Analisis Kritik Sosial Film "Yuni"
Analisis Kritik Sosial Film "Yuni"
Dalam menjabarkan pesan kritik sosial yang terkandung dalam Film “Yuni” karya
Kamila Andini, peneliti menggunakan analisis wacana Van Dijk sebagai teknik analisis
data. Dalam analisis wacana A. Teun Van Dijk, struktur teks dibagi menjadi tiga, yaitu
Berhubung film “Yuni” 90 persen menggunakan Bahasa Jawa Serang, maka dialog
juga akan ditulis menggunakan bahasa Jaseng, tetapi peneliti tetap menyertakan dialog
1. Pernikahan Dini
Dialog :
Sarah (baju orange) : (menggendong bayi) “Tik.. Bapak e Iqbal neg endi? ko ra
kedelengan?”
Tika (baju toska) : “Neng omah ibune. Jarene jarang turu sejak Iqbal lahir,
padahal teh mung mambengi doang. Apalagi kite?”
Yuni bertanya kepada Tika
Yuni : “Masih lara tik?”
50
Tika : (mengambil bantal) “Iye… Iqbal kan gede, jadi suwek e neng ngendi-
ngendi. Trus maeng subuh jahitan e ucul maning.”
Yuni : “Truss?”
Tika : “Yaa.. terus bidan e mrene maning, dijahit maning.”
Yuni : “iiihhhhh…” (membayangkan sakit)
Tika : (sambil tersenyum iseng) “Periihhhhhh…”
Yuni : “Iiihh, uweslah” (ekspresi geli)
51
Sintaksis Bentuk Bentuk kalimat induktif, inti kalimat terdapat di akhir kalimat.
Kalimat Teks tersebut diperlihatkan pada kata “apalagi kite?”, bahwa
Tika lebih tersiksa dibanding suaminya. Karena harus
melahirkan dan mengurus anak sendirian.
Koherensi Scene pada film ini, mengarah pada kata konjungsi (sejak) pada
dialog : Jarene jarang turu sejak Iqbal lahir.
Kemudian pada penggunaan kata penghubung “Iqbal kan gede,
jadi suwek e neng ngendi-ngendi” Sehingga kalimat dalam teks
diatas menggambarkan sebuah fakta dan dapat dihubungkan
sehingga nampak koheren.
Stilistika Pada scene ini, menggunakan bahasa Jawa Serang.
Retoris Grafis Pada scene ini grafis memperlihatkan dengan jelas bayi Tika.
Ekspresi Scene ini menjelaskan ekspresi Yuni begitu takut
membayangkan bagaimana sakitnya dijahit setelah melahirkan.
Berbeda dengan Tika dengan ekspresi tenang dan tertawa
ketika menjawab “periiihh banget”.
Tabel 3.2 Adegan Suci Cute ( Pernikahan Dini dalam Film "Yuni" )
52
Suci : “Sudah pernah” (menjawab dengan tegas)
Yuni : “oh iya?”
Suci : “Iya pas SMP” (ekspresi datar, sambil membawa brush make up)
Yuni : “Terus.. gimana?”
Suci : “Awalnya sih tidak apa-apa. Terus akunya keguguran berkali-kali. Kata
dokter sih karena rahimku masih muda banget. Entahlah nggak tau.
Trus lama-lama dia mulai mukuli, sampai aku trauma. Apa karena aku
masih kecil ya? Nggak ngerti, ternyata rumah tangga begitu amat
Terus aku nya cerai.”
Struktur Makro (Tematik) : Pada scene ini, tema yang diambil adalah tentang
penggambaran pernikahan dini yang memiliki dampak yang cukup besar, yaitu kondisi
biologis maupun psikologis seorang perempuan belum sepenuhnya matang. Secara
biologis, Rahim perempuan belum kuat untuk hamil dan beresiko keguguran. Secara
psikologis, keduanya belum sepenuhnya siap menghadapi kehidupan rumah tangga, dan
beresiko terjadi KDRT hingga perceraian.
Superstruktur (Skematik) : Dalam scene ini diperlihatkan bahwa Suci, dibalik sisi
periangnya ternyata menyimpan masa lalu yang cukup pahit. Suci menceritakan
pengalamannya waktu menikah dini, bahkan ia mengalami keguguran berkali-kali
karena kondisi rahimnya masih sangat muda. Bahkan ia juga mengalami kekerasan
dalam rumah tangga, hingga akhirnya berujung perceraian. Namun Suci bisa bangkit dari
keterpurukannya.
Struktur Mikro :
Semantik Latar Pada scene ini, mengarahkan penonton pada kisah masa lalu
Suci yang menikah di usia dini dan berkali-kali keguguran,
menjadi korban kegagalan pernikahan, bahkan mengalami
KDRT.
Detil Hal ini terlihat pada saat Suci mengatakan “Trus kite ne
keguguran bae pirang-pirang balen. Jarane dokter sih kegare
rahim kite ne isik enom” Laju suwe-suwe, dewe’e ngegebuk i
kite, sampe kite ne trauma. Opo masih cilik kite ya? Ora ngerti,
rumah tangga kuwen kaya ngene amat. Terus kite ne pegatan”
Dengan teks seperti itu, hal yang ditonjolkan adalah
Maksud Memberikan informasi mengenai permasalahan yang
ditimbulkan akibat pernikahan dini. Permasalahan tersebut
sering dialami oleh perempuan, seperti resiko keguguran,
KDRT, dan perceraian.
Sintaksis Bentuk Bentuk kalimat klimaks, kalimat ditampilkan dari tingkatan
Kalimat bawah ke yang lebih tinggi. Kalimat tersebut diperlihatkan pada
teks “Awale sih rapape, kemudian dilanjut dengan teks “laju
suwe-suwe, dewe’e ngegebuk i kite, sampe kite ne trauma”
menjelaskan bagaimana kehidupan pernikahan dini di awal
menyenangkan dan tidak terjadi apa-apa, namun ketika dijalani
banyak sekali persoalan yang muncul.
Koherensi Dalam menggambarkan fakta, seluruh kalimatnya nampak
koheren satu sama lain.
Stilistika Pada scene ini, menggunakan bahasa Jawa Serang.
53
Retoris Grafis Pada scene ini grafis secara keseluruhan mengarah pada Suci.
54
remaja yang penasaran ini jera. Kemudian seluruh siswi di sekolah Yuni ini menggerutu
dan kontra dengan kebijakan Wakil Bupati.
Struktur Mikro :
Semantik Latar Pada scene ini, menekankan pada penggambaran perempuan
yang tersudutkan karena adanya kewajiban untuk tes
keperawanan.
Detil Hal ini terlihat pada saat wakil bupati mengatakan “akan
mengadakan dan mewajibkan tes keperawanan bagi seluruh
siswi”. Teks tersebut, memperlihatkan dengan detil dan rinci,
tentang pentingnya keperawanan bagi siswi perempuan.
Dengan teks seperti itu, hal yang ditonjolkan adalah bahwa
siswi perempuan menjadi tersudutkan. Dalam aula tersebut juga
diperlihatkan adanya siswa laki-laki, namun yang diwajibkan
hanya siswa perempuan.
Maksud Memberikan informasi bahwa keperawanan telah menjadi hal
yang sangat penting. Tujuan diadakannya tes keperawanan agar
siswa jera dan tidak melakukan pergaulan bebas. Nilai
keperawanan kerap dinilai tabu dan terkesan dangkal. Namun,
pada dasarnya tes keperawanan ini terkesan menyudutkan dan
mendiskriminasi pihak perempuan.
Sintaksis Bentuk Kalimat pernyataan akan diadakan dan diwajibkan tes
Kalimat keperawanan
Koherensi Semua scene pada film ini, mengarah pada kata penghubung
pada dialog : “…mengadakan dan mewajibkan….”.
Stilistika Pada scene ini, menggunakan kata “keperawanan” yang
mudah dicerna oleh penontonnya. Secara umum, kata
keperawanan dipakaikan pada perempuan yang selaput daranya
belum robek.
Retoris Grafis Pada scene ini graafis memperlihatkan siswa perempuan dan
laki-laki berada dalam aula tersebut. Hal ini ditekankan karena
adanya ketidakadilan dalam hal keperawanan dan keperjakaan.
Ekspresi Scene ini menjelaskan ekspresi seluruh siswa perempuan panik.
Hal ini menunjukkan bahwa keperawanan sangat tabu.
Selain itu, persoalan tentang makna kesucian bagi perempuan juga dicerminkan
dalam scene dimana Yuni dilamar oleh pria separuh baya, ia membawa uang mahar
sebesar dua puluh lima juta untuk awalan karena Yuni dinilai masih muda.
55
Tabel 3.4 Adegan Nilai Keperawanan
56
Sintaksis Bentuk Bentuk kalimat pasif. Dalam kalimat tersebut ‘Yuni’ sebagai
Kalimat objek dan ‘Mang Dodi sebagai subjek. Yuni ditempatkan di
awal kalimat, karena memiliki arti penting untuk cerita ini
Koherensi Semua scene pada film ini, mengarah pada kata penghubung
‘lan’ (dan) pada dialog : “yen Yuni sampun nikah kalihan kite,
lan mengkono malam pertama tasik perawan”
Stilistika Pada scene ini, menggunakan bahasa Jawa Serang dan
menggunakan kata “malam pertama” supaya mudah dicerna
oleh penontonnya. Secara umum, kata malam pertama adalah
malam bagi pasangan yang baru menikah.
Retoris Grafis Pada scene ini grafis memperlihatkan dengan jelas pada uang
dua puluh lima juta, yang ada di amplop coklat. Lensa kamera
mendekati amplop coklat, sehingga menjadi lebih menonjol
serta memberikan kesan makna dari gambar tersebut. Hal ini
ditekankan karena nilai keperawanan dianggap sebagai nilai
jual wanita yang harus dijaga agar sebanding dengan harta yang
kelak ditukarkan oleh calon laki-laki yang akan dinikahi.
Ekspresi Scene ini menjelaskan Yuni yang terdiam di balik pintu dengan
ekspresi serius mendengarkan percakapan Mang Dodi dengan
Neneknya , ingin marah namun terbungkam.
tidak boleh menolak lamaran hingga 3 kali, jika menolaknya akan pamali
memperoleh karma tidak akan menikah atau tidak akan mendapatkan jodoh
selamanya. Hal tersebut sebenarnya bukan menjadi permasalahan untuk Yuni bila
tingkat perkuliahan.
57
Tabel 3.5 Mitos Pamali Menolak Lamaran
58
Stilistika Pada scene ini, menggunakan bahasa Jawa Serang.
Menekankan pada kata “pamali”.
Retoris Grafis Pada scene ini grafis memperlihatkan dengan jelas ekspresi
siswa 1 dan siswa 2.
Ekspresi Scene ini menjelaskan ekspresi Yuni yang menangis karena
kepikiran oleh perkataan temannya di toilet.
59
Kata Ganti Menggunakan kata ganti “Cah wadon”
Stilistika Pada scene ini, menggunakan bahasa Jawa Serang.
Retoris Grafis Pada scene ini grafis memperlihatkan dengan Yuni dan Tika
duduk tepat didepan pintu rumahnya.
Ekspresi Scene ini menjelaskan ekspresi Yuni tidak menggubris
perkataan neneknya
60
Struktur Makro (Tematik) : Pada scene ini, tema yang diambil adalah tentang
pendidikan bagi perempuan kerap kali dianggap tidak begitu penting. Hal ini
disebabkan oleh asumsi masyarakat yang menilai perempuan itu hanya memiliki
tugas di dapur, di sumur, dan di kasur. Perempuan tidak perlu sekolah tingi-tinggi,
karena pada akhirnya mereka akan bertugas menjadi ibu rumah tangga, menjadi istri
yang baik, dan melayani suami.
Superstruktur (Skematik) : Dalam scene ini digambarkan ketika Yuni mengatakan
ia ingin melanjutkan sekolah terlebih dahulu, namun ada sosok ibu-ibu yang
menjawab bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi, perempuan berurusan
dengan dapur, sumur, kasur.
Struktur Mikro :
Semantik Latar Pada scene ini, mengarahkan penonton pada sosok ibu-ibu
yang berpikir bahwa perempuan tidak perlu melanjutkan
pendidikan tinggi.
Detil Dialog “…Emang sekolah luwur-luwur kenopo Yun? …
Cah wadon teh yang penting dapur, sumur kasur. Eta neh
mah cocok di ranjang, goyang-goyang”. Dengan teks
seperti itu, memperlihatkan dengan detil dan rinci tentang
pendidikan perempuan yang dianggap tidak begitu
penting.
Maksud Memberikan informasi bahwa pendidikan perempuan
kerap dianggap tidak begitu penting, karena perempuan
setelah menikah hanya akan berakhir di dapur dan
mengurus suami.
Sintaksis Bentuk Bentuk kalimat disini menggunakan perempuan sebagai
Kalimat objek. Terlihat pada kalimat “Cah wadon teh yang penting
dapur, sumur kasur. Eta neh mah cocok di ranjang,
goyang-goyang”
Koherensi Koherensi mengarah pada percakapan ibu-ibu dan Yuni
Kata Ganti Menggunakan kata ganti “Cah wadon”
Stilistika Pada scene ini, menggunakan bahasa Jawa Serang.
Menggunakan istilah dapur, sumur, kasur yang lekat
dengan perempuan.
Retoris Grafis Pada scene ini grafis memperlihatkan ibu-ibu yang
berkumpul di rumah Yuni.
Ekspresi Scene ini menjelaskan ekspresi Yuni tersenyum tipis,
seolah-olah ia sudah biasa mendengarkan kata-kata
tersebut di lingkungan tempat tinggalnya.
61