LAPORAN PENDAHULUAN
KEHAMILAN G2P1A0 DENGAN POST PARTUM SECTIO CAESAREA
DI RUANG ASTER [Link]. R ISMOYO
OLEH
ROSTANTI BADIA
N202101167
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MANDALA WALUYA
2022
LAPORAN PENDAHULUAN
A. Konsep Medis
1. Definisi Sectio Cesaria
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan
pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina, atau secti caesarea
adalah suatu histeretomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim sedangkan
menurut farrer seksio sesarea merupakan pembedahan bstetrik untuk melahirkan
janin yang viabel melalui abdmen. Pendapat lain mengatakan bahwa seksi sesarea
adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan
dinding uterus.
Dapat disimpilkan bahwa seksio sesarea merupakan suatu cara melahirkan
janin dengan membuat sayatan pada dinding perut untuk membuka dinding
uterus.
2. Etiologi
Indikasi SC:
Indikasi klasik yang dapat di kemukakan sebagai dasar section caesarea
adalah:
1. Prolg labour sampai neglected labour
2. Ruptura uteru uminen
3. Fetal distress
4. Janin besar melebihi 4000gr
5. Perdarahan ante partum
Sedangkan indikasi yang menambah tingginya angka persalinan dengan
section:
1. Malpresentase janin
a. Letak lintang
Bila terjadi kesempitan pangul, maka sectio caesarea adalah jalan/cara yang
terbaik dalam melahirkan janin dalam segala letak lintang yang janinya
hidup dan besarnya biasa. Semua primigravida dengan letak lintang harus d
tolong dengan sectio caesare walaupun tidak ada perkiraan panggul sempit.
Multi para dengan letak lintang dapat lebih dulu di tolong dengan cara lain.
b. Letak belakang sectio caesarea di sarankan atau di anjurkan pada letak
belakang bila panggul sempit, primigravida janin besar dan berharga.
2. Plasenta previa sentralis dan lateralis
3. Presentasi lengkap bila reposisi tidak berhasil
4. Gemeri menurut eastman, sectio caesara di anjurkan bila janin pertama letak
lintang atau presentasi bahu, bila terjadi interior, distosia, karena tumor gawat
janin dan sebgainya
5. Partus lama
6. Partus tidak maju
7. Preklamsia dan hipertensi
8. Distsia serviks
3. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada ibu sc adalah:
1) Infeksi puerperial: kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas di
bagi menjadi:
a. sRingan dengan suhu meningkat dalam beberapa hari
b. Sedang suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut
sedikit kembung
c. Berat, peritnealis, sepsis dan usus paralitik
2) Perdarahan: perdarahan banyak bisa terjadi jika pada saat pembedahan
cabang-cabang arteri uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri
3) Komplikasi-komplikasi lainya antara lain luka kandung kemih embolisme
paru yang sangat jarang terjadi
4) Kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan
berikutnya bisa terjadi ruptur uteri. Yang sering terjadi pada ibu bayi:kematian
perinatal
4. Manifestasi Klinis
Persalinan dengan sectio caesarea, memerlukan perawatan yang lebih
kmpherensif yaitu: post oprasi dan post partum antara lain:
a. Nyeri akibat akibat ada luka pembedahan
b. Adanya luka insisi pada bagian abdomen
c. Fundus uterus kntraksi kuat dan terletak di umbilicus
d. Aliran lokea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan (lokhea tidak
banyak)
e. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800ml.
f. Emsosi labil/perubahan emsinal dengan mngepresikan ketidak mampuan
menghadapi situasi baru
g. Biasanya terpasang kateter urinarius
h. Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samar
i. Pengaruh anastesi dapat menimblkan mual dan muntah
j. Status pulmonary bunyi paru jelas dan vesikuler
k. Pada kelahiran secara sc tidak di rencanakan maka biasanya kurang paham
prsedur
5. Patofisiologi
Adanya beberapa kelainan/hambatan pada proses persalinan yang
menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal/spontan, misalnya plasenta
previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi chepalo pelvic, rupture
uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, preklamsia, distosia serviks, dan
malpresentase janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu tindakan
pembedahan yaitu sectio caesarea (SC). Dalam prses prasinya dilakukan tindakan
anastesi yang akan menyebabkan pasien megalami imbolisasi sehingga akan
menimbulkan masalah intleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan
kelemahan fisik akan menyebabkan pasien tidak mampu melakukan aktifitas
perawatan diri pasien.
Selain itu dalam porses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi
pada dinding abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkntinuitas jaringan,
pembuluh darah, dan saraf-saraf di sekitardaerah insisi. Hal ini akan merangsang
pengeluaran histamin dan prstaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (Nyeri
Akut). Setelah proses pembedahan berakhir, daerah insisi akan di tutup dan
menimbulkan luka post op, yang bila tidak di rawat dengan baik akan
menimbulkan masalah resiko infeksi.
Pada ibu post partum baik normal maupun dengan sectio caesarea, terjadi
penurunan kadar estrogen dan progesteron yang kemudian merangsang sekresi
hormon prolaktin yang merangsang sekresi kelenjar susu. Selain itu di sekresikan
pula hormon oksitosin yang merangsang pengeluaran susu dari kelenjar yang di
sebut proses laktasi.
6. PenatalaksanaanMedis
Cairan IV sesuai indikasi anastesia regional atau general perjanjian dari
orang terdekat untuk tujuan sectio caesarea, tes laboraotrium/ diagnstik sesuai
indikasi, pemberian ksitsin sesuai indikasi tanda vital perprotkl ruangan
pemulihan, persiapan kulit pembedahan abdmen, persetujuan di tanda tangani
pemasangan kateter fole.
1. Perawatan awal
a. Letakan pasien dalam posisi pemulihan
b. Periksa kondisi pasien, cek tanda vital tiap 15 menit selama 1 jam pertama
kemudian tiap 30 menit jam berikutnya. Periksa tingkat kesadaran tiap 15
menit sampai sadar.
c. Yakinkan jalan nafas berrsih dan cukup ventilasi
d. Transfusi jika di perlukan
e. Jika tanda vital dan hematokrit turun walau di berikan transfusi, segera
kembalikan ke kmara bedah kemungkinan terjadi perdarahan pasca bedah
2. Perawatan pasca oprasi, jadwal pemeriksaan ulang tekanan darah, frekuensi
nadi dan nafas. Jadwal pengukuran produksi urin berikan infus dengan jelas,
singkat dan terinci bila di jumpai ada penyimpangan
3. Keseimbangan cairan dan elektrolit, kenyamanan fisik berupa nyeri dan
kenyamanan psikolgis juga perlu di kaji sehingga perlu adanya orientasi dan
bimbingan kegiatan post op seperti ambulasi dan nafas dalam untuk
mempercepat hilangnya anastesi
B. Konsep asuhan keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawattan dan merupakan
suatu proses pengumpulan data yang sistematis dari berbagai sumber untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. (Nursalam, 2009).
Pengkajian merupakan proses yang kontinu dilakukan setiap tahap proses
keperawatan. Semua tahap proses keperawatan tergantung pada pengumpulan
data (informasi) yang lengkap dan akurat. (Padila, 2015).
a) Identitas umum
Identitas umum meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa,
alamat, tanggal dan jam masuk rumah sakit, sumber informasi, diterima dari,
dan cara datang.
b) Riwayat perawatan
1) Keluhan utama
Keluhan utama yang biasa dirasakan klien postpartum adalah nyeri
seprti ditusuk-tusuk, panas, perih, mules, dan sakit pada jahitan perineum
(Mohamed & Saied, 2012).
2) Riwayat penyakit sekarang
Kapan timbul masalah, riwayat trauma, ppenyebab, gejala timbul tiba-
tiba/perlahan, lokasi, obat yang diiminum, dan cara penanggulangan.
(Suratun, 2008).
3) Riwayat penyakit keluarga
Meliputi penyakit yang pernah diderita keluarga baik penyakit kronis,
keturunan, maupun menular. (Potter & Perry, 2009).
2. Pengkajian psikososial
Pengkajian factor emosional, perilaku, dan social pada masa
pascapartum memungkinkan perawat mengidentifikasi kebutuhan ibu dan
keluarga terhadap dukungan, penyuluhan, dan bimbingan antisipasi, respons
mereka terhadap pengalaman kehamilan dan persalinan dan perawattan
pascapartum dan faktor-faktor yang memengaruhi pengembanan tanggung
jawab menjadi orang tua baru. Perawat juga mengkaji pengetahuan dan
kemampuan ibu yang terkait dengan perawatan diri, perawatan bayi baru lahir,
dan pemeliharaan kesehatan serta perasaan tentang diri dan gambaran dirinya.
3. Pemeriksaan fisik
a) Tanda-tanda vital
1) Suhu tubuh diukur setiap 4 sampai 8 jam selama beberapa hari Pasca
partum karena demam biasanya merupakan gejala awal Infeksi. Suhu
tubuh 38ºC mungkin disebabkan oleh dehidrasi atau Karena awitan
laktasi dalam 2 sampaii 4 hari. Demam yang Menetap atau berulang
diatas angka ini pada 24 jam pertama dapat Menandakn adanya infeksi.
2) Brakikardi merupakan perubahan fisiologis normal selama 6 Sampai 10
hari pascapartum dengan frekuensi nadi 40 sampai 70 Kali/ menit.
Frekuensi diatas 100 kali/menit (takikardi) dapat Menunjukkan adannya
infeksi, hemoragi, nyeri, arau kecemasan.
3) Nadi yang cepat dan dangkal yang dihubungkan dengan hipotensi
Menunjukkan hemoragi, syok, atau emboli.
4) Tekanan darah umumnya tetap dalam batasan normal selama Kehamilam.
Wanita pascapartum dapat mengalami hipotensi Ortostik karena diuresis
dan diaphoresis, yang menyebabkan Pergeseran volume cairan
kardiovaskuler. Hipotensi menetap atau Berat dapat merupakan tanda
syok atau emboli. Peningkatan Tekanan darah menunjukkan hipertensii
akibat kehamilan, yang Dapat muncul pertama kali pada masa
pascapartum.
b) Pernafasan
Menurut sholikah (2011) klien post operasi Secticaesarea terjadi
peningkatan pernafasan, lihat adannya tarikan dinding Dada, frekuensi
pernapasan, irama nafas serta kedalaman bernapas.
c) Kepala dan muka
Amati kesimetrisan muka, amati ada atau tidaknya Hiperpigmentasi pada
wajah ibu (cloasmagravidanum), amati warna dari keadaan rambut, kaji
kerontokan dan kebersiihan rambut, kaji pembengkakan pada muka.
d) Mata
Amati ada atau tidaknya peradangan pada kelopak mata, Kesimetrisan
kanan dan kiri, amati keadaan konjungtiva (konjungtivitis atau anemis),
sclera (ikterik atau indikasi hiperbilirubin atau gangguan pada hepar), pupil
(isokor kanan dan kiri (normal), reflek pupil terhadap cahaya miosis atau
mengecil, ada atau tidaknya nyeri tekan atau peningkatan tekanan
intraokuler pada kedua bola mata.
e) Hidung
Amati keadaan septum apakah tepat di tengah, kaji adanya masa
abnormal dalam hidung dan adanya skret, kaji adanya nyeri tekan pada
hidung.
f) Telinga
Amati kesimetrisan, warna dengan daerah sekitar, ada atau tidaknya
luka, kebersihan telinga amati ada tidaknya serumen dan otitis media
g) Mulut
Amati bibir apa ada kelainan kogenital (bibir sumbing), Warna,
kesimetrisan, sianosis atauu tidak, pembengkakan, Lesi, amati adanya
stomatitis pada mulut, amati jumlah dan Bentuk gigi, warna dan kebersihan
gigi.
h) LeherAmati adanya luka, kesimetrisan dan masa abnormal, kaji Adanya
distensi vena jugularis, dan adanya pembesaran kelenjar tiroid.
i) Paru-paru
Kesimetrisan bentuk/postur dada, gerakann nafas (frekuensi Irama,
kedalaman, dan upaya pernafasan/pengggunaan otot-otot bantu pernafasan),
warna kulit, lesi, edema, Pembengkakan/penonjolan, kaji pergerrakan dada,
massa dan Lesi, nyeri, tractile fremitus apakah normal kanan dan kiri,
Perkusi (normalnya berbunyi sonor), kaji bunyi (normalnya Kanan dan kiri
terdengar vesikuler).
j) Cardiovaskuler
Terjadi peningkatan frekuensi nadi, irama tidak teratur, serta Peningkatan
tekanan darah.
k) Abdomen
Apakah kembung, asites, terdapat nyeri tekan, lokasi massa, Lingkar
abdomen, bising usus, tampak linea nigra attau alba, Striae livida atau
albican, terdapat bekas luka operasi Sectiocaesarea. (Anggraini, 2010)
mengkaji luka jahitan post Sectiocaesarea yang meliputi kondisi luka
(melintang atau Membujur, kering atau basah, adanya nanah atau tidak), dan
mengkaji kondisi jahitan (jahitan menutup atau tidak, terdapat tanda-tanda
infeksi serta warna kemerahan pada sekitar area jahitan luka post
Sectiocaesarea atau tidak).
l) Ekstermitas bawah
Pengkajian pascapartum pada ekstermitas bawah meliputi inspeksi
ukuran, bentuk, kesimetrisan, warna, edema, dan varises. Suhu dan
pembengkakan dirasakan dengan palpasi. Tanda-tanda tromboflebitis adalah
bengkak unilateral, kemerahan, panas, dan nyeri tekan, biasanya terjadi
pada betis. Trombosis pada vena femoralis menyebabkan nyeri dan nyeri
tekan pada bagiian distal pahha dan daerah popliteal. Tanda homan,
muncunya nyeri betis saat gerakan dorsofleksi
m)Genetalia
Melihat kebersihan dari genetalia pasien, adanya lesi atau nodul dan
mengkaji keadaan lochea. Lochea yang berbau menunjukkan tanda-tanda
resiiko infeksi. (Handayani, 2011)
4. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon
individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau
potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara
akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti
untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status
kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976 & NANDA).
Diagnosa keperawatan :
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen injurifisik (pembedahan)
2) Resiko Infeksi
5. Intervensi Keperawatan
intervensi keperawatan adalah semua tindakan asuhan yang perawat
lakukan atas nama klien. tindakan ini termasuk int ervensi yang di prakarsai
oleh perawat , dokter, atau intervensi kolaboratif.
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen injurifisik (pembedahan)
NOC : Pain Level
a. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen
nyeri
b. Mampu mengenali nyeri (skala, instensitas, frekuensi, dan tanda
nyeri)
Pain Control
a. Mengenal kapan nyeri terjadi
b. Menggunakan tindakan pengurangan nyeri tanpa analgesic
c. Menggunakan analgesik yang direkomendasikan
d. Melaporkan nyeri yang terkontrol
NIC :
Pain Management
1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
2) Observasi reaksi nonverbal dan ketidaknyamanan
3) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman
nyeri pasien
4) Ajarkan tentang teknik non farmakologi (Stimulasi Kutaneus Kompres
Panas)
5) Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil.
Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
2) Resiko Infeksi
NOC
Adapun kriteria hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut :
1) Ibu bebas dari tanda-tanda gejala infeksi
2) Menunjukkan kemampuan mencegah timbulnya infeksi
3) Jumlah leukosit dalambatas normal
4) Ibu menunjukkan perilaku hidup sehat
NIC
1) Memonitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan local
2) Memonitor kondisi luka atau insisi bedah
3) Memonitor kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas dan
drainas
4) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
5) Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan
6) Menggunakan baju atau sarung tangan sebagi alat pelindung
7) Tingkatkan intake nutrisi
8) Mengajarkan pasien dan keluarga tentang tanda dangejala infeksi
6. Implementasi
Menurut Kozier (2010) Implementasi keperawatan adalah sebuah fase
dimana perawat melaksanakan intervensi keperawatan yang sudah
direncanakan sebelumnya. Berdasarkan terminologi NIC, implementasi terdiri
atas melakukan dan mendokumentasikan yang merupakan tindakan
keperawatan khusus yang digunakan untuk melaksanaan intervens
7. Evaluasi
Evaluasi keperawatan menurut Kozier (2010) adalah fase kelima atau
terakhir dalam proses keperawatan. Evaluasi dapat berupa evaluasi struktur,
proses dan hasil evaluasi terdiri dari evaluasi formatif yaitu menghasilkan
umpan balik selama program [Link] evaluasi sumatif
dilakukan setelah program selesai dan mendapatkan informasi efektifitas
pengambilan keputusan. Evaluasi asuhan keperawatan didokumentasikan dalam
bentuk SOAP (subjektif, objektif, assesment, planing), Adapun komponen
SOAP yaitu S (Subjektif) dimana perawat menemui keluhan ibu yang masih
dirasakan setelah diakukan tindakan keperawatan, O (Objektif).
DAFTAR PUSTAKA
Panduanpenyususnan asuhan keperawatan prfesinal.2013. Aplikasi Asuhan
keperawatan berdasarkan diagnosa medis dan nanda nic-noc jilid1.
Ygyakarta:med ection publishing
Partini. 2016. Pengaruh pendampingan terhadap kemampuan mobilisasi dini pada ibu
post secto caesarea di RSUD Kotasalatiga
[Link]
ipdf diakses pada 31 oktober 2017
sumelung (2014), faktor-faktor yang berperan meningkatnya angka kejadian sectio
caesarea di rumah sakit umum daerah liun kandage, ejurnal keperawatan (e-kp)
volume 2, [Link] 2014