0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan4 halaman

Tantangan Manajemen Kinerja Pasca Pandemi

Tantangan utama dalam mempertahankan kinerja organisasi selama pandemi Covid-19 adalah dampak pembatasan sosial, kerja dari rumah, dan pemutusan hubungan kerja. Untuk mengatasinya, perusahaan perlu memberikan pelatihan online, membagi tugas secara optimal, dan mengoptimalkan pekerjaan yang dapat dilakukan secara daring.

Diunggah oleh

Zabar Rudin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
39 tayangan4 halaman

Tantangan Manajemen Kinerja Pasca Pandemi

Tantangan utama dalam mempertahankan kinerja organisasi selama pandemi Covid-19 adalah dampak pembatasan sosial, kerja dari rumah, dan pemutusan hubungan kerja. Untuk mengatasinya, perusahaan perlu memberikan pelatihan online, membagi tugas secara optimal, dan mengoptimalkan pekerjaan yang dapat dilakukan secara daring.

Diunggah oleh

Zabar Rudin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Assalamualaikum Bapak/Ibu Tutor ijin memperkenalkan diri :

Nama : Zabar Rudin


NIM : 049675034
Matkul : Manajemen Kinerja

Ijin menjawab :

1. Apa tantangan yang dihadapi oleh sistem manajemen kinerja?

Jawab : Tantangan yang kita hadapi adalah menemukan cara melakukan sistem manajemen kinerja
yang masuk akal, baik bagi manajer maupun karyawan, menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan
untuk melaksanakan sistem tersebut, membantu karyawan untuk melakukan pekerjaan tersebut,
dan membantu perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan. Mengapa banyak orang
menghindari melaksanakan sistem manajemen kinerja? Berikut ini minimal ada 7 (tujuh) alasan yang
sering dikemukakan para manajer :
a. Formulir dan prosedur yang digunakan perusahaan tidak masuk akal-hanya sekedar tumpukan
pekerjaan administrasi yang tidak ada tujuannya.
b. Saya tidak punya waktu.
c. Saya tidak suka bertengkar (beroposisi).
d. Saya tidak mau bermasalah dengan karyawan.
e. Saya tidak nyaman dengan karyawan.
f. Susah bagi saya untuk memberikan umpan balik kepada karyawan.
g. Saya tidak mungkin mengawasi karyawan setiap waktu

Sedangkan 7 (tujuh) alasan yang sering dikemukakan para karyawan adalah sebagai berikut.
a. Karyawan mempunyai pengalaman buruk dengan sistem manajemen kinerja.
b. Karyawan mempunyai pengalaman buruk dengan manajernya.
c. Manusia tidak suka diawasi.
d. Manusia tidak suka dikritik.
e. Manajer tidak memberikan umpan balik.
f. Karyawan tidak tahu apa yang diharapkan.
g. Karyawan tidak tahu untuk apa sistem manajemen kinerja dilaksanakan.

Keterbatasan setiap sistem termasuk sistem manajemen kinerja adalah semua manusia yang ada di
dalam sistem tersebut akan terperangkap dalam jaringan sistem yang dibuatnya sendiri. Sistem
disepakati untuk dilaksanakan dan dipatuhi. Semua manusia yang ada dalam sistem tidak boleh
berpikir, berperasaan, dan bertindak di luar sistem. Akibatnya, kreativitas dan inovasi manusia yang
ada dalam sistem itu tidak berkembang. Bagi mereka yang pro perubahan akan cepat bosan dengan
sistem yang ada. Orang-orang yang pro perubahan merasa kreativitas dan inovasinya terbelenggu
oleh sistem. Akibatnya, mereka tidak kreatif dan inovatif, suasana menjadi kaku, mereka merasa
tidak betah di perusahaan dan pada gilirannya dapat menurunkan kinerjanya. Mereka menginginkan
sistem yang sudah tidak mendukung (kondusif) agar segera diubah ke sistem yang lebih baik lagi.

Keterbatasan sistem manajemen kinerja dalam menampung kebutuhan sistem operasi perusahaan
saat ini adalah keterbatasan sistem pengukuran kinerja finansial yang belum mampu
mengakomodasi tuntutan persaingan di pasar bebas. Penelitian-penelitian tentang keterbatasan
sistem pengukuran kinerja finansial telah banyak dilaksanakan, namun hasilnya belum memuaskan
semua pihak karena keterbatasan sistem pengukuran kinerja finansial adalah ketidakmampuan
pengukuran yang didasarkan atas sistem akuntansi dalam menampung kebutuhan sistem operasi
perusahaan saat ini. Keterbatasan sistem pengukuran kinerja finansial ini dijelaskan oleh Kaplan
(1983) dan Cooper, et al. (1992) meliputi: (1) kekurangrelevanan (ketidakcocokan) sistem
pengukuran kinerja berbasis finansial bagi pengelolaan usaha saat ini (lack of relevance), (2) sistem
konvensional berorientasi pada pelaporan kinerja masa lalu (lagging metrics), (3) berorientasi jangka
pendek (shorttermism), (4) kurang luwes atau fleksibel (inflexible), (5) tidak memicu perbaikan (does
not foster improvement), (6) dan sering rancu pada aspek biaya (cost distortion).

2. Bagaimana tantangan tersebut dapat diatasi oleh seluruh pihak yang terlibat dalam organisasi
khususnya dalam kondisi pasca pandemi Covid-19?

Jawab :

1. Tantangan dalam mempertahankan kinerja

Tantangan dalam mempertahankan kinerja Dalam masa pandemi mempertahankan kinerja agar
tetap optimal adalah tantangan tersendiri bagi organisasi, adapun tantangan tersebut diakibatkan
karena:

a. Pembatasan sosial berskala besar dan dampaknya terhadap kinerja

Dalam mengatasi wabah Covid-19, pemerintah tidak melakukan karantina wilayah atau lock down
tetapi menggunakan kebijakan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB. Banyak pihak yang
mendukung dan juga kurang setuju dengan PSBB, namun agar perekonomian tetap berjalan dan
wabah dapat diatasi, pemerintah tidak mengambil kebijakan karantina wilayah. Beberapa
permasalahan kinerja karyawan disetiap organisasi dalam masa pandemi Covid-19 yaitu kurangnya
penguasaan teknologi dalam melakukan kegiatan secara daring atau online karena imbas dari
adanya PSBB, pekerjaan yang semula dikerjakan secara langsung menjadi dikerjaan melalui dunia
maya atau internet di mana tidak semua karyawan difasilitasi untuk pendukung dalam bekerja
melalu daring, adapun difasilitasi masih banyak yang kurang ahli dalam mengoperasikan internet
pada pekerjaan tersebut contohnya rapat melalui aplikasi zoom, masih banyak yang terkendala
disinyal maupun kuota data.

b. Work From Home atau bekerja dari rumah

Masalah yang kedua adalah adanya kebijakan bekerja dari rumah atau yang sering disebut dengan
istilah WFH. Setiap karyawan perusahaan bekerja secara bergantian di mana dalam enam hari kerja,
tiga hari WFH, tiga hari WFO atau bekerja dari kantor. Tidak sedikit pula perusahaan yang
memperkerjakan penuh karyawan secara WFH dengan imbas pada pengurangan gaji atau isentif.
WFH juga menyebabkan peningkatan biaya listrik dan biaya pulsa di rumah ketika WFH. WFH juga
membuat mereka kurang berfokus dengan pekerjaannya karena ada keluarga di rumah sebagai
contoh mengurus anak, ada pula ketika sedang WFH tiba-tiba listrik padam. Hal tersebut tentunya
dapat menurunkan kinerja mereka. Contoh pada pekerjaan dibidang telemarketing.

c. Pemutusan hubungan kerja atau PHK

Dampak yang paling besar terhadap organisasi dari adanya pandemi Covid-19 yaitu menurunnya
angka penjualan yang berimbas pada turunnya profit karena rendahnya kinerja karyawan yang
dikarenakan efek dari WFH, sebagai contoh tenaga pemasaran yang seharusnya bekerja dilapangan
atau WFO dengan menawarkan produk secara langsung, kinerja mereka harus dibatasi karena
mereka harus WFH. Kondisi tersebut mengharuskan perusahaan untuk melakukan PHK guna
mengurangi beban biaya (insentif, tunjangan transport, tunjangan makan). Tetapi konsekuensi bagi
perusahaan mungkin mereka harus kehilangan beberapa orang terbaik dalam perusahaan tersebut.
Sebagai contoh pada perusahaan finance.

2. Cara perusahaan mempertahankan kinerja

Dimasa pandemi Covid-19, perusahaan harus memiliki cara untuk mempertahankan kinerja yaitu
sebgai berikut:

a. Pelatihan saat pandemi Covid-19

Pelatihan secara online menjadi pilihan disaat masa PSBB untuk memutus rantai penyebaran virus
Covid-19. Pelatihan online merupakan salah satu dalam mempertahankan kinerja, karena dengan
demikian mereka tetap mendapatkan kesempatan dalam pengembangan sesuai pekerjaan yang
mereka tangani. Contoh pada sektor pendidikan, pelatihan yang diberikan adalah tutorial cara
mengajar melalui online dengan aplikasi zoom, google meet, youtube, obs.

b. Pembagian tugas saat jumlah karyawan terbatas

Banyaknya pengurangan karyawan dihampir semua perusahaan swasta, membuat jumlah karyawan
terbatas, yang mengharuskan mereka mengerjakan lebih dari satu pekerjaan. Contohkan seorang
customer service yang harus merangkap menjadi teller ketika seorang teller harus WFH. Ini
dikarenakan hal tersebut dilakukan guna efisiensi penggunaan tenaga kerja sesuai kebijakan
pemerintah dimasa pandemi Covid-19, namun hal tersebut kurang efektif karena yang menggantikan
bekerja belum terbiasa pada pekerjaan tersebut, sehingga kepala operasional harus mengajarkan
secara cepat serta memilih karyawan yang lebih potensial sebagai pengganti dibagian lain.

c. Mengoptimalkan pekerjaan

Dampak adanya pandemi ini membuat pergerakan pekerjaan tiap individu terganggu, dan
mengharuskan tidak sedikit dari mereka bekerja dari rumah atau WFH. Untuk itu perusahaan harus
mensiati agar karyawan yang mendapat bagian WFH bisa melakukan pekerjaan yang optimal dengan
cara membagi tugas yang sekiranya pekerjaan tersebut bisa dilakukan dari rumah tanpa harus tatap
muka dalam skala besar, contoh karyawan di divisi marketing, karena tidak diperkenankan tatap
muka selama pandemi, maka cara yang efisien yaitu door to door dengan menerapkan sistem sadar
Covid-19, meninggalkan brosur yang berisi promosi agar menarik minat pembeli.

Sumber Referensi :

1. Baloran, E. T. (2020). Knowledge, Attitudes, Anxiety, and Coping Strategies of students during
Covid19 Pandemic. Journal of Loss and Trauma, 0(0), 1-8. https://
[Link]/10.1080/15325024.2020.1769300

2. Batista, M. (2020). Estimation of the final size of the coronavirus epidemc by the logistic model.
MedRxiv, 1-12.

3. Cooper, W.K., Kingshuk, K.S., Robert, S.S. (1992). ”Measuring complexity in hightechnology
manufacturing: indexes for evaluation”, Interfaces, Nomor 22, pages 42-38.
4. Kaplan, R.S. (1983). ”Measuring manufacturing performance: A new challenge for managerial
accounting research, ”The Accounting Review”, Vol. 18, Nomor 4, page 216. Cooper, et al., 1992)

5. Mardiyah. (2020). Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Peningkatan Angka Pengangguran di


Indonesia.

6. Wibisono, Dermawan. (2006). Manajemen Kinerja Konsep, Desain, dan Teknik Meningkatkan Daya
Saing Perusahaan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Anda mungkin juga menyukai