Aceh Anthropological Journal, P-ISSN: 2614-5561
Volume 4, No. 1, 110-121, April 2020 E-ISSN: 2746-0436
BOSAN DENGAN RAMBUT HITAM:
KAJIAN BUDAYA TENTANG TREN MEWARNAI RAMBUT DI
KECAMATAN KOTA KUALA SIMPANG KABUPATEN ACEH
TAMIANG
Eli Suprida ACEH TAMIANG)
KUALA SIMPANG KABUAPTEN
Program Studi Antropologi, Universitas Malikussaleh Lhokseumawe
Aceh-Indonesia
Abstrak: Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kota Kuala Simpang Kabupaten
Aceh Tamiang, dengan judul “Bosan Dengan Rambut Hitam” (Tren Mewarnai
Rambut di Kota Kuala Simpang Kabupaten Aceh Tamiang). Teknik pengumpulan
data yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif analisis dengan
pendekatan kualitatif, untuk menggali data yang lebih akurat, serta penulis juga
menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara,
mendalam, dan dokumentasi. Dari penelitian menunjukkan bahwa masyarakat
mewarnai rambutnya dikarenakan mengikuti tren mewarnai rambut yang
sedang berkembang saat ini. Melihat persoalan ini, Kebiasaan mewarnai rambut
pada dasarnya tidak tumbuh pada hari ini, Keinginan untuk mewarnai rambut
memang sudah berkembang sejak zaman Mesir Purba. Tak hanya itu, pemilihan
kosmetika harus senantiasa didasarkan kepada kondisi rambut dan tujuan yang
hendak dicapai. mimikri adalah suatu hasrat dari subjek yang berbeda menjadi
subjek yang lain yang hampir sama, tetapi tidak sepenuhnya (as subject of a
difference, that is almost the same, but not quite). Amerikanisasi telah menjadi salah
satu aspek sejumlah ketakutan dan kecemasan umum atas semakin besarnya
kapasitas kaum muda dan kelas pekerja untuk berpartisipasi dalam masyarakat
konsumen yang lahir secara perlahan-lahan. Dampak amerikanisasi tidak luput
dari peranan media massa yang berhasil merekontruksi jati diri mereka.
Kata Kunci: pewarnaan rambut, Budaya Mimikri, Budaya Massa
Eli Suprida: Bosan dengan Rambut Hitam... 110
Aceh Anthropological Journal, Vol. 4, No. 1 , hlm: 110-121, April 2020
A. Pendahuluan
Manusia sebagai makhluk Individu memiliki unsur jasmani dan rohani,
unsur fisik dan psikis, unsur raga dan [Link] di katakan sebagai manusia
individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam [Link] manusia
memiliki keunikan atau ciri khas. Tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama.
Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan
[Link]-ciri seorang individu tidak hanya mudah di kenali lewat fisik atau
biologisnya. Sifat, karakter, perangai, atau gaya dan selera orang juga berbeda-
beda (Elly, dkk, 2008).
Dewasa ini, globalisasi berkaitan erat dengan modernisasi. Hal ini
dikarenakan proses globalisasi yang terjadi dipengaruhi oleh proses kemajuan
pengetahuan dan teknologi. Proses kemajuan pengetahuan dan teknologi tersebut
adalah bagian daripada modernisasi. Dari sisi kebudayaan, tidak dipungkiri
globalisasi dan modernisasi mempengaruhi atau merubah pola kehidupan
bermasyarakat atau tatanan kehidupan sosial masyarakat yang mengalaminya. Hal
ini dikarenakan adanya penyerapan dan pencampuran budaya dari masing-masing
negara yang bersangkutan. Perubahan pola kehidupan masyarakat yang terjadi,
menghasilkan pandangan-pandangan kehidupan yang berbeda pula.
Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan
pegangan, pedoman, arahan petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan
itu merupakan hasil pemikiran masyarakat yang mengalami perubahan sosial
tersebut. Melalui globalisasi dan juga modernisasi, manusia dalam kaitannya
dengan pandangan hidup memandang segala sesuatu dengan sisi pandangan yang
berbeda dan lebih rasional.
Pada umumnya masyarakat Indonesia memiliki bentuk fisik yang memiliki
kesamaan misalnya saja warna rambut berwarna hitam. Namum belakangan ini
semakin banyak yang merubah warna rambutnya dikarenakan tren mewarnai
rambut dikalangan selebritis Indonesia, tak hanya di kota-kota besar, trend
mewarnai rambut sudah sampai ke kota kecil hingga ke desa-desa, khususnya di
Kabupaten Aceh Tamiang.
Eli Suprida: Bosan dengan Rambut Hitam... 111
Aceh Anthropological Journal, Vol. 4, No. 1 , hlm: 110-121, April 2020
Kabupaten Aceh Tamiang adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh,
Indonesia. Kabupaten ini berada diujung aceh yang berbatasan langsung dengan
provinsi Sumatra Utara, Kabupaten ini berada di jalur Timur Sumatera yang
strategis dan hanya berjarak lebih kurang 250 km dari Kota Medan sehingga akses
serta harga barang di kawasan ini relatif lebih murah dari pada daerah Aceh
lainnya, hal inilah yang menjadi salah satu faktor pendorong gaya hidup
masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang yang jauh dari kata daerah Aceh. Pasalnya
Aceh sendiri identik dengan peraturan syari’at Islam yang ketat, peraturan ini
tidak berlaku di Kabupaten Aceh Tamiang. Penerapan syari’at Islam di Kabupaten
Aceh Tamiang tidak berjalan dengan baik. Pada kenyataannya, peraturan
penggunaan jilbab yang diwajibkan pada kalangan wanita tidak mengikuti syari’at
Islam yang di terapkan pada daerah-daerah Aceh lainnya. Masyarakat Kabupaten
Aceh Tamiang masih banyak yang tidak menggunakan hijab, hal ini juga yang
mendorong semakin banyaknya gaya merubah bentuk rambut, hingga mewarnai
rambut.
Kebiasaan mewarnai rambut pada dasarnya tidak tumbuh pada hari ini,
Keinginan untuk mewarnai rambut memang sudah berkembang sejak zaman Mesir
Purba. Bahkan ramuan yang di jadikan zat warna berasal dari alam seperti
tumbuh- tumbuhan dengan tujuan untuk memperbaiki penampilan. Salah satu
aspek yang mempengaruhi penampilan adalah rambut, posisi yang berada
didepan menjadikan rambut sebagai bagian yang pertama kali dilihat oleh orang
lain serta menjadikan rambut sebagai pembeda dan ciri khas seseorang.
Warna rambut ditentukan oleh pigmen melanin di dalam rambut yang ada
dalam lapisan korteks. Bahan asal pigmen melanin adalah melanosit yang berada
dalam umbi rambut. Melanosit adalah sel-sel yang menghasilkan pigmen (zat
warna) yang menyebabkan rambut asli dapat memiliki bermacam-macam warna.
Bila sudah mencapai usia lanjut, warna rambut berubah menjadi putih, dan ini
sering kurang disukai keberadaannya. Rambut menjadi putih dapat disebabkan
Eli Suprida: Bosan dengan Rambut Hitam... 112
Aceh Anthropological Journal, Vol. 4, No. 1 , hlm: 110-121, April 2020
karena hilangnya aktivitas enzim dalam sel pigmen dan bisa juga akibat faktor
keturunan. 1
Warna rambut dapat diubah-ubah secara buatan dengan menggunakan
cat rambut, di Indonesia disebut juga dengan semir rambut, yaitu mengecat
rambut putih (uban) agar tetap nampak hitam. Warna rambut pada manusia
bermacam-macam, ada yang berwarna hitam, merah kecokelatan, cokelat,
keemasan atau pirang dan sebagainya. Sediaan pewarna rambut adalah kosmetika
yang digunakan dalam tata rias rambut untuk mewarnai rambut, baik untuk
mengembalikan warna rambut asli atau mengubah warna rambut asli menjadi
warna baru (Latirah, dkk, 2005).
Namun belakangan ini, pewarnaan rambut semakin digemari oleh banyak
kalangan dari remaja hingga dewasa baik wanita maupun pria di Kota Kuala
Simpang. Fenomena kehidupan sosial kebudayaan dan gerak tubuh keseharian
selalu berkaitan erat dengan media yang memberikan berbagai informasi
kehidupan sosial lainnya. Media memiliki posisi sebagai penyampai sebuah pesan
yang dikirimkan kepada khalayak ramai atau masyarakat. Jaringan media masa
mempunyai kekuatan untuk merubah identitas individu seiring dengan munculnya
hubungan lintas batas Negara. Tidak hanya media yang menjadi faktor perubahan
sosial kebudayaan suatu masyarakat. Akan tetapi pada prakteknya lingkunganlah
yang berperan penting menjadikan suatu perubahan sosial pada masyarakat. Hal
ini yang membuat penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini kedalam sebuah
sebuah kajian.
B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu penelitian dengan
mengumpulkan data lapangan yang kemudian dibahas dan dianalisis dengan
mengacu pada landasan teoritis (Meleong, 2016). Pendekatan yang penulis
lakukan adalah Budaya Massa dan Amerikanisasi, Modernisasi dan Budaya
Mimikri.
1 Dra. Anayanti Arianto, M. Si. Apt: Pewarna Rambut, Universitas Sumatra Utara
[Link]>8170000114-kosmetologi
Eli Suprida: Bosan dengan Rambut Hitam... 113
Aceh Anthropological Journal, Vol. 4, No. 1 , hlm: 110-121, April 2020
Penelitian ini dilakukan di Kota Kuala Simpang Kabupaten Aceh Tamiang
yang merupakan sebuah kecamatan dengan pusat perdagangan yang dikunjungi
oleh setiap masyarakat yang berada di sekitar Kota Kuala Simpang, hingga
masyarakat yang berada di luar kecamatan itu sendiri.
Lokasi penelitian ini juga sangat berperan dalam menjawab masalah dan
tujuan dari penelitian ini, mengingat sebuah kota terbentuk dan berkembang
secara bertahap sesuai dengan peningkatan kegiatan manusia, dimana manusia
sebagai pelaku kegiatan saling berinteraksi dalam kehidupannya. Dalam hal ini
kota terbentuk sebagai fungsi dari aktifitas manusia yang luas dan komplek, yang
terakumulasi dari waktu ke waktu. Pusat kota semakin tinggi intensitasnya dan
semakin beragam pula fungsi-fungsi kegiatannya, sedangkan kegiatan yang ada
dapat berupa suatu interaksi ekonomi, atau suatu bentuk organisasi sosial atau
keagamaan. Ketika malam tiba Kota Kuala Simpang berubah menjadi tempat
jajanan pingir jalan, seperti berdagang minuan TST (teh susu telur) yang telah
digemari oleh banyak kalangan dari remaja hingga dewasa, lelaki hingga wanita,
tak hanya itu warung-warung kopi yang sudah menjamur di Kota Kuala Simpang
menjadi tujuan selanjutnya untuk berinteraksi dan sebagai gaya hidup modern.
Disinilah terlihat berbagai macam gaya induvidu dan kelompok. Oleh karena itu,
penulis bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul “Bosan Dengan
Rambut Hitam” (Kajian Budaya Tentang Tren Mewarnai Rambut), alasan penulis
memilih Kota Kuala Simpang menjadi lokasi penelitian dikarenkan beragam
fungsi-fungsi kegiatan dan menjadi tempat interaksi sosial dengan aktifitas
masyarakatnya yang kompleks.
C. Pembahasan
Budaya Massa dan Amerikanisasi sebagai acuan salam melihat tren
mewarnai rambut di Kecamatan Kota Kuala Simpang. Dalam Budaya Massa dan
Amerikanisasi menjelaskan budaya massa terbentuk dari budaya kerumunan, lahir
dari banyaknya massa yang menikmati produk budaya karena pengaruh dari
periklanan, televisi, dan radio. Secara sederhana dapat dikatan bahwa budaya
massa adalah budaya populer yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial
produksi massal dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan kepada khalayak
Eli Suprida: Bosan dengan Rambut Hitam... 114
Aceh Anthropological Journal, Vol. 4, No. 1 , hlm: 110-121, April 2020
konsumen massa. Budaya massa ada kaitanya dengan proses Amerikanisasi.
Alasannya adalah budaya populer Amerika dipandang membungkus semua
kesalahan dalam kaitannya dengan budaya massa. Karena budaya massa dianggap
muncul dari produksi massal dan konsumsi komuditas kultural, maka relatif
mudah untuk mengidentifikasi Amerika sebagai pusat budaya massa karena
masyarakat kapitalis yang erat kaitannya dengan proses- proses tersebut.
Amerikanisasi itu sebuah gerakan budaya western yang lahir dari produk budaya
yang bias disaksikan lewat televisi, film, radio, dan semacam ajang MTV, dan film-
film Hollywood. Pengaruh Amerikanisasi sangat kuat mempengaruhi massa yang
menonton dan menikmatinya sehingga infiltrasi budaya Amerika itu masuk ke
dalam jiwa penontonnya, sehingga penonton dapat mengikutinya.
Masyarakat yang menjadi mangsanya telah memiliki persepsi berlainan
terhadap produk yang ditawarkan, hal ini dipengaruhi dari tingkat pendidikan
serta pengalaman seseorang. Sebuah iklan, televisi, dan radio dinilai mampu
menggiring pikiran pemirsa untuk mau mengikuti apa yang divisualisasikan
dengan hebatnya, hingga seseorang terbius oleh pesan yang ada dibalik kemasan
produk citraannya. Tidak sedikit masyarakat yang percaya dengan produk-produk
citraan hasil rekontruksi dari iklan, televisi, dan radio, hingga masyarakat mau
membeli demi semata-mata menaikkan citra dirinya, seperti yang dilakukan oleh
masyarakat Kecamatan Kota Kuala Simpang yang merubah warna rambutnya, agar
menyerupai dan mengeikuti yang mereka lihat di televisi. Kenyataan ini
mengatakan, bila suatu produk kapitalis menyerang suatu status sosial
masyarakat tertentu, maka budaya sosial lama semakin tergeser dengan
budaya baru yang ditawarkan, karena pada dasarnya ketika kemauan atau nafsu
suatu manusia timbul dan memuncak dikepala, maka secara cepat itu pula reaksi
mereka akan memenuhi keinginan tesebut. Pada dasarnya prinsip dari iklan,
televisi, dan radio adalah menyampaikan produk baru sambil membawa paham
serta budaya baru pula, sebagai pencerminan dari penemu teknologi hingga
menciptakan peradaban baru dan lama kelamaan akan berkembang di
masyarakat. Salah satu contoh produk pewarnaan rambut melalui iklan televisi
Eli Suprida: Bosan dengan Rambut Hitam... 115
Aceh Anthropological Journal, Vol. 4, No. 1 , hlm: 110-121, April 2020
adalah Bunga Citra Lestari menjadi target marketing dari produk pewarna
NYU.
Tubuh Sebagai Eksterioritas
Pada titik ini tubuh lebih dilihat sebagai eksterioritas, sebagai
kecendrungan- kecendrungan liar yang bisa mengancam stabilitas tatanan sosial,
keberadaban kehidupan publik, dan kewarasan penalaran. Dikemudian harinya
teknik pengusaan tubuh ini memang lebih berkembang lagi bersama dengan
evolusi teknik regulasi pada tingkat intitusi pemerintahan (cara menghukum, pola
kemiliteran), pendidikan (disiplin), medis (berbagai pengobatan, tuntutan diet dan
latihan kebugaran), dan terutama perdagangan (di mana citra diri dijajakan
sebagai citraan-citraan tubuh badani). Maka dengan sendirinya fokus pun bergeser
dari aspek interioritas tubuh pada aspek eksterioritasnya.
Situasi Perang Dunia II membawa pola perkembangan kapitalisme, yakni
terjadi percanggihan dan perluasan melalui sistem kredit dan konsumsi massa.
Dan disinilah terjadi apa yang di sebut Daniel Bell sebagai kontradiksi budaya
dalam kapitalisme. Salah satu kontradiski utama misalnya adalah : disatu pihak
pola produksi yang rasional menuntut tubuh untuk di disiplinkan, di atur dan ber-
“akses” di tempat kerja, dipihak lain pola konsumsi mengkondisikan agar di rumah
dan dalam aktivitas di luar kerja tubuh dimanjakan untuk mengkonsumsi apa pun
pada tingkat paling hedonistik, rakus dan serakah. Pada tatanan konsumsi ini
tubuh semakin dialami sebagai wahana untuk kesenangan, untuk dinikmati, untuk
bermain, sekaligus untuk ditonton dan “dibeli” sebagai komuditas. Makin mampu
tubuh memperlihatkan citra ideal kemudaan, kebugaran, vitalitas, dan keindahan,
makin tinggi “nilai tukar” atau nilai komuditasnya. Bila dalam model religious
tradisional tubuh dikekang dan didisiplinkan agar manusia lebih mampu
memasuki interioritasnya yang lebih dalam, dalam model masyarakat konsumsi
perilaku dan bentuk tampilan tubuh direkayasa agar eksterioritasnya lebih
meningkat dan memikat. Etika perlahan bertranformasi menjadi estetika. Citra
diri pun menjadi identik dengan citra tubuh, bila dalam religiositas tradisional
tubuh ditaklukkan oleh jiwa, dalam masyarakat konsumsi sebaliknya, jiwa
ditaklukkan oleh tubuh (Sugiharto, 2000).
Eli Suprida: Bosan dengan Rambut Hitam... 116
Aceh Anthropological Journal, Vol. 4, No. 1 , hlm: 110-121, April 2020
Kenyataan diatas itu serentak menunjukkan paradoks modernitas,
sebab konon suatu ciri utama modernitas yang matang adalah tampilnya
kedirian yang refleksif (reflextive self). Begitulah sekurang-kurangnya yang
diyakini oleh Antony Giddens dan Urich Beck. Dalam masyarakat modern konon
“diri” itu dibayangkan sebagai suatu proyek, sesuatu yang harus direkontruksikan
dan diadaptasikan terus- menerus sesuai dengan siklus hidup. Tapi, karena
ternyata tubuh pun merupakn proyek yang bisa direkontruksi, dan de facto
perhatian terhadap tubuh lebih dominan dari pada terhadap refeksivitas, hingga
menggilas kemampuan kritis dan membungkam rasionalitas, maka konsep
ke”diri”-an itu kini jadi taksa (ambigu).
Tren Mewarnai Rambut di Kalangan Masyarakat Di Kecamatan Kota Kuala
Simpang
Masyarakat memiliki keinginan untuk selalu merubah dan mengikuti hal-
hal yang baru. Berbagai barang yang menjadi simbol modernitas, hal itu berakibat
pada gaya hidup masyarakat yang mana mengkonsumsi berbagai produk dan
benda atau barang yang disebut modern. Salah satu cara mengukur gaya hidup
yang modern di tandai dengan gaya berpakain dan gaya rambut. Masyarakat selalu
mengubah penampilan mereka sesuai dengan perkembangan zaman.
Menurut mereka penampilan adalah nomor satu. Mewarnai rambut bukanlah hal
asing lagi bagi masyarakat Kecamatan Kota Kuala Simpang, bahkan tak hanya
remaja saja yang melakukan pengecatan rambut, melainkan orang dewasa dari
laki-laki hingga perempuan di Kecamatan Kota Kuala Simpang. Pada zaman
sekarang pengecatan rambut tidak hanya untuk menutupi uban saja, melainkan
untuk menunjang penampilan agar terlihat lebih modis dan trendi. Mengecat
rambut tidak hanya dilakukan sekali, mereka melakukan berkali-kali sesuai
dengan keinginan dan tren yang sedang beredar di masyarakat. Perhatikan tabel
dibawah ini:
Tabel 1
Gambaran Penelitian Tren gaya rambut di Kecamatan Kota Kuala Simpang
No Nama Jenis Kelamin Umur Motif Mewarnai
Laki- Perem (Thn) Rambut
Eli Suprida: Bosan dengan Rambut Hitam... 117
Aceh Anthropological Journal, Vol. 4, No. 1 , hlm: 110-121, April 2020
laki puan
1. Raygay Singgih L 14 Ikut/ajakan teman
2 Wulan Agus Wijayanti P 22 Mengikuti tren
3 Pemuda Unik Namun L - Mengikuti tren
Kreatif (Punk)
Sumber: Hasil Analisis Penelitian, 2019
Meskipun pewarnaan rambut belum menjadi bagian gaya hidup
kebanyakan masyarakat, faktanya semakin banyak masyarakat yang senang
mewarnai rambut, khususnya di Kecamatan Kota Kuala Simpang. Tampil beda
memang menjadi tujuan utama pewarnaan rambut. Dengan beragam pilihan
warna rambut, masyarakat punya lebih banyak pilihan gaya penampilan. Tak
sedikit masyarakat melakukan pengecatan rambut sendiri, dengan alasan lebih
murah dari pada melakukan pengecatan di salon yang harganya berkisar 100-300
ribu tergantung pilihan produk dan panjang rambut. Pendapat masyarakat
tentang tren mewarnai rambut di Kecamata Kota Kuala Simpang, Yuli
Rahmawati Dan Vera Andriani Salah Satu Maysrakat Di Kecamatan Kota Kuala
Simpang
“…mewarnai rambut tidak lagi menjadi hal yang aneh,
karena tidak sedikit yang mewarnai rambut. Melihat
mereka mewarnai rambut lebih terlihat cantik/ganteng
serta lebih menarik. Ikut mewarnai rambut juga diajak
oleh teman-teman agar tidak terlihat ketinggalan zaman
dan lebih terlihat trendi…”(wawancara 11 juni 2017)
Dari hasil wawancara di atas kita ketahui bahwa tidak semua masyarakat
tidak menyukai mereka yang mengikuti tren mewarnai rambut. Pada
kenyataannya di masyarakat beredar pula persipsi bahwa wanita yang mengikiti
tren mewarnai rambut sebagai wanita tidak baik “Nakal”, sedangkan bagi laki-
laki persepsi ini tidak berlaku. Hanya saja lelaki yang mengikuti tren mewarna
rambut termasuk kedalam golongan anak jalan. Persepsi bagi wanita yang
mewarnai rambut sangat tidak masuk akal, antara mewarnai rambut dengan
kelakuan tidak ada hubungannya. Menurut penulis persepsi ini ada kaitannya
Eli Suprida: Bosan dengan Rambut Hitam... 118
Aceh Anthropological Journal, Vol. 4, No. 1 , hlm: 110-121, April 2020
dengan sejarah di zaman Kekaisaran Romawi bahwa para wanita penjaja seks
yang salam lingkungan.
Kekaisaran diberi status legal, dilindungi, dan dipungut pajak, diharuskan
mewarnai kuning rambutnya sebagai identitas profesi. Ratu Messalina (circa 48
SM) istri dari Kaisar Claudius I (10-54 SM) yang terkenal akan gairah seksualnya,
menggunkan wig berwarna kuning agar dapat bebas pergi ke lorong-lorong kota
Roma guna mendapatkan pasangan berkencan (Latirah, 2002). Pada faktanya saat
ini, persepsi wanita yang mewarnai rambutnya disebut sebagai perempuan nakal,
karena sebagian dari mereka berprofesi sebagai biduan dari panggung-
kepanggung, yang kita jumpai saat pesta rakyat atau pesta pernikahan. Disini,
biduan dianggap “nakal” baik laki-laki maupun perempuan. Tak hanya biduan saja,
wanita yang dijumpai pada jam 11 mlm keatas dapat dikatan sebagai wanita tidak
baik “nakal” di tunjang juga dengan cara berpakaian. Hal ini lah yang menjadikan
persepsi tidak baik oleh masyarakat. Padahal tujuan mewarnai rambut hanya
untuk mengubah penampilan agar terlihat lebih menarik dan mengikuti tren yang
sedang berlangsung saat ini. Pendapat lain di ungkapkan beberapa orang yang
sedang duduk di salah satu warung TST di Kecamatan Kota Kuala Simpang.
D. Kesimpulan
Kebiasaan mewarnai rambut pada dasarnya tidak tumbuh pada hari ini,
Keinginan untuk mewarnai rambut memang sudah berkembang sejak zaman Mesir
Purba. Bahkan ramuan yang dijadikan zat warna berasal dari alam seperti tumbuh-
tumbuhan dengan tujuan untuk memperbaiki penampilan. Pewarnaan terbagi
atas pewarna nabati (vegetable dry), pewarna logam (metallic dye), pewarna
campuran, pewarna sintetik organik (synthetic organic tint). Terdapat 3 proses
pewarnaan menambah warna (hair tinting), pemudaan warna (hair light tening),
dan penghilang warna (bleaching). Tren mewarnai rambut di Kecamatan Kota
Kuala Simpang dilihat dari motif yang mendasari mereka merubah warna rambut,
fenomena mewarnai rambut dalam konsep mimikri, budaya massa dan
Amerikanisasi, dan pendapat masyarakat sekitar setelah mewarnai rambut.
Eli Suprida: Bosan dengan Rambut Hitam... 119
Aceh Anthropological Journal, Vol. 4, No. 1 , hlm: 110-121, April 2020
Motif yang mendasari mereka merubah warna rambut yaitu di lihat dari 3 aspek
yang pertama mengikuti tren mewarnai rambut, kedua ingin terlihat lebih
menarik, dan ketiga ajakan teman atau melihat teman-teman mewarnai rambut.
Pada prakteknya motif mereka mewarnai rambut tidak hanya itu saja, melainkan
banyak aspek-aspek yang mendorong mewreka merubah warna rambut. Disini
peneliti lebih terfokus melihat motif mereka mewarnai rambut ke dalam konsep
budaya mimikri, budaya massa dan Amerikanisasi.
Eli Suprida: Bosan dengan Rambut Hitam... 120
Aceh Anthropological Journal, Vol. 4, No. 1 , hlm: 110-121, April 2020
Daftar Pustaka
Setiadi, Elly M. dkk, 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Prenada Media
Group.
Moleong, Lexy J. 2016. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya
Statistik Kabupaten Aceh Tamiang dengan Bappeda Kabupaten Aceh Tamiang
Dra. Anayanti Arianto, M. Si. Apt: Pewarna Rambut, Universitas Sumatra Utara
[Link]>8170000114-kosmetologi
Latirah,dkk, 2015. Pengembangan Pewarna Rambut dari Ekstrak Gambir dalam
Sediaan Setengah Padat. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, Universitas
Pancasila. [Link]
Sugiharto, Bambang, 2000. Menguak Tubuh. Kalam Jurnal Kebudayaan, Jakarta:
Yayasan Kalam.
Eli Suprida: Bosan dengan Rambut Hitam... 121