0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan4 halaman

Keynote Speech Menteri Pertanian 2005

Ringkasan dari dokumen tersebut adalah: 1. Menteri Pertanian memberikan sambutan pada seminar nasional tentang tantangan kebijakan pembangunan pertanian. 2. Arah kebijakan pembangunan pertanian di Indonesia adalah meningkatkan produktivitas pertanian, memastikan ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan petani. 3. Beberapa tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan sumber daya, akses petani ter

Diunggah oleh

AFRO FARM
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan4 halaman

Keynote Speech Menteri Pertanian 2005

Ringkasan dari dokumen tersebut adalah: 1. Menteri Pertanian memberikan sambutan pada seminar nasional tentang tantangan kebijakan pembangunan pertanian. 2. Arah kebijakan pembangunan pertanian di Indonesia adalah meningkatkan produktivitas pertanian, memastikan ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan petani. 3. Beberapa tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan sumber daya, akses petani ter

Diunggah oleh

AFRO FARM
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Keynote Speech Menteri Pertanian

Pada Seminar & Lokakarya Nasional


“Neoliberalisme Sebagai Tantangan Kebijakan Pembangunan Pertanian Dalam Rangka
Mewujudkan Kesejahteraan Petani“

Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Malang


Tanggal 12 Maret 2005
ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN NASIONAL PADA KABINET INDONESIA
BERSATU

Yang terhormat,
Sdr. Rektor Universitas Brawijaya,
Sdr. Ketua HKTI,
Saudara-Saudara peserta Seminar & Lokakarya Nasional

Assalamu’ alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahuwataala atas segala
limpahan rahmat dan karunia Nya, sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul disini untuk mengadakan
Seminar & Lokakarya Nasional dengan topik “Neoliberalisme Sebagai Tantangan Kebijakan
Pembangunan Pertanian dalam Rangka Mewujudkan Kesejahteraan Petani”. Saya menilai seminar
ini sangat penting karena topik yang dibahas mengenai kesejahteraan petani yang merupakan tujuan utama
pembangunan pertanian. Topik yang sangat penting ini memang memerlukan sumbangan pemikiran dari
berbagai kalangan yang luas. Saya sangat menghargai panitia penyelenggara atas terselenggaranya
Seminar & Lokakarya Nasional yang sangat penting ini. Diharapkan diskusi ini dapat menghasilkan
rumusan konkrit dan bermanfaat sebagai masukan bagi pemerintah terutama Departemen Pertanian dalam
melaksanakan tugas-tugas pembangunan pertanian.

Saudara-saudara sekalian,

Pembangunan pertanian yang kita lakukan sampai saat ini telah menunjukkan hasil-hasil yang
nyata dilihat antara lain dari pertumbuhan PDB, perkembangan produksi, peningkatan ekspor
dan pemantapan ketahanan pangan. Namun demikian, pembangunan pertanian masih
dihadapkan kepada sejumlah kendala dan masalah yang harus segera dipecahkan, antara lain:
(1) Keterbatasan dan penurunan kapasitas sumberdaya pertanian, (2) Sistem alih teknologi yang
masih lemah dan kurang tepat sasaran, (3) Keterbatasan akses terhadap layanan usaha,
terutama permodalan, (4) Rantai tata niaga yang panjang dan sistem pemasaran yang belum
adil, (5) Kualitas, mentalitas, dan keterampilan sumberdaya petani rendah, (6) Kelembagaan dan
posisi tawar petani rendah, (7) Lemahnya koordinasi antar lembaga terkait dan birokrasi, dan (8)
Kebijakan makro ekonomi yang belum berpihak kepada petani.

Disamping permasalahan di atas, pembangunan pertanian juga dihadapkan paling tidak pada
delapan tantangan yang paling mendesak untuk segera ditangani, yaitu: (1) Optimalisasi
pemanfaatan sumberdaya pertanian, (2) Peningkatan ketahanan pangan dan penyediaan bahan
baku industri, (3) Penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan, (4) Operasionalisasi
pembangunan berkelanjutan, (5) Globalisasi perdagangan dan investasi, (6) Terbangunnya
industri hasil pertanian sampai tingkat desa, (7) Sinkronisasi program pusat dan daerah sejalan
era otonomi daerah, dan (8) Penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (good governance).

Memperhatikan permasalahan dan tantangan tersebut, maka visi pembangunan pertanian


sampai tahun 2025 adalah: “Terwujudnya sistem pertanian industrial berkelanjutan yang
berdayasaing dan mampu menjamin ketahanan pangan dan kesejahteraan petani”. Secara lebih
spesifik sasaran jangka panjang yang perlu ditempuh adalah: (1) terwujudnya sistem pertanian
industrial yang berdayasaing; (2) mantapnya ketahanan pangan secara mandiri; (3) terciptanya
kesempatan kerja penuh bagi masyarakat pertanian; dan (4) hapusnya masyarakat petani miskin
dan meningkatnya pendapatan petani.

Saudara-saudara yang saya hormati,

Untuk mencapai sasaran-sasaran besar di atas, maka arah kebijakan yang perlu dilakukan
adalah: (1) meningkatkan potensi basis produksi dan skala usaha pertanian; (2) mewujudkan
sumberdaya insani pertanian yang berkualitas; (3) mewujudkan pemenuhan kebutuhan
infrastruktur pertanian; (4) mewujudkan sistem inovasi pertanian; (5) mewujudkan sistem
pembiayaan pertanian tepat guna; (6) mewujudkan kelembagaan pertanian yang kokoh; (7)
menyediakan sistem insentif dan perlindungan bagi petani; (8) mewujudkan pewilayahan
pengembangan komoditas unggulan; (9) menerapkan praktek pertanian yang baik; dan (10)
mewujudkan pemerintahan yang baik, bersih dan berpihak kepada petani dan pertanian.

Saudara-saudara sekalian,

Dalam periode 2005-2009, pembangunan pertanian diarahkan untuk mencapai visi: “terwujudnya
pertanian tangguh untuk pemantapan ketahanan pangan, peningkatan nilai tambah dan
dayasaing produk pertanian serta peningkatan kesejahteraan petani”.

Pembangunan pertanian pada hakekatnya adalah pendayagunaan secara optimal sumberdaya


pertanian dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan, yaitu: (1) membangun SDM aparatur
profesional, petani mandiri dan kelembagaan pertanian yang kokoh; (2) meningkatkan
pemanfaatan sumberdaya pertanian secara berkelanjutan; (3) memantapkan ketahanan dan
keamanan pangan; (4) meningkatkan dayasaing dan nilai tambah produk pertanian; (5)
menumbuhkembangkan usaha pertanian yang akan memacu aktivitas ekonomi perdesaan; dan
(6) membangun sistem manajemen pembangunan pertanian yang berpihak kepada petani.

Dalam kurun waktu yang sangat panjang pembangunan pertanian selalu diidentikkan dengan
kegiatan produksi usahatani semata (proses budidaya atau agronomi). Kondisi ini menyebabkan
pada masa lalu kegiatan pertanian lebih berorientasi kepada peningkatan produksi dan citra
yang kurang menguntungkan bagi pembangunan sektor pertanian. Hal ini memberikan
pandangan seakan-akan pembangunan pertanian terlepas dengan pembangunan sektor-sektor
lainnya dan juga bukan merupakan bagian dari pembangunan wilayah.

Dengan orientasi kepada produksi, memang kita telah relatif mampu menyediakan pangan dan
bahan baku industri domestik. Namun keberhasilan peningkatan produksi pertanian tersebut
ternyata belum diikuti oleh peningkatan kesejahteraan petaninya. Hal ini antara lain karena
kebijakan di bidang produksi tidak diikuti oleh kebijakan pendukung lain secara sinergis. Kondisi
pembangunan pertanian seperti itu antara lain berkaitan dengan pembinaan pembangunan
pertanian yang masih tersekat-sekat oleh banyak Departemen, sehingga kebijakan
pengembangan pertanian seringkali tidak sinkron antar lembaga terkait akibat perbedaan
kepentingan dari masing-masing sektor (Departemen).

Belajar dari kelemahan tersebut, sejak Pelita VI pembangunan pertanian dilakukan melalui
pendekatan pembangunan agribisnis. Pembangunan agribisnis, yang pada hakekatnya
menekankan kepada tiga hal, yaitu Pertama, melalui pembangunan agribisnis, pembangunan
pertanian ditingkatkan dari pendekatan produksi ke pendekatan yang berdasarkan bisnis.
Dengan orientasi kepada bisnis maka aspek usaha dan pendapatan menjadi dasar
pertimbangan utama. Kedua, dalam pembangunan agribisnis pembangunan pertanian bukan
semata pembangunan sektoral namun juga terkait dengan lintas/inter-sektoral. Pembangunan
pertanian sangat terkait/ditentukan oleh agroindustri hilir, agroindustri hulu dan lembaga jasa
penunjang. Dan ketiga, Pembangunan pertanian bukan sebagai pembangunan
pengembangan komoditas secara parsial, melainkan sangat terkait dengan pembangunan
wilayah, khususnya perdesaan yang berkaitan erat dengan upaya-upaya peningkatan
pendapatan masyarakat pertanian.

Saudara sekalian yang saya hormati,

Pada dasarnya pelaku pembangunan pertanian adalah masyarakat dan sektor swasta.
Pemerintah berperan memfasilitasi bagi peningkatan sebesar-besarnya partisipasi masyarakat
tersebut, serta mengatur agar pelaksanaan pembangunan berjalan secara adil. Untuk
melaksanakan tugas tersebut, Departemen Pertanian telah menetapkan perlu jiwa (spirit) dan

2
nilai (value) yang merupakan ruh pembangunan yang melandasi penyelenggaraan
pembangunan. Pembangunan, khususnya sektor pertanian, tanpa dilandasi ruh yang menjadi
dasar pijakan akan kehilangan arah dan semangat yang akhirnya dapat menyimpang dari tujuan
dan sasaran pembangunan. Apalagi kegiatan sektor pertanian yang obyek pembangunannya
adalah benda hidup, yakni manusia, hewan, tanaman dan lingkungannya, maka ruh
pembangunan sangat diperlukan, agar pembangunan tidak bersifat eksploitatif dan merusak
kelestarian dari obyek pembangunan. Ruh pembangunan pertanian dimaksud adalah: “Bersih
dan Peduli”. Bersih berarti bebas dari KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), amanah, transparan
dan akuntabel. Peduli berarti memberikan fasilitasi, pelayanan, perlindungan, pembelaan,
pemberdayaan, dan keberpihakan terhadap kepentingan umum (masyarakat pertanian) di atas
kepentingan pribadi dan golongan (demokratis) dan aspiratif.

Sejalan dengan visi pembangunan pertanian seperti dikemukakan di depan, maka misi yang
akan dilaksanakan oleh Departemen Pertanian adalah:

(1) Mewujudkan birokrasi pertanian yang profesional dan memiliki integritas moral yang
tinggi;
(2) Mendorong pembangunan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan;
(3) Mewujudkan ketahanan pangan melalui peningkatan produksi dan penganekaragaman
konsumsi;
(4) Mendorong peningkatan peran sektor pertanian terhadap perekonomian nasional;
(5) Meningkatkan akses pelaku usaha pertanian terhadap sumberdaya dan pelayanan;
(6) Memperjuangkan kepentingan dan perlindungan terhadap petani dan pertanian dalam
sistem perdagangan domestik dan global.

Saudara sekalian yang saya hormati,

Dalam rangka mewujudkan berbagai tujuan pembangunan di atas, paling tidak ada tujuh strategi
umum yang akan ditempuh, yaitu:

(1) Melaksanakan manajemen pembangunan yang bersih, transparan dan bebas KKN,
(2) Meningkatkan koordinasi dalam penyusunan kebijakan dan manajemen pembangunan
pertanian,
(3) Memperluas dan memanfaatkan basis produksi secara berkelanjutan,
(4) Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan memberdayakan SDM pertanian,
(5) Meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana pertanian,
(6) Meningkatkan inovasi dan diseminasi teknologi tepat guna, dan..
(7) Mempromosikan dan memproteksi komoditas pertanian.

Saudara-saudara sekalian,

Dalam lima tahun mendatang, program pembangunan pertanian akan difokuskan pada: (1)
peningkatan ketahanan pangan, (2) peningkatan nilai tambah dan dayasaing produk pertanian,
dan (3) peningkatan kesejahteraan petani. Ketiga program tersebut secara bertahap diharapkan
mampu meningkatkan kinerja sektor pertanian yang pada akhirnya berdampak pada
kesejahteraan petani.

Disamping itu, pembangunan pertanian juga sangat memerlukan dukungan kebijakan dari sektor
lain. Kebijakan tersebut antara lain kebijakan makro, kebijakan pengembangan industri, kebijakan
perdagangan, kebijakan pengembangan infrastruktur, kebijakan pengembangan kelembagaan,
serta kebijakan pendayagunaan dan rehabilitasi sumberdaya alam dan lingkungan.

Saudara sekalian yang saya hormati,

Sebagai konsekuensi dari negara yang turut meratifikasi perjanjian Agreement General on Tariff and
Trade dan World Trade Organization (GATT/WTO), Indonesia harus mengikuti aturan yang telah
3
disepakatinya. Pada krisis ekonomi tahun 1998, sesuai dengan rekomendasi IMF, Indonesia telah
menurunkan seluruh tarif bea masuk komoditas pertanian. Komitmen menghilangkan kebijakan ekonomi
dan perdagangan yang dapat menimbulkan distorsi pasar ternyata tidak dilaksanakan oleh semua negara,
sehingga petani Indonesia dihadapkan pada persaingan yang tidak adil dengan petani dari negara lain yang
dengan mudah mendapat perlindungan tarif dan non-tarif serta subsidi langsung dan tidak langsung. Oleh
karena itu, pemerintah perlu terus menerapkan kebijakan proteksi sekaligus promosi terhadap produk-
produk pertanian strategis antara lain beras, gula, jagung dan kedelai. Kebijakan proteksi yang dapat
dilakukan antara lain penetapan tarif impor dan pengaturan impor, subsidi sarana produksi, pengaturan
harga output maupun subsidi bunga kredit untuk modal usahatani. Untuk kebijakan promosi pemerintah
memfasilitasi upaya-upaya peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha, perbaikan kualitas dan
standarisasi produk pertanian, peningkatan akses pasar melalui kegiatan promosi baik di dalam maupun di
luar negeri.

Banyak kemajuan yang kita capai dalam perundingan di forum internasional terutama forum WTO.
Melalui konsep SP (Strategic Product) dan SSM (Special Safeguard Mechanism) yang kita usulkan
mendapat dukungan dari 33 negara negara berkembang sehingga terbentuk Aliansi SP/SSM yang
dikenal dengan G-33 dan Indonesia ditunjuk sebagai ketua. Berbagai pertemuan G-33 telah dan akan
terus dilakukan untuk menggalang kekuatan agar konsep SP dam SSM masuk dalam perjanjian WTO.

Saudara sekalian yang saya hormati,

Untuk mewujudkan semua itu, kami sangat mengharapkan kerjasama yang baik dari semua
stakeholders yang terlibat dalam pembangunan pertanian, antara lain masyarakat, swasta, LSM,
Legislatif, pemerintah daerah dan tentunya para pakar dan akademisi. Dengan demikian hasil
diskusi yang banyak melibatkan akademisi ini akan menjadi bahan masukan penting bagi kami
dalam mempertajam dan memfokuskan prioritas pembangunan pertanian.

Demikian beberapa hal yang dapat saya sampaikan. Kepada seluruh peserta diskusi nasional
saya sampaikan selamat berdiskusi dan semoga dapat menghasilkan ide-ide yang baik dan
konstruktif bagi pembangunan sektor pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan dan
kemakmuran petani kita. Kami yakin, dengan sinergi dan kerja keras kita sekalian, sosok
pertanian yang kita cita-citakan, Insya Allah dapat kita wujudkan.

Wassalamu’ alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Menteri Pertanian

Dr. Ir. Anton Apriyantono. MS

Anda mungkin juga menyukai