane, 1950:216).
3. Tahap Akhir Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa
Hubungan
Sultan Haji dengan kompeni Belanda sudah sedemikian dekatnya
sehingga dalam
pasukan pertahanan Surosowan pun ditempatkan satu barisan pasukan
kompeni
sebagai pasukan tambahan, yang pada hakekatnya mereka adalah
mata-mata yang
ditanam kompeni di Banten (Chijs, 1881 : 38). Memang inilah yang
dituju
kompeni, Sultan Haji sudah terbiasa dengan segala yang berbau
Belanda. Ia
lebih percaya kepada kata-kata kompeni dari pada petuah-petuah
ayahnya.
Karena hasutan kompeni ini pulalah maka hubungan Sultan Haji
dengan ayahnya
semakin renggang, bahkan kedua sultan ini saling curiga mencurigai.
Sehingga
pada diri Sultan Haji tumbuh keinginan yang kuat untuk segera
memegang
kekuasaan penuh di Kesultanan Banten, tanpa adanya campur tangan
ayahnya.
Keinginan
demikian terlihat dari tindakan Sultan Haji yang pada bulan Mei 1680
mengirimkan utusan ke Gubernur Jendral VOC di Batavia untuk
menawarkan
perdamaian sambil menegaskan bahwa yang berkuasa di Banten
sekarang adalah
dirinya. Ia menyatakan bahwa Sultan Ageng Tirtayasa sudah
menyerahkan
seluruh kekuasaannya. Sudah tentu tawaran itu ditolak, kompeni tahu
bahwa
Sultan Ageng Tirtayasa belum meletakkan jabatannya. Keadaan ini
dijadikan
senjata oleh kompeni mendorong Sultan Haji untuk segera
memperoleh kuasa
penuh di Banten.
Satu hal
lagi yang mengecewakan Sultan Ageng Tirtayasa, adalah surat ucapan
selamat
yang dikirimkan Sultan Haji atas diangkatnya Speelman menjadi
Gubernur
Jendral VOC menggantikan Rijklof van Goens pada tanggal 25
November 1680,
padahal saat itu kompeni baru saja menghancurkan pasukan gerilya
Banten di
Cirebon yang kemudian dapat menguasai Cirebon seluruhnya. Melihat
keadaan
anaknya yang sudah sedemikian keadaannya, Sultan Ageng Tirtayasa
memobilisasikan pasukan perangnya untuk digunakan sewaktu-waktu.
Rakyat
dari daerah Tanahara, Pontang, Tirtayasa, Caringin, Carita dan
sebagainya
banyak yang mendaftarkan diri untuk menjadi prajurit. Demikian juga
tentara
pelarian dari Makasar, Jawa Timur, Lampung, Solebar, Bengkulu dan
w:st="on">Cirebon
> bergabung
dengan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan sudah tidak peduli
lagi
dengan tentara dan bangsawan yang berpihak kepada Sultan Haji yang
dianggap
berpindah adat dan berbeda haluan.
Dalam
suasana yang sudah demikian panas, Sultan Ageng mendengar khabar
bahwa
beberapa kapal Banten yang pulang dari Jawa Timur ditahan kompeni
kerena
dianggap kapal perompak. Tuntutan Sultan supaya mereka dibebaskan
tidak
dihiraukan kompeni. Hal ini membuat kemarahan Sultan menjadi-jadi.
Rasa
harga dirinya sebagai Sultan dari suatu negara merdeka terasa
diremehkan.
Maka diumumkannya bahwa Banten dan kompeni Belanda dalam
situasi perang.
Pernyataan
perang Sultan Ageng Tirtayasa kepada kompeni ini ditentang oleh
anaknya,
Sultan Haji. Sultan Haji menyatakan bahwa keputusan itu terlalu
ceroboh,
dan, karena tidak dimusyawarahkan dahulu dengannya maka
keputusan itu tidak
syah. Bahkan dengan bermodalkan bantuan pasukan kompeni, yang
dijanjikan
kepadanya, Sultan Haji memak-zulkan ayahnya, dengan alasan bahwa
ayahnya,
Sultan Ageng Tirtayasa, sudah terlalu tua dan sudah mulai pikun
sehingga
mulai saat ini kekuasaan Banten seluruhnya dipegang oleh Sultan Haji.
Melihat
tingkah laku anaknya yang sudah keterlaluan ini, habislah sudah
kesabaran
Sultan Ageng Tirtayasa. Musuh besarnya adalah kompeni Belanda,
tapi untuk
menggem-purnya harus ada kesatuan kata dari semua rakyat Banten.
Oleh
karenanya sebelum menyerang Batavia,
terlebih dahulu harus menyatukan Banten, yaitu mengganti Sultan
Haji.
Sultan Ageng bukanlah akan berperang dengan anaknya, tetapi yang
diperangi
adalah antek penjajah.
Pada
tanggal 26 malam 27 Pebuari 1682, dengan dipimpin sendiri oleh
Sultan Ageng
Tirtayasa, mulailah diadakan penyerbuan mendadak ke Surosowan,
yang
yang
berhasil mematahkan perlawanan Surosowan, sehingga dalam waktu
singkat,
pasukan Sultan Ageng dapat menguasai istana. Sultan Haji melarikan
diri dan
minta perlindungan kepada Jacob de Roy, bekas pegawai kompeni
(Tjandrasasmita, 1967 : 41).
Keadaan
Surosowan ini segera dapat diketahui Batavia, maka pada tanggal 6
Maret
1682 dipimpin oleh Saint Martin kompeni mengirimkan dua kapal
perang
lengkap pasukan tempurnya. Pasukan ini tidak segera dapat mendarat
di
pelabuhan Banten, karena hebatnya perlawanan pasukan Banten. Maka
Kapten
Sloot dan W. Caeff, wakil kompeni di Banten, segera mengirim utusan
ke Batavia
> agar kompeni
mengirimkan pasukan darat yang lebih banyak lagi.
Setelah
mempelajari keadaan medan perang, kompeni segera mengirim
pasukan bantuan dari darat dan laut.
Penyerangan dari laut dipimpin oleh Kapten Francois Tack yang, nanti
bersama-sama dengan pasukan Saint Martin mengadakan serangan di
depan pelabuhan Banten. Sedangkan pasukan darat
dipimpin Kapten Hartsinck, berkekuatan 1000 orang, mengadakan
penyerangan
dari arah Tangerang; nanti dalam serbuan ke Tirtayasa, pasukan ini
bergabung dengan pasukan laut, sehingga Tirtayasa diserang dari dua
arah,
demikian taktik kompeni.
Melalui
pertempuran yang banyak memakan korban, akhirnya pasukan Kapten
Tack dan Saint Martin
> dapat menguasai Surosowan. Sultan Ageng
Tirtayasa dan pasukannya mundur ke arah barat sungai Ciujung.
Pertempuran
ini berlangsung terus menerus sampai akhirnya pasukan Sultan Ageng
hanya
dapat bertahan di benteng Kedemangan.
Dalam
pada itu, pasukan Banten di Tangerang dan Angke berusaha menahan
serangan
pasukan Kapten Hartsink. Di sebelah timur Sungai Angke, kompeni
hanya dapat
bertahan di bentengnya saja, sedangkan benteng di sebelah baratnya,
pada
tanggal 30 Maret 1682, sudah dapat dikuasai pasukan Banten yang
dipimpin
Pangeran Dipati. Tapi setelah melalui pertempuran yang lama, pada
tanggal 8
Desember 1682 kubu pertahanan Banten di Tangerang dan Angke
dapat dikuasai
kompeni. Benteng di Kedemangan pun akhirnya dapat dihancurkan
pasukan
Kapten Tack pada tanggal 2 Desember 1682. Dengan demikian ruang
gerak
prajurit Sultan Ageng Tirtayasa semakin kecil. Di sebelah barat
pasukan
kompeni yang dibantu pasukan Sultan Haji menguasai sampai
Kademangan,
sedangkan dari arah timur pasukan Kapten Hartsinck sudah sampai di
perbatasan daerah Tanahara. Sehingga daerah induk yang masih
dikuasai
Sultan Ageng hanyalah Tanahara, Tirtayasa dan Kademangan saja
(Sanusi Pane,
1950:216).
Untuk
mempertahankan Tirtayasa, benteng di Kademangan dan Tanahara
merupakan kubu
pertahanan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa yang terkuat. Di
Tanahara, Sultan
Ageng menempatkan pasukan darat yang dipusatkan di benteng
Tanahara, dan
juga pasukan lautnya di Pulau Cangkir. Karena kuatnya pertahanan di
Tanahara ini, maka kompeni menambah lagi pasukan tempurnya dari
w:st="on">Batavia
> dipimpin
Kapten Jonker. Setelah mengerahkan pasukan penyerang dari darat
dan laut,
barulah pada tanggal 28-29 Desember 1682 Tanahara pun dapat
direbut
kompeni.
Dalam
usaha untuk menguasai daerah Tirtayasa, kompeni melakukan
penyerangan
serentak dari dua jurusan: pasukan Kapten Tack dan Sultan Haji
menyerang
dari Pontang, sedangkan pasukan Hartsinck dan Kapten Jonker
menyerang dari
Tanahara. Seluruh barisan pertahanan Sultan Ageng dikerahkan untuk
melawan
kekuatan kompeni ini. Sultan Ageng, Pangeran Purbaya, Syekh Yusuf
dan
seluruh pembesar negeri semuanya turut berperang memimpin
pasukan.
Pertempuran berlangsung hebat, tapi akhirnya pasukan Sultan Ageng
sedikit
demi sedikit dapat dipukul mundur. Karena Sultan memperkirakan
bahwa
pasukannya tidak akan mampu mempertahankan Tirtayasa lebih lama
lagi, maka
diperintahkan pasukannya untuk segera mengundurkan diri,
meninggalkan
Tirtayasa dan mundur ke arah selatan yaitu hutan Keranggan. Tapi
sebelumnya, Sultan memerintahkan supaya istana dan bangunan
lainnya
dibakar. Sultan tidak rela bangunan-bangunannya itu diinjak oleh
orang
kafir dan pendurhaka. Memang, akhirnya kompeni dan Sultan Haji
dapat menduduki
Tirtayasa, tetapi di sana mereka hanya mendapati puing-puing bekas
istana saja, bahkan penduduknya
pun banyak yang ikut Sultannya ke hutan (Tjandrasasmita, 1976:44).
Dari
hutan Keranggan, Sultan Ageng Tirtayasa dan seluruh pasukannya
melanjutkan
perjalanan ke Lebak. Satu tahun mereka melakukan perang gerilya
dari
w:st="on">sana
>. Tapi akhirnya,
Lebak pun dapat dikepung pasukan kompeni, sehingga pasukan Sultan
Ageng
terpecah menjadi dua bagian: Pangeran Purbaya dan sejumlah
tentaranya
bergerak ke sekitar Parijan, di pedalaman Tangerang. Sedangkan
Sultan
Ageng, Pangeran Kidul, Pangeran Kulon, Syekh Yusuf beserta sisa
pasukannya
bergerak ke daerah Sajira, di perbatasan Bogor.
Sultan
Haji berusaha keras agar ayahnya dapat kembali ke Surosowan.
Dengan
petunjuk serta nasehat kompeni, yang ingin melakukan tipu daya
halus, maka
Sultan Haji mengirimkan surat kepada Sultan Ageng Tirtayasa di
Sajira.
w:st="on">Surat
> itu berisikan ajakan Sultan Haji
supaya ayahnya kembali ke Surosowan dan hidup bersama dengan
damai, di
samping itu dapatlah dirundingkan kedudukan prajurit dan rakyat
Banten yang
mendukung perjuangan Sultan Ageng. Tanpa perasaan curiga sedikit
pun,
Sultan yang kala itu usianya sudah lanjut, --- ditambah pula kesedihan
atas
gugurnya Pangeran Kulon pada tanggal 7 Maret 1683 --- maka pada
tanggal 14
Maret 1683 tengah malam, Sultan Ageng datang ke Surosowan setelah
lama
bertahan di hutan.
Sultan
Ageng Tirtayasa dengan beberapa pengawalnya sampailah di
Surosowan dan
langsung menemui putranya yang telah menantikan kedatangan sang
ayah.
ayah.
Penerimaan Sultan Haji sangat baik meski pun di belakangnya telah
ada
maksud tertentu atas bujukan kompeni. Tetapi setelah beberapa saat
lamanya
tinggal di istana Surosowan ia ditangkap oleh kompeni dan segera
dibawa ke Batavia
>. Memang
itulah maksud dan tipudaya kompeni atas kerja sama dengan Sultan
Haji. Jika
Sultan Ageng Tirtayasa dibiarkan berada di Surosowan maka
dikhawatirkan
oleh kompeni akan dapat mempengaruhi Sultan Haji, yang sudah erat
bekerjasama dengan kompeni.
Sultan
Ageng Tirtayasa dimasukkan ke dalam penjara berbenteng di Batavia
> dengan penjagaan ketat serdadu
kompeni hingga meninggalnya di penjara pada tahun 1692
(Tjandrasasmita,
1967:46). Jenazahnya oleh Sultan Abdulmahasin Zainul Abidin,
anaknya Sultan
Haji, dan terutama oleh rakyat Banten yang amat mencintainya
dimintakan
kepada pemerintah tinggi kompeni Belanda untuk dikirim kembali ke
Banten.
Kemudian dengan upacara keagamaan yang amat mengesankan ia
Kemudian dengan upacara keagamaan yang amat mengesankan ia
dimakamkan di
samping sultan-sultan pendahulunya, di sebelah utara Masjid Agung
Banten[21].
4. Perjuangan Gerilya Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf
Ketika
Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap atas tipu daya Belanda dan kerja
sama Sultan
Haji, serta gugurnya Pangeran Kulon, semangat perjuangan menentang
dominasi
Belanda tidaklah berkurang. Hal mana menjadikan motivasi pejuang
yang pro
Sultan Ageng Tirtayasa semakin meningkat karena kekuasaan Banten
di bawah
Sultan Haji telah ada dalam pengaruh politik Belanda. Jajaran
penjuang
terdiri dari keluarga kerajaan, para ulama dan sebagian besar rakyat
Banten. Mereka masih terus berjuang di hutan-hutan menentang
kolonialisme
Belanda. Tokoh gerilya itu di antaranya adalah Syekh Yusuf, Pangeran
Purbaya dan Pangeran Kulon. Syekh Yusuf adalah seorang ulama
Banten asal
Makasar yang diangkat mufti kerajaan Banten semasa Sultan Ageng
Tirtayasa.
Walaupun
Sultan Ageng Tirtayasa sudah dapat ditangkap dan dipenjarakan
Sultan Ageng Tirtayasa sudah dapat ditangkap dan dipenjarakan
kompeni,
Syekh Yusuf dan pasukannya tetap meneruskan perjuangan di sekitar
Tangerang. Bersama pasukan Banten lainnya mereka menyusuri hutan
dan tepi
sungai dengan tujuan ke Cirebon, dengan
harapan di sana ia mendapat bantuan dari Sultan Cirebon yang pernah
jadi sahabat Banten.
Dalam pada itu kompeni segera mengetahui tentang rencana Syekh
Yusuf itu,
maka dikirimkannya sejumlah pasukan kompeni yang dipimpin oleh
Van Happel
ke Cirebon.
Kompeni khawatir kalau-kalau Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya dan
Pangeran
Kidul serta tentaranya ini akan terus ke Jawa Tengah dan bergabung
dengan
pasukan Kartasura.
Sampai
di Cikaniki, pasukan Syekh Yusuf selanjutnya menuju Cianten lewat
jalan
Cisarua dan Jampang, sedangkan pasukan Pangeran Purbaya
melanjutkan
perjalanannya ke daerah Galunggung untuk bergabung dengan
Tumenggung
Tanubaya. Pasukan gerilya Banten ini berjumlah kira-kira 4000 orang
atau
atau
5000 orang, termasuk 1000 orang Makasar, Bugis dan Melayu. Dari
Jampang,
Syekh Yusuf dan pasukannya terus menuju ke Pamotan yang
kemudian ke Cilacap
dengan menggunakan perahu. Tapi karena tentara kompeni yang
dipimpin oleh
De Ruys dan Eigel berada di sana,
Syekh Yusuf pun pergi ke Padaherang dengan menyusuri sungai
Citandui. Dari
daerah inilah Syekh Yusuf kemudian mengadakan serbuan-serbuan ke
benteng
pertahanan Belanda. Tapi tidak lama kemudian, tanggal 25 September
1683,
Belanda mengadakan serangan besar-besaran terhadap Padaherang,
sehingga
dalam pertempuran itu Pangeran Kidul gugur demikian juga banyak
pembesar
Banten dan Makasar yang gugur, dan istri Syekh Yusuf ditawan
musuh,
sedangkan Syekh Yusuf beserta sisa pasukannya dapat meloloskan diri
dan
pergi hingga sampai di Mandala, daerah Sukapura.
Karena
kompeni sudah merasa kesulitan untuk menangkap Syekh Yusuf,
maka diaturlah
strategi penipuan untuk dapat memperdayakan Syekh Yusuf. Mula-
strategi penipuan untuk dapat memperdayakan Syekh Yusuf. Mula-
mula, kompeni
menangkap anak perempuan Syekh Yusuf, yang bernama Asma,
kemudian dengan
menggunakan putrinya itu, Van Happel pergi ke Mandala untuk minta
supaya
Syekh Yusuf menjemput putrinya dan berunding dengan kompeni.
Karena bujukan
dan janji-janji Van Happel, akhirnya Syekh Yusuf menerima untuk
berunding;
tapi dengan siasat licik ini,
Syekh Yusuf ditangkap kompeni pada tanggal 14 Desember 1683.
Syekh Yusuf
dibawa ke Cirebon yang kemudian dipindahkan ke Batavia, dan,
akhirnya pada
tanggal 12 Desember 1684 dibuang ke Ceylon. Karena di Ceylon pun
Syekh
Yusuf masih terus mengadakan hubungan perjuangan dengan orang-
orang Banten
yang pulang dari menunaikan ibadah haji, maka keputusan Pemerintah
Tinggi
Kompeni pada tanggal 7 Juli 1693 Syekh Yusuf dipindahkan
pengasingannya ke
Tanjung Harapan, sampai meninggalnya pada tanggal 23 Mei 1699.
Dalam
pada itu, Pangeran Purbaya, Pangeran Sake dengan sekitar 800 orang
pasukannya yang masih setia melanjutkan perjuangannya di daerah
Cikalong,
Cikalong,
Bogor Selatan. Dengan menggunakan Untung Surapati, yang berhasil
dibujuk
untuk masuk tentara kompeni, bupati Sukapura dan demang
Timbanganten,
kompeni membujuk Pangeran Purbaya agar menyerahkan diri. Di
samping
mengutus Untung Surapati, pemerintah kompeni sebelumnya telah
mengirimkan
pula sepasukan tentara kompeni lainnya yang dipimpin Kuffeler.
Ketika
Surapati sedang mengadakan perundingan dengan Pangeran Purbaya,
datanglah
Kuffeler dan pasukannya yang bertindak kasar kepada Pangeran
Purbaya.
Untung Surapati menjadi marah karena merasa direndahkan
martabatnya,
berbalik menyerang tentara kompeni. Dalam pertempuran itu tentara
kompeni
dapat dikalahkan dan mereka melarikan diri kembali ke Sukapura
dengan
meninggalkan 20 orang Belanda yang mati terbunuh. Untung Surapati
selanjutnya meneruskan perlawanan terhadap kompeni Belanda di
daerah
Priyangan yang selanjutnya ke Kartasura. Dalam pertempuran di
Cikalong itu,
tanggal 28 Januari 1684, walau pun Belanda menderita kekalahan tapi
bersama
bersama
mereka yang melarikan ke Sukapura, kompeni pun berhasil
menangkap Pangeran
Mohammad Sake, saudara Pangeran Purbaya, yang kemudian ditahan
di Sukapura.
Dengan tipu muslihat yang sama, Pangeran Purbaya bersedia
menyerahkan
kerisnya dari Cileungsir, sebagai jaminan, untuk dikirimkan ke
Batavia,
baru kemudian Pangeran Purbaya sendiri menyusul ke Batavia.
Setibanya di
Batavia, Pangeran Purbaya disambut baik oleh kompeni dan kerisnya
diserahkan kembali kepadanya, namun kemudian ia ditangkap dan
dipenjarakan
di Batavia,
hingga wafatnya.
F. PEMERINTAHAN
SULTAN-SULTAN BANTEN SESUDAH SULTAN AGENG
TIRTAYASA
Dengan
ditangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa, Syekh Yusuf, Pangeran
Purbaya dan
pengikut-pengikut setianya ini membawa Banten ke ambang pintu
penjajahan
kompeni. Peperangan sudah mulai berkurang, tapi rakyat di sana-sini
masih
mengadakan perlawanan walau pun semuanya tidaklah begitu berarti.
Sementara
itu, dengan restu kompeni Belanda pulalah Sultan Haji dikukuhkan
menjadi
Sultan Banten dengan beberapa persyaratan. Tapi dengan demikian,
kedaulatan
kerajaan Banten telah runtuh, apalagi dengan ditandatanganinya
perjanjian
pada tanggal 17 April 1684, yang isinya sebagai berikut
(Tjandrasasmita,
1967:53):
1)
Perjanjian 10 Juli 1659 tetap masih berlaku dengan utuh
kecuali beberapa hal yang diubah dalam perjanjian ini. Di samping itu
untuk
kedamaian antara Banten dan kompeni Belanda, maka Banten dilarang
memberikan bantuan dalam bentuk apapun kepada musuh-musuh
kompeni. Demikian
juga Banten tidak boleh turut campur dalam politik di Cirebon
>.
2)
Penduduk Banten tidak boleh datang ke Batavia, demikian juga sebaliknya, kecuali ada
keperluan khusus dengan mendapat surat
> izin dari yang
berwenang. Apabila memasuki daerah-daerah tersebut tanpa surat
> izin, maka orang itu dianggap
sebagai musuh dan boleh ditangkap atau dibunuh.
3)
Sungai Untung Jawa (Cisadane) dan garis sambungnya ke
selatan dan utara sampai laut Kidul, menjadi batas daerah Banten dan
kompeni.
4)
Apabila ada kapal milik kompeni atau milik Banten atau
warganya terdampar atau mendapat kecelakaan di laut Jawa dan
w:st="on">Sumatra
>, maka haruslah mendapat pertolongan baik
penumpangnya atau pun barang-barangnya.
5)
Untuk kerugian-kerugian perang dan perampokan oleh
penduduk Banten atas kompeni, maka Sultan harus menggantikan
kerugian
sejumlah 12.000 ringgit kepada kompeni.
6)
Tentara ataupun penduduk sipil atau siapa saja yang
berani melanggar hukum yang telah disepakati ini akan ditangkap dan
diserahkan kepada kompeni.
7)
Sultan Banten harus melepas tuntutannya atas
w:st="on">Cirebon
> dan harus
menganggap sebagai negara sahabat yang bersekutu di bawah
lindungan
kompeni.
8)
Sesuai dengan isi perjanjian tahun 1659 pasal 4 yang
menyatakan bahwa kompeni tidak memberikan sewa tanah atau rumah
yang
digunakan untuk loji, maka menyimpang dari hal itu kompeni akan
menentukan
pembayaran kembali dengan cara debet.
9)
Sultan berkewajiban untuk waktu yang akan datang tidak
mengadakan perjanjian atau persekutuan, perserikatan dengan
kekuatan atau
bangsa lain, kerena hal itu bertentangan dengan isi perjanjian ini.
10)
Karena perjanjian ini harus tetap terpelihara dan
berlaku terus hingga masa yang akan datang, maka Paduka Sri Sultan
Abdul
Kahar Abu Nasr beserta seluruh keturunannya haruslah menerima
seluruh pasal
perjanjian ini, dimaklumi serta dianggap suci, dipercayai dan benar-
benar
akan dilaksanakan oleh segenap pembesar kerajaan tanpa penolakan,
demikian
pula dari pihak kompeni.
Perjanjian ini ditandatangani di Keraton Surosowan dan
dibuat dalam bahasa Belanda, Jawa dan Melayu yang sama maksud
dan isinya.
Penandatangan dari pihak kompeni adalah Komandan dan Presiden
Komisi
Francois Tack, Kapten Herman Dirkse Wonderpoel, Evenhart van der
Schuere
serta kapten bangsa Melayu Wan Abdul Bagus. Sedangkan dari pihak
Banten
ditandatangani oleh Sultan Abdul Kahar, Pangeran Dipaningrat, Kiyai
Suko
Tajuddin, Pangeran Natanagara dan Pangeran Natawijaya
(Tjandrasasmita,
1967:54).
Dengan
ditandatanganinya perjanjian ini, lenyaplah kejayaan dan kemajuan
Banten,
ditelan monopoli dan penjajahan kompeni Belanda. Bahkan akibat
perjanjian
ini pulalah akhirnya Kesultanan Banten menjadi hancur dan lenyap.
Bertumpuk-tumpuklah penderitaan rakyat bukan saja karena pembersihan atas pengikut Sultan
Ageng, pajak yang tinggi --- karena Sultan harus membayar biaya
perang ---
tapi juga karena monopoli perdagangan kompeni. Rakyat dipaksa
untuk menjual
hasil pertaniannya terutama lada dan cengkeh kepada kompeni melalui
pegawai
kesultanan yang ditunjuk dengan harga yang sangat rendah. Raja
seolah-olah
hanya sebagai pegawai kompeni dalam hal pengumpulan lada dari
rakyat.
Pedagang-pedagang bangsa Inggris, Perancis dan Denmark, karena
dianggap
banyak membantu Sultan Ageng Tirtayasa dalam perang yang lalu,
diusir dari
Banten dan mereka pindah ke Bangkahulu (Chijs, 1881:59).
Dengan demikian
maka tidaklah mengherankan apabila pada waktu itu terjadi banyak
kerusuhan
dan pemberontakan yang ditimbulkan oleh rakyat. Perampokan-
perampokan dan
pembunuhan-pembunuhan sering dialami pedagang-pedagang dan
patroli kompeni
di luar atau pun di dalam kota.
Bahkan pernah terjadi pembakaran yang menghabiskan 2/3 bangunan-
bangunan di
dalam kota.
Ketidakamanan pun terjadi di lautan, banyak kapal-kapal kompeni
Ketidakamanan pun terjadi di lautan, banyak kapal-kapal kompeni
yang
dibajak oleh "bajak negara" yang bersembunyi di sekitar perairan
Bojonegara sekarang (Michrob, 1981:39). Kemungkinan dalam
operasinya banyak
dibantu oleh pelaut-pelaut asal Sumatra yang dipimpin oleh Ibn
Iskandar (Soeroto, 1965:212).
Untuk
memperkuat pertahanan dan kuasanya atas Banten, maka kompeni
Belanda
membuat sebuah benteng di pantai utara dekat pasar Karangantu.
Benteng ini
diberi nama Spelwijk --- sebagai peringatan kepada Speelman --- pada
tahun 1682, dan kemudian disempurnakan lagi pada tahun 1685
(Chijs,
1881:25).
Akibat
perang saudara yang berkepanjangan itu, banyak bangunan di dalam
w:st="on">kota
> yang rusak
berat, seperti istana dan benteng Surosowan. Untuk memperbaiki
semuanya
itu, Sultan meminta kepada Hendrik Laurenszoon van Steenwijk
Cardeel,
seorang arsitek bangsa Belanda yang dikatakan sudah beragama Islam
--- yang
--- yang
juga membangun benteng Spelwijk (Chijs, 1881:36). Diratakannya
dulu semua
bekas benteng dan istana, kemudian di atas fondasi yang lama
dibangunlah
kembali seperti semula. Pekerjaan ini berjalan hampir dua tahun penuh
(Michrob, 1981:37).
Masa
pemerintahan Sultan Haji dipenuhi dengan pemberontakan-
pemberontakan dan
kekacauan di segala bidang. Sebagian besar rakyat tidak mengakui
dirinya
sebagai Sultan. Oleh sebab itu, kehidupan Sultan Haji selalu ada dalam
keadaan kegelisahan dan ketakutan. Bagaimana pun juga sebagai
seorang manusia,
penyesalannya terhadap perlakuan buruknya terhadap ayah, saudara,
sahabat
dan prajurit-prajuritnya yang setia selalu ada. Tapi semuanya sudah
terlanjur. Kompeni yang dulu dianggap sebagai sahabat dan
pelindungnya,
sekarang bahkan menjadi tuan yang harus dituruti segala kehendaknya.
Karena
tekanan-tekanan itu akhirnya Sultan Haji jatuh sakit sampai meninggal
pada
tahun 1687. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Sedakingkin
sebelah utara
Masjid Agung, sejajar dengan makam ayahnya, Sultan Ageng
Masjid Agung, sejajar dengan makam ayahnya, Sultan Ageng
Tirtayasa (Ismail,
1983:7).
Melihat
sejarah Sultan Haji yang demikian memalukan itu, maka timbullah
cerita-cerita rakyat yang hampir semuanya jauh dari data sejarah yang
ada.
Diceritakan bahwa yang melawan Sultan Ageng Tirtayasa bukanlah
Sultan Haji,
anaknya, tapi orang lain yang berasal dari Pulau Putri atau Pulau
Majeti.
Sewaktu Sultan Haji pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji
yang kedua
kalinya, ia singgah di suatu pulau yang dinamakan Pulau Putri atau
Pulau
Majeti. Di sana Sultan bertemu dengan seorang putri cantik yang
kemudian ia jatuh cinta dan
menikahinya. Dan atas permintaan sang putri, semua pakaian dan
perhiasan
Sultan diserahkan sebagai mahar. Pakaian dan perhiasan ini kemudian
diberikan kepada kakak sang putri yang kebetulan berwajah mirip
dengan Sultan
Haji. Kakaknya inilah yang kemudian berlayar ke
w:st="on">Batavia
> dan mengaku bernama Sultan Haji.
Karena pakaian dan wajahnya yang memang mirip, rakyat pun
Karena pakaian dan wajahnya yang memang mirip, rakyat pun
mengakuinya.
Dialah yang kemudian memerintah Banten dan berperang dengan
Sultan Ageng
Tirtayasa. Setelah selang beberapa tahun kemudian, Sultan Haji (yang
asli)
pulang ke Banten, dan melihat keadaan Banten yang sudah berubah,
dan untuk
menjaga jangan terjadi keributan ia pergi ke Cimanuk-Cikaduen,
Pandeglang,
aktif menyebarkan agama Islam sampai meninggalnya. Dialah yang
kemudian
dikenal dengan nama Haji Mansur atau Syekh Mansur Cikaduen
(Roesjan,
1954:26-30 dan Djajadiningrat, 1983: 15). Cerita semacam ini
dianggap
sangat lemah dalam data sejarah, dan hanyalah dianggap sebagai
dongeng yang
mengandung nilai filosofis.
Dari
pernikahannya dengan permaisuri, Sultan Haji mempunyai beberapa
orang anak
di antaranya Pangeran Ratu (anak pertama) dan Pangeran Adipati
(anak kedua)
(Djajadiningrat, 1983:210). Sedangkan dari sumber lain (Babad
Banten)
tercatat bahwa Sultan Haji mempunyai 10 orang anak (Ismail, 1967):
1)
Pangeran Ratu (Sultan 'Abulfadl).
2)
Pangeran Adipati (Sultan Muhammad Zainul Abidin).
3)
Pangeran Muhammad Thohir.
4)
Pangeran Fahdluddin.
5)
Pangeran Ja'faruddin.
6)
Pangeran Muhammad 'Alim.
7)
Ratu Rohimah.
8)
Ratu Hamimah.
9)
Pangeran Ksatrian.
10)
Ratu Mumbay (Ratu Bombay).
Setelah
Sultan Haji meninggal, terjadilah perebutan kekuasaan di antara
anak-anaknya. Barulah setelah Van Imhoff turun tangan, masalah ini
anak-anaknya. Barulah setelah Van Imhoff turun tangan, masalah ini
dapat
diselesaikan dengan mengangkat anak pertama, Pangeran Ratu,
menjadi sultan
Banten, yang kemudian bergelar Sultan Abu'l Fadhl Muhammad
Yahya (1687 -
1690). Ternyata Sultan Abu'l Fadl termasuk orang yang benci kepada
kompeni
Belanda. Ditatanya kembali Banten yang sudah porak poranda itu.
Tapi baru
berjalan 3 tahun, Sultan jatuh sakit yang mengakibatkan kematiannya,
jenazahnya dimakamkan di samping kanan makam Sultan Hasanuddin
di Pasarean
Sabakingkin (Ismail, 1983:7).
Karena
Sultan Abu'l Fadhl Muhammad Yahya tidak mempunyai anak, maka
tahta
kesultanan diserahkan kepada adiknya Pangeran Adipati dengan gelar
Sultan
Abu'l Mahasin Muhammad Zainul Abidin atau juga biasa disebut
Kang
Sinuhun Ing Nagari Banten yang memerintah dari tahun 1690 sampai
1733.
(Djajadiningrat, 1983:139). Putra Sultan Abu'l Mahasin yang sulung
meninggal
dunia dibunuh orang, sehingga yang menggantikan tahta kesultanan
pada tahun
1733 adalah putra keduanya yang kemudian bergelar Sultan Abulfathi
1733 adalah putra keduanya yang kemudian bergelar Sultan Abulfathi
Muhammad
Shifa Zainul Arifin (1733 - 1747).
Pada
masa pemerintahan Sultan Zainul Arifin ini banyak terjadi
pemberontakan
rakyat yang tidak senang dengan perlakuan kompeni yang sudah di
luar batas
kemanusiaan --- misalnya dengan adanya kerja rodi, tanam paksa dan
sebagainya. Memang pada awal abad ke-18 ini terjadi perubahan
politik
kompeni dalam pengelolaan daerah yang dikuasainya. Monopoli
rempah-rempah
dianggapnya sudah tidak menguntungkan lagi karena Inggris sudah
berhasil
menanam cengkeh di India, sehingga harga cengkeh di Eropa pun
turun. Oleh karenanya kompeni
mengalihkan usahanya dengan menanam tebu dan kopi di samping
rempah-rempah.
Untuk
keperluan penanaman tebu dan kopi itu kompeni banyak
membutuhkan tanah yang
luas dan tenaga kerja murah. Maka mulailah penaklukan daerah-
daerah
pedalaman. Raja yang menguasai daerah itu diharuskan menanam tebu
atau kopi
yang kemudian hasilnya harus dijual kepada kompeni dengan harga
yang kemudian hasilnya harus dijual kepada kompeni dengan harga
yang sudah
ditentukan. Rakyat dipaksa menanami sebagian tanahnya dengan tebu
atau kopi
yang hasilnya harus dijual kepada raja, yang kemudian menjualnya
kembali
kepada kompeni (Soeroto, 1965:213-214). Dalam praktek penjualan
kembali
ini, harga jual yang diperoleh rakyat jauh lebih rendah dibandingkan
dengan
harga jual raja kepada kompeni. Kompeni membeli kopi dari raja
seharga 21
ringgit per pikul, sedangkan raja membayar hanya 5 ringgit kepada
rakyat
(Sanusi Pane, 1950:265).
Cara
penimbangan yang semberono, jenjang/birokrasi perdagangan yang
berbelit-belit, menyebabkan kerugian pada rakyat petani. Sebagai
gambaran
dapatlah dikemukakan sebagai berikut : sultan menjual lada kepada
kompeni
seharga 15 mat Spanyol per bahar (375 pon), sedangkan sultan sendiri
membelinya dari pejabat yang ditunjuknya seharga 7,8 atau 9 mat
Spanyol,
dan pejabat tersebut membeli dari rakyat seharga 4 mat Spanyol yang
dibayarnya dengan cara penukaran barang kebutuhan sehari-hari
(garam, kain,
beras dan lain-lain) yang diperhitungkan dengan harga tinggi, sehingga
si
petani hampir tidak mendapat apa-apa dari hasil buminya itu (Chijs,
1881:70).
Dalam
pada itu, di dalam kraton pun terjadi keributan dan kekacauan
pemerintahan.
Sultan Zainul Arifin sangat dipengaruhi permaisurinya, Ratu Syarifah
Fatimah, janda seorang letnan Melayu di Batavia. Sultan Zainul Arifin
menunjuk Pangeran Gusti, putranya yang tertua, menjadi Putra
Mahkota,
tetapi karena Ratu Fatimah tidak menyetujuinya maka diangkatlah
Pangeran
Syarif Abdullah, suami anak Ratu Fatimah dari suaminya yang
terdahulu,
menjadi Putra Mahkota. Dan karena desakan Ratu Fatimah pula,
Pangeran Gusti
disuruh pergi ke Batavia, yang kemudian, atas perintah Ratu Fatimah,
di
tengah perjalanan ia ditangkap tentara kompeni dan diasingkan ke
Sailan
(1747).
Atas
persetujuan kompeni, Pangeran Syarif Abdullah dinobatkan menjadi
Putra
Mahkota, dan untuk jasa-jasa kompeni ini, Ratu Fatimah
Mahkota, dan untuk jasa-jasa kompeni ini, Ratu Fatimah
menghadiahkan
sebidang tanah di daerah Cisadane dan hak separuh penghasilan
tambang emas
di Tulang Bawang, Lampung, kepada kompeni. Karena fitnah istrinya
pula
akhirnya Sultan Zainul Arifin ditangkap kompeni, dituduh gila, dan
diasingkan ke Ambon sampai meninggalnya.
Sebagai gantinya diangkatlah Pangeran Syarif Abdullah dengan gelar
Sultan
Syarifuddin Ratu Wakil menjadi Sultan Banten, tahun 1750, tapi
sebenarnya,
Ratu Fatimahlah yang memegang kuasa pemerintahan.
Kecurangan
yang dilakukan Ratu Fatimah ini bagi rakyat dan sebagian petinggi
negeri
merupakan suatu penghinaan besar dan penghianatan yang sudah tidak
bisa
diampuni lagi, sehingga rakyat pun mengadakan perlawanan
bersenjata.
Dipimpin oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang, mereka menyerbu
Surosowan.
Dalam penyerangan ini pasukan perlawanan dibagi dua, sebagian
langsung
menyerang kota Surosowan dan sebagian lagi
mencegat bantuan pasukan kompeni dari Batavia.
Ratu Bagus Buang dengan pasukan yang besar menyerbu dari arah
Ratu Bagus Buang dengan pasukan yang besar menyerbu dari arah
barat, yang
memaksa pasukan Ratu Fatimah hanya mampu bertahan di benteng
saja,
sedangkan pasukan Ki Tapa yang mencegat pasukan kompeni dari
Batavia,
melalui pertempuran hebat, mereka dapat menghancurkan pasukan
kompeni.
Bahkan apabila tidak segera datang pasukan baru dari negeri Belanda,
w:st="on">Batavia
> pun mungkin
dapat direbut pasukan Ki Tapa ini. Karena pasukan bantuan dari negeri
Belanda ini pulalah akhirnya pasukan pejuang dapat dipukul mundur.
Demikian
juga pengepungan di Surosowan dapat dibuyarkan.
Untuk
menenangkan rakyat Banten, gubernur jendral kompeni yang baru,
Mossel,
segera memerintahkan wakilnya di Banten untuk segera menangkap
Ratu
Syarifah Fatimah dan Sultan Syarifuddin. Ratu Fatimah selanjutnya
diasingkan ke Saparua dan Sultan Syarifuddin ke Banda[22]. Belanda
mengangkat Pangeran Arya Adisantika, adik Sultan Zainul Arifin, menjadi wakil raja dan
mengembalikan Pangeran Gusti dari tempat pengasingannya.
Walau
pun kompeni telah mengembalikan Pangeran Gusti dan bahkan
menangkap Ratu
menangkap Ratu
Fatimah, namun perlawanan rakyat Banten tidak mereda. Barisan
rakyat dipimpin
oleh Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang sering mengadakan serangan
mendadak di
sekitar ibukota Surosowan. Tapi dalam serangan besar-besaran yang
dilakukan
kompeni, akhirnya pasukan perlawanan ini dapat dipukul mundur,
hingga
mereka hanya dapat bertahan di daerah pengunungan di Pandeglang.
Baru pada
serangan berikutnya, pasukan pejuang ini menyingkir ke Gunung
Munara di
Ciampea, Bogor.
Melalui serangan yang berkali-kali barulah Gunung Munara dapat
dikuasai
kompeni, sehingga Ki Tapa dan pasukannya pindah ke daerah Bogor
> dan Banten Selatan.
Dalam
pada itu di Surosowan, kompeni mengangkat Pangeran Arya Adi
Santika menjadi
Sultan Banten dengan gelar Sultan Abulma'ali Muhammad Wasi'
Zainul 'Alimin
pada tahun 1752, dan Pangeran Gusti ditetapkan sebagai Putra
Mahkota. Tapi
dengan pengangkatan itu Sultan Abulma'ali harus menandatangani
perjanjian
perjanjian
dengan kompeni yang isinya[23]:
margin-left:2.0cm;margin-bottom:.0001pt;text-indent:-1.0cm;mso-
list:l3 level1 lfo22; tab-stops:1.0cm list 2.0cm left 3.0cm">1)
Banten di bawah kuasa penuh kompeni Belanda walaupun
pemerintahan tetap di tangan sultan.
2)
Sultan akan mengirim utusan ke Batavia
> setiap tahun sambil membawa upeti
berupa lada yang jumlahnya ditetapkan kompeni.
3)
Hanya kompeni Belanda yang boleh mendirikan benteng di
Banten.
4)
Banten hanya boleh menjual kopi dan tebu kepada kompeni
saja.
5)
Sejalan dengan bunyi pasal 4, banyaknya produksi kopi
dan tebu di Banten haruslah ditentukan kompeni.
Mengetahui
tentang pasal-pasal perjanjian kompeni ini, beberapa pangeran dan
pembesar
kraton lainnya menjadi gusar, demikian juga dengan Pangeran Gusti.
kraton lainnya menjadi gusar, demikian juga dengan Pangeran Gusti.
Rakyat
kembali mengangkat senjata mengadakan perlawanan, dan kembali
mengadakan
hubungan dengan Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang di pedalaman.
Pasukan
penentang mengadakan serangan serentak ke kota Surosowan; Ki
Tapa, Ratu Bagus Buang dan pasukannya menyerang dari luar
sedangkan rakyat yang dipimpin pangeran dan ponggawa Banten
mengadakan
pengacauan di dalam kota.
Terjadilah pertempuran hebat di daerah Caringin dan kota
> Surosowan.
Dengan
susah payah Belanda akhirnya berhasil melumpuhkan serangan-
serangan
tersebut. Ki Tapa menyingkir ke daerah Priyangan. Dan setelah terjadi
peperangan di Bandung, akhirnya dengan
beberapa ratus pengikutnya Ki Tapa pergi ke Jawa Timur untuk
bergabung
dengan para pejuang di sana.
Sedangkan Ratu Bagus Buang sampai tahun 1757 masih tetap
mengadakan
perlawanan di Banten. Karena adanya perlawanan rakyat itu pulalah,
enam
bulan kemudian, Sultan Abulma'ali Muhammad Wasi' Zainul 'Alamin
menyerahkan
menyerahkan
kekuasaannya kepada Pangeran Gusti. Maka pada tahun 1753
Pangeran Gusti
dinobatkan menjadi Sultan dengan gelar Abu'l Nasr Muhammad 'Arif
Zainul
'Asiqin. Sultan Abu'l Nasr Muhammad 'Asiqin wafat pada tahun 1773
dan
digantikan putranya dengan gelar Sultan Abu'l Mafakhir Muhammad
Aliuddin
(1773 - 1799).
Karena
tidak mempunyai anak laki-laki, Sultan 'Aliuddin, setelah wafat
diganti
oleh adiknya, Pangeran Muhiddin, dengan gelar Sultan Abu'lfath
Muhammad
Muhiddin Zainushalihin yang memerintah pada tahun 1799 sampai
dengan 1801.
Pada tahun 1801, Sultan Muhiddin dibunuh oleh Tubagus Ali, seorang
putra
Sultan 'Aliuddin, dan Tubagus Ali sendiri dapat dibunuh oleh
pengawal
kesultanan. Selanjutnya yang menjadi Sultan adalah putra Sultan
'Aliuddin,
dari selir (istri yang bukan permaisuri), dengan gelar Sultan Abu'l Nasr
Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801 - 1802).
Pada
tahun 1802 kesultanan dipegang oleh Sultan Wakil Pangeran
Natawijaya yang
kemudian pada tahun 1803 digantikan putra kedua Sultan Abul
Mafakhir
Muhammad Aliuddin dengan gelar Sultan Abu'lnasr Muhammad Ishak
Zainulmuttaqin atau Sultan Aliyuddin II (1803 - 1808).
Pada
akhir abad ke-18, yang berkuasa di sebagian besar kerajaan di
nusantara
hakekatnya adalah kompeni Belanda, sultan statusnya tidak lebih dari
pegawainya saja. Melalui tangan Sultan, kompeni dapat
memerintahkan apa
saja kepada rakyat. Dalam hal perdagangan, kompeni bukan saja
menghendaki
monopoli pembelian hasil bumi, tetapi juga dalam hal perantaraan dan
penjualan. Kompeni dapat memaksa Banten (dan Lampung) menjual
lada hanya
kepadanya saja, demikian juga dalam hal penanamannya. Cengkeh
yang dibeli
kompeni dari Ambon dan pala dari Banda
dibelinya dengan barang-barang Eropa atau lokal, yang dari barang-
barang
itu saja sudah diambil keuntungan 50% hingga 75%. Sedangkan
rempah-rempah
yang dibeli dengan harga 7,5 sen per pon dijualnya 300 sen. Garam
dari
Rembang, Gresik dan Japara yang dibeli 6 ringgit per 500 pond dijual
kompeni kepada rakyat Andalas seharga 30 hingga 35 ringgit per 300
pond. Di
Banten pun ditetapkan bahwa hanya kompeni yang boleh menjual
kain-kain dari
Koromandel, keramik Cina, dan lain-lain.
Untuk
lebih banyak mendapatkan laba, kompeni pun menerapkan aturan
"pemberian wajib" kepada beberapa negara taklukannya. Mataram
diharuskan memberikan beras dengan jumlah yang ditentukan dan
harga yang
juga ditentukan semurah-murahnya oleh kompeni. Banten diharuskan
memberikan
lada, Priyangan harus memberikan kayu, beras, lada, ternak, kapas dan
nila.
Dengan ketentuan ini, sultan pun mewajibkan rakyatnya untuk
menyediakan
kehendak kompeni itu dengan harga yang rendah.
Tahun
1707 kompeni mewajibkan kepada rakyat Priyangan untuk menanam
kopi yang
hasilnya harus diserahkan kepada kompeni. Mula-mula dihargakan 21
ringgit
per pikul, kemudian diturunkan menjadi 5 ringgit per pikul, itu pun
dibayar
separoh dengan cara barter dan separohnya lagi dengan "
w:st="on">surat
> utang".
Dan tidak jarang pula, untuk "menyetabilkan harga" sewaktu-waktu
tanaman kopi itu harus ditebang sebagian yang kemudian sewaktu-
waktu harus
ditanam baru lagi.
Pada
masa pemerintahan Sultan Muhammad Aliuddin, atas perintah
kompeni Belanda,
rakyat Banten yang berumur lebih dari 16 tahun dan berbadan sehat,
harus
menanam 500 batang pohon lada. Lada yang dihasilkan harus dijual
kepada
kompeni melalui petugas kerajaan yang ditunjuk secara barter dengan
bahan-bahan kebutuhan pokok. Karena barang kebutuhan pokok ini
dihargakan
terlalu tinggi dan harga sebahar (tiga pikul) lada kurang dari 4 ringgit
Spanyol, maka rakyat penanam hanya mendapat sedikit kelebihannya,
atau
bahkan tidak sama sekali. Karena ketentuan ini, Belanda pada tahun
1774
dapat mengirimkan 19.000 bahar lada ke negeri Belanda. Semua
ketentuan
kompeni ini menambah kemakmuran kompeni yang kemudian
dikirimkan ke negeri
dikirimkan ke negeri
Belanda, di lain pihak rakyat pribumi semakin menderita.
G. PENGHANCURAN SUROSOWAN OLEH
DAENDELS
Pada akhir abad ke-18, walau pun kompeni dapat menguasai
hampir seluruh kepulauan nusantara, namun kompeni pun mengalami
kemunduran
dalam perdagangannya. Hal ini disebabkan karena situasi moneter
dunia dan
masalah di dalam tubuh VOC sendiri yang kurang sehat,
mengakibatkan hutang
kompeni (VOC) bertumpuk. Di antara sebab penting lain dalam
masalah ini
adalah :
1)
Persaingan dagang yang semakin ketat dari bangsa
Perancis dan Ingris.
2)
Miskinnya penduduk nusantara, terutama pulau Jawa karena
monopoli, sehingga rakyat tidak mampu membeli barang dagangan
yang dibawa
VOC.
3)
Turunnya harga rempah-rempah di pasaran dunia, karena di
samping seringnya penduduk pribumi yang melanggar monopoli
kompeni, Inggris
pun sudah berhasil menanamnya di
w:st="on">India
>.
4)
Banyak pegawai VOC melakukan korupsi.
5)
Banyak biaya yang harus dikeluarkan VOC terutama untuk
membayar tentara dan pegawainya yang sangat besar. Demikian juga
untuk
menguasai daerah-daerah yang baru, terutama di Jawa dan Madura.
Karena
sebab-sebab itulah akhirnya pada tanggal 1 Maret 1796, VOC
dibubarkan.
Semua kekayaan dan utang piutangnya ditangani pemerintah Kerajaan
Belanda,
dan sejak saat itulah kepulauan Nusantara dijajah Belanda (Soetjipto,
1961:56).
Pada
tahun 1789 terjadi Revolusi Perancis di bawah pimpinan Napoleon
Bonaparte,
yang mengguncangkan Eropa. Sebagian besar Eropa dikuasai
Perancis, kecuali
Inggris; Belanda pun dapat dapat dikuasainya tahun 1807 --- sehingga
otomatis daerah jajahan Belanda, termasuk kepulauan Nusantara
berada di
tangan Perancis. Louis Napoleon, adik Kaisar Napoleon, yang diberi
kuasa di
Belanda, mengangkat Herman William Daendels sebagai Gubernur
Jendral di
kepulauan Nusantara. Ia datang di Batavia pada tahun 1808 dengan
tugas utama mempertahankan pulau Jawa dari serangan
tentara Inggris yang berpangkalan di
w:st="on">India
>. Untuk tugas tersebut
Daendels membangun sarana-sarana pertahanan: jalan-jalan pos,
personil,
barak militer, benteng, pelabuhan, rumah sakit tentara dan pabrik
mesiu.
Semua itu harus segera diselesaikan dengan dana serendah mungkin,
karena
memang dana dari negeri Belanda tidak bisa diharapkan. Untuk itulah
dilakukan rodi atau kerja paksa, yaitu para pekerja tanpa upah.
Pekerjaan
pertama adalah membuat pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon.
Untuk itu
Deandels memerintahkan kepada Sultan Banten mengirimkan pekerja
rodi
sebanyak-banyaknya. Tapi karena daerahnya berawa-rawa maka
banyak pekerja
yang mati, terkena hawa beracun atau penyakit malaria, atau melarikan
diri.
Keadaan
ini membuat Daendels marah dan menuduh Mangkubumi Wargadiraja
sebagai
biangkeladi larinya pekerja-pekerja itu. Melalui utusan Sultan yang
dipanggil datang ke Batavia,
Daendels memerintahkan supaya:
1)
Sultan harus mengirimkan 1000 orang rakyat setiap hari
untuk dipekerjakan di Ujung Kulon.
2)
Menyerahkan Patih Mangkubumi Wargadiraja ke
w:st="on">Batavia
>.
3)
Sultan supaya segera memindahkan keratonnya ke daerah
Anyer, karena Surosowan akan dijadikan benteng Belanda.
Sudah
tentu tuntutan ini ditolak oleh Sultan Aliudin. Mengetahui sikap Sultan
yang demikian, dengan segera (dan sembunyi-sembunyi) dikirimnya
pasukan
dalam jumlah besar yang dipimpin Daendels sendiri ke Banten, yang
dua hari
kemudian pasukan ini sampai di perbatasan
w:st="on">kota
>. Kemudian diutuslah Komondeur Philip
Pieter du Puy dengan beberapa orang pengawalnya ke istana
Surosowan untuk
menanyakan kembali kesanggupan Sultan, tanpa memberitahukan
bahwa pasukan
Belanda sudah disiapkan di luar kota.
Namun karena kebencian yang sudah memuncak kepada Belanda, Du
Puy dan
seluruh pengawalnya dibunuh oleh pasukan pengawal kraton di depan
pintu
gerbang benteng Surosowan.
Mengetahui
keadaan utusannya itu Daendels segera memerintahkan pasukannya
untuk
menyerang istana Surosowan pada hari itu juga, yakni tanggal 21
Nopember
1808 (Chijs, 1881:43). Serangan yang tiba-tiba ini sangat mengejutkan
dan
memang di luar dugaan, sehingga Sultan tidak sempat lagi
menyiapkan
pasukannya. Prajurit-prajurit Banten dengan keberanian yang
mengagumkan
mempertahankan setiap jengkal tanah airnya. Tapi akhirnya Deandels
dapat
menumpas semua itu. Surosowan dapat direbutnya, Sultan ditangkap
dan
diasingkan ke Ambon. Sedangkan Patih
Mangkubumi dihukum pancung dan mayatnya dilemparkan ke laut.
Selanjutnya
Banten dan Lampung dinyatakan sebagai daerah jajahan Belanda.
Tangerang,
Jasinga, dan Sadang dimasukkan ke dalam teritorial Batavia
>. Dan sebagai Sultan Banten
diangkatlah Putra Mahkota dengan gelar Sultan Wakil Pangeran
Suramanggala
(1808-1809). Walaupun masih bergelar Sultan, namun kekuasaannya
tidak lebih
dari seorang pegawai Belanda. Sultan tidak mempunyai kuasa apa-apa,
dengan
gaji 15.000 real setahun dari Belanda (Sanusi Pane, 1950 b:113).
Tindakan
kejam Deandels ini menimbulkan kebencian rakyat kepada Belanda
semakin
memuncak. Perampokan kapal-kapal Belanda sering terjadi, demikian
juga
pengacauan-pengacauan di darat yang digerakkan oleh para ulama.
Mereka
bermarkas di daerah Cibungur, pantai Teluk Marica. Serangan
pasukan Belanda
pasukan Belanda
ke daerah ini tidak berhasil, bahkan serangan yang dipimpin Daendels
sendiri pun dapat dipukul mundur. Daendels mencurigai Sultan
sebagai dalang
kerusuhan tersebut, untuk itu bersama pasukannya ia datang ke
Banten.
Sultan ditangkap dan dipenjarakan di Batavia, sedangkan benteng dan
istana Surosowan dihancurkan dan dibakar (1808).
Untuk
melemahkan perlawanan rakyat, Daendels membagi daerah Banten
dalam tiga
daerah yang statusnya sama dengan kabupaten: Banten Hulu, Caringin
dan
Anyer. Ketiga daerah tersebut di bawah pengawasan landros
(semacam
residen) yang berkedudukan di Serang. Daerah Tangerang dan Jasinga
digabungkan dengan Batavia.
Untuk daerah Banten Hulu diangkat Sultan Muhammad Syafi'uddin
(1809 -
1813), putra Sultan Muhyiddin Zainul Shalikhin (Sanusi Pane,
1950b:14 dan
Ismail, 1983:270); karena Keraton Surosowan telah hancur maka pusat
pemerintahan dialihkan ke Keraton Kaibon. Demikianlah, semenjak
kejadian itu
kesultanan Banten lenyap dan dilupakan orang. Perlawanan rakyat
yang tanpa
hentinya pun dihancurkan dengan kejam.
Tentang
pembuatan pelabuhan militer di Ujung Kulon, karena banyaknya
pekerja yang
mati dan daerahnya yang berawa-rawa, maka pembangunannya
dihentikan, dan
dipindahkan ke Anyer. Pada tahun 1809 itu pulalah mulai dikerjakan
pembuatan “jalan pos” dari Anyer sampai Panarukan (±1000
Km) yang akan digunakan untuk kepentingan militer; sedangkan
pelaksanaan
pembangunannya menjadi tanggung jawab bupati di daerah yang
dilewati jalan
tersebut. Dengan cara kerja paksa (rodi) begini, pembangunan jalan ini
selesai dikerjakan hanya dalam tempo satu tahun dengan
mengorbankan
beribu-ribu rakyat Banten.
Melihat
tindakan Daendels yang dianggap sangat keras, maka Kaisar Napoleon
pada
tahun 1810 memanggil Daendels untuk pulang ke negerinya. Sebagai
penggantinya, Napoleon menugaskan Jansens menjadi Gubernur
Jendral di
Hindia Belanda.
Sekitar
bulan Agustus 1811 pasukan Inggris dari India, dengan menggunakan
100 buah
100 buah
kapal, mendarat di Banten. Dengan mudah tentara Inggris yang
dipimpin oleh
Thomas Stamford Raffles --- dengan bantuan beberapa raja yang
sangat
membenci Belanda --- dapat mengalahkan tentara Belanda. Jansen
dengan
beberapa sisa tentaranya melarikan diri ke
w:st="on">Semarang
>, dan akhirnya menyerah tanpa
syarat. Belanda menandatangani perjanjian menyerah pada tanggal 17
September 1811 di Salatiga; dengan demikian seluruh daerah jajahan
Perancis
ini beralih tangan di bawah kuasa Inggris.
#Pada
masa pemerintahan Inggris ini, untuk memudahkan administrasi dan
pengawasannya, Raffles membagi Pulau Jawa dalam 16 daerah
karesidenan. Di
samping itu Raffles pun mengadakan perobahan dalam bidang
peradilan, yang
disesuaikan dengan sistem peradilan di Inggris. Kerja rodi dan
perbudakan,
karena dianggap tidak sesuai dengan "prinsip kemanusiaan"
dilarang. Untuk menambah pemasukan keuangan negara, Raffles
menerapkan
monopoli garam dan menjual beberapa daerah kepada partikelir ---
seperti
juga Daendels.
Di
Banten, Sultan Muhamad Syafiuddin, pada tahun 1813, dipaksa turun
tahta
oleh Raffles dan menyerahkan jabatan pemerintahan Banten kepada
pemerintah
Inggris; kesultanan Banten dihapuskan. Seluruh daerah Kesultanan
Banten
telah dikuasai Pemerintah Inggris dan dijadikan sebuah karesidenan.
Dengan
demikian, berakhirlah keberadaan Kesultanan Banten. Gelar
"sultan" boleh dipakai terus dan kepada Sultan diberi 10.000
ringgit Spanyol setahun. Sultan Muhyiddin meninggal pada tahun
1816 dan
digantikan anaknya, Sultan Muhammad Rafi'uddin, --- yang pada
tahun 1832
diasingkan ke Surabaya karena dituduh berkomplot dengan bajak laut.
Pada
tahun 1813 itu juga, Raflles membagi wilayah Banten dari tiga daerah
menjadi empat kabupaten yang masing-masing diperintah oleh seorang
bupati:
1.
Kabupaten Banten Lor (Banten Utara) dengan ibukota
Serang, diperintah oleh Pangeran Suramenggala.
Serang, diperintah oleh Pangeran Suramenggala.
2.
Kabupetan Banten Kulon (Banten Barat) dengan ibukota
Caringin, diperintah oleh
Tubagus Hayudin.
3.
Kabupaten Banten Tengah dengan ibukota Pandeglang,
diperintah oleh Tubagus Ramlan.
4.
Kabupaten Banten Kidul (Banten Selatan) dengan ibukota
Lebak, diperintah oleh Tumenggung Suradilaga.
Setelah
Kaisar Napoleon Bonaparte dikalahkan dalam pertempuran di Leipzig
dan
kemudian ditangkap, Pemerintah Inggris pada tahun 1814
memutuskan dalam Convention of London untuk menyerahkan
kembali daerah bekas jajahan Belanda kepada
pemerintah Kerajaan Belanda. Raffles, yang tidak setuju dengan
keputusan
itu meletakkan jabatannya, dan digantikan oleh Letnan Gubernur John
Fendall. Pada tahun 1816 Fendall menyerahkan kepulauan Nusantara
kepada
pemerintah Belanda.
[24]
[1] Keturunan Mas Jong yang
laki-laki disebut "Mas" dan yang perempuan "Nyimas".
Keturunan dari Agus Jo, yang laki-laki tertua disebut "Agus" dan yang
perempuannya dipanggil "Entu"; sedangkan anak selanjutnya, yang
laki-laki dipanggil "Entol" dan yang perempuan dipanggil
"Ayu".
[2] "Putri
larangan" adalah wanita yang masih terikat pertunangan dengan pria lain
padahal pria tunangannya itu belum meninggal.
[3] "Turunan
keluaran" adalah wanita dari keturunan Majapahit. Karena, setelah Perang
Bubat ─ yaitu perang antara Pajajaran dan Majapahit di daerah Bubat ─
pria Pajajaran dilarang keras menikah dengan wanita turunan Majapahit.
[4] Kelihatannya, Raja
Banten pertama sampai ketiga ini di samping sebagai kepala negara juga dikenal
dengan keshalehan dan pengetahuan agama yang tinggi sehingga berperan juga
sebagai kepala keagamaan yang sangat besar pengaruhnya dalam penyebaran
sebagai kepala keagamaan yang sangat besar pengaruhnya dalam penyebaran
Islam
di Banten, oleh karenanya dikenal dengan sebutan “Maulana”.
[5] Atas jasanya ini Ki
Subuh dianugerahi pangkat Menteri dengan gelar Jayaprana.
[6] Dalam kenyataannya,
kawanan pemberontak ini kembali ke Banten bukan 4 tahun, tetapi 8 tahun yaitu
tahun 1627.
[7] Dinamakan Pailir karena perang saudara yang mengerikan ini terjadi di
hilir sungai. Atau karena
banyaknya mayat pemberontak yang dihanyutkan (diilirkan) ke sungai.
[8] Peperangan ini bermula
dari perang agama antara Kristen Katolik yang dianut Spanyol dengan Kristen
Protestan (Calvin) yang dianut rakyat Belanda (1568 - 1648) (Soeroto, 1965: 189
- 190).
[9] Seperti pada tahun 1595
terjadi penangkapan 400 kapal Belanda oleh pemerintah Spanyol, demikian juga
tahun 1599.
[10] Karena sikap kasar ini
pulalah akhirnya kapal Belanda ini dirampas dan Cornelis de Houtman sendiri
dibinasakan oleh tentara Aceh sewaktu mereka singgah di Aceh.
[11] JP Coen adalah seorang opperkoopman (saudagar tinggi) di negerinya.
Gubernur Jenderal Pieter Both mengangkatnya
menjadi Presiden Direktur Kantor Dagang VOC di Banten dan Jayakarta, ketika
ia
berumur 28 tahun; sebagai seorang pemuda yang penuh ambisi. Untuk
mewujudkan
ambisinya memonopoli perdagangan VOC di Nusantara itu, JP. Coen menyewa
tentara
bayaran dari Jepang.
[12] Ketika Pangeran Jayakarta
dibebaskan dari hukuman, kota Jayakarta sudah
dikuasai VOC. Pangeran Jayakarta memimpin perjuangan rakyat Jakarta
> dengan bergerilya melawan pendudukan
kompeni Belanda ini sampai akhir hayatnya. Menurut Drs. Uka Tjandrasasmita,
makam Pangeran Jayakarta terletak di kampung Katengahan, Kasemen, Serang.
[13] Dalam perkembangan
selanjutnya, orang-orang Cina itu tumbuh menjadi tuan-tuan tanah dengan
kekuasaan yang makin besar. Pemimpin-pemimpin Cina itu merupakan wakil-
wakil
kompeni dalam menangani masalah penduduk Cina. Mereka pun diberi
kekuasaan
lebih besar misalnya: memeriksa dan mengadili perkara, memelihara keamanan,
mencatat kelahiran, menarik pajak, dan sebagainya. Karena kekuasaan yang
begitu
besar, maka mereka sering bertindak sewenang-wenang menindas penduduk
pribumi
pribumi
untuk kepentingan pribadi.
[14] Pangeran Wijayakusumah adalah
penasehat agung dan guru agama Islam pada masa Pangeran Jayakarta. Ketika
Pangeran Jayakarta dimakzulkan, Pangeran Wijayakusumah diangkat sebagai
gantinya (Tamarjaya, 1965:198). Sedangkan Tubagus Arya Suta dan Tubagus
Wahas
adalah anak laki-laki dari Pangeran Jayakarta (Djajadiningrat, 1983:49). Adapun
anak perempuannya yang bernama Ratu Martakusuma dikawinkan dengan
Pangeran
Pekik, Putra Sultan Abdul Kadir. Perkawinan ini berakhir tragis karena Ratu
Martakusuma dihukum rajam setelah diketahui berbuat serong dengan laki-laki
lain (Djajadiningrat, 1983:185).
[15] Pedekan tundan, pedekan
jawi dan nyai adalah pangkat pegawai perempuan istana.
[16] Sebetulnya penyerahan
kedudukan Putra Mahkota ini dilakukan semenjak Sultan Abulma'ali sakit. Hal
ini
kita dapatkan dari surat Gubernur Jendral VOC kepada Sultan sewaktu
pelantikan Putra Mahkota tertanggal
13 Maret 1684. (Djajadiningrat, 1983:206).
[17] Karena jasa-jasanya, Hendrik
Lucasz Cardeel diberi gelar Pangeran Wiraguna
[18] Ketiga pangeran ini pada
mulanya tinggal di Mataram sebagai raja yang tidak mempunyai kekuasaan
apapun,
yang segala keperluannya diatur oleh Prabu Amangkurat I. Dengan dikuasainya
Mataram
oleh pasukan Trunojoyo, mereka pindah ke Kediri, tapi setelah Trunojoyo dapat
dikalahkan Belanda, mereka melarikan diri dan bermaksud menghambakan diri
kepada Sultan Ageng Tirtayasa yang di samping masih ada hubungan keluarga
juga
karena Banten selalu membantu Trunojoyo dalam menghadapi kompeni
(Tamarjaya,
1965:293).
[19] Belum sempat ketiga pangeran
itu menyusun kekuatan di Cirebon,
mereka lebih dahulu ditangkap oleh kompeni. Kemudian atas perkenan kompeni,
daerah Cirebon dibagi tiga wilayah yang masing-masing diserahkan kepada
ketiga pangeran ini.
Pangeran Martawijaya bergelar Sultan Sepuh, dan Pangeraan Kartawijaya diberi
gelar Sultan Anom, demikian juga Pangeran Wangsakerta. Dengan dipecah-
pecah
demikian, Cirebon tidak mempunyai kekuatan yang berarti lagi bagi kompeni.
[20] Pada tanggal 2 Desember 1676
Sultan Ageng Tirtayasa mengirimkan beberapa kapal yang penuh dengan senjata
lengkap dengan amunisinya kepada Pangeran Trunojoyo melalui Jepara.
Demikian
Demikian
juga pada tanggal 29 Desember 1676 dikirimnya empat kapal berisi
senjata-senjata api melalui Cirebon dan enam kapal lagi melalui Gresik
(Tjandrasasmita, 1967,31-32).
[21] Penulis lain memberikan bahwa
jenazah Sultan Ageng Tirtayasa dimakamkan di bekas istananya di Tirtayasa
(Hamka, 1976:309).
[22] Ratu Syarifah Fatimah
meninggal terlebih dahulu sebelum dibawa ke tempat pengasingan.
[23] Dalam kenyataannya, hancurnya
kesultanan Banten bukanlah karena kalah perang dengan kompeni, tapi lebih
banyak disebabkan ditandatanganinya perjanjian-perjanjian yang berat sebelah.
Kesultanan mewarisi utang kepada kompeni, sebagai penanggungan biaya
perang
semenjak Sultan Haji, yang sampai runtuhnya kesultanan tidak pernah lunas
terbayar.
[24]
BAB V
BANTEN DI BAWAH
KEKUASAAN PENJAJAH
Akibat politik adu-domba yang dilakukan kompeni Belanda di Banten, maka terjadilah perang
antara anak dan ayah, antara Sultan Haji dengan Sultan Ageng Tirtayasa. Dengan bantuan
personil tentara kompeni, melalui tipu daya licik, akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa dapat
ditangkap dan dipenjarakan sampai meninggalnya. Dengan demikian, untuk membalas "budi-
baik"
kompeni, Sultan Haji bersedia menandatangani perjanjian damai dan
pembayaran kerugian perang yang telah dikeluarkan kompeni. Perjanjian
"menentukan" ini terjadi pada tanggal 17 April 1684
(Tjandrasasmita, 1967: 51).
Untuk menjaga kelangsungan perjanjian itu, kompeni membangun sebuah benteng di pantai utara
dekat Karangantu yang diberi nama Speelwijk pada tahun 1685. Semenjak ditandatanganinya
perjanjian itu maka kedaulatan kesultanan Banten, secara bertahap dan pasti, terancam jatuh ke
tangan penguasaan kompeni Belanda. Dalam kenyataannya, sampai kesultanan Banten
dibubarkan Raffles, hutang kesultanan akibat perjanjian tahun 1684 itu tidak pernah lunas
terbayar.
Dari sultan ke sultan, sejak digantikannya Sultan Haji kepada Sultan Abul Fadhal pada tahun
1687 yang dilanjutkan oleh sultan berikutnya, Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin pada tahun
1690, di Banten tidak terjadi hal-hal yang luar biasa, kecuali sesaat setelah Sultan Fathi
Muhammad Syifa Zainul Arifin dinobatkan menjadi sultan pada tahun 1733. Masa pemerintahan
sultan ini banyak diwarnai dengan pemberontakan rakyat yang tidak puas dengan tekanan-
tekanan Belanda, seperti kerja rodi dan sebagainya. Pembesar kerajaan hanyalah sebagai
perpanjangan tangan Belanda terhadap rakyat dengan kesewenang-wenangan, tanpa
memperhatikan penderitaan rakyat. Hingga tahun 1740 sampai 1753 dimana Sultan Syarifuddin
baru memerintah menggantikan Sultan Fathi terjadi banyak pemberontakan rakyat. Terlebih lagi
ketika Sultan Fathi ditangkap dan dibuang ke Ambon oleh tentara Belanda atas hasutan
permaisurinya sendiri, Ratu Syarifah Fatimah, pada tahun 1735.
Pengikut dan pengagum Sultan Ageng bersama dengan Ki Tapa, seorang ulama asal Gunung
Munara, Pandeglang, dan Ratu Bagus Buang dengan pengikutnya menyerang dan melumpuhkan
kekuatan kompeni di Banten. Melihat keadaan genting ini Belanda segera menangkap Syarifah
Fatimah dan anaknya, Syarif Abdullah, yang kemudian diasingkan ke Banda. Pangeran Gusti,
putra Sultan Zainal Arifin, dinobatkan kompeni menjadi raja Banten dan Arya Adi Santika
sebagai Wakil Sultan. Dengan cara demikian, Belanda berhasil memecah belah persatuan kaum
bangsawan dan memisahkannya dengan kaum perlawanan rakyat. Meski pun demikian,
perlawanan Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang terus berlanjut sehingga sangat merepotkan tentara
kompeni.
Dari sultan ke sultan berikutnya, Banten semakin dalam tenggelam ke tangan penjajah. Terakhir,
pada tahun 1809, Deandels menyerang dan membakar habis keraton Surosowan. Sultan
Muhammad Syafiuddin ditangkap dan dibuang ke Ambon
> sedangkan patihnya dihukum pancung. Penyerbuan
Belanda terhadap keraton Surosowan memakan waktu lama sampai
tahun 1832; gedung-gedung dihancurkan, lantai ubinnya dipindahkan ke
gedung pemerintahan Belanda di Serang.
A. PERAN ULAMA DI TUBUH KESULTANAN BANTEN
Dalam perkembangan kesejarahan Banten peran ulama sejak berdirinya Kesultanan Banten
sangatlah menentukan. Bahkan berdirinya kesultanan Banten itu sendiri didahului dengan motif
penyebaran agama dan menolak kehadiran Portugis ─ yang gigih menghancurkan Islam dalam
semangat Perang Salib. Pendiri kesultanan Banten pun, Syarif Hidayatullah, adalah seorang
ulama yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Pangeran Hasanuddin, juga seorang da'i yang
berhasil. Penyerangan Banten ke Lampung dan Solebar pada masa Maulana Hasanuddin,
penyerangan Palembang pada masa Sultan Muhammad dan juga penyerangan ke Pajajaran pada
masa Maulana Yusuf, semuanya bermotifkan keagamaan, penyebaran agama Islam, di samping
tidak menutup kemungkinan adanya motif ekonomi, motif kekuasaan, atau motif tambahan
lainnya.
Dalam birokrasi kerajaan, dikenal adanya Kadhi (Hakim Agung) yaitu seorang ulama yang
mempunyai kedudukan menentukan dalam setiap keputusan penting.
Kadhi atau disebut juga Faqih Najmuddin selalu dimintai pendapatnya
dan persetujuannya dalam setiap perjanjian yang dibuat Sultan (Sudewo,
1986:65). Kadhi-lah yang menjadi Wali Sultan dan penasehat
pengangkatan pengganti sultan pada masa Sultan Muhammad, yang
masih kecil. Bahkan dalam keadaan genting, ia menjadi pemimpin
angkatan perang di samping jabatan tetapnya sebagai pemimpin
keagamaan, misalnya pada masa Sultan Tirtayasa.
Keadaan demikian berlangsung sampai dikenalkannya sistem penjajahan oleh Belanda.
Pemerintah kolonial berusaha untuk memisahkan antara urusan
kenegaraan dengan urusan keagamaan, disesuaikan dengan prinsip yang
dianutnya: sekularisme.
Para ulama mengajarkan pada masyarakat
bahwa penjajahan adalah perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai
kemanusiaan dan juga bertentangan dengan ajaran Islam. Menentang
penjajah adalah perbuatan mulia dan wajib dilakukan setiap orang Islam,
dan bahwa “mencintai tanah air adalah sebagian dari iman”. Maka
apabila mati dalam peperangan melawan kesewenang-wenangan, dia
mati sahid yang balasannya hanya surga. Keyakinan semacam ini
tertanam pada setiap muslim yang taat kepada agamanya. Dengan
demikian wajarlah apabila Banten yang dikenal sebagai pusat
penyebaran Islam di Jawa sebelah barat tidak pernah sepi dari pada
perlawanan kepada penjajah. Dan benarlah bahwa nasionalisme
Indonesia
> dimulai dengan nasionalisme Islam (Noer, 1982:8).
Pada masa awal kesultanan sampai dengan masa Sultan Ageng Tirtayasa, penguasa selalu
bergabung dengan para ulama. Sehingga seluruh kebijaksanaan pemerintah mendapat dukungan
penuh dari rakyat. Semenjak kompeni Belanda dapat menguasai politik pemerintahan Banten, ─
yang mempunyai missi tertentu kepada agama Islam[1]
─ maka untuk keamanan diri dan keluarganya, kaum elit
birokrasi sedikit demi sedikit menjauhi kaum agama. Merupakan satu
kegembiraan tersendiri apabila mereka tidak dimasukkan kepada
kelompok "fanatik", yaitu orang-orang yang memakai “ukuran agama”
dalam setiap tindakannya, dan, karenanya orang "fanatik" inilah yang
dianggap berbahaya oleh penjajah. Bagi para pejabat (yang sudah
dipengaruhi "kuasa" penjajah), kesejahteraan rakyat tidaklah begitu
diperhatikan, mereka hanya berlomba-lomba menye-nangkan tuannya
dengan memeras rakyat. Sehingga sangat jarang sekali perlawanan
bersenjata tumbuh dari kalangan birokrasi ini. Hal demikian memang
disengaja oleh pemerintah penjajah, untuk mengadu-domba pimpinan
pribumi. Penjajah merangkul penguasa-penguasa yang rakus dengan
kekuasaan; dan dengan dalih mempertahankan adat istiadat nenek
moyang mereka bekerjasama membendung pengaruh agama Islam.
moyang mereka bekerjasama membendung pengaruh agama Islam.
Dengan keadaan ini maka hanya kepada para ulama-lah tumpuan rakyat
untuk mengakhiri penderitaan mereka.
Meski pun akhirnya Belanda berhasil mengontrol sebagian besar daerah Banten, namun
perlawanan rakyat yang dipimpin para ulama terus meningkat; bahkan pada abad ke-19
perlawanan bersenjata ini lebih meningkat lagi, sehingga dikatakan bahwa sepanjang abad ke-19
ini Banten sebagai tempat persemaian “kerusuhan” dan “pemberontakan”. Tidak ada satu pun
distrik di Banten yang sepi dari perlawanan rakyat menentang penjajah Belanda (Kartodirdjo,
1984: 45).
Keadaan demikian sejalan dengan meningkatnya semangat kebangkitan Islam yang tumbuh di
Timur Tengah, dan berkat semakin meningkatnya hubungan antara kedua daerah itu (Benda,
1972: 83). Sejak dibukanya terusan Suez pada tahun 1869, setiap tahun ribuan kaum muslimin
Indonesia
> menunaikan ibadah haji ke Makkah. Dari data yang diperoleh, dalam
tahun lima puluhan dan enam puluhan, jamaah haji dari Indonesia rata-
rata sekitar 1600 orang; dalam tahun tujuh puluhan jumlah itu meningkat
menjadi sekitar 2600, sedangkan dalam tahun-tahun delapan puluhan
(1879 - 1888) jumlah jemaah haji ini meningkat lagi menjadi 4968
(1887) orang (Kartodirdjo, 1984: 219).
Tidak sedikit di antara mereka, setelah sekian lama bermukim di tanah suci itu kembali ke tanah
air dengan membawa kekuatan baru berupa ajaran Islam yang lebih murni. Lambat laun ajaran
tauhid tersebut berhasil menggantikan kedudukan mistik dan sinkretisme yang selama ini
menguasai Indonesia
>;
dengan dimotori ulama-ulama inilah perlawanan umat Islam lebih
bersemangat lagi (Suminto, 1985:3).
Walaupun dalam teorinya pemerintah kolonial Belanda menerapkan sistem politik netral agama,
tapi dalam praktek bertolak belakang; banyaknya kemudahan yang diberikan bagi pemeluk
agama Kristen sebanding dengan tekanan-tekanan pada pemeluk Islam.[2] Pada tahun 1859,
Gubernur Jendral mengintruksikan agar selalu mengawasi setiap gerak-gerik ulama, terutama
yang dianggap "fanatik" dan suka memberontak. Dengan
melihat bahwa hampir setiap perlawanan rakyat selalu digerakkan oleh
ulama ─
terutama yang sudah pergi haji ─ maka diadakanlah pembatasan,
pengetatan dan pengawasan terhadap orang yang akan dan sudah haji.
Dengan dalih untuk melindungi perjalanan jamaah haji ini, pemerintah
kolonial mendirikan konsul di Singapura, Kalkuta, Kairo, dan Jeddah;
melalui konsul-konsul itulah segala gerak-gerik jamaah haji dari
Nusantara diawasi, sejak keberangkatannya sampai pulangnya dan
perbuatan-perbuatan yang dilakukannya selama di Mekkah (Suminto,
1985: 3). Di antara jamaah haji dari Banten ini banyak yang mukim di
Mekah untuk memperdalam pengetahuan keislaman, dan akhirnya
mereka pun banyak yang menjadi tokoh terkemuka mukimin asal
Nusantara ─ dikenal dengan nama masyarakat Jawah. Melalui jamaah
haji ─ yang merupakan orang pilihan di daerahnya ─ kaum Jawah
"memompakan" semangat
perjuangan kebangkitan keagamaan dan politik, yang kemudian
disebarkan kepada rakyat Banten (Kartodirdjo, 1985:221). Dengan
kenyataan ini Snouck Hurgronye menyatakan bahwa dari Mekah inilah
perlawanan rakyat Nusantara dikontrol dan dimotori (Kartono,
1985:222).
Salah seorang "kaum Jawah" yang terkenal dan berpengaruh asal Banten adalah Syekh Nawawi
al-Jawi al-Bantani. Menurut tradisi, Nawawi adalah keturunan langsung dari Pangeran
Sunyararas, putra Maulana Hasanuddin.
Mulai dari usia 5 tahun, ia belajar ilmu-ilmu agama dari ayahnya, K.H.
Umar, di daerah asalnya yakni di desa Tanara, Tirtayasa, Serang.
Sepuluh tahun kemudian, setelah ayahnya meninggal, Nawawi
melanjutkan belajar pada K.H. Sahal, seorang ulama terkenal di daerah
Banten. Kemudian bertiga dengan saudaranya (Tamim dan Ahmad),
mereka pergi ke Purwakarta untuk belajar pada Raden Haji Yusuf. Pada
usia yang masih muda, tiga bersaudara itu pergi ke Mekah untuk
memperdalam ilmu keislamannya. Selama 30 tahun (1830 - 1860)
Nawawi pun belajar pada Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf
Sambulawesi, Nahrawi dan Abdul Gani Daghestani di Mekah.
Selanjutnya, Syekh Nahrawi belajar pada Syekh Dimyati dan
Muhammad Dahlan Khatib al-Hambali di Madinah (Hafifuddin, 1987:
40). Dari ilmu-ilmu yang diperolehnya di perantauan ini, ia banyak
menulis buku yang antara lain 115
buah judul yang sudah diterbitkan dalam bahasa Arab, dalam berbagai
bidang ilmu. Dari prestasi keilmuannya ini Nawawi digelari Ulama al-
Hijaz, Imam Ulama al-Haramain.
Pengaruh Syekh Nawawi al-Jawi al-Banteni ini sangat terasa dalam pergerakan nasional
menentang penjajahan Belanda di Indonesia. Melalui murid-muridnya yang datang ke Mekah,
sewaktu ibadah haji, Syekh Nanawi memompakan semangat perjuangan. Di antara murid-
muridnya yang terkenal adalah: K.H. Wasid (Cilegon), K.H. Khalil (Madura), K.H. Hasyim
Asyhari (Jombang), dan K.H.
Tb. Asnawi (Caringin) (Steenbrink, 1984: 118; Chaidar, 1978:6 dan
Kartodirdjo, 1988: 78),
Untuk menjaga dari pengaruh-pengaruh ajaran agama dan kebudayaan yang dibawa kolonial
Belanda, para guru agama mendirikan pesantren, yaitu lembaga pendidikan agama, yang
umumnya didirikan di tempat-tempat jauh dari keramaian kota.
Di pesantren inilah para santri dididik untuk cinta agama dan semangat
membela tanah air. Dalam beberapa dasawarsa, di Banten terdapat
peningkatan fanatisme di kalangan masyarakat pesantren, dengan satu
sikap bermusuhan dan agresif yang ditanamkan pada diri para santri
terhadap penguasa kolonial beserta dan kaum priyayi yang dianggap
sebagai antek penjajah (Kartodirdjo, 1985: 224). Ketimpangan sosial,
penderitaan rakyat, dan perlakuan yang tidak manusiawi dari penjajah
dan antek-anteknya ini menimbulkan kebencian yang mendalam kepada
penjajah. Alasan inilah yang memudahkan timbulnya banyak api
pemberontakan di Banten ─ yang hampir semuanya berbalutkan agama
─ walaupun dalam skala yang berlainan.
Kerusuhan-kerusuhan kedaerahan terus bermunculan silih berganti, dan
beberapa di antaranya berkembang menjadi pemberontakan yang
sesunguhnya.
Dalam tahun 1808 dan 1809 terjadi pemberontakan oleh "bajolaut" di
Teluk Merica dan di muara Cibungur menentang kerja paksa dan
pembuatan pelabuhan di Ujung Kulon yang diberlakukan Daendels atas
penduduk negeri.
Di Cibungur, Caringin, timbul huru-hara, disambung dengan
pemberontakan Pasir Peuteuy, Pandeglang, di bawah pimpinan Nuriman.
Kekacauan ini memaksa pemerintah kolonial pada tahun 1810
menobatkan kembali Sultan,# di selatan, dengan harapan dapat meredam
pemberontakan yang dianggap karena ketidakpuasan rakyat terhadap
pembubaran kesultanan ini; walaupun akhirnya tidak berhasil, dan
pemberontakan rakyat terus berkobar. Bahkan pada tahun 1811 para
pemberontak yang dipimpin oleh Mas Jakaria dapat menguasai hampir
seluruh kota Pandeglang. Melalui pertempuran hebat akhirnya Mas
Jakaria ini tertangkap dan dipenjarakan, tapi dalam bulan Agustus 1827
ia dapat melarikan diri untuk kembali menyusun kekuatan ─ yang dalam
tahun itu juga ia kembali menyerbu kota Pandeglang[3].
Kerusuhan yang dipimpin oleh Ngabehi Adam, Haji Yamin, Ngabehi Utu dan Ngabehi Ikram,
menimbulkan kerusakan dan kekacauan besar. Taktik gerilya yang dilancarkan pemberontak
menyebabkan pasukan pemerintah kolonial benar-benar tidak berdaya. Pada tahun 1815 terjadi
serangan besar dan pengepungan pada keraton Sultan di Pandeglang, dipimpin oleh Mas Bangsa,
Pangeran Sane dan Nuriman atau dikenal dengan nama Sultan Kanoman. Meski pun pasukan
pemerintah akhirnya dapat memukul mundur mereka, namun sebagian pasukan pemberontak
dapat melarikan diri, yang kemudian menyusun kekuatan untuk mengadakan penyerangan
kembali. Situasi alam yang berbukit-bukit dan berhutan lebat mempersulit pasukan kolonial
menumpastuntas pelawan ini, apalagi rakyat selalu membela mereka. Pada tahun 1818 dan awal
1819, Haji Tassin, Moba, Mas Haji dan Mas Rakka memimpin pemberontakan di Banten Selatan,
dengan mengadakan perusuhan-perusuhan dan berhasil membunuh beberapa pejabat
pamongpraja di Lebak. Demikian juga pada tahun 1820, 1822, 1825 dan 1827
yang dipimpin oleh Mas Raye, Tumenggung Muhammad dari Menes
dan Mas Aria dibantu oleh beberapa pemuka agama. Walau akhirnya
pemberontakan ini dapat dipadamkan namun sebagian dari mereka dapat
mengobarkan pemberontakan baru.
Demikian juga terjadi pemberontakan pada tahun 1832 dan 1833.
Pada tahun 1836 terjadi lagi pemberontakan yang dipimpin oleh Nyai Gumparo (Nyai
Gamparan). Meski pun pemberontakan ini dapat dipadamkan, namun pengikut-pengikutnya yang
dapat meloloskan diri, tetap berusaha kembali meneruskan perlawanan. Tahun 1839 terjadi
persiapan pemberontakan yang dipimpin oleh Ratu Bagus Ali (pada pemberontakan tahun 1836
dikenal dengan nama Kiyai Gede), Pangeran Kadli dan Mas Jabeng, putra Mas Jakaria. Atas
usaha Bupati Serang, usaha pemberontakan itu dapat digagalkan. Tahun 1840
Mas Jamin dan pengikutnya, yang sebagian besar pernah ikut dalam
pemberontakan tahun 1836 dan 1839, kembali mengadakan perlawanan
bersenjata. Dan walau pun akhirnya Mas Jamin dapat ditangkap
pemerintah kolonial, para pengikutnya tetap meneruskan perlawanan.
Pada tahun 1842, mereka berhasil membunuh seorang Belanda pemilik
perkebunan nopal di Pandeglang. Tetapi mereka pun akhirnya dapat
ditangkap dan di hukum buang.
Namun ketika Mas Anom, Mas Serdang dan Mas Adong ─ yang
Namun ketika Mas Anom, Mas Serdang dan Mas Adong ─ yang
kesemuanya anak Mas Jakaria ─ bergabung dengan sisa pasukan ini,
maka
pemberontakan berkobar lagi pada tahun 1845 yang dikenal sebagai
Peristiwa Cikande Udik (Arsip Nasional, 1973: lvii).
Peristiwa itu bermula pada tanggal 13 Desember 1845 di mana kaum perusuh merebut rumah
tuan tanah di Cikande Udik dan kemudian membunuh tuan tanah Kamphuys beserta istri dan
kelima anaknya kecuali tiga anak lainnya diselamatkan oleh Mas Gusti Sarinten, salah seorang
kepala perusuh, sedangkan semua orang Eropa di sekitarnya dibunuh. Jumlah perusuh bertambah
sekitar 600 orang.
Untuk menumpas pemberontakan itu, Residen segera meminta bantuan
tentara dari Batavia.
Mendengar akan adanya penyerangan penumpasan di Cikande ini, para
pemberontak di daerah lain segera bangkit mengadakan perlawanan dan
segera menguasai pos-pos militer di Warunggunung, Pandeglang dan
Caringin.
Beberapa pemimpin pemberontakan yang dikenal dalam peristiwa ini
ialah: Mas Endong, Mas Rila dari Cikupa dan Mas Ubid dari Kolle
(kemenakan dan menantu Mas Jakaria), Kiyai Gede, Samini, Pangeran
Amir dari Bayuku, Raden Yintan, Pangeran Lamir, dan seorang wanita
bernama Sarinem. Peristiwa Cikande ini dapat dikatakan merupakan
awal dari pemberontakan bersenjata yang terkoordinir dengan
mengikutsertakan beberapa kelompok penentang di hampir seluruh
daerah Banten (Kartodirdjo, 1985: 176).
Berhubung dengan banyaknya pemberontakan yang dilakukan rakyat Banten itu, pemerintah
Belanda, di samping menyelesaikannya dengan cara kekerasan dan penuntutan-penuntutan di
pengadilan kolonial, tetapi juga secara politik.
Untuk mencegah jangan sampai meletus lagi perlawanan rakyat itu,
pemerintah kolonial berusaha mengadakan perbaikan-perbaikan
kehidupan sosial masyarakat. Perbaikan-perbaikan yang dilakukan
pemerintah di Keresidenan Banten dari tahun 1846 hingga 1848 antara
lain: menambah jumlah pegawai pribumi; menghapuskan jabatan asisten
residen di Anyer; membentuk kabupaten baru, yaitu Kabupaten
Pandeglang; memperluas saluran-irigasi; menyatukan kampung-
kampung yang tersebar untuk memudahkan pengawasan; menghapuskan
wajib tanam dan wajib kerja di perkebunan-perkebunan Eropa, terutama
wajib tanam dan wajib kerja di perkebunan-perkebunan Eropa, terutama
di daerah-daerah miskin.
Pada tahun 1839 Bupati Serang, Raden Adipati Jayakusumaningrat, dipensiunkan, dan diganti
oleh Raden Adipati Manduraraja Jayanegara, Bupati Caringin.
Karena di Banten tidak ada pembesar pribumi yang dianggap "cakap"
oleh pemerintah Belanda, maka yang diangkat sebagai pengganti Bupati
Caringin ialah Raden Aria Tumenggung Wiriadiyahya, seorang jaksa
kepala di Bogor. Di Pandeglang, yang ditunjuk sebagai Bupati adalah
Raden Tumenggung Ario Condronegoro, juga bukan bangsawan dari
keturunan asli Banten (Arsip Nasional, 1973: lvii).
Pada tanggal 24 Pebruari 1850 telah terjadi pula pembunuhan terhadap Demang Cilegon dan
stafnya yang sedang mengadakan inspeksi di Rohjambu. Kerusuhan ini dipimpin oleh Raden
Bagus Jayakarta, Tubagus Suramarja, Tubagus Mustafa, Tubagus Iskak, Mas Derik, Mas Diad,
Satus, Nasid, Asidin, Haji Wakhia dan Penghulu Dempol. Di antara mereka Haji Wakhia-lah
yang terkenal perjuangannya, ia sudah sejak tahun 1850 selalu mengadakan huru-hara menentang
kolonial Belanda. Haji Wakhia adalah penduduk kampung Gudang Batu, orang kaya dan
dianggap ulama besar. Haji Wakhia, atas ajakan Tubagus Iskak dan dengan dukungan penuh dari
penduduk Gudang Batu, terus mengobarkan perjuangan menentang politik kolonial Belanda dan
mengajak mengadakan “perang sabil”; dan persiapan-persiapan untuk itu dilakukan terus
menerus di bawah pimpinan Penghulu Dempol. Pusat kerusuhan lainnya ialah Pulomerak, di sana
dapat dihimpun orang-orang Lampung di bawah pimpinan Mas Diad.
Dalam strategi pertahanan "pemberontak Wakhia" ini, pasukan dibagi
dalam tiga kelompok besar; kelompok yang dipimpin Mas Derik dan
Nasid berada di pegunungan sebelah timur Pulomerak, kelompok
pimpinan Mas Diad dan Tubagus Iskak di distik Banten, dan kelompok
pimpinan Haji Wakhia dan Penghulu Dempol bergerak di sebelah barat
bukit Simari Kangen; yang ketiga daerah tersebut dilingkungi oleh hutan
dan pegunungan yang sulit ditembus.
Dalam beberapa kali penyerbuan, pasukan kolonial akhirnya dapat
memukul mundur pemberontak ini. Pertempuran di Tegalpapak pada
tanggal 3 Mei 1850, beberapa pemimpin pejuang dapat ditawan dan
dibunuh. Haji Wakhia dan Tubagus Ishak dapat meloloskan diri ke
Lampung, dan kemudian ia bergabung dalam perlawanan yang dipimpin
oleh Pangeran Singabranta dan Raden Intan.
Dalam satu pertempuran akhirnya Haji Wakhia dapat ditangkap dan
dihukum mati pada tahun 1856.
dihukum mati pada tahun 1856.
Setelah pemberontakan Haji Wakhia berakhir, maka muncul pulalah peristiwa pemberontakan
lain seperti “Peristiwa Usup” (1851), “Peristiwa Pungut”
(1862), “Kasus Kolelet” (1866), serta “Kasus Jayakusuma” (1868).
Peristiwa Usup ialah terjadinya pembunuhan terhadap Mas Usup, Jaro
Tras Daud dengan keluarganya oleh orang yang tak dikenal pada tanggal
15 April 1851. Pejabat pemerintah telah mendengar adanya pertemuan
yang diselenggarakan oleh para pemberontak di Tegalpapak, yang
kemudian terjadi percobaan pembunuhan terhadap Residen. Semua
peristiwa ini dipelopori oleh Ki Mudin, yang meramalkan bahwa
pemerintahan kolonial sudah akan ambruk. Gerakan Mudin ini dibantu
oleh Kamud dan Nur. Pemerintah kolonial akhirnya berhasil menangkap
20 orang pemberontak, dan mereka dibuang. Tahun 1862, Mas Pungut
dan kawan-kawannya melakukan huru-hara dan pemberontakan lagi.
Dengan mengaku sebagai anggota keluarga sultan dan anak Mas Jakaria,
ia berhasil menarik simpati rakyat untuk menjadi pengikut-pengikutnya.
Pada tanggal 19
September 1862, diketahui oleh pemerintah kolonial, bahwa ia sedang
berada di hutan Cilanggar. Ketika Mas Pungut sedang singgah di rumah
Usip ─
salah seorang pengikutnya ─ di desa Ciora, ia dengan 25 orang
pengikutnya tertembak dalam perlawanan yang seru. Namun pada tahun
1866
muncul lagi gerakan perlawanan yang lebih besar, dikabarkan mereka
akan menyerang dan menghancurkan kota Pandeglang, dan mengirimkan
surat ancaman kepada para pejabat terutama Residen dan Bupati.
Pemerintah kolonial berhasil menangkap Asmidin, dan dua orang yang
diduga terlibat yaitu Mas Sutadiwirya, bekas Demang di Baros dan
R.A.A. Natadiningrat, bekas Bupati Pandeglang. Para pemberontak ini
berjumlah 30 orang yang berasal dari Kolelet, Cikande dan Kramatwatu,
semuanya itu bekas pemimpin kerusuhan terdahulu.
B. PERISTIWA GEGER
CILEGON 1888
Perlawanan bersenjata yang paling menonjol di Banten pada abad ke-19 adalah peristiwa yang
dikenal dengan “Geger Cilegon”, pada tanggal 9 Juli 1888 yang dipimpin oleh para ulama.
Dalam setiap pengajian/dzikiran yang diadakan di rumah-rumah atau pun di masjid, para ulama
itu selalu menanamkan semangat jihad menentang penjajah kepada masyarakat. Melalui
pesantren-pesantren, para tokoh itu dengan mudah melancarkan taktik perjuangan menentang
pemerintahan kolonial. Gerakan itu antara lain dipimpin oleh Haji Abdul Karim, Haji Tubagus
Ismail, Haji Marjuki, dan Haji Wasid.
Haji Abdul Karim adalah seorang ulama di desa Lampuyang, Pontang yang kegiatan sehari-
harinya mengadakan pengajaran agama pada masyarakat di daerahnya.
Kegiatan pengajian Kiayi ini semakin berkembang terutama setelah ia
kembali dari Mekkah tahun 1872. Haji Abdul Karim mendirikan
pesantren di Tanahara, yang dalam waktu singkat mendapat banyak
murid dan pengaruh terhadap penguasa pribumi, seperti bupati, penghulu
kepala di Serang serta Haji R.A.
Prawiranegara, pensiunan patih Serang. Begitu besar pengaruhnya di
kalangan rakyat dan pejabat pemerintah sehingga dikenal pula sebagai
“Kiyai Agung”
bahkan dianggap sebagai “Wali Allah”. Dalam mengadakan acara
dzikiran di rumah-rumah tertentu, langgar atau masjid, Haji Abdul
Karim selalu menganjurkan tentang perlunya perang sabil terhadap
pemerintah kolonial yang kafir.
Ketika Kiyai Haji Abdul Karim akan ke Mekkah untuk kedua kalinya pada tanggal 13
Pebruari 1876, banyak kiyai, tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah
yang datang untuk mengucapkan selamat jalan. Rakyat dari Tanahara,
Tangerang dan sekitarnya berbondong-bondong menunggu di pinggir
jalan yang akan dilaluinya. Khawatir akan terjadi huru-hara, pemerintah
kolonial minta supaya Kiyai Haji Abdul Karim berangkat langsung
menggunakan kapal laut dari Tanahara ke Batavia.
Sebagai ganti pimpinan pesantren dipercayakan kepada muridnya, Kiyai
Haji Tubagus Ismail, yang juga gencar menganjurkan perlawanan
kepada penjajah kafir. Anjuran itu disambut baik kiyai-kiyai terkenal
seperti Kiyai Haji Wasid dari Beji, Haji Abu Bakar dari Pontang, Haji
Syadeli dari Kaloran, Haji Iskhak dari Saneja, Haji Usman dari Tunggak,
Haji Asnawi dari Lempuyang dan Haji Muhammad Asyik dari Bendung.
Gerakan semacam ini timbul pula di Tanahara yang dipimpin oleh Haji
Marjuki, yang dalam waktu singkat pengikutnya bertambah banyak, di
samping dari Banten, juga dari daerah lain seperti Tangerang, Bogor dan
w:st="on">Batavia
>.
1. Beberapa Peristiwa Yang Mendahului Geger Cilegon
Tokoh menentukan dalam peristiwa Geger Cilegon ini adalah Haji Wasid, yang pernah belajar di
Mekkah pada Syekh Nawawi al-Bantani, kemudian mengajar di pesantrennya di Kampung Beji,
Cilegon.
Tiga pokok ajaran yang disebarkan kepada muridnya adalah tentang
Tauhid, Fiqh dan Tasawuf merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan dalam ajaran Islam dan harus dipraktekan dalam setiap
kegiatan sehari-hari.
Bersama kawan seperjuangannya: Haji Abdurahman, Haji Akib, Haji
Haris, Haji Arsad Thawil, Haji Arsad Qashir dan Haji Ismail, mereka
menyebarkan pokok-pokok ajaran Islam itu kepada masyarakat. Dengan
memahami tiga pokok ajaran Islam ini diharapkan, murid-muridnya,
akan menjadi muslim yang baik dan taat dalam menjalankan semua
perintah agama serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. Segala
peribadatan, segala ketaatan dan segala harapan hendaknya, semuanya,
ditujukan kepada Allah; bukan kepada manusia dan bukan kepada benda
lainnya. Peribadatan dan penyembahan yang ditujukan kepada selain
Allah adalah musrik, dan ini termasuk dosa besar, tanpa ampunan dari
Allah. Tiada takut dan tiada harap; tiada benci dan tiada suka, kecuali
semuanya karena Allah.
Dalam pada itu, antara tahun 1882 dan 1884 keadaan rakyat Banten khususnya di Serang dan
Anyer ditimpa dua malapetaka; kelaparan dan penyakit sampar (pes) binatang ternak.
Diperkirakan, hampir dua tahun hujan tidak turun, sehingga tanaman padi tidak ada yang tumbuh
dan air minum pun sulit didapat. Musim kering yang berkepanjangan ini, menyebabkan kelaparan
merajalela. Tanah pertanian, yang sebagian besar berupa "tadah hujan" menjadi kering, sehingga
tidak ada tumbuhan yang dapat ditanam penduduk desa. Karena kurangnya makanan ini maka
banyak penduduk yang terjangkit penyakit demam yang parah; terutama sekali kaum perempuan.
Untuk menggambarkan keadaan rakyat Banten pada saat itu, PAA. Djajadiningrat, menyaksikan
bahwa di pasar Kramatwatu, Cilegon, hampir sering menemukan bayi di pojokan pasar yang
ditutupi selembar daun pisang, sekedar untuk menjaga dari teriknya matahari. Bayi-bayi ini
sengaja ditinggalkan ibunya karena ia tidak mampu lagi memberinya makan, dan mengharapkan
nanti ada yang mengambil untuk memeliharanya; atau karena ibunya tiba-tiba terkena demam
dan meninggal tidak lama kemudian. Istri wedana Kramatwatu, ibunya PAA. Djajadiningrat,
berhasil mengumpulkan sampai 20 orang anak yang kemudian dipeliharanya di Kawedanaan
(PAA. Djajadinigrat, 1936:8).
Karena musim kemarau ini pula maka berjangkit wabah penyakit sampar (pes) yang menyerang
ternak kerbau atau kambing (1880). Penyakit hewan ini menular dengan cepat, sehingga
pemerintah kolonial menginstruksikan supaya membunuh dan mengubur atau membakar semua
kerbau atau kambing di suatu desa yang di sana
> terdapat kerbau
yang berpenyakit agar jangan menular ke desa lain. Dengan demikian,
kerbau yang tidak terkena penyakit pun turut dibunuh pula. Bagi rakyat
petani, ternak kerbau bukan hanya dianggap sebagai hewan peliharaan
tapi juga teman/sahabat yang banyak membantu pekerjaannya di sawah,
sehingga perlakuan demikian membuat tambah sedih, dianggap suatu
kekejian dan kesewenang-wenangan yang membuat makin besar
kebencian kepada Belanda dan anteknya; walaupun mereka tidak bisa
berbuat apa-apa, pasrah dengan perlakuan itu. Ironisnya, kerbau atau
kambing yang dibunuh tentara kolonial ini, karena banyaknya, tidak
sempat dikuburkan, sehingga bangkai hewan dapat ditemukan di mana-
mana; dan ini mengundang datangnya penyakit baru lagi bagi rakyat
desa. Tidak heran dari catatan yang ada pada bulan Agustus 1880, dari ±
210.000 penderita, tercatat lebih dari 40.000 orang di antaranya tidak
dapat tertolong dan menemui ajalnya (Kartodirdjo, 1988:88).
Pemandangan di desa-desa sungguh menyedihkan, jalan-jalan sepi, banyak rumah tidak dihuni,
sawah dibiarkan mengering karena tiadanya tenaga. Banyak ibu tidak dapat menyusui anaknya
sehingga angka kematian anak tinggi sekali. Dari banyak rumah terdengar ratap tangis, dzikir dan
do'a.
Kesedihan yang mendalam itu ditambah lagi dengan meletusnya Gunung Krakatau di Selat
Sunda (tanggal 23 Agustus 1883), ─ yang menimbulkan gelombang laut setinggi 30 meter
melanda pantai barat Banten, menghancurkan Anyer, Merak, Caringin, serta desa-desa Sirih,
Pasauran, Tajur dan Carita. Kesemuanya merenggut korban ± 21.500 jiwa tenggelam disapu
gelombang. Daerah tempat bencana alam itu luluh lantak tersapu gelombang pasang.
Musibah yang datang bertubi-tubi menimpa rakyat Banten dengan sendirinya membawa dampak
luas, tidak hanya di bidang sosial ekonomi, tetapi juga dalam bidang sosial politik dan kehidupan
keagamaan. Meski pun kehidupan sosial ekonomi segera dapat dipulihkan beberapa tahun
kemudian, namun suasana di kalangan rakyat penuh kegelisahan dan keresahan.
Sementara itu, pihak pemerintah kolonial melaksanakan sistem perpajakan yang baru,
sehubungan dengan penghapusan pelbagai kerja wajib, seperti kerja pancen dan kerja rodi.
Dalam keadaan yang sangat menyedihkan itu, pengenaan pertanggungan pajak di luar kewajaran,
semakin menambah penderitaan rakyat.
Untuk menggambarkan besarnya pajak yang ditanggung rakyat Banten,
setahun setelah letusan Gunung Krakatau, pajak tanah f. 125.000,- Pada
tahun berikutnya, 1884, pajak tanah itu untuk seluruh negeri dinaikkan,
sehingga jumlah pajak yang terkumpul jauh besar jumlahnya dari jumlah
pajak tanah tahun 1972, meskipun jumlah penduduk turun ± 100.000
(Kartodirdjo, 1988:55). Berbagai macam pajak yang dikenakan kepada
penduduk negeri; dari mulai pajak tanah pertanian, pajak perdagangan,
pajak perahu, pajak pasar sampai kepada pajak jiwa ─ yang besarnya
kadang-kadang di luar kemampuan dan penetapannya tidak mengenal
keadaan, ditambah dengan kecurangan-kecurangan pegawai pemungut ─
menambah keresahan dan mempersubur rasa benci penduduk kepada
penjajah.
Dalam keadaan penderitaan rakyat yang bertumpuk ini, banyak di antara mereka yang lari ke
klenik (tahayul). Mereka lebih mempercayai dukun dan benda-benda yang dianggap keramat dari
pada mohon pertolongan Allah. Tersebutlah di desa Lebak Kelapa terdapat sebatang pohon
kepuh besar yang oleh sebagian penduduk dianggap keramat, dapat memunahkan bala bencana
dan meluluskan apa yang diminta asal saja memberikan sesajen bagi jin penunggu pohon itu.
Berkali-kali Haji Wasid memperingatkan penduduk, bahwa perbuatan
meminta selain kepada Allah adalah termasuk syirik. Tapi bagi
penduduk yang kebanyakan tidak mengerti agama, fatwanya itu tidak
diindahkannya. Melihat keadaan ini, Haji Wasid tidak dapat membiarkan
satu kemusyrikan ada di depan matanya tanpa berusaha mencegah.
Dengan beberapa orang muridnya ditebangnya pohon berhala itu pada
malam hari. Keadaan inilah yang membawa Haji Wasid ke depan
pengadilan kolonial pada tanggal 18 Nopember 1887. Ia dipersalahkan
melanggar hak orang lain sehingga dikenakan denda 7,50 gulden
(Hamka, 1982:144). Dendaan yang dijatuhkan kepada kiyai ini,
menyinggung rasa keagamaan dan rasa harga diri murid dan
pengikutnya.
Satu hal lagi yang ikut menyulut api perlawanan ini adalah dirubuhkannya menara langgar
(musholla) di Jombang Tengah atas perintah Asisten Residen Goebels.
Goebels menganggap menara yang dipakai untuk mengalunkan azan
setiap waktu shalat, mengganggu ketenangan "masyarakat" kerena
kerasnya suara, apalagi waktu azan shalat subuh. Asisten Residen
menginstruksikan kepada Patih agar dibuat surat edaran yang isinya
supaya shalawat, tarhim dan azan jangan dilakukan dengan suara keras,
karena 'Tuhan tidak tuli'. Faktor-faktor ketidakpuasan terhadap sistem
ekonomi, politik dan budaya yang dipaksakan pemerintah kolonial
Belanda ini berbaur dengan penderitaan rakyat yang sudah tidak
tertakarkan menumbuhkan perlawanan bersenjata.
2. Jalannya "Pemberontakan"
Secara kronologis, persiapan-persiapan menuju "pemberontakan" di
Cilegon, mungkin dapat diurutkan sebagai berikut:
1)
4 Pebruari ─ 13 Maret 1888, diadakan 3 kali pertemuan di rumah H. Marjuki di Tanara dihadiri
oleh para ulama dari Serang, Anyer dan Tangerang; yang kedua di Terate di rumah H. Asngari
dihadiri oleh para pemuka masyarakat dari Serang dan Anyer, sedangkan pertemuan berikutnya
di rumah H. Iskak di Saneja.
2)
Maret ─ April 1888, pertemuan di rumah K.H. Wasid di Beji, kemudian di rumah H.M. Sadeli di
Kaloran, dan berikutnya di rumah H. Marjuki di Tanara, akhirnya kembali pertemuan di rumah
K.H. Wasid.
3)
23 Juni 1888 pertemuan terakhir, hadir para tokoh/ulama seperti H. Marjuki, H. Wasid dan H.
Ismail serta H. Iskak. Diduga dalam pertemuan tersebut dibicarakan masalah kesediaan alat
persenjataan, pembagian tugas, penggerakan pengikut, serta penyelenggaraan latihan antara lain
pencak silat. Pada tanggal itu juga diperingati hari lahir pendiri tarekat Kadiriyah; peringatan
tersebut antara lain ditandai dengan kenduri besar. Pada saat itu K.H. Wasid mengusulkan D-day
pemberontakan pada tanggal 12 Juli 1888, akhirnya ditetapkan tanggal pastinya adalah 9 Juli
1888.
Koinsidensi sejarah pada pematangan situasi tersebut antara lain (1) akhir Juni berlangsung
perhelatan besar, yakni perkawinan antara putra bupati Pandeglang dan putri bupati Serang, di
mana banyak hadir para pejabat, (2) awal Juli, Residen Banten, Asisten Residen Anyer disertai
bawahan Eropa dan pribumi melakukan inspeksi di afdeling Anyer, (3) adanya desas-desus
munculnya naga besar pertanda akan datangnya musibah di kalangan penduduk, (4) dalam waktu
munculnya naga besar pertanda akan datangnya musibah di kalangan penduduk, (4) dalam waktu
dekat K.H. Wasid akan dipanggil ke pengadilan untuk penyelesaian suatu perkara, (5) beredarnya
desas-desus larangan berdo'a dzikir, pesta dengan gamelan, tayuban, pesta perkawinan dan
khitanan.
Pada hari Sabtu, tanggal 7 Juli 1888, diadakanlah pertemuan para kiyai untuk persiapan
terakhir/pematangan gerakan di rumah Haji Akhia di Jombang Wetan.
Hadir dalam pertemuan itu antara lain: Haji Sa'id dari Jaha, Haji
Sapiuddin dari Leuwibeureum, Haji Madani dari Ciora, Haji Halim dari
Cibeber, Haji Mahmud dari Tarate Udik, Haji Iskak dari Seneja, Haji
Muhammad Arsad (penghulu kepala di Serang) dan Haji Tubagus Kusen
(penghulu di Cilegon).
Untuk menutupi kecurigaan Belanda atas pertemuan itu diadakan suatu
kenduri besar. Sekitar jam 23.00, datang Nyi Kamsidah, istri Haji Iskak,
memberitahukan bahwa Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail ingin
bertemu dengan para kiyai yang hadir. Maka setelah lewat tengah malam
para kiyai segera berangkat ke Saneja untuk mengadakan pertemuan
kedua di rumahnya Haji Ishak. Dalam pertemuan ini hadir pula Haji
Abubakar, Haji Muhiddin, Haji Asnawi, Haji Sarman dari Bengkung,
dan Haji Akhmad, penghulu Tanara.
Haji Ashik dari Bendung, dan kiyai-kiyai dari Trumbu, tidak hadir dalam
pertemuan ini karena sudah dipastikan bahwa mereka akan memulai
pemberontakan pada hari Senin tanggal 29 Syawal atau 9 Juli 1888.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Haji Wasid dan Haji Ismail pergi ke Wanasaba untuk
mengadakan pembicaraan dengan murid-muridnya, di antaranya Haji Sadeli dari Kaloran. Dari
sana, keduanya pergi ke Gulacir, ke rumah Haji Ismail; selesai shalat magrib dengan dikawal
sejumlah muridnya Haji Wasid berangkat ke Cibeber untuk kembali mengadakan pertemuan
dengan murid-muridnya yang lain. Pertemuan itu dilangsungkan di dalam masjid ─
di luar masjid sudah berkumpul pengikut-pengikut mereka, terutama dari
Arjawinangun dan Gulacir ─ yang juga dihadiri oleh Haji Burak, saudara
Haji Tubagus Ismail, Haji Abdulgani dari Beji, Kiyai Haji Abdulhalim
dari Cibeber dan Nuh dari Tubuy; untuk membicarakan langkah terakhir
pemberontakan.
Pada hari itu juga dikirim utusan-utusan ke berbagai jurusan; Haji Erab diutus ke Haji Mohamad
Asyik, Bendung, Haji Mahmud dan Haji Alfian diutus menemui Haji Abdulrazak, Tanara,
Nasaman dan Sendanglor ke Cipeundeuy menemui Kiyai Haji Sahib, Haji Abdulhalim dan Haji
Abdulgani ke Tunggak menemui Haji Usman, Haji Kasiman di Citangkil dan Haji Mahmud di
Terate Udik. Ketiga yang terakhir ini diperintahkan untuk mengerahkan pejuang-pejuang dari
Anyer untuk segera bergerak supaya pagi-pagi sekali sudah berada siap di Cilegon.
Sementara itu, setelah pertemuan di rumah Haji Ishak, beberapa kiyai kembali lagi ke pesta di
rumah Haji Akhiya, yang pada keesokan harinya, Minggu, 8 Juli 1888, diadakan arak-arakan
sambil meneriakkan takbir dan kasidahan yang dimulai dari rumah Haji Akhiya di Jombang
Wetan dan berakhir di rumah Haji Tubagus Kusen, penghulu Cilegon. Para kiyai dan murid-
murid mereka memakai pakaian putih-putih dengan ikat kepala dari kain putih pula sambil
membawa pedang dan tombak. Pada malam harinya barisan bertambah panjang bergerak dari
Cibeber ke arah Saneja dipimpin langsung oleh Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail ─ yang
kemudian dijadikan sebagai pusat penyerangan.
Malam itu juga, dari Saneja, Haji Tubagus Ismail memimpin pengikut-pengikutnya dari
Arjawinangun, Gulacir dan Cibeber bergerak menuju Cilegon untuk menyerang para pejabat
pemerintah kolonial. Pada hari Senin malam tanggal 9
Juli 1888, diadakanlah serangan umum ke Cilegon. Haji Tubagus Ismail
dan Haji Usman dari Arjawinangun dan pengikutnya menyerang dari
arah selatan, sedangkan pasukan yang dipimpin oleh Kiyai Haji Wasid,
Kiyai Haji Usman dari Tunggak, Haji Abdul Gani dan Beji dan Haji
Nuriman dari Kaligandu menyerang dari arah utara. Dengan
memekikkan kalimat takbir mereka menyerbu beberapa tempat di
Cilegon. Pasukan dibagi dalam beberapa kelompok: kelompok pertama
dipimpin oleh Lurah Jasim, Jaro Kajuruan, menyerbu penjara untuk
membebaskan para tahanan; kelompok kedua dipimpin oleh Haji
Abdulgani dari Beji dan Haji Usman dari Arjawinangun menyerbu
kepatihan, dan kelompok ketiga dipimpin oleh Kiyai Haji Tubagus Ismail
dan Haji Usman dari Tunggak menyerang rumah Asisten Residen.
Sedangkan Haji Wasid dengan beberapa pengawalnya tetap di Jombang
Wetan memonitor segala kegiatan penyerbuan (Kartodirdjo, 1984:301-
303).
Dalam keadaan yang kacau itu, Henri Francois Dumas, juru tulis di kantor Asisten Residen, dapat
dibunuh oleh Haji Tubagus Ismail, demikian juga Raden Purwadiningrat, ajun kolektor, Johan
Hendrik Hubert Gubbels, asisten residen Anyer, Mas Kramadireja, sipir penjara Cilegon, dan
Ulric Bachet, kepala penjualan garam ─ semuanya adalah orang-orang yang tidak disenangi
rakyat. Sedangkan Patih Raden Pennah, seorang pegawai negeri yang kebelanda-belandaan lolos
dari kematian, karena dia sedang di Serang waktu itu. Tokoh fenomenal yang menjadi salah
seorang korban, adalah Raden Tjakradiningrat, wedana Cilegon, yang menurut PPA.
Djajadiningrat "tempat kediamannya tidak di dekat-dekat orang Eropah atau di
dekat-dekat Ambtenar-ambtenar boemipoetra lain" (1936:55), sehingga
ia termasuk "orang yang tidak berdosa" (1936:56)[4].
Seperti yang sudah direncanakan semula, berbarengan dengan kejadian di Cilegon ini, di
beberapa tempat juga meletus pemberontakan, seperti di Bojonegara, Balegendong, Krapyak,
Grogol, Mancak dan Toyomerto. Di daerah Serang, pemberontakan dipimpin oleh Haji
Muhammad Asyik, seorang ulama dari Bendung, Haji Muhammad Hanafiah dari Trumbu dan
Haji Muhidin dari Cipeucang. Pusat-pusat kegiatan mereka ialah Bendung, Trumbu, Kubang,
Kaloran dan Keganteran.
Sehari semalam kekacauan tidak dapat diatasi, Cilegon dapat dikuasai sepenuhnya oleh pasukan
"pemberontak". Tetapi seorang babu (pembantu rumah tangga) Gubbel dapat melarikan diri ke
Serang membawa kabar kejadian di Cilegon itu. Maka Bupati bersama Kontrolir dengan 40 orang
serdadu yang dipimpin oleh Letnan I Bartlemy berangkat ke Cilegon. Terjadilah pertempuran
hebat antara para pemberontak dengan tentara kolonial yang memang sudah terlatih baik,
sehingga akhirnya kerusuhan dapat dipadamkan.
Haji Wasid sebagai pemimpin pemberontakan dihukum gantung,
sedangkan yang lainnya dihukum buang; Haji Abdurahman dan Haji
Akib dibuang ke Banda, Haji Haris dibuang ke Bukit Tinggi, Haji
Arsyad Thawil dibuang ke Gorontalo, Haji Arsyad Qashir dibuang ke
Buton, Haji Ismail dibuang ke Flores, dan banyak lagi lainnya dibuang
ke Tondano, Ternate, Kupang, Menado, Ambon, dan Saparua; semua
pimpinan pemberontakan yang dibuang ini ada 94 orang.
Kejadian "Geger Cilegon" itu mempunyai arti penting dalam sejarah
pergerakan nasional, karena setelah kejadian itu Belanda
menginstruksikan supaya semua peraturan-peraturan yang akan
dikeluarkan hendaknya jangan menyinggung perasaan keagamaan rakyat
jajahan. Walau pun akhirnya pemberontakan itu mengalami kegagalan
secara fisik, namun sangat bermakna sebagai sebuah gambaran dari rasa
ketidakpuasan dan kebencian seluruh rakyat terhadap penjajah. Rakyat
kebetulan tidak memiliki pemimpin formal untuk menyalurkan
aspirasinya sehingga untuk menyalurkan ketidakpuasan itu, dalam
bentuk pemberontakan, kepemimpinannya dipercayakan kepada
pemimpin kharismatik yakni para kiyai dan ulama. Dalam tahun-tahun
berikutnya, bekas dan akibat pemberontakan Cilegon ini cukup
mendalam di kedua belah pihak.
Rakyat Banten sangat benci kepada penjajah Belanda dan pamongpraja
yang menjadi kaki-tangannya; sebaliknya pihak penjajah juga menaruh
kewaspadaan tinggi untuk daerah Banten dengan rakyatnya sangat
militan itu.
Banyaknya pemberontakan rakyat yang dipimpin para ulama Islam ini erat juga kaitannya dengan
politik keagamaan yang diterapkan kaum penjajah. Di samping mereka terlalu meng-eksploitir
tanah jajahan tanpa dibatasi rasa kemanusiaan, juga pemerintah kolonial "merambah" dalam
kehidupan keagamaan
masyarakat; masalah yang dianggap paling mendasar dalam kehidupan
manusia.
Hal ini tidak lepas dari motivasi pertama pengembaraan orang-orang
Eropa, di samping untuk mencari keuntungan perdagangan juga
dilandasi oleh rasa benci dan permusuhan kepada orang-orang yang
beragama Islam. Sehingga dapat dikatakan bahwa ekspansi Portugis
harus dilihat sebagai kelanjutan dari Perang Salib. VOC, sebagai
perusahaan dagang milik Belanda pun tidak lepas dari tugas
penghancuran umat Islam dan penyebaran agama Kristen kepada
penduduk di Nusantara (Suminto, 1985: 17). Keadaan demikian terlihat
juga pada abad ke-19 dan ke-20, melalui beberapa peraturan dan
pelaksanaan yang dibuat pemerintah Hindia Belanda. Partai-partai di
parlemen Belanda dapat dikelompokkan kepada partai agama dan non
agama. Kedua golongan ini saling berebut mempengaruhi semua
keputusan parlemen, yang selanjutnya dilaksanakan pemerintah Belanda.
Pada dasawarsa terakhir abad ke-19
kelompok non agama memperoleh kemenangan dalam parlemen. Namun
pada peralihan abad ke-20 kemenangan beralih kepada kelompok agama.
Dengan keadaan ini pemerintah Hindia Belanda haruslah mendukung
sebanyak mungkin usaha kristenisasi yang banyak dilakukan organisasi
swasta. Dukungan terhadap kristenisasi Hindia Belanda dipertegas
sejalan dengan “politik hutang budi”; yaitu kemudahan bagi organisasi
zending Kristen mendirikan sekolah bagi penduduk bumiputra, untuk
sedikit demi sedikit melupakan agamanya (Islam) dan kemudian beralih
kepada agama Kristen.
Masalah kristenisasi di Hindia Belanda ini erat juga kaitannya dengan masalah menghadapi
pemberontakan yang dilakukan umat Islam. Dengan mengkristenkan sebanyak mungkin
penduduk di Nusantara maka pemberontakan akan semakin berkurang. Karena itulah "zending
Kristen harus dianggap sebagai faktor penting bagi proses penjajahan, bahkan perluasan kolonial
dan ekspansi agama merupakan gejala simbiose yang saling menunjang"
(Suminto, 1985:18). Pemerintah Belanda berpendapat bahwa apabila
bangsa Indonesia
> ini memeluk agama Kristen, yakni menjadi seagama dengan
penjajahnya, maka berarti mereka tidak akan lagi membahayakan bagi
pemerintahan Belanda.
Tetapi dalam kenyataannya, justru karena tekanan kegiatan missi penyebaran agama Kristen yang
menggebu-gebu ini reaksi perlawanan dari rakyat Indonesia
> makin lebih militan lagi menentang penjajah Belanda. Sehingga orang
Indonesia
> dalam menyebut orang-orang Belanda sebagai "setan", "kapir
landa" ─ sebutan yang di samping menggambarkan kebencian
mendalam juga menganggap mereka itu adalam musuh-musuh Islam dan
kaum muslimin. Tidaklah mengherankan apabila orang Islam yang
mengirimkan anaknya untuk belajar di sekolah Belanda, ataupun sekolah
Jawa/Melayu yang didirikan Belanda, sering dituduh menyuruh anak-
anaknya masuk agama Kristen.
Maka tidak jarang seorang kiyai atau seorang guru mengaji
mengeluarkan fatwa bahwa memasuki sekolah-sekolah Belanda adalah
haram, atau sekurang-kurangnya menyalahi Islam. Bahkan beredar fatwa
yang menyatakan bahwa berpakaian ala Eropa ─ lebih-lebih memakai
dasi, celana
pantalon dan topi ala Eropa ─ dihukumi haram, dan pemakainya
dikatakan kafir. Demikian juga dengan orang Islam yang bekerja
menjadi pegawai di kantor pemerintah Belanda, misalnya sebagai
pamongpraja, masyarakat mencemooh mereka sebagai "anjing belanda".
Keyakinan yang memandang rendah semacam itulah yang mendasari kenapa penduduk asli
Banten yang bersedia bekerja menjadi pamongpraja pada masa pemerintahan Hindia Belanda
sangat sedikit. Keadaan semacam ini pun membuat pemerintah Belanda mengalami kesulitan
mengangkat pejabat pamongpraja asli dari Banten yang cakap (baca: pernah belajar di sekolah
Belanda). Oleh karenanya, untuk mengisi kekosongan pegawai pamongpraja ini, pemerintah
kolonial lebih banyak mengangkat pegawai yang berasal dari Priyangan, seperti dari Bogor
> dan Bandung.
Hal demikian sering menimbulkan konflik tertentu yang saling
mencurigai satu sama lain; yang pada hakekatnya berawal mungkin dari
mencurigai satu sama lain; yang pada hakekatnya berawal mungkin dari
perasaan irihati para pamongpraja asli daerah Banten terhadap para
pamongpraja pendatang.
Ketakutan yang didasari kecurigaan ini pula yang menyebabkan
banyaknya pegawai asal Priyangan yang ikut melarikan diri ketika
pasukan Jepang keluar dari Banten. Imbas dari keadaan ini masih terasa
sampai pasca kemerdekaan. Rupanya, walaupun memang kebanyakan
rakyat Banten bukan orang yang mempunyai pemahaman mendalam
tentang keislaman, bahkan mungkin bukan termasuk orang yang taat
menjalankan agamanya, namun dalam hal rasa sentimen keagamaan
mereka cukup tinggi.
C. GERAKAN POLITIK
MENENTANG PENJAJAH
Pada akhir abad ke-19 permulaan abad ke-20 pemerintah Hindia Belanda dalam keadaan
"malaise"?. Sekali pun telah mengeruk kekayaan alam Indonesia
> melalui peraturan tanam paksa, tetapi masih diperlukan banyak uang
untuk membiayai peperangan menumpas pemberontakan yang terjadi
silih berganti di seluruh nusantara, terutama perang Aceh (1876 - 1904).
Dalam usaha mengakiri keadaan tidak menentu ini pemerintah penjajah melakukan dua macam
tindakan:
1.
Para sultan/raja (kecuali Solo dan Yogya) dipaksa untuk menandatangani korte verklaring dengan
maksud agar penguasa-penguasa daerah mau mengakui kekuasaan pemerintah penjajah Belanda.
2.
Rakyat Indonesia dibuat tenang dengan cara menjalankan “politik etika”, yaitu suatu
kebijaksanaan berkedok "memperhatikan dan memajukan rakyat". Cara yang
digunakan adalah membuka lebih banyak sekolah-sekolah rendah,
mendirikan rumah-rumah sakit serta membuat jalan-jalan kereta api, dan
sebagainya.
Pada awal awad ke-20, terjadi perang antara Jepang dengan Rusia (1904 - 1905) yang akhirnya
dimenangkan oleh pasukan Jepang. Peristiwa penting ini memberi dorongan semangat bangsa
Asia, khususnya Indonesia
>, untuk bangkit
merebut kembali kemerdekaannya dari para penjajah Eropa. Para
pemimpin pergerakan perjuangan rakyat, yang tadinya hanya bersifat
lokal kedaerahan, mulai mengadakan koordinasi dalam kesamaan cita-
cita untuk memerdekakan diri secara nasional.
Pada tanggal 20 Mei 1908 berdirilah Budi Utomo, perkumpulan pelajar sekolah dokter pribumi
STOVIA di Jakarta oleh Wahidin Sudirohusodo, Satiman Wiryosanjoyo, dan lain-lain. Walaupun
anggota dan cita-cita perkumpulan ini masih bersifat kedaerahan, Jawa dan Madura saja, namun
berdirinya Budi Utomo merupakan tonggak sejarah pergerakan nasional menuju kemerdekaan
Indonesia
>.
Pelajar-pelajar dari daerah pun kemudian membentuk perkumpulan
kedaerahan, seperti: Jong Java, Jong Sumantranen Bond, Jong Celebes,
Jong Ambon, Jong Timor, Sekar Rukun, dan sebagainya.
Pada tanggal 11 Nopember 1912, sudah lahir di Solo satu organisasi yang bersifat "gerakan",
yaitu Sarikat Dagang Islam (SDI) di bawah pimpinan
Haji Samanhudi[5]. Kebangkitan itu timbul karena sebagian pengusaha pribumi merasa
"dianaktirikan" oleh pemerintah penjajah Belanda dalam menghadapi pengusaha non-pribumi
(baca: orang Cina) yang mendapat dorongan bantuan pemerintah kolonial. Gerakan ini mendapat
sambutan rakyat banyak, sehingga oleh pihak penjajah dilokalisir jangan sampai merembes ke
kota lain. Gerakan inilah yang menjelma menjadi satu partai politik dengan nama Sarikat Islam
(SI), yang dengan cepat berkembang ke seluruh pulau Jawa.
Anggota SI tidak terbatas hanya pedagang, tetapi semua orang Islam
yang setuju dengan dasar dan tujuan organisasi. Tokoh-tokohnya antara
lain H.O.S. Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Suryopranoto, dan lain-
lain.
Pada tahun 1912 berdirilah Muhammadiyah di Yogyakarta oleh K.H. Ahmad Dahlan, suatu
organisasi sosial pertama yang bersendikan keagamaan. Amal usaha Muhammadiyah ini antara
lain mendirikan
sekolah-sekolah, rumah sakit yang dalam waktu singkat berkembang ke
sekolah-sekolah, rumah sakit yang dalam waktu singkat berkembang ke
seluruh tanah air. Organisasi ini, di samping untuk memajukan
kecerdasan dan kesejahteraan ummat, juga sebagai antisipasi kristenisasi
yang dibawa penjajah Belanda. Setelah itu tumbuh organisasi keagamaan
lainnya seperti NU, Perti, Persis, dan lain-lain.
Sekedar untuk memenuhi permintaan beberapa organisasi politik itu, pemerintah Hindia Belanda
mendirikan Dewan Rakyat (Volksraad) semacam parlemen pada tahun 1917. Walaupun
Volksraad ini belum merupakan Parlemen yang sebenarnya, bahkan dianggap sebagai
"sandiwara", namun
banyak manfaatnya; antara lain mendidik putra-putra Indonesia menjadi
lebih pandai berpolitik, seperti dr. Tjipto Mangunkusumo, Mohamad
Husni Thamrin dan sebagainya yang ditunjuk sebagai anggota.
H.F.J.M.
Sneevliet, seorang sosialis radikal berkebangsaan Belanda, datang ke
Indonesia
> pada tahun 1913. Bersama dengan [Link], H.W. Dekker, P.
Bergsma dan A. Baars, pada bulan Mei 1914, ia mendirikan Indishce
Sociaal Demokratische Vereeniging (ISDV) sebagai organisasi
berhaluan Marxis pertama di Asia Tenggara. Sneevliet sangat tertarik
dengan Serikat Islam (SI) ─ yang pada waktu itu telah mempunyai
anggota lebih dari 1,5 juta yang tersebar sampai ke peloksok-peloksok ─
dan berusaha menginfiltrasinya. Ia berhasil menarik Semaun dan
Darsono, yang keduanya adalah ketua dan sekretaris SI cabang
Semarang, dan kemudian Tan Malaka, sebagai kader komunis pertama.
Akibat infiltrasi komunis ini maka dalam tubuh Serikat Islam terjadi
keretakan di antara pengurus dan anggotanya (Soerojo, 1988:34). Pada
tanggal 23 Mei 1920, nama ISDV diubah menjadi PKI (Perserikatan
Komunis Indie) dengan Semaun sebagai ketua dan Darsono sebagai
wakil ketua, yang
saat itu keduanya masih menjabat sebagai ketua dan sekretaris di Sarikat
Islam cabang Semarang.
Pada tanggal 24 Desember 1920 setelah PKI diakui sebagai anggota
Komunis Internasional (Komintern), nama Persarikatan diganti dengan
Partai Komunis Indonesia
> (PKI). Dalam kongres Komintern ini Tan Malaka diangkat sebagai
Wakil Komintern untuk Asia Tenggara dan Australia yang
berkedudukan di Manila.
Karena adanya infiltrasi komunis itu maka Sarikat Islam pun terpecah
dua.
Semaun, Darsono, Tan Malaka, Sekarmaji Maridjan Kartosuwiryo
memisahkan diri membentuk Sarikat Islam (Merah) yang kemudian
menjadi Sarikat Rakyat (SR), organisasi bagian di bawah PKI.
Sedangkan yang tetap di Sarikat Islam (Putih) adalah H.O.S.
Tjokroaminoto, H.A. Salim dan H. Abdul Muis; yang pada tahun 1923
membentuk Partai Sarikat Islam (PSI) dan tahun 1930 bernama Partai
Sarikat Islam Indonesia (PSII) (Soerojo, 1988: 40 dan Panitia, 1985: 33).
Di daerah Banten, yang dikenal dengan "fanatik" kepada ajaran Islam dengan cepat Sarikat Islam
(SI) mendapat sambutan baik. Hampir semua ulama di Banten bergabung dalam persyarikatan.
Tapi bagi ulama/rakyat Banten, yang memang bertemperamen keras dan radikal dalam
menghadapi penjajah, kepemimpinan Sarikat Islam itu dianggap "kurang berani". Rakyat Banten
menghendaki kepemimpinan yang lebih "tegas"; kebencian
yang mendalam kepada pemerintah kolonial Belanda mendorong
semangat keradikalan ulama. Keadaan demikian dimanfaatkan oleh PKI
melalui cara infiltrasi keanggotaan ganda untuk mengajak para ulama itu
bergabung dengan PKI. "Kelihaian permainan politik" PKI itu membuat
demikian
banyak tokoh-tokoh agama di daerah Banten, yang di samping sebagai
tokoh Sarikat Islam juga menjadi pengurus organisasi PKI. Misalnya
K.H. Asnawi Caringin, di samping sebagai Ketua SI Cabang Caringin
juga menjadi Ketua PKI cabang Caringin? ─ setelah tokoh ini meninggal
dunia, jabatan rangkap organisasi di "serahkan" kepada mantunya, K.H.
Ahmad
Chatib.
Para pemimpin PKI menjadi semakin radikal. Alimin dan Muso merencanakan menggerakkan
kaum buruh untuk mengadakan pemogokan di seluruh Jawa dan pemberontakan bersenjata di
Jawa dan Sumatra.
Untuk melaporkan rencana pemberontakan itu kepada Stalin, ketua
Komintern, pada bulan Maret 1926 Alimin dan Muso berangkat ke
Komintern, pada bulan Maret 1926 Alimin dan Muso berangkat ke
Moskow. Rencana PKI ini sebenarnya tidak mendapat restu Stalin dan
Tan Malaka, karena dianggapnya kekuatan PKI belum memungkinkan;
Alimin dan Muso diperintahkan untuk segera menyetopnya. Tetapi
sepulangnya dari Moskow, Alimin ditangkap pemerintah Inggris di
Singapura dan dilarang masuk ke Indonesia, karenanya ia pergi ke Cina,
sehingga berita tersebut tidak sampai diterima di tanah air.
Dalam pada itu di Indonesia, persiapan pemberontakan PKI ini terus berjalan. Markas Besar
partai telah dipindahkan dari Batavia ke Bandung
>. Tanggal 13 Nopember 1926, pukul
12 malam, pasukan bersenjata mulai mengadakan pemberontakan,
dengan merebut kantor telepon dan telegrap di Batavia.
Demikian juga di Banten, rel kereta api dibongkar dan jalan-jalan
dibarikade; serentak pula di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur
terjadi pemberontakan. Karena kurangnya persiapan matang, dengan
mudah revolusi komunis ini dapat dihancurkan Belanda. Sehingga di
antara pemberontak ini 9
orang digantung, 1300 dipenjarakan, 5000 dilepas kembali, 5000 lainnya
diberi hukuman ringan dan 823 orang dibuang ke Tanah Merah, Digul
(Soerojo, 1988:35).
Dalam pemberontakan komunis 1926 - 1927 ini, banyak terdapat orang-orang Islam dan bahkan
ulama dan kiyai yang ikut terlibat di dalamnya. Sehingga banyak ulama dari Banten ─
kebanyakan anggota Sarikat Islam ─
ditangkap dan dibuang ke Digul[6]. Karena pemberontakan itu, Partai Komunis
Indonesia dibubarkan. Beberapa pemimpinnya seperti Tan Malaka, Semaun, Alimin melarikan
diri ke luar negeri. Tan Malaka sendiri, karena merasa dikhianati Alimin, akhirnya mendirikan
Partai Republik Indonesia (PARI).
Pergerakan kebangsaan kaum terpelajar di Indonesia
> semakin marak.
Beberapa perserikatan kemudian menjadi partai politik yang memiliki
cita-cita kebangsaan menuju kesatuan Indonesia
>. Pada tanggal 4 Juli
1927, lahirlah Partai Nasional Indonesia (PNI) atas prakarsa Ir. Sukarno,
dibantu oleh Mr. Sartono, Mr. Iskak hadisurja, Ir. Anwari, dan lain-lain.
Untuk menyatukan pandangan dan langkah dari beberapa partai yang
banyak haluan itu, Ir. Sukarno berhasil membentuk suatu federasi yang
dinamakan Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia
(PPPKI), yang terdiri dari PNI, PSI, Budi Utomo, Kaum Betawi, Sarekat
Sumatra, Sarekat Sunda, dan sebagainya; dengan Ir. Sukarno sebagai
ketuanya.
Dalam pada itu, pada tanggal 7 Pebruari 1927 perkumpulan-perkumpulan pelajar seperti Jong
Java, Jong Sumantranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Timor, Sekar Rukun, Tirtayasa,
dan lain-lain sepakat mengadakan fusi, menjadi satu wadah pemuda Indonesia. Dalam Kongres
Pemuda Indonesia ke-2
yang diadakan pada tanggal 26 - 28 Oktober 1928 di Jakarta dicetuskan
Sumpah Pemuda dimana diikrarkan satu bangsa, satu bahasa, dan satu
tanah air; Lagu Indonesia Raya untuk pertama kali diperdengarkan oleh
Wage Rudolf Supratman. Sedangkan bendera merah putih belum dapat
dipasang, karena dilarang pemerintah Hindia Belanda. Dengan demikian
terbentuklah embrio nasionalis Indonesia.
Sejak saat itu perjuangan pemuda diteruskan dengan kegiatan politik.
Pengaruh semangat Sumpah Pemuda membawa perkumpulan-
perkumpulan pemuda tersebut pada tanggal 31 Desember 1930 melebur
diri menjadi Indonesia Muda (IM).
Partai Sarikat Islam berganti nama menjadi Partai Sarikat Islam
Indonesia
>.
Budi Utomo dan Sarikat Madura bersatu menjadi Partai Bangsa
Indonesia
> yang kemudian menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra).
Timbulnya beberapa partai politik, yang diantaranya berhaluan non-kooperatif, membuat
khawatir pemerintah Hindia Belanda. Dikeluarkanlah pasal tambahan pada Buku Hukum Pidana
(Wetboek van Strafrecht) dengan pasal 153, yang memberi hak kepada pemerintah Belanda
menangkap dan menghukum mereka yang dianggap berbahaya terhadap ketertiban dan
ketentraman umum. Pasal ini dapat ditafsirkan seluas-luasnya. Dengan pasal ini beberapa
pimpinan partai yang tidak "disenangi" pemerintah kolonial langsung ditangkap. Drs.
Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir diasingkan ke Digul, sedangkan Ir.
Sukarno diasingkan ke Endeh, Flores. PNI pun
dilarang karena dianggap mengganggu ketertiban umum.
Bulan Mei 1931, Mr. Sartono mendirikan Partai Indonesia
> (Partindo) dan pada
bulan Desember 1931, di Yogyakarta, Drs. Moh. Hatta dan Sutan
Syahrir mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI baru). Partindo
bertujuan untuk mencapai Indonesia merdeka dengan memperluas hak-
hak berpolitik, memperbaiki ekonomi rakyat, serta berkeyakinan bahwa
perjuangan kemerdekaan hanya dapat dicapai dengan persatuan seluruh
kekuatan rakyat Indonesia
>. Berdasar keyakinan
itu, para pemimpin rakyat merencanakan untuk menyelenggarakan
Kongres Indonesia Raya pada tanggal 20 Mei 1933. Di saat itu
rencananya akan diadakan aksi serentak di seluruh Indonesia
>, sambil memperingati
ulang tahun Budi Utomo ke-25. Tapi karena tidak diizinkan oleh Residen
Sala, maka acara besar ini pun tidak dapat dilaksanakan.
Karena terbukti bahwa PPPKI tidak dapat mempersatukan partai-partai, maka PPPKI dibubarkan.
Pada tahun 1939 partai-partai politik ini bergabung lagi dalam Gabungan Politik Indonesia
(Gapi), dengan pimpinan antara lain: Mohamad Husni Thamrin, Abikusno, dan Amir
Syarifuddin. Pada tahun itu pula Gapi mengadakan Kongres Rakyat Indonesia
> yang dihadiri oleh 90 perkumpulan politik dan serikat kerja dan badan-
badan sosial. Dalam kongres itu dibicarakan tentang “Indonesia
Berparlemen”, artinya supaya pemerintah Hindia Belanda mendirikan
Dewan Perwakilan Rakyat yang bertanggung jawab bagi bangsa
Indonesia
>. Dalam kongres ini
pun Merah Putih diterima sebagai bendera kebangsaan, Indonesia Raya
sebagai lagu kebangsaan dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan
(Darmodirdjo., 1982: 29)
Karena cita-cita mendirikan pemerintahan sendiri tidak mungkin akan dipenuhi oleh Belanda,
atas usul Soetardjo Kartohadikoesoemo dan kawan-kawannya di Dewan Rakyat (Volksraad) pada
tahun 1937 memajukan “Petisi Sutarjo”.
Petisi ini minta Dominion Status kepada Indonesia
> dari pemerintah
Belanda. Usul ini pun ditolak, dengan alasan Indonesia
> belum masak
(Wirjosuparto, 1961:112). Barulah setelah Belanda mengalami tekanan
hebat dalam perang Pasifik dengan Jepang, pada tahun 1942 Wilhelmina,
Ratu Belanda, menjanjikan akan mengabulkan Petisi Sutarjo, apabila
rakyat Indonesia membantu Belanda dalam menghadapi serangan tentara
Jepang.
Tawaran ini ditolak oleh Ir. Sukarno dan pemimpin pergerakan lainnya.
D. MASA PENDUDUKAN TENTARA JEPANG DI INDONESIA
Salah satu faktor yang menarik dari Hindia Belanda (Indonesia
>) di mata Jepang
adalah minyak, khususnya dalam melancarkan perangnya di Asia
Pasifik;[7] oleh sebab itulah Jepang berusaha menguasai daerah ini. Pihak Belanda sudah
merasa curiga terhadap tuntutan Jepang untuk penambahan kuota eksport minyak dari Indonesia
> yang dianggap sebagai langkah awal untuk memperluas wilayah.
Apalagi Jepang juga terikat perjanjian dengan Jerman dan Itali, yang saat
itu telah melancarkan serangan di Eropa, termasuk penyerangan ke
negeri Belanda pada tanggal 10 Mei 1940. Kecurigaan ini bertambah
negeri Belanda pada tanggal 10 Mei 1940. Kecurigaan ini bertambah
setelah menyaksikan politik ekspansi Jepang, berupa pernyataan akan
dibentuknya “Lingkungan Kesemakmuran Bersama Asia Timur Raya”,?
yang meliputi Indochina, Thailand, Hindia Belanda, Selandia Baru,
Australia dengan Jepang, dengan China dan Manchukuo sebagai tulang
punggungnya (Williard, 1977:16).
Kecurigaan itu terbukti setelah secara tiba-tiba, pada tanggal 18 Desember 1941, Jepang
mengadakan pemboman terhadap Pearl Harbour, Hawaii, pangkalan Angkatan Laut Amerika
Serikat di Pasifik. Reaksi pemerintah Hindia Belanda terhadap pemboman itu adalah berupa
pernyataan perang terhadap Jepang; yang diumumkan oleh Gubernur Jendralnya, Tjarda van
Strarkenborg Stachouwer.
1. Masuknya Tentara Jepang di Indonesia
Awal tahun 1942, pasukan Jepang bergerak ke selatan dan menyerang beberapa wilayah Hindia
Belanda. Tarakan, Kalimantan Timur pada tanggal 10 Januari 1942 dapat dikuasai tentara Jepang
dengan mudah. Kemudian pada tanggal 20
Januari 1942 secara berturut-turut Jepang menduduki kota-kota di
Kalimantan, yaitu Pontianak, Martapura dan Banjarmasin. Dan pada
bulan Pebruari mereka pun telah menguasai kota Palembang
>. Dengan
jatuhnya daerah-daerah ini maka terbukalah Pulau Jawa bagi tentara
Jepang.
Setelah perang Pasifik berjalan tiga bulan, pada tanggal 1 Maret 1942
tentara Jepang di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hitoshi Imamura
telah berada di Teluk Banten yang kemudian mengadakan pendaratan di
dekat Merak dan di Bojonegara ─ tempat pendaratan lainnya: Eretan
Wetan
(Indramayu) dan Kranggan (Rembang) (Nasution, 1977:18).
Untuk menyerang Batavia,
pasukan Jepang, yang diperkirakan berjumlah 30.000 personil, dibagi
dalam dua kolone. Kolone pertama yang langsung dipimpin oleh
Imamura, berangkat melalui arah Serang - Balaraja - Tangerang menuju
Batavia; sedangkan kolone kedua melalui arah Serang - Rangkasbitung -
Leuwiliang menuju Bogor.
Tanggal 5 Maret 1942, kolone pertama sampai ke Batavia yang dengan
leluasa dapat menguasai kota, karena sehari sebelumnya tentara Belanda
mundur menuju Bandung melalui Bogor dan Sukabumi; dan menyatakan
'Batavia kota terbuka untuk menerima kedatangan serdadu utusan
Tenno'. Pada hari yang sama kolone kedua telah memasuki kota Bogor
>, dan berhasil
mencerai-beraikan perlawanan Belanda (Pemda Jabar, 1972: 222).
Penyerahan kota Batavia ini diselenggarakan di lapangan gedung kantor Residen Batavia
>, pada awal Maret 1942 disaksikan
ribuan rakyat setempat (Malik, 1975:17). Dengan didudukinya Batavia
>, maka secara simbolis Hindia Belanda telah
jatuh ke tangan Jepang; tetapi secara formal, Jepang harus merebut
pemerintahan Hindia Belanda yang telah mengungsi ke Bandung
>. Tanggal 7 Maret 1942, tentara
Jepang telah berhasil mendesak pasukan KNIL (Koninklijks Nederlands
Indies Leger = tentara Hindia Belanda) yang ada di Lembang, Jawa
Barat, dan akhirnya, pada tanggal 8 Maret pemerintah Hindia Belanda
menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Perundingan penyerahan ini
dilangsungkan di Kalijati Jawa Barat, antara Letnan Jendral Immamura
dari pihak Jepang dengan Jendral Ter Poorten, panglima tentara Belanda
dan sekaligus panglima ABDACOM (American British Dutch Australian
Command). Dan sejak saat itu pemerintah Jepang mengambil alih
kekuasaan Hindia Belanda (Kartodirdjo, 1977:4 - 5).
Ada beberapa faktor yang mempermudah Jepang menduduki wilayah Hindia Belanda, antara lain
:
tab-stops:1.0cm list 2.0cm">1)
Secara militer Jepang lebih unggul dalam jumlah personil maupun persenjataan. Sebagai perban-
dingan, kekuatan Hindia Belanda di pulau Jawa pada waktu itu seluruhnya berjumlah sekitar
40.000 orang (kurang lebih 4 devisi). Sedangkan kekuatan invasi Jepang ke pulau Jawa
seluruhnya terdiri kurang lebih 6 sampai 8 devisi (sekitar 100 sampai 120 ribu orang).
2)
Tidak ada dukungan dari penduduk bumi putra terhadap pemerintah Hindia Belanda. Sikap ini
terutama ditunjukkan oleh kaum pergerakan yang sering dikecewakan oleh pemerintah Hindia
Belanda.
3)
Adanya kepercayaan sebagian masyarakat bumi putra kepada ramalan Joyoboyo, yang
menyatakan bahwa bangsa kulit kuning dari utara akan datang ke Nusantara dan akan berkuasa
seumur jagung; setelah itu Nusantara akan mengalami jaman keemasan yang diperintah oleh Ratu
Adil; sehingga masyarakat enggan membantu Belanda bahkan merasa gembira dan berharap
besar kepada kemerdekaan.
Khususnya karena percaya akan ramalan Joyoboyo tersebut, maka penduduk pulau Jawa,
termasuk penduduk Banten, menyambut kedatangan orang Jepang dengan gembira, dan dianggap
sebagai pembebasan dari penjajahan Belanda. Kekalahan Hindia Belanda tersebut menimbulkan
dua persepsi bagi para pemuda: pertama, martabat Belanda di mata rakyat menjadi turun, dan
kedua, menimbulkan kepercayaan akan kekuatan diri sendiri. Para pemuda ini yakin jika mereka
diberi senjata, akan mampu berbuat seperti Jepang (Kahin, 1970:102).
Semboyan "Asia untuk bangsa Asia", "Kemakmuran bersama di Asia Timur
Raya" betul-betul memikat hati, sehingga di antara pemimpin-pemimpin
Indonesia
> ada yang bersedia bekerja sama dengan Jepang. Mereka percaya
dengan propaganda Jepang yang mengadakan "perang suci" untuk
kejayaan Asia ─ di balik tujuan sebenarnya yaitu menguasai bahan-
bahan mentah, terutama minyak bumi yang banyak terdapat di Indonesia
>. Jepang juga berbuat
seolah-olah memperhatikan tuntutan bangsa Indonesia, seperti
pelarangan memakai bahasa Belanda dalam kegiatan sehari-hari, dan
digantikan perannya oleh bahasa Indonesia
>. Di sekolah-sekolah,
bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar, demikian juga di
kantor pemerintahan. Nama-nama kota yang pada masa Belanda diberi
nama Belanda, diganti lagi dengan nama Indonesia
>; misalnya Batavia diubah kembali menjadi Jakarta.
Pe-ngibaran bendera merah-putih, sebagai lambang kemerdekaan
Indonesia
> pun pada awalnya tidak dilarang oleh tentara Jepang. Bahkan sebelum
tentara Jepang mendarat di Indonesia, lagu Indonesia Raya sering
dikumandangkan lewat Nihon Hosyo Kyoku (siaran radio Jepang).
Tindakan pemerintah Jepang menghargai tiga atribut kebangsaan
Indonesia itu sangat menggembirakan rakyat.
Segera setelah Jepang berhasil menduduki Indonesia, dibentuklah suatu pemerintahan militer
yang bersifat sementara sesuai dengan Undang-undang No. 1/1942 yang dikeluarkan oleh
Panglima Tentara Keenambelas pada tanggal 7 Maret 1942.
Pada dasarnya, susunan pemerintahan masa pendudukan Jepang tetap
mempertahankan sistem lama. Pada masa penjajahan Belanda, sejak
tahun 1834, daerah kesultanan Banten dijadikan sebagai satu
karesidenan, meliputi kabupaten Serang, kabupaten Pandeglang dan
kabupaten Lebak. Jabatan mulai dari residen sampai dengan kontrolir
selalu dipegang orang Belanda; sedangkan jabatan mulai dari bupati ke
bawah barulah diserahkan kepada orang bumiputera. Penguasa tertinggi
di karesidenan (residentie) adalah residen yang dalam menjalankan tugas
sehari-hari dibantu oleh sekretaris residen, asisten residen, dan kontrolir.
Asisten residen dan kontrolir biasanya ditempatkan di setiap kabupaten
yang berfungsi sebagai pembantu residen dalam menangani masalah
pemerintahan di wilayah kabupaten.
Penguasa tertinggi di kabupaten adalah bupati, yang bertanggung jawab
langsung kepada residen. Dalam melaksanakan tugasnya, bupati dibantu
oleh patih, wedana, asisten wedana atau camat, dan lurah atau jaro.
Pada masa kekuasaan pemerintah Jepang, administrasi pemerintahan ini diadakan perubahan-
perubahan dengan beberapa undang-undang dan peraturan-peraturan yang dibuat pemerintah
Jepang disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku di negara Jepang. Berdasarkan UU No. 27
tanggal 5 Agustus 1942 (tentang aturan pemerintahan daerah) dan UU No. 28 tanggal 7 Agustus
1942 (tentang aturan pemerintahan shu dan tokobetsusyi). Pulau Jawa, kecuali Surakarta
> dan Jogjakarta,
dibagi atas daerah-daerah yang disebut: shu, shi, ken, gun, son, dan ku.
Shu adalah pemerintahan tertinggi yang berotonomi di bawah seorang
shucokan yang kedudukannya sama dengan karesidenan (residentie); shi
sama dengan stadsgemeente; ken sama dengan kabupaten
(regentschaap); gun sama dengan kawedanaan (district); son sama
dengan kecamatan (onder-district), dan ku sama dengan desa.
Untuk jabatan-jabatan di wilayah seperti shi, ken, gun, son, dan ku, masing-masing diangkat
sityoo, kentyoo, guntyoo, sontyoo, dan kutyoo.
Aturan pada jaman Hindia Belanda yang dulu berlaku untuk
stadsgemeente, kabupaten (regentshap), kawedanaan (district), dan
kecamatan (onder-district) serta desa; berlaku juga untuk shi, ken, gun,
son, dan ku; kecuali ada peraturan istimewa yang dikeluarkan
pemerintah pendudukan Jepang. Akan tetapi kekuasaan otonomi yang
dahulu diberikan mulai dari bupati sampai ke lurah dalam menangani
urusan pemerintahan, kecuali untuk tingkat ken dan shi, ditarik menjadi
wewenang sityoo; dengan demikian semua otonomi yang ada pada
tingkat residentie dihapuskan. Segala kekuasaan yang dahulu di tangan
Gubernur Jenderal kini dipegang oleh Panglima Tentara Jepang (Saiko
Shikikan), dan pemerintahan sehari-hari dijalankan oleh Kepala
Pemerintahan (Gunseikan).
Begitu pula pemerintahan di daerah-daerah dipegang oleh tentara Jepang
(Surianingrat, 1981: 72-75).
Pada tanggal 29 April 1942, bersamaan dengan pengangkatan wakil gubernur dan pembantu
wakil gubernur Jawa Barat, R. Adipati Aria Hilman Djajadiningrat diangkat sebagai residen
Banten (Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 1984: 8). Wilayah karesidenan Banten ─- di
bawah koordinator Gunseibu Jawa Barat ─ meliputi 4 ken, yaitu: Serang, Pandeglang, Lebak dan
Tangerang. Karena koondisi geografis ─ sebagai daerah ujung barat pulau Jawa, keletakan
Banten merupakan pintu masuk yang sangat strategis ─
serta atas dasar pertimbangan ideologi, politik, sosial ekonomi dan
strategi militer, Banten dijadikan benteng pertahanan wilayah
pendudukan Jepang di pulau Jawa bagian barat. Basis-basis pertahanan
yang terpenting dengan kesatuan tempur cukup besar ditempatkan di
Pulau Sangiang, sebagai pangkalan Angkatan Laut (Kaigun) di Selat
Sunda, dengan markas komando di Anyer; kekuatan Angkatan Udara
(Kidobutai) di Gorda, menghadap ke pantai Laut Jawa; kesatuan
Angkatan Darat (Rikugun) di tempatkan di Sajira (Rangkasbitung). Di
Serang ditempatkan satu Sub Detasemen Kempetai (Polisi Militer),
untuk meliputi seluruh daeran Banten. Dengan dalih untuk memulihkan
ketertiban dan keamanan umum, ─
di balik tujuan Jepang untuk mengontrol dan memperkuat kedudukannya
di Indonesia, dikeluarkan Undang-Undang No. 3 tanggal 30 Maret 1942
dan Undang-undang No. 23 tanggal 15 Juli 1942. Undang-undang yang
disebutkan pertama adalah larangan untuk berkumpul lebih dari 2 orang
dan larangan mendengarkan siaran radio asing. Sedangkan Undang-
undang kedua mengenai peraturan pembubaran semua organisasi sosial
politik yang ada ─
kecuali NO (Nahdatul Oelama) dan MIAI (Majlis Islam 'Ala Indonesia)
(Adam Malik, 1975: 18).
Setelah kehidupan organisasi sosial-politik bangsa Indonesia dimatikan dengan diberlakukannya
peraturan-peraturan yang disebutkan di atas, pemerintah pendudukan Jepang membentuk
organisasi baru yang merupakan organisasi propaganda perang Jepang, yaitu: “Gerakan Tiga-A”
dengan slogannya: ‘Nipon pemimpin Asia, Nippon pelindung Asia dan Nippon cahaya Asia
>.’
Organisasi ini dibentuk pada tanggal 29 April 1942 ─ dengan Mr. Samsudin
ditunjuk sebagai ketuanya. Tapi baru berusia delapan bulan organisasi
ini dibubarkan kembali, karena dianggap gagal dalam missinya oleh
pemerintah Jepang, yaitu menarik simpati rakyat Indonesia
>. Salah satu sebab
kegagalan organisasi ini karena pemimpin yang dipilih bukanlah tokoh
nasional yang populer di mata rakyat. Di samping itu kalangan militer
Jepang sendiri nampaknya merasa khawatir kalau-kalau organisasi ini
dipakai oleh golongan nasionalis untuk menyebarkan ide-ide
kemerdekaan (Berita Oemoem, 2 April 1943; dan Kahin, 1970: 103-
104).
Sebagai gantinya pemerintah Jepang membentuk Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) pada tanggal 9
Maret 1943 dimana para pemimpinnya diambil dari tokoh-tokoh nasional yang populer dan
berpengaruh di kalangan rakyat Indonesia, antara lain Ir.
Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan K. H. Mas Mansur;
yang keempatnya dikenal sebagai “Empat
Serangkai”. Dengan menempatkan orang-orang tersebut sebagai
pimpinan Poetera, Jepang berharap dapat menggunakan pengaruh
mereka untuk mengerahkan potensi rakyat guna memenangkan perang di
Asia Pasifik; karena diperhitungkan, perang dengan pasukan sekutu akan
segera mendekati Pulau Jawa (Kahin, 1970:106). Tapi tidak lama
kemudian, Poetera pun bubarkan dan digantikan dengan Jawa
Hookookai (Gerakan Kebaktian Rakyat Jawa).
Untuk mengambil hati rakyat, Jepang melakukan berbagai cara pendekatan, misalnya: memberi
pelajaran baris berbaris kepada para pemuda, dengan membentuk sainendan dan keibodan. Di
samping itu juga pemerintah pendudukan Jepang membangun beberapa gedung sekolah ─ antara
lain di kota Serang dibangun sebuah Chugakko (SMP), di Pandeglang dibangun sebuah Sihan
gakko (Sekolah Guru) dan sebuah Nogyo gakko (Sekolah Menengah Pertanian Pertama) (Asia
Raya, 20 Oktober 1942 dan Djajamihardja: Wawancara).
Program pendidikan yang dilakukan pemerintah pendudukan Jepang
bagi penduduk di Banten ─ sebagai usaha men-Jepang-kan penduduk ─
dilakukan lewat sekolah-sekolah yang para gurunya telah dipersiapkan
melalui kursus pendidikan guru yang "dipola" sesuai dengan
propaganda Jepang. Kursus untuk guru-guru ini diselenggarakan di
Jatinegara, Jakarta,
yang berlangsung selama dua sampai tiga bulan; gelombang pertamanya
mulai diselenggarakan pada bulan April 1942. Dalam kursus ini para
guru di samping mendapat pelajaran kependidikan juga diajarkan bahasa
Jepang, adat istiadat Jepang dan taiso (semacam senam pagi). Dari
karesidenan Banten di antaranya yang pernah mengikuti kursus guru
tersebut adalah: Sumintapura dari Pandeglang, Suwardilangi dari Serang
dan R.
Djajaroekmantara dari Lebak.
Untuk membantu pasukan-pasukan Jepang di medan pertempuran dibentuk Heiho, sebagai
prajurit pembantu. Dalam prakteknya, untuk mencari pemuda-pemuda yang akan dijadikan Heiho
ini, pemerintah pendudukan Jepang pun tidak jarang menggunakan cara paksaan. Pemuda-
pemuda Heiho ini dilatih secara kemiliteran dan ditempatkan dalam barak khusus yang diawasi
ketat oleh tentara Jepang. Para
> heiho ini dikirim ke front-front
pertempuran di luar tanah air, sehingga banyak pemuda Banten, yang
ikut dalam barisan heiho gugur dalam pertempuran di kepulauan
Salomon melawan tentara Sekutu.
Perubahan sosial politik mulai terasa setelah Jepang berkuasa selama satu tahun.
Sikap mereka yang semula ramah dan simpati berubah kejam, menekan
rakyat dengan berbagai peraturan ketat. Pemerintah melarang rakyat
mengibarkan bendera merah putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya
dan berkumpul lebih dari dua orang. Semua rakyat yang mempunyai
radio harus mendaftarkan di tempat-tempat dan waktu yang ditentukan
dalam Maklumat Kantor Besar Pemerintah Dai Nippon. Radio tersebut
harus dibawa ke kantor wedana setempat untuk dilak/disegel. Tujuannya
agar rakyat tidak mendengarkan berita dari luar negeri, terutama berita
yang menyangkut kedudukan Jepang dalam perang. Di antara peraturan-
peraturan itu, ada satu ketentuan yang sangat ditentang oleh para ulama,
yaitu kewajiban untuk melakukan seikerei yaitu membungkuk ke arah
timur untuk memberi hormat kepada Kaisar Jepang, yang dianggap dewa
matahari. Sikap tersebut oleh para ulama diartikan sebagai penyembahan
kepada selain Allah yang termasuk syirik (mempersekutukan Allah).
Penyembahan hanyalah kepada Allah, bukan kepada yang lain; apabila
sikap itu dilakukan kepada selain Allah maka termasuk syirik, dosa yang
terbesar dalam Islam.
2. Pembela Tanah Air (PETA)
Sejak Agustus 1943, inisiatif pertempuran Pasifik beralih ke pihak Sekutu. Di Pasifik Utara pihak
Sekutu telah mengusir tentara Jepang dari kepulauan Aleuten; di Pasifik Tengah armada Amerika
telah siap mendekati Philipina; di Pasifik Selatan pulau-pulau Guadalcanal dan New Georgia di
kepulauan Salomon telah dikuasai Sekutu; di Pasifik Barat, pulau Papua juga telah didarati
pasukan Sekutu; bahkan beberapa pulau di Indonesia Timur telah mengalami serangan udara
Sekutu. Sehingga otomatis kedudukan Jepang di Indonesia terancam, sedangkan kekuatan tentara
Jepang sudah mengalami kemunduran, sehingga diperlukan tambahan tenaga Heiho yang sudah
tidak mencukupi lagi. Dalam pada itu, semangat patriotisme pemuda Indonesia yang sudah dapat
bersatu, menginginkan adanya "pasukan" yang
menguasai bidang kemiliteran, dan semua anggotanya berasal dari orang
menguasai bidang kemiliteran, dan semua anggotanya berasal dari orang
Indonesia sendiri, dengan harapan dapat memperoleh kemerdekaan
Indonesia.
Melihat situasi yang dialami tentara Jepang yang dalam keadaan terdesak itu, Gatot
Mangkuprojo, salah seorang aktifis pergerakan, pada tanggal 7 September 1943 mengirimkan
surat kepada Saiko Sakikan (panglima tertinggi) dan Gunseikan (kepala pemerintahan militer)
Jepang, yang isinya tentang permohonan pembentukan Jawa kyodo bo ei gyugun (pasukan
sukarela untuk membela tanah Jawa); dengan alasan untuk membantu tentara Jepang dalam
mempertahankan pulau Jawa dari serangan pasukan Sekutu. Pada tanggal 3 Oktober 1943
permohonan dikabulkan oleh pemerintah militer Jepang.
Demikianlah pada tanggal tersebut Gunsireikan (Panglima Tentara XVI)
Letjen Kumakici Harada mengeluarkan sebuah peraturan yang dikenal
dengan nama Osamu Seirei no. 44, yang berjudul "Pembentukan pasukan
sukarela untuk membela tanah Jawa"; yang selanjutnya disebut Pembela
Tanah Air (PETA) (Panitia, 1985: 55).
Pembentukan PETA dimulai dengan memilih calon-calon perwira, yakni calon untuk
shoodancho (komandan peleton), cudancho (komandan kompi), dan daidancho (komandan
batalyon).
a. Untuk calon shodancho umumnya diambil pemuda-pemuda yang baru saja selesai
sekolah dan belum bekerja.
b. Untuk calon cudancho diambil dari masyarakat yang sudah mempunyai kedudukan,
seperti guru, pegawai pamongpraja, dan pegawai lain.
c. Untuk calon daidancho umumnya dipilih dari tokoh masyarakat yang mempunyai
pengaruh luas di daerah setempat.
Untuk calon perwira PETA ini didirikan tempat-tempat pelatihan yang disebut Jawa bo ei
gyugun kanbu rensentai (korps latihan pemimpin tentara sukarela pembela tanah air di Jawa),
disingkat rensentai, dan kemudian berganti nama menjadi Jawa bo ei gyugun kanbu kyoikutai
disingkat kyoikutai.
Pemusatan pelatihan untuk perwira wilayah Jawa dan Madura terletak di
Bogor
>, sedangkan untuk tingkat budancho (bintara) diselenggarakan di
Cimahi, Jawa Barat, dan Magelang, Jawa Tengah; dengan lama latihan
antara dua bulan sampai lima
> bulan, sesuai dengan kepangkatannya.
Untuk membantu dan mengawasi keadaan gerakan PETA, di setiap
daidan ditempatkan beberapa orang perwira, bintara, dan tamtama
Jepang, sebagai penasihat dan pengawas. Dalam waktu singkat,
berdirilah di daerah-daerah kesatuan PETA di bawah pimpinan perwira-
perwira muda. Hal ini menambah rasa harga diri dan kebanggaan rakyat
yang menginginkan mempunyai angkatan perang sendiri. Hal lain yang
perlu dicatat adalah bahwa dalam organisasi PETA tidak ada "jenjang
karir", seperti pada ketentaraan
layaknya. Tidak ada persyaratan ijazah, kontrak kerja, bayangan gaji,
ataupun kenaikan pangkat. Motivasi pemuda waktu itu hanyalah
"semangat keinginan membela tanah air" dan "memperoleh keterampilan
kemiliteran" untuk nanti melepaskan diri dari belenggu penjajahan.
Tingkat kepangkatan dalam PETA ini terdiri dari: (1) Daidancho (komandan batalyon), (2)
Chudancho (komandan kompi), (3) Shodancho (komandan peleton), (4) Budancho (komandan
regu), dan (5) Giyuhei (prajurit sukarela).
Tentara PETA di Jawa secara organisatoris di bawah koordinasi 3 orang Ciku bo ei sireikan
(setingkat Kodam): (1) untuk wilayah Jawa Barat di bawah pimpinan Mayjen Mabuci dan
berkedudukan di Bandung, (2) wilayah Jawa Tengah dipimpin oleh Mayjen Nakamura
berkedudukan di Magelang, dan (3) wilayah Jawa Timur dipimpin oleh Mayjen Iwabe dan
berkedudukan di Surabaya (Nasution, 1982: 65-67).
Di wilayah Banten terbentuk 4 daidan, yang terdiri:
a. Dai ichi Daidan (batalyon I), dipimpin oleh K.H.
Tb. Ahmad Chatib, yang berkedudukan di Labuan.
b. Dai ni Daidan (batalyon II), dipimpin oleh Entol Oyong Ternaya, berkedudukan di
Kandangsapi, Malimping.
c. Dai san Daidan (batalyon III), dipimpin oleh K.H.
Syam'un, berkedudukan di Serang, dengan kompi-kompinya di Merak
dan Anyar.
d. Dai yon Daidan (batalyon IV), dipimpin oleh Uding Suriatmadja, berkedudukan di
Pandeglang ─ sebagai daidan cadangan (Panitia ... Naskah).
Di Serang dibentuk pula Yugeki tai (pasukan bawah tanah) merupakan pasukan khusus yang
tidak berseragam tentara, dan secara organisatoris berdiri sendiri. Anggotanya ada sekitar 27
orang yang dipimpin oleh Ali Amangku (shodancho), Umar Syarif (shodancho) dan
Kamaruzaman (shodancho). Tugas resmi mereka itu sebenarnya adalah untuk meneliti sikap
masyarakat terutama tokoh-tokohnya terhadap pemerintah Jepang. Tapi dalam prakteknya, para
yugeki inilah yang secara diam-diam mendekati para pelajar di sekolah untuk menumbuhkan rasa
kebangsaan kepada mereka, sehingga dari mereka itulah kemudian tumbuh TRIP (Tentara
Republik Indonesia Pelajar) (Djadjamihardja, Wawancara, 11 Nopember 1992).
3. Penderitaan Rakyat Selama Penjajahan Jepang
Setelah pasukan Jepang mengalami kekalahan terus-menerus dalam medan
> perang di Pasifik, pemenuhan
kebutuhan logistik tentara di garis belakang pun banyak mendapat
kesulitan.
Untuk mengatasi hal tersebut, Jepang berusaha merekrut penduduk dari
daerah-daerah kuasanya untuk dikerahkan dalam segala kegiatan
ekonomi dan perang. Rakyat. Melalui unit-unit desa terkecil masyarakat
diwajibkan mengumpulkan dan menyerahkan hasil bumi berupa padi,
karet dan sebagainya; dan juga barang-barang berharga lainnya seperti
emas, perak, intan, sampai dengan besi tua. Petani dipaksa untuk
menyerahkan hampir seluruh hasil panennya, di samping dibebani
kewajiban untuk menanam pohon jarak ─
yang dipakai sebagai bahan baku membuat minyak pelumas mesin. Padi
untuk persediaan makan habis dan beras sudah lama menghilang dari
pasaran. Akibat tindakan tentara Jepang semacam itu, penghidupan
rakyat menjadi semakin sengsara. Untuk memperoleh makanan pokok
seperti beras dan jagung saja mereka harus mempunyai "kartu tanda beli"
dari lurah. Penduduk harus antri berjam-jam hanya untuk mendapatkan
satu liter beras. Para pegawai pemerintah (dari bangsa Indonesia
>)
saja hanya dapat jatah dua kilogram untuk kebutuhan keluarganya
selama satu minggu. Sehingga untuk mengatasi kelaparan ini orang
terpaksa makan umbi-umbian seperti umbi jalar, ketela pohon dan talas,
bahkan tidak jarang ada yang makan pokok batang pisang (gedebong)
atau umbut batang nipah. Kerena keadaan kurangnya persedian pangan
dan kondisi yang sangat menyedihkan ini, banyak penduduk yang sakit
berat dan meninggal disebabkan kelaparan dan kekurangan gizi.
Penyakit kolera, malaria, busung lapar dan penyakit cacar mewabah serta
banyak menelan korban (Soeara Merdeka, 28
Oktober 1945).
Bahan pakaian pun sulit diperoleh, sehingga penduduk terpaksa memanfaatkan bahan kelambu,
seprei atau gorden yang masih dapat dipakai. Bahkan di pedesaan keadaannya lebih sulit lagi,
banyak penduduk desa yang mengunakan bahan bekas karung goni atau lembaran karet sebagai
bahan penutup tubuh.
Akibatnya banyak yang menderita penyakit borok karena gigitan kutu
atau karena lekatnya baju karet itu dengan kulit tubuh si pemakai.
Yang paling mengenaskan bagi penduduk adalah kewajiban untuk menjadi romusha, yaitu
pekerja kasar yang bekerja untuk kepentingan perang dan tidak mendapat bayaran ─ semacam
pekerja rodi pada masa Belanda. Di samping kekurangan makanan, penginapan dan kebebasan,
para romusha ini diperintahkan untuk bekerja keras tanpa henti, seperti layaknya budak belian.
Tragisnya, oleh pemerintah Jepang, para romusha itu dijuluki "pahlawan ekonomi".
Para romusha inilah yang dikerahkan untuk pembuatan jalan kereta api dari Seketi ke Bayah,
pembuatan lapangan terbang Gorda, pembuatan basis pertahanan di Pulau Panaitan, penggalian
batu bara di Bayah, Banten Selatan. Untuk menggambarkan bagaimana keadaan para "pahlawan
ekonomi" ini, dapat dilihat dari keadaan para romusha di pertambangan batubara di Bayah
Kozan. Tenaga mereka diperas
habis-habisan, sementara kesejahteraannya tidak diperhatikan
pemerintah.
Mereka ditempatkan di bedeng-bedeng kecil yang tidak berdinding dan
hanya beratapkan daun kirai (sejenis daun enau atau aren) sebagai
penahan air hujan dan segatan matahari. Makanan yang disediakan
dijatah sangat terbatas, masing-masing mereka hanya mendapat 2 ons
beras per hari setiap orang (Tan Malaka t.t. :53). Karena tindakan tentara
pendudukan Jepang di luar batas nilai-nilai kemanusiaan itu, beribu-ribu
romusha meninggal di tempat mereka bekerja. Sepanjang jalan antara
Saketi dan Bayah ditemui banyak mayat para romusha yang tergeletak
begitu saja di pinggir jalan. Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi
sepanjang jalan kereta api dari Saketi sampai Bayah, atau dalam
pembuatan lapangan udara di Gorda, Cikande (Sudiro, 1979:).
Disamping itu, untuk keperluan memelihara "semangat bertempur" di kalangan tentara Jepang,
mereka mendirikan "tempat-tempat rekreasi" ─
lebih tepat disebut rumah bordil ─ yang didirikan di beberapa kota
>. Di
tempat-tempat semacam itulah disediakan jugun ianfu, yaitu wanita
penghibur yang mengikuti tentara Jepang; atau dalam arti yang
sebenarnya adalah wanita-wanita pelacur, yang disiapkan untuk
penghibur dan pemuas seks tentara Jepang. Untuk mendapatkan jugun
ianfu ini ditempuh dengan berbagai cara, baik dengan tipuan halus ─
misalnya dengan bujukan untuk disekolahkan di Singapura, dan lain-lain
─ ataupun dengan kekerasan; misalnya ancaman keluarganya akan
dijadikan romusha.
Beribu-ribu gadis muda Indonesia dipaksa untuk melayani kebutuhan
seksual tentara Jepang ini, seperti layaknya budak seks. Sebagai
gambaran yang jelas tentang banyaknya jugun ianfu ini, gadis-gadis
Korea yang dipaksa untuk pekerjaan itu diperkirakan lebih dari 200.000
orang. Dan tidak jarang terjadi kekerasan bagi gadis yang menolak
melayani tentara Jepang itu; ia dihukum dengan cara mengikatkan leher
dan keempat anggota tubuhnya ke lima ekor kuda yang menariknya ke
arah yang berlawanan. Malahan bagi jugun ianfu yang ketahuan telah
mengidap penyakit kotor dibakar hidup-hidup atau diledakkan dengan
granat. Para wanita ini dibawa kemana tentara Jepang itu dikirim,
berkeliling sampai ke Cina, Asia Tenggara, bahkan sampai ke Rabaul di
Papua Nugini, salah satu pangkalan militer Jepang. Di antara para jugun
ianfu yang selamat dari kekejaman tentara Jepang pun banyak yang
akhirnya bernasib sangat mengenaskan: mati bunuh diri atau menjadi
gila (Tempo, No. 21/XXII, 25 Juli 1992).
Di Serang, para jugun ianfu itu ─ oleh penduduk setempat disebut "jobong jepang" ─
ditempatkan di beberapa hotel, bar, rumah
peristirahatan perwira, dan di dekat tangsi militer Jepang; misalnya di
perumahan perwira di Cirendong, di Kantin atau di tempat perisrahatan
tamu penting (sekarang rumah dinas Danrem). Biasanya, untuk
menghindari timbulnya emosi masyarakat, para jugun ianfu tidak
ditempatkan di daerah asalnya, melainkan ditukar-tempat; misalnya
gadis asal Serang ditempatkan di Bogor, demikian juga sebaliknya.
Anak-anak pelajar Sekolah Rakyat (SR), setiap hari sebelum masuk kelas, diharuskan melakukan
sinkerei yang dilanjutkan dengan taiso. Kemudian setiap hari Senin, sambil mengibarkan bendera
Jepang mereka menyanyikan lagu Kimigayo. Hari-hari berikutnya, para siswa ini diharuskan
mencari bebangah dan menanam pohon jarak, yang hasilnya nanti dikumpulkan di tiap-tiap
sekolah untuk keperluan Jepang. Orang-orang kampung diintruksikan untuk membuat lobang-
lobang perlindungan, misalnya di pinggir Kalibanten (Cibanten), berupa gua-gua sedalam 2
meter lebar dan tinggi 1 meter. Gua-gua perlindungan ini digunakan sebagai tempat
perlindungan, dimana anak-anak dibekali karet untuk digigit bilamana sirine dibunyikan.
Begitulah gambaran suasana yang mencengkam dalam saat transisi selama 3,5 tahun.
4. Reaksi Rakyat Terhadap Pemerintah Pendudukan Jepang
Karena tindakan kejam dari pemerintah pendudukan Jepang yang di luar batas kemanusiaan itu,
kepercayaan bangsa Indonesia
> kepada “niat baik”
Jepang, dengan semboyan "Perang Suci di Asia Timur Raya", mulai
sirna. Perlawanan bersenjata timbul di beberapa daerah; baik secara
terang-terangan seperti yang dilakukan oleh Kiyai Zaenal Mustafa di
Singaparna ─ karena menentang upacara sinkerei ─ dan
pemberontakan PETA di Blitar, ataupun perlawanan di bawah tanah
seperti yang dilakukan oleh kelompok pemuda perjuangan (Kahin, 1970:
11-112).
Rakyat di Caringin, sebuah desa di dekat Labuan, dengan dipimpin kyai-kyai dan pemuka
masyarakat merencanakan mengadakan pemberontakan kepada penguasa militer Jepang.
Rencana itu sempat tercium oleh kempetai, sehingga pemberontakan itu dapat digagalkan. Para
> kyai dan pemimpin perencana pemberontakan itu
ditumpas secara kejam sampai ke akar-akarnya.
Di daerah Serang, sejak awal pendudukan Jepang sudah ada gerakan bawah tanah yang
menentang fasisme ini, yaitu Gerakan Djojobojo yang dibentuk pada tahun 1941. Organisasi ini
berpusat di Jalan Semar, Bandung
>, yang dipimpin oleh seorang tokoh
komunis Mr. Muhammad Yusuf. Cabangnya yang ada di Serang
dipimpin oleh Ce Mamat yang sekaligus mendapat wewenang untuk
menangani masalah di karesidenan Banten, Tangerang dan Jakarta.
Kegiatan organisasi ini terutama banyak dilakukan di kalangan buruh
minyak dan buruh perkebunan, dimana mereka melakukan taktik
sabotase misalnya dengan membongkar rel kereta api antara Banjar dan
Pangandaran, yang mengakibatkan tergulingnya kereta api militer
Jepang pada awal tahun 1943
(Kertapati, 1961: 18-19).
Pada akhir tahun 1943, Gerakan Djojobojo tercium oleh pemerintah Jepang. Para
> tokohnya ditangkap dan bahkan ada yang dihukum
mati. Tokoh Haji Sinting dari Kaujon, Serang, tertangkap dan dijatuhi
hukuman tembak. Ce Mamat sendiri tertangkap di Serang kemudian
dibawa ke markas kempetai (polisi militer) Serang, kemudian
dipindahkan ke markas pusat kempetai di jalan Tanah Abang III, Jakarta
>, dan baru dibebaskan pada tanggal
19 Agustus 1945.
Pada tahun 1944 bermunculan organisasi pemuda, yang pada umumnya merupakan cabang yang
berpusat di Jakarta; misalnya Hizbullah, Sabilillah, Lasykar Wanita Indonesia, Barisan Pelopor,
Barisan Banteng dan Barisan Indonesia Merdeka (Bima). Organisasi yang disebut terakhir ini
merupakan kegiatan di bawah tanah, yang dalam menyampaikan informasi kepada anggotanya
dilakukan secara berantai semacam sel sistem. Menurut Ayip Dzuhri, bekas tokoh pemuda di
Serang, kegiatan Bima ini sebenarnya diujudkan untuk merongrong pemerintah pendudukan
Jepang, misalnya melakukan sabotase dan lain-lain.
Sedangkan Barisan Pelopor, merupakan organisasi bentukan Jepang, yang didirikan pada tanggal
1 Maret 1944. Cabangnya di Serang diketuai oleh Ayip Dzuhri ─
yang juga menjadi anggota Bima. Menurut Sudiro (1979:4) tujuan utama
dari Barisan Pelopor ini adalah sebagai kaderisasi pemuda dan aksi
massa
>. Dalam waktu
yang hampir bersamaan, didirikan pula organisasi Barisan Banteng ─
cabangnya di Serang dipimpin Ayip Dzuhri dan Abduhadi. Organisasi
cabangnya di Serang dipimpin Ayip Dzuhri dan Abduhadi. Organisasi
ini bertujuan untuk menanamkan semangat kebangsaan. Dalam waktu
yang relatif singkat Barisan Banteng ini banyak mendapat simpati
masyarakat terutama dari kalangan pemuda. Gambar kepala banteng
yang mereka pakai di ikat kepala, baju atau senjata (berupa tombak),
adalah sebagai lambang menolak kerja sama dengan Jepang (Rasyidi,
1979:15). Karena Barisan Banteng menunjukkan sikap yang menentang
pemerintahan Jepang, maka organisasi ini pernah dibubarkan. Tapi sejak
tanggal 3 Nigatsu 2603 (1943) latihan-latihan dibolehkan lagi dengan
beberapa syarat. Walaupun Barisan Pelopor dan Barisan Banteng
merupakan organisasi di bawah naungan pemerintah pendudukan
Jepang, namun dalam kegiatannya tidak luput dari hasrat menanamkan
dan mengobarkan semangat kebangsaan yang dilakukan secara
sembunyi-sembunyi oleh para pemimpinnya.
Organisasi pemuda lain yang juga berperan dalam menyambut kemerdekaan Indonesia adalah
Angkatan Pemuda Indonesia (API) yaitu badan perjuangan yang bernaung di bawah Komite van
Aksi yang bermarkas di Menteng Raya 31, Jakarta, dipimpin oleh tokoh-tokoh pemuda seperti
Adam Malik, Sukarni, M. Nitimiharjo, dan lain-lain. Di Serang, organisasi perjuangan API ini
dipimpin oleh Ali Amangku, yang juga sebagai pimpinan Yugekitai. Organisasi inilah yang
kemudian menggerakkan pemuda-pemuda Serang untuk mempersiapkan dirinya dalam merebut
markas kempetai di Serang pada tanggal 10 Oktober 1945.
[1] Walaupun VOC adalah suatu perkumpulan dagang, namun pada tahun
1602 pemerintah Belanda mewajibkan untuk menyebarkan agama Kristen
kepada penduduk bumi putera, meski pun dengan cara pemaksaan ─
seperti juga Portugis dan Spanyol. Hal ini terlihat dengan dikeluarkannya
larangan melaksanakan ibadah haji bagi penduduk Nusantara pada tahun 1662
oleh Gubernur Jendral VOC. Penyebaran agama Kristen di kawasan ini berjalan
seiring dengan perluasan penjajahan, karena "zending Kristen harus dianggap
seiring dengan perluasan penjajahan, karena "zending Kristen harus dianggap
sebagai faktor penting bagi proses penjajahan", bahkan "perluasan
kolonial dan ekspansi agama merupakan gejala simbiose yang paling
menunjang" (Suminto, 1985:17 dan 18).
[2] Menurut Ketetapan Umum
Perundang-undangan (Algemeene Bepaling van Welgeving) tahun 1849,
golongan Kristen termasuk kategori Eropa, penduduk pribumi yang beragama
Kristen menikmati hak hukum yang sama dengan saudara-saudara mereka
seagama di kalangan bangsa Eropa. Di samping itu bumiputra pemeluk agama
Kristen menikmati beberapa keuntungan dari pemerintah kolonial, umpamanya
dalam mencari lapangan kerja serta dalam memperoleh kenaikan pangkat, atau
mudahnya memasuki sekolah Eropa bagi anak-anaknya. Untuk lebih mengetahui
tentang politik Kristenisasi kolonial Belanda, terdapat dalam Suminto (1985),
Natsir (1973), Noer (1982).
[3] Untuk menangkap Mas Jakaria ini, pemerintah kolonial menjanjikan hadiah
seribu piaster Spanyol kepada siapa saja yang dapat menangkapnya hidup atau
mati. Beberapa bulan setelah mengadakan serbuan ke Pandeglang itu, Mas
Jakaria dapat ditangkap dan dihukum mati dengan dipenggal kepalanya dan
mayatnya dibakar. Dalam tradisi sejarah Banten, Mas Jakaria ─ yang dihormati
dan dikeramatkan penduduk setempat ─
adalah masih keturunan dari Kiyai Santri, yang kuburannya di Kolle, dan dari
anak keturunan Mas Jakaria ini muncul pemimpin-pemimpin
"pemberontakan" yang banyak merepotkan penjajah.
[4] Menurut rekaman PAA. Djajadiningrat, terbunuhnya Raden
Tjakradiningrat itu, adalah ketika ia akan mencoba bermusyawarah dengan para
pejuang (peroesoeh). Namun di antara mereka terdapat seorang tahanan-titipan
kasus pencurian ─ hasil tangkapan Wedana
Tjangradiningrat ─ yang sedang menunggu putusan perkara, yang bernama
Kasidin. Kasidin keluar penjara ketika penjara dijebol para pejuang. Ketika
Tjakradiningrat mendatangi tempat kerusuhan dan dikepung oleh para pejuang
terdengar suara: ' ... djangan dianiaja jang seorang itoe, ia tidak berdosa !', tapi
Kasidin yang ada pada kerumunan tersebut, melompat ke muka sambil berkata: '
Kasidin yang ada pada kerumunan tersebut, melompat ke muka sambil berkata: '
... ini jang mesti didahoeloekan !' dan pada saat berikutnya Kasidin memarang
leher Wedana Tjakradiningrat (PPA. Djajadiningrat. 1936:56).
[5] K.H. Samanhoeddi, pendiri organisasi ini dan Tamar Djaja (dalam Deliar
Noer, 1985:115) menyatakan bahwa permulaan lahirnya Sarikat Dagang Islam
(SDI) terjadi tujuh tahun sebelumnya, yakni tanggal 16 Oktober 1905.
[6] Kebencian yang mendalam pada para ulama Islam kepada penjajah
Belanda di samping faktor penderitaan rakyat akibat penjajahan juga karena
politik pemurtadan ummat dan pembatasan keleluasaan untuk mengamalkan
ajaran agama Islam bagi pemeluknya. Sehingga setiap tumbuh gerakan yang
menentang pemerintahan penjajah, para ulama beserta pengikutnya akan
membantu pemberontakan itu. Rencana pemberontakan PKI terhadap kolonial
Belanda ini dijadikan "moment" penting pelampiasan kebencian ulama kepada
pemerintah, tanpa melihat ideologi atheis yang lekat pada PKI ─
bukan berarti para ulama itu juga berideologikan komunis.
[7] Walaupun minyak dianggap sebagai faktor yang menentukan bagi
keputusan Jepang untuk melancarkan perang pada akhir tahun 1941, namun
Nugroho Notosusanto (1977:17) mengatakan bahwa motivasi "ideologi" lebih
besar dari pada hanya usaha memperoleh minyak.
BAB VI
MASA AWAL
KEMERDEKAAN
Bom atom yang dijatuhkan Sekutu di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1942 dan
tiga hari kemudian di kota Nagasaki, membuat kaisar Jepang, Hirohito, terpaksa menyerah
tanpa syarat dan mengakui kekalahannya dalam Perang Dunia II, pada tanggal 14 Agustus
1945. Berita mengenai penyerahan Jepang ini segera menyebar ke seluruh dunia. Tetapi berita
ini rupanya sengaja diperlambat penyiarannya bagi daerah pendudukan Jepang. Walau
demikian, berita kekalahan dan bertekuk-lututnya Jepang atas Sekutu itu pun segera diketahui
oleh pegawai kantor berita Jepang Domei, di Jakarta, pada tanggal 15 Agustus 1945, yang
kemudian menyampaikannya kepada pimpinan pergerakan. Mendengar berita tersebut para
pemuda mengambil inisiatif, mendesak para tokoh masyarakat supaya secepatnya merebut
kemerdekaan Indonesia dari tangan Jepang, sebelum Indonesia menjadi pampasan perang
pihak Jepang kepada Sekutu. Ketika berita besar ini disampaikan oleh beberapa wartawan
Indonesia kepada pemimpin Jawa Hoo-kookai, mereka tidak percaya bahwa Jepang akan
menyerah begitu saja. Keadaan inilah yang menyebabkan para pemuda -- antara lain Khaerul
Saleh, Sukarni, Jusuf Kunto, Singgih, dll. -- terpaksa "menculik" Bung Karno dan Bung Hatta
ke Rengas Dengklok untuk segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia[1]. Karena ketidak-
percayaan tentang menyerahnya Jepang dan "kehati-hatian" kedua pemimpin besar pergerakan
itu, barulah dua hari kemudian, pada hari Jum'at, 17 Agustus 1945 jam 4.00 menjelang sahur,
dengan disaksikan oleh Sukarni, Khairul Saleh, Mr. Ahmad Subarjo, Mr. Iwa
Kusumasumantri, Sudiro, BM. Diah, Sayuti Melik dan Semaun Bakri, naskah proklamasi
kemerdekaan ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta, atas nama rakyat Indonesia di
Orange Nassau-boulevard, Jakarta, rumah Laksamana Maeda. Dan pada pukul 10.00 WIB
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan dari jalan Pegangsaan Timur 56, tempat
kediaman Bung Karno, dengan disaksikan oleh beribu-ribu masyarakat Jakarta (Malik, 1975:
66). Berita proklamasi kemerdekaan ini pun berhasil diselundupkan untuk disiarkan ke seluruh
dunia melalui kantor berita Domei dan Hosho Kyoku (RRI sekarang).
Pada sidang pertama tanggal 18 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(PPKI) memutuskan: (1) mengesahkan Undang-Undang Dasar Negara RI, (2) mengangkat/
menetapkan Ir. Sukarno sebagai Presiden RI dan Drs. Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden, dan
(3) menetapkan bahwa, untuk sementara, pekerjaan presiden dibantu oleh Komite Nasional
sampai terbentuknya MPR/DPR. Pada sidang PPKI tanggal 19 Agustus 1945 diputuskan untuk
segera membentuk tentara kebangsaan, tapi karena alasan "kehati-hatian" pula, keputusan ini
dibatalkan dengan hanya membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada sidang ketiga
tanggal 22 Agustus 1945 (Yamin, 1969: 339)[2]. Pada sidang yang ketiga ini pula berhasil
dibentuk Komite Nasional Indonesia (KNI), yang kemudian dilantik pada sidang selanjutnya,
pada tanggal 29 Agustus 1945. Dengan dibantu Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP),
pada tanggal 4 September 1945, terbentuklah kabinet presidentil pertama terdiri dari 12
kementrian dan 5 orang mentri negara.
Rapat pertama KNIP pada tanggal 16-17 Oktober 1945, menetapkan Sutan Syahrir
sebagai ketua KNIP. Dan melalui Maklumat Pemerintah No. 10/1945 ditetapkan pula bahwa
KNIP sebelum terbentuk MPR dan DPR diserahi tugas untuk menyusun GBHN; dan
berhubung situasi genting, maka pekerjaan KNIP sehari-hari dibantu oleh Badan Pekerja yang
dipilih dari anggota KNIP itu sendiri dan juga bertanggung jawab pada KNIP. Dengan adanya
kekuasaan besar tersebut, melalui keputusan KNIP pada tanggal 26 Nopember 1945, Sutan
Syahrir mengajukan usulan untuk mengadakan perubahan dalam susunan pemerintahan. Hal
ini berarti runtuhnya Kabinet pertama, dengan mengganti Kabinet Presidenter menjadi Kabinet
Parlementer yang bertanggung jawab. Akhirnya melalui Keputusan Presiden, Sutan Syahrir
ditunjuk sebagai Perdana Menteri. Walaupun perubahan ini bertentangan dengan Undang
Undang Dasar namun karena KNIP "dianggap" sebagai MPR (yang belum terbentuk) maka
keputusan KNIP pun dianggap sah saja (Malik, 1984: 75-76).
Dalam pada itu, pasukan Sekutu, sebagai pemenang dalam Perang Dunia II, sesuai
dengan perjanjian Potsdam, Juli 1945, menugaskan pasukan Inggris untuk "menormalisasi"
keadaan di Asia Tenggara.? Tugas-tugas South East Asia Command (SEAC) itu adalah:
mengembalikan tentara Jepang -- yang di Indonesia berjumlah 283.000 orang -- ke tempat
asalnya, membebaskan tawanan perang Sekutu, memulihkan keamanan di Asia Tenggara dan
mengembalikan daerah tersebut kepada pemiliknya masing-masing. Dalam hal ini, Indonesia
dikembalikan kepada Belanda; Indo-China kepada Perancis; Semenanjung Melayu, Singapura
dan bagian utara Kalimantan kepada Inggris; dan Timor Timur kepada Portugis (Malik,
1984:30).
Pada tanggal 29 September 1945 pasukan Inggris dengan panglimanya Letnan Jenderal
Sir Philips Christison mendarat di Jakarta, Semarang dan Surabaya. Dari daerah-daerah ini
mereka bergerak ke pemusatan tentara Jepang yang terletak di beberapa kota sekitar. Bersama
dengan pasukan Inggris tersebut, pasukan Belanda -- yang menamakan diri Netherlands Indies
Civil Administration (NICA), Badan Urusan Sipil Hindia Belanda -- yang direncanakan akan
menerima kembali kekuasaan sipil di Indonesia dari tentara Inggris, dipimpin oleh Van Mooks
dan Van der Plas. Masuknya tentara NICA ini hampir selalu menimbulkan kekacauan di semua
kota yang didarati tentara Inggris. Hal ini disebabkan karena teror dan kekacauan yang sengaja
ditimbulkan oleh tentara NICA. Di kota Jakarta misalnya hampir setiap hari pasukan NICA
mengadakan penculikan dan pembunuhan pada pemuda Indonesia; dan pasukan Sekutu tidak
dapat berbuat banyak (Soeroyo, 1988:58 dan Sudirdjo, ed., 1985:39).
A. PENYERANGAN MARKAS KEMPETAI DI SERANG
Berita tentang kekalahan Jepang dan disusul dengan Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia, baru dapat diterima dan disebarkan kepada penduduk di kota Serang pada tanggal
20 Agustus 1945 oleh Pandu Kartawiguna, Ibnu Parna, Abdul Muluk dan Ajiz. Mereka adalah
pemuda dari Jakarta yang diutus oleh Chaerul Saleh untuk menyiarkan berita tentang
proklamasi kemerdekaan Indonesia ke daerah Banten. Berita besar ini terutama disampaikan
kepada tokoh masyarakat Serang seperti : K.H. Ahmad Khatib, K.H. Syam'un dan Zulkarnain
Surya, serta para tokoh pemuda seperti: Ali Amangku dan Ayip Dzuhri, dengan maksud agar
mereka meneruskan berita itu secara berantai kepada seluruh masyarakat di karesidenan
Banten (Sandjadirdja, Naskah).
Chaerul Saleh juga mengamanatkan agar para tokoh pemuda di Serang segera merebut
kekuasaan dari penguasa militer Jepang. Maka pada tanggal 22 Agustus 1945 beberapa
pemuda, di antaranya pemudi Sri Sahuli, pegawai kantor sosial pemerintahan Jepang, berani
memprakarsai penurunan bendera Jepang yang ada di Hotel Vos, Serang (sekarang kantor
Kodim Serang). Peristiwa ini disusul dengan penurunan bendera di kantor-kantor pemerintah
Jepang lainnya pada keesokan harinya.
Adanya gelagat penurunan bendera ini menunjukkan bahwa para pemuda semakin
berani bertindak dan mulai giat menggerakkan kekuatan rakyat untuk melucuti serdadu Jepang
dan merebut kekuasaan pemerintahan dari tangan orang-orang Jepang. Melihat kejadian itu,
maka banyak orang Jepang Sakura[3] mulai meninggalkan Serang menuju ke Jakarta.
Syucokan (Residen) Banten Yuki Yoshii menyerahkan jabatannya kepada Fuku-syuchokan
(Wakil residen) Raden Tirtasujatna. Sedangkan orang-orang Jepang militer masih tetap berada
di pos-pos mereka di Gorda, Sajira dan Anyer untuk melaksanakan perintah Sekutu supaya
tetap menjaga status quo.
Di samping orang-orang Jepang Sakura, beberapa pamongpraja yang berasal dari
daerah Priyangan pun banyak yang pergi meninggalkan Banten. Kepergian mereka bukan
berarti mereka setia kepada Jepang, akan tetapi ia merasa takut menjadi sasaran luapan
kemarahan rakyat karena bekas pejabat kolonial yang tidak disenangi; termasuk juga Raden
Tirtasujatna yang baru menerima penyerahan jabatan dari Yuki Yoshii pun melarikan diri ke
Bogor, meskipun sebenarnya ia telah ditunjuk oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai
Residen Banten.
Sejak Residen Tirtasujatna melarikan diri dari Banten, jabatan Residen menjadi kosong,
sedangkan waktu itu belum ada penunjukan sebagai gantinya. Semetara itu pemerintah pusat di
Jakarta secara resmi telah mengumumkan pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat
(KNIP) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Kedua badan tersebut dibentuk pada tanggal 23
Agustus 1945 sebagai organisasi resmi yang membantu aparatur pemerintah dalam menangani
bidang politik, militer dan keuangan negara. Kepada setiap daerah diintruksikan supaya segera
membentuk KNI dan BKR (Nasution, 1970: 144-145). Di daerah Banten kedua badan tersebut
belum dapat terbentuk, hal ini disebabkan antara lain karena pucuk pimpinan pemerintah yang
resmi di daerah yakni Residen belum ada; sedangkan pejabat tinggi lain yaitu Bupati Raden
Hilman Djajadiningrat, tidak berani mengambil alih tanggung jawab Residen (Sandjadirdja,
Naskah).
Dalam situasi yang tidak menentu itu hanya kelompok pemudalah yang berani bergerak
dan mengambil inisiatif untuk melucuti orang-orang Jepang yang berada di Serang dan
sekitarnya. Usaha tersebut diprakarsai oleh pemuda yang tergabung dalam suatu organisasi
yang diberi nama Angkatan Pemuda Indonesia (API). Organisasi ini dibentuk pada tanggal 1
September 1945 atas prakarsa Chaerul Saleh didukung oleh pemuda Menteng 31 yang tidak
puas atas tindakan pemerintah karena dirasa lambat menangani pemindahan kekuasaan dari
Jepang. Organisasi API di Serang didirikan oleh pemuda ex. Yugekitai yang diketuai oleh Ali
Amangku, sedangkan pemimpin API putri adalah Sri Sahuli dan bermarkas di kampung
Kaujon Kalimati.
Atas desakan pemuda API maka pada pertengahan bulan September 1945, diadakan
perundingan dengan para tokoh masyarakat Kabupaten Serang, diantaranya: K.H. Ahmad
Khatib, K.H. Syam'un dan Zulkarnain Surya Kartalegawa. Perundingan ini dilaksanakan di
tempat kediaman Zulkarnain Surya Kartalegawa, di dekat Rumah Sakit Serang. Dalam
perundingan ini dibicarakan tentang pembagian tugas, khususnya dalam pemerintahan di
Banten. Hasil perundingan itu adalah (Amangku dan Soendjojo, Naskah):
1) Pengambilalihan kekuasaan Jepang diserahkan kepada Zulkarnain Surya
Kartalegawa.
2) Urusan keamanan diserahkan kepada K.H. Ahmad Khatib.
3) Urusan yang berhubungan dengan badan-badan atau organisasi perjuangan
pemuda diserahkan kepada Ali Amangku.
Dalam perundingan itu pun para pemuda mengusulkan kepada pemerintah Republik
Indonesia agar segera mengangkat K.H. Ahmad Khatib sebagai Residen Banten, yang
menangani administrasi dan pemerintahan sipil di Banten; dan K.H. Syam'un menangani
segala urusan militer.
Tokoh K.H. Ahmad Khatib adalah seorang ulama yang cukup disegani masyarakat. Ia
alumni pesantren Kadupiring, yang kemudian melanjutkan ke pesantren Caringin, keduanya
berada di Pandeglang. Semenjak remaja, putra Kiyai Waseh ini setelah berguru pada Kiyai
Asnawi (atau dikenal Kiyai Caringin) di Caringin, aktif dalam kegiatan pergerakan pemuda,
sehingga tahun 1920 menjadi ketua Syarikat Rakyat (SI) di Banten. Karena kepintaran dan
kecerdasannya Ahmad Khatib menjadi murid kesayangan dan bahkan dijadikan mantu Kiyai
Caringin. Yang paling menonjol pada K.H. Ahmad Khatib adalah sikapnya yang keras dan
tegas terhadap penjajah. Seperti juga gurunya, Kiyai Caringin -- yang menjadi salah seorang
pimpinan dalam pemberontakan komunis di Banten pada tahun 1926-1927 -- K.H. Ahmad
Khatib dibuang ke Boven Digul (Tanah Merah), Irian. Lima belas tahun kemudian, setelah
dibebaskan, ia kembali ke Serang dan aktif dalam bidang pendidikan agama, memimpin
pesantren mertuanya di Caringin (Benda and Ruth MacVey, 1969:45).
Sedangkan K.H. Syam'un adalah seorang ulama yang cukup disegani rakyat di Banten.
Tokoh kelahiran Citangkil, Cilegon, Serang ini adalah cucu dari K. H. Wasid, salah seorang
tokoh dalam peristiwa Geger Cilegon, yang kemudian dihukum gantung oleh Belanda.
Mencapai usia remaja, pemuda yatim piatu ini setelah tamat belajar di pesantren Teneng dan
pesantren Kamasan ini kemudian melanjutkan belajar ke Mekah, Saudi Arabia. Setelah lima
tahun (1905 - 1910) belajar di Mekah, kemudian Syam'un muda ini melanjutkan ke Al-Azhar
University, Cairo, Mesir. Beberapa tahun kemudian ia pergi kembali ke Mekah dan mengajar
di Masjidil-Haram. Belum genap satu tahun di Mekah, ia kembali pulang ke kampung
halamannya di Citangkil, Serang, sebagai guru agama Islam di pesantren yang ia dirikan pada
tahun 1925 (Rahmatullah, Wawancara, 4 Juni 1981).
Pada tanggal 19 September 1945, K.H. Ahmad Khatib resmi diangkat menjadi Residen
Banten oleh Presiden Soekarno. Untuk membantu kelancaran pemerintahan, K.H. Ahmad
Khatib menunjuk Zulkarnain Surja Kertalegawa sebagai Wakil Residen. Dan untuk jabatan
bupati di daerah Serang, Pandeglang dan Lebak, K.H. Ahmad Khatib meminta agar para bupati
lama, untuk sementara tetap dalam jabatannya dan meneruskan tugasnya sebagai Bupati;
dengan pertimbangan, dalam masa transisi, para bupati lamalah yang lebih mengetahui
administrasi pemerintahan di daerahnya. Para bupati itu adalah: Raden Hilman Djajadiningrat
(Bupati Serang), Mr. Djumhana (Bupati Pandeglang) dan Raden Hardiwinangun (Bupati
Lebak). Sedangkan jabatan-jabatan dalam badan KNI (Komite Nasional Indonesia) di setiap
kabupaten, masing-masing diserahkan kepada Ce Mamat untuk kabupaten Serang, Mohamad
Ali untuk kabupaten Pandeglang, dan Raden Djajarukmantara untuk kabupaten Lebak
(Nasution, 1977: 522-523).
K.H. Syam'un yang ditunjuk menangani bidang militer segera merealisir pembentukan
Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Karesidenan Banten. Anggota BKR ini terdiri dari bekas
anggota PETA, Heiho, Hizbullah, Sabilillah, API, dan lain-lain barisan kelasykaran. Susunan
organisasi BKR masih menggunakan bentuk yang terdapat dalam Daidan (kesatuan batalion)
pada PETA di masa pendudukan Jepang. Beberapa hari kemudian, terbentuk pula BKR-Laut
Banten yang diketuai oleh Gatot; terdiri dari 2 bagian: Armada Perikanan dan Pasukan
Marinir[4]. Pendirian BKR-Laut Banten disyahkan oleh K.H. Ahmad Khatib, Residen Banten,
dan K.H. Syam'un, Kepala BKR Serang (Letkol Ngaliman, Wawancara.)
Dalam hal persenjataan, pasukan BKR hanya memiliki beberapa senjata api saja untuk
sekian banyak anggotanya, karena dua hari sebelum proklamasi kemerdekaan RI para
pemimpin PETA (orang Jepang) sudah melucuti senjata anak buahnya[5]. Oleh sebab untuk
mendapatkan senjata yang diperlukan pasukan yang akan menjadi pasukan inti perjuangan
rakyat Banten, K.H. Syam'un menyusun suatu rencana untuk "meminta" dari pasukan Jepang.
Untuk keperluan itu K.H. Syam'un mengadakan perundingan dengan K.H. Ahmad Khatib,
yang kemudian disepakati untuk mencoba berunding dengan Kempetai di Serang, agar pihak
Jepang menyerahkan senjatanya kepada BKR. Perundingan dengan Kempetai ini dilakukan
sampai 2 kali. Pertama dilakukan pada tanggal 4 Oktober 1945 dengan mengutus Wakil
Residen Zulkarnain Suria Kartalegawa, karena dia mengerti bahasa Jepang dan pernah menjadi
fuku-syucokan (wakil residen) zaman Jepang. Perundingan pertama ini tidak memuaskan pihak
BKR, karena pihak Jepang minta agar perundingan dilakukan secara resmi, yang langsung
dihadiri Residen Banten. K.H. Khatib menyetujui usul ini. Karenanya perundingan dilakukan
lagi pada keesokan harinya, kali ini dihadiri langsung oleh Residen didampingi Wakil residen.
Hasil perundingan itu adalah bahwa pihak kempetai menyetujui usul K.H. Chatib
asalkan BKR dan residen bersedia menjamin keselamatan seluruh orang Jepang yang masih
ada di Karesidenan Banten. Berdasarkan persetujuan ini, maka Residen mengumumkan agar
semua orang Jepang yang masih berada di Karesidenan Banten segera berkumpul di kota
Serang, di markas Kempetai, selambat-lambatnya sebelum tangggal 9 Oktober 1945 untuk
diangkut ke Jakarta dengan pengawalan pasukan BKR (Amangku dan Soendjojo, Naskah).
Pada tanggal 7 Oktober 1945 pasukan marinir Angkatan Laut Jepang (Kaigun) yang
bermarkas di Anyer tiba di Serang dengan selamat tanpa gangguan amarah rakyat, karena
rakyat telah menerima pesan Ali Amangku agar mereka jangan mengganggu orang Jepang
yang menuju ke Serang[6]. Untuk mengumpulkan pasukan Jepang yang berada di Gorda dan
Sajira, pihak kempetai meminta bantuan BKR untuk mengawalnya, karena merasa khawatir
atas keselamatan mereka dari serbuan rakyat. Maka untuk menjemput pasukan kidobutai
(angkatan udara) Jepang di Gorda, diutuslah dua anggota BKR yaitu Sadheli dan Tb. Marzuki
dengan dikawal 10 orang dengan berpakaian dinas polisi istimewa, mengendarai dua buah
mobil yang masing-masing berisi 5 orang berangkat ke lapangan udara Gorda. Kedatangan
mereka disambut dengan baik, dan tanpa kesulitan semua tentara Jepang dikawal sampai di
markas kempetai; tetapi kendaraan truk yang memuat senjata dibelokkan ke markas BKR di
jalan Pamelan (markas Korem sekarang)[7]
Pada hari yang sama pula, pimpinan BKR mengutus Abdul Mukti dan Juhdi untuk
melakukan penjemputan pasukan Angkatan Darat Jepang (Rikugun) di Sajira, Rangkasbitung.
Untuk melaksanakan tugas itu, kedua utusan dikawal oleh 9 orang tentara Jepang. Sebelum
mereka sampai di tujuan, rombongan ini dihadang oleh rakyat di lintasan jalan kereta api
Warunggunung, Rangkasbitung. Dendam rakyat terhadap Jepang sudah tidak dapat
dikendalikan, sehingga melihat adanya iring-iringan tentara Jepang, rakyat menyerbu ke dalam
truk, dan, kesembilan serdadu Jepang ini semuanya dibunuh (Nasution, 1977:522). Abdul
Mukti dan Juhdi melarikan diri dan melaporkan kejadian itu kepada pimpinan BKR di Serang.
Keesokan harinya Tb. Kaking, seorang anggota BKR, dipanggil oleh perwira kempetai yang
pernah menjadi gurunya sewaktu latihan PETA. Dia diminta pertolongannya untuk menjemput
jenazah korban insiden Warunggunung. Tb. Kaking menyanggupi permintaan itu.[8] Maka
bersama dengan Emon dan beberapa orang pengawal, jenazah orang-orang Jepang itu dapat
diangkut ke Serang yang kemudian -- atas permintaan kempetai -- diperabukan secara massal
di Kuburan Cina, Kampung Kaloran, Serang (Panitia ..., Naskah; Djajamihardja, Wawancara,
9 Nopember 1992; Tb. Kaking, Wawancara, 30 Mei 1983; Ali Amangku, Wawancara, 2 Juni
1983).
Peristiwa pembunuhan terhadap orang-orang Jepang di Warunggung telah
mengecewakan kedua pihak, baik kempetai maupun BKR. Semuanya menyesalkan
kecerobohan tindakan pemuda Warunggunung itu. Dengan alasan terjadinya peristiwa
Warunggunung ini, pihak kempetai membatalkan persetujuannya untuk menyerahkan senjata
kepada BKR. Ali Amangku mencoba berunding lagi dengan perwira kempetai, tetapi
kedatangannya tidak dihiraukan oleh mereka. Bahkan Ali Amangku melihat kesibukan tentara
Jepang membuat barikade-barikade di sekeliling markas sebagai persiapan menghadapi suatu
serangan. Menyaksikan hal ini Ali Amangku menemui wakil residen, yang pada hari itu juga
dilaporkan kepada K.H. Sam'un, sebagai pimpinan BKR. Ketiga tokoh itu berunding, dan
diambil keputusan untuk segera menggempur markas kempetai yang terletak di sebelah barat
alun-alun kota Serang. Keputusan demikian mengandung resiko yang sangat
mengkhawatirkan, yaitu akan banyaknya korban yang jatuh dari pihak republik, mengingat
persenjataan BKR yang sangat sedikit. Hari itu juga, keputusan hasil rapat kilat tersebut
disebarkan kepada pimpinan pemuda, masyarakat dan para ulama sekabupaten Serang. Sore
harinya para pemimpin pasukan dari kecamatan-kecamatan Ciomas, Pabuaran, Baros,
Taktakan, Padarincang, Kramatwatu, Cilegon dan Ciruas datang ke kota Serang untuk
membicarakan rencana rinci penyerangan itu. Dan malam harinya diadakan perundingan di
markas BKR/API di Kaujon Kalimati, Serang.
Sebagai gambaran, markas kempetai di kota Serang terletak di sebelah selatan gedung
kabupaten, terdiri dari tiga gedung besar (sekarang dipergunakan sebagai Kantor Angkatan 45,
kantor kepolisian dan kantor Dokabu), dikelilingi oleh pohon-pohon karet besar. Sekitar
halaman, dipasangi kawat berduri tiga lapis dan pagar bambu gelondongan sehingga tidak
tembus oleh peluru karaben. Pintu masuk ke halaman markas hanya satu yang juga dihalang
barikade kawat berduri. Di beranda depan gedung yang tengah, ditempatkan satu regu tentara
penjaga bersenjata brengun, standgun dan karabeyn mitalyur. Di samping kiri pintu masuk
ditempatkan dua mitalyur yang dilindungi tumpukan karung pasir. Walaupun pasukan Jepang
yang ada di markas itu hanya sekitar 3 kompi, namun mereka memiliki persenjataan lengkap,
di samping kuatnya pertahanan.
Pertemuan para pemimpin ini berlangsung sampai pukul 3.00 dini hari, yang akhirnya
diputuskan bahwa penyerbuan ke markas kempetai akan dimulai setelah adzan subuh, yaitu
sekitar pukul 4.30, hari Kamis, tanggal 10 Oktober 1945. Untuk mengadakan serbuan ke
markas kempetai itu, disusunlah siasat dan strategi penyerangan sebagai berikut: Medan
pertempuran (palagan) dibagi menjadi 4 sektor yang masing-masing sektor dipimpin oleh
pemuda-pemuda bekas syudanco PETA; Iski memimpin sektor utara (depan), Zaenal Falah
memimpin sektor timur (samping kiri), Nunung Bakri memimpin sektor barat (samping
kanan), dan Salim Nonong memimpin sektor selatan (belakang). Sedangkan pasukan rakyat
dari luar kota Serang akan menempati daerah-daerah di sekitar markas kempetai, yaitu di
Kampung Dalung, Benggala, Kaujon dan Lontar. Penyerangan akan dimulai pada hari Kamis,
10 Oktober 1945/ 5 Zulkaidah 1365 H pukul 05.00 pagi; kode penyerangan akan dimulai
dengan pemadaman listrik di seluruh kota Serang dan diawali dengan tembakan keiki kanju
(karaben steyer berkaki dua) oleh Iski. Komando penyerangan dipegang oleh Ali Amangku.
Pada hari Rabu, 9 Oktober 1945, beberapa pemimpin pejuang rakyat yang bersenjata
dari seluruh peloksok Banten berdatangan ke markas BKR di kota Serang untuk meminta
intruksi penyerangan; diperkirakan massa rakyat dari beberapa daerah itu akan masuk kota
pada malam harinya. Penampungan para pejuang disiapkan; massa dari daerah Pandeglang dan
Lebak ditampung di Kampung Benggala, dari daerah Cilegon, Merak dan Anyer ditampung di
Lontar dan Kaloran, sedang massa yang datang dari Tangerang ditampung di sekitar daerah
Pegantungan. Ibu-ibu dan para remaja putri yang bertempat tinggal di kampung-kampung
sekitar markas kempetai, spontan ikut menyibukkan diri bergotong-royong membantu dengan
menyediakan makanan dan minuman bagi para pejuang. Di lokasi-lokasi strategis dan yang
dianggap aman di sekitar lokasi penyerbuan, mereka membuat beberapa dapur umum.
Masyarakat yang bertempat tinggal di sekitarnya pun tidak ketinggalan menyumbangkan
bahan-bahan makanan ke dapur umum. Penduduk yang tinggal di sekitar markas kempetai
diperintahkan untuk segera menyingkir dan mengosongkan rumahnya demi keselamatan
mereka.
Malam harinya, sekitar pukul 20.00 tanggal 9 Oktober 1945, berturut-turut datang
rombongan BKR serta pemuda-pemuda dari Kecamatan Ciomas, Pabuaran, Baros, Cilegon,
Padarincang, Ciruas, Mancak, Taktakan, dan Kramatwatu. Mereka semua berkumpul di asrama
Sekolah Guru di jalan Pamelan, Serang, yang sementara menjadi markas BKR (sekarang
markas Korem 064 Maulana Yusuf).
Sekitar pukul 4.30 pagi hari tanggal 10 Oktober 1945, seluruh pasukan telah siap di
tempat yang direncanakan. Pasukan yang berada di sektor utara dipimpin oleh Iski menjadi
barisan penyerang. Pasukan ini mengambil lokasi mulai dari perempatan Jalan Kantin
(sekarang Jalan Juhdi) sampai ke halaman gedung kabupaten Serang. Pasukan ini terdiri dari
anggota pilihan yang dipersenjatai dengan karaben Jepang, pistol dan granat tangan. Satu-
satunya keiki kanju yang dimiliki oleh BKR, ditempatkan pada sektor ini dan dipegang oleh
bekas budanco Juhdi, sebagai pendamping Iski. Sedangkan barisan-barisan pada ketiga sektor
lainnya berfungsi sebagai barisan pengepung dan penghadang musuh. Sektor barat mulai dari
halaman gedung karesidenan dan di sepanjang Kali Banten dipimpin oleh eks shodanco
Nunung Bakri dengan membawahi pasukan rakyat. Sektor selatan di sekitar kampung
Benggala, sepanjang sisi selatan alun-alun sampai ke batas Rumah Sakit Serang, dipimpin oleh
eks shodanco Salim Nonong; sektor barat dan selatan ini terdiri dari massa rakyat yang
kebanyakan bersenjatakan golok dan bambu runcing. Sedangkan barisan yang ada di sektor
timur dipimpin oleh bekas syudancho Zainal Falah dengan anggotanya terdiri dari para
pemuda eks bintara PETA, tetapi mereka pun hanya memiliki beberapa pucuk senjata api.
Setelah terdengar suara adzan subuh dari beberapa masjid, dan disusul dengan
pemadaman lampu-lampu di dalam kota, terdengar tembakan kode penyerangan oleh Iski,
maka dimulailah penyerangan ke markas kempetai. Dengan pekikan takbir "Allahu Akbar",
para pejuang sebelah timur mulai menembaki markas kempetai sambil maju menyerang. Dari
arah markas kempetai terdengar pula tembakan beruntun yang mengarah ke posisi penyerang,
maka terjadilah tembak-menembak berbalasan antara dua kubu yang berlawanan, dalam
suasana gelap. Karena pertahanan tentara Jepang yang begitu kuat, maka sulitlah bagi para
pejuang Banten untuk merebut markas kempetai ini. Sampai pukul 6.30 pertempuran
berlangsung tanpa henti, dan pihak pejuang belum berhasil mendekati gedung sasaran; karena
di sekitar markas kempetai itu dikelilingi lapangan terbuka -- sehingga apabila ada penyerang,
dengan mudah tentara Jepang menembakinya baik yang berusaha menyeberangi jembatan atau
yang merayap dari arah belakang gedung. Sekitar pukul 07.00, tersiar berita bahwa pemuda
Nunung Bakri, pemimpin sektor barat dan Juhdi dari sektor selatan telah gugur. Mendengar
berita gugurnya dua pemuda itu para pejuang baik dari BKR, lasykar rakyat dan pemuda,
semakin beringas dan menjadi "nekad", mereka hendak menyerang kubu musuh dari jarak
dekat, walau harus menebusnya dengan nyawa. Beberapa pemuda yang tidak tahan menahan
amarahnya lalu meninggalkan pasukan dan menyerang markas kempetai dalam jarak dekat.
Namun belum mencapai jarak 100 meter, peluru kempetai yang bersembunyi di atas pohon di
sekitar markas menewaskan mereka. Di antara yang meninggal ini adalah Kudsi dan Thalib,
pemuda dari laskar Ciomas. Sampai sekitar pukul 10 pagi pertempuran belum mereda.
Melihat situasi yang tidak menguntungkan itu, para sesepuh BKR: K.H. Ahmad Khatib,
K.H. Sam'un, H. Abdullah dan K.H. Djunaedi segera memanggil para pemimpin pejuang.
Dinasehatkan bahwa berjihad yang dikehendaki Islam bukanlah berarti bunuh diri, tapi mati
sahid dalam membela agama dan negara dengan strategi yang sewajarnya. Sebaliknya cara
berperang yang akan mereka lakukan itu cenderung kepada bunuh diri yang mengorbankan
ratusan bahkan ribuan pemuda dengan sia-sia. Oleh karena itu musuh cukup dikurung terus
sampai kehabisan perbekalan, nanti baru diserbu. Mendengar nasehat itu, para pemimpin
pejuang berjanji akan menuruti nasehat itu dan baru akan mengadakan penyerangan apabila
dikomandokan oleh Ali Amangku sebagai Komandan Pertempuran.
Sampai menjelang sore, tembak-menembak tidak terdengar lagi dari kedua belah pihak,
pasukan rakyat tetap berjaga-jaga dan mengepung markas kempetai. Dalam pada itu. K.H.
Ahmad Khatib mengajak para pemimpin penyerangan itu untuk bersama-sama mengerjakan
shalat berjamaah di Masjid Agung Serang.
Sekitar pukul 20.00, tiba-tiba terdengar tembakan gencar dari markas kempetai yang
diarahkan ke Kampung Benggala. Setengah jam kemudian, tembakan pun berhenti, sehingga
suasana menjadi hening sampai matahari terbit. Hal ini menimbulkan kecurigaan para pemuda,
sehingga beberapa di antara mereka mengintip keadaan di dalam markas kempetai yang
ternyata telah kosong, kecuali dua mayat tentara Jepang. Rupanya tembakan gencar yang
dilakukan pada malam itu merupakan pengalihperhatian pasukan rakyat dari gerakan pasukan
Jepang yang sebenarnya, yaitu meloloskan diri. Dengan menggunakan 4 buah truk mereka
meloloskan diri dari belakang, jalan Rumah Sakit, ke Jakarta dari arah timur dengan melalui
jalan Cijawa, Cipete dan Ciceri. Sedangkan kedua mayat Jepang yang tertinggal itu diduga
adalah tentara yang mendapat tugas melakukan tembakan perlindungan, yang kemudian
(mungkin) melakukan harakiri (bunuh diri) setelah merasa tugasnya berhasil baik. Jumlah
korban dalam pertempuran ini dari pihak kempetai hanya 2 orang dan dari pihak republik 5
orang (Panitia ..., Naskah; Djadjamihardja, Wawancara, 11 Nopember 1992).
Tiga hari setelah pertempuran perebutan markas kempetai, yaitu pada tanggal 14
Oktober 1945 K.H. Syam'un membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai Divisi I
Komandemen Jawa Barat dengan nama Divisi 1000/I (dibaca: divisi seribu satu); sesuai
dengan maklumat pemerintah tanggal 5 Oktober 1945.
B. PENGHIANATAN DEWAN RAKYAT
Setelah penyerbuan ke markas kempetai pada tanggal 10 Oktober 1945, situasi kota
kembali dalam keadaan semula. Pemerintahan sipil sudah berjalan seperti apa adanya. Namun,
sebenarnya, sejak [Link] Khatib resmi menjabat sebagai Residen Banten, tanggal 19
September 1945, dan mengangkat kembali pejabat lama -- semasa pemerintahan Hindia
Belanda ataupun Jepang -- menjadi aparat-aparat di bawahnya, terjadi intrik-intrik
ketidakpuasan di antara sebagian pemuda pergerakan. Para pemuda itu menginginkan adanya
"pembaharuan total", dan mencap "orang-orang lama" ini sebagai "warisan kolonial",
"penghianat bangsa", menak dan, bahkan dikhawatirkan nanti membantu Belanda yang akan
datang dengan pasukan Sekutu. Tuntutan beberapa pemuda ini oleh K.H. Ahmad Khatib tidak
dikabulkan, dengan alasan bahwa untuk menangani administrasi pemerintahan daerah haruslah
dipilih orang yang cakap dan biasa menanganinya; karena pemerintahan Republik Indonesia
masih muda maka sangat sulit mencari "orang baru" yang memenuhi syarat. Rasa
ketidakpuasan "kelompok muda" ini akhirnya dimanfaatkan oleh kelompok lain untuk maksud
yang lain pula.
Pada tanggal 27 Oktober, sekitar jam 10.00 pagi, saat itu di karesidenan sedang
berkumpul K.H. Ahmad Khatib, K.H. Syam'un dan Abdulhadi, datang serombongan orang
yang menamakan dirinya “Dewan Rakyat”. Dengan ancaman kasar mereka memaksa Residen
Banten untuk membatalkan surat pengangkatan aparat-aparat pemerintahan di seluruh
karesidenan Banten, dan menggantinya dengan orang-orang yang ditunjuk oleh Dewan Rakyat.
Pembatalan dan pengangkatan pejabat-pejabat baru itu harus dibacakan di depan umum besok
tanggal 28 Oktober 1945. Apabila hal ini tidak dilaksanakan, maka Dewan Rakyat akan
melenyapkan orang-orang "yang tidak disenangi rakyat".
Karena sergapan yang tiba-tiba dan ancaman pembunuhan kepada semua yang hadir,
K.H. Ahmad Khatib, K.H. Syam'un dan Abdulhadi tidak dapat berbuat selain "terpaksa"
menyetujui keinginan Dewan Rakyat. Keesokan harinya, tanggal 28 Oktober 1945 sekitar jam
10.00 pagi, di hadapan beberapa pejabat yang sudah berkumpul di halaman karesidenan,
diumumkan bahwa mulai hari itu kekuasaan di seluruh Karesidenan Banten diambil alih oleh
Dewan Rakyat yang dipimpin Ce Mamat,? walaupun jabatan resmi Residen dan Bupati
Serang masih tetap.
Residen Banten, K.H. Ahmad Khatib, "terpaksa" menyusun aparat pemerintah daerah
yang "disesuaikan" dengan tuntutan Dewan Rakyat, sebagai berikut: K.H. Ahmad Khatib tetap
sebagai Residen; K.H. Syam'un diangkat sebagai Bupati Serang, merangkap sebagai pimpinan
tertinggi TKR; Haji Hilman (bukan R. Hilman Djajadiningrat) diangkat sebagai Bupati
Pandeglang dan Haji Hasan sebagai Bupati Lebak. Untuk jabatan wedana, camat bahkan
sampai lurah diserahkan kepada kaum ulama. Di samping itu juga dibentuk semacam "Majlis
Ulama" yang berfungsi sebagai badan penasehat residen dan juga mengawasi residen. Anggota
majlis ini terdiri dari 40 orang kiyai yang berpengaruh di karesidenan Banten.[9]. Komite
Nasional Indonesia (KNI) dibubarkan.
Perubahan personalia pemerintahan Banten sesuai dengan keinginan Dewan Rakyat itu
akhirnya tetap tidak membuat situasi menjadi lebih baik. Kekacauan yang ditimbulkan oleh
Dewan Rakyat tetap saja berlanjut. Hal ini terutama disebabkan oleh aksi teror yang dilakukan
[10]
oleh "pasukan" Dewan Rakyat, yang menamakan diri Laskar Gulkut atau Laskar Gutgut .
Mereka sering berkeliaran di peloksok-peloksok kota Serang menakut-nakuti penduduk,
bahkan tidak jarang merampas, merampok harta dan membunuh penduduk, terutama keluarga
pamongpraja banyak yang "di-56".[11]
Setelah paginya berhasil "merebut kekuasaan" residen di hadapan rakyat, pada malam
harinya Laskar Gulkut menculik Bupati Raden Hilman Djajadiningrat, yang kemudian
dipenjarakan di Serang -- penculikan ini dilakukan oleh anggota TKR yang menyeberang ke
Dewan Rakyat. Kejadian penculikan ini baru diketahui keesokan harinya oleh K.H. Syam'un
dan Ali Amangku, yang selanjutnya mereka mengumpulkan anggota TKR untuk
merencanakan penyerbuan ke markas Dewan Rakyat di daerah Ciomas. Rencana penyerbuan
ini pun mendapat dukungan dari Oscar Kusumadiningrat, kepala polisi Serang, yang kemudian
menyerahkan senjata-senjata yang ada di pasukannya kepada pimpinan TKR. Pertimbangan
Oscar, di samping untuk membantu TKR juga supaya senjata-senjata itu jangan jatuh ke
tangan Dewan Rakyat; menurut firasatnya, dia pribadi, termasuk "orang asing" yang berasal
dari Priyangan dan juga "warisan kolonial", karena ia pernah menjadi aparat pemerintahan
Hindia Belanda dan pendudukan Jepang, karenanya Laskar gulkut tentu akan datang ke
tempatnya, sekaligus merampas senjata-senjata itu. Ternyata tidak lama kemudian, Oscar
Kusumadiningrat pun didatangi oleh lima pemuda laskar gulkut dan diculik dari rumahnya,
yang kemudian ditahan di penjara Serang bersama dengan R. Hilman; sehari kemudian dia
dibawa ke daerah Ciomas, yang di sana pun telah ditangkap Entol Ternaya, Kepala Kejaksaan
Serang. Sementara itu, Wakil Residen Zulkarnain Surja Kertalegawa, yang juga mempunyai
latar belakang sama dengan Oscar, lebih dahulu melarikan diri ke Sukabumi. Memang dalam
aksi Dewan Rakyat itu beberapa pejabat di daerah seperti Camat Baros, Mantri Polisi Pabuaran
dibunuh Laskar Gulkut, terutama yang perlakuannya kejam terhadap rakyat.
Melihat adanya penculikan-penculikan pejabat dan perampokan itu, Residen K.H.
Ahmad Khatib mengintruksikan kepada Bupati Serang K.H. Sam'un untuk secepatnya
menumpas gerakan Dewan Rakyat ini. K.H. Syam'un segera memanggil Ali Amangku dan Tb.
Kaking, sebagai pimpinan TKR, untuk menyusun siasat penumpasan. Langkah pertama adalah
membebaskan R. Hilman Djajadiningrat dari penjara Serang. Usaha ini tidak mengalami
banyak kesulitan, karena penjagaan laskar gulkut di tempat itu tidak begitu kuat. Langkah
berikutnya adalah menyerang "markas besar" Dewan Rakyat di daerah Ciomas.
Sewaktu pasukan TKR bergerak dari Serang ke Ciomas, di perjalanan mendapat
perlawanan dari Laskar Gulkut yang meng-akibatkan dua orang anggota TKR terbunuh. Tapi
akhirnya, pasukan TKR dapat mendesak "pasukan jawara" sampai di dekat kantor Kawedanaan
Ciomas (Nasution, 1970: 125). Rupanya kantor Kawedanaan Ciomas itu dijadikan markas dan
juga pertahanan Dewan Rakyat. Ali Amangku memerintahkan pasukan TKR untuk mengepung
kantor kawedanaan itu sambil menyerang dengan tembakan-tembakan gencar. Dengan
demikian pertahanan Laskar Gulkut dapat dipatahkan, dan sebagian besar anggotanya dapat
ditawan sedangkan sisanya dapat melarikan diri ke daerah Lebak. Di halaman belakang kantor
kawedanaan itu pasukan TKR juga dapat membebaskan Oscar Kusumaningrat dan Entol
Ternaya, yang terikat di sebuah pohon besar.
Pada tanggal 9 Desember 1945, Presiden Soekarno beserta wakilnya, Mohamad Hatta,
datang mengadakan peninjauan ke Serang guna melihat situasi politik di Karesidenan Banten.
Dalam pidatonya di alun-alun Serang, presiden merasa prihatin dengan adanya aksi Dewan
Rakyat dan menghimbau agar fungsi dan kedudukan lembaga-lembaga negara/ pemerintahan
setempat, seperti Komite Nasional Indonesia (KNI) diaktifkan kembali. Selanjutnya, presiden
juga mengintruksikan agar Dewan Rakyat dibubarkan. Ali Amangku, yang ditugaskan
menjaga keamanan kedua tokoh besar itu, harus mengerahkan seluruh anggota TKR untuk
menjaga tempat-tempat yang akan dikunjungi presiden; karena adanya khabar bahwa Dewan
Rakyat akan menculik presiden dan wakilnya.
Penculikan kedua tokoh nasional ini tidak pernah terlaksana, tetapi di tempat lain, waktu
itu, bekas Bupati Lebak, R. Hardjawinangun, diculik oleh beberapa orang pemuda tak dikenal.
Di jambatan Cisiih, R. Hardjawinangun diturunkan dengan tangan terikat, lalu ditembak mati.
Mayatnya dilemparkan ke dalam sungai, yang dua hari kemudian barulah mayatnya ditemukan
penduduk setempat (Sin Po, 11 Desember 1945).
Pada bulan itu juga, tanpa diduga, markas polisi di Serang diserbu oleh pasukan "tak
dikenal", yang kemudian diketahui simpatisan gerakan Dewan Rakyat dari Ciomas. Namun
serbuan itu dapat diatasi oleh TKR; bahkan akhirnya pasukan TKR Serang berhasil
menghancurkan markas Dewan Rakyat di Rangkasbitung. Tachril, ketua Dewan Rakyat di
Rangkasbitung, dapat ditangkap.
C. DARI TKR SAMPAI TNI
Pada tanggal 22 Agustus 1945, dalam sidang PPKI ke-3 diputuskan untuk membentuk
Badan Keamanan Rakyat (BKR). Keputusan tersebut kemudian disusul pula dengan seruan
Presiden Republik Indonesia pada tanggal 23 Agustus 1945 yang ditujukan kepada para
pemuda Indonesia, antara lain berbunyi:
"... Saya harap kepada kamu sekalian hai prajurit PETA, Heiho dan Pelaut-pelaut serta
pemuda-pemuda lainnya untuk sementara waktu masuklah dan bekerjalah dalam Badan-
badan Keamanan Rakyat. Percayalah nanti akan datang saatnya kamu dipanggil menjadi
Prajurit Tentara Kebangsaan Indonesia. . . ." (Disjarah, 1973: 93).
Sejalan dengan seruan itu, maka dalam waktu yang tidak begitu lama seluruh lapisan
pemuda segera membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai barisan perjuangan
bersenjata. Karena kepentingan perjuangan, BKR yang berfungsi sebagai unsur pertahanan
keamanan nasional, pemerintah memandang perlu untuk menjadikan BKR sebagai satuan
tentara yang teratur, bersifat nasional dan langsung di bawah komando Kementerian
Pertahanan. Maka pada tanggal 5 Oktober 1945 keluarlah Maklumat Pemerintah tentang
pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Maklumat tersebut disusul dengan
Pengumuman Pemerintah tanggal 7 Oktober 1945 sbb:
"Ini hari telah dilakukan pembentukan Tentara Kebangsaan di salah satu daerah dekat
Jakarta dengan maksud untuk menyempurnakan kekuatan Republik Indonesia.
Pemuda-pemuda bekas PETA, Heiho, Kaigun Heiho, dan pemuda-pemuda dari Barisan
Pelopor telah menyiapkan tenaganya, agar setiap waktu dapat membangkitkan tenaganya
untuk menentang kembalinya penjajah Belanda.
Pemuda-pemuda dan Tentara Kebangsaan ini segera diperlengkapi dengan persenjataan
agar dengan demikian dapat mempertahankan keamanan umum." (Soeara Asia, 12
September 1945).
Maka disusunlah personalia Kementrian Keamanan Rakyat sebagai berikut
(Surjohadiprodjo, 1971:13):
Menteri Keamanan Rakyat : Mr. Amir Syarifuddin
Pimpinan Tertinggi TKR : Supriyadi
Kepala Staf Umum TKR : Urip Sumoharjo
Selanjutnya dibentuk divisi-divisi, yaitu di Sumatra (6 divisi) dan di Jawa (10 divisi).
Kesepuluh divisi di Jawa itu terbagi dalam 3 komandeman, yang masing-masing dikomandani
seorang Mayor Jenderal. Divisi-divisi itu adalah:
Divisi I : di Serang pimpinan Kolonel K.H. Syam'un.
Divisi II : di Cirebon pimpinan Kolonel Asikin.
Divisi III : di Tasikmalaya pimpinan Kolonel Aruji Kartawinata.
Divisi IV : meliputi wilayah Pekalongan timur, Semarang dan Pati pimpinan
Mayjen. G.P.H. Jatikusumo dengan komando di Salatiga.
Divisi V : meliputi wilayah Banyumas dan Kedu pimpinan Kolonel Sudirman.
Divisi VI : di Kediri pimpinan Mayjen. Sudiro, wilayahnya meliputi Kediri dan
Madiun.
Divisi VII : di Selorejo Mojokerto pimpinan Mayjen Yonosewoyo.
Divisi VIII : di Malang pimpinan Mayjen Imam Suja'i.
Divisi IX : di Yogyakarta pimpinan Mayjen Sudarsono.
Divisi X : di Surakarta pimpinan Kolonel Sutarto.
Karena ex. sjodancho Supriadi, yang diangkat sebagai Pimpinan Tertinggi TKR, tidak
pernah tampil menduduki posnya,[12] maka pada tanggal 12 Nopember 1945 diadakan rapat
yang dihadiri pimpinan senior TKR di Markas Tinggi (MT) TKR di Yogjakarta. Hasil
keputusan rapat dikuatkan dengan Keputusan Pemerintah, yaitu dengan dilantiknya Kolonel
Sudirman sebagai Panglima Besar TKR dengan pangkat Jenderal dan Urip Sumoharjo sebagai
Kepala Staf dengan pangkat Letnan Jenderal, tanggal 18 Desember 1945 (TKR, No. 1/1, 10
Januari 1946).
1. Berdirinya Divisi 1000/I Banten
Dalam pada itu, di Serang, empat hari setelah penyerbuan ke markas tentara Jepang,
pada tanggal 14 Oktober 1945 diadakan rapat pembentukan Divisi I Komandemen Jawa Barat
Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bertempat di markas BKR di Jalan Palem, Serang.
Pembentukan Divisi I Komandemen Jawa Barat itu didasarkan surat Komandan Komandemen
Jawa Barat, Mayor Jendral Abdulkadir, yang dibawa oleh Mayor Soeroto Koento, 12 Oktober
1945. Dalam surat perintah Komandemen Jawa Barat itu juga dilampirkan Maklumat
Pemerintah No. 5 (tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat) dan Pola Organisasi
Devisi.
Dalam rapat pimpinan BKR itu diputuskan untuk membentuk Tentara Keamanan Rakyat
(TKR) Divisi I Banten, sebagai berikut:
1) Divisi I Komandemen I Jawa Barat yang dibentuk itu diberi nama Divisi 1000/I
(dibaca: divisi seribu satu) dengan wilayah meliputi seluruh Karesidenan Banten dan
sebelah barat Sungai Cisadane, dari pantai utara sampai pantai laut selatan.
2) Personalia Slagorde Organik Divisi 1000/I, sbb.:
Panglima Divisi :Kolonel K.H. Syam'un
Ajudan :Mayor Sukahardja
Kepala Bagian Penyelidik :Mayor Salim Satiadinata[13]
Kepala Bagian Siasat :Mayor Tb. Syamsuddin Nur[14]
Kepala Bagian Organisasi :Mayor Kusendidjaja.
Kepala Bagian Perbekalan :Mayor Hamdani.
Pada permulaan terbentuknya Divisi 1000/I terdiri dari 2 resimen infantri yang masing-
masing berkekuatan 3 batalyon. Setiap batalyon membawahi 4 kompi dan setiap kompi
mempunyai 4 seksi; tiap seksi membawahi 4 regu yang masing-masing regu terdiri dari 14
orang prajurit. Resimen-resimen itu adalah (Panitia ..., Naskah):
1) Resimen I di Serang dengan kekuatan 4 batalyon:
Batalyon I : di Serang, di bawah pimpinan Mayor H. Abdullah
Batalyon II : di Cilegon, di bawah pimpinan Mayor Samanhudi
Batalyon III : di Serang di bawah pimpinan Mayor Tb. Syamsudin Nur.
Batalyon IV : di Menes di bawah pimpinan Mayor Tb. Soehadisastra. Batalyon ini
masih merupakan Batalyon persiapan.
2) Resimen II di Rangkasbitung dengan kekuatan 2 batalyon:
Batalyon I : di Rangkasbitung, di bawah pimpinan Mayor Doedoeng
Padmasoekarta.
Batalyon II : di Cikadu, Rangkasbitung, di bawah pimpinan Kapten Ukon.
Batalyon ini pun masih merupakan batalyon persiapan.
Selanjutnya, dibentuk lagi Batalyon III di Pandeglang, di bawah pimpinan Mayor
Soleman.
Susunan personalia Resimen I Divisi 1000/I, yang berkedudukan di Serang:
Komandan Resimen : Letkol K.H. Djoenaedi
Kepala Staf : Mayor Tb. Soehadisastra
Kepala Bag. Organisasi : Kapten Edi Soemantri
Kepala Bag. 1 (Penyelidik) : Letnan I Ending
Kepala Bag. Sekretariat : Letnan II Tituler Hidayat
Kepala Bag. Persenjataan : Letnan I Memed Hadi
Kepala Bag. Perlengkapan : Kapten M. Sani
Kepala Dinas Kesehatan : Mayor Dr. Soeparsono
Batalyon I/Serang
Komandan Batalyon : Mayor K.H. Abdullah
Komandan Kompi I : Kapten Tb. Syapei
Komandan Kompi II : Kapten Tb. Muh. Hasan Sutawinangun
Komandan Kompi III : Kapten Widagdo
Komandan Kompi IV : Kapten O. Soepaat
Batalyon II/Cilegon
Komandan Batalyon : Mayor Samanhudi
Komandan Kompi I : Kapten Soenarjo, kemudian diganti oleh Kapten Chaerani
Soma.
Komandan Kompi II : Kapten Bachri
Komandan Kompi III : Kapten Abdullah Isa
Komandan Kompi IV : Kapten Sapta
Batalyon III/Serang
Komandan Batalyon : Mayor Tb. Syamsuddin Nur (eks. Kepala Bag. Siasat
Divisi 1000/I)
Komandan Kompi I : Kapten Sofyan Syafe'i
Komandan Kompi II : Kapten Soenarjo
Komandan Kompi III : Kapten Saleh Syamsuddin
Komandan Kompi IV : Kapten Memed Hadi
Personalia slagorde organik Resimen II Divisi 1000/I, yang kedudukan di
Rangkasbitung:
Komandan Resimen : Letkol Djajaroekmantara
Kepala Staf : Mayor Sutisna Mihardja
Kepala Bag. Organisasi : Kapten Oeka Soerjadi
Kepala Bag. Sekretariat : Letnan Kombali Nitipradja
Kepala Bag. Keuangan : Letnan I Atmadikusuma
Kepala Bag. Persenjataan : Kapten Supardi
Kepala Bag. Perlengkapan : Letnan I Entjon
Kepala Dinas Kesehatan : Letkol. Dr. Satrio
Batalyon I/Rangkasbitung
Komandan Batalyon : Mayor Doedoeng Padmasoekarta
Kepala Staf : Kapten Chalik Hasan
Komandan Kompi I : Kapten Endang Danoeat-madja
Komandan Kompi II : Kapten Basyah Soetman
Komandan Kompi III : Kapten Ahim
Komandan Kompi IV : Kapten Soepardi
Batalyon II/Rangkasbitung
Komandan Batalyon : Mayor Djatmika
Komandan Kompi I : -
Komandan Kompi II : -
Komandan Kompi III : -
Komandan Kompi IV : -
Komando Keamanan Kota : Kapten Rahajoe
Komandan Yon Cadangan : Kapten Oekon
Batalyon III/Pandeglang
Komandan Batalyon : Mayor Soleman
Komandan Kompi I : Kapten Abdulhalim
Komandan Kompi II : Letnan I M.A. Hasan
Komandan Kompi III : Letnan I Djakasoendang
Komandan Kompi IV : -
Kecuali pasukan Infantri juga terdapat Pasukan Khusus yang terdiri dari eks yugekitai
dipimpin oleh eks syodanco yugeki Ali Amangku. Pasukan yang terakhir ini merupakan
pasukan pengintai langsung di bawah komando Divisi -- pasukan pengintai inilah yang
kemudian menjadi Polisi Tentara Batalyon XI Divisi 1000/I yang susunan personalianya
sebagai berikut:
Panglima Batalyon : Mayor Ali Amangku
Ajudan : Letnan II Tb. Mardjuki (kemudian diganti oleh Letnan Muda R.
Soebagyo).
Kepala Staf : Kapten Rd. Achmad (kemudian diganti oleh Kapten B.A.
Hariri).
Sekretariat : Letnan I Achmad Bahar (kemudian diganti Letnan II Enggung)
Tata Usaha : Letnan II Soma Atmadja
Perlengkapan : Letnan Muda Mansyur
Persenjataan : Kapten Tb. Arsyad
Kepolisian/Intel : Letnan I Tb. Sanusi
Polisi Kampemen : Letnan II Sukimin
Kompi I Batalyon XI di Serang, merupakan Kompi Markas.
Komandan Kompi : Kapten M. Isky
Kepala Staf : Letnan Muda Reksowongso
Kepolisian : -
Sekretariat : -
Komandan Seksi I : Letnan II Syadeli kemudian diganti Letnan II M. Djanawi.
Komandan Seksi II : Letnan II Ahdi Syadeli
Komandan Seksi III : Letnan II Moh. Zen
Komandan Seksi IV : Letnan II Nafeng
Kompi II, berkedudukan di Pandeglang.
Komandan Kompi : Kapten Umar Sarie
Kepala Staf : Letnan II Tb. Suwandi
Kepolisian : -
Sekretariat : -
Komandan Seksi I : Letnan II Ayip Rughby
Komandan Seksi II : Letnan II Tb. Chaerkusuma
Komandan Seksi III : Letnan Muda Hikmat
Kompi III berkedudukan di Rangkasbitung.
Komandan Kompi : Kapten Rd. Achmad (kemudian diganti Kapten Tb. Arsyad).
Kepala Staf : Letnan II Soewarno
Kepolisian : Letnan Muda Chudori
Sekretariat : Letnan Muda S.M. Ali
Komandan Seksi I : Letnan II Djadjamihardja
Komandan Seksi II : Letnan II Moh. Ishak , kemudian diganti oleh Letnan Muda Ito
K.
Komandan Seksi III : Letnan II Saryono
Komandan Seksi IV : Letnan Muda Syayuti
Kompi IV; yang berkedudukan di Balaraja; kompi ini merupakan kompi mobile
khususnya dalam penguasaan teritorial, kompi yang selalu di Sektor I, yang terdiri dari:
Komandan Kompi : Kapten R. Mahdi Winatapradja
Kepala Staf : Letnan II Tb. Mardjuki
Kepolisian : Letnan Muda M. Djidun
Sekretariat : Letnan Muda Herman
Seksi khusus di Curug : Letnan I Siswoyo
Komandan Seksi I : Serma M. Mursyid
Komandan Seksi II : Serma Karmail
Komandan Seksi III : Serma Chaidir
Komandan Seksi IV : Serma Tb. Subli
Bersamaan dengan pembentukan Divisi 1000/I, Letnan Kolonel Harsono mendapat tugas
khusus dari Markas Tertinggi TKR untuk membentuk Penyelidik Militer Chusus (PMC), yang
kemudian menjadi Fild Paraparation (FP). Sebagai samaran dibentuklah Badan Pemuda
Pendidikan Militer Rakyat (BPPMR) pada tanggal 20 Oktober 1945 di Rangkasbitung. Tugas
pokok dari satuan khusus ini adalah: (1) menyelidiki medan palagan, (2) menyelidiki formasi
dan kekuatan musuh, (3) melakukan sabotase, (4) mengadakan perang urat syaraf, (5) spionase
dan contra-spionase, dan (6) lain-lain gerakan rahasia untuk kepentingan militer.
Di samping tugas pokok yang disebutkan di atas, juga mengadakan pendidikan Kader
Bintara Teritorial guna menghadapi perang semesta jangka panjang. Para pendidik dan
instruktur pelatihan itu diambil dari eks anggota yugekitai. Badan ini disebut juga Badan
instruktur pelatihan itu diambil dari eks anggota yugekitai. Badan ini disebut juga Badan
Rahasia Negara Indonesia (BRANI) yang berada langsung di bawah Komando Markas Besar
Tentara (MBT) di Yogyakarta, yang tidak harus diketahui oleh Staf Divisi, kecuali Komandan
Divisi.
Susunan personalia badan rahasia itu adalah:
Komandan : Letkol Harsono
Kepala Staf : Kapten Tb. Kaking Achirramdani
Kabag. Administrasi : Kapten Kamaruzzaman
Personalia : Letnan II Halimi
Keuangan : Letnan II Nadelan
Kabag. Logistik : Kapten Tb. Kaking Achirramdani
Perlengkapan : Kapten Tb. Kaking Achirramdani
Pendidikan : Letnan II Soedibyo
Kutai I (Kompi I) : Kapten Tb. Kaking Achirramdani
Kumi I/I : M. Djadjamihardja
Kumi II/I : Sihabuddin
Kumi III/I : M. Djanawi
Kumi IV/I : Moh. Yusuf
Kutai II : Kapten Kamaruzzaman
Kumi I/II : Soekarman
Kumi II/II : Asnawi
Kumi III/II : Moh. Ishak
Kumi IV/II : Moh. Hasan.
Setiap Kumi (Regu) beranggotakan 10 siswa. Hasil pendidikan pertama menghasilkan
50 orang kader/bintara. Sebagian dari mereka mendapatkan pendidikan lanjutan di bidang
intelejen di Pingit, Yogyakarta di bawah pimpinan Kolonel Zulkifli Lubis; dan sebagian lagi
ditugaskan di Polisi Tentara (PT) Batalyon XI sebagai kader, dan sebagian lagi dikirim ke
Pandeglang untuk mengikuti pendidikan periode ke-2.
Pendidikan keintelejenan ini di samping diselenggarakan di Rangkasbitung dan
Pandeglang juga dibuka di Serang pendidikan militer khusus untuk putri di bawah pimpinan
Letkol Harsono. Lulusan pendidikan ini disalurkan pada PMI Serang, staf polisi dan (nanti)
Biro Perjuangan XXXV Banten (Panitia Sejarah Perjuangan Divisi 1000/I, Naskah).
Lima hari setelah terbentuknya Divisi 1000/I Banten, pada tanggal 19 Oktober 1945,
BKR dari unsur armada dan tentara laut mengadakan rapat di Cimuncang, Serang, dipimpin
oleh Gatot (sebagai ketua rapat) dan Samsudin (sebagai sekretaris rapat). Pada hari itu
dibentuklah Pangkalan I Tentara Laut, disingkat Pangkalan I/TL[15]. Pangkalan I/TL ini (pada
mulanya) hanya berkekuatan 4 batalyon Polisi Tentara Laut dan Armada Tentara Laut, yang
bertugas sebagai tentara pertahanan dan keamanan pantai, mulai dari Mawuk sampai pantai
Pelabuhan Ratu (yang panjang pantainya diperkirakan ±400 km); dengan pos pangkalan berada
di Mawuk, Labuan, Bayah, Pelabuhan Ratu, Merak dan Pontang. Secara taktis, Pangkalan I
Banten itu berada tetap di bawah komando Divisi 1000/I Banten (Panitia ..., Naskah).
Untuk melaksanakan tugas pengamanan pantai yang begitu luas, seharusnya, paling
sedikit, diperlukan 6 batalyon Tentara Laut dan 1 detasemen Polisi Tentara Laut (PTL). Maka
untuk memenuhi tuntutan tugas tersebut, diadakanlah pendaftaran bagi anggota TKR-Laut
Pangkalan I Banten.
Bergabung dalam Divisi I Siliwangi
Pasukan NICA (Nederlands Indies Civil Administration) -- yang datang bersama dengan
pasukan Sekutu -- banyak mengadakan teror, kekacauan, penculikan dan pembunuhan di
beberapa daerah, terutama di ibukota negara, Jakarta. Dengan dalih "mengamankan"
kerusuhan-kerusuhan yang ditimbul-kannya itu, pasukan NICA mengadakan serangan
mendadak untuk menguasai kota. Kecurangan-kecurangan tentara NICA itu tidak begitu
diperhatikan oleh tentara Inggris (sebagai tentara Sekutu), karena di samping jumlah personil
yang kurang juga menganggap bahwa Belanda memang sudah disiapkan untuk menerima
kembali Indonesia (Nasution, 1977: 30). Karena ketidakamanan di Jakarta ini maka pada
tanggal 4 Januari 1946 Presiden dan Wakil Presiden pindah ke Jogjakarta, dan kemudian
dijadikan ibukota negara, demikian juga beberapa kementrian -- kecuali Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan berkedudukan di Surakarta. Sedangkan Perdana Mentri Sutan
Syahrir tetap di Jakarta.
Karena kepentingan Hankamnas yang mendesak, maka pada tanggal 7 Januari 1946
berdasarkan Ketetapan Pemerintah No. 2/S.D./1946, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) diubah
namanya menjadi Tentara Keselamatan Rakyat dengan singkatan yang tidak berubah TKR.
Tiga minggu kemudian, tanggal 25 Januari 1946, Presiden Sukarno mengeluarkan dekrit yang
antara lain mengubah nama Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) menjadi Tentara Republik
Indonesia (TRI), sebagai satu-satunya organisasi militer negara. Pada tanggal yang sama,
dimana TKR menjadi TRI, maka Tentara Laut (TL) pun berubah nama menjadi Angkatan Laut
Republik Indonesia (ALRI). Dan pada hari pula dibentuk Angkatan Udara Republik Indonesia
(AURI) Pangkalan Udara Gorda.
Untuk tujuan efektivitas kerja, pada tanggal 23 Pebruari 1946 diadakan pengurangan
divisi; Divisi yang semula 16, diperkecil menjadi 10; di Jawa - Madura 7 divisi dan di Sumatra
3 divisi, ditambah 3 brigade langsung di bawah Panglima Besar sebagai Panglima Tertinggi
Angkatan Perang RI (APRI). Mengikuti keputusan Panglima Tertinggi Angkatan Perang
Republik Indonesia (PT APRI), maka sejak tanggal 25 Mei 1946, susunan divisi Angkatan
Darat adalah sebagai berikut:
Divisi I : bernama Siliwangi di Tasikmalaya di bawah pimpinan Mayjen A.H.
Nasution.
Divisi II : bernama Sunan Gunungjati di Cirebon, di bawah pimpinan Mayjen
Abdul Kadir.
Divisi III : bernama Diponegoro di Yogyakarta, di bawah pimpinan Mayjen
Sudarsono.
Divisi IV : bernama Panembahan Senopati di Surapati, di bawah pimpinan Mayjen
Sudiro.
Divisi V : bernama Ronggolawe di Mantingan, di bawah pimpinan Mayjen GPH.
Jatikusumo.
Divisi VI : bernama Narotama di Kediri, di bawah pimpinan Mayjen Sungkono.
Divisi VII : bernama Suropati di Malang, di bawah pimpinan Mayjen Imam Suja'i.
Dengan penciutan organisasi TRI ini, Komandemen Jawa Barat, yang tadinya terdiri dari
3 divisi, dihapuskan dan dilebur menjadi 1 divisi, yang bernama Divisi Siliwangi -- terdiri dari
5 brigade -- yang berkedudukan di Tasikmalaya Karena itulah maka Divisi I Banten (Divisi
1000/I Banten) pada tanggal 25 Mei 1946, diubah menjadi sebuah Brigade dengan nama
Brigade I Tirtayasa. Staf Komando Resimen I dan Resimen II dihapuskan, dan digabung
menjadi 5 batalyon:
Balayon I : berkedudukan di Serang, dipimpin Mayor K.H. Abdullah
Batalyon II : berkedudukan di Cilegon, dipimpin Mayor Samanhudi
Batalyon III : berkedudukan di Serang, dipimpin Mayor Tb. Syamsudin Nur.
Batalyon IV : berkedudukan di Rangkasbitung, dipimpin Mayor Doedoeng
Padmasoekarta.
Batalyon V : berkedudukan di Pandeglang, dipimpin Mayor H. Djoenaedi.
Ada pun kesatuan-kesatuan lain yang taktis komando Brigade I Tirtayasa Divisi I
Siliwangi yaitu: Pangkalan I ALRI, Pangkalan Udara AURI di Gorda dan Batalyon XI Polisi
Tentara (walau pun secara administratif berada langsung di bawah Markas Besar Polisi Tentara
(MBPT) (Panitia …, Naskah)[16].
Pembentukan Resimen Singandaru
Pada bulan Mei 1946 itu pula diputuskan bahwa badan perjuangan dan lasykar-lasykar
bentukan partai-partai politik yang tidak mau bergabung kepada TRI diberi tempat dalam Biro
Perjuangan, di bawah komando Kementrian Pertahanan -- saat itu Mr. Amir Syarifuddin.[17]
Sesuai dengan Undang-undang Pertahanan Negara dan Peraturan Pemerintah No. 19/1946,
pada tanggal 27 Desember 1946 dibentuk Biro Perjuangan Daerah untuk wilayah Karesidenan
Banten yang berkedudukan di Serang dengan nama Biro Perjuangan (BP) XXXV[18]. Biro
Perjuangan ini dibentuk sebagai wadah persatuan bagi laskar-laskar perjuangan rakyat, seperti
Hizbullah, Sabilillah, Barisan Pelopor, Lasykar Rakyat, Barisan Banteng, Barisan
Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), Pesindo, yang tadinya dibentuk oleh partai-partai
politik (Notosusanto, 1985: 45). Adapun personalia pimpinan staf BP XXXV Banten adalah:
Kepala : Letkol Adi Soendjojo
Inspektorat : Kapten Abang Usman
Perlengkapan : Letnan I Asyhari
Humas : Letnan I Hasan Suleman
Sekretariat : Letnan I Tetuler Khusnun
Keuangan : Letnan II Tetuler M. Arif
Inspektorat Wanita : Sri Sahuli
Inspektorat Kab. Serang : Kapten Abang Usman
Inspektorat Kab. Pandeglang : Letnan II Suntara
Inspektorat Kab. Lebak : Letnan II Gozali
Inspektorat Kab. Tangerang : Letnan I Saleh Saisyam
Bekerjasama dengan Batalyon XI/GM/ Polisi Tentara, Penyelidik Militer Chusus
(PMC), pamongpraja, pimpinan badan-badan kelasykaran, tokoh-tokoh masyarakat dan
instansi lainnya maka hingga tanggal 17 Maret 1947 Biro Perjuangan XXXV (BP XXXV)
berhasil membentuk Resimen dari kelasykaran yang dibinanya berkekuatan 3 batalyon.
Resimen BP XXXV ini kemudian dinamai Resimen Singandaru, dengan susunan personalia
sebagai berikut:
Komandan Resimen : Letkol Adi Sundjojo
Wkl. Komandan : Mayor Saleh Iskandar
Kepala Staf : Mayor Syamsudin Nur
Kabag. Organisasi : Letnan I Sufri Djamhari
Kabag. Perlengkapan : Letnan I Asmawi
Ajudan : Letnan Muda Zainal Arifin Billah
Komandan Batalyon I : Mayor Soleh Iskandar, bermarkas di Nanggung, Jasinga
Komandan Batalyon II : Kapten Ayip Samin Salsufi, bermarkas di Serang
Komandan Batalyon III : Kapten Abdurahman Abdullah, bermarkas di Pandeglang.
Untuk menjadikan satunya kekuatan angkatan bersenjata RI, maka pada tanggal 3 Juni
1947 Presiden Sukarno mengeluarkan Penetapan Presiden yang menyatakan pembentukan
Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang merupakan penyatuan dari TRI dan lasykar perjuangan
rakyat. Pimpinan dipegang oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman, dibantu oleh beberapa
anggota yaitu Letnan Jenderal Urip Sumohardjo, Laksamana Muda Nazir, Komandan Muda
Udara S. Suryadharma, Ir. Sukirman, Djokosuyono dan Sutomo (ed. Sudirjo, 1985:65). Sejak
itulah segala macam biro perjuangan bersenjata, baik yang berafiliasi kepada partai politik
maupun bukan, dilebur ke dalam wadah TNI. Dan atas keputusan Panglima Divisi Siliwangi,
pada akhir bulan Agustus 1947 Resimen Singandaru dimasukkan dalam Brigade Tirtayasa.
Komandan Resimen Singandaru dan perwira stafnya berstatus Perwira Brigade Tirtayasa dan
bertugas dalam Bagian V yang kemudian menjadi Perwira Staf Territorial Brigade Tirtayasa
(Panitia …, Naskah).
2. Terbentuknya ALRI di Banten
Sesuai dengan Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945 dan Pengumuman
Pemerintah tanggal 7 Oktober 1945, yaitu tentang dibentuknya satu badan ketentaraan
nasional, maka BKR-Laut punyang terdiri dari bekas anggota Heiho Kaigun, Koninklijke
Marine (KM), Jawa Unko Kaisha, Akabutsi Butai, pemuda-pemuda yang bekerja pada jawatan
pelayaran dan lain-lain bergabung dalam TKR-Laut. Di Serang, pada tanggal 19 Oktober 1945
dibentuklah Pangkalan I Tentara Laut dengan markas komando di Cimuncang, Serang
(sekarang dipakai Dinas Kesehatan Tentara DKT). Tugas Pangkalan ITentara Laut (TL) adalah
sebagai tentara pertahanan dan keamanan pantai mulai dari Mauk sampai ke Pelabuhan Ratu,
sepanjang ±400 km. Untuk itu paling sedikit diperlukan 6 batalyon Tentara Laut dan 1
detasemen Polisi Tentara Laut (PTL) yang berkedudukan di Merak, Labuan, Bayah, Pelabuhan
Ratu, Mauk dan Pontang.
Susunan Personalia Pangkalan I/TL
Panglima Pangkalan I : Kolonel Gatot
Wakil Panglima : Letkol. JH. Tombing
Sekretaris : Letnan Laut (Letnl) Udjer
Personalia : Letnl. Sutoyo
Keuangan : SK. Effendi, Letnl.
Peralatan : Letnl. Rusli Miskat
Komandan Armada : Mayor Laut Arga
Kompi Markas : Letnan I M. Samsudin
Batalyon I Merak : Kapten Atuk Mansur
Kompi Bojonegara : Letnan Sujadi
Batalyon II/Labuan : Kapten Said Sutawijaya
Batalyon III/Mauk : Kapten Ajirahmat
Kompi Pontang : Letnan Atori.
Pada bulan Nopember 1945 diadakan rapat di Markas TKR-Laut Serang yang dihadiri
pula oleh utusan Markas Besar TKR Yogyakarta. Dalam rapat itu diputuskan untuk
mengangkat Kolonel Misbah sebagai pimpinan TKR-Laut Banten menggantikan Kolonel
Gatot[19]. Susunan organisasi TKR-Laut Banten sebagai berikut:
Komandan TKR Laut : Kolonel Misbah
Wakil Komandan : Mayor Tombing.
Bagian Keuangan : Letnan II Abas Syamsudin
Bagian Persenjataan : Letnan I Jatmiko
Bagian Perwira Siasat : Letnan I Ngaliman
Bagian Perkapalan : Letnan I Ahmad Hadi
Bagian Polisi Tentara Laut (PTL) :
Letnan I Sukarno Wirejo.
Komandan Pasukan Batalion : Letnan Karso
Kompi Anyer : Letnan Sepong
Kompi Merak : Letnan Bunsaman
Kompi Serang : (belum ditemukan data outentik)
TKR-Laut Banten dalam waktu singkat telah memiliki pasukan sebanyak dua batalyon,
yaitu Batalyon Serang di bawah pimpinan Kapten Margolan dan Batalyon Malingping di
bawah pimpinan Letnan I Darmo Sudiskam. Di Malimping, Darmo Sudiskam berhasil
membentuk satu batalyon pasukan yang terdiri dari 450 personil. Pasukan ini ditempatkan di
Binuangeun, Malimping, Cihara dan Bayah (Cikotok), sebagai pertahanan di Banten Selatan,
dengan susunan organisasi sebagai berikut:
Komandan Batalyon : Letnan I Darmo Sudiskam
Wakil Komandan : Letnan II Wibowo Sumantri
Bagian Tata Usaha : Sersan Toha
Bagian Intenden : Kopral Ahmad Ilyas
Dalam masa berlangsungnya pembinaan dan penyusunan organisasi TKR Laut Banten,
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia di Yogyakarta mengeluarkan ketetapan bahwa
kekuatan diperbesar dari Batalyon menjadi Devisi. Berdasarkan keputusan bulan September
1945 tentang pembentukan Devisi ini, maka seluruh pasukan TKR-Laut di Pulau Jawa dibagi
atas tiga devisi. Devisi I meliputi Jawa Barat di bawah pimpinan Laksamana III Adam yang
berkedudukan di Cirebon. Devisi I ini terdiri atas tiga Resimen yaitu :
1) Resimen I berpangkalan di Serang
2) Resimen II berpangkalan di Karawang
3) Resimen III berpangkalan di Cirebon
Dengan adanya ketentuan itu, maka TKR-Laut Banten di Serang menjadi Resimen I/
Divisi I yang terdiri dari dua batalyon yaitu:
1) Batalyon I di Serang di bawah pimpinan Margolan,
2) Batalyon II di Malimping dibawah pimpinan Darmo Sudiskam.
Jumlah personil kedua Batalyon TKR Laut Banten seluruhnya 800 orang dengan
perincian 350 orang anggota Batalyon I termasuk anggota Staf Resimen dan 450 orang anggota
Batalyon II.
Pengembangan organisasi dari Batalyon menjadi Resimen menyebabkan tugas TKR-
Laut di bidang pertahanan dan keamanan semakin bertambah luas dan memerlukan tambahan
personil. Kekurangan personil itu diatasi dengan mengadakan penerimaan anggota baru.
Dengan bertambahnya personil itu, maka kekuatan pasukan TKR-Laut Banten menjadi lima
Batalyon, yang masing-masing beranggotakan antara 350 sampai 450 orang. Kelima Batalyon
itu adalah :
Batalyon I : di Merak, dipimpinan Letnan I Sutoyo Condrowinoto
Batalyon II : di Pontang, dipimpinan Abas Syamsudin
Batalyon III : di Labuan, dipimpin oleh Mayor Rachmat.
Batalyon IV : di Malimping, dipimpin Letnan I Darmo Sudiskam -- kemudian
diganti oleh Letnan Wibowo sejak bulan Juni 1946.
Batalyon V : di Pelabuhan Ratu, dipimpin Sersan Mayor Samsudin.
Dengan bertambah besarnya jumlah anggota, maka sistem pengamanan di wilayah
pantai diperkuat, yaitu dengan menambah pos-pos penjagaan pantai; sebelumnya, pos
penjagaan pantai ini hanya ada di lima tempat, yaitu: Merak, Pontang, Labuhan dan Anyer.
Kemudian dibuka pos-pos baru yaitu di Pelabuhan Ratu, Karangantu, Sangiang, Bojonegara,
Mauk, Citeurep dan Pandeglang.
Diperkuatnya daerah pantai ini karena kapal selam dan kapal peronda pantai Belanda
semakin giat mengadakan pengintaian di Selat Sunda. Tiap-tiap batalyon menempatkan
anggota pasukannya pada pada pos-pos keamanan pantai yang menjadi wilayah operasinya.
Pasukan yang ditempatkan pasa tiap pos dibagi dalam kompi, seksi, peleton, regu dan juga
pembagian sampai 3 atau 5 orang anggota. Pos pengintaian didirikan hampir sepanjang pantai
Banten mulai dari Mauk sampai Pelabuhan Ratu.
Walaupun dalam hal personil bertambah, namun persenjataannya sangatlah
memprihatinkan. Persenjataan di tiap-tiap Kompi hanya terdiri dari 5 pucuk senjata ringan dan
selebihnya senjata tajam, setiap Peleton hanya mempunyai 2 pucuk senjata ringan dan senjata
tajam, sedangkan Regu hanya memiki senjata tajam. Batalyon Malimping hanya mempunyai
11 pucuk senjata karabejn dan tiga bayonet yang diperoleh dari front Mauk (Letkol. Purn.
Darmo Sudiskam, Wawancara). Karena kurangnya persenjataan ini maka Komandan Devisi I,
Laksamana III Adam, di Cirebon, memberikan bantuan berupa 1 pucuk bren, 1 pucuk senjata
12,7 dan 2 pucuk karabejn (Letkol Ngaliman, Wawancara).
Masih dalam usaha pengadaan senjata, pimpinan TKR Laut Banten mengirim
utusan,yang terdiri dari Letnan Ngaliman, Moh Karsowidjaja, Udjer, Dulman dan Sersan
Mayor Samsudin, ke MBU Yogyakarta dan MBT Lawang untuk meminta biaya pasukan,
perlengkapan dan senjata. Utusan ini berhasil memperoleh uang dari MBU Yogyakarta dan
sepucuk senjata anti tank (volstein) kaliber 20 mm dengan satu peti pelurunya dari MBT
(Letkol (Pur) I C. Souhaka, Wawancara, Ciawi, 16 Januari 1979)[20]. Kapal yang dimiliki
TKR-laut Banten hanya ada dua, yaitu Pulo Merak I dan Pulo Merak II, yang keduanya
berukuran 20/25 ton. Kedua kapal ini sebenarnya milik Jawatan Pelabuhan, dalam keadaan
rusak, kemudian diambil alih dan diperbaiki oleh TKR. Setelah Mayor Achmad Hadi
menyelesaikan pendidikan Latihan Opsir di Serang, maka dibentuk Armada baru dengan
susunan sebagai berikut :
Kepala Bagian Armada : Mayor Achmad Hadi.
Bagian Perkapalan : Kapten S. Abdullah.
Staf Perkapalan : -
Mualim I Bagian Dek : Letnan Muda Tb. Hari Achmadi
Perwira Kepala Mesin : Letnan II Sukiran
Operasionalnya, bagian Armada berada di bawah Batalyon I Merak. Tugas utama dari
kapal Pulo Merak I adalah melakukan penyeberangan anggota Angkatan Laut, Angkatan Darat
dan Pegawai pemerintah. Sedangkan kegiatan Kapal Pulo Merak II adalah mengangkut
pasukan dan suplai bagi yang bertugas di pos pulau-pulau di sekitar Banten.
Sekolah Kelautan di Serang
Keputusan pimpinan MBU TKR Laut di bidang penambahan personil pasukan juga
harus diimbangi dengan pengadaan pendidikan profesional kelautan. Pendidikan kelautan
tersebut dilaksanakan di beberapa kota yaitu Tegal, Banten, Lampung, Malang, Tanjung Balai
dan Pariaman.
Di Banten, pendidikan kelautan ini dilaksanakan di Serang dengan Kolonel Misbah
sebagai penanggung jawabnya; sesuai dengan instruksi Panglima Devisi I TKR Laut Jawa
Barat, Laksamana III Adam. Maka disusunlah Staf Pendidikan Latihan Opsir TKR Laut (LO
TKRL) di Serang sebagai berikut: -
Komandan Latihan Opsir : Mayor Kun Djelani
Wakil : Letnan Margolan
Ajudan Sekretaris : Letnan I Djatmiko
Instruktur pengajar :
Pelatih Teori Ketentaraan : Ajudan Ahmad Kletskop
Pelatih Kemiliteran : Aji Rachmat.
Pelatih Pelayaran Praktis : Letnan Djatmiko
Ilmu Navigasi Cosmograf : Mayor Kun Djelani
Ilmu Kemasyarakatan : Letnan Margolan
Bahasa Inggris : Letnan Supardi
Ilmu Praktek Senjata : Letnan Supardi
Organisasi Angkatan Laut : Mayor Kun Djelani
Tiup Trompet, Fluit Anggar: instruktur gabungan.
Persyaratan untuk menjadi siswa Latihan Opsir TKR Laut (LO TKRL) di Serang ini
adalah para pemuda yang mempunyai pendidikan paling tinggi siswa MULO (SMP) dan
terendah lulusan HIS (SD) (Tb. Hari Achmad, Wawancara, Cikirai, Pandenglang, 20 Mei
1980). Pendidikan dilaksanakan di gedung bekas Asisten Residen Banten yang terletak di
Cipare (sekarang Dinas Kesehatan Tentara) Serang, berlangsung selama tiga bulan (1 Januari -
31 Maret 1946). Siswa yang mengikuti pendidikan dibagi dalam dua tingkat kepangkatan
disesuaikan dengan pendidikan umum yang dimilikinya, yaitu Cadet I dengan pangkat calon
Letnan dan Cadet II dengan pangkat calon Sersan Mayor dan Sersan.
Pada malam penutupan Latihan Opsir ALRI[21] di Serang, yang dihadiri oleh pimpinan
pemerintahan sipil dan militer, dilakukan pemberian tanda lulus kepada setiap siswa. Siswa
yang lulus dengan nilai terbaik diangkat sebagai Letnan Muda dan yang nilainya lebih rendah
diangkat sebagi Sersan Mayor atau Sersan (Laks. Purn. Atung Sudibyo, Wawancara, Jakarta,
25 Maret 1975). Selanjutnya, siswa latihan Opsir ALRI di Serang yang mempunyai nilai
terbaik diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya pada Sekolah Angkatan Laut
(SAL) di Tegal. Dalam kesempatan itu dikirimkan 5 orang siswa, tetapi yang lulus testing
hanya satu orang yaitu Atung Sudibyo.
Pendidikan latihan Opsir TKR Laut Serang hanya berlangsung satu angkatan saja. Hal
ini disebabkan karena Mayor Kun Djelani dan tenaga pengajar lainnya, pada bulan April 1946,
dimutasikan untuk mengajar di Sekolah Angkatan Laut (SAL) di Tegal.
Organisasi TKR Laut yang baru tumbuh itu lebih menitik beratkan kepada
pengembangan pasukan tempur dan belum berorientasi ke laut. Hal itu terjadi karena terdapat
dua Markas Tinggi Laut yaitu di Lawang dan Yogyakarta. Pimpinan TKR Laut Lawang lebih
menitik beratkan pada pengembangan pasukan darat (korps marinir), sedangkan pimpinan
TKR Laut Lawang lebih menitik beratkan pada pengembangan armada. Untuk menyatukan
perbedaan pendapat ini, pada tanggal 24 Desember 1945 diadakan pertemuan antara kedua
pimpinan TKR Laut di Yogyakarta, yang dihadiri oleh Wakil Presiden dan Panglima Besar
Sudirman. Karena tidak ada kesepakatan, maka pada bulan Januari 1946 Pimpinan Markas
Tinggi Angkatan Laut kembali mengadakan pertemuan di Yogyakarta untuk membentuk
sebuah komisi yang bertugas melakukan perbaikan dalam organisasi TKR Laut. Diputuskan
nama TKR Laut diganti menjadi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pada tanggal 7
Januari 1946 (Berdjoeang, II/65, 20 Maret 1946).
Komisi tersebut mengusulkan kepada pemerintah tentang susunan organisasi baru
Angkatan Laut Republik Indonesia, dengan Atmaji terpilih sebagai pimpinan umum ALRI dan
M. Nazir menjadi Staf Umum (Kedaoelatan Rakjat, 30 Januari 1946).
Pada tanggal 16 Pebruari 1946 dikeluarkan penetapan Presiden tentang pengangkatan
Pimpinan Angkatan Laut Republik Indonesia yaitu :
a. Pimpinan Tertinggi : Jendral Sudirman
Pembantu Kepala Staf Umum : Laksamana Muda M. Nazir
Pembantu Kepala Staf Umum : Laksamana Muda Pardi dan Laksamana Muda
Gunadi.
b. Mengangkat Atmaji sebagai Kepala Urusan Angkatan Laut pada Kementerian
Pertahanan (Soeloeh Merdeka, 11 Pebruari 1946).
Atmaji di samping menjabat Kepala Urusan Angkatan Laut pada Kementerian
Pertahanan juga merangkap sebagai Pimpinan Umum di Markas Besar Tinggi, Lawang. Kedua
markas tinggi itu masih tetap mengembangkan apa yang menjadi rencana mereka semula,
walaupun keduanya dilandasi semangat dan kesadaran yang sama yaitu tekad perjuangan
mempertahankan kemerdekaan. Sementara dualisme pimpinan dalam lingkungan Angkatan
Laut Republik Indonesia belum teratasi, keadaan negara bertambah genting; dimana Belanda
mendatangkan pasukan yang baru untuk memperkuat pertahanannya, untuk menggantikan
kedudukan pasukan Inggris di Indonesia.
Pasukan Belanda melancarkan serangan-serangan ke wilayah Republik untuk
memperluas wilayah pendudukannya, sehingga timbullah pertempuran-pertempuran seperti di
Medan Area, Palembang, Padang Area, Surabaya serta Jakarta dan sekitarnya. Untuk meng-
antisipasi hal itu, pada tanggal 17 Juni 1946 Presiden Republik Indonesia menyatakan negara
dalam keadaan bahaya perang. Pada tanggal 26 Juni 1946 dibentuk Dewan Militer yang
diketuai oleh Presiden, sebagai anggota adalah Panglima Besar, Pimpinan Umum Angkatan
Laut, Kepala Staf Tentara Republik Indonesia, Kepala Staf Angkatan Laut dan Direktur
Jenderal Kementerian Pertahanan (Nasution, 1977: 327).
Pada tanggal 26 Juni 1946 Presiden mengangkat Laksamana Muda M. Nazir menjadi
Pimpinan Umum Angkatan Laut Republik Indonesia, dengan tugas penting mengatasi
dualisme yang terjadi dalam tubuh ALRI (Nasution, 1977: 328). Untuk tujuan itu diadakan
pendekatan pada pimpinan ALRI di Lawang dan Yogyakarta, yang selanjutnya pada tanggal
19 Juli 1946 dilangsungkan Komperensi Angkatan Laut Republik Indonesia di Lawang, yang
hasilnya menetapkan antara lain (Disjarah, 1973: 173 dan 183-188):
1) Nama Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) diresmikan, sehingga nama
Tentara Republik Indonesia Laut atau Marine Keamanan dan sebagainya tidak
berlaku lagi.
2) Markas Tertinggi ALRI berkedudukan di Lawang dan Sub Markas Tertinggi
berkedudukan di Yogyakarta.
3) Pembentukan 12 pangkalan ALRI di Pulau Jawa.
Pimpinan ALRI MBU Yogyakarta yang lebih menekankan fungsi ALRI sebagai alat
negara yang bertugas di laut, sehingga dalam pembinaan organisasi banyak meniru Koninglijke
Mariane (KM) dan mengutamakan pembinaan kebaharian melalui pendidikan. Berdasarkan hal
tersebut, maka tiap-tiap Resimen ALRI di Pulau Jawa diresmikan menjadi pangkalan, yang
merupakan eselon kedua dalam struktur organisasi ALRI.
Karenanya, Resimen ALRI Banten ditetapkan menjadi Pangkalan I; dan statusnya --
sebelumnya berada di bawah Cirebon -- langsung di bawah Markas Besar ALRI di
Yogyakarta. Resimen ALRI Banten berubah menjadi Pangkalan ALRI Banten, dengan struktur
organisasi sebagai berikut (Disjarah, 1977: 164)[22]:
1) Unsur Staf :
Panglima Pangkalan : Kolonel Misbah
Wakil Panglima : Mayor Tombing
Kepala Administrasi : Kapten Darmo Sudiskam
Kepala Personalia : Letnan I Sutoyo Condrowinoto
Kepala Keuangan/Intenden : Mayor Ashari
Kepala Operasi : Mayor Hasan Acang
Perwira Siasat : Letnan I Ngaliman
Kepala Persenjataan : Letnan I Supardi
2) Unsur Tempur
Komandan Pasukan : Kapten Margolan
Dan Yon II Pontang : Kapten Atuk Mansur
Dan Yon III Labuan : Letnan I Rahmat
Dan Yon IV Malimping : Letnan I Wibowo Sumanto
Dan Yon V Pelab. Ratu : Letnan M. Samsudin
3) Armada/Perkapalan dan Establismen
Komandan : Mayor Ahmad Hadi
Ka Bagian Elektro/Teknik : Letnan II Maskalir dibantu oleh Letnan Muda Mursid
dan Letnan Muda Agus Rubayah serta Letnan Muda
Basuni.
Bagian Perkapalan : Kapten S. Abdullah.
Persenjataan Armada : Serma M. Sulaiman dibantu oleh Sersan Nurdin dan
Sersan Intan Iskandar
4) Unsur Pembinaan
Pendidikan : Letnan I Jatmiko
Pembantu : Letnan II Aji Rahmat dan Ajudan Ahmad
Kesehatan : Manteri Kesehatan Emon, dibantu oleh Zuster Suhaima.
Markas Pangkalan I Banten terletak di gedung bekas Asisten Residen di Cipare, Serang,
dengan jumlah personil lebih dari 3000 orang, yang sebagian besar terdiri dari anggota
Pasukan Tempur/Corp Marinir (CM); tetapi jumlah pelaut sangat terbatas, hanya terdiri dari
para eks perwira Koninglijke Mariene (KM), Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) dan lulusan
Latihan Opsir (LO) TKR Laut Serang.
Personil Pangkalan I tersebar di lima kota pantai dan sebagian kecil di markas Serang.
Tiap-tiap batalyon menye-barkan anggotanya untuk mengadakan pengawasan pantai dan
pulau-pulau yang ada di sekitar perairan Banten. Setiap ada hal yang mencurigakan dengan
segera mereka memberi laporan kepada pos terdekat yang kemudian diteruskan ke Markas
Pangkalan di Serang. Kegiatan Pangkalan di samping melakukan tugas pengawasan, juga
untuk bagian perkapalan bertugas mengoperasikan kapal Pulo Merak I dan Pulo Merak II.
Menjelang akhir tahun 1946 kegiatan operasi laut dari kapal-kapal perang Belanda di
Selat Sunda semakin meningkat, sehingga kegiatan kapal Pulo Merak I dalam melakukan
penyeberangan dihentikan, karena khawatir diserang patroli Belanda. Tetapi akhirnya Pulo
Merak I jatuh juga ke tangan Belanda, menjelang akhir tahun 1947. Usaha penyelamatan kapal
oleh pasukan Letnan II Tb. Hari Ahmad -- memerintahkan anggotanya untuk melepaskan kran
pipa air agar kapal bisa tenggelam -- tidak berhasil karena kapal Belanda yang bernomor
lambung B. 251 sudah hampir merapat ke Kapal Pulo Merak I. Kapal Pulo Merak I kemudian
diseret oleh kapal Belanda keluar dari pelabuhan Merak. Ketika pasukan bantuan dari Batalyon
I Merak datang, kapal Belanda tersebut telah berada di tengah laut bergabung dengan kapal
Belanda yang lain (Tb. Hari Ahmad, Wawancara).
Di samping menjaga pantai -- secara bergiliran antara anggota Corp Marinir dan
Pasukan Tempur Laut -- dan mengadakan latihan, juga ikut dalam operasi tempur ke front
Mauk sebelum dan sesudah Aksi Militer Belanda I. Selain itu Pangkalan I Banten pun
mengadakan kerja sama dengan Pangkalan I Lampung; juga mempunyai gagasan supaya Pos
ALRI di Pelabuhan Ratu dikembangkan dan ditingkatkan menjadi Pangkalan ALRI XIII di
bawah pimpinan Kapten Saleh, karena sulitnya hubungan antara pos-pos pengintai di pantai
Selatan dengan Markas di Serang. Untuk mewujudkan gagasan ini, Kolonel Misbah, Panglima
Pangkalan I Banten, setelah mengadakan inspeksi ke pelabuhan Ratu kemudian mengirimkan
utusan ke Yogyakarta untuk meminta pengesahan dari Markas Besar ALRI di Yogyakarta.
Karena persetujuan dari Markas Besar ALRI lama tidak kunjung datang, maka Kolonel Misbah
pergi ke Yogyakarta.
Begitu lamanya Kolonel Misbah meninggalkan Markas Pangkalan, sehingga
perkembangan Pangkalan I ALRI Banten menjadi terganggu. Hal ini disebabkan timbulnya
perpecahan di kalangan Perwira Staf. Keadaan itu menimbulkan kekacauan dalam organisasi
dan garis komando, sehinggga pada awal tahun 1947 Mayor Ashari perwira keuangan
mengambil alih pimpinan, yang disetujui dan didukung oleh Perwira Staf lainnya. Kejadian di
Serang ini segera dilaporkan oleh Mayor Tobing, Wakil Panglima Pangkalan I Banten, kepada
Kolonel Misbah di Pelabuhan Ratu dan ke MBU ALRI di Yogyakarta.[23] Kolonel Misbah
berhasil mengatasi kemelut dan kembali memegang pimpinan di Pangkalan I Banten. Untuk
menghindari timbulnya masalah baru dalam organisasi, Mayor Ashari diberi tugas untuk
mengurus keuangan dan perlengkapan ALRI ke Markas Besar Yogyakarta. Sejak pimpinan
berada kembali di tangan Kolonel Misbah dengan dukungan dari para Perwira Staf, maka
disiplin kerja berhasil ditegakkan kembali
Pada awal kemerdekaan, masalah paling sulit diatasi adalah masalah keuangan dan
perlengkapan personil ALRI Banten, karena memang dukungan dari pemerintah daerah dan
Markas Besar tidak mencukupi. Untuk mengatasi hal ini, terpaksa Kolonel Misbah sering
mengadakan perjalanan dinas ke daerah lain untuk mencari dukungan keuangan dan
perlengkapan; misalnya ke Tegal, Garut, dan Tasikmalaya. Dari Tegal diperoleh bantuan
berupa beberapa pucuk senjata (antara lain 12,7 dan karaben), kain (blaco), sepatu dan gula.
Selama Kolonel Misbah ke luar kota, pimpinan sementara dipegang oleh Mayor Hasan Acang.
Kekosongan pimpinan ini menimbulkan kekompakan kerja tidak seperti semula; perasaan
saling curiga mencurigai antara Perwira Staf dan Komandan Batalyon tumbuh dengan subur,
yang berkembang ke arah terbentuknya sistem kelompok.
Dalam pada itu untuk mengatasi keruwetan yang sedang berkembang dalam organisasi
ALRI, diadakan pertemuan di Yogyakarta pada bulan Januari 1947 yang dihadiri oleh
pimpinan MBU Yogyakarta dan MBT Lawang. Pada pertemuan tanggal 21 Januari 1947
diputuskan untuk membentuk Dewan Angkatan Laut, yang tugasnya di samping mengawasi
MBU ALRI juga mengawasi tugas Departemen Pertahanan ALRI dalam menyusun suatu
rencana reorganisasi yang dapat memenuhi aspirasi anggota ALRI (Disjarah, 1977: 175).
Dewan Angkatan Laut memutuskan untuk mengurangi 12 pangkalan Angkatan Laut
yang sudah ada menjadi 3 pangkalan. Berdasarkan keputusan itu Panglima ABRI Laksamana
Muda M. Nazir, pada bulan Pebruari 1947, menginstruksi agar para Panglima Pangkalan
melaksanakan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan organisasi.[24]
Perubahan itu adalah sebagai berikut :
1) Probolinggo menjadi Pangkalan I: gabungan Pangkalan VII, Pangkalan IX
Probolinggo, dan Pangkalan X Banyuwangi.
2) Cilacap menjadi Pangkalan II.
3) Cirebon menjadi pangkalan III: gabungan Pangkalan I Banten, Pangkalan II
Karawang, Pangkalan III Cirebon dan Pangkalan IV Tegal.
Instruksi Panglima ALRI tersebut mengubah kembali Pangkalan I Banten menjadi Sub
Pangkalan yang berada di bawah Pangkalan III Cirebon. Perubahan itu tidak mempengaruhi
struktur organisasi, yang terjadi hanya penyesuaian organisasi dengan bentuk baru dan
pergeseran personalia serta memindahkan markas dari Serang ke Cilegon, dengan tujuan agar
dekat dengan pasukan dan laut. Di samping itu, Pasukan Corp Marinir (CM) berada dalam satu
komando Komandan Panglima ALRI. Sedangkan organisasi Bagian Armada Perkapalan di
bawah pimpinan Mayor Ahmad Hadi diperbantukan ke Lampung untuk mengembangkan
organisasi Armada di bawah pimpinan Letnan I Hotma Harahap.
Dengan demikian organisasi ALRI Banten pada pertengahan tahun 1947 adalah sebagai
berikut :
Komandan Panglima : Kolonel Misbah
Wakil Komandan : Kapten Margolan
Bagian Tata Usaha : Letnan I Darmo Sudiskam dan M. Ujer
Bagian Personalia : Kapten Sutowo Condrowinoto
Bagian Keuangan : Letnan I Kairupan
Bagian Perbekalan/Suplay : Letnan I Supomo
Bagian Pendidikan : Letnan I Jatmiko
Pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda melakukan Aksi Militer ke-I. Maka pada tanggal 28
Juli 1947 Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Surat Keputusan No. 97-A-47, tentang
Pembentukan Pucuk Pimpinan Angkatan Laut Republik Indonesia (PP. ALRI). Dalam
organisasi ALRI, PP. ALRI adalah suatu organisasi pusat Angkatan Laut Republik Indonesia
(ALRI) yang mempunyai tanggung jawab penuh baik secara taktis operasi, organisasi maupun
administrasi. Pimpinan yang duduk dalam organisasi Pucuk Pimpinan Angkatan Laut Republik
Indonesia adalah terdiri dari tokoh pimpinan Lawang dan Yogyakarta, dengan tujuan untuk
menghilangkan dualisme dalam Pimpinan ALRI.
D. PERANG MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN REPUBLIK
Dengan masuknya tentara Sekutu yang diwakili oleh Inggris ke Indonesia, masuk
pulalah tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration (NICA), Badan Urusan Sipil
Hindia Belanda -- yang direncanakan akan menerima kembali kekuasaan sipil di Indonesia dari
tentara Inggris, dipimpin oleh Van Mooks dan Van der Plas -- pada tanggal 29 September
1945. Pasukan Sekutu yang ditugaskan untuk melucuti semua tentara Jepang di Asia Tenggara
hanya tersedia lebih kurang 8 atau 9 divisi. Dan yang ke Indonesia terdiri dari 2 divisi, yaitu
divisi 23 dan 26, untuk Jawa dan Sumatra. Sehingga untuk menduduki beberapa pelabuhan
penting seperti: Medan, Palembang, Jakarta, Semarang, Surabaya dan Bandung) hanya dikirim
1 brigade saja, dipimpin oleh Jendral Christison. Bahkan untuk pendaratan di Semarang
dibentuk suatu pasukan darurat yang diketuai oleh Brigadir Artileri (Nasution, 1982: 72).
Barangkali hal inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa pasukan Inggris tidak
begitu memperhatikan perlakuan curang tentara NICA. Dengan ikut sertanya tentara NICA
dalam pasukan Sekutu itu membuat hampir di semua kota yang didarati tentara Inggris selalu
timbul kekacauan. Hal demikian memang disengaja oleh NICA, karena sebelum tentara Sekutu
itu masuk ke suatu daerah, tentara KNIL, yang sudah dibebaskan dan dipersenjatai kembali,
mengadakan teror dan kekacauan di dalam kota untuk memancing perlawanan dari pihak TKR
dan barisan pejuang rakyat. Selanjutnya, setelah terjadi kekacauan-kekacauan pasukan Sekutu
dan NICA tampil dengan ultimatum supaya TKR dan lasykar rakyat segera meninggalkan
kota. Bahkan dengan adanya kekacauan itu -- NICA menuduh bahwa kekacauan itu dilakukan
oleh tentara RI -- van Mook (yang tiba di Jakarta pada tanggal 4 Oktober 1945) mengusulkan
kepada pimpinan pasukan Sekutu, Mountbatten dan Christison, untuk mengambil tindakan
lebih keras kepada tentara Indonesia, yang katanya membuat rakyat menjadi sengsara
(Sudirdjo, 1983: 315). Perlawanan rakyat di suatu daerah, dijadikan alasan oleh NICA untuk
datang "mengamankan" daerah tersebut dan kemudian menguasainya.
Di kota Jakarta misalnya, hampir setiap hari pasukan KNIL mengadakan penculikan dan
pembunuhan pada pemuda Indonesia; dan pasukan Sekutu tidak dapat berbuat banyak
(Soeroyo, 1988:58 dan Sudirdjo, ed., 1985:39). Terjadilah kontak bersenjata dengan pemuda-
pemuda Jakarta di daerah Jagamonyet, Senen, Tanah Tinggi, Capitol, Olimo Jatinegara, Tanah
Abang, Kebayoran, dan sebagainya. Tetapi karena pihak NICA lebih kuat persenjataannya, dan
pula di bawah lindungan pasukan Sekutu, maka pihak pemuda Jakarta tidak dapat berbuat
banyak. Tentara NICA itu terang-terangan mengadakan teror terhadap penduduk, bahkan
kemudian berhasil menembak dan melukai beberapa pemimpin negara, seperti Sutan Syahrir,
Mohamad Roem, Mr. Amir Syarifuddin. Keadaan kota Jakarta yang kacau inilah yang
mendorong dipindahkannya ibukota Republik Indonesia ke Jogjakarta pada tanggal 4 Januari
1946.
Pemuda-pemuda pejuang dari Jakarta, yang kemudian terdesak oleh serangan pasukan
NICA, banyak yang pindah ke Tangerang. Dan, dengan alasan mengejar para perusuh,
akhirnya pasukan NICA pun masuk ke kota Tangerang dan mengultimatum agar kota
Tangerang dikosongkan; pejuang-pejuang harus mundur 4 km, sampai di sebelah barat
Cisadane. Ultimatum Sekutu itu disebarkan melalui udara pada tanggal 14 Mei 1946, dengan
disertai penjelasan bahwa pihak Pemerintah RI telah menyetujuinya. Tiga hari kemudian, 17
Mei 1946, pasukan NICA telah berhasil menduduki Serpong.
Dalam pada itu, untuk menghindari banyaknya korban rakyat, TRI Resimen 40 Divisi II
Tangerang atas perintah komandan Divisi II, diintruksikan supaya segera meninggalkan kota
Tangerang tanpa mengadakan perlawanan kepada tentara Sekutu. Sedangkan pemerintahan
sipil Tangerang dipindahkan ke Balaraja, selanjutnya Balaraja dijadikan Ibukota Kabupaten
Tangerang. Dengan mundurnya TRI dari kota Tangerang, maka dengan leluasa pasukan
Sekutu dan NICA pada tanggal 28 Mei 1946 sepenuhnya menguasai kota (Madiyah, t.t.: 60).
1. Peristiwa Makam Pahlawan Seribu
Mundurnya tentara Tangerang tanpa memberi perlawanan terhadap musuh mendapat
ejekan dari kalangan rakyat pejuang Banten -- bahkan pernah mereka dikirimi bedak, cermin
dan lipstik. Dan, karena Tangerang merupakan pintu gerbang untuk masuk ke daerah Banten,
maka pada tanggal 23 Mei 1946 laskar rakyat dari Banten berkekuatan 400 orang bergerak
menuju Tangerang, dengan maksud menahan musuh jangan sampai memasuki daerah Banten.
Pasukan rakyat itu dipimpin oleh K.H. Ibrahim dari desa Sampeureum, Maja, bertujuan untuk
menyerang markas NICA di Serpong, Tangerang. Karena keadaan kekuatan dan kelemahan
pasukan NICA -- yang baru tiba di Serpong -- belum diketahui, dan juga diperkirakan mereka
masih dalam keadaan siap tempur, maka komandan TRI Divisi 1000/I yang berada di
perbatasan melarang adanya penyerangan tersebut. Namun didorong oleh semangat Laskar
Rakyat dan kebencian mereka kepada penjajah, tanpa mengindahkan larangan itu, mereka tetap
hendak melanjutnya rencana penyerbuan.
Di perjalanan, rombongan bertambah dengan pemuda-pemuda dari desa Maja, Cibubur
dan Cipinang yang ikut bergabung. Sampai di Tenjo pasukan K.H. Ibrahim bergabung dengan
pasukan dari Tenjo yang dipimpin K.H. Harun dengan kekuatan sekitar 300 orang. Kedua
pasukan itu berjalan kaki menuju Parung Panjang dan menginap di sana. Tanggal 25 Mei 1946,
rombongan sampai di kampung Karanggan, Kademangan. Malamnya, K.H. Ibrahim dan K.H.
Harun berunding untuk mengatur penyerangan yang akan dilaksanakan besok, tanggal 26 Mei
1946. Disepakati bahwa dalam penyerangan itu pasukan K.H. Harun akan menyerang dari arah
belakang, melalui jalan Rawabuntu terus ke Cilenggang; sedangkan pasukan K.H. Ibrahim
akan menyerang langsung dari depan, melalui jalan raya Serpong.
Pada tanggal 26 Mei 1946 sesuai dengan rencana, kedua pasukan pejuang bergerak
menuju sasaran. Jumlah laskar rakyat bertambah besar karena di sepanjang jalan yang dilalui
banyak rakyat yang menggabungkan diri; di antaranya rakyat dari Sengkol yang dipimpin Jaro
Tiking. Sepanjang jalan rombongan ini mengumandangkan takbir "Allahu Akbar" sambil
meng-acung-acungkan senjata yang dibawanya berupa golok, kelewang, tombak, panah dan
bambu runcing.
Di depan kubu pertahanan NICA, seorang serdadu NICA dengan membawa bendera
putih didampingi dua orang serdadu bersenjata brengun, menyetop dan mendekati rombongan
rakyat, dengan maksud hendak menanyakan tentang kedatangan laskar rakyat itu. Namun,
tanpa dapat dikendalikan dibarengi dengan semangat kebencian, pihak rakyat terus maju
bahkan kemudian membacok serdadu NICA pembawa bendera. Melihat keadaan tersebut, dua
orang serdadu NICA lainnya segera menembak, disusul dengan tembakan gencar dibarengi
lemparan granat dan mortir dari arah markas NICA "menyapu" barisan laskar rakyat. Maka
bergelimpanganlah pasukan rakyat, tumpang-tindih. Seruan takbir akhirnya tidak terdengar
lagi tersapu dentuman montir dan granat. Serangan ke markas NICA di Serpong itu gagal, dan
korban yang gugur -- berikut mayat K.H. Ibrahim dan Jaro Tiking -- diperkirakan lebih dari
189 orang. Jenazah para pahlawan bangsa itu semuanya dikubur secara massal dalam tiga
lobang besar; karena itulah makam para syuhada ini dinamai "Taman Makam Pahlawan
Seribu" yang letaknya di Serpong (Panitia ..., Naskah ).
2. Serangan NICA ke Perbatasan Banten
Dalam pada itu di Serang, dengan dikuasainya kota Tangerang yang merupakan pintu
masuk ke daerah Banten, Komandan Brigade I Tirtayasa, Kolonel K.H. Suam'un, segera
mengintruksikan beberapa batalyon TRI untuk memperkuat pasukan di daerah perbatasan. Di
antara pasukan yang dikirim itu adalah Batalyon II Mayor Samanhudi, yang dipimpin langsung
oleh Martono, ajudan komandan batalyon II, berkekuatan 3 kompi, yang masing-masing
ditempatkan: Kompi I Sunaryo di Sarakan, Kompi II Akhmad Bakhri di Cimone dan Kompi III
Abdullah Isa di Jenggot. Di samping itu dikirim pula Polisi Tentara (PT) Batalyon XI/GM/
Banten dipimpin oleh Yusuf, dengan komandan-komandan kompinya: Haer Kusuma,
Djajamihardja, Salim Nonong, Ayip Rughbi dan Sinting. Mereka ditempatkan di Kedaung
Barat, Karangserang, Gaga-Rawakopi, Sepatan -- di mana gerakan operasinya sampai
melintasi Cisadane: ke Sanggego, Kedaung Timur, Batuceper dan Bojongrenged. Di daerah
Balaraja, ditempatkan batalyon yang dipimpin oleh Supaat; di jurusan Curug, Pasargenjer dan
di Binong ditempatkan Kompi Subki; sedangkan di Cijantra ditempatkan Kompi Sanusi --
yang kedua-duanya dari PT Batalyon XI Banten.[25]
Serangan serdadu NICA ke Jatiuwung memaksa TRI mundur ke Cikupa. Pada tanggal
16 Juni 1946, dengan menggunakan senjata dan perlengkapan perang modern, NICA
mengadakan serangan mendadak ke Curug, Mawuk dan Balaraja, sehingga terpaksa pasukan
Resimen 40 Tangerang kembali mundur sampai ke daerah Cikande.
Untuk membantu pertahanan Resimen 40 Tangerang, Komandan Brigade I Tirtayasa
Banten pada tanggal 18 Juni 1946 segera mengirimkan tambahan pasukan TRI dari Batalyon
III yang dipimpin oleh Mayor Tb. Syamsudin Noor -- di samping pasukan Banten yang sudah
berada di Tangerang: Batalyon I yang dipimpin oleh Mayor H. Abdullah dan wakilnya Kapten
Supaat, Batalyon II dipimpin Mayor Samanhudi, bersama dengan Kesatuan-kesatuan Laskar
dan Badan-badan Perjuangan yang dipimpin oleh Ayip Juhri dan Ayip Samim dari Hizbullah,
Supri Jamhari dari Sabilillah dan Haji Jamra dari Laskar Rakyat. Batalyon III ini terdiri dari 4
kompi, yang masing-masing dipimpin oleh Kapten Sape'i Sofyan, Kapten Sunaryo, Kapten
Saleh Jaisan, dan Kapten Memed Hadi (Madiah, t.t.: 72).
Penguasaan daerah Balaraja oleh serdadu NICA itu tidak berlangsung lama, karena
setelah itu, mereka pun kembali ke pangkalannya di Tangerang. Pemerintahan sipil Tangerang
kembali berfungsi dari Balaraja.
Dalam pada itu, dengan dikuasainya daerah Tangerang oleh pasukan Belanda, blokade
ekonomi oleh Angkatan Laut Belanda semakin ketat. Sembilan bahan pokok kebutuhan hidup
sehari-hari semakin sulit didapat. Dalam situasi tersebut, peran para pedagang, yang
menyelundupkan bahan kebutuhan sehari-hari sangatlah membantu rakyat. Komunikasi
dengan pemerintahan propinsi, yang sementara di Tasikmalaya, dan, apalagi dengan
pemerintah pusat di Jogyakarta, terputus sama sekali. Untuk itu, segala kebutuhan rakyat
haruslah dipenuhi oleh rakyat di daerah itu sendiri. Bahkan dalam mengatasi masalah
keuangan, pemerintahan Karesidenan Banten mengeluarkan uang sendiri, yang dikenal dengan
ORIDAB (Oeang Repoeblik Indonesia Daerah Banten) yang dicetak di Serang. Tetapi karena
uang ORIDAB itu begitu sederhana, maka mudah sekali dipalsukan. Pemalsu-pemalsu
ORIDAB diketahui terdiri dari orang-orang Cina yang berdomisili di Tangerang dengan
dukungan Belanda. Karenanya dengan mudah mereka memasukkan uang palsu tersebut ke
daerah Banten melalui pos-pos penjagaan Belanda di perbatasan. Akibatnya, terjadilah inflasi,
dan yang lebih parah lagi rakyat tidak menaruh kepercayaan terhadap nilai ORIDAB.
Untuk menghadapi situasi moneter tersebut, pasukan penjaga perbatasan yang dipimpin
oleh Mayor R.R. Jaelani diperintahkan untuk mengatasi keadaan itu. Dibentuklah pasukan
khusus yang ditugaskan untuk mempelajari kode-kode rahasia dari ORIDAB dan mengadakan
penelitian uang di pasar-pasar. Sebelum pasar dibuka, para petugas ini memeriksa uang yang
akan dibelanjakan, dan apabila diketahui bahwa uangnya palsu maka uang tersebut segera
dimusnahkan. Di samping itu juga dilakukan pemeriksaan ketat terhadap orang-orang yang
datang dari daerah pendudukan, dan dilakukan penangkapan terhadap orang yang diketahui
menyelundupkan ORIDAB palsu. Dengan cara semacam itu, akhirnya sedikit demi sedikit
inflasi ORIDAB dapat diatasi.
Hal yang sama juga dilakukan pada pengadaan persenjataan. Untuk memenuhi
kebutuhan akan senjata perang itu, di samping dengan cara merampas dari tentara Belanda
juga beberapa jenis senjata dibuat sendiri. Misalnya mortir 3 inci yang larasnya dibuat dari
pipa bekas tiang listrik. Mortir istimewa itu diproduksi oleh Pabrik Minyak Mexolie di
Rangkasbitung. Karena senjata mortir ini tidak memiliki peralatan pengontrol, maka dalam
pemakaiannya beberapa kali terjadi pelurunya tidak terlontar, tapi meletus di dalam tabung.
Selain mortir "Mexolie" juga dibuat bom tarik, ranjau darat dan granat bambu.
Dengan adanya Perjanjian Linggarjati, tanggal 11-15 Nopember 1946, maka
pemerintahan Karesidenan Banten -- termasuk juga pertahanan keamanan -- meliputi 5
kabupaten: Serang, Pandeglang, Lebak (Rangkasbitung), Tangerang dan Bogor Barat.
Selanjutnya, Komandan Brigade I Tirtayasa, Kolonel K.H. Syam'un, yang sebelumnya
digantikan oleh Letnan Kolonel Sukanda Bratamenggala; selanjutnya diganti oleh Letnan
Kolonel Dr. Eri Sudewo.
3. Palagan di Sepatan
Aksi militer Belanda ke-1 dimulai pada tanggal 20 Juli 1947. Hal itu dimulai dengan
peran Dr. H.J. Van Mook yang mendapat kuasa penuh dari pemerintah Belanda untuk
mengadakan Politioneel Actied dan mengambil segala sesuatu yang dipandang perlu. Maka
lewat tengah malam, secara sepihak, Belanda telah menyerang dan menduduki gedung-gedung
pemerintah Republik Indonesia di Jakarta. Kemudian, keesokan harinya tanggal 21 Juli 1947
Belanda mengadakan serangan ke wilayah RI dari segala jurusan; dari darat, laut dan udara.
Pertahanan tentara RI di Jakarta Timur, Bekasi dan Tambun diserang secara besar-besaran.
Selanjutnya Belanda menyerang kota-kota di Jawa Barat, sehingga Divisi Siliwangi
kekuatannya terpecah-pecah dalam kesatuan kecil di beberapa daerah.
Pada hari itu pula, tanggal 21 Juli 1947, perwira muda Mayor R.E. Jaelani, komandan
batalyon dan komandan sektor garis depan, mendapat perintah dari Komandan Brigade I
Tirtayasa untuk mendahului menyerang Belanda di sektor Jakarta Barat dengan sasaran utama
kota Tangerang dan sekitarnya. Di bawah komando Jaelani diperbantukan 3 kompi pasukan
dari kesatuan lain, yaitu Kompi Umar Syarif dari kesatuan Polisi Tentara (PT), Kompi Garuda
dipimpin Kapten Sabit, dan Kompi Pioner dipimpin Kapten Umar Dipokusumo.
Kompi Umar Syarif ditempatkan di Mawuk menduduki sayap kiri; Kompi Sabit
ditempatkan di jalan raya sekitar COP Batalyon, menduduki sayap tengah; sedangkan Kompi
Pioner diserahi menghancurkan bangunan-bangunan dan jembatan-jembatan strategis, di
samping tugas tempur [26]. Penyerangan yang dipimpin oleh Jaelani sebagai komandan sektor
dilaksanakan menjelang fajar. Walaupun pasukan penyerang ini tidak berhasil melintasi Sungai
Cisadane, tetapi pertempuran ini berjalan lama hampir sepanjang hari di sekitar Sepatan,
Cimone dan Karawaci.
Pihak Belanda mengerahkan senjata-senjata berat dengan dukungan pasukan infantri,
kendaraan lapis baja dan tembakan dari udara. Dalam pertempuran terbuka yang tidak
seimbang dalam persenjataan dan perlengkapan perangnya ini, pasukan Jaelani memberikan
perlawanan gigih hingga petang hari. Baru menjelang malam, Jaelani memerintahkan
pasukannya untuk kembali ke tempat semula.
Dalam pertempuran itu beberapa prajurit gugur dan luka-luka; bagi yang luka diteruskan
ke rumah sakit darurat batalyon Cikande. Dan untuk menghindari serangan balasan secara
besar-besaran dari NICA, pasukan Jaelani mengambil teknik bumi ha-ngus; dengan
menghancurkan jalan dan jembatan-jembatan penghubung. (Panitia ..., Naskah).
[1]
Rengas Dengklok, utara Karawang, Jawa Barat, adalah tempat dimana didirikan Tangsi Rengas Dengklok markas Daidan yang
mendukung cita-cita kemerdekaan Indonesia; dengan dikuasainya tempat ini maka dapat dikatakan Rengas Dengklok-lah daerah
pertama Republik Indonesia.
[2]
Sidang-sidang PPKI ini pun diprakarsai oleh pemuda-pemuda pergerakan yang memanggil anggota PPKI untuk bersidang
karena dianggapnya para pemimpin negara terlalu lamban dan terlalu dibayangi "kekhawatiran" akan kemarahan Jepang yang
masih eksis. Dan atas usahanya pula beberapa kantor penting dapat dikuasai rakyat dari tangan Jepang (Malik, 1984: 55-68).
[3]
Istilah ini dipakai untuk menyebutkan orang Jepang sipil, karena mereka sering menggunakan lencana berupa bunga sakura
pada kemejanya.
[4]
Bagian Armada Perikanan dimaksudkan untuk menyatukan kekuatan nelayan dan hasil laut yang diperoleh akan digunakan
untuk membiayai pasukan.
[5]
Setelah pemerintah Jepang mendengar mengenai kekalahan tentaranya di laut Pasifik, segera pemerintah militer Jepang
bertindak melucuti senjata semua anggota PETA, dengan alasan akan diganti dengan senjata yang lebih baik.
[6]
Pasukan marinir Jepang pada umumnya tidak pernah berhubungan langsung dengan penduduk karenanya mereka tidak menjadi
sasaran kemarahan rakyat.
[7]
Dalam missi ini Tb. Marzuki berhasil mencuri beberapa pucuk senjata tentara Jepang karena dalam pengangkutan itu tentara
Jepang dipisahkan dari senjatanya.
[8]
Kesanggupan Tb. Kaking menjemput jenazah-jenazah tersebut menurut dia, adalah dilandasi oleh perasaan hutang budi antara
murid dan guru.
[9]
Karena semua pejabat pemerintahan diangkat dari kalangan ulama, maka di beberapa kalangan dikatakan sebagai "pemerintahan
ubel-ubel"
[10]
Gulkut = gulung bukut. bukut = pamongpraja; artinya, Laskar Gulkut ini dibentuk untuk menggulung para pamongpraja yang
dianggap warisan kolonial, dan kulaburator/penghianat bangsa. Gut-gut = jawara-jawara; artinya mereka terdiri dari jawara-jawara.
Karena memang anggota laskar ini adalah para "jawara", yang biasanya berseragam baju hitam-hitam dengan lencana di dada
berbentuk segi tiga dengan tanda palu arit di tengahnya.
[11]
Istilah yang berkembang saat itu, diambil dari bahasa Jepang (5 = go; 6 = rok; 56 = gorok, berarti dibunuh).
[12]
Ternyata kemudian baru diketahui bahwa Supriyadi mungkin telah tewas dibunuh kempetai secara diam-diam.
[13]
Jabatan ini kemudian dirangkap oleh Mayor Sukahardja, karena Mayor Salim Satiadinata ditugaskan sebagai Kepala Bagian
Siasat.
[14]
Kemudian diganti oleh Mayor Salim Satiadinata, karena Mayor Tb. Syamsuddin Nur ditunjuk sebagai Komandan Batalyon III
Resimen I (perubahan batalyon).
[15]
Gedung Markas BKR-Laut Banten itu kemudian juga menjadi markas Pangkalan I Banten, sekarang menjadi gedung Dinas
Kesehatan Tentara (DKT) Korem 064 Maulana Yusuf.
[16]
Slagorde Organik Brigade I Tirtayasa Divisi I Siliwangi setelah diadakan Reformasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) pertama, Polisi
Tentara Batalyon XI menjadi Corps Polisi Militer Djawa (CPMD) Detasemen VIII Divisi Gajah Mada.
[17]
Dan, dengan dalih untuk supaya tentara pun jangan buta politik, Menteri Pertahanan membentuk Badan Pendidikan Tentara --
yang kemudian, pada tanggal 30 Mei 1946, diubah menjadi Pendidikan Politik Tentara (Pepolit); yang pada prakteknya ternyata
digunakan oleh Amir Syarifudin sebagai tempat penanaman indroktrinasi ideologi komunis (Panitia ..., 1985: 100).
[18]
Pembentukan Biro Perjuangan (BP) XXXV di daerah Karesidenan Banten, terlambat 5 bulan dibandingkan dari daerah lain.
Hal ini disebabkan, menurut laporan Komandan PMC, Letkol Harsono, Banten merupakan daerah rawan disiplin organisasi
kelasykarannya, rakyatnya "fanatik" agama Islam dan bertemperamen tinggi, pemerintahan sipilnya belum begitu lancar, dan
keadaan sosial-ekonominya sangat memprihatinkan. Akhirnya Biro Perjuangan Pusat mengirimkan langsung Kepala dan anggota
staf intinya dari Yogyakarta (Soendjojo, Naskah).
[19]
Untuk selanjutnya Kolonel Gatot ditugaskan di Markas Besar Angkatan Laut (MBAL) di Yogyakarta.
[20]
Usaha lain untuk memperoleh tambahan senjata adalah mengadakan "hubungan timbal-balik" dengan Lampung dan Tegal.
TKR Lampung memerlukan beras dan gula, sedangkan Banten memerlukan senjata dan pakaian; maka terjadilah tukar menukar
kebutuhan. Dengan cara yang sama, diperoleh senjata dan pakaian seragam putih dari TKR Tegal (Ajudan (Purn) Arif Hasibuan,
Wawancara, Jakarta 28 Mei 1979).
[21]
Pada tanggal 7 Januari 1946, TKR Laut diganti nama menjadi ALRI.
[22]
Diperkuat oleh Wawancara dengan Letkol Ngaliman, Letkol (Purn) Darmo Sudiskam dan Tb. Hari Ahmad.
[23]
Mayor Tombing akhirnya tidak kembali lagi ke Pangkalan I Banten, karena diberi tugas baru oleh MBU untuk menjabat
sebagai Perwira Perwakilan Pangkalan I di Yogyakarta, dibantu oleh lulusan Latihan Opsir ALRI Mursid, Sukrani dan Djatmiko,
eks insruktur LO ALRI.
[24]
Instruksi panglima Laksamana Muda M. Nazir baru dilaksanakan oleh Pangkalan yang ada di Jawa pada bulan Mei 1947.
[25]
Pengiriman pasukan TRI dari Serang ke daerah perbatasan Tangerang itu dilakukan dengan jalan kaki, yang sebelumnya
diadakan acara pelepasan di Alun-alun Karesidenan dengan diiringi do'a dan taburan beras kuning oleh K.H. Ahmad Chatib,
Residen Banten.
[26]
Untuk tugas penghancuran bangunan dan jembatan itu, kompi Pioner membawa beberapa buah bom besar dari Gorda sisa
tentara Jepang. Namun menjelang fajar, anak buah kompi Pioner melaporkan bahwa denodator peledak bom yang dibawanya
tertinggal di Balaraja; dengan demikian tugas penghancuran tidak dapat dilaksanakan.
Daftar Kepustakaan
Abdullah, Taufik
1984 "Reaksi Terhadap Perluasan Kuasa Kolonial: Jambi dalam Perbandingan",
PRISMA, No. 11, Jakarta: LP3ES, 12-27.
Abu Ridho 1984 "Preliminary Report on Trade Ceramics Found in Warloka, West Flores"
,Studies on Ceramics, Puslit Arkenas, Jakarta.
Aceh, Abubakar
1966 Pengantar Ilmu Tarekat, Pa. Tawi & Son, Jakarta.
Ambary, Hasan M.
1975 "The Establisment of Islamic Rule in Jayakarta", Aspects of Indonesian
Archaeology No. 1, Puslit Arkenas, Jakarta.
1977a "Laporan Exskavasi Tridenorejo, Demak", Berita Penelitian Arkeologi, No. 7,
P3N, Jakarta.
1977b Tinjauan Tentang Penelitian Banten Lama, P3N, Jakarta.
1978 Laporan Penelitian Arkeologi Banten 1976, P3N, Jakarta.
1980 "Tinjauan Tentang Penelitian Perkotaan Banten Lama", PIA-1 1977, P4N,
Jakarta.
1981a "Mencari Jejak Kerajaan Islam di Indonesia", Masuknya Islam di Indonesia,
Al-Ma'arif, Bandung.
1981b "Notes on Research on the Sites from Srivijayan Periods", Studies on
Srivijaya, Puslit Arkenas, Jakarta.
1984 L'Art Funeraire Musulman en Indonesie des Origines Au XIX-e Siecle: Etude
Epigrahique et Typologique, These pour le Doctorat, Ecole des Hautes Etudes
en Sciences Sociales, Paris.
1991a "Kaligrafi Islam Indonesia Dimensi dan Signifikansinya dari Kajian
Arkeologi", Pidato Pengukuhan Jabatan Ahli Peneliti Utama, 18 Pebruari,
Jakarta: Puslit Arkenas.
1991b "Sejarah Perkembangan Pesantren di Pulau Jawa: Dimensi dan Perspektif",
Seminar Peranan Pesantren dalam Pembangunan Nasional, Jakarta: IAIN
Syarif Hidayatullah.
1991c "Kebudayaan Sunda", Proceeding Seminar Sejarah dan Tradisi tentang Prabu
Siliwangi, Pemda Jawa Barat, EFEO & Puslit Arkenas, Jakarta: 394-401.
Ambary, Hasan Muarif dan Halwany Michrob
1988 Geger Cilegon 1888 Peranan Pejuang Banten Melawan Penjajah Belanda,
Serang: Panitia Hari Jadi ke-462 Pemerintah Daerah Tingkat II Serang.
Ambary, Hasan Muarif, Halwany Michrob, John N. Miksic
1988 Katalogus Koleksi Data Arkeologi Banten, Depdikbud, Jakarta.
Atkinson, D.R.
1972 "A Brief Guide for the Identification of Dutch Clay Tobacco Pipes Found in
England", Post Medieval Archaeology, vol. 10, London.
Ayatrohaedi 1980 Masyarakat Sunda sebelum Islam, Dinas Purbakala Nasional, Jakarta.
Benda, Harry J.
1980 Bulan Sabit dan Matahari Terbit, Terj. Daniel Dhakidae, Pustaka Jaya,
Jakarta.
Benda, Harry J. & Ruth Mc Vey
1969 The Uprising of Indonesian Communism: Key Documents, Cornell University
Press, Ithaca.
Berg, C.C.
1938 "Javaansche Geschiedschrijving", Geschiedenis van Nederlaansch-Indie (Ed.
F.W. Stapel), Vol. II, Amsterdam.
Berg, van den, H.J. Kroeskamp, Simandjoentak.
1952 Dari Panggung Peristiwa Sejarah Dunia, Jld. I, Wolters, Jakarta.
Binford, Lewis R.
1983 Working Archaeology, New York: Academic Press.
Block, Marc 1954 The Historians Craft, New York (Terjemahan).
Burger, dan Prajudi
1962 Sejarah Ekonomis Sosialogis Indonesia, Pradnjaparamita, Jakarta.
Chaidar 1978 Sejarah Perjuangan Islam, Syekh Nawawi al-Bantani.
Chijs, J.A. van der
1881 Oud Bantam, Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap van Kunstenen
Wetenschappen, doel 26:1-62.
Cortesao, Armando
1944 The Suma Oriental of Tome Pires, The Hakluyt Society, London.
Dam, Ten 1957 Verkeningen Rondom Padjadjaran, Indonesia, 10: 290-310
Darmodirdjo, Darji
1982 Pancasila dalam Beberapa Perspektif, Aries Lima, Jakarta.
De Graff, H.J. dan Th. Pigeaud.
1974 De Eerst Moslims Vorstendommen of Java, s-Gravenhage, Martinus Nijhoff.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
1992 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya, Jakarta.
Dinas Pariwisata Dt. II Serang
t.t Selayang Pandang Mengenal Kabupaten Serang, Pemda D.T. II Serang.
Dinas Pariwisata DT. I Jawa Barat.
t.t Petunjuk Perjalanan Jawa Barat, Pemda DT. I Jabar, Bandung.
Djajadiningrat, P.A. Hoesein dan R.A. Kern
1973 Masa Awal Kerajaan Cirebon, Bhratara, Jakarta.
Djajadiningrat, P.A. Hoesein
1983 Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten, KITLV - Jambatan, Jakarta.
Djajadiningrat, P.A.A.
1936 Kenang-kenangan Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat, Balai Poestaka,
Jakarta.
Djamhari, Saleh As'ad
1979 Ikhtisar Sejarah Perjuangan ABRI (1945 - sekarang), Departemen Keamanan
Pusat Sejarah ABRI, Jakarta.
Fowler, J.M.
1974 "Protection of the Cultural Environment in Federal Law", Environment Law
(Ed. E.L. Dolgin and T.C.P. Guilbert), West Publishing Co, Saint Paul.
Gottschalk, Louise
1975 Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah, terjemahan, Yayasan Penerbit
Universitas Indonesia, Jakarta.
Graaf, H.J.G. de
1949 Geschiedenis van Indonesia, W. van Hoeve, 's- Gravenhage/ Bandung.
Guillot, Claude, Hasan M. Ambary & Jacques Dumarcay
1990 The Sultanate of Banten, Cultural Service, French Embassy - EFEO - Puslit
Arkenas, Jakarta.
Hafifuddin, Didin
1987 Warisan Intelektual Islam Indonesia, Telaah Karya-karya Klasik, Mizan-
ISAF, Jakarta.
Hamka 1967 Sejarah Ummat Islam, Jld. III dan IV, Bulan Bintang, Jakarta.
1982 Dari Perbendaharaan Lama, Pustaka Panjiimas, Jakarta.
Harkantiningsih, Naniek
1980 Keramik di Situs Pabean Banten: Sebuah Penelitian Pendahuluan, Skripsi UI,
Jakarta.
1981 "Catatan Singkat Tentang Masyarakat Kota Banten Lama Abad 16 - 19",
Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, Jakarta.
Harsojo 1980 "Kebudayaan Sunda", Manusia dan Kebudayaan Indonesia, PT Djambatan,
Jakarta: 300-326.
Hasmy, A.
1981 Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, Al-Ma'arif, Bandung.
Heine Geldern, Robert von
1945 "Prehistoric Research in the Netherlands Indies", Science and Scientists in the
Netherlands Indies, New York: 129-167.
Heekeren, Hendrik Robert van
1956 "Note on a Proto-Historic Urn Burial Site Anyer, Java", Anthropos, 194-201.
1972 "The Stone Age of Indonesia", 2nd Rev. Ed., Verhandelingen Koninklijk
Instituut voor Taal-Land, en Volkenkunde, Den Haag.
Humas DPRGR DT. II Serang
1968 Himpunan Keputusan tentang Usul Sultan Ageng Tirtayasa Diberi Gelar
Pahlawan Nasional, DPRGR DT. II Serang.
Ismail Muhammad,
1983 Petunjuk Jalan dan Keterangan Bekas Kerajaan Kesultanan Banten Dst,
Saudara, Serang.
Ibrahim Buchari
1971 Sejarah Masuknya Islam dan Proses Islamisasi di Indonesia, Publicita,
Jakarta.
Intan, M. Fadlan S.
1990 "Informasi Geologi dan Kepurbakalaan Pulau Panaitan", Proceeding Analisis
Penelitian Arkeologi, Depdikbud, Jakarta: 511-529.
Kahin, George Mc. Turner.
1970 Nasionalism and Revolution in Indonesia, Cornell University Press, Ithaca.
Kartodirdjo, Sartono
1982 Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia, Suatu Alternatif,
Gramedia, Jakarta.
1984 Pemberontakan Petani Banten 1888, Pustaka Jaya, Jakarta.
1988 "Berkunjung ke Banten Satu Abad Lalu", Geger Cilegon . . . , (Ed. Hasan
Muarif Ambary dan Halwany Michrob): 46-63.
1984 "Respons-respons pada Penjajahan Belanda di Jawa: Mitos dan Kenyataan",
PRISMA, No. 11, LP3ES, Jakarta: 3-11.
Kartodirdjo, Sartono, Marwati Poesponegoro Djoened, Nugroho Notosusanto 1977
Sejarah Nasional Indonesia, Jld. V, Balai Pustaka, Jakarta.
Kertapati, Siddik.
1961 Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Yayasan Pembaruan, Jakarta.
Keuning, J.
1938 De Tweede Schipvaart onder Jans Cornelis van Neck en Wijbrant van
Warwijk, Den Haag.
Lombart, Dennis
1967 Le Sultanat d'Atjeh autemps d'Iskandar Muda,
Malik, Adam.
1975 Riwayat Proklamasi 17 Agustus 1945, Wijaya, Jakarta.
1978 Mengabdi Republik, Gunung Agung, Jakarta.
Michrob, Halwany
1981 Pemugaran dan Penelitian Arkeologi Sebagai Sumbangan Data bagi
Perkembangan Sejarah Kerajaan Islam Banten, Skripsi, IPPM, Jakarta.
1982 Sejarah Masuknya Islam ke Banten, MS. Seminar Masuknya Islam ke Jawa
Barat, Bandung.
1984a Laporan Pemugaran Banten Lama 1983 - 1984, DP4SPB, Serang.
1984b Perubahan Letak Situs Pasar Karangantu, DP4SPB, Serang
1987 A Hypothetical Reconstruction of the Islamic City of Banten Indonesia, Master
Sciences Thesis at University of Pennsylvania, USA.
1988 "Yang Masih Berlanjut di Banten Selatan - Lebak Sibedug & Arca Domas
Aspek Budaya Tradisi Pra-sejarah", Mitra Desa, Minggu II Desember.
1990 Hasil Penelitian Situs yang Diduga Kubur Sebagian Korban Geger Cilegon
Tahun 1888, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Propinsi Jawa Barat,
DKI Jakarta, dan Lampung, Serang.
Miksic John N.
1989 "Archaeological Studies of Style, Information Transfer and the Transition
from Classical to Islamic Periods in Indonesia", Journal of Southeast Asian
Studies, National University, vol. XX No. 1, 1-10, Singapura.
Montana, Suwedi 1988 "Evaluasi Terapan Data Tekstual untuk Penelitian Arkeologi
Banten", REHPA III, Depdikbud, Jakarta: 64-77.
Moertono, Soemarsaid
1985 Negara dan Usaha Bina Negara di Jawa Masa Lampau, Yayasan Obor,
Jakarta.
Mundarjito 1980 Wadah Pelebur Logam dari Ekskavasi Banten 1976, Sumbangan bagi
Sejarah Teknologi, DP4SP, Dep. P&K, Jakarta.
Mundarjito 1978 "Laporan Penelitian Arkeologi Banten 1976", Berita Penelitian
Arkeologi No. 18, DP4SP, Jakarta.
Mulyana, Slamet
1968 Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di
Nusantara, Bharata, Jakarta.
Mulia, Rumbi
1980 "Beberapa Catatan tentang Arca-arca yang Disebut Arca Tipe Polinesia",
Pertemuan Ilmiah Arkeologi I, Puslit Arkenas, Jakarta: 599-646.
Munandar, Agus Aris
1992 "Bangunan Suci pada Masa Kerajaan Sunda: Data Arkeologi", Kumpulan
Makalah Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI, IAAI, Jakarta: 267-292.
Nasution, A.H.
1970 TNI (Tentara Nasional Indonesia), Jld. I, Seruling Mas. Angkasa, Jakarta.
1977 Sekitar Perang Kemerdekaan, Jld. I, Disjarah AD dan Angkasa, Bandung.
Natsir, Mohammad
1973 Islam dan Kristen di Indonesia, Abadi, Jakarta.
Noer, Deliar
1985 Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, LP3ES, Jakarta.
Notosusanto, Nugroho
1974 "Hakikat Subyektivitas dan Obyektivitas Sejarah" KOMPAS, 23 September,
hlm. IV.
1977 Sejarah Nasional Indonesia, Jld. III-V, Dep P&K, Jakarta.
1979 Tentara Peta pada Jaman Pendudukan Jepang, Gramedia, Jakarta.
Nurhadi 1979 Catatan Tentang Desain Benteng Surosowan Banten, DP4SP, Jakarta.
Nurhakim, Lukman
1991 "Hubungan Banten Girang, Pakuan Pajajaran dan Banten Lama: Pendekatan
Arkeologi Sejarah pada Masa Transformasi Hindu-Islam", Seminar Nasional
Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran, Universitas Pakuan, Bogor.
Onghokham 1983 "Merosotnya Peranan Pribumi dalam Perdagangan Komoditi",
PRISMA, Agustus No. 8: 3-19, LP3ES, Jakarta.
Pangeran Arya Carbon
1972 Purwaka Caruban Nagari, Bharata, Jakarta.
Panitia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe
1985 Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan bersama Brigade Ronggolawe, PT.
Aries Lima, Jakarta.
Panitia Sejarah Divisi 1000/I
1981 Sejarah Perjuangan Divisi 1000/I, Naskah belum diterbitkan.
Pemda Jabar 1972 Sejarah Jawa Barat, Pemda DT I Jabar, Bandung.
Poesponegoro & Notosusanto
1984 Sejarah Nasional Jilid VI, Balai Pustaka, Jakarta.
Pringgodigdo, A.K.
1949 Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Pustaka Rakyat No. 33, Jakarta.
Poespoprodjo, W.
1987 Subyektivitas dalam Historiografi, PT Remaja Karya, Bandung.
Puradisastra 1981 Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Kebudayaan Modern, Girimukti
Sasaka, Jakarta.
Rasyidi, Khalid
1979 Pengalaman Perjuangan Jepang Sampai Proklamasi, Yayasan Idayu, Jakarta.
Reiner, G.J.
1961 History -- Its Purpose and Methods, George Allen and Lewis LTD, London.
Roesjan, Tb.G.
1954 Sejarah Banten, Fa. Arief, Jakarta.
Sagimun 1975 Sultan Hasanuddin, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah
Nasional, Jakarta.
Salim, Agus 1962 Riwayat Kedatangan Islam di Indonesia, Tinta Mas, Jakarta.
Sanusi Pane 1950 Sejarah Indonesia, Jld. I dan II, Balai Pustaka, Jakarta.
Soebadio, Haryati
1991a "Beberapa Catatan Mengenai Penelitian Sejarah Sebagai Bagian Ilmu-ilmu
Sosial Budaya Serta Hambatan-hambatannya", Proceed. Seminar Sejarah dan
Tradisi Prabu Silihwangi, 62-69.
1991b "Sastra dan Sejarah", Seminar Nasional Sejarah dan Sastra Pakuan
Pajajaran, Departemen Sosial RI, Jakarta.
Soeroto 1965 Indonesia di Tengah-Tengah Dunia dari Abad ke Abad, Jld. II, Jembatan,
Jakarta
Soejono, R.P.
1969 "On Prehistoric Burial Methods in Indonesia", Bull. of the Arch. Inst. of the
Rep. of Indonesia, vol. 7, Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional,
Jakarta.
Soerojo, Soegiarso
1988 Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai, Jakarta.
Steenbrink, Karel,A.
1984 Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19, Bulan Bintang,
Jakarta.
Sudewo, Eri 1990 "Eksploitasi Petani Tanpa Tanah -- Tinjauan Sosio-Historis", Analisa
Hasil Penelitian Arkeologi III-1989: Kajian Agrikultur Berdasarkan Data Arkeologi, Depdikbud,
Jakarta: 235-257.
1988 "Makna Perjuangan Ki Wasid dalam Perjuangan Kemerdekaan Bangsa",
Seminar Sejarah Perjuangan Kiyai H. Wasid dan Para Pejuang Banten 1888,
31-45.
Sudiro 1978 Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945, Yayasan Idayu, Jakarta.
Sumadio, Bambang et al.
1990 Koleksi Pilihan Museum-Museum Negeri Propinsi, Jakarta.
Suminto 1985 Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES, Jakarta.
Surianingrat, Bayu
1981 Sejarah Pemerintahan di Indonesia, Babak Hindia-Belanda dan Jepang, Jld. I,
Dewaruci Press, Jakarta.
Tan Malaka t.t. Dari Penjara Ke Penjara, Wijaya, Jakarta.
Tamar Djaja 1966 Pusaka Indonesia, Jld. I Bulan Bintang, Jakarta Tien Ying Ma, Ibrahim
1979 Perkembangan Islam di Tiongkok, Bulan Bintang, Jakarta.
Tjandrasasmita, Uka, (ed) Sartono Kartodirdjo
1975 Sejarah Nasional Indonesia, Jld. III, Dep. P&K, Jakarta.
Tjandrasasmita, Uka
1967 Sultan Ageng Tirtayasa Musuh Besar Kompeni Belanda, Nusalarang, Jakarta.
1981 "Proses Kedatangan Islam dan Munculnya Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh",
Masuknya Islam di Indonesia, Al-Ma'arif, Bandung.
Toynbee, Thomas
1981 Sejarah Da'wah Islam, Wijaya, Jakarta.
Valentijn, François
1858 Oud en Nieuw, Oost Indiene III, uitgegeven door het Dr. Keyser, 's-
Gravenhage.
Van Nieuwenhuijze, C.A.O.
1958 Aspects of Islam in Poost Colonial Indonesia, BW. van Hoeve LTD., The
Hague - Bandung.
Walsh, W.H.
1970 An Introduction to Philosophy of History, terj., London: Hutchinson
University Library.
Wibisono, Chr. Sony
1985 "Perdagangan Lokal di Banten Lama", Pertemuan Ilmiah Arkeologi III-1983,
Depdikbud, Jakarta: 791-808.
Williard, H. Elsbree
1977 Japan's Role in Southeast Asian Nationalist Movement 1940-1945, Cambridge
and Massacussets.
Wirjosoeparto, Soetjipto
1963 Bunga Rampai Sedjarah Budaya Indonesia, PT Djambatan, Jakarta.
William H. Frederick.
1982 Pemahaman Sejarah Indonesia, LP3ES, Jakarta.
Wibisono, Sony
1985 Perdagangan Lokal di Banten Lama, MS, Diskusi Panel Berdirinya
Kabupaten Serang, Serang.
Wiryosoeparto, Soetjipto
1961 Sejarah Nasional Indonesia, Jld. II, Indra, Jakarta.
Yogaswara 1978 Dewawarman, Fak. Sastra Unpad, Bandung.
Apendiks II
SIILSILAH SULTAN BANTEN
[1]
DAN PUTRA-PUTRANYA
I. SYARIF HIDAYATULLAH - SUNAN GUNUNG JATI,
berputra:
1. Ratu Ayu Pembayun
2. Pg. Pasarean
3. Pg. Jayalalana
4. Maulana Hasanuddin*)
5. Pg. Bratakelana
6. Ratu Winaon
7. Pg. Turusmi
II. MAULANA HASANUDDIN PANEMBAHAN SUROSOWAN
(1552 - 1570) berputra :
1. Ratu Pembayun Fatimah 9. Ratu Terpenter 2. Pg.
Yusuf*) 10. Ratu Biru 3. Pg. Arya
Japara 11. Ratu Ayu Arsanengah 4. Pg.
Suniararas 12. Pg. Pajajaran Wado
5. Pg. Pajajaran 13. Tumenggung Wilatikta 6. Pg.
Pringgalaya 14. Ratu Ayu
Kamudarage
7. Pg. Sebrang Lor 15 Pg. Sebrang Wetan
8. Ratu Keben
III. MAULANA YUSUF PENEMBAHAN PAKALANGAN GEDE
(1570 - 1580) berputra :
1. Pg. Arya Upapati 8. Ratu Rangga 2. Pg. Arya
Adikara 9. Ratu Ayu Wiyos 3. Pg. Arya
Mandalika 10. Ratu Manis 4. Pg. Arya
Ranamanggala 11. Ratu Demang 5. Pg. Arya
Seminingrat 12. Pg. Widara 6. Pg.
Manduraraja 13. Ratu Belimbing 7. Pg.
Muhammad*) 14. Ratu Pecatanda III. MAULANA
MUHAMMAD PG. RATU ING BANTEN (1580 - 1596),
berputra:
1. Pg. Abdul Kadir*)
IV. SULTAN ABUL MAFKHIR MAHMUD 'ABDUL KADIR
KENARI (1596 - 1651),
berputra :
1. Sultan 'Abul Ma'ali Ahmad Kenari (Putra Mahkota) 2. Ratu
Dewi 21. Ratu Pandan 3. Ratu
Ayu 22. Ratu Mirah 4. Pg. Arya
Banten 23. Ratu Sandi 5. Pg. Arya
Wirasmara 24. Pg. Arya Jayaningrat 6. Pg.
Sudamanggala 25. Ratu Citra 7. Pg.
Ranamanggala 26. Pg. Arya Adiwangsa 8. Ratu
Belimbing 27. Pg. Arya Sutakusuma 9. Ratu
Gedong 28. Pg. Arya Jayasentika 10. Pg. Arya
Manduraja 29. Ratu Hafsah 11. Pg.
Kidul 30. Ratu Pojok 12. Ratu
Dalem 31. Ratu Pacar 13. Ratu
Lor 32. Ratu Bangsal 14. Pg.
Seminingrat 33. Ratu Salamah 15. Ratu
Kidul 34. Ratu Ratmala 16. Pg. Arya
Wiratmaka 35. Ratu Hasanah 17. Pg. Arya
Danuwangsa 36. Ratu Hasaerah
18. Pg. Arya Prabangsa 37. Ratu Kelumpuk 19. Pg. Arya
Wirasuta 38. Ratu Jiput 20. Ratu Gading
39. Ratu Wuragil V. PUTRA MAHKOTA SULTAN 'ABUL
MA'ALI AHMAD,
berputra :
1. 'Abul Fath 'Abul Fattah*) 9. Ratu Tinumpuk 2. Ratu
Panenggak 10. Ratu Inten 3. Ratu
Nengah 11. Pg. Arya Dipanegara 4. Pg. Arya
Elor 12. Pg. Arya Adikusuma 5. Ratu
Wijil 13. Pg. Arya Kulon 6. Ratu
Puspita 14. Pg. Arya Wetan 7. Pg. Arya
Ewaraja 15. Pg. Arya Kidul
8. Ratu Ayu Ingalengkadipura
VI. SULTAN AGENG TIRTAYASA - 'ABUL FATH 'ABDUL
[2]
FATTAH (1651 - 1683)
berputra :
1. Sultan Haji*) 16. Tb. Muhammad 'Athif 2.
Pg. Arya 'Abdul 'Alim 17. Tubagus Abdul 3. Pg. Arya
Ingayudadipura 18. Ratu Raja Mirah 4. Pg. Arya
Purbaya 19. Ratu Ayu 5. Pg. Sugiri
20. Ratu Kidul 6. Tubagus Rajasuta 21. Ratu Marta
7. Tubagus Rajaputra 22. Ratu Adi 8. Tubagus
Husen 23. Ratu Umu 9. Raden Mandaraka
24. Ratu Hadijah 10. Raden Saleh 25. Ratu
Habibah 11. Raden Rum 26. Ratu Fatimah 12.
Raden Mesir 27. Ratu 'Asyiqoh 13. Raden
Muhammad 28. Ratu Nasibah 14. Raden
Muhsin 19. Tubagus Kulon 15. Tubagus Wetan
VII. SULTAN 'ABUN NASR 'ABDUL KAHHAR - SULTAN HAJI
(1683 - 1687), berputra :
1. Sultan Abdul Fadhal*) 6. Pg. Muhammad 'Alim 2.
Sultan 'Abul Mahasin*) 7. Ratu Rohimah 3. Pg.
Muhammad Tahir 8. Ratu Hamimah 4. Pg.
Fadhluddin 9. Pg. Ksatrian 5. Pg.
Ja'faruddin 10. Ratu Mumbay (Bombay)
VIII. SULTAN ABDULFADHL (1687 - 1690), tidak berputra.
IX. SULTAN ABUL MAHASIN ZAINUL 'ABIDIN (1690 - 1733)
[3]
berputra:
1. Sultan Muhammad Syifa*) 31. Raden Putra 2. Sultan
Muhammad Wasi'*) 32. Ratu Halimah 3. Pg.
Yusuf 33. Tubagus Sahib 4. Pg. Muhammad
Saleh 34. Ratu Sa'idah 5. Ratu Samiyah 35.
Ratu Satijah 6. Ratu Komariyah 36. Ratu 'Adawiyah
7. Pg. Tumenggung 37. Tubagus Syarifuddin 8. Pg.
Ardi Kusuma 38. Ratu 'Afiyah Ratnaningrat
9. Pg. Anom Muhammad Noh 39. Tubagus Jamil
10. Ratu Fatimah Putra 40. Tubagus Sa'jan 11. Ratu
Badariyah 41. Tubagus Haji 12. Pg.
Manduranegara 42. Ratu Thoyibah 13. Pg. Jaya
Sentika 43. Rt. Chairiyah Kumudaningrat
14. Ratu Jabariyah 44. Pg. Rajaningrat 15. Pg. Abul
Hasan 45. Tubagus Jahidi 16. Pg. Dipati
Banten 46. Tubagus Abdul Aziz 17. Pg.
Ariya 47. Pg. Rajasentika 18. Raden
Nasut 48. Tubagus Kalamuddin 19. Raden
Maksaruddin 49. Raden Darmakusuma 20. Pg.
Dipakusuma 50. Tubagus Abunasir 21. Ratu
'Afifah 51. Ratu Hayati
22. Ratu Siti Adirah/Abidah 52. Raden Hamid 23. Ratu
Safiqoh 53. Ratu Sifah 24. Tubagus
Wirakusuma 54. Ratu Minah 25. Tubagus
Abdurahman 55. Ratu 'Azizah 26. Tubagus
Mahaim 56. Ratu Sehah 27. Raden
Rauf 57. Ratu Suba/Ruba 28. Tubagus Abdul
Jalal 58. Ratu Muhibbah 29. Rt. Siti Sa'ban
Kusumaningrat
30. Tb. Muhammad Said (Pg. Natabaya)
X. SULTAN MUHAMMAD SYIFA' ZAINUL 'ARIFIN (1733 -
[4]
1750).
berputra :
1. Sultan Muhammad 'Arif*) 7. Ratu Sa'diyah 2. Ratu
Ayu 8. Ratu Halimah 3. Tubagus
Hasanuddin 9. Tubagus Abu Khaer
4. Rd. Raje Pg. Rajasantika 10. Ratu Hayati 5. Pg.
Muhammad Rajasantika 11. Ratu 'Afiyah
6. Tubagus Muhammad Saleh
[5]
XI. SULTAN SYARIFUDDDIN RATU WAKIL (1750 - 1752).
tidak berputra.
XII. SULTAN MUHAMMAD WASI' ZAINUL 'ALIMIN (1752 -
1753). tidak berputra.
XIII. SULTAN MUHAMMAD 'ARIF ZAINUL ASYIKIN (1753 -
[6]
1773) .
berputra :
1. Sultan 'Abul Mafakhir Muhammad Aliyuddin*).
2. Sultan Muhyiddin Zainussholihin*).
3. Pg. Manggala
4. Pg. Suralaya
5. Pg. Suramanggala
XIV. SULTAN 'ABUL MAFAKHIR MUHAMMAD ALIYUDDIN
[7]
(1773 - 1799) berputra : 1. Sultan Muhammad Ishaq Zainul
Muttaqin*)
2. Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II)*)
3. Pg. Darma
4. Pg. Muhammad Abbas
5. Pg. Musa
6. Pg. Yali
7. Pg. Ahmad.
[8]
XV. SULTAN MUHYIDDIN ZAINUSSHOLIHIN (1799 - 1801) .
berputra :
1. Sultan Muhammad Shafiuddin*)
XVI. SULTAN MUHAMMAD ISHAQ ZAINUL MUTTAQIN
[9]
(1801 - 1802)
XVII. SULTAN WAKIL PANGERAN NATAWIJAYA (1802 -
1803)
XVIII. SULTAN AGILLUDIN (ALIYUDDIN II) (1803 - 1808)
XIX. SULTAN WAKIL PANGERAN SURAMANGGALA (1808 -
[10]
1809).
[11]
XX. SULTAN MUHAMMAD SYAFIUDDIN (1809 - 1813)
XXI. SULTAN MUHAMMAD RAFIUDDIN (1813 - 1820).
[1]
Dikutip dari Ismail, Muhammad, Petunjuk Jalan dan Keterangan Bekas Kerajaan Kesultanan
Banten, Dst., Saudara, Serang, 1983; kecuali disebutkan lain.
[2]
Dalam cacatan Tb. Ismail Muhammad, masa kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa berakhir tahun
1672, padahal baru pada tanggal 14 Maret 1683 beliau dapat ditangkap Kompeni, dan sampai saat itu
masih berstatus Sultan Banten. Tahun 1672 mungkin diambil saat Sultan Haji diangkat sebagai Putra
Mahkota, bukan sebagai Sultan Banten
[3]
Sumber lain menyebut (1690 - 1726).
[4]
Sumber lain menyebut (1726 - 1748).
[5]
Sumber lain menyebut nama Ratu Syarifa Sri Ratu Sultan Banten (1748 - 1752).
[6]
Sumber lain menyebut nama Sultan Abul Nadzar Muh. Arif Zainul Asyakir (1753 - 1777).
[7]
Sumber lain menyebut tahun 1777 - 1802.
[8]
Sumber lain menyebut tahun 1802 - 1804
[9]
Sumber lain menyebut tahun 1804 - ...
[10]
Sumber lain menyebut sampai tahun 1813.
[11]
Untuk Sultan yang ke 19 dan 20, kekuasaannya tidak seperti Sultan sebelumnya, kedudukannya
hanya setingkat Bupati dan berkedudukan di Kraton Kaibon.
Appendiks I
DESKRIPSI TENTANG BANTEN LAMA
A. TATA LETAK DAN PERKEMBANGAN KOTA KESULTANAN BANTEN
Sebagaimana layaknya sebuah kota
> Islam, Banten Lama juga memiliki
beberapa ciri yang secara umum ditemukan pada kota-kota Islam yang
sejaman di beberapa bagian dunia. Pusat-pusat kegiatan kemasyarakatan
yang terpenting ─ sebagaimana masyarakat muslim di Indonesia, Afrika,
dan negara-negara Arab ─ kota Islam memiliki ciri dengan adanya
istana, pasar-pasar dan masjid-masjid.
Pemukiman dibagi menurut pekerjaan dan etnik, sebagaimana kota-kota
Islam di dunia pada abad pertengahan dan akhir. Bahkan dapat dikatakan
bahwa kota
> Banten adalah
w:st="on">kota
> muslim terbesar di Indonesia, tidak
saja pada awalnya, tetapi mungkin dalam seluruh sejarahnya.
Jika muncul kota-kota di Jawa berkoinsidensi dengan penyebaran Islam, kemudian unsur-unsur
komponen kota muncul sebagaimana di banyak kota dalam dunia Islam, seseorang mungkin
dapat menduga bahwa pola-pola pemukiman di dalam kota-kota itu tentunya merupakan turunan
dari bentuk baku kota-kota Islam. Informasi sejarah telah menunjukkan bahwa asumsi demikian
tidaklah selalu benar. Distribusi fisik berupa bangunan bagi kepentingan umum dan perseorangan
di beberapa kerajaan di Jawa, lebih banyak melanjutkan tata letak tradisional Jawa pada masa
sebelum Islam. Jawa dapat dikatakan telah memiliki pola tersendiri di dalam urbanisasi, dengan
beberapa unsur yang serupa dengan kota-kota yang sejaman pada bagian-bagian lain di Asia
Tenggara. Dalam penyebarannya Islam bukanlah merupakan hasil suatu perubahan yang
revolusioner di dalam tatacara hidup orang Jawa, tetapi lebih tepat sebagai hasil proses evolusi
secara bertahap. Berbeda halnya dengan kota
> Banten. Kota yang satu ini merupakan kota baru yang dibangun dari
suatu daerah sepi penduduk dan sedikitnya bangunan asal. Kota yang
dilandasi pembangunannya oleh motivasi islamisasi ini dibuat ─
mungkin sedikit ─ berbeda dengan tradisi yang hidup di masyarakat,
walaupun akhirnya memanfaatkan tradisi itu untuk menguatkan
keberadaan kerajaan dan Islam.
Dari sumber-sumber sejarah, kita tidak mungkin merekontruksikan tingkat-tingkat pertumbuhan
sebuah kota
> secara rinci. Begitu penelitian
arkeologi diselengarakan, bagaimanapun kita lebih banyak memperoleh
informasi mengenai hubungan-hubungan antara perubahan keagamaan
dengan perubahan aspek-aspek budaya yang lainnya. Ketika pada tahun
1596, di kota
> Banten,
pemukiman dan kehidupan penduduknya telah mengalami berbagai
perubahan.
Gambaran pertama yang terlihat pada penduduk kota ialah bahwa ia
telah diresapi agama Islam, tetapi alam kota dimana mereka tinggal,
masih menunjukkan gejala yang berasal dari masa yang lebih tua, dan
mungkin lebih merupakan setting suatu pedalaman agraris yang sangat
berbeda dengan pusat komersial yang sibuk di tepi jalur pelayaran
internasional.
Seperti halnya kota-kota di Eropa, Banten Lama juga dikelilingi oleh berbagai tembok kota, yang
dimensinya tidak terlalu jelas, dan dibuat dari bata.[1] Dinding batas kota tersebut jelas
digunakan sebagai pertahanan; di bagian atas ditempatkan meriam, dan di beberapa bagian
didirikan menara pengawas (pengintai). Untuk memasuki kota,
seseorang harus melalui pintu-pintu gerbang di beberapa bagian. Pintu-
pintu tersebut ─ yang dikatakan sangat sulit (karena besar dan beratnya)
─ dijaga ketat dan sulit didekati tanpa teramati oleh para penjaga[2].
Terdapat tiga buah pintu gerbang untuk masuk ke dalam kota
> Banten, yaitu: satu di selatan, satu
> Banten, yaitu: satu di selatan, satu
di barat yang disebut sebagai pintu (gerbang ?) gunung yang yang
berhadapan dengan Gunung Gede, dan satu lagi di utara yang disebut
sebagai pintu air.[3] Pembuatan tembok kota dilanjutkan ketika akan
terjadi serangan dari Mataram pada tahun 1598, tetapi ketika ancaman
menyurut, tembok-tembok tersebut terabaikan, dan akhirnya mulai
runtuh[4].
Setelah Maulana Hasanuddin mengalahkan Banten, secara cepat Banten menjadi pelabuhan
utama di Jawa Barat menggantikan kedudukan pelabuhan Sunda Kelapa. Pada abad ke-16 Banten
berada di atas pelabuhan-pelabuhan lain dalam menguasai pasar di sepanjang pantai utara Jawa.
Pada tahun 1596, Banten merupakan pelabuhan terbesar dan paling menguntungkan dibanding
dengan pelabuhan lainnya. Sayangnya, keterangan yang memaparkan tentang keadaan sepanjang
70 tahun di awal perkembangannya sangatlah sedikit. Banten tumbuh sebagai ibu kota
> Islam sampai datangnya kapal pertama
dari Eropa di pelabuhan Banten. Penulis catatan dari Portugis, da Couto,
dalam sebuah sumber yang mungkin berasal dari masa sebelum tahun
1570, menerangkan bahwa ukuran kota Banten: panjangnya 850 pal, dan
lebar sampai ke pantai 400 pal. Jalan dari pedalaman ke dalam kota
nampak semakin melebar. Perahu-perahu dapat berlayar sampai ke pusat
kota
> melalui
kanal-kanal yang terdapat di sekelilingnya. Pada salah satu sisi
pemukiman terdapat benteng bata setebal tujuh lapis dan juga terdapat
perbentengan kayu, yang dilengkapi dengan senjata.[5]
Banten Lama boleh jadi merupakan kota terbesar di pantai utara Jawa (dan juga mungkin terbesar
di seluruh Indonesia) pada tahun 1596; De Houtman memperkirakan bahwa luas Banten Lama
mungkin sama dengan kota Amsterdam, kota tempat pelayarannya dimulai. Banten memiliki
sejumlah ciri pokok sebagaimana pelabuhan besar lainnya di Jawa pada kurun waktu yang sama.
Deskripsi tertua yang cukup terinci tentang Banten ditulis oleh pendatang pertama dari Belanda
dan Inggris yang tiba di Banten pada tahun 1596. Mungkin masih ada arsip-arsip di Portugal
yang berisi naskah-naskah yang berusia lebih tua, tetapi jika pun ada tetap belum terungkapkan.
Gambaran pertama tentang kota Banten, baru diketahui setelah menjadi kota
> muslim selama 70 tahun. Kota Banten
tumbuh dari pelabuhan nomor dua di kerajaan Pajajaran menjadi pusat
kota
> internasional
yang utama, dimana pedagang-pedagang asing membentuk diri sebagai
bagian penduduk yang penting, dan selanjutnya muncullah pemukiman-
pemukiman khusus.
Pada abad ke-15 beberapa musafir Cina memperkirakan populasi beberapa pelabuhan di Jawa; ini
merupakan sumber tertua yang berisi informasi mengenai kependudukan. Perkiraan orang Cina
untuk beberapa pelabuhan di pantai utara Jawa seperti Tuban dan Gresik, sekitar tahun 1430,
hanyalah sekitar 5000 jiwa.
Di dalam tembok kota
> Banten terdapat tiga jalan, tetapi
jalan-jalan tersebut tidak dikeraskan sehingga sangat becek (berlumpur).
Bagaimanapun seluruh bagian kota dapat dilalui perahu (Mollema, op.
cit., h. 221.), yang dilengkapi dengan sarana-sarana transportasi yang
efisien bagi penduduk dan barang.
Sistem transportasi dalam kota dihubungkan
dengan dua sungai, baik yang mengalir dari sebelah timur maupun barat
kota
>. Jalan masuk
menuju jaringan transportasi air di dalam kota
> ini juga diawasi (dikendalikan)
dengan perintang-perintang bambu, yang bila malam hari direndahkan
(diturunkan). Di sana terdapat beberapa
jembatan, misalnya terdapat di Karangantu, di sebelah timur kota
>, dan di dekat
Mesjid Agung yang disebut dengan Jembatan Rantai, yang
ujung-ujungnya diberati dengan batu. Sistem penyeberangan sungai
dengan perahu tambang juga ada, tetapi dilarang dilakukan pada malam
hari, untuk alasan keamanan.[6]
Banten bukanlah satu-satunya kota
> yang memiliki lingkar benteng
pertahanan. Cirebon, Demak dan Tuban juga
memiliki tembok kota dari bata, pada tahun 1596. Sementara itu kota-
kota pelabuhan yang lain seperti, Jayakarta, Jepara, dan Blambangan
juga memiliki tembok pertahanan dari bambu atau kayu[7].
Di pusat kota terdapat sebuah bangunan besar tempat kediaman raja Banten yang disebut istana
Surosowan. Di depan istana, di sebelah utara, itu terdapat lapangan terbuka yang berukuran luas
yang disebut dengan alun-alun.
Sejumlah kegiatan diselenggarakan di alun-alun, termasuk di antaranya
kegiatan pertemuan dewan kerajaan, sidang pengadilan dan beberapa
kegiatan (peragaan) publik lainnya. Di pagi hari, alun-alun juga
digunakan untuk penyelenggaraan pasar. Bangunan datar yang
ditinggikan dan beratap didirikan di dekat istana, digunakan oleh raja
untuk bertatap muka atau untuk tempat menunggu raja, yang disebut
dengan srimanganti. Di sebelah barat didirikan mesjid utama. Kediaman
para syahbandar menempati sisi timur alun-alun, sedangkan di tepi utara
dibatasi oleh sebuah sungai.
Di sudut timur laut alun-alun di atas tepi sungai, ditempati bangunan beratap untuk melindungi
beberapa parahu perang, beberapa fusta dan beberapa perahu besar lainnya.[8] Sebuah sumber
dari tahun 1680 menyebutkan bahwa sultan Agung memiliki 25
kapal yang digerakkan dengan dayung[9].
Gajah milik raja juga ditempatkan di dekat penambatan kapal-kapal itu.
Nama lain bagi Surosowan, mungkin lebih awal, yaitu Kedaton Pakuwuhan[10].
Tempat tinggal raja yang pertama di Banten mungkin didirikan di dekat
Karangantu, tetapi antara tahun 1552 dan 1570, pada masa pemerintahan
Maulana Hasanuddin, barulah dimulai pembangunan istana di situs
istana di Banten. Penerbitan keterangan tertua dibuat oleh Verhaghen,
yang didasarkan pada kunjungannya bulan Maret 1600. Begitu ia
yang didasarkan pada kunjungannya bulan Maret 1600. Begitu ia
mendekati istana dan memasuki pintu gerbang pertama, terlihat beberapa
rumah rendah yang diapit oleh dua rumah jaga tempat tentara-tentara
ditugaskan. Di dekatnya terdapat gudang persenjataan, kemudian
ruangan yang disediakan bagi para pengrajin.
Beberapa di antara mereka mungkin adalah pengrajin emas, suatu
pekerjaan biasa yang dikuasai oleh para penguasa Indonesia
>. Istana di Aceh
dikatakan telah menggunakan 300 pekerja[11].
Air raksa dijual oleh orang-orang Cina di pasar, boleh jadi telah
digunakan dalam kaitannya memperindah melalui teknik mencampur
emas dengan air raksa; cairan emas dan air raksa kemudian dituang
untuk melepaskan unsur-unsur yang tidak murni. Melalui pemanasan
yang tinggi maka unsur air raksa akan menguap, yang tersisa kemudian
hanyalah emas.
Verhaghen kemudian berjalan melalui pintu gerbang kedua, yang diukir indah sekali, diapit oleh
dua rumah sederhana yang diperuntukkan bagi pelayan-pelayan gubernur, dan kemudian sampai
di lapangan luas (alun-alun) dan mesjid kerajaan. Pada sisi kiri terdapat rumah jaga lainnya
dengan pengawal. Antara rumah jaga dan jalan masuk ke istana, terdapat portal yang diukir; dan
melalui tempat ini, seseorang dapat melihat sebuah kolam kecil dan sebuah balai atau paviliun di
atas tiang (rumah panggung) dimana ditebarkan tikar-tikar yang dianyam indah sekali.
Dinding pagar Surosowan tingginya sekitar 2
meter, lebar 5 meter, panjang pada bagian timur barat 300 meter,
sedangkan pada bagian utara selatan 100 meter, Jadi luas daerah yang
dibentengi sekitar 3 hektar. Di sudut-sudut terdapat bastion-bastion yang
berbentuk intan, dan di tengah dinding utara dan selatan berbentuk
proyeksi setengah lingkaran.
Perbentengan ini terbuat dari bata dengan tipe-tipe yang berbeda,
menurut ukuran bahan dan teknik pembuatannya. Beberapa tipe adonan
juga digunakan, termasuk tanah liat, campuran pasir dan kapur.
Dingding tersebut tidak kokoh, tetapi diisi tanah. Pada dinding bagian
utara disediakan ruangan untuk kamar-kamar. Pada bagian luar dinding
telah diperkuat bagian dalamnya untuk mencegah roboh ke arah dalam,
yang nampaknya semula direncanakan berdiri sendiri.
yang nampaknya semula direncanakan berdiri sendiri.
Istana ini hancur oleh kebakaran pada bulan Desember 1605, dan pada tanggal 16 Juni 1607
terbakar habis, yang menurut pernyataan Saris, kepala perwakilan Inggris di Banten, kebakaran
tersebut sama sekali tidak dapat diterima akal. Istana kemudian dibangun di tempat yang sama.
Pada tahun 1661 dihiasi beberapa pohon. Sekitar tahun 1680, Sultan Haji membangun benteng di
sekitar istana untuk menangkis serangan dari Sultan Agung, ayahnya. Karena serangan Sultan
Ageng Tirtayasa pada tahun 1682, seluruh kota rusak akibat kebakaran, dan Sultan Haji
terkurung di dalam benteng sampai ia dibebaskan oleh tentara Belanda. Cardeel, seorang
penghianat Belanda dan tukang batu, membantu pembangunan perbentengan Surosowan.
Menurut Stavorinus, pada tahun 1769 sebuah prasasti dalam bahasa Belanda dapat dilihat di atas
portal utama: "Ini didirikan oleh Hendrik Laurentsz yang lahir di Steenwijk".[12] Penelitian
terhadap arsitektur perbentengan, bagaimana pun brkesimpulan bahwa perbentengan tersebut
jelas dibangun secara bertahap, bukan satu tahap seperti yang ditulis oleh Cardeel.
Pada mulanya terdapat tiga gerbang, di utara, timur dan selatan. Beberapa kali terjadi gerbang
selatan itu ditutup.
Gerbang utama di sebelah utara, berhadapan dengan alun-alun,
sedangkan gerbang di sebelah timur dibuat dalam bentuk lengkung,
dimaksudkan untuk mencegah tembakan langsung pada portal bila pintu
gerbang dibuka. Tiap tahap pembangunan dinding ini dapat diamati pada
gerbang bagian utara, yang secara relatif masih terpelihara dengan baik
pada fase pertama; pada fase kedua, dinding ini dipotong; dan pada
pembangunan fase ketiga, kembali dinding ditutup dengan batu karang.
Gerbang di sebelah timur telah runtuh tapi agaknya mengalami
modifikasi serupa.
Dinding yang asli mungkin adalah tembok keliling dari istana, untuk melindungi para
penghuninya dari pandangan kelas lebih bawah, dari pada dalam fungsinya untuk menjaga
serangan. Selama pembangunan pertama lebarnya tidak lebih dari pada 100 - 125 meter, tanpa
bastion, dibangun dari susunan bata berukuran besar yang dicampur dengan adonan tanah liat
(lempung).
Pada masa pembangunan tahap kedua, didirikan dinding bagian dalam, dan bastion pun
ditambahkan. Dinding ini merupakan penahan api/kebakaran. Pembangunan ini kemudian diikuti
pembangunan fase ketiga, yaitu pendirian kamar-kamar di sepanjang dinding utara, penambahan
lantai untuk mencapai dinding penahan api (parapet), gerbang utara diperbaharui, gerbang selatan
disisipi tetapi kemudian ditutup kembali.
Pada pembangunan fase keempat, dikembangkan pengubahan lainnya pada gerbang utara dan
mungkin pada gerbang timur, dan dinding bata ditutupi secara merata dengan karang pada bagian
luarnya.
Pembangunan yang kelima (terakhir) adalah menambahkan lebih banyak
kamar di bagian dalam dan penyempurnaan isian dinding. Bata-bata
yang digunakan dalam fase ini, adalah bata-bata yang berukuran lebih
yang digunakan dalam fase ini, adalah bata-bata yang berukuran lebih
kecil, dan lebih banyak lagi adonan yang digunakan.
Jadi pada fase pertama dan kedua telah terjadi perubahan fungsi dinding, yaitu semula sebagai
tembok keliling menjadi tembok pertahanan dengan unsur-unsur Eropa[13].
Transformasi ini mungkin terjadi pada tahun 1680, mungkin dengan
batuan Cardeel. Sesudah masa itu maka Surosowan oleh Belanda disebut
sebagai "Fort Diamant
>". Fase pertama termasuk
penataan dinding paling luar, mungkin terjadi pada masa pemerintahan
Maulana Hasanuddin (1552 - 1570); Sejarah Banten menyebutkan
bahwa pembangunan gerbang utara dan timur dilakukan oleh Maulana
Yusuf, 1570 -
1580.
Surosowan, seperti posisi perbentengan lainnya di Banten Lama, dilengkapi dengan berbagai
pucuk senjata arteleri. Penggunaan meriam telah mencatat sejarah yang panjang di Jawa Barat.
Menurut da Barros, ketika orang Portugis pertama tiba di Jawa, meriam yang baik telah dibuat di
daerah setempat. Catatan berikutnya dari orang Portugis, yang berasal dari abad ke-16
menyebutkan bahwa Banten pada salah satu sisinya memiliki kubu kayu yang sangat kuat yang
dilengkapi dengan meriam[14].
Dari catatan orang Belanda yang tiba di Banten pada tahun 1596,
diragukan penempatan meriam-meriam itu di setiap sudut perbentengan.
Meriam-meriam itu ditempatkan tersebar di beberapa bagian kota
> sedangkan meriam-meriam yang
berukuran lebih kecil dipasang di depan istana (Crucq, 1938: 363).
Bagaimana pun meriam-meriam itu tidak dapat digunakan dengan baik,
karena amunisinya diimpor dari Malaka ─ baru kemudian Inggris pun
memasok amunisinya. Peluru-peluru meriam mulai dibuat di Banten
tahun 1666.
Menurut catatan-catatan pelayaran tahun 1596, senjata orang-orang Jawa pada umumnya terdiri
dari: tombak panjang, tameng kulit yang besar dan tipis, sumpitan panah kecil beracun, tetapi
tanpa peluru. Sebaliknya mereka memiliki pedang kecil berlekuk yang mereka sebut dengan
keris[15].
Pada tahun 1837 didirikan perbentengan baru di sekeliling Banten untuk
melawan serangan yang diduga dari Mataram, dan mungkin, sebuah
meriam dipasang di depan gerbang selatan[16].
Selama blokade VOC terhadap Banten pada tahun 1657 - 1658, Banten
memasang deretan meriam-meriam pada kubu-kubu sepanjang pantai.
Menurut kebiasaan orang Jawa, setiap meriam memiliki nama khusus,
seperti yang disebutkan dalam sejarah Banten. Setiap meriam berada di
bawah pengawasan seorang pangeran/bangsawan. Seorang Belanda,
Dirk van Lier pada tahun 1659
melaporkan bahwa Banten diperkuat dengan lima benteng pertahanan
setinggi manusia, dan pada setiap kubu dilengkapi dengan 5 sampai 7
buah meriam. Ia memperkirakan bahwa di Banten terdapat 250 meriam,
setengahnya dibuat dari perunggu (mungkin usianya lebih tua), dan
setengahnya lagi dibuat dari besi, yang mungkin ditambahkan pada awal
abad ke-17[17].
Sebuah daftar meriam yang ditemukan di Banten pada tahun 1790, mungkin yang juga berada di
istana pada tahun 1680, sebagai berikut: Di sudut timur laut diament atau pakuwonan, benteng
dalam yang oleh Belanda disebut dengan flagpoint, yaitu:
margin-left:1.0cm;text-indent:-1.0cm;mso-list:l1 level1 lfo2;tab-stops:
list 1.0cm left 2.0cm">-
Dua meriam kuningan yang dibuat di Inggris untuk John, First Lord Berkly of Stratton, Master of
Ordonance pada tahun 1663. Meriam-meriam tersebut dibawa ke Tonkin (Vietnam Utara),
kemudian di jual ke Banten seharga 10.000 real Spanyol dan tiba di Banten pada tahun 1680.
Meriam buatan Inggris yang lain dengan prasasti William Wightman, London 1678.
Satu meriam lokal mungkin dibuat di Kawiragunan.
Di sepanjang sisi timur terdapat meriam-meriam:
-
Meriam Belanda dari kuningan, dibuat di Enkhuzen untuk cabang VOC di Amsterdam, 1623.
Meriam kuningan lain dibuat oleh Winghtman pada tahun 1677.
Sementara itu dari sudut tenggara yang disebut dengan Southpoint, yaitu:
-
Dua meriam kuningan lokal, dengan lima
> tanda pada larasnya
-
Satu meriam kuningan dengan tulisan Lamberts Amsterdam 1638.
Dari alun-alun, di sebelah utara terdapat jembatan rantai, dengan jalan menuju ke rumah
Pangeran Gebang (perwira komandan garnisun setempat), laksamana (panglima armada), dan
para bangsawan.
Keadaan tempat-tempat ini dijelaskan secara terinci oleh Willem
Lodewyksz, salah satu peserta dalam pelayaran Belanda yang pertama ke
Banten pada tahun 1596, menulis: "Setiap bangsawan memiliki 10 atau
12 orang pengawal untuk menjaga rumahnya sepanjang malam. Ketika
engkau memasuki rumah mereka, engkau pertama kali akan memasuki
bagian yang disebut dengan pacebam (Paseban), dimana para bangsawan
itu akan menerima engkau, dan paseban dimana pengawal itu
ditempatkan; beratap buluh, atau daun kelapa tempat mana mereka
menerima audiensi. Di salah satu sudut halaman mereka juga didirikan
mesjid sendiri, tempat dimana mereka melakukan sembahyang tengah
hari (Dhuhur), di sebelahnya terdapat sumur tempat mereka mencuci.
Lebih masuk ke dalam lagi, seseorang akan sampai pada pintu dengan
jalan masuk yang sempit, yang diperkuat dengan beberapa gudang dan
kapal, yang dijaga oleh beberapa budak untuk melindunginya, sehingga
para bangsawan itu tidak dapat diserang oleh musuh-musuhnya pada
malam hari. Rumah-rumah mereka didirikan di atas 4,8 atau 10 tiang
kayu, yang diukir indah sekali, beratap daun kelapa (palm) dan sisanya
dibiarkan terbuka untuk mendapatkan kesejukan. Mereka tidak punya
kamar lebih tinggi atau loteng dimana mereka dapat terbaring, tetapi
hanya rumah penyimpanan, yaitu rumah bata yang tinggi dan tanpa
jendela-jendela."
Dalam penelitian arkeologi, melalui survey permukaan tanah dapat ditelusuri dan direkam gejala-
gejala muka tanah di lokasi yang diamati untuk kemudian ditafsirkan bagaimana tata letak dan
bentuk kota itu sesungguhnya; misalnya
dengan membandingan beberapa kota di dunia
Islam dan Asia Tenggara (khususnya Indonesia
>) pada periode-periode
yang sama. Beberapa gejala arkeologi yang pokok seperti sisa-sisa
bangunan kuno, dinding-dinding, jalan, pelabuhan, pasar dan kanal-kanal
─
yang ada di permukaan tanah ─ dapat ditelusuri dengan segera, tanpa
melalui penggalian[18].
Dari peta-peta yang paling sederhana pun seperti skets secara cepat seseorang dapat mengetahui
berbagai jenis sumber sejarah. Beberapa penulis telah menambah peta-peta skets atau peta-peta
tua untuk melengkapi interpretasi mereka. Walaupun peta-peta skets dan ilustrasi tersebut dibuat
secara impresif dan tanpa menggunakan alat atau skala, namun peta-peta itu dapat dijadikan
panduan untuk melakukan pengamatan arkeologis dalam usaha untuk melihat ciri-ciri umum
suatu situs.
Di sinilah letak peranan peta/skets untuk melengkapi penulisan yang
deskriptif, dan dapat digunakan sebagai pembanding terhadap hasil
fotografi ataupun gambar-gambar. Dan karena peta-peta skets tidak
memiliki skala yang seragam, serta tidak memperlihatkan topografi,
maka tidak dapat secara tepat digunakan untuk merancang bentuk-
bentuk atau saling hubungan antara berbagai gejala arkeologis.
Bagaimanapun peta-peta skets berguna untuk memperlihatkan rekaman-
rekaman sementara, dan untuk menyempurnakannya perlu digunakan
peta yang lebih akurat[19].
Dari analisis peta-peta kuno, kronologi Banten Lama dapat diamati sebagai berikut:
1) 1527 -
1570
1570
Menurut kronik-kronik masa itu, sejak 8 Oktober 1526
kota dipindahkan dari Banten Girang ke Banten Lor (13 km ke arah
selatan) pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin. Bangunan
pertama yang didirikan oleh Maulana Hasanuddin dan dilanjutkan oleh
Maulana Yusuf adalah dinding batas kota dengan dinding-dindingnya
terbuat dari bata dan batu. Konfigurasi klasik dari masjid, keraton,
lapangan, pasar, dan pelabuhan telah diwujudkan.
Telaga Tasikardi pun telah dibangun oleh Maulana Yusuf.
2) 1570 -
1596
Kota Banten telah dikelilingi dinding batu, yang di bagian dalamnya terbagi dalam kampung-
kampung berpagar. Telah dibuat sebuah kanal untuk mengalirkan air sungai Cibanten ke dalam
kota
>. Selama periode ini, pertumbuhan
w:st="on">kota
> masih terus berlanjut.
Menurut Cornelis de Houtman, yang tiba di Banten tanggal 23 Juni
1596, kota
> tersebut besarnya seperti kota Amsterdam.
3) 1596 -
1659
Kota Banten bertumbuh terus, sehingga memerlukan perluasan kanal-kanal dan tembok-tembok
keliling. Dinding kota
> menghadap ke arah laut, dan telah
diperkuat dengan bastion-bastion serta kubu pertahanan. Lokasi pasar
Karangantu terletak di sebelah timur muara sungai Cibanten dan telah
diberi tembok keliling ─ tapi masih di luar dinding batas kota
>. Di sebelah barat didirikan
perkampungan bertembok keliling yang diperuntukan bagi orang-orang
asing.
Menurut Cortemunde, di sebelah barat kota terdapat penginapan orang-
orang Eropa dan kompleks orang-orang Cina. Di sana
> pun terdapat beberapa kanal, dinding
w:st="on">kota
>, dan jalan yang
kemudian dipindahkan.
4) 1659 -
1725
Setelah dua abad, pertumbuhan kota masih terus berlanjut; kanal-kanal telah ditambah, salah satu
yang tertua di antaranya digunakan untuk perkampungan orang-orang asing (kota
> baru) dan di
sebelah timurnya terdapat pasar yang juga berkembang. Perbentengan
keliling sekarang telah disempurnakan. Meski pun tidak digambarkan di
dalam peta Valentijn, Belanda telah mendirikan perbentengan yang kuat
(Speelwijk) di sudut utara berhadapan dengan laut. Beberapa bagian
tembok kota
> dan kanal telah dipindahkan.
5) 1725 -
1759
Perluasan jalan dan sistem kanal telah dibuat dengan menggali parit-parit di sekeliling keraton
Surosowan dan perbentengan Belanda. Kanal yang dilintasi jembatan rante telah diluruskan ke
arah timur sampai ke bagian selatan pasar Karangantu. Dari peta Heydt terdapat gambar proses
perpindahan dan perubahan rencana kota yang meliputi aspek dan arsitektur, kanal-kanal, jalan-
jalan, dan
tembok-tembok kota.
Dengan menganalisa peta-peta kuno dan penginderaan jauh, kita dapat
menelusuri perpindahan dan penafsiran kota lama Banten. Pada tahun
1750 terjadi pemberontakan terbesar di Banten. Di dalam perluasan
bangunan-bangunan Belanda, menurut sejarah, tahun 1751
revolusi dapat ditindas. Situasi ini telah memperkokoh kedudukan
kompeni Belanda dan menjadikan makin lemahnya Banten.
6) 1759 -
1902
Setelah kunjungan Stavorinus 1769, tidak terdapat sumber-sumber lain mencatat perkembangan
kota
> Banten. Menurut Breughel, yang menulis
catatan tentang Banten tahun 1787, terdapat beberapa gudang dan
penjara, juga sebuah pendopo dengan sebuah platform setinggi 10 - 12
kaki memenuhi permukaan alun-alun. Bagian-bagian pemukiman
penduduk asli kota
> itu tampak tidak terlalu banyak
berubah, hanya ada beberapa rumah beratap genting pada masa itu. Pada
tahun 1795 cacah jiwa distrik Banten diperkirakan sebanyak 90.000 ─
cacah jiwa seluruh Jawa pada saat itu sekitar 3,5 juta orang. Di sana
> masih terdapat kampung Arab yang
terletak di antara keraton Surosowan dan Karangantu, tetapi dikatakan
pada waktu itu bahwa 4/5 rumah-rumah orang Cina sudah tidak dihuni.
Kekuatan ekonomi Batavia terlalu kuat, sehingga Banten menurut
statusnya menjadi pemukiman propinsi (daerah). Peristiwa-peristiwa
politik dan militer dalam perang Napoleon, pendudukan oleh Inggris,
serta kembalinya pendudukan Belanda, menyebabkan pemukiman
Banten perlahan-lahan menurun dan kedudukannya menjadi desa dan
kemudian terbakar pada tahun 1808 - 1809. Kota Banten lenyap untuk
selama-lamanya, hanya tercatat bahwa Kaibon sebagai keraton ─
didirikan pada tahun 1815 ─ untuk ibu Sultan Rafiuddin, yang
kekuasaannya tidak berarti apa-apa.
7) 1902 -
1977
Situs sekarang dikenal sebagai Banten Lama (10 km di sebelah utara kota Serang). Banten kini
tersisa sebagai runtuhan. Hanya sistem kanal, tembok-tembok keraton, keraton Kaibon,
Speelwijk serta beberapa sarana pelabuhan serba kekurangan yang masih tersisa.
Menurut Serrurier, sebuah peta Banten Lama diterbitkan pada tahun 1902 itu telah dibuat pada
tahun 1879, Serrurier seorang kurator koleksi Etnografi BG memperoleh peta tersebut dari
Residen Banten pada tahun 1893. Peta itu membagi Banten menjadi 33 kampung, dan terdapat
tanda-tanda lahan lainnya. Peneliti Belanda (Brandes) menemukan peta yang "tidak dapat
dipercaya", tetapi menyetujui bahwa pemberian nama bagi beberapa kelompok pemukiman
sangat berguna sebagai petunjuk kelompok-kelompok yang pernah menghuni berbagai
perkampungan di Banten.
Banten dipugar dari tahun 1915 sampai 1930 oleh pemerintah Belanda, tetapi tidak mencatat
setiap peralihan secara kronologis, khususnya kanal-kanal dan tembok-tembok kota. Restorasi
dan pemeliharaan Banten Lama dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia
> dari tahun 1945
sampai sekarang. Masalah utama ialah bahwa beberapa runtuhan dan
situs rusak berhamburan. Tetapi kita mencoba menyelesaikan dan
merancang untuk mengembangkan situs ini sebagai "Taman Arkeologi
di Banten Lama".
8) 1977 -
1987
Suatu masterplan (rencana induk) Taman Arkeologi Banten telah dibuat dan mulai dilakukan
restorasi. Perumusan hipotetik tata kota dari berbagai periode, mencari
kesejajaran dengan beberapa kota lainnya dan memperbaikinya sebagai
suatu informasi baru menjadi
memungkinkan. Rencana ini dapat membantu mengidentifikasi area-area
yang harus dipelihara secara terbuka. Situs ini, secara umum masih tetap
yang harus dipelihara secara terbuka. Situs ini, secara umum masih tetap
terpelihara, dan beberapa dari sisa-sisa pondasi bangunan masih
terpendam dalam tanah.
Menurut peta geologi, situs Banten Lama berketinggian sekitar 0 - 25 meter di atas permukaan
laut, dengan kemiringan 2%. Di sebelah selatannya yaitu daerah Banten Girang, terdapat daerah
perbukitan yang berketinggian antara 25 - 100 meter di atas permukaan laut. Curah hujannya
tertinggi setiap tahun sekitar 1840 mm, dan temperaturnya sekitar 26 - 27 derajat Celcius, dengan
kelembaban sekitar 70%. Permukaan tanah daerah Banten Lama dan Tirtayasa (kira-kira 15 km
ke arah timur) semakin rata, keduanya adalah zona alluvial (beting pantai, daerah luapan banjir
dan sekitar aliran sungai). Sering kali terjadi banjir besar setelah hujan yang sangat deras. Jenis
lempung Banten Lama seperti kelabu alluvial, hidromorf, dan gleihumus. Proses pengubahan
oleh air sungai berasal dari sedimentasi lempungan, sungai dangkal kurang 0.5 meter dalamnya,
begitu pula air muka tanah begitu dangkal yaitu pada kedalaman sekitar 0,5 - 3 meter, dan sungai
berair sepanjang tahun. Hal itu membuat lumpur dari hulu yang terbawa sepanjang aliran sungai,
setelah turun hujan lebat, akan membentuk tanah baru sepanjang tepi laut (disebabkan oleh
pengendapan alami).
B. SISA-SISA BANGUNAN PURBAKALA BANTEN
LAMA
Adalah suatu kepastian yang sudah tidak dapat disangkal lagi bahwa kehidupan manusia
merupakan suatu proses sosial budaya yang setiap saat mengalami perubahan dan pergerakan.
Hal tersebut tentu akan menyebabkan adaya unsur catatan hidup manusia itu sendiri, baik di masa
lampau yaitu priode kurun ke kurun sejarah ataupun kejadian di masa sekarang yang mungkin
suatu saat akan mengalami perobahan atas dasar keinginan manusia sesuai dengan kondisi dan
perkembangan jaman. Karena itu tugas kita sekarang adalah antara lain menyelamatkan dan
memelihara hasil budaya manusia terdahulu. Sisa-sisa peninggalan orang-orang terdahulu itu
penting dipelihara sebagai pelajaran hidup bagi generasi berikutnya.
Dari puing-puing reruntuhan bangunan sisa kota
> Banten Lama, yang sekarang terletak di desa
Banten 9 km dari kota Serang, kita dapat
mengamati beberapa peninggalan sebuah kota Islam terbesar yang
pernah ada, yaitu:
1. Keraton Surosowan
Keraton Surosowan adalah tempat kediaman sultan Banten, yang oleh orang Belanda disebut
Fort Diamant atau Kota Intan, yang dikelilingi oleh tembok perbentengan seluas ± 4 hektar.
Keadaan keraton itu kini sudah hancur, yang nampak hanyalah sisa
bangunan saja yang berupa pondasi-pondasi serta tembok-tembok
dinding yang sudah rusak.
Menurut Babad Banten, keraton ini dibangun oleh raja Banten pertama yakni Maulana
Hasanuddin (1526 - 1570). Pembangunan tembok benteng dibangun oleh raja Banten kedua,
Maulana Yusuf (1570 - 1580), dengan bangunan benteng yang disusun dari batu bata dan batu
karang.
Benteng ini kemudian dirobah bentuknya menjadi bastion dan ditambah
dengan tembok batu karang di bagian luar, hingga benteng tampak lebih
kuat dan kekar oleh Hendrik Laurenzns Cardeel (1680 - 1681) pada masa
pemerintahan Sultan Haji (1672 - 1687).
Keraton Surosowan ini telah mengalami penghancuran berkali-kali. Kehancuran total yang
pertama kali terjadi ketika perang saudara antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan pihak VOC
yang dibantu putra mahkota Sultan Haji pada tahun 1680. Akibat perang ini, keraton Surosowan
dibumi-hanguskan oleh Sultan Ageng Tirtayasa sebelum melanjutkan perlawanan dari Tirtayasa.
Setelah Sultan Haji dinobatkan menjadi raja Banten pengganti ayahnya, ia meminta bantuan
seorang arsitek Belanda, Hendrik Laurenzns Cardeel, untuk membangun kembali istananya.
Cardeel meratakan dan kemudian membangunnya kembali keraton
tersebut di atas puing-puing reruntuhan keraton.
Kehancuran keduakalinya dan ini yang terparah ialah terjadi pada tahun 1813, saat mana
Gubernur Jendral Belanda waktu itu Herman Daendels memerintahkan penghancuran keraton.
Hal ini disebabkan karena Sultan Banten yang terakhir, Sultan Rafiuddin, tidak mau tunduk
kepada Belanda. Akibat penghancuran ini, maka tidak tersisa sedikit pun bangunan keraton yang
masih dalam keadaan utuh. Keraton itu kemudian ditinggalkan penghuninya, dan terbengkalai
tanpa ada yang memperhatikannya lagi.[20]
Dari penelitian dan penggalian arkeologis, ternyata perubahan desain keraton Surosowan ini
sering terjadi karena para sultan yang memerintah Banten, sering menambah, mengubah dan
memperbaiki bentuk bangunan keraton. Perubahan desain ini mudah diamati dengan cara melihat
perubahan struktur fondasi bangunan, pemotongan dinding dan penggantian bentuk serta susunan
bangunan.
Pintu gerbang istana terletak di sisi benteng sebelah utara menghadap ke alun-alun. Berdasarkan
peta lama, bahwa di sisi benteng sebelah timur pun ada terdapat pintu masuk, namun kini sudah
tidak nampak lagi. Di setiap sudut benteng terdapat bagian tembok tebal yang menjorok ke luar,
sedang pada setiap sisi sudut bagian dalamnya ditemui pintu-pintu masuk ke dalam ruangan yang
tercapai pada tembok benteng itu.
Pada mulanya keraton dikelilingi pula oleh parit-parit, akan tetapi kini hanya sebelah barat dan
selatannya saja yang masih ada. Di bagian tengah keraton itu terdapat bekas "pemandian sultan"
dan beberapa kolam lainnya; yang dinamai rara denok dan pancuran mas, yang airnya dialirkan
dari suatu tempat yang dinamai Tasikardi, danau buatan yang terdapat di sebelah selatan Keraton
Surosowan. Beberapa saluran/irigasi dari Tasikardi sampai ke keraton Surosowan tampak teratur.
Dalam penyaluran air bersih digunakan pipa besar dan kecil (dari garis
tengah 2 cm hingga 40 cm), terbuat dari terrakota, hingga langsung ke
kran-kran logam pancuran mas[21].
Untuk penjernihan air yang nanti digunakan sebagai air bersih bagi
penduduk kota dan
kraton, digunakan cara penyaringan dengan teknik pengendapan dan
poriositas batuan, pasir dan ijuk di pangindelan abang, pangindelan
putih, dan pangindelan mas, tiga buah bangunan semacam benteng kecil
yang kokoh dan kuat, terdapat di pinggir jalan dari Surosowan ke
Tasikardi.
2. Meriam Ki Amuk
Meriam yang dikeramatkan oleh sebagian penduduk, (dulu) ditempatkan di dekat kanal di bawah
sebuah gubuk beratap tanpa tembok, yang diletakkan menghadap utara seperti disiapkan untuk
menembak kapal musuh yang hendak merapat ke pantai Karangantu.
Di atas bagian moncongnya, terdapat suatu prasasti bertuliskan huruf Arab yang berbunyi
"Aqikatul Khoirisala matul imani" dengan bagian pangkal berbentuk tangan yang mengepal
dengan ibu jari ke luar mengarah ke atas.
Menurut K.C. Crucq yang telah mengadakan penelitian terhadap meriam-meriam yang berasal
dari bekas kesultanan Banten, prasasti tersebut merupakan candra sengkala yang menunjuk
angka tahun saka 1450 (1528 - 1529 M). Selanjutnya menurut Crucq bahwa meriam Ki Amuk ini
ada hubungannya dengan meriam Ki Jimat, yaitu meriam yang dihadiahkan oleh Sultan
Trenggono dari Demak kepada Sunan Gunung Jati.
Beberapa tahun setelah adanya pengerukan kanal Karangantu oleh KOP Bhakti Rem 064
Maulana Yusuf tahun 1967, meriam tersebut pernah hilang dari tempatnya. Dan setelah diadakan
pemugaran Mesjid Agung Banten oleh Pertamina pada tahun 1974 meriam tersebut ditemukan
kembali dan oleh Direktorat Sejarah dan Purbakala ditempatkan di sudut tenggara alun-alun,
tidak jauh dari pintu gerbang bagian utara benteng Surosowan.
3. Watu Gilang
Watu Gilang adalah sebuah batu berbentuk segi empat dengan permukaannya yang datar dan
terbuat dari batu andesit. Batu tersebut terletak di sebelah timur laut meriam Ki Amuk. Menurut
Babad Banten, batu ini dipergunakan sebagai tempat pengambilan sumpah para sultan/penobatan
raja.
4. Watu Singayaksa
Batu ini terletak di alun-alun kota
> Lama Banten. Di masa kesultanan,
dipergunakan untuk mengumumkan semua titah/peraturan-peraturan
sultan yang disampaikan oleh seorang ulama.
Menurut dongeng rakyat, batu ini pernah dipakai sebagai tempat bertapa Sang Batara Guru
Jampang, yang karena lamanya ia bertapa, hingga burung-burung membuat sarang di atas tutup
kepalanya.
5. Mesjid Pecinan Tinggi
Masjid ini terletak ± 100 meter di sebelah kiri jalan raya, dekat rel kereta api, di kampung
Dermayon. Disebut Masjid Pacinan Tinggi karena dahulunya banyak orang-orang Cina
berdagang dan bertempat tinggal di sana semasa Maulana Hasanuddin. Bangunan tersebut kini
tinggal puing reruntuhan, dengan sisa menara, dan mihrab (peng-imaman mesjid), adapun lainnya
hanya sisa pondasi bangunan induk yang terbuat dari batu karang dan bata tanah liat. Menurut
catatan sejarah, mesjid ini adalah mesjid yang pertama dibangun oleh Syarif Hidatullah yang
dilanjutkan oleh Maulana Hasanuddin.
Beberapa puluh meter dari Masjid Pecinan Tinggi, di daerah Pecinan (dulu), terdapat bangunan
tua sebuah rumah kuno gaya
> Cina yang masih
utuh (masih dihuni oleh seorang keturunan Cina) persis di persimpangan
jalan menuju ke Mesjid Agung; yang mungkin sisa rumah di pecinan. Ke
arah utaranya lagi dari rumah tua tersebut, terdapati pintu gerbang dan
klenteng Cina.
Klenteng pertama dengan "Dewi Kwan
Im"-nya yang pertama dibangun semasa raja pertama Banten, yang
letaknya di daerah Pecinan ini. Sedangkan klenteng "Dewi Kwan Im"
yang sekarang, belum diketahui kapan dibangunnya; yang di tempat itu
sebenarnya, di muara sungai Cibanten dengan jembatan jaganya, tempat
berdirinya bangunan pintu masuk pelabuhan pertama Banten ─ sewaktu
kedatangan Cornelis de Houtman ke Banten (1596) ─ dengan
gudang-gudang penimbunan barang untuk eksport kesultanan Banten. Di
tempat ini pun didapati runtuhan bekas menara penjaga petugas
pelabuhan, di sebelah kanan muara Cibanten.
6. Kompeks Mesjid Agung Banten
Komplek Mesjid Agung Banten ini terdiri dari :
margin-left:1.0cm;text-indent:-1.0cm">a. Bangunan Mesjid Agung dengan
serambi yang penuh dengan makam di kiri kanannya.
Berdasarkan sejarah Banten, mesjid ini didirikan pada masa
pemerintahan Maulana Hasanuddin. Seperti juga mesjid-mesjid lain,
bangunan mesjid ini pun berdenah segi empat. Atapnya terbuat dari kayu
bersusun berbentuk limas.
Di dalam serambi kiri yang terletak di sebelah utara terdapat makam beberapa sultan Banten dan
keluarganya. Di antaranya terdapat juga makam Maulana Hasanuddin dan istrinya, makam Sultan
Ageng Tirtayasa, dan makam Sultan Abul Nasr' Abdul Qahar (Sultan Haji). Sedang di dalam
serambi kanan yang terletak di sebelah selatan terdapat makam Maulana Muhammad, makam
Sultan Zainul Abidin dan lain-lain.
b. Bangunan Tiyamah, bangunan ini merupakan bangunan tambahan. Dibangun oleh Hendrik
Lucasz Cardeel seorang arsitek bangunan Belanda, sebab itulah bangunan tersebut
merupakan desain Eropa. Dahulu tempat ini dipakai untuk berdiskusi dan bermusyawarah
soal-soal keagamaan.
c. Menara; Menara ini terletak di halaman depan Mesjid Agung Banten. Bangunan ini terbuat
dari batu bata dan tingginya 30 meter, yang juga dibangun kembali oleh Lucasz Cardeel.
Menurut Babad Banten, menara ini dibangun sejak Maulana Yusuf oleh arsitek asal
Mongol, Cek Ban Cut. Kapan bangunan ini didirikan tidak diketahui dengan pasti. Di
dalam "Jaurnal van de Reyse" (De Eerte Schipvaart der Nederlanders naar Oost Indie
onder Cornellis de Houtman, 1595 - 1597), terdapat sebuah peta Banten yang
memperlihatkan adanya menara tersebut, sedangkan di dalam sejarah Banten antara lain
disebutkan bahwa: "Kanjeng Maulana (Hasanuddin) adarbe putra satunggal lanang
jeneng putra mangke nuli den wastanne Maulana Yusuf ingkang puniko jeneng Yusuf
sampung gung ikeng putra pan sampan adarbe rayi nalika iku waktu ning wangun
munare."
Berdasarkan atas pemberitaan tersebut K.C. Crucq berpendapat bahwa menara Mesjid Agung
Banten sudah ada sebelum 1596/1570, dan berdasarkan tinjauan seni bangunan dan hiasannya ia
berkesimpulan bahwa menara tersebut didirikan pada pertengahan kedua abad XVI, yaitu antara
tahun 1560 - 1570.
d. Komplek makam di halaman sisi sebelah utara. Di sini banyak terdapat kuburan keluarga
serta kerabat sultan. Di antaranya terdapat kubur salah seorang panglima perang yang
terkenal dengan julukan Pangeran Gula Gesen. Di dalam ruang makam terdapat 9 buah
makam sultan dan para keluarganya, yakni Sultan Hasanuddin, Sultan Maulana
Muhammad, Sultan Zainul Abidin, anak dan istrinya. Di luar ruang makam ini, masih di
sebelah utara mesjid, terdapat pula makam-makam kuno bercampur dengan pemakaman
umum, antara lain Sultan Ageng Tirtayasa dan istrinya, juga Sultan Abu Nasr Abdul Kahar
(Sultan Haji).
7. Pasar dan Pelabuhan Karangantu
Karangantu menjadi pelabuhan utama dan pasar, difungsikan sebagai pelabuhan dagang bagi
lingkup lokal maupun asing.
Kunjungan Tome Pires ke Karangantu tahun 1513 belum melihat
pentingnya tempat ini, karena pelabuhan Sunda Kelapa masih
merupakan pelabuhan terpenting bagi Pajajaran. Pada abad berikutnya
Karangantu menjadi pelabuhan utama, sejak Banten diislamkan dan
aktivitas Banten Girang dipindahkan ke Banten Lama. Sejak akhir abad
XVI Karangantu menjadi bandar internasional utama untuk Indonesia
bagian barat, terutama akibat jatuhnya Malaka ke tangan Portugis.
Perkembangan dan pertumbuhan Karangantu, baik sebagai pelabuhan maupun pasar, antara lain
dapat ditelusuri melalui kajian foto udara, peta-peta kuno maupun fakta-fakta arkeologis di
lapangan, diduga keletakan berubah dari keadaan sekarang[22].
Dari peta kuna yang dibuat oleh de Houtman ketika mengunjungi Banten pada tahun 1598,
memperlihatkan bahwa kota Banten dikelilingi tembok kota dan tampak pula pasar Karangantu
dikelilingi oleh pagar kayu dan bambu.
Pada saat itu perluasan kota Banten mengarah ke bagian timur.
Sementara itu berdasarkan peta yang dibuat oleh Valentijn pada tahun 1725, terlihat bahwa pasar
Karangantu masih ditempatnya semula dan mulai dipenuhi dengan rumah-rumah pemukiman.
Pada abad-abad XVII-XIX M, seperti tampak pada peta Serrurier yang tersohor itu, Karangantu
tidak lagi ditandai sebagai sebuah pasar, hanya diberi catatan sebagai sebuah pelabuhan yang
dikelilingi tambak ikan. Dewasa ini situs ini menjadi tidak penting lagi, kecuali ditandai oleh
daerah pertambakan dan rawa-rawa di kampung Bugis.
Pelabuhan Karangantu berkembang dan tumbuh menjadi pusat berbagai aktivitas komersial dan
bisnis, toko-toko dan pasar utama, transaksi antara para pedagang Cina dan Arab (terutama). Di
sini pula terdapat pemukiman para nelayan, dok kapal-kapal, tempat pembuatan garam.
Sementara itu terus ke arah selatan sepanjang sungai Cibanten terdapat lahan-lahan pertanian
(padi dan sayur mayur) untuk pasokan istana.
8. Tasikardi
Tasikardi, terletak ± 2 km di sebelah tenggara keraton Surosowan, adalah suatu danau buatan/situ
(luasnya ± 5 ha) yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pulau kecil. Semula pulau buatan ini
dibangun khusus untuk ibunda Sultan Maulana Yusuf dalam bertafakkur mendekatkan diri
kepada Allah. Selanjutnya, pulau buatan yang terdapat di tengah danau buatan itu digunakan
sebagai tempat rekreasi bagi bangsawan kesultanan. Pada tahun 1706 Sultan Banten menerima
seorang tamu Belanda Cornelis de Bruin di Tasikardi dan ketika Daendells membuat jalan dari
Merak ke Karangantu, danau kecil ini tidak diganggu. Situ ini berfungsi untuk penampung air
dari sungai Cinbanten, yang kemudian di-salurkan ke sawah-sawah dan sebagian untuk
kepentingan air minum rakyat serta untuk kebutuhan keluarga sultan di keraton Surosowan ─
dengan teknik
penyaluran air khas buatan Lucasz Cardeel ─ melalui pengindelan (filter
station) abang, kuning dan mas, air Tasik Ardi langsung masuk ke
lingkungan keraton dengan teknik penyaringan yang sudah kompleks.
9. Jembatan Rante
Jembatan Rante didirikan di atas air sungai/kanak Kota Lama Banten yang terletak 300 meter di
sebelah utara benteng Surosowan, berfungsi sebagai "tol-perpajakan" bagi setiap kapal kecil atau
perahu pengangkut barang dagangan pedagang asing yang memasuki kota kerajaan. Dari data
pictorial, jelas telah tergambar sesaat Cornelis de Houtman melukis kota Banten pada tahun
1596. Bahkan tertulis pada Babad Banten, bahwa Maulana Yusuf, tahun 1570, telah banyak
membangun fasilitas kota dengan segala macam kebutuhan untuk politik perdagangan. Jembatan
Rante dibangun dari bata dan karang serta diduga memakai tiang besi dan papan untuk fungsi
penyeberangan serta memakai "kerekan rantai" sebagai fungsi ganda bilamana lalu-lalang kapal
kecil, jembatan bisa dibuka; dan bila tidak ada kapal masuk, jembatan ditutup berfungsi sebagai
penyeberangan orang dan kendaraan darat.
Sebagai data visual yang masih berfungsi hingga sekarang kita dapat melihat dan meneliti
Jembatan Rante yang ada di Pasar Ikan, Jakarta.
10. Mesjid Koja
Mesjid yang tinggal reruntuhan ini terletak di selatan jalan yang menghubungkan Speelwijk
dengan Karangantu, dimana beberapa meter dari mesjid tersebut di sebelah selatannya kini
terdapat jalan kereta api. Disebut Mesjid Koja karena dahulunya termasuk kompleks
perkampungan orang-orang Koja, Persia.
Menurut catatan orang Belanda, tempat tersebut pernah dihuni orang-
orang yang datang dari India, Jepang, Cina dan lain-lain sebagai
pedagang.
11 Mesjid Agung Kenari
Mesjid ini terletak di kampung Kenari ± 3 km ke arah selatan dari Mesjid Agung Banten. Mesjid
ini adalah mesjid tua peninggalan Sultan Abul Mufachir Muchmud Abdul Kadir (1596 - 1651).
Sultan pertama yang mendapat gelar "sultan" dari Mekah. Ia adalah putra Maulana Muhammad
Pangeran ing Banten. Selain itu di tempat ini terdapat pula makam putranya, Sultan Abul Ma'ali
Ahmad.
12. Benteng Speelwijk
Benteng Speelwijk terletak di tepi pantai ─
sebelum ada pendangkalan lautan di daerah ini ─ di kampung Pamarican
tidak jauh dari Pabean. Lengkapnya bernama Fort
> Speelwijk,
sebagai penghormatan kepada Cornelis Jansz Speelman, Gubernur
Jendral VOC
pada tahun 1681 - 1684. Benteng ini didirikan untuk kepentingan
kompeni Belanda yang dibangun pada tahun 1685 - 1686 oleh Hendrik
Lucasz Cardeel.
Walaupun belum diketahui pasti, apakah benteng ini berasal dari benteng Portugis, namun Graaft
menyatakan bahwa benteng tersebut adalah sebagai bangunan lanjutan dari tembok dinding kota
> yang dibangun
sepanjang pantai yang disebut Tembok Banten Tua.
Jika kita berdiri menghadap reruntuhan benteng dari tepi sungai menghadap ke timur, akan
tampak bastion Speelwijk yang terletak di sebelah kiri. Di situ terdapat sebuah tangga terbuat dari
batu dan sebuah menara pengintai. Tembok yang melintang Platform Bastion adalah bekas
tembok tertua dari kota Banten, langsung menjulur ke sepanjang pantai dimana terdapat sebuah
Bolwerk (kubu pertahanan). Di sebelah atas tembok benteng terdapat jendela penembak yang
dulunya tersimpan meriam di setiap jendela tersebut.
Di bawah bastion Speelwijk terdapat ruangan tempat bubuk peledak dan tutup jalan masuknya
melalui pintu gerbang di bagian tenggara. Ada sebuah lorong di bagian bawah yang menuju ke
tempat bubuk peledak juga terdapat sebuah kamar sebagai tempat penyimpanan senjata. Lorong
yang menyudut 90 derajat itu kini masih dalam keadaan utuh dan bersih.
Ruangan-ruangan, yang sekarang tinggal sisa pondasi, di belakang pintu gerbang dalam
lingkungan puing bekas Speelwijk, adalah merupakan bangunan yang berada di bawah satu atap.
Dahulu ada sebuah jembatan gantung yang menghubungkan kedua pintu gerbang dan rumah
komandan, kamar senjata, kantor administrasi dan gereja.
Dengan berdirinya bangunan Fort Speelwijk tersebut, Belanda nampak
memperlihatkan kekuasaannya di bagian kota Banten. Dan ini juga
merupakan permulaan sejarah monopoli perdagangan kompeni Belanda.
Dalam pemerintahan Gubernur Jendral Daendels keadaan menjadi
berubah, dengan memburuknya situasi. Orang-orang Belanda mulai
meninggalkan Fort Speelwijk pada tahun
1810.
Beberapa ratus meter dari Speelwijk ke arah timur, terdapat beberapa kuburan orang-orang
Eropa. Pada tahun 1911 atas instruksi Gubernur Jendral A.W.F. Iden Borg reruntuhan Speelwijk
dan kuburan tersebut di pugar.
Sebuah kuburan yang bagus, besar dan menarik perhatian orang adalah kuburan Komandan Hugo
Pieter Faure (1717 - 1763), yang dihiasi oleh lambang keluarganya. Selanjutnya terdapat nama-
nama: Jacob Wits, seorang pegawai fiscal/pajak dan pembelian (wafat 9 Maret 1769); Catharina
Maria van Doorn, istri Jan van Doorn seorang letnan (30
April 1747 - 8 Desember 1769); Maria Susana Acher, istri Thomas
Schipers, pegawai bagian pajak dan pembelian (wafat 6 Juli 1743).
13. Kelenteng Cina
Kelenteng ini terletak di sebelah barat Benteng Speelwijk. Semula kelenteng ini terletak di
Pecinan, dibangun oleh masyarakat Cina yang ada di Banten. Kapan bangunan ini dibuat tidak
dapat diketahui dengan pasti, tapi menurut tradisi, kelenteng ini dibangun pada masa awal
kerajaan Banten.
Menurut catatan Cortemunde (1659), kelenteng Cina (yang sekarang ini) menempati lahan loji
Inggris, sementara itu, kelenteng lama sesuai dengan catatan Valentijn (1725) berlokasi di
sebelah selatan menara lama (Mesjid Pacinan Tinggi).
14. Keraton Kaibon
Kearaton Kaibon adalah nama sebuah keraton yang terletak di kampung Kroya, sebelah selatan
sungai Cibanten, sebelum melewati sebuah jembatan jalan menuju ke kota
> Banten. Keraton Kaibon (Ka-ibu-an
= tempat ibu) adalah bekas kediaman Sultan Syaifudin, salah seorang
sultan yang pernah memerintah di Kesultanan Banten pada tahun 1809.
Sultan ini meninggal pada tahun 1915. Secara resmi keraton ini masih
dipakai sampai dengan masa pemerintahan bupati Banten pertama yang
mendapat restu Belanda, yakni Aria Adi Santika sebagai ganti
pemerintahan kesultanan yang dihapuskan mulai tahun 1816.
Bentuk arsitektuk kraton Kaibon, jika dibandingkan dengan keraton Surosowan justru Kaibon
nampaknya lebih archais.
Hal ini dapat kita lihat dari bentuk arsitektur pintu-pintu gerbang dan
tembok keraton. Jika diurut dari bagian depan, keraton ini mempunyai
empat buah pintu gerbang yang berbentuk bentar. Pintu gerbang utama
yang merupakan jalan masuk menuju bagian dalam keraton terletak di
tengah-tengah dinding tembok halaman depan, juga berbentuk bentar.
Dalam konsepsi kuno tentang bangunan-bangunan sakral dan sekuler pada arsitektur Jawa, kita
melihat adanya fungsi-fungsi arsitektur tertentu yang memberikan indikasi ciri-ciri sebuah
bangunan keagamaan atau bangunan sekuler. Dilihat dari bentuk pintu gerbangnya maka Kaibon
menunjukkan ciri-ciri sebuah keraton dengan gaya
> tradisional. Hal ini dapat dilihat
dari susunan pintu gerbang dan halamannya. Pintu gerbang pertama yang
merupakan jalan masuk berbentuk bentar, menunjukkan bahwa halaman
yang akan dilalui masih bersifat profan. Pada halaman kedua, jalan
masuk ditandai dengan pintu gerbang berbentuk paduraksa. Bentuk
paduraksa ini, dalam tradisi bangunan kuno, menunjukkan bahwa
halaman yang akan dilalui telah mempunyai nilai sakral.
Pada umumnya, letak sitinggil pada kraton tradisional di Jawa seperti keraton Kasepuhan,
Kanoman, Demak, Panjang, Mataram terletak di halaman pertama bagian timur. Di Kaibon
terlihat tata-letak yang berbeda. Justru bangunan yang seharusnya untuk sitinggil, di sini yang
ada adalah bangunan sebuah masjid. Dengan demikian bangunan masjid pada keraton Kaibon
diletakkan pada bagian utama keletakan keraton.
Masjid Kaibon ini berbentuk persegi panjang dengan sebuah mihrab yang terletak pada dinding
barat masjid tersebut berbentuk sebuah ceruk persegi panjang. Pada halaman kedua ini pun
terdapat beberapa bangunan yang telah hancur dan yang sebagian hanya tersisa pondasi-
pondasinya saja. Biasanya, dalam tradisi bangunan di Jawa, di halaman kedua setelah paduraksa
terdapat bangunan tempat tinggal sultan beserta kerabatnya; demikian juga bangunan-bangunan
seperti bangsal, srimanganti, dan sebagainya. Di beberapa bangunan ini, terlihat pada beberapa
sudut dinding adanya lubang bekas penempatan balok-balok kayu. Hal ini mungkin merupakan
sisa lantai bangunan yang terbuat dari papan kayu dari struktur bangunan yang lebih mutakhir.
Di pintu gerbang sebelah barat menuju ke masjid keraton terdapat sebuah tembok besar yang
terpayungi oleh pohon-pohon beringin yang tinggi. Pada tembok tersebut terdapat lima buah
pintu yang dibuat dalam gaya Jawa atau Bali
>. Ukuran tembok itu panjang 80 meter dan
tingginya 2 meter. Di sisi timur, dekat aliran sungai, masih ada lagi
sebuah pintu masuk ke dalem dengan bentuk yang sama, pintunya
berbentuk seperti busur panah, juga hal ini mengingatkan kita pada
bentuk bangunan Eropa. Di dekat pintu sebelah timur terdapat puing-
puing bekas bangunan rumah-rumah yang dibangun pada permulaan
abad XVI (?). Di muka keraton Kaibon, dekat jalan raya, terdapat puing-
puing dari sebuah pintu terbuat dari batu yang mana pintu tersebut
berhubungan dengan keraton Kaibon dan dinamai Pintu Gapura.
15. Makam-makam Kerabat Sultan
1) Makam Pangeran Mandalika
Makam ini terletak di seberang kampung Kroya; Pangeran Mandalika adalah putra Sultan
Hasanuddin, dari ibu yang bukan permaisuri.
2) Makam Pangeran Mas
Terletak di kampung Pangkalan Nangka. Dia adalah seorang Pangeran dari Demak. Meninggal
dan dimakamkan di Banten. Pintu gerbang menuju makam tersebut bergaya Holland Kuno. Di
depan pintu gerbang terdapat makam Singajaya.
3) Makam Maulana Yusuf
Terletak di sebelah timur jalan melewati rel kereta api tidak jauh dari kampung Kesunyatan,
tepatnya di tengah sawah, yang dikenal kuburan Pekalangan. Sehingga setelah meninggalnya ia
disebut Penembahan Pekalangan Gede.
4) Makam Pangeran Astapati
Makam ini terletak di kampung Odel, yang dikelilingi oleh tembok berpagar besi. Pada pintu
masuk sebelah selatan terlihat semacam bangunan ala Eropa yang sedikit ada perpaduan dengan
motif Jawa kuno. Pangeran Astapati adalah salah seorang panglima perang Banten semasa
pemerintahan Sultan Tirtayasa. Ia keturunan para pemimpin Baduy, di Kanekes, Banten Selatan,
yang kemudian menikah dengan Ratu Dahlia, salah seorang putri sultan. Pangeran Astapati atau
dikenal juga Pangeran Wirasuta ditugaskan untuk menggempur tentara kompeni Belanda di teluk
Banten.
[1] Mollema J.C, De Eerste Schipvar der Hollanders naar Oost Indie 1595-
1697, Martinus Nijhoff, 's-Gravenhage, 1936, h. 221.
[2] Reid, Anthony, "The Strukture of Citeis in Southeast Asia - Fifteenth to
Seventeenth Centuries", Journal of Southeast Asian Studies, II/2, 1980, h. 234.
[3] Lihat repro peta, Fruin Mess II, opp.: 40 dari "De Eerste Schipvaart".
[4] Fruin-Mess, W., Gschiedenis van Java (introduction by Hoesein
Djajadingrat), 2 vols, 2nd Rev. Edition, vol.
I, Volkslectuur, Weltevreden, 1922, h. 41.
[5] Djajadiningrat, Hoesein, Tinjauan Kritis tentang Sajarah Banten, PT
Jambatan-KITLV, Jakarta
>, 1983, h. 143.
[6] Chijs, J.A., van der, Oud Bantam, Tijdschrift van het Bataviaasch
Genootschap van Kunstenen Wetenschappen, Batavia
>, 1881, h. 53.
[7] Tjandrasasmita, Uka, Sejarah Nasional Indonesia, Jld.
III, Depdikbud, Jakarta,
1975, h. 165.
[8] Chijs, van der, op. cit. h.
44.
[9] Schrieke, B, Indonesian
Sociological Studies,Martinus Nijhoff, The Hague
>, 1955, h.127.
[10] Ambary, Hasan Muarif, "Tinjauan Tentang Penelitian Perkotaan Banten
Lama" PIA-I 1977, P4N, Jakarta
>, 1980, h. 120.
[11] Tjandrasasmita, Uka, op. cit, h. 201.
[12] Chijs, op. cit., h. 40.
[13] Nurhadi, "Catatan Tentang Desain Benteng Surosowan-Banten, Sebuah
Pengkajian Data Lapangan", PIA-II 1980, Puslit Arkenas, 1983, h. 311-319.
[14] Crucq, K.C., "De Geschiedenis van het heilige kanon te Banten", TBG,
LXXVIII, 1938, h. 361.
[15] Scrieke, op. cit., h. 123.
[16] Crucq, loc. cit., h. 373.
[17] Ibid, h. 364.
[18] Michrob, Halwany, A Hypothetical Reconstruction of the Islamic City of
Banten, Indonesia, Master Sciences Thesis University of Pennsylvania, USA,
1987, h. 187.
[19] Ibid, h. 187.
[20] Untuk memindahkan "pamor"
kesultanan, dalam upaya mengambil "kepatuhan" rakyat
Banten,pemerintah Hindia Belanda mengambil batu bata dari bekas keraton
Surosowan dalam pembangunan gedung kabupaten dan gedung-gedung
pemerintahan lainnya di Serang. Hal ini terjadi hingga tahun 1830.
[21] Pada jaman Jepang, logam pancuran emas (yang sebetulnya terbuat dari
logam perunggu) dibongkar dan dibawa ke Serang karena dianggap sebagai
logam emas.
[22] Michrob, Halwany, Perubahan Letak Situs Pasar Karangantu, DP4SPB,
1984, h. 9.
Galeri Foto I
Galeri Foto - 2
Galeri Foto - 3
Galeri Foto - 4
GALERI FOTO - 5 ñ
LAMPIRAN :
BEBERAPA BENDA PENINGGALAN PURBAKALA DI BANTEN
1. Di situs Anyer Lor, Kabupaten Serang, ditemukan kuburan manusia yang diduga bertahun
500 - 200 SM. Mayat dimasukkan ke dalam gentong besar dalam posisi duduk.
(Sukendar, 1979:26).
2. Di situs Cigeulis di Desa Macapat, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, kira-kira
125 m sebelah utara jalan besar, pada ketinggian 500 m di atas permukaan laut. Di sana
> ditemukan alat-alatt poleolitikum
berupa tatal-tatal batu dari bahan batu gamping kersiikan (silicifed
limestone). Diantaranya terdapat : serut samping (side scraper), serut
ganda, kapak berimbas (chopper), disamping banyak terdapat pecahan,
serpih, batu inti dan lain-lainnya. (Sukendar, 1979:3).
3. Di situs Pelanyar, Kampung Baturajang, Desa Pelanyar, kecamatan Cimanuk, Kabupaten
Pandeglang, ditemukan dolmen yang terdiri dari semua batu aldesit yang dikerjakan
sangat halus dengan permukaan darat. Batu datar ini berukuran 110 x 250 cm, disangga
oleh 4
buah penyangga yang dikerjakan sangat rapih dengan pahatan seperti
pelipit melingkar.
4. Di Kampung Ciderasi, Desa Pelanyar, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglamg
terdapat batu bergores yang oleh penduduk setempat dinamakan "batu tumbung". Batu ini
berukuran 55 x 123 x 179 cm yang terletak di tengan sawah. Goresan-goresannya
berbentuk segitiga-segitiga dengan lubang di tengahnya.
5. Di Kampung Sanghiangdengdek, Kawedanaan Menes, Kabupaten Pandeglang, ditemukan
menhir (batu tegak) besar dengan batu-batu kecil berdiri di kanan kirinya. Menhir ini
terbuat dari batu andesit dengan bentuk yang mengecil di puncaknya. tingginya 125 cm
dengan dengan garis tengah 85 cm.
Tidak jauh dari batu ini ditemuka batu gamelan sebuah batu berbentuk selinder yang bagian
atasnya dipahat halus dan cembung. Kira-kira 50 m disebelah barat "batu gamelan" ini,
terdapat arca megalitik yang biasa disebut Sangiangdengdek.
Di tempat lainnya ditemukan serupa umpak batu yang disebut "batu
gamelan".
Menhir di Sanggiangdengdek mungkin merupakan tempat pemujaan. Di sekitar menhir
ditemukan makam-makam dengan arah utara selatan yang ditanda dengan batu-batu kecil
yang disusun persegi panjang.
6. Di Desa Cadasbeureum, Anyer ditemukan pecahan gerabah yang diduga berasal dari
zaman Dinasti Sung dan Ming (Abad ke 10 - 13). Kira-kira 500 m keselatannya terdapat
sebuah batu yang oleh penduduk setempat disebut tungku sumbi. Di sekitar tungku sumbi
ditemukan sisa-sisa arang dan kerek besi. Diduga tungku ini sebagai penuangan logam.
Diduga pula tempat ini pernah menjadi pemukiman dalam tradisi prasejarah.
Di dekat sini pula monolit. Pada bagian yang datar terdapat 7 buah lubang yang dipahat halus.
Batu ini oleh penduduk setempat dikenal dengan sebutan paniisan. Di tempat itu pula
ditemukan sebuah menhir yang terbuat dari batu padas yang berukuran 87 x 25 cm berongga.
Oleh penduduk setempat dikenal dengan sebutan sirit baduy.
7. Di pancaniti yang terdapat di alun-alun kota Serang, terdapat patung nandi yang telah
rusak, bagian bawah kepalanya hilang. Patung ini diduga berasal dari masa Hindu. Sekarang
patung nandi ini di simpan di Site Museum Banten.
8. Di Cigabus, Kabupaten Serang, ditemukan padupaan dalam bentuk ayam jantan di atas
alas yang berbentuk piramid. Dulu disimpan di masjid yang kemudian dipindahkan ke
Museum Pusaty Jakarta (invent. Mus. Bat. No. 4862).
9. Di Kolelet Pamarayan dua buah kapak batu pada waktu penggalian saluran air. Benda ini
disimpan di Museum Pusat Jakarta (invent. Mus. Bat. No. 4873 dan 4874).
10. Di Cimanuk Kewedanaan Cimanuk, diotemukan delapan buah patung dihutan Cimanuk di
kaki Gunung Karang yang kemudian dibawa ke Caringin. Patung-patung ini diantaranya
berbentuk nandi, Genesa, Durga, Brahma, Mahadewa dan sebuah Yoni.
11. Dari Desa Tenjo, Kabupaten Pandeglang, ditemukan sebuah patung beli Polinesis yang
hampir tidak berbentuk sempurna dalam sikap duduk. Patung ini sekarang disimpan di
Museum Pusat Jakarta (Invant. Mus. Bat. No. 4350).
12. Di Desa Sangiangdengdek - Menes, Kabupaten pandeglang, di sebuah kebun di atas
lereng Gunung Polosari terdapat sebuah patung Polinesis yang kasar, sebuah tangga (trap)
batu yang dinamakan tareje mas dan sebidang tanah dengan batu-batuan yang ditatah.
13. Di Cilentung - Pandeglang, dipinggir jalan desa ini menuju kawah Polosari, ada sebuah
batu berbentuk puncak mahkota wayang. Batu ini oleh penduduk setempat disebut Sanghiyang
Papaku Alam atau Sanghiyang Papaku Polosari.
14. Di Pulau Penaitan, terdapat dua buah patumg batu berbentuk Syiwa dan Ganesa. Kedua
patung ini diketemukan dipinggir jalan yang menuju Gunung Raksa. Tapi sayang sekarang
hanya tinggal patung Ganesa saja, sedangkan patung Syiwa hilang ada yang mencurinya.
15. Di statsion Rangkasbitung, pernah ditemukan kapak batu yang kemudian disimpan di
Museum Pusat Jakarta (Invent. Mus.
Bat No. 2386).
16. Di Candi, Kewedaan Sajira - Lebak, didapatkan sebelas patung Polinesis di atas sebuah
ters. Patung-patung itu sekarang disimpan di Museum pusat Jakarta (Invent. Mus. Bat. No.
No. 4222-4232).
17. Di atas Gunung Lahurjaya, Cipanas, Lebak, terdapat sebuah batu dengan tanda dua
telapak kaki, sebuah batu berbentuk telur, empat buah berbentuk peluru dan dua buah
berbentuk persegi.
18. Di Kosala terdapat lima
> teras dengan tumpukan batu
mengelilingi sebuah batu yang berdiri tegak serta sebuah patung
Polinesis dalam sikap duduk pada relief batu datar. Tempat ini
dijadikan tempat pemujaan oleh orang-orang Baduy.
19. Di Lebakpare, Lebak, terdapat sebuah patung Nandi dari batu aldesit yang sudah rusak,
penduduk setempat menamakannya batu samping. Disana juga ditemukan sebuah altar dari
batu yang di tiap pinggirnya terdapat bentuk kepala orang. Batu ini dinamakan oleh
penduduyk batu wongwongan.
20. Di Leuwidamar, Lebak, ditemukan dua buah gerobak berbentuk tempayan dan dua buah
pahat batu. Semuanya ditemukan di dekat Cidalupang. Benda-benda ini disimpan Museum
Pusat Jakarta (Invent.
Mus. Bat. No. 4523 - 4526).
21. Dari Desa Cimarga ditremukan sebuah kapak batu yang kemudian disimpan di Museum
Pusat Jakarta
> (Invent. Mus. Bat. No. 2232).
Kata Pengantar
Puji syukur kami pasrahkan kepada Allah swt. yang setiap
saat memberi petunjuk kebenaran kepada mahluk-Nya. Hal ini
dapat dirasakan langsung bagi penulis, karena atas segala
hikmah yang telah Ia berikan dengan izin dan karunia-Nya
akhirnya buku "Catatan Masalalu Banten" Edisi III (refisi) ini
dapat terselesaikan.
Buku ini merupakan rekaman singkat tentang sejarah
perkembangan daerah Banten dari masa ke masa. Terdorong
keinginan untuk lebih melengkapi dan menyempurnakan edisi
sebelumnya, penulis mengurutkan bab-bab disesuaikan dengan
rangkaian periode kesejarahan yang terjadi di Banten: (1) masa
pra-sejarah, (2) masa Hindu-Budha dan Islamisasi, (3) masa
kesultanan, (4) masa penjajahan, dan (5) masa kemerdekaan.
Dari kelima periode ini, yang menjadi sorotan utama adalah
periode ketiga, tanpa me-ngesampingkan lainnya. Karena,
ternyata periode ketiga itulah yang lebih banyak menampakkan
pengaruh yang cukup menentukan dalam dinamika periode
selanjutnya. Dengan disemangati jiwa patriotis-agamis,
akhirnya rakyat Banten bersama-sama dengan daerah lainnya
di Indonesia merebut kemerdekaan
dari tangan penjajah.
dari tangan penjajah.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih
yang tulus kepada Drs. Uka Tjandrasasmita, Prof. Dr. Muarif
Ambary dan Dr. Baihaqi A.K. yang telah berkesempatan
memberikan petunjuk-petunjuk ilmiah yang sangat berharga.
Walau pun demikian, kami menyadari bahwa buku ini masih
jauh dari sempurna. Untuk itu kami sangat mengharapkan
kritik dan saran positip dari para pembaca yang akan kami
gunakan sebagai bahan perbaikan di masa mendatang. Terima
kasih pula kami sampaikan kepada semua pihak yang telah
membantu terselesaikannya buku ini.
Akhirnya, kami harapkan semoga dengan terbitnya buku ini
akan muncul penulis-penulis sejarah yang meneliti dan
membahas tentang kesejarahan Banten, sehingga wawasan dan
pengetahuan tentang aspek sejarah Banten khususnya akan
semakin terbuka.
Penulis