0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan12 halaman

Analisis Kritik Sosial Film "Yuni"

Pada bab ini dilakukan analisis teks dalam film Yuni karya Kamila Andini mengenai kritik sosial, seperti pernikahan dini dan dampaknya. Pernikahan dini yang dialami karakter Tika dan Suci menghasilkan keguguran berulang, kekerasan dalam rumah tangga, bahkan perceraian. Hal ini karena kondisi biologis dan psikologis perempuan yang belum siap.

Diunggah oleh

Shofiya Salsabila
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan12 halaman

Analisis Kritik Sosial Film "Yuni"

Pada bab ini dilakukan analisis teks dalam film Yuni karya Kamila Andini mengenai kritik sosial, seperti pernikahan dini dan dampaknya. Pernikahan dini yang dialami karakter Tika dan Suci menghasilkan keguguran berulang, kekerasan dalam rumah tangga, bahkan perceraian. Hal ini karena kondisi biologis dan psikologis perempuan yang belum siap.

Diunggah oleh

Shofiya Salsabila
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

ANALISIS TEKS DALAM FILM “YUNI” KARYA KAMILA ANDINI

Dalam menjabarkan pesan kritik sosial yang terkandung dalam Film “Yuni” karya

Kamila Andini, peneliti menggunakan analisis wacana Van Dijk sebagai teknik analisis

data. Dalam analisis wacana A. Teun Van Dijk, struktur teks dibagi menjadi tiga, yaitu

struktur makro, superstruktur dan struktur mikro.

Berhubung film “Yuni” 90 persen menggunakan Bahasa Jawa Serang, maka dialog

juga akan ditulis menggunakan bahasa Jaseng, tetapi peneliti tetap menyertakan dialog

terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia.

Dalam film “Yuni”, penulis menampilkan kritik sosial tentang fenomena

ketidakadilan yang seringkali dialami perempuan, antara lain :

1. Pernikahan Dini

Tabel 3.1 Adegan Tika ( Pernikahan Dini dalam Film "Yuni" )

Scene 18 , menit ke 00:26:20


Visualisasi : (Rumah Tika) Yuni dan teman-temannya menjenguk Tika (Sahabat Yuni)
yang baru saja melahirkan anak pertamanya di usia belum genap 17 tahun.

Dialog :
Sarah (baju orange) : (menggendong bayi) “Tik.. Bapak e Iqbal neg endi? ko ra
kedelengan?”
Tika (baju toska) : “Neng omah ibune. Jarene jarang turu sejak Iqbal lahir,
padahal teh mung mambengi doang. Apalagi kite?”
Yuni bertanya kepada Tika
Yuni : “Masih lara tik?”

50
Tika : (mengambil bantal) “Iye… Iqbal kan gede, jadi suwek e neng ngendi-
ngendi. Trus maeng subuh jahitan e ucul maning.”
Yuni : “Truss?”
Tika : “Yaa.. terus bidan e mrene maning, dijahit maning.”
Yuni : “iiihhhhh…” (membayangkan sakit)
Tika : (sambil tersenyum iseng) “Periihhhhhh…”
Yuni : “Iiihh, uweslah” (ekspresi geli)

Terjemahan Bahasa Indonesia :


Sarah (baju orange) : (menggendong bayi) “Tik, Bapaknya Iqbal dimana? Kok
tidak kelihatan?”
Tika (baju toska) : “Dirumah ibunya. Katanya jarang tidur semenjak Iqbal
lahir, padahal cuma semalem doang. Apalagi aku?”
Yuni bertanya kepada Tika
Yuni : “Masih sakit tik?”
Tika : (mengambil bantal) “Iya… Iqbal kan besar, jadi robeknya
dimana-mana. Trus tadi subuh jahitan nya robek lagi”
Yuni : “Truss?”
Tika : “Yaa.. terus bidan nya kesini lagi, dijahit lagi.”
Yuni : “iiihhhhh…” (membayangkan sakit)
Tika : (sambil tersenyum iseng) “Periihhhhhh…”
Yuni : “Iiihh, udahlah” (ekspresi geli)
Struktur Makro (Tematik) : Pada scene ini, tema yang diambil adalah tentang
penggambaran pernikahan dini pada perempuan yang belum genap berusia 17 tahun.
Film ini mengangkat topik yang berhubungan dengan pernikahan dini, yakni kehamilan
tanpa rencana, karena umur mereka yang masih sangat muda.
Superstruktur (Skematik) : Dalam scene ini diperlihatkan bahwa Tika, baru saja
melahirkan anak pertamanya berjenis kelamin laki-laki. Setelah anaknya lahir, suaminya
malah pergi kerumah orang tuanya, dengan alasan semenjak anaknya lahir ia tidak tidur
dan merasa terganggu. Tika juga menceritakan pengalaman melahirkan anak
pertamanya, merasakan bagaimana perih dan sakitnya saat melahirkan dan dijahit.
Struktur Mikro :
Semantik Latar Pada scene ini, menekankan pada penggambaran tentang Tika
sosok perempuan yang baru saja melahirkan diusia nya yang
masih belia. Ia harus merasakan sakitnya melahirkan dan
perihnya saat dijahit. Terlebih ia harus ditingal oleh suaminya.
Detil Hal ini terlihat pada saat Tika mengatakan “Neng omah ibune.
Jarene jarang turu sejak Iqbal lahir, padahal teh mung
mambengi doang. Apalagi kite?” dan pada dialog
“Periihhhhhh…” Dengan teks seperti itu, hal yang ditonjolkan
adalah Tika dalam film “Yuni” harus merasakan sendiri
bagaimana sakitnya melahirkan anak dan bagaimana mengurus
anak sendirian tanpa suami.
Maksud Memberikan informasi mengenai pernikahan dini yang sangat
berdampak pada perempuan dan terkesan merugikan
perempuan. Karena pada dasarnya, mereka yang melakukan
pernikahan dini belum siap secara matang dalam hal biologis
maupun psikologis.

51
Sintaksis Bentuk Bentuk kalimat induktif, inti kalimat terdapat di akhir kalimat.
Kalimat Teks tersebut diperlihatkan pada kata “apalagi kite?”, bahwa
Tika lebih tersiksa dibanding suaminya. Karena harus
melahirkan dan mengurus anak sendirian.
Koherensi Scene pada film ini, mengarah pada kata konjungsi (sejak) pada
dialog : Jarene jarang turu sejak Iqbal lahir.
Kemudian pada penggunaan kata penghubung “Iqbal kan gede,
jadi suwek e neng ngendi-ngendi” Sehingga kalimat dalam teks
diatas menggambarkan sebuah fakta dan dapat dihubungkan
sehingga nampak koheren.
Stilistika Pada scene ini, menggunakan bahasa Jawa Serang.
Retoris Grafis Pada scene ini grafis memperlihatkan dengan jelas bayi Tika.
Ekspresi Scene ini menjelaskan ekspresi Yuni begitu takut
membayangkan bagaimana sakitnya dijahit setelah melahirkan.
Berbeda dengan Tika dengan ekspresi tenang dan tertawa
ketika menjawab “periiihh banget”.

Tabel 3.2 Adegan Suci Cute ( Pernikahan Dini dalam Film "Yuni" )

Scene 50 , menit ke 00:46:17 – 00:48:20


Visualisasi : (Berada di Salon milik Suci) Yuni sedang di dandani oleh Suci.
Dialog :
Yuni : “Lakine teteh neng ngendi?” (menatap Suci)
Suci : “Laki?” (Ekspresi bingung) … “oh.. sing wingi? Kui teh duduk laki
kite”
Yuni : “Ooohh.. Sangkane wis Kawin” (Tersenyum)
Suci : “Uwis pernah” (menjawab dengan tegas)
Yuni : “oh iya?”
Suci : “Iye, lagi SMP” (ekspresi datar, sambil membawa brush make up)
Yuni : “Trus, peremen?”
Suci : (Bercerita) “Awale sih rapape. Trus kite ne keguguran bae
pirang-pirang balen. Jarane dokter sih kegare rahim kite ne isik enom.
Mbuhlah ora ngerti. Laju suwe-suwe, dewe’e ngegebuk i kite, sampe
kite ne trauma. Opo masih cilik kite ya? Ora ngerti, rumah tangga
kuwen kaya ngene amat. Terus kite ne pegatan” (sambil tersenyum).”
Terjemahan Bahasa Indonesia :
Yuni : “Suaminya teteh dimana?” (menatap Suci)
Suci : “Suami?” (Ekspresi bingung) … “oh.. yang kemaren? Itu bukan suami
aku.”
Yuni : “Ooohh.. Kirain sudah nikah” (Tersenyum)

52
Suci : “Sudah pernah” (menjawab dengan tegas)
Yuni : “oh iya?”
Suci : “Iya pas SMP” (ekspresi datar, sambil membawa brush make up)
Yuni : “Terus.. gimana?”
Suci : “Awalnya sih tidak apa-apa. Terus akunya keguguran berkali-kali. Kata
dokter sih karena rahimku masih muda banget. Entahlah nggak tau.
Trus lama-lama dia mulai mukuli, sampai aku trauma. Apa karena aku
masih kecil ya? Nggak ngerti, ternyata rumah tangga begitu amat
Terus aku nya cerai.”
Struktur Makro (Tematik) : Pada scene ini, tema yang diambil adalah tentang
penggambaran pernikahan dini yang memiliki dampak yang cukup besar, yaitu kondisi
biologis maupun psikologis seorang perempuan belum sepenuhnya matang. Secara
biologis, Rahim perempuan belum kuat untuk hamil dan beresiko keguguran. Secara
psikologis, keduanya belum sepenuhnya siap menghadapi kehidupan rumah tangga, dan
beresiko terjadi KDRT hingga perceraian.
Superstruktur (Skematik) : Dalam scene ini diperlihatkan bahwa Suci, dibalik sisi
periangnya ternyata menyimpan masa lalu yang cukup pahit. Suci menceritakan
pengalamannya waktu menikah dini, bahkan ia mengalami keguguran berkali-kali
karena kondisi rahimnya masih sangat muda. Bahkan ia juga mengalami kekerasan
dalam rumah tangga, hingga akhirnya berujung perceraian. Namun Suci bisa bangkit dari
keterpurukannya.
Struktur Mikro :
Semantik Latar Pada scene ini, mengarahkan penonton pada kisah masa lalu
Suci yang menikah di usia dini dan berkali-kali keguguran,
menjadi korban kegagalan pernikahan, bahkan mengalami
KDRT.
Detil Hal ini terlihat pada saat Suci mengatakan “Trus kite ne
keguguran bae pirang-pirang balen. Jarane dokter sih kegare
rahim kite ne isik enom” Laju suwe-suwe, dewe’e ngegebuk i
kite, sampe kite ne trauma. Opo masih cilik kite ya? Ora ngerti,
rumah tangga kuwen kaya ngene amat. Terus kite ne pegatan”
Dengan teks seperti itu, hal yang ditonjolkan adalah
Maksud Memberikan informasi mengenai permasalahan yang
ditimbulkan akibat pernikahan dini. Permasalahan tersebut
sering dialami oleh perempuan, seperti resiko keguguran,
KDRT, dan perceraian.
Sintaksis Bentuk Bentuk kalimat klimaks, kalimat ditampilkan dari tingkatan
Kalimat bawah ke yang lebih tinggi. Kalimat tersebut diperlihatkan pada
teks “Awale sih rapape, kemudian dilanjut dengan teks “laju
suwe-suwe, dewe’e ngegebuk i kite, sampe kite ne trauma”
menjelaskan bagaimana kehidupan pernikahan dini di awal
menyenangkan dan tidak terjadi apa-apa, namun ketika dijalani
banyak sekali persoalan yang muncul.
Koherensi Dalam menggambarkan fakta, seluruh kalimatnya nampak
koheren satu sama lain.
Stilistika Pada scene ini, menggunakan bahasa Jawa Serang.

53
Retoris Grafis Pada scene ini grafis secara keseluruhan mengarah pada Suci.

Ekspresi Scene ini menjelaskan ekspresi Suci yang begitu tegar


menceritakan pengalamannya menikah diusia muda. Seakan-
akan ia menyembunyikan kepahitan yang ia hadapi seorang
diri.

2. Diskriminasi Perempuan dalam Wacana Keperawanan

Tabel 3.3 Adegan Tes Keperawanan

Scene 3 & 4 , menit ke 00:02:19 - 00:02:39


Visualisasi : Sekolah Yuni kedatangan Wakil Bupati Perempuan. Seluruh siswa dan
siswi berkumpul di Aula. Adam (pembawa acara) dan Wali Kota (pengisi acara)
mengumumkan akan mengadakan dan mewajibkan tes keperawanan bagi seluruh siswi
di sekolah Yuni.
Dialog :
Adam : (sambil memegang mic) “Alhamdulillah, bersama kawula sampun
hadir Wakil Bupati Ibu Hajah Rahma Sadikin MA. Sing ayep
nyampeake himbauan pagi dinten niki. Kagem Ibu Hajah Rahma,
waktu dan tempat kulo sediaaken.” (menyerahkan mic pada
Bupati) (Alhamdulillah, bersama kita sudah hadir Wakil Bupati
Ibu Hajah Rahma Sadikin MA. Yang akan menyampaikan
himbauan pagi hari ini. Kepada Ibu Hajah Rahma, waktu dan
tempat saya persilahkan)
Wakil bupati : (memegang mic) “Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh”
Para siswa :“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”
Wakil bupati :“Seperti tadi telah dijelaskan oleh Ananda Adam dari Rohis,
materi penyuluhan sedang kami susun. Dan dalam waktu
dekat kami akan mengadakan dan mewajibkan tes
keperawanan bagi seluruh siswi”
Para siswi : (menggerutu)
Struktur Makro (Tematik) : Pada scene ini, tema yang diambil adalah tentang makna
keperawanan bagi perempuan. Fakta ini terlihat saat wakil bupati akan mengadakan tes
keperawanan untuk seluruh siswi.
Superstruktur (Skematik) : Lantaran maraknya sex bebas dan tingginya angka
kehamilan dikalangan pelajar. Untuk itu, Wakil Bupati mengadakan dan mewajibkan tes
keperawanan bagi seluruh siswi disekolah Yuni. Dengan tujuan agar membuat remaja-

54
remaja yang penasaran ini jera. Kemudian seluruh siswi di sekolah Yuni ini menggerutu
dan kontra dengan kebijakan Wakil Bupati.
Struktur Mikro :
Semantik Latar Pada scene ini, menekankan pada penggambaran perempuan
yang tersudutkan karena adanya kewajiban untuk tes
keperawanan.
Detil Hal ini terlihat pada saat wakil bupati mengatakan “akan
mengadakan dan mewajibkan tes keperawanan bagi seluruh
siswi”. Teks tersebut, memperlihatkan dengan detil dan rinci,
tentang pentingnya keperawanan bagi siswi perempuan.
Dengan teks seperti itu, hal yang ditonjolkan adalah bahwa
siswi perempuan menjadi tersudutkan. Dalam aula tersebut juga
diperlihatkan adanya siswa laki-laki, namun yang diwajibkan
hanya siswa perempuan.
Maksud Memberikan informasi bahwa keperawanan telah menjadi hal
yang sangat penting. Tujuan diadakannya tes keperawanan agar
siswa jera dan tidak melakukan pergaulan bebas. Nilai
keperawanan kerap dinilai tabu dan terkesan dangkal. Namun,
pada dasarnya tes keperawanan ini terkesan menyudutkan dan
mendiskriminasi pihak perempuan.
Sintaksis Bentuk Kalimat pernyataan akan diadakan dan diwajibkan tes
Kalimat keperawanan
Koherensi Semua scene pada film ini, mengarah pada kata penghubung
pada dialog : “…mengadakan dan mewajibkan….”.
Stilistika Pada scene ini, menggunakan kata “keperawanan” yang
mudah dicerna oleh penontonnya. Secara umum, kata
keperawanan dipakaikan pada perempuan yang selaput daranya
belum robek.
Retoris Grafis Pada scene ini graafis memperlihatkan siswa perempuan dan
laki-laki berada dalam aula tersebut. Hal ini ditekankan karena
adanya ketidakadilan dalam hal keperawanan dan keperjakaan.
Ekspresi Scene ini menjelaskan ekspresi seluruh siswa perempuan panik.
Hal ini menunjukkan bahwa keperawanan sangat tabu.

Selain itu, persoalan tentang makna kesucian bagi perempuan juga dicerminkan

dalam scene dimana Yuni dilamar oleh pria separuh baya, ia membawa uang mahar

sebesar dua puluh lima juta untuk awalan karena Yuni dinilai masih muda.

55
Tabel 3.4 Adegan Nilai Keperawanan

Scene 71 , menit ke 01:10:12


Visualisasi : (Rumah Yuni) Di balik pintu kamarnya, Yuni bersama temannya
mendengarkan pembicaraan Mang Dodi dan neneknya. Mang Dodi datang ke rumah
Yuni untuk melamarnya, dengan mahar 25 Juta.
Dialog :
Mang Dodi : (Mengeluarkan uang) “Insyaallah, yen Yuni sampun nikah
kalihan kite, lan mengkono malam pertama tasik perawan. Kite
bakal nambahi kontan malih selawe juta” (Insyaallah misalnya
Yuni sudah menikah dengan saya, dan saat malam pertama Yuni
masih perawan akan saya tambah lagi kontan 25 juta).
Yuni dan Tika : (Di balik pintu kamarnya, mendengarkan percakapan Mang
Dodi dan Neneknya).
Struktur Makro (Tematik) : Pada scene ini, mengangkat tema tentang isu keperawanan
yang menjadi ‘nilai jual’ perempuan di masyarakat. Tinggi rendahnya mahar tergantung
status perempuan perawan atau tidak.
Superstruktur (Skematik) : Dalam scene ini diperlihatkan bahwa Mang Dodi, pria
separuh baya bermaksud untuk melamar Yuni yang belum genap 17 tahun. Mang Dodi
membawa uang sebesar 25 juta sebagai awalan mahar karena Yuni masih muda. Jumlah
itu akan ditambah apabila setalah akad dilaksanakan dan Yuni masih perawan.
Struktur Mikro :
Semantik Latar Pada scene ini, menekankan pada penggambaran tentang Mang
Dodi sosok laki-laki yang rela memberikan mahar besar apabila
perempuan itu masih muda dan masih perawan.
Detil Hal ini terlihat pada saat Mang Dodi (pria kedua yang melamar
Yuni) mengatakan “Insyaallah, yen Yuni sampun nikah kalihan
kite, lan mengkono malam pertama tasik perawan. Kite bakal
nambahi kontan malih selawe juta”. Dengan teks seperti itu,
hal yang ditonjolkan adalah ‘besar mahar’ pada keperawanan
perempuan.
Maksud Memberikan informasi mengenai keperawanan perempuan
yang menjadi ‘nilai jual’ di masyarakat. Ibarat membeli barang
semakin mahal, akan menunjukkan segel yang utuh dan aman.

56
Sintaksis Bentuk Bentuk kalimat pasif. Dalam kalimat tersebut ‘Yuni’ sebagai
Kalimat objek dan ‘Mang Dodi sebagai subjek. Yuni ditempatkan di
awal kalimat, karena memiliki arti penting untuk cerita ini
Koherensi Semua scene pada film ini, mengarah pada kata penghubung
‘lan’ (dan) pada dialog : “yen Yuni sampun nikah kalihan kite,
lan mengkono malam pertama tasik perawan”
Stilistika Pada scene ini, menggunakan bahasa Jawa Serang dan
menggunakan kata “malam pertama” supaya mudah dicerna
oleh penontonnya. Secara umum, kata malam pertama adalah
malam bagi pasangan yang baru menikah.
Retoris Grafis Pada scene ini grafis memperlihatkan dengan jelas pada uang
dua puluh lima juta, yang ada di amplop coklat. Lensa kamera
mendekati amplop coklat, sehingga menjadi lebih menonjol
serta memberikan kesan makna dari gambar tersebut. Hal ini
ditekankan karena nilai keperawanan dianggap sebagai nilai
jual wanita yang harus dijaga agar sebanding dengan harta yang
kelak ditukarkan oleh calon laki-laki yang akan dinikahi.
Ekspresi Scene ini menjelaskan Yuni yang terdiam di balik pintu dengan
ekspresi serius mendengarkan percakapan Mang Dodi dengan
Neneknya , ingin marah namun terbungkam.

3. Mitos Tentang Perempuan


a. Mitos Pamali Menolak Lamaran
Di daerah tempat tinggal Yuni masih mempercayai mitos dimana perempuan

tidak boleh menolak lamaran hingga 3 kali, jika menolaknya akan pamali

memperoleh karma tidak akan menikah atau tidak akan mendapatkan jodoh

selamanya. Hal tersebut sebenarnya bukan menjadi permasalahan untuk Yuni bila

saja dia bukan seseorang yang ambisius ingin melanjutkan pendidikannya ke

tingkat perkuliahan.

57
Tabel 3.5 Mitos Pamali Menolak Lamaran

Scene 73 & 74, menit ke 01:10:12 – 01:10:20


Visualisasi : (Di toilet sekolah) Terlihat Yuni dan beberapa siswa di dalam toilet
sekolahan. Mereka menasehati Yuni untuk tidak menolak lamaran yang kedua, karena
pamali.
Dialog :
Siswi 1 : (Berkaca) “ Kumaha Yun? Nukuari? Pasti teh lebih oke, dinuka kamari?
Siswi 2 : “Cokolat mah Yun.. ulah eta nolak lamaran wuleh teh sampe dua kali.
Pamali”
Yuni masuk kamar mandi (gelisah)
Siswi 1 : “Maaf ya Yun, saa mengingatkan bae. Sesame babaturan”
Scene 74 Yuni menaiki motor, dan menangis (sedih), mengingat perkataan teman satu
sekolahnya tadi.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia :
Siswa 1 : “Gimana Yun yang kemaren? Pasti lebih oke daripada yang
sebelumnya? (nada menyindir)
Siswa 2 : “Kata orange tua ya Yun.. nggak boleh nolak lamaran lebih dari dua kali,
pamali”.
Siswa 1 : “Maaf ya Yun, sekedar mengingatkan aja. Sebagai sesama teman”
Struktur Makro (Tematik) : Pada scene ini, tema yang diambil adalah tentang mitos
pamali menolak lamaran hingga berkali-kali, jika menolaknya akan pamali memperoleh
karma tidak akan menikah atau tidak akan mendapatkan jodoh selamanya
Superstruktur (Skematik) : Dalam scene ini digambarkan beberapa siswa
mengingatkan Yuni untuk tidak menolak lamaran dari Mang Dodi, pria kedua yang
melamar Yuni. Alih-alih mengingatkan, mereka malah mengintimidasi sosok Yuni,
hingga Yuni merasa gelisah dan sedih.
Struktur Mikro :
Semantik Latar Pada scene ini, mengarahkan penonton pada beberapa siswa
perempuan yang mengingatkan Yuni tentang larangan menolak
lamaran sampai dua kali.
Detil Dialog “…. ulah eta nolak lamaran wuleh teh sampe dua kali.
Pamali” Dengan teks seperti itu, memperlihatkan dengan detil
dan rinci tentang mitos pamali menolak lamaran hingga dua kali
Maksud Memberikan informasi mengenai mitos perempuan tidak boleh
menolak lamaran hingga dua kali. Seakan-akan perempuan
tidak dapat menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Sintaksis Bentuk Bentuk kalimat tidak langsung. Terdapat teks “Cokolat mah
Kalimat Yun…” (Kata orang tuaku ya Yun).
Koherensi Koherensi pada scene ini ditunjukkan pada kata “lebih”, pada
teks dialog sehingga nampak koheren.

58
Stilistika Pada scene ini, menggunakan bahasa Jawa Serang.
Menekankan pada kata “pamali”.
Retoris Grafis Pada scene ini grafis memperlihatkan dengan jelas ekspresi
siswa 1 dan siswa 2.
Ekspresi Scene ini menjelaskan ekspresi Yuni yang menangis karena
kepikiran oleh perkataan temannya di toilet.

b. Mitos Larangan Duduk di Depan Pintu

Tabel 3.6 Mitos Larangan Duduk Di Depan Pintu

Scene70, menit ke 01:09:10


Visualisasi : (Depan rumah Yuni) Yuni duduk di depan pintu rumah sambil memakaikan
kutek Tika. Tiba-tiba neneknya pulang belanja, dan menegur Yuni.
Dialog :
Nenek : “(Berjalan menuju pintu) Anak wadon perawan, ngobrol di depan
pintu, adoh jodoh sire!”. (Memukul kepala Yuni menggunakan Pete)
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia :
Nenek : “Anak perempuan perawan, ngobrol di depan pintu, nanti jauh jodoh
kamu!”
Struktur Makro (Tematik) : Pada scene ini, tema yang diambil adalah tentang mitos
anak perempuan yang masih perawan tidak boleh duduk di depan pintu, karena dapat
menjauhkan jodoh.
Superstruktur (Skematik) : Dalam scene ini digambarkan Yuni dan Tika duduk di
depan pintu sambil ngobrol dan mengecat kuku. Terlihat nenek Yuni masuk kerumah
dan menegur Yuni sambil memukul kepala Yuni pakai pete.
Struktur Mikro :
Semantik Latar Pada scene ini, mengarahkan penonton pada sosok Nenek
Yuni, yang mempercayai jika perempuan perawan duduk
didepan pintu maka akan dijauhkan jodohnya.
Detil Dialog “Anak wadon perawan, ngobrol di depan pintu, adoh
jodoh sire!”. Dengan teks seperti itu, memperlihatkan dengan
detil dan rinci tentang kepercayaan masyarakat soal mitos
larangan perempuan duduk didepan pintu rumah.
Maksud Memberikan informasi bahwa sebagian masyarakat masih
mempercayai adanya mitos tentang perempuan dilarang
duduk di depan pintu.
Sintaksis Bentuk Bentuk kalimat disini Yuni sebagai objek diletakkan pada
Kalimat awal kalimat.
Koherensi Tidak terdapat koherensi pada kalimat ini.

59
Kata Ganti Menggunakan kata ganti “Cah wadon”
Stilistika Pada scene ini, menggunakan bahasa Jawa Serang.
Retoris Grafis Pada scene ini grafis memperlihatkan dengan Yuni dan Tika
duduk tepat didepan pintu rumahnya.
Ekspresi Scene ini menjelaskan ekspresi Yuni tidak menggubris
perkataan neneknya

4. Tentang Pendidikan bagi Perempuan

Perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi ditampilkan dalam film “Yuni”

ketika tokoh Yuni berbincang dengan rombongan ibu-ibu qosidahan di rumahnya.

Tabel 3.7 Pendidikan bagi Perempuan

Scene 34, menit ke 00:40:57


Visualisasi : (Dirumah Yuni) Beberapa ibu-ibu yang sedang meanyantap makanan
di rumah Yuni. Mereka berbincang dengan Yuni dan menanyakan apakah lamaran
Iman (pria pertama yang melamar Yuni) diterima atau tidak.
Dialog :
Ibu-Ibu : (Sambil makan) “Yun.. kumaha lamarannye? diterime tak?”
Ibu-Ibu : “Si Iman kan jare megawe nk pabrik. Lumayan sire Yun, susah rie
manjing mekono ko”
Yuni : “Inggih buk.. masih dipikiraken (tersenyum) .. Embuhlah, kayane Yuni
pengen sekolah dimin.” (menggaruk kepala).
Ibu-Ibu : “…Emang sekolah luwur-luwur kenopo Yun? … Cah wadon the yang
penting dapur, sumur kasur. Eta neh mah cocok di ranjang, goyang-
goyang” (Tertawa)
Yuni : (Tersenyum tipis)
Terjemahan Bahasa Indonesia :
Ibu-Ibu 1 : “Yun, gimana lamarannya? Diterima tidak?”
Ibu-Ibu 2 : “Si iman katanya bekerja di pabrik. Lumayan loh Yun, susah katanya
kerja disitu”
Yuni : “Iya buk, masih dipikirkan. Entahlah, kayaknya Yuni ingin sekolah
dulu”
Ibu-Ibu 1 : “Emang sekolah tinggi-tinggi mau jadi apa Yun? Perempuan yang
penting dapur, sumur, kasur. Yang penting mah cocok di kasur.
goyang-goyang”

60
Struktur Makro (Tematik) : Pada scene ini, tema yang diambil adalah tentang
pendidikan bagi perempuan kerap kali dianggap tidak begitu penting. Hal ini
disebabkan oleh asumsi masyarakat yang menilai perempuan itu hanya memiliki
tugas di dapur, di sumur, dan di kasur. Perempuan tidak perlu sekolah tingi-tinggi,
karena pada akhirnya mereka akan bertugas menjadi ibu rumah tangga, menjadi istri
yang baik, dan melayani suami.
Superstruktur (Skematik) : Dalam scene ini digambarkan ketika Yuni mengatakan
ia ingin melanjutkan sekolah terlebih dahulu, namun ada sosok ibu-ibu yang
menjawab bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi, perempuan berurusan
dengan dapur, sumur, kasur.
Struktur Mikro :
Semantik Latar Pada scene ini, mengarahkan penonton pada sosok ibu-ibu
yang berpikir bahwa perempuan tidak perlu melanjutkan
pendidikan tinggi.
Detil Dialog “…Emang sekolah luwur-luwur kenopo Yun? …
Cah wadon teh yang penting dapur, sumur kasur. Eta neh
mah cocok di ranjang, goyang-goyang”. Dengan teks
seperti itu, memperlihatkan dengan detil dan rinci tentang
pendidikan perempuan yang dianggap tidak begitu
penting.
Maksud Memberikan informasi bahwa pendidikan perempuan
kerap dianggap tidak begitu penting, karena perempuan
setelah menikah hanya akan berakhir di dapur dan
mengurus suami.
Sintaksis Bentuk Bentuk kalimat disini menggunakan perempuan sebagai
Kalimat objek. Terlihat pada kalimat “Cah wadon teh yang penting
dapur, sumur kasur. Eta neh mah cocok di ranjang,
goyang-goyang”
Koherensi Koherensi mengarah pada percakapan ibu-ibu dan Yuni
Kata Ganti Menggunakan kata ganti “Cah wadon”
Stilistika Pada scene ini, menggunakan bahasa Jawa Serang.
Menggunakan istilah dapur, sumur, kasur yang lekat
dengan perempuan.
Retoris Grafis Pada scene ini grafis memperlihatkan ibu-ibu yang
berkumpul di rumah Yuni.
Ekspresi Scene ini menjelaskan ekspresi Yuni tersenyum tipis,
seolah-olah ia sudah biasa mendengarkan kata-kata
tersebut di lingkungan tempat tinggalnya.

61

Anda mungkin juga menyukai