Matriks Penghematan Jarak Afdeling
Matriks Penghematan Jarak Afdeling
Dimana:
= 3 + 11 – 12
=2
= 3 + 10 – 10
=3
= 3 + 17 – 18
=2
= 3 + 16 – 17
=2
=3+4–5
=2
= 3 + 16 – 16
=3
= 3 + 45 – 46
=2
= 3 + 59 – 60
=2
= 3 + 62 – 62
= 3 + 46 – 47
=2
= 3 + 58 –59
=2
= 3 + 76 –77
=2
= 3 + 95 –96
=2
= 11 + 10 – 7
= 14
= 11 + 17 – 9
= 19
= 11 + 16 – 8
= 19
= 11 + 4 – 8
=7
= 11 + 16 – 13
= 14
= 11 + 45 – 43
= 13
= 11 + 59 – 57
= 11 + 62 – 60
= 13
= 11 + 46 – 44
= 13
= 11 + 58 – 56
= 13
= 11 + 76 – 80
=7
= 10 + 17 – 13
= 14
= 13
= 10 + 4 – 6
=8
= 10 + 16 – 12
= 14
= 10 + 45 – 42
= 13
= 10 + 59 – 56
= 13
= 10 + 62 – 58
= 14
= 10 + 46 – 43
= 13
= 10 + 58 – 55
= 13
= 10 + 76 – 79
=7
= 10 + 95 – 91
= 14
= 17 + 16 – 4
= 29
= 17 + 4 – 14
= 17 + 16 – 19
= 14
= 17 + 45 – 49
= 13
= 17 + 59 – 63
= 13
= 17 + 62 – 66
= 13
= 17 + 46 – 50
= 13
= 13
= 17 + 76 – 78
= 15
= 17 + 95 – 99
= 13
= 16 + 4 – 13
=7
= 16 + 16 – 19
= 13
= 16 + 45 – 48
= 13
= 16 + 59 – 62
= 13
= 16 + 62 – 65
= 13
= 16 + 46 – 49
= 13
= 16 + 58 – 61
= 13
= 16 + 76 – 74
= 18
= 16 + 95 – 98
= 4 + 16 – 12
=8
= 4 + 45 – 42
=7
= 4 + 59 – 56
=7
= 4 + 62 – 58
=8
= 4 + 46 – 43
=7
=7
= 4 + 76 – 79
=1
= 4 + 58 – 55
=7
= 16 + 45 – 34
= 27
= 16 + 59 – 48
= 27
= 16 + 62 – 50
= 28
= 16 + 46 – 35
= 27
= 16 + 58 – 47
= 27
= 16 + 76 – 71
= 21
= 16 + 95 – 84
= 27
= 45 + 59 – 14
= 90
= 90
= 45 + 46 – 8
= 83
= 45 + 58 – 21
= 82
= 45 + 76 – 51
= 70
= 45 + 95 – 57
= 83
= 59 + 62 – 29
= 92
= 59 + 46 – 21
= 84
= 59 + 58 – 33
= 84
= 59 + 76 – 63
= 72
= 59 + 95 – 70
= 84
= 62 + 46 – 18
= 90
= 62 + 58 – 30
= 62 + 76 – 61
= 77
= 62 + 95 – 67
= 90
= 46 + 58 – 15
= 89
= 46 + 76 – 45
= 77
= 46 + 95 – 52
= 89
= 58 + 76 – 31
= 103
= 58 + 95 – 39
= 114
= 76 + 95 – 49
= 122
Ballou, Ronald H.. 1999. Business Logistic Management. New Jersey : Prentice
Hall, Inc.
Prentice Hall
Sinulingga, Sukaria. 2014. Metode Penelitian Edisi Ketiga. Medan : USU Press.
Sodikin, Imam. 2014. “Penentuan Rute Distribusi Produk yang Optimal dengan
LANDASAN TEORI
tersebut biasanya termasuk supplier, pabrik, distributor, toko atau retailer, serta
Pada suatu supply chain biasanya ada 3 macam aliran yang harus dikelola.
Pertama adalah aliran barang yang mengalir dari hulu (upstream) ke hilir
retailer, kemudian ke pemakai akhir. Yang kedua adalah aliran uang dan
sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu. Yang ketiga adalah aliran informasi
yang bisa terjadi dari hulu ke hilir ataupun sebaliknya. Informasi tentang
dibutuhkan oleh pabrik. Informasi tentang status pengiriman bahan baku sering
III-1
suku cadang dan barang jadi dari para supplier, diantara fasilitas-fasilitas
tepat pada waktu yang dibutuhkan, dalam keadaan yang dapat dipakai, ke lokasi
mentah, inventori barang dalam proses, barang jadi dan informasi terkait dari titik
asal ke titik konsumsi untuk tujuan memenuhi kebutuhan konsumen. Ada lima
rantai penghubung. Manajemen transport dan lalu lintas telah mendapat banyak
peralatan swasta yang dapat dibeli atau disewa atau disebut dengan private. Yang
kedua kontrak khusus yang dapat diatur dengan spesialis transport untuk
tertentu atau disebut dengan angkutan umum. Dilihat dari sudut pandang logistik,
pada manajemen logistik terpadu. Kalau dilihat sebelum tahun 1950, organisasi
untuk bereaksi terhadap permintaan pasar. Konsep logistik terpadu terdiri dari 2
1. Operasi logistik
dan penyimpanan material dan produk jadi perusahaan. Jadi operasi logistik itu
komponen dari sumber perolehannya dan berakhir pada penyerahan produk yang
dibuat atau diolah pada langganan atau konsumen. Operasi logistik dapat dibagi
pemberhentian terakhir dalam saluran pemasaran. Jika produk yang tepat tidak
dapat diserahkan pada waktu yang dibutuhkan dengan cara yang ekonomis, maka
mungkin banyak usaha pemasaran yang berada dalam bahaya. Melalui proses
distribusi fisik inilah waktu dan ruang dalam pelayanan nasabah menjadi bagian
b. Manajemen material
material, suku cadang, dan persediaan barang jadi dari tempat pembelian ketempat
pembuatan atau perakitan, gudang, atau toko pengecer. Seperti halnya distribusi
dikehendaki di tempat dan pada waktu yang dibutuhkan. Kalau distribusi fisik
perakitan.
ke gudang atau saluran pengecer. Yang terpenting dari manajemen terpadu adalah
setengah jadi, dan produk-produk yang bergerak diantara berbagai lokasi, sumber
suplai, dan para langganan dari perusahaan secara keseluruhan. Dalam pengertian
2. Koordinasi logistik
tertentu.
waktunya.
1. Biaya
dilkeluarkan, jadi bukan berarti metode transportasi yang termurah itu merupakan
2. Kecepatan
suatu tugas pengangkutan di antara tempat asal barang ke tempat tujuan yang
dikehendaki. Faktor kecepatan harus selalu dikaitkan dengan kondisi barang yang
dipindahkan agar jangan sampai terjadi kerusakan walau mungkin dari segi waktu
lebih cepat dari penggunaan transportasi lainnya. Bisa dikatakan waktu yang
3. Pelayanan
Pelayanan atau servis datangnya dari berbagai pihak, baik pengangkutan barang
itu dikelola oleh perusahaan sendiri atau dengan cara menyewa dari perusahaan
pengangkutan yang resmi. Pelayanan barang datangnya dari para karyawan yang
dengan alat transportasi. Pelayanan yang terbaik yang diharapkan tercapai dengan
4. Konsistensi
pengeluaran untuk transport lebih besar dari pengeluaran untuk unsur lainnya.
Biaya transport industri yang menghasilkan produk bernilai tinggi adalah rendah
besi, bahan-bahan kimia dasar dan pupuk adalah relatif tinggi. Kebutuhan
transportasi tersedia bagi pengangkutan produk atau bahan mentah dalam sistem
lima cara utama transportasi yang biasa disebut dengan moda transportasi. Lima
cara utama tersebut adalah kereta api, jalan raya, jalan air, saluran pipa, dan
peralatan yang ada. Istilah lain untuk masalah ini adalah Vehicle Sceduling
Routing Problem menjadi Travelling Salesman Problem pada saat hanya terdapat
Dalam permasalahan vehicle routing, jika setiap alat angkut dapat menempuh
trip/rute majemuk selama horizon perencanaan maka ini disebut sebagai Multi
Trip Vehicle routing Problem. Contoh solusi dari Vehicle Routing Problem dapat
satu rute menjadi minimum dengan demikian total waktu perjalanan dalam
2. Dalam pembuatan rute dimulai dari titik pemberhentian terjauh dari depot
dengan dimulai dari titik pemberhentian paling jauh dari depot ke titik yg
paling dekat.
4. Urutan pemberhentian pada sebuah rute sebaiknya membentuk pola air mata
(tear drop pattern). Hal ini ditujukan agar tidak ada jalur yang bersilangan.
pengiriman dilakukan.
yang kecil, dilayani dengan waktu dan biaya yang relatif besar. Menggunakan
yang kita gunakan, peran jaringan distribusi dan transportasi sangatlah vital.
Jaringan distribusi dan transportasi ini memungkinkan produk pindah dari lokasi
dimana mereka diproduksi ke lokasi konsumen/ pemakai yang sering kali dibatasi
pelanggan secara tepat waktu, dalam jumlah yang sesuai dan dalam kondisi yang
baik sangat menentukan apakah produk tersebut pada akhirnya akan kompetitif di
pasar.
efisiensi yang tinggi dalam jaringan distribusi. Sesuatu yang sangat dipentingkan
aktivitas fisik secara kasat mata bisa disaksikan, seperti menyimpan dan mengirim
produk, maupun fungsi non-fisik yang berupa aktivitas pengolahan informasi dan
kata kunci ynag sangat penting dewasa ini. Tekanan untuk melakukan
kapan sebuah truk harus berangkat dan rute mana yang harus dilalui untuk
perusahaan yang memiliki ribuan atau puluhan ribu toko atau tempat-tempat
5. Memberikan pelayanan nilai tambah. Beberapa proses nilai tambah yang bisa
dari hilir ke hulu dalam supply chain. Pengembalian ini bisa karena produk
rusak atau tidak terjual sampai batas waktu penjualanya habis. Kegiatan
yang akan digunakan kembali dalam proses produksi atau yang harus diolah
antara pihak yang memiliki barang dan pihak yang melakukan pengiriman.
paling baik digunakan bisa berbeda apabila ditinjau dari sudut yang berbeda
(sudut carrier VS sudut shipper). Beberapa hal yang biasanya dipakai sebagai
1. Dilihat dari sudut pengirim atau carrier, hal-hal yang perlu dipertimbangkan
adalah biaya-biaya yang terlibat, mulai dari biaya alat transportasinya sendiri
(bisa berupa biaya beli atau sewa alat transportasi), biaya operasional tetap
(biaya terminal atau bandara yang besarnya tidak tergantung pada volume
arang yang dikirim), dan biaya operasional variabel (seperti biaya bahan bakar)
dimana besarnya biaya tergantung pada volume angkut atau jarak yang
2. Dari sisi shipper, pertimbangannya bisa didasarkan pada berbagai ongkos yang
timbul pada supply chain, termasuk ongkos selain yang terkait langsung
unloading, dan biaya fasilitas (seperti gudang, dan lain-lain). Konsekuensi lain,
yang bisa diangkut jeret jauh lebih besar dibandingkan truk, namun fleksibilitas
truk jauh lebih tinggi, baik fleksibilitas rute maupun fleksibilitas waku
kegiatan pengiriman adalah trade off antara biaya dengan kecepatan respon dari
suatu mode transportasi. Biaya pengiriman akan tinggi kalau perusahaan sangat
dalam jangka waktu satu hari sejak ada permintaan order diterima, maka sering
kali pengiriman dilakukan dengan volume kecil dan tidak mencapai skala
dilakukan setiap hari misalnya, tetapi tiap dua atau tiga hari.
distribusi adalah penentuan jadwal serta rute pengiriman dari satu lokasi ke
beberapa lokasi tujuan. Keputusan seperti ini sangat penting bagi mereka yang
berbagai toko yang terbesar di sebuah kota. Perusahaan penerbitan koran atau
majalah adalah salah satu contoh yang sangat tepat dimana permasalahan ini
terjadi. Setiap pagi koran harus didistribusikan dari tempat dimana mereka dicetak
individu. Keputusan jadwal pengiriman serta rute yang akan ditempuh oleh tiap
juga mungkin memiliki target bahwa tiap pelanggan di sebuah kota harus sudah
mendapatan koran selambat-lambatnya jam 06.30 pagi. Dengan kata lain, ada
constraint (kendala) waktu yang sering dinamakan time window. Di samping itu,
jadwal dan rute sering kali juga harus mempertimbangkan kendala lain seperti
bisa memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai seperti tujuan untuk
jarak tempuh. Dalam bahasa program matematis, salah satu dari tujuan tersebut
bisa menjadi fungsi tujuan (objective function) dan lainnya menjadi kendala
pengiriman, namun ada kendala time window dan kendala maksimum jarak
tempuh tiap kendaraan, di samping kendala lain seperti kpasitas kendaraan atau
kendala lainnya.
rute pengiriman suatu produk, ikutilah contoh berikut. Sebuah perusahaan akan
(0,0) ke 8 lokasi toko yang koordinatnya ditampilkan pada Tabel 3.2. Ukuran
order yang harus dipenuhi juga diketahui dan diharapkan semua order terpenuhi
pada hari itu juga. Perusahaan memiliki produk yang cukup untuk dikirim. Hanya
saja, karena posisinya yang beragam, perusahaan ingin menentukan berapa truk
masing 700 unit, namun karena biaya sewa cukup besar, diharapkan dua truk bisa
mencukupi.
walau hanya 2 truk yang dioperasikan. Pekerjaan pertama yang harus dilakukan
adalah menentukan alokasi truk. Artinya, perlu diketahui truk mana akan
mengunjungi toko yang mana. Tahap kedua nantinya adalah menentukan rute
pengiriman maka masuk akal untuk menggunakan jarak sebagai fungsi tujuan.
Artinya, kita akan meminimumkan jarak yang ditempuh oleh semua kendaraan.
Pada langkah ini kita perlu jarak antara gudang ke masing-masng toko dan
mengetahui koordinat masing-masing lokasi maka jarak antar dua lokasi bisa
Toko 8 6,3 8,2 6,4 19,8 8,9 8,6 2,2 10,0 0,0
(x1,y1) dan (x2,y2) maka jarak antara dua lokasi tersebut adalah :
Apabila jarak riil antarlokasi diketahui, maka jarak riil tersebut lebih baik
digunakan dibandingkan dengan jarak teoritis yang kita hitung dengan rumus di
atas. Dengan rumus tadi, kita bisa mendapatkan jarak antara gudang dengan
masing-masing took dan antara took yang satu dengan took yang lainnya seperti
yang ditunjukkan pada Tabel 8.3. Jadi, jarak antara gudang dengan toko 1 adalah
13 kilometer dan jarak antara toko 2 dan toko 1 adalah 13. Hasil perhitungan jarak
Pada awal langkah ini kita berasumsi bahwa setiap toko akan dikunjungi
oleh satu truk secara eksklusif. Dengan kata lain, akan ada 8 rute yang berbeda
dengan satu tujuan masing-masing. Tentu saja, akan ada penghematan yang akan
diperoleh dengan menggabungkan dau atau lebih rute tersebut menjadi satu.
dan toko 2 dikunjungi secara terpisah maka jarak yang dilalui adalah jarak dari
gudang ke toko 1 dan dari toko 1 balik ke gudang ditambah dengan jarak dari
toko 1 dan toko 2 ke dalam satu rute maka jarak yang dikunjungi adalah dari
gudang ke toko 1 kemudian ke toko 2 dan dari toko 2 balik ke gudang. Gambar
Gudang Gudang
Dari Gambar 3.2 di atas, dapat kita lihat bahwa perubahan jarak adalah
sebesar total jarak kiri dikurangi total jarak kanan yang besarnya adalah:
Hasil ini diperoleh dengan asumsi bahwa jarak (x,y) sama dengan jarak (y,x).
formula di atas maka matrik penghematan jarak bisa dihitung untuk semua toko
yang Berbeda
Toko 1 0,0
Toko 8 Rute 8 10,9 10,3 4,4 7,6 6,8 10,5 11,9 0,0
toko ke kendaraan atau rute. Di awal kita mengalokasikan tiap toko ke rute yang
berbeda. Jadi, seperti pada Tabel 3.5 kita memiliki 8 rute awal. Namun toko-toko
tersebut bisa digabungkan sampai pada batas kapasitas truk yang ada.
Penggabungan akan mulai dari nilai penghematan terbesar karena kita berupaya
memaksimumkan penghematan. Jadi, kita mulai dari angka 24,4 yang merupakan
penghematan dari penggabungan antara toko 1 dan toko 7. Jumlah beban masing-
masing adalah 320 dan 180 sehingga penggabungannya layak dilakukan. Dengan
demikian, seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 3.6, toko 7 bergabung ke rute 1.
Toko 8 Rute 8 10,9 10,3 4,4 7,6 6,8 10,5 11,9 0,0
Toko 8 Rute 8 10,9 10,3 4,4 7,6 6,8 10,5 11,9 0,0
Selanjutnya penghematan terbesar kedua adalah 17,8 (toko 4 dan toko 5),
jumlah beban kedua toko adalah 150+200 = 350. Berarti keduanya bisa
digabungkan sehingga toko 5 bergabung ke rute 4. Tabel 3.7 menunjukkan hal ini.
antara toko 1 dan toko 4. Tetapi karena kedua toko sudah teralokasikan, tidak
toko 3 dan toko 4. Toko 4 sudah bergabung dengan toko 5, jadi kita akan melihat
apakah toko 3 bisa digabungkan ke rute 4 yang total bebannya sekarang 350.
Tambahan dari toko 3 membuat total beban 650 yang jumlahnya masih di bawah
kapasitas truk. Sisa kapasitas truk hanya 50 dan tidak ada beban tersisa yang
ukurannya sama atau kurang dari 50 sehingga rute 4 sudah selesai dengan
alokasi adalah 12,5 dimana toko 6 bergabung dengan rute 1 sehingga rute 1
melayani toko 1, 6 dan 7 dengan total beban sebanyak 620. Selanjutnya adalah
penggabungan toko 2 dan 8 menjadi 1 rute dengan beban 315. Jadi kita berakhir
menentukan urutan kunjungan. Ada banyak metode yang bisa digunakan untuk
menentukan urutan kunjungan ini, namun pada buku ini hanya akan dibahas dua
metode sederhana. Pada prinsipnya, tujuan dari pengurutan ini adalah untuk
Sebagai ilustrasi kita akan menggunakan rute 1 yang akan melayani toko
1, 6 dan 7. Metode nearest insert menggunakan prinsip memilih toko yang kalau
dimasukkan ke dalam rute yang sudah ada menghasilkan tambahan jarak yang
minimum. Pada awal kita hanya memiliki trip dari gudang ke gudang dengan
jarak nol. Selanjutnya kita akan lihat berapa jarak yang terjadi dengan masing-
masing toko ke rute yang sudah ada. Hasilnya adalah sebagai berikut:
G – 1 – G = 26
G – 6 – G = 12
G – 7 – G = 32
Karena jarak yang dihasilkan minimum 12 dari alternatif kedua maka yang
dikunjungi dulu adalah toko 6 sehingga saat ini kita memiliki rute G – 6 – G.
Dengan cara yang sama kita mengevaluasi toko mana yang selanjutnya akan
G – 6 – 1 - G = 25,4
G – 6 – 7 - G = 30,8
Karena yang minimum adalah alternatif 1 dengan jarak 25,4 maka yang
dikunjungi setelah toko 6 adalah toko 1. Karena hanya tersisa satu toko maka
menambahkan toko yang jaraknya paling dekat denga toko yang kita kunjungi
terakhir. Di awal kita berangkat dari gudang sehingga kita mencari toko yang
jaraknya terdekat dari gudang. Di antara 3 toko, yang terdekat adalah toko 6
dengan jarak 6,4. Selanjutnya yang terdekat dengan toko 6 adalah toko 1 dengan
jarak 6,7. Terakhir kita mengunjungi toko 7 dan akhirnya kembali ke gudang.
Kebetulan kedua algoritma kita menghasilkan rute yang sama dengan jarak 32.
Tentu tidak selalu cara yang berbeda menghasilkan jarak yang sama. Dalam hal
ini kita bisa membandingkan beberapa algoritma yang berbeda kemudian memilih
berikut:
1. Memasukan rute yang sudah memiliki lokasi distribusi dari hasil perhitungan
Keterangan:
jl = jumlah rute
R = rute
Li = lokasi terpilih
1. Memasukan rute yang sudah memiliki lokasi distribusi dari hasil perhitungan
persamaan berikut:
For i = 1 to n
Keterangan:
i = jumlah lokasi
For i = 1 to n
Keterangan:
i = jumlah lokasi
dahulu. Untuk setiap customer yang belum termasuk dalam satu trip, temukan
kenaikan jarak tempuh paling besar jika customer ini dimasukkan dalam trip dari
seluruh titik yang potensial. Kemudian pilih kembali customer dengan kenaikan
jarak tempuh paling besar untuk membentuk trip selanjutnya. Proses ini
metode Farhtest Insert ini dapat menghasilkan rute kendaraan pada costumer
METODOLOGI PENELITIAN
Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 16 Mei
akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat suatu objek atau populasi tertentu.
(Sinulingga, 2014).
Objek penelitian yang diamati adalah rute distribusi bahan baku dari setiap
berikut:
Variabel ini menunjukkan jarak antara pabrik kelapa sawit dengan setiap
IV-1
kebun/supplier.
Variabel ini menunjukkan jarak antara satu kebun dengan kebun lainnya.
Variabel ini menunjukkan jumlah TBS yang dapat diangkut oleh alat
pabrik.
Variabel ini merupakan rute usulan yang merupakan hasil analisis terhadap
hubungan logis antara faktor / variabel yang telah diidentifikasi penting untuk
Jarak dari
Kebun/Afdeling
ke Pabrik
Jarak Antar
Kebun/Afdeling
Rute Distribusi
Optimal
Kapasitas Alat
Transportasi
Jumlah TBS
Dikirimkan
langsung di lapangan.
bagian penerimaan.
bagian tanaman.
5. Peta rute distribusi : diperoleh dari pihak perusahaan dan penggunaan aplikasi
google maps.
Mulai
Identifikasi matriks jarak antar kebun dan
pabrik
Selesai
yang diperoleh dari pengolahan data. Hasil rancangan rute usulan dibandingkan
dengan keadaan awal berdasarkan total jarak, biaya bahan bakar dan utilisasi alat
angkut.
Blok diagram prosedur dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.3.
MULAI
Pengumpulan Data
1. Data jumlah TBS
2. Jarak antar kebun/afdeling
3. Jarak antara kebun/afdeling dengan
pabrik
4. Kapasitas pengiriman
Pengolahan data
1. Mengidentifikasi matriks jarak
2. Mengidentifikasi matriks penghematan
3. Mengalokasikan tujuan ke kendaraan atau rute
4. Mengurutkan tujuan dalam rute :
a. Mengurutkan tujuan dengan metode nearest insert
b. Mengurutkan tujuan dengan metode nearest neighbor
c. Mengurutkan tujuan dengan metode farthest insert
d. Membandingkan hasil urutan rute dengan 3 metode
berbeda
SELESAI
penghematan jarak yang dihasilkan berdasarkan metode saving matrix. Peta lokasi
kebun/afdeling dan pabrik dapat dilihat pada Gambar 5.1 dan 5.2.
Perkebunan Nusantara IV unit kebun Pabatu dapat dilihat pada Tabel 5.1.
Perkebunan Nusantara IV unit kebun Pabatu dapat dilihat pada Tabel 5.2.
1 I 0 12 10 18 17 5 16 46 60 62 47 59 77 96
2 II 0 7 9 8 8 13 43 57 60 44 56 80 93
3 III 0 13 13 6 12 42 56 58 43 55 79 91
4 IV 0 4 14 19 49 63 66 50 62 78 99
5 V 0 13 19 48 62 65 49 61 74 98
6 VI 0 12 42 56 58 43 55 79 92
7 VII 0 34 48 50 35 47 71 84
8 AN 0 14 17 8 21 51 57
9 MJ 0 29 21 33 63 70
10 BB 0 18 30 61 67
11 MR 0 15 45 52
12 BM 0 31 39
13 BL 0 49
14 SK 0
Sumber: PTPN IV Unit Kebun Pabatu
Keterangan :
AN = Aek Nauli
MJ = Marjandi
MR = Marihat
BM = Balimbingan
BL = Bukit Lima
SK = Sei Kopas
atau data historis di PT. Perkebunan Nusantara IV unit kebun Pabatu. Data
historis yang diperoleh berdasarkan periode bulan Mei Tahun 2016 dapat dilihat
Tabel 5.3. Data Historis Hasil TBS Setiap Afdeling dalam Ton
1 I 551,1 17,78
2 II 527,63 17,02
4 IV 493,09 15,91
5 V 279,99 9,03
6 VI 332,3 10,72
Data hasil panen TBS kebun seinduk yang diperoleh berdasarkan periode
Tabel 5.4. Data Historis Hasil TBS Kebun Seinduk dalam Ton
dengan membentuk sub-sub rute yang dalam hal ini adalah menggabungkan dua
atau lebih titik penjemputan ke dalam satu rute. Langkah pertama yang dilakukan
dalam metode saving matrix adalah mengidentifikasi matriks jarak seperti yang
Kebun/
No. PKS I II III IV V VI VII AN MJ BB MR BM BL SK
Pabrik
1 PKS 0 3 11 10 17 16 4 16 45 59 62 46 58 76 95
2 I 0 12 10 18 17 5 16 46 60 62 47 59 77 96
3 II 0 7 9 8 8 13 43 57 60 44 56 80 93
4 III 0 13 13 6 12 42 56 58 43 55 79 91
5 IV 0 4 14 19 49 63 66 50 62 78 99
6 V 0 13 19 48 62 65 49 61 74 98
7 VI 0 12 42 56 58 43 55 79 92
8 VII 0 34 48 50 35 47 71 84
9 AN 0 14 17 8 21 51 57
10 MJ 0 29 21 33 63 70
11 BB 0 18 30 61 67
12 MR 0 15 45 52
13 BM 0 31 39
14 BL 0 49
15 SK 0
Sumber: PTPN IV Unit Kebun Pabatu
AN = Aek Nauli
MJ = Marjandi
MR = Marihat
BM = Balimbingan
BL = Bukit Lima
SK = Sei Kopas
Dimana:
berikut.
= 3 + 11 – 12
=2
= 3 + 10 – 10
=3
= 3 + 17 – 18
=2
= 3 + 16 – 17
=2
=3+4–5
=2
Tabel 5.6.
Afdeling/
No. I II III IV V VI VII AN MJ BB MR BM BL SK
Kebun
1 I 0 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2
2 II 0 14 19 19 7 14 13 13 13 13 13 7 13
3 III 0 14 13 8 14 13 13 14 13 13 7 14
4 IV 0 29 7 14 13 13 13 13 13 15 13
5 V 0 7 13 13 13 13 13 13 18 13
6 VI 0 8 7 7 8 7 7 1 7
7 VII 0 27 27 28 27 27 21 27
8 AN 0 90 90 83 82 70 83
9 MJ 0 92 84 84 72 84
10 BB 0 90 90 77 90
11 MR 0 89 77 89
12 BM 0 103 114
13 BL 0 122
14 SK 0
Sumber: PTPN IV Unit Kebun Pabatu
terpisah dimana setiap kebun dan afdeling dikunjungi satu truk secara eksklusif.
Afdeling/ Afdeling/Kebun
No. Rute
Kebun I II III IV V VI VII AN MJ BB MR BM BL SK
1 I Rute 1 0 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2
2 II Rute 2 0 14 19 19 7 14 13 13 13 13 13 13 7
3 III Rute 3 0 14 13 8 14 13 13 14 13 14 13 7
4 IV Rute 4 0 29 7 14 13 13 13 13 13 13 15
5 V Rute 5 0 7 13 13 13 13 13 13 13 18
6 VI Rute 6 0 8 7 7 8 7 7 7 1
7 VII Rute 7 0 27 27 28 27 27 27 21
8 AN Rute 8 0 90 90 83 83 82 70
9 MJ Rute 9 0 92 84 84 84 72
10 BB Rute 10 0 90 90 90 77
11 MR Rute 11 0 89 89 77
12 BM Rute 12 114 0 103
13 BL Rute 13 122 0
14 SK Rute 14 0
Jumlah TBS 17,78 17,02 16,65 15,91 9,03 10,72 11,78 9,36 10,7 6,01 5,85 4,88 3,18 7,06
Sumber: PTPN IV Unit Kebun Pabatu
atau rute. Di awal dialokasikan tiap afdeling dan kebun ke rute yang berbeda. Jadi, rute
awal ada sebanyak 14 rute. Namun afdeling atau kebun tersebut bisa digabungkan
berupaya memaksimumkan penghematan. Jadi, dimulai dari angka 122 yang merupakan
penghematan terbesar dari penggabungan antara kebun BL dan kebun SK. Jumlah
beban masing-masing adalah 3,18 dan 7,06 ton sehingga penggabungannya layak
dilakukan karena lebih kecil dari kapasitas truk. Rute untuk kebun SK digabung dengan
kebun BL menjadi rute 13. Total beban untuk rute 13 menjadi 3,18 + 7,06 = 10,24 ton.
Afdeling/ Afdeling/Kebun
No. Rute
Kebun I II III IV V VI VII AN MJ BB MR BM BL SK
1 I Rute 1 0 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 22
2 II Rute 2 0 14 19 19 7 14 13 13 13 13 13 137
3 III Rute 3 0 14 13 8 14 13 13 14 13 13 147
4 IV Rute 4 0 29 7 14 13 13 13 13 13 15
13
5 V Rute 5 0 7 13 13 13 13 13 13 18
13
6 VI Rute 6 0 8 7 7 8 7 7 71
7 VII Rute 7 0 27 27 28 27 27 21
27
8 AN Rute 8 0 90 90 83 82 70
83
9 MJ Rute 9 0 92 84 84 72
84
10 BB Rute 10 0 90 90 77
90
11 MR Rute 11 0 89 77
89
12 BM Rute 12 0 103
114
13 BL Rute 13 1220
14 SK Rute 13 0
Jumlah TBS 17,78 17,02 16,65 15,91 9,03 10,72 11,78 9,36 10,7 6,01 5,85 4,88 3,18 7,06
Sumber: Pengolahan Data
yang merupakan penghematan dari penggabungan antara kebun BM dan kebun SK.
Kebun SK sudah bergabung dengan rute 13 dengan total beban 10,24 ton. Jumlah beban
untuk kebun BM adalah 4,88 ton sehingga penggabungannya layak dilakukan karena
jumlah beban lebih kecil dari kapasitas truk. Rute untuk kebun BM digabung dengan
kebun BL dan SK menjadi rute 12. Total beban untuk rute 12 menjadi 3,18 + 7,06 +
Afdeling/ Afdeling/Kebun
No. Rute
Kebun I II III IV V VI VII AN MJ BB MR BM BL SK
1 I Rute 1 0 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 22
2 II Rute 2 0 14 19 19 7 14 13 13 13 13 13 137
3 III Rute 3 0 14 13 8 14 13 13 14 13 13 147
4 IV Rute 4 0 29 7 14 13 13 13 13 13 15
13
5 V Rute 5 0 7 13 13 13 13 13 13 18
13
6 VI Rute 6 0 8 7 7 8 7 7 71
7 VII Rute 7 0 27 27 28 27 27 21
27
8 AN Rute 8 0 90 90 83 82 70
83
9 MJ Rute 9 0 92 84 84 72
84
10 BB Rute 10 0 90 90 77
90
11 MR Rute 11 0 89 77
89
12 BM Rute 12 0 103
114
13 BL Rute 12 1220
14 SK Rute 12 0
Jumlah TBS 17,78 17,02 16,65 15,91 9,03 10,72 11,78 9,36 10,7 6,01 5,85 4,88 3,18 7,06
Sumber: Pengolahan Data
yang merupakan penghematan dari penggabungan antara kebun BM dan kebun BL.
Penggabungan untuk kedua kebun ini sudah dilakukan sebelumnya untuk rute 12
yang merupakan penghematan dari penggabungan antara kebun MJ dan kebun BB.
Jumlah beban masing-masing adalah 10,7 dan 6,01 ton sehingga penggabungannya
layak dilakukan karena lebih kecil dari kapasitas truk. Rute untuk kebun MJ digabung
dengan kebun BB menjadi rute 9. Total beban untuk rute 9 menjadi 10,7 + 6,01 = 16,71
ton.
Afdeling/ Afdeling/Kebun
No. Rute
Kebun I II III IV V VI VII AN MJ BB MR BM BL SK
1 I Rute 1 0 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2
2 II Rute 2 0 14 19 19 7 14 13 13 13 13 13 13 7
3 III Rute 3 0 14 13 8 14 13 13 14 13 13 14 7
4 IV Rute 4 0 29 7 14 13 13 13 13 13 1315
5 V Rute 5 0 7 13 13 13 13 13 13 1318
6 VI Rute 6 0 8 7 7 8 7 7 7 1
7 VII Rute 7 0 27 27 28 27 27 2721
8 AN Rute 8 0 90 90 83 82 8370
9 MJ Rute 9 0 92 84 84 8472
10 BB Rute 9 0 90 90 9077
11 MR Rute 11 0 89 8977
12 BM Rute 12 0 103
114
13 BL Rute 12 122 0
14 SK Rute 12 0
Jumlah TBS 17,78 17,02 16,65 15,91 9,03 10,72 11,78 9,36 10,7 6,01 5,85 4,88 3,18 7,06
Sumber: Pengolahan Data
yang merupakan penghematan dari penggabungan antara kebun BB dan SK, BB dan
BM, BB dan MR, BB dan AN, MJ dan AN. Penggabungan untuk kebun BB, SK, MJ
dan BM ini sudah dilakukan sebelumnya sehingga tidak terjadi penggabungan lagi.
dan SK. Kebun BM dan SK sudah digabungkan sebelumnya ke rute 12 dengan total
beban 15,12 ton. Total beban untuk kebun MR jika digabungkan dengan rute 12 adalah
5,85 + 15,12 = 20,97 ton sehingga penggabungannya layak dilakukan karena lebih kecil
dari kapasitas truk. Maka rute 12 digabungkan dengan kebun MR menjadi rute 11.
Afdeling/ Afdeling/Kebun
No. Rute
Kebun I II III IV V VI VII AN MJ BB MR BM BL SK
1 I Rute 1 0 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2
2 II Rute 2 0 14 19 19 7 14 13 13 13 13 13 13 7
3 III Rute 3 0 14 13 8 14 13 13 14 13 13 14 7
4 IV Rute 4 0 29 7 14 13 13 13 13 13 1315
5 V Rute 5 0 7 13 13 13 13 13 13 1318
6 VI Rute 6 0 8 7 7 8 7 7 7 1
7 VII Rute 7 0 27 27 28 27 27 2721
8 AN Rute 8 0 90 90 83 82 8370
9 MJ Rute 9 0 92 84 84 8472
10 BB Rute 9 0 90 90 9077
11 MR Rute 11 0 89 8977
12 BM Rute 11 0 103
114
13 BL Rute 11 122 0
14 SK Rute 11 0
Jumlah TBS 17,78 17,02 16,65 15,91 9,03 10,72 11,78 9,36 10,7 6,01 5,85 4,88 3,18 7,06
Sumber: Pengolahan Data
penggabungan antara kebun MJ dan MR, MJ dan BM, MJ dan SK. Penggabungan
untuk kebun MJ, MR, BM dan SK ini sudah dilakukan sebelumnya sehingga tidak
penggabungan antara kebun AN dan MR, AN dan SK, serta AN dan BM. Kebun MR,
BM dan SK merupakan bagian rute 11 dengan total beban 20,97. Jika kebun AN
digabungkan dengan rute 11 maka total beban menjadi 20,97 + 9,36 = 30,33 ton
sehingga penggabungannya tidak layak dilakukan karena lebih besar dari kapasitas truk.
penggabungan antara kebun BL dan MJ, BL dan BB, serta BL dan MR. Penggabungan
untuk kebun BL, MJ, BB dan MR ini sudah dilakukan sebelumnya sehingga tidak
bagian rute 11 sehingga penggabungannya tidak layak dilakukan karena lebih besar dari
kapasitas truk.
dan 9,03 ton sehingga penggabungannya layak dilakukan karena lebih kecil dari
kapasitas truk. Rute untuk afdeling IV digabung dengan afdeling V menjadi rute 4.
Afdeling/ Afdeling/Kebun
No. Rute
Kebun I II III IV V VI VII AN MJ BB MR BM BL SK
1 I Rute 1 0 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2
2 II Rute 2 0 14 19 19 7 14 13 13 13 13 13 13 7
3 III Rute 3 0 14 13 8 14 13 13 14 13 13 14 7
4 IV Rute 4 0 29 7 14 13 13 13 13 13 1315
5 V Rute 4 0 7 13 13 13 13 13 13 1318
6 VI Rute 6 0 8 7 7 8 7 7 7 1
7 VII Rute 7 0 27 27 28 27 27 2721
8 AN Rute 8 0 90 90 83 82 8370
9 MJ Rute 9 0 92 84 84 8472
10 BB Rute 9 0 90 90 9077
11 MR Rute 11 0 89 8977
12 BM Rute 11 0 103
114
13 BL Rute 11 122 0
14 SK Rute 11 0
Jumlah TBS 17,78 17,02 16,65 15,91 9,03 10,72 11,78 9,36 10,7 6,01 5,85 4,88 3,18 7,06
Sumber: Pengolahan Data
penggabungan antara afdeling VII dan kebun BB. Kebun BB merupakan bagian rute 9
dengan total beban 16,71 ton. Total beban untuk afdeling VII jika digabungkan dengan
rute 9 adalah 11,78 + 16,71 = 28,49 ton sehingga penggabungannya layak dilakukan
karena lebih kecil dari kapasitas truk. Maka rute 9 digabungkan dengan afdeling VII
menjadi rute 7.
Afdeling/ Afdeling/Kebun
No. Rute
Kebun I II III IV V VI VII AN MJ BB MR BM BL SK
1 I Rute 1 0 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2
2 II Rute 2 0 14 19 19 7 14 13 13 13 13 13 13 7
3 III Rute 3 0 14 13 8 14 13 13 14 13 13 14 7
4 IV Rute 4 0 29 7 14 13 13 13 13 13 1315
5 V Rute 4 0 7 13 13 13 13 13 13 1318
6 VI Rute 6 0 8 7 7 8 7 7 7 1
7 VII Rute 7 0 27 27 28 27 27 2721
8 AN Rute 8 0 90 90 83 82 8370
9 MJ Rute 7 0 92 84 84 8472
10 BB Rute 7 0 90 90 9077
11 MR Rute 11 0 89 8977
12 BM Rute 11 0 103
114
13 BL Rute 11 122 0
14 SK Rute 11 0
Jumlah TBS 17,78 17,02 16,65 15,91 9,03 10,72 11,78 9,36 10,7 6,01 5,85 4,88 3,18 7,06
Sumber: Pengolahan Data
AN, MJ, MR, BM, BL, SK dan afdeling VII. Penggabungan untuk hal ini sudah
bagian rute 4 dengan total beban 24,94. Jika afdeling II digabungkan dengan rute 4
maka total beban menjadi 24,94 + 17,02 = 41,96 ton sehingga penggabungannya tidak
Afdeling/ Afdeling/Kebun
No. Rute
Kebun I II III IV V VI VII AN MJ BB MR BM BL SK
1 I Rute 1 0 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2
2 II Rute 2 0 14 19 19 7 14 13 13 13 13 13 13 7
3 III Rute 3 0 14 13 8 14 13 13 14 13 13 14 7
4 IV Rute 4 0 29 7 14 13 13 13 13 13 1315
5 V Rute 4 0 7 13 13 13 13 13 13 1318
6 VI Rute 6 0 8 7 7 8 7 7 7 1
7 VII Rute 7 0 27 27 28 27 27 2721
8 AN Rute 8 0 90 90 83 82 8370
9 MJ Rute 7 0 92 84 84 8472
10 BB Rute 7 0 90 90 9077
11 MR Rute 11 0 89 8977
12 BM Rute 11 0 103
114
13 BL Rute 11 122 0
14 SK Rute 11 0
Jumlah TBS 17,78 17,02 16,65 15,91 9,03 10,72 11,78 9,36 10,7 6,01 5,85 4,88 3,18 7,06
Sumber: Pengolahan Data
1. Penggabungan afdeling II dan III. Jika kedua afdeling ini digabungkan maka total
beban menjadi 17,02 + 16,65 = 33,67 sehingga penggabungan tidak layak karena
2. Penggabungan afdeling II dan VII. Afdeling VII termasuk ke dalam rute 7 dengan
total beban 28,49. Jika afdeling II dimasukkan ke rute 7 maka total beban menjadi
28,49 + 17,02 = 45,51 sehingga penggabungan tidak layak karena melebihi kapasitas
truk
3. Penggabungan afdeling III dan IV. Afdeling IV termasuk ke dalam rute 4 dengan
total beban 24,94. Jika afdeling III dimasukkan ke rute 4 maka total beban menjadi
24,94 + 16,65 = 41,56 sehingga penggabungan tidak layak karena melebihi kapasitas
truk
4. Penggabungan afdeling III dan VII. Afdeling VII termasuk ke dalam rute 7 dengan
total beban 28,49. Jika afdeling III dimasukkan ke rute 7 maka total beban menjadi
28,49 + 16,65 = 45,04 sehingga penggabungan tidak layak karena melebihi kapasitas
truk
5. Penggabungan afdeling III dan kebun BB. Kebun BB termasuk ke dalam rute 7
dengan total beban 28,49. Jika afdeling III dimasukkan ke rute 7 maka total beban
menjadi 28,49 + 16,65 = 45,04 sehingga penggabungan tidak layak karena melebihi
kapasitas truk
6. Penggabungan afdeling III dan kebun SK. Kebun SK termasuk ke dalam rute 11
dengan total beban 20,97. Jika afdeling III dimasukkan ke rute 11 maka total beban
kapasitas truk
7. Penggabungan afdeling IV dan VII. Penggabungan untuk hal ini sudah dilakukan
Afdeling/ Afdeling/Kebun
No. Rute
Kebun I II III IV V VI VII AN MJ BB MR BM BL SK
1 I Rute 1 0 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2
2 II Rute 2 0 14 19 19 7 14 13 13 13 13 13 13 7
3 III Rute 3 0 14 13 8 14 13 13 14 13 13 14 7
4 IV Rute 4 0 29 7 14 13 13 13 13 13 1315
5 V Rute 4 0 7 13 13 13 13 13 13 1318
6 VI Rute 6 0 8 7 7 8 7 7 7 1
7 VII Rute 7 0 27 27 28 27 27 2721
8 AN Rute 8 0 90 90 83 82 8370
9 MJ Rute 7 0 92 84 84 8472
10 BB Rute 7 0 90 90 9077
11 MR Rute 11 0 89 8977
12 BM Rute 11 0 103
114
13 BL Rute 11 122 0
14 SK Rute 11 0
Jumlah TBS 17,78 17,02 16,65 15,91 9,03 10,72 11,78 9,36 10,7 6,01 5,85 4,88 3,18 7,06
Sumber: Pengolahan Data
menjadi 17,02 + 9,36 = 26,38 sehingga penggabungan layak karena tidak melebihi
2. Penggabungan afdeling II dan kebun MJ. Penggabungan untuk hal ini sudah
3. Penggabungan afdeling II dan kebun BB. Penggabungan untuk hal ini sudah
4. Penggabungan afdeling II dan kebun MR. Penggabungan untuk hal ini sudah
5. Penggabungan afdeling II dan kebun BM. Penggabungan untuk hal ini sudah
6. Penggabungan afdeling II dan kebun SK. Penggabungan untuk hal ini sudah
7. Penggabungan afdeling III dan V. Afdeling V termasuk ke dalam rute 4 dengan total
beban 24,94. Jika afdeling III dimasukkan ke rute 4 maka total beban menjadi 24,94
+ 16,65 = 40,59 sehingga penggabungan tidak layak karena melebihi kapasitas truk
8. Penggabungan afdeling III dan kebun AN. Kebun AN termasuk ke dalam rute 2
dengan total beban 26,38. Jika afdeling III dimasukkan ke rute 2 maka total beban
menjadi 26,38 + 16,65 = 43,03 sehingga penggabungan tidak layak karena melebihi
kapasitas truk
9. Penggabungan afdeling III dan kebun MJ. Kebun MJ termasuk ke dalam rute 7
dengan total beban 28,49. Jika afdeling III dimasukkan ke rute 7 maka total beban
kapasitas truk
10. Penggabungan afdeling III dan kebun MR dan BM. Kebun MR dan BM termasuk ke
dalam rute 11 dengan total beban 20,97. Jika afdeling III dimasukkan ke rute 11
maka total beban menjadi 20,97 + 16,65 = 37,62 sehingga penggabungan tidak layak
11. Penggabungan afdeling IV dengan kebun AN, MJ, BB, MR, BM, dan SK.
Penggabungan untuk hal ini sudah dilakukan sebelumnya sehingga tidak terjadi
penggabungan lagi.
12. Penggabungan afdeling V dengan afdeling VII, kebun AN, MJ, BB, MR, BM, dan
SK. Penggabungan untuk hal ini sudah dilakukan sebelumnya sehingga tidak terjadi
penggabungan lagi.
Afdeling/ Afdeling/Kebun
No. Rute
Kebun I II III IV V VI VII AN MJ BB MR BM BL SK
1 I Rute 1 0 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2
2 II Rute 2 0 14 19 19 7 14 13 13 13 13 13 13 7
3 III Rute 3 0 14 13 8 14 13 13 14 13 13 14 7
4 IV Rute 4 0 29 7 14 13 13 13 13 13 1315
5 V Rute 4 0 7 13 13 13 13 13 13 1318
6 VI Rute 6 0 8 7 7 8 7 7 7 1
7 VII Rute 7 0 27 27 28 27 27 2721
8 AN Rute 2 0 90 90 83 82 8370
9 MJ Rute 7 0 92 84 84 8472
10 BB Rute 7 0 90 90 9077
11 MR Rute 11 0 89 8977
12 BM Rute 11 0 103
114
13 BL Rute 11 122 0
14 SK Rute 11 0
Jumlah TBS 17,78 17,02 16,65 15,91 9,03 10,72 11,78 9,36 10,7 6,01 5,85 4,88 3,18 7,06
Sumber: Pengolahan Data
1. Penggabungan afdeling III dan afdeling VI. Jumlah beban masing-masing adalah
16,65 dan 10,72 ton sehingga penggabungannya layak dilakukan karena lebih kecil
dari kapasitas truk. Rute untuk afdeling VI digabung dengan afdeling III menjadi rute
2. Penggabungan afdeling VI dan afdeling VII. Penggabungan untuk hal ini sudah
3. Penggabungan afdeling VII dan kebun BB. Penggabungan untuk hal ini sudah
Afdeling/ Afdeling/Kebun
No. Rute
Kebun I II III IV V VI VII AN MJ BB MR BM BL SK
1 I Rute 1 0 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2
2 II Rute 2 0 14 19 19 7 14 13 13 13 13 13 13 7
3 III Rute 3 0 14 13 8 14 13 13 14 13 13 14 7
4 IV Rute 4 0 29 7 14 13 13 13 13 13 1315
5 V Rute 4 0 7 13 13 13 13 13 13 1318
6 VI Rute 3 0 8 7 7 8 7 7 7 1
7 VII Rute 7 0 27 27 28 27 27 2721
8 AN Rute 2 0 90 90 83 82 8370
9 MJ Rute 7 0 92 84 84 8472
10 BB Rute 7 0 90 90 9077
11 MR Rute 11 0 89 8977
12 BM Rute 11 0 103
114
13 BL Rute 11 122 0
14 SK Rute 11 0
Jumlah TBS 17,78 17,02 16,65 15,91 9,03 10,72 11,78 9,36 10,7 6,01 5,85 4,88 3,18 7,06
Sumber: Pengolahan Data
sudah tidak bisa ditambah ataupun digabungkan. Afdeling/kebun yang belum tergabung
ke dalam rute lain adalah afdeling I dikarenakan setiap rute akan melebihi kapasitas
maksimum jika digabungkan dengan afdeling I. Sehingga ada 6 rute yang dihasilkan
dari langkah penggabungan berdasarkan saving matrix. Hasil akhir pembagian rute
urutan kebun/afdeling yang harus dikunjungi dalam satu rute. Dalam mengurutkannya,
digunakan tiga metode yaitu metode nearest insert, metode nearest neighbour, dan
menghasilkan tambahan jarak yang minimum kalau dimasukkan ke dalam rute yang
sudah ada. Pada awalnya rute yang ada memiliki perjalanan dari pabrik ke pabrik
dengan jarak nol. Selanjutnya dilihat berapa jarak yang terjadi dengan masing-masing
afdeling/kebun ke rute yang sudah ada. Perhitungan untuk setiap rute adalah sebagai
berikut.
afdeling/kebun.
Jarak antara kebun/afdeling dengan pabrik untuk rute 2 dapat dilihat pada Tabel
5.19.
Pabrik (P) 0 11 45
Afdeling II 0 43
Kebun AN 0
Jarak P – II – P = 11 + 11 = 22 km
Jarak P – AN – P = 45 + 45 = 90 km
Karena jarak yang paling minimum adalah 22 dari kedua alternatif, maka yang
dikunjungi terlebih dulu adalah afdeling II sehingga rute yang dihasilkan untuk rute
2 adalah P – II – AN – P.
Jarak antara kebun/afdeling dengan pabrik untuk rute 3 dapat dilihat pada Tabel
5.20.
Jarak P – VI – P = 4 + 4 = 8 km
Karena jarak yang paling minimum adalah 8 dari kedua alternatif, maka yang
dikunjungi terlebih dulu adalah afdeling VI sehingga rute yang dihasilkan untuk
Jarak antara kebun/afdeling dengan pabrik untuk rute 4 dapat dilihat pada Tabel
5.21.
Pabrik (P) 0 17 16
Afdeling IV 0 4
Afdeling V 0
Jarak P – IV – P = 17 + 17 = 34 km
Jarak P – V – P = 16 + 16 = 32 km
Karena jarak yang paling minimum adalah 32 dari kedua alternatif, maka yang
dikunjungi terlebih dulu adalah afdeling V sehingga rute yang dihasilkan untuk rute
3 adalah P – V – IV – P.
Jarak antara kebun/afdeling dengan pabrik untuk rute 5 dapat dilihat pada Tabel
5.22.
Pabrik (P) 0 16 59 62
Afdeling VII 0 48 50
Kebun MJ 0 29
Kebun BB 0
Jarak P – VII – P = 16 + 16 = 32
Jarak P – MJ – P = 59 + 59 = 118 km
Jarak P – BB – P = 62 + 62 = 124 km
Karena jarak yang paling minimum adalah 32 dari ketiga alternatif, maka yang
dikunjungi terlebih dulu adalah afdeling VII. Dengan cara yang sama kita
mengevaluasi kebun selanjutnya yang akan dikunjungi. Dari dua alternatif diperoleh
sebagai berikut:
setelah afdeling VII adalah kebun MJ. Urutan rute yang terbentuk untuk rute 5
adalah P – VII – MJ – BB – P.
Jarak antara kebun/afdeling dengan pabrik untuk rute 6 dapat dilihat pada Tabel
5.23.
Pabrik (P) 0 46 58 76 95
Kebun MR 0 15 45 52
Kebun BM 0 31 39
Kebun BL 0 49
Kebun SK 0
Jarak P – MR – P = 46 + 46 = 92 km
Jarak P – BM – P = 58 + 58 = 116 km
Jarak P – BL – P = 76 + 76 = 152 km
Jarak P – SK – P = 95 + 95 = 190 km
Karena jarak yang paling minimum adalah 92 dari keempat alternatif, maka yang
dikunjungi terlebih dulu adalah kebun MR. Dengan cara yang sama kita
sebagai berikut:
Jarak P – MR – BM – P = 46 + 15 + 58 = 119 km
Jarak P – MR – BL – P = 46 + 45 + 76 = 167 km
Jarak P – MR – SK – P = 46 + 52 + 95 = 193 km
Karena yang minimum adalah alternatif 1 dengan jarak 119, maka yang dikunjungi
setelah kebun MR adalah kebun BM. Dengan cara yang sama kita mengevaluasi
kebun selanjutnya yang akan dikunjungi. Dari dua alternatif diperoleh sebagai
berikut:
Jarak P – MR – BM – BL – P = 46 + 15 + 31 + 76 = 168 km
Jarak P – MR – BM – SK – P = 46 + 15 + 39 + 95 = 195 km
Karena yang minimum adalah alternatif 1 dengan jarak 168, maka yang dikunjungi
setelah kebun BM adalah kebun BL. Urutan rute yang terbentuk untuk rute 6 adalah
P – MR – BM – BL – SK – P.
kebun/afdeling yang jaraknya paling dekat dengan kebun/afdeling yang kita kunjungi
terakhir. Kita memulai dari pabrik sehingga kita mencari kebun/afdeling yang jaraknya
afdeling/kebun.
Di antara 2 afdeling, yang terdekat dengan pabrik adalah afdeling VI dengan jarak
Di antara 2 afdeling, yang terdekat dengan pabrik adalah afdeling V dengan jarak
dengan jarak 16. Selanjutnya yang terdekat dengan afdeling VII adalah kebun MJ
dengan jarak 48. Sehingga yang terakhir dikunjungi adalah Kebun BB. Urutan yang
Di antara 4 kebun, yang terdekat dengan pabrik adalah kebun MR dengan jarak 46.
Selanjutnya yang terdekat dengan kebun MR adalah kebun BM dengan jarak 15.
Kemudian yang terdekat dengan kebun BM adalah kebun BL dengan jarak 31.
memberikan perjalanan paling jauh pada rute. Pada awalnya kita hanya memiliki
perjalanan dari pabrik ke pabrik dengan jarak nol. Selanjutnya kita akan lihat berapa
jarak yang terjadi dengan masing-masing afdeling/kebun ke rute yang sudah ada.
afdeling/kebun.
Jarak P – II – P = 11 + 11 = 22 km
Jarak P – AN – P = 45 + 45 = 90 km
Karena jarak yang paling jauh adalah 90 dari kedua alternatif, maka yang
dikunjungi terlebih dulu adalah kebun AN sehingga rute yang dihasilkan untuk rute
2 adalah P – AN – II – P.
Jarak P – III – P = 10 + 10 = 20 km
Jarak P – VI – P = 4 + 4 = 8 km
dikunjungi terlebih dulu adalah afdeling III sehingga rute yang dihasilkan untuk
Jarak P – IV – P = 17 + 17 = 34 km
Jarak P – V – P = 16 + 16 = 32 km
Karena jarak yang paling jauh adalah 34 dari kedua alternatif, maka yang
dikunjungi terlebih dulu adalah afdeling IV sehingga rute yang dihasilkan untuk
rute 3 adalah P – IV – V – P.
Jarak P – VII – P = 16 + 16 = 32 km
Jarak P – MJ – P = 59 + 59 = 118 km
Jarak P – BB – P = 62 + 62 = 124 km
Karena jarak yang paling jauh adalah 124 dari ketiga alternatif, maka yang
dikunjungi terlebih dulu adalah kebun BB. Dengan cara yang sama kita
mengevaluasi kebun selanjutnya yang akan dikunjungi. Dari dua alternatif diperoleh
sebagai berikut:
Jarak P – BB – MJ - P = 62 + 29 + 59 = 150 km
Karena jarak yang paling jauh adalah alternatif 1 dengan jarak 150, maka yang
dikunjungi setelah kebun BB adalah kebun MJ. Urutan rute yang terbentuk untuk
Jarak P – MR – P = 46 + 46 = 92 km
Jarak P – BM – P = 58 + 58 = 116 km
Jarak P – BL – P = 76 + 76 = 152 km
Jarak P – SK – P = 95 + 95 = 190 km
Karena jarak yang paling jauh adalah 190 dari keempat alternatif, maka yang
dikunjungi terlebih dulu adalah kebun SK. Dengan cara yang sama kita
mengevaluasi kebun selanjutnya yang akan dikunjungi. Dari tiga alternatif diperoleh
sebagai berikut:
Jarak P – SK – BM – P = 95 + 39 + 58 = 192 km
Jarak P – SK – BL – P = 95 + 49 + 76 = 220 km
Jarak P – SK – MR – P = 95 + 52 + 46 = 193 km
Karena jarak yang paling jauh adalah alternatif 2 dengan jarak 220, maka yang
dikunjungi setelah kebun SK adalah kebun BL. Dengan cara yang sama kita
mengevaluasi kebun selanjutnya yang akan dikunjungi. Dari dua alternatif diperoleh
sebagai berikut:
Jarak P – SK – BL – BM – P = 95 + 49 + 31 + 58 = 233 km
Jarak P – SK – BL – MR – P = 95 + 49 + 45 + 46 = 235 km
Karena jarak yang paling jauh adalah alternatif 2 dengan jarak 235, maka yang
dikunjungi setelah kebun BL adalah kebun MR. Urutan rute yang terbentuk untuk
rute 6 adalah P – SK – BL – MR – BM – P.
terbaik yaitu dengan memilih metode yang menghasilkan jarak terpendek. Perbandingan
1 P–I–P 6
2 P – II – AN – P 99
3 P – VI – III – P 20
4 P – V – IV – P 37
5 P – VII – MJ – BB – P 155
6 P – MR – BM – BL – SK – P 236
Perhitungan utilisasi alat angkut pengiriman setiap rute adalah sebagai berikut.
jumlah beban
Utilisasi = x 100 %
kapasitas alat angkut
17,78
Utilisasi Rute 1 = x 100 % = 59,27 %
30
26,38
Utilisasi Rute 2 = x 100 % = 87,93 %
30
27,37
Utilisasi Rute 3 = x 100 % = 91,23 %
30
24,94
Utilisasi Rute 4 = x 100 % = 83,13 %
30
20,97
Utilisasi Rute 6 = x 100 % = 69,90 %
30
Perbandingan jarak tempuh hasil rancangan rute awal dan usulan dapat dilihat
No.
Rute yang Dilalui Total Jarak (km)
Rute
1. Pabrik - Afdeling I - Pabrik 3+3=6
2. Pabrik - Afdeling II - Pabrik 11+11=22
3. Pabrik - Afdeling III - Pabrik 10+10=20
4. Pabrik - Afdeling IV - Pabrik 17+17=34
5. Pabrik - Afdeling V - Pabrik 16+16=32
6. Pabrik - Afdeling VI - Pabrik 4+4=8
7. Pabrik - Afdeling VII - Pabrik 16+16=32
8. Pabrik - Kebun Aek Nauli- Pabrik 45+45=90
9. Pabrik - Kebun Marjandi- Pabrik 59+59=118
10. Pabrik - Kebun Bah Birong Ulu- Pabrik 62+62=124
11. Pabrik - Kebun Marihat- Pabrik 46+46=92
12. Pabrik - Kebun Balimbingan- Pabrik 58+58=116
13. Pabrik - Kebun Bukit Lima- Pabrik 76+76=152
14. Pabrik - Kebun Sei Kopas- Pabrik 95+95=190
Total 1036
Sumber: Pengolahan Data
No.
Rute yang Dilalui Total Jarak (km)
Rute
1. P–I–P 3+3=6
2. P – II – AN – P 11+43+45=99
3. P – VI – III – P 4+6+10=20
4. P – V – IV – P 16+4+17=37
5. P – VII – MJ – BB – P 16+48+29+62=155
6. P – MR – BM – BL – SK – P 46+15+31+49+95=236
Total 553
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa terdapat penghematan jarak dari
rute awal menjadi rute usulan. Besar penghematan jarak untuk rute usulan adalah :
1036-553
= x 100 % = 46,62%
1036
1036
= x 5150
4
= Rp 1.333.850
Perhitungan biaya bahan bakar untuk rute usulan adalah sebagai berikut.
553
= x 5150
4
= Rp 711.987,5
Rute 5 : Pabrik → Afdeling VII → Kebun Marjandi → Kebun Bah Birong Ulu →
Pabrik
dalam satu rute dimulai dari nilai penghematan jarak terbesar, namun dengan
jika total beban yang digabungkan lebih kecil dari kapasitas alat angkut yaitu
sebesar 30 ton.
VI-1
Universitas Sumatera Utara
VI-2
Rekapitulasi nilai utilisasi alat angkut untuk setiap rute berdasarkan beban
yang diangkut untuk rute aktual dapat diliat pada Tabel 6.1.
1. 17,78 30 59,27
2. 17,02 30 56,73
3. 16,65 30 55,50
4. 15,91 30 53,03
5. 9,03 30 30,10
6. 10,72 30 35,73
7. 11,78 30 39,27
8. 9,36 30 31,20
9. 10,7 30 35,67
10. 6,01 30 20,03
11. 5,85 30 19,50
12. 4,88 30 16,27
13. 3,18 30 10,60
14. 7,06 30 23,53
Rata-rata 10,42 30 34,75
Sumber: Pengolahan Data
Rekapitulasi nilai utilisasi alat angkut untuk setiap rute berdasarkan beban
yang diangkut untuk rute usulan dapat diliat pada Tabel 6.2.
1. 17,78 30 59,27
2. 26,38 30 87,93
3. 27,37 30 91,23
4. 24,94 30 83,13
5. 28,49 30 94,97
6. 20,97 30 69,90
Nilai utilitas alat angkut rata-rata dari 6 rute usulan adalah sebesar 81,70%,
meningkat dari rute aktual dengan rata-rata 34,75%. Hal ini menunjukkan bahwa
penggunaan alat angkut untuk rute usulan sudah cukup efisien karena sudah
Perbandingan rute awal dan usulan berdasarkan jumlah rute, total jarak
Jumlah Rute 14 6
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa rute usulan hanya memiliki
6 rute karena terjadi penggabungan antara beberapa kebun ke dalam satu rute.
Rute yang hanya terdapat satu kebun di dalamnya adalah rute 1 dikarenakan total
beban yang cukup besar dan nilai penghematan jarak yang lebih kecil sehingga
penghematan jarak dari rute awal yaitu dari 1036 km menjadi 553 km. Besar
1036-553
Penghematan jarak = x 100 = 46,62%
1036
antara rute awal dan rute usulan. Rute usulan memiliki biaya bahan bakar yang
yang ditempuh dalam proses pendistribusian bahan baku juga lebih pendek.
7.1. Kesimpulan
1. Rute distribusi awal terdiri atas 14 rute tanpa penggabungan dengan total
2. Utilitas alat angkut rute aktual memiliki nilai rata-rata yang rendah yaitu
menjadi Rp 711.987,5.
7.2. Saran
pendistribusian bahan baku agar perbandingan rute awal dan usulan lebih
akurat.
VII-1
Universitas Sumatera Utara
BAB II
Indonesia pada tahun 1957 dengan luas areal keseluruhan saat itu 6.173,53 hektar.
Tanggal 26 Juni 1976, memberikan Hak Guna Usaha kepada PNP-VI atas areal
seluas 5.770,07 hektar yang terdiri atas pemeriksaan yang dilakukan oleh panitia
B yang menetapkan bahwa areal tersebut bebas dari penduduk rakyat. Pada tahun
pengolahan CPO (Crude Palm Oil) dan pabrik pengolahan minyak inti sawit
(Palm Kernel Oil) yang terletak saling berdekatan sehingga memudahkan proses
transportasi bahan baku. Bahan baku berupa tandan buah segar kelapa sawit
(TBS) diperoleh dari hasil perkebunan sendiri dan hasil perkebunan masyarakat
II-1
perusahaan yang bergerak dalam bidang pengolahan kelapa sawit menjadi CPO
(Crued Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil). CPO dan PKO tersebut akan dijual
kepada perusahaan yang membutuhkan seperti PT. Musim Mas, PT. SAN – Belawan
dan PT. Pacific Palmindo sebagai bahan baku yang akan diolah lebih lanjut.
Organisasi adalah sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan
tertentu. Oleh sebab itu, struktur organisasi memiliki peranan yang sangat penting
berbentuk lini fungsional, di mana tugas dan tanggung jawab berjalan secara vertikal
menurut garis lurus antara atasan dan bawahan serta saling mengawasi dan
memberikan saran antara staf yang satu dengan staf yang lainnya yang berguna untuk
karyawan PT Perkebunan Nusantara IV Unit Kebun Pabatu dapat dilihat pada Tabel
2.1.
Karyawan Karyawan
Bagian Total
Pimpinan Pelaksanan
Kepala Dinas Pengolahan 2 - 2
Pabrik Kelapa Sawit 2 106 108
Teknik 2 240 242
Manajer Unit 1 - 1
Dinas Tata Usaha 1 25 26
Sumber Daya Manusia & Umum 1 33 34
Dinas Tanaman 2 8 10
Gudang 1 10 11
Pengamanan 1 41 42
Afdeling I 1 163 164
Afdeling II 1 154 155
Afdeling III 1 161 162
Afdeling IV 1 70 71
Afdeling V 1 125 126
Afdeling VI 1 135 135
Afdeling VII 1 113 114
Pabrik Pengolahan Inti Sawit 1 74 75
Jumlah 21 1458 1478
Sumber : PTPN IV Unit Kebun Pabatu
II-4
a. Senin – kamis
b. Jum’at
c. Sabtu
2. Bagian pengolahan, jam kerja dibagi atas dua shift setiap harinya yaitu:
3. Bagian pengamanan (security), jam kerja dibagi atas tiga shift setiap harinya
yaitu:
kontinu dan cukup lama serta memerlukan kontrol yang cermat sampai menjadi
minyak sawit, kernel (Inti sawit) dan hasil sampingannya. Pada dasarnya ada dua
Serat, cangkang dan tandan buah kosong adalah hasil sampingan dari
proses pengolahan kelapa sawit. Tandan buah kosong dapat diolah kembali
pupuk semantara serat dan cangkang digunakan sebagai bahan bakar boiler.
TBS yang diterima oleh pabrik telah memenuhi standar persyaratan bahan
baku dan tidak menimbulkan masalah dalam proses ekstraksi minyak dan inti
sawit. Sebelum mengalami pengolahan, tandan yang telah tiba di pabrik perlu
diketahui mutunya dengan cara visual yang dapat dilakukan di tempat penerimaan
buah. Pengujian atau sortasi panen sebaiknya dilakukan pada setiap truk yang tiba
di pabrik, akan tetapi hal ini dianggap tidak ekonomis. Oleh sebab itu sortasi
panen dapat dilakukan secara acak yaitu 10% terhadap truk yang diterima atau
minimun satu truk untuk setiap afdeling. Jika jumlah 10% sampling dianggap
terlalu besar dapat diatasi dengan mengambil 50% isi truk. Penilaian terhadap
mutu TBS didasarkan pada standar fraksi tandan. Pengolahan yang diinginkan
adalah tandan buah segar dengan kriteria fraksi buah 1, 2, dan 3. Hal ini
ditetapkan karena fraksi ini memiliki mutu minyak yang baik dengan tingkat
ekstraksi minyak yang optimal. Standar kematangan buah dapat dilihat pada tabel
2.2.
Standar mutu produk CPO dan minyak inti sawit PTPN IV Kebun Pabatu
Di dalam suatu industri bahan baku menjadi bahan jadi diperlukan adanya
proses yang tepat dan sempurna. Proses merupakan suatu ilmu penerapan yang
Proses produksi yang terjadi pada PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Pabatu
memakai bahan baku utama adalah buah sawit yang masih segar.
Stasiun ini berfungsi untuk menerima Tandan Buah Segar yang berasal dari
Tandan Buah Segar yang baru dipanen dari kebun petani sekitar dan kebun
dilakukan dua kali. Pertama, untuk mengetahui berat kendaraan pada saat
berisi muatan tandan buah segar (bruto). Kedua, untuk mengetahui berat
guna melakukan bongkar muatan TBS. Buah sawit yang sudah disortasi
kemiringan 13o – 50o terhadap dasar alas kisi-kisi. Fruit hoppers dilengkapi
dengan pintu-pintu yang dapat digerakkan secara vertikal (turun naik) oleh
tenaga elektris.
4. Stasiun Perebusan
Tandan buah segar yang berada dalam lory rebusan diangkut dari Stasiun
jaringan rel. Lory rebusan ini selain sebagai alat angkut juga sebagai wadah
untuk merebus buah. Badan lory tersebut terbuat dari plat baja berlubang
kecil dengan diameter 2 cm dan jarak antar lubang 5 cm. Dengan adanya
lubang pada lory, uap (steam) lebih mudah masuk dan dapat memasak secara
merata. Lory rebusan ini berisi penuh dan merata dengan kapasitas rata-rata
2,5 ton/lory.
5. Stasiun Penebah
Pada stasiun penebah, buah dituang dari lori ke rebusan ke automatic feeder
(threser/stripper drum) dalam threser, buah yang masih melekat pada tandan
penebah ini berupa drum yang terpasang secara horizontal dan berputar
perebusan jika tidak didukung pemipilan yang baik maka kehilangan minyak
akan tinggi. Oleh sebab itu perlu dilakukan pemipilan yang lebih sempurna
dari buah dengan jalan melumat dan mengempal. Pada stasiun ini dilakukan 2
a. Pengadukan (digesting)
sel-sel yang mengandung minyak. Dalam waktu cepat agar minyak dapat
Alat pengaduk ini sering disebut ketel aduk yang terdiri dari bejana yang
bahan agar lebih mudah dikempa dalam screw press. Digester dilengkapi
tinggi, dan pemecahan kantong minyak dan pemisahan serat dengan serat
b. Pengempaan (pressing)
massa adukan sehingga terjadi pemisahan antara massa padat (biji, serat
pengempaan ini adalah untuk mengambil minyak yang ada dalam massa
(doublescrew press) alat ini terdiri dari sebuah silinder (press cylinder)
dan main screw) yang berputar yang berlawan arah dengan kecepatan
cylinder press dan mengisi worm, volume setiap space worm berbeda,
Stasiun ini berfungsi untuk mendapatkan minyak sawit mentah (CPO) yang
bertujuan agar tidak terjadi penurunan mutu akibat adanya reaksi hidrolisis
dan oksidasi. Hidrolisis dapat terjadi karena cairan bersuhu panas dan cukup
banyak air demikian juga oksidasi akan terjadi dengan adanya bahan organik
8. Pemisahan Pasir
a. Sand cyclone, alat ini ditempatkan pada pipa aliran antara setling tank
dan peralatan kasar. Alat ini terbuat dari logam atau porselin yang dapat
operator. Alat ini memisahkan pasir dengan sistem saring. Alat penyaring
terdiri dari fibre yang jarang-jarang sehingga pasir dan lumpur akan
tersaring.
9. Sludge Tank
Sludge yang berasal dari Oil Setling tank dipompakan pada Sludge Tank
pasir dilaksanakan secara kontinu sludge yang berasal dalam Sludge Tank
dengan sludge dapat dilengkapi dengan alat stirrer dengan catatan tidak boleh
Sludge yang masuk ke dalam sludge centifuge terdiri dari bahan mudah
menguap. Tujuan dari proses ini adalah memisahkan minyak dari air dan
kotoran, dengan kata lain memisahkan minyak dari fraksi yang berat jenis nya
1. Air dan kotoran yang dipisahkan disebut dengan air drab dengan kadar
dibantu dengan pemberian uap gas. Cairan yang telah dibebaskan dari pasir-
Cairan yang berada di permukaan tangki CST dialirkan ke dalam oil tank.
Minyak ini masih mengandung air dan kotoran-kotoran ringan. Alat COT
dilengkapi dengan pipa coil pemanas, yang digunakan untuk menaikkan suhu
mempermudah pemisahan minyak dengan air dan kotoran ringan dengan cara
pengendapan, yaitu zat yang memiliki berat jenis lebih berat dari minyak
akan mengendap pada dasar tangki. Suhu minyak dalam oil tank sangat
sehingga dianggap suhu pada oil tank adalah sumber panas untuk pengolahan
Alat purifier ini sering disebut oil centrifuge yang berfungsi memurnikan
minyak dari kotoran-kotoran. Prinsip kerja dari alat ini memisahkan fraksi
yang BJ > atau = 1 artinya FM dan minyak berada dalam 1 fraksi sedangkan
kotoran tergolong dalam fraksi berat. Semakin besar dibuat ukuran kapasitas
olah alat itu sendiri, maka semakin menurun kemampuan untuk memurnikan
minyak.
dipengaruhi oleh :
a. Komposisi umpan yang akan diolah, karena ratio antara minyak antara
air dan lumpur mempengaruhi terhadap daya pisah terhadap alat tersebut
Minyak yang masih mengandung air 0,6 - 1,0% perlu dikeringkan agar air
tersebut tidak lagi berfungsi sebagai bahan pereaksi dalam reaksi hidrolisis.
Ampas press yang keluar dari screw press terdiri dari serat dan biji yang
masih mengandung air yang tinggi dan berbentuk gumpalan, oleh sebab itu
perlu dipecah dengan alat pemecah ampas yang disebut dengan Cake Breaker
bakar maka dilakukan pemanasan CBC sehingga kadar air ampas menurun
dalam efisiensi pemecahan biji dalam alat pemecah biji. Untuk mempercepat
CBC, akan tetapi pengeringan ini kurang sempurna karena panjang CBC
terlalu pendek dan hisapan fibre cyclone kurang kuat sehingga kelembaban
udara di atas permukaan ampas tetap tinggi yang tidak mendukung terhadap
proses evaporasi uap, dan akan menghasilkan serap basah yang dapat
2. Polishing Drum
Ampas presan yang terdiri dari serat, biji dan inti dipecah oleh cekbreaker
sehingga lebih mudah blower untuk memisahakan fraksi ringan dan fraksi
berat. Fraksi ringan terdiri dari serat, inti pecah halus, pecahan tempurung
tipis dan debu. Fraksi berat adalah biji utuh, biji pecah, inti utuh dan inti
jalannya proses pemecahan biji pada nut cracker, yaitu daya pentalnya
berkurang yang berakibat pada proses pemecahan biji lebih lama, yang
3. Fermentasi Biji
Biji mengandung pektin, yang terdapat antara tempurung dengan inti. Untuk
sebagai perekat inti pada tempurung perlu dirombak dengan proses kimia
dengan udara panas hingga suhu silo berkisar antara 40-600C. Pemanasan
dengan suhu rendah bertujuan untuk membantu proses hidrolisa, bila suhu
4. Nut Grading
Alat pemecah biji disebut dengan nut cracker. Biji yang telah diperam dalam
nut silo akan dipecahakan dalam nut cracker. Sebelum pemecahan biji
menggunakan alat Nut grading yaitu drum berputar terdiri dari ukuran lobang
yang berbeda- beda. Biji yang telah diseleksi terdiri dari 3 fraksi kecil yaitu
5. Pemecahan biji
dengan cara menekan biji dengan rotor pada dinding bergerigi dan
menyebabkan pecahnya biji. Ripple Mil terdiri dari 2 unit yaitu Pengolahan
Fraksi Tenera dan Fraksi Dura, Fraksi Dura merupakan fraksi yang memiliki
dengan Psifera menghasilkan buah bertumpurung tipis dan inti yang besar.
gaya, jarak antara rotor dengan pilar bergerigi dan ketajaman gerigi plat
Biji yang berada dalam alat mengalami frekuensi benturan yang cukup tinggi
baik dengan plat bergerigi maupun antar rotor. Sehingga frekuensi pukulan
kontiniutas biji yang masuk dan tetap seimbang dengan kapasitas olah maka
alat ini dilengkapi dengan penangkap logam. Alat ini dapat memecah biji
tanpa melalui pemeramam dengan nut silo asalkan dalam proses perebusan
fraksi halus oleh winnowing. Sampah halus akan terpisah dan fraksi berat
akan dicampur dengan air yang kemudian inti dipisahkan dari tempurung
berdasarkan berat jenis. Untuk memperbesar selisih berat jenis inti dengan
keluar dari atas permukaan cyclone dan tempurung dari bagian bawah yang
7. Pengeringan Inti
asam lemak bebas, pemecahan protein dan hidrolisa karbohidrat yang cukup
banyak terkandung terutama dalam inti sawit yang dihasilkan dengan pemisah
secara basah alat pengeringan inti yang dipakai adalah tipe rectangular. Alat
ini mengeringkan inti dengan udara panas, yaitu mengalirkan udara melalui
heater yang terdiri dari spiral berisi uap panas dengan suhu 1300C (heater
panas), 850C (heater tengah), dan 600C heater bawah. Udara panas
dihembuskan dan keluar dari lobang yang sudah ada, sehingga pengeringan
inti setiap lapisan dapat terjadi dengan baik. Masa pengeringan tergantung
dari kadar air dalam inti, yang dipengaruhi oleh sistem perebusan buah,
Efisiensi pengutipan inti ditinjau dari segi teknis dan ekonomis pengutipan
inti yang tinggi jika rendeman inti yang diperoleh mendekati rendeman
teoritis umumnya lebih besar dari 90%. Oleh sebab itu, pengolahan biji sawit
dilakukan dengan pola sistem basah. Pada pola ini pemeraman biji dengan
silo biji yag dialiri dengan udara panas diatur suhu silo berkisar antara 50 –
700C. Suhu Nut Silo bagian atas 700C, bagian tengah 600C, dan bagian bawah
hidrolisis, bila suhu terlalu tinggi dapat menyebabkan pektin mengering dan
meningkatkan inti pecah, inti lekat dalam tempurung yang dapat menurunkan
kualitas.
Asisten Asisten Asisten Asisten Asisten Asisten Asisten Asisten Asisten Bengkel Asisten Asisten Asisten Asisten SDM
Afdeling I Afdeling II Afdeling IV Afdeling V Afdeling III Afdeling VI Afdeling VII Pembibitan & Umum Teknik Teknik Sipil Pengolahan & Umum
PENDAHULUAN
tujuan yang sering dibatasi oleh jarak yang jauh. Kemampuan untuk mengirimkan
produk secara tepat waktu, dalam jumlah yang sesuai dan dalam kondisi yang baik
sangat menentukan apakah produk akan kompetitif di pasar. Selain itu, bagi
perusahaan sendiri, proses pendistribusian yang efektif dan efisien akan dapat
menurunkan biaya. Salah satu langkah yang dapat dilakukan agar proses distribusi
lebih efisien adalah dengan perencanaan rute distribusi secara tepat sehingga
produk dapat sampai kepada pelanggan dengan tepat waktu dan biaya rendah.
Begitu pula dalam distribusi dan transportasi bahan baku, proses distribusi bahan
baku juga diharapkan tidak mengalami keterlambatan waktu agar dapat digunakan
dalam proses produksi sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan (Pujawan, 2005).
harus dikeluarkan oleh perusahaan mengingat bagian ini termasuk penting untuk
ini adalah rute distribusi yang dilalui alat transportasi dalam mengirim bahan
baku. Keputusan rute pengiriman yang akan ditempuh oleh tiap kenderaan akan
I-1
Universitas Sumatera Utara
I-2
bergerak dalam bidang pengolahan kelapa sawit menjadi CPO (Crued Palm Oil)
dan PKO (Palm Kernel Oil). Bahan baku yang digunakan adalah kelapa sawit
yang berasal dari kebun Pabatu dan kebun seinduk yaitu kebun yang dikelola oleh
PTPN IV. Data jumlah TBS yang dikirimkan, jarak dari setiap afdeling dan kebun
seinduk serta utilitas alat angkut di PTPN IV unit kebun Pabatu dapat dilihat pada
Tabel 1.1.
yang terpisah yaitu setiap kebun dikunjungi oleh satu truk secara khusus padahal
penggabungan alat angkut untuk dua atau lebih kebun masih bisa dilakukan
berdasarkan beban dan kapasitas alat angkutnya. Hal ini terlihat dari nilai utilitas
penggunaan alat angkut yang masih rendah yaitu rata-rata 34,75% dari kapasitas
maksimumnya 30 ton. Rute awal distribusi dapat dilihat pada Gambar 1.1 dan 1.2.
yang ada. Perbaikan terhadap rute distribusi bahan baku saat ini bertujuan agar
proses pendistribusian dapat berjalan lebih optimal yaitu beban yang diangkut
mendekati kapasitas kendaraan dan jarak tempuh minimum (El Fahmi, 2013).
perakitan kendaraan otomotif mesin diesel. Tujuan penelitian ini adalah untuk
dengan hasil pengurangan jarak dari 370 menjadi 214 km dan pengurangan biaya
57,45%.
matrix dapat mengurangi total jarak tempuh dan biaya sehingga metode ini dapat
optimal.
permasalahan pada penelitian ini adalah beban yang diangkut untuk setiap rute
belum terpenuhi secara maksimal sesuai kapasitas alat angkut. Perbaikan untuk
penghematan jarak, kapasitas alat angkut, serta urutan kunjungan dalam satu rute
distribusi.
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah merancang rute distribusi optimal dengan
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang ingin dicapai dari hasil pemecahan masalah ini adalah:
2. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan untuk membantu
3. Menambah jumlah hasil karya mahasiswa yang dapat menjadi literatur dan
Industri.
berikut :
2. Penelitian hanya dilakukan pada rute transportasi dari kebun yang dikelola
oleh PTPN IV Pabatu dan kebun seinduk ke pabrik kelapa sawit Pabatu.
3. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Saving Matrix.
perusahaan.
1. Selama penelitian berlangsung, proses kerja tidak berubah dan sesuai dengan
3. Tidak ada penambahan angkutan atau alat tranportasi untuk distribusi yang
6. Harga bahan bakar per liter adalah Rp 5150 dan penggunaan 1 liter bahan
manfaat penelitian, batasan dan asumsi yang digunakan dalam penelitian dan
perusahaan, lokasi, struktur organisasi, tugas dan tanggung jawab, jumlah tenaga
Bab III Landasan Teori, berisi teori-teori yang digunakan dalam analisis
pemecahan masalah. Sumber teori atau literatur yang digunakan berupa buku,
jurnal penelitian dan draft tugas sarjana mahasiswa yang pernah mengangkat
tugas akhir.
sekunder yang diperoleh dari penelitian serta teknik yang digunakan untuk
Bab VII Kesimpulan dan Saran, berisi kesimpulan yang diperoleh dari
Kata Kunci : Saving Matrix, Rute Distribusi, Nearest Insert, Nearest Neighbor,
Farthest Insert
PTPN IV
TUGAS SARJANA
Oleh
AULIA FADHLI SANI LUBIS
NIM : 120403024
F A K U L T A S T E K N I K
M E D A N
2016
No. Dok.: FM-GKM-TI-TS-01-03A; Tgl. Efektif : 01 Desember 2015; Revisi : 0 Halaman : 1 dari 1
Universitas Sumatera Utara
ANALISIS PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI OPTIMAL
DENGAN PENDEKATAN MANAJEMEN TRANSPORTASI DAN
DISTRIBUSI DI PTPN IV
TUGAS SARJANA
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari
Syarat-syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Oleh
AULIA FADHLI SANI LUBIS
NIM : 120403024
Disetujui Oleh
(Dr. Meilita Tryana Sembiring, ST, MT) (Khalida Syahputri, ST, MT)
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
Tugas Sarjana ini merupakan langkah awal bagi penulis untuk mengenal
dan memahami lingkungan kerja serta menerapkan ilmu yang telah dipelajari dan
Teknik, Universitas Sumatera Utara. Judul untuk tugas sarjana ini adalah
membangun dari para pembaca. Semoga tugas sarjana ini dapat bermanfaat bagi
Puji dan syukur penulis ucapkan yang kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
memberikan nikmat kesehatan dan ilmu kepada penulis selama masa kuliah dan
dan bantuan dari berbagai pihak, baik berupa materil, spiritual, informasi maupun
administrasi. Oleh karena itu sudah selayaknya penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
2. Ibu Dr. Meilita Tryana Sembiring, ST, MT selaku Dosen Pembimbing I atas
waktu, bimbingan, arahan, dan masukan yang diberikan kepada penulis dalam
laporan.
Harahap yang tiada hentinya mendukung baik secara moril maupun materil
7. Bapak Hariono dan Bapak Alfi yang telah memberikan bantuan kepada
8. Abang saya Anugrah Munawir Perdana Lubis dan Kakak Rizky Mazia Hakiki
9. Rekan-rekan seperjuangan Tugas Akhir di PTPN IV, Hery Chanra Rambe dan
Yusuf Hanifiah Tobing yang telah banyak memberi motivasi dan saran
Bang Arfan, Bang Febriro, Bang Yusuf, Bang Marthin, Bang Putra, Kak
Margareth, Kak Diah, Kak Mutiara, Budi, April, Dika, Mega, Elsa, dan Sarah,
yang telah banyak memberikan dukungan, motivasi dan saran kepada penulis
Marini, Ade, Adel, Risa, Puput, Tri, Erin, Nori, Masitah, Lia, Sri, Naomi,
12. Semua pihak yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan
vi
Kata Kunci : Saving Matrix, Rute Distribusi, Nearest Insert, Nearest Neighbor,
Farthest Insert
BAB HALAMAN
LEMBAR PENGESAHAN............................................. ii
ABSTRAK........................................................................ vii
BAB HALAMAN
ix
BAB HALAMAN
BAB HALAMAN
Kebun............................................................. V-3
xi
BAB HALAMAN
dal am R ut e ya n g S udah
[Link].[Link] Afdeling/
[Link].[Link] Afdeling/
[Link].[Link] Afdeling/
xii
BAB HALAMAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xiii
TABEL HALAMAN
1.1. Jarak Tempuh, Jumlah TBS dan Utilisasi ....................................... I-2
2.1. Jumlah Tenaga Kerja di PTPN IV Pabatu ........................................ II-4
2.2. Standar Kematangan Buah ................................................................. II-7
2.3. Standar Mutu Produk ......................................................................... II-8
3.1. Evaluasi Umum Berbagai Mode Transportasi .................................. III-15
3.2. Lokasi Tujuan dan Ukuran Order ...................................................... III-17
3.3. Matrik Jarak dari Gudang ke Toko dan Antartoko ........................... III-19
3.4. Matrik Penghematan Jarak dengan Menggabungkan Dua Rute
yang Berbeda ...................................................................................... III-21
3.5. Langkah Awal Semua Toko Memiliki Rute Terpisah ..................... III-22
3.6. Toko 7 Masuk ke Rute 1 .................................................................... III-22
3.7. Toko 5 Masuk ke Rute 4 .................................................................... III-23
3.8. Toko 3 Masuk ke Rute 4 .................................................................... III-24
5.1. Data Jarak dari Kebun ke Pabrik .................................................... V-2
5.2. Data Jarak Antar Afdeling/Kebun dalam Km ................................. V-3
5.3. Data Historis Hasil TBS Setiap Afdeling dalam Ton ..................... V-4
5.4. Data Historis Hasil TBS Kebun Seinduk dalam Ton...................... V-4
5.5. Matriks Jarak Kebun dan Pabrik (km) ............................................ V-6
5.6. Matriks Penghematan Jarak ............................................................ V-9
5.7. Rute Awal untuk Setiap Kebun dan Afdeling................................. V-10
5.8. Matriks Penghematan Langkah 1.................................................... V-12
5.9. Matriks Penghematan Langkah 2.................................................... V-14
5.10. Matriks Penghematan Langkah 3.................................................... V-16
5.11. Matriks Penghematan Langkah 4.................................................... V-18
5.12. Matriks Penghematan Langkah 5.................................................... V-20
5.13. Matriks Penghematan Langkah 6.................................................... V-22
5.14. Matriks Penghematan Langkah 7.................................................... V-24
5.15. Matriks Penghematan Langkah 8.................................................... V-27
TABEL HALAMAN
5.16. Matriks Penghematan Langkah 9.................................................... V-30
5.17. Matriks Penghematan Langkah 10.................................................. V-32
5.18. Hasil Akhir Penghematan Rute ....................................................... V-33
5.19. Jarak Antar Kebun dan Pabrik Rute 2 (km) .................................... V-35
5.20. Jarak Antar Kebun dan Pabrik Rute 3 (km) .................................... V-35
5.21. Jarak Antar Kebun dan Pabrik Rute 4 (km) .................................... V-36
5.22. Jarak Antar Kebun dan Pabrik Rute 5 (km) .................................... V-37
5.23. Jarak Antar Kebun dan Pabrik Rute 6 (km) .................................... V-38
5.24. Perbandingan Hasil Urutan Rute dengan 3 Metode ........................ V-44
5.25. Urutan Rute Terpilih ....................................................................... V-45
5.26. Total Jarak Rute Awal .................................................................... V-46
5.27. Total Jarak Rute Usulan .................................................................. V-47
6.1. Utilisasi Alat Angkut Rute Aktual .................................................. VI-2
6.2. Utilisasi Alat Angkut Rute Usulan ................................................. VI-3
6.3. Perbandingan Rute Awal dan Usulan ............................................. VI-4
xv
GAMBAR HALAMAN
1.1. Rute Awal Kebun Pabatu ............................................................ I-3
1.2. Rute Awal Kebun Seinduk .......................................................... I-3
2.1. Struktur Organisasi PTPN IV Pabatu .......................................... II-3
3.1. Solusi Vehicle Routing Problem ................................................. III-9
3.2. Penggabungan Rute ..................................................................... III-20
4.1. Kerangka Konseptual .................................................................. IV-3
4.2. Blok Diagram Pengolahan Data .................................................. IV-4
4.3. Blok Diagram Prosedur Penelitian .............................................. IV-6
5.1. Peta Kebun Pabatu ...................................................................... V-1
5.2. Peta Kebun Seinduk .................................................................... V-2
LAMPIRAN
1. Perhitungan Matrix Penghematan ................................................. L-1
2. Peta Rute Usulan ........................................................................... L-2
3. Surat Permohonan Tugas Sarjana ................................................... L-3
4. Formulir Penetapan Tugas Sarjana ................................................. L-4
5. Surat Permohonan Riset Tugas Sarjana........................................... L-5
6. Surat Balasan Penerimaan Riset Tugas Sarjana ............................... L-6
7. Surat Keputusan Tugas Sarjana Mahasiswa .................................... L-7
8. Form Asistensi Dosen Pembimbing I .............................................. L-8
9. Form Asistensi Dosen Pembimbing II ............................................ L-9