SISTEM PEMERINTAH DAERAH DAN DESA
NAMA : Aryo Eko Saputro
NIM : 8121201434
MATA KULIAH : Sistem Pemerintah Daerah dan Desa
DOSEN PEMBINA : Dr. Agustina Setiawan, [Link]., [Link]
1
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.................................................................................................................i
BAB I............................................................................................................................1
1.1LATAR BELAKANG..........................................................................................1
1.2RUMUSAN MASALAH......................................................................................2
1.3TUJUAN...............................................................................................................2
BAB II...........................................................................................................................3
2.1 SISTEM PEMERINTAH DAERAH DAN DESA..............................................3
2.2 SISTEM PEMERINTAHAAN DAERAH DAN DESA.....................................4
2.3 hubungan sistem pemerintahan daerah dan desa.................................................6
BAB III.........................................................................................................................8
3.1KESIMPULAN.....................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................9
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Terbitnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah, yang kemudian dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, dan
terakhir dirubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 di dalamnya juga
mengatur tentang desa, bukannya permasalahan desa menjadi berkurang, malah
makin menajam. UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan pengertian
desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, yang
berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat,
berdasarkan asal-usul dana adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati
dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari defenisi
tersebut, sebetulnya desa merupakan bagian vital bagi keberadaan bangsa
Indonesia. Vital karena desa merupakan satuan terkecil dari bangsa ini yang
menunjukkan keragaman Indonesia. Selama ini terbukti keragaman tersebut telah
menjadi kekuatan penyokong bagi tegak dan eksisnya bangsa.
Dengan demikian penguatan desa menjadi hal yang tak bias ditawar dan tak
bias dipisahkan dari pembangunan bangsa ini secara menyeluruh. Berbagai
perundang-undangan yang mengatur tentang kedudukan pemerintahan desa di
negeri ini telah mengalami berbagai perubahan seiring dengan
perubahanperubahan suasana politik yang mengirinya. Posisi desa selalu hangat
diperdebatkan tergantung dari dan apa kepentingan yang melatarbelakanginya.
Padahal dalam kontek sosiologis pemerintahan desa atau kota ditujukan sebagai
suatu tempat atau suatu kesatuan masyarakat hukum yang tergantung dimana
masyarakat itu berada. Diartikan sebagai kesatuan masyarakat hukum karena baik
pemerintahan desa maupun kota memiliki sistem nilai yang berbeda-beda satu
3
sama lain sehingga keberadaan kota atau desa memiliki difinisi yang berbeda satu
sama lainnya. Meskipun dari tinjauan aspek sosiologis secara konsepsional
definisi desa dan kota sangatlah berbeda, namun menurut pandangan penulis
bahwa konsepsi desa dan kota memiliki porsi yang seimbang dalam arti tekanan
pendalaman pada aspek sosiologis melihat desa dan kota dari dalam kontek
perkembangan dan dinamika masyarakatnya. Akan tetapi bila melihat dari aspek
pemerintahan maka kata desa atau kota memiliki implikasi penanganan yang
sangat berbeda. Kalau saya melihat khusus untuk desa terdapat ketidakjelasan
kedudukan desa. Dalam arti pada waktu yang sama desa diposisikan menjadi
sebuah komunitas dan merupakan bagian dari penyelenggaraan pemerintahan.
Desa diasumsikan oleh faktor sosial budaya yang sangat beraneka ragam satu
sama lainnya sehingga keberadaan desa oleh penguasa ingin diakomodir dalam
sebuah bingkai Negara Kesatuan
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas kita dapat mengetahui rumusan masalah makalah
ini yaitu :
1. Apa pengertian pemerintah daerah dan desa
2. Seperti apa sistem pemerintah daerah dan desa
3. Bagaimana hubungan pemerintah daerah dan desa
1.3 TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas kita dapat menyimpulkan tujuan dari makalah
ini yaitu :
1. Mengetahui pengertian pemerintah daerah dan desa
2. Memahami sistem pemerintah daerah dan desa
3. Memahami dan mengetahui sistem pemerintahan daerah dan desa
4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 SISTEM PEMERINTAH DAERAH DAN DESA
Menelaah kedudukan hukum pemerintahan desa dan problematika yang
timbul di dalamnya bukan merupakan perkara yang mudah untuk dilakukan. Sebab,
berbicara tentang cikal bakal pemerintahan desa di Indonesia harus menoleh jauh
kebelakang untuk melihat dimanakah sumber desa itu dilahirkan.
Sebagai sebuah otonomi asli, desa tidak boleh dipandang sebagai cabang dari
otonomi daerah. Otonomi desa harus menjadi pijakan dalam pembagian struktur
ketatanegaraan Indonesia mulai dari pusat sampai ke daerah yang kemudian bermuara
pada regulasi otonomi desa yang tetap berpedoman pada keaslian “desa” sebagai
kesatuan masyarakat hukum.
Salah satu hak asal-usulnya terkait dengan penguasaan terhadap wilayahnya,
dengan demikian keberadaannya secara langsung berada dibawah Negara. Kesatuan –
kesatuan masyarakat hukum ini tidak hanya diakui tetapi dihormati, artinya
mempunyai keududukan yang sederajat dan sama pentingnya dengan kesatuan
pemerintahan lain seperti kabupaten dan kota. Kesederajatan ini mengandung makna,
bahwa kesatuan masyarakat hukum yang berdasarkan hukum adat berhak atas segala
perlakuan dan diberi kesempatan berkembang sebagai subsistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dengan tetap berada pada prinsip NKRI, yaitu tidak melahirkan
Negara didalam Negara. Kedua, secara fungsi pemerintahan, maka berdasarkan Pasal
200 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004, menempatkan pemerintahan desa
sebagai bagaian dari pemerintahan daerah kabupaten/kota, sehingga keberadaan
pemerintahan desa adalah sebagai sub sistem pemerintahan daerah kabupaten/kota.
Mengenai kedudukan pemerintahan Desa, pengakuan dan penghormatan Pasal 18B
ayat (2) UUD 1945 kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak hak
tradisonalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyara-kat
5
dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dengan
UndangUndang. Landasan ini memisahkan antara satuan pemerintahan daerah yang
diberi otonomi dengan kesatuan masyarakat hukum. Urusan yang dikelola oleh satuan
pemerintahan daerah menunjukkan pemencaran kekuasaan, sementara, sepanjang
masih ada, urusan yang dikelola oleh Desa merupakan pengakuan. Tentunya tetap
dimungkinkan terdapat tugas pembantuan yang diberikan oleh Kabupaten, Provinsi,
maupun Pemerintah Pusat
2.2 SISTEM PEMERINTAHAAN DAERAH DAN DESA
Tentang sistem Pemerintahan Daerah ditetapkan mendahului UU No 6/2014
tentang Desa, mungkin lebih banyak urusan terhadap desa dibebankan kepada
pemerintah provinsi. Hal ini sejalan dengan penguatan peran pemerintah provinsi
dalam UU [Link], berada dalam ranah perundangan yang lebih lama, UU
No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang kini sudah dicabut, akhirnya desa
lebih banyak berurusan dengan pemerintah kabupaten/kota. Tugas terberat
bupati/wali kota tampaknya pembuatan aturan dana desa dan alokasi dana desa.
Rinciannya mencakup penyusunan ukuran pembagian dana, prasyarat pencairan,
hingga pemeriksaan dokumen perencanaan tiap desa. Bupati dan wali kota sekaligus
bertanggung jawab atas pelaporan penggunaan dana desa dan alokasi dana
[Link] diposisikan sekadar menyalurkan dana, kementerian di pusat dengan
ringan menyatakan tak mungkin ada korupsi. Namun, perlu diingat, operasionalisasi
penyaluran, penggunaan, dan pelaporan dana ditangani pemerintah kabupaten/kota.
Artinya, peluang munculnya lembar-lembar kesalahan administrasi hingga korupsi
hampir sepenuhnya berada di [Link] dan wali kota juga wajib mengatur
pembentukan, penghapusan, penggabungan, dan perubahan status desa. Selanjutnya
mengatur pemilihan kepala desa serentak, manajemen perangkat desa dan badan
permusyawaratan desa. Berikutnya, pengaturan pembangunan desa dan kawasan
pedesaan. Tugas teknis yang juga berat adalah berupa penetapan peta batas wilayah
6
desa dan desa [Link] lampiran UU No 23/2014 memang menuliskan juga urusan
wajib pemerintah daerah terhadap pemberdayaan masyarakat dan desa. Namun, jelas
tidak sebanyak rincian dalam UU No 6/2014 beserta peraturan perundangan
turunannya selama dua tahun terakhir.
Sementara itu, tugas pemerintah provinsi terbatas mengurus desa adat.
Tugasnya menyusun aturan kelembagaan, pengisian jabatan, dan masa jabatan kepala
desa adat. Sebenarnya dukungan pemerintah kabupaten/kota terhadap desa terbaca
kuat pada keuangan desa. Kontribusinya mencapai 54 persen dari pendapatan desa.
Sementara pemerintah provinsi berkontribusi 13 persen. Artinya, keseluruhan
kontribusi pemerintah daerah memuncak hingga 67 persen dari pendapatan desa.
Persoalannya, dukungan sebanyak itu jarang dimaknai sebagai uluran tangan
pemerintah daerah. Dinilai sebagai tugas, identitas pendukung desa tetap ditabalkan
kepada pemerintah pusat. Ketidakseimbangan tingginya dukungan dan hilangnya
identitas menyumbang pada surutnya prioritas pemerintah daerah untuk
pembangunan desa.
Dan sistem pemereintaahan desa denganSetelah negara menyatakan kesediaannya
mengurus langsung seluruh 74.093 desa, ada baiknya ditegaskan bahwa urusan desa
menjadi tugas kolaboratif kementerian dan lembaga di pusat, pemerintah daerah, serta
perangkat desa. Operasionalisasinya berupa pemberian ruang untuk berkarya seraya
mengenalkan identitas [Link] koordinasi antara 17 kementerian dan
enam lembaga di pusat dengan pemerintah daerah dapat dikelola secara efektif oleh
Menteri Dalam Negeri. Sebab, setiap tahun dikeluarkan peraturan menteri berisikan
panduan isian anggaran pendapatan dan belanja daerah. Panduan tersebut memastikan
penyediaan program dan anggaran oleh pemerintah daerah yang sesuai dengan
kebutuhan [Link] kaitan desa, misalnya, dipastikan pemerintah daerah
menyiapkan dana dan kegiatan untuk pemilihan kepala desa serentak 2016. Lingkup
7
koordinasi dalam peraturan menteri sebaiknya diperluas hingga mencakup
kepentingan kementerian dan lembaga lain yang turut mendukung pembangunan
[Link] No 22/2015 tentang Dana Desa yang Bersumber dari APBN memang
memberikan wewenang kepada Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi (PDTT) untuk menentukan penggunaan dana desa. Peraturan Menteri
Desa PDTT No 5/2015 telah mengunci jenis penggunaannya. Namun, ada baiknya
diciptakan ruang bagi pemerintah daerah. Misalnya, untuk tahun depan dituliskan 5-
10 persen penggunaannya disesuaikan dengan rencana pembangunan pemerintah
daerah bagi kawasan pedesaan. Hal serupa bisa dilakukan Menteri Dalam Negeri,
yang memiliki wewenang dalam menentukan skema alokasi dana desa.
Menteri Dalam Negeri telah menambah fungsi aparat kecamatan agar mendampingi
pemerintah desa. Peningkatan kapasitas aparat telah diarahkan untuk membantu
pemerintah desa dalam menjalankan pemerintahan, mengelola musyawarah dan
pembangunan, serta meningkatkan pelayanan kepada warga. Sebenarnya aparat
kecamatan perlu juga diajak agar piawai menciptakan peluang kerja sama
pembangunan antardesa serta menguatkan koordinasi pembangunan desa dan
[Link] Desa PDTT juga dapat membuka kiprah pemerintah daerah dalam
memutuskan pilihan pendamping tingkat desa hingga provinsi. Peran deliberatif
menambah motivasi pemerintah daerah dalam koordinasi pendampingan desa.
2.3 hubungan sistem pemerintahan daerah dan desa
Hubungan Pemerintahan Daerah dan Desa menjadi tidak menentu dan kabur
dari esensinya. Selain melaksanakan sisa kewenangan Pemeritah Daerah walaupun
tidak secara herarkhis tetapi secara formalistik, keberadaan Desa sebagai kesatuan
masyarakat hukum yang memiliki otonomi asli berdasarkan hak asal-usul tidak
sepenuhnya diakui. Sebagai Negara kesatuan, Indonesia mengakui dan menghormati
keberadaan Desa dan Desa Adat, yang disebut sebagai “kesatuan masyarakat hukum
adat”, sebagaimana landasan konstitusional yang tertuang dalam UUD 1945. Dengan
8
demikian penelitian ini memfokuskan pada dua rumusan masalah. Pertama,
bagaimana hubungan Pemerintah Daerah dan Desa pasca reformasi, sebelum dan
sesudah ditetapkannya UU No.6 Tahun 2014? Kedua, sudah relevankah desain
hubungan Pemerintah Daerah dan Desa dalam UU No.6 Tahun 2014, jika dilihat dari
konsep NKRI?. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif, dengan
menganalisis peraturan perundang-undangan yang berlaku yang terkait dengan
Pemerintahan Daerah dan Desa Pasca reformasi. Adapu penelitian ini menggunakan
dua pendekatan, yakni pendekatan yuridis-normatif (statue approach), dan kemudian
pendekatan historis (historical approach). Dari hasil penelitian ini, maka terdapat
beberapa kesimpulan diantranya: Pertama, pengaturan Desa dalam UU No.22 Tahun
1999, dan UU No.32 Tahun 2004 tidak mengalami perubahan yang begitu signifikan.
Sehingga pengaturan tersebut berimplikasi pada Pemerintahan Desa yang meliputi,
kewenangan, sistem organisasi pemerintahan, dan keuangan Desa serta pengelolaan
aset dan sumber daya alam Desa. Kedua, hubungan Pemerintahan Daerah dan Desa
terutama dalam UU No.22 Tahun 1999, dan UU No.32 Tahun 2004, semakin tidak
jelas dan cenderung parsial. Karena pada dasarnya Desa dan Daerah adalah sub
sistem dari Pemerintah yang memiliki pemerintahan tersendiri. Justeru sebaliknya
diatur dalam satu Undang-undang, sehingga esensi Desa sebagai kesatuan masyarakat
hukum menjadi kabur. Ketiga, desain UU No.6 Tahun 2014 Tentang Desa, tidak
bertentangan dengan konsep NKRI. Keberadaan Desa justeru memperkuat sistem
negara kesatuan dengan menghormati dan mengakui keberadaannya. Keberadaan
Desa dan Desa Adat sebagai kesatuan masyarakat hukum, serta otonomi Desa
memiliki landasan konstitusional. Kedudukan desa bukan sebagai susunan
Pemerintah terendah, melainkan sub sistem dari Pemerintah. karena Desa menurut
Undang-undang ini adalah penggabungan dua unsur penting, yakni self-local
governing community dan local self goverment yang dijalankan berdasarkan asas
rekognisi dan subsidiaritas.
9
BAB III
PENUTUP
3.1KESIMPULAN
Pengaturan pemerintahan desa dalam Undang-Undang Nomor Nomor 22
Tahun 1999, dapat diketahui bahwa keberadaan pemerintahan desa hanya berada di
daerah kabupaten/kota, dengan demikian desa merupakan bagian dari kabupaten/kota.
Keberadaan desa semakin menunjukan ketidakjelasan ketika harus berubah menjadi
kelurahanPemerintahan Desa dalam kedudukannya di Negara Kesatuan Republik
Indonesia, tidak dapat dilepas atau pisahkan dengan berbagai keberadaan daerah yang
lain, baik propinsi atau kabupaten/kota. Pasal 1 ayat (1) UUD Tahun 1945 sebelum
amandemen menyatakan bahwa Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang
berbentuk republik. Dimana, keberadaan suatu Negara Kesatuan pada hakekatnya
menempatkan kekuasaan tertinggi dan penyelenggara segenap urusan Negara yaitu
pemerintah pusat, hal tersebut terkait dengan adanya asas bahwa dalam Negara
kesatuan segenap urusan Negara tidak dibagi antara pemerintah pusat dengan
pemerintah daerah, sehingga urusanurusan Negara dalam suatu Negara kesatuan tetap
merupakan suatu kebulatan dan dipegang oleh pemerintah pusat. Kedudukan
pemerintahan desa telah diakui secara implisit dalam UUD 1945 pasal 18 B ayat (2).
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, kedudukan pemerintahan desa
adalah sebagai kesatuan masyarakat hukum adat, hal tersebut sesuai dengan Pasal
18B ayat 2 UUD 1945. Akan tetapi, UU Nomor 32 Tahun 2004 menempatkan
pemerintahan desa di bawah kabupaten/kota. Penempatan pemerintahan desa di
bawah kabupaten/kota berarti desa menjadi subordinat kabupaten/kota dalam
hubungan pemerintahan. Dengan demikian, desa tidak memiliki perbedaan dengan
kelurahan, yang sama-sama di bawah kabupaten/[Link] pemerintah desa
dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2014 tentang Desa merupakan subsistem dari
sistem penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia sehingga desa memiliki
10
kewenangan, tugas dan kewajiban untuk mengatur serta mengurus kepentingan
masyarakatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Bagir Manan, 1994, Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945,
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Hanif Nurcholis, 2011, Pertumbuhan dan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa,
Jakarta: Erlangga.
Josef Riwu Kaho, 2012, Analisis Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
di Indonesia, edisi revisi, cet kedua, Yogyakarta: Polgov Fisipol UGM
Moh. Mahfud MD, 2003, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, Studi tentang
Interaksi Politik dan Kehidupan Ketatanegaraan, Jakarta: Rineka Cipta
Muhadam Labolo, 2006, Memahami Ilmu Pemerintahan, Jakarta: [Link] Grafindo
Persada.
11