EPPS
01/INV/2023
Nama : Muh. Yasin Ahmad
NIM : 200701502116
Kelas :A
Tanggal : 9 Maret 2023
Waktu : 09:46-12:00
Tempat : Laboratorium Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar
I. TUJUAN PRAKTIKUM
Praktikum inventory ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mahasiswa
mengadministrasikan alat tes yang sudah dipelajari dan melakukan observasi selama
proses mengadministrasikan alat tes terhadap testee, serta mahasiswa mampu
mengevaluasi kelebihan dan kelemahan dari praktikum inventory yang telah
dilakukan.
II. PROSEDUR PRAKTIKUM
Pilihlah seorang individu yang dapat dijadikan subjek. Sediakan surat
kesediaan untuk menjadi subjek dibuktikan dengan identitas dan tanda tangan yang
dibutuhkan pada surat kesediaan. Administrasikan alat tesnya dan catatlah perilaku
dari subjek tersebut. Isilah catatan observasi.
III. DATA TESTEE
Nama :M
Tempat / Tgl. Lahir : Sengkang / 17 April 2003
Usia : 21
Jenis Kelamin : Perempuan
Pendidikan : SMA
Alamat : Perumahan Bukit Bunga
Anak ke… dari … : 2 dari 2 bersaudara
Status Pernikahan : Belum menikah
IV. STATUS PRAESENS
Testee mengenakan baju kemeja berlengan panjang berwarna putih
dan kerudung berwarna hitam. Testee mengenakan rok panjang berwarna
hitam dan kaos kaki berwarna putih dengan garis berwarna krem dan coklat.
Testee mengenakan jam tangan berwarna coklat di tangan kirinya.
V. LATAR OBSERVASI
Ruangan yang digunakan untuk praktikum EPPS adalah laboratorium
eksperimen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Ruangan
berbentuk persegi panjang berwarna putih. Ruangan memiliki 22 meja dan 22
kursi. Ruangan memiliki 2 lemari dan sebuah layar, Ruangan memiliki sebuah
penyejuk udara dan sebuah karpet berwarna ungu.
VI. HASIL OBSERVASI
Testee masuk ke dalam ruagan pada pukul 09:46 WITA. Testee mulai
membuka buku tes dengan tangan kiri pada menit 0 detik 3. Testee menggeser
buku ke sebelah kanan dan memindahkan lembar jawaban mendekati dada
pada menit 1 detik 37. Widjaja (2000) mengemukakan bahwa memajukan
kepala ke depan menunjukan bahwa individu ingin mengetahui apa yang
terjadi di sekitarnya.
Testee memajukan kepala ke arah depan dan menundukkan kepala
dengan pandangan lurus ke lembar jawaban pada menit 3 detik 5. Widjaja
(2000) mengemukakan bahwa pandangan yang lurus menandakan bahwa
individu sedang berfokus pada sesuatu yang dilihat. Testee batuk pada menit 4
detik 23. Testee menyentuh pipi sebelah kanan pada menit 5 detik 33. Subjek
mengeser buku dan lembar jawaban menjauh dari dada pada menit 14 detik
43.
Testee menyentuh hidung dengan tangan kanan pada menit 15 detik
43. Widjaja (200) mengemukakan bahwa testee yang menyentuh hidungnya
memberikan kesan bahwa individu tersebut sedang berpikir tentang sesuatu
atau berusaha mencari pemecahan masalah dari suatu persoalan, Navaro
(2008) mengemukakan bahwa testee yang menyentuh hidungnya dilakukan
sebagai gerakan penenangan diri untuk meringankan ketegangan. (25:40)
Testee mengulung jari-jarinya pada menit 25 detik 40. Testee batuk pada
menit 25 detik 14. Testee menyentuh hidung pada menit 25 detik 14.
VII. EVALUASI OBSERVASI
Observasi selama proses pengerjaan tes EPPS memiliki kelebihan
adalah gerakan testee secara keseluruhan bersifat konstan dan berulang,
sehingga memudahkan tester untuk melakukan observasi dengan lebih akurat
dan sistematis.
Kesulitan selama proses pengerjaan tes EPPS adalah tester harus
membagi fokus antara mengamati testee dan mencatat perilaku yang muncul
tanpa diketahui oleh testee. Hal ini menjadi sulit karena tester perlu
memperhatikan setiap tindakan dan perilaku yang dilakukan testee, sementara
juga harus mencatat semua observasi yang dilakukan tanpa mengganggu atau
memengaruhi subjek secara tidak langsung.
VIII. REFERENSI
Navarro, J. (2015). Cara Cepat Membaca Bahasa Tubuh, Change Publisher:
Jakarta.
Widjaja, H. (2000). Ilmu Pernyataan, Bandung: UPT Fakultas Psikologi
Universitas Padjajajaran.
Dewi, E. M. P. & Permatasasi N. (2019) Pengantar Psikodiagnostik. UPT
Unhas Press: Makassar.
IX. LAMPIRAN HASIL TES DAN SKORING
Dewi dan Permatasari (2019) mengemukakan bahwa EPPS merupakan
salah satu jenis tes inventori yang disususun khusus untuk mengungkapkan
kebutuhan-kebutuhan individu. Tes ini terdiri atas 15 kebutuhan yang berasal
dari teori Murray dan kemudian dikembangkan oleh Edwards. Dewi dan
Permatasari (2019) mengemukakan bahwa tes EPPS terdiri atas 225 aitem
yang masing-masingnya memiliki dua pernyataan (A dan B). Sunarti
(Dewi&Permatasari, 2019) mengemukakan bahwa EPPS mengungkapkan 15
variabel kepribadian, yakni Achivement (Ach), Deverence (Def), Order (Ord),
Exhibition (Exh), Autonomy (Aut), Affiliation (Aff), Intraception (Int),
Succorance (Suc), Dominance (dom), Abasement (Aba), Nurturance (Nur),
Change (Chg), Endurance (End), Heterosexuality (Het), dan Aggression
(Agg).
Berikut hadil skoring dalam tes EPPS yang telah dilakukan testee:
Need Raw Score Percentile
Ach 16 77
Def 11 19
Ord 13 30
Exh 11 51
Aut 14 73
Aff 12 10
Int 21 93
Suc 12 46
dom 22 98
Aba 17 51
Nur 15 24
Chg 10 13
End 16 47
Het 2 24
Agg 15 87
Berdasarkan hasil skoring diatas, diketahui bahwa testee mendapatkan
skor tertinggi pada Dominance (Dom) dengan hasil 98 dan hasil paling rendah
pada Affiliation (Aff) dengan hasil 10.
X. EVALUASI PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Dalam praktikum Edward's Personal Preference Schedule (EPPS),
terdapat kelebihan dan kekurangan yang dapat ditemukan oleh tester.
Kelebihan yang diperoleh adalah tester dapat belajar tentang cara
mengadministrasikan alat tes EPPS sesuai dengan norma yang berlaku,
sehingga dapat meningkatkan keterampilan dan keahlian dalam mengelola tes.
Namun, kekurangan yang dialami oleh tester adalah kurangnya building
rapport dengan testee sebelum memulai tes. Hal ini dapat memengaruhi
pengalaman testee selama tes dan mempengaruhi hasil tes secara keseluruhan.
Akibatnya, testee mungkin merasa lelah atau stres sehingga dapat
memengaruhi validitas dan reliabilitas hasil tes. Karena itu, penting bagi
tester untuk membangun hubungan yang baik dan memberikan pengantar
yang jelas sebelum memulai tes.
Makassar, 9 April 2023
Praktikan,
Muh. Yasin Ahmad
NIM.200701502116
DISC
01/INV/2023
Nama : Muh. Yasin Ahmad
NIM : 200701502116
Kelas :A
Tanggal : 9 Maret 2023
Waktu : 09:46-12:00
Tempat : Laboratorium Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar
XI. TUJUAN PRAKTIKUM
Praktikum inventory ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mahasiswa
mengadministrasikan alat tes yang sudah dipelajari dan melakukan observasi selama
proses mengadministrasikan alat tes terhadap testee, serta mahasiswa mampu
mengevaluasi kelebihan dan kelemahan dari praktikum inventory yang telah
dilakukan.
XII. PROSEDUR PRAKTIKUM
Pilihlah seorang individu yang dapat dijadikan subjek. Sediakan surat
kesediaan untuk menjadi subjek dibuktikan dengan identitas dan tanda tangan yang
dibutuhkan pada surat kesediaan. Administrasikan alat tesnya dan catatlah perilaku
dari subjek tersebut. Isilah catatan observasi.
XIII. DATA TESTEE
Nama :M
Tempat / Tgl. Lahir : Sengkang / 17 April 2003
Usia : 21
Jenis Kelamin : Perempuan
Pendidikan : SMA
Alamat : Perumahan Bukit Bunga
Anak ke… dari … : 2 dari 2 bersaudara
Status Pernikahan : Belum menikah
XIV. STATUS PRAESENS
Testee mengenakan baju kemeja berlengan panjang berwarna putih
dan kerudung berwarna hitam. Testee mengenakan rok panjang berwarna
hitam dan kaos kaki berwarna putih dengan garis berwarna krem dan coklat.
Testee mengenakan jam tangan berwarna coklat di tangan kirinya.
XV. LATAR OBSERVASI
Ruangan yang digunakan untuk praktikum DISC adalah laboratorium
eksperimen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Ruangan
berbentuk persegi panjang berwarna putih. Ruangan memiliki 22 meja dan 22
kursi. Ruangan memiliki 2 lemari dan sebuah layar, Ruangan memiliki sebuah
penyejuk udara dan sebuah karpet berwarna ungu.
XVI. HASIL OBSERVASI
Testee mengerjakan soal sambil menundukkan kepala dan
mengarahkan pandangan ke lembar soal pada menit 0 detik 53. Widjaja
(2000) mengemukakan bahwa pandangan yang lurus menandakan bahwa
individu sedang berfokus pada sesuatu yang dilihat. Testee menyentuh hidung
pada menit 2 detik 50. Testee menggerakan kepala pada menit 3 detik 9.
Testee mengerakkan jarinya naik turun ke meja pada menit 3 detik 23.
XVII. EVALUASI OBSERVASI
Observasi selama proses pengerjaan tes DISC memiliki kelebihan
adalah gerakan testee secara keseluruhan bersifat konstan dan berulang,
sehingga memudahkan tester untuk melakukan observasi dengan lebih akurat
dan sistematis.
Kesulitan selama proses pengerjaan tes DISC adalah tester harus
membagi fokus antara mengamati testee dan mencatat perilaku yang muncul
tanpa diketahui oleh testee. Hal ini menjadi sulit karena tester perlu
memperhatikan setiap tindakan dan perilaku yang dilakukan testee, sementara
juga harus mencatat semua observasi yang dilakukan tanpa mengganggu atau
memengaruhi subjek secara tidak langsung.
XVIII. REFERENSI
Slowikowski, M.K. (2005). Using the DISC behavioral instrument to guide
leadership and communication. AORN journal, 82(5), 835-843.
Widjaja, H. (2000). Ilmu Pernyataan, Bandung: UPT Fakultas Psikologi
Universitas Padjajajaran.
XIX. LAMPIRAN HASIL TES DAN SKORING
Slowikowski (2005) mengemukakan bahwa DISC adalah instrument
yang mengklasifikasikan perilaku dalam empat tipe kepribadian, yakni
dominat, influencer, steady, dan conscientiousness dan menghasilkan metode
yang dapat digunakan para pemimpin untuk bekerja dengan masing-masing
tipe kepribadian.
Berikut hadil skoring dalam tes DISC yang telah dilakukan testee:
D I S C ★ Total Score
Most 6 1 8 4 5 24
Least 8 6 2 2 6 23
Change -2 -5 6 2
Berdasarkan hasil skoring di atas, diketahui bahwa subjek
mendapatkan skor tertinggi pada steadiness (6), yaitu individu dengan
karakteristik dapat diandalkan, mudah bergaul, pandai memotivasi, kompeten,
dan mampu bekerja sama dengan orang lain.
XX. EVALUASI PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Dalam praktikum DISC terdapat kelebihan dan kekurangan yang dapat
ditemukan oleh tester. Kelebihan yang diperoleh adalah tester dapat belajar
tentang cara mengadministrasikan alat tes DISC sesuai dengan norma yang
berlaku, sehingga dapat meningkatkan keterampilan dan keahlian dalam
mengelola tes. Namun, kekurangan yang dialami oleh tester adalah kurangnya
building rapport dengan subjek sebelum memulai tes. Hal ini dapat
memengaruhi pengalaman subjek selama tes dan mempengaruhi hasil tes
secara keseluruhan. Akibatnya, testee mungkin merasa lelah atau stres
sehingga dapat memengaruhi validitas dan reliabilitas hasil tes. Karena itu,
penting bagi tester untuk membangun hubungan yang baik dan memberikan
pengantar yang jelas sebelum memulai tes.
Makassar, 9 April 2023
Praktikan,
Muh. Yasin Ahmad
NIM.200701502116
MBTI
01/INV/2023
Nama : Muh. Yasin Ahmad
NIM : 200701502116
Kelas :A
Tanggal : 30: Maret 2023
Waktu : 09:50-12:00
Tempat : Laboratorium Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar
XXI. TUJUAN PRAKTIKUM
Praktikum inventory ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mahasiswa
mengadministrasikan alat tes yang sudah dipelajari dan melakukan observasi selama
proses mengadministrasikan alat tes terhadap testee, serta mahasiswa mampu
mengevaluasi kelebihan dan kelemahan dari praktikum inventory yang telah
dilakukan.
XXII. PROSEDUR PRAKTIKUM
Pilihlah seorang individu yang dapat dijadikan subjek. Sediakan surat
kesediaan untuk menjadi subjek dibuktikan dengan identitas dan tanda tangan yang
dibutuhkan pada surat kesediaan. Administrasikan alat tesnya dan catatlah perilaku
dari subjek tersebut. Isilah catatan observasi.
XXIII. DATA TESTEE
Nama :A
Tempat / Tgl. Lahir : Makassar, 8 Juli 2003
Usia : 21
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Pendidikan : SMA
Alamat : Jl. Kompleks IDI
Anak ke… dari … : 1 dari 2 berssaudara
Status Pernikahan : Belum menikah
XXIV. STATUS PRAESENS
Testee mengenakan baju kemeja berlengan Panjang berwarna hitam
dengan garis putih. Testee mengenakan celana berwarna hitam dan
mengenakan kaos kaki berwarna hitam. Testee mengenakan gelang berwarna
coklat di tangan kirinya.
XXV. LATAR OBSERVASI
Ruangan yang digunakan untuk praktikum MBTI adalah laboratorium
eksperimen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Ruangan
berbentuk persegi panjang berwarna putih. Ruangan memiliki 22 meja dan 22
kursi. Ruangan memiliki 2 lemari dan sebuah layar, Ruangan memiliki sebuah
penyejuk udara dan sebuah karpet berwarna ungu.
XXVI. HASIL OBSERVASI
Testee masuk ke ruagan pada pukul 09:50 WITA. Testee mulai
mengambil buku tes dan mengangkatnya menggunakan tangan kiri lalu testee
membuka buku menggunakan tangan kanan pada menit 0 detik 1. Testee
menundukan kepala dengan pandangan lurus ke lembar jawaban pada menit 1
detik 37. Widjaja (2000) mengemukakan bahwa apabila individu
menundukkan kepala dapat diartikan individu sedang memikirkan sesuatu
untuk mencari jalan keluar, pandangan yang lurus menandakan bahwa
individu sedang berfokus pada sesuatu yang dilihat.
Testee mengerakkan jarinya naik turun ke meja pada menit 3 detik 59.
Testee menyentuh hidung dengan tangan kanan pada menit 4 detik 14.
Widjaja (2000) mengemukakan bahwa subjek yang menyentuh hidungnya
memberikan kesan bahwa individu tersebut sedang berpikir tentang sesuatu
atau berusaha mencari pemecahan masalah dari suatu persoalan, Navaro
(2008) mengemukakan bahwa subjek yang menyentuh hidungnya dilakukan
sebagai gerakan penenangan diri untuk meringankan ketegangan.
XXVII. EVALUASI OBSERVASI
Observasi selama proses pengerjaan tes MBTI memiliki kelebihan
adalah gerakan testee secara keseluruhan bersifat konstan dan berulang,
sehingga memudahkan tester untuk melakukan observasi dengan lebih akurat
dan sistematis.
Kesulitan selama proses pengerjaan tes MBTI adalah tester harus
membagi fokus antara mengamati testee dan mencatat perilaku yang muncul
tanpa diketahui oleh testee. Hal ini menjadi sulit karena tester perlu
memperhatikan setiap tindakan dan perilaku yang dilakukan testee, sementara
juga harus mencatat semua observasi yang dilakukan tanpa mengganggu atau
memengaruhi testee secara tidak langsung.
XXVIII. REFERENSI
Navarro, J. (2015). Cara Cepat Membaca Bahasa Tubuh, Change Publisher:
Jakarta.
Widjaja, H. (2000). Ilmu Pernyataan, Bandung: UPT Fakultas Psikologi
Universitas Padjajajaran.
Myer, I.B., McCaulley, M.H., Quenk, N.L,. Hammer, A.L. (1998). A Guide to
The Development and Use of The Myers-Briggs Type Indicator Third
Edition. California: Consulting Psychologist Press.
XXIX. LAMPIRAN HASIL TES DAN SKORING
Myers, McCaulley, Quenk, dan Hammer (1985) mengemukakan
bahwa Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) mengidentifikasikan empat
kepribadian yang terpisah, yakni Extreversion-Introversion (E-I), Sensing-
Intuition (S-N), Thinking-Feeling (T-F), dan Judging-Perceving (J-P). Mayer,
McCaulley, Quenk, dan Hammer (1985) mengemukakan bahwa masing-
masing individu memiliki satu preferensi mengarahkan penggunaan
karakteristik persepsi dan penilaian oleh individu.
a. Extraversion-Introversion (E-I)
Dikotomi E-I dirancang bertujuan untuk menunjukkan kecenderungan
seseorang terhadap perilaku Extraversion atau Introversion. Individu yang
memilih Extraversion akan fokus pada orang dan objek di sekitar mereka,
sedangkan individu yang memilih Introversion cenderung fokus pada konsep,
ide, dan pengalaman internal.
b. Sensing-Intuition (S-N)
Dikotomi S-N dirancang bertujuan untuk menunjukkan preferensi
seseorang terhadap dua cara pandang yang berbeda. Individu yang memilih
Sensing akan lebih condong untuk memperhatikan fakta dan kejadian yang
dapat diamati oleh seluruh panca indera. Sementara individu yang memilih
Intuition cenderung menghadirkan pemikiran yang kurang jelas atau berada di
luar jangkauan pikiran sadar.
c. Thinking-Feeling (T-F)
Dikotomi T-F dirancang bertujuan untuk mencerminkan preferensi
seseorang antara dua cara berbeda dalam membuat penilaian. Individu yang
lebih cenderung pada Thinking akan membuat keputusan berdasarkan
konsekuensi logis yang diperoleh. Sementara individu yang lebih cenderung
pada Feeling dalam membuat keputusan akan bergantung pada nilai-nilai
pribadi dan norma sosial yang berlaku.
d. Judging-Perceiving (J-P)
Dikotomi J-P dirancang bertujuan untuk mengidentifikasi proses yang
digunakan seseorang dalam berurusan dengan lingkungan sekitar. Individu
yang cenderung menggunakan Judging secara umum akan menggunakan
proses berpikir dan perasaan untuk menilai suatu hal. Sementara individu
yang cenderung menggunakan Perceiving akan lebih menggunakan intuisi
dalam berinteraksi dengan dunia sekitar.
Berikut hadil skoring dalam tes MBTI yang telah dilakukan testee:
E I S N T F J P
Bagian I 4 11 4 11 11 4 5 10
Bagian II 3 6 3 6 6 3 4 5
Bagian III 0 1 1 0 1 0 0 1
Tipe Kepribadian I N T P
Berdasarkan hasil skoring dapat disimpulkan bahwa testee memiliki
tipe kepribdadian INTP.
XXX. EVALUASI PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Dalam praktikum Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), terdapat
kelebihan dan kekurangan yang dapat ditemukan oleh tester. Kelebihan yang
diperoleh adalah tester dapat belajar tentang cara mengadministrasikan alat tes
MBTI sesuai dengan norma yang berlaku, sehingga dapat meningkatkan
keterampilan dan keahlian dalam mengelola tes. Namun, kekurangan yang
dialami oleh tester adalah kurangnya building rapport dengan subjek sebelum
memulai tes. Hal ini dapat memengaruhi pengalaman subjek selama tes dan
mempengaruhi hasil tes secara keseluruhan. Akibatnya, subjek mungkin
merasa lelah atau stres sehingga dapat memengaruhi validitas dan reliabilitas
hasil tes. Karena itu, penting bagi tester untuk membangun hubungan yang
baik dan memberikan pengantar yang jelas sebelum memulai tes.
Makassar, 9 April 2023
Praktikan,
Muh. Yasin Ahmad
NIM.200701502116
KOSTICK
01/INV/2023
Nama : Muh. Yasin Ahmad
NIM : 200701502116
Kelas :A
Tanggal : 30: Maret 2023
Waktu : 09:50-12:00
Tempat : Laboratorium Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar
XXXI. TUJUAN PRAKTIKUM
Praktikum inventory ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana mahasiswa
mengadministrasikan alat tes yang sudah dipelajari dan melakukan observasi selama
proses mengadministrasikan alat tes terhadap testee, serta mahasiswa mampu
mengevaluasi kelebihan dan kelemahan dari praktikum inventory yang telah
dilakukan.
XXXII. PROSEDUR PRAKTIKUM
Pilihlah seorang individu yang dapat dijadikan subjek. Sediakan surat
kesediaan untuk menjadi subjek dibuktikan dengan identitas dan tanda tangan yang
dibutuhkan pada surat kesediaan. Administrasikan alat tesnya dan catatlah perilaku
dari subjek tersebut. Isilah catatan observasi.
XXXIII. DATA TESTEE
Nama :A
Tempat / Tgl. Lahir : Makassar, 8 Juli 2003
Usia : 21
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Pendidikan : SMA
Alamat : Jl. Kompleks IDI
Anak ke… dari … : 1 dari 2 berssaudara
Status Pernikahan : Belum menikah
XXXIV. STATUS PRAESENS
Testee mengenakan baju kemeja berlengan Panjang berwarna hitam
dengan garis putih. Testee mengenakan celana berwarna hitam dan
mengenakan kaos kaki berwarna hitam. Testee mengenakan gelang berwarna
coklat di tangan kirinya.
XXXV. LATAR OBSERVASI
Ruangan yang digunakan untuk praktikum MBTI adalah laboratorium
eksperimen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Ruangan
berbentuk persegi panjang berwarna putih. Ruangan memiliki 22 meja dan 22
kursi. Ruangan memiliki 2 lemari dan sebuah layar, Ruangan memiliki sebuah
penyejuk udara dan sebuah karpet berwarna ungu.
XXXVI. HASIL OBSERVASI
Testee mulai mengambil buku tes dan mengangkatnya menggunakan
tangan kiri lalu testee membuka buku menggunakan tangan kanan pada menit
0 detik 18. Testee menundukan kepala dengan pandangan lurus ke lembar
jawaban pada menit 2 detik 03. Widjaja (2000) mengemukakan bahwa apabila
individu menundukkan kepala dapat diartikan individu sedang memikirkan
sesuatu untuk mencari jalan keluar, pandangan yang lurus menandakan
bahwa individu sedang berfokus pada sesuatu yang dilihat.
XXXVII. EVALUASI OBSERVASI
Observasi selama proses pengerjaan tes MBTI memiliki kelebihan
adalah gerakan testee secara keseluruhan bersifat konstan dan berulang,
sehingga memudahkan tester untuk melakukan observasi dengan lebih akurat
dan sistematis.
Kesulitan selama proses pengerjaan tes MBTI adalah tester harus
membagi fokus antara mengamati testee dan mencatat perilaku yang muncul
tanpa diketahui oleh testee. Hal ini menjadi sulit karena tester perlu
memperhatikan setiap tindakan dan perilaku yang dilakukan testee, sementara
juga harus mencatat semua observasi yang dilakukan tanpa mengganggu atau
memengaruhi testee secara tidak langsung.
XXXVIII. REFERENSI
Widjaja, H. (2000). Ilmu Pernyataan, Bandung: UPT Fakultas Psikologi
Universitas Padjajajaran.
Dewi, E. M. P. & Permatasasi N. (2019) Pengantar Psikodiagnostik. UPT
Unhas Press: Makassar.
XXXIX. LAMPIRAN HASIL TES DAN SKORING
Dewi dan Permatasari (2019) mengemukakan bahwa tes Kostick
adalah alat tes yang mengungkap kepribadian seseorang. Tes tersebut
mengukur tujuh aspek, yakni Fellowship (F dan W), Work Direction (N, G,
dan A), Leadership (L, P, dan I), Activity (T dan V), Social Nature (X, S, B,
dan O), Workstyle (R, D, dan C), dan Temprament (Z, E, dan K).
Berikut hadil skoring dalam tes Kostick yang telah dilakukan testee:
Aspek Indikator Jumlah
Need ti finish a task (N) 6
Role of hard intense worker (G) 5
Work Direction
Need to achive (A) 4
Leadership role (L) 2
Leadership Need to control others (P) 6
Ease in decision making (I) 4
Peace (T) 4
Activity
Virgorous type (V) 1
Need for closeness and affection 2
(O)
Social Nature
Need to belong to groups (B) 3
Social extension (S) 6
Need to be noticed (X) 3
Organized type (C) 5
Workstyle Interest in working with details (D) 4
Theoretical type (R) 7
Need for change (Z) 8
Temprament Emotional restraint (E) 7
Need to be eforceful (K) 3
Need to support authority (F) 4
Followership
Need for rules and supervision (W) 6
Berdasarkan hasil tes Kostick, Testee memperoleh hasil yang paling
tinggi pada Need for change (Z) dengan nilai 8 dan memperoleh hasil yang
paling rendah pada Virgorous type (V) dengan nilai 1.
XL. EVALUASI PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Dalam praktikum Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), terdapat
kelebihan dan kekurangan yang dapat ditemukan oleh tester. Kelebihan yang
diperoleh adalah tester dapat belajar tentang cara mengadministrasikan alat tes
MBTI sesuai dengan norma yang berlaku, sehingga dapat meningkatkan
keterampilan dan keahlian dalam mengelola tes. Namun, kekurangan yang
dialami oleh tester adalah kurangnya building rapport dengan subjek sebelum
memulai tes. Hal ini dapat memengaruhi pengalaman subjek selama tes dan
mempengaruhi hasil tes secara keseluruhan. Akibatnya, subjek mungkin
merasa lelah atau stres sehingga dapat memengaruhi validitas dan reliabilitas
hasil tes. Karena itu, penting bagi tester untuk membangun hubungan yang
baik dan memberikan pengantar yang jelas sebelum memulai tes.
Makassar, 9 April 2023
Praktikan,
Muh. Yasin Ahmad
NIM.200701502116