LAPORAN UTS
DESAIN DAN APLIKASI TEKNOLOGI BETON PRACETAK
RISHA UNTUK BANGUNAN RUMAH 1 LANTAI
Dosen : Rilya Rumbayan, ST. [Link], Ph.D
Oleh:
KELOMPOK 5
Jewel D. Punuindoong 19012060
Priskila M. Makapedua 19012053
Thania T. J. Wenur 19012051
Sarah Ruata 19012050
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN
KONSTRUKSI BANGUNAN GEDUNG
JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIN NEGERI MANADO
MARET 2022
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring berjalannya waktu, kebutuhan rumah di indonesia masih terus
bertambah. Penyediaan perumahan masih banyak dilakukan oleh masyarakat dan
swasta. Kendala pembangunan perumahan yang sudah dapat diidentifikasi
(Bramantyo, 2012) terkait dengan masalah keterbatasan dari aspek supply
perumahan, terjadinya peningkatan jumlah rumah tidak layak huni dan sarana dan
prasarana perumahan yang belum memadai, serta semakin luasnya wilayah
permukiman kumuh.
Terkait upaya penyediaan rumah tersebut, pemerintah melalui Puslitbang
Permukiman, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan telah menghasilkan
teknologi rumah instan sederhana yang diberi nama RISHA. Teknologi yang
ditawarkan adalah berupa teknologi struktur beton pra cetak/pre-cast sistem
knockdown, yang bertujuan untuk mempersingkat waktu pemasangan, menjamin
mutu kualitas kehandalana terutama struktur bangunan dan mempermudah
pembangunan rumah. Inovasi RISHA ini telah diterapkan dibeberapa lokasi di
Indonesia seperti di Aceh beberapa waktu setelah terjadi bencana alam gempa bumi
dan tsunami, di Palembang untuk perumahan [Link], dan beberapa tempat
lainnya. Sebagai sebuah inovasi struktur yang membentuk ruang, RISHA perlu
ditinjau kemampuannya dalam menyediakan kenyamanan arsitektural, manakala
RISHA dibangun dengan mengikuti panduan pembangunan rumah type standar 36
m2 , yang menjadi ukuran standar rumah untuk MBR.
Teknologi RISHA merupakan salah satu varian beton precast yang
dikembangkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Dengan prinsip modular dan bersifat
bongkar pasang (knock down), proses pembangunan untuk tipe 36 m2 dihitung
hanya perlu 2 hari. Struktur dan Konstruksinya sudah diuji di laboratorium
Puslitbangkim dan juga secara nyata saat gempa di Aceh setahun setelah tsunami.
Seluruh bagian RISHA dapat diproduksi di work shop sebelum dipasang
(prefabrication), untuk memastikan presisi dari komponen.
Perbandingan antara teknologi RISHA dan rumah konvensional meliputi waktu,
biaya dan kualitas dalam pelaksanaan didunia konstruksi. Dalam pelaksanaan
konstruksi waktu yang diperlukan sangatlah singkat sehinga membuat
pengaplikasian teknologi RISHA ini tidaklah membutuhkan waktu yang lama
dibandingkan dengan rumah konvensional yang memerlukan waktu yang lebih
lama. Biaya yang dikeluarkan dalam pembuatan rumah konvensional sangatlah
tidak sedikit jumlahnya dibandingkan dengan Teknologi RISHA yang mempunyai
biaya yang lebih ekonomis. Walaupun biaya yang lebih ekonomis dibandingkan
dengan rumah konvensional. Teknologi RISHA memiliki keunggulan juga dalam
hal kualitas dibandingkan dengan rumah konvensional. Teknologi RISHA ini telah
dilakukan pengujian dan telah lulus uji sehingga kualitasnya terjamin dan tahan
terhadap gempa, sehingga pada saat ini pemerintah sudah menerapkan penggunaan
teknologi RISHA di beberapa wilayah di indonesia.
B. Tujuan
Tujuannya adalah dengan menggunakan beton pre-cast ini maka dapat
memperkenalkan keunggulan dan kelebihan inovasi baru dalam bidang
pembangunan konstruksi kepada masyarakat. Menggunakan teknologi RISHA
yang telah dipakai di beberapa tempat dan yang telah diuji bahwa bangunan akan
menjadi bangunan yang tahan gempa dan kokoh, maka tidak perlu diragukan lagi
penggunaan beton pracetak dengan teknologi RISHA ini dalam pekerjaan
pembangunan proyek konstruksi. Adapun biaya yang akan diperlukan nantinya
relative lebih murah. Jumlah pekerja dalam metode ini pun jauh lebih sedikit
dibandingakan beton konvensional. Hal ini merupakan sebuah keunggulan dari
beton pracetak. Selain itu juga dengan menggunakan beton pracetak ini maka waktu
pengerjaan proyek konstruksi akan jauh lebih singkat, sehingga jika sangat
diperlukannya rumah atau bangunan dalam waktu dekat baiknya memilih
pembangunan proyek menggunakan beton pracetak.
BAB II
A. Konsep
Pada saat melakukan perencanaan pembangunan suatu bangunan hal yang pertama
dibuat adalah konsep desain dari bangunan itu sendiri. Pada perencanaan ini ada
beberapa konsep yang kami buat sampai menemukan konsep yang cocok dan sesuai
dengan konstruksi RISHA.
Karena konsep ke 4 yang awalnya sudah ok, tapi ternyata menggunakan kolom
praktis untuk tambahan ruang maka konsep diubah menjadi gambar dibawah.
B. Gambar Rencana
a) Gambar Kerja RISHA
b) Gambar Kerja Konvensional
C. Gambar Komponen dan Detail
a) Komponen dan Sambungan RISHA
b) Detail Konvensional
D. Menghitung Jumlah Panel RISHA
Jumlah Panel P1:
Sloof = 30 buah
Balok = 30 buah
Kolom = 48 buah, maka total semua panel P1 108 buah.
Jumlah Panel P2:
Kolom = 48 buah
Jumlah Panel P3:
Penyambung Sloof = 24 buah
Penyambung Balok = 24 buah, maka total panel P3 48 buah.
Total keselurusan untuk bangunan dengan luasan 52,14m2 menggunakan 204 buah
panel.
E. Rencana Anggaran Biaya
a) Rencana Anggaran Biaya RISHA
b) Rencana Anggaran Biaya Konvensional
F. Estimasi Waktu
a) RISHA
b) Konvensional
G. Analisa Perbandingan Biaya dan Waktu