Daya Saing Susu Sapi Perah di Garut
Daya Saing Susu Sapi Perah di Garut
SKRIPSI
Oleh :
PANJI PRATAMA
H34076119
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
RINGKASAN
Oleh :
PANJI PRATAMA
H34076119
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
Judul Skripsi : Analisis Daya Saing Dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap
Komoditas Susu Segar Sapi Perah (Studi Kasus Anggota Koperasi
Peternak Garut Selatan, Jawa Barat)
Nama : Panji Pratama
NIM : H34076119
Disetujui,
Pembimbing
Diketahui
Ketua Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Tanggal Lulus :
PERYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Daya Saing
Dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Susu Segar Sapi Perah (Studi
Kasus Anggota Koperasi Peternak Garut Selatan, Jawa Barat)” adalah karya sendiri dan
belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk
daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Panji Pratama
H34076119
RIWAYAT HIDUP
Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara yang terdiri dari Panji
Pratama (Penulis) dan Nissa Wening Arum (Adik) dari pasangan (Alm) Bapak H.
Dede Darmadi dan Ibu Hj. Cucu Salamah, [Link]. Penulis lahir di Bandung pada tanggal
16 Oktober 1986.
Pada tahun 1993 penulis memasuki jenjang pendidikan dasar pada Sekolah
Dasar Negeri I Cikajang-Garut dan tamat pada tahun 1998. penulis melanjutkan
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama pada SLTPN 1 Cikajang dan tamat pada tahun 2001.
Penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Umum pada SMUN II Tarogong-
Garut tamat pada tahun 2004. Pada tahun 2004 penulis berhasil diterima menjadi
mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk
IPB), Program studi Diploma III Manajemen Bisnis dan Koperasi, Institut Pertanian
Bogor. Penulis melanjutkan studi pada program Sarjana Agribisnis Penyelenggaraan
Khusus, Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen pada tahun 2007.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
nikmat dan karunianya sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Daya Saing
Dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Susu Segar Sapi Perah (Studi
Kasus Anggota Koperasi Peternak Garut Selatan, Jawa Barat)” dapat terselesaikan.
Pada kesempatan ini tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan laporan ini baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat keuntungan pengusahaan
komoditas susu sapi perah di Kabupaten Garut khususnya anggota Koperasi Peternak
Garut Selatan, Menganalisis daya saing komoditas susu sapi perah di Kabupaten Garut
khususnya anggota Koperasi Peternak Garut Selatan dan Menganalisis dampak
kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditas susu segar sapi perah.
Dengan segala keterbatasan dan kendala yang dihadapi, karya ilmiah ini masih
memiliki kekurangan. Namun, kami berharap karya ilmiah ini dapat berguna bagi
semua pihak yang membaca dan untuk kemajuan peternak sapi perah yang ada di
Indonesia umumnya dan di Kecamatan Cikajang khususnya.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua fihak
yang telah memberikan bantuan dan sumbangan ide-ide dalam penyusunan laporan ini
baik secara langsung maupun tidak langsung kepada :
1. Rahmat Yanuar, SP, [Link] selaku dosen pembimbing yang telah memberikan
bimbingan dan masukan yang sangat berguna untuk penyusunan skripsi ini.
2. Dr. Ir. Rita Nurmalina Suryana, MS yang telah bersedia menjadi evaluator pada
seminar proposal dan memberikan segala masukan serta kritikan sehingga
penelitian ini dapat dilakukan.
3. Muhammad Firdaus, Ph.D selaku dosen penguji yang telah memberikan
masukan yang berguna untuk penyempurnaan penyusunan laporan ini.
4. Arif Karyadi, SP selaku dosen penguji akademik yang telah memberikan
masukan yang berguna untuk penyempurnaan penyusunan laporan ini.
5. Pengurus beserta seluruh keluarga besar Koperasi Peternak Garut Selatan
(KPGS) atas bantuan, dukungan dan perhatian yang diberikan selama praktek
kerja lapang.
6. Keluargaku (Almarhum Ayah, Ibunda, Neng Nissa, nenek, om-tante, sepupu
tercinta) atas kasih sayang, perhatian, doa dan dukungannya.
7. Rekan-rekan Ekstensi yang telah mendukung, memberikan warna dan menjadi
tempat bertukar pikiran.
8. Semua fihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, namun tidak
menghilangkan rasa hormat dan terima kasih atas bantuan dan dukungan kepada
penulis.
I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ................................................................. 5
1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................... 8
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................... 9
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ........................................................ 10
LAMPIRAN ................................................................................................... 82
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
Nomor Halaman
Nomor Halaman
10. Tabel PAM untuk Kondisi Tarif Impor Lima Persen ....................... 92
1
Dunia (World Trade Organization, WTO), telah mentargetkan pendapatan
perdagangan bebas pada tahun 2010 di negara maju dan tahun 2020 di negara
sedang berkembang. Ini berarti bahwa jika kesepakatan di bidang pertanian itu
benar-benar dilaksanakan, maka perdagangan komoditas pertanian (termasuk
peternakan) pada tahun 2020 akan sepenuhnya bebas di semua negara. Semua
hambatan akses pasar, dukungan domestik dan subsidi ekspor harus dihapus
karena tidak sesuai dengan prinsip pasar bersaing bebas. Peranan pemerintah
terbatas hanya menetapkan aturan main dan standar guna mendukung terciptanya
pasar persaingan sempurna. Perkembangan populasi ternak di Indonesia dapat
dilihat di Tabel 1.
Pada Tabel 1 dapat dilihat rata-rata jumlah populasi sapi perah meningkat
setiap tahunnya, kecuali pada Tahun 2004-2005 terjadi penurunan sebesar 1,02
persen dan 1,00 persen. Pada tahun berikutnya peningkatan populasi berkisar
antara 0,91 persen sampai dengan 0,98 persen. Jumlah ini belum bisa
menghasilkan susu segar sapi perah sesuai dengan kebutuhan dalam negeri,
adapun jumlah susu segar sapi perah disajikan pada Tabel 2.
2
pertumbuhan perekonomian. Saat, ini produksi sangat rendah baru mencapai 30
persen dari kebutuhan permintaan efektif (Yusdja, 2005).
Tabel 2. Jumlah Produksi Susu Segar Sapi Perah Indonesia Tahun 2002-
2008
Tahun Produksi (000 Ton)
2002 520.98
2003 577.52
2004 596.31
2005 341.99
2006 577.63
2007 636.86
2008 574.40
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
2
Ibid.
3
sisi produksi, kepemilikan sapi perah per peternak perlu ditingkatkan. Menurut
manajemen modern sapi perah, skala ekonomis bisa dicapai dengan kepemilikan
10-12 ekor sapi per peternak.
Menurut Ditjennak (2009), pada tahun 2008, Jawa Barat merupakan salah
satu sentra penghasil susu terbesar ke-dua di Indonesia setelah Jawa Timur.
Sekitar 40 persen populasi ternak sapi perah Indonesia ada di Jawa Barat dan 32
persen produksi susu segar nasional dihasilkan oleh Propinsi Jawa Barat (GKSI,
2007). Salah satu sentra penghasil susu di Jawa Barat adalah Kabupaten Garut.
Menurut hasil wawancara dengan pihak GKSI, Kabupaten Garut merupakan
penghasil susu terbesar di seluruh Jawa Barat setelah Kabupaten Bandung.
4
produktivitas lahan penggembalaan dalam menghasilkan pakan sebesar 28,29
Ton/Ha. Pencapaian populasi ternak Kabupaten Garut apabila dibandingkan
dengan tahun 2005, saat ini rata-rata mengalami pertumbuhan antara 0,2 persen
sampai dengan 18,66 persen, kecuali pada populasi itik. Peningkatan pertumbuhan
populasi tersebut diperoleh antara lain melalui fasilitasi program pengembangan
ternak dan breeding, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah, peternak maupun
swasta.
5
mengandung susu. Konsumsi susu negara tetangga seperti Thailand, Malaysia dan
Singapura rata-rata mencapai 30 liter/kapita/tahun, sedangkan negara-negara
Eropa sudah mencapai 100 liter/kapita/tahun. Seiring dengan semakin tingginya
pendapatan masyarakat dan semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia,
dapat dipastikan bahwa konsumsi produk-produk susu oleh penduduk Indonesia
akan meningkat. Oleh, karena itu pengolahaan susu merupakan suatu keharusan.
Padahal, jika pengolahan ini dilakukan di tingkat peternak atau koperasi, nilai
tambahnya akan dirasakan oleh peternak. Selama ini peternak tidak melakukan
pengolahan, yang ada pengolahan dilakukan oleh koperasi yaitu berupa susu
pasteurisasi. Namun omset penjualannya masih terbatas dan kurang bervariasi
serta hanya dilakukan oleh sebagian kecil koperasi susu yang ada. Dengan
meningkatnya daya beli masyarakat dan adanya promosi manfaat minum susu
segar dan susu pasteurisasi, diharapkan omset penjualan susu oleh koperasi akan
meningkat.
Sebagian besar produksi susu usaha peternakan rakyat dipasarkan ke IPS.
Harga jual susu tersebut ditentukan berdasarkan kualitas susu yang dicerminkan
oleh kandungan total solid susu. Dilapang hal tersebut dilakukan dengan
mengukur Berat Jenis (BJ) dan kandungan lemak susu. Mekanisme penentuan
harga dilakukan secara sepihak oleh IPS, peternak hanya menerima harga yang
telah ditentukan oleh IPS. Bahkan koperasi primer maupun GKSI tidak
mempunyai kekuatan dalam menentukan harga susu, karena keberadaannya hanya
bersifat sebagai perantara yang memperoleh fee untuk setiap liter susu yang
dipasarkan ke IPS. Saat ini IPS hanya akan membeli bila harga Susu Segar Dalam
Negeri (SSDN) lebih murah dari harga bahan baku impor. Bila terjadi sebaliknya,
dengan dicabutnya sistem rasio, diduga IPS akan menggunakan bahan baku asal
impor. Hingga saat ini belum ada upaya IPS menjalin kemitraan agar produksi
SSDN dapat bersaing dengan produk impor. Hal ini disebabkan masih ada
keterkaitan antara IPS sebagai usaha multinasional dengan industri persusuan di
masing-masing negara investor.
Perkembangan peningkatan produksi sapi perah hingga tahun 1999 banyak
mendapatkan bantuan dari pemerintah baik dalam pengaturan pemasaran,
tataniaga, impor sapi perah, memaksa IPS membeli susu segar koperasi
6
mengaitkan ijin impor susu dengan penyerapan susu segar koperasi. Selama
hampir 30 tahun di bawah kendali pemerintah, ternyata telah menghasilkan
keragaan industri yang semakin tidak tangguh. Usaha peternak rakyat tidak
menguntungkan dan tidak berkembang sedangkan usaha swasta semakin menjadi
kecil. Reithmuller et. al. (1999) dalam Yusdja (2005) mensinyalir bahwa
intervensi pemerinah telah menciptakan inefisiensi usaha peternak sapi perah.
Namun demikian, intervensi tersebut dapat dimengerti, karena selama ini usaha
peternakan sapi perah lebih banyak ditujukan pada pencapaian tujuan sosial, yaitu
penciptaan lapangan kerja di pedesaan.
Pada 13 Februari 2009, pemerintah menurunkan bea masuk bahan baku
susu impor dari lima persen menjadi nol persen. Penurunan tarif bea masuk itu
atas usulan Departemen Keuangan dengan alasan agar ada jaminan penyerapan
susu segar peternak IPS dan mengurangi beban konsumen. Kebijakan penurunan
bea masuk itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 19 Tahun 2009
tentang Penetapan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor Produk-produk Tertentu3.
Dalam hal pemasaran susu dari peternak dalam negeri, Peraturan Menteri
Keuangan mengakibatkan posisi industri pengolahan susu menjadi jauh lebih kuat
dibandingkan peternak karena industri pengolahan susu mempunyai pilihan untuk
memenuhi bahan baku yang dibutuhkan yaitu susu segar dari dalam negeri
maupun dari impor. Jumlah impor susu dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Volume Impor Susu di Indonesia dari Tahun 2000-2008
Tahun Volume Impor (000 Ton)
2000 495.65
2001 479.95
2002 493.40
2003 553.40
2004 549.90
2005 535.96
2006 616.55
2007 567.68
2008 647.00
Sumber : Badan Pusat Statistik (2009)
3
Peternak Menjadi "Bumper" Industri Susu [Link] edisi Kamis, 15 Januari
2009
7
Tabel 3 memberikan informasi bahwa volume impor lebih besar dari
jumlah produksi peternak dalam negeri (Tabel 2), IPS lebih memilih untuk impor.
IPS lebih memilih impor susu dibanding susu dari peternak dalam negeri, dengan
alasan susu impor lebih murah dibanding susu peternak dalam negeri. Oleh karena
itu, IPS bisa mengatur harga susu dari peternak (price maker) dan peternak
bertindak sebagai penerima harga.
Hal ini menyebabkan relatif rendahnya harga susu segar yang diterima
oleh perternak dalam negeri (Daryanto, 2007). Peternak selalu menganggap
untung bila telah mendapatkan hasil dari usaha ternaknya tanpa memperhitungkan
faktor-faktor lain misalnya penggunaan tenaga kerja keluarga dan nilai
penyusutan. Sehingga tidak ada pengambilan keputusan terbaik bagi
kelangsungan usahaternak sapi perah yang dilakukan, akibatnya usaha ternak
yang dilakukan bersifat tetap dan tidak berkembang (Capah, 2008), hal ini juga
merupakan permasalah peternak terkait dengan perhitungan pengeluaran dan
pendapatan peternak terhadap usaha ternaknya. Tabel 4 menunjukan harga susu
segar sapi perah di beberapa kabupaten sentra produksi susu di Indonesia.
Tabel 4 menunjukan bahwa harga susu pada bulan Januari dan Februari
Tahun 2008 di Pulau Jawa yang diterima peternak dari koperasi berkisar antara
Rp 1.833,33 sampai Rp 2.833,33. Harga yang diterima koperasi dan IPS rata-rata
Rp 3.025 per liter. Harga bahan baku susu impor yang dibeli IPS di Indonesia
pada tahun 2008 adalah Rp 4.800,00 sampai Rp 5.000,00 per Kg. Harga susu yang
8
diterima peternak sebagai anggota koperasi dinilai lebih rendah dan diduga tidak
mampu menutupi biaya produksinya. Setelah pemerintah menurunkan tarif impor,
IPS menurunkan harga penerimaan susu peternak sebesar Rp 200,00.
Permasalahan yang sudah dikemukakan sudah semestinya ditanggulangi
oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat dengan rumusan dan implementasi
kebijakan yang mampu menciptakan iklim yang kondusif bagi keberlangsungan
usahaternak komoditas susu segar di Kabupaten Garut. Untuk itu, diperlukan
informasi tentang bagaimana kondisi usahaternak sapi perah sebagai
pertimbangan dan bahan acuan bagi pemerintah dalam merumuskan dan
mengimplementasikan kebijakan. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini
mencoba untuk mengetahui tingkat daya saing dan dampak kebijakan pemerintah
terhadap komoditas susu segar sapi perah di Kabupaten Garut.
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana tingkat keuntungan pengusahaan komoditas susu segar sapi perah
secara finansial dan ekonomi di Kabupaten Garut?
2. Bagaimana daya saing komoditas susu segar sapi perah di Kabupaten Garut
khususnya anggota Koperasi Peternak Garut Selatan?
3. Bagaimana dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditas
susu segar sapi perah di Kabupaten Garut khususnya anggota Koperasi
Peternak Garut Selatan?
1.3 Tujuan Penelitian
Secara umum, penelitan ini bertujuan untuk mengetahui daya saing dan
dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas susu sapi perah di Kabupaten
Garut. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk :
9
1.4 Manfaat Penelitian
10
II TINJAUAN PUSTAKA
11
Erwidodo (1998), menyatakan bahwa peternakan sapi perah di Indonesia
umumnya merupakan usaha keluarga di pedesaan dalam skala kecil, sedangan
skala usaha yang besar masih terbatas dan umumnya merupakan usaha sapi perah
yang baru tumbuh. Komposisi peternak sapi perah diperkirakan terdiri dari 80
persen peternak kecil dengan kepemilikan sapi kurang dari empat ekor, 17 persen
peternak dengan kepemilikan sapi perah empat sampai tujuh ekor, dan tiga persen
pemilikan sapi perah lebih dari tujuh ekor.
12
ternak. Dalam usahaternak yang pemilikan sapi perahnya relatif kecil, lahan
bukan merupakan faktor produksi yang dominan.
3. Pakan
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usahaternak sapi perah
adalah pemberian pakan. Sapi perah yang produksi susunya tinggi tidak akan
menghasilkan susu yang sesuai dengan kemampuannya bila tidak mendapat pakan
yang cukup baik kulitas maupun kuantitas. Cara pemberian pakan yang salah akan
mengakibatkan penurunan produksi, gangguan kesehatan bahkan kematian. Pakan
sapi perah terbagi atas dua golongan yaitu bahan pakan serat yaitu hijauan dan
bahan pakan konsentrat.
4. Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi utama. Tenaga kerja
data diperoleh dari tenaga kerja keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Kegiatan
yang pada umumnya dilakukan dalam pemeliharaan sapi perah adalah mencari
dan mengarit hijauan makanan ternak, membuat kandang, memberi makan dan
minum ternak, menjaga kesehatan ternak, mengawinkan dan seleksi ternak,
mengumpulkan hasil (memerah susu), mengolah atau menyimpan hasil dan
mengirimkan hasil untuk dijual.
Penggunaan tenaga kerja dalam usahaternak umumnya diukur dengan
jumlah hari. Dalam satu hari basanya tenaga kerja bekerja delapan jam, waktu
bekerja dalam satu hari sering disebut sebagai satu Hari Kerja Pria (HKP). Jika
bekerja wanita setara dengan 0,8 HKP dan anak-anak setara 0,5 HKP.
5. Obat-obatan dan peralatan
Program kesehatan pada usahaternak sapi perah harus dijalankan secara
teratur untuk menghindari penyakit yang biasa menyerang sapi perah seperti TBC,
13
brucellosis, penyakit mulut dan kuku, radang limfa dan lainnya (Anonimus,
2002).
14
Kemampuan produksi sapi perah ditentukan oleh faktor genetik,
lingkungan dan pemberian pakan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi
produksi susu antara lain umur, musim beranak, masa kering, masa kosong, besar
sapi, manajemen pemeliharaan dan pakan. Sapi-sapi yang beranak pada umur
yang tua (lebih dari tiga tahun) akan menghasilkan susu yang lebih banyak dari
sapi-sapi yang beranak pada umur dua tahun. Kapasitas produksi susu sapi perah
akan meningkat terus sampai umur enam sampai dengan delapan tahun dan
setelah itu akan menurun dengan penurunan yang semakin besar. Sapi perah umur
dua tahun akan menghasilkan susu sekitar 70 sampai 75 persen dari produksi susu
tertinggi sapi yang berbersangkutan. Pada umur tiga tahun akan menghasilkan
susu 80 sampai 85 persen, sedangkan umur empat sampai lima tahun
menghasilkan susu 95 sampai 98 persen (Schmidt dan Hutjuers dalam Capah,
1998).
Biaya produksi adalah nilai fisik penggunaan faktor produksi yang diukur
dengan nilai uang (Rahardja, 2000). Komponen biaya produksi usahaternak sapi
perah adalah biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap terdiri dari penyusutan
kandang, penyusutan peralatan tahan lama, penyusutan ternak dan lahan tempat
pengelolaan ternak yang dianggap sebagai sewa lahan. Biaya variabel terdiri dari
15
biaya pakan, obat-obatan, penyusutan peralatan tidak tahan lama dan biaya
tranportasi untuk membeli pakan atau memasarkan susu, air dan listrik. Menurut
Sudono (1999) dalam usahaternak sapi perah, biaya terbesar yang dikeluarkan
adalah biaya variabel, terutama biaya pakan dan tenaga kerja. Besar kecilnya
biaya yang dikeluarkan peternakan juga dipengaruhi oleh masa kering dan masa
laktasi sapi perah.
Biaya variabel untuk skala usaha sampai tiga ekor sapi laktasi adalah Rp
365.270,00 per peternak perbulan dan untuk skala lebih dari atau sama dengan
empat ekor sapi laktasi adalah Rp 576.038,00 per peternak per bulan. Komposisi
biaya variabel secara keseluruhan meliputi biaya pakan dengan rataan Rp
420.355,00 per peternak per bulan atau 78,37 persen, biaya tenaga kerja sebesar
Rp 29.532,00 per peternak per bulan atau 5,51 persen, obat-obatan Rp 7.674,00
per peternak per bulan atau 1,43 persen dan penyusutan peralatan tidak tahan lama
sebesar Rp 6.356,00 per peternak per bulan atau 1,18 persen dari total biaya.
Kecenderungan biaya variabel meningkat pada skala lebih dari atau sama dengan
empat ekor sapi sesuai dengan jmlah ternak yang dimiliki. Ini berarti bahwa
semakin besar skala usaha maka semakin besar biaya variabel yang dikeluarkan.
16
laktasi 6,73 ST per peternak. Rataan baya produksi susu di lokasi penelitian
adalah 1.829,01 liter per bulan dengan rataan produktvitas secara kseluruhan
adalah 9,06 liter per ekor per hari. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa
semakin besar skala usaha maka semakin tinggi produktivitas sapi laktasi.
Produksi optimal dicapai pada saat produksi susu 670,99 liter per bulan per
petenak atau 99,70 liter per ekor per bulan atau pada saat penermaan peternak
hasil penjualan susu sebesar Rp 1.072.769,75 per peternak per bulan.
Penelitian Anisa (2008) dengan judul Analisis fungsi Biaya dan Efisiensi
Usahaternak Sapi perah di Wilayah kerja KPSBU Lembang Kabupaten Bandung
menunjukan bahwa rata-rata peternak memiliki sapi laktasi kurang dari 10 ekor
atau hanya 3,18 ST dari rata-rata kepemilikan sapi 4,03 ST. rataan produksi susu
didaerah penelitian adalah 14,68 liter per ekor perhari. Produksi susu yang
dihitung meliputi jumlah susu yang dijual dan jumlah susu yang dikonsumsi oleh
keluarga peternak.
17
sedangkan yang paling kecil adalah biaya kelompok III (skala usaha kecil) sebesar
Rp 2.389.117,99. Kondisi ini terjadi karena manajemen kelompok I lebih buruk
dibanding kelompok II dan III terutama manajemen pakan, karena pemberian
pakan konsentrat yang terlalu banyak akan menurunkan kadar lemak susu dan
akan menimbulkan kerugian eknomis, selain itu pada kelompok I terdapat biaya
tambahan untuk biaya tenaga kerja.
Pola usahatani lahan garapan dengan budidaya semi internal memiliki nilai
KBSD terkecil baik pada tingkat efisiensi maupun keunggulan komparatif dan
keunggulan kompetitif. Hal ini menunjukan bahwa usahatani lahan garapan
dengan budidaya semi intensif memiliki tingkat efisiensi yang tinggi dengan pola
usaha tersebut mampu menghasilkan keunggulan komparatif dan keunggulan
18
kompetitif dibandingkan pola usaha tani lahan milik dengan budidaya semi
intensif atau pola usahatani lahan garapan dengan budidaya non intensif.
19
PCR dan DRC < 1), hal ini menunjukan usahatani pisang layak dilakukan dengan
kondisi ada atau tidak ada kebijakan pemerintah. Dampak kebijakan terhadap
input dan output di Desa Kubang berdampak disinsentif. Sementara berdasarkan
analisis sensitifitas terhadap nilai tukar dan peningkatan harga pupuk anorganik
menyebabkan usahatani pisang tetap memiliki keunggulan kompetitif dan
keunggulan komparatif, sehingga tetap layak diusahakan.
20
III KERANGKA PEMIKIRAN
21
nelayan dan beternak untuk peternak. Biaya usahaternak dapat diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost).
1. Biaya Tetap (Fixed Cost), umumnya diartikan sebagai biaya yang relatif
tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun output yang diperoleh
banyak atau sedikit. Selain itu, biaya tetap dapat pula dikatakan sebagai
biaya yang tidak dipengaruhi oleh besarnya produksi komoditas pertanian,
misalnya penyusutan peralatan dan gaji tenaga kerja jika tenaga kerjanya
berasal dari luar keluarga, sewa lahan, alat peternakan.
2. Biaya Variabel (Variable Cost), merupakan biaya yang besar kecilnya
dipengaruhi oleh produksi komoditas pertanian yang diperoleh. Misalnya
biaya untuk sarana produksi susu. Jika menginginkan produksi susu yang
tinggi, faktor produksi pakan ternak perlu ditambah dan sebagainya
sehingga biaya akan berubah tergantung pada komoditi pertanian yang
dihasilkan.
3. Biaya Total (Total Cost), biaya produksi terdiri dari biaya tetap dan biaya
variabel (Soekartawi, 1985). Biaya tetap merupakan biaya yang tidak
tergantung dari jumlah produksi yang mencakup kandang, lahan, peralatan
dan pajak. Biaya variabel merupakan biaya yang jumlahnya berubah-ubah
sesuai perubahan kuantitas produksi yang dihasilkan. Semakin besar
kuantitas produk yang dihasilkan, makin besar biaya variabel yang
diperlukan. Biaya ini meliputi biaya pakan, biaya obat-obatan dan vaksin,
upah tenaga kerja dan biaya lainnya. Biaya total merupakan keseluruhan
biaya produksi yang mencakup biaya tetap dan biaya variabel.
3.1.3 Pendapatan
22
1. Penerimaan tunai, yaitu nilai uang yang diterima dari penjualan produk.
2. Pengeluaran tunai, yaitu jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian
barang dan jasa usahatani.
3. Pendapatan tunai, yaitu selisih antara penerimaan tunai dengan pengeluaran
tunai dengan pengeluaran tunai.
4. Penerimaan kotor, yaitu produk total usaha dalam jangka waktu tertentu, baik
yang dijual maupun yang tidak dijual.
5. Pengeluaran total usaha, yaitu semua masukan yang habis terpakai atau
dikeluarkan dalam produksi termasuk biaya yang diperhitungkan.
6. Pendapatan bersih usaha, yaitu selisih antara penerimaan kotor usaha dan
pengeluaran total usaha.
23
efisien (memiliki keunggulan absolut) dibanding negara lain, keuntungan akan
diperoleh jika Negara tersebut melakukan spesialisasi dalam memproduksi
komoditi yang memiliki keunggulan absolut tersebut. Selanjutnya pada tahun
1817 David Ricardo melalui bukunya yang berjudul “Principles of Polotical
Economy and Taxation” memperluas teori keunggulan absolut Adam Smith
menjadi teori keunggulan komparatif (comparative advantage) (Salvatore, 1997).
3.1.5 Keunggulan Komparatif Wilayah
24
bahwa keunggulan komparatif dapat dibagi menjadi dua, yaitu keunggulan
komparatif natural (alami) dan keunggulan komparatif buatan (terapan). Sumber
keunggulan komparatif alami ditunjukan dengan kondisi iklim yang cocok upah
tenaga kerja yang murah dan ketersediaan sumberdaya alam yang melimpah.
Sedangkan keunggulan komparatif terapan telah diaplikasikan dan telah
disesuaikan dengan faktor pendukung seperti teknologi, permintaan skala
ekonomi dan struktur pasar.
25
komoditi tersebut tidak mampu bersaing dipasar dunia (tidak memiliki
keunggulan kompetitif).
Selain karena faktor diatas, Porter menjelaskan bahwa ada faktor luar yang
sangat penting dan sangat menentukan sekali secara ekternal, adalah faktor
manusia (human recource factor) dari suatu Negara. Dimana faktor manusia
tersebut dibagi menjadi dua, yaitu sistem pemerintahan (government) dan terdapat
kesempatan dalam melakukan sesuatu hal. Dalam hal ini, keunggulan kompetitif
dapat diciptakan antara lain melalui implementasi kebijakan pemerintah dapat
tercipta efisiensi penggunaan sumberdaya.
26
untuk diproduksi atau diusahakan dan dapat bersaing di pasar internasional. Akan
tetapi, apabila komoditas yang diproduksi hanya mempunyai keunggulan
komparatifnya saja maka diasumsikan telah terjadi distorsi pasar atau terdapat
hambatan yang mengganggu kegiatan produksi sehingga merugikan produsen
seperti prosedur administrasi, perpajakan dan lain-lain. Hal sebaliknya juga terjadi
bila suatu komoditas hanya memiliki keunggulan kompetitif saja, maka
pemerintah memberikan proteksi terhadap komoditas tersebut seperti stabilitas
harga, kemudahan perizinan dan kemudahan berbagi fasilitas lainnya.
27
Keterangan : S+ = Subsidi; S- = Pajak; PE = Produsen Barang Orientasi
Ekspor; PI = Produsen Barang Substitusi Impor; CE = Konsumen Barang
Orentasi Ekspor; CI = Konsumen Barang Substitusi Impor; TCE = Hambatan
Barang Ekspor; TPI = Hambatan Barang Impor
Tabel 4 menunjukan bahwa kebijakan harga dapat dibedakan dalam tiga
kriteria. Pertama, tipe instrumen yang berupa subsidi atau kebijakan perdagangan,
kedua kelompok penerima, meliputi produsen atau konsumen dan ketiga tipe
komoditas yang berupa komoditas dapat di impor atau dapat diekspor.
1. Tipe Instrumen
Dalam kebijakan tipe instrumen, dibedakan pengertiannya antara subsidi
dan kebijakan perdagangan. Subsidi adalah pembayaran dari dan atau untuk
pemerintah. Apabila dibayar dari pemerintah maka disebut subsidi positif,
sedangkan apabila dibayar untuk pemerintah disebut subsidi negatif (pajak). Pada
dasarnya, subsidi positif dan negatif bertujuan untuk menciptakan harga domestik
agar berbeda dengan harga internasinal untuk melindungi konsumen atau
produsen dalam negeri.
Kebijakan perdagangan adalah pembatasan yang diterapkan pada atau
ekpor suatu komoditas. Pembatasan dapat diterapkan baik terhadap harga
komoditas yang diperdagangkan (dengan suatu pajak perdagangan) atau sama
dengan pembatasan jumlah komoditas (kuota perdagangan) untuk menurunkan
jumlah yang diperdagangkan secara internasional dan mengendalikan antara harga
internasional (harga dunia) dengan harga domestik (harga dalam negeri). Untuk
barang impor misalnya dapat dilakukan dengan menekan tarif per unit (pajak
impor) maupun pembatasan kuantitas (kuota impor) untuk membatasi kuantitas
yang diimpor dan meningkatkan harga domestik diatas harga internasional.
Kebijakan terhadap output dapat berupa subsidi ataupun pajak. Subsidi
terhadap komoditas ekspor akan berdampak positif sedangkan penerapan pajak
akan berdampak negatif seperti yang ditunjukan oleh Gambar 1.
28
Gambar 1. Dampak Pajak Terhadap Produsen komoditas Ekspor
Sumber : Monke dan Pearson, 1989
Pada perdagangan bebas, harga yang diterima petani dan konsumen dalam
negeri sama dengan harga dunia yaitu Pw. Tingkat output yang dihasilkan sebesar
Q4 sedangkan permintaan hanya sebesar Q1 sehingga terjadi excess supply dalam
negeri sebesar ADG. Karenanya, output yang harus diekspor adalah sebesar Q4 –
Q1. Besarnya surplus konsumen adalah HAPw sedangkan surplus produsennya
adalah PwDI.
Pajak pun mengakibatkan harga yang diterima petani dan konsumen
menjadi lebih rendah dibandingkan harga pasar dunia yaitu Pd sehingga konsumsi
dalam negeri menurun dari Q1 – Q4 menjadi Q2 – Q3. Perubahan surplus
konsumen yang terjadi adalah sebesar PwAEPd. Terjadi transfer output kepada
pemerintah sebesar BCFE.
2. Kelompok Penerima
Kelompok kedua dari klasifikasi kebijakan adalah apakah kebijakan
dimaksudkan untuk konsumen atau produsen. Subsidi atau kebijakan perdagangan
mengakibatkan terjadinya transfer diantara produsen, konsumen dan keuangan
pemerintah. Jika tidak ada kebijakan subsidi dan kebijakan perdagangan,
pemerintah melalui anggarannya harus membayar keseluruhan transfer, ketika
produsen memperoleh keuntungan dan konsumen mengalami kerugian dan
sebaliknya ketika konsumen memperoleh keuntunan dan produsen mengalami
kerugian. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa keuntungan yang didapatkan
oleh satu pihak hanya menjadi pengganti dari kerugian yang dialami pihak lain,
29
tetapi dengan adanya transfer yang diikuti oleh efisiensi ekonomi yang hilang,
maka keuntungan yang diperoleh akan lebih kecil daripada kerugian yang diderita.
Oleh karena itu manfaat yang diperoleh kelompok tertentu (konsumen, produsen
atau keuangan pemerintah) adalah lebih kecil dari jumlah yang hilang dari
kelompok lain.
3. Tipe Komoditas
Klasifikasi tipe komoditas bertujuan untuk membedakan antara komoditas
yang dapat diekspor dan komoditas yang dapat diimpor. Apabila tidak ada
kebijakan harga, maka harga domestik adalah sama degan harga dipasar
internasional, dimana untuk barang yang diekspor digunakan harga FOB (harga
dipelabuhan ekspor) dan untuk barang yang dapat diimpor digunakan harga CIF
(harga pelabuhan impor).
Kebijakan harga yang diterapkan pada input dapat berupa kebijakan
subsidi positif maupun subsidi negatif (pajak) dan kebijakan hambatan
perdagangan yang berupa tarif dan kuota. Kebijakan subsidi pada harga output
menyebabkan harga barang, jumlah barang, surplus produsen dan surplus
konsumen berubah.
Misalnya, subsidi positif untuk produsen barang impor dimana harga yang
diterima produsen lebih tinggi dari harga dipasaran dunia. Hal ini menyebabkan
output produksi dalam negeri meningkat sedangkan konsumsi tetap dan harga
yang diterima konsumen tetap sama dengan harga dipasaran dunia. Subsidi dapat
dilakukan jika produsen dan konsumen dapat dipisahkan berdasarkan wilayah
ekonomi yang jauh dari kontrol adminstrasi yang ketat sehingga perbedaan harga
antara produsen (karena diberi subsidi) dan konsumen (tanpa subsidi) dapat
terjadi. Subsidi ini menyebabkan jumlah impor turun, dan barang yang diimpor
diproduksi sendiri dengan biaya dikorbankan hilang.
Subsidi positif untuk konsumen untuk output yang diimpor, jumlah subsidi
yang dikeluarkan menyebabkan produksi turun dan konsumsi naik sehingga
menyebabkan impor naik. Transfer yang terjadi terdiri dari dua yaitu transfer dari
pemerintah ke pada konsumen dan transfer dari produsen ke konsumen, oleh
karenanya kehilangan efisiensi terjadi diproduksi dan konsumsi. Disisi produksi
terjadi penurunan output dan terjadi kehilangan pendapatan sehingga terjadi
30
kehilangan efisiensi. Disisi konsumsi opportunity cost terjadi peningkatan dan
menyebabkan hilangnya efisiensi.
Kebijakan hambatan perdagangan pada barang-barang impor maupun
ekspor yang merupakan kebijakan selain subsidi yang dapat diterapkan pada
output. Hambatan pada barang impor yang terdapat tarif sehigga meningkatkan
harga dalam negeri baik untuk produsen maupun konsumen. Peningkatan output
domestik serta konsumsi turun yang menyebabkan impor turun. Dengan
demikian, terjadi transfer pendapatan dari konsumen kepada produsen dan transfer
anggaran pemerintah kepada produsen. Efisiensi ekonomi yang hilang dari sisi
konsumen adalah perbedaan opportunity cost dari perubahan konsumsi dengan
willingness to pay.
[Link] Kebijakan Pemerintah Pada Harga Input
Kebijakan terhadap input dapat diterapkan pada input tradable dan input
non tradable. Pada kedua input tersebut, kebijakan dapat berupa subsidi positif
dan subsidi negatif (pajak), sedangkan kebijakan hambatan perdagangan tidak
diterapkan pada input domestik (non tradable) karena input (non tradable)
diproduksi dan dikonsumsi didalam negeri.
1. Kebijakan Input Tradable
Kebijakan pada input tradable memiliki relevansi langsung pada petani
dan intervensi pada kelembagaan pertanian dan pemasaran komoditas pertanian.
Pengaruh kebijakan subsidi terhadap input akan mengurangi biaya produksi
sehingga meningkatkan keuntungan petani. Sebaliknya, kebijakan berupa pajak
menyebabkan peningkatan biaya produksi sehingga petani akan mengurangi
penggunaan input. Hal tersebut membebani petani karena berimbas pada
penuunan jumlah output sehingga mengurangi keuntungan petani (Monke dan
Pearson, 1989). Pernyataan tersebut diilustrasikan oleh Gambar 2.
31
P P
S S’
S’ S
PW PW
Q1 Q2 Q Q2 Q1 Q
a. S+ b. S-
32
2. Kebijakan Input Non Tradable
Pada input non tradable kebijakan pemerintah meliputi kebijakan pajak
dan subsidi tidak tampak karena input non tradable hanya diproduksi dan
dikonsumsi didalam negeri, sedangkan kebijakan perdagangan tidak dapat
diterapkan pada input non tradable. Ilustrasi mengenai kebijakan subsidi dan
pajak
P dijelaskan oleh Gambar 3. P
S S
PP
C
A PC C
PD B
PD B
A
PC D PP
D
PP’ DW
DW
Q1 Q2 Q Q1 Q2 Q3 Q
a. S+ b. S-
Gambar 3. Kebijakan harga Input Non Tradabel
Sumber : Monke dan Pearson, 1989
Keterangan :
Pd : Harga domestik sebelum diberlakukan pajak dan subsidi
Pc : Harga di tingkat konsumen setelah diberlakukan subsidi da pajak
Pp : Harga di tingkat petani setelah diberlakukan subsidi dan pajak
Kondisi keseimbangan sebelum subsidi pada Gambar 3(a) berada pada
titik A dengan harga Pd dan output sebesar Q1. Setelah adanya subsidi, terjadi
peningkatan output menjadi Q2 sehingga harga yang diterima petani pun
meningkat menjadi Pp dan harga konsumen menurun menjadi Pc. Keadan ini
memberikan keuntungan baik bagi petani maupun konsumen.
Pada Gambar 3(b) posisi awal keseimbangan berada pada titik A dengan
tingkat output Q1 dan harga Pd adanya pajak berakibat pada penurunan output
menjadi Q2 harga yang diterima petani menurun menjadi Pp dan harga yang harus
di bayar konsumen meningkat menjadi Pc. Apabila pajak tetap diberlakukan,
tingkat output semakin menurun menjadi Q3 sehigga harga yang diterima petani
pun menurun menjadi Pp. pajak terhadap input non tradable selalu berdampak
33
negative baik kepada petani ekspor maupun konsumen dibanding pemberian
subsidi yang memberikan pengaruh positif.
34
outcome dan harga efisiensi. Jenis kegagalan pasar yang umum adalah monopoli,
externality dan pasar faktor produksi domestik yang tidak sempurna. Kebijakan
pemerintah adalah intervensi pemerintah yang meyebabkan harga pasar berbeda
dengan harga efesiensinya. Kebijakan pemerintah yang dapat menyebabkan
divergensi antara lain pajak/subsidi, hambatan perdagangan atau regulasi harga.
Jika diasumsikan bahwa kegagalan pasar sebagai faktor yang tidak berpengaruh,
maka perbedaan tersebut lebih banyak disebabkan adanya kebijakan pemerintah
(Pearson et al, 2005).
Susu segar sapi perah merupakan salah satu komoditas unggulan Jawa
Barat yang telah menembus pasar nasional, komoditas susu segar ini dapat
berproduksi dengan baik pada lingkungan yang sesuai. Kondisi lingkungan
tersebut dapat terpenuhi di wilayah sentra produksi susu segar di Kabupaten
Garut. Penelitian ini akan dilaksanakan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut
dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Cikajang merupakan penghasil susu
segar sapi perah terbesar di Kabupaten Garut dan berpotensi sebagai wilayah
pengembangan usahaternak sapi perah.
35
susu segar sapi perah dalam pasar nasional merupakan kesempatan untuk peternak
untuk memenuhi peluang kekurangan pasokan susu segar tersebut.
Metode PAM selain digunakan untuk menganalisis daya saing juga bisa
digunakan untuk menganalisis penerapan kebijakan pemerintah pada harga out
put, kebijakan pada harga input, dan kebijakan harga input-output. Kebijakan
harga input dianalisis berdasarkan nilai transfer (input transfer atau TI), koefesien
proteksi input nominal (nominal protection coefficient on input atau NPCI),
tingkat proteksi input nominal (nominal protection rate on input atau NPRI) dan
transfer faktor (factor transfer atau FT).
36
1. Rendahnya kemampuan budidaya
ternak,
2. Relatif rendahnya harga susu segar
yang diterima oleh perternak
3. Tarif impor mempengaruhi harga
susu
Tujuan Penelitian :
PAM
Keunggulan Keunggulan
Komparatif Kompetitif
Dampak Kebijakan Pemerintah:
Analisis Sensitifitas
1. Tarif Impor 5 %
2. Tarif Impor 15 %
Hasil Akhir
37
IV METODE PENELITIAN
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dan data
sekunder. Data primer akan diperoleh melalui pengamatan langsung, wawancara
dan diskusi dengan pihak peternak sapi perah yang tergabung sebagai anggota
Koperas Peternak Garut Selatan. Data sekunder diperoleh melalui instansi terkait
seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Perpustakaan Departemen Agribisnis IPB,
Perpustakaan LSI-IPB dan Internet.
38
4.4 Analisis Data
39
perlu ditambah biaya transport dan handling dari pelabuhan Tanjung Priok ke
lokasi penelitian. Biaya handling didekati dengan biaya handling KPGS
Cikajang.
4.5 Policy Analysis Matrix (PAM)
Keterangan :
Keuntungan Privat (D) = (A) - (B) - (C)
Keuntungan Sosial (H) = (E) - (F) - (G)
Transfer Output (I) = (A) - (E)
Transfer Input (J) = (B) - (F)
Transfer Faktor (K) = (C) - (G)
Transfer Bersih (L) = (D) - (H) = I - (J + K)
Rasio biaya privat (PCR) = C / (A-B)
Rasio biaya sumberdaya domestik (DRCR) = G / (E-F)
Koefisien proteksi output nominal (NPCO) = A/E
Koefisien proteksi input nominal (NPCI) = B / F
Koefisien proteksi efektif (EPC) = (A-B) / (E-F)
Koefisien keuntungan (PC) = D / H
40
kompetitif, NPCO (Nominal Protection Coefficient on tradable Output), NPCI
(Nominal Protection Coefficient on tradable Inputs), EPC (Effective Protection
Coefficient), PC (Profitability Coeffisient), dan SRP (Subsidy Ratio to Producers).
Untuk mendapatkan nilai-nilai koefisien tersebut, setiap unit biaya (input), output,
dan keuntungan dikelompokkan ke dalam harga pasar (privat) dan harga sosial.
Dari selisih perhitungan berdasarkan kedua kelompok harga tersebut diperoleh
angka transfer untuk menilai dampak dari penerapan kebijakan pemerintah yang
berlaku pada komoditas susu segar sapi perah dan mengukur dampak dari adanya
kemencengan (failure) pasar (Sadikin, 1999).
4.5.1 Analisis Keuntungan
Keuntungan adalah selisih antara penerimaan (nilai penjualan komoditi
yang diterima) dengan biaya yang dikeluarkan oleh petani. Analisis keuntungn
terdiri dari keuntungan privat dan keuntungn social. Keuntungan privat (KP)
menunjukan selisih antara penerimaan dengan biaya yang sesungguhnya diterima
atau dibayarkan petani. Nilai KP yang lebih besar dari nol berarti secara financial
menguntungkan, yaitu kndisi adanya kebijakan pemerintah atau komoditi
menguntungkan untuk diusahakan. Jika nilai KP kurang dari atau sama dengan
nol maka yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu kegiatan usaha tidak
menguntungkan pada kondisi adanya intervensi pemerintah terhadap input dan
output. KP dirumuskan oleh Monke dan Pearson (1989) sebagai berikut :
Private Profitability (PP); D = A – (B + C)
Social Profitability (SP); H = E – (F +G)
Keuntungan Sosial (KS) menunjukan selisih antara penerimaan dengan
biaya yang dihitung dengan harga sosial. Jika nilai KS lebih besar dari nol maka
secara ekonomi, yaitu pada kondisi pasar persaingan sepurna, kegiatan
pengusahaan komoditi dapat dilanjutkan karena menguntungkan atau komoditi
tersebut memiliki keunggulan komparatif jika nilai KS kurang dari atau sama
dengan nol maka kegiatan usaha tidak menguntungkan secara ekonomi atau pada
kondisi pasar persaingan sempurna.
4.5.2 Analisis Efisiensi
Tingkat efisiensi pengusahaan suatu komoditi dapat dilihat dari dua
indikator yaitu keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Keunggulan
41
kompetitif dapat dilihat dari nilai Rasio Biaya Privat (Privat Cost Rasio atau PCR)
yaitu rasio antara biaya input domestik privat dengan nilai tambah privat. Jika
nilai PCR lebih kecil dari satu, maka berarti bahwa untuk menigkatkan nilai
tambah output sebesar satu satuan diperlukan tambahan biaya faktor domestik
lebih kecil dari satu satuan. Hal ini menunjukan bahwa pengusahaan komoditi
tersebut efisien secara finansial atau memiliki keunggulan kompetitif pada saat
ada kebijakan pemerintah. Jika nilai PCR lebih besar atau sama dengan satu maka
yang terjadi adalah sebaliknya.
Private Cost Ratio (PCR) = C/ (A - B)
Keunggulan komparatif suatu komoditi juga dapat dilihat dari nilai Rasio
Biaya Sumberdaya Domestik (Domestic Resource Cost atau DRC). Jika nilai
DRC lebih kecil dari satu, maka pengusahaan komoditi efisien secara ekonomi
atau memiliki keunggulan komparatif pada kondisi tanpa adanya kebijakan. Hal
sebaliknya berlak jika nilai DRC lebih dari satu.
Domestic Resource Cost Ratio (DRC) = G/ (E - F)
4.5.3 Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah
Dampak kebijakan pemeriah yang diidentifikasikan dari analisis PAM
melputi dampak kebijakan pemerintah terhadap output, Input dan dampak
kebijakan terhadap input-output.
1. Dampak Kebijakan Output
Kebijakan pemerintah terhadap output dijelaskan oleh nilai Transfer
Output (TO) dan Koefisien Proteksi Output Nominal (Nominal Protection
Coefficient on Output atau NPCO). Nilai TO merupakan selisih antara penerimaan
privat dengan penerimaan social dari aktivitas produksi. Nilai tanfer output yang
positif menunjukan bahwa masyarakat membeli produk dengan harga yang lebih
tinggi dari haga yang seharusnya diterima. Jika transfer output bernilai negatif,
berarti terdapat kebijakan subsidi negatif pada output yang membuat harga privat
lebih rendah dari harga sosialnya. Untuk output ekspor, angka negatif menunjukan
bahwa kebijakan menyebabkan harga output yang diterima produsen didalam
negeri lebih kecil dari harga di pasar dunia. Berdasarkan matriks PAM, nilai TO
yang dirumuskan dihitung sebagai berikut :
Output Transfer (OT) = A – E
42
NPCO menunjukan dampak insentif pemerintah yang menyebabkan
terjadinya perbedaan nilai output yang diukur dengan harga privat dan sosial.
Nilai NPCO negatif menunjukan bahwa akibat kebijakan pemerintah, harga privat
lebih kecil dari harga dunia, sehingga dapat dikatakan bahwa produsen output
memberkan nilai transfer kebada pemerintah (TO). Kebijakan ini dapat berupa
subsidi negatif kepada produsen untuk barang ekspor.
Nominal Protection Coefficient on Tradable Output ( NPCO) = A/E
Sumber : Monke dan Pearson (1989), Halaman 24
2. Dampak Kebijakan Input
Dampak kebijakan pemerntah terhadap input tradable dijelaskan dengan
Transfer Input (TI) dan Koefisien Proteksi Input Nominal (Nominal Protection
Coefficient on Input atau NPCI), sedangkan dampak kebijakan input domestik
dijelaskan oleh Transfer Faktor (TF). Nilai TI menunjukan kebijakan pemerintah
yang diterapkan pada input tradable yang mengakibatkan terjadinya perbedaan
input tradable privat dan sosial. Nilai transfer input positif menunjukan kebijakan
pemerintah pada input tradable menyebabkan keuntungan yang diterima secara
privat lebih besar dibandingkan tanpa adanya kebijakan. Nilai transfer input
negative menunjukan kebijakan pemerintah menyebabkan keuntungan yang
diterima secara finansial lebih kecil dibandingkan tanpa adanya kebijakan.
Transfer Input (IT) = B –F
Nilai NPCI lebih dari satu menunjukan adanya proteksi terhadap produsen
input, sementara sektor yang menggunakan input akan dirugukan dengan
tingginya biaya produksi. Nilai NPCI lebih kecil dari satu menunjukan adanya
hambatan ekspor input, sehingga produksi menggunakan input lokal.
Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCI) = B/F
Sumber : Monke dan Pearson (1989), Halaman 19
Nilai Transfer Faktor (TF) menunjukan pengaruh kebijakan pemerintah
terhadap produsen dan konsumen yang berbeda dengan kebijakan pada input
tradable. Nilai TF menunjukan besarnya subsidi terhadap input non tradable. Bila
nilai transfer faktor negatif berarti terdapat subsidi positif pada input non tradable.
Transfer Factor (FT) = C – G
43
3. Dampak Kebijakan Input-Output
Pengaruh kebijakan input-output dapat dijelaskan melalui analisis Koefisien
Proteksi Efektif (Effective Protection Coefficient atau EPC), Transfer Bersih (TB),
Koefisien Keuntungan (PC) dan Rasio Subsidi bagi Produsen (SRP). Koefisien
Proteksi Efektif (EPC) adalah analisis gabungan proteksi output dengan proteksi
input. Nilai EPC menggambarkan arah kebijakan pemerintah apakah bersifat
melindungi atau menghambat produksi domestic secara efektif. Nilai EPC lebih
besar dari satu menunjukan kebijakan untuk melindungi produsen domestik
berjalan dengan efektif. Jika EPC lebih kecil dari satu maka kebijakan untuk
melindungi produsen domestik tidak berjalan dengan baik.
Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCI) = B/F
Transfer Bersih (TB) adalah selisih antara keuntungan privat dengan
keuntungan sosial. Nilai TB juga menggambarkan selisih antara transfer output
dengan transfer input. Jika nilai TB lebih besar dari nol, maka nilai tersebut
menunjukan tambahan surplus produsen yang disebabkan oleh kebijakan
pemerintah yang dilakukan pada input dan output. Jika nilai transfer bersih lebih
kecil dari nol maka yang terjadi adalah sebaliknya.
44
untuk berproduksi. Jika nilai SRP adalah positif maka yang terjadi adalah
sebaliknya. Untuk output dan input yang dapat diperdagangkan secara
internasional, harga sosial dapat dihitung berdasarkan harga perdagangan
internasional. Untuk komoditas yang diimpor dipakai harga CIF (Cost, Insurance
and Freight). Sedangkan komoditas yang diekspor digunakan harga FOB (Free
on Board), juga untuk input non tradable digunakan biaya imbangan (opportunity
cost).
45
2. Alokasi Biaya Tataniaga
46
OER
SER =
SCFt
Dimana,
Nilai faktor konversi standar yang merupakan rasio dari nilai impor dan eskpor ditambah
pajaknya dapat ditentukan sebagai berikut :
Xt + Mt
SCFt =
(Xt − Txt) + (Mt + Tmt)
Dimana,
Txt : Penerimaan pemerintah dari pajak ekspor untuk tahun ke-t (Rp)
Tmt : Penerimaan pemerintah dari pajak impor untuk tahun ke-t (Rp)
Harga bayangan nilai tukar dihitung berdasarkan metode Square dan Van
der Tak, yaitu besarnya nilai ekspor tahun 2008 (Xt) Rp 1,310,827,813,309,640.0,
nilai impor (Mt) Rp 1,235,986,701,560,890.0, pajak ekspor dan impor masing-
masing Rp 453,000,000,000.0 dan Rp 14,417,000,000,000.0 (BPS, 2009). Pada
akhirnya diperoleh nilai SER sebesar Rp. 10,232.00.
47
Harga Bayangan Input
a. Harga Bayangan Bibit
Bibit sapi perah termasuk dalam komponen input tradable, namun peternak
mendapatkan bibit melalui peternak lainnya atau pun koperasi. Diduga tidak ada
campur tangan pemerintah dan cenderung mendekati pasar persaingan sempurna.
Sehingga, diperkirakan harga bayangan bibit sapi perah sama dengan harga
finansialnya yaitu sebesar Rp 2.875.000,00.
48
d. Pakan Limbah dan Konsentrat
Seluruh pakan limbah dan sebagian pakan konsentrat menggunakan bahan
domestik. Pemasaran bahan-bahan tersebut mengarah pada kondisi pasar bersaing
sempurna. Oleh sebab itu dalam penelitian ini harga sosial kedua jenis pakan ini
sama dengan harga aktualnya. Sementara itu untuk pakan limbah, seluruh
komponennya merupakan komponen domestik, sedangkan pakan konsentrat 15
persen merupakan komponen asing.
e. Biaya Tataniaga dan Biaya Lain
Biaya tataniaga dalam tulisan ini terdiri dari biaya pengangkutan susu dan
pengangkutan pakan dengan proporsi 80 persen komponen domestik dan 20
persen komponen asing. Sedangkan, untuk pemasaran seluruhnya merupakan
komponen domestik.
Biaya obat-obatan yang dimaksudkan dalam bahasan ini adalah biaya tunai
yang dikeluarkan peternak untuk pembelian obat-obatan dan vitamin serta tip
yang diberikan kepada petugas. Biaya sosial obat-obatan dikurangi biaya tip
sebesar Rp 5.000,00. Komponen bahan baku obat-obatan dan vitamin 100 persen
diasumsikan merupakan komponen domestik.
Biaya perkawinan termasuk management fee, yang dalam tulusan ini
termasuk penanganan. Namun ada tip bagi petugas sebesar Rp 15.000,00 diluar
management fee. Atas dasar itu, harga sosial dari biaya perkawinan sama dengan
nol. Selain itu, ada juga biaya listrik, iuran air, pajak ternak pembelian sabun dan
vazlin. Berdasarkan komponen tersebut 30 persen diantaranya merupakan iuran,
selebihnya merupakan komponen asing dimana harga sosialnya sama dengan
harga aktual.
4. Analisis Sensitifitas
Analisis sensitifitas dilakukan untuk mengetahui perubahan perhitungan
biaya dan manfaat dari perubahan input atu output dari hasil analisis suatu
efektivitas perekonomian. Kelenturan usaha terhadap perubahan-perubahan yang
terjadi dalam perekonomian nasinal dan internasional dapat dilakukan analisis
untuk menguji secara sistematis apa yang terjadi pada komponen penerimaan
suatu usaha jika terjadi perubahan-perubahan pada komponen penerimaan suatu
usaha jika terjadi perubahan variabel teknis maupun variabel ekonomis. Sebagai
49
produk substitudi impor, harga bahan baku susu impor sebagai saingan SSDN
sangat dipengaruhi oleh fluktuasi rupiah terhadap dolar. Karena untuk
memproduksi susu olahan IPS dapat menggunakan bahan baku SSDN atau impor,
selain itu perubahan bea masuk susu impor juga akan sangat berpengaruh
terhadap daya saing SSDN yang jika ternyata harga susu impor lebih murah. Hal
ini lah yang menjadi variabel yang relevan digunakan dalam analisis kepekaan
pada usahaternak sapi perah.
50
V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
51
(Pelestarian Hutan Bersama Masyarakat). Data penggunaan lahan di wilayah
Kecamatan Cikajang dapat dilihat pada Tabel 7.
52
Tabel 8. Penduduk Kecamatan Cikajang Menurut Mata Pencaharian
Jumlah Persentase
No Mata Pencaharian
(Orang) (%)
6 TNI/POLRI 93 0,33
53
Tabel 9. Tingkat Pendidikan Penduduk di Kecamatan Cikajang
Jumlah Persentase
No Tingkat Pendidikan
(orang) (%)
54
Tabel 10. Populasi Ternak di Kecamatan Cikajang Tahun 2007
6 Kerbau 79 53,25
Umur petani yang menjadi responden dalam penelitian ini berkisar antara
25-60 tahun. Jumlah kepemilikan sapi bekisar dari 1-6 ekor sapi dengan status
kepemilikan milik sendiri. Pengalaman beternak didapat dari orang tua secara
turun temurun, pengalaman beternak berkisar antara 2-41 tahun. Tingkat
pendidikan peternak responden sebagian besar SD (60%), SLTP (25%) dan
sisanya SLTA (15%). Jenis kelamin dari peternak respoden 29 orang laki-laki dan
satu orang perempuan.
55
Dari 30 responden peternak sapi perah di Kecamatan Cikajang, masalah
yang dihadapi sama yaitu kesulitan mendapatkan makanan hijauan, sehingga
memerlukan biaya lebih besar dan waktu yang lebih lama untuk mendapatkannya.
Selain itu, terkait dengan usaha ternak adalah masih kurangnya pengetahuan
untuk penanganan penyakit dan pembuangan kotoran hewan yang masih sulit
dilakukan. Terkait dengan masalah pemasaran, harga yang diterima oleh peternak
masih dirasakan kurang menguntungkan, karena tidak sesuai dengan biaya yang
dikeluarkan. Oleh karena itu, para peternak sangat mengharapkan bantuan dari
pemerintah.
56
Ultra Jaya. Selain menjual susu segar ke IPS, sebagian kecil juga dijual
melalui eceran. Selain itu, ada juga yang diolah menjadi yoghurt dan susu
pasteurisasi dan dijual di tingkat eceran.
P1
TPS 1
P2
IPS
P3
TPS 2 Lima cooling unit
P4 Eceran
di beberapa
P5
TPS n Pengolahan
Pn
Keterangan: P : Peternak
Kegiatan budidaya sapi perah terdiri atas pengambilan hijauan, perawatan ternak,
pembersihan kandang dan pemerhan kegiatan pengambilan pakan dilakukan setiap hari.
Kegiatan pembersihan kandang dilakukan setiap hari dan pemerahan dilakukan dua kali
sehari. Upaya pemasaran dilakukuan peternak melalui koperasi yang akan
mendistribusikan hasil produksi ke IPS .
57
dialakukan dua kali sehari dengan interval waktu 12 jam. Susu segar yang diperoleh
langsung dimasukan kedalam milkcan, hal ini bertujuan untuk mengurangi jumlah
kandungan bakteri.
Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari dengan komposisi dua kali rumput
hijauan dan satu kali pakan konsentrat. Pemberian pitamin dilakukan satu bulan sekali
vitamin dalam satu bulan untuk sapi laktasi.
Biaya produksi yang dkeluarkan oleh peternak sapi perah di Kecamatan Cikajang
Kabupaten Garut mencakup biaya pakan, perlengkapan, obat-obatan, vitamin biaya
tenaga kerja dan penyusutan peralatan seperti yang tercantum pada Tabel 11. Untuk
memperoleh biaya produksi rata-rata yang nantinya menjadi faktor pengurang pada
penerimaan peternak sehingga pendapatan bersih peternak.
58
Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 10, alokasi biaya terbesar
adalah penggunaan pakan konsentrat dalam satu bulan. Biaya pakan konsentrat
lebih mahal disbanding yang lain karena bahan-bahanya berupa kulit gandum dan
harus diimpor, juga pengolahan pakan konsentrat oleh koperasi sehingga biaya
produksi konsentrat menjadi lebih mahal. Dalam satu hari pencarian pakan
hijauan/rumput peternak menghabiskan empat sampai dengan lima jam, untuk
menghasilkan 50 sampai dengan 60 kg rumput. Pajak yang harus dibayar sebesar
Rp 8.300 per bulan, pajak yang dikeluarkan adalah PBB untuk kandang dan pajak
tanah untuk lahan pengambilan rumput.
59
VI HASIL DAN PEMBAHASAN
Divergensi positif pada biaya input tradable sebesar 12,3 terjadi karena
harga sosial dari input-input tradable yaitu konsentrat lebih rendah dari harga
yang diterima peternak. Hal ini mengindikasikan adanya kebijakan pemerintah
60
atau distorsi pasar yang mengakibatkan harga sosial pakan dan obat-obatan lebih
tinggi daripada harga finansialnya.
Di sisi lain divergensi positif senilai 61,5 pada biaya faktor domestik
terjadi karena biaya sosial faktor domestik lebih rendah daripada biaya privatnya.
Hal ini menandakan bahwa peternak harus mengeluarkan biaya lebih atas faktor
domestik dibandingkan dengan biaya sosial faktor domestik yang bersangkutan.
Hal tersebut diduga terjadi karena adanya kebijakan pemerintah atau kegagalan
pasar pada penggunaan faktor domestik untuk konsentrat dan perdagangan obat-
obatan. Selain itu, penyebab divergensi positif pada biaya faktor domestik juga
diakibatkan oleh pembayaran upah yang sama dengan harga sosialnya. Hal ini
berdasarkan penelitian Ilham (2005) yang menyatakan bahwa tenaga kerja yang
digunakan peternak dalam membantu usahanya adalah tenaga kerja tidak tetap
dan umumnya cenderung mendekati kondisi pasar persaingan sempurna sehingga
harga bayangan tenaga kerja tersebut adalah sama dengan tingkat upah yang
berlaku di daerah kajian.
61
Tabel 13. Indikator-indikator dari Analisis Matriks Kebijakan
Indikator Nilai
Private Profitability (PP) 787,9
Private Cost Ratio (PCR) 0,72
Social Profitability (SP) 1.706,5
Domestic Resource Cost Ratio (DRC) 0,54
Input Transfer (IT) 12,3
Nominal Protection Coefficient on Tradable Input (NPCI) 1,07
Transfer Factor (FT) 61,5
Output Transfer (OT) (844,8)
Nominal Protection Coefficient on Tradable Output (NPCO) 0,78
Effective Protection Coefficient (EPC) 0,77
Net Transfer (NT) (918,5)
Profitability Coefficient (PC) 0,46
Subsidy Ratio to Product (SRP) (0,24)
62
sapi segar menguntungkan secara privat dan dapat bersaing pada tingkat harga
privat.
Hasil analisis matriks PAM menunjukkan bahwa nilai PCR yang diperoleh
adalah 0,7. Nilai tersebut menunjukkan bahwa usahaternak sapi perah yang
dilakukan oleh peternak anggota KPGS efisien secara finansial dan memiliki
keunggulan secara kompetitif. Nilai PCR sebesar 0,7 memiliki arti bahwa untuk
mendapatkan nilai tambah output sebesar satu rupiah pada harga privat diperlukan
tambahan biaya faktor domestik sebesar Rp 0,7. Jadi, untuk memperoleh nilai
tambah sebesar Rp 2.930,60/liter susu diperlukan tambahan biaya faktor domestik
sebesar Rp 2.038,91/liter susu. Hal ini berarti penggunaan faktor domestik sudah
efisien sehingga layak untuk diusahakan karena untuk meningkatkan nilai tambah
susu sebesar satu rupiah membutuhkan biaya faktor domestik kurang dari satu
rupiah.
6.1.2 Keunggulan Komparatif
Keunggulan komparatif adalah salah satu indikator untuk menilai apakah
komoditas susu sapi segar yang diusahakan oleh peternak anggota KPGS
memiliki daya saing, mampu hidup tanpa bantuan pemerintah, dan memiliki
peluang yang besar sebagai produk substitusi impor. Keunggulan komparatif
dapat diukur dengan menggunakan nilai Keuntungan Sosial atau Social
Profitability (SP) dan Rasio Biaya Sumberdaya Domestik atau Domestic Resource
Cost Ratio (DRC).
63
Keuntungan sosial adalah keuntungan yang diperoleh pada pasar
persaingan sempurna dimana tidak ada campur tangan pemerintah dan kegagalan
pasar di dalamnya. Keuntungan sosial usahaternak sapi perah oleh peternak
anggota KPGS yang ditunjukkan dengan nilai Social Profitability (SP) adalah
positif (>1) yaitu Rp 1.706,5/liter. Keuntungan sosial tersebut menunjukkan
bahwa usahaternak sapi perah untuk memproduksi komoditi susu segar
menguntungkan secara ekonomi tanpa adanya kebijakan pemerintah.
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai DRC yang diperoleh adalah 0,5
yang berarti bahwa untuk memperoleh nilai tambah sebesar Rp 3.857,78/liter
susu diperlukan tambahan biaya faktor domestik sebesar Rp 1.977,99. Hal ini
menunjukkan bahwa komoditi susu efisien dalam menggunakan sumberdaya
ekonomi. Selain itu, jika ditempat lain menghasilkan DRC satu dan di daerah
penelitian didapatkan hasil 0,5 maka terjadi efisiensi sebesar 0,5. Nilai DRC yang
lebih kecil dari satu tersebut juga menunjukkan bahwa usahaternak yang
dilakukan oleh peternak anggota KPGS efisien secara ekonomi dan memiliki
keunggulan komparatif.
64
2.930,48/liter. Selain itu, hal tersebut juga disebabkan oleh adanya nilai pajak
sebesar 10 persen untuk bahan baku konsentrat dan obat-obatan pada tingkat
harga finansial sehingga menyebabkan biaya finansial input tradable untuk
konsentrat dan obat-obatan lebih tinggi dari biaya sosialnya. Biaya aktual tenaga
kerja yang dibayarkan lebih tinggi dari biaya sosialnya juga menyebabkan
keuntungan sosial lebih tinggi daripada keuntungan privat.
Nilai DRC yang lebih kecil dari PCR (DRC<PCR) menunjukkan bahwa
tidak terdapat kebijakan pemerintah yang meningkatkan efisiensi produsen dalam
berproduksi. Hal ini terjadi karena sejak tahun 2000 pemerintah telah menghapus
subsidi atas pakan ternak dan obat-obatan. Selain itu, kebijakan pemerintah yang
diduga sangat signifikan dalam mengurangi efisiensi peternak adalah adanya
penghapusan tarif impor susu dari 5 persen menjadi 0 persen yang mulai berlaku
sejak Bulan Februari tahun 2009. Adanya kebijakan-kebijakan tersebut,
pengusahaan sapi perah menjadi tidak efisien jika dibandingkan apabila
pemerintah tidak menghapus subsidi terhadap pakan ternak maupun obat-obatan
dan menghapus tarif impor susu.
65
sistem tersebut. Dampak kebijakan juga dapat menurunkan atau meningkatkan
produksi maupun produktivitas dari suatu aktivitas ekonomi. Dampak kebijakan
pemerintah tersebut dapat dihitung dengan menggunakan Matriks Analisis
Kebijakan yang akan menghasilkan beberapa indikator dampak kebijakan.
Tujuan dari kebijakan pemerintah dalam perdagangan biasanya adalah
untuk melindungi produsen dalam negeri. Jika harga produksi impor komoditi
serupa lebih rendah dari produksi dalam negeri, maka akan melemahkan daya
saing dari produksi domestik karena konsumen akan cenderung untuk membeli
produk dengan harga yang lebih murah. Akibatnya, permintaan terhadap produk
domestik akan menurun dan berimplikasi terhadap penurunan produksi dalam
negeri dan pendapatan produsen lokal. Hal tersebut akan mengurangi devisa
negara dan nilai tukar uang terhadap mata uang asing akan melemah.
Permasalahan mengenai susu impor berbeda dari permasalahan
perdagangan internasional komoditi lainnya. Dengan harga susu impor yang jauh
lebih tinggi daripada susu lokal, IPS cenderung lebih banyak menggunakan susu
impor dan menurunkan harga susu di tingkat peternak. Kebijakan pemerintah
yang seharusnya lebih memihak kepada produsen susu sapi lokal dihapus satu per
satu termasuk didalamnya adalah kebijakan penghapusan subsidi atas pakan dan
obat-obatan serta yang terakhir penghapusan tarif impor susu menjadi nol persen
yang diduga semakin melemahkan daya saing komoditi susu sapi lokal.
1. Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Input
Bentuk distorsi atau campur tangan pemerintah pada input dapat berupa
penetapan pajak atau subsidi. Dalam kasus usaha peternakan sapi perah, tidak ada
kebijakan pemerintah dalam hal input yang dapat memacu peningkatan produksi
peternak. Adapun dampak kebijakan pemerintah terhadap input ditunjukkan oleh
nilai Transfer Input (IT), Transfer Faktor (FT), dan Koefisien Proteksi Input
Nominal (NPCI).
66
transfer input yang bernilai negatif menunjukkan adanya kebijakan subsidi pada
input karena subsidi pada harga input akan mengakibatkan biaya yang dikeluarkan
untuk input pada tingkat harga privat lebih rendah daripada tingkat harga sosial.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kebijakan subsidi pada input tradable akan
menguntungkan produsen lokal.
Selain itu, adanya praktik monopoli terhadap bahan baku pakan yaitu polar
yang hanya didistribusikan oleh PT. Indofood Sukses makmur Bogasari diduga
juga merupakan salah satu penyebab adanya transfer pendapatan dari peternak
kepada produsen input asing. Hal ini karena praktik monopoli menyebabkan
kegagalan pada pasar input yang menyebabkan mekanisme pasar dalam
pembentukan harga tidak bekerja.
Nilai NPCI yang lebih besar dari satu (NPCI>1) mengindikasikan adanya
kebijakan proteksi terhadap produsen input tradable selain terdapat pajak pada
input tersebut, sedangkan sektor yang menggunakan input tersebut dirugikan
dengan tingginya biaya produksi. Sebaliknya, jika nilai NPCI lebih kecil dari satu
(NPCI<1) maka mengindikasikan adanya subsidi atas input tersebut.
67
Nilai NPCI yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 1,1. Nilai ini
menunjukkan adanya kebijakan proteksi terhadap produsen input, sedangkan
produsen susu dirugikan karena biaya produksi meningkat dengan penggunaan
input tersebut. Dampak kebijakan input asing terhadap komoditi susu
mengakibatkan biaya produksi menjadi lebih tinggi, karena peternak harus
membeli input asing (pakan ternak dan obat-obatan) dengan harga yang lebih
mahal 1,1 persen dari harga yang seharusnya. Sebaliknya, pihak importir pakan
ternak dan obat-obatan diuntungkan sebesar 1,1 persen.
68
a. Transfer Output (OT)
Divergensi pada harga output menyebabkan pendapatan privat berbeda
dengan pendapatan sosial, serta terjadinya transfer output (TO). Nilai OT yang
positif menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah pada output menyebabkan
harga output privat lebih besar dibandingkan harga output pada kondisi harga
bayangan. Hal ini menunjukkan adanya insentif konsumen kepada produsen
dimana konsumen membayar lebih tinggi dari harga yang seharusnya dibayarkan.
Sedangkan nilai OT yang negatif menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dan
distorsi pasar yang berlaku saat ini menyebabkan harga output pada kondisi aktual
menjadi lebih rendah dibandingkan harga bayangannya.
69
Berdasarkan hasil analisis, nilai NPCO pada penelitian ini adalah sebesar
0,78 (NPCO<1) yang menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah menetapkan tarif
impor nol persen menyebabkan harga yang diterima produsen lebih rendah dari
harga bayangannya. Produsen hanya menerima harga 78 persen dari harga yang
seharusnya diterima bila tidak ada distorsi pada pasar output. Dalam hal ini
peternak dan IPS sama-sama menerima harga yang lebih rendah dari harga yang
seharusnya sehingga terjadi transfer pendapatan dari peternak kepada IPS.
Kondisi ini mengakibatkan peternak lokal tidak mendapatkan insentif untuk
meningkatkan produksinya.
Adapun nilai EPC yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah 0,77
(EPC<1) yang menunjukkan bahwa kebijakan input-output tidak dapat
melindungi peternak lokal dan telah menghambat peternak untuk berproduksi.
Peternak lokal dalam hal ini tidak memperoleh fasilitas proteksi dari pemerintah
70
karena harga privat output lebih kecil dari harga bayangannya dan peternak
membeli input tradable lebih mahal dari harga bayangannya.
Nilai PC yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah 0,46 atau lebih kecil
dari satu yang berarti kerugian peternak bila ada pengaruh intervensi atau
kebijakan dari pemerintah adalah sebesar 46 persen dari kerugian yang diterima
tanpa adanya kebijakan. Angka tersebut menunjukkan keuntungan privat yang
yang diterima peternak lebih kecil daripada keuntungan bersih sosialnya.
71
mengeluarkan biaya produksi terhadap input lebih besar dari biaya imbangan
untuk berproduksi. Niali SRP yang positif (SRP>0) menunjukkan bahwa adanya
kebijakan pemerintah menyebabkan produsen mengeluarkan biaya produksi
terhadap input lebih rendah dari biaya imbangan untuk berproduksi.
Nilai SRP yang diperoleh dalam penelitian ini adalah negatif 0,24. Ini
berarti bahwa kebijakan pemerintah yang berlaku selama ini menyebabkan
produsen susu mengeluarkan biaya produksi lebih besar 24 persen dari biaya
opportunity cost untuk berproduksi. Jadi secara keseluruhan kebijakan pemerintah
merugikan peternak anggota KPGS sebagai produsen susu.
Penelitian ini lebih menekankan pada efek penghapusan tarif impor susu.
Oleh karena itu, penelitian ini hanya menggunakan dua skenario analisis
sensitivitas yaitu :
1. Daya saing komoditi susu jika tarif impor naik lima persen
Analisis ini bertujuan untuk melihat dampak perubahan daya saing komoditi
susu sapi segar yang dihasilkan peternak pasca penghapusan tarif impor susu
oleh pemerintah. Analisis ini dilakukan karena diduga adanya penghapusan
tarif impor susu menyebabkan daya saing komoditi susu sapi lokal menurun.
2. Daya saing komoditi susu jika tarif impor ditetapkan sebesar 15 persen
Hal ini terkait dengan pernyataan Ketua GKSI bahwa tarif impor sebesar 15
persen cukup adil bagi peternak dan produsen serta dapat meningkatkan daya
72
saing dan posisi tawar peternak sapi perah lokal. Adanya pemberlakuan tarif
impor senilai 15 persen diharapkan dapat melindungi peternak lokal dan
memberikan insentif bagi peternak lokal untuk mengembangkan usahanya.
Menurut hasil analisis yang ditampilkan pada Tabel 14, dapat disimpulkan
bahwa semakin tinggi nilai tarif impor maka semakin tinggi pula daya saing
komoditi susu sapi segar yang dihasilkan oleh peternak anggota KPGS.
Peningkatan daya saing tersebut ditandai dengan semakin tingginya nilai
keuntungan privat dan sosial dan semakin kecilnya nilai PCR dan DRC.
73
6.2.1 Analisis Sensitivitas untuk Melihat Perubahan Daya Saing Susu
Akibat Penghapusan Tarif Impor Susu dari Lima Persen Menjadi Nol
Persen
Menurut data yang diperoleh dari pihak KPGS, penghapusan tarif impor
susu dari lima persen menjadi nol persen mengakibatkan penurunan harga kurang
lebih Rp 200/liter susu. Analisis ini menggunakan proporsi lima persen untuk
proporsi perubahan harga dan menghasilkan asumsi bahwa penghapusan tarif
impor susu sebesar lima persen menyebabkan harga susu impor turun sebesar Rp
172,43/liter, dari senilai 3.965,43/liter menjadi Rp Rp 3.785/liter. Penghapusan
tarif impor tersebut diasumsikan juga menurunkan harga susu lokal dengan
proporsi yang sama yaitu lima persen sehingga harga susu lokal turun sebesar
Rp145,87/liter, dari Rp 3.063,35/liter menjadi Rp 2.930,48/liter. Adanya
perubahan pada harga output tersebut akan merubah keuntungan yang diterima
baik secara finansial maupun ekonomi.
Jadi, adanya penghapusan tarif impor susu dari lima persen menjadi nol
persen menurunkan keuntungan privat dan sosial. Hal ini menyebabkan adanya
penurunan daya saing komoditi susu sapi lokal baik dari aspek keunggulan
kompetitif maupun keunggulan komparatif. Padahal dengan tarif impor sebesar
lima persen saja, nilai DRC lebih kecil dari nilai PCR yang mengindikasikan
adanya pengaruh intervensi pemerintah atau distorsi pasar yang tidak memberikan
insentif yang baik kepada peternak sapi perah sehingga keuntungan privat yang
dihasilkan menjadi lebih rendah dibandingkan keuntungan yang diperoleh tanpa
adanya intervensi pemerintah terhadap input produksi dan distorsi pada pasar
74
output saat itu. Distorsi pada pasar output diindikasikan oleh adanya fenomena
IPS yang cenderung memilih untuk lebih menggunakan susu impor walaupun
harga susu impor lebih mahal. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada saat kondisi
tarif impor lima persen, pemerintah bahkan belum memberikan kebijakan yang
efektif yang dapat dilihat dari nilai EPC yang lebih kecil dari satu, nilai NT yang
negatif, serta nilai PC dan SRP yang lebih kecil dari satu. Akibatnya,
penghapusan tarif impor susu semakin membuat daya saing susu sapi lokal
menurun.
Menurut ketua GKSI, tarif impor yang sesuai untuk melindungi produk
susu sapi lokal adalah 15 persen. Tarif impor sebesar 15 persen diperkirakan
cukup adil bagi peternak dan produsen serta dapat meningkatkan daya saing dan
posisi tawar peternak sapi perah lokal. Adanya pemberlakuan tarif impor senilai
15 persen diharapkan dapat melindungi peternak lokal dan memberikan insentif
bagi peternak lokal untuk mengembangkan usahanya.
Dengan tarif impor susu 15 persen, maka harga susu rata-rata di tingkat
peternak diperkirakan senilai Rp 3369,50/liter dimana harga susu rata-rata di
tingkat peternak dengan tarif impor nol persen adalah Rp 2930,48/liter. Hal ini
menunjukkan adanya peningkatan keuntungan privat di tingkat peternak sebesar
Rp 439,02/liter susu, dari Rp Rp 915,2/liter menjadi Rp 1152,7/liter. Peningkatan
keuntungan privat tersebut diikuti dengan penurunan nilai PCR dari 0,69 pada saat
tarif impor nol persen menjadi 0,64 pada saat tarif impor 15 persen. Peningkatan
nilai keuntungan privat dan penurunan nilai PCR tersebut mengindikasikan bahwa
keunggulan kompetitif komoditi susu sapi yang dihasilkan peternak meningkat
jika tarif impor ditetapkan sebesar 15 persen.
75
Akan tetapi, penetapan tarif impor sebesar 15 persen belum menunjukkan
adanya kebijakan pemerintah yang efektif untuk melindungi dan mendorong
pengembangan peternakan sapi perah. Hal ini ditunjukkan dengan nilai DRC
yang masih lebih kecil dari PCR, nilai EPC yang lebih kecil dari satu, nilai NT
yang negatif, serta nilai PC dan SRP yang juga masih lebih kecil dari satu.
Hasil analisis keuntungan privat dan daya saing komoditas susu segar sapi
perah diketahui bahwa keuntungan privat usahaternak sapi perah pada saat bea
masuk nol persen adalah 787,9 rupiah per liter, saat bea masuk lima persen adalah
913,2 rupiah per liter dan ketika bea masuk 15 persen adalah 1152,7 rupiah per
liter. Kondisi awal terjadi saat bea masuk mencapai lima persen kemudian
pemerintah menghapuskan bea masuk menjadi nol persen, hal ini mengakibatkan
penurunan pendapatan petrnak akibat penurunan bea masuk. Walaupun
pendapatan usahaternak mengalami penurunan, namun komoditas susu segar
masih memiliki keunggulan kompetitif maupun komparatif. Hal ini dapat
dicermati dari nilai PCR dan DCR yang bernilai kurang dari satu. Hal tersebut
menunjukan bahwa penurunan bea masuk telah mengakibatkan daya saing
komoditas susu segar sapi perah di tempat penelitian menjadi berkurang.
Daya saing yang makin menurun akibat dari penurunan bea masuk
mendorong dan memfasilitasi koperasi untuk melakukan pengolahan sederhana
susu segar (pasteurisasi dan pengemasan susu segar, pengolahan menjadi yoghurt,
keju dsb). Hal ini disertai dengan program promosi secara luas kepada masyarakat
tentang manfaat minum susu segar. Langkah ini diperlukan untuk mengantisipasi
turunnya bea masuk yang dapat mengakibatkan IPS kembali mengimpor sebagian
dari bahan baku susunya dari luar negeri sehingga serapan SSDN menurun drastis.
76
VII KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
2. Pengusahaan sapi perah untuk menghasilkan susu sapi segar oleh anggota
KPGS memiliki daya saing baik secara finansial maupun ekonomi
walaupun dalam kondisi tarif impor susu sebesar nol persen. Hal ini
ditandai dengan nilai keuntungan privat yang lebih besar dari nol yaitu Rp
787,9/liter dan keuntungan sosial sebesar Rp 1.706,5/liter. Nllai PCR dan
DRC yang lebih kecil dari satu yaitu 0,54 untuk PCR dan 0,72 untuk DRC
juga menunjukkan bahwa pengusahaan sapi perah di daerah tersebut
memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Perbedaan yang relatif
tinggi antara keuntungan sosial dan keuntungan privat terutama
disebabkan oleh harga bayangan komoditi susu yang didekati dengan susu
impor relatif jauh lebih tinggi dari harga finansialnya. Hal ini terjadi
karena tidak adanya kebijakan pemerintah yang bersifat mendorong daya
saing susu sapi lokal baik dari sisi kebijakan input maupun kebijakan
output karena kebijakan yang ada saat ini tidak memberikan insentif bagi
peternak.
77
meningkatkan daya saing pengusahaan sapi perah walaupun kebijakan
pemerintah dalam kondisi ini belum efektif dalam melindungi produsen
lokal.
7.2 Saran
1. Bagi peternak, sebaiknya pengusahaan terhadap komoditi susu sapi segar
tetap terus dijalankan dan ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitas
produksi agar dapat bersaing dengan susu impor. Hal ini karena usaha ini
masih menguntungkan secara finansial dan ekonomi serta memiliki daya
saing dengan atau tanpa adanya kebijakan pemerintah. Namun demikian
insentif peternak untuk meningkatkan produksi akan meningkat jika
terdapat kebijakan pemerintah baik dalam hal input maupun output seperti
adanya tarif impor untuk melindungi peternak. Peternak juga diharapkan
mampu merespon dan mengaplikasikan pengenalan teknologi dan
manajemen pemeliharaan sapi perah yang baik agar dapat menghasilkan
komoditi susu yang berkualitas.
2. Bagi pemerintah agar mengkaji ulang mengenai nilai tarif impor susu
untuk melindungi peternak lokal di tengah arus perdagangan bebas dimana
IPS sebagai konsumen utama peternak bebas mengimpor susu dari luar
karena berdasarkan hasil analisis sensitivitas dengan meningkatnya bea
masuk susu segar maka meningkat pula daya saing yang dimiliki peternak.
Nilai tarif impor sebesar 15 persen cukup meningkatkan keuntungan dan
daya saing peternak sehingga layak untuk diterapkan dalam rangka
pengembangan produksi susu di Indonesia. Penerapan tarif impor susu
akan menghasilkan tambahan penerimaan pemerintah sebesar jumlah
impor dikalikan dengan selisih harga setelah tarif dengan harga sebelum
tarif. Penerimaan pemerintah ini sebaiknya kemudian digunakan untuk
membiayai bidang riset dan pengkajian mengenai peternakan sapi perah
serta pendidikan dan bantuan kepada peternak untuk mempersiapkan
peternak lokal yang unggul dalam menghadapi perdagangan bebas. Selain
itu, pengawasan terhadap pemasok tunggal bahan baku ternak juga agar
semakin ditingkatkan untuk menghindari terjadinya distorsi pada pasar
input.
78
DAFTAR PUSTAKA
Erwidodo. 1998. Dampak Krisis Moneter dan Reformasi Ekonomi Terhadap Industri
Persusuan di Indonesia. [Prosiding]. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi
Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.
79
Ilham, N., B. Wiryono, I.K. Kariyasa, M.N Kirom, dan Sri Hastuti. 2001. Analisis
Penawaran dan Permintaan Komoditas Peternakan Unggulan. Laporan Hasil
Penelitian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.
Bogor.
Kridiarto, P. 2003. Analisis Daya Saing dan Efisiensi Tataniaga Pisang Ambon
Lumut. [Skripsi] Bogor. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Kuraisin, V. 2006. Analisis Daya Saing dan dan Dampak Perubahan Kebijakan
Pemerintah Terhadap Komoditi Susu Sapi. [Skripsi] Bogor. Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Lipsey. Purvis. Steiner. Courant. 1991. Pengantar Mikro Ekonomi. Jilid Satu. Edisi
Kesembilan. Binarupa Aksara. Jakarta.
Monke E.A. and S.R. Pearson. 1989. The Policy Analysis Matrix for Agricultural
Development. Cornell University Press. Ithaca and London.
Monke E.A. and S.R. Pearson. 1995. The Policy Analysis Matrix for Agricultural
Development (2nd Edition). Cornell University Press. Ithaca and London.
Nurhayati. 2000. Analisis Fungsi Biaya dan Efisiensi Usahaternak Sapi Perah di
Wilayah Kerja KUD Mukti Kabupaten Bandung. [Skripsi]. Bogor. Jurusan
Sosial Ekonomi Industri Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian
Bogor.
Pearson, Scott and Gotsch carl. Penerjemah Sjaiful Bahri. 2004. Application of The
Policy Analysis Matrix in Indonesian Agriculture. Yayasan Obor Indonesia :
Jakarta.
Prihartanti, Y. 2005. Analisis Keungglan Komparatif dan Keunggulan Koparatif
Dalam Pembangunan Wilayah Pada Masa Otonomi Daerah di Kabupaten
80
Kudus. [Skripsi]. Bogor. Fakultas ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian
Bogor.
Rahardja. 2000. Teori Ekonomi Mikro Suatu Pengantar. Edisi Kedua. Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.
Rahim, Abdul. 2000. Ekonomi Pertanian Pengantar Teori dan Kasus. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Salvatore, D. 1997. Ekonomi Internasional. Erlangga. Jakarta.
Simatupang P. dan HADI, P.U.. 2004. DAYA Saing Usaha Peternakan Menuju 2020
Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor
Sinaga, M. R. 2003. Pendugaan Fungsi Biaya Usahaternak Sapi Perah di Kawasan
Usaha Peternakan (KUNAK) Sapi Perah Kecamatan Cibungbulang
Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor. Jurusan Sosial Ekonomi Industri
Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Soekartawi. 1985. Analisis Usahatani. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Sudono, A. 1999. Ilmu Produksi Ternak Perah. Diktat Kuliah Peternakan. Bogor.
Institut Pertanian Bogor.
Talib.C. 2007. Model Pengembangan Kawasan Agribinis Sapi Potong. Paper
dipresentasikan dalam workshop ”Pembangunan Agribisnis Sapi Potong
dalam menunjang PKD (Program Kecukupan Daging) 2010”. Bogor, Januari
2007. Pusat Penelitian Pengembangan Peternakan, Bogor.
81
LAMPIRAN
82
Lampiran 1. Pendapatan Rata-Rata Peternak Sapi Perah Per Ekor/Bulan
83
Lampiran 2. Perhitungan SCF dan SER berdasarkan Data Semester I (Jan-Jul 09)
Rp/kg
Bulan Nilai (US$) Kuantitas (kg) Nilai (US$/kg)
(SER=10232,00331)
Januari 13.660.115,00 4.616.470,00 2,96 30.276,45
Februari 3.353.796,00 1.110.788,00 3,02 30.893,43
Maret 9.555.970,00 4.526.551,00 2,11 21.600,71
Harga rata-rata 27.590,20
84
Lampiran 3. Biaya Produksi Susu Peternak Sapi Perah Anggota KPGS
85
Lampiran 3. Daftar Harga beberapa Input dan Kuantitas Penggunaan
Kuantitas
Keterangan Biaya (Harga)
Penggunaan/Bulan
1 Sewa Lahan Rp 344,74/m2/bulan 3.106,52 m2
2 Pakan Ternak
Konsentrat Rp 1400/kg 351,11 kg
Lampiran 4. Alokasi Biaya Input dan Output dalam Komponen Domestik dan
Asing
No Uraian Domestik (%) Asing (%) Pajak (%)
A Penerimaan
1 Susu Segar 100 0 0
2 Kotoran Basah 100 0 0
B Biaya Produksi
1 Sewa Lahan 100
2 Pakan Ternak 75 15 10
3 Obat-obatan 78,45 15,625 5,93
4 Biaya Air 100 0 0
5 Tenaga Kerja 100 0 0
6 Penyusutan Peralatan 100 0 0
7 Penyusutan Kandang 100 0 0
8 Bunga Modal 100 0 0
C Biaya Tataniaga
1 Pengangkutan Susu 85 10 5
2 Pengangkutan Pakan 85 10 5
Sumber: Tabel Input-Output, BPS. Diolah
86
Lampiran 5. Tabel Perhitungan Standart Convertion Factor (SCF) dan Shadow
Price Exchange Rate (SER) 2008
Total Ekspor (Xt) [Link].221.380,00
Total Impor (Mt) [Link].572.520,00
Penerimaan Pajak Ekspor (Txt) [Link],00
Penerimaan Pajak impor (Tmt) [Link].000,00
Nilai Tukar Rupiah/ USD (OER) 10.179,55
a 0,00
Xt+Mt [Link].793.900,00
Xt-Txt [Link].221.380,00
Mt+Tmt [Link].572.520,00
SCFt 0,99
SER 10.232,00
Sumber: BPS 2008 (diolah)
OER
SER =
SCF t
Xt + Mt
SCF t =
(Xt − Txt) + (Mt + Tmt)
Keterangan:
SER : Nilai Tukar Bayangan ([Link]$)
OER : Nilai Tukar Resmi (Rp/US$)
SCFt : Faktor konversi stadar untuk tahun ke-t
Xt : Nilai ekspor Indonesia untuk tahun ke-t (Rp)
Mt : Nilai impor Indonesia untuk tahun ke-t (Rp)
Txt : Penerimaan pemerintah dari pajak ekspor untuk tahun ke-t (Rp)
Tmt : Penerimaan pemerintah dari pajak impor untuk tahun ke-t (Rp)
87
Lampiran 6. Penerimaan dan Biaya Pengusahaan Komoditi Susu Segar dalam
Komponen Domestik dan Asing dengan Kondisi Tarif Impor Nol
Persen
88
Lampiran 7. Penerimaan dan Biaya Pengusahaan Komoditi Susu Segar dalam
Komponen Domestik dan Asing dengan Kondisi Tarif Impor Lima
Persen
B Biaya Produksi
1 Sewa Lahan 4,20 0,00 4,20 4,20 0,00 4,20
2 Pakan Ternak
Konsentrat 358,96 71,79 430,75 297,49 59,50 356,99
Hijauan * 451,14 90,23 541,37 451,14 90,23 541,37
Jerami 13,04 2,61 15,65 13,04 2,61 15,65
Ampas Tahu 96,26 19,25 115,51 96,26 19,25 115,51
3 Obat-obatan
Mineral 10,28 2,05 12,33 10,28 2,05 12,33
Monil 1,12 0,22 1,35 1,12 0,22 1,35
4 Tenaga Kerja
Pemeliharaan dan Pemerahan 834,78 0,00 834,78 834,78 0,00 834,78
Pencarian Pakan Hijauan* 207,07 0,00 207,07 207,07 0,00 207,07
Biaya air 4,13 0,00 4,13 4,13 0,00 4,13
5 Penyusutan Peralatan 39,73 0,00 39,73 39,73 0,00 39,73
Penyusutan Kandang 3,76 0,00 3,76 3,76 0,00 3,76
6 Pajak 14,43 0,00 14,43 14,43 0,00 14,43
7 Biaya Tataniaga 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
8 Biaya Transport Susu 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
9 Biaya Transport pakan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Bunga Modal 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
10 Total Biaya 2.038,91 186,15 2.211,35 1.977,44 173,86 2.151,30
89
Lampiran 8. Penerimaan dan Biaya Pengusahaan Komoditi Susu dalam Komponen
Domestik dan Asing dengan Kondisi Tarif Impor 15 Persen
B Biaya Produksi
1 Sewa Lahan 4,20 0,00 4,20 4,20 0,00 4,20
2 Pakan Ternak
Konsentrat 358,96 71,79 430,75 297,49 59,50 356,99
Hijauan * 451,14 90,23 541,37 451,14 90,23 541,37
Jerami 13,04 2,61 15,65 13,04 2,61 15,65
Ampas Tahu 96,26 19,25 115,51 96,26 19,25 115,51
3 Obat-obatan
Mineral 10,28 2,05 12,33 10,28 2,05 12,33
Monil 1,12 0,22 1,35 1,12 0,22 1,35
4 Tenaga Kerja
Pemeliharaan dan
Pemerahan 834,78 0,00 834,78 209,12 0,00 667,83
Pencarian Pakan Hijauan* 207,07 0,00 207,07 115,15 0,00 165,65
Biaya air 4,13 0,00 4,13 4,69 0,00 4,69
5 Penyusutan Peralatan 39,73 0,00 39,73 42,02 0,00 42,02
Penyusutan Kandang 3,76 0,00 3,76 58,37 0,00 58,37
6 Pajak 14,43 0,00 14,43 14,43 0,00 14,43
7 Biaya Tataniaga
8 Biaya Transport Susu 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
9 Biaya Transport pakan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Bunga Modal 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
10 Total Biaya 2.038,91 186,15 2.225,06 1.317,32 173,86 2.000,39
90
Lampiran 9. Tabel PAM untuk Kondisi Tarif Impor Nol Persen
Lampiran 10. Tabel PAM untuk Kondisi Tarif Impor Lima Persen
91