0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan11 halaman

Analisis Kecelakaan Kerja dan K3L

Kasus kecelakaan kerja pada proyek pembangunan Grand Royal Panghegar Apartemen dimana Agus Iding (35) tewas setelah jatuh dari lantai 20 akibat pintu lift yang terbuka secara tiba-tiba tanpa adanya lift di dalamnya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 23 Maret 2011.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan11 halaman

Analisis Kecelakaan Kerja dan K3L

Kasus kecelakaan kerja pada proyek pembangunan Grand Royal Panghegar Apartemen dimana Agus Iding (35) tewas setelah jatuh dari lantai 20 akibat pintu lift yang terbuka secara tiba-tiba tanpa adanya lift di dalamnya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 23 Maret 2011.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KESELAMATAN KESEHATAN KERJA DAN LINGKUNGAN (K3L)

ANALISIS KASUS KECELAKAAN KERJA DAN PENYEBABNYA


BESERTA PERLINDUNGAN HUKUM

DISUSUN OLEH :
ABRAR ALMAKASSARI 42221043
ALDA OKTAVIANI 42221045
D’NIEL REVOLT KASENDA 42221047
ISMAIL 42221049
KHUZNUL ZAIRA ANATAYA 42221051
MUH RAFLI HAMDANI 42221053
MUHAMMAD RAIHAN FIRMANSYAH 42221055
NUR ALIYAH SYAM 42221057
PUTRI AMALIA RAMADHANI 42221059
RUTH NATALIA 42221061
ZULFIANNISA HASYIM 42221063

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI REKAYASA JARINGAN


TELEKOMUNIKASI
TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
2021
A. KASUS KECELAKAAN KERJA PADA GORONG-GORONG
Tiga dari lima orang yang tewas di gorong-gorong yang terletak di Jalan
Taman Royal, Cipondoh, Kota Tangerang, pada Kamis (7/10/2021), merupakan
karyawan PT Telkom Indonesia. Sebagai informasi, kelima korban diduga
meninggal setelah menghirup gas alam yang beracun. Manager Shared Service
Telkom Akses Witel Tangerang Armunanto mengungkapkan, ketiga korban
merupakan karyawan mitra perusahaan PT Telkom Akses, anak perusahaan PT
Telkom Indonesia.

1. Identifikasi Kasus Kecelakaan

Kamis, 7 Oktober 2021

Manhole Jalan Taman Royal, Cipondoh, kota tangerang.

Seorang warga bernama Suryati menceritakan awalnya seorang korban


terjatuh ke lubang berisi kabel dan saluran air karena tak kunjung keluar kedua
korban lain ini membantu dan setelah ketiganya tak kunjung keluar warga sekitar
langsung memeriksa lubang dan mengeluarkan mereka saat ini baru tiga dari
lima korban yang identitasnya berhasil diidentifikasi kapolres Metro Tangerang
kota mengatakan yang ditemukan merupakan pegawai Telkom Indonesia polisi
pun menduga adanya faktor kelalaian yang mengancam keselamatan kerja
karyawan mengenai hal ini manajer cara service Telkom Akses Tangerang
Armunanto mengkonfirmasi bahwa 3 korban merupakan karyawan Mitra
perusahaan PT Telkom Akses saat itu ketiganya Tengah memperbaiki menhole
di gorong-gorong Jalan Taman Royal armunanto mengungkapkan bahwa
meninggalnya 3 orang tersebut murni kecelakaan kerja.

Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri dikerahkan untuk


memeriksa penyebab tewasnya lima orang di gorong-gorong tersebut.
Pemeriksaan itu dilakukan lantaran ketiga karyawan diduga meninggal dunia
setelah menghirup gas beracun. Kasubbid Tokling Puslabfor Mabes Polri
Kompol Faizal Rachmad berujar, berdasarkan pemeriksaan di gorong-gorong
tersebut, pihaknya menemukan gas yang berbahaya. Meski demikian, kepolisian
masih belum dapat mengetahui konsentrasi dan jenis gas berbahaya tersebut.
Pihaknya akan melanjutkan pemeriksaan gas berbahaya itu di laboratorium.
Berdasarkan kasus di atas, maka terdapat keterkaitan dalam undang-undang
nomor 1 tahun 1970.

2. Identifikasi Kasus Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1970
TENTANG KESELAMATAN KERJA

BAB II. RUANG LINGKUP

Pasal 2.
1) Yang diatur oleh Undang-undang ini ialah keselamatan kerja dalam segala
tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air
maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik
Indonesia.
2) Ketentuan-ketentuan dalam ayat (1) tersebut berlaku dalam tempat kerja di
mana :
a. Dilakukan pekerjaan dalam tangki, sumur atau lobang;
b. Terdapat atau menyebar suhu, kelembaban, debu, kotoran, api, asap, uap,
gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara atau getaran;

BAB III. SYARAT-SYARAT KESELAMATAN KERJA.


Pasal 3.
1) Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja
untuk :
a. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja;
b. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluasnya suhu,
kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar
atau radiasi, suara dan getaran;
c. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik
maupun psychis, peracunan, infeksi dan penularan;
d. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai;
e. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik;
f. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup;
g. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;
h. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan
proses kerjanya;
Ayat (2) Dengan peraturan perundangan dapat dirubah perincian seperti tersebut
dalam ayat (1) sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknik dan
teknologi serta pendapatan-pendapatan baru di kemudian hari.

3. Analisis Berdasarkan Penyebab Kecelakaan Kerja

Penyebab dasar: Kurangnya sarana dan kurangnya prosedur/aturan. Dalam hal


ini terkait mungkin bisa terjadi jika para karyawan tidak memakai masker
respitor untuk melindungi diri dan korban berada pada manhole, juga berkaitan
dengan kondisi lingkungan kerja.

Penyebab tidak langsung: Insiden dari kematian 3 karyawan tersebut terjadi


akibat faktor pekerjaan, dimana lingkungan dari tempat kerja terdapat gas
beracun yang mengakibatkan kecelakaan kerja.

Penyebab langsung: Kondisi yang tidak aman diakibatkan oleh gas beracun
yang berada didalam manhole

Kecelakaan kerja: Kecelakaan kerja terjadi akibat adanya kontak dengan


bahaya. 3 karyawan yang sedang berada didalam manhole menghirup gas
beracun.

Kerugian: Kerugian yang terjadi adalah kematian dan nyawa korban. Dalam hal
ini kerugian yang dialami oleh perusahaan adalah biaya kompensasi untuk
korban.

4. Perlindungan Untuk Pekerja


Pasal 61 ayat (5) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
(“UU Ketenagakerjaan”).
1) Dalam hal pekerja/buruh meninggal dunia, ahli waris pekerja/ buruh berhak
mendapatkan hak haknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku atau hak-hak yang telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan
perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.
Maka untuk pemberian santunan akan diberikan oleh perusahaan dan jumlahnya
telah diatur oleh peraturan perusahaan.
B. KASUS KECELAKAAN KERJA PADA PROYEK PEMBANGUNAN
GRAND ROYAL PANGHEGAR APARTEMEN

Agus iding (35), tewas seketika setelah jatuh dari lantai 20 proyek
pembangunan Grand Royal Panghegar Apartement, sekitar pukul 14.15 WIB,
Rabu (23/3/2011). Jenazah pekerja proyek itu langsung dibawa ke RS Bungsu,
Jalan Veteran.

1. Identifikasi Kasus Kecelakaan

Rabu 23 maret 2011

Pembangunan Grand Royal Panghegar Apartement

Agus Iding (35) tewas setelah terjatuh dari lantai 20 tempat ia bekerja, di
projek pembangunan Hotel dan Apartemen Panghegar, [Link], Rabu
(23/3) siang. Agus adalah pekerja bangunan di projek [Link] mekanik
leader konstruksi lift. Meskipun peristiwa terjadi pukul 14.15WIB, tapi
kepolisian baru mengetahui kejadian itu selepas pukul 17.30 [Link],
manajemen hotel tidak memberitahukannya ke kepolisian terdekatdan terkesan
menutup-nutupi peristiwa itu. Polisi mendapat informasi dari RSBungsu di Jln.
Bungsu, yang sempat merawat [Link] sejumlah saksi mata yang
dimintai keterangan polisi,menuturkan, saat itu korban hendak mengecek lift di
lantai 20. Lift baruterpasang pintunya saja. Sementara lift passenger berada di
lantai dasar. Saat Agus memencet tombol, pintu lift terbuka dengan cepat. Agus
kaget sehinggaterdorong ke dalam lift yang belum ada passenger lift-nya. Tubuh
Agus melayangdan terhempas dengan keras di lantai GF (ground floor). Leman
Nugraha (20),rekan kerja korban, mengatakan, peristiwa itu terjadi sangat cepat.
"Biasanya,passenger lift, selalu ada di lantai 20. Tidak tahu kenapa, hari itu kok
ada dibawah. Jadi pas pintu terbuka, liftnya tidak ada sehingga korban kaget
dan jatuh," katanya kepada polisi

Sementara itu, saudara korban, Dadang, ditemui di RS Bungsu,mengatakan,


dia mendapat informasi tersebut sekitar pukul 16.00 [Link] keluarga
lainnya mendapatkan informasi itu pukul 15.00 [Link] identifikasi
rumah sakit dan kepolisian, korban yang merupakanwarga Jln. Cikuda, Cibiru
Kota Bandung itu, mengalami luka patah kaki,mengeluarkan darah segar dari
bibir, dan sejumlah memar dan bengkak ditubuhnya. Kasat Reskrim Polrestabes
Bandung Ajun Komisaris Besar Tubagus AdeHidayat menuturkan, kepolisian
baru mengetahui sekitar pukul 17.30 WIB. Polisipun telah memeriksa sejumlah
saksi. Namun kepolisian menyayangkan dengansikap manajemen hotel yang
terkesan berusaha menutup-nutupi peristiwa itudengan tidak segera melaporkan
ke kepolisian.

Berdasarkan kasus di atas, maka terdapat keterkaitan dalam undang-undang


nomor 1 tahun 1970.

2. Identifikasi Kasus Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1970
TENTANG KESELAMATAN KERJA

BAB II. RUANG LINGKUP


Pasal 2
(1) Yang diatur oleh Undang-undang ini ialah keselamatan kerja dalam segala
tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air
maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik
Indonesia.
(2) Ketentuan-ketentuan dalam ayat (1) tersebut berlaku dalam tempat kerja di
mana :
a. Dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau
pembongkaran rumah, gedung atau bangunan lainnya, termasuk bangunan
pengairan, saluran atau terowongan di bawah tanah dan sebagainya atau
dimana dilakukan pekerjaan persiapan;
b. Dilakukan pekerjaan dalam ketinggian di atas permukaan tanah atau perairan;

BAB III. SYARAT-SYARAT KESELAMATAN KERJA.


Pasal 3
a. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja;
b. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan
proses kerjanya;
c. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang
bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

3. Analisis Berdasarkan Penyebab Kecelakaan Kerja

Penyebab dasar: Kurangnya kesadaran dan kurangnya kepatuhan. Dalam hal


ini korban tidak patuh atau lalai dalam memakai pengaman
Penyebab tidak langsung: Insiden terjadi akibat faktor pekerjaan dimana
korban tidak memakai pengaman saat bekerja pada gedung di ketinggian 20
lantai
Penyebab langsung: Tindakan tidak aman diakibatkan oleh korban sendiri yaitu
lalai dalam bertindak tanpa menggunakan pengaman.
Kecelakaan kerja: Kegagalan fungsi serta kurangnya kehati-hatian oleh korban
dalam mengecek lift.
Kerugian: Kerugian yang terjadi adalah kematian dan nyawa korban. Dalam hal
ini kerugian yang dialami oleh perusahaan adalah biaya kompensasi untuk
korban.

4. Perlindungan Untuk Pekerja


Pasal 61 ayat (5) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
(“UU Ketenagakerjaan”).

1) Dalam hal pekerja/buruh meninggal dunia, ahli waris pekerja/ buruh berhak
mendapatkan hak haknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku atau hak-hak yang telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan
perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.

Maka untuk pemberian santunan akan diberikan oleh perusahaan dan jumlahnya
telah diatur oleh peraturan perusahaan.
C. KASUS PENCEGAHAN KECELAKAAN

Tempat Kerja (Pabrik) Belum Menjadi Ruang Aman Bagi Buruh Hamil
Hasil Riset Kekerasan Berbasis Gender di dalam KBN Cakung, Jakarta Utara

Ketika hamil, tubuh perempuan berubah. Perubahan tersebut menuntut


beragam kebutuhan-kebutuhan khusus yang diperlukan untuk menjaga
kesehatan ibu dan bayinya. Dukungan untuk hal tersebut layak datang dari
lingkungan terdekat termasuk lingkungan tempatnya bekerja. Alih-alih merasa
aman dan nyaman, justru khawatir dan takut yang dirasakan oleh para
perempuan hamil yang bekerja. Perasaan yang bisa dibilang “wajar” untuk
dirasakan oleh mereka, mengingat perlindungan maternitas di tempat kerja
memang belum sepenuhnya didapatkan oleh mayoritas perempuan pekerja.
Bagi buruh hamil, rasa tidak aman muncul tatkala pekerjaan yang menjadi
sumber dan daya hidupnya berada dalam ruang ketidakpastian. Tidak pasti
keberlangsungan menjalani pekerjaan, atau hasil dari kerja tersebut tidak mampu
mencukupi dan menjamin kesejahteraan sang buruh ibu. Semakin tidak aman,
tatkala pekerjaan ternyata meningkatkan ancaman terhadap kesehatan dan
keselamatan janin sang buruh.
Kekhawatiran dan ketakutan adalah wujud rasa tidak aman buruh hamil,
terhadap hal yang dihadapinya saat ini, ataupun terhadap ketidakpastian akan
masa depan sang buruh dan janin yang dikandungnya.

1. Identifikasi Kasus Kecelakaan Yang Mungkin Saja Bisa Terjadi Ibu Hamil

Fenomena yang secara langsung menyebabkan tingginya tekanan fisik dan


psikis buruh hamil, yaitu:
a. Takut Kehilangan Pekerjaan
Kenyataan bahwa sebagian besar buruh garmen di KBN Cakung berstatus
buruh kontrak, berdampak pada tingginya ketidakpastian (dan masa depan) kerja
buruh. Bagi para buruh kontrak ini, menjawab pertanyaan tentang masa depan
kerjanya di perusahaan (sekarang) adalah hal yang sangat sulit atau bisa dibilang
hampir mustahil. Tercatat ada 177 (22.9%) buruh perempuan yang sudah lebih
dari 10 tahun bekerja di KBN Cakung, namun tetap saja berstatus kontrak.
Dalam belenggu ketidakjelasan status (kontrak), para buruh ini tentu berupaya
segala cara untuk tetap bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan. Kajian ini
menemukan adanya fenomena menyembunyikan kehamilan pada sebagian
buruh perempuan
b. Rentan Keguguran
Tingginya beban kerja dan sikap pengawas yang kurang kooperatif ternyata
meningkatkan kerawanan pada buruh hamil, sampai bisa menyebabkan
keguguran. Hasil kajian mendapati tujuh (7) buruh yang mengalami keguguran
saat bekerja dan tiga (3) dari tujuh (7) buruh yang keguguran tidak mendapatkan
cuti. Ketiga buruh tersebut berstatus kontrak.
Sesuai ketentuan perundangan, seorang buruh perempuan yang mengalami
keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5 (satu setengah) bulan
lamanya sesuai dengan surat keterangan kesehatan yang diterbitkan. Kabar
baiknya, beberapa perusahaan di KBN Cakung bahkan bersedia memberikan
cuti keguguran setara dengan melahirkan, yakni selama tiga (3) bulan. Namun
beberapa perusahaan yang lain, memilih untuk mengabaikan hak cuti tersebut.
Maka dari itu perlunya diketatkan K3 Terhadap ibu hamil baik dalam sisi fisik
dan mental.

2. Perlindungan hukum yang terkait :


UU Ketenagakerjaan no. 13 tahun 2013, paragraf 3 tentang perempuan pasal 76.

• Pekerja/buruh perempuan yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun


dilarang dipekerjakan antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00.
• Pengusaha dilarang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan hamil yang
menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan
kandungannya maupun dirinya apabila bekerja antara pukul 23.00 sampai
dengan pukul 07.00.
• Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan antara pukul 23.00
sampai dengan pukul 07.00 wajib:
a. Memberikan makanan dan minuman bergizi; dan
b. Menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja.
• Pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja/buruh
perempuan yang berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23.00 sampai
dengan pukul 05.00.
• Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4) diatur dengan
Keputusan Menteri.

Bentuk perlindungan bagi pekerja perempuan selama masa kehamilan:

• Istirahat 1,5 bulan sebelum saatnya melahirkan dan 1,5 bulan sesudah
melahirkan (Pasal 82 ayat (1) UU 13/2003)
• Larangan Mempekerjakan Pekerja /Buruh Perempuan Hamil antara pukul 23.00
– 07.00 apabila membahayakan kesehatan dan keselamatan kandungannya
maupun dirinya (Pasal 76 ayat 2 UU 13/2003)
• Larangan melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan pekerja
perempuan hamil, melahirkan, gugur kandungan, atau menyusui bayinya (Pasal
153 ayat (1) huruf e UU 13/2003).

3. Perlindungan Untuk Pekerja.


Pasal 86 ayat (1) UU Ketenagakerjaan menegaskan: setiap pekerja
mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan
kesehatan kerja (K3). Upaya K3 dimaksudkan untuk memberikan jaminan
keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan para pekerja dengan cara
pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Sehingga pekerja perempuan
yang sedang hamil dapat meminta untuk melakukan pekerjaan yang tidak berat
dan berbahaya sebagai bentuk jaminan keselamatan untuk dirinya. Antara lain
tidak menempatkan perempuan pekerja yang sedang hamil pada pekerjaan berat
dan beresiko/berbahaya misalnya di bagian yang menggunakan bahan kimiawi,
dsb.

Anda mungkin juga menyukai