0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan10 halaman

Investasi Asing di Indonesia Era Jokowi

Tiga dokumen tersebut membahas tentang investasi asing di era Presiden Jokowi, hambatan investasi di Indonesia, dan kebijakan pemerintah dalam menarik investasi asing. Realisasi investasi asing selama era Jokowi meningkat setiap tahunnya. Namun, terdapat hambatan seperti regulasi yang rumit, ketersediaan lahan dan SDM, serta pajak. Pemerintah mencoba menarik investasi asing dengan deregulasi, memberikan insentif, serta men

Diunggah oleh

Alfelix Prayoga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan10 halaman

Investasi Asing di Indonesia Era Jokowi

Tiga dokumen tersebut membahas tentang investasi asing di era Presiden Jokowi, hambatan investasi di Indonesia, dan kebijakan pemerintah dalam menarik investasi asing. Realisasi investasi asing selama era Jokowi meningkat setiap tahunnya. Namun, terdapat hambatan seperti regulasi yang rumit, ketersediaan lahan dan SDM, serta pajak. Pemerintah mencoba menarik investasi asing dengan deregulasi, memberikan insentif, serta men

Diunggah oleh

Alfelix Prayoga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HASIL DAN PEMBAHASAN

Realisasi Investasi Asing di Indonesia Era Presiden Jokowi


Jika melihat data realisasi investasi oleh BKPM selama periode kepemimpinan Presiden
Jokowi, terlihat hampir setiap tahun tercatat dapat melampaui target yang telah ditentukan. Pada
masa awal kepemimpinan Presiden Jokowi di tahun 2014, BKPM mencatat realisasi investasi
mencapai Rp 463.1 triliun. Angka tersebut melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp 456,6
triliun dan mengalami pertumbuahn sebesar 16,2 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya,
dimana sebesar Rp 307 triliun diantaranya merupakan penanaman modal asing (PMA) yang
meningkat sebesar13,5 persen. Tahun 2015, realisasi investasi tercatat mencapai Rp 545,4 triliun
meningkat 17,8 persen (target tahun 2015 sebesar Rp 519,5 triliun), dengan PMA sebesar Rp
365,9 triliun meningkat 19,2 persen. Di tahun 2016, realisasi investasi mencapai Rp 612,8 triliun,
meningkat 12,4 persen (target sebesar Rp 594,8 triliun), dengan PMA sebesar Rp 396,6 triliun
naik 8,4 persen. Tahun 2017, realisasi investasi mencapai Rp 692,8 triliun. tumbuh 16,4 persen.
Di tahun 2018, realisasi investasi tercatat mencapai Rp 721,3 triliun, dengan realisasi investasi
PMA 2018 sebesar Rp 392,7 triliun, turun 8,8 persen. Pada 2019, total realisasi investasi
mencapai Rp 809,6 triliun. Sedangkan pada tahun 2020, BKPM mencatatkan realisasi investasi
Indonesia sebesar Rp 826,3 triliun, dengan PMA sebesar Rp 412,8 triliun Terakhir, pada tahun
2021 realisasi investasi mencapai Rp 901,02 triliun, dengan realisasi PMA sebesar Rp 454
triliun.

Hambatan Investasi di Indonesia


Menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), setidaknya ada lima kendala yang
sering dihadapi investor dalam berinvestasi di Indonesia yang membuat minat investasi asing ke
Indonesia menurun. Lima kendala tersebut yaitu:
1) Regulasi berbelit;
2) Akuisisi lahan yang sulit;
3) Infrastruktur publik yang belum merata;
4) Pajak dan insentif nonfiskal lain yang tidak mendukung investasi; dan
5) Tenaga kerja terampil yang belum memadai
Biaya tenaga kerja, sewa kantor, dan tarif pajak penghasilan (PPh) badan usaha di Indonesia
lebih tinggi dibandingka negara tetangga seperti Vietnam sehingga investor asing lebih memilih
berinvestasi di negara seperti Vietnam dibandingkan Indonesia yang biaya tenaga kerja, sewa
kantor, dan tarif pajak penghasilan (PPh) badan usaha lebih rendah.

Kebijakan dan Strategi Pemerintahan Era Jokowi Dalam Menarik Investasi Asing/PMA
Pada pemerintahan periode pertama presiden Joko Widodo tercatat sebanyak 16 Paket
Kebijakan Ekonomi diluncurkan, adapun kebijakan yang dapat menarik investasi asing terlihat
pada Paket Kebijakan Ekonomi Jilid II, bentuknya berupa deregulasi dan debirokratisasi
peraturan untuk mempermudah investasi, baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun
penanaman modal asing (PMA). Untuk menarik penanaman modal, terobosan kebijakan yang
akan dilakukan adalah memberikan layanan cepat dalam bentuk pemberian izin investasi dalam
waktu 3 jam di Kawasan Industri. Dengan mengantongi izin tersebut, investor sudah bisa
langsung melakukan kegiatan investasi., kemudian tax allowance dan tax holiday lebih cepat
dengan batas maksimal selama 25 hari, pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk alat
transportasi, insentif fasilitas di kawasan pusat logistik berikat, insentif pengurangan pajak bunga
deposito, dan perampingan izin sektor kehutanan.
Kemudian, dalam Rencana Strategis Penanaman Modal 2015-2019, Pemerintah
Indonesia menetapkan sektor prioritas investasi, yaitu infrastruktur, agrikultur, industri, maritim,
pariwisata, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri, serta ekonomi digital.
Sektor-sektor ini sangat terbuka untuk Penanaman Modal Asing (Foreign Direct
Investment/FDI) tentunya dengan memperhatikan pedoman investasi yang tercantum dalam
Peraturan Presiden No. 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang
Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.
Bagi investor asing yang hendak menanamkan modalnya di Indonesia, harus mendirikan
perusahaan berdasarkan bidang usaha yang tercantum dalam KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan
Usaha Indonesia). Perusahaan asing ini berbentuk PT (Perseroan Terbatas) yang dimiliki oleh
setidaknya dua pemegang saham, baik itu perorangan atau perusahaan. Selanjutnya, seperti yang
sudah disebutkan di atas, investor harus memperhatikan panduan bidang usaha yang tertutup dan
terbuka dengan persyaratan untuk asing yang tercantum dalam Perpres No. 44 Tahun 2016.
Apabila bidang usahanya tidak tercantum dalam daftar tersebut, berarti kepemilikan saham asing
bisa sampai 100%. Nilai minimum investasi asing di Indonesia adalah Rp 10 miliar (tidak
termasuk harga tanah dan bangunan). Jumlah minimal modal yang disetor ke bank di Indonesia
adalah Rp 2,5 miliar.

Pada periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi, Pemerintah menerapkan beberapa


strategi untuk menarik investor, yaitu sebagai berikut :
1. Mengesahkan Omnibus Law UU Cipta Kerja
Strategi pertama pemerintah untuk menarik investor yaitu dengan mengesahkan Omnibus
Law dalam Undang-Undang (UU) No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja pada 5 Oktober 2020.
Pengesahan Omnibus Law bertujuan untuk menciptakan iklim berusaha dan investasi yang
berkualitas sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru di Indonesia.
Omnibus Law merupakan Undang-Undang yang mengatur banyak hal, beberapa
diantaranya, yaitu:
 Penyederhanaan prosedur perizinan bisnis
 Persyaratan Investasi
 Ketenagakerjaan
Salah satu manfaat adanya Omnibus Law yaitu memperbaiki iklim investasi dan kepastian
hukum. Adapun beberapa kebijakan strategis Omnibus Law yaitu sebagai berikut:
 Peningkatan ekosistem investasi dan kegiatan berusaha
 Perlindungan dan kesejahteraan pekerja
 Kemudahan, pemberdayaan dan perlindungan UMKM
 Peningkatan investasi pemerintah dan proyek strategis nasional
2. Meluncurkan OSS-RBA
Untuk menunjang UU cipta kerja dalam menyederhanakan perizinan berusaha, maka
pada tanggal 9 Agustus 2021, pemerintah resmi meluncurkan OSS-RBA. Online Single
Submission Risk Based Approach (OSS-RBA) adalah sistem perizinan berusaha yang dibuat
berdasarkan tingkat resiko dan besaran skala kegiatan usaha. OSS-RBA yang merupakan
pembaharuan dari OSS versi pertama ini memadukan sistem daring dengan pendekatan risiko.
Adapun tujuan OSS-RBA yaitu meningkatkan transparansi dan keterbukaan dalam
memperoleh izin berusaha. Permohonan izin berusaha dilakukan melalui sistem OSS yang
terintegrasi sehingga prosesnya lebih mudah, cepat, transparan, dan kredibel. Khusus untuk
usaha mikro dan kecil, semua perolehan izin usaha juga difasilitasi untuk mendapatkan
sertifikasi SNI dan sertifikasi halal.
Berdasarkan tingkat risikonya, OSS-RBA dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
- Kegiatan usaha dengan tingkat risiko rendah
Pelaku usaha wajib memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) yang merupakan identitas
pelaku usaha sekaligus bukti legalitas dalam melakukan kegiatan usaha. Dalam hal ini, NIB
merupakan perizinan tunggal bagi kegiatan usaha dengan risiko rendah yang dilakukan oleh
UMK.
- Kegiatan usaha dengan tingkat risiko menengah rendah
Para pelaku usaha wajib memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Sertifikat Standar
yang diterbitkan oleh sistem OSS-RBA. NIB dan sertifikat ini berfungsi sebagai perizinan usaha
dan legalitas usaha untuk melakukan persiapan, operasional, dan komersial dalam kegiatan
usaha.
- Kegiatan usaha dengan tingkat risiko menengah tinggi
Perizinan usaha untuk kegiatan usaha dengan tingkat risiko menengah tinggi kurang lebih
sama dengan kegiatan usaha dengan tingkat risiko menengah rendah. Hanya saja, pada tingkat
risiko menengah tinggi, pemerintah pusat/daerah akan melakukan verifikasi pemenuhan standar
pelaksanaan kegiatan usaha sebelum melaksanakan kegiatan operasional dan komersial.
- Kegiatan usaha dengan tingkat risiko tinggi
Pelaku usaha wajib memiliki NIB dan izin. Izin yang dimaksud yaitu legalitas usaha
dalam bentuk persetujuan pemerintah kepada pelaku usaha untuk melakukan kegiatan
operasional dan komersial. Selain itu, standar pelaksanaan kegiatan usaha pun membutuhkan
verifikasi pemenuhan standar pelaksanaan kegiatan usaha yang dilakukan pemerintah
pusat/daerah.
3. Mengeluarkan Daftar Prioritas Investasi (DPI)
Mengeluarkan Daftar Prioritas Investasi (DPI) dalam Perpres No. 10 tahun 2021
merupakan salah satu strategi pemerintah untuk menarik investor untuk berinvestasi di
Indonesia. Daftar Prioritas Investasi (DPI) terdiri dari tiga sektor, yaitu:
- Sektor prioritas
Adapun yang termasuk dalam sektor prioritas yaitu proyek strategis nasional, padat
modal, serta berorientasi pada kegiatan penelitian, pengembangan, dan/atau inovasi, ekspor, dan
menggunakan teknologi tingkat tinggi.
- Sektor yang diperuntukkan bagi koperasi serta usaha mikro, kecil, dan menengah
(UMKM).
Untuk menciptakan keadilan bagi seluruh pelaku usaha besar maupun kecil, maka
perusahaan besar wajib bermitra dengan UMKM yang ada di sekitarnya. Dengan demikian,
perusahaan akan mendapatkan izin dan insentif.
- Sektor dengan pembatasan tertentu
Sektor dengan pembatasan tertentu yaitu bidang usaha tertentu dengan kepemilikan
modal asing dan persyaratan modal dalam negeri 100%.
Jika investor menanam modal di sektor prioritas, maka investor akan mendapatkan
insentif fiskal dan non fiskal. Insentif fiskal berupa pengurangan pajak penghasilan (tax holiday),
pengurangan pajak untuk penghasilan kena pajak (tax allowance), dan pembebasan bea impor.
Sedangkan insentif non fiskal berupa kemudahan perizinan usaha, perizinan pelaksanaan
kegiatan usaha, penyediaan infrastruktur pendukung, dan jaminan ketersediaan energi atau bahan
baku. Pemberian kedua insentif tersebut bertujuan untuk meningkatkan realisasi investasi,
pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.
4. Mendirikan Lembaga Pengelola Investasi (LPI)
Berikutnya, strategi pemerintah untuk menarik investor untuk berinvestasi yaitu
mendirikan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA).
Pendirian LPI bertujuan untuk mendapatkan kepercayaan investor dengan adanya lembaga
investasi dengan tata kelola yang baik. Selain itu juga untuk meningkatkan, memprioritaskan,
dan mengoptimalkan investasi jangka panjang untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
LPI juga diharapkan dapat memperbaiki iklim investasi di Indonesia.

Kemudian guna meningkatkan investasi dan menciptakan lapangan kerja, pemerintah


Indonesia juga mengeluarkan sektor energi, komunikasi dan pariwisata dari daftar investasi
negatif yakni daftar sektor yang dibatasi untuk orang asing. Rancangan Keputusan Presiden
mengatur daftar industri yang dibatasi untuk investasi asing dipangkas menjadi hanya 48, jauh
menyusut dibandingkan dengan sebelumnya lebih dari 300. Melalui omnibus law Cipta Kerja
yang disahkan Oktober 2021, pemerintah telah memangkas daftar 20 sektor yang ditutup untuk
investasi swasta menjadi hanya enam: obat-obatan yang dikendalikan, perjudian, penangkapan
ikan yang terancam punah, pemanenan karang, pembuatan senjata kimia dan bahan kimia
industri. Selain itu, pemerintah Indonesia juga berencana untuk mempertahankan daftar sektor
prioritas, yang berorientasi ekspor atau menjadi kunci proyek strategis nasional, proyek padat
modal atau padat karya. Daftar tersebut mencakup industri yang memenuhi syarat untuk
mendapatkan insentif fiskal seperti pembebasan pajak, tunjangan pajak dan tunjangan investasi,
serta insentif non-fiskal seperti kemudahan perizinan usaha, dukungan infrastruktur atau jaminan
ketersediaan bahan baku. Berdasarkan draf keputusan tersebut, kepemilikan asing masih akan
dibatasi di sektor yang terkait dengan transportasi, penyiaran dan penerbitan berita, serta
minuman beralkohol, sementara industri termasuk perbankan dan keuangan akan memerlukan
izin khusus dari pemerintah. Menurut rancangan tersebut, yang saat ini terbuka untuk masukan
publik, dana global hanya dapat melakukan bisnis yang melibatkan nilai investasi di atas Rp10
miliar, kecuali untuk investasi di startup berbasis teknologi di zona ekonomi khusus. Negara
dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini sedang berjuang untuk keluar dari resesi dan
mencapai target pertumbuhan ekonomi 5% tahun 2021. Reformasi besar-besaran dan
penyederhanaan peraturan bisnis dapat mendatangkan lebih banyak investasi asing langsung,
mesin pertumbuhan penting bagi negara di tengah pandemi.

Politik Luar Negeri Pemerintahan Jokowi Guna Meningkatkan Investasi


Melalui data TTIS “Trade, Tourism, Investment, and Services”, terlihatpaling tidak ada
37 pertemuan dan perundingan untuk meningkatkan investasi, ekspor, dan promosi pariwisata,
diantaranya membahas tentang Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA),
ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP), ASEAN-HongKong Free Trade
Agreement (AHKFTA), ASEAN-Korea Free Trade Agreement (AKFTA), dan Regional
Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Untuk meningkatkan investasi pariwisata,
Kementerian Luar Negeri telah memberikan fasilitas berupa fasilitas bebas visa kunjungan
singkat untuk 75 negara. Jumlah promosi TTIS sepanjang 2015 mencapai 69 kali, yang melebihi
target yang ditetapkan sebanyak 65 kali.
Tahun 2016, sebanyak 194 perjanjian ekonomi bilateral dan multilateral yang didorong
oleh diplomat RI telah disepakati, mereka juga memfasilitasi partisipasi 125 negara dalam trade
expo Indonesia yang membukukan transaksi sebesar USD 974,76 Juta pada tahun itu. Selain itu,
Kementerian Luar Negeri juga melakukan penandatanganan 31 kontrak dagang sebesar USD
200 Juta. Pencapaian diplomasi Indonesia juga berhasil mendorong produk karya anak bangsa
seperti PT. Inka berhasil untuk mengekspor 150 gerbong kereta senilai USD 72,3 Juta,
membantu PT DI mengekspor pesawat CN 235 ke Senegal dan Thailand, serta membangun
pabrik mie instan Indonesia di Serbia senilai 11 juta Euro untuk memenuhi permintaan pasar
Eropa.
Di tahun 2017, indeks diplomasi ekonomi Indonesia mampu mencapai realisasi sebesar
141,75%. Spesifik di bidang kesepakatan ekonomi menunjukkan perkembangan yang sangat
baik, dari target Kementerian Luar Negeri di tahun 2017 yaitu 46 kesepakatan, realisasinya
mencapai 113 kesepakatan, antara lain, kontribusi pendanaan untuk pembangunan, kerja sama
ekonomi dan teknik dengan Arab Saudi, kerja sama ekonomi dan teknik dengan Turki dan
Angola, bidang pertanian dengan Filipina, serta pembebasan visa, ekonomi sirkuler, manajemen
limbah dan air dengan Denmark.
Pada tahun 2018, penyelenggaraan Indonesia-Afrika Forum (IAF), meraih transaksi
sebesar USD 586,56 juta dan Business Announcement sebesar USD 1,3 milyar. Sebagai tindak
lanjut Indonesia-Africa Forum, dan untuk menggenjot pelibatan Perusahaan dan BUMN
Indonesia dalam membangun infrastruktur di Afrika.
Tahun 2019 direncanakan diselenggarakan Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue.
Realisasi negara-negara di kawasan Asia Pasifik dan Afrika yang mengalami peningkatan nilai
perdagangan dengan Indonesia melebihi target yang telah direncanakan yaitu 68 negara dari
target sebanyak 39 negara. Pada tahun 2018, realisasi Indeks Kerja Utama (IKU) “Jumlah negara
akreditasi yang mencapai target peningkatan nilai investasi asing ke Indonesia“sebesar 38 negara
dengan capaian 97,43% dari target sebanyak 39 negara. Realisasi negara-negara di kawasan Asia
Pasifik dan Afrika yang mengalami peningkatan nilai investasi dengan Indonesia melebihi target
yang telah direncanakan yaitu 22 negara dari target sebanyak 19 negara.

Contoh Praktek Penanaman Modal Asing di Indonesia


1. Hyundai
Perusahaan asal Korea Selatan ini telah berkomitmen untuk berinvestasi sebesar US$1,55
miliar di Indonesia. Rencana tersebut diungkapkan saat Presiden Joko Widodo (Jokowi)
mengunjungi pabrik Hyundai Motor Company (HMC) pada November lalu di Ulsan, Korea.
Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara pemerintah dan pihak HMC
pun sudah dilakukan saat kunjungan tersebut.
Untuk realisasi investasinya akan dilakukan dalam dua tahapan. Pada tahap pertama
yakni hingga 2021, Hyundai akan berfokus pada investasi pabrik pembuatan mobil Hyundai.
Cikarang terpilih menjadi lokasi pabrik tersebut dan setidaknya 50% dari total produksi akan
diekspor. Kemudian pada fase kedua mulai 2020 hingga 2030 akan fokus pada pengembangan
pabrik pembuatan mobil listrik, pabrik transmisi, pusat penelitian dan pengembangan (litbang),
serta pusat pelatihan. Untuk tahap ini, total produksi akan diekspor sebanyak 70%.
2. Shanghai Electric Group Corp.
Direktur Utama PT PLTG Celukan Bawang Hendriano bersama Presiden Direktur
Shanghai Electric Group Corp Yi Xiaorong  menandatangani MoU proyek PLTG Celukan
Bawang, Bali. Proyek PLTG ini akan dibangun di atas lahan seluas 50 hektare pada semester
I/2020 dengan nilai investasi US$1,3 miliar. Kepala Staf presiden Moeldoko memprediksi
proyek ini selesai dalam tiga tahun. Dengan pembangunan ini, maka Bali dapat mengantisipasi
kebutuhan di bidang elektrik karena ke depannya keperluan listrik akan terus meningkat.
3. Power Environ
Dalam acara Trade Expo Indonesia (TEI) 2019 pada Oktober lalu, sejumlah pebisnis
Indonesia dan Jepang melakukan kontrak dagang dan kontrak joint venture. Satu-satunya
kontrak joint venture dilakukan oleh perusahaan Jepang Power Environ bersama PT. Bintang
Paser Sejati. Nilai investasi yang mereka sepakati sebesar US$180.000. Kedua pihak
menandatangani MoU membentuk perusahaan patungan untuk bisnis cangkang sawit dengan
potensi perdagangan US$3,75 juta per tahun untuk 5 tahun pertama.
4. Pegatron
Pegatron Corporation untuk pertama kalinya di Asia Tenggara membuka pabrik bernama
Pegatron Technology Indonesia (PTI) di Batam, Kepulauan Riau. Pabrik tersebut berada di lahan
seluas satu hektare dan mempekerjakan 40 tenaga kerja. Namun, nantinya, perusahaan asal
Taiwan ini akan menyerap hingga 1.800 tenaga kerja. Pabrikan pemasok komponen untuk Apple
itu berkomitmen untuk berinvestasi dengan nilai total sebesar US$1,5 miliar dan akan
direalisasikan secara bertahap. Saat resmi beroperasi, realisasi investasinya sudah mencapai
US$40 juta. Di Indonesia, Pegatron bekerja sama dengan PT Sat Nusapersada Tbk. untuk
memproduksi produk smarthome lainnya, seperti komputer dan alat-alat komunikasi nikabel.
5. SoftBank
Presiden direktur SoftBank Masayoshi Son sempat menemui Jokowi di Istana Merdeka.
Usai pertemuan tersebut, ia menyatakan bahwa dalam waktu tiga tahun ini, SoftBank akan
kembali berinvestasi sebesar US$2 miliar. Sebelumnya perusahaan raksasa telekomunikasi asal
Jepang ini memang sudah berinvestasi juga sebesar US$2 miliar. Nantinya, investasi tersebut
dilakukan melalui Grab dan perusahaan lainnya. Sayangnya, Son tidak menyebutkan identitas
perusahaan tersebut. Lewat Grab, pihaknya akan membangun kantor pusat kedua Grab di
Indonesia. SoftBank juga disebut-sebut akan membangun ekosistem kendaraan listrik lewat
perusahaan transportasi online itu. Mulai dari baterainya, kendaraan listriknya, hingga stasiun
pengisian ulang baterai.
6. AWS
Webs Services (AWS), perusahaan penyedia layanan komputasi awan asal Amerika
Serikat mengumumkan rencananya berinvestasi di Tanah Air dengan nilai sebesar US2,5 miliar
atau sekitar Rp35 triliun. Investasi AWS tersebut menjadi yang terbesar di sektor teknologi dan
informasi yang terealisasi di Indonesia sejauh ini. AWS akan membangun tiga pangkalan data
yang akan dibangun di dua daerah dengan luas wilayah masing-masing 20 hektare. Salah satu
lokasinya ada di Karawang, Jawa Barat.

BKPM Naik Menjadi Kementerian Investasi


BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) merupakan Lembaga Pemerintah yang
bertugas melaksanakan koordinasi kebijakan dan pelayanan di bidang penanaman modal
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sebagai penghubung utama antara dunia
usaha dan pemerintah, BKPM diberi mandat untuk mendorong investasi langsung, baik dari
dalam negeri maupun luar negeri, melalui penciptaan iklim investasi yang kondusif. Setelah
BKPM dikembalikan statusnya menjadi lembaga setingkat kementerian di tahun 2009 dan
melapor langsung kepada Presiden Republik Indonesia, maka sasaran lembaga ini tidak hanya
untuk meningkatkan investasi yang lebih besar dari dalam maupun luar negeri, namun juga untuk
mendapatkan investasi berkualitas yang dapat menggerakkan perekonomian Indonesia dan
menyerap banyak tenaga kerja.
Didirikan pada tahun 1973, BKPM bertugas untuk menggantikan fungsi yang
sebelumnya dijalankan oleh Panitia Teknis Penanaman Modal, sebuah lembaga yang dibentuk
pada tahun 1968. Dalam struktur organisasinya, BKPM dipimpin oleh seorang Kepala, sesuai
dengan Peraturan Kepala BKPM No. 90 tahun 2007. Sejak bulan Oktober 2019, BKPM dipimpin
oleh Bahlil Lahadalia.
Pada Bulan April 2021 Presiden Jokowi secara resmi telah menunjuk Bahlil Lahadalia
menjadi Menteri Investasi/Kepala BKPM sehingga BKPM mengalami perubahan nomenklatur
menjadi Kementerian Investasi/BKPM sesuai dengan Peraturan Presiden no. 31 Tahun 2021.
Kementerian Investasi/BKPM akan menjadi focal point untuk menghubungkan semua sektor
investasi dari kementerian teknis. Sebagai penghubung utama antara bisnis dan pemerintah,
kementerian bertanggung jawab untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif di Indonesia.
BKPM/Kementerian Investasi memiliki tugas pokok yaitu melaksanakan koordinasi
kebijakan dan pelayanan di bidang penanaman modal berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Adapun Fungsi Kementerian Investasi/BKPM adalah :
1. Pengkajian dan pengusulan perencanaan penanaman modal nasional
2. Koordinasi pelaksanaan kebijakan nasional di bidang penanaman modal
3. Pengkajian dan pengusulan kebijakan pelayanan penanaman modal
4. Penetapan norma, standar, dan prosedur pelaksanaan kegiatan pelayanan penanaman
modal
5. Pengembangan peluang dan potensi penanaman modal di daerah dengan memberdayakan
badan usaha
6. Pembuatan peta penanaman modal di Indonesia
7. Koordinasi pelaksanaan promosi serta kerjasama penanaman modal
8. Pengembangan sektor usaha penanaman modal melalui pembinaan penanaman modal.
antara lain meningkatkan kemitraan, meningkatkan daya saing, menciptakan persaingan
usaha yang sehat, dan menyebarkan informasi yang seluas-luasnya dalam lingkup
penyelenggaraan penanaman modal
9. Pembinaan pelaksanaan penanaman modal, dan pemberian bantuan penyelesaian
berbagai hambatan dan konsultasi permasalahan yang dihadapi penanam modal dalam
menjalankan kegiatan penanaman modal
10. Koordinasi dan pelaksanaan pelayanan terpadu satu pintu
11. Koordinasi penanam modal dalam negeri yang menjalankan kegiatan penanaman
modalnya di luar wilayah Indonesia
12. Pemberian pelayanan perizinan dan fasilitas penanaman modal
13. Pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum,
ketatausahaan, organisasi dan tata laksanan, kepegawaian, pendidikan dan pelatihan,
keuangan, hukum, kehumasan, kearsipan, pengolahan data dan informasi, perlengkapan
dan rumah tangga; dan
14. Pelaksanaan fungsi lain di bidang penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Perubahan status BKPM dari badan menjadi kementerian dinilai positif. Perubahan tersebut
meningkatkan posisi tawar BKPM lantaran tugas pokok dan fungsi-pun ikut berubah. Hal ini
bisa mendorong investasi ke Indonesia. Perubahan ini juga menunjukkan keseriusan pemerintah
dalam mengelola investasi. Hal ini tentunya juga menjadi sentimen positif bagi investor.

Manfaat Penanaman Modal Asing Bagi Indonesia


Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan masuknya investasi asing ke Indonesia.
Salah satunya adalah masuknya modal baru untuk membantu mendanai berbagai sektor yang
kekurangan dana. Investasi asing ini juga banyak membuka lapangan kerja baru sehingga angka
pengangguran dapat berkurang.
Selain itu, masuknya investasi asing biasanya disertai dengan transfer teknologi. Mereka
membawa pengetahuan teknologi baru ke Indonesia yang lama-kelamaan akan dikembangkan
pula di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan pula para investor asing akan bekerjasama
dengan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). Keterlibatan UMKM ini tentunya akan
mendorong pertumbuhan perekonomian masyarakat. UMKM atau perusahaan dalam negeri juga
berpeluang untuk memasarkan produknya ke pasar internasional.
Manfaat yang paling nyata dari masuknya investasi asing adalah meningkatkan
pendapatan negara melalui pajak. Selain itu, menciptakan hubungan yang lebih stabil dalam
lingkup perekenomian dua negara.

Anda mungkin juga menyukai