0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
159 tayangan20 halaman

Stunting di NTT: Masalah dan Solusi

Team based project ini membahas masalah stunting pada balita di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Stunting adalah gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis sehingga menyebabkan tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya. Prevalensi stunting di NTT sangat tinggi, yakni 37,8% pada tahun 2021. Hal ini disebabkan oleh faktor penyebab langsung seperti asupan gizi yang kurang serta fak

Diunggah oleh

Ayu Sintiawati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
159 tayangan20 halaman

Stunting di NTT: Masalah dan Solusi

Team based project ini membahas masalah stunting pada balita di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Stunting adalah gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis sehingga menyebabkan tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya. Prevalensi stunting di NTT sangat tinggi, yakni 37,8% pada tahun 2021. Hal ini disebabkan oleh faktor penyebab langsung seperti asupan gizi yang kurang serta fak

Diunggah oleh

Ayu Sintiawati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TEAM BASED PROJECT

STUNTING DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Teori dan Kebijakan Ekonomi Kependudukan (EKI 412 F2)

Dr. Anak Agung Istri Ngurah Marhaeni, S.E., M.S.

KELOMPOK 8

Nama Anggota Kelompok:

I Gede Rastaka Putra (1907511003)

Ni Putu Ayu Sintiawati (1907511005)

Anak Agung Istri Asri Devi (1907511015)

I Ketut Putra Semadi (1907511019)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah
memberikan hikmat dan kemampuan sehingga team based project ini dapat kami selesaikan
dengan tepat waktu. Adapun tujuan dari penyusunan team based project ini adalah untuk
mempelajari dan memahami “Stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur”.
Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak dan
teman-teman kelompok yang telah membantu dan mendukung dalam penyusunan team based
project ini, dan secara khusus kami ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu Dosen
pengampu Mata Kuliah yang telah banyak memberikan pengetahuan yang bermanfaat bagi
kami. Dikarenakan pengetahuan yang terbatas, kami menyadari bahwa team based project ini
masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak kekurangannya, baik ditinjau dari segi materi
maupun dari segi tata bahasanya. Namun, kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan
pengetahuan yang kami miliki untuk dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Dan kami berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi siapa saja yang
membacanya. Sekian dan terima kasih.

Denpasar, 17 Juni 2022

Penyusun

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................... 3
1.3 Tujuan Penulisan ......................................................................................................... 3
BAB II KAJIAN TEORI DAN LITERATUR....................................................................... 4
2.1 Kajian Teori................................................................................................................. 4
2.1.1 Pengertian Stunting .............................................................................................. 4
2.1.2 Penyebab Terjadinya Stunting ............................................................................. 4
2.2 Literature Review ........................................................................................................ 8
BAB III METODE PENULISAN ......................................................................................... 11
3.1 Sumber Data .............................................................................................................. 11
3.2 Jenis Data .................................................................................................................. 11
3.3 Teknik Analisis Data ................................................................................................. 11
BAB IV PEMBAHASAN ...................................................................................................... 12
4.1 Dampak Stunting ....................................................................................................... 12
4.2 Upaya Pencegahan Stunting pada Balita ................................................................... 13
BAB V PENUTUP.................................................................................................................. 15
5.1 Kesimpulan................................................................................................................ 15
5.2 Saran .......................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah gizi adalah masalah kesehatan masyarakat yang penanggulangannya tidak
dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Masalah gizi
disamping merupakan sindrom kemiskinan yang erat kaitannya dengan masalah ketahanan
pangan di tingkat rumah tangga dan juga menyangkut aspek pengetahuan serta perilaku yang
kurang mendukung pola hidup sehat. Keadaan gizi masyarakat akan mempengaruhi tingkat
kesehatan dan umur harapan hidup yang merupakan salah satu unsur utama dalam penentuan
keberhasilan pembangunan kesehatan.

Sumber : SSGI, 2021


Gambar 1. Prevalensi Balita Stunted menurut Provinsi Berdasarkan Data SSGI tahun
2021

Stunting adalah masalah kesehatan yang banyak ditemukan di negara berkembang,


termasuk Indonesia (UNICEF Indonesia, 2020). Stunting atau pendek merupakan masalah
kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup
lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak
lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya (KEMENKES RI, 2018). Stunting pada
anak merupakan masalah gizi kronis karena asupan gizi yang tidak memadai dalam jangka
panjang yang dikombinasikan dengan penyakit infeksi pada anak dan masalah lingkungan
(UNICEF Indonesia, 2017). Stunting perlu mendapatkan perhatian khusus karena dapat

1
meningkatkan resiko kematian pada anak, serta menghambat pekembangan fisik dan mental
anak (Fikawati dkk, 2017).
Di Indonesia, kejadian balita stunting merupakan masalah kesehatan utama yang
dihadapi (KEMENKES RI, 2018). Prevalensi stunting di Indonesia berdasarkan hasil dari Studi
Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 adalah 24,4. Terjadi penurunan prevalensi balita
stunted di Indonesia yang pada tahun 2019 sebesar 27,7 turun menjadi 24,4 pada tahun 2021
(SSGI, 2021). Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa prevalensi balita stunted paling besar
disumbangkan oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur. Walaupun prevalensi stunting pada
Provinsi NTT telah terjadi penurunan yakni pada tahun 2019 sebesar 43,8 menjadi 37,8 pada
tahun 2021, namun Provinsi NTT masih berada jauh di atas rata-rata nasional yakni sebesar
24,4 pada tahun 2021. Begitu pula pada Gambar 2 menunjukkan bahwa prevalensi balita
stunting menurut kabupaten/kota pada Provinsi NTT yang sangat tinggi. Terdapat 9 kabupaten
dari 22 kabupaten/kota yang memiliki prevalensi balita stunting di atas rata-rata Provinsi NTT.

Sumber : SSGI, 2021


Gambar 2. Prevalensi Balita Stunted menurut Kabupaten/Kota Tahun 2021

Persentase balita stunting NTT yang menjadi tertinggi dibandingkan Provinsi lain di
Indonesia harus menjadi fokus utama pembangunan kesehatan NTT. Stunting terbukti
mengakibatkan kerugian yang besar bagi daerah dalam jangka waktu panjang, dimana dapat
menimbulkan kerugian ekonomi sebesar 2-3 persen dari produk domestik bruto (PDB) per
tahun (RENSTRA DINKES NTT, 2019). Stunting menyebabkan otak anak tidak berkembang
dengan baik sehingga menurunkan kemampuan kognitif. Ketika kecerdasan menurun, ini akan
membuat anak sulit berprestasi di sekolah sehinga efek akanterjadi ketika usia produktif.

2
Ketika seseorang memiliki kecerdasan kognitif rendah akan membuat tingkat produktivitas
juga rendah saat bekerja. Dampak buruk stunting tidak cuma pada tubuh yang pendek dan
kemampuan kognitif rendah. Dampak jangka panjang stunting juga meningkatnya risiko
obesitas saat dewasa dan risiko penyakit degeneratif kronis. Dengan tingginya persentase balita
stunting di NTT, maka berpotensi terjadinya “lost generation” jika tidak segera ditanggulangi.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan tingginya angka stunting pada balita. Faktor
penyebab langsungnya adalah kurangnya asupan gizi yang diterima balita (Ariati, 2019).
Penyebab lainnya yaitu sosial ekonomi, penyakit infeksi, pengetahuan ibu yang kurang, pola
asuh yang salah, sanitasi dan hygine yang buruk dan pelayanan kesehatan yang rendah
(Rosiyati dkk, 2018). Selain itu, masyarakat tidak menyadari bahwa anak pendek merupakan
suatu masalah, karena anak pendek terlihat seperti anak-anak dengan aktivitas normal,
tidak seperti anak-anak kurus yang harus cepat ditanggulangi (UNICEF Indonesia, 2017).

1.2 Rumusan Masalah


1) Apa yang dimaksud dengan stunting?
2) Apa penyebab terjadinya stunting?
3) Bagaimana literatur riview terkait stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur?
4) Bagaimana dampak yang disebabkan oleh adanya stunting?
5) Bagaimana upaya pencegahan stunting pada balita?

1.3 Tujuan Penulisan


1) Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan stunting.
2) Untuk mengetahui penyebab terjadinya stunting.
3) Untuk mengetahui literatur riview terkait stunting di Provinsi Nusa Tenggara
Timur.
4) Untuk mengetahui dampak yang disebabkan oleh adanya stunting.
5) Untuk mengetahui upaya pencegahan stunting pada balita.

3
BAB II
KAJIAN TEORI DAN LITERATUR

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Pengertian Stunting


Stunting adalah keadaan tubuh yang pendek hingga melampaui defisit 2 SD dibawah
median panjang atau tinggi badan populasi yang menjadi refrensi internasional. Tinggi badan
berdasarkan umur rendah, atau tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak lain
seumurnya merupakan definisi stunting yang ditandai dengan terlambatnya pertumbuhan anak
yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai
dengan umur anak (WHO, 2006). Stunting dapat diartikan sebagai kekurangan gizi kronis atau
kegagalan pertumbuhan dimasa lalu dan digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi
kurang pada anak.
Administrative Committee on Coordination/Sub Committee on Nutrition (ACC/SCN)
tahun 2000, diagnosis stunting dapat diketahui melalui indeks antopometri tinggi badan
menurut umur yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai pada pra dan pasca
persalinan dengan indikasi kekurangan gizi jangka panjang, akibat dari gizi yang tidak
memadai atau kesehatan. Stunting yaitu pertumbuhan linier yang gagal untuk mencapai potensi
genetik sebagai akibat dari pola makan yang buruk dan penyakit.
Stunting diartikan sebagai indicator status gizi TB/U sama dengan atau kurang dari
minus dua standar deviasi (-2 SD) dibawah rata-rata standar atau keadaan dimana tubuh anak
lebih pendek dibandingkan dengan ana-anak lain seumurnya, ini merupakan indikator
kesehatan anak yang kekurangan gizi kronis yang memberikan gambaran gizi pada masa lalu
dan yang dipengaruhi lingkungan dan sosial ekonomi (UNICEF II, 2009; WHO, 2006).

2.1.2 Penyebab Terjadinya Stunting


Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi di wilayah timur dengan
prevalensi stunting tertinggi di Indonesia. Kejadian stunting pada anak merupakan suatu proses
komulaif menurut beberapa penelitian, yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan
sepanjang siklus kehidupan. Proses terjadinya stunting pada anak dan peluang peningkatan
stunting terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya
keadaan stunting pada anak. Faktor penyebab stunting ini dapat disebabkan oleh faktor
langsung maupun tidak langsung. Penyebab langsung dari kejadian stunting adalah asupan gizi

4
dan adanya penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak langsungnya adalah pola asuh,
pelayanan kesehatan, ketersediaan pangan, faktor budaya, ekonomi dan masih banyak lagi
faktor lainnya (UNICEF, 2008; Bappenas, 2013).
1. Faktor Langsung
a. Asupan Gizi Balita
Asupan gizi yang adekuat sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan
tubuh balita. Masa kritis ini merupakan masa saat balita akan mengalami tumbuh
kembang dan tumbuh kejar. Balita yang mengalami kekurangan gizi sebelumnya
masih dapat diperbaiki dengan asupan yang baik sehingga dapat melakukan tumbuh
kejar sesuai dengan perkembangannya. Namun apabila intervensinya terlambat balita
tidak akan dapat mengejar keterlambatan pertumbuhannya yang disebut dengan gagal
tumbuh. Balita yang normal kemungkinan terjadi gangguan pertumbuhan bila asupan
yang diterima tidak mencukupi. Penelitian yang menganalisis hasil Riskesdas
menyatakan bahwa konsumsi energi balita berpengaruh terhadap kejadian balita
pendek, selain itu pada level rumah tangga konsumsi energi rumah tangga di bawah
rata-rata merupakan penyebab terjadinya anak balita pendek (Sihadi dan Djaiman,
2011).
b. Penyakit Infeksi
Infeksi merupakan salah satu faktor penyebab langsung stunting, Kaitan antara
penyakit infeksi dengan pemenuhan asupan gizi tidak dapat dipisahkan. Adanya
penyakit infeksi akan memperburuk keadaan bila terjadi kekurangan asupan gizi.
Anak balita dengan kurang gizi akan lebih mudah terkena penyakit infeksi. Untuk itu
penanganan terhadap penyakit infeksi yang diderita sedini mungkin akan membantu
perbaikan gizi dengan diiimbangi pemenuhan asupan yang sesuai dengan kebutuhan
anak balita. Penyakit infeksi yang sering diderita balita seperti cacingan, Infeksi
saluran pernafasan Atas (ISPA), diare dan infeksi lainnya sangat erat hubungannya
dengan status mutu pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi, kualitas
lingkungan hidup dan perilaku sehat (Bappenas, 2013). Ada beberapa penelitian yang
meneliti tentang hubungan penyakit infeksi dengan stunting yang menyatakan bahwa
diare merupakan salah satu faktor risiko kejadian stunting pada anak umur dibawah 5
tahun (Paudel et al, 2012).

5
2. Faktor Tidak Langsung
a. Ketersediaan Pangan
Ketersediaan pangan yang kurang dapat berakibat pada kurangnya pemenuhan asupan
nutrisi dalam keluarga itu sendiri. Rata-rata asupan kalori dan protein anak balita di
Indonesia masih di bawah Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dapat mengakibatkan
balita perempuan dan balita laki-laki Indonesia mempunyai rata-rata tinggi badan
masing-masing 6,7 cm dan 7,3 cm lebih pendek dari pada standar rujukan WHO 2005
(Bappenas, 2011). Oleh karena itu penanganan masalah gizi ini tidak hanya
melibatkan sektor kesehatan saja namun juga melibatkan lintas sektor lainnya.
Ketersediaan pangan merupakan faktor penyebab kejadian stunting, ketersediaan
pangan di rumah tangga dipengaruhi oleh pendapatan keluarga, pendapatan keluarga
yang lebih rendah dan biaya yang digunakan untuk pengeluaran pangan yang lebih
rendah merupakan beberapa ciri rumah tangga dengan anak pendek (Sihadi dan
Djaiman, 2011).
b. Status Gizi Ibu saat Hamil
Status gizi ibu saat hamil dipengaruhi oleh banyak faktor, faktor tersebut dapat terjadi
sebelum kehamilan maupun selama kehamilan. Beberapa indikator pengukuran
seperti 1) kadar hemoglobin (Hb) yang menunjukkan gambaran kadar Hb dalam darah
untuk menentukan anemia atau tidak; 2) Lingkar Lengan Atas (LILA) yaitu gambaran
pemenuhan gizi masa lalu dari ibu untuk menentukan KEK atau tidak; 3) hasil
pengukuran berat badan untuk menentukan kenaikan berat badan selama hamil yang
dibandingkan dengan IMT ibu sebelum hamil (Yongky, 2012; Fikawati, 2010).
c. Berat Badan Lahir
Berat badan lahir sangat terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan jangka
panjang anak balita. Bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu
bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram, bayi dengan berat badan
lahir rendah akan mengalami hambatan pada pertumbuhan dan perkembangannya
serta kemungkinan terjadi kemunduran fungsi intelektualnya selain itu bayi lebih
rentan terkena infeksi dan terjadi hipotermi (Direktorat Bina Gizi dan KIA, 2012).
d. Panjang Badan Lahir
Asupan gizi ibu yang kurang sebelum masa kehamilan menyebabkan gangguan
pertumbuhan pada janin sehingga dapat menyebabkan bayi lahir dengan panjang
badan lahir pendek. Bayi yang dilahirkan memiliki panjang badan lahir normal bila
panjang badan lahir bayi tersebut berada pada panjang 48-52 cm (Kemenkes R.I,
6
2010). Panjang badan lahir pendek dipengaruhi oleh pemenuhan nutrisi bayi tersebut
saat masih dalam kandungan. Penentuan asupan yang baik sangat penting untuk
mengejar panjang badan yang seharusnya. Berat badan lahir, panjang badan lahir,
umur kehamilan dan pola asuh merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi
kejadian stunting. Panjang badan lahir merupakan salah satu faktor risiko kejadian
stunting pada balita (Anugraheni, 2012; Meilyasari, 2014).
e. ASI Eksklusif
ASI Eksklusif menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 tahun
2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif adalah pemberian ASI tanpa menambahkan
dan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain yang diberikan kepada bayi
sejak baru dilahirkan selama 6 bulan (Kemenkes R.I, 2012). Pemenuhan kebutuhan
bayi 0-6 bulan telah dapat terpenuhi dengan pemberian ASI saja. Menyusui Eksklusif
juga penting karena pada umur ini, makanan selain ASI belum mampu dicerna oleh
enzim-enzim yang ada di dalam usus selain itu pengeluaran sisa pembakaran makanan
belum bisa dilakukan dengan baik karena ginjal belum sempurna (Kemenkes R.I,
2012). Manfaat dari ASI Eksklusif ini sendiri sangat banyak mulai dari peningkatan
kekebalan tubuh, pemenuhan kebutuhan gizi, murah, mudah, bersih, higienis serta
dapat meningkatkan jalinan atau ikatan batin antara ibu dan anak.
f. MP-ASI
Pengertian dari MP-ASI menurut WHO adalah makanan/minuman selain ASI yang
mengandung zat gizi yang diberikan selama pemberian makanan peralihan yaitu pada
saat makanan/ minuman lain yang diberikan bersamaan dengan pemberian ASI
kepada bayi (Muhilal dkk, 2009). Makanan pendamping ASI adalah makanan
tambahan yang diberikan pada bayi setelah umur 6 bulan. Jika makanan pendamping
ASI diberikan terlalu dini (sebelum umur 6 bulan) akan menurunkan konsumsi ASI
dan bayi bisa mengalami gangguan pencernaan. Namun sebaliknya jika makanan
pendamping ASI diberikan terlambat akan mengakibatkan bayi kurang gizi, bila
terjadi dalam waktu panjang (Al-Rahmad, 2013). Standar makanan pendamping ASI
harus memperhatikan angka kecukupan gizi (AKG) yang dianjurkan kelompok umur
dan tekstur makanan sesuai perkembangan umur bayi (Azrul, 2004).
g. Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan
Sanitasi lingkungan memiliki hubungan dengan penyebaran penyakit infeksi. Sanitasi
lingkungan yang buruk berisiko menyebabkan mudahnya kuman atau bakteri
menjangkit kepada orang yang tinggal di lingkungan tersebut. Dalam penelitian ini
7
sebesar 15 informan menyatakan sanitasi lingkungan sekitar dalam kondisi kurang
baik karena masih ada sampah- sampah berserakan di jalanan lingkungan, belum
memiliki jamban sendiri, perilaku membuang sampah dan BAB di kali. Tentu hal-hal
tersebut berisiko terhadap kesehatan. (Rosha, 2020).
h. Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu
Pengetahuan gizi ibu di NTT masih tergolong kurang. Ibu masih belum paham
mengenai manfaat makanan bagi tubuh dan makanan sumber protein nabati.
Kebanyakan ibu juga baik ibu anak balita stunting dan ibu anak balita tidak stunting
belum memahami mengenai stunting, penyebab stunting, dan dampak stunting.
Rendahnya tingkat pengetahuan dan tidak terdistribusikan pengetahuan kesehatan
dengan baik akan berdampak pada terbatasnya pengetahuan ibu tentang kesehatan,
gizi termasuk stunting. Asupan zat gizi yang dimakan oleh anak tergantung dari
ibunya, sehingga ibu mempunyai peran yang penting terhadap perubahan masukan zat
gizi pada anak (Lobo, dkk. 2019).

2.2 Hasil Literature Riview

Penulis dan Judul


No Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian
Penelitian
1 Asweros Umbu Untuk mengetahui Penelitian ini Proporsi baduta yang
Zogara, Hamam Hadi, apakah riwayat merupakan mengalami stunting
Tony Arjuna. pemberian ASI penelitian sebesar 49%.
eksklusif dan observasional Proporsi pemberian
Riwayat pemberian MPASI dini dengan rancangan ASI eksklusif pada
ASI eksklusif dan merupakan cross-sectional baduta sebesar 61%
MPASI dini sebagai prediktor terjadinya yang menggunakan dan proporsi
prediktor terjadinya stunting pada anak metode kuantitatif pemberian MPASI
stunting pada baduta di bawah dua tahun dan kualitatif. Data dini sebesar 36,8%.
di Kabupaten Timor (baduta) di kualitatif yang Pemberian ASI
Tengah Selatan, Nusa Kabupaten Timor diperoleh melalui eksklusif dan
Tenggara Timur Tengah Selatan. focus group MPASI dini bukan
discussion. Sampel merupakan faktor
penelitian yang mempengaruhi
sebanyak 408 anak terjadinya stunting
berusia 6-24 bulan pada baduta. Faktor-
yang berasal dari faktor yang lebih
14 desa di kuat pengaruhnya
Kecamatan terhadap terjadinya
Amanuban Barat stunting pada baduta
dan Kie yang adalah asupan energi
dipilih dan karakteristik
menggunakan orang tua yang

8
teknik simple meliputi pendidikan
random sampling. dan pekerjaan orang
Pengambilan data tua.
menggunakan
kuesioner
terstruktur.
Stunting pada
baduta diukur
menggunakan
indikator panjang
badan menurut
umur (WHO
2005). Analisis
data menggunakan
uji chi square dan
regresi logistik
dengan 95%
confident interval.
2 Christin Debora Untuk mengetahui Jenis penelitian Riwayat pola asuh
Nabuasa, M Juffrie, hubungan riwayat studi observasional kurang (53,9%), pola
Emy Huriyati pola asuh, pola dengan rancangan makan (55,9%),
makan, asupan zat case-control asupan energi
Riwayat pola asuh, gizi terhadap dengan alat ukur (55,9%), asupan
pola makan, asupan kejadian stunting menggunakan protein (52,6%),
zat gizi berhubungan pada anak usia 24- kuesioner untuk asupan kalsium
dengan stunting pada 59 bulan di mengetahui (52,0%), budaya
anak 24–59 bulan di Kecamatan Biboki riwayat pola asuh, (61,1%), penyakit
Biboki Utara, Timor Utara Kabupaten pola makan dan infeksi (51,3%),
Tengah Utara, Nusa Timor Tengah asupan zat gizi ekonomi keluarga
Tenggara Timur Utara Provinsi NTT menggunakan (61,8%), ketahanan
recall 24 jam. pangan (71,7%),
Penelitian berdasarkan analisis
dilakukan di bivariat yang
Kecamatan Biboki dilakukan diperoleh
Utara dengan variabel riwayat
jumlah sampel pola asuh, pola
sebanyak 152 yang makan, asupan zat
terdiri dari 76 anak gizi, budaya,
sebagai kasus dan penyakit infeksi,
76 anak sebagai ekonomi keluarga
kontrol memiliki hubungan
yang signifikan
(p<0,05), ketahanan
pangan tidak
signifikan terhadap
kejadian stunting
(p>0,05). Analisis
multivariat diperoleh
variabel riwayat pola
asuh paling dominan

9
berpengaruh
terhadap kejadian
stunting.
3 Nur Asiah, Erwin Untuk mengetahui Penelitian Kejadian stunting
Prasetyo, Alib Birwin. gambaran status kuantitatif yang pada anak balita
gizi balita. bersifat deskriptif sebesar 36,7%.
Kejadian Stunting, Kejadian Stunting, dengan desain Keadaan non
Wasting Dan wasting and cross sectional,. wasting pada anak
Underweight Pada underweight Pada Populasi adalah balita sebesar 71.1%
Balita Di Posyandu Balita Di Posyandu balita di Posyandu . Status gizi baik
Wuring Tengah, Wuring Tengah Wuring Tengah, berdasarkan indeks
Wolomarang, Alok Kelurahan Kelurahan BB/U pada anak
Barat, Kabupaten Wolomarang, Wolomarang, balita sebesar 64.4%
Sikka, NTT Kecamatan Alok Kecamatan Alok lebih banyak
Barat Kabupaten Barat, Kab, Sikka dibanding balita
Sikka, NTT. NTT. Sampel yang berstatus gizi
seluruh populasi underweight yaitu
menjadi sampel., 35.6% yang terdiri
Tehnik dari gizi buruk
pengambilan 12.2% dan gizi
sample adalah kurang 23.4%.
total sampling.

10
BAB III
METODE PENULISAN

3.1 Sumber Data


Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber yang sudah ada. Data sekunder
dalam penulisan ini yaitu dari data SSGI serta BPS NTT sebagai referensi yang berupa data
jumlah balita stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2021.
3.2 Jenis Data
1) Data Kuantitatif adalah data yang berupa angka dan dapat dihitung (Sugiyono,
2017:12). Dalam penelitian ini data kuantitatif adalah data yang diperoleh dari data
Prevalensi Balita Stunted menurut Provinsi Berdasarkan Data SSGI tahun 2021.
2) Data Kualitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk kata, kalimat dan gambaran
(Sugiyono, 2017:12). Data kualitatif dalam penulisan ini adalah penjelasan dalam
bentuk kalimat atau gambaran mengenai tingkat stunting di Provinsi Nusa Tenggara
Timur.
3.3 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan di dalam penulisan ini yakni menggunakan teknik
observasi. Teknik observasi adalah proses pemerolehan data dari tangan pertama, dengan cara
melakukan pengamatan orang serta lokasi dilakukannya penelitian. Observasi merupakan
metode yang sifatnya akurat dan spesifik untuk mengumpulkan data dan mencari informasi
mengenai segala kegiatan yang dijadikan obyek kajian penelitian. Penulisan dalam team based
project ini yaitu dari jurnal ilmiah serta BPS NTT sebagai referensi yang berupa data jumlah
balita stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2021.

11
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Dampak Stunting


Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi pada periode tersebut, dalam
jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan
fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan dalam jangka panjang akibat buruk
yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar,
menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya
penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan
disabilitas pada usia tua, serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada
rendahnya produktivitas ekonomi (Kemenkes R.I, 2016).
Masalah gizi, khususnya anak pendek, menghambat perkembangan anak muda, dengan
dampak negatif yang akan berlangsung dalam kehidupan selanjutnya. Studi menunjukkan
bahwa anak pendek sangat berhubungan dengan prestasi pendidikan yang buruk, lama
pendidikan yang menurun dan pendapatan yang rendah sebagai orang dewasa. Anak-anak
pendek menghadapi kemungkinan yang lebih besar untuk tumbuh menjadi orang dewasa yang
kurang berpendidikan, miskin, kurang sehat dan lebih rentan terhadap penyakit tidak menular.
Oleh karena itu, anak pendek merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia
yang diterima secara luas, yang selanjutnya menurunkan kemampuan produktif suatu bangsa
di masa yang akan datang (UNICEF, 2012).
Stunting memiliki konsekuensi ekonomi yang penting untuk laki-laki dan perempuan
di tingkat individu, rumah tangga dan masyarakat. Bukti yang menunjukkan hubungan antara
perawakan orang dewasa yang lebih pendek dan hasil pasar tenaga kerja seperti penghasilan
yang lebih rendah dan produktivitas yang lebih buruk (Hoddinott et al, 2013). Anak-anak
stunting memiliki gangguan perkembangan perilaku di awal kehidupan, cenderung untuk
mendaftar di sekolah atau mendaftar terlambat, cenderung untuk mencapai nilai yang lebih
rendah, dan memiliki kemampuan kognitif yang lebih buruk daripada anak-anak yang normal
(Hoddinott et al, 2013; Prendergast dan Humphrey 2014). Efek merusak ini diperparah oleh
interaksi yang gagal terjadi. Anak yang terhambat sering menunjukkan perkembangan
keterampilan motorik yang terlambat seperti merangkak dan berjalan, apatis dan menunjukkan
perilaku eksplorasi kurang, yang semuanya mengurangi interaksi dengan teman dan
lingkungan (Brown dan Pollitt 1996).

12
4.2 Upaya Pencegahan Stunting pada Balita
Upaya pencegahan stunting sudah banyak dilakukan di negara-negara berkembang
berkaitan dengan gizi pada anak dan keluarga. Upaya tersebut oleh WHO (2010) dijabarkan
sebagai berikut:
a. Zero Hunger Strategy
Stategi yang mengkoordinasikan program dari sebelas kemeterian yang berfokus pada
yang termiskin dari kelompok miskin.
b. Dewan Nasional Pangan dan Keamanan Gizi
Memonitor strategi untuk memperkuat pertanian keluarga, dapur umum dan strategi
untuk meningkatkan makanan sekolah dan promosi kebiasaan makanan sehat.
c. Bolsa Familia Program
Menyediakan transfer tunai bersyarat untuk 11 juta keluarga miskin. Tujuannya adalah
untuk memecahkan siklus kemiskinan antar generasi
d. Sistem Surveilans Pangan dan Gizi
Pemantauan berkelanjutan dari status gizi populasi dan yang determinan.
e. Strategi Kesehatan Keluarga
Menyediakan perawatan kesehatan yang berkualitas melalui strategi perawatan primer.

Upaya penanggulangan stunting menurut Lancet pada Asia Pasific Regional Workshop (2010)
diantaranya:
a. Edukasi kesadaran ibu tentang ASI Eksklusif (selama 6 bulan)
b. Edukasi tentang MP-ASI yang beragam (umur 6 bulan- 2 tahun)
c. Intervensi mikronutrien melalui fortifikasi dan pemberiam suplemen
d. Iodisasi garam secara umum
e. Intervensi untuk pengobatan malnutrisi akut yang parah
f. Intervensi tentang kebersihan dan sanitasi

Di Indonesia upaya penanggulangan stunting diungkapkan oleh Bappenas (2011) yang disebut
strategi lima pilar, yang terdiri dari:
a. Perbaikan gizi masyarakat terutama pada ibu pra hamil, ibu hamil dan anak
b. Penguatan kelembagaan pangan dan gizi
c. Peningkatan aksebilitas pangan yang beragam
d. Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat

13
e. Peningkatan pengawasan mutu dan keamanan pangan

Kejadian balita stunting dapat diputus mata rantainya sejak janin dalam kandungan
dengan cara melakukan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil, artinya setiap ibu hamil
harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, mendapatkan suplementasi zat gizi (tablet Fe),
dan terpantau kesehatannya. Selain itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI saja sampai
umur 6 bulan (Eksklusif) dan setelah umur 6 bulan diberi Makanan Pendamping ASI (MPASI)
yang cukup jumlah dan kualitasnya. Ibu nifas selain mendapat makanan cukup gizi, juga diberi
suplementasi zat gizi berupa kapsul vitamin A. Kejadian stunting pada balita yang bersifat
kronis seharusnya dapat dipantau dan dicegah apabila pemantauan pertumbuhan balita
dilaksanakan secara rutin dan benar. Memantau pertumbuhan balita di posyandu merupakan
upaya yang sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan, sehingga
dapat dilakukan pencegahan terjadinya balita stunting (Kemenkes R.I, 2013).
Pemerintah juga sudah melakukan upaya pencegahan stunting di Provinsi Nusa
Tenggara Timur, yaitu dengan pendekatan intervensi gizi terintegrasi, pendekatan multisektor
dan multipihak serta pendekatan berbasis keluarga berisiko (BKKBN, 2022). Intervensi gizi
terintegrasi merupakan kegiatan pencegahan dan penanggulangan permasalahan gizi
khususnya stunting dengan melibatkan berbagai K/L terkait. Disebut terintegrasi apabila dari
sisi jenis kegiatan yang dilakukan lengkap dan sesuai permasalahan, cakupan mencapai angka
cakupan minimal dan tepat sasaran, dan dari sisi kualitas intervensi sesuai standar dengan
tingkat kepatuhan (compliance) yang tinggi. Kegiatan intervensi gizi terintegrasi disusun
berdasarkan program intervensi baik spesifik dan sensitif yang terbukti efektif. Pendekatan
multisektor ada dua yang harus dilakukan, yaitu Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi
Sensitif. Intervensi Gizi Spesifik kata Irwan dibawah naumgan Rumah Sakit meliputi tugas
promosi dan konseling, pemberian makanan Ibu hamil, bayi dan anak. Menekan gizi buruk
promosi dan konseling menyusui. Selanjutnya Dinas Kesehatan pemberian Suplementasi gizi
makro dan mikro, pemberiana makanan tambahan (PMT) dan Tablet Tambah Darah (TTD)
serta pemberian Vitamin A Taburia. Selain itu Promosi ASI Inklusif, Surveleins gizi,
Kampanye gizi seimbang, kelas ibu hamil, pemberian obat cacing, penanganan kekurangan
gizi dan JKN. Pendekatan berbasis keluarga berisiko Stunting merupakan sebuah pendekatan
yang dilakukan sebagai upaya memastikan seluruh intervensi baik spesifik maupun sensitif
dapat menjangkau seluruh keluarga yang mempunyai resiko melahirkan anak Stunting.

14
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Stunting dapat diartikan sebagai kekurangan gizi kronis atau kegagalan pertumbuhan
dimasa lalu dan digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak.
Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi di wilayah timur dengan
prevalensi stunting tertinggi di Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya
keadaan stunting pada anak. Faktor penyebab stunting ini dapat disebabkan oleh faktor
langsung maupun tidak langsung. Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi
pada periode tersebut adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan
pertumbuhan fisik, gangguan metabolisme dalam tubuh, menurunnya kemampuan kognitif dan
prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk
munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker,
stroke, dan disabilitas pada usia tua, serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat
pada rendahnya produktivitas ekonomi

5.2 Saran
Melihat tingginya prevelensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur serta melihat
banyaknya dampak negetif yang dapat ditimbulkan dari kondisi ini, maka penulis menyarankan
agar pemerintah serta masyarakan terus menggencarkan upaya-upaya pencegahan stunting
dengan mengoptimalkan program-program pencegahan stunting yang telah maupun akan
dilaksanakan.

15
DAFTAR PUSAKA

Ariati, Linda Ika Puspita. 2019. Faktor-faktor Risiko Penyebab Terjadinya Stunting Pada Bali
Usia 23-59 Bulan. Jurnal Oksitosin. 6(1) : 28-37.

Asiah, Nur, Erwin Prasetyo, and Alib Birwin. "Kejadian Stunting, Wasting Dan Underweight
Pada Balita Di Posyandu Wuring Tengah, Wolomarang, Alok Barat, Kabupaten Sikka,
NTT." Prosiding Seminar Nasional Berseri. 2018.

Fikawati, Sandra dkk. 2017. Gizi Anak dan Remaja. Depok: Rajawali Pers.

Indonesia, UNICEF. 2017. Laporan Baseline SDG tentang Anak-Anak di Indonesia. URL :
[Link]
/SDG%20Baseline%20report%[Link]. Diakses pada tanggal 23 Mei 2022.

Indonesia, UNICEF. 2020. Indonesia: Angka masalah gizi pada anak akibat COVID-19 dapat
meningkat tajam kecuali jika tindakan cepat diambil. URL :
[Link]
indonesia-akibat-covid-19-dapat-meningkat-tajam. Diakses pada tanggal 23 Mei 2022.

KEMENKES RI. 2018. Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. URL :


[Link]
[Link]. Diakses pada tanggal 23 Mei 2022.

Kornelis Kaha. BKKBN: Perlu tiga kerangka pendekatan tangani stunting di NTT. Dilansir
dari [Link]
pendekatan-tangani-stunting-di-ntt (dikutip 13 Juni 2022)

Lobo, dkk. Faktor Penentu Kejadian Stunting Pada Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas
Alak Kota Kupang. Media Kesehatan Masyarakat. Vol. 1, No. 2, 2019, Hal. 59-67

Nabuasa, Christin Debora, M. Juffrie, and Emy Huriyati. "Riwayat pola asuh, pola makan,
asupan zat gizi berhubungan dengan stunting pada anak 24–59 bulan di Biboki Utara,
Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur." Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia
(Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) 1.3 (2016): 151-163.3

NTT, DINKES. 2019. Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur
Tahun 2019-2023. URL : [Link] /e-performance/1-
[Link]. Diakses pada tanggal 23 Mei 2022.

RI, KEMENKES. 2021. Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Tingkat Nasional, Provinsi,
dan Kabupaten/Kota Tahun 2021. URL : [Link]
hasil-studi-status-gizi-indonesia-ssgi-tahun-2021/. Diakses pada tanggal 23 Mei 2022.

Rosha, dkk. Penyebab Langsung dan Tidak Langsung Stunting di Lima Kelurahan di
Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor (Study Kualitatif Kohor Tumbuh Kembang Anak
Tahun 2019). Buletin Penelitian Kesehatan, Vol. 48, No. 3, September 2020 : 169 – 182

16
Rosiyati, Eka et al. 2018. Determinants of Stunting Children (0-59 Months) in Some Countries
in Southeast Asia. Journal of Community Health. 4(3) : 88-94

United Nations Children's Fund (UNICEF)

World Health Organization (WHO)

Zogara, Asweros Umbu, Hamam Hadi, and Tony Arjuna. "Riwayat pemberian ASI eksklusif
dan MPASI dini sebagai prediktor terjadinya stunting pada baduta di Kabupaten Timor
Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur." Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian
Journal of Nutrition and Dietetics) 2.1 (2016): 41-50.

17

Anda mungkin juga menyukai