Prioritas Pengembangan MRT dan LRT DKI
Prioritas Pengembangan MRT dan LRT DKI
Abdullah Ade Suryobuwono1, Paulus Raga2, Aditya Nugroho3, Irvan Adam Tampubolon4,
Zahira Aura Rahma Basalamah5, Novembriani Irenita6
1,2,3,4,5,6
Institut Transportasi dan Logistik Trisakti, Jakarta, Indonesia
Email: [Link]@[Link]
Abstrak. Transportasi menjadi pemeran utama yang sangat dibutuhkan pada kegiatan mobilitas masyarakat DKI Jakarta
dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Perilaku masyarakat dalam melakukan suatu perjalanan merupakan hal yang
tidak dapat dihindari yang salah satunya menghindar dari kemacetan kota. Sarana dan prasarana transportasi seperti Bus
Transjakarta dan Commuter Line baik untuk perjalanan dalam maupun antar kota, perlu dikembangkan untuk mengurangi
kecelakaan lalu lintas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pelayanan transportasi dapat dipergunakan
semestinya dengan waktu yang cepat dan dengan harga yang tepat serta dengan pelayann yang optimal, mengetahui
strategi yang baik adar tidak terjadinya dampak negatif terhadap penggunaan transportasi umum dan mengetahui kinerja
yang optimal dalam kebijakan yang tujuannya melindungi dan memberikan rasa aman pada pengguna transportasi umum.
Dalam penelitian ini dipergunakan metode analytical hierarchy process (AHP). Hasil penelitian ini menunjukkan Urutan
prioritas pembangunan moda transportasi umum di DKI Jakarta adalah Mass Rapid Transit (MRT), Light Rail Transit
(LRT), Commuter Line (CL) dan Transjakarta atau Bus Rapid Transit (BRT) berdasarkan kriteria biaya, waktu tempuh,
kenyamanan, keamanan, kemudahan akses dan medis.
Kata Kunci: Analytical Hierarchy Process, Pelayanan, Pengembangan Transportasi, Sistem Transportasi
Abstract. Transportation is the main actor that is needed in the mobility activities of the people of DKI Jakarta in meeting
the needs of the community. People's behavior in making a trip is something that cannot be avoided, one of which is
avoiding city congestion. Transportation facilities and infrastructure, such as Transjakarta Buses and Commuter Lines
for both within and between cities, need to be developed to reduce traffic accidents. The purpose of this research is to
find out whether transportation services can be used properly in a fast time and at the right price and with optimal service,
to know a good strategy to avoid negative impacts on the use of public transportation and to know the optimal
performance in policies whose purpose is to protect public transportation. and provide a sense of security to users of
public transportation. In this study, the analytical hierarchy process (AHP) method was used. The results of this study
indicate that the order of priority for the development of public transportation modes in DKI Jakarta is Mass Rapid
Transit (MRT), Light Rail Transit (LRT), Commuter Line (CL) and Transjakarta or Bus Rapid Transit (BRT) based on
the criteria of cost, travel time, comfort, security, ease of access and medical.
61
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]
62
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]
Bus Transjakarta salah satu armada dengan kapasitas Kriteria dan alternatif dinilai melalui perbandingan
terbatas untuk seat penumpang dari rata – rata armada lainnya, berpasangan. Menurut Saaty (1983), skala 1 sampai 9 skala
dengan postur yang besar dan 2 jenis tipe yaitu bus gandeng dan terbaik dalam mengekspresikan pendapat. Skala preferensi yang
tunggal dengan kapasitas yang terbatas Bus Transjakarta digunakan yaitu skala 1 yang menunjukkan tingkat yang paling
memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan Bus Transjakarta rendah sampai dengan skala 9 yang menunjukkan tingkatan yang
yaitu dapat berhenti di setiap halte di wilayah ibu kota dengan paling tinggi. Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari
jarak halte yang pendek dan jarak waktu yg singkat dan adanya perbandingan Saaty dapat dilihat dalam Tabel 1 dibawah ini.
jalur khusus untuk Bus Transjakarta yang membuat sampai
tujuan lebih cepat dan jarak waktu jenuh dengan waktu Tabel 1: Nilai dan definisi pendapat kualitatif dari
kedatangan tidak begitu lama, sehingga pengguna dapat memilih perbandingan saaty
waktu perjalanan yang diinginkan. Salah satu kriteria sistem
BRT adalah memiliki jalur khusus yang merupakan elemen vital Nilai Keterangan
agar bus dapat bergerak dengan cepat dan tidak terhambat oleh Kriteria/Alternatif A sama pentingnya
kemacetan (Fitriyani et al., 2019). Kekurangan Bus Transjakarta 1
dengan Alternatif B
yaitu keberangkatan bus sering terlambat karena situasi yang 3 A Sedikit lebih penting dari B
tidak kondusif, kecelakaan ringan, unit bus yang rusak sehingga
operasional bus terbatas, kenyamanan ruang tunggu (halte) 5 A Jelas lebih penting dari B dari B
kurang, pembatas ruang gender yang masih tercampur – campur, 7 A Sangat Jelas lebih penting dari B
supir yang terkadang tidak melihat batas kecepatan maksimum 9 A Mutlak lebih penting dari B
yang pada akhirnya sering terjadi kecelakaan menabrak Apabila ragu-ragu antara dua nilai
pengguna jalan, pembatas jalur dan juga kurang perawatan. 2,4,6,8
yang berdekatan
Commuter Line salah satu moda yang berjalan di atas rel
yang diberi pondasi di bagian bawah sebagai penahan muatan
Untuk setiap prioritas alternatif perlu dilakukan
kereta dengan kapasitas angkut yang banyak. Hal ini mendorong
perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Menurut
terjadinya perubahan pada perusahaan dari biasa-biasa saja
Arisusanty et al., (2018) pada setiap kriteria dan alternatif, perlu
menjadi mengikuti perkembangan zaman (Krisma et al., 2018).
dilakukan perbandingan berpasangan. Nilai perbandingan relatif
Kelebihan Kereta Api yaitu bebas hambatan, pembelian tiket
kemudian diolah untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh
dengan online maupun minimarket, aman dan nyaman, waktu
alternatif. Kriteria kualitatif dan kuantitatif, dapat dibandingkan
kedatangan tepat waktu, volume angkut lebih banyak.
sesuai dengan judgment yang telah ditentukan untuk bobot dan
Kekurangan Kereta Api yaitu harus naik transportasi lagi, polusi
prioritas.
suara/kebisingan, terpengaruh oleh cuaca, misalnya banjir dan
Untuk menetapkan dasar perbandingan, proses
pembatatas rel yang masih minim.
perbandingan berpasangan dimulai dengan tingkat hierarki
Menjadi salah satu pilihan transpotasi masyarakat Jakarta
teratas dengan menentukan criterion c. kemudian ambil variabel
karena berpusat di tengah kota jakarta dalam memenuhi kegiatan
yang akan diperbandingkan dari tingkat hierarki dibawahnya,
perkantoran, salah satunya penawaran yang diberikan MRT,
missal α1, α2 dan seterusnya. Misalnya ada lima variabel maka
pelayanan yang baik, fasilitas dan jalur trayek dibawah tanah.
susunan matriksnya pada Gambar 1 di bawah ini.
Mass Rapid Transit terdiri dari beberapa jenis, seperti heavy rail
transit, light rail transit, dan bus rapid transit (Febriani et al.,
2020). Kelebihan MRT yaitu cepat dan tepat waktu untuk jarak
tempuh, bersih, nyaman dan tidak bising dari luar, biaya yang
relative murah, akses menuju stasiun MRT sangat mudah dan
terintegrasi, fasilitas pembayaran sangat mudah dan waktu
kedatangan tepat waktu. Kekurangan MRT yaitu tidak ada
tempat untuk meletakkan barang dan tempat duduk yang kurang
nyaman.
Kereta api penumpang yang railnya berbentuk U shape
girder yang pengoperasiannya hamper sama dengan MRT jalur
khusus tanpa gangguan lintasan angkutan lainnya, adalah
transportasi LRT tujuannya menarik minat masyarakat untuk Gambar 1: Variabel Susunan Matriks
beralih ke LRT dan untuk mengurangi tingkat kemacetan akibat
kendaraan pribadi serta polusi udara dan kebisingan. Kelebihan Wicaksana (2015), Semua elemen dikelompokkan secara
LRT yaitu biaya lebih efisien, fasilitas yang mumpuni. logis dan diperinkatkan secara konsisten sesuai dengan suatu
pelayanan yang baik, terintegrasi dengan moda yang lain, bersih kriteria yang logis. Matriks bobot yang diperoleh dari hasil
dan nyaman. Kekurangan LRT yaitu, alur yang masih pendek perbandingan secara berpasangan tersebut harus mempunyai
dan tidak ada tempat penyimpanan barang. hubungan kardinal dan ordinal. Metode AHP mempunyai
63
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]
kelebihan dalam hal penilaian konsistensi, yaitu dengan Menurut H Retnawati, (2016) Pengukuran dilaksanakan
menggunakan rumus Consistency Index, Thomas L. Saaty sudah untuk mengetahui kemampuan atau performa dari sesuatu atau
melakukan pembuktian bahwa Indeks Konsistensi dari matriks seseorang, baik berupa kemampuan, sikap, keterampilan,
berordo n dapat diperoleh dengan Persamaan (1). Sedangkan persepsi, dan lain-lain. Alat ukur dalam penelitan umumnya
untuk menentukan nilai eigen maksimum dengan menggunakan menggunakan insturumen peneltian. Instrumen penelitian ialah
Persamaan (2). suatu indera yang digunakan mengukur fenomena alam atau
sosial. Instrumen atau alat yang digunakan dalam penelitian ini
1 ialah berita umum, sebab dipergunakan buat memperoleh berita
𝜆𝑀𝑎𝑘𝑠 = ∑𝑛𝑖=1 𝑎𝑖𝑗 ..................................................(1)
𝑛 yang relevan dan mengetahu yang valid dan reliable. Penulis
Untuk menentukan perhitungan eigen vaktor (Bobot Prioritas) melakukan pengambilan data asal para responden dengan cara
membagikan kuesioner berupa daftar pertanyaan lisan atau
denganmenggunakan Pers. 2.2
pernyataan tertulis yang harus dijawab atau diisi oleh responden
𝑛 𝑛 𝑎
sesuai petunjuk pengisiannya. Kuesioner diberikan kepada
√𝜋𝑗=1 𝑖𝑗 responden untuk diisi atau dijawab sesuai keadaan yang
𝑒𝑉𝑃1 = ............................................. (2) sebenarnya. Setelah selesai, responden mengambilikan
∑𝑛
𝑖=1
𝑛 𝑎
√𝜋𝑖=1 𝑖𝑗
kuesioner kepada peneliti. Instrumen penelitian yang
dipergunakan yaitu berupa kuesioner menggunakan metode
Keterangan: Analisis Hierarki Proses (AHP).
C =Rasio penyimpangan (deviasi) konsistensi Metode pengumpulan data merupakan langkah yang paling
(consistency index) strategis dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan data
𝜆max = Nilai eigen terbesar dari matriks berordo n primer. Data utama ialah data yang didapatkan secara langsung
N = Orde matriks dari instansi terkait serta diberikan secara pribadi kepada
eVP = Eigen vector prioritas pengumpul data, tidak melalui perantara atau berupa jawaban
pada kusioner yaitu pertanyaan yang diajukan ke mahasiswa
Apabila CI bernilai nol, maka pairwise comparison matrix yang menjadi responden. Data yang diporoleh diolah menjadi
tersebut konsisten. Batas ketidak konsistenan (inconsistency) data primer dalam penelitian ini. Dalam hal pengisian survei
yang telah ditetapkan oleh Thomas L. Saaty ditentukan dengan pembobotan, dilakukan menggunakan skala pengukuran yang
menggunakan Rasio Konsistensi (CR), yaitu perbandingan berbentuk semantic disferensial oleh Osgood. Skala ini
indeks konsistensi dengan nilai random indeks (RI) yang dipergunakan juga buat mengukur sikap, hanya bentuknya tidak
didapatkan dari suatu eksperimen oleh Oak Ridge National pilihan ganda maupun cheklist tetapi tersusun dalam satu garis
Laboratory kemudian dikembangkan oleh Wharton School. kontinum yang jawabannya sangat positif terletak bagian kanan
garis atau sebaliknya.
𝐶𝐼 Populasi ialah wilayah generalisasi yang tediri atas objek
𝐶𝑅 = ...................................................................(3) atau subjek yang mempunyai kualitas karakteristik tertentu yang
𝑅𝐼
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, kemudian ditarik
Keterangan: CR = Rasio Konsistensi kesimpulannya”. Menurut Stevanus et [Link], (2015),
RI = Indeks Random populasi wilayah generalisasi terdiri dari objek/subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
3. METODE PENELITIAN kesimpulannya. Maka dari keterangan tersebut, penulis
menetapkan populasi dalam penelitian ini adalah para ahli.
Tahapan metodologi penelitian dalam penelitian ini adalah Menurut Malik & Haryanti, (2018), Sampel adalah kumpulan
mencari penyebab terjadinya permasalahan yang ada untuk dari unit sampling, yang ditarik dari sebuah frame. Metode
diidentifikasi dalam proses pengolahan data dalam ruang lingkup adalah Simple Random Sampling, karena pengambilan sampel
penelitian, mengikuti arah suatu tujuan masalah dalam dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata
penelitian untuk menentukan pemilihan moda dengan metode yang ada dalam populasi tersebut. Pada penelitian ini jumlah
AHP. Sumber referensi tiap para ahli untuk diterapkan dalam populasi tidak diketahui sehingga sampel yang akan diambil
kriteria perkembangan transportasi dalam pemilihan bobot sebanyak 30 Para Ahli. Terdapat beberapa rumus yang dapat
biaya, waktu tempuh, kenyamanan, keamanan, kemudahan digunakan dalam menghitung besarnya sampel yang diperlukan
akses, medis. Skor penentuan bobot disetarakan dengan hasil dalam penelitian. Tetapi untuk penetelian ini disajikan cara
rata-rata responden para ahli, Pengumpulan data dari hasil survei menentukan ukuran sampel yang praktis, yaitu dengan
yang sudah diisi, Mengolah data penelitian dari hasil yang sudah menggunakan tabel. Tabel Krejcie. Berikut adalah tabel Krejcie
dihitung berdasarkan metode AHP, lalu memberikan nilai bobot, untuk menentukan ukuran sampel minimum pada taraf
diberi keterangan dari tiap hasil penelitian untuk dianalisa signifiaksi (kesalahan) = 0,01(1%); 0,05(5%); dan 0,01(10%).
berdasarkan teori AHP sehingga diperoleh hasil penelitian. Untuk menentukan jumlah sampel dengan menggunakan rumus
64
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]
D. Consistency
Gambar 3: Kerangka kriteria
Konsistensi memiliki arti yaitu objek-objek yang serupa
Berdasarkan Gambar 3 menentukan 4 alternatif yang lebih
bisa dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevensi,
prioritas terhadap 6 indikator kriteria terhadap waktu, biaya,
menyangkut tingkat hubungan antar objek yang didasarkan pada
kenyamanan, keamanan, akses, medis, untuk moda bus
kriteria tertentu dan rumus untuk menentukan Rasio Consistency
transjakarta, commuter line, MRT dan LRT dengan tujuan
(CR) indeks konsistensi dari matriks berordo n dapat diperoleh
mencari moda transportasi prioritas
65
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]
No Kriteria Penjelasan
1 Biaya Menilai Suatu Biaya
2 Waktu Tempuh Menilai Waktu Dengan Jarak Tempuh
3 Kenyamanan Menilai Kenyamanan Dalam Suatu Perjalanan
4 Keamanan Menilai Keamanan Dalam Suatu Perjalanan
5 Kemudahan Akses Menilai Akses Dalam Suatu Tujuan
6 Medis Suatu Hal Kebutuhan Dalam Penunjang Kesehatan
Dalam pengisian Tabel 3 dilakukan sebagai berikut: perbandingan rata-rata untuk masing-masing kriteria biaya
a) Biaya memiliki kepentingan yang sama dengan nilai 1. terhadap alternatif, sebagaimana pada Tabel 4.
b) Waktu Tempuh memiliki kepentingan prioritas dibanding
biaya dengan nilai 9, biaya terhadap waktu tempuh dengan Tabel 4: Perbandingan Alternatif Terhadap Kriteria Biaya
nilai 1/0 atau 0,1.
Bus Commuter MR LRT
c) Kenyamanan memiliki kepentingan prioritas dibanding biaya Line T
Transjakarta
dengan nilai 9, biaya terhadap kenyamanan dengan nilai 1/9
Bus Transjakarta 1 0,3 0,1 0,5
atau 0,1.
Commuter Line 3 1 1 0,1
d) Dengan cara yang sama Tabel 3 dapat diisi.
MRT 9 1 1 7
Seusai menentukan perbandingan kriteria utama, selanjutnya
untuk menentukan kriteria biaya dari perbandingan berpasangan LRT 2 9 0,1 1
alternatif sama caranya dengan Tabel 3. Berikut adalah tabel
66
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]
Berikut adalah Tabel 5 hasil kriteria yaitu waktu tempuh, Tabel 8 : Perbandingan Alternatif Terhadap Kriteria Kemudahan
terhadap alternatif dengan perhitungan yang sama seperti pada Akses
perbandingan alternatif terhadap kriteria biaya.
Bus Commuter MRT LRT
Tabel 5: Perbandingan Alternatif Terhadap Kriteria Waktu Transjakarta Line
Tempuh Bus 1 0,5 0,5 1
Transjakarta
Bus Commuter Commuter 2 1 0,1 1
Transjakarta Line MRT LRT Line
Bus 1 0,1 0,1 0,1 MRT 2 2 1 1
Transjakarta LRT 1 1 1 1
Commuter 9 1 0,1 0,5
Line
MRT 9 9 1 7 Tabel 9: Perbandingan Alternatif Terhadap Kriteria Medis
67
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]
Waktu Kemudahan
Biaya Kenyamanan Keamanan Medis
Tempuh Akses
Biaya 1 0,1 0,1 0,1 0,1 0,125
Waktu
9 1 0,125 7 8 9
Tempuh
Kenyamanan 9 8 1 9 2 9
Waktu Kemudahan
Biaya Kenyamanan Keamanan Medis Rata-Rata
Tempuh Akses
Waktu
0,2 0,03021148 0,011547344 0,357142857 0,36199095 0,456273764 0,236194399
Tempuh
Kenyamanan 0,2 0,241691843 0,092378753 0,471204188 0,090497738 0,456273764 0,258674381
Keamanan 0,2 0,211480363 0,009237875 0,052356021 0,090497738 0,025348542 0,098153423
Kemudahan
0,2 0,241691843 0,046189376 0,02617801 0,045248869 0,005069708 0,094062968
Akses
Medis 0,178 0,271903323 0,831408776 0,104712042 0,407239819 0,050697085 0,307289804
Bus
Transjakarta Commuter Line MRT LRT
Bus Transjakarta
1 0,3 0,1 0,5
Commuter Line
3 1 1 0,1
MRT 9 1 1 7
LRT 2 9 0,1 1
Jumlah 15 11,3 2,2 8,6
68
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]
Bus Commuter
Transjakarta Line
MRT LRT Rata-Rata
Bus
Transjakarta
0,066666667 0,026548673 0,04545455 0,83333333 0,405001
Commuter
0,2 0,088495575 0,04545455 0,16666667
Line 0,379044
MRT 0,6 0,088495575 0,04545455 11,6666667 5,337378
LRT 0,133333333 0,796460177 10,0454545 1,66666667 1,100797
69
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]
b. Hasil perkaliannya dibagi dengan vector eigen n adalah jumlah baris atau kolom matriks perbandingan
berpasangan (2,111 - 6)/ (6-1) = 0,7.
Rumus : CR = CI / RI .
Matriks perbandingan berpasangan berdasarkan kriteria Ariyani, D. T., Aulia, I. F., Suryobuwono, A. A., & Marlita, D.
umum, biaya, waktu tempuh, kenyamanan, keamanan, (2020). Switch Potential Of The Users From Using Public
kemudahan akses, dan kriteria medis telah diisi dengan Transportation To Private Transportation As An Impact Of
pertimbangan yang konsisten dan vektor eigen yang dihasilkan Pandemic Covid - 19 (Case Study In Jabodetabek 2020).
dapat diandalkan. Urutan prioritas pembangunan moda Advances In Transportation And Logistics Research.
transportasi umum di DKI Jakarta adalah Mass Rapid Transit
Febriani, D., Mega Olivia, C., Aniisah Sholilah, S., & Hidajat,
(MRT), Light Rail Transit (LRT), Commuter Line (CL) dan Bus
M. (2020). Analysis Of Modal Shift To Support MRT-Based
TransJakarta atau Bus Rapid Transit (BRT).
Urban Transportation In Jakarta. Journal Of Physics:
Conference Series, 1573(1), 012015.
Https://[Link]/10.1088/1742-6596/1573/1/012015
70
Jurnal Sistem Transportasi & Logistik E-ISSN: 2807-7105
Vol. 1, No. 2, Desember 2021 [Link]
71