0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan11 halaman

Prioritas Pengembangan MRT dan LRT DKI

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prioritas pengembangan moda transportasi umum di DKI Jakarta berdasarkan kriteria biaya, waktu tempuh, kenyamanan, keamanan, kemudahan akses dan medis. 2. Metode yang digunakan adalah analytical hierarchy process (AHP). 3. Hasilnya menunjukkan urutan prioritas pengembangan moda transportasi umum di DKI Jakarta adalah Mass Rapid Transit (MRT

Diunggah oleh

aza fadillah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan11 halaman

Prioritas Pengembangan MRT dan LRT DKI

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prioritas pengembangan moda transportasi umum di DKI Jakarta berdasarkan kriteria biaya, waktu tempuh, kenyamanan, keamanan, kemudahan akses dan medis. 2. Metode yang digunakan adalah analytical hierarchy process (AHP). 3. Hasilnya menunjukkan urutan prioritas pengembangan moda transportasi umum di DKI Jakarta adalah Mass Rapid Transit (MRT

Diunggah oleh

aza fadillah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105

Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]

Analisis Prioritas Pengembangan Moda Transportasi Umum Di DKI Jakarta

Abdullah Ade Suryobuwono1, Paulus Raga2, Aditya Nugroho3, Irvan Adam Tampubolon4,
Zahira Aura Rahma Basalamah5, Novembriani Irenita6
1,2,3,4,5,6
Institut Transportasi dan Logistik Trisakti, Jakarta, Indonesia
Email: [Link]@[Link]

Abstrak. Transportasi menjadi pemeran utama yang sangat dibutuhkan pada kegiatan mobilitas masyarakat DKI Jakarta
dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Perilaku masyarakat dalam melakukan suatu perjalanan merupakan hal yang
tidak dapat dihindari yang salah satunya menghindar dari kemacetan kota. Sarana dan prasarana transportasi seperti Bus
Transjakarta dan Commuter Line baik untuk perjalanan dalam maupun antar kota, perlu dikembangkan untuk mengurangi
kecelakaan lalu lintas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pelayanan transportasi dapat dipergunakan
semestinya dengan waktu yang cepat dan dengan harga yang tepat serta dengan pelayann yang optimal, mengetahui
strategi yang baik adar tidak terjadinya dampak negatif terhadap penggunaan transportasi umum dan mengetahui kinerja
yang optimal dalam kebijakan yang tujuannya melindungi dan memberikan rasa aman pada pengguna transportasi umum.
Dalam penelitian ini dipergunakan metode analytical hierarchy process (AHP). Hasil penelitian ini menunjukkan Urutan
prioritas pembangunan moda transportasi umum di DKI Jakarta adalah Mass Rapid Transit (MRT), Light Rail Transit
(LRT), Commuter Line (CL) dan Transjakarta atau Bus Rapid Transit (BRT) berdasarkan kriteria biaya, waktu tempuh,
kenyamanan, keamanan, kemudahan akses dan medis.

Kata Kunci: Analytical Hierarchy Process, Pelayanan, Pengembangan Transportasi, Sistem Transportasi

Abstract. Transportation is the main actor that is needed in the mobility activities of the people of DKI Jakarta in meeting
the needs of the community. People's behavior in making a trip is something that cannot be avoided, one of which is
avoiding city congestion. Transportation facilities and infrastructure, such as Transjakarta Buses and Commuter Lines
for both within and between cities, need to be developed to reduce traffic accidents. The purpose of this research is to
find out whether transportation services can be used properly in a fast time and at the right price and with optimal service,
to know a good strategy to avoid negative impacts on the use of public transportation and to know the optimal
performance in policies whose purpose is to protect public transportation. and provide a sense of security to users of
public transportation. In this study, the analytical hierarchy process (AHP) method was used. The results of this study
indicate that the order of priority for the development of public transportation modes in DKI Jakarta is Mass Rapid
Transit (MRT), Light Rail Transit (LRT), Commuter Line (CL) and Transjakarta or Bus Rapid Transit (BRT) based on
the criteria of cost, travel time, comfort, security, ease of access and medical.

Keywords: Analytical Hierarchy Process, Services, Transportation Development, Transportation Systems

61
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]

1. PENDAHULUAN masyarakat. Dalam merencanakan suatu konsep transportasi


yang baik dibutuhkan lahan dan lalu lintas yang baik (Yusrani et
Transportasi menjadi pemeran utama yang sangat al., 2021). Dalam merencanakan sesuatu perlu dipertimbangkan
dibutuhkan pada kegiatan mobilitas masyarakat DKI Jakarta jangka waktu ke depan, model perencanaan seperti apa yang
dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Perilaku masyarakat akan dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia tanpa sala satu
dalam melakukan suatu perjalanan merupakan hal yang tidak pihak yang dirugikan dan menjadi revolusi suatu zaman,
dapat dihindari yang salah satunya menghindar dari kemacetan sehingga ada daya tarik masyarakat untuk beralih ke transportasi
kota. Sarana dan prasarana transportasi seperti Bus Transjakarta umum.
dan Commuter Line baik untuk perjalanan dalam maupun antar Bentuk moda transportasi dibedakan atas perbedaan dalam
kota, perlu dikembangkan untuk mengurangi kecelakaan lalu kategori untuk umum dan khusus, Perbedaan mendasar sala
lintas. Pertumbuhan ekonomi negara telah mengakibatkan satunya kapasitas dan badan armadanya, maka secara fungsional
peningkatan permintaan transportasi dan juga kepemilikan dapt dibedakan bentuk moda umum dan khusus, tipe
kendaraan di saat jam kerja. Angka serupa juga terlihat di kebersamaan atau pribadi, maka dapat di uraikan menjadi 2
Jakarta, ibu kota negara, yang memiliki populasi hampir 10 juta kelompok besar (Miro, 2004) ialah:
jiwa. Angka tersebut bahkan lebih tinggi di sore hari, tepatnya
jam pulang kerja. Bus Transjakarta atau Bus Rapid Transit A. Angkutan Pribadi
(BRT), Comuter Line (CL), Mass Rapid Transit (MRT) dan Light Armada transportasi perorangan tidak terikat dan tidak
Rail Transit (LRT) melayani juga beberapa kota pendukung mempunyai ketentuan terhadap pemakaian armada. ciri
yaitu, Bodetabek. Dengan rasio jalan hanya kurang dari 7%, operasi angkutan pribadi secara umum ialah pemakaian
tingkat pertumbuhan kendaraan yang tinggi dan transportasi bebas tanpa syarat digunakan dimana saja, jalur yang bebas
umum yang buruk berkontribusi pada penggunaan jalan dengan kemana pemilik kendaraan akan pergi tanpa memperkirakan
kepadatan yang signifikan. waktu sampai suatu kendaraan, tidak terikat dengan jadwal
Situasi bermasalah ini sulit diselesaikan karena lebih dari keberangkatan, waktu berhenti dan pengeluaran biaya, karna
90% moda transportasi yang tersedia berbasis jalan (Sinaga et kendaraan pemilik sudah menanggung biaya beli dan pajak
al., 2022). Upaya untuk peralihan transportasi berbasis jalan kendaraan.
seperti Bus Transjakarta perlu berkontribusi dengan
meningkatkan kualitas pelayanan sarana dan prasarana. Dengan B. Angkutan Umum
begitu perlu mengetahui bagaimana pelayanan transportasi yang Armada dengan menentukan biaya, waktu keberangkatan,
sekarang diterapkan, bagaimana tempat pemberhentian yang batas kapasitas dan tempat pemberhentian di tiap trayek yaitu
terbatas seperti halnya model LRT dan MRT dapat penumpang wajib menuruti ketentuan yang berlaku tiap
mempengaruhi minat masyarakat dalam menggunakan moda perusahaan moda transportasi, mempunyai jalur khusus tiap
tersebut dan mengetahui bagaimana sistem pendekatan seperti lokasi dengan mengutamakan laju kecepatan dan memiliki
dampak kepuasan pengguna Transjakarta, Commuter Line, LRT tempat berhenti untuk menaikkan dan menurunkan
dan MRT yang tujuannya untuk mengetahui apakah pelayanan penumpang, penumpang wajib mengeluarkan biaya yang
transportasi dapat dipergunakan semestinya dengan waktu yang ditentukan untuk merasakan pelayanan dan fasilitas yang
cepat dan dengan harga yang tepat serta dengan pelayann yang sudah disediakan.
optimal, mengetahui strategi yang baik adar tidak terjadinya
dampak negatif terhadap penggunaan transportasi umum dan Jenis angkutan dibedakan dengan kendaraan pribadi dengan
mengetahui kinerja yang optimal dalam kebijakan yang kendaraan umum. Tujuan dasar dari penyediaan angkutan umum
tujuannya melindungi dan memberikan rasa aman pada (Wells, 1975 dikutip Tamin 2008) mengatakan bahwa
pengguna transportasi umum. menyediakan pelayanan angkutan yang baik, handal, nyaman,
Pertumbuhan pergerakan manusia di Jabodetabek aman, cepat dan murah untuk umum. Kriteria kepuasan
khususnya di DKI Jakarta membutuhkan moda transportasi penumpang dapat diukur dari keandalan yang terdiri dari
umum yang handal (Ariyani et al., 2020). Pertanyaan penelitian memiliki jalur khusus dan cepat sampai, kenyamanan yang
adalah bagaimana prioritas moda transportasi pembangunan terdiri dari tempat duduk yang nyaman dan tersedia fasilitas
moda transportasi umum di DKI Jakarta. seperti TV, AC, desain interior yang bagus dan bersih,
kebersihan, keamanan yang terdiri dari terhindar dari
kecelakaan, petugas keamanan 24 jam dan lokasi strategis
2. LANDASAN TEORI dengan keramaian menghidar hal buruk. Kinerja dalam
memberikan layanan yang baik dari aspek sarana dan prasarana
Menurut Zahara & Lubis (2018), Perencanaan transportasi dan mengevaluasi segala keburukan yang ada untuk mengejar
ialah suatu kegiatan perencanaan sistem transportasi secara target yang maksimum yaitu kepuasan pelanggan. Aspek-aspek
sistematis untuk menyediakan layanan transportasi baik sarana tersebut selain dipengaruhi oleh waktu perjalanan, juga
maupun prasarana yang sesuai dengan kebutuhan transportasi dipengaruhi oleh keandalan (reliability), kenyamanan (comfort),
keamanan dan harga (Morlok, 1994).

62
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]

Bus Transjakarta salah satu armada dengan kapasitas Kriteria dan alternatif dinilai melalui perbandingan
terbatas untuk seat penumpang dari rata – rata armada lainnya, berpasangan. Menurut Saaty (1983), skala 1 sampai 9 skala
dengan postur yang besar dan 2 jenis tipe yaitu bus gandeng dan terbaik dalam mengekspresikan pendapat. Skala preferensi yang
tunggal dengan kapasitas yang terbatas Bus Transjakarta digunakan yaitu skala 1 yang menunjukkan tingkat yang paling
memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan Bus Transjakarta rendah sampai dengan skala 9 yang menunjukkan tingkatan yang
yaitu dapat berhenti di setiap halte di wilayah ibu kota dengan paling tinggi. Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari
jarak halte yang pendek dan jarak waktu yg singkat dan adanya perbandingan Saaty dapat dilihat dalam Tabel 1 dibawah ini.
jalur khusus untuk Bus Transjakarta yang membuat sampai
tujuan lebih cepat dan jarak waktu jenuh dengan waktu Tabel 1: Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari
kedatangan tidak begitu lama, sehingga pengguna dapat memilih perbandingan saaty
waktu perjalanan yang diinginkan. Salah satu kriteria sistem
BRT adalah memiliki jalur khusus yang merupakan elemen vital Nilai Keterangan
agar bus dapat bergerak dengan cepat dan tidak terhambat oleh Kriteria/Alternatif A sama pentingnya
kemacetan (Fitriyani et al., 2019). Kekurangan Bus Transjakarta 1
dengan Alternatif B
yaitu keberangkatan bus sering terlambat karena situasi yang 3 A Sedikit lebih penting dari B
tidak kondusif, kecelakaan ringan, unit bus yang rusak sehingga
operasional bus terbatas, kenyamanan ruang tunggu (halte) 5 A Jelas lebih penting dari B dari B
kurang, pembatas ruang gender yang masih tercampur – campur, 7 A Sangat Jelas lebih penting dari B
supir yang terkadang tidak melihat batas kecepatan maksimum 9 A Mutlak lebih penting dari B
yang pada akhirnya sering terjadi kecelakaan menabrak Apabila ragu-ragu antara dua nilai
pengguna jalan, pembatas jalur dan juga kurang perawatan. 2,4,6,8
yang berdekatan
Commuter Line salah satu moda yang berjalan di atas rel
yang diberi pondasi di bagian bawah sebagai penahan muatan
Untuk setiap prioritas alternatif perlu dilakukan
kereta dengan kapasitas angkut yang banyak. Hal ini mendorong
perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Menurut
terjadinya perubahan pada perusahaan dari biasa-biasa saja
Arisusanty et al., (2018) pada setiap kriteria dan alternatif, perlu
menjadi mengikuti perkembangan zaman (Krisma et al., 2018).
dilakukan perbandingan berpasangan. Nilai perbandingan relatif
Kelebihan Kereta Api yaitu bebas hambatan, pembelian tiket
kemudian diolah untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh
dengan online maupun minimarket, aman dan nyaman, waktu
alternatif. Kriteria kualitatif dan kuantitatif, dapat dibandingkan
kedatangan tepat waktu, volume angkut lebih banyak.
sesuai dengan judgment yang telah ditentukan untuk bobot dan
Kekurangan Kereta Api yaitu harus naik transportasi lagi, polusi
prioritas.
suara/kebisingan, terpengaruh oleh cuaca, misalnya banjir dan
Untuk menetapkan dasar perbandingan, proses
pembatatas rel yang masih minim.
perbandingan berpasangan dimulai dengan tingkat hierarki
Menjadi salah satu pilihan transpotasi masyarakat Jakarta
teratas dengan menentukan criterion c. kemudian ambil variabel
karena berpusat di tengah kota jakarta dalam memenuhi kegiatan
yang akan diperbandingkan dari tingkat hierarki dibawahnya,
perkantoran, salah satunya penawaran yang diberikan MRT,
missal α1, α2 dan seterusnya. Misalnya ada lima variabel maka
pelayanan yang baik, fasilitas dan jalur trayek dibawah tanah.
susunan matriksnya pada Gambar 1 di bawah ini.
Mass Rapid Transit terdiri dari beberapa jenis, seperti heavy rail
transit, light rail transit, dan bus rapid transit (Febriani et al.,
2020). Kelebihan MRT yaitu cepat dan tepat waktu untuk jarak
tempuh, bersih, nyaman dan tidak bising dari luar, biaya yang
relative murah, akses menuju stasiun MRT sangat mudah dan
terintegrasi, fasilitas pembayaran sangat mudah dan waktu
kedatangan tepat waktu. Kekurangan MRT yaitu tidak ada
tempat untuk meletakkan barang dan tempat duduk yang kurang
nyaman.
Kereta api penumpang yang railnya berbentuk U shape
girder yang pengoperasiannya hamper sama dengan MRT jalur
khusus tanpa gangguan lintasan angkutan lainnya, adalah
transportasi LRT tujuannya menarik minat masyarakat untuk Gambar 1: Variabel Susunan Matriks
beralih ke LRT dan untuk mengurangi tingkat kemacetan akibat
kendaraan pribadi serta polusi udara dan kebisingan. Kelebihan Wicaksana (2015), Semua elemen dikelompokkan secara
LRT yaitu biaya lebih efisien, fasilitas yang mumpuni. logis dan diperinkatkan secara konsisten sesuai dengan suatu
pelayanan yang baik, terintegrasi dengan moda yang lain, bersih kriteria yang logis. Matriks bobot yang diperoleh dari hasil
dan nyaman. Kekurangan LRT yaitu, alur yang masih pendek perbandingan secara berpasangan tersebut harus mempunyai
dan tidak ada tempat penyimpanan barang. hubungan kardinal dan ordinal. Metode AHP mempunyai

63
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]

kelebihan dalam hal penilaian konsistensi, yaitu dengan Menurut H Retnawati, (2016) Pengukuran dilaksanakan
menggunakan rumus Consistency Index, Thomas L. Saaty sudah untuk mengetahui kemampuan atau performa dari sesuatu atau
melakukan pembuktian bahwa Indeks Konsistensi dari matriks seseorang, baik berupa kemampuan, sikap, keterampilan,
berordo n dapat diperoleh dengan Persamaan (1). Sedangkan persepsi, dan lain-lain. Alat ukur dalam penelitan umumnya
untuk menentukan nilai eigen maksimum dengan menggunakan menggunakan insturumen peneltian. Instrumen penelitian ialah
Persamaan (2). suatu indera yang digunakan mengukur fenomena alam atau
sosial. Instrumen atau alat yang digunakan dalam penelitian ini
1 ialah berita umum, sebab dipergunakan buat memperoleh berita
𝜆𝑀𝑎𝑘𝑠 = ∑𝑛𝑖=1 𝑎𝑖𝑗 ..................................................(1)
𝑛 yang relevan dan mengetahu yang valid dan reliable. Penulis
Untuk menentukan perhitungan eigen vaktor (Bobot Prioritas) melakukan pengambilan data asal para responden dengan cara
membagikan kuesioner berupa daftar pertanyaan lisan atau
denganmenggunakan Pers. 2.2
pernyataan tertulis yang harus dijawab atau diisi oleh responden
𝑛 𝑛 𝑎
sesuai petunjuk pengisiannya. Kuesioner diberikan kepada
√𝜋𝑗=1 𝑖𝑗 responden untuk diisi atau dijawab sesuai keadaan yang
𝑒𝑉𝑃1 = ............................................. (2) sebenarnya. Setelah selesai, responden mengambilikan
∑𝑛
𝑖=1
𝑛 𝑎
√𝜋𝑖=1 𝑖𝑗
kuesioner kepada peneliti. Instrumen penelitian yang
dipergunakan yaitu berupa kuesioner menggunakan metode
Keterangan: Analisis Hierarki Proses (AHP).
C =Rasio penyimpangan (deviasi) konsistensi Metode pengumpulan data merupakan langkah yang paling
(consistency index) strategis dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan data
𝜆max = Nilai eigen terbesar dari matriks berordo n primer. Data utama ialah data yang didapatkan secara langsung
N = Orde matriks dari instansi terkait serta diberikan secara pribadi kepada
eVP = Eigen vector prioritas pengumpul data, tidak melalui perantara atau berupa jawaban
pada kusioner yaitu pertanyaan yang diajukan ke mahasiswa
Apabila CI bernilai nol, maka pairwise comparison matrix yang menjadi responden. Data yang diporoleh diolah menjadi
tersebut konsisten. Batas ketidak konsistenan (inconsistency) data primer dalam penelitian ini. Dalam hal pengisian survei
yang telah ditetapkan oleh Thomas L. Saaty ditentukan dengan pembobotan, dilakukan menggunakan skala pengukuran yang
menggunakan Rasio Konsistensi (CR), yaitu perbandingan berbentuk semantic disferensial oleh Osgood. Skala ini
indeks konsistensi dengan nilai random indeks (RI) yang dipergunakan juga buat mengukur sikap, hanya bentuknya tidak
didapatkan dari suatu eksperimen oleh Oak Ridge National pilihan ganda maupun cheklist tetapi tersusun dalam satu garis
Laboratory kemudian dikembangkan oleh Wharton School. kontinum yang jawabannya sangat positif terletak bagian kanan
garis atau sebaliknya.
𝐶𝐼 Populasi ialah wilayah generalisasi yang tediri atas objek
𝐶𝑅 = ...................................................................(3) atau subjek yang mempunyai kualitas karakteristik tertentu yang
𝑅𝐼
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, kemudian ditarik
Keterangan: CR = Rasio Konsistensi kesimpulannya”. Menurut Stevanus et [Link], (2015),
RI = Indeks Random populasi wilayah generalisasi terdiri dari objek/subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
3. METODE PENELITIAN kesimpulannya. Maka dari keterangan tersebut, penulis
menetapkan populasi dalam penelitian ini adalah para ahli.
Tahapan metodologi penelitian dalam penelitian ini adalah Menurut Malik & Haryanti, (2018), Sampel adalah kumpulan
mencari penyebab terjadinya permasalahan yang ada untuk dari unit sampling, yang ditarik dari sebuah frame. Metode
diidentifikasi dalam proses pengolahan data dalam ruang lingkup adalah Simple Random Sampling, karena pengambilan sampel
penelitian, mengikuti arah suatu tujuan masalah dalam dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata
penelitian untuk menentukan pemilihan moda dengan metode yang ada dalam populasi tersebut. Pada penelitian ini jumlah
AHP. Sumber referensi tiap para ahli untuk diterapkan dalam populasi tidak diketahui sehingga sampel yang akan diambil
kriteria perkembangan transportasi dalam pemilihan bobot sebanyak 30 Para Ahli. Terdapat beberapa rumus yang dapat
biaya, waktu tempuh, kenyamanan, keamanan, kemudahan digunakan dalam menghitung besarnya sampel yang diperlukan
akses, medis. Skor penentuan bobot disetarakan dengan hasil dalam penelitian. Tetapi untuk penetelian ini disajikan cara
rata-rata responden para ahli, Pengumpulan data dari hasil survei menentukan ukuran sampel yang praktis, yaitu dengan
yang sudah diisi, Mengolah data penelitian dari hasil yang sudah menggunakan tabel. Tabel Krejcie. Berikut adalah tabel Krejcie
dihitung berdasarkan metode AHP, lalu memberikan nilai bobot, untuk menentukan ukuran sampel minimum pada taraf
diberi keterangan dari tiap hasil penelitian untuk dianalisa signifiaksi (kesalahan) = 0,01(1%); 0,05(5%); dan 0,01(10%).
berdasarkan teori AHP sehingga diperoleh hasil penelitian. Untuk menentukan jumlah sampel dengan menggunakan rumus

64
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]

simple random sampling sebagai berikut : rumus :


𝑛 𝜆 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚−𝑛
𝑁 = 𝑛∙𝑑2 +1 ..................................................(4) 𝐶𝐼 = ..............................................(5)
𝑛−1
Keterangan: Menghitung indeks konsistensi (consistency index) dengan
rumus CI = (πmax-n)/n dimana CI : Consistency index Πmax :
N = Jumlah Populasin eigen Value dan N : Banyak elemen, menghitung konsistensi
N = Jumlah Sampel ratio (CR) dengan rumus : CR= CI/RC dimana : CR :
d2 = Taraf Signifikasi Kesalahan Consistency Ratio CI : Consistency Index, RC : Random
Consistency dan memeriksa konsistensi hirarki. Adapun yang
diukur dalam Analytical Hierarchy Process merupakan rasio
konsistensi dengan melihat index konsistensi. Konsistensi yang
diharapkan adalah konsistensi yang mendekati sempurna agar
menghasilkan keputusan yang mendekati valid. Untuk mencapai
hal kesempurnaan, rasio konsistensi diharapkan kurang dari atau
sama dengan 10 %.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 2: Unsur-unsur Descompotion Perhitungan matrik dilakukan buat mengetahui


perbandingan antar aspek yang terdapat dalam masing-masing
Ada beberapa hal dasar yang harus dipahami dalam
lavel pertanyaan pada pengolahan data memakai prinsip dasar
menyelesaikan persoalan dengan menggunakan metode yaitu
metode AHP buat memilih output penelitian dan pembahasan.
metode AHP, diantara: Decompotion, Comparative Judgement,
Prinsip dasar tadi meliputi: Decompotion, Comparative,
Synthesis of Priority dan Consistency.
Synthesis of priority dan Consistency yang di paparkan
perbandingan kesamaan responden pengguna Transportasi
A. Descompotion
Angkutan Umum yang ditinjau antara Bus Transjakarta dengan
Mendefinisikan hal persoalan, dengan cara memecah Commuter Line dengan MRT dan Dengan LRT. Data yang yang
persoalan yang utuh menjadi beberapa unsur- unsurnya dan diambil menurut kuesioner yang diberikan dalam responden
digambarkan dalam bentuk hirarki. secara acak dalam periode waktu tertentu. Untuk analisa
perhitungan penulis mengambil sampel responden.
B. Comparative Judgement
A. Descompotion
Membuat evaluasi mengenai kepentingan relatif pada dua
elemen & dituliskan dalam bentuk“Matriks perbandingan Mendefinisikan persoalan, dengan cara memecah persoalan
berpasangan. yang utuh menjadi unsur- unsurnya dan digambarkan dalam
bentuk hirarki, sebagaimana pada Gambar 3 dibawah ini.
C. Synthesis of Priority

Menentukan Prioritas berdasarkan elemen-elemen kriteria


yang dapat dicermati sebagai bobot atau kontribusi kriteria tadi
terhadap tujuan pengambilan keputusan yang akan diambil.
Prioritas ini dipengaruhi berdasarkan dari pandangan para ahli
dan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap proses
pengambilan keputusan, baik secara langsung (diskusi) maupun
secara tidak langsung (kuesioner).

D. Consistency
Gambar 3: Kerangka kriteria
Konsistensi memiliki arti yaitu objek-objek yang serupa
Berdasarkan Gambar 3 menentukan 4 alternatif yang lebih
bisa dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevensi,
prioritas terhadap 6 indikator kriteria terhadap waktu, biaya,
menyangkut tingkat hubungan antar objek yang didasarkan pada
kenyamanan, keamanan, akses, medis, untuk moda bus
kriteria tertentu dan rumus untuk menentukan Rasio Consistency
transjakarta, commuter line, MRT dan LRT dengan tujuan
(CR) indeks konsistensi dari matriks berordo n dapat diperoleh
mencari moda transportasi prioritas

65
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]

B. Comporative Judgement 1. Penilaian bobot dilakukan dengan nilai perbandingan


berpasangan, yaitu dengan membandingkan kriteria
Kepentingan 2 kriteria dalam suatu taraf langsung penilaian kiri dengan penilaian kanan begitu juga sebaliknya
kaitannya menggunakan taraf diatasnya. Kemudian dituliskan
membandingkan alternatif terhadap kriteria.
dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan. Matriks
2. Kolom penilaian kiri digunakan apabila kriteria sebelah kiri
perbandingan berpasangan diisi menggunakan bilangan bulat
mempresentasikan kepentingan relatif kritera terhadap alternatif. mempunyai penilaian lebih tinggi begitu juga dengan
Angka-angka matriks perbandingan berpasangan diperoleh penilaian kolom kanan digunakan jika kriteria sebelah kanan
berdasarkan kuesioner yg diisi responden. Penulis memakai mempunyai penilaian lebih tinggi.
sampel berdasarkan 30 responden ahli. Bentuk kuesioner yg 3. Responden diminta untuk memilih angka pada skala 1-9 yang
dibagikan pada responden sebagaimana pada Tabel 2. sesuai.
Dalam pemilihan moda transportasi, kriteria manakah yang lebih Gunakan penilaian yang konsistensi untuk setiap nilai yang
penting dibandingkan kriteria berikutnya. Adapun pengisian diberikan. Data kuesioner yanag telah diisi dikumpulkan dan
kuesioner dilakukan dengan cara : dirangkum ke dalam bentuk tabel perbandingan berpasangan
sebagaimana pada Tabel 3.

Tabel 2: Penjelasan Kriteria

No Kriteria Penjelasan
1 Biaya Menilai Suatu Biaya
2 Waktu Tempuh Menilai Waktu Dengan Jarak Tempuh
3 Kenyamanan Menilai Kenyamanan Dalam Suatu Perjalanan
4 Keamanan Menilai Keamanan Dalam Suatu Perjalanan
5 Kemudahan Akses Menilai Akses Dalam Suatu Tujuan
6 Medis Suatu Hal Kebutuhan Dalam Penunjang Kesehatan

Tabel 3: Perbandingan Rata-Rata Kriteria Umum

Waktu Kenyamanan Keamanan Kemudahan Medis


Biaya Tempuh Akses
Biaya 1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,125
Waktu Tempuh 9 1 0,125 7 8 9
Kenyamanan 9 8 1 9 2 9

Keamanan 9 7 0,1 1 2 0,5

Kemudahan Akses 9 8 0,5 0,5 1 0,1

Dalam pengisian Tabel 3 dilakukan sebagai berikut: perbandingan rata-rata untuk masing-masing kriteria biaya
a) Biaya memiliki kepentingan yang sama dengan nilai 1. terhadap alternatif, sebagaimana pada Tabel 4.
b) Waktu Tempuh memiliki kepentingan prioritas dibanding
biaya dengan nilai 9, biaya terhadap waktu tempuh dengan Tabel 4: Perbandingan Alternatif Terhadap Kriteria Biaya
nilai 1/0 atau 0,1.
Bus Commuter MR LRT
c) Kenyamanan memiliki kepentingan prioritas dibanding biaya Line T
Transjakarta
dengan nilai 9, biaya terhadap kenyamanan dengan nilai 1/9
Bus Transjakarta 1 0,3 0,1 0,5
atau 0,1.
Commuter Line 3 1 1 0,1
d) Dengan cara yang sama Tabel 3 dapat diisi.
MRT 9 1 1 7
Seusai menentukan perbandingan kriteria utama, selanjutnya
untuk menentukan kriteria biaya dari perbandingan berpasangan LRT 2 9 0,1 1
alternatif sama caranya dengan Tabel 3. Berikut adalah tabel

66
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]

Berikut adalah Tabel 5 hasil kriteria yaitu waktu tempuh, Tabel 8 : Perbandingan Alternatif Terhadap Kriteria Kemudahan
terhadap alternatif dengan perhitungan yang sama seperti pada Akses
perbandingan alternatif terhadap kriteria biaya.
Bus Commuter MRT LRT
Tabel 5: Perbandingan Alternatif Terhadap Kriteria Waktu Transjakarta Line
Tempuh Bus 1 0,5 0,5 1
Transjakarta
Bus Commuter Commuter 2 1 0,1 1
Transjakarta Line MRT LRT Line
Bus 1 0,1 0,1 0,1 MRT 2 2 1 1
Transjakarta LRT 1 1 1 1
Commuter 9 1 0,1 0,5
Line
MRT 9 9 1 7 Tabel 9: Perbandingan Alternatif Terhadap Kriteria Medis

LRT 9 2 9 1 Bus Commuter


MRT LRT
Transjakarta Line
Bus
1 0,1 0,1 0,1
Berikut adalah Tabel 6, Tabel 7, Tabel 8, dan Tabel 9 Transjakarta
menunjukkan hasil perbandingan untuk masing-masing kriteria Commuter
9 1 0,1 0,1
yaitu waktu tempuh, kenyamanan, keamanan, kemudahan akses Line
dan medis terhadap alternatif dengan perhitungan yang sama
seperti pada perbandingan alternatif terhadap kriteria biaya. MRT 9 9 1 1

Tabel 6: Perbandingan Alternatif Terhadap Kriteria LRT 9 9 1 1


Kenyamanan

Bus Commuter MRT LRT C. Synthesis Of Priority


Transjakarta Line
Bus 1 0,1 0,125 0,1 Setelah matriks perbandingan berpasangan, selanjutnya
Transjakarta dilakukan pencarian nilai rata-rata (vektor eigen atau local
Commuter 9 1 0,1 0,1 priority). Proses tersebut dapat dilakukan dalam langkah sebagai
Line berikut:
MRT 8 9 1 1 1. Menjumlahkan nilai dari setia kolom pada matriks,
sebagaimana pada Tabel 10 dan Tabel 12.
LRT 9 9 1 1
2. Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang
bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks,
sebagaimana pada Tabel 11 dan Tabel 13.
Tabel 7: Perbandingan Alternatif Terhadap Kriteria Keamanan 3. Menjumlahkan nilai dari setiap baris dan membagi
dengan jumlah untuk mendapatkan nilai rata-rata,
Bus Commuter MRT LRT
sebagaimana pada Tabel 11 dan Tabel 14.
Transjakart Line
a Dengan cara yang sama perhitungan dilakukan pada kriteria
Bus 1 0,1 0,1 waktu tempuh, kenyamanan, keamanan, kemudahan akses dan
0,1
Transjakarta 25 medis terhadap moda bus Transjakarta, commuter line, MRT dan
Commuter 9 1 LRT di dapat hasil rata-rata vektor eigen.
0,1 0,1
Line
MRT 9 1 1 1
LRT 9 9 1 1

67
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]

Tabel 10: Penjumlahan Nilai Kolom Kriteria Umum

Waktu Kemudahan
Biaya Kenyamanan Keamanan Medis
Tempuh Akses
Biaya 1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,125
Waktu
9 1 0,125 7 8 9
Tempuh
Kenyamanan 9 8 1 9 2 9

Keamanan 9 7 0,1 1 2 0,5


Kemudahan
9 8 0,5 0,5 1 0,1
Akses
Medis 8 9 9 2 9 1

Jumlah 45 33,1 10,825 19,1 22,1 19,725

Tabel 11: Normalisasi Kriteria Utama

Waktu Kemudahan
Biaya Kenyamanan Keamanan Medis Rata-Rata
Tempuh Akses

Biaya 0,022 0,003021148 0,092378752 0,005235602 0,004524887 0,006337136 0,022286624

Waktu
0,2 0,03021148 0,011547344 0,357142857 0,36199095 0,456273764 0,236194399
Tempuh
Kenyamanan 0,2 0,241691843 0,092378753 0,471204188 0,090497738 0,456273764 0,258674381
Keamanan 0,2 0,211480363 0,009237875 0,052356021 0,090497738 0,025348542 0,098153423

Kemudahan
0,2 0,241691843 0,046189376 0,02617801 0,045248869 0,005069708 0,094062968
Akses
Medis 0,178 0,271903323 0,831408776 0,104712042 0,407239819 0,050697085 0,307289804

Tabel 12: Penjumlahan Nilai Kolom Kriteria biaya Terhadap Alternatif

Bus
Transjakarta Commuter Line MRT LRT
Bus Transjakarta
1 0,3 0,1 0,5
Commuter Line
3 1 1 0,1
MRT 9 1 1 7
LRT 2 9 0,1 1
Jumlah 15 11,3 2,2 8,6

68
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]

Tabel 13: Normalisasi Kriteria Biaya

Bus Transjakarta Commuter Line MRT LRT


Bus Transjakarta 0,066666667 0,026548673 0,045454545 0,833333333
Commuter Line 0,2 0,088495575 0,454545455 0,166666667
MRT 0,6 0,088495575 0,454545455 11,66666667
LRT 0,133333333 0,796460177 0,045454545 1,666666667

Tabel 14: Vektor Eigen Kriteria Biaya

Bus Commuter
Transjakarta Line
MRT LRT Rata-Rata

Bus
Transjakarta
0,066666667 0,026548673 0,04545455 0,83333333 0,405001
Commuter
0,2 0,088495575 0,04545455 0,16666667
Line 0,379044
MRT 0,6 0,088495575 0,04545455 11,6666667 5,337378
LRT 0,133333333 0,796460177 10,0454545 1,66666667 1,100797

Tabel 15: Rata-rata vector eigen kriteria terhadap alternatif moda

Waktu Keamana Kemudahan


Biaya Kenyamanan Medis
Tempuh n Akses
0,405001 0,021948 0,043729 0,044019 0,251116 0,040999
0,379045 0,161573 0,162316 0,165713 0,291295 0,157958
5,337378 0,600797 0,473366 0,403392 0,468006 0,483855
1,100798 0,382349 0,487255 0,553542 0,345982 0,483855

Rumus nilai moda transportasi Level 1. Berdasarkan Kriteria Umum


𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑣𝑒𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑒𝑖𝑔𝑒𝑛 𝑘𝑟𝑖𝑡𝑒𝑟𝑖𝑎 𝑎𝑙𝑡𝑒𝑟𝑛𝑎𝑡𝑖𝑓 𝑚𝑜𝑑𝑎 Berikut adalah langkah menghitung λ maksimum:
× 𝑅𝑎𝑡𝑎
− 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝑘𝑟𝑖𝑡𝑒𝑟𝑖𝑎 𝑢𝑚𝑢𝑚 a. Mengalikan Matriks perbandingan berpasangan yang belum
= 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑜𝑑𝑎 𝑡𝑟𝑎𝑛𝑠𝑝𝑜𝑟𝑡𝑎𝑠𝑖 dinormalisasikan dengan vector eigen

Hasil analisis menunjukan urutan prioritas moda


transportasi umum di DKI Jakarta berdasarkan masing-masing
kriteria dengan hasil urutan pertama yaitu Mass Rapid Transit
(MRT) dengan bobot sebesar 0,615605, urutan ke dua Light Rail
Transit (LRT) dengan bobot 0,476442, urutan ke tiga yaitu
Commuter Line (CL) dengan bobot 0,180802 dan urutan ke
empat yaitu Bus Transjakarta atau Bus Rapid Transit (BRT) Berdasarkan perkalian matriks di atas terlihat bahwa
dengan bobot 0,066062. kriteria umum terhadap matriks perbandingan berpasangan yg
belum dinormalisasikan, dari baris 1 – 6 ditambahkan lalu
D. Consistency dikalikan dengan vektor eigen dengan hasil yang tertera di atas.

Pada tahap ini akan menentukan valid tidaknya vektor eigen


yang diperoleh dari proses synthesis of priority yang telah dibuat
pada proses sebelumnya.

69
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]

b. Hasil perkaliannya dibagi dengan vector eigen n adalah jumlah baris atau kolom matriks perbandingan
berpasangan (2,111 - 6)/ (6-1) = 0,7.

2) Menghitung rasio konsistensi (Consistency Ratio = CR)

Rumus : CR = CI / RI .

Hasil pembagian dengan vektor eigen terlihat bahwa kriteria


umum terhadap matriks perbandingan berpasangan yg belum Dimana RI merupakan nilai acak yang diperoleh dari tabel
dinormalisasikan, dari hasil perkaliannya dibagi dengan vector Random Consistency Index pada n tertentu.
eigen sehingga mendapatkan hasil.
CR = 0,7/ 0,9 = 0,7
c. Bagi skala hasil operasi penjumlahan tersebut dengan
Karena nilai CR <0,1 (10%) maka dapat diterima, artinya
banyaknya baris atau kolom. Hasil akhir dijadikan sebagai λ matriks perbandingan berpasangan Level 1 berdasarkan kriteria
maksimum. utama telah diisi dengan pertimbangan yang konsisten dan
vektor eigen yang dihasilkan dapat diandalkan.
(1,1053 + 1,326 + 2,556 + 1,533 +2,385 +3,761 ) / 6 = 2,111
Berikut adalah tabel hasil perhitungan valid tidaknya vektor
Langkah selanjutnya dari consistency yaitu dengan menguji eigen yang diperoleh dari proses synthesis of priority untuk
konsistensi hirarki dengan cara sebagai berikut: masing-masing level kriteria yaitu biaya, waktu tempuh,
kenyamanan, keamanan, kemudahan akses dan medis dengan
1) Menghitung indeks konsistensi (Consistency Index = CI) perhitungan yang sama seperti pada level 1 sebagaimana
padaTabel 16 di bawah ini.
Rumus : CI = (λ maks – n (/ (n-1)

Tabel 16: Consistency Ratio

Kriteria Consistency Ratio (CR) Keterangan


Level 1. berdasarkan kriteria umum 0,7 < 0,1 Di terima
Level 2. berdasarkan biaya 0,57 < 0,1 Di terima
Level 3. berdasarkan waktu tempuh 0,91 < 0,1 Di terima
Level 4. berdasarkan kenyamanan 0,78 < 0,1 Di terima
Level 5. berdasarkan keamanan 0,337 < 0,1 Di terima
Level 6. berdasarkan kemudahan akses 0,84 < 0,1 Di terima
Level 7. berdasarkan medis 0,758 < 0,1 Di terima

5. SIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

Matriks perbandingan berpasangan berdasarkan kriteria Ariyani, D. T., Aulia, I. F., Suryobuwono, A. A., & Marlita, D.
umum, biaya, waktu tempuh, kenyamanan, keamanan, (2020). Switch Potential Of The Users From Using Public
kemudahan akses, dan kriteria medis telah diisi dengan Transportation To Private Transportation As An Impact Of
pertimbangan yang konsisten dan vektor eigen yang dihasilkan Pandemic Covid - 19 (Case Study In Jabodetabek 2020).
dapat diandalkan. Urutan prioritas pembangunan moda Advances In Transportation And Logistics Research.
transportasi umum di DKI Jakarta adalah Mass Rapid Transit
Febriani, D., Mega Olivia, C., Aniisah Sholilah, S., & Hidajat,
(MRT), Light Rail Transit (LRT), Commuter Line (CL) dan Bus
M. (2020). Analysis Of Modal Shift To Support MRT-Based
TransJakarta atau Bus Rapid Transit (BRT).
Urban Transportation In Jakarta. Journal Of Physics:
Conference Series, 1573(1), 012015.
Https://[Link]/10.1088/1742-6596/1573/1/012015

70
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]

Fitriyani, S. N., Krisma, P., Sampurna, H., Sholihah, S. A., &


Susanti, N. I. (2019). Sterilization Of Bus Rapid Transit
Special Lane Case Study : Transjakarta. Advances In
Transportation And Logistics Research, 2.
Gaghana, R. L., Kindangen, P., & Rotinsulu, D. C. (2018). Jurnal
Pembanguan Ekonomi dan Keuangan Daerah Vol.19 No.5.
2018. Jurnal Pembangunan Ekonomi Dan Keuangan
Daerah,19(5),1–18.
[Link]
9789
Iman, M. C., Rakhmawati, A., & Maryunani, W. P. (2019).
Evaluasi Lajur Transportasi Tak Bermotor Dengan Metode
Analytical Hierarcy Process ( Ahp ) Di Kota Magelang.
Jurnal Rekayasa Infrastruktur Sipil, 1(1), 1–9.
[Link]
/1232
Krisma, P., Wulandari, T., Hidayat, M., Pratiwi, S. W., &
Wibisono, G. I. (2018). Analysis of The Causes of Train
Accidents to Support Railway Safety. Advances in
Transportation and Logistics Research.
Sinaga, E. A., Sholihah, S. A., Fitrina, R., Sihombing, S., &
Widyanto, P. (2022). Road Safety Education For Schools
With Zoss Facilities In Bandung City, Jawa Barat.
Community Empowerment, 7(5), 803–811.
Https://[Link]/10.31603/Ce.6466
Sri Utari, M. E., & Maya Nihayah, D. (2018). Analisis
Permintaan Perjalanan Pengguna Jasa Kereta Api Eksekutif
Rute Semarang-Jakarta. Economics Development Analysis
Journal, 5(3), 306–315.
[Link]
Wicaksana, D. K. (2015). Analisa Sensitivitas dan Karakteristik
Masyarakat di Kota Palembang dalam Memilih Moda
Transportasi dengan Metode Analytical Hierarchy Process
(AHP). Jurnal Teknik Sipil Dan Lingkungan, 3(1), 775–
782.
Yusrani, M. Z. A., Siahaan, D. L., Kania, D. D., Ricardianto, P.,
& Subagyo, H. (2021). THE SERVICE PERFORMANCE
OF THE JAKARTA MANGGARAI STATION,
INDONESIA. International Journal of Management
Studies and Social Science Research, 3, 115–121.
Zahara, Z., & Lubis, M. (2018). Analisa Pemilihan Moda
Transportasi Umum Rute Medan-Rantau Prapat dengan
Metode Analytic Hierarchy Process. In Journal of Civil
Engineering, Building and Transportation (Vol. 1, Issue 2).
[Link]

71

Anda mungkin juga menyukai