Mata Kuliah: Psikologi Bermain
Dosen Pengampu: 1. Dian Novita Siswanti, S. Psi., M. Si., M. Psi., Psikolog
2. Novita Maulidya, S. Psi., M. Psi., Psikolog
TEORI BERMAIN
Disusun Oleh:
Sindi Agustina
200701502068
Kelas: C/3
Program Studi Psikologi
Fakultas Psikologi
Universitas Negeri Makassar
2022
● Bermain
Mulyadi (2009) menuliskan bahwa bermain merupakan aktivitas dan pekerjaan utama
dalam kehidupan anak. Melalui bermain anak dapat mengembangkan seluruh potensi
intelektual, bakat, kreativitas, minat, motivasi berprestasi dan menikmati kehidupan
dengan penuh menyenangkan. Sehingga tiidak dapat disalahkan kalau mereka selama
sehari penuh selalu asyik dan sibuk dengan kegiatan bermain.
Para ahli psikologi (Berk, 2001; Hughes, 1999; Johnson, Christie & Yawkey, 1999;
Papalia, Olds & Feldman, 2001; Tedjasaputra, 2001) memahami konteks bermain
sebagai kegiatan utama yang menyenangkan, dilakukan secara spontan tanpa paksaan
dari orang lain, didorong oleh motivasi internal.
● Teori-Teori bermain
Semakin berkembangan ilmu psikologi, para ahli juga berupaya untuk
memformulasikan jenis teori yang berguna demi mengembangkan disiplin ilmu terkait
bermain. Sehingga secara umum ada 2 teori Psikologi bermain yaitu teori klasik dan
teori modern.
1. Teori Klasik
Ada 4 teori yang terdapat dalam teori bermain klasik (Mulyadi, 2009), diantaranya:
a. Teori Surplus Energi (Herbet Spencer)
Teori ini menganggap bahwa anak-anak yang bermain itu memiliki kelebihan
tenaga, sehingga melalui bermain mereka dapat menyalurkan kelebihan
tenaganya. Melalui bermain dengan tujuan mengekspresikan potensi dan
menyalurkan energi anak-anak dapat mencapai keseimbangan energi dalam
dirinya. Sehingga Spencer percaya bahwa energi anak-anak harus disalurkan
secara positif melalui kegiatan bermain.
b. Teori Recharge of Energy (Patrick).
Teori ini menganggap bahwa dalam keadaan lelah dan santai, anak-anak justru
memerlukan tenaga baru melalui kegiatan bermain. Patrick berpendapat bahwa
melalui bermain anak-anak yang telah kehabisan tenaga usah melakukan
aktivitas sekolah akan memperoleh energi baru. Karena itu, teori ini disebut di
recharge of energy.
c. Teori rekapitulasi (Stanley Hall)
Menurut Hall dalam teori rekapitulasi (recapitulation theory) dikatakan bahwa
bermain sebagai kegiatan unik bagi anak-anak. Ia juga menganggap bahwa
bermain merupakan salah satu kegiatan bagi anak untuk dapat tumbuh dan
berkembang secara evolutif menuju dewasa.
d. Teori Practice (Karl Groos)
Teoro ini sejalan dengan teori rekapitulasi milik Hall, dimana Gross
menganggap bahwa pada masa perkembangan anak, bermain dapat menjadi
metode pembelajaran untuk pengembangan potensi dan juga untuk mencapai
keterampilan keterampilan yang dibutuhkan sebagai orang dewasa nantinya.
Melalui bermain mereka belajar berhitung, mengambar/melukis,
berkomunikasi, kerjasama, bercerita dan belajar berorganisasi dalam
lingkungan kelompok teman sebaya. Hal inilah yang menjadi dasar persiapan
mereka sebagai orang dewasa.
2. Teori Modern
Ada 5 teori yang terdapat dalam teori bermain modern (Mulyadi, 2009), diantaranya:
a. Teori psikoanalitik (Sigmund Freud).
Menurut Sigmund Freud dan Anna Freud, melalui bermainan anak dapat
mengurangi taraf kecemasan yang dirasakannya. Kecemasan atau rasa takut
anak dapat ditimbulkan dari kecemasan objektif atau realitas (objective or
reality anxiety) dan kecemasan intingtual (instinctual anxiety). Mereka percaya
bahwa dalam bermain mengandung unsur terapis, karena perasaan cemas, kuatir
atau masalah psikologis lainnya dapat disalurkan melalui kegiatan bermain.
Mereka dengan sekuat tenaga membebaskan ketegangan-ketegangan
batin/psikologis melalui bermain.
b. Teori Neo-psikoanalitik (Erik Erikson)
Pandangan dalam teori ini menolak pendapat Sigmund Freud yang menyatakan
bahwa bermain sebagai sarana untuk mengurangi rasa cemas anak. Menurut
Erikson bermain itu memiliki fungsi strategis untuk membangun dan
mengembangkan ego anak. Bermain membutuhkan energi fisik, sehingga hal
ini akan membantu perkembangan fisik yang sehat. Selain itu, dalam bermain
yang berhubungan dengan kelompok sosial, maka bermain akan meningkatkan
keterampilan sosial (social ekill) serta harga dirinya (self esteem). Erik Erikson
membagi kegiatan bermain menjadi 3 macam yaitu:
- Bermain otokosmik (autocosmic play). Permainan yang berada pada
tahun-tahun pertama anak, dimana bayi melakukan kegiatan bermain
dengan menggerak-gerakan anggota tubuh (seperti tangan, kaki atau
kepala) secara berulang-ulang (reaksi sirkuler primer). Dengan kegiatan
bermain tersebut, anak merasa senang dan belajar sesuatu bahwa dengan
menggerakkan anggota tubuh, ia mendapatkan suatu pelajaran dalam
hidupnya.
- Bermain mikrosfer (microsphere play). Bentuk bermain ini dilakukan
oleh anak-anak dengan usia 2 tahun pertama dimana mereka mulai
bermain dengan menggunakan benda-benda disekitarnya. Seperti
meraih bola, kemudian menendangnya, memegang boneka, mengigit
atau mengunyah mainan dari karet, meremas-remas kertas dan
sebagainya. Melalui metode ini seorang anak akan belajar menguasai
ketrampilan motorik kasar dan sekaligus belajar mengendalikan
(menguasai) benda- benda tersebut agar tetap ditangannya.
- Bermain makrosfer (macrosphere play). Permainan yang dilakukan oleh
anak-anak usia pra-sekolah yaitu 3 - 5 tahun (pre-school ages children),
dimana mereka sudah mampu menguasai organ- organ fisik dan
menguasai objek-objek di sekitarnya. Sehingga pada tahap ini ia
mencoba untuk memperluas jangkauannya dengan cara bermain
melibatkan anak-anak lain. Ia mungkin berbagi cerita, pengalaman,
pikiran (khayalan, fantasi) kepada teman-temannya. Kemudian dibalas
oleh teman-temannya yang juga menunjukkan keterampilan merek..
Dengan demikian, terjadi interaksi sosial antara mereka yang bersifat
mutualisme. Karena itu menurut Erikson dengan menguasai
keterampilan bermain makrosfer ini, anak-anak akan siap untuk
menguasai nilai-nilai sosial budaya, sehingga mereka akan lebih siap
memasuki atau menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang lebih
luas.
c. Teori Bermain menurut Teori Perkembangan kognitif (Jean Piaget)
Teori ini menganggap bahwa melalui kegiatan bermain anak-anak dapat
mengembangkan kemampuan intelektual mereka. Dengan bermain mereka
dapat memecahkan berbagai macam masalah dengan baik, yang
keberhasilannya akan meningkatkan kemampuan kognitifnya sehingga mereka
semakin mampu berpikir secara kompleks ketika menghadapi masalh-masalah
lain.
d. Teori Penggugahan Modulasi.
Teori ini kenganggap bahwa dalam bermain anak-anak memiliki dorongan
untuk mengoptimalkan seluruh sistem syaraf pusat mereka. Hughes (Mulyadi,
2009) menganggap bahwa ketika anak-anak merasakan kondisi yang
membosankan karena melakukan sesuatu secara rutin, maka dorongan bermain
merupakan upaya untuk menciptakan suasana yang variatif dan menyenangkan
dalam hidupnya. Sebab bermain akan memberi stimulasi untuk pengembangan
berbagai aspek yaitu: fisik, intelektual, persepsi, keterampilan sosial,
psikomotorik/kinestetik dan sebagainya.
e. Teori sosio-historis (Lev Vygosky)
Vygosky adalah seorang ahli psikologi yang berkebangsaan Rusia. Ia meyakini
bahwa perkembangan intelektual seseorang sangat dipengaruhi oleh bagaimana
interaksi antara dirinya dengan lingkungan sosial budaya. Hanya saja untuk
memperoleh hasil yang maksimal bagi perkembangan intelektual anak harus
memperhatikan prinsip Zone of proximal development atau ZPD.
ZPD mengandung pengertian sebagai suatu masa kritis yang apabila
memperoleh stimulasi yang tepat akan mampu menumbuh-kembangkan potensi
anak secara maksimal. Tetapi seandainya melewati masa kritis tersebut
kemungkinan akan mengalami kelambatan atau hambatan dalam perkembangan
potensinya.
Dalam kaitan dengan ZPD tersebut, Vygotsky mengajukan pandangan yang
bersifat interaktif, artinya bahwa perkembangan intelektual individu
dipengaruhi oleh faktor alamiah (natural line) dan faktor lingkungan (the
social-historical line). Menurut Vygotsky bermain dapat dijadikan sarana
kegiatan pengembangan intelektual anak karena anak dapat melakukan interaksi
dengan lingkungan sosial-budayanya. Oleh karena itu, dalam pengembangan
potensi intelektual anak-anak, para orangtua atau profesional (guru, psikolog)
untuk selalu memperhatikan prinsip ZPD. Kesempatan bermain yang
terprogram dan terarah secara sistematis diperlukan agar pengembangan potensi
benar-benar dapat terwujud dengan baik. Nilai-nilai sosial budaya dapat
menjadi sumber inspirasi untuk pembelajaran bagi anak-anak. Orangtua atau
profesional dapat melibatkan anak-anak untuk mendapatkan sumber
pembelajaran tersebut, sehingga mereka dapat mengembangkan potensinya
secara lebih optimal di masa yang akan datang.
● Perbedaan Teori Bermain Klasik dan Teori Bermain Modern
Dari penjelasan terikait teori klasik dan modern diatas, dapat disimpulkan bahwa
perbedaan dari kedua teori tersebut ialah teori klasik lebih merujuk kepada aspek fisik
dalam hal bermain. Mereka menganggap melalui bermain energi anak dapat tersalurkan
dan juga dapat memperoleh energi baru serta bermain dapat menyempurnahkan
perkembangan mereka ke fase dewasa. Sementara teori modern merujuk kepada aspek
kognitif, emosional dan sosial anak ketika bermain.
Daftar Pustaka
Mulyadi, S. (2009). Psikologi Bermain. Jakarta: Gunadarma.