0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan105 halaman

Daya Saing Susu Sapi Perah di Garut

Skripsi ini membahas analisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas susu segar sapi perah di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keuntungan, daya saing, dan dampak kebijakan pemerintah seperti tarif impor terhadap komoditas susu sapi perah. Penelitian menggunakan metode analisis matriks kebijakan untuk mengestimasi daya saing. Hasil

Diunggah oleh

AFRO FARM
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan105 halaman

Daya Saing Susu Sapi Perah di Garut

Skripsi ini membahas analisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas susu segar sapi perah di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keuntungan, daya saing, dan dampak kebijakan pemerintah seperti tarif impor terhadap komoditas susu sapi perah. Penelitian menggunakan metode analisis matriks kebijakan untuk mengestimasi daya saing. Hasil

Diunggah oleh

AFRO FARM
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS DAYA SAING

DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP


KOMODITAS SUSU SEGAR SAPI PERAH
(Studi Kasus Anggota Koperasi Peternak Garut Selatan, Jawa Barat)

SKRIPSI

Oleh :
PANJI PRATAMA
H34076119

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
RINGKASAN

PANJI PRATAMA. Analisis Daya Saing Dan Dampak Kebijakan Pemerintah


Terhadap Komoditas Susu Segar Sapi Perah (Studi Kasus Anggota Koperasi
Peternak Garut Selatan, Jawa Barat). Skripsi. Depertemen Agribisnis, Fakultas
Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. (Dibawah bimbingan RAHMAT
YANUAR).

Pada masa mendatang, usaha peternakan di Indonesia dihadapkan pada


persaingan yang makin tajam. Di dalam negeri sendiri, usaha peternakan yang berbasis
lahan (land-based livestock farming) akan bersaing dengan usaha pertanian non-
peternakan dalam penggunaan sumberdaya lahan dan tenaga kerja, baik tanaman
semusim maupun tanaman tahunan. Apabila kebijakan pemerintah lebih terfokus pada
peningkatan produksi pangan dengan alasan ketahanan pangan, maka usaha peternakan
berbasis lahan diperkirakan akan makin tergeser. Produk-produk peternakan Indonesia
juga akan bersaing dengan produk-produk sejenis asal luar negeri, terutama daging dan
susu. Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor
pertanian yang memiliki nilai strategis, antara lain dalam memenuhi kebutuhan pangan
yang terus meningkat akibat bertambahnya jumlah penduduk, peningkatan rata-rata
pendapatan penduduk, dan penciptaan lapangan pekerjaan. Maka untuk memenangkan
persaingan usaha peternakan Indonesia harus mempunyai daya saing yang makin kuat,
utamanya dalam menghadapi persaingan dengan produk-produk sejenis asal luar negeri.
Kekurangan produksi susu segar dalam negeri merupakan peluang besar
peternak susu untuk mengembangkan usahanya. Namun demikian peternak masih
menghadapi permasalahan, antara lain yaitu rendahnya kemampuan budidaya
khususnya menyangkut kesehatan ternak dan mutu bibit yang rendah. Kekurangan
tersebut selain mengakibatkan lambatnya pertumbuhan produksi susu juga berpengaruh
terhadap kualitas susu yang dihasilkan. Selain itu mulai sulitnya lahan sebagai sumber
rumput hijauan bagi ternak, tingginya biaya transportasi, serta kecilnya skala usaha
sebagaimana telah dikemukakan di atas, juga menjadi penghambat perkembangan
produksi susu domestik. Permasalahan lain adalah mekanisme penentuan harga
dilakukan secara sepihak oleh IPS, peternak hanya menerima harga yang telah
ditentukan oleh IPS.
Berdasarkan permasalahan diatas secara umum, penelitan ini bertujuan untuk
mengetahui daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas susu sapi
perah di Kabupaten Garut. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk
menganalisis tingkat keuntungan pengusahaan komoditas susu sapi perah di Kabupaten
Garut khususnya anggota Koperasi Peternak Garut Selatan, Menganalisis daya saing
komoditas susu sapi perah di Kabupaten Garut khususnya anggota Koperasi Peternak
Garut Selatan dan Menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing
komoditas susu segar sapi perah.
Terdapat banyak metode pendekatan dan teori untuk mengestimasi daya saing
komoditi, di mana kesemua cara pendekatan dan teori tersebut memiliki kelebihan dan
kekurangan masing-masing yang memerlukan pemecahan. Salah satu cara pendekatan
yang dipandang efisien adalah metode PAM (Policy Analysis Matrix).
Berdasarkan hasil perhitungan melalui metode PAM, usahaternak sapi perah
memiliki penerimaan privat dalam memproduksi susu segar adalah Rp 787,9/liter susu
dan keuntungan sosial usahaternak sapi perah oleh peternak anggota KPGS yang
ditunjukkan dengan nilai yaitu Rp 1.706,5/liter. Kedua indikator tadi menunjukan
keunggulan kompetitif dan komparatif, dengan nilai lebih dari satu. Namun hasil
perhitungan menunjukan divergensi yang menjelaskan bahwa ada penyimpangan,
sehingga peternak mendapatkan hasil dari kegagalan tersebut baik kegagalan dipasar
input maupun kegagalan dipasar output.
Analisis sensitifitas dilakukan untuk melengkapi hasil matiks PAM, didalam
usahaternak sapi perah sangat kental bantuan pemerintah baik di subsistem hulu
maupun hilir. Diantaranya adalah kebijakan pemerintah mengenai bea masuk susu
impor, analisis ini dilakukan untuk mengetahui dampak kebijakan yang diterapkan
pemerintah. Adanya penghapusan tarif impor susu dari lima persen menjadi nol persen
menurunkan keuntungan privat dan sosial. Hal ini menyebabkan adanya penurunan
daya saing komoditi susu sapi lokal baik dari aspek keunggulan kompetitif maupun
keunggulan komparatif. Selain itu, penetapan tarif impor sebesar 15 persen belum
menunjukkan adanya kebijakan pemerintah yang efektif untuk melindungi dan
mendorong pengembangan peternakan sapi perah. Hal ini ditunjukkan dengan nilai
DRC yang masih lebih kecil dari PCR, nilai EPC yang lebih kecil dari satu, nilai NT
yang negatif, serta nilai PC dan SRP yang juga masih lebih kecil dari satu.
Berdasarkan hasil analisis keuntungan per bulan menunjukan bahwa
usahaternak sapi perah menguntungkan baik secara finansial maupun ekonomi.
Pengusahaan sapi perah untuk menghasilkan susu sapi segar oleh anggota KPGS
memiliki daya saing baik secara finansial maupun ekonomi walaupun dalam kondisi
tarif impor susu sebesar nol persen. Penetapan tarif impor sebesar 15 persen
meningkatkan daya saing pengusahaan sapi perah walaupun kebijakan pemerintah
dalam kondisi ini belum efektif dalam melindungi produsen lokal. Menjadi saran bagi
pemerintah agar mengkaji ulang mengenai nilai tarif impor susu untuk melindungi
peternak lokal di tengah arus perdagangan bebas dimana IPS sebagai konsumen utama
peternak bebas mengimpor susu dari luar. Nilai tarif impor sebesar 15 persen cukup
meningkatkan keuntungan dan daya saing peternak sehingga layak untuk diterapkan
dalam rangka pengembangan produksi susu di Indonesia.
ANALISIS DAYA SAING
DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP
KOMODITAS SUSU SEGAR SAPI PERAH
(Studi Kasus Anggota Koperasi Peternak Garut Selatan, Jawa Barat)

Oleh :

PANJI PRATAMA
H34076119

Skripsi ini sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan


Pada Program Sarjana Agribisnis Penyelenggaraan Khusus
Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
Judul Skripsi : Analisis Daya Saing Dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap
Komoditas Susu Segar Sapi Perah (Studi Kasus Anggota Koperasi
Peternak Garut Selatan, Jawa Barat)
Nama : Panji Pratama

NIM : H34076119

Disetujui,
Pembimbing

Rahmat Yanuar, SP. [Link]


NIP. 19760101 200604 1010

Diketahui
Ketua Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS


NIP. 19580908 198403 1002

Tanggal Lulus :
PERYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Daya Saing
Dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Susu Segar Sapi Perah (Studi
Kasus Anggota Koperasi Peternak Garut Selatan, Jawa Barat)” adalah karya sendiri dan
belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk
daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Januari 2010

Panji Pratama
H34076119
RIWAYAT HIDUP

Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara yang terdiri dari Panji
Pratama (Penulis) dan Nissa Wening Arum (Adik) dari pasangan (Alm) Bapak H.
Dede Darmadi dan Ibu Hj. Cucu Salamah, [Link]. Penulis lahir di Bandung pada tanggal
16 Oktober 1986.
Pada tahun 1993 penulis memasuki jenjang pendidikan dasar pada Sekolah
Dasar Negeri I Cikajang-Garut dan tamat pada tahun 1998. penulis melanjutkan
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama pada SLTPN 1 Cikajang dan tamat pada tahun 2001.
Penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Umum pada SMUN II Tarogong-
Garut tamat pada tahun 2004. Pada tahun 2004 penulis berhasil diterima menjadi
mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk
IPB), Program studi Diploma III Manajemen Bisnis dan Koperasi, Institut Pertanian
Bogor. Penulis melanjutkan studi pada program Sarjana Agribisnis Penyelenggaraan
Khusus, Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen pada tahun 2007.
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
nikmat dan karunianya sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Daya Saing
Dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Susu Segar Sapi Perah (Studi
Kasus Anggota Koperasi Peternak Garut Selatan, Jawa Barat)” dapat terselesaikan.
Pada kesempatan ini tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan laporan ini baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat keuntungan pengusahaan
komoditas susu sapi perah di Kabupaten Garut khususnya anggota Koperasi Peternak
Garut Selatan, Menganalisis daya saing komoditas susu sapi perah di Kabupaten Garut
khususnya anggota Koperasi Peternak Garut Selatan dan Menganalisis dampak
kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditas susu segar sapi perah.
Dengan segala keterbatasan dan kendala yang dihadapi, karya ilmiah ini masih
memiliki kekurangan. Namun, kami berharap karya ilmiah ini dapat berguna bagi
semua pihak yang membaca dan untuk kemajuan peternak sapi perah yang ada di
Indonesia umumnya dan di Kecamatan Cikajang khususnya.

Bogor, Januari 2010


Panji Pratama
UCAPAN TERIMA KASIH

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua fihak
yang telah memberikan bantuan dan sumbangan ide-ide dalam penyusunan laporan ini
baik secara langsung maupun tidak langsung kepada :
1. Rahmat Yanuar, SP, [Link] selaku dosen pembimbing yang telah memberikan
bimbingan dan masukan yang sangat berguna untuk penyusunan skripsi ini.
2. Dr. Ir. Rita Nurmalina Suryana, MS yang telah bersedia menjadi evaluator pada
seminar proposal dan memberikan segala masukan serta kritikan sehingga
penelitian ini dapat dilakukan.
3. Muhammad Firdaus, Ph.D selaku dosen penguji yang telah memberikan
masukan yang berguna untuk penyempurnaan penyusunan laporan ini.
4. Arif Karyadi, SP selaku dosen penguji akademik yang telah memberikan
masukan yang berguna untuk penyempurnaan penyusunan laporan ini.
5. Pengurus beserta seluruh keluarga besar Koperasi Peternak Garut Selatan
(KPGS) atas bantuan, dukungan dan perhatian yang diberikan selama praktek
kerja lapang.
6. Keluargaku (Almarhum Ayah, Ibunda, Neng Nissa, nenek, om-tante, sepupu
tercinta) atas kasih sayang, perhatian, doa dan dukungannya.
7. Rekan-rekan Ekstensi yang telah mendukung, memberikan warna dan menjadi
tempat bertukar pikiran.
8. Semua fihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, namun tidak
menghilangkan rasa hormat dan terima kasih atas bantuan dan dukungan kepada
penulis.

Bogor, Januari 2010


Panji Pratama
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL .......................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. vii

I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ................................................................. 5
1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................... 8
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................... 9
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ........................................................ 10

II TINJAUAN USTAKA .................................................................... 11


2.1 Usahaternak Sapi Perah ........................................................... 11
2.1.1 Pembagian Skala Usahaternak Sapi Perah .................... 11
2.1.2 Produksi Susu ................................................................ 14
2.1.3 Struktur Biaya Produksi dan Pendapatan Peternak ....... 15
2.2 Studi Tentang Daya Saing ........................................................ 18
2.2.1 Pengukuran Daya Saing dengan Domestic Resource
Cost (DRC/BSD) ........................................................ 18
2.2.2 Pengukuran Daya Saing dengan Policy Analysis
Matrix (PAM) .............................................................. 19

III KERANGKA PEMIKIRAN .......................................................... 21


3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ................................................... 21
3.1.1 Faktor-faktor Produksi Usahaternak Sapi perah .......... 21
3.1.2 Struktur Biaya Produksi Usahaternak Sapi Perah ....... 21
3.1.3 Pendapatan ................................................................... 22
3.1.4 Konsep Daya Saing ...................................................... 23
3.1.5 Keunggulan Komparatif Wilayah ................................. 24
3.1.6 Keunggulan Kompetitif Wilayah.................................. 25
3.1.7 Teori Kebijakan Pemerintah ......................................... 27
3.1.8 Teori Matrik Kebijakan (Policy Analysis Matrix) ........ 33
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ............................................ 34

IV METODE PENELITIAN ............................................................... 38


4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................... 38
4.2 Data dan Sumber Data ............................................................. 38
4.3 Metode Penarikan Sampel ........................................................ 38
4.4 Analisis Data ............................................................................ 39
4.5 Policy Analysis Matrix (PAM) ................................................. 40
4.5.1 Analisis Keuntungan ..................................................... 41
4.5.2 Analisis Efisiensi ........................................................... 42
4.5.3 Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah ....................... 42
4.5.4 Identifikasi Input dan Output......................................... 46
V GAMBARAN UUM DAERAH PENELITIAN ............................ 51
5.1 Keadaan Umum ....................................................................... 51
5.2 Karakteristik Responden ......................................................... 55
5.3 Kondisi Usahaternak Sapi Perah .............................................. 57

VI HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................ 60


6.1 Analisis Daya Saing ................................................................. 60
6.1.1 Keunggulan Kompetitif ................................................. 62
6.1.2 Keunggulan Komparatif ................................................ 63
6.1.3 Dampak Kebijakan Pemerintah ..................................... 65
6.2 Dampak Penghapusan Tarif Impor Susu .................................. 72
6.2.1 Analisis Sensitivitas Jika Tarif Impor Ditetapkan
5 Persen .......................................................................... 74
62.2 Analisis Sensitivitas Jika Tarif Impor Ditetapkan
15 Persen ....................................................................... 75
6.3 Implikasi Kebijakan.................................................................. 76

VII KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 77


7.1 Kesimpulan ............................................................................... 77
7.2 Saran ......................................................................................... 78

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 79

LAMPIRAN ................................................................................................... 82
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Populasi Ternak (000 ekor) Indonesia Tahun 2000-2008 ............ 2

2. Jumlah Produksi Susu Segar Sapi Perah Indonesia Tahun 2002-


2008 .............................................................................................. 3

3. Volume Impor Susu di Indonesia dari Tahun 2000-2008 ............ 7

4. Harga Susu Segar Sapi Perah di Beberapa Kabupaten Sentra


Produksi Susu di Indonesia Bulan Desember 2007 sampai
Februari 2008 (Rp/Liter) .............................................................. 8

5. Klasifikasi Kebijakan Harga Komoditas ...................................... 28

6. Matriks Analisis Kebijakan (PAM) ................................................ 40

7. Penggunaan Lahan di Wilayah Kecamatan Cikajang .................. 49

8. Penduduk Kecamatan Cikajang Menurut Mata Pencaharian ....... 52

9. Tingkat Pendidikan Penduduk di Kecamatan Cikajang ............... 53

10. Populasi Ternak di Kecamatan Cikajang Tahun 2007 ................. 54

11. Biaya Rata-rata Usahaternak Sapi Perah di Kecamatan Cikajang


pada Bulan Juli-Agustus 2009 (Bulan/ Ekor) .............................. 58

12. Tabulasi Dasar Matriks PAM (Rp/Liter) ..................................... 60

13. Indikator-indikator dari Analisis Matriks Kebijakan ................... 62

14. Indikator-indikator dari Analisis Matriks Kebijakan pada Tiga


Kondisi Tarif Impor ..................................................................... 73
DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Dampak Pajak Terhadap Produsen komoditas Ekspor ..................... 29


2. Pengaruh Kebijakan Input Tradable ................................................. 32
3. Kebijakan harga Input Non Tradable ............................................... 33
4. Kerangka Pemilikan Operasional ..................................................... 34
5. Jalur Pemasaran Susu di KPGS ........................................................ 54
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan ............ 83

2. Perhitungan SCF dan SER berdasarkan Data Semester I (Jan-Jul


09) ..................................................................................................... 84

3. Biaya Produksi Susu Peternak Sapi Perah Anggota KPGS .............. 85

4. Alokasi Biaya Input dan Output dalam Komponen Domestik dan


Asing ................................................................................................. 86

5. Tabel Perhitungan Standart Convertion Factor (SCF) dan Shadow


Price Exchange Rate (SER) 2008 ..................................................... 87

6. Penerimaan dan Biaya Pengusahaan Komoditi Susu Segar dalam


Komponen Domestik dan Asing dengan Kondisi Tarif Impor Nol
Persen ................................................................................................ 88

7. Penerimaan dan Biaya Pengusahaan Komoditi Susu Segar dalam


Komponen Domestik dan Asing dengan Kondisi Tarif Impor Lima
Persen ................................................................................................ 89

8. Penerimaan dan Biaya Pengusahaan Komoditi Susu dalam


Komponen Domestik dan Asing dengan Kondisi Tarif Impor 15
Persen ................................................................................................ 90

9. Tabel PAM untuk Kondisi Tarif Impor Nol Persen.......................... 91

10. Tabel PAM untuk Kondisi Tarif Impor Lima Persen ....................... 92

11. Tabel PAM untuk Kondisi Tarif Impor 15 Persen............................ 92


I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan


sektor pertanian yang memiliki nilai strategis, antara lain dalam memenuhi
kebutuhan pangan yang terus meningkat akibat bertambahnya jumlah penduduk,
peningkatan rata-rata pendapatan penduduk, dan penciptaan lapangan pekerjaan.
Hal ini juga sejalan dengan Kebijakan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan
Kehutanan yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Besarnya potensi
sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia memungkinkan pengembangan
subsektor peternakan sehingga menjadi sumber pertumbuhan baru perekonomian
Indonesia. Dalam peta perdagangan internasional produk-produk susu, saat ini
Indonesia berada pada posisi sebagai net-consumer. Sampai saat ini industri
pengolahan susu nasional masih sangat bergantung pada impor bahan baku susu.
Jika kondisi tersebut tidak dibenahi dengan membangun sebuah sistem agribisnis
yang berbasis peternakan, maka Indonesia akan terus menjadi negara pengimpor
hasil ternak khususnya susu sapi (Daryanto, 2007)1.

Pada dekade mendatang, usaha peternakan di Indonesia dihadapkan pada


persaingan yang makin tajam. Di dalam negeri sendiri, usaha peternakan yang
berbasis lahan (land-based livestock farming) akan bersaing dengan usaha
pertanian non-peternakan dalam penggunaan sumberdaya lahan dan tenaga kerja,
baik tanaman semusim maupun tanaman tahunan. Apabila kebijakan pemerintah
lebih terfokus pada peningkatan produksi pangan dengan alasan ketahanan
pangan, maka usaha peternakan berbasis lahan diperkirakan akan makin tergeser
(Simatupang dan Hadi, 2004).

Produk-produk peternakan Indonesia juga akan bersaing dengan produk-


produk sejenis asal luar negeri, terutama daging dan susu. Kesepakatan di bidang
Pertanian (Agreement on Agriculture, AoA), yang merupakan bagian dari
Kesepakatan Umum di bidang Tarif dan Perdagangan (General Agreement on
Tarif and Trade, GATT), Putaran Uruguay dalam wadah Organisasi Perdagangan
1
Persusuan Indonesia : Kondisi, Masalah dan Arah Kebijakan
[Link] the desk of arief daryanto [10 Juli 2009]

1
Dunia (World Trade Organization, WTO), telah mentargetkan pendapatan
perdagangan bebas pada tahun 2010 di negara maju dan tahun 2020 di negara
sedang berkembang. Ini berarti bahwa jika kesepakatan di bidang pertanian itu
benar-benar dilaksanakan, maka perdagangan komoditas pertanian (termasuk
peternakan) pada tahun 2020 akan sepenuhnya bebas di semua negara. Semua
hambatan akses pasar, dukungan domestik dan subsidi ekspor harus dihapus
karena tidak sesuai dengan prinsip pasar bersaing bebas. Peranan pemerintah
terbatas hanya menetapkan aturan main dan standar guna mendukung terciptanya
pasar persaingan sempurna. Perkembangan populasi ternak di Indonesia dapat
dilihat di Tabel 1.

Tabel 1. Populasi Ternak (000 ekor) Indonesia Tahun 2000-2008


Ternak 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008*)
Sapi
11,008 11,137 11,298 10,504 10,533 10,569 10,875 11,515 11,869
Potong
Sapi Perah 354 347 358 374 364 361 369 374 408
Kerbau 2,405 2,333 2,403 2,459 2,403 2,128 2,167 2,086 2,192
Kuda 412 422 419 413 397 387 398 401 411
Kambing 12,566 12,464 12,549 12,722 12,781 13,409 13,790 14,470 15,806
Domba 7,427 7,401 7,641 7,811 8,075 8,327 8,980 9,514 10,392
Babi 5,357 5,369 5,927 6,151 5,980 6,801 6,218 6,711 7,376
*) Angka Sementara; Sumber : Badan Pusat Statistik (2008)

Pada Tabel 1 dapat dilihat rata-rata jumlah populasi sapi perah meningkat
setiap tahunnya, kecuali pada Tahun 2004-2005 terjadi penurunan sebesar 1,02
persen dan 1,00 persen. Pada tahun berikutnya peningkatan populasi berkisar
antara 0,91 persen sampai dengan 0,98 persen. Jumlah ini belum bisa
menghasilkan susu segar sapi perah sesuai dengan kebutuhan dalam negeri,
adapun jumlah susu segar sapi perah disajikan pada Tabel 2.

Produksi rata-rata susu segar sapi perah meningkat setiap tahunnya,


kecuali pada tahun 2005 terjadi penurunan sebesar 1,74 persen yang diakibatkan
penurunan jumlah populasi sapi perah. Indonesia memiliki prospek
pengembangan industri sapi perah yang relatif besar untuk menciptakan negeri ini
sebagai negara pengekspor susu. Pertama diihat dari permintaan potensial susu
oleh 250 juta penduduk, permintaan efektif yang terus berkembang sesuai dengan

2
pertumbuhan perekonomian. Saat, ini produksi sangat rendah baru mencapai 30
persen dari kebutuhan permintaan efektif (Yusdja, 2005).

Tabel 2. Jumlah Produksi Susu Segar Sapi Perah Indonesia Tahun 2002-
2008
Tahun Produksi (000 Ton)
2002 520.98
2003 577.52
2004 596.31
2005 341.99
2006 577.63
2007 636.86
2008 574.40
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)

Dilihat dari sisi konsumsi, sampai Tahun 2007 konsumsi masyarakat


Indonesia terhadap produk susu masih tergolong sangat rendah bila dibandingkan
dengan negara berkembang lainnya. Konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya
delapan liter/kapita/tahun itu pun sudah termasuk produk-produk olahan yang
mengandung susu. Konsumsi susu negara tetangga seperti Thailand, Malaysia dan
Singapura rata-rata mencapai 30 liter/kapita/tahun, sedangkan negara-negara
Eropa sudah mencapai 100 liter/kapita/tahun. Seiring dengan semakin tingginya
pendapatan masyarakat dan semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia,
dapat dipastikan bahwa konsumsi produk-produk susu oleh penduduk Indonesia
akan meningkat2.

Perkiraan peningkatan konsumsi tersebut merupakan peluang yang harus


dimanfaatkan dengan baik. Produksi susu segar dan produk-produk derivatnya
seharusnya dapat ditingkatkan. Kondisi produksi susu segar Indonesia saat ini,
sebagian besar (91 persen) dihasilkan oleh usaha rakyat dengan skala usaha satu
sampai dengan tiga ekor sapi perah per peternak. Skala usahaternak sekecil ini
jelas kurang ekonomis karena keuntungan yang didapatkan dari hasil penjualan
susu hanya cukup untuk memenuhi sebagian kebutuhan hidup apalagi pemerintah
mengeluarkan kebijakan tentang penghapusan bea masuk bahan baku susu yang
menyebabkan adanya penurunan harga susu segar di tingkat IPS (Industri
Pengolahan Susu) yang berakibat semakin turunnya pendapatan peternak. Dari

2
Ibid.

3
sisi produksi, kepemilikan sapi perah per peternak perlu ditingkatkan. Menurut
manajemen modern sapi perah, skala ekonomis bisa dicapai dengan kepemilikan
10-12 ekor sapi per peternak.

Selayaknya Indonesia mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan asal


peternakan sendiri dan bahkan berpotensi menjadi negara pengekspor produk
peternakan. Hal tersebut sangat mungkin diwujudkan karena ketersediaan sumber
daya lahan dengan berbagai jenis tanaman pakan dan keberadaan SDM yang
cukup mendukung. Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa
pembangunan peternakan di Indonesia masih belum berhasil dalam memenuhi
kebutuhan dalam negeri, termasuk rentan terhadap serangan penyakit hewan
berbahaya. Oleh karena itu perlu diupayakan untuk mencari model pengembangan
dan kelembagaan yang tepat dan secara ekonomis menguntungkan dalam
penerapannya (Ilham, 2006). Dengan demikian semua sumber daya yang ada
dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menghasilkan produk peternakan
dalam jumlah yang cukup, berkualitas, harga terjangkau dan mampu bersaing
dengan harga jual produk impor baik di Indonesia maupun di luar negeri, dan
sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan para peternak (Talib, 2007). Maka
untuk memenangkan persaingan usaha peternakan Indonesia harus mempunyai
daya saing yang makin kuat, utamanya dalam menghadapi persaingan dengan
produk-produk sejenis asal luar negeri (Simatupang dan Hadi, 2004).

Menurut Ditjennak (2009), pada tahun 2008, Jawa Barat merupakan salah
satu sentra penghasil susu terbesar ke-dua di Indonesia setelah Jawa Timur.
Sekitar 40 persen populasi ternak sapi perah Indonesia ada di Jawa Barat dan 32
persen produksi susu segar nasional dihasilkan oleh Propinsi Jawa Barat (GKSI,
2007). Salah satu sentra penghasil susu di Jawa Barat adalah Kabupaten Garut.
Menurut hasil wawancara dengan pihak GKSI, Kabupaten Garut merupakan
penghasil susu terbesar di seluruh Jawa Barat setelah Kabupaten Bandung.

Kabupaten Garut memiliki potensi peternakan yang sangat baik. Produk


unggulan peternakan Kabupaten Garut adalah Domba dan Sapi Perah. Luas lahan
penggembalaan di Kabupaten Garut kurang lebih mencapai 2.651,65 Ha yang
menghasilkan produksi pakan ternak sebanyak 93.187,08 Ton, sehingga

4
produktivitas lahan penggembalaan dalam menghasilkan pakan sebesar 28,29
Ton/Ha. Pencapaian populasi ternak Kabupaten Garut apabila dibandingkan
dengan tahun 2005, saat ini rata-rata mengalami pertumbuhan antara 0,2 persen
sampai dengan 18,66 persen, kecuali pada populasi itik. Peningkatan pertumbuhan
populasi tersebut diperoleh antara lain melalui fasilitasi program pengembangan
ternak dan breeding, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah, peternak maupun
swasta.

Salah satu sentra pengembangan sapi perah yang cukup besar di


Kabupaten Garut adalah Kecamatan Cikajang. Koperasi Peternak Garut Selatan
(KPGS) merupakan salah satu koperasi yang berperan penting dalam
pengembangan usahaternak sapi perah di Kabupaten Garut. Koperasi ini
merupakan tempat bernaung peternak yang tersebar di Kabupaten Garut bagian
selatan dan sekitarnya. Koperasi ini berperan dalam memberikan penyuluhan
peternakan, kesehatan ternak, pembibitan sapi perah, pertokoan (WASERDA),
pengumpulan susu, pengolahan susu, dan pemasaran susu.

1.2 Perumusan Masalah

Kekurangan produksi susu segar dalam negeri merupakan peluang besar


peternak susu untuk mengembangkan usahanya. Namun demikian peternak masih
menghadapi permasalahan, antara lain yaitu rendahnya kemampuan budidaya
khususnya menyangkut kesehatan ternak dan mutu bibit yang rendah. Kekurangan
tersebut selain mengakibatkan lambatnya pertumbuhan produksi susu juga
berpengaruh terhadap kualitas susu yang dihasilkan. Selain itu mulai sulitnya
lahan sebagai sumber rumput hijauan bagi ternak, tingginya biaya transportasi,
serta kecilnya skala usaha sebagaimana telah dikemukakan di atas, juga menjadi
penghambat perkembangan produksi susu domestik. Besarnya peluang
usahaternak sapi perah untuk memproduksi susu dan produk turunannya belum
bisa dimanfaatkan secara optimal oleh peternak di Kabupaten Garut.
Dilihat dari sisi konsumsi, sampai saat ini konsumsi masyarakat Indonesia
terhadap produk susu masih tergolong sangat rendah bila dibandingkan dengan
negara berkembang lainnya. Konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya delapan
liter/kapita/tahun itu pun sudah termasuk produk-produk olahan yang

5
mengandung susu. Konsumsi susu negara tetangga seperti Thailand, Malaysia dan
Singapura rata-rata mencapai 30 liter/kapita/tahun, sedangkan negara-negara
Eropa sudah mencapai 100 liter/kapita/tahun. Seiring dengan semakin tingginya
pendapatan masyarakat dan semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia,
dapat dipastikan bahwa konsumsi produk-produk susu oleh penduduk Indonesia
akan meningkat. Oleh, karena itu pengolahaan susu merupakan suatu keharusan.
Padahal, jika pengolahan ini dilakukan di tingkat peternak atau koperasi, nilai
tambahnya akan dirasakan oleh peternak. Selama ini peternak tidak melakukan
pengolahan, yang ada pengolahan dilakukan oleh koperasi yaitu berupa susu
pasteurisasi. Namun omset penjualannya masih terbatas dan kurang bervariasi
serta hanya dilakukan oleh sebagian kecil koperasi susu yang ada. Dengan
meningkatnya daya beli masyarakat dan adanya promosi manfaat minum susu
segar dan susu pasteurisasi, diharapkan omset penjualan susu oleh koperasi akan
meningkat.
Sebagian besar produksi susu usaha peternakan rakyat dipasarkan ke IPS.
Harga jual susu tersebut ditentukan berdasarkan kualitas susu yang dicerminkan
oleh kandungan total solid susu. Dilapang hal tersebut dilakukan dengan
mengukur Berat Jenis (BJ) dan kandungan lemak susu. Mekanisme penentuan
harga dilakukan secara sepihak oleh IPS, peternak hanya menerima harga yang
telah ditentukan oleh IPS. Bahkan koperasi primer maupun GKSI tidak
mempunyai kekuatan dalam menentukan harga susu, karena keberadaannya hanya
bersifat sebagai perantara yang memperoleh fee untuk setiap liter susu yang
dipasarkan ke IPS. Saat ini IPS hanya akan membeli bila harga Susu Segar Dalam
Negeri (SSDN) lebih murah dari harga bahan baku impor. Bila terjadi sebaliknya,
dengan dicabutnya sistem rasio, diduga IPS akan menggunakan bahan baku asal
impor. Hingga saat ini belum ada upaya IPS menjalin kemitraan agar produksi
SSDN dapat bersaing dengan produk impor. Hal ini disebabkan masih ada
keterkaitan antara IPS sebagai usaha multinasional dengan industri persusuan di
masing-masing negara investor.
Perkembangan peningkatan produksi sapi perah hingga tahun 1999 banyak
mendapatkan bantuan dari pemerintah baik dalam pengaturan pemasaran,
tataniaga, impor sapi perah, memaksa IPS membeli susu segar koperasi

6
mengaitkan ijin impor susu dengan penyerapan susu segar koperasi. Selama
hampir 30 tahun di bawah kendali pemerintah, ternyata telah menghasilkan
keragaan industri yang semakin tidak tangguh. Usaha peternak rakyat tidak
menguntungkan dan tidak berkembang sedangkan usaha swasta semakin menjadi
kecil. Reithmuller et. al. (1999) dalam Yusdja (2005) mensinyalir bahwa
intervensi pemerinah telah menciptakan inefisiensi usaha peternak sapi perah.
Namun demikian, intervensi tersebut dapat dimengerti, karena selama ini usaha
peternakan sapi perah lebih banyak ditujukan pada pencapaian tujuan sosial, yaitu
penciptaan lapangan kerja di pedesaan.
Pada 13 Februari 2009, pemerintah menurunkan bea masuk bahan baku
susu impor dari lima persen menjadi nol persen. Penurunan tarif bea masuk itu
atas usulan Departemen Keuangan dengan alasan agar ada jaminan penyerapan
susu segar peternak IPS dan mengurangi beban konsumen. Kebijakan penurunan
bea masuk itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 19 Tahun 2009
tentang Penetapan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor Produk-produk Tertentu3.
Dalam hal pemasaran susu dari peternak dalam negeri, Peraturan Menteri
Keuangan mengakibatkan posisi industri pengolahan susu menjadi jauh lebih kuat
dibandingkan peternak karena industri pengolahan susu mempunyai pilihan untuk
memenuhi bahan baku yang dibutuhkan yaitu susu segar dari dalam negeri
maupun dari impor. Jumlah impor susu dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Volume Impor Susu di Indonesia dari Tahun 2000-2008
Tahun Volume Impor (000 Ton)
2000 495.65
2001 479.95
2002 493.40
2003 553.40
2004 549.90
2005 535.96
2006 616.55
2007 567.68
2008 647.00
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)

3
Peternak Menjadi "Bumper" Industri Susu [Link] edisi Kamis, 15 Januari
2009

7
Tabel 3 memberikan informasi bahwa volume impor lebih besar dari
jumlah produksi peternak dalam negeri (Tabel 2), IPS lebih memilih untuk impor.
IPS lebih memilih impor susu dibanding susu dari peternak dalam negeri, dengan
alasan susu impor lebih murah dibanding susu peternak dalam negeri. Oleh karena
itu, IPS bisa mengatur harga susu dari peternak (price maker) dan peternak
bertindak sebagai penerima harga.

Hal ini menyebabkan relatif rendahnya harga susu segar yang diterima
oleh perternak dalam negeri (Daryanto, 2007). Peternak selalu menganggap
untung bila telah mendapatkan hasil dari usaha ternaknya tanpa memperhitungkan
faktor-faktor lain misalnya penggunaan tenaga kerja keluarga dan nilai
penyusutan. Sehingga tidak ada pengambilan keputusan terbaik bagi
kelangsungan usahaternak sapi perah yang dilakukan, akibatnya usaha ternak
yang dilakukan bersifat tetap dan tidak berkembang (Capah, 2008), hal ini juga
merupakan permasalah peternak terkait dengan perhitungan pengeluaran dan
pendapatan peternak terhadap usaha ternaknya. Tabel 4 menunjukan harga susu
segar sapi perah di beberapa kabupaten sentra produksi susu di Indonesia.

Tabel 4. Harga Susu Segar Sapi Perah di Beberapa Kabupaten Sentra


Produksi Susu di Indonesia Bulan Desember 2007 sampai
Februari 2008 (Rp/Liter)
01 Desember 2007 02 Januari 2008 03 Februari 2008 Harga
Rata-
Kabupaten Harga yang diterima rata di
Peternak Koperasi Peternak Koperasi Peternak Koperasi Tingkat
Peternak
Padang
4000 5000 4000 5000 4000 5000 4000,00
Panjang
Bogor 2000 3000 2000 3000 2000 3000 2000,00
Bandung 3000 3400 3000 3400 3000 3400 3000,00
Semarang 1750 2050 1900 2050 2200 2050 1883,33

Sukabumi 2700 3500 2900 3500 3500 3500 2833,33


Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan, 2008

Tabel 4 menunjukan bahwa harga susu pada bulan Januari dan Februari
Tahun 2008 di Pulau Jawa yang diterima peternak dari koperasi berkisar antara
Rp 1.833,33 sampai Rp 2.833,33. Harga yang diterima koperasi dan IPS rata-rata
Rp 3.025 per liter. Harga bahan baku susu impor yang dibeli IPS di Indonesia
pada tahun 2008 adalah Rp 4.800,00 sampai Rp 5.000,00 per Kg. Harga susu yang

8
diterima peternak sebagai anggota koperasi dinilai lebih rendah dan diduga tidak
mampu menutupi biaya produksinya. Setelah pemerintah menurunkan tarif impor,
IPS menurunkan harga penerimaan susu peternak sebesar Rp 200,00.
Permasalahan yang sudah dikemukakan sudah semestinya ditanggulangi
oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat dengan rumusan dan implementasi
kebijakan yang mampu menciptakan iklim yang kondusif bagi keberlangsungan
usahaternak komoditas susu segar di Kabupaten Garut. Untuk itu, diperlukan
informasi tentang bagaimana kondisi usahaternak sapi perah sebagai
pertimbangan dan bahan acuan bagi pemerintah dalam merumuskan dan
mengimplementasikan kebijakan. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini
mencoba untuk mengetahui tingkat daya saing dan dampak kebijakan pemerintah
terhadap komoditas susu segar sapi perah di Kabupaten Garut.
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana tingkat keuntungan pengusahaan komoditas susu segar sapi perah
secara finansial dan ekonomi di Kabupaten Garut?
2. Bagaimana daya saing komoditas susu segar sapi perah di Kabupaten Garut
khususnya anggota Koperasi Peternak Garut Selatan?
3. Bagaimana dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditas
susu segar sapi perah di Kabupaten Garut khususnya anggota Koperasi
Peternak Garut Selatan?
1.3 Tujuan Penelitian

Secara umum, penelitan ini bertujuan untuk mengetahui daya saing dan
dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas susu sapi perah di Kabupaten
Garut. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk :

1. Menganalisis tingkat keuntungan pengusahaan komoditas susu sapi perah di


Kabupaten Garut khususnya anggota Koperasi Peternak Garut Selatan.
2. Menganalisis daya saing komoditas susu sapi perah di Kabupaten Garut
khususnya anggota Koperasi Peternak Garut Selatan.
3. Menganalisis dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditas
susu segar sapi perah.

9
1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini merupakan hasil analisis daya saing dengan


mempertimbangan intervensi kebijakan pemerintah baik dalam produksi maupun
perdagangan (pemasaran) komoditas susu segar sapi perah. Analisis ini dihasilkan
dari tingkat usahaternak komoditas susu segar sapi perah dari salah satu
kecamatan sentra produksi susu segar di Kabupaten Garut. Oleh karena itu, hasil
penelitian diharapkan dapat dapat memberikan kontribusi yang berguna
khususnya bagi peternak yang terkait langsung, maupun bagi para peneliti
selanjutnya untuk dijadikan bahan perbandingan. Sementara hasil analisis dampak
diharapkan dapat menjadi acuan dan bahan pertimbangan bagi para pengambilan
keputusan dalam hal ini pemerintah dearah dalam merumuskan dan
mengimplementasikan instrumen-instrumen kebijakan yang lebih efektif dan
efisien bagi pengembangan komoditas susu segar sapi perah khususnya maupun
komoditas pertanian pada umumnya.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian


Mengacu pada permasalahan dan tujuan penelitian penelitian serta
mengingat adanya keterbatasan sumberdaya yang tersedia terutama waktu,
menimbulkan beberapa keterbatasan dalam dalam penelitian ini, yaitu : (1)
Komoditas yang dianalisis adalah susu segar sapi perah yang merupakan
komoditas unggulan Kabupaten Garut. Pemilihan komoditas tersebut didasarkan
pada nilai pertumbuhan produksi tersebut yang paling tinggi dibanding komoditas
sayuran, kesesuaian agroekologi dan sebaran wilayah produksi, (2) Analisis
dilakukan pada tingkat usahaternak, (3) Studi ini terbatas pada data yang tersedia
dari berbagai aspek ekonomi pada usahaternak sapi perah yang ada di Kecamatan
Cikajang. Data ini juga terbatas pada penggunaan data cross section yang bersifat
statis.

10
II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Usahaternak Sapi Perah

2.1.1 Pembagian Skala Usahaternak Sapi Perah


Usahaternak di Indonesia diklasifikasikan menjadi tiga kelompok
berdasarkan berdasarkan pola pemeliharaannya, yaitu peternak rakyat, peternak
semi komersil, dan peternak komesil. Peternak rakyat adalah peternak dengan cara
pemeliharaan ternak secara tradisional. Pemeliharaan cara ini dilakukan setiap
hari oleh anggota keluarga peternak dimana keterampilan peterak masih sederhana
dan menggunakan bibit lokal dalam jumlah dan mutu terbatas. Tujuan utamanya
untuk menambah pendapatan keluarga dan konsumsi sendiri. Peternak komersil
dijalankan oleh peternak yang mempunyai kemampuan dalam segi modal dan
sarana produksi dengan teknologi yang cukup modern. Semua tenaga kerja
dibayar dan makanan ternak dibeli dari luar dalam jumlah yang besar.

Usahaternak sapi perah dibagi menjadi dua bentuk berdasakan Surat


Keputusan Menteri Pertanian No. 751/KPTS/10/1982 tentang Pembinaan
Pegembangan Usaha Peningkatan Produksi Dalam Negeri. Pertama, peternakan
sapi perah rakyat yaitu usahaternak sapi perah yang diselenggarakan sebagai
usaha sampingan yang memilki sapi perah dari 10 ekor sapi laktasi (dewasa) atau
memiliki jumlah keseluruhan kurang dari 20 ekor sapi perah campuran. Kedua,
perusahaan sapi perah yaitu usahaternak sapi perah untuk tujuan komersil dengan
produksi susu sapi, yaitu yang memiliki lebih dari 10 ekor sapi laktasi (dewasa)
atau memiliki jumlah keseluruhan lebih dari 20 ekor sapi perah campuran
(Sudono, 1999).

Menurut Direktorat Jenderal Peternakan (2006), berdasarkan tipologi


usaha peternakan sapi perah rakyat di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi :
(1) Usaha peternakan sebagai usaha sampingan, dengan tingkat pendapatan
kurang dari 30 persen; (2) usaha peternakan sebagai mix farming dengan tingkat
pendapatan sebasar 30-70 persen; dan (3) usaha peternakan sebagai usaha pokok
dimana tingkat pendapatan petani dari usaha ini dapat menghidupi peternak secara
layak.

11
Erwidodo (1998), menyatakan bahwa peternakan sapi perah di Indonesia
umumnya merupakan usaha keluarga di pedesaan dalam skala kecil, sedangan
skala usaha yang besar masih terbatas dan umumnya merupakan usaha sapi perah
yang baru tumbuh. Komposisi peternak sapi perah diperkirakan terdiri dari 80
persen peternak kecil dengan kepemilikan sapi kurang dari empat ekor, 17 persen
peternak dengan kepemilikan sapi perah empat sampai tujuh ekor, dan tiga persen
pemilikan sapi perah lebih dari tujuh ekor.

Peternakan sapi perah sudah dimulai sejak abad ke 19 yaitu dengan


pengimporan sapi bangsa Ayrshire, Jersey dan Milking Shorthorn dari Autralia.
Pada permulaan abad ke 20 dilanjutkan dengan mengimpor sapi jenis Fries-
Holland (FH) dari Belanda. Sapi perah dewasa ini dipelihara di Indonesia pada
umumnya adalah sapi jenis FH yang memiliki produksi susu tertinggi
dibandingkan jenis sapi lainnya (Sudono, 1999). Kondisi peternakan sapi perah di
Indonesia saat ini adalah skala usahanya kecil (dua sampai dengan lima ekor),
motif usahanya adalah rumah tangga, dilakukan sebagai sampingan atau usaha
utama, masih jauh dari teknologi serta didukung oleh manajeman usaha dan
permodalan yang masih lemah.

1. Ternak Sapi Perah


Sapi perah merupakan modal utama dalam usahaternak sapi perah. Sapi
perah yang dipelihara adalah sapi perah dewasa, sapi perah betina dara, sapi
jantan dan pedet. Sudono (1999) mengemukakan bahwa jumlah produksi susu
suatu usahaternak sapi perah ditentukan oleh jumlah sapi laktasi yang dimiliki.
Untuk mencapai skala ekonomis yang paling menguntungkan, peternak sapi perah
mempunyai sapi laktasi lebih dari 60 persen dari seluruh pemilikan sapi perahnya.
Persentase sapi laktasi merupakan faktor yang sangat penting dan tidak dapat
diabaikan dalam tata laksana yang baik dalam suatu usahaternak untuk menjamin
pendapatan peternak.
2. Lahan dan Kandang

Lahan dalam usahaternak sapi perah biasanya digunakan untuk tempat


mendirikan kandang dan dapat juga sebagai tempat menanam hijauan untuk pakan

12
ternak. Dalam usahaternak yang pemilikan sapi perahnya relatif kecil, lahan
bukan merupakan faktor produksi yang dominan.

Kandang adalah tempat penting untuk pemeliharaan ternak. Anonimus


(2002) menyatakan bahwa kandang sapi perah yang efektif harus dirancang untuk
memenuhi persyaratan dan keyamanan ternak serta mudah untuk dibersihkan.
Persyaratan kandang yang sehat adalah cukup luas, alas dibuat padat/keras,
ventilasi cukup, terang, bersih dan kering, tenang serta nyaman, ada saluran
pembuangan kotoran dan memperhatikan kesehatan lingkungan.

3. Pakan
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usahaternak sapi perah
adalah pemberian pakan. Sapi perah yang produksi susunya tinggi tidak akan
menghasilkan susu yang sesuai dengan kemampuannya bila tidak mendapat pakan
yang cukup baik kulitas maupun kuantitas. Cara pemberian pakan yang salah akan
mengakibatkan penurunan produksi, gangguan kesehatan bahkan kematian. Pakan
sapi perah terbagi atas dua golongan yaitu bahan pakan serat yaitu hijauan dan
bahan pakan konsentrat.
4. Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi utama. Tenaga kerja
data diperoleh dari tenaga kerja keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Kegiatan
yang pada umumnya dilakukan dalam pemeliharaan sapi perah adalah mencari
dan mengarit hijauan makanan ternak, membuat kandang, memberi makan dan
minum ternak, menjaga kesehatan ternak, mengawinkan dan seleksi ternak,
mengumpulkan hasil (memerah susu), mengolah atau menyimpan hasil dan
mengirimkan hasil untuk dijual.
Penggunaan tenaga kerja dalam usahaternak umumnya diukur dengan
jumlah hari. Dalam satu hari basanya tenaga kerja bekerja delapan jam, waktu
bekerja dalam satu hari sering disebut sebagai satu Hari Kerja Pria (HKP). Jika
bekerja wanita setara dengan 0,8 HKP dan anak-anak setara 0,5 HKP.
5. Obat-obatan dan peralatan
Program kesehatan pada usahaternak sapi perah harus dijalankan secara
teratur untuk menghindari penyakit yang biasa menyerang sapi perah seperti TBC,

13
brucellosis, penyakit mulut dan kuku, radang limfa dan lainnya (Anonimus,
2002).

Peralatan yang digunakan dalam usahaternak sapi perah adalah sabit


ember, sikat, sapu, selang, milk can, sekop dan tali. Sekop digunakan untuk
mengangkut kotoran, ember digunakan untuk menampung susu saat pemerahan,
selang digunakan untuk memandikan sapi dan menyalukan air ke kandang, milk
can, digunakan untuk tempat menampung susu yang telah diperah sebelum
dipasarkan dan tali untuk mengikat ekor sapi pada saat pemerahaan.

2.1.2 Produksi Susu

Menurut Direktorat Jenderal Peternakan (2006), susu adalah hasil


pemerahan sapi atau hewan menyusui lainnya yang dapat dimakan atau dapat
digunakan sebagai bahan makanan yang aman dan sehat serta tidak dikurangi
komponen-komponennya atau ditambah bahan-bahan lain. Seekor sapi perah
dewasa setelah melahirkan anak akan mampu memproduksi air susu melalui
kelenjar susu, yang secara anatomis disebut ambing. Produksi air susu ini
dimanfaatkan oleh manusia sebagai sumber pangan dengan kadar protein yang
tinggi. Produksi susu sapi perah mengikuti pola yang teratur setiap laktasi.
Produksi susu akan naik selama 45-60 hari setelah sapi beranak hingga mencapai
puncak produksi dan kemudian turun secara perlahan-lahan hingga akhir laktasi
(Sudono, 1999).

Masa laktasi adalah periode sapi sedang menghasilkan susu yang


berlangsung selama 10 bulan, dari mulai setelah melahirkan hingga masa kering.
Lama laktasi tergantung pada persistensi yang dipengaruhi oleh umur sapi,
kondisi sapi saat beranak, lama masa kering sebelumya dan banyak makanan yang
diberikan kepada sapi yang sedang laktasi. Kemampuan sapi dalam
mempertahankan produksi susu disebut persistensi laktasi (Sudono, 1999). Sapi
yang bunting 7 sampai 7,5 bulan harus dikeringkan (masa kering). Lamanya masa
kering sebelumnya mempengaruhi produksi susu pada laktasi kedua dan
berikutnya.

14
Kemampuan produksi sapi perah ditentukan oleh faktor genetik,
lingkungan dan pemberian pakan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi
produksi susu antara lain umur, musim beranak, masa kering, masa kosong, besar
sapi, manajemen pemeliharaan dan pakan. Sapi-sapi yang beranak pada umur
yang tua (lebih dari tiga tahun) akan menghasilkan susu yang lebih banyak dari
sapi-sapi yang beranak pada umur dua tahun. Kapasitas produksi susu sapi perah
akan meningkat terus sampai umur enam sampai dengan delapan tahun dan
setelah itu akan menurun dengan penurunan yang semakin besar. Sapi perah umur
dua tahun akan menghasilkan susu sekitar 70 sampai 75 persen dari produksi susu
tertinggi sapi yang berbersangkutan. Pada umur tiga tahun akan menghasilkan
susu 80 sampai 85 persen, sedangkan umur empat sampai lima tahun
menghasilkan susu 95 sampai 98 persen (Schmidt dan Hutjuers dalam Capah,
1998).

Hasil penelitian Nurhayati (2000) menunjukan bahwa produksi susu yang


dihasilkan di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung adalah delapan liter per
ekor per hari untuk kepemilikan ternak sebanyak satu sampai tiga ekor sapi
laktasi, dan untuk skala lebih dari atau sama dengan empat ekor sapi laktasi
adalah tujuh liter per ekor per hari. Menurut Sudono (1999), produksi susu sapi
perah di Indonesia umumnya masih rendah, yaitu hasil susu rata-rata per ekor per
hari adalah 10 liter per ekor per hari dengan bangsa ternak FH. Pada umumnya
susu pemerahan susu dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari. Jika jarak
pemerahan sama, yaitu 12 jam maka jumlah susu yang dihasilkan pagi hari akan
sama dengan pemerahan pada sore hari. Setiap kali akan memerah susu, ambing
dan tangan atau alat pemerah harus bersih agar susu yang dihasilkan bersih dan
sapi tetap sehat.

2.1.3 Struktur Biaya Produksi dan Pendapatan Peternak

Biaya produksi adalah nilai fisik penggunaan faktor produksi yang diukur
dengan nilai uang (Rahardja, 2000). Komponen biaya produksi usahaternak sapi
perah adalah biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap terdiri dari penyusutan
kandang, penyusutan peralatan tahan lama, penyusutan ternak dan lahan tempat
pengelolaan ternak yang dianggap sebagai sewa lahan. Biaya variabel terdiri dari

15
biaya pakan, obat-obatan, penyusutan peralatan tidak tahan lama dan biaya
tranportasi untuk membeli pakan atau memasarkan susu, air dan listrik. Menurut
Sudono (1999) dalam usahaternak sapi perah, biaya terbesar yang dikeluarkan
adalah biaya variabel, terutama biaya pakan dan tenaga kerja. Besar kecilnya
biaya yang dikeluarkan peternakan juga dipengaruhi oleh masa kering dan masa
laktasi sapi perah.

Hasil penelitian Nurhayati (2000) dengan judul Pendugaan Fungsi Biaya


dan Analisis Efisiensi Usaha Peternakan Sapi Perah di Wilayah KUD Mukti
Kabupaten Bandung, menunjukan menunjukan besarnya biaya yang dikeluarkan
oleh peternak di Kecamatan Ciwidey dengan skala usaha satu sampai tiga ekor
sapi laktasi adalah Rp 68.879,00 per peternak perbulan dan skala lebih dari atau
sama dengan empat ekor sapi laktasi adalah Rp 72.774,00 per peternak per bulan.
Komposisi biaya tetap keseluruh adalah biaya penyusutan kandang dengan rataan
Rp 31.207,00 per peternak per bulan atau 5,82 persen, penyusutan ternak Rp
23.121,00 per peternak perbulan atau 4,31 persen dan penyusutan peralatan tahan
lama Rp 18.160 per peternak perbulan atau 3,38 persen dari total biaya.

Biaya variabel untuk skala usaha sampai tiga ekor sapi laktasi adalah Rp
365.270,00 per peternak perbulan dan untuk skala lebih dari atau sama dengan
empat ekor sapi laktasi adalah Rp 576.038,00 per peternak per bulan. Komposisi
biaya variabel secara keseluruhan meliputi biaya pakan dengan rataan Rp
420.355,00 per peternak per bulan atau 78,37 persen, biaya tenaga kerja sebesar
Rp 29.532,00 per peternak per bulan atau 5,51 persen, obat-obatan Rp 7.674,00
per peternak per bulan atau 1,43 persen dan penyusutan peralatan tidak tahan lama
sebesar Rp 6.356,00 per peternak per bulan atau 1,18 persen dari total biaya.
Kecenderungan biaya variabel meningkat pada skala lebih dari atau sama dengan
empat ekor sapi sesuai dengan jmlah ternak yang dimiliki. Ini berarti bahwa
semakin besar skala usaha maka semakin besar biaya variabel yang dikeluarkan.

Penelitian Sinaga (2003) dengan judul Pendugaan Fungsi Baya Usaha


Ternak Sapi Perah di Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Sapi Perah
Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor, menjelaskan bahwa rataan pemilikan
sapi perah adalah 11,26 ST (Satuan Ternak) per peternak dengan pemilikan sapi

16
laktasi 6,73 ST per peternak. Rataan baya produksi susu di lokasi penelitian
adalah 1.829,01 liter per bulan dengan rataan produktvitas secara kseluruhan
adalah 9,06 liter per ekor per hari. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa
semakin besar skala usaha maka semakin tinggi produktivitas sapi laktasi.
Produksi optimal dicapai pada saat produksi susu 670,99 liter per bulan per
petenak atau 99,70 liter per ekor per bulan atau pada saat penermaan peternak
hasil penjualan susu sebesar Rp 1.072.769,75 per peternak per bulan.

Penelitian Anisa (2008) dengan judul Analisis fungsi Biaya dan Efisiensi
Usahaternak Sapi perah di Wilayah kerja KPSBU Lembang Kabupaten Bandung
menunjukan bahwa rata-rata peternak memiliki sapi laktasi kurang dari 10 ekor
atau hanya 3,18 ST dari rata-rata kepemilikan sapi 4,03 ST. rataan produksi susu
didaerah penelitian adalah 14,68 liter per ekor perhari. Produksi susu yang
dihitung meliputi jumlah susu yang dijual dan jumlah susu yang dikonsumsi oleh
keluarga peternak.

Hasil penelitiannya menunjukan bahwa biaya produksi terbesar yang


dikeluarkan peternak adalah biaya pakan yaitu mencapai 54 persen pada peterna
skala I dengan pemilikan sapi 3,91 ST dan 69,17 persen, pada peternak skala II
dengan pemilikan sapi 4,29 ST. komponen biaya terbesar kedua dan ketiga secara
berturut-turut adalah biaya pembelian ternak dan biaya tenaga kerja. Penerimaan
usahaternak sapi perah di daerah penelitian yang paling utama adalah dari
penjualan susu. Penerimaan sampingan usahaternak sapi perah di lokasi penelitian
berasal dari penjualan ternak, penjualan karung, penjualan kotoran ternak, nilai
perubahan ternak dan susu yang dikonsumsi oleh keluarga peternak. Rataan
penerimaan usahaternak sapi perah adalah Rp 4.292.359,75 per peternak perbulan.
Produksi susu rata-rata 1362,l26 liter per peternak per bulan dengan keuntungan
maksimal sebesar Rp 1.843.983,11 per peternak perbulan.

Kusminah (2003) melakukan penelitian dengan judul Manajemen dan


Pendapatan usaha Peternakan Sapi Perah Rakyat di Desa Cilebut Bogor. Hasil
penelitiannya menyimpulkan bahwa besarnya biaya total rata-rata per ST pertahun
paling tinggi terdapat pada kelompok I (skala usaha sedang) yaitu sebesar Rp
3.397.905,34. Kelompok II (skala usaha sedang) sebesar Rp 2.663.646,05

17
sedangkan yang paling kecil adalah biaya kelompok III (skala usaha kecil) sebesar
Rp 2.389.117,99. Kondisi ini terjadi karena manajemen kelompok I lebih buruk
dibanding kelompok II dan III terutama manajemen pakan, karena pemberian
pakan konsentrat yang terlalu banyak akan menurunkan kadar lemak susu dan
akan menimbulkan kerugian eknomis, selain itu pada kelompok I terdapat biaya
tambahan untuk biaya tenaga kerja.

Pendapatan rata-rata paling tinggi terdapat pada keompok I sebesar Rp


7.696.144,61 per peternak per bulan atau Rp 292.262,35 per ST per bulan,
kelompok II sebesar Rp 2.103.531,25 per peternak per bulan atau Rp 296689,88
per ST per bulan dan kelompok III sebesar Rp 1.139.877,32 per peternak per
bulan atau Rp 383.321,58 per ST per bulan. Perbedaan penelitian ini dengan
penelitian sebelumnya terletak pada analisis pendapatan, analisis R/C rasio dan
lokasi penelitian yang berbeda.

2.2 Studi Tentang Daya Saing

Ada beberapa metode yang digunakan dalam penelitian terdahulu untuk


meganalisis daya saing diantaranya :

2.2.1 Pengukuran Daya Saing dengan Domestic Resource Cost (DRC/BSD)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kridiarto (2003) tentang analisis


daya saing dan efisiensi tataniaga pisang ambon lumut menunjukan hasil bahwa
usahatani pisang pada semua pola menghasilkan R/C rasio diatas biaya total. Hasil
analisis keunggulan komparatif menunjukan bahwa ketiga pola pengusahaan
pisang seluruhnya memiliki keunggulan komparatif yang ditunjukan oleh nilai
KBSD yang lebih kecil dari satu.

Pola usahatani lahan garapan dengan budidaya semi internal memiliki nilai
KBSD terkecil baik pada tingkat efisiensi maupun keunggulan komparatif dan
keunggulan kompetitif. Hal ini menunjukan bahwa usahatani lahan garapan
dengan budidaya semi intensif memiliki tingkat efisiensi yang tinggi dengan pola
usaha tersebut mampu menghasilkan keunggulan komparatif dan keunggulan

18
kompetitif dibandingkan pola usaha tani lahan milik dengan budidaya semi
intensif atau pola usahatani lahan garapan dengan budidaya non intensif.

2.2.2 Pengukuran Daya Saing dengan Policy Analysis Matrix (PAM)

Dewi (2004) dalam penelitiannya tentang analisis keunggulan komparatif


da keunggulan kompetitif serta dampak kebjakan pemerintah pada pengusahaan
kedelai menyatakan bahwa usahatani kedelai menguntungkan secara finansial dan
ekonomi serta memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Dampak
kebijakan pemrintah yang ditunjukan oleh transfer output dan koefisien proteksi
output nominal menghasilkan nilai positif. Artinya produsen menerima harga
output diatas harga sosialnya kebijakan harga baik terhadap outpt maupun input
bersifat efektif melindungi produsen. Berdasarkan hasil analisis sensitivitas,
melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat sebesar empat
persen dan penurunan harga pupuk sebesar 20 persen menyebabkan usahatani
kedelai tetap masih memiliki keungulan komparatif dan keunggulan kompetitif.

Kuraisin (2006) menganalisis daya saing dan dampak perubahan kebijakan


pemerintah terhadap komoditi susu sapi. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa
usahaternak sapi perah pada tiga skala usaha di Desa Tajur Halang
menguntungkan secara finansial dan secara ekonomi. Artinya komoditas susu sapi
layak untuk diusahaakan dan dikembangkan di lokasi penelitian baik dengan atau
tanpa kebijakan pemerintah kebijakan pemerintah tehadap komoditas susu
menyebabkan surplus produsen berkurang. Dengan demikian secara keseluruhan
kebijakan pemerintah tidak memberikan insentif bagi produsen untuk
berproduksi. Kebijakan pemerintah berupa pengurangan subsidi pakan ternak dan
obat-obatan menyebabkan peternak tidak memperoleh insentif untuk
meningkatkan skala usahanya. Begitu juga kebijakan tarif impor susu sebesar lima
persen sangat rendah sehingga meningkatkan impor. Berdasarkan analisis
sensitifitas dengan peningkatan harga pakan 30 persen dan penurunan harga susu
sebesar lima persen usahaternak masih tetap menguntungkan.

Zulkarnaini (2007) menganalisis daya saing buah pisang di Kabupaten


Cianjur. Diperoleh hasil bahwa pengusahaan pisang memiliki daya saing (nilai

19
PCR dan DRC < 1), hal ini menunjukan usahatani pisang layak dilakukan dengan
kondisi ada atau tidak ada kebijakan pemerintah. Dampak kebijakan terhadap
input dan output di Desa Kubang berdampak disinsentif. Sementara berdasarkan
analisis sensitifitas terhadap nilai tukar dan peningkatan harga pupuk anorganik
menyebabkan usahatani pisang tetap memiliki keunggulan kompetitif dan
keunggulan komparatif, sehingga tetap layak diusahakan.

Dari hasil penelitian terdahulu yang menganalisis daya saing diperoleh


kesimpulan bahwa pengukuran daya saing dengan menggunakan alat analisis
PAM, selain dapat menganalisis tingkat daya saing suatu sistem usahatani,
perhitungannya juga dapat mengidentifikasi dampak intrvensi atau dampak
kebijakan pemerintah terhadap sistem usahatani. Kebijakan pemerintah di negara
yang sedang berkembang seperti di Indonesia masih perlu dilakukan untuk
melindungi konsumen maupun produsen dalam negeri, kebijakan tersebut masih
diperlukan mengingat komoditas pertanian yang memiliki karakteristik yang khas
dan memiliki peranan strategis dalam struktur perekonomian nasional.

20
III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1 Faktor-faktor Produksi Usahaternak Sapi Perah


Produksi adalah suatu proses penting dalam usahaternak, menurut Raharja
(2000), produksi adalah penggunaan input, yaitu sesuatu yang diikutsertakan
dalam proses produksi untuk menghasilkan output dari usaha yang dijalankan.
Dalam menjalankan produksi diperlukan faktor-faktor produksi yang terdiri dari
tanah, tenaga kerja, modal dan manajemen.
Lipsey et al (1989) dalam Capah (2008) menyatakan bahwa faktor
produksi adalah sumberdaya yang digunakan untuk memproduksi barang atau jasa
yang dibutuhkan manusia yang terdiri dari : (1) Sumberdaya alam seperti tanah
atau lahan, hutan dan barang-barang tambang; (2) Sumberdaya manusia termasuk
mental dan fisiknya; (3) Semua alat-alat buatan manusia untuk meningkatkan
produksi seperti peralatan dan mesin-mesin.
Sumberdaya utama yang biasa dimiliki seorang peternak adalah uang,
tenaga kerja, ternak, alat-alat peternakan dan barangkali sebuah rumah. Semua
faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi dibagi menjadi faktor
produksi variabel, yaitu faktor produksi yang jumlahnya akan berubah jika output
yang dihasilkan berubah dan faktor produksi tetap, yaitu faktor produksi yang
jumlahnya tidak akan berubah jika output yang dihasilkan berubah.

3.1.2 Struktur Biaya Produksi Usahaternak Sapi Perah

Biaya dalam ilmu ekonomi adalah biaya kesempatan (opportunity cost).


Konsep ini tetap dipakai dalam analisis teori biaya produksi. Biaya produksi
adalah sejumlah kompensasi yang diterima pemilik faktor produksi yang
digunakan dalam proses produksi (Rahardja, 2000).

Menurut Rahim (2000) pengeluaran usahatani sama artinya dengan biaya


usahatani. Biaya ini merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh produsen
(petani, nelayan dan peternak) dalam mengelola usahanya untuk mendapatkan
hasil yang maksimal. Dalam hal ini, disebut usahatani untuk petani, melaut untuk

21
nelayan dan beternak untuk peternak. Biaya usahaternak dapat diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost).

1. Biaya Tetap (Fixed Cost), umumnya diartikan sebagai biaya yang relatif
tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun output yang diperoleh
banyak atau sedikit. Selain itu, biaya tetap dapat pula dikatakan sebagai
biaya yang tidak dipengaruhi oleh besarnya produksi komoditas pertanian,
misalnya penyusutan peralatan dan gaji tenaga kerja jika tenaga kerjanya
berasal dari luar keluarga, sewa lahan, alat peternakan.
2. Biaya Variabel (Variable Cost), merupakan biaya yang besar kecilnya
dipengaruhi oleh produksi komoditas pertanian yang diperoleh. Misalnya
biaya untuk sarana produksi susu. Jika menginginkan produksi susu yang
tinggi, faktor produksi pakan ternak perlu ditambah dan sebagainya
sehingga biaya akan berubah tergantung pada komoditi pertanian yang
dihasilkan.
3. Biaya Total (Total Cost), biaya produksi terdiri dari biaya tetap dan biaya
variabel (Soekartawi, 1985). Biaya tetap merupakan biaya yang tidak
tergantung dari jumlah produksi yang mencakup kandang, lahan, peralatan
dan pajak. Biaya variabel merupakan biaya yang jumlahnya berubah-ubah
sesuai perubahan kuantitas produksi yang dihasilkan. Semakin besar
kuantitas produk yang dihasilkan, makin besar biaya variabel yang
diperlukan. Biaya ini meliputi biaya pakan, biaya obat-obatan dan vaksin,
upah tenaga kerja dan biaya lainnya. Biaya total merupakan keseluruhan
biaya produksi yang mencakup biaya tetap dan biaya variabel.

3.1.3 Pendapatan

Soekartawi (1985), mengemukakan beberapa definisi yang berkaitan


dengan pendapatan dan keuntungan, yaitu :

π = TR - TC π = Keuntungan, TR = Penerimaan, TC = Biaya.

22
1. Penerimaan tunai, yaitu nilai uang yang diterima dari penjualan produk.
2. Pengeluaran tunai, yaitu jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian
barang dan jasa usahatani.
3. Pendapatan tunai, yaitu selisih antara penerimaan tunai dengan pengeluaran
tunai dengan pengeluaran tunai.
4. Penerimaan kotor, yaitu produk total usaha dalam jangka waktu tertentu, baik
yang dijual maupun yang tidak dijual.
5. Pengeluaran total usaha, yaitu semua masukan yang habis terpakai atau
dikeluarkan dalam produksi termasuk biaya yang diperhitungkan.
6. Pendapatan bersih usaha, yaitu selisih antara penerimaan kotor usaha dan
pengeluaran total usaha.

Pendapatan usahaternak merupakan selisih dari penerimaan yang diperoleh


dengan biaya yang dikeluarkan. Besarnya pendapatan yang diterima merupakan
balas jasa atas tenaga kerja baik yang berasal dari keluarga ataupun tenaga kerja
maupun yang berasal dari luar keluarga, modal keluarga.

3.1.4 Konsep Daya Saing


Daya saing merupakan suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu
produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang cukup baik dan
biaya produksi yang cukup rendah sehingga pada harga-harga yang terjadi di
pasar, komoditas tersebut dapat di produksi dan dipasarkan oleh produsen dengan
memperoleh laba yang mencukupi sehingga dapat mempertahankan kelanjutan
biaya produksinya (Novianti, 2003). Pendekatan yang sering digunakan untuk
mengukur daya saing suatu komoditi adalah tingkat keuntungan yang dihasilkan
dan efisiensi dalam pengusahaan komoditi tersebut, keuntungan dapat dilihat dari
dua sisi yaitu keuntungan privat dan keuntungan sosial. Sementara itu, efisiensi
pengusahaan komoditi dapat dilihat dari dua indikator yaitu keunggulan
kompetitif dan keunggulan komparatif.
Kajian mengenai daya saing berawal dari pemikiran Adam Smith
mengenai konsep penting tentang “spesialisasi” dan “perdagangan bebas” melalui
teori keunggulan absolut (absolute advantage). Teori keunggulan absolut
menyatakan bahwa sebuah Negara dapat melakukan perdagangan jika relatif lebih

23
efisien (memiliki keunggulan absolut) dibanding negara lain, keuntungan akan
diperoleh jika Negara tersebut melakukan spesialisasi dalam memproduksi
komoditi yang memiliki keunggulan absolut tersebut. Selanjutnya pada tahun
1817 David Ricardo melalui bukunya yang berjudul “Principles of Polotical
Economy and Taxation” memperluas teori keunggulan absolut Adam Smith
menjadi teori keunggulan komparatif (comparative advantage) (Salvatore, 1997).
3.1.5 Keunggulan Komparatif Wilayah

Istilah comparative advantage (keunggulan komparatif) mula-mula


dikemukakan oleh David Ricardo sewaktu membahas perdagangan antar kedua
negara. Dalam teori tersebut akan memperoleh, Ricardo membuktikan bahwa
apabila ada dua Negara yang saling berdagang dan masing-masing Negara
berspesialisasi untuk mengekspor yang memiliki keunggulan komparatif
(memiliki kerugian absolute lebih kecil) maka kedua Negara tersebut akan
memperoleh manfaat dari perdagangan (gains from trade) (Salvatore, 1997).
Ternyata ide tersebut bukan saja bermanfaat dalam perdagangan internasional
tetapi juga sangat penting diperhatikan dalam ekonomi regional.

Sedangkan model Hechkscer-Ohlin (H-O) lebih menekankan pada


keseimbangan perdagangan antara kedua kutub ekonomi noeklasik. Ide dasar
model H-O adalah wilayah yang mempunyai tenaga kerja melimpah, secara relatif
akan memanfaatkan kemampuan dirinya untuk memproduksi barang dengan
faktor produksi padat karya yang relatif lebih murah. Dengan demikian, wilayah
tersebut akan mempunyai keunggulan komparatif dalam memproduksi barang
tersebut (Salvatore,1997).

Daya saing suatu komoditi ditentukan oleh keunggulan komparatif dan


keunggulan kompetitif dalam produksi dan perdagangan ada beberapa pendapat
dari golongan teknokrat mengenai keunggulan komparatif yaitu suatu wilayah
dapat memliki keunggulan komparatif jika memiliki kekayaan alam melimpah,
tenaga kerja yang melimpah (padat karya), dengan muatan teknologi yang rendah
sehingga faktor produksi menjadi murah dan merupakan andalan untuk
berkompetisi dalam perdagangan maupun terhadap serbuan barang-barang sejenis
dari luar negeri dalam jangka pendek (Prihartanti, 2005). Lebih lanjut dijelaskan

24
bahwa keunggulan komparatif dapat dibagi menjadi dua, yaitu keunggulan
komparatif natural (alami) dan keunggulan komparatif buatan (terapan). Sumber
keunggulan komparatif alami ditunjukan dengan kondisi iklim yang cocok upah
tenaga kerja yang murah dan ketersediaan sumberdaya alam yang melimpah.
Sedangkan keunggulan komparatif terapan telah diaplikasikan dan telah
disesuaikan dengan faktor pendukung seperti teknologi, permintaan skala
ekonomi dan struktur pasar.

Pada awalnya keunggulan komparatif digunakan untuk melihat tingkat


efisiensi produksi dari dua jenis produk yang dihasilkan oleh suatu negara dimana
biaya produksinya dinyatakan dalam penggunaan tenaga kerja. Sehingga dapat
dikatakan bahwa keunggulan komparatif dikaji untuk efisensi relatif penggunaan
tenaga kerja dalam memproduksi barang yang sama antar wilayah (Salvatore,
1997). Dalam perkembangan selanjutnya, keunggulan komparatif tidak hanya
mengkaji efisiensi tenaga kerja (sumberdaya manusia) saja, tapi juga digunakan
untuk sumberdaya lainnya. Bila suatu wilayah tersebut memiliki keunggulan
komparatif dibanding faktor produksi modal. Demikian juga jika suatu wilayah
tersebut mempunyai kelebihan dalam sumberdaya alam maka dapat dikatakan
bahwa suatu wilayah tersebut memiliki keunggulan komparatif dalam faktor
produksi alam. Cara tersebut dikenal dengan melihat keunggulan komparatif dari
sisi input. Disamping dari sisi input, cara melihat keunggulan komparatif juga
dapat dilhat dari sisi output yaitu realisasi ekspornya, keunggulan komparatif
dipengaruhi alam, kombinasi dari faktor produksi, pertimbangan lokasi,
transportasi dan dukungan kelembagaan (Prihartanti, 2005).

3.1.6 Keunggulan Kompetitif Wilayah

Keunggulan kompetitif merupakan pengukur daya saing suatu aktivitas


ekonomi pada kondisi harga pasar atau harga aktual, dimana harga yang terjadi
telah dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Keunggulan kompetitif adalah
keunggulan yang ditujukan oleh suatu negara atau daerah dalam daya saing
produk yang dihasilkan dibandingkan dengan atau negara lain. Misalnya, suatu
daerah mempunyai kelebihan dalam komoditi tertentu (mempunyai keunggulan
komparatif) namun tidak terlihat dalam prestasi ekspornya maka dapat dikatakan

25
komoditi tersebut tidak mampu bersaing dipasar dunia (tidak memiliki
keunggulan kompetitif).

Keunggulan kompetitif merupakan perluasan dari keunggulan komparatif


yang diajukan oleh Michael Porter sebagai kesuksesan suatu perusahaan dalam
beroperasi pasar. Keunggulan kompetitif merupakan alat untuk mengukur daya
saing komoditi suatu wilayah dengan wilayah lain. Keunggulan ini dapat dihitung
berdasarkan harga pasar dan nilai uang yang berlaku atau berdasarkan analisis
finansial, sehingga konsep keunggulan kompetiif bukan merupakan suatu konsep
yang sifatnya menggantikan atau mensubstitusi terhadap konsep keunggulan
komparatif, akan tetapi merupakan konsep yang sifatnya saling melengkapi
(Prihartanti, 2005).

Porter dalam Prihartanti (2005) mengembangkan model yang dikenal


sebagai model berlian, menerangkan bahwa suatu Negara secara internasional
dapat meraih keunggulan kompetitif, apabila dipenuhi empat syarat yang saling
terkait dan membentuk empat titik sudut dari poin yang dinamakan bangunan
intan, yaitu :

1. Keadaan faktor produksi, seperti tenaga kerja teampil atau prasarana;


2. Keadaan permintan dan tuntutan mutu dalam negeri hasil industri tertentu;
3. Eksistensi industri terkait dan pendukung yang kompetitif secara
internasional;
4. Strategi perusahaan dan struktur serta sistem persaingan perusahaan.

Selain karena faktor diatas, Porter menjelaskan bahwa ada faktor luar yang
sangat penting dan sangat menentukan sekali secara ekternal, adalah faktor
manusia (human recource factor) dari suatu Negara. Dimana faktor manusia
tersebut dibagi menjadi dua, yaitu sistem pemerintahan (government) dan terdapat
kesempatan dalam melakukan sesuatu hal. Dalam hal ini, keunggulan kompetitif
dapat diciptakan antara lain melalui implementasi kebijakan pemerintah dapat
tercipta efisiensi penggunaan sumberdaya.

Suatu komoditas dapat mempunyai keunggulan komparatif dan


keunggulan kompetitif sekaligus, yang berarti komoditas tersebut menguntungkan

26
untuk diproduksi atau diusahakan dan dapat bersaing di pasar internasional. Akan
tetapi, apabila komoditas yang diproduksi hanya mempunyai keunggulan
komparatifnya saja maka diasumsikan telah terjadi distorsi pasar atau terdapat
hambatan yang mengganggu kegiatan produksi sehingga merugikan produsen
seperti prosedur administrasi, perpajakan dan lain-lain. Hal sebaliknya juga terjadi
bila suatu komoditas hanya memiliki keunggulan kompetitif saja, maka
pemerintah memberikan proteksi terhadap komoditas tersebut seperti stabilitas
harga, kemudahan perizinan dan kemudahan berbagi fasilitas lainnya.

3.1.7 Teori Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah diharapkan dapat meiningkatkan daya saing


komoditas pertanian termasuk produk hasil peternakan seperti susu segar sapi
perah baik dipasar regional, domestik maupun dipasar internasional. Kebijakan
pemerintah ditetapkan dengan tujuan untuk melindungi produk dalam negeri.
Kebijakan pemerintah diberlakukan terhadap input dan output yang menyebabkan
terjadinya perbedaan harga antara harga input dan out put yang diterima produsen
dengan harga yang sebenarnya terjadi jika dalam kondisi persaingan sempurna.

[Link] Kebijakan Pemerintah Pada Harga Output

Pengaruh intervensi pemerintah pada harga output diterangan oleh Monke


dan Pearson (1989) yang membagi kedalam delapan tipe kebijakan subsidi dan
dua tipe kebijakan perdagangan. Klasifikasi dari kebijakan harga komoditas dapat
dijelasan pada Tabel 5.

Tabel 5. Klasifikasi Kebijakan Harga Komoditas


Instrumen Dampak Pada Produsen Dampak Pada Konsumen
Kebijakan Subsidi Subsidi pada produsen Subsidi pada konsumen
1. Tidak merubah harga 1. Pada barang-barang 1. Pada barang-barang
pasar dalam negeri substitusi impor (S+PI; substitusi impor (S+CI; S-CI)
2. Merubah harga pasar S-PI) 2. Pada barang-barang orientasi
dalm negeri 2. Pada barang-barang ekspor (S+CE; S-CE)
orientasi ekspor (S+PE;
S-PE)
Kebijakan Perdagangan Hambatan pada barang Hambatan pada barang ekspor
(Merubah harga pasar dalam impor (TPI) (TCE)
negeri)
Sumber : Monke dan Pearson (1989)

27
Keterangan : S+ = Subsidi; S- = Pajak; PE = Produsen Barang Orientasi
Ekspor; PI = Produsen Barang Substitusi Impor; CE = Konsumen Barang
Orentasi Ekspor; CI = Konsumen Barang Substitusi Impor; TCE = Hambatan
Barang Ekspor; TPI = Hambatan Barang Impor
Tabel 4 menunjukan bahwa kebijakan harga dapat dibedakan dalam tiga
kriteria. Pertama, tipe instrumen yang berupa subsidi atau kebijakan perdagangan,
kedua kelompok penerima, meliputi produsen atau konsumen dan ketiga tipe
komoditas yang berupa komoditas dapat di impor atau dapat diekspor.

1. Tipe Instrumen
Dalam kebijakan tipe instrumen, dibedakan pengertiannya antara subsidi
dan kebijakan perdagangan. Subsidi adalah pembayaran dari dan atau untuk
pemerintah. Apabila dibayar dari pemerintah maka disebut subsidi positif,
sedangkan apabila dibayar untuk pemerintah disebut subsidi negatif (pajak). Pada
dasarnya, subsidi positif dan negatif bertujuan untuk menciptakan harga domestik
agar berbeda dengan harga internasinal untuk melindungi konsumen atau
produsen dalam negeri.
Kebijakan perdagangan adalah pembatasan yang diterapkan pada atau
ekpor suatu komoditas. Pembatasan dapat diterapkan baik terhadap harga
komoditas yang diperdagangkan (dengan suatu pajak perdagangan) atau sama
dengan pembatasan jumlah komoditas (kuota perdagangan) untuk menurunkan
jumlah yang diperdagangkan secara internasional dan mengendalikan antara harga
internasional (harga dunia) dengan harga domestik (harga dalam negeri). Untuk
barang impor misalnya dapat dilakukan dengan menekan tarif per unit (pajak
impor) maupun pembatasan kuantitas (kuota impor) untuk membatasi kuantitas
yang diimpor dan meningkatkan harga domestik diatas harga internasional.
Kebijakan terhadap output dapat berupa subsidi ataupun pajak. Subsidi
terhadap komoditas ekspor akan berdampak positif sedangkan penerapan pajak
akan berdampak negatif seperti yang ditunjukan oleh Gambar 1.

28
Gambar 1. Dampak Pajak Terhadap Produsen komoditas Ekspor
Sumber : Monke dan Pearson, 1989

Pada perdagangan bebas, harga yang diterima petani dan konsumen dalam
negeri sama dengan harga dunia yaitu Pw. Tingkat output yang dihasilkan sebesar
Q4 sedangkan permintaan hanya sebesar Q1 sehingga terjadi excess supply dalam
negeri sebesar ADG. Karenanya, output yang harus diekspor adalah sebesar Q4 –
Q1. Besarnya surplus konsumen adalah HAPw sedangkan surplus produsennya
adalah PwDI.
Pajak pun mengakibatkan harga yang diterima petani dan konsumen
menjadi lebih rendah dibandingkan harga pasar dunia yaitu Pd sehingga konsumsi
dalam negeri menurun dari Q1 – Q4 menjadi Q2 – Q3. Perubahan surplus
konsumen yang terjadi adalah sebesar PwAEPd. Terjadi transfer output kepada
pemerintah sebesar BCFE.
2. Kelompok Penerima
Kelompok kedua dari klasifikasi kebijakan adalah apakah kebijakan
dimaksudkan untuk konsumen atau produsen. Subsidi atau kebijakan perdagangan
mengakibatkan terjadinya transfer diantara produsen, konsumen dan keuangan
pemerintah. Jika tidak ada kebijakan subsidi dan kebijakan perdagangan,
pemerintah melalui anggarannya harus membayar keseluruhan transfer, ketika
produsen memperoleh keuntungan dan konsumen mengalami kerugian dan
sebaliknya ketika konsumen memperoleh keuntunan dan produsen mengalami
kerugian. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa keuntungan yang didapatkan
oleh satu pihak hanya menjadi pengganti dari kerugian yang dialami pihak lain,

29
tetapi dengan adanya transfer yang diikuti oleh efisiensi ekonomi yang hilang,
maka keuntungan yang diperoleh akan lebih kecil daripada kerugian yang diderita.
Oleh karena itu manfaat yang diperoleh kelompok tertentu (konsumen, produsen
atau keuangan pemerintah) adalah lebih kecil dari jumlah yang hilang dari
kelompok lain.
3. Tipe Komoditas
Klasifikasi tipe komoditas bertujuan untuk membedakan antara komoditas
yang dapat diekspor dan komoditas yang dapat diimpor. Apabila tidak ada
kebijakan harga, maka harga domestik adalah sama degan harga dipasar
internasional, dimana untuk barang yang diekspor digunakan harga FOB (harga
dipelabuhan ekspor) dan untuk barang yang dapat diimpor digunakan harga CIF
(harga pelabuhan impor).
Kebijakan harga yang diterapkan pada input dapat berupa kebijakan
subsidi positif maupun subsidi negatif (pajak) dan kebijakan hambatan
perdagangan yang berupa tarif dan kuota. Kebijakan subsidi pada harga output
menyebabkan harga barang, jumlah barang, surplus produsen dan surplus
konsumen berubah.
Misalnya, subsidi positif untuk produsen barang impor dimana harga yang
diterima produsen lebih tinggi dari harga dipasaran dunia. Hal ini menyebabkan
output produksi dalam negeri meningkat sedangkan konsumsi tetap dan harga
yang diterima konsumen tetap sama dengan harga dipasaran dunia. Subsidi dapat
dilakukan jika produsen dan konsumen dapat dipisahkan berdasarkan wilayah
ekonomi yang jauh dari kontrol adminstrasi yang ketat sehingga perbedaan harga
antara produsen (karena diberi subsidi) dan konsumen (tanpa subsidi) dapat
terjadi. Subsidi ini menyebabkan jumlah impor turun, dan barang yang diimpor
diproduksi sendiri dengan biaya dikorbankan hilang.
Subsidi positif untuk konsumen untuk output yang diimpor, jumlah subsidi
yang dikeluarkan menyebabkan produksi turun dan konsumsi naik sehingga
menyebabkan impor naik. Transfer yang terjadi terdiri dari dua yaitu transfer dari
pemerintah ke pada konsumen dan transfer dari produsen ke konsumen, oleh
karenanya kehilangan efisiensi terjadi diproduksi dan konsumsi. Disisi produksi
terjadi penurunan output dan terjadi kehilangan pendapatan sehingga terjadi

30
kehilangan efisiensi. Disisi konsumsi opportunity cost terjadi peningkatan dan
menyebabkan hilangnya efisiensi.
Kebijakan hambatan perdagangan pada barang-barang impor maupun
ekspor yang merupakan kebijakan selain subsidi yang dapat diterapkan pada
output. Hambatan pada barang impor yang terdapat tarif sehigga meningkatkan
harga dalam negeri baik untuk produsen maupun konsumen. Peningkatan output
domestik serta konsumsi turun yang menyebabkan impor turun. Dengan
demikian, terjadi transfer pendapatan dari konsumen kepada produsen dan transfer
anggaran pemerintah kepada produsen. Efisiensi ekonomi yang hilang dari sisi
konsumen adalah perbedaan opportunity cost dari perubahan konsumsi dengan
willingness to pay.
[Link] Kebijakan Pemerintah Pada Harga Input
Kebijakan terhadap input dapat diterapkan pada input tradable dan input
non tradable. Pada kedua input tersebut, kebijakan dapat berupa subsidi positif
dan subsidi negatif (pajak), sedangkan kebijakan hambatan perdagangan tidak
diterapkan pada input domestik (non tradable) karena input (non tradable)
diproduksi dan dikonsumsi didalam negeri.
1. Kebijakan Input Tradable
Kebijakan pada input tradable memiliki relevansi langsung pada petani
dan intervensi pada kelembagaan pertanian dan pemasaran komoditas pertanian.
Pengaruh kebijakan subsidi terhadap input akan mengurangi biaya produksi
sehingga meningkatkan keuntungan petani. Sebaliknya, kebijakan berupa pajak
menyebabkan peningkatan biaya produksi sehingga petani akan mengurangi
penggunaan input. Hal tersebut membebani petani karena berimbas pada
penuunan jumlah output sehingga mengurangi keuntungan petani (Monke dan
Pearson, 1989). Pernyataan tersebut diilustrasikan oleh Gambar 2.

31
P P
S S’
S’ S

PW PW

Q1 Q2 Q Q2 Q1 Q

a. S+ b. S-

Keterangan : Pw = Harga di Pasar Internasional


Gambar 2. Pengaruh Kebijakan Input Tradable
Sumber : Monke dan Pearson, 1989

Pada Gambar 2a keseimbangan awal berada pada titik A dengan output


sebesar Q1 dan harga komoditas berada pada harga dunia (Pw) yang diasumsikan
konstan. Adanya kebijakan pemerintah berupa subsidi pada input tradable akan
mengurangi biaya produksi sehingga output meningkat dari Q1 menjadi Q2. Hal
tersebut mendorong petani untuk meningkatkan supply seperti yang ditunjukan
oleh pergeseran kurva S ke kanan bawah (S`). Pertemuan kurva S` dengan Pw,
membuat keseimbangan baru di titik B. Biaya produksi setelah output meningkat
ialah Q1ACQ2 dan penerimaan petani sebesar Q1ABQ2 sehinga terdapat efisiensi
ekonomi yang hilang yaitu sebesar ABC.
Sebaliknya, pada Gambar 2b kebijakan pemerintah berupa pajak pada
petani menyebabkan harga input tradable menjadi lebih tinggi sehingga biaya
produksi meningkat. Hal tersebut menyebabkan output menurun dari Q1 menjadi
Q2. Hal tersebut mendorong petani untuk menurunkan supply seperti yang
ditunjukkan oleh pergeseran kurva S ke kiri atas (S`). pertemuan kurva S` dengan
Pw menurut keseimbangan baru di titik B. Biaya produksi setelah output menurun
ialah Q2BAQ1 dan penerimaan petani sebesar Q1CAQ2 sehingga terdapat
efisiensi ekonomi yang hilang yaitu sebesar ABC.

32
2. Kebijakan Input Non Tradable
Pada input non tradable kebijakan pemerintah meliputi kebijakan pajak
dan subsidi tidak tampak karena input non tradable hanya diproduksi dan
dikonsumsi didalam negeri, sedangkan kebijakan perdagangan tidak dapat
diterapkan pada input non tradable. Ilustrasi mengenai kebijakan subsidi dan
pajak
P dijelaskan oleh Gambar 3. P
S S
PP
C
A PC C
PD B
PD B
A
PC D PP
D
PP’ DW
DW

Q1 Q2 Q Q1 Q2 Q3 Q
a. S+ b. S-
Gambar 3. Kebijakan harga Input Non Tradabel
Sumber : Monke dan Pearson, 1989
Keterangan :
Pd : Harga domestik sebelum diberlakukan pajak dan subsidi
Pc : Harga di tingkat konsumen setelah diberlakukan subsidi da pajak
Pp : Harga di tingkat petani setelah diberlakukan subsidi dan pajak
Kondisi keseimbangan sebelum subsidi pada Gambar 3(a) berada pada
titik A dengan harga Pd dan output sebesar Q1. Setelah adanya subsidi, terjadi
peningkatan output menjadi Q2 sehingga harga yang diterima petani pun
meningkat menjadi Pp dan harga konsumen menurun menjadi Pc. Keadan ini
memberikan keuntungan baik bagi petani maupun konsumen.
Pada Gambar 3(b) posisi awal keseimbangan berada pada titik A dengan
tingkat output Q1 dan harga Pd adanya pajak berakibat pada penurunan output
menjadi Q2 harga yang diterima petani menurun menjadi Pp dan harga yang harus
di bayar konsumen meningkat menjadi Pc. Apabila pajak tetap diberlakukan,
tingkat output semakin menurun menjadi Q3 sehigga harga yang diterima petani
pun menurun menjadi Pp. pajak terhadap input non tradable selalu berdampak

33
negative baik kepada petani ekspor maupun konsumen dibanding pemberian
subsidi yang memberikan pengaruh positif.

3.1.8 Teori Matrik Kebijakan (Policy Analysis Matrix)

Policy Analysis Matrix (PAM) atau matrik kebijakan digunakan untuk


menganalisis pengaruh intervensi pemerintah dan dampaknya pada sistem
komoditas. Selain komoditas yang dapat dipengaruhi meliputi empat aktivitas,
yaitu tingkat usahatani, penyampaian usahatani ke pengolahan, pengolahan
maupun pemasaran (Monke and Pearson, 1989). Metode PAM merupakan suatu
analisis yang dapat mengidentifikasikan tiga analisis yaitu keuntungan privat dan
keuntungan sosial/finansial serta analisis daya saing (keunggulan komparatif dan
keunggulan kompetitif) serta analisis dampak kebijakan pemerintah yang
mempengaruhi sistem komoditas.

Analisis ini dapat digunakan pada sistem komoditas dengan berbagai


wilayah, tipe usahatani dan teknologi. Matrik ini terdiri dari tiga baris dan empat
kolom, dimana baris pertama adalah perhitungan dengan harga privat atau harga
aktual untuk mengestimasi keuntungan privat. Keuntungan privat dihitung
berdasarkan selisih antara pendapatan dan biaya berdasarkan harga aktual yang
mencerminkan nilai-nilai yang dipengaruhi oleh semua kebijakan dan kegagalan
pasar. Keuntungan privat dalam angka absolut atau rasio merupakan indiktor
keuntungan atau daya saing (keunggulan kompetitif) dari usahatani berdasarkan
teknologi, nilai output, biaya input dan transfer kebijakan yang ada.

Baris kedua merupakan perhitungan keuntungan ekonomi berdasarkan


harga sosial atau harga bayangan yaitu harga yang menggambarkan nilai ekonomi
yang sesungguhnya bagi unsur-unsur biaya dan hasil, dimana efek kebijakan
distortif dan kegagalan pasar tidak ada. Baris ketiga merupakan selisih antara
baris pertama dan baris kedua yang menggambarkan divergensi. Divergensi akan
menggambarkan penyebab perbedaan hasil perhitungan antara perhitungan
berdasarkan harga privat dan perhitungan berdasarkan harga sosial, divergensi
dapat disebabkan oleh adanya kegagalan pasar atau kebijakan pemerintah.
Kegagalan pasar terjadi apabila pasar gagal menciptakan suatu competitive

34
outcome dan harga efisiensi. Jenis kegagalan pasar yang umum adalah monopoli,
externality dan pasar faktor produksi domestik yang tidak sempurna. Kebijakan
pemerintah adalah intervensi pemerintah yang meyebabkan harga pasar berbeda
dengan harga efesiensinya. Kebijakan pemerintah yang dapat menyebabkan
divergensi antara lain pajak/subsidi, hambatan perdagangan atau regulasi harga.
Jika diasumsikan bahwa kegagalan pasar sebagai faktor yang tidak berpengaruh,
maka perbedaan tersebut lebih banyak disebabkan adanya kebijakan pemerintah
(Pearson et al, 2005).

Matrik PAM memiliki empat kolom, kolom pertama merupakan kolom


penerimaan, kolom kedua merupakan kolom biaya input asing (tradable), kolom
ketiga merupakan kolom biaya input domestik (non tradable) dan kolom keempat
merupakan kolom keuntungan dari selisih antara penerimaan dan biaya.
Penggunaan harga privat dan sosial dalam analisis PAM menggambarkan bahwa
metode tersebut mengandung analisis finansial dan ekonomi. Dalam analisis
ekonomi akan meninjau aktivitas dilihat dari sudut masyarakat secara
keseluruhan. Sedangkan analisis finansial dilihat dari individu yang terlibat
langsung dalam kegiatan ekonomi yaitu peternak.

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional

Susu segar sapi perah merupakan salah satu komoditas unggulan Jawa
Barat yang telah menembus pasar nasional, komoditas susu segar ini dapat
berproduksi dengan baik pada lingkungan yang sesuai. Kondisi lingkungan
tersebut dapat terpenuhi di wilayah sentra produksi susu segar di Kabupaten
Garut. Penelitian ini akan dilaksanakan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut
dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Cikajang merupakan penghasil susu
segar sapi perah terbesar di Kabupaten Garut dan berpotensi sebagai wilayah
pengembangan usahaternak sapi perah.

Sapi perah di Kecamatan Cikajang yang dibudidayakan oleh anggota


Koperasi Peternak Garut Selatan masih dilakukan secara tradisional dengan skala
ekonomi kecil. Usahaternak tersebut dikembangkan secara mandiri tanpa adanya
hubungan kemitraan selain dengan koperasi. Adanya permintaan yang tinggi akan

35
susu segar sapi perah dalam pasar nasional merupakan kesempatan untuk peternak
untuk memenuhi peluang kekurangan pasokan susu segar tersebut.

Terkait dengan agribisnis susu, pada tahun 1983 Pemerintah telah


mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri yaitu Menteri
Pertanian, Menteri Perindustrian, dan Menteri Perdagangan dan Koperasi. Dalam
SKB tersebut industri pengolah susu diwajibkan menyerap susu segar dalam
negeri sebagai pendamping dari susu impor untuk bahan baku industrinya.
Proporsi penyerapan susu segar dalam negeri ditetapkan dalam bentuk rasio susu
yaitu perbandingan antara pemakaian susu segar dalam negeri dan susu impor
yang harus dibuktikan dalam bentuk ”bukti serap” (BUSEP). BUSEP tersebut
bertujuan untuk melindungi peternak dalam negeri dari persaingan terhadap susu
impor. Namun dengan adanya Inpres No 4 Tahun 1998 yang merupakan bagian
dari LoI yang ditetapkan oleh IMF, maka ketentuan pemerintah yang membatasi
impor susu melalui BUSEP menjadi tidak berlaku lagi, sehingga susu impor
menjadi komoditi bebas masuk.

Metode PAM selain digunakan untuk menganalisis daya saing juga bisa
digunakan untuk menganalisis penerapan kebijakan pemerintah pada harga out
put, kebijakan pada harga input, dan kebijakan harga input-output. Kebijakan
harga input dianalisis berdasarkan nilai transfer (input transfer atau TI), koefesien
proteksi input nominal (nominal protection coefficient on input atau NPCI),
tingkat proteksi input nominal (nominal protection rate on input atau NPRI) dan
transfer faktor (factor transfer atau FT).

Sebagai pereduksi kelemahan dari PAM yang bersifat statis, dilakukan


analisis sensitivitas untuk mengeahui daya saing usahaternak sapi perah apabiala
terjadi perubahan harga input maupun output. Terakhir, setelah diperoleh
kesimpulan dari hasil analisis adalah memberikan saran pada peternak dan
pemerintah. Skema kerangka pemikiran operasional penelitian disajikan pada
Gambar 4.

36
1. Rendahnya kemampuan budidaya
ternak,
2. Relatif rendahnya harga susu segar
yang diterima oleh perternak
3. Tarif impor mempengaruhi harga
susu

Tujuan Penelitian :

1. Menganalisis tingkat keuntungan


2. Menganalisis daya saing komoditas susu sapi
3. Menganalisis dampak kebijakan pemerintah

PAM

(Policy Analysis Matrix)

Keunggulan Keunggulan
Komparatif Kompetitif
Dampak Kebijakan Pemerintah:

Kebijakan Output, Kebijakan Input,


Kebijakan Input-Output

Analisis Sensitifitas

1. Tarif Impor 5 %
2. Tarif Impor 15 %

Hasil Akhir

1. Gambaran Daya Saing Usahaternak Sapi Perah serta


Keuntungan secara Finansial dan Ekonomi
2. Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap

Gambar 4. Kerangka Pemilikan Operasional

37
IV METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa


Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan
pertimbangan bahwa Kecamatan Cikajang merupakan daerah sentra produksi
komoditas susu segar sapi perah. Kecamatan Cikajang merupakan salah satu
daerah terbesar pemasok susu segar untuk Industri Pengolahan Susu di DKI
Jakarta dan Jawa Barat. Oleh karena itu, Kecamatan Cikajang dapat dijadikan
contoh sebagai daerah yang cocok untuk melakukan analisis daya saing dan
dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas susu segar sapi perah.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai bulan Agustus 2009.

4.2 Data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dan data
sekunder. Data primer akan diperoleh melalui pengamatan langsung, wawancara
dan diskusi dengan pihak peternak sapi perah yang tergabung sebagai anggota
Koperas Peternak Garut Selatan. Data sekunder diperoleh melalui instansi terkait
seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Perpustakaan Departemen Agribisnis IPB,
Perpustakaan LSI-IPB dan Internet.

4.3 Metode Penarikan sampel

Pengambilan sampel sebagai responden dalam penelitian ini menggunakan


metode purposive, yaitu populasi sampel dibagi menjadi kelompok yang homogen
terlebih dahulu (wilayah) dan anggota sampel ditarik setiap wilayah. Wilayah
yang akan dijadikan responden (sampel) dalam penelitian ini didasarkan pada
tempat dimana peternak yang tergabung merupakan kelompok terbesar, masing-
masing diambil 5 orang dari setiap kelompok anggota untuk dijadikan responden
yaitu kelompok Mekar Jaya, Mekar Sari, Cimanuk, Giri Jaya, Giri Waras,
Mangunreja. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 30 orang peternak anggota
Koperasi Peternak Garut Selatan (KPGS) yang diambil dari 5 kelompok anggota
peternak yang berasal dari 29 kelompok anggota KPGS.

38
4.4 Analisis Data

Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data penelitian terdiri atas


beberapa tahap. Pertama adalah penentuan input usahaternak sapi perah. Tahap
kedua adalah pengidentifikasian input kedalam komponen input tradable yaitu
input yang diperdagangkan dipasar internasional baik diekspor maupun diimpor
dan identifikasi input non tradable yaitu input yang dihasilkan dipasar domestik
dan tidak diperdagangkan secara internasional. Kedua, penentuan harga bayangan
input dan output, kemudian dianalisis dengan menentukan Policy Analysis Matrix
(PAM). Langkah terakhir adalah analisis sensitivitas. Data yang diperoleh diolah
menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel.

1. Metode Pengalokasian Komponen Biaya Domestik dan Asing, penelitian ini


menggunakan pendekatan total dalam mengalokasikan biaya input tradable
dan non tradable.
2. Alokasi Biaya Tataniaga, penentuan biaya ini dengan cara menghitung biaya
yang dikeluarkan untuk mengangkut barang dari peternak ke IPS.
3. Penentuan Harga Bayangan Input dan Output, harga bayangan yang
sebenarnya akan terjadi dalam perekonomian jika pasar dalam keadaan
persaingan sempurna dan dalam kondisi keseimbangan (Gittinger, 1986).
a. Harga Bayangan Output, harga perbatasan untuk output yang diekspor
kemudian dikonversi kedalam nilai rupiah bayangan dan dikurangi biaya
tataniaga,
b. Harga bayangan Input, sama dengan harga finansialnya.
Penentuan harga bayangan dengan mengeluarkan distorsi akibat kebijakan
pemerintah atau akibat kegagalan pasar. Dalam penelitian ini untuk
menentukan harga sosial komoditas yang diperdagangkan didekati dengan
harga batas (border price). Untuk komoditas yang selama ini diekspor
digunakan harga f.o.b (free on board) dan untuk komoditas yang diimpor
digunakan harga c.i.f (cost insurance freight). Untuk harga fob, karena
merupakan harga batas di pelabuhan ekspor perlu dikurangi biaya transport
dan handling dari pedagang besar ke pelabuhan Tanjung Priok. Sementara
itu untuk harga c.i.f, karena merupakan harga batas di pelabuhan impor, maka

39
perlu ditambah biaya transport dan handling dari pelabuhan Tanjung Priok ke
lokasi penelitian. Biaya handling didekati dengan biaya handling KPGS
Cikajang.
4.5 Policy Analysis Matrix (PAM)

Terdapat banyak metode pendekatan dan teori untuk mengestimasi daya


saing komoditi, di mana kesemua cara pendekatan dan teori tersebut memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing yang memerlukan pemecahan. Salah
satu cara pendekatan yang dipandang efisien adalah metode PAM (Policy
Analysis Matrix) yang telah kembangkan oleh Monke dan Pearson sejak tahun
1987. Oleh sebab itu metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan keunggulan kompetitif dan komparitif model PAM dengan formulasi
seperti pada Tabel 6.

Tabel 6. Matriks Analisis Kebijakan (PAM)


Biaya
Keterangan Penerimaan Input Input non Keuntungan
Tradable Tradable
Harga privat A B C D
Harga sosial E F G H
Dampak Kebijakan I J K L
Sumber : Monke dan Pearson (1987).

Keterangan :
Keuntungan Privat (D) = (A) - (B) - (C)
Keuntungan Sosial (H) = (E) - (F) - (G)
Transfer Output (I) = (A) - (E)
Transfer Input (J) = (B) - (F)
Transfer Faktor (K) = (C) - (G)
Transfer Bersih (L) = (D) - (H) = I - (J + K)
Rasio biaya privat (PCR) = C / (A-B)
Rasio biaya sumberdaya domestik (DRCR) = G / (E-F)
Koefisien proteksi output nominal (NPCO) = A/E
Koefisien proteksi input nominal (NPCI) = B / F
Koefisien proteksi efektif (EPC) = (A-B) / (E-F)
Koefisien keuntungan (PC) = D / H

Kelebihan model PAM ini adalah selain diperoleh koefisien DRCR


(Domestic Resource Cost Ratio) sebagai indikator keunggulan komparatif,
analisis ini juga dapat menghasilkan beberapa indikator lain yang berkait dengan
variabel daya saing, seperti PCR (Private Cost Ratio) untuk menilai keunggulan

40
kompetitif, NPCO (Nominal Protection Coefficient on tradable Output), NPCI
(Nominal Protection Coefficient on tradable Inputs), EPC (Effective Protection
Coefficient), PC (Profitability Coeffisient), dan SRP (Subsidy Ratio to Producers).
Untuk mendapatkan nilai-nilai koefisien tersebut, setiap unit biaya (input), output,
dan keuntungan dikelompokkan ke dalam harga pasar (privat) dan harga sosial.
Dari selisih perhitungan berdasarkan kedua kelompok harga tersebut diperoleh
angka transfer untuk menilai dampak dari penerapan kebijakan pemerintah yang
berlaku pada komoditas susu segar sapi perah dan mengukur dampak dari adanya
kemencengan (failure) pasar (Sadikin, 1999).
4.5.1 Analisis Keuntungan
Keuntungan adalah selisih antara penerimaan (nilai penjualan komoditi
yang diterima) dengan biaya yang dikeluarkan oleh petani. Analisis keuntungn
terdiri dari keuntungan privat dan keuntungn social. Keuntungan privat (KP)
menunjukan selisih antara penerimaan dengan biaya yang sesungguhnya diterima
atau dibayarkan petani. Nilai KP yang lebih besar dari nol berarti secara financial
menguntungkan, yaitu kndisi adanya kebijakan pemerintah atau komoditi
menguntungkan untuk diusahakan. Jika nilai KP kurang dari atau sama dengan
nol maka yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu kegiatan usaha tidak
menguntungkan pada kondisi adanya intervensi pemerintah terhadap input dan
output. KP dirumuskan oleh Monke dan Pearson (1989) sebagai berikut :
Private Profitability (PP); D = A – (B + C)
Social Profitability (SP); H = E – (F +G)
Keuntungan Sosial (KS) menunjukan selisih antara penerimaan dengan
biaya yang dihitung dengan harga sosial. Jika nilai KS lebih besar dari nol maka
secara ekonomi, yaitu pada kondisi pasar persaingan sepurna, kegiatan
pengusahaan komoditi dapat dilanjutkan karena menguntungkan atau komoditi
tersebut memiliki keunggulan komparatif jika nilai KS kurang dari atau sama
dengan nol maka kegiatan usaha tidak menguntungkan secara ekonomi atau pada
kondisi pasar persaingan sempurna.
4.5.2 Analisis Efisiensi
Tingkat efisiensi pengusahaan suatu komoditi dapat dilihat dari dua
indikator yaitu keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Keunggulan

41
kompetitif dapat dilihat dari nilai Rasio Biaya Privat (Privat Cost Rasio atau PCR)
yaitu rasio antara biaya input domestik privat dengan nilai tambah privat. Jika
nilai PCR lebih kecil dari satu, maka berarti bahwa untuk menigkatkan nilai
tambah output sebesar satu satuan diperlukan tambahan biaya faktor domestik
lebih kecil dari satu satuan. Hal ini menunjukan bahwa pengusahaan komoditi
tersebut efisien secara finansial atau memiliki keunggulan kompetitif pada saat
ada kebijakan pemerintah. Jika nilai PCR lebih besar atau sama dengan satu maka
yang terjadi adalah sebaliknya.
Private Cost Ratio (PCR) = C/ (A - B)
Keunggulan komparatif suatu komoditi juga dapat dilihat dari nilai Rasio
Biaya Sumberdaya Domestik (Domestic Resource Cost atau DRC). Jika nilai
DRC lebih kecil dari satu, maka pengusahaan komoditi efisien secara ekonomi
atau memiliki keunggulan komparatif pada kondisi tanpa adanya kebijakan. Hal
sebaliknya berlak jika nilai DRC lebih dari satu.
Domestic Resource Cost Ratio (DRC) = G/ (E - F)
4.5.3 Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah
Dampak kebijakan pemeriah yang diidentifikasikan dari analisis PAM
melputi dampak kebijakan pemerintah terhadap output, Input dan dampak
kebijakan terhadap input-output.
1. Dampak Kebijakan Output
Kebijakan pemerintah terhadap output dijelaskan oleh nilai Transfer
Output (TO) dan Koefisien Proteksi Output Nominal (Nominal Protection
Coefficient on Output atau NPCO). Nilai TO merupakan selisih antara penerimaan
privat dengan penerimaan social dari aktivitas produksi. Nilai tanfer output yang
positif menunjukan bahwa masyarakat membeli produk dengan harga yang lebih
tinggi dari haga yang seharusnya diterima. Jika transfer output bernilai negatif,
berarti terdapat kebijakan subsidi negatif pada output yang membuat harga privat
lebih rendah dari harga sosialnya. Untuk output ekspor, angka negatif menunjukan
bahwa kebijakan menyebabkan harga output yang diterima produsen didalam
negeri lebih kecil dari harga di pasar dunia. Berdasarkan matriks PAM, nilai TO
yang dirumuskan dihitung sebagai berikut :
Output Transfer (OT) = A – E

42
NPCO menunjukan dampak insentif pemerintah yang menyebabkan
terjadinya perbedaan nilai output yang diukur dengan harga privat dan sosial.
Nilai NPCO negatif menunjukan bahwa akibat kebijakan pemerintah, harga privat
lebih kecil dari harga dunia, sehingga dapat dikatakan bahwa produsen output
memberkan nilai transfer kebada pemerintah (TO). Kebijakan ini dapat berupa
subsidi negatif kepada produsen untuk barang ekspor.
Nominal Protection Coefficient on Tradable Output ( NPCO) = A/E
Sumber : Monke dan Pearson (1989), Halaman 24
2. Dampak Kebijakan Input
Dampak kebijakan pemerntah terhadap input tradable dijelaskan dengan
Transfer Input (TI) dan Koefisien Proteksi Input Nominal (Nominal Protection
Coefficient on Input atau NPCI), sedangkan dampak kebijakan input domestik
dijelaskan oleh Transfer Faktor (TF). Nilai TI menunjukan kebijakan pemerintah
yang diterapkan pada input tradable yang mengakibatkan terjadinya perbedaan
input tradable privat dan sosial. Nilai transfer input positif menunjukan kebijakan
pemerintah pada input tradable menyebabkan keuntungan yang diterima secara
privat lebih besar dibandingkan tanpa adanya kebijakan. Nilai transfer input
negative menunjukan kebijakan pemerintah menyebabkan keuntungan yang
diterima secara finansial lebih kecil dibandingkan tanpa adanya kebijakan.
Transfer Input (IT) = B –F
Nilai NPCI lebih dari satu menunjukan adanya proteksi terhadap produsen
input, sementara sektor yang menggunakan input akan dirugukan dengan
tingginya biaya produksi. Nilai NPCI lebih kecil dari satu menunjukan adanya
hambatan ekspor input, sehingga produksi menggunakan input lokal.
Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCI) = B/F
Sumber : Monke dan Pearson (1989), Halaman 19
Nilai Transfer Faktor (TF) menunjukan pengaruh kebijakan pemerintah
terhadap produsen dan konsumen yang berbeda dengan kebijakan pada input
tradable. Nilai TF menunjukan besarnya subsidi terhadap input non tradable. Bila
nilai transfer faktor negatif berarti terdapat subsidi positif pada input non tradable.
Transfer Factor (FT) = C – G

43
3. Dampak Kebijakan Input-Output
Pengaruh kebijakan input-output dapat dijelaskan melalui analisis Koefisien
Proteksi Efektif (Effective Protection Coefficient atau EPC), Transfer Bersih (TB),
Koefisien Keuntungan (PC) dan Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP). Koefisien
Proteksi Efektif (EPC) adalah analisis gabungan proteksi output dengan proteksi
input. Nilai EPC menggambarkan arah kebijakan pemerintah apakah bersifat
melindungi atau menghambat produksi domestic secara efektif. Nilai EPC lebih
besar dari satu menunjukan kebijakan untuk melindungi produsen domestik
berjalan dengan efektif. Jika EPC lebih kecil dari satu maka kebijakan untuk
melindungi produsen domestik tidak berjalan dengan baik.
Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCI) = B/F
Transfer Bersih (TB) adalah selisih antara keuntungan privat dengan
keuntungan sosial. Nilai TB juga menggambarkan selisih antara transfer output
dengan transfer input. Jika nilai TB lebih besar dari nol, maka nilai tersebut
menunjukan tambahan surplus produsen yang disebabkan oleh kebijakan
pemerintah yang dilakukan pada input dan output. Jika nilai transfer bersih lebih
kecil dari nol maka yang terjadi adalah sebaliknya.

Net Transfer (NT) = D – H

Koefisien Keuntungan (Profitability Coefficient atau PC) adalah


perbandingan antara keuntungan bersih privat dengan keuntungan bersih sosial.
Nilai PC yang kuang dari satu menunjukan kebijakan pemerintah membuat
keuntungan yang diterima produsen lebih kecil bila dibandingkan tanpa ada
kebijakan. Jika nilai PC lebih dari satu maka yang terjadi adalah sebaliknya.

Profitability Coefficient (PC) = D/H

Rasio Subsidi bagi Produsen (Subsidi Ratio to Producers atau SRP)


menunjukan insentif bersih atas penerimaan yang dihitung dengan harga sosial,
yaitu :

Subsidy Ratio to Produce; (SRP) = L/E

Nilai SRP negatif menunjukan kebijakan pemerintah yang berlaku


membuat produsen mengeluarkan biaya produksi lebih besar dari biaya imbangan

44
untuk berproduksi. Jika nilai SRP adalah positif maka yang terjadi adalah
sebaliknya. Untuk output dan input yang dapat diperdagangkan secara
internasional, harga sosial dapat dihitung berdasarkan harga perdagangan
internasional. Untuk komoditas yang diimpor dipakai harga CIF (Cost, Insurance
and Freight). Sedangkan komoditas yang diekspor digunakan harga FOB (Free
on Board), juga untuk input non tradable digunakan biaya imbangan (opportunity
cost).

4.5.4 Identifikasi Input dan Output

Penentuan input usahaternak sapi perah adalah seluruh bahan, peralatan,


tenaga kerja dan lain sebagainya yang diperlukan dalam proses usahaternak sapi
perah dan dalam perolehannya menimbulkan biaya. Input yang digunakan antara
lain lahan, bibit, tenaga kerja, pakan dan peralatan. Sedangkan output yang
dihasilkan adalah susu sapi.

1. Pengalokasian Komponen Biaya Input Tradable dan Non Tradable

Menurut Monke dan Pearson (1989) terdapat dua pendekatan dalam


pengalokasian biaya kedalam komponen tradable dan non tradable yaitu
pendekatan langsung dan pendekatan total. Pendekatan langsung mengasumsikan
bahwa seluruh biaya input yang dapat diperdagangkan baik impor maupun
produksi dalam negeri dinilai sebagai komponen biaya asing dan dapat
dipergunakan apabila tambahan permintaan input tradable tersebut dapat dipenuhi
dari perdagangan internasional. Dengan kata lain, input non tradable yang
sumbernya dari pasar domestik ditetapkan sebagai komponen domestik dan input
asing yang dipergunakan dalam proses produksi barang non tradable tetap
dihitung sebagai komponen biaya asing.

Pendekatan total mengasumsikan setiap biaya input tradable dibagi


kedalam biaya domestik dan asing dan penambahan input tradable dapat dipenuhi
dari produksi domestik jika input tersebut memiliki kemungkinan untuk
diproduksi didalam negeri. Penelitian ini menggunakan pendekatan total dalam
mengalokasikan biaya kedalam komponen biaya input tradable dan non tradable.

45
2. Alokasi Biaya Tataniaga

Biaya tataniaga merupakan biaya yag dikeluarkan untuk menambah nilai


atau kegunaan suatu barang, yaitu kegunaan tempat, bentuk dan waktu termasuk
didalamnya penanganan dan pengangkutan. Dalam perhitungan biaya tataniaga
diperoleh dengan menjumlahkan seluruh biaya tataniaga dari produsen sampai
kepelabuhan ekspor atau dari pelabuhan impor sampai ke daerah konsumen.
Biaya tataniaga dalam penelitian ini yaitu biaya pengengkutan dari produsen
sampai ke industri pengolahan. Besarnya biaya tataniaga output susu segar Rp
125,00 per liter. Sedangkan biaya besarnya biaya tataniaga input yaitu konsentrat
adalah Rp 50,00 per kilogram konsentrat.

3. Analisis Harga Bayangan

Harga bayangan adalah sebagian harga yang terjadi dalam perekonomian


pada keadaan persaingan sempurna dan kondisinya dalam keadaan keseimbangan
(Gittinger, 1982). Kondisi biaya imbangan sama dengan harga pasar sulit
ditemukan, maka untuk memperoleh nilai yang mendekati biaya imbangan atau
harga sosial perlu dilakukan penyesuaian terhadap harga pasar yang berlaku.
Alasan penggunaan harga bayangan adalah sebagai berikut :

a. Harga bayangan tidak mencerminkan korbanan yang dikeluarkan jika


sumberdaya tersebut dipakai untuk kegiatan lain,
b. Harga yang berlaku dipasar tidak menunjukan apa yang sebenarnya
diperoleh masyarakat melalui suatu produksi dari aktivitas tersebut.

Harga Bayangan Output

Harga yang digunakan sebagai harga bayangan output adalah harga


perbatasan (border price). Posisi Indonesia saat ini untuk produk susu dan sapi
perah bibit sebagai Negara pengimpor, sehingga harga output yang dipakai adalah
harga CIF susu dan sapi perah bibit. Namun, harus dilakukan perhitungan harga
bayangan nilai tukar sebagai berikut.

46
OER
SER =
SCFt

Dimana,

SER : Nilai Tukar Bayangan ([Link]$)

OER : Nilai Tukar Resmi (Rp/US$)

SCFt : Faktor konversi Standar

Nilai faktor konversi standar yang merupakan rasio dari nilai impor dan eskpor ditambah
pajaknya dapat ditentukan sebagai berikut :

Xt + Mt
SCFt =
(Xt − Txt) + (Mt + Tmt)

Dimana,

SCFt : Faktor konversi stadar untuk tahun ke-t

Xt : Nilai ekspor Indonesia untuk tahun ke-t (Rp)

Mt : Nilai impor Indonesia untuk tahun ke-t (Rp)

Txt : Penerimaan pemerintah dari pajak ekspor untuk tahun ke-t (Rp)

Tmt : Penerimaan pemerintah dari pajak impor untuk tahun ke-t (Rp)

Harga bayangan nilai tukar dihitung berdasarkan metode Square dan Van
der Tak, yaitu besarnya nilai ekspor tahun 2008 (Xt) Rp 1,310,827,813,309,640.0,
nilai impor (Mt) Rp 1,235,986,701,560,890.0, pajak ekspor dan impor masing-
masing Rp 453,000,000,000.0 dan Rp 14,417,000,000,000.0 (BPS, 2009). Pada
akhirnya diperoleh nilai SER sebesar Rp. 10,232.00.

Dalam usahaternak sapi perah, output yang dihasilkan merupakan


komoditi impor, sehingga perhitungan harga bayangannya menggunakan harga
CIF Tanjung Priok setelah dikalikan dengan SER semester pertama sebesar Rp
10.900,00 dan dikurangi biaya tataniaga sebesar Rp 91,85. Didapatkan harga
bayangannya menjadi Rp 3.673,93. Harga tersebut merupakan harga susu dengan
pendekatan full cream milk powder, karena susu untuk mendapatkan harga CIF
susu segar tidak tersedia.

47
Harga Bayangan Input
a. Harga Bayangan Bibit

Bibit sapi perah termasuk dalam komponen input tradable, namun peternak
mendapatkan bibit melalui peternak lainnya atau pun koperasi. Diduga tidak ada
campur tangan pemerintah dan cenderung mendekati pasar persaingan sempurna.
Sehingga, diperkirakan harga bayangan bibit sapi perah sama dengan harga
finansialnya yaitu sebesar Rp 2.875.000,00.

b. Harga Bayangan Kandang dan Alat


Kandang dan peralatanya sebagian besar merupakan produksi domestik,
kecuali milkcan yang pengadaannya melalui impor. Biaya produksi yamg
pembuatannya di dalam negeri dapat dibagi ke dalam komponen asing dan
domestik. Walaupun milkcan produk impor, karena dalam unit biaya alat kandang
milkcan hanya bagian kecil (dua persen), maka perhitungan komponen asing dan
domestiknya mengikuti unit peralatan lainnya dalam satuan paket biaya alat
kandang. Sebagian besar komponen kandang berada pada dalam pasar yang
mengarah pada pasar persaingan sempurna. Oleh karena itu, harga bayangan yang
dipakai diasumsikan sama dengan harga finansialnya. Selanjutnya biaya tersebut
diasumsikan 50 persen merupakan komponen asing dan 50 persen domestik.
c. Pakan Hijauan dan Tenaga Kerja
Sebagian besar peternak sapi perah memperolah pakan hijauan dengan cara
mencari di lahan-lahan terbuka. Sumber pengadaan pakan hijauan tersebut
sebagian besar mengandalkan modal tenaga kerja. Oleh karena itu, dalam
penelitian ini, harga pakan hijauan didekati dengan jam kerja yang dicurahkan
dalam mencari rumput. Demikian pula dalam penentuan harga sosialnya. Dengan
asumsi pasar yang mengarah pada persaingan sempurna, tingkat upah akan
mencerminkan nilai produktivitas marjinalnya. Pada kondisi seperti ini, tingkat
upah aktual dapat dipakai sebagai harga bayangan dari tenaga kerja. Namun di
Indonesia kondisinya tidak demikian, terutama pada pasar tenaga kerja sektor
pertanian yang pendidikannya relatif rendah antara 60-80 persen dari harga
aktualnya.

48
d. Pakan Limbah dan Konsentrat
Seluruh pakan limbah dan sebagian pakan konsentrat menggunakan bahan
domestik. Pemasaran bahan-bahan tersebut mengarah pada kondisi pasar bersaing
sempurna. Oleh sebab itu dalam penelitian ini harga sosial kedua jenis pakan ini
sama dengan harga aktualnya. Sementara itu untuk pakan limbah, seluruh
komponennya merupakan komponen domestik, sedangkan pakan konsentrat 15
persen merupakan komponen asing.
e. Biaya Tataniaga dan Biaya Lain
Biaya tataniaga dalam tulisan ini terdiri dari biaya pengangkutan susu dan
pengangkutan pakan dengan proporsi 80 persen komponen domestik dan 20
persen komponen asing. Sedangkan, untuk pemasaran seluruhnya merupakan
komponen domestik.
Biaya obat-obatan yang dimaksudkan dalam bahasan ini adalah biaya tunai
yang dikeluarkan peternak untuk pembelian obat-obatan dan vitamin serta tip
yang diberikan kepada petugas. Biaya sosial obat-obatan dikurangi biaya tip
sebesar Rp 5.000,00. Komponen bahan baku obat-obatan dan vitamin 100 persen
diasumsikan merupakan komponen domestik.
Biaya perkawinan termasuk management fee, yang dalam tulusan ini
termasuk penanganan. Namun ada tip bagi petugas sebesar Rp 15.000,00 diluar
management fee. Atas dasar itu, harga sosial dari biaya perkawinan sama dengan
nol. Selain itu, ada juga biaya listrik, iuran air, pajak ternak pembelian sabun dan
vazlin. Berdasarkan komponen tersebut 30 persen diantaranya merupakan iuran,
selebihnya merupakan komponen asing dimana harga sosialnya sama dengan
harga aktual.
4. Analisis Sensitifitas
Analisis sensitifitas dilakukan untuk mengetahui perubahan perhitungan
biaya dan manfaat dari perubahan input atu output dari hasil analisis suatu
efektivitas perekonomian. Kelenturan usaha terhadap perubahan-perubahan yang
terjadi dalam perekonomian nasinal dan internasional dapat dilakukan analisis
untuk menguji secara sistematis apa yang terjadi pada komponen penerimaan
suatu usaha jika terjadi perubahan-perubahan pada komponen penerimaan suatu
usaha jika terjadi perubahan variabel teknis maupun variabel ekonomis. Sebagai

49
produk substitudi impor, harga bahan baku susu impor sebagai saingan SSDN
sangat dipengaruhi oleh fluktuasi rupiah terhadap dolar. Karena untuk
memproduksi susu olahan IPS dapat menggunakan bahan baku SSDN atau impor,
selain itu perubahan bea masuk susu impor juga akan sangat berpengaruh
terhadap daya saing SSDN yang jika ternyata harga susu impor lebih murah. Hal
ini lah yang menjadi variabel yang relevan digunakan dalam analisis kepekaan
pada usahaternak sapi perah.

50
V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5.1 Keadaan Umum

Kecamatan Cikajang merupakan kecamatan yang terletak di sebelah


selatan Kabupaten Garut. Secara administratif, Kecamatan Cikajang masuk ke
dalam wilayah Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Kecamatan Cikajang
berada pada ketinggian 1.244 meter di atas permukaan laut dengan rata-rata suhu
udara 23,19°C. Iklim wilayah Kecamatan Cikajang termasuk iklim tropis yaitu
kemarau dan musim penghujan. Periode musim kemarau jatuh pada Bulan Mei
hingga Bulan Agustus sedangkan periode musim penghujan jatuh pada Bulan
September hingga Bulan April.

Wilayah Kecamatan Cikajang memiliki rata-rata curah hujan 2.550


mm/tahun dalam 180 hari hujan pertahun batas wilayah Kecamatan Cikajang
yaitu sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Cilawu, Kecamatan Cigedug,
Kecamatan Bayongbong dan Kecamatan Cisurupan; sebelah timur berbatasan
dengan Kecamatan Cihurip dan Kecamatan Banjarwangi; sebelah selatan
berbatasan dengan Kecamatan Cisompet; dan sebelah barat berbatasan dengan
Kecamatan Pakenjeng dan Kecamatan Pamulihan.

Kecamatan Cikajang terdiri dari 11 Desa, 29 Dusun, 98 Rukun Warga


(RW), dan 447 Rukun Tetangga (RT). Kecamatan Cikajang terletak sekitar 26
kilometer dari ibukota Kabupaten Garut dan 86 kilometer dari ibukota Provinsi
Jawa Barat. Luas wilayah Kecamatan Cikajang adalah 13.276,69 Ha dengan
topografi wilayah datar sampai berombak 46 persen, wilayah berombak sampai
berbukit 34 persen, dan wilayah berombak sampai bergunung 20 persen. Jenis
tanah yang terdapat diwilayah Kecamatan Cikajang dapat dikelompokan pada
jenis tanah latosol. Jenis tanah ini cocok untuk tanaman teh, sayur-sayuran, padi,
buah-buahan, coklat dan kopi.

Penggunaan lahan di Kecamatan Cikajang sebagian besar berupa Hutan


Lebat seluas 7.062 Ha (53,19 persen). Hutan lebat ini dikelola oleh UPTD
kehutanan dan masyarakat sekitar hutan tersebut dengan istilah PHBM

51
(Pelestarian Hutan Bersama Masyarakat). Data penggunaan lahan di wilayah
Kecamatan Cikajang dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Penggunaan Lahan di Wilayah Kecamatan Cikajang


No Peggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)

1 Sawah Irigasi 181,69 1,37

2 Pekarangan/bangunan/Emplasemen 359,00 1,70

3 Tegal/Kebun 777,00 5,85

4 Ladang/Tanaman Huma 64,00 0,48

5 Ladang Penggembalaan 16,00 0,12

6 Lahan Gambut 182,00 1,37

7 Hutan Lebat 7.062,00 53,19

8 Hutan Belukar 2.187,00 16,47

9 Hutan Sejenis 42,00 0,32

10 Perkebunan Negara 2.273,00 18,12

11 Perkebunan Swasta 98,00 0,74

12 Lapangan Olah Raga 14,00 0,11

13 Kuburan 21,00 0,16

JUMLAH 13.276,69 100

Sumber: Data Monografi Kecamatan Cikajang (2006)

Jumlah penduduk Kecamatan Cikajang pada Tahun 2006 adalah 70.182


orang yang terdiri dari 35.162 orang laki-laki (50,11 persen) dan 35.014 orang
perempuan (49,89) dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 18.284 KK. Kecamatan
Cikajang memliki kapadatan penduduk 528,61 jiwa/km2. Penyebaran penduduk
menurut mata pencahariannya dapat dilihat pada Tabel 7.

52
Tabel 8. Penduduk Kecamatan Cikajang Menurut Mata Pencaharian

Jumlah Persentase
No Mata Pencaharian
(Orang) (%)

1 Petani 19.158 67,59

2 Pedagang 1.196 4,22

3 Pengrajin/Industri Kecil 28 0,10

4 Buruh 2.512 8,86

5 PNS 529 1,87

6 TNI/POLRI 93 0,33

7 Pensiunan 2.513 8,87

8 Peternak 1.653 5,83

9 Jasa 282 0,99

10 Lain-lain 380 1,34

JUMLAH 28.344 100

Sumber : Data Monografi Kecamatan Cikajang (2006)

Penduduk Kecamatan Cikajang sebagian besar bermata pencaharian di


bidang pertanian, baik di lahan milk sendiri (berperan sebagai petani pemilik
tanah) ataupun dilahan milik orang lain (berperan sebagai petani penggarap tanah,
petani penyakap, buruh tani). Penduduk lainnya bermata pencaharian sebagai
pedagang, buruh, PNS pengrajin/industry kecil, TNI/POLRI, pensiunan, peternak,
jasa dan lain-lain.

Tingkat pendidikan penduduk di Kecamatan Cikajang dapat dikatakan


masih rendah. Hal ini dapat dilihat bahwa sebagian penduduk masih ada yang
buta huruf (0,07 persen), tidak tamat sekolah (4,71 persen) dan belum mengenyam
pendidikan (9,15 persen). Tingkat pendidikan penduduk di Kecamatan Cikajang
dapat dilihat pada Tabel 9.

53
Tabel 9. Tingkat Pendidikan Penduduk di Kecamatan Cikajang
Jumlah Persentase
No Tingkat Pendidikan
(orang) (%)

1 Belum Sekolah 6.336 9,15

2 Tidak Tamat Sekolah 3.264 4,71

3 SD/Sederajat 20.594 29,73

4 SLTP/Sederajat 18.104 26,14

5 SLTA/Sederajat 17.271 24,94

6 Akademi 2.366 3,42

7 Perguruan Tinggi 1.274 1,84

8 Buta Huruf 49 0,07

JUMLAH 69.258 100

Sumber : Data Monografi Kecamatan Cikajang (2006)

Kecamatan Cikajang memiliki populasi sapi perah 7.520 ekor (Laporan


Tahunan UPTD Peternakan Kecamatan Cikajang, 2007). Selain itu, Kecamatan
Cikajang merupakan wilayah potensial untuk dijadikan sumber pakan hijauan
bagi ternak sapi. Wilayah Kecamatan Cikajang sebagian besar berupa hutan lebat
yang dikelola UPTD kehutanan dengan masyarakat setempat secara saling
menguntungkan. UPTD kehutanan memiliki keuntungan yaitu unuk menguangi
praktik illegal logging di sekitar hutan tersebut, sedangkan masyarakat yang
bermata pencaharian sebagai peternak memiliki keuntungan memiliki keuntungan
berupa ketersediaan pakan hijauan yang mencukupi. Jenis ternak yang terdapat di
Kecamatan Cikajang adalah ayam buras, sapi perah, itik, kambing, domba dan
kerbau. Populasi ternak dikecamatan Cikajang dapat dilihat pada Tabel 10.

54
Tabel 10. Populasi Ternak di Kecamatan Cikajang Tahun 2007

No Jenis Ternak Jumlah (ekor) Satuan Ternak (ST)

1 Ayam Buras 20.400 204,00

2 Sapi Perah 7.520 5.865,25

3 Itik 449 4,49

4 Kambing 1.293 124,60

5 Domba 27.423 2.834,69

6 Kerbau 79 53,25

JUMLAH 57.164 9.086,28

Sumber: Laporan Tahunan UPTD Peternakan Kecamatan Cikajang (2007)

Tabel 10 menunjukan bahwa ternak sapi perah merupakan jenis ternak


dengan populasi terbanyak yaitu 5.865,25 satuan ternak (ST) diantara jenis ternak
lain di Kecamatan Cikajang. Hal ini menunjukan bahwa ternak sapi perah
memiliki potensi yang bagus untuk dikembangkan selanjutnya.

5.2 Karakteristik Responden

Lokasi penelitian di Kebupaten Garut yaitu di Kecamatan Cikajang,


merupakan kecamatan penghasil susu segar sapi perah terbesar di Kabupaten
Garut. Identitas responden dalam penelitian ini meliputi beberapa aspek yang
dilihat yaitu umur responden, tingkat pendidikan, jenis kelamin, jumlah
kepemilikan sapi. Sebagian besar peternak sapi di Kecamatn Cikajang menjadikan
usahaternak sapi perah sebagai mata pencaharian utama, peternak tidak
mempunyai mata pencaharian lain selain usahaternak sapi perah.

Umur petani yang menjadi responden dalam penelitian ini berkisar antara
25-60 tahun. Jumlah kepemilikan sapi bekisar dari 1-6 ekor sapi dengan status
kepemilikan milik sendiri. Pengalaman beternak didapat dari orang tua secara
turun temurun, pengalaman beternak berkisar antara 2-41 tahun. Tingkat
pendidikan peternak responden sebagian besar SD (60%), SLTP (25%) dan
sisanya SLTA (15%). Jenis kelamin dari peternak respoden 29 orang laki-laki dan
satu orang perempuan.

55
Dari 30 responden peternak sapi perah di Kecamatan Cikajang, masalah
yang dihadapi sama yaitu kesulitan mendapatkan makanan hijauan, sehingga
memerlukan biaya lebih besar dan waktu yang lebih lama untuk mendapatkannya.
Selain itu, terkait dengan usaha ternak adalah masih kurangnya pengetahuan
untuk penanganan penyakit dan pembuangan kotoran hewan yang masih sulit
dilakukan. Terkait dengan masalah pemasaran, harga yang diterima oleh peternak
masih dirasakan kurang menguntungkan, karena tidak sesuai dengan biaya yang
dikeluarkan. Oleh karena itu, para peternak sangat mengharapkan bantuan dari
pemerintah.

Peternak sapi perah di Kecamatan Cikajang menggunakan pakan yang


berasal dari hijauan/jerami, konsentrat, ampas tahu, dedak. Sebagian peternak
menambahkan vitamin dalam pakannya untuk menambah nafsu makan dan untuk
menjaga kesehatan ternak. Peternak sapi perah di Kecamatan Cikajang masih
belum melakukan pengolahan susu segar menjadi susu olahan, kesulitan dana dan
terbatasnya pengetahuan merupakan kendala yang dihadapi peternak.

Fungsi pemasaran susu segar para peternak di daerah Cikajang dijalankan


oleh Koperasi Peternak Garut Selatan (KPGS). Fungsi pemasaran yang dilakukan
KPGS adalah menyampaikan susu dari peternak sapi perah kepada konsumen
rumah tangga dan Industri Pengolahan Susu (IPS). Fungsi pemasaran tersebut
dimulai dengan pengambilan susu di tingkat peternak, pengangkutan ke cooling
unit, dan pengangkutan ke IPS. sebagian susu segar dijual langsung melalui
eceran dan sebagian diolah menjadi yoghurt dan susu pasteurisasi oleh KPGS.

Susu segar yang dihasilkan peternak dipasarkan ke KPGS dengan sistem


pembayaran tiap 15 hari dimana harga ditentukan berdasarkan kualitas yang
ditentukan dengan tiga kali hasil penyampelan yang akan melihat nilai Total Solid
(TS) dan Total Plate Count (TPC). Peternak hanya perlu mengantarkan susu ke
TPS (Tempat Penampungan Susu) yang biasannya berada disekitar kandang
masing-masing peternak. Setiap pagi dan sore hari karyawan KPGS
mengumpulkan susu dari TPS-TPS kemudian menyimpannya di unit pendingin
(cooling unit) agar kualitas susu tetap terjaga. Dari unit pendingin, susu segar
dibawa ke IPS yang terdiri dari PT. Frisian Flag Indonesia, PT. Indolacto, dan PT.

56
Ultra Jaya. Selain menjual susu segar ke IPS, sebagian kecil juga dijual
melalui eceran. Selain itu, ada juga yang diolah menjadi yoghurt dan susu
pasteurisasi dan dijual di tingkat eceran.

P1
TPS 1
P2
IPS
P3
TPS 2 Lima cooling unit
P4 Eceran
di beberapa

P5
TPS n Pengolahan
Pn

Keterangan: P : Peternak

TPS : Tempat Penampungan Susu

Cooling Unit : Tempat penyimpanan susu

IPS : Industri Pengolahan Susu

Gambar 5. Jalur Pemasaran Susu di KPGS

5.3 Kondisi Usahatenak Sapi Perah

Usahaternak sapi perah merupakan meupakan salah satu sumber mata


pencaharian sebagian masyarakat di Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut disamping
bertanam sayuran dan padi. Usaha peternakan ini dilakukan secara tradisional mulai dari
pengambilan pakan, perawatan hingga pemerahan walaupun demikian kelompok peternak
memiliki rencana usaha yang mampu menangani sistem produksi dan hasil anggotanya.

Kegiatan budidaya sapi perah terdiri atas pengambilan hijauan, perawatan ternak,
pembersihan kandang dan pemerhan kegiatan pengambilan pakan dilakukan setiap hari.
Kegiatan pembersihan kandang dilakukan setiap hari dan pemerahan dilakukan dua kali
sehari. Upaya pemasaran dilakukuan peternak melalui koperasi yang akan
mendistribusikan hasil produksi ke IPS .

Kendala yang dihadapi untuk memenuhi kebutuhan pakan adalah sulitnya


mencari lahan penggembalaan rumput dan tingginya harga konsenrat selain itu masih
sulitnya penanganan susu segar dalam upaya memperkecil jumlah bakteri. Pemerahan

57
dialakukan dua kali sehari dengan interval waktu 12 jam. Susu segar yang diperoleh
langsung dimasukan kedalam milkcan, hal ini bertujuan untuk mengurangi jumlah
kandungan bakteri.

Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari dengan komposisi dua kali rumput
hijauan dan satu kali pakan konsentrat. Pemberian pitamin dilakukan satu bulan sekali
vitamin dalam satu bulan untuk sapi laktasi.

5.3.1 Struktur Biaya Usahaternak Sapi Perah

Biaya produksi yang dkeluarkan oleh peternak sapi perah di Kecamatan Cikajang
Kabupaten Garut mencakup biaya pakan, perlengkapan, obat-obatan, vitamin biaya
tenaga kerja dan penyusutan peralatan seperti yang tercantum pada Tabel 11. Untuk
memperoleh biaya produksi rata-rata yang nantinya menjadi faktor pengurang pada
penerimaan peternak sehingga pendapatan bersih peternak.

Tabel 11. Biaya Rata-rata Usahaternak Sapi Perah di Kecamatan Cikajang


pada Bulan Juli-Agustus 2009 (Bulan/ Ekor)
No Uraian Jumlah Satuan Harga Nilai
1 Biaya Tunai
2 Konsentrat 158,00 Kg 1.400,00 221.200,00
3 Hijauan 1725 Kg 100,00 172.500,00
4 Ampas Tahu 8 Karung 4.000,00 32.000,00
5 Vitamin 7.100,00
6 Anti Biotik 37.000,00
7 Biaya Transport Teknisi 25.000,00
Biaya Angkut Pakan (Hijauan dan
8 Konsentrat) 150.000,00
9 Biaya listrik 30.000,00
10 Pajak 8.300,00
11 Total Biaya Tunai 683.100,00
12 Biaya Diperhitungkan
13 Penyusutan Lahan 132.069,44
14 Penyusutan Kandang 248.263,89
15 Penyusutan alat 981.408,33
16 Tenaga Kerja Dalam Keluarga
17 - Pemeliharaan 6 HOK 5.000,00 30.000,00
18 - Pemerahan 4 HOK 10.000,00 40.000,00
19 - Pencarian Pakan 15 HOK 10.000,00 150.000,00
20 - Pembersihan Kandang 3 HOK 5.000,00 15.000,00
21 Biaya Perbaikan Kadang 494.000,00
22 Total Biaya yang diperhitungkan 2.090.741,67
Jumlah Total Biaya 2.773.841,67
Sumber : Data Diolah

58
Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 10, alokasi biaya terbesar
adalah penggunaan pakan konsentrat dalam satu bulan. Biaya pakan konsentrat
lebih mahal disbanding yang lain karena bahan-bahanya berupa kulit gandum dan
harus diimpor, juga pengolahan pakan konsentrat oleh koperasi sehingga biaya
produksi konsentrat menjadi lebih mahal. Dalam satu hari pencarian pakan
hijauan/rumput peternak menghabiskan empat sampai dengan lima jam, untuk
menghasilkan 50 sampai dengan 60 kg rumput. Pajak yang harus dibayar sebesar
Rp 8.300 per bulan, pajak yang dikeluarkan adalah PBB untuk kandang dan pajak
tanah untuk lahan pengambilan rumput.

59
VI HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Analisis Daya Saing

Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan


untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi susu sapi
lokal dalam bersaing dengan susu impor sebagai produk substitusi impor. Oleh
karena itu, daya saing susu sapi segar yang dihasilkan oleh peternak anggota
KPGS dianalisis dengan menggunakan Matriks Analisis Kebijakan Pemerintah
(PAM). Matriks ini disusun berdasarkan data penerimaan dan biaya produksi
yang keseluruhannya terbagi dalam dua bagian yaitu harga privat dan harga
ekonomi (Social Opportunity Cost). Masing-masing biaya produksi pada harga
privat dan ekonomi dibagi menjadi input asing dan domestik. Hasil analisis dapat
dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Tabulasi Dasar Matriks PAM (RP/Liter)

Penerimaan Biaya Input


Uraian Output Tradable Domestik Pendapatan
Nilai Finansial 3013,0 186,2 2038,9 787,9
Nilai Ekonomi 3857,8 173,9 1977,4 1706,5
Dampak Kebijakan dan Distorsi
Pasar -844,8 12,3 61,5 -918,5

Divergensi yang dihasilkan pada Matriks Analisis Kebijakan Pemerintah


bernilai negatif untuk divergensi penerimaan dan divergensi pendapatan.
Sedangkan divergensi pada biaya input tradable dan faktor domestik bernilai
positif.

Divergensi negatif dengan nilai 844,8 pada penerimaan output terjadi


karena harga sosial susu lebih tinggi dari harga yang diterima peternak. Hal ini
terjadi karena harga sosial susu diperhitungkan berdasarkan harga susu impor
yang lebih tinggi daripada harga susu lokal walaupun dengan kondisi tarif impor
sebesar nol persen.

Divergensi positif pada biaya input tradable sebesar 12,3 terjadi karena
harga sosial dari input-input tradable yaitu konsentrat lebih rendah dari harga
yang diterima peternak. Hal ini mengindikasikan adanya kebijakan pemerintah

60
atau distorsi pasar yang mengakibatkan harga sosial pakan dan obat-obatan lebih
tinggi daripada harga finansialnya.

Di sisi lain divergensi positif senilai 61,5 pada biaya faktor domestik
terjadi karena biaya sosial faktor domestik lebih rendah daripada biaya privatnya.
Hal ini menandakan bahwa peternak harus mengeluarkan biaya lebih atas faktor
domestik dibandingkan dengan biaya sosial faktor domestik yang bersangkutan.
Hal tersebut diduga terjadi karena adanya kebijakan pemerintah atau kegagalan
pasar pada penggunaan faktor domestik untuk konsentrat dan perdagangan obat-
obatan. Selain itu, penyebab divergensi positif pada biaya faktor domestik juga
diakibatkan oleh pembayaran upah yang sama dengan harga sosialnya. Hal ini
berdasarkan penelitian Ilham (2005) yang menyatakan bahwa tenaga kerja yang
digunakan peternak dalam membantu usahanya adalah tenaga kerja tidak tetap
dan umumnya cenderung mendekati kondisi pasar persaingan sempurna sehingga
harga bayangan tenaga kerja tersebut adalah sama dengan tingkat upah yang
berlaku di daerah kajian.

Sedangkan divergensi negatif sebesar 918,5 pada nilai pendapatan terjadi


karena pendapatan finansial peternak lebih kecil daripada pendapatan sosialnya.
Hal ini merupakan akumulasi dari efek divergensi harga output dan biaya input
baik tradable maupun non tradable.

Berdasarkan Matriks Analisis Kebijakan yang telah disusun tersebut,


dilakukan perhitungan-perhitungan untuk memperoleh nilai-nilai yang akan
menjadi indikator tingkat keuntungan yang diperoleh dari memproduksi susu
segar pada kondisi finansial dan ekonomi, nilai keunggulan komparaif dan
kompetitif serta nilai untuk mengukur pengaruh kebijakan pemerintah pada output
dan input. Berdasarkan Tabel 12, diperoleh indikator-indikator Analisis matriks
Kebijakan yang disajikan pada Tabel 13.

61
Tabel 13. Indikator-indikator dari Analisis Matriks Kebijakan

Indikator Nilai
Private Profitability (PP) 787,9
Private Cost Ratio (PCR) 0,72
Social Profitability (SP) 1.706,5
Domestic Resource Cost Ratio (DRC) 0,54
Input Transfer (IT) 12,3
Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCI) 1,07
Transfer Factor (FT) 61,5
Output Transfer (OT) (844,8)
Nominal Protection Coefficient on Tradable Output (NPCO) 0,78
Effective Protection Coefficient (EPC) 0,77
Net Transfer (NT) (918,5)
Profitability Coefficient (PC) 0,46
Subsidy Ratio to Product (SRP) (0,24)

6.1.1 Keunggulan Kompetitif


. Analisis keunggulan kompetitif terdiri dari analisis Keuntungan Finansial
atau Private Profitability (PP) dan Rasio Biaya Finansial atau Private Cost Ratio
(PCR). Keuntungan finansial usahaternak sapi perah merupakan selisih antara
penerimaan penjualan susu dan Penjualan karung dengan biaya yang dikeluarkan
untuk memproduksi susu yang dihitung dengan harga aktual atau harga privat
yaitu harga yang sudah dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Berdasarkan hasil
analisis pada Tabel 7, dapat dilihat bahwa penerimaan privat dalam memproduksi
susu segar adalah Rp 787,9/liter susu. Biaya total yang dikeluarkan adalah Rp
2.225,06/liter susu yang terdiri dari biaya input tradable sebesar Rp 186,15/liter
dan biaya faktor domestik sebesar Rp 2.038,91/liter. Oleh karena itu, diperoleh
nilai keuntungan privat usahaternak sapi perah anggota KPGS sebesar Rp
787,9/liter. Nilai keuntungan privat yang lebih besar dari nol tersebut
menunjukkan bahwa usahaternak sapi perah untuk menghasilkan komoditi susu

62
sapi segar menguntungkan secara privat dan dapat bersaing pada tingkat harga
privat.

Selain menggunakan analisis Keuntungan Finansial, Rasio Biaya Finansial


(PCR) juga dapat digunakan untuk menilai keunggulan kompetitif dari
pengusahaan komoditi. PCR merupakan rasio antara biaya input non tradable
dengan nilai tambah atau selisih antara penerimaan dan input tradable pada
tingkat harga aktual. Nilai PCR menunjukkan bagaimana alokasi sumberdaya
diarahkan untuk mencapai efisiensi finansial dalam memproduksi susu segar.
Suatu aktivitas akan efisien secara finansial jika nilai PCR yang diperoleh lebih
kecil dari satu (<1). Semakin kecil nilai PCR yang diperoleh, maka semakin
tinggi tingkat keunggulan kompetitif yang dimiliki.

Hasil analisis matriks PAM menunjukkan bahwa nilai PCR yang diperoleh
adalah 0,7. Nilai tersebut menunjukkan bahwa usahaternak sapi perah yang
dilakukan oleh peternak anggota KPGS efisien secara finansial dan memiliki
keunggulan secara kompetitif. Nilai PCR sebesar 0,7 memiliki arti bahwa untuk
mendapatkan nilai tambah output sebesar satu rupiah pada harga privat diperlukan
tambahan biaya faktor domestik sebesar Rp 0,7. Jadi, untuk memperoleh nilai
tambah sebesar Rp 2.930,60/liter susu diperlukan tambahan biaya faktor domestik
sebesar Rp 2.038,91/liter susu. Hal ini berarti penggunaan faktor domestik sudah
efisien sehingga layak untuk diusahakan karena untuk meningkatkan nilai tambah
susu sebesar satu rupiah membutuhkan biaya faktor domestik kurang dari satu
rupiah.
6.1.2 Keunggulan Komparatif
Keunggulan komparatif adalah salah satu indikator untuk menilai apakah
komoditas susu sapi segar yang diusahakan oleh peternak anggota KPGS
memiliki daya saing, mampu hidup tanpa bantuan pemerintah, dan memiliki
peluang yang besar sebagai produk substitusi impor. Keunggulan komparatif
dapat diukur dengan menggunakan nilai Keuntungan Sosial atau Social
Profitability (SP) dan Rasio Biaya Sumberdaya Domestik atau Domestic Resource
Cost Ratio (DRC).

63
Keuntungan sosial adalah keuntungan yang diperoleh pada pasar
persaingan sempurna dimana tidak ada campur tangan pemerintah dan kegagalan
pasar di dalamnya. Keuntungan sosial usahaternak sapi perah oleh peternak
anggota KPGS yang ditunjukkan dengan nilai Social Profitability (SP) adalah
positif (>1) yaitu Rp 1.706,5/liter. Keuntungan sosial tersebut menunjukkan
bahwa usahaternak sapi perah untuk memproduksi komoditi susu segar
menguntungkan secara ekonomi tanpa adanya kebijakan pemerintah.

Selain dari indikator keuntungan ekonomi, keunggulan komparatif


usahaternak sapi perah dalam menghasilkan komoditi susu segar juga dapat
diketahui dari Rasio Biaya Sumberdaya Domestik atau Domestic Resource Cost
Ratio (DRC). Suatu usaha efisien secara ekonomi jika nilai DRC lebih kecil dari
satu (DRC<1). Nilai DRC yang lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa untuk
memperoleh tambahan satu rupiah output diperlukan tambahan biaya faktor
domestik lebih kecil dari satu rupiah yang dinilai pada harga sosial. Semakin
kecil nilai DRC maka komoditas tersebut akan semakin memiliki keunggulan
komparatif. Nilai DRC yang lebih besar dari satu (DRC>1) menunjukkan adanya
pemborosan sumberdaya.

Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai DRC yang diperoleh adalah 0,5
yang berarti bahwa untuk memperoleh nilai tambah sebesar Rp 3.857,78/liter
susu diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar Rp 1.977,99. Hal ini
menunjukkan bahwa komoditi susu efisien dalam menggunakan sumberdaya
ekonomi. Selain itu, jika ditempat lain menghasilkan DRC satu dan di daerah
penelitian didapatkan hasil 0,5 maka terjadi efisiensi sebesar 0,5. Nilai DRC yang
lebih kecil dari satu tersebut juga menunjukkan bahwa usahaternak yang
dilakukan oleh peternak anggota KPGS efisien secara ekonomi dan memiliki
keunggulan komparatif.

Nilai keuntungan sosial (Rp 1.706,5/liter) yang lebih besar dibandingkan


keuntungan privat (Rp 787,9/liter) menunjukkan kondisi pendapatan yang lebih
menguntungkan pada tingkat harga sosial. Keuntungan sosial yang lebih tinggi
dari keuntungan privat tersebut diakibatkan oleh harga susu impor yang cukup
tinggi yaitu Rp 3.765,78/liter sementara harga susu di tingkat peternak adalah Rp

64
2.930,48/liter. Selain itu, hal tersebut juga disebabkan oleh adanya nilai pajak
sebesar 10 persen untuk bahan baku konsentrat dan obat-obatan pada tingkat
harga finansial sehingga menyebabkan biaya finansial input tradable untuk
konsentrat dan obat-obatan lebih tinggi dari biaya sosialnya. Biaya aktual tenaga
kerja yang dibayarkan lebih tinggi dari biaya sosialnya juga menyebabkan
keuntungan sosial lebih tinggi daripada keuntungan privat.

Nilai DRC yang lebih kecil dari PCR (DRC<PCR) menunjukkan bahwa
tidak terdapat kebijakan pemerintah yang meningkatkan efisiensi produsen dalam
berproduksi. Hal ini terjadi karena sejak tahun 2000 pemerintah telah menghapus
subsidi atas pakan ternak dan obat-obatan. Selain itu, kebijakan pemerintah yang
diduga sangat signifikan dalam mengurangi efisiensi peternak adalah adanya
penghapusan tarif impor susu dari 5 persen menjadi 0 persen yang mulai berlaku
sejak Bulan Februari tahun 2009. Adanya kebijakan-kebijakan tersebut,
pengusahaan sapi perah menjadi tidak efisien jika dibandingkan apabila
pemerintah tidak menghapus subsidi terhadap pakan ternak maupun obat-obatan
dan menghapus tarif impor susu.

Besarnya nilai keuntungan sosial daripada keuntungan privat yang


diperoleh peternak sapi perah serta nilai DRC yang lebih kecil dari PCR
mengindikasikan adanya pengaruh intervensi pemerintah atau distorsi pasar yang
tidak memberikan insentif yang baik kepada peternak sapi perah sehingga
keuntungan privat yang dihasilkan menjadi lebih rendah dibandingkan
keuntungan yang diperoleh tanpa adanya intervensi pemerintah terhadap input
produksi dan distorsi pada pasar output. Distorsi pada pasar output diindikasikan
oleh adanya fenomena IPS yang cenderung memilih untuk lebih menggunakan
susu impor walaupun harga susu impor lebih mahal. Akan tetapi kebijakan
pemerintah terhadap output berupa peningkatan tarif impor diduga dapat
memberikan insentif yang baik kepada peternak dimana dengan adanya penetapan
tarif impor susu maka akan meningkatkan harga susu lokal.

6.1.3 Dampak Kebijakan Pemerintah


Suatu kebijakan pemerintah dalam suatu aktivitas ekonomi dapat
memberikan dampak positif maupun negatif terhadap pelaku ekonomi dalam

65
sistem tersebut. Dampak kebijakan juga dapat menurunkan atau meningkatkan
produksi maupun produktivitas dari suatu aktivitas ekonomi. Dampak kebijakan
pemerintah tersebut dapat dihitung dengan menggunakan Matriks Analisis
Kebijakan yang akan menghasilkan beberapa indikator dampak kebijakan.
Tujuan dari kebijakan pemerintah dalam perdagangan biasanya adalah
untuk melindungi produsen dalam negeri. Jika harga produksi impor komoditi
serupa lebih rendah dari produksi dalam negeri, maka akan melemahkan daya
saing dari produksi domestik karena konsumen akan cenderung untuk membeli
produk dengan harga yang lebih murah. Akibatnya, permintaan terhadap produk
domestik akan menurun dan berimplikasi terhadap penurunan produksi dalam
negeri dan pendapatan produsen lokal. Hal tersebut akan mengurangi devisa
negara dan nilai tukar uang terhadap mata uang asing akan melemah.
Permasalahan mengenai susu impor berbeda dari permasalahan
perdagangan internasional komoditi lainnya. Dengan harga susu impor yang jauh
lebih tinggi daripada susu lokal, IPS cenderung lebih banyak menggunakan susu
impor dan menurunkan harga susu di tingkat peternak. Kebijakan pemerintah
yang seharusnya lebih memihak kepada produsen susu sapi lokal dihapus satu per
satu termasuk didalamnya adalah kebijakan penghapusan subsidi atas pakan dan
obat-obatan serta yang terakhir penghapusan tarif impor susu menjadi nol persen
yang diduga semakin melemahkan daya saing komoditi susu sapi lokal.
1. Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Input
Bentuk distorsi atau campur tangan pemerintah pada input dapat berupa
penetapan pajak atau subsidi. Dalam kasus usaha peternakan sapi perah, tidak ada
kebijakan pemerintah dalam hal input yang dapat memacu peningkatan produksi
peternak. Adapun dampak kebijakan pemerintah terhadap input ditunjukkan oleh
nilai Transfer Input (IT), Transfer Faktor (FT), dan Koefisien Proteksi Input
Nominal (NPCI).

a. Transfer Input (IT)


Nilai transfer input merupakan selisih antara biaya privat input tradable
dengan biaya bayangannya. Transfer input (IT) yang bernilai positif
mengindikasikan adanya kebijakan subsidi negatif atau pajak pada unsur input
tradable yang akan mengurangi tingkat keuntungan produsen. Sebaliknya,

66
transfer input yang bernilai negatif menunjukkan adanya kebijakan subsidi pada
input karena subsidi pada harga input akan mengakibatkan biaya yang dikeluarkan
untuk input pada tingkat harga privat lebih rendah daripada tingkat harga sosial.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kebijakan subsidi pada input tradable akan
menguntungkan produsen lokal.

Berdasarkan hasil analisis, transfer input ditunjukkan dengan nilai positif


12,3. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah pada input
tradable merugikan produsen sebesar Rp 12,3/liter susu. Artinya terdapat pajak
atas input asing sehingga harga input asing yang diterima peternak lebih tinggi
dari harga yang seharusnya diterima tanpa adanya distorsi pasar (pajak). Dengan
kata lain, terdapat transfer pendapatan dari peternak kepada produsen input asing.

Selain itu, adanya praktik monopoli terhadap bahan baku pakan yaitu polar
yang hanya didistribusikan oleh PT. Indofood Sukses makmur Bogasari diduga
juga merupakan salah satu penyebab adanya transfer pendapatan dari peternak
kepada produsen input asing. Hal ini karena praktik monopoli menyebabkan
kegagalan pada pasar input yang menyebabkan mekanisme pasar dalam
pembentukan harga tidak bekerja.

b. Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI)


Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) merupakan rasio antara biaya
input tradable yang dihitung berdasarkan harga privat dengan biaya input
tradable yang dihitung berdasarkan harga bayangan dan merupakan indikasi
adanya transfer input. Nilai NPCI menunjukkan tingkat proteksi atau distorsi
yang dibebankan pemerintah pada input tradable bila dibandingkan tanpa adanya
kebijakan.

Nilai NPCI yang lebih besar dari satu (NPCI>1) mengindikasikan adanya
kebijakan proteksi terhadap produsen input tradable selain terdapat pajak pada
input tersebut, sedangkan sektor yang menggunakan input tersebut dirugikan
dengan tingginya biaya produksi. Sebaliknya, jika nilai NPCI lebih kecil dari satu
(NPCI<1) maka mengindikasikan adanya subsidi atas input tersebut.

67
Nilai NPCI yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 1,1. Nilai ini
menunjukkan adanya kebijakan proteksi terhadap produsen input, sedangkan
produsen susu dirugikan karena biaya produksi meningkat dengan penggunaan
input tersebut. Dampak kebijakan input asing terhadap komoditi susu
mengakibatkan biaya produksi menjadi lebih tinggi, karena peternak harus
membeli input asing (pakan ternak dan obat-obatan) dengan harga yang lebih
mahal 1,1 persen dari harga yang seharusnya. Sebaliknya, pihak importir pakan
ternak dan obat-obatan diuntungkan sebesar 1,1 persen.

c. Transfer Faktor (FT)


Input yang digunakan dalam proses sistem komoditi selain faktor produksi
yang dapat diperdagangkan, digunakan juga faktor produksi domestik dimana
harga ditentukan oleh harga domestik. Transfer faktor adalah perbedaan harga
sosial dengan harga privat yang diterima oleh peternak sapi perah anggota KPGS
untuk pembayaran faktor produksi domestik. Transfer faktor domestik bisa
timbul sebagai akibat kegagalan pasar maupun kebijakan pemerintah yang bersifat
distortif (Pearson et al, 2005).

Hasil analisis menunjukkan bahwa FT pada pengusahaan sapi perah


adalah Rp 61,5. Nilai ini menunjukkan bahwa harga input non-tradable yang
dikeluarkan oleh pemerintah pada tingkat harga finansialnya lebih tinggi
dibandingkan dengan biaya input non tradable yang dikeluarkan jika dihitung
dengan harga sosial. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kebijakan
pemerintah tidak melindungi produsen domestik. Akibatnya, peternak harus
membayar input domestik lebih mahal Rp 61,5/liter dari harga sosialnya
sementara produsen input domestik mendapatkan tambahan keuntungan senilai
Rp 61,5.

2. Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Output


Tingkat ukuran campur pemerintah pada output dapat dilihat dari nilai
Transfer Output (OT) dan Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO). Bentuk
distorsi pemerintah tersebut dapat berupa subsidi atau kebijakan hambatan
perdagangan berupa tarif dan pajak ekspor.

68
a. Transfer Output (OT)
Divergensi pada harga output menyebabkan pendapatan privat berbeda
dengan pendapatan sosial, serta terjadinya transfer output (TO). Nilai OT yang
positif menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah pada output menyebabkan
harga output privat lebih besar dibandingkan harga output pada kondisi harga
bayangan. Hal ini menunjukkan adanya insentif konsumen kepada produsen
dimana konsumen membayar lebih tinggi dari harga yang seharusnya dibayarkan.
Sedangkan nilai OT yang negatif menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dan
distorsi pasar yang berlaku saat ini menyebabkan harga output pada kondisi aktual
menjadi lebih rendah dibandingkan harga bayangannya.

Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai OT adalah negatif yaitu sebesar


Rp 844,8/liter susu. Hal ini menunjukkan bahwa harga susu di pasar domestik
jauh lebih rendah dari harga impornya sehigga terjadi adanya transfer output dari
produsen kepada konsumen sebesar Rp 844,8/liter. Implikasi dari adanya transfer
output tersebut adalah konsumen (dalam hal ini IPS) membeli susu dengan harga
yang lebih rendah Rp 844,8/liter dari harga yang seharusnya diterima peternak
apabila pasar tidak terdistorsi atau tanpa kebijakan pemerintah. Hal ini merugikan
peternak susu lokal karena peternak lokal kurang mendapatkan insentif untuk
meningkatkan produksinya. Tingginya perbedaan harga antara susu impor dan
susu lokal diduga adalah akibat adanya penghapusan tarif impor susu menjadi nol
persen. Tidak adanya tarif impor semakin menghapus proteksi terhadap produsen
susu lokal karena IPS lebih memilih untuk membeli susu impor sehingga
komoditi susu dalam negeri sulit bersaing dengan susu impor.

b. Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO)

Nilai Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) adalah rasio antara


penerimaan yang dihitung berdasarkan harga finansial dengan penerimaan yang
dihitung berdasarkan harga bayangan. NPCO merupakan indikasi dari Transfer
Output dimana NPCO menunjukkan seberapa besar harga privat berbeda dengan
harga sosial (Pearson et al, 2005). Nilai NPCO yang lebih kecil dari satu
(NPCO<1), harga domestik lebih rendah dari harga dunia. Hal ini berarti harga
domestik di disproteksi.

69
Berdasarkan hasil analisis, nilai NPCO pada penelitian ini adalah sebesar
0,78 (NPCO<1) yang menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah menetapkan tarif
impor nol persen menyebabkan harga yang diterima produsen lebih rendah dari
harga bayangannya. Produsen hanya menerima harga 78 persen dari harga yang
seharusnya diterima bila tidak ada distorsi pada pasar output. Dalam hal ini
peternak dan IPS sama-sama menerima harga yang lebih rendah dari harga yang
seharusnya sehingga terjadi transfer pendapatan dari peternak kepada IPS.
Kondisi ini mengakibatkan peternak lokal tidak mendapatkan insentif untuk
meningkatkan produksinya.

3. Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Input-Output


Kebijakan pemerintah pada input-output adalah analisis gabungan antara
kebijakan input dan kebijkan output. Dampak kebijakan secara keseluruhan baik
terhadap input maupun output dapat dilihat dari Koefisien Proteksi Efektif (EPC),
Transfer Bersih (NT), Koefisien Keuntungan (PC), dan Rasio Subsidi bagi
Produsen (SRP).

a. Koefisien Proteksi Efektif (EPC)


Koefisien proteksi efektif merupakan indikator dari dampak keseluruhan
kebijakan input dan output terhadap sistem usahaternak sapi perah di Kecamatan
Cikajang. EPC adalah rasio antara selisih penerimaan dan biaya input tradable
yang dihitung pada harga aktual dengan selisih penerimaan dan biaya input
tradable yang dihitung pada tingkat harga bayangan. Nilai EPC menggambarkan
sejauh mana kebijakan pemerintah bersifat melindungi atau menghambat produksi
domestik. Nilai EPC yang lebih besar dari satu (EPC>1) mengindikasikan bahwa
kebijakan yang melindungi produsen domestik berjalan efektif. Sedangkan nilai
EPC yang lebih kecil dari satu (EPC<1) menunjukkan kebijakan yang melindungi
produsen domestik tidak berjalan efektif.

Adapun nilai EPC yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah 0,77
(EPC<1) yang menunjukkan bahwa kebijakan input-output tidak dapat
melindungi peternak lokal dan telah menghambat peternak untuk berproduksi.
Peternak lokal dalam hal ini tidak memperoleh fasilitas proteksi dari pemerintah

70
karena harga privat output lebih kecil dari harga bayangannya dan peternak
membeli input tradable lebih mahal dari harga bayangannya.

b. Transfer Bersih (NT)


Transfer bersih adalah selisih antara keuntungan bersih privat dengan
keuntungan bersih sosialnya. Transfer Bersih dapat digunakan untuk melihat
besarnya tambahan surplus produsen atau berkurangnya surplus produsen yang
disebabkan oleh kebijakan pemerintah. Nilai NT yang positif menunjukkan
bahwa ada kebijakan insentif yang membuat surplus produsen bertambah,
sedangkan nilai NT yang negatif mengakibatkan surplus produsen berkurang.

Berdasarkan Tabel 13, nilai transfer bersih di lokasi penelitian adalah


negatif 918,5 yang berarti adanya pengurangan surplus produsen sebesar Rp
918,5/liter yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang berlaku saat ini.
Keuntungan yang diperoleh produsen pada kondisi adanya kebijakan pemerintah
dan distorsi pasar saat ini lebih rendah Rp 584,688 dibandingkan kerugian apabila
tidak ada campur tangan pemerintah.

c. Koefisien Keuntungan (PC)


Koefisien keuntungan adalah perbandingan antara keuntungan bersih
privat dengan keuntungan bersih sosial. Koefisien keuntungan merupakan
indikator yang menunjukkan dampak insentif dari semua kebijakan output,
kebijakan input asing, dan input domestik (net policy transfer).

Nilai PC yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah 0,46 atau lebih kecil
dari satu yang berarti kerugian peternak bila ada pengaruh intervensi atau
kebijakan dari pemerintah adalah sebesar 46 persen dari kerugian yang diterima
tanpa adanya kebijakan. Angka tersebut menunjukkan keuntungan privat yang
yang diterima peternak lebih kecil daripada keuntungan bersih sosialnya.

d. Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP)


Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP) merupakan rasio antara transfer bersih
dengan penerimaan berdasarkan harga bayangan yang menunjukkan persentase
subsidi atau insentif bersih atas penerimaan. Nilai SRP negatif (SRP<0)
menunjukkan adanya kebijakan pemerintah yang berlaku menyebabkan produsen

71
mengeluarkan biaya produksi terhadap input lebih besar dari biaya imbangan
untuk berproduksi. Niali SRP yang positif (SRP>0) menunjukkan bahwa adanya
kebijakan pemerintah menyebabkan produsen mengeluarkan biaya produksi
terhadap input lebih rendah dari biaya imbangan untuk berproduksi.

Nilai SRP yang diperoleh dalam penelitian ini adalah negatif 0,24. Ini
berarti bahwa kebijakan pemerintah yang berlaku selama ini menyebabkan
produsen susu mengeluarkan biaya produksi lebih besar 24 persen dari biaya
opportunity cost untuk berproduksi. Jadi secara keseluruhan kebijakan pemerintah
merugikan peternak anggota KPGS sebagai produsen susu.

6.2 Dampak Penghapusan Tarif Impor Susu

Analisis sensitivitas dilakukan untuk mensubstitusi kelemahan metode


PAM yang hanya berlaku pada waktu yang relatif singkat dengan faktor-faktor
yang sebenarnya sangat rentan untuk berubah. Analisis sensitivitas yang
dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak penghapusan bea
masuk susu impor dari lima persen menjadi nol persen serta untuk mengetahui
nilai indikator daya saing jika tarif impor susu dinaikkan menjadi 15 persen
karena tarif impor 15 persen menurut Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia
(GKSI) sudah cukup adil bagi produsen dan konsumen komoditi susu segar.

Penelitian ini lebih menekankan pada efek penghapusan tarif impor susu.
Oleh karena itu, penelitian ini hanya menggunakan dua skenario analisis
sensitivitas yaitu :

1. Daya saing komoditi susu jika tarif impor naik lima persen
Analisis ini bertujuan untuk melihat dampak perubahan daya saing komoditi
susu sapi segar yang dihasilkan peternak pasca penghapusan tarif impor susu
oleh pemerintah. Analisis ini dilakukan karena diduga adanya penghapusan
tarif impor susu menyebabkan daya saing komoditi susu sapi lokal menurun.

2. Daya saing komoditi susu jika tarif impor ditetapkan sebesar 15 persen
Hal ini terkait dengan pernyataan Ketua GKSI bahwa tarif impor sebesar 15
persen cukup adil bagi peternak dan produsen serta dapat meningkatkan daya

72
saing dan posisi tawar peternak sapi perah lokal. Adanya pemberlakuan tarif
impor senilai 15 persen diharapkan dapat melindungi peternak lokal dan
memberikan insentif bagi peternak lokal untuk mengembangkan usahanya.

Tabel 13 menunjukkan hasil analisis sensitivitas berdasarkan perubahan


tarif impor. Menurut hasil analisis yang dilakukan, adanya penghapusan tarif
impor susu mengurangi daya saing komoditi susu sapi lokal baik daya saing
secara kompetitif maupun komparatif. Kebijakan pemerintah tersebut tidak
memberikan insentif bagi peternak untuk meningkatkan produksi.

Menurut hasil analisis yang ditampilkan pada Tabel 14, dapat disimpulkan
bahwa semakin tinggi nilai tarif impor maka semakin tinggi pula daya saing
komoditi susu sapi segar yang dihasilkan oleh peternak anggota KPGS.
Peningkatan daya saing tersebut ditandai dengan semakin tingginya nilai
keuntungan privat dan sosial dan semakin kecilnya nilai PCR dan DRC.

Tabel 14. Indikator-indikator dari Analisis Matriks Kebijakan pada Tiga


Kondisi Tarif Impor
Nilai
Indikator
0% 5% 15%

PP 787,9 913,2 1152,7


PCR 0,72 0,69 0,64
SP 1.706,5 1923,1 2682,9
DRC 0,54 0,51 0,33
IT 12,3 12,3 12,3
NPCI 1,07 1,07 1,07
FT 61,5 61,5 61,5
OT (844,8) (936,1) (796,3)
NPCO 0,78 0,77 0,81
EPC 0,77 0,76 0,80
NT (918,5) (1009,8) (1530,2)
PC 0,46 0,47 0,43
SRP (0,24) (0,25) (0,37)

73
6.2.1 Analisis Sensitivitas untuk Melihat Perubahan Daya Saing Susu
Akibat Penghapusan Tarif Impor Susu dari Lima Persen Menjadi Nol
Persen
Menurut data yang diperoleh dari pihak KPGS, penghapusan tarif impor
susu dari lima persen menjadi nol persen mengakibatkan penurunan harga kurang
lebih Rp 200/liter susu. Analisis ini menggunakan proporsi lima persen untuk
proporsi perubahan harga dan menghasilkan asumsi bahwa penghapusan tarif
impor susu sebesar lima persen menyebabkan harga susu impor turun sebesar Rp
172,43/liter, dari senilai 3.965,43/liter menjadi Rp Rp 3.785/liter. Penghapusan
tarif impor tersebut diasumsikan juga menurunkan harga susu lokal dengan
proporsi yang sama yaitu lima persen sehingga harga susu lokal turun sebesar
Rp145,87/liter, dari Rp 3.063,35/liter menjadi Rp 2.930,48/liter. Adanya
perubahan pada harga output tersebut akan merubah keuntungan yang diterima
baik secara finansial maupun ekonomi.

Dampak penghapusan tarif impor sebesar lima persen adalah penurunan


daya saing susu sapi lokal. Hal ini ditunjukkan dengan berkurangnya nilai
keuntungan privat dari Rp 913,2/liter pada saat tarif impor susu lima persen
menjadi Rp 787,8/liter. Penurunan keuntungan privat tersebut diikuti dengan
semakin tingginya nilai PCR yaitu dari 0,69 pada kondisi tarif impor lima persen
menjadi 0,72 pada kondisi tarif impor nol persen. Kondisi tersebut menunjukkan
bahwa susu produksi anggota KPGS mengalami penurunan efisiensi secara
finansial dan penurunan keunggulan kompetitif dalam kondisi persaingan dengan
susu impor.

Jadi, adanya penghapusan tarif impor susu dari lima persen menjadi nol
persen menurunkan keuntungan privat dan sosial. Hal ini menyebabkan adanya
penurunan daya saing komoditi susu sapi lokal baik dari aspek keunggulan
kompetitif maupun keunggulan komparatif. Padahal dengan tarif impor sebesar
lima persen saja, nilai DRC lebih kecil dari nilai PCR yang mengindikasikan
adanya pengaruh intervensi pemerintah atau distorsi pasar yang tidak memberikan
insentif yang baik kepada peternak sapi perah sehingga keuntungan privat yang
dihasilkan menjadi lebih rendah dibandingkan keuntungan yang diperoleh tanpa
adanya intervensi pemerintah terhadap input produksi dan distorsi pada pasar

74
output saat itu. Distorsi pada pasar output diindikasikan oleh adanya fenomena
IPS yang cenderung memilih untuk lebih menggunakan susu impor walaupun
harga susu impor lebih mahal. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada saat kondisi
tarif impor lima persen, pemerintah bahkan belum memberikan kebijakan yang
efektif yang dapat dilihat dari nilai EPC yang lebih kecil dari satu, nilai NT yang
negatif, serta nilai PC dan SRP yang lebih kecil dari satu. Akibatnya,
penghapusan tarif impor susu semakin membuat daya saing susu sapi lokal
menurun.

6.2.2 Analisis Sensitivitas Jika Tarif Impor Ditetapkan 15 Persen

Menurut ketua GKSI, tarif impor yang sesuai untuk melindungi produk
susu sapi lokal adalah 15 persen. Tarif impor sebesar 15 persen diperkirakan
cukup adil bagi peternak dan produsen serta dapat meningkatkan daya saing dan
posisi tawar peternak sapi perah lokal. Adanya pemberlakuan tarif impor senilai
15 persen diharapkan dapat melindungi peternak lokal dan memberikan insentif
bagi peternak lokal untuk mengembangkan usahanya.

Dengan tarif impor susu 15 persen, maka harga susu rata-rata di tingkat
peternak diperkirakan senilai Rp 3369,50/liter dimana harga susu rata-rata di
tingkat peternak dengan tarif impor nol persen adalah Rp 2930,48/liter. Hal ini
menunjukkan adanya peningkatan keuntungan privat di tingkat peternak sebesar
Rp 439,02/liter susu, dari Rp Rp 915,2/liter menjadi Rp 1152,7/liter. Peningkatan
keuntungan privat tersebut diikuti dengan penurunan nilai PCR dari 0,69 pada saat
tarif impor nol persen menjadi 0,64 pada saat tarif impor 15 persen. Peningkatan
nilai keuntungan privat dan penurunan nilai PCR tersebut mengindikasikan bahwa
keunggulan kompetitif komoditi susu sapi yang dihasilkan peternak meningkat
jika tarif impor ditetapkan sebesar 15 persen.

Peningkatan keunggulan kompetitif jika tarif impor ditetapkan sebesar 15


persen juga diikuti dengan peningkatan keunggulan komparatif. Hal ini ditandai
dengan meningkatnya keuntungan sosial dari Rp 1923,1/liter menjadi Rp
2682,9/liter dan menurunnya nilai DRC dari 0,51 menjadi 0,33.

75
Akan tetapi, penetapan tarif impor sebesar 15 persen belum menunjukkan
adanya kebijakan pemerintah yang efektif untuk melindungi dan mendorong
pengembangan peternakan sapi perah. Hal ini ditunjukkan dengan nilai DRC
yang masih lebih kecil dari PCR, nilai EPC yang lebih kecil dari satu, nilai NT
yang negatif, serta nilai PC dan SRP yang juga masih lebih kecil dari satu.

6.3 Implikasi Kebijakan

Hasil analisis keuntungan privat dan daya saing komoditas susu segar sapi
perah diketahui bahwa keuntungan privat usahaternak sapi perah pada saat bea
masuk nol persen adalah 787,9 rupiah per liter, saat bea masuk lima persen adalah
913,2 rupiah per liter dan ketika bea masuk 15 persen adalah 1152,7 rupiah per
liter. Kondisi awal terjadi saat bea masuk mencapai lima persen kemudian
pemerintah menghapuskan bea masuk menjadi nol persen, hal ini mengakibatkan
penurunan pendapatan petrnak akibat penurunan bea masuk. Walaupun
pendapatan usahaternak mengalami penurunan, namun komoditas susu segar
masih memiliki keunggulan kompetitif maupun komparatif. Hal ini dapat
dicermati dari nilai PCR dan DCR yang bernilai kurang dari satu. Hal tersebut
menunjukan bahwa penurunan bea masuk telah mengakibatkan daya saing
komoditas susu segar sapi perah di tempat penelitian menjadi berkurang.

Daya saing yang makin menurun akibat dari penurunan bea masuk
mendorong dan memfasilitasi koperasi untuk melakukan pengolahan sederhana
susu segar (pasteurisasi dan pengemasan susu segar, pengolahan menjadi yoghurt,
keju dsb). Hal ini disertai dengan program promosi secara luas kepada masyarakat
tentang manfaat minum susu segar. Langkah ini diperlukan untuk mengantisipasi
turunnya bea masuk yang dapat mengakibatkan IPS kembali mengimpor sebagian
dari bahan baku susunya dari luar negeri sehingga serapan SSDN menurun drastis.

76
VII KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

1. Berdasarkan hasil analisis keuntungan per bulan menunjukan bahwa


usahaternak sapi perah menguntungkan baik secara finansial maupun
ekonomi. Hal ini menunjukan bahwa usahaternak kamoditas susu segar
tersebut layak untuk dikembangkan baik dari sudut pihak yang terlibat
langsung maupun masyarakat secara keseluruhan. Besaran keuntungan
finansial dan ekonomi bervariasi menurut besarnya bea masuk yang
ditetapkan oleh pemerintah.

2. Pengusahaan sapi perah untuk menghasilkan susu sapi segar oleh anggota
KPGS memiliki daya saing baik secara finansial maupun ekonomi
walaupun dalam kondisi tarif impor susu sebesar nol persen. Hal ini
ditandai dengan nilai keuntungan privat yang lebih besar dari nol yaitu Rp
787,9/liter dan keuntungan sosial sebesar Rp 1.706,5/liter. Nllai PCR dan
DRC yang lebih kecil dari satu yaitu 0,54 untuk PCR dan 0,72 untuk DRC
juga menunjukkan bahwa pengusahaan sapi perah di daerah tersebut
memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Perbedaan yang relatif
tinggi antara keuntungan sosial dan keuntungan privat terutama
disebabkan oleh harga bayangan komoditi susu yang didekati dengan susu
impor relatif jauh lebih tinggi dari harga finansialnya. Hal ini terjadi
karena tidak adanya kebijakan pemerintah yang bersifat mendorong daya
saing susu sapi lokal baik dari sisi kebijakan input maupun kebijakan
output karena kebijakan yang ada saat ini tidak memberikan insentif bagi
peternak.

3. Adanya penghapusan tarif impor susu menyebabkan berkurangnya daya


saing komoditi susu sapi lokal yang ditandai dengan meningkatnya nilai
PCR dan DRC yang mengindikasikan adanya penurunan nilai keunggulan
kompetitif dan komparatif. Sedangkan peningkatan nilai tarif impor
sebesar 15 persen menghasilkan nilai PCR dan DRC yang semakin kecil.
Hal ini mengindikasikan bahwa penetapan tarif impor sebesar 15 persen

77
meningkatkan daya saing pengusahaan sapi perah walaupun kebijakan
pemerintah dalam kondisi ini belum efektif dalam melindungi produsen
lokal.
7.2 Saran
1. Bagi peternak, sebaiknya pengusahaan terhadap komoditi susu sapi segar
tetap terus dijalankan dan ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitas
produksi agar dapat bersaing dengan susu impor. Hal ini karena usaha ini
masih menguntungkan secara finansial dan ekonomi serta memiliki daya
saing dengan atau tanpa adanya kebijakan pemerintah. Namun demikian
insentif peternak untuk meningkatkan produksi akan meningkat jika
terdapat kebijakan pemerintah baik dalam hal input maupun output seperti
adanya tarif impor untuk melindungi peternak. Peternak juga diharapkan
mampu merespon dan mengaplikasikan pengenalan teknologi dan
manajemen pemeliharaan sapi perah yang baik agar dapat menghasilkan
komoditi susu yang berkualitas.

2. Bagi pemerintah agar mengkaji ulang mengenai nilai tarif impor susu
untuk melindungi peternak lokal di tengah arus perdagangan bebas dimana
IPS sebagai konsumen utama peternak bebas mengimpor susu dari luar
karena berdasarkan hasil analisis sensitivitas dengan meningkatnya bea
masuk susu segar maka meningkat pula daya saing yang dimiliki peternak.
Nilai tarif impor sebesar 15 persen cukup meningkatkan keuntungan dan
daya saing peternak sehingga layak untuk diterapkan dalam rangka
pengembangan produksi susu di Indonesia. Penerapan tarif impor susu
akan menghasilkan tambahan penerimaan pemerintah sebesar jumlah
impor dikalikan dengan selisih harga setelah tarif dengan harga sebelum
tarif. Penerimaan pemerintah ini sebaiknya kemudian digunakan untuk
membiayai bidang riset dan pengkajian mengenai peternakan sapi perah
serta pendidikan dan bantuan kepada peternak untuk mempersiapkan
peternak lokal yang unggul dalam menghadapi perdagangan bebas. Selain
itu, pengawasan terhadap pemasok tunggal bahan baku ternak juga agar
semakin ditingkatkan untuk menghindari terjadinya distorsi pada pasar
input.

78
DAFTAR PUSTAKA

. 2006. Peternakan Sapi Perah Rakyat di Indonesia.


Departemen Pertanian. Direktorat Jenderal Produksi Peternakan. Direktorat
Budidaya Peternakan, BAGRO Pembinaan Budidaya Ternak Pusat. Jakarta.
Anisa, A. 2008. Analisis Fungsi Biaya dan Efisiensi Usahaternak Sapi Perah di
Wilayah Kerja KPSBU Lembang Kabupaten Bandung. [Skripsi]. Bogor.
Jurusan Sosial Ekonomi Industri Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut
Pertanian Bogor.
Anonimus. 2002. Bududaya Sapi Perah. Diktat Kuliah Peternakan. Bogor. Institut
Pertanian Bogor.
Badan Pusat Statistik. 2008. Buletin Statistik Bulanan. Indikator Ekonomi Januari
2008. Dan Buletin Ringkas BPS Februari 2007. BPS Jakarta.

Capah, J. E. 2008. Hubungan Antara Penetapan Harga Susu di Koperasi Dengan


Struktur Biaya Produksi dan Pendapatan Usahaternak Sapi Perah (kasus KUD
Mandiri Cipanas). [Skripsi]. Bogor. Program Studi Agribisnis
Penyelenggaraan Khusus. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut
Pertanian Bogor.

DIREKTORAT JENDERAL BINA PRODUKSI PETERNAKAN. 2006. Buku


Statistik Peternakan 2006. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan.
Jakarta.
Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan. 2008. Buku Statistik Peternakan
Tahun 2008.

Erwidodo. 1998. Dampak Krisis Moneter dan Reformasi Ekonomi Terhadap Industri
Persusuan di Indonesia. [Prosiding]. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi
Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.

Gitinger J. Price. 1982. Economic Analysis of Agricultural Projects (2nd Edition).


Edisi Terjemahan Bahasa Indonesia. UI-Press. Jakarta, 1986.

Ilham, N. 2006. Analisa sosial ekonomi dalam rangka pencapaian swasembada


daging 2010. Paper dipresentasikan pada whorkshop ”Strategi pencapaian
kecukupan daging 2010”, Juli 2006, Bogor. Direktorat Ruminansia, Ditjenak,
Jakarta. Unpublished.

79
Ilham, N., B. Wiryono, I.K. Kariyasa, M.N Kirom, dan Sri Hastuti. 2001. Analisis
Penawaran dan Permintaan Komoditas Peternakan Unggulan. Laporan Hasil
Penelitian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.
Bogor.

Koerdianto, E. Z. 2008. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah


Terhadap Komoditas Sayur Unggulan (kasus Kec. Ciwidey Kab. Bandung dan
Kec. Lembang Kab. Bandung Barat). [Skripsi]. Bogor. Program Studi
Agribisnis Penyelenggaraan Khusus. Fakultas Ekonomi dan Manajemen.
Institut Pertanian Bogor.

Kridiarto, P. 2003. Analisis Daya Saing dan Efisiensi Tataniaga Pisang Ambon
Lumut. [Skripsi] Bogor. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Kuraisin, V. 2006. Analisis Daya Saing dan dan Dampak Perubahan Kebijakan
Pemerintah Terhadap Komoditi Susu Sapi. [Skripsi] Bogor. Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Lipsey. Purvis. Steiner. Courant. 1991. Pengantar Mikro Ekonomi. Jilid Satu. Edisi
Kesembilan. Binarupa Aksara. Jakarta.

Monke E.A. and S.R. Pearson. 1989. The Policy Analysis Matrix for Agricultural
Development. Cornell University Press. Ithaca and London.

Monke E.A. and S.R. Pearson. 1995. The Policy Analysis Matrix for Agricultural
Development (2nd Edition). Cornell University Press. Ithaca and London.

Novianti, T. 2003. Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Daya Saing


Komoditas Unggulan Sayuran. [Tesis]. Bogor. Progaram Pasca Sarjana.
Institut Pertanian Bogor.

Nurhayati. 2000. Analisis Fungsi Biaya dan Efisiensi Usahaternak Sapi Perah di
Wilayah Kerja KUD Mukti Kabupaten Bandung. [Skripsi]. Bogor. Jurusan
Sosial Ekonomi Industri Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian
Bogor.
Pearson, Scott and Gotsch carl. Penerjemah Sjaiful Bahri. 2004. Application of The
Policy Analysis Matrix in Indonesian Agriculture. Yayasan Obor Indonesia :
Jakarta.
Prihartanti, Y. 2005. Analisis Keungglan Komparatif dan Keunggulan Koparatif
Dalam Pembangunan Wilayah Pada Masa Otonomi Daerah di Kabupaten

80
Kudus. [Skripsi]. Bogor. Fakultas ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian
Bogor.

Rahardja. 2000. Teori Ekonomi Mikro Suatu Pengantar. Edisi Kedua. Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.
Rahim, Abdul. 2000. Ekonomi Pertanian Pengantar Teori dan Kasus. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Salvatore, D. 1997. Ekonomi Internasional. Erlangga. Jakarta.

Simatupang P. dan HADI, P.U.. 2004. DAYA Saing Usaha Peternakan Menuju 2020
Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor
Sinaga, M. R. 2003. Pendugaan Fungsi Biaya Usahaternak Sapi Perah di Kawasan
Usaha Peternakan (KUNAK) Sapi Perah Kecamatan Cibungbulang
Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor. Jurusan Sosial Ekonomi Industri
Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Soekartawi. 1985. Analisis Usahatani. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Sudono, A. 1999. Ilmu Produksi Ternak Perah. Diktat Kuliah Peternakan. Bogor.
Institut Pertanian Bogor.
Talib.C. 2007. Model Pengembangan Kawasan Agribinis Sapi Potong. Paper
dipresentasikan dalam workshop ”Pembangunan Agribisnis Sapi Potong
dalam menunjang PKD (Program Kecukupan Daging) 2010”. Bogor, Januari
2007. Pusat Penelitian Pengembangan Peternakan, Bogor.

Yusdja. Y. 2005. Ekonomi Industri Agribisnis Sapi Perah Indonesia. Makalah


disampaikan dalam seminar Menuju Indonesia Sebagai Kolam Susu. Bandung
Oktober 2005. Departemen Pertanian.

Zulkarnaini, Z. 2007. Analisis Daya Saing Buah Pisang (Musa Paradisiaca L) di


Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor. Fakutas Pertanian.
Institut Pertanian Bogor.

81
LAMPIRAN

82
Lampiran 1. Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan

No Keterangan Jumlah Satuan Harga Nilai


A Penerimaan
Penjualan Susu 532 Lt 2.930,00 1.558.760,00
Penjualan Sapi 1 Ekor 2.602.697,65 2.602.697,65
Penjualan Karung 4 Lembar 830,00 3.320,00
Total Penerimaan 4.164.777,65
B Biaya Tunai
Konsentrat 158,00 Kg 1.400,00 221.200,00
Hijauan 1.725,00 Kg 100,00 172.500,00
Ampas Tahu 8 Karung 4.000,00 32.000,00
Vitamin 7.100,00
Anti Biotik 37.000,00
Biaya Transport Teknisi 25.000,00
Biaya Angkut Pakan (Hijauan dan
Konsentrat) 150.000,00
Biaya listrik 30.000,00
Pajak 8.300,00
Total Biaya Tunai 683.100,00
Biaya Diperhitungkan
Penyusutan Lahan 132.069,44
Penyusutan Kandang 248.263,89
Penyusutan alat 981.408,33
C Tenaga Kerja Dalam Keluarga
- Pemeliharaan 6 HOK 5.000,00 30.000,00
- Pemerahan 4 HOK 10.000,00 40.000,00
- Pencarian Pakan 15 HOK 10.000,00 150.000,00
- Pembersihan Kandang 3 HOK 5.000,00 15.000,00
Biaya Perbaikan Kadang 494.000,00
Total Biaya yang diperhitungkan 2.090.741,67
Jumlah Total Biaya 2.773.841,67
Pendapatan atas biaya tunai (A-B) 3.481.677,65
Pendapatan atas biaya total (A-D) 1.390.935,98
R/C rasio atas biaya tunai (A/B) 6,10
D R/C rasio atas biaya total (A/D) 1,501447505

83
Lampiran 2. Perhitungan SCF dan SER berdasarkan Data Semester I (Jan-Jul 09)

Rp/kg
Bulan Nilai (US$) Kuantitas (kg) Nilai (US$/kg)
(SER=10232,00331)
Januari 13.660.115,00 4.616.470,00 2,96 30.276,45
Februari 3.353.796,00 1.110.788,00 3,02 30.893,43
Maret 9.555.970,00 4.526.551,00 2,11 21.600,71
Harga rata-rata 27.590,20

84
Lampiran 3. Biaya Produksi Susu Peternak Sapi Perah Anggota KPGS

No Keterangan Total yang dihasilkan Biaya Per liter


1 Sewa Lahan (m2) 72.500,00 4,2
2 pakan Ternak
Konsentrat 8.256.000,00 478,6
Hijauan 10.376.250,00 601,5
Jerami 300.000,00 17,4
Ampas Tahu 2.214.000,00 128,3
3 Obat-obatan
Mineral 226.000,00 13,1
Monil 24.666,66 1,4
4 Tenaga Kerja
Pemeliharaan dan pemerahan 4.400.000,00 834,8
Pencarian pakan hijauan 3.571.875,00 207,1
5 Biaya Air 71.300,00 4,1
6 Penyusutan
Peralatan 685.364,77 39,7
Kandang 64.802,83 3,8
9 Pajak 249.000,00 14,4
10 Biaya Tata Niaga
Biaya Transportasi Susu 0,0 0,0
Biaya Transportasi Pakan 0,0 0,0
Biaya Pemasaran 0,0 0,0
11 Biaya Modal*) 0,0 0,0
Total Biaya 40.511.759,26 2.348,51

85
Lampiran 3. Daftar Harga beberapa Input dan Kuantitas Penggunaan

Kuantitas
Keterangan Biaya (Harga)
Penggunaan/Bulan
1 Sewa Lahan Rp 344,74/m2/bulan 3.106,52 m2
2 Pakan Ternak
Konsentrat Rp 1400/kg 351,11 kg

Hijauan (15 hari) Rp 148,82/kg 3.450 kg

Jerami Rp 265 /kg 2.400 kg


Ampas Tahu Rp 200/kg 600 kg
3 Obat-obatan
Mineral Rp 7.187,5/kg 119 kg
Monil Rp 35.000/kg 1 kg
4 Tenaga Kerja
Pemeliharaan dan
Pemerahan Rp 30.000/HKP 15,56 HKP
Pencarian Pakan Hijauan (15
hari) Rp 30.000/HKP 76,19 HKP

Lampiran 4. Alokasi Biaya Input dan Output dalam Komponen Domestik dan
Asing
No Uraian Domestik (%) Asing (%) Pajak (%)
A Penerimaan
1 Susu Segar 100 0 0
2 Kotoran Basah 100 0 0
B Biaya Produksi
1 Sewa Lahan 100
2 Pakan Ternak 75 15 10
3 Obat-obatan 78,45 15,625 5,93
4 Biaya Air 100 0 0
5 Tenaga Kerja 100 0 0
6 Penyusutan Peralatan 100 0 0
7 Penyusutan Kandang 100 0 0
8 Bunga Modal 100 0 0
C Biaya Tataniaga
1 Pengangkutan Susu 85 10 5
2 Pengangkutan Pakan 85 10 5
Sumber: Tabel Input-Output, BPS. Diolah

86
Lampiran 5. Tabel Perhitungan Standart Convertion Factor (SCF) dan Shadow
Price Exchange Rate (SER) 2008
Total Ekspor (Xt) [Link].221.380,00
Total Impor (Mt) [Link].572.520,00
Penerimaan Pajak Ekspor (Txt) [Link],00
Penerimaan Pajak impor (Tmt) [Link].000,00
Nilai Tukar Rupiah/ USD (OER) 10.179,55
a 0,00
Xt+Mt [Link].793.900,00
Xt-Txt [Link].221.380,00
Mt+Tmt [Link].572.520,00
SCFt 0,99
SER 10.232,00
Sumber: BPS 2008 (diolah)

OER
SER =
SCF t

Xt + Mt
SCF t =
(Xt − Txt) + (Mt + Tmt)

Keterangan:
SER : Nilai Tukar Bayangan ([Link]$)
OER : Nilai Tukar Resmi (Rp/US$)
SCFt : Faktor konversi stadar untuk tahun ke-t
Xt : Nilai ekspor Indonesia untuk tahun ke-t (Rp)
Mt : Nilai impor Indonesia untuk tahun ke-t (Rp)
Txt : Penerimaan pemerintah dari pajak ekspor untuk tahun ke-t (Rp)
Tmt : Penerimaan pemerintah dari pajak impor untuk tahun ke-t (Rp)

87
Lampiran 6. Penerimaan dan Biaya Pengusahaan Komoditi Susu Segar dalam
Komponen Domestik dan Asing dengan Kondisi Tarif Impor Nol
Persen

Analisis Finansial Analisis Ekonomi


No Keterangan Domestik Asing Total Domestik Asing Total
A. Penerimaan
1 Susu 2.930,00 0,0 2.930,00 3.765,78 0,0 3.765,78
2 Penjualan Karung 83,00 0,0 83,00 92,00 0,0 92,00
Total Penerimaan 3.013,00 3.857,78
B Biaya Produksi
1 Sewa Lahan 4,20 0,0 4,20 4,20 0,0 4,20
2 Pakan Ternak
Konsentrat 358,96 71,79 430,75 297,49 59,50 356,99
Hijauan (15 Hari) 451,14 90,23 541,37 451,14 90,23 541,37
Jerami 13,04 2,61 15,65 13,04 2,61 15,65
Ampas Tahu 96,26 19,25 115,51 96,26 19,25 115,51
3 Obat-obatan
Mineral 10,28 2,05 12,33 10,28 2,05 12,33
Monil 1,12 0,22 1,35 1,12 0,22 1,35
4 Tenaga Kerja
Pemeliharaan dan pemerahan 834,78 0,0 834,78 834,78 0,0 834,78
Pencarian Pakan Hijauan 207,07 0,0 207,07 207,07 0,0 207,07
5 Biaya Air 4,13 0,0 4,13 4,13 0,0 4,13
6 Penyusutan
Peralatan 39,73 0,0 39,73 39,73 0,0 39,73
Kandang 3,76 0,0 3,76 3,76 0,0 3,76
9 Pajak 14,43 0,0 14,43 14,43 0,0 14,43
10 Biaya Tata Niaga 0,0 0,0
Biaya Transportasi Susu 0,0 0,0
Biaya Transportasi Pakan 0,0 0,0
Biaya Pemasaran 0,0 0,0
11 Biaya Modal*) 0,0 0,0
Total Biaya 2.038,91 186,15 2.225,06 1.977,44 173,8572 2.151,297

88
Lampiran 7. Penerimaan dan Biaya Pengusahaan Komoditi Susu Segar dalam
Komponen Domestik dan Asing dengan Kondisi Tarif Impor Lima
Persen

Analisis Finansial Analisis Ekonomi


NO Keterangan
Domestik Asing Total Domestik Asing Total
A Penerimaan
Susu 3.130,00 0,00 3.130,00 3.965,78 0,00 3.965,78
Penjualan Karung 8,30 0,00 8,30 8,30 0,00 8,30
Total Penerimaan 3.138,30 4.074,36

B Biaya Produksi
1 Sewa Lahan 4,20 0,00 4,20 4,20 0,00 4,20
2 Pakan Ternak
Konsentrat 358,96 71,79 430,75 297,49 59,50 356,99
Hijauan * 451,14 90,23 541,37 451,14 90,23 541,37
Jerami 13,04 2,61 15,65 13,04 2,61 15,65
Ampas Tahu 96,26 19,25 115,51 96,26 19,25 115,51
3 Obat-obatan
Mineral 10,28 2,05 12,33 10,28 2,05 12,33
Monil 1,12 0,22 1,35 1,12 0,22 1,35
4 Tenaga Kerja
Pemeliharaan dan Pemerahan 834,78 0,00 834,78 834,78 0,00 834,78
Pencarian Pakan Hijauan* 207,07 0,00 207,07 207,07 0,00 207,07
Biaya air 4,13 0,00 4,13 4,13 0,00 4,13
5 Penyusutan Peralatan 39,73 0,00 39,73 39,73 0,00 39,73
Penyusutan Kandang 3,76 0,00 3,76 3,76 0,00 3,76
6 Pajak 14,43 0,00 14,43 14,43 0,00 14,43
7 Biaya Tataniaga 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
8 Biaya Transport Susu 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
9 Biaya Transport pakan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Bunga Modal 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
10 Total Biaya 2.038,91 186,15 2.211,35 1.977,44 173,86 2.151,30

89
Lampiran 8. Penerimaan dan Biaya Pengusahaan Komoditi Susu dalam Komponen
Domestik dan Asing dengan Kondisi Tarif Impor 15 Persen

No Keterangan Analisis Finansial Analisis Ekonomi

Domestik Asing Total Domestik Asing Total


A Penerimaan

Susu 3.369,50 0,0 3.369,50 4.165,78 0,00 4.165,78


Penjualan Karung 8,30 0,0 8,30 8,30 0,00 8,30
Total Penerimaan 3.377,80 4.174,08

B Biaya Produksi
1 Sewa Lahan 4,20 0,00 4,20 4,20 0,00 4,20
2 Pakan Ternak
Konsentrat 358,96 71,79 430,75 297,49 59,50 356,99
Hijauan * 451,14 90,23 541,37 451,14 90,23 541,37
Jerami 13,04 2,61 15,65 13,04 2,61 15,65
Ampas Tahu 96,26 19,25 115,51 96,26 19,25 115,51
3 Obat-obatan
Mineral 10,28 2,05 12,33 10,28 2,05 12,33
Monil 1,12 0,22 1,35 1,12 0,22 1,35
4 Tenaga Kerja
Pemeliharaan dan
Pemerahan 834,78 0,00 834,78 209,12 0,00 667,83
Pencarian Pakan Hijauan* 207,07 0,00 207,07 115,15 0,00 165,65
Biaya air 4,13 0,00 4,13 4,69 0,00 4,69
5 Penyusutan Peralatan 39,73 0,00 39,73 42,02 0,00 42,02
Penyusutan Kandang 3,76 0,00 3,76 58,37 0,00 58,37
6 Pajak 14,43 0,00 14,43 14,43 0,00 14,43
7 Biaya Tataniaga
8 Biaya Transport Susu 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
9 Biaya Transport pakan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Bunga Modal 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
10 Total Biaya 2.038,91 186,15 2.225,06 1.317,32 173,86 2.000,39

90
Lampiran 9. Tabel PAM untuk Kondisi Tarif Impor Nol Persen

Penerimaan Biaya Input


Uraian Output Tradable Domestik Pendapatan
Nilai Finansial 3013,0 186,2 2038,9 787,9
Nilai Ekonomi 3857,8 173,9 1977,4 1706,5
Dampak Kebijakan dan Distorsi Pasar -844,8 12,3 61,5 -918,5

Lampiran 10. Tabel PAM untuk Kondisi Tarif Impor Lima Persen

Penerimaan Biaya Input


Uraian Output Tradable Domestik Pendapatan
Nilai Finansial 3138,3 186,2 2038,9 913,2
Nilai Ekonomi 4074,4 173,9 1977,4 1923,1
Dampak Kebijakan dan Distorsi Pasar -936,1 12,3 61,5 -1009,8

Lampiran 11. Tabel PAM untuk Kondisi Tarif Impor 15 Persen

Penerimaan Biaya Input


Uraian Output Tradable Domestik Pendapatan
Nilai Finansial 3377,8 186,2 2038,9 1152,7
Nilai Ekonomi 4174,1 173,9 1317,3 2682,9
Dampak Kebijakan dan Distorsi Pasar -796,3 12,3 721,6 -1530,2

91

Anda mungkin juga menyukai